P. 1
Tugas Seminar Auditing

Tugas Seminar Auditing

|Views: 5,842|Likes:
Published by irvamimovic
RANGKUMAN AUDIT INTERNAL, MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS), PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS DAN PENYELESAIAN PEMERIKSAAN, SURAT KOMENTAR TERHADAP PENGENDALIAN INTERNAL
(Management Letter) DAN SURAT PERNYATAAN LANGGANAN
(Client Representation Letter)

RANGKUMAN AUDIT INTERNAL, MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS), PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS DAN PENYELESAIAN PEMERIKSAAN, SURAT KOMENTAR TERHADAP PENGENDALIAN INTERNAL
(Management Letter) DAN SURAT PERNYATAAN LANGGANAN
(Client Representation Letter)

More info:

Published by: irvamimovic on Aug 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2014

pdf

text

original

AUDIT INTERNAL

Fungsi Internal Audit adalah salah satu fungsi penting di suatu perusahaan. Internal Auditor kadang-kadang dipandang sebelah mata oleh kolega dari unit lain karena dianggap tidak professional, hanya mencari-cari kesalahan saja. Padahal Internal Audit mempunyai peran strategis dalam membawa kepentingan perusahaan, bahkan mungkin pemegang saham untuk memastikan setiap unit di dalam perusahaan berjalan dengan baik. Definisi / pengertian internal 1. Pengertian Menurut Sawyer Internal audit adalah suatu fungsi penilaian independen yang dibentuk dalam suatu organisasi untuk mengkaji dan mengevaluasi aktivitas organisasi sebagai bentuk jasa yang diberikan bagi organisasi. 2. Pengertian Menurut Institute of internal Auditor Internal audit adalah suatu aktivitas independen, yang me mberikan jaminan keyakinan serta konsultasi yang dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Internal auditing membantu organisasi dalam usaha mencapai tujuannya dengan cara memberikan suatu pendekatan disiplin yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan keefektivan manajemen resiko, pengendalian dan proses pengaturan dan pengelolaan organisasi. Model COSO terbit pertama kali tahun 1992 yang mendefiniskan pengendalian intern sebagai suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen dan pegawai lainnya yang didesain untuk memperoleh keyakinan yang memadai terkait dengan tujuan: a. efektivitas dan efisiensi dari aktivitas operasi. b. kehandalan dari pelaporan keuangan. c. ketaatan peraturan perundangan dan kebijakan terkait. SPI menurut COSO terdiri dari lima komponen yakni lingkungan pengendalian, aktivitas pengendalian, komunikasi dan informasi, pengawasan dan penilaian atas risiko. Dalam rancangan peraturan pemerintah (RPP) Sistem Pengendalian Intern Di Lingkungan Pemerintah, kelima komponen tersebut dikenal dengan standar yang harus dipedomi dalam kegiatan organisasi:

1. Lingkungan pengendalian (control environment) Standar pertama: " manajemen dan seluruh pegawai harus menciptakan (estanblish) dan memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan prilaku positif dan mendukung terhadap pengendalian intern dan manajemen yang sehat (conscientious). 2. Penilaian risiko (risk assessment) Standar kedua: " pengendalian intern harus menyediakan penilaian risiko yang dihadapi organisasi baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar organisasi". 3. Kegiatan pengendalian (control activities) Standar ketiga: " Aktivitas pengendalian intern membantu memastikan bahwa arahan manajemen dilaksanakan. aktivitas pengendalian harus efektif dan efisien mencapai tujuan pengendalian intern" 4. Informasi dan komunikasi (information and communication) Standar keempat: " informasi harus dicatat dan dikomunikasikan kepada manajemen dan satuann kerja lainnya dalam suatu entitas yang membutuhkannya dan dalam bentuk dan jangka waktu yang memungkinkannya menyelenggarakan pengendalian intern dan tanggungjawab lainnya". 5. Pemantauan (monitoring) Standar kelima:"pemantauan pengendalian intern harus selalu menilai kualitas kinerja dan memastikan bawha temuan audit atau reviu lainnya diselesaikan tepat waktu".
Auditor Internal Auditor Eksternal yang independen diluar

Merupakan karyawan perusahaan atau bisa saja Merupakan orang merupakan entitas independen. perusahaan.

Melayani kebutuhan organisasi, meskipun Melayani pihak ketiga yang memerlukan fungsinya harus dikelola oeleh perusahaan. informasi keuangan yang dapat diandalkan. Fokus pada kejadian – kejadian masa depan Fokus pada ketepatan dan kemudahan pemahaman dengan mengevaluasi kontrol yang dirancang dari kejadian – kejadian masa lalu yang untuk meyakinkan pencapaian tujuan organisasi. dinyatakan dalam laporan keuangan, Langsung berkaitan dengan pencegahan Sekali – sekali memerhatikan pencegahan dan kecurangan dalam segala bentuknya atau pendeteksian kecurangan secara umum, perluasan dalam setiap aktivitas yang ditelaah namunakan memberikan perhatian lebih bila kecurangan tersebut akan mempengaruhi laporan keuangan secara material, Independen terhadap aktivitas yang diaudit, tetapi Independen terhadap manajemen dan dewan siap sedia untuk menanggapi kebutuhan dan direksi baik dalam kenyataan maupun secara keinginan dari semua tingkatan manajemen mental Menelaah aktivitas secara terus - menerus Menelaah catatan – catatan yang mendukung laporan keuangan secara periodik, biasanya sekali setahun

MATERIALITAS, RISIKO AUDIT & KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS)
PENGERTIAN MATERIALITAS
Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasiakuntansi, yang dilihat dari keadaanyang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap nformasi tersebut, karena adanya enghilangan atau salah saji itu. Berdasarkan pertimbangan biaya-manfaat, auditor tidak mungkin melakukan pemeriksaan atas semua transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan, auditor harus menggunakan konsep materialitas dan konsep risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa salah saji yang terdapat dalam asersi dapat diterima oleh audiotr agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh besarnya salah saji tersebut. Konsep risiko audit berkaitan dengan risiko kegagalan auditor dalam mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material. Materialitas dibagi menjadi 2 golongan : 1. Materialitas pada tingkat laporan keuangan 2. Materialitas pada tingkat saldo akun

PENGERTIAN RISIKO AUDIT
Risiko audit adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Terdapat 3 unsur risiko audit: 1. Risiko Bawaan kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. 2. Risiko Pengendalian risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. 3. Risiko Deteksi risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko audit digolongkan menjadi 2 : 1. Risiko audit keseluruhan 2. Risiko audit individual

HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS, RESIKO AUDIT DAN BUKTI AUDIT 1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi,a uditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan. 2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat. 3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari 3 cara berikut: a. menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahakan jumlah bukti audit yang dikumpulkan, b. menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan, dan c. menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.

PENGERTIAN KERTAS KERJA PEMERIKSAAN
Kertas kerja pemeriksaan adalah semua berkas-berkas yang di kumpulkan oleh auditor dalam menjalankan pemeriksaan, yang berasal : 1. Dari pihak client 2. Dari analisa yang di buat oleh auditor 3. Dari pihak ke tiga TUJUAN KERTAS KERJA PEMERIKSAAN 1. Mendukung opini auditor mengenai kewajaran laporan keuangan. 2. Sebagai bukti bahwa auditr telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar profesional akuntan publik 3. Sebagai referensi dalam hal ada pertanyaan dari :pihak pajak, pihak bank dan pihak client. 4. Sebagai salah satu dasar penilaian asisten (seluruh tim audit ) sehingga dapat dibuat evaluasi mengenai kemampuan asisten sampai dengan partner, sesudah selesai suatu penugasan. 5. Sebagai pegangan untuk audit tahun berikutnya JENIS-JENIS KERTAS KERJA PEMERIKSAAN Kertas kerja pemeriksaan biasanya di kelompokkan dalam: a. Current file (Berkas tahun berjalan) b. Permanent file (Berkas permanen) c. Correspondence file (Berkas surat menyurat) SUSUNAN KERTAS KERJA 1. Draft laporan audit (audit report) 2. Laporan keuangan auditan 3. Ringkasan informasi bagi reviewer 4. Program audit 5. Laporan keuangan atau lembar kerja yang di buat oleh klien 6. Ringkasan jurnal adjustment 7. Working trial balance 8. Skedul utama 9. Skedul pendukung

PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS DAN PENYELESAIAN PEMERIKSAAN
SIFAT DAN CONTOH SUBSEQUENT EVENTS Subsequent Events adalah : - Peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya Laporan Audit - Mempunyai akibat yang material terhadap laporan keuangan - Memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan tersebut Dua jenis Subsequent Events (PSA No.46) : 1. Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan 2. Peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca, namun kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca Menurut Sukrisno Agoes (2004:138) subsequent event yang harus diaudit oleh akuntan publik adalah : 1. Subsequent Collection • Penagihan sesudah tanggal neraca, sampai mendekati selesainya pekerjaan lapangan/audit field work • Dilaksanakan dalam pemeriksaan Piutang, dan Barang Dalam Perjalanan 2. Subsequent Payment Pembayaran sesudah tanggal neraca sampai mendekati selesainya audit field work Dilaksanakan dalam pemeriksaan hutang dan biaya yang masih harus dibayar TUJUAN PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS Untuk : 1. Menentukan keberadaan kejadian penting sesudah tanggal neraca yang membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan atau memerlukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan 2. Menentukan kemungkinan tertagihnya piutang 3. Memastikan bahwa “barang dalam perjalanan” yang tercantum di neraca per tanggal neraca, masih di perjalanan 4. Untuk memastikan kewajiban dan beban yang masih harus dibayar yang tercantum di neraca per tanggal neraca, merupakan kewajiban perusahaan yang akan dilunasi pada saat jatuh temponya (sesudah tanggal neraca) 5. Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca

- Saat membayar uang muka pembelian (L/C) perusahaan mencatat : Barang Dalam Perjalanan xxx Kas xxx Hutang Dagang xxx - Saat penerimaan barang sebelum tanggal neraca, perusahaan mencatat : Persediaan xxx Hutang Dagang xxx - Akibatnya per tanggal neraca tetap terlihat saldo barang dalam perjalanan dan terjadi dua kali pencatatan hutang dagang : Persediaan xxx Barang Dalam Perjalanan xxx - Pada saat hutang tersebut dilunasi : Hutang Dagang xxx Kas

xxx

PROSEDUR PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS 1. Periksa pengeluaran dan penerimaan kas sesudah tanggal neraca, sampai mendekati tanggal selesainya audit field work (lihat Exhibit 19-1 dan 19-2) 2. Periksa bukti pengeluaran dan penerimaan barang sesudah tanggal neraca, sampai mendekati tanggal selesainya audit field work 3. Periksa cut-off pembelian dan penjualan (lihat Exhibit 19-3 dan 19-4) 4. Review laporan keuangan interim untuk periode sesudah tanggal neraca 5. Minta copy notulen rapat direksi, dewan komisaris, pemegang saham, periksa apakah ada commitment dari perusahaan yang baru dipenuhi pada periode sesudah tanggal neraca 6. Lakukan tanya jawab dengan pejabat perusahaan yang berwenang, mengenai : a. Ada/tidaknya contingent liabilities b. Ada/tidaknya perubahan dalam modal saham, kewajiban jangka panjang atau kredit modal kerja dalam periode sesudah tanggal neraca c. Ada/tidaknya kejadian penting sesudah tanggal neraca yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan atau penjelasan catatan laporan keuangan 7. Kirim konfirmasi ke penasihat hukum perusahaan 8. Analisa perkiraan profesional fees 9. Dapatkan surat pernyataan langganan (client representation letter)

PENYELESAIAN PEMERIKSAAN AKUNTAN Beberapa hal yang harus dilakukan akuntan publik, sebelum suatu pemeriksaan akuntan dinyatakan selesai : 1. Seluruh kertas kerja pemeriksaan harus diparaf oleh pembuatnya dan direview oleh atasannya. 2. Hasil review harus didokumentasikan dalam suatu review notes dan harus dijawab oleh staf yang direview (reviewee) secara tertulis 3. Daftar audit adjustment harus disusun, lengkap dengan index working papernya, diskusikan dengan klien 4. Audit adjustment yang sudah disetujui klien harus diposting ke masing-masing kertas kerja yang berkaitan 5. Draft report disusun oleh auditor in-charge (pimpinan tim audit), direview oleh audit manager dan audit partner 6. Sebelum kertas kerja pemeriksaan dan draft report di review oleh audit manager dan audit partner, maka audit supervisor harus menyusun notes to PPM (catatan untuk Partner, Principal dan Manager) 7. Setelah draft report direview dan disetujui PPM, diskusikan dengan klien. Jika klien setuju, buat final audit report. 8. Sebelum laporan audit diserahkan kepada klien, auditor harus meminta Surat Pernyataan Langganan dari klien. Tanggal surat harus sama dengan tanggal selesainya audit field work dan tanggal laporan audit. 9. Auditor membuat draft management letter, setelah direview dan disetujui PPM, diskusikan dengan klien. Klien setuju, buat management letter final untuk klien 10. Tahap akhir, selesaikan urusan pelunasan audit fee (ditambah 10% PPN, dikurangi PPh 23 7,5%) 11. Dalam audit working papers, cantumkan “catatan untuk audit tahun berikutnya”. 12. Opini yang diberikan, tergantung hasil pemeriksaan 13. Dalam mereview kertas kerja pemeriksaan, KAP sebaiknya mempunyai daftar “Audit Working Papers Review Guide”

SURAT KOMENTAR TERHADAP PENGENDALIAN INTERNAL (Management Letter)
MANAGEMENT LETTER adalah : 1) Surat yang dibuat KAP untuk manajemen perusahaan yang di audit, mengenai pemberitahuan kelemahan pengendalian internal perusahaan (material atau immaterial weaknesses) yang ditemukan selama pengauditan, disertai saran perbaikan (lihat Exhibit 20-1) 2) Laporan tambahan selain Audit Report Menurut Whittington, O.Ray dan Kurt Pany (2001) : Laporan kepada manajemen yang berisi rekomendasi untuk memperbaiki kelemahan yang diungkapkan Akuntan Publik setelah mempelajari dan mengevaluasi pengendalian internal perusahaan. Membantu membatasi tanggungjawab Akuntan Publik seandainya dikemudian hari kelemahan dalam pengendalian internal mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Untuk mengetahui ada/tidaknya kelemahan pengendalian internal perusahaan auditor harus memahaminya dengan mempelajari dan mengevaluasi pengendalian internal perusahaan, melalui: 1. Internal Control Questionnaire (ICQ) 2. Flowchart (bagan alur dokumen) yang menggambarkan alur dokumen dalam memproses suatu transaksi, dari awal sampai akhir dengan menggunakan simbol 3. Narrative Memo (penjelasan/uraian tertulis dari system dan prosedur akuntansi) Langkah berikutnya melakukan pembuktian/pengujian melalui Compliance Test/Test Ketaatan (untuk memastikan bahwa transaksi perusahaan diproses sesuai dengan sistem dan prosedur akuntansi). Dalam compliance test, dilakukan pemeriksaan transaksi : a. Pengeluaran kas (cash disbursement test) b. Penerimaan kas (cash receipt test) c. Penjualan (sales test) d. Pembelian (purchase test) e. Pembayaran gaji (payroll test) f. Koreksi/penyesuaian (journal/voucher test) Dengan memeriksa : 1) Kelengkapan dokumen pendukung 2) Otorisasi pejabat yang berwenang 3) Kebenaran perhitungan matematis dalam dokumen pembukuan 4) Kebenaran pendebitan dan pengkreditan transaksi ke setiap perkiraan buku besar Setelah melakukan Compliance Test lalu tarik kesimpulan tentang kebaikan dan kelemahan pengendalian internal, Kelemahan pengendalian internal disampaikan kepada top management atau pejabat perusahaan yang kedudukannya lebih tinggi dari petugas yang bagiannya dikomentari melalui management letter

MANAGEMENT LETTER YANG BAIK 1. Tepat waktu (timely) 2. Berisi saran yang bermanfaat dan bisa diterapkan 3. Komentar dan saran bukan “surprise” (mengejutkan) 4. Menggunakan bahasa yang baik, halus dan tidak menyinggung perasaan orang lain 5. Kelemahan dan saran diurut berdasarkan urutan pos neraca dan laporan laba rugi, atau menurut hal penting yang perlu perhatian khusus dari manajemen dan penanganan yang cepat 6. Saran dan komentar disesuaikan dengan kondisi bisnis perusahaan dan menunjukkan kemauan baik KAP untuk membantu perusahaan 7. Bagian akhir management letter merupakan ucapan terimakasih kepada manajemen dan seluruh staf perusahaan MANFAAT MANAGEMENT LETTER 1) Bagi klien a. Mengetahui kelemahan pengendalian internal perusahaannya b. Melakukan tindakan perbaikan untuk mengatasi kelemahan tersebut 2. Bagi KAP a. Nama KAP bertambah baik b. Keberlanjutan dan penyebarluasan jasa yang diberikan 3. Bagi staf KAP (anggota tim pemeriksa) a. Menambah kesejahteraan b. Memperluas pemahaman berbagai pengendalian internal perusahan c. Memahami pembuatan management letter yang baik TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ANGGOTA TIM AUDIT DALAM MEMBUAT MANAGEMENT LETTER 1. Asisten Auditor (Junior Staff) a. Terjun ke kantor perusahaan (klien) setiap hari b. Mengumpulkan data dan informasi dalam pengendalian internal perusahaan c. Mendokumentasikan data dan informasi, photocopy bukti pendukung 2. Senior Auditor (Pimpinan Tim Audit) a. Analisis kertas kerja pemeriksaan yang dibuat asisten auditor (informasi kelemahan pengendlian internal perusahaan) b. Mengumpulkan dan menyusun hal yang termasuk management letter c. Mendiskusikan konsep management letter dengan bagian pajak dan management service dari KAP d. Menyerahkan konsep management letter kepada audit supervisor/manager untuk ditelaah e. Melakukan pebaikan yang diperlukan setelah dianalisis 3. Audit Supervisor (Manager) a. Menyerahkan konsep management letter yang sudah diperbaiki kepada audit partner untuk ditelaah b. Menelaah dan mengedit konsep management letter, mengusulkan perbaikan yang diperlukan kepada auditor senitor

c. Setelah dianalisis audit partner dan diperbaiki (jika ada saran perbaikan dari audit aprtner), diskusikan konsep management letter dengan manajemen perusahaan d. Melaporkan kepada audit partner mengenai hasil diskusi dengan manajemen perusahaan, meminta persetujuan audit partner jika ada saran perbaikan dari manajemen perusahaan e. Memerintahkan konsep terakhir management letter untuk definalisasi 4. Audit Partner a. Menelaah dan mengedit konsep management letter dari audit manager dan mendiskusikannya dengan audit manager dan audit senior b. Mengembalikan konsep tersebut berikut saran perbaikan kepada audit manager c. Menelaah kembali konsep yang sudah diperbaiki, meminta audit manager untuk didiskusikan dengan manajemen perusahaan d. Hasil diskusi tersebut dibahas dengan audit manager e. Menandatangani management letter yang final untuk dikirim ke manajemen perusahaan Management Letter merupakan : 1. Alat komunikasi antara KAP dengan manajemen perusahaan yang diaudit mengenai pengendalian internal dan kelemahan yang ada (lihat Exhibit 20-1) 2. Dokumentasi tertulis mengenai kelemahan pengendalian internal yang pernah dibicarakan dan disarankan perbaikannya kepada klien (auditor tidak bisa disalahkan jika ternyata ada kecurangan yang merugikan perusahaan dikemudian hari) 3. Bermanfaat bagi perusahaan yang diaudit, KAP dan staf 4. Iklan tidak langsung bagi KAP 5. Semua KAP harus membiasakan diri memberikan management letter yang baik dan bermanfaat bagi klien 6. Dibuat setelah auditor selesai melaksanakan compliance test (sehingga klien masih sempat melakukan perbaikan) atau setelah laporan audit diserahkan kepada klien (perbaikan pengendalian internal bisa dilakukan periode berkutnya)

SURAT PERNYATAAN LANGGANAN (Client Representation Letter)
Client Representation Letter adalah surat yang dibuat klien yang ditujukan kepada KAP, yang berisi pernyataan dari manajemen perusahaan, mengenai : 1. Tanggung jawab manajemen terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan sesuai dengan PSAK/PABU 2. Kelengkapan data, catatan akuntansi, notulen rapat direksi dan pemegang saham serta informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan audit, telah diperlihatkan kepada akuntan publik tidak ada yang disembunyikan 3. Penjelasan pos laporan keuangan, misalnya : • Piutang yang disajikan di Neraca semuanya bisa tertagih dan dibuatkan penyisihan yang cukup (untuk piutang yang diragukan bisa tertagih) • Aktiva Tetap yang tercantum di Neraca semuanya merupakan milik perusahaan dan dicatat berdasarkan harga perolehannya • Hutang yang tercantum di Neraca betul-betul merupakan kewajiban perusahaan dan tidak ada hutang atau kewajiban kepada pihak ketiga yang belum dicantumkan di Neraca 4. Ada tidaknya aktiva perusahaan yang dijadikan jaminan atas kredit dari Bank (jika ada, jelaskan jenis aktiva dan kepada siapa dijaminkan) 5. Ada tidaknya kewajiban bersyarat (contingent liability) per tanggal Neraca. Continget Liability kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga yang mungkin terjadi, tergantung pada kejadian di periode yang akan datang (adanya pendiskontoan wesel tagih atau tuntutan terhadap perusahaan di pengadilan yang pada tanggal Neraca belum ada keputusan hukum dari pengadilan) 6. Ada tidaknya transaksi hubungan istimewa (related party transactions) dengan perusahaan induk (holding company), perusahaan anak (subsidiary company) atau perusahaan afiliasi (affiliated company) 7. Ada tidaknya kejadian penting sesudah tanggal Neraca yang mempunyai pengaruh penting/material terhadap kewajaran laporan keuangan (kebakaran sesudah tanggal Neraca, namun sebelum Laporan Akuntan diterbitkan) KEGUNAAN CLIENT REPRESENTATION LETTER Kegunaan client representation letter adalah sebagai bukti di pengadilan terkait dengan : kesalahan pencatatan yang dilakukan klien/klien tidak mencatat transaksi secara keseluruhan/bukti yang disembunyikan (tidak diperlihatkan) sehingga pihak tertentu menggunakan laporan keuangan klien dan dirugikan dan mengajukan tuntutan kepada pengadilan Tanggal Surat Pernyataan Langganan : (a) Sama dengan Tanggal Selesainya Pemeriksaan Lapangan (Audit Field Work) dan Tanggal Laporan Akuntan Publik (b) Menunjukkan sampai batas waktu mana auditor harus menjelaskan hal/kejadian penting sesudah tanggal neraca

Pada akhir General Audit/Financial Audit (Pemeriksaan Umum), auditor mengeluarkan Laporan Akuntan Publik yang terdiri dari : • Pendapat Auditor (kewajaran laporan keuangan klien) • Laporan Keuangan yang Telah Diaudit (tanggungjawab manajemen) Sebelum Laporan Audit diserahkan kepada klien, auditor meminta Surat Pernyataan Langganan dari klien (klien harus memberikan dan ditandatangani pejabat berwenang/Direktur Keuangan dan Akuntansi/Direktur Utama, ditik diatas kop surat klien, walaupun konsep surat tersebut disiapkan oleh KAP) ISI CLIENT REPRESENTATION LETTER 1. Tanggungjawab manajemen, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas 2. Tersedianya catatan keuangan 3. Kelengkapan notulen RPS, direksi dan dewan komisaris 4. Tidak ada kesalahan dalam laporan keuangan dan transaksi yang tidak tercatat 5. Informasi transaksi dan utang piutang antar pihak yang mempunyai hubungan istimewa 6. Ketidakpatuhan dengan pasal perjanjian/kontrak yang berdampak terhadap laporan keuangan 7. Informasi mengenai peristiwa kemudian 8. Ketidakberesan manajemen dan karyawan 9. Komunikasi instansi pemerintah mengenai ketidakpatuhan/ kelemahan praktek pelaporan keuangan 10. Rencana/maksud yang mempengaruhi nilai/klasifikasi aktiva/ kewajiban 11. Pengungkapan saldo kompensasi/ perjanjian yang menyangkut pembatasan terhadap saldo kas, dan pengungkapan line-of credit atau perjanjian yang serupa 12. Pengurangan kelebihan atau keusangan persediaan menjadi nilai yang dapat direalisasikan 13. Rugi dari komitmen penjualan 14. Hak atas aktiva, hak gadai atas aktiva, dan aktiva yang dijaminkan 15. Perjanjian membeli kembali aktiva yang sebelumnya dijual 16. Rugi komitmen pembelian untuk jumlah persediaan yang melebihi kebutuhan atau pada harga diatas harga pasar 17. Pelanggaran atau kemungkinan pelanggaran hukum/ peraturan, dampaknya harus diungkapkan dalam laporan keuangan atau sebagai dasar mencatat rugi bersyarat 18. Pengungkapan kewajiban lain dan laba/rugi bersyarat 19. Tuntutan yang tidak diungkapkan 20. Hak/parjanjian pembelian kembali saham perusahaan atau modal saham yang disisihkan untuk hak pembelian saham, warrant, konversi atau persyaratan lainnya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->