P. 1
Hadits Penuntun Perilaku

Hadits Penuntun Perilaku

4.0

|Views: 5,029|Likes:
Published by aimsalim92

More info:

Published by: aimsalim92 on Aug 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

- Di antara kewajiban istri terhadap suaminya adalah:

279 Lihat: Sîrah Ibni Hisyâm, juz 2 (Haji Wada’).

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 145

1. Taat kepada suami dalam perkara yang baik. Ini perkara yang wajar
dalam kehidupan bersama antara suami dan istri.
Rasulullah SAW telah memerintahkan akan hal ini. Beliau bersabda,
“Jika istri melaksanakan shalat lima waktu, menjaga kehormatannya dan
taat kepada suaminya, niscaya ia dipersilakan untuk masuk ke dalam surga
dari pintu mana yang ia kehendaki.”280
Dari Hushain Bin Muhshin RA, bahwa bibinya pernah datang menemui
Rasulullah SAW lalu beliau bertanya, “Apakah kamu mempunyai suami?”
Ia menjawab, “Benar.” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Bagaimana sikapmu
terhadap suamimu?” Ia menjawab, “Aku selalu patuh dengannya kecuali
bila memang aku tidak bisa melakukan perintahnya.” Lalu Rasulullah SAW
bersabda, “Bagaimanapun sikapmu terhadapnya, sesungguhnya ia adalah
surgamu dan nerakamu.”281
Maksud: “Apakah kamu mempunyai suami”, adalah: “Apakah kamu
sudah menikah?” Ia menjawab, “Benar.” Lalu Rasulullah SAW menanyakan
tentang keadaannya bersama suaminya. Ia menjawab, “Aku tidak pernah
menolak apa yang aku sanggup melakukannya.” Dengan kata lain: “Aku
selalu taat kepadanya dan selalu melakukan apa saja kecuali bila aku
memang tidak bisa melakukannya.”
Maksud sabda Rasulullah SAW: “Bagaimanapun sikapmu terhadapnya,
sesungguhnya ia adalah surgamu dan nerakamu”, adalah: “Pada keadaan
bagaimanapun kamu bersamanya, sesungguhnya ia bisa menjadi sebab
kamu masuk surga atau bisa menjadi sebab kamu masuk neraka. Oleh
karena itu, taatlah kepadanya semoga kamu mendapatkan ridha Allah
SWT.”

Aisyah RA berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,
‘Siapa yang paling besar haknya pada seorang perempuan?’ Rasulullah
SAW menjawab, ‘Suaminya.’” Aku bertanya lagi, “Siapa yang paling besar
haknya pada seorang laki-laki?” Rasulullah SAW menjawab, ‘Ibunya.’”282
Dari hadits ini jelaslah bagi kita bahwa hak suami didahulukan dan
wajib atas seorang istri, tapi hanya dalam hal-hal yang tidak dimurkai oleh
Allah dan Rasul-Nya saja, begitu juga hak ibu pada anaknya.
Tahukah anda bagaimana balasan orang yang taat kepada suami itu?
Sungguh balasan yang sangat besar. Balasan itu adalah surga yang tidak
akan dapat memasukinya kecuali oleh orang yang telah mendapatkan
keberuntungan dengan ridha Allah dan rahmat-Nya.

280 HR. Al Mundziri dalam At Targhîb wa At Tarhîb (3/52). Katanya, hadits ini diriwayatkan oleh
Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya.
281 HR. Al Mundziri dalam At Targhîb wa At Tarhîb (3/52,53). Al Mundziri berkata, “Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dengan dua sanad yang bagus.” HR. Hakim dan menurutnya status
sanad hadits ini shahih.

282 HR. Al Mundziri dalam At Targhîb wa At Tarhîb (3/53). Ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan
oleh Bazzar dan Hakim. Status sanad Bazzar adalah hasan.”

Hadits-hadits Penuntun Akhlaq dan Keluarga_____________________________________________________ 146

Hal ini juga diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW yang berbunyi,
“Perempuan mana saja yang suaminya meninggal dunia dan suaminya itu
ridha terhadapnya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga.”283
Di antara dalil yang menguatkan hak suami adalah sabda Rasulullah
SAW yang berbunyi, “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang untuk
sujud kepada manusia, pasti aku akan memerintahkan perempuan untuk
sujud kepada suaminya, karena begitu besar hak suami padanya.”284
Dalam riwayat lain, Ibnu Abi Aufa RA berkata, “Ketika Mu’adz Bin Jabal
datang dari Syam, ia langsung sujud di hadapan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang kaulakukan ini?” Ia menjawab,
“Wahai Rasulullah, aku datang ke Syam dan aku melihat mereka sujud di
hadapan pembesar-pembesar dan uskup-uskup mereka. Maka akupun
ingin melakukannya di hadapanmu.” Rasulullah SAW pun bersabda,
“Jangan kaulakukan itu. Sesungguhnya seandainya aku boleh
memerintahkan sesuatu untuk sujud kepada sesuatu, pasti aku akan
memerintahkan perempuan untuk bersujud kepada suaminya. Demi Dzat
yang jiwaku di tanga-Nya, tidak akan sempurna seorang perempuan dalam
melaksanakan hak Tuhannya hingga ia telah melaksanakan hak
suaminya.”285

Hendaknya para istri menyadari bahwa sekalipun ia shalat atau
melakukan segala perbuatan baik, Allah tidak akan menerima amal itu bila
suami marah dan murka terhadapnya. Oleh karena itu, ia wajib
menunaikan hak suaminya selama ia mampu dan bukan pada hal-hal
maksiat, sebab tidak ada kata taat kepada makhluk dalam hal maksiat
kepada khaliq.

Rasululah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang shalat mereka tidak
akan diterima dan kebaikan mereka tidak akan naik ke langit: hamba yang
melarikan diri hingga ia kembali kepada tuannya, orang yang mabuk
hingga ia sadar dan perempuan yang suaminya murka kepadanya hingga
suaminya meridhainya.”286
Istri yang tidak taat dan membangkang terhadap suami serta merusak
rumah tangganya, ia telah ditunggu oleh azab dan balasan yang amat
menyakitkan, sebagai balasan dari tidak menunaikan hak suami dan tidak

283 HR. Tirmidzi (1161), bab: Riwayat tentang hak suami pada istri (3/457). Ia berkata, “Status
Hadits ini hasan gharib.” HR. Ibnu Majah (1854), Kitab Nikah, bab: Hak suami pada istri, dari hadits
Ummu Salamah.

284 HR. Tirmidzi (1159), bab: Riwayat tentang hak suami pada istri (3/456). Abu Isa berkata, “Dari
jalan ini, hadits Abu Hurairah ini berstatus hadits hasan gharib.” Ibnu Hajar menyebutkan hadits ini
dalam Fathul Bâri, Kitab Iman, bab: Pembangkangan terhadap suami (1/69). Hadits Abu Hurairah ini
ada saksi penguat dari hadits Mu’adz pada riwayat Ahmad (5/227). Hadits ini tidak ada dalam enam
buku hadits ternama kecuali buku hadits Tirmidzi.
285 HR. Al Mundziri dalam At Targhîb wa At Tarhîb (3/56). Ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi
secara ringkas dan menurutnya berstatus hasan shahih.
286 HR. Bukhari dalam Shahîh-nya, Kitab Nikah, bab: Puasa sunah perempuan harus dengan izin
suaminya (9/241)(Fathul Bâri). Maksud “hamba yang melarikan diri” dalam hadits ini adalah hamba
yang lari dari tuannya bukan karena ketakutan dan pekerjaan yang melebihi batas kewajaran.

e-Book dari http://www.Kaunee.com ______________________________________________________________ 147

taat kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, “Diperlihatkan kepadaku api
nereka, maka aku melihat sebagian besar penghuninya adalah kaum
perempuan.” Para sahabat perempuan bertanya, “Kenapa, wahai Rasul?”
Beliau menjawab, “Karena mereka banyak mencela dan tidak taat kepada
suami.”287

Dalam hadits terdahulu, Rasulullah SAW menyertakan hak suami pada
istri dengan hak Allah. Maka, bila seorang perempuan tidak menunaikan
hak suami maka itu merupakan tanda bahwa ia juga telah meremehkan
hak Allah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->