1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Pengakuan itu tercantum dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 25 Ayat (1) Deklarasi menyatakan, setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya. Berdasarkan Deklarasi tersebut, pasca Perang Dunia II beberapa negara mengambil inisiatif untuk mengembangkan jaminan sosial, antara lain jaminan kesehatan bagi semua penduduk (Universal Health Coverage). Dalam sidang ke58 tahun 2005 di Jenewa, World Health Assembly (WHA) menggaris bawahi perlunya pengembangan sistem pembiayaan kesehatan yang menjamin tersedianya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan memberikan perlindungan kepada mereka terhadap risiko keuangan. WHA ke58 mengeluarkan resolusi yang menyatakan, pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan melalui Universal Health Coverage diselenggarakan melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial. WHA juga menyarankan kepada WHO agar mendorong negara-negara anggota untuk mengevaluasi dampak perubahan sistem pembiayaan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan ketika mereka bergerak menuju Universal Health Coverage. Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 juga mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub dalam UUD 45

2

pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 23/1992 yang kemudian diganti dengan UU 36/2009 tentang Kesehatan. Dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial. Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan perorangan. Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) yang melayani antara lain pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi- bagi. Biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali. Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang No.40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014. Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101

merupakan kompromi optimal. sebelum UU itu dilaksanakan. Atau. Kita harus belajar konsekuen dan berani menjalankan sebuah keputusan UU. dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional). Apa yang dirumuskan dalam UU SJSN. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. Sesungguhnya keinginan untuk mendirikan BPJS baru telah dibahas dalam proses penyusunan UU SJSN.3 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI). Nasionalisme. . Berbagai pertimbangan tentang cost-benefit. serta pertimbangan kondisi geografis serta ekonomis yang berbeda-beda telah pula dibahas mendalam. Inilah hakikat negara demokrasi. Setelah disetujui DPR. Sangatlah tidak layak dan tidak matang. maka ia atau mereka dapat mengajukan alternatif ke DPR untuk merevisi atau membuat UU baru. Konsekuensi logis dari sebuah negara demokrasi adalah bahwa rumusan suatu UU yang telah diundangkan harus dilaksanakan. Perdebatannya berlangsung sangat alot. maka rumusan suatu UU mengikat semua pihak. jika seseorang atau sekelompok orang yakin bahwa UU SJSN itu merugikan kepentingan lebih banyak rakyat. Peraturan Presiden No. Boleh saja kita tidak setuju dengan isi suatu UU dan tidak ada satupun UU yang isinya 100% disetujui dan didukung oleh seluruh rakyat. wakil rakyat. keadilan antar daerah dan antar golongan pekerjaan. meskipun ada aspirasi atau keinginan kita yang berbeda dengan yang dirumuskan UU SJSN. apabila UU tersebut sudah divonis tidak mengakomodir kepentingan kita. baik yang tadinya pro maupun yang tadinya kontra terhadap suatu isi atau pengaturan. UU no 40/04.

Hal ini tentu menyebabkan kesukaran ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga. Lansia ini sendiri rentan mengalami berbagai penyakit degenerative yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan berbagai dampak lainnya. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19 Oktober 2004. Seperti menemukan air di gurun. . Begitu pula dengan resiko kecelakaan dan kematian. Suatu peristiwa yang tidak kita harapkan namun mungkin saja terjadi kapan saja dimana kecelakaan dapat menyebabkan merosotnya kesehatan. Dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2030 terdapat 25% penduduk Indonesia adalah lansia. 70 juta diantaranya diduga berumur lebih dari 60 tahun. banyak pihak berharap tudingan Indonesia sebagai ”negara tanpa jaminan sosial” akan segera luntur dan menjawab permasalahan di atas. baik sementara maupun permanen. Apabila tidak aday ang menjamin hal ini maka suatu saat hal ini mungkin dapat menjadi masalah yang besar. apalagi tergolong penyakit berat yang menuntut stabilisasi yang rutin seperti hemodialisa atau biaya operasi yang sangat tinggi. operasi. obat-obatan. bahwa kesehatan tidak bisa digantikan dengan uang.4 BAB II PEMBAHASAN 2. Pada tahun Pada 2030. ketika Presiden Megawati mensahkan UU No. Hal ini berpengaruh pada penggunaan pendapatan seseorang dari pemenuhan kebutuhan hidup pada umumnya menjadi biaya perawatan dirumah sakit. ataupun kematian karenanya kita kehilangan pendapatan. Sehingga munculah istilah “SADIKIN”. dan tidak ada orang kaya dalam menghadapi penyakit karena dalam sekejap kekayaan yang dimiliki seseorang dapat hilang untuk mengobati penyakit yang dideritanya. dan lain lain. kecacatan. sakit sedikit jadi miskin.1 Sejarah Singkat BPJS Adanya pengeluaran yang tidak terduga apabila seseorang terkena penyakit. diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah 270 juta orang. Dapat disimpulkan. Belum lagi menyiapkan diri pada saat jumlah penduduk lanjut usia dimasa datang semakin bertambah.

20 Tahun 2002. Pasal 20. Pada tahun 2001. Hingga disahkan dan diundangkan UU SJSN telah melalui proses yang panjang. Agoes Achir dan pada Desember 2001 telah menghasilkan naskah awal dari Naskah Akademik SJSN (NA SJSN). Pasal 28H ayat (1). 7 Tahun 2001.5 Munculnya UU SJSN ini juga dipicu oleh UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002 dalam Pasal 5 ayat (1). dari tahun 2000 hingga tanggal 19 Oktober 2004. ayat (2) dan ayat (3). Kemudian pada perkembangannya Presiden RI yang pada saat itu Megawati Soekarnoputri meningkatkan status Pokja SJSN menjadi Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional (Tim SJSN . DPA RI melalui Pertimbangan DPA RI No. Sejalan dengan pernyataan Presiden. Yaumil C. 10 April 2002). Dr. Diawali dengan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000. X/ MPR-RI Tahun 2001 butir 5. 8 Tahun 2001. No. 30/DPA/2000. No. Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri mengarahkan Sekretaris Wakil Presiden RI membentuk Kelompok Kerja Sistem Jaminan Sosial Nasional (Pokja SJSN . 11 Juli 2001) yang diketuai Prof.2) dihasilkan Putusan Pembahasan MPR RI yang menugaskan Presiden RI “Membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu”. dimana Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep SJSN. Kepseswapres. tanggal 3 Agustus 2000.E. 21 Maret 2001 jo. Menko Kesra dan Taskin No. Dalam Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 (Ketetapan MPR RI No. tanggal 11 Oktober 2000. tentang Pembentukan Tim Penyempurnaan Sistem Jaminan Sosial Nasional). serta Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) mengamanatkan untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional.Keppres No. Pernyataan Presiden tersebut direalisasikan melalui upaya penyusunan konsep tentang Undang-Undang Jaminan Sosial (UU JS) oleh Kantor Menko Kesra (Kep.Kepseswapres. . 25KEP/MENKO/KESRA/VIII/2000. menyatakan perlu segera dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera.

40 Tahun 2004 tentang SJSN pada tanggal 19 Oktober Tahun 2004. Kemudian setelah dilakukan reformulasi beberapa pasal pada Konsep terakhir RUU SJSN tersebut. dihasilkan sebuah naskah terakhir NA SJSN pada tanggal 26 Januari 2004. 21 Maret 2001 . Penetapan 4 BUMN sebagai BPJS dipahami sebagai monopoli dan menutup kesempatan daerah untuk menyelenggarakan jaminan sosial. 4 bulan kemudian. Pemerintah menyerahkan RUU SJSN kepada DPR RI pada tanggal 26 Januari 2004. 9 Februari 2003. hingga Konsep terakhir RUU SJSN. Dengan demikian proses penyusunan UU SJSN memakan waktu 3 (tiga) tahun 7 (tujuh) bulan dan 17 (tujuh belas) hari sejak Kepseswapres No. 7 Tahun 2001. yang diserahkan oleh Tim SJSN kepada Pemerintah. Setelah mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga 8 (delapan) kali. Konsep pertama RUU SJSN.” ujar Sulastomo. Selama pembahasan Tim Pemerintah dengan Pansus RUU SJSN DPR RI hingga diterbitkannya UU SJSN. salah satu TIM Penyusun UU SJSN pada saat itu. 4 bulan berselang UU SJSN kembali terusik. . Konsep RUU SJSN hingga diterbitkan menjadi UU SJSN telah mengalami perubahan dan penyempurnaan sebanyak 56 (lima puluh enam) kali. kebijakan ASKESKIN mengantar beberapa daerah ke MK untuk menguji UU SJSN terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. MK menganulir 4 ayat dalam Pasal 5 yang mengatur penetapan 4 BUMN tersebut dan memberi peluang bagi daerah untuk membentuk BPJS Daerah (BPJSD). NA SJSN selanjutnya dituangkan dalam RUU SJSN. pada 31 Agustus 2005. telah mengalami 52 (lima puluh dua) kali perubahan dan penyempurnaan. RUU SJSN telah mengalami 3 (tiga) kali perubahan.6 “NA SJSN merupakan langkah awal dirintisnya penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) SJSN. 14 Januari 2004. Lanjutan Implementasi UU SJSN hingga ke UU BPJS Setelah resmi menjadi undang-undang. Maka dalam perjalanannya. UU SJSN tersebut secara resmi diterbitkan menjadi UU No. Pada bulan Januari 2005.

Seluruh perhatian tercurah pada RUU BPJS sehingga perintah dari 21 pasal yang mendelegasikan peraturan pelaksanaan terabaikan. Tahun berganti. Dikotomi BPJS multi dan BPJS tunggal tengah diperdebatkan dengan sengit. tidak mencapai titik temu. Hasilnya. kini harus diatur dengan UU BPJS. PT Taspen. penyelenggaraan jaminan sosial Indonesia gagal menaati semua ketentuan UU SJSN yaitu 5 tahun. Perdebatan konsep BPJS kembali mencuat ke permukaan sejak DPR mengajukan RUU BPJS inisiatif DPR kepada Pemerintah pada bulan Juli 2010. DPR mengambil alih perancangan RUU BPJS pada tahun 2010. selain bentuk badan hukum. Pemerintah secara resmi membentuk DJSN lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 110 tahun 2008 tentang pengangkatan anggota DJSN tertanggal 24 September 2008. namun keberadaan BPJS mutlak ada sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem . ketika DPR RI sepakat dan kemudian mengesahkannya menjadi Undang-Undang. Pro dan kontra keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) akhirnya berakhir pada 29 Oktober 2011. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) pun akhirnya baru terbentuk. yang notabene keduanya adalah Pembantu Presiden. Bahkan area perdebatan bertambah. Asabri. dan PT Askes. Pembangunan kelembagaan SJSN yang semula diatur dalam satu paket peraturan dalam UU SJSN. RUU BPJS tidak selesai dirumuskan hingga tenggat peralihan UU SJSN pada 19 Oktober 2009 terlewati. Setelah melalui proses panjang yang melelahkan mulai dari puluhan kali rapat di mana setidaknya dilakukan tak kurang dari 50 kali pertemuan di tingkat Pansus. Tim Kerja Menko Kesra dan Tim Kerja Meneg BUMN. Meski bukan sesuatu yang mudah. Panja. Pemerintah dan DPR tengah berseteru menentukan siapa BPJS dan berapa jumlah BPJS. hingga proses formal lainnya. Pembahasan RUU BPJS berjalan alot.7 Putusan MK semakin memperumit penyelenggaraan jaminan sosial di masa transisi. Sementara di kalangan operator hal serupa dilakukan di lingkup empat BUMN penyelenggara program jaminan sosial meliputi PT Jamsostek.

Kemudian Pasal 62 ayat (1) UU BPJS menentukan PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014 BPJS Ketenagakerjaan dan menurut Pasal 64 UU BPJS mulai beroperasi paling lambat tanggal 1 Juli 2015. Perubahan tersebut mencakup struktur.8 Jaminan Sosial Nasional (SJSN). yang bahkan semestinya telah dapat dioperasionalkan sejak 9 Oktober 2009 dua tahun lampau. Sebuah kajian menyebutkan bahwa saat ini. Segudang pekerjaan rumah menunggu untuk diselesaikan demi terpenuhinya hak rakyat atas jaminan sosial. mekanisme kerja dan juga kultur kelembagaan. karena itu harus dilaksanakan. sering menjadi kendala bagi penerimaan struktur. Perjalanan tak selesai sampai disahkannya BPJS menjadi UU formal. Pasca Sah UU BPJS Perubahan dari 4 PT (Persero) yang selama ini menyelenggarakan program jaminan sosial menjadi 2 BPJS sudah menjadi perintah Undang-Undang. Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) ditugasi oleh UU BPJS untuk menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk berjalannya proses tranformasi atau perubahan dari Persero menjadi BPJS dengan status badan hukum publik. Perubahan yang multi dimensi tersebut harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar berjalan sesuai dengan ketentuan UU BPJS. jalan terjal nan berliku menanti di depan. Mengubah struktur. yang sudah mengakar dan dirasakan nyaman. berdasarkan data yang dihimpun oleh DPR RI dari keempat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berstatus badan hukumnya adalah Persero tersebut. mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang baru. mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang lama. Pada saat mulai berlakunya UU BPJS. hanya terdapat sekitar 50 juta orang di Indonesia ini dilayani oleh Jaminan Sosial yang diselenggarakan oleh 4 BUMN penyelenggara jaminan sosial. . Pasal 60 ayat (1) UU BPJS menentukan BPJS Kesehatan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. meskipun hal tersebut ditentukan dalam Undang-Undang.

akan membuat perubahan BPJS memberi harapan yang lebih baik untuk pemenuhan hak konstitusional setiap orang atas jaminan sosial.Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Kesehatan. 2. Perubahan yang dipersiapkan dengan cermat.Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 2. efisien dan lancar sesuai dengan rencana. 2. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. dan bagaimana harus bertindak pada waktu yang tepat untuk membuat perubahan berjalan tertib efektif. fokus pada hasil dan berorientasi pada proses implementasi Peraturan Perundangundangan secara taat asas dan didukung oleh pemangku kepentingan.2 Pengertian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial (UU No 24 Tahun 2011). .3 Dasar Hukum 1. Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. Undang. Tahun 2012 merupakan tahun untuk mempersiapkan perubahan yang ditentukan dalam UU BPJS.9 Untuk itu diperlukan komitmen yang kuat dari kedua BUMN ini. Sebagai professional tentu mereka paham bagaimana caranya mengatasi berbagai persoalan yang timbul dalam proses perubahan tersebut. BUMN yang dipercaya mengemban tugas menyiapkan perubahan tersebut. Undang.

3. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan. 2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.5 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional Ada 2 (dua) manfaat Jaminan Kesehatan.4.4. 4. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku . 2. baik karena pernikahan. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan. Menyampaikan keluhan/pengaduan. kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor BPJS Kesehatan. 2. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. kematian. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. 2. kelahiran. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.2 Kewajiban Peserta 1. yakni berupa pelayanan kesehatan dan Manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans. hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak.1 Hak Peserta 1. 3.4 Hak dan Kewajiban Peserta BPJS Kesehatan 2. 2. 4. perceraian. Melaporkan perubahan data peserta. dan 4.10 3. . Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak. pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I.

meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat. Keluarga berencana. Penyuluhan kesehatan perorangan. d. Tidak sesuai prosedur b. Dengan demikian pelayanan yang diberikan bersifat paripurna (preventif. yaitu kaca mata. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. alat bantu dengar (hearing aid). General check up. meliputi konseling. dan Campak. Difteri Pertusis Tetanus dan HepatitisB (DPTHB). vasektomi. dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana. Imunisasi dasar. alat bantu gerak (tongkat penyangga. Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif namun masih ada yang dibatasi. Promotif dan preventif yang diberikan dalam konteks upaya kesehatan perorangan (personal care). Pengobatan Impotensi . Polio. Sedangkan yang tidak dijamin meliputi: a. meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG). Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan: a. b. Pelayanan bertujuan kosmetik d. promotif. pengobatan alternatif e. Pengobatan untuk mendapatkan keturunan. diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu. Pelayanan diluar Faskes Yg bekerjasama dng BPJS c.11 Paket manfaat yang diterima dalam program JKN ini adalah komprehensive sesuai kebutuhan medis. Skrining kesehatan. kontrasepsi dasar. c. kursi roda dan korset). kuratif dan rehabilitatif) tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya premi bagi peserta.

12 f. 2. dan kebutuhan dasar hidup yang layak. Pelayanan Kesehatan Pada Saat Bencana g. ekonomi.5. iuran dibayar oleh Pemerintah. Iurannya dibayar oleh Pemberi Kerja dan Pekerja. Pasien Bunuh Diri /Penyakit Yg Timbul Akibat Kesengajaan Untuk Menyiksa Diri Sendiri/ Bunuh Diri/Narkoba 2. 2.1 Pengertian Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh Peserta.Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INACBG’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit. Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan perkembangan sosial. Pemberi Kerja. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan). 3. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Tarif Non Kapitasi adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. dan/atau Pemerintah untuk program Jaminan Kesehatan (pasal 16.2 Pembayar Iuran 1.5. . Bagi Peserta PBI. 4. Tarif Indonesian .5 Pembiayaan 2. Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah. Perpres No. Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.

Besaran iuran bagi pekerja bukan penerima upah itu adalah Rp25. Untuk standar tarif pelayanan kesehatan pada Fasilitas kesehatan tingkat pertama ada di lampiran 1. dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan).13 2. maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Setiap Pemberi Kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya. Rp42. BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta.3 Pembayaran Iuran Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI). Pembayaran iuran JKN dapat dilakukan diawal.500 untuk kelas I.500 per bulan untuk layanan rawat inap kelas III. Iuran premi kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pekerja informal. . Apabila tanggal 10 (sepuluh) jatuh pada hari libur. menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya.500 untuk kelas II dan Rp59. Dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja. BPJS Kesehatan memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan berikutnya. Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja wajib membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan.5.

4 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi.6 Kepesertaan Beberapa pengertian: Peserta adalah setiap orang. atau imbalan dalam bentuk lain. atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji. BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s. Semua Fasilitas Kesehatan meskipun tidak menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan wajib melayani pasien dalam keadaan gawat darurat. Maka. tidak semua Fasilitas Kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. atau imbalan dalam bentuk lainnya. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan. pengusaha. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji.14 2. maka fasilitas kesehatan tersebut wajib merujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. 2. atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja. BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang lebih berhasil guna. termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia. badan hukum. upah. jika di suatu daerah tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan Kapitasi. BPJS Kesehatan akan membayar kepada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerjasama setelah memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang berlaku di wilayah tersebut. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan. setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dapat dipindahkan. upah. Mengingat kondisi geografis Indonesia. Peserta tersebut meliputi: Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan bukan PBI JKN dengan rincian sebagai berikut: .5. yang telah membayar Iuran.

Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e yang mampu membayar Iuran. Investor. Veteran. b. d. Pejabat Negara. e. Pegawai Swasta. termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan. Anggota TNI. c. d. 2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya. Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan b. Peserta PBI Jaminan Kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu. Perintis Kemerdekaan. Peserta bukan PBI adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas: 1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya. Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah. c. yaitu: a. e. Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri. b. Pekerja sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b.15 a. Anggota Polri. 3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas: a. yaitu: a. dan f. b. . Pegawai Negeri Sipil. c. Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang menerima Upah. dan g. Penerima Pensiun. Pemberi Kerja. f.

Anak kandung. duda. . 8) Prosedur pendaftaran Peserta a. dengan kriteria: tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri. Istri atau suami yang sah dari Peserta. c. atau anak yatim piatu dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang mendapat hak pensiun. Sedangkan Peserta bukan PBI JKN dapat juga mengikutsertakan anggota keluarga yang lain. huruf b. dan b. Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi: a.16 4) Penerima pensiun terdiri atas: a. Penerima Pensiun selain huruf a. dan huruf c. d. Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun. dan e. 6) Syarat pendaftaran Syarat pendaftaran akan diatur kemudian dalam peraturan BPJS. b. f. anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari Peserta. 7) Lokasi pendaftaran Pendaftaran Peserta dilakukan di kantor BPJS terdekat/setempat. Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun. c. Janda. dan belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (duapuluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal. 5) WNI di Luar Negeri Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri. Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun.

kepesertaannya paling sedikit meliputi: PBI Jaminan Kesehatan. 11) Pentahapan kepesertaan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap. membayar iuran dan b. serta peserta jaminan pemeliharaan kesehatan Jamsostek dan anggota keluarganya. Pemberi Kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berkewajiban untuk: a. c. Status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran atau meninggal dunia. peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) beserta anggota keluarganya. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014. Selanjutnya tahap kedua meliputi seluruh penduduk yang .17 b. 9) Hak dan kewajiban Peserta Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak mendapatkan a) identitas Peserta dan b) manfaat pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. b. Anggota Polri/PNS di lingkungan Polri dan anggota keluarganya. akan diatur oleh Peraturan BPJS. melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah domisili dan atau pindah kerja. 10) Masa berlaku kepesertaan a. Anggota TNI/PNS di lingkungan Kementerian Pertahanan dan anggota keluarganya. c. Ketentuan lebih lanjut terhadap hal tersebut diatas. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama yang bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta.

Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang diberikan. Laporan tersebut dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional.18 belum masuk sebagai Peserta BPJS Kesehatan paling lambat pada tanggal 1 Januari 2019. paling lambat tanggal 31 Juli tahun berikutnya. BPJS Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember). atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan. yang disebut dengan iur biaya (additional charge). .7 Pertanggung Jawaban BPJS BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Laporan yang telah diaudit oleh akuntan publik dikirimkan kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya. 2. Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI. Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran. Dalam JKN. peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya: Peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya.

yang dapat berupa: penggantian uang tunai. Bila Peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan. maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh Fasilitas Kesehatan tingkat pertama. dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing. 2. 4. Kompensasi Pelayanan Bila di suatu daerah belum tersedia Fasilitas Kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah Peserta. yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta akomodasi dan ambulans (manfaat non medis). Penggantian uang tunai hanya digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi.8 Pelayanan 1. . BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan baik fasilitas kesehatan milik Pemerintah. Pemerintah Daerah. 3. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.19 2. kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis. Jenis Pelayanan Ada 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh Peserta JKN. Prosedur Pelayanan Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama. pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan Fasilitas Kesehatan tertentu.

Dewan Pengawas terdiri atas 7 (tujuh) orang anggota: 2 (dua) orang unsur Pemerintah. Direksi sebagaimana dimaksud diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. 2 (dua) orang unsur Pemberi Kerja. nasihat. dan d. 2) Dewan Pengawas bertugas untuk: a. 2.8. . menyampaikan laporan pengawasan penyelenggaraan Jaminan Sosial sebagai bagian dari laporan BPJS kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN. 2(dua) orang unsur Pekerja. Dewan Pengawas tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.9 Pengorganisasian 2.1. c. b. Direksi terdiri atas paling sedikit 5 (lima) orang anggota yang berasal dari unsur profesional. dan Wewenang Dewan Pengawas Dalam melaksanakan pekerjaannya. 1 (satu) orang unsur Tokoh Masyarakat.1 Fungsi.20 2. dan pertimbangan kepada Direksi mengenai kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan BPJS. memberikan saran. melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan Dana Jaminan Sosial oleh Direksi.9.1 Lembaga Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) JKN diselenggarakan oleh BPJS yang merupakan badan hukum publik milik Negara yang bersifat non profit dan bertanggung jawab kepada Presiden. melakukan pengawasan atas kebijakan pengelolaan BPJS dan kinerja Direksi. Tugas. BPJS terdiri atas Dewan Pengawas dan Direksi. dan wewenang pelaksanaan tugas BPJS dengan uraian sebagai berikut: 1) Fungsi Dewan Pengawas adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas BPJS. tugas. Dewan Pengawas mempunyai fungsi.

menyelenggarakan manajemen kepegawaian BPJS termasuk mengangkat. menetapkan rencana kerja anggaran tahunan BPJS.1.2 Fungsi. b. Direksi BPJS mempunyai fungsi. mendapatkan dan/atau meminta laporan dari Direksi. tata kerja organisasi. Direksi berfungsi melaksanakan penyelenggaraan kegiatan operasional BPJS yang menjamin Peserta untuk mendapatkan Manfaat sesuai dengan haknya.8. mengusulkan kepada Presiden penghasilan bagi Dewan Pengawas dan Direksi. dan wewenang sebagai berikut: 1. 3) Direksi berwenang untuk: a. d. Direksi bertugas untuk: melaksanakan pengelolaan BPJS yang meliputi perencanaan. memberikan saran dan rekomendasi kepada Presiden mengenai kinerja Direksi. dan e. c. dan menjamin tersedianya fasilitas dan akses bagi Dewan Pengawas untuk melaksanakan fungsinya. d. melakukan penelaahan terhadap data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS. melaksanakan wewenang BPJS. 2. tugas. pengawasan. memindahkan. 2. dan evaluasi. Tugas. dan sistem kepegawaian. c. mengakses data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS. dan memberhentikan pegawai BPJS serta menetapkan penghasilan pegawai BPJS. pelaksanaan. dan Wewenang Direksi Dalam menyelenggarakan JKN. mewakili BPJS di dalam dan di luar pengadilan. b. menetapkan struktur organisasi beserta tugas pokok dan fungsi.21 3) Dewan Pengawas berwenang untuk: a. .

tugas. g.000. dan wewenang Direksi diatur dengan Peraturan Direksi.3 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem kendali mutu dan biaya. 2.000 (seratus miliar rupiah) dengan persetujuan Dewan Rp500. dan h.22 e.2 Hubungan Antar Lembaga BPJS melakukan kerja sama dengan lembaga pemerintah. menetapkan ketentuan dan tata cara pengadaan barang dan jasa dalam rangka penyelenggaraan tugas BPJS dengan memperhatikan prinsip transparansi.000 Presiden.9. 2. dan efektivitas.000.000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan . f. sampai pemindahtanganan aset tetap BPJS paling banyak Rp100.000. lembaga lain di dalam negeri atau di luar negeri dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan program Jaminan Sosial (JKN). melakukan pemindahtanganan (seratus aset miliar tetap rupiah) BPJS lebih dari dengan Rp100.000.000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab Menteri Kesehatan yang dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan Dewan Jaminan Kesehatan Nasional. akuntabilitas. Persyaratan untuk menjadi Dewan Pengawas dan Dewan Direksi diatur dalam UU Nomor 24 tahun 2011. efisiensi. Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan fungsi.9.000.000.000.000. melakukan pemindahtanganan aset tetap BPJS lebih dari Rp500. melakukan Pengawas.

Pengawasan internal oleh organisasi BPJS meliputi: a.23 2. DJSN. Satuan pengawas internal. dan b. Dewan pengawas.9. 2. dengan jaringannya di seluruh kabupaten/kota.5 Tempat dan kedudukan BPJS Kantor Pusat BPJS berada di ibu kota Negara. . Lembaga pengawas independen.4 Pengawasan Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara eksternal dan internal. Sedangkan Pengawasan eksternal dilakukan oleh: a.9. dan b.

2 Saran 1. BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi. 3. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Sustainabilitas program atau bahwa program jaminan sosial harus berkelanjutan selama negara ini ada.1 Kesimpulan 1. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan. BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s. 2. 3. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Kenyataannya 80% penyakit yang ditangani rumah sakit rujukan di Provinsi adalah penyakit yang seharusnya ditangani di Puskesmas. Hal ini berdampak pada beban fiskal daerah yang terlalu tinggi. BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. 2. oleh karena itu harus dikelola secara prudent. Oleh karenanya Pelaksanaan Jaminan Kesehatan membutuhkan sistem rujukan berjenjang dan . Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.24 BAB III PENUTUP 3. Tingkat okupansi tempat tidur yang tinggi di RS Rujukan Provinsi bukan indikator kesuksesan suatu Jaminan Kesehatan. efisien dengan tetap mengacu pada budaya pengelolaan korporasi.

25 terstruktur maka setiap Provinsi harap segera menyusun peraturan terkait sistem rujukan. .

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kemenkes RI : Surabaya. Buku pegangan sosialisasi Jaminan kesehatan nasional (JKN) Dalam sistem jaminan sosial nasional : Jakarta. PT. Sri Endang. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan.26 DAFTAR PUSTAKA Chriswardani S. Putri p. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. ASKES : Jawa Tengah.Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 2013. Ali Gufron. Kementerian kesehatan republik indonesia. Undang. Rencana Kebijakan Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional. novana. 2012. BPJS Kesehatan. Kesiapan sumber daya manusia dlm mewujudkan universal health coverage di indonesia : Jogjakarta. Mukti. Keputusan menteri kesehatan republik indonesia Nomor 326 Tahun 2013 Tentang Penyiapan kegiatan penyelenggaraan Jaminan kesehatan nasional. Direktorat bina upaya kesehatan dasar Ditjen bina upaya kesehatan Kemenkes RI : Jakarta. 2013. Tridarwati. . Undang. Konsep pelayanan primer di era JKN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful