P. 1
Kumpulan Artikel Seputar Idul Fitri

Kumpulan Artikel Seputar Idul Fitri

|Views: 2,950|Likes:
Published by ninetriple1
Kumpulan Artikel Seputar Idul Fitri

Daftar isi

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa
Hukum Seputar Zakat Fitrah
Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Ber'idul Fithri
Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri
Shalat Ied & Hal-hal yang Berkaitan dengannya
Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya
Hukum Mengangkat Tangan Pada Takbir-Takbir Jenazah Dan Dua Shalat ‘Ied (Iedul Fithri Dan Iedul Adha)
Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya
Hukum Seputar Iedul Fitri
Fatwa Seputar Sholat ‘Ied
Shalat Ied di Lapangan
Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan
Ucapan Selamat Pada Hari Raya
Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal
Mendulang Pahala Pasca Ramadhan
Hukum Seputar Puasa Syawal
Bid'ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)
Ziarah Kubur
Bid'ahnya Anggapan Sial Menikah Di Bulan Syawal

http://jalansunnah.wordpress.com/
Kumpulan Artikel Seputar Idul Fitri

Daftar isi

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa
Hukum Seputar Zakat Fitrah
Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Ber'idul Fithri
Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri
Shalat Ied & Hal-hal yang Berkaitan dengannya
Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya
Hukum Mengangkat Tangan Pada Takbir-Takbir Jenazah Dan Dua Shalat ‘Ied (Iedul Fithri Dan Iedul Adha)
Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya
Hukum Seputar Iedul Fitri
Fatwa Seputar Sholat ‘Ied
Shalat Ied di Lapangan
Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan
Ucapan Selamat Pada Hari Raya
Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal
Mendulang Pahala Pasca Ramadhan
Hukum Seputar Puasa Syawal
Bid'ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)
Ziarah Kubur
Bid'ahnya Anggapan Sial Menikah Di Bulan Syawal

http://jalansunnah.wordpress.com/

More info:

Published by: ninetriple1 on Sep 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

Kumpulan Artikel Seputar Idul Fitri

Daftar isi

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa
Hukum Seputar Zakat Fitrah
Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Ber'idul Fithri
Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri
Shalat Ied & Hal-hal yang Berkaitan dengannya
Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya
Hukum Mengangkat Tangan Pada Takbir-Takbir Jenazah Dan Dua Shalat ‘Ied
(Iedul Fithri Dan Iedul Adha)
Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya
Hukum Seputar Iedul Fitri
Fatwa Seputar Sholat ‘Ied
Shalat Ied di Lapangan
Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan
Ucapan Selamat Pada Hari Raya
Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal
Mendulang Pahala Pasca Ramadhan
Hukum Seputar Puasa Syawal
Bid'ah Hari Raya Ketupat (Hari Raya Al Abrar)
Ziarah Kubur
Bid'ahnya Anggapan Sial Menikah Di Bulan Syawal





















Zakat Fitrah Pensuci Jiwa
Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.


Zakat Fitri, atau yang lazim disebut zakat fitrah, sudah jamak diketahui sebagai
penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak
pembahasan seputar hal ini yang tersuguh untuk kaum muslimin. Namun tidak
ada salahnya jika diulas kembali dengan dilengkapi dalil-dalilnya.

Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin untuk mengetahui hukum-hukum
seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan
atas mereka untuk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan.
Tanpa mempelajari hukum-hukumnya, maka pelaksanaan syariat ini tidak akan
sempurna. Sebaliknya, dengan mempelajarinya maka akan sempurna realisasi
dari syariat tersebut.

Hikmah Zakat Fitrah
Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, ia berkata:

َ و ِ ·ْ·´''ا ْ.ِ- ِ »ِ-'´-'ِ' ً ةَ ·ْ+ُ= ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ ة'َآَ ز َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ضَ ·َ·ِ .ْ-ِآ'َ-َ-ْ'ِ' ًªَ-ْ·ُ=َ و ِ -َ·´ ·'ا

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci
bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta
sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu
Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat
Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih
Sunan Abu Dawud)

Mengapa disebut Zakat Fitrah?
Sebutan yang populer di kalangan masyarakat kita adalah zakat fitrah. Mengapa
demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata
fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa
(Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi
menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat
fitrah. (Al-Mishbahul Munir: 476)
Namun yang lebih populer di kalangan para ulama –wallahu a’lam– disebut ُ ة'َآَ ز
ِ ·ْ=ِ-ْ'ا zakat fithri atau ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ُªَ·َ -َ- shadaqah fithri. Kata Fithri di sini kembali kepada
makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah
selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar
Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk
pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian
riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367)

Hukum Zakat Fitrah
Pendapat yang terkuat, zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat
jumhur ulama, di antara mereka adalah Abul Aliyah, Atha’ dan Ibnu Sirin,
sebagaimana disebutkan Al-Imam Al-Bukhari. Bahkan Ibnul Mundzir telah
menukil ijma’ atas wajibnya fitrah, walaupun tidak benar jika dikatakan ijma’.
Namun, ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan
wajibnya zakat fitrah.
Dasar mereka adalah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

ْ.ِ- 'ً='َ- ْوَ أ ٍ ·ْ-َ- ْ.ِ- 'ً='َ- ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ ة'َآَ ز َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ضَ ·َ· َ ل'َ· 'َ-ُ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َ ·َ-ُ= ِ .ْ-ا ْ.َ=
َ و ِ -ْ-َ·ْ'ا َ'َ= ٍ ·ْ-ِ·َ- َ'ِ إ ِ س'´-'ا ِ جْوُ ·ُ= َ .ْ-َ· ى´ دَ ·ُ- ْنَ أ 'َ+ِ- َ ·َ-َ أَ و َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'ا َ .ِ- ِ ·ْ-ِ-َ´ْ'اَ و ِ ·ْ-ِ·´-'اَ و َ`ْ-ُ `ْاَ و ِ ·َآ´ -'اَ و ·ُ=ْ'ا
ِ ةَ `´-'ا

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum
atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum
muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-
orang menuju shalat (Id).” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Fardhu
Shadaqatul Fithri 3/367, no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayatkan juga oleh
Muslim)
Dalam lafadz Al-Bukhari yang lain:

ْ-ِ·َ- ْ.ِ- 'ً='َ- ْوَ أ ٍ ·ْ-َ- ْ.ِ- 'ً='َ- ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ِ ة'َآَ ·ِ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا ·-أٍ ·

“Nabi memerintahkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” (HR.
Al-Bukhari no. 1507)
Dari dua lafadz hadits tersebut nampak jelas bagi kita bahwa Nabi menfardhukan
dan memerintahkan, sehingga hukum zakat fitrah adalah wajib.
Dalam hal ini, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hukumnya sunnah
muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Adapula yang berpendapat,
hukumnya adalah hanya sebuah amal kebaikan, yang dahulu diwajibkan namun
kemudian kewajiban itu dihapus. Pendapat ini lemah karena hadits yang mereka
pakai sebagai dasar lemah menurut Ibnu Hajar. Sebabnya, dalam sanadnya ada
rawi yang tidak dikenal. Demikian pula pendapat yang sebelumnya juga lemah.
(Lihat At-Tamhid, 14/321; Fathul Bari, 3/368, dan Rahmatul Ummah fikhtilafil
A`immah hal. 82)

Siapa yang Wajib Berzakat Fitrah?
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan dalam hadits sebelumnya
bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang, besar ataupun kecil,
laki-laki ataupun perempuan, dan orang merdeka maupun budak hamba sahaya.
Akan tetapi untuk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat.
Ibnu Hajar mengatakan: “Yang nampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat
dikenakan atas anak kecil, namun perintah tersebut tertuju kepada walinya.
Dengan demikian, kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut.
Jika tidak punya, maka menjadi kewajiban yang memberinya nafkah, ini
merupakan pendapat jumhur ulama.” (Al-Fath, 3/369; lihat At-Tamhid, 14/326-
328, 335-336)
Nafi’ mengatakan:

ُ= ُ .ْ-ا َ ن'َ´َ·´ ¸ِ-َ- ْ.َ= ¸ِ=ْ·ُ-ِ' َ ن'َآ ْنِ إ ´-َ= ِ ·ْ-ِ-َ´ْ'اَ و ِ ·ْ-ِ·´-'ا ِ .َ= ¸ِ=ْ·ُ- َ ·َ-

“Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa, sehingga dia dulu
benar-benar menunaikan zakat anakku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat
Bab 77, no. 1511, Al-Fath, 3/375)
Demikian pula budak hamba sahaya diwakili oleh tuannya. (Al-Fath, 3/369)

Apakah selain Muslim terkena Kewajiban Zakat?
Sebagai contoh seorang anak yang kafir, apakah ayahnya (yang muslim)
berkewajiban mengeluarkan zakatnya? Jawabnya: tidak. Karena Nabi
memberikan catatan di akhir hadits bahwa kewajiban itu berlaku bagi kalangan
muslimin (dari kalangan muslimin). Walaupun dalam hal ini ada pula yang
berpendapat tetap dikeluarkan zakatnya. Namun pendapat tersebut tidak kuat,
karena tidak sesuai dengan dzahir hadits Nabi.

Apakah Janin Wajib Dizakati?
Jawabnya: tidak. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat
tersebut kepada (anak kecil), sedangkan janin tidak disebut (anak kecil) baik dari
sisi bahasa maupun adat. Bahkan Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ tentang tidak
diwajibkannya zakat fitrah atas janin. Walaupun sebetulnya ada juga yang
berpendapat wajibnya atas janin, yaitu sebagian riwayat dari Al-Imam Ahmad
dan pendapat Ibnu Hazm dengan catatan –menurutnya– janin sudah berumur
120 hari. Pendapat lain dari Al-Imam Ahmad adalah sunnah. Namun dua
pendapat terakhir ini lemah, karena tidak sesuai dengan hadits di atas.

Wajibkah bagi Orang yang Tidak Mampu?
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu
melaksanakannya kemudian setelah itu ia tidak mampu, maka kewajiban
tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajibannya (yakni gugur) jika
ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” (Bada`i’ul Fawa`id, 4/33)
Adapun kriteria tidak mampu dalam hal ini, maka Asy-Syaukani menjelaskan:
“Barangsiapa yang tidak mendapatkan sisa dari makanan pokoknya untuk
malam hari raya dan siangnya, maka tidak berkewajiban membayar fitrah.
Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu, ia harus mengeluarkannya
bila sisa itu mencapai ukurannya (zakat fitrah).” (Ad-Darari, 1/365, Ar-Raudhatun
Nadiyyah, 1/553, lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/369)

Dalam Bentuk Apa Zakat Fitrah dikeluarkan?
Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang lalu. Dan lebih jelas lagi dengan
riwayat berikut:

َ ل'َ· ُªْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر يِ رْ-ُ=ْ'ا ٍ -ْ-ِ·َ- ¸ِ-َ أ ْ.َ=: ْوَ أ ٍ م'َ·َ= ْ.ِ- 'ً='َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ¸ِ-´-'ا ِ ن'َ-َ ز ¸ِ· 'َ+ْ-ِ=ْ·ُ- '´-ُآ
ِ- 'ً='َ- ْوَ أ ٍ ·ْ-ِ·َ- ْ.ِ- 'ً='َ- ْوَ أ ٍ ·ْ-َ- ْ.ِ- 'ً='َ-ٍ -ْ-ِ-َ ز ْ. ...

“Dari Abu Sa’id radhiallahu 'anhu, ia berkata: ‘Kami memberikan zakat fitrah di
zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan, 1 sha’ kurma, 1 sha’ gandum,
ataupun 1 sha’ kismis (anggur kering)’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat
no. 1508 dan 1506, dengan Bab Zakat Fitrah 1 sha’ dengan makanan.
Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2280)
Kata ٍ م'َ·َ= (makanan) maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri
baik berupa gandum, jagung, beras, atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini
adalah riwayat Abu Sa’id yang lain:

'َ-َ-'َ·َ= َ ن'َآَ و ٍ -ْ-ِ·َ- ·ُ-َ أ َ ل'َ·َ و ٍ م'َ·َ= ْ.ِ- 'ً='َ- ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر ِ -ْ+َ= ¸ِ· ُ جِ ·ْ=ُ- '´-ُآ َ ل'َ·
ُ ·ْ-´-'اَ و ُ=ِ·َ `ْاَ و ُ -ْ-ِ-´ ·'اَ و ُ ·ْ-ِ·´-'ا

“Ia mengatakan: ‘Kami mengeluarkannya (zakat fitrah) berupa makanan di
zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri’. Abu Sa’id
mengatakan lagi: ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu
kering, dan kurma’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, Kitabuz Zakat Bab Shadaqah
Qablal Id, Al-Fath, 3/375 no. 1510)
Di sisi lain, zakat fitrah bertujuan untuk menyenangkan para fakir dan miskin.
Sehingga seandainya diberi sesuatu yang bukan dari makanan pokoknya maka
tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.
Inilah pendapat yang kuat yang dipilih oleh mayoritas para ulama. Di antaranya
Malik (At-Tamhid, 4/138), Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Al-Imam
Ahmad, Ibnu Taimiyyah (Majmu’ Fatawa, 25/69), Ibnul Mundzir (Al-Fath, 3/373),
Ibnul Qayyim (I’lamul Muwaqqi’in, 2/21, 3/23, Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim hal.
234), Ibnu Baz dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (9/365, Fatawa Ramadhan,
2/914)
Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk
makanan yang disebutkan dalam hadits Nabi. Ini adalah salah satu pendapat Al-
Imam Ahmad. Namun pendapat ini lemah. (Majmu’ Fatawa, 25/68)

Bolehkah Mengeluarkannya dalam Bentuk Uang?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.
Pendapat pertama: Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adalah
pendapat Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Dawud. Alasannya, syariat telah
menyebutkan apa yang mesti dikeluarkan, sehingga tidak boleh menyelisihinya.
Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah, maka yang seperti ini bentuknya
harus mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selain itu, jika dengan
uang maka akan membuka peluang untuk menentukan sendiri harganya.
Sehingga menjadi lebih selamat jika menyelaraskan dengan apa yang disebut
dalam hadits.
An-Nawawi mengatakan: “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh
mengeluarkan zakat dengan nilainya (uang).” (Al-Majmu’, 5/401)
Abu Dawud mengatakan: “Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: ‘Bolehkah
saya memberi uang dirham -yakni dalam zakat fitrah-?’ Beliau menjawab: ‘Saya
khawatir tidak sah, menyelisihi Sunnah Rasulullah’.”
Ibnu Qudamah mengatakan: “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak
boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (Al-Mughni, 4/295)
Pendapat ini pula yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat
Fatawa Ramadhan, 2/918-928)
Pendapat kedua: Boleh mengeluarkannya dalam bentuk uang yang senilai
dengan apa yang wajib dia keluarkan dari zakatnya, dan tidak ada bedanya
antara keduanya. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. (Al-Mughni, 4/295, Al-
Majmu’, 5/402, Bada`i’ush-Shana`i’, 2/205, Tamamul Minnah, hal. 379)
Pendapat pertama itulah yang kuat.
Atas dasar itu bila seorang muzakki (yang mengeluarkan zakat) memberi uang
pada amil, maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil
dari muzakki. Selanjutnya, amil tersebut membelikan beras –misalnya– untuk
muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras, bukan uang.
Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk
uang dalam kondisi tertentu, tidak secara mutlak. Yaitu ketika yang demikian itu
lebih bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lebih mempermudah bagi orang
kaya.
Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullahu mengatakan: “Boleh
mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya,
seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat
1/10 (sepersepuluh) dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli
korma atau gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan
kebolehannya.” (Dinukil dari Tamamul Minnah, hal. 380)
Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa (25/82-83): “Yang kuat dalam
masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat
yang kuat maka tidak boleh …. Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang
secara mutlak, maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yang jelek. Bisa
jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yang merugikan… Adapun
mengeluarkan uang karena kebutuhan dan maslahat atau untuk keadilan maka
tidak mengapa….”
Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana disebutkan dalam
kitab Tamamul Minnah (hal. 379-380)
Yang perlu diperhatikan, ketika memilih pendapat ini, harus sangat diperhatikan
sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam
menentukan, sehingga berakibat menggampangkan masalah ini.

Ukuran yang Dikeluarkan
Dari hadits-hadits yang lalu jelas sekali bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menentukan ukuran zakat fitrah adalah 1 sha’. Tapi, berapa 1 sha’ itu?
Satu sha’ sama dengan 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dengan 1 cakupan dua
telapak tangan yang berukuran sedang.
Berapa bila diukur dengan kilogram (kg)? Tentu yang demikian ini tidak bisa
tepat dan hanya bisa diukur dengan perkiraan. Oleh karenanya para ulama
sekarangpun berbeda pendapat ketika mengukurnya dengan kilogram.
Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai Asy-Syaikh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakilnya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dan
anggotanya Abdullah bin Ghudayyan memperkirakan 3 kg. (Fatawa Al-Lajnah,
9/371)
Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2,040 kg. (Fatawa Arkanil
Islam, hal. 429)

Tentang Al-Bur atau Al-Hinthah
Ada perbedaan pendapat tentang ukuran yang dikeluarkan dari jenis hinthah
(salah satu jenis gandum). Sebagian shahabat berpendapat tetap 1 sha’,
sementara yang lain berpendapat ½ sha’.
Nampaknya pendapat kedua itu yang lebih kuat berdasarkan riwayat:

ٍ ·ْ´َ- ِ-َ أ َ -ِ-- َ ء'َ-ْ-َ أ ´ نَ أ ِªْ-ِ-َ أ ْ.َ= ُªَ`´ -َ= َ ةَ وْ·ُ= ِ .- ِ م'َ-ِه ْ.َ= ُªْ-َ ·َ-ْ=َ أ: ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر ِ -ْ+َ= َ'َ= ُ جِ ·ْ=ُ- ْ-َ-'َآ 'َ+´-َ أ
ِªِ- َ نْ··َ-'َ-َ-ـَ- يِ -´'ا ِ ع'´-''ِ- ْوأ -ُ-ْ''ِ- ٍ ·ْ-َ- ْ.ِ- ً '='َ- ْوَ أ ٍªَ=ْ-ِ= ْ.ِ- ِ .ْ-´ -ُ- ِ كْ ·ُ'ْ-َ-ْ'اَ و ْ»ُ+ْ-ِ- ·ُ=ْ'ا 'َ+ِ'ْهَ أ ْ.َ= َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ=

“Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Asma’ binti Abu Bakar dahulu di
zaman Nabi dia mengeluarkan (zakat) untuk keluarganya yang merdeka atau
yang sahaya dua mud hinthah atau satu sha’ kurma dengan ukuran mud atau
sha’ yang mereka pakai untuk jual beli.” (Shahih, HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani
Al-Atsar, 2871, Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan:
“Sanadnya shahih, sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim.” Lihat Tamamul Minnah
hal. 387)
Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul
Qayyim, dan di masa sekarang Al-Albani.

Waktu Mengeluarkannya
Menurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dengan selesainya
bulan Ramadhan. Namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan
bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam
hadits yang lalu.

ِ ةَ `´-'ا َ'ِ إ ِ س'´-'ا ِ جْوُ ·ُ= َ .ْ-َ· ى´ دَ ·ُ- ْنَ أ 'َ+ِ- َ ·َ-َ أَ و

“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar
menuju shalat.”
Dengan demikian, zakat tersebut harus tersalurkan kepada yang berhak
sebelum shalat. Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud, yaitu untuk
mencukupi mereka di hari itu.
Namun demikian, syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian
zakat, di mana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari
sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:

ِ .ْ-َ-ْ·َ- ْوَ أ ٍ مْ·َ-ِ- ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ .ْ-َ· َ نْ·ُ=ْ·ُ - ا·ُ-'َآَ و 'َ+َ-ْ·ُ'َ-ْ-َ- َ .ْ-ِ -´'ا 'َ+ْ-ِ=ْ·ُ- 'َ-ُ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َ ·َ-ُ= ُ .ْ-ا َ ن'َآ

“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yang menerimanya1.
Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id.” (Shahih, HR.
Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath, 3/375)
Dalam riwayat Malik dari Nafi’:

َآ َ ·َ-ُ= َ .ْ- ِ -ا َ -ْ-َ= ´ نَ أٍªَ`َ `َ` ْوَ أ ِ .ْ-َ-ْ·َ-ِ- ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ .ْ-َ· ُ -َ -ْ-ِ= ُ ·َ-ْ=ُ- يِ -´'ا َ'ِ إ ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ِ ة'َآَ ·ِ- ُ -َ·ْ-َ- َ ن'

“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas
yang zakat dikumpulkan kepadanya, 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.” (Al-
Muwaththa`, Kitabuz Zakat Bab Waqtu Irsal Zakatil Fithri, 1/285. Lihat pula Al-
Irwa` no. 846)
Sehingga tidak boleh mendahulukan lebih cepat daripada itu, walaupun ada juga
yang berpendapat itu boleh. Pendapat pertama itulah yang benar, karena
demikianlah praktek para shahabat.

Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fitrah Setelah Shalat Id?
Hal ini telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut
ini:

َ ل'َ· ٍ س'´-َ= ِ .ْ-ا ْ.َ=: ًªَ-ْ·ُ=َ و ِ -َ·´ ·'اَ و ِ ·ْ·´''ا َ .ِ- ِ »ِ-'´-'ِ' ً ةَ·ْ+ُ= ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ ة'َآَ ز َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ضَ ·َ·
َ ¸ِ+َ· ِ ةَ `´-'ا َ .ْ-َ· 'َها´ دَ أ ْ.َ- ِ .ْ-ِآ'َ-َ-ْ'ِ' ِ ت'َ·َ -´-'ا َ .ِ- ٌªَ·َ -َ- َ ¸ِ+َ· ِ ةَ `´-'ا َ -ْ·َ- 'َها´ دَ أ ْ.َ-َ و ٌªَ'ْ·ُ-ْ-َ- ٌة'َآَ ز

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang
berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai
pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa
menunaikannya sebelum shalat (Id) maka itu zakat yang diterima. Dan
barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu hanya sekedar
sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabuz
Zakat Bab Zakatul Fithr, 17 no. 1609, Ibnu Majah, 2/395 Kitabuz Zakat Bab
Shadaqah Fithri, 21 no. 1827, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih
Sunan Abu Dawud)
Ibnul Qayyim mengatakan: “Konsekuensi dari dua2 hadits tersebut adalah tidak
boleh menunda penunaian zakat sampai setelah Shalat Id; dan bahwa kewajiban
zakat itu gugur dengan selesainya shalat. Inilah pendapat yang benar karena
tiada yang menentang dua hadits ini dan tidak ada pula yang menghapus serta
tidak ada ijma’ yang menghalangi untuk berpendapat dengan kandungan 2
hadits itu. Dan dahulu guru kami (Ibnu Taimiyyah) menguatkan pendapat ini
serta membelanya.” (Zadul Ma’ad, 2/21)
Atas dasar itu, maka jangan sampai zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir
setelah Shalat Id, kecuali bila si fakir mewakilkan kepada yang lain untuk
menerimanya.

Sasaran Zakat Fitrah
Yang kami maksud di sini adalah mashraf atau sasaran penyaluran zakat.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebagian ulama
mengatakan sasaran penyalurannya adalah orang fakir miskin secara khusus.
Sebagian lagi mengatakan, sasaran penyalurannya adalah sebagaimana zakat
yang lain, yaitu 8 golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini
merupakan pendapat Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh
Ibnu Qudamah (Al-Mughni, 4/314).
Dari dua pendapat yang ada, nampaknya yang kuat adalah pendapat yang
pertama. Dengan dasar hadits Nabi yang lalu:

َ ل'َ· ٍ س'´-َ= ِ .ْ-ا ْ.َ=: َ ضَ ·َ· ًªَ-ْ·ُ=َ و ِ -َ·´ ·'اَ و ِ ·ْ·´''ا َ .ِ- ِ »ِ-'´-'ِ' ً ةَ·ْ+ُ= ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ ة'َآَ ز َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر
ِ .ْ-ِآ'َ-َ-ْ'ِ'

Dari Ibnu Abbas ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari
perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan
bagi orang-orang miskin.”
Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Asy-
Syaukani dalam bukunya As-Sailul Jarrar3 dan di zaman ini Asy Syaikh Al-
Albani, dan difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan lain-lain.
Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara petunjuk beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam, zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagikannya
kepada 8 golongan secomot-secomot. Beliau tidak pula memerintahkan untuk itu
serta tidak seorangpun dari kalangan shahabat yang melakukannya. Demikian
pula orang-orang yang setelah mereka.” (Zadul Ma’ad, 2/21, lihat pula Majmu’
Fatawa, 25/75, Tamamul Minnah, hal. 387, As-Sailul Jarrar, 2/86, Fatawa
Ramadhan, 2/936)
Atas dasar itu, tidak diperkenankan menyalurkan zakat fitrah untuk
pembangunan masjid, sekolah, atau sejenisnya. Demikian difatwakan oleh Al-
Lajnah Ad-Da`imah (9/369).

Definisi Fakir
Para ulama banyak membicarakan hal ini. Terlebih, kata fakir ini sering
bersanding dengan kata miskin, yang berarti masing-masing punya pengertian
tersendiri. Pembahasan masalah ini cukup panjang dan membutuhkan
pembahasan khusus. Namun di sini kami akan sebutkan secara ringkas
pendapat yang nampaknya lebih kuat:
Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (8/168) menjelaskan bahwa para ulama berbeda
pendapat dalam hal perbedaan antara fakir dan miskin sampai 9 pendapat.
Di antaranya, bahwa fakir lebih membutuhkan daripada miskin. Ini adalah
pendapat Asy-Syafi’i dan jumhur sebagaimana dalam Fathul Bari. (Dinukil dari
Imdadul Qari, 1/236-237)
Di antara alasannya adalah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih dahulu
menyebut fakir daripada miskin dalam surat At-Taubah: 60.

ُ ت'َ·َ -´-'ا 'َ-´-ِ إ 'َ+ْ-َ'َ= َ .ْ-ِ'ِ-'َ·ْ'اَ و ِ .ْ-ِآ'َ-َ-ْ'اَ و ِ ءاَ ·َ-ُ-ْ'ِ'

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang
miskin, pengurus-pengurus zakat…”
Tentu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dari yang terpenting. Juga
dalam surat Al-Kahfi: 79, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

'ً-ْ-َ= ٍªَ-ْ-ِ-َ- ´ .ُآ ُ -ُ=ْ'َ- ٌ=ِ'َ- ْ»ُهَ ءاَ رَ و َ ن'َآَ و 'َ+َ-ْ-ِ=َ أ ْنَ أ ُ تْدَ رَ 'َ· ِ ·ْ=َ-ْ'ا ¸ِ· َ نْ·ُ'َ-ْ·َ- َ .ْ-ِآ'َ-َ-ِ' ْ-َ-'َ´َ· ُªَ-ْ-ِ-´-'ا '´-َ أ

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut,
dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang
raja yang merampas tiap-tiap bahtera…”
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka miskin padahal mereka memiliki
kapal.
Jadi baik fakir maupun miskin sama-sama tidak punya kecukupan, walaupun
fakir lebih kekurangan dari miskin.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsir-nya
(341): “Fakir adalah orang yang tidak punya apa-apa atau punya sedikit
kecukupan tapi kurang dari setengahnya. Sedangkan miskin adalah yang
mendapatkan setengah kecukupan atau lebih tapi tidak memadai.”

Berapakah yang Diberikan kepada Mereka?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan (hal. 341): “Maka
mereka diberi seukuran yang membuat hilangnya kefakiran dan kemiskinan
mereka.”
Maka diupayakan jangan sampai setiap orang miskin diberi kurang dari ukuran
zakat fitrah itu sendiri.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang paling lemah
adalah pendapat yang mengatakan wajib atas setiap muslim untuk
membayarkan zakat fitrahnya kepada 12, 18, 24, 32, atau 28 orang, atau
semacam itu. Karena ini menyelisihi apa yang dilakukan kaum muslimin dahulu
di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para khalifahnya, serta seluruh
shahabatnya. Tidak seorang muslimpun melakukan yang demikian di masa
mereka. Bahkan dahulu setiap muslim membayar fitrahnya sendiri dan fitrah
keluarganya kepada satu orang muslim.
Seandainya mereka melihat ada yang membagi satu sha’ untuk sekian belas
jiwa di mana setiap orang diberi satu genggam, tentu mereka mengingkari itu
dengan sekeras-kerasnya. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
menentukan kadar yang diperintahkan yaitu satu sha’ kurma, gandum, atau dari
bur ½ atau 1 sha’, sesuai kadar yang cukup untuk satu orang miskin. Dan beliau
jadikan ini sebagai makanan mereka di hari raya, yang mereka tercukupi dengan
itu. Jika satu orang hanya memperoleh satu genggam, maka ia tidak
mendapatkan manfaat dan tidak selaras dengan tujuannya.” (Majmu’ Fatawa,
25/73-74)

Bagaimana Hukum Mendirikan Semacam Badan Amil Zakat?
Telah diajukan sebuah pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah tentang
sebuah organisasi yang bernama Jum’iyyatul Bir di Jeddah, Saudi Arabia yang
mengelola anak yatim dan bantuan kepada keluarga yang membutuhkan,
menerima zakat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab: “Organisasi tersebut wajib untuk menyalurkan
zakat fitrah kepada orang-orang yang berhak sebelum diselenggarakan Shalat
Id, tidak boleh menundanya dari waktu itu. Karena Nabi memerintahkan untuk
disampaikan kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Organisasi itu
kedudukannya sebagai wakil dari muzakki (pemberi zakat), dan organisasi
tersebut tidak diperkenankan untuk menerima zakat fitrah kecuali seukuran yang
ia mampu untuk menyalurkannya kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id.
Dan tidak boleh pula membayar zakat fitrah dalam bentuk uang karena dalil-dalil
syar’i menunjukkan wajibnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan,
juga tidak boleh berpaling dari dalil syar’i kepada pendapat seseorang manusia.
Apabila muzakki membayarkan kepada organisasi itu dalam bentuk uang untuk
dibelikan makanan untuk orang-orang fakir, maka itu wajib dilaksanakan
sebelum Shalat Id dan tidak boleh bagi organisasi itu untuk mengeluarkannya
dalam bentuk uang.” (Fatawa Al-Lajnah, 9/379, ditandatangani Asy-Syaikh Ibnu
Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan. Lihat
pula 9/389)
Akan tetapi pada asalnya zakat fitrah langsung diberikan oleh muzakki kepada
yang berhak. (Fatawa Lajnah, 9/389)
Bila ia memberikannya kepada badan amil zakat maka harus diperhatikan
minimalnya dua hal:
1. Mereka benar-benar orang yang mengetahui hukum sehingga tahu seluk-
beluk hukum zakat dan yang berhak menerimanya.
2. Mereka adalah orang yang amanah, benar-benar menyampaikannya kepada
yang berhak, sesuai dengan aturan syar’i.
Hal ini kami tegaskan karena di masa ini banyak orang yang tidak tahu hukum,
lebih-lebih tidak sedikit yang tidak amanah. Ada yang mengambilnya tanpa hak
dan ada yang menyalurkannya tidak tepat sasaran. Justru zakat itu
dikembangkan atau untuk kesejahteraan organisasi/partainya. Atau terkadang
dia menundanya, yang berarti menunda pemberian kepada orang yang sangat
membutuhkan, walaupun terkadang melegitimasi perbuatan mereka dengan
alasan-alasan ‘syar’i’ yang dibuat-buat.

Bolehkah Zakat (Secara Umum) Dikembangkan oleh Badan Amil Zakat?
Pertanyaan tentang ini telah diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah, jawabnya:
Tidak boleh bagi wakil dari organisasi tersebut untuk mengembangkan harta
zakat. Yang wajib dilakukan adalah menyalurkannya ke tempat-tempat yang
syar’i yang telah disebut dalam nash (Al-Qur’an atau Hadits, -pent.) setelah
mengecek (tempat) penyalurannya kepada orang-orang yang berhak. Karena
tujuan zakat adalah memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dan melunasi
hutang orang-orang yang berhutang. Sementara pengembangan harta zakat
bisa jadi justru menyebabkan hilangnya maslahat ini, atau menundanya dalam
waktu yang lama dari orang-orang yang berhak (sangat membutuhkannya
segera, ed.) (Fatawa Al-Lajnah, 9/454 ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz,
Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan, dan Asy-Syaikh
Abdullah bin Qu’ud)

Tempat Ditunaikannya Zakat Fitrah
Sebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah:
“Apakah saya boleh menunaikan zakat untuk keluarga saya di mana saya puasa
Ramadhan di (Saudi Arabia) bagian timur sementara keluarga saya di (Saudi
Arabia) bagian utara?”
Jawab: Zakat fitrah itu dikeluarkan di tempat seseorang berada. Namun jika wakil
atau walinya mengeluarkannya di daerah tempat yang bersangkutan tidak ada di
sana, maka diperbolehkan. (Fatawa Al-Lajnah, 9/384, ditandatangani oleh Asy-
Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Asy-Syaikh Abdullah
Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. Lihat Fatawa Ramadhan,
2/943)
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Yang dimaksud adalah amil zakat, bukan fakir miskin. Lihat Fathul Bari (3/376)
dan Al-Irwa` (3/335).
2 Sebelumnya beliau juga menyebutkan hadits lain yang semakna.
3 Lain halnya dalam bukunya Ad-Darari, di situ beliau berpendapat seperti Asy-
Syafi’i.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=372































HUKUM SEPUTAR ZAKAT FITRAH
Penulis: Fadlilatu As Syaikh Al'Allamah Al Faqih Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin Rahimahullah


Soal 11 : Bolehkah mewakilkan pemberian zakat fitrah kepada teman untuk
diberikan kepada orang yang faqir?
Jawab : Diperbolehkan yang demikian di waktu zakat fitrah dikeluarkan. (Syaikh
Utsaimin)

Soal 12 : Apakah diperbolehkan memberikan/mengeluarkan zakat fitrah sebelum
hari raya 'iedul fitr ?
Jawab : Diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah sehari atau dua hari sebelum
hari raya 'iedul fitr. Yang paling afdlal/utama adalah mengeluarkan zakat fitrah
pada hari raya 'iedul fitr sebelum dilaksanakannya shalat 'ied.
Dan tidak diperbolehkan untuk menunda /mengakhirkan pengeluaran zakat fitrah
hingga setelah selesainya shalat 'ied. Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Umar :
"Rasulullah memerintahkan agar zakat fitrah ditunaikan/dikeluarkan sebelum
keluarnya manusia untuk melaksanakan shalat 'ied". Dan berdasarkan hadits
Ibnu Abbas , dari Nabi bahwa beliau bersabda (yang artinya) : "Barang siapa
yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalai 'ied maka itu merupakan zakat
yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah shalat 'ied maka
itu adalah shadaqah dari shadaqah-sahadaqah yang ada (tidak dianggap
sebagai zakat fitrah)”. (Syaikh Utsaimin)

Soal 13 : Bagaimana hukumnya mengeluarkan beras untuk menunaikan zakat
fitrah ?
Jawab : Tidak diragukan lagi tentang hukum bolehnya mengeluarkan beras
untuk zakat fitrah.Bahkan bisa kita katakan : bahwa pada zaman kita ini,
mengeluarkan beras untuk zakat fitrah itu lebih utama dibandingkan
mengeluarkan selain beras dari jenis makanan pokok yang ada.
Hal ini karena beras adalah makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh
manusia pada zaman ini. Yang menunjukkan bahwa zakat fitrah dikeluarkan
dalam bentuk makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia adalah
hadits Abu Sa'id Al Khudri yang terdapat dalam Shahih Bukhary. Abu Sa'id Al
Khudri berkata : "Dahulu kami mengeluarkan zakat fitrah pada hari 'iedul fitri
(sebelum shalat 'ied) pada masa Nabi berupa satu sho' dari makanan pokok.
Dan adalah makanan pokok kami pada waktu itu berupa gandum, anggur kering,
al aqt (makanan dari susu yang diaduk kemudian dikeringkan) , dan kurma."
Pengkhususan jenis-jenis makanan ini tidak dimaksudkan bahwa zakat fitrah
harus dikeluarkan dalam bentuk gandum,anggur kering, al-aqt, ataupun kurma.
Akan tetapi karena keberadaan makanan-makanan itulah yang menjadi
makanan pokok pada waktu itu.(Syaikh Utsaimin)
Ket : 1 Sho’ beratnya sekitar 2,040 kg gandum.Bila dilebihkan dari ukuran 1 sho’
dengan niat shadaqoh maka boleh hukumnya.

Soal 14 : Apakah diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang
tunai ?
Jawab : Zakat fitrah tidak sah jika dikeluarkan dalam bentuk uang tunai. Karena
Nabi mewajibkannya dalam bentuk makanan pokok, baik berupa buah kurma,
gandum (atau makanan pokok yang lainnya). Dan Abu Sa'id Al khudri telah
berkata : " Dahulu kami mengeluarkan zakat fitrah pada hari 'ied (sebelum sholat
'ied) pada masa nabi berupa satu sho'dari makanan pokok. Dan adalah makanan
pokok kami pada waktu itu berupa buah kurma, biji gandum, anggur yang kering,
dan al aqt (makanan dari susu yang diaduk kemudian dikeringkan)."
Maka tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat fitrah kecuali dengan apa-apa
yang diwajibkan oleh Nabi . Dan berdasarkan hadits Nabi dari jalan Ibnu Abbas
bahwa beliau (Rosululloh) mewajibkan dikeluarkannya zakat fitrah dalam rangka
mensucikan/membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan sia-sia,
dan dalam rangka memberi makan orang-orang miskin.Dan pelaksanaan ibadah
tidak boleh melampaui batas-batas syar'i, meskipun hal itu dianggap baik.
Maka ketika nabi mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk makanan dalam rangka
memberi makan orang -orang miskin, hal ini karena uang tunai tidak bisa
langsung dimakan. Uang tunai masih harus dipergunakan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan baik itu makanan, minuman, pakaian dan selainnya.
Kemudian juga jika zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk uang tunai maka akan
mudah disembunyikan dan dikorupsi. Hal ini karena kebiasaan orang meletakkan
uang di sakunya.
Maka jika seseorang menemukan seorang yang fakir kemudian memberikan
zakat fitrah padanya dalam bentuk uang, maka tidak akan terang dan jelas
kadarnya bagi keluarga miskin tersebut. Dan jika zakat fitrah dikeluarkan dalam
bentuk uang , terkadang seorang salah dalam memperkirakan jumlah uang yang
harus dia keluarkan. Terkadang dia mengeluarkan dalam jumlah yang lebih
sedikit dari yang seharusnya. Hal yang demikian belum membuat dia
terbebas/lepas dari tanggungannya untuk mengeluarkan zakat sesuai kadarnya.
Dan sesungguhnya Rosululloh telah mewajibkan penunaian zakat fitrah dalam
bentuk berbagai jenis makanan pokok yang ada, yang bermacam-macam/
berbeda-beda jenisnya dan kadar harganya. Berbeda dengan uang tunai. Kalau
sekiranya uang tunai bisa digunakan untuk menunaikan zakat fitrah, maka harus
digunakan satu jenis mata uang, atau apa-apa yang sebanding
Adapun perkataan bahwa uang tunai itu lebih bermanfaat bagi si miskin maka
jawabannya adalah: bila si miskin menginginkan uang, maka dia bisa menjual
zakat fitrah yang diterimanya tersebut. Adapun muzakky (orang yang
mengeluarkan zakat) tetap wajib berzakat fitrah dalam bentuk makanan pokok.
(Syaikh Utsaimin)

(Diterjemahkan oleh Al Akh Abu Sulaiman dari Fataawa wa Rasaail Ibnu
Utsaimin, dan Majmu‘ Fataawa Syaikh Shalih Fauzan. Muraja’ah Al Ustadz Abu
‘Isa Nurwahid)

Sumber : Buletin Da'wah Al-Atsary, Semarang. Edisi 18 / 1427 H
Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik
Meneladani Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Ber'idul Fithri
Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.


Idul Fitri bisa memiliki banyak makna bagi tiap-tiap orang. Ada yang memaknai
Idul Fitri sebagai hari yang menyenangkan karena tersedianya banyak makanan
enak, baju baru, banyaknya hadiah, dan lainnya. Ada lagi yang memaknai Idul
Fitri sebagai saat yang paling tepat untuk pulang kampung dan berkumpul
bersama handai tolan. Sebagian lagi rela melakukan perjalanan yang cukup jauh
untuk mengunjungi tempat-tempat wisata, dan berbagai aktivitas lain yang bisa
kita saksikan. Namun barangkali hanya sedikit yang mau untuk memaknai Idul
Fitri sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam “memaknainya”.

Idul Fitri memang hari istimewa. Secara syar’i pun dijelaskan bahwa Idul Fitri
merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha.
Karenanya, agama ini membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan
bahagia dan bersenang-senang pada hari itu.
Sebagai bagian dari ritual agama, prosesi perayaan Idul Fitri sebenarnya tak bisa
lepas dari aturan syariat. Ia harus didudukkan sebagaimana keinginan syariat.
Bagaimana masyarakat kita selama ini menjalani perayaan Idul Fitri yang datang
menjumpai? Secara lahir, kita menyaksikan perayaan Hari Raya Idul Fitri masih
sebatas sebagai rutinitas tahunan yang memakan biaya besar dan juga
melelahkan. Kita sepertinya belum menemukan esensi yang sebenarnya dari
Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yang dimaukan syariat.
Bila Ramadhan sudah berjalan 3 minggu atau sepekan lagi ibadah puasa usai,
“aroma” Idul Fitri seolah mulai tercium. Ibu-ibu pun sibuk menyusun menu
makanan dan kue-kue, baju-baju baru ramai diburu, transportasi mulai padat
karena banyak yang bepergian atau karena arus mudik mulai meningkat, serta
berbagai aktivitas lainya. Semua itu seolah sudah menjadi aktivitas “wajib”
menjelang Idul Fitri, belum ada tanda-tanda menurun atau berkurang.
Untuk mengerjakan sebuah amal ibadah, bekal ilmu syar’i memang mutlak
diperlukan. Bila tidak, ibadah hanya dikerjakan berdasar apa yang dia lihat dari
para orang tua. Tak ayal, bentuk amalannya pun menjadi demikian jauh dari
yang dimaukan syariat.
Demikian pula dengan Idul Fitri. Bila kita paham bagaimana bimbingan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini, tentu berbagai
aktivitas yang selama ini kita saksikan bisa diminimalkan. Beridul Fitri tidak harus
menyiapkan makanan enak dalam jumlah banyak, tidak harus beli baju baru
karena baju yang bersih dan dalam kondisi baik pun sudah mencukupi, tidak
harus mudik karena bersilaturahim dengan para saudara yang sebenarnya bisa
dilakukan kapan saja, dan sebagainya. Dengan tahu bimbingan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, beridul Fitri tidak lagi butuh biaya besar dan
semuanya terasa lebih mudah.
Berikut ini sedikit penjelasan tentang bimbingan syariat dalam beridul Fitri.

Definisi Id (Hari Raya)
Ibnu A’rabi mengatakan: “Id1 dinamakan demikian karena setiap tahun terulang
dengan kebahagiaan yang baru.” (Al-Lisan hal. 5)
Ibnu Taimiyyah berkata: “Id adalah sebutan untuk sesuatu yang selalu terulang
berupa perkumpulan yang bersifat massal, baik tahunan, mingguan atau
bulanan.” (dinukil dari Fathul Majid hal. 289 tahqiq Al-Furayyan)
Id dalam Islam adalah Idul Fitri, Idul Adha dan Hari Jum’at.

َ ل'َ· ٍ .َ-َ أ ْ.َ=: َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ مِ -َ·َ ل'َ-َ· ،'َ-ِ+ْ-ِ· َ نْ·ُ-َ·ْ'َ- ِ ن'َ-ْ·َ- ْ»ُ+َ'َ و َªَ-ْ-ِ -َ-ْ'ا َ »´'َ-: ا·ُ''َ· ؟ِ ن'َ-ْ·َ-ْ'ا ِ ناَ -َه 'َ-:
ِª´-ِ'ِه'َ=ْ'ا ¸ِ· 'َ-ِ+ْ-ِ· ُ -َ·ْ'َ- '´-ُآ. َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ل'َ-َ·: ً ·ْ-َ= 'َ-ِ+ِ- ْ»ُ´َ'َ -ْ-َ أ ْ-َ· َ -ا ´ نِ إ َ=ْ-َ `ْا َ مْ·َ- ،'َ-ُ+ْ-ِ- ا
ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ-َ و

Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah datang ke Madinah dalam keadaan
orang-orang Madinah mempunyai 2 hari (raya) yang mereka bermain-main
padanya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Apa (yang kalian
lakukan) dengan 2 hari itu?” Mereka menjawab: “Kami bermain-main padanya
waktu kami masih jahiliyyah.” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan
yang lebih baik dari keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (Shahih, HR. Abu
Dawud no. 1004, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Hukum Shalat Id
Ibnu Rajab berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Id
menjadi 3 pendapat:
Pertama: Shalat Id merupakan amalan Sunnah (ajaran Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam) yang dianjurkan, seandainya orang-orang meninggalkannya
maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat Al-Imam Ats-Tsauri dan salah satu
riwayat dari Al-Imam Ahmad.
Kedua: Bahwa itu adalah fardhu kifayah, sehingga jika penduduk suatu negeri
sepakat untuk tidak melakukannya berarti mereka semua berdosa dan mesti
diperangi karena meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam
Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafi’i.
Ketiga: Wajib ‘ain (atas setiap orang) seperti halnya Shalat Jum’at. Ini pendapat
Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.
Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa
memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk
menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.” (Diringkas
dari Fathul Bari Ibnu Rajab, 6/75-76)
Yang terkuat dari pendapat yang ada –wallahu a’lam– adalah pendapat ketiga
dengan dalil berikut:

ْ-َ''َ· َª´-ِ=َ= مُ أ ْ.َ=: ْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر 'َ-َ ·َ-َ أ ِ تاَ وَ ذَ و َ.´-ُ=ْ'اَ و َ ·ِ-اَ ·َ·ْ'ا َ=ْ-َ `ْاَ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ¸ِ· ´ .ُ+َ=ِ ·ْ=ُ- ْنَ أ َ »´'َ-َ و ِª
َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'ا َ ةَ ·ْ=َ دَ و َ ·ْ-َ=ْ'ا َ نْ-َ+ْ-َ-َ و َ ةَ `´-'ا َ .ْ'ِ ·َ-ْ·َ-َ· ُ .´-ُ=ْ'ا '´-َ 'َ· ،ِ رْوُ -ُ=ْ'ا. ُ -ْ'ُ·: ُ نْ·ُ´َ- َ ` 'َ-اَ -ْ=ِ إ ،ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ- 'َ+َ'
َ ل'َ· ؟ٌب'َ-ْ'ِ=: 'َ+ِ-'َ-ْ'ِ= ْ.ِ- 'َ+ُ-ْ=ُ أ 'َ+ْ-ِ-ْ'ُ-ِ'

Dari Ummu ‘Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (hari raya) Idul
Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang
dipingit. Adapun yang haid maka dia menjauhi tempat shalat dan ikut
menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah,
salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab?” Nabi menjawab: “Hendaknya
saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim, ini
lafadz Muslim Kitabul ‘Idain Bab Dzikru Ibahati Khurujinnisa)
Perhatikanlah perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk pergi menuju
tempat shalat, sampai-sampai yang tidak punya jilbabpun tidak mendapatkan
udzur. Bahkan tetap harus keluar dengan dipinjami jilbab oleh yang lain.
Shiddiq Hasan Khan berkata: “Perintah untuk keluar berarti perintah untuk shalat
bagi yang tidak punya udzur… Karena keluarnya (ke tempat shalat) merupakan
sarana untuk shalat dan wajibnya sarana tersebut berkonsekuensi wajibnya yang
diberi sarana (yakni shalat).
Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya Shalat Id adalah bahwa Shalat Id
menggugurkan Shalat Jum’at bila keduanya bertepatan dalam satu hari. Dan
sesuatu yang tidak wajib tidak mungkin menggugurkan suatu kewajiban.” (Ar-
Raudhatun Nadiyyah, 1/380 dengan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah. Lihat pula lebih
rinci dalam Majmu’ Fatawa, 24/179-186, As-Sailul Jarrar, 1/315, Tamamul
Minnah, hal. 344)

Wajibkah Shalat Id Bagi Musafir?
Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang
intinya: Apakah untuk Shalat Id disyaratkan pelakunya seorang yang mukim
(tidak sedang bepergian)?
Beliau kemudian menjawab yang intinya: “Ulama berbeda pendapat dalam
masalah ini. Ada yang mengatakan, disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan,
tidak disyaratkan mukim.”
Lalu beliau mengatakan: “Yang benar tanpa keraguan, adalah pendapat yang
pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir, karena Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali
umrah selain umrah haji, beliau juga berhaji wada’ dan ribuan manusia menyertai
beliau, serta beliau berperang lebih dari 20 peperangan, namun tidak
seorangpun menukilkan bahwa dalam safarnya beliau melakukan Shalat Jum’at
dan Shalat Id…” (Majmu’ Fatawa, 24/177-178)

Mandi Sebelum Melakukan Shalat Id

َ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ َ وُ -ْ·َ- ْنَ أ َ .ْ-َ· ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ .ِ-َ-ْ·َ- َ ن'َآ َ ·َ-ُ= َ .ْ- ِ -ا َ -ْ-َ= ´ نَ أ ٍ ·ِ·'َ- ْ.َ= ٍ =ِ''َ- ْ.َ=´'

“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada
hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam
Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)
Dalam atsar lain dari Zadzan, seseorang bertanya kepada ‘Ali radhiallahu 'anhu
tentang mandi, maka ‘Ali berkata: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Ia
menjawab: “Tidak, mandi yang itu benar-benar mandi.” Ali radhiallahu 'anhu
berkata: “Hari Jum’at, hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Idul Fitri.” (HR. Al-
Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa`, 1-176-177))

Memakai Wewangian

ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ -´-َ=َ-َ-َ و ُ .ِ-َ-ْ·َ- َ ·َ-ُ= َ .ْ-ا ´ نَ أ ٍ ·ِ·'َ- ْ.َ= َªَ-ْ-ُ= ِ .ْ- َ-ْ·ُ- ْ.َ=

“Dari Musa bin ‘Uqbah, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar mandi dan memakai
wewangian di hari Idul fitri.” (Riwayat Al-Firyabi dan Abdurrazzaq)
Al-Baghawi berkata: “Disunnahkan untuk mandi di hari Id. Diriwayatkan dari Ali
bahwa beliau mandi di hari Id, demikian pula yang sejenis itu dari Ibnu Umar dan
Salamah bin Akwa’ dan agar memakai pakaian yang paling bagus yang dia
dapati serta agar memakai wewangian.” (Syarhus Sunnah, 4/303)

Memakai Pakaian yang Bagus

َ ل'َ· َ ·َ-ُ= ِ .ْ- ِ -ا ِ -ْ-َ= ْ.َ=: ُ ع'َ-ُ- ٍ قَ ·ْ-َ-ْ-ِ إ ْ.ِ- ًª´-ُ= ُ ·َ-ُ= َ -َ=َ أ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ+ِ- َ-َ 'َ· 'َهَ -َ=َ 'َ· ِ قْ·´-'ا ¸ِ·
َ ل'َ-َ·: ِ دْ·ُ·ُ ·ْ'اَ و ِ -ْ-ِ·ْ'ِ' 'َ+ِ- ْ.´-َ=َ- ِ -ِ -َه ْ·َ-ْ-ا ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ-. َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر ُªَ' َ ل'َ-َ·: ُ س'َ-ِ' ِ -ِ -َه 'َ-´-ِ إ َ ` ْ.َ-
ُªَ' َ قَ `َ=

Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang
dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu Umar radhiallahu 'anhu berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah
dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata: “Ini adalah pakaian orang yang tidak
akan dapat bagian (di akhirat)….” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil
‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)
Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari
raya dan bahwa ini perkara yang biasa di antara mereka.” (Fathul Bari)

Makan Sebelum Berangkat Shalat Id

َ· ٍ =ِ''َ- ِ .ْ- ِ .َ-َ أ ْ.َ=َ ل': ٍ تاَ ·َ-َ- َ .ُآْ'َ- ´-َ= ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- وُ -ْ·َ- َ` َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ن'َآ. ُ .ْ- ُ '´=َ ·ُ- َ ل'َ·َ و
ٍ ء'َ=َ ر: َ ل'َ· ِ -ا ُ -ْ-َ-ُ= ¸ِ-َ`´ -َ=: ُ'ُآْ'َ-َ و َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ¸ِ-´-'ا ِ .َ= ٌ.َ-َ أ ¸ِ-َ`´ -َ=اً ·ْ-ِ و ´ .ُ+

Dari Anas bin Malik ia berkata: Adalah Rasulullah tidak keluar di hari fitri sebelum
beliau makan beberapa kurma. Murajja‘ bin Raja‘ berkata: Abdullah berkata
kepadaku, ia mengatakan bahwa Anas berkata kepadanya: “Nabi memakannya
dalam jumlah ganjil.” (Shahih, HR Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Al-Akl Yaumal
‘Idain Qablal Khuruj)
Ibnu Rajab berkata: “Mayoritas ulama menganggap sunnah untuk makan pada
Idul Fitri sebelum keluar menuju tempat Shalat Id, di antara mereka ‘Ali dan Ibnu
‘Abbas radhiallahu 'anhuma.”
Di antara hikmah dalam aturan syariat ini, yang disebutkan oleh para ulama
adalah:
a. Menyelisihi Ahlul kitab, yang tidak mau makan pada hari raya mereka sampai
mereka pulang.
b. Untuk menampakkan perbedaan dengan Ramadhan.
c. Karena sunnahnya Shalat Idul Fitri lebih siang (dibanding Idul Adha) sehingga
makan sebelum shalat lebih menenangkan jiwa. Berbeda dengan Shalat Idul
Adha, yang sunnah adalah segera dilaksanakan. (lihat Fathul Bari karya Ibnu
Rajab, 6/89)

Bertakbir Ketika Keluar Menuju Tempat Shalat

َ ·َ=َ· ؛َ ةَ `´-'ا َ-َ· اَ ذِ 'َ· ،َ ةَ `´-'ا َ ¸ِ-ْ-َ- ´-َ=َ و ´'َ-ُ-ْ'ا َ ¸ِ-ْ'َ- ´-َ= ُ ·-َ´ُ-َ· ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ جُ ·ْ=َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- َ ن'َآ
َ ·ْ-ِ-ْ´´-'ا

“Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Idul Fitri lalu
beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat.
Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Shahih, Mursal Az-Zuhri,
diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
dengan syawahidnya dalam Ash-Shahihah no. 171)
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Dalam hadits ini ada dalil disyariatkannya apa
yang diamalkan kaum muslimin yaitu bertakbir dengan keras selama perjalanan
menuju tempat shalat walaupun banyak di antara mereka mulai
menggampangkan sunnah (ajaran) ini, sehingga hampir-hampir menjadi sekedar
berita (apa yang dulu terjadi). Hal itu karena lemahnya mental keagamaan
mereka dan karena rasa malu untuk menampilkan sunnah serta terang-terangan
dengannya. Dan dalam kesempatan ini, amat baik untuk kita ingatkan bahwa
mengeraskan takbir di sini tidak disyariatkan padanya berpadu dalam satu suara
sebagaimana dilakukan sebagian manusia2…” (Ash-Shahihah: 1 bagian 1 hal.
331)

Lafadz Takbir
Tentang hal ini tidak terdapat riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam –wallahu a’lam–. Yang ada adalah dari shahabat, dan itu ada beberapa
lafadz.
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: Telah shahih mengucapkan 2 kali takbir dari
shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu:

َ ن'َآ ُª´-َ أ ِ ·ْ-ِ ·ْ-´-'ا َ م'´-َ أ ُ ·ِ-َ´ُ-: ُ -ْ-َ=ْ'ا ِª´'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -اَ و ٌ-ا ´ `ِ إ َªَ'ِ إ َ ` ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا

Bahwa beliau bertakbir di hari-hari tasyriq:

ُ ·َ-ْآَ أ ُ -اَ و ٌ-ا ´ `ِ إ َªَ'ِ إ َ ` ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ -ْ-َ=ْ'ا ِª´'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا

(HR. Ibnu Abi Syaibah, 2/2/2 dan sanadnya shahih)
Namun Ibnu Abi Syaibah menyebutkan juga di tempat yang lain dengan sanad
yang sama dengan takbir tiga kali. Demikian pula diriwayatkan Al-Baihaqi (3/315)
dan Yahya bin Sa’id dari Al-Hakam dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dengan tiga
kali takbir.
Dalam salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan:

ُ -ْ-َ=ْ'ا ِª´'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ´ .َ=َ أَ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ-ا اً ·ْ-ِ-َآ ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا اً ·ْ-ِ-َآ ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا

(Lihat Irwa`ul Ghalil, 3/125)

Tempat Shalat Id
Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukannya di mushalla.
Mushalla yang dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan bukan
masjid, sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.

َ ل'َ· ِ ءاَ ·َ-ْ'ا ِ .َ=: َ ل'َ·َ و ِªِ+ْ=َ ·ِ- 'َ-ْ-َ'َ= َ .َ-ْ·َ أ ´ »ُ` ِ .ْ-َ-َ·ْآَ ر ´'َ-َ· ِ ·ْ-ِ-َ-ْ'ا َ'ِ إ ً=ْ-َ أ َ مْ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا َ جَ ·َ=: ´ نِ إ
ُ-ُ- َ ل´ وَ أ'َ-َ-´-ُ- َ ·َ·اَ و ْ-َ-َ· َ =ِ'َ ذ َ .َ·َ· ْ.َ-َ· َ ·َ=ْ-َ-َ· َ ·ِ=ْ·َ- ´ »ُ` ِ ةَ `´-''ِ- َ أَ -ْ-َ- ْنَ أ اَ -َه 'َ-ِ-ْ·َ- ¸ِ· 'َ-ِ´

Dari Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ia berkata: “Nabi pergi pada hari Idul Adha ke Baqi’ lalu
shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajahnya dan mengatakan:
‘Sesungguhnya awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu
kita pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu
berarti telah sesuai dengan sunnah…” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain
Bab Istiqbalul Imam An-Nas Fi Khuthbatil ‘Id)
Ibnu Rajab berkata: “Dalam hadits ini dijelaskan bahwa keluarnya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan shalatnya adalah di Baqi’, namun bukan yang
dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi’. Tapi yang dimaksud adalah
bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung dengan kuburan Baqi’
dan nama Baqi’ itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga Ibnu Zabalah telah
menyebutkan dengan sanadnya bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat
Id di luar Madinah sampai di lima tempat, sehingga pada akhirnya shalatnya
tetap di tempat yang dikenal (untuk pelaksanaan Id, -pent.). Lalu orang-orang
sepeninggal beliau shalat di tempat itu.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/144)

َ ل'َ· يِ رْ-ُ=ْ'ا ٍ -ْ-ِ·َ- ¸ِ-َ أ ْ.َ=: َ ن'َآ ٍ ءْ¸َ- ُ ل´ وَ 'َ· ´'َ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ َ=ْ-َ `ْاَ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ جُ ·ْ=َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر
ْ-ِ-ْ·ُ-َ و ْ»ُ+ُ=ِ·َ-َ· ْ»ِ+ِ·ْ·ُ-ُ- َ'َ= ٌسْ·ُ'ُ= ُ س'´-'اَ و ِ س'´-'ا َ .ِ-'َ-ُ- ُ مْ·ُ-َ-َ· ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` ُ ةَ `´-'ا ِªِ- ُ أَ -ْ-َ- ُ -ْ-ِ ·ُ- َ ن'َآ ْنِ 'َ· ْ»ُهُ ·ُ-ْ'َ-َ و ْ»ِ+
ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` ِªِ- َ ·َ-َ أ ٍ ءْ¸َ-ِ- َ ·ُ-ْ'َ- ْوَ أ ُªَ·َ=َ· 'ً`ْ·َ- َ ·َ=ْ-َ- ْنَ أ

“Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu keluar di hari
Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla, yang pertama kali beliau lakukan adalah
shalat, lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia sedang mereka
duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan memberi wasiat
kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila beliau ingin
mengutus suatu utusan maka beliau utus, atau ingin memerintahkan sesuatu
maka beliau perintahkan, lalu beliau pergi.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-
’Idain Bab Al-Khuruj Ilal Mushalla bi Ghairil Mimbar dan Muslim)
Ibnu Hajar menjelaskan: “Al-Mushalla yang dimaksud dalam hadits adalah
tempat yang telah dikenal, jarak antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi
sejauh 1.000 hasta.” Ibnul Qayyim berkata: “Yaitu tempat jamaah haji
meletakkan barang bawaan mereka.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Nampaknya tempat itu dahulu di
sebelah timur masjid Nabawi, dekat dengan kuburan Baqi’…” (dinukil dari
Shalatul ‘Idain fil Mushalla Hiya Sunnah karya Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 16)

Waktu Pelaksanaan Shalat

َ ل'َ· ´ ¸ِ-َ=´ ·'ا ٍ ·ْ-َ-ُ= ُ .ْ- ُ -ْ-ِ ·َ-: ْ-َ= َ جَ ·َ= ِ -ْ-ِ= ِ مْ·َ- ¸ِ· ِ س'´-'ا َ ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر ُ -ِ='َ- ٍ ·ْ-ُ- ُ .ْ- ِ -ا ُ -
ِ م'َ-ِ `ْا َ ء'َ=ْ-ِ إ َ ·َ´ْ-َ 'َ· َ=ْ-َ أ ْوَ أ ٍ ·ْ=ِ·. َ ل'َ-َ·: ِ -ْ-ِ-ْ-´-'ا َ .ْ-ِ= َ =ِ'َ ذَ و ِ -ِ -َه 'َ-َ-َ='َ- 'َ-ْ=َ ·َ· ْ-َ· '´-ُآ '´-ِ إ

“Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr, salah seorang
shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi bersama orang-orang di Hari
Idul Fitri atau Idhul Adha, maka ia mengingkari lambatnya imam. Iapun berkata:
‘Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini.’ Dan itu ketika tasbih.” (Shahih,
HR. Al-Bukhari secara mua’llaq, Kitabul ‘Idain Bab At-Tabkir Ilal ‘Id, 2/456, Abu
Dawud Kitabush Shalat Bab Waqtul Khuruj Ilal ‘Id: 1135, Ibnu Majah Kitab
Iqamatush- shalah was Sunan fiha Bab Fi Waqti Shalatil ’Idain. Dishahihkan oleh
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)
Yang dimaksud dengan kata “ketika tasbih” adalah ketika waktu shalat sunnah.
Dan itu adalah ketika telah berlalunya waktu yang dibenci shalat padanya. Dalam
riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat Sunnah Dhuha.
Ibnu Baththal berkata: “Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id tidak boleh
dilakukan sebelum terbitnya matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id hanyalah
diperbolehkan ketika diperbolehkannya shalat sunnah.” Demikian dijelaskan Ibnu
Hajar. (Al-Fath, 2/457)
Namun sebenarnya ada yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah bila
terbit matahari, walaupun waktu dibencinya shalat belum lewat. Ini pendapat
Imam Malik. Adapun pendapat yang lalu, adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad
dan salah satu pendapat pengikut Syafi’i. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab,
6/104)
Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama, karena menurut Ibnu Rajab:
“Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rafi’ bin Khadij dan
sekelompok tabi’in bahwa mereka tidak keluar menuju Shalat Id kecuali bila
matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha di masjid sebelum
keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu dilakukan setelah
lewatnya waktu larangan shalat.” (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)

Apakah Waktu Idul Fitri lebih Didahulukan daripada Idul Adha?
Ada dua pendapat:
Pertama, bahwa keduanya dilakukan dalam waktu yang sama.
Kedua, disunnahkan untuk diakhirkan waktu Shalat Idul Fitri dan disegerakan
waktu Idul Adha. Itu adalah pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Ini
yang dikuatkan Ibnu Qayyim, dan beliau mengatakan: “Dahulu Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam melambatkan Shalat Idul Fitri serta menyegerakan Idul Adha.
Dan Ibnu ‘Umar dengan semangatnya untuk mengikuti sunnah tidak keluar
sehingga telah terbit matahari dan bertakbir dari rumahnya menuju mushalla.”
(Zadul Ma’ad, 1/427, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105)
Hikmahnya, dengan melambatkan Shalat Idul Fitri maka semakin meluas waktu
yang disunahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah; dan dengan menyegerakan
Shalat Idul Adha maka semakin luas waktu untuk menyembelih dan tidak
memberatkan manusia untuk menahan dari makan sehingga memakan hasil
qurban mereka. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/105-106)

Tanpa Adzan dan Iqamah

َ ل'َ· َ ةَ ·ُ-َ- ِ .ْ- ِ ·ِ-'َ= ْ.َ=: ٍªَ-'َ·ِ إ َ `َ و ٍ ناَ ذَ أ ِ ·ْ-َ·ِ- ِ .ْ-َ-´ ·َ- َ `َ و ٍ ة´·َ- َ ·ْ-َ= ِ .ْ-َ -ْ-ِ·ْ'ا َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ ·َ- ُ -ْ-´'َ-

Dari Jabir bin Samurah ia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah 2 Hari Raya
(yakni Idul Fitri dan Idul Adha), bukan hanya 1 atau 2 kali, tanpa adzan dan
tanpa iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)

َ `'َ· يِ ر'َ-ْ-َ `ْا ِ -ا ِ -ْ-َ= ِ .ْ- ِ ·ِ-'َ= ْ.َ=َ و ٍ س'´-َ= ِ .ْ-ا ِ .َ=: َ- ُ ن´ ذَ ·ُ- ْ.ُ´َ- ْ»َ' ٍ .ْ-ِ= َ -ْ·َ- ُªُ-ْ'َ 'َ- ´ »ُ` َ=ْ-َ `ْا َ مْ·َ- َ `َ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·
َ ل'َ· ¸ِ-َ ·َ-ْ=َ 'َ· َ =ِ'َ ذ ْ.َ=: َ -ْ·َ- َ `َ و ُ م'َ-ِ `ْا ُ جُ ·ْ=َ- َ .ْ-ِ= ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ِ ةَ `´-'ِ' َ ناَ ذَ أ َ ` ْنَ أ ´ يِ ر'َ-ْ-َ `ْا ِ -ا ِ -ْ-َ= ُ .ْ- ُ ·ِ-'َ= ¸ِ-َ ·َ-ْ=َ أ
ُ جُ ·ْ=َ- 'َ- َªَ-'َ·ِ إ َ `َ و ٍ -ِ-َ-ْ·َ- َ ءاَ -ِ- َ ` ،َ ءْ¸َ- َ `َ و َءاَ -ِ- `َ و َªَ-'َ·ِ إ َ `َ و

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dan Jabir bin Abdillah Al-Anshari keduanya
berkata: “Tidak ada adzan pada hari Fitri dan Adha.” Kemudian aku bertanya
kepada Ibnu Abbas tentang itu, maka ia mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin
Abdillah Al-Anshari mengatakan: “Tidak ada adzan dan iqamah di hari Fitri ketika
keluarnya imam, tidak pula setelah keluarnya. Tidak ada iqamah, tidak ada
panggilan dan tidak ada apapun, tidak pula iqamah.” (Shahih, HR. Muslim)
Ibnu Rajab berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam hal
ini dan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan ‘Umar
radhiallahu 'anhuma melakukan Shalat Id tanpa adzan dan iqamah.”
Al-Imam Malik berkata: “Itu adalah sunnah yang tiada diperselisihkan menurut
kami, dan para ulama sepakat bahwa adzan dan iqamah dalam shalat 2 Hari
Raya adalah bid’ah.” (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/94)
Bagaimana dengan panggilan yang lain semacam: Ash-shalatu Jami’ah?
Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya menganggap hal itu sunnah. Mereka
berdalil dengan: Pertama: riwayat mursal dari seorang tabi’in yaitu Az-Zuhri.
Kedua: mengqiyaskannya dengan Shalat Kusuf (gerhana).
Namun pendapat yang kuat bahwa hal itu juga tidak disyariatkan. Adapun
riwayat dari Az-Zuhri merupakan riwayat mursal yang tentunya tergolong dha’if
(lemah). Sedangkan pengqiyasan dengan Shalat Kusuf tidaklah tepat, dan
keduanya memiliki perbedaan. Di antaranya bahwa pada Shalat Kusuf orang-
orang masih berpencar sehingga perlu seruan semacam itu, sementara Shalat Id
tidak. Bahkan orang-orang sudah menuju tempat shalat dan berkumpul padanya.
(Fathul Bari, karya Ibnu Rajab, 6/95)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata: “Qiyas di sini
tidak sah, karena adanya nash yang shahih yang menunjukkan bahwa di zaman
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk Shalat Id tidak ada adzan dan iqamah
atau suatu apapun. Dan dari sini diketahui bahwa panggilan untuk Shalat Id
adalah bid’ah, dengan lafadz apapun.” (Ta’liq terhadap Fathul Bari, 2/452)
Ibnu Qayyim berkata: Apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai ke
tempat shalat maka mulailah beliau shalat tanpa adzan dan iqamah dan tanpa
ucapan “Ash-shalatu Jami’ah”, dan Sunnah Nabi adalah tidak dilakukan
sesuatupun dari (panggilan-panggilan) itu. (Zadul Ma’ad, 1/427)

Kaifiyah (Tata Cara) Shalat Id
Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang
lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat
yang pertama 7 kali, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain
takbiratul intiqal.
Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir ruku’,
sebagaimana dijelaskan oleh ‘Aisyah dalam riwayatnya:

َ ر ´ نَ أ َªَ-ِ-'َ= ْ.َ=ِ عْ·ُآ´ ·'ا ْ¸َ-َ ·ْ-ِ-ْ´َ- ىَ ·ِ- 'ً-ْ-َ=َ و 'ً·ْ-َ- َ=ْ-َ `ْاَ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ¸ِ· َ ·´-َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-

“Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bertakbir para (shalat) Fitri dan Adha 7 kali
dan 5 kali selain 2 takbir ruku’.” (HR. Abu Dawud dalam Kitabush Shalat Bab At-
Takbir fil ’Idain. ‘Aunul Ma’bud, 4/10, Ibnu Majah no. 1280, dishahihkan oleh Asy-
Syaikh Al-Abani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1149)
Pertanyaan: Apakah pada 5 takbir pada rakaat yang kedua dengan takbiratul
intiqal (takbir perpindahan dari sujud menuju berdiri)?
Ibnu Abdil Bar menukilkan kesepakatan para ulama bahwa lima takbir tersebut
selain takbiratul intiqal. (Al-Istidzkar, 7/52 dinukil dari Tanwirul ‘Ainain)
Pertanyaan: Tentang 7 takbir pertama, apakah termasuk takbiratul ihram atau
tidak?
Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat:
Pertama: Pendapat Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad, Abu Tsaur dan diriwayatkan
dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa 7 takbir itu termasuk takbiratul
ihram. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/178, Aunul Ma’bud, 4/6, Istidzkar,
2/396 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah)
Kedua: Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i, bahwa 7 takbir itu tidak termasuk
takbiratul ihram. (Al-Umm, 3/234 cet. Dar Qutaibah dan referensi sebelumnya)
Nampaknya yang lebih kuat adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal itu karena
ada riwayat yang mendukungnya, yaitu:

ِ - -ِ= ْ.َ= ِªْ-ِ-َ أ ْ.َ= ٍ -ْ-َ·ُ- ِ .ْ- وِ ·ْ-َ= ْ.َ =: َ ·ْ-ِ-ْ´َ- َ ةَ ·ْ-َ= ْ¸َ-َ-ْ`ا ِ .ْ-َ -ْ-ِ·ْ'ا ¸ِ· َ ·´ -َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر ´ نَ أ 'ً·ْ-َ- ،ً ة
ِ ةَ `´-'ا ِ ¸َ-َ ·ْ-ِ-ْ´َ- ىَ ·ِ- ِ ةَ ·ِ=`ْا ¸ِ· 'ً-ْ-َ=َ و َ'ْوُ `ْا ¸ِ·

“Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bertakbir pada 2 hari raya 12 takbir, 7 pada rakaat yang
pertama dan 5 pada rakaat yang terakhir, selain 2 takbir shalat.”(Ini lafadz Ath-
Thahawi)
Adapun lafadz Ad-Daruquthni:

ِ ماَ ·ْ=ِ `ْا ِ ةَ ·ْ-ِ-ْ´َ- ىَ ·ِ-

“Selain takbiratul ihram.” (HR. Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar, 4/343 no.
6744 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Ad-Daruquthni, 2/47-48 no. 20)
Dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang diperselisihkan bernama
Abdullah bin Abdurrahman At-Tha‘ifi. Akan tetapi hadits ini dishahihkan oleh Al-
Imam Ahmad, ‘Ali Ibnul Madini dan Al-Imam Al-Bukhari sebagaimana dinukilkan
oleh At-Tirmidzi. (lihat At-Talkhis, 2/84, tahqiq As-Sayyid Abdullah Hasyim Al-
Yamani, At-Ta’liqul Mughni, 2/18 dan Tanwirul ‘Ainain, hal. 158)
Adapun bacaan surat pada 2 rakaat tersebut, semua surat yang ada boleh dan
sah untuk dibaca. Akan tetapi dahulu Nabi membaca pada rakaat yang pertama
“Sabbihisma” (Surat Al-A’la) dan pada rakaat yang kedua “Hal ataaka” (Surat Al-
Ghasyiah). Pernah pula pada rakaat yang pertama Surat Qaf dam kedua Surat
Al-Qamar (keduanya riwayat Muslim, lihat Zadul Ma’ad, 1/427-428)

Apakah Mengangkat Tangan di Setiap Takbir Tambahan?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat
mengangkat tangan.
Sementara salah satu dari pendapat Al-Imam Malik tidak mengangkat tangan,
kecuali takbiratul ihram. Ini dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Tamamul
Minnah (hal. 349). Lihat juga Al-Irwa‘ (3/113).
Tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih dalam hal
ini.

Kapan Membaca Doa Istiftah?
Al-Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama berpendapat setelah takbiratul ihram dan
sebelum takbir tambahan. (Al-Umm, 3/234 dan Al-Majmu’, 5/26. Lihat pula
Tanwirul ‘Ainain hal. 149)

Khutbah Id
Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendahulukan shalat sebelum
khutbah.

َ ل'َ· ٍ س'´-َ= ِ .ْ-ا ْ.َ=: َ -ْ-ِ·ْ'ا ُ تْ-ِ+َ- ْ»ُ+´'ُ´َ· ْ»ُ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َ ن'َ-ْ`ُ=َ و َ ·َ-ُ=َو ٍ ·ْ´َ- ¸ِ-َ أَ و َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ ·َ-
ِªَ-ْ=ُ=ْ'ا َ .ْ-َ· َ نْ·´'َ-ُ- ا·ُ-'َآ

“Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: Aku mengikuti Shalat Id bersama Rasulullah, Abu
Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman maka mereka semua shalat dahulu sebelum khutbah.”
(Shahih, HR Al-Bukhari Kitab ‘Idain Bab Al-Khutbah Ba’dal Id)
Dalam berkhutbah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menghadap
manusia tanpa memakai mimbar, mengingatkan mereka untuk bertakwa kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan juga beliau mengingatkan kaum wanita
secara khusus untuk banyak melakukan shadaqah, karena ternyata kebanyakan
penduduk neraka adalah kaum wanita.
Jamaah Id dipersilahkan memilih duduk mendengarkan atau tidak, berdasarkan
hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

َ ل'َ· ِ -ِ-'´-'ا ِ .ْ- ِ -ا ِ -ْ-َ= ْ.َ=: َ ل'َ· َ ةَ `´-'ا َ-َ· '´-َ'َ· َ -ْ-ِ·ْ'ا َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ ·َ- ُ تْ-ِ+َ-: ْ.َ-َ· ُ -ُ=ْ=َ- '´-ِ إ
َ-ْ=ُ=ْ'ِ' َ .ِ'ْ=َ- ْنَ أ ´ -َ=َ أْ-َهْ-َ-ْ'َ· َ -َهْ-َ- ْنَ أ ´ -َ=َ أ ْ.َ-َ و ْ.ِ'ْ=َ-ْ'َ· ِª

Dari ‘Abdullah bin Saib ia berkata: Aku menyaksikan bersama Rasulullah Shalat
Id, maka ketika beliau selesai shalat, beliau berkata: “Kami berkhutbah,
barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah duduklah dan
barangsiapa yang ingin pergi maka silahkan.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-
Nasa`i. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud,
no. 1155)
Namun alangkah baiknya untuk mendengarkannya bila itu berisi nasehat-
nasehat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berpegang
teguh dengan agama dan Sunnah serta menjauhi bid’ah. Berbeda keadaannya
bila mimbar Id berubah menjadi ajang kampanye politik atau mencaci maki
pemerintah muslim yang tiada menambah di masyarakat kecuali kekacauan.
Wallahu a’lam.

Wanita yang Haid
Wanita yang sedang haid tetap mengikuti acara Shalat Id, walaupun tidak boleh
melakukan shalat, bahkan haram dan tidak sah. Ia diperintahkan untuk menjauh
dari tempat shalat sebagaimana hadits yang lalu dalam pembahasan hukum
Shalat Id.

Sutrah Bagi Imam
Sutrah adalah benda, bisa berupa tembok, tiang, tongkat atau yang lain yang
diletakkan di depan orang shalat sebagai pembatas shalatnya, panjangnya
kurang lebih 1 hasta. Telah terdapat larangan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam untuk melewati orang yang shalat. Dengan sutrah ini, seseorang boleh
melewati orang yang shalat dari belakang sutrah dan tidak boleh antara seorang
yang shalat dengan sutrah. Sutrah ini disyariatkan untuk imam dan orang yang
shalat sendirian atau munfarid. Adapun makmum tidak perlu dan boleh lewat di
depan makmum. Ini adalah Sunnah yang mayoritas orang meninggalkannya.
Oleh karenanya, marilah kita menghidupkan sunnah ini, termasuk dalam Shalat
Id.

´ نَ أ َ ·َ-ُ= ِ .ْ-ا ِ .َ= 'َ+ْ-َ'ِ إ ¸'َ-ُ-َ· ِªْ-َ -َ- َ .ْ-َ- ُ ·َ-ْ·ُ-َ· ِªَ-ْ·َ=ْ''ِ- َ ·َ-َ أ ِ -ْ-ِ·ْ'ا َ مْ·َ- َ جَ ·َ= اَ ذِ إ َ ن'َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر
ُ ءاَ ·َ-ُ `ْا 'َهَ -َ=´-ا ´ »َ` ْ.ِ-َ· ِ ·َ-´-'ا ¸ِ· َ =ِ'َ ذ ُ .َ·ْ-َ- َ ن'َآَ و ُ -َ ءاَ رَ و ُ س'´-'اَ و

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu apabila
keluar pada hari Id, beliau memerintahkan untuk membawa tombak kecil, lalu
ditancapkan di depannya, lalu beliau shalat ke hadapannya, sedang orang-orang
di belakangnya. Beliau melakukan hal itu di safarnya dan dari situlah para
pimpinan melakukannya juga.” (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitabush Shalat Bab
Sutratul Imam Sutrah liman Khalfah dan Kitabul ‘Idain Bab Ash-Shalat Ilal harbah
Yaumul Id. Al-Fath, 2/463 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/136)

Bila Masbuq (Tertinggal) Shalat Id, Apa yang Dilakukan?
Al-Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya berjudul: “Bila tertinggal
shalat Id maka shalat 2 rakaat, demikian pula wanita dan orang-orang yang di
rumah dan desa-desa berdasarkan sabda Nabi: ‘Ini adalah Id kita pemeluk
Islam’.”
Adalah ‘Atha` (tabi’in) bila ketinggalan Shalat Id beliau shalat dua rakaat.
Bagaimana dengan takbirnya? Menurut Al-Hasan, An-Nakha’i, Malik, Al-Laits,
Asy-Syafi’i dan Ahmad dalam satu riwayat, shalat dengan takbir seperti takbir
imam. (Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/169)

Pulang dari Shalat Id Melalui Rute Lain saat Berangkat

َ ل'َ· 'َ-ُ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر ِ -ا ِ -ْ-َ= ِ .ْ- ِ ·ِ-'َ= ْ.َ=: َ= ٍ -ْ-ِ= ُ مْ·َ- َ ن'َآ اَ ذِ إ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا َ ن'َآَ ·ْ-ِ ·´='ا َ -َ''

Dari Jabir, ia berkata:” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila di hari Id, beliau
mengambil jalan yang berbeda. (Shahih, HR. Al-Bukhari Kitab Al-’Idain Bab Man
Khalafa Thariq Idza Raja’a…, Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 2/472986, karya Ibnu
Rajab, 6/163 no. 986)
Ibnu Rajab berkata: “Banyak ulama menganggap sunnah bagi imam atau
selainnya, bila pergi melalui suatu jalan menuju Shalat Id maka pulang dari jalan
yang lainnya. Dan itu adalah pendapat Al-Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i dan
Ahmad… Dan seandainya pulang dari jalan itu, maka tidak dimakruhkan.”
Para ulama menyebutkan beberapa hikmahnya, di antaranya agar lebih banyak
bertemu sesama muslimin untuk memberi salam dan menumbuhkan rasa cinta.
(Fathul Bari karya Ibnu Rajab, 6/166-167. Lihat pula Zadul Ma’ad, 1/433)

Bila Id Bertepatan dengan Hari Jum’at

َ ل'َ· ¸ِ-'´-'ا َªَ'ْ-َ ر ¸ِ-َ أ ِ .ْ- ِ س'َ-ِ إ ْ.َ=: َ ل'َ· َ »َ·ْرَ أ َ .ْ- َ -ْ-َ ز ُ لَ 'ْ-َ- َ ·ُهَ و َ ن'َ-ْ-ُ- ¸ِ-َ أ َ .ْ- َªَ-ِ و'َ·ُ- ُ تْ-ِ+َ-: ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ ·َ- َ تْ-ِ+َ-َ أ
ُ -ا ´'َ-َ ل'َ· ؟ٍ مْ·َ- ¸ِ· 'َ·َ-َ-ْ=ا ِ .ْ-َ -ْ-ِ= َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= : ْ»َ·َ-. َ ل'َ·: َ ل'َ· ؟َ ·َ-َ- َ -ْ-َ´َ·: ،ِªَ·ُ-ُ=ْ'ا ¸ِ· َ .´=َ ر ´ »ُ` َ -ْ-ِ·ْ'ا ´'َ-
َ ل'َ-َ·: .َ-ُ-ْ'َ· َ ¸'َ-ُ- ْنَ أ َ ء'َ- ْ.َ-

Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami, ia berkata: Aku menyaksikan Mu’awiyah
bin Abi Sufyan, dia sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Apakah kamu
menyaksikan bersama Rasulullah, dua Id berkumpul dalam satu hari?” Ia
menjawab: “Iya.” Mu’awiyah berkata: “Bagaimana yang beliau lakukan?” Ia
menjawab: “Beliau Shalat Id lalu memberikan keringanan pada Shalat Jumat dan
mengatakan: ‘Barangsiapa yang ingin mengerjakan Shalat Jumat maka
shalatlah’.”

َ ل'َ· ُª´-َ أ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر ْ.َ= َ ةَ ·ْ-َ ·ُه ¸ِ-َ أ ْ.َ=: اَ -َه ْ»ُ´ِ-ْ·َ- ¸ِ· َ ·َ-َ-ْ=ا ْ-َ· ْ.ِ- ُ -َ أَ ·ْ=َ أ َ ء'َ- ْ.َ-َ· ،ِ ناَ -ْ-ِ=
َ نْ·ُ·-َ=ُ- '´-ِ إَ و ِªَ·ُ-ُ=ْ'ا

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berkata:
“Telah berkumpul pada hari kalian ini 2 Id, maka barangsiapa yang berkehendak,
(Shalat Id) telah mencukupinya dari Jum’at dan sesungguhnya kami tetap
melaksanakan Jum’at.” (Keduanya diriwayatkan Abu Dawud dan dishahihkan
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1070 dan 1073)
Ibnu Taimiyyah berkata: “Pendapat yang ke-3 dan itulah yang benar, bahwa
yang ikut Shalat Id maka gugur darinya kewajiban Shalat Jum’at. Akan tetapi
bagi imam agar tetap melaksanakan Shalat Jum’at, supaya orang yang ingin
mengikuti Shalat Jum’at dan orang yang tidak ikut Shalat Id bisa mengikutinya.
Inilah yang diriwayatkan dari Nabi dan para shahabatnya.” (Majmu’ Fatawa,
23/211)
Lalu beliau mengatakan juga bahwa yang tidak Shalat Jum’at maka tetap Shalat
Dzuhur.
Ada sebagian ulama yang berpendapat tidak Shalat Dzuhur pula, di antaranya
‘Atha`. Tapi ini pendapat yang lemah dan dibantah oleh para ulama. (Lihat At-
Tamhid, 10/270-271)

Ucapan Selamat Saat Hari Raya
Ibnu Hajar mengatakan: “Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan
sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka
mengatakan kepada sebagian yang lain:

َ =ْ-ِ-َ و '´-ِ- ُ -ا َ .´-َ-َ-

“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kamu.” (Lihat pula masalah
ini dalam Ahkamul ‘Idain karya Ali Hasan hal. 61, Majmu’ Fatawa, 24/253, Fathul
Bari karya Ibnu Rajab, 6/167-168)
Wallahu a’lam.

1 'Id artinya kembali.
2 Karena Nabi tidak memberi contoh demikian dalam ibadah ini. Lain halnya –
wallahu a’lam– bila kebersamaan itu tanpa disengaja.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=373

















Seputar Zakat Fitrah dan Hari Raya ‘Iedul Fitri
Penulis: Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah


Zakat Fitrah
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum mengeluarkan
zakat fitrah pada sepuluh hari pertama pada bulan Ramadhan?
Beliau rahimahullah menjawab: Kata zakat fitrah berasal dari kata al-fithr
(berbuka), karena dari al-fithr inilah sebab dinamakan zakat fitrah. Apabila
berbuka dari Ramadhan merupakan sebab dari penamaan ini, maka zakat ini
terkait dengannya dan tidak boleh mendahuluinya (dari berbuka-masuk Syawal-
red). Oleh sebab itu, waktu yang paling utama dalam mengeluarkannya adalah
pada hari ‘Ied sebelum shalat (‘Ied). Akan tetapi diperbolehkan untuk mendahului
(dalam mengeluarkannya) sehari atau dua hari sebelum ‘Ied agar memberi
keleluasaan bagi yang memberi dan yang mengambil. Sedangkan zakat yang
dilakukan sebelum hari-hari tersebut, menurut pendapat yang kuat di kalangan
para ulama adalah tidak boleh. Berkaitan dengan waktu penunaian zakat fitrah,
ada dua bagian waktu:
1. Waktu yang diperbolehkan, yaitu sehari atau dua hari sebelum ‘Ied
2. Waktu yang utama, yaitu pada hari ‘Ied sebelum shalat
Adapun mengakhirkannya hingga usai melaksanakan shalat, maka hal ini haram
(terlarang) dan tidak sah sebagai zakat fitrah. Hal ini berdasarkan hadits
Abdullah Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma:
ْ.َ-َ و ،ٌªَ'ْ·ُ-ْ-َ- ٌةَ 'آَ ز َ ¸ِ+َ· ِ ةَ `´-'ا َ .ْ-َ· َ 'ها´ دَ أ ْ.َ-َ و ِ تَ '·َ -´-'ا َ .ِ- ٌªَ·َ -َ- َ ¸ِ+َ· ِ ةَ `´-'ا َ -ْ·َ- َ 'ها´ دَ أ
“Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka zakatnya diterima.
Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka itu termasuk dari
shadaqah.”
Kecuali apabila orang tersebut tidak mengetahui (kapan) hari ‘Ied. Misalnya dia
berada di padang pasir dan tidak mengetahuinya kecuali dalam keadaan
terlambat atau yang semisalnya. Maka tidak mengapa baginya untuk
menunaikannya setelah shalat ‘Ied, dan itu mencukupi sebagai zakat fitrah.1
Beliau rahimahullah ditanya: Kapankah waktu mengeluarkan zakat fitrah?
Berapa ukurannya? Bolehkah menambah takarannya?
Beliau rahimahullah menjawab: Zakat fitrah adalah makanan yang dikeluarkan
oleh seseorang di akhir bulan Ramadhan, dan ukurannya adalah sebanyak satu
sha’2. Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebanyak satu sha’
kurma, atau gandum.” Ibnu ‘Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: “Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mewajibkan shadaqatul fithr sebagai
pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata
keji, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”
Maka zakat fitrah itu berupa makanan pokok masyarakat sekitar. Pada masa
sekarang yakni kurma, gandum, dan beras. Apabila kita tinggal di tengah
masyarakat yang memakan jagung, maka kita mengeluarkan jagung atau kismis
atau aqith (susu yang dikeringkan). Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu:
“Dahulu kami mengeluarkan zakat pada masa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam
(seukuran) satu sha’ dari makanan, dan makanan pokok kami adalah kurma,
gandum, kismis, dan aqith.”
Waktu mengeluarkannya adalah pada pagi hari ‘Ied sebelum shalat, berdasarkan
perkataan Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma: “Dan beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam memerintahkan agar zakat ditunaikan sebelum kaum muslimin keluar
untuk shalat,” dan hadits ini marfu’. Dan dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu
'anhuma: “Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat, maka itu zakat
yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka hal
itu (hanyalah) shadaqah.”
Dibolehkan untuk mengawalkan sehari atau dua hari sebelum ‘Ied, dan tidak
boleh lebih cepat dari itu. Karena zakat ini dinamakan zakat fitrah, disandarkan
kepada al-fithr (berbuka, masuk Syawal, red). Seandainya kita katakan boleh
mengeluarkannya ketika masuk bulan (Ramadhan), maka namanya zakat
shiyam. Oleh karena itu, zakat fithr dibatasi pada hari ‘Ied sebelum shalat, dan
diringankan (dimudahkan) dalam mengeluarkannya sehari atau dua hari sebelum
‘Ied.
Adapun menambah takarannya lebih dari satu sha’ dengan tujuan untuk ibadah,
maka termasuk bid’ah. Namun apabila untuk alasan shadaqah dan bukan zakat,
maka boleh dan tidak berdosa. Dan lebih utama untuk membatasi sesuai dengan
yang ditentukan oleh syariat. Dan barangsiapa yang hendak bershadaqah,
hendaknya secara terpisah dari zakat fitrah.
Banyak kaum muslimin yang berkata: Berat bagiku untuk menakar dan aku tidak
memiliki takaran. Maka aku mengeluarkan takaran yang aku yakini seukuran
yang diwajibkan atau lebih dan aku berhati-hati dengan hal ini.
Maka yang demikian ini dibolehkan.
(Diambil dari kitab Majmu’ Fatawa li Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-
’Utsaimin, juz 18 bab Zakatul Fithr)

Hari Raya ‘Iedul Fitri
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang hukum menampakkan
kegembiraan dan kebahagiaan pada hari ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha serta malam
27 Rajab, Nishfu (pertengahan) Sya’ban, dan hari ‘Asyura?
Beliau rahimahullah menjawab: Tidak mengapa menampakkan kegembiraan dan
kebahagiaan pada hari-hari ‘Ied seperti ‘Iedul Fitri atau ‘Iedul Adha selama dalam
batas-batas syar’i. Di antaranya seseorang makan dan minum atau yang
semisalnya. Telah tsabit (pasti) dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu hadits beliau:
´ .َ=َ و ´ ·َ= ِ -ا ِ ·ْآِ ذَ و ،ٍ بْ·َ-َ و ٍ .ْآَ أ ُ م'´-َ أ ِ·ْ-ِ ·ْ-´-'ا ُ م'´-َ أ
“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum, dan berdzikir kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala“, yaitu dalam tiga hari setelah ‘Iedul Adha yang barakah.
Demikian pula pada hari ‘Ied, kaum muslimin menyembelih dan memakan
qurban mereka serta menikmati nikmat Allah atas mereka. Dan juga pada hari
‘Iedul Fitri, tidak mengapa menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan selama
tidak melampaui batasan syar’i.
Sedangkan menampakkan kegembiraan pada malam 27 Rajab atau Nishfu
Sya’ban atau di hari ‘Asyura, maka hal tersebut tidak ada asalnya dan dilarang
(merayakannya). Dan apabila diundang untuk merayakannya, hendaknya tidak
menghadirinya berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
ِ ر'´-'ا ْ¸ِ· ٍªَ'َ `َ- ´ .ُآَ و ٍªَ'َ `َ- ٍªَ=ْ-ِ- ´ .ُآ ´ نِ 'َ· ِ رْ·ُ-ُ `ْا ِ تَ '`َ -ْ=ُ-َ و ْ»ُآ'´-ِ إ
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara baru (yang diada-adakan), karena
sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di an-
naar.” Adapun malam 27 Rajab, orang-orang mengatakannya sebagai malam
Mi’raj, yaitu malam di-mi’raj-kannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
kepada Allah. Padahal hal ini tidak tsabit (tidak benar) dari sisi sejarah. Dan
segala sesuatu yang tidak tsabit maka batil, dan setiap yang dibangun di atas
kebatilan maka batil (juga).
Seandainya pun benar bahwa malam Mi’raj pada tanggal 27 Rajab, maka kita
dilarang untuk mengadakan sesuatu yang baru berupa syi’ar-syi’ar ‘Ied ataupun
sesuatu dari perkara ibadah, karena hal itu tidak tsabit dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam dan tidak pula dari shahabatnya. Apabila tidak tsabit dari orang
yang di-mi’raj-kan (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan juga tidak tsabit dari
shahabatnya, yang mereka lebih utama dalam hal ini dan paling bersemangat
terhadap Sunnah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dan syariatnya, maka
bagaimana mungkin kita boleh mengada-adakan sesuatu yang tidak ada di masa
Nabi r, dalam memuliakan hari-hari tersebut dan tidak pula dalam
menghidupkannya? Dan sesungguhnya sebagian tabi’in menghidupkannya
dengan shalat dan dzikir, bukan dengan makan dan bergembira serta
menampakkan syiar-syiar ied.
Adapun hari ‘Asyura, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya
tentang puasa pada hari itu, maka beliau menjawab:
َªَ-ِ-َ '-ْ'ا َªَ-´-'ا ُ ·-َ´ُ-
“Menghapuskan dosa (kecil) setahun yang lalu,” yakni setahun sebelum hari itu.
Dan tidak ada syi’ar-syi’ar ‘Ied sedikit pun pada hari tersebut. Sebagaimana
halnya pada hari tersebut tidak ada syi’ar-syi’ar ‘Ied, maka tidak ada pula syi’ar-
syi’ar kesedihan pula sedikit pun. Menampakkan kegembiraan atau kesedihan
pada hari tersebut merupakan perbuatan yang menyelisihi As Sunnah. Dan tidak
diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (mengenai amalan) pada hari
itu kecuali puasa, sedangkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan
kepada kita untuk berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya, untuk menyelisihi
Yahudi yang berpuasa pada hari itu saja.
(Diambil dari Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, juz
16 bab Shalatul ‘Iedain).

1 Begitu pula seandainya berita ‘Ied datang tiba-tiba dan tidak memungkinkan
baginya untuk menyerahkannya kepada yang berhak sebelum shalat ‘Ied, atau
karena udzur lainnya. Dan ini dinamakan mengqadha karena udzur. (Lihat Asy-
Syarhul Mumti’ karya Ibnu ‘Utsaimin, 6/174-175, ed)
2 Yaitu sha’ Nabawi. Adapun ukurannya, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyatakan,
berdasarkan ukuran mudd yang dietmukandi reruntuhan di Unaizah, yang
terbuat dari tembaga dan tertulis padanya: Milik Fulan, dari Fulan,... sampai
kepada Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu (shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam), adalah senilai 2,040 kg gandum yang bagus (lihat Asy-Syarhul
Mumti’ karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 6/76). Jika dinilaikan dengan beras
maka sekitar 2,250 kg.
Ada juga yang menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukurannya sekitar 3 kg,
sebagaimana fatwa Asy-Syaikh Ibnu Baz (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, edisi
17/1406-1407H), dan juga Asy-Syaikh Alu Bassam dalam Taudhihul Ahkam
(3/74) menyatakan bahwa 1 sha’ Nabawi ukurannya 3000 gr (3 kg) bila diukur
dengan hinthah (sejenis gandum).Sehingga kebiasaan kaum muslimin di
Indonesia yang menunaikan zakat fitrah dengan ukuran 2,5 kg beras insya Allah
sudah mencukupi. (ed)

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=188



































Shalat Ied & Hal-hal yang Berkaitan dengannya
Penulis: Al Ustadz Zuhair Syarif


Penyebab rusaknya ittiba' dan tersebarnya bid'ah serta kesalahan-kesalahan
dalam beribadah adalah karena adanya hadits-hadits dlaif dan maudlu' yang
tidak ada sandarannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di
samping itu juga dikarenakan sikap taqlid dan ta'ashub pada salah satu madzhab
tertentu tanpa mengindahkan hadits-hadits shahih dari Nabi kita shallallahu
'alaihi wa sallam.

Dalam rangka menghidupkan sunnah yang lurus inilah, dalam edisi ini, kami
ingin menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan shalat Ied (baik Iedul
Fithri maupun Iedul Adl-ha). Hal itu agar kita dapat melaksanakan ibadah ini
dengan sebenar-benarnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam.
Di antara hal-hal yang berkaitan dengan shalat Ied adalah:

Tempat Shalat untuk Dua Ied
Telah masyhur baik dari kalangan huffadh (ulama) maupun ahli hadits bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam –dalam ucapan dan perbuatan-
perbuatannya— terus meneru melakukan shalat Ied (Iedul Fithri dan Iedul Adl-
ha) di mushalla (tanah lapang). Pendapat para ulama ini didasarkan pada dalil
hadits-hadits shahih yang ada dalam Shahihain, kitab-kitab Sunan, kitab-kitab
sanad dan lainnya yang diriwayatkan dari banyak jalan.
Untuk itu untuk lebih meyakinkan pembaca atas pendapat para ulama tersebut,
akan kami bawakan hadits-hadits yang berkaitan dengannya. Hadits-hadits
tersebut kami nukilkan beserta takhrij dan tahqiqnya serta penjelasannya dari
kitab Syaikh Al-Albani yang berjudul Shalatul 'Iedain fil Mushalla Hiya Sunnah.

Hadits Pertama
َ ل'َ· ª-= -ا ¸-ر يِ رْ-ُ=ْ'ا ِ -ْ-ِ·َ- ¸ِ-َ أ ْ.َ=: َ'ِ إ َ=ْ-َ `ْا َ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ جُ ·ْ=َ- »'-و ª-'= -ا '- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ن'َآ
´'َ-ُ-ْ'ا. َ و ْ»ُ+ُ=ِ·َ-َ· ،ْ»ِ+ِ·ْ·ُ-ُ- َ'َ= ٌسْ·ُ'ُ= ُ س'´-'ا َ و ،ِ س'´-'ا َ .ِ-'َ-ُ- ُ مْ·ُ-َ-َ· ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` ،ُ ةَ `´-'ا ِªِ- ُ أَ -ْ-َ- ٍ ْ-َ- ُ ل´ وَ 'َ·
ْ»ُهُ ·ُ-ْ'َ- َ و ْ»ِ+ْ-ِ-ْ·ُ-. َ أ ٍ ْ-َ-ِ- ُ ·ُ-ْ'َ- ْوَ أ ،ُªَ·َ=َ· 'ً`ْ·َ- َ ·َ=ْ-َ- ْنَ أ ُ -ْ-ِ ·ُ- َ ن'َآ ْنِ 'َ·ٍ -ْ-ِ·َ- ْ·ُ-َ أ َ ل'َ· ،ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` ِªِ- َ ·َ-: ِ لَ ·َ- ْ»َ'َ·
َ =ِ'َ ذ َ'َ= ُ س'´-'ا.... (روا- البخاري ٢/٢٥٩-٢٦٠ و مسلم ٣/٢٠ و النسائي ١/٢٣٤ و المحاملى في
كتاب العيدين جـ ٢ رقم ٨٦ و أبو نعيم في مستخرج- ٢/١٠/٢ و البي-قي في سنن- ٣/٢٨٠)
Dari Abi Sa'id Al-Khudri radliallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Iedul Fithri dan Adl-ha.
Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling
menghadap manusia, di mana mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf
mereka. Beliau memberi pelajaran, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin
mengutus satu utusan, maka (beliau) memutuskannya. Atau bila beliau ingin
memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya dan kemudian
berpaling." Abu Said berkata: "Maka manusia terus menerus melakukan yang
demikian...." (HR. Bukhari 2/259-260, Muslim 3/20, Nasa`i 1/234; Lihat Al-
Muhamili di dalam Kitab Iedain 2/76, Abu Nu'aim dalam Mustakhraj 2/10/2, dan
Baihaqi dalam Sunannya 3/280)

Hadits Kedua
ْ.َ= َ ل'َ· 'َ-ُ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َ ·َ-ُ= ِ .ْ- ِ -ا ِ -ْ-َ=: ُ ةَ ·َ-َ·ْ'ا َ و ،ِ -ْ-ِ·ْ'ا ِ مْ·َ- ¸ِ· ´'َ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ ْوُ -ْ·َ- »'- و ª-'= -ا '- َ ن'َآ
'َ+ْ-َ'ِ إ ¸'َ-ُ-َ· ِªْ-َ -َ- َ .ْ-َ- ْ-َ-ِ-ُ- ´'َ-ُ-ْ'ا َ ·َ'َ- اَ ذِ 'َ· ،ِªْ-َ -َ- َ .ْ-َ- ُ .َ-ْ=ُ-. َ =ِ'َ ذ َ و ِªِ- ُ ·ِ-َ-ْ-َ- ٌءْ¸َ- ِªْ-ِ· َ .ْ-َ' ً ء'َ-َ· ´'َ-ُ-ْ'ا ´ نَ أ.
(روا- البخاري ١/٣٥٤ و مسلم ٢/٥٥ و أبو داود ١/١٠٩ و النسائي ١/٢٣٢ و ابن ماج- ١/٣٩٢ و
أحمد رقم ٦٢٨٦ و المحاملي في كتاب العيدين جـ ٢ رقم ٢٦-٣٦ و أبو القاسم الشحامى في
تحفة العيد رقم ١٤-١٦ و البي-قي ٣/٢٨٤-٢٨٥)
Dari Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam biasa berpagi-pagi (menuju) ke mushalla pada hari Ied,
sedangkan 'anazah dibawa di depannya. Ketika beliau sampai di sana ('anazah
tadi) ditancapkan di depan beliau dan beliau shalat menghadapnya. Hal ini
karena mushalla itu terbuka, tidak ada yang membatasinya. (HR. Bukhari 1/354,
Muslim 2/55, Abu Dawud 1/109, An-Nasa`i 1/232, Ibnu Majah 1/392, Ahmad
6286, Al-Muhamili 2/26-36, Abul Qasim As-Syaukani[1] di dalam Tuhfatul Ied 14-
16 dan Al-Baihaqi 3/284-285)
'Anazah (sebagaimana yang diterangkan di dalam An-Nihayah) bentuknya
seperti setengah tombak atau lebih besar sedikit. Di ujungnya ada mata lembing
seperti mata tombak dan paling mirip dengan bentuk tongkat.

Hadits Ketiga
َ ل'َ· ٍ بِ ز'َ= ِ .ْ- ِ ءا´ ·َ-ْ'ا ِ .َ=: ِ ·ْ-ِ-َ-ْ'ا َ'ِ إ َ=ْ-َ أ َ مْ·َ- »'- و ª-'= -ا '- ´ ¸ِ-´-'ا َ جَ ·َ=(وفي رواية: ´'َ-ُ-ْ'ا) ´'َ-َ·
َ ل'َ· َ و ِªِ+ْ=َ ·ِ- 'َ-ْ-َ'َ= َ .َ-ْ·َ أ ´ »ُ` ،ِ .ْ-َ-َ·ْآَ ر: ¸ِ· 'َ-ِ´ُ-ُ- َ ل´ وَ أ ´ نِ إ ْ-َ-َ· َ =ِ'َ ذ َ .َ·َ· ْ.َ-َ· ،ُ ·َ=ْ-َ-َ· َ ·ِ=ْ·َ- ´ »ُ` ِ ةَ `´-''ِ- َ أَ -ْ-َ- ْنَ أ اَ -َه 'َ-ِ-ْ·َ-
ٍ ْ-َ- ¸ِ· ِ =ُ-´-'ا َ .ِ- َ .ْ-َ' ،ِªِ'ْهَ `ِ ُªَ'´=َ= ٌْ-َ- َ ·ُه 'َ-´-ِ 'َ· َ =ِ'َ ذ َ .ْ-َ· َ -َ-َ ذ ْ.َ-َ و ،'َ-َ-´-ُ- َ ·َ·اَ و. (روا- البخاري ٢/٣٧٢
وأحمد ٤/٢٨٢ والمحاملى ٢ رقم ٩٠، ٩٦ والرواية الأخرى ل-ما بسند حسن)
Dari Al-Barra' bin 'Azib, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar
menuju ke Baqi' (dalam riwayat lain: mushalla) pada hari Iedul Adl-ha. Di sana
beliau shalat dua rakaat, setelah itu beliau menghadapkan wajahnya kepada
kami seraya berkata: "Sesungguhnya awal ketaatan dan ibadah pada hari kita ini
adalah kita memulai dengan shalat, kemudian pulang dan berkurban.
Barangsiapa melaksanakan yang demikian itu, sungguh dia telah mencocoki
sunnah kami. Dan barangsiapa berkurban sebelum itu, maka itu sesuatu yang
dia tergesa-gesa untuk keluarganya, tidak ada sedikitpun nilai ibadahnya." (HR.
Bukhari 2/372, Ahmad 4/282, Al-Muhamili 2/96, bagi keduanya ada riwayat lain
dengan sanad hasan)

Hadits Keempat
ُªَ' َ .ْ-ِ· ٍ س'´-َ= ِ .ْ-ا ِ .َ=: َ ل'َ· ؟»'- و ª-'= -ا '- ¸ِ-´-'ا َ ·َ- َ -ْ-ِ·ْ'ا َ تْ-ِ+َ-َ أ: ،ُªُ-ْ-ِ+َ- 'َ- ِ ·َ·-'ا َ .ِ- ¸ِ-'َ´َ- َ `ْ·َ'َ و ،ْ»َ·َ-
َ--'ا َ-َ أ ´ »ُ` ´'َ-َ· ْ-َ'´-'ا ِ .ْ- ِ ·ْ-ِ`َآ ِ راَ د َ -ْ-ِ= ْيِ -´'ا َ »َ'َ·ْ'ا َ-َ أ ´-َ= ´ .ُهَ ·َ-َ أ َ و ´ .ُهَ ·´آَ ذ َ و ´ .ُ+َ=َ=َ ·َ· ٌلَ `ِ- ُªَ·َ- َ و َ ء'
ِªِ-ْ-َ- َ'ِ إ ٌلَ `ِ- َ و َ ·ُه َ ·َ'َ=ْ-ا ´ »ُ` ٍ لَ `ِ- ِ بْ·َ` ¸ِ· ُªَ-ْ·ِ -ْ-َ- ´ .ِ+ْ-ِ -ْ-َ 'ِ- َ .ْ-ِ ·ْ+َ- ´ .ُ+ُ-ْ-َ أَ ·َ· ِªَ·َ -´-''ِ-. أخرج- البخاري ٢/٣٧٣ و
مسلم ٢/١٨-١٩ و ابن أبي شيبة ٢/٣/٢ و المحاملى رقم ٢٨، ٢٩ و الفريابى رقم ٨٥، ٩٣ و
أبو نعيم في مستخرج- ٢/٨/٢-٩/١٠ و زاد مسلم في رواية عن ابن جريج: ٍ ء'َ=َ·ِ' ُ -ْ'ُ·: َ'َ= '´-َ=َ أ
َ ل'َ· ؟´ .ُهُ ·آَ -ُ-َ· ُ غَ ·ْ-َ- َ .ْ-ِ= َ ء'َ--'ا َ ¸ِ-ْ'َ- ْنَ أ َ ن`ْا ِ م'َ-ِ `ْا: ِ'َ ذ ´ نِ إ يِ ·ْ-ُ·َ' ْيَ أ؟َ =ِ'َ ذ َ نْ·ُ'َ·َ-َ- َ ` ْ»ُ+َ' 'َ-َ و ْ»ِ+ْ-َ'َ= ´ ·َ=َ' َ =!
Dari Ibnu Abbas, beliau ditanya: "Apakah engkau menghadiri shalat Ied bersama
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?" Beliau menjawab: "Ya, dan kalaulah bukan
karena tempatku yang kecil ini tidaklah aku menyaksikannya hingga beliau
datang ke 'alam (sebidang tanah) yang berada di sisi (sebelah) rumah Katsir bin
As-Shalt. Maka beliau shalat kemudian berkhutbah dan datang ke para wanita
bersama Bilal. Beliau memberi pelajaran, mengingatkan dan memerintah mereka
untuk bershadaqah. Maka aku lihat mereka merentangkan tangan-tangan
mereka untuk melemparkannya (shadaqah) pada baju Bilal. Kemudian beliau
pergi bersama Bilal ke rumahnya. (HR. Bukhari 2/373, Muslim 2/18-19, Ibnu Abi
Syaibah 2/3/2, Al-Muhamili 38-39, Al-Firyaabi no. 85, 93 dan Abu Nu'aim di
dalam Mustakhrajnya 2/8/2-9/10 dan Muslim menambahkan di dalam riwayatnya
dari Ibnu Juraij: "Aku berkata kepada Atha': Apakah benar bagi imam sekarang
untuk mendatangi para wanita jika telah selesai (shalat) dan mengingatkan
mereka?" Beliau menjawab: "Ya, demi Allah sesungguhnya yang demikian itu
haq. Kenapa mereka tidak melakukan yang demikian?")
Demikianlah hadits-hadits yang merupakan hujjah yang kokoh dan jelas tentang
sunnahnya melakukan shalat Ied di mushalla (tanah lapang). Oleh karena itu
jumhur ulama mengatakan di dalam Syarhus Sunnah (Imam Al-Baghawi 3/294):
"Termasuk sunnah bagi imam untuk keluar (ke mushalla) guna melaksanakan
dua shalat Ied. Kecuali jika ada udzur, maka (boleh) shalat di masjid, yaitu
masjid di dalam negeri-(nya)."
Al-'Allamah Ibnul Haaj Al-Maliki berkata: "Sunnah yang berlangsung pada dua
shalat Ied adalah dilakukan di mushalla (tanah lapang), karena sabda Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam: "Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat
di tempat lain selain Masjidil Haram." (HR. Bukhari 1190 dan Muslim 1394).
Walaupun ada fadlilah yang besar seperti ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam masih juga keluar (ke mushalla) dan meninggalkannya (masjid)." (Al-
Madkhal 2/283).
Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata di dalam Al-Mughni (2/229-230):
"Termasuk dari sunnah adalah shalat Ied di mushalla. Ali radliallahu 'anhu
memerintahkan yang demikian dan Al-Auza'i serta Ashhabur Ra'yi
menganggapnya baik. Inilah ucapan Ibnul Mundzir."
Mengomentari hadits pertama, Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari
2/450) berkata: "Dari hadits ini diambillah dalil atas sunnahnya keluar ke tanah
lapang untuk shalat Ied. Sesungguhnya yang demikian itu lebih utama daripada
shalat Ied di masjid karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus
melakukan yang demikian. Padahal shalat di masjid beliau memiliki banyak
keutamaan."
Imam Muhyiddin An-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim ketika
mengomentari hadits pertama: "Hadits ini adalah dalil bagi orang yang
menyatakan sunnahnya menuju ke mushalla untuk shalat Ied. Dan ini lebih afdlal
(utama) daripada dikerjakan di masjid. Hal ini berlaku bagi kaum muslimin di
seluruh negeri. Adapun mengenai penduduk Mekah yang selalu melaksanakan
shalat Ied di masjid sejak awal, di kalangan kami ada dua pendapat:
1. (Shalat Ied) di tanah lapang lebih afdlal berdasarkan hadits ini.
2. Yang ini lebih benar menurut kebanyakan mereka bahwa di masjid lebih afdlal
kecuali jika masjidnya sempit."
Mereka (para pengikut Imam Nawawi) berkata: "Sesungguhnya penduduk
Mekah shalat di masjid karena luasnya, sedangkan keluarnya Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam ke mushalla karena sempitnya masjid. Hal in menunjukkan
bahwa shalat di masjid lebih utama apabila masjid itu luas (lapang)."

Bantahan terhadap Alasan bahwa Shalat Ied di Tanah Lapang dengan sebab
Sempitnya Masjid
Pernyataan para pengikut dan murid Imam Nawawi ini perlu ditinjau lagi. Sebab
jika permasalahannya sebagaimana yang mereka nyatakan, maka tidaklah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus menunaikannya di tanah
lapang. Beliau tentu tidak akan terus menerus dalam melakukan suatu ibadah,
kecuali karena itulah yang paling utama. Jadi, pendapat yang menyatakan
bahwa hal itu dilakukan karena sempitnya masjid adalah pendapat yang tidak
ada dalilnya.
Yang menguatkan bantahan terhadap pendapat mereka adalah bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa shalat Jum'at di masjid, sedangkan
yang datang untuk shalat adalah seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya.
Beliau shalat Jum'at bersama mereka di masjid tersebut. Tidak jelas perbedaan
jumlah antara dua kelompok ini, yakni kelompok yang hadir pada shalat Jum'at
dan kelompok yang hadir pada shalat Ied, sehingga dikatakan: Masjid ini cukup
luas untuk yang ini (shalat Jum'at) dan tidak cukup untuk yang itu (shalat Ied).
Barangsiapa yang mengatakan demikian, maka dia harus mendatangkan
dalilnya dan kami yakin dia tidak akan menemuinya.
Kalau misalnya, shalat Ied yang dilakukan di masjid lebih utama daripada
dilakukan di tanah lapang karena kondisi masjid saat itu sempit, tentu Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bergegas untuk memperluasnya sebagaimana yang
dilakukan oleh khalifah-khalifah sesudah beliau. (Hal itu) dikarenakan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam lebih pantas sebagai orang yang pertama
memperluasnya dibandingkan dengan mereka, kalau memang tidak cukup
dipakai untuk shalat Ied. Walaupun demikian beliau meninggalkannya, sehingga
tidak mungkin pernyataan tersebut diterima. Hal ini hanyalah merupakan
anggapan seseorang yang ingin menolak. Dan tidaklah aku menyangkan ada
seseorang yang alim berani atas tanggapan seperti ini. Kalau dia melakukan
yang demikian, maka kami mendahuluinya dengan firman Allah Ta'ala yang
artinya: "Katakanlah, tunjukkanlah bukti kalian jika kalian orang-orang yang
benar." (Al-Baqarah: 111)
Dengan demikian pernyataan di atas sudah terbantah. Adapun (tentang
pendapat) Imam Nawawi yang bermadzhab Syafi'i, kita nukilkan ucapan Imam
Syafi'i sendiri: "Telah sampai kepada kami (riwayat) bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke tengah lapang pada dua hari Ied di
Madinah. Demikian pula orang-orang sesudah beliau, kecuali jika ada udzur
hujan dan selainnya. Demikian juga kebanyakan negeri-negeri, kecuali penduduk
Makkah." Selanjutnya beliau mengisyaratkan bahwa sebab yang demikian
adalah karena luasnya masjid dan sempitnya pinggiran-pinggiran Mekah dengan
ucapannya: "Jika suatu negeri yang makmur (banyak orang) dan masjid mereka
mencukupi untuk shalat Ied, aku tidak berpendapat bahwa mereka harus keluar
darinya (masjid). Sedangkan kalau masjidnya tidak mencukupi mereka, aku
memakruhkan shalat di dalamnya dan tidak ada pengulangan." (Al-Umm 1/287).
Alasan yang dikehendaki dari keterangan tersebut berkisar tentang luas dan
sempitnya masjid, bukan tentang keluarnya ke tanah lapang, karena yang
dikehendaki adalah terkumpulnya masyarakat. Apabila di masjid sudah
mencukupi, lebih-lebih masjid yang ada keutamaannya maka lebih afdlal.
Mengenai perkataan Imam Syafi'i ini, Imam As-Syaukani mengomentari dengan
ucapannya: "Dalam perkataannya (Imam Syafi'i) bahwa alasan dengan sempit
dan luasnya masjid ini hanya kira-kira dan prasangka saja. Untuk itu tidak boleh
digunakan sebagai dalih untuk tidak mencontoh kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam di dalam perkara "keluar ke tanah lapang" sesudah diketahui
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.
Adapun pengambilan dalil yang demikian (luas dan sempitnya masjid) sebagai
alasan untuk shalat Ied di masjid Makkah, dapat dijawab dengan kemungkinan
tidak dilakukannya keluar ke tanah lapang (di Makkah), karena sempitnya
pinggiran-pinggiran kota Makkah, bukan karena luasnya masjid."
Syaikh Al-Albani berkata: "Kemungkinan yang disebutkan oleh Imam Syaukani
ini diisyaratkan juga oleh Imam Syafi'i sendiri dengan ucapannya:
'Sesungguhnya apa yang aku katakan ini adalah tidak lain karena tidak adanya
keluasan di sekeliling rumah-rumah kota Makkah, keluasan yang lebar (tanah
lapang).'" (Al-Umm 1/207)
Hal ini menguatkan pendapat Imam Syaukani: "Alasan Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tidak melakukannya di masjid, karena sempit adalah hanya kira-
kira saja."
Kemudian dengan alasan tadi, mereka (murid-murid Imam Nawawi)
berargumentasi dengan riwayat Baihaqi di dalam Sunan Al-Kubra (3/310) dari
jalan Muhammad bin Abdul Aziz bin Abdurrahman dari Utsman bin Abdurrahman
At-Taimi, ia berkata: Hujan deras turun di Madinah pada hari Iedul Fithri pada
masa pemerintahan Aban bin Utsman. Maka beliau mengumpulkan manusia di
masjid dan tidak keluar ke tanah lapang, di mana beliau biasa shalat Iedul Fithri
dan Adl-ha padanya. Kemudian beliau berkata kepada Abdullah bin Amir bin
Rabi'ah: "Berdirilah dan khabarkan kepada manusia apa yang kamu khabarkan
kepadaku." Abdullah bin Amir berkata: "Sesungguhnya manusia di jaman Umar
bin Khaththab radliallahu 'anhu kehujanan, sehingga mereka terhalang untuk
keluar ke tanah lapang. Lalu Umar pun mengumpulkan manusia ke masjid dan
shalat bersama mereka. Kemudian beliau berdiri di atas mimbar seraya berkata:
'Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
keluar bersama manusia ke tanah lapang untuk shalat (Ied), karena tanah
lapang lebih memberi manfaat dan lebih leluasa untuk mereka. Dan bahwasanya
masjid beliau tidak mencukupi mereka. Namun, apabila turun hujan maka masjid
lebih bermanfaat.'"
Jawaban terhadap argumentasi ini, Syaikh Al-Albani berkata: "Riwayat ini dlaif
jiddan (lemah sekali) karena di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdul Aziz.
Dia adalah Muhammad bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman bin Auf Al-
Qadli. Bukhari berkata tentangnya: 'Dia munkarul hadits (munkar haditsnya).' An-
Nasa`i berkata: 'Dia matruk (ditinggalkan haditsnya).' Imam Syafi'i telah
mengeluarkan riwayat ini di dalam al-Umm (1/707) dari jalan yang lain dari Aban
secara mauquf. Bersamaan dengan itu, sanadnya juga lemah sekali karena
riwayatnya dari Ibrahim guru Imam As-Syafi'i dan dia adalah Ibrahim bin
Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami. Dia seorang pendusta (banyak dusta
dalam periwayatan). Imam Malik berkata: 'Dia tidak dipercaya di dalam hadits
dan agamanya.'" Oleh karena itu Al-Hafidh berkata tentangnya di dalam At-
Taqrib: "Ditinggalkan riwayat hadits darinya."
Dari keterangan yang telah lewat terlihat batilnya alasan dengan sempitnya
masjid dan rajih (kuat)nya ucapan para ulama yang memastikan bahwa shalat
Ied di tanah lapang adalah sunnah dan disyariatkan di setiap jaman dan negeri,
kecuali karena darurat. Dan aku (Al-Albani) tidak mengetahui seorang pun dari
kalangan para ulama yang mumpuni dalam ilmunya menyelisihi yang demikian
itu.
Demikian pula Ibnu Hazm di dalam Al-Muhalla (5/81) berkata: "Adapun
sunnahnya shalat dua Ied adalah keluarnya penduduk di setiap desa atau kota
ke tanah lapang yang luas pada waktu sesudah meningginya matahari dan
ketika mula bolehnya shalat sunnah."
Beliau berkata lagi (hal. 86): "Jika mereka mempunyai masyaqqah
(keberatan/udzur), maka mereka shalat jamaah di masjid." Selanjutnya beliau
menyambung (hal. 87): "Kami telah meriwayatkan dari Umar dan Utsman
radliyallahu 'anhuma, bahwasanya keduanya shalat Ied di masjid bersama
manusia karena terjadi hujan di hari Ied. Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam biasa keluar ke tanah lapang untuk shalat dua Ied. Maka perkara
shalat di tanah lapang ini lebih utama sedangkan selainnya (selain di tanah
lapang, yaitu di masjid) juga diganjar, karena shalat di lapangan adalah
perbuatan Rasulullah, bukan perintah."
Al-'Allamah Al-'Aini Al-Hanafi berkata di dalam Syarah Bukhari ketika mengambil
hukum dari hadits Abi Said (6/280-281): "Di dalam hadits tersebut ada dalil untuk
menampakkan diri dan keluar ke tanah lapang dan tidak boleh shalat di masjid
kecuali karena darurat."
Ibnu Ziyad meriwayatkan dari Imam Malik, beliau berkata: "Termasuk sunnah
adalah keluar ke tanah lapang, kecuali penduduk Makkah, maka di masjid." Di
dalam Fatawa Al-Hindiyah (1/118) disebutkan: "Keluar ke tanah lapang pada
shalat Ied adalah sunnah, walaupun masjid jami' masih lapang. Demikianlah
pendapat para ulama dan inilah yang shahih (benar)."
Dalam Al-Mudawwanah (1/171) yang diriwayatkan dari Malik, beliau berkata:
"Tidak boleh shalat dua Ied di dua tempat dan tidak boleh di masjid mereka,
akan tetapi hendaklah mereka keluar sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam keluar. Dari Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab, dia berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke mushalla (tanah lapang)
kemudian disunnahkan hal itu kepada penduduk negeri-negeri."
Dengan ucapan-ucapan dan bantahan-bantahan yang kami nukilkan dari para
ulama, maka terbantahlah ucapan-ucapan atau kesalahan di atas.
Sunnah nabawiyah yang tercantum di dalam hadits-hadits yang shahih
menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua Ied di
tanah lapang di luar daerah. Terus menerus pekerjaan ini berlangsung sejak
jaman pertama dan mereka tidak melakukan shalat Ied di masjid, kecuali kalau
ada darurat yaitu hujan atau yang lainnya. Ini adalah madzhab imam yang empat
dan selain mereka dari para ulama ridwanullahu alaihim.
Aku (Al-Albani) tidak mengetahui seorangpun yang menyelisihinya (di atas),
kecuali ucapan Syafi'i radliyallahu 'anhu tentang memilih shalat di masjid apabila
mencukupi penduduk negeri. Bersamaan dengan ini beliau berpendapat tidak
apa-apa shalat di tanah lapang walaupun masjid cukup untuk menampung
mereka. Telah jelas pula dari beliau bahwasanya beliau memakruhkan shalat Ied
di masjid jika masjid tidak cukup oleh penduduk negeri.
Begitulah yang terdapat di dalam hadits-hadits yang shahih. Perbuatan ini terus
menerus dilakukan pada jaman pertama (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam)
dan demikian pula ucapan para ulama. Semua itu menunjukkan bahwasanya
dua shalat Ied yang dilakukan sekarang di masjid-masjid adalah bid'ah. Demikian
pula sampai kepada kita perkataan Syafi'i yang menyatakan tidak didapati satu
masjid pun di sebuah negeri yang dapat menampung seluruh penduduk negeri.

Hikmah Shalat di Tanah Lapang
Sunnah dua shalat Ied di tanah lapang mempunyai hikmah yang agung yaitu:
kaum muslimin mempunyai dua hari di dalam satu tahun di mana penduduk
negeri dapat berkumpul pada hari itu baik laki-laki, perempuan maupun anak-
anak untuk menghadapkan hati-hati mereka kepada Allah. Mereka berkumpul
pada kalimat yang satu, shalat di belakang imam yang satu, bertahlil, bertakbir
dan berdoa kepada Allah dengan keikhlasan seakan-akan mereka satu hati.
Mereka bergembira dan bahagia dengan nikmat Allah atas mereka. Maka hari
Ied tersebut di sisi mereka adalah hari besar.

Hukum Shalat Ied
Sebagian manusia meremehkan hukum shalat Ied. Mereka mengatakan bahwa
hukumnya adalah sunnah sehingga mereka tidak menunaikannya di tanah
lapang. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyuruh para
wanita untuk keluar ke tanah lapang guna menunaikan shalat Ied. Dalam
permasalahan ini Imam As-Syaukani berkata: "Ketahuilah bahwasanya Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam terus menerus mengerjakan dua shalat Ied ini dan
tidak pernah meninggalkannya satu pun dari beberapa Ied. Dan beliau
memerintahkan manusia untuk keluar padanya, hingga menyuruh wanita yang
merdeka, gadis-gadis pingitan dan wanita yang haidl. Beliau menyuruh wanita-
wanita yang haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta
panggilan kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak
mempunyai jilbab agar saudaranya meminjamkan jilbabnya. Semua ini
menunjukkan bahwasanya shalat ini wajib, wajib yang ditekankan atas individu,
bukan fardlu kifayah." (As-Sailul Jarar 1/315).
Syaikh Masyhur Hasan Salman mengomentari ucapan ini: "Syaukani
rahimahullah mengisyaratkan kepada hadits Ummu 'Athiyah radliallahu 'anha:
ْ-َ''َ· 'َ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َªَ-ِ=َ= مُ أ ْ.َ=: َ=ْ-َ `ْا َ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ¸ِ· ´ .ُ+َ=ِ ·ْ=ُ- ْنَ أ »'- و ª-'= -ا '- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر 'َ-َ ·َ-َ أ:
َ و َ .´-ِ=ْ'ا َ و َ ·ِ-اَ ·َ·ْ'ا َ ةَ `´-'ا َ .ْ'ِ ·َ-ْ·َ-َ· ُ .´-ِ=ْ'ا '´-َ 'َ· ِ رْوُ -ُ=ْ'ا ِ تاَ وَ ذ. وفي لفظ: َ ةَ ·ْ=َ دَ و َ ·ْ-َ=ْ'ا َ نْ-َ+ْ-َ-َ و ،´'َ-ُ-ْ'ا
َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'ا. ُ -ْ'ُ·: ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ-! ٌب'َ-ْ'ِ= 'َ+َ' ُ نْ·ُ´َ- َ ` 'َ-َ -ْ=ِ إ! َ ل'َ·: َªِ-'َ-ْ'ِ= ْ.ِ- 'َ+ُ-ْ=ُ أ 'َ+ْ-ِ-ْ'ُ-ِ'ا. (أخرج- البخاري في
الصحيح رقم ٣٢٤، ٣٥١، ٩٧١، ٩٧٤، ٩٨٠، ٩٨١، و ١٦٥٢ ومسلم في الصحيح رقم ٩٨٠ وأحمد
في المسند ٥/٨٤ و ٨٥ والنسائي في المجتبى ٣/١٨٠ وابن ماج- في السنن رقم ١٣٠٧
والترمذي في الجامع رقم ٥٣٩)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengeluarkan
mereka pada Iedul Fithri dan Adl-ha (yakni) wanita-wanita yang merdeka, yang
haid dan gadis-gadis pingitan. Di dalam lafadh (lain): (Keluar) ke mushalla (tanah
lapang) dan mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku
(Ummu Athiyah) berkata: Wahai Rasulullah. Salah seorang dari kami tidak
mempunyai jilbab? Beliau berkata: (Suruh) agar saudaranya memakaikan
jilbabnya." (HR. Bukhari di dalam Shahihnya no. 324, 351, 971, 974, 980, 981,
1652, Muslim di dalam Shahihnya 980, Ahmad di dalam Musnadnya 5/84-85, An-
Nasa`i di dalam Al-Mujtaba 3/180, Ibnu Majah di dalam As-Sunan 1307 dan At-
Tirmidzi di dalam Al-Jami' no. 539)
Perintah untuk keluar (pada saat Ied) mengharuskan perintah untuk shalat bagi
orang yang tidak mempunyai udzur. Inilah sebenarnya inti dari ucapan Rasul,
karena keluar ke tanah lapang merupakan perantara pada shalat. Maka wajibnya
perantara mengharuskan wajibnya tujuan dan dalam hal ini laki-laki lebih
diutamakan daripada wanita (Al-Mauidlah Al-Hasanah hal. 43).
Termasuk dalil wajibnya dua shalat Ied adalah bahwasanya shalat Ied
menggugurkan kewajiban shalat Jum'at apabila bertepatan waktunya. Telah jelas
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya ketika berkumpulnya shalat
Ied dan Jum'at pada hari yang sama, beliau bersabda:
َ نْ·ُ·َ-ْ=ُ- '´-ِ إَ و ،ِªَ·ْ-ُ=ْ'ا َ .ِ- ُ -َ أَ ·ْ=َ أ َء'َ- ْ.َ-َ· ،ِ ناَ -ْ-ِ= اَ -َه ْ»ُ´ِ-ْ·َ- ¸ِ· َ ·َ-َ-ْ=ا. (أخرج- الفريابي في أحكام
العيدين رقم ١٥٠ وأبو داود في السنن رقم ١٠٧٣ وابن ماج- في السنن رقم ١٣١١ وابن
الجارود في المنتقى ٣٠٢ والحاكم في المستدرك ١/٢٨٨ والبي-قي في السنن الكبرى
٣/٣١٨ وابن عبد البر في التم-يد ١٠/٢٧٢ والخطيب في تاريخ بغداد ٣/١٢٩ وابن الجوزي
في الوا-يات ١/٤٧٣ والحديث صحيح لشوا-د- انظر (سواطع القمرين في تخريج أحاديث
أحكام العيدين) للشيخ مساعد بن سليمان بن راشد، ص ٢١١ وما بعد-)
Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa yang ingin
(melakukan shalat Ied) maka dia telah tercukupi dari shalat Jum'at dan
sesungguhnya kita telah dikumpulkan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Firyabi
dalam Ahkamul Iedain no. 150, Abu Dawud di dalam Sunannya no. 1073, Ibnu
Majah di dalam As-Sunan no. 1311, Ibnul Jarud di dalam Al-Muntaqa 302, Al-
Hakim di dalam Al-Mustadrak 1/288, Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra
3/318, Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 10/272, Al-Khatib di dalam Tarikh
Baghdad 3/129, Ibnul Jauzi di dalam Al-Wahiyat 1/473. Hadits ini SHAHIH
dengan syahid-syahidnya (hadits-hadits penguat). Lihat kitab Sawathi' Al-
Qamarain fi Takhriji Ahaditsi Ahkamil Iedain karya Syaikh Musa'id bin Sulaiman
bin Rasyid hal. 211.
Telah diketahui bahwa bukanlah sesuatu yang wajib kalau tidak menggugurkan
sesuatu yang wajib. Dan sungguh telah jelas bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam terus menerus melaksanakannya dengan berjamaah sejak
disyariatkannya sampai beliau meninggal. Dan beliau menggandengkan
perintahnya kepada manusia dengan terus menerusnya ini agar mereka keluar
ke tanah lapang untuk shalat (Lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah 24/212 dan
23/161, Ar-Raudlah An-Nadiyah 1/142, Nailul Authar 3/282-283 dan termasuk
Tamamul Minnah 344).
Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan ucapannya: "Kami
menguatkan pendapat bahwa (hukum) shalat Ied adalah wajib atas individu
(fardlu 'ain) sebagaimana ucapan Abu Hanifah (lihat Hasyiah Ibnu 'Abidin
2/1661) dan selainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari ucapan-ucapan
Imam Syafi'i dan salah satu di antara dua pendapat madzhab Ahmad bin Hanbal
(Hanbali).
Adapun ucapan orang yang berkata bahwa shalat Ied tidak wajib, ini sangat jauh
(dari kebenaran). Sesungguhnya shalat Ied itu termasuk syiar Islam yang sangat
agung. Manusia berkumpul pada saat itu lebih banyak daripada shalat Jum'at,
serta disyariatkan pula takbir di dalamnya. Sedangkan ucapan orang yang
menyatakan bahwa shalat Ied itu fardlu kifayah ini pun tidak jelas (Majmu'
Fatawa 23/161).

Sifat/Cara Shalat Ied
Pertama, jumlah (Shalat Ied) adalah dua rakaat, berdasarkan riwayat Umar
radliallahu 'anhu bahwa shalat safar, shalat Iedul Adl-ha dan shalat Iedul Fithri
adalah dua rakaat dengan sempurna tanpa qashar atas lisan Muhammad
shallallahu 'alaihi wa sallam (Dikeluarkan oleh Ahmad 1/37, An-Nasa`i 3/183, At-
Thahawi di dalam Syarhul Ma'anil Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan
sanadnya shahih).
Kedua, rakaat pertama –seperti semua shalat— dimulai dengan takbiratul Ihram,
selanjutnya membaca takbir padanya tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua
takbir lima kali, selain takbir perpindahan sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Aisyah radliallahu 'anha bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
takbir di shalat Iedul Fithri dan Adl-ha pada rakaat pertama tujuh kali takbir dan
rakaat kedua lima kali takbir selain dua takbir ruku'." (Dikeluarkan oleh Abu
Dawud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya
SHAHIH).
Takbir di atas diucapkan sebelum membaca Al-Fatihah. Al-Baghawi berkata:
"Perkataan kebanyakan ahlul ilmi dari kalangan shahabat dan orang yang
sesudah mereka, bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam takbir pada
shalat Ied pada takbir pertama tujuh kali selain takbir pembukaan. Pada rakaat
kedua lima kali, selain takbir perpindahan sebelum membaca (Al-Fatihah).
Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan yang lainnya..."
(Syarhus Sunnah 4/309, lihat Majmu' Fatawa Syaikh Islam 24/220, 221).
Ketiga, Tidak shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau
mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan takbir-takbir shalat Ied (Lihat
Irwa'ul Ghalil 3/12-114). Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata: "Ibnu Umar, yang
beliau sangat bersemangat dalam ittiba' (kepada Rasulullah), beliau mengangkat
kedua tangannya bersamaan dengan setiap takbir (Zadul Ma'ad 1/441).
Tetapi, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sedangkan yang demikian (mengangkat tangan) diriwayatkan dari Ibnu Umar
dan ayahnya radliallahu 'anhuma, oleh karenanya hal ini tidak dapat dijadikan
sebagai sunnah. Lebih-lebih riwayat Umar dan anaknya ini tidak shahih (Lihat
Tamamul Minnah hal. 348-349).
Imam Malik berkata tentang mengangkat tangan pada takbir shalat Ied: "Aku
tidak mendengar (riwayatnya) sedikitpun." (Dikeluarkan oleh Al-Firyabi dalam
Ahkamul Iedain no. 137 dengan sanad SHAHIH).
Keempat, tidak shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dzikir tertentu di
antara takbir-takbir Ied. Akan tetapi telah jelas dari Ibnu Mas'ud radliyallahu
'anhu bahwa beliau berkata tentang shalat Ied: "Di antara tiap dua takbir terdapat
pujian dan sanjungan kepada Allah 'Azza wa Jalla." (Diriwayatkan oleh Imam
Baihaqi dengan sanad yang kuat).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
diam sejenak di antara dua takbir, (namun) tidak dihapal darinya dzikir tertentu di
antara takbir-takbir tersebut. Akan tetapi telah disebutkan dari Ibnu Mas'ud
bahwasanya beliau berkata: 'Allah dipuji dan disanjung dan dibacakan shalawat
atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.'" (Zaadul Ma'ad 1/443).
Kelima, apabila takbirnya sudah sempurna, dimulai membaca surat Al-Fatihah.
Setelah itu membaca surat Qaaf pada salah satu dari dua rakaat. Pada rakaat
lainnya membaca surat Al-Qamar. (Diriwayatkan oleh Imam Muslim 891, An-
Nasa`i 3/84, At-Tirmidzi 534, Ibnu Majah dari Abi Waqid Al-Laitsi).
Terkadang pada dua rakaat itu beliau juga membaca surat Al-A'laa dan Al-
Ghasiyah. (Diriwayatkan oleh Muslim 378, Tirmidzi 533, An-Nasa`i 3/184 dan
Ibnu Majah dari shahabat Nu'man bin Basyir radliallahu 'anhu). Telah shahih
keadaan riwayatnya, dan tidak shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam selain itu. (Zaadul Ma'ad 1/443 dan lihat Majalatul Azhar 7/194).
Keenam, (setelah melakukan di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat yang
biasa, tidak berbeda darinya sedikitpun. (Lihat buku Sifat Shalat Nabi oleh
Syaikh Al-Albani dan buku At-Tadzhirah Wudlu`i wa Shalatu Nabi oleh Syaikh Ali
Hasan).
Ketujuh, barangsiapa yang luput/tidak mendapati shalat Ied berjamaah, maka
hendaklah dia shalat dua rakaat.
Imam Bukhari berkata: "Apabila seseorang tidak mendapati shalat Ied,
hendaklah dia shalat dua rakaat." (Shahih Bukhari 1/134-135).
Atha' berkata: "Apabila (seseorang) kehilangan Ied, shalatlah dua rakaat (sama
dengan di atas)."
Imam Waliyullah Ad-Daklawi berkata: "Madzhab Syafi'i menyatakan bahwa
apabila seseorang tidak mendapati shalat Ied bersama Imam, maka hendaklah
dia shalat dua rakaat sehingga dia mendapatkan keutamaan shalat Ied,
walaupun kehilangan keutamaan berjamaah bersama imam. Adapun menurut
madzhab Hanafi, tidak ada qadla untuk shalat Ied. Kalau kehilangan shalat
bersama imam, maka telah hilang sama sekali. (Syarhu Taraajimi Abwabil
Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu' 3/27-29).

Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum Shalat Ied
Terdapat kesalahan pada sebagian kaum muslimin di kebanyakan negeri
mereka, yakni mereka melakukan shalat dua rakaat di tanah lapang sebelum
mereka duduk ketika menunggu berdirinya imam untuk shalat Ied. Shalat seperti
ini tidak teriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan
diriwayatkan dari beliau bahwa beliau meninggalkannya. Dari Ibnu Abbas
radliallahu 'anhuma, dia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua
rakaat pada hari Ied, tidak shalat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya."
(Dikeluarkan oleh Bukhari 945, 989, 1364, Muslim 884, Abu Dawud 1159, At-
Tirmidzi 537, An-Nasa`i 3/193, Ibnu Majah 1291, Abdurrazaq 3/275, Ahmad
1/355 dan Ibnu Abi Syaibah 2/177).
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata: "Jadi, kesimpulannya bahwa untuk shalat Ied tidak
ada shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Berbeda dengan orang yang
menqiyaskan (menyamakan)nya dengan shalat Jum'at." (Fathul Bari 2/476).
Imam Ahmad berkata: "Tidak ada shalat sebelum dan sesudahnya sama sekali."
(Masa`il Imam Ahmad no. 469).
Beliau berkata juga: "Tidak ada shalat sebelum dan tidak pula sesudahnya. Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam keluar (ke tanah lapang) untuk shalat Ied dan beliau
tidak shalat sebelum dan tidak pula sesudahnya. Sebagian penduduk Bashrah
shalat sunah Qabliyyah (sebelumnya) dan sebagian penduduk Kuffah[2] shalat
sunnah ba'diyah (sesudahnya)."
Ibnul Qayyim berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
shahabat tidak pernah shalat apabila sampai ke tanah lapang sebelum shalat Ied
dan sesudahnya." (Zadul Ma'ad 1/443).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila sampai ke tanah lapang, beliau
memulai shalat tanpa adzan dan iqamat. (Beliau juga) tidak mengucapkan: "As-
Shalatul jami'ah." Yang demikian ini tidak dikerjakan sama sekali." (lihat At-
Tamhid 10/243). Bahkan para muhaqiqin (peneliti dari para ulama) menyatakan
bahwa melaksanakan hal itu adalah bid'ah. (lihat Subulus Salam 2/67).

Khutbah Ied
Termasuk sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah berkhutbah Ied
sesudah shalat. Dalam permasalahan ini Bukhari memberi bab di dalam kitab
Shahihnya bab Khutbah Sesudah Shalat Ied. (Fathul Bari 2/452).
Ibnu Abbas berkata: "Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman radliallahu 'anhum. Semuanya
shalat Ied sebelum berkhutbah. (Diriwayatkan oleh Bukhari 962, Muslim 884 dan
Ahmad 1/331, 3461).
Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar
dan Umar, mereka shalat Ied sebelum khutbah. (Dikeluarkan oleh Bukhari 963,
Muslim 888, At-Tirmidzi 531, An-Nasa`i 3/183, Ibnu Majah 1286 dan Ahmad
2/12,38).
Waliyullah Ad-Dahlawi mengomentari terhadap bab Bukhari di atas dengan
ucapannya: "Bahwasanya sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang
dikerjakan oleh khulafa`ur rasyidin adalah khutbah sesudah shalat. Adapun
penggantian yang terjadi –yakni mendahulukan khutbah atas shalat dengan
mengqiyaskan dengan shalat Jum'at-, hal itu adalah bid'ah yang bersumber dari
Marwan bin Hakam bin Abil Ash (Syarah Taraajim Abu Bukhari 79).
Imam Tirmidzi berkata: "Ahlul ilmi dari kalangan shahabat Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam mengamalkan seperti ini. Mereka melakukan shalat Iedain sebelum
khutbah. Sedangkan pertama kali orang yang khutbah sebelum shalat adalah
Marwan bin Hakam. (lihat kitab Al-Umm 1/235-236 karya Imam As-Syafi'i dan
Tuhfatul Ahwadzi 3/3-6 karya Al-Qadli Ibnul Arabi Al-Maliki).
Di samping itu termasuk bid'ah Marwaniyah adalah mengeluarkan mimbar ke
tanah lapang sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari
Abu Said. Beliau berkata: "Terus menerus manusia atas yang demikian (khutbah
sesudah shalat Ied) sampai aku keluar bersama Marwan. Dia –sebagai amir
Madinah- ke lapangan pada Iedul Adl-ha dan Fithri. Tatkala kami sampai ke
tanah lapang, tiba-tiba ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin As-Shalt. Ketika
Marwan ingin menaikinya sebelum shalat, aku menarik bajunya, (namun) diapun
menariknya. Kemudian dia naik dan berkhutbah sebelum shalat. Aku berkata
kepadanya: "Demi Allah, engkau telah merubah (sunnah)." Dia menjawab:
"Wahai Abu Said! Sungguh telah hilang apa-apa yang engkau ketahui." Aku
berkata: "Demi Allah, apa-apa yang aku ketahui lebih baik daripada yang tidak
aku ketahui." Dia menjawab: "Sesungguhnya manusia tidak mau duduk bersama
kami sesudah shalat, maka aku berkhutbah sebelum (dimulainya) shalat."

Menghadiri Khutbah Bukan Merupakan Kewajiban
Dari Abu Said Al-Khudri dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
keluar ke tanah lapang pada hari Iedul Fithri dan Adl-ha. Pertama kali yang
beliau mulai adalah shalat, kemudian berpaling. Selanjutnya beliau menghadap
manusia, dimana manusia dalam keadaan duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau
memberi pelajaran, wasiat dan perintah kepada mereka. (Dikeluarkan oleh Al-
Bukhari 958, Muslim 889, An-Nasa`i 3/187, dan Ahmad 3/36, 54).
Khutbah Ied, sebagaimana khutbah-khutbah lainnya, dibuka dengan sanjungan
dan pujian kepada Allah 'Azza wa Jalla. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membuka semua khutbahnya
dengan pujian kepada Allah. Tidak ada satu haditspun yang dihapal (hadits yang
shahih yang menyatakan) bahwa beliau membuka khutbah dua Ied dengan
takbir. Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunannya 1287 dari
Said Al-Quradli, muadzin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau
memperbanyak bacaan takbir di sela-sela khutbah Iedain, hal itu tidak
menunjukkan bahwa beliau membuka khutbah dengan takbir...." (Zaadul Ma'ad
1/447-448).
Menghadiri khutbah Ied tidak wajib seperti shalat. Sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh Abdullah bin As-Suaib, dia berkata: "Aku menghadiri Ied
bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat beliau berkata:
'Sesungguhnya kami (akan) berkhutbah, barangsiapa suka untuk duduk
(mendengarkan), maka duduklah dan barangsiapa yang suka untuk pergi maka
pergilah." (Dikeluarkan oleh Abu Dawud 1155 dan sanadnya SHAHIH, lihat
Irwa`ul Ghalil 3/96-98).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi
keringanan terhadap orang yang menghadiri Ied untuk duduk (mendengarkan)
khutbah atau pergi." (Zadul Ma'ad 1/448).
Termasuk dari kesalahan-kesalahan (yang banyak dilakukan oleh para) khatib
shalat Ied adalah menjadikan dua khutbah dan memisahkan antara keduanya
dengan duduk. (Padahal) semua riwayat yang menerangkan adanya dua
khutbah pada shalat Ied adalah dlaif. Imam Nawawi berkata: "Tidak tsabit sama
sekali (dari Rasulullah) pengulangan khutbah." (Lihat Fiqhus Sunnah 1/322 dan
Tamamul Minnah hal. 348).
Demikianlah keterangan-keterangan dari Rasulullah dan para ulama dari
kalangan shahabat dan orang yang sesudahnya tentang masalah shalat dan
khutbah Ied. Kami uraikan hal-hal yang demikian, agar kita mengamalkan Islam
di atas bashirah (ilmu) dan hujjah yang mantap dan agar kita selamat dari bid'ah
dan kesalahan.
Wallahu A'lam.

Maraji':
1. Shalatul Iedain fil Mushalla Hiyas Sunnah, Syaikh Al-Albani.
2. Ahkamul Iedain fis Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali Hasan.
3. Al-Qaulul Mubin fi Akhtha`il Mushallin, Syaikh Masyhur Hasan Salman.

Sumber: SALAFY edisi XIII/Sya'ban-Ramadlan/1417/1997 rubrik Ahkam.




________________________________________
[1] Namanya berbeda dengan yang tertulis di tulisan arabnya, kemungkinan ada
kesalahan, wallahu a'lam. (nas.)
[2] Dua kota yang banyak terjadi fitnah di dalamnya dan banyak bermunculan
padanya firqah-firqah bid'ah. (ed.)
























Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya
Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah


Hari raya adalah hari bergembira bagi seluruh ummat Islam di Indonesia Raya,
bahkan di seluruh dunia. Ini merupakan nikmat dari Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Namun kegembiraan ini terkadang disalahsalurkan oleh
sebagian kaum muslimin dalam beberapa bentuk pelanggaran berikut:


Mengkhususkan Ziarah Kubur
Ziarah kubur merupakan perkara yang dianjurkan oleh syari’at kita, selama di
dalamnya tak ada pelanggaran, seperti melakukan kesyirikan, dan perbuatan
bid’ah (perkara yang tak ada contohnya). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda,

َ ةَ ·ِ=`ا ْ»ُآُ ·آَ -ُ- 'َ+´-ِ 'َ· َ رْ·ُ-ُ-ْ'ا اْوُ رْوُ ز

"Berziarahlah ke kubur, karena sesungguhnya ia akan mengingatkan kalian
tentang akhirat". [HR. Ibnu Majah (1569). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy
dalam Shohih Al-Adab (518)]

Adapun jika di dalam ziarah terdapat perbuatan kesyirikan (seperti, berdoa
kepada orang mati, meminta sesuatu kepadanya, dan mengharap darinya
sesuatu), maka ini adalah ziarah yang terlarang. Demikian pula, jika dalam
ziarah ada perbuatan bid’ah (tak ada contohnya dalam syari’at), seperti
mengkhususkan waktu, dan tempat ziarah kubur, maka ini adalah ziarah yang
terlarang. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ِ· َ .ْ-َ' 'َ- اَ -َه 'َ-ِ ·ْ-َ أ ْ¸ِ· َ ثَ -ْ=َ أ ْ.َ-´ دَر َ ·ُ+َ· ِªْ-

"Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami sesuatu yang
bukan termasuk darinya, maka sesuatu itu akan tertolak". [HR. Al-Bukhoriy
(2550), dan Muslim (1718)]

Jadi, mengkhususkanziarah kuburdi awal Romadhon, dan hari raya merupakan
perkara yang terlarang, karena ia termasuk bid’ah, tak ada tuntunannya dari Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat dalam mengkhususkannya.
Mereka berziarah kapan saja, tak ada waktu, dan tempat khusus ketika ziarah
kubur. Yang jelas, bisa mengingat mati sesuai sunnah.

Berjabat Tangan antara Seorang Lelaki dengan Wanita yang Bukan Mahram
Berjabatan tangan antara kaum muslimin ketika bersua adalah yang lumrah, baik
itu di hari raya, atau selainnya. Namun ada satu hal perlu kami ingatkan bahwa
berjabatan tangan dengan wanita yang bukan mahram kita -khususnya-, ini
dilarang dalam agama kita, karena ia tak halal disentuh. Nabi -Shallallahu ‘alaihi
wa sallam- bersabda,

ُªَ' ُ ·ْ-َ= ٍ -ْ-ِ -َ= ْ.ِ- ٍ=َ-ْ=ِ-ِ- ٍ .ُ=َ ر ِ سْأَ ر ْ¸ِ· َ .َ·ْ=ُ- ْنَ 'َ' ُªَ' ´ .ِ=َ- 'َ' ً ةَ أَ ·ْ-ا ´ .َ-َ- ْنَ أ ْ.ِ-

"Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan)
baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya". [HR.
Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, &
487)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashir Al-Albaniy-rahimahullah- berkata setelah
menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah (1/1/448), "Dalam hadits
ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tak
halal baginya. Jadi, di dalamnya juga ada dalil yang menunjukkan haramnya
berjabat tangan dengan para wanita (yang bukan mahram), karena berjabat
tangan dicakup oleh kata "menyentuh", tanpa syak. Perkara seperti ini telah
menimpa kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang),diantara
mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka masalahnya
sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha meghalalkannya dengan
berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ada
seorang tokoh besar di Al-Azhar telah disaksikan oleh sebagian orang sedang
berjabat tangan dengan para wanita !! Hanya kepada Allah tempat kita mengadu
dari keterasingan Islam".

Saking asingnya, orang berilmu saja tak tahu atau pura-pura tak tahu tentang
haramnya jabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

Mencukur Jenggot
Jenggot adalah lambang kejantanan pria muslim yang diharuskan dan
diwajibkan untuk dijaga dan dipanjangkan. Dengarkan perintah Nabi -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- bersabda,

ُ أَ=''ا اْ·ُ-ْ=ْأَ و َ بِ راَ ·´-'ا اْ·ُ-ْ=

"Potonglah (tepi) kumis, dan biarkanlah (panjangkan) jenggot". [HR. Al-Bukhoriy
(5553), dan Muslim (259)]

Perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits ini mengandung
hukum wajibnya memelihara jenggot, dan membiarkannya tumbuh.[Lihat Madarij
As-Salikin (3/46) karya Ibnul Qoyyim, cet. Dar Al-Kitab Al-Arabiy]

Para ulama’ dari kalangan Malikiyyah berkata, "Haram mencukur jenggot". [Lihat
Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah (2/45)]

Namun amat disayangkan, lambang kejantanan ini dipangkas, bahkan dibabat
habis oleh sebagian orang yang mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
dalam segala urusannya. Mereka tak sadar bahwa jenggot adalah perkara yang
diperhatikan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sampai beliau
mewajibkannya atas pria muslim.

Kebiasaan jelek ‘mencukur dan memangkas jenggot’ sudah mendarah daging
dalam pribadi mereka sehingga di hari raya ied kita akan menyaksikan
pemandangan yang mengerikan dengan maraknya gerakan "Pangkas dan
Gundul Jenggot" di kalangan kaum muslimin, baik yang tua, apalagi remaja!!

Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata, "Maksiat ini (cukur jenggot) termasuk
maksiat yang paling banyak tersebar di antara kaum muslimin di zaman ini,
karena berkuasanya orang-orang kafir (para penjajah) atas kebanyakan negeri-
negeri mereka, mereka juga (para penjajah itu) menularkan maksiat ini ke
negeri-negeri itu; serta adanya sebagian kaum muslimin taqlid kepada mereka,
padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang mereka dari hal itu secara
gamblang dalam sabdanya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

َ=''ا اْ·ُ·ْوَ أَ و َ بِ راَ ·´-'ا اْ·ُ-ْ=ُ ا ِ .ْ-ِآِ ·ْ-ُ-ْ'ا اْ·ُ-ِ''َ=

" Selisihilah orang-orang musyrikin, potonglah (pinggir kumis kalian, dan
biarkanlah (perbanyaklah) kalian". ".[HR. Al-Bukhoriy (5553), dan Muslim (259)]".
[Lihat Hajjah An-Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- (hal. 7)]

Mengadakan Lomba dan Balapan Kendaraan di Jalan Raya
Sudah menjadi kebiasaan buruk menimpa sebagian tempat di Indonesia Raya,
adanya sebagian pemuda yang ugal-ugalan memamerkan "kelincahan" (baca:
kenakalan) mereka dalam mengendarai motor atau mobil di malam hari raya.
Ulah ugal-ugalan seperti ini bisa mengganggu, dan membuat takut bagi kaum
muslimin yang berseliweran, dan berada dekat dengan TKP (tempat kejadian
peristiwa). Bahkan terkadang mereka menabrak sebagian orang sehingga orang-
orang merasa kaget dan takut lewat, karena mendengar suara dentuman knalpot
mereka yang dirancang bagaikan suara meriam. Padahal di dalam Islam, Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang kita mengagetkan seorang muslim.

Abdur Rahman bin Abi Laila berkata, "Sebagian sahabat Muhammad -
Shollallahu ‘alaihi wasallam- menceritakan kami bahwa mereka pernah
melakukan perjalanan bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Maka
tidurlah seorang laki-laki diantara mereka. Sebagian orang mendatangi tali yang
ada pada laki-laki itu seraya mengambil tali itu, dan laki-laki itu pun kaget. Maka
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ٍ »ِ'ْ-ُ-ِ' ´ .ِ=َ-'َ' 'ً-ِ'ْ-ُ- َ ع وَ ·ُ- ْنَ أ

"Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut seorang muslim". [HR.
Abu Dawud (5004). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Maram
(447)]

Jika dibanding antara kagetnya sahabat yang tertidur ini akibat ulah temannya
dengan kaget, dan takutnya kaum muslimin yang lewat atau berada di lokasi
balapan, maka kita bisa pastikan bahwa balapan liar seperti ini, hukumnya
haram. Apalagi pemerintah sendiri melarang hal tersebut, karena menelurkan
bahaya bagi diri mereka, dan masyarakat !! Fa’tabiruu ya ulil abshor…

Berdzikir dengan Tabuhan dan Suara Musik
Berdzikir adalah ibadah yang harus didasari oleh sunnah (tuntunan) Nabi -
Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam perkara tata cara, waktu, dan tempatnya.
Jika suatu dzikir, caranya tidak sesuai sunnah, misalnya dzikir jama’ah, dzikir
dengan suara musik, dzikir sambil joget, dan lainnya, maka dzikir tersebut adalah
bid’ah (ajaran baru) yang tertolak. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

َ -َه 'َ-ِ ·ْ-َ أ ْ¸ِ· َ ثَ -ْ=َ أ ْ.َ-´ دَ ر َ ·ُ+َ· ِªْ-ِ· َ .ْ-َ' 'َ- ا

"Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami sesuatu yang
bukan termasuk darinya, maka sesuatu itu akan tertolak". [HR. Al-Bukhoriy
(2550), dan Muslim (1718)]

Jadi, dzikir (diantaranya takbiran ied), jika diiringi suara musik, maka ini adalah
bid’ah yang tidak mendapatkan pahala, bahkan dosa. Oleh karenanya, kita
sesalkan sebagian kaum muslimin bertakbir dengan beduk, gitar, suara orgen,
bahkan anehnya lagi mereka ramu dengan bumbu musik ala "Disco Remix",
Na’udzu billah min dzalik !!!!

Al-Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata ketika beliau mengingkari taghbir
(dzikir yang diiringi tabuhan rebana atau pukulan tongkat), "Aku tinggalkan di
Kota Baghdad sesuatu yang diada-adakan oleh kaum zindiq (munafik) yang
mereka sebut dengan "taghbir" untuk menyibukkan manusia dari Al-Qur’an".
[Lihat Hilyah Al-Auliya’ (9/146)]

Belum lagi, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mengharamkan musik.
Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

´-ُ أ ْ.ِ- ´ .َ-ْ·ُ´َ-َ'َ فِ ز'َ·َ-ْ'اَ و َ ·ْ-َ=ْ'اَ و َ ·ْ-ِ ·َ=ْ'اَ و ´ ·ِ=ْ'ا َ نْ·´'ِ=َ-ْ-َ- ٌماَ ·ْ·َ أ ْ¸ِ-

"Benar-benar akan ada beberapa kaum diantara ummatku akan menghalalkan
zina, sutra, minuman keras, dan musik". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya
(5268)]

Sholat di Atas Koran dan Sesuatu yang Bergambar
Hari raya ied merupakan hari bergembira dan beribadah bagi kaum muslimin.
Mereka berbondong-bondong menuju ke lapangan untuk melaksanakan sholat
ied dalam rangka beribadah dan menampakkan persatuan kaum muslimin. Tapi
ada satu hal yang mengundang perhatian, ketika mereka ke lapangan, mereka
membawa surat kabar alias koran atau yang bergambar (seperti, baju) untuk
dijadikan alas. Gambar yang terdapat di koran itu sering kali nampak di depan
mata mereka ketika sholat, sehingga mengganggu ke-khusyu’-an mereka dalam
sholat.

A’isyah -radhiyallahu ‘anhu- berkata, "Sesungguhnya Nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam- pernah sholat menggunakan khomishoh (pakaian) yang memiliki
corak. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melihat kepada pakaian itu
dengan sekali pandangan. Tatkala usai sholat, beliau bersabda,

ْ¸ِ-'َ'َ- ْ.َ= 'ً-ِ-' ْ¸ِ-ْ-َ+ْ'َ أ 'َ+´-ِ 'َ· ٍ »ْ+َ= ْ¸ِ-َ أ ِª´-ِ-'َ=ِ-ْ-َ 'ِ- ْ¸ِ-ْ·ُ-ْأَ و ٍ »ْ+َ= ْ¸ِ-َأ َ'ِ إ ِ -ِ -َه ْ¸ِ-َ-ْ-ِ-َ=ِ- اْ·ُ-َهْذِ ا

"Bawalah khomishoh-ku ini ke Abu Jahm, dan bawa kepadaku Anbijaniyyah
(pakaian tak bercorak) milik Abu Jahm, karena khomishoh ini tadi telah
melalaikanku dalam sholat". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (366), dan
Muslim dalam Shohih-nya (556)]

Al-Imam Ath-Thibiy-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits Anbijaniyyah (hadits di
atas) terdapat pemberitahuan bahwa gambar, dan hal-hal yang mencolok
memiliki pengaruh bagi hati yang bersih, dan jiwa yang suci, terlebih lagi yang di
bawahnya".[Lihat Umdah Al-Qoriy (4/94)]

Pengaruh gambar sangat besar bagi seseorang, apalagi saat sholat. Dia bisa
menghilangkan kekhusyu’an. Terlebih lagi jika gambarnya adalah manusia. Oleh
karena itu Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- meminta baju lain yang tak
bergambar. Tragisnya lagi, jika kita sedang sholat, sedang di depan kita terdapat
gambar seorang wanita cantik !!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 35 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu
Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel.
Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust.
Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul
Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa.
Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu
Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
(085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

http://almakassari.com/?p=182







HUKUM MENGANGKAT TANGAN PADA TAKBIR-TAKBIR JENAZAH DAN
DUA SHALAT ‘IED (IEDUL FITHRI DAN IEDUL ADHA)
Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi


A. Mengangkat Kedua Tangan pada Takbir-Takbir Shalat Jenazah
Para ulama sepakat bahwa disyariatkan mengangkat kedua tangan pada
takbir yang pertama dalam shalat jenazah.(1)
Dan yang terjadi perselisihan di kalangan para ulama adalah tentang
hukum mengangkat tangan pada takbir kedua dan seterusnya. Dalam hal
ini ada dua pendapat yang masyhur:

Pendapat pertama: mengatakan bahwa tidak disyariatkan mengangkat
kedua tangan, kecuali pada takbir yang pertama. Ini adalah pendapat
Sufyan Ats-Tsauri dan Abu Hanifah. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu
Hazm dan Asy-Syaukani. Adapun Imam Malik, diperselisihkan tentang
pendapat beliau.(2)
Pendapat kedua: mengatakan bahwa disyariatkan mengangkat kedua
tangan pada setiap kali takbir. Ini adalah pendapat Salim bin Abdillah bin
Umar, Umar bin Abdil Aziz, Atha’, Yahya bin Sa’id, Qais bin Abi Hazim,
Az-Zuhri, Ahmad, Ishaq, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, Abdullah bin Mubarak, dan
dikuatkan oleh Ibnul Mundzir dan An-nawawi. At-Tirmidzi menyandarkan
pendapat ini kepada kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi
Shallahu alaihi wasallam.(3)

Hujjah (alasan) pendapat pertama:
Adapun hujjah pendapat pertama adalah beberapa dalil:
1- Hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:

ُ-َ ر ´ نَ أىَ ·ْ-ُ-ْ'ا َ'َ= َ-ْ-ُ-ْ'ا َ ·َ-َ وَ و ٍ ةَ ·-ِ-ْ´َ- ِ ل´ وَ أ ¸ِ· ِªْ-َ -َ- َ ·َ·َ ·َ· ٍ ةَ ز'َ-َ= َ'َ= َ ·´-َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُª´''ا ´'َ- ِª´''ا َ ل·
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat
jenazah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya pada awal takbir, dan
meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya."(4)
2- Hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhu:

ِª´''ا َ ل·ُ-َ ر ´ نَ أ-صلى الل- علي- وسلم- ُ د·ُ·َ- َ ` ´ »ُ` ٍ ةَ ·-ِ-ْ´َ- ِ ل´ وَ أ ِ· ِ ةَ ز'َ-َ=ْ'ا َ'َ= ِªْ-َ -َ- ُ ·َ·ْ·َ- َ ن'َآ
“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengangkat kedua
tangannya pada shalat jenazah pada takbir pertama, kemudian beliau
tidak mengulanginya."(5)
3- Mereka juga mengatakan: setiap takbir sama kedudukannya seperti
raka’at, dan sebagaimana tidak dianjurkan mengangkat kedua tangan
pada seluruh raka’at, maka demikian pula tidak dianjurkan mengangkat
tangan pada setiap takbir.(6)

Hujjah (alasan) pendapat kedua
Adapun hujjah pendapat kedua adalah beberapa dalil:
1- Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu:

أن النبي كان إذا صلى على الجنازة رفع يدي- في كل تكبيرة وإذا انصرف سلم
“Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika menshalati jenazah, beliau
mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir, dan jika selesai beliau
mengucapkan salam".(7)
2- Beberapa atsar dari shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Di
antaranya:
Φ Atsar (riwayat) Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa beliau
mengangkat kedua tangannya pada setiap kali takbir dari takbir shalat
jenazah, dan jika berdiri di antara dua raka’at dalam shalat wajib.(8)
Φ Atsar (riwayat) Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa beliau
mengangkat kedua tangannya setiap kali bertakbir pada shalat
jenazah.(9)
? Atsar (riwayat) dari Umar radhiallahu anhu bahwa beliau mengangkat
kedua tangannya pada setiap takbir dalam shalat jenazah dan shalat
‘ied.(10)
Atsar (riwayat) dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu? bahwa beliau
mengangkat kedua tangannya pada takbir-takbir shalat jenazah.(11)
3- Mengqiyas shalat jenazah dengan shalat yang lainnya, di mana
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mengangkat kedua
tangannya di saat beliau berdiri dalam shalat.(12)

Tarjih (penguatan pendapat) antara dua madzhab
Dalam menguatkan salah satu dari dua pendapat di atas, kita harus
melihat kekuatan masing-masing dalil yang dijadikan hujjah bagi masing-
masing pihak, yang dengan itu kita akan memberikan kesimpulan tentang
pendapat manakah yang paling rajih (kuat).
Kedudukan hujjah pendapat pertama
- Adapun hadits Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat jenazah, lalu beliau
mengangkat kedua tangannya pada awal takbir, dan meletakkan tangan
kanannya di atas tangan kirinya.
Ini adalah hadits yang sangat lemah, sebab hadits ini berasal dari jalan
Yahya bin Ya’la dari Yazid bin Sinan dari Zaid bin Abi Unaisah dari Az-
Zuhri dari Sa’id bin Musayyab dari Abu Hurairah secara marfu’. Dan
dalam sanad hadits ini terdapat kelemahan dari dua sisi:

Pertama: perawi yang bernama Yahya bin Ya’la Al-Aslami Al-Qathawani,
Abu Zakaria Al-Kufi, beliau adalah seorang perawi yang lemah. Imam
Bukhari berkata tentangnya: goncang haditsnya. Dan juga dilemahkan
oleh Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar.

Kedua: perawi yang bernama Yazid bin Sinan Al-Jazari, Abu Farwah Ar-
Rahawi, juga perawi yang lemah, bahkan Imam An-Nasaai mengatakan
tentangnya: lemah, ditinggalkan haditsnya. Dan juga dilemahkan oleh
Imam Ahmad,dan Yahya bin Ma’in. Ibnu Hibban berkata: dia banyak
salah, aku tidak senang berhujjah dengannya jika ia meriwayatkan hadits
yang sesuai dengan riwayat para perawi yang tsiqah (terpercaya), maka
apalagi jika ia menyendiri dalam periwayatan. Maka dengan ini sebab
kelemahan ini menyebabkan riwayat ini sangat lemah.

Oleh karena itu, At-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits ini: ini
adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini.
Demikian pula Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Mizanul I’tidal
(4/415): di antara hadits-hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Yahya bin
Ya’la adalah hadits ini. Ad-Daruquthni juga berkata bahwa hadits ini tidak
tsabit. Hadits ini juga dilemahkan oleh Ibnul Mulaqqin dan Al-Hafidz Ibnu
Hajar.(13)

- Adapun hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
mengangkat kedua tangannya pada shalat jenazah pada takbir pertama,
kemudian beliau tidak mengulanginya.

Hadits ini berasal dari jalan Al-Fadhl bin As-Sakan dari Hisyam bin Yusuf
dari Ma’mar dari Abdullah bin Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas,
secara marfu’. Dan hadits ini juga termasuk hadits yang lemah, Al-Fadhl
bin As-Sakan adalah perawi yang lemah, dilemahkan oleh Ad-Daruquthni.
Al-Uqaili mengatakan: dia tidak teliti dalam haditsnya, di samping itu pula
dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal). Hadits ini juga dilemahkan
oleh Ibnul Mulaqqin dan Al-Hafidz .(14)
Maka kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tidak ada satu pun
hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa mengangkat tangan hanya
dilakukan pada takbir pertama. Berkata Al-Hafidz setelah menyebutkan
kelemahan dua riwayat tesebut di atas:

ولا يصح في- شيئ

“dan tidak ada satu pun yang shahih dalam hal ini.”(15)

Adapun alasan bahwa takbir sama kedudukannya dengan raka’at yang
memiliki ruku’ dan sujud, ini pun qiyas yang tidak benar sebab jika takbir
pada shalat jenazah sama kedudukannya seperti raka’at, maka tentu
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang mengerjakan shalat
jenazah di pekuburan, sebagaimana beliau melarang mengerjakan shalat-
shalat yang memiliki raka’at di pekuburan.
Kedudukan hujjah pendapat kedua

- Adapun hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa Nabi
shallallahu alaihi wa sallam jika menshalati jenazah, beliau mengangkat
kedua tangannya pada setiap takbir, dan jika selesai beliau mengucapkan
salam.

Hadits ini adalah hadits yang diperselisihkan apakah dia mauquf (dari
perbuatan Ibnu Umar), atau marfu’ (dari perbuatan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam). Adapun dari jalan Umar bin Syabbah, beliau
meriwayatkan dari Yazid bin Harun dari Yahya bin Sa’id dari Nafi’ dari
Ibnu Umar secara marfu’. Sedangkan yang lain meriwayatkan dari Yazid
secara mauquf. Ad-Daruquthni berkata: yang benar adalah riwayat
mauquf.(16)

- Sedangkan atsar yang datang dari Ibnu Umar radhiallahu anhu adalah
atsar yang shahih, demikian pula yang datang dari Ibnu Abbas radhiallahu
anhu, telah dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar.

Kesimpulan

Dari pemaparan dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh masing-masing
pendapat, tampak bagi kita sekalian bahwa riwayat yang dijadikan dalil
oleh pendapat pertama tidak satu pun yang shahih, namun berada di
antara lemah dan sangat lemah sekali. Sementara riwayat-riwayat yang
dijadikan dalil oleh pendapat kedua, telah shahih datang dari beberapa
shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seperti Ibnu Umar dan Ibnu
Abbas, dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka dalam hal
ini,sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Faedah:
Telah ditanya samahatusy syekh Bin Baaz rahimahullah tentang
mengangkat kedua tangan dalam shalat jenazah bersaman dengan takbir-
takbir, apakah termasuk sunnah?

Maka beliau menjawab:

السنة رفع اليدين مع التكبيرات الأربع كل-ا ; لما ثبت عن ابن عمر وابن عباس
أن-ما كانا يرفعان مع التكبيرات كل-ا , وروا- الدارقطني مرفوعا من حديث ابن عمر
بسند جيد.
(مجموع فتاوى ابن باز:13؟148)
Beliau menjawab: yang sunnah adalah mengangkat kedua tangan
bersamaan dengan empat takbir seluruhnya, berdasarkan (riwayat) yang
shahih dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas, bahwa keduanya mengangkat (kedua
tangannya) bersama dengan seluruh takbir. Diriwayatkan (oleh) Ad-
Daruquthni secara marfu’ dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang
bagus.(17)
Ini juga menjadi jawaban dari Lajnah da’imah, dalam fatwanya dinyatakan:

تجوز صلاة الجنازة بدون رفع اليدين؛ لأن الواجب في-ا التكبيرات وقراءة
الفاتحة والدعاء للميت والسلام، ولكن رفع اليدين -و السنة في جميع
التكبيرات.وبالل- التوفيق وصلى الل- على نبينا محمد و'ل- وصحب- وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو، عضو، نائب رئيس اللجنة، الرئيس
عبدالل- بن قعود، عبدالل- بن غديان، عبدالرزاق عفيفي، عبدالعزيز بن عبدالل-
بن باز
(فتاوى اللجنة:2514)
“Boleh shalat jenazah tanpa mengangkat kedua tangan, sebab yang wajib
padanya adalah bertakbir dengan beberapa kali takbir, membaca al-
fatihah, berdoa untuk si mayyit, dan mengucapkan salam, namun
mengangkat kedua tangan adalah hal yang sunnah pada seluruh takbir.
dan taufiq hanya milik Allah, shalawat serta salam kepada Nabi kita
Muhammad, para pengikutnya, dan para shahabat.”

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz
Wakil ketua: Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
Anggota: Abdullah bin Qu’ud.(18)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: apakah termasuk dari sunnah
mengangkat kedua tangan pada takbir-takbir shalat jenazah?

Beliau menjawab:

نعم من السنة,أن يرفع الإنسان يدي- عند كل تكبيرة في صلاة الجنازة كما صح
ذلك عن عبد الل- بن عمر ولأن رفع اليدين في صلاة الجنازة بمنزلة الركوع
والسجود في الصلوات الأخرى ,الصلوات الأخرى تشتمل على فعل وقول ,صلاة
الجنازة أيضا تشتمل على فعل وقول ,فكونك ترفع في الأولى وتسكت معنا- لم
تميز في الذكر بين التكبيرة الأولى والتكبيرة الثانية,ولذلك قد دل الأثر
والنظر على أن صلاة الجنازة ترفع في-ا الأيدي عند كل تكبيرة

“Iya,termasuk dari sunnah seseorang mengangkat kedua tangannya pada
setiap kali takbir dalam shalat jenazah, sebagaimana yang telah shahih
hal itu dari Abdullah bin Umar. Dan karena mengangkat kedua tangan
dalam shalat jenazah kedudukannya seperti ruku’ dan sujud pada shalat-
shalat yang lain, shalat-shalat yang lain mencakup perbuatan dan
perkataan, shalat jenazah juga mencakup perbuatan dan perkataan. Maka
ketika engkau mengangkat pada takbir pertama lalu engkau diam, maka
maknanya engkau tidak memisahkan dalam dzikir antara takbir pertama
dengan takbir kedua. Oleh karenanya, telah ditunjukkan oleh atsar
maupun pandangan bahwa shalat jenazah diangkat kedua tangan pada
setiap kali takbir.”(19)

B. Mengangkat Tangan pada Takbir-Takbir Tambahan pada Dua Shalat
‘Ied
Ini masalah kedua, yaitu masalah hukum mengangkat kedua tangan pada
takbir-takbir tambahan dalam dua shalat ‘ied, apakah ini termasuk perkara
yang disyari’atkan? Dalam hal ini, juga terjadi perselisihan di kalangan
para ulama menjadi dua pendapat:
pertama: mengatakan bahwa? tidak diangkat kedua tangan pada takbir-
takbir tersebut kecuali pada takbiratul ihram. Ini adalah pendapat Malik,
Ibnu Abi Laila, dan Abu Yusuf.
Kedua: mengatakan dianjurkannya mengangkat kedua tangan pada?
setiap takbir shalat ‘ied. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, Al-Laits
bin Sa’ad, Abu Hanifah, dan muridnya Muhammad bin Hasan Asy-
Syaibani, Atha’, Al-auza’i, Dawud, dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini
dikuatkan oleh Ibnu Utsaimin.(20)

Pendapat yang kuat dalam masalah ini

Yang rajih di antara dua pendapat ini adalah pendapat kedua yang
mengatakan dianjurkannya mengangkat kedua tangan pada setiap takbir-
takbir tambahan, berdasarkan dalil-dalil berikut:

- Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhu berkata:

'َ-ُهَ و َ ·´-َآ ´ »ُ` ِªْ-َ-ِ´ْ-َ- َ وْ-َ= َ ن·ُ´َ- ´-َ= ِªْ-َ -َ- َ ·َ·َ ر ِ ة'َ'´-'ا َ'ِ إ َ م'َ· اَ ذِ إ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُª´''ا ´'َ- ِª´''ا ُ ل·ُ-َ ر َ ن'َآ
َ- ´-َ= 'َ-ُ+َ·َ·َ ر ُªَ-ْ'ُ- َ ·َ·ْ·َ- ْنَ أ َ داَ رَ أ اَ ذِ إ ´ »ُ` ُ ·َآْ·َ-َ· َ =ِ'َ -َآ ُ ·َ·ْ·َ- 'َ'َ و ُ -َ -ِ-َ= ْ.َ-ِ' ُª´''ا َ ·ِ-َ- َ ل'َ· ´ »ُ` ِªْ-َ-ِ´ْ-َ- َوْ-َ= َ ن·ُ´
ُªُ-'َ'َ- َ ¸ِ-َ-ْ-َ- ´-َ= ِ ع·ُآ´ ·'ا َ .ْ-َ· 'َهُ ·-َ´ُ- ٍ ةَ ·-ِ-ْ´َ- .ُآ ¸ِ· 'َ-ُ+ُ·َ·ْ·َ-َ و ِ د·ُ=´-'ا ¸ِ· ِªْ-َ -َ-

“Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat,
beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua
pundaknya, lalu bertakbir dan kedua (tangannya) dalam keadaan
demikian, lalu ruku’. Kemudian, jika beliau hendak mengangkat
punggungnya, beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua
pundaknya, lalu berkata: sami’allaahu liman hamidah (Allah mendengar
orang yang memberi pujian kepada-Nya), dan beliau tidak mengangkat
kedua tangannya pada waktu hendak sujud. Dan beliau mengangkat
keduanya pada setiap kali takbir yang beliau bertakbir dengannya
sebelum ruku’ hingga shalatnya selesai.”(21)

Perkataan beliau “sebelum ruku’” menunjukkan keumuman takbir sebelum
ruku’, termasuk di antaranya takbir-takbir tambahan pada shalat ‘ied. Oleh
karena itu, hadits ini disebutkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra
dalam bab: “mengangkat kedua tangan pada takbir shalat ‘ied”.

- Hadits Waa’il bin Hujr radhiallahu anhu bahwa beliau berkata:

ِ-ْ´´-'ا َ ·َ- ِªْ-َ -َ- ُ ·َ·ْ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُª´''ا ´'َ- ِª´''ا َ ل·ُ-َ ر ُ -ْ-َ أَ رِ ·-

“Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kedua
tangannya bersamaan dengan takbir.”(22)

Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata ketika mengomentari hadits ini:
“Aku memandang semuanya termasuk dalam hadits ini.”(23)

Faedah
Ibnu Juraij berkata: aku bertanya kepada Atha’: apakah seorang imam
mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir tambahan dalam shalat
‘iedul fithri? Beliau menjawab: “Iya, dan manusia (para makmum) juga
mengangkatnya.”(24)

Wabillahi At-Taufiq
Ditulis oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi.

Footnote:

Kesepakatan ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir dalam Al-Ijma’:42.
2 Dalam satu riwayat Malik mengatakan: diangkat tangan pada awal takbir
dalam shalat jenazah. Dalam riwayat lain beliau mengatakan: Aku senang
agar kedua tangan diangkat pada empat kali takbir. (Al-Mudawwanatul
Kubra: 176).
3 Lihat: Al-Mughni,Ibnu Qudamah: 2/373,Jami’ At-Tirmidzi: 3/388, Al-
Muhalla, Ibnu Hazm:5/124, Nailul Authar: 4:105, Al-Majmu’, An-Nawawi:
5/136, Al-Mudawwanatul Kubra, Imam Malik:176. Ahkamul Janaiz, Al-
Albani:148. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi:4/44. Ma’rifatus Sunan wal
Atsar, Al-Baihaqi (3/169). Al-Umm,Asy-Syafi’i:1/271, Al-Hawi Al-Kabir
(3/55).
4 (HR. At-Tirmidzi:1077,Ad-Daruquhni (2/75), Abu Umar Ibnu Abdil Bar
dalam At-Tamhid (20/79).
5 (HR. Daruquthni: (2/75), Al-Uqaili dalam kitab Adh-Dhu’afa’ (1500)
6 Al-Mughni: 2/373.
7 HR. Ad-Daruquthni dalam kitabnya “Al-Ilal”, sebagaimana yang
disebutkan oleh Al-Mubarakfuri dalam At-Tuhfah (4/163), Az-Zaila’I dalam
Nasbur Rayah (2/285).
8 HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/271), Al-Baihaqi (4/44), dan dalam
Ma’rifaus Sunan wal Atsar (3/169), dishahihkan oleh Al-Albani dalam
Ahkamul Janaiz (148).
9 HR. Asy-Syafi’i sebagaimana yang disebutkan Al-Baihaqi dalam
Ma’rifatus Sunan wal Atsar (3/170),namun dalam sanadnya terdapat dua
kelemahan:
Pertama:ada perawi yang bernama Salamah bin Wardan,dia lemah,dan
lebih lemah lagi disaat dia meriwayatkan dari Anas bin Malik.
Kedua: terdapat perawi yang mubham (tidak disebut namanya).
10 Disebutkan oleh Ibnu Qudamah dan berkata: diriwayatkan oleh Al-
Atsram (Al-Mughni:2/240),juga lihat dalam Al-Mubdi’ (2/184). Dan juga
diriwayatkan Al-Baihaqi (2/293),dan beliau mengatakan: ”hadits ini
munqathi’ (terputus sanadnya).” Al-Albani juga melemahkannya dalam Al-
Irwa’ (3/640).
11 Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur,sebagaimana yang disebutkan
oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Al-Habir (2/146-147), dan
beliau menshahihkannya.
12 Qiyas ini disebutkan oleh Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (1/271).
13 Al-‘Ilal,Ad-Daruquthni (9/150), Nashbur Rayah (2/285) ,At-Talkhis Al-
Habir (2/146-147),Al-Badr al-Munir (5/387).
14 Nashbur rayah (2/285), At-Talkhis Al-Habir (2/146-147),Al-Badr al-
Munir (5/387).
15 At-Talkhis Al-habir (2/146-147).
16 Namun Syekh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidzahullah Ta’ala lebih
condong menshahihkan hadits tersebut secara marfu’, disebabkan perawi
Umar bin Syabbah adalah perawi yang terpercaya, dan tidak ada celah
untuk melemahkan riwayatnya.Syekh Bin Baaz juga mengatakan tentang
hadits ini: sanadnya jayyid (bagus). (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 13/148)
17 Majmu’ Fatawa Bin Baaz: 13/148.
18 Fatawa Al-Lajnah no: 2514.
19 Silsilah Liqa’ al-bab al-Maftuh, kaset no:179, set kedua.
20 Al-Majmu’ (5/20), Mukhtashar ikhtilaf al-fuqaha,At-Thahawi (1/323),Al-
Mughni (2/239),hilyatul ‘ulama (2/256), Al-Hawi Al-Kabir (2/491), Silsilah
Liqa’ al-bab Al-Maftuh, no:224, set kedua.
21 HR. Ahmad (2/133), Abu Dawud (722), Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa
(178), Ad-Daruquthni (1/288), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (3/292). Berkata
Al-Albani: sanadnya shahih berdasarkan syarat dua Syekh (Bukhari dan
Muslim).Lihat: Irwa’ul Ghalil (3/113).
22 HR.Ahmad (4/316), Ath-Thabarani (22/33), Dihasankan Al-albani
dalam Al-Irwa’ (3/641).
23 Ar-Raudhul Murbi’ (1/308), Al-Mughni (2/119).
24 Riwayat Abdurrazzaq (3/5699), Al-Baihaqi (3/293),dengan sanad yang
shahih.


















Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya
Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari


Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : “ Dan hendaklah kalian mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".


Telah terdapat riwayat, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada
hari raya Idhul Fithri, beliau bertakbir, ketika mendatangi mushalla sampai
selesainya shalat, apabila shalat telah selesai, maka beliau menghentikan
takbirnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf, al Muhamili
dalam Shalatul ‘Idain dengan sanad sahih tetapi mursal. Riwayat tersebut
memiliki syahid/penguat yang menguatkan riwayat tersebut. Lihat Silsilah al
Ahadits ash Shohihah (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar
menunaikan shalat Id].

Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani : "Dalam hadits ini ada dalil
disyari'atkannya melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika
menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun
banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir
sunnah ini sekedar menjadi berita.

Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa
mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara
(menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent)
sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.. Demikian pula setiap dzikir yang
disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak
disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu
suara seperti yang telah disebutkan . Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan
tersebut[1], dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya
(Kapan kaum musliminb diperintahkan takbir di kedua hari raya – pent), maka
beliau rahimahullah menjawab : "Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling
benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan
sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan
mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13
Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi
setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk
shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat". [Majmu Al -
Fatawa 24/220 dan lihat 'Subulus Salam' 2/71-72]

Ibnu Umar dahulu apabila pergi keluar pada hari raya Idhul Fithri dan Idhul Adha,
beliau mengeraskan ucapan takbirnya sampai ke mushalla, kemudian bertakbir
sampai imam datang. (HR Ad Daraquthni dan Ibnu Abi Syaibah dan selain
mereka dengan sanad yang shahih. Lihat Irwa ‘ul Ghalil 650).

Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -
secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap
waktu tanpa pengkhususan. Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam
Bukhari dalam kitab 'Iedain dari "Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-
hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah".

Umar Radliallahu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang
yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula
orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara
takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima
waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada
hari-hari itu seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di
belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari
Tasyriq bersama kaum pria di masjid".

Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia
tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan
oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih.
Lihat "Irwaul Ghalil' 650]

Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata
cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian
sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu
Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan
yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah
segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang
shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajallu Allahu Akbar 'alaa maa
hadanaa.
(yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi
Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar
atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315
dan sanadnya shahih]

Abdurrazzaq -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" (3/316)-
meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu
anhu, ia berkata : (yang artinya) : “ Agungkanlah Allah dengan mengucapkan :
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".

Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini
dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada
asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam "Fathul Bari
(2/536) : "Pada masa ini telah diada-adakan suatu tambahan dalam dzikir itu,
yang sebenarnya tidak ada asalnya".



Footnote :
(1). Yang lebih tragis lagi pelaksanaan takbir untuk hari raya Iedhul Fithri
khususnya, sebagian kaum muslimin di negeri-negerinya melakukan dengan
cara-cara yang jauh dari sunnah, seperti yang disebutkan di atas dan yang lebih
fatal sebagian mereka mengadakan acara takbiran – menurut anggapan mereka
– pada malam hari Lebaran sudah mengumandangkan kalimat takbir bahkan
dengan cara-cara yang penuh dengan kemaksiatan musik, bercampurnya laki-
laki dan wanita serta berjoget-joget dan kemungkaran lainnya – yang sudah
dianggap bagian dari syiar Islam. Bahkan mereka menganggap hal itu sunnah
dan kewajiban yang harus dilakukan dengan cara yang demikian. Laa haula
walaa quwwata illa billah – pent.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin
Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi
Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press,
penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)















Hukum Seputar Iedul Fitri
Penulis: Fadlilatu As Syaikh Al'Allamah Al Faqih Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin Rahimahullah


Soal 3 : Jika 'iedul fitri bertepatan dengan hari Jum'at, apakah boleh aku
menjalankan sholat 'ied dan meninggalkan sholat Jum'at atau sebaliknya ?

Jawab : Jika keadaannya demikian, bagi seorang muslim yang telah
menjalankan sholat 'ied sebagai makmum maka gugur kewajibannya untuk
menjalankan sholat Jum'at dan sunnah baginya bila ingin menjalankan sholat
jum'at .Jika dia tidak menjalankan sholat Jum'at maka wajib baginya untuk sholat
dzuhur, ini bagi ma'mum. Adapun seorang imam maka wajib baginya
menjalankan sholat Jum'at bersama kaum muslimin setelah dia manjalankan
sholat 'ied (Syaikh Sholih Fauzan)

Soal 4 : Apakah boleh menampakan kegembiraan dan suka cita di hari raya
'iedul fitri, 'iedul adha, malam 27 Rajab, malam niysfu Sya'ban, hari Asy syura ?

Jawab : Apabila yang demikian dilakukan pada 'iedul fitri/ 'iedul adha maka boleh
selama dalam batasan-batasan syari'at. Seperti bersuka cita dengan hidangan
makan dan minum sebagaimana sabda Nabi (yang artinya) : “Hari-hari Tasyrik
adalah hari hari makan dan minum serta dzikrulloh." Yaitu 3 hari setelah 'iedul
adha menikmati nikmat Allah azza wa jalla. Demikian juga 'iedul fitri selama
dalam batasan batasan syar'i.
Adapun pada malam 27 Rajab, Malam niysfu Sya'ban, hari Asy syura maka tidak
boleh merayakan/ memperingatinya dengan kegembiraan sebagaimana sabda
Nabi (yang artinya) : "Berhati-hatilah kalian dengan perkara baru dalam agama,
sesunguhnya setiap bid'ah (perkara baru) dalam agama adalah sesat ".
Kemudian, anggapan malam 27 Rajab adalah malam isra mi'rajnya Nabi
Muhammad adalah tidak benar dalam sejarah Islam. Pun kalau seandainya itu
benar, maka tidak boleh dirayakan sebagaimana 'ied dan dirayakan dengan
ibadah, karena yang seperti ini tidak pernah ada pada zaman Nabi . Adapun hari
Asy syura' yang dianjurkan adalah berpuasa pada hari itu. Puasa pada hari itu
dikatakan oleh Nabi : "menghapuskan dosa dosa tahun sebelumnya".
Nabi pun memerintahkan agar berpuasa sehari sebelum dan sesudah puasa Asy
syura dalam rangka menyelisihi yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asy
syura saja. (Syaikh Utsaimin)

(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad
Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan
Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan)

Sumber : Buletin Da'wah Al-Atsary, Semarang. Edisi 18 / 1427 H
Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik

FATWA SEPUTAR SHOLAT ‘IED
Penulis: SYAIKH AL ‘ALLAMAH MUHAMMAD BIN SHOLEH AL - ’UTSAIMIN


Soal : Apa yang disunnahkan sebelum seseorang pergi untuk sholat idul fitri dan
idul adha?
Jawab : Disunnahkan pada idul fitri untuk makan kurma dengan jumlah ganjil
sebelum seseorang pergi kelapangan untuk sholat idul fitri. Adapun idhul adha,
disunnahkan bagi yang berkurban untuk makan sebagian daging korban yang
disembelihnya setelah sholat.
Berkaitan dengan mandi, sebagian ulama mengatakan hukumnya adalah sesuatu
hal yang di cintai, demikian juga berpakaian dengan pakaian yang paling bagus.
Jika seseorang mencukupkan diri dengan wudhu dan memakai pakaian biasa
pada sholat ied maka boleh.

Soal : Apa yang disunnahkan sebelum seseorang pergi untuk sholat idul fitri dan
idul adha?
Jawab : Disunnahkan pada idul fitri untuk makan kurma dengan jumlah ganjil
sebelum seseorang pergi kelapangan untuk sholat idul fitri. Adapun idhul adha,
disunnahkan bagi yang berkurban untuk makan sebagian daging korban yang
disembelihnya setelah sholat.
Berkaitan dengan mandi, sebagian ulama mengatakan hukumnya adalah sesuatu
hal yang di cintai, demikian juga berpakaian dengan pakaian yang paling bagus.
Jika seseorang mencukupkan diri dengan wudhu dan memakai pakaian biasa
pada sholat ied maka boleh.

Sumber : Bulletin Al Atsary Edisi 1/Dzulhijjah/1426H , Diterjemahkan dari
“Fatawa wa rosaail Ibnu ‘Utsaimin” Oleh Al-Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid
















Shalat Ied di Lapangan
Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah


Ada suatu pemandangan yang terkadang menarik perhatian, yaitu adanya dua
kubu kaum muslimin yang mengadakan sholat ied. Kubu yang pertama
melaksanakan sholat ied di lapangan, dan kubu yang kedua sholat ied di masjid.
Terkadang kaum muslimin pusing tujuh keliling melihat fenomena perpecahan
seperti ini. Tragisnya lagi, jika yang berselisih dalam hal ini adalah dua
organisasi besar di Indonesia Raya. Nah, manakah yang benar sikapnya dalam
perkara ini sehingga harus didukung. Ikuti pembahasannya berikut ini:


Jika kita adakan riset ilmiah berdasarkan Al-Kitab dan Sunnah, maka kita akan
menemukan bahwa hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
mendukung kubu yang melaksanakan sholat ied di lapangan.

Pembaca yang budiman, hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
menunjukkan bahwa Sholat ied: idul fitri, maupun iedul adha, semuanya beliau
kerjakan di lapangan.

Dalil Pertama
Abu Sa’id Al-Khudriy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` َ ة'َ'´-'ا ِªِ- ُ أَ -ْ-َ- ٍ ءْ¸َ- ُ ل´وَ 'َ· ´'َ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ َ=ْ-َ 'ْ'اَ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ُ جُ ·ْ=َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ ن'َآ
َ-َ· ْوَ أ ُªَ·َ=َ· 'ً`ْ·َ- َ ·َ=ْ-َ- ْنَ أ ُ -ْ-ِ ·ُ- َن'َآ ْنِ 'َ· ْ»ُهُ ·ُ-ْ'َ-َ و ْ»ِ+ْ-ِ-ْ·ُ-ُ و ْ»ُ+ُ=ِ·َ-َ· ْ»ِ+ِ·ْ·ُ-ُ- َ'َ= ٌسْ·ُ'ُ= ُ س'´-'اَ و ِ س'´-'ا َ.ِ-'َ-ُ- ُ مْ·ُ-
ُ فِ ·َ-ْ-َ- ´ »ُ` ِªِ- َ ·َ-َ أ ٍ ءْ¸َ-ِ- ُ ·ُ-ْ'َ-

"Dulu Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar di hari raya idul fitri dan idul
adha menuju lapangan. Maka sesuatu yang paling pertama kali beliau mulai
adalah shalat ied, kemudian beliau berbalik dan berdiri menghadap manusia,
sedangkan manusia duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau pun memberikan
nasihat dan wasiat kepada mereka, serta memberikan perintah kepada mereka.
Jika beliau ingin mengirim suatu utusan, maka beliau putuskan (tetapkan), atau
jika beliau memerintahkan sesuatu, maka beliau akan memerintahkannya. Lalu
beliau pun pulang". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(913) dan Mulim dalam
Shohih-nya (889)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, "Hadits ini dijadikan dalil untuk
menunjukkan dianjurkannya keluar menuju padang luas (lapangan) untuk
mengerjakan shalat ied, dan bahwasanya hal itu lebih utama dibandingkan
shalat ied di masjid, karena kontunyunya nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- atas
hal itu, padahal masjid beliau memiliki keutamaan.[Lihat Fathul Bari (2/450)]

Imam Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata, "Telah sampai berita kepada kami
bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar di dua hari raya
menuju lapangan yang terdapat di kota Madinah. Demikian pula generasi
setelahnya, dan seluruh penduduk negeri, kecuali penduduk Mekah, maka
sesungguhnya belum sampai berita kepada kami bahwa seorang diantara salaf
shalat ied memimpin mereka, kecuali di masjid mereka. [Lihat Al-Umm (1/389)]

Adapun penduduk Mekkah, mereka dikecualikan dalam hal ini, karena sempitnya
lokasi yang ada di negeri itu. Mekkah adalah lembah yang dikelilingi oleh
pegunungan, tidak mungkin bagi penduduk untuk melaksanakan sholat ied
kecuali di lembah itu. Sedang di lembah itulah terdapat Baitullah. Jadi, mau tidak
mau, ya mereka harus sholat di Masjidil Haram.

Orang yang berpendapat bolehnya sholat di masjid, jika masjidnya luas, sudah
dibantah oleh Asy-syaukaniy-rahimahullah- ketika berkata dalam Nailul Authar
(3/359), "Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa alasan sempit, dan
luasnya masjid sekedar sangkaan belaka tidak cocok untuk dijadikan udzur dari
mencontoh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk keluar menuju lapangan
setelah mengakui kesinambungan Beliau terhadap hal tersebut. Adapun berdalil
bahwa hal itu merupakan alasan untuk melakukan shalat ied di masjid mekkah
(masjidil haram), maka dijawab bahwasanya tidak keluarnya mereka menuju
lapangan, karena sempitnya lokasi Mekkah, bukan karena luasnya masjidil
haram".

Dalil Kedua
Ibnu umar -radhiyallahu ‘anhuma- berkata,

َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر ´ نَ أ ´'َ-ُ-ْ'ا َ ·َ'َ- اَ ذِ 'َ· ِªْ-َ -َ- َ .ْ-َ- ُ .َ-ْ=ُ- ُ ةَ ·َ-َ·ْ'اَ و ِ -ْ-ِ·ْ'ا ِ مْ·َ- ْ¸ِ· ´'َ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ ْوُ -ْ·َ- َ ن'
ِªِ- ُ ·َ-َ-ْ-ُ- ٌءْ¸َ- ِªْ-ِ· َ .ْ-َ' ً ء'َ-َ· َ ن'َآ ´'َ-ُ-ْ'ا ´ نَ أ َ =ِ'َ ذَ و 'َ+ْ-َ'ِ إ ¸'َ-ُ-َ· ِªْ-َ -َ- َ .ْ-َ- ْ-َ-ِ-ُ-

"Rasulullah-Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar pagi-pagi menuju lapangan di
hari ied, sedangkan tombak kecil di depan beliu. Jika telah tiba di lapangan,
maka tombak kecil itu ditancapkan di depan beliau. Lalu beliau pun shalat
menghadap tombak tersebut. Demikianlah, karena lapangan itu adalah padang,
di dalamnya tak ada sesuatu yang bisa dijadikan "sutroh" (pembatas di depan
imam)" [HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (930), dan Ibnu Majah dalam Sunan-
nya (1304)]

Dalil Ketiga
Al-Baraa’ -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

ْ¸ِ· 'َ-ِ´ُ-ُ- َ ل´ وَ أ ´ نِ إ َ ل'َ·َ و ِªِ+ْ=َ ·ِ- 'َ-ْ-َ'َ= َ .َ-ْ·َ أ ´ »ُ` ِ .ْ-َ-َ·َآَ ر ´'َ-َ· ِ ·ْ-ِ-َ-ْ'ا َ'ِ إ َ=ْ-َ 'ْ'ا َ مْ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ ِ-´-'ا َ جَ ·َ=
َ· َ ·َ=ْ-َ-َ· َ ·ِ=ْ·َ- ´ »ُ` ِ ة'َ'´-''ِ- َ أَ -ْ-َ- ْنَ أ اَ -َه 'َ-ِ-ْ·َ- ِªِ'ْهَ 'ِ' ُªَ'´=َ= ٌءْ¸َ- َ ·ُه 'َ-´-ِ 'َ· َ =ِ'َ ذ َ .ْ-َ· َ -َ-َ ذ ْ.َ-َ و 'َ-َ-´-ُ- َ ·َ·اَ و ْ-َ-َ· َ =ِ'َ ذ َ .َ·َ· ْ.َ-
ٍ ءْ¸َ- ْ¸ِ· ِ =ُ-´-'ا ِ .ِ- َ .ْ-َ'

"Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- keluar pada hari idul adha menuju Baqi’. Lalu
beliau shalat ied dua rakaat. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada
kami seraya bersabda, "Sesungguhnya awal kurban kita adalah pada hari kita
ini. Kita mulai dengan shalat, lalu kita kembali untuk menyembelih hewan kurban.
Barang siapa yang melakukan hal itu, maka sungguh ia telah mencocoki sunnah
kita. Barangsiapa yang menyembelih sebelum itu (sebelum shalat), maka dia
(sembelihannya) adalah sesuatu yang ia segerakan untuk keluarganya, bukan
hewan kurban sedikitpun". [HR.Al-Bukhariy (933)]

Baqi’ yang dimaksudkan disini adalah lapangan, yaitu padang yang luas waktu
itu, berada sekitar 100 meter sebelah timur Masjid Nabawi. Namun sekarang
tempat itu dijadikan lokasi kuburan. Jadi, Baqi’ dahulu adalah tanah lapang yang
luas dan kosong, namun sekarang diisi dengan kuburan yang sebelumnya tak
ada.

Dalil Keempat
Abdur Rahman bin Abis berkata,

ُªُ-ْ-ِ+َ- 'َ- ِ ·َ·-'ا َ .ِ- ْ¸ِ-'َ´َ- 'َ'ْ·َ'َ و ْ»َ·َ- َ ل'َ· ؟ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ¸ِ-´-'ا َ ·َ- َ -ْ-ِ·ْ'ا َ تْ-ِ+َ-َ أ ُªَ' َ .ْ-ِ· ٍ س'´-َ= َ .ْ-ا ُ -ْ·ِ-َ-
َ أ ´-َ= ´ .ُهَ ·َ-َ أَ و ´ .ُهَ ·´آَ ذَ و ´ .ُ+َ=َ=َ ·َ· ٌل'َ'ِ- ُªَ·َ-َ و َ ء'َ--'ا َ-َ أ ´ »ُ` َ -َ=َ= ´ »ُ` ´'َ-َ· ِ -ْ'´-'ا ِ .ْ- ِ ·ْ-ِ`َآ ِ راَ د َ -ْ-ِ= ْيِ -´'ا َ »َ'َ·ْ'ا َ-
ُ` ٍ ل'َ'ِ- ِ بْ·َ` ْ¸ِ· ُªَ-ْ·ِ -ْ-َ- ´ .ِ+ْ-َ -ْ-َ 'ِ- َ .ْ-ِ ·ْ+َ- ´ .ُ+ُ-ْ-َ أَ ·َ· ِªَ·َ -´-''ِ-ِªِ-ْ-َ- َ'ِإ ٌل'َ'ِ-َ و َ ·ُه َ ·َ'َ=ْ-ا ´ »

"Aku pernah mendengarkan Ibnu Abbas sedang ditanya, apakah engkau pernah
menghadiri shalat ied bersama Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ? Ibnu Abbas
menjawab, ya pernah. Andaikan aku tidak kecil, maka aku tidak akan
menyaksikannya, sampai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi tanda
(yang terdapat di lapangan), di dekat rumah Katsir Ibnu Ash-Shalt. Kemudian
beliau shalat dan berkhutbah serta mendatangi para wanita sedang beliau
bersama Bilal. Maka nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menasihati mereka,
mengingatkan, dan memerintahkan mereka untuk bersedaqah. Lalu aku pun
melihat mereka mengulurkan (sedeqah) dengan tangan mereka sambil
melemparkannya ke baju Bilal. Kemudian nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan
Bilal berangkat menuju ke rumahnya". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya(934)].

Al-Hafizh-rahimahullah- berkata, "Ibnu Sa’ad berkata, "Rumah Katsir bin Ash-
Sholt merupakan kiblat bagi lapangan di dua hari raya. Rumah itu menurun ke
perut lembah Bathhan, suatu lembah di tengah kota Madinah". Selesai ucapan
Ibnu Sa’ad".[Lihat Fathul Bari (2/449), cet. Darul Ma’rifah]

Dalil-dalil ini dan lainnya menunjukkan bahwa sholat ied di zaman Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilaksanakan di lapangan yang berada pada
sebelah timur Masjid Nabawi. Dari hadits-hadits inilah para ulama mengambil
kesimpulan bahwa sholat ied, petunjuknya dilaksanakan di lapangan, bukan di
masjid !!! Inilah petunjuknya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , Sedang sebaik-
baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .

Ibnu Hazm Azh-Zhohiriy-rahimahullah- berkata dalam Al-Muhalla (5/81),
"Sunnahnya sholat ied, penduduk setiap kampung, dan kota keluar menuju
lapangan yang luas, di dekat tempat tinggal mereka di waktu pagi setelah
memutihnya matahari, dan ketika awal bolehnya sholat sunnah".

Imam Al-AiniyAl-Hanafiy -rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat
anjuran keluar menuju lapangan, dan tidak melaksanakan shalat ied di masjid,
kecuali karena darurat". [Lihat Umdah Al-Qoriy (6/280)].

Imam Malikbin Anas-rahimahullah- berkata dalam Al-Mudawwanah Al-Kubra
(1/245), "Seorang tidak boleh shalat ied di dua hari raya pada dua tempat;
mereka juga tidak boleh shalat di masjid mereka, tapi mereka harus keluar (ke
lapangan) sebagaimana Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar (menuju
lapangan)".

Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata dalam Al-Mughniy (2/229), "Sunnahnya
seorang shalat ied di lapangan. Ali -radhiyallahu ‘anhu- telah memerintahkan hal
tersebut dan dianggap suatu pendapat yang baik oleh Al-Auza’iy dan ahli ra’yi.
Ini adalah pendapat Ibnul Mundzir… Kami (Ibnu Qudamah) memiliki dalil bahwa
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu keluar menuju lapangan, dan
meninggalkan masjidnya, demikian pula para khulafaurrasyidin setelahnya. Nabi
-Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidaklah meninggalkan perkara yang lebih afdhol
(sholat ied di masjidnya), padahal ia dekat, lalu beliau memaksakan diri
melakukan perkara yang kurang (yaitu shalat di lapangan), padahal ia lebih jauh.
Jadi nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidaklah mensyariatkan umatnya untuk
meninggalkan perkara-perkara yang afdhol. Kita juga diperintahkan untuk
mengikuti Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan berteladan kepadanya. Maka
tidak mungkin suatu yang diperintahkan adalah kekurangan, dan sesuatu yang
dilarang merupakan sesuatu yang sempurna. Tidak dinukil dari Nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- bahwa beliau shalat ied di masjidnya, kecuali karena udzur. Ini
juga merupakan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, karena manusia pada
setiap zaman dan tempat, mereka keluar menuju lapangan untuk melaksanakan
shalat ied di dalamnya, padahal masjid luas dan sempit. Dulu nabi -Shollallahu
‘alaihi wasallam- laksanakan shalat ied di lapangan, padahal masjidnya mulia,
dan juga shalat sunnah di rumah lebih utama dibandingkan shalat sunnah di
masjid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal ia lebih utama".

Inilah beberapa dalil dan komentar para ulama kita yang menghilangkan dahaga
bagi orang yang haus ilmu; mengangkat syubhat, dan keraguan dari hati.
Semoga dengan risalah ringkas ini kaum muslimin bisa menyatukan langkah
dalam melaksanakan sholat ied sehingga persatuan dan kebersamaan diantara
mereka semakin kuat, membuat orang-orang kafir gentar dan segan.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 34 Tahun
http://almakassari.com/?p=181#more-181




Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan
Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah




‘Ied "lebaran" merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin
di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan
kesibukan mereka. Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu
saling mema’afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue,
ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan
berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan
keluarganya. Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di
negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau
telepon.


Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan sebagian
manusia lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied.
Diantaranya, seperti berikut ini

Dianjurkan mandi sebelum berangkat ke musholla.
Seorang di hari ied disunnahkan untuk bersuci dan membersihkan diri agar bau
tak sedap tidak mengganggu saudara kita yang lain ketika sholat dan bertemu.
Ini berdasarkan atsar dari

Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu anhu pernah ditanya tentang mandi, maka beliau
menjawab,

ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ-َ و ِ ·ْ=´-'ا َ مْ·َ-َ و َªَ·َ ·َ= َ مْ·َ -َ و ِªَ·ُ-ُ=ْ'ا َ مْ·َ-

"(Mandi seyogyanya dilakukan) di hari Jum’at, hari Arafah (wuquf), hari Iedul
Adh-ha, dan hari Iedul Fitri". [HR.Asy-Syafi’i dalam Al-Musnad (114), dan Al-
Baihaqy (5919)]

Memakai Pakaian yang Bagus dan Berhias dengannya
Diantara bentuk kegembiraan seorang muslim, dia mempersiapkan dan
memakai pakaian baru di hari raya iedul Fitri dan iedul Adhha. Ketahuilah,
Sunnah ini diambil dari hadits Ibnu Umar , ia berkata:

ِ -ِ -َه ْ·َ-ْ-ِ ا ِ -ا َ ل·ُ-َ ر'َ- َ ل'َ-َ· َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر َ-َ 'َ· 'َهَ -َ=َ 'َ· ِقْ·´-'ا ْ¸ِ· ُ ع'َ-ُ- ٍ قَ ·ْ-َ-ْ-ِ إ ْ.ِ- ًª´-ُ= ُ ·َ-ُ= َ -َ=َ أ
ِ' 'َ+ِ- ْ.´-َ=َ-ِ دْ·ُ·ُ ·ْ'اَ و ِ -ْ-ِ·ْ'

" Umar mengambil jubah dari sutera yang dijual di pasar. Diapun mengambilnya
lalu dibawa kepada Rasulullah r seraya berkata: [" Ya Rasulullah, Belilah ini agar
engkau bisa berhias dengannya untuk hari ied dan para utusan …"] " [HR.Al-
Bukhory dalam Shohih-nya (906), Muslim dalam Shohih-nya (2068)]

Al-Allamah Asy-Syaukani -Rahimahullah- berkata dalam Nail Al-Author (3/349),"
Segi pengambilan dalil dari hadits ini tentang disyari’atkannya berhias di hari ied
adalah adanya taqrir Nabi r bagi Umar atas dasar bolehnya berhias di hari ied,
dan terpokusnya pengingkaran beliau atas orang yang memakai sejenis pakaian
tersebut, karena ia dari sutera".

Di hari Iedul Fithri, Disunnahkan Makan Sebelum ke Musholla
Sebelum berangkat ke musholla (lapangan), maka dianjurkan makan –utamanya
kurma- sebagaimana ini dilakukan oleh Nabi kita Muhammad r pada hari iedul
fitri. Adapun iedul Adhha, maka sebaliknya seseorang dianjurkan makan setelah
sholat ied agar nantinya bisa mencicipi hewan kurbannya.

Buraidah –Radhiyallahu- anhu berkata:

َ ·ِ=ْ·َ- ´-َ= ُ »َ·ْ=َ- 'َ' ِ ·ْ=´-'ا َ مْ·َ-َ و َ »َ·ْ=َ- ´-َ= ُ جُ ·ْ=َ- 'َ' ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا َ ن'َآ

"Nabi r tidaklah keluar di hari iedul Fithri sampai beliau makan, dan pada hari
iedul Adh-ha beliau tak makan sampai beliau kembali". HR. Ibnu Majah dalam
As-Sunan (1756). Di-hasan-kan oleh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-
Musnad (5/352/no.23033)

Al-Muhallab bin Abi Shofroh - Rahimahullah - berkata,”Hikmahnya makan
sebelum sholat ied adalah agar orang tidak menyangka wajibnya puasa sampai
usai sholat ied. Seakan Nabi r hendak menepis persangkaan itu" . [Lihat Fath Al-
Bari (2/447)]

Diantara hikmahnya agar masih ada waktu mengeluarkan shodaqoh di waktu-
waktu yang cocok dan sangat dibutuhkannya oleh para faqir-miskin.

Ibnul Munayyir –Rahimahullah- berkata: "Nabi r makan di dua hari ied pada
waktu yang masyru’ (disyari’atkan) agar bisa mengeluarkan shodaqoh khusus
bagi ied tersebut. Maka waktu mengeluarkan shodaqoh ied fithri sebelum
berangkat (ke musholla), dan waktu mengeluarkan shodaqoh kurban setelah
disembelih. Jadi, keduanya bersatu pada satu sisi, dan berbeda pada sisi yang
lain.". [Lihat Fath Al-Bari (2/448)]

Bertakbir Menuju Lapangan
Mengumandangkan takbiran saat menuju musholla merupakan sunnah yang
dilakukan pada dua hari raya kaum muslimin. Sunnah ini dilakukan bukan Cuma
saat keluar dari rumah, bahkan terus dilakukan dengan suara keras sampai tiba
di lapangan. Setelah tiba di lapangan, tetap bertakbir sampai imam datang
memimpin sholat ied. Inilah sunnahnya !

Ada suatu riwayat dari Nabi r : "Bahwa beliau keluar di hari iedul Fithri seraya
bertakbir sampai tiba di musholla dan sampai usai sholat. Jika usai sholat, beliau
hentikan takbir". HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/165) dan Al-
Firyabi dalam Ahkam Al-Iedain (95).Lihat juga Silsilah Ahadits Ash-Shohihah
(171)]

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar Radhiyallahu berkata,

َ -ْ-ِ·ْ'ا ْ¸ِ· ُ جُ ·ْ=َ- َ ن'َآ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر ´ نَ أ ٍ ·َ-ْ·َ=َ و ٍ ¸ِ'َ=َ و ِ س'´-َ·ْ'اَ و ِ -اِ -ْ-َ=َ و ٍ س'´-َ= ِ .ْ- ِ .ْ-َ-ْ'ا َ ·َ- ِ .ْ-
ِ ·ْ-ِ-ْ´´-'اَ و ِ .ْ-ِ'ْ+´-''ِ- ُªَ-ْ·َ- 'ً·ِ·اَ ر َ .َ-ْ-َ أ مُ أ ِ .ْ- َ .َ-ْ-َ أَ و َªَ`ِ ر'َ= ِ .ْ- ٍ -ْ-َ زَ و ٍ -ْ-َ ز ِ .ْ- َªَ-'َ-ُ أَ و

"Nabi r keluar di dua hari raya bersama Al-Fadhl bin Abbas, Abdullah, Al-Abbas,
Ali, Ja’far, Al-Hasan,Al- Husain , Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman
bin Ummi Aiman sambil mengangkat suaranya bertahlil dan bertakbir". [HR.Al-
Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/279) dan dihasankan oleh Al-Albany dalam
Al-Irwa’ (3/123)

Jadi, disyari’atkan di hari ied saat hendak keluar ke lapangan untuk
mengumandangkan takbir dengan suara keras berdasarkan kesepakatan empat
Imam madzhab. Tapi tidak dilakukan secara berjama’ah.[Lihat Majmu’ Al-Fatawa
24/220]

Muhaddits Negeri Syam, Muhammad Nashiruddin Al-Albany-rahimahullah -
berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/281) ketika mengomentari
hadits pertama di atas," Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya sesuatu
yang telah dilakukan oleh kaum muslimin berupa adanya takbir dengan suara
keras di jalan-jalan menuju musholla. Sekalipun kebanyakan di antara mereka
sudah mulai meremehkan sunnah ini sehingga hampir menjadi tinggal cerita
belaka. Itu disebabkan lemahnya dasar agama mereka serta canggungnya
mereka menampakkan sunnah".

Faidah :
Tentang lafazh takbir, tak ada yang shohih datangnya dari Nabi r . Akan tetapi
disana ada beberapa atsar yang shohih datangnya dari para sahabat
Radhiyallahu anhum ajma’in.

Dari sahabat Ibnu Mas’ud, beliau mengucapkan:

ُ -ْ-َ=ْ'ا ِª´'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -اَ و ُ -ا'´'ِ إ َªَ'ِ إ'َ' ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا

[HR.Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/168) dengan sanad yang shohih]

Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengucapkan:

َ ا'َ-اَ -َه 'َ- َ'َ= ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا ´ .َ=َ أَ و ُ ·َ-ْآَأ ُ -َ ا ُ -ْ-َ=ْ'ا ِª´'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/315) dengan sanad yang shohih.]

Salman Al-Farisy, beliau mengucapkan :"Bertakbirlah :

اً ·ْ-ِ-َآُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ اُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ اُ ·َ-ْآَ أ ُ -َ ا

[HR.Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/316) dengan sanad yang shohih.]

Adapun tambahan yang diberikan oleh orang-orang di zaman kita pada lafazh
takbir, maka semua itu merupakan buatan orang-orang belakangan, tak ada
dasarnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i -rahimahullah-berkata dalam Al-Fath (2/536), "Di
zaman ini telah diciptakan semacam tambahan pada masalah (lafazh takbir) itu
yang tak ada dasarnya".

Faedah :
Waktu takbiran di hari raya iedul Adhha mulai waktu fajar hari Arafah (tanggal 9
Dzulhijjah) sampai akhir hari Tasyriq (13 Dzulhijjah). Inilah madzhab Jumhur
salaf dan ahli fiqh dari kalangan sahabat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa
(24/220)]

Sebagian orang mengkhususkannya takbiran sehabis sholat. Tapi ini tak ada
dalilnya. Ini dikuatkan dengan sebuah atsar :"Ibnu Umar bertakbir di Mina pada
hari-hari itu –tasyriq,pen-, seusai sholat, di atas tempat tidur, dalam tenda, majlis,
dan waktu berjalan pada semua hari-hari tersebut ". [HR.Al-Bukhory dalam Ash-
Shohih (1/330)]

Disyari’atkan Wanita dan Anak Kecil Ikut ke Lapangan
Di hari ied wanita-walaupun ia haid- dan anak-anak kecil disyari’atkan untuk
keluar menyaksikan sholat dan doanya kaum muslimin.

Ummu Athiyyah berkata:

ِ رْوُ -ُ=ْ'ا ِ تاَ وَ ذ َ و َ .´-ُ=ْ'اَ و َ ·ِ-اَ ·َ·ْ'ا َ=ْ-َ 'ْ'اَ و ِ ·ْ=ِ-ْ'ا ْ¸ِ· ´ .ُ+َ=ِ ·ْ=ُ- ْنَ أ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر 'َ-َ ·َ-َ أ. '´-َ 'َ·
ْ'ُ· َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'ا َ ةَ ·ْ=َ دَ و َ ·ْ-َ=ْ'ا َ نْ-َ+ْ-َ -َ و َ ة'َ'´-'ا َ .ْ'ِ ·َ-ْ·َ-َ· ُ .´-ُ=ْ'اَ ل'َ· ؟ٌب'َ-ْ'ِ= 'َ+َ' ُ نْ·ُ´َ- 'َ' 'َ-اَ -ْ=ِ إ ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر'َ- ُ-: 'َ+ْ-ِ-ْ'ُ-ِ'
'َ+ِ-'َ-ْ'ِ= ْ.ِ- 'َ+ُ-ْ=ُ أ

"Rasulullah r memerintahkan kami mengeluarkan para wanita gadis, haidh, dan
pingitan. Adapun yang haidh , maka mereka menjauhi sholat, dan menyaksikan
kebaikan dan dakwah/doanya kaum muslimin.Aku berkata: " Ya Rasulullah,
seorang di antara kami ada yang tak punya jilbab". Beliau menjawab:
"Hendaknya saudaranya memakaikan (meminjamkan) jilbabnya kepada
saudaranya". [Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (971) dan Muslim dalam Ash-
Shohih (890)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata dalam Fath Al-Bari
(2/470), "Di dalamnya terdapat anjuran keluarnya para wanita untuk
menyaksikan dua hari raya, baik dia itu gadis, ataupun bukan; baik dia itu wanita
pingitan ataupun bukan". Bahkan sebagian ulama’ mewajibkan.

Mencari Jalan lain Ketika Pulang ke Rumah
Disunnahkan mencari jalan lain ketika selesai melaksanakan sholat ied. Artinya
ketika ia pergi ke musholla mengambil suatu jalan, dan ketika pulang ke rumah di
mencari jalan lain dalam rangka mencontoh Nabi r .

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata :

ِªْ-ِ· َ جَ ·َ= ْيِ -´'ا ِ ·ْ-ِ ·´='ا ِ ·ْ-َ= ْ¸ِ· َ ·َ=َ ر ِ -ْ-ِ·ْ'ا َ 'ِ إ َ جَ ·َ= اَ ذِ إ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا َ ن'َآ

"Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- jika keluar ied, beliau kembali pada selain
jalan yang beliau tempati keluar". [HR.Ibnu Majah dalam As-Sunan (1301). Lihat
Shohih Ibnu Majah (1076) karya Al-Albaniy]

Berjalan Menuju dan Kembali dari Musholla
Pada hari ied di sunnahkan berjalan menuju musholla untuk melaksanakan
sholat ied. Demikian pula ketika kembali ke rumah. Tapi ini jika mushollanya
dekat sehingga orang tak berat jalan menuju musholla. Adapun jika jauh atau
perlu sekali, maka tak masalah.

Ali bin Abi Tholib-Radhiyallahu anhu- berkata:

'ً-ِ-'َ- ِ -ْ-ِ·ْ'ا َ'ِ إ َ جُ ·ْ=َ- ْنَ أ ِª´-´-'ا َ .ِ-
"Diantara sunnah, kamu keluar menuju ied sambil jalan". [HR.At-Tirmidzy dalam
As-Sunan (2/410); di-hasan-kan Al-Albany dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy
(530)]

Abu ‘Isa At-Tirmidzy- rahimahullah-berkata dalam Sunan At-Tirmidzy (2/410),
"Hadits ini di amalkan di sisi para ahli ilmu. Mereka menganjurkan seseorang
keluar menuju ied sambil jalan".

Bersegera & Cepat Berangkat Melaksanakan Sholat Ied
Demikian pula bersegera berangkat menuju musholla untuk menunaikan sholat
ied. Perkara ini dianjurkan agar setiap orang mengambil tempat dan banyak
mengumandangkan takbir sampai keluarnya memimpin sholat ied.

Faedah:
Setelah tiba di musholla (lapangan) seseorang tidak dianjurkan sholat sebelum
dan setelah sholat ied; juga tidak disunnahkan melakukan adzan dan iqomat,
karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- kita tak pernah melakukan hal itu
kecuali jika sholat iednya di masjid ia harus sholat dua raka’at tahiyyatul masjid.

Ibnu Abbas berkata:

'َهَ -ْ·َ- 'َ'َ و 'َ+َ'ْ-َ· .َ-ُ- ْ»َ' ِ .ْ-َ-َ·ْآَ ر ِ ·ْ=ِ-ْ'ا َ مْ·َ- ´'َ- َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ´ ¸ِ-´-'ا ´ نَ أ

"Nabi r melaksanakan sholat iedul fithri sebanyak dua raka’at, namun beliau tidak
sholat sebelum dan sesudahnya". [HR.Al-Bukhory dalam Ash-Shohih (989)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar – rahimahullah - berkata: "Walhasil, sholat ied tidak terbukti
memiliki sholat sunnah sebelum dan setelahnya, berbeda dengan orang yang
meng-qiyas-kannya dengan sholat jum’at". [Lihat Fath Al-Bari (2/476)]

Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

ٍªَ-'َ·ِ إ 'َ'َ و ٍ ناَ ذَ أ ِ ·ْ-َ·ِ- ِ .ْ-َ-´ ·َ- 'َ'َ و ٍة´ ·َ- َ ·ْ-َ= ِ .ْ-َ -ْ-ِ·ْ'ا َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ ·َ- ُ -ْ-ً ´'َ-

“Aku telah melaksanakan sholat bersama Rasulullah r -bukan Cuma sekali dua
kali saja- tanpa adzan dan iqomat”.

Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah – rahimahullah- berkata, "Nabi r jika tiba di
musholla, beliau memulai sholat, tanpa ada adzan dan iqomah; tidak pula
ucapan, "Ash-Sholatu jami’ah". Sunnahnya, tidak dilakukan semua itu". [Lihat
Zaadul Ma’ad (1/441)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 33 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu
Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel.
Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust.
Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul
Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa.
Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu
Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
(085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)



http://almakassari.com/?p=171












Ucapan Selamat Pada Hari Raya
Penulis: Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi



بسم الل- الرحمن الرحيم

الت-نئة يوم العيد



لا أعرف في ذلك شيئا عن السلف إلا أن يكون مبادلة للت-نئة بالت-نئة. وكان أصحاب
النبي صلى الل- علي- وسلم يتبادلون الت-اني يأخذ بعض-م بيد بعض وي-ني بعض-م
بعضا. وقد ذكر ذلك ابن قدامة في المغني 3/294-295 :

"قال أحمد , -رحم- الل-- : ولا بأس أن يقول الرجل للرجل : يوم العيد : تقبل الل- منا ومنك,
وقال حرب : سئل أحمد عن قول الناس في العيدين تقبل الل- منا ومنكم قال : لا بأس ب-,
يروي- أ-ل الشام عن أبي أمامة قيل : واثلة بن الأسقع ؟ قال : نعم, قيل : فلا تكر- أن يقال -ذا
يوم العيد قال : لا, وذكر ابن عقيل في ت-نئة العيد أحاديث من-ا , أن محمد بن زياد قال : كنت
مع أبي أمامة البا-لى وغير- من أصحاب النبي - صلى الل- علي- وسلم- فكانوا إذا رجعوا من
العيد يقول بعض-م لبعض تقبل الل- منا ومنك, وقال أحمد : إسناد حديث أبي أمامة إسناد
جيد وقال علي بن ثابت : سألت مالك بن أنس منذ خمس وثلاثين سنة وقال : لم نزل نعرف
-ذا بالمدينة, وروي عن أحمد أن- قال : لا أبتدى ب- أحدا , وإن قال- أحد رددت- علي-" .

وبالل- التوفيق.



أملى -ذ- الفتوى

فضيلة الشيخ أحمد بن يحيى النجمي



بسم الل- الرحمن الرحيم

Ucapan Selamat Pada Hari Raya



Syaikh kami Mufti KSA bagian selatan Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi
hafizhahullah berkata :





“Saya tidak mengetahui tentang hal tersebut dari salaf sedikit-pun selain dalam
rangka saling mengucapkan selamat. Dahulu para Shahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam saling mengucapkan selamat. Sebagian mereka menggandeng
tangan sebagian lainnya dan saling mengucapkan selamat. Ibnu Qudamah
menyebutkan hal tersebut dalam Al Mughni 3/294-295 :

“Ahmad rahimahullah berkata : “Tidak mengapa seseorang mengucapkan
taqabbalallahu minna waminkum terhadap saudaranya pada hari raya”.

Harb berkata : Ahmad pernah ditanya tentang ucapan manusia taqabbalallahu
minna waminkum pada dua hari raya. Dia menjawab : “Tidak mengapa. Salah
seorang penduduk Syam meriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili”.

Ditanyakan : (Apakah) Watsilah bin Al Asqa’ ? Ahmad menjawab : “Ya”.
Ditanyakan : Apakah anda tidak memakhruhkan ucapan ini diucapkan pada hari
raya ? Ahmad menjawab : “Tidak”.

Ibnu ‘Aqil menyebutkan beberapa hadits tentang ucapan selamat pada hari raya,
diantaranya adalah bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : Saya pernah bersama
Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi
wasalla, dahulu apabila mereka kembali dari berhari raya, mereka saling
mengucapkan taqabbalallahu minna waminka.

Ahmad berkata : “Isnad hadits Abu Umamah adalah isnad yang baik.

Ali bin Tsabit berkata : “Saya bertanya kepada Malik bin Anas sejak 35 tahun
yang lalu dan dia menjawab : “Kami selalu mengetahui hal ini di Madinah”.

Dan diriwayatkan dari Ahmad bahwa dia berkata : “Saya tidak memulai untuk
mengucapkan salam kepada seorang-pun, tetapi jika ada seseorang
mengucapkannya, maka aku balas dengan balasan serupa”. Selesai.

Wabillahit-taufiq.









Yang mendikte fatwa ini

Yang mulia Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi

(ttd)

09 Syawal 1428 H



Alih bahasa oleh

Abu Abdillah Muhammad Yahya

09 Syawal 1428 H/20 Oktober 2007

Nijamiyah-Shamithah-Jazan

Sumber : salafi-indonesia@yahoogroups.com






























Hukum dalam puasa Sunnah 6 hari bulan Syawal
Penulis: Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts wal Ifta'


Dalil-dalil tentang Puasa Syawal

Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Siapa yang berpuasa
Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa
seumur hidup'." [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-
Tirmidzi 1164]

Hukum Puasa Syawal

Hukumnya adalah sunnah: "Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa
berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi'i, Ahmad dan banyak
ulama terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan
alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa
ini, seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari
Ramadhan, atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia
tidak mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena
semua ini adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak
Sunnah yang shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang
tidak mengetahui."
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/389]

Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:
1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.
"Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah
ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah 'Id, dan mereka
boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal,
apapun yang lebih mudah bagi seseorang. ... dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib,
melainkan sunnah."
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/391]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
"Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari
Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya
secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya
atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan,
karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak
berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan
Abu Dawud." [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]

Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: 'Itulah mereka
telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau
ridho kepadaku. [QS Thoha: 84]

2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan

"Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa
terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal,
karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa
Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu."

[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/392]

Tanya : Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal
padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ?

Jawab : Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal
maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun."

Jika seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal
ia punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala
kecuali telah mengqadla ramadlannya (Syaikh Muhammad bin Shalih al
Utsaimin)


Hukum mengqadha enam hari puasa Syawal

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya : Seorang wanita sudah terbiasa
menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal setiap tahun, pada suatu tahun ia
mengalami nifas karena melahirkan pada permulaan Ramadhan dan belum
mendapat kesucian dari nifasnya itu kecuali setelah habisnya bulan Ramadhan,
setelah mendapat kesucian ia mengqadha puasa Ramadhan. Apakah
diharuskan baginya untuk mengqadha puasa Syawal yang enam hari itu setelah
mengqadha puasa Ramadhan walau puasa Syawal itu dikerjakan bukan pada
bulan Syawal ? Ataukah puasa Syawal itu tidak harus diqadha kecuali
mengqadha puasa Ramadhan saja dan apakah puasa enam hari Syawal
diharuskan terus menerus atau tidak ?

Jawaban
Puasa enam hari di bulan Syawal, sunat hukumnya dan bukan wajib
berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan
puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang
tahun" [Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa enam hari itu boleh dilakukan secara
berurutan ataupun tidak berurutan, karena ungkapan hadits itu bersifat mutlak,
akan tetapi bersegera melaksanakan puasa enam hari itu adalah lebih utama
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya) : "..Dan aku
bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)"
[Thaha : 84]

Juga berdasarakan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan
kutamaan bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Tidak
diwajibkan untuk melaksanakan puasa Syawal secara terus menerus akan tetapi
hal itu adalah lebih utama berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam (yang artinya) : "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus
menerus dikerjakan walaupun sedikit"

Tidak disyari'atkan untuk mengqadha puasa Syawal setelah habis bulan Syawal,
karena puasa tersebut adalah puasa sunnat, baik puasa itu terlewat dengan atau
tanpa udzur.

Mengqadha enam hari puasa Ramadhan di bulan Syawal, apakah mendapat
pahala puasa Syawal enam hari

Pertanyaan
Syaikh Abduillah bin Jibrin ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam hari di
bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala
puasa enam hari Syawal ?

Jawaban
Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau
bersabda (yang artinya) : "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan
kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia
berpuasa setahun"
Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa
Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa
enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan
pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : "Puasa
Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal
sama dengan dua bulan"

Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka
berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa
Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau
karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan
mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari
Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa
Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal
agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian
puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.

Apakah suami berhak untuk melarang istrinya berpuasa Syawal

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Apakah saya berhak untuk melarang istri
saya jika ia hendak melakukan puasa sunat seperti puasa enam hari Syawal ?
Dan apakah perbuatan saya itu berdosa ?

Jawaban
Ada nash yang melarang seorang wanita untuk berpuasa sunat saat suaminya
hadir di sisinya (tidak berpergian/safar) kecuali dengan izin suaminya, hal ini
untuk tidak menghalangi kebutuhan biologisnya. Dan seandainya wanita itu
berpuasa tanpa seizin suaminya maka boleh bagi suaminya untuk membatalkan
puasa istrinya itu jika suaminyta ingin mencampurinya. Jika suaminya itu tidak
membutuhkan hajat biologis kepada istrinya, maka makruh hukumnya bagi sang
suami untuk melarang istrinya berpuasa jika puasa itu tidak membahayakan diri
istrinya atau menyulitkan istrinya dalam mengasuh atau menyusui anaknya, baik
itu berupa puasa Syawal yang enam hari itu ataupun puasa-puasa sunnat
lainnya.

Hukum puasa sunnah bagi wanita bersuami

Pertanyaan :
Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya : Bagaimanakah hukum puasa sunat bagi
wanita yang telah bersuami ?
Jawaban :
Tidak boleh bagi wanita untuk berpuasa sunat jika suaminya hadir (tidak musafir)
kecuali dengan seizinnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda (yang artinya) : "Tidak halal bagi seorang wanita unruk
berpuasa saat suminya bersamanya kecuali dengan seizinnya" dalam riwayat
lain disebutkan : "kecuali puasa Ramadhan"
Adapun jika sang suami memperkenankannya untuk berpuasa sunat, atau
suaminya sedang tidak hadir (bepergian), atau wanita itu tidak bersuami, maka
dibolehkan baginya menjalankan puasa sunat, terutama pada hari-hari yang
dianjurkan untuk berpuasa sunat yaitu : Puasa hari Senin dan Kamis, puasa tiga
hari dalam setiap bulan, puasa enam hari di bulan Syawal, puasa pada sepuluh
hari di bulan Dzulhijjah dan di hari 'Arafah, puasa 'Asyura serta puasa sehari
sebelum atau setelahnya.

(Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa
Tentang Wanita Muslimah, Amin bin Yahya Al-Wazan)

Sumber :
www.salafy.or.id
Mendulang Pahala Pasca Ramadhan
Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husen Al-Atsariyyah


Ramadhan memang telah lewat. Namun itu tidak berarti menyurutkan semangat
kita dalam beribadah. Masih banyak tambang pahala di luar Ramadhan…

Ramadhan berlalu sudah, menyisakan sepenggal duka di hati insan beriman
karena harus berpisah dengan bulan yang penuh keberkahan dan kebaikan.
Terbayang saat-saat yang sarat dengan ibadah; puasa, tarawih, tadarus Al-
Qur`an, dzikir, istighfar, sedekah, memberi makan orang yang berbuka…
Rumah-rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala dipenuhi jamaah, majelis-majelis
dzikir dan ilmu, dipadati hadirin. Mengingat semua itu, tersimpan satu asa: andai
setiap bulan dalam setahun adalah Ramadhan. Namun Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya. Yang tersisa
hanyalah satu tanya: Adakah umur akan sampai di tahun mendatang untuk
bersua kembali dengan Ramadhan?
Ya. Ramadhan memang telah meninggalkan kita. Namun bukan berarti pupus
harapan untuk meraih kebaikan demi kebaikan, karena bulan-bulan yang datang
setelah Ramadhan pun memberi peluang kepada kita untuk mendulang pahala.
Demikianlah seharusnya kehidupan seorang muslim. Ia habiskan umur demi
umurnya, waktu demi waktunya di dunia, untuk mengumpulkan bekal agar
beroleh kebahagiaan dan keberuntungan di negeri akhirat kelak.

Datangnya Syawwal setelah Ramadhan
Hari pertama bulan Syawwal ditandai dengan gema takbir, tahlil dan tahmid dari
lisan-lisan kaum muslimin, menandakan tibanya hari Idul Fithri. Berpagi-pagi
kaum muslimin menuju ke tanah lapang untuk mengerjakan shalat Idul Fithri
sebagai tanda syukur kepada Rabb yang telah memberikan banyak kenikmatan,
termasuk nikmat adanya hari Idul Fithri. Tidak ketinggalan kaum wanita
muslimah, turut keluar ke tanah lapang. Dan keluarnya para wanita ini termasuk
perkara yang disyariatkan dalam agama Islam sebagaimana ditunjukkan dalam
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hafshah bintu Sirin, seorang wanita yang alim dari kalangan tabi’in rahimahullah
berkata:

َ ·َ- اَ ·َ= 'َ+ِ-ْ=ُ أ َ جْوَ ز ´ نَ أ ْ-´`َ -َ=َ· ،'َ+ُ-ْ-َ-َ 'َ· ،ٍ -َ'َ= ¸ِ-َ- َ ·ْ-َ· ْ-َ'َ ·َ-َ· ٌةَ أَ ·ْ-ا ِ تَ ء'َ=َ· ،ِ -ْ-ِ·ْ'ا َ مْ·َ- َ .ْ=ُ ·ْ=َ- ْنَ أ 'َ-َ-ِ راَ ·َ= ُ ·َ-ْ-َ- '´-ُآ
َ= ْ¸َ-ْ-ِ` َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´ 'َ- ¸ِ-´-'اٍ تاَ وَ ·َ= -ِ- ¸ِ· ُªَ·َ- 'َ+ُ-ْ=ُ أ ْ-َ-'َ´َ· ،ً ةَ وْ·َ= َ ةَ ·ْ-. ْ-َ''َ-َ·: َ -ْ·َ-ْ'ا َ'َ= ُ مْ·ُ-َ- '´-ُ´َ·
َ-ْ'َ´ْ'ا يِ واَ -ُ-َ و. ْ-َ''َ-َ·: ٌسْ'َ- 'َ-اَ -ْ=ِ إ َ'َ= ،ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ--ٌب'َ-ْ'ِ= 'َ+َ' ْ.ُ´َ- ْ»َ' اَ ذِ إ- َ ل'َ-َ· ؟َ جُ ·ْ=َ- َ ` ْنَ أ: ِ' 'َ+ُ-َ-ِ='َ- 'َ+ْ-ِ-ْ'ُ-
َ .ْ-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ ةَ ·ْ=َ دَ و َ ·ْ-َ=ْ'ا َ نْ-َ+ْ-َ-ْ'َ· ،'َ+ِ-'َ-ْ'ِ= ْ.ِ-. ُªَ-ْ-َ= ْ-َ''َ·: 'َ+ُ-ْ'َ 'َ-َ· 'َ+ُ-ْ-َ-َ أ ،'َ+ْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َª´-ِ=َ= ´ مُ أ ْ-َ-ِ -َ· '´-َ'َ·:
ْ-َ''َ· ؟اَ -َآَ و اَ -َآ ¸ِ· ِ -ْ·ِ-َ-َ أ: ¸ِ-َ 'ِ- ،ْ»َ·َ-- َ وْ-َ''َ· ´ `ِ إ َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´ 'َ- ´ ¸ِ-´-'ا ِ تَ ·َآَ ذ 'َ-´'َ·: ¸ِ-َ 'ِ-- َ ل'َ·: ُ ·ِ-اَ ·َ·ْ'ا ِ جُ ·ْ=َ-ِ'
ِ رْوُ -ُ=ْ'ا ُ تاَ وَ ذ-َ ل'َ· ْوَ أ: ِ رْوُ -ُ=ْ'ا ُ تاَ وَ ذَ و ُ ·ِ-اَ ·َ·ْ'ا. ُ ب·´-َ أ ´ =َ-- ْ'َ و ´'َ-ُ-ْ'ا ُ .´-ُ=ْ'ا ُ لِ ·َ-ْ·َ-َ و ُ .´-ُ=ْ'اَ و َ ·ْ-َ=ْ'ا َ نْ-َ+ْ-َ-
َ .ْ-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ ةَ ·ْ=َ دَ و. ْ-َ''َ·: 'َ+َ' ُ -ْ'ُ-َ·: ْ-َ''َ· ؟ُ .´-ُ=ْ'': ؟اَ -َآ ُ -َ+ْ-َ-َ و اَ -َآ ُ -َ+ْ-َ-َ و ٍ ت'َ·َ ·َ= ُ -َ+ْ-َ- ُ .ِ-'َ=ْ'ا َ .ْ-َ'َ أ ،ْ»َ·َ-

Kami dahulu melarang gadis-gadis kami1 untuk keluar (ke mushalla/tanah
lapang) pada hari Id2. Datanglah seorang wanita, ia singgah/tinggal di bangunan
Bani Khalaf. Maka aku mendatanginya. Ia kisahkan kepadaku bahwa suami dari
saudara perempuannya3 (iparnya) pernah ikut berperang bersama Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak 12 kali dan saudara perempuannya itu
menyertai suaminya dalam 6 peperangan. Saudara perempuannya itu
mengatakan: “(Ketika ikut serta dalam peperangan), kami (para wanita)
mengurusi orang-orang yang sakit dan mengobati orang-orang yang luka (dari
kalangan mujahidin).” Saudara perempuannya itu juga mengatakan ketika
mereka diperintah untuk ikut keluar ke mushalla ketika hari Id: “Wahai
Rasulullah, apakah berdosa salah seorang dari kami bila ia tidak keluar ke
mushalla (pada hari Id) karena tidak memiliki jilbab?” Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya
kepadanya, agar mereka (para wanita) dapat menyaksikan kebaikan dan doanya
kaum mukminin.”
Hafshah berkata: “Ketika Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu 'anha datang (ke daerah
kami), aku mendatanginya untuk bertanya: ‘Apakah engkau pernah mendengar
tentang ini dan itu?’ Ummu ‘Athiyyah berkata: “Iya, ayahku menjadi tebusannya”.
–Dan setiap kali Ummu ‘Athiyyah menyebutkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, ia berkata: “Ayahku menjadi tebusannya.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda: “Hendaklah gadis-gadis perawan yang dipingit…”. Atau
beliau berkata: “Hendaklah gadis-gadis perawan dan wanita-wanita yang
dipingit… –Ayyub, perawi hadits ini ragu– (ikut keluar ke mushalla Id). Demikian
pula wanita-wanita yang sedang haid. Namun hendaklah mereka memisahkan
diri dari tempat shalat, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan doa kaum
mukminin.” Wanita itu berkata: Aku bertanya dengan heran: “Apakah wanita haid
juga diperintahkan keluar?” Ummu ‘Athiyyah menjawab: “Iya. Bukankah wanita
haid juga hadir di Arafah, turut menyaksikan ini dan itu4?” (HR. Al-Bukhari no.
324, 980 dan Muslim no. 2051)
Ditekankannya perkara keluarnya wanita ke mushalla Id ini tampak pada
perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar wanita yang tidak punya
jilbab tetap keluar menuju mushalla dengan dipinjami jilbab wanita yang lain.
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak memberikan udzur
ketiadaan jilbab tersebut untuk membolehkan si wanita tidak keluar ke mushalla.
Di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu, para shahabiyyah
menjalankan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas sehingga
mereka dijumpai ikut keluar ke mushalla Id. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pun menaruh perhatian atas kehadiran mereka dengan memberikan
nasehat khusus kepada mereka di tempat mereka tatkala beliau pandang,
khutbah Id yang beliau sampaikan tidak terdengar oleh mereka. Sebagaimana
ditunjukkan dalam hadits berikut ini: Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

ِªَ-ْ=ُ=ْ'ا َ .ْ-َ· ´'َ-َ' َ »´'َ-َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´ 'َ- ِ -ا ِ لْ·ُ-َ ر َ'َ= ُ -َ+ْ-َ أ. َ ل'َ·: ´ .ُه'َ-َ 'َ· ،َ ء'َ-ّ ِ-'ا ِ ·ِ-ْ-ُ- ْ»َ' ُª´-َ أ ىَ أَ ·َ· ،َ -َ=َ= ´ »ُ`
َ ·َ-َ أَ و ´ .ُ+َ=َ=َ وَ و ´ .ُهَ ·´آَ -َ·َ ءْ¸´-'اَ و َ صْ·ُ=ْ'اَ و َ »ِ-'َ=ْ'ا ¸ِ-ْ'ُ- ُ ةَ أْ·َ-ْ'ا ِ -َ'َ·َ=َ· ِªِ-ْ·َ`ِ- ٌ.ِ-'َ· ٌلَ `ِ-َ و ،ِªَ·َ -´-''ِ- ´ .ُه

“Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat
Id sebelum khutbah, kemudian beliau berkhutbah. Beliau memandang bahwa
khutbah yang beliau sampaikan tidak terdengar oleh kaum wanita. Maka beliau
pun mendatangi tempat para wanita, lalu memperingatkan mereka, menasehati
dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Sementara Bilal
membentangkan pakaiannya untuk mengumpulkan sedekah para wanita
tersebut. Mulailah wanita yang hadir di tempat tersebut melemparkan cincinnya,
anting-antingnya dan perhiasan lainnya (sebagai sedekah).” (HR. Al-Bukhari no.
1449 dan Muslim no. 2042)
Kepada para wanita yang hadir tersebut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menasehatkan:

َ »´-َ+َ= ُ -َ=َ= ´ .ُآَ ·َ`ْآَ أ ´ نِ 'َ· ،َ .ْ·´ -َ-َ-. ْ-َ''َ-َ· ِ .ْ-´ -َ=ْ'ا ُ ء'َ·ْ-َ- ِ ء'َ-ّ ِ-'ا ِªَ=ِ- ْ.ِ- ٌةَ أَ ·ْ-ا ِ -َ-'َ-َ·: َ ل'َ· ؟ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ- َ »ِ': ´ .ُ´´-َ `
ُ-ْ´َ-َ و َ ة'َ´´-'ا َ نْ·ِ`ْ´ُ-َ ·ْ-ِ-َ·ْ'ا َ نْ·

“Bersedekahlah kalian, karena mayoritas kalian adalah kayu bakar Jahannam.”
Salah seorang wanita yang hadir di tengah-tengah para wanita, yang kedua
pipinya kehitam-hitaman, berdiri lalu berkata: “Kenapa kami mayoritas kayu
bakar Jahannam, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena kalian itu
banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Muslim no. 2045)

Puasa Sunnah di Bulan Syawwal
Selain kegembiraan di hari awal bulan Syawwal dengan datangnya Idul Fithri,
ada keutamaan yang dijanjikan bagi setiap insan beriman di bulan yang datang
setelah Ramadhan ini, yaitu disunnahkannya ibadah puasa selama enam hari.
Sebenarnya, ulama berbeda pendapat tentang sunnah atau tidaknya puasa ini.
Al-Imam Asy-Syafi’i, Al-Imam Ahmad, Dawud, dan orang-orang yang sepakat
dengan mereka berpendapat sunnah. Sedangkan Al-Imam Malik dan Abu
Hanifah memakruhkannya. Al-Imam Malik berkata dalam Al-Muwaththa`: “Aku
tidak melihat seorang pun dari ahlul ilmi yang mengerjakan puasa ini.” Mereka
mengatakan: Puasa ini dimakruhkan agar tidak disangka puasa ini termasuk
kewajiban (karena dekatnya dengan Ramadhan).
Namun pendapat yang rajih/kuat adalah pendapat yang mengatakan sunnahnya
puasa enam hari di bulan Syawwal, karena adanya hadits shahih lagi sharih/jelas
dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Shahabat yang mulia Abu Ayyub Al-
Anshari radhiyallahu 'anhu menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

ِ ·ْه´ -'ا ِ م'َ-ِ-َآ َ ن'َآ ٍ لا´ ·َ- ْ.ِ- '´-ِ- ُªَ·َ-ْ-َ أ ´ »ُ` َ ن'َ-َ-َ ر َ م'َ- ْ.َ-

“Siapa yang puasa Ramadhan, kemudian ia mengikutkannya dengan puasa
enam hari di bulan Syawwal, maka puasanya itu seperti puasa setahun.” (HR.
Muslim no. 2750)
Tentunya keberadaan hadits yang shahih tidak boleh ditinggalkan karena
mengikuti pendapat sebagian atau mayoritas orang, bahkan pendapat semua
orang sekalipun. (Al-Minhaj, 8/297)
Udzur paling bagus yang diberikan kepada Al-Imam Malik rahimahullah dengan
pendapat beliau yang memakruhkan puasa enam hari di bulan Syawwal adalah
udzur yang dinyatakan oleh Abu ‘Umar Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah : “Hadits ini
tidak sampai kepada Al-Imam Malik. Seandainya sampai kepada beliau, niscaya
beliau akan berpendapat sebagaimana hadits tersebut.” (Taudhihul Ahkam,
3/534)
Ulama kita menafsirkan hadits di atas dengan menyatakan kebaikan itu dilipat-
gandakan pahalanya menjadi sepuluh kali. Sehingga Ramadhan yang dikerjakan
selama sebulan dilipatgandakan senilai sepuluh bulan. Sementara puasa enam
hari bila dilipat-gandakan sepuluh berarti memiliki nilai enam puluh hari yang
berarti sama dengan dua bulan. Sehingga bila seseorang menyempurnakan
puasa Ramadhan ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, jadilah
nilai puasanya sama dengan puasa setahun penuh (12 bulan). Tercapailah
pahala ibadah setahun dengan tidak memberikan kepayahan dan kesulitan,
sebagai keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan nikmat-Nya atas
hamba-hamba-Nya. (Al-Hawil Kabir, 3/475, Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3/413, Taudhihul Ahkam, 3/534)
Adapun pelaksanaan puasa enam hari di bulan Syawwal ini bisa dilakukan di
awal atau di akhir bulan, secara berurutan atau dipisah-pisah, karena haditsnya
menyebutkan secara mutlak tanpa pembatasan waktu. (Al-Mughni, kitab Ash-
Shiyam, mas’alah Wa Man Shama Syahra Ramadhan, wa Atba’ahu bi Sittin min
Syawwal)

Dzulhijjah Bulan Haji
Bulan Dzulhijjah yang datang setelah Syawwal dan Dzulqa’dah adalah bulan
yang juga memiliki keutamaan untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.
Terutama di sepuluh hari yang awal, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah bersabda:

ِ ·ْ-َ·ْ'ا ِ م´ '-َ `ْا ِ -ِ -ه ْ.ِ- ´ .َ=َ و ´ ·َ= ِ -ا َ 'ِإ ´ -َ=َ أ ´ .ِ+ْ-ِ· ُ -ِ''´-'ا ُ .َ-َ·ْ'ا ٍ م'´-َ أ ْ.ِ- 'َ-. ا·ُ''َ-·: ¸ِ· ٌد'َ+ِ= َ ` َ و ،ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر 'َ-
َ ل'َ· ؟ِ -ا ِ .ْ-ِ-َ-: ِ .ْ-ِ-َ- ¸ِ· ٌد'َ+ِ= َ `َ و ٍ ءْ¸َ-ِ- َ =ِ'ذ ْ.ِ- ْ·ِ=ْ·َ- ْ»َ' ´ »ُ` ِªِ''َ-َ و ِªِ-ْ-َ-ِ- َ جَ ·َ= ٌ.ُ=َ ر ´ `ِ إ ،ِ -ا

“Tidak ada hari di mana amal shalih pada saat itu lebih dicintai Allah Subhanahu
wa Ta'ala daripada hari-hari yang sepuluh ini.” Mereka berkata: “Wahai
Rasulullah, tidak pula jihad fi sabilillah?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menjawab: “Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang keluar berjihad
membawa jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada sesuatupun yang kembali
darinya (ia kehilangan jiwanya dan hartanya dalam peperangan).” (HR.At-
Tirmidzi no. 757 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah
dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: mencakup shalat, puasa, sedekah,
dzikir, takbir, membaca Al-Qur`an, birrul walidain (berbuat baik kepada kedua
orang tua), silaturahim, berbuat baik kepada makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan selainnya.
Di bulan Dzulhijjah ini dilaksanakan satu ibadah akbar yang merupakan rukun
kelima dari agama kita yang mulia, yakni ibadah haji ke Baitullah. Di sana, di
tanah suci, di sisi Baitul ‘Atiq dan di tempat-tempat syiar haji lainnya, jutaan
kaum muslimin dan muslimah berkumpul dari segala penjuru dunia dengan satu
tujuan, mengagungkan syiar Allah Subhanahu wa Ta'ala, memenuhi panggilan-
Nya:

َ =َ' َ =ْ-ِ ·َ- َ ` َ =ْ'ُ-ْ'اَ و َ =َ' َªَ-ْ·ّ ِ-'اَ و َ -ْ-َ=ْ'ا ´ نِ إ ،َ =ْ-´-َ' َ =َ' َ =ْ-ِ ·َ- َ ` َ =ْ-´-َ' ،َ =ْ-´-َ' ´ »ُ+ّ''ا َ =ْ-´-َ'

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu
bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala pujian, kenikmatan,
dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Ketika tamu-tamu Allah Subhanahu wa Ta'ala sedang wuquf di Arafah, kita yang
tidak berhaji disunnahkan untuk puasa di hari tersebut (tanggal 9 Dzulhijjah).
Puasa hari Arafah ini dinyatakan sebagai puasa sunnah yang paling utama
(afdhal) menurut kesepakatan ulama. (Taudhihul Ahkam, 3/530)
Dalam pelaksanaan puasa di hari ini ada keutamaan besar yang dijanjikan
sebagaimana berita dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu. Ia berkata:

َ ل'َ· ،َªَ·َ ·َ= ِ مْ·َ- ِ مْ·َ- ْ.َ= َ .ِ-ُ-: َªَ-ِ·'َ-ْ'اَ و َªَ-ِ-'َ-ْ'ا َªَ-´-'ا ُ ·-َ´ُ-

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Arafah?
Beliau bersabda: “Puasa Arafah (keutamaannya) akan menghapus dosa5 di
tahun yang telah lewat dan tahun yang tersisa (mendatang).” (HR. Muslim no.
2739)
Penghapusan dosa di tahun mendatang maksudnya adalah seseorang itu diberi
taufik untuk tidak melakukan perbuatan dosa, atau bila ia jatuh dalam perbuatan
dosa, ia diberi taufik untuk melakukan perkara-perkara yang dengannya akan
menghapuskan dosanya. (Subulus Salam, 2/265)
Keesokan harinya, tanggal 10 Dzulhijjah, ada lagi kegembiraan yang bisa kita
rasakan sebagai anugerah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan rahmat-Nya. Yaitu
datangnya hari raya haji yang dikenal dengan Idul Adhha, yang di dalamnya ada
ibadah penyembelihan hewan kurban. Gema takbir, tahlil dan tahmid yang telah
dikumandangkan sejak fajar hari Arafah terus terdengar pada hari berbahagia ini
sampai akhir hari Tasyriq.

ُ -ْ-َ=ْ'ا ِªّ'ِ'َ و ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -اَ و ،ُ -ا ´ `ِ إ َª'ِ إ َ ` ،ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا ُ ·َ-ْآَ أ ُ -ا

“Allah Maha Besar Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar kecuali
hanya Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar, dan segala puji hanya milik
Allah.”
Demikianlah wahai saudariku. Bulan-bulan yang kita lewati dalam hidup kita
sebenarnya senantiasa menjanjikan kebaikan dan pahala, asalkan kita memang
berniat mendulangnya sebagai bekal untuk menuju pertemuan dengan Allah
Subhanahu wa Ta'ala di akhirat kelak.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Jawari atau ‘awatiq adalah anak perempuan yang telah baligh atau mendekati
baligh, atau wanita yang sudah pantas untuk menikah, atau wanita yang mulia di
tengah keluarganya. (Fathul Bari, 1/548, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/418)
2 Mungkin mereka dulunya melarang gadis-gadis untuk keluar rumah karena
adanya kerusakan yang terjadi setelah masa yang awal. Namun para shahabat
tidak memandang demikian. Bahkan para shahabat memandang hukum yang
ditetapkan di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terus berlaku. (Fathul
Bari, 1/549)
3 Ada yang mengatakan nama saudara perempuannya adalah Ummu ‘Athiyyah
radhiyallahu 'anha (Fathul Bari, 1/549)
4 Seperti hadir di Muzdalifah, Mina, dan selainnya.
5 Jumhur ulama berpendapat bahwa dosa yang dihapuskan hanyalah dosa kecil.
Adapun dosa besar harus dengan taubat atau beroleh rahmat Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan keutamaan-Nya. (Al-Minhaj, 3/106)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Yang dimaukan dengan dosa
yang dapat dihapuskan dengan ibadah puasa adalah dosa kecil. Kalau
seseorang ternyata tidak memiliki dosa kecil, diharapkan dengan puasa itu akan
diringankan dosa besarnya. Bila ia juga tidak memiliki dosa besar maka akan
diangkat derajatnya.” (Al-Minhaj, 3/107, 8/292)
Al-Imam Al-Haramain rahimahullah mengatakan: “Setiap pengabaran yang
menunjukkan penghapusan dosa maka menurutku hal itu dibawa kepada dosa-
dosa kecil, bukan dosa-dosa (besar) yang membinasakan.” (Taudhihul Ahkam,
3/530)
Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah hadits ‘Utsman radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

´ `ِ إ 'َ+َ=ْ·ُآُ رَ و 'َ+َ=ْ·ُ-ُ=َ و 'َهَ ءْ·ُ-ُ و ُ .ِ-ْ=ُ-َ· ٌªَ-ْ·ُ-ْ´َ- ٌةَ `َ- ُ -ُ ·ُ-ْ=َ- ٍ »ِ'ْ-ُ- ٍ ئِ ·ْ-ا ِ .ِ- 'َ- َ .ِ- '+َ'ْ-َ· 'َ-ِ' ٌةَ ر'´-َآ ُªَ' ْ-َ-'َآ
ُª´'ُآ ُ ·ْه´ -'ا َ =ِ'ذَ و ً ةَ ·ْ-ِ-َآ َ تْ·ُ- ْ»َ' 'َ- ،ِ بْ·ُ-´ -'ا

“Tidak ada seorang muslimpun yang mendatanginya shalat wajib, lalu ia
membaguskan wudhunya, khusyunya dan rukunya, melainkan hal itu menjadi
penghapus baginya dari dosa yang sebelumnya, selama ia tidak melakukan
dosa besar. Yang demikian itu terus diperoleh di seluruh masa.” (HR. Muslim no.
542)
Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

ُ-ُ=ْ'ا َ'ِ إ ُªَ·ُ-ُ=ْ'اَ و ُ .ْ-َ=ْ'ا ُ ةَ `´-'اُ ·ِ-'َ-َ´ْ'ا َ .ْ·ُ- ْ»َ' 'َ- ´ .ُ+َ-ْ-َ- 'َ-ِ' ٌةَ ر'´-َآ ِªَ·

“Shalat lima waktu dan Jum’at ke Jum’at merupakan kaffarah (penghapus ) dari
dosa-dosa yang terjadi di antaranya, selama tidak dilakukan kaba`ir/dosa besar.”
(HR. Muslim no. 549)


http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=392





Hukum Seputar Puasa Syawal
Penulis: Fadlilatu As Syaikh Al'Allamah Al Faqih Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin Rahimahullah


Soal 5 : Apakah puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal harus dilakukan secara
langsung setelah 'iedul fitri atau tidak ? Apakah harus berturut turut atau tidak ?

Jawab : Yang demikian tidak harus dilakukan secara langsung setelah 'ied, boleh
dilakukan 2 atau 3 hari setelahnya. Demikian juga tidak harus berturut-turut,
boleh dilakukan secara terpisah, yang demikian sesuai kemudahan tiap-tiap
muslim dalam melakukannya. (Fatwa Lajnah Da'imah no. 3475 ,Ketua Lajnah
Syaikh bin Baz)

Soal 6 : Istriku hamil di bulan Ramadhan. Aku juga mengeluarkan zakat untuk
janinnya . Qodarullah, beberapa hari setelah 'ied istriku melahirkan bayi kembar
2, apakah aku wajib untuk mengeluarkan zakat untuk janin yang kedua ?

Jawab : Tidak wajib bagimu untuk mengeluarkan zakat pada janin yang kedua
yang sebelumnya engkau hanya mengeluarkan zakat untuk satu janin ( Fatwa
Lajnah Da'imah no.10816, Ketua Lajnah Syaikh bin Baz)

(Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Fataawa Lajnah ad
Da’imah, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Fataawa wa Rasaail Ibnu Utsaimin, dan
Majmu’Fataawa Syaikh Shalih Fauzan)

Sumber : Buletin Da'wah Al-Atsary, Semarang. Edisi 18 / 1427 H
Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik


















BID'AH HARI RAYA KETUPAT (Hari Raya Al Abrar)
Penulis: Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry


Di antara perkara yang diada-adakan (bid'ah) pada bulan Syawwal adalah bid'ah
hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya
Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal.

Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka
berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka
mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan
mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal
dengan hari raya Ketupat. Pent )

Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: "adapun membuat musim
tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi'ul
Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal
18 Dzulhijjah, Jum'at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-
orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka
itu semua adalah bid'ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para
salaf. Wallahu Subhanahu wata'ala a'1am.

Peringatan hari raya ini biasanya dilakukan di salah satu masjid yang terkenal,
para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-
salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan,
kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk
perayaan itu. (lihat : As Sunan wal mubtadi'at al muta'alliqah bil adzkar
wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166)

(Kitab Al Bida' Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I
Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 350. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa'i)

Hari kedelapan dari syawwal ini orang umum menamakannya sebagai Iedul
Abrar (hari raya orang yang baik) yaitu orang-orang yang telah puasa enam hari
syawwal. Namun hal ini adalah bid'ah. Maka hari ke delapan ini bukanlah
sebagai hari raya, bukan untuk orang baik (abrar) dan bukan pula bagi orang
jahat (Fujjar).

Sesungguhnya ucapan mereka (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi
bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk
orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan
kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun
tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain.

(Syarhul Mumti' Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu')

ZIARAH KUBUR
Penulis: Al Ustadz Abu ‘Abdillah Mustamin Musaruddin


Pertanyaan :

Pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan Rajab, Sya’ban dan Syawal sering
terlihat orang-orang ramai melakukan ziarah kubur, baik laki-laki maupun
perempuan, tua maupun muda dan sebagian mereka membawa air dan
kembang untuk ditaburkan ke kuburan yang diziarahi. Fenomena ini
mengundang pertanyaan dibenak saya di dalam beberapa hal yaitu sebagai
berikut :

Apa hukumnya berziarah kubur ?
Apa ada waktu-waktu khusus dan hari-hari tertentu yang afdhal untuk berziarah
?
Apakah ziarah kubur itu mempunyai manfaat ?
Bagaimana sebenarnya tata cara berziarah kubur yang syar’i ?
Apakah ada hal-hal yang terlarang sehubungan dengan ziarah kubur tersebut ?
Jawaban :

1. Hukum Ziarah kubur

Berziarah kubur adalah sesuatu yang disyari’atkan di dalam agama berdasarkan
(dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan
ijma’ (kesepakatan).

a) Dalil dari hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :

Dalil-dalil dari hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang
disyari’atkannya ziarah kubur diantaranya :

1. Hadits Buraidah bin Al-Hushoib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa alihi wa sallam beliau bersabda :

'َهْوُ رْوُ ·َ· ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا ِ ةَ ر'َ-ِ ز ْ.َ= ْ»ُ´ُ-ْ-َ+َ- ُ -ْ-ُآ ْ¸-ِ إ
”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka
(sekarang) ziarahilah kuburan”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65
dan 6/82) dan oleh Imam Abu Daud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh :

َ ةَ ·ِ='ْ'ا ْ»ُآُ ·آَ -ُ- 'َ+´-ِ 'َ·

“Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.

Dan dari jalan Abu Daud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-
Baihaqy (4/77), Imam An-Nasa`i (1/285 –286 dan 2/329-330), dan Imam Ahmad
(5/350, 355-356 dan 361).

2. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, yang semakna dengan hadits
Buraidah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 3/38,63 dan 66 dan Al-Hakim 1/374-
375 dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hakim.

3. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits
Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hakim 1/376.

b. Ijma’

Adapun Ijma’ diriwayatkan (dihikayatkan) oleh :

1. Al-‘Abdary sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam kitab Al-
Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab (5/285).

2. Al-Imam Muwaffaquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin
Muhammad bin Qudamah Al-Maqdasy Al-Hambaly (541-620 H) dalam kitab Al-
Mughny (3/517).

3. Al-Hazimy sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syaukany dalam kitab
Nailul Authar (4/119).

Batasan disyari’atkannya ziarah kubur.

Syariat yang telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adalah disunnahkan
bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat ijma’
tersebut di atas. Adapun bagi wanita maka hukumnya adalah mubah (boleh),
makruh bahkan sampai kepada haram bagi sebagian wanita.

Perbedaan hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini
disebabkan oleh adanya hadits yang menunjukkan larangan ziarah kubur bagi
wanita :

ُªْ-َ= ُ -ا َ ¸ِ-َ ر َ ةَ ·ْ-َ ·ُه ْ¸ِ-َ أ ْ.َ=: ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا ِ تاَ ·ِ-اَ ز َ .َ·َ' َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر ´ نَ أ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur””.

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam Shohihnya sebagaimana dalam Al-
Ihsan no.3178.

Dan mempunyai syawahidnya (pendukung-pendukungnya) diriwayatkan oleh
beberapa orang Shahabat diantaranya :

Ø Hadits Hassan bin Tsabit dikeluarkan oleh Ahmad 3/242, Ibnu Abi Syaibah
4/141, Ibnu Majah 1/478, Al-Hakim 1/374, Al-Baihaqy dan Al-Bushiry di dalam
kitabnya Az-Zawa`id dan dia berkata isnadnya shohih dan rijalnya tsiqot.

Ø Hadits Ibnu ‘Abbas : Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhabus Sunan
Al-Arba’ah (Abu Daud, An-Nasa`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah), Ibnu Hibban, Al-
Hakim dan Al-Baihaqy.

Catatan :

Hadits dengan lafazh seperti di atas ِ تاَ ·ِ-اَ ز menunjukkan pengharaman ziarah
kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian.

Akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini, yaitu :

ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا ِ تاَ را´ وُ ز َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ .َ·َ'. ٍ=ْ-َ' ْ¸ِ· َ و: ُ -ا َ .َ·َ'

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam )dalam lafazh yang lain Allah
subhanahu wa ta’ala) melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.

Lafazh ِ تاَ را´ وُ ز (wanita yang banyak berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ‘ulama
untuk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara
mutlak (haram) akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah
kubur.

Sebagian dari perkataan para ‘ulama tentang ziarah kubur bagi wanita

a) Yang mengatakan terlarangnya ziarah kubur bagi wanita.

- Berkata Imam An-Nawawy Asy-Syafi’iy : “Nash-nash Imam Asy-Syafi’iy dan Al-
Ashhab (pengikut Madzhab Syafi’iyyah) telah sepakat bahwa ziarah kubur
disunnahkan bagi laki-laki”. (Al-Majmu’ 5/285).

Perkataannya : “Disunnahkan bagi laki-laki” mempunyai pengertian bahwa bagi
wanita tidak disunnahkan.

- Berkata Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdasy Al-Hambaly : “Kami
tidak mengetahui adanya perbedaan dikalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya laki-
laki berziarah kubur”. Lihat Al-Mughny 3/517.

Perkataannya : “Bolehnya laki-laki berziarah kubur” memiliki pengertian bahwa
bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.

- Berkata Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Malikiy, terkenal
dengan nama kunyahnya “Ibnul Hajj” : “Dan seharusnya (selayaknya) baginya
(laki-laki) untuk melarang wanita-wanita untuk keluar ke kuburan meskipun
wanita-wanita tersebut memiliki mayat (karena si mayat adalah keluarga atau
kerabatnya) sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa mereka
(para wanita) tidak diperkenankan untuk keluar rumah”. Lihat : Madkhal As-
Syar‘u Asy-syarif 1/250.

- Berkata : Abu An-Naja Musa bin Ahmad Al-Maqdasy Al-Hambaly (pengarang
Zadul Mustaqni’) : “Disunnahkan ziarah kubur kecuali bagi wanita”. Lihat : Kitab
Hasyiah Ar-Raudhul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ 3/144-145.

- Berkata Al-Imam Mar’iy bin Yusuf Al-Karmy : “Dan disunnahkan berziarah
kubur bagi laki-laki dan dibenci (makruh) bagi wanita”. Lihat : Kitab Manar As-
Sabil Fii Syarh Ad-Dalil 1/235).

- Berkata Syaikh Ibrahim Dhuwaiyyan : “Minimal hukumnya adalah makruh”.

- Berkata Syaikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan : “Dan ziarah itu
disyariatkan bagi laki-laki, adapun wanita diharamkan bagi mereka berziarah
kubur”. Lihat : Al-Muntaqo Min Fatawa Syaikh Sholeh Al-Fauzan.

b. Yang menyatakan bolehnya ziarah kubur bagi wanita :

- Imam Al-Bukhary, dimana beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melewati
seorang wanita yang sedang berada di sebuah kuburan, sambil menangis. Maka
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata padanya : “Bertaqwalah
engkau kepada Allah dan bersabarlah”. Maka berkata wanita itu : “Menjauhlah
dariku, engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yang menimpaku”, dan
wanita itu belum mengenal Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, lalu
disampaikan padanya bahwa dia itu adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi
wa sallam, ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati (karena merasa takut
dan bersalah-ed.). Kemudian wanita itu mendatangi pintu (rumah) Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga-penjaga
pintu maka wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku (pada
waktu itu) belum mengenalmu, maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam berkata : “Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika
(bersabar) pada pukulan (benturan) pertama”.

Al-Bukhary memberi terjemah (judul bab) untuk hadits ini dengan judul “Bab
tentang ziarah kubur” yang mana ini menunjukkan bahwa beliau tidak
membedakan antara laki-laki dan wanita dalam berziarah kubur. Lihat : Shohih
Al-Bukhary 3/110-116.

- Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany menerangkan hadits di atas dalam
Fathul Bary katanya : “Dan letak pendalilan dari hadits ini adalah bahwa Nabi
shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak mengingkari duduknya (keberadaan)
wanita tersebut di kuburan. Dan taqrir Nabi (pembolehan) adalah hujjah.

- Berkata Al-‘Ainy : “Dan pada hadits ini terdapat petunjuk tentang bolehnya
berziarah kubur secara mutlak, baik peziarahnya laki-laki maupun wanita dan
yang diziarahi (penghuni kubur) muslim atau kafir karena tidak adanya
pembedaan padanya”. (Lihat : Umdatul Qory 3/76)

- Al-Imam Al-Qurthuby berkata : “Laknat yang disebutkan di dalam hadits adalah
bagi wanita-wanita yang memperbanyak ziarah karena bentuk lafazhnya
menunjukkan “mubalaghah” (berlebih-lebihan). Dan sebabnya mungkin karena
hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias diri
dan akan munculnya teriakan, erangan, raungan dan semisalnya. Dan dikatakan
jika semua hal tersebut aman (dari terjadinya) maka tidak ada yang bisa
mencegah untuk memberikan izin kepada para wanita, sebab mengingat mati
diperlukan oleh laki-laki maupun wanita”. (Lihat : Jami’ Ahkamul Qur`an).

- Berkata Al-Imam Asy-Syaukany : “Dan perkataan (pendapat) ini adalah yang
pantas untuk pegangan dalam mengkompromikan antara hadits-hadits bab yang
saling bertentangan pada lahirnya”. Lihat : Nailul Authar 4/121.

- Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany : “Dan wanita seperti laki-
laki dalam hal disunnahkannya ziarah kubur”. Kemudian beliau rahimahullah
menyebutkan empat alasan yang sangat kuat dalam menunjukkan hal tersebut di
atas. Setelah itu beliau berkata : “Akan tetapi tidak dibolehkan bagi mereka (para
wanita) untuk memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan sebab hal
ini akan membawa mereka untuk melakukan penyelisihan terhadap syariat
seperti meraung, memamerkan perhiasan/kecantikan, menjadikan kuburan
sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dengan obrolan kosong (tidak
berguna), sebagaimana terlihatnya hal tersebut dewasa ini pada sebagian
negeri-negeri Islam, dan inilah maksud Insya Allah dari hadits masyhur :

َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ.َ·َ'( ٍ=ْ-َ' ْ¸ِ·َ و: ُ -ا َ .َ·َ') ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا ِ تاَ را´ وَ ز

“Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam (dalam sebuah lafadz Allah
melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.(Sunan Al-Baihaqy
4/6996, Sunan Ibnu Majah no.1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655).

Lihat : Kitab Ahkamul Janaiz karya Syaikh Al-Albany 229-237.

Kesimpulan penulis :

Wanita tidak dianjurkan untuk berziarah kubur, karena ditakutkan akan terjadi
padanya hal-hal yang bertentangan dengan syari’at disebabkan karena
kelemahan hati wanita dan karena perbuatannya, seperti akan terjadinya
teriakan atau raungan ketika menangis/sedih, tabarruj (berhias), ikhtilath
(bercampur baur dengan laki-laki) dan hal-hal lain yang sejenis. Itulah sebabnya
Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang sering
melakukan ziarah kubur karena banyaknya (seringnya) berziarah kubur tersebut
akan mengantarkannya kepada penyelisihan/penyelewengan terhadap syari’at.
Akan tetapi jika seorang wanita kebetulan melewati kuburan atau berada di
kuburan karena kebetulan (tanpa sengaja) seperti yang terjadi pada ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha ketika mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam ke pekuburan Baqi’, maka pada waktu itu keadannya seperti laki-laki
dalam hal bolehnya wanita tersebut berziarah, dengan memberi salam dan
mendo’akan para penghuni kubur.

Berkata Syaikh Ibrahim Duwaiyyan : “Jika seorang wanita yang sedang berjalan
melewati suatu kuburan di jalannya dia memberi salam dan mendo’akan
penghuni kubur (mayat) maka hal ini baik (tidak mengapa) sebab wanita tersebut
tidak sengaja keluar untuk ke pekuburan”. Lihat : Manar As-Sabil Fi Syarh Ad-
Dalil. Wallahu A’lam Bis Showab.

Hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak (sering) berziarah

Diantara hikmah tersebut :

1. Karena ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan
keluarnya para wanita dengan berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah
tersebut disertai dengan raungan ketika menangis. Hal ini disebutkan oleh Imam
Asy-Syaukany dalam Nailul Authar 4/121.

2. Karena para wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki
kesabaran maka ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada
perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang akan mengeluarkan mereka
dari keadaan sabar yang wajib. Hal ini disebutkan oleh ‘Abdullah bin
‘Abdirrahman Al-Bassam dalam kitab Taudhihul Ahkam 2/563-564.

3. Sebab wanita sedikit kesabarannya, maka tidaklah dia aman dari gejolak
kesedihannya ketika melihat kuburan orang-orang yang dicintainya, dan ini akan
membawa dia pada perbuatan-perbuatan yang tidak halal baginya, berbeda
dengan laki-laki. Disebutkan oleh Syaikh Ibrahim Duwaiyyan menukil dari kitab
Al-Kafi. Lihat : Manar As-Sabil Fii Syarh Ad-Dalil 1/236.

4. Berkata Imam Ibnul Hajj rahimahullah setelah menyebutkan 3 pendapat ulama
tentang boleh tidaknya berziarah kubur bagi wanita : “Dan ketahuilah bahwa
perselisihan pendapat para ‘ulama yang telah disebutkan adalah dengan kondisi
wanita pada waktu itu (zamannya para ‘ulama salaf sebelum Ibnul Hajj yang
wafat pada thn 732 H), maka mereka sebagaimana diketahui dari kebiasaan
mereka yang mengikuti sunnah, sebagaimana telah lalu (tentang hal itu). Adapun
keluarnya mereka (para wanita untuk berziarah) pada zaman ini (zaman Ibnul
Hajj), maka kami berlindung kepada Allah dari kemungkinan adanya seorang
dari ‘ulama atau dari kalangan orang-orang yang memiliki muru`ah (kehormatan
dan harga diri) atau cemburu (kepedulian) terhadap agamanya yang akan
membolehkan hal ini. Jika terjadi keadaan darurat (yang mendesak) baginya
untuk keluar maka hendaknya berdasarkan hal-hal yang telah diketahui dalam
syari’at berupa menutup aurat sebagaimana yang telah lalu (pembahasannya)
bukan sebagaimana adat mereka yang tercela pada masa ini. Lihatlah mudah-
mudahan Allah subhanahu wa ta'ala merahmati kami dan merahmatimu. Lihatlah
mafsadah (kerusakan) ini yang telah dilemparkan oleh syaithan kepada sebagian
mereka (para wanita) didalam membangun (menyusun) tingkatan-tingkatan
kerusakan ini di kuburan (Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarif 1/251).

ADAKAH WAKTU-WAKTU TERTENTU (KHUSUS) UNTUK BERZIARAH ?

Ziarah Kubur dapat dilakukan kapan saja, tidak ada waktu yang khusus dan tidak
boleh (tidak layak) dikhususkan untuk itu, baik pada bulan sya’ban, syawal
maupun waktu-waktu yang lainnya. Hal ini karena tidak adanya dalil yang
menunjukkan tentang adanya waktu khusus atau afdhal (paling baik) untuk
berziarah kubur.

Ketika Syaikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan ditanya tentang waktu/hari
yang afdhal untuk berziarah, beliau berkata : “Tidak ada waktu khusus dan tidak
ada waktu tertentu untuk berziarah kubur”. Lihat Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh
Sholih Al-Fauzan : 2/166.

FAIDAH ZIARAH KUBUR

a. Bagi yang berziarah

Faidah yang bisa dipetik dan hasil yang akan didapatkan oleh orang yang
berziarah kubur, antara lain :

1. Memberikan nasehat bagi dirinya.

2. Mengingatkannya kepada kematian, balasan dan hari kiamat.

3. Menambahkan kebaikan baginya.

4. Mengambil pelajaran.

5. Melunakkan (melembutkan) hati.

6. Menjadikannya zuhud terhadap dunia dan tamak terhadap kebaikan hari
akhirat.

Semua hal tersebut di atas ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi
wa alihi wa sallam :

اً ·ْ-َ='َ+ُ-َ ر'َ-ِ ز ْ»ُآْدِ ·َ-ْ'َ و َ ةَ ·ِ='ْ'ا ُ »ُآُ ·آَ -ُ- 'َ+´-ِ 'َ· 'َهْوُ رْوُ ·َ· ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا ِ ةَ ر'َ-ِز ْ.َ= ْ»ُ´ُ-ْ-َ+َ- ُ -ْ-ُآ ْ¸-ِ إ

“Sesungguhnya aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka
(sekarang) ziarahilah kubur sebab ziarah itu akan mengingatkan kalian terhadap
hari akhirat dan akan menambah kebaikan pada diri kalian”. Diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari hadits Buraidah bin Al-Hushoib (5/350, 355, 356 dan 361).

Dalam riwayat yang lain dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu :

ً ةَ ·ْ-ِ= 'َ+ْ-ِ· ´ نِ 'َ·

“Sesungguhnya pada ziarah itu terdapat pelajaran”.

Diriwayatkan oleh : Ahmad (3/38, 63, 66), Al-Hakim (1/374-375) dan Al-Baihaqy
(4/77) dari jalan Al-Hakim.

Dalam riwayat yang lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

َ ةَ ·ِ='ْ'ا ُ ·´آِ -ُ-َ و ُ .ْ-َ·ْ'ا ُ ·َ-ْ-َ-َ و َ -ْ'َ-ْ'ا ´ قِ ·ُ- 'َ+´-ِ 'َ·

“Sesungguhnya ziarah itu akan melunakkan hati, mengundang air mata dan
mengingatkan pada hari kiamat”. Diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/376).

b) Bagi Penghuni Kubur

Penghuni kubur akan mendapatkan manfaat dari ziarah kubur dengan adanya
salam yang ditujukan padanya yang isinya adalah permohonan keselamatan
baginya, permohonan ampunan dan rahmat baginya. Semua hal ini hanya bisa
didapatkan oleh seorang muslim. (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam
Ahkamul Janaiz : 239).

Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala :

“Pasal : Tentang Petunjuk Nabi shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam dalam ziarah
kubur : Adalah beliau shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam jika menziarahi kubur
para shahabatnya beliau menziarahinya untuk mendo’akan mereka dan
memintakan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Inilah bentuk ziarah yang
disunnahkan bagi ummatnya dan beliau syari’atkan untuk mereka dan
memerintahkan mereka jika menziarahi kuburan untuk mengatakan :

َ-َ' َ -ا ُ لَ 'ْ-َ- َ نْ·ُ-ِ=َ `َ' ُ -ا َ ء'َ- ْنِ إ '´-ِ إَ و َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'اَ و َ .ْ-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ .ِ- ِ ر'َ- -'ا َ .ْهَ أ ْ»ُ´ْ-َ'َ= ُ مَ `´-'َ اَªَ-ِ·'َ·ْ'ا ُ »ُ´َ'َ و '

Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin
dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu
dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul
kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”.
(Disebutkan dalam Kitab Zadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim).

APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN OLEH PEZIARAH KUBUR/(TATA
CARA) ZIARAH

Yang dilakukan oleh seorang peziarah adalah :

1. Memberi salam kepada penghuni kubur (muslimin) dan mendo’akan kebaikan
bagi mereka. Diantara do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
alihi wa sallam kepada ummatnya yang berziarah kubur :

َ .ْ-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ .ِ- ِ ر'َ- -'ا َ .ْهَ أ ْ»ُ´ْ-َ'َ= ُ مَ `´-'َ ا َªَ-ِ·'َ·ْ'ا ُ »ُ´َ'َ و 'َ-َ' َ -ا ُ لَ 'ْ-َ- َ نْ·ُ-ِ=َ `َ' ُ -ا َ ء'َ- ْنِ إ '´-ِ إَ و َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'اَ و

Artinya : “Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum
mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang
terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan
menyusul kalian kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi
kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975, An-Nasa`i 4/94, Ahmad 5/353, 359,
360.

-'ا َ .ْهَ أ َ'َ= ُ مَ `´-'َ اَ نْ·ُ-ِ=َ `َ' ْ»ُ´ِ- ُ -ا َ ء'َ- ْنِ إ '´-ِ إَ و َ .ْ-ِ ·ِ=ْ'َ-ْ-ُ-ْ'اَ و '´-ِ- ِ .ْ-ِ-ِ -ْ-َ-ْ-ُ-ْ'ا ُ -ا ُ »َ=ْ·َ-َ و َ .ْ-ِ-ِ'ْ-ُ-ْ'اَ و َ .ْ-ِ-ِ-ْ·ُ-ْ'ا َ .ِ- ِ ر'َ-

“Keselamatan atas penghuni kubur dari kaum mu’minin dan muslimin mudah-
mudahan Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang
belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian”.

2. Tidak berjalan di atas kuburan dengan mengenakan sandal. Hal ini
berdasarkan hadits Basyir bin Khashoshiah :

ْ-ِ- ْ-َ-'َ= ْذِ إ ْ¸ِ-ْ-َ- َ ·ُه 'َ-َ-ْ-َ- ِ ·ْ'َ أ َ =َ=ْ-َ و ِ .ْ-َ-´-ِ-ْ--'ا َ -ِ='َ- 'َ- َ ل'َ-َ· ِ نَ `ْ·َ- ِªْ-َ'َ= ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا َ .ْ-َ- ْ¸ِ-ْ-َ- ٌ.ُ=َ ر اَ ذِ 'َ· ٌةَ ·َ=َ- ُª
َ »ِ+ِ- َ-َ ·َ· ِªْ-َ'ْ·َ- َ ·َ'َ= َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا َ لْ·ُ-َ ر َ فَ ·َ= '´-َ'َ· َ ·َ=َ-َ· َ =ْ-َ-´-ِ-ْ-ِ-ا

“Ketika Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba
beliau memandang seorang laki-laki yang berjalan diantara kubur dengan
mengenakan sandal, maka Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam
bersabda : “Wahai pemilik (yang memakai) sandal celakalah engkau lepaskanlah
sandalmu”. Maka orang itu memandang tatkala ia mengetahui Rasulullah
shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam ia melepaskan kedua sandalnya dan
melemparkannya. Diriwayatkan oleh Abu Daud 2/72, An-Nasa`i 1/288, Ibnu
Majah 1/474, Al-Hakim 1/373 dan dia berkata : “Sanadnya shohih”, dan
disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan (diakui) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar
(Fathul Bary 3/160).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan
diantara kuburan dengan sandal” (Fathul Bary 3/160). Berkata Syaikh Al-Albany :
“Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di atas kuburan dengan memakai
sandal. Lihat Ahkamul Janaiz 252).

3. Tidak duduk atau bersandar pada kuburan.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Marbad radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu
‘alaihi wa alihi wa sallam :

'َ+ْ-َ'ِ إ ا·´'َ-ُ- َ `َ و ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا َ'َ= اْ·ُ-ِ'ْ=َ- َ `

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya”.
Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
bersabda :

ٍ ·ْ-َ· َ'َ= َ .ِ'ْ=َ- ْنَ أ ْ.ِ- ُªَ' ٌ·ْ-َ= ِ -ِ -ْ'ِ = َ'ِ إ َ .ُ'ْ=َ-َ· ُªَ-'َ-ِ` َ قِ ·ْ=ُ-َ· ٍ ةَ ·ْ-َ= َ'َ= ْ»ُآُ -ُ=َ أ َ .ِ'ْ=َ- ْنَ 'َ'

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api
itu) membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik
daripada dia duduk di atas kuburan”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

4. Dibolehkan bagi peziarah untuk mengangkat tangannya ketika berdo’a untuk
penghuni kubur, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam keluar pada suatu malam, maka aku
(‘Aisyah) mengutus Barirah untuk membuntuti kemana saja beliau (Rasulullah)
pergi, maka Rasulullah mengambil jalan ke arah Baqi’ Al-Garqad kemudian
beliau berdiri pada sisi yang terdekat dari Baqi’ lalu beliau mengangkat
tangannya, setelah itu beliau pulang, maka kembalilah Barirah kepadaku dan
mengabariku (apa yang dilihatnya). Maka pada pagi hari aku bertanya dan
berkata :

Wahai Rasulullah keluar kemana engkau semalam ? Beliau berkata : “Aku diutus
kepada penghuni Baqi’ untuk mendo’akan mereka. Dikeluarkan oleh Imam
Ahmad (6/92) dan sebelumnya oleh Imam Malik pada kitabnya (Al-Muwatho`
(1/239-240)).

5. Berkata ‘Abdullah Al-Bassam : “Tidaklah pantas bagi seseorang yang berada
dipekuburan, baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan untuk
berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada pada
suatu pesta, seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan perasaan ikut
hanyut dihadapan keluarga mayat”. (Lihat Taudhihul Ahkam 2/564).

6. Menghadap ke kuburan ketika memberi salam kepada penghuni kubur.

Hal ini diambil dari hadits-hadits yang lalu tentang cara memberi salam pada
penghuni kubur.

7. Ketika mendo’akan penghuni kubur tidak menghadap kekuburan melainkan
menghadap kiblat. Sebab Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang
ummatnya shalat menghadap kubur dan karena do’a adalah intinya ibadah,
sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :

ُ ةَ د'َ-ِ·ْ'ا َ ·ُه ُ ء'َ=´ -'ا

“Doa adalah ibadah”.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy (4/178,223) dan Ibnu Majah (2/428-429).

HAL-HAL YANG DIHARAMKAN DALAM ZIARAH KUBUR.

Macam-macam Ziarah Kubur dan Hal-hal yang diharamkan dalam dalam Ziarah
Kubur.


Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassam
dalam Kitab Taudhihul Ahkam (2/562-563), bahwa keadaan seorang yang
berziarah ada empat jenis, yaitu :

1) Mendo’akan para penghuni kubur dengan cara memohon kepada Allah
subhanahu wa ta'ala pengampunan dan rahmat bagi para penghuni kubur, dan
memohonkan do’a khusus bagi yang dia ziarahi dan pengampunan. Mengambil
pelajaran dari keadaan orang mati sehingga bisa menjadi peringatan dan
nasehat baginya. Inilah bentuk ziarah yang syar’i.

2) Berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta'ala bagi dirinya sendiri dan bagi orang-
orang yang dicintainya dipekuburan atau di dekat sebuah kuburan tertentu
dengan keyakinan bahwa berdo’a dipekuburan atau pada kuburan seseorang
tertentu afdhal (lebih utama) dan lebih mustajab daripada berdo’a di mesjid. Dan
ini adalah bid’ah munkarah, haram hukumnya.

3) Berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan mengambil perantara jah
(kedudukan) penghuni kubur atau haknya. Seperti dia berkata : “Aku memohon
pada-Mu wahai Rabbku berikanlah …(sesuatu)… dengan jah (kedudukan)
penghuni kuburan ini atau dengan haknya terhadap-Mu, atau dengan
kedudukannya disisi-Mu” ; atau yang semisalnya. Dan ini adalah bid’ah
muharramah dan haram hukumnya, sebab perbuatan tersebut adalah
sarana/jalan yang mengantar kepada kesyirikan kepada Allah subhanahu wa
ta'ala.

4) Tidak berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta'ala melainkan berdo’a kepada
para penghuni kubur atau kepada penghuni kubur tertentu, seperti dia berkata :
Wahai wali Allah, Wahai Nabi Allah, Wahai tuanku, cukupilah aku atau berilah
aku…(sesuatu)…dan semisalnya. Dan ini adalah syirik Akbar (besar).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Ar-
Raddu ‘Alal Bakry hal.56-57, ketika menyebutkan tingkatan bid’ah yang
berhubungan dengan ziarah kubur, kata beliau : “Bid’ahnya bertingkat-tingkat :

Tingkatan Pertama (yang paling jauh dari syari’at) : Dia (penziarah) meminta
hajatnya pada mayat atau dia beristighotsah (meminta tolong ketika
terjepit/susah) padanya sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang
terhadap kebanyakan penghuni kubur. Dan ini adalah termasuk jenis
peribadatan kepada berhala.

Tingkatan kedua : Dia (penziarah) meyakini bahwa berdo’a disisi kuburnya
mustajab atau bahwa do’a tersebut afdhal (lebih baik) daripada berdo’a di
mesjid-mesjid dan di rumah-rumah. Dan dia maksudkan ziarah kuburnya untuk
hal itu (berdo’a di sisi kuburan), atau untuk shalat disisinya atau untuk tujuan
meminta hajat-hajatnya padanya. Dan ini juga termasuk kemungkaran-
kemungkaran yang baru berdasarkan kesepakatan imam-imam kaum muslimin.
Dan ziarah tersebut haram. Dan saya tidak mengetahui adanya pertentangan
pendapat dikalangan imam-imam agama ini tentang masalah ini.

Tingkatan ketiga : Dia (penziarah) meminta kepada penghuni kubur agar
memintakan (hajat) baginya kepada Allah. Dan ini adalah bid’ah berdasarkan
kesepakatan para imam-imam kaum muslimin.

Hal-hal yang diharamkan dalam ziarah kubur

(Bid’ah-bid’ah Ziarah Kubur)

1. Kesyirikan.

Syirik Akbar (besar) sering terjadi dan dilakukan oleh sebagian orang di kuburan.
Batasan syirik besar (Asy-Syirkul Akbar) itu sendiri adalah jika seseorang
memalingkan satu jenis atau satu bentuk dari jenis-jenis/bentuk-bentuk ibadah
kepada selain Allah subhanahu wa ta'ala. Segala i’tiqod (keyakinan), atau
perkataan atau perbuatan yang telah tsabit (kuat) bahwa itu adalah diperintahkan
oleh Allah subhanahu wa ta'ala, maka memalingkannya kepada selain Allah
subhanahu wa ta'ala adalah kesyirikan dan kekufuran. (Lihat : Al-Qaul As-Sadid
Syarh kitab At-Tauhid karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy hal 48).

Syirik Akbar (besar) yang mungkin sering terjadi dikuburan adalah :

- menyembelih untuk penghuni kubur,

- menunaikan nadzar kepadanya,

- memberikan persembahan kepada penghuni kubur yang disertai dengan
keyakinan dan perasaan cinta dan atau berharap dan atau takut terhadap
penghuni kubur,

- bertawakkal kepadanya,

- berdo’a kepadanya,

- meminta pertolongan untuk mendapatkan kebaikan (Isti’anah) atau untuk lepas
dari kesulitan (istighotsah) pada penghuni kubur,

- thawaf pada kuburan,

- dan ibadah lainnya yang ditujukan untuk penghuni kubur.

Semua hal tersebut di atas adalah syirik besar dan mengakibatkan batalnya
seluruh amalan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman ; setelah menyebutkan
tentang para nabi dan rasul-Nya :

َ ن·ُ'َ-ْ·َ- ا·ُ-'َآ 'َ- ْ»ُ+ْ-َ= َ=ِ-َ=َ' ا·ُآَ ·ْ-َأ ْ·َ'َ و ِ -ِ د'َ-ِ= ْ.ِ- ُ ء'َ-َ- ْ.َ- ِªِ- يِ -ْ+َ- ِª´''ا ىَ -ُه َ =ِ'َ ذ

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka
mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah
mereka kerjakan”.(Q.S. Al-An’am : 88).

Tidak ada seorangpun yang beramal seperti amalannya para nabi dan rasul,
sebab merekalah orang-orang yang paling tahu tentang Allah dan paling taqwa
kepada-Nya, tetapi Allah subhanahu wa ta'ala tetap menyatakan bahwa
seandainya mereka berbuat kesyirikan maka akan sirna/lenyap semua apa yang
mereka kerjakan. Seperti juga firman Allah subhanahu wa ta'ala yang lainnya :

َ .ِ- ْ.ُآَ و ْ-ُ-ْ='َ· َª´''ا ِ .َ- َ .-ِ ·ِ-'َ=ْ'ا َ .ِ- ´ .َ-·ُ´َ-َ'َ و َ =ُ'َ-َ= ´ .َ=َ-ْ=َ-َ' َ -ْآَ ·ْ-َ أ ْ.ِ-َ' َ =ِ'ْ-َ· ْ.ِ- َ .-ِ -´'ا َ'ِ إَ و َ =ْ-َ'ِ إ َ ¸ِ=وُ أ ْ-َ-َ'َ و
َ .-ِ ·ِآ'´-'ا

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang
sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu,
maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk
orang-orang yang bersyukur”. (Q.S. Az-Zumar : 65-66).

Dan ayat-ayat di atas menggambarkan tentang begitu berbahayanya syirik
tersebut dan begitu sesatnya manusia jika terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala :

'ً--ِ=َ= 'ً-ْ`ِ إ ىَ ·َ-ْ·ا ِ -َ-َ· ِª´'''ِ- ْكِ ·ْ-ُ- ْ.َ-َ و


“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat
dosa yang besar”.

(Q.S. An-Nisa : 48)


dan firman Allah subhanahu wa ta'ala :



´''ا ´ نِ إاً --ِ·َ- 'ً''َ'َ- ´ .َ- ْ-َ-َ· ِª´'''ِ- ْكِ·ْ-ُ- ْ.َ-َ و ُ ء'َ-َ- ْ.َ-ِ' َ =ِ'َ ذ َ نوُ د 'َ- ُ ·ِ-ْ·َ-َ و ِªِ- َ كَ ·ْ-ُ- ْنَ أ ُ ·ِ-ْ·َ- 'َ' َª


“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu)
dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa
yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan
Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (Q.S. An-Nisa :
116).

dan firman Allah subhanahu wa ta'ala :


َ و ِªِ-ْ-'ِ' ُ ن'َ-ْ-ُ' َ ل'َ· ْذِ إَ وٌ»-ِ=َ= ٌ»ْ'ُ=َ' َ كْ·-'ا ´ نِ إ ِª´'''ِ- ْكِ ·ْ-ُ- 'َ' ´ ¸َ-ُ-'َ- ُªُ=ِ·َ- َ ·ُه


“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya : "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah)
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar"”. (Q.S. Luqman : 13).

2. Duduk di atas kuburan, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam tata cara
ziarah kubur.

3. Shalat menghadap kuburan,

Point 2 dan 3 berdasarkan sabda Nabi shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam :

'َ+ْ-َ'َ= اْ·ُ-ِ'ْ=َ- َ `َ و ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا َ'ِ إ اْ·´'َ-ُ- َ `

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula kalian duduk di
atasnya”.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim 3/62 dari hadits Abi Martsad Al-Ghanawy.


4. Shalat dikuburan, meskipun tidak menghadap padanya, berdasarkan hadits
Abu Sa’id Al-Khudry :

َ م'´-َ=ْ'اَ و َ ةَ ·َ-ْ-َ-ْ'ا ´ `ِ إ ٌ-ِ=ْ-َ- 'َ+´'ُآ ُ ضْرَ 'ْ'ا


“Bumi ini semuanya adalah mesjid (tempat shalat) kecuali pekuburan dan kamar
mandi”. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no.317, Ibnu Majah 1/246 no.745, Ibnu
Hibban 8/92 no.2321.

Dan hadits Anas bin Malik :

ِ رْ·ُ-ُ-ْ'ا َ .ْ-َ- ِ ةَ `´-'ا ِ .َ= َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ -ا ُ لْ·ُ-َ ر َ+َ-


“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang dari shalat diantara
kuburan”. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 4/596 no.1698.

Dan Hadits Ibnu ‘Umar :


اً رْ·ُ-ُ· 'َهْوُ -ِ=´-َ- َ `َ و ْ»ُ´ِ-َ `َ- ْ.ِ- ْ»ُ´ِ-ْ·ُ-ُ- ْ¸ِ· اْ·ُ'َ·ْ=ِ ا

“Lakukanlah di rumah-rumah kalian sebagian dari shalat-shalat kalian dan
janganlah menjadikannya sebagai kuburan”. H.R. Bukhary no.422.

Maksudnya bahwa kuburan tidaklah boleh dijadikan tempat shalat sebagaimana
rumah yang dianjurkan untuk dilakukan sebagian shalat padanya (shalat-shalat
sunnah bagi laki-laki).


Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
bersabda :

ِ ةَ ·َ-َ-ْ'ا ُ ةَ رْ·ُ- ِªْ-ِ· ُ أَ ·ْ-َ- ْيِ -´'ا ِ -ْ-َ-ْ'ا َ .ِ- ُ ·ِ-ْ-َ- َ ن'َ=ْ-´-'ا ´ نِ إ َ ·ِ-'َ-َ- ْ»ُ´َ-ْ·ُ-ُ- اْ·ُ'َ·ْ=َ- َ `.


“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan,
sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-
Baqarah”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim no.780.

5. Menjadikan kuburan sebagai tempat peringatan, dikunjungi pada waktu-waktu
tertentu dan pada musim-musim tertentu untuk beribadah disisinya atau untuk
selainnya.

Berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa
sallam bersabda :

´'َ-َ· ْ»ُ-ْ-ُآ 'َ-ُ`ْ-َ=َ و ً ارْ·ُ-ُ· ْ»ُ´َ-ْ·ُ-ُ- اْ·ُ'َ·ْ=َ- َ `َ و اً -ْ-ِ= ْيِ ·ْ-َ· اْوُ -ِ=´-َ- َ `ْ¸ِ-ُ·ُ'ْ-َ- ْ»ُ´َ-َ `َ- ´ نِ 'َ· ´ ¸َ'َ= اْ·



“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan dan
janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan dimanapun kalian
berada bersholawatlah kepadaku sebab sholawat kalian akan sampai
kepadaku”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/367, Abu Daud no.2042. (Lihat :
Kitab Ahkamul Jana`iz dan kitab Min Bida’il Qubur).

6. Melakukan perjalanan (bersafar) dengan maksud hanya untuk berziarah
kubur.

Berdasarkan hadits :

v Hadits Abu Hurairah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :

َ-ْ·َ 'ْ'ا ِ -ِ=ْ-َ-َ و َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ِ لْ·ُ-´ ·'ا ِ -ِ=ْ-َ-َ و ِ ماَ ·َ=ْ'ا ِ -ِ=ْ-َ-ْ'ا َ -ِ='َ-َ- ِªَ`َ `َ` َ'ِ إ ´ `ِ إ ُ ل'َ= ·'ا ´ -َ-ُ- َ `.
ُªُ=ْ-َ'َ و ٌ»ِ'ْ-ُ-َ و ْيِ ر'َ=ُ-ْ'ا ُªَ=َ ·ْ=َ أ " َ ء'َ-ِ'ْ-ِ إ ِ -ِ=ْ-َ-َ و ْيِ -ِ=ْ-َ-َ و ِªَ-ْ·َ´ْ'ا ِ -ِ=ْ-َ- َ -ِ='َ-َ- ِªَ`َ `َ` َ'ِ إ َ ·َ·'َ-ُ- 'َ-´-ِ إ.

“Tidaklah (boleh) dilakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga mesjid
: Al-Masjidil Haram dan Masjid Ar-Rasul dan Masjid Al-Aqsho”. Dikeluarkan oleh
Imam Bukhary dan Muslim dengan lafazh “safar itu hanyalah kepada tiga mesjid
(yaitu) Masjid Al-Ka’bah dan Mesjidku dan Masjid Iliya`”.

v Hadits Abu Sa’id Al-Khudry dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
:

ٍ=ْ-َ' ْ¸ِ·َ و ´ -َ-ُ- َ ` : َ-ُ·َ 'ْ'ا ِ -ِ=ْ-َ-َ و ِ ماَ ·َ=ْ'ا ِ -ِ=ْ-َ-َ و اَ -َه ْيِ -ِ=ْ-َ- َ -ِ='َ-َ- ِªَ`َ `َ` َ'ِ إ ´ `ِ إ َ ل'َ= ·'ا اْو´ -ُ-َ- َ `. ُªَ=َ ·ْ=َ أ
ٍ »ِ'ْ-ُ-ِ' ُ ·َ='ْ'ا ُ=ْ-´''اَ و ِ ن'َ=ْ-´-'ا.

Artinya : “Tidaklah (boleh) dilakukan perjalanan -dan dalam sebuah riwayat :
janganlah kalian melakukan perjalanan- (untuk ibadah) kecuali kepada tiga
mesjid : Mesjidku (Mesjid Nabawy), Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsho”.
Muttafaqun ‘alaihi.

7. Menyalakan lampu (pelita) pada kuburan.

Karena perbuatan tersebut adalah bid’ah yang tidak pernah dikenal oleh para
salafus sholeh, dan hal itu merupakan pemborosan harta dan karena perbuatan
tersebut menyerupai Majusi (para penyembah api). Lihat : Kitab Ahkamul Jana`iz
hal. 294.

8. Membaca Al-Qur`an dikuburan.

Membaca Al-Qur`an dipekuburan adalah suatu bid’ah dan bukanlah petunjuk
Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Bahkan petunjuk (sunnah) Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah berziarah dan mendo’akan mereka,
bukan membaca Al-Qur`an.

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam
bersabda :

ِ ةَ ·َ-َ-ْ'ا ُ ةَ رْ·ُ- ِªْ-ِ· ُ أَ ·ْ-ُ- ْيِ -´'ا ِ -ْ-َ-ْ'ا َ .ِ- ُ ·ِ-ْ-َ- َ ن'َ=ْ-´-'ا ´ نِ إ َ ·ِ-'َ-َ- ْ»ُ´َ-ْ·ُ-ُ- اْ·ُ'َ·ْ=َ- َ `.

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan,
sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-
Baqarah”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.

Pada hadits ini terkandung pengertian bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam memerintahkan ummatnya agar membaca Al-Qur`an di rumah-rumah
mereka (menjadikan rumah-rumah mereka sebagai salah satu tempat membaca
Al-Qur`an), kemudian beliau menjelaskan hikmahnya, yaitu bahwa syaithan akan
lari dari rumah-rumah mereka jika dibacakan surah Al-Baqarah.

Dan sebelumnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah melarang untuk
menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kuburan yang dihubungkan dengan
hikmah (illat tersebut), maka mafhum (dipahami) dari hadits di atas adalah
bahwa kuburan bukanlah tempat yang disyari’atkan untuk membaca Al-Qur`an,
bahkan tidak boleh membaca Al-Qur`an padanya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Para ulama telah menukil dari Imam
Ahmad tentang makruhnya membaca Al-Qur`an dikuburan dan ini adalah
pendapat jumhur As-Salaf dan para shahabatnya (Ahmad) yang terdahulu juga
di atas pendapat ini, dan tidak ada seorangpun dari ‘ulama yang diperhitungkan
mengatakan bahwa membaca Al-Qur`an dikuburan afdhal (lebih baik). Dan
menyimpan mashohif (kitab-kitab Al-Qur`an) dikuburan adalah bid’ah meskipun
untuk dibaca… dan membacakan Al-Qur`an bagi mayat adalah bid’ah”. Lihat Min
Bida’il Qubur hal.59.

9. Mengeraskan suara di kuburan.

Berkata Qais bin Abbad : “Adalah shahabat-shahabat Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai merendahkan suara dalam tiga perkara :
dalam penerangan, ketika membaca Al-Qur`an dan ketika di dekat jenazah-
jenazah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.11201. Lihat Min Bida’il Qubur
hal.88.

Catatan:

Untuk no.10 dan seterusnya akan disebutkan saja bentuk bid’ahnya dengan
menunjuk rujukannya kalau ada, adapun yang tidak disebutkan rujukannya maka
ia masuk ke dalam umumnya perkara-perkara yang bid’ah karena tidak
dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maupun para
shahabatnya walaupun sebab untuk melakukannya ada. Hal ini dilakukan agar
tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Wallahul Musta’an.

10. Memasang payung. Lihat Min Bida’il Qubur hal 93-94.

11. Menanaminya dengan pohon dan kembang.

12. Menyiraminya dengan air

13. Menaburkan kembang padanya.

14. Berziarah kubur setelah hari ke-3 dari kematian dan berziarah pada setiap
akhir pekan kemudian pada hari ke-15, kemudian pada hari ke-40 dan sebagian
orang hanya melakukannya pada hari ke-15 dan hari ke-40 saja. (Kitab Ahkamul
Jana`iz).

15. Menziarahi kuburan kedua orang tua setiap hari jum’at (kitab Ahkamul
Jana`iz).

16. Keyakinan sebagian orang yang menyatakan bahwa : mayat jika tidak
diziarahi pada malam jum’at maka dia akan tinggal dengan hati yang hancur
diantara mayat-mayat lainnya dan bahwa mayat itu dapat melihat orang-orang
yang menziarahi begitu mereka keluar dari batas kota. (Al-Madkhal 3/277).

17. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari ‘Asyura`. (Al-Madkhal 1/290).

18. Mengkhususkan ziarah pada malam nisfu sya’ban (Al-Madkhal 1/310, Talbis
Iblis hal.429).

19. Bepergian ke pekuburan pada 2 hari raya ‘Ied (‘Iedhul Fithri dan ‘Iedhul
Adha). (Ahkamul Jana`iz hal.325).

20. Bepergian kepekuburan pada bulan-bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan
(Ahkamul Jana`iz hal.325).

21. Mengkhususkan berziarah kubur pada hari senin dan kamis (Kitab Ahkamul
Jana`iz hal.325).

22. Berdiri dan diam sejenak dengan sangat khusyu’ di depan pintu pekuburan
seakan-akan meminta izin untuk masuk, kemudian setelah itu baru masuk ke
pekuburan (Ahkamul Jana`iz hal.325).

23. Berdiri di depan kubur sambil meletakkan kedua tangan seperti seorang yang
sedang shalat, kemudian duduk disebelahnya (Ahkamul Jana`iz hal.325).

24. Melakukan tayammum untuk berziarah kubur (Kitab Ahkamul Jana`iz
hal.325).

25. Membacakan surah Al-Fatihah untuk para mayit. (kitab Ahkamul Jana`iz
325).

26. Membaca do’a :

َ --َ-ْ'ا اَ -َه َ ب -َ·ُ- َ ` ْنَ أ َ »´'َ-َ و ِªِ''َ و ِªْ-َ'َ= ُ -ا ´'َ- ٍ -´-َ=ُ- ِªَ-ْ·ُ=ِ- َ =ُ'َ 'ْ-َ أ ْ¸-ِ إ ´ »ُ+´''َ ا

“Ya Allah aku meminta kepada-MU dengan (perantara) kehormatan Muhammad
shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam agar Engkau tidak menyiksa mayat ini”.
(Ahkamul Jana`iz hal.326).

27. Menamakan ziarah terhadap kuburan tertentu sebagai haji. (Ahkamul
Jana`iz).

28. Mengirimkan salam kepada para Nabi melalui orang yang menziarahi
kuburan mereka. (Lihat : Kitab Ahkamul Jana`iz hal.327).

29. Mengirimkan surat dan foto-foto kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa
sallam lewat orang yang berziarah ke Mesjid Nabawy. Dan hal ini sering
terjadi/dialami.

30. Berziarah kekuburan pahlawan tak dikenal. (Ahkamul Jana`iz 327).

31. Perkataan bahwa do’a akan mustajab jika dilakukan di dekat orang-orang
sholeh. (Ahkamul Jana`iz).

32. Memukul beduk, gendang dan menari disisi kuburan Al-Khalil Nabi Ibrahim
‘alaihissalam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta'ala
(Al-Madkhal 4/246).

33. Meletakkan mushaf dikuburan bagi orang-orang yang bermaksud membaca
Al-Qur`an. (Al-Fatawa 1/174).

34. Melemparkan sapu tangan dan pakaian ke kuburan dengan tujuan tabarruk
(mencari berkah). (Al-Madkhal 1/263).

35. Berlama-lamanya seorang wanita pada sebuah kuburan dan menggosok-
gosokkan kemaluannya pada kuburan dengan tujuan supaya ia bisa hamil.
(Ahkamul Jana`iz hal.330).

36. Mengusap-usap kuburan dan menciumnya. (Iqtidha` Ash-Shirathal Mustaqim
karya Ibnu Taimiyah, Al-I’tishom karya Asy-Syathiby).

37. Menempelkan perut dan punggung atau sesuatu dari anggota badan pada
tembok kuburan (Ziyaratul Qubur wal Istinjad bil Maqbur ; Ibnu Taimiyah hal.54).

38. Berziarah kekubur para nabi dan orang-orang sholeh dengan maksud untuk
berdo’a disisi kuburan mereka dengan harapan terkabulnya do’a tersebut. (Ar-
Raddu ‘Alal Bakry hal.27-57).

39. Keluar dari kuburan (pekuburan) yang diagungkan dengan cara berjalan
mundur. (Al-Madkhal 4/238).

40. Berdiri yang lama dihadapan kuburan Nabi untuk mendo’akan dirinya sendiri
sambil menghadap ke kuburan. (Ar-Raddu ‘alal Bakry / Ahkamul Jana`iz
hal.335).

Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk amalan/perbuatan yang dilakukan ketika
berziarah kubur yang menyelisihi cara berziarah yang syar’i yang mana semua
bentuk-bentuk tersebut adalah bid’ah di dalam agama ini yang telah dinyatakan
oleh nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa setiap bid’ah adalah sesat
dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Na’udzu billahi minha. Wallahu
Ta’ala A’lam Bishshowab.

Maroji’

1. Ahkamul Jana`iz Wa Bid’auha / Syaikh Al-Imam Muhammad Nashirudddin Al-
Albany.

2. Al-I’tishom / Al-Imam Asy-Syathiby.

3. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab / Al-Imam An-Nawawy.

4. Al-Mughny / Ibnu Qudamah.

5. Al-Muntaqo Min Fatawa Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan.

6. Ash-Shorimul Munky Fii Ar-Raddi ‘Ala As-Subky / Muhammad bin Abdul Hady.

7. Hasyiah Ar-Raudhoh Murbi’ Syarh Zadul Mustaqni’ / ‘Abdurrahman bin
Muhammad bin Qosim An-Najdy.

8. Iqtidho` Ash-Shirothol Mustaqim Fii Mukhalafatu Ashhabul Jahim / Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah.

9. Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarif / Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-
Abdary Ibnul Hajj.

10. Majmu’ Al-Fatawa / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

11. Manarus Sabil Fii Syarh Ad-Dalil / Syaikh Ibrahim bin Muhammad
Duwaiyyan.

12. Min Bida’il Qubur / Hamad bin ‘Abdullah bin Ibrahim Al-Humaidy.

13. Nailul Author Min Ahaditsi Sayyidil Akhyar / Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-
Syaukany.

14. Talbis Iblis / Ibnul Jauzy.

15. Talkhis Kitab Al-Istighotsah (Ar-Raddu ‘alal Bakry) / Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah.

16. Taudhihul Ahkam / ‘Abdullah Al-Bassam.

17. Zadul Ma’ad Fii Hadyi Khairil ‘Ibad / Ibnul Qoyyim Al-Jauzy.

18. Ziyaratul Qubur Wa Hukmul Istinjad bil Maqbur / Syaikh Islam Ibnu Taimiyah.

http://www.an-nashihah.com/isi_berita.php?id=43























BID'AHNYA ANGGAPAN SIAL MENIKAH DI BULAN SYAWWAL
Penulis: Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry


Ibnu Mandzur berkata, "Syawwal adalah termasuk nama bulan yang telah
dikenal, yaitu nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal bulan-
bulan haji." Jika dikatakan Tasywiil (syawwalnya) susu onta berarti susu onta
yang tinggal sedikit atau berkurang. Begitu juga onta yang berada dalam
keadaan panas dan kehausan.

Orang Arab menganggap bakal sial/malang bila melangsungkan aqad
pernikahan pada bulan ini dan mereka berkata : "Wanita yang hendak dikawini
itu akan menolak lelaki yang ingin mengawininya seperti onta betina yang
menolak onta jantan jika sudah kawin/bunting dan mengangkat ekornya."

Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membatalkan anggapan sial mereka
tersebut, dan Aisyah berkata, "Rasulullah menikahiku pa¬da bulan Syawwal dan
berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara isteri-isteri
beliau yang lebih beruntung dariku?" (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, VI/54,
Muslim dalam shahihnya II/1039, kitab An-Nikah, hadits nomor 1423, At-Tirmidzi
dalam Sunan-nya II/277, Abwab Annikah, hadits nomor 1099. Beliau berkata: Ini
hadits hasan shahih. An-Nasai dalam Sunan-nya, VI/70, kitab An-Nikah, bab
"Pernikahan pada Bulan Syawal. Ibnu ¬Majah dalam Sunan-nya, I/641, kitab An-
Nikah, hadits nomor 1990.)

Maka yang menyebabkan orang Arab pada jaman jahiliyah dulu menganggap
sial menikah pada bulan syawwal adalah keyakinan mereka bahwa wanita akan
menolak suaminya seperti penolakan onta betina yang mengangkat ¬ekornya,
setelah kawin/bunting.

Berkata Ibnu Katsir – rahimahullah - : "Berkumpulnya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Sallam dengan Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan syawwal
merupakan bantahan terhadap keraguan sebagian orang yang membenci untuk
berkumpul/ menikah dengan isteri mereka di antara dua hari raya, karena kawatir
bakal terjadi perceraian antara suami-isteri tersebut, yang hal ini sebenarnya
tidak ada sesuatupun padanya." (Al Bidayah Wan Nihayah III/253)

Anggapan sial menikah pada bulan Syawwal adalah perkara batil, karena
anggapan sial itu secara umum termasuk ramalan/undi nasib yang dilarang oleh
Nabi Shallallahu Alaihi wassallam pada sabda beliau :
لا عدوى و لا طيرة
"Tidak ada penyakit menular dan tidak ada ramalan/nasib sial". (HR. Al Bukhari
dalam shahihnya cetakan bersama Fathul Bari (X/215) kitab At Thib. Hadits
nomor : 5757. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al jami' No. 7530)
Dan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassallam :
الطيرة شرك
"Ramalan nasib adalah syirik." " (HR. Ahmad dalam musnadnya (I/440). Abu
Daud dalam sunannya (IV/230) kitab at Thib Hadits nomor : 3910. At Tirmidzi
dalam sunannya (III/74,75) Abwab As Sair, hadits nomor : 1663. beliau berkata :
hadits hasan shahih. Ibnu Majah dalam sunannya (II/1170) Kitab At Thib nomor
hadits : 3537. Al Hakim dalam Mustadzraknya (I/17,18) kitab Al Iman beliau
berkata : hadits yang shahih sanadnya, stiqah rawi-rawinya dan bukhari dan
muslim tidak mengeluarkan dalam shahih keduanya. Dan disepakati Ad Dzahabi
dalam talkhishnya. Dishahihkan pula Al Albani di Shahih Al Jami' No : 3960)

Begitu juga sama halnya dengan itu adalah anggapan sial di bulan Shafar.
Berkata Al Imam An-Nawawi –rahimahullah- dalam menjelaskan hadits Aisyah
Radhiyallahu'anha, di atas : "Hadits itu menunjukkan bahwa disunnahkan
menikahi, memperistri wanita dan berkumpul/menggauli pada bulan Syawwal
dan shahabat-shahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka
berdalil dengan hadits tersebut."
Aisyah sengaja berkata seperti tersebut diatas untuk membantah tradisi orang-
orang jahiliyyah dan apa yang dihayalkan sebagian orang awam pada saat ini,
berupa ketidak sukaan mereka menikah dan berkumpul pada bulan Syawwal.
Dan hal ini adalah batil dan tidak ada dasarnya, dan termasuk peninggalan
jahiliyyah dimana mereka meramalkan hal tersebut dari kata syawwala yang
artinya mengangkat ekor ( tidak mau dikawin)." (Syarah shahih Muslim karya
Imam an Nawawi (IX/209).
Wallaahu a'lam Bishawab.
(Kitab Al Bida' Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I
Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 348-349. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa'i)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->