P. 1
fraktur bahan

fraktur bahan

|Views: 168|Likes:
Published by Na Marina

More info:

Published by: Na Marina on Dec 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2014

pdf

text

original

A. Fraktur 1. Pengertian Fraktur adalah : terputusnya hubungan / kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat, 1997).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer, Arif. 1999) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007) 2. Anatomi dan fisiologi a. Tulang dalam garis besarnya di bagi atas : 1) Tulang panjang Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis di sebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena itu daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada daerah lempeng episis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang. 2) Tulang pendek Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal. 3) Tulang pipih Yang termasuk tulang pipih antara lain tilang iga, tulang skapula, dan tulang pelvis. Tulang yang terdiri dari bagian yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan di luarnya dilapisi oleh periosteum. Periosteum pada anak lebih tebal dari pada orang dewasa yang memungkinkan penyembuhan tulang pada anak lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. b. Fungsi tulang sebagai struktur dan organ Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama, yaitu : 1) Membentuk rangka badan 2) Sebagai tempat melekatnya otot 3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam, seperti otak, sumsum tulang belakang , jantung dan paru-paru 4) Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam 5) Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi selsel darah merah, sel-sel darah putih dan trombosit. c. Sel-sel tulang dan fungsinya

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi sel mesenkim yang sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteblas dapat memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut osteosit dimana keadaan ini terjadi di dalam lakuna. Sel yang bersifat multi nukleus tidak di tutupi oleh permukaan tulang dengan sifat dan fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang menghilangkan matriks organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut deosifikasi. d. Anatomi Tangan Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu: 1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus) Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal yang terdiri dari navicular(skafoid),lunatum, trikuetral(triangular),dan pisiform. Barisan tulang karpal distal yang terdiri dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum. 2) Tangan (metacarpus) Tangan tersusun dari lima tulang metakarpal’dimana semua tulang metacarpal berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari yang menonjol pada tangan. 3) Tulang – tulang jari (phalanges) Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal, kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003 ) 3. Etiologi a. Trauma langsung : benturan pada tulang yang menyebabkan fraktur pada tempat benturan contoh : kecelakaan lalu lintas. b. Trauma tidak langsung : jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang. c. Proses suatu penyakit Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis. 4. Patofisiologi Daya

Tulang Fraktur

Perdarahan

5. Klasifikasi Fraktur a. Menurut jumlah garis fraktur 1) Simple fraktur 2) Multiple fraktur 3) Comminute fractur : hanya terdapat satu garis fraktur : terdapat lebih dari satu garis : terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas. b. Menurut garis fraktur 1) Fraktur inkomplit 2) Fraktur komplit 3) Hair line fraktur : tulang tidak terpotong secara total

: tulang terpotong secara total.1 Tipe fraktur Sumber : (medicastrore. : garis fraktur hampir tak tampak sehingga bentuk tulang tak ada perubahan. Menurut bentuk fragmen 1) Fraktur transversal 2) Fraktur oblique 3) Fraktur spiral : bentuk fragmen melintang : bentuk fragmen miring : bentuk fragmen melingkar 2. c. Com) .

e.d. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur. luka > 1 cm ( misal fraktur comminutive) 3) Luka besar sampai lebih kurang 8 cm. Fraktur terbuka : fragmen tulang sampai menembus kulit Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat : 1) Pecahan tulang menusuk kulit. Proses ini terjadi selama 3-10 minggu. hematoma ini mengelilingi fraktur dan tidak di absorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi. Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur. 5) Konsolidasi dan Remodelling. callus sementara meluas. Resiko terjadi infeksi lebih besar. lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang. 2) Kerusakan jaringan sedang. menganyam massa tulang dan cartilago sehingga diameter tulang melebihi normal. 4) Ossification Callus yang menetap / permanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan garam-garam calcium dan bersatu bersama ujung-ujung tulang. 2) Proliferasi sel. Proses ossifikasi ini mulai dari callus bagian luar kemuadian bagian dalam dan terakhir bagian tenagh. 3) Pembentukan callus 6-10 hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan memben¬tuk callus. 1) Haematoma Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematom di sekitar fraktur. dimana sel-sel ini menjadi precusor dari osteoblast. kontaminasi ringan. . luka < 1 cm. Callus ini bertambah banyak. Tahap dan Proses Penyembuhan Tulang. osteogenesis ini berlangsung terus. Setelah 24 jam suplai darah ke ujung fraktur meningkat. Kelebihan-kelebihan tulang seperti dipahat dan diabsorbsi dari callus. Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan dari otot. kontaminasi besar misal : luka tembak Fraktur tertutup : fragmen tulang tak berhubungan dengan dunia luar. kerusakan jaringan sedikit. Sementara pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Pada waktu yang sama pembentukan tuoang yang sebenarnya callus dibentuk dari aktvitas osteoblast dan osteoklast. Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di lujung fraktur. kehancuran otot kerusakan neurovaskuler. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar.

Segera ( immediate) Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah fraktur antara lain. penyembuhan tulang terganggu ( mal union. nekrosis. b. c. kerusakan syaraf. Krepitasi . shock neurogenik. dan cross union). Pemeriksaan fisik 1) Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit. kehilangan fungsi daerah yang cedera . kerusakan organ.6. b. Late complication Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes ( kaku sendi). dan lain-lain). emboli. dapat berupa : 1) Angulasi Karena adanya kekerasan mengakibatkan otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang. perubahan warna kulit e. dan injury / perlukaan kulit. dan sindroma compartement. Early complication Early komplikasi yang dapat terjadi : osteomyelitis. Kemungkinan lain : kehilangan sensasi mobilisasi yang abnormal Hypovolemik shock 7. delayed union. degenerasi sendi. Fungsileosa ( gangguan fungsi) g. spasme otot h. edema . ekimosis sekitar lokasi cedera c. Jika frakturnya terbuka ujung patahan tulang dapat terlihat di dalam luka. Oedema e. Nyeri Nyeri tekan dan pembengkakan di sekitar bagian fraktur. 2) Pemendekan tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang. Deformitas. laserasi d. c. d. Gambaran Klinis Fraktur a. Komplikasi a. inkomplit. Rasa gemeretak ketika ujung tulang bergeser. a. 2) Inspeksi daerah mana yang terkena:. non union. sehingga ujung patahan saling bertumpuk. tetanus. deformitas yang nampak jelas b. Echymosis f.

Dengan membalut plester yang lunak di atas tonjolan tulang biasanya dapat mencegah timbulnya ulserasi tekanan dan dapat memaksimalkan kemampuan gips tersebut untuk mempertahankan posisi fragmen fraktur. adanya nyeri dan penyebaran b. Fraktur di imobilisasi dengan bidai atau gips dan traksi. 8. Imobilisasi Imobilisasi untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan cara : c. semua ini adalah tanda-tanda dari disfungsi neurovaskuler. mengelilingi seluruh ekstremitas. observasi spasme otot sekitar daerah fraktur e. bengkak. leuco. dingin d. 9. a. kepucatan parestesi dan lenyapnya denyut nadi . terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera. Ht. Reposisi Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dilakukan dengan anesthesi umum. krepitasi c. selain itu proses reduksi juga dapat memberberat edema jaringan yang sudah ada. nadi. Ca dan P 2) Radiologi : a. Penatalaksanaan Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas ujung patahan tulang. gips digunakan untuk mempertahankan reduksi. maka suplai darah dan syaraf ke ekstremitas yang cedera harus benar benar diperhatikan. Pemeriksaan diagnostik 1) Laboratorium Hb.. gips sebaiknya tidak berlaminasi dan sesuai dengan geometri tulang yang diberi gips tersebut.3) Palpasi : a. LED. Penggunaan gips dan traksi 1) Penggunaan gips Secara umum. Reduksi dan pemasangan gips seringkali dapat di selesaikan dalam jam sesudah terjadi cedera. . Fiksasi eksterna. Yaitu saat pembengkakan jaringan lunak belum maksimal. Untuk melihat beratnya cedera/ lokasi b. b. ekstremitas harus diletakkan lebih tinggi bagian distal ekstremitas yang mengalami cedera harus diperiksa berulang ulang guna mengawasi perkembangan nyeri. Untuk melihat perkembangan tulang. Namun karena gips dipasang berbentuk melingkar. namun harus melewati sendi di atas dan di bawah fraktur.

Hal ini dapat menghilangkan nyeri lyang timbul dari nekrosis jarin¬gan. c) Ada tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus dan terlindung dengan baik. Traksi dilakukan dengan menempelkan beban dengan tali pada ekstremitas biasanya lebih disukai traksi rangka dengan pin baja steril yang dimasuk¬kan melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui pembedahan. dipasang paha kiri rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris dengan sumbu panjang normal tulang pan¬jang yang patah. Perhatikan integritas kulit selama pemasangan gips. Gips yang tidak pas dapat menimbulkan perlukaan. silinder. . 2) Penggunaan Traksi Metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ekstremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi.Semua keluhan penderita yang tetap dirasakan setelah reduksi harus benar-benar mendapat perhatian. Mengimobilisasi . pemberian obat-obat narkotik secara berulang-ulang adalah suatu kontraindikasi. mensupport. 3. melindungi selama proses penyem¬buhan tulang patah. Bentuk bentuk traksi biasanya akan membuat ekstremitas yang patah terangkat lebih tinggi sehingga dapat mengurangi pembengkakan dan meningkatkan penyembuhan jaringan lunak. Tekanan suplai darah dapat menimbulkan perubahan patologik yang tidak reversible bila dibiarkan selama satu setengah jam. Sewaktu memasang atau mempertahankan traksi ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan: a) Tali utama. Gips tidak boleh longgar atau terlalu kecil. Mencegah dan memperbaiki deformitas. 2. Indikasi pemasangan gips: Macam-macam gips : short leg. hip spica. Yang perlu diperhatikan pada pemasangan gips: 1. Tujuan pengunaan gips adalah : 1. 4. long leg. 2. bukan dengan traksi kulit. Bila sudah parah. short arm. Pada beberapa jam pertama setelah terjadi cedera. gips tidak dapat digunakan lagi. b) Berat ekstremitas maupun alat-alat penyokong sebaiknya seimban¬gan dengan pemberat untuk menjamin agar reduksi dapat dipertahan¬kan secara stabil dan mendukung ekstremitas yang patah. d) Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol e) Pemberat harus cukup tinggi diatas permukaan lantai dengan klien dalam posisi normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan pemberat terletak dilantai sehing¬ga kehilangan regangan tali.

2. Alat-alat fiksasi internal adalah : 1. b) Mengistirahatkan sendi yang implamasi c) Koreksi deformitas.f) Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman Kerugian penggunaan traksi : a) perawatan rumah sakit lebih lama b) mobilisasi terbatas. wire atau sekrup dengan tindakan operasi. Demikian juga jaringan sekitar. Fiksasi dilakukan dengan menyatukan patahan tulang dengan memasang plate. k) Hindari komplikasi tirah baring. Transfixian screw / skreu tembus. Open Reduksi intra fiksasi (ORIF) Pembedahan reduksi terbuka pada patah tulang keuntungannya tulang yang patah dapat terlihat. . d) Menghilangkan nyeri karena spasmeotot. e) Mengurangi dislokasi sendi. a. Rumus untuk pemberian traksi : 1) dewasa 1/3 x BB 2) anak-anak 1/13 x BB d. Fiksasi interna / pembedahan. Prinsip-prinsip: a) adekuat counter traksi b) adanya kekuatan melakukan beban traksi c) sesuai dengan poros d) semua sistem harus bebas dari fiksi / tersangkut e) klien teriformasi f) penilaian terus menerus terhadap kepatenan traksi g) Observasi neurovaskuler h) observai adanya nyeri i) firm matters untuk good aligment. Pelat dan skup seperti neufeld dan kuntscher. j) Perineal care yang benar. Fiksasi internal dilaksanakan dalam tehnik asepsis yang sangat ketat dan klien untuk beberapa saat mendapat antibiotik untuk pence¬gahan setelah pembedahan. c) perlu penggunaan alat-alat yang banyak d) Indikasi penggunaan traksi : Tujuan Traksi: a) Mempertahankan/ memperbaiki alignment tulang paska fraktur.

Intermedullary rod / batang menembus sumsum. dan biasanya ditambah dengan suplemen vitamin. Fisiotherapi dan mobilisasi Fisiotherapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil. c. 2) Adanya penyakit lain yang memper¬berat dan mempermudah terjadinya fraktur. e.3. Untuk mempertahan¬kan keutuhan organ tubuh digunakantransplantasi tulang. adanya jaringan nekrotik di sekitar luka akan memperlambat proses pen-yembuhan. Pada fraktur tertutup jarang terjadi kontak langsung dengan udara luar. antipiretik. Transplantasi tulang Jarang dilakukan. tapi adakalanya dilakukan pada faktur dimana tulang tidak dapat lagi disatukan ( hancur ). yang dikenal dengan shock analgetik. keefektifan pengobatan ditentukan oleh : 1) Kontaminasi kuman terhadap luka. b. 4. Antibiotik Pengobatan antibiotik pada fraktur tidaklah spesifik. analgetik. Debridement Pembersihan luka fraktur terbuka dari jaringan nekrotik. negatif. Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya frak-tur : 1) Osteomyelitis acute 2) Osteomyelitis kronik 3) Osteomalacia 4) Osteo porosis 5) Gout dan gouty 6) Rheumatoid arthritis. seperti austin moore protesis. Pada fraktur terbuka umumnya luka kontak dengan udara luar yang banyak ditemukan bakteri gram positif dan gram. Ini akan juga mempengaruhi kerja otot terhadap tulang. obat yang paling baik ditemukan . Analgetik Diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trau¬ma. Fungsi penyangga badan (Weight Bearing ) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus. Nyeri yang timbul dapat menyebabkan klien gelisah sampai dengan shock. toxoid. Setelah fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul-betul telah kembali normal. Pemberian antibiotika digunakan untuk menghambat terjadi infeksi lokal dan sistemik. Prinsip pengobatannya antara lain antibiotik. Prostetic implans / pencangkokan alat prostetik. Ungkapan rasa nyeri dan ketidaknyamanan. Prinsip pengobatan yang diberikan sesuai dengan jenis dan kondisi fraktur.

b. kultur. Identitas pasien dan keluarga : a) Nama Pasien. agama. dan keterangan. Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan secara sistematis. dan makanan tambahan. agama. jika diberi aspirin harus dikombi¬nasi dengan antasid. perencanaan. B. kultur. umur. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien terse¬but. Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu : a.adalah salisilate.secara umum efek samping : tinitus dan penurunan pendengaran yang reversible setelah obat bekerja .” 1. Klien dengan iritasi lambung. jenis kelamin. psiko. secara umum dalam bentuk aspirin ( asetil salicilat asam ) Tujuan dari therapi aspirin adalah untuk mengatur kemampuan dosis obat sebagai efek anti inflamasi . anak ke. sodium dapat digunakan. d) Saudara kandung. Pemeriksaan fisik Kebiasaan sehari-hari : a) Pola nutrisi : Bagaimana kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi. diagnosa keperawatan. umur. Iritasi lambung memungkinkan kehilangan darah sedikit melalui saluran gastrointestinal akan dijumpai pada beberapa klien sehingga dapat menimbulkan anemia ringan . Konsep Asuhan Keperawatan Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien. aspirin harus diminum setiap hari sesuai dengan kebutuhan individu dan pada beberapa orang boleh diberikan dosis ganda untuk efek yang diinginkan. umur/tanggal lahir. bertujuan untuk mendapatkan data yang penting tentang pasien dengan cara wawancara. pendidikan. pelaksanaan dan evaluasi. alamat. sama baiknya dengan analgetik untuk mendapatkan efek ini. jumlah. Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktifitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sistematis. Pengumpulan data yang akurat dan sistematik akan membantu me¬nentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien serta memudahkan perumusan diagnosa keperawatan. c) Nama ibu. umur. . “Proses keperawatan terdiri dari lima tahap : pengkajian. b) Nama ayah. pendidikan. sosial dan spiritual. alamat. nama. observasi dan pemeriksaan fisik. pekerjaan. frekuensi makan. agama. mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. pekerjaan. pendidikan. perawat memandang pasien sebagai individu yang utuh terdiri dari bio.

Riwayat perjalanan penyakit : 1) Keluhan utama klien datang ke RS atau tempat pelayanan keseha-tan 2) Apa penyebabnya. dan lain-lain. rambut. memotong kuku. Riwayat kesehatan masa lalu Apakah pernah dirawat di rumah sakit. f. adanya nyeri. dan lain-lain. bau dan mulai kapan. untuk melihat perubahan warna. g. 5) Kirim untuk pertolongan emergensi 6) Pantau daerah yang cedera dalam periode waktu pendek.b) Pola eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK. menyikat gigi. kapan terjadi kecelakaan atau trauma 3) Bagaimana dirasakan. konsistensi. 1) Deformity yang nampak jelas 2) Edema . dan lain-lain. alergi obat dan makanan. lama tidur) d) Pola aktifitas : Kegiatan sehari-hari. 5) Kehilangan fungsi 6) Apakah klien ada riwayat penyakit osteoporosis. panas. Proses pertolongan pertama yang dilakukan 1) Pemasangan bidai sebelum memindahkan klien dan pertahankan gerakan di atas / di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindah-kan 2) Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema 3) Bila fraktur terbuka. c. bengkak. mengisi waktu luang. pernah mengalami kecelakaan. e) Pola dalam hygiene : kebiasaan mandi. ekimosis sekitar lokasi cedera 3) Laserasi . apakah obstipasi dan bagaimana ciri faeces. sakit waktu kecil. hentikan perdarahan dan tutup luka dengan kain yang bersih. Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit. warna. b. apakah keluarga mempunyai penyakit keturunan yang memerlukan perawatan. Riwayat kesehatan keluarga Apakah keluarga ada yang menderita sakit menular pada saat ini. Pemeriksaan fisik a. dan lain-lain). c) Pola tidur : Kebiasaan tidur sehari-hari (jam tidur. Inspeksi daerah mana yang terkena:. 4) Bila fraktur tertutup. jangan merubah posisi fraktur karena akan memperberat keadaan. terbatasnya gerakan. 4) Perubahan bentuk. dan suhu. e. pernah mendapatkan obatobatan atau tindakan operasi. d. inkomplit.

luka terbuka. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya fraktur pemasangan gips / traksi. atau mencegah masalah klien yang ada pada tanggungjawabnya”.4) Perubahan warna kulit 5) Kehilangan fungsi daerah lyang cedera c. pergerakan fragmen tulang. Palpasi : 1) Bengkak. bagaimana awal terjadinya. Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan fraktur menurut buku “Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi III” (Doenges. Dkk adalah sebagai berikut : 1. gangguan sirkula¬si. adanya trobus. 2. bentuk tulang yang tidak normal. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. menghilangkan. dingin 4) Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur 5) Terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera. stress. untuk mengurangi. 2. e. cemas. perubahan membran alveo¬lar / capiler. Resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan. yang berlebihan. pernah berobat kemana saja. nyeri. 5. hipovolemia. 7. terhambatnya aliran darah. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak. oedem. imobilisasi. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromus-cular. f. jaringan prosedur invansif. d. Nyeri berhubungan dengan spasme otot. trauma pada jaringan lunak. oedema. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur). traksi tulang ). adanya nyeri dan penyebaran 2) Krepitasi 3) Nadi. prognosa dan pengoba¬tan berhubungan . 8. Kapan terjadinya cidera/kecelakaan. 4. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer ( rusak kulit. Perawat menggunakan proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan. 2000). Pengobatan : usaha yang dilakukan orang untuk kesembuhan pasien membawanya ke Puskesmas/rumah sakit/petugas kesehatan dan apa obat yang diberikan. tindakan apa saja yang telah dilaukan. Keluhan utama : adanya rasa nyeri. restriktif terapi. 6. Diagnosa keperawatan Menurut Carpenito (1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah : “ Pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. 3.

maka rencana tindakan keperawatannya adalah sebagai berikut : 1. Rasional : Kelembutan dan kelenturan alas dapat mempengaruhi bentuk gips yang basah. 3) Menunjukkan pertumbuhan callus yang baru pada bagian fraktur. Penempatan bantal yang tepat dapat mencegah penekanan sehingga menghindari deformitas pada gips. bidai. trochanter roll. Rasional : Mencegah gerakan yang tidak perlu dan gangguan pada allignment. papan kaki. Hasil yang diharapkan : 1) Mempertahankan stabilisasi dan aligment fraktur. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan. c. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan dicapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Beri sanggahan pada fraktur dengan bantal. Menetapkan kriteria evaluasi c. Anjurkan bed rest dengan memberikan penyangga saat mencoba menggerakkan bagian yang fraktur. salah menafsirkan informasi. a. yang dimulai setelah data-data yang terkumpul sudah dianalisa. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan. Rasional : Bidai mungkin digunakan luntuk memberikan immobi¬lisasi pada fraktur dan untuk . Tahapan dalam perenca-naan ini terdiri dari : Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur). 2) Mendemonstrasikan mekanika tubuh untuk mempertahankan stabili-tas dan posisi tubuh. b. Rasional : Meningkatkan kemampuan. d. Evaluasi pergerakan bidai untuk menghindari edema. Rencana Tindakan a. mereduksi kemungkinan pengobatan. tidak terbiasa dengan sumber informasi. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai b.dengan kurangnya penjelasan. pertahankan posisi netral dengan menahan bagian yang fraktur dengan bantalan pasir. 3. Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun di atas. maka disusunlah peren-canaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan. Letakkan klien pada tempat tidur ortopedis.

pergerakan fragmen tu-lang.10 ). g. 4) Tinggikan bagian depan tempat tidur. bidai. i. Rasional : Menyebabkan rasa tidak nyaman karena menambah panas pada gips. Rencana Tindakan : 1) Lakukan imobilisasi ( bed rest. edema. Rasional : Meningkatkan aliran vena.mencegah terjadinya bengkak pada jaringan. Rasional : Tarikan pada traksi dilakukan pada tulang panjang yang fraktur dan kemudian menjadikan otot tegang sehingga memu¬dahkan aligment. 2. mengurangi edema dan mengur¬angi nyeri. Pertahankan fisiotherapi jika perlu. traksi / immobilisasi karena penggunaan alat. gips. f. Rasional : Memberikan rasa nyaman. Rasional : . Rasional : Menjaga integritas tarikan pada traksi. Perhatikan juga rasa nyeri non verbal ( periksa tanda vital dan emosi / tingkah laku ). Nyeri berhubungan dengan spasme otot. e. Pertahankan posisi dan integritas dari traksi. Rasional : Mengetahui proses tumbuhnya callus untuk menentu¬kan tingkat aktivitas l dan memerlukan perubahan atau tambahan therapi. h. Edema akan hilang dengan pemberian bidai. 5) Evaluasi rasa nyeri lokasi dan karekteristik termasuk in¬tensitas ( skala 0 . Cek kembali pembatasan therapi yang diberikan. Pastikan bahwa semua klem/ penjepit berfungsi. Follow up pemeriksaan X-Ray. Rasional : Mengurangi lnyeri dan mencegah perubahan posisi tulang serta luka pada jaringan. traksi ). 2) Tinggikan dan sangga daerah luka. Rasional : Menjamin traksi dapat dipergunakan dan menghin¬dari gangguan pada fraktur. stress dan kecemasan. Minyaki katrol dan cek tali. 3) Hindari penggunaan sprei plastik/ bantal dibawah gips. Rasional : Membantu menguatkan pertumbuhan tulang dalam masa penyembuhan.

8) Beri pengobatan sesuai terapi sebelum melakukan aktivitas perawatan. Rasional : Memperbaiki sirkulasi umum. pemasangan traksi. Rencana Tindakan : 1) Periksa kulit sekitar luka . Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan compound fracture. Rasional : Mempertahankan kemampuan otot dan menghindari pembeng¬kakan pada jaringan yang luka. 3) Rubah posisi selang-seling sesuai indikasi. Rasional : Menolong mengurangi kecemasan. 10) Lakukan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan masase.Monitor keefektifan intervensi. 6) Diskusikan masalah yang berhubungan dengan injury. 3. perubahan posisi. Rasional : Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin disebabkan oleh penggunaan traksi. immobilisasi fisik. memberikan alas yang lembut pada siku dan tumit. sirkulasi. kemerahan. 9) Lakukan latihan range of motion. Rasional : Meningkatkan relaksasi otot agar dapat berpartisipasi. Tingkat kecemasan dapat menunjukkan reaksi dari nyeri. Rasional : Mengijinkan klien untuk mempersiapkan mental agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas. perubahan warna kulit. perdarahan. 7) Terangkan prosedur sebelum memulai. gangguan sensasi . terbentuknya edema 2) Masase kulit dan tempat yang menonjol. . mengurangi tekanan pada satu tempat dan kelelahan otot. Rasional : Mengurangi penekanan pada daerah yang mudah terkena dan resiko untuk lecet dan rusak. Rasional : Meningkatkan sense of control dan mungkin dapat me¬ningkatkan kemampuan mengurangi rasa nyeri. 11) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi ( latih nafas dalam). menjaga alat tenun tetap kering .

1) Lepas perhiasan pada daerah yang mengalami ganggguan Rasional : Dapat membatasi bila terjadi oedema. edema yang berlebihan. 2) Evaluasi adanya kualitas / kualitas dari pulsasi perifer distal yang luka melalui palpasi / doppler. perpusi melalui arteri yang besar dapat berlanjut setelah menambah tekanan dari sirkulasi arteriol / venol yang kolaps. adanya trombus. Kulit yang dingin menandakan lemahnya aliran arteri. dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak efektif untuk mencegah penurunan sirkulasi. Rasional : Berkurangnya / tidak adanya pulsasi menggambarkan adanya pembuluh darah yang luka dan memerlukan evaluasi status sirkulasi yang segera. Sianosis menandakan lemahnya aliran vena . hypovolemia. catat perubahan motorik/ fungsi sensorik. Rasional : Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh. warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur. Rasional : Kembalinya warna dengan cepat ( 3-5 detik ) putih. Tanyakan . kembalinya kapiler. 4) Kaji status neuromuskuler. 3) Perabaan normal 4) Tanda vital stabil. terhambatnya aliran darah Hasil yang diharapkan: 1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi 2) Kulit hangat dan kering . Sebagai tambahan. Pulsasi perifer. 4. Rasional : Salah posisi akan menyebabkan kerusakan kulit. Perlu disadari bahwa kadang kadang pulsasi dapat teraba walaupun sirkulasi terhambat oleh sumbatan kecil. warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan adanya syndrome comparmental karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai. Bandingkan dengan sisi yang normal . 5) Pakai bed matras / air matras. Rencana Tindakan :. 5) Urin output yang adekuat. Resiko terjadi destruksi neuromuskuler periferal berhubungan dengan trauma jaringan. 3) Kaji kembalinya kapiler.Rasional : Mengurangi penekanan yang terus menerus pada posisi tertentu 4) Kaji posisi splint ring traksi.

kepada klien lokasi nyeri/ tidak nyaman. Rasional : Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf. 5) Tes sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari kaki pertama dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki. Rasional : Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau malposisi dari peralatan traksi. 6) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai Rasional : Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah atau syaraf, khususnya diaksila atau daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka permanent. 7) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang cedera jika tidak kontraindikasi dengan adanya compartemen syndrome. Rasional : Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema 4. Pelaksanaan Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditentuan agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Dalam hal ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi. Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat terlebih dahulu memberitahukan dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan. Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada. Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah di-lakukan baik kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam catatan keperawatan. Pada pendokumentasian ini harus lengkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis tindakan, respon pasien, paraf serta nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut Yoseph tahun 1994 “Pendokumentasian sangat perlu untuk menghindari

pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari oleh perawat lain. Semua tahap dalam proses keperawatan harus di-dokumentasikan.” Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan, antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dilakukan. 5. Evaluasi Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi, direncanakan, dilaksanakan. Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses, untuk menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan. Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu : a. Masalah teratasi Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang telah ditetapkan. b. Masalah sebagian teratasi Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu-juan yang telah ditetapkan. c. Masalah belum teratasi Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.

BAB III TINJAUAN KASUS Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawatan klien dengan Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V manus dextra di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Syahranie Samarinda, yang dimulai sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli 2009. Adapun pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan tahap demi tahap, dimulai dari

pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang disebut dengan tahap proses keperawatan.

Pengertian Fraktur :
 

Fraktur (patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001) Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.( Reeves C.J,Roux G & Lockhart R,2001 )

Jenis Fraktur : Agar lebih sistematis, jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan :

Lokasi Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana saja seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi. Luas Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap (inkomplit). Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak. Konfigurasi Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif, jika satu bagian patah sedangkan sisi lainnya membengkok disebut greenstick. Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam ( sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah) disebut depresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang ) disebut kompresi. Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced). Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar).

posisi tubuh saat berlangsungnya trauma. obat-obatan yang dikomsumsi. riwayat fraktur sebelumnya. pekerjaan. dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu : Grade I : luka bersih. Pengkajian Riwayat Penyakit : Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat mekanisme terjadinya cidera. · Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma. riwayat alergi. densitas serta kekuatan tulang. riwayat osteoporosis serta riwayat penyakit lainnya. Etiologi : Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Grade III : sangat terkontaminasi. kelenturan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur : · Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang. Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. . merokok. arah serta kekuatan tulang. panjangnya kurang dari 1 cm.

bisa juga akibat penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik. pemendekan. warna kulit. yang terdiri dari :     Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral. angulasi. 3. Palpasi (feel) Adanya nyeri tekan (tenderness). Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi). Komplikasi : Penyebab komplikasi fraktur secara umum dibedakan menjadi dua yaitu bisa karena trauma itu sendiri. Gerakan (moving) Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur. 3. pada daerah yang dicurigai fraktur. 2. yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan. pemeriksaan status neurologis dan vaskuler di bagian distal fraktur. capillary refill test. harus mengikuti aturan role of two. Pemeriksaan radiologis (rontgen). di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur tersebut. fragmen tulang (pada fraktur terbuka). rotasi. Pemeriksaan laboratorium. Inspeksi (look) Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut.Pemeriksaan Fisik : 1. meliputi:      Darah rutin. Urinalisa. Pemeriksaan Penunjang : 1. Kompikasi Umum : . krepitasi. Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal). Faktor pembekuan darah. 2. Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal. Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal) Dilakukan dua kali.

Non union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang fraktur. Komplikasi Lokal : Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini. 4. fiksasi internal. yaitu pemasangan bidai / spalk. karena penekanan jaringan lunak oleh gips. sedangkan bidai maupun gips hanya dapat digunakan untuk fiksasi yang bersifat sementara saja. Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang hebat bahkan sampai menimbulkan syok. Mengurangi rasa nyeri. serta dengan teknik imobilisasi. yaitu kerusakan kartilago sendi. Sindroma kompartemen karena pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga mengganggu aliran darah Penatalaksanaan : Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu: 1. Lepuh di kulit karena elevasi kulit superfisial akibat edema.Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak). terutama pada kasus fraktur terbuka. Mengembalikan fungsi seperti semula . Membuat tulang kembali menyatu Tulang yang fraktur akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. fiksasi eksternal. trombosit vena dalam (DVT). Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu :           Infeksi. emboli lemak. maupun memasang gips. syok neurogenik (karena nyeri yang hebat). Untuk mengurangi nyeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri. dan setelah beberapa hari atau minggu dapat terjadi gangguan metabolisme yaitu peningkatan katabolisme. Delayed union yaitu penyambungan tulang yang lama. Dekubitus. tetanus. gangguan fungsi pernafasan. Komplikasi ini dapat terjadi dalam waktu 24 jam pertama pasca trauma. Artritis supuratif. koagulopati diffus. jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut. Seperti pemasangan traksi kontinyu. Terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot. 3. gas ganggren. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. 2. Osteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang. Atropi otot karena imobilisasi sampai osteoporosis.

osteoklas. Jika dirontgen maka garis fraktur mulai tidak tampak. Peningkatan aliran darah menimbulkan hematom diikuti invasi sel-sel peradangan yaitu neutrofil.Fraktur terbuka bila terdapat hubungan antarafragme tulang dengan dunia luar kaena adanya perlukaan dikulit.Bab kelima penutup berisikan kesimpulan tentang hasil daritinjauan kasus serta saran saran untuk meningkatkan mutu asuhankeperawatan. Fase Remodeling : Fase ini bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga tahunan untuk merampungkan penyembuhan tulang. yang akan mempersiapkan fase reparatif. garis fraktur lebih terlihat karena telah disingkirkannya material nekrotik.Arief (2000). 8 terjadi secara nyata dengan mencantumkan faktor apa saja yangmendukung.bagaiman cara menanggulangi masalah. makrofag. terbentuknya tulang lamelar sehingga menambah stabilitas daerah fraktur. sel fagosit. Fase Reparatif : Dapat berlangsung beberapa bulan.frakturterbuka terbagi atas tiga derajat yaitu : . BAB IITINJAUAN TEORITIS Definisi Fraktur menurut Mansjoer. Jika dirontgen.alternatifpemecahan masalah yang rasional. yang berfungsi untuk membersihkan jaringan nekrotik.gayameremuk.Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada sendi. terdiri dari jaringan fibrosa dan kartilago dengan sejumlah kecil jaringan tulang. Hematom fraktur diisi oleh kondroblas dan fibroblas yang akan menjadi tempat matrik kalus. Osteoblas mengakibatkan mineralisasi kalus lunak menjadi kalus keras serta menambah stabilitas fraktur. Ditandai dengan diferensiasi dari sel mesenkim pluripotensial. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung .Menurut Mansjoer.gerakan puntir mendadak.dkk (2000) adalah terputusnyakontunuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan olehrudapaksa.Fraktur tertutup bila tidak tedapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pada awalnya terbentuk kalus lunak.adalah terputusnyakontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Proses Penyembuhan Tulang : Fase Inflamasi : Fase ini berlangsung mulai terjadinya fraktur hingga kurang lebih satu sampai dua minggu. klasifikasi fraktur dapat dibagi menjadidua yaitu .dan bahkan kontraksi ototekstrem(Suddarh.2001).. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan upaya mobilisasi. Definisi Fraktur menurut Suddarth (2001). yang meliputi aktifitas osteoblas dan osteoklas yang menghasilkan perubahan jaringan immatur agar menjadi matur.

Depresi adalah fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).sederhana.luka padapembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihatkerusakan jaringan lunak.tidak ada lukaremukFraktur . avulse adalahtertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada perlekatannya Epifiseal adalah fraktur melalui epifis. Akibat dari haltersebut adalah terjadi perdarahan. terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringannekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit.pembuluh darah. dan perubahan warnaPatofisiologi fraktur adalah fraktur akan terjadi kerusakan di korteks.penyakit osteoporosis.et al(2001)adalahnyeri.Frakturkominutif sedang.Ketika terjadi kerusakan tulang. Spiral adlah fraktur memuntir seputar batangtulang.hilangnya fungsi.al (2001).kerusakan jaringan lunak sedikit.deformitas.transversal. Kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi bebrapafragmen. sumsum tulang dan jaringan lunak.tidak luas.oblik.pembengkakan lokal.membagi jenis jenis fraktur yaitu sebagaiberikut.kontaminasi sedang3) Derajat III : jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang tidak adekuatwalaupun terdapat laserasi luas.tumor).kehilangan jaringan lunak dengafraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif. tahap . Kompresi adalah fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulangbelakang). Impaksi adalah fraktur dimanafragmen tulang terdorong kef ragmen tulang lainnya.atau komunutif ringan2) Derajat II :laserasi >1cm.olahraga atau karena jatuh. 2007). kerusakan tulang dan jaringansekitarnya. Transversal adalah fraktur sepanjanggaris tengah tulang. Fraktur Incomplete adalah patah hanya terjadi pada sebagian garistulang. krepitus.seperti kecelakaanmobil.Etiologi Fraktur merupakan akibat dari cedera.Fraktur terjadi jika tenaga yang melawantulang lebih besar dari pada kekuatan tulang (Susi. Greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi tulag patahsedang sisi lainnya membengkok.9 1) Derajat I : luka <1cm.kerusakan jaringan lunak. Patologik dimana fraktur yang terjadi pada daerah tulangberpenyakit (kista tulang.Manifestasi klinis fraktur menurut Suddath.Suddarth et. tubuh mulai melakukan prosespenyembuhan untuk memperbaiki cidera.pemendekan ekstrmitas. Fraktur complete adalah patah pada seluruh garis tengah tulangdan biasanya mengalami pergeseran (berbeser dari posisi normal). Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medullaantara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yangmengatasi fraktur.

PENGKAJIAN .infeksi.traksi.ini menunjukkan tahapawal penyembuhan tulang.kompikasi awal lainnya yangberhubungan denganfraktur adalah infeksi .asupan darah yang memadai.yaitu . sehingga meningkatkan tekanan 11 kapiler.keganasanlocal.fiksator eksterna.danPenatalaksanaan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepatmungkin.menyebabkan inflamasi local.imobilisasi fragmen tulang.2005)Menurut Suddarth.emboli lemak .Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung ujung daritulang patah tulang supaya saling berdekatan dan untuk menjaga agarujung tulang tetap menempel sebagaimana mestinya.yang dapt terjadidalam 48 jam atau lebih.dan reduksi terbuka.et al (2001) prinsip penatalaksanaan fraktur adalahmengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal(reduksi).namun pada kebanyakan pasien alat tersebut tidak di angkatsehingga dapat menimbulkan gejala.yang bias berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera.Faktor faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang menurutSuddarth et al (2001).alatfiksasi interna biasanya diambil setelah penyatuan tulangtelahterjadi.metode untuk mencapai reduksi terdiri .penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi infeksi.2001 komplikasi fraktur terbagidua. Hal inimenyebabkan terjadinya edema.kegagalan material(alatyng rusak).yaitu .imobilisasi tidak memadai.reduksitertutup.plat.bebat.yaitukomplikasi awal dan komplikasi lambat.brace.lansia. kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik danmenyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial.traksi.Necrosis avasculer tulang.alat interna terdiri. Hematon yang terbentuk bisa menyebabkanpeningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsangpembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalampembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain.kehilangan tulang.mempercepat pengembalian fungsi dan kekuatan normalbagian yang terkena (rehamilitatif). Hematommenyebabkan dilatasi kapiler di otot.pin dangips.penyatuan terlambat atau tidakada penyatuan diakibatkan dengan infeksi sistemik dan distraksi (tarikan jauh)fragmen tulang.balutan.kontak fragmen tulangmaksimal.waktuoptimal untuk bertindak adalah sebelum 6 – 7 jam ( golden periode ) 12 Menurut Suddarth et al. A.factor yang mempercepat penyembuhanfraktur diantaranya.sedangkan factoryang menghambat penyembuhan tulang antara lain .respon alergi.trauma local stenstif.batang.dan sindromkompartemen yang berakibat kehilangan fungsiekstremitas permanenyang jika tidak ditangan I segera.reaksi terhadap alat fiksasi interna . yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndromacomportement.case.terjadi jika tulangkehilangan asupan darah dan mati.nutrisi yang baik. Edema yang terbentuk akan menekanujung syaraf.sekrup.nail.trombo emboli dan KID.sedangkan metode memepertahankanimobilisasi adalah alat eksterna yang terdiri .masalah tersebut meliputikegagalanmekanis (pemasangan dan stabilisasi yang tidak memadai.kawat.Prinsip penatalaksanaan fraktur yang di gunakan ada beberapametode.Moh.berkaratnyaalat.(Kartono.mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan(imobilisasi).komplikasi awal frakturadalah syok.Sedangkan komplikasi lambat yaitu .

kongesti. Penyuluhan / PembelajaranGejala : Lingkungan cedera7.stress / ansietas3.6.f. KeamananTanda : Laserasi kulit.intertitsil.spasme / kram otot (setelah imobilisasi)5. Kerusakan jaringan / integritas kulit berhubungan dengan cederafraktur tebuka.edema berlebihan.edema paru. catatan kesehatanklien.6.5.Hidayat (2001).diagnosa keperawatan pada pasienfraktur adalah sebagai berikut . SirkulasiTanda : hipertensi(kadang kadang terlihat sebagai respon terhadapnyeri / ansietas)atau hipotensi(kehilangan darah)3. dan datayang didapat dari orang lain adalah data skunder.edema dan cedera pada jaringan lunak.Menurut Doenges.dkk (1999)dengan asuhan keperawatan padaklien Fraktur didapatkan data sebagai berikut :1. kawat.pemendekan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan .perubahan membranalveolar/kapiler . Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilanganintegritas tulang (fraktur)2.avulse jaringan.dkk (1999)..imobilisasi.tidak ada nyeri akibatkerusakan syaraf. Hitung darah lengkap :Ht mungkin meningkat(hemokonsentrasi)atau menurun (perdarahan bermakna padasisi frakturatau organ jauh pada trauma multiple).hipovolemi Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungandengan perubahan aliran :darah/emboli lemak.spasme otot.Pengkajian adalah langkah awal dari tahapan proseskeperawatan. informasi atau laporan laboratorium. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangkaneurovascular: nyeri/ketidaknyamanan.c.gerakan fragmentulang.Peningkatan jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.1999).pembentukan thrombus.fraktur itu sendiri.memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta responterhadap masalah actual dan resiko tinggi (Doenges et al.Menurut Doenges.pemasangan traksi pen.terlihat kelemahan / hilang fungsi.spasme otot. Aktivitas dan istirahatTanda : keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yangterkena (mungkin segera .dapatberkurang pada imoblisasi). Arteriogram :Dilakukan bila kerusakan vascular di curigai. Profil koagulasi :perubahan dapat terjadi pada kehilangandarah tranfusi multiple atau cedera hati.alat traksi. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi. Informasi yang didapat dari klien adalah data primer.tomogram.pembengkakan local (dapat meningkat secarabertahap atau tiba tiba)./luasnya fraktur.atau terjadisecara sekunder.e.perdarahan.b. Nyeri / KenyamananGejala : nyeri berat tiba tiba pada saat cedera (mungkinterlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang . Dalam pengkajian. perubahan sesasi. akumulasi ekskresi/secret. B.angulasi abnormal.scan CT/MRI :Memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidntifikasi jaringan lunak. bedah perbaikan. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovascular perifer berhubungandengan penurunan / interupsi aliran darah :cedera vaskulerlagsung. Neurosensori ejala : hilang gerakan / sensasi.Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietasatau trauma lain)4.perubahanwarna. Pemeriksaan Diagnostika. Skan tulang. Nyeri (akut) berhubungan dengan spase otot. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untukklirens ginjal.7. sirkulasi.sekrup.kebas / kesemutan(parestesi)Tanda : deformitas local .rotasikrepitasi. tes diagnostik. harus memperhatikan data dasarpasien.dari pembengkakan jaringan.nyeri)2.1. keluargadan orang yang terdekat atau anggota tim kesehatan merupakanpengkajian data dasar.

mematahkan gips yang sudahkering.terpajan pada lingkungan8.posisi.pembebat.R : Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan.2 Letakan papan dibawah tempat tidur/tempatkan pasien padatempat tidur ortopedik.R : Tempat tidur lembut dapat mengakibatkan deformasi gipsyang masih basah. c.R : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang frakturtulang dan mengatasi tegangan otot untuk memudahkanposisi/penyatuan.pembebat.a.menurunkan kemungkinangangguan posisi/penyembuhan.Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegahtekanan deformitas yang kering.posisi.menurunkan kemungkinangangguan posisi/penyembuhan.3 Sokong fraktur dengan bantal.kebutuhanpengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat.dengan tidakadekuatnya pertahanan primer kerusakan kulit. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilanganintegritas tulang (fraktur) a.R : Tempat tidur lembut dapat mengakibatkan deformasi gipsyang masih basah.marlynn.1999).mematahkan gips yang sudahkering.4 Pertahankan posisi/integritas traksi. Intervensi 1. Tujuan : Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur.posisi. c.pembebat.1.berikansokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bilabergerak/membalik. Intervensi 1. c.atau mepengaruhi penarikan traksi.R : Tempat tidur lembut dapat mengakibatkan deformasi gipsyang masih basah. Kurang pengetahuan tentang kondisi .R : Meningkatkan stabilitas.pertahankan posisi netral padabagian yang sakitdengan bantal pasir.3 Sokong fraktur dengan bantal.4 Pertahankan posisi/integritas traksi. (doenges.Posisi yang tepat dari . C.salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi. Intervensi 1.1.1 Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.atau mepengaruhi penarikan traksi. Traksi tulang memungkinkan Kriteria hasil : Menunjukan mekanika tubuh yangmeningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.atau mepengaruhi penarikan traksi.R : Meningkatkan stabilitas.Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegahtekanan deformitas yang kering.1 Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.pertahankan posisi netral padabagian yang sakitdengan bantal pasir.1.3 Sokong fraktur dengan bantal.R : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang frakturtulang dan mengatasi tegangan otot untuk memudahkanposisi/penyatuan.1.1.pertahankan posisi netral padabagian yang sakitdengan bantal pasir. Rencana Tindakan Intervensi keperawatan adalah deskripsi untuk perilaku spesifikyang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukanoleh perawat. trauma jaringan.R : Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan.berikansokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bilabergerak/membalik. Traksi tulang memungkinkan Kriteria hasil : Menunjukan mekanika tubuh yangmeningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.1.1 Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.1.1.menurunkan kemungkinangangguan posisi/penyembuhan.2 Letakan papan dibawah tempat tidur/tempatkan pasien padatempat tidur ortopedik. Kriteria hasil : Menunjukan mekanika tubuh yangmeningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.R : Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan.berikansokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bilabergerak/membalik.R : Meningkatkan stabilitas.mematahkan gips yang sudahkering.2 Letakan papan dibawah tempat tidur/tempatkan pasien padatempat tidur ortopedik.prognosis.

8 Dorong menggunakan teknik manajemen stress. Sianosis diduga adagangguan vena.1 Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal terhadap cederamelalaui palpasi/Doppler. Hipovolemia. kulit hangat/kering. NSAID injeksi contoh ketorolak (toradol).4 Pertahankan posisi/integritas traksi.10 Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik nonnarkotik .R : Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit danmemudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yangcedera.R : Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik). Traksi tulang memungkinkan 20 R : Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untukaktivitas juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkatketidaknyamanan. latihan nafas dalam. warna kulit. kesemutan.d. tanda vitalstabil. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovascular perifer berhubungandengan penurunan/interupsi aliran darah: cedera vaskulerlangsung. a.2. Minta pasien untuk melokalisasinyeri/ketidaknyamanan. peningkatan /penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidakadekuat atau saraf . dan kehangatan distal padafraktur. Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan b. contohrelaksasi progresif.2. dan haluaran urine adekuat.bantal juga dapat mencegahtekanan deformitas yang kering.R : Gangguan perasaan kebas. imajinasi visualisasi.2 Kaji aliran kapiler. edema berlebihan.3. Kriteria hasil :Terabanya nadi. pembentukan thrombus.R : Diberikan untuk menurunkan nyeri atau spasme otot. Intervensi 21 3.R : Penurunan nadi menggambarkan cedera vaskuler danperlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi.R : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang frakturtulang dan mengatasi tegangan otot untuk memudahkanposisi/penyatuan. dapat meningkatkankoping dalam manajemen nyeri. perhatikan fungsimotorik/sensorik.R : Memfokuskan kembali perhatian. Warna kulitpucat menunjukan gangguan arterial.9 Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif / aktif. c. ataurelaksan otot.3.1.2. yang mungkin menetapuntuk periode lebih lama. bandingkan dengan ekstremitas yangsakit.3 Lakukan pengkajian neuromuskuler. contoh siklobenzaprin (flekseril).

Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungandengan perubahan aliran: darah/emboli lemak.e. Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat.5 Awasi posisi/lokasi cincin penyokong bebat. perubahan mental.7 Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba tiba. terjadinyaparestesia. yangdapat mengganggu sirkulasi. a. 22 R : Alat traksi dapat menyebabkan tekanan pada pembuluhdarah/saraf.3.3. kulit dingin.3. perhatikan tanda-tanda pucat/sianosisumum. danperubahan nadi distal. Kriteria hasil : Tidak adanya dispnea/sianosis.3.3. Perubahanmembran alveolar/kapiler: interstisial.11 Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.R : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah danmembutuhkan keefektifan terapi penggantian.3. 23 R : Terdapat peningkatan potensial untuk tromboflebitis danemboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari ataulebih. perlu intervensi darurat untuk memperbaikisirkulasi.mengakibatkan iskemia dan kerusakan saraf permanen. b. pembengkakan pada dorsofleksi kaki.3.9 Selidiki nyeri tekan. Ambulasi sesegera mungkin.3. terutama pada aksila dan lipat paha.R : meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulandarah khususnya pada ekstremitas bawah.R : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhisistem perfusi jaringan.12 Awasi Hb/Ht.R : Perdarahan/pembentukan edema berlanjut dalam otottertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguanaliran darah dan iskemia miositis atau sindromkompartemen.rusak. .R :Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan resikocedera pada adanya fraktur kaki.edema paru.8 Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari/sendi distalcedera. contoh penurunansuhu kulit.10 Awasi tanda vital. kongesti. tegangan otot/nnyeri tekan dengan eritema. pemeriksaan koagulasi. contoh kadarprotrombin. edema/sindromkompartemen.6 Perhatikan keluhan nyeri ekstrem untuk tipe cedera ataupeningkatan nyeri pada gerakan pasif ekstremitas.R : Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakanarteri yang berdekatan.4 Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada keduaselaput antara ibu jari pertama dan kedua. dan peningkatan nyeri. frekuensipernapasan dan GDA dalam batas normal.R : Menurunkan edema/pembentukan hematoma. dengan akibat hilangnya alirandarah distal.3.

lipase serum.R : Steroid telah digunakan dengan beberapa keberhasilanuntukj mencegah emboli lemak. LED. retraksi.4. kacau.bunyi hiperesonan. 25 R : Gangguan pertukaran gas/adanya emboli paru dapatmenyebabkan penyimpangan pada tingkatkesadaranpasien seperti terjadinya hipoksia/asidosis.R : Anemia. penggunaan otot bantu. dan emboli.c. mukosa mulut. khususnya selamabeberapa hari pertama.1 Awasi frekuensinya pernafasan dan upayanya.10 Berikan obat kortikosteroid. peningkatan LED dan kadar lipase. hipokalsemia.5 Perhatikan peningkatan kegelisahan.4.6 Observasi sputum untuk tanda adanya darah. lemak.R : Meningkatkan sediaan O 2 untuk oksigenasi optimal jaringan.8 Berikan tambahan O 2 bila diindikasikan. letargi. palatum keras. yang tampak dalam 2 – 3 hari setelah cedera.gelembung lemak dalam darah/urine/sputum danpenurunan jumlah trombosit sering berhubungan denganemboli lemak. dispnea.4.2 Auskultasi bunyi napas perhatikan terjadinya ketidaksamaan.9 Awasi hasil Hb. pada aksila. kantungkonjungtiva dan retinaR : Ini adalah karakteristik paling nyata dari tanda embolilemak.R : Ini dapat mencegah terjadinya emboli lemak yang erathubungannya dengan fraktur.stupor. Perhatikanstridor. contoh atelektasis. Intervensi 24 4.dan inspeksi kulituntuk ptekie diatas garis puting. Kalsium.4.4.4.7 Bantu dalam spirometri insentif. juga adanya gemericik/ronki/mengi daninspirasi mengorok/bunyi sesak napas. terjadinya sianosissentral.R : Memaksimalkan ventilasi/oksigenasi dan meminimalkanatelektasis.R : Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.R : Perubahan adanya bunyi adventisius menunjukkanterjadinya komplikasi pernafasaan. meluas keabdomen/tubuh.4 Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk. dan perubahan dalam mental dantanda dini insufisiensi pernafasan dan mungkin hanyaindikator terjadinya emboli paru. trombosit.4. .4.3 Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut.pneumonia.Reposisi dengan sering.R : Takipnea.4.

a.5.4 Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bilamungkin. Tujuan : Meningkatkan/mempertahankan mobilitas padatingkat paling tinggi yang mungkin. c. meningkatkankesehatan diri langsung. Intervensi 5.9 Dorong peningkatan masukan cairan sampai 20003000ml/hari. mempertahankan gerak sendi. bila traksi digunakan untuk menstabilkan frakturtungkai bawah. Awasi kebiasaan eliminasi dan berikanketeraturan dalam defekasi rutin. Perhatikan keluhanpusing. dan perubahandalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltik danmengakibatkan konstipasi. dan perubahandalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltik .pneumonia). (contoh dekubitus.R : Mencegah/menurunkan insiden komplikasikulit/pernafasan.5 Bantu/dorong dalam perawatan diri/kebersihan.5 Bantu/dorong dalam perawatan diri/kebersihan.5.8 Auskultasi bising usus. Berikan prifvasi. Perhatikan keluhanpusing. dan mencegah komplikasi.R : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diritentang keterbatasan fisik aktual.Imam Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangkaneuromuskuler: nyeri/ketidaknyamanan.2 Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasif/aktifpada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit. Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bilamungkin.mencegah kontraktur/atrofi dan resorpsikalsium karenatidak digunakan. 27 5. Awasi kebiasaan eliminasi dan berikanketeraturan dalam defekasi rutin.5.5.5. b.6 Awasi TD dengan melakukan aktivitas. bila traksi digunakan untuk menstabilkan frakturtungkai bawah.5. Berikan prifvasi.R : Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.R : Tirah baring.5.R : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi. tangan/kaki.R : Mencegah/menurunkan insiden komplikasikulit/pernafasan.pneumonia). gulungantrokanter/tangan yang sesuai.8 Auskultasi bising usus. penggunaan analgesic.R : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirahbaring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus. (contoh dekubitus.1 Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatandan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.R : Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.R : Tirah baring.5.6 Awasi TD dengan melakukan aktivitas. penggunaan analgesic.5.7 Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihanbatuk/napas dalam. bebat pergelangan. Kriteria hasil : Mempertahankan posisi fungsional.R : Berguna dalam mempertahankan posisi fungsionalekstremitas.3 Berikan papan kaki.R : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirahbaring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus.5.R : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untukmeningkatkan tonus otot.5.R : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi. terapi restriktif (imobilitastungkai). meningkatkankesehatan diri langsung.7 Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihanbatuk/napas dalam.termasuk air asam/ jus.

1 Kaji kulit untuk luka terbuka. Gosok perlahan denganalkohol.danmengakibatkan konstipasi. nekrosis. dan mineral. 6. memutih. dan aktivitas. memutih. kemerahan. fraktur tebuka.R : Pada adanya cedera muskuloskeletal. kelabu.1 Kaji kulit untuk luka terbuka.5.R : Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama danmeminimalkan resiko kerusakan kulit. kemerahan.perdarahan. kelabu.R : Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama danmeminimalkan resiko kerusakan kulit. Imobilisasi fisik. Pasien dapat memerlukan bantuan jangkapanjang dengan gerakan.10 Berikan diit tinggi protein.R : Memberikan gips tetap kering./babet atau traksi. vitamin. khususnya padaakhir . dan/ataukelumpuhan saraf.Pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelahdefekasi pertama. nutrisi yangdiperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat.termasuk air asam/ jus 28 R : Mempertahankan hidrasi tubuh.3 Bersihkan kulit dengan sabun dan air. dan kekuatan. b.2 Ubah posisi dengan sering. Kriteria hasil : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. dan/atau bedak dengan jumlah sedikit borat ataustearat seng./babet atau traksi. dan area bersih. a.6.12 Lakukan program defekasi (pelunak feses. Gosok perlahan denganalkohol. dan area bersih. Intervensi 29 6. benda asing. perubahan warna. karbohidrat.2 Ubah posisi dengan sering.5 Observasi untuk potensial area yang tertekan.3 Bersihkan kulit dengan sabun dan air. dan konstipasi.6.4 Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempattidur. pemasangan traksi pen. dan/atau bedak dengan jumlah sedikit borat ataustearat seng. perubahan warna. menurunkan resiko infeksiurinarius.5.11 konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan/atau rehabilitasispesialis. akumulasiekskresi/sekret.kawat. Tujuan : Menyatakan ketidaknyamanan hilang.5 Observasi untuk potensial area yang tertekan.5. memajankan pada sirkulasi udara. laksatif)sesuai indikasi. pembentukan batu.6. sekrup. kekuatan.9 Dorong peningkatan masukan cairan sampai 20003000ml/hari.6.6. sirkulasi.R : Mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh tertutuppada kelembaban di bawah gips dalam jangka lama.4 Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempattidur.6. memajankan pada sirkulasi udara. .ini dapat mempengaruhi massa otot.R : Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.R : Tekanan dapat menyebabkan ulsrasi.5.R : Berguna dalam membuat aktivitas individual/programlatihan.6.6 Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahananair.g. khususnya padaakhir dan bawah bebatan/gips. Kerusakan jaringan/integritas kulit berhubungan dengan cederatusuk.R : Memberikan gips tetap kering. 6.R : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalahyang mungkin disebabkan oleh alat dan/ataupemasangan gips.perdarahan. tonus. Perubahan sensasi.R : Mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh tertutuppada kelembaban di bawah gips dalam jangka lama.R : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalahyang mungkin disebabkan oleh alat dan/ataupemasangan gips. c. bedah perbaikan. benda asing. enema.

diduga ada iritasikulit. dan disfagiamenunjukkan terjadinya tetanus. dandemam.4 Observasi luka untuk pembentukan bula. dan kebutuhanpengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat. dan siapkan untuk membuka sistem balutan. trauma jaringan.12 Buat gips dengan katup tunggal.3 Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik.R : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secaraprofilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganismekhusus.salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi. Tujuan : Menyatakan pemahaman kondisi.6. contoh: Antibiotik IV/topical. Intervensi 7.7. bau drainase yang tidak enak.sesuai prosedur.6. spasme tonik otot rahang.R : Dapat mengindikasikan timbulnya infeksi lokal/nekrosis jaringan. LED. prognosis. Kurang pengetahuan tentang kondisi.6. katup ganda atau jendela. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan primer. Kriteria hasil : Bebas drainase purulen atau eritema. krepitasi.R : Bila area di bawah plester nyeri tekan.7.dan pengobatan. skan radioisotope. prognosis. dapat meningkatkan per tumbuhanbakteri.dan bawah bebatan/gips. dan/ataukelumpuhan saraf.R : Mencegah cedera pada bagian tubuh lain.6.7. reflek tendon dalam dan kemampuan untukberbicara : Kekakuan otot.6 Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahanan Air 30 R : Memberikan perlindungan efektif pada lapisan gips dankelembaban.7 Awasi pemeriksaan laboratorium. c. a.2 Kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasaterbakar atau adanya edema.9 Berikan irigasi luka/tulang dan berikan sabun basah/hangatsesuai indikasi.7. yang dapat menimbulkan osteomielitis. .7.R : Menurunkan kadar kontaminasi kulit.7.R : Pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yangterinfeksi.R : Gips yang lembab.7.1 Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.6 Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edemalokal/eritema ekstremitas cedera.R : Tanda perkiraan infeksi gangren.terpajan pada lingkungan.R : Debridemen lokal/pembersihan luka menurunkanmikroorganisme dan insiden infeksi sistemik.9 Letakan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolantulang. eritema. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.R : Memungkinkan pengurangan tekanan dan memberikanakses untuk perawatan luka/kuli 31 h.6. kemerahan atau abrasi. kerusakan kulit. b.R : Meminimalkan tekanan pada kaki dan sekitar tepi gips.6.7 Balik pasien dengan sering untuk melibatkan sisi yang tak sakitdan posisi tengkurap dengan kaki pasien diatas kasur. leukositosisbiasanya ada dengan proses infeksi. darah lengkap.8 Berikan obat sesuai indikasi.6.11 Tekuk ujung kawar atau tutup ujung kawat/pen dengan karetatau gabus pelindung/tutup jarum.R : Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis. kulturdan sensitivitas luka/serum/tulang.i. drainase/bau tak enak. nekrosis.R : Anemia dapat terjadi pada osteomielitis.5 Kaji tonus otot. perubahanwarna kulit.R : Meminimalkan tekanan pada area ini.8 Bersihkan kulit dengan air sabun hangat.R : Tekanan dapat menyebabkan ulsrasi.10 Palpasi jaringan yang di plester tiap hari dan catat adanyanyeri tekan atau nyeri. a.7.

kontraktur.8.Kriteria hasil : Melakukan dengan benar prosedur yangdiperlukan dan menjelaskan alasan tindakan.8.mampu berpartisipasi dalam aktivitas / tidur / istirahat dengan tepat.9 Anjurkan penggunaan pakaian yang adaptif. dan harapan yang akan datang E.1 Kaji ulang patologi.7 Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat.menunjukan pembentukan kalus/mulai penyatuanfraktur.bunyi hipersonan.kulit hangat tanda vital .3 Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannyasecara mandiri dan yang memerlukan batuan.hal hak yang harus diperhatikanketika melakukan implementasi adalah implementasi dilakukan menurutdengan rencana tindakan yang valid. Menunjukan teknik santai. R : Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuksembuh lengkap.Evaluasi yang diharapkan pada klien dengan fraktur adalah sbb: Menunjukan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas padasisi fraktur.contoh tim rehabilitasi.8. Melakukan pengkajian fungsi neuromuskuler.8 Anjurkan penggunaan pengering rambut untuk mengeringkanarea gips yang lembab. evaluasi mencakup 3 pertimbanganyang berbeda: evaluasi mengenai stasus klien. Mengkaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasaterbakar atau adanya edema. Mengkaji kulit untuk luka terbuka. drainase/bau tak enak.4. prognosis. bebat.8. Pelaksanaan atau implementasi adalah merupakan perencanaankeperawatanoleh perawat dank lien.8.R : Memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan diridan mendukung kemandirian.R : Membantu aktivitas berpakaian/kerapian. prognosis. pelayanan perawatan dirumah.8. eritema.8. Mempertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.berikansokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak /membalik Mendorong menggunakan teknik manajemen stress.perdarahan dan perubahan warna. benda asing.R : Menurunkan resiko trauma tulang/jaringan dan infeksiyang dapat berlanjut menjadi osteomielitis.6 Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.perhatikan fungsimotorik/sensorik dan minta pasien untuk melokalisasinyeri/ketidaknyamanan.menggunakan penggunaanketerampilan relaksasi. Mengauskultasi bunyi nafas prhatikan terjadinyaketidaksamaan.2 Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksidengan terapi fisik bila diindikasikan.meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini.dkk (1999) sbb:1.imajinasi visualisasi.Tahap implementasi keperawatan pada klien dengan Frakturmenurut Doenges.R : Mencegah kekakuan sendi. Menginstruksikan pasien dalam rentang gerak pasif/aktif padaekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.7.5. Sasaran dan evaluasi mengenaistatus dari kejasian rencana keperawatan.3.Pelaksanaan. Terabanya nadi.8. atau penjepitselama proses penyembuhan. Evaluasi Keperawatan Menurut carpenito (1998). D. c. dan kelelahan otot.4 Identifikasi tersedianya sumber pelayanan di masyarakat. evaluasi statuskemajuan klien kearah pencapaian.3. Mengkaji ulang patologi.6.R : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yangmemerlukan bantuan.R : Banyak fraktur memerlukan gips. Intervensi 8. dan harapan yang akan datangR : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapatmembuat pilihan informasi.contohrelaksasi.latihan nafas dalam.8. dan kerjasama pasien dalam programpengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat daritulang.2. juga adanya gemericik/ronki/bunyissesak nafas.R : Penggunaan yang hati-hati dapat mempercepatpengeringan.5 Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi diatas dan di bawah fraktur. kemerahan.

nyeri (-). baseball finger) merupakan salah satu kelainan bentuk jari dimana bagian ujung jari menekuk ke arah dalam dan tidak dapat lurus sendiri. Kehilangan kontinuitas tendon ekstensor pada sendi DIP menyebabkan sendi berada dalam posisi fleksi abnormal. Tidak adanya dispnea. gerakan ekstensi pasif (+) pada sendi DIP digiti V. ± 10 hari yang lalu. drop finger. merupakan karakteristik dari mallet finger. sendi DIP tetap dalam keadaan fleksi. 40 tahun. Kelainan pada jari palu mempengaruhi sendi interphalanx distal (DIP) dan merupakan akibat dari adanya cedera tertutup pada mekanisme ekstensor dekat insersinya ke dalam phalanx distal. lateral didapatkan fraktur avulsi phalanx distal digiti V dengan soft tissue swelling di dorsal articulatio interphalanx distal. Kemudian jari kelingking tersebut membaik dengan sendirinya.4. DIAGNOSIS Mallet finger digiti V manus sinistra et causa fraktur avulsi phalanx distal digiti V. Walaupun usaha untuk mengekstensikan jari dilakukan secara aktif. 0.stabil.6. jari palu. edema (-). Meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitasmeningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasibagian tubuh6. kemudian dilakukan fiksasi DIP dengan K-wire no. Bebas drainage purulent.s8. gerakan ekstensi aktif (-). Tidak ada tanda tanda infeksi.sianosis. jari kelingking pasien terbentur saat hendak menangkap helm yang jatuh dari motor. Dilakukan reposisi DIP digiti V manus sinistra.haluaran urineadekuat. Pada pemeriksaan rontgen manus sinistra AP. Klien paham/mengerti tentang informasi yang di berikan perawat mallet finger (disebut juga jari palu. DISKUSI Berbagai cedera fleksi pada jari saat jari memegang dalam posisi ekstensi berisiko terjadi cedera pada mekanisme ekstensor pada sendi distal interphalanx (DIP). nyeri tekan (-). Mekanisme klasik dari cedera . drop finger.dan demam. TERAPI Penatalaksanaan mallet finger pada pasien ini adalah secara operatif (ORIF). mengeluh jari kelingking tangan kirinya bengkok dan tidak dapat diluruskan pada bagian ujung dekat kuku. sianosis (-).5. merah dan sakit bila digerakkan selama ± 5 hari. namun jari tetap bengkok dan tidak bisa diluruskan. Sebelumnya. Jari tersebut menjadi bengkok (menekuk ke arah dalam).eritema.7. bengkak.frekuensi dan seri GDA dalam batasnormal. rasa kaku (+). baseball finger. sendi interphalanx distal HISTORY Seorang wanita. Pada pemeriksaan status lokalis regio manus sinistra didapatkan digiti V tampak menekuk ke arah dalam (posisi fleksi abnormal) pada sendi DIP dengan hiperekstensi sendi PIP. Kata Kunci : Mallet finger.

RA. Meals. stack splint atau thermoplastic splint. Diakses dari www. yaitu terapi konservatif dan operatif. voli. Terdapat dua metode terapi pada mallet finger. REFERENSI Mauffrey.1. Bagian Ilmu Penyakit Bedah.emedicine.com PENULIS Alfa Zudia Meitadevi.The Internet Journal of Orthopedic Surgery. Pada terapi konservatif.3. 2009. biasanya terjadi pada saat berolahraga seperti softball. dilakukan splinting pada sendi DIP dalam posisi ekstensi selama 6-8 minggu. eneral Anestesi dengan LMA selama Tindakan ORIF Pada Pasien dengan Status Fisik ASA II Abstract . Tujuan utama dari semua metode terapi adalah untuk mengembalikan kontinuitas tendon yang cedera dengan kesembuhan fungsi yang maksimum. 2006. atau basket dimana bagian ujung jari membentur bola. walaupun usaha untuk mengekstensikan jari dilakukan secara aktif. Splint yang digunakan dapat berupa plaster cast (gips jari). Mallet finger: a review. C. tidak dapat bekerja dengan adanya splint pada jari. terdapat fraktur yang melibatkan lebih dari sepertiga permukaan sendi atau pasien dengan cedera mallet terbuka. dilakukan fiksasi Kirschner wire (K-wire) melewati sendi DIP pada posisi ekstensi dengan sendi PIP pada posisi ekstensi. Terdapat dua metode terapi pada mallet finger. Pada umumnya.ini adalah jari sedang memegang secara kaku pada posisi ekstensi atau mendekati ekstensi maksimum ketika jari tersebut terbentur pada bagian ujungnya. yaitu terapi konservatif dengan penggunaan splint dan terapi operatif dengan reposisi dan fiksasi. Metode ini merupakan standar baku emas dengan morbiditas yang minimal pada sebagian besar pasien dengan cedera mallet tertutup. RS Jogja. Terapi secara pembedahan dianjurkan untuk lesi mallet akut dan kronik pada pasien yang gagal dengan terapi konservatif. Mallet finger. KESIMPULAN Mallet finger merupakan salah satu kelainan bentuk jari dimana sendi DIP berada dalam posisi fleksi abnormal.

Terdapat luka robek pada jari ke empat pasien dan luka lecet pada tangan kanan. warna (2). Maintenance: infus 2cc/kgBB/jam dengan ringer Laktat. Premedikasi: Midazolam 4 mg. ORIF open fraktur phalang proximal digiti IV-V manus dextra dengan riwayat CKR dengan status Fisik ASA II TERAPI Penatalaksanaan Pre Operasi : Infus RL 20 tetes per menit. Tidak ada riwayat hipertensi. Post Operasi : dilakukan penilaian aldrette score: kesadaran (1). respirasi (2). fentanyl 50 μg. ORIF HISTORY Seorang pasien laki-laki umur 27. sirkulasi (2). N2O dan O2 50%:50%. puasa 8 jam. nafas spontan assist dengan LMA nomer 4. obat-obatan: Ondansentron 4 mg. ORIF dilakukan dengan anestesi umum. Induksi: Propofol 140 mg. didesain untuk memberikan dan menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk ventilasi spontan dan memungkinkan ventilasi kendali pada mode level (< 15 cm H2O) tekanan positif. keluhan utama jari keempat dan kelima tangan kanan patah setelah kecelakaan antara motor dan motor 1 hari SMRS. Tabrakan dari arah berlawanan. Ketorolac 30 mg. kepala pasien terbentur dan pasien tidak ingat saat jatuh. Pemeriksaan Rontgen Manus dextra didapatkan fraktur os phalanx proximal digiti IV dan V manus dextra. Selama anestesi umum. pasien lupa posisi jatuh dan bagaimana jatuhnya. respirasi 16 x/menit dan afebris. DIAGNOSIS Pre Op. Keyword : general anestesi. Pasien didiagnosis open fraktur phalang proximal digiti IV-V manus dextra dan akan dilakukan ORIF. Dari penmriksaan fisik didapatka TD 120/80. LMA. aktivitas (2). Dilakukan general ansetesi dengan Laringeal mask airway ( LMA ). sevoflurane 2%. LMA adalah alat supra glotis airway. Teknik anestesi: General Anestesi. Pasien juga mengeluhkan adanya bengkak pada jari-jari tangan kanannya. untuk mengendalikan jalan nafas dan proteksi reflek-reflek jalan nafas maka digunakan LMA sebagai manajemen airwaynya. alergi dan diabetus melitus. Pasien didiagnosis open fraktur os phalanx proximal digiti IV dan V manus dextra dan direncanakan tindakan ORIF.Laki-laki 27 tahun. dan pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari) dengan riwayat cedera kepala ringan . Pasien ini dalam status fisik ASA II. Saat kecelakaan pasien terbentur dan pasien tidak ingat saat jatuh. Awasi vital sign dan keadaan . nadi 76x/menit. rontgen thorak dan EKG dalam batas normal. laboratorium. dengan teknik semiclosed. asma. dengan keluhan utama jari keempat dan kelima tangan kanan patah setelah kecelakaan. Berdasarkan ini pasien dalam status fisik ASA II (pasien dengan kelainan sistemik ringan yang tidak berhubungan dengan pembedahan. kemaudian pasien terjatuh. Hasil pemeriksaan fisik. Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali.

Setelah dilakukan Pemeriksaan fisik lengkap. Teknik anestesi umum dengan LMA. mudah penggunaanya. dan ketamin. Anestesi umum adalah tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri secara sentral. jenis anestesi yang paling baik digunakan dalam operasi ORIF ini adalah general anestesi. pemeriksaan laboratorium. dan relaksasi otot lurik yang cukup. masuk dalam kategori ASA II karena adanya riwayat cedera kepala ringan. Untuk menjamin jalan nafas pasien selama tidak sadar. LMA bukanlah suatu penggantian ET. dan tidah membutuhkan agen relaksasi otot untuk pemasangannya. analgesi. LMA juga tidak dapat dilakukan pada pasien dengan reflek jalan nafas yang intack. DISKUSI Pada kasus ini pasien datang dengan keluhan utama jari keempat dan kelima tangan kanan patah setelah pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pada pasien ini diberikan premedikasi midazolam 4 mg fentanyl 50 μg. Obat – obatan untuk induksi anestesi diantaranya adalah tiopental. relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan. Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan premedikasi suntikan intramuscular untuk dewasa dengan ondansetron 4 mg. dan pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari.umum. karena insersi LMA akan mengakibatkan laryngospasme. posisi supine. Oksigen diberikan . karena LMA tidak dapat digunakan pada pasien yang membutuhkan bantuan ventilasi dalam jangka waktu lama. stabilisasi otonom. minimal trauma pada gigi dan laring. Pada pasien ini diberikan maintenance oksigen. ketika pemakaian ET menjadi suatu indikasi. propofol. efek laringospasme dan bronkospasme minimal. Pada anestesi umum harus memenuhibeberapa hal ini yaitu hipnotik. dan pemeriksaan penunjang thorax foto dengan teliti dan lengkap diketahui pasien mengalami fraktur phalang proximal digiti IV. Berdasarkan status fisik pasien tersebut. Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar.V manus dextra pasien dianjurkan oleh dokter untuk dilakukan tindakan Open Reduction Internal Fixation.00 dan diberikan anti muntah berupa injeksi ondansentron 4 mg tiap 8 jam bila perlu. sehingga memungkinkan dimulainya anestesi. Infus RL 20 tetes per menit. Dipilih manajemen jalan nafas dengan LMA karena pertimbangan lama operasi yang tidak begitu lama. status fisik pra anestesi. karena dinilai lebih aman dan lebih tidak invasive disbanding dengan pemasangan Endotracheal Tube (ET). Dan diketahui bahwa kondisi pasien cukup baik dan memenuhi persyaratan operasi. maka dilakukan pemasangan LMA.Rumatan anestesi biasanya mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan. disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Keuntungan penggunaan LMA diabanding ET adalah kurang invasiv. Diberikan analgetik berupa injeksi ketorolac 30 mg tiap 8 jam secara intravena mulai jam 20. N2O dan sevoflurane. ASA II diinterpretasikan bahwa pasien dengan kelainan sistemik ringan yang tidak berhubungan dengan pembedahan. analgesia cukup. LMA sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET untuk airway management.

Anestesiologi. Dachlan. 4. Jakarta:Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. warna kulit. tanpa keluhan dan mulus. gangguan kardiovaskular. Thaib... Selama di unit parawatan pasca anestesi pasien dinilai tingkat pulih-sadarnya untuk kriteria pemindahan ke ruang perawatan biasa. McGraw Hill.. Sood. KA. LMA didesain untuk memberikan dan menjamin tertutupnya bagian dalam laring untuk ventilasi spontan dan memungkinkan ventilasi kendali pada mode level tekanan positif. R.4) nafas spontan assist. New York. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 49(4): 275-280 APORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FRAKTUR . 2005. Suryadi. FK UI. J. Jayashere. Namun kenyataannya sering dijumpai hal-hal yang tidak menyenangkan akibat stress pasca bedah atau pasca anestesi misalnya gangguan nafas. 2006. KESIMPULAN Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosa dengan open fraktur phalang proximal digiti IV-V manus dextra dengan riwayat CKR dilakukan operasi ORIF dengan teknik general anestesi inhalasi dengan pemasangan LMA (no. aktivitas (2). Mikhail MS. Latief Said. Sunatrio. dan kardiologi atau tekanan darah. FK UI. respirasi. Morgan GE. Idealnya bangun dari anestesi secara bertahap. Pada pasien ini kesadaran (1).Murray M. M. Indian Journal Anesthesia. Jakarta:Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. dan pemeriksaan status preoperatif pasien ASA II.. Laringeal Mask Airway and Its Variants. N2O sebagai analgetik dan isoflurane untuk efek hipnotik. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Dachlan. Muhiman.. dan warna kulit (2). Pulih dari anestesi umum pasien dikelola di unit perawatan pasca anestesi. R. LMA adalah salah satu alternatif manajemen airway selama prosedur pembedahan dibawah general anestesi. mual-muntah. Clinical Anesthesiology 4th edition. sirkulasi/kardiologi (2). 3. respirasi (2). mengigil atau bahkan perdarahan. aktivitas. yang dinilai adalah kesadaran. Untuk itulah perlu dilakukan pengawasan ketat. R.untuk mencukupi oksigenasi jaringan. gelisah.

Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang ( Marilyn E. 2. Fraktur inkomplit Diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patahan tidak menyebrang sehingga masih ada korteks yang utuh.2000 ) Fraktur adalah patah tulang . Fraktur patologis Fraktur yang disebabkan oleh adanya penyakit lokal pada tulang sehingga kekerasan dapat menyebabkan fraktur terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainya. 5. Berdasarkan hubungan fragmen tulang dan jaringan sekitar. pada fraktur ini segmen-segmen tulang yang patah direposisi atau direduksi kembali ketempat semula. dibedakan menjadi empat yaitu : 1. 4. Fraktur kompresive Fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya. Price. 4. Fraktur terbuka Fraktur yang fragmen tulangnya pernah berhubungan dengan dunia luar. 3. Korteks tulang hanya sebagian yang masih utuh. Fraktur tertutup Fraktur yang fragmen tulangnya mempunyai hubungan dengan dunia luar. demikian juga periosteum. Fraktur komplikata Fraktur yang disertai kerusakan jaringan saraf. Fraktur oblik Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut tulang. pembuluh darah atau organ yang ikut terkena. PENGERTIAN Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( Arif Mansjoer. fraktur dapat diklasifikasikan menjadi : 1.A. fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki. maka segmen itu akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.1999) Berdasarkan perluasannya Fraktur diklasifikasi menjadi dua yaitu : 1. Fraktur spiral Fraktur yang hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak dan fraktur semacam ini cenderung cepat sembuh dengan imobilasasi luar. Berdasarkan bentuk garis patahan. dimana kulit dari ekstremitas telah ditembus. 2. Doenges. Fraktur green stick Fraktur tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. biasanya disebabkan oleh trauma ( Sylvia A. 1995 ). . 3. Fraktur linier atau transversal Fraktur yang garis patahannya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. 2. Fraktur komplit Terjadi bila seluruh tubuh tulang patah atau kontinuitas jaringan luas sehingga tulang terbagi dua bagian dan garis patahnya menyebrabg dari satu sisi ke sisi yang lain sehingga mengenai seluruh korteks.

Nyeri tekan d. Spasme otot 3. PATOFISIOLOGI 1.defisit perawatan diri . b. patah tulang tidak pada tempat benturan melainkan oleh karena kekuatan trauma diteruskan oleh sumbu tulang dan terjadi fraktur di tempat lain. Nyeri bila digeser e. benturan ) 2) Penyakit pada tulang ( proses penuaan. dirasakan pada tulang fraktur yang disebabkan oleh pergeseran dua segmen ( suara gemetar ) f. Funsiolaesia c. mungkin terdapat kelainan bentuk pada lokasi yang terkena. patah tulang pada tempat benturan.B. g. Skema patofisiologi Trauma langsung dan tidak langsung Tekanan eksternal yang lebih besar dari yang dapat ditahan oleh tulang Perubahan kontinuitas pembedahan situasi baru Aliran darah jaringan tulang Pasca op Pre op Risiko terhadap Kerusakan Pertukaran gas cedera cemas Jaringan lunak Terpasang alat Kurang Spasme otot fiksasi internal pengetahuan sekunder . Trauma langsung Benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna. c. Etiologi lain 1) Trauma tenaga fisik ( Tabrakan. Trauma tidak langsung Jatuh bertumpu pada lengan yang menyebabkan patah tulang klavikula.risiko kerusakan integritas kulit Trauma langsung dan tak langsung akan menyebabkan terjadinya tekanan eksternal pada tulang .kerusakan mobilitas fisik Nyeri . Krepitasi. kanker tulang ) 3) Degenerasi spontan 2. Tanda dan gejala a. Deformitas. Bengkak akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti. Etiologi a. b.

yang tekanannya lebih besar dari yang dapat ditahan oleh tulang. Reposisi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang keposisinya dengan memanipulasi dan traksi manual. matur yang disebut kalus. lokasi dan Tipe. tendon. SCAN Tulang. Tulang dikatakan fraktur bila terdapat interuksi dari kontinuitas tulang dan biasanya disertai cedera jaringan disekitarnya yaitu ligamen. a. Rehabilitasi Pemulihan kembali / pengembalian fungsi dan kekuatan normal bagian yang terkena Daftar Pustaka . WBC ( kadang meningkat karena proses infeksi ) 5. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mast dimulai. Creatinin Trauma otot meningkatkan beban creatinin untuk klirens ginjal. 2. Anteragram/menogram Menggambarkan arus vaskularisasi. otot. Ditempat patah terbentuk bekuan fibrin dan berfungsi sebagai alat untuk melekatnya sel-sel baru. Tomogram Untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. pembuluh darah dan persarafan. Reposisi / setting Tulang Berarti pengambilan Fragmen tulang terhadap kesejahteraannya. Sinar X ( rontgen ) Dapat melihat gambaran fraktur. Imobilisasi Untuk mempertahankan reposisi sampai tahap penyembuhan. a. sel-sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut. perdarahan biasanya terjadi disekitar tempat patah dan kedalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut. HCT (sering rendah karena perdarahan ). Bidai. Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat apabila hematoma fraktur tulang / kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk atau apabila sel-sel tulang baru rusak selama proses kalsifikasi dan pergeseran. deformitas. Sewaktu tulang patah maka sel-sel tulang akan mati. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. flat screw. Pemeriksaan Lab ( DL ) Untuk pasien fraktur yang perlu diketahui antara lain : HB. Reaksi peradangan hebat terjadi setelah timbul fraktur. D. Reposisi terbuka dengan pendekatan bedah. ORIF ( Open reduction Internal fictation ) Alatnya : Pen. 3. 4. Konservatif fiksasi eksterna Alatnya : Gips. 3. fragmen tulang direposisi. CT SCAN. C. MRI. Traksi b. Bekuan fibrin direabsopsi untuk membentuk tulang sejati. 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. b.

Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. biasanya disebabkan oleh defisiensi diet. Jakarta : Media Aesculapius Price. 1999). 2000). Konsep Fraktur A. 2. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan. b. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. b.Jakarta : EGC Diposkan oleh Kumpulan Asuhan Keperawatan di 21:37 TINJAUAN TEORI I. Jakarta : EGC Doenges. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit.J. Etiologi Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu 1.Konsep Klinis dan Proses – Proses Penyakit. Fraktur tertutup (closed) adalah bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2000). Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. c. lambat dan sakit atau nyeri.(Arif Mansjoer.1999.Sylvia . Cederaatraumatik. (E. Kapita Selekta Kedokteran. B. FrakturaPatologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : a. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi Ketiga. Oerswari. c.Capernito. Fraktur terbuka (open/compound)adalah bila terdapat hubungan antar fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan dikulit. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif. FRaktur adalah terpisahnya atau patahnya tulang (Doenges. (Mansjoer.2000.L. cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a.arief. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran. misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer. 2000).Jilid II.1999. 3.Marilyn. Pengertian Fraktur Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. 1989). 2000). Patofisiologis . Buku Saku Diagnoasa Keperawatan. Edisi 6. . Jakarta : EGC Mansjoer. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain. dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat.1995.

Patofisiologi Ketika patah tulang. Hematom menyebabkn dilatasi kapiler di otot. akan terjadi kerusakan di korteks. tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang.C. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit.Tek. kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. sumsum tulang dan jaringan lunak. Ketika terjadi kerusakan tulang. kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Pathways Inkontinuitas tulang pergeseran fragmen tulang Perubahan jaringan sekitar kerusakan fragmen tulang Pergeseran frag tlg laserasi kulit spasme otot Tek. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan. yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement. tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera. Kapiler reaksi stres klien perdarahan pelepasan histamin melepaskan katekolamin Kehilangan Protein plasm Memobilisasi volume cairan hilang Asam lemak . Edema yang terbentuk akan menekan ujung syaraf. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. pembuluh darah. sehingga meningkatkan tekanan kapiler.Sum2 tlg > tinggin dari kapiler Deformitaas putus pena/arteri peningk. D.

edema bergabung dengan trombosit Penekanan \ Pembuluh Darah Emboli Penurunan Perfusi Menyumbat Jaringan Pembuluh darah (http://blog. avulse c) Fraktur komuniti sedang. tidak luas. 3) DerajatdIII . Fraktur terbuka (open/compound). obliq atau kumulatif ringan.ilmu keperawatan. bila terdapat hubungan antara fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. yaitu : 1) Derajat I a) Luka kurang dari 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. Klasifikasi fraktur berdasarkan bentuknya a. d) Kontaminasi ringan. fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat. 2.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan fraktur. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. 2) Derajat II a) Laserasi lebih dari 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak. c) Fraktur sederhana.htm) E. tranversal. Jenis khusus fraktur 1) Bentuk garis patah 1) Garis patah melintang 2) Garis patah obliq 3) Garis patah spiral 4) Fraktur kompresi 5) Fraktur avulse 2) Jumlah garis patah 1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. Klasifikasi Fraktur 1. 2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan 3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan. Fraktur tertutup (closed). b.

Tenderness/keempukan 6. Terjadi 1 – 5 hari setelah injury b. Penekanan tulang 2. Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus 4) Fase ossificasi a. Terjadi 6 – 10 hari setelah injuri b. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4. Mulai pada 2 – 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh b. hematom disekitar fraktur Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat 2) Fase granulasi jaringan a. Bengkak Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur. Frakturaincomplete Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah c. Fase consolidasi dan remadelling Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas. edema. b. d. Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis c. Rotasiapemendekanatulang. Frakturacomplete Merupakan patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal). Tahap Penyembuhan Tulang Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu : 1) Fase hematom Yaitu Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan . c. Deformitas Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. 3. F. Tanda Dan Gejala 1. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5.Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit. Hematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblastq 3) Fase formasi callus a. 5) G.

Kehilangan sensasi (mati rasa. Traksi skelet biasanya menggunakan pin steinmen atau kawat kirshner yan lebih halus biasanya disebut kawat k yan ditusukkan pda tulang kemudia pin tesebut ditarik dengan tali. Fisioterapi Alat untuk remobilisasi mencakup exercise terapiutik. 2. Tempat tarikan disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris dengan sumbu tarikan tulang yang patah. 7. Retensi yaitu setelah fraktur direduksi. memobilisasikan tubuh bagian jaringan lunak. Rekognisi yaitu dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. perawat atau mesin CPM (continous pasive motion). Pada saat pembedahan berbagai alat fiksasi internal digunakan pada tulang yang fraktur. Reduksi Merupakan proses manipulasi pda tulang yang fraktur untukmemperbaiki kesejajaran dan mengurangi penekanan serta meregangkan saraf da pembulh darah. Traksi Yaitu secara umum dilakukan dengan menempatkan beban dengan tali paaada extremitas klien. Prinsip Penanganan Fraktur Ada 4 dasar penangan fraktur yaitu : 1. katrol dan beban. ROM aktif dan pasif. memperbaiki deformitas. ujung plester dihubungkan dengan tali untuk ditarik. mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. 2. Kegunaan traksi adalah mengurangi patah tulang. Rehabilitasi merupakan proses pengembalian tulang kefungs dan struktur semula dengan cara . bidai. Jenis reduksi ada dua yaitu reduksi tertutup merupakan metode unuk mensejajarkan fraktur atau meluruskan fraktur. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi external meliputi gips. dan reduksi terbuka pada reduksi ini insisi dilakukan dan fraktur dilurskan selama pembedahan dibawah pengawasan langsung. Pergerakan abnormal 9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah H. ROM dapat dilakukan pada therapist. jenis kekuatan yang relepan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri. 3. Penatalaksanaan 1. (Smeltzer. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan. mempertahankan fragme tulang pada psisi yang sebenarnya selama penyembuhan. 4.struktur di daerah yang berdekatan. 2001) G. untuk mengurangi nyeri selama tindakan penderita dapat diberikan narkotik IV sedatif atau blok saf lokal. Jenis traksi ada dua macam yaitu traksi kulit biasanya menggunakan perekat sepanjang extremitas kemudian dibalut.tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif didalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. ROM aktif untuk meningkatkan kekuatan otot. penarikan biasanya menggunakan katrol dan beban. derajat keparahan. traksi dan teknikfiksator externa. 3. Reduksi yaitu usaha atau tindakan manipulasi fragmen-fragmen sepertileak asalnya. ROM pasif mencegah kontraktur pada sendi dan mempertahankan ROM normal pada sendi. fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dlam posisi dan kesejajaran ang benar sampai terjadi penyatuan.

untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan : 1) Provoking ncident Apakahapakah ada peristiwa yang menjadi faktor persifitasiknyeri. dingin.imisalnyaifinancial.melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. suku bangasa. Integritasaego Gejala : perasaan cemas. (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis). alamt. (FKUI. Tanda : tidak dapat istirahat. 1995). berdenyut. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur A.kdiagnosakmedis. agama. takikardi. b. Makanan/cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM.golongan darah. timbulnya pernapasanyang sulitidan/ atauitak iteratur. apakah bertambah buruk. stimulasi simpatis.igayaihidup. 2. Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibatikelemahanmreflekmbatuk. pendidikan. 4) Severity ( scale) of paint : seberapa jauh ras nyeri yang dirasakan kien bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhiifungsinya. NRM. Polai Fungsi Kesehatan a. tanggal masuk Rumah sakit. atau tertusuk. 2) Quality of Pain : sepertapa nyeri yang dirasakan atau yang digambarkan klien. Circulation TD dapat normal atau meningkat . Pengumplan Data Yaitu a. Keluhan Utama pada umunya keluhn utama pada kasus fraktur adalah nyeri. pekerjaan. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar. apakah seperti terbakar. 5) Time : berapa lama nyeri berlangsung. kapan.ihubungan. membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). 3) Region : apakah rasa sakit bisa mereda. bahas yang digunakan seari-hari. umur. d. marah. b. malnutrisi (termasuk obesitas). hipotensi terjadi pada tahap lanjut. factor-faktor stress multiple. disritmia. 2. dan dimana rasa saki terjadi atau lokasi rasa sakit tersebut. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada tahap ini meliputi : 1. jenis kelamin. peningkatan ketegangan/peka rangsang . Breathing Kelemahan menelan/ batuk /melindungi jalan napas. status perkawinan.isianosisipadaitahapilanjut. Latihan isometric dan setting otot. kulit dan membran mukosa pucat. nyeri tersebut bisa akut atau kronk tergantung lamnya serangan. takut. Identias klien meliputi nama. apatis . e. c. . Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuase dan meningkatkan peredaran darah. bunyi jantung normal pada tahap dini. isuarai nafasi terdengar ironchi / aspirasi.

analgesic. bengkak. ringan.tidak ada nyeri tekan. makanan. antihipertensi. antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas. dan larutan . Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.f. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . tidak ada nafas cuping hidung. dekongestan. kardiotonik glokosid. atau obat-obatan rekreasional. Mata : tidak ada gangguan tidak anemis Karen tidak terjadi perdarahan. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat. somnolen. steroid. demam. Pernapasan Gejala : infeksi. merokok. apatis. . Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi. dan biasanya pada kasus fraktur biasanya akut. b. reflek menelan ada. Kepala : tida ada gangguan yaitu normo cephalic. tidak ada odema. odema. antidisritmia. suhu sekitar daerah trauma meningkat. h. Mulut dan faring : Tidak ada pembesaran tonsil. bronchodilator. fermitus teraba sama. kondisi yang kronis/batuk. gusi tidak terjadi perdarahan. yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. antibiotic. Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) . Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . koma gelisah tergantung pada keadaan klien. Palpasi : pergerakan sama atau simetris. tidak ada perdarahan. Keadaan umum baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda seperti : 1) Kesadaran penderita : composmentis. berat. gerakan dada simetris. dan juga potensial bagi penarikan diri pascaioperasi).nyeri tekan. Hidung : tidak ada deformitas. Paru : Inspeksi : pernafasan meningkat. 3) Tanda-tanda vital tidak normal Karena ada gangguan baik fungsi/bentuk. simetris. 2) Kesakitan keadaan penyakit : akut kronok. Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . Leher : tidak ada penonjolan. tidak ada benjolan. sedang. diuretic. spoor. plester. Riwayatitransfuseidarah/reaksiitransfuse. Wajah : wajah terlihat menahan sakit. g. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal. Torak: Ins: Ada retraksi dinding dada. Telinga : tes weber masih dalam keadaan normal. Pemeriksaan Fisik a. antiinflamasi. mukosa mulut tidak pucat. 3. Pemeriksaan head totoes System integumen : terdapat eritema.

kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi. 2006) meliputi : 1. tidak ada pembesaran limfe. skor C1. edema dan cedera pada jaringan. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. turgor kulit buruk. Abdomen Inspeksi tidak distensi. luka/kerusakan kulit. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. Jantung : Inspeksi : tidak tanpak iktus Palpasi : Nadi meningkat Auskultasi : suaa S1 dan S2 tunggal. penurunan berat badan. Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. tidak ada wheezing. 1994) Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan fraktur (Wilkinson. Anus. kurang terpajan/mengingat. tidak ada kesulitan BAB c. kelemahan. . tidak ada suara tambahan lainnya. stress. prosedur invasif dan jalur penusukkan. 3.Perkusi : sonor. ansietas 2. mengetahui tempat dan type fraktur biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodic. ronche. . 2000). terdapat jaringan nekrotik.Tidak ada hernia. Kurang pengetahuan tantang kondisi. alat traksi/immobilisasi. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. 2) Skor tulang tomography. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. Diagnosad Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. respons inflamasi tertekan. Auskultasi : suara nafas vesikuler. simetris. gerakan fragmen tulang. perubahan status metabolik. 4. tidak ada pembesaran hepar. ada pantulan gelombang pantulan cairan Peristaltic usu normal ± 20 kali/menit. untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung. Perkusi : timpani. bentuk datar. Tidak teraba masa. Inguinal. insisi pembedahan. 3) Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler 4) Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada traumammultiple) Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma 5) Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges. Genetalia. Pemeriksaan Penunjang 1) FotoaRontgen. salah interpretasi informasi. B.

 Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial. Observasi tanda-tanda vital. warna. d. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. ansietas. Kaji lokasi. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan .C. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enamabulan. bau. Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. stress. Tujuana:anyeriadapataberkurangaatauahilang. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. Intervensi Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan Diagnosa (1) 1. serta jumlah dan tipe cairan luka. 2. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat. .Nyeri berkurang atau hilang . Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. ukuran. luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. edema dan cedera pada jaringan. Intervensi a. b.Klien tampak tenang. alat traksi/immobilisasi. Kriteria Hasil : . gerakan fragmen tulang. Intervensi : a.

Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan. Pantau tanda-tanda vital. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. efek prosedur dan proses pengobatan. gunakan plester kertas. prosedur invasif dan kerusakan kulit. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. d. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus.adll. Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. kadar gula darah yang tinggi. 4. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. Setelah debridement. e. Tujuan : infeksi tidak terjadi/terkontrol. Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. sepertiaHbadankleukosit. Balut luka dengan kasa kering dan steril. misalnya debridement. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. c. perubahan sirkulasi. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. ganti balutan sesuai kebutuhan. agar tidak terjadi infeksi. Kriteria Hasil : . R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. d. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. kateter. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif kurang terpajan atau mengingat salah interpretasi informasi. f. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Intervensi dan Implementasi : a. b. e. g. 3. Pantau peningkatan suhu tubuh. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. drainasealuka. Kurang pengetahuan tentang kondisi.c.

R/ Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. c. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. b. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. Intervensi : a. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN An”M” DENGAN DIAGNOSA MEDIS FRAKTUR OSS NASAL DI RUANGAN IGD DI RSUP. R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. d.NTB 6 – 05 – 2010 . R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

SAMPEL S: • Tampak luka sobek pada dairah nasal 1x1x0. P: Inkontinuitas jaringan Q: Nyeri tajam R: Terlokalisasi pada dairah nasal S: 5 (0-5) Klien tampak menangis 3. Identitas Penanggung Jawab Nama :Tn”K” Umur :50 thn Jenis klamin :Laki-laki Hubungan :Ayah Pekerjaan : PNS Alamat :Suweta 2.1. Pengkajian a. Identitas Klien Nama :An”M” Umur :8 thn Jenis klamin :Laki-laki Status :Agama :Islam No. Keluhan Utama Nyeri pada dairah nasal (klien tampak menangis) dan luka sobek pada ½ bagian nasal anterior.5 • Devisiasi septal nasal • Tampak perdarahan aktif pada luka sobek • Klien tampak menangis • Nasal tampak odema A: • Ibu klien menyatakan kalau klien tidak ada riwayat alergi pada suatu zat (obat/makanan/minuman dll) M: • Ibu klien menyatakan sebelum di bawa ke RSUP NTB IGD klien diolesi dengan minyak atau obat tradisional pada dairah yang luka atau nasal P: • Ibu kiien menyatakan sebelumnya klien tidak pernah mengalami peerdarahan atau fraktur dan .reg :07803 Pendidikan : SD Pekerjaan :Alamat :Suweta b.

kejadian pada tanggal 6-5-2010 pada pukul 10.5 ddengan kedalaman 0.rambut pendek dan tampak rapi Pal:- . 1) Kepala /leher • Rambut Ins: Distribusi rambut tampak merata.45 wita dan sampai di RSUP.00 wita E: • Klien turun dari tangga rumah dan kemungkinan terjatuh dari tangga rumah tsb (ibu klienn menyatkan tidak ada orang yang sempat melihat waktu klien terjatuh daari tangga ) klien sudah ditemukan di lantai dalam posisi duduk dan perdaarahan pada nasal (melallui luka sobek). Tinggi tangga 4 m.5 cm pada nasal. ABCDEFG Air way : Tidak ada tanda – tanda sumbatan pada jalan nafas spt perdarahan pada meatus nasal . luka tampak bersih Full vital sign : TD:. warna rambut hitam. Dan klien di temukan dalam keadaan sadar dan menangis.nasal tampak depisiasi Kesadaran: E4 V5 M6 Extpouse : Luka sobek diperkirakan karena terbentur pada lantai tangga rumah dengan luas luka sobek 1x1x0.2 Give comport : Mengatur posisi klien dengan posisi supinasi Menganjurkan orang tua klien untuk selalu mendmpingi klien Head to toes .ibu klien menyatkan kalau sebelumnya bentuk nasal klien tidak depisiasi L: • Makan /minnum terakhir pada tanggal 6-5-2010 pada pukul 08.00 wita 4.RR: 21x/m N: 80x/m S: 37. RR: 21x/m Birthing : RR:21x/m dengan irama nafas reguller dank lien dapat bernafas dengan sepontan Cirkulation : Perdarahan aktif melalui luka sobek (pada nasal (sianosis (-)) Disebelity : KU: baik . klien tamapak dapat bernafas dengan normal tampa ada keluhan seperti sesak dll.NTB (IGD) pada pukul 11. bersih .

ikterik (-).tanda trauma atau infeksi pada dairah mata . retraksi (-). Pal:• Hidung Ins: Nasal tampak depisiasi. othorea (-). meatus akustikus tampak bersih. Pal: Tidak ada tanda – tanda nyeri . vesikuler) tidak ada suara nafas tambahan. RR:21x/m. reflek cahaya (+) dengan refleks isokor. • Abdomen Ins: Bentuk supely. B/U 13x/m Pal : Nyeri tekan (-). mukosa bibir atau mulut tampak lembab. Pal: Nyeri tekan pada areal nasal dengna sekala 5 (0-5). letak kedua mata sietris. tidak ada tanda-tanda trauma pada areal toraks.• Kepala Ins: Tidak ada tanda –tanda lesi/trauma pada dairah kepala .5 cm . Meatus nasal tamapak bersih. benjolan (-) • Mata Ins: Buka mata sepontan. Letak luka sobek pada ½ bagian corpus nasal anterior fars median. • Mulut /gigi/lidah Ins: Tidak ada tanda –tanda trauma pada dairah oral. bentuk bibir simetris. tampak luka sobek dengan luas 1x1x0. Pal: Nyeri tekan (-). Per:- . dan tidak ada tanda – tanda trauma abdomen. perdarahan (-). tikdak ada tanda – tanda trauma pada areal servikal.batlle sign (-). secret (-) . pollip (-).brongkovesikuler. Pal:• Wajah Ins: Bentuk wajah opal . resonan (+) Aus: Suara nafas normal (brongkial. tidak ada lesi . bentuk simetris.dan wajah tampak simetris Pal:• Leher Ins: Devisisasi (-). lesi (-) Aus . warna gigi putih dengan jumlah gigi lengkap Pal:• Telinga Ins: Tidak ada tanda-tanda trauma pada areal akustikus . Pal: Nyeri tekan (-) • Toraks Ins : Benruk normal (simetris ) dengan perbandingan dada (panjang dan lebar 2:1). jumlah iga lengkap Per: Dullness (+). suarda jantung normal (BJ I dan BJ II) dengan irama regular dengan frekwensi 80 x/m. tampak perdarahan aktif pada nasal (melalui luka sobek). tidak ada tanda.

sianosis (-) Pal : Akral hangat +/+ 5.S: 5 (0-5) .T: continue Inkontinuiotas jaringan Ransangan syaraf pucini Gangguan rasa nyaman (nyeri) DS: . Analisa Data Sign Etiologi Problem DS: . lesi (-).R: nyeri terlokalisasi pada dairah hidung .klien tampak menangis .klien merasa nyeri pada dairah hidung DO: . tidak ada tanda – tanda trauma /fraktur pada dairah extrimitas.Ibu klien menyatkan menyatkan kalau klien jatuh dari tangga rumah DO: .P: inkontinuitas jaringan kulit dan tulang .• Genetalia Tidak tekaji • Ekstrimitas Ins: Pergerakan aktif.

Luka tampak bersih . . devisiasi corpus nasal. Inkontinnuitas jaringan kulit dan tulang berhmbungan dengan deselerasi ditandai dengan adanya luka sobek pada dairah hidung.klien tampak menangis.Nasal tampak odema Deselerasi Trauma langsung Inkontinuitas jaringan (tulang dan kulit ) 6.Tampak perdarahan aktif pada hidung (melalui luka sobek) . skala nyeri 5 (0-5).5 . Diagnosa a. P: Inkontinuitas jaringan kulit dan tulang. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan ransangan saraf nyeri (pucini) ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada dairah hidung.Tampak luka sobek pada dairah nasal dengan luas luka 1x1x0..Devisiasi corpus nasal . b. tampak perdarahan aktif melalui luka.

Rencana Hari /tggl No Dx Tujuan dan criteria hasil Rencana Rasional 06/05 2010 11.Sekala nyeri menurun .Observasi nyeri .Ciptakan lingkungan senyaman mungkin .Klien menytakan kalau rasa nyeri dapat menurun .Untuk menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan kerja sama tim Setelah di berikan perawatan selama ± 60 menit diharapkan inkontinuitas jaringan dapat .Berikan / ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada keluarga dan klien .Obs. X-ray dll .Untuk menambah kenyamanan pada klien . TTV .7.Untuk menenrukan intervensi selanjutnya .00 Setelah di berikan perawatan selama ± 60 menit diharapkan rasa nyer dapat menurun dengna criteria hasil : .Kolaborasi dalam pemberian terapi obaat-obatan.Kemungkinan adanya perubahan pada nilai TTV .Klien tampak lebih tenang .

Keadaan luka .Rawat luka .Luka dirawat .Infeksi nasokomial dapat terjadi malalui kontak langsung dengan klien dan melalui alat – alat yang di gunakan .Lakukan perawatan sebelum 6 jam dari waktu kejadian .Perdarahan dapat di control .Kolaborasi dalam melakukan hathing dan obat-obatan . .Untuk menentukan intervensi selanjutnya .Obs.Untuk meningkatkan kerja sama tim .Untuk mempermudah melakukan perawatan .Minimalkan infeksi nasokomial .teratasi dengan criteria hasil: .Melalui tindakan yang salah / tidak sesui dengan prosedur dapat menyababkan anak menjadi trauma.Siapkan alat-alat perawatan luka .Kurangi dampak hospitalisasi .

Mengobservasi Suasana hati klien .Menciptakan lingkungan senyaman mungkin . Tindakan Keperawatan Hari/ tggl No dx Tindakan Respon Hasil 6/5/10 11. TTV .S:37.TD:.10 11.15 1 .Klien menyatakan merasa sakit pada dairah hidung saja .2 .Mengobserpasi nyeri .Mengatur posisi klien senyaman mungkin .Menganjurkan orangtua klien untuk ikut serta dalam perawatan klien .8.Mengobs.N:80x/m .

25 11.Ibu klien tampak selalu mendampingi klien .Klien di posisikan dengan tidur terlentang (supinasi) . 11.Memasang sampiran .40 11.RR:21x/m .55 .30 11. klien tampak berhenti menangis.Klien tampak tenang dan lebih kooperatif.Membatasi jumlah pengunjung ..50 11.

05 12.30 13.30 2 .12.Menyiapkan alat untuk merawat luka .Mengobservasi Keadaan luka .

Di indikasikan untuk melakukan hathing .Luka di rawat dengan teknik anti septik/steril .Luka pada nasal dengan luas luka 1x1x0.Cairan NaCl 0. .Betadine .Membersihkan alat-alat yang telah digunakan/ yang telah terkontaminasi .Has steril .Plaster .9 % .Menutup luka hathing .Gunting plaster .5 dengan kedalaman luka 0. luka tampak bersih dan keluar perdaraha aktif pada dairah luka sobek .Menyiapkan alat hathing .Bengkok .Berkolaborasi dalam pemberian obat dan X-ray .Membuang alat habis pakai/disposable pada tempatnya .5 cm dan denan panjang 0.Hanscond .Memasukkan kembali alat-alat yang telah digunakan ke dalam apen.Merawat luka .Berkolaborasi dalam melakukan hathing dan obat-obatan .5 cm.Memastikan alat yang digunakan dalam keadaan seteril .Meminimalis dampak hospitalisasi ..Melakukakan hathing .

Parasetamol sirup .Amoxilin sirup . .Setiap akan melakukan tindakan petugas terlebih dahulu memberi penjelasan pada klien dan keluarga klien.Alat-alat disposible dibuang pada tempatnya. .Hasil X-ray: Fraktur oss nasal ..Hathing 1 kali dengan teknik hathing terputus dengan arah horizontal dan .Obat yang diberikan: .Luka hathing di olesi dengan betadin dan di tutup dengan has steril.Alat diambil dari dalam open/klep .Hathing set . Alat yang telah digunakan dibersihkan dan diseterilkan kembali .

Hasil X-ray : fraktur oss nasal. .alat yang terkontaminasi di bersihkan (dicuci) dan di sterilkan kembali. .Klien tampak berhenti menangis .TD:.Alat –alat yang di pakai masih dalam keadaan steril.S:37.Sampiran di pasang .2 .Klien tampak lebih tenang dan lebih kooperatif .Luka di hathing 1x dengan teknik hathing terputus dan dengan arah horizontal dan di tutup dengan has steril.klien menyatakan merasa nyeri pada dairah hidung saja O: .RR:21x/mnt 13.40 S: O: .Alat..9. Evaluasi Hari /Tggl No Dx Evaluasi 06/05 /2010 11.20 S: .Parasetamol dan Amoxilin sirup .N:80x/mnt .Luka di bersihkan .Pengunjung dibatesi (maximal 2 orang ) .Ibu klien selalu mendampingi klien .TTV .Klien di posisikan dengan posisi telentang (supinasi) . . .Obat yang di berikan : .Tampak luka sobek pada nasal .

perubahan status metabolik. 2. dan mendokumentasikan data dalam format yang dapat dibuka kembali. salah interpretasi informasi. respons inflamasi tertekan. mengatur dan memilih data yang dikumpulkan. tanda gejala. 3. Dalam teori untuk masing-masing masalah keperawatan terdiri dari 6 diagnosa keperawatan yaitu : 1. 1998). Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan tekanan. kurang terpajan/mengingat. dalam perencanaan. PENGKAJIAN Merupakan tehnik pegumplan data dan merupakan proses dinamis yang meliput tiga aktivitas dasar yaitu mengumpulkan data. “M” DENGAN DIAGNOSA MEDIS OPEN FRAKTUR DIGITI MANUS DI RUANG IRD RSUP NTB TANGGAL 6 MEI 2010 1. Pembahasan : Pada pengkajian ada kesamaan antara teori dengan pengkajian kasus seperti keluhan. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan meruapakan pernyataan tentang faktor-faktor yang memperhatikan respon atau tanggapan yang tidak sehat dan menghalangi perubahan yang diharapkan (Nasrul Efendi. 3. Sedangkan diagnosa yang ditemukan dalam kasus ada dua diagnosa yaitu : a. antara landasan teori dengan gambaran kasus kami tidak jauh beda karena rencan yang ada dalam teori kami gunakan dalam perencanaan kasus. standar dan intervensi. PERENCANAAN Perencanaan merupakan kumpulan tindakan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan guna memecahkan masalah kesehatan dan masalah keperawatan yang diidentifikasi (Nasrul Efendi. kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. Pada gambaran kasus perencanaan disusun sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada landasan teori. yaitu diagnosa keperawatan. Jadi. Inkontinuitas jaringan/kerusakan jaringan berhubungan dengan deselerasi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. 2. 1998). dan etiologinya. . Ganngguan rasa nyaman nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan. tujuan. luka/kerusakan kulit. insisi pembedahan. prosedur invasif dan jalur penusukkan. Kurang pengetahuan tantang kondisi. b.BAB IV PEMBAHASAN ASUAHN KEPERAWATAN PADA Tn. criteria. 4.

1998) pada asuhan keperawatan Tn “M” langsung dilakukan evaluasi pada hari itu juga sesuai dengan masalah yang ada yaitu gangguan nyaman nyeri dan gangguan integritas jaringan. IMPLEMENTASI Pelaksanaan merupakan suatu tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi atau mencegah masalah kesehatan yang dihadapi keluarga sesuai dengan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat (Nasul Effendi.4. tahap pelaksanaan sesuai dengan landasan teori dimana penulis menerapkan rencana asuhan keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. BAB V . EVALUASAI Evaluasi merupakan tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai atau tidak (Nasrul effendi. 1998). Sedangkan pada gambaran kasus. dan semua masalahnya teratasi sebagian. 5.

tindakan.PENUTUP A. Dari hasil hasil idetifikasiyang telah dilakukan ditemukan ada dua diagosa dan salah satu diagnosa yaitu gangguan inegritas jaringan yang membutuhkan penanganan yang akurat karena diagnosa ini sangat beresiko terjadinya infeksi apabila tidak ditangani dengan akurat. Asuhan keperawatan yang diberikan dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan yang telah dibuat sesuai dengan tingkat kebutuhan klien agar asuhan yang diberikan dapat mengatasi masalah yang diaami klien. dan evaluasi. SARAN Kami mengharapkan kepada RSUP NTB pada umumnya dan ruang IRD pada khususnya untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama dalam pelayanan klien yang membutuhkan pelayanan dengan segera atau gawat darurat sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan. oleh karena itu perlu diberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang masalah yang dihadapi klien. Evaluasi asuhan keperawatan yang dilakukan kepada klien sesuai dengan konsep teori yang ada untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tindakan yang telah dilakukan pada klien dengan masalah fraktur. B. KESIMPULAN Pengkajian pada klien dengan open fraktur dilakukan untuk mendapatkan informasi dan datan yang akurat. rencana. berdasarkan data dari hasil pengkajian telah dapat diintrprestasikan dan ditetapkan diagnosa. kami juga berharap kepada pembimbing untuk terus mendukung dan membantu dalam memberikan bimbingan kepada para mahasiswa yang melaksanakan praktek klinik untuk dapat menerapkan teori yang telah didapatkan dari institusi masing-masing dalam memberikan asuhan keperawatan. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->