P. 1
Hadits Penuntun Perilaku

Hadits Penuntun Perilaku

4.0

|Views: 5,028|Likes:
Published by aimsalim92

More info:

Published by: aimsalim92 on Aug 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

Hadits-hadits tentang hal ini sangat banyak sekali, tidak bisa kami
mengumpulkannya secara keseluruhan. Ada yang shahih, hasan juga dhaif.
Namun di sini kami hanya akan menyebutkan yang shahih dan hasan saja.
1. Dari Abu Musa RA, ia berkata, “Wahai Rasulullah, orang muslim
bagaimana yang paling utama?” Rasulullah SAW bersabda, “Orang muslim
yang tidak mengganggu kaum muslimin dengan lisannya dan
tangannya.”203

Dalam riwayat lain: Orang muslim sejati itu adalah orang yang tidak
mengganggu kaum muslimin dengan lisannya dan tangannya.”204
Al Khatthabi berkata, “Artinya, orang muslim yang terpuji adalah yang
mempunyai sifat ini, bukan maksudnya bahwa orang yang mengganggu
orang lain itu tidak termasuk orang muslim dan keluar dari agama Allah.”
Berdasarkan hadits di atas maka orang muslim yang paling utama
adalah orang yang menunaikan hak-hak Allah juga menunaikan hak-hak
kaum muslimin dan tidak mengganggu kehormatan mereka.
Sabda Rasulullah SAW: “Orang yang tidak mengganggu kaum
muslimin dengan lisannya dan tangannya”, artinya –menurut An Nawawi-
adalah orang yang tidak mengganggu orang muslim lainnya dengan
perkataan dan perbuatan.”

203 HR. Bukhari (1/51,52) dan Muslim, bab: Keislaman yang paling utama (2/12).
204 HR. Muslim, bab: Keislaman yang paling utama (2/12).

Hadits-hadits Penuntun Akhlaq dan Keluarga_____________________________________________________ 106

Jika anda bertanya, “Kenapa lisan dan tangan disebut bersamaan dalam
hadits ini dan kenapa lisan didahulukan dari tangan?”
Jawab: Lisan dan tangan disebut bersamaan dalam hadits ini karena
mengganggu orang lain dengan lisan dan tangan lebih sering terjadi
daripada dengan anggota tubuh lainnya. Maka disebutlah anggota yang
sering dipergunakan tersebut.
Kemudian, lisan didahulukan dari tangan karena menyakiti dengan
lisan (kata-kata) lebih sering terjadi, lebih mudah dan lebih menyakitkan.
Oleh karena itu pula, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Hassan
(penyair Rasulullah SAW), “Ejek orang-orang musyrik sebab ejekan lebih
menyakitkan bagi mereka daripada dihujam oleh anak panah.”205

Juga
karena lisan bisa menyebutkan atau mengejek orang-orang dahulu, orang
yang ada sekarang dan kejadian yang baru saja terjadi, lain halnya dengan
tangan.

Ibnu Hajar berkata, “Tapi, tangan juga bisa melakukan seperti lisan,
yakni dengan tulisan dan pengaruhnya juga cukup besar.”206
Jika anda bertanya, “Jika hadits di atas hanya menyebutkan kaum
muslimin, lantas bagaimana hukumnya dengan mengganggu orang kafir
dzimmi (orang kafir yang berada di negara Islam dan tunduk dengan
peraturan Islam-penerj)?
Jawab: Sebutan kaum muslimin di dalam hadits itu karena dilihat dari
seringnya terjadi gangguan dan untuk lebih menegaskan ketidakbolehan
mengganggu atau menyakiti orang muslim.
Jika anda bertanya, “Kenapa diungkapkan dengan lisan bukan dengan

perkataan?”

Jawab: Diungkapkan dengan lisan bukan dengan perkataan, agar
termasuk dalam larangan juga orang yang mengeluarkan lisannya sebagai
bentuk ejekan.

Kesimpulannya, orang muslim seharusnya mempergunakan lisannya
pada zikir kepada Allah, bertasbih, bertahmid, bertakbir, berdoa dan
beristigfah, serta tidak menjadikannya sebagai pedang yang ditebaskan ke
leher kaum muslimin, memecah belah jamaah dan menebah fitnah di
antara mereka.

Dari hadits di atas, bisa kita simpulkan sebagai berikut:

- Maksud orang muslim di sini adalah orang muslim yang sempurna.

- Diungkapkan dengan kaum muslimin karena dilihat dari mayoritas,
bukan dimaksudkan untuk membatasi.

205 Lihat: ‘Umdah Al Qâri, Al ‘Aini (1/132).
206 Lihat: Fathul Bâri (1/70).

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 107

- Hanya disebut lisan dan tangan, karena melihat betapa banyak hal
yang bisa dilakukan oleh dua anggota tubuh ini, lain halnya dengan
anggota tubuh lainnya yang kemampuannya terbatas.

- Islam ingin memberikan keamanan dan ketentraman untuk
umatnya dan pengikutnya.

- Islam ingin menguatkan unsur-unsur cinta kasih, tolong menolong
dan persaudaraan antara individu umat Islam.

- Agar kita mempergunakan seluruh anggota tubuh sesuai dengan
fungsinya, demi menjunjung tinggi perintah Allah dan menjauhi
segala larangan-Nya.
2. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa
yang percaya kepada Allah dan hari kiamat maka katakan yang baik atau
diam.”207

Hadits ini sangat jelas menerangkan bahwa janganlah seorang insan
berkata-kata kecuali bila perkataan itu baik, yakni yang jelas ada manfaat
dan maslahatnya. Jika ia ragu akan hal itu maka jangan berkata-kata.208
Diam adalah sikap yang dianjurkan oleh Islam sebagai penawar bagi
penyakit lisan, yang mana lisan itu bisa keliru, berbohong atau
mengghibah. Lisan juga yang bersumpah, berkata dengan kata-kata
munafik, berbangga diri, bertengkar atau berbicara dalam kebatilan.
Dengan lisan juga keaiban jadi terbuka, rahasia jadi tersebar dan kejelekan
jadi tersiar serta dengan lisan pula makhluk Allah tersakiti. Semua itu
merupakan penyakit lisan yang akibatnya akan kembali kepada orang yang
memiliki lisan tersebut, bahkan bisa menimpa orang-orang yang ada di
sekitarnya. Tidak ada yang bisa menghalangi lisan dari semua penyakit itu
kecuali sikap diam. Hanya dalam diam tersimpan keselamatan dari akibat
buruk di dunia dan hisab (perhitungan) di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berjanji kepadaku untuk
menjaga apa yang antara kumis dan janggutnya (lisan-penerj) dan apa
yang antara dua kakinya (kemaluan-penerj) maka aku berjanji ia akan
mendapatkan surga.”209
Ibnu Batthal berkata, “Hadits di atas menunjukkan bahwa bala terbesar
yang akan menimpa seseorang dalam agama adalah lisannya dan
kemaluannya. Maka siapa yang menghindari kejahatan lisan dan
kemaluan, berarti ia telah menghindari dua kejahatan terbesar.”
Seorang mukmin yang menginginkan kesempurnaan iman, hendaknya
bersikap diam terhadap apa yang tidak berguna atau tidak berkata-kata
hanya untuk mengetahui urusan orang lain dan keadaan mereka yang
sama sekali tidak penting baginya. Hendaknya ia juga menjauhi kata-kata
yang berlebihan, yakni menambah pembicaraan melebihi yang diperlukan.

207 HR. Bukhari (1/264,265) dan Muslim (48).
208 Lihat: Al Adzkâr, An Nawawi, hal. 295.
209 HR. Bukhari (11/264,265). HR. Tirmidzi (2408), menurutnya hadits ini hasan shahih.

Hadits-hadits Penuntun Akhlaq dan Keluarga_____________________________________________________ 108

Hendaknya ia juga tidak berbicara dalam kebatilan, sebab barangkali satu
kalimat batil yang diucapkan akan menjadi sebab kebinasaannya.
3. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang berkata-
kata dengan suatu kalimat yang mengandung ridha Allah namun ia
mengira kata-kata itu tidak sampai ke tujuannya (ke ridha Allah-penerj),
Allah tetap akan menulis kata-kata itu dalam ridha Allah sampai hari
kiamat, dan sesungguhnya seseorang yang berkata-kata dengan suatu
kalimat yang mengandung murka Allah dan ia mengira kata-kata itu tidak
sampai kepada tujuannya, Allah tetap akan menulis kata-kata itu dalam
murka-Nya sampai hari kiamat.”210
Dalam riwayat lain: “Sampai hari bertemu dengan-Nya.”
4. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
seorang hamba yang berkata-kata dengan suatu kalimat yang dimurkai
Allah niscaya kata-kata itu akan menjadi bala yang akan
menjerumuskannya ke dalam neraka jahanam.”211
5. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang
berbicara dengan sebuah kalimat yang jelas keburukannya maka dengan
kalimat itu ia akan dimasukkan ke dalam api nereka lebih jauh dari jarak
antara timur dan barat.”212
6. Mu’adz Bin Jabal berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah
SAW, “Wahai Rasulullah, apakah semua yang kami katakan itu bisa
mencelakakan kami juga?” Rasulullah SAW menjawab, “Tentu saja,
bukankah manusia yang dimasukkan ke dalam api neraka itu karena hasil
dari kata-kata lisan mereka?! Sesungguhnya kamu akan tetap selamat
selama kamu bersikap diam. Jika kamu berbicara maka akan ditulis
pembicaraanmu itu; menguntungkanmu atau merugikanmu.”213
Dalam riwayat ini, Mu’adz bertanya kepada Rasulullah SAW: apakah
semua yang kita tuturkan akan diperhitungkan, diberi pahala dan disiksa
karenanya. Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah SAW heran, lalu beliau
menjawab: “Bukankah manusia dimasukkan ke dalam api neraka karena
akibat lisan mereka? Sesungguhnya selama bersikap diam dan tidak bicara,
kamu akan tetap selamat. Namun jika kamu bicara maka kamu bisa
mendapat pahala atau malah mendapat siksa.”
7. Sufyan Bin Abdullah RA pernah berkata kepada Rasulullah SAW,
“Wahai Rasulullah, beri aku nasehat, aku akan memegangnya erat.”

210 HR. Malik dalam Al Muwaththa’ (2/985) dan Tirmidzi (2320). Menurutnya hadits ini hasan
dan shahih. HR. Ahmad (3/469) dan Ibnu Majah (3969). Hadits ini di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban
(1576) dan juga diriwayatkan oleh Hakim (1/45,46).
211 HR. Bukhari (11/266,267).
212 HR. Bukhari (11/265,266). HR. Muslim (2988). HR. Malik (2/985). HR. Tirmidzi (2315).
213 HR. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawâid (10/200). Ia berkata, “Tirmidzi meriwayatkan hadits
ini secara ringkas mulai dari sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya kamu akan tetap selamat selama..
.” Menurutnya, status hadits ini hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dengan dua sanad
yang para perawinya orang-orang tsiqah.” HR. Ahmad (5/231) dan Ibnu Majah (3973) dari Abi Wail
dari Mu’adz (5/26).

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 109

Rasulullah SAW bersabda, “Katakan, Tuhanku adalah Allah kemudian
bersikap istiqamahlah kamu.” Aku lalu bertanya, “Apa yang paling engkau
takuti menimpa diriku?’ Rasulullah SAW lalu memegang lidah beliau dan
bersabda, “Ini.”214

8. Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa
yang dipelihara Allah dari kejahatan apa yang antara kumis dan
janggutnya (lisannya-penerj) dan kejahatan apa yang antara kakinya
(kemaluannya-penerj), pasti ia masuk surga.’”215
9. Uqbah Bin Amir RA pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa jalan
keselamatan hakiki itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Tahan lisanmu,
luaskan rumahmu dan tangisi kesalahanmu.”216
10. Dari Abi Sa’id Al Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, “Bila anak
Adam berada di waktu pagi, seluruh anggota tubuhnya menasehati lisan.
Mereka berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah, nasib kami tergantung
denganmu. Jika kamu lurus maka kami pun akan lurus dan jika kamu
menyimpang maka kami pun akan ikut menyimpang.217
11. Abdullah Bin Mas’ud RA berkata, “Demi dzat yang tidak ada tuhan
selain Dia, tidak ada sesuatupun yang sangat memerlukan dengan tembok
penjara yang tinggi selain lisan.”218

Maksud penjara untuk lisan adalah

menahannya dan tidak melepaskannya dalam berkata-kata.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->