P. 1
Pengertian Nabi Dan Rasul

Pengertian Nabi Dan Rasul

|Views: 16,198|Likes:
Published by Tembeleg

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Tembeleg on Sep 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

pdf

text

original

Sifat ini merupakan suatu kepastian bagi nabi. Sifat ini, walaupun bagi manusia biasa

juga merupakan keharusan, namun untuk bekal dakwah para nabi sifat itu menjadi sesuatu

yang mutlak wajib ada, dan bahkan merupakan sifat pembawaan pada diri mereka. Maka

tidaklah mungkin bagi seorang nabi, nabi mana pun juga, dari dirinya timbul sesuatu yang

dapat merosak kewibawaan seperti berbohong dan berkhianat, memakan harta manusia

dengan jalan yang tidak sah, dan sifat-sifat buruk lainnya.

Memandangkan sifat itu tidak wajar bagi manusia biasa, maka bagaimana halnya

dengan seorang nabi yang dekat dengan Tuhan atau raul yang mulia? Seandainya boleh

terjadi adanya kebohongan pada para nabi, maka pastilah itu tidak berkaitan dengan berita

yang disampaikan melalui wahyu atau kemungkinan hanyalah persoalan-persoalan yang

berkaitan dengan diri mereka sendiri, atau mereka menciptakannya dari konsep pemikiran

7

mereka kemudian mereka menyandarkannya kepada Allah secara bohong, namun rasanya

hal itu tidak mungkin terjadi pada mereka.

Oleh kerana itulah kita mendapati Al-Quranul Karim menghukumnya dengan

ketentuan yang pasti terdadap setiap yang mencuba mengada-ada dengan atas nama

Allah, atau lisannya berbuat dusta. Allah berfirman tentang diri Nabi Muhammad SAW yang

bermaksud:

“Seandainya dia (Muhammad ) mengada-adakan sebagai perkataan atas (nama)
Kami, nescaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kananya. Kemudian

benar0benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang

pun dari kamu yang dapat menghalang ( Kami ) dari pemotongan urat nadi itu. Dan

sesunguhnya Al-Quran itu benar-benar suatu pengajaran bagi orang-orang yang

bertakwa”.

(Al-Haqqah: 44-48)

Ayat ini merupaka ancaman yang menakutkan bagi orang yang membuat dusta

nama Allah dalam urusan akidah. Ini adalah suatu ketentuan yang tidak ada ampun (belas

kasih) di dalamnya. Ketentuan ini lahir untuk menetapkan kemungkinan yang satu tanpa

adanya kejujuran Rasulullah SAW bersarta manusia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->