P. 1
BPJS

BPJS

|Views: 195|Likes:
Published by Andi Sanapati
Jaminan Sosial
Jaminan Sosial

More info:

Published by: Andi Sanapati on Dec 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/04/2015

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hak tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya merupakan hak asasi manusia dan diakui oleh segenap bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Pengakuan itu tercantum dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Azasi Manusia. Pasal 25 Ayat (1) Deklarasi menyatakan, setiap orang berhak atas derajat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya. Berdasarkan Deklarasi tersebut, pasca Perang Dunia II beberapa negara mengambil inisiatif untuk mengembangkan jaminan sosial, antara lain jaminan kesehatan bagi semua penduduk (Universal Health Coverage). Dalam sidang ke58 tahun 2005 di Jenewa, World Health Assembly (WHA) menggaris bawahi perlunya pengembangan sistem pembiayaan kesehatan yang menjamin tersedianya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan memberikan perlindungan kepada mereka terhadap risiko keuangan. WHA ke58 mengeluarkan resolusi yang menyatakan, pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan melalui Universal Health Coverage diselenggarakan melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial. WHA juga menyarankan kepada WHO agar mendorong negara-negara anggota untuk mengevaluasi dampak perubahan sistem pembiayaan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan ketika mereka bergerak menuju Universal Health Coverage. Di Indonesia, falsafah dan dasar negara Pancasila terutama sila ke-5 juga mengakui hak asasi warga atas kesehatan. Hak ini juga termaktub dalam UUD 45

2

pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU No. 23/1992 yang kemudian diganti dengan UU 36/2009 tentang Kesehatan. Dalam UU 36/2009 ditegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Sebaliknya, setiap orang juga mempunyai kewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial. Untuk mewujudkan komitmen global dan konstitusi di atas, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan perorangan. Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) yang melayani antara lain pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun demikian, skema-skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi- bagi. Biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali. Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan Undang-Undang No.40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS, yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014. Secara operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101

merupakan kompromi optimal. Nasionalisme. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. Atau. Kita harus belajar konsekuen dan berani menjalankan sebuah keputusan UU. Boleh saja kita tidak setuju dengan isi suatu UU dan tidak ada satupun UU yang isinya 100% disetujui dan didukung oleh seluruh rakyat. Apa yang dirumuskan dalam UU SJSN. dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan Kesehatan Nasional). serta pertimbangan kondisi geografis serta ekonomis yang berbeda-beda telah pula dibahas mendalam. apabila UU tersebut sudah divonis tidak mengakomodir kepentingan kita.3 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI). Berbagai pertimbangan tentang cost-benefit. Inilah hakikat negara demokrasi. Sangatlah tidak layak dan tidak matang. . Perdebatannya berlangsung sangat alot. jika seseorang atau sekelompok orang yakin bahwa UU SJSN itu merugikan kepentingan lebih banyak rakyat. maka ia atau mereka dapat mengajukan alternatif ke DPR untuk merevisi atau membuat UU baru. keadilan antar daerah dan antar golongan pekerjaan. Konsekuensi logis dari sebuah negara demokrasi adalah bahwa rumusan suatu UU yang telah diundangkan harus dilaksanakan. UU no 40/04. baik yang tadinya pro maupun yang tadinya kontra terhadap suatu isi atau pengaturan. sebelum UU itu dilaksanakan. wakil rakyat. Peraturan Presiden No. Sesungguhnya keinginan untuk mendirikan BPJS baru telah dibahas dalam proses penyusunan UU SJSN. maka rumusan suatu UU mengikat semua pihak. meskipun ada aspirasi atau keinginan kita yang berbeda dengan yang dirumuskan UU SJSN. Setelah disetujui DPR.

sakit sedikit jadi miskin. Hal ini tentu menyebabkan kesukaran ekonomi bagi diri sendiri maupun keluarga. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19 Oktober 2004. kecacatan. bahwa kesehatan tidak bisa digantikan dengan uang. diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah 270 juta orang. Apabila tidak aday ang menjamin hal ini maka suatu saat hal ini mungkin dapat menjadi masalah yang besar. dan lain lain. apalagi tergolong penyakit berat yang menuntut stabilisasi yang rutin seperti hemodialisa atau biaya operasi yang sangat tinggi.1 Sejarah Singkat BPJS Adanya pengeluaran yang tidak terduga apabila seseorang terkena penyakit. 70 juta diantaranya diduga berumur lebih dari 60 tahun. banyak pihak berharap tudingan Indonesia sebagai ”negara tanpa jaminan sosial” akan segera luntur dan menjawab permasalahan di atas. Hal ini berpengaruh pada penggunaan pendapatan seseorang dari pemenuhan kebutuhan hidup pada umumnya menjadi biaya perawatan dirumah sakit. Suatu peristiwa yang tidak kita harapkan namun mungkin saja terjadi kapan saja dimana kecelakaan dapat menyebabkan merosotnya kesehatan. Belum lagi menyiapkan diri pada saat jumlah penduduk lanjut usia dimasa datang semakin bertambah. Dapat disimpulkan. Sehingga munculah istilah “SADIKIN”. obat-obatan. Begitu pula dengan resiko kecelakaan dan kematian. ketika Presiden Megawati mensahkan UU No. operasi. baik sementara maupun permanen. Lansia ini sendiri rentan mengalami berbagai penyakit degenerative yang akhirnya dapat menurunkan produktivitas dan berbagai dampak lainnya.4 BAB II PEMBAHASAN 2. Dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2030 terdapat 25% penduduk Indonesia adalah lansia. Seperti menemukan air di gurun. Pada tahun Pada 2030. dan tidak ada orang kaya dalam menghadapi penyakit karena dalam sekejap kekayaan yang dimiliki seseorang dapat hilang untuk mengobati penyakit yang dideritanya. ataupun kematian karenanya kita kehilangan pendapatan. .

No. 10 April 2002). Pasal 28H ayat (1). 7 Tahun 2001. tanggal 11 Oktober 2000.Kepseswapres. tentang Pembentukan Tim Penyempurnaan Sistem Jaminan Sosial Nasional). menyatakan perlu segera dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera. Pernyataan Presiden tersebut direalisasikan melalui upaya penyusunan konsep tentang Undang-Undang Jaminan Sosial (UU JS) oleh Kantor Menko Kesra (Kep. serta Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) mengamanatkan untuk mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional. ayat (2) dan ayat (3). Pada tahun 2001. tanggal 3 Agustus 2000. Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri mengarahkan Sekretaris Wakil Presiden RI membentuk Kelompok Kerja Sistem Jaminan Sosial Nasional (Pokja SJSN . Pasal 20. Agoes Achir dan pada Desember 2001 telah menghasilkan naskah awal dari Naskah Akademik SJSN (NA SJSN). 20 Tahun 2002. 11 Juli 2001) yang diketuai Prof.5 Munculnya UU SJSN ini juga dipicu oleh UUD Tahun 1945 dan perubahannya Tahun 2002 dalam Pasal 5 ayat (1). X/ MPR-RI Tahun 2001 butir 5. 8 Tahun 2001. .Keppres No. Hingga disahkan dan diundangkan UU SJSN telah melalui proses yang panjang. Dalam Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Lembaga Tinggi Negara pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001 (Ketetapan MPR RI No. No. 21 Maret 2001 jo.2) dihasilkan Putusan Pembahasan MPR RI yang menugaskan Presiden RI “Membentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu”. 30/DPA/2000. Menko Kesra dan Taskin No. dimana Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tentang Pengembangan Konsep SJSN. Sejalan dengan pernyataan Presiden.E. dari tahun 2000 hingga tanggal 19 Oktober 2004. Dr. Yaumil C. DPA RI melalui Pertimbangan DPA RI No. Diawali dengan Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2000. 25KEP/MENKO/KESRA/VIII/2000. Kepseswapres. Kemudian pada perkembangannya Presiden RI yang pada saat itu Megawati Soekarnoputri meningkatkan status Pokja SJSN menjadi Tim Sistem Jaminan Sosial Nasional (Tim SJSN .

MK menganulir 4 ayat dalam Pasal 5 yang mengatur penetapan 4 BUMN tersebut dan memberi peluang bagi daerah untuk membentuk BPJS Daerah (BPJSD). Konsep pertama RUU SJSN. Pemerintah menyerahkan RUU SJSN kepada DPR RI pada tanggal 26 Januari 2004. . 4 bulan berselang UU SJSN kembali terusik. NA SJSN selanjutnya dituangkan dalam RUU SJSN. yang diserahkan oleh Tim SJSN kepada Pemerintah. telah mengalami 52 (lima puluh dua) kali perubahan dan penyempurnaan. Konsep RUU SJSN hingga diterbitkan menjadi UU SJSN telah mengalami perubahan dan penyempurnaan sebanyak 56 (lima puluh enam) kali. Selama pembahasan Tim Pemerintah dengan Pansus RUU SJSN DPR RI hingga diterbitkannya UU SJSN. 7 Tahun 2001. salah satu TIM Penyusun UU SJSN pada saat itu. pada 31 Agustus 2005. Penetapan 4 BUMN sebagai BPJS dipahami sebagai monopoli dan menutup kesempatan daerah untuk menyelenggarakan jaminan sosial. kebijakan ASKESKIN mengantar beberapa daerah ke MK untuk menguji UU SJSN terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Pada bulan Januari 2005. hingga Konsep terakhir RUU SJSN. Setelah mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga 8 (delapan) kali.” ujar Sulastomo. Kemudian setelah dilakukan reformulasi beberapa pasal pada Konsep terakhir RUU SJSN tersebut. 40 Tahun 2004 tentang SJSN pada tanggal 19 Oktober Tahun 2004.6 “NA SJSN merupakan langkah awal dirintisnya penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) SJSN. 21 Maret 2001 . 14 Januari 2004. 9 Februari 2003. Maka dalam perjalanannya. UU SJSN tersebut secara resmi diterbitkan menjadi UU No. 4 bulan kemudian. Lanjutan Implementasi UU SJSN hingga ke UU BPJS Setelah resmi menjadi undang-undang. dihasilkan sebuah naskah terakhir NA SJSN pada tanggal 26 Januari 2004. Dengan demikian proses penyusunan UU SJSN memakan waktu 3 (tiga) tahun 7 (tujuh) bulan dan 17 (tujuh belas) hari sejak Kepseswapres No. RUU SJSN telah mengalami 3 (tiga) kali perubahan.

namun keberadaan BPJS mutlak ada sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem . Perdebatan konsep BPJS kembali mencuat ke permukaan sejak DPR mengajukan RUU BPJS inisiatif DPR kepada Pemerintah pada bulan Juli 2010. penyelenggaraan jaminan sosial Indonesia gagal menaati semua ketentuan UU SJSN yaitu 5 tahun. hingga proses formal lainnya. Setelah melalui proses panjang yang melelahkan mulai dari puluhan kali rapat di mana setidaknya dilakukan tak kurang dari 50 kali pertemuan di tingkat Pansus. Bahkan area perdebatan bertambah. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) pun akhirnya baru terbentuk. ketika DPR RI sepakat dan kemudian mengesahkannya menjadi Undang-Undang. Pemerintah dan DPR tengah berseteru menentukan siapa BPJS dan berapa jumlah BPJS. dan PT Askes. yang notabene keduanya adalah Pembantu Presiden. RUU BPJS tidak selesai dirumuskan hingga tenggat peralihan UU SJSN pada 19 Oktober 2009 terlewati. Panja. selain bentuk badan hukum. Tim Kerja Menko Kesra dan Tim Kerja Meneg BUMN. Hasilnya. Sementara di kalangan operator hal serupa dilakukan di lingkup empat BUMN penyelenggara program jaminan sosial meliputi PT Jamsostek. Tahun berganti. PT Taspen.7 Putusan MK semakin memperumit penyelenggaraan jaminan sosial di masa transisi. DPR mengambil alih perancangan RUU BPJS pada tahun 2010. Seluruh perhatian tercurah pada RUU BPJS sehingga perintah dari 21 pasal yang mendelegasikan peraturan pelaksanaan terabaikan. Pembahasan RUU BPJS berjalan alot. tidak mencapai titik temu. Asabri. Pembangunan kelembagaan SJSN yang semula diatur dalam satu paket peraturan dalam UU SJSN. Meski bukan sesuatu yang mudah. Pro dan kontra keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) akhirnya berakhir pada 29 Oktober 2011. Dikotomi BPJS multi dan BPJS tunggal tengah diperdebatkan dengan sengit. kini harus diatur dengan UU BPJS. Pemerintah secara resmi membentuk DJSN lewat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 110 tahun 2008 tentang pengangkatan anggota DJSN tertanggal 24 September 2008.

karena itu harus dilaksanakan. Sebuah kajian menyebutkan bahwa saat ini. sering menjadi kendala bagi penerimaan struktur. yang bahkan semestinya telah dapat dioperasionalkan sejak 9 Oktober 2009 dua tahun lampau. Pada saat mulai berlakunya UU BPJS. Kemudian Pasal 62 ayat (1) UU BPJS menentukan PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014 BPJS Ketenagakerjaan dan menurut Pasal 64 UU BPJS mulai beroperasi paling lambat tanggal 1 Juli 2015. Segudang pekerjaan rumah menunggu untuk diselesaikan demi terpenuhinya hak rakyat atas jaminan sosial. Perubahan tersebut mencakup struktur.8 Jaminan Sosial Nasional (SJSN). mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang lama. Pasca Sah UU BPJS Perubahan dari 4 PT (Persero) yang selama ini menyelenggarakan program jaminan sosial menjadi 2 BPJS sudah menjadi perintah Undang-Undang. jalan terjal nan berliku menanti di depan. mekanisme kerja dan juga kultur kelembagaan. Mengubah struktur. berdasarkan data yang dihimpun oleh DPR RI dari keempat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berstatus badan hukumnya adalah Persero tersebut. Perjalanan tak selesai sampai disahkannya BPJS menjadi UU formal. hanya terdapat sekitar 50 juta orang di Indonesia ini dilayani oleh Jaminan Sosial yang diselenggarakan oleh 4 BUMN penyelenggara jaminan sosial. . Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) ditugasi oleh UU BPJS untuk menyiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk berjalannya proses tranformasi atau perubahan dari Persero menjadi BPJS dengan status badan hukum publik. mekanisme kerja dan kultur kelembagaan yang baru. yang sudah mengakar dan dirasakan nyaman. Perubahan yang multi dimensi tersebut harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar berjalan sesuai dengan ketentuan UU BPJS. Pasal 60 ayat (1) UU BPJS menentukan BPJS Kesehatan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. meskipun hal tersebut ditentukan dalam Undang-Undang.

. Tahun 2012 merupakan tahun untuk mempersiapkan perubahan yang ditentukan dalam UU BPJS. 2. BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. Perubahan yang dipersiapkan dengan cermat.2 Pengertian Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial (UU No 24 Tahun 2011). BUMN yang dipercaya mengemban tugas menyiapkan perubahan tersebut. Undang. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. 2. dan bagaimana harus bertindak pada waktu yang tepat untuk membuat perubahan berjalan tertib efektif. Undang. Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. efisien dan lancar sesuai dengan rencana. Sebagai professional tentu mereka paham bagaimana caranya mengatasi berbagai persoalan yang timbul dalam proses perubahan tersebut. fokus pada hasil dan berorientasi pada proses implementasi Peraturan Perundangundangan secara taat asas dan didukung oleh pemangku kepentingan.Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.9 Untuk itu diperlukan komitmen yang kuat dari kedua BUMN ini.3 Dasar Hukum 1.Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Kesehatan. akan membuat perubahan BPJS memberi harapan yang lebih baik untuk pemenuhan hak konstitusional setiap orang atas jaminan sosial. 2.

2. . 2. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.10 3. yakni berupa pelayanan kesehatan dan Manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans.4. 3. Menyampaikan keluhan/pengaduan.5 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional Ada 2 (dua) manfaat Jaminan Kesehatan. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. 2. pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku . Melaporkan perubahan data peserta. kematian.1 Hak Peserta 1. 2. perceraian. kelahiran. 4. 4. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak. hilang atau dimanfaatkan oleh orang yang tidak berhak.4 Hak dan Kewajiban Peserta BPJS Kesehatan 2. kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke Kantor BPJS Kesehatan. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.2 Kewajiban Peserta 1. dan 4. 3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.4. baik karena pernikahan.

meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG). pengobatan alternatif e. Sedangkan yang tidak dijamin meliputi: a. b. Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif namun masih ada yang dibatasi. kuratif dan rehabilitatif) tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya premi bagi peserta. kontrasepsi dasar. General check up. kursi roda dan korset). Penyuluhan kesehatan perorangan. Pelayanan diluar Faskes Yg bekerjasama dng BPJS c. meliputi konseling. yaitu kaca mata. Keluarga berencana. Difteri Pertusis Tetanus dan HepatitisB (DPTHB). c. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Polio. Promotif dan preventif yang diberikan dalam konteks upaya kesehatan perorangan (personal care). Imunisasi dasar. Skrining kesehatan. dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana. Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan: a. alat bantu dengar (hearing aid). Pengobatan untuk mendapatkan keturunan. alat bantu gerak (tongkat penyangga.11 Paket manfaat yang diterima dalam program JKN ini adalah komprehensive sesuai kebutuhan medis. d. diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu. promotif. dan Campak. meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat. Pelayanan bertujuan kosmetik d. Pengobatan Impotensi . Tidak sesuai prosedur b. Dengan demikian pelayanan yang diberikan bersifat paripurna (preventif. vasektomi.

2.5 Pembiayaan 2. Pelayanan Kesehatan Pada Saat Bencana g. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Tarif Indonesian . 3.5. Perpres No. . 2.2 Pembayar Iuran 1. Tarif Non Kapitasi adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan. Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah. dan kebutuhan dasar hidup yang layak. iuran dibayar oleh Pemerintah.Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INACBG’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan). Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan perkembangan sosial. ekonomi. dan/atau Pemerintah untuk program Jaminan Kesehatan (pasal 16. Pasien Bunuh Diri /Penyakit Yg Timbul Akibat Kesengajaan Untuk Menyiksa Diri Sendiri/ Bunuh Diri/Narkoba 2. Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan. Pemberi Kerja.1 Pengertian Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh Peserta.12 f. Bagi Peserta PBI. 4.5. Iurannya dibayar oleh Pemberi Kerja dan Pekerja.

dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Iuran premi kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pekerja informal. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan berikutnya.5. BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Pembayaran iuran JKN dapat dilakukan diawal. Rp42. Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja wajib membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. . Untuk standar tarif pelayanan kesehatan pada Fasilitas kesehatan tingkat pertama ada di lampiran 1.500 per bulan untuk layanan rawat inap kelas III. Setiap Pemberi Kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya. BPJS Kesehatan memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Apabila tanggal 10 (sepuluh) jatuh pada hari libur. Besaran iuran bagi pekerja bukan penerima upah itu adalah Rp25. menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja.500 untuk kelas II dan Rp59.500 untuk kelas I. Dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran.3 Pembayaran Iuran Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).13 2.

setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dapat dipindahkan. atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan. badan hukum. pengusaha. maka fasilitas kesehatan tersebut wajib merujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. atau imbalan dalam bentuk lainnya. BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s. yang telah membayar Iuran.4 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi. Mengingat kondisi geografis Indonesia. termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia. jika di suatu daerah tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan Kapitasi. Peserta tersebut meliputi: Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan bukan PBI JKN dengan rincian sebagai berikut: . 2. upah. upah.6 Kepesertaan Beberapa pengertian: Peserta adalah setiap orang. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji.14 2. BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang lebih berhasil guna. atau imbalan dalam bentuk lain. BPJS Kesehatan akan membayar kepada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerjasama setelah memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang berlaku di wilayah tersebut. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan. tidak semua Fasilitas Kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja. Semua Fasilitas Kesehatan meskipun tidak menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan wajib melayani pasien dalam keadaan gawat darurat. Maka.5.

Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Swasta. c. Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri. 3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas: a. Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan b. Anggota TNI. b. e. Penerima Pensiun. e.15 a. b. . Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang menerima Upah. f. Veteran. yaitu: a. yaitu: a. dan f. Peserta PBI Jaminan Kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu. d. c. c. Pejabat Negara. 2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya. Pekerja sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b. Anggota Polri. d. Pemberi Kerja. b. Investor. Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah. Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e yang mampu membayar Iuran. Perintis Kemerdekaan. termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan. Peserta bukan PBI adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas: 1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya. dan g.

. b. Anak kandung. Penerima Pensiun selain huruf a. Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun. d. 5) WNI di Luar Negeri Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar negeri diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tersendiri. Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi: a. Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun. dengan kriteria: tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri. Istri atau suami yang sah dari Peserta.16 4) Penerima pensiun terdiri atas: a. f. huruf b. c. Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun. Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. dan e. c. dan huruf c. duda. 7) Lokasi pendaftaran Pendaftaran Peserta dilakukan di kantor BPJS terdekat/setempat. Sedangkan Peserta bukan PBI JKN dapat juga mengikutsertakan anggota keluarga yang lain. dan b. anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari Peserta. 6) Syarat pendaftaran Syarat pendaftaran akan diatur kemudian dalam peraturan BPJS. Janda. atau anak yatim piatu dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang mendapat hak pensiun. dan belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25 (duapuluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal. 8) Prosedur pendaftaran Peserta a.

serta peserta jaminan pemeliharaan kesehatan Jamsostek dan anggota keluarganya. Ketentuan lebih lanjut terhadap hal tersebut diatas. Anggota TNI/PNS di lingkungan Kementerian Pertahanan dan anggota keluarganya. membayar iuran dan b. Status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran atau meninggal dunia. Selanjutnya tahap kedua meliputi seluruh penduduk yang . 11) Pentahapan kepesertaan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap. kepesertaannya paling sedikit meliputi: PBI Jaminan Kesehatan. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah domisili dan atau pindah kerja. Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berkewajiban untuk: a. c. 10) Masa berlaku kepesertaan a. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama yang bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta. yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014. peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) beserta anggota keluarganya.17 b. Pemberi Kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat mendaftarkan diri sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan. b. c. 9) Hak dan kewajiban Peserta Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak mendapatkan a) identitas Peserta dan b) manfaat pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Anggota Polri/PNS di lingkungan Polri dan anggota keluarganya. akan diatur oleh Peraturan BPJS.

BPJS Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh akuntan publik dikirimkan kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya. Misalnya: Peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya. Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang diberikan. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi. dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan. Dalam JKN. 2. Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya. Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI. yang disebut dengan iur biaya (additional charge). paling lambat tanggal 31 Juli tahun berikutnya. .7 Pertanggung Jawaban BPJS BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran. atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan. Laporan tersebut dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional. Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.18 belum masuk sebagai Peserta BPJS Kesehatan paling lambat pada tanggal 1 Januari 2019.

8 Pelayanan 1. Bila Peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan. 4. 2. kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis. 3. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan baik fasilitas kesehatan milik Pemerintah. . pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan Fasilitas Kesehatan tertentu. Penggantian uang tunai hanya digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan. Kompensasi Pelayanan Bila di suatu daerah belum tersedia Fasilitas Kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah Peserta. Prosedur Pelayanan Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama. yang dapat berupa: penggantian uang tunai. yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta akomodasi dan ambulans (manfaat non medis). Jenis Pelayanan Ada 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh Peserta JKN. BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi. dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing.19 2. Pemerintah Daerah. maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh Fasilitas Kesehatan tingkat pertama.

memberikan saran. 1 (satu) orang unsur Tokoh Masyarakat.1 Fungsi. 2) Dewan Pengawas bertugas untuk: a.9. 2 (dua) orang unsur Pemberi Kerja. Dewan Pengawas terdiri atas 7 (tujuh) orang anggota: 2 (dua) orang unsur Pemerintah. melakukan pengawasan atas kebijakan pengelolaan BPJS dan kinerja Direksi. Direksi terdiri atas paling sedikit 5 (lima) orang anggota yang berasal dari unsur profesional. dan Wewenang Dewan Pengawas Dalam melaksanakan pekerjaannya. . menyampaikan laporan pengawasan penyelenggaraan Jaminan Sosial sebagai bagian dari laporan BPJS kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN. tugas. Direksi sebagaimana dimaksud diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Dewan Pengawas tersebut diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.20 2. 2(dua) orang unsur Pekerja. dan pertimbangan kepada Direksi mengenai kebijakan dan pelaksanaan pengelolaan BPJS. melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan Dana Jaminan Sosial oleh Direksi. dan wewenang pelaksanaan tugas BPJS dengan uraian sebagai berikut: 1) Fungsi Dewan Pengawas adalah melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas BPJS. 2. BPJS terdiri atas Dewan Pengawas dan Direksi.9 Pengorganisasian 2. Dewan Pengawas mempunyai fungsi. Tugas. b.8. nasihat.1. c. dan d.1 Lembaga Penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) JKN diselenggarakan oleh BPJS yang merupakan badan hukum publik milik Negara yang bersifat non profit dan bertanggung jawab kepada Presiden.

mengakses data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS. b. mengusulkan kepada Presiden penghasilan bagi Dewan Pengawas dan Direksi. pengawasan. Tugas. tata kerja organisasi. 2. pelaksanaan. d. memindahkan. dan sistem kepegawaian. tugas. dan e.2 Fungsi.21 3) Dewan Pengawas berwenang untuk: a. menetapkan struktur organisasi beserta tugas pokok dan fungsi. dan Wewenang Direksi Dalam menyelenggarakan JKN.1. memberikan saran dan rekomendasi kepada Presiden mengenai kinerja Direksi. mendapatkan dan/atau meminta laporan dari Direksi. Direksi berfungsi melaksanakan penyelenggaraan kegiatan operasional BPJS yang menjamin Peserta untuk mendapatkan Manfaat sesuai dengan haknya. melaksanakan wewenang BPJS. menetapkan rencana kerja anggaran tahunan BPJS. . 3) Direksi berwenang untuk: a. dan menjamin tersedianya fasilitas dan akses bagi Dewan Pengawas untuk melaksanakan fungsinya. melakukan penelaahan terhadap data dan informasi mengenai penyelenggaraan BPJS. Direksi BPJS mempunyai fungsi. 2. c. mewakili BPJS di dalam dan di luar pengadilan. dan memberhentikan pegawai BPJS serta menetapkan penghasilan pegawai BPJS. c. Direksi bertugas untuk: melaksanakan pengelolaan BPJS yang meliputi perencanaan.8. b. dan evaluasi. d. menyelenggarakan manajemen kepegawaian BPJS termasuk mengangkat. dan wewenang sebagai berikut: 1.

000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.2 Hubungan Antar Lembaga BPJS melakukan kerja sama dengan lembaga pemerintah. dan h.000.000. tugas. Persyaratan untuk menjadi Dewan Pengawas dan Dewan Direksi diatur dalam UU Nomor 24 tahun 2011. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab Menteri Kesehatan yang dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan Dewan Jaminan Kesehatan Nasional. melakukan pemindahtanganan (seratus aset miliar tetap rupiah) BPJS lebih dari dengan Rp100.000.000 (seratus miliar rupiah) dengan persetujuan Dewan Rp500. f. dan wewenang Direksi diatur dengan Peraturan Direksi.000.9.22 e. sampai pemindahtanganan aset tetap BPJS paling banyak Rp100. lembaga lain di dalam negeri atau di luar negeri dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan program Jaminan Sosial (JKN). efisiensi.3 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional merupakan bagian dari sistem kendali mutu dan biaya.000.000. melakukan pemindahtanganan aset tetap BPJS lebih dari Rp500. Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan fungsi. dan efektivitas.000. melakukan Pengawas. 2. menetapkan ketentuan dan tata cara pengadaan barang dan jasa dalam rangka penyelenggaraan tugas BPJS dengan memperhatikan prinsip transparansi.9.000 Presiden. g.000 (lima ratus miliar rupiah) dengan persetujuan . 2. akuntabilitas.000.

23 2.9. dan b. dengan jaringannya di seluruh kabupaten/kota.4 Pengawasan Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara eksternal dan internal. Pengawasan internal oleh organisasi BPJS meliputi: a. Satuan pengawas internal.9.5 Tempat dan kedudukan BPJS Kantor Pusat BPJS berada di ibu kota Negara. dan b. 2. Dewan pengawas. Lembaga pengawas independen. . Sedangkan Pengawasan eksternal dilakukan oleh: a. DJSN.

2 Saran 1. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan. 3. BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. efisien dengan tetap mengacu pada budaya pengelolaan korporasi. 3. Hal ini berdampak pada beban fiskal daerah yang terlalu tinggi. 2. Sustainabilitas program atau bahwa program jaminan sosial harus berkelanjutan selama negara ini ada. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Tingkat okupansi tempat tidur yang tinggi di RS Rujukan Provinsi bukan indikator kesuksesan suatu Jaminan Kesehatan. Oleh karenanya Pelaksanaan Jaminan Kesehatan membutuhkan sistem rujukan berjenjang dan .1 Kesimpulan 1. BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. oleh karena itu harus dikelola secara prudent. Kenyataannya 80% penyakit yang ditangani rumah sakit rujukan di Provinsi adalah penyakit yang seharusnya ditangani di Puskesmas.24 BAB III PENUTUP 3. BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. 2. BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi.

25 terstruktur maka setiap Provinsi harap segera menyusun peraturan terkait sistem rujukan. .

Ali Gufron. Konsep pelayanan primer di era JKN. Rencana Kebijakan Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional. ASKES : Jawa Tengah. Kementerian kesehatan republik indonesia. Undang. Mukti. 2013. Keputusan menteri kesehatan republik indonesia Nomor 326 Tahun 2013 Tentang Penyiapan kegiatan penyelenggaraan Jaminan kesehatan nasional. Kesiapan sumber daya manusia dlm mewujudkan universal health coverage di indonesia : Jogjakarta.26 DAFTAR PUSTAKA Chriswardani S. Putri p. 2012. . Buku pegangan sosialisasi Jaminan kesehatan nasional (JKN) Dalam sistem jaminan sosial nasional : Jakarta. BPJS Kesehatan.Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang. Sri Endang. Direktorat bina upaya kesehatan dasar Ditjen bina upaya kesehatan Kemenkes RI : Jakarta. Kemenkes RI : Surabaya. novana. 2013.Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). PT. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan. Tridarwati. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->