P. 1
kumpulan cerpen

kumpulan cerpen

|Views: 5,855|Likes:
Published by chytra
kumpulan cerpen tentang perjuangan kehidupan
kumpulan cerpen tentang perjuangan kehidupan

More info:

Published by: chytra on Sep 01, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

Udara yang kulewati terasa panas dan bergelombang, menerbangkan debu-debu yang mencekoki

tenggorokan. Beberapa kali roda besar hartop hitam ini tergelincir dan Hasan berulang pula

menekan gas. Ia berkeringat tapi tak sebanyak keringatku yang membanjir atau Alex yang

memilih tidur terlentang di tengah sengatan gurun. Dia persis seperti unta yang akan segera

dehidrasi. Masalahnya ini adalah pertama kalinya tugasku ke negeri bergurun yang benar-benar

punya matahari.

“Kau tahu Don, aku pernah ke khatulistiwa dan mendaki gunung di Alaska. Tapi tidak

ada yang lebih buruk daripada dehidrasi,” Will terkekeh, wajahnya memerah persis sekali udang

rebus setengah matang. “Yah, kuharap ini tidak akan lama. Seburuk apa keadaan disini?”

jawabku. Hartop berjalan dan tergelincir lagi lalu terantuk pada lobang kecil hingga

melambungkan kami semua.”Woooiii cool!” Will berseru seperti biasa seruan-untuk-apa-saja.

Alex terbangun dan mencelingukkan kepalanya. “Sudah sampai?” tanyanya dengan mata

setengah terbuka, “oh alangkah baiknya kalau ada jus jeruk dingin. Siapapun penemunya aku

berterimakasih padanya,” sambungnya yang dijawab dengan ledekan Will,”maann, berhentilah

menggigau tentang jus jeruk di planet mars.”

Udara semakin panas menyengat disertai kepulan debu berhamburan membuat kami

terbatuk-batuk dan berusaha menutupi mulut.“Ribuan mil dari rumah, oh ya ampun rasanya aku

benar-benar merindukan Chicago dan rumah kami yang nyaman, istriku Sarah dan ….” Will

terbahak-bahak dibangku belakang mendengar ucapanku. “Halllo Mayor ini tugas….!” Aku

angkat bahu, “apa boleh buat, itulah yang tak kumengerti kenapa orang-orang menciptakan

perang?” “Jangan tanya padaku Mayor, kau tahu jawabannya!”

chy_bert@yahoo.com

Page 14

Hartop hitam meluncur semakin cepat ketika suhu gurun nyaris membuat kami jadi ayam

panggang. Will terus menerus mengeluhkan lambatnya pengemudi yang menurutku sudah

melebihi kecepatan di alam berpasir. Ia selalu berusaha memastikan kompas dan peralatan

minumnya masih berada di tempat yang benar. Sedangkan Alex sama sekali tidak mempedulikan

hal itu, ia sibuk dengan mimpinya menyelam di samudra atlantik pada suhu 37 derajat, hal yang

sama sekali tidak mungkin. “Berapa lama lagi?” tanyaku pada pengemudi yang bernama Hasan.

Pria berjanggut putih lebat itu mengacungkan dua jarinya. Aku langsung paham, artinya pasti 20

menit, tapi rasanya akan menjadi 20 jam terpanjang. Ya ampun bagaimana bisa orang-orang ini

hidup dibawah oven pemanggang tanpa mengeluh sedikitpun.

Sesaat kemudian, dua mobil lain di depan kami memperlambat lajunya. Sersan Fick yang

mengawal kami dari perbatasan hingga Baghdad menjengukkan kepalanya dari mobil di

depanku. “Jembatan, Mayor!” Ia menunjuk ke arah depan, aku mengangguk mengiyakan. “Oh

God! Apa lagi ini?!”ujar Will dari balik bahuku. “maaann, apa kau tak bisa berhenti mengoceh

barang satu menit? Kau mengacaukan mimpiku dengan seruan konyolmu itu!” serobot Alex

lantas beringsut dari kursinya dan menegakkan lehernya. Ia berusaha memastikan bahwa urat-

urat lehernya masih berada di tempat semestinya. “Berapa lama lagi?” “Entahlah, Hasan

mengatakan kira-kira 20 menit tapi sekarang aku tidak yakin,” jawabku sekenanya.

“Ya ampun, entah apa yang sedang terjadi di depan sana?” baru saja Will berkata begitu,

sersan Fick langsung berlari mendekat. Nafasnya tersengal-sengal, kata-kata seperti berebutan

dari mulutnya,”Jembatan dirusak, entah siapa yang melakukan ini yang jelas ini akan

memperlambat kita,” ujarnya. Alex menepuk keningnya,”sudah kuduga, sebagai mana mestinya

mereka tidak begitu menyukai kehadiran kita disini. Yah tak ada yang mengherankan.” Kali ini

Will hanya mengangguk setuju.

chy_bert@yahoo.com

Page 15

Kami tidak harus menunggu selama sepuluh menit untuk melewati jembatan ataupun

untuk memperbaikinya. Karena selang beberapa menit saja terdengar sebuah dentuman yang

berasal dari mobil di depan kami, seperti ledakan besar yang langsung disertai kobaran api

menyala-nyala. Warna hitam hartop di depanku langsung menjadi merah kekuningan. Aku

tercekat, sesaat tidak ada yang berkata-kata. Sepertinya jantungku memompa darah langsung ke

ubun-ubun dan membiarkannya menekan urat saraf. Sersan Fick tidak berkedip dan beku di

tempatnya beridiri.

Rasanya begitu lama hingga salah satu diantara kami berkata,”oh, God!” kurasa Alex

yang mengucapkannya. Kemudian entah darimana dalam sekejap saja semua sudah berhamburan

keluar mobil. “Hubungi pos komando terdekat!” teriakku pada Will. Ia tidak mengangguk

melainkan langsung menyerbu alat komunikasi di belakang mobil. “Alex, siagakan pasukan!

Mungkin ada serangan!” “Fick! Lihat berapa orang yang selamat!” Kobaran api tiba-tiba saja

sudah memanaskan udara dan membuatku mual.

Sayangnya tidak ada cara terbaik yang dapat kami lakukan untuk memadamkan api

ditengah negeri bergurun. Otakku berfikir keras seperti melompat-lompat dari tempatnya. Dua

orang pria berhamburan dari mobil yang terbakar, tubuh mereka dipenuhi api dan selama

beberapa lama keduanya bergulingan di pasir. Orang-orang seperti berlomba menyiramkan pasir

ke tubuh keduanya yang sesaat berhenti bergerak. Beberapa waktu kupikir kami telah kehilangan

mereka, namun petugas medis menyatakan mereka masih punya harapan.

Sepuluh menit berlalu seperti merangkak. Suara-suara kecemasan, rintihan kesakitan dan

laporan dari pos terdekat meruntuti otakku. Rentetan lima hartop berubah seperti deretan mobil

pemakaman. Sejak beberapa menit lalu mereka mengatakan pasukan bantuan akan datang

dengan kendaraan dan paramedis. Tapi hingga saat ini yang kudengar tak lain hanya jeritan

chy_bert@yahoo.com

Page 16

kesakitan. Ingin rasanya kusarangkan peluru M-16 ku ke mulut mereka agar diam. Laporan dari

sersan Fick menyatakan dua orang tewas dan tiga luka parah, bagiku itu sudah cukup

mengerikan. Bagaimanapun juga tragedi pengeboman dan penembakan tidak pernah bisa

menjadi suatu hal yang biasa bagiku.

Rasanya sudah cukup buruk, tapi ternyata belum. Sekejap saja, tepat ketika Alex

menyerahkan alat komunikasi padaku, sebutir peluru nyaris menyusur bahu kirinya dan

menembus dinding Hartop. Tiba-tiba saja rintihan kesakitan berganti dengan teriakan makian

dan tembakan bertubi-tubi. Orang-orangku mengejarnya. Seorang laki-laki yang menutupi

wajahnya dengan sorban putih kotak-kotak hitam. Ia menghambur secepat kilat mencoba

mengalahkan peluru yang menyongsong betisnya. Gila dan konyol, orang bodoh mana yang

masih mencoba merecoki kami dengan sekumpulan pasukan bersenjata dan granat tangan.

Hingga ketika pasukan bantuan datang Will masih dalam operasi pengejaran laki-laki asing itu.

Aku tak mau dipusingkan dengan hal itu. Walaupun Mayor Jack Nicholson menawarkan

kendaraan baru bagiku, aku sengaja menolak. Kendaraan yang terlalu mencolok akan

mengundang perhatian dan kesalahpahaman. Kurasa ia mengerti, karena itu lima menit

kemudian aku sudah berada di hartop yang sama bersama Alex, Will dan supir kami Hasan.

***

“Kita sudah sampai,” Hasan memberi aba-aba. Beberapa orang berseragam militer

mendekat. “Selamat datang Mayor Donlett!” seorang pria gemuk putih menyambut dengan

hormat khas militer dan salam hangat. “Anda akan segera terbiasa di sini,” ia tersenyum ramah

dan membukakan pintu mobil. “Ini Alex dan Will, anggota pasukan khusus pengawasan yang

ikut bersamaku,”Aku memperkenalkan kedua teman lamaku itu padanya. Kemudian kami masuk

ke sebuah rumah yang penuh barang-barang dan senjata, juga tumpukan karung-karung tepung

yang entah apa isinya.

chy_bert@yahoo.com

Page 17

“Disini pos pengawasan, pos utama ada di belakang jalan! Oh ya nama saya

Jansen….sersan Jansen!” ia menunjuk pangkat kuning yang menempel di bahu kirinya. Aku

mengangguk. Beberapa menit kemudian seorang pria berpakaian putih-putih keluar dengan

cangkir-cangkir teh dingin, aku tahu dari uap yang menempel di cangkirnya. “Silahkan!”ujarnya

tersenyum dan tanpa pikir dua kali kami langsung menenggaknya.

***

Sebuah ruangan khusus yang sejuk di belakang dekat pos utama dengan tiga tempat tidur,

rasanya tidak benar-benar untukku. Apalagi dengan tugas khusus. Alex dan Will tidak banyak

komentar. Toh dua minggu lagi kami akan benar-benar pulang bukannya dipindahtugaskan.

Pulang ke Chicago sepertinya sudah lama tidak kulakukan. Juga menemui putraku Tom, ia sudah

tujuh belas tahun, dan oh ya.. minggu depan ulang tahunnya. Oh no, aku pasti tidak bisa pulang

dan lagi-lagi kami akan bertengkar. Selalu begitu sejak… entahlah kurasa sejak ia tumbuh

menjadi remaja dan mengenal pesta, alcohol ya ampun…apakah dulu aku seburuk itu. Kurasa

aku akan bicara dan menjelaskan kalau ia akan berumur 18 tahun dan bahwa aku

menyayanginya.

“Kudengar mereka belum bisa membuatnya buka mulut!” Will mengangkat cerutunya.

Lagi-lagi pagi itu ia merokok dan menebarkan asap cerutunya yang bau ke semua ruangan.

Selera rokoknya memang buruk. “Siapa?” tanyaku. “Ya ampun Mayor! Apa kau tidak tahu, si

biang kerok!” Aku mengerutkan kening. “Ia berniat meledakkan jalan tempat kita lewati

kemarin. Hebatnya aksi konyol itu segera diketahui.” Will tersenyum. “Kita tidak punya urusan

disini, melainkan menciptakan perdamaian,” jawabku. “Ya, kau benar Mayor, tapi kurasa dia

tidak akan mengerti.”

chy_bert@yahoo.com

Page 18

Jansen yang kemudian merinci berita penangkapan itu kepadaku. Ia melampirkan nama

dan foto pelakunya. Seorang pria bukan..bukan tapi seorang pemuda karena kulihat ia berumur

17 tahun. “17 tahun, astaga?” Aku teringat pada putraku Tom. Ia juga berada pada usia yang

sama ketika melakukan suatu hal yang gila. Apa aku harus berhati-hati pada pemuda manapun

yang berusia 17 tahun, yang benar saja.

Jansen mengantarku menemui pemuda itu, yang ternyata bernama Ali. Entah darimana

yang jelas beberapa data tentang pemuda ini sudah ditanganku pagi itu. Mereka pikir ledakan itu

ditujukan untukku, berikut tembakan yang nyaris mengenai Alex. Kami berjalan menyusuri

lorong belakang gudang dan turun ke ruang bawah tanah. Menyusuri jeruji-jeruji besi dan

deretan lilin, sama sekali tidak ada penerangan listrik. Ruangan itu segiempat dan tidak begitu

besar., dengan dua kamar tahanan dan lima bangku kayu yang berderet. Salah satunya berderit

ketika kududuki.

“Ia bisa bicara Inggris,” bisik Jansen kemudian,”kurasa ia terpelajar!” aku mengangguk

dan menyuruhnya meninggalkan kami. “Namamu Ali?” tanyaku hati-hati. Ia mengangkat

kepalanya sedikit dan menatapku dengan sorot aneh, seolah aku ini bodoh dan tidak tahu apa-

apa. Persis tatapan ibuku dulu ketika aku bertanya padanya kenapa ia harus bekerja keras hingga

larut. Tapi anak itu tidak menjawabku. “Kau tahu aku, adalah Mayor Donlett yang ingin kau

bunuh. Aku tidak mengenalmu dan tidak punya permusuhan apa-apa denganmu. Kami datang

dengan misi perdamaian dan membantu kalian. Nak, kau baru saja membuat kesalahan, apa kau

tahu itu?” Ia diam.

“putraku seusiamu dan yah, kami sering bertengkar karena berbagai hal..dan…” aku

mengamati wajahnya. Dulu sebelum karir militerku, aku pernah menjadi guru sekolah dasar dan

menghadapi seorang anak dengan senjata di kelas, seorang anak dengan wajah tertekan dan

chy_bert@yahoo.com

Page 19

ketakutan. Tapi dia sama sekali tidak terlihat seperti itu. “Aku tidak peduli dengan

putramu,”desisnya. Aku tersentak akhirnya ia mau bicara juga. “Tentu saja, kau tidak

mengenalnya, ia pintar, suka basket kau tahu nak…” Ia menatapku lagi dengan pandangan yang

sama,” Beberapa bulan yang lalu kami hanya salah satu keluarga biasa saja sebelum kemudian

mereka meledakkan senjata dan membunuh saudaraku Karim juga Anwar dan Mahmud

temanku, mereka menangkap Fatimah dan keluargaku tercerai berai” Ia tertawa meringis. “Apa

alasan itu belum cukup?”

Dia tidak seperti yang kuduga bahasa Inggrisnya amat lancar, tutur katanya teratur dan

seperti yang dikatakan Jansen kurasa ia terpelajar. ”kau tahu nak, jika kau tidak memberi

informasi maka resikonya akan sangat besar sekali.” Ia tersenyum setidaknya berusaha seperti

itu,”aku tahu jalan apa yang telah kupilih, dan aku akan membayar ini dengan resiko apapun.

Aku buka mulut atau diam apa bedanya, kalian akan tetap membunuhku.” “Tentu saja tidak, aku

berjanji kalau kau memberi tahu kami siapa otak semua ini, maka kami akan menyelamatkanmu

atau setidaknya memperingan hukumanmu. Aku adalah Mayor Donlett dan kau bisa pegang

kata-kataku,”jelasku. “Mayor?!”sergahnya meringis,”kalau begitu kembalikan saja keluargaku!”

Aku diam dan ia terus menatapku dengan pandangan yang sama,”Benar-benar tidak tahu

terimakasih!” ujarku kemudian sebelum meninggalkan ruangan itu.

***

Will seperti yang sudah kuduga terkekeh mendengar ceritaku itu. Sedang Alex

menurutnya anak itu pantas dihajar dan kubilang tidak.”Kurasa dia mata-mata, dan kita tidak

mungkin membebaskannya,”kata Alex. “Rasanya aneh, huh, apa tidak ada cara lain?” Will

menggeleng, “menurut Jansen dari tiga belas mata-mata yang tertangkap tak seorangpun buka

mulut. Jaringan mereka sangat rapi.” “Lalu kemana mereka semua?” tanyaku. Will nyengir,

“seperti cara yang biasa Mayor!”ia mendelik padaku dan aku tidak ingin mengingat cara itu.

chy_bert@yahoo.com

Page 20

Pagi itu sudah diadakan inspeksi rutin dan tidak seorangpun melihat peristiwa aneh.

Semalam Sarah menelponku dan mengeluhkan soal Tom yang minum minuman keras. Lalu

laporan terakhir yang kuterima sebelum tengah malam adalah tentang anak bernama Ali yang

belum juga buka mulut. Sedang Alex mencurigainya sebagai mata-mata.

Pagi itu sama panasnya dengan pagi kemarin. Jalanan berdebu dan matahari terik. Aku

berkeliling untuk memeriksa keadaan ke beberapa pos yang berjarak tidak begitu jauh. Kembali

Hasan yang mengantar kami untuk melakukan inspeksi. Will ikut bersamaku sedang Alex masih

disibukkan urusan pengiriman tambahan tenaga ke beberapa wilayah. Kami baru saja melewati

jalan menuju pos kedua di sebelah selatan Baghdad ketika sebuah ledakan besar terdengar yang

diikuti kepulan api melambung ke langit-langit kota. “What!!OH God!!”

Seperti terpaku aku menatap kepulan asap dan orang-orang yang berhamburan

menyelamatkan diri. Api menyala-nyala tapi bukankah beberapa menit yang lalu disana masih

tegak pos utama, bukankah beberapa menit lalu aku masih berdiri dan mengeluhkan panas dari

jendelanya sedang Alex menelepon kantor pusat dan Kopral Jansen…Alex…Mobil melaju

kencang ke tempat kejadian. Keadaan terlihat jauh lebih buruk jika dilihat dari dekat. Aku dan

Will melompat membantu menyelamatkan orang-orang yang keluar. Petugas paramedis

berhamburan dan beberapa tubuh tampak berserakan. Aku menatap Will,”Alex?” Ia menelan

ludah. Pahit.

Malam itu kami berkumpul di sebelah selatan pos utama. Seorang Kopral lain yang tidak

sempat kutanyakan namanya menyebutkan ledakan itu disebabkan bom. Seorang pemuda yang

diperkirakan ada hubungannya dengan penangkapan Ali. Sayangnya baik pemuda ataupun Ali

tewas dalam kejadian itu. Begitupun Alex, entah apa yang akan kukatakan pada istri dan anaknya

nanti.

chy_bert@yahoo.com

Page 21

“…kembalikan saja keluargaku…”kata-katanya terngiang di telingaku. Aku tidak

mengerti kenapa ia melakukan ini. Ia terlihat begitu yakin, apa ia pernah tahu kalau pemuda

seusianya di belahan bumi lain sibuk dengan pesta dan alkohol? Dengan mobil terbaru, musik,

film dan trend. Ya ampun, aku benar-benar tidak mengerti. Apa dia pikir……”Mayor, mayor..!”

Aku tersentak,”ya!” Kopral itu lagi, kurasa aku akan menanyakan namanya nanti,”Anda

melamun, ada telepon untuk anda dari Chicago.” Aku beranjak ke gagang telepon, pasti Sarah

dan pasti mengadu tentang kelakuan Tom. Aku akan menjelaskan pada anak itu nanti. “Hallo,”

ujarku yang tidak disambut dengan perkataan yang sama melainkan sebuah isakan.

“Sarah, kau baik-baik saja?” terdengar isakan lagi.”Tom, tom….” Aku mendengus,”ya ya

nanti setelah pulang aku akan menghajarnya.” “Kurasa kau tidak perlu melakukan itu…Tom…

Tom sudah meninggal.” Aku beku. Tom. Tidak. Ya ampun. Tidak mungkin. Isakan Sarah

terdengar jelas,”ia overdosis. Ini sangat buruk Don. Sangat buruk,” suaranya semakin tidak jelas

ditengah isakan dan teriakan Anne putriku dibelakangnya.

Padang, 24 Jan till 15 Sept 2005

“my room”

chy_bert@yahoo.com

Page 22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->