P. 1
[Jurnal] Aktivitaspenghambatanbakteriasalsaluranpencernaanayambroilerterhadapescherichiacolidansalmonellaspp.padaberbagaimedia,Aerasi,Phdansuhu

[Jurnal] Aktivitaspenghambatanbakteriasalsaluranpencernaanayambroilerterhadapescherichiacolidansalmonellaspp.padaberbagaimedia,Aerasi,Phdansuhu

|Views: 378|Likes:
Published by Zulfa Luqyana

More info:

Published by: Zulfa Luqyana on Dec 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2014

pdf

text

original

Sections

  • PENDAHULUAN
  • Latar Belakang
  • Tujuan
  • Manfaat
  • TINJAUAN PUSTAKA
  • Mikroflora Usus
  • Tabel 1 Mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak
  • Probiotik
  • Prebiotik
  • Escherichiacoli
  • Salmonellasp
  • Antibiotik
  • Enzim
  • Protease
  • Amilase
  • Lipase
  • Selulase
  • Gambar 3 Struktur selulosa dengan ikatan β- (1,4)
  • Molase
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler
  • Peremajaan Bakteri Target
  • Identifikasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler
  • Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif
  • Optimasi Media
  • Optimasi Waktu Produksi
  • Pertumbuhan Isolat
  • Optimasi Suhu
  • Optimasi pH
  • Aktivitas Amilase, Protease, Lipase, Selulase
  • SIMPULAN DAN SARAN
  • DAFTARPUSTAKA
  • LAMPIRAN

AKTIVITAS PENGHAMBATAN BAKTERI ASAL SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER TERHADAP Escherichia coli dan Salmonella spp.

PADA BERBAGAI MEDIA, AERASI, pH dan SUHU

GUSMINARNI

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang berjudul Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Pada Bebagai Media, Aerasi, pH dan Suhu. adalah hasil karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2009

Gusminarni G 351070071

ABSTRACT
GUSMINARNI Inhibitory Activity of Bacteria Isolated from Digestive Track of Chicken Broiler Against Escherichia coli and Salmonella spp. at Several Growth Media, Aeration, pH, and Temperature. Under Direction of YULIN LESTARI and MIN RAHMINIWATI This research aim to study the Inhibition activity of bacteria isolated from digestive track chicken broiler against Echerichia coli and Salmonella sp. at several growth media, aeration, pH and temperature. Isolation of digestive track broiler bacteria was conducted by using Nutrient Agar (NA) media at pH 7.0 and pH 4.5. The isolates were assayed against Echerichia coli and Salmonella sp. The isolates which showed inhibition capability were selected, microscopically identified, Gram stained and used for further assay The inhibitory activity of selected isolates was examined using De Man Ragosa (MRS ) and Tripton Glucosa Yeast Extract (TGY) media, with and without agitation. The selected media was then modified with molasses and soybean meal as source of carbon and nitrogen, respectively. The stability of inhibitory activity was examined at five levels of temperature (250C, 300C, 370C, 400C, 500C), and seven pH levels (3.0, 4.0, 5.0, 6.0, 7.0, 8.0, and 9.0). The selected isolates were also enzimatically assayed for amylase, protease, lipase, and cellulose activity. The results showed that 7n isolate produced the highest inhibition activity against E. coli and Salmonella enteric. For E coli strong inhibition showed by 7n isolate at MRS modified media, pH 6.0-8.0, and temperature at 370C, and similar condition applied also for EPEC K1-1, except the highest inhibition occured at 500C. For Salmonella enteric growth inhibition by 7n isolate was obtained using MRS modified media, pH 5, and temperature at 300C. For other Salmonella subsp.2 small inhibition by 34n occurred at both MRS and TGY modified at pH 4.0-5.0 and temperature at 370C. Both 7n and 34 isolates showed amylase, protease, lipase and cellulose activity. The results indicate that both isolates have their potency to be developed as probiotics, served as feed additive. The isolates are expected can function as growth promoter through their antibacterial and degrading enzymes activities. Keywords: chicken broiler bacteria, antibacterial activity, E. coli, Salmonella sp., MRS modified media, pH, temperature, degrading enzyme.

pH dan Suhu. resistensi bakteri patogen serta. Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antibakteri. Bakteri yang didapat di uji antagonis terhadap EPEC K1-1. antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. mutagenik. Dibimbing oleh YULIN LESTARI dan MIN RAHMINIWATI. Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Optimasi dilakukan pada lima . membunuh bakteri pencernaan yang menguntungkan. pH.2. karsinogenik. Media yang paling tinggi aktivitasnya digunakan untuk membuat media modifikasi dengan mengganti sumber karbon dengan molase dan sumber nitrogen dengan tepung kedelai. diagitasi dan tanpa agitasi. E. baik bakteri maupun kapang atau yeast yang dapat menguntungkan bagi inagnya dengan jalan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak. Salmonela subsp. dari metabolit bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap Escherichia coli dan Salmonella sp. enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi. dan suhu. dan enzim.0 dan pH 4. terutama sebagai sumber protein dan energi yang masih diimpor dan sebagai konsekuensinya harga pakan meningkat. Penggunaan antibiotik mempunyai sifat positif seperti meghambat infeksi bakteri patogen dan memacu pertumbuhan. Masalah utama dalam peningkatan produksi ternak termasuk ayam adalah penyediaan pakan. 2006).5. Peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik untuk keluarga. Isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler (tanpa antibiotik) dengan menggunakan media NA pH 7. Isolat bakteri terpilih diidentifikasi dan dioptimasi aktivitas penghambatannya pada media MRS dan TGY. Pada Berbagai Media. Zat pemacu tumbuh yang umum dipakai berasal dari kelompok antibiotik. Sebagai protein. Aerasi. aerasi. Akan tetapi antibiotik mempunyai efek samping yaitu ikut hadirnya residu antibiotik dalam produk yang dihasilkan sehingga mengakibatkan efek teratogenik. Enzim adalah senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa komplek menjadi sederhana yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam susunan yang teratur dan tetap. Untuk efisiensi pakan biasanya dengan pemberian feed additive sebagai zat pemacu tumbuh (growth promotant). coli. Aktivitas penghambatan ditunjukkan olah adanya zona bening di sekitar koloni. Kajian juga dilakukan terhadap aktivitas proteolitik. Salmonella enteric dengan metode double layer (Lisboa et al. Probiotik adalah makanan tambahan (feed additive) berupa mikroba hidup. Akan tetapi pemenuhan akan bahan pangan ini sering mendapat kendala. Untuk memicu produksi dan reproduksi ternak yang lebih aman maka dicari zat pengganti antibiotik seperti probiotik. lipolitik.RINGKASAN GUSMINARNI. Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. amilolitik. Salah satu bahan pangan hewani yang bermutu tinggi adalah produk asal ayam. selulolitik dari metabolit yang dihasilkan bakteri asal saluran pencernaan ayam pada beberapa media. mendorong meningkatnya permintaan akan bahan pangan hewani sebagai sumber protein.

34n mempunyai kemampuan menghasilkan enzim amilase. Kata kunci: bakteri. Penghambatan tertinggi terhadap E. dan 34n efektif menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. Isolat 27n menghasilkan enzim amilase. Pada duodenum diperoleh 11 isolat. aktivitas antibakteri. media TGY modifikasi.0. oleh isolat 34n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 370C dan pH 9. Dari hasil optimasi terhadap media MRS modifikasi dan TGY modifikasi diperoleh isolat 7n.. 25n. Salmonella enteric dan Salmonella subsp.tingkatan suhu (250C. dan 34n.0. 4.0. Setelah diseleksi dan diidentifikasi diperoleh empat isolat terpilih yaitu isolat 7n. 300C. Keempat isolat merupakan kelompok Bacillus yang mempunyai aktifitas penghambatan terhadap EPEC K1-1.0.0. 25n.5. 400C. 27n. pH. Penghambatan terhadap Salmonella subsp. indeks protease 1. Bagian saluran yang digunakan untuk isolasi bakteri antara lain duodenum. protease. media MRS modifikasi. Hasil uji antagonis menunjukkan 19 isolat mampu menghambat EPEC K1-1 yang terdiri dari 13 isolat dari pH 7.0.0 dan 34 isolat pada media NA dengan pH 4.5.2. 7.2. Penghambatan terhadap E.5. coli.0 dan 6 isolat dari pH 4.0 dan 14 isolat dari pH 4. 9. Hasil uji enzim menunjukkan bahwa isolat 7n. ileum 14 isolat dan intestinum crasum 47 isolat.5. bakteri asal ayam broiler. coli. 25n. terdiri dari 18 isolat dari pH 7. coli diperoleh 30 isolat. 6.0.0). Salmonella sp. aktivitas enzim degradatif. protease dan selulase tapi tidak menghasilkan enzim lipase. Penghambatan terhadap Salmonella enteric didapatkan 21 isolat terdiri dari 7 isolat dari pH 7. ileum dan intestinum crasum. 27n.2 asal ayam sehingga berpotensi sebagai biokontrol pada ternak ayam pedaging (broiler). 370C. 25n. 8. 500C) dan tujuh tingkatan pH (3. Aktifitas penghambatan terhadap Salmonella enteric oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi dengan suhu 300C dan pH 5. Isolat terpilih dioptimasi aktivitas penghambatannya terhadap media. suhu. 5.0.coli asal ayam oleh isolat 25n sebesar 29 mm pada media MRS modifikasi suhu 400C dan pH 8. .0 dan 12 isolat dari pH 4. Dimana isolat 7n mempunyai nilai indeks paling tinggi dengan indeks amilase 0. Keempat isolat diharap dapat digunakan sebagai probiotik dan makanan tambahan (feed additive) pengganti antibiotik. lipase dan selulase ekstraseluler. E.5. pH dan suhu. Aktivitas penghambatan yang lebih kecil pada media modifikasi dibanding media umum diduga disebabkan oleh kandungan molase dan tepung kedelai masih kompleks. dan 27n aktivitas penghambatannya terbaik ditumbuhkan pada media MRS modifikasi tanpa agitasi dan untuk isolat 34n media terbaiknya adalah media TGY modifikasi tanpa agitasi. Dengan demikian isolat 7n.0. Salmonella subsp. Salmonella enteric. Hasil optimasi terhadap suhu dan pH diperoleh aktifitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 7n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 500C dan pH 7.67. indeks lipase 1.coli. E. Keempat isolat menunjukkan aktifitas penghambatan pada kisaran suhu 300C hingga 500C dan kisaran pH 5. Waktu inkubasi yang paling baik adalah 48 jam. E.0. Hasil isolasi diperoleh 72 isolat terdiri dari 38 isolat pada media NA dengan pH 7.0. dan indeks selulase 2. 27.0 hingga pH 9.

penyusunan laporan. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan. dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. penelitian. penulisan karya ilmiah.©Hak cipta milik IPB tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undag Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB .

pH dan SUHU GUSMINARNI Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor Mikrobiologi SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 . PADA BERBAGAI MEDIA.AKTIVITAS PENGHAMBATAN BAKTERI ASAL SALURAN PENCERNAAN AYAM BROILER TERHADAP Escherichia coli dan Salmonella spp. AERASI.

Ir. Iman Rusmana .Penguji Luar Komisi Ujian Tesis: Dr.

Notodipuro.PhD Anggota Diketahui Ketua Mayor Mikrobiologi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr.S Tanggal Ujian: 10 Agustus 2009 Tanggal lulus: . Yulin Lestari Ketua drh. M. Ir. Aerasi. M. Pada Berbagai Media. pH dan Suhu : Gusminarni : G351070071 Disetujui Komisi Pembimbing Dr.S. Dr. Ir. Ir. Gayuh Rahayu Prof.Judul Tesis Nama NRP : Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. Khairil A. Min Rahminiwati.

puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah (tesis) ini berhasil diselesaikan. Ir. serta teman-teman guru MAN 2 Batusangkar atas dukungannya. pH dan Suhu. kakak. PhD yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran selama penelitian dan penulisan tesis ini. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna. Bapak Drs. Iman Rusmana selaku Penguji Luar Komisi yang telah banyak memberikan koreksi dan arahan untuk perbaikan tesis Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak dan Ibu pengelola Laboratorium Mikrobiologi FMIPA IPB atas segala bantuan dan fasilitas yang diberikan selama penelitian dilakukan. yaitu Dr. penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kebersamaannya. adik ipar yang membantu dalam merawat anak anak penulis selama penulis studi. Ir. Yulin Lestari dan drh. Anasril yang telah memberi izin penulis untuk tugas belajar di IPB. Min Rahminiwati. Tidak lupa kepada rekan-rekan yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Akhirnya ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada suami dan anak-anak tercinta atas doa. adik. Aerasi.S. Agustus 2009 Gusminarni . Penulis berharap semoga karya ilmiah inii bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan pula kepada Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Sekolah Pascasarjana IPB melalui Program Peningkatan Mutu Guru Madarasah. M. Pada Bebagai Media. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2008 sampai April 2009 adalah Aktivitas Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Terhadap Escherichia coli dan Salmonella spp. kakak ipar. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala MAN 2 Batusangkar. oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan. motivasi dan keihkhlasan mereka untuk ditinggalkan selama penulis menempuh pendidikan di IPB serta Bapak dan Ibu mertua. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya terutama kepada pembimbing. Bogor.PRAKATA Alhamdulillah.

dan lulus pada tahun 1991. Tahun 1987 penulis lulus SMA Negeri 2 Bukittinggi dan pada tahun yang sama penulis lulus masuk perguruan tinggi Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang melalui jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) pada jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA. A. Tahun 2007 penulis mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia melalui program Peningkatan Mutu Guru Madarasah untuk melanjutkan studi pada mayor Mikrobiologi. Pendidikan Dasar sampai Menengah Atas diselesaikan di Bukittinggi. Penulis merupakan putri kelima dari enam bersaudara. Kabupaten Tanah Datar. Dari tahun 1993 hingga 1996 penulis mengajar di Madrasah Sumatra Tawalib Parabek Bukittinggi. Fadhel Ghalib Wahyudi (10 tahun).RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukitinggi pada tanggal 26 Agustus 1968 dari bapak Mislam (Alm) dan ibu Nurma (Almh).com. Penulis menikah dengan Sumintarto Nurwahyudi.Nouval Dzakwan Wahyudi (5 tahun) dan Ghina Nasywa Fauzana (2 tahun). Email minarnipb@yahoo. Sekolah Pascasarjana IPB. Spd pada tahun 1996 dan dikaruniai 4 orang anak. Alamat Rumah sekarang di Perumahan Arai Pinang II Blok A No 2 Batusangkar telp (0752) 574185 Tanah Datar-Sumbar. Penulis bekerja sebagai guru honorer di SMA YPP Lubuk Alung Sumatera Barat dari tahun 1991 hingga 1992. Syafiq Wahyu Hidayat (12 tahun). Pada tahun 1994 penulis diangkat menjadi guru Biologi pada MAN 2 Batusangkar. Alamat sekolah MAN 2 Batusangkar jl Sudirman Lima Kaum (0752) 71640. Provinsi Sumatera Barat. . Sumatera Barat.

................................. Bahan dan Alat .................................................................................................................................... Waktu dan Tempat ................................................................................................................ 1 1 2 2 4 4 6 8 8 10 12 14 15 16 17 19 19 20 21 22 22 22 23 23 23 24 24 24 25 25 26 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... Enzim ............. Probiotik ............................................2 Asal Ayam .................................. Lipase ............................................................................................................................................................................................................................................................................. coli Asal Ayam serta Salmonella subsp.......................................................................................................... Molase ...................................................................................................... Prebiotik ......................................................... Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer.... Salmonella subsp.. Salmonella sp ........................................................ Bacillus sp............................. BAHAN DAN METODE ............................... 27 ..... Tepung kedelai ....................... viii PENDAHULUAN ......... Selulase ................................................................ Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E...................... EPEC K1-1................... Identifikasi / Karakterisasi Isolat Bakteri................................................................................ 27 Isolasi dan Pemurnian Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler ............ Latar Belakang .............................................................................................. Escherichia coli .................................................................................. Protease................................................................... Salmonella enteric dan E........................ Peremajaan Bakteri Target .............................................................................................................................................................................................................................................. Mikroflora Usus ...................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ..................................................................................... vii DFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................................................................................................................... Protease ................................................................... Uji Antagonis Langsung Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam terhadap EPEC K1-1........ Selulase ................................... Manfaat .....................................................................................................................................................2.................................................................................................. Uji Kualitatif Aktivitas Amilase...................... Metode ..... Antibiotik ....................................... Pemurnian Bakteri Hasil Isolasi ............................. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... coli.............................................................................. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif ....... Amilase .. Lipase.................................................................. Isolasi Bakteri Saluran Pencernaan Ayam ...................... Tujuan .............................................. vi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................

................................. 67 ......... Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif .. Coli Asal Ayam Serta Salmonella subsp...................... Selulase .......... Optimasi Suhu ..........................2...................................................................................................... Optimasi Waktu Produksi ...................................................... Salmonella enteric Dengan Metode Kirby-Bauer ...................................................................................................................................................................................................... Protease....................................................................2 Asal Ayam ......... Optimasi Media .. 30 31 32 37 40 40 45 46 47 49 51 SIMPULAN DAN SARAN ..................... Salmonella subsp. Identifikasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler ................................... 58 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. coli...................................................... Kemampuan Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap EPEC K1-1................................................ 59 LAMPIRAN ............................................. Aktivitas Amilase............... Pertumbuhan Isolat ............................ EPEC K1-1................ Lipase...................... Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E................... Optimasi pH ....................... Salmonella enteric dan E.....................Peremajaan Bakteri target ...............................

.. 27n................................... 51 ......................dan Salmonella subsp.... Salmonella enteric......... 2 Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler...... 5 28 31 35 37 6 Tabel 6 Indeks amilolitik......... 4 Tabel 4 Hasil uji katalase isolat 7n..... 27n......2 ..... 34n .......coli...... proteolitik.... 3 Tabel 3 Aktivitas penghambatan bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler erhadap E....... coli... lipolitik......... 27n.................. Salmonella enteric.............. 34n...... 25n........DAFTAR TABEL Halaman 1 Mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak........................ 25n..... selulolitik isolat 7n.................... EPEC K1-1. E.. 25n......................... 5 Tabel 5 Hasil uji penghambatan ekstrak kasar isolat 7n.................................................. 34n terhadap EPEC K1-1......

.................................... 41 12 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp...............coli .....................2 asal ayam .......... 33 5 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 27n) b (isolat 34n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang Gram positif (perbesaran 40 x 100) ............................coli Ф cakram kertas 8mm .........4) ................................................4 dan α-1.................. 42 13 Hubungan lama inkubasi dengan aktivitas penghambatan terhadap E........................................................... (b) E..... b (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) .............. 38 9 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) Salmonella enteric (b) Salmonella sp...... 25n...........................................coli (a) filtrat kultur (b) sel ............... coli asal ayam ............................ 18 Strutur selulosa dengan ikatan β....4 D-glukosidik .................................................................. 39 11 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E........DAFTAR GAMBAR Halaman Struktur amilosa dengan ikatan α-1................ (isolat 25n) dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang (perbesaran 40 x 100) ............ 47 16 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric.... 20 1 2 3 4 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 7n) diisolasi dari jejenum............... (b) isolat 34n diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) ................. 34n pada media NB ............... 46 15 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E....... 34 ........................6.............. 27n. 45 14 Kurva tumbuh Isolat 7n............. 38 10 Perbandingan aktivitas penghambatan antara sel dan filtrat kultur dari isolat 7n....... 34 8 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a)EPEC K1-1......................... 33 6 Hasil pewarnaan spora (isolat 7n)...............................D glikosidik .......................... coli ..... 25n........... 7 Hasil pewarnaan spora (a) isolat 27n............... asal ayam............... 34n terhadap E....(1............ Ф cakram kertas 8mm ....... 17 Struktur amilopektin dengan ikatan α-1................................. 27n.........................

..................................................... 49 18 Aktifitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp... 54 DAFTAR LAMPIRAN . 52 20 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n................................... 25n................ 34n pada uji enzim (a) amilase (b) protease .................... 50 19 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n.......... 27n..... coli ......... 34n pada uji enzim (a) lipase (b) selulase ........................(b) Salmonella subsp............................ 25n..................2 asal ayam .....................................2 asal ayam ............................ 27n........ 48 17 Aktifitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E...............

.. 69 4 5 Komposisi Pereaksi Pewarnaan ... Salmonella enteric.......... asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap EPEC K1-1.............................. 74 Kurva Standar Isolat 25n ................. 25n.......... 27n............... 25n........ 72 6 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7......................... Komposisi media peremajaan..... 34n yang diantagonis dengan E................. 27n......... coli diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu ........Halaman 1 2 3 Komposisi kimia molase ............................................... 71 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7............... 77 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n........................... 34n yang diantagonis dengan EPEC K1-1 diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu ........ 25n................... Salmonella subsp.......... 76 10 Kurva Standar Isolat 34n ............ 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n...0 ................ 73 7 8 9 Kurva Standar Isolat 7n .............................. 34n yang diantagonis dengan Salmonella subsp. coli asal ayam..... 68 68 E...2 asal ayam ......... 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n......... 78 ............................... 27n.................................. 34n yang diantagonis dengan Salmonella enteric diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu ............................................ produksi.......... 75 Kurva Standar Isolat 27n .........0 .............................................. 27n...... serta uji daya hambat isolat ............................. 78 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n............................................................2 diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu ............. Komposisi kimia tepung kedelai ........................................... 25n....................

PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dengan tingkat pertumbuhan penduduk cukup tinggi. coli resisten Enrofloxasin. Pakar nutrisi (nutritionist) telah mengalihkan penggunaan zat pemacu tumbuh yang berasal dari antibiotik ke bahan bioaktif alami dan probiotik. yaitu karbohidrat. Zat pemacu tumbuh yang umum dipakai berasal dari kelompok antibiotik seperti zinkbasitrasin. lemak. monensin.Pada saat ini pakan terutama sebagai sumber protein dan energi dipenuhi dari impor dan sebagai konsekuensinya harga pakan menjadi mahal. Resiko lainnya yaitu terjadinya resistensi mikroorganisme patogen seperti Salmonella sp. tetrasiklin dan penicilin. sehingga pertambahan berat badan perhari Average Daily Gain (ADGnya) akan tinggi. menyebabkan meningkatnya permintaan akan bahan pangan hewani sebagai sumber protein. Akan tetapi penggunaan antibiotik yang berlebihan mengandung resiko yaitu ikut hadirnya residu antibiotik dalam produk yang dihasilkan (telur dan daging) yang bersifat teratogenik. Akan tetapi pemenuhan akan bahan pangan ini sering mendapat kendala. dan membunuh bakteri yang menguntungkan. Masalah utama dalam peningkatan produksi ternak termasuk ayam pedaging (broiler) adalah penyediaan pakan. Bahan bioaktif alami adalah bahan bahan pemacu pertumbuhan yang bersumber dari organisme. Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Untuk meningkatkan efisiensi pakan biasanya dilakukan dengan cara memberi bahan tambahan (feed additive) sebagai zat pemacu tumbuh (growth promotant). baik bakteri maupun kapang/yeast yang dapat menguntungkan bagi inangnya dengan . karsinogenik dan mutagenik. Pakan yang diberikan harus memberikan nutrisi yang dibutuhkan ayam. Peningkatan jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi yang baik untuk keluarga. Selain untuk pemacu tumbuh antibiotik juga digunakan untuk megendalikan penyakit yang disebabkan oleh mikroba. resisten streptomisin. protein. Salah satu bahan pangan hewani yang bermutu tinggi adalah produk asal ayam. Probiotik adalah makanan tambahan berupa mikroba hidup. E.. vitamin dan mineral.

Manfaat Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan bakteri unggul asal saluran pencernaan ayam broiler yang berpotensi sebagai probiotik pada kondisi dihasilkan bakteri dilakukan pada berbagai media.2 jalan meningkatkan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan ternak (Fuller 1992). 1996. lipolitik. vitamin (Stainer et al. sedangkan aktivitas enzimatik meliputi proteolitik. dan suhu. Untuk produksi mikroba sebagai probiotik dari segi industri harus memperhatikan efisiensi sehingga diperlukan optimasi produksi metabolit dari mikroba. serta dari golongan kapang seperti Saccharomyces sp. pH. Haddadin et al. tekanan osmosis dan faktor nutrisi terdiri dari sumber karbon. Jin et al. dan suhu. mineral (unsur makro dan mikro). Optimasi aktivitas senyawa bioaktif dari bakteri terpilih dilakukan terhadap media produksi yang menggunakan molase dan tepung kedelai. dan sumber nitrogen yang mudah larut seperti kasein. selulolitik. Kebutuhan akan karbon untuk pertumbuhan mikroba yang paling baik diperoleh dari sumber karbohidrat yang dapat larut seperti glukosa. . agitasi dan tanpa perlakuan agitasi. oleh karena itu untuk produksi sel mikroba dengan biaya yang lebih murah dan mudah didapat pada umumnya digunakan sumber karbon lain seperti molase dan sumber nitrogen dari tepung kedelai. 1996). Probiotik menggantikan penggunaan antibiotik sebagai pemacu tumbuh telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas ternak. nitrogen. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengkaji aktivitas antibakteri dan aktivitas enzimatik dari metabolit bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler. pH.. oksigen. Namun penggunaan glukosa dan kasein memerlukan biaya yang tinggi. Optimasi produksi metabolit yang aerasi. Fardiaz 1989). (Martin 1995.. Bacillus subtilis. 1976. pH. Pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu. Aktivitas antibakteri dilakukan terhadap Escherichia coli dan Salmonella sp. Mikroba yang sudah dinyatakan aman sebagai bahan pakan untuk ayam yaitu golongan bakteri seperti Lactobacillus sp. amilolitik.

sehubungan kemampuannya dalam menghasilkan enzim ekstraseluler yang membantu konversi pakan secara optimal sehingga penggunaan pakan lebih efisien dan pertumbuhan menjadi optimum.3 pertumbuhan optimum untuk menghasilkan senyawa anti bakteri. Penggunaan bakteri asal saluran pencernaan ini diharapkan dapat menjadi alternatif penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. .

steroid. karsinogenik (menyebabkan kanker) atau metagenik (membentuk gas metan). obat obatan. Ketika sudah berhubungan dengan dunia luar berbagai tipe mikroba masuk ke dalam tubuh baik dalam proses kelahiran atau menetas. Mikroorganisme yang menempel pada saluran usus tersebut dinamakan mikroflora usus (Nakazawa 1992). bahan pembentuknya sudah dibuang terlebih dahulu. Mikroorganisme tersebut tinggal pada saluran pencernaan sampai makhluk hidup itu mati. Kemampuan bakteri untuk melekat pada jaringan epitel usus (lapisan lendirnya). (3) dapat mengkolonisasi pada bagian specifik saluran pencernaan. Menurut Savage yang dikutip oleh Nakazawa (1992) mikroflora normal usus mempunyai sifat (1) dapat tumbuh dalam kondisi anaerobik. maupun lewat makanan dan kontak dengan lingkungan. Metabolit ini sering menyebabkan kerusakan mukosa usus bahkan membentuk tumor atau beberapa penyakit lain.TINJAUAN PUSTAKA Mikroflora Usus Mahluk hidup sebelum lahir atau menetas berada dalam keadaan steril. Bagian dari saluran pencernaan yang paling banyak dihuni oleh bakteri adalah saluran usus. dapat dibuktikan dengan kemampuannya megkolonisasi saluran usus dan menjaga . Zat yang terdapat dalam ekosistem usus dapat berasal dari bahan luar yang berupa pakan dan dapat berasal dari dalam tubuh (endogeneus) seperti produk metabolisme yang harus dibuang. (6) dapat melekatkan diri dengan permukaan epitel usus. (4) dapat membangun habitat sendiri selama proses perantian dari manusia dan hewan muda. Hasil akhirnya adalah metabolit yang bersifat toksik (beracun). sehingga zat toksik yang akan dibentuk tidak jadi karena. (5) dapat menjaga populasi pada dewasa normal. Mikroflora usus merupakan ekosistem yang kompleks terdiri dari sejumlah besar bakteri. (2) terdapat pada saluran pencernaan dewasa normal. Dalam kaitan ini proporsi bakteri “baik” akan mendesak atau mengencerkan mikroflora aktif diatas. Mikroflora detrimental umumnya sangat aktif merombak zat yang terdapat dalam usus besar baik berasal dari bahan makanan beracun. maupun metabolit yang berasal dari bahan makanan (Hasono 2002).

Bacteroides.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Kucing E. Pada saluran pencernaan ayam terdapat sekitar 100-400 mikroba yang menguntungkan dan merugikan. kemoterapi.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Babi E. Bakteri menguji feses dari hostnya. pola makan. Mikroba menguntungkan seperti E. Menurut Utomo (2002 ) mikroorganisme pada saluran pencernaan ternak terdiri dari mikroorganisme seperti tercantum pada (Tabel 1). stres dan iklim (Gsianturi 2002). radiasi. Bakteri bakteri itu hidup dalam keseimbangan. Coli. Enterococcus. infeksi bakteri dan virus. Streptococcus.5 populasi tetapnya. Lactobacillus. dan yang merugikan seperti Salmonella sp. Kestabilan flora usus bisa terganggu antara lain oleh antibiotik. Tabel 1 Mikroorganisme dalam saluran pencernaan ternak Hewan Ayam Bakteri E.coli Lactobacillus Streptococcus Bacteroides Enterococcus Clostridia Ileum (CFU) 109 104 105 106 104 107 106 10 6 bakteri ini dapat diselidiki keberadaannya dengan Seikum (CFU) 109 104 106 109 107 107 108 109 108 10 8 Feses (CFU) 106 106 10 9 Lambung (CFU) 106 109 107 107 105 109 106 105 107 108 107 107 109 107 108 109 109 108 10 8 . Clostridia.

Pernyataan ini . Definisi probiotik berkembang setelah adanya data hasil penelitian ilmiah. Enterococcus ditemui pada lambung dan pada seikum jumlahnya menurun kemudian pada feses jumlahnya meningkat kembali. kolonisasi pada saluran usus ada hubungannya dengan kebersihan di hatchery dan kontak dengan lingkungan bebas.6 Dari tabel terlihat pada saluran pencernaaan ayam Lactobacillus ditemui hampir diseluruh saluran pencernaan. Streptococcus hanya ditemui pada saluran pencernaan bagian ileum Mikroflora usus ayam pada umumnya bersumber dari permukaan telur yang tidak steril sebagai hasil kontak induk dengan sangkarnya. bakteri ini kelompok bakteri baik. Lebih lanjut Fuller (1989) mendefinisikan probiotik sebagai bahan pangan yang mengandung mikroorganisme dalam keadaan hidup yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi inangnya dengan meningkatkan keseimbangan mikroflora usus. bakteri menguntungkan (probiotik) akan membangun pertahanan tanpa memberi ruang bagi bakteri patogen untuk menyerang tubuh (Gsianturi 2002). Untuk mengantisipasi serangan patogen. maka akan berdampak patogen bagi tubuh. Istilah probiotik pertama kali digunakan oleh Lilley dan Stiwell pada tahun (1965) menyatakan bahwa substansi yang dihasilkan mikroba untuk menstimulir pertumbuhan mikroba lainnya dalam saluran pencernaan. dapat berkoloni dan melakukan kegiatan metabolisme di dalam usus dan dapat tumbuh lama dan menghambat mikroba patogen dan dapat hidup pada berbagai kondisi dalam tubuh ternak. mampu bertahan pada suasana asam dan cairan empedu. Dan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan sebagai probiotik antara lain tidak toksik. Sementara E.coli dan Bacteroides banyak ditemui pada pada lambung dan pada ileum dan seikum tidak ditemui dan pada feses kembali ditemui dengan jumlah yang sama dengan di lambung. Probiotik Probiotik berasal dari bahasa Yunani yang artinya for life (untuk hidup) memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Jika saluran usus terkolonisasi dengan mikroba yang merugikan. Sedangkan pada peternakan komersial. seperti yang dikemukakan oleh Fuller (1992) bahan probiotik itu adalah makanan tambahan (feed suplement) berupa jasad hidup yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi ternak induk semangnya.

L. Menurut Mujiasih (2001) mikroorganisme yang sering digunakan sebagai probiotik dari kedua kelompok ini adalah Aspergilus niger. ruminicola. Propionibacterium shemani dan Saccharomyces cerevisiae. thermopilus. S. B. brevis. Mencegah diare yang diakibatkan oleh antibiotik (Gsianturi 2002) 4. longum. mempunyai sifat sensori yang baik. (1999) probiotik yaitu sediaan sel mikroba atau komponen dari sel mikroba yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan dan kehidupan inangnya. Leiconostoc mesenteroides. bifidum. B. Meningkatkan ketahana alami terhadap infeksi di usus (Siswono 2002) 3. oryzae. Stimulasi imunitas gastrointestinal (Mc Cracken dan Gaskin 1999. alvei. B. Bifidobacterium adolescentis. Bacillus coagulans. (2) merangsang reaksi . B. lentis. Lactobacillus acidophilus. Memperbaiki keluhan malabsorbsi laktosa (Legowo 2003) 2. B. A. Menurunkan resiko terjadinya penyakit tumor dan kanker kolon (Prangdimurti 2001) 5. Penggunaan probiotik pada ternak unggas bertujuan untuk memperbaiki saluran pencernaan dengan cara: (1) menekan reaksi pembentukan racun dan metabolit yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker). tetap hidup selama dalam penyimpanan sampai waktu digunakan. infantis. diisolasi dari host. Probiotik dapat digolongakan menjadi dua yakni golongan bakteri dan golongan cendawan. thermophilus. B. Mengurangi kadar kolesterol darah (Tannock 1999) 6. B. B. B. Pediococcus acidolacticii. Mc Farlane dan Cummings 1999). S. mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus.pumilus.7 kemudian diperbaharui oleh Salminen et al. Beberapa penelitian mengungkapkan pengaruh positif dari probiotik terhadap kesehatan adalah: 1. B. Streptococcus oremoris. brevis. mengandung sejumlah besar sel hidup. lactis. circulans. S. Menurut Fuller (1991) bakteri probiotik harus memiliki persyaratan yaitu memberikan efek yang menguntungkan pada host. animalis. faecium. Bacteroides amylophilus. B. Memperbaiki pencernaan (Fuller 1997) 7. tidak patogenik dan tidak toksik.

Sporanya tahan terhadap panas (suhu tinggi). Grizard dan Barthomeuf 1999. Bacillus spp mempunyai sifat : (1) mampu tumbuh pada suhu lebih dari 500C dan suhu kurang dari 50C. Zat ini akan mengalami proses peragian di dalam usus besar. Bacillus pumilus) termasuk dalam lima produk .8 enzim yang dapat menetralisir senyawa beracun yang tertelan atau dihasilkan oleh saluran pencernaan. dapat tumbuh pada kondisi aerob dan anaerob. Bacillus sp. amilase. berbentuk batang. (4) memproduksi vitamin dan zat zat yang tidak terpenuhi oleh tubuh (Seifert dan Gessler 1997). (3) mampu tumbuh pada konsentrasi garam tinggi (>10%). Bacillus clausii. lipase. Jenis Bacillus (Bacillus cereus. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease. (3) merangsang produksi enzim (enzim protease dan alfaamilase) yang digunakan untuk mencerna pakan. mampu mendegradasi Xylan dan karbohidrat (Cowan dan Stell’s 1973). merupakan bakteri Gram positif. Bacillus adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dan merupakan anggota dari divisi Firmicutes. Bacillus sp. Prebiotik Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak tercerna dan tidak tidak diserap biasanya dalam bentuk oligosakarida (oligofruktosa) dan inulin (dietary fiber) (Reddy 1998. Menurut Sartika et al. (1994) penggunaan probiotik dapat memperbaiki performance ayam broiler meliputi rataan bobot hidup. Prebiotik dikenal juga sebagai nutrisi yang sesuai bagi bakteri baik akan tetapi tidak cocok bagi bakteri jahat. (4) mampu menghasilkan spora dan (5) mempunyai daya proteolitik yang tinggi dibandingkan mikroba lainnya. untuk menghasilkan makanan bagi bakteri yang menguntungkan (Karyadi 2003). dan selulase yang bisa membantu pencernaan dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul 2007). Menurut Turnbull (1996) Bacillus merupakan bakteri aerob obligat atau fakultatif. dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. konversi pakan dan menurunkan mortalitas. Makanan tersebut sangat berguna bagi perkembangbiakan bakteri baik menjadi lebih banyak sehingga dapat mendominasi populasi bakteri dalam usus. (2) mampu bertahan terhadap pasteurisasi. dan positif terhadap uji enzim katalase. Bacillus secara alami terdapat di mana-mana. Reddy 1999).

9 probiotik komersil terdiri dari spora bakteri yang telah dikarakterisasi dan berpotensi untuk kolonisasi, immunostimulasi, dan aktivitas anti mikrobanya (Duc et al. 2004). Beberapa penelitian telah berhasil mengisolasi dan memurnikan bakteriosin Bacillus sp. Gram positif diantaranya yaitu subtilin yang dihasilkan oleh Bacillus subtilis (Klein et al. 1993), megacin yang dihasilkan oleh B. megaterium (Tagg et al. 1976), coagulin dihasilkan oleh B. coagulans I4 (Hyronimus 1998), cerein dihasilkan oleh B. cereus (Oscariz dan Pisabarro 2000), dan tochicin yang dihasilkan oleh B. thuringiensis (Paik et al. 1997). Senyawa antimikrob lain yang dihasilkan oleh Bacillus sp adalah basitrasin, pumulin, laterosporin, gramisidin, dan tirocidin yang efektif melawan bakteri Gram positif serta kolistin dan polimiksin bersifat efektif melawan bakteri Gram negatif. Sedangkan difficidin memiliki spektrum lebar, mikobacilin dan zwittermicin bersifat anti jamur (Todar 2005). Bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri Gram positif biasanya merupakan polipeptida bermuatan positif yang dapat menembus membran sel dan tersusun kurang dari 60 residu asam amino. Berdasarkan struktur asam aminonya bakteriosin dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu: 1. Lantibiotik, yaitu kelompok bakteriosin yang dikarakterisasi oleh adanya jembatan sulfur intra rantai dan mengandung asam amino yang tidak lazim yaitu dehidrolanin, lantionin, dan β-metil lantionin, misalnya pada nissin yang dihasilkan oleh bakteri Lactococcus lactis (Hurst 1981) dan variacin (Pridmore et al. 1996). 2. Non-lantibiotik, yaitu kelompok bakteriosin yang dapat dibagi dua berdasarkan bobot molekulnya, yaitu: a. Bakteriosin dengan berat molekul relatif kecil yaitu sekitar 2 – 6 kDa (Lozano et al. 1992), misalnya pediocin Ach yang dihasilkan oleh Pediococcus acidilactici . b. Bakteriosin dengan berat molekul relatif besar biasanya di atas 30 kDa (Benoit et al. 1994), contohnya helveticin J yang dihasilkan oleh Lactobacillus helviticus.

10 Bakteriosin merupakan zat antimikroba berupa polipeptida, protein, atau senyawa yang mirip protein. Bakteriosin disintesis di ribosom oleh bakteri selama masa pertumbuhannya dan umumnya hanya menghambat pertumbuhan galurgalur bakteri yang berkerabat dekat dengan bakteri penghasil bakteriosin (Kone & Fung 1992; Jack et al. 1995). Menurut Tagg et al. (1976), kriteria yang merupakan ciri-ciri bakteriosin adalah sebagai berikut: (1) memiliki spektra aktivitas yang lebih sempit, (2) senyawa aktif merupakan polipeptida atau protein, (3) bersifat bakterisida, (4) mempunyai reseptor spesifik pada sel sasaran, (5) gen determinan terdapat pada plasmid. Escherichia coli E. coli tergolong bakteri Gram negatif, an aerob fakultatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, tidak tahan asam dan ukuran 2−3 x 0.6 μm (Gordon dan Jordan 1982). Bakteri ini hidup dalam saluran pencernaan hewan. Uji fisiologis menunjukkan bereaksi positif terhadap indol dan merah metil, negatif terhadap Vogues-Proskauer, serta tidak menggunakan sitrat sebagai sumber karbon satusatunya (Krieg dan Holt 1984). Penyakit yang ditimbulkan oleh E. coli dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Pertama E. coli yang bersifat oportunistik, artinya dapat menyebabkan penyakit dalam keadaan tertentu, misalnya kekurangan makanan atau mengikuti penyakit lain. Kedua bersifat enteropatogenic/enterotoksigenic, E. coli yang mempunyai antigen perlekatan dan memproduksi enterotoksin sehingga dapat menimbulkan penyakit. (Lay dan Hastowo 1992). Faktor virulensi E. coli dipengaruhi oleh ketahanannya terhadap pagositosis, kemampuan perlekatan terhadap epitel sel pernafasan dan ketahanannya terhadap daya bunuh oleh serum. E.coli yang patogen mempunyai struktur dinding sel yang disebut “pili”, yang tidak ditemukan pada serotipe yang tidak patogen (Tabbu 2000), dan “pili” inilah yang berperan dalam kolonisasi (Lay dan Hastowo 1992). Ada tiga macam struktur antigen yang penting dalam klasifikasi E. coli yaitu, antigen O (Somatik), antigen K (Kapsel) dan antigen H (Flagella) (Gupte 1990; Lay dan Hastowo 1992). Determinan antigen (tempat aktif suatu antigen) O terletak pada bagian liposakarida bersifat tahan panas dan dalam

11 pengelompokannya diberi nomor 1,2,3 dan seterusnya. Antigen K merupakan polisakarida atau protein, bersifat tidak tahan panas dan berinterferensi dengan aglutinasi O, Antigen H mengandung protein, terdapat pada flagella yang bersifat termolabil. Pada saat ini telah diketahui ada 173 grup serotipe antigen O74 jenis antigen K dan 53 jenis antigen H (Barnes dan Gross 1997). Serotipe yang banyak menyebabkan penyakit pada unggas adalah O1, O2, O35 dan O78 (Tabbu 2000), dan dikenal patogenitasnya cukup tinggi (Charlton et al. 2000). Kolibasilosis adalah penyakit pada unggas yang disebabkan oleh bakteri E. coli yang patogen, sebagai agen primer ataupun sekunder. Infeksi E. coli atau koliseptikemia ini dapat terjadi pada ayam pedaging dan petelur dari semua kelompok umur, serta unggas lain seperti kalkun dan itik (Charlton et al. 2000). Tanda klinis kolibasilosis tidak spesifik dan dipengaruhi oleh umur ayam, lama infeksi, organ yang terserang dan adanya penyakit lain bersamanya. Pada ayam pedaging umur 4−8 minggu dan ayam petelur umur ±20 minggu dapat terjadi septikemia akut dan menimbulkan kematian, yang didahului dengan hilangnya nafsu makan, malas bergerak/inaktif dan mengantuk (Lee dan Lawrence 1998). Penularan kolibasilosis biasanya terjadi secara oral melalui pakan, air minum atau debu/kotoran yang tercemar oleh E. coli. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105–106 E. coli/gram dan bakteri ini dapat tahan lama, terutama dalam keadaan kering. Apabila debu tersebut terhirup oleh ayam, maka dapat menginfeksi saluran pernafasannya (Tabbu 2000). Penyakit kolibasilosis dapat dimanifestasikan dalam bentuk kelainan organ, seperti: septikemia, enteritis, granuloma, omfalitis, sinusitis, airsacculitis, rithritis/synovitis, peritonitis, pericarditis, selulitis dan Swollen Head

Syndrome/SHS (Zanella et al. 2000), oovoritis ,salpingitis, panopthalmitis dan bursitis sternalis (Barnes dan Gross 1997; Tabbu 2000). Kolibasilosis mempunyai arti penting bagi industri perunggasan, karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, penurunan kualitas karkas dan telur, serta, kualitas anak ayam (DOC). Di samping itu, adanya infeksi E. coli dapat merupakan faktor pendukung timbulnya penyakit komplek pada saluran pernafasan, pencernaan atau reproduksi yang sulit ditanggulangi (Tabbu 2000).

Swollen Head Syndrome (SHS). misalnya pada berbagai penyakit pernafasan dan pencernaan yang menyerang ayam. sitrat. Budiarti et al. Uji fisiologis Salmonella sp. enteroaggregative Escherichia.(1998) mengisolasi EPEC dari feses anak-anak penderita diare. timbulnya kasus kolibasilosis. Infectious Coryza (Snot). urease. dekarboksilasi dan ornitin dekarboksilasi bersifat positif. coli (EAEC). Jenis E. ileum dan sekum. Studi yang dilakukan di Brazil. E. Galur E. Salmonella sp. dulcitol.12 Sekitar 10−15% dari seluruh E. bersifat anaerob fakultatif tidak membentuk spora dan dapat bergerak. Meksiko. laktosa. diantaranya melalui pemberian cairan (rehidrasi) secara oral dan konsumsi beberapa antibiotik (Nataro & Kaper 1998). terutama akibat pengaruh imunosupresif dari Gumboro (ayam pedaging lebih dominan dibanding petelur) dan sebagai penyakit ikutan pada Chronic Respiratory Disease (CRD). enteroinvasive Escherichia. enteropathogenic Escherichia coli (EPEC). coli yang terdapat di dalam usus tidak selalu sama dengan jenis yang ditemukan pada jaringan lain. glukonat. coli yang menyebabkan diare dibedakan dalam enam kategori. dan celldetaching Escherichia. indol. Infectious Laryngo Tracheitis (ILT) dan koksidiosis (Tabbu 2000). Vogues-Proskauer (VP). menunjukkan H2S. Kenyataan di lapangan. dan fenilalanin deaminasi bersifat negatif (Krieg dan Holt 1984). coli (CDEC) (Nataro & Kaper 1998). Salmonella sp. dan Afrika Selatan memperlihatkan bahwa 30-40% diare pada anak-anak disebabkan oleh EPEC. Salmonella sp. Terapi yang dilakukan terhadap diare bertujuan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. merah metil. yaitu enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC). adalah bakteri berbentuk batang Gram negatif. Reaksi biokimia lain seperti oksidasi. coli sering mengikuti penyakit lain. Bagian usus yang paling banyak mengandung kuman tersebut adalah jejunum. Sebagai agen penyakit sekunder. EPEC merupakan penyebab utama diare pada anak-anak di negara berkembang. enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC). coli yang ditemukan di dalam usus ayam yang sehat tergolong serotipe patogen. lisin. coli (EIEC). . Salah satu isolat yaitu EPEC K1-1 diketahui memiliki resistensi terhadap ampisilin dengan menghasilkan enzim β-laktamase secara ekstraseluler (Wahyuni 2006). reduksi nitrat.

Menurut Jay (1986) Salmonella sp. dan seterusnya sesuai dengan persamaan dalam kandungan satu atau lebih antigen O. Klasifikasi ini menggunakan dua macam antigen yaitu antigen somatik yang disebut antigen O dan antigen flagella yang disebut antigen H. Gastroenteritis akut terjadi . Manusia dan hewan dapat dikatakan pembawa (carier). Salmonella typhi. Pada unggas dapat ditemukan pembawa sebesar tiga-lima persen (Anonim 2008). Pada pH dibawah 4.B.0 dengan pH optimum 6. yaitu salmonelosis dengan gejala gastroenteritis yaitu Salmonella yang menyerang saluran gastrointestin (lambung. Bakteri ini dapat tumbuh pada suhu 50.370C. usus halus dan usus besar) dan demam typus. Tempat hidup primer dari Salmonella sp. Pembawa sering menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat karena dapat menularkan penyakit tetapi sulit untuk mendeteksinya. diare dan nyeri pada daerah abdomen. Salmonellosis dapat juga menyerang manusia dengan gejala demam.470C dengan suhu optimum 350. diklasifikasikan berdasarkan pada analisis antigen. Karena hidup dalam saluran pencernaan. karena menunjukkan antigen O4 dan 12.C. maka adanya Salmonella sp.0 dan diatas 8. Hasilnya adalah Salmonella schottmuellerri winlow dan Salmonella typhimurium loeffler ditempatkan pada kelompok B.0 sel Salmonella sp akan mati secara perlahan.5. Salmonella enteridis dan Salmonella gallinarum ditempatkan pada kelompok D dengan antigen O. sedang fase kelompok dimiliki oleh hampir semua spesies. adalah saluran pencernaan burung. Dengan klasifikasi ini maka spesies dan varietas ditempatkan pada kelompok A.9 dan 12. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella sp. pada manusia dan hewan dapat terjadi tanpa disertai tanda tanda infeksi.5-7. Salmonelosis pada ayam muda (umur 2 minggu ) gejalanya seperti berak putih dan pada ayam dewasa gejalanya tidak terlihat. Salmonella sp. Antigen H dipisahkan menjadi fase spesifik atau fase satu dan fase kelompok atau fase dua. dan kisaran pH 4. dapat ditemukan dalam berbagai makanan asal ternak. sehingga klasifikasi ini disebut skema Kauffmann-White.13 termasuk ke dalam famili Enterobactericeae tribus escherichea (Fardiaz 1985). dan ini pertama kali dilakukan oleh Kauffmann dan White. Fase spesifik hanya dimiliki oleh beberapa spesies atau varietas.1-9. reptil dan mamalia.

sebagian kecil penderita mengalami pendarahan (septikemia). kloramfenikol dan eritromisin. Sifat kerja antibiotik secara umum menurut Brander et al. Bakterisidal adalah antibiotik menghambat pertumbuhan bakteri patogen sekaligus membunuh bakteri tersebut. streptomisin. bakteri Salmonella dapat menginvasi aliran darah dan menyebabkan infeksi yang akan mengancam jiwa (Anonim 2008). yang dalam jumlah kecil dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan mikroorganisme lain dengan cara menghentikan suatu proses biokimia sehingga terputusnya satu mata rantai metabolisme di dalam tubuh mikroorganisme. agar ternak tersebut dapat berproduksi kembali secara penuh dan menghilangkan penderitaan ternak serta mencegah penyebaran patogen ke .14 dengan gejala muntah dan diare. Dalam dunia peternakan kegunaan antibiotik ada dua yaitu antibiotik untuk pemacu pertumbuhan dab antibiotik untuk terapi. Zat aktif yang kemudian diisolasi dari P. notatum ini diberi nama penicillin (Crueger dan Crueger 1984). kolostin.. yang termasuk kedalam kelompok ini adalah sulfadinamid. sehingga banyak dipakai untuk terapi. sebagian atau seluruhnya dibuat secara sintetis kimia. Pada orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh yang sangat rendah. Penggunaan antibiotik untuk pemacu tumbuh terbukti dapat meningkatkan produksi ternak (Wiryosuharto 1990). (1991) dibagi dua yaitu bakteriostatik dimana sifat kerja antibiotik meghambat pertumbuhan bakteri lain. Antibiotik untuk terapi digunakan untuk mengembalikan kondisi ternak secepat mungkin. Penemuan antibiotik diawali oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang mengamati adanya penghambatan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada cawan petri oleh kontaminan yang akhirnya dikenal dengan Penicillium notatum. flavomisin. vankomisin. Antibiotik Antibiotik berasal dari kata antibiosis yang berarti substansi yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme atau zat yang sama. yang termasuk kedalam kelompok ini adalah penisilin dan derifatnya. Antibiotik untuk pemacu tumbuh dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen yang berakibat meningkatnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan. dan sefalosporin. basitrasin. tetrasiklin.

flavomisin (bambermisin). Hal ini dimungkinkan karena adanya transfer materi genetik (plasmid resisten) di antara genus bakteri yang berbeda yang masih memiliki hubungan dekat. virginiamisin. tetrasiklin (Dirjen Peternakan 1990). 1991). coli. avilamisin. antibiotik berspektrum luas yang mampu mengatasi kedua jenis bakteri tersebut (Brander et al. antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel (Grisham et al 1999). kuramisin. oxytetracycline dan kanamycin. spiramisin.15 lingkungan. higromisin. munculnya mikroba target yang resisten antibiotik tetapi juga mikroba lain yang memiliki habitat yang sama dengan mikroba target. meliputi bakteri E. kolistin. kiamisin. dan Salmonela. Antibiotik untuk terapi ada beberapa macam. Antibiotika yang sering dicampur kedalam pakan adalah : Bacitracin. Antibiotika yang ditambahkan ke dalam pakan atau air minum mempunyai potensi tinggi menimbulkan residu antibiotika dalam produk hewan (daging. tiamulin. enramisin. diantaranya antibiotik berspektrum sempit yang bertujuan untuk membunuh bakteri negatif atau gram positif saja. Seperti yang dilaporkan oleh Rusiana (2008) dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin. enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi. tilosin. Penggunaan antibiotik yang terus menerus pada peternakan berakibat buruk bagi ternak. Enzim Merupakan senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pemecahan senyawa komplek menjadi sederhana yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam susunan yang teratur dan tetap Sebagai protein. . telur) untuk manusia (FAO/WHO 1992). Resistensi kolonisasi (colonization resistance) adalah istilah yang menggambarkan imunitas alami yang diperoleh manusia /hewan melalui keberadaan flora normal dalam saluran pencernaan sehingga manusia/hewan akan terlindungi dari kolonisasi/infeksi mikroorganisme dari luar tubuh (Naim 2007). penicilin. Klebsiella.

Protease dapat dihasilkan secara ekstraseluler dan intraseluler dan mempunyai peranan penting dalam metabolisme sel dan keteraturan proses dalam sel. Eksopeptidase memotong ikatan peptida pada terminal amino atau karboksil dari substrat. Bakteri proteolitik adalah bakteri yang mempoduksi enzim protease ekstraseluler. yaitu eksopeptidase dan endopeptidase. pectinase. Bakteri proteolitik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok: (1). Enzim ini akan mengkatalisis reaksi hidrolisis. Karena itu. sedangkan endopeptidase memotong bagian tengah dari ikatan peptida (Ward 1983). xylanase. Berdasarkan letak pemecahan peptida protease dapat dibedakan atas dua bagian. Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif.Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif. membentuk spora. dan ketidak tersediaan enzim tertentu dalam tubuh ternak seperti xylanase dan ß-glucanase yang merupakan enzim untuk meningkatkan daya cerna pada ternak monogastrik ( Sjofjan 2009) Protease Enzim protease merupakan biokatalisator untuk reaksi pemecahan protein menjadi molekul yang sederhana seperti asam asam amino.16 Enzim saat ini banyak dikembangkan sebagai bahan aditif mendampingi probiotik seperti proteinase. selulase. (2). misalnya Pseudomonas dan Proteus. amilase. Dalam tubuh makhluk hidup enzim dapat diproduksi sendiri sesuai dengan kebutuhan. . akan tetapi penambahan enzim pada pakan kadang masih dibutuhkan. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti antinutrisi faktor pada bahan pakan (lekctins dan trypsin inhibitor). enzim ini termasuk dalam kelas utama enzim golongan hidrolase (Winarno 1983). rendahnya efesiensi kecernaan bahan pakan. lipase dan lain sebagainya yang diberikan kepada ternak. yaitu reaksi yang melibatkan unsur air pada ikatan spesifik substrat. Menurut Ward (1983) protease ialah enzim yang sangat kompleks. mempunyai sifat fisiko kimia dan sifat katalitik yang sangat bervariasi. Semua bakteri memiliki enzim protease di dalam sel. tetapi tidak semua bakteri memiliki enzim protease ekstraseluler. tidak membentuk spora. yaitu enzim yang memecah protein yang diproduksi di dalam sel kemudian di lepaskan keluar dari sel.

walaupun dengan laju yang lebih rendah. Amilosa merupakan hasil kondensasi molekul-molekul glukosa yang terdiri dari 300 atau lebih molekul -D glukosa. Enzim glukoamilase (EC.3) atau sering disebut amiloglukoksidase atau α-1.org/wiki/Amilosa) .4 pada rantai amilosa.4 secara acak di bagian dalam (endoamilase) dan enzim ß-amilase bekerja menghidrolisis ikatan  -1. (3). Bakteri anaerobik pembentuk spora.1. Molekul-molekul ini berhubungan satu dengan yang lainnya melalui ikatan -1. Amilosa larut dalam air dan mudah terhidrolisa dibandingkan dengan amilopektin.2.6 pada titik percabangan.wikipedia.17 misalnya Bacillus. yaitu α-amilase.4 D-glukosidik (http://id. amilopektin. Amilase Ezim yang menghidrolisis amilum menjadi molekul yang larut dalam air serta mempunyai berat molekul yang rendah seperti glukosa.4 bagian ujung (eksoamilase). Hal ini berarti bahwa pati dapat diuraikan secara sempurna menjadi glukosa (Soebiyanto 1986. Amilum terbagi menjadi dua fraksi yaitu amilosa dan amilopektin yang keduanya memiliki sifat yang berbeda secara fisik.4-glukano glukohidrolase merupakan enzim ekstraseluler yang mampu menghidrolisis ikatan α-1. Gambar 1 Struktur amilosa dengan ikatan -1. Enzim α–amylase menghidrolisis ikatan  -1. misalnya sebagian spesies Clostridium ( Wikepedia 2006). DeMan 1997). ß-amilase dan glukoamilase (amiloglukosidase).4 D-glukosidik seperti pada gambar 1 .3. Anderson (1958) dan Winarno (1983) mengelompokkan amilase ke dalam tiga golongan besar. dan pullulan. Enzim glukoamilase juga dapat menyerang ikatan -1. tersusun dalam bentuk rantai panjang yang lurus (Anderson 1958). glikogen.

dekstrin yang dihasilkan berupa ß-limit dekstrin yang memiliki berat molekul yang tinggi. enzim ß-amilase juga tidak dapat memutus rantai ikatan -1. Bergman 1981) Gambar 2 Struktur amilopektin dengan ikatan -1. Sama halnya dengan enzim -amilase.6. Molekul molekul dari glukosa dihubungkan satu dengan yang lainnya dengan ikatan -1. Enzim ß-amilase bekerja dari ujung rantai polimer (eksoamilase) menghasilkan maltosa dan ß-limit dekstrin. yakni dari ujung rantai yang tidak bersifat mereduksi (Rose 1980.18 Amilopektin (Gambar 2) merupakan polimer dari glukosa. Oleh karena itu hasil pemecahan polimer pati oleh enzim ini hanya berupa .D glikosidik (http://id. dengan menghasilkan dua molekul dextrin.4.4 dan -1. yang mengandung banyak rantai cabang yang terdiri dari 2000-3000 molekul glukosa pada rantai lurusnya dan 24-30 unit glukosa pada rantai cabang utama (Anderson 1958).org/wiki/Amilopektin) Enzim -amilase termasuk kedalam enzim endoamilase yang kerjanya menghidrolisis pati dari tengah-tengah rantai yang mengandung ikatan  -1.D glikosidik (Meyer 1978.4 (Fogarty 1983).wikipedia. Winarno 1980). sehingga degradasi amilopektin oleh enzim ini tidak sempurna.6. Enzim glukoamilase memecah polimer pati dari bagian luar (exoamilase).4 dan -1. pada molekul amilopektin. Enzim ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan enzim -amilase dan enzim ß-amilase karena enzim ini mampu memutuskan rantai polimer yang mengandung ikatan glukosidik .3 dan -1.6 disamping .6.1.1. Dextrin adalah suatu homopolimer dari glukosa yang merupakan produk antara pada hidrolisa pati menjadi maltosa.

Ekspresi enzim lipase meningkat saat mikroorganisme memasuki fase kematian karena jumlah produk lemak dari sel-sel yang mati meningkat (Madigan et al.4D-glycosidic. yang merupakan prekursor berbagai industri kimia. seperti tanaman. 1988. Kosugi et al. dan trigliserida untuk menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol (Suzuki et al. detergen. industri makanan.19 molekul-molekul glukosa. enzim ini diperjual belikan sebanyak 25% dari total enzim yang lainya. untuk industri kulit dan industri oleokimia (memproduksi asam lemak dan turunannya) (Macrae 1983). Selulosa merupakan polimer rantai lurus glukosa yang tersusun atas 10. Lipase Enzim lipase merupakan kelompok enzim yang secara umum berfungsi dalam hidrolisis lemak. hewan dan mikroorganisme.4-Dglycosidic (Gambar 3). Karena ikatan ini menyebabkan selulosa sukar didegradasi . pada bidang bioteknologi. pengolahan limbah. 1990). seperti biomedikal. Produksi asam lemak secara industri menggunakan katalis kimia menghasilkan efek samping bagi lingkungan. Selulase Selulase adalah enzim penghidrolisa selulosa dengan memecah ikatan β-1. Lipase memiliki potensi untuk memproduksi asam lemak. Asam lemak amat dibutuhkan dalam metabolisme mikroorganisme yang bersangkutan. di-.000 atau lebih unit-unit D-glucosa yang dihubungkan oleh ikatan 1. Amilase yang berasal dari mikroorganisme banyak digunakan dalam industri. Enzim lipase bersifat konstitutif artinya terus-menerus diekspresi tanpa membutuhkah induser. Amilase didapatkan dari berbagai macam sumber. Amilase merupakan enzim yang paling penting dan keberadaanya paling besar. Amilase pertama kali yang diproduksi adalah amilase yang berasal dari fungi pada tahun 1894 (Oliveira 2004). 2003). mono-. Selain itu enzim lipase telah banyak dikenal memiliki cakupan aplikasi yang amat luas dalam bidang bioteknologi. biosensor. pestisida. hal ini dikarenakan mikroorganisme periode pertumbuhanya pendek. Itulah sebabnya oleh Alagaratnam (1977) tahap pemecahan ini disebut juga tahap sakarifikasi.

4-β-glucanase serta βglucosidase.4-β-D-glucan glucanohydrolase.4) Mikroba selulolitik pada umumnya akan mensekresikan tiga jenis enzim selulase. Enzim CMC-ase merupakan enzim pertama dalam sistem enzim selulase sehingga tingkat aktivitasnya sangat menentukan dalam proses degradasi selulosa (Hobson 1988. dan Chen et al. sodium glutamat. 2004). yaitu endo. Unsur C merupakan unsur utama yang berperan dalam penyusunan sel-sel bakteri. (2) Eksoglukanase. 1. Avicelase. 1999. (3) β-glucosidase.(1. secara acak menghidrolisis bagian dalam 1.4-β-D glucan cellobiohydrolase.1. Industri yang banyak memanfaatkan molase seperti industri alkohol. (1) Endoglukanase. menghidrolisis rantai ujung selulosa yang tidak tereduksi dengan selobiosa sebagai struktur primer. bir. eksoglukanase. 2003). asam amino. pada dasarnya semua mikroganisme memerlukan karbon sebagai sumber . Molase Lebih dikenal dengan tetes tebu merupakan hasil samping dari proses pembuatan gula tebu yang masih mengandung kadar gula sekitar 48-58 % (Novita 2001). dan β-glukosidase (Cai et al. Ding et al.dan exo. 2002). yaitu endoglukanase atau carboxymethylcellulase (CMC-ase). Gambar 3 Struktur selulosa dengan ikatan β. menghidrolisis selobiosa menjadi glukosa (Robson dan Chambliss. Ikatan ini hanya dapat dipecah oleh enzim selulase yang hanya dapat disekresikan oleh mikroba selulolitik (Mc Donald et al. Meningkatnya produksi gula tebu Indonesia sekitar sepuluh tahun terakhir ini akan meningkatkan produksi molase. Hasil dari reaksi ini adalah memendeknya polimer glukosa secara cepat yang diikuti dengan meningkatnya gula reduksi secara perlahan-lahan. 1. Beauchemin et al. Proses degradasi selulosa pada prinsipnya melibatkan ketiga jenis enzim diatas yang bekerja secara sinergis. 1989).20 (Saxena dan Brown 2005).4-D-glycosidic dari glukosa. 2001. CMC-ase. cellobiase.

inkubator. kuvet. safranin spora. Sri Budiarti . De Man Ragosa sharpe (MRS) dan tripton glucosa yeast ekstract (TGY). Media padat yaitu nutrient agar (NA) dan trypticase soy agar (TSA) dengan menambahkan 15g/l bacto agar.BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Bahan dan Alat Kultur Isolat bakteri yang diisolasi dari saluran pencernaan (duodenum. dan EPHEC K1-1 koleksi Dr. homogeniser. pH meter. Institut Pertanian Bogor (IPB) dari bulan Agustus 2008 – April 2009. autoklaf. dr. pipet mikro. tip bunsen. penangas air bergoyang. Reagen untuk pewarnaan Gram yang meliputi kristal violet. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi alat-alat gelas. inkubator. shaker. . garam yodium. ose. vortex. hemasitometer. laminar air flow (LAF).2 asal ayam yang diperoleh dari Laboratorium Bakteriologi FKH. Bakteri patogen yang digunakan untuk uji antagonis adalah Escheria coli asal ayam. timbangan analitis. Salmonela subsp. ileum dan intestinum crasum) ayam broiler strain hybro tanpa diberi antibiotik. reagen pewarnaan spora terdiri dari malakit hijau.85% (Lampiran 4). IPB Bogor. Salmonela enteric koleksi dari Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi. trypticase soy broth (TSB) dengan komposisi 30 g/l. dan safranin gram. spektrofotometer. Media MRS dan TGY modifikasi yang mengandung molase. dan untuk media NA dan TSA semi solid ditambahkan 10 g/l bacto agar. hot plate. refrigerator. alkohol asseton. dan tepung kedelai (Lampiran 3). Bahan Kimia Bahan kimia yang digunakan adalah bahan untuk menumbuhkan mikroorganisme meliputi nutrient broth (NB) dengan komposisi 8 g/l. pengaduk magnetik dan timbangan. sentrifus. aquades steril dan NaCl 0. mikroskop.

Saluran pencernaan ayam dicuci bersih.5. proteolitik. lipolitik dan selulolitik.. Pertumbuhan koloni diamati secara periodik. Pemurnian Bakteri Hasil Isolasi Koloni koloni yang tumbuh terpisah diambil dengan ose secara aseptis dan dilakukan pemurnian dengan menggunakan metode kwadran. ileum. 2001 dalam (Simarmata 2007). Larutan di vortex supaya homogen. aerasi. serta uji kualitatif amilolitik. dan intestinum crassum seberat 1 gr dan dilarutkan dalam larutan pepton 1 % yang mengandung 0. Pada pengenceran 10-3 hingga10-6 diambil 100µ1 larutan dan disebar kecawan petri yang berisi media NA dengan pH 7. dengan menambahkan asam klorida 10%.1% agar agar sebanyak 9ml. Isolasi dilakukan dengan mengambil saluran pencernaan pada bagian duodenum. dilakukan secara duplo. . Teknik ini sangat penting dan secara rutin digunakan untuk membuat atau menyiapkan kultur stok yang diperlukan dalam uji mikrobiologi.Tomota (Lumyong et al. kemudian saluran pencernaan dibilas dengan air steril beberap kali.3% selama 5 menit. Metode ini akan memisahkan sel dari koloni hingga jarak tertentu kemudian koloni yang benar banar murni dapat diambil dan diletakkan pada agar miring. kembali dengan etanol 70% selama 30 detik. pengujian aktivitas antagonis. Diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam. Kemudian mikrob yang didapat dipindahkan atau ditransfer secara aseptis ke media nutrient broth (NB) disebut subculturing atau peremajaan. Kemudian dilakukan pengenceran berseri dari 10-1. natrium hipoklorit 5. identifikasi terhadap bakteri yang terpilih serta optimasi aktivitas senyawa bioaktif dari bakteri terpilih terhadap pertumbuhan bakteri patogen pada kondisi media. pH dan suhu tertentu.85%.23 Metode Penelitian ini meliputi isolasi kultur bakteri asal saluran pencernaan ayam.0 dan media NA dengan pH 4. kemudian dilakukan sterilisasi permukaan dengan cara merendam dalam etanol 70% selama 1 menit. Isolasi Bakteri Saluran Pencernaan Ayam Isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler strain hybro tanpa diberi antibiotik dilakukan menurut metode F.10-6 dengan aquades 9 ml yang mengandung NaCl 0.

Sel ditumbuhkan pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama 24 jam. Media tersebut dituangkan pada NA/TSA 100% padat (cawan overlay). Pengamatan dilakukan terhadap koloni bakteri yang mampu membentuk zona bening. diinkubasi pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama 24 jam. 2006). Salmonella enteric dan E. . isolat terpilih diinokulasikan dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. biakan maupun sel bakteri yang berbeda dapat tampak serupa. coli. coli diremajakan pada media NA dan ditumbuhkan selama 24 jam pada suhu 370C. Uji antagonis langsung bakteri asal saluran pencernaan ayam terhadap EPEC K1-1. coli diinokulasikan ke dalam media NB.2 asal ayam diremajakan pada media TSA selama 24 jam pada suhu 370C. E. Satu koloni tunggal Salmonella enteric dan Salmonella subsp.2 asal ayam. Satu koloni tunggal E.2. Isolat isolat yang mampu membentuk zona bening akan diidentifikasi. Isolat diuji aktivitas penghambatannya terhadap EPEC K1-1.2 asal ayam pada media TSA diinokulasikan ke dalam media TSB. Secara morfologis. Biakan ditumbuhkan pada suhu 370C dengan agitasi 100 rpm selama kurang lebih 2 jam. Bakteri yang merupakan Gram positif kemudian dilakukan kemampuan pembentukan spora dengan pewarnaan malachite green dan safranin (Hadioetomo1993).24 Peremajaan Bakteri Target EPEC K1-1 diremajakan pada media NA + 100 μg/ml ampisilin diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Bakteri bakteri target ini untuk uji antagonis. Salmonela subsp. Setelah media memadat. coli asal ayam serta Salmonella subsp. Satu koloni tunggal EPEC K1-1 dari media NA+ampisilin diinokulasikan ke dalam media NB+100 μg/ml ampisilin. E. Bakteri target yang sudah diremajakan diinokulasikan sebanyak 100 μl ke dalam 10ml media NA/TSA 50% dengan konsentrasi minimal 106 sel/ ml. Salmonella enteric dan Salmonella subsp. Identifikasi / Karakterisasi Isolat Bakteri Penentuan karakteristik morfologi bakteri asal saluran pencernaan ayam secara mikroskopis dilakukan dengan pengamatan sel dan pewarnaan Gram (Hadioetomo 1993). Karena itu diperlukan uji uji fisiologis seperti uji katalase. Salmonella enteric dengan menggunakan metode agar double layer (Lisboa et al.

Optimasi kedua yaitu optimasi terhadap suhu. coli. Media terbaik yang didapat dimodifikasi dengan mengganti sumber karbon dan nitrogen dengan molase dan soybean meal (MRS modifikasi dan TGY modifikasi). kertas cakram berdiameter delapan mili meter diletakkan diatas media dengan sedikit ditekan dan pada masing masing kertas cakram ditetesi sebanyak 15 μl filtrat kultur dari isolat bakteri terpilih. coli. 48 jam. Media yang didapat dioptimasi waktu produksi yang terbaik dengan waktu produksi 24 jam. Salmonella enteric dengan menggunakan filtrat kultur. Salmonella subsp. Salmonella enteric. 300 . Optimasi dilakukan terhadap dua media yaitu De Man Ragosa (MRS) dan Tripton Glucosa Yeast ekstratc (TGY) dengan agitasi (100 rpm) dan tanpa agitasi. 1984). 72 jam. diujikan aktivitasnya terhadap E. Salmonella enteric. Kultur isolat terpilih diinokulasikan dalam media produksi..2. Salmonela sp. EPEC K1-1. 400. 500 C). diukur zona hambat yang dihasilkan. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif Optimasi pertama dilakukan terhadap media. dan 96 jam. coli. . Media NA semi padat berisi 100μl biakan bakteri patogen (E.2. Esei Antagonis Isolat Terpilih Terhadap Pertumbuhan E.25 Dan untuk identifikasinya mengacu pada Bergeys Manual of Determinative Bacteriology (Krig dan Holt. coli. Inkubasi dilakukan selama 24 jam pada suhu 370C. E. Setelah seluruh media memadat. Salmonella subsp. EPEC K1-1. yang bertujuan untuk mengetahui suhu optimum terhadap aktivitas antibakteri dalam menghasilkan penghambatan pertumbuhan bakteri target. 370. Filtrat kultur dari isolat yang diisolasikan pada media produksi modifikasi diinkubasi pada lima tingkatan suhu (270. Salmonela subsp. EPEC K1-1. Parameter yang diamati adalah kemampuannya membentuk zona bening.) dengan konsentrasi minimal 106 sel/ml dituangkan ke dalam media NA padat (cawan overlay). Besarnya diameter zona bening yang dihasilkan berdasarkan diameter seluruh zona yang terbentuk dikurangi dengan diameter cakram kertas. Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer Uji antagonis isolat terpilih dilakukan terhadap bakteri EPEC K1-1.2. aerasi dan waktu produksi Isolat terpilih diremajakan pada media pertumbuhan. Pengujian dilakukan untuk mengetahui aktivitas filtrat kultur isolat terpilih terhadap bakteri target.

0.0. 8. Untuk uji selulase media NA ditambah carboximetil celulase (CMC) 1% dan disterilkan. Diinkubasi selama dua hari. diukur zona bening yang dihasilkan. aktivitas lipase ditandai oleh adanya zona bening disekitar koloni bakteri. Zona bening akan terlihat setelah ditetesi kalium iodida (KI) 3%. Isolat terpilih diinokulasikan. Selulase Kemampuan amilolitik. 27n. 34n) diinokulasikan. Lipase. 7. diinkubasi selama dua hari.0. protease. Untuk uji amilase media nutrient agar ditambah 1% soluble starch.4. diinkubasi pada suhu terbaik (optimum). Nilai indeks amilase. 5. 25n. Zona bening akan terlihat dengan ditambahkannya Congo red dan NaOH 10% ke media. adanya zona menandakan isolat menghasilkan protease.26 Optimasi ketiga terhadap pH. Uji Kualitatif Aktivitas Amilase. 27n. suhu dan pH optimum terhadap aktifitas antimbakteri dalam menghasilkan penghambatan pertumbuhan empat bakteri patogen. Isolat terpilih diinokulasikan dan diinkubasi selama dua hari. 25n. 34n. . kemudian diinokulasikan isolat 7n. Uji lipase dengan menggunakan media NA ditambah tween 80 1% dan disterilkan.0.0. Filtrat kultur (supernatan) dari isolat yang ditumbuhkan pada pH yang berbeda. Protease. Adanya zona menunjukkan adanya aktivitas amilase.0 . 9. lipase cellulase dihitung dengan persamaan: I A B B A=Ø zona bening dan B= Ø isolat. lipolitik dan selulolitik isolat terpilih diuji secara kualitatif. proteolitik. 6. Zona bening yang dihasilkan diukur untuk untuk menentukan indeks proteasenya. Uji protease menggunakan media NA ditambah susu skim 1% disterilkan pada suhu 110 0 dan selama 15 menit. setelah itu isolat terpilih (7n. diinkubasi selama dua hari.0. Zona yang terdapat disekitar koloni diukur diameternya begitu juga diameter koloni untuk menghitung indeks amilase yang dihasilkan. Pada tahap ini isolat terpilih ditumbuhkan pada media terbaik pada tujuh tingkatan pH yang berbeda yaitu 3. diantagoniskan dengan empat bakteri target. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media.

vitamin B12. Kalsium. glukosa 7%. tepung kedelai (Soybean meal) mengandung 34. fenilalanin (Anonim 2008). Tepung Kedelai Tepung kedelai dapat digunakan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan bakteri.21 energi untuk aktivitasnya. Unsur C. glisin. Protein pada kedelai tersusun oleh sejumlah asam amino: arginin. 2005). leusin. magnesium. Rasio C:N yang tinggi (kandungan unsur N yang relatif rendah) akan menyebabkan proses pertumbuhan berlangsung lebih lambat karena nitrogen akan menjadi faktor penghambat (growth-rate limiting factor) (Alexander 1994). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio C:N:P optimum untuk pertumbuhan mikroba adalah 100:10:1 (Shewfelt et al. . zat besi. fosfor. vitamin C.8% karbohidrat. asam amino dan enzim-enzim. N. Menurut Sukmadi (1996) diacu dalam Suryanti (1998). gula pereduksi 3%. Komposisi kimia molase menurut Paturau (1982) terdiri dari sukrosa 35%. treonin. Sedangkan unsur P berperan dalam pembentukan asam nukleat dan fosfolipid. vitamin K. vitamin B6. kalium. P merupakan tiga nutrisi utama (makro nutrien) yang dibutuhkan oleh bakteri dalam melakukan metabolisme sel untuk menghasilkan senyawa senyawa yang penting dalam pertumbuhan bakteri nitrogen dan fosfor merupakan bahan penyusun senyawa-senyawa penting dalam sel yang menentukan aktivitas pertumbuhan mikrooganisme. triptofan. lisin. niasin. Molase telah banyak digunakan sebagai bahan pembuatan media produksi mikroba dalam skala besar. dan seng. Kandungan nutrisi lain adalah vitamin A. karbohidrat lain 4% serta abu 12 %. 42% protein dan 19-20% lemak (lampiran 2). Unsur N memiliki peranan yang sangat penting dalam penyusunan asam nukleat.

5 untuk isolasi dimaksudkan untuk memberikan kondisi asam yang menyerupai kondisi dalam saluran pencernaan ayam yang rata rata berkisar pada pH 4.0 (Lampiran 5) dan 34 isolat yang tumbuh pada media NA dengan pH 4. Berdasarkan kenyataan tersebut isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam perlu guna mendapatkan beragam bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dan dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai makanan imbuhan pakan (feed additive) untuk memacu pertumbuhan ayam. Saluran pencernaan ayam yang baru menetas sebetulnya dalam keadaan steril. Dalam saluran pencernaan mahkluk hidup tedapat terdapat bakteri jahat dan bakteri baik. Keberhasilan mendapatkan isolat bakteri yang cukup banyak dari saluran pencernaan ayam broiler ini kemungkinan disebabkan ayam yang digunakan sebagai sampel adalah ayam broiler strain Hybro yang tidak diberi antibiotik. ketika berhubungan dengan dunia luar berbagai tipe mikroba masuk ke dalam tubuh baik lewat makanan atau kontak dengan lingkungan. sehingga populasi bakterinya masih cukup tinggi. Penggunaan media dengan pH 4. Mikroorganisme itu akan tinggal pada saluran pencernaan sampai makhluk hidup itu mati.HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Pemurnian Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Isolasi yang dilakukan lebih ditujukan pada bakteri kelompok non asam laktat. dan mikroba dalam saluran pencernaan tersebut berperan bagi kesehatan.5 menunjukkan bahwa bakteri itu tahan terhadap kondisi lingkungan asam pada saluran pencernaan.5.5 (Lampiran 6). Media yang digunakan untuk isolasi adalah media nutrient agar (NA) yang bersifat umum sehingga memungkinkan diperolehnya beragam kelompok bakteri yang terisolasi. Hasil isolasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler tersebut diperoleh 72 isolat bakteri terdiri dari 38 isolat yang tumbuh pada media NA dengan pH 7. Bagian dari saluran pencernaan yang paling banyak dihuni oleh milyaran mikroba adalah saluran usus. karena bakteri dari golongan ini masih jarang diteliti. Keseimbangan antara kedua jenis mikroba dalam saluran pencernaan . Ayam broiler yang digunakan dalam penelitian ini tidak diberikan antibiotik dalam makanannya supaya didapatkannya banyak ragam mikroorganisme yang terdapat dalam saluran pencernaan. Diperolehnya bakteri yang mampu tumbuh pada pH 4.

28 penting bagi kehidupan yang sehat. Dimana keseimbangan itu terjadi apabila komposisinya 85% bakteri baik dan 15% bakteri jahat (Sjofjan 2009). Tingginya mikroflora yang baik dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial seperti asam lemak bebas dan zat zat asam sehingga tercipta lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri patogen. Beberapa bakteri saluran pencernaan yang baik seperti Eubacterium, Lactobacillus, dan bakteri jahat seperti Clostridium, Shigella, Veilonella terdapat di dalam saluran pencernaan ayam. Bagian saluran pencernaan yang digunakan untuk isolasi bakteri antara lain daerah duodenum, ileum dan intestinum crasum. Bakteri hasil isolasi berdasarkan bagian saluran pencernaan terlihat seperti tabel 2.[ Tabel 2 Hasil Isolasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler
Bagian Saluran Pencernaan Duodenum Ileum Intestinum crasum Jumlah pH Media Isolasi 4.5 7.0 3 8 7 8 22 24 34 38 Total 11 15 46 72

Pada tabel terlihat bakteri yang ditemukan pada duodenun sebelas isolat terdiri dari tiga isolat dari pH 4.5 dan delapan isolat dari pH 7.0. Pada bagian duodenum isolat bakteri yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan saluran pencernaan yang lain. Keadaan ini diduga berkaitan dengan letak saluran pencernaan yang dekat dengan proventriculus yang mempunyai pH<3.0 dan

disekresikannya garam empedu kedalam duodenum dari pangkreas. Duodenum berfungsi menyelenggarakan pencernaan protein dan lemak, sehingga lingkungan yang sedikit asam ditambah adanya garam empedu berfungsi untuk mengaktifkan enzim pepsinogen (Anonim 2007). Adanya bakteri yang terisolasi asal duodenum diduga bakteri itu mampu bertahan pada lingkungan asam dan garam empedu. Pada lingkungan pH yang sangat rendah (pH dibawah 3.0) umumnya bakteri akan mati tetapi sebagian bakteri ada yang mampu bertahan dengan membentuk spora sehingga pada pH 4.5 bakteri itu mulai tumbuh kembali dan berkolonisasi, ini terlihat pada pH 4.5 diperoleh tiga isolat sementara pada pH 7.0 diperoleh delapan isolat.

29 Ileum merupakan bagian usus kecil yang berfungsi sebagai tempat penyerapan zat makanan (Anonim 2007). Diduga dengan pH yang hampir sama dengan doudenum dan tidak disekresikannya garam empedu pada saluran ini menyebabkan bakteri yang mengalami kolonisasi lebih banyak dibandingkan pada duodenum. Dinding ileum berbentuk jonjot jonjot sesuai dengan fungsinya sebagai tempat penyerapan zat makanan. Kondisi pH pada ileum dipengaruhi oleh zat zat dari luar tubuh, dan zat sekretori yang dihasilkan dinding saluran pencernaan, serta letaknya yang jauh dari proventriculus membuat pH pada saluran ini tidak terlalu asam. Isolat bakteri yang diperoleh pada bagian saluran pencernaan ini ada 15 isolat yang terdiri dari tujuh isolat yang tumbuh pada pH 4.5 dan delapan isolat yang tumbuh pada pH 7.0. Intestinum crasum atau usus besar merupakan bagian saluran pencernaan paling ujung, dekat dengan kloaka. Banyaknya isolat bakteri ditemukan pada bagian saluran pencernaan ini adalah 46 isolat, terdiri dari 22 isolat pada pH 4.5 dan 24 isolat pada pH 7.0. Intestinum crasum fungsinya tempat mencerna sisa pencernaan oleh miroorganisme menjadi feses dan tempat penyimpanan sisa pencernaan (Anonim 2007). Berdasarkan fungsi yang demikian menyebabkan banyak mikroorganisme mampu berkolonisasi di tempat ini, didukung pula dengan kondisi pH yang yang sudah mendekati normal (pH 7.0) serta banyaknya sisa pencernaan yang dapat digunakan sebagai sumber energi bagi mikroba. Bakteri bakteri itu akan berkolonisasi dan membentuk mikroekosistem yang bermanfaat untuk kesehatan (Drassar dan Barrow 1985). Mikroekosistem dalam saluran pencernaan hewan monogastrik seperti ayam komponennya terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Biotik terdiri dari bermacam macam jenis mikroba baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Abiotik terdiri dari zat zat yang berasal dari bahan luar yang berupa pakan dan dari dalam tubuh (endogeneus) yaitu produk metabolisme yang harus dibuang. Mikroflora detrimental umumnya akan sangat aktif merombak zat yang terdapat dalam usus besar dan hasil akhirnya adalah metabolit yang bersifat toksik (beracun), karsinogenik (menyebabkan kanker) atau metagenik (membentuk gas metan) (Hasono 2002). Metabolit ini sering menyebabkan kerusakan mukosa usus bahkan membentuk tumor atau beberapa penyakit lain. Dalam kaitan ini bakteri

30 baik akan mendesak atau mengencerkan senyawa aktif diatas dan merubah zat toksik menjadi zat yang tidak toksik, dengan cara membuang zat zat yang akan menyusun toksik terlebih dahulu sehingga tidak dapat membentuk zat toksik. Dalam hal ini proporsi bakteri baik ditingkatkan dan bakteri jahat ditekan jumlahnya. Dengan mengkonsumsi bakteri baik (probiotik) dan menyediakan nutrisi (prebiotik) yang sesuai untuk bakteri probiotik agar dalam usus terjadi perkembangan bakteri baik lebih pesat (Karyadi 2003) sehingga pertumbuhan ayam dapat ditingkatkan. Penggunaan probiotik pada ternak unggas bertujuan memperbaiki saluran pencernaan dengan cara: (1) menekan reaksi pembentukan racun dan metabolit yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker), (2) merangsang reaksi enzim yang dapat menetralisir senyawa beracun yang tertelan atau dihasilkan oleh saluran pencernaan, (3) merangsang produksi enzim (enzim protease dan alfa-amilase) yang digunakan untuk mencerna pakan, (4) memproduksi vitamin dan zat zat yang tidak terpenuhi dalam tubuh (Seifert dan Gessler 1997). Menurut Sartika et al. (1994) penggunaan probiotik dapat memperbaiki performance ayam broiler meliputi rataan bobot hidup, konversi pakan dan menurunkan mortalitas. Pemurnian isolat bakteri asal saluran pencernaan ayam dilakukan dengan metode kwadran dengan menggunakan media yang sama dengan media isolasi yaitu nutrient agar (NA). Isolat murni yang diperoleh selanjutnya diuji ke bakteri target guna menseleksi bakteri bakteri yang mempunyai kemampuan

penghambatan terhadap patogen. Sebagai kultur induk, isolat juga disimpan dalam media penyimpanan yang disimpan pada suhu 4°C. Peremajaan Bakteri Target. EPEC K1-1, E. coli asal ayam, Salmonella enteric, dan Salmonella subsp.2 asal ayam adalah bakteri penyebab penyakit (patogen) pada manusia dan juga pada ayam, sehingga bakteri-bakteri asal saluran pencernaan ayam perlu diuji aktivitasnya terhadap keempat patogen untuk mengetahui kemampuan

penghambatannya terhadap patogen tersebut. Isolat EPEC K1-1 memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan E. coli umumnya, pada jam ke-3 isolat ini sudah mencapai jumlah sekitar 108 sel/ml (OD 0,32; λ= 620nm). Peremajaan EPEC K1-1 pada media NA+ampisilin 100μg/ml dimaksudkan untuk

Hasil uji antagonis langsung dari 72 isolat hasil isolasi terhadap empat bakteri target (EPEC K1-1 penyebab diare pada anak anak. 20n. Isolat E. 20a.coli. diperoleh 30 isolat yang menghasilkan zona bening disekitar koloninya.Salmonella enteric Bagian Saluran Pencernaan Duodenum Ileum Intestinum crasum pH 4. EPEC K1-1. 25a. 19n. 19n 20n.0 yaitu isolat: 7n. 9n. 24n. ditambah banyaknya nutrisi yang terdapat dalam saluran ini. coli asal ayam yang menyebabkan kolibasilosis pada ayam. 22n. 7a. coli diremajakan pada media NA selama 24 jam untuk mencapai jumlah sel 108 sel/ml (OD 0.5 hampir sama banyak yang mampu menghambat E. Isolat bakteri yang tumbuh pada media pH 7.5 1 4 9 14 S. 38n. 15n. E.enteric pH total 7 1 2 4 6 15 7 21 Jumlah Untuk aktivitas penghambatan terhadap E.31 menjaga resistensinya. Salmonella enteric dan E. 24n. 18n. Kemampuan penghambatan isolat hasil isolasi terhadap keempat target terlihat dalam tabel 3.328. 22a.2 Asal Ayam. Terdiri dari 18 isolat yang berasal dari media pH 7. 13n.2 asal ayam dan Salmonella enteric penyebab salmonellosis pada ayam dan manusia).5 yaitu isolat 5a.0 dan 4. coli. 17n. . Terdiri dari 13 isolat yang berasal dari media pH 7. 27n. 28a. 26n. λ=620nm).2 diremajakan pada media TSA selama 24 jam (OD 1. Isolat Salmonella enteric diremajakan pada media TSA selama 24 jam (OD 1. 12n.[ [ Tabel 3 Aktivitas penghambatan bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap E.5 1 3 8 12 E. 23n. 27a.924 . 30a. 34n. dan 12 isolat yang berasal dari media pH 4. 26a. Diduga karena pH saluran pencernaan ini mendekati normal sehingga banyak bakteri yang dapat berkolonisasi. λ= 620nm). 8n. 10n. λ=620nm). Kemampuan Penghambatan Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Terhadap EPEC K1-1. 21n.507. Aktivitas penghambatan terhadap EPEC K1-1 diperoleh 19 isolat. Coli Asal Ayam serta Salmonella subsp. Salmonella subsp.coli. dan Salmonella subsp. 21n.coli pH total 7 1 2 4 7 13 21 18 30 EPEC K1-1 pH pH total 4. Berdasarkan daerah isolasi ditemukan bakteri yang paling banyak menghambat E. 29a. 21a. 6a. 25n.0 (17n.coli pada bagian inestinum crasum.5 7 1 1 1 1 5 12 17 6 13 19 pH 4.

coli asal ayam. sedangkan bakteri yang tumbuh pada lingkungan asam tidak sebanyak pada pH 7. 22a. Pinggiran koloni ditemukan ada yang bergerigi dan ada yang licin. 27a. 31a. Ini diduga karena Salmonella dapat tumbuh pada pH 3. 11a. 7a. 34n. 30a. Pada bagian duodenum dan ileum masih ditemui bakteri dalam jumlah yang sangat sedikit. 37n dan 14 isolat berasal dari media pH 4. 34a). 16n. 28n. 27n. 5a. bagian intestinum crasum diperoleh isolat bakteri lebih banyak karena bagian saluran ini mempunyai suhu. 7a. 22a. E.5 (25a. 29a. 25n. 33a. 28n. 16a. Ini mengindikasikan bahwa bakteri bakteri yang tumbuh pada lingkungan netral banyak yang dapat menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. 30a dan bentuk basil (batang) 8 isolat yaitu isolat 7n. Isolat bakteri yang mempunyai aktivitas penghambatan terhadap bakteri target diatas merupakan isolat yang potensial untuk dikembangkan menjadi probiotik dalam mengendalikan penyakit seperti salmonelosis dan kolibasilosis.5.5 aktivitas penghambatan juga lebih banyak. 35n) dan 6 isolat yang tumbuh pada media pH 4. 8n. 16a. 2a. 26n. 17a. 5a. 4a.6-9.0 yaitu isolat 15n. dan nutrisi yang sesuai bagi mikroorganisme. 29a. Morfologi koloni dan bentuk sel diobservasi secara mikroskopis terhadap 19 isolat yang mempunyai aktivitas penghambatan yang bagus terhadap EPEC K1-1. Isolat bakteri yang tumbuh pada pH 4. 17a. Salmonella subsp. 32a. dengan permukaan yang rata dan yang seperti kawah. Dimana isolat isolat yang mempunyai aktivitas bagus terlebih dahulu diidentifikasi. 17n.5 lebih banyak yang mampu menghambat Salmonella enteric dibandingkan isolat yang tumbuh pada pH 7. 17n. pH. 4a. Berdasarkan asal isolat maka bakteri yang mampu menghambat EPEC K1-1 banyak berasal dari intestunum crassum. 33a. Berdasarkan asal daerah isolasi. 25n. 18a. sehingga pada pH 4. Morfologi sel secara mikroskopis menunjukkan bentuk kokus 11 isolat yaitu isolat 17n. 18a. 28a.32 25n. 21n. Identifikasi Bakteri Asal Saluran Pencernaan Ayam Broiler Untuk memilih bakteri sebagai isolat terpilih dilakukan uji lanjut. 27n.5 yaitu isolat 2a. Untuk itu dipilih bakteri dengan aktivitas penghambatan yang bagus sebagai calon isolat terpilih.0.2 asal ayam dan Salmonella enteric. 11a. 27n. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric diperoleh 21 isolat yang terdiri dari tujuh isolat berasal dari media pH 7. .0. 30a.

Kandungan lipid pada dinding selnya rendah. 25n. Terbentuknya warna ungu karena komponen utama penyusun dinding sel bakteri Gram positif adalah peptidoglikan. Natalia.33 Bakteri yang berbentuk batang. Gram positif dapat dilihat dari warna sel yang ungu. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 5 isolat yang tergolong bentuk batang dan Gram positif yaitu isolat 7n. (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang (perbesaran 40 x 100). dan 34n (Gambar 4 dan 5). Pada perlakuan dengan etanol . (a) (b) Gambar 4 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 7n) diisolasi dari jejenum. permeabilitas berkurang dan zat warna kristal ungu tidak dapat terekstraksi dan terperangkap di dalam dinding sel. Priadi 2005). 8n. Ling 1990. (a) (b) Gambar 5 Hasil pewarnaan Gram a (isolat 27n) b (isolat 34n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler berbentuk batang gram positif (perbesaran 40 x 100). 27n. sehingga pada waktu diberikan etanol dinding sel Gram positif terdehidrasi. sehingga mampu mengikat warna kristal ungu. pori pori mengecil. lemak dalam persentase yang lebih tinggi. Bakteri Gram negatif memiliki peptidoglikan yang tipis dan mengandung lipid. Gram positif dan non patogen dapat dipilih sebagai probiotik (Panigraphy.

Bakteri yang berspora ini diambil sebagai isolat bakteri terpilih. Bakteri ini akan kehilangan warna ungu kristal. Warna bakteri Gram negatif akan terlihat merah muda. 27n. (b) isolat 34n diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) Hasil pewarnaan spora pada bakteri Gram positif menunjukkan bahwa isolat 7n. merupakan warna dari safranin (Pelzar dan Chan 1986) Bakteri berbentuk batang dan Gram positif selanjutnya diteliti kemampuannya dalam membentuk spora dan letak sporanya dengan pewarnaan spora (Gambar 6 dan 7). Ketika diberi warna safranin maka warna ini akan diserap. b (isolat 25n) diisolasi dari intestinum crasum ayam broiler (perbesaran 40 x 100) Sel vegetatif endospora endospora Sel vegetatif (a) (b) Gambar 7 Hasil pewarnaan spora (a) isolat 27n. Spora merupakan bentuk . 25n. Sehingga kompleks ungu kristal-yodium yang telah memasuki dinding sel selama langkah awal pewarnaan dapat diekstraksi. Sel vegetatif endospora endospora Sel vegetatif (a) (b) Gambar 6 Hasil pewarnaan spora (isolat 7n). dan 34n memiliki endospora sementara isolat 8n tidak berspora.34 (alkohol) menyebabkan terekstraksinya lipid sehingga pori pori pada peptidoglikan cukup besar memperbesar daya rembes atau permiabilitas dinding sel.

Lima-sepuluh persen berat kering endospora adalah asam dipikolinat. suhu tinggi atau rendah. Clostridium bersifat anaerob. Spora sangat resisten terhadap beragam kondisi fisik yang kurang menguntungkan seperti suhu tinggi dan kekeringan serta terhadap bahan kimia. Bakteri katalase positif akan menghasilkan gas oksigen sebagai hasil reaksi penguraian hidrogen peroksida oleh enzim katalase dan membebaskan gas oksigen dan molekul air sesuai reaksi berikut: 2H2O2 + katalase  2H2O2 + O2 . Spora yang terdapat pada isolat 7n. hanya saja Bacillus bersifat aerob/anaerob fakultatif. Hasil uji katalase terhadap 4 (empat) isolat terpilih yang ditumbuhkan pada media nutrient agar yang diinkubasi selama 24 jam menunjukkan adanya gelembung gelembung putih (gas oksigen) setelah koloni bakteri ditetesi larutan H2O2 3%. Bakteri yang memiliki endospora biasanya dari kelompok Bacillus dan Clostridium. 27n dan 34n di bagian dekat ujung (sub terminal) dan isolat 25n bagian tengah (sentral). 34n Isolat 7n 25n 27n 34n Uji Katalase (+/-) + + + + Katalase adalah suatu enzim yang dapat ditemukan dalam sebagian besar bakteri. Tabel 4 Hasil uji katalase isolat 7n. 27n. Untuk menentukan golongan apa isolat bakteri terpilih dilakukan uji katalase. Keempat isolat bakteri terpilih tersebut digolongkan pada bakteri katalase positif (Tabel 4). 34n terletak didalam (endospora). 27n. Letak endoporanya isolat 7n. sehingga diduga lapisan korteks endospora terdiri dari kompleks Ca2+-asam dipikolinat-peptidoglikan. Pada kondisi yang sesuai akan berkecambah dan menghasilkan sel yang sama seperti asalnya. 25n. 25n. Endospora bakteri mengandung sejumlah asam dipikolinat yaitu suatu substansi yang tidak terdeteksi pada sel sel vegetatif.35 adaptasi sel terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Sejumlah kalsium juga terdapat dalam endospora. Spora bakteri dapat bertahan misalnya pada lingkungan pH rendah (asam).

Gram positif. dan 34n berbentuk batang. maka enzim katalase akan sangat penting peranannya dalam menguraikan zat yang bersifat racun bagi sel menjadi molekul air dan oksigen yang tidak bersifat racun bagi sel. Pada kondisi cekaman lingkungan. Ciri ciri Bacillus menurut Gordon (1989) sel vegetatif berbentuk batang. 25n. Berdasarkan ciri ciri yang dimiliki dan mengacu pada Bergeys Manual of Determinative Bacteriology (Krieg dan Holt 1984) bahwa isolat 7n. Didalam saluran pencernaan ternak secara umum jumlah bakteri anaerobik lebih besar di banding bakteri anaerobik fakultatif dengan perbandingan 1000:1 (Utomo 2002). menghasilkan endospora berbentuk oval serta bersifat katalase positif. dan termasuk spesies yang hidup bebas atau bersifat patogen. isolat tersebut dapat digolongkan kedalam genus Bacillus. Bacillus lebih adaptif terhadap perubahan . dan bersifat katalase positif.36 Hidrogen peroksida (H2O2) diproduksi oleh enzim pernafasan yang bersifat racun bagi organisme yang memproduksinya. Bacillus adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dengan tingkatan takson sebagai berikut: Kingdom: Bacteria Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Firmicutes : Bacilli : Bacillales : Bacillaceae : Bacillus Didapatkannya bakteri dari kelompok Bacillus ini merupakan hal yang positif karena bakteri ini secara alami terdapat di mana-mana. 25n. sehingga mudah pula mengadakan kolonisasi untuk membentuk mikroekosistem yang bermanfaat untuk kesehatan. Didapatkannya bakteri anaerob fakultatif merupakan hal yang sangat menguntungkan karena dapat diproduksi dengan mudah untuk digunakan sebagai probiotik. 34n) diduga bersifat anaerob fakultatif karena bersifat katalase positif dan terdapat dalam saluran pencernaan ayam yang tidak ada oksigen. sel-selnya menghasilkan endospora berbentuk oval yang dapat bertahan dalam periode yang lama. 27n. Keempat isolat terpilih (7n. membentuk endospora. 27n.

34n) terhadap EPEC K1-1. 2003).10%. Aktivitas penghambatan ditandai dengan adanya zona bening disekitar cakram kertas Ф 8mm (Gambar 8 dan 9). kering mengandung protein 11. jika lingkungan menguntungkan spora berkembang kembali menjadi sel vegetatif. Isolat 7n merupakan isolat terbaik dalam menghambat EPEC K1-1 dan S. Enteric diikuti isolat 27n.3%. dan Salmonella subsp.23 %.coli S. lemak 0. (Madigan et al. 25n. Sementara untuk kontrol ditetesi media NB steril ternyata tidak ada zona yang dihasilkan setelah diantagonis dengan EPEC K1-1. Salmonella enteric.2 [ Isolat 7n 25n 27n 34n EPEC K1-1 24 14 19 6 Diameter Penghambatan (mm) E.78% serta serat kasar 0. coli. Menurut Haddadin et al.37 lingkungan. EPEC K1-1. 25n. coli. Salmonella enteric dengan Metode Kirby-Bauer Hasil esei antagonis filtrat kultur (ekstrak kasar) isolat terpilih (7n. dan Salmonella subsp. Kontrol tidak ada zona yang dihasilkan. coli isolat 25n dan 27n (23mm) menghasilkan zona yang lebih terang dan hampir sama besar. 27n. Salmonella enteric. E. 25n dan 34n. E. karena dalam isolasi tidak menggunakan medium spesifik untuk bakteri asam laktat. (1996) hasil analisa proksimat Bacillus spp. Isolat 7n (24mm) dan 27n (19mm) diikuti isolat 25n (14mm) dan 34n (6mm). Pada gambar (8b) uji antagonis dengan E. 34n terhadap EPEC K1-1.2 terlihat pada tabel 5. Pada gambar (8a) terlihat zona bening yang dihasilkan oleh keempat isolat dalam menghambat EPEC K1-1.enteric Salmonella subsp 2 14 23 9 23 14 19 23 14 14 9 9 2 Dari tabel terlihat bahwa keempat isolat terpilih mampu menghambat empat bakteri target. . Jin et al. (1996). Bakteri kelompok asam laktat tidak ditemukan dalam isolasi ini.002%. coli. abu 0. Esei Antagonis Isolat Terpilih terhadap Pertumbuhan E. Tabel 5 Hasil uji penghambatan ekstrak kasar isolat 7n. air 8.2. sementara isolat 7n (14mm) dan isolat 34n zona (9mm) yang dihasilkan lebih kecil. 27n. Salmonella subsp.

coli Ф cakram kertas 8mm Adanya zona disekitar cakram kertas mengindikasikan bahwa filtrat kultur dari keempat isolat mengandung senyawa anti bakteri yang mampu menghambat EPEC K1-1 dan E. 7n 25n 34n 27n k 25n 34n k 7n 27n (a) (b) Gambar 9 Aktifitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp. Ini diduga ada hubungannya dengan efek bakteriostatik dan bakterisida.38 [[ [[ 7n 27n 27n 34n 34n k k 25n 25n (a) 7n (b) Gambar 8 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap bakteri target (a) EPEC K1-1.2. Dari gambar (9a) menunjukkan isolat 7n mempunyai aktivitas penghambatan yang paling bagus terhadap Salmonella enteric.coli. Daya anti bakteri dari keempat isolat tidak sama dalam menghambat kedua bakteri target. (b) E. coli lebih kecil tetapi terang. Ф cakram kertas 8mm . Metabolit yang dihasilkan isolat 7n dan 27n mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan EPEC K1-1 dan E.coli dengan kualitas yang berbeda. Daya antibakteri isolat 7n dan 27n terhadap EPEC K1-1 besar tetapi kurang terang dan zona yang dihasilkan terhadap E.

27n. dengan E. Menurut Sudirman (1997) satu spesies mikroba dapat .2. Isolat 34n memiliki aktivitas penghambatan filtrat kultur lebih tinggi dari sel. Kekuatan penghambatan dapat dilihat dari zona yang dihasilkan.memiliki kekuatan penghambatan beragam tergantung bakteri patogennya. isolat 7n (9mm) dan 34n (2mm).39 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n (23mm) diikuti oleh isolat 27n (14mm) dan 25n (14mm).coli sel filtrat Hasil uji antagonis sel isolat 7n. 25n. 25n. sementara isolat 34n (9mm). Senyawa aktif yang dihasilkan isolat 7n. Semakin besar dan terang zona bening yang dihasilkan mengindikasikan kekuatannya semakin kuat. Gambar 10 menunjukkan perbandingan aktivitas penghambatan antara sel langsung dan filtrat kultur. Untuk isolat 34n aktifitas penghambatan se lebih rendah dibandingkan filtrat kultur.coli memperlihatkan aktivitas penghambatan sel lebih besar dibanding filtrat kulturnya. asal ayam seperti pada gambar (9b) menunjukkan bahwa aktivitas tertinggi dimiliki isolat 25n (19mm) diikuti isolat 27n (14mm) . Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp.2. 25n. Hal ini kemungkinan dikarenakan kecepatan dan jenis metabolit yang dihasilkan antar isolat berbeda. 34n terhadap E. Rendahnya aktivitas filtrat kultur kemungkinan terjadi karena konsentrasi senyawa aktif dalam filtrat kultur (15µl) tidak cukup kuat menghambat bakteri target dibandingkan senyawa antibakteri yang dihasilkan sel secara langsung. dan 27n untuk menghambat pertumbuhan Salmonella enteric dan Salmonella subsp. 35 30 Zona bening (mm) 25 20 15 10 5 0 7n 25n Isolat 27n 34n Gambar 10 Perbandingan aktivitas penghambatan antara sel dan filtrat kultur dari isolat 7n. 27n.

dan Salmonella subsp. Kandungan media MRS memiliki lebih banyak mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri dibandingkan media TGY. diharapkan dapat dipergunakan untuk membantu penanggulangan salmonelosis dan kolibasililosis pada ayam secara in vivo. Kemampuan keempat isolat (7n. . Ini merupakan konsep penting bagi kesehatan hewan/manusia karena pencegahan kolonisasi mikroba patogen seperti Salmonella dan E. yang dihasilkan secara ekstraseluler. 25n. Optimasi dilakukan terhadap media. Keempat isolat uji dapat menghasilkan senyawa antibakteri. dan pH inkubasi. waktu produksi. aerasi. 34n) dalam menghambat pertumbuhan EPEC K1-1. 27n. Optimasi Media. Aktivitas penghambatan ke empat isolat terpilih pada media de Mann Rogosa Sharpe (MRS) dan media Tripton Glucosa Yeast ekstract (TGY) berbeda dan dipengaruhi oleh perlakuan agitasi (100 rpm) dan tanpa agitasi (Gambar 11 dan 12). 27n. coli asal ayam. Optimasi Produksi Senyawa Bioaktif Optimasi dalam menghasilkan senyawa bioaktif dari isolat 7n. 25n. 27n. suhu inkubasi. coli adalah kunci dalam lingkungan saluran pencernaan ayam akan dapat memperbaiki pertumbuhan. E.40 menghasilkan banyak antimikrob dan banyak mikrob yang berbeda dapat menghasilkan jenis antimikrob yang sama. terbukti dengan adanya kemampuan filtrat kultur yang mampu menghambat pertumbuhan empat bakteri target. Bacillus subtilis di dalam saluran pencernaan dapat berfungsi untuk pengontrolan bakteri patogen. asal ayam. Dipilihnya media MRS dan TGY yang memiliki kandungan nutrisi yang berbeda (Lampiran 1) karena kedua media tersebut dapat ditumbuhi keempat isolat bakteri terpilih. 34n perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum yang harus diperhatikan dalam proses produksi. Menurut Barrow (1992) Bacillus tidak umum ditemukan pada saluran pencernaan tetapi mempunyai kemampuan untuk mengendalikan bakteri patogen (competitive exclusion). Salmonella enteric. 34n akan lebih bagus apabila digunakan secara bersama sama karena kemampuannya dalam menghambat keempat patogen tidak sama. 25n.2. Aktivitas isolat 7n.

Selain itu agitasi juga berfungsi memecah gelembung udara besar menjadi gelembung yang lebih kecil untuk menambah area permukaan gas dan membantu mentransfer oksigen ke dalam biakan serta menyebarkan oksigen pada pertumbuhan aerob. coli. Pada gambar (11a) terlihat aktivitas tertinggi antagonis dengan EPEC K1-1 oleh isolat 7n diikuti isolat 27n dan 25n pada media MRS tanpa agitasi. temperatur dan sebagainya. 35 30 Zona bening (mm) Zona bening (mm) 35 30 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 TA T an MA M an Perlakuan TA T an MA M an Perlakuan (a) (b) Gambar 11 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E.41 Perlakuan agitasi dan tidak diagitasi untuk melihat homogenitas media maupun mikroorganisme. Keempat isolat dalam untuk menghasilkan kemampuan menunjukkan penghambatan beragam tergantung pada jenis media dan perlakukan agitasi (Gambar 11 dan gambar 12). Dalam produksi senyawa aktif keempat isolat terpilih menunjukkan ada isolat yang memerlukan agitasi dan ada yang kurang senyawa antibakteri. pH. Hal ini mengindikasikan bahwa produksi senyawa antibakteri dari keempat isolat tersebut dapat diproduksi dengan . 25n pada MRS yang diagitasi terhadap pertumbuhan pertumbuhan E. 25n dan 27n berasal dari saluran pencernaan yang mikrolingkungannya kurang oksigen sehingga isolat tersebut dapat tumbuh dengan baik pada kondisi pertumbuhan tanpa diagitasi (terdapat keterbatasan oksigen). coli asal ayam 7n 25n 27n 34n Pada gambar (11b) aktivitas penghambatan tertinggi dimiliki isolat 7n pada media TGY yang diagitasi dan isolat 27n. ini diduga karena isolat 7n. Sistem agitasi memungkinkan distribusi tersebut dengan meniadakan gradien konsentrasi seperti unsur media.

Hasil optimasi media menunjukkan bahwa isolat 7n. 27n. 25n. Kemampuan penghambatan isolat terpilih terhadap EPEC K1-1 dan E. Media produksi terbaik dari hasil optimasi akan digunakan sebagai dasar untuk membuat media modifikasi dengan mengganti beberapa bahan dengan yang lebih murah dan mudah didapat seperti molase dan tepung kedelai.2 asal ayam 7n 25n 27n 34n [ Dari gambar (12a) aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric tertinggi berturut-turut dimiliki isolat 25n dan 27n yang ditumbuhkan pada media TGY yang tidak di agitasi. paling baik oleh isolat 25n diikuti isolat 27n dan 34n kemudian 7n pada media TGY tanpa diagitasi. coli dipengaruhi oleh jenis media dan aerasi. Isolat 34n mempunyai aktivitas yang sangat kecil pada media MRS yang tidak diagitasi. ini dapat sama karena isolat yang menghambat Salmonella enteric dan Salmonella subsp. Hal ini diduga bahwa senyawa penghambat Salmonella enteric dan Salmonella sub sp 2. 34n yang ditumbuhkan pada media MRS dan TGY dapat menghasilkan aktivitas penghambatan dengan .2 yang tertinggi pada isolat yang sama. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa senyawa antibakteri yang dihasilkan kemungkinan berbeda. ini diduga karena keterbatasan aerasi (oksigen) pada kondisi pertumbuhan tersebut .2 atau sebaliknya.2. Isolat 34n menghasilkan aktivitas sangat kecil pada media MRS yang tidak diagitasi. Pada gambar (12b) aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp.42 baik pada kondisi pertumbuhan yang diaerasi dan nutrisi yang cukup. Berbeda karena ada beberapa isolat yang dapat menghambat Salmonella enteric tetapi tidak dapat menghambat Salmonella subsp. 35 30 Zona bening (mm) 35 30 Zona bening (mm) 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 TA T an MA M an TA T an MA M an Perlakuan Perlakuan (a) (b) Gambar 12 Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp.

sumber pospor dengan TSP. asal ayam. Molase merupakan hasil samping dari proses pembuatan gula tebu yang masih mengandung kadar gula sekitar 48-58 % (Novita 2001). 25n. dan oksigen. sumber nitrogen dengan tepung kedelai dan urea. Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu. pH. Hanya saja penggunaan molase sebagai sumber ATP perlu waktu untuk adaptasi. dan faktor nutrisi yaitu karbon. Isolat 7n. Media MRS dan TGY modifikasi molase-kedelai adalah media yang menggunakan komposisi MRS dan TGY dengan mengganti sumber karbon dengan molase. E. Setelah diuji aktivitas penghambatannya terhadap EPEC K1-1. 25n. coli asal ayam. Penggunaan molase sebagai sumber karbon dapat digunakan karena mengandung beberapa gula sederhana seperti glukosa. fruktosa dan gula pereduksi yang lain dengan kandungan yang paling tinggi adalah sukrosa.43 kondisi pertumbuhan yang memerlukan agitasi dan ada yang tidak. nitrogen. Senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh setiap isolat terpilih kemungkinan dapat lebih dari satu mengingat kondisi yang dibutuhkan juga bebeda beda. isolat 7n. Pada dasarnya semua . Pada kondisi media tersebut maka butuh waktu untuk menguraikan protein supaya bisa dimanfaatkan oleh keempat bakteri tersebut. Tepung kedelai dapat digunakan sebagai sumber nitrogen bagi pertumbuhan bakteri karena mengandung 42. dan Salmonella sub sp 2. 27n.1% nitrogen (Sukmadi 1996) diacu dalam (Suryanti 1998). Salmonella enteric. hasilnya menunjukkan bahwa keempat isolat yang ditumbuhkan pada media modifikasi masih mempunyai aktivitasnya tetapi tidak sebesar kalau ditumbuhkan pada media MRS/TGY. karena mudah larut dalam air serta molekulnya sederhana. Hal ini diduga karena media MRS dan TGY menggunakan dekstrosa dan kasein sebagai sumber karbon dan nitrogen untuk penghasil ATP yang mudah diserap sel. mineral (unsur makro dan mikro). 1976. dan vitamin (Stainer et al. 19-20% lemak dan 6. sukrosa.9% protein. 27n. dan 34n dapat dengan mudah diproduksi pada media yang mengandung molase dan tepung kedelai hanya saja aktivitas agak rendah. Fardiaz 1989). Mikroorganisme heterotrof untuk menghasilkan energi memanfaatkan senyawa karbon organik sebagai sumber energi utama.

N. pada umumnya digunakan sumber karbon lain seperti molase. 2000). Ketiga unsur ini harus ada dalam rasio yang tepat agar tercapai pertumbuhan bakteri yang optimal karena unsur C. Kelompok selulolitik dapat memanfaatkan selulosa. oleh karena itu untuk produksi sel. asam amino dan enzim enzim.44 mikrooganisme memerlukan karbon sebagai sumber energi untuk aktivitasnya dan pembentukan material sel-sel bakteri untuk prertumbuhan. Begitu juga kedelai merupakan hasil pertanian yang banyak di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio C:N:P optimum adalah 100:10:1 (Shewfelt et al. Namun. . 2005). Sumber nitrogen dapat dalam bentuk anorganik dalam bentuk garam garam amonium dan organik dalam bentuk asam amino. Sedangkan rasio C:N yang tinggi (kandungan unsur N yang relatif rendah) mengakibatkan nitrogen akan menjadi faktor penghambat (growth-rate limiting factor) (Alexander 1994). Walaupun karbohidrat dapat dipergunakan sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan. sedangkan amilolitik memanfaatkan pati (Fardiaz 1989). Penggunaan mikroba sebagai probiotik akan bersifat ekonomis kalau dapat ditumbuhkan dengan baik pada sumber karbon dan nitrogen yang mudah didapat dan berharga murah seperti molase dan tepung kedelai. Kebutuhan sumber karbon untuk pertumbuhan bakteri tergantung pada jenis bakteri. Penggunaan sumber karbon yang cepat digunakan dapat mengurangi produksi metabolit sekunder. dan P merupakan tiga nutrisi utama (makronutrien) yang dibutuhkan oleh bakteri dalam melakukan metabolism sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa. Kemampuan molase sebagai sumber karbon menguntungkan karena molase merupakan hasil ampas tebu sehingga tidak terlalu mahal dan mengandung zat pengaya seperti vitamin. reproduksi dan pembentukan produk (Prescott et al. Kelompok bakteri yang tidak mengandung klorofil memerlukan senyawa organik sebagai sumber karbon dan senyawa yang diperlukan tergantung jenis bakteri. Nitrogen berperan dalam penyusunan asam nukleat. protein dan urea. Unsur P berperan dalam pembentukan asam nukleat dan fosfolipid. produksi sel yang paling baik diperoleh dari sumber karbon sederhana seperti glukosa. penggunaan glukosa memerlukan biaya tinggi. Rasio C:N yang rendah (kandungan unsur N yang tinggi) akan meningkatkan emisi dari nitrogen sebagai amonium yang dapat menghalangi perkembangbiakan bakteri.

Pada waktu inkubasi jam ke-96 isolat 25n aktivitas bertambah mencapai 27mm sementara isolat lainnya mengalami pertambahan aktivitas sedikit. 24 jam. selanjutnya pertambahan zona bening yang dihasilkan pada waktu inkubasi 72 jam dan 96 jam tidak seimbang dengan efisiensi waktu dan efisiensi substrat yang digunakan. 36 jam. Waktu produksi terbaik terbaik adalah jam ke-48 (Gambar 13). dan 27n (18mm). Waktu inkubasi jam ke-48 jam aktivitas penghambatan oleh isolat 7n sudah mencapai 30mm. 25n (26mm). Pada gambar 13 (a) terlihat aktivitas penghambatan ekstrak kasar keempat isolat terlihat waktu inkubasi jam ke-24 belum ada aktivitas. dimana aktivitas hampir sama sehingga waktu inkubasi untuk sel yang terbaik . 34n (16mm). 34n (23mm).coli (a) filtrat kultur (b) sel 7n 25n 27n 34n Untuk aktivitas penghambatan yang dihasilkan oleh filtrat kultur waktu inkubasi optimum adalah 48 jam. 48 jam dan 72 jam) untuk mendapatkan aktivitas tertinggi berdasarkan parameter zona bening.45 Optimasi Waktu Produksi Hasil optimasi terhadap waktu produksi (12 jam. Pada waktu inkubasi jam ke-72 aktivitas penghambatan oleh isolat 7n bertambah mencapai 30mm dan untuk tiga isolat lainnya aktivitas menurun. dan 27n (18mm). 35 30 Z o n a b e n in g (m m ) Z o na bening (m m ) 35 30 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 24 48 72 96 24 48 72 96 Waktu inkubasi (jam) Waktu inkubasi (jam) (a) (b) Gambar 13 Hubungan lama inkubasi dengan aktivitas penghambatan terhadap E. Pada gambar 13 (b) aktivitas penghambatan sel keempat isolat pada waktu inkubasi jam ke-24 belum ada aktivitas. 25n (26mm). waktu inkubasi jam ke-48 aktivitas penghambatan oleh isolat 7n sudah mencapai 27mm. Aktivitas penghambatan yang dilakukan sel pada waktu inkubasi jam ke-72 dan jam ke 96 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

3 0. sesuai dengan waktu panen yaitu jam ke-48.8 0. 27n. 1 0. Pada fase ini. Fase yang kedua (log) adalah fase eksponensial. 34n pada media NB isolat 7n isolat 25n isolat 27n isolat 34n Keempat isolat mempunyai pola pertumbuhan yang sama. Fase berikutnya adalah fase stasioner dimana laju bakteri yang mati sama dengan laju pertumbuhan bakteri yang dihasilkan oleh pembelahan sel.2 0. Diduga senyawa aktif yang dihasilkan sebagai zat antibakteri ini dihasilkan pada akhir fase eksponensial atau awal fase stationer. Fase terakhir adalah fase kematian. 25n.9 0. bakteri melakukan adaptasi pada lingkungannya.5 0.4 0.48 jam bersamaan dengan awal fase stasioner. Laju pertumbuhan keempat bakteri pada 48 jam pertama.7 0. pada fase ini laju pertumbuhan negatif (lebih banyak bakteri yang mati) disebabkan semakin berkurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk metabolisme bakteri Dari grafik terlihat isolat 7n pertumbuhan sel yang paling rendah diikuti isolat 27n. keempat isolat menunjukkan fase lag terjadi sampai jam ke-24 dan fase log hingga jam ke. Fase kematian dimulai jam ke 60 (Gambar 14). coli . Fase pertama (lag) pada kurva pertumbuhan adalah fase lambat. Pertumbuhan Isolat Berdasarkan kurva tumbuhnya. Akan tetapi isolat 7n mempunyai aktivitas yang penghambatan paling tinggi terhadap EPEC K1-1 dan E. 25n dan yang tertinggi isolat 34n. Terlihat bahwa produksi senyawa aktif terjadi pada akhir fase log dan awal fase stasioner. Fase ini merupakan fase dimana bakteri telah dapat beradaptasi dengan lingkungannya sehingga laju pertumbuhan bakteri menjadi sangat cepat.46 adalah 48 jam.1 0 0 12 24 36 48 60 jam Gambar 14 Kurva tumbuh Isolat 7n.6 OD 0. memiliki laju pertumbuhan tercepat.

Aktivitas penghambatan isolat terpilih terhadap EPEC K1-1 dan E. Dimana suhu optimum produksi senyawa antibakteri dalam menghambat EPEC K1-1 adalah suhu 500C oleh keempat isolat. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella sp. Aktivitas penghambatan tertinggi antagonis dengan E. isolat 25n optimum pada suhu 400C dan isolat 34n optimum pada suhu 500C. diikuti isolat 34 suhu 500C . coli berbeda beda tiap isolat. 25n. 27n pada suhu 500C (Gambar 15a). Optimasi Suhu Optimasi suhu bertujuan mendapatkan suhu optimum dalam menghasilkan senyawa bioaktif oleh isolat 7n. 27n pada suhu 500C (Gambar 16a). asal ayam oleh isolat 34n pada suhu 370C. Waktu optimum untuk produksi senyawa antibakteri dalam menghambat pertumbuhan E. 25 suhu 400C dan 27 suhu 370C (Gambar 15b). coli mempunyai rentang suhu yang sama yaitu antara 370C hingga 500C. coli ditunjukkan oleh isolat 7n pada suhu 370C. Suhu optimum untuk menghasilkan senyawa antibakteri dalam menghambat Salmonella enteric dan Salmonella subsp. dan 34n (Gambar 15 dan 16). berbeda dan isolat yang . diikuti isolat 27n suhu 300C dan 500C (Gambar 16b). coli. 35 35 30 Zona bening (mm) Zona bening (mm) 30 25 20 15 10 5 0 25 30 37 40 o 25 20 15 10 5 0 50 25o 30o 37o Suhu ( C) o 40o 50o Suh u ( C) (a) (b) Gambar 15 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E. Isolat 7n dan 27n optimum pada suhu 370C. 400C . 27n. Isolat 34n mempunyai aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Salmonella enteric. diikuti 34n.2. Aktivitas penghambatan tertinggi terhadap Salmonella enteric terjadi pada isolat 7n diikuti 34n pada suhu 300C dan 25n. 25n.47 dibanding isolat yang lain diiringi isolat 25n dan 27n. 300C. 7n 25n 27n 34n Dari hasil optimasi aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 adalah isolat 7n.

Hasil yang diperoleh menunjukkan peningkatan yang terus menerus terhadap konversi pakan dan pertambahan berat badan. asal ayam 370C.48 menghambatnya juga berbeda. .2 asal ayam 7n 25n 27n 34n Keempat isolat mampu menghambat empat bakteri target pada rentang suhu antara 300C dan 500C dan suhu yang paling optimum untuk antagonis dengan EPEC K1-1 pada suhu 50OC. Dari hasil optimasi terhadap suhu menunjukkan bahwa kemampuan produksi senyawa antibakteri pada suhu 300C merupakan hal yang positif dimana dalam produksi dalam skala besar tidak menaikkan biaya produksi (cost) dan kemampuan produksi pada suhu 500C juga berdampak positif karena tidak akan merusak selnya ketika menggunakan alat alat yang mempunyai suhu lebih tinggi. 35 30 Zo na bening (mm) 35 30 25 20 15 10 5 0 Z ona bening(mm) 25 20 15 10 5 0 25 30 37 Suhu ( C) o 40 50 25 30 37 Suhu ( C) o 40 50 (a) (b) Gambar 16 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric. coli suhu 370C. dan mampu menghasilkan spora. mampu tumbuh pada suhu lebih dari 500C dan kurang dari suhu 50C. Komplang (2000) menyatakan bahwa Bacillus spp. Percobaan yang dilakukan di Brazil dan USA membuktikan bahwa performance broiler dapat ditingkatkan dengan menggunakan bakteri tunggal strain Bacillus subtilis sepanjang periode produksinya. Bacillus subtilis toleran terhadap panas telah dicobakan pada pakan ayam broiler di beberapa negara. (b) Salmonella subsp. Salmonella enteric 300C. Salmonella subsp. Diduga senyawa yang dihasilkan juga oleh isolat ini juga berbeda.2 E.

49 Optimasi pH Hasil optimasi pH menunjukkan bahwa isolat 7n.0 tetapi tidak terlalu besar 35 Z o n a b en in g (m m ) 30 Z o n a b en in g (m m ) 35 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 (a) (b) Gambar 17 Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) EPEC K1-1 (b) E. Dari gambar 17a terlihat bahwa aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 27n pada pH 8. Dalam produksi senyawa antibakteri ini. 34n mampu menghambat EPEC K1-1 pada pH yang bersifat alkali (Gambar 17).0.0. dan dapat memberikan penghambatan pada pH 6. 25n. coli 7n 25n 27n 34n Dari kedua bakteri patogen diatas ternyata aktivitas penghambatan akan lebih baik apabila isolat terpilih ditumbuhkan pada pH 8. pH inkubasi dapat diatur hingga 8. isolat 7n pada pH 7. 7. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric terjadi pada pH 4.0 diikuti isolat isolat 34n pada pH 6.0 dan pH 5.0 merupakan pH optimum untuk menghasilkan aktivitas penghambatan untuk isolat 7n. 25n dan 27n akan aktif bekerja pada saluran ternak yang mempuntai pH alkali seperti usus besar.0 dikuti isolat dan isolat 25n pada pH 7. 25n. 9. Aktivitas tertinggi diperlihatkan oleh isolat 25n.0. coli (Gambar 17b) menunjukkan bahwa pH 8.0 .0 dan pH 8.0 diikuti isolat 27n pada pH 4. 27n. pada pH 4.0.0 untuk semua isolat.coli.0. Barrow (1963) menyatakan bahwa perubahan pH dapat menyebabkan perubahan aktivitas antimikroba hingga menjadi tidak aktif. Dalam aplikasinya dilapang menunjukkan bahwa senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh isolat 7n.0 sehingga bakteri bakteri terpilih ini dapat menghasilkan senyawa aktif untuk menghambat EPEC K1-1 dan E. untuk isolat 34n menghasilkan aktivitas penghambatan pada pH 9. 27n. Antagonis dengan E.0 dan isolat 7n dan 34n pada pH 5.

Dan untuk menghambat Salmonella subsp. suhu 500C.0 dan diikuti oleh isolat 34n (21.5mm) media MRS modifikasi.0. tanpa agitasi. Pada Salmonella enteric aktivitas hambatan yang terbesar diperlihatkan oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi (18. suhu dan pH terlihat bahwa aktifitas hambatan terhadap EPEC K1-1 yang terbesar diperlihatkan oleh isolat 7n (23mm). Aktivitas hambatan terhadap E. tanpa agitasi. tanpa agitasi. pH 6. Keempat isolat diatas mempunyai aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric pada pH 4 dan 5. suhu 500C. suhu 370 dan pH 8.0 diikuti oleh isolat 34n (12mm). dan 7n.0 (Gambar 18b).50 (Gambar 18a).2.2 oleh isolat 27n pada pH 7. pH 7. Untuk penghambatan terhadap Salmonella subsp. media TGY modifikasi tanpa agitasi. Pada pH 9. suhu 500C.2.5mm). 7n.0 diikuti oleh isolat 27n pada pH 7.0. Ini memberikan informasi bahwa senyawa aktif yang dihasilkan oleh keempat isolat untuk menghambat Salmonella enteric memerlukan kondisi yang asam.875mm). media TGY modifikasi. isolat yang paling baik pertumbuhannya adalah 34n pada pH 9. Dari hasil optimasi media. suhu 370C. 25n. pH 8.0 diikuti isolat 34n dan isolat 7n pada pH 9. tanpa agitasi.0. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella subsp. media MRS modifikasi. 27n. asal ayam . diikuti 34n.2 memerlukan kondisi alkali. Berdasarkan data ini diperkirakan senyawa yang dihasilkan keempat isolat dalam menghambat pertumbuhan kedua patogen adalah senyawa yang berbeda. 7n 25n 27n 34n Isolat terbaik dalam menghambat Salmonella enteric adalah isolat 25n. coli asal ayam yang terbesar diperlihatkan isolat 7n (13. .0. 35 Z o n a b e n in g (m m ) 35 Z o n a b e n i n g (m m ) 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 30 25 20 15 10 5 0 3 4 5 6 pH 7 8 9 Gambar 18 (a) (b) Aktivitas penghambatan isolat terhadap (a) Salmonella enteric (b) Salmonella subsp.

suhu 300C. tanpa agitasi.51 pH 5.50 Indeks proteolitik 1.25mm) dan pada media MRS modifikasi. selulolitik isolat 7n. Produk akhir yang utama dari degradasi ini adalah oligosakarida dengan berat molekul yang rendah seperti glukosa. pH4. untuk mendeteksi adanya enzim α amilase yang berfungsi menghidrolisis α-1. Aktivitas Amilase. dan proteinase (Torkar & Matijasic 2003). 27n.66 Indeks selulolitik 2. Keempat isolat merupakan bakteri potensial sebagai probiotik yang diharapkan dapat digunakan dalam pakan ayam guna mengendalikan penyakit seperti salmonelosis dan kolibasilosis.25 Indeks lipolitik 1.2 asal ayam aktifitas hambatan terbesar pada isolat 34n pada media TGY modifikasi.4-glikogen dan poliglukosa lainnya. 34n mempunyai aktivitas amilolitik berdasarkan adanya zona bening pada media yang berwarna biru (Gambar 19a). 2001). Protease.0 dan 34n (14.suhu 30 C pH 5. Nilai indeks uji enzim dapat dilihat dalam tabel 6. suhu 500C. 25n.50 1.25 0. 27n. protease. Lipase.50 1.08 1.50 1. pH 9. Selulase Untuk melihat kemampuan isolat terpilih dalam menghasilkan enzim degradatif maka dilakukan uji kualitatif amilase. Bakteri dari genus Bacillus dapat memproduksi zat antimikrob berupa bakteriosin (Irina et al. lipolitik. proteolitik. Sebaliknya.25mm).0 diikuti oleh isolat 25n (14.0. Pada awal perlakuan terjadi penurunan berat molekul pati secara cepat akibat dari pewarnaan iodine. 34n Isolat 7n 25n 27n 34n Indeks amilolitik 0.0.75 0 Isolat 7n.00 0. tanpa agitasi. Antagonis terhadap Salmonella subsp. β-amilase mampu mengkatalisis secara exolitik dan [ mendegradasi pati dengan cara memecah maltosa dari ujung rantai pati. tanpa agitasi. Tabel 6 Indeks amilolitik. [ .25 0. selulase.0 diikuti oleh isolat 27n pada media MRS modifikasi. antibiotik. suhu 370C.00 1.50 0. 25n. tanpa agitasi.00 1. lipase. pH 7.67 0. Degradasi yang terjadi pada pati diketahui dengan hilangnya material yang terwarnai oleh iodine.

27n. Sehingga Alfa amilase yang dihasilkan oleh isolat terpilih ini diharapkan dapat diproduksi dalam skala besar guna kepentingan diatas. karbon sodium dan garam potassium. stearothermophilus dan B. salah satunya adalah amilase (Black 2005) Enzim α-amilase merupakan enzim yang banyak digunakan pada berbagai macam makanan. 25n. Mikroorganisme memproduksi enzim untuk memecah substansi di dalam sel. ion metal. Alfa amilase ekstra seluler telah dihasilkan dari beberapa bakteri. sehingga pakan dapat tercerna lebih sempurna. 2008). B. 34n dalam menghasilkan enzim amilase tidak sama. 25n. 25n. dan detergen juga akan mempengaruhi produksi amilase dan pertumbuhan mikroorganisme (Srivastava 2008).25 (tabel 6). .5) sementara isolat 25n nilai indeksnya 0. 34n pada uji enzim (a) amilase (b) protease Keempat isolat diduga menghasilkan enzim α amilase yang mempunyai kemampuan dalam menghidrolisis ikatan α-1. diantaranya adalah Bacillus coagulans.4 glikogen. Kemampuan dalam menghasilkan enzim amilase sangat ditentukan oleh gen penghasil enzim dan lingkungan seperti sumber nitrogen. (0. Enzim amilase yang dihasilkan oleh isolat 7n. minuman dan industri tekstil.67) diikuti isolat 27n. Pati merupakan substansi yang terlebih dahulu harus diubah menjadi molekul lebih sederhana agar dapat diserap oleh sel. 27n.licheniformis (Biogen. 27n dan 34n ini tergolong eksoenzim sehingga dapat digunakan untuk membantu mencerna pakan oleh inangnya.52 7n 25n 7n 25n 27n 34n 27n 34n (a) (b) Gambar 19 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n. Isolat 7n mempunyai kemampuan yang paling tinggi dengan indeks amilasenya (0. 34n. Kemampuan isolat 7n.

Protease ekstraseluler yang dihasilkan keempat isolat akan sangat menguntungkan kalau dikembangkan karena dapat membantu memecahkan protein dalam saluran pencernaan ternak menjadi molekul peptida yang sederhana. 25n. Bacillus spp. Kelompok bakteri ini selain mempunyai kemampuan membentuk spora. 25n.53 Aktivitas proteolitik dapat dilihat pada gambar (19b) mengindikasikan kemampuan protease menghidrolisis ikatan peptida pada protein menjadi asam amino. 25n. 25n. mempunyai kemampuan proteolitik yang tinggi dibanding mikroba yang lain.25 (tabel 6). Keempat isolat berpotensi digunakan sebagai feed additive untuk memacu pertumbuhan menggantikan antibiotik. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup. Isolat 7n. 27n nilai indeks protease 1. Berdasarkan cara hidrolisisnya. karena protease yang dihasilkan keempat isolat ini tergolong ekstraseluler. dan akan memberikan keuntungan bagi peternak karena terjadinya efisiensi pakan.5 sedangkan indeks protease 34n 1. Aktivitas lipolitik dan selulolitik isolat 7n. Isolat 7n. protease dibedakan menjadi proteinase dan peptidase. serta produksi dan reproduksi. 34n terlihat bahwa tiga isolat (7n. 25n. 34n mempunyai aktivitas enzim proteolitik yang tinggi dimana terlihat nilai indeks protease sangat tinggi dan hampir sama pada keempat isolat. sedangkan peptidase menghidrolisis fragmen polipeptida menjadi asam amino. Hal ini akan meningkatkan absorpsi nutrisi dan konsumsi pakan untuk pertumbuhan. 27n. 34n terlihat pada gambar 20a. 27n. juga dapat menghasilkan enzim yang berguna dalam pencernaan seperti amilase dan protease. 34n) mempunyai aktivitas lipolitik yang ditandai adanya zona bening disekitar koloni sementara isolat 27n tidak ada aktivitas. Proteinase menghidrolisis molekul protein menjadi polipeptida. Protease termasuk kedalam kelompok enzim hidrolase karena dalam reaksinya melibatkan air pada ikatan substrat spesifik. Dari hasil uji aktivitas lipolitik oleh isolat 7n. 27n. Didapatkannya isolat yang tidak dapat memecah lemak akan sangat baik sekali dalam penerapannya bagi peternak yaitu untuk membuat ternak yang rendah kandungan lemak dan tinggi kandungan protein dagingnya. .

DAG adalah ester gliserol dengan dua molekul asam lemak. Selain itu isolat yang mampu menghasilkan lipase ekstraseluler dapat juga digunakan sebagai starter untuk . Isolat bakteri yang dapat menghasilkan lipase ini dapat digunakan untuk mencerna lemak lebih efisien dan juga dapat digunakan dalam industri sebagai biokatalis. 25n. alkoholisis. Isolat 7n dan 25n mempunyai nilai indeks lipolitiknya 1 dan isolat 34n nilai indeks lipolitiknya 0. karena bakteri memiliki kemampuan hidup di berbagai lingkungan yang terdapat kandungan makanan atau nutrisi yang kompleks.3. Asam lemak dan gliserol akan diserap oleh tubuh untuk digunakan dalam metabolisme tubuh. Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim lipase. Enzim ini juga digunakan dalam hidrolisis triasilgliserol (TAG) menghasilkan diasilgliserol (DAG) dan asam lemak bebas (Winarno 1986).66 ( tabel 6). esterifikasi.54 27n 25n 25n 34n 27n 27n 34n 7n (a) (b) Gambar 20 Zona bening yang dihasilkan isolat 7n. Lipase terbukti dapat digunakan sebagai biokatalis untuk meningkatkan kualitas crude palm oil (CPO) yang lebih baik yaitu minyak sehat (healthy oil). sering disebut dengan lipase spesifik regio 1. Lipase sebagai biokatalis untuk reaksi reaksi hidrolisis. dan farmaketika. 34n pada uji enzim (a) lipase (b) selulase Lipid (seperti lemak dan minyak) merupakan senyawa dengan molekul kompleks yang berukuran besar. DAG digunakan sebagai bahan pengemulsi dan penstabil produk-produk makanan. asidolisis dan aminolisis. 27n. kosmetika. Lipase akan memecah ikatan trigliserida menjadi molekul yang lebih sederhana seperti reaksi dibawah ini: Enzim lipase ini spesifik akan memutus rantai fatty acid trigliserol pada posisi sn-1 dan sn-3.

Genus Bacillus merupakan salah satu kelompok bakteri yang mampu mendegradasi selulosa (Lynd et al. isolat 25n nilai indeksnya 1. Beberapa spesies Bacillus menghasilkan enzim ekstraseluler seperti protease.75 (tabel 6). Carboxy methyl cellulose (CMC) adalah substrat yang digunakan dalam deteksi awal untuk screening enzim selulase khususnya endoglukanase. sedangkan pada kondisi anaerob glukosa dikonversi menjadi asam organik dan alkohol yang selanjutnya menjadi CH4 dan CO2 (Rao 1982). Secara umum terdapat tiga enzim selulose. dalam kondisi aerob glukosa dikonversi menjadi CO2 . lipase dan sellulase sehingga terdapat kemungkinan berperan dalam mencerna pakan lebih efisien. 2002). lipase.083 dan isolat 27n dengan nilai indeksnya 1. .55 biodegradasi limbah minyak. Pada hasil uji enzim secara kualitatif ditemukan bakteri kelompok Bacillus yang dapat memproduksi amilase dan protease. Menurut Feliatra (1996) dalam Dharmawibawa (2004). Pada pengujian selulolitik ternyata dari empat isolat. penerapannya sangat ramah lingkungan (Suryadipura. yaitu endonuklease yang memutuskan ikatan non kovalen pada struktur kristal selulosa. Untuk isolat 34n nilai indeksnya rendah sebesar 0. Glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis selulosa selanjutnya dimetabolisme oleh mikroorganisme lain. enzim ini mampu memecah senyawa selulosa menjadi molekul sederhana seperti glukosa gambar (20b). tiga isolat memiliki kemampuan selulolitik yang tinggi yaitu isolat 7n dengan nilai indeksnya 2. 2001). β-glukosidase yang menghidrolisis disakarida dan tetrasakarida menjadi glukosa (Criquet 2002). Enzim selulase merupakan kelompok enzim glikosil hidrolase yang menghidrolisis oligosakarida dan polisakarida (Henrissat 1991). efektif dan hampir tidak ada efek sampinganya pada lingkungan karena tidak menghasilkan racun atau blooming karena mikroba ini akan mati seiring dengan habisnya minyak.25. biodegradasi oleh mikroorganisme merupakan salah satu cara yang tepat. Selulase digunakan oleh bakteri untuk pertahanan diri dari lingkungan serta untuk kelangsungan hidupnya. eksoselulose yang menghidrolisis individu selulosa menjadi gula lebih sederhana. Hasil uji selulolitik dari keempat isolat terpilih menunjukkan adanya enzim selulase yang dihasilkan oleh keempat isolat.

Berdasarkan hasil indeks yang dihasilkan. Kemampuan bakteri asal saluran pencernaan (isolat 7n. Bacillus cereus yang dapat berfungsi sebagai growth promotor dalam pertumbuhan hewan dapat menggantikan penggunaan antibiotik (Komplang et al.5. lipid dan selulosa. 2003). B. konsumsi dan konversi pakan menjadi efisien (Yuguchi et al. (Feed Convertion Ratio) (Komplang 2000). keempat bakteri ini memiliki kemampuan sebagai pemacu pertumbuhan ( Growth promotant) terutama dalam mendegradasi senyawa kompleks seperti amilum. 2002. dan selulase yang bisa membantu pencernaan dalam tubuh hewan (Wongsa dan Werukhamkul 2007). peningkatan bobot hidup.66. Isolat 27n IA 0. 1996).083. Dari beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa pemberian Bacillus spp.2% dalam pakan ayam broiler secara nyata dapat meningkatkan daya cerna serat kasar. yang dicampurkan dalam pakan dapat meningkatkan produksi telur dan FCR.67.25. IL 0. sebagai probiotik yang berasal dari kultur campuran Bacillus subtilis. Keempat bakteri asal saluran pencernaan memiliki potensi sebagai probiotik. subtilis dicobakan pada ayam pedaging dan memberikan hasil yang positif (Jin et al. 25n. meningkatnya kesehatan usus dan memberikan kesehatan menyeluruh dan pada akhirnya akan . IL 1. Isolat 7n kemampuan degradasinya paling tinggi dengan nilai IA 0. lipase dan amilase dalam usus ayam petelur (Sjofyan 2003). Keuntungan yang dihasilkan dari bakteri Bacillus ini ada kaitannya dengan keseimbangan mikroflora di dalam saluran gastrointestinal.5. IL 1.25. 34n) dalam menghasilkan enzim enzim ekastraseluler dapat dimanfaatkan oleh inangnya untuk membantu mengkonversi pakan lebih efisien sehingga dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber karbon dan elektron donor (Madigan et al.56 amilase. IS 2 diikuti isolat 25n IA 0. IS 1. Bacillus spp. IP 1. Komplang 2000).25 dan kemampuan degradasi lemak tidak ada. Hasil identifikasi empat bakteri asal saluran pencernaa ayam ini termasuk kelompok Bacillus yang dapat memproduksi amilase dan protease lipase dan selulase.5. Isolat 34n IA 0.5. IS 1. Penggunaan Bacillus spp sebesar 0. 27n. IP1. Bacillus spp. IP 1. dapat meningkatkan aktivitas berbagai enzim hidrolitik protease. 1992). Bacillus licheniformis. protein. IP 1.5.

sehingga protein dapat diserapnya dalam bentuk asam amino semetara lemak tidak dapat diserap karena tidak mampunya menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol. . Dari hasil penelitian. Penggunaanya kedepan mampu menggantikan antibiotik yang banyak digunakan peternak untuk menghambat bakteri patogen dan mampu mengkonversi pakan lebih efisien dengan enzim enzim yang dihasilkannya. Probiotik terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tanpa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen. tanpa menimbulkan efek samping bagi ternak dan konsumen. Selain itu dapat menciptakan ternak yang rendah kolesterol dan tinggi proteinnya dengan meberikan isolat isolat yang mampu mendegradasi protein dan isolat yang tak mampu mendegradai lemak. keempat isolat terpilih berpotensi sebagai probiotik yang dapat menghambat pertumbuhan empat bakteri patogen penyebab penyakit pada hewan dan manusia dan juga dapat digunakan sebagai makanan imbuhan dengan kemampuannya menghasilkan beberapa enzim ekstraseluler.57 memperbaiki performance.

Penghambatan terhadap Salmonella subsp. Salmonella subsp. 25n. dan 34n menghasilkan enzim amilase. coli asal ayam. selulase ekstraseluler. Aktivitas penghambatan terhadap Salmonella enteric oleh isolat 7n pada media MRS modifikasi pada suhu dan pH ingkubasi 300C dan pH 5. 25n. Isolat 27n meghasilkan ketiga enzim kecuali lipase. . coli oleh isolat 25n (29 mm) pada media MRS modifikasi.0. terdiri dari 38 isolat yang tumbuh pada pH 7.dengan suhu dan pH inkubasi 400C pada pH 8.2 asal ayam.2 asal ayam.0. E.0. lipase.2 asal ayam oleh isolat 34n sebesar 19mm pada media MRS modifikasi suhu 370C dengan pH 9. indeks protease 1. 27n. Aktivitas penghambatan tertinggi terhadap EPEC K1-1 oleh isolat 7n (9mm) pada media MRS modifikasi dengan suhu dan pH inkubasi 500C dan pH 7. Empat isolat terpilih (7n. Isolat 7n mempunyai nilai indeks paling tinggi dengan indeks amilase 0.coli.5. 34n) memiliki aktivitas penghambatan cukup bagus terhadap EPEC K1-1. Dimana Isolat 7n diperoleh pada bagian duodenum. E . Salmonella enteric. Penelitian lanjutan secara in vivo kemampuan isolat menghambat mikrob patogen dan konversi pakan yang paling tepat untuk memperoleh efektivitas penghambatan terhadap EPEC K1-1.SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Diperoleh 72 isolat hasil solasi bakteri asal saluran pencernaa ayam broiler yang tidak diberi antibiotik. 27n. indeks lipase 1. isolat 25n. Penghambatn tertinggi terhadap E. 34n pada bagian intestinum crassum. Salmonella enteric.dan indeks selulase 2. Hasil identifikasi keempat isolat termasuk kelompok Bacillus. Salmonella subsp.5.0.0 dan 34 isolat yang tumbuh pada pH 4. protease.67. Isolat 7n. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui aktivitas enzim ekstraseluler secara kuantitatif dari keempat isolat dan karakterisasi senyawa antibakteri yang dihasilkannya.

chickaholic. desease_bc/ Barnes HJ. 2005. Virginia. Gross WB. Budiarti S.pp. Anim.id/terbitan/agrobio /abstrak/agrobio_vol. United States America. 2008.K. 1. 1963. J. Black JG. 05 Mei 2008. http://biogen. 1977.wikepedia. New York. 1994 Biodegradation and Bioremediation. co. (Eds. 25 mei 2009. R Fuller (Ed). Veterinary Apllied Pharmacology and Terurapeutics. Chapman & Hall.org. In:Diseases of Poultry. Starch Hydrolysate:Improved Sweetness. MC Dougald LR. 1994. Bergman. 5th Ed. 1991. 25 juli 2008 Anonim. Jhon Wiley dan Sons. Production of high fruktose syrup from starch. Morgavi DP. 1997. Anonim. . 2006. Telaah Faktor Adhesitas E. Use of exogenous fibrolytic enzymes to improve feed utilization by ruminants. London. no. 10th ed Calnek BW. htm. IPB.Barrow W J. coli Enteropatogenik Dalam penanggulangan Diare di Indonesia (laporan akhir hibah bersaing III).ca/nlui/wildlife_ salmonellosis. 1981. Denmark. pp.com .go. 25 juli 2008 Anonim. Salmonellosis. IA. Barrow W J.cc.org. Rachmania N. 2008. Pencernaan dan Penyerapan Protein http://www. John Wiley and Sons. Bogor: FMIPA. Barnes HJ. 81 (E. Novo Industry A/s. Di dalam Tan K (ed. 1958. Sci.deptan. Pugh DM Baywater RJ. United States of America : Academic Press. Bacteriocin Syinthetized by Lactobacillus brevis SB 27.litbang. Benoit V. Biogen. Beauchemin KA.). Ames. Research Laboratory Publications. 225-259. cold extraction methods for making a pH . http://www. Papers of first International Sagi Symp. Mathias R. Esentials of Phisiologi Chemistry. 2003. Obtained by the use enzyme. Barrow PA 1992. In: Probiotics the Scientific Basis. 2008. Inc. Inc. Suppl. Colombatto D.unbc. 2): E37-E47.com . diakses pada tanggal 11 Maret 2008. Microbiology Principles And Explorations. Probiotics for Chickens. Anonim. Anderson A. Bakteri Poteolitik. Collibacillosis. Amilase. Brander GM. Richmond. Curr. Saif YM. http://www. Beard CW. 131−141.). Yang WZ. 2007.DAFTAR PUSTAKA Alagaratnam R. Lefebure G. Soybean. 1998. Triwahyudi A.: Iowa State University Press. Alexander M. Hot vs. Bailieve Tindal London. Microbiol 28: 53-61.wikepedia. E. Kualalumpur. http://www. Characterization of Breviscin 27.

Bull.1992. Drassar BS. Konvensi Nasional. 1997. Intestinal Microbiology. Keamanan Pangan I Pertanian . USA. Eur. Biochem. Production and distribution of endoglucanase. Buswell JA. De Man JM. 1973. Microbiol. J. 2004. Universitas Udayana. Avian Diseases Manual. Meth. Cambridge University Press. cellobiohydrolase. 1990 Ketentuan dan Tata Cara Usaha Peternakan Direktorat Bina Usaha Petani dan Pengelolaan Hasil Peternakan. Environ. 45: 111-118. 1985. Bandung. Sander JE. Endoglucanase I from the edible straw mushroom. Report of a joint FAO/WHO Experts Consultation. Characterization of Bacillus Probiotics Available for Human Use. Ge W. Isolasi Identifikasi dan Uji Kemampuan Bakteri Pengurai Minyak Solar dari Perairan Pelabuhan Benoa Bali.ITB. J Appl Environ Microbiol 70(4): 2161–2171. Charlton BR. 65: 553-559. 2001. Wakkernell PS. Cowan. Chang YT. Am Soc for Microbiol. Biodegradasi petroleum oleh bakteri di perairan Dumai selat Malaka. Appl. 2004. the edible straw mushroom. Measurement and characterization of cellulase activity in sclerophyllus forest litter. Crueger A. American Association of Avian Pathologist. Terjemahan Kosasih Padmawinata. 1999. Bot. Barbosa TM. . Hong HA. Ding SJ. Biotechnology A Textbook of Industrial Microbiology. Chen PJ. Manual for the Identification of Medical Bacteri. Rome. Lin LP. 50: 165-173. FAO/WHO. Dharmawibawa ID. Pembangunan Benua Maritim Indonesia dalam rangka mengaktualisasikan Wawasan Nusantara BPPT dan Dewan Hankamnas Makasar. Bali. USA : Science Tech. Buswell JA. Inc. Direktorat Jendral Peternakan Jakarta. Crueger W. Purification and characterization of carboxymethyl cellulase. Fifth Edition. Criquet S. Bogor. Poultry Pathology Laboratory University of Pennsylvania. Fardiaz S. 1989. Institut Pertanian Bogor. Mikrobiologi Pangan. Henriques AO.60 Cai YJ. Mikrobiologi. Acad.2000. and -glucosidase components of the cellulolytic system of Bajpai Volvariella volvacea. 2002. 1996. J. New Bolton Center. Barrow PA. 268: 5687-5695. Microbiol. Newton LJ. Kumpulam Makalah Seminar Maritim Indonesia 1996. Cutting SM. Volvariella volvacea. Kimia Makanan. 1985. 2004. Dirjen Peternakan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Chang ST. Fakultas Tekhnologi Fardiaz S. Feliatra. Steel’s. Bermudez AJ. Duc LH. Sin. Residues of Veterinary Drug in Foods. 1984. Chapman. Halvorson DA. Jeffrey JS. Wei TC.

S M Abdulrahim. Philadelphia: Saunders College Pub. Chapman and Hall.gizi net/arsip/arc0-2002. London. Non–digestible oligosaccharides used as prebiotic agents : mode of production and beneficial effects on animal and human health. 1991. 1990. London. Aplication and Practical Aspects. Univ of Texas Medical Branch Grisham.Net. http//www. Probiotic in man and animal. History and development of probiotics. Salmonella.1999. In:Probiotic The Scientific Basis R. Garrett . London. Grizard D. [ Hurst A. J.Id/(15 oktober 2003). Bernard V. Applied Science Publishers. . Fuller (ed). Biochem. Chapman and Hall. 1989. The Rumen Microbial Ecosystem. J Appl Microbial 85: 42-50. 1996. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Marrec CL. Philippe B. 2001. 1983. Probiotics 2. Mikrobiologi Dasar. 1991. In: Baron's Medical Microbiology (Barron S et al. Microbiol. a Bacteriocin-like Inhibitory Substance Produced by Bacillus coagulans I4. Adv. Fuller R. p. Gupte S. Subtilis 3 is Due to Secretion of Antibiotic. Barthomeuf C. Poult. Fuller R. 1998.61 Fogarty WM. Irina VP. Appl.. and Urdaci MC. Chapman and Hall.Elsevier Applied Science. 1992. Reprod Nutr Dev 39 (5-6) 563-88.P:1-8. J.cybermed cbn. Mencari anti kanker dan anti kolesterol dari bakteri probiotik. Fuller R. The effect of Lactobacillus acidophilus on the production and chemical composition on hen’s eggs. eds. J. Boston. Hyronimus B. E A R Hashlamoun. 1996. 75: 491-494. P:1-8 Fuller R. 2002. and R K Robinson. 109-126. Sci. Charles M. Hasono A. Binarupa Aksara. J Antimicrob Agent Chemother 45:3156-3161. Probiotik dan Prebiotik untuk kesehatan. Di dalam WM Fogarty (ed). http//www. Alih bahasa oleh Suryawidjaya. Bernard F.. 426–7. Coagulin. CRC Press. 1997. Microbial Enzyme and Biotechnology. Gramedia Jakarta. In Vitro Anti Helicobacter pylori Activity of The Probiotic Strain B. Reginald H. Microbial amylase. 1988. A classification of glycosyl hydrolases based on amino acid aequence aimilarities. Probiotic The Scientific Basis. London. London .html-26k Gordon RE. Hobson P N. Biochemistry. Gsianturi. Giannella RA. Ed. Jakarta Haddadin MSY. 1989. 1993. Practical Handbook of Microbiology.1999. The genus Bacillus. 1st. 280 : 309-316. 1981.) 4th ed. Ed.E. Henrissat B. Nisin. 27: 85–122.Appl Bacteriol 66:365-378. 2002. In LearyWO. Hadioetomo RS.

Brandelli A. 1992. Karyadi E. Henriques JAP. Lilley D M . JITV. Supriyati. info@anandadarmaga. Mikrobiologi. On in vitro adherence of Salmonella to the intestinal epithelial cells chikens.. 2003. J Appl Bacteriol 81:201-206. Pengaruh suplementasi kultur Bacillus spp. Bergey's manual of systematic bacteriology. J Appl Environ Microbiol 59: 296-303. 5: 205-209. Continuous hydrolysis of oil by immobilized lipase in a countercurrent reactor. Baltimore and London. Jakarta. 2002.15 oktober 2003. AbdullahN. Ho YW. Effect of adderent Lactobacillus spp. 1965. Lawrence HA. JITV. Lee MD. Klein C. Holt JG.htm . [ Krieg NR. Intern Microbiol 9: 111-118. I. 1998. Understanding Bacteriocins and Their Uses in Food. Prebiotik Memiliki Manfaat yang Sangat Besar . 7:139143. Komplang. 1992. Kompas. Purification and Amino Acid Sequence of a Bacteriocin Produced by Pediococcus acidilatic. & Tomizuka N. Meyer JN. Lozano JCN. Stilwell R H. 1993. Entian KD. 1992. 2006. Fung YC.id [15 januari 2008] Lisboa MP. Bizani D. Reinhold Company. Rajawali Pers. 1996. Tanaka H.com/kesehatan/news/0308/26/084340. 147:747-748. Kone K. J Food and Environ Sanit 12: 282-285. melalui pakan atau air minum terhadap kinerja ayam petelur. Pengaruh suplementasi Bacillus appiarius atau Toluraspora delbrueckii terhadap penampilan ayam pedaging. Colibacillosis. & Bioengin. Probiotics growth promoting factor produced by Microorganism animal. Williams & Wilkins. 1990. Zainuddin D. In A Laboratory Manual For the isolation an identification of avian pathogen. Bonatto D. American Association of Avian Pathologist. Relaz C. J Gen Mikrobiol 138: 1986-1990. Jin LJ. Dairy Sci. . Fourth Ed. 2000. Legowo AM 2003. Jalaludi S. Kosugi Y. Biotechnol. Sletten K. J. Ali MA. Pennsylvania: pp: 14−16. 1986. Modern Food Microbiology second Edition Van Norstand.or. Kaletta C. Pengaruh suplementasi kultur Bacillus spp. Biosynthesis of The Lantibiotic subtilin is Regulated by a Histidin Kinase/Response Regulator System. 36 (6).62 Jay JM. Lay BW. 1984. Characterization of a bacteriosin-like substance produced by Bacillus amyloliquefaciens isolated from the Brazillian Atlantic forest. Yoghurt untuk Kesehatan. 617-622. Nes IF. http//www. Komplang I P. Edisi Pertama. Komplang I P. New York. melalui pakan atau air minum terhadap kinerja ayam petelur. Hastowo S. P. 2000.

Oliveira. Gaskin HR. Using yeast culture and lactic acid bacteria in broiler breeder diets. [ Meyer LH. 2001. New Jersey. Priadi A. 2007. Biotechnology for Sustainable Utilization of Biological Resources. Lyons & KA Jacques (Eds). In: Biotechnology in The feed industry. Natalia L.J. 2003. Fakultas peternakan – Institut Pertanian Bogor. Fogarty.). 66(3) : 506-577. Parker J. Extracelullar microbial lipases. Lynd LR.html 16 Nov 1999. Brock Biology of Microorganism. Applied Science Publiser Ltd. Martin RG. Pilih Sidal atau Statik Pahami Cara Kerja Antibiotik. http://horizonpress. Dan berbagai level Saccharomyces cerevisiae dalam ransumnya (Skripsi). Nakazawa Y. 1983. Ilmu Dasar 2(1):61-67. 1992.scielo. 2001. Microbial Cellulose Utilization : Fundamentals and Biotechnology. http://www. probiotic Bacillus sp. Macrae AR. ed. Greenhalgh JFD. Microbiol and Mol Biol Rev. Hasono A (eds. Rhizobia Amylase Production Using Various Starchy Substances as Carbon Substrates. Mc Cracken VJ. Optimitation and Characterization of Xylanase from Endophytic fungi. (10th ed). Weimer P J. Mc farlane GT. Ashford Colour Press. TP..63 Lumyong S. Elsevier Science Publisher Ltd.br/pdf/bjm/v31n4/a11v31n4. 11(1):142-201. tanggal akses 05 Mei 2008. 15. The Tropic. 2002. Diarheagenic Escherichia coli. 2002. 2004. Madigan MT. Cummings JH. Gosport. 2001. Mc Donald P. 1995. Edwardr RA r. 2005. Ponputhachart D. Alltech’s Eleventh Annual Symp. W. Pretorius IS. Naim R. Connecticut.com/hsp/pro. . 1998. Animal Nutrition. Probiotics and Prebiotics : can regulating the activities of intestinal bacteria benefit health? Br. 318: 999-1003... Novita E.. 371-378. Nataro JP. Optimasi proses koagulasi flokulasi pada limbah cair yang mengandung melanoidin. Isolation. Norkaew N. England. Penggunaan probiotik untuk pengendalian clostridial necrotic enteritis pada ayam pedaging. Probiotics and the immune system. Proc. JITV 10(1): 71 – 78. dan Tomita F. University Press. Kaper JB.pdf. Co. 1999. J. Morgan CA. Infovet Edisi 155. Inc. Horizon Scientific press. 6th ed. Mujiasih. Performan ayam broiler yang diberi antibiotik zinc bacitracin. The AVI Publ. Cambridge. 1978 Food Chemistry. 1999. Van Zyl WH van Zyl. In “Microbial Enzymes and Biotecknology’. Function of fermented milk: Challenges for the health sciences. Med. Westport. Clinical Microbiol Rev. pp.225-250. p.M. Prenticel-Hall. Martiko JM. Lumyong P.

1989. London. Elements of Microbiolosgy. Oxford & IBH Published. New York. tochingiensis. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Bogor. 1999. Sartika TT. Mengerikan sebanyak 85% daging ayam broiler mengandung antibiotik. 1990. Amsterdam: Elsevier Scientivic Publishing Company.H. Pitet AC. Rekhif N. 1999. Park SH. J Appl Environ Microbiol 62(5): 799-802. Identification and Partial Characterization of Tochicin a Bacterion Produced by Bacillus thuringiensis subsp. Variacin. By-Pruducts of the cane Sugar Industry. 1996. 1982. Suri B. Br J Nutr 80 (4): S219-23. Characterization and Mechanism of Action of Cerein 7. Trends food Sci techol 10:107-110. Prescott LM. Jakarta. 1998. Rose A. Avian Dis. Klein DA. Prevention of colon cancer by pro-and prebiotics “: evidence from laboratory studies. .J and Chan ECS. Possible mechanism by which pro-and prebiotics influence colon carcinogenesis and tumor growth. Panigraphy B. Paik HD. 1997. Pridmore D. Differentiation of pathogenic and nonpathogenic Escherichia coli isolated from poultry. [ Salminen S. Sekolah Pascasarjana. LM. New Delhi. Biofertilizer in Agriculture. Reddy BS. Dwiyanto K. 34: 941– 943. 2000. lee YK. Academic Press. Rahayu C. Technol. Pisabarro AG. 1986. Instititut Pertanian Bogor. Universitas Indonesia . Probiotic: how should they be defined. www. Br J Nutr 129 (7 Suppl):1478s-82S. Reddy BS. Microbial enzymes and bioconversion. Iswanti DN. 2000. Chambliss G H. San Fransisco. Balitnak Ciawi Bogor. 1982. J Appl Microbiol 89: 361-369. Ling Y. Prangdimurti E. 2001. a Bacteriocin Produced by Bacillus cereus Bc 7. McGraw-Hill Company. 11 : 626-644.64 Oscariz JC. Ouwehand A. Harley JP. a New Lanthyonine-Containing Bacteriocin Produced by Micrococcus varians: Comparison to Lactin 481 of Lactococcus lactis. Pelzar M. [ Robson. Rusiana. Microbiology. 1994. Rao S. Benno Y. Enzymes Microb. Pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tripical Medicine Regional Center of Cummunity Nutrition).com 12:35 25 juli 2009. USA: McgrawHill Companies. Bae SS. Penggunaan probiotik dalam ransum dengan tingkat protein yang berbeda terhadap performan ayam broiler [Laporan Penelitian]. Paturau JM. Mollet B. Ed ke-5. J Indust Microbiol Biotechnol 19: 294-298. 2008 .poultryindinesia. 1980. Probiotik dan efek perlindungannya terhadap kanker kolon.

Lingkungan Hidup Permasalahan dan Pengelolaannya. Sjofjan O. Sjofyan O. Suryadipura P. Lekatompessy S. 4th ed. Denpasar. Universitas Udayana. Aizawai (skripsi). Adelberg EA. Institut Pertanian Bogor. LIPI. 2005. Kursus Singkat Biologi Cendawan. Cellulose Biosynthesis: Current Views and Evolving Concepts. Pusat Penelitian Bioteknologi.cereus an alternative to prevention of enteroxamia? Anim Res and Dev. Prentice-Hall Inc.mediando. Tesis Program Pascasarjana. HFS dan Industri Ubi Kayu. 46:30-38. Continous oral application of probiotic B. Optimization of nitrogen for bioventing of gasoline contaminated soil. Bogor. Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam.co. 4: 29–42. http://www. bakteri pencegah http://www. Eng. 2003. Seifert HSH. Simarmata R. J. Sudirman LMI. Ingraham J. 2009. 1996. Gessler F. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. 1994. New Jersey. Siswono.id/.bio-link. Cibinong Bogor. 1998. Pengaruh tepung jagung dalam medium molase tepung-tepung kedelai terhadap kinerja Bacillus thuriensis susb sp. Srivastava 2008. Probiotik. Aspek Keamanan Pakan untuk Menghasilakan Kualitas Produk Peternakan yang Aman. [[ Shewfelt. Kumpulan Abstrak Konas 7 Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia. The Microbial World. Malang Soebiyanto T. (Disertasi). Antibiotik. tanggal akses 05 Mei 2008. Sudirman LMI. Sukmadi B. 1986. Isolasi mikroba endofitik dari tanaman obat sambung nyawa (Gynura procambens) dan analisis potensinya sebagai antimikroba. NRC Canada. Denpasar Suryanti H.pdf.org/sharing_day /fungalamylase. Institut Pertanian Bogor.Bogor.) sebagai imbuhan ransum dan implikasi effeknya terhadap mikroflora usus serta penampilan produksi ayam petelur. Lee H. Bogor.IPB. 1976.65 Saxena IM. Lembaga Ilmu Pengetahuan. 2005. Sukiman H. Kirsten. [ Stanier RY. Englewood Cliffs. 2007. Richard. . ragam penyakit. FMIPA. (10 oktober 2008). 8-10 Desember 1997. 2002. Pemamfaatan sumber karbon dan nitrogen lokal sebagai substrat untuk produksibahan aktif bioinsektisida Bacillus thuringiensis subsp. Zytner G. Kajian probiotik AB (Aspergillus niger dan Bacillus spp. Universitas Pajajaran Bandung. Potensi keragaman hayati mikroorganisme dalam menghasilkan senyawa antimikroba. 1997. Brown RM. Sci. Gramedia. 2001. Culture Conditions for Production of Thermostable Amylase by Bacillus stearothermophilus. 1997. Environ. Ann of Bot 96: 9-21. Jurusan Nutrisi Dan Manakan Ternak.aizawai.

dan Shimizu S. Proteinases. and A. New York. coli O111 septichemia and polyserositis in hens at the start of lay. 1986. Yogyakarta. Guadagnini. Avian Pathol. 2003. Kimia Pangan dan Gizi. Mass production of lipase by fedbatch culture of Pseudomonas fluorescens. University of Wisconsin-Medison. Partial Characterization of Bacteriocin Produced by Bacillus cereus Isolated from Milk and Milk Products. England. Gramedia. 417-422. [ Utomo D. Mushiga Y.Ed WM Forgaty. Elsevier Appl. London. Publishers Ltd. and Wannamaker L W. Matijasic BB. Applied Science Publication. Bacillus: Barron's Medical Microbiology. ISBN 0-9631172-1-1. Werukhamkul P. 1983. 2002 Apakah probiotik itu?. Okonogi S. 1992. Bacteriocin of Gram Positif Pacteria. Yamane T. 1999.Vol. Zanella G. EPEC K1-1) [Skripsi]. Martino PA. Microbiol. In: Probiotics: A Critical Review (Tannock. PT. . Introduction. Tagg JR.Jakarta. 29: 311−317. Stonfer M. IPB. [ Winarno FG. 253 p. Turnbull PCB.Technol.1990. Goto T. Tabbu CR. Winarno FG. GW ed. Bull of Anim Sci. Fermented milk. 2005. Bogor: FMIPA. Bacteriol Rev 40: 722-756. Torkar KG. Alboralli AG. 1996. 27. 2006. [ Wahyuni WT. In microbial Enzymes and Biotechnology. BioSolution International. Infovet.Severe E.1983. Kanisius. Ward OP. Bardotti P. Candotti F. Product Development and Technical Service. Enzim Pangan . Gramedia. 1–4. Food Technol 41 (2): 121-129. The Genus Bacillus..Sci. Univ of Texas Medical Branch. 1988. In: Function of Fermented Milk: Challenges for the Health Science. Hosono (eds). 1976. 2000. 2007. IVNF1-1 (Penghambat pertumbuhan bakteri penyebab diare.Jakarta.) pp.66 Suzuki T. Norfolk. Todar’s Online Textbook of Bacteriology. Tinjauan Pcnggunaan Antibiotika di Indonesia Saat ini dan yang Akan Datang. Isolasi. Wiryosuharto SD. Wongsa P. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. 2000. Horizon Scientific Press. PT. pemurnian dan identifikasi senyawa anti β-laktamase dari Streptomyces sp. Pp 251-317. Tannock GW. Appl. Thailand: Bangkadi Industrial Park 134/4. Yughuchi H. Ed ke 94:38-39. Todar K. Y. lactic drinks and intestinal microfloral. Dajani A S. I.

LAMPIRAN .

16 0.48 0. steroid dan fosfolipid Kisaran %) 17 – 25 30 – 40 4 – 9 5 Rata-ata 20 35 7 9 3 4 12 4.74 0.15 1.64 19.05 0.68 Lampiran 1 Komposisi kimia molase No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen Air Sukrosa Glukosa Fruktosa Gula pereduksi Karbohidrat lain Abu Komponen nitrogen Asam bukan nitrogen Lilin.81 4.59 6.5 5 0.4 – 12 1 – 5 2 – 5 7 – 15 2 – 6 2 – 6 0.1 – 1 Lampiran 2 Komposisi kimia tepung kedelai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Komponen Protein Nitrogen Air Lemak Magnesium Mangan Besi Seng Fosfor Kalsium Kadar komponen(%) 42.45 .15 0.

E.5 5 2.69 Lampiran 3 Komposisi media peremajaan. coli asal ayam. Salmonella enteric.5 5 2.5 10 5 Trypticase Soy Broth (TSB) Pangkreatic digest of casein Enzymatic digest of soybean meal Dextrosa Sodium chlorida Dipotasium phosphate 17 3 2. Salmonella sp. serta uji daya hambat isolat asal saluran pencernaan ayam broiler terhadap EPEC K1-1. produksi. asal ayam No 1 Nama media Nutrient agar (NA) Komposisi Beef extract Bacto peptone Bacto agar Jumlah (g/l) 3 5 15 3 5 9 2 Nutrient agar (NA) 50% semipadat Beef extract Bacto peptone Bacto agar 3 Nutrent Broth (NB) Beef extract Bacto peptone 3 5 4 Trypticase Soy Agar (TSA) Pangkreatic digest of casein Enzymatic digest os soybean meal Dextrosa Sodium chlorida Dipotasium phosphate Bacto agar 17 3 2.5 6 Tripton Glucosa Yeas ekstract (TGY) Pangkreatic digest of casein 5 2.5 .

05 .70 Yeast ekstract Dekstrose 7 1 20 10 8 5 4 2 0.2 0.2 0.05 1 De Mann Rogosa Sharpe (MRS) Glukose Pepton casein Beef ekstract Natrium acetate 3H2O Yeast ekstract K2 HPO4 Triamonium sitrat MgSO47H2O MnSO44H2O Sorbitan monooleat / Tween 80 8 TGY modifikasi Soybean meal Yeast ekstract Molase 5 2.2 0.5 1 9 MRS modifikasi Molase Soy bean meal Beef ekstract Natrium acetate 3H2O Yeast ekstract TSP Urea MgSO47H2O MnSO44H2O 20 10 8 5 4 2 0.2 0.

0 g 20.0 ml Komposisi Jumlah (g/l) Larutan B Amonium oksalat Aquades 0.0 ml 100.25ml 10.0 ml B.0 ml C.0 ml .0 ml 100.0 ml D.0 ml 2 Pewarnaan spora A. Ungu kristal (Hucker’s)) Larutan A Ungu kristal (90%) Etil alkohol (95%) 2.0 g 100.0 ml 5.0 ml B. 1 Nama media Pewarnaan Gram A. Malakit Hijau Malakit hijau Aquades 50.0 g 300. Safranin Safranin O Etil alkohol 95% Aquades 0.8 g 80. Etil alkohol 95% Etil alkohol 100% Aquades 95. Safranin Safranin O Etil alkohol 95% Aquades 0. Iodium Gram Iodium Kalium iodida ( KI) Aquades 1.71 Lampiran 4 Komposisi Pereaksi Pewarnaan No.0 g 2.25ml 10.

III. lc.3.3.2 (10) PN. ld. tb b.I. b c.1 (18) PN. d = datar. d b.3.II.III (24) PN. lc.I.2. lc b. bo = berombak.III (17) PN.II. c b. b st. c b. AA=pengenceran tanpa penambahan pepton. bo.3 (4) PN.III. lc.1.2 (25) PN.III.III (28) AN. k = keriput. lc.2 (2) PN. ld.6 (1) PN. tu=tidak diuji/tidak diamati 0=tidak ada aktivitas penghambatan. d tb. c b.III.5 (21) PN. coli S.3. d. bk = berbukit. lc = licin.2.III (26) PN. tb c.I.1 (6) PN. tb = tidak beraturan.III. lc.72 Lampiran 5 Hasil isolasi dan identifikasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler pada media NA pH 7 Kode Isolat pH 7 PN. b tu tu tu tu tu tu positif positif tu tu tu tu tu tu negatif tu negatif tu tu tu tu tu tu tu positif tu positif negatif tu tu tu tu tu positif tu tu tu tu tu tu tu tu tu tu steptobasil basil tu tu tu tu tu tu bacilus tu cocus tu tu tu tu tu tu tu bacilus tu basil kecil cocus tu tu tu tu tu bacilus tu tu tu tu 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 Warna koloni Karakteristik koloni Pewarnaan Gram Bentuk sel dan penataan Bakteri target Endo spora E. lc.2 (34) AN. lc. b st.3 (30) AN. b c. c b.2 (20) PN.1(35) PN.III. c b.3.1 (31) AN.I.2. ld.3.II.3.3 (13) PN.III.1 (12) PN.3.III (19) AN.3. lc. c = cembung. lc. bt = bundar dengan tepian timbul. lc. pH 7. tb. c b.3 (14) PN. d d.II. c t.I. II=ileum. b t. ld = berlendir. st = seperti tombol. b t. c tb. bt t. lc. tb d.III. sk = seperti kawah.3 (9) PN.I.III (23) PN. lk. lc. lc.III. d b. d b. 1=ada aktivitas penghambatan . bt t.3.3.1(33)a AN. ld.III (36) PN. III=intestinum crasum b = bulat. lc.II.3. t = timbul.4 (15) PN.I. b d. b c.III. b t. lc.II. b c.III (37) PN.3.III (27) PN.2.III. d b. lc. b t. c b.I.3.1 (7) PN.III. lc. lc. bo. lc.3. lc. lk = berlekuk.2 (8) PN. ld. lc. b c.III. I=duodenum.3 (29) AN. c b. lc. lc. enteric Ephec K1-1 *PN=pengenceran menambahkan pepton pH 7.3. lc.2.III (22) PN. lc.3.III (38) putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih bening krem Krem putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih krem tua putih putih krem b.2. c b.2.5 (11) PN. bo. c sk.2. lc.4 (3) PN. b sk. lc.3.3 (32) AN.4 (16) PN.1 (5) PN. bl = bentuk L.

I.III.III.II (23a) PA.3 (16a) PA. b c. lk.III.I. pH 4. lc.8 (22a) PA. lc.5.II. lc.3 (29a) AA. tb = tidak beraturan.1.3(3a)2 PA.III. t = timbul.III.5 (9a) PA. lc.1.III. lk.III.3 (30a) AA. b t.2.2(6a) PA. lc. c b.3.3. lc. bo. b t. bk b.1 (31a) AA. b st.II.IIII. bt t. lc.III. lc. b b.4(17a) PA. b b.III. b d. lc. sk = seperti kawah. d = datar. bo. bk b.4 (13a) PA. lc. st = seperti tombol.5 Kode Isolat Media pH4.3.2. bo = berombak. lc = licin.1. lc.3.III (27a) PA. bk b. lc b. d. lc. ld = berlendir. I=duodenum.1.1. bl c.3. b st. bl d. 1=ada aktivitas penghambatan . lc.1 (1a) PA.II. b c. bo. tu=tidak diuji/tidak diamati 0=tidak ada aktivitas penghambatan.3 (14a) PA.2 (7a) PA. lc. c b.1.4 (4a)) PA.III(26a) PA.4(8a) PA.I.2.I. III=intestinum crasum b = bulat.3.III. bo.1. b t.5(10a) PA.1.II. lc.6 (20a) PA.1 (5a) PA. lc.II. c b.1. lc. bk b.3.3.II.2 (34a) putih putih putih putih krem krem putih putih krem putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih putih b.73 Lampiran 6 Hasil isolasi dan karakterisasi bakteri asal saluran pencernaan ayam broiler yang ditumbuhkan pada pH 4. bk b.2. lc. lk = berlekuk.2 (25a) PA.III. b t.II.2.3 (21a) PA.1(15a) PA.1. lc.III (12a) PA.III. bl d. coli S. b t.3 (11a) PA.3. bl = bentuk L.1(33a) AA.2.III. c tu negatif tu negatif negatif tu negatif tu tu tu positif tu tu tu tu negatif negatif positif tu tu tu negatif tu tu tu tu tu tu tu negatif tu negatif tu tu tu diplococus tu cocus cocus tu cocus tu tu tu cocus tu tu tu tu cocus cocus streptobasil tu tu tu cocus tu tu tu tu tu tu tu cocus tu bacilus tu tu 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 Warna koloni Karakteristik Koloni Pewarnaan Gram Bentuk sel dan penataan Endo spora Bakteri target E. bk = berbukit. ld.1. b c.III. bt t. bk t.III. c = cembung. lc.7 (18a) PA.2 . bo. II=ileum. lc. lc. c c. b t. c b. enteric Ephec K1-1 *PA=pengenceran menambahkan pepton pH 4.3 (32a) AA. bt = bundar dengan tepian timbul.5 (19a) PA. d b. lc.5.3. lc.5 PA.1 (2a)) PA. lk. AA=pengenceran tanpa penambahan pepton.II (24a) PA. b t.III.III (28a) AA. k = keriput.

05 0 4 y = 0.535 x 10 6 0.016718 x 10 6 Kurva standar Isolat 7n pada m edia NB Kerapatan sel ( OD) 0.22 0.103375 x 10 6 Log 6.15 0.728354 5.029384 5.25 0.5 5 5.6537 R2 = 0.18 0.223204 0.1534x .126294 4.034375 x 10 6 0.2675 x 10 6 0.5 log jumlah sel .035 0.2 0.9905 4.825264 4.74 Lampiran 7 Kurva Standar Isolat 7n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.282 0.01 Cfu/ml 1.427324 5.3 0.129 0.076 0.0.066875 x 10 6 0.1 0.5 6 6.07 x 10 6 0.536243 4.

394 0.11 0.164 0.251 0.05578125 x 10 8 Log 8.348548 7.5 Log jum lah sel .57 x 10 8 1.2219x .05 0 6.8925 x 10 8 0.1115625 x 10 8 0.1 0.31 0.552668 8.223125x 10 8 0.44625 x 10 8 0.3 Kerapatan sel (OD) 0.5 7 7.649578 7.2 0.75 Lampiran 8 Kurva standar isolat 25n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.746488 Kurva standar isolat 25n pada media NB y = 0.032 0.25 0.785 x 10 8 0.1.9902 0.5 8 8.251638 7.047518 6.15 0.5165 R2 = 0.003 Cfu/ml 3.950608 7.

49485 6.5 7 Log jum lah sel 7.03125 x 10 8 0.11 0.1.09691 6.1934x .19382 Kurva standar isolat 27n pada m edia NB 0.5 8 .5 x 10 8 0.015625 x 10 8 Log 7.291 0.15 0.209 R2 = 0.25 x 10 8 0.39794 7.217 0.002 Cfu/ml 0.2 OD y = 0.05 0 6 6.79588 6.1 0.154 0.76 Lampiran 9 Kurva standar isolat 27n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 OD 0.25 0.0625 x 10 8 0.69897 7.125 x 10 8 0.034 0.99 0.3 0.

05 0 6 6.1 0.133125 x 10 8 Log 8.2625 x 10 8 0.525 x 10 8 0.264 0.131 0.1.097 0.5 Log jum lah sel .03421875 x 10 8 Kurva standar Isolat 34n pada m edia NB 0.2 OD y = 0.036 0.12426 6.322219 8.25 0.3 0.007 Cfu/ml 2.0684375 x 10 8 0.5 7 7.1686 R2 = 0.77 Lampiran 10 Kurva standar isolat 34n Pengenceran 1:1 1:2 1:4 1:8 1:16 1:32 1:64 OD 0.15 0.05 x 10 8 0.1773x .534264 0.720159 7.1 x 10 8 1.021189 7.318 0.835294 6.9866 0.185 0.419129 7.5 8 8.

5 40 o C 0 0 0 8 50 o C 0 0 2 0 .5 0 10 0 40 o C 0 11.25 9.25 0 0 14. coli diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu Isolat 7n 25n 27n 34n 25 o C 0 0 0 0 30 o C 0 0 0 0 37 o C 13. diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu o Isolat 7n 25n 27n 34n 25 C 0 0 0 0 30 o C 0 0 4 8. 25n.5 0 0 14.5 37 o C 0 0 0 13. 34n yang diantagonis dengan EPEC K1-1diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu Isolat 7n 25n 27n 34n 25 o C 0 0 0 0 30 o C 0 0 0 0 37 o C 40 o C 14 14.75 0 0 50 o C 0 0 0 12 Lampiran 13 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. 27n.5 14. 27n. 34n yang diantagonis dengan Salmonella sp.25 18.5 14 Lampiran 14 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n.875 14. 25n.25 0 14 50 o C 23 14.78 Lampiran 11 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. 34n yang diantagonis dengan Salmonella enteric diinkubasi pada berbagai tingkatan suhu o Isolat 7n 25n 27n 34n 25 C 0 0 0 0 30 o C 37 o C 0 0 0 4 40 o C 0 0 0 0 50 o C 18.25 14 21. 34n yang diantagonis dengan E.5 Lampiran12 Diameter (Ф) zona bening Isolat 7n. 25n. 27n. 27n. 25n.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->