P. 1
Penentuan Harga Pokok Produksi

Penentuan Harga Pokok Produksi

|Views: 16,558|Likes:
Published by ucok&utet

More info:

Published by: ucok&utet on Sep 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2013

pdf

text

original

System

a.Penentuan Harga Pokok Produksi dengan Sistem Akuntansi

Tradisional.

Penentuan harga pokok produksi dengan menjumlahkan biaya-

biaya produksi, yaitu: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung,

dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan tenaga kerja

langsung dibebankan ke produk dengan menggunakan penulusuran

langsung atau penelusuran penggerak yang sangat akurat, sedangkan

biaya overhead pabrik dibebankan dengan menggunakan cost driver

berdasarkan unit. Penggunaan biaya penggerak berdasarkan unit untuk

membebankan biaya overhead ke produk mengasumsikan bahwa

overhead yang dikonsumsi produk berkorelasi tinggi dengan jumlah

unit yang diproduksi. Penggerak aktivitas berdasarkan unit

membebankan overhead kepada produk melalui penggunaan tarif

secara menyeluruh atau departemental.

Dep. Kelompok B

Produk

Produk

Pembebanan Biaya

Pembebanan Biaya

Dep. Kelompok A

Pembebanan Biaya

Produk

Pembebanan Biaya
Biaya Overhead
Kelompok pabrik secara menyeluruh

Gambar 3: Pembebanan Overhead Pabrik Tarif Menyeluruh
Sumber: Hansen and Mowen (1999)

Gambar 4: Pembebanan Overhead Pabrik Tarif Departemental
Sumber: Hansen and Mowen (1999)

Untuk tarif menyeluruh tahap pertama, biaya overhead

diakumulasikan dalam satu kelompok besar pabrik secara menyeluruh.

Biaya overhead dibebankan kepada kelompok dengan menjumlahkan

semua biaya overhead yang diharapkan terjadi di pabrik selama

setahun. Tarif pabrik menyeluruh dihitung dengan menggunakan satu

penggerak (driver) tingkat unit, yang biasanya jam tenaga kerja

langsung. Tahap kedua, biaya overhead dibebankan ke produk dengan

mengalikan tarif dengan total aktivitas aktual yang digunakan setiap

produk.

Untuk tarif departemen, tahap pertama, biaya overhead pabrik

menyeluruh dibagi-bagi dan dibebankan ke masing-masing

departemen produksi, menciptakan kelompok biaya overhead

departemental. Biaya overhead dibebankan dengan menggunakan

penelusuran langsung, penelusuran penggerak, dan alokasi. Tahap

kedua, overhead dibebankan ke produk dengan mengalikan tarif

departemental dengan jumlah penggerak yang digunakan departemen

yang bersangkutan. Total overhead yang dibebankan yang dibebankan

ke produk adalah jumlah nilai yang diterima setiap departemen. Dasar

pemikiran untuk tarif departemental adalah "Beberapa departemen

produksi mungkin lebih, "intensif overhead" dibanding departemen

produk lainnya". Oleh sebab itu, produk yang menghabiskan waktu

lebih banyak pada departemen dengan intensif overhead akan

dibebankan biaya overhead yang lebih besar dari pada yang

menghabiskan waktu lebih sedikit.

Walau dengan demikian perhitungan harga pokok produksi

dalam sistem tradisional tidak dapat dipercaya karena:

1.Pembebanan biaya overhead rnenjadi sumber masalah

Dalam sistem tradisional masalahnya adalah pembebanan biaya

overhead pabrik ke produk.

2.Pembebanan biaya overhead untuk produk tunggal

Biaya overhead untuk produk tunggal dapat ditelusuri dengan

mudah dibanding dengan biaya overhead untuk produk lebih dari

satu macam. Biaya overhead per unit adalah sebesar total biaya

overhead dibagi jumlah produk yang dihasilkan.

3.Pembebanan biaya overhead untuk produk ganda

Masalah yang timbul adalah mengidentifikasi jumlah biaya

overhead pada setiap produk. Identifikasi biaya overhead dapat

dilakukan dengan mencari penyebab biaya atau tolak ukur

aktivitas yang menyebabkan biaya terjadi.

b.Penyebab Kegagalan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional

Kegagalan sistem akuntansi tradisional dalam penentuan harga

pokok yang aktual disebabkan oleh:

1)Kurang mampu mengenali perilaku biaya

Untuk mengenali perilaku biaya, akuntansi tradisional

memisahkan biaya tidak langsung menjadi biaya tetap dan biaya

variabel, sesuai dengan perubahan volurne produksi.

2)Terpengaruh pnnsip-prinsip pelaporan eksternal

Prinsip yang berpengaruh dalam hal ini adalah konservatisme,

prinsip ini merupakan ketidak konsisitenan dalarn penentuan

harga pokok produksi yang akurat karena:

a)Ada syarat penggunaan data yang mudah diverifikasi.

b)Mendorong perlakuan biaya terhadap biaya-biaya penelitian

dan pengembartgan serta biaya pemasaran sebagai biaya

produk.

c.Penentuan Harga Pokok Produksi Berbasis ABC System

Dalam sistem penentuan harga pokok produksi yang berbasis

aktivitas merupakan prinsip-prinsip akuntansi untuk menghasilkan

informasi harga pokok produksi yang akurat. Supriyono (1999: 628)

menjelaskan tentang sistem penentuan harga Pokok produksi berbasis

aktivitas sebagai berikut:

1)Akuntansi mengkonsumsi sumber daya menyebabkan
biaya
Produk menyerap biaya-biaya yang diperlukan untuk mendesain,
merekayasa, memproduksi, menjual, rnengantarkan, dan melayani
2)Biaya-biaya ditelusuri ke produk melalui aktivitas
Aktivitas yang digunakan dalam membuat produk ditelusuri
berdasar pemakaiannya, sehingga dapat ditentukan besar konsumsi
produk atas aktivitas dan biaya produk juga dapat ditentukan
3)ABC System berlawanan dengan penentuan harga pokok
tradisional yang mengkonsumsi bahwa produk
menyebabkan biaya tidak langsung dengan
mengkonsumsi pemicu biaya (misalkan jam tenaga kerja
langsung) yang digunakan untuk pendistribusian biaya-
biaya tidak langsung ke produk
4)ABC System mampu membatasi distorsi pada biaya
produk yang timbul akibat penggunaan perataan-
perataan yang terlalu menyeluruh yang digunakan untuk
mendistribusikan biaya-biaya tidak langsung ke
masing-masing produk.

Tahap-tahap penentuan harga pokok produksi berbasis ABC

System:

a)Activity Based Process Costing. Pada proses ini biaya

digolongkan menjadi 2 kelompok besar.

1.Biaya Langsung Produk

Merupakan biaya yang dapat dibebankan secara langsung ke

produk. Biaya ini dibebankan ke kos produk melalui

aktivitas yang dihasilkan produk yang bersangkutan.

2.Biaya Tidak Langsung Produk

Biaya yang tidak dapat dibebankan secara langsung ke

produk. Biaya ini digolongkan menjadi (1) Biaya Langsung

Aktivitas, biaya yang dapat langsung dibebankan ke aktivitas

melalui direct tracing. (2) Biaya Tidak Langsung Aktivitas,

biasanya biaya ini dibebankan dengan driver tracing atau

allocation.

Untuk kepentingan activitv-based process costing, Recource

driver digunakan untuk mengubah penggolongan biaya

berdasarkan cost driver yang dicatat dalam general ledger ke

dalam golongan biaya berbasis aktivitas. Pembebanan biaya ke

aktivitas dengan menggunakan resource driver tracing

memerlukan perhitungan resource costing rate. Menurut Mulyadi

(2003: 55) Resource costing rate dihitung dengan rumus:

Total cost j enis biaya tertentu
Resource driver quantity yang bersangkutan

Resource driver kemudian digunakan untuk membebankan

konsumsi resource kedalam aktivitas yang mengkonsumsi

resource yang bersangkutan.

b)Activity Based Object Costing

Setelah biaya aktivitas disajikan, kemudian dilakukan

proses pengolahan data biaya melalui Activity Based Object

Costing.

Menurut Mulyadi (2003: 83) dalam Activity Based

Object Costing memiliki tiga tahap penting yaitu:

a.Pembebanan Cost Pool

Activity cost pool adalah akun yang digunakan untuk

menggabungkan biaya dua atau lebih aktivitas yang memiliki

activity driver yang sama untuk dapat dibebankan secara

bersama-sama ke produk dengan menggunakan satu activity

driver.

b.Pembebanan biaya antara aktivitas

Karena suatu aktivitas menggunakan aktivitas lain dalam

menghasilkan keluarannya, biaya aktivitas tertentu perlu

dibebankan kepada aktivitas pemakai. Tahap pembebanan

biaya antar aktivitas:

1.Pembebanan biaya direktur ke

bagian-bagian yang berada di

bawah wewenang direktur

2.Pembebanan biaya kepala bagian ke

aktivitas yang berada di bawah

wewenang kepala bagian yang

bersangkutan

3.Pembebanan biaya

support

activities ke result-contributing

activities dan result-producing

activities.

c.Pembebanan biaya support activities ke result-

contributing activities dan result-producing

activities. Kos produk dengan membebankan

biaya result-producing activities ke cost object

dengan basis activity driver. Oleh karena result-

producing activities mengkonsumsi biaya result-

contributing activities dan support activities,

maka dalam rangka perhitungan kos produk,

biaya support activities perlu dibebanan terlebih

dahulu ke result-contributing activities dan

result-producing activities. Selanjutrtya biaya

result-contributing activities dibebankan ke

result-producing activities untuk menghitung kos

produk yang dihasilkan oleh result-producing

activities

d.Syarat penerapan ABC System

Dalam penerapan ABC System ada 2 hal yang harus dipenuhi,

yaitu:

1.Biaya-biaya berdasarkan non unit harus merupakan

persentase signifikan dari biaya overhead. Jika biaya ini

jumlahnya kecil, maka tidak ada masalah dalam

pengalokasian produk.

2.Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas

berdasarkan unit harus ada. Jika berbagai produk overhead

dengan rasio yang kira-kira sama, maka tidak ada masalah

jika cost driver berdasar unit digunakan untuk

mengalokasikan semua biaya overhead pabrik pada tiap

produk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->