P. 1
Proposal

Proposal

2.0

|Views: 1,776|Likes:
Published by ILYASINWATES

More info:

Published by: ILYASINWATES on Aug 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

132

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) A. Judul Penerapan Model Problem Based Instruction (PBI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa Materi Optik Kelas VIIIA SMPN 7 Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009. B. Mata Pelajaran dan Bidang Kajian a. Mata pelajaran b. Bidang Kajian C. Pendahuluan Kelas VIIIA SMPN 7 Semarang adalah kelas heterogen, berjumlah 42siswa terdiri dari 26 perempuan dan 16 laki-laki. Menurut keteranganguru mata pelajaran, hasil belajar siswa mata pelajaran IPA semester I tahun 2008/2009 adalah : nilai tertinggi 83, nilai terendah 60 dan rata-rata = 68,3, ketuntasan belajar = 52,3% dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) = 68. Hasil tersebut belum sesuai harapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMPN 7 Semarang yang telah menetapkan ketuntasan belajar individu = 68 dan ketuntasan belajar klasikal 75%. Pembelajaran materi optik tahun 2005/2006 sampai 2007/2008 telah dilakukan dengan menerapkan berbagai model. Pengaruh penerapan model terhadap hasil belajar siswa dapat diketahui dari ketuntasan hasil belajar yang dicapai. Menurut Supratioko,K,(2009) guru pengampu fisika pada kelas tersebut, ketuntasan hasil belajar siswa pada pembelajaran dengan model Direct Instruction (DI) adalah 34,28%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada pembelajaran yang menerapkan model demontrasi 68,42%. Dan ketuntasan hasil belajar siswa pada pembelajaran yang menerapkan model jigsaw 34,21%. Secara ringkas ditunjukkan oleh Tabel 1. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa: 1) penggunaan model pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa. 2) melalui demontrasi materi optik lebih mudah difahami siswa. 3) tingkat keberhasilan belajar materi optik dengan : IPA. : Fisika.

1

132

menerapkan model pembelajaran demontrasi di SMPN 7 Semarang lebih baik dari pada Direct Instruction(DI) atau jigsaw. Tabel 1. Ketuntasan belajar, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dan Model Pembelajaran Tahun Siswa tuntas KKM Model Pembelajaran Pelajaran 67 Direct Instruction(DI)2005/2006 34,28% tanya jawab. 2006/2007 68,42% 67 Demostrasi. 2007/2008 34,21% 68 Jigsaw. Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 25 Februari 2009, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran adalah 5 siswa mendengarkan penjelasan guru sambil tiduran, 10 siswa berbicara sendiri dengan teman duduk di dekatnya saat guru membahas soal latihan. Lebih dari 50% pertanyaan yang diajukan guru, siswa menjawab tidak benar. Siswa kurang percaya diri dalam menyampaikan gagasan. Dua dari sepuluh kelompok tidak bersedia mempresentasikan hasil diskusi mereka. Dan aktivitas siswa belum terlihat secara signifikan. Hal tersebut menunjukkan aktivitas siswa belum terlatih. Peningkatan hasil belajar masih dimungkinkan untuk dapat diperoleh dengan menerapkan model pengajaran yang memanfaatkan keragaman dalam kelas dan karakter siswa pada usia sekitar 12-13 tahun yang sangat dinamis. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instruction/PBI) dapat menjadi pilihan karena Model PBI sesuai dengan karakter siswa SMP. Siswa SMP biasa menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan PBI siswa dilatih dan ditunjukkan dengan contoh nyata bagaimana menemukan dan memecahan masalah dengan baik. Kompetensi ini penting untuk bekal hidup mereka mencapai kemandirian. Dengan PBI disamping belajar melakukan pemecahan masalah kontektual, mereka diharapkan lebih banyak melakukan aktivitas dalambelajar peran guru dalam IPA. Menurut Ibrahim (dalam Trianto, 2007: 72) Problem Based Instruction/(PBI) antara lain:

NO 1 2 3

mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, menfasilitasi/membimbing 2

132

penyelidikan, menfasilitasi dialog siswa dan mendukung belajar siswa. Dengan peran tersebut maka guru menjalankan fungsinya sebagai motivator belajar dan memberi perhatian serta bimbingan untuk mencapai kemandirian dalam menemukan dan memecahkan masalah IPA. Materi optikkonsep dan penerapan cermin dan lensa dalam produk teknologi sehari-hari merupakan materi esensial karena dekat dengan kehidupan manusia, benda dan gejalanya mudah ditemukan. Tingkat keabstrakan konsep optik dapat berkurang dengan bantuan pengamatan obyek nyata. Cermin dan lensa mudah kita jumpai pada kehidupan sehari-hari dalam berbagai aplikasidari tingkat sederhana sampai yang rumit. Dengan karakter semacam ini memungkinkan siswa untuk dapat menemukan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan mengamati melalui percobaan/eksperimen dengan bimbingan guru. Memperhatikan hal tersebut peningkatan hasil belajar dan aktiftas siswa dapat diupayakan pada materi optik melalui penerapan model Problem Based Instruction/(PBI). Oleh karena itu PTK tentang Penerapan Model Problem Based Instruction/(PBI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa Materi Optik perlu dilaksanakan. D. Rumusan Masalah Dari uraian diatas masalah yang dikaji adalah bagaimana peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa melalui penerapan model Problem Based Instruction (PBI) materi optik di kelas VIIIA SMP Negeri 7Semarang tahun pelajaran 2008/2009? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil aktivitas siswa pelajaran 2008/2009 melalui penerapan model PBI . belajar dan tahun pada materi optik kelas VIIIA SMP 7Semarang

F. Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat untuk : 3

132

1. Mengetahui peningkatan hasil penerapan model PBI.

belajar siswa materi optikkonsep dan

penerapan cermin dan lensa dalam produk teknologi sehari-hari melalui 2. Meningkatkan aktivitas siswa materi optikkonsep dan penerapan cermin dan lensa dalam produk teknologi sehari-hari melalui penerapan model PBI. G. Batasan dan Pengertian Istilah 1. Hasil belajar : merupkan bentuk atau wujud prestasi yang dicapai siswa setelah melakukan proses belajar. Menurut Bloom hasil belajar meliputi tiga aspek perubahan yaitu: 1) Aspek kognitif yaitu hasil belajar dalam hal perolehan pengetahuan dan pemahaman. 2) Aspek afektif yaitu hasil belajar dalam hal perolehan nilai-nilai dan sikap. 3) Aspek psikomotorik yaitu hasil belajar dalam hal perolehan ketrampilan. 2. Aktivitas : Kegiatan-kegiatan siswa yang menunjuk pada jenis kemampuan tertentu. Dalam penelitian ini aktivitas siswa dibatasi hanya dua jenis kegiatan yaitu: kegiatan-kegiatan lisan/oral dan kegiatan-kegiatan visual. Kegiatan visual yang berhubungan dengan eksperimen meliputi: menyiapkan alat, memilih alat, merangkai alat /kit potik, mengoperasikan alat dan melakukan pengukuran. Kegiatan lisan/oral meliputi: mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, memaparkan hasil diskusidan kesimpulan. 3. Problem Based Instruction (PBI) adalah suatu model pengajaran yang didasarkan pada banyaknya masalah, siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri, meningkatkan ketrampilan berfikir tingkat lebih tinggi serta mengembangkan kemandirian dan percaya diri. 4. Materi optik : adalah materi ajar yang dikembangkan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) meliputi prilaku cahaya menarik

4

132

pada cermin, lensa, kaca plan paralel, prisma dan aplikasinya pada alat-alat optik yang ditemuan dalam kehidupan sehari-hari. 5. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini hanya berlaku pada materi optik di kelas VIIIA SMP 7 Semarang tahun pelajaran 2008/2009. H. Kajian Pustaka a. Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Embrio model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) dicetuskan sejak tahun 1916 oleh John Dewey. Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam tugas proyek dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial (Wiyanto, 2008: 24). Menurut Dewey (dalam Sujana, 2001: 19) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan berupa bantuan dan masalah sedang sistem syaraf otak menafsirkan secara efektif sehingga masalah dapat dianalisis dan dicari pemecahannya dengan baik. Pembelajaran berbasis masalah yang baik menurut Arends (Arends,1997 dalam Wiyanto, 2008: 26-27) diawali dengan mengangkat masalah dari dunia nyata yang bermakna. Termasuk dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah pembelajaran inquiry dan pembelajaran discovery. Discovery merupakan proses mental dalam mengasimilasikan konsep dan prinsip. Inquiry dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu:1) discovery, 2) inkuiri terbimbing dan 3) inkuiri terbuka. Konsekuensi dari PBI ini adalah membangkitkan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah dan memberi keleluasaan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Sehingga model PBI merupakan suatu model pembelajaran yang : 1) didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata pula. 2) didasarkan pada usaha sendiri untuk memecahkan masalah serta membangun pengetahuan yang menyertainya. 3) menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Trianto, 2007: 67). Secara garis besar PBI terdiri dari penyajian kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberi kemudahan 5

132

kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. PBI dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi siswa yang otonom dan mandiri. Lingkungan belajar PBI dicirikan oleh keterbukaan, proses demokrasi dan peran aktif siswa. Peran guru dalam pembelajaran PBI adalah mengajukan masalah, memfasilitasi penyelidikan, menfasilitasi dialog siswadan mendukung belajar siswa (Trianto, 2007: 72). Ciri utama pembelajaran model PBI adalah : 1) 2) 3) Suatu pengajuan pertanyaan atau masalah. Suatu pemusatan antar disiplin, penyelidikan authentik. Menghasilkan karya dan peragaan.

(Depdiknas, 2004: 23). Sintak pembelajaran model PBI adalah seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Sintak Pembelajaran PBI

6

132

Fase-Fase Fase 1. Orientasi siswa kepada masalah. Fase 2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Fase 3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. Fase 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

Perilaku Guru Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Guru nmembantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman.

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan Fase 5. Menganalisis dan mereka dan proses-proses yang mereka mengevaluasi proses gunakan. pemecahan masalah.

(Trianto, 2007: 71-72) b. Hasil Belajar. Hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Kamus Bahasa Indonesia). Istilah hasil belajar dapat diartikan sebagai kemampuan baru sama sekali atau dapat juga berupa penyempurnaan maupun pengembangan dari suatu kemampuan yang telah dimiliki seseorang yang diperoleh dari proses belajar (Winkel, 1978: 38). Berdasar pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada dua hasil belajar yaitu a) Sesuatu yang memang dituju yang merupakan kemampuan baru atau penyempurnaan kemampuan yang telah dimiliki. b) Sesuatu yang tidak dituju yang merupakan efek samping. (Widyaningsih, 2008: 10)

7

132

Pembelajaran diharapkan dapat berperan mengubah tingkah laku siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Nana Sudjana (2005: 111) bahwa hasil belajar adalah bentuk tingkah laku yang dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Bentuk tingkah laku itu dapat berupa kemampuanmemberi reaksi terhadap rangsangan sosial verbal, mengemukakan konsep, prinsip dan memecahkan masalah. Hasil belajar diperoleh siswa setelah dinyatakan berhasil dalam suatu penilaian yang dilakukan pada akhir pembelajaran. Hasil belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran. Dalam pandangan Dick, dkk (dalam Sopan, 2000: 30) hasil belajar merupakankemapuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Mereka membedakan hasil belajar atas empat macam yaitu pengetahuan, ketrampilan intelektual, ketrampilan motorik, dan sikap. Untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa maka dilakukan penilaian. Penilaian dapat diadakan setiap saat selama kegiatan berlangsung, dapat pula diadakan setelah siswa menyelesaikan suatu program pembelajaran dalam waktu tertentu. Penilaian terhadap hasil belajar menggunakan alat ukur berupa tes maupun non tes. Menurut Bloom hasil belajar meliputi tiga aspek perubahan yaitu: 1. Aspek Kognitif yaitu hasil belajar dalam hal perolehan pengetahuan dan pemahaman. 2. Aspek Afektif yaitu hasil belajar dalam hal perolehan nilai-nilai dan sikap. 3. Aspek Psikomotorik yaitu hasil belajar dalam hal perolehan ketrampilan diminatinya. Dari pendapat-pendapat diatas dapat diambil kesimpulanbahwa hasil belajar adalah bentuk tingkah laku yang dimiliki siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajaryang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. c. Aktivitas dalam Pembelajaran. 8

132

Diantara ahli yang menjelaskan aktivitas adalah Paul D. Dierich. Menurut Paul D. Dierich (dalam Hamalik, 2008: 172-173) aktivitas belajar dibedakan dalam 8 kelompok: a) kegiatan-kegiatan visual, b) kegiatankegiatan lisan/oral, c) kegiatan-kegiatan mendengarkan, d) kegiatankegiatan menulis, e) kegiatan-kegiatan menggambar, f) kegiatan-kegiatan metrik, g) kegiatan-kegiatan emosional, h) kegiatan-kegiatan mental. Penelitian ini menitik beratkan aktivitas belajar pada kegiatan-kegiatan visual dan kegiatan-kegiatan lisan/oral. Maksud kegiatan-kegiatan visual adalah mengamati obyek eksperimen, sedang kegiatan-kegiatan lisan/oral adalah bertanya, menjawab, diskusi dan presentasi. Tokoh lain adalah Skinner yang mengaitkan aktivitas dengan minat. Menurut Skinner (1977), apabila seseorang mempunyai minat terhadap suatu obyek maka minat tersebut akan mendorong seseorang untuk berhubungan lebih dekat dengan obyek tersebut, yaitu melakukan aktivitas sesuatu lebih aktif dan positif demi mencapai yang diminati. Memperhatikan pendapat diatas yang dimaksud aktivitas belajar padapenelitian tindakan kelas ini adalah sejauh mana peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran IPA baik saat berdiskusi kelompok, melakukan eksperimen, mengerjakan tugas yang diberikan guru di kelas maupun kegiatan - kegiatan lain yang mengarahi pencapaian tujuan pembelajaran. Peserta didik dikatakan aktif apabila peserta didik dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya, berani mengemukakan pendapat saat berdiskusi dan bersedia menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Dengan demikian siswa akan lebih berminat untuk belajar IPA karena dorongan banyaknya aktivitas belajar yang dilakukan. Pada akhirnya peningkatan aktivitas siswa dapat memacu peserta didik untuk berusaha mendapatkan hasil yang terbaik pada pelajaran IPA.

d.

Karakteristik materi Optik.

9

132

Ruang lingkup materi optik adalah konsep cermin dan lensa serta aplikasinya dalam produk teknologi sehari-hari. Aplikasi materi optik tersebut dalam produk teknologi sehari-hari pada berbagai peralatan sangat banyak. Karena itu materi ini esensial. Gejala-gejala fisika pada materi optik seperti pemantulan dan pembiasan cahaya yang menjadi faktor terpentingdapat diamati secara sederhana tanpa harus menggunakan alat bantu yang rumit. Contoh penerapan konsep cermin dan lensa dalam produk teknologi sehari-hari adalah kaca mata dan kamera. Materi dasar dalam judul penelitian ini diturunkan dari silabus pembelajaran pada Standart Kompetensi (SK) 6: Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optikal dalam produk teknologi seharihari. Kompetensi Dasar (KD) 6.3: Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa. Dan KD 6.4: Mendeskripsikan alat-alat optik dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. I. Model Penelitian 1. Seting Penelitian dan Kharakteristik Subyek. a. Waktu : Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada Maret 2009 sampai April 2009 yaitu pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009. b. Tempat : Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 7 Semarang yang berlokasi di jalan Imam Bonjol 191 A Semarang, c. Subyek Penelitian : Subyek penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah siswa kelas VIIIA SMPN 7 Semarang pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009, yang berjumlah 42 siswa terdiri 16 siswa lakilaki dan 26 siswa perempuan. Kelas VIIIA dipilih sebagai subyek penelitian karena memiliki karakteristik kelas heterogen, hasil belajar dan aktivitas rendah. Dalam pembelajaran IPA masih terpusat pada guru. 2. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas(PTK).

10

132

Siklus pertama direncanakanselama 4 pertemuan masingmasing 2x40 menit. Materi pembelajaran pada siklus 1 adalah tentang pembiasan pada: 1) lensa cekung, 2) lensa cembung, 3) prisma dan 4) kaca plan paralel. a. Perencanaan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: 1) Melakukan observasi awal untuk : mengidentifikasi hal-hal yang berhubungan dengan masalah teknik, memantapkan skenario dan pemilihan pendekatan pembelajaran. Masalah-masalah teknik yang berhubungan dengan guru diidentifikasi melalui wawancara dengan guru pengajar fisika. 2) Penyusunan perangat pembelajaran siswa (LKS) untuk seperti silabus dan sistem peningkatan aktivitas penilaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja mewujudkan belajarsiswa. 3) Menyiapkan media pembelajaran berupa alat peraga sederhana yang sesuai denga materi pembelajaran. 4) Menyusun kisi-kisi soal tes. 5) Menyusun dan menyiapkan alat evaluasi berupa lembar observasi untuk penilaian afektif, lembar observasi untuk penilaian psikomotor dan tes obyektif untuk penilaian kognitif. 6) Menetapkan kelas yang akan digunakan untuk penelitian. b. Pelaksanaan Tindakan. Pada tahap ini peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah direncanakan. Skenario pembelajaran direncanakan berbasis inkuiri dengan memanfaatkan alat peraga sains fisika materi alat optik. Ada empat tatap muka yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Setiap tatap muka terdiri dari lima tahapan yaitu: 1) Tahap awal (15 menit ) guru membimbing siswa menemuan masalah yang dekat dengan lingkungan. 11

132

2) Tahap kedua (25 menit) siswa pada kelompok masing-masing melakukan percobaan menggunakan kit optik . Kegiatan ini dipandu oleh LKS yang berisi: tugas melakukan kegiatan untuk mengamati gejala pembiasan pada lensa, prisma atau kaca plan parale, menjawab pertanyaan-pertanyaan, diskusi di dalam kelompok untuk membahas dan menyimpulkan hasil pengamatan pada percobaan mereka masing-masing serta menuangkan hasil diskusi tersebut pada lembar laporan sementara hasil percobaan. 3) Tahap ketiga (25 menit) siswa menempelkan hasil diskusi kelompok berupa laporan sementara hasil percobaan serta mempresentasikannya kepada seluruh siswa di depan kelas. Dalam presentasi diharapkan siswa menyampaikan temuan-temuan hasil observasi dan dengan bantuan guru menjelaskan kesimpulan hasil diskusi kelompoknya. 4) Tahap keempat (10 menit) dengan memanfaatkan hasil diskusi, guru membimbing siswa membuat rangkuman materi. 5) Tahap kelima (5 menit) guru melakukan evaluasi dengan tes tertulis dalam bentuk kuis. c. Observasi. Observasi dilakukan bersamaan dengan waktu pelaksanaan pembelajaran. Hal yang dipriorotaskan dalam observasi adalah proses tindakan, efek tindakan maupun hasil tindakan yang dilakukan. Fungsi observasi untuk merekam semua aktivitas dan kemampuan yang ditunjukkan siswa selama kegiatan pembelajaran. Setiap kejadian yang berhubungan dengan obyek yang diamati dicatat pada lembar pengamatan yang telah tersedia untuk digunakan sebagai bahan refleksi.

d. Refleksi. Data yang diperoleh dari observasi pelaksanaan tindakan berupa lembar observasi dan hasil tes obyektif. Data tersebut dikumpulkan, 12

132

dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui berhasil atau tidaknya tindakan yang telah dilakukan pada siklus pertama. Hasil refleksi ini menjadi dasar acuan untuk memperbaiki: rencana pembelajaran, proses pembelajaran, kinerja guru, perbaikan bahan kajian, LKS atau sarana lainnya yang berhubungan dengan keberhasilan pencapaian tujuan. Analisis data hasil observasi dilakukan tiap aspek. Modelanalisis data tiap-tiap aspek dapat dipaparkan sebagai berikut: 1) Aspek Ketrampilan Psikomotor. Analisis data aspek ketrampilan dilakukan terhadap data hasil observasi menggunakan tabel hasil analisis pengamatan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (a) Siswa diberi skor antara 1-4 jika melakukan satu kegiatan. (b) Menjumlahkan skor hasil observasi yang diperoleh siswa. (c) Mengubah ke koefisien dalam bentuk persen dengan rumus : P = Jumlah skor yang diperolehJumlah skor ideal x 100 %. (Sugiyono, 2003: 204). (d) Mengkategorikan banyaknya persen ke dalam tingkatan : i. Sangat rendah / tidak baik ii.Rendah / kurang baik iii.Cukup tinggi / cukup baik iv.Tinggi / baik (Suharsimi, 1998: 246). 2) Aspek Sikap. Analisis data aspek sikap dilakukan dengan menggunakan table hasil observasi dengan langkah-langkah sebagai berikut : analisis deskriptif kuantitatif kemudian dikualitatifkan untuk mendeskripsikan tingkat pencapaian aspek sikap siswa dengan cara : (a) Menggabungkan skor yang diperoleh siswa berdasar hasil observasi. (b) Mengubah ke koefisien dalam bentuk persen dengan rumus : P = Jumlah skor yang diperolehJumlah skor ideal x 100 %. (Sugiyono, 2003: 204). 13 = Kurang dari 40. = 40 %-55 %. = 56 %-75 %. = 76 %-100 %.

132

(c) Mengkategorikan banyaknya persen ke dalam tingkatan : i. Sangat rendah / tidak baik ii.Rendah / kurang baik iii.Cukup tinggi / cukup baik iv.Tinggi / baik (Suharsimi, 1998: 246). 3) Aspek Kognitif. Analisis data aspek kognitif dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : (a) Jawaban obyektif/uraian dianalisis dengan cara tiap jawaban benar diberi skor sesuai pedoman penilaian, selanjutnya skor tiap nomor jawaban dijumlahkan sehingga diperoleh skor total jawaban benar obyektif / uraian. (b) Nilai akhir siswa ditentukan dengan rumus sebagaimana pedoman penilaian tes dalam skala 0-100. (c) Mengkategorikan nilai akhir ke dalam tingkatan : i. Kurang dari 40,0 ii. 41,0-55,9 iii.56,0-75,9 iv. 76,0-100,0 Hasil belajar siswa = Sangat rendah / tidak baik. = Rendah / kurang baik. = Cukup tinggi / cukup baik. = Tinggi / baik. diperoleh dari perpadauan tiga aspek : = Kurang dari 40 %. = 40 %-55 %. = 56 %-75 %. = 76-100 %.

(Suharsimi, 1998: 246). kognitif, psikomotor dan afektif dengan bobot 3: 2: 1 . Penentuan bobot tersebut berdasarkan kecenderungan indikator terhadap ketiga aspek itu.

Mempertimbangkan hal tersebut maka nilai hasil belajar dirumuskan : N = 3xSkor kognitif+2x skor psikomotor+skor afektif6. 4) Aspek Aktivitas. Analisa data aktivitas siswa dilaukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

14

132

(a) Aktivitas yang dilakukan oleh siswa diberi skor menurut jenis aktivitas belajar yang dilakukan. Satu jenis aktivitas belajar diberi skor 1-2. (b) Menjumlah skor yang diperoleh siswa dan menilai dengan rumus : Nilai yang diperoleh adalah : x = Jumlah skor yang diperolehJumlah skor maksimal x 100. (Sugiyono, 2003: 204) (c) Mengkategorikan kedalam kriterian tingkatan. Kriteria aktivitas disetarakan dengan Kriteria berfikir kreatif sebagai berikut: Siswa dikategorikan : i.Sangat aktif ii.Aktif iii.Kurang aktif iv.Sangat kurang aktif : 81,25 < x <= 100. : 62,50 < x <= 81,25. : 43,75 < x <= 62,50. : 25,00 < x <= 43,75.

Dengan x adalah nilai yang diperoleh (Tim Peneliti Program Pasca Sarjana UNY, 2003-2004). Selanjutnya hasil analisis data pengamatan digunakan sebagai dasar dalam merencanakan kegiatan pada siklus berikutnya. Siklus II. Siklus kedua direncanakan dengan mengacu pada hasil refleksi siklus pertama. Keempat tahapan pada siklus I diatas (perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi) merupakan serangkaian yang dilakukan pula pada siklus II. Revisi bahan kajian dilakukan jika diperlukan guna memperbaiki kegiatan siklus I, agar hasilnya lebih meningkat. Setiap perubahan disesuaikan dengan perkembangan hasil refleksi. Materi yang diberikan pada silkus II merupakan materi lanjutan dari siklus pertama. 3. Data Penelitian. Data penelitian berupa : a. Tes : diperoleh dengan melakukan tes tertulis soal-soal obyektif terhadap subyek belajar disetiap akhir siklus. 15

132

b. Observasi psikomotor :diperoleh dengan melakukan observasi terhadap subyek belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Sampel dipilih secara acak selama siklus berlangsung. c. Observasi afektif : diperoleh dengan melakukan observasi sikap siswa selama mengikuti pembelajaran. Sampel dipilih secara acak selama siklus berlangsung. d. Observasi kinerja guru : diperoleh melalui observasi oleh kolaborator/guru mitra terhadap kinerja subyek peneliti selama proses pembelajaran dalam satu siklus. Sampel diambil secara acak selama siklus berlangsung. e. Observasi aktivitas siswa : diperoleh dengan melakukan observasi terhadap subyek belajar pada aspek aktivitas belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Sampel proses pembelajaran dipilih secara acak selama siklus berlangsung. 4. Indikator Keberhasilan. Keberhasilan penelitian tindakan ini ditandai adanya peningkatan hasil belajar siswa yang diukur berdasar ketuntasan belajar klasikal. Indikator ketuntasan belajar siswa mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) SMPN7 Semarang yaitu : a) Siswa dinyatakan telah belajar tuntas jika mencapai nilai 68, b) Kelas telah belajar tuntas jika terdapat 85% siswa yang telah belajar tuntas. Apabila kelas belum mencapai ketuntasan belajar maka penelitian tindakan kelas dilanjutkan pada siklus berikutnya. Tindakan yang dipilih pada siklus itu direncanakan berdasar hasil refleksi dari tindakan pada siklus sebelumnya. Dengan memperhatikan hal tersebut penelitian tindakan kelas (PTK) ini, dinyatakan telah berhasil mencapai tujuan apabila : a. Hasil belajar minimal 85% siswa mencapai KKM/tuntas. b. Aktivitas siswa minimal25% dalam kategori aktif. 5. Analisa Instrumen Penelitian. Judul : Penerapan Model PBI Untuk Meningkatkan Hasil belajar dan Aktivitas Siswa Materi optik Kelas VIII A SMP7 Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009. 16

132

Tujuan penarapan model PBI.

: meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa materi

optik di kelas VIII A SMP 7Semarang tahun pelajaran 2008/2009 dengan Tabel 3 . Analisa Instrumen Penelitian Tindakan Kelas (PTK) N0 Variabel Penyajian belajar oleh guru. Aspek Indikator • Kegiatan. Melaksanakan tahapan pembelajaran dengan baik meliputi kegiatan : apersepsi, motivasi, kegiatan inti dan penutup. Mengikuti tes tertulis yang direncanakan guru. Menyadari pentingnya pemanfaatan optik dalam produk teknologi. Melakukan pengamatan tentang pembentukan bayangan benda pada lensa cembung, lensa cekung. Melakukan pengamatan tentang pembentukan bayangan pada alat-alat optik yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Melakukan aktivitas oral (diskusi/presentasi) dengan baik. Melakukan aktivitas (pengamatan obyek dengan baik. Model Lembar observasi proses pembelajaran. Tes tertulis. Observasi.

1

Kognitif. Afektif. Hasil belajar siswa. Psikomotorik.

• • •

2

Observasi kegiatan praktek. Observasi kegiatan praktek.

3 Aktifitas belajar.

• • •

Observasi PBM. Observasi visual PBM. belajar)

17

132

6. Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. Jadwal Penelitian Tindakan Kelas(PTK) Peserta PKM SMPN 7 Semarang Tahun 2008/2009 NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Jenis Kegiatan Observasi Awal Penyusunan Proposal Konsultasi penyusunan proposal/ desiminasi Pembuatan instrumen dan Perangkat PBM Pelaksanaan intervensi dan Observasi Evaluasi dan Refleksi, Pengisian Kuisener Siklus I Evaluasi dan Refleksi, Pengisian Kuisener Siklus II Evaluasi dan Refleksi, Pengisian Kuisener Siklus III Pembahasan Hasil Penelitian Penyusunan Laporan Pelaporan Februari 2009 x x x x Maret 2009 x x x x x x x x x x x x x Bulan April 2009 Mei 2009 Juni 2009

18

132

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 1991. Teknik Belajar yang Efektif. Jakarta: Rineka Cipta Balitbang, Depdiknas. 2006. Model Pengembangan silabus Mata Pelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IPA Terpadu. Jakarta. Dalyana. 1991. Dasar-Dasar Kegiatan Belajar Mengajar.Bandung: Remaja Karya. Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 3 rd ed. Jakarta : Balai Pustaka. Hamalik,O. 2008.Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Hamalik,O.2008. Kuriulum dan Pembelajara. Jakarta :Bumi Aksara Lewin, Kurt. 1990. Action Reseacrh and Minority Problems The Action Research Reader. 3 rd ed. Deakin University. Mapiare,A.1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional. Mustofa,B.2008. Metode Penulisan Skripsi dan Tesis. Yogyakarta: Penerbit Optimis. Purwanto, N.1986. M. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya. Roestiyah, N.K. 1987. Masalah-Masalah Keguruan. Jakarta: Bina Aksara. Sugiyono, 2003. Metode Penelitian Administratif. Bandung: Alfabeta. Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto,S, Suharjono, Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Bumi Aksara Suparno, AS. 1998. Penelitian Tindakan Kelas, Makalah disajikan dalam Lokakarya Nasional Instruktur PKG. Bogor : Depdikbud Triani.Ch. 2008. Bahan Ajar Perkembangan Psikologi Peserta Didik. Semarang. Unnes Trianto.2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik Konsep Landasan Teori-Praktis dan Implementasinya.Jakarta: Prestasi Pustaka Uno,H.B.2008.Teori Motivasi dan Pengukurannya.Jakarta: Bumi Aksara Wibawa, Dr. Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.. Widyaningsih,T.S. 2008. Implementasi Teknik Two Stay Two Straydan Media Kartu Gambar Dalam Pembelajaran IPS Geografi Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX F SMP Negeri Bangun Tapan. Laporan PTK.Tidak Diterbitkan. Winkel, W.S. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta : Gramedia. Wiyanto.2008.Menyiapkan Guru Sains Mengembangkan Kompetensi Laboratorium.Semarang: Unnes Press Yamin,H.M.2007.Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi.Jakarta:Persada Press.

132

KISI-KISI PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) Judul : Penerapan Model PBI Untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa pada Materi Optik Kelas VIIIA SMP 7 Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009. Tujuan : Meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa materi optika di kelas VIIIA SMP7 Semarang tahun pelajaran 2008-2009 melalui penerapan model PBI. N0 1 Variabel Penyajian belajar oleh guru. Aspek Kegiatan . Indikator Melaksanakan tahapan pembelajaran dengan baik meliputi kegiatan: apersepsi, motivasi, kegiatan inti dan penutup. Mengikuti tes tertulis yang direncanakan guru. Melaksanakan tugas proyek dan menyusun laporan tugas proyek secara tertulis. Menyadari pentingnya mempelajari pemanfaatan optik dalam produk teknologi. Menjelaskan cara kerja beberapa produk teknologi yang relevan, seperti : mikroskop, berbagai jenis teropong, periskop dan sebagainya melalui percoaan/pengamatan. Melakukan ativitas oral (diskusi/presentasi) dengan baik Melakukan ativitas visual (pengamatan obyek belajar) dengan baik. Model Observasi proses pembelajaran . Tes tertulis.

Kognitif. Hasil belajar siswa.

2

Afektif.

Observasi. Observasi kegiatan praktek. Observasi PBM. Observasi PBM.

Psikomotorik.

3

Aktivitas belajar.

-

132

LEMBAR OBSERVASI SISWA JENIS PENILAIAN : Psikomotor. MATA PELAJARAN : IPA. Nama Siswa. N Ke o. lo A m bs po en. k
3 9 20 21 23 36 2 13 27 30 35 42 17 18 19 28 29 41 8 10 11 25 26 34 6 14 16 31 32 40 Aisahal. K Chintya Intan Ks Intan Oke D Maulida A Siti N Aisaha Dika Ws Nadhiroh Nur.Su Siti A Yunita Rs Fariska Yrk Fitri Hanik R Nila D Nugroho Fp Yulfa Sn Evan Dani M Dindha A M. Fajar.Md M.Syahbt Rauf Ap Ali Maskur Dinda Plma Evan Nh Prayogi.Ew Fajar Wiky M

Guru Pengajar : Ilyasin,S.Pd Kelas/Semester: VIIIA/2.
Indikator. Mengkomunikasika n data hasil percobaan di depan teman-temannya dengan bahasa yang baik dan runtut, Data hasil percobaan tepat dan benar. 4 3 2 1

Menyiapkan alat dan bahan. 4 3 2 1

Menyusun alat atau bahan. 4 3 2 1

Membaca hasil pengukuran. 4 3 2 1

Membuat kesimpulan hasil percobaan. 4 3 2 1

I

II

III

IV

V

Semarang,

April 2009.

132

RUBRIK PENSKORAN ASPEK PSIKOMOTORIK No 1 Indikator Menyiap kan alat dan bahan. Skor 4 3 2 1 • • • • 2 Menyusu n alat atau bahan. 4 3 2 1 3 Membaca hasil pengukur an. 4 3 2 1 4 Membuat kesimpul an hasil percobaa n. 4 3 2 1 • • • • • • • • • • • • • • • Kriteria menyediakan alat dan bahan percobaan dengan lengkap. salah satu alat/bahan percobaan tidak disiapkan dengan lengkap. dua alat/bahan percobaantidak disiapkan dengan lengkap. lebih dari dua alat/bahan percobaan tidak disiapkan dengan lengkap. Menyusun alat dan bahan sesuai prosedur LKS tanpa bantuan orang lain. Menyusun alat dan bahan sesuai prosedur LKS tetapi pernah satu kali minta bantuan orang lain. Menyusun alat dan bahan sesuai prosedur LKS tetapi pernah lebih satu kali minta bantuan orang lain. Tidakmampu menyusun alat dan bahan sesuai prosedur LKS. Mampu membaca hasil pengukuran serta satuan secara benar. Mampu membaca hasil pengukuran tetapi satuan salah atau sebalikanya. Hanya membaca hasil pengukuran tanpa menyebutkan satuan atau sebaliknya. Tidak mampu membaca hasil pengukuran. Membuat kesimpulan berdasarkan analisa dari data hasil percobaan dengan baik tanpa bantuan dari guru. Membuat kesimpulan berdasarkan analisa dari data hasil percobaan dengan 1 x bantuan dari guru. Membuat kesimpulan berdasarkan analisa dari data hasil percobaan dengan 2-3 x bantuan dari guru. Membuat kesimpulan berdasarkan analisa dari data hasil percobaan dengan bantuan dari guru lebih dari 3x. Semua indikator terpenuhi dengan baik. Memenuhi 2 indikator namun salah satu indikator belum tercapai dengan baik. Hanya 1 indikator terpenuhi.

5

Mengkomunikasika n data hasil percobaan di depan teman-temannya dengan bahasa yang baik dan runtut, data hasil percobaan tepat dan benar.

4 3 2 1

132

• Jumlah skor ideal 20

Tidak dapat memenuhi indikator dengan baik.

Kriteria aspek psikomotor. i. Kurang dari 40 % ii.40 %-55 % iii.56 %-75 % iv.76 %-100 % (Suharsimi, 1998: 246). = sangat rendah / tidak baik. = rendah / kurang baik. = cukup tinggi / cukup baik. = tinggi / baik.

132

LEMBAR OBSERVASI SISWA Jenis Penilaian: Afektif. Mata Pelajaran : IPA.
Ke lo mp ok.

Guru Pengajar : Ilyasin,S.Pd. Kelas/Semester : VIII/2.
Indikator. Sistematis. Kejujuran. Kedisiplinan dalam mengembalikan alat/bahan. 4 3 2 1 Ju ml ah sk or.

No ab se n.
3 9 20 21 23

Nama siswa.
AISAHAL. KAROMAH CHINTYA INTAN KS INTAN OKE D MAULIDA A SITI N AISAHA DIKA WS NADHIROH NUR.SU SITI A YUNITA RS FARISKA YRK FITRI HANIK R NILA D NUGROHO FP YULFA SN EVAN DANI M DINDHA A MUH. FAJAR.MD M.SYAHBT RAUF AP

Kehadiran di kelas/laboratorium. 4 3 2 1

Partisipasi dalam kegiatan praktikum. 4 3 2 1

4

3

2

1

4

3

2

1

I

36 2 13 27 30 35

II

42 17 18 19 28 29

III

41 8 10 11 25 26

IV

34

132

6 14 16 31 32 V 40 5 7 22 33 37 VI 38

ALI MASKUR DINDA PLMA EVAN NH PRAYOGI.EW FAJAR WIKY M AL. HEGAR ARVAN DIKA MAULAN GK RATNA CA SOFIA DA SUBIC TU

Semarang,.........April 2009

132 KRITERIA PENSEKORAN ASPEK AFEKTIF Indikator Kehadiran di kelas/laboratorium . S kor 4. 3 2 1 Kriteria • • • • Partisipasi dalam kegiatan praktikum. • 4 3 2 1 4 3 2 1 Kejujuran. 4 3 2 1 Kedisiplinan dalam mengembalikan alat/bahan percobaan • • • • • • • • • • • • 4 3 2 1 Jumlah skor ideal 20 = Kurang dari 40 %. = 40 %-55 %. 26 • • • Hadir di kelas sebelum guru masuk kelas/lab. Hadir di kelas5 menit sesudah guru masuk kelas/lab. Hadir di kelas antara 5-10 menit sesudah guru masuk kelas/lab. Hadir di kelas lebih dari10 menit sesudah guru masuk kelas/lab. Bekerja sama dengan semua anggota kelompok. Bekerja sama dengan 4-3 anggota kelompok. Bekerja sama dengan 2-1 anggota kelompok. Tidak mau bekerja sama dengan anggota kelompok. Seluruh kegiatan percobaan dilakukan sesuai prosedur LKS. Melaukan kegiatan percobaan namun ada 2-1 bagian dilakukan tidak sesuai prosedur LKS. Melaukan kegiatan percobaan namun ada 3-4 bagian dilakukan tidak sesuai prosedur LKS. Tidak melakukan kegiatan percobaan sesuai prosedur LKS. Seluruh data hasil percobaan tidak mencontoh kelompok lain. 1-2 data hasil percobaan mencontoh kelompok lain. 3-4 data hasil percobaan mencontoh kelompok lain. Seluruh data hasil percobaan mencontoh kelompok lain. Masing-masing kelompok mengembalikan semua alat dan bahan percobaan ke tempat semula. Ada 1 alat dan bahan percobaan yang tidak dikembalikan ke tempat semula. Ada 2 alat dan bahan percobaan yang tidak dikembalikan ke tempat semula. Lebih dari 2 alat dan bahan percobaan yang tidak dikembalikan ke tempat semula.

Sistematis.

Kriteria aspek afektif : (i) Sangat rendah / tidak baik (ii) Rendah / kurang baik

132 (iii)Cukup tinggi / cukup baik (iv)Tinggi / baik (Suharsimi, 1998: 246). = 56 %-75 %. = 76-100 %.

LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS BELAJAR SISWA Jenis Penilaian : Aktivitas Belajar Mata Pelajaran : IPA Guru Pengajar Kelas/Semester : Ilyasin,S.Pd : VIII/2

Kelo mpok.

I

II

III

IV

V

N0 Absen . 3 9 20 21 23 36 2 13 27 30 35 42 17 18 19 28 29 41 8 10 11 25 26 34 6 14 16 31 32 40

Nama Siswa. AISAHAL. K CHINTYA INTAN KS INTAN OKE D MAULIDA A SITI N AISAHA DIKA WS NADHIROH NUR.SU SITI A YUNITA RS FARISKA YRK FITRI HANIK R NILA D NUGROHO FP YULFA SN EVAN DANI M DINDHA A MUH. FAJAR.MD M.SYAHBT RAUF AP ALI MASKUR DINDA PLMA EVAN NH PRAYOGI.EW FAJAR WIKY M

Turus. Melakukan ativitas oral Melakukan (diskusi/presentasi) . ativitas visual (pengamatan obyek belajar). A B C D E F G H I

JUMLAH

Semarang, 7 April 2009. Observer.

27

132 RUBRIK PENSEKORAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA No 1 Indikator Melakukan ativitas oral (diskusi/prese ntasi) dengan baik Jenis Aktivitas Alat Bantu Observasi Skor 1 1 1 2 1 Jumlah

A. Mengajukan pertanyaan B. Menjawab pertanyaan C. Menyampaikan pendapat Jagung. D. Memaparkan hasil diskusi E. Menarik kesimpulan F. Menyiapkan,memilih alat. G. Merangkai alat /kit potik. H. Mengoperasikan alat. I. Melakukan pengamatan/ pengukuran. K.tholo. K.hitam. K. hijau. K. tanah.

6

2

Melakukan aktivitas visual (pengamatan obyek belajar) dengan baik.

2 2 2 2 8

( Hamalik, 2008). Keterangan Siswa Melakukan salah satu jenis aktivitas deberi 1 turus. Nilai yang diperoleh adalah, x = jumlah skor yang diperolehjumlah skor maksimal x 100. Kriteria aktivitas diambil dari kriteria berfikir kreatif sebagai berikut: siswa dikategorikan : 1. Sangat Aktif 2. Aktif 3. Kurang aktif 4. Sangat kurang aktif UNY, 2003-2004). : 81,25 < x <= 100. : 62,50 < x <= 81,25. : 43,75 < x <= 62,50. : 25,00 < x <= 43,75.

Dengan x adalah nilai yang diperoleh (Tim Peneliti Program Pasca Sarjana

28

132 OBSERVASI PENYAJIAN BELAJAR/ KINERJA GURU
Aspek Penilaian Mata Pelajaran No Aspek yang Diamati. : Kinerja Guru Guru Pengajar: Ilyasin,S.Pd : IPA Kelas/Semester : VIII/2 SIKLUS : 1/2 Indikator. Dilakukan. Ya. Tidak. Ket.

1

Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran .

1. Menarik perhatian peserta didik. 2. Menimbulka n motivasi belajar peserta didik. 3. Mengaitkan bahan ajar yang lalu dengan yang akan diberikan. 4. Mengevalua si proses pembelajara n. 1. Memperhati kan prinsipprinsip penggunaan jenis media. 2. Ketepatan saat penggunaan. 3. Keterampila n dalam mengoperasi kan. 4. Membantu meningkatk an proses pembelajara n. Pengungkapan cukup jelas. Pemberian waktu berpikir. Penyebaran pertanyaan ke seluruh kelas. Penggunaan pertanyaan pelacak. Merumuskan tujuan diskusi. Menyebarkan kesempatan peserta 29

2

Variasi dalam menggunakan media dan bahan pelajaran.

3

Keterampilan bertanya.

1. 2. 3. 4. 1. 2.

4

Keterampilan membimbing

132 kelompok kecil. didik berpartisipasi. 3. Merangkum hasil diskusi. 4. Memberikan gambaran lanjut.

tindak

Rubrik pensekoran penyajian belajar/kinerja guru : Skor 1 untuk Ya. Skor 0 untuk Tidak. Kriteria Penyajian belajar/kinerja guru Nilai BAIK apabila jumlah skor lebih dari 12. Nilai SEDANG apabila jumlah skor x, dimana 8 ≤ x ≤ 12. Nilai KURANG apabila jumlah skor kurang dari 8.

LEMBAR KINERJA GURU PERSIAPAN MENGAJAR
NAMA GURU MATA PELAJARAN KELAS/SEMESTER SIKLUS : ILYASIN,S.Pd : IPA : VIII/2 : 1/2

NO I Persiapan

Aspek 1. Program tahunan 2. Program semester 3. Alanisa materi pelajaran 4. Silabus 5. RPP/ scenario Evaluasi 1. Evaluasi hasil belajar 2. Analisa hasil belajar 3. Daya serap 4. Penilaian tugas 5. Program perbaikan – pengayaan Jumlah

Skor maksimum 2 2 3 3 10 2 2 2 2 2 20

Skor Perolehan

III

30

132 Semarang, ......................April 2009 Kolaborator

Rubrik penskoran kinerja guru NO I Aspek dinilai yang Skor Maximu m 2 Keterangan Perolehan Tidak ada prota,skor=0 Ada prota tetapi kurang komunikatif , skor=1 Ada dan komunikatif , skor= 2 Tidak ada prosem,skor=0 Ada prosem tetapi kurang komunikatif , skor=1 Ada dan komunikatif , skor= 2 Tidak ada AMP, skor=0 Ada tetapi kurang memadai , skor=1 Ada memadai , skor= 2 Ada dengan perluasan, skor=3 Tidak ada silabus ,skor=0 Ada kurang memadai , skor=1 Ada memadai , skor= 2 Ada dengan perluasan , skor=3 Tidak ada , skor=0 Ada tidak memenuhi syarat minimal , skor=1-5 Ada memenuhi syarat minimal , skor=5-8 Ada dengan dikembangkan , skor 9-10 31 Skor Peroleha n

Persiapan 1. Program tahunan 2. Program semester 3. Alanisa materi pelajaran 4. Silabus

2

3

3

5. RPP/ skenario

10

II

Evaluasi

132 1. Evaluasi hasil belajar 2 Tidak ada skor=0 Hanya dengan tes tertulisr skor = 1 Dengan lebih dari satu cara skor =2 Tidak ada skor=0 Ada skor= 2 Tidak ada skor=0 Ada skor= 2 Tidak ada skor=0 Ada skor= 2 Tidak ada skor=0 Ada skor= 2

2. Analisa hasil belajar 3. Daya serap 4. Penilaian tugas 5. Program perbaikan -pengayaan Jumlah

2 2 2 2

LEMBAR OBSERVASI PENYAJIAN BELAJAR/ KINERJA GURU
Aspek Penilaian Mata Pelajaran No Aspek yang Diamati. : Kinerja Guru Guru Pengajar: Ilyasin,S.Pd : IPA Kelas/Semester : VIII/2 SIKLUS : 1/2 Indikator. Dilakukan. Ya. Tidak. Ket.

1

Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran .

5. Menarik perhatian peserta didik. 6. Menimbulka n motivasi belajar peserta didik. 7. Mengaitkan bahan ajar yang lalu dengan yang akan diberikan. 8. Mengevalua si proses pembelajara n. 5. Memperhati kan prinsipprinsip penggunaan 32

2

Variasi dalam menggunakan media dan bahan

132 pelajaran. jenis media. 6. Ketepatan saat penggunaan. 7. Keterampila n dalam mengoperasi kan. 8. Membantu meningkatk an proses pembelajara n. Pengungkapan cukup jelas. Pemberian waktu berpikir. Penyebaran pertanyaan ke seluruh kelas. Penggunaan pertanyaan pelacak. Merumuskan tujuan diskusi. Menyebarkan kesempatan peserta didik berpartisipasi. Merangkum hasil diskusi. Memberikan gambaran tindak lanjut.

3

Keterampilan bertanya.

5. 6. 7. 8. 5. 6. 7. 8.

4

Keterampilan membimbing kelompok kecil.

Rubrik pensekoran penyajian belajar/kinerja guru : Skor 1 untuk Ya. Skor 0 untuk Tidak. Kriteria Penyajian belajar/kinerja guru Nilai BAIK apabila jumlah skor lebih dari 12. Nilai SEDANG apabila jumlah skor x, dimana 8 ≤ x ≤ 12. Nilai KURANG apabila jumlah skor kurang dari 8.

REFLEKSI SIKLUS 2 1. FASE 1 ORIENTASI MASALAH 33

132 Demonstrasi/menghadirkan fenomena menarik dari lingkungan yang riil tetap dilaksanakan seperti pada siklus 1 mengawali pembelajaran pada siklus 2. Hadirnya fenomena riil tentang penggunaan alat tes cacat mata mempercepat siswa menemukan permasalahan yang terkait dengan alat-alat optik. Disamping itu kita mendapatkan siswa dalam berkonsentrasi tentang materi alat-alatoptik dengan segera. 2. FASE 2 MENGORGANISASI SISWA Pembagian kelompok menggunakan kelompok belajar yang telah dibentuk oleh kelas dengan beberapa penyempurnaan. Perubahan perlakuan pada fase ini hanya dalam penempatan tempat duduk dalam kelompok. Dari penelitian yang pernah penulis lakukan siswa kelas 8 tempat duduk sebaiknya menggunakan prinsip satuan terpisah, tempat duduk siswa laki-laki tidak berdekatan dengan tempat duduk siswa perempuan. Mereka merasa memiliki beban psiologis jika duduk berdekatan dengan teman lain jenis. Pengaturan tempat duduk secara acak tidak akan memberikan beban untuk remaja madya.Umumnya ciri perkembangan seseorang yang mulai ingin mengenal lawan jenis dan berkomunikasi dengan lawan jenis ada pada remaja madya usia 15-17 tahun (Ani.Ch.T, 2008). Pembatasan waktu praktek : kegiatan siswa diberi batas waktu

kurang-lebih 20 menit serta dicantumkan batasan waktu itu pada LKS. Maksud pemberian batas waktu adalah seperti diuraikan pada perencanan silus 1. Pencantuman batas watu dalam LKS dimaksudkan untuk memberi peringatan secara terus menerus sehingga mereka tidak terlena dalam kesibukan. 3. FASE 3 Membimbing penyelidikan individu Pembimbingan siswa dalam melakukan kegiatan/pengamatan : pemberian bimbingan siswa pada hakekatnya bersifat individu (Jasmine. 2007 hal:177). Untuk tujuan evektivitas kerja mereka dibantu dengan LKS yang diberikan masing-masing kelompok 2-3 lembar. Dengan rasio 1 LKS untuk 2 orang siswa maka diskusi antar mereka dalam satu kelompok lebih maksimal. Akibat logis yang akan terjadi adalah meningkatnya aktivitas belajar. Peran LKS adalah untuk membantu 34 kerja kelompok dalam

132 melaksanakan tugas mereka agar lebih terarah. Yang lebih diharapkan adalah munculnya ide-ide baru dalam mencapai tujuan belajar serta penguasaan konsep secara lebih cepat. 4. FASE 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya untuk dipresentasikan Pembimbingan ini berfungsi untuk menyakinan bahwa hasil pengamatan siswa benar. Guru harus bekerja keras sebagai pelayan yang baik sehingga menjangkau semua kelompok. Guru dapat mengetahui ketercapaian tujuan di setiap kelompok secara meyakinkan melalui bimbingan kelompok ini. Kelompok yang belum mendapatkan hasil dengan benar dapat disarankan untuk melakukan pengamatan lebih jeli. Bantuan dari teman observer dalam melakukan bimbingan ini sangat mendukung tercapainya tujuan lebih cepat.

5. FASE 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Pembatasan waktu Presentasi diperlukan sebagaimana yang dijelaskan pada refleksi siklus 1. Untuk pemerataan kesempatan disarankan agar petugas presenter bergilir dan jika diperlukan bisa 2 siswa secara bersamaan. Seluruh perencanaan tindakan pada siklus 2 tersebut disajikan untuk evektifitas pencapaian tujuan pembelajaran dan peningkatan indikator keberhasilan yang telah dicapai pada siklus 1. Hasil pelaksanaan atas rencana tindakan tersebut dapat disaksikan dalam data hasil pengamatan berikut.

Aspek kognitif
Maksimal Tertinggi Terendah 100 83 58

Rata-Rata Ketuntasan Belajar Klasikal

70,8 54,8 Tuntas

35

132 Psikomotor
8 3,3
Psiomotor Tinggi Psiomotor Tinggi Psikomotor Rendah Cukup

% 1 4,3 % 2,4 %

Avektif
Rata-Rata Kategori Baik Kategori Cukup Baik Kategori Kurang Baik 90,7 88% 12% 0%

Aktivitas
0,0 Sangat Aktif(Sa) Aktif(A) Kurang Aktif(Ka) Sangat Kurang Aktif(Ska) Pasif % 28,6 % 38,1 % 23,8 % 9,5 %

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->