P. 1
Zakat Sebagai Pembersi Harta Dan Jiwa

Zakat Sebagai Pembersi Harta Dan Jiwa

5.0

|Views: 397|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Sep 10, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2012

pdf

text

original

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta

Pembersih Jiwa dan Harta Alat untuk Memerangi Kemiskinan
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S At Taubah: 103) Zakat menurut bahasa berarti tumbuh, berkembang, bertambah, subur, mensucikan atau membersihkan. Maknaya zakat adalah mengeluarkan sebagian harta benda yang sudah mencapai nisab kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahiq) menurut syarat yang telah ditentukan oleh Allah SWT, yang secara hakikinya adalah pemilik seluruh alam raya dan seluruh isinya (Rabbul ‘Alamin), termasuk pemilik hakiki harta benda. Hakikatnya

ZAKAT

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
manusia adalah menerima titipan amanat harta itu. Zakat –- termasuk juga infaq dan shadaqah -merupakan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pemiliknya, yakni Allah Ta’ala. Imam Qurthubi mengatakan : "Zakat merupakan
bukti kebenaran iman orang yang mengeluarkannya atau dengan kata lain ; ia bukan termasuk golongan orangorang munafik, sekaligus sebagai bukti kebenaran akan cintanya kepada Allah SWT atau kesungguhan harapan akan pahalanya atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya".

Imam Al Sindi

mengatakan : "Zakat merupakan

bukti kebenaran iman yang diakui pelakunya. Sebab, tindakan mengeluarkan harta secara tulus karena Allah tidak mungkin terjadi, kecuali jika ada kesungguhan imannya".

Abu Ayyub r.a, menceritakan ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah : "beritahukan kepadaku
amal yang dapat memasukkan aku ke surga ?" Beliau
menjawab : "Harta !

Harta !"

Selanjutnya
dengan

beliau
sesuatu dan

bersabda : "Yang terpenting bagimu adalah menyembah
Allah, apapun, tidak menyekutukan-Nya shalat, mendirikan menunaikan zakat

menyambung silaturrahmi." (HR. Bukhari)

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
Dari Abu Dzar Al Ghifary r.a. berkata, aku pernah mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau sedang duduk di serambi Ka’bah. Pada saat melihatku, beliau bersabda : "Demi Allah, Pemelihara Ka’bah,
mereka adalah orang-orang yang merugi pada hari kiamat….." Selanjutnya aku bertanya, Siapakah yang

engkau

maksudkan,

wahai

Rasulullah ?

Beliau

menjawab : "Yaitu orang-orang yang banyak memiliki
harta akan tetapi masih mengatakan begini, begini, dan begini". Beliau mengisyaratkan tangannya ke depan,

sebelah kanan, dan sebelah kirinya. Rasul bersabda :
”Demi Dzat yang aku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang mati dan meninggalkan unta atau sapi, sedang ia tidak mengeluarkan zakatnya, melainkan pada hari kiamat kelak akan didatangi oleh apa yang lebih besar dan gemuk dari apa yang dia miliki sewaktu di dunia. Lalu binatang yang tidak dikeluarkan zakatnya itu menginjak-injak orang tersebut dengan kuku-kuku kakinya dan menanduk dengan tanduknya. Setiap kali yang terakhir selesai menginjak dan menanduk, maka yang pertama kembali seperti semula. Sehingga ia diberi putusan pengadilan di antara manusia." (HR.

Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

ISLAM MEMERANGI SIKAP KIKIR DAN BOROS

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
Ajaran Islam memerangi kekikiran, pemborosan, kemewahan. Allah dan Rasul-Nya Muhammad SAW mengingatkan dengan tegas agar jangan kikir dengan harta, karena kikir itu sifat orang yang kufur. "……

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapatkan) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk diri kamu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu …". (Q.S. At Taubah : 34-35)
Rasulullah bersabda :

"Jauhilah telah

kekikiran. telah

Karena

sesungguhnya sebelum

ia

membinasakan

orang-orang

kalian,

kekikiran

mendorong mereka menumpahkan darah mereka dan menodai kehormatan mereka." (HR. Muslim,
Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

ZAKAT DAPAT MENGUKUHKAN POSISI UMAT Zakat dapat dipakai alternatif bagi penghapusan

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
kemiskinan umat. Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS.5, Al

Maidah : 2).
Alquran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif, saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan. Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kemaksiatan. Zakat adalah dana yang wajib dikeluarkan, wajib ditagih, wajib dipungut, dari pemegang harta. Zakat, sebagaimana halnya shalat, merupakan satu sendi dari Islam. Zakat adalah rukun, sendi ketiga, setelah syahadatain, shalat, dan kemudian shaum, puasa. Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak menserikatkan Allah, juga seorang pembayar zakat. Alquran selalu meng hubungkan antara shalat dan zakat. Seakan antara keduanya tidak boleh ada pemisahan. Alquranul Karim juga menyebut zakat dengan kata-kata shadaqah. Memungut zakat dan membagikannya adalah melaksanakan perintah Allah.

َ‫خذْ ِ نْ أَمْ َاِه م صَدقَةً تطَ ّ ُه م وَ ُ َ ّيْه م ِهَا و‬ ‫و ل ِم ْ مَ ُ هر ُم ْ تزك ِم ْ ب‬ ‫ُ م‬

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan

‫َن ُ ْ ل س ِ ٌ َ ْم‬ ٌ ‫صل علَيْهمْ إ ّ صلوَاتكَ شَك ٌ لَهم وَ ا ُ َميْع علِي‬ َ ََ ‫َ ّ َ ِ ِن‬
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (At Taubah, 9:103)

Dalam pandangan Alquran (Islam), seorang belum dapat dikatakan bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan zakat hartanya. Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah. Maka dampak pelaksanaan zakat antara lain adalah, mengikis sifat-sifat kikir dalam diri dengan melatih sifat-sifat dermawan, dan mensyukuri nikmat Allah, sehingga pada akhirnya ia dapat mensucikan diri dan mengembangkan kepribadiannya. Dengan demikian seseorang yang membayarkan zakat berarti menciptakan ketenangan dan damai, tidak hanya kepada penerima, tetapi juga pada diri pemberi zakat, infaq dan shadaqah. Mengeluarkan zakat bermakna mengembangkan manfaat harta benda itu. a)

sisi spritual, berdasarkan
firman Allah dalam surat

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
Al Baqrah ayat 276 :

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah atau zakat." b)

sisi

ekonomis-psikologis,

yaitu ketenangan batin bagi pemberi zakat (shadaqah dan infaq) dalam Dan akan usaha bagi mengantarkannya konsentrasi dan hartanya. pengembangan

penerima zakat (infaq dan shadaqah) akan mendorong terciptanya daya beli dan produksi dengan sendirinya akan meningkat pula. Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, Nabi menginstruksikan Mu’adz bin Jabal beberapa pokok yang mesti dijalankan, sebagai diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.

‫بَ َ ث ُ َا ًا إلَى الْيَ َ ِ، ف َا َ: إِ ّ كَ تَأْتِي قوْمًا‬ َ ‫م ن َق ل ن‬ ِ ‫ع َ مع ذ‬

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan

‫ه ة ْ َ َ ل‬ ّ ِ‫أَهلَ كِتَابه َادْ ُ ُمه إِلَى شَ َادَ ِ أَنه ل إِلَهه إ‬ ْ ‫ٍ ف عه‬ ْ ‫الُ َ أَنّ ُحَم ًا َ سو ُ الِ، فَِ نْ ُ مْ أطَاعوْا‬ ُ َ ‫إ ه‬ ‫و م ّد ر ُ ْل‬ َ‫لِذِ كَ فَاعلِمْ ُ م أَنّ الَ قدْ فَ َ ض علَيْ ِ مْ خمْ س‬ َ ‫َ ر َ َ ه‬ ْ‫ْ ه‬ ‫َل‬ ‫صهلوَاتٍ فِي اْليوْمه وَ اّليلَةِ فَِنه ُمه أَطَاعوْا‬ ُ ْ ‫َ ِ لْ إ ْه‬ ََ ‫َ رض َ ه َ ة‬ ً َ‫لِذِ كَ فَاعلِمْ ُ م أَنّ الَ قدْ فَ َ َ علَيْ ِ مْ صدَق‬ ْ‫ْ ه‬ ‫َل‬ ْ‫تؤْخ ُ ِنْ أَغْنَيَائِهمْ فَ ُر ّ علَى ُق َائِهِمْ، فَِن ُم‬ ‫إْه‬ ‫ِ ت َد َ ف َر‬ ‫ُ َذ م‬ َ‫أَطَاعوْا لِذلِ كَ فَإِ ّا ك وَ كَ َا ِ م أَموَالَ ُ مْ، وَا ّ ق‬ ‫ت‬ ‫ي َ رئ َ ْ ه‬ َ ُ ِ ‫َعْوةَ الْمظُوْمه فَإّهه لَيْسه بَينَه َا َ بَيْنه ال‬ َ ‫و‬ ْ َ ُ ‫د َ َ ْل ِ ِن‬
)‫(رواه الشيخان‬

.ٌ ‫حِجَا‬ ‫ب‬

Kau akan berada di tengah umat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya. Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam. Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi. Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang). (HR.Bukhari Muslim, dari Anas Radhiallahu ‘anhu).
Zakat harus dipungut dan dihitung nisab secara pasti. Institusi “amil” menjadi pemungut (collector) dan pembagi zakat (distributor). Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh amil untuk zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepada orang-orang tertentu. Ketentuannya datang dari Allah yang memberi harta itu. Dalam hal ini menjadi tugas pokok amil untuk mengumumkan pertanggungjawaban terbuka kepada umat. Karena itu, Umar bin Khattab berkata ; mempermudah memintasi penghapusan kemiskinan umat. Zakat bukanlah milik pembayar

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan

‫َ ُ أ ْ ِ ِل‬ ّ ‫ُمِرْت َنْ ُقَاتل ال ّا َ ح ّى يَشْهدوْا َن لَ إلَهَ إ‬ ‫أ ُ أ أ ِ َ ن س َت‬ ‫صَ و‬ َ َ‫الُ و َ نَ ُحم ًا َ سو ُ الِ َ ُقيْموْا ال َلة‬ ُ ِ‫و ي‬ ‫َ أ م َ ّد ر ُ ْل‬ ‫يؤْتوْا ال ّ َاةَ، فَإ َا فَعلوْا ذِك هَ َص َموْا م ّى ه‬ ‫ع ه ُ ِن‬ ‫ُ ُ زك ِذ َُ َل‬ ْ‫ِمَاءِ ِ م َ أَم َاِ ِ مْ إ ّ بِ َقّ ا ِ سْلمِ وَ َ َابَهم‬ ِ ‫د ه ْ و ْو له ِل ح ْل َ ح س‬
)‫(رواه الشيخان عن ابن عمر‬

.ِ‫علَى ال‬ َ

Aku diperintahkan memerangi manusia, kecuali bila mereka meng-ikrarkan syahadat, bahwa tidak ada mendirikan Shalat dan membayarkan tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) zakat. (HR.Bukhari Muslim)

Hadist Nabi menyebutkan, “Bila shadaqah (zakat)
bercampur dengan kekayaan lain. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan zakatnya. Kekayaan itu akan binasa “

(HR Bazar dan Baihaqi , dalam Nailul Authar, jilid IV126). Zakat seorang Mukmin memiliki beberapa fungsi , 1. Perintah Allah, tanda pembenaran syahadat dan shalat. 2. Pembersih harta kekayaan 3. Penghapus Kemiskinan umat, karena ditujukan kepada orang miskin.

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
4. Sumber dana umat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu, asnaf yang delapan 5. Pembeda antara Mukmin dan Munafik Dalam kehidupan sehari-hari tampak bahwa “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan

zakat“. Sebaliknya, seseorang kaya (Muslim) tidak
mengenyam ketentraman, karena selalu menahan hak zakat. Maka, setiap muslim pemilik harta se nisab dalam se tahun wajib berzakat. Besar yang wajib dikeluarkan dari tingkat 2,5 % (dua setengah persen) untuk perniagaan dan 10 % untuk pertanian. Penerima zakat juga disebutkan dengan tegas.

َ‫إِ ّمَا ال ّدَقَا ُ للْ ُقَ َا ِ َ اْل َ سَاكِيْن وَ الْعَاملِيْ ن‬ ِ ِ ‫ص ت ِف رء و م‬ ‫ن‬ َ‫علَيْهَها َ الْمؤَّفَ ِ قلوْبِهِمه وَ فِهي ال ّقَابه و‬ ِ ‫ر‬ ْ ُُ ‫و ُ ل ة‬ َ ،ِ‫الْغَارمِيْنه َ ف ِي سهبي ِ ال ِ وَ ابْنه السهبِيل‬ ّْ ِ ‫َ ِ ْل‬ ‫ِ َو‬ ‫ِ ْض من ل و ل َ ٌ م‬ ٌ ْ‫فَري َةً ِ َ ا ِ َ ا ُ علِيْم حَكِي‬
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, penguruspengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah (IX) ayat 60)

Firman Allah ini menjelaskan penerima zakat (asnafnya) delapan kelompok, 1. Orang fakir, 2. Orang Miskin, 3. Para Amil (pengelola zakat dan penanggung jawab fakir miskin itu), 4. Muallaf yang dibujuk hatinya, 5. Membebaskan perbudakan, 6. Orang berhutang, 7. Jihad pada jalan Allah, 8. Orang yang terlantar dalam perjalanan. “Demikian diwajibkan

Allah Maha Tahu Maha Bijaksana”.
Lima kelompok asnaf ini orang yang memerlukan perhatian khusus. Mereka tengah berada di tepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir, miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan. Dua kelompok berhadapan dengan medan dakwah illallah, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok Muallaf dengan kesadaran hati menerima Islam. Problema yang dihadapi mereka tidak sedikit. Kadang-kadang berbentuk pengucilan dari kelompok lamanya. Mereka cenderung berproses kearah kemiskinan, jika tidak segera dibantu. Begitu pula fisabilillah. Mereka tengah berjihad,

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
mempertahankan aqidah Islamiah. Mereka yang

tengah berdakwah di daerah sulit. Ruang lingkup

fisabilillah cukup luas, antara lain juga penuntut ilmu
pengetahuan yang akan kembali ke tengah umat. Hakekatnya mereka berjuang untuk kepentingan orang banyak. Mencari redha Allah semata. Mereka perlu mendapatkan perhatian yang mendalam. Semua kelompok asnaf mendapat porsi dari sumber zakat menurut prioritas, kondisi dan situasi. Pengelola, atau

amil berhak mendapatkan bahagian, agar amanah.
Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau mereka orang-orang berpunya juga. Adakalanya mereka mengembalikan dalam bentuk shadaqah, seperti diceritakan Allah dalam masyarakat Anshar dan Muhajirin di masa Nabi.

‫و اّ ِي م تَبو ُو ال ّارَ و اْ ِيْم م م م قَبِه م ي ِ ّو م‬ َ‫َ لذ ْنَ َ ّء ْ د َ ل ًانَ ِن ْ ْل ِم ْ ُحب ْن‬ ‫صد ر ْ ح ة‬ ً َ‫َ ن َاجَرَ إلَيْ ِ مْ وَلَ يجِ ُو َ فِي ُ ُوْ ِهِم َاج‬ ‫َ دْن‬ ‫ِ ه‬ ‫م ْه‬ ‫ِ ّام ُوْ ُوْا َ ُؤْ ِروْنم َلىَ أَن ُسمهِمْ ولَوْ كَانم بهِمم‬ ْ َِ َ ِ ‫مم أ ت و ي ث ُ َ ع ْف‬ ‫خ َاصَ ٌ َ مَنم ُوْقم ُح ّ نفْسم ِ، فُولَ ِكم ُمم‬ ُ ‫َصم ة و ْ ي َ ش َ ِه َأ ْ ئ َ ه‬

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan

.َ ْ‫الْمفْل ُو‬ ‫ُ ِح ن‬
Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al Hasyr ayat -9)
Mukmin bersikap mengutamakan pertemanan lebih dari diri mereka sendiri. Meskipun mereka sedang berada di dalam kesusahan pula. Demikian bentuk dari

kualitas umat, yang terbina karena iman kepada Allah.
Hidup dalam redha Allah.

ZAKAT UNTUK PENGHAPUS KEMISKINAN
Sejak masa Rasullullah SAW zakat difungsikan sebagai penghapus kemiskinan. Dalam sebuah hadist di riwayatkan Bukhari Muslim, diingatkan,
“Meminta-minta tidak halal kecuali salah satu beban.

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
Yaitu 1.orang yang menanggung beban berat,tak mampu memikul sendiri maka baginya halal meminta, 2.orang yang di balut kemiskinan, maka baginya halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar. Selain dari tersebut diatas haram baginya makan hasil meminta-minta. (HR.Bukhari Muslim, dari

Qabishah al Hilali).

Batasan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangkat kemiskinan, sampai mereka dapat hidup wajar. Kalangan miskin diangkat melalui pendidikan. Diajar membina hidup layak dan mampu mengolah kehidupan. Untuk itu perlu dikaji kesediaan “si miskin” untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima menjadi mengolah kehidupannya. Manakala fakir miskin dapat diberi zakat dalam bentuk peralatan permodalan, yang disesuaikan dengan keperluan untuk menghapuskan kemiskinan. Meskipun jumlah permodalan itu besar.1 Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa

dalam

bentuk

memberikan

sebuah

pekerjaan.

Malah kemudian dapat pula ditambah usaha-usaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan simiskin” (Al Umm). Pendapat ini disepakati oleh Imam
1 Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159.

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
Ahmad, ”orang miskin boleh mengambil zakat untuk

seluruh kebutuhan hidup, berupa sumber usaha yang berketerusan.”2
Selanjutnya Khattabi berpendapat,
”Batas

pemberian zakat adalah kecukupan. Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingkat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”.3 Kebijakan umum Umar bin Khattab. ”Kalau memberi bantuan hendaknya mencukupi”.

Umar

mencontohkan di masa pemerintahannya memberi zakat tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan. Umar menyatakan niat yang teguh dalam “menghapus kemiskinan“ di tengah rakyatnya. Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah)
walau diantara mereka baru
4

akan

cukup

dengan

menyerahkan seratus ekor unta,”

Zakat berguna efektif meningkatkan taraf hidup muslimin untuk menjadi keluarga mampu dan hidup layak dalam ukuran ekonomis. Ini pula paham Imam Al Ghazzali, ”Hendaknya
2 3 4 Al Inshaf,III/238. Ma’alim as Sunnah (II/239. Al Anwaal, 565-566.

zakat

dapat

dipakai

untuk

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
pembeli tanah, diolah untuk keperluan orang miskin dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”.5

Maka dengan zakat, dapat membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian sebagai jalan pintas untuk menghapuskan kemiskinan itu. Yang mesti dijaga adalah tujuan utama dari zakat adalah mentaati perintah Allah, mensyukuri nikmat, mengamalkan isi Alquran, dan untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat.

ZAKAT SEAKAN RUKUN ISLAM YANG TERABAIKAN.
“ Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan(hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya sedanqkan kamulah orang-orang yang berhendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain. Dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (Q.S.47, Muhammad 38)

Di saat sebuah slogan “Ayo Sekolah" diserukan, ada saja yang menjawab dengan berseloroh, “ di mana duitnya ?". Tetapi, di kala orang-orang bersendawa karena kenyang setelah selesai menyantap makanan,
5 Ihya,I/207, al Halabi

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
ternyata di tempat lain, masih banyak orang-orang yang menekan perutnya, menahan lapar. Ada juga orang-orang yang bingung besok makan apa, untuk mengganti menu seleranya hari ini. Namun ada pula di keliling mereka kelompok orang yang juga bingung, karena ia tak tahu, apakah besok masih bisa makan, apakah besok masih ada orang yang berbelas kasihan padanya seperti hari ini. Kondisi ini sering terlihat jelas di keliling kita. Islam, telah memerintahkan para aghniya’ (orangorang mampu), yang dikaruniai dan kelebihan menolong harta) mereka agar agar memperhatikan para dhu’afa’ (orang-orang yang tak mengasihi terlepas dari belenggu kesusahan dan kemiskinan, dengan mewajibkan mengeluarkan sebagian harta (2,5%) bagi yang memerlukan. Salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim adalah mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya. Semestinya dipahami bahwa yang dapat dimanfaatkan dari harta yang dimiliki hanyalah 97,5% dan yang 2,5% persennya harus dikeluarkan untuk mustahiqun (asnaf yang delapan) terutama golongan ekonomi lemah, yang secara syar’i disebut

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
dengan Zakat. Terutama diberikan kepada orang-orang yang telah ditetapkan Al Qur’an sebagai yang berhak menerimanya (ashnaf delapan / al mustahiqqun), yaitu dengan mewajibkan setiap orang yang berharta untuk menunaikan zakat. Kita masih menemui anak-anak putus sekolah dan kaum dhu’afak di kolong-melarat yang terlantar. Hal ini dapat terjadi, mungkin karena masih banyak dari kaum muslimin yang enggan mengeluarkan zakatnya, terutama zakat maal (zakat harta). Timbul pertanyaan, mengapa masih banyak orang Islam yang enggan mengeluarkan zakatnya ? Bisa jadi penyebabnya, dikarenakan umat Islam masih banyak yang tergolong kaum fakir-miskin sehingga tidak mampu untuk membayar zakat, atau mungkin dikarenakan kurangnya sosialisasi tentang zakat dan sistem pengelolaan-nya, ataukah mungkin karena kurangnya perhatian umat Islam terhadap kewajiban zakat, atau karena Rukun Islam yang satu ini sudah terabaikan. Wallahu a’lamu

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
PERANSERTA PEMERINTAH MENGELOLA ZAKAT
Integrasi zakat ke dalam peraturan negara sebenarnya pembumian syariat agama Islam dan perwujudan Ketuhanan YME terhadap realitas sosial yang berada dalam lingkungan masyarakat muslim. Pemberlakuan zakat dalam konteks masyarakat modern bukan semata tuntutan Syari’at Islam dalam menunaikan zakat, tetapi juga upaya membentuk masyarakat berkehidupan yang layak. Semua elemen masyarakat muslim mestinya berusaha membuat zakat sumber dana pembangunan umat yang ditata dengan peraturan perundangan, dan menjadikannya alat di dalam meningkatkan pemerataan ekonomi dan keadilan. Di Indonesia, kini pengelolaan zakat telah diatur dalam UU No. 38 tahun 1999, dan tidak bisa luput dari wajah pembangunan dan otonomi daerah kini. Benang merah antara pengelolaan zakat dan otonomi daerah meliputi proses demokratisasi, peran serta masyarakat, pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial serta potensi keanekaragaman daerah.

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
Rangkaian proses tersebut di atas dapat kita temukan dasarnya pada UU Number 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, di antaranya: 1. Dalam pada Bab pasal 5, III 6, 7 tentang Zakat dan 8 untuk -Organisasi disebutkan pusat pengelola tugas Pengelolaan bahwa, daerah disebut

pengelolaan zakat, pemerintah -maupun yang pokok, membentuk sebuah lembaga badan

amil zakat (BAZ) yang memiliki mengumpul, dan zakat sesuai mendistribusikan mendayagunakan tujuan guna

dengan ketentuan agama. Dengan meningkatnya pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat, meningkatnya fungsi dan peranan dalam pranata upaya keagamaan mewujudkan

kesejahteraan

masyarakat dan keadilan sosial

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
serta meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat. 2. Dalam Bab VIII tentang lain pada tugas ketentuan-ketentuan menunjang pemerintah

pasal 23 dijelaskan bahwa, dalam pelaksanaan wajib Badan Amil Zakat yang dibentuk, membantu biaya operasional BAZ.

ZAKAT

DAN

OTONOMI DAERAH
sebenarnya sempurna. telah Dan menemukan realitas

Pada dasarnya, hubungan paradigma zakat dan otonomi bentuknya daerah yang untuk

empirisnya, maka peran pemerintah selaku pengukuh, pembina dan sekaligus pelindung atas pelaksanaan pengelolaan zakat sangatlah dituntut untuk lebih proaktif. Dan pemberdayaannya haruslah terprogram dalam sebuah agenda kerja prioritas pemerintah. Dana zakat yang terkumpul sangatlah potensial dalam pemberdayaan umat Islam, untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan sekaligus sebagai pembebas umat dari belenggu kemiskinan, baik struktural

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
maupun kultural. Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak mungkin terjadi, seorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan sandang dan pangan kecuali disebabkan kebakhilan para hartawan (aghniya’). Ingatlah bahwa, Allah Ta’ala akan melakukan perhitungan teliti serta meminta pertanggung jawaban mereka, lalu akan menyiksa mereka dengan siksaan yang amat pedih.” (HR. Imam Al Ashbahani)

Dari hadist ini disimpulkan ; 1. Kemiskinan yang diderita fakir miskin bukan semata-mata karena kemalasan mereka semata. Mungkin sekali diakibatkan kurang pemerataan kesejahteraan dan kurangnya perhatian dan tanggung jawab sosial para aghniya’. 2. Allah SWT telah mewajibkan para aghniya’ untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk para fakin miskin, dengan cara membayar zakat. Apabila pengelolaan zakat ditangani dengan serius oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama, maka zakat secara realitas akan dapat menjadi penunjang kemandirian ekonomi daerah, insya Allah.

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
Fungsi zakat di awal kerasulan ditekankan pada kepedulian atas kesejahteraan masyarakat dalam tingkat regional (bersifat daerah). Saat itu, sistem pelaksanaan zakat secara kolektif mulai dibentuk. Rasulullah juga mengutus para petugas zakat ke berbagai daerah dengan membawa berbagai instruksi yang diperlukan, terdiri dari harta yang dikenakan zakat, perasaan kasih sayang, kebijaksanaan, dan pendekatan individual. Nasehat Nabi kepada Mu’adz

bin Jabal ketika dikirim ke Yaman, tahun 10 H.,
adalah pembentukan dasar-dasar yang sah tentang permasalahan zakat. Sebagaimana tersimak di dalam Sabda Rasulullah saw.

‫َ َ َ َ هْ َ ً ُ ذ‬ ُ َ‫فَاعلِمْ ُ مْ أَنّ الَ قدْ فَر ض علَيْ ِ م صدَقَة تؤْخ‬ ‫ْ ه‬ ‫ِنم أغنَ َائ ِمم ف ُرَد َ َى ُقَ َائ ِمم، فِنه ُمه‬ ْ ‫م ْ َ ْ ي ِه ْ َت ّ عل ف ر ِه ْ َإ ْ ه‬ َ‫أَطَاعوْا لِذلِ كَ فَإِ ّا ك وَ كَ َا ِ م أَموَالَ ُ مْ، وَا ّ ق‬ ‫ت‬ ‫ي َ رئ َ ْ ه‬ َ ُ ِ ‫َعْوةَ الْمظُوْمه فَإّهه لَيْسه بَينَه َا َ بَيْنه ال‬ َ ‫و‬ ْ َ ُ ‫د َ َ ْل ِ ِن‬ ‫حج ب‬ )‫ِ َا ٌ. (رواه الشيخان‬
« … maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan mereka mengeluarkan zakat (shadaqah) yang engkau ambil dari harta orang-orang kaya di antara mereka, dan dibagikan kepada kaum miskin di antara mereka. Jika mereka mentaatimu,

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
berarti kamu akan mendapatkan harta yang terbaik, dan takutilah jeritan kaum tertindas, karena tidak ada tabir antara mereka dan Allah…. » (HR. Bukhari)

Hadits ini menggambarkan tentang perhatian Islam atas upaya meningkatkan taraf hidup berdasar

asas teritorialnya. Sepanjang satu wilayah telah
terbangun sistem ekonominya, maka yang perlu diupayakan adalah mengurangi kemiskinan. Tampak

asas desentralisasi dalam paradigma zakat erat kaitannya dengan upaya pemberlakuan otonomi daerah masa otonomi ini.

TANTANGAN PELAKSANA KELOLA ZAKAT
1. 2. Kurangnya pengetahuan umat tentang hukum zakat. Kurangnya perhatian dan kesadaran umat terhadap halhal yang berkaitan dengan kewajiban zakat. Perhatian umat yang setengahsetengah dalam melaksanakan kewajiban zakat, seperti hanya terfokus pada kewajiban zakat fitrah saja. Kewajiban zakat lainnya, seperti zakat profesi,

3.

Menjadi Alat bagi Umat untuk Memerangi Kemiskinan
zakat maal, terperhatikan.
4. tidak

Pendistribusian zakat hanya terkonsentrasi kepada seseorang atau kelompok tertentu yang mengakibatkan pendistribusian tidak merata, tidak tepat guna dan tepat sasaran. Kurang pendayagunaan dana zakat yang terkumpul, di mana al mustahiqun selama ini. Hal ini menuntut suatu upaya menjadikan para mustahiqun tidak terus menjadi penerima zakat, tetapi berupaya menjadikan mereka sebagai Muzakki di suatu saat kelak. Kurangnya personil di Badan Amil Zakat yang menguasai hukum fiqih - khususnya tentang fikih zakat dan menejemen pengelolaan zakat. Segera disosialisasi keberadaan BAZ (Badan Amil Zakat) yang telah dibentuk

5.

6.

KELOLALAH ZAKAT DENGAN TERPADU
1.

Zakat sebagai Pembersih Jiwa dan Harta
pemerintah dan manajemen pengelolaan zakat yang baik. 2. Membangun kesatuan visi, misi dan orientasi dalam masyarakat tentang pengelolaan zakat. 4. Melakukan pelatihan pengelola zakat professional. khusus secara

5.

Kerjasama dan perhatian semua pihak, serta pemeranan media mutlak diperlukan.

Layaknya siang dan malam, kaya dan miskin memang selalu ada. Sebenarnya, persoalannya bukan terletak ada-tidaknya kaya dan miskin. Akan tetapi, mengupayakan agar kesejahteraan dan keadilan terwujud di tengah-tengah umat adalah sebuah keniscayaan

ِ ‫الل ُ ّ اجعَل يومَ َا خَيْ ًا ِمن أمْسنَا، َ اجعَلْ غَد َا خيْ ًا‬ ‫َن َ ر‬ ْ ‫ّهم ْ ْ َ ْ ن ر ْ َ ِ و‬ ْ‫مْن يومِنَا، َ احْسِنْ َاقبَتنَا في الموْر كل َا، وَ أجِرنَا من‬ ِ ْ َ ‫ع ِ َ ِ ُ ُ ِ ُّه‬ ‫و‬ َْ َ‫خِزيِ الدنيَا َ عَذَاب الخِرَ ِ، الل ُ ّ إ ّا نسْألكَ اْلعفوَ و‬ َْ َُ َ ‫ة ّهم ِن‬ ِ ‫ْ ّْ و‬ ‫ال َاف َةَ ف ِ دينِ َا وَ دنيَانا وَ أهليْ َا وَ أم َالِ َا، ربنَا آتنَا ِى‬ ‫ع ِي ي ِ ْ ن ُ ْ َ َ ِْ ن َ ْو ن َ ّ ِ ف‬ .ِ‫الدن َا حَسنَة وَ ِى الخِر ِ حَسنَة َ قنَا عَذَاب ال ّار‬ ‫َ ن‬ ِ ‫َة َ ً و‬ ‫ّ ْي َ ً ف‬

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->