P. 1
Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor

|Views: 17|Likes:
Published by Alim Sumarno
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Alfian Nur Qurnain, Rr. Hapsari .,
http://ejournal.unesa.ac.id
Jurnal Online Universitas Negeri Surabaya, author : Alfian Nur Qurnain, Rr. Hapsari .,
http://ejournal.unesa.ac.id

More info:

Published by: Alim Sumarno on Dec 04, 2013
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2014

pdf

text

original

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor Alfian Nur Dzul Qurnain
Program Studi S1 Pend. Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya Email: alfiannurdzulqurnain@yahoo.co.id

Rr. Hapsari Peni. A. T
Email: hapsari_peni@yahoo.co.uk

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan teknik pembelajaran Quantum Teaching dengan siswa yang diajar menggunakan Model Pembelajaran Langsung pada mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor, (2) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah pada mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor kelas X TEI, (3) mengetahui ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan design penelitian “Nonequivalent Control Group Design”. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TEI 1 sebagai kelas kontrol dan X TEI 2 sebagai kelas eksperimen SMK Negeri 1 Jetis. Kemudian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara teknik pembelajaran Quantum Teaching dan Model Pembelajaran Langsung, perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestsi rendah, serta untuk mengetahui interaksi model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa dilakukan analisis varian dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan, dengan taraf signifikansi yang ditentukan sebesar α = 0.05 dan kriteria uji tolak H0 jika p-value (taraf signifikan hasil perhitungan) < 0.05. Menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang menggunakan teknik pembelajaran Quantum Teaching lebih tinggi atau berbeda secara signifikan dibanding dengan hasil belajar siswa yang menggunakan Model Pembelajaran Langsung yaitu nilai P-value = 0.001 lebih kecil dari α = 0,05 ; (2) hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih baik atau berbeda secara signifikan dengan nilai p-value = 0.015, p-value lebih kecil dari α = 0.05 ; dan (3) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa dengan nilai p-value = 0.002, p-value lebih kecil dari α = 0,05. Kata Kunci: Quantum Teaching, Model Pembelajaran Langsung, Motivasi Berprestasi, Quasi Experiment, Hasil Belajar

Abstract The reseach aim to: (1) determine differences in learning outcomes between students who are taught using Quantum Teaching learning techniques with students who are taught using Direct Learning Model on applying microprocessor system lesson, (2) determine whether there is difference in learning outcomes between student who have high achievement motivation with students who have low achievement motivation on apllying microprocessor system TEI class X lesson, (3) determine whether there is interaction between the model of learning and achievement motivation on learning outcomes. The research method used is Quasi Experimental Design with research design “Nonequivalent Control Group Design”. The subjects in this reseach were students of X TEI 1 class as control class and student of X TEI 2 class as experimental class of SMKN 1 Jetis. Then to find out the difference of learning outcomes between Quantum Teaching learning techniques and direct learning models, different in learning outcomes between students who have high achievement motivation and student who have low achievement motivation, and to investigate the interaction model of learning and achievement motivation on students learning outcomes with anova analysis. The results showed, with a significance level set at α = 0.05 and test criteria reject H0 if the p-value (significance level calculation) < 0.05. Show that: (1) student learning outcomes using Quantum Teaching higher or significantly different compared with the learning outcomes of students who use the Direct Learning Model with p-value = 0.001 is less than α = 0.05 ; (2) learning outcomes of students who have high achievement motivation better or significantly different by p-value = 0.015, p-value less than α = 0.05 ; (3) there was an interaction between the model of learning and achievement motivation on learning outcomes of student with p-value = 0.002, p-value less than α = 0.05. Keyword: Quantum Teaching, Direct Learning Model, Achievement Motivation, Quasi Experiment, Learning outcomes

1001

Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010

PENDAHULUAN Kondisi jam pelajaran yang lama tentu membuat suasana belajar di dalam kelas menjadi sangat menjenuhkan, apalagi jika jenis pelajaran yang disampaikan adalah pelajaran yang bersifat teori. Ditambah lagi motivasi berprestasi dalam diri siswa yang tentunya beraneka ragam, ada siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi juga ada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Motivasi berprestasi menurut Mohamad Nur (2001:27) adalah keinginan untuk mengalami keberhasilan dan peran serta dalam kegiatan dimana keberhasilan bergantung pada upaya dan kemampuan seseorang. Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan mudah menyerah meskipun menghadapi masalah yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan diterima)cenderung memilih mitra yang ramah. Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran. Bisa dibayangkan bagaimana jika siswa dengan motivasi rendah mendapat pembelajaran yang menjenuhkan dengan durasi jam belajar yang lama, tentunya hasil belajar yang didapat siswa dengan motivasi berprestasi rendah akan semakin jauh dengan yang diharapkan. Berangkat dari permasalahan tersebut peneliti mecoba menerapkan teknik pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa mampu melewati kegiatan belajar di kelas dengan durasi jam belajar yang lama dengan penuh suka cita dan menyenangkan, selain itu motivasi berprestasi dalam suatu pelajaran juga ikut meningkat dan berdampak pada hasil belajar yang maksimal. Maka pada penelitian ini peneliti mengangkat judul ”Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Yang Memiliki Motivasi Berprestasi Berbeda Pada Standar Kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor”. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : (1) Apakah ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan dengan teknik pembelajaran Quantum

Teaching dan kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran?; (2) Apakah ada perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol?; (3) Apakah ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar? Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan dengan teknik pembelajaran Quantum Teaching dan kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Langsung pada standar kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor kelas X TEI; (2) Mengetahui perbedaan hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol; (3) Mengetahui ada tidaknya interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar mata diklat Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada siswa kelas X TEI pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Pada penilitian ini dipilih teknik pembelajaran Quantum Teaching karena teknik ini dinilai peneliti mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Quantum adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Kata quantum berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, dengan demikian Quantum Teaching adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar (DePorter,2003:3). Dalam teknik pembelajaran Quantum Teaching tidak hanya cara mengajarnya atau pembawaannya yang diperhatikan, namun penataan lingkungan kelas (konteks) juga sangat diperhatikan dengan pemasangan poster ikon, poster afirmasi penataan bangku, penggunaan musik, keakraban antara guru dengan siswa juga dijalin untuk menghilangkan jurang antara guru dengan siswa yang selama ini banyak terlihat di dalam dunia pendidikan. Hal ini sesuai dengan azas Quantum Teaching yaitu Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita. Hal-hal seperti inilah yang membedakan teknik pembelajaran Quantum Teaching dengan model pembelajaran yang lain, sehingga dapat diduga siswa akan lebih nyaman di kelas, keluh kesah siswa entah tentang pelajaran atau masalah sosial juga dapat tersampaikan pada guru. Berikut disajikan sintak teknik pembelajaran Quantum Teaching. Tabel 1. Sintak Teknik Pembelajaran Quantum Teaching
Tahap Tahap 1: Tumbuhkan Perilaku Guru Berarti menumbuhkan minat belajar siswa dengan cara memberitahukan manfaat materi yang akan dipelajari. Bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa dan menimbulkan pertanyaan "Apa Manfaatnya

1002

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Tahap 2: Alami

Tahap 3: Namai

Tahap 4: Demonstras ikan

Tahap 5: Ulangi

Tahap 6: Rayakan

Bagiku" (AMBAK) dalam diri siswa. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh mereka. Memberikan pengalaman baru pada siswa dengan cara melakukan percobaan untuk membuktikan suatu konsep. Pengajar juga memberikan masalah atas konsep yang telah diperoleh sebagai bahan diskusi kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Hal ini dapat menciptakan kerjasama antar siswa dan memberikan kebebasan siswa untuk berfikir. Guru menyediakan kata kunci, data, nama saat minat memuncak. Sehingga membuat siswa penasaran dan penuh pertanyaan mengenai pengalaman. Guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk dapat menunjukkan kemampuannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil percobaan dan diskusi sehingga memberi kesempatan pada siswa untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Guru menunjukkan kepada siswa cara –cara mengulang materi dan menegaskan bahwa mereka benar-benar tahu akan apa yang dipelajari. Merekatkan gambar keseluruhan. Dalam tahap ini dapat dilakukan dengan mengajarkan ke kelompok lain atau mengerjakan soal posttest Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan menambatkan pengalaman belajar dengan asosiasi positif. Dapat berupa pujian, bernyanyi berama atau tepuk tangan.

(DePorter, 2003:88). Jika penataan lingkungan kelas sudah cukup maka pelajaran dimulai dengan alur sesuai sintak yaitu (1) Tahap Tanamkan Teknik Pembelajaran Quantum Teaching. Guru menumbuhkan siswa dengan menampilkan video yang berisi berbagai aplikasi mikroprosesor dalam berbagai bidang sehingga mampu menumbuhkan motivasi berprestasi siswa untuk mempelajari mata diklat menerapkan sistem mikroprosesor (Fase 1 Quantum Teaching); (2) Fase 3 MPK Tahap Alami Teknik Pembelajaran Quantum Teaching: (a) Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok besar (anggotanya seluruh kelas) untuk mengurangi resiko belajar, kemudian guru memberikan video terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan selanjutnya siswa diminta untuk memperhatikan video tersebut dan mencatat informasi yang didapatkan, siswa diperbolehkan saling bertukar informasi dengan temanteman satu kelas. (Fase 2 Quantum Teaching); (b) Guru mengelompokkan siswa dalam kelompok yang lebih kecil (mengurangi resiko), terdiri dari 4-5 orang. Pengelompokkan ini dibagi-bagi sesuai kemampuan modalitas siswa yang diketahui dengan mengerjakan instrumen modalitas yang terdapat pada lampiran buku ajar. Kemudian guru kembali memberikan video terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan dan meminta siswa memperhatikan dan merangkum dari hasil menyimak video tersebut. (Fase 2 Quantum Teaching); (3) Fase 4 MPK Tahap Namai Teknik Pembelajaran Quantum Teaching. Guru membimbing siswa menyelesaikan masalah yang diberikan untuk mempertegas informasi yang mereka dapat dengan

memperhatikan kelompok-kelompok modalitas. Untuk kelompok visual guru menjelaskan dengan gambargambar melalui media powerpoint dan membuat rangkuman. Untuk kelompok auditorial guru menjelaskan secara lisan. Untuk kelompok kinestetik guru memberikan perumpamaan dengan mengaitkan pada kehidupansehari-hari, misalkan untuk menjelaskan berapa kapasitas memori yang mampu ditangani oleh suatu mikroprosesor jika memiliki jumlah penyemat 4 saluran , maka dengan membuat kartu A0-A4 dimana pada kartu A0 memiliki bobot dst. Maka didapat jumlah total yang menunjukkan jumlah kapasitas memori yang mampu dialamati.(Fase 3 Quantum Teaching); (4) Fase 5 MPK Tahap Demontrasikan Teknik Pembelajaran Quantum Teaching. Guru meminta siswa sesuai kelompoknya mempresentasikan informasi yang diperoleh dengan media powerpoint guna menambah pemahaman. (Fase 4 Quantum Teaching); (5) Fase 5 MPK Tahap Ulangi Teknik Pembelajaran Quantum Teaching: (a) Guru meminta kelompok lain untuk memberi tanggapan (Fase 5 Quantum Teaching); (b) Guru membantu siswa untuk mengkaji ulang hasil yang diperoleh siswa. (Fase 5 Quantum Teaching); (c) Guru membagi lagi kelompok-kelompok kecil tersebut menjadi individu, sehingga walaupun resiko besar namun setidaknya setiap individu sudah memiliki bekal informasi dari kelompok besar dan kelompok kecil tadi, kemudian guru mengadakan evaluasi. (Fase 5 Quantum Teaching); (6) Fase 6 MPK Tahap Rayakan Teknik Pembelajaran Quantum Teaching: (a) Memberi penghargaan kepada siswa dan merayakan atas penampilan penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan dengan menyanyi bersama, bertepuk tangan bersama atau pemberian permen. (Fase 6 Quantum Teaching); (b) Dengan melibatkan siswa menutup pelajaran dengan berdoa dan merapikan laboratorium bersama-sama untuk menjalin kemitraan dan kerjasama dengan siswa. (Fase 6 Quantum Teaching) Yang membedakan teknik pembelajaran Quantum Teaching dengan model pembelajarn yang lain adalah adanya upaya mengurangi resiko belajar yaitu dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari pengalaman dan informasi dalam kelompok besar terlebih dahulu (anggota seluruh kelas) baru dibagi-bagi menjadi kelompok kecil sehingga modal informasi yang diperoleh siswa semakin banyak sehingga kelak pada saat evaluasi untuk tiap individu siswa akan menjadi lebih siap karena telah memiliki modal informasi yang banyak Selain itu yang membedakan adalah pada pembagian kelompok kerja dilakuakan pengukuran modalitas terlebih dahulu, sehingga siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan modalitas yang dimiliki siswa.

1003

Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010

Pengukuran kemampuan modalitas menggunakan intrumen pengukuran modalitas yang telah disediakan, terlampir pada skripsi. Pengelompokan yang disesuaikan dengan kemampuan modalitas ini bertujuan agar pemberian bimbingan oleh guru bisa disesuaikan dengan kemampuan modalitas yang dimiliki oleh siswa, sehingga bimbingan yang diberikan guru akan lebih mengena dan lebih dipahami oleh siswa. Selain itu pemberian motivasi pada siswa tidak hanya secara verbal, dalam penelitian ini siswa pada awal pelajaran diberikan waktu sekitar 10-20 menit untuk bermain game atau mendengarkan lagu, hal ini bertujuan agar siswa nyaman terlebih dahulu di dalam kelas dan merasa dekat dengan guru sehingga penyampaian pelajaran akan lebih mudah. Pemberian penghargaan dilakukan bukan pada ketepatan hasil, namun pada proses yang telah dilakukan siswa entah salah maupun sudah benar. Hal ini dikarenakan pemberian penghargaan yang hanya pada ketepatan hasil akan membuat siswa merasa takut mengutarakan pendapat pada kesempatan selanjutnya. Siswa akan takut menutarakan pendapatnya jika merasa pendapat yang dimiliki belum terlalu benar, dan siswa baru mau mengutarakannya jika mereka sangat yakin jawabannya benar. Model pembelajaran kooperatif merupakan teknikteknik kelas praktis yang dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu siswa belajar setiap mata pelajaran, mulai dari keterampilan-keterampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks (Nur,2011:1). Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan guru (Suprijono,2011:54). Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas, pertanyaanpertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud. Adapun fase-fase dalam model pembelajaran kooperatif tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 2. Sintak Model Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase Fase 1 : present goals and set Menyampaikan tujuan dan memper siapkan peserta didik Fase 2 : present information Menyajikan informasi Fase 3 : organize students into learning teams Mengorganisir peserta didik ke dalam tim – tim belajar Fase 4 : assist team work and Perilaku Guru Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar. Mempresentasikan informasi kepada paserta didik secara verbal. Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien. Membantu tim- tim belajar

study Membantu kerja tim dan belajar Fase 5 : test on the materials Mengevaluasi

Fase 6 : provide recognition Memberikan pengakuan atau penghargaan

selama peserta didik mengerjakan tugasnya. Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompokkelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.

(Agus Suprijono, 2011:65) Model pembelajaran langsung adalah sebuah pendekatan yang mengajarkan keterampilan-keterampilan dasar dimana pelajaran sangat berorientasi pada tujuan dan lingkungan pembelajaran yang terstruktur secara ketat. Model pengajaran langsung ditujukan pada pencapaian dua tujuan utama siswa yaitu penuntasan konten akademik yang terstruktur dengan baik dan perolehan seluruh jenis keterampilan (Nur,2011:16). Namun kritik utama terhadap model pengajaran langsung adalah penekanan pengajaran pada ceramah atau bicara guru. Kebanyakan pengamat mengklaim bahwa bicara guru menyita waktu antara setengah dan tiga perempat dari tiap periode kelas. Model ini hanya terbatas untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan dasar dan informasi tingkat rendah dan bahwa model itu tidak berguna bagi pencapaian tujuan tingkat tinggi. Adapun fase-fase dalam model pengajaran langsung tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 3. Sintak Model Pengajaran Langsung
Fase Fase 1 : Klarifikasi tujuan dan memotivasi siswa Perilaku Guru Guru mengkomunikasikan garis besar tujuan pelajaran tersebut, memberi informasi latar belakang, dan menjelaskan mengapa pelajaran itu penting. Mempersiapkan siswa untuk belajar Guru-mendemonstrasikan keterampilan tersebut dengan benar atau mempresentasikan informasi langkah demi langkah Guru memberi latihan awal

Fase 2 : Mempresentasikan pengetahuan atau mendemonstrasikan keterampilan Fase 3 : Memberi latihan terbimbing Fase 4 : Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik Fase 5 : Memberi latihan lanjutan dan transfer

Guru mengecek untuk mencari tahu apakah siswa melakukan tugas dengan benar dan memberi umpan balik Guru mempersiapkan kondisi untuk latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer keterampilan dan pengetahuan tersebut ke situasi-situasi lebih kompleks

(Nur,2011:36) Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2011:71-72), motivasi adalah perubahan energi dalam diri seorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut McClelland dan Atkinson dalam Mohamad Nur (2001:27). Suatu jenis motivasi paling penting dalam psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi atau achievement motivation, kecenderungan berupaya sampai berhasil dan memilih kegiatan yang mengarah pada

1004

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

tujuan dan mengarah pada keberhasilan/kegagalan. Motivasi berprestasi menurut Mohamad Nur (2001:27) adalah keinginan untuk mengalami keberhasilan dan peran serta dalam kegiatan dimana keberhasilan bergantung pada upaya dan kemampuan seseorang. Menurut Atkinson dalam Hamzah (2008:8), motivasi berprestasi dimiliki oleh setiap orang, sedangkan intensitasnya tergantung pada kondisi mental orang tersebut. Mohamad Nur (2001:27) berpendapat pebelajar yang memiliki motivasi berprestasi tinggi tidak akan mudah menyerah meskipun menghadapi masalah yang memiliki peluang untuk gagal diselesaikan. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi cenderung memilih mitra yang memiliki kemampuan yang baik dalam tugas itu, dan siswa yang memiliki motivasi afiliasi (yang memiliki motivasi untuk dicintai dan diterima)cenderung memilih mitra yang ramah. Bahkan setelah mengalami kegagalan, siswa yang memiliki motivasi berprestasi akan bertahan lebih lama pada suatu tugas dibanding dengan siswa yang motivasi berprestasinya kurang dan akan cenderung menghubungkan kegagalan mereka dengan kurangnya upaya (faktor internal maupun kondisinya dapat diubah), tidak menghubungkan pada faktor-faktor eksternal seperti kesulitan tugas atau kemujuran. Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: (1) Ada perbedaan hasil belajar antara kelas yang dibelajarkan dengan teknik pembelajaran QuantumTeaching dan kelas yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Langsung pada standar kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor kelas X TEI; (2) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah kelas X TEI pada standar kompetensi Menerapkan Sistem Mikroprosesor pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol; (3) Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran Quantum Teaching dan Model Pembelajaran Langsung dengan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. METODE Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimen. Penelitian dilaksanakan di kelas X TEI SMK Negeri 1 Jetis Mojokerto pada semester ganjil pada tahun ajaran 2013/2014. Dengan sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yang diambil dari populasi yaitu kelas X TEI 1 sebagai kelas kontrol dan kelas X TEI 2 sebagai kelas eksperimen.Metode penelitian yang dipakai adalah Quasi Experimental Design. Dengan desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group

Design. Rancangan penelitian ini digambarkan sebagai berikut (Sugiono,2011:79).
E K 𝑂1 03 x 𝑂2 𝑂4

Keterangan : E : Kelas eksperimen K : Kelas kontrol O1 : Observasi Pre-test kelas eksperimen O2 : Observasi Post-test kelas eksperimen O3 : Observasi Pre-test kelas kontrol O4 : Observasi Post-test kelas kontrol X : Perlakuan pada kelas eksperimen (model kooperatif Teknik Quantum Teaching) - : Perlakuan pada kelas kontrol (Model Pembelajaran Langsung) Variabel bebas dalam penelitian ini adalah teknik pembelajara yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan teknik pembelajaran Quantum Teachinguntuk kelas eksperimen dan model pemngajaran langsung untuk kelas kontrol. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah materi pembelajaran, alokasi waktu KBM dan soal pretest-postest. Variabel moderator dalam penelitian ini adalah motivasi berprerstasi. Prosedur dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu: (1) Tahap persiapan dan perencanaan penelitian meliputi: (a) survei ke sekolah; (b) menyusun proposal skripsi; (c) menyusun perangkat pembelajaran; (d) menyusun instrumen penelitian; (e) validasi instrumen. (2) Tahap pelaksanaan penelitian; dan (3)Tahap penyajian hasil penelitian meliputi analisis data dan penyusunan laporan penelitian. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil pretestpostest dari kelas kontrol dan kelas eksperimen, sedangkan untuk mengukur motivasi berprestasi pada masing-masing siswa digunakan angket motivasi berprestasi dengan skala likert. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis validitas perangkat pembelajaran, untuk melihat validitas perangkat pembelajaran digunakan kriteria validitas dari hasil rating(HR) (Riduwan,2006:48). Analisis instrumen hasil belajar pada penelitian ini menggunakan program Anates V4 supaya lebih praktis dan tepat dalam melakukan analisis butir soal, butir soal yang akan dianalisis yaitu: (1) Taraf kesukaran. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Setelah soal dianalisis dengan program anates V4 dan diketahui indeks tingkat kesukarannya maka indeks tingkat kesukaran di intepretasikan pada tabel berikut.

1005

Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010

Tabel 4. Penafsiran Taraf Kesukaran
Indeks Kesukaran (P) 0,90 – 1,00 0,70 – 0,90 0,30 – 0,70 0,10 – 0,30 0,00 – 0,10 Penafsiran Taraf Kesukaran Sangat mudah Mudah Sedang Sukar Sangat sukar

Anova dua jalur digunakan apabila kita ingin mengetahui ada atau tidaknya perbedaan beberapa variabel bebas dengan sebuah variabel terikatnya dimana masing-masing variabel mempunyai dua subvariabel atau lebih (Usman,2006:177). HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil analisis validasi perangkat pembelajaran didapatkan hasil sebagai berikut: (1) validasi terhadap buku ajar diperoleh prosentase rata-rata 78.57% meliputi tiga aspek penilaian yaitu aspek fisik, materi dan bahasa. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil validasi buku ajar dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi sehingga buku ajar layak digunakan; (2) validasi terhadap tes hasil belajar diperoleh prosentase rata-rata 78.125% meliputi tiga aspek penilaian yaitu aspek materi, konstruksi dan bahasa. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil validasi tes hasil belajar dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi sehingga tes hasil belajar layak digunakan; (3) validasi terhadap RPP diperoleh prosentase rata-rata 76.44% meliputi tujuh aspek penilaian yaitu kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, bahasa, format, kegiatan belajar mengajar dan alokasi waktu. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil validasi RPP dikategorikan baik dengan kriteria memenuhi sehingga RPP layak digunakan. Sebelum dilakukan penelitian untk mengetahui keampuhan instrumen diberikan soal terlebih dahulu kepada siswa kelas XI TEI 2 dengan jumlah soal 45 dan siswa telah mendapatkan materi menerapkan sistem mikroprosesor lalu dilakukan Analisis. Analisis yang dilakukan tiga macam, yaitu analisis tingkat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas butir soal yang semuanya di analisis menggunakan Anates V4. Dari hasil Anates V4 hasil uji reliabilitas, nilai reliabilitas instrumen tes hasil belajar 0,93 dengan butir soal yang gugur sebanyak 5 soal dari 45 butir soal 5 soal yang di analisis memiliki indeks daya pembeda kurang dari (< 0.20) sehingga soal dikategorikan jelek . Dinyatakan ke 40 butir tes reliabel dan dapat digunakan semua karena memenuhi persyaratan rhitung > rtabel yaitu 0.93 > 0.3388 Setelah itu soal diuji cobakan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui kemampuan nilai akademik awal siswa. Berikut hasil deskriptif statistik awal (pretest) pada Tabel 7. Tabel 7. Deskriptif Data Pretest
Kontrol Eksperimen N 36 36 Descriptive Statistics Min Max Mean 15 50 31.73 20 50 35 Std. Deviation 8.86 8.38

(Arikunto , 2006:210) (2) Daya pembeda adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa berkemampuan tinggi dengan siswa berkemampuan rendah. Setelah butir soal dianalisis dengan program anates V4 maka akan diketahui indeks daya pembeda, kemudian diintepretasikan pada tabel berikut. Tabel 5. Penafsiran Daya Pembeda Tes
Indeks Diskriminasi (D) 0,70 – 1,00 0,40 – 0,70 0,20 – 0,40 0,00 – 0,20 negatif – 0,00 Penafsiran Daya Beda Soal Baik sekali Baik Cukup baik Jelek perlu revisi Jelek dan dibuang

(Arikunto,2006:218) (3) Analisis Reliabilitas Instrumen. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketepatan hasil tes. Atau seandainya hasil berubah-ubah perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti (Arikunto, 2006:86). Dalam menetukan reliabilitas tes hasil belajar ini dilakukan dengan program anates V.4. Kemudian hasil hitung reliabilitas yang diperoleh dengan program anates dibandingkan dengan rtabel dengan kriteria: jika rhitung > rtabel item dikatakan reliabel. Analisis data pretest berfungsi untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada standar kompetensi menerapkan sistem mikroprosesor. Pada analisis data pretest dilakukan uji normalitas dengan uji kolmogorovsmirnov, uji homogenitas dan uji-t. Pada penelitian ini analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS v.19. Analisis data postest berfungsi untuk menganalisis uji hipotesis penelitian hasil belajar pada kelas eksperimen dan kontrol baik siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan rendah serta untuk melihat interaksi antara teknik pembelajaran, motivasi berprestasi dan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini digunakan uji anava dua jalur untuk menganalisis data postest dengan bantuan SPSS v.19. Berikut disajikan tabel penolong anava 2 x 2. Tabel 6. Tabel penolong anava 2 x 2
Jenis Motivasi Berprestasi Motivasi Berprestasi Tinggi Motivasi Berprestasi Rendah Pembelajaran Model Quantum Pembelajaran Teaching Langsung A11 A21 B22 B12

1006

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data hasil pretes disajikan sebagai berikut. Tabel 8. Perhitungan Uji Kolmogolov-Smirnov Dengan SPSS 19.0
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kontrol N Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative 36 31.73 8.86 .132 .132 -.089 .794 .554 Eksperim en 36 35 8.38 .064 .064 -.064 .386 .998

Dengan hipotesis awal yaitu H0 = Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama H1 = Kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah berbeda Tabel 10. Perhitungan Uji-t Nilai Pretest
Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Nilai Pretest F Sig. t df

t-test for Equality of Means

Sig. Mean Std. (2Differe Error tailed) nce Differe nce .113 3.26 2.03

95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -.7917 7.31

Dari hasil Tabel 8, dapat disimpulkan bahwa data nilai pre-test berdistribusi normal. Ini dibuktikan dengan nilai signifikansi hasil uji KolmogolovSmirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.998 dan kelas kontrol yang bernilai 0.554 lebih besar dari α = 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu : H0 = sampel berdistribusi normal H1 = sampel berdistribusi tidak normal Dan kriteria pengujian tolak H0 jika . Maka H0 yang menyatakan bahwa sampel berdistribusi normal diterima dan H1 yang menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak. Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel memiliki varian yang sama. Pada uji homogenitas ini H0 akan diuji dengan H1 dengan hipotesis awal yaitu: H0 = sampel homogen H1 = sampel tidak homogen dan taraf signifikan yang ditentukan α = 0,05 kriteria pengujiannya yaitu tolak H0 jika . Dalam hal lainnya, H0 diterima. Berikut disajikan tabel uji homogenitas pretest dengan SPSS v.19. Tabel 9. Perhitungan Uji Homogenitas Nilai Pretest Dengan SPSS
Test of Homogeneity of Variances Nilai Pretest Levene Statistic df1 df2 Sig. .003 1 70 .954

Equal variances assumed Equal variances not assumed

.003 .954

1.605

70

1.605

69.7

.113

3.26

2.03

-.7920

7.31

Kemudian untuk kriteria pengujiannya adalah dengan taraf signifikan  = 0,05 , terima Ho jika thitung < t tabel . Dalam hal lainnya H0 ditolak. Diperoleh nilai thitung dari tabel 10 sebesar 1.605 sedangkan dengan nilai df = 70 dan tingkat signifikansi sebesar 0.05 maka dengan menggunakan uji dua sisi pada tabel t didapat nilai t tabel = 1.994. Karena t hitung terletak di antara range dari -1.994 sampai +1.994 maka H0 diterima yaitu kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama. Dan kesimpulannya adalah kemampuan awal antara siswa kelas eksperimen maupun kelas kontrol pada standar kompetensi menerapkan sistem mikroprosesor adalah sama. Angket motivasi berprestasi diberikan baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Terdapat dua kategori intepretasi dalam mengkategorikan siswa dalam pengukuran motivasi berprestasi ini yaitu siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Berikut ini adalah hasil motivasi berprestasi yang dijadikan dalam Tabel 11. Tabel 11. Motivasi Berprestasi Siswa
Motivasi Berprestasi Tinggi Rendah Quantum Teaching 20 Siswa 16 Siswa MPL 17 Siswa 19 Siswa

Dari tabel di atas ditunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.954 yang lebih besar dari 0.05. Maka H0 diterima yaitu varians sama atau homogen. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian ini homogen dengan taraf signifikan 5%. Berikut ini akan dijelaskan analisis uji-t dengan menggunakan software SPSS versi 19 yang ditunjukkan oleh Tabel 10 sebagai berikut:

Data didapat dari hasil uji posttest setelah masingmasing kelompok mendapatkan perlakuan. Kelompok eksperimen diberikan model pembelajaran kooperatif teknik pembelajaran Quantum Teaching dan untuk kelompok kontrol diberikan Model PembelajaranLangsung.

1007

Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010

Berikut adalah paparan deskriptif data hasil belajar nilai posttest siswa yang dihitung menggunakan software SPSS 19.0 pada tabel 12 sebagai berikut : Tabel 12. Deskriptif Data Posttest
Descriptive Statistics N Eksperimen Kontrol 36 36 Min 57.5 55 Max 97.5 90 Mean 83.47 75.55 Std. Deviation 10.50 8.32

Tabel 13 berikut menunjukkan hasil perhitungan uji normalitas one-sample Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data hasil posttest. Tabel 13. Perhitungan Uji Kolmogorov-Smirnov Nilai
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Mean Normal Parametersa,b Std. Deviation Absolute Most Extreme Differences Positive Negative Eksperimen 36 83.4722 10.50 .130 .091 -.130 .779 .579 Kontrol 36 75.555 8.32 .092 .075 -.092 .553 .920

ditunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.120 yang artinya lebih besar dari 0.05. Maka H0 yang menyatakan bahwa sampel adalah homogen diterima dan H1 yang menyatakan sampel tidak homogen ditolak. Setelah diketahui sampel berdistribusi normal dan memiliki varian homogen selanjutnya dilakukan uji analisis anava untuk uji hipotesisnya. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah uji anva dua jalur dikarenakan terdapat beberapa variabel bebas dengan sebuah variabel terikatnya dimana masing-masing variabel mempunyai dua subvariabel atau lebih (Usman,2006:177). Berikut ini adalah tabel deskriptif statistik kelas eksperimen dan kontrol dengan motivasi berprestasi berbeda. Tabel 15. Deskriptif Statistik Kelas Eksperimen dan Kontrol Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda
Descriptive Statistics Dependent Variable:Nilai Postest Motivasi Std. Kelas Berprestasi Mean Deviation Eksperimen Tinggi 88.625 8.0898 Rendah 77.031 9.7561 Total 83.472 10.5098 Kontrol Tinggi 74.853 10.6239 Rendah 76.184 5.7956 Total 75.556 8.3262 Total Tinggi 82.297 11.5377 Rendah 76.571 7.7433 Total 79.514 10.2232

Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Dari hasil Tabel 13, dapat disimpulkan bahwa data nilai postest berdistribusi normal. Ini dibuktikan dengan nilai signifikansi hasil uji Kolmogolov-Smirnov kelas eksperimen yang memiliki nilai 0.579 dan kelas kontrol yang bernilai 0,920 lebih besar dari α = 0,05. Dengan hipotesis awal yaitu : H0 = sampel berdistribusi normal H1 = sampel berdistribusi tidak normal Sehingga H0 yang menyatakan bahwa sampel berdistribusi normal diterima dan H1 yang menyatakan sampel berdistribusi tidak normal ditolak. Tabel 14 berikut menunjukkan hasil perhitungan uji homogenitas dengan bantuan software SPSS versi 19.0 untuk data hasil posttest. Tabel 14. Perhitungan Uji Homogenitas Postest Dengan SPSS 19.0
Test of Homogeneity of Variances Nilai Postest Levene Statistic df1 df2 Sig. 2.479 1 70 .120

N 20 16 36 17 19 36 37 35 72

Dengan hipotesis awal yaitu: H0 = sampel homogen H1 = sampel tidak homogen Dan kriteria pengujiannya yaitu tolak H0 jika , dalam hal lainnya, H0 diterima. Dari tabel di atas

Berdasarkan tabel 15 diketahui rata-rata nilai pada kelas eksperimen atau kelas yang dibelajarkan dengan teknik Quantum Teaching dan memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki rata-rata 88.625 dengan jumlah siswa 20, dan yang bermotivasi rendah memiliki rata-rata 77.031 dengan jumlah siswa 16. Dengan rat-rata total untuk kelas eksperimen sebesar 83.472 Sedangkan rata-rata nilai pada kelas kontrol atau kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung dan memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki rata-rata 74.853 dengan jumlah siswa 17 dan yang bermotivasi berprestasi rendah memiliki rata-rata 76.184 dengan jumlah siswa 19. Dengan rata-rata total keseluruhan kelas kontrol sebesar 75.556. Total keseluruhan siswa kelas eksperimen dan kontrol berjumlah 72 siswa. Dari output SPSS pada Tabel 15 terdapat deskriptif statistik hasil belajar siswa keseluruhan yang menunjukkan rata-rata motivasi berprestasi tinggi = 82.297 dan rata-rata keseluruhan siswa dengan motivasi berprestasi rendah = 76.571, maka hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih unggul daripada hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Kemudian untuk uji hipotesis dengan uji anava dua jalur didapatkan output seperti tabel berikut ini.

1008

Pengaruh Teknik Pembelajaran Quantum Teaching Pada Siswa Dengan Motivasi Berprestasi Berbeda

Tabel 16. Uji Anava Dua Jalur
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable:Nilai Postest Type III Sum Mean Source of Squares df Square Corrected Model 2338.827a 3 779.609 Intercept 447833.99 1 447833.9 Kelas 954.290 1 954.290 Motivasi 470.266 1 470.266 Kelas * Motivasi 745.936 1 745.936 Error 5081.659 68 74.730 Total 462637.50 72 Corrected Total 7420.486 71 a. R Squared = .315 (Adjusted R Squared = .285)

terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa. PENUTUP Simpulan (1) Berdasarkan hasil hitung uji anava dengan batuan SPSS 19.0 untuk menguji pengaruh penerapan model pembelajaran terhadap hasil belajar siswa, seperti yang ditunjukkan tabel 16 didapatkan nilai signifikansi = 0.001 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara yang mendapat perlakuan model pembelajaran kooperatif teknik Quantum Teaching dan model pembelajaran langsung. Sedangkan dari tabel 15 deskriptif statistik kelas eksperimen dan kontrol dengan motivasi berprestasi berbeda didapatkan nilai rata-rata untuk siswa kelas eksperimen (Quantum Teaching) = 83.47, dan untuk rata-rata nilai kelas kontrol (MPL) = 75.56. Artinya model pembelajaran kooperatif teknik pembelajaran Quantum Teaching lebih unggul daripada Model Pembelajaran Langsung; (2) Berdasarkan hasil uji anava dengan bantuan software SPSS 19.0 untuk menguji pengaruh motivasi terhadap hasil belajar siswa, seperti yang ditunjukkan tabel 16 didapatkan nilai signifikansi = 0.015 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Dengan rata-rata nilai pada masingmasing motivasi berprestasi seperti pada tabel 15 terlihat rata-rata nilai keseluruhan untuk siswa dengan motivasi berprestasi tinggi = 82.297 dan rata-rata nilai siswa dengan motivasi berprestasi rendah = 76.571 maka terlihat hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih unggul daripada hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah; (3) Berdasarkan tabel 16 terdapat hasil perhitungan uji anava dua jalur dengan menggunakan SPSS 19.0 untuk pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar yaitu dengan nilai signifikansi = 0.002 yang lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H0 ditolak dan terima H1 yaitu terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa. Pada gambar 1 juga terlihat ada perpotongan garis yang menunjukkan adanya hubungan interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi siswa. Dengan demikian terdapat interaksi terhadap hasil belajar antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi yang dilakukan peneliti di SMKN 1 Jetis.

F 10.432 5992.67 12.770 6.293 9.982

Sig. .000 .000 .001 .015 .002

Gambar 1. Plot interaksi Model Pembelajaran dengan Motivasi Berprestasi Pada uji hipotesis ini H0 akan diuji dengan H1. Dengan taraf signifikansi yang ditentukan α = 0.05 kriteria pengujiannya yaitu tolak H0 jika . Dalam hal lainnya H0 diterima. Pada tabel 16 terlihat nilai signifikansi untuk variabel hubungan antar kelas = 0.001 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara yang mendapat perlakuan model pembelajaran kooperatif teknik Quantum Teaching dan model pembelajaran langsung. Kemudian untuk interaksi motivasi ditunjukkan nilai signifikansinya untuk motivasi = 0.015 yang lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan untuk tolak H0 dan terima H1 yaitu terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Pada interaksi antara kelas dan motivasi terhadap hasil belajar ditunjukkan nilai signifikansi = 0.002 lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis H0 ditolak dan terima H1 yaitu

1009

Jurnal Pendidikan Teknik Elektro. Volume 02 Nomor 03 Tahun 2013, 1001-1010

Saran (1) Penerapan teknik pembelajaran Quantum Teaching sangat cocok diterapkan untuk suasana kelas yang kurang kondusif dengan jam belajar yang lama. Terbukti dengan keadaan yang lebih kondusif dengan diterapkannya teknik ini dikarenakan keikutsertaan siswa dalam pembelajaran sehingga tanpa terasa jam belajar yang lama dilalui siswa begitu saja; (2) Teknik pembelajaran Quantum Teaching sangat cocok untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa dengan motivasi berprestasi rendah. Terbukti dengan kemajuan belajar siswa dengan motivasi berprestasi rendah pada kelas Quantum Teaching lebih unggul dibanding dengan siswa bermotivasi berprestasi tinggi pada kelas dengan Model Pembelajaran Langsung; (3) Kemampuan penguasaan kelas sangat dibutuhkan untuk berjalannya teknik pembelajaran ini, sehingga benar-benar tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan dan kondusif. Sehingga untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti membawa rekan sejawat yang kompeten agar dapat mengorganisasikan kelas dengan baik sehingga suasana kelas tidak ramai dan berjalan kondusif. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi.2006.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara DePorter, Bobbi.2003.Quantum Teaching.Bandung:Kaifa Kurikulum SMK Negeri 1 Jetis. 2013. Silabus Kompetensi Kejuruan Kompetensi Keahlian: Teknik Elektronika Industri. Nur, Mohamad.2001.Pemotivasian Siswa Untuk Belajar.Surabaya:Universitas Negeri Surabaya Nur, Mohamad.2011.Model Pengajaran Langsung.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah Unesa Nur, Mohamad.2011.Model Pembelajaran Kooperatif.Surabaya:Pusat Sains dan Matematika Sekolah Unesa Riduwan.2006.Dasar-dasar Statistika.Bandung: Alfabeta Sardiman, A. M. 2011. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada Simanjuntak, Henri.2001.Dasar-dasar Mikroprosesor. Yogyakarta:Kanisius Siwo Wardoyo.2004.BPK Mikroprosesor, Surakarta:POLITAMA Sudjana.2005.Metoda Statistika.Bandung:Tarsito Sugiyono.2011.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.Bandung:Alfabeta Sugiyono.2012.Metode PenelitianAdministrasi.Bandung: Alfabeta

Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem. Surabaya: Pustaka Pelajar Uno, B.Hamzah.2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya.Jakarta:Bumi Aksara Usman Husaini., Akbar, Purnomo Setiadi.2006.Pengantar Statistika.Jakarta:Bumi Aksara Yoyo Somantri & Erik Haritman, 2006, Hand Out Bahan Kuliah, Bandung: UPI.

1010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->