LAPORAN KASUS MIOPIA, PRESBIOPIA DAN PTERIGIUM

Nurul Ardianti 112.0221.163

IDENTITAS PENDERITA
Nama Usia Jenis Kelamin Agama Suku Bangsa Status Perkawinan Pekerjaan Alamat Tanggal Masuk : Ny. Choiriyah : 50 tahun : Perempuan : Islam : Jawa : Menikah : Ibu Rumah Tangga (Pembuat Gorangan) : Tempuran, Magelang : 3 Oktober 2012, Pukul 10.00 WIB

ANAMNESA
 Autoanamnesis dilakukan di Poliklinik Mata RST Dr. Soedjono Magelang pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2012 pukul 10.00.  Keluhan Utama : mata kanan dan kiri kabur, pegal setelah membaca, terasa ada yang mengganjal dan kemerahan.  Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan mengeluhkan penglihatan kabur terutama saat melihat jauh sejak 10 hari yang lalu. Bila membaca dekat kabur dan setelah selesai akan terasa pegal dan pusing. Tidak ada riwayat mennggunakan kacamata sebelumnya. Pasien merasa ada yang mengganjal pada mata kanan dan kiri sejak 4 minggu yang lalu. Riwayat sering terpapar debu dan sinar matahari saat mengendarai sepeda motor tanpa kacamata pelindung saat bepergian.

Tidak ada penyakit lainnya. Tidak ada riwayat menggunakan kacamata dalam keluarga. Riwayat Penyakit Dahulu : Belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.  Riwayat Penyakit Keluarga : Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa. .

PEMERIKSAAN FISIK      Kesadaran Aktifitas Kooperatif Status Gizi Tekanan Darah : Compos mentis : Normoaktif : Kooperatif : Cukup : 120/90 mmHg .

STATUS OPTHALMOLOGIS .

.

.

.

DIAGNOSIS BANDING ODS Refraksi Anomali :  Miopia  Hipermetropia  Astigmatisme Kelainan Akomodasi: Presbiopia Mata merah:  Pterigium  Pinguekula  Pseudopterigium .

DIAGNOSIS KERJA  ODS Miopia. Presbiopia dan Pterigium Derajat I .

25  OS S -1.00 .PENTALAKSANAAN Medikamentosa:  Topikal: Cendo Lyteers ED bt.I: ∫ 3dd gttI ODS  Oral: Neurodex: ∫ 1dd tabI Pemberian Kacamata:  OD S -1.50  Add S +2.

PROGNOSIS ODS      Quo ad vitam Quo ad sanam Quo ad cosmeticam Quo ad functionam Quo ad visam : bonam : bonam : bonam : bonam : bonam .

beristirahat sambil melakukan aktifitas lain.EDUKASI     Penerangan yang baik dan cukup saat membaca. berhenti dahulu 15 – 20 menit. Aktifitas pemakaian mata jarak dekat dan jauh bergantian. Atur jarak baca minimal + 30 cm.  Hindari pajanan langsung dengan debu. Hindari membaca sambil tidur berbaring.  Berkendara sebaiknya memakai kacamata pelindung atau helm yang ada kacanya. . sinar matahari dan angin. melihat gambar atau menggunakan komputer lama. Misalnya setelah membaca.

MIOPIA .

Definisi  Keadaan mata mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang dating dibiaskan di depan retina. .  Miopia disebut sebagai rabun jauh akibat berkurangnya kemampuan untuk melihat jauh .

miopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa normal. . bertambahnya indeks bias media penglihatan. Miopia aksial.  Miopia refraktif.

 Miopia sedang : 3-6 D. dibedakan menjadi :  Miopia ringan : < 3 D. dibedakan menjadi:  Miopia stasioner. Berdasarkan derajat beratnya.  Miopia tinggi : > 6 D.  Berdasarkan perjalanannya. . miopia yang berjalan progresif yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa/miopia maligna/miopiadegeneratif. miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata  Miopia maligna. miopia menetap setelah dewasa  Miopia progresif.

. mempunyai kebiasaan mengernyitkan matanya untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). sedangkan melihat jauh kabur atau disebut rabun jauh.Gejala  Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat.  Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala.

Bedah keratorefraktif : mencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Lensa kontak : Lensa kontak mengurangi masalah penampilan atau kosmetik akan tetapi perlu diperhatikan kebersihan dan ketelitian pemakaiannya. Selain masalah pemakaiannya. perlu diperhatikan masalah lama pemakaian.  c.Penatalaksanaan  Miopia dikoreksi dengan menggunakan beberapa metode:  a.  d. Lensa kacamata: lensa sferis konkaf (minus) yang dapat memindahkan bayangan mundur ke retina  b. Lensa intraokular . infeksi. dan alergi terhadap bahan yang dipakai.

PRESBIOPIA .

 Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa gangguan perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur. .

.  Lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa .Etiologi  Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat:  Kelemahan otot akomodasi.

Gejala  Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien berusia lebih dari 40 tahun. berair dan sering terasa pedas.  Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka penderita cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekatnya dengan demikian obyek dapat dibaca lebih jelas. . akan memberikan keluhan setelah membaca yaitu berupa mata lelah.  Kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil.

0 dioptri 55 tahun: + 2.Penatalaksanaan  Pada pasien presbiopia kacamata atau adisi diperlukan untuk membaca dekat yang biasanya berhubungan dengan umur:      40 tahun: + 1.5 dioptri 50 tahun: + 2.5 dioptri 60 tahun: + 3.0 dioptri 45 tahun: + 1.0 dioptri .

PTERIGIUM .

. penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea.Definisi  Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif.

Pekerjaan: >> berhub dengan paparan yang sering dengan debu. 6. 2. Infeksi: HPV dinyatakan sebagai faktor penyebab pterigium. pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterigium.Faktor Risiko 1. Tempat tinggal: >> daerah khatulistiwa 4. . 5. udara yg panas. cahaya sinar matahari. 3. Faktor risiko lainnya: kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok. Herediter:diturunkan secara autosomal dominan. Usia: >> usia dekade dua dan tiga.

 Derajat III : melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil.Derajat  Derajat I : hanya terbatas pada limbus  Derajat II : melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea. .  Derajat IV : melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

Gejala       mata sering berair tampak merah adanya sesuatu yang tumbuh di kornea gatal ada yang mengganjal gangguan penglihatan .

terdapat adhesi antara konjungtiva yang sikatrik dengan kornea dan sklera. merupakan lesi kuning keputihan pada konjungtiva bulbi di daerah nasal atau temporal limbus. . Penyebabnya termasuk cedera kornea. cedera kimiawi dan termal.Diagnosis Banding  Pseudopterigium.  Pinguekula.

debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. .  Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan.Penatalaksanaan  Pemberian obat-obatan jika pterigium masih derajat 1 dan 2. sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterigium yang melebihi derajat 2.  Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan.  Lindungi mata yang terkena pterigium dari sinar matahari.

Operatif  Bare sclera : menyatukan kembali konjungtiva dengan permukaan sklera. teknik ini dilakukan bila luka pada konjuntiva relatif kecil.  Rotational flap : dibuat insisi berbentuk huruf U di sekitar luka bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi.  Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap.  Simple closure : menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat mencapai 40-75%. .

 Conjungtival graft : menggunakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior. dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan. Cara kerja teknik ini adalah dimana komponen membran basalis dari membran amnion ini serupa dengan komposisi dalam konjungtiva. .  Amniotic membrane transplantation yaitu teknik gafting dengan menggunakan membran amnion. yang merupakan lapisan paling dalam dari plasenta yang mengandung membrana basalis yang tebal dan matriks stromal avaskular.

TERIMA KASIH MATUR NUWUN .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful