Jurnal Ilmiah Tamaddun, ISSN. 0216-809, Vol.8 No.

1, Juni 2011 PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA (BAHASA ASING) Kasma F.Amin Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UMI Jl. Urip Sumoharjo KM.05 Kampus II UMI Tlp. 0411 5040407, Email: f.aminkasma@yahoo.co.id Abstrak Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Adapun masalah dalam tulisan ini adalah bagaimanakah landasan teori pemerolehan bahasa asing/bahasa kedua dan bagaimanakah landasan empiris dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa kedua? Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari, dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama, pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak. Mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi. Kedua, untuk mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Dalam pembahasan ini hanya merupakan pemaparan tentang teori pemerolehan bahasa asing, landasan empiris dalam pembelajaran dan pengajaran. Kata kunci : Pemerolehan bahasa, teori, bahasa kedua

A. Teori Pemerolehan Bahasa Kedua 1. Teori Monitor

Teori belajar bahasa asing/bahasa kedua dengan model monitor mempunyai lima hipotesis dasar, yaitu (1) hipotesis pemerolehan belajar, (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor, (4) hipotesis masukan, dan (5) hipotesis saringan afektif

1) Hipotesis Pemerolehan-Belajar

Krashen (1977) berpendapat bahwa pembelajar bahasa kedua mempunyai dua strategi

49

nene. atau belajar secara alamiah. menurut Krahen (1982:10). kefasihan berbicara dalam bahasa kedua (Inggris) tidak datang dari (1) pengetahuan formal tentang bahasa kedua (Inggris). ucapan yang benar dan ucapan yang salah. yaitu melalui pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning). 1983:28). apa. simpan. dan (3) pembelajar mengetahui kaidah bahasa target dan mampu menerapkannya dengan tepat ketika menggunakan bahasa target itu (Gass dan Selinker. Hasil dari pemerolehan bahasa yang berbentuk kompetensi itu pun tidak disadari. tetapi dia menyadari unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam komunikasi. dan yang semacamnya cenderung lebih awal diperoleh daripada bentuk-bentuk tenses. Jadi. dan (3) aturanaturan yang kita pelajari dari buku teks. Krashen menegaskan bahwa tidak setiap pemerolehan sekaligus akan memperoleh struktur alat bahasa dalam urutan yang persis sama. Pembelajar bahasa tidak selamanya menyadari unsur-unsur bahasa yang diperoleh. tidak. istilah belajar berarti mengetahui tentang bahasa. Selanjutnya. Krashen dalam hipotesis ini menyadari adanya struktur yang lebih cepat diperoleh dan lainnya lebih lambat. seperti: mama. Pemerolehan . 3) Hipotesis Monitor Menurut Krashen (1983). hasil belajar secara sadar hanya dapat digunakan untuk memonitor data bahasa yang diperoleh secara alamiah. dengan cara anak mengembangkan kemampuannya dalam bahasa pertama. Dengan pengetahuan itu. Proses pemerolehan bahasa dengan cara demikian dapat juga disebut belajar secara implisit. (2) aturan-aturan yang kita pelajari di kelas. pembelajar mampu membedakan kalimat yang gramatikal dan yang tidak gramatikal. ibu. Pemerolehan bahasa adalah proses yang tidak disadari. 2) Hipotesis Urutan Alamiah Hipotesis ini menyatakan bahwa unsur-unsur bahasa dan kaidah bahasa diperoleh dalam urutan yang dapat diprediksi (Krashen.dalam mengembangkan pengetahuan bahasa kedua. untuk. pencils. Untuk anak-anak penutur bahasa Indonesia lebih awal menguasai kata-kata vokalis. Dilihat dari sudut ketepatan fungsinya. adalah proses yang mirip. ada. penggunaan monitor dapat dibedakan atas tiga cara. bentuk penanda jamak (s) seperti pada books. menurut Baraja (1990:53). (2) pembelajar memfokuskan perhatian kepada bentuk. Cara kedua untuk mengembangkan kompetensi bahasa asing/bahasa kedua ialah dengan belajar (learning). 50 . 1994:145). bukan sekedar memahami apa yang dikatakan. Dalam bahasa Inggris misalnya. Penggunaan monitor dapat berfungsi secara efektif apabila (1) pembelajar mempunyai waktu untuk memikirkan dan menggunakan kaidah bahasa yang telah dipelajari. dan semacamnya. Penggunaan istilah belajar mengacu kepada pengetahuan bahasa kedua yang disadari dalam arti. pembelajar harus benar-benar memberi perhatian kepada bagaimana sesuatu dikatakan. Monitor tidak selamanya digunakan ketika berbicara atau menulis. pembelajar tidak dapat menjelaskan kaidah yang mana yang dilanggar dan bagaimana menjelaskannya. dan semacamnya. mengetahui kaidah bahasa yang digunakan oleh orang lain. Namun. kalau tidak identik. Untuk itu. belajar secara informal. kata yang benar dan kata yang salah dan seterusnya. aturan bahasa atau kaidah bahasa yang diperoleh juga tidak disadari. Bahkan. cenderung lebih awal diperoleh daripada kata-kata: ambil. mengetahui kaidah dengan sadar dan mampu menjelaskannya. Demikian pula halnya. papa.

pembelajar tidak akan mampu memahaminya. 5) Hipotesis Saringan Afektif Hal yang perlu diketahui ialah bahwa tidak setiap orang yang mempelajari bahasa kedua pasti berhasil. Dalam konteks ini. faktor motivasi. menurut Krashen. (4) implicit linguistic knowledge. (2) Pembelajar memfokuskan perhatian kepada makna atau pesan sehingga faktor penggunaan kaidah bahasa dengan tepat tidak dihiraukan (under user). sikap. Implikasi rumus comprehensible input ialah bahwa kemarnpuan berbicara atau menulis dengan lancar dalam bahasa kedua sedikit demi sedikit datang sendiri. Sebaliknya. (2) other knowledge. 2) 3) memiliki pengalaman tentang dunia disebut other knowledge. Krashen memaknai comprehensible input sebagai proses memahami bahasa yang didengar atau dibaca sedikit di atas kemampuan pempebelajar sebelumnya yang dirumuskan dengan i + 1. jika pembelajar ingin berhasil dengan baik. melainkan kemampuan itu dibangun di atas kompetensi melalui pemahaman terhadap masukan. dan masukan itu memadai.(1)Pembelajar menggunakan monitor secara berlebihan dengan hanya memusatka perhatian kepada aspek kebahasaan. Artinya. Penyebabnya ialah comprehensible input tidak dapat diterima dengan baik. Keempat faktor yang disebut terakhir inilah yang diasumsikan sebagai saringan afektif. kepercayaan din. Kelima macam pengetahuan ini. dan (5) output. maka input sangat sulit masuk atau mungkin sama sekali tidak masuk. apabila masukan dipahami. dan keinginan sangat penting. maka input akan masuk dengan leluasa. memperoleh pajanan bahasa secara tidak dasar menghasilkan implicit linguistic 51 . yaitu: (1) input (language expouser). 2. secara otomatis kaidah bahasa terintegrasi di dalamnya. Dan. 4) Hipotesis Masukan Krashen (1985:2) memberi perhatian khusus terhadap hipotesis masukan dalam teori pemerolehan bahasa kedua dengan alasan bahwa bahasa kedua diperoleh dengan memahami pesan (understanding messages) atau dengan menerima masukan yang dapat dipahami (comprehensible input). merupakan tahapan yang harus dilalui pembelajar. maka dia harus: 1) memiliki pengalaman bahasa melalui pajanan (language expouser) yang selanjutnya disebut input. Teori Pajanan Bahasa Ada lima macam kompetensi yang saling mengisi dalam belajar bahasa kedua. (3) Pembelajar memberi perhatian yang seimbang kepada. (3) explisit linguistic knowledge. baik penggunaan kaidah bahasa maupun makna atau pesan yang disampaikan (optimal user). Apabila saringan ini berbuka lebar. sedangkan aspek makna atau pesan diabaikan (over user). menurut Bialystok (1980). apabila saringan itu sempit atau tertutup. Kalau masukan mempunyai tingkat kesulitan i + 10 misalnya. bukanlah hasil pembelajaran secara langsung. Kefasihan berbicara menurut Krashen.

sebagai akibat dari perbedaan budaya pembelajar dengan masyarakat bahasa target. yaitu: (1) respon spontan. Jadi. Penyesuaian semacam ini disebut 52 . satu bentuk modifikasi. Ini merupakan realisasi tuntutan teori belajar language expouser. yang diakibatkan pembelajar dalam menggunakan bahasa target. adanya pengalaman buruk 2) culture shock. Bialystok. 4. Variasi materi pembelajaran bahasa sangat diperlukan jika menginginkan hasil yang optimal dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. Penyesuaian yang dimaksud adalah modifikasi ujaran agar mudah diterima dan dipahami oleh mitra tutur. Akulturasi pemerolehan bahasa kedua juga ditentukan oleh faktor jarak sosial dan kejiwaan antara pembelajar dan budaya bahasa target. Kebiasaan penutur asli menyederhanakan bahasanya ketika berbicara dengan penutur asing adalah salah. dan (2) respon tidak spontan. dan dengan demikian akan terjalin komunikasi dua arah. dorongan kuat/lemah yang dimiliki pembelajar untuk mempelajari bahasa target. pembelajar merasa salah arah. Schumann (1978c:34) mengajukan premis utama teori akulturasi bahwa pemerolehan bahasa kedua hanyalah salah satu aspek akulturasi dan tingkat akulturasi seorang pembelajar dalam bahasa target akan menjadi alat kontrol terhadap bahasa target yang telah diperoleh. di satu sisi. Tujuannya ada dua. dan ketakutan. bahasa juga sebagai alat komunikasi sosial. 4) memperoleh pembelajaran bahasa secara formal menghasilkan explicit linguistic knowledge. kalau berbicara dengan anak-anak. Teori Akulturasi Brown (1980a:129) memaknai teori akulturasi sebagai proses adaptasi terhadap budaya baru. pembicara berusaha menyesuaikan diri dengan mitra tuturnya. dan 3) motivasi. dan (2) bahasa yang termodifikasi akan menjadi masukan yang dapat dipahami (comprehensible input) bagi mitra tutur. Teori ini berasumsi bahwa dalam komunikasi dua arah atau interaksi bersemuka. Proses adaptasi ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa kedua karena dia merupakan salah satu alat ekspresi budaya. yaitu: (1) mitra tutur memahami pesan atau tujuan komunikasi yang disampaikan. orang tua pada umumnya berusaha menyesuaikan bahasanya dengan bahasa anak-anak sehingga terjadi komunikasi dua arah. Tujuannya ialah agar pengetahuan pembelajar tidak terkungkung di dalam bingkai bahasa. Teori Akomodasi. akan mempengaruhi timbulnya: 1) language shock. Selain alat ekspresi budaya. tetapi harus mengenal dunia secara komprehensif. Jauh dekatnya jarak itu. 2. Demikian pula. Berkenaan dengan itu. 5) memiliki kemampuan member! respon dalam bahasa target dengan dua cara. dapat disimpulkan bahwa makin kuat kemampuan pembelajar mengadaptasi budaya bahasa target.knowledge. makin besar kemungkinan berhasil mempelajari bahasa itu. stres.

Widdowson (1984) mengidentifikasi pengetahuan kaidah bahasa sebagai competence dan pengetahuan prosedur sebagai kemampuan menggunakan kaidah bahasa dalam membangun wacana (capacity). dan (2) kemampuan menerapkan kaidah itu di dalam penggunaan bahasa (procedures). Strategi penerapannya pun sama atau hampir sama pada semua pendekatan itu. pembelajar juga mengembangkan kaidah struktur dan penggunaan bahasa melalui komunikasi interpersonal. Pengetahuan kaidah bahasa berfungsi mengawasi penggunaan kaidah di dalam wacana (communicative competence). dan bahasa orang dewasa bagi anak-anak. simplikasi dapat ditinggalkan apabila pembelajar telah mampu mengikuti penggunaan bahasa target secara normal. Di sisi lain. Produksi wacana melalui proses ini umumnya berwujud: (1) wacana yang direncanakan (planned discourse). 6. Teori ini dipandang efektif menjadi kerangka acuan pemerolehan bahasa kedua. Dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. dan (2) wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse). Istilah proses (process) penggunaan bahasa dipahami dalam dua cara. dan (2) produksi bahasa (product).konvergensi atau berkonvergensi. penutur tidak menyesuaikan bahasanya dengan bahasa mitra tutur. 3) Strategi percakapan digunakan untuk merundingkan makna. Walaupun kadang-kadang menyulitkan mitra tutur. Implikasi teori variabel kompetensi dalam 53 . dan capacity adalah kemampuan mengembangkan makna di dalam wacana dengan melacak potensi makna di dalam bahasa melalui komunikasi secara terus-menerus. Strategi demikian disebut divergensi atau berdivergensi. Dampak yang diharapkan adalah tumbuhnya motivasi mitra tutur untuk terus meningkatkan penguasaan bahasa target bagi penutur asing. Istilah simplifikasi (simplification) dikenal dalam semua aliran atau pendekatan pengajaran bahasa. teori akomodasi cocok diterapkan dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. Teori Wacana Proses pemerolehan bahasa kedua mirip dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Kondisi ini sesuai dengan asumsi hipotesis urutan alamiah yang mengklaim adanya kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama. 1) Pemerolehan bahasa kedua mengikuti urutan alamiah dalam pengembangan perangkat sintaksis. strategi ini memaksa mitra tutur untuk berusaha memahami bahasa penutur. hanya cara penyajiannya. Dalam proses pemerolehan bahasa. Yang berbeda. mungkin. Dengan demikian. yaitu: (1) pengetahuan linguistik (kaidah bahasa). di samping berfungsi sebagai input yang berpengaruh terhadap kecepatan pemerolehan bahasa kedua. namun. 2) Penutur asli sangat bijaksana ketika berinteraksi dengan penutur asing sebagai upaya merundingkan makna atau pesan. Verifikasi kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama telah dilakukan oleh Hatch dengan kesimpulan sebagai berikut. Teori Variabel Kompetensi Model atau teori ini didasarkan pada dua hal: (1) proses penggunaan bahasa (process). 5. simplifikasi atau penyederhanaan materi pembelajaran dan ujaran guru atau tutor sangat diperlukan pada tahap awal. Secara bertahap.

1) Hirarkis komunikasi: bertanggung jawab menyimpan bahasa dan simbol-simbol lain melalui komunikasi interpersonal. Lamandella menunjukkan fungsi-fungsi hirarkis itu sebagai berikut. Dengan topik apa pun. Landasan Empiris dalam Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa Kedua Apakah Pembelajaran Bahasa Kedua Sama dengan Pembelajaran Pertama? a. Adapun hirarkis kognitif berkonsekuensi pada pembelajaran kaidah bahasa secara teratur agar dengan kaidah itu pembelajar dapat mengontrol penggunaan bahasa. Pemerolehan Sintaksis 54 . 7. Yang kedua. dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis. ruang kelas atau tempat belajar dikondisikan sebagai tempat pemerolehan bahasa. Untuk merealisasikan kesempatan itu. Pola latihan-latihan praktis dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah bagian dari hirarki kognitif. Mekanisme Psikolinguistik Pertanyaan yang paling sering muncul pada peneliti adalah apakah mekanisme pemerolehan bahasa kedua sama ataukah berbeda dengan pemerolehan bahasa pertama? Menurut Dulay dan Burt (1974a. b. materi pembelajaran harus disajikan dalam wacana. dan bahwa jenis kesalahan yang dibuat oleh pebelajar bahasa kedua akan sama terhadap semua kesalahan yang dibuat oleh pebelajar bahasa pertama terhadap bahasa yang sama. B. 2) Hirarkis kognitif: berfungsi mengontrol penggunaan bahasa dan kegiatan pemrosesan informasi kognitif. Dalam hal ini. Yang pertama. dan (2) secondary language acquisition. Teori Neurofungsional Teori ini lebih dikenal dengan nama Lamandella's Neurofuctional Theory.1974b) mengatakan bahwa dalam hubungannya terhadap pemerolehan mortem gramatikal dimulai dengan pernyataan bahwa pemerolehan bahasa pertama dan bahasa kedua pada anak memiliki proses yang sama. baik wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse) maupun wacana yang direncanakan (planned discourse). berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai bahasa pertamanya. lebih baik dengan penutur asli. yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua. dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun. terbagi dua bagian. Lamandella (1979) membedakan dua tipe dasar pemerolehan bahasa: (1) primary language acquisition. teori neurofungsional sejalan dengan teori monitor. Implikasi fungsi hirakis komunikasi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa akan dengan orang lain. dengan menggunakan bahasa target. 1.pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah penyeimbangan pembelajaran kaidah bahasa dan penerapannya di dalam penggunaan bahasa. Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda.

Ellis menyimpulkan bahwa: Usia dini tidak mempengaruhi rute pemerolehan bahasa kedua.1982). memperoleh bahasa). yakni melibatkan dua proses mental alam pemerolehan bahasa kedua. 55 .Hasil penelitian pemerolehan bahasa pertama didasarkan pada kerja Chomsky yang menyarankan bahwa bahasa pertama adalah "hard wired" ke dalam otak. Meskipun terdapat perbedaan dalam usaha pemerolehan. 2 Apakah Peranan Usia Kronologi Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua? Ellis (1985) menunjukkan kemudahan dalam membedakan antara pengaruh umur dalam rute pemerolehan (dimana item bahasa target diperoleh dalam usaha yang sama untuk pebelajar yang berbeda). membolehkan pebelajar untuk mengingat aturan dan untuk mengidentifikasi aturan yang dilanggar. pebelajar harus menggambarkan dalam pengetahuan bawah sadar. 3. Para peneliti menemukan bahwa pada kenyataannya pebelajar dari latar belakang bahasa pertama yang berbeda (contoh Spanyol dan China) ditampakkan untuk memperoleh seperangkat item gramatikal (atau morfem) dalam bahasa Inggris dalam usaha yang sama nyatanya. Pembelajaran Terencana Versus Pemerolehan Bawah-Sadar Pada landasan empirik. Pemerolehan Wacana Persamaan dan perbedaan antara pemerolehan bahasa kedua dan pertama kadang diduga dari studi komparatif ke dalam proses bahasa dan produksi melalui pemakai bahasa pertama dan kedua. Krashen mengembangkan hipotesisnya sejak tahun 1970an yang dikenal dengan ''Morfem Order Studies". b. Sedangkan pemerolehan bawah sadar adalah proses yang sangat berbeda. Usia dini mempengaruhi kecepatan pembelajaran. laju (bagaimana kecepatan pebelajar. dengan kata lain bahwa bahasa . bukan hasil dari usia tersebut. ketika menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan makna. Pembelajaran terencana memfokuskan pada aturan gramatikal. dan memfasilitasi aturan pemerolehan terhadap tingkat bawah-sadar. dan pencapaian terakhir (bagaimana kepandaian yang terakhir). Kita mewarisi kemampuan secara genetic dalam cara yang sama sebagai jenis lain yang mewarisi hal lain sebagai kemampuan untuk memindahkan ke tempat lain terhadap dunia pasangan dan keturunan. Stephen pinker (1994) mempopulerkan hipotesis bahwa menyarankan bahwa kemampuan untuk memperoleh bahasa merupakan sebuah fasilitas unik untuk manusia. yaitu Pembelajaran terencana dan pemerolehan bawah-sadar.pertama kita merupakan anugrah bawaan yang diwariskan ke kita melalui sifat kita. Menurut Krashen. a. Pencarian ini diset untuk menentukan apakah terdapat "rangkaian alami" dalam pemerolehan tata bahasa kedua. Kedua jumlah tahun dimulai dan usia dini mempengaruhi tingkat kesuksesan. c. Apakah Pengaruh Pengajaran dalam Pemerolehan? Mortem Order Studies Salah satu hal yang berpengaruh yang terkait dengan hubungan antara pengajaran dan pemerolehan adalah hipotesis Krashen (1981. Krashen telah memformulasikan sebuah hipotesis kontroversial.

Ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan peneliti terhadap gaya dan strategi pembelajaran yaitu : Apakah hubungan antara preferensi strategi pembelajaran dan karakteristik pebelajar lainnya seperti tingkat pendidikan. Apakah Hubungan Antara Strategi Pembelajaran dan Pemerolehan? Strategi pembelajaran adalah prosedur mental dan komunikatif pebelajar dalam usaha mempelajari dan menggunakan bahasa. kemudian struktur tersebut diperoleh. Gaya pembelajaran merupakan orientasi yang umum terhadap proses pembelajaran ditunjukkan oleh pebelajar. e.hasil pengamatannya. bahasa pertama? Apakah efektif jika pebelajar berbagi preferensi Strategi yang tepat? Dapatkah Strategi diajarkan? Apakah strategi pelatihan membuat perbedaan terhadap pemerolehan bahasa kedua? Strategi pembelajaran bahasa adalah proses mental dan komunikatif yang pebelajar sebarkan untuk mempelajari bahasa kedua. Masukan yang Dapat Dipahami Menurut Krashen. O'Malley (1987) mempelajari pengaruh perbedaan tipe strategi pelatihan (metakognitif. pemerolehan ditempatkan melalui pemahaman. ketika siswa memahami sebuah pesan dalam bahasa yang mengandung sebuah struktur yang merupakan satu langkah terhadap kemajuan tingkat awal kompetensi pebelajar. Swain memformulasikan hipotesis alternative. d. kekmpleksitasan ini ditentukan oleh permintaan yang dibuat oleh memori jangka pendek dibandingkan oleh kompleksitas konseptual dari item-item pertanyaan. 56 . Dengan kata lain.c. dan sosioafektif) dalam perbedaan keterampilan berbahasa dan menemukan bahwa pelatihan memiliki pengaruh yang signifikan dalam berbicara. Namun. Langkah-Langkah Pengembangan Sejak 1980an. the language instinct'. Mereka berpendapat bahwa item tata bahasa dapat diurutkan ke dalam serangkaian langkah yang lebih kompleks. kognitif. Perspektif lain dalam memproses kompleksitas orang ketiga -s digambarkan dalam buku bahasa yang paling popular. sejumlah peneliti telah mempelajari pemerolehan Jerman dan Inggris yang dating dari penjelasan yang menarik tentang perbedaan antara pengajaran dan pemerolehan yang berdasrkan pada proses berbicara. Hipotesis ini secara eksplisit direjeksi dari nosi bahwa "skill getting' merupakan prasyarat untuk "penggunaan keterampilan" tersebut. Keluaran yang Dapat Dipahami Berdasarkan . 4. yang disebut hipotesis "keluaran yang dapat dipahami" menyarankan bahwa kesempatan untuk memproduksi bahasa sangat penting bagi pemerolehan. tapi tidak dalam mendengarkan. latar belakang etnis.

1975. Pergamon Press. 1982. Chomsky. 1990. Principles and Practice in Second Language Acquisition.DAFTAR PUSTAKA Baradja.D. S.F. M. 57 . Noam. Malang: Penerbit IKIP Malang. Reflections and Language. New York: Pantheon Books. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Krashcn.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful