P. 1
Proposal Seminar

Proposal Seminar

|Views: 72|Likes:
Published by Gus Eka

More info:

Published by: Gus Eka on Jan 06, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2014

pdf

text

original

1

PROPOSAL PENELITIAN
JUDUL PENELITIAN:
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Virtual Laboratory Terhadap
Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Singaraja Tahun Pelajaran 2013/2014
IDENTITAS PENELITI:
Nama : I Komang Agus Eka Putra
NIM : 1013021087
Jurusan : Pendidikan Fisika
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam memajuan dan mencerdaskan
kehidupan bangsa sekaligus sarana membangun manusia Indonesia seutuhnya. Salah satu
tujuan bangsa Indonesia tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Undang-undang republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional tercantum secara jelas mengenai tujuan pendidikan nasional, yaitu agar
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003). Secara
umum dapat disimpulkan pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas masyarakat
guna menghadapi persaingan global yang semakin ketat.
Kemajuan sebuah Negara dapat dilihat dari keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan
oleh suatu bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan
pendidikan yaitu: pertama, penyempurnaan kurikulum dari Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013. Kedua, pengalokasian anggaran pendidikan
yang terus ditingkatkan. Ketiga, peningkatan kompetensi guru melalui sertifikasi. Keempat,
2
pengadaan dan perbaikan sarana prasarana sekolah melalui dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS). Kelima, pemerataan pendidikan melalui program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T). Melalui upaya-upaya yang telah dilakukan,
seyogyanya tujuan pembelajaran sains dapat tercapai secara optimal.
Belajar merupakan proses interaksi edukatif yang terikat pada tujuan, terarah pada
tujuan, dan dilaksanakan khusus untuk mencapai tujuan (Suastra, 2009). Melalui proses
belajar, yang diharapkan berhasil mencapai tujuan adalah peserta didik itu sendiri. Oleh
karena itu, hal terpenting dalam interaksi belajar mengajar adalah siswa. Siswalah yang
diharapkan berinteraksi dengan bahan ajar itu, mengolahnya, dan merefleksikannya sehingga
tujuan instruksional yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal. Tujuan tersebut
tercermin harapan dari sebuah proses pendidikan yang diselenggarakan Indonesia yang
mengharapkan output dan outcome berkualitas dan memiliki daya saing tinggi kedepannya.
Rendahnya kualitas output dan outcome siswa menunjukkan ketidakmampuan proses
pendidikan untuk menghantarkan siswa kepada tujuan pendidikan yang telah dirancang.
Kesenjangan ini diakibatkan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal siswa dalam
proses pembelajaran itu.
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia dapat terlihat dari data hasil studi
internasional, diantaranya: Pertama, Indeks pembangunan pendidikan untuk semua atau
education for all . Indonesia belum juga beranjak dari kategori medium atau sedang.
Berdasarkan laporan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB
(UNESCO) tahun 2012, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara. Tahun lalu,
Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara (Kompas, 2012).
Kedua, hasil PISA (Program for International Student Assesment) yang
diselenggarakan pada tahun 2009, studi ini diselenggarakan pada tahun 2000, 2003, 2006,
3
2009 dan seterusnya. Posisi Indonesia dibandingkan negara-negara lain berdasarkan studi
PISA dapat dilihat pada Tabel 1.1
Tabel 1.1 Posisi Indonesia Dibandingkan Negara-Negara Lain
Berdasarkan Studi PISA
Tahun
Studi
Mata
Pelajaran
Skor Rata-
Rata
Indonesia
Skor Rata- Rata
Internasional
Peringkat
Indonesia
Jumlah
Negara
Peserta
Studi
2000
Membaca 371 500 39
41 Matematika 369 500 39
Sains 393 500 38
2003
Membaca 382 500 39
40 Matematika 360 500 38
Sains 395 500 38
2006
Membaca 393 500 48 56
Matematika 391 500 50
57 Sains 393 500 50
2009
Membaca 402 500 57
65 Matematika 371 500 61
Sains 383 500 60
(Kemendikbud, 2011a)
Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata skor prestasi literasi membaca, matematika,
dan sains siswa Indonesia berada signifikan dibawah rata-rata internasional. Penelitian
Program for International Student Assesment (PISA) tahun 2009 prestasi literasi membaca
siswa Indonesia berada pada peringkat ke-57 dari 65 negara, literasi matematika berada pada
peringkat ke-61 dari 65 negara, dan literasi Sains berada pada peringkat ke-60 dari 65 negara
(Kemendikbud, 2011a).
Ketiga, hasil TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study), yang
merupakan studi internasional tentang prestasi matematika dan sains siswa sekolah menengah
pertama, di mana skor prestasi sains siswa Indonesia pada tahun 1999 berada di peringkat ke
32 dari 38 negara, pada tahun 2003 berada di peringkat ke 37 dari 46 negara, dan pada tahun
2007 berada di peringkat ke 35 dari 49 negara (Kemendikbud, 2011b).
Menurunnya prestasi belajar siswa juga terjadi di Bali yang ditunjukkan banyaknya
siswa yang yang tidak lulus Ujian Nasional. Jumlah ketidaklulusan terbanyak di Kabupaten
4
Buleleng, Sebanyak 182 siswa SMP di Buleleng dinyatakan tidak lulus dalam Ujian Nasional
(UN) tahun ini. Siswa yang tidak lulus ini tersebar di 31 sekolah dari 82 sekolah di Buleleng.
Siswa ini tidak lulus karena nilai rata-rata ujian nasionalnya tidak memenuhi nilai standar
kelulusan 5,5 yang sudah ditetapkan pemerintah (Bali Post, 2013).
Rendahnya prestasi belajar siswa juga dibuktikan dari hasil atau laporan beberapa
penelitian yang menunjukkan hasil bahwa pembelajaran sains belum terfokus pada
pemahaman dan konsep sains yang sebenarnya, pengajaran didominasi oleh metode ceramah
yang merupakan salah salah satu model pembelajaran konvensional (Agustiana & Tika,
2013). Pembelajatan sains yang selama ini dilakukan oleh para guru masih menggunakan
metode informatif atau konvensional, yaitu guru berbicara atau bercerita dan siswa hanya
mendengarkan dan mencatat. Secara tradisional pembelajaran sains yang berlangsung saat ini
dapat dikatakan lebih menekankan pada produk daripada proses-proses sains (Suastra, 2009).
Mardana (dalam Suardana, 2012) menyampaikan bahwa masalah pada dunia
pendidikan, khususnya dalam pembelajaran fisika adalah rendahnya pemahaman konsep dan
prestasi belajar fisika siswa. Siswa menganggap pelajaran sains (fisika) adalah pelajaran yang
rumit karena konsep-konsep, rumus-rumus, dan perhitungan-perhitungan yang sebagian besar
terlepas dari pengalaman sains sehari-hari, hal tersebut berdampak pada prestasi belajar fisika
siswa.
Kesenjangan yang terjadi antara harapan pendidikan Indonesia dan kenyataan ini
memerlukan solusi yang harus segera. Perlu dilakukan pengembangan pembelajaran yang
mengutamakan keterlibatan siswa dalam proses belajar aktif melalui kegiatan-kegiatan yang
berorientasikan pada proses sains itu sendiri (Suatra, 2009). Paham konstruktivistik
merupakan landasan dalam perkembangan model pembelajaran modern, paham ini
mebiasakan siswa untuk menemukan sesuatu dengan sendirinya dan bergelut dengan ide-ide.
5
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang
yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki
pengetahuan tersebut (Budiningsih, 2005). Diperlukan model pembelajaran inovatif untuk
mengatasi berbagai permasalahan pendidikan khususnya pendidikan sains. Teori belajar yang
dikemukakan J. Bruner (dalam Dahar, 1989) adalah teori pembelajaran discovery yang
sesuai dengan hakikat pembelajaran sains. Belajar penemuan (discovery learning)
memberikan kebebasan siswa untuk mengembangkan pengetahuannya melalui proses
menemukan sendiri dan melalui metode sains yang terintegrasi. Tobin (dalam Parmawati,
2012) menyatakan bahwa salah satu model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa
untuk menemukan konsepnya sendiri adalah dengan model inkuiri terbimbing. Aktivitas
dalam praktikum memiliki potensi untuk memberi peluang siswa belajar mengkontruksi
pengetahuan sainsnya sambil bekerja. Menurut Bruner (dalam Budiningsih, 2005),
pembelajaran yang selama ini diberikan disekolah lebih banyak menekankan pada
perkembangan kemampuan analisis, kurang mengembangkan kemampuan berfikir intuitif.
Padahal berfikir intuitif sangat sangat penting bagi mereka yang menggeluti bidang
matematika, biologi, fisika, dan sebagainya, sebab setiap disiplin mempunyai konsep-konsep,
prinsip, dan prosedur yang harus dipahami sebelum orang dapat belajar. Cara yang baik
untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk
akhirnya samapi pada kesimpulan (discovery learning).
Pembelajaran dapat lebih efektif, efisien, menarik, dan interaktif apabila difasilitasi
dengan media pembelajaran. Media pembelajaran sendiri banyak memanfaatkan beragam
teknologi yang dikenal sebagai teknologi pendidikan. Penggunaan teknologi yang bersifat
instruksional memberikan dampak positif bagi minat dan keantusiasan peserta didik dalam
proses pembelajaran. Teknologi memang seharusnya diaplikasikan sedemikian rupa dalam
proses pembelajaran terlebih lagi dalam pembelajaran sains di jenjang sekolah dasar
6
(Suleman et al 2013). Mengacu kepada hasil penelitian Tim Balitbang (1996) tentang Literasi
Sains dan Teknologi, disimpulkan masih perlu melakukan usaha-usaha atau pendekatan
belajar yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran sains tersebut. Sehubungan dengan
hal itu, maka pengajaran sains disekolah seharusnya diarahkan menuju pencapaian melek
sains dan teknologi (scientific and technology literacy) (Suastra, 2009).
Soeprapto (dalam Mardana, 1998) menyatakan bahwa untuk materi fisika yang sulit
divisualisasikan dengan demonstrasi atau ekserimen biasa, maka strategi pemodelan dengan
simulasi Komputer sebagai strategi alternative pembelajaran fisika dengan pendekatan
proses. Salah satu bentuk teknologi yang memiliki kesesuaian dengan teori discovery
learning adalah laboratorium virtual (virtual laboratory). Pemanfaatan laboratorium virtual
dalam proses pembelajaran menjadikan proses pembelajaran tersebut lebih efektif dari segi
waktu dan meningkatkan prestasi belajar siswa (Tatli & Ayas, 2013). Penelitian Bajpai
(2013) yang berjudul “Developing Concepts in Physics Through Virtual Lab Experiment: An
Effectiveness Study” menyimpulkan bahwa pembelajaran konsep efek fotolistrik melalui
virtual laboratory lebih efektif dibandingkan dengan real lab. Studi tersebut juga
menunjukkan penggunaan virtual laboratory dalam pembelajaran fisika lebih baik dalam
meningkatkan pemahaman konsep siswa dibanding pembelajaran melalui real lab.
Wijaya (2013) meneliti pengaruh model pembelajaran inkuiri berbantuan virtual
laboratory terhadap pemahaman konsep fisika siswa kelas VIII SMP Negeri I Negara tahun
ajaran 2012/2013. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran inkuiri berbantuan virtual laboratory didalam pembelajaran fisika sangat
efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep fisika dibanding model MPI dan MPK.
Berdasarkan permasalahan dan keunggulan strategi pembelajaran berbasis inkuiri
terbimbing dan metode laboratorium virtual yang telah diungkapkan sebelumnya, penulis
berkeinginan untuk menganalisis model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual
7
laboratory, maka penulis mengajukan sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Virtual Laboratory Terhadap Prestasi
Belajar Fisika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Singaraja Tahun Pelajaran 2013/2014”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, maka masalah pokok yang
akan dicari pemecahannya melalui penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan prestasi
belajar fisika antara kelompok siswa yang belajar mengunakan model pembelajaran inkuiri
terbimbing berbantuan virtual laboratory, siswa yang belajar menggunakan model
pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran
konvensional?”
1.3 Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
“Mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar fisika antara kelompok siswa yang belajar
mengunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory, siswa
yang belajar menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar
menggunakan model pembelajaran konvensional”.
1.4 Manfaat Penelitian
Secara umum manfaat penelitian ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (1) manfaat
teoretis yang memberikan manfaat jangka panjang dalam pengembangan teori pembelajaran
di sekolah, dan (2) manfaat praktis yang memberikan dampak secara langsung terhadap
komponen-komponen pembelajaran yang dilakukan di sekolah.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai ada atau tidaknya perbedaan
prestasi belajar fisika antara siswa yang belajar menggunakan model inkuiri terbimbing
berbantuan virtual laboratory, model inkuiri terbimbing dan model pembelajaran
8
konvensional. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan Informasi yang jelas
mengenai model pembelajaran inovatif inkuiri terbimbing dan media pembelajran virtual
laboratory. Kedepannya diharapkan terjadi perubahan paradigma pembelajaran yang saat ini
kebanyakan berpusat pada guru (teacher centered) beralih ke pembelajaran yang berpusat
pada siswa (student centered) karena dalam penerapan model pembelajaran inkuiri
terbimbing berbantuan virtual laboratory guru lebih banyak memposisikan diri sebagai
fasilitator dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk belajar
secara mandiri, sehingga siswa menjadi subjek pembelajaran terhadap pengembangan dirinya
sendiri.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang didapatkan melalui penelitian eksperimen ini, yaitu sebagai
berikut.
1. Bagi siswa, Penelitian ini sangat bermanfaat karena penggunaan model pembelajaran
inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory memfasilitasi siswa dalam aktivitas
belajar yang lebih menekankan pada proses sains itu sendiri. Penerapan model
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory akan berdampak pada
proses pembelajaran sehingga diharapkan siswa memiliki prestasi belajar yang baik.
2. Bagi guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mencari
alternatif dan inovasi model pembelajaran yang mampu meningkatkan prestasi belajar
siswa seacara lebih optimal. Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing
berbantuan virtual laboratory diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru
sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai motivator, fasilitator dan mediator.
Hal ini dapat merubah gaya mengajar guru dari cara mengajar konvensional hingga
berpusat pada siswa (student centered).
9
3. Bagi peneliti, penelitian ini dapat memberikan pengalaman langsung kepada peneliti
sebagai calon guru sains dalam mempraktekkan model inkuiri terbimbing berbantuan
virtual laboratory sehingga nantinya dapat digunakan pada proses pembelajaran ketika
sudah menjadi guru. Penelitian ini dapat meningkatkan rasa keingintahuan, tanggung
jawab dan kejujuran peneliti sebagai calon pendidik yang professional
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Singaraja kelas VIII semester dua
(genap) tahun pelajaran 2013/2014. Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini
adalah getaran, gelombang dan bunyi yang merupakan bagian dari materi sains SMP kelas
VIII semester genap di SMP Negeri 1 Singaraja.
Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar
siswa. Variabel bebasnya (independent variable) adalah model pembelajaran yang terdiri dari
tiga dimensi yaitu, model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory,
model pembelajaran inkuiri terbimbing, dan model pembelajaran konvensional. Kovariat
yang diukur sebagai kontrol statistik pengaruh variabel independent terhadap variabel
dependent adalah prestasi belajar awal siswa yang diperoleh dari hasil pretest.
Perbedaan kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah pada jenis perlakuan yang
diberikan. Model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory dan model
pembelajaran inkuiri terbimbing diterapkan pada kelas eksperimen. Pada kelas kontrol
diterapkan model pembelajaran konvensional. Masing-masing kelas mendapatkan proporsi
materi dan alokasi waktu yang sama dalam pembelajaran.
1.6 Definisi Konseptual
Definisi konseptual dalam penelitian ini adalah model pembelajaran model
pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri
terbimbing, model pembelajaran konvensional, dan prestasi belajar
10
1) Model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory adalah model
pembelajaran inkuiri terbimbing yang mengintegrasikan media virtual laboratory
dalam proses pembelajaran. Virtual laboratory adalah eksperimen riil yang
digantikan oleh software komputer sehingga eksperimen berlangsung dalam bentuk
simulasi. Virtual laboratory juga dapat diartikan sebagai program komputer yang
memungkinkan siswa menjalankan simulasi eksperimen baik aplikasi berbasis web
maupun aplikasi dalam bentuk offline. Hal ini memberikan kesempatan yang luas
bagi siswa untuk menjalankan aplikasi tersebut kapanpun dan dimanapun tanpa
bergantung jam pelajaran disekolah (Bajpai, 2013).
2) Model pembelajaran inkuiri terbimbing
Model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih menekankan pada siswa untuk aktif
melatih keberanian, berkomunikasi dan berusaha mendapatkan pengetahuannya
sendiri untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Dewi et al 2013). Zawadzki
(dalam Parmawati, 2012) menyatakan inkuiri terbimbing adalah proses
pembelajaran yang beroirentasi pada penelitian untuk menghasilkan suatu
penemuan melalui ide-ide khusus, metodologi yang spesifik serta struktur yang
konsisten sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.
3) Model pembelajaran konvensional
Model pembelajaran konvensional merupakan model pembelajaran yang berpusat
pada penceramah dengan komunikasi satu arah melalui penyampaian informasi
secara lisan kepada pendengar. Model pembelajaran konvensional mengacu pada
teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi
pembelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan
memberikan respon sesuai dengan yang diceramahkan. Materi yang disampaikan
sesuai dengan urutan isi buku teks (Budiningsih, 2005).
11
4) Prestasi belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang
mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam
belajar. Perubahan itu sebagai hasil dari pengalaman individu dalam belajar.
Prestasi belajar juga berkaitan dengan kemajuan siswa dalam segala hal yang
dipelajari disekolah dan yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan yang
dinyatakan sesudah hasil penilaian. (Djamarah, 1994).
1.7 Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah prestasi belajar awal dan dan prestasi
belajar siswa. Prestasi belajar awal merupakan skor yang diperoleh siswa pada semua kelas
sampel dalam menyelesaikan tes prestasi belajar sebelum pembelajaran (pretest). Prestasi
belajar merupakan skor yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan tes prestasi belajar
(posttest). Tes prestasi belajar terdiri dari 20 soal pilihan ganda diperluas . Tes prestasi belajar
pada penelitian ini mencakup aspek penalaran berdasarkan taksonomi Bloom pada ranah
kognitif C2 (pemahaman), C3 (penerapan), dan C4 (analisis).
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivisme
Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran
seseorang. Manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan
pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkanperhatian bagaimana seseorang
mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental dan keyakinan, dan
keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa.
Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran adalah instrument penting dalam
menginterretasikan kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, dimana interpretasi
tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia (Budiningsih, 2005)
12
Tasker (dalam Suastra, 2009) menyampaikan beberapa komponen-komponen dan
langkah-langkah dari konstruktivis dalam belajar yang dapat dirangkum sebagai berikut.
1. Pebelajar (learner) secara aktif memilih dan mengamati beberapa masukan
sensori dari lingkungannya
2. Pengetahuan awal pebelajar sangat mempengaruhi stimulus mana yang akan
diikuti atau dipilihnya.
3. Masukan yang diperhatikan dan dipilih tidak segera mempunyai makna bagi
pebelajar bersangkutan.
4. Pebelajar menyusun hubungan-hubungan antara masukan sensori dan gagasan-
gagasan yang telah ada pada dirinya yang dipandang relevan.
5. Pebelajar mengkonstruksi makna dari hubungab-hubungan antara masukan
sensori dan pengetahuan yang telah dimilikinya.
6. Pebelajar mungkin menguji makna-makna yang berlawanan dengan memori dan
pegalaman yang dirasakannya.
7. Pebelajar mungkin memasukkan konstruksi-konstruksi ke dalam salah satu
memori dengan menghubungkannya pada gagasan-gagasan yang ada atau dengan
cara restrukturisasi gagasan-gagasannya.
8. Pebelajar akan meletakkan beberapa status pada konstruksi baru dan akan diterima
atau ditolaknya.
Suastra (2009) menyatakan bahwa guru dalam kapasitasnya sebagai fasilitator dan
mediator mempunyai ciri-ciri: (1) menyiapkan kondisi yang kondusif bagi terjadinya proses
pembelajaran dengan menyiapkan masalah-masalah yang menantang bagi siswa, (2) berusaha
untuk menggali dan memahami pengetahuan awal siswa, (3) selalu mempertimbangkan
pengetahuan awal dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran, (4)
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide-ide yang dimiliki, (5) lebih
13
menekankan pada argumentasi atas tanggapan siswa daripada benar salahnya tanggapan
siswa, (6) tidak melakukan upaya transfer pengetahuan kepada siswa dan selalu sadar bahwa
pengetahuan dibangun dalam diri siswa, (7) menggunakan suatu strategi pembelajaran yang
dapat mengubah miskonsepsi-miskonsepsi yang dibawa siswa menuju konsep ilmiah, (8)
menyiapkan dan menyajikannya pada saat yang tepat berbagai konflik kognitif yang dapat
mengarahkan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan ilmiah.
Praktik pembelajaran konstruktivistik membantu pebelajar menginternalkan,
membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi melalui
kreasi pemahaman baru yang merupakan hasil dari munculnya struktur kognitif baru.
Pemahaman yang mendalam terjadi ketika hadirnya informasi baru yang mendorong
munculnya atau menaikkan struktur kognitif yang memungkinkan para pebelajar memikirkan
ide-ide mereka sebelumnya (Santyasa, 2012). Pandangan konstruktivisme mampu membawa
perubahan pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered)
menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Pandangan
konstruktivisme menekankan bahwa belajar sebagai proses pemahaman pribadi dan
pengembangan makna dimana belajar dipandang sebagai konstruksi makna bukan sebagai
menghafal fakta.
2.2 Teori Belajar Penemuan
Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari
Jerome Bruner yang dikenal dengan belajar penemuan (Discovery Learning). Inti belajar
menurut Bruner adalah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan
mentransformasi informasi secara aktif. Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa
yang dilakukan dengan informasi yang diterimanya, dan apa yang dilakukan manusia setelah
memperoleh informasi yang diskrit itu untuk mencapai pemahaman. Pendekatan bruner
terhadap belajar dapat diuraikan sebagai suatu pendekatan kategorisasi, dimana Bruner
14
beranggapan bahwa interaksi-interaksi kitadengan alam melibatkan kategori-kategori yang
dibutuhkan bagi pemfungsian manusia. Bruner memandang bahwa belajar dengan penemuan
adalah belajar untuk menemukan, di mana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah
atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahannya
(Dahar, 1989).
Bruner menyarankan hendaknya pebelajar belajar melalui partisipasi secara aktif
dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh
pengalaman, dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka menemukan
prinsip-prinsip itu sendiri (Trianto, 2009). Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan
terhadap tingkah laku seseorang. Melalui teorinya yang disebut free discovery learning, ia
mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan susatu konsep, teori, aturan, atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupannya sehari-hari
(Budiningsih, 2005).
2.3 Model Pembelajaran Inkuiri
Sains Menurut Pandey et al (2011) adalah kemampuan intelektual dalam
mengumpulkan dan menganalisa data guna memecahkan suatu permasalahan. Sains sebagai
proses, baik itu observasi, mengklasifikasi dan mengumpulkan data merupakan suatu prasarat
dari proses sains yang terintegrasi. Pembelajaran sains berdasarkan pendekatan inkuiri adalah
suatu strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa
dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertayaan
melalui suatu prosedur yang direncanakan secara jelas (Suastra, 2009). Gulo (dalam Trianto,
2009), menyatakan inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,
logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh
15
percaya diri. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inkuiri adalah (1) keterlibatan siswa
secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; (2) keterarahan kegiatan secara logis dan
sistematis pada tujuan pembelajaran; (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis
pada tujuan pembelajaran; dan (3) mengembangkan percaya diri pada siswa tentang apa yang
ditemukan dalam proses inkuiri.
Inkuiri dibentuk dan meliputi discovery, karena siswa harus menggunakan
kemampuan discovery. Dengan kata lain, inkuiri adalah salah satu perluasan proses-proses
discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Inkuiri mengandung proses-proses
mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan permasalahan, merancang
eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik
kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan
sebagainya (Suatra, 2009).
Trianto (2009) menyatakan bahwa untuk menciptakan kondisi pembelajran inkuiri
yang ideal, peranan guru adalah sebagai berikut:
1. Motivator, member rangsangan agar siswa aktif dan gairah berfikir.
2. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan.
3. Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat.
4. Administrator, bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan kelas.
5. Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
6. Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
7. Reward, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Pada penelitian ini tahapan pembelajaran yang digunakan mengadaptasi dari tahapan
model pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (dalam Trianto,
2009). Adapun tahapan pembelajaran inkuiri seperti pada Tabel 2.1.
16
Tabel 2.1 Sintak Pembelajaran Inkuiri
Fase Kegiatan Pembelajaran
1. Menyajikan pertanyaan atau
masalah
1. Guru membimbing siswa
mengidentifikasi masalah dan masalah
dituliskan di papan tulis. Guru membagi
siswa ke dalam kelompok-kelompok
2. Membuat hipotesis 2. Guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk tukar pendapat dalam
membentuk hipotesis. Guru
membimbing siswa dalam menentukan
hipotesis yang relevan dengan
permasalahan dan memprioritaskan
hipotesis mana yang menjadi prioritas
penyelidikan.
3. Merancang percobaan 3. Guru memberikan kesempatan pada
siswa untuk menentukan langkah-
langkah yang sesuai dengan hipotesis
yang akan dilakukan. Guru membimbing
siswa untuk mengurutkan langkah-
langkah percobaan.
4. Melakukan percobaaan untuk
memperoleh informasi
4. Guru membimbing siswa untuk
mendapatkan informasi melalui
percobaan.
5. Mengumpulkan dan menganalisis
data
5. Guru memberikan kesempatan pada tiap
kelompok untuk menyampaikan hasil
pengolahan data yang terkumpul.
6. Membuat kesimpulan 6. Guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan.
17
2.4 Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided inquiry) yaitu suatu model pembelajaran
inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas
kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru, siswa tidak merumuskan problem
atau masalah. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing guru tidak melepas begitu saja
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa (Andriani, 2011). Siswa di tingkat pemula
seperti TK, SD, dan SMP cocok diterapkan pembelajaran dengan inkuiri terbimbing, karena
umumnya siswa-siswa pada tingkat pemula tersbut masih banyak memerlukan bimbingan
dari guru dalam proses pembelajaran Suardana (dalam Suardana, 2012). Tanggung jawab
siswa dalam proses eksperimen dapat dilihat dan berhubungan dengan refleksi personal anak
tersebut dan seberapa banyak guru memberikan bimbingan (guidance) dalam proses instruksi
(Oge & Ifeoma, 2013). Suastra (2009) menyatakan langkah-langkah dalam melaksanakan
inkuiri terbimbing sebagai berikut.
Tabel 2.2 Sintaks Inkuiri Terbimbing
Fase Kegiatan Pembelajaran
1. Elisitasi gagasan awal siswa
(sebelum inkuiri)
1. Guru menggali gagasan/ide awal dari
siswa yang berkaitan dengan topic
yang akan dibicarakan.
2. Guru menganjurkan siswa untuk
membuat hipotesis terkait dengan
kegiatan yang akan dilakukan. Guru
tidak mengomentari hipotesis siswa.
2. Pengujian gagasan awal siswa
(selama inkuiri)
3. Siswa melakukan kegiatan pengujian
terhadap hipotesis yang diajukan dan
dipandu dengan LKS.
4. Guru memfasilitasi selama siswa
melakukan kegiatan inkuiri.
3. Negosiasi makna (setelah
inkuiri)
5. Siswa melakuan diskusi kelas terkait
hasil penyelidikan, kegiatan dipandu
18
Fase Kegiatan Pembelajaran
oleh guru untuk mendiskusikan
konsep pokok.
4. Penerapan konsep pada situasi
baru
6. Siswa menerapkan konsep-konsep
yang dimilikinya dalam situasi baru,
misalnya pemecahan masalah, latihan
soal, dan lain-lain.
5. Pembuatan kesimpulan dan
refleksi
7. Siswa membuat kesimpulan dan hasil
pengamatan yang telah mereka
lakukan dan melakukan refleksi
terhadap perkembangan belajarnya.
2.5 Media Virtual Laboratory dalam Pembelajaran Sains.
Criticos (dalam Santyasa, 2007) menyatakan bahwa media merupakan salah satu
komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses
komunikasi. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, guru
(komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan
pembelajaran. Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat,
pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Virtual laboratory adalah sebuah simulasi komputer yang memungkinkan fungsi-
fungsi penting dari laboratorium riil untuk dilaksanakan pada computer. Mosterman et al
(dalam Mulyono, 2011). Terdapat dua konsep utama virtual laboratory yaitu, eksperimen riil
digantikan oleh komputer sehingga eksperimen berlangsung dalam bentuk simulasi
(eksperimen virtual), dan eksperimen laboratorium dapat digambarkan sebagai virtual ketika
eksperimen tidak dikontrol oleh manipulasi langsung peralatan laboratorium, tetapi dengan
alat komputer. Virtual laboratory menggabungkan sumber daya teknologi, software yang
19
dapat digunakan kembali, bersifat otomatis sepanjang dengan konsep pelatihan yang benar
dan dapat mengaktifkan hands-on pelatihan yang dapat dikirim ke siapa saja, di mana saja,
dan kapan saja. Greenberg (dalam Mulyono, 2011).
Bajpai (2013) menyampaikan bahwa virtual laboratory dikembangkan untuk
memenuhi kebutuhan siswa dalam pelaksanaan discovery itu sendiri, mengingat peralatan
laboratorium yang lumrah digunakan disekolah memiliki beberapa keterbatasan. Singh
(2013) menyatakan Virtual yang dimaksud adalah eksperimen yang dilakukan oleh pebelajar
yang tidak terbatas hanya dilakukan di laboratorium di sekolah, namun laboratorium yang
telah terintegrasi ke dalam teknologi atau dikomputerisasi memungkinkan siswa
mengaksesnya dimana saja.
Lal et al (dalam Babateen, 2013) menyampaikan perbandingan antara pembelajaran
berbasis laboratorium konvensional di sekolah dengan pembelajaran berbasis laboratory
virtual ke dalam Tabel 2.3
Tabel 2.3 Pembelajaran berbasis laboratorium konvensional dan pembelajaran
laboratory virtual
No. Karakteristik pembelajaran
laboratorium konvensional
Karakteristik pembelajaran Virtual
Labs
1 Lingkungan belajar yang
cenderung tertutup
Fleksibel dan lingkungan belajar
yang cenderung lebih terbuka
2 Buku dan guru sebagi sumber
utama pengetahuan
Pembelajaran bergantung dari
sumber yang bervariasi
3 Terpisah antara teori dan praktek,
dan antara kenyataan dan imajinasi
Merupakan integral antara teori
dan praktek aspek dalam situasi
virtual yang dibuat senyata
mungkin.
4 Pendidikan formal yang telah
terstandarisai
Memungkinkan pembelajaran yang
berkesinambungan baik secara
formal maupun informal
5 Pembelajaran dalam kelas besar Pembelajaran dalam kelas kecil
20
No. Karakteristik pembelajaran
laboratorium konvensional
Karakteristik pembelajaran Virtual
Labs
maupun individu
6 Menggunakan metode tradisional
dalam pembelajaran
Menggunakan medode yang
bervariasi dalam pembelajaran
7 Perbedaan individu tidak
dianjurkan
Diperbolehkan terjadinya
perbedaan individu dalam proses
pembelajaran
8 Partisipasi lebih didominasi oleh
guru
Partisipasi positif dan aktif dari
guru dan siswa
9 Metode lebih cenderung verbal
(ceramah)
Metode pembelajaran lebih
bervariasi
Alaydarous et al (2013) dalam penelitiannya yang berjudul ”Virtual Nuclear Laboratory for
E-Learning” menyampaikan struktur umum yang terdapat dalam simulasi virtual laboratory
yang digambarkan sebagai berikut.
Gambar 2.1 Struktur Umum Simulasi Virtual Laboratory
21
2.6 Model Pembelajaran Konvensional
Model pembelajaran konvensional mengacu pada teori behavioristik, di mana guru
berperan sebagai pusat informasi (teacher centered). Menurut teori behavioristik belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan
respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara
stimulus dan respon. Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang
berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Factor lain yang juga
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah factor penguatan (reinforcement).
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons (Budiningsih, 2005).
Burrowes (dalam Warpala, 2007) menyampaikan pembelajaran konvensional
menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk
merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan
sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa pembelajaran konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu: (1) pembelajaran
berpusat pada guru, (2) terjadi pasive learning, (3) interaksi di antara siswa kurang, (4) ada
kelompok-kelompok kecil, tetapi bukan kooperatif, dan (5) penilaian bersifat sporadis.
Secara umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik
yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya (dalam Budiningsih, 2005) dapat digunakan
dalam merancang pembelajaran. Langkh-langkah tersebut meliputi: (1) menentukan tujuan-
tujuan pembelajaran, (2) menganalisis lngkungan kelas yang ada saat ini termasuk
mengidentifikasi pengetahuan awal siswa, (3) menentukan materi pembelajaran.(4) memecah
materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokuk bahasan,
topik, dan lain sebagainya, (5) menyajikan materi pembelajaran (6) memberikan stimulus,
dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan, atau tugas-tugas, (7)
mengamati dan mengkaji respon yang diberikan siswa, (8) memberikan
22
penguatan/reinforcement, (9) memberikan stimulus baru, (10) mengamati dan mengkaji
respons yang diberikan siswa, (11) memberikan penguatan lanjutan atau hukuman, (12)
evaluasi hasil belajar.
2.7 Prestasi Belajar
Prestasi balajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan melalui mata pelajaran yang lazimnya ditunjukan dengan nilai yang diberikan
oleh guru. Gunarso (dalam Sunarto, 2012) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah
usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.
Prestasi dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar, prestasi
belajar juga merupakan hasil perubahan pencapain siswa dalam ranah kognitif. Fungsi
prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauh mana kemajuan siswa setelah
menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi
setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok (Djamarah,
1994).
Menurut Slameto (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa
dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi,
1) faktor jasmani berupa kesehatan dan cacat tubuh, 2) faktor psikologis berupa inteligensi,
perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan, 3) faktor kelelahan berupa
kelelahan jasmani kelelahan rohani. Faktor ekstern meliputi faktor keluarga, faktor sekolah,
dan faktor masayarakat.
2.8 Kajian Hasil-Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian ini yang bekaitan
dengan inkuiri terbimbing dan virtual laboratory adalah sebagi berikut:
1. Penelitian yang dilakukan Suleman et al (2013) “Role of Instructional Technology in
Enhancing Students’ Educational Attainment in General Science at Elementary Level in
23
District Karak (Pakistan)” menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimental
yang belajar berbantuan Instructionla Technology cenderung memiliki perhatian dan
ketertarikan dalam proses belajar dibanding kelompok kontrol yang belajar melalui
metode konvensional. Instructional Technology yang diterapkan pada penelitian ini
menunjukkan hasil yang lebih positif dalam meningkatkan prestasi belajar dan motivasi
siswa pada kelompok eksperimen dibanding kelas control. Penelitian ini berkaitan dengan
pengaplikasian Instructional Technology dalam proses pembelajaran. Teknologi yang
diterapkan memberikan dampak positif bagi kelas eksperimen dibanding kelas kontrol.
Hal ini menunjukkan siswa memiliki etertarikan dan respons positif terhadap
pengaplikasian media teknologi dalam pembelajarannya. Kedepannya pembelajaran harus
memanfaatkan media pembelajaran yang lebih kreatif dan tentunya memanfaatkan media
teknologi untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa.
2. Tatli dan Ayas (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “effect of a Virtual Chemistry
laboratory on students” Schievement” menyimpulkan bahwa pengembangan dan
pemanfaatan teknologi laboratorium virtual lebih efektif dalam meningkatkan prestasi
belajar dan ketrampilan laboratorium siswa dibandingkan proses pembelajaran melalui
real laboratory. Penelitian ini memanfaatkan media VCL (Virtual Chemistry Laboratory),
media ini memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran. Hal positif yang dapat diambil
dari penelitian ini adalah pemanfaatan media virtual laboratory dapat meningkatkan
prestasi belajar dan lebih efektif disbanding pembelajaran real laboratory. Dalam
penelitian in juga disampaikan beberapa kelebihan mengenai penggunaan virtual
laboratory yang cenderung lebih mudah dipahami dan fleksibel dalam pelaksanaannya.
3. Bajpai (2013) melakukan penelitian yang berjudul “Developing Concept in Physics
Through Virtual Lab Experiment: An Effectiveness Study”. Berdasarkan tes pemahaman
konsep fisika siswa, diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran yang memanfaatkan
24
virtual lab lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa dibanding
pembelajaran melalui real lab. Penelitian ini juga memberikan kejelasan mengenai
pentingnya memanfaatkan media berbasis teknologi dalam pembelajaran terutama yang
berkaitan dengan virtual laboratory. Hal tersebut didasarkan pada hasil yang dicapai pada
penelitian ini. Pemanfaatan virtual laboratory memungkinkan siswa belajar lebih aktif
dan lebih antusias karena visualisasi dari media ini ditampilkan dengan menarik.
4. Penelitian yang dilakukan Singh (2013) berjudul “Virtual Learning Environment for Next
Generation in Electronics & Telecommunications Courses” menyimpulkan bahwa
pemanfaatan VLE (Virtual Learning Environment) memberikan hasil yang serupa dengan
proses pembelajaran konvensional yang harus melakukan facr to face. Sedangkan melalui
VLE pembelajaran tidak terbatas ruang dan waktu. Analisa yang dilakukan oleh peneliti
menunjukkan VLE dapat diterapkan untuk materi yang lebih rumit sekalipun, bahkanakan
menghasilkan pemahaman siswa yang lebih baik kedepannya. Penelitian ini jelas
menekankan bahwa pemanfaatan teknologi virtual memang untuk generasi kedepan yang
tentunya memerlukan literasi sains dan teknologi.
5. Bakar et al (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “An Effective Virtual Laboratory
Approach for Chemistry” kesimpulan dari penelitian ini ialah pemanfaatana virtual
laboratory dalam sangat dianjurkan karena ditemukan bahwa siswa yang belajar
menggunakan virtual laboratory memiliki prestasi belajar yang lebih baik daripada siswa
yang belajar memalui metode konvensional. Penelitian ini memberikan gamabaran
bagaimana pemanfaatan virtual laboratory secara efektif meningkatkan prestasi belajar
siswa. hal ini kembali berkaitan dengan kertertarikan dan kelebihan yang dimiliki
pembelajaran yang memanfaatkan media virtual laboratory. Pada era globalisasi seperti
ini pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bukan merupakan hal yang tabu untuk
25
dilaksanakan, melainkan merupakan sebuah solusi dan keharusan dalam upaya
peningkatan prestasi belajar siswa.
6. Penelitian yang dilakukan Wijaya (2013) berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran
Inkuiri Berbantuan Virtual Laboratory terhadap Pemahaman Konsep Fisika Siswa Kelas
VIII SMP Negeri I Negara Tahun Ajaran 2012/2013. Berdasarkan hasil penelitian ini,
dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berbantuan virtual
laboratory didalam pembelajaran fisika sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman
konsep fisika dibanding model pembelajaran inkuiri dan model pembelajaran
konvensional. Siswa dalam kelompok eksperimen yang belajar berbantuan virtual
laboratory menunjukkan hal yang positif dibanding MPI dan MPK. Hal ini
menunjukkan pemanfaatan virtual laboratory dalam pembelajaran bisa dijadikan solusi
kedepannya dan dapat merubah paradigm pembelajaran kea rah student centered terlebih
lagi pemanfaatan media pembelajaran dalam bentuk teknologi dapat meningkatkan
literasi siswa di bidang teknologi.
7. Mattehew dan Kenneth (2013) dalam penelitiannya memperoleh kesimpulan bahwa siswa
yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing memliki skor prestasi belajar
lebih baik dibanding siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional.
Penelitian yang dilakukan Mattehew dan Kenneth (2013) berkaitan tentang inkuiri
terbimbing. Inkuiri terbimbing memberikan dampak yang positif terhadap kelompok
eksperimen dibanding kelompok kontrol. Hal ini mengindikasikan siswa yang belajar
secara discovery dapat membentuk pengetahuannya sendiri melalui proses discovery itu
sendiri.
8. Penelitian yang dilakukan oleh Suardana (2012) pada siswa kelas VIII
c
SMP Negeri 1
Amlapura tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar
26
IPA (Fisika). Suardana (2012) melakuakn penelitian terhadap siswa kelas VIII SMP
Negeri 3 Singaraja tahun pelajaran 2011/2012. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan dari pemahaman konsep sains antara siswa yang
belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing bermuatan local genius, siswa
yang belajar dengan model model pembelajaran inkuiri terbimbing, dan siswa yang
belajar dengan model pembelajaran reguler. Pemahaman konsep siswa yang belajar
melalui model pembelajaran reguler menunjukan hasil paling rendah dibandingkan
dengan pemahaman konsep siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri
terbimbing bermuatan local genius dan inkuiri terbimbing.
2.9 Kerangka Berpikir
Pendidikan adalah cerminan kekuatan suatu bangsa, bangsa yang maju selalu
mengutamakan pendidikan warga negaranya. Melalui pendidikan suatu bangsa dapat
mengembangkan berbagai sektor yang dibutuhkan dalam kelangsungan bangsa baik itu
teknologi, ekonomi, industri dan lain sebagainya. Pendidikan mempersiapkan sumber daya
manusia untuk bersaing dan menjalankan kehidupan dengan baik karena pendidikan sendiri
bukan hanya berkaitan dengan kecerdasan secara integensi tapi juga bagaimana membentuk
sikap dan moral dari pebelajar.
Globalisasi menuntut sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing di
bidang sains dan teknologi. Namun, pendidikan Indonesia tampaknya masih banyak
tertinggal dengan negara-negara maju di dunia. Kurang mampunya sistem pendidikan
Indonesia untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas ditenggarai
diakibatkan oleh sistem pembelajaran yang diterapkan belum menyentuh hakikat pendidikan
sains yang mementingkan proses guna mencapai suatu produk atau hasil dari pembelajaran
tersebut.
27
Pemerintah Indonesia sendiri telah merancang beberapa kebijakan yang ditujukan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia baik dari pembaharuan kurikulum
hingga saat ini kurikulum terbaru kurikulum 2013, meningkatkan profesionalisme guru
melalui program sertifikasi, hingga pembenahan sarana prasarana dan pemerataan
pendidikan. Namun, segala upaya yang telah dilakukan pemerintah belum sepenuhnya
membuahkan hasil maksimal. Kesenjangan itu terjadi mulai dari pendidikan di tingkat dasar
hingga perguruan tinggi yang memang belum maksimal dalam mengelola dan menjalankan
proses pendidikannya.
Guru sebagai fasilitator memegang peranan penting dalam proses pembelajaran.
Sebagai penentu alur dalam proses pendidikan di dalam kelas, guru bertanggung jawab
langsung terhadap kualitas pembelajaran di dalam kelas. Namun, fakta dilapangan masih
terdapat proses pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) dimana, dalam
menjalankan proses pembelajaran dikelas guru mengajar melalui metode ceramah tanpa
memperhatikan karakteristik pebelajar itu sendiri. Guru kurang melibatkan siswa dalam
proses pembelajaran. Hal ini berakibat siswa hanya menerima stimulus langsung dari guru,
padahal hendaknya guru memfasilitasi siswa dalam pengembangan pengetahuannya sendiri
dan bukan hanya memberikan informasi secara langsung sepanjang pembelajaran dikelas.
Metode dan model pembelajaran yang selama ini digunakan belum mampu
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Faham konstruktivistik diharapkan
mampu memberikan penjelasan bagaimana seharusnya pembelajaran itu dilakukan. Faham
konstruktivistik sendiri merupakan suatu faham dimana menganggap pebelajar adalah subjek
dari proses pembelajaran itu sendiri, pebelajar membentuk konstruksi pengetahuannya sendiri
dari pengetahuan awal yang mereka miliki.
28
Inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan hakikat sains
yaitu sains adalah proses dan produk. Proses yang dimaksud adalah konstruksi pengetahuan
pembelajar dibentuk melalui proses sains yang melibatkan penemuan atau eksperimen.
Inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang dalam prosesnya melibatkan siswa
secara utuh (student centered), guru disini bertugas sebagai fasilitator. Namun, dalam
praktiknya masih terdapat berbagai kendala dalam proses pembelajaran menggunakan model
pembelajaran inkuiri yaitu: (1) proses memerlukan waktu yang panjang, (2) ketersediaan alat
laboratorium yang kurang memadai, (3) terkadang alat-alat di laboratorium kurang mampu
merepresentasikan beberapa marteri dalam fisika sehingga siswa sulit untuk memahaminya,
(4) ekperimen yang dilakukan di laboratorium kurang fleksibel karena pelaksanaannya pada
jam tertentu dan di sekolah.
Pembelajaran dapat lebih efektif, efisien, menarik dan interaktif apabila difasilitasi
dengan media pembelajaran. Media pembelajaran sendiri banyak memanfaatkan beragam
teknologi yang dikenal sebagai teknologi pendidikan. Salah satu bentuk teknologi yang
memiliki kesesuaian dengan teori discovery learning adalah laboratorium virtual (virtual
laboratory). Model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory berarti
dalam proses inkuiri terbimbing akan diterapkan suatu media pembelajaran berupa virtual
laboratory. Model pembelajaran yang dikombinasikan dengan media elektronik ini diprediksi
akan meningkatkan prestasi belajar fisika siswa, mengingat keunggulan dari inkuiri
terbimbing dan laboratorim virtual yang disampaikan sebelumnya.
Virtual laboratory memiliki beberapa kelebihan dibanding pembelajaran real lab
maupun model pembelajaran konvensional. Virtual laboratory cenderung lebih fleksibel
dalam penggunaannya. Terlebih lagi siswa lebih antusias dalam pembelajaran yang
melibatkan teknologi didalamnya, seperti penggunaan simulasi maupun media pembelajaran
berbasis teknologi lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti hendak meneliti pengaruh
29
model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory terhadap prestasi
belajar siswa.
2.10 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini yaitu “terdapat perbedaan prestasi belajar
fisika antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing
berbantuan virtual laboratory, siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran inkuiri
terbimbing dan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional”.
Gambar 2.2 Diagram Alir Kerangka Berpikir
1. Siswa menerima
pengetahuan dari guru atau
orang lain
2. Pembelajaran bersifat
teoretis & abstrak
3. Teacher centered
4. Guru sebagai sumber
informasi
5. Siswa pasif dalam
pembelajaran
6. Suasana belajarsangat
membosankan
7. Ceramah, diskusi
Pembelajaran Fisika di Sekolah
Paradigma tradisional Paradigma Konstruktivis
MPK
MPIT+VL
1. Siswa membangun
oengetahuannya secara
mandiri
2. Pembelajaran lebih nyata
dengan melibatkan siswa
dalam penemuan
3. Student centered
4. Guru sebagai fasilitator
dan mediator
5. Siswa aktif dalam
pembelajaran
6. Suasana belajar
menyenangkan
7. Discovery
Prestasi Belajar Fisiska
Virtual
laboratory
pada
pembelajaran
MPIT
Fleksibel dan
lingkungan belajar
lebih terbuka
Pembelajaran lebih
menarik
Cenderung Negatif Cenderung Positif
30
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Desain ini
mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol
variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2013).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Singaraja tahun 2013/2014. Kelas VIII SMP Negeri 1
Singaraja terdiri dari 10 kelas yaitu kelas VIIIA
1
, VIIIA
2
, VIIIA
3
, VIIIA
4
, VIIIA
5
, VIIIA
6
,
VIIIA
7
, VIIIA
8
, VIIIA
9
dan VIIIA
10
. Dari 10 kelas yang ada hanya 8 kelas yang dirandom
karena dua kelas merupakan kelas unggulan yaitu kelas VIIIA
1
dan VIIIA
10
. Jumlah
keseluruhan populasi disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Distribusi Sumber Populasi Penelitian
No. Sumber Populasi Jumlah Siswa
1 Kelas VIIIA
2
24
2 Kelas VIIIA
3
24
3 Kelas VIIIA
4
24
4 Kelas VIIIA
5
24
5 Kelas VIIIA
6
24
6 Kelas VIIIA
7
24
7 Kelas VIIIA
8
24
8 Kelas VIIIA
9
24
Total 192
(Sumber: SMP Negeri 1 Singaraja, 2013)
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiyono, 2013). Pemilihan sampel yang digunakan sebagai kelas eksperimen dan
kelas kontrol dilakukan dengan cara group random sampling. Teknik ini digunakan sebagai
31
teknik pengambilan sampel karena individu-individu pada populasi telah terdistribusi ke
dalam kelas-kelas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengacakan terhadap
individu-individu dalam populasi. Teknik group random sampling juga memberikan peluang
yang sama bagi seluruh anggota populasi untuk menjadi sampel.
Teknik random sampling dilakukan dengan cara manual yaitu dengan sistem undian.
Cara pengambilan kelas sampel dalam sistem undian tersebut adalah ketiga kelas yang
muncul dalam undian langsung dijadikan kelas sampel. Ketiga kelas tersebut akan dirandom
lagi untuk menentukan satu kelas kontrol dan dua kelas eksperimen. Ketiga kelas yang telah
terpilih dari proses random pertama kemudian dirandom kembali untuk menentukan kelas
yang menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory
(MPIT+VL), model pembelajaran inkuiri terbimbing (MPIT) dan kelas yang menggunakan
model pembelajaran konvensional (MPK). Berdasarkan hasil pengundian diperoleh sampel
untuk masing-masing perlakuan seperti Tabel 3.2
Tabel 3.2 Sampel Penelitian pada Masing-masing Perlakuan
Model Pembelajaran Kelas Jumlah
siswa
MPIT+VL VIII A
4
24
MPIT VIII A
7
24
MPK VIII A
8
24
Total sampel 72
3.3 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam merencanakan dan
melaksanakan percobaan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan
eksperimen one way pretest-posttest nonequivalent control group design yang ditunjukkan
pada Gambar 3.1.
(Diadaptasi dari Sugiyono, 2013)
Gambar 3.1 Rancangan eksperimen one way pretest-postttest
nonequivalent control group design
O
5
X
3
O
6
O
3
X
2
O
4
O
1
X
1
O
2
32
Keterangan:
O
1,
O
3,
O
5
: Pengamatan awal pada kelas eksperimen dab kelas kontrol
sebelum perlakuan
O
2,
O
4,
O
6
: Pengamatan akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
setelah diberi perlakuan.
X
1
: Kelompok eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran
inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory
X
2
: Kelompok eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran
inkuiri terbimbing
X
3
: Kelompok kontrol diberi perlakuan model pembelajaran
konvensional.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel yang diselidiki dalam penelitian ini adalah pengaruh variabel bebas
(independent) terhadap satu variabel terikat (dependent). Terdapat tiga variabel dalam
penelitian ini, yaitu variabel bebas (independent), variabel terikat (dependent), dan variabel
kontrol. Variabel bebas pada penelitian ini adalah model pembelajaran yang meliputi tiga
dimensi, yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory, model
pembelajaran inkuiri terbimbing, dan model pembelajaran konvensional. Variabel terikat
yang diteliti pada penelitian ini adalah prestasi belajar fisika siswa. Sementara yang menjadi
variabel kontrol dalam penelitian ini adalah prestasi belajar awal siswa. Hubungan antar
variabel tersebut ditunjukkan pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Hubungan antara variabel-variabel penelitian
Prestas Belajar Siswa
Prestasi Belajar Awal
Siswa
Model Pembelajaran:
1. Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing Berbantuan Virtual
Laboratory
2. Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing
3. Model Pembelajaran Konvensional
33
3.5 Prosedur Penelitian
Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini, dapat dipaparkan
sebagai berikut.
Tabel 3.3 Prosedur Penelitian
No Tahapan Uraian kegiatan
1 Orientasi 1) Mengadakan penjajagan ke SMP Negeri 1 Singaraja
sekaligus minta izin kepada kepala sekolah untuk
mengadakan penelitian di sekolah tersebut.
2) Melakukan koordinasi dengan guru fisika kelas VIII untuk
mengetahui karakteristik siswa.
3) Meminta silabus yang digunakan di sekolah tersebut.
2 Merancang
instrumen
penelitian
1) Mempersiapkan instrumen penelitian pre-test dan post-test
sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan.
2) Validasi pada instrumen penelitian dilakukan dengan uji
validitas isi dan uji coba instrumen.
3) Mengadakan konsultasi dengan ahli (dosen pembimbing)
berkaitan dengan instrumen yang telah dibuat.
3 Observasi awal 1) Mengadakan penarikan sampel dengan teknik simple
random sampling dari populasi yang telah ditentukan
hingga diperoleh sampel yang terdiri atas dua kelas yaitu
satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol.
2) Mengobservasi kegiatan belajar mengajar di kelas yang
dijadikan kelas kontrol dan kelas eksperimen.
4 Uji coba instrumen 1) Melaksanakan uji coba instrumen penelitian di SMP
Negeri 1 Singaraja.
5 Revisi instrumen 1) Menganalisis hasil uji coba instrumen.
2) Melaksanakan bimbingan dengan dosen pembimbing
terkait dengan hasil uji coba instrumen.
3) Melakukan revisi terhadap instrumen, berdasarkan
masukan dari dosen pembimbing.
34
No Tahapan Uraian kegiatan
7 Merancang
perangkat
pembelajaran
1) Membuat RPP dan LKS berdasarkan langkah-langkah dari
masing-masing strategi pembelajaran.
2) Melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing terkait
dengan perangkat pembelajaran yang telah dirancang.
8 Mengadakan tes
awal (pre-test)
1) Mengadakan observasi dan tes awal (pretest) pada kelas
kontrol maupun pada kelas eksperimen. Pemberian tes
awal ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar fisika
siswa sebelum mendapat perlakuan.
2) Tes awal yang diberikan berupa tes prestasi belajar fisika
yang berupa 20 butir tes pilihan ganda diperluas.
9 Memberikan
perlakuan
1) Menerapkan model pembelajaran pada setiap kelas
eksperimen dan kontrol.
9 Mengadakan tes
akhir (post-test)
1) Mengadakan observasi dan tes akhir (posttest) pada kelas
kontrol maupun pada kelas eksperimen. Pemberian tes
akhir ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi
pembelajaran peta konsep terhadap prestasi belajar fisika
siswa.
2) Tes akhir (posttest) yang diberikan sama dengan soal pada
tes awal (pretest).
10 Analisis data dan
pengujian hipotesis
1) Menganalisis data hasil penelitian.
2) Menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya.
3) Melakukan bimbingan dengan dosen terkait dengan hasil
analisis data.
11 Penyelesaian
Laporan (Skripsi)
1) Melakukan pembahasan dan membuat simpulan serta saran
untuk melengkapi laporan (skripsi).
2) Melakukan bimbingan dengan dosen mulai dari BAB I s/d
BAB V dan lampiran skripsi.
35
3.6 Perlakuan Penelitian
Penelitian ini melibatkan tiga kelompok belajar, yaitu dua kelas eksperimen dan satu
kelas kontrol. Kelas eksperimen, satu kelas diberikan perlakuan model pembelajaran inkuiri
terbimbing berbantuan virtual laboratory dan satu kelas diberikan perlakuan model
pembelajaran inkuiri terbimbing. Kelas kontrol diterapkan model pembelajaran konvensional.
Rancangan materi dan alokasi waktu perlakuan untuk kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol disajikan pada Tabel 3.4
Tabel 3.4 Rancangan Materi dan Alokasi Waktu Perlakuan
Masing-masing Perlakuan
No Materi Indikator Alokasi
Waktu
1 Getaran dan
gelombang
1. Mendeskripsikan pengertian getaran 2 kali
pertemuan
6 × 40
menit)
2. Mengidentifikasi berbagai contoh getaran dalam kehidupan
sehari hari.
3. Menentukan periode dan frekuensi suatu getaran
4. Menentukan hubungan antara periode dan frekuensi
5. Menjelaskan pengertian gelombang dan sifat-sifat
gelombang
6. Membedakan karakteristik antara gelombang transversal
dengan gelombang longitudinal serta contohnya dalam
kehidupan sehari-hari.
2 Cahaya 1. Mengidentifikasi penyebab timbulnya bunyi dan
karakteristik gelombang bunyi
3 kali
pertemuan
(12 × 40
menit)
2. Mendeskripsikan jenis bunyi berdasarkan frekuensinya
yaitu infrasonik, audiosonik, ultrasonik.
3. Menjelaskan pengertian resonansi
4. Menunjukkan gejala resonansi dalam kehidupan sehari-hari
5. Mendeskripsikan pengertian cepat rambat gelombang
bunyi.
36
No Materi Indikator Alokasi
Waktu
6. Membedakan cepat rambat bunyi dengan cahaya
7. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi cepat
rambat bunyi.
8. Menjelaskan terjadinya pemantulan bunyi
9. mengidentifikasi jenis-jenis pemantulan bunyi, dampaknya
dalam kehidupan sehari-hari beserta pemanfaatannya
3.7 Perangkat Pembelajaran
Penelitian ini menggunakan perangkat pembelajaran yang berupa Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). RPP dan LKS
dikembangkan dari silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). RPP dan LKS
disusun untuk masing-masing model pembelajaran yang digunakan.
3.7.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan dalam penelitian ini
merupakan perwujudan dari model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual
laboratory (MPIT+VL), model pembelajaran inkuiri (MPIT), dan model pembelajaran
konvensional (MPK). Secara umum langkah-langkah yang ditempuh dalam mengembangkan
RPP adalah: (1) menganalisis materi pelajaran, (2) menetapkan standar kompetensi, (3)
menetapkan kompetensi dasar, (4) menetapkan indikator pembelajaran, (5) menetapkan
materi pelajaran, (6) merancang kegiatan pembelajaran, dan (7) menyusun alat evaluasi
pembelajaran untuk mengukur pencapaian indikator pembelajaran.
3.7.2 Lembar Kerja Siswa
Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam penelitian ini digunakan untuk memfasilitasi
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diterapkan. LKS ini dikembangkan
berdasarkan RPP untuk masing-masing model pembelajaran.
37
3.8 Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam mengumpulkan
data. Instrument penelitian digunakan untuk mengukur nilai variable yang diteliti (Sugiyono,
2013). Instrumen yang digunakan adalah tes prestasi belajar fisika siswa. Tes prestasi belajar
yang digunakan pada saat pre-test dan pos-ttest adalah sama. Skor minimal dari masing-
masing butir tes prestasi belajar adalah 0 (nol) dan skor maksimalnya adalah 4. Prosedur
pengembangan tes prestasi belajar, yaitu: (1) mengidentifikasi standard kompetensi, (2)
menidentifikasi kompetensi dasar, (3) merumuskan indikator pembelajaran yang harus
dicapai berdasarkan kompetensi dasar, (4) menyususn secara terpadu kisi-kisi tes prestasi
belajar, (5) menentukan criteria penilaian, (6) penulisan butir-butir tes, (7) uji ahli, (8) uji
lapangan, (9) analisis hasil uji lapangan, (10) revisis butir-butir tes, (11) finalisasi instrument.
Tes prestasi belajar yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa tes pilihan ganda
diperluas. Penggunaan tes pilihan ganda diperluas menuntut siswa berpikir tentang alasan
mengapa memilih jawaban benar (Santyasa, 2006). Jumlah butir soal yang digunakan adalah
20 butir dari 30 butir soal yang diuji cobakan. Kriteria penilaian tes prestasi belajar tipe
pilihan ganda diperluas menggunakan rubrik dengan rentangan skor 0-4 yang disajikan pada
Tabel 3.5.
Tabel 3.5 Rubrik asesmen extended respon tipe pilihan ganda diperluas
Skor Kriteria
4 Menjawab benar, menunjukkan alasan yang benar disertai bukti-bukti,
prinsip, formula, atau perhitungan
3 Menjawab benar dan menunjukkan alasan yang benar, namun kurang
lengkap
2 Menjawab benar, tetapi tidak menunjukkan alasan, atau menunjukkan
alasan yang salah atau miskonsepsi
1 Menjawab, tetapi salah atau miskonsepsi
0 Tidak menjawab
(Santyasa, 2006)
38
Teknik pengumpulan data menggunakan tes prestasi belajar fisika. Data prestasi
belajar awal diperoleh dengan menggunakan pretest. Data prestasi belajar setelah siswa
mendapatkan perlakuan untuk kelas kontrol dan eksperimen diperoleh dengan menggunakan
posttest. Skor hasil pretest merupakan prestasi belajar awal siswa sebelum pembelajaran dan
skor hasil posttest berupa prestasi belajar siswa setelah mendapat perlakuan. Tes yang
digunakan pada saat pretest dan posttest adalah tes yang sama. Instrumen dan teknik
pengumpulan data yang meliputi jenis data, sumber data, teknik pengumpulan data,
instrumen, validitas instrumen, dan waktu penyebaran instrumen disajikan pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data
No. Jenis Data
Sumber
Data
Teknik
Pengump
ulan Data
Instrumen
Validitas
Instrumen
Waktu
1 Skor Hasil
Tes Prestasi
belajar awal
siswa
Siswa Tes Tes
prestasi
belajar
Validitas isi,
konsistensi
internal
butir,
reliabilitas,
daya beda,
tingkat
kesukaran.
Sebelum
perlakuan
2 Skor Hasil
Tes Prestasi
belajar siswa
Siswa Tes Tes
prestasi
belajar
Validitas isi,
konsistensi
internal
butir,
reliabilitas,
daya beda,
tingkat
kesukaran.
Setelah
perlakuan
39
3.9 Validasi Perangkat Pembelajaran dan Uji Coba Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini berupa tes
prestasi belajar. Arikunto (2009) menyatakan semua jenis instrumen sebelum digunakan
perlu diyakinkan bahwa memang sudah baik sehingga apabila digunakan untuk
mengumpulkan data akan menghasilkan data yang betul. Itulah sebabnya sebelum digunakan
instrumen harus diujicobakan.
Instrumen evaluasi harus diuji coba, dan bila perlu harus diuji coba beberapa kali,
agar persyaratan validitas, reliabilitas, dan persyaratan instrumen lainnya dapat dipenuhi
dengan baik (Candiasa, 2010). Oleh karena itu, instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam penelitian ini diujicobakan terlebih dahulu. Pengujian terhadap
instrumen penelitian meliputi uji validitas isi, uji konsistensi internal butir, realibilitas tes,
daya beda butir, dan tingkat kesukaran butir.
Perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
Lembar Kerja Siswa (LKS) juga divalidasi. Rancangan perangkat pembelajaran berbeda
untuk masing-masing kelas karena masing-masing kelas mendapatkan perlakuan model
pembelajaran yang berbeda.
3.9.1 Validitas Isi Perangkat Pembelajaran
Menurut Candiasa (2010) validitas isi menyangkut isi dan format instrumen.
Pertanyaan yang mesti terjawab dari konsep validitas isi antara lain: 1) seberapa ketepatan
instrument, 2) apakah instrument sudah mengukur variabel yang akan diukur, 3) seberapa
ketepatan butir tes mewakili sampel materi, dan 4) sebarapa ketepatan format instrumen.
Langkah yang dilakukan dalam menguji validitas isi perangkat pembelajaran adalah
dengan mempertimbangkan dua orang ahli isi yaitu dua orang dosen pembimbing pada
bidang studi yang sama yang memiliki kualifikasi dan pengalaman kerja yang cukup.
40
Pertimbangan ahli isi dianggap telah refresentatif sebagai dasar pertimbangan untuk
memutuskan bahwa RPP dan LKS yang dikembangkan telah memenuhi validitas isi. Proses
validasi perangkat pembelajaran dilakukan melalui konsultasi dengan dosen pembimbing.
Hasil bimbingan yang berupa masukan-masukan baik dari segi kedalaman isi, sistematika
penulisan, maupun tata bahasa selanjutnya direvisi agar layak digunakan.
3.9.2 Validitas Isi Instrumen Penelitian
Validitas isi artinya kejituan daripa suatu tes ditinjau dari isi tes tersebut. Suatu tes
dikatakan valid, apabila materi tes tersebut merupakan bahan-bahan yang representative
terhadap terghadap bahan-bahan yang diberikan (Nurkancana & Sunartana, 1990). Validitas
isi ditegakkan pada langkah telaah dan revisi butir pertanyaan atau butir pernyataan,
berdasarkan pendapat profesional (professional judgment) para penelaah.
Penelaah sebagai ahli isi dan ahli desain instrumen dalam penelitian ini adalah dua
orang dosen pembimbing. Pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh penelaah
dianggap telah refresentatif sebagai dasar pertimbangan untuk memutuskan bahwa instrumen
tes prestasi belajar yang dikembangkan telah memenuhi validitas isi.
Proses validasi instrumen tes prestasi belajar adalah sebagai berikut. (1) Instrumen
yang telah dirancang dikonsultasikan dengan dosen pembimbing yang ditunjuk. (2) Hasil
bimbingan yang berupa masukan-masukan baik dari segi kedalaman isi, sistematika
penulisan, maupun tata bahasa selanjutnya direvisi. (3) Hasil revisian kemudian
dikonsultasikan kembali sampai instrumen penelitian yang dimaksud layak digunakan
sebagai uji coba.
3.9.3 Indeks Daya Beda
Indeks daya beda butir diperlukan untuk mengetahui apakah tes yang dipergunakan
mampu membedakan siswa yang memang bisa menjawab soal dengan baik dan yang tidak
41
bisa menjawab. Persamaan yang dipakai untuk menghitung indeks daya beda butir (Santyasa,
2005) adalah sebagai berikut.
( )
min max
Score Score N
L H
IDB
÷
÷
=
¿ ¿
dengan:
¿
H = jumlah skor kelompok atas (KA),
¿
L = jumlah skor kelompok bawah (KB),
N = jumlah respon pada KA dan KB,
Score
max
= skor tertinggi butir,
Score
min
= skor terendah butir.
Rentangan IDB yang dapat dijadikan acuan (Santyasa, 2005) adalah sebagai berikut.
a) 0,00 < IDB ≤ 0,20 berarti sangat rendah,
b) 0,20 < IDB ≤ 0,40 berarti rendah,
c) 0,40 < IDB ≤ 0,60 berarti sedang,
d) 0,60 < IDB ≤ 0,80 berarti tinggi,
e) 0,80 < IDB ≤ 1,00 berarti sangat tinggi.
Item tes yang memungkinkan untuk tes standar dan dapat digunakan dalam penelitian
ini adalah item tes yang mempunyai IDB > 0,20 (Santyasa, 2005).
3.9.4 Indeks Kesukaran Butir
Indeks kesukaran butir menyatakan tingkat kesukaran dari tiap-tiap butir soal dilihat
dari jumlah responden yang menjawab dengan benar dan salah. IKB dihitung dengan
persamaan (Santyasa, 2005) sebagai berikut.
( )
( )
min max
min
2
2
Score Score N
Score N L H
IKB
÷
× ÷ +
=
¿ ¿
42
dengan:
¿
H = jumlah skor kelompok atas (KA),
¿
L = jumlah skor kelompok bawah (KB),
N = jumlah respon pada KA dan KB,
Score
max
= skor tertinggi butir,
Score
min
= skor terendah butir.
Rentangan IKB yang dapat dijadikan acuan (Santyasa, 2005) adalah sebagai berikut.
a) 0,00 < IKB ≤ 0,20 berarti sangat sukar,
b) 0,20 < IKB ≤ 0,40 berarti sukar,
c) 0,40 < IKB ≤ 0,60 berarti sedang,
d) 0,60 < IKB ≤ 0,80 berarti mudah,
e) 0,80 < IKB ≤ 1,00 berarti sangat mudah.
Secara umum, butir yang ditoleransi sebagai tes standar adalah yang memiliki 0,30 ≤ IKB ≤
0,70 (Santyasa, 2005).
Derajat kesukaran tes adalah kemampuan tes tersebut dalam menjaring banyaknya
subyek peserta tes yang dapat menjawab dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang tidak
terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Persamaan yang digunakan untuk menentukan tingkat
kesukaran butir untuk tes politomi yaitu sebagai berikut (Candiasa, 2010).
min
max min
(2 )
2 ( )
H L N S
IKB
N S S
+ ÷ ×
=
÷
¿ ¿

Keterangan:
H
¿
= jumlah skor kelompok atas (KA)
¿
L = jumlah skor kelompok bawah (KB)
N = banyak peserta tes
S
max
= skor tertinggi butir
S
min
= skor terendah butir
43
Penggolongan tingkat kesukaran soal setelah dilakukan analisis dengan persamaan
yaitu IKB = 0,00 – 0,30 maka butir tergolong sukar; 0,31 – 0,70 maka butir tergolong sedang;
0,71 – 1,00 maka butir tergolong mudah. Butir dengan rentangan indeks kesukaran 0,3
sampai dengan 0,7 ditolerir sebagai butir tes yang patut dipilih (Candiasa, 2010).
3.9.5 Konsistensi Internal Butir
Konsistensi butir berkenaan dengan tingkatan atau derajat yang menunjukkan
seberapa jauh butir dapat mengukur secara konsisten apa yang seharusnya diukur. Suatu item
dikatakan konsisten apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total.
Kesejajaran antara konsistensi internal dengan skor total dapat diartikan sebagai korelasi
sehingga untuk mengetahui konsistensi internal digunakan rumus korelasi (Arikunto, 2005).
Indeks korelasi butir total dapat dihitung dengan formula product moment dengan persamaan
sebagai berikut (Candiasa, 2010).
( ) { } ( ) { }
2 2 2 2
) )( (
Y Y N X X N
Y X XY N
r
xy
¿ ÷ ¿ ¿ ÷ ¿
¿ ¿ ÷ ¿
=
Keterangan:
r
xy
= indeks korelasi butir-total
N = jumlah sampel
X = skor butir
Y = skor total
Klasifikasi yang digunakan sebagai dasar pengujian konsistensi internal pada butir tes
yaitu indeks korelasi (r
xy
) dibandingkan dengan harga r
tabel
dengan taraf signifikan 5%. Jika r
xy
> r
tabel
maka terdapat korelasi yang signifikan antara skor butir dengan skor total yang artinya
butir bersangkutan dinyatakan valid.
3.9.6 Konsistensi Internal Tes (Reliabilitas)
Tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan
berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan
44
ketepatan. Reliabilitas tes ditentukan menggunakan persamaan Alpha Cronbach yaitu sebagai
berikut (Candiasa, 2010).
2
11 2
1
( 1)
i
t
n
r
n


| | | | ¿
= ÷
| |
÷ ¿
\ .\ .
dimana
( )
2
2
2
( 1)
b
k X X
k k

(
E ÷ E
= (
÷
(
¸ ¸
dan
( )
2
2
2
( 1)
t
k Y Y
k k

(
E ÷ E
= (
÷
(
¸ ¸
Keterangan:
2
i
 ¿ : jumlah varians skor tiap-tiap butir
2
t
 ¿ : varians total
n : jumlah butir yang valid
X : skor butir
Y : skor total
k : jumlah responden
Sebagai kriteria derajat reliabilitas tes dapat digunakan kriteria yang dibuat oleh
Guilford (dalam Candiasa, 2010) sebagai berikut. 1) r
11
≤ 0,20 derajat reliabilitas sangat
rendah; 2) 0,20 r
11
– 0,40 derajat reliabilitas rendah; 3) 0,40 r
11
– 0,60 derajat reliabilitas
sedang; 4) 0,60 r
11
– 0,80 derajat reliabilitas tinggi; 5) 0,80 r
11
– 1,00 derajat reliabilitas
sangat tinggi. Tes dengan indeks reliabilitas berada pada kategori sedang, tinggi, dan sangat
tinggi ditoleransi untuk diterima sebagai tes yang relatif baku. Rancangan validasi perangkat
pembelajaran dan uji coba instrumen penelitian disajikan dalam Tabel 3.7
Tabel 3.7 Rancangan Validasi Perangkat Pembelajaran dan Uji Coba
Instrumen Penelitian
Perangkat
Pembelajaran
dan Instrumen
Penelitian
Uji Coba Dasar Estimasi
Rencana
Pelaksanaan
Pembelajaran
(RPP)
Validitas isi Dua orang dosen pembimbing
Lembar Kerja
Siswa (LKS)
Validitas isi Dua orang dosen pembimbing
Tes Prestasi
Belajar
Validitas isi Dua orang dosen pembimbing
IndeksDaya Kriteria: IDB > 0,20
45
Perangkat
Pembelajaran
dan Instrumen
Penelitian
Uji Coba Dasar Estimasi
beda (IDB)
Indeks
Kesukaran
Butir (IKB)
Kriteria: 0,3 ≤ IKB ≤ 0,7
Konsistensi
internal butir
Membandingkan indeks korelasi
dengan r
tabel
Reliabilitas Koefisien Alpha Croncbach dengan
kriteria: 0,40 ≤ r ≤ 0,1
3.10 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu, analisis
deskriptif dan analisis kovarian (ANAKOVA) satu jalur. Analisis deskriptif digunakan untuk
menganalisis skor rata-rata dan standar deviasi, sedangkan ANAKOVA digunakan untuk
menguji hipotesis yang diajukan.
3.10.1 Teknik Analisis Deskriptif
Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan persentase, nilai rata-rata
dan simpangan baku. Persentase yang dideskripsikan adalah persentase prestasi belajar fisika
sebelum dan setelah perlakuan. Nilai rata-rata simpangan baku yang dideskripsikan adalah
nilai rata-rata simpangan baku hasil tes prestasi belajar awal (pretest) dan hasil tes prestasi
belajar siswa setelah perlakuan (posttest). Nilai rata-rata dan simpangan baku prestasi belajar
awal dan restasi belajar siswa setelah perlakuan dideskripsikan dengan mengacu pada norma
absolut skala lima. Nurkancana dan Sunartana (1990) menjelaskan langkah yang ditempuh
dalam mengkonversikan skor mentah menjadi skor standar dengan menggunakan norma
skala lima adalah sebagai berikut:
1. Mencari skor maksimal ideal (SMI) dari tes yang diberikan.
Skor maksimal ideal adalah skor yang mungkin dicapai apabila semua item dapat
dijawab dengan benar.
46
2. Membuat pedoman konversi.
Pedoman konversi yang digunakan dalam mengubah skor mentah menjadi skor
standar dengan norma absolut adalah didasarkan atas tingkat penguasaan terhadap
bahan yang diberikan. Pedoman konversi yang umum digunakan dalam norma
absolut skala lima adalah sebagai berikut:
Tabel 3.8 Pedoman Konversi Norma Absolut Skala Lima Hasil Observasi
Tingkat
Penguasaan
Skor mentah Skor standar Kualifikasi
90% - 100% 72 - 80 A Sangat Baik
80% - 89% 64 - 71 B Baik
65% - 79% 52 - 63 C Cukup
55% - 64% 44 - 51 D Kurang
0% - 54% 0 - 43 E Sangat Kurang
(diadaptasi dari Nurkancana & Sunartana, 1990)
3.10.2 Teknik Analisis Kovarian (Anakova)
Analisis kovarian (ANAKOVA) pada dasarnya sama dengan analisis varian
(ANAVA), hanya saja dalam model ANAKOVA terdapat variable numeric kovariabel.
Variable numeric dimasukkan sebagai kovariabel dengan tujuan untuk menurunkan error
variance, dengan jalan menghilangkan pengaruh variabel tersebut. ANAKOVA merupakan
kombinasi anatara analisis regresi dengan analisis varian. ANAKOVA mempersyaratkan
pemenuhan asumsi normalitas sebaran data, homogenitas varians, linieritas dan keberartian
regresi antara kovariabel dengan variabel terikat (Candiasa, 2011).
1. Pengujian Normalitas Sebaran Data
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data prestasi
belajar fisika siswa dari kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran
inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri
terbimbing dan model pembelajaran konvensional telah berdistribusi normal.
Candiasa (2011) menyatakan bahwa normalitas sebaran data mengunakan statistik
Kolmogorov Test dan Shapiro-Wilks Test. Kriteria pengujian data memiliki sebaran
47
distribusi normal jika bilangan signifikansi (sig.) yang dihasilkan lebih besar dari
taraf signifikansi yang ditetapkan yaitu 0,05.
2. Uji Homogenitas Varian
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data prestasi belajar
fisika siswa antara kelompok siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing
berbantuan virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model
pembelajaran konvensional memiliki varians yang homogen. Candiasa (2011)
menyatakan bahwa uji homogenitas varians antar kelompok juga digunakan untuk
meyakinkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi
akibat adanya perbedaan dalam kelompok. Uji homogenitas varians antarkelompok
menggunakan Levene’s Test of Equality of Error Variance. Kriteria pengujian yang
digunakan adalah data memiliki varian yang homogen jika angka signifikansi yang
diperoleh lebih besar dari 0,05.
3. Uji Linieritas Regresi dan Keberartian Arah Regresi
Asumsi ini menyatakan bahwa model regresi diasumsikan linier dan arah
regresi diasumsikan signifikan. Artinya, hubungan antara variable kovariat dan
variabel terikat bersifat linier. Uji linieritas dilakukan untuk memperlihatkan
hubungan yang linier antara variabel kovariat dengan variabel terikat. Variabel
kovariatnya adalah skor pretest prestasi belajar awal siswa, sedangkan variabel
terikatnya adalah skor posttest prestasi belajar fisika siswa. Candiasa (2011)
menyatakan bahwa uji linieritas regresi menggunakan Test of Linierity. Pedoman
untuk melihat kelinieran adalah dengan menguji lajur Deviation from Linearity.
Sedangkan untuk melihat keberartian arah regresi pada lajur Linearity. Kriteria
pengujian: (1) data memiliki regresi linier jika angka signifikansi yang diperoleh
lebih besar dari 0,05 dan dalam hal lain data memiliki regresi tidak linier dan (2)
48
koefisien arah regresi berarti jika angka signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari
0,05 dan dalam hal lain koefisien arah regresi tidak berarti.
4. Uji Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diuji adalah terdapat pengaruh yang berupa perbedaan tingkat prestasi
belajar fisika siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing
berbantuan virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model
pembelajaran konvensional. Berikut dijabarkan hipotesis penelitian ini.
: tidak terdapat perbedaan prestasi belajar fisika
antara siswa yang difasilitasi model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model
pembelajaran konvensional.
: terdapat perbedaan prestasi belajar fisika antara
siswa yang difasilitasi model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual
laboratory, model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran
konvensional.
Keterangan:
= skor rata-rata prestasi belajar fisika siswa yang model pembelajaran inkuiri
terbimbing berbantuan virtual laboratory.
= skor rata-rata prestasi belajar fisika siswa yang difasilitasi model
pembelajaran inkuiri terbimbing.
= skor rata-rata prestasi belajar fisika siswa yang difasilitasi model
pembelajaran konvensional.
Uji hipotesis dilakukan dengan mengunakan uji F melalui análisis kovarian
satu jalur. Uji kovariat dilakukan terhadap angka signifikansi statistik F varian
(Candiasa, 2011). Kovariat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar awal siswa
49
yang dicerminkan oleh pretest prestasi belajar awal fisika siswa. Kriteria
pengujiannya adalah nilai signifikansi yang diperoleh dari perhitungan (sig.) lebih
kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan (α = 0,05), maka nilai F
hitung
yang
diperoleh signifikan, yang berarti H
1
diterima dan H
0
ditolak. Hal tersebut
mengisyaratkan terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan
menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory,
model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional di
kelas VIII SMP Negeri 1 Singaraja tahun pelajaran 2013/2014.
Menurut Candiasa (2011), tindak lanjut dari uji ANAKOVA dilakukan dengan
uji signifikansi skor rata-rata antar kelompok dengan menggunakan Least Significant
Difference (LSD). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.
n
MS
t LSD
E
a N
2
. 2 / ÷
=

Keterangan:
α = taraf signifikansi
MS
E
= mean square error
N = jumlah sampel total
a = jumlah kelompok
n = jumlah sampel dalam kelompok
Kriteria pengujiannya adalah tolak H
0
jika harga mutlak |µ
i
- µ
j
| > LSD, yang
berarti terdapat perbedaan skor rata-rata variabel terikat antara kelompok siswa yang
belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan virtual laboratory,
kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing, dan
kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. Pengujian
dapat dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.00 for Windows dan
50
Microsoft Office Excel 2007 dengan taraf signifikansi 0,05 pada semua pengujian
hipotesis
Menurut Candiasa (2011), tindak lanjut dari uji ANAKOVA dilakukan dengan
uji signifikansi skor rata-rata antar kelompok dengan menggunakan Least Significant
Difference (LSD). Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.
n
MS
t LSD
E
a N
2
. 2 / ÷
=

Keterangan:
α = taraf signifikansi
MS
E
= mean square error
N = jumlah sampel total
a = jumlah kelompok
n = jumlah sampel dalam kelompok
Kriteria pengujiannya adalah tolak H
0
jika harga mutlak |µ
i
- µ
j
| > LSD, yang
berarti terdapat perbedaan skor rata-rata variabel terikat antara kelompok siswa yang
belajar dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan
virtual laboratory, model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran
konvensional. Penggujian dapat dilakukan dengan menggunakan program SPSS
16.00 for Windows dan Microsoft Office Excel 2007 dengan taraf signifikansi 0,05
pada semua pengujian hipotesis
51
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, I G. A. T. & Tika, I N. 2013. Konsep dasar IPA: Aspek fisika dan kimia. Jakarta:
Penerbit Ombak.
Alaydarous, A., Marghilani, A., Zaghib, S., Khan, S., Towairqi, M. A., & Alsulimane, M.
2013. Virtual nuclear laboratory for e-learning. Artikel. Tersedia pada http://eli.elc.
edu.sa/2013/sites/default/files/abstract/rp3 48_0 .pdf Diakses tanggal 14 November
2013.
Andriani, N., Husaini, I., & Nurliyah, I. 2011. Efektifitas penerapan pembelajaran inkuiri
terbimbing (guided inquiry) pada mata pelajaran fisika pokok bahasancahaya di
kelaas VIII smp negeri 2 muara padang. Artikel. Tersedia pada http://portal.fi.itb.ac.
id/cps/ index.php/cps/article/downl oad/13/26. Diakses pada 12 Mei 2013.
Arikunto, S. 2005. Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. 2009. Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Babateen, H. M. 2011. The role of virtual laboratories in science education. International
Converence on Distance Learning and Education, 12 (19): 100-104. Tersedia pada
http://www.ipcsit.com/vol12/19ICDLE2011E10013.pdf. Diakses tanggal 15
September 2013.
Bajpai, M. 2013. Developing conceps in physics through virtual lab experiment: An
effectiveness study. An International Journal of Education Technology, 3(1): 43-50
Tersedia pada http://www. ndpublisher.i n/admin/issues/tlv3n1f.pdf. Diakses tanggal
8 September 2013.
Bakar, N., Zaman, H. B., Kamalrudin, M., Jusoff, K., & Khamis, N. 2013. An effective
virtual laboratory approach for chemistry. Australian Journal of Basic and Applied
Sciences, 7(3): 78-74. Tersedia pada http://www.ajbasweb.com/ajbas/2013/special%2
0issue/78-84.pdf. Diakses tanggal 5 Desember 2013.
BaliPost. 2013. 182 siswa SMP di buleleng tak lulus UN. Berita BaliPost Online. Tersedia
padahttp://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=7655
7. Diakses tanggal 14 November 2013.
Budiningsih, A. C. 2005. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT. Rieka Cipta.
Candiasa, I M. 2010. Pengujian instrument penelitian disertai aplikasi ITEMAN dan
BIGSTEPS. Singaraja: Undiksha Singaraja
.
Candiasa, I M. 2011. Statistik multivariat disertai aplikasi SPSS. Singaraja: Undiksha
Singaraja.
Dahar, R. W. 1989. Teori-teori belajar. Jakarta: Erlangga.
52
Depdiknas. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Tersedia pada http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/UU20-
2003-Sisdiknas.pdf. Diakses tanggal 2 Juni 2013.
Dewi, N. L., Dantes, N., & Sadia, I W. 2013. Pengaruh model pembelajaran inkuiri
terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar IPA. E-journal Program
Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, 3 (1). Tersedia pada http://pasca.und
iksha.ac.id/e-journal/index.php/jurnal_pendas/article/view/512/304. Diakses tanggal 9
Desember 2013.
Djamarah, S. B. 1994. Prestasi belajar dan kompetensi guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Kemendikbud. 2011a. Survei internasional PISA. Tersedia pada http://litbang.kemdikbud.go.
id/index.php/survei-internasional-pisa. Diakses pada tanggal 14 November 2013.
Kemendikbud. 2011a. Survei internasional TIMSS. Tersedia pada http://litbang.kemdikbud.
go.id/index.php/survei-internasional-timss. Diakses pada tanggal 14 November 2013.
Kompas. 2012. Indeks Pendidikan untuk semua masih stagnan. Berita Kompas Online.
Tersedia pada http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/20/04385981/Indeks.Pendidik
an.untuk.Semua.Masih.Stagnan. Diakses tanggal 14 November 2013.
Mardana, I. B. P. 1998. Inovasi pendekatan keterampilan proses dengan bantuan komputer
dalam pembelajaran fisika modern pada sekolah menegah umum negeri di singaraja.
Aneka Widya STKIP Singaraja. 1(30):14-24. Tersedia pada isjd.pdii.lipi.go.id.
Diakses tanggal 9 November 2013.
Mattehew, B. M. & Kenneth, I, O. 20113. A study on the effects of guided inquiry teaching
method on students achievement in logic .The International Research Journal, 2(1),
134-140. Tersedia pada http://iresearcher.org/133-140%20BAKKE%20M.MATTHE
W%20gambia.pdf. Diakses tanggal 23 April 2013.
Mulyono, E. 2011. Pembelajaran fisika dengan media eksperimen virtual. Tersedia pada
http://ayobelajarfisika.blogdetik.com/pembelajaran-fisika-dengan-media-eksperimen-
virtual/. Diakses tanggal 20 mei 2013.
Nurkancana, W. & Sunartana, P. P. N. 1990. Evaluasi hasil belajar. Surabaya: Usaha
Nasional.
Oge, E. K. & Ifeoma, O. E. 2013. Effects of guided inquiry method on secondary school
student’ performance in social studies curriculum in anambra state, nigeria. British
journal of Education, Society & Behavioural Science, 3 (3): 206-222. Tersedia pada
http://www.sciencedomain.org/download.php?f=1366084508Olibie332013BJESBS33
00.pdf. Diakses tanggal 15 September 2013.
Pandey, A., Nanda, G. K., & Ranjan, V. 2011. Effectiveness of inquiry training model over
conventional teaaching method on academic achievement of science student in india.
Journal of Innovative Research in Education, 1(1): 7-20. Tersedia pada www.grpj
ournal.org% 2Fdownload. Diakses tanggal 8 September 2013.
53
Parmawati, L. E. 2012. Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing untuk
meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar ipa (fisika) siswa kelas viii
c
smp
negeri 1 amlapura tahun pelajaran 2011/2012. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas
Pendidikan Ganesha.
Santyasa. I W. 2005. Analisis butir dan konsistensi internal tes. Makalah. Disajikan dalam
Workshop bagi para Pengawas dan Kepala Sekolah Dasar di Kabupaten Tabanan
pada tanggal 20-25 Oktober 2005, di Kediri Tabanan Bali. Tersedia pada http://johan
nes.lecture.ub.ac.id/files/2012/05/MEI-3-2012-ANALISIS-BUTIR.pdf. Diakses pada
tanggal 1 Desember 2013.
Santyasa, I W. 2006. Pembelajaran inovatif: Model kolaboratif, basis proyek, dan orientasi
NOS. Makalah. Disajikan dalam Seminar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2
Semarapura tanggal 27 Desember 2006, di Semarapura. Tersedia pada http:// www
.freewebs.com/santyasa/PDF_Files/COLLABORATIVE_MODEL__PROJECT_BAS
ED DAN ORIENTASI NOS.pdf. Diakses pada tanggal 1 Desember 2013.
Santyasa, I W. 2007. Landasan konseptual media pembelajaran. Makalah. Disajikan dalam
Workshop Media Pembelajaran bagi Guru-guru SMA Negeri Banjar Angkan pada
tanggal 10 Januari 2007 di Banjar Angkan Klungkung. Tersedia pada http://file.
upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/1947041719730MULIATI_
PURWA SASMITA/MEDIA_PEMBELAJARAN.pdf. Diakses pada tanggal 14
November 2013.
Santyasa, I W. 2012. Pembelajaran inovatif. Singaraja: Undiksha Press.
Singh, K. G. 2013. Virtual Learning environment for next generation in electronics &
telecommunications courses. International Journal of Technological Exploration and
Learning (IJTEL), 2 (5): 1-5. Tersedia pada http://www.researchgate.net/publica
tion/256442147_Virtual_Learning_environment_for_next_generation_in_electronics_
_telecommunications_course/file/72e7e52296c59e8426.pdf. Diakses tanggal 14
November 2013.
Suardana, I W. 2012. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing bermuatan local
genius terhadap pemahaman konsep sains siswa kelas viii smp negeri 3 singaraja
tahun pelajaran 2011/2012. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan
Ganesha.
Suastra, I W. 2009. Pembelajaran sains terkini: Mendekatkan siswa dengan lingkungan
alamiah dan sosial budaya. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.
Sugiyono. 2013. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta
Suleman, Q., Aslam, H. D., Ishtiaq, H., & Naseeruddin, M. 20113. Role of instructional
technology in enhancing student’ educational attainment in general science at
elementary level in district karak (pakistan). Journal of Sociological Research, 4(1):
83-98. Tersedia pada http://www.macro think.org/journal/index.php/jsr/article/view/
3190/2722. Diakses tanggal 24 Februari 2013.
54
Sunarto. 2012. Pengertian prestasi belajar. Tersedia pada http://sunartombs .wordpress.com
/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/. Diakses tanggal 25 April 2013.
Tatli, Z. & Ayas, A. 2013. Effect of virtual chemistry laboratory on students’ achievement.
Journal of Educational Technology and Society, 16(1): 159-170. Tersedia pada http:
//www.ifets. info/journals/16_1/14.pdf. Diakses tanggal 24 Februari 2013
.
Trianto. 2009. Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Jakarta: Kencana.
Wijaya, I G. A. E. P. 2013. Pengaruh model pembelajaran inkuiri berbantuan virtual
laboratory terhadap pemahaman konsep fisika siswa kelas viii smp negeri 1 negara
tahun ajaran 2012/2013. Skripsi (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->