P. 1
80key

80key

|Views: 1,061|Likes:
Published by jaemanis

More info:

Published by: jaemanis on Sep 15, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

80

FILSAFAT

Gagasan Kunci

Yang Mengubah Dunia

“Sang Pembuat Jam, Penjudi, atau Apa?”
--Ide-ide tentang Tuhan

Dosa Asal

Bagi Tuhan, sang Pencipta alam, bukan para wakil, yang telah menciptakan manusia dengan tegak; tapi manusia, dengan menjadi dirinya sendiri akan menjadi tidak suci, dan menjadi terhukum, melahirkan anak yang tidak suci dan terhukum. Karena kita semua telah berada dalam satu manusia itu, sejak kita semua adalah satu manusia itu yang telah terjerumus ke dalam dosa oleh seorang perempuan yang telah diciptakan darinya sebelum dosa. Untuk memastikan, bentuk-bentuk khusus dalam mana kita sebagai individu-individu hidup, belum diciptakan dan terbagi; tapi telah ada sifat seminal di sana dari mana kita dikembang-biakkan; dan semenjak ini telah direndahkan kualitasnya oleh dosa, terikat oleh rantai kematian, dan dalam keadaan terhukum, manusia tidak dapat terlahir dalam keadaan yang lain. St. Agustinus, The City of God (410) Book XIII

Kita mulai dengan sesuatu yang sederhana, pikir anda. Adam, Eva, buahbuahan, ular, dosa: apa lagi yang sederhana? Sebenarnya, banyak. Dalam kisah Bibel tentang kedurhakaan pertama manusia---memakan Pohon Pengetahuan---tidak pernah sekali pun terdapat istilah bahasa Ibrani untuk “dosa” muncul. (Istilah ini akan menunggu Cain.) Tidak juga ungkapan (atau doktrin) “dosa asal” dintunjukkan di mana saja dalam Perjanjian Lama atau Baru. Mereka tersembunyi, pastinya. “Tentang setiap pohon dari taman [Eden] engkau boleh bebas memakannya,” firman Tuhan kepada Adam (Genesis 2). “Tapi, terkait pohon pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan, engkau tidak boleh memakannya: karena di hari engkau makan pohon ini, engkau pasti akan mati.” Ketika Adam dan Eva tidak mati pada hari itu, Tuhan, harusnya, memaksudkan ini seperti yang dinyatakan dalam teks bahasa Ibrani: “kamu akan dikutuk hingga

kematian menjemput.” Oleh karena itu, demikian pula, dengan kita semua. Tapi, sekalipun bahwa semacam transgresi telah terjadi, bahwa ia adalah sebuah “dosa”, dan bahwa kehidupan fana kita berhutang kepadanya, kita masih tidak memiliki “dosa asal” yang sebenarnya. Bagi yang meyakini doktrin ini yang menyatakan bahwa tindakan Adam dan Eva telah meninggalkan sebuah cetakan yang terus membekas pada setiap jiwa manusia. Kita tidak sekadar akan mati, kita terlahir dalam dosa---telah tercemar sebelum kita mempunyai sebuah peluang. St. Paulus menyatakan sesuatu sepanjang baris-baris ini dalam Kisah Para Rasul-nya kepada penduduk Roma: “Atas dasar apa, ketika satu manusia pendosa memasuki dunia ini, dan mati dalam dosa; dan sehingga kematian dialami secara turun-temurun oleh semua manusia, karena semuanya telah berdosa” (Penduduk Roma 5). Anda dapat membaca penggalan ayat ini dengan banyak cara---sebagaimana yang ditempuh oleh orang-orang Kristen---karena kata kematian dan hubunganhubungan sebab-akibat, keduanya bersifat ambigu. Apakah Paulus benarbenar memaksudkan dosa itu sebagai bersifat warisan, atau apakah dia hanya berbicara tentang kematian spiritual yang kita undang melalui perbuatan dosa? Pandangan dasar ini, meskipun tertulis dalam Genesis dan Penduduk Roman, dapat ditelusuri jejaknya secara lebih langsung pada tulisan-tulisan dari teolog klasik Gereja yang terbesar, St. Agustinus dari Hippo (354-430). Penjelasan Agustinus tentang dosa asal, dalam bukunya: “City of God, tidak berbagi keraguan dengan Paulus. Pertama, Agustinus

membedakan kematian tubuh dari kematian jiwa, yang pertama bersifat tak terhindarkan dan yang kedua bersifat kondisional (bersyarat). Kita adalah fana secara fisik, tapi jika kita “terbebaskan oleh rahmat Tuhan” jiwa-jiwa kita mungkin dapat diselamatkan dari neraka. Kedua, dia mendesak bahwa kematian fisik dan keadaan berdosa adalah warisan turun-temurun dari transgresi Adam. “Karena sifat orangtua itu menurun kepada anak.” (“For as man the parent is, such is man the offspring.”). berdasarkan pada kehendak bebasnya sendiri, Adam terjerumus ke dalam perbuatan dosa, dan ini dia wariskan kepada semua anak-anaknya. (ngomong-ngomong, ini telah menjadi jelas dalam Genesis bahwa seluruh umat manusia diturunkan dari Adam). Dalam memformulasikan pandangan-pandangannya tentang dosa, Agustinus sedang berupaya untuk meletakkan kembali penutup pada kepompong ulat yang sangat besar. Salah satu dari isu-isu teologis yang sangat membingungkan, dari dulu hingga sekarang ini, adalah masalah kejahatan. Jika Tuhan itu Maha Baik, Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa, lalu bagaimana mungkin terdapat kejahatan di dunia ini? Bagaimana mungkin kebaikan sempurna menjadi sumber dari keburukan, atau bahkan mengizinkannya? Masalah ini tidak muncul dalam agama-agama politeistik, ketika tak satupun dari dewa itu yang maha baik atau maha kuasa; dan ketika dewa-dewa itu saling berselisih, hanya keburukan yang akan timbul. Sebuah jawaban atas teka-teki ini telah diberikan oleh rekan semasa Agustinus, seorang pendeta bernama Pelagius. Kejahatan, kata Pelagius, hanyalah akibat langsung dari tindakan-tindakan manusia, yang

mempunyai kebebasan untuk memilih. Jika anda memilih untuk mendurhakai hukum-hukum Tuhan, Tuhan akan menimpakan keburukan kepadamu. Jika banyak warga masyarakat yang melakukan perbuatan buruk, maka bencana yang meluas akan mengikuti. Teori Pelagius, kecuali dalam penekanannya tentang kehendak bebas, dalam kenyataannya, konsisten dengan apa yang kita temukan dalam Perjanjian Lama: angin dari dosa manusia dan angin puyuh sebagai hukuman dari Tuhan. Yang menjadi masalah dengan teori ini, dari sudut pandang kaum ortodoksi, adalah bahwa ia memberi sifat fana pada kuasa untuk mengacaukan kebaikan penciptaan. Manusia, berbeda dengan Tuhan, berada dalam kursi sang pengemudi. Orang-orang boleh memilih untuk melakukan perbuatan baik atau buruk, tapi kemudian, Tuhan memaksa untuk menghukum mereka. Dengan perilakunya, manusia dapat memutuskan apakah jiwanya ingin diselamatkan atau dihukum. Bagaimana kemudian dengan ke-Maha Tahu-an dan ke-Maha Kuasa-an Tuhan? Disinilah poin dimana pendapat Agustinus diterima (yang bersama dengan Gereja, mencap Pelagius sebagai bidah). Manusia tidak dapat “memilih” untuk berbuat dosa, karena dosa itu bukan sebuah tindakan melainkan suatu keadaan makhluk, yang kita warisi pada saat kelahiran. Kejahatan dan keburukan terkandung dalam sifat kita yang melekat begitu mendalam sehingga tidak ada perbuatan kebaikan atau serangkaian kebaikan dapat mencuci dan membersihkannya. Karena dosa asal inilah, manusia dihukum dengan kematian fisik dan penderitaan abadi. Satu-satunya cara dari kedua faktor ini adalah rahmat Tuhan, yang

mungkin Dia anugerahkan atau tidak Dia anugerahkan sesuai kehendakNya, dan hanya Dia, yang mengetahui kelayakannya. Jadi, kehendak bebas, setidaknya, ketika ia mengarah pada dosa dan penyelamatan, adalah sebuah ilusi yang jahat. Seolah-olah ini tidak cukup memberi tekanan, ia masih menambahkan penjelasan bahwa ketika Tuhan itu Maha Tahu, maka Dia telah tahu jauh sebelum anda dilahirkan apakah Dia akan menyelamatkan anda atau tidak. Ide Agustinus ini merupakan basis filsafat bagi teologi Calvinistik, yang menganut pendapat bahwa manusia itu terbagi menjadi dua kelompok, “yang terpilih” (ditakdirkan selamat) dan “yang tidak terpilih” (ditakdirkan masuk neraka). Tentu saja, ini membawa kita kembali untuk menyesuaikan dan mencocokkan pandangan. Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mentakdirkan mayoritas umat manusia ke dalam neraka? Atau, untuk mengembalikan masalah ke akarnya, mengapa Tuhan menciptakan Adam dan Eva untuk mampu berbuat dosa pada penciptaan yang paling awal? Sungguh argumen-argumen ini tidak akan ada akhirnya, yang telah berperan besar dalam terjadinya skisma (perpecahan) dalam tubuh Protestan pada abad lima belas dan enam belas. Argumen-argumen sekitar kehendak bebas dan takdir ini adalah tidak terbatas pada wilayah teologi saja. Beberapa penganut materialisme---yang meyakini bahwa pikiran itu bukan apa-apa kecuali materi belaka---berargumen yang membela determinisme sebagai basis keilmuannya. Ketika otak manusia disebut sebagai sebuah obyek fisik, teori ini melanjutkan, ia harus mematuhi hukum-hukum fisika, demikian

pula dengan pemikiran danperilaku, sejalan dengan segala sesuatu yang alam semesta ini. Mengikuti sebuah jalan yang telah ditentukan. Setidaknya, teori ini telah menjelaskan tentang keadaan dari alam semesta sekarang ini, segala sesuatunya dapat diprediksi, termasuk apa yang akan anda makan setiap hari dalam sisa hidup anda. Tentu saja, jika ini benar, maka apakah anda meyakini atau tidak juga telah ditakdirkan, yang membuat perdebatan tentang masalah ini menjadi agak kurang berarti.

Sang Penggerak Utama
Maka, posisi kita sekarang adalah ini: kita telah berargumen bahwa selalu terdapat gerakan dan selalu akan ada gerakan sepanjang waktu, dan kita telah menjelaskan apa prinsip pertama dari gerakan abadi ini: kita telah menjelaskan selanjutnya mana gerakan yang primer dan mana satusatunya gerakan yang dapat menjadi abadi: dan kita telah mendeklarasikan bahwa gerakan pertama [atau “Penggerak Utama”] adalah tidak berubah. Aristoteles, Physics, Book VIII, Chapter 9. Anda mungkin telah akrab dengan ide dasar dibalik “Penggerak Utama”-nya Aristoteles. Segala sesuatu yang terjadi, disebabkan oleh sesuatu yang lain. Marilah kita contohkan suatu hujan lebat yang menimbulkan banjir di dalam ruang bawah tanah anda. Apa yang menyebabkan turunnya hujan? Tingkat kelembaban yang tinggi. Tapi, apa yang menyebabkan tingkat kelembaban yang cukup tinggi ini? Demikianlah, pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan. Tiap-tiap sesuatu yang menyebabkan sesuatu yang lain adalah karena ia sendiri disebabkan oleh sesuatu yang lain, dan kita dapat menelusuri jejak dari

mata rantai penyebab-penyebab ini sejauh yang kita inginkan. Tapi, cepat atau lambat, kita akan sampai pada penyebab pertama yang menyebabkan sesuatu tapi ia sendiri tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Ini adalah sang Penggerak Utama. Apa yang mendorong proses berpikir Aristoteles adalah ajaran filsafat Parmenides, yang dengan bantuan dari muridnya yang paradoks, Zeno, telah membuktikan bahwa gerakan itu adalah mustahil. Parmenides mengungkapkan hal berikut ini: jika sesuatu eksis, ia memang eksis, dan ia bukan sesuatu yang tidak dikandungnya. Tapi, jika sesuatu ini ingin bergerak, ia harus melangkah dari titik mana ia ada menuju titik dimana ia tidak ada. Tapi kemudian, ia tidak lagi menjadi dirinya secara apa adanya. Akibatnya, gerak, atau jenis perubahan apapun, adalah mustahil, dan dengan demikian, apa yang kita pahami sebagai gerak dan perubahan adalah ilusi. Bukan sebuah argumen yang sangat mendesak untuk diperhatikan, tapi, ia menimbulkan beberapa masalah pada masa itu. Aristoteles berharap dapat menjadikan argumen Parmenides sebagai dasar pijakan bagi filsafatnya, dan dia mulai dengan menunjukkan bahwa logikanya bersifat melingkar. Untuk mengatakan bahwa apa yang eksis adalah persis seperti ia eksis hanyalah sekadar sebuah tautologi, dan ia mengabaikan fakta bahwa terdapat banyak jenis wujud yang berbeda, yang mungkin sekali dapat dibagi ke dalam kualitas-kualitas dan kategorikategori sehingga dapat dikombinasikan dan dipisahkan. Aristoteles setuju bahwa pada beberapa level, yang eksis itu bersifat stabil dan tidak berubah, karena dalam kenyataan, jika kita membicarakan perubahan

atau gerak, kita harus setuju bahwa ia adalah sesuatu yang berubah atau bergerak. Tapi, tingkat realitas ini---yang dia sebut sebagai “materi” (matter)---mungkin sekali mengandung sejumlah kualitas, bentuk-bentuk dan posisi-posisi, dimana Aristoteles secara kolektif menamakannya “bentuk-bentuk.” (Forms). Materi dan bentuk adalah dua komponen realitas yang esensial, menurut Aristoteles; materi tetap menjadi apa adanya ia, bahkan ketika ia mengadopsi bentuk-bentuk baru. (Sebuah pohon mungkin mengambil bentuk seperti papan, yang dapat dibentuk menjadi kursi, yang mungkin dicat merah, dan lain-lain). Tapi, ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa sesuatu itu bergerak dan berubah. Pertanyaan-pertanyaan bagaimana dan mengapa ini disebut oleh Aristoteles sebagai “sebab-sebab,” yang dia maksudkan sebagai “saranasarana untuk mengetahui bagaimana sesuatu itu menjadi.” Dia membedakan empat jenis penyebab ini---material, formal, efisien, dan final, tapi, saya tidak ingin membahas secara mendalam disini. Sudah cukup untuk mengatakan bahwa jenis penyebab yang penting bagi tujuan-tujuan Aristoteles adalah penyebab efisien, suatu tindakan yang mengawali perubahan apapun. penyebab efisien dari sebuah kursi, misalnya, adalah tukang kayu yang mengubah materi menjadi bentuk. Udara dan api cenderung untuk naik, sedangkan air dan bumi cenderung untuk turun, hanya karena mereka melakukan yang demikian ini; ia terbangun menjadi material. Demikian pula, langit-langit (heavens) bergerak dalam sebuah lingkaran karena mereka terbuat dari sebuah unsur yang dia sebut “aether,” (eter) yang secara alamiah bergeraka

secara melingkar. Tapi, pada akhirnya, dia mulai meragukan teori ini, sebagian karena gerak melingkarnya itu sendiri, dan sebagian karena ini sangat tidak mempertimbangkan fenomena alam. Inilah dimana ide tentang penyebab efisien ini menjadi penting. Tidak cukup untuk mengatakan bahwa sesuatu itu “secara alami” bergerak ke atas, ke bawah, atau berkeliling, karena itu menghindari soal tentang siapa atau apa yang membuat mereka bergerak dengan cara seperti itu untuk memulainya. Pertanyaan yang sama muncul tentang gerak-gerak dari makhluk-makhluk hidup. Katakanlah, saya menggerakkan diri saya untuk memperoleh bir dari dalam kulkas. Apa yang membuat saya untuk melakukan ini? Saya sedang haus: itulah penyebab efisiennya. Tapi, apa yang menyebabkan saya haus? Kita dapat mengikuti semacam sebuah garis yang mempertanyakan dari penyebab ke penyebab dan ke penyebab berikutnya, tapi, untuk menghindari risiko mempertanyakan secara terus-menerus, kita harus menganggap bahwa pada poin yang sama, kita akan sampai pada sebuah penyebab yang dirinya sendiri tidak disebabkan oleh apapun juga. Aristoteles mengklaim bahwa setiap perubahan atau gerak, pada akhirnya, kembali pada “penyebab yang tidak disebabkan” dan “penggerak yang tidak tergerakkan” yang tunggal dan sama, yang dia sebut sebagai sang “Penggerak Utama.” Selanjutnya, dia menegaskan bahwa semua hal yang bergerak dan berubah agar dapat mendekati beberapa tujuan atau “penyebab final” (final cause). Bagi segala sesuatu, tujuan ini adalah sempurna: segala sesuatu berupaya keras untuk menjadi apa yang seharusnya ia dapat menjadi. Penyebab final ini, kesempurnaan

ini, adalah satu dan sama dengan sang Penggerak Utama, yang kesempurnaannya terekspresikan oleh sebuah fakta bahwa ia tidak berubah dan tidak juga bergerak. Dari sudut pandang ilmiah, Aristoteles memahami sang Penggerak Utama ini sebagai akhir dari mata rantai penyebab, sebuah prinsip yang bersifat non-materi dan tak berubah yang merancang berbagai hal yang lain dalam gerak, secara langsung maupun tidak secara langsung. (dalam kenyataan, satu-satunya hal dimana sang Penggerak Utama ini menggerakkan secara langsung adalah langit-langit paling luar [outermost heavens]). Sebagai seorang filosuf, Aristoteles juga mempunya pandangan metafisik tentang sang Penggerak Utama ini: dengan menjadi sempurna, ini seharusnya sama dengan “pemikiran” (filsafat). Akhirnya, Aristoteles membawa dan mengarahkan sang Penggerak Utama ke dalam wilayah teologi. Sebagai sumber kehidupan, sang Penggerak Utama itu sendiri haruslah hidup; sebagaimana halnya dengan pemikiran, ia harus berpikir secara terus-menerus. Jika ia memikirkan tentang pergeseran dan hal-hal yang tidak sempurna di dunia ini, maka pemikiran-pemikirannya, mengikuti obyek-obyeknya, akan juga menjadi berubah dan tidak sempurna. Tapi, sebagai sang Penggerak Utama itu sendiri, ini adalah mustahil. Oleh karena itu, sang penggerak Utama adalah pemikiran yang berpikir tentang dirinya sendiri, kesempurnaan yang memikirkan kesempurnaannya sendiri. Siapa lagi yang dapat melakukan ini kecuali Tuhan?

Poin yang bagus, demikian yang dipikirkan oleh teolog abad tiga belas, St. Thomas Aquinas, yang menggunakan argumen yang sama untuk membuktikan eksistensi dari suatu “penggerak yang tak tergerakkan, yaitu Tuhan. Tapi, Aquinas, seperti Aristoteles, bersandar pada sejumlah asumsi yang tidak dapat dibuktikan---misalnya, bahwa semua gerak dan penyebab, secara logika, harusnya kembali pada sebuah entitas primer yang bersifat tunggal. Ini akan terasa logis untuk berargumen bahwa penyebab-penyebab bergerak secara melingkar, atau bahwa penyebab-penyebab itu telah ditentukan secara murni oleh hukumhukum fisika, atau bahwa dibalik setiap peristiwa terdapat penyebabpenyebab ganda dimana mereka itu sendiri mempunyai banyak penyebab, dan demikian seterusnya, dengan menghasilkan penyebabpenyebab “orisinal yang tak terbatas, daripada hanya satu penyebab saja. Anda bahkan dapat berargumen---sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa pihak---bahwa kausalitas itu adalah sebuah fiksi, suatu kreasi dari pikiran manusia. Tapi kemudian, tak seorang pun yang pernah mempunyai banyak keberuntungan dengan membuktikan eksistensi Tuhan pada pijakan-pijakan dasar yang logis, sebagaimana akan kita lanjutkan pembahasannya pada bab ini.

Silet Occam
Plularitas itu tidak diperlukan tanpa ada kebutuhan yang mendesak. William of Ockham, Quodlibeta, Book v (ca. 1324)

William of Ockham (“Occam” adalah ejaan bahasa Latin), seorang teolog Inggris pada awal abad empat belas, sangat tidak dikenal di era sekarang ini. Thomas Aquinas dan Duns Scotus adalah para Super Star sebagai bandingannya, namun, adalah Occam yang pemikirannya menunjukkan apa yang akan terjadi di masa depan dan membayangkan era modern sekarang. Satu hal yang diingat oleh beberapa pihak adalah sebutan “silat cukur”, yang melekat pada nama Occam, karena penegakan logika yang dia terapkan untuk memangkas absurditas dari argumen-argumen yang dikemukakan. Prinsip dasar Occam adalah bahwa semakin sederhana sebuah penjelasan itu, maka semakin lebih baik ia. Jika tidak perlu menghadirkan kompleksitas-kompleksitas atau pernyatan-pernyataan yang masih bersifat hipotesa ke dalam suatu argumen, jangan lakukan itu; bukan hanya akan berakibat pada kurang elegan dan kurang meyakinkan, ia juga akan menjadi kurang akurat. Seperti yang akan kita lihat, salah satu pernyataan hipotetis yang dibuang oleh silet Occam adalah pernyataan tentang eksistensi Tuhan. Bukan berarti ia tidak meyakini bahwa Tuhan itu eksis, tentu saja; dia hanya berpikir bahwa anda tidak dapat membuktikan-Nya, karena untuk melakukan yang demikian ini, anda harus menempuh argumen-argumen yang kompleks (dan tidak masuk akal). Para teolog menginginkan sebuah bukti ilmiah tentang Tuhan; tapi apa yang telah dikatakan Occam, dan mayoritas setiap orang yang pada akhirnya menerima, adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teologi mempunyai obyek-obyek pembahasan yang berbeda dan menuntut metode-metode yang berbeda.

Sebenarnya, Occam bukanlah orang pertama yang menggunakan silet pe mangkas argumen ini; dan banyak tersebar dalam karya-karyanya dimana kita menemukan pernyataan favoritnya: “Entitas-entitas tidak dilipatgandakan tanpa ada kebutuhan yang mendesak.” Tapi, dia menggunakannya dengan sikap balas dendam, seringkali dalam bentuk reaksi terhadap motode-metode teologi dan filsafat yang mengemuka dan berpengaruh kuat. Pendahulunya, Aquinas, dan para sarjana “Skolastik” lain---sebuah nama yang mereka peroleh dengan lebih merujuk pada teks ketimbang pada pengalaman---sangat sangat ingin untuk menjadikan teologi bersifat ilmiah. Mereka berharap untuk dapat memecahkan kontradiksi-kontradiksi yang tampak antara ilmu pengetahuan kuno dengan ajaran-ajaran kitab suci, dan menawarkan penjelasan-penjelasan rasional atau bukti-bukti dari konsep-konsep teologis (misalnya, eksistensi Tuhan). Satu tahap dalam proses ini adalah untuk menangani konsepkonsep universal seperti “kebaikan” atau “keagungan” (dan bahkan semacam hal-hal duniawi yang meluas seperti “pohon” atau “anjing”) sebagai nyata, sebagai entitas-entitas yang independen. Jika kita menyebut ini adalah “pohon” elm dan itu adalah “pohon” oak, maka harus ada sesuatu yang nyata, yang eksis dimana keduanya saling berbagi kegunaan dan pengalaman yang sama (“kepohonan” [treeness]). Demikian pula, jika Sokrates dan Parmenides adalah baik, ini karena terdapat sesuatu semacam kebaikan yang dimiliki oleh keduanya. Doktrin semacam ini---yang bersifat lebih Platonis daripada Aristotelian---dikenal sebagai “realisme.”

Occam memikirkan realisme sebagai sesuatu yang sangat tidak masuk akal, sebuah pengkaburan tentang kategori-kategori yang diangkat ke dalam wilayah ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu kesalahan, pikirnya, untuk memperlakukan nama-nama sebagai realitas-realitas daripada sebagai deskripsi-deskripsi. (Ide ini bahwa nama-nama hanyalah sekadar nama-nama belaka disebut dengan “nominalisme). Jika kita menyebut kedua “pohon” ini elm dan oak, ini karena kita telah memutuskan apa yang membuat pohon itu sebagai pohon, bukan karena “kepohonan” eksis secara terpisah dalam realitas. Jika semua pohon, tiba-tiba saja, lenyap, maka tidak akan ada “kepohonan” yang tersisa untuk dibicarakan, kecuali sebagai sebuah memori atau sebagai abstraksi murni. Occam menggunakan silet cukur ini untuk mengakhiri realisme universal, dengan menegaskan bahwa penjelasan-penjelasan yang valid harus didasarkan pada fakta-fakta yang sederhana dan dapat diobservasi, yang dilengkapi dengan logika murni. Dengan menerima syarat-syarat ini berarti bahwa kita tidak akan mampu untuk membuktikan eksistensi Tuhan atau kebaikan-Nya secara ilmiah, atau doktrin-doktrin keimanan apapun. Kesimpulan semacam ini tidak mengganggu dia sama sekali; dia memikirkan teologi sebagai satu hal (sebuah materi pewahyuan) dan ilmu pengetahuan adalah hal lain yang berbeda (sebuah materi tentang penemuan). Ide ini hanya sesaat mengemuka, ketika Galileo telah menjelaskan kepada anda, tapi pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan agama menempun cara mereka masing-masing yang berbeda. Inilah seluruh kandungan dari modernisme itu.

Bukti Ontologis
“Bukti ontologis” masih merupakan upaya lain untuk menunjukkan secara pasti bahwa Tuhan itu Eksis. Dikemukakan pertama kali oleh St. Anselmus of Canterburry (1033-1109), seorang Italia, pernyataanya berbunyi seperti ini: selama kita dapat membayangkan kesempurnaan absolut, maka ia harus eksis. Jika ia eksis, maka inilah Tuhan. Tidak yakin? Marilah kita lihat pembuktian ini lebih dekat lagi, pembubuhan istilah “ontologis” oleh Immanuel Kant setelah istilah penggunaan istilah Yunani ontos (being=ada). Anselmus mulai dengan eksperimen berikut ini: bayangkan sebuah wujud yang lebih sempurna dari apapun yang lain. Jika anda memahami kalimat ini, anda harusnya mempunyai beberapa konsep tentang wujud yang sejenis ini; jika tidak, berarti kalimat ini tidak dapat dipahami. (Sebagaimana halnya dengan kalimat “Membayangkan sebuah kuda besar yang bertanduk [unicorn]” hanya akan masuk akal jika anda mempunyai beberapa konsep tentang “seekor kuda besar yang bertanduk). Lalu, apakah wujud ini yang anda bayangkan (sebutlah ia “B”) hanya sekadar sebuah fantasi? Anselmus tidak berpikir demikian. Karena jika B tidak eksis, maka anda dapat membayangkan sebuah wujud yang lebih sempurna lagi, dengan memberi nama sebuah wujud yang seperti B lain yang juga eksis. Karena dapat dipahami bahwa sebuah kebaikan yang nyata adalah lebih sempurna daripada sebuah kebaikan yang dibayangkan. Jadi, asumsi bahwa B adalah sebuah fantasi mestinya adalah palsu, karena jika ia benar, maka kita dapat membayangkan

sebuah wujud yang lebih sempurna, yang bertentangan dengan hipotesa ini. Jadi, B eksis, dan Anselmus mendefinisikannya sebagai Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan persisnya adalah wujud itu yang kita bayangkan sebagai yang paling sempurna. Jika kita hanya sekadar mencari wujud paling sempurna yang sedang eksis, kita tidak akan sampai pada kesimpulan Anselmus ini, karena kita tidak akan dapat membuktikan bahwa apa yang kita temukan adalah Tuhan. Kunci untuk dapat memahami bukti Anselmus ini terletak pada konsep tentang wujud ini sebagai suatu jenis kesempurnaan dalam dirinya, tidak dalam pengalaman apapun sebelum ini tentang eksistensinya. Tapi, itulah persisnya yang bermasalah dengan bukti ontologis Anselmus. Dengan membangun eksistensi ke dalam definisi tentang “wujud paling sempurna yang dapat dibayangkan”, maka untuk mengatakan bahwa sebuah wujud semacam itu eksis hanyalah sekadar menyatakan kembali definisinya. Jika tidak, maka dengan menentangnya, tidak harus menentang fakta atau kebenaran, sebagaimana yang disyaratkan oleh bukti ini. Eksistensi dan kesempurnaan, persisnya, merujuk pada hal yang sama. Bukti Anselmus ini, dengan demikian, menggunakan pernyataan Immanuel Kant, hanyalah sekadar “sebuah tautologi yang menyedihkan.” Kant bukan yang pertama kali menyadari bahwa penunjukan bukti dari Anselmus ini mengandung masalah-masalah. Dalam kenyataan, salah satu rekan semasa Anselmus, Gaunilo of Marmoutier, menjelaskan bahwa bukti ontologis ini dapat digunakan untuk membuktikan eksistensi dari

hampir segala hal. Contoh khusus yang dikemukakan Gaunilo adalah tentang sebuah pulau yang sempurna, yang lebih baik dari pulau lain yang pernah dikenal, sebuah tempat yang sangat menyenangkan yang dapat dibayangkan. Ketika kita dapat membayangkan hal yang semacam ini, kita harus mempunyai sebuah konsep tentangnya; dan jika ia tidak eksis, maka kita dapat membayangkan yang lebih sempurna lagi yaitu pulau (yang eksis), oleh karena itu, ia harus eksis. Ketika Anselmus merespon kritik Gaunilo, Gaunilo gagal untuk memahami intisarinya. Karena konsep tentang sebuah pulau ini tidak melibatkan konsep tentang eksistensi, sebagaimana halnya konsep tentang sebuah lingkaran sempurna tidak bergantung pada eksistensi dari jenis lingkaran apapun. Namun, konsep tentang sebuah wujud, pastinya, melibatkan konsep tentang eksistensi. Kita dapat dengan mudah membayangkan bahwa sebuah pulau yang sempurna atau sebuah lingkaran yang sempurna tidak eksis; tapi kita tidak dapat membayangkan bahwa wujud paling sempurna yang dibayangkan sebagai tidak eksis, karena konsep yang sama ini membuatnya menjadi tidak mungkin. Apa yang mungkin tidak eksis berdasarkan definisi yang lebih sempit dari apa yang tidak dapat tidak eksis. Logika ini berhasil melambungkan Descartes, Spinoza, dan Leibniz, ke dalam kelompok filosuf yang menempati posisi tertinggi, tentang validitas dari bukti ontologis Anselmus. Lebih dari tujuh abad sebelum Kant akhirnya menuntaskan bukti ontologis ini. Dalam karyanya Critique of Pure Reason (1781), dia menunjukkan bahwa Anselmus telah mencampur-adukkan kategori-

kategorinya, dengan memperlakukan suatu unit gramatika (sang predikat “to be”) sebagai sebuah kuantitas ontologis. Untuk mengatakan bahwa sebuah sesuatu “ada” atau “eksis” adalah, menurut Kant, tidak menambahkan sesuatu kepadanya. Tapi, lebih untuk menyatakan bahwa sesuatu dalam realitas itu sesuai dengan sebuah konsep yang kita miliki. Untuk mengatakan bahwa “kursi ini eksis” adalah tidak untuk menambahkan sesuatu pada kursi ini, tapi hanya untuk membuat sebuah vonis tentangnya---bahwa pengalaman kita menunjukkannya sebagai nyata. Kita mungkin hanya mengatakan bahwa sesuatu itu “ada” atau “eksis” jika kita dapat mengalaminya; kebenaran dari pernyataan semacam ini bergantung pada kesesuaian antara kata atau konsep dengan sebuah sesuatu dalam realitas. Singkatnya, jika Tuhan tidak eksis, dia tidak dapat menjadi “lebih baik” atau dibuat lebih sempurna dengan menambahkan eksistensi kepadanya, ketika tidak ada “Dia” untuk menambahkan sesuatu kepada yang lain. Jika predikat “eksis” lenyap, maka demikian pula dengan subyek “Tuhan” (atau “wujud paling sempurna yang dibayangkan”, atau “kursi”, atau subyek apa saja yang telah kita kemukakan). Demikian pula, untuk mengatakan “Tuhan tidak eksis” tidak “mengurangi” apapun dari Tuhan, ketika kita hanya mengemukakan bahwa tidak ada wujud semacam “Tuhan” untuk mengambil sesuatu dari yang lain---dalam hal ini, “Tuhan” adalah subyek gramatikal, bukan subyek yang aktual. Dengan kata lain, tidak ada kontradiksi logis dalam pernyataan bahwa “wujud paling sempurna yang dibayangkan itu tidak eksis”: kita sedang menyatakan, atau mencoba untuk menyatakan, bahwa wujud

semacam ini tidak mempunyai realitas obyektif, lebih tepatnya, daripada mempertentangkan ide tentang wujud semacam ini dalam dirinya sendiri. dan jika pernyataan negatif (“X tidak eksis”) secara logika tidak bertentangan, maka pernyataan positif (“X eksis”) secara logika adalah tidak perlu. Satu-satunya tes yang benar mengenai apakah sesuatu itu eksis adalah pengalaman. Dan itulah akhir dari “bukti” ontologis Anselmus, meskipun terdapat banyak upaya untuk menyelamatkan beberapa dari argumen semacam ini dari keruntuhan. Tak satupun yang terbukti sukses, sejauh semua dari argumen-argumen ini melibatkan beberapa kekaburan kategori-kategori, tapi anda harus respek terhadap orang-orang itu atas upaya-upaya mereka.

Perjudian Pascal
Marilah kita mempertimbangkan poin ini dan berkata: “Tuhan eksis atau Dia tidak eksis.” Tapi, alternatif mana yang akan kita pilih? Akal tidak dapat menentukan apa-apa: terdapat suatu chaos yang tak terhingga yang membelah kita. Sebuah koin telah diputar pada titik yang ekstrim dari jarak yang tak terukur, yang akan menunjukkan gambar kepala atau gambar ekor. Apa taruhan anda? Blaise Pascal, Pensees (posthumous edition, 1844) Tuhan mungkin tidak “bermain dadu” [lihat hal. 105], tapi, kita semua memainkan dadu dengan Tuhan. Itulah kesimpulan dari pakar matematika Perancis abad tujuh belas, Blaise Pascal, ketika dia merasa sangat tertarik

untuk mengangkat pertanyaan yang membingungkan tentang eksistensi Tuhan. Pascal, tidak seperti Anselmus, mengakui (dengan rasa enggan) bahwa adalah tidak mungkin untuk “membuktikan” bahwa Tuhan itu eksis---dalam kenyataan, klaimnya, akal manusia tidak mampu membuktikan apapun secara pasti. Pertanyaan penting ini, baginya, adalah apakah seseorang harus meyakini eksistensi Tuhan, dan jawaban dia adalah bahwa anda akan menjadi bodoh jika tidak meyakini-Nya. Pemaparan bukti oleh Pascal melibatkan penggunaan ilmu matematika yang menawarkan berbagai kemungkinan (mathematics of probability), dimana dia telah membantu untuk menemukannya. (Ia berharap dapat menarik perhatian sahabat-sahabat aristokratiknya yang merupakan penggemar berat judi). Dalam pandangan Pascal, keyakinan anda atau ketidakyakinan anda kepada Tuhan adalah sama dengan perjudian. Jika Tuhan eksis dan Kitab Suci itu benar, keyakinan akan membuat anda meraih kebahagiaan tak terhingga setelah kematian. Jika Tuhan tidak eksis, semua yang anda siasiakan dengan meyakini Dia adalah kesenangan-kesenangan terbatas dari sebuah kehidupan yang fana. Bahkan jika anda berpikir yang aneh-aneh tentang eksistensi Tuhan yang mendekati titik nol---Pascal menawarkan ide untuk dipertimbangkan bahwa mereka ini mendekati 50 persennya--satu-satunya hal rasional yang dapat dilakukan adalah memainkan permainan ini. (Dalam istilah matematika, persentase apapun yang terbatas tentang yang tak terbatas adalah tetap tak terbatas). Oleh karena itu, akal mendiktekan bahwa anda harus meyakini Tuhan.

Tentu saja, anda masih menentang alasan ini, tapi itu hanya akan terjadi dengan membiarkan nafsu-nafsu anda untuk mengalahkan diri anda. Menurut Pascal, hasrat-hasrat dapat dijinakkan dengan berperilaku seolah-olah anda meyakini Tuhan dan dengan berpartisipasi dalam ritualritual kesalehan Kristiani. Begitu anda telah terbiasa dengannya, anda akan menemukan bahwa dalam meninggalkan kebiasaan-kebiasaan anda yang tidak bermoral, anda bahkan akan merasa lebih bahagia daripada sebelumnya---dan ini, dalam pandangan Pascal, adalah pembayaran sebenarnya dari perjudian ini. Argumen Pascal cukup sistematis, tapi ketika dirinya sendiri mungkin telah mengetahui, dengan menggandakan dan membagi ketakterbatasan adalah sebuah urusan yang sangat sulit. Logika pascal akan menimbulkan upaya untuk mengejar premis apapun tentang kebahagiaan yang tak terbatas, agama atau jika tidak demikian, maka ini adalah hal rasional yang dilakukan jika terdapat peluang non-zero untuk sukses. (Katakanlah terdapat satu persen peluang Fountain of Youth1; anda harus menanggalkan semuanya sekarang dan mulai mencarinya). Agar perjudian Pascal dapat berfungsi, anda harus memberikan apa saja yang diminta oleh Pascal untuk dapat membuktikan---bahwa jika Tuhan eksis, maka Dia adalah tak terbatas, Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Penulis sebenarnya dari Bibel. Tapi, tentu saja, terdapat jumlah tak terhingga tentang kemungkinan-kemungkinan---misalnya, bahwa Tuhan eksis tapi tidak begitu peduli tentang perilaku masing-masing individu (atau lebih merugikan argumen Pascal yaitu) Tuhan eksis tapi tidak dalam wujud yang tak terbatas.
1

Fountain of Youth = Mata air yang dapat dianggap dapat membuat orang menjadi awet muda. (penerjemah).

Bagaimanapun juga, adalah lebih sulit untuk bertindak berdasarkan keyakinan-keyakinan yang tidak anda anut yang ingin diakui oleh Pascal. (dan menduga bahwa Tuhan akan tahu apakah anda tulus atau hanya sekadar berjudi). Sejauh menyangkut sifat manusia, kesenangankesenangan yang telah pasti akan lebih dipilih ketimbang kesenangankesenangan yang belum pasti, tak peduli betapa menjanjikan ia. Pada puncak gairah, kemungkinan-kemungkinan tak terbatas tampaknya terlalu kecil untuk dapat dijadikan sebagai ukuran.

Tuhan Telah Mati
Apakah kamu telah mendengar tentang orang gila itu yang menyalakan lentera pada jam-jam pagi yang cerah, berlari menuju pasar, dan terusmenerus berteriak : “Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” ketika banyak dari mereka yang tidak meyakini Tuhan itu kemudian berdiri mengerumuninya, banyak yang tertawa atas tingkahlakunya ini.... “Dimana Tuhan,” teriaknya. “Aku akan memberitahumu. Kita telah membunuh-Nya---engkau dan aku. Kita semua adalah para pembunuh.... Tuhan telah mati. Tuhan akan terus mati. Dan kita telah membunuhnya....” Friedrich Nietzsche, The Gay Science (1882), bagian 125

Shakespeare tidak mengatakan: “Menjadi atau tidak menjadi.” Dia telah menulisnya, tapi Hamlet-lah yang mengatakannya. Tidak juga Friedrich Nietzsche mengatakan “Tuhan telah mati”; orang gila itulah yang melakukannya. Sementara itu, adalah benar bahwa Nietzsche sendiri telah menjadi gila pada 45, masih terdapat perbedaan antara kehidupan dengan sastra, bahkan ketika yang disebut terakhir ini dinamakan filsafat.

Lalu, apa yang dimaksud dengan orang gila itu? Bukan bahwa terdapat “orang-orang kafir” di dunia ini, karena itu selalu benar; tidak juga bahwa Tuhan tidak eksis. Karena jika “Tuhan telah mati”, maka dia harus pernah hidup; tapi ini adalah paradoks, karena jika Tuhan itu pernah hidup, maka, Dia, Yang Abadi, tidak dapat mati. Jadi, orang gila itu tidak berbicara tentang orang-orang yang ingkar terhadap Tuhan, yang selalu dan selalu akan terus terjadi, tapi lebih tepatnya, Tuhan apa yang telah dihadirkan dan dimaksudkan oleh kebudayaannya. Tuhan ini adalah suatu keyakinan yang digunakan bersama-sama terhadap Tuhan, dan ini adalah sejenis keyakinan yang kadaluwarsa. Dimana Tuhan telah berdiri---pada pusat pengetahuan dan pemaknaan ---sekarang, terdapat kehampaan. Ilmu pengetahuan dan filsafat, sama-sama memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan, dan sekali lagi, manusia telah menjadi acuan dari segala sesuatu. Kita orang Barat, yang lebih cenderung pada dunia materi dan menjauh dari hal-hal supernatural, “telah membunuh” Tuhan para leluhur kita. Orang-orang kafir ini dalam cerita Nietzsche berpikir bahwa mencari Tuhan itu hanya lelucon belaka; hanya orang gila yang menyadari situasi yang sangat gawat dari kematian Tuhan. Bukan bahwa dia menyesalinya; dalam kenyataan, dia menyebutnya sebagai suatu “perbuatan yang agung”, bahkan suatu perbuatan yang tampaknya terlalu agung bagi kita, para pembunuh, untuk menanggungnya. “Haruskah kita sendiri yang menjadi tuhan-tuhan hanya karena merasa layak?” Inilah pertanyaan yang diajukan oleh parabel Nietzsche, untuk kembali ke poin pertama kita, yang adalah sebuah fiksi dan bukan sebuah

pernyataan filsafat. Nietzsche, sebenarnya, sangat membenci spekulasispekulasi metafisik tentang yang dapat dipahami, sifat, dan eksistensi (atau tidak ada eksistensi) tentang abstraksi-abstraksi supernatural seperti “Tuhan.” Dia tidak dapat memberi teriakan keras untuk Tuhan, tapi dia telah mempunyai banyak hal untuk dikatakan, terutama tentang agama Kristen. Baginya, agama, dengan memfokuskan diri pada kehidupan abadi, sebenarnya adalah sejenis kematian: ia menjauhkan kita dari kehidupan dan kebenaran, yang keduanya berada di dalam dunia ini dan bukan di pulau supernatural yang tidak akan pernah terjangkau. Selanjutnya, sebuah agama semacam agama Kristen, meskipun ini adalah ajaran-ajaran Yesus, mengabadikan sikap tidak adanya toleransi dan konformitas (perilaku yang sesuai dengan tradisi masyarakat), dimana Nietzsche mendapatinya sebagai sesuatu yang sangat menjijikkan. Apa saja yang sudah menjadi tua, telah menjadi kebiasaan, yang bersifat normatif, atau dogmatik, pikirnya, adalah bertentangan dengan kehidupan dan bertentangan dengan martabat; ia akan menghadirkan apa yang dia sebut sebagai “mentalitas budak”. Dalam pengertian inilah, maka, laki-laki atau perempuan yang melangsungkan kehidupan, dia harus “membunuh” Tuhan---harus melenyapkan dogma, konformitas, takhayul, dan rasa takut. Inilah langkah pertama yang harus ditempuh untuk menjadi, bukan tuhan, tapi “manusia super” [lihat hal. 56].

Ide-ide dari Masa Lampau Filsafat Yunani

“Segala sesuatu Berubah tapi Mengubah Dirinya sendiri”
Segala sesuatu mengalir dan tak ada yang menetap; segala sesuatu memberi jalan dan tak ada satupun yang pasti.... anda tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama, karena air-air yang lain dan air-air yang lain lagi, akan terus mengalir.... ia selalu dalam proses perubahan dimana segala sesuatu menemukan tempat istirahatnya.... Heraklitus, fragmen-fragmen

Warga Yunani mengenali filosuf Heraklitus ini sebagai “Yang Sulit Dimengerti”, dan mereka mempunyai beberapa alasan tentang hal ini. Heraklitus (akhir abad ke enam SM) mungkin adalah pemikir pra-Sokrates yang paling mendua. Seorang yang berubah-ubah mood dengan pandangan yang suram tentang kehidupan, dia, pada intinya, berargumen bahwa segala sesuatu, baik dan buruk, harus berlalu. Seperti Thales dari Miletus (penemu Filsafat Yunani), Heraklitus berpikir bahwa segala sesuatu tercipta dari substansi yang tunggal dan permanen, yang harusnya adalah salah satu dari keempat “unsur”--tanah, udara, api, air. Thales telah memilih air; Heraklitus memilih api.

“Halilintar mengendalikan segalanya” adalah prinsip dasarnya yang misterius. Dunia ini, pikirnya, adalah seperti nyala api dari sebuah lilin: selalu sama dalam penampakannya, tapi selalu berubah dalam substansinya. Ironisnya, contoh yang lebih terkenal yang dia ajukan tentang bentuk atau substansi paradoks ini adalah yang berkaitan dengan air: “Anda tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama.” Meskipun sebuah sungai itu selalu tampak sebagai sungai yang “sama”, air-airnya terus mengalir tanpa henti. Pada momen anda melangkah ke dalam air, ia telah lewat. Demikian pula dengan seluruh isi dunia ini berada dalam suatu aliran yang mengalir secara terus-menerus; perubahan bersifat konstan (berlangsung secara terus-menerus) dan tak terhindarkan. Terhadap inti pandangan Heraklitus bahwa segalanya berubah, maka semua hal yang lain akan menambah kesimpulan logisnya, “tapi mengubah dirinya sendiri”. Apa yang tidak dia maksudkan adalah bahwa semua ini adalah chaos; dibalik proses mengalir dan pertentangan ini, dia melihat sebuah prinsip yang membimbing, sebuah kekuatan yang mengorganisir, yang dia sebut dengan logos, sebuah istilah Yunani yang berarti “akal” atau “logika”. Adalah logos yang tidak berbentuk ini, yang secara inheren berada di alam semesta ini, yang membentuk konflik dan perubahan menjadi keindahan dan kesenangan. “pertentangan membawa harmoni” adalah salah satu paradoks Heraklitus. “Berdasarkan pada pertentangan ini, muncul harmoni yang paling indah”. Kebaikan tidak eksis secara terpisah

dengan kejahatan, kesehatan dengan penyakit, kepuasan dengan rasa lapar, atau keadaan istirahat dengan rasa lelah: mereka adalah dua sisi dari koin metafisik yang sama, masing-masing menghasilkan yang lainnya ketika perubahan terus memutar-mutar koin ini. Ide-ide Heraklitus muncul kembali ke permukaan setelah lama tak terdengar, meskipun terdapat sedikit perubahan, dalam ajaran filsafat Empedokles (abad lima SM), yang telah mengilhami penyair Latin, Horace, empat abad kemudian, untuk menemukan sebuah ungkapan baru concordia discors---“pertentangan yang harmonis”. Gagasan-gagasan transisi materi dan kekal yang ideal dari Plato [lihat Goa Plato, hal. 23] juga berhutang pada Heraklitus, sebagaimana (lebih bersifat tidak langsung) halnya para pendeta-pendeta gereja yang bijak, yang salah satu larik hymne-nya berbunyi: “Bagi segalanya terdapat sebuah musim”, adalah satu dari sekian banyak sentuhan-sentuhan Yunani Heraklitus.

“Manusia Adalah Acuan dari Segala Sesuatu”
SOCRATES: Dapatkah aku gagal mengetahui apa yang aku pahami? THEAETETUS: Kamu tidak dapat. SOCRATES: jadi, kamu cukup benar dalam menegaskan bahwa pengetahuan itu hanya persepsi; dan makna ini menjadi sama, apakah dengan Homer dan Heraklitus, dan semua kelompok itu, kamu mengatakan bahwa semua adalah gerak dan aliran, atau dengan pernyataan manusia arif yang agung, Protagoras, bahwa manusia adalah acuan dari segala sesuatu; atau dengan Theaetetus, bahwa, yang menyampaikan premis-premis ini, persepsi adalah pengetahuan.

Plato, Theaetetus

Jika anda sangat akrab dengan teknik-teknik berfilsafat Sokrates, anda akan telah menduga bahwa dia sedang mengangkat Theaetetus untuk kemudian menjatuhkannya. Ide ini bahwa “manusia adalah acuan dari segala sesuatu” membuat upaya Sokrates gagal total; tapi, daripada mengatakannya secara langsung dan terbuka, dia secara halus mengendalikan rekan dialognya yang masih muda dengan menerapkan “metode Sokrates” sehingga Theaetetus akan dapat memahami mengapa ide ini tidak benar. Pada akhirnya, keduanya tidak menyimpulkan bahwa ide ini sebagai benar, tapi setidaknya, keduanya bersepakat bahwa pendapat Protagoras adalah salah. Protagoras (abad lima SM) adalah pendiri sebuah kelompok yang disebut Sophis, yang meyakini bahwa kearifan dapat diajarkan (dengan imbalan uang)---sebuah ide yang radikal pada masa itu. prinsip yang mendasari filsafat Protagoras adalah bahwa “manusia adalah acuan dari segala sesuatu”; dengan kata lain, banyak hal yang eksis disebabkan oleh bagaimana cara kita memahami mereka. Obyek duniawi sebagai persediaan bagi manusia, dan tak ada satupun di luar manusia yang dapat menentukan keberadaan atau kebenarannya. Ini lebih bersifat ide yang abstrak, yang merupakan hukuman bagi gagasan Sokrates tentang ideal-ideal, secara mengejutkan telah menjadi ungkapan populer yang menarik perhatian luas. Tapi, ungkapan itu sekarang ini kita artikan sebagai “kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita-lah yang menentukan apa yang berarti di dunia ini.”

Paradoks Zeno
Anda mungkin telah mendengar sebuah versi tentang paradoks Zeno--atau lebih tepatnya, satu dari paradoks-paradoks Zeno; sang filosuf Yunani (abad lima SM) ini penuh dengan paradoks-paradoks. Bahkan Zeno, seorang filosuf pengganggu (banyak melancarkan kritik-kritik yang membuat kesal orang lain), membuat paradoks sebagai filsafatnya. Meskipun hanya satu yang disebut dengan “Paradoks Zeno”, dan ia muncul dalam beragam bentuk. Sekarang ini, yang paling umum adalah ini: anggaplah bahwa anda sedang melakukan perjalanan dari titik A ke titik B. Untuk mencapai B, anda harus melakukan perjalanan separuh jarak terlebih dahulu. Begitu anda telah tiba di pertengahan, anda harus menempuh lagi jarak yang tersisa. Tapi, begitu anda telah sampai di pertengahan dari jarak yang masih tersisa ini, anda masih harus menempuh separuh jarak lagi. Dalam kenyataan, serangkaian peristiwa ini terus berlanjut secara ad infinitum. Ketika ini membutuhkan beberapa waktu, tak peduli betapa sedikit waktu yang dibutuhkan, untuk menempuh jarak yang tersisa, dan ketika jarak yang tersisa ini selalu dapat dibagi separuh, ini kemudian akan membuat anda membutuhkan jumlah waktu yang tak terbatas guna menempuh perjalanan dari A ke B. Singkatnya, adalah mustahil untuk mencapai titik B.

Sebuah versi yang lebih berwarna dari paradoks ini melibatkan pertandingan balapan antara pahlawan bangsa Yunani Achilles dengan seekor kura-kura yang lamban. Marilah kita katakan bahwa Achilles kesempatan kepada kura-kura untuk memulai start terlebih dahulu; anda dapat membuktikan, dengan menggunakan logika Zeno, bahwa dia (Achilles) tidak mungkin dapat memenangkan lomba balap ini. Anggaplah bahwa Achilles mulai berlari pada pukul 13.00. Aar dapat menyusul kurakura, dia harus sampai terlebih dahulu ke tempat dimana kura-kura akan sampai di tempat itu pada pukul 13.00, tapi itu mungkin membutuhkan waktu 10 menit. Dalam waktu sepuluh menit itu, kura-kura telah menempuh sedikit lebih jauh, demikian pula dengan Achilles, untuk dapat menyusul, harus mencapai titik dimana kura-kura akan sampai pada pukul 13.10. ini akan membutuhkan beberapa waktu, katakanlah lima menit. Tapi, dalam waktu lima menit itu, kura-kura telah berjalan lebih jauh dengan susah payah menuju garis finish, dan sekarang Achilles harus membalap ke titik dimana kura-kura akan sampai pada pukul 13:15. Dan seterusnya. Oleh karena itu, kura-kura akan selalu berada di depan Achilles, tak peduli betapa cepat Achilles berlari. Zeno, tentu saja mengetahui dalam realitas, karena ini telah dipahami secara luas, Achilles atau orang lain yang sehat, akan dapat dengan mudah mengalahkan kura-kura dalam arena balapan. Dia hanya tidak yakin bahwa pemahaman umum tentang realitas ini bersifat koheren (secara logika saling berkaitan), seperti yang telah dia coba tunjukkan bahwa pemahaman umum (common sense) dan hukum-hukum gerak keduanya tidak dapat menjadi benar sekaligus. (Kesalahan Zeno: dia tidak

menyadari bahwa sedang membagi ketakterhinggaan dengan ketakterhinggaan, tapi anda benar-benar tidak perlu mengetahui perinciannya). Apa yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh Zeno adalah doktrin dari mentor-nya, Parmenides, yang gagasan-gagasannya tentang ada dan tidak-ada lebih bersifat abstrak---menurut Parmenides, bahkan, realitas itu tidak nyata. Para filosuf Yunani di era Parmenides, tidak dapat membuat lobanglobang yang efektif dalam argumen-argumennya; filosuf pertama yang berhasil melakukan ini adalah Plato, yang menyerang doktrin-doktrin Parmenides dalam suatu serangkaian dialog (Parmenides, Theaetetus, dan Sophist). Tapi, Plato tidak sepenuhnya keluar sebagai pemenang, ketika Aristoteles masih menganggap perlu untuk memikirkannya guna menantang dan membuktikan kesalahan-kesalahan dari argumenargumen Parmenides dan Zeno, yang telah dia lakukan dalam wacananya yang menguji tentang penyebab-penyebab gerak. Namun, tesis akhir Aristoteles, mengandung masalah-masalahnya sendiri [lihat Sang Penggerak Utama, hal. ...].

Gua Plato (Idealisme)
“Dan sekarang,” [Sokrates] berkata, “biar aku tunjukkan dalam sebuah gambar tentang seberapa jauh sifat dasar kita dapat tercerahkan atau tidak tercerahkan: Perhatikan! Umat manusia hidup di dalam tempat perlindungan di bawah permukaan tanah, yang mempunyai sebuah mulut yang terbuka menuju cahaya dan mencapai tempat perlindungan tersembunyi itu sepenuhnya; disini, mereka telah berada sejak masa kanak-kanak mereka, dan kaki serta leher mereka terbelenggu rantai sehingga mereka tidak dapat bergerak, dan hanya dapat melihat [obyek]

yang ada di depan mereka saja, karena dicegah oleh rantai-rantai itu dari menoleh ke sekitarnya. Di atas dan di belakang mereka terdapat api yang menyala dari kejauhan, dan antara api dengan para tawanan ini terdapat sebuah jalan yang mendaki; dan engkau akan melihat, jika engkau melihat, sebuah bangunan dinding yang rendah di sepanjang jalan itu, seperti layar dimana para pemain yang memainkan boneka-boneka [yang dikendalikan oleh tali-temali] berada di depan mereka, tempat dimana mereka menampilkan boneka-boneka ini....[mereka seperti diri kita] dan mereka hanya melihat bayang-bayang mereka sendiri, atau bayangbayang satu sama lain, dimana nyala api memantul ke dinding goa yang ada di seberang.” Plato, Republic, Book 7

Plato (hidup sekitar tahun 428-348 SM) tidak berpikir bahwa suasana seperti digambarkan di atas adalah yang terbaik dari seluruh dunia yang mungkin. Ini adalah sejenis penjara, tulisnya, dimana kita terperangkap dalam kegelapan dan bayang-bayang. Tapi, dibalik penjara ini, terdapat secercah dunia yang cerah dan penuh harapan tentang kebenaran yang dia sebut sebagai dunia ide atau ideal-ideal. Oleh karena itulah, kita menyebut doktrinnya sebagai “idealisme”. Plato mengembangkan ide-ide idealistiknya yang sangat layak untuk diperhatikan dalam bukunya Republic, dimana seperti biasanya, juru bicaranya adalah mentor-nya yaitu Sokrates. (Sejauhmana sebenarnya Plato menganut pandangan-pandangan Plato, tidak diketahui). Socrates membandingkan dunia sehari-hari ini dengan sebuah “tempat perlindungan tersembunyi di bawah permukaan tanah” atau goa dimana kita terbelenggu oleh rantai di dalamnya. Di depan kita berdiri sebuah dinding dan di belakang kita adan api; tidak dapat menolehkan kepala kita, kita hanya melihat bayang-bayang pada dinding yang

dipantulkan oleh nyala api. Sama sekali tidak mengetahui apapun, kita secara alami menganggap bayang-bayang ini sebagai “realitas”; rekanrekan sesama kita dan semua benda di dalam gua, tidak mempunyai realitas bagi kita selain dari ini. Tapi, jika kita dapat membebaskan diri dari belenggu rantai ini, jika kita hanya dapat menoleh ke arah mulut gua itu, kita pada akhirnya akan menyadari kesalahan kita. Pada mulanya, cahaya langsung akan sangat menyakitkan dan membutakan. Tapi, dengan segera, kita akan beradaptasi dan mulai memahami orang-orang dan benda-benda yang sebenarnya, yang pernah kita kenali hanya dalam bentuk bayang-bayang. Meskipun demikian, kita akan melekatkan kebiasaan pada bayangbayang, masih meyakini mereka sebagai nyata dan sumber-sumber mereka hanyalah ilusi-ilusi. Tapi, jika kita berupaya menarik diri keluar dari gua dan mengarah menuju cahaya, maka, cepat atau lambat, kita akan sampai pada pandangan yang tepat tentang berbagai hal dan menyesali kebodohan kita sebelumnya. Analogi Plato adalah sebuah serangan terhadap kebiasan-kebiasaan berpikir kita. Kita ini, katanya, terbiasa menerima obyek-obyek yang konkret di sekitar kita sebagai “nyata”, padahal tidak demikian. Atau, lebih tepatnya, mereka hanya ketidaksempurnaan dan tiruan-tiruan yang tidak “nyata” dari “bentuk-bentuk” yang tak berubah dan abadi. Bentukbentuk ini, sebagaimana Plato mendefinisikan mereka, adalah bersifat permanen, ideal, dan realitas-realitas orisinal darimana ketidaksempurnaan dan tiruan-tiruan konkret yang bersifat merusak ini menjadi terhapus. Misalnya, setiap kursi di dalam dunia-obyek kita yang

kita akrabi adalah sekadar imitasi atau “bayang-bayang” dari Kursi Ideal. Setiap bangku adalah sebuah tiruan dari Bangku Ideal, yang tidak pernah berubah, yang eksis dalam keabadian, dan di atas mana anda tidak pernah dapat menumpahkan kopi. Kursi-kursi dan bangku-bangku ideal ini, menurut Plato, bukanlah fantasi-fantasi; mereka bahkan lebih “nyata” dibandingkan dengan tiruantiruan duniawi mereka, karena mereka lebih sempurna dan lebih universal. Namun karena indera-indera kita yang sangat terbatas selalu saja terperangkap, sehingga kita buta akan dunia ideal-ideal. Pikiran kita terbelenggu oleh tiruan-tiruan ini, dimana kita menjadi salah paham terhadap realitas. Kita adalah para tawanan dalam sebuah gua filsafat. Tapi, semuanya tidak hilang, karena meskipun manusia dimanapun juga berada dalam keadaan terbelenggu, filsafat dapat membebaskan kita. Jika kita hanya membiarkannya, ia akan menyeret kita dari gua kegelapan dan kebodohan menuju cahaya dari wujud sejati. Kita boleh jadi, untuk sementara waktu, menolak pada apa yang kita lihat kemudian, dengan melekatkan diri kita pada “realitas” obyek-obyek dan mengingkari kebenaran dari Ideal-ideal filosofis. Tapi, cepat atau lambat, kita akan mulai melihat dengan jelas, dan bahkan mendekati ide yang paling mendasar, yang paling ideal dari ideal –ideal, yaitu Idea tentang Kebaikan itu sendiri. tentu saja, dengan menjadi seorang filosuf, Plato mendefinisikan Kebaikan sebagai pengetahuan.

Tiga Hukum Pemikiran

Sekarang ini, adalah mustahil bahwa hal-hal yang bertentangan harus berada pada saat yang bersamaan true of the samething, mudah dipahami bahwa hal-hal yang berlawanan juga tidak dapat terjadi pada waktu yang sama pada sesuatu yang sama, adalah juga kemustahilan bahwa hal-hal yang berlawanan terkait dengan suatu subyek pada saat yang sama, kecuali keduanya terhubung dengannya dalalm hubunganhubungan yang khusus, atau salah satunya berada dalam hubungan yang khusus dan yang lain tanpa kualifikasi. Tapi, pada sisi lain, tidak mungkin ada suatu perantara antara hal-hal yang bertentangan ini, tapi tentang satu subyek kita harus menegaskan atau mengingkari satu predikat apapun. Aristoteles, Metaphysics, Book IV, Bab 6-7

Selama lebih dari dua milenium, logika Barat dibentuk oleh tiga “hukumhukum pemikiran” yang mendasar. Tak ada keraguan sedikitpun pada permukaannya, aksioma-aksioma ini, praktis, mendefinisikan cara kita berpikir. Tapi, hukum-hukum pemikiran ini sebenarnya jauh lebih kompleks dan tidak mudah dipahami sebagaimana tampaknya. Tiga hukum pemikiran ini, sebagaimana telah dikodifikasikan oleh Aristoteles adalah sebagai berikut: 1) Sesuatu adalah identik dengan dirinya sendiri. Ekspresi simbolik yang standar dari hukum ini, yang disebut dengan “hukum identitas,” adalah “A = A”. Contoh: “Sokrates adalah Sokrates.” 2) Sesuatu tidak dapat sekaligus menjadi dan tidak menjadi---“A dan bukan-A adalah tidak benar.” Ini disebut dengan “hukum kontradiksi.” Contoh: “Adalah tidak benar bahwa Sokrates itu manusia dan bukan manusia sekaligus.” 3) Menggambarkan suatu keadaan atau yang pasti atau kualitas A, sesuatu harus memiliki kualitas ini atau tidak---“Baik A atau bukan-

A”. Ini disebut “hukum yang dikecualikan bagian tengahnya”, ketika tidak ada ranah pertengahan antara A dan bukan-A. Contoh: “Sokrates hidup atau tidak-hidup.” Adalah cukup sulit untuk berargumen dengan ketiga hukum pemikiran ini, yang biasanya kita anggap sepenuhnya benar tanpa pemikiran kritis. Tapi, para filosuf dan pakar-pakar matematika, tidak peduli dengan apa yang telah menjadi kebiasaan; mereka peduli tentang apa yang benar. Apakah hukum-hukum ini pasti benar dalam setiap situasi yang mungkin? Selama waktu satu abad yang lalu hingga sekarang ini, jawabannya adalah “tidak”. Keraguan-keraguan mulai muncul begitu para filosuf berpikir lebih serius lagi tentang makna-makna “is” dan “not” dalam hukumhukum Aristoteles. Karena, kata-kata semacam ini, mungkin, digunakan dalam beragam cara, hukum-hukum ini dengan mudah jatuh ke dalam kekacauan semantik. Yang paling menarik dari masalahmasalah jenis ini menimbulkan kebingungan tentang hukum tentang ranah pertengahan yang dikecualikan (3). Ambillah sebuah contoh sederhana seperti “Sekuntum mawar berwarna merah atau ia tidak (berwarna merah).” Seberapa sederhana ia sebenarnya? Barangkali, anda dan saya tidak setuju pada seberapa merah sekuntum mawar itu seharusnya menjadi “merah”; barangkali, kita bahkan tidak setuju dengan apa yang dimaksudkan dengan warna “merah”. Saya pernah mempunyai sebuah Volkswagen Golf yang saya sebut “merah” dan orang lain menyebutnya “oranye”. Kita semua setuju bahwa ia sangat

buruk, tapi kita tidak dapat menyetujui pada bagaimana cara menggambarkan keburukan ini. Kualitas-kualitas (“predikat-predikat”, untuk menggunakan istilah yang logis) seringkali bersifat subyektif. Saya mungkin berpikir bahwa John itu tinggi, tapi, anda mungkin sekali tidak berpikir demikian. Kita mungkin sama-sama benar; apa itu “benar” (right)? Dapatkah kita katakan bahwa kedua pernyataan ini sebagai “benar” (true)? Ambillah contoh yang lain: pernyataan “Kuda-kuda besar yang bertanduk adalah buas.” Ini tidak benar, karena kuda-kuda itu tidak eksis. Tapi, pernyataan yang berlawanan “Kuda-kuda besar bertanduk adalah tidak buas” adalah sama tidak benarnya, berdasarkan alasan yang sama. Para pakar matematika baru-baru ini telah membuat keberatankeberatan serupa terhadap semua hukum-hukum ini, atau setidaknya terhadap klaim bahwa mereka (ketiga hukum) ini merupakan sebuah basis yang mencukupi bagi logika. Baik saja mengatakan bahwa 5 adalah 5, atau bahwa 5 tidak dapat menjadi bukan-5, atau bahwa 5 harus menjadi bilangan yang dapat dibagi dengan dua (even) atau bilangan yang tak dapat dibagi dengan dua (odd). Tapi, begitu kita memasuki bidang bilangan-bilangan yang tak terbatas, maka pernyataan-pernyataan ini menjadi tidak mempunyai makna; kita tidak dapat membuktikan bahwa suatu bilangan yang tak terbatas adalah bilangan yang dapat dibagi dua atau bilangan yang tak dapat dibagi dua. (“Angka nol adalah dapat dibagi dua” dan “angka 1 adalah bilangan prima” adalah proposisi-proposisi yang tak dapat dipecahkan). Demikian pula, untuk mengambil contoh dari Fisika, kita tidak dapat

mengatakan, “Cahaya adalah sebuah gelombang atau bukan-sebuah gelombang.” Berdasarkan pada alasan-alasan semacam ini, hukumhukum pemikiran ini banyak diwarnai oleh sikap tidak setuju dan menentang, setidaknya dalam lingkungan-lingkungan ilmiah. Hukum-hukum pemikiran ini juga mempunyai masalah-masalah tersendiri di kalangan para filosuf, yang paling penting diantara mereka adalah G.W.F Hegel. Sejauh pernyataan Hegel dicermati, sesuatu dapat, dalam beberapa pengertian, menjadi sesuatu yang berlawanan dengan dirinya sendiri. untuk lebih jelasnya pembahasan tentang gagasan yang sangat memutar otak ini, lihat DIALEKTIKA, hal. 51.

COGITO ERGO HUH?: Awal Mula Filsafat Modern
“Aku Berpikir, Maka Aku Ada (Cogito Ergo Sum)
Aku memperhatikan bahwa saat aku sedang mencoba untuk berpikir bahwa segalanya adalah tidak benar, ia haruslah yang demikian itu, yang sedang memikirkan ini, adalah sesuatu. Dan mengobservasi kebenaran ini. Aku berpikir, maka aku ada [cogito ergo sum] adalah sedemikian solid dan dapat diandalkan (bebas dari keraguan) bahwa kebanyakan dari pengandaian-pengandaian yang berlebihan dari kelompok yang skeptis, tidak dapat menyangkalnya, aku berpendapat bahwa aku tidak perlu merasa segan (demi untuk memenuhi rasa sopan santun dan etika) untuk menerimanya sebagai prinsip pertama filsafat yang aku cari. Rene Descartes, Discourse on Method (1637)

Ini mungkin tidak seperti pencapaian (prestasi) besar jika kita mengingat dan memahami kembali peristiwanya, tapi ketika Rene Descartes membuktikan eksistensinya sendiri, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Salah satu dari pembuktian-pembuktian filsafat yang paling sederhana, paling elegan, dan paling terkenal adalah, “Aku berpikir, maka aku ada” telah menggoyahkan sendi-sendi skeptisisme dan menjadi ungkapan yang sangat ngetrend di masa Descartes. Para sahabat dan kolega-kolega Descartes yaitu para filosuf atau pakar matematika Perancis (1596-1650) telah menganut pandangan bahwa tak ada satupun yang pasti, kecuali kemungkinan-kemungkinan, karena pikiran (mind) itu begitu mudah diperdaya. Tapi, setelah melakukan gebrakan pertamanya dengan menemukan sistem koordinat Cartesian, Descartes telah mempunyai ketertarikan pribadi untuk membuktikan bahwa, setidaknya, beberapa hal (seperti teori-teori Matematika) adalah sepenuhnya benar. Tanpa ada basis-basis kepastian, dia meyakini, tidak akan ada pengetahuan yang benar sama sekali, hanya sekadar probabilitas yang tidak berfungsi. Descartes menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti akan terjadi bahwa pengetahuan itu, pada akhirnya, harus didasarkan pada satu fakta yang tak terbantahkan. Untuk menemukannya, dia mulai dengan menerima argumen-argumen yang mengandung sikap-sikap skeptis yang telah diakrabi. Marilah kita berasumsi, sejalan dengan teori Descartes, bahwa indera-indera kita tidak dapat diandalkan dan seringkali mengarahkan kita pada kesimpulan-kesimpulan yang salah. (Misalnya, kita melihat matahari “terbit”, padahal ini adalah pergerakan bumi; kita

kadang-kadang menyalah-artikan mimpi-mimpi dan bayangan-bayangan sebagai kenyataan-kenyataan). Oleh karena itu, ketika hal-hal ini bersifat tidak pasti dan yang mengandung ilusi-ilusi, kita harus menolak kesankesan (impressions) ini sebagai basis bagi pengetahuan. Yang tersisa adalah kemampuan untuk berpikir (reason), yang Descartes dan para “rasionalis” lain yakini sebagai pembimbing yang dapat diandalkan daripada pengalaman. Tapi, menganggap ini sebagai benar adalah juga mengandung kesalahan, dan bahwa logika pun dapat melakukan kesalahan. Barangkali, gagasan-gagasan yang tampak membuktikan dirinya sendiri (self evident) seperti “2 + 2 = 4” dan “kebahagiaan adalah baik” sebenarnya adalah salah, dan telah ditanamkan ke dalam pikiran kita oleh setan jahat yang sangat kuat yang telah membengkokkan sepenuhnya dalam tipuan. Anggaplah juga bahwa seluruh dunia ini dan semua yang ada di dalamnya, termasuk pemikiran yang rasional, adalah sebuah mimpi dalam pikiran setan jahat ini. Kita tidak punya cara untuk membuktikan bahwa ini adalah benar atau salah; lalu, apa yang mungkin dapat tersisa sebagai sebuah kebenaran absolut? Jawaban Descartes adalah: fakta yang sama bahwa dia telah memikirkannya, seluruhnya, di tempat pertama. Yaitu, tidak peduli skenario apa tentang realitas yang anda upayakan, anda masih sedang memikirkan –nya, anda harus eksis. Atau---dalam versi Latin dalam buku Discourse on Method---cogito ergo sum: “aku berpikir, maka aku ada.” Kesimpulan Descartes ini, akhirnya, adalah pondasi dari pengetahuan yang benar---pemikiran itu sendiri, dan apapun pemikiranpemikiran yang khusus (seperti “substansi”, “diri”, dan “Tuhan”) adalah

bersifat bawaan dalam pikiran. Tapi, disini, kita harus berhenti untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Descartes. Marilah kita pastikan bahwa cogito ergo sum adalah benar dan mengabaikan kemungkinan bahwa pemikiran itu sendiri boleh jadi adalah sebuah bayangan. Meskipun demikian, ia bukanlah sebuah langkah segera untuk memastikan ide-ide seperti “Tuhan”---kandungan dari pemikiran kita ini, jika bukan merupakan fakta, masih dapat menjadi sebuah tipuan setan. Tapi bagi Descartes, kesimpulan-kesimpulan semacam ini adalah tak-terbayangkan. Dia merasa pasti dia telah eksis, bahwa dia telah berpikir, dan bahwa impresi-impresi yang jelas dan terpilah-pilah adalah esensi dari pemikiran: bahwa tanpa mereka, pemikiran tidak terjadi. Dan ketika Pencipta yang maha kuasa dan maha pemurah---Tuhan---adalah termasuk dalam impresi-impresi ini, Tuhan harus eksis. Dan, dengan menjadi maha kuasa dan maha pemurah ini, Tuhan mencegah eksistensi maha kuasa-Nya, dari tipuan setan jahat. Begitu kita menentukan sang setan ini, kita menentukan keraguan-keraguan kita tentang kebenarankebenaran matematis yang logis. Ini masih menyisakan masalah-masalah bagi kita tentang impresiimpresi yang tak pasti. Descartes telah memikirkan bahwa Tuhan tidak akan pernah mengizinkan kita untuk menjadi sepenuhnya tertipu, sehingga kita dapat, setidaknya, mempercayai bahwa dunia ini eksis dan bahwa substansinya adalah nyata. Pada sisi lain, substansi fisik adalah sangat berbeda dan terpisah dari pemikiran, yang mengarah pada “masalah tubuh/pikiran” Descartes yang terkenal

Jika pikiran eksis, ada dimana ia? Jika ia ada di suatu tempat, ia mempunyai lokasi fisik dan realitas, dan ia seharusnya menjadi sejenis substansi. Jika ia tidak mempunyai substansi, dengan cara apa ia eksis? Descartes tidak mampu untuk memecahkan teka-teki ini (dia menyatakan dengan dasar yang lemah bahwa pikiran itu terletak di pusat otak---pineal gland). Dalam kenyataan, tak seorangpun yang pernah berupaya mengajukan sebuah solusi yang benar-benar masuk akal. Terdapat kecenderungan dalam ilmu pengetahuan sekarang ini yang mengarah pada mendefinisikan pikiran hanya sebagai sekumpulan reaksi-reaksi kimiawi syaraf (neurochemical reactions); tapi, saya tidak akan menahan napas saya untuk menunggu pembuktian ini. Rasionalisme Descartes, sebuah produk dari abad pertengahan, menyatakan bahwa kebenaran mensyaratkan adanya kepastian, pada akhirnya, gugur di hadapan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan empiris, yang menyatakan bahwa kebenaran-kebenaran itu selalu bersifat hipotetis, sementara, selalu memberi peluang adanya perkembangan yang lebih baik, dan terikat dengan proses trial and errorsebagaimana yang terjadi pada proses berpikir yang logis. Namun demikian, cogito ergo sum masih tetap suatu ide yang hebat---sebuah prestasi puncak dari filsafat kuno dan sebuah stimulus bagi logika modern dan metafisika. Sistem koordinasi Descartes mungkin dapat bertahan lebih lama, tapi, ini lebih banyak ditentukan oleh aspek cogito ini yang membuat kita mengingat Descartes.

Garpu Hume
Garpu Hume adalah sebuah alat filsafat untuk memisahkan masalahmasalah yang sangat menarik dari masalah-masalah yang sekadar tiruan belaka. Dikemukakan oleh orang Skotlandia, David Hume, (1711-1776), ide dasarnya adalah bahwa setiap pernyataan atau klaim akan terjatuh dalam salah satu dari tiga kategori berikut: 1) benar atau salah berdasarkan definisi, 2) bergantung pada pengalaman, atau 3) hal-hal yang tidak masuk akal. Inilah ketiga ujung runcing garpu. Sejauh yang dicermati oleh Hume, hanya pernyataan-pernyataan tipe 2 yang sangat menarik, sehingga dia disebut sebagai seorang “empirisis” (dari bahasa latin “pengalaman”). Namun, sebenarnya, Hume telah mencuri ide dasar ini dari apa yang disebut dengan “rasionalisme” Gottfried Leibniz (1646-1716), yang mengikuti jejak Descartes dalam meyakini bahwa proses berpikir logis adalah sebuah pedoman yang lebih pasti menuju kebenaran dibandingkan dengan pengalaman. Leibniz mempunyai garpunya sendiri, tapi ia hanya mempunyai dua ujung tajam: 1) pernyataan-pernyataan positif [assertions] dan bersifat logis yang tak terhindarkan dan 2) pernyataanpernyataan positif “yang mungkin” (kontingen = tidak harus). Contohcontoh dari pernyataan-pernyataan positif yang perlu adalah “2 + 2 = 4” dan “anjing spaniel adalah seekor anjing.” Bahwa kedua pernyataan positif ini harus berarti bahwa pernyataan-pernyataan yang negatif dari keduanya adalah tidak benar. Contoh-contoh dari pernyataan-pernyataan

positif yang kontingen adalah “Caesar menyeberangi [sungai] Rubicon”2 dan “Bill Clinton adalah presiden amerika Serikat.” Kedua pernyataan ini mungkin saja benar, tapi pernyataan-pernyataan sebaliknya yang bertentangan, tidak harus salah. Kebenaran atau ketidakbenaran dalam hal ini adalah bersifat tidak logis, tapi bergantung pada peristiwaperistiwa sejarah yang mungkin telah berlangsung secara berbeda. Tapi, Leibniz telah membuat pembedaan ini hanya untuk menghancurkannya. Apa yang dia yakini adalah bahwa proposisi-proposisi kontingen adalah suatu keharusan jika anda melihat mereka dengan cara yang benar. Bill Clinton harus memenangkan pemilu tahun 1992, karena hasil pemilu ini telah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan. Tidak ada “realitas alternatif” yang mungkin dimana dia dapat mengalami kekalahan. Segala sesuatunya adalah sebagaimana yang telah dimaksudkan, sehingga tidak ada pernyataan-pernyataan positif yang bersifat kontingen. Hume, bersama dengan rekan-rekan Inggris penganut empirisme, mengejek pada kebodohan-kebodohan orang-orang Eropa. Seperti Leibniz, Hume membedakan proposisi-proposisi yang bersifat harus (yang dia sebut sebagai “relasi-relasi dari ide-ide”) dari yang bersifat kontingen (“hal-hal yang berdasarkan pada fakta”), tapi dia mendesak bahwa mereka sungguh berbeda. Bukan hanya hal-hal yang berdasarkan fakta ini bersifat tidak harus, tapi proposisi-proposisi yang bersifat harus menjadi hampir tidak berguna. Sebagaimana yang dipahami oleh Hume,
Rubicon adalah nama kuno untuk sungai di Italia Tengah yang mengalir menuju laut Adriatik, yang menjadi perbatasan antara wilayah Itali dengan wilayah Romawi dibawah Cisalpine Gaul. Pada tahun 49 SM Julius Caesar beserta pasukannya menyeberangi sungai ini meskipun dilarang oleh Senat. Tindakan Caesar ini mengawali perang sipil antara pasukan Caesar dengan pasukan Pompey yang agung. Ungkapan “menyeberangi sungai Rubicon” ini mengandung arti upaya yang sangat berani untuk menempuh bahaya. (Penerjemah)
2

pernyataan apapun yang harus benar (atau “analitik”, untuk menggunakan terminologi Kant) hanyalah sebuah tautologi: ia adalah kosong dan tidak menjelaskan apapun kepada kita. Untuk mengatakan bahwa “seekor anjing spaniel adalah seekor anjing” hanyalah sekadar mengulang definisi dari “anjing spaniel”. Untuk mengatakan bahwa 2 + 2 = 4 adalah tidak mengatakan sesuatu yang baru, tapi hanya mengejar akibat-akibat dari bagaimana kita telah mendefinisikan istilah-istilah ini. Satu-satunya jenis pernyataan yang penting, bagi Hume, adalah pernyataan yang berkaitan dengan fakta, yang bersifat tidak harus benar dan, yang dengan demikian, menjelaskan kepada kita sesuatu yang baru tentang dunia ini. Untuk mengatakan bahwa “Julius Caesar telah menyeberangi sungai Rubicon” adalah bersifat informatif (memberi informasi) karena Julius Caesar boleh jadi tidak menyeberangi sungai Rubicon. Pengetahuan nyata apapun akan muncul dalam sejenis bentuk, yang disebut Kant sebagai sebuah pernyataan “sintetis”, dan jenis pernyataan-pernyataan yang didasarkan pada observasi daripada berdasarkan proses berpikir logis. Inilah esensi dari empirisme. Hume menyadari bahwa terdapat jenis pernyataan-pernyataan yang tidak bersifat tautologis (analitik) dan bukan pula bersifat informatif (sintetis). Misalnya, “Unicorn [kuda bertanduk] adalah buas” adalah sulit menjadi sebuah kebenaran yang logis, bahkan, pada sisi lain, ia tidak menjelaskan apapun tentang dunia ini, karena unicorn ini tidak eksis. Jenis pernyataan ini, yang disebut Hume sebagai pernyataan “omong kosong” (nonsense). Sebagaimana dia telah melihatnya, mayoritas buku-buku tentang teologi atau metafisika penuh dengan sekumpulan pernyataan-

pernyataan omong kosong yang tidak mengandung kebenaran yang bersifat harus dan tidak juga menerangi fakta-fakta, dan perintahnya terhadap buku semacam ini adalah “membuangnya ke dalam bara api, karena ia tidak mengandung apapun kecuali ilusi dan hal-hal yang dapat diterima akal tapi dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang salah” (An Enquiry Concerning Human Understanding, 1748). Menggunakan garpu filsafat sekarang ini tampaknya tidak lagi menjadi sesuatu yang penting, tapi di masa kemunculan gagasangagasan Hume ini, mempunyai akibat-akibat yang sangat mendasar. Misalnya, dia telah menunjukkan bahwa pernyataan “Tuhan eksis” adalah pernyataan yang tidak mengandung kebenaran yang bersifat harus (ketika pengingkaran terhadapnya bukan merupakan kesalahan yang bersifat harus) tidak juga bersifat empiris (ketika kita tidak mengalami Tuhan dengan indera-indera kita). Berdasarkan pada “Garpu Hume”, pernyataan ini haruslah bersifat omong kosong [nonsense]---yaitu, melampaui batas-batas ilmu pengetahuan. Selanjutnya, empirisme Hume mereduksi semua pengalaman yang dinyatakan oleh pernyataan-pernyataan kontingen---yaitu, pada hal-hal yang mungkin benar atau mungkin tidak benar dan oleh karena itu tidak dapat diputuskan atau dipastikan. Diantara hal-hal jenis ini adalah pengalaman tentang sebab (cause). Kita mungkin melihat tongkat bilyar menyodok delapan bola bilyar, dan kemudian melihat kedelapan bola bilyar ini menggelinding menuju kantong, tapi bahwa satu hal ini “menyebabkan” yang lain hanyalah sebuah ide yang abstrak, cara kita menjelaskan urut-urutan peristiwa. Kesimpulan-kesimpulannya telah

dibuktikan sebagai sangat bermasalah bagi ilmu pengetahuan (lihat entry selanjutnya). Hume telah mencoba untuk menggantikan kepastian-kepastian matematika dan kepastian-kepastian ilmu pengetahuan yang kosong dan tidak bermakna dengan sebuah model realitas yang lebih bermakna, yang didasarkan pada psikologi manusia, probabilitas, dan perilaku yang telah menjadi kebiasaan. Atas upayanya ini, Hume sekarang disebut sebagai seorang skeptis, sebutan yang tepat untuknya sejauh ini. Tapi, dia mungkin juga disebut sebagai seorang psikolog atau pakar statistik. Di era fisika kuantum kita dan jajak pendapat, ide-ide Hume ini praktis diterima begitu saja tanpa sikap kritis.

Skandal Induksi
Metode ilmiah yang telah dirintis pada abad ke tujuh belas oleh Francis Bacon, Rene Descartes, dan filosuf-filosuf lain, pada intinya adalah sebuah proses induktif. Sebagaimana dipertentangkan dengan deduksi (yang meng-asal-kan atau menderivasikan kebenaran-kebenaran baru dari sesuatu yang telah dikukuhkan), induksi berlangsung dari ovservasiobservasi khusus menuju kesimpulan-kesimpulan umum. Bacon dan para pengikutnya mendesak bahwa pengetahuan ilmiah tidak pernah dapat menyandarkan diri pada kebenaran-kebenaran yang diterima begitu saja tanpa sikap kritis, apakah itu bersifat matematis atau metafisis, tapi harus membumikan dirinya sendiri dalam observasi dan eksperimen. Para ilmuwan sejati mengobservasi dunia yang alami ini,

mempelajari pola-polanya, memunculkan hipotesa-hipotesa, dan kemudian menguji mereka melalui eksperimen. Sebuah hipotesa menjadi teori jika telah dikukuhkan melalui eksperimen yang berulang-ulang. Tapi, ia ditolak jika bertentangan (“di falsifikasi”) melalui uji coba. Filosuf David Hume, meskipun bersikap setuju bahwa pengetahuan itu hanya dapat diperoleh melalui eksperimen, telah memikirkan metode ilmiah memiliki masalah-masalah besar. Persis seperti yang dimaksudkan, Hume mengajukan pertanyaan, untuk “mengetahui” sesuatu melalui observasi atau eksperimen---yaitu, dengan induksi? Yang anda tahu hanyalah bahwa kapan saja X muncul, Y juga akan muncul. Marilah kita katakan X muncul ratusan kali dan dalam setiap kali pemunculan itu, Y juga muncul. Anda melemparkan sebuah batu ke arah sebuah jendela, dan ia pecah menjadi beberapa keping. Anda melemparkan 99 batu ke arah 99 jendela, dan mereka semua hancur berkeping-keping, juga. Anda mengambil kesimpulan melalui induksi bahwa melemparkan bebatuan ke arah jendela-jendela itu mengakibatkan mereka menjadi rusak. Ini adalah teori ilmiah anda. Tapi, apakah ini kebenaran yang niscaya (bersifat harus)? Jika terdapat keraguan, ulangilah eksperimen ini. Ulangilah sejuta kali, sesuka anda. Tapi, siapa yang mengatakan bahwa pada kejadian yang sejuta dan yang pertama, batu itu akan masih merusak jendela itu? “Skandal” induksi ini, sebagaimana ini akan diketahui kemudian, adalah bahwa observasi-observasi itu, secara tak terhindarkan, bersifat terbatas---anda tidak dapat terus melempar batu-batu itu pada pada jendela-jendela untuk selamanya. Yang dimaksud adalah bahwa metode

eksperimental itu bersifat “terbatas”: ia mendeduksi kebenaran dari hanya sebuah keterbatasan dari sejumlah eksperimen atau observasiobservasi. Tapi, siapa yang mengatakan bahwa, jika dilangsungkan dalam jangka waktu yang lama, sebuah eksperimen tidak akan menghasilkan hasil-hasil yang negatif? Dan dengan berdasarkan asumsi bahwa jika sebuah eksperimen, bahkan, sekali saja ia bertentangan dengan sebuah hipotesa, maka hipotesa itu tidak dapat menjadi kebenaran yang niscaya---yaitu, ia tidak dapat diketahui secara pasti. Ini adalah kelebihan atau kekurangan dari intisari Hume tentang pengetahuan induktif: ini adalah sebuah gaya bahasa dimana kata-kata yang saling bertentangan digunakan secara bersamaan. Hal-hal yang kita pikir kita “tahu” dari pengalaman---bahwa matahari akan terbit dan bahwa burung-burung terbang dan sebagainya---sebenarnya hanyalah sesuatu yang kita yakini, karena kita telah terbiasa untuk mengalami semua itu. kita meyakini bahwa melemparkan bebatuan “menyebabkan” jendela-jendela hancur berantakan karena kita telah mengobservasi pola yang normal dan biasa ini; tapi adalah mustahil untuk mengobservasi yang menyebabkan itu sendiri. penyebab adalah di-inferensi-kan atau diinduksi-kan dari dua peristiwa yang saling terjadi (batu dilemparkan, jendela rusak). Namun, melihat dunia dengan cara ini---dalam konteks penyebab---adalah benar-benar merupakan kebiasaan mental. Tidak ada cara untuk membuktikan atau mengetahui secara pasti tentang sesuatu sebagai “penyebab” atau bahwa apapun yang terjadi di dunia ini harus terjadi lagi.

Namun, Hume melihat dengan perasaan putus asa bahwa tidak ada penyebab dalam skandal ini. Jika pengetahuan tertentu tentang dunia ini adalah tidak pasti secara filosofis, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengetahui apapun. Ini hanya berarti bahwa kita mengetahui berbagai hal secara khusus dan terbatas. Paling tidak, kita dapat mengafirmasikan kemiripan yang sangat atau probabilitas bahwa matahari akan terbit esok hari dan bahwa sebuah batu akan menghancurkan sebuah jendela. Dan dalam kenyataannya, dalam ketiadaan alasan yang bagus untuk meragukan mereka, kita mungkin menyebut keyakinan-keyakinan seperti ini sebagai “kepastian-kepastian” dalam makna yang praktis (jika bukan filosofis). Lebih jauh lagi, Hume meyakini bahwa jika ide-ide kita mengarahkan kita untuk meyakini hukum-hukum alam, yaitu karena alam ini sebenarnya adalah sesuai dan sejalan dengan hukum. Namun demikian, penerus Hume, yang berpikir bahwa pengetahuan itu harus bersifat pasti untuk benar-benar menjadi pengetahuan, tidak puas dengan “kepastian yang praktis”. Sebuah solusi yang jelas dan nyata atas dilema ini yang diajukan oleh Immanuel Kant, yang menolak klaim Hume bahwa hal-hal yang faktual diketahui hanya melalui pengalaman. Untuk menggunakan jargonnya, konsep-konsep seperti kausalitas, ruang, dan waktu adalah gagasan-gagasan “a priori sintetis”, yang berarti bahwa mereka menggambarkan realitas tapi yang tidak di-induksi-kan dari pengalaman. Yang menarik dari solusi Kant adalah bahwa ia membuat hukumhukum alam dan kebenaran-kebenaran ilmiah lain menjadi bergantung pada kategori-kategori mental, lebih tepatnya, bergantung pada

kesadaran manusia. Proses induksi secara ketat tidak pernah terjadi, ketika hanya penampakan-penampakan, bukan sesuatu di dalam dirinya sendiri, yang dapat diakses oleh pengetahuan manusia. Benar, bahwa kita mungkin merasa pasti tentang penampakan-penampakan itu, dan ini tidak dapat eksis kecuali didukung oleh sebuah realitas yang mendasari; tapi, Kant tetap menarik sebuah garis lurus di sekitar realitas tertinggi dan menyatakannya sebagai yang tak dapat diketahui (unknowable). Masih belum cukup. Ini membutuhkan seluruh halaman buku untuk memetakan pendekatan-pendekatan jenis-jenis yang beragam ini untuk memecahkan dan menyelesaikan problem induksi ini, berkisar dari penganut utilitarianisme sampai pragmatisme hingga ke fenomenologi. Tapi, seorang filosuf, secara khusus, layak untuk disebut, ketika namanya menjadi sangat identik dengan kritik metode keilmuan di abad ke dua puluh: seorang warga Austria, Karl Popper (lahir 1902). Seperti Kant, Popper berupaya untuk melenyapkan masalah ini dengan melenyapkan proses induksi secara menyeluruh. Dalam pandangannya, hipotesa-hipotesa ilmiah tidak muncul dari observasi, tapi muncul dari sebuah kreasi imajinasi yang bebas (individu atau kelompok). Kita mengobservasi dan melakukan eksperimen untuk proses uji-coba daripada menciptakan teori-teori. Dan alasan mendasar dari proses ujicoba ini (apakah diakui atau tidak) adalah, ironisnya, tidak untuk membuktikan teori-teori sebagai sesuatu yang pasti, tapi lebih untuk membuktikan bahwa teori-teori ini mengandung kesalahan. Menguji sebuah hipotesa akan menjadi tidak bermakna jika kegagalan tidak dimungkinkan. Dan jika bukti yang bertentangan telah ditemukan, maka

teori ini harus ditolak dan teori lain harus diciptakan. Pada sisi lain, teoriteori yang lulus eksperimen, tidak terbukti sebagai “benar”; mereka hanya ditunjukkan untuk memberi kita penggambaran realitas yang bagus. Lebih jauh lagi---dan ini adalah poin paling penting dari Popper--semakin sulit untuk mem-falsifikasi sebuah teori, semakin kurang bermakna teori ini. Karena mudah dipahami bahwa semakin umum sebuah pernyataan, maka semakin sulit untuk menemukan pengecualianpengecualian. (misalnya: “Angsa hitam eksis di suatu tempat di dunia ini” adalah sulit untuk difalsifikasi, sementara “Angsa hitam eksis di pulau Rhode” adalah pernyataan yang lebih mudah). Semakin banyak kandungan sebuah teori---semakin tepat dan akurat ia dalam upaya untuk menjelaskan fenomena---semakin bermakna ia, tapi juga mengandung paradoks bahwa ia lebih mudah untuk ditolak. Tapi, penolakan ini bukanlah sebuah bencana; ini adalah, sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, esensi dari kegiatan keilmuan. (Jika sebuah klaim tidak mengandung sedikitpun potensi untuk difalsifikasi, maka ia tidak bersifat ilmiah, tapi mudah dipahami---atau, kembali pada istilah Hume, ia hanya menyatakan suatu “relasi ide-ide”). Penolakan mengarah pada penghalusan teori-teori lama dan penciptaan teori-teori baru, sehingga gambaran kita tentang dunia ini menjadi lebih terinci, tahan lama dan lengkap. Jika kita mengetahui berbagai hal secara pasti dan tak terbantahkan, maka ilmu pengetahuan akan tamat riwayatnya.

Sesuatu-dalam-Dirinya sendiri (Das Dingan-Sich)
Dari sini, ia mengikuti secara tak terbantahkan, bahwa konsep-konsep murni tentang pemahaman tidak pernah mengizinkan sesuatu yang bersifat transendental, tapi hanya untuk suatu penggunaan empiris, dan bahwa prinsip-prinsip tentang pemahaman murni ini hanya dapat diacu, sebagaimana syarat-syarat umum tentang sebuah pengalaman yang mungkin, pada obyek-obyek indera, tidak pernah pada berbagai hal di dalam diri mereka sendiri.... Immanuel Kant, Critique of Pure Reason (1781)

Hal penting untuk diketahui tentang “sesuatu-dalam-dirinya sendiri” adalah bahwa tidak ada satupun yang diketahui. Anda bahkan tidak mempunyai peluang sedikitpun (untuk dapat mengetahui). Alasannya, menurut orang Jerman yang jenius, Immanuel Kant (1724-1804), ini adalah bahwa pikiran kita tidak pernah menjalin kontak langsung dengan realitas tertinggi. Karena cara kerja indera-indera kita, dan karena otak kita telah diciptakan secara sesuai dan cocok dengan konsep-konsep dan saringan-saringan yang beragam, realitas yang kita ketahui dan “pahami” setidaknya adalah satu atau dua langkah menjauh dari sesuatu dalam dirinya sendiri. Ide “sesuatu-dalam-dirinya sendiri” (thing-in-itself, Ding-an-sich) dari Kant, telah terkubur dalam-dalam dalam karya hebat (masterpiece)nya, Critique of Pure Reason, sebuah upaya untuk mengoreksi cacat mendasar dalam filsafat pengetahuan masa itu. Kant memperoleh inspirasi utamanya dari karya tokoh empirisme, David Hume,

yang menurut Kant, telah membangunkan dia dari “tidur dogmatik” rasionalisme ortodoks (pandangan ini menyatakan bahwa akal adalah sumber pengetahuan kita yang utama). Kant kemudian meyakini, sejalan dengan Hume, bahwa pengetahuan itu berasal dari pengalaman daripada bersumber dari akal. Tapi, dia menolak posisi kaum empirisis bahwa pengalaman-pengalaman ini secara langsung menanamkan kesan yang kuat pada otak, yang adalah sebuah “batu tulis kosong” pada saat kelahiran. Menurut Hume, tidak ada konsep---bukan ruang, waktu, substansi, kausalitas, atau kategori mental lain---yang bersifat a priori (mendahului pengalaman). Kant tidak membeli argumen ini, sama sekali. Yang paling pertama, kata Kant, Hume pasti salah terkait konsep-konsep tentang ruang dan waktu. Karena Hume telah mengklaim bahwa kita mempelajari konsep “ruang” dengan mengobservasi relasi-relasi diantara obyek-obyek yang kita ketahui dan pahami. Kita melihat bahwa sesuatu itu ada di urutan selanjutnya dari sesuatu yang lain, atau berada di atasnya, atau di bawahnya, dan lain-lain., dan sampai pada pemahaman bahwa relasirelasi semacam ini terjadi di dalam ruang. Demikian pula dengan konsep waktu, yang menurut Hume, dihasilkan dari proses meng-observasi bahwa peristiwa-peristiwa terjadi secara berurutan (sesuatu yang ini terjadi setelah sesuatu yang itu dan sebelum adanya sesuatu yang lain, dan lainlain). Tapi, Kant telah menghancurkan logika Hume. Bagaimana mungkin kita dapat mengalami sesuatu yang itu “berurutan” (next to) dengan yang lain atau bahwa sesuatu itu terjadi “setelah” sesuatu yang lain kecuali kita

sudah mempunyai konsep-konsep seperti “urut” dan “setelah”---yaitu, konsep-konsep tentang ruang dan waktu? Hal-hal semacam inilah, yang telah ditanamkan ke dalam pikiran, simpul Kant, atau kita bahkan tidak dapat memulai untuk sebuah makna yang dapat dipahami tentang chaos ini yang adalah persepsi. Ruang, waktu, dan sejumlah “kategori-kategori” lain (seperti kuantitas, kualitas, relasi, dan sebab) harusnya muncul secara inheren dalam pemikiran; mereka adalah bentuk-bentuk (forms) yang kita paksakan pada pengalaman-pengalaman untuk mengorganisir dan memahami mereka. Dan bahwa setiap orang saling berbagi ide-ide yang sama tentang ruang, waktu, dan lain-lain., yang berarti bahwa sebagai tambahan untuk menjadi a priori (bawaan sejak lahir) mereka harus juga menjadi universal. Pada sisi lain, mereka tidak dapat dikatakan eksis dengan cara yang sama dengan obyek-obyek itu eksis, karena intuisi-intuisi dan kategorikategori hanyalah konsep-konsep, bukan benda-benda (things). Kita memaksakan mereka di atas pengalaman, daripada menemukan mereka di dalam pengalaman. Pengalaman, juga, berbeda dengan realitas, karena ia terdiri dari kesan-kesan (impressions) atau persepsi-persepsi tentang benda-benda, bukan tentang benda-benda-di dalam-diri mereka sendiri. (Ini karena konsep-konsep diterapkan hanya pada pengalaman dimana kita tidak dapat menggunakan mereka untuk menggambarkan obyekobyek transendental---Tuhan, misalnya.) apa yang kita pahami dalam ruang dan waktu, apa yang kita lihat sebagai wujud yang besar dan luas dan dengan warna tertentu, apa yang kita deduksikan sebagai sebab-

sebab dari peristiwa ini dan itu, semua ini hanyalah aspek-aspek dari sesuatu yang dipahami dan dapat dijangkau oleh indera-indera, permukaan yang mereka tunjukkan kepada kita, disebut oleh Kant sebagai “fenomena.” Jika ruang dan waktu eksis hanya dalam pikiran---sebagaimana ditunjukkan secara tidak langsung oleh Kant---maka, dengan mengalami dunia ini sebagai yang eksis di dalam ruang dan waktu, kita hanya sedang mengalami bagaimana dunia ini menampak kepada kita, bukan bagaimana ia eksis. Tapi, pastinya, terdapat sebuah dunia nyata di luar sana yang mensuplai kita dengan penampilan-penampilan luar ini: Kant menyebutnya dunia “noumena” (yang dipertentangkan dengan “fenomena”). Ini adalah dunia dimana sesuatu itu eksis sebagaimana adanya ia, bukan apa yang ia tampakkan aspek luarnya saja; ini adalah dunia dari sesuatu-dalam-dirinya sendiri. Berdasarkan definisi di atas, kita tidak pernah dapat mengalami dunia ini, lalu, apakah kita mengetahui bahwa ia benar-benar eksis? Kant tidak pernah mampu untuk melakukan hal yang lebih baik lagi selain dari menyatakan bahwa kita harus meyakini benda-benda-dalam-diri mereka sendiri jika kita ingin meyakini pengetahuan yang benar, dan pada bagian ini dari teori Kant, dianggap membingungkan oleh para penerusnya. Setiap filosuf besar setelah Kant, berupaya untuk menjauh darinya, apakah itu dengan mengklaim bahwa penampilan-penampilan luar adalah (atau setidaknya dapat menjadi) sama dengan realitas, atau dengan mengklaim bahwa, sementara kita hidup dalam sebuah dunia fenomena, filsafat dapat mengarahkan kita menuju noumena yang ada dibaliknya.

Kita akan membahas kemudian, pemikiran dari dua filosuf yang menganut pandangan yang terakhir ini: G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl.

Imperatif Kategoris
Terdapat... hanya sebuah imperatif kategoris tunggal dan ia adalah yang berikut ini: Tindakan, hanya yang berdasarkan pada prinsip moral, melalui mana anda dapat, pada saat yang sama, menginginkan bahwa ia seharusnya menjadi sebuah hukum universal. Immanuel Kant, The Metaphysic of Morals (1797), chapter 11

Setelah memecahkan masalah pengetahuan, setidaknya berdasarkan pada ukuran kepuasannya sendiri, Immanuel Kant memasukkan etika ke dalam mesin filsafatnya, dan berupaya menampilkan versi modern dari Kaidah Kencana (Golden Rule)3. Versi aslinya menyatakan: “Berbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu menginginkan mereka untuk berbuat kepadamu.” Kant memodifikasi ungkapan ini menjadi “Berbuatlah kepada orang lain engkau menginginkan setiap orang untuk berbuat kepada setiap orang.” Dalam ungkapan yang lebih teknis, tindakan-tindakan anda seharusnya didasarkan pada prinsip-prinsip yang anda inginkan ini adalah hukumhukum universal. Inilah yang membuat hukum ini bersifat “imperatif kategoris”, untuk menggunakan istilah Kant: bersifat kategoris karena ia mencakup setiap orang tanpa kecuali dan imperatif karena kewajiban moralnya.
Kaidah Kencana (Golden Rule) adalah prinsip tentang perilaku altruistik yang bersumber dari perjanjian lama [Sepuluh Perintah Tuhan kepada Nabi Musa]. (Penerjemah).
3

Apakah ini lebih baik daripada ungkapan aslinya? Karena di dalam teori, ia menghindari masalah ide-ide tentang perbedaan pendapat di kalangan masyarakat terkait dengan apa yang mereka suka untuk berbuat sesuatu kepada orang lain. Kant berharap untuk dapat menandingi apa yang sekarang ini kita sebut dengan “relativisme moral”, yaitu gagasan yang menyatakan bahwa apa yang benar atau baik, bergantung pada situasi atau konteks. Yang lebih salah lagi, pikir Kant, adalah doktrin utilitarianisme yang menyatakan bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Bagaimana mungkin hasil-hasil (akibat-akibat) menyediakan sebuah basis moral bagi tindakan, dia bertanya, bahkan ketika metode paling baik sekalipun dapat mengandung kesalahan? Hasilhasil (akibat-akibat) dari apa yang kita lakukan, seringkali bukan apa yang kita niatkan semula, sehingga ini, secara moral, menyimpang dari untuk mendasarkan vonis-vonis kita pada hasil-hasil. Vonis-vonis yang dapat kita andalkan adalah yang berdasarkan pada prinsip-prinsip yang melandasi tindakan-tindakan kita, aturan-aturan yang kita gunakan dalam pembuatan keputusan-keputusan. Dan bagaimana prinsip-prinsip semacam ini diputuskan? Jika kita ingin bersikap obyektif, kita harus melihat hal-hal yang universal. Tak satupun dari situasi-situasi yang mengandung nilai-nilai moral; Kant sedang mencari hukum-hukum yang solid dan konsisten untuk melahirkan tatanan bahwa “Mencuri itu adalah salah.” Hukum-hukum ini harus diterapkan secara lintas batas. Demikianlah, bagaimana imperatif kategoris bekerja: diberikan sebuah pilihan, anda harus menjadi sadar akan hukum-hukum ini yang

mendasari tindakan anda. Anggaplah seorang asing sedang menghampiri anda dan menghina ibu anda. Reaksi pertama anda mungkin mencekik lehernya, tapi berhentilah dan ujilah motif-motif anda. Jika anda mengatakan kepada diri anda: “Adala h benar untuk mencekik seseorang yang menyerang saya”---ini akan menjadi “prinsip” untuk melakukan tindakan itu---anda kemudian harus mempertanyakan apakah hukum semacam ini adalah rasional dan apakah anda akan mengharapkannya untuk diterapkan secara lintas batas. Dengan mempertimbangkan bahwa akibat yang timbul adalah terjadi pembunuhan massal dan chaos, anda harus menolaknya---ini adalah imperatif sehingga anda melakukan yang demikian ini. Penyesuaian rasionalistik Kant atas Kaidah Kencana (Golden Rule) menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan. Yang pertama, manusia yang normal, pada puncak peristiwa, jarang sekali dapat berhenti dari mempertimbangkan implikasi-implikasi dari prinsip-prinsip mereka. Yang kedua, hukum-hukum ini baik, tapi tidak selalu bersifat praktis---bahkan jika kita ingin melakukan hal yang benar, kita tidak selalu mampu mewujudkannya. Ketiga, adalah tidak selalu mudah untuk mengetahui apa “prinsip” atau hukum yang biasa dipraktekkan, kecuali dalam situasi-situasi yang paling sederhana. Banyak hukum-hukum yang berbeda yang mungkin dapat diterapkan, sebagian hukum-hukum ini bertentangan dengan hukum-hukum lain. Setiap orang yang sedang berlinang air mata saat didekati oleh seorang pengemis, akan mengerti apa yang saya maksudkan.

“Dan Kehidupan Manusia itu, Sendirian, Miskin, Kotor, Brutal, dan Kasar”
Oleh karena itu, apapun yang terjadi adalah akibat dari suasana Perang, dimana setiap manusia adalah Musuh bagi setiap manusia; hal yang sama sebagai akibat dari suasana perang ini adalah bahwa manusia hidup tanpa rasa aman, kemudian pada saat yang sama, apa yang menjadi kekuatan mereka dan skill untuk menemukan sesuatu akan muncul dalam diri mereka. Dalam kondisi seperti ini, tidak ada tempat bagi Industri; karena buah dari situasi ini adalah tidak pasti: dan sebagai akibatnya, tidak ada Kebudayaan di Bumi ini; tidak ada Pelayaran, tidak juga ada pemanfaatan barang-barang komoditi yang diimpor melalui jalan laut; tidak ada Bangunan yang luas; tidak ada instrumen-instrumen untuk menggerakkan, dan memindahkan berbagai hal yang membutuhkan banyak tenaga; tidak ada Pengetahuan di permukaan Bumi ini; tidak ada penjelasan tetang Waktu; tidak ada Seni; tidak ada karya Sastra; tidak ada Masyarakat; dan yang terburuk adalah, rasa takut yang terus-menerus, dan bahaya kematian yang menghancurkan; Dan kehidupan manusia itu, sepi-sendiri, miskin, kotor, brutal, dan berlangsung singkat. Thomas Hobbes, Leviathan (1651), Part I, chapter 13

Anda sering mendengar baris-baris ini dari karya masterpiece Thomas Hobbes yang dikutip di atas, seolah-olah dia memaksudkan kehidupan sekarang ini atau kehidupan secara umum. Meskipun Leviathan adalah jenis sesuatu yang menimbulkan depresi, Hobbes tidaklah sesuram itu. Yang dia maksudkan adalah bahwa kehidupan itu tanpa adanya civil

society, akan menjadi “terpencil, miskin”, dan lain-lain, bukan bahwa kehidupan itu seperti yang telah diungkap. Benar, Renaissans yang terjadi belakangan, bukanlah suatu hal yang remeh, di Inggris atau dimanapun. Orang-orang mengingat Shakespeare dan Galileo, tapi melupakan kemajuan-kemajuan itu dalam ilmu pengetahuan dan ilmu pelayaran (navigation), juga telah membantu perkembangan skeptisisme dan sikap ragu-ragu. Ilmu pengetahuan Aristoteles yang menghibur, telah menjadi puing-puing, sebagaimana halnya kepastian-kepastian dari sebuah Gereja yang dipersatukan (a Unified Church). Tuhan-lah yang menguasai dunia ini melalui raja-raja dan ratu-ratu, wilayah kedaulatan mereka dijamin oleh “hak ilahiah”, memberi jalan kepada Tuhan yang lebih akrab dan lebih pribadi, yang berfirman kepada sang manusia awam dan juga kepada sang raja. Pemberontakan-pemberontakan rakyat Inggris yang memenggal kepala Raja Charles I di pertengahan abad sembilan belas, jelas sekali, tidak melihat dia sebagai mediator Tuhan. Sementara Hobbes (1588-1679) telah bersetuju bahwa pemerintahan apapun adalah hasil dari konsensus sosial, dia dengan keras menentang pemberontakan-pemberontakan yang didasari oleh tindakan-tindakan dan ajaran filsafat yang anti-Monarki. Hanya seorang penguasa dengan kekuasaan absolut, dia berargumen, yang dapat secara efektif menahan dan membatasi manusia-manusia dari saling berdebat dan saling mengeksploitasi. (Jadi, judul Leviathan, mengacu pada makhluk raksasa penakluk, yang terdapat dalam Bibel). Untuk mengukuhkan premis ini, Hobbes membangkitkan suatu skenario kehidupan tanpa adanya hukum.

Hobbes menggambarkan manusia dalam keadaannya yang alami seperti berpusat pada diri (ego), lebih mementingkan diri sendiri, dan merasa tidak aman. Dia tidak mengetahui hukum dan tidak mempunyai konsep tentang keadilan; dia hanya mengikuti apa yang didiktekan oleh nafsu-nafsu dan hasrat-hasrat. Dimana tidak ada pemerintahan atau hukum, maka manusia akan secara alami jatuh ke dalam perbantahan, persaingan dan kontroversi. Ketika sumber-sumber daya alam itu terbatas jumlahnya, maka akan terdapat kompetisi, yang mengarah pada ketakutan, kekecewaan, dan perbantahan. Manusia juga secara alami mencari reputasi dengan menjatuhkan dan mengalahkan orang lain. Ketika dalam pandangan yang lebih luas, orang-orang itu setara dalam kekuatan dan kecerdasan, tak satupun orang atau kelompok yang dapat memaksakan kekuatan mereka tanpa ada bahaya yang menghadang. Jadi, konflik ini berlangsung secara abadi, dan “setiap manusia adalah Musuh bagi setiap manusia.” Dalam situasi perang ini, tak satupun kebaikan yang dapat muncul. Sementara setiap orang berkonsentrase pada mempertahankan diri sendiri dan menaklukkan (orang lain), maka keberadaan buruh-buruh yang produktif adalah mustahil. Tidak ada waktu senggang untuk mengejar dan menuntut ilmu pengetahuan, tidak ada motivasi untuk membangun atau mengeksplorasi, tidak ada tempat bagi seni dan sastra, tidak ada pijakan yang kuat bagi masyarakat---yang ada hanya “rasa takut yang berlangsung secara terus-menerus, dan bahaya dari kematian yang menyakitkan.” Jadi, kehidupan manusia dalam situasi seperti ini, dalam

ungkapan terkenal Hobbes, adalah “sepi-sendiri, miskin, kotor (menjijikkan), brutal, dan kasar.” Pandangan semacam ini, yang sangat diwarnai oleh rasa kurang percaya diri dan putus asa tentang masa tersebut, jelas sekali, tidak mempunyai acuan kepada Tuhan. Secara khusus, ia tidak mempunyai acuan pada peran Tuhan dalam pemerintahan, yang dilihat oleh Hobbes sebagai sebuah produk manusia. Pemerintahan-pemerintahan muncul ketika manusia, terilhami dan digerakkan oleh akalnya, mencari kebaikan untuk jangka panjang dengan menghindari keadaan alamiahnya yaitu rasa putus asa akan adanya konflik dan rasa takut, demi mengharap tercapainya perdamaian dan rasa aman. Manusia memilih untuk mengenali sebuah kekuatan yang umum sepanjang tetangga-tetangga mereka melakukan hal yang sama, karena hanya yang semacam ini sajalah yang dapat memelihara keteraturan. Kekuatan ini kemudian mempunyai kewajiban untuk memelihara rasa aman masyarakat luas; sarananya adalah hukum, dan kendaraannya adalah kekuatan yang tak terbantahkan. Karena pada tingkatan kekuasaan itu dapat dibagi, konflik akan muncul. Inilah sebabnya mengapa Hobbes berpikir bahwa monarki adalah bentuk terbaik sistem pemerintahan: hanya suatu kekuatan yang seperti Leviathan yang ia sendiri melampaui hukum---dan dengan demikian tidak dapat dilangkahi oleh otoritas yang lebih tinggi---pastinya dapat dan mampu memelihara rakyat secara efektif. Tentu saja, sebagaimana diakui oleh Hobbes, raja-raja akan terjerumus pada situasi perbantahan dan perseteruan dengan raja-raja lain, tapi Hobbes tidak menganut suatu

pemerintahan dunia yang terpusat. Selama segala sesuatunya stabil dan terkendali, baik-baik saja dalam pandangannya bahwa raja-raja itu mencari ketenarannya di luar negeri. Sangat disayangkan bahwa ide-ide Hobbes telah membuat tak seorang pun merasa bahagia. Dia juga terlalu bersikap pro kepada para bangsawan terkait dengan kontrak sosialdan terlalu banyak memberi keuntungan kepada kaum bangsawan dalam pembuatan kontrak sosial ini; lebih dari itu, pandangan-pandangannya dinilai oleh berbagai pihak banyak mengandung unsur-unsur ateistik, meskipun Hobbes mengingkari hal ini. Faktanya adalah bahwa pemikirannya adalah terlalu rumit dan aneh bagi setiap orang untuk mencerna keseluruhannya, meskipun ia akan memberi pengaruh pada filsafat dan ilmu politik terhadap beberapa generasi. (Spinoza adalah salah satu dari murid Hobbes yang layak dicatat). Hobbes sendiri sudah merasa terlalu capek melayani perdebatan di masa tuanya dan dia memuaskan dirinya dengan menerjemahkan karya Homer.(Iliad dan Odyssey, pent.).

Tabula Rasa
Marilah kita anggap pikiran (mind) itu menjadi, sebagaimana yang kita katakan, kertas putih, kosong dari semua karakter, tanpa satu ide pun. Bagaimana ia menjadi sangat berwarna? .... Tentang hal ini, saya menjawab, dalam satu kata, dari pengalaman. John Locke, Essay concerning Human Understanding (1690), Book II

Jangan sampai bahasa Latin membuat anda takut, tabula rasa sebenarnya adalah salah satu dari ide-ide besar yang lebih sederhana. Ini hanya berarti “piringan kosong”, yang adalah keadaan orisinal dari pikiran manusia, menurut beberapa filosuf. Diantara mereka yang berpendapat demikian adalah pakar Fisika Inggris, John Locke (1632-1704), yang dalam karyanya Essay concerning Human Understanding telah mempelajari asal-usul ide-ide dan hubungan mereka dengan realitas. Dia mengemukakan bahwa semua ide ini berasal dari pengalaman dan bahwa pengetahuan itu hanyalah relasi-relasi antara ide-ide. Ini berarti kita tidak dapat mempunyai ide-ide apapun hingga kita mempunyai pengalaman-pengalaman. Jadi, sebenarnya, pikiran dari anak yang baru lahir adalah kosong. Locke menyebutnya “kertas putih”; tabula rasa(secara harfiah berarti “tablet yang dihapus”) mendahului dia dan menyatakan, bertentangan dengan doktrinnya, bahwa sesuatu itu telah berada disana sebelum dihapus. Hasil akhir dari “kertas putih” Locke adalah bahwa bukan hanya kita dilahirkan dalam keadaan tanpa ide-ide konkret, kita juga tidak mempunyai konsep-konsep abstrak semacam moralitas, Tuhan, dan kebebasan. Konsep-konsep semacam ini harus dipelajari, sebagaimana bahasa, dan mereka ini dipelajari baik melalui pengalaman atau melalui perenungan dan nalar. Pandangan-pandangan ini membawa Locke untuk menolak idealisme dan seluruh gagasan dari ide-ide bawaan yang mewarnai bahasan filsafat sehari-hari. Meskipun, rasio mempunyai tempatnya sendiri dalam pemahaman manusia, Locke mengatakan, ia tidak mendominasi pengalaman. Pikiran

adalah bukan di atas materi, karena materi, melalui pengalaman, menyediakan ide-ide untuk pikiran (mind). Konsep-konsep kita yang paling sederhana dan paling mendasar (seperti “suara nyaring”, “keras” , dan “manis”) yang didukung oleh indera, dan semua ide-ide yang lebih konkret yang dibangun di atas mereka. Ide-ide lain datang kepada kita melalui refleksi (perenungan), termasuk kesadaran tentang proses pemikiran kita sendiri; “pemikiran” itu sendiri sebagaimana halnya dengan “persepsi”, “keyakinan”, “kesadaran”, “keraguan”, dan lain-lain, semuanya didukung oleh pengalaman reflektif. Ide-ide seperti itu bersifat sederhana, namun, tidak berarti bahwa mereka adalah ide-ide bawaan. Doktrin Locke tentang tabula rasa, terutama, bersumber dari logika sederhana. Misalnya, jika kita semua lahir dengan sebuah ide bawaan tentang Tuhan, maka kita semua akan mempunyai ide yang sama tentang Tuhan. Tapi, tentu saja, kita tidak demikian. Demikian pula, jika kita terlahir dengan sebuah ide tentang kebenaran moral, kita semua akan bersetuju tentang apa yang benar dan apa yang salah. Tapi, kita tidak demikian. Akhirnya, kebenaran-kebenaran analitik seperti “Apapun ia, ia eksis” dan “2 + 2 = 4” adalah bukan ide-ide yang sudah jelas bagi setiap orang---misalnya, anak-anak dan orang-orang idiot. Locke juga memikirkan premis tentang rasionalisme---pikiran berada di atas materi--yang terlalu kompleks untuk digunakan atau untuk menjadi valid. Seperti Occam, dia memikirkan bahwa yang lebih sederhana itu lebih baik, dan penjelasan apapun tentang pengetahuan yang tidak memerlukan ide-ide bawaan adalah lebih sederhana.

Sebenarnya, ketika tabula rasa tampaknya merupakan sebuah ide yang sedrhana, argumen Locke berakhir dengan agak rumit. Dalam kenyataan, dia kadang-kadang bertentangan dengan dirinya sendiri dan yang pada akhirnya memaksa untuk mengakui bahwa “fakultas-fakultas” (kemampuan-kemampuan tersembunyi) harusnya bersifat bawaan. Di antara ini adalah lima indera dan kemampuan bernalar, yang diperhitungkan sebagai “ide-ide” oleh beberapa kelangan. Apapun kesulitan-kesulitan yang terjadi tentang argumennya, argumen-argumen ini telah mengendalikan filsafat Inggris untuk terus memelihara karakter empirismenya. Namun, dia telah gagal untuk meyakinkan para filosuf Perancis, yang secara keseluruhan, masih tetap menjadi kaum rasionalis. Hanya merupakan salah satu alasan lain tentang mengapa banyak orang Inggris merasa khawatir terkait dengan penyatuan Eropa dan dengan akan dibangunnya terusan-terusan (bawah laut dan permukaan) antar negara.

Kontrak Sosial
Manusia terlahir bebas, dan dimana saja ia berada, ia dalam belenggu rantai. Seringkali, orang meyakini dirinya sendiri sebagai penguasa atas orang-orang lain, padahal dia adalah lebih budak daripada mereka. Bagaimana perubahan ini terjadi? Saya tidak tahu. Apa yang dapat membuatnya menjadi sah? Saya yakin bahwa saya dapat menyelesaikan pertanyaan ini.... Jika orang-orang memperoleh kembali kebebasannya yang berdasarkan pada kesamaan hak, baik mereka itu di-justifikasi (dibenarkan dan di legal-kan) dalam memperolehnya kembali, atau tidak ada justifikasi untuk menjauhkan mereka darinya. Tapi, keteraturan sosial adalah sebuah hak suci yang menyediakan sebuah pondasi bagi semua

yang lain. Namun hak ini, tidak datang secara alami. Oleh karena ia didasarkan pada konvensi-konvensi. Pertanyaannya adalah untuk mengetahui apa saja konvensi-konvensi ini. Jean-Jacques Rousseau, The Social Contract (1762), Book I, chapter I

“Manusia terlahir bebas, dan dimana saja ia berada, ia dalam belenggu.” Demikian awal prediksi Jean-Jacques Rousseau tentang borok-borok sosial pada masanya. Masyarakat modern disifatkan sebagai mementingkan diri sendiri, tidak setara (kesenjangan), tirani yang picik, dan ketidakotentikan, mengkhianati keadaan alami manusia, yang bebas, terbuka, dan bahagia. (Jelas sekali, Rousseau tidak menerima dan meyakini gambaran Hobbes tentang manusia alami sebagai tidak bahagia, kasar, dan mementingkan diri sendiri). Rousseau (1712-1778) tidak menghendaki penggulingan “sistem”. Targetnya yang terutama adalah suatu keyakinan, yang ditujukan kepada semua secara sama terhadap raja, kaum bangsawan, dan terhadap banyak orang di jalan: bahwa masyarakat mereka dan pemerintahan mereka harus sesuai dengan harapan mereka sendiri, karena Tuhan atau alam (atau keduanya) telah menciptakan mereka seperti itu. Au contraire, demikian argumen Rousseau; Tuhan telah menciptakan kita setara secara alami, baik secara alami, mampu memerintah diri sendiri, dan sendirian secara esensial. Jika masyarakat eksis sepenuhnya, ini karena masyarakat, bukan Tuhan atau alam, telah menciptakannya untuk saling berbagi rasa aman dan keuntungan yang sama. Dan apa yang telah diciptakan oleh manusia, manusia juga mungkin untuk merusaknya.

Namun, masyarakat ideal Rousseau ini tidaklah bersifat bebas sebebas-bebasnya, karena anarki bahkan lebih buruk daripada penindasan. Yang telah dia kemukakan adalah sebuah “kontrak sosial” (contrat social). Anugerah yang diberikan adalah bahwa semua manusia adalah setara secara alami, tapi, masyarakat ideal ini adalah sebuah rekayasa yang berdasarkan pada konsensus, pada sebuah persetujuan atau “kontrak” diantara seluruh warganya. Dan jika masyarakat semacam ini bersifat otentik dan baik, maka ia harus mempertahankan dan memelihara sebanyak mungkin kebebasan alami individu, untuk mengatakan, hak-nya untuk menentukan diri sendiri. Tapi, ini membutuhkan skill dan sikap waspada untuk mengupayakannya, ketika kontrak-kontrak ini, berdasarkan definisinya, melibatkan sebuah pertukaran, dalam hal ini adalah tentang hak-hak dan kebebasan-kebebasan. Gagasan Rousseau ini, dalam kenyataan, menuntut setiap anggota masyarakat “untuk menyerahkan hak individunya pada kewajiban kolektif dan menyerahkan seluruh kuasanya di bawah kontrol tertinggi dari kehendak umum” (“put in common his person and his whole power under the supreme direction of the general will”). Hanya dengan cara inilah, suatu masyarakat akan terbentuk, yang menyediakan kesejahteraan umum daripada menyalurkan hasrat-hasrat dan kepentingan-kepentingan dari seseorang atau dari kelompok yang berkuasa. Tapi, bagaimana kriteria ini sesuai dengan persyaratan lain yang diajukan Rousseau---bahwa masyarakat itu tidak melanggar kebebasan alami individu? Jawaban dia adalah bahwa tidak ada konflik sama sekali.

Karena kebebasan sejati adalah moral, dan kebaikan moral itu kandungan utamanya adalah mengharapkan kebaikan dari setiap orang. Ketika kepentingan-kepentingan pribadi bertentangan dengan kesejahteraan umum, yang merupakan sesuatu yang tidak bermoral, sehingjga kita kita tidak “bebas” secara alami, berdasarkan definisi dia, untuk mengejar mereka. “Kehendak umum” ini dikukuhkan ketika kita bersikap setuju pada kontrak sosial yang dia ajukan, yang bermakna sama dengan kebebasan moral, dimana setiap orang akan mengakui jika mereka telah mengetahui apa yang benar-benar baik bagi mereka. Apapun yang anda pikirkan tentang logika Rousseau, ini sungguh mempunyai implikasi-implikasi yang mendasar---yaitu, bahwa kita mempunyai hak-hak tertentu yang tidak bisa dialihkan pada orang lain dimana negara atau masyarakat tidak dapat membatasi dan melanggarnya. Dalam pelaksanaan kontrak sosial yang ideal, kehendak yang umum adalah kedaulatan dan pemerintahan dipegang oleh pihakpihak yang memperoleh persetujuan dari yang diperintah. Kontrak sosial memberikan kekuasaan eksekutif secara bersyarat, dan masyarakat bisa saja memecat mereka kapan saja yang mereka kehendaki. Adalah merupakan sentimen-sentimen (lebih berdasarkan perasaan daripada rasio) bahwa Rousseau memperoleh ucapan selamat dan pujian dari Edmund Burke yang menyebut dia sebagai “Socrates gila” dari Revolusi Perancis. Berbicara tentang Socrates, acuan-acuan pertama yang melandasi kontrak-kontrak sosial ini telah ditemukan, bukan dalam karya tulis Rousseau, tapi dalam dialog-dialog Plato. Misalnya, dalam Republic,

Glaucon mengacu pada “suatu kesepakatan yang bukan untuk melakukan dan tidak juga untuk mengalami ketidakadilan”; ini adalah “awal mula legislasi dan awal dari perjanjian formal yang mengikat diantara manusiamanusia” (Book II). Namun, pada akhirnya, Plato membuang teori ini dan teori demokrasi. Semakin mendekati penerapannya, teori kontrak sosial telah memperoleh perhatian dan penanganan yang serius pada abad tujuh belas oleh Hobbes dan John Locke. Hobbes, misalnya, berargumen bahwa pikiran logis dan rasa takut telah memaksa individu-individu untuk mencari perdamaian dengan bergabung dalam suatu “persetujuan formal”, dimana mereka menyerahkan berbagai hakhak individu kepada suatu otoritas yang terpusat. Sebagai imbalannya, mereka akan dapat melangsungkan urusan-urusan mereka dengan aman, menyadari bahwa tindakan kriminal apapun yang ditujukan kepada mereka akan memperoleh hukuman setimpal. Dalam versi Hobbes, orang-orang tidak dapat mempertahankan kedaulatannya; dalam kenyataan, ini bersifat imperatif (perintah) bahwa mereka menyerahkan kedaulatannya kepada, misalnya, seorang raja, karena jika ini tidak dilakukan, maka pihak yang lebih kuat dan berkuasa akan berupaya untuk merampas kekuasaan secara tidak adil terhadap mereka yang lebih lemah. Tapi, jika seorang raja melakukan berbagai hal yang tidak disukai oleh rakyat, ini sangat buruk, karena sang raja tidak terikat oleh kontrak, yang hanya berlaku di kalangan mereka yang telah memberi dia otoritas. Pendekatan menyeluruh Hobbes terbukti sangat berpengaruh---setelah Machiavelli, dia adalah tokoh terbesar kedua dalam perkembangan ilmu politik---tapi,

ide-idenya sendiri telah mendapat serangan dari seluruh aspek dan pada akhirnya tidak memperoleh perhatian dan tanggapan. Yang lebih berhasil adalah ide-ide dari John Locke, yang dalam karyanya Second Treatise of Government (1690), mengemukakan argumen bahwa sementara manusia membutuhkan pemerintahan, pemerintahan itu pada akhirnya adalah sang pelayan, bukan sang majikan, dari masyarakat. Kumpulan masyarakat sepenuhnya bebas untuk mendikte dan memodifikasi syaratsyarat perjanjian dari pemerintahannya, lebih disukai dengan menuliskan syarat-syarat itu secara tertulis. Inilah persisnya yang telah dilakukan oleh para Founding Fathers ketika, pada tahun 1781, mereka menyusun dan meratifikasi kontrak-kontrak sosial yang paling termasyhur dari seluruh kontrak-kontrak sosial: Konstitusi Amerika Serikat.

Dialektika
Dialektika dapat berarti sejumlah hal; misalnya, pengertian asalnya dalam bahasa Yunani mengandung arti “wacana”. Tapi, ia utamanya dimaksudkan sebagai satu hal khusus sejak filosuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), mulai membahas istilah ini. Dialektika Hegel, untuk mudahnya, dapat disarikan dalam tiga kata: tesa, anti-tesa, sintesa. (Tiga kata ini bukan berasal dari Hegel, tapi tak menjadi masalah). Setiap konsep atau urusan-urusan yang telah baku (“tesa”) pada akhirnya memunculkan sebuah konsep yang bertentangan (“anti-tesa”), dan ketika konsep anti-tesa ini menjadi baku dan mulai tumpul, maka konsep yang baru dan lebih baru (“sintesa”) akan muncul.

Jadi, kemajuan manusia, menurut Hegel adalah suatu anugerah. Istilah dialektika ini juga menjelaskan kontinuitas, karena tesa dan antitesa tidak saling meniadakan satu sama lain; lebih akurat lagi, bahwa unsur terbaik dari masing-masing konsep, terpelihara dalam sebuah sintesa baru. Tapi, sintesa ini akan mempunyai celah-celah dan cacatnya sendiri, yang akan memprovokasi suatu anti-tesa baru, dan demikian seterusnya. Dalam pandangan Hegel, gerak maju ini mustahil tanpa adanya konflik. Untuk menangani apa yang dimaksudkan oleh Hegel, marilah kita ambil salah satu contoh dari Hegel yang paling dikenal: “hubungan majikan/budak”. Bayangkan seorang majikan dan seorang budak, atau tuan dan pelayan, sebagai tesis dan anti-tesis kita. Sang majikan adalah seorang majikan atau tuan adalah seorang tuan, karena dia memiliki pelayan-pelayan: dia didefinisikan, dalam hal ini, berdasarkan pada apa yang bukan menjadi predikat dia (seorang budak atau pelayan). Tampaknya bahwa dalam setiap cara, sang majikan adalah lebih superior ketimbang sang budak, dan bahwa sang budak memiliki identitas dan kesejahteraan yang bergantung kepada majikannya. Tapi, semua ini adalah tidak seperti yang tampak di permukaan. karena, dalam kenyataan, sang majikan itu sendiri, bergantung pada sang budak---bukan hanya untuk jasa pelayanan yang menjadi tugas sang budak, tapi bahkan untuk mengukuhkan identitasnya (“Saya adalah seorang majikan karena budak saya menganggap saya sebagai majikannya”). Jadi, “tesis” majikan, bergantung pada “anti-tesis” budak sebanyak sang budak bergantung pada majikannya---dalam satu pengertian, sang

majikan adalah budak dari budaknya, dan sang budak adalah majikan dari majikannya. Jika sang majikan merenungkan situasi ini---sebagaimana dalam pandangan Hegel yang progresif, dia terikat untuk melakukan ini--dia harus menyadari sifat netral dan unsur ketidakadilan dari upaya menaklukkan sang budak tempat ia bergantung. Dan berdasarkan pada kesadaran ini akan muncul sebuah sintesis yang lebih adil---susunan sosial yang rasional dan humanis. Sejarah, filsafat, sains, agama, dan hal-hal keseharian yang lain juga bekerja dengan cara seperti ini, berkembang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi, sepanjang waktu! Tapi, darimana ini semula bermula? Menurut Hegel, dengan energi sangat kuat yang abadi, yang dia sebut “Roh” (Geist). Roh ini, yang selalu mendesak dan merangsek menuju kesempurnaan, menjadi Rasio itu sendiri. Menyerang balik kepada kaum skeptis dan mereka yang menolak, dia berupaya keras menyusun argumen yang panjang dan menjemukan guna membuktikan bahwa Rasio (=Pikiran= Roh) adalah yang meliputi semua dan selalu berupaya menuju kesadaran-diri yang menyeluruh, yang merupakan prestasi sempurna kemanusiaan. Dan sarana melalui mana Roh ini melakukan upaya kerasnya adalah dialektika, yang merupakan hamparan dari “Ide transendental” yang akan mencapai kesempurnaannya di Akhir Sejarah. Anda boleh menduga bahwa dibalik semua kata-kata yang tidak ada artinya ini, terdapat sebuah ide yang telah sangat familiar: Tuhan. Ini menjadi dapat dipahami di luar kontroversi tentang dia bahwa dunia fenomena ini telah diciptakan oleh---faktanya, hanya sebuah ekstensi [perluasan] dari---Geist. Apa yang telah terjadi di awal, pikirnya, adalah

bahwa Tuhan---yang adalah Pikiran Absolut---pada akhirnya mengarahkan pemikiran-pemikiran-Nya kepada Diri-Nya Sendiri. tapi, anda harus mengenyampingkan diri anda dari sesuatu untuk memikirkannya---bahkan ketika obyek pemikiran ini adalah diri seseorang, orang itu harusnya masih menjadi sebuah “obyek” dari “subyektivitas”-nya sendiri. namun, ketika Tuhan itu bersifat Maha Ada, maka tak ada satu-pun yang terpisah dari Tuhan. Jadi, apa yang Dia pikirkan adalah Ketiadaan (Nothingness). Ketiadaan ini, tentu saja, adalah anti-tesis dari Ada. Tapi, daripada membuat diri-Nya tidak berguna, Tuhan menggerakkan Ada dan Ketiadaan ini, yang adalah proses Menjadi---asal dan mekanisme sentral dari Sejarah. Dan tujuan dari Sejarah ini adalah untuk membimbing kembali menuju Pikiran Absolut, menuju Ada tanpa Ketiadaan. Dan itulah sebuah versi sederhana dari argumen dia.

-Isme-isme, -Ologi-ologi, dan Perkembangan-perkembangan lain yang Mengkhawatirkan: Filsafat sejak Abad Sembilan Belas
Utilitarianisme
“Kebahagiaan terbesar dari jumlah yang terbesar,” tulis orang Inggris, Jeremy Bentham (1748-1832), “adalah pondasi dari moral-moral dan legislasi” (pembuatan hukum dan undang-undang). Untuk mengatakan bahwa tindakan-tindakan itu seharusnya diarahkan untuk menghasilkan

kebahagiaan: “Semua yang baik akan berakhir baik” (All`s well that ends well) adalah esensi dari utilitarianisme. Atau, dari satu sudut pandang yang kritis, “Tujuan menghalalkan segala cara.” Dalam kenyataan, kaum utilitarian seperti Bentham dan John Stuart Mill telah mempromosikan sejenis relativisme moral. Tindakan-tindakan, dalam pandangan mereka, tidak dapat divonis secara terpisah dari kondisi-kondisi dan akibat-akibat. Seorang yang menganut moral absolut akan mengatakan bahwa tindak pembunuhan itu adalah salah, tak peduli apapun situasinya. Namun, seorang utilitarian, akan mengakatan bahwa pembunuhan itu benar jika ia menyediakan kebaikan yang lebih besar. Anggaplah anda dapat membunuh Hitler; seorang utilitarian akan menjelaskan kepada anda untuk terus melangkah maju, karena adalah lebih baik bahwa satu orang mati daripada banyak orang yang terbunuh. Ketika dia menyamakan kebaikan dengan apa yang dapat membuat banyak orang menjadi sangat bahagia, utilitarianisme versi Bentham disebut “universal”. (Tidak semua utilitarian adalah universalis; beberapa pihak mengatakan bahwa apa yang baik bagi anda, hanya anda yang dapat memvonis demikian). Satu masalah dengan pendekatan Bentham adalah bahwa anda tidak dapat selalu memastikan akibat-akibat yang membahagiakan, dan wacana tindakan terbaik mungkin hanya dapat dipahami setelah tindakan itu dilakukan. Anda boleh jadi bermaksud untuk menyenangkan setiap orang dengan memberikan kue coklat, tapi, ketika setiap orang sedang menjalankan diet makan atau punya penyakit alergi, maka anda telah membuat mereka menjadi tidak bahagia. Apakah kami memvonis tindakan anda sebagai “salah” meskipun niat anda adalah

untuk memberikan kebahagiaan terbesar kepada sebanyak mungkin orang? Menurut kaum utilitarian, jawabannya adalah “ya”. Satu kesulitan yang dapat ditimbulkan adalah bahwa tidak setiap orang bersikap setuju pada apa yang dimaksud dengan “kebaikan”. Standar Bentham adalah kebahagiaan, tapi terdapat argumen-argumen persuasif yang bertentangan. Misalnya, banyak orang akan mengatakan bahwa sikap rendah hati itu adalah baik, meskipun ia dapat menghasilkan penderitaan. Demikian pula, sikap tidak perhatian (ignorance) adalah membahagiakan, tapi ia bukanlah ide dari setiap orang tentang apa itu baik atau yang bermanfaat. Barangkali, adalah lebih baik untuk menjadi tidak bahagia sekarang jika itu berarti bahwa anda akan menjadi lebih bahagia di masa depan. Tapi, vonis-vonis seperti itu yang bergantung pada akibat-akibat jangka panjang, dan orang-orang mungkin berargumen di sekitar seberapa lama batasan periode waktu tersebut. Apakah baik, misalnya, untuk melancarkan perang dagang terhadap Jepang sekarang, dan dengan demikian menghukum para konsumen amerika, jika akibat jangka panjangnya adalah situasi ekonomi Amerika yang lebih kuat? Mungkin saja, tapi, dalam waktu jangka panjang yang lebih lama lagi, keuntungan-keuntungan bisa saja lenyap, sementara antara kedua negara masih terus berlanjut. Bentham telah membuat beberapa rencana jangka panjang yang menarik, menurut versinya sendiri. Dia mewariskan perpustakaannya dan harta bendanya kepada University College di London, tempat dia mengajar filsafat. Hal yang tak terduga yang terjadi adalah bahwa jasad Bentham masih terus hadir dalam pertemuan-pertemuan di Fakultas.

Tengkoraknya telah disangga dengan sangat baik dan sangat terjaga dan bahkan masih tetap dipertontonkan di balik kaca di College itu, meskipun bagian kepala Bentham telah diganti dengan bentuk kepala yang terbuat dari lilin. (Bagian kepala yang asli, yang sudah mulai membusuk, diletakkan di dalam sebuah kotak terbuat dari logam di bawah kakinya). Bentham masih terus mengikuti pertemuan-pertemuan, dimana dia, tak diragukan lagi, adalah seorang peserta yang lebih hidup.

Manusia Super (Ubermensch)
Dan Zarasustra berbicara demikian kepada orang-orang: “Aku mengajarkan kepadamu tentang manusia super. Manusia adalah suatu hal yang akan ditaklukkan. Apa yang telah kamu lakukan untuk menaklukkan dia? Semua wujud sedemikian jauh telah menciptakan sesuatu yang melampaui diri mereka sendiri; dan apakah engkau ingin menjadi keadaan surut dari aliran yang sangat deras ini dan kembali lagi pada binatangbinatang buas daripada menaklukkan manusia?” Friedrich Nietzsche, “Prolog Zarathustra”, Thus Spoke Zarathustra (1883)

Manusia super (Ubermensch) dari Friedrich Nietzsche ini telah melalui pengalaman yang sangat menakjubkan dari transformasi-transformasi budaya tinggi hingga budaya rendah---dari stoic, manusia tidak konvensional hingga Manusia Baja. Serial komik ciptaan Siegel dan Shuster hanya sedikit saja terkait dari sisi nama, dan bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengannya. Ubermensch secara harfiah berarti “overman” (“melampaui manusia”), bukan “superman” (manusia super),

meskipun istilah terakhir ini digunakan dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris paling akhir dari karya Nietzsche Thus Spoke Zarathustra, dan istilah ini telah diangkat oleh George Bernard Shaw untuk buku Man and Superman. Karakter yang mengkhotbahkan “Ubermensch” adalah Zarathustra (yang juga dikenal dengan Zoroaster), seorang nabi Persia dari abad ke enam SM yang menyediakan topeng puisi/ramalan Nietzsche. Berbeda dengan apa yang anda mungkin pikirkan, Zarathustra tidak berbicara tentang otot-otot baja yang sangat intelek atau spesies manusia yang telah “dikembangkan”. Dalam kenyataan, kita semua (mensch adalah bersifat netral) berpotensi untuk menjadi Ubermensch. Yang diperlukan adalah tidak lagi berupa ujian-ujian atau minuman suplemen yang dapat membuat cerdas, tapi keberanian dan kehendak, karena rintanganrintangan terbesar kita adalah rasa takut dan tradisi. Pada bagian paling dasar dari konsep Nietzsche adalah apa yang dia rujuk sebagai “kehendak untuk berkuasa”, dimana dia melihat ini sebagai kekuatan dasar yang memotivasi dari segala yang hidup. “Kuasa” (Power) disini tidak berarti kekuatan brutal, atau dominasi terhadap pihak lain, tapi sesuatu yang lebih mirip dengan “ketiadaan rasa takut” (fearlessness). Ketika kita semua sangat termotivasi oleh kehendak untuk berkuasa, apapun yang sangat kita kagumi atau ingin kita samai harus menghadirkan kekuasaan. Seperti (afirmasi-afirmasi Nietzsche) harmonidiri, kontrol-diri, dan penyadaran-diri---yang digambarkan dengan, misalnya, sikap tenang Socrates saat meminum secangkir cairan hemlock yang sangat beracun.

Secara keseluruhan, kita berada sangat jauh dari ideal Ubermensch ini. Jauh dari memiliki diri kita sendiri, kita dimotivasi, terutama sekali, oleh rasa takut, kebiasaan, takhayul, kekecewaan, dan segala sesuatu yang menciptakan “mentalitas budak”. Sejak lahir, kita dilatih oleh keluarga, gereja, dan sekolah untuk tunduk pada aturan-aturan dan hukum-hukum, bertindak secara normal, meyakini takhayul-takhayul, dan memperbudak diri kita di hadapan para master. Segala sesuatu yang dicatatkan pada “sifat manusia” adalah benar-benar hanya tradisi. Kita tumbuh dalam suasana malas dan takut menghadapi tantangan dan bahaya, mati rasa terhadap gerakan-gerakan aktif dari kesadaran batin kita. Sebuah dunia tanpa tradisi-tradisi atau tanpa keberadaan mastermaster adalah hal yang menakutkan, tapi merupakan alternatif dari perbudakan dan keterasingan. Kita boleh jadi menyerah pada masyarakat, atau kita mungkin menaklukkan rasa takut kita dan menjadi penciptapencipta daripada sekadar ciptaan-ciptaan. Penciptaan adalah membuat pemaknaan sendiri terhadap kehidupan dunia ini, yang dalam realitas bersifat chaos dan selalu berubah; untuk menjadi makhluk ciptaan adalah dengan bersikap tunduk pada pemaknaan-pemaknaan pihak lain. Semua bahasa, dalam pandangan Nietzsche, sedikit banyaknya telah mengilhamkan penafsiran, sejenis “kebohongan”. Jika bahasa berbohong, seseorang dapat memperbaiki---lebih mengandalkan pada dirinya sendiri---dengan menciptakan kepalsuan-kepalsuannya sendiri. inilah yang dimaksudkan dengan menjadi “Ubermensch.”

Yang tidak ia maksudkan adalah untuk menjadi budak lain dari seorang master. Tirani adalah bukan akibat dari penguasaan-diri, tapi bersumber dari rasa frustrasi: ini merupakan ekspresi dari rasa kecewa yang mendalam. Ubermensch, lebih mengarah pada, menjalani kehidupan tanpa kekecewaan, dan selalu siap, jika situasi mengharuskan, untuk melayani sama baiknya dengan saat memimpin. (Bagi sebagian dari kita, melayani hanya tampak seperti perbudakan). Dengan mengontrol nafsunafsunya dan mengarahkan kehendaknya, sang Ubermensch ini dapat menciptakan seni dan filsafat, dengan mengafirmasikan kehidupan dan keceriaan serta semua hal yang baik. Ini akan menjadi sebuah peluang yang bagus untuk terlibat dalam ide-ide besar Nietzsche yang lain, yaitu suatu persaingan antara apa yang disebut dengan aliran “Apollonian” dan “Dionysian” dalam seni Yunani, hubungan mereka terhadap rasio, nafsu, dan kehendak, peran mereka dalam teori sublimasi-nya, dan lain sebagainya. Tapi, itu akan membuat kita menjauh dari tujuan kita, sehingga sampai disini saja saya tinggalkan anda untuk mencari informasi pada entry-entry saya tentang topik-topik tersebut dalam By Jove: Brush Up Your Mythology!(HarperCollins, 1992).

Pengulangan yang Abadi
Bagaimana, jika suatu hari, setan menyelinap ke dalam kesendirian anda yang paling sepi dan berkata kepada anda: “Kehidupan ini seperti yang sekarang anda jalani dan masih akan menjalaninya, anda akan harus menjalani hidup sekali lagi dan tak terhitung banyaknya; dan tidak akan ada sesuatu yang baru di dalamnya, tapi setiap penderitaan dan setiap

kebahagiaan dan setiap pemikiran dan setiap keluh-kesah dan segala sesuatu yang remeh atau besar, yang tidak mungkin dapat diukur, dalam kehidupan anda harus kembali kepada anda---semua dalam rangkaian dan urut-urutan yang sama....” Tidakkah anda akan menjatuhkan diri anda dan menggemeretakkan gigi-gigi anda serta mengutuk setan yang telah berbicara demikian? Atau anda pernah mengalami sebuah momen yang luar biasa hebat ketika anda akan menjawab dia, “Anda adalah tuhan, dan tidak pernah aku mendengar yang lebih bersifat tuhan.” ... Betapa baik itikad anda terhadap diri anda dan terhadap kehidupan untuk sama sekali tidak menginginkan sesuatu yang lebih bersemangat daripada penegasan dan stempel abadi yang sangat mendasar ini? Friedrich Nietzsche, The Gay Science (1882), section 341

Ambillah sesuatu yang remeh, ucapkan kata-kata dalam sebuah kalimat: “Inilah sebuah kalimat pendek.” (Here is a small sentence). Masukkan kalimat ini ke dalam komputer untuk diolah dan memerintahkannya untuk menyusun kembali kata-kata tersebut secara acak---maka hasilnya akan menjadi seperti: “is sentence here small a”. Sekarang, anggaplah komputer ini mengulangi proses ini sekali lagi dan sekali lagi. Maka hasil pemrosesan komputer mungkin akan terlihat seperti ini: 1) here is a small sentence 2) is sentence here small a 3) small here a is sentence 4) a here is sentence small 5) sentence a small here is .... dan seterusnya dan seterusnya. Sekarang, marilah kita katakan bahwa komputer di atas terus mengolah kata-kata secara tak terbatas. Dapat dipahami bahwa pada poin yang sama, ia akan mulai mengulangi dengan sendirinya, ketika

hanya terdapat 120 perubahan urut-urutan yang mungkin dari lima kata ini. Selanjutnya, komputer yang diberi keleluasaan untuk mengolah kata dalam proyek kecil ini, ia harus berupaya untuk mengulangi proses mengolah perubahan urut-urutan dari kelima kata-kata tersebut dalam tatanan yang persis sama. Yaitu, urutan 1-5 akan terulang kembali atau “kembali lagi”, dan dalam kenyataan akan melakukan yang demikian ini lagi dan lagi, selama kata-kata tersebut tidak berubah dan proses seperti ini terus berlangsung abadi. Permainan kta ini adalah sebuah versi memasak-hingga-kering (boiled-down) dari apa yang diperoleh Nietzsche ketika dia mengupayakan doktrin tentang “pengulangan yang abadi”, sebuah istilah yang pertama kali muncul dalam The Gay Science, sebuah koleksi alegoris dan aforisme. Dia sangat serius tentang ide ini sebagaimana dia memperhatikan hal-hal yang lain, dengan memikirkannya secara mendalam sebagai hipotes ilmiah yang paling sempurna. Nietzsche beranggapan bahwa alam semesta ini tersusun dari sejumlah terbatas dari “power quanta”, apapun mereka itu, diatur dalam ruang yang terbatas. Namun, waktu bersifat tak terbatas, dan oleh karena itu, logika dia dapat dipertahankan, “quanta” ini seharusnya seperti kata-kata dalam kalimat kita di atas, akan terpilah ke dalam pola-pola yang terus berulang secara abadi. Nietzsche, dalam hal ini adalah materialis deterministik, berpikiran bahwa semua materi dan setiap peristiwa dapat diekspresikan dalam ungkapan hubungan-hubungan fisik, yaitu, termasuk diantara “power quanta”-nya. Dunia ini sebagaimana yang kita ketahui, hanyalah satu pengaturan quanta yang khusus dan tersendiri, sebagaimana fakta-fakta

seperti tanggal kelahiran anda dan selera musik anda. Quanta ini terus mengkombinasikan dan mengkombinasikan kembali untuk membentuk realitas-realitas baru, yang pada akhirnya akan mencakup disintegrasi dari dunia ini. Tapi, tidak pernah merasa takut: karena waktu adalah tak terbatas, quanta ini seharusnya, suatu hari, akan mengatur kembali diri mereka ke dalam dunia ini sebagaimana kita mengetahuinya. Bahkan, dengan ketersediaan waktu yang cukup dan bersifat pasti, mereka akan mengulangi kembali secara persis sama penyusunan-penyusunan kembali yang telah menghasilkan sejarah manusia. Sejarah itu, singkatnya, akan terulang kembali, lagi dan lagi dalam rangkaian yang abadi. Sekarang, bagi banyak orang, pemikiran seperti ini adalah neraka, sebuah versi yang membuat depresi dari film yang berjudul Groundhog Day. Tapi, poin sebenarnya dari Nietzsche adalah: dia mengemukakan pengulangan kembali yang abadi ini untuk menggerakkan kita guna memikirkan secara mendalam tentang bagaimana kiranya seandainya kita harus melangsungkan kehidupan-kehidupan kita secara persis sama sekali lagi dan lagi. Jika anda mendapati gagasan ini sebagai tidak dapat ditanggung, maka itu menyatakan sesuatu---yaitu, bahwa anda sedang berada dalam cengkeraman “mentalitas budak.” Tapi, jika anda “sama sekali tidak menginginkan sesuatu yang lebih bersemangat”, maka, selamat kepada anda: anda telah menjadi seorang “Ubermensch”. (Untuk instruksi-instruksi, lihat hal. 56). Kaum ilmuwan, tentu saja, menerima pandangan Nietzsche yang samar-samar ini. Menyemburkan perubahan susunan kata-kata dalam tatanan yang linear adalah satu hal, tapi proses menyusun materi secara

tiga dimensional, ruang yang berurutan adalah hal lain---bahkan jika anda menerima bahwa ruang itu terbatas dan waktu bersifat tidak terbatas. Adalah sangat mungkin, misalnya, untuk merancang sejumlah kecil obyek-obyek dalam gerak sehingga mereka tidak pernah mengulang posisi mereka yang awal (atau posisi lain apapun), bahkan jika membiarkan ini hingga hari kiamat dan masa selanjutnya. Dan ini bukanlah untuk mempertanyakan konsep “power quanta” yang sangat aneh ini, yang tidak disusun berdasarkan penemuan-penemuan Fisika modern atau berdasarkan teori relativitas Einstein. Meskipun pengulangan abadi ini tampaknya seperti cerita fiksi sains yang buruk bagi anda, ia sebenarnya mempunyai garis silsilah yang sangat terhormat secara filosofis. Ide ini sudah sangat umum di kalangan filosuf Yunani kuno; para pengikut Pythagoras, misalnya, meyakini apa yang disebut dengan “Tahun Agung” setelah mana siklus kosmik akan terulang dengan sendirinya kurang lebih secara persis sama. (Heraklitus mengukur Tahun Agung ini dengan 10.800 tahun bumi). Aristoteles tampaknya menyetujui gagasan dasar ini, yang juga dianut oleh kaum Stoic. (Versi mereka bahkan sangat dekat dengan gagasan Nietzsche). Keyakinan Yudeo-Kristiani tentang waktu satu-arah, dengan Penciptaan pada awal masa dan Kiamat di akhirnya, secara serius telah melumpuhkan doktrin ini, tapi tidak membunuhnya. Para filosuf Abad Pertengahan dan Renaissance---bahkan Descartes pun---sangat kuat meyakini kemungkinan siklus perulangan sejarah, tanpa bermaksud untuk menolaknya begitu saja. Namun, Nietzsche telah membuat teori ini menjadi ngetrend kembali, meskipun hanya dalam waktu singkat saja. Jika

perulangan kembali yang abadi ini dianggap baik, saya yakin kita akan melihatnya sekali lagi.

Pragmatisme
Untuk mencapai kejernihan yang sempurna dalam pemikiran-pemikiran kita tentang sebuah obyek, maka, kita hanya perlu mempertimbangkan apa akibat-akibat dari suatu jenis praktis yang dapat dibayangkan dari obyek yang dilibatkan. ... konsepsi kita tentang akibat-akibat ini, kemudian, bagi kita adalah keseluruhan dari konsepsi kita tentang obyek itu, selama konsepsi itu mempunyai signifikansi yang sama sekali positif. Inilah prinsip dari Peirce, pinsip tentang pragmatisme. William James, “Philosophical Concepts and Practical Results” (1898)

Filsafat mempunyai ironi-ironi kecilnya sendiri. charles S. Peirce (18391914), dibuat terkenal oleh saudara Henry, William James, sebagai penemu pragmatisme, sama sekali bukan sebuah kesuksesan yang praktis. Dipecat dari Universitas Johns Hopkins dan ditolak secara akademis karena perbuatan-perbuatan tidak bermoralnya, Profesor Peirce turun derajatnya menjadi orang yang menggantungkan hidupnya dari sumbangan dan pemberian orang lain, mati dalam keadaan miskin dan dilupakan. (Namun, dia dapat tertawa untuk terakhir kali saat berada dalam lingkungan akademis, dengan menemukan semiotika secara bersama-sama---lihat hal. 183). Peirce, meskipun mengalami kegagalan, adalah seorang jenius dalam beberapa disiplin ilmu sekaligus, yang telah membuat kontribusikontribusi nyata dalam disiplin ilmu matematika, filsafat, ilmu kimia,

psikologi, dan statistik. Meskipun, warisan peninggalannya yang paling dapat bertahan lama adalah filsafat yang disokong oleh James dan selanjutnya oleh John Dewey. Bersikap tidak menghargai metafisika---studi tentang “realitas-realitas” yang tidak dapat dicerap oleh indera atau yang bersifat abstrak---Peirce mendesak bahwa makna dari sebuah ide hanya dapat disandarkan pada akibat-akibat praktisnya. Jika sebuah ide tidak mempunyai akibat (pengaruh), maka ia tidak berarti apa-apa---apakah itu “meracau” atau “benar-benar absurd”, untuk menggunakan kata-katanya sendiri. Hasil akhirnya adalah bahwa konsep-konsep semacam “kebaikan” dan “kebenaran” tidak mempunyai realitas sebelum atau terpisah dari apa yang kita lakukan dengan mereka---terpisah dari bagaimana mereka mempengaruhi perilaku kita. Keyakinan, dalam pandangan yang pragmatis, adalah sama seperti tindakan atau setidaknya tindakan yang potensial. Jika ide kita tentang kebaikan mencakup perbuatan membantu perempuan tua menyeberangi jalan, maka, kebaikan, bagi kita, mencakup kecenderungan untuk menampilkan tindakan-tindakan. Kebaikan, akhirnya, adalah jumlah keseluruhan dari pengaruh-pengaruh dari ide ini. James, dalam berbagai karyanya, mengembangkan gagasan ini bahkan hingga pada konsep tentang Tuhan. Dia menulis dalam Pragmatism (1907), misalnya, bahwa “Jika hipotesa tentang Tuhan bekerja secara memuaskan dalam pengertian yang paling luas dari kata, ini adalah benar” (penekanan saya). Di era James, pragmatisme telah mengasumsikan aneka ragam bentuk-bentuk, tidak semua bentuk itu patuh kepada para pencetus

pragmatisme. Namun, kaum pragmatis masih berbagi premis-premis dasar yang sangat inti, seperti fleksibilitas dalam metode, tidak menghargai dogma, dan suatu pandangan yang relatif tentang nilai-nilai. (“Baik” dan “buruk” didefinisikan berdasarkan pada kebutuhankebutuhan, hasrat-hasrat dan praktek-praktek yang tertentu dari manusia). Meskipun Peirce sendiri tidak terlalu condong pada relativisme. Dia meyakini bahwa alam semesta ini diatur oleh hukum-hukum yang terus berkembang dan berproses, selalu bersifat lebih tertata dan bersifat agak lebih pasti. Dia meyakini bahwa ilmu pengetahuan, juga, terus berkembang dan berproses, dan bahwa para pakar ilmu pengetahuan, secara bertahap dan stabil, sedang mendekati “kebenaran” dari hukumhukum universal. Para pragmatis lain akan mengatakan bahwa “kebenaran” itu sendiri hanyalah sebuah konsep relatif yang didefinisikan oleh kebutuhan-kebutuhan dan perilaku manusia. “Kebenaran,” tulis James, “adalah nama dari apapun yang membuktikan dirinya sendiri sebagai baik yang sejalan dengan keyakinan yang dianut. Kebenaran adalah sesuatu yang bekerja dan berfungsi. Salah satu pendukung kuat yang lebih dikenal (atau dikenal karena reputasi jeleknya) dari pandangan yang terakhir sekarang ini adalah Stanley Fish, seorang profesor Bahasa Inggris dan Hukum di Duke University. Fish menyukai untuk membahas relativitas dari konsep-konsep tertentu yang dianggap benar, sebagaimana dalam bukunya yang paling akhir (sebagaimana dalam tulisan ini), There`s No Such Thing as Free Speech, and It’s a Good Thing, Too (1994). Kebebasan berbicara, menurut Fish, adalah bukan sesuatu yang diberikan begitu saja secara absolut,

apakah itu melalui hak alami atau yang berdasarkan hukum; ia hanyalah apa yang, secara komunal, kita bersetuju untuk membiarkannya terjadi. Beberapa hal---seperti “memerangi kata-kata” atau pornografi---akan selalu dicegah, dan definisi-definisi tentang “kebebasan” dan “berbicara” itu secara terus-menerus dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan komunitas. Fish di masa lalu, sepanjang baris-baris kalimat yang serupa, juga telah mengkritisi secara rinci teori-teori yang berhubungan dengan sastra, gagasan-gagasan tentang “kualitas”, dan doktrin-doktrin resmi. Fish hanyalah salah salu dari kaum neo-pragmatis, yang paling berpengaruh, yang pernah menjadi sahabat akrab dari filosuf Richard Rorty. Rorty, menyadari bahwa pragmatisme, secara logis, mengimplikasikan bahwa mempelajari filsafat itu tidak bersifat inderawi (nonsensical), telah menempuh langkah yang mengagumkan dari karirkarirnya yang terus berubah. (Dia sekarang adalah seorang profesor Bahasa Inggris). Kontradiksi-kontradiksi semacam ini, ini seharusnya dicatat, sama sekali bukan pemikiran pragmatis yang unik. Contoh bagus yang lain adalah tentang Steven Knapp dan Walter Benn Michaels, yang dipromosikan oleh Fish, yang telah menimbulkan situasi yang menghebohkan di kalangan departemen-departemen sastra dengan mempublikasikan sebuah esai teoritis yang berjudul “Against Theory” (1982). Ide sentral dari artikel yang menakjubkan ini adalah bahwa semua teori sastra adalah didasarkan pada pembedaan antara apa yang “benarbenar” dimaksudkan oleh sebuah teks dan apa yang dimaksudkan oleh penulisnya. Tapi, pembedaan ini adalah tidak nyata, ketika dalam

prakteknya, keduanya adalah satu dan sama: kapan saja kita berbicara tentang “makna”, kita tidak dapat memaksudkan sesuatu selain dari “maksud” (intention = maksud, arti, tujuan). Oleh karena itu, untuk mengutip penulis esai ini, “seluruh keberanian berusaha dari teori kritis ini,” menjadi “tidak koheren” dan praktis tidak memberi pengaruh, “adalah sesat dan harus ditinggalkan.” Tapi, tak seorangpun yang mendengarkan. Artikel ini tidak mempunyai akibat yang praktis. Teori masih terus berkuasa. Jadi, pragmatisme harus ditinggalkan.

“The World Is All That Is the Case”
(Dunia Adalah Kumpulan Dari Keadaan-keadaan yang sebenarnya)

Di antara filosuf yang paling dihormati dan dipuja di abad dua puluh ini adalah sang aristokrat Wina, Ludwig [Josef Johann] Wittgenstein (18891951), yang telah diklaim sebagai pendiri dari beberapa aliran filsafat. Tapi, tidak semuanya setuju tentang apa yang telah dia maksudkan, inilah ironisnya, ketika poin yang paling penting darinya, mungkin, adalah bahwa filsafat itu harus berkonsentrasi pada bahasa sehari-hari---dan dianggap benar begitu saja serta tidak rumit.

Wittgenstein, lebih dari siapapun, bertanggung jawab atas pemfokusan filsafat mutakhir terhadap bahasa, secara khusus terhadap hubungan antara pernyataan-pernyataan dan realitas-realitas. Dia mendeklarasikan pandangannya sendiri dalam kalimat pembukaan pada karya pertamanya, Tractatus Logico-philosophicus (“Treatise in Logical Philosophy”, 1921): “The word is all that is the case.” Yang artinya, dia menjelaskan, bahwa dunia ini “adalah totalitas fakta-fakta, bukan sesuatu.” (things). Jika anda tidak melakukan pembedaan, inilah dia: “fakta-fakta” adalah pernyataan-pernyataan yang benar tentang sesuatu (things). Sebuah kursi adalah sesuatu; pernyataan “Kursi ini merah” adalah (atau mungkin) sebuah fakta. “Dunia” ini, sebagaimana yang kita ketahui, hanyalah kumpulan dari fakta-fakta yang diketahui---tentang “apa keadaan yang sebenarnya”---daripada sesuatu-sesuatu yang terpisah dari apa yang dapat kita katakan tentang mereka. Ini adalah bahasa yang mengkonstruk pemahaman kita tentang dunia ini, tentang lingkunganlingkungan di sekitar kita dan tentang pengalaman-pengalaman kita. Apa yang tidak dapat kita katakan, tidak dapat kita ketahui; “Apa yang tidak dapat kita bicarakan, kita harus melewatkannya dalam keheningan.” Proposisi-proposisi Wittgenstein, sangat dipengaruhi oleh sekelompok filosuf muda yang dikenal sebagai “positivis yang logis”--orang-orang yang meyakini (believers), sejalan dengan Hume, apapun tanpa ada pembuktian diri, juga tanpa pendemonstrasian secara empirik, hanyalah omong kosong belaka. (Omong kosong [Nonsense] berdasarkan pada cahaya pemahaman mereka, mencakup sastra, seni, dan gagasan

metafisika. Tapi, meskipun mereka menerima Wittgenstein, Wittgenstein tidak menerima mereka. Untuk sementara, dia juga memikirkan filsafat harus membatasi dirinya sendiri pada “apa yang menjadi keadaan yang sebenarnya”, (“what is the case”), dia masih terus dihantui oleh keheningan-keheningan dan realitas-realitas yang tak diketahui. Apa yang tidak faktual mungkin adalah hal-hal yang remeh, tapi, sejauh yang dicermati oleh Wittgenstein, hal-hal yang remeh (nonsense) adalah sangat menarik. Pandangan Wittgenstein berkembang antara Tractatus dan karya setelah dia meninggal, Philosophical Investigations (1953), yang merekonstruksi kuliah-kuliah yang telah dia berikan di Cambridge. Dalam kenyataan, dia hampir mengabaikan banyak dari pandangan-pandangan dia sebelumnya, seperti klaim bahwa “batas-batas dari bahasa saya adalah batas-batas dari dunia saya.” Seperti banyak filosuf bahasa lain, Wittgenstein muda telah memperlakukan kata-kata sebagai indikatorindikator atau wakil-wakil dari berbagai hal di dunia ini. Tapi, Wittgenstein tua berpikir bahwa suatu penekanan (emphasis) pada acuan adalah terlalu menyederhanakan masalah. Dalam Philosophical Investigations, Wittgenstein menawarkan sebuah pandangan baru: apa yang dimaksudkan oleh kata-kata, tidak bergantung pada apa yang mereka acu, tapi pada bagaimana mereka digunakan. Bahasa, kata dia, adalah sejenis game---seperangkat “potongan-potongan” atau “peralatan” (kata-kata) yang digunakan berdasarkan pada seperangkat aturan-aturan (konvensi-konvensi linguistik). Sebagaimana dalam Tractatus, dunia kita dikonstruksi

berdasarkan pada pernyataan-pernyataan atau pernyataan-pernyataan yang potensial, tapi sekarang ini, penekanannya tidak didasarkan pada apa yang “dimaksudkan” (ditunjukkan) oleh pernyataan-pernyataan, tapi lebih pada bagaimana pernyataan-pernyataan itu digunakan berdasarkan pada aturan-aturan yang berlaku dan konteks yang melingkupi. Bersumber dari sini-lah bahwa pengetahuan itu tidak bersandar pada proses penemuan beberapa “realitas” yang sesuai dengan pembicaraan kita, tapi lebih berupa, mempelajari cara pembicaraan itu bekerja (berfungsi). Dengan demikian, bahasa sehari-hari adalah subyek yang layak bagi filsafat. Problem-problem filsafat tradisional, yang melibatkan konsep-konsep seperti “ada” (being) dan “kebenaran”, hanyalah sekadar kebingungan-kebingungan yang muncul yang bersumber dari jargon dan upaya sesat untuk menemukan “realitas” yang dianggap “mewakili.”

Fenomenologi
Bahwa kita harus menyingkirkan semua kebiasaan-kebiasaan berpikir sebelumnya, mencoba mengerti dan membongkar rintangan-rintangan mental dimana kebiasaan-kebiasaan ini telah menghiasi sepanjang horizon-horizon berpikir kita, dan dalam kebebasan intelektual yang penuh untuk terus menggenggam problem-problem filsafat yang genuine (asli) ini, yang masih menunggu formulasi segar yang utuh dimana horizon-horizon yang telah dibebaskan dari semua sisi, menyingkap kepada kita---ini adalah tuntutan yang sulit. Ini tetap saja bersifat mendesak. Apa yang membuat cocok dan sesuai dari sifat esensial fenomenologi... dan hubungannya dengan semua ilmu pengetahuan yang lain... luar biasa sulitnya, adalah bahwa sebagai tambahan bagi semua penyelesaian-penyelesaian yang lain, diperlukan sebuah cara baru dalam melihat sesuatu, yang kontras pada setiap poin-nya dengan situasi alami pengalaman dan pikiran.

Edmund Husserl, Ideas (1913), Introduction

Banyak ajaran filsafat yang sangat sulit untuk dipahami, tapi tulisantulisan dari Edmund Husserl (1859-1938) ini sangat layak memenangkan beberapa penghargaan sekaligus. Penuh dengan jargon dan obsesif, fenomenologi Husserl, bagaimanapun, telah mewariskan pengaruh yang meluas pada filsafat abad dua puluh. Bahkan, karya-karya filsafat yang sangat sulit dicerna dari Heidegger, Sartre, dan Derrida, tidak mungkin dapat dipahami tanpa jasa Husserl. Istilah-istilah phenomenon dan phenomenology, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “penampakan”, bukanlah hal baru bagi Husserl. Sudah menjadi umum dalam tradisi filsafat Jerman, phenomenon mengacu pada sesuatu atau peristiwa sebagaimana ia menampak pada kesadaran manusia (yang dipertentangkan dengan apa yang bersifat esensial, yang terpisah dari persepsi). Phenomenology, dengan demikian, adalah studi tentang manifestasi-manifestasi (tampak jelas pada penglihatan atau pemahaman; suatu indikasi dari eksistensi atau kehadiran sesuatu, pent.). Husserl meyakini bahwa sejauh pengetahuan kita tentang dunia ini terus berlanjut, semua yang kita punyai adalah fenomena sehingga kita harus berupaya untuk membuat yang terbaik tentangnya. Untuk melakukan ini, kita harus mulai dengan mengosongkan dan melucuti persepsi-persepsi kita hingga ke bentuk-bentuk mereka yang paling sederhana, dengan menanggalkan dan menggugurkan lapisanlapisan kebiasaan dan anggapan kita. Kita dapat melatih diri kita untuk melihat, katakanlah, sebuah kursi tanpa ada pemikiran apapun tentang

tujuannya (untuk duduk), tentang sejarahnya (siapa yang membuatnya dan dimana kita membelinya), atau tentang fungsinya (apakah ia nyaman atau sesuai dengan permadani lantai), kita harus mencoba untuk hanya sekadar mengalami kursi ini dengan cara yang paling langsung, sebagai sebuah obyek murni kesadaran. Ketika melihat kursi dengan cara ini--memahami hanya feature-feature-nya yang paling esensial---kursi ini telah menjadi sebuah “fenomena” dalam pemahaman Husserl. Husserl menyebut jenis persepsi ini sebagai “bracketing” (memberi tanda kurung besar), atau, dalam istilah Yunani, epoche, yang dia definisikan sebagai “keyakinan yang ditunda dan ditangguhkan (untuk sementara waktu) dalam eksistensi obyek-obyek.” Kasarnya, dia memaksudkan bahwa dalam mencari feature-feature esensial dari sesuatu, kita harus menangguhkan kemelekatan apapun pada eksistensi aktualnya. Kita kemudian menampilkan sesuatu yang disebut “variasi imajinasi bebas”. Ambil contoh sebuah kursi; bayangkan bagaimana ia mungkin menjadi berbeda---secara mental memotong kaki-kakinya, memutar dan membalik sandaran belakangnya, menambah sebuah modem fax. Apakah ia masih sebuah kursi? Kapan saja kita merasa bahwa kita, tidak secara intuitif, mengenali variasi yang dihasilkan ini sebagai sebuah “kursi”, kita tahu bahwa kita telah mengubah sesuatu yang esensial. Jenis “penundaan” (bracketing) ini, adalah sarana untuk memperoleh esensi dari sesuatu yang terpisah dari bagaimana ia eksis disini dan sekarang ini.”Kembali pada sesuatu itu sendiri” adalah moto Husserl, dan yang dia maksudkan adalah “kembali pada intuisi-intuisi kita

yang utama tentang sesuatu dalam bentuknya yang esensial (sebagai fenomena)”. Tapi, fenomenologi tidak berhenti disini, karena kita telah sampai pada fenomena yang paling dasar. Tak peduli betapa bagus yang kita peroleh pada proses menunda kursi, kita bahkan masih belum memahami struktur dari pengalaman sadar yang sederhana. Untuk menguji kesadaran, kita perlu, hingga kadar tertentu, melampaui atau berada di atasnya dan mencapai apa yang disebut Husserl sebagai “subyektivitas transendental”. (Orang-orang biasanya menyebut ini sebagai “kesadarandiri”, tapi saat kita memikirkan itu sebagai sbersifat subyektif, maka “subyektivitas transendental” dari Husserl diasumsikan untuk memberi kita suatu pandangan yang “obyektif” tentang kesadaran). Saya akan meninggalkan penjelasan teknis Husserl tentang bagaimana persisnya kita meloloskan diri dari subyektivitas. Cukuplah disini untuk mengatakan bahwa jika kita menguji kesadaran, hal pertama yang kita perhatikan adalah bahwa ia bersifat “intensional.” Dalam pengertian Husserl, “intensional” berarti seperti sesuatu yang “diarahkan”; kita tidak pernah hanya sadar saja, tapi selalu dalam keadaan sadar terhadap sesuatu. (“Sesuatu” ini dapat menjadi sebuah obyek seperti kursi, atau suatu perasaan seperti rasa lapar, atau sebuah ide, dan ia tidak harus “nyata”). Selanjutnya, ketika kesadaran adalah sesuatu yang bersifat terarah (mengarah pada sesuatu), ia tidak pernah kosong atau pasif, tapi selalu aktif. Kesadaran menjangkau dan menangkap sesuatu secara tiba-tiba, dan cara dari sesuatu itu menampak pada kita, bergantung pada karakter (esensi)nya sendiri dan pada

karakter dari “menangkap secara tiba-tiba.” Kita mempunyai tangan untuk menciptakan obyek-obyek dari dunia kita---misalnya, dengan memberi mereka makna. Poin terakhir dari semua ini adalah agar dapat menggambarkan, sepenuh dan setepat mungkin, cara-cara yang paling mendasar dimana kita memahami dan memberi makna pada dunia dimana kita hidup. Sebuah tujuan mulia, pastinya, tapi yang bersifat kontroversial. Bahkan beberapa fenomenologis merasa terganggu dengan gagasan tentang “ego transendental”, terutama di tahun-tahun selanjutnya, Husserl mulai membuat klaim-klaim yang aneh tentangnya. (Misalnya, dia berpandangan bahwa ego transendental sebagai suatu entitas yang terpisah dari kesadaran seseorang dan hingga kadar tertentu bersifat abadi). Apakah benar-benar terdapat poin dimana kita dapat mencermati dan menggambarkan kegiatan-kegiatan normal dari pikiran? Bagaimana mungkin kesadaran dapat mentransendensikan dirinya sendiri? Saya tidak memberikan solusi-solusi, tapi sebuah teka-teki untuk anda.

Eksistensialisme
Eksistensialisme? Mengapa, Jean-Paul Sartre, tentu saja. Kecuali bahwa ide ini lebih lama satu abad ketimbang Sartre, Sartre adalah pendukung ide ini yang paling terkenal. Eksistensialisme---sebuah studi tentang pengalaman subyektif--sebenarnya diawali oleh filosuf Denmark Soren Kierkegaard (1813-1855). Kierkegaard menuduh filsafat kontemporer sebagai membuang-buang

banyak waktu percuma tentang “esensi-esensi”, yang dijadikan asumsi yang mendasari realitas-realitas dan hukum-hukum universal dari dunia ini. Bukan hanya semua ini bersifat tidak pasti dan menimbulkan keraguan, dengan memfokuskan diri pada mereka berarti telah membelokkan perhatian dari problem-problem yang riil, seperti bagaimana kita sebagai individu-individu dapat membuat keputusankeputusan. Yang paling pertama sekali, Kierkegaard menolak keyakinan idealistik bahwa baik dan buruk itu mempunyai beberapa realitas obyektif atau esensial. Mereka lebih merupakan “kebenaran-kebenaran yang subyektif”---meskipun mereka tidak dapat dibuktikan atau diperluas kepada yang lain---yang merupakan basis satu-satunya dari tindakantindakan individu. Misalnya, kita tidak dapat mengatakan bahwa membunuh itu adalah “buruk” dalam beberapa cara yang obyektif atau yang logis; sungguh, terdapat situasi-situasi, ketika perbuatan ini dianggap “baik” (dalam mempertahankan diri, katakanlah demikian, atau dalam peperangan). Sangat sering bahwa tidak ada cara untuk menentukan secara logis terhadap wacana tindakan yang benar. Anda tidak dapat mengkalkulasikan bagaimana merespon ketidakadilan, atau untuk meyakini Tuhan; tapi, kita juga tidak dapat menghindar dari keputusan-keputusan atau keyakinan-keyakinan. Tentu saja, terdapat beberapa kebenaran yang obyektif: dua ditambah dua sama dengan empat, dan Napoleon telah ditaklukkan di Waterloo. Tapi, apa kemudian? Sejauh yang dicermati Kierkegaard, kebenaran-kebenaran semacam ini---yang mungkin saja menarik---tidak

mempunyai kaitan dengan eksistensi sehari-hari seseorang atau dengan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan penting dari seseorang. Hakikat diri kita, dia meyakini, adalah apa yang kita lakukan. Jika kita benar-benar menjadi (to be), kita harus bertindak, dan kita mendasarkan tindakan-tindakan kita pada nilai-nilai kita---yang murni bersifat subyektif dan kebenaran-kebenaran individual, keimanan, semua itu tidak dapat dibuktikan tapi sangat riil. Bukan alam dan bukan pula masyarakat yang dapat menawarkan kepada kita kepastian tentang baik dan buruk, benar dan salah. Makna dan nilai paling mendasar dari tindakan-tindakan kita selalu bersifat tidak pasti. Maknanya bagi manusia adalah untuk bertindak di hadapan ketidakpastian ini. Laki-laki dan perempuan, menurut pandangan seorang eksistensialis, bertindak secara tidak otentik jika mereka berperilaku hanya sebagaimana yang diperintahkan oleh masyarakat, atau hanya menerima pendiktean dari pihak gereja atau institusi lain. Untuk melakukan yang demikian ini adalah sikap melarikan diri dari tanggung jawab. Masalah yang terdapat dalam pandangan eksistensial ini, yang sangat memaksa sejauh pandangan ini diterapkan, adalah penekanannya pada eksistensi individual dan pilihan tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi dilema-dilema sosial yang tersebar luas. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini dan bagaimana pihak lain memberikan responnya, simaklah entry berikut.

“Saya Dihukum untuk Menjadi Bebas”
Sungguh, berdasarkan pada fakta tunggal, bahwa saya sadar tentang sebab-sebab yang mengilhami tindakan saya, sebab-sebab ini sudah merupakan obyek-obyek transenden bagi kesadaran saya; mereka berada di luar. Sia-sia saja saya berupaya untuk menangkap mereka; saya terlepas dari mereka karena eksistensi saya. Saya dihukum untuk eksis selamanya untuk melampaui esensi saya, melampaui sebab-sebab dan motif-motif dari tindakan saya. Saya dihukum untuk menjadi bebas. Ini berarti bahwa tidak ada batas-batas bagi kebebasan saya, yang dapat ditemukan kecuali kebebasan itu sendiri atau, jika anda lebih suka, bahwa kita tidak bebas untuk berhenti menjadi bebas. Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness (1943), Part Four

Ketika seseorang mengingatkan anda “Ini adalah negara bebas,” anda mengetahui apa yang dia maksudkan. Anda, pada dasarnya, bebas untuk melakukan apa yang anda inginkan (ini disebut dengan kebebasan “positif), dan, pada dasarnya, bebas dari siksaan pandangan-pandangan anda (kebebasan “negatif). Kebebasan positif melibatkan pilihan-pilihan; kebebasan negatif melibatkan akibat-akibat. Kedua kebebasan kembar ini cukup menakjubkan dan kita beruntung mempunyai keduanya. Tapi, kata penting disini adalah beruntung. Jika dalam sebuah peristiwa, yang bersifat mustahil, bahwa seorang diktator akan memaksakan kehendak pribadinya suatu hari, sehingga kebebasan-kebebasan kita yang sangat berharga itu hilang

dalam sekejap. Apa yang masih tersisa kemudian? Apakah ada jenis kebebasan yang esensial yang tidak akan pernah dapat dirampas dari kita? Menurut Jean-Paul Sartre, seorang filosuf eksistensialis terkemuka abad ini, jawabannya adalah “ya”. Tapi, jawaban “ya” ini adalah berkah yang tercampur. Sartre mengatakan bahwa untuk menjadi manusia adalah dengan menjadi bebas sepenuhnya, untuk selalu mempunyai kuasa untuk memilih. Tapi satu-satunya hal yang tidak dapat kita pilih adalah untuk menghentikan proses memilih ini, atau, untuk mengutip paradoks Sartre, “Saya dihukum untuk menjadi bebas.” Memilih untuk tidak bertindak masih tetap sebuah pilihan. Inilah dilema eksistensial. Filsafat kebebasan Sartre bersumber dari studinya tentang fenomenologi, (yaitu) filsafat tentang kesadaran murni. Sebagaimana Sartre memahaminya, apa yang membedakan kesadaran adalah bahwa ia sekaligus tentang dunia ini dan bukan tentang dunia ini. Ketika kita merefleksi pada bagaimana kita berpikir, ketika kita menjadi sadar-diri, kita memperlakukan pemikiran kita seolah-olah ia adalah sebuah obyek di dunia ini. Untuk mengatakan “Saya bingung dengan penjelasan itu” adalah untuk mentransendensikan proses berpikir kita sendiri dan bercermin (reflect) padanya. Tapi, dunia yang kita kenal hanyalah kumpulan dari semua obyek yang bersifat “transenden”: hal-hal yang kita pahami dan pikirkan. Pada saat yang bersamaan, kesadaran adalah bukan bagian dari dunia ini. Ketika kita bermimpi, kita terputus dari indera-indera luar. Ketika kita membayangkan---katakanlah, ketika kita berfantasi memenangkan

lotre---kita memunculkan yang sekarang ini (dunia sebagaimana ia adanya) dan memproyeksikan sebuah masa depan yang lebih baik (dunia tidak sebagaimana adanya ia). Masa depan ini, karena ia tidak aktual, adalah tidak eksis: ia adalah ketiadaan (nothingness). Menurut Sartre, semua tindakan muncul dari ketiadaan. Jika anda selalu menyesuaikan diri secara langsung pada masa sekarang ini, tidak mampu untuk melepaskan diri darinya, anda bukan hanya tidak bisa membayangkan, (tapi) anda (juga) tidak bisa bertindak. Masa sekarang ini adalah ia secara apa adanya, dan kecuali anda mempertimbangkan pada bagaimana sesuatu itu dapat menjadi berbeda, (maka ) tidak ada motif untuk melakukan apapun. Sartre membawa tesis ini selangkah lebih jauh: semua tindakan-tindakan kita, diarahkan pada sebuah tujuan yang tidak eksis disini-dan sekarang ini (in the here-and-now). Tindakan-tindakan kita, kemudian, menjadi tidak didasarkan pada apapun, juga tidak pernah bersifat esensial (necessary). Tujuan-tujuan adalah sesuatu yang kita kreasikan secara bebas untuk diri kita, dan sejalan dengan mereka, kita mengkreasikan nilai-nilai kita sendiri. (Disini Sartre mengadaptasi dari Kierkegaard). Istilah “nausea” yang terkenal dari Sartre, muncul dari kebebasan memilih yang absolut, kesadaran bahwa anda mampu untuk melakukan tindakan apapun yang mungkin. Misalnya, pada momen apa saja, anda mungkin memilih untuk membunuh diri anda sendiri; dan pemikiran ini--yang membukakan jurang dalam yang menganga lebar di dalam diri--menghasilkan rasa cemas (angst) dan nausea. (anda dapat [could] melakukannya, dan anda merasa takut sehingga anda mungkin [might]

melakukannya). Untuk menjadi “terhukum untuk menjadi bebas” adalah untuk bertanggung jawab dalam menciptakan setiap situasi dari “dunia” kita sendiri---untuk memilih tujuan-tujuan kita sendiri, metode-metode pengelolaan masalah, respon-respon kita atas rasa cemas dalam memilih. Barangkali, anda akan memilih untuk membunuh dirimu sendiri; jika tidak, maka anda setidaknya memilih untuk terus memilih. Mayoritas orang menolak untuk menghadapi fakta-fakta ini, namun, karena mereka tidak dapat mengemban ide bahwa mereka bertanggung jawab atas dunia mereka. Sebagaimana telah banyak dikemukakan oleh para kritikus di era kita, bahwa kita lebih cenderung untuk melihat diri kita sebagai korban daripada sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab. Kita menyalahkan pilihan-pilihan inferior kita atau kerja keras kita yang telah gagal sebagai akibat dari masa kecil kita yang tidak bahagia, sebagai akibat dari penindasan oleh budaya, akibat pembagian kelas (sosial), akibat prasangka, atau akibat dari suasana masyarakat pada umumnya. Sartre tidak akan mengingkari bahwa masa kecil yang tidak bahagia dan prasangka-prasangka budaya eksis dan ini adalah buruk. Tapi, dia memberi label sebagai “keyakinan yang buruk” pada sikap menolak untuk memiliki pilihan-pilihan bebas kita sendiri dalam menginterpretasi sesuatu dan merespon pada fakta-fakta kehidupan. Sartre sangat bagus dalam mengekspos keyakinan yang buruk, tapi kurang bagus pada membuka jalan menuju keotentikan; eksistensialisme lebih bagus dalam deskripsi ketimbang dalam membuat dirinya sebagai pegangan dan pedoman. Sartre sendiri, pada akhirnya, menyadari keterbatasan-keterbatasan dari eksistensialisme dan untuk selanjutnya

lebih concern pada situasi-situasi yang menindas. Pada akhir tahun 1950an, dia menjadi sangat tertarik dengan Marxisme, bukan sebagai sebuah sistem politik, tapi lebih sebagai sebuah filsafat dari tindakan kolektif. Tentu saja, ideal kaum Marxis tentang penciptaan-dunia yang terkoordinir, tidak berjalan dengan mulus.

SAINS DAN MATEMATIKA Apa Saja yang Naik Harus Turun: Teori-teori Dasar
Teorema4 Pythagorean
Thales memikirkan dunia ini sebagai terbuat dari air; Heraklitus telah mengatakan bahwa bahan intinya adalah api. Pythagoras (abad enam SM) memikirkan semuanya adalah angka, dan menganggap sama semua jalan menuju kebenaran. “Segala sesuatu adalah angka-angka” adalah motonya. Filsafat Pythagoras, yang mencakup keyakinan-keyakinan tentang reinkarnasi dan akibat-akibat buruk dari penyingkapan misterimisteri, pada masanya adalah sangat tidak umum dan samar-samar, tapi, dia telah meracik dan meramu bukti geometri pertama yang dahsyat, yang merupakan formula yang masih dikenal sebagai “Pythagorean teorema.”

4

Teorema = Proposisi yang masih dan akan dibuktikan kebenarannya. Penerjemah.

Teorema ini akan terasa familiar bagi anda jika anda pernah belajar geometri. Geometri mencermati bahwa yang paling menarik dari semua segitiga adalah segitiga yang benar (yang mengandung sudut 90 derajat). Menurut Pythagoras, semua segitiga siku-siku mempunyai sifat yang sama---yaitu, bahwa sisi segitiga yang paling panjang, ketika diukur, adalah sama besar dengan kedua sisinya yang lain. Dalam gambar ini, panjang dari sisi yang paling panjang (disebut dengan “sisi miring”) adalah c. Menurut teorema Pythagorean adalah a [kuadrat] + b [kuadrat] = c [kuadrat]. Sebenarnya, meskipun kesaksian kuno bersepakat untuk menelusuri jejak dari bukti tentang teorema ini kepada Pythagoras (Seorang warga Yunani dari pulau Samos), teorema itu sendiri telah merambah Timur Tengah kira-kira selama satu milenium sebelum kelahirannya. Dan meskipun dia telah membuktikan kebenarannya, tapi pembuktiannya ini tidak diketemukan; jejak rekam yang paling pertama tentang teorema ini ditemukan dalam karya Euclid yang terkenal Elements (kira-kira 300 SM), yang pada era sekarang ini membentuk basis bagi dasar-dasar geometri. Versi Euclid, secara singkat, mensyaratkan peng-konstruksi-an ruang-ruang (squares) pada masingmasing sisi dari sebuah segitiga dan menunjukkan bahwa area-area dari dua sisi yang lebih pendek adalah sama dengan area yang paling luas. Disamping menjadi yang paling awal dari jenisnya, pembuktian Pythagoras ini sangat penting karena alasan-alasan lain. Pertama, ia memberi kontribusi yang sangat besar atas penderitaan yang dialami oleh

anak-anak sekolah dimana saja mereka berada. Kedua, ia pada akhirnya mengarah para penemuan tentang angka-angka “irrasional”---yaitu, angka-angka yang tidak dapat diekspresikan sebagai sebuah pecahan (sebagai rasio dari dua angka yang menyeluruh). Sebuah contoh dari satu angka yang irrasional adalah akar kwadrat dari angka 2, yang merupakan sisi miring (dari sebuah segitiga) ketika sisi-sisinya yang lain dari sebuah segitiga siku-siku adalah satu unit panjang. Ironisnya, konsekuensi dari teorema ini tidak sesuai dengan program Pythagorean, ketika Pythagoras meyakini bahwa semua angka adalah rasional, atau, untuk menggunakan istilahnya sendiri, “commensurable” (dapat diukur dengan standar umum). (Menurut legenda, para anggota dari aliran Pythagorean ini membawa orang yang men-deduksi-kan angka-angka yang tidak dapat diukur dengan standar umum ini dan melemparkannya ke laut Mediterrania). Ketika Aritmatika Yunani berurusan hanya dengan angka-angka yang rasional, geometri, dengan demikian, dilihat sebagai lebih dahsyat dan lebih baik kemampuannya dalam memetakan dunia ini. Itulah sebabnya mengapa para pakar matematika Yunani akan mengkonsentrasikan diri mereka pada, dan membuat kemajuan-kemajuan penting dalam bidang geometri serta pada saat yang sama hanya membuat sangat sedikit kemajuan di bidang aritmatika.

“Eureka!” (Prinsip Archimedes)

menurut kisahnya, Archimedes, saat dia sedang mandi, memikirkan sebuah cara untuk menghitung butir-butir emas pada mahkota Raja Heiron dengan mengobservasi pada seberapa banyak air yang mengalir keluar dari bak mandi. Dia meloncat seperti seorang yang mengalami kesurupan, sambil berteriak heureka! (“Aku telah menemukannya”). Setelah mengulang-ulang ini beberapa kali, dia kembali melanjutkan akitivitas mandi-nya. Plutarch, “The Impossibility of Pleasure according to Epicurus”

Pakar matematika Sicilia, Archimedes, (kira-kira 287-212 SM) adalah profesor klasik yang linglung (absent-minded), seorang pemikir brilian dan seringkali lupa pada dunia nyata ini, terutama setelah membuat salah satu dari penemuan-penemuan hebatnya. Berdasarkan pada penjelasan dari Plutarch, ketika Archimedes menemukan prinsip-prinsip tentang hidrostatik5 (ilmu tentang bagaimana tubuh-tubuh solid [padat] berperilaku dalam zat cair), dia beberapa kali berteriak dan kemudian berlari telanjang bulat melalaui jalanan di Syracuse (pesisir tenggara dari pulau Sicilia, pent.) tanpa menjelaskan apa yang dia teriakkan ini. Perhatian pada persoalan sepele ini bermula ketika sahabat dari Raja Heiron II dari Syracuse ini merasa curiga bahwa mahkota baru yang telah dia pesan bukanlah terbuat dari emas yang solid, tapi emas yang telah dicampur dengan perak (atau dari logam yang lebih rendah lagi). Mencoba bereksperimen secara singkat untuk melebur bahan ini, Archimedes menyadari bahwa tidak ada cara cepat untuk menentukan komposisi dari mahkota raja ini. Tapi, suatu hari, saat dia berendam di dalam bak mandinya, yang airnya memenuhi tepian bak mandi,
Hidrostatiks = Cabang ilmu Fisika yang mempelajari hukum-hukum air atau tentang air yang mendapat tekanan. (Penerjemah).
5

Archimedes tiba-tiba mendapat ide cemerlang. “Aku telah menemukannya! Aku telah menemukannya!” dia berteriak---heureka! (atau eureka!) dalam bahasa Yunani. Jika Archimedes tidak menemukan ungkapan baru ini--- istilah ini (eureka) hanyalah sebuah predikat dari bahasa Yunani yang biasa-biasa saja---dia telah membuat istilah ini menjadi terkenal. Dan dia telah menemukan sebuah prinsip yang diberi nama sesuai dengan namanya sendiri, yaitu bahwa seseorang dapat menentukan berat jenis dari sebuah obyek “O” dengan membandingkan beratnya dengan air yang tumpah dari dalam bak mandi. (Berat dari air ini, yang mempunyai volume yang sama dengan O, disebut “daya apung” O; rasio dari berat O hingga pada tumpahnya air, disebut dengan “gravitasi khusus” dari O). Dengan mengkombinasikan penemuan ini dengan fakta bahwa massa sama dengan volume dikalikan dengan berat jenis, inilah cara untuk memecahkan teka-teki Heiron: ambillah sebongkah emas murni yang beratnya persis sama dengan berat mahkota yang dipermasalahkan ini. Jatuhkan bongkahan emas ini ke dalam sebuah bak air dan ukurlah (beratnya atau volumenya) kandungan air yang tumpah. (Ini akan menjadi kandungan air yang tumpah jika bak air itu penuh, atau kandungan air yang naik di dalam bak itu jika tidak diisi penuh). Ulangi proses ini dengan mahkota itu. jika bongkahan emas dan mahkota menumpahkan jumlah air yang sama banyaknya, maka keduanya mempunyai volume yang sama, dan berarti mahkota itu terbuat dari bahan emas murni, karena tidak ada logam lain yang berat jenisnya sama

persis dengan emas. Namun, jika mahkota itu menumpahkan lebih banyak air, maka ia harusnya terbuat dari emas yang telah dicampur dengan logam yang berat jenisnya lebih ringan---volumenya akan menjadi lebih besar daripada bongkahan emas itu. Sebagaimana telah diketahui hasilnya, Heiron telah tertipu: mahkota itu volumenya lebih besar daripada volume bongkahan emas itu. sejak saat itu, sang pembuat mahkota tidak kedengaran lagi rimbanya, tapi Archimedes masih terus melakukan berbagai upaya untuk mempunyai beberapa ide yang lebih hebat lagi. Misalnya, dia memperkirakan nilai dari r (simbol?), mencari tahu bagaimana menghitung area dari sebuah lingkaran ini, telah memberikan pondasipondasi dasar tentang kalkulus, dan menghasilkan teori tentang alat pengungkit. Terutama merasa sangat senang dengan penemuan terakhirnya ini, Archimedes menyombongkan diri: “Beri aku sebuah tempat untuk berpijak, dan aku akan menggerakkan bumi ini.” Dia tidak pernah mengupayakan niatnya ini, dan tidak juga dia berhasil melengkapi kalkulasinya tentang berapa banyak butir-butir pasir yang dibutuhkan agar dapat memenuhi alam semesta ini. Telah dilaporkan bahwa dia meninggal saat menggambar sebuah diagram geometris di permukaan tanah, ketika pasukan Romawi menaklukkan Syracuse. Berdasarkan pada pendapat Plutarch, saking asyiknya Archimedes tenggelam dalam spekulasi sehingga dia tidak mendengar perintah dari seorang tentara Romawi untuk berdiri dari jongkoknya;

tentara itu kemudian timbul amarahnya dan menusukkan pedangnya ke tubuh Archimedes.

Revolusi A la Copernicus
Ini hanya sebuah mitos bahwa Columbus, dengan menyeberangi samudera Atlantik, telah membuktikan kepada sebuah dunia yang terguncang bahwa bumi ini adalah bulat. Bahkan, beberapa lapisan masyarakat yang terpelajar sejak masa-masa kuno, mereka adalah para penyandang “tuna rungu”; yang lebih mengganggu adalah pertanyaan tentang apakah dunia yang bulat ini bergerak. Para pakar astronomi sejak dari Plato yang berlanjut hingga abad ke-enam belas cenderung berpikir bahwa bumi ini dalam keadaan duduk diam sementara langit mengitarinya, tapi, ini tidak berarti bahwa tidak ada teori-teori alternatif tentang hal itu. Pada abad ke-empat SM, misalnya, seorang pakar astronomi Yunani, Aristarchus dari Samos mengajukan hipotesa-hipotesa yang bersifat “helio sentris”: bahwa planet-planet, termasuk Bumi, berputar mengelilingi matahari. Kendalanya adalah bahwa yang mendukung dan menganut paham heliosentrisme ini tidak mempunyai bukti yang meyakinkan. Dan dukungan semacam ini sangat sedikit jumlahnya, terutama setelah abad ke-dua Masehi, ketika pakar astronomi Mesir-Yunani [Aleksandria, pent.] Ptolemeus, telah menemukan seperangkat ekuasi-ekuasi geometris untuk mendukung ide “geosentris” bahwa bumi ini adalah sebuah pusat yang fix

(kukuh, stabil) dari alam semesta ini. Model Ptolemeus ini dan formulaformulanya memberikan semacam basis ilmiah pada apa yang hendak diyakini oleh masyarakat, yang disebabkan oleh tradisi, agama, dan psikologi. Kita tidak mengalami gerak apapun dari bumi ini, dan langit tampak mengelilingi dunia ini; ini adalah pemikiran yang sangat mengkhawatirkan bahwa indra-indra kita dapat dengan mudah tertipu, dan tatanan dari berbagai hal yang tampak dapat menjadi palsu. Selanjutnya, para penganut agama Kristiani mendapati paham geosentrisme sebagai sesuai dengan keyakinan mereka bahwa bumi ini, dan terutama manusia, adalah ciptaan Tuhan yang paling penting dan paling sentral. Akhirnya, bobot dari ilmu pengetahuan di masa kuno ada pada sisi Ptolemeus. Aristoteles, kata kunci terakhir dalam dunia ilmu pengetahuan untuk selama dua milenium terakhir, menyatakan bahwa langit itu tercipta seluruhnya dari bahan-bahan yang berbeda-beda yang merupakan unsur-unsur dari bumi. Bahan ini, disebut dengan aether (eter) atau quintessentia(unsur dari sesuatu yang paling esensial dan paling penting), bersifat sempurna dan tanpa cacat, dan selanjutnya secara alami bergerak secara melingkar. Obyek-obyek alami disini, di atas bumi ini, secara berbeda, tersusun dari elemen-elemen tanah, udara, api, dan air, yang cenderung untuk naik atau turun. Elemen-elemen tanah dan air bergerak turun, dan Bumi ini telah tercipta dari seluruh tanah dan air yang telah bergerak turun ke tempatnya yang sesuai dan layak dan, dengan cara ini, berpuas diri untuk duduk diam.

Geosentrisme, secara singkat, tampaknya bukanlah sebuah hipotesa ilmiah, tapi merupakan bagian dari sebuah pandangan dunia yang bersifat kompleks, membuat nyaman dan tradisional. Tapi, ini adalah sebuah pandangan yang pada akhirnya bertemu dengan padanannya di era Renaisans, yang dimulai dengan karya seorang pakar astronomi yang sangat cemerlang, Mikolaj Kopernik (1473-1543), yang lebih dikenal dengan nama latinnya Nicholas Copernicus. Didaftarkan sebagai mahasiswa di universitas Italia yang terbaik oleh pamannya yang kaya, Copernicus lebih merupakan manusia kutu-buku daripada seorang pengamat perbintangan. Ironisnya, dia terutama sangat nge-fans dan setia kepada Ptolemeus, tapi tidaklah begitu setia sehingga dia dapat mengabaikan banyak kegagalan dari geometri Ptolemeus untuk menjelaskan perilaku aktual dari benda-benda angkasa. Seorang manusia Renaisans sejati, Copernicus tidak sepenuhnya seorang pakar sains eksperimental. Sebagaimana telah dinyatakan dalam De revolutionibus orbium coelestium (On the Revolutions of the Heavenly Spheres, 1543), teori heliosentris-nya---teori pertama yang memperoleh perhatian mendalam di era modern---masih lebih banyak termotivasi oleh metafisika daripada termotivasi oleh data-data solid yang dapat diandalkan. Dia ingin sekali menemukan sebuah model alam semesta yang memungkinkan prediksi-prediksi yang lebih akurat daripada hipotesa Ptolemeus, tapi dia juga mengupayakan penjelasan-penjelasan spiritual, seperti bahwa matahari, sebagai pemberi cahaya, adalah lebih dekat pada kesempurnaan dan lebih dekat kepada Tuhan daripada sang

bumi. (Argumen ini terulang kembali dalam karya dari penerus Copernicus yang hebat, seorang berkebangsaan Jerman, Johannes Kepler, 1571-1630). Dan (ide-ide) Aristoteles terselip dalam teorinya; dia beranggapan bahwa orbit-orbit planet adalah bersifat melingkar (bundar) sepenuhnya, padahal mereka tidak demikian. Jadi, model Copernicus tidak menghasilkan yang lebih baik daripada sistem Ptolemeus. Namun demikian, revolusi astronomi telah dimulai. Para penganut geosentris seperti astronom Denmark, Tycho Brahe (1546-1601) kembali mundur dengan cara memperhalus model Ptolemeus, sementara para penganut heliosentris seperti asisten Brahe, Kepler, berupaya untuk menyederhanakan dan menyesuaikan sistem Copernikan. Taruhannya sangat besar, karena jika Copernicus benar dan bumi ini hanyalah salah satu planet diantara planet-planet lain, maka teori aether dari Aristoteles, dan semua ilmu pengetahuan Aristotelian yang berbasiskan pandangan ini, adalah salah. Dan jika Copernicus benar, maka alam semesta ini jauh lebih besar daripada yang telah dibayangkan sebelumnya, karena berbagai kalkulasi sebelumnya didasarkan pada lingkaran Bumi, sementara kalkulasi-kalkulasi yang baru akan didasarkan pada orbit Bumi. Manusia dan dunianya, sebagaimana telah diketahui, bahkan lebih tidak berarti apa-apa dalam skema besar ini daripada yang telah dipikirkan oleh para pakar ilmu pengetahuan dan teolog abad pertengahan. Ketika tiba saatnya untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi---atau, dalam idiom zaman sekarang, “memelihara dan

menyelamatkan hal-hal yang nampak” (saving the appearances)---bukan Copernicus, bukan pula Kepler yang dapat melakukan sesuatu yang lebih baik selain dari menawarkan teori-teori sebaik teori Brahe. Dalam istilah matematika murni, ini adalah sebuah undian (toss-up). Bahwa langit itu tercipta dari bahan yang sama dengan Bumi, dan dengan demikian dioperasikan berdasarkan pada hukum-hukum alam yang sama, menunggu pembuktian dalam karya seorang ahli fisika Inggris yang hebat, Isaac Newton. Telah diketahui bahwa Kepler telah menemukan beberapa hukum tentang gerak benda-benda langit yang sesuai sepenuhnya dengan hukum baru Newton tentang gravitasi [lihat Hukumhukum Newton, hal...]. meskipun ini tidak membuktikan secara pasti tentang astronomi heliosentris atau mekanika Newtonian, ini adalah sebuah argumen yang kuat bagi keduanya, dan sebuah sudut telah dibelokkan secara tak terbantahkan. Benda-benda langit telah dibawa turun ke bumi.

“Pengetahuan Itu Sendiri Adalah Power”
aforisme pendek ini terungkap dalam Meditationes Sacrae (1597), sebuah karya yang sulit dipahami yang ditulis oleh Francis Bacon (1561-1626), seorang lawyer, politisi, penulis esai, dan penemu bersama (co-inventor) tentang metode ilmiah. Pada permukaan, ujaran di atas mudah dimengerti, terutama di era informasi sekarang ini. Tapi, kita dengan cepat salah mengerti tentang apa yang Bacon maksudkan tentang

“power”, yang bukan “keuntungan personal atau politis”, tapi, “kontrol alam.” Bacon sedang berkampanye menentang ilmu pengetahuan yang steril dan filsafat di zamannya. Perdebatan ilmiah, yang dikaitkan dengan metafisika Aristotelian dan ekses-ekses negatif dari perdebatan tentang hal-hal yang remeh dan argumentasi-argumentasi yang cerdik meskipun tidak benar, telah menghasilkan sedikit ruang untuk perdebatan selanjutnya. Sementara itu, seni-seni mekanis, yang oleh para teoritisi dianggap sebagai murahan, telah menjadi semakin menguat dan semakin mengemuka; bubuk mesiu, mesin cetak Gutenberg, dan kompas pelaut semua ini tidak sepadan dengan kemajuan di wilayah-wilayah yang lebih adiluhung. Dengan mempertimbangkan berbagai situasi ini, Bacon menyimpulkan bahwa pengetahuan itu dapat menjadi bermanfaat hanya jika teknologi dan filsafat dipersatukan. Sebagai ganti dari memperdebatkan poin-poin remeh tentang materi dan bentuk, para pakar ilmu pengetahuan harus secara langsung mengobservasi alam ini, menarik kesimpulan-kesimpulan, dan memanfaatkan alat-alat praktis untuk menguji mereka. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan harus didasarkan pada induksi dan eksperimen, bukan pada metafisika dan spekulasi. Bacon, hampir pasti, bukan orang pertama yang menganjurkan metode eksperimental atau “ilmiah”. Dan meskipun dia banyak berbicara tentang hal ini, dia sangat sedikit menampilkan hasil eksperimen-

eksperimennya sendiri yang signifikan. Meskipun demikian, rekanrekannya dibuat terkesan, dan mayoritas pikiran-pikiran ilmiah dari bad tujuh belas, termasuk Newton, telah mengutip karyanya sebagai sebuah inspirasi langsung. Selanjutnya, sifat kolaborasi (kerja ilmiah bersama) dari penelitian ilmiah sejak tahun 1600-an hingga sekarang, sangat berhutang pada desakannya yang diulang-ulang bahwa komunitaskomunitas, lebih dari sekadar orang-orang jenius yang terisolasi, adalah bertanggung jawab atas kemajuan keilmuan dan, dengan demikian, “berkuasa” atas alam ini. Pada sisi lain, melampaui kekurangan dan cacat-cacat praktisnya sendiri, teori-teori Bacon meninggalkan sesuatu yang dihasratkan. Dia mengeluarkan bayi dari bak air ilmu pengetahuan spekulatif, dengan meremehkan peran hipotesa, yang dia pandang sebagai tidak mempunyai pijakan pondasi dan, dengan demikian, ia bersifat steril. Semua pengetahuan yang benar, tegasnya, dihasilkan dari observasi dan eksperimen, dan jenis apapun dari asumsi terdahulu tampaknya hanya mendistorsi persepsi dan interpretasi. Tapi, tanpa hipotesa, tidak akan ada eksperimen-eksperimen yang dapat dikontrol, yang merupakan esensi dari metode ilmiah modern. Bacon berpikir bahwa dunia ini pada esensinya adalah bersifat chaotic, dan oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan untuk mendekati alam ini dengan mengasumsikan hukumhukum yang teratur. Tapi, ilmu pengetahuan terutama sekali telah mengalami peningkatan dan kemajuan dengan mengasumsikan bahwa

dunia ini didasarkan pada hukum-hukum tertentu, bahwa terdapat polapola yang teratur dan sederhana yang mendasari alam ini. Jadi, Bacon memperoleh sesuatu yang benar dan sesuatu yang salah, dan secara keseluruhan dia jauh lebih baik pada saat dia mengkritisi teori-teori lama daripada menjelaskan teori yang baru. Sebagai akibatnya, reputasinya mengalami pasang surut. Opini mutakhir yang berkembang saling bercampur-baur; sebagian merayakan karyanya yang mempelopori filsafat yang ilmiah, sementara sebagian yang lain menyalahkan doktrinnya tentang “pengetahuan adalah power” karena membelokkan ilmu pengetahuan menuju eksploitasi alam. Power (Kuasa), dalam pandangan para kritikus ini, telah menjadi tujuan itu sendiri, yang menghasilkan materialisme dan alienasi (keterasingan). Bacon sendiri berpikir bahwa nilai-nilai sosial dan moralitas akan selalu mengarahkan dan membatasi kemajuan-kemajuan teknologi. Dalam konteks inilah bahwa dia dinilai sangat salah.

Hukum-hukum Newton
HUKUM I : Setiap orang terus berada dalam keadaan istirahat, atau dalam keadaan gerak yang selalu sama searah dengan garis yang benar [maksudnya: lurus], kecuali ia dipaksa untuk mengubah keadaan itu oleh sebuah kekuatan yang mempengaruhinya.

HUKUM II: perubahan dalam gerak adalah proporsional bagi motif kekuatan yang mempengaruhi; dan ia diciptakan dalam arah garis yang benar dimana kekuatan itu dipengaruhi. HUKUM III: Terhadap setiap tindakan, selalu terdapat sebuah reaksi sepadan yang bertentangan; atau, tindakan-tindakan bersama dari dua tubuh adalah selalu setara, dan diarahkan pada bagian-bagian yang bertentangan. Sir Isaac Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) Fisikawan Inggris, Sir Isaac Newton (1642-1727) sering disebut sebagai ilmuwan terbesar sepanjang sejarah; tak diragukan lagi, ia pantas menyandang sebutan itu. Adalah dia yang pada akhirnya membebaskan ilmu fisika dari metafisika dengan mengemukakan konsep-konsep yang sistematis tentang hukum-hukum universal tentang kekuatan dan gerak yang mempengaruhi langit dan bumi. Tapi, orang-orang lain telah membuka jalan ini; sebagaimana dikatakan sendiri oleh Newton: “Jika saya melihat lebih jauh dari yang lain, ini adalah karena berdiri di atas pundak para raksasa.” (Dia juga bukan orang pertama yang mengatakan tentang ini). Salah satu pendahulu Newton adalah Galileo, fisikawan eksperimental besar yang pertama dalam sejarah dan orang yang paling bertanggung jawab atas tumbangnya Aristoteles sebagai penguasa ilmu pengetahuan. Galileo telah menunjukkan, misalnya, bahwa teori Aristoteles tentang gerak adalah salah, dan menunjukkan bahwa teori tandingannya ini bertentangan dengan yang apa yang telah diyakini

secara meluas, bahwa obyek-obyek tidak jatuh pada kecepatan yang konstan, tidak juga bahwa benda-benda yang lebih berat jatuh lebih cepat daripada benda-benda yang lebih ringan, setidaknya dalam sebuah ruang hampa udara. Bahwa Galileo mencapai kesimpulan-kesimpulan ini dengan menjatuhkan obyek-obyek dari Menara Pisa, sayangnya, adalah sebuah mitos, tapi dia telah menampilkan eksperimen-eksperimen cerdas dengan permukaan datar yang dimiringkan dan sejenis itu. hasilnya adalah teorinya tentang akselerasi yang tidak berubah-ubah: benda-benda yang jatuh, semuanya memiliki kecepatan rata-rata yang sama persis. Galileo juga menemukan sifat kelembaman (inertia): benda-benda cenderung untuk tetap dalam keadaan diam atau dalam gerak yang konstan kecuali diganggu oleh beberapa kekuatan luar. Dari kedua hukum ini, dia mampu menunjukkan bahwa dibawah kondisi-kondisi ideal, proyektil-proyektil mengikuti jalur setengah melingkar (parabolic). Satu generasi kemudian, Rene Descartes---yang sangat dikenal dengan ungkapannya, “Aku berpikir, maka aku ada”---mengikuti “hukum konservasi” pertama Fisika. Hukum ini yang menyatakan bahwa beberapa quantitas tetap sama meskipun terdapat suatu peristiwa fisika atau perubahan situasi. Descartes terutama sangat tertarik dengan benturanbenturan dari benda-benda yang sedang bergerak---misalnya, dua bola bilyar---dan dia mengemukakan bahwa momentum mereka yang dikombinasikan (berat dikali kecepatan) tetap bersifat konstan. Yaitu, jika anda menambahkan sedikit waktu lagi terhadap dua bola bilyar ini setelah

terjadi benturan, maka ini akan menjadi sama saja antara saat mereka dikombinasikan dengan saat sebelum terjadi benturan. Momentum itu “dikonservasikan”. Penemuan-penemuan oleh Galileo dan Descartes ini sangat penting artinya, bahkan bersifat revolusioner, tapi, ini akan membuat Newton untuk menggabungkan mereka ke dalam suatu sistem yang disambungkan satu sama lain. Penggabungan konsep kunci dari hukum Galileo tentang akselerasi dan karya Descartes tentang benturan bendabenda adalah gravitasi, dimana penemuan gravitasi ini adalah prestasi Newton yang paling dikenal. (Tapi, anda dapat memasukkan legenda buah apel yang jatuh dari sebuah pohon di atas kepala Newton ke dalam kumpulan mitos-mitos sebagaimana halnya mitos Menara Pisa). Newton, persisnya, tidak memulai dengan gravitasi, tapi dengan ide baru yang lain, yaitu tentang massa (m). Descartes telah berbicara tentang momentum sebagai produk dari berat dan kecepatan, tapi Newton menyadari bahwa berat itu adalah sebuah quantitas yang tidak jelas dan beragam---beberapa benda bobotnya berkurang di dalam air, misalnya, darimana saat berada di udara. Dia lebih menyukai sesuatu yang dapat distabilkan dan tak berubah yang bersifat lebih pasti, “kuantitas dari materi” dalam sebuah obyek---yang selalu sama dimanamana, di dalam air maupun di udara, dalam ruang atau di atas permukaan tanah---dan ini dia sebut sebagai “massa”. Dengan mengganti aspek berat dari Descartes dengan massa, dan dengan memperlakukan kecepatan sebagai sebuah kuantitas vector (seperti kecepatan dalam

sebuah arah tertentu), Newton sampai pada suatu definisi baru tentang momentum (massa dikali kecepatan dalam suatu arah yang positif atau negatif). Ketika kecepatan diarahkan, bahkan perubahan dalam arah melibatkan suatu perubahan dalam momentum. Newton kemudian mendefinisikan “kekuatan” kuantitas---sebuah konsep lama namun tidak jelas---sebagai yang menimbulkan perubahan dalam momentum dari sebuah obyek. Menjadikan hukum kelembaman dari Galileo sebagai hukum gerak pertamanya, Newton kemudian mempostulat-kan hukum yang kedua: bahwa kekuatan (F) adalah proporsional secara langsung bagi perubahan dalam momentum yang dia induksikan. Dengan kata lain, dua kali kekuatan yang akan menimbulkan dua kali perubahan dalam momentum suatu obyek. Dengan penemuan definisi baru Newton tentang momentum, yang menggantikankuantitas berat yang beragam dengan kuantitas massa yang dibakukan (fixed), hukum keduanya semakin memperkuat pernyataan bahwa kekuatan itu proporsional bagi perubahan dalam kecepatan. (Jika massa dibakukan, kekuatan ekstra hanya akan mempengaruhi kecepatan). Ketika perubahan dalam kecepatan itu sama dengan akselerasi (a), maka, F adalah proporsional bagi a. Meskipun obyek-obyek yang berbeda akan mensyaratkan kekuatan-kekuatan yang berbeda untuk menandingi kelembaman mereka: semakin massif sebuah obyek, semakin dibutuhkan kekuatan untuk mengubah momentumnya; jadi, F juga proporsional bagi m. Dengan demikian, kita sampai pada

formula terkenal yang tercakup dalam hukum kedua Newton: F=ma (kekuatan sama dengan massa dikali akselerasi). Konsekuensi paling penting dari hukum kedua ini adalah bahwa ia mengizinkan ide tentang suatu kekuatan yang terus-menerus. Sebelum Newton, para ilmuwan telah mempunyai sebuah konsep tentang kekuatan, tapi hanya sebagai sesuatu yang dapat dikomunikasikan secara spontan dan seketika, sebagaimana dalam contoh tentang bola-bola bilyar yang berbenturan. Kekuatan Newton mencakup skala situasi yang jauh lebih luas. Seseorang yang sedang mendorong sebuah gerobak di jalanan, misalnya, akan mengerahkan kekuatan yang terus-menerus agar gerobak ini dapat terus bergerak (yaitu, untuk menandingi friksi). Hukum kedua ini juga membuka jalan bagi ide tentang kekuatan potensial, yaitu, energi laten dalam sebuah benda yang berada dalam keadaan menggantung (suspension): bola-bola (perayaan) Tahun Baru tergantung di atas Times Square di New York, misalnya, mempunyai kekuatan potensial---suatu tingkat perubahan masa depan yang dilibatkan (diaktifkan di tengah malam). Potongan terakhir teka-teki adalah hukum ketiga Newton, yang juga merupakan lompatan Newton yang paling berani. Dengan meninggalkan hukum Descartes bahwa momentum harus dikonservasikan, Newton menunjukkan bahwa kapan saja suatu gerak obyek itu diganggu (kapan saja momentumnya berubah), gerak dari obyek lain harus juga diganggu sehingga momentumnya akan dikonservasikan. Dalam kenyataan,

gangguan kedua ini harus disamakan secara persis dengan yang pertama, tapi dengan arah yang bertentangan. Lihatlah ia dengan cara ini: jika kita meningkatkan momentum dari sebuah bola bilyar dengan empat unit (apa jenis unitnya, tidak penting disini), hukum Descartes mendesak bahwa sesuatu itu harus mengendurkan (lose) empat unit momentum (atau, dengan ungkapan lain, ia harus memiliki empat unit momentum yang negatif---apakah itu dengan mengurangi kecepatan atau dengan bergerak ke arah yang berlawanan). Ini adalah “reaksi yang sama dan yang berlawanan” yang terkenal dari syarat-syarat hukum ketiga Newton. Aksi berarti perubahan dalam gerak, dan dengan demikian mengubah momentum; dan apa yang dikatakan oleh hukum ketiga ini adalah bahwa untuk mengubah gerak dari satu obyek, gerak dari obyek lain harus juga dipengaruhi---obyek lain harus disela (ia harus menanggung suatu perubahan yang sama dan berlawanan). Disinilah dimana sesuatu itu benar-benar menjadi sangat menarik. Membangun berdasarkan pada hukum akselerasi yang sama dari Galileo, Newton men-deduksi-kan eksistensi dari gravitasi. Ketika suatu obyek berakselerasi dalam proses jatuhnya ke permukaan bumi, momentumnya bertambah. Berdasarkan pada hukum kelembaman (inersia) dan hukum kedua dan ketiga Newton, beberapa kekuatan (force) harus bertanggung jawab atas akselerasi ini, dan ia harus bersifat konstan jika akselerasinya konstan. (F=ma; massa dari suatu obyek tetap sama, sehingga jika akselerasi adalah konstan, maka kekuatan juga harus konstan). Kekuatan

ini, persisnya, adalah gravitasi, dan Newton telah memformulasikan hukum bahwa kekuatan gravitasi atas obyek apapun adalah konstan dan proporsional secara langsung bagi massa dari sebuah obyek. (Ketika akselerasi akibat dari gravitasi ini adalah sama saja bagi semua obyek, F harus menambahkan proporsi yang tepat pada m). Kekuatan gravitasi atas sebuah obyek yang ada adalah setara dengan beratnya. (Secara teknisberat sama dengan massa dikali gravitasi; dan, dalam hal dimana anda merasa sangat tertarik untuk mengetahui, kekuatan gravitasi itu hampir 9,8 meter per square second). Bahkan yang lebih menarik lagi adalah implikasi-implikasi dari hukum ketiga Newton. Ketika suatu obyek jatuh ke permukaan tanah akibat gravitasi, perubahannya dalam momentum harus diimbangi dengan suatu perubahan yang setara dalam beberapa momentum obyek yang lain. Marilah kita contohkan tentang buah apel yang jatuh ke bumi. Satu-satunya obyek lain yang terlibat, yang momentumnya mungkin terpengaruh adalah bumi itu sendiri. untuk mengatakan bahwa kekuatan bumi atas buah apel itu harus disetarakan dengan kekuatan apel terhadap bumi; ini hanya karena, bumi itu jauh lebih masif daripada buah apel sehingga kita tidak menyadari perubahan apapun dalam momentum bumi. Tapi, dalam dunia hukum fisika yang abstrak, yang obyeknya merupakan sebuah materi yang bersifat biasa. Ketika buah apel itu jatuh ke permukaan tanah, kita mengatakan bahwa gravitasi bumi telah membuatnya begitu dan mengabaikan apa yang terjadi pada bumi yang

sedang berproses, karena kita tidak menyadari reaksi yang sama atau yang berlawanan. Dari fakta ini, Newton menyadari bahwa gravitasi haruslah proporsional bagi massa dari kedua obyek yang terlibat---buah apel dan Bumi. Akibat-akibat praktis dari penyingkapan dramatis ini, yang terabaikan disini di permukaan bumi ini, menciptakan perbedaan yang sangat besar ketika kita sedang berbicara tentang benda-benda angkasa, seperti bumi dan bulan atau matahari dan bumi. Bahkan, hukum gravitasi Newton, dalam bentuk yang lebih dikembangkan, akhirnya membuktikan bahwa sistem tata surya adalah sungguh sebuah sistem tata surya--yaitu, bahwa bumi ini mengitari matahari daripada sebaliknya. Dengan meminjam data dan hukum-hukum yang dipostulasikan oleh astronom Johannes Kepler, Newton mengaitkan perilaku dari planet-planet dengan ekuasi-ekuasi gravitasi, dengan menunjukkan pada yang lain bahwa gerak-gerak planet yang dicermati adalah dapat dijelaskan hanya jika setiap planet, yang dibimbing oleh gravitasi matahari, mengobservasi orbit berbentuk elips yang tipis di sekitar matahari. Dengan membuktikan fakta yang mudah dipahami ini hanya salah satu dari prestasi-prestasi Newton yang sangat menakjubkan, yang telah menciptakan teori-teorinya---sejalan dengan asumsi-asumsi mereka--memperoleh status sebagai kebenaran-kebenaran fisika yang absolut. Tapi, beberapa tahun kemudian, satu aspek dari teori-teorinya akan terbukti sangat mengganggu bagi banyak pihak---ia bahkan juga mengganggu Newton sendiri. Ini adalah fakta bahwa gravitasi tampaknya

bertindak di kejauhan dan dengan kekuatan yang sama. Hingga era Newton, masih beredar asumsi bahwa kekuatan-kekuatan harus dikomunikasikan melalui kontak langsung---sebagaimana ketika dua bola yang berbenturan. Tapi, jika gravitasi bertindak di kejauhan, bahkan dalam sebuah ruang hampa udara, ini harusnya tidak ada kaitan dengan materi apapun diantara obyek-obyek yang terlibat. Ini hanya tampak tidak disadari, dan dalam kenyataan, ia memang benar-benar demikian. Baru beberapa generasi kemudian, diperoleh penjelasan yang lebih baik, yaitu teori medan (theory of fields), yang sayangnya tidak dapat kita bahas disini. Teori medan, pada gilirannya, membuat penemuanpenemuan Einstein menjadi mungkin [lihat RELATIVITAS], dan sejak itu pula alam semesta Newtonian menjadi hancur berantakan. Hukum-hukum Newton masih berlaku ketika ia sampai pada situasi interaksi-interaksi fisikawi, termasuk dengan berbagai hal yang mendapat perhatian yang sangat luas. Tapi, alam semesta mekanistik Newton sekarang, diketahui memiliki peluang dan ketidakpastian pada bagian intinya, sementara gambarannya tentang gravitasi telah digantikan oleh ruang-waktu yang dibengkokkan (curved). Yang sangat disesalkan dalam satu cara, karena dunia Newton ini jauh lebih dapat dipahami daripada dunia Einstein dan dunia Heisenberg.

Pergeseran-pergeseran Paradigma

Kaum ilmuwan lebih suka berpikir bahwa mereka memberi kontribusi pada kemajuan yang teratur. Setiap penemuan baru mengoreksi unsurunsur yang tidak esensial, membuat pengetahuan menjadi lebih sempurna dan kebenaran menjadi semakin jelas. Mereka melihat ke belakang pada sejarah ilmu pengetahuan dan mencerna suatu perkembangan secara berkesinambungan, yang ditandai dengan penemuan-penemuan hebat. Tapi, gambaran ini adalah sebuah ilusi, menurut pakar sejarah ilmu Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962). Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah transisi yang lancar dari kesalahan menuju kebenaran, tapi adalah serangkaian krisis-krisis atau revolusi-revolusi, yang diekspresikan sebagai “pergeseran-pergeseran paradigma.” Yang dimaksud dengan “paradigma” oleh Kuhn adalah seperangkat asumsi-asumsi, metode-metode, dan model masalah-masalah yang mendefinisikan untuk suatu komunitas ilmiah apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan penting sekarang dan bagaimana cara yang ditempuh untuk memperoleh jawabannya. (Optik Newtonian dan psikoanalisa Freudian adalah dua contoh yang bagus). Studi-studi Kuhn telah menyingkap dua hal: bahwa paradigma-paradigma itu melekat kuat dan bahwa seseorang menumbangkan yang lain dengan pukulan yang cepat daripada dengan tiupan yang pelan. Kemajuan keilmuan menyerupai pertumbuhan yang tidak sistematis daripada serangkaian konversi---Eureka! (Aku telah menemukan [nya]).

Nilai dari sebuah paradigma adalah bahwa ia fokus pada riset. Tanpa ini, para investigator (mereka yang menguji data secara sistematis) yang berbeda akan mengakumulasi tumpukan data-data yang hampir acak, dan setiap orang akan menjadi terlalu sibuk berupaya untuk membuat berbagai hal yang kacau-balau menjadi sesuatu yang masuk akal dan melawan teori-teori yang saling bersaing untuk membuat kemajuan-kemajuan yang kokoh dan mantap. Yang menjadi masalah dengan paradigma-paradigma adalah bahwa mereka cenderung untuk menjalin “hubungan perkawinan kerabat yang terlalu dekat [inbred]” dan kaku. Kemajuan-kemajuan yang baru menjadi semakin bersifat esoteris dan tidak dapat diakses kecuali oleh para profesional. Kaum ilmuwan yang mempunyai sesuatu untuk ditawarkan, tapi menolak paradigma [yang telah baku, pent.], seringkali dikucilkan dan dianggap sebagai “orang-orang aneh”. Bentangan jalan luas riset yang memberi manfaatmanfaat secara potensial, menjadi terhalang karena mereka tidak bersumber dari premis-premis yang telah diterima. Setiap paradigma, meskipun dapat mensuplai wawasan-wawasan, ia juga menjadi sesuatu yang membutakan: ia mengatur kita untuk melihat beberapa hal dan sekaligus juga menghindarkan kita dari hal-hal lain. Namun demikian, paradigma-paradigma harus bergeser ketika model-model lama, secara konklusif, ditentang oleh bukti baru, adapun contohnya adalah ketika penemuan Galileo bahwa planet Yupiter mempunyai bulan-bulan, membantu meruntuhkan sistem astronomi Ptolemeus. (Tentu saja, banyak pihak, termasuk Gereja, memegang erat-

erat, secara putus asa, pada paradigma lama). Poin sentral Kuhn adalah bahwa paradigma bergeser, secara tiba-tiba dan bersifat mengacaukan, menentang gambaran ideal ilmu pengetahuan sebagai proses kemajuan secara bertahap dan stabil menuju Kebenaran. Sepanjang sebuah paradigma itu masih menganggap baik---selama suatu komunitas ilmiah itu menerima paradigma ini dan selama ia sesuai dengan karakter mereka---riset dan penemuan akan menjadi bersifat bertahap dan kumulatif. Tapi, berbagai hal baru (observasi-observasi yang tak dapat diramalkan dan anomali-anomali) ini belum siap dan belum dapat diasimilasikan oleh paradigma-paradigma ini, setidaknya untuk jangka waktu yang tidak lama. Revolusi-revolusi ilmiah---pergeseran-pergeseran paradigma---bersifat tak terhindarkan, dan perlu, selama teori-teori yang berkuasa dan dominan bersifat tidak lengkap dan utuh atau buta. Apa yang membuat fakta ini menjadi menarik bagi setiap orang, bukan hanya bagi kaum ilmuwan, adalah bahwa pergeseran sebuah paradigma ilmiah seringkali membatasi suatu, mungkin menakutkan, pandangan dunia yang baru. Revolusi Copernican menggeser manusia dari pusat alam semesta dan memaksa dia untuk melihat proses penciptaan, dan tempat dia di dalamnya, dalam cahaya yang baru. Kepler, Newton dan kolega-kolega mereka telah menemukan suatu alam semesta yang mekanis yang berjalan seperti sebuah jam---dimana Tuhan tidak pernah memutar kembali. Relativitas Einstein dan ketidakpastian Heisenberg, meskipun sangat teknis dalam detail-detail mereka, secara perlahan-lahan telah memasuki kesadaran orang-orang awam, dan dunia

ini tampak lebih tidak dapat diprediksi dan lebih acak dari sebelumnya. Bagian yang paling menakutkan dari semua ini adalah bahwa paradigma selanjutnya tidak pernah dapat diramalkan, karena kita selalu melihat masa depan melalui paradigma yang kita miliki.

Dari Sini Menuju Ketidakpastian: Fisika Modern
Relativitas
Relativitas, tidak sama dengan E = mc2. formula simbol Albert Einstein ini hanyalah sebuah bonus dari teorinya yang lebih luas tentang bagaimana berbagai sesuatu itu menampak dari sudut-sudut pandang yang berbeda. Tentu saja, jika ini sesederhana itu, anda tidak akan membaca tentang hal itu, disini. Einstein (1879-1955) sebenarnya memunculkan dua teori relativitas yang disebut “spesial” dan “umum”. (Teori relativitas yang umum mencakup yang spesial sebagai sebuah kasus yang khusus). Kesimpulan-kesimpulan dia yang paling menarik adalah sebagai berikut: • Waktu dan ruang itu bukan kuantitas-kuantitas baku (fixed) yang absolut. Keduanya tampak berbeda bagi banyak orang yang bergerak pada kecepatankecepatan yang berbeda, meskipun jika perbedaan dalam kecepatankecepatan ini kecil, perbedaan ini dalam penampakannya adalah sangat kecil (infinitesimal. Ini adalah esensi dari teori spesial. • Jika anda tidak dapat menjelaskan perbedaan antara dua kekuatan atau peristiwa-peristiwa fisik ini, maka tidak ada perbedaan efektif antara

keduanya. Misalnya, menurut teori relativitas yang umum, tidak ada jalan untuk menjelaskan perbedaan antara sebuah kekuatan yang mengakselerasi dan sebuah kekuatan gravitasional. Dengan demikian, tidak ada perbedaan yang nyata antara akselerasi dengan gravitasi.

Demikianlah, kurang lebih, penjelasannya. Tentu saja, teori-teori ini hadir satu paket dengan matematika, dimana ini membuat para fisikawan merasa senang, tapi, pada esensinya, kemasyhuran Einstein bersandar pada wawasan dia tentang kualitas observasi-observasi dan pengukuran-pengukuran yang subyektif. Saya akan melampaui bagian-bagian tertentu dari formula ini dan mencoba untuk mengklarifikasi wawasan ini. Einstein memulai dengan sebuah ide yang jika ditelusuri akan berujung pada Newton: gerak (motion) adalah relatif. Lebih tepatnya, hukum-hukum fisika terlihat sama apakah seseorang itu sedang berdiri atau sedang bergerak pada kecepatan yang konstan. Katakanlah, anda sedang terbang dalam sebuah pesawat yang stabil mengudara pada ketinggian 30.000 kaki. Anda sebenarnya tidak ingin merasakan gerak pesawat kecuali ada sesuatu yang mengganggunya. Jika anda anda bangkit dari tempat duduk anda untuk mencari sebuah copy dari (majalah) People, anda akan mengupayakan hal yang sama, dan tampak bergerak pada jarak yang sama, seolah-olah pesawat itu sedang diparkir di hanggar (gate). Dalam kenyataan, jika anda tidak tahu secara lebih baik, anda mungkin dimaafkan atas pemikiran, saat anda melihat ke jendela pesawat, bahwa awaan-awan dan permukaan tanah-lah yang sedang bergerak, bukan pesawat. Tentu saja, awan-awan dan permukaan bumi itu sedang bergerak---tapi, dengan kecepatan yang berbeda dengan kecepatan pesawat itu. Ini memunculkan sebuah pertanyaan yang menarik: seberapa cepat sebenarnya pesawat itu bergerak?

Marilah kita katakan bahwa, dengan ketinggian yang relatif dari permukaan tanah, kecepatan pesawat itu adalah 500 mil per jam. Tapi, permukaan itu sendiri juga sedang bergerak, yang didasarkan pada rotasi bumi, dengan kecepatan kira-kira 1.000 mil per jam. Bagi seseorang yang sedang duduk di stasiun ruang angkasa dalam keadaan tidak bergerak dalam hubungannya dengan matahari, ini akan terlihat bahwa anda sedang menempuh kecepatan 1500 mil per jam jika pesawat itu terbang ke arah timur, atau, jika ia terbang ke arah barat, sehingga anda sebenarnya sedang terbang ke arah belakang pada kecepatan 500 mil per jam (sementara bumi ini berputar ke belakang dua kali lebih cepat dari kecepatan itu). Hasil akhir dari semua ini adalah bahwa apa yang terlihat seperti 500 mil per jam dalam satu kerangka acuan tertentu, akan terlihat seperti 1500 mil perjam atau hingga 500 mil perjam, atau 0 dari kerangka acuan yang lain. Yaitu, tidak ada suatu kecepatan yang “absolut”, yang ada hanyalah kecepatan yang relatif. Namun demikian, relativitas menyatakan bahwa jika anda sedang menempuh perjalanan pada kecepatan yang konstan, yang dikaitkan dengan beberapa kerangka acuan lain (kita akan menyebutnya sebagai “sistem” mulai saat ini hingga seterusnya), hukumhukum fisika akan terlihat dan bertindak sama bagi anda sebagaimana ia bertindak dalam kerangka acuan (“sistem”) lain itu. Dengan berasumsi bahwa waktu menjadi situasi yang tidak nyata dimana pesawat anda sedang terbang pfada kecepatan yang stabil melalui ruang yang hampa udara, ini akan semudah men-dribble sebuah bola basket di lorong sebagaimana juga mudah untuk men-dribble-nya di dalam kamar, meskipun demikian, dari sudut pandang yang didasarkan pada permukaan tanah, lantai pesawat itu sedang bergerak dengan kecepatan yang lebih rendah, dibandingkan dengan kecepatan bola itu, pada 500 mil per jam. Ini adalah relativitas “Newtonian”.

Teori Relativitas Khusus
Apa yang tidak diketahui oleh Newton, dan apa yang membuat gambar ini menjadi sangat rumit adalah bahwa tidak peduli pada sistem apa yang melingkupi anda, dan tidak peduli seberapa cepat yang ditempuh jika dikaitkan dengan pihak lain, kecepatan cahaya itu adalah pasti dan tetap, jika kita menolak gravitasi. Sebuah sinar cahaya yang melintasi pesawat anda akan tampak menempuh perjalanan dengan kecepatan yang persis sama dengan kecepatan anda, bagi sang pengamat di stasiun ruang angkasa, dan bagi siapa saja yang sedang mengamati dengan teropong dua lensa dari permukaan bumi. Kecepatan ini---kira-kira 186.000 mil per detik--secara konvensi, ditandai dengan c. Marilah kita membawa diskusi ini turun ke bumi. Anggaplah anda sedang melakukan perjalanan dengan sebuah kereta yang menempuh kecepatan 80 mil per jam. Marilah kita juga, demi kepentingan argumen, bahwa kereta itu tembus pandang (transparan). Jika anda berjalan menuju ke bagian depan kereta itu, dimana anda terlihat seperti menempuh 3 mil perjam, bagi sang pengamat, berdasarkan pada jalur rel yang tampak akan anda tempuh dengan kecepatan 83 mil perjam yang dikaitkan dengan permukaan tanah. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh pemahaman awam dan relativitas Newtonian. Sekarang, bayangkan bahwa sang pengamat ini menyorotkan lampu blitz ke arah jalur rel ini secara lurus searah dengan kereta yang sedang berjalan. Cahaya dari lampu blitz ini melewati kereta ini; pada saat yang sama, ia juga bergerak secara paralel dengan permukaan tanah. Berdasarkan hukum-hukum fisika, jika masinis kereta ini mengukur kecepatan dari cahaya ini saat ia melewati kereta, dia harusnya akan mendekati c. Demikian pula, pengamat kita yang ada di permukaan tanah,

dengan mengukur kecepatan cahaya dari perpektif dia, juga, pastinya akan sampai pada c. Terdapat masalah serius di sini: bagaimana mungkin sesuatu itu melewati sebuah kereta yang sedang bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan kereta itu sendiri sebagaimana halnya ia dikaitkan dengan permukaan tanah? Pikirkan contoh kita sebelumnya: jika anda berjalan menuruni lorong pada kecepatan 3 mph dikaitkan dengan kereta itu, anda harusnya bergerak lebih cepat, jika dikaitkan dengan permukaan tanah---yaitu, 83 mph (atau demikian pula yang akan dikatakan oleh Newton). Mengapa kasusnya menjadi berbeda dengan cahaya? Mengapa ia tidak menampak dari permukaan tanah untuk bergerak melewati kereta pada c + 80 mph? Atau, jika harus menempuh perjalanan pada c jika dikaitkan dengan permukaan tanah, mengapa kemudian ia tidak tampak terlihat oleh orang yang berada di dalam kereta yang bergerak pada c – 80 mph? Disinilah muncul relativitas itu. Sebagaimana telah diketahui, jika anda berjalan melewati kereta pada 3 mph, anda tidak akan terlihat oleh orang-orang yang ada di atas permukaan tanah yang sedang bergerak pada 83 mph, tapi lebih berupa kecepatan yang sedikit lebih rendah. Dalam kasus ini, 80 + 3 tidak sama dengan 83. Satu-satunya waktu dimana waktu tambahan akan bekerja adalah jika anda masih berdiri di atas kereta: dalam kasus ini, anda akan terlihat oleh seseorang yang berada di permukaan tanah, sedang bergerak pada 80 + 0 mph. Pada arah berlawanan yang ekstrim, cahaya bergerak melewati kereta pada c akan terlihat oleh seseorang yang ada di atas permukaan tanah, sedang bergerak pada c, keceptan 80 mph tidak berperan sama sekali. Tapi, bagi gerak apapun pada kecepatan antara 0 dan c, akan terlihat oleh pengamat kita di atas permukaan tanah sebagai sebuah kontraksi dari ruang dan sebuah waktu yang melambat.

Kesimpulan ini penting jika kita sedang memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh kecepatan cahaya yang absolut. Jika waktu dan ruang itu berbeda di atas kereta daripada mereka yang ada di atas permukaan tanah, maka, kita dapat mempunyai kue kita dan memakannya juga. Ketika kecepatan adalah jarak yang telah ditempuh dibagi dengan waktu yang diperlukan, anda dapat menghitung gerak anda di atas kereta pada kecepatan 3 mph dan seseorang yang ada di atas permukaan tanah dapat menghitungnya kurang dari 3 mph hanya jika ukuran mil anda jam anda berbeda dengan ukuran dia. Inilah persisnya kesimpulan utama Einstein ketika dia memformulasikan teori relativitas yang spesial ini dalam sebuah paper di tahun 1905. Dia telah mengadaptasikan ekuasi-ekuasi untuk kompresi waktu dan ruang yang telah dikembangkan oleh fisikawan Belanda, Hendrik Lorentz, yang telah mempelajari elektromagnetisme, dan menerapkannya pada seluruh peristiwa dalam ruang dan waktu. Atau lebih berupa, dia menerapkannya pada peristiwa-peristiwa yang dipandang dari dua sistem yang sedang berak dalam gerak yang sama, konstan, dan linier---sungguh sebuah kasus yang sangat istimewa, dan jarang ditemukan oleh seseorang dalam pengalaman sehari-hari. Teori relativitas yang spesial ini tumbuh berdasarkan pada relativitas Newtonian---ide bahwa hukum-hukum fisika terlihat dan terasa persis sama dalam dua sistem dalam gerak relatif yang konstan (seperti sebuah kereta yang sedang bergerak dalam kecepatan yang stabil di atas permukaan tanah). Tapi, Einstein mengabaikan satu dari hukum-hukum alam yang tampak paling solid: bahwa ruang dan waktu adalah absolut---bahwa satu mil adalah satu mil adalah satu mil dan satu detik satu detik satu detik, tak peduli sistem apa yang menaungi anda, apakah dalam keadaan tidak bergerak atau bergerak pada 186.000 mil per detik.

Dalam kenyataan, apa yang tampa seperti satu mil di atas sebuah kereta yang sedang bergerak, akan terlihat lebih pendek daripada satu mil dari permukaan tanah; dan apa yang tampak seperti satu detik di atas kereta, akan terlihat lebih lama dari satu detik dari sebuah stasiun. Sebuah fakta aneh tentang ini adalah bahwa ia juga bekerja secara sebaliknya: apa yang terlihat seperti satu mil dari permukaan tanah, akan terlihat lebih pendek dari saat berada di atas kereta, dan seterusnya. Jika tidak demikian, anda akan tahu bahwa kereta itu sedang bergerak, dan bukan di atas permukaan tanah, dimana ini bertentangan dengan teori ini. Lalu, Einstein tidak mengatakan bahwa obyek-obyek yang bergerak, secara harfiah, berkontraksi---bahka, katakanlah, sebuah hot dog yang panjangnya satu kaki adalah lebih pendek daripada hot dog dengan panjang dua belas inci di atas sebuah kereta yang sedang bergerak. Ini adalah mustahil, karena relativitas itu berlangsung secara timbal balik: adalah sama bagusnya untuk mengatakan bahwa permukaan tanah itu sedang bergerak sebagaimana halnya dengan mengatakan bahwa kereta itu sedang bergerak, sehingga tidak ada tempat untuk berdiri dan mengatakan: “Disini, sebuah hot dog dengan panjang satu kaki adalah absolut satu kaki panjangnya.” Einstein sedang berbicara tentang kontraksi yang dapat terlihat, yang setara dengan ketidaksepakatan antara dua pihak tentang gerak relatif, ukuranukuran siapakah yang benar. Fakta yang menyedihkan adalah bahwa tak satupun yang benar. Untuk mengukur sesuatu, ini membutuhkan waktu, dan ia juga membutuhkan pengamatan terhadap sesuatu itu, yang mensyaratkan cahaya, yang dengan sendirinya membutuhkan waktu untuk menempuh perjalanan. Dimana anda berada saat anda melihat sesuatu---saat anda menerima informati tentangnya---menentukan kapan anda berpikir ia telah terjadi. Poin dari relativitas spesial ini adalah bahwa tak seorang pun dalam posisi apapun yang dapat pernah berkata: “Peristiwa ini telah

terjadi pada waktu definitif (mempunyai batasan-batasan yang tegas dan tak terbantahkan, pent.) ini dan di tempat definitif ini.”

Teori Relativitas Umum
Kita telah menggoreng seluruh ikan, tapi Einstein bahkan mempunyai ambisi-ambisi yang lebih besar lagi. Dalam teori spesial-nya, dia telah menunjukkan bahwa hukumhukum fisika memegang sistem-sistem yang berseberangan yang sedang bergerak dalam gerak yang sama sepanjang kita mengabaikan gagasan-gagasan tentang waktu yang telah baku dan jarak yang telah baku. Pada tahun 1916, dia membawa relativitas melangkah lebih jauh lagi, dengan “teori umum”nya, yang mengembangkan teori spesialnya untuk mencakup semua sistem apapun, bahkan jika mereka bergerak secara tidak beraturan, secara elips, atau dengan kecepatan yang berubah-ubah dikaitkan dengan sebuah poin acuan yang dipilih. Dia melakukan ini dengan membuktikan bahwa tidak ada basis yang riil untuk membedakan akselerasi dari graviti---mereka merasa dan bertindak secara sama persis (itulah sebabnya, ketika anda menaiki permainan roller coaster, perubahanperubahan dalam kecepatan terasa seperti bertambahnya atau berkurangnya berat). Banyak argumen-argumen subtil (sangat kecil dan halus sehingga sulit untuk dideteksi) selanjutnya---dan anda akan memaafkan saya atas pengabaian mereka disini---Einstein menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika dapat dihasilkan dari sistem apapun, apapun keadaan geraknya, dan itu tidak hanya relatif secara jarak dan waktu, tapi demikian pula akselerasi dan gravitasi, dan dengan demikian, setiap kuantitas yang bergantung pada mereka (seperti kekuatan dan momentum). Dan tidak ada cara untuk menemukan, dan tidak ada basis untuk memilih, satu kerangka

acuan yang akan menghasilkan nilai-nilai yang “benar” tentang ukuran satu mil, satu detik, atau satu pon. Diantara banyak akibat revolusioner dari teori relativitas yang umum ini adalah kesadaran bahwa waktu itu bukan ruang yang independen---sungguh, bahwa waktu terlihat dan bertindak seperti sebuah dimensi spasial, dan yang dapat “dibelokkan” oleh medan-medan gravitasi. Dengan demikian, Einstein tidak membicarakan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dalam ruang pada sebuah poin khusus (dan tidak berkaitan) dalam waktu, tapi lebih berupa peristiwaperistiwa dalam suatu “ruang-waktu berkesinambungan” empat-dimensi. Kesinambungan ini dibelokkan dan dibengkokkan oleh gravitasi; ia menolak hukumhukum geometry Euclidean dan Cartesian yang rapi, yang mengasumsikan suatu homogenitas ruang dan waktu dan suatu alam semesta yang bergerak searah garis lurus. (Seseorang harus menggunakan apa yang disebut dengan “geometri nonEuclidean” terkait dengan fenomena ruang-waktu; Einstein sendiri lebih menyukai geometri yang dikembangkan oleh Gauss). Bahkan, secara lebih radikal lagi, Einstein mempertanyakan gagasan-gagasan tentang “ruang” dan “waktu” ini, yang dia lihat sebagai efek-efek psikologis daripada sebagai “realitas-realitas” alam. Ketika bentuk dari apa yang kita sebut “ruang” (“ruang-waktu” menurut Einstein) bergantung pada gravitasi, yang mensyaratkan benda-benda materi, Einstein memutuskan bahwa ruang dan waktu tanpa materi adalah tak ada artinya. Pernah, ketika diminta untuk menjelaskan makna relativitas, Einstein menjawab: “Ini telah diyakini sebelumnya bahwa jika semua benda-benda materi dilenyapkan dari alam semesta ini, waktu dan ruang akan masih tetap ada. Namun, menurut teori relativitas, waktu dan ruang lenyap bersamaan dengan lenyapnya benda-benda.”

E = mc2
Dan sekarang tentang E = mc2, dimana mayoritas orang menyamakannya dengan relativitas. Sekali lagi, ini hanya sebuah akibat alami dari teori relativitas yang spesial, dimana Einstein sendiri tidak banyak dibuat sibuk dibuatnya. Detail-detail yang menyeramkan mungkin ditemukan dalam sebuah APPENDIKS (lihat, hal. ..), tapi yang disajikan disini adalah sebuah versi yang cepat: teori relativitas yang spesial menyatakan bahwa hukum-hubuk fisika harus terlihat sama bagi dua pengamat dalam gerak konstan yang sama. Diantara hukum-hukum ini adalah hukum konservasi Newton tentang momentum [lihat, hal....). tapi, ketika pengertian momentum adalah massa dikali kecepatan, dan ketika kecepatan akan terlihat berbeda bagi dua pengamat ini, maka relativitas memaksa kita untuk mengambil kesimpulan bahwa benda-benda yang bergerak-lebih cepat harus menampak agar dapat mempunyai lebih banyak massa. Lalu, jika massa bersifat relatif bagi kecepatan, maka, apa yang terjadi pada sebuah obyek ketika kita menambahkan energi kepadanya, bergantung pada seberapa cepat ia bergerak. Energi, dalam bentuk kekuatan, meningkatkan momentum sebuah obyek; berdasarkan pada hukum mekanika Newton, ini hanya berarti bahwa kita meningkatkan kecepatannya, ketika massa diasumsikan sebagai telah baku (fixed). Tapi, Einstein menunjukkan bahwa massa itu tidak pernah diberikan secara absolut, tapi selalu bersifat relatif dan meningkat dengan kecepatan. Jadi, dengan menambahkan energi kepada sebuah obyek bagi semua niat dan tujuan akan meningkatkan massanya. Dalam kenyataan, jika obyek ini terus bergerak hingga mendekati kecepatan cahaya, kita hampir tidak dapat mempengaruhi kecepatannya sama sekali, dan energi ekstra akan mengisi hampir secara utuh untuk meningkatkan massanya. Jadi,

energi, E, harusnya dalam kadar tertentu dapat diubah bentuknya menjadi massa, m. Ini harusnya benar bagi sebuah obyek yang sedang bergerak pada kecepatan cahaya sebagaimana yang lainnya, dan kita tidak pernah dapat membuat sebuah obyek untuk bergerak lebih cepat; karena obyek-obyek ini, energi ekstra adalah sama dengan massa ekstra. Tapi, menurut relativitas, untuk mengatakan obyek ini sedang bergerak pada kecepatan cahaya adalah persis sama dengan mengatakan bahwa ia dalam keadaan tidak bergerak sementara kita bergerak pada kecepatan cahaya. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa cepat sesuatu itu sedang bergerak, massanya dapat diubah bentuk menjadi energi. Faktor proporsional berakhir dengan menjadi kecepatan cahaya dikwadratkan, memberikan formula terkenal Einstein, E = mc2. Artinya adalah bahwa jika kita tidak menamb ah kecepatan dari sebuah obyek, kita dapat menambahkan secara persis E/c2 lebih banyak massa kepadanya dengan memompa energi E. (meskipun, E harus cukup besar untuk membuat suatu perbedaan yang signifikan). Dan, secara timbal balik, kita harus mampu mengubah bentuk massa kembali menjadi energi, oleh faktor yang sangat besar c2. Faktor ini begitu besar yang menghancur-leburkan beberapa atom, memberikan kandungan energi yang sangat besar, dengan akibat bahwa seluruh kota-kota metropolis dapat dihancurkan atau dapat menciptakan peralatan kekuatan nuklir. Einstein tidak pernah, secara tegas, mendesain hasil akhir yang tertentu; dia hanya tertarik dengan ekuasi-ekuasi yang benar. Teknologi telah mengambil bola dan melarikannya.

Sebuah “Lompatan Quantum”
Sejalan dengan paper-paperEinstein tentang relativitas, teori mekanika kuantum ini membantu untuk mengakhiri era di mana fisika bersahabat dan harmonis dengan

akal sehat. Ide Newtonian bahwa partikel-partikel terkecil dari materi harus berperilaku seperti partikel-partikel yang terbesar, dan keyakinan bahwa teori-teori tentang dunia mikroskopik akan dengan mudah bersesuaian dengan visi kita tentang dunia secara luas, telah lenyap. Mekanika kuantum adalah ilmu pengetahuan tentang bagaimana partikelpartikel sub-atomik melakukan perjalanan, mengorbit, dan melompat. (Yang penting, terutama sekali, adalah bagaimana aktivitas semacam ini menghasilkan cahaya). Ide-ide dasar ini, meskipun sangat menakjubkan, muncul dari eksperimeneksperimen sederhana, yang dipimpin oleh Max Planck di sekitar pergantian abad dua puluh, yang melibatkan radiasi cahaya dalam frekuensi-frekuensi (warna-warna) yang beragam oleh obyek-obyek hitam yang panas (hot black objects). Planck sampai pada hasil-hasil yang aneh. Sebelum eksperimen-eksperimen yang dia lakukan, para fisikawan berasumsi bahwa cahaya adalah sebuah bentuk gelombang dari energi, persis seperti suara. Batere-batere dari eksperimeneksperimen telah mendukung asumsi ini, ketika cahaya menghasilkan pola-pola interferensi (gangguan) yang hanya dapat dihasilkan oleh gelombang-gelombang. Namun, hasil studi keseluruhan dari Plank hanya dapat dijelaskan jika cahaya memancar tidak dalam gelombang yang terus-menerus. Tapi dalam ledakan-ledakan kecil dari “gumpalan-gumpalan” seperti partikel, yang dia sebut sebagai “quanta” (bentuk tunggalnya adalah “quantum”). Jika cahaya benar-benar menjadi “quanta”, bagaimana mereka ini dapat dihasilkan? Ketika cahaya adalah energi yang dikeluarkan oleh materi, penghantarannya, pada akhirnya, harus ditelusuri pada pelepasan energi pada tingkat atom. Mekanika ini masih dalam perdebatan, tapi teori sentralnya adalah tentang Niels Bohr, fisikawan Denmark, yang menerapkan teori quantum Planck pada model atomik yang dikembangkan pada tahun 1910.

Berdasarkan model ini, setiap atom adalah seperti sebuah miniatur dari tata surya, dengan nukleus pada posisi matahari dan elektron-elektron pada posisi planet-planet yang mengitari nukleus. Menurut Bohr, elektron-elektron mengitari nukleus sepanjang garis-garis orbit khusus dan baku. Jika kita membombardir sebuah atom dengan energi, kita mungkin “menstimulasi” elektron-elektronnya untuk melompat dari satu orbit ke orbit lainnya, tapi, mereka tidak pernah dapat dibuat untuk bertempat tinggal di suatu tempat diantara itu---dalam kenyataan, mereka bahkan tidak dapat dikatakan “eksis” ditengahnya: mereka lenyap dari satu orbit dan menampak di orbit lain. Dan begitu kita memindahkan stimulus eksternal, elektron-elektron ini akan “melompat” kembali ke orbit-orbit asal mereka, dengan melepaskan energi dalam proses perpindahan itu. Inilah “lompatan quantum” yang terkenal itu, yang pertama kali digambarkan oleh Bohr pada tahun 1913: ketika sebuah elektron melompat dari sebuah orbit terluar menuju orbit yang lebih dalam, energi dilepaskan dalam bentuk sebuah quantum cahaya (disebut dengan sebuah “photon”). Perubahan tiba-tiba dan tak terduga dalam energi, dan fakta bahwa elektron-elektron ini melompat secara spontan dari satu posisi menuju posisi lain (yang tidak berdekatan) tanpa melewati, secara fisik, tengah-tengahnya, menjelaskan penggunaan umum dari “lompatan quantum” untuk memaknai “perubahan radikal dan tiba-tiba dari situasi-situasi”. (Para fisikawan lebih menyukai istilah “quantum jump” ketika menggambarkan teori ini). Adapun yang menjadi masalah dengan teori Bohr ini adalah bahwa, sementara teori ini memperhitungkan keragaman dari fenomena yang dicermati, ia tidak pernah dapat dibuktikan melalui observasi. Anda tidak dapat meletakkan sebuah atom di bawah sebuah mikroskop dan mengamati elektron-elektronnya berlompatan. Dan, dalam kenyataan, sejumlah metode-metode dan teori-teori

saingan telah berkembang sebagai respons atas riset Bohr, yang paling menuntut perhatian adalah Copenhagen Institute for Theoretical Physics, dimana Erwin Schrodinger mengemukakan sebuah reinterpretasi (penafsiran ulang) tentang model atomik. Kisah ini akan dilanjutkan pada sub-judul “Prinsip Ketidakpastian”.

Prinsip Ketidakpastian
Dari ketidakpastian ia muncul, dan menuju ketidakpastian ia akan kembali. Yang sebenarnya dimaksudkan oleh Werner Heisenberg tentang “prinsip ketidakpastian” adalah bergantung kepada siapa yang anda tanya. Tanyakan kepada ratusan orang dan anda akan memperoleh 60 tatapan (membelalak) hampa, 30 angkat bahu (tanda tak tahu, pent.), dan 10 versi jawaban “ Kita mengubah dunia ini dengan mengobservasinya,” yang tidak cukup benar. Ironinya adalah bahwa Heisenberg berharap untuk dapat mereduksi kebingungan yang dihasilkan oleh teori-teori fisika modern---khususnya mekanika quantum. Pada dasarnya, yang ingin dikatakan oleh Prinsip Ketidakpastian ini adalah bahwa tidak ada cara untuk mengukur secara tepat properti-properti (perlengkapan) paling esensial dari perilaku sub-atomik. Atau lebih tepatnya, semakin pasti dan akurat anda mengukur satu properti---katakanlah, momentum dari sebuah elektron---semakin kurang akurat anda dapat mengetahui yang lain---dalam kasus ini, posisinya. Semakin pasti satu properti, maka semakin tidak pasti properti yang lainnya. Heisenberg telah menemukan fakta yang tidak mengenakkan ini dalam upaya untuk berinteraksi dengan teori-teori cahaya yang sedang bersaing ini. Menurut teori quantum Niels Bohr, yang lebih disukai oleh Heisenberg, cahaya dilepaskan energinya (emitted) secara tidak berkesinambungan oleh atom-atom dalam

gumpalan-gumpalan ketika elektron-elektron membuat sebuah “lompatan quantum.” Menurut fisikawan lain seperti Erwin Schrodinger (tentang cat fame), teori quantum gagal karena ia tidak dapat menjelaskan cara-cara dimana cahaya berperilaku seperti sebuah gelombang. Heisenberg sendiri merasa tidak puas dengan teori Bohr, karena ia disandarkan pada sebuah gambar tentang atom yang tidak pernah dapat dibuktikan. Tapi, dia memikirkan gambar saingan dari Schrodinger adalah lebih salah lagi, dan untuk membuktikannya, dia merancang untuk menguji secara lebih teliti apa yang dapat kita katakan secara pasti tentang elektron-elektron. Dalam proses, dia menguji dengan cermat pengukuran-pengukuran umum---posisi, kecepatan, momentum, energi, dan waktu---yang digunakan oleh para fisikawan dalam mengemukakan teori-teori mereka. Pada tahun 1927, dia sampai pada sebuah kesimpulan yang mengejutkan: bahwa teori quantum dan teori gelombang saingannya, sebagaimana yang kemudian diformulasikan, ternyata dipenuhi dengan ketidakpastian-ketidakpastian yang tak mungkin dilenyapkan. Heisenberg mulai berpikir keras tentang proses observasi ilmiah yang sama ini, yang mungkin secara umum dapat diandalkan ketika berhubungan dengan obyek-obyek sehari-hari, tapi kemudian menemui kesulitan-kesulitan sangat serius ketika dia sampai pada penelitian partikel-partikel sub-atomik. Poin pertama dia adalah ini: anda tidak dapat mengobservasi posisi dari sebuah elektron kecuali dengan memantulkannya. Dengan kata lain, anda harus memperkenalkan sebuah bentuk radiasi, yang mempunyai energinya sendiri, dan energi ini akan mengganggu jalan elektron hingga tingkat yang lebih besar atau lebih kecil. Dalam kenyataan, semakin tepat dan akurat anda ingin untuk menentukan posisi elektron, maka semakin anda harus mengganggu kecepatannya (dan dengan demikian momentumnya), karena anda harus menambahkan energi lebih. Secara

timbal balik, jika ingin untuk mengukur secara tepat dan akurat momentum elektron ini (yang diekspresikan dalam kecepatannya), anda harus meminimalisir gangguan dari radiasi. Tapi, dengan melakukan yang demikian ini, anda membuatnya menjadi tidak mungkin untuk menentukan posisi elektron dengan tepat. Untuk meringkas pembahasan, radiasi dari energi yang sangat besar ini akan memberi anda data yang lebih akurat tentang dimana elektron berada, sementara pada saat yang sama menghancurkan bukti dari kecepatannya yang awal. Radiasi dari energi rendah ini akan memberi anda data yang lebih akurat tentang seberapa cepat elektron ini bergerak, sementara pada saat yang sama menyamarkan data tentang letak keberadaannya. Bahkan yang lebih aneh, tindakan yang sama dalam mengobservasi posisi sebuah elektron, akan membuatnya “berperilaku” lebih seperti sebuah partikel, sementara tindakan untuk mengukur energinya akan membuatnya “berperilaku” lebih seperti sebuah gelombang. Heisenberg mengupayakan sedikit formula yang menarik untuk mengekspresikan fakta-fakta yang membuat frustrasi ini, ide sentralnya adalah bahwa jika anda menggandakan ketidakpastian dari posisi dengan ketidakpastian momentum, produknya tidak pernah dapat menjadi lebih kecil daripada sejumlah hal positif tertentu yang disebut “Konstanta Planck”. Yaitu, ketidakpastian tidak pernah dapat direduksikan ke angka nol, dan semakin bagus anda mengukur satu kuantitas, maka semakin tidak pasti kuantitas yang lain. Poinnya bukan bahwa pengetahuan kita tentang partikel-partikel atomik itu bersifat tidak pasti karena teknik pengukuran kita yang tidak cukup bagus. Poinnya lebih berupa: tidak ada teknik apapun yang pernah dapat menaklukkan ketidakpastian fundamental ini atau “kesamaran” dalam perilaku quantum. Elektron-elektron, dalam kenyataan, mungkin saja berperilaku persis seperti poinpoin yang sedang bergerak pada kecepatan-kecepatan yang tepat, tapi kita tidak akan

pernah mampu untuk tahu; ini sepertinya mereka tidak dapat dipahami, jadi proposisi-proposisi (usul dan saran) untuk memberi pengaruh adalah tidak bermakna dan tidak bermanfaat. Dalam istilah-istilah praktis, apa yang disarkankan oleh prinsip ketidakpastian adalah bahwa anda tidak dapat memperlakukan partikel-partikel atau quanta seolah-olah mereka adalah seperti obyek-obyek yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari---obyek-obyek yang dapat kita genggam dengan jari tangan kita dan berkata: “Disini, obyek ini sekarang, dan disana, kemana ia akan menuju.” Aspek-aspek esensial dari sebuah partikel (posisi, kecepatan, momentum, energi) tidak pernah dapat secara persis diobservasi segera---tindakan observasi itu sendiri, secara tak terhindarkan dan tak dapat diperoleh kembali, mendistorsi sekurangkurangnya satu dari kuantitas-kuantitas ini. Hal terbaik yang dapat kita harapkan adalah untuk membuat pengukuran-pengukuran dan membuat prediksi-prediksi yang bersifat mungkin atau bersifat statistik. Gagasan-gagasan yang tampaknya kalah ini membangkitkan amarah dari beberapa fisikawan hebat, fisikawan yang paling terkenal di kalangan mereka adalah Albert Einstein. Dia selalu menolak dan menyangkal.

“Tuhan Tidak Bermain Dadu”
“Bagaimanapun juga, aku merasa yakin bahwa Dia tidak bermain dadu.” Albert Einstein, letter to Max Born, 1926

Bahkan para pemikir yang paling radikal dan inovatif pun, setelah mempelopori sistem-sistem pemikiran yang baru, tidak pernah sepenuhnya mendobrak sistem

pemikiran yang lama. Sigmund Freud, pada intinya, masih tetap seorang ilmuwan dengan watak kuat abad 19, dan demikian pula, dalam banyak hal, dengan Albert Einstein. Einstein, dengan membantu memformulasikan partikel ganda/model gelombang dari entitas-entitas sub-atomik, telah memberi kontribusi sebesar para ilmuwan lain bagi lahirnya mekanika quantum. Tapi, di proses akhir, dia tidak mampu untuk menerima kesimpulan-kesimpulannya. Ketika dia berkomentar, dalam sebuah surat kepada koleganya Max Born, bahwa “Dia [Tuhan] tidak memainkan dadu,” Einstein sedang menolak validitas dari prinsip ketidakpastian dan semua klaim lain bahwa faktor kebetulan (unsur-unsur yang tak diketahui dan tak terduga) memainkan peranan yang sangat penting dalam peristiwa-peristiwa fisika. Dia meyakini bahwa alam semesta ini dipenuhi hukum-hukum semesta dan penuh tatanan; apapun Tuhan itu, bahkan jika Dia hanya metafor bagi keterbentangan ruang dan waktu, Dia adalah Newtonian yang baik. Esensi dari fisika Newtonian adalah fisika deterministik. Dengan memberikan suatu deskripsi lengkap tentang sebuah situasi atau sistem---obyek-obyeknya, massa-massanya, energi keseluruhan, dan lain-lain---secara prinsip anda harusnya mampu untuk memprediksi dengan tepat dan akurat tentang bagaimana situasi itu akan berubah suatu saat nanti. Misalnya, jika anda mengetahui seberapa cepat sebuah bola dilemparkan ke arah orang yang memukul bola (dalam permainan baseball), berapa banyak energi yang dikerahkan oleh si pemukul bola itu saat mengayunkan tongkat pemukul, pada posisi dan waktu apa dia harus memukul bola itu, dan bagaimana situasi angin yang sedang berhembus, anda harus mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan dia akan memukul bola itu. Tapi, Werner Heisenberg---di mana Born bersetuju dengannya---telah melakukan serangan sangat serius atas pandangan dunia Newtonian. Kesimpulan

logis dari mekanika quantum, kata Heisenberg, adalah bahwa sebab dan akibat, diinterpretasikan secara ketat, adalah gagasan-gagasan yang hampa. Heisenberg menunjukkan bahwa, setidaknya pada tingkat sub-atomik, anda tidak pernah dapat mengetahui semua kondisi-kondisi awal dari sebuah situasi---maksimal, anda akan banyak berurusan dengan kemungkinan-kemungkinan dan statistik-statistik. Oleh karena itu, perilaku atomik tidak bisa ditentukan secara pasti dan kaku: ia tidak dapat diprediksikan. Heisenberg melangkah lebih jauh lagi dengan menolak validitas gagasan klasik tentang kausalitas; dalam paper-nya yang ditulis pada tahun 1927, dia mempublikasikan prinsip ketidakpastian (the uncertainty principle), dia memberi stigma sebagai “tidak berguna dan tidak bermakna” pada asumsi yang menyatakan bahwa “dibalik semesta persepsi yang statistikal, tersembunyi disana sebuah dunia yang “riil” yang dikuasai oleh hukum kausalitas.” Ketika kita tidak pernah menyadari atau mengukur kondisi-kondisi sub-atomik, dan ketika kita bahkan tidak dapat mengetahui jika hukum kausalitas berlaku, gagasan ini menjadi sangat terabaikan. Ide ini ditentang oleh Einstein, yang tidak mau disalahkan hanya karena dia telah memformulasikan relativitas. Einstein telah menghancurkan keyakinan bahwa terdapat poin acuan yang absolut bagi pengukuran-pengukuran fisika; tapi, ketika terjadi jalinan kontak diantara sistem-sistem yang relativistik, dia menawarkan fomula-formula yang pasti dan baku yang menghasilkan serangkaian acuan yang kaku. Alam semesta Einstein mempunyai sebuah bentuk yang definitif (mempunyai batasan-batasan yang tegas) dan meski bersifat relativistik, ia berkesinambungan dan dapat diprediksikan. Singkatnya, dia tidak dapat membayangkan sebuah dunia yang hanya dapat dideskripsikan dalam ekspresi-ekspresi statistik yang samar. Einstein berjuang sekuat tenaga selama beberapa tahun untuk meyakinkan kepada para pendukung teori quantum bahwa asumsi-asumsi mereka harusnya salah, dan bahwa faktor kebetulan yang tak terduga, tidak berperan penting dalam

peristiwa-peristiwa fisika. Kekalahannya yang sangat menyedihkan, sebagian diilhami oleh fakta bahwa karya-karyanya didasarkan pada alam semesta yang bersifat kausal dan berkesinambungan---ruang-waktu “kontinuum”---telah ditolak dan dinyatakan tidak benar oleh interpretasi Heisenberg tentang teori quantum. Dan dibalik karya itu adalah sebuah pemahaman mendalam tentang tatanan universal dan kontinuitas. Kualitas-kualitas ini, daripada suatu sosok ilahiah yang maha kuasa, adalah apa yang dipahami oleh Einstein sebagai Tuhan. (Mohon dicatat bahwa dia tidak menulis “Tuhan tidak memainkan dadu dengan alam semesta” tapi “Dia tidak memainkan dadu.”). “Saya tidak meyakini Tuhan personal,” kata Einstein, “dan saya tidak pernah mengingkari ini tapi telah mengekspresikannya dengan jelas. Jika terdapat sesuatu di dalam diri saya yang dapat disebut agama, maka ini adalah ketakjuban yang tak terbatas terhadap struktur dunia ini sejauh ilmu pengetahuan kita dapat menyingkapkannya.” Apa yang tidak dapat dibayangkan oleh Einstein adalah suatu alam semesta dimana rangkaian bangunan dasarnya seperti elektron-elektron yang mengembara dengan bebas, tidak dapat dibatasi oleh hukum (lawless), dan terbebas dari kausalitas. Alam semesta semacam ini tidak mempunyai desain atau koherensi yang menyeluruh. Apapun yang terjadi, Einstein masih tetap benar, sejalan dengan klaimklaim mekanika quantum yang semakin sulit dipahami, yang terus menjadi bahan perdebatan hingga sekarang ini.

Apakah Logika Anda Bersifat Samar?: Matematika Baru

Paradoks Russel (Meta Bahasa)

Seseorang datang mendekati anda di jalanan dan mengatakan, “Apapun yang aku jelaskan kepada anda adalah kebohongan. Apakah dia sedang menjelaskan kebenaran? Ini adalah sebuah versi dari “paradoks pembohong dari Kreta,” disebut demikian karena ia mengikuti jejak kecerdasan Epimenides, dari Kreta, yang mengatakan bahwa “semua warga Crete adalah pembohong.” Tak seorangpun yang tahu apa yang mesti dilakukan dengan tekateki yang memusingkan ini hingga filosuf Inggris, Bertrand Russel (18721970) menghadapi paradoks serupa dalam ilmu logika. Paradoks versi Russel ini muncul dalam upayanya tentang penemuan bahwwa “kebenaran” matematis itu bukanlah apa yang pernah kita pikirkan sebelumnya. Beberapa abad sebelumnya, Euclid telah mengajukan lima aksioma geometri, dan setiap orang menerima semua aksioma itu karena mereka tampaknya dapat diterapkan dalam realitas. Tapi, di abad sembilan belas, telah ditunjukkan bahwa geometri-geometri sama valid dan konsistennya, bisa dibangun dari apa yang tampaknya sebagai asumsi-asumsi “palsu”. Misalnya, Euclid meyakini pendapat bahwa sebuah garis lurus dan sebuah titik yang bukan pada garis itu, hanya satu garis lain yang dapat ditarik melalui titik itu sehingga akanmenjadi paralel dengan garis pertama. Asumsi seperti ini, secara intuitif, tampaknya benar. Tapi, jika kita

mengajukan postulat yang bertentangan bahwa ada lebih dari satu garis paralel, yang dapat ditarik dari titik itu, atau, pada sisi lain, bahwa tidak ada garis paralel yang dapat ditarik, kita masih dapat memperoleh geometri dengan logika yang tepat. (Geometri-geometri semacam ini disebut “non-Euclidean”). Premis-premis ini tidak lagi bersifat “benar” atau “salah” daripada premis Euclid, setidaknya dengan standar pembuktian yang ketat; sungguh, teori relativitas Einstein membutuhkan geometri non-Euclidean. Sebagaimana dengan geometri, demikian pula dengan ilmu matematika dan semua cabang matematika. Jika validitas matematika dapat dipastikan, maka, kita harus melihat hal lain selain intuisi, pemahaman awam (common sense), atau pengalaman praktis. Untuk menempatkan konsep-konsep matematika yang meragukan di atas dasar pijakan yang lebih pasti, pikir Russel, yang dibutuhkan oleh seseorang hanyalah menemukan komponen-komponen sederhana darimana mereka dikonstruksikan. Komponen-komponen ini bersandar pada logika, yang prinsip-prinsipnya adalah tentang semua hal yang bersifat pasti. Oleh karena itu, yang ingin dilakukan Russel adalah menganalisa aritmatika, secara menyeluruh, menjadi gagasan-gagasan yang dapat diterima secara logis. (Kebanyakan matematika dapat disumberkan dari aritmatika murni). Bersama dengan seorang pakar matematika Alfred North Whitehead, dia mempersembahkan tiga volume Principia Mathematica (1910-1913) atas upayanya yang sistematis ini. Yang menjadi batu sandungan pertama adalah tiga istilah aritmatika yang tak dapat didefinisikan: “Nol [zero]”, “angka [number]”, dan

“suksesor [yang mengikuti setelahnya]” (sebagaimana dalam pernyataan, “angka 1 adalah kelanjutan dari nol). Setiap proposisi aritmatika lain begitu mengikuti tiga istilah ini menjadi terdefinisikan. Terhadap tujuan ini, Russel berpaling pada logika tentang “kelas-kelas” atau set-set6, yang merupakan mata pisau yang mengemuka dari matematika teoritis. Russel berpikir bahwa dia dapat mendefinisikan baik “nol” dan “angka” dengan konsep logis dari sebuah set dari set-set , atau sebuah “kelas dari kelaskelas”. Tapi, sebagaimana telah diketahui, konsep ini sama sekali tidak berjalan; ia mengarah pada kontradiksi-kontradiksi dan paradoksparadoks, bahkan mengarah pada logika semacam paradoks pembohong dari Kreta. Masalah-masalah dimulai ketika kita mencoba untuk memperlakukan kelas-kelas dengan cara yang sama dengan obyek-obyek yang mereka cakup. Dalam banyak kasus, perbedaan ini jelas dan mudah dipahami. Pikirkan tentang enam pack bir sebagai sebuah set atau “kelas” dari botol-botol bir; mudah dipahami enam pack bir ini bukanlah satu botol bir, dan enam pack bir tidaklah dapat mengandung enam pack bir lainnya. Namun, sebuah kasus tentang bir ini mungkin saja mengandung empat per enam packs, yang membuatnya sebuah “kelas dari kelas-kelas: (suatu set dari empat per enam packs, yang diri mereka sendiri adalah set-set). Pertanyaannya adalah apakah terdapat kurang dari sebuah perbedaan antara suatu misal dan suatu enam-pack daripada terdapat antara suatu enam-pack dan satu botol bir. Pada akhirnya, satu misal dan suatu enam-pack ini adalah kelas-kelas, sehingga mereka mungkin mempunyai sifat-sifat yang serupa.
6

Set = Sekelompok orang atau benda dari jenis yang sama dan menjadi milik bersama.

Disinilah dimana paradoks itu muncul. Sebuah set dari benda-benda fisik tidak dapat mengandung dirinya sendiri, ketika suatu set itu bukanlah sebuah benda fisik. Misalnya, sebuah kotak dari botol-botol, tidak mengandung dirinya sendiri, ketika sebuah kotak bukanlah sebuah botol. Hal yang sama bahkan dapat dikatakan tentang set-set tertentu tentang set-set. Ambil contoh kelas dari kelompok-kelompok etnik di California. Masing-masing kelompok, dalam dirinya sendiri adalah sebuah set---set orang-orang Latin, set orang-orang China, set orang-orang Afro-Amerika, set orang-orang Eropa-Amerika, dan lain-lain. Tapi, set dari kelompokkelompok etnik ini dalam dirinya sendiri bukanlah sebuah kelompok etnik, jadi, ia tidak mengandung dirinya sendiri. Demikian pula, set dari semua kucing, tidak mengandung dirinya sendiri, ketika ia bukanlah seekor kucing. Tapi, bagaimana dengan set dari semua yang bukan kucing? Apakah sesuatu itu adalah seekor kucing atau bukan, dan suatu set ini bukanlah sebuah kucing: oleh karena itu, set dari semua non (yang bukan)-kucing ini harus mengandung dirinya sendiri. disinilah suatu contoh yang bahkan lebih sederhana: set dari semua setset. Ketika set dari semua set-set ini adalah sebuah set, demikian pula, ia juga harus mengandung dirinya sendiri. disinilah dimana sesuatu yang menghibur bermula. Ketika suatu set, baik yang mengandugn dirinya sendiri atau bukan, kita mungkin membagi semua set-set yang mungkin ini ke dalam dua kelompok atau kelas-kelas: kelas dari set-set yang tidak mengandung diri mereka (sebutlah ini N, untuk “tidak”) dan kelas dari set-set yang mengandung diri mereka sendiri (sebutlah ini Y untuk “Ya”). Set dari botol-

botol bir termasuk dalam N, sebagaimana juga set-set dari kucing-kucing dan set-set tentang kelompok-kelompok etnik di California. Set-set seperti set dari semua set-set dan set dari non (yang bukan)-kucing, termasuk dalam Y. Seseorang mendekati anda di jalanan dan mengatakan: “Set N mengandung dirinya sendiri.” Apakah anda percaya kepadanya? Ini adalah paradoks Russel, yang menyalahkan upaya apapun untuk mendasarkan aritmatika pada logika tentang set-set. Jawabannya adalah, jika anda berpikir tentangnya, bahwa tidak ada jawaban: kita telah sampai pada suatu kegagalan logika. Karena jika N mengandung dirinya sendiri, maka N adalah berdasarkan definisi sebuah set yang tidak mengandung dirinya sendiri. tapi, jika kita berasumsi bahwa N tidak mengandung dirinya sendiri, maka ini adalah sebuah set yang tidak mengandung dirinya sendiri, jadi, ia harus dimasukkan ke N apapun yang terjadi. Russel menyadari bahwa masalahnya disini adalah memperlakukan semua set-set yang sangat mirip, karena ini adalah tentang bagaimana kita mendapati diri kita dibuat ruwet oleh dalam isu tentang set-set yang dapat mengandung diri mereka sendiri. untuk menghindari malu semacam ini, dia mengajukan pendapat bahwa set-set seharusnya dipertimbangkan menurut apa yang dia sebut sebagai “tipe” mereka. Suatu set tentang obyek-obyek yang jelas adalah tentang tipe paling rendah (paling mendasar)-----sebutlah ia suatu set “tipe I”. Set-set semacam ini mungkin mengandung hanya obyek-obyek, bukan set-set yang lain. Di urutan selanjutnya adalah set-set “tipe 2”, yang mungkin mengandung obyek-obyek tapi juga set-set tipe I. Set dasar dari set-set

anda (seperti kotak botol-botol kita) adalah suatu set tipe 2; ia tidak pernah dapat mengandung dirinya sendiri, ketika ia hanya mengandung set-set dari tipe yang lebih rendah. Lebih tinggi lagi adalah set-set tipe 3, yang mungkin mengandung obyek-obyek, set-set tipe I, dan juga set-set tipe 2. Demikian pula, set-set ini tidak pernah dapat mengandung diri mereka sendiri. Dan seterusnya. Begitu perbedaan-perbedaan semacam ini telah diberikan, pertanyaan tentang apakah sebuah set mengandung dirinya sendiri menjati tidak bermakna. Russel memikirkan bahwa suatu logika yang serupa, dapat memperjelas paradoks-paradoks tentang bahasa seperti paradoks pembohong dari warga Creta. Meskipun, dia tidak menggunakan istilah ini, apa yang pada dasarnya dia ajukan adalah konsep tentang “metabahasa”, bahasa yang membuat suatu pernyataan tentang dirinya sendiri. kita mungkin menyebut set tipe dasar I hanya suatu “set” yang sederhana dan jelas, dan menyebut set tipe 2 yang mencakupnya sebagai “metaset”. Demikian pula, kita dapat menyebut pernyataan-pernyataan tentang obyek-obyek atau hubungan-hubungan yang sederhana, seperti “kucing ada di atas karpet”, hanya sekadar “bahasa yang jelas dan sederhana” (atau “bahasa obyek”). Pernyataan-pernyataan yang mengacu pada bahasa yang sederhana, maknanya, atau kebenarannya, namun, bukanlah bahasa yang sedrhana tetapi “meta-bahasa”. (Dan bahasa tentang me-bahasa adalah meta-meta-bahasa”). Untuk menghindari paradoks pembohong dari Creta, yang harus anda kerjakan adalah memisahkan meta-bahasa dari bahasa dan berhati-hati untuk tidak memperlakukan kebenaran-kebenaran tentang seseorang sebagai

kebenaran-kebenaran tentang orang lain. Paradoks-paradoks seperti “Apa saja yang aku katakan adalah suatu kebohongan” harus disingkirkan ke wilayan tentang hal-hal yang tidak masuk akal, ketika mereka mencoba untuk menyetarakan bahasa dengan meta-bahasa, dengan mendobrak hirarki dan melilitkan bahasa kembali pada dirinya sendiri. Namun, dengan menggenggam bahasa dan meta-bahasa secara terpisah adalah jauh lebih sulit daripada tampaknya. “Kalimat sebelumnya mempunyai 13 kata” adalah contoh sederhana dan jelas dari metabahasa, yang juga terjadi sebagai benar adanya. Tapi, cobalah pernyataan yang lain. “Paragraf ini mempunyai delapan kalimat”. Yang membuat sulit dengan pernyataan meta-bahasa ini adalah bahwa ia memperhitungkan dirinya sendiri sebagai satu dari kalimat-kalimat itu---yaitu, ia mengacu bukan hanya pada bahasa sehari-hari yang biasa, tapi juga mengacu pada meta-bahasa. Apakah ia, dengan demikian adalah sebuah pernyataan meta-meta-bahasa? Dan kemudian apakah pertanyaan terakhir itu sebagai meta-meta-meta-bahasa? Jadi, akankah fakta bahwa paragrap ini mempunyai delapan kalimat menjadi suatu pernyataan meta-meta-metameta-bahasa? Tidak menjadi masalah. Russel hanya concern dengan matematika dan tidak concern pada bahasa sehari-hari. Tapi, bahkan pendekatannya yang telah ditingkatkan kualitasnya terhadap logika matematika tidak cukup dikembangkan dengan lebih baik, bahkan setelah dia mengakhiri teori set dan menggabungkan gagasan-gagasan yang tampaknya lebih dapat diandalkan dari logika proposisional. Ketika ia telah berakhir, anda tidak dapat memperoleh upaya pengacuan-diri atau menyebarkan yang

berdasarkan pada sistem ini: selalu ada sebuah paradoks pembohong dari Creta yang bersembunyi dalam aksioma-aksioma. Paradoks yang tersembunyi dalam Principia Whitehead dan Russel telah menjadi jelas delapan belas tahun kemudian ketika seorang pakar matematika Austria mengembalikan paradoks Russel untuk menentang Russel.

Teorema Tidak Lengkap Godel
Bagi setiap ‫-ש‬konsisten kelas rekursif (yang berulang) K dari formula yang ada, sesuai dengan tanda-tanda-kelas r (class-signs r) yang rekursif, yang semacam ini bukanlah v Gen r tidak juga Neg (v Gen r) menjadi milik Flg (k) (di mana v adalah variabel bebas dari r). Kurt Godel, “On Formally Undecidable Propositions in Principia Mathematica and Related Systems I” (1931)

Jika anda jadi bingung setelah membaca kutipan di atas, bergabunglah dengan klub. Bahkan banyak dari pakar matematika yang tidak dapat memahami respons dan jawaban Kurt Godel, yang dipublikasikan tahun 1931, atas karya hebat Whitehead dan Russel tentang logika simbolik, Principia Mathematica. Sebuah kesimpulan cepat tentang respons Godel adalah sebagai berikut: sistem pemikiran formal apa saja yang kompleks, seperti logika standar atau aritmatika, adalah pasti tidak lengkap. Dalam istilah yang sedikit lebih pasti: diberikan sebuah angka yang terbatas tentang asumsiasumsi elementer (“aksioma-aksioma”) dan aturan-aturan untuk

mendeduksi proposisi-proposisi dari mereka, anda akan selalu, jika aksioma-aksioma itu konsisten, dapat menghasilkan setidaknya satu pernyataan yang benar yang tidak dapat dibuktikan oleh sistem itu. Intisari yang lebih luas dari Godel adalah bahwa sistem-sistem tanda yang formal semacam aritmatika murni tidak pernah dapat digunakan untuk membuktikan kelengkapan atau konsistensi mereka sendiri. (Sebuah sistem yang “lengkap” akan menghasilkan semua pernyataan-pernyataan yang benar; sebuah sistem yang “konsisten” tidak akan menghasilkan kontradiksi-kontradiksi). Menambahkan (melengkapi) atau memperluas sistem tidak pernah dapat memperbaiki dan menolong situasi ini; kita harus melihat di luarnya untuk meyakinkan kembali. Tapi, kemudian, kita harus menunjukkan bahwa metode-metode luar itu, dalam dirinya sendiri adalah dapat diandalkan, yang tampaknya bahkan menjadi lebih sulit. “Teorema Tidak Lengkap” dari Godel dan pembuktiannya bersifat sangat abstrak dan sangat rumit, tapi dengan banyak terobosanterobosan, saya dapat membahas hal-hal yang esensial. Jika anda pernah mempelajari geometri, anda setidaknya akan menjadi akrab dengan aksioma-aksioma---yaitu, asumsi-asumsi dasar yang digunakan untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan yang benar. Euclid telah membangun geometrinya di atas landasan lima aksioma, meskipun di abad terakhir atau dekat dengan itu, pembuktian diri mereka dipertanyakan. Contoh-contoh tentang aksioma-aksioma dalam aritmatika mencakup “nol [zero] adalah sebuah angka” dan “sebuah angka adalah

setara dengan dirinya sendiri.” sementara kita menganggapnya benar tanpa sikap kritis, sebagai sesuatu yang tidak bisa dibuktikan. Hingga tingkat tertentu, para ilmuwan dan para filosuf Aristotelian telah berupaya untuk memperluas keberhasilan Euclid ke bidang-bidang pengetahuan lain. Dengan seperangkat aksioma-aksioma dan sebuah logika deduktif, mereka berharap, seseorang dapat menerima atau menolak hipotesa-hipotesa dengan kepastian yang absolut dan pada akhirnya menghasilkan semua kebenaran-kebenaran yang mungkin. Tapi, dengan kemunculan metode eksperimental, ilmu pengetahuan alam menghentikan mimpi ini, dengan meninggalkannya menjadi matematika murni. Dan terdapat beberapa keberhasilan yang layak dicatat: di akhir abad sembilan belas, Gottlob Frege dan Giuseppe Peano, telah mengembangkan sistem-sistem notasi yang mempersatukan matematika dan logika, dan pada tahun 1910-an, Whitehead dan Russel, akhirnya, tampaknya, merancang aritmatika pada basis aksiomatika baku yang sama sebagaimana geometri Euclidian. Namun, keberhasilan mereka hanya berumur pendek. Apa yang diharapkan oleh Whitehead dan Russel untuk mengukuhkan sebuah sistem, dengan melibatkan sebuah angka kecil dari aksioma-aksioma dan aturan-aturan tentang deduksi, keduanya adalah bersifat konsisten dan lengkap. Sebuah sistem bersifat konsisten. Jika pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan tidak dapat diasalkan (diderivasikan) di dalamnya. Yaitu, jika anda dapat “membuktikan” (mendeduksikan) “teorema” (formula) “2 + 2 = 4”, maka anda tidak pernah dapat membuktikan teorema yang bertentangan, “2 + 2 ≠ 4”.

Aksioma-aksioma awal Whitehead dan Russel, tampaknya bersifat konsisten, dengan memberikan aturan-aturan tentang deduksi, dan untuk sekarang ini, kita menerima sifat konsisten ini begitu saja tanpa ada sikap kritis. Namun, kita dihadapkan dengan pertanyaan tentang apakah sistem mereka itu lengkap---yaitu, apakah ia dapat menghasilkan semua formula aritmatika yang benar, dan apakah semua formula-formula aritmatika yang benar dapat dibuktikan dalam sistem ini. Pertanyaan yang sangat sulit inilah yang menyibukkan Godel, dan yang coba dijawabnya dalam paper-nya “On Formally Undecidable Propositions.” (Tentang Proposisiproposisi yang Tidak Dapat Diputuskan Secara Formal). Sekali lagi, apa yang telah dibuktikan oleh Godel adalah bahwa tidak ada seperangkat aksioma terbatas dan konsisten yang pernah dapat menjadi lengkap, dan bahwa tidak peduli seberapa banyak aksioma lagi yang anda tambahkan pada sebuah sistem logika formal untuk menyusun (make up) beberapa defisiensi, ini akan selalu menjadi mungkin untuk menemukan sebuah teorema yang benar yang tidak dapat dibuktikan. Pembuktian Godel ini adalah sebuah upaya yang sangat brilian. Dengan menggunakan logika simbolik dari Principia, dia menemukan sebuah cara menyusun secara berpasangan dari masing-masing simbol, aksioma, proposisi, atau bukti dengan sebuah angka yang unik, yang disebut dengan “angka Godel”. Demi pembahasan argumen ini, marilah kita katakan bahwa angka Godel tentang aksioma “x = x” (“sebuah angka adalah setara dengan dirinya sendiri”) adalah 156. (Sebenarnya, bahkan ekuasi-ekuasi yang sederhana itu mempunyai angka-angka Godel yang

sangat banyak). Dengan sebuah aturan deduksi yang sederhana, kita dapat menderivasikan dari “x = x” teorema “0 = 0”. Marilah kita katakan bahwa angka Godel dari “0 = 0” adalah 72. Godel menunjukkan bahwa sebuah pernyataan seperti “ ‘0 = 0’ adalah sebuah teorema yang benar” dirinya sendiri dapat direduksikan menjadi sebuah formula yang berkaitan dengan angka-angka Godel---dalam hal ini angka-angka 156 dan 72. Lalu, sebuah pernyataan semacam ini bukan dengan sendirinya sebuah formula dalam sistem ---ia adalah sebuah pernyataan tentang sistem. Pernyataan-pernyataan semacam “meta-aritmatika” akan mencakup: “ ‘2 + 2 = 5’ adalah salah”, “Jika teorema T adalah benar, maka sistem ini adalah tidak konsisten”, dan “Teorema S tidak dapat dibuktikan”. Cara Godel membuat angka-angkanya, setiap pernyataan meta-aritmatikal semacam ini dicerminkan oleh suatu relasi matematikal diantara angka-angka Godel---dengan perkataan lain, pernyataanpernyataan meta-aritmatikal dapat dimodel atau “diterjemahkan”dalam aritmatika. Godel kemudian menarik seekor kelinci keluar dari topinya. Dengan menggunakan angka-angka Godel, dia mengkonstruksikan sebuah teorema aritmatika---kita akan menyebutnya G---yang terjemahan metaaritmetikalnya adalah “formula G tidak dapat dibuktikan”. Jika G adalah sebuah teorema yang benar, maka “G tidak dapat dibuktikan” adalah juga benar, dan oleh karena itu sistem ini adalah tidak lengkap---kita telah menemukan sebuah teorema yang benar yang tidak dapat dibuktikan dalam sistem. Tapi, diketahui kemudian bahwa jika G adalah salah, ini artinya adalah bahwa G tidak dapat dibuktikan (jika sistem ini konsisten),

dan oleh karena itu pernyataan “G tidak dapat dibuktikan” adalah benar. Ini bertentangan dengan premis bahwa G adalah salah, dan dengan demikian sistem ini adalah tidak konsisten. Untuk menyusun dan melengkapi pembuktian ini, Godel merangkai sebuah formula yang sesuai dengan pernyataan, “Jika aritmatika bersifat konsisten, maka G dapat dibuktikan.” Formula ini ternyata menjadi sebuah teorema yang benar dalam sistem. Tapi, yang ingin ditunjukkan oleh Godel adalah bahwa G dapat dibuktikan hanya jika yang berlawanan dengannya juga dapat dibuktikan; namun, jika aritmatika bersifat konsisten, maka kontradiksi-kontradiksi semacam ini tidak pernah muncul. Oleh karena itu, kita tidak pernah dapat membuktikan bahwa aritmatika itu bersifat konsisten, setidaknya jika kita mengandalkan pada asumsiasumsi yang terkandung dalam aritmatika. Poin intinya adalah bahwa Godel menggunakan aritmatika untuk membuktikan bahwa kelengkapan dan konsistensi aritmatika tidak dapat dibuktikan. Tidak ada angka terbatas dari aksioma-aksioma tambahan yang akan “membakukan” (fix) situasi. Jika terdapat bukti-bukti, mereka ini bersifat melampaui logika, metode aksiomatik, dan akhirnya matematika. Dan metode ektra-matematikal, pada gilirannya, akan harus mendemonstrasikan sifat konsistensinya, dan sekarang kita sedang menempuh perjalanan secara melingkar, sangat diragukan bahwa kita dapat meloloskan diri. Teorema Tidak Lengkap dari Godel tampaknya akan menjadi pertanda buruk bagi kecerdasan artifisial, setidaknya sebagaimana yang kita ketahui sekarang ini. Komputer masih, dan mungkin untuk

selamanya, menjadi mesin-mesin logika yang beroperasi pada data-data terbatas dan dengan sebuah angka terbatas tentang instruksi-instruksi. Program-program dalam suatu jutaan perintah (“aksioma-aksioma” dan “aturan-aturan tentang deduksi”), dan komputer tetap saja tidak akan pernah bisa sampai pada, atau bahkan membuktikan, semua kebenarankebenran yang pikiran-pikiran manusia dapat menemukan dengan caranya sendiri yang khas.

Dilema Sang Tahanan—Prisoner’s Dilemma (Teori Game)
Anda dan seorang kaki tangan penjahat ditangkap dan dibawa ke kantor polisi dan anda berdua dipenjarakan di ruang terpisah. Jaksa penuntut umum menjelaskan kepada anda bahwa pihak kepolisian mempunyai bukti yang cukup untuk menjebloskan anda berdua ke dalam penjara selama satu tahun, tapi belum cukup untuk dipersalahkan atas tuduhantuduhan yang lebih serius. Tapi, jika anda mengakui dan setuju untuk bersaksi atas kejahatan partner anda, anda akan terbebas dari tuduhan bekerja sama (untuk melakukan tindak kriminal), sementara partner anda akan dijebloskan ke dalam penjara untuk selama tiga tahun. Namun, jika anda berdua mengakui tindak kriminal yang lebih besar lagi, pihak kepolisian tidak akan membutuhkan kerja sama anda lagi dan anda berdua, masing-masing akan mengalami masa dua tahun di balik terali

besi. Anda digiring untuk meyakini bahwa partner anda juga diberi tawaran yang serupa dengan anda. Apa yang akan anda lakukan? Ini adalah sebuah versi umum dari “dilema sang tawanan”, sebuah problem yang sangat terkenal dalam teori game, matematika pengambilan keputusan. (Ada dilema-dilema lain dalam teori game, seperti “dilema ayam”, yang akan kita bahas selanjutnya). Barangkali, anda tidak ditahan dan bertanya-tanya mengapa anda harus peduli. Sebenarnya, seseorang tidak harus melihat di kejauhan untuk menemukan dilema sang tawanan yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Seandainya, anda mengalami hal seperti ini, apakah anda akan menyerobot ke baris paling depan dari sebuah antrian yang panjang? Apa respons anda atas seruan lewat pengeras suara yang bernada sangat keberatan atas perilaku anda? Apakah anda menangani konflik-konflik yang terjadi di kantor dengan cara menolak kerjasama atau dengan sikap kompromi? Pada masing-masing kasus, anda sedang dihadapkan pada sebuah problem yang serupa dengan dilema sang tawanan di atas: apakah anda benar-benar menampilkan yang terbaik dengan berperilaku yang mementingkan diri sendiri? Letak dilemanya adalah bahwa sebuah pilihan itu tidak dapat dibuat di atas ranah-ranah yang murni rasional. Untuk mengetahui sebabnya, marilah kita kembali ke skenario awal kita. Dilihat dari satu cara, anda lebih baik memberikan pengakuan, tapi dilihat dari sudut lain, yang terbaik bagi anda adalah sikap berdiam diri. inilah dia akibat-akibat (hasilhasil) yang mungkin yang disusun dalam sebuah matriks:

Partner berdiam diri mengaku
Anda berdiam diri anda 1 tahun bagi partner Anda mengaku 0 tahun bagi anda 3 tahun untuk partner 1 tahun bagi anda

Partner

3 tahun untuk

0 tahun bagi partner 2 tahun untuk anda 2 tahun untuk partner

Jelas sekali, sejauh yang anda cermati, hasil-hasil terbaik yang mungkin adalah bahwa anda memberi pengakuan dan partner anda tidak memberi pengakuan. (dalam bahasa teori game, untuk bersikap hati-hati, tidak menjadi masalah bagi anda apa itu yang disebut dengan “menyeberang ke pihak lain” [defect]). Dan bahkan jika partner anda memberi pengakuan, anda masih memperoleh keuntungan dengan menyeberang ke pihak lain, karena, jika anda tetap bersikap diam, anda sedang menatap masa tiga tahun di dalam penjara, sementara dengan memberi pengakuan, anda hanya akan mendekam selama dua tahun di dalam penjara. Dengan kata lain, tidak masalah dengan apa yang dilakukan oleh partner anda (dan anda tidak punya cara untuk mengetahui keputusannya) anda lebih baik menyeberang ke pihak lain. Tapi, jika partner anda secerdas anda, dia akan mengupayakan kesimpulan yang sama: langkah yang paling rasional adalah memberi pengakuan. Logika ini, dengan demikian, akan membuat anda berdua sama-sama mendekam di penjara selama dua tahun. Apakah ini benarbenar “rasional” bahwa dengan sama-sama bersikap bungkam (“bekerja sama”), anda berdua hanya akan ditahan selama satu tahun? Secara

keseluruhan, sikap saling bekerja sama dalah yang terbaik, ketika perhitungan waktu yang dikombinasikan, anda akan dipenjarakan selama dua tahun ketimbang tiga atau empat tahun hukuman penjara. Jadi, anda harus bekerja sama, bukankah demikian? Baiklah, anggaplah partner anda tidak sampai pada kesimpulan ini, atau bahwa dia sampai pada kesimpulan ini tapi memutuskan untuk mengeksploitasi sikap setia kawan anda dengan berkhianat menyeberang ke pihak lain. Dalam kasus ini, anda sedang menatap akibat terburuk yang mungkin: tiga tahun membuat piringan-piringan berlisensi (licence plates). Apa yang akan terjadi: apakah anda mempercayai dia atau tidak? Apakah sikap bekerja sama atau berkhianat menyeberang ke pihak lain adalah lebih rasional? Ini dan problem-problem serupa adalah asal mula dari teori game, kurang lebih, demikianlah penemuan dari pakar matematika John von Neumann (1903-1957). Seorang jenius dari Hungaria yang tinggal di Amerika, von Neumann telah membantu mengembangkan bom atom dan menemukan komputer digital, untuk menyebut prestasi-prestasinya yang lain. Dia juga sangat menyukai permainan-permainan strategi, terutama poker dan catur, dan pada tahun 1920-an dan 1930-an, dia telahmengembangkan sebuah matematika untuk menggambarkan struktur mereka. Von Neumann melakukan ini secara terpisah untuk memahami permainan-permainan secara lebih baik, tapi, terutama sekali, karena dia meyakini teori game ini dapat menyediakan suatu basis ilmiah untuk studi tentang situasi-situasi yang mirip game dalam dunia yang lebih luas. Dia telah menemukan istilah “teori game” dalam bukunya The

Theory of Games and Economic Behavior (1944, bersama Oskar Morgenstern). Perilaku ekonomi adalah sebuah “game” dalam pemahaman Neumann yang lebih luas: sebuah situasi yang didefinisikan oleh kepentingan-kepentingan yang saling bersaing dan dimana setiap orang berupaya untuk memaksimalkan keuntungan-keuntungannya sendiri. Sebagaimana diketahui, teori game ini tidak mengandung manfaat bagi dunia ekonomi tapi bermanfaat di tempat lain. Setelah Perang Dunia II, von Neumann telah direkrut untuk bekerja di RAND Corporation, dimana dia menerapkan teori game ini secara lebih menghasilkan pada strategi Perang Dingin. Pikirkan kembali pada tahun 1950-an dan bayangkan harus membuat keputusan apakah Amerika Serikat harus membangun sebuah gudang senjata dari bom-bom Hidrogen. Marilah kita berasumsi bahwa Uni Soviet, sang “musuh”, sangat mampu untuk melakukan hal yang sama. Pilihan-pilihan anda yang mungkin ada dua: membangun gudang senjata atau tidak membangunnya. Terdapat empat hasil yang mungkin: 1. Bukan AS, bukan juga Soviet yang membangun gudang senjata---terjadi situasi status quo. 2. AS membangun gudang senjata, tapi Soviet tidak---AS berada dalam posisi yang potensial untuk menghancurkan Soviet dan mendominasi dunia. 3. Soviet membangun gudang senjata tapi AS tidak---Soviet berada dalam posisi yang potensial untuk menghancurkan AS dan mendominasi dunia.

4.

Baik AS dan Soviet, sama-sama membangun gudang senjata---perlombaan senjata meningkat, masing-masing pihak tidak ada yang mendominasi, banyak dana yang dihamburkan, dan seluruh dunia sekarang menghadapi ancaman perang nuklir yang sangat menghancurkan.

Jika anda mempelajari “game” ini, anda akan memperhatikan bahwa ini adalah sejenis dilema sang tawanan. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Soviet, kepentingan anda yang terbaik adalah membangun gudang-gudang bom. (Jika mereka tidak membangun gudang persenjataan, anda menjadi penguasa dunia ; jika mereka juga membangun gudang persenjataan, anda setidaknya terjaga dari serangan mereka). Tapi, jika Soviet mencapai kesimpulan yang sama dengan anda, maka anda berdua akan menghamburkan berton-ton uang hanya untuk untuk menjaga keseimbangan kekuatan dan pada saat yang bersamaan menghasilkan persediaan (dalam jumlah besar) bom-bom nuklir yang siap untuk diledakkan. Hasil yang ideal adalah “kerja sama”: masing-masing pihak saling menahan diri (hasil I). Tapi, apakah anda mempercayai pihak lain? Pada proses akhir, tidak ada satu pihak pun yang melakukan. Meskipun von Neumann mendapati bahwa teori game ini sedang berlangsung di RAND, sebenarnya bukan dia yang telah menemukan dilema sang tawanan ini, tidak juga dia yang mempelajari implikasiimplikasinya. Von Neumann berkonsentrasi hampir eksklusif pada apa yang dia sebut sebagai “zero-sum games”. Dalam game-game yang sedemikian ini, keuntungan total yang diperoleh telah menjadi bakuy, dan kemenangan lawan pastinya adalah kekalahan anda. Kebanyakan dari

game-game yang menggunakan papan (board games), misalnya, adalah bersifat zero-sum: jika lawan anda menang, anda kalah. Permainan Poker, juga, berisfat zero-sum: sang pemenang akan mengambil semua hadiah. Salah seorang kolega von Neumann di RAND, John Nash, telah memperluas dan mengembangkan teori game ini untuk meng-cover game-game antara dua orang yang bukan bersifat zero-sum. Teorinya adalah bahwa dalam game-game semacam ini, selalu ada sebuah “poin keseimbangan” (equilibrium point): berhadapan dengan fakta bahwa lawan anda tidak akan mengubah strateginya, demikian pula dengan anda. Ambil game ini sebagai sebuah contoh: K memilih kepala Anda memilih kepala Anda menang $1 K menang $3 K memilih ekor Anda kalah $1 K menang $4

Anda memilih ekor

Anda menang $2 K tidak memenangkan Apapun

Anda menang $1

K menang $2

Dalam permainan iini, “poin keseimbangan” adalah ekor-ekor/ekor-ekor (menurun sebelah kanan kotak tangan). Ini karena, tidak menjadi masalah tentang apa yang dilakukan oleh K, ini selalu merupakan keuntungan anda untuk memilih ekor, dan hal yang sama terjadi pada K. Dan bahkan jika K diberi peluang untuk mengubah strateginya, anda masih akan memilih ekor, dan secara timbal balik. Apa yang tidak disadari oleh Nash pertama kali, atau menerima di saat kemudian, adalah bahwa hanya karena sebuah poin keseimbangan

eksis, ini tidak berarti bahwa dalam game-game kehidupan-nyata, orangorang akan memilihnya. Ini terutama sekali berlangsung demikian dalam hal game-games “yang ditampilkan kembali”---game-game antara dua pemain atau lebih yang terus-menerus diulang-ulang, dengan strategistrategi sama yang telah baku dan keuntungan-keuntungan. Marilah kita lihat kembali pada dilema sang tawanan, yang secara esensi telah ditemukan oleh dua pakar sains RAND yang lain, Merrill Flood dan Melvin Dresher, di tahun 1950. (Mereka telah menemukan bentuk [form] game ini; para tawanan yang sebenarnya saling diperkenalkan, dan dilema sang tawanan ini diberi nama, di masa kemudian di tahun itu oleh Albert Tucker). Poin keseimbangan ini adalah bersifat saling melemahkan: berhadapan dengan situasi dimana partner/lawan anda telah memilih sebuah strategi dan bahwa strategi ini tidak bisa diubah, anda akan selalu dalam keadaan lebih baik untuk menyeberang ke pihak lain. Tapi, anggaplah bahwa anda dan dan seorang lawan anda, memainkan sebuah game sejenis dilema sang tawanan ini sebanyak ratusan kali secara berturut-turut. Marilah kita katakan inilah keuntungankeuntungannya (payoffs): K bekerja sama Anda bekerja sama $2 bagi anda $3 bagi K $4 bagi K K lemah (defect) $0 bagi anda

Anda lemah

$3 bagi anda $1 bagi K

$1 bagi anda $2 bagi K

Tak peduli apa yang dilakukan oleh K, anda akan selalu dalam keadaan lebih baik jika menyeberang ke pihak lain---anda selalu memenangkan satu dolar lebih banyak. Hal yang sama juga terjadi pada K: Tak perduli dengan apa yang anda lakukan, dia memenangkan lebih banyak dolar dengan menyeberang ke pihak lain. Tapi, sikap saling bekerja sama adalah lebih baik bagi anda berdua daripada sikap saling mengkhianati dengan bekerja sama dengan pihak lain; skenario terburuk bagi anda adalah untuk bekerja sama sementara K menyeberang ke pihak lain. Jika game ini adalah sebuah penawaran yang bersifat one-shot (hanya terjadi sekali saja dan tidak akan pernah diulang kembali), anda dan K tidak dapat mengupayakan strategi secara lebih awal, maka, hal paling logis untuk dilakukan adalah menyeberang ke pihak lain, ketika anda tidak mengetahui strategi K dan tidak dapat mengubahnya. Tapi, beberapa hal adalah sangat berbeda dalam sebuah game yang diulangulang. Marilah kita katakan bahwa K memutuskan untuk bekerja sama, berharap anda melakukan hal yang sama, dengan memastikan hasil saling menguntungkan. Anda, pada sisi lain, mengikuti logika satu-game dan mengambil sikap menyeberang ke pihak lain. Anda akan menang besar ($3) sementara K memenangkan jumlah total yang paling kecil ($1), dan begitu pula di waktu selanjutnya, K memutuskan untuk “menghukum” anda dengan menyeberangi dirinya sendiri. pada esensinya, dengan sikap menyeberang, K sedang menjauhkan anda dari dua dolar---dua kali keuntungan ekstra yang anda peroleh dengan upaya menyeberang pertama kali.

Jadi, sementara sikap menyeberang ini bersifat aman, anda potensial dapat memenangkan lebih banyak uang jika anda berdua dan K saling bekerja sama. Tentu saja, jika K bekerja sama sementara anda bersikap menyeberang pada setiap putaran, anda mengakhiri dengan perolehan maksimum sebesar $300. tapi, jika K bersikap rasional, dia akan menyesuaikan diri dengan mengambil sikap menyeberang setiap kalinya, dengan dirinya memperoleh $100 lebih banyak daripada yang akan dia peroleh dengan cara bekerja sama setiap kali. Lalu, apa kemudian strategi terbaiknya? Teori game, dengan bantuan penggambaran skematik oleh komputer, telah mempunyai jawabannya: Ini disebut “tit for tat” (pukulan dibalas dengan pukulan). Anda mulai dengan sikap bekerja sama. Jika K juga bekerja sama, anda bekerja sama kembali di putaran dua. Anda melanjutkan seperti ini hingga K menyeberang ke pihak lain (defect), dimana pada poin ini anda “menghukum”nya dengan melakukan penyeberangan ke pihak lain di putaran berikutnya. Alasan dari strategi ini dapat berfungsi adalah bahwa anda sedang menggunakan game ini untuk mengirim sebuah pesan kepada K: “Saya akan selalu melakukan apapun yang telah kamu lakukan di putaran terakhir; dan ketika anda tidak pernah memperoleh keuntungan dari sikap penyeberanganku, maka anda harus selalu bekerja sama denganku, dengan memastikan saling memperoleh yang terbaik.” Dengan kata lain, anda sedang mengundang dia untuk bergabung dengan anda dalam bermain melawan game itu sendiri daripada melawan satu sama lain.

Dalam kehidupan nyata, tit-for-tat (pukulan dibalas dengan pukulan) berarti memperlakukan orang lain dengan cara mereka memperlakukan anda, tapi berperilaku-lah selalu dengan baik pada permulaan. Dengan menyerobot antrian ke baris paling depan mungkin ini adalah langkah terbaik untuk anda, tapi ini sangat buruk bagi setiap orang lain, dan jika mereka merespon dengan cara menciptakan situasi chaos dan adu jotos. Tentu saja, adalah bodoh bagi anda untuk bekerja sama jika tak ada seorang pun yang melakukan ini; tapi ketika setiap orang menyadari ini, dan tak seorangpun yang menyukai situasi chaos, kebanyakan orang akan melakukan kerja sama ini. Dilema lain dari teori-game yang kita temui dalam kehidupan nyata disebut dengan “chicken” (sebuah nama yang ditemukan oleh Bertrand Russel, percaya atau tidak). Anda dan seorang teman melompat ke atas pedal sepeda dan bergerak laju menuju tepi sebuah tebing yang curam. Yang pertama kali menghentikan atau mengubah arah adalah sang “ayam”. Jika anda berdua berhenti (“bekerja sama”) secara bersamaan, maka tak seorang pun yang menjadi sang ayam, tapi tak satupun dari anda berdua yang memenangkan game ini. Hasil terbaik bagi anda adalah jika teman anda berhenti pertama kali: dengan cara ini anda menang, dan dia menjadi ayam. Hasil terburuk bagi anda berdua adalah jika tak satupun dari anda berdua yang berhenti sama sekali---yaitu, jika anda berdua sama-sama “menyeberang”: anda berdua akan melaju menuju tebing curam itu. Apa yang akan anda lakukan? (Game ini berbeda dari game dilema sang tawanan dalam hal bahwa sikap saling menyeberang adalah yang terburuk bagi kedua belah pihak).

Sebagaimana yang telah anda perhatikan, teori game---yang secara matematika mempunyai ketepatan logika yang tinggi---masih belum dapat memecahkan semua konflik manusia. Di tempat pertama, bagi teori ini untuk dapat berfungsi, harus jelas siapa saja para pemain, dan keuntungan-keuntungan harus diekspresikan dalam angka-angka (atau setidaknya kemungkinan-kemungkinan). Ini tidak selalu menjadi kasus dalam game-game rumit tentang masyarakat atau politik. Yang kedua, unsur-unsur yang menyusun sikap “kerja sama” atau sikap “menyeberang” mungkin agak samar---terdapat banyak ranah pertengahan dalam kehidupan nyata, dan pihak lawan cenderung untuk tidak setuju dengan ungkapan-ungkapan (terms) ini (apa yang tampaknya mencukupi bagi satu pihak, mungkin tidak memuaskan pihak lain). Namun, adalah lebih baik untuk memiliki alat-alat daripada tidak mempunyai alat-alat, dan teori game adalah alat yang sangat menarik dengan aplikasi-apkikasi nyata dalam fisika, etika, engineering (Aplikasi prinsip-prinsip sains pada tujuan-tujuan praktis, seperti desain, mesin, manufaktur), dan bahkan biologi. Evolusi dari suatu spesies, misalnya, dapat dimengerti dalam ungkapan-ungkapan teori game, tapi itu adalah kisah panjang yang lain.

Logika yang Samar
(Fuzzy Logic)

Aksioma-aksioma dan hukum-hukum matematika adalah sangat bagus dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Kita mengetahui dengan kepastian yang absolut, misalnya, bahwa 2 + 2 = 4, dan bahwa sudutsudut dari sebuah segitiga dapat mencapai hingga 180°---ini pastinya mengikuti aksioma-aksioma. Matematika juga bermanfaat bila diaplikasikan pada kuantitas-kuantitas fisika yang telah baku. Einstein telah menggunakan matematika untuk menunjukkan bahwa tak ada satupun yang dapat menempuh perjalanan yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya, yang adalah sebuah kuantitas yang telah baku. Para penjudi seperti Blaise Pascal telah menemukan statistika untuk mengkalkulasi probabilitas dari hasil-hasil yang sangat jelas ---katakanlah, bahwa buah dadu akan berupaya menunjuk angka empat. Seorang peramal cuaca di TV menggunakan angka-angka untuk memprediksi peluang akan hujan atau tidak, esok hari. Anda boleh menyebut semua kalkulasi ini sebagai produk dari “logika keras” (“hard logic”), yang faktor fundamentalnya dari metodologinya berhutang pada Aristoteles. Namun, akhir-akhir ini, suatu tim peneliti yang terdiri dari para insinyur dan pakar fisika telah mengenyampingkan logika keras ini demi untuk menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai “logika yang samar”, yaitu sains tentang kuantitaskuantitas yang tidak dapat dipastikan. Ini baik, menurut para pakar logika samar, untuk mengatakan bahwa terdapat peluang enam puluh persen hujan, sepanjang anda dapat mendefinisikan apa yang dianggap sebagai “hujan”. Peramal cuaca di TV itu berasumsi bahwa terdapat dua opsi disini: akan turun hujan atau tidak.

Tapi, dalam kenyataan, konsep tentang “hujan” itu bersifat samar. Jika dua tetes air jatuh dari langit, apakah itu “hujan”? Bagaimana dengan lima puluh tetes? Seribu? Anggaplah kabut itu pekat dan rendah, dan anda merasakan tetes-tetes air pada wajah anda. Apakah itu hujan? Darimana, tanya para pakar logika samar, anda menarik garis pemisah? Kapan tidak hujan menjadi hujan? Jika ini terdengar seperti [koan] Zen yang membuat anda bingung, anda tidaklah sendirian. Bahkan, para pendukung proses berpikir samar seperti USC Profesor Bart Kosko mempublikasikan secara berlebihan tentang sains baru mereka sebagai suatu sintesa Timur-bertemu-Barat. Dan sementara logika samar lebih banyak diejek daripada dipuji di berbagai negara, ini semua adalah kegilaan dari industri Jepang. Anda mungkin telah mendengar tentang “mesin pintar” (smart machines) yang baru yang berasal dari jepang: mesin cuci pintar, mesin penjual-soda pintar, micro waves pintar, kamera video genggam yang pintar. Mesinmesin semacam ini telah diprogram untuk berurusan dengan keadaankeadaan antara “on” dan “off”, kuantitas-kuantitas yang lebih halus tingkatannya daripada “tinggi”, “medium”, atau “rendah”, daripada jawaban-jawaban “ya” dan “tidak”. Jika “logika samar” mempunyai sebuah asal-usul, ia bersandar pada upaya logis untuk mengadaptasi paradoks Russel dan ketidakpastian Heisenberg. Pakar logika yang cemerlang, Jan Lukasiewicz, telah mengembangkan suatu logika yang “bervalensi tiga atau lebih” (multivalent) di tahun 1920-an yang memperhalus dua bagian yang berbeda, yaitu logika ya-tidak dari fisika Newtonian untuk mengizinkan

keadaan-keadaan yang tak dapat dipastikan. Pada tahun 1965, pakar matematika Berkeley, Lotfi Zadeh telah mengaplikasikan logika baru ini pada teori tentang perangkat-perangkat (sets) dalam paper-nya “Fuzzy Sets”, dimana kemudian nama ini dipinjamkan pada logika. Perangkat-perangkat (sets) yang telah anda pelajari di sekolah dasar, semuanya telah didefinisikan dengan jelas. Baik itu sesuatu yang termasuk dalam suatu set atau bukan. Angka 2 ada di dalam set dari bilangan genap dan tidak termasuk dalam set dari bilangan ganjil, dan kedua set ini mempunyai suatu “persimpangan yang kosong”---untuk mengatakan, tidak ada angka yang termasuk dalam bilangan genap maupun ganjil. (Berdasarkan konvensi, angka 0 juga tidak termasuk dalam keduanya). Namun, perangkat-perangkat samar (fuzzy sets) dari Zadeh adalah, benar-benar samar. Beberapa hal mungkin termasuk dan yang lain tidak termasuk dalam perangkat-perangkat yang demikian ini, tapi, ada terdapat kelas ketiga dari berbagai hal yang termasuk dalam suatu tingkat tertentu. Perangkat dari bilangan genap dan perangkat dari bilangan ganjil adalah perangkat-perangkat keras (hard sets). Perangkat dari laki-laki dan perangkat dari perempuan adalah keras---terdapat sedikit kesamaran tentang orang banci dan manusia yang berorientasi trans-seksual. Tapi, bagaimana dengan perangkat dari orang-orang yang berukuran tinggi? Tak seorang pun yang akan menyebut manusia yang tingginya 4’ 2”, tapi, setiap orang akan menyebut 7’ 6”, demikian pula dengan perempuan. Tapi, darimana anda menarik garis pemisah ini? Apakah manusia dengan tinggi 5’ 10” termasuk dalam perangkat dari orang yang tinggi, atau

tidak? Apakah seorang Asia bersetuju dengan orang Eropa, atau orang Italia dengan orang Swedia? Soal tentang tinggi ini bersifat subyektif dan berlangsung secara terus-menerus, sehingga tidak mungkin untuk menset suatu ketinggian yang baku, yang akan dianggap tinggi dan secara otomatis menolak seseorang yang berukuran dibawah itu. jika 6’ itu tinggi, bagaimana dengan 5’ 11.99”? Begitu anda mulai berpikir tentang pertanyaan-pertanyaan semacam ini, tentang soal-soal tingkat (degree), proses berpikir anda akan mulai bersifat samar. Mengambil contoh lain, set dari orang-orang yang bahagia adalah samar, karena kebanyakan dari kita merasa bahagia berdasarkan kadar dan tingkatan tertentu---mungkin dengan kadar yang lebih besar, mungkin juga dengan kadar yang lebih kecil, tapi, hampir tidak pernah merasa bahagia mutlak atau menderita mutlak. Suatu jajak pendapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sedemikian ini seperti “apakah anda bahagia dengan sepak terjang Presiden?” adalah cacat, ketika kebanyakan orang merasa bahagia atau tidak bahagia hanya sampai pada kadar tertentu saja. Menambah skala dari 1 sampai 10 hanya membantu separuhnya, ketika kita masih mempunyai rentang (range) angka-angka keras (hard numbers) yang diterapkan pada suatu pendapat yang berlangsung secara terus-menerus. Tidak semua “5s” akan menjadi setara. Set-set (Perangkat-perangkat) yang samar adalah kunci bagi mesinmesin yang samar. Kebanyakan dari alat-alat itu yang telah menjadi akrab dengan kita, adalah “bisu”---yaitu, telah diprogram secara kaku. Televisi anda selalu tersedia tombol “On” atau “Off”; tingkat kecemerlangan

gambar (brightness) di-set hingga 6 dan kontras gambar di –set hingga 3. Sistem pemanas termostat yang terkontrol (yang akan kita bahas kembali dalam SIBERNETIKA, hal. ...) adalah mesin bisu yang klasik. Ketika temperatur pemanas ini jatuh di bawah temperatur yang telah di-set, maka mesin pemanas ini akan hidup dengan sendirinya secara otomatis (switches on); ketika temperatur naik melebihi temperatur yang telah diset itu, maka mesin pemanas akan mati dengan sendirinya. Mekanisme dari mesin pemanas ini bersifat binary (kembar, pasangan): pengaturan panas hanya ada dua opsi, “on” atau “off”, dan ketika ia sedang “on”, ia selalu berada dalam temperatur panas yang sama. Mesin-mesin fuzzy (yang samar) ini, pada sisi lain, menggunakan set-set yang fuzzy juga untuk menghasilkan respons-respons yang lebih fleksibel. Termostat ini “berpikir” apakah suhunya panas atau dingin, dan ia akan memberi instruksi untuk mematikan atau menyalakan sebagai responsnya; instruksi-instruksi yang fuzzy mengizinkannya untuk menjadi panas atau dingin hingga tingkat tertentu. Jika kita memutuskan bahwa 65° adalah temperatur yang sempurna (yang kita inginkan), maka, kita dapat memberitahukan kepada pemanas/pendingin udara untuk memodulasi (mengatur) perilakunya yang bergantung pada seberapa banyak temperatur aktual yang berbeda dari 65°. Mesin ini tidak akan pernah hanya berada pada “ON” atau “OFF”---ia akan selalu berada pada “ON” hingga tingkat variatif yang diinginkan, dengan mengkombinasikan dan mencocokkan (matching) instruksi-instruksi. Mesin cuci fuzzy yang terkenal, bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama, dengan menjaga daya penglihatan elektronik pada suatu

rentang yang variatif, dengan mengkalkulasi berat rata-rata, dan menyesuaikan instruksi-instruksinya sebagai respons. Jenis pakaian apa yang kita punya disini? Seberapa kotor pakaian ini? Apakah kita berurusan dengan lemak, kecap, kopi, kotoran, keringat? Seberapa banyak baju yang dapat dimuat? Semua kuantitas ini berlangsung dalam tingkatantingkatan (degrees), dan mesin cuci pintar ini memeriksa respons-nya secara interaktif. Dengan cara yang serupa, kamera video genggam pintar secara akurat menyesuaikan fokus dan aperture (lubang celah lensa kamera); TV pintar memonitor dan menyesuaikan kecemerlangan gambar dan kontras gambar yang dapat diatur. Menurut para pakar logika fuzzy, keseluruhan dunia fakta---seperti tinggi (tall) atau gambar-gambar TV---adalah fuzzy. David hume membagi pernyataan-pernyataan (statements) ke dalam “relasi-relasi dari ide-ide” (relations of ideas) dan “materi-materi tentang fakta” (matters of fact) [lihat, GARPU HUME, hal. ....]; yang disebut awal pasti benar, sementara yang disebut terakhir boleh jadi benar atau salah. Berdasarkan cara berpikir yang fuzzy, tak ada satupun yang empiris itu bersifat benar mutlak atau salah mutlak, tapi, benar dalam kadar tertentu atau salah dalam kadar tertentu. Para pakar sains modern mengakui bahwa teoriteori dan deduksi-deduksi mereka tidak pernah mutlak pasti, hanya sangat dimungkinkan demikian (highly probable). Respon yang fuzzy atas ini adalah probabilitas masih bersandar pada asumsi-asumsi yang tidak valid, seperti bahwa sebuah partikel adalah atau bukan sesuatu dimana probabilitas memprediksinya akan menjadi demikian. Para pakar sains tidak mengatakan bahwa sebuah partikel adalah 70 persen ada dan 30

persen tidak ada, hanya karena ada peluang 70 persen dari total 100 persen. Ini bukan fuzzy. Yang fuzzy itu adalah: dunia ini berwarna abu-abu. Tak ada satupun yang murni hitam dan tak ada satupun yang murni putih. Ketika kita menerapkan alasan hitam-dan-putih pada dunia yang berwarna abu-abu, kita harus memperlakukan sesuatu sebagai benar hingga kadar tertentu (katakanlah, bahwa sebuah gelas itu penuh hingga kadar tertentu) sebagai seluruhnya benar (gelas terisi penuh) atau seluruhnya salah (gelas itu kosong). Masing-masing langkah dalam proses berpikir ini membutuhkan semacam penyederhanaan dan oleh karena itu menambah lapis lain dari kenetralan dan kesalahan. Semakin beralasan anda terhadap sesuatu, semakin jauh anda akan memperoleh dari kasus yang aktual ini, bukannya semakin dekat. Apa saja nilai tambah dari semua ini bergantung pada siapa yang anda tanya. Paling tidak, logika fuzzy menciptakan mesin-mesin yang lebih baik; pertanyaannya adalah apakah ia benar-benar setara dengan suatu revolusi matematika. Para pendukung logika fuzzy ini secara enerjik membunyikan terompet-terompet mereka sendiri, yang dapat menimbulkan suara gaduh, terutama ketika logika fuzzy masih sangat menarik bagi geometri dan aljabar standar, dan ketika mesin-mesin fuzzy masih menggunakan chip-chip komputer yang memproses data digital sepasang (binary). Atas dasar ini dan alasan-alasan lain, banyak dari pakar matematika dan insinyur Barat mempertimbangkan fuzzy sekadar kata-kata gaduh untuk memberi kesan baik kepada orang-orang awam, hanyalah anggur lama dalam botol baru. Tapi kemudian, “nyanyian”

mereka berubah begitu Jepang, pada akhirnya, mengubur ekonomi Amerika.

Le dakan Besar Sampah Besar:

(Big Bang)

Hingga

Entropi , C hao s, d an Al as an -al as an L ain A lam S eme sta Ini Ak an Mel angk ah M enuj u Ner aka

Entropi
Saya menawarkan untuk menyebut besaran S [energi yang tak tersedia untuk kerja] sebagai entropi dari tubuh, dari istilah Yunani [tropê], transformasi.... Energi dari alam semesta ini bersifat konstan---entropi dari alam semesta ini cenderung menuju (keadaan) yang maksimum. Rudolph J.E. Clausius, paper of 1865

Alam semesta ini mungkin telah dimulai dengan sebuah dentuman, tapi ia akan berakhir dengan sebuah rengekan. Itulah poin tentang entropi, setidaknya sebagaimana yang telah umum dipahami. Dan sungguh, para pendukung awal dari konsep ini, seperti William Thomson (Lord Kelvin) dan Hermann Ludwig Ferdinand von Helmholtz, telah memperingatkan bahwa alam semesta ini sedang mengarah menuju “panas yang mematikan” (heat death), ketika segala sesuatunya berada dalam temperatur yang sama dan tak ada satupun hal menarik yang akan pernah terjadi.

Konsep ini dapat ditelusuri jejaknya pada kemajuan-kemajuan yang terjadi pada abad ke sembilan belas mengenai termodinamika, studi tentang hubungan-hubungan antara panas (oleh karena itu thermo-) dan kerja atau gerak (jadi, dinamika). Para perintis dalam disiplin ilmu ini---seorang Perancis Nicolas Léonard Sadi Carnot, seorang Jerman Julius Robert von Mayer, dan orang Inggris James Prescott Joule---mempunyai satu tujuan umum: menciptakan sebuah mesin uap. Carnot, aktif pada tahun 1820-an, telah menemukan bahwa kapan saja panas hilang, adalah mungkin untuk bekerja berdasarkan pada proses ini. Joule, dua puluh tahun kemudian, menemukan bahwa hal yang sebaliknya juga benar: kapan saja ada kerja, terdapat juga panas ekstra. Joule dan von Mayer telah mendeduksi secara terpisah tentang apa yang sekarang dikenal sebagai “Hukum Pertama Thermodinamika”: energi tidak dapat diciptakan, tidak juga dapat dihancurkan; ia hanya dapat diubah bentuknya---katakanlah, dari energi potensial untuk bekerja untuk memanaskan dan kembali lagi. Pada tahun 1850, warga Jerman lain, Rudolf Julius Emanuel Clausius (nama panjangnya masih ditambah dengan de rigueur), menambahkan hukum yang kedua: panas tidak pernah dapat melalui, secara spontan, tubuh yang lebih dingin ke tubuh yang lebih hangat. Hukum ini kelihatannya sangat sempurna---jika anda meletakkan air dalam sebuah oven, ia tidak akan berubah menjadi es. Tapi, dari perspektif para pakar sains yang sedang mencoba untuk bekerja berdasarkan pada panas, ia mempunyai akibat-akibat yang penting. Transfer panas dari satu tubuh ke tubuh lain adalah tidak mungkin untuk dibalik: panas yang anda gunakan untuk memasak seekor burung turkey, tidak pernah dapat diletakkan kembali ke dalam sebuah oven,

setidaknya, tidak oleh burung turkey itu. dari eksperimen-eksperimen Carnot, Clausius tahu bahwa kerja terjadi ketika energi (dalam bentuk panas) berlalu dari sebuah keadaan dengan rangsangan (excitement) yang lebih besar hingga ke suatu keadaan dengan rangsangan yang lebih kecil---yaitu, dari keadaan yang lebih hangat menuju keadaan yang lebih dingin. Jadi, panas hanya dapat digunakan untuk bekerja sebelum ia dimanfaatkan---yaitu, dihilangkan ke dalam tubuh yang lebih dingin darimana ia tidak dapat diperoleh kembali tanpa menambahkan lebih banyak energi pada sistem. Bahkan, anda harus menambah lebih banyak energi lagi pada sistem daripada yang telah ada dalam energi panas untuk memulai. Ini karena, sebagaimana yang telah diumumkan oleh Lord Kelvin pada tahun 1851, selalu terjadi pemborosan dalam transfer panas ini. (Friksi adalah satu sebab yang utama, tapi bukan penyebab satu-satunya, dari pemborosan ini). Begitu banyak energi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan ide tentang sebuah gerak mesin secara terus-menerus---untuk tetap menjaga agar mesin dapat terus bekerja, anda harus terus memompakan energi ke dalamnya, karena tidak ada proses mekanis yang 100 persen efisien. Setiap kali energi dikonversi dari satu bentuk (katakanlah panas) menjadi yang lain (katakanlah listrik), akan ada sedikit energi yang terbuang. Prinsip ini pada umumnya dikenal sebagai “pemborosan [lenyapnya]energi”: meskipun energi ini tidak dapat diciptakan atau dihancurkan, ia cenderung untuk lenyap, atau berproses dari suatu bentuk yang lebih berguna menjadi ke suatu bentuk yang kurang berguna. Untuk memvisualisasikan mengapa terjadi yang sedemikian ini, bayangkanlah sebuah kamar yang diisolasi, dimana temperatur di salah satu sudutnya adalah 80° dan pada sudut lainnya sebesar 20°. Mudah dipahami

bahwa panas akan cenderung untuk mengalir dari sudut yang panas ke sudut lain yang lebih dingin hingga keseluruhan kamar itu berada dalam satu temperatur (katakanlah 50°). Yang sedang terjadi adalah bahwa molekulmolekul udara pada sudut yang panas, yang sedang bergerak ke sekitar dengan sangat cepat, mulai memantul menjadi molekul-molekul yang bergerak-lebih lambat pada sudut yang lebih dingin, dengan hasil bersih bahwa molekul-molekul yang penuh energi ini melepas dan mengirim energi ke pihak yang lambat dan tidak aktif, dan keduanya memantul-mantul pada tingkat kecepatan yang sedang. Dengan cukup waktu yang tersedia, kecepatan dari semua molekul ini akan membagi sama banyak, yang berarti bahwa keseluruhan dari kamar itu akan mempunyai temperatur yang sama. Jika anda pintar, anda akan menemukan sebuah cara untuk menggunakan energi saat ia mengalir, melalui panas, satu sudut menuju sudut yang lain. Tapi, begitu semua molekul sedang bergerak pada kecepatan yang sama---begitu temperatur telah merata---anda dapat melupakannya. Ini karena gerak molekul-molekul akan menjadi sepenuhnya acak. Ketika satu sudut dari kamar itu panas sedangkan sudut lain dingin, terdapat “tatanan” (order) tertentu pada keadaan peristiwa ini (kebanyakan dari molekul-molekul yang penuh energi ada disini, kebanyakan dari molekul-molekul yang lambat dan tidak aktif ada disebelah sana), dan lebih jauh lagi, terdapat sebuah tatanan tentang bagaimana energi ini ditransfer (ia bergerak dalam satu arah). Ketika temperaturnya sama secara menyeluruh, tidak ada lagi tatanan apapun (molekul-molekul yang penuh energi dan molekul-molekul yang lamban dan tidak aktif, semuanya saling bercampur), dan tidak ada transfer energi yang diperintahkan ke arah manapun. Dan untuk mengembalikan temperatur kamar

pada keadaannya yang semula---katakanlah dengan memanaskan satu sudutnya dan mendinginkan sudut yang lain---akan membutuhkan lebih banyak energi daripada yang dapat anda peroleh kembali darinya, jika anda melakukan yang demikian ini. Dengan tersedianya Hukum Pertama Termodinamika, ini semua menunjuk pada kesimpulan-kesimpulan yang membuat depresi: sejumlah energi yang berguna di alam ini perlahan tapi pasti melenyap menjadi energi yang tak berguna. Ini menarik, misalnya, bahwa matahari mentransfer energinya kepada bumi sehingga tanaman-tanaman dapat bertumbuh dan mempertahankan kehidupan, tapi cepat atau lambat, matahari ini akan lenyap secara perlahan-lahan. Dunia ini, tata surya, dan akhirnya, alam semesta ini, pada akhirnya, semuanya mencapai bahkan temperatur yang sama. Ketika tidak ada perbedaan dalam temperatur (tidak ada organisasi panas), tidak ada kerja atau apapun yang membuat energi dapat terjadi. Entropi adalah istilah Carnot untuk sejumlah energi yang tak berguna dalam sebuah sistem---sejumlah energi yang “dilenyapkan”, yang mengalami kekacauan, atau temperatur yang konstan, yang tidak dapat dikonversi untuk kerja. Dan ketika dia begitu getir menyatakannya sebagai, “Entropi dari alam semesta ini cenderung menuju keadaan yang maksimum.” Tapi, jangan berputus asa—panas yang mematikan adalah sebuah jalan panjang yang harus dilalui, jika sungguh ia mungkin terjadi. Kelvin dan Carnot berasumsi bahwa alam semesta ini adalah sebuah sistem tertutup, tapi, dalam kenyataan, banyak dari teori-teori mutakhir yang menggambarkannya sebagai berekspansi dan mendinginkan. Ini tidak harus merupakan berita gembira

dalam dirinya sendiri, tapi, ia merumitkan gambaran tentang panas-yang mematikan (heat-death) ini. Selanjutnya, pakar fisika Austria Ludwig Boltzmann (1844-1906) telah menunjukkan bahwa Hukum Kedua Termodinamika adalah tidak bersifat kaku, tidak seperti pemikiran Carnot tentang hukum fisika yang deterministik. Sebagaimana telah dia nyatakan, keadaan menyeluruh dari suatu gas (seperti udara bertemperatur 80° di dalam kamar kita), diukur oleh temperatur dan volume, ia tidak ditentukan secara tunggal oleh pola khusus apapun dari aktivitas molekuler. Yaitu, molekul-molekul dalam kamar kita yang dapat bergerak cepat ke sekitar dengan banyak cara yang berbeda-beda dan kita masih akan memperoleh temperatur yang sama. Boltzmann menyebut skenario-skenario ini—pola-pola dari molekulmolekul yang bergerak sangat cepat ---sebagai keadaan mikro (“micro states”), dan mendefinisikan suatu “keadaan makro” (“macrostate”) [temperatur dan volume] bahwa semakin bersifat “mungkin” (“probable”), semakin keadaan-keadaan mikro dapat menghasilkannya (semakin ia cenderung, pada akhirnya, untuk menampak secara alami). Entropi, berdasarkan definisi ini, mengukur probabilitas dari suatu keadaan makro, dan Hukum Kedua Termodinamika, dengan demikian, menegaskan bahwa sistemsistem cenderung menuju suatu keadaan probabilitas yang maksimum. Tentu saja, ini masih menyisakan kepada kita dengan ketidakteraturan yang meningkat, jika tidak dengan panas yang mematikan, karena keadaankeadaan yang tidak teratur ini adalah jauh lebih mungkin (lebih mudah untuk menghasilkan) daripada keadaan-keadaan yang teratur. Jika anda mengocok sebungkus kartu dalam waktu yang cukup, maka kartu-kartu itu akan kembali

lagi secara teratur, tapi dengan melakukan yang demikian sebelum hari kiamat, ini tidak begitu menjanjikan. Demikian pula, adalah sangat sulit untuk membuat utuh kembali sebuah telor. Tapi, apa yang diizinkan oleh teori Boltzmann adalah sebuah peningkatan peluang tentang energi yang berguna tanpa seseorang harus melakukan sesuatu, sama sekali---alam akan

mengurangi secara bertahap entropi dari sebuah sistem.
Apapun yang terjadi, bahkan jika alam semesta ini sebagai suatu keseluruhan sedang mengarah menuju chaos, ia akan selalu mungkin untuk mengurangi entropi secara lokal. Setiap kali anda membersihkan sampah di ruang kantor anda, anda sedang menghasilkan keteraturan (order) dan mengurangi entropi, dan hal yang sama akan terjadi pula setiap kali suatu tanaman berbunga. Keteraturan semacam ini mungkin muncul sebagai biaya yang harus dikeluarkan dari ketidakteraturan yang terjadi dimana saja, dan tentu saja, energi yang berguna ini dimanfaatkan (dihabiskan) dalam prosesnya. Tapi, sebagaimana halnya dengan matahari yang tidak akan membakar apa saja dengan segera, anda boleh bersorak, dan mengambil apa yang dapat anda peroleh.

Sib erne tika
(Cy be rn et ics )

merupakan tesis dari buku ini bahwa masyarakat hanya dapat dimengerti melalui sebuah studi tentang pesan-pesan dan fasilitas-fasilitas komunikasi yang menyertainya; dan bahwa dalam perkembangan di masa depan tentang

pesan-pesan dan fasilitas-fasilitas komunikasi ini, pesan-pesan antara manusia dan mesin-mesin, antara mesin-mesin dan manusia, dan antara mesin dan mesin, telah ditakdirkan untuk memainkan suatu peran yang semakin meningkat. Norbert Wiener, The Human

Use of Human

Beings: C ybernetics

and

Society (1950)

“Cyber” adalah suatu awalan (prefix) yang sangat nge-trend dewasa ini, ucapan terima kasih (layak ditujukan kepada) novelis sains-fiksi, William Gibson, yang telah menemukan istilah “ruang maya” (cyber space) di pertengahan tahun 1980-an. Ruang maya adalah lebih dari sekadar tetangga baru dalam ruang yang biasa ini; ia adalah kuasi-realitas (quasi = seperti), yang dihasilkan oleh komunikasi jarak jauh melalui komputer, dimana masyarakat dan data saling berinteraksi dalam cara-cara baru yang aneh. Dengan munculnya istilah cyber- untuk menamakan orang/hubunganhubungan melalui komputer ini, anda mungkin sangat kaget menemukan bahwa akarnya berasal dari istilah Yunani untuk “manusia yang membimbing” (“steerman”), kybernêtês (juga akar dari kata “governor” = pemerintah). Dan dalam kenyataan, penggunaan pertama kalinya dapat ditelusuri hingga tahun 1940-an, bukan tahun 1980-an, ketika seorang pakar matematika Amerika di M.I.T., Norbert Wiener (1894-1964), telah menemukan istilah “cybernetics” untuk menggambarkan pengetahuan tentang pengontrolan atau “mengarahkan” (steerting) persenjataan otomatis dan mesin-mesin lain. Wiener terutama sangat tertarik dengan kemiripan-kemiripan antara instruksi-instruksi mesin dengan bahasa dan perilaku manusia. Sebagai

langkah pertamanya, dia mulai menggunakan kata “feedback” (umpan balik) pada mesin-mesin otomatis. (Penemuannya tentang istilah “cybernetics” sebagiannya diilhami oleh esai penting pertama tentang feedback dari James Clerk Maxwell “On Governors”). Feedback adalah, secara singkat, apa yang anda peroleh ketika anda “mengumpan kembali” hasil-hasil dari operasioperasi mesin ke dalam mesin. Misalnya, ketika suara yang dihasilkan melalui sebuah mikrofon dihubungkan kembali melalui mikrofon itu, kita mengalami keceriaan dari umpan balik audio. Tapi, dalam banyak kasus lain dimana feedback itu diharapkan, ketika ia memungkinkan mesin-mesin untuk beradaptasi daripada hanya sekadar mengandalkan pada instruksi-instruksi baku. Pemanasan sentral, misalnya, bekerja berdasarkan prinsip feedback ini. Daripada memompa panas secara kaku melalui rumah anda pada interval-interval preset, pemanas-pemanas termostat-yang terkontrol dapat merespon perubahan-perubahan temperatur, dengan menyalakan (turn on) dan mematikan (turn off) sebagaimana yang dibutuhkan. Feedback adalah salah satu elemen penting dari argumen Wiener yang lebih umum bahwa mesin dan manusia menangani pesan-pesan dengan caracara yang mirip. Sistem syarat pusat, misalnya, mungkin dapat dipahami dengan cara suatu mesin feedback. Otak kita mengirim impuls-impuls, atau “pesan-pesan”, kepada otot-otot di tangan, yang menjelaskan kepadanya untuk menempuh cara ini atau itu setelah menerima “feedback” dari syaraf di tangan. (Otak memberitahu tangan untuk menggenggam sebuah gelas; tangan memberitahu otak bahwa gelas ini panas; otak memberitahu tangan untuk

melepas gelas itu; dan seterusnya). Proses melingkar secara terus-menerus ini adalah basis dari refleks-refleks dan proses pembelajaran. Kemiripan kunci antara manusia dan mesin, bagi Wiener, adalah bahwa keduanya (setidaknya jika mesin-mesin itu pintar, maksudnya, yang dapat menyalurkan feedback) mampu untuk mengorganisir berbagai hal dan menghasilkan informasi. Dia menggunakan istilah “informasi” dalam pengertian yang sangat luas, untuk memaksudkan sesuatu yang seperti “keteraturan” (order). Hukum Kedua Termodinamika menyatakan bahwa sistem-sistem cenderung untuk menjadi tidak teratur, statis, dan dapat diprediksi---mereka bersifat “entropik” [lihat hal...]. jika informasi adalah keteraturan, maka ia berlawanan dengan entropi; semakin tidak teratur atau semakin dapat diprediksi suatu pesan, semakin kurang informatif ia. “Kliseklise,” dia menjelaskan dengan contoh, “bersifat kurang memancar (mencerahkan) dibandingkan dengan puisi-puisi hebat.” Yang diperoleh Wiener adalah bahwa terdapat suatu unit pengetahuan tentang informasi dan kontrol---sibernetika---yang menerapkan secara setara terhadap komunikasi manusia dan mesin. Tapi, bagi pengetahuan ini untuk dapat mempunyai aturan-aturan umum, seseorang harus meminimalkan perbedaan kualitas antara manusia dan mesin. Jeleknya, Wiener mencoba untuk menyingkirkan konsep-konsep seperti “kehidupan”, “jiwa”, dan “vitalitas” sebagai semantik murni---“julukan-julukan yang meminta pertanyaan”, dia menyatakan demikian. Untuk tujuan-tujuan studi tentang pesan-pesan, pikirnya, yang terbaik adalah menghindari konsep-konsep semacam ini dan “hanya sekadar mengatakan dalam keterhubungan dengan mesin-mesin bahwa tidak ada alasan mereka ini tidak menyerupai manusia

dalam menghadirkan kembali kantong-kantong yang mengurangi entropi dalam suatu kerangka dimana entropi secara keseluruhan cenderung untuk meningkat.” Bahkan, adalah mungkin bagi mesin-mesin, ketika feedback berakumulasi, untuk “belajar”---satu contoh bagus adalah pesan dari komputer pad (bantalan lembut) yang secara bertahap dapat mengenali tulisan tangan pemiliknya. Doktrin sibernetika adalah basis bagi studi-studi yang lebih mutakhir tentang kecerdasan buatan atau “AI” (Artificial Intelligence). AI dapat dimungkinkan hingga kadar pemikiran manusia dapat ditiru secara formal--yaitu, sebagai suatu perangkat dari intruksi-instruksi yang jelas untuk memproses informasi. Jika pikiran dapat sepenuhnya direduksi pada instruksi-instruksi yang demikian ini, maka tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sebuah mesin yang diprogram secara penuh itu tidak mempunyai “pikiran” (mind). Banyak pihak yang mendapati ide ini ditolak, yang mendesak bahwa pemikiran tidak dapat direduksi pada perilaku mekanistik. Tapi, tak seorang pun yang sejauh ini dapat membuktikan bahwa fenomena mental---bahkan beberapa hal seperti cinta dan penderitaan--adalah sesuatu yang lebih dari impuls-impuls syaraf yang diprogram. Beberapa pihak melihat sebuah solusi dalam Teorema Godel yang Tidak Lengkap [hal. ...], tapi, tak seorang pun yang dapat diyakinkan.

Teor i Big Bang

Banyak pakar sains yang sangat skeptis mengenai mitos bibel tentang penciptaan. Tapi penjelasan mereka yang mendukung tentang dari mana surga dan bumi itu berasal, di permukaan, juga cukup sulit untuk dipercaya. Bahkan, ketika pakar sains Fred Hoyle menemukan nama “big bang”, terkait hal ini, dia pikir bahwa dia sedang melawak. Teori ini membayangkan sebuah masa sekitar lima belas milyar tahun yang telah lewat ketika semua materi dan energi di alam semesta ini--keseluruhan “alam semesta” itu sendiri---telah dikonsentrasikan dalam suatu poin tunggal dari dimensi nol dan kepadatan tak terhingga. Dalam suatu momen yang sangat tiba-tiba, di mana konsep-konsep seperti “sebelum” dan “momen” tidak bermakna apa-apa, inti ini meledak, mengeluarkan semua isinya dalam sekejap mata menjadi ruang dan waktu sebagaimana kita mengenalnya sekarang. Selanjutnya, alam semesta ini terus-menerus mengembang dan mendingin, mengizinkan unsur-unsur dan selanjutnya obyek-obyek konkret untuk membentuk. Ia terus-menerus mengembang dan mendingin sejak saat itu. Logika dibalik teori “big bang” ini adalah sesuatu yang seperti logika dibalik teori “Penggerak Utama” yang sekarang ini telah diragukan dan ditolak [lihat hal. ...]. Kisah ini bermula dari Arbert Einstein, yang teori umumnya tentang relativitas (1916) mendesak bahwa alam semesta ini dalam keadaan mengembang atau mengerut (berkontraksi). Pada mulanya, Einstein merasa malu oleh dalil ini, ketika dia, seperti semua para pakar astronomi di masanya, telah beranggapan bahwa ukuran dan bentuk dari alam semeta ini telah baku

atau stabil. Jadi, Einstein mencoba memberi “kosmetik” agar dapat mengukuhkan (fix) teorinya, sebuah langkah yang dia sesali kemudian. Dalam kenyataan, hanya satu tahun setelah Einstein mempublikasikan teori umum relativitas, seorang pakar astronomi Amerika, Vesto Slipher mempublikasikan penemuannya yang luar biasa dimana setiap obyek yang terpisah yang dia cermati, tampak bergerak menjauh dari bumi. Bukti yang tersimpan dalam apa yang disebut dengan “redshift” dalam sepktrum sinar yang dipancarkan oleh obyek-obyek itu—warna mereka sebagaimana yang dicermati disini di permukaan bumi ini tampak lebih merah daripada sinar yang harus dipancarkan oleh obyek-obyek ini. Redshift ini dapat dijelaskan melalui analogi suara sirine yang sedang lewat. Setiap orang tahu bahwa raungan dari sebuah mobil ambulans tampak lebih nyaring dalam nada tertentu (pitch) saat mobil ambulans sedang mendekat dan bunyi sirine yang lebih rendah dalam nada tertentu saat ia bergerak menjauh. (Pitch [tinggi rendahnya nada], ditentukan oleh frekuensi dari suatu gelombang suara--yaitu, jumlah tempo per detik ia mencapai intensitasnya yang terbesar). Ini disebut dengan Efek Doppler” [Doppler effect], yang mengikuti dari fakta bahwa gelombang-gelombang suara itu “merentang” jika sumber suara bergerak menjauh. Hal yang sama berlaku juga bagi sinar: jika sumber sinar bergerak menjauh dari orang yang memandang, maka sinar itu akan tampak menjadi lebih rendah frekuensinya, yaitu berwarna lebih merah, daripada seandainya sumber cahaya itu diam tak bergerak. Slipher tidak cukup tahu apa yang harus dilakukan dengan penemuan ini, tapi ia menjadi jauh lebih dipahami ketika, pada tahun 1929, pakar astronomi Edwin Hubble mengumumkan suatu korelasi antara jarak (distance)

dari suatu obyek dari bumi dan kecepatan (speed) dimana ia bergerak menjauh dari kita. Dua kuantitas ini, demikian penemuan Hubble, ada dalam hubungan yang langsung: jika obyek B dua kali jauhnya dari A, maka obyek B bergerak menjauh dua kali kecepatan obyek A. Kesimpulan logis yang dapat ditarik---jika anda memikirkan logika relativitas—adalah bahwa alam semesta ini terus-menerus mengembang. Untuk sebuah gambaran sederhana tentang mengapa, bayangkan permukaan sebuah balon ketika seseorang meniupnya. Baik observasi dan geometri menunjukkan poin-poin ini pada permukaan balon bergerak menjauh lebih cepat jika ia berjarak lebih jauh. Dalam kenyataan, jika titik B aslinya satu inci jaraknya dari titik A, dan titik C berjarak dua inci dari A, maka C akan tampak “menjauh” dari A dua kali lebih cepat daripada yang dilakukan B. Hal yang sama juga terjadi dengan alam semesta ini, kecuali ia bukan sebuah balon tiga-dimensi, tapi lebih berupa ruang-waktu kontinum empatdimensi. Penemuan dari Einstein ini telah dikaitkan dengan observasiobservasi Slipher oleh seorang pendeta Belgia dan guru matematika yang bernama Georges Lemaître yang mencoba pertama kali untuk menelusuri dan merunut ke belakang tentang pengembangan kosmik. Sebagaimana halnya dengan Aristoteles dan para pengikutnya yang menelusuri ke belakang ke tahun-tahun kemunculan pertama kali dari “sebab yang tak disebabkan”, Lemaître menelusuri jejak proses mengembangnya alam semesta ke belakang menuju ke asal-usul penciptaannya. Dengan tersedianya informasi tentang alam semesta ini yang terusmenerus mengembang sementara total energi masih tetap sama, semakin jauh kita merunut ke belakang menembus waktu-waktu, semakin padat alam

semesta ini harusnya. Baik materi dan energi---yang berdasarkan pada teori Einstein adalah saling berubah-ubah---harusnya terkonsentrasi dalam suatu ruang yang lebih kecil. Semakin awal keadaan dari alam semesta ini, semakin padat dan lebih panas ia harusnya, ketika panas mengukur rata-rata energi yang terkandung dalam suatu ruang yang tersedia. Dengan membawa proses ini menuju kesimpulan logisnya, kita mendapati semua materi dan energi terkonsentrasi dalam sebuah titik sangat panas yang tunggal, yang oleh Lemaître disebut dengan “atom zaman purba” (primeval atom). Dan dia menyebut saat dimana atom mulai mengembangkan “suara yang sangat gaduh”---nama yang untuk waktu selanjutnya “diperbaiki” oleh Hoyle. Ini tentu saja sulit, jika tidak mustahil, untuk membayangkan sebuah permulaan semacam ini, karena istila-istilah seperti “kepadatan tak terbatas” dan “titik tunggal” menentang segala sesuatu yang kita alami. Dengan mencoba untuk membayangkan suatu periode waktu sebelum waktu itu eksis tampaknya larut ke dalam paradoks-paradoks. Tapi, barangkali ini bersifat membantu untuk memikirkan kesimpulan Einstein, dalam teori umum relativitas, bahwa gravitasi hanyalah pembelokan dari kerangka ruang-waktu. Semakin padat sebuah obyek, semakin ia “melengkungkan” (curve) ruang di sekitarnya, seperti halnya obyek-obyek yang lebih berat, ketika dijatuhkan di atas permukaan karet yang ketat, lebih melenturkan permukaan karet ini daripada permukaan karet yang lebih ringan. Pada tahap yang paling awal, alam semesta yang terbungkus padat tidak “mengandung” semua ruang sebanyak ia membungkus ruang di sekitarnya menjadi sebuah titik dari pelengkungan yang tak terbatas. (Semakin kecil sebuah bola, semakin besar pelengkungan dari permukaannya).

Tak satupun dari ini yang menjelaskan mengapa terdapat suatu dentuman besar (big bang); ia hanya menegaskan bahwa ia harus terjadi. Dan apa yang terjadi beberapa detik setelah setelah dentuman besar adalah murni spekulasi kosmologis, meskipun bukti-bukti semakin menumpuk setiap harinya (tidak semua darinya konsisten sepenuhnya dengan teori). Dikembangkan dari gambar yang diajukan oleh pakar sains Rusia-Amerika, George Gamow di akhir tahun 1940-an, deskripsi standar dari dentuman akan berlangsung seperti ini: Pada saat terjadinya dentuman besar, hanya ada satu jenis materi, yang disebut dengan “partikel-partikel super”, di alam semesta yang sangat kecil. Partikel-partikel ini saling berbenturan secara keras untuk selama kira-kira 10ˉ⁴₃detik setelah dentuman---yaitu .0000000000000000000000000000000000000000000000000000000001 dari satu detik. Namun, kali ini, alam semesta telah mengembang dan oleh karena itu mendingin hingga pada titik dimana partikel-partikel lain dapat menampakkan diri dan menjadi cukup stabil untuk menolak benturan-benturan partikel yang kurang keras sekarang ini. Partikel-partikel baru ini adalah elektron-elektron, photon-photon, dan quarks7 yang tidak menggumpal secara efektif. Di waktu alam semesta ini mengalami perwujudan keduanya (secon old), dan masih cukup panas---kira-kira 10.000.000.000 derajat Kelvin— beberapa pihak yang lain berpendapat, lebih besar dari itu, partikel-partikel yang lebih substansial sedang membentuk dan bertahan: neutrinos, protonproton, dan neutron-neutron. Kira-kira dalam 90 detik berikutnya, proton-proton dan neutronneutron mulai membentuk nuclei atom, yang berkembang menjadi unsur-unsur
7

Quarks = partikel terkecil yang membentuk atom.

yang paling awal: deuterium pertama, kemudian helium, kemudian lithium dan

beryllium. Dalam pergerakan mereka ke depan, semua unsur-unsur lain yang
telah diketahui telah dibentuk, tapi ini akan membutuhkan waktu sekitar satu juta tahun. Namun, apa yang hilang dari gambar ini adalah nasib dari neutrinos ini (dan apa yang disebut dengan “anti-neutrinos”, yang lahir bersama mereka) yang dihasilkan pertama kali dalam perwujudan alam semesta yang kedua ini. Berdasarkan pada teori ini, mereka harusnya masih berada di suatu tempat di latar belakang dari alam semesta ini, meskipun radiasi mereka akan menjadi dingin sekarang menuju temperatur yang sangat rendah---kira-kira 2.7° Kelvin. Ini yang disebut dengan “radiasi latar belakang” (background radiation) yang telah diprediksi oleh teori ini, dalam kenyataannya telah dideteksi pada tahun 1965 oleh dua peneliti dari Bell Telephone, Arno Penzias dan Robert Wilson. Penemuan ini adalah konfirmasi eksperimental yang pertama dari teori big bang secara umum, dan masih terdapat banyak penemuan lain yang menegaskan tentang hal ini yang melengkapinya dengan beberapa perincian. Misalnya, pada tahun 1992, pakar sains Amerika George Smoot dengan cara mengukur radiasi di Antartika, telah menunjukkan bahwa “gumpalan” atau bentuk yang tak teratur dari alam semesta ini telah eksis dalam “benih” selama satu juga setengah tahun dari de4ntuman besar ini. Ini sulit untuk dimengerti, tapi cukuplah untuk mengatakan bahwa mereka mengizinkan kita untuk menjelaskan bentuk yang dihasilkan dari alam semesta sekarang ini dalam istilah tentang gravitasi, dan mereka menunjukkan bahwa teori big bang ini, jelasnya, berada pada jalan yang benar.

Cha os
Chaos, yang berasal dari bahaya Yunani yang berarti “membuka lebar-lebar kekosongan”, tidak harus merupakan sesuatu yang buruk. Ketika dalam ketidakteraturan yang murni, terkandung sedikit sesuatu untuk direkomendasikan; tapi, apa yang dimaksudkan oleh pakar matematika James Yorke ketika dia meminjam istilah ini pada tahun 1975 adalah ketidakteraturan yang di-pola (dirancang untuk mengikuti sebuah pola)---sebuah bentuk yang mendasari ke-acak-an yang tampak. Dan ini adalah sesuatu yang sangat bagus. “Teori Chaos”---studi dari semacam ketidakteraturan yang teratur--menjadi nge-trend hanya di tahun 1980-an, tapi, ia berasal-usul di dalam mikroorganisme (terutama yang bersifat pathogen) di tahun 1960, ketika pakar meteorologi M.I.T. Edward Lorenz mengembangkan model-model komputer yang beradarkan pada pola-pola cuaca. Sebagaimana telah diketahui oleh setiap orang, cuaca itu sangat sulit diprediksi dalam jangka panjang, meskipun demikian, kita dapat mengisolasi banyak dari faktor-faktor yang menyebabkannya. Lorenz, seperti halnya pakar-pakar lain, telah memikirkan semua yang diperlukan demi berlangsungnya prediksi yang lebih baik adalah sebuah model yang lebih komprehensif. Lalu, dia menulis sebuah program yang berbasis pada dua belas ekuasi-ekuasi sederhana yang secara kasar mengkonstruk faktor-faktor utama yang mempengaruhi cuaca. Lorenz telah menemukan sesuatu yang mengejutkan: perubahanperubahan kecil atau kesalahan-kesalahan (errors) dalam sepasang dari variasi-variasi yang menghasilkan efek-efek yang janggal dan liar. Selama

beberapa hari, mereka hampir tidak membuat suatu perbedaan; tapi berekstrapolasi (menarik kesimpulan [informasi yang belum diketahui] dari informasi yang telah diketahui) setelah berlangsung sebulan atau lebih, perubahan-perubahan yang menghasilkan pola-pola yang berbeda sepenuhnya. Lorenz menyebut penemuannya ini dengan “Efek Kupu-kupu” (“Butterfly Effect), yang diambil dari judul sebuah paper yang dia publikasikan pada tahun 1979: “Predictability: Does the Flap of a Butterfly’s Wings in

Brazil Set Off a Tornado in Texas?”Dengan kata lain, dapatkah faktor-faktor
menit pada akhirnya menghasilkan hasil-hasil yang tak dapat diprediksi, rentang yang luas (far-flung), dan bencana hebat (katastropik)? Lorenz memanjakan keinginannya dengan sedikit hiperbol karena dia ingin mendramatisir inti pandangannya. Praktis, seluruh ilmu fisika sebelum tahun 1970-an, memfokuskan perhatian pada apa yang disebut dengan proses “linier”8---proses-proses dimana perubahan-perubahan kecil menghasilkan hasil-hasil kecil yang sama. Bahkan sejumlah besar fenomena---bukan hanya dalam disiplin ilmu meteorologi dan fisika, tapi juga dalam ilmu biologi, ekologi, ekonomi, dan lain-lain---tidak mengikuti hukum-hukum linier atau mengikuti formula-formula yang bersifat linier. Proses-proses “non-linier” adalah yang ekuasi-ekuasinya melibatkan variabel daripada laju perubahan yang bersifat stabil, dimana perubahan-perubahan di-ganda-kan daripada ditambahkan, dan dimana deviasi-deviasi kecil dapat mempunyai efek-efek yang sangat besar. Langkah selanjutnya menuju sebuah teori tentang chaos, muncul pada tahun tujuh puluhan ketika Yorke dan rekannya, seorang pakar biologi Robert
8

Linear = Menyerupai sebuah garis lurus, hanya mempunyai satu dimensi (penerjemah).

May, mulai menguji properti-properti dari apa yang disebut dengan “ekuasi logistik”, yang menyediakan suatu model sederhana bagi pertumbuhan populasi, diantara hal-hal lain. (Untuk detail-detail yang sangat kompleks, lihat EKUASI-EKUASI, hal. ....). Cara ekuasi ini bekerja adalah bahwa hasilhasil terus dalam keadaan terhubung kembali guna memperoleh hasil-hasil yang baru, dimana diri mereka sendiri juga terhubung, dan lain-lain. Yang membuat ini sangat menarik adalah bahwa bergantung pada bagaimana cara anda memluntir9 sebuah faktor tertentu, apakah hasil-hasil menjadi semakin dapat diprediksi atau semakin bertambah chaos. Tapi, bahkan situasi chaos dari ekuasi logistik mempunyai jenis polanya sendiri yang khas. Sementara anda tidak pernah dapat memprediksi apa hasil khusus dari menampilkan ekuasi itu jadinya, anda tahu bahwa ia akan jatuh ke dalam suatu range khusus yang tertentu. (Jika anda membuat grafik tentang hasil-hasil ini, anda akan melihat suatu bentuk yang stabil dan mantap atau munculnya pola). Banyak ekuasi-ekuasi lain yang berperilaku serupa, yang menghasilkan chaos dengan sebuah bentuk---diantaranya adalah ekuasiekuasi yang memperagakan turbulensi cair atau naik turunnya harga kapas. Ekuasi-ekuasi semacam ini adalah celah (flipside) dari formula cuaca Lorenz: ke arah mana harga kapas akan menuju di suatu hari yang tertentu adalah tidak dapat diprediksi (atau kita semua dapat menjadi kaya dengan memainkan pasar di masa depan); tapi sejarah dari harga-harga kapas menunjukkan suatu keteraturan tertentu. Nama yang diberikan pada keteraturan ini adalah “fractal”10: jika anda mem-plot sebuah diagram tentang fluktuasi-fluktuasi harga dari menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu
9

Tweak = Menarik sesuatu disertai gerak memutar.

Fractal = Suatu pola geometris yang diulang-ulang pada skala yang paling kecil guna menghasilkan bentukbentuk yang tak teratur, yang tak dapat digambarkan oleh geometri klasik.
10

ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, bentuk dari diagram-diagram yang paling kasar pola jaringannya (peta dari tahun-ke-tahun) akan tergambar dalam diagram-diagram yang mencerminkan pola jaringan yang lebih halus. Sebuah diagram fractal dapat diperbesar sesuai yang anda kehendaki, dan ia akan sangat menyerupai, dan kadang-kadang mereproduksi secara persis, bentuk dari gambaran yang lebih luas. Perilaku semacma ini tentang kurva harga kapas telah ditemukan pada awal tahun 1960-an oleh seorang kelahiran Lithuania, yang mengenyam pendidikan di Perancis dan Amerika serta seorang polymath (orang yang mempelajari banyak disiplin keilmuan), Benoît Mandelbrot. Saat bekerja untuk IBM, dia menemukan bahwa fenomena lain telah berbagi kualitas fractal dari harga-harga kapas---misalnya, distrusi dari “suara berisik” (error) dalam transmisi elektronik. Secara bertahap, Mandelbrot menemukan contoh-contoh lain dari perilaku yang sama, dengan mengalihkan contoh ke geografi untuk

paper-nya yang sangat orisinal “How Long Is the Coast of Britain?” Ide dasar
dari paper ini adalah bahwa semua jenis dari obyek-obyek alami, seperti pantai Inggris, mempunyai suatu tingkat kekasaran (roughness) yang terlihat sama, tak peduli seberapa dekat anda mendekati mereka. Dilihat dari suatu titik yang jauh, atau dilihat melalui sebuah mikroskop, suatu pantai akan terlihat tidak teratur---sehingga, tanpa satu indikator pun yang menandai seberapa jauh sebuah gambar dari pantai telah diambil, ia akan menjadi sulit, jika tidak mustahil, untuk menjelaskannya. Untuk menggambarkan kembali tulisan (rekursif) ini, ketidakteraturan yang mencerminkan-diri (self-reflecting) atau kekasaran, Mandelbrot memperluas gagasan tentang dimensi matematika. Kita terbiasa berpikir

dalam istilah-istilah tentang dimensi-dimensi integral---satu garis dari dimensi I, suatu ranah dari dimensi 2, suatu kubus dari dimensi 3. tapi, Mandelbrot memperkenalkan konsep tentang dimensi-dimensi fractional--1.3, 2.7, 12.2---untuk menggambarkan pengulangan kembali atau kekasaran (tidak rata) yang dia lihat di garis-garis pantai dan kurva-kurva harga. (Pikirkan tentang suatu dimensi fraksional sebagai suatu ukuran tentang seberapa banyak yang dikonsumsi oleh suatu dimensi total dari sebuah garis atau bentuk. Semakin kasar sebuah bentuk, semakin banyak ruang yang ia konsumsi). Pada tahun 1975, dia menemukan istilah “fractal” untuk menamakan geometri dimensional-fraksional. Geometri fraktal dan chaos telah menjadi pijakan dan batu loncatan bagi penemuan selanjutnya oleh pakar fisika Mitchell Feigenbaum di pertengahan tahun tujuh puluhan, bahwa banyak sistem yang bersifat non-linier yang tampaknya tidak saling berhubungan, berperilaku dengan cara-cara yang sangat serupa. Ini mensugestikan bahwa mungkin terdapat sebuah teori yang menyatukan, yang menjelaskan perilaku chaotic dari sistem-sistem dan ekuasi-ekuasi dalam seluruh rentang disiplin-disiplin keilmuan. Dan itulah yang terjadi ketika para pakar sains benar-benar mulai menaruh perhatian. Chaos masih belum lama kemunculannya, dan ia masih sedang diperhalus; aplikasi-aplikasi baru telah diteliti atau ditemukan, paper-paper terus dipublikasikan, keraguan dan demonstrasi [ilmiah] ditampilkan secara bergantian dan yang berlangsung sangat cepat. Masih saja, teori chaos memancarkan cahaya pada sistem-sistem perilaku, sistem-sistem paling murni dari cairan-cairan yang mengalir, yang cenderung pada perubahan secara cepat dari kondisi yang stabil menuju apa yang tampak sebagai

perilaku chaotic, cara yang ditempuh oleh air dari keadaan sebelum berubah hingga menjadi mendidih saat temperaturnya naik sedikit. (Pada temperatur 99.5° c, air baru saja panas; pada temperatur 100.5°, keadaan air sedang berubah, menjadi gas). Jargon ini dapat mengintimidasi---hal-hal sedemikian ini yang menjadi “penarik-penarik asing” (strange attractor) adalah sulit untuk dijelaskan. (Mereka, pada dasarnya, adalah bentuk-bentuk yang membatasi kurva-kurva yang tidak mengekspresikan diri dengan cara yang sama, jika itu adalah bantuan). Dan ide-ide semacam ini sebagai “dimensi fraksional” adalah cenderung untuk terlihat sangat tidak konvensional atau abstraksi yang tidak ada gunanya---tapi dalam kenyataan, geometri fractal mempunyai banyak aplikasi-aplikasi praktis. Sebagaimana dijelaskan oleh James Gleick dalam buku populernya tentang chaos, dengan mengukur dimensi fractal dari permukaan logam, akan memberitahu anda tentang kekuatannya. Permukaan bumi ini mempunyai suatu dimensi fractal, sebagaimana halnya dengan pembuluh-pembuluh darah dalam tubuh anda. Bahkan, otak manusia dan kesadarannya, sangat mungkin mempunyai bentukbentuk fractal. Geometri fractal telah diadopsi di tempat-tempat seperti General Electric, Exxon, dan studio-studio Hollywood, bukan kelompok yang dikenal karena memanjakan teori yang murni.

Apakah Anda Mempunyai Kedua Mata Ibu Anda?:
Evolusi dan Genetika

Ontogeni merekapitulasikan Filogeni
11

12

Ontogenesis atau perkembangan organik dari individu---sebagai serangkaian dari perubahan-perubahan dalam bentuk yang setiap individu lewati selama keseluruhan periode dari eksistensi individualnya--- adalah langsung terkondisi oleh filogenesis atau perkembangan dari persedian organik (Phylon) kemana ia termasuk.... Ontogenesis adalah rekapitulasi pendek dan sangat cepat dari filogenesis, yang disebabkan oleh fungsi-fungsi fisiologis dari keturuan (reproduksi) dan adaptasi (pengasuhan). Ernst Heinrich Haeckel, General Morphology of Organisms (1866)

Apakah spesies-spesies secara esensi masih tetap sama atau apakah mereka berubah? Bagaimana suatu organisme bertumbuh dari embrio hingga menjadi orang dewasa? Dua pertanyaan yang sangat jelas ini tampaknya menemukan jawaban bersama dalam teori bahwa “ontogeni merekapitulasikan filogeni” (sebuah teori yang sekarang ini telah ditinggalkan). Dalam bahasa Inggris yang mudah dimengerti, ide ini menyatakan bahwa sejarah dari perkembangan sebuah organisme (“ontogeni”-nya) mengulangi perkembangan evolusioner dari spesies-spesies-nya (“filogeni”). Untuk mengatakan bahwa jika para nenek moyang evolusioner manusia itu mencakup ikan dan monyet, maka, pada titik yang berbeda dalam pertumbuhannya, embrio manusia akan menyerupai ikan dewasa dan menyerupai seekor monyet dewasa. Ide ini telah dikembangkan pada tahun 1860-an oleh pakar zoologi Jerman, Ernst Haeckel (18341919), yang menyebutnya “hukum bio-genetika”; ringkasan bahasa Inggrisnya: “ontogeni merekapitulasikan filogeni”, yang dimuat dalam jurnal Quarterly Journal of Microscopical Science pada tahun 1872. (Haeckel menemukan istilah “ontogeni” dan “filogeni”, seperti halnya istilah sekarang yang lebih akrab: “ekologi”). Dibalik teori Haeckel adalah pertanyaan yang sudah sangat lama tentang bagaimana organisme mengambil bentuk. Sebagaimana dijelaskan oleh Aristoteles, pakar zoologi yang pertama, embrio-embrio binatang, pada awalnya, tampak tak berbentuk. Dia cenderung untuk meyakini bahwa pertumbuhan berlangsung dalam tiga tahap yang jelas, dimana selama tahap-tahap itu, suatu bentuk baru yang dikesankan dari luar pada embrio ini.

Ontogeni = Asal-usul dan perkembangan dari suatu organisme individual. Juga disebut dengan Ontogenesis (Penerjemah).
11

Filogeny (Phylogeny) = Perkembangan evolusioner dari suatu spesies binatang atau tumbuhan. Disebut juga dengan phylogenesis (Penerjemah).
12

Bertentangan dengan teori ini, yang mempengaruhi selama berabad-abad, teori lain telah dikembangkan pada abad delapan belas. Disebut dengan “praformasionisme” (preformationism), ia menganut pendapat bahwa organisme dari konsepsi mengandung bentuk dewasa yang lengkap, yang terbentang dalam waktu. Jadi, embrio manusia sejak dari garis start-nya telah mempunyai sepasang lengan, kaki, paru-paru, mata, telinga, dan seterusnya, hanya saja masih dalam versi yang primitif. Tidak ada bentuk yang perlu dibebankan dari luar; segala sesuatunya telah ada disana, hanya menunggu untuk tumbuh. Ironisnya, proses ini adalah apa yang dimaksudkan oleh para pakar biologi, pada mulanya, sebagai “evolusi” (secara harfiah berarti “membuka gulungan”), meskipun demikian, ia bertentangan dengan apa yang kita maksudkan sekarang ini dengan “evolusi”. Preformasionisme mengalami keterpurukan saat peralihan abad sembilan belas, ketika para filosuf, ilmuwan, dan penyair dan semacamnya, mulai memandang dunia ini bukan sebagai telah dibentuk sebelumnya (preformed) atau yang bersifat statis, tapi sebagai suatu proses dinamis yang konstan, sebagai perubahan yang progresif. Pada waktu yang sama, ide-ide “Romantik” yang lain juga dianut, diantaranya adalah keyakinan tentang kesatuan esensial manusia dengan seluruh alam ini. Diilhami oleh ide-ide semacam ini, sekelompok pakar biologi Jerman yang dikenal sebagai para filosuf natural (Naturphilosophen) pertama kali mengajukan sejenis rekapitulasi biologis. Sebagaimana mereka telah membayangkannya, manusia adalah makhluk terhebat dan paling maju di muka bumi ini, tujuan dimana seluruh Alam ini selalu diperjuangkan dan terhadapnya (manusia) ia disatukan. Dengan pengandaian bahwa Alam beroperasi, sebagaimana yang mereka asumsikan, berdasarkan pada hukumhukum yang selalu sama dan universal, manusia harus menghadirkan kembali tahap yang paling maju dari suatu perkembangan organik yang dibagi bersama dengan semua makhluk. Semua organisme yang lebih rendah, demikian kesimpulan dari Naturphilosophen, hanyalah aproksimasi-aproksimasi (sangat mirip) secara sebagian (tidak lengkap) dengan manusia, dan manusia adalah tahap akhir dalam suatu proses kesempurnaan. Jadi, ketika manusia bertumbuh dari sejak embrio hingga menjadi bayi yang baru lahir, ia harus melalui semua aproksimasiaproksimasi yang lebih rendah untuk mencapai tingka yang lebih tinggi, sementara binatang-binatang yang lebih kecil telah dibakukan dalam suatu keadaan perkembangan yang tertahan. Teori ini---yang tidak secara pasti merampas dunia ini dengan serangan tibatiba---masih tidak beranjak terlalu jauh dari teori Haeckel. Karena semua yang telah dikatakan oleh Naturphilosophen ini adalah bahwa embrio manusia melewati tahaptahap yang dilalui oleh organisme-organisme lain di masa sekarang ini. Selanjutnya, sementara masing-masing dari spesies-spesies yang “lebih tinggi” ini menghadirkan kembali sejenis langkah evolusioner yang melampaui spesies-spesies yang lebih rendah, spesies-spesies itu sendiri tidak berubah sepanjang waktu. Versi evolusi yang lebih akurat dari Haeckel tentang teori ini telah diilhami, tentu saja, oleh karya

Charles Darwin Origin of Species (1859), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1860. Pada permukaan, tak ada satupun yang mustahil tentang tesis ini. Embrioembrio manusia mempertahankan keunggulan sifat-sifatnya (features) [seperti halnya insang-insang] yang adalah relics (tumbuh-tumbuhan atau hewan purba yang masih tetap hidup) evolusioner dan yang mengalami kepunahan atau yang digantikan ketika janin berkembang. Jika alam ini bersifat ekonomis dan tidak mengupayakan hukum-hukum atau proses-proses yang tidak ia perlukan, maka, akan menjadi masuk akal bahwa proses melewati dari yang sederhana menuju kompleksitas akan menduplikasi evolusi dari organisme yang sederhana menuju ke organisme yang lebih kompleks. Haeckel bahkan meyakini bahwa evolusi (filogeni) secara langsung telah menyebabkan jalan ontogeni. Tapi, pada pengujian secara lebih jauh, gagasan ini terbukti tidak mencukupi persyaratan (inadequate). Masalah terbesarnya adalah teori evolusi Haeckel. Dalam pandangannya, suatu spesies berkembang dengan cara beradaptasi dengan lingkungannya dan kemudian dengan melewati perubahan-perubahan yang dihasilkan menuju generasi berikutnya. (Posisi ini dikenal sebagai “Lamarckisme”). Ketika ditunjukkan kemudian bahwa evolusi bergantung pada (pada esensinya bersifat acak) mutasi genetika, seringkali pada tahap-tahap perkembangan yang paling dini, permadani telah digulung dari bawah biogenesis. Karena, jika evolusi “terjadi” untuk berbicara secara longgar) menuju ke permulaan dari ontogenesis--yaitu, jika gen-gen bermutasi secara dini di dalam suatu perkembangan embrio--maka rekapitulasi akan gagal. Karena, teori Haeckel, pada dasarnya, menyatakan bahwa filogenesis adalah additive (suatu substansi yang ditambahkan dalam jumlah kecil pada sesuatu yang lain untuk meningkatkan atau memperkuatnya)---yaitu, anda mengambil serangkaian langkah-langkah evolusioner dan menambahkan sesuatu yang baru di akhirnya. Jika menyangkut apa saja, maka, filogeni merekapitulasikan ontogeni. Yaitu, ketika perkembangan dari suatu organisme menyimpang dari jalur yang normal yang evolusi dari spesies menjadi mungkin. Dewasa ini, para pakar biologi melihat dengan lebih bersemangat pada karya dari Karl Ernst von Baer, seorang warga Jerman yang mengkritik Naturphilosophen (dan juga, secara kebetulan, selanjutnya mengkritik Darwin). Pada tahun 1820-an, von Baer mencatat bahwa perkembangan embrionik itu tidak bersifat seragam atau paralel diantara hewan-hewan, tapi lebih beragam sifatnya. Semua embrio-embrio vertebrata (hewan yang mempunyai tulang belakang), misalnya, pada dasarnya, terlihat serupa di awalnya, karena mereka memulai sesuatu dalam keadaan mereka yang paling generik dan tidak berbeda. Dan jika kita membandingkan perkembangan embrionik dari spesies-spesies yang berbeda, kita melihat bahwa mereka tidak mengikuti garis-garis yang paralel, tapi lebih berupa, secara progresif, menyimpang dari yang umum menuju ke yang khusus, dengan tujuan akhir untuk menghasilkan tingkat perkembangan yang penuh dari spesies itu. yaitu, masing-masing spesies mengikuti jalannya sendiri, yang semakin menyempit dan sangat khas dari tahap telur hingga dewasa. Divergensi dari

spesies-spesies lain, bukan repetisi (proses mengulang-ulang) dari mereka, inilah aturannya. Atas dasar ini dan karena alasan-alasan lain, rekapitulasi secara resmi ditolak oleh para pakar biologi (meskipun dalam sketsa yang kasar, ia tampak memiliki beberapa kebenaran). Namun demikian, teori Haeckel menyebar melalui ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu-ilmu humaniora dan tidak pernah ditinggalkan seluruhnya. Carl Jung, yang reputasinya sedang menanjak, menggabungkannya ke dalam teorinya tentang “alam bawah sadar kolektif” [lihat hal. ...]. Yang juga tidak kurang otoritatifnya adalah DR. Benjamin Spock yang mempertahankan ide ini dalam buku kecilnya (sebagai referensi) yang populer tentang pengasuhan anak, dan juga yang tidak kurang terhormatnya adalah seorang ilmuwan Stephen Jay Gould yang telah menulis sebuah buku di tahun tujuh puluhan yang mempertahankannya. Rekapitulasi mungkin sama sulitnya dengan mengguncang ide tentang kemajuan (progress) itu sendiri.

Evolusi (“Survival of the Fittest”)
Meskipun banyak orang beradu argumen dengan sangat panas tentang validitasnya, beberapa pertanyaan yang teori evolusi telusuri jejaknya pada karya orang Inggris Charles Darwin (1809-1882). Tapi, sementara Darwin, sungguh, telah memberinya suatu basis ilmiah yang tegas, dia hampir saja bukan yang pertama yang mengajukan gagasan ini. Satu abad sebelum Darwin, seorang naturalis Perancis Georges Buffon, telah menulis secara luas tentang kemiripan (terutama dalam penampilan) diantara beragam spesies burung-burung dan hewan-hewan berkaki empat. Mengobservasi dengan sangat teliti kemiripan-kemiripan semacam ini dan juga berbagai hal yang umum terjadi secara alami yang tampaknya peralatan-peralatan (features) anatomis yang tak berguna (seperti satu jari kaki pada babi), Buffon menyuarakan keraguankeraguan bahwa setiap spesies telah dibentuk secara unik oleh Tuhan pada hari kelima dan keenam penciptaan. Buffon memberi sugesti dalam bahasa yang sangat hati-hati, setidaknya, jenis terbatas tentang evolusi yang akan dianggap sebagai varian-varian diantara spesies-spesies yang serupa dan karena anomali-anomali yang alami sifatnya. Tapi, sugesti Buffon tampaknya terlalu berhati-hati, dan apapun yang terjadi, zaman masih belum siap untuk mempercayainya. Satu generasi setelah Buffon, kakek Darwin, Erasmus Darwin, sebenarnya telah mempublikasikan seubah teori eksplisit tentang evolusi alami, dengan berspekulasi dalam bukunya Zoonomia (1794-1796) bahwa semua organisme-

organisme yang hidup mempunyai nenek moyang yang sama. Darwin yang lebih tua telah berada pada jalur yang benar, dan dia telah mampu untuk menarik contohcontoh dari pengalaman yang umum (misalnya, tentang reproduksi yang selektif dan pewarnaan yang protektif), tapi di bagian akhir dari pemikirannya, tidak semuanya koheren. Sungguh, ia gagal untuk meyakinkan, bahkan, cucunya sendiri. Lebih masuk ke pokok pembicaraan kita adalah teori-teori dari naturalis Perancis, Jean Baptiste de Monet, the Chevalier (Ksatria, Bangsawan terendah di Perancis) de Lamarck (1744-1829). Lamark telah menghadirkan sebuah teori yang koheren, dalam Philosophie zoologique (1809)---yaitu, bahwa spesies-spesies cenderung untuk beradaptasi pada tuntutan-tuntutan dari lingkungan mereka. Jadi, hewan jerapah, misalnya, telah mengembangkan lehernya yang panjang karena pohon-pohon yang sangat tinggi dalam habitat aslinya; ular-ular kehilangan kakikaki mereka karena mereka tidak membutuhkan mereka untuk pergi ke sekeliling. Singkatnya, jika suatu organisme yang hidup membutuhkan sesuatu untuk dapat bertahan (survive), ia akan mengembangkannya; dan jika ia tidak menggunakan organ-organ dari anatominya, ia akan kehilangan organ-organ itu. Lamarck berpengaruh sangat besar pada Darwin yang lebih muda, tapi, pengaruh ini kebanyakan bersifat negatif. Dalam kenyataan, teori Darwin pada akhirnya diajukan, dalam The Origin of Species (1859), secara diametris menentang Lamarckism. Dalam skema Lamarck, ketika lingkungan berubah, spesies berkembang agar tetap dapat bertahan hidup; dalam teori Darwin, spesies berkembang sebagaimana adanya, dan lingkungan menentukan apakah mereka dapat bertahan hidup atau tidak. Dia meyakini seleksi alami, yang lebih dikenal dengan “survival of the fittest”: sifat-sifat yang dikembangkan secara baru akan dapat bertahan jika sifat-sifat ini membuat spesies lebih “cocok” dengan alam. Teori-teori Darwin, aslinya, tumbuh berdasarkan pada lima tahun ekspedisi pemetaan pada tahun 1830-an di atas kapal H.M.S. Beagle. Dengan mengunjungi ujung-ujung dunia yang jauh, mulai dari Cape Verde Islands hingga Brazil dan New Zealand, dengan mengkoleksi fosil-fosil dan serangga-serangga, dengan mempelajari geologi, dan mengangkut catatan-catatan yang sangat berlimpah, Darwin secara perlahan, membentuk teori tentang seleksi evolusinya. Dengan mencermati variasivariasi diantara burung-burung di kepulauan Galapagos, dia menduga bahwa mereka semua harusnya telah berkembang dari suatu spesies tunggal, dan bahwa masing-masing dari spesies-spesies baru ini telah sangat beradaptasi dengan satu jenis diet. Dan sangat terkesan dengan bukti yang mengelilinginya bahwa permukaan bumi ini secara bertahap telah dan masih membentuk selama berabadabad (melalui erosi, proses perjalanan glasial, dan lain-lain), Darwin mengetahui secara intuitif bahwa banyak spesies di bumi ini mungkin juga telah mencapai keadaan mereka sekarang ini melalui suatu proses evolusi secara bertahap. Tapi, proses ini, pikirnya, masih jauh dari tenang. Dipengaruhi oleh ide-ide yang pesimistik dari Thomas Malthus, yang telah melukis sejarah kemanusiaan sebagai suatu perjuangan penuh persaingan demi makanan dan sumber daya-

sumber daya (resources) lain, Darwin telah sampai pada ide bahwa evolusi juga sejenis persaingan. Ketika spesies-spesies baru secara bertahap dan secara alami berkembang, mereka mendapati diri mereka saling berkompetisi dengan spesiesspesies yang lebih tua demi makanan, wilayah, dan perlindungan dari binatangbinatang predator. Karena sumber daya-sumber daya alam ini terbatas, dan spesiesspesies kehidupan yang baru yang potensinya tak terbatas, alam harus menerapkan sejenis pembatasan pada keragaman alami. Itulah yang paling cocok bagi tantangantantangan dan pembatasan-pembatasan alam, simpul Darwin, telah dapat bertahan untuk mereproduksi kembali spesies-spesies mereka. Tapi, Darwin, seorang manusia dengan sikap berhati-hati dan kurang percaya diri terkait penerimaan teorinya, menghabiskan beberapa tahun untuk memelihara burung dara dengan harapan dapat menghasilkan bukti yang tampaknya benar tentangnya. Sementara itu, seorang warga Inggris muda lain, Alfred Wallace, secara independen telah sampai pada sebuah teori yang praktis identik dengan teori Darwin, dan ini mendorong semangat yang disebut terakhir ini untuk akhirnya go public. Darwin mempresentasikan sebuah paper ringkasan (summary paper) pada tahun 1858 dan kemudian secara terburu-buru mempublikasikan Origin of Speciesnya satu tahun kemudian; ia kemudian menjadi best-seller dalam waktu singkat. Kontroversi tentang teori evolusi telah dimulai. Sebagai tambahan terhadap teori yang sangat layak memperoleh perhatian ini, Darwin menawarkan bukti empiris. Dia berargumen bahwa organ-organ yang berhenti proses pertumbuhannya (atrophied), seperti usus buntu pada manusia dan sayap-sayap penguin, telah mengimplikasikan spesies keturunan yang harusnya telah menggunakan mereka. Dia juga mencermati bahwa embrio-embrio dari hewanhewan vertebrata---mamalia, reptil, dan burung-burung---praktis mustahil untuk membedakan mereka di tahap-tahap pertumbuhan yang paling dini, dan bahwa embrio manusia mempunyai ekor yang merupakan sisa dan tidak berguna lagi dan insang-insang. Darwin menumpuk argumen-argumen lain yang lebih dari cukup, semua dari argumen-argumen ini bergantung pada keadaan tapi cukup meyakinkan hasilnya. Namun bukti yang berlimpah ini dan argumen yang sangat berhati-hati, tidak menjamin penerimaan yang hangat bagi Darwin. Hanya sedikit yang menyambutnya, tapi banyak yang menentangnya, terutama ketika ia (teori) tampak menjijikkan bagi martabat kemanusiaan (tidak untuk menyebutkan keyakinan agama) bahwa manusia mungkin telah berkembang dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah (monyet adalah hewan yang seringkali dikutip). Tapi, waktu, dan selanjutnya penemuan-penemuan arkeologis, akan menjelaskan keberpihakan pada evolusi. Ia masih tetap sekadar sebuah “teori”--berdasarkan sifat sejatinya, rahasia-rahasianya telah terkubur bersama waktu dan operasi-operasinya berjalan sangat lamban, ia tidak pernah dapat “dibuktikan” seperti halnya prinsip-prinsip mekanistik dapat membuktikan diri. selama keyakinan tentang kitab suci yang secara harfiah benar ini menentang, evolusi tidak

akan pernah diterima oleh semua pihak; dan, sungguh, masih ada masalah-masalah dengan teori ini, bahkan pada tingkat ilmiah. Teori ini, seperti halnya teori-teori Freud, mempunyai masa pasang surut selama bertahun-tahun, tapi, ini sepertinya bahwa ide hebat ini akan---sebagaimana ia beradaptasi dengan data-data baru--dapat bertahan dalam pasar kompetitif dari ide-ide ilmiah.

Hukum-hukum Mendel (Genetika)
Teori Darwin tentang seleksi alam benar-benar hebat sejauh ia melangkah, tapi, ia dengan cepat menemui kendala yang serius. Menurut rekan-rekan Darwin, sifat-sifat dan karakter diwariskan oleh orangtua kepada anaknya dengan acuan yang sama; seorang ibu yang cerdas dan ayah yang bodoh, dengan demikian, akan menghasilkan anak-anak dengan kecerdasan rata-rata. Ini menghadirkan masalah bagi seleksi alam; karena, bahkan jika individu yang “superior” menampak dalam spesies, maka, sifat-sifat dari individu superior ini secara bertahap akan dilemahkan melalui reproduksi. Bahkan, Darwin telah terkendala oleh hal ini, dan sebagai responnya, ia memodifikasi teorinya, dengan menggabungkan proposisi Lamarckian yang mendidik, seperti halnya alam, harus membimbing perkembangan individual. Namun, Darwin, telah mengandaikan bahwa perubahan-perubahan evolusioner terjadi secara bertahap; hipotesa ini segera terbukti sebagai salah. William Bateson di Inggris dan Hugo de Vries di Belanda telah menemukan bahwa spesies tampaknya berkembang secara tiba-tiba, langkah-langkah yang tidak kontinyu, yang disebut dengan “mutasi-mutasi” oleh de Vries pada tahun 1900. Di tahun yang sama, de Vries secara kebetulan menemukan beberapa paper yang telah dipublikasikan satu generasi sebelumnya oleh pendeta Austria, Gregor Mendel (1822-1884). Meskipun karyanya telah diabaikan di masa hidupnya, Mendel, bekerja dengan tanaman-tanaman kacang polong yang sederhana, telah berupaya untuk menyingkap hukum-hukum tentang keturunan yang akan me-revolusionerkan biologi dan menyediakan pondasi-pondasi bagi genetika. Selama tujuh tahun, sejak dari tahun 1856 hingga 1863, Mendel meng-hibrida (menyilang) dan menghibrida dengan cara mengawinkan dengan jenis lain (interbred) tanaman-tanaman dengan sifat-sifat yang berbeda-beda---tanamantanaman yang tinggi menjulang dengan tanaman-tanaman yang sangat rendah, kacang polong kuning dengan kacang polong hijau, dan lain-lain. Dia mencermati dengan penuh rasa takjub bahwa sifat-sifat semacam ini bersifat tidak biasa atau dilemahkan, tapi tetap berbeda: keturunan hibrida dari tanaman yang menjulang tinggi dan tanaman-tanaman yang sangat rendah selalu menghasilkan tanaman yang menjulang tinggi, bukan berukuran sedang. Kacang polong kuning yang disilangkan dengan kacang polong hijau menghasilkan kacang polong kuning, bukan kuning yang kehijau-hijauan. Bahkan yang lebih menarik lagi, ketika Mendel meng-

hibrida dengan cara mengawinkan dengan tanaman hibrida yang tinggi menjulang, generasi selanjutnya masih memiliki karakter-karakter yang berbeda yang ditemukan dalam tanaman-tanaman yang merupakan “kakek” mereka: kebanyakan tanaman ini tinggi menjulang, tapi seperempat tanaman tumbuh dengan ketinggian sangat rendah. Demikian pula, tanaman-tanaman generasi ketiga dari persilangan kacang polong kuning/hijau yang menghasilkan 75 persen kuning dan 25 persen hijau. Mendel segera menderivasikan matematika dibalik fenomena ini. Tanamantanaman, seperti halnya hewan mamalia, mempunyai dua “orangtua”, dan masingmasing tampaknya memberi kontribusi sifat-sifat (tinggi atau pendek, kuning atau hijau) bagi generasi-generasi selanjutnya. Jadi, sementara ke-pendek-an tanaman mungkin lenyap di tanaman generasi kedua, ia akan menampak kembali dalam beberapa tanaman dari generasi ketiga; dengan demikian, tanaman generasi kedua (hibrida yang menjulang tinggi) masih harus membawa “instruksi-instruksi” untuk menghasilkan keturunan yang pendek. Dalam kenyataan, instruksi-instruksi semacam ini harus muncul secara berpasang-pasangan, satu dari masing-masing orangtua, dan satu unsur dari pasangan ini mewariskan ke masing-masing keturunan dari generasi ketiga. Mendel menyebut ini dengan “hukum segregasi”: sifat-sifat yang diturunkan, diwariskan oleh masing-masing orangtua secara sama, dan daripada saling bercampur bersama, mereka masih tetap terpisah. Yaitu, masing-masing sifat ini dihasilkan oleh sepasang instruksi-instruksi, dengan instruksi-instruksi “dominan menentukan bagaimana sang keturunan terlihat dan instruksi-instruksi yang “cenderung untuk melangkah mundur” (recessive) dan sedang tertidur. (Sifat-sifat yang melangkah mundur hanya tampak ketika kedua faktor ini dalam suatu pasangan bersifat resesif). Selanjutnya, menurut “hukum klasifikasi independen” Mendel, orangtua yang mana yang memberi kontribusi, faktor yang mana yang diperintah hanya oleh hukum-hukum tentang faktor-faktor kebetulan---faktor-faktor yang dominan adalah tidak lagi cenderung untuk diwariskan daripada yang resesif. Sifat-sifat yang diturunkan juga bersifat independen: instruksi-instruksi untuk menjulang tinggi tak ada kaitannya dengan instruksi-instruksi untuk warna. Meskipun keturunan ini biasanya jauh lebih kompleks ketimbang kacangmeng-hibrida kacang polong, Mendel telah menemukan secara kebetulan suatu prinsip genetik yang fundamental. Begitu penemuan-penemuan Mendel dikawinkan dengan biologi sel, genetika muncul sebagai suatu disiplin keilmuan. Dengan peningkatan-peningkatan dalam mikroskop, para pakar biologi mampu mereproduksi dengan membagi dua, dan bahwa masing-masing menghasilkan sel yang menurunkan separuh dari masing-masing kromosom dari yang asli. Pada tahun 1870-an, juga telah ditemukan bahwa ketika sperma melakukan pembuahan (fertilasi) sebuah telur, kromosom-kromosom saling berkombinasi.

Dua observasi ini secara bersama-sama telah menjelaskan mekanisme dasar tentang keturunan. “Faktor-faktor” Mendel pada akhirnya diberi nama baru “gengen”, dan telah ditemukan bahwa masing-masing pasangan dari kromosomkromosom dalam sebuah sel membawa beberapa keping informasi genetika. Secara keseluruhan, genetika telah dibentuk menuju garis Darwinian yang dimodifikasi: evolusi kadang-kadang berproses melalui mutasi secara tiba-tiba (tapi kecil dan bertahap), dengan sifat-sifat baru yang diwariskan secara genetis, tapi, kebanyakan melalui variasi genetis yang alami (kombinasi kembali gen). Dalam kasus lain, alam “menyeleksi” perubahan-perubahan yang mendukung untuk kelanjutan hidupnya dan menolak perubahan-perubahan yang menimbulkan pengaruh sangat buruk (seperti mutasi-mutasi radikal secara umum). Pada sisi lain, beberapa pakar biologi (misalnya, kaum materialis di Uni Soviet awal) mengambil posisi yang lebih Lamarckian: bahwa lingkungan (mengolah) mempengaruhi perkembangan dan bahwa perubahan-perubahan yang berkaitan dengan lingkungan adalah diwariskan secara genetis. Eksperimen yang ketat tidak memperkuat atau mendukung teori Lamarckian. Yang dalam satu cara adalah terlalu buruk, karena evolusi Darwinian adalah lebih pada spesies yang kasar (seperti dinosaurus) yang tidak diadaptasikan secara genetis pada lingkungan yang berubah sangat cepat. Dunia ini pastinya akan menjadi lebih menarik jika, melalui suatu proses Lamarckian, lebih banyak spesies yang mampu untuk bertahan melalui zaman-zaman.

HUMAN SCIENCES
Oedipus, kurang Kompleks: Psikologi
Sebuah Respon A la Pavlov
Laporan ini tidak ragu-ragu untuk menyebut nama-nama, sebuah prosedur yang secara tak terhindarkan, akan mengeluarkan respon Pavlov dari golongan Kiri untuk mengejeknya sebagai ketakutan “Golongan Merah dibawah kasur.” The Daily Telegraph, 8 Feb. 1974

Nama Pavlov mungkin membuat anda ingin berteriak: “Anjing-anjing!” kita akan menyebut ini sebagai respon Pavlov, tapi itu akan terlalu menyederhanakan poin inti yang dibuat oleh fisiolog Rusia, Ivan Pavlov (1849-1936). Yang paling bertanggung jawab atas kesalahan ini adalah koran Inggris The Daily Telegraph, yang memperkenalkan sebuah ungkapan baru “Respon a la Pavlov” pada tahun 1974 (ungkapanungkapan seperti “pengkondisian a la Pavlov” dan “Sistem a la Pavlov” sudah ada terlebih dahulu), menggunakannya sekadar sebagai equivalen dengan “reaksi yang dapat diprediksikan.” Pavlov sendiri sebenarnya lebih tertarik pada perilaku yang tak terduga atau yang bertentangan dengan insting. Ia pertama kali menulis (dan memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1904) dengan karya yang kurang menarik tapi sangat penting tentang sekresi dari cairan-cairan perut. Pavlov menemukan bahwa sementara, organ pankreas berfungsi kapan saja anda mulai makan hamburger, yang dapat diprediksi, ia juga dapat dirangsang hanya dengan memikirkan sepotong hamburger, atau bahkan dengan melihat obyek tiruan. Pavlov mengidentifikasi contohcontoh yang menggugah rasa ingin tahu ini sebagai kasus-kasus “sekresi yang bersifat kejiwaan,” yang memberikan pijakan bagi teori-teorinya yang lebih terkenal. Dalam serangkaian eksperimen yang menggemparkan kalangan aktivis hak-hak binatang saat itu, Pavlov menggunakan beberapa anjing yang telah dilengkapi dengan alat-alat untuk mengukur sekresi cairan ludah dalam merespon beragam rangsangan. Cukup dapat diprediksi (sebagaimana riset Pavlov sebelumnya), penglihatan terhadap sepotong

burger membuat mulut mereka berair. Pavlov kemudian menemukan bahwa anjing-anjing iut dapat juga dibuat untuk mengeluarkan air liur dalam merespon rangsangan apa saja yang netral---katakanlah, sebuah suara atau tendangan---bahwa rangsangan-rangsangan ini menimbulkan asosiasi pengenalan yang akan terjadi tentang makanan anjing. Dia menyebut rangsangan netral ini sebagai “terkondisi” dan reaksi anjing sebagai sebuah “refleks yang terkondisi”---yaitu, sebuah refleks yang secara artifisial (tiruan dari aslinya) di-induksi-kan melalui latihan atau kebiasaan. (Istilah ini pertama kali muncul di Inggris pada tahun 1906 dalam jurnal Nature). Dalam keadaan tidak tahu sampai sejauhmana prestasi yang dihasilkan sendirian, Pavlov terus memperkirakan hal-hal yang belum diketahui berdasarkan pada premis-premis dan bukti-bukti yang telah diketahui, observasi-observasi yang lebih canggih yang masuk dalam wilayah teori besar psikologi, dengan berupaya menjelaskan hampir semua perilaku, yang normal dan yang menyimpang, perihal refleksrefleks yang diperoleh dan interaksi mereka yang beragam. Setelah meraih popularitas sesaat di dunia Barat, banyak dari para penganut teori dengan skala yang lebih luas dari Pavlov mengklaim telah mengemukakan teori ini secara meluas, tapi mereka disambut hangat oleh pemerintahan Soviet. Meskipun bukan penganut teori Marx, teori-teori Pavlov praktis sesuai dan cocok dengan pandangan kaum Marxis bahwa perilaku manusia didasarkan pada kondisi-kondisi materi dan pola-pola kehidupan. Jika masyarakat dibiasakan untuk mengalami penindasan, mereka dapat dibentuk secara baru begitu mereka terbebas dari penindasan. Dengan

kata lain, sistem pemerintahan Soviet menjelaskan kondisi para warganya. Hasil dari teori ini dapat ditemukan di koran harian anda.

Behaviorisme
Anda berjalan menuju gedung bioskop dan tiba-tiba saja sangat menginginkan popcorn. Anda merasa rileks di dalam ruangan berwarna biru dan merasa cemat di dalam ruangan berwarna merah. Merasa terperangkap dalam kesedihan, anda meminta nasehat teman anda dan mencoba untuk tetap menyunggingkan senyum; secara ajaib, anda segera merasa lebih baik. Bagaimana kita menjelaskan hal-hal semacam ini? Apakah terdapat sebuah cara obyektif untuk membahas perasaan-perasaan ini? Apakah kita perlu mengacu pada “pikiran” atau “impuls-impuls tak sadar” untuk menjelaskannya? Atau apakah ini semua menjadi sekelompok reaksireaksi kimiawi di dalam otak? Behaviorisme, pada umumnya, adalah suatu aliran psikologi yang secara khusus menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Tidak seperti para penganut teori-teori Freud, aliran ini tidak menggunakan konsep-konsep hipotetik (yaitu: yang tidak dapat dicermati) semacam “Alam bawah sadar” atau “id” dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa kejiwaan. Dengan menganggap bahwa mereka memiliki pendekatan yang lebih ilmiah, kaum behavioris membatasi diri mereka pada data-data yang dapat diobservasi. Dan dalam kasus psikologi manusia, apa yang dapat

diobservasi adalah perilaku---oleh karena itulah istilah behaviorisme muncul. Ide-ide behavioristik dapat ditelusuri jejaknya, setidaknya, melalui tulisan-tulisan Thomas Hobbes, yang berpandangan bahwa organisme manusia sebagai jenis mesin yang superior. (Dalam pandangan Hobbes, perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan dapat digambarkan sebagai hasil dari peristiwa-peristiwa fisik atau “gerakan-gerakan” di dalam tubuh). Tapi, sebagai suatu aliran dan sebagai sebab, behaviorisme, esensinya adalah kreasi dari psikolog Amerika John B. Watson, yang pada tahun 1914 wilayah baru Behaviorisme pertama kali lahir. Watson dengan penuh semangat menolak ide, yang telah dianut sejak era Descartes, bahwa pikiran dan tubuh beroperasi berdasarkan pada prinsip-prinsip yang berbeda, dan bahwa cara terbaik (dan satusatunya cara terbaik yang sebenarnya) untuk mempelajari pikiran adalah melalui introspeksi. Ini, klaim Watson, bukanlah sains. Pertama, introspeksi dengan sendirinya adalah bersifat subyektif: penemuanpenemuannya tidak dapat dibangun secara obyektif. Kedua, introspoksi tidak menghasilkan apapun bahkan tidak juga data-data kasar sedikitpun: penemuan-penemuannya tidak dapat dikuantitaskan. Jika psikologi harus menjadi ilmiah, kata Watson, maka ia harus melibatkan dirinya dengan data-data kasar, yang dapat diobservasi dan bersifat obyektif. Dan ia harus mengesampingkan hal-hal yang samar dan tidak jelas (dan dia berpikir tentang entitas-entitas yang tidak eksis) seperti “kesadaran” atau “hasrat.”

Banyak paralel dengan pemikiran Pavlov, yang karya-karyanya tentang perilaku binatang yang baru saja dia baca, Watson dan para pengikutnya berpikiran bahwa psikologi ilmiah dihasilkan dari mempelajari hubungan-hubungan antara rangsangan eksternal dengan respon-respon individu. Jika kita dapat menunjukkan melalui eksperimen bahwa beberapa peristiwa (katakanlah, sebuah bel yang sedang berbunyi) secara teratur menyebabkan sebuah perilaku khusus (katakanlah, kejang syaraf), kemudian kita membangun sebuah klaim psikologis. Koleksi total dari asosiasi peristiwa atau perilaku semacam ini mencukup sebagai sebuah kumpulan data, dan hanya dengan bukti semacam ini kita dapat melakukan pembenaran dalam membuat inferensi-inferensi psikologis. Peristiwa-peristiwa diasosiasikan dengan perilaku, kaum behavioris mengatakan, melalui sebuah proses pembelajaran atau “pengkondisian”. Jika seekor anjing secara teratur diberi hadiah sekerat tulang setiap kali dia mematuhi perintah: “Duduk!” maka dia kemudian akan belajar bahwa mematuhi perintah itu menyenangkan dan perintah: “Duduk!” sejak itu akan membuatnya untuk duduk, hampir sebagai suatu refleks. (Behavioris B.F. Skinner menyebut ini sebagai “penguatan kembali secara positiv”). Demikian pula, jika sebagai anak-anak, kita belajar bahwa pergi menonton film di gedung bioskop adalah berarti popcorn, kita menjadi terkondisi untuk meng-asosiasi-kan peristiwa ini (pergi ke gedung bioskop) dengan perilaku ini (makan popcorn), dan yang disebut pertama akan memprovokasi sebuah tindakan untuk mencapai yang disebut terakhir. Ide dasar dari behaviorisme, secara singkat, adalah bawa perilaku itu bukan hanya sebuah tanda dari beberapa keadaan mental tapi ia

sebenarnya adalah sama dengan suatu keadaan mental. Kita tidak memperoleh dari mana saja dengan bahan-bahan yang bermacammacam semacam absurditas seperti “temperamen” atau “id,” yang hanya merupakan abstraksi-abstraksi teoritis dari bagaimana orang berperilaku. Ini sama baiknya, dan bahkan lebih ilmiah, untuk menjadikan fenomena semacam “perilaku neurotik” ini dengan mempertentangkan responsrespons refleks pada rangsangan yang lebih luas. Disamping itu, pandangan kaum behavioris mendukung tujuan akhirnya: keterlibatan mereka tidak dengan model-model teoritis, tapi dengan membuat orangorang bertindak secara lebih baik. Yaitu, jika anda dapat memperbaiki lingkungan, anda dapat memperbaiki masyarakat. Watson, tentu saja, harus melakukan beberapa tarian bayangan untuk menjelaskan berbagai hal ini yang kebanyakan dari kita akan memandang sebagai jauh lebih bersifat mental daripada fisik. Dalam satu momen yang absurd, dia menjelaskan pemikiran sebagai sejenis pembicaraan yang tidak mungkin didengar. (Dia pertama kali mengklaim bahwa pembicaraan itu hanya perilaku yang terkondisi dan sama sekali tidak bersifat “mental”). Emosi-emosi, juga, direduksi menjadi tindakantindakan yang terkait dengan emosi. Yang paling sulit untuk diyakini dari semuanya adalah bahwa kaum behavioris yang kaku dan ketat harus memotong makna secara menyeluruh dari gambaran mereka tentang perilaku. Mereka tidak punya cara untuk menjelaskan dengan bagaimana “rangsangan” yang sama (katakanlah, suara tembakan senjata) dapat menghasilkan “responsrespons” yang berbeda dalam konteks-konteks yang berbeda atau pada

waktu-waktu yang berbeda-beda. Melalui penggambaran teori mereka, maka semua yang diperhitungkan adalah reaksi langsung pada suara tembakan, tanpa mengacu pada kesadaran. Tapi, suatu tembakan senjata berarti satu keadaan di sudut jalan dan keadaan lain di permulaan sebuah lomba, dan tanpa beberapa acuan pada kesadaran tentang perbedaan ini, seseorang tidak punya cara untuk menjelaskan mengapa dalam satu kondisi, kita merespon dengan perasaan cemas dan dalam kondisi lain, kita merespon dengan perasaan senang. Selanjutnya, ini bahkan tidak jelas hingga tahap mana binatangbintang ini, yang jauh lebih rendah dari kualitas seorang manusia, dapat belajar melalui pengkondisian tentang bagaimana berperilaku dalam dunia nyata (yang dipertentangkan dengan dunia laboratorium). Namun, tanpa suatu hipotesa respons/stimulus dasar, behaviorisme tidak mempunyai pondasi nyata. Serangan terbaru terhadap hipotesa ini telah menimbulkan kemerosotan dramatis dalam behaviorisme yang kaku. Tapi, dengan bentuk-bentuk yang telah dimodifikasi, ide ini masih mempunyai validitas, dan kita harus yakin kepada kaum behavioris yang membangun dan mengukuhkan psikologi sebagai ilmu pengetahun yang otentik, satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh Freud. Sederhananya, behaviorisme mungkin berada pada level makro dari peristiwa-peristiwa mental dan respons-respons emosional, penekanannya pada fisiologi telah sangat berjasa pada level mikro, dalam studi tentang kimiawi otak dan fungsi otak. Dan kadang-kadang, tersenyum dapat membantu anda merasa lebih baik.

Alam Bawah Sadar
Kita telah terbiasa untuk berpikir bahwa setiap ide laten disebut demikian karena ia lemah dan bahwa ia akan tumbuh menjadi sadar segera setelah ia menjadi kuat. Kita sekarang telah memperoleh pendapat yang kuat bahwa terdapat beberapa ide-ide laten yang tidak menembus ke dalam alam sadar, betapapun kuat mereka (ide-ide laten) ini. Oleh karena itu, kita menyebut ide-ide laten ini dengan tipe pertama pra-sadar, sementara kita menyimpan istilah alam bawah sadar untuk tipe selanjutnya yang akan kita pelajari dalam materi tentang gangguan-gangguan mental dan emosional (neurosis). Sigmund Freud: “A Note on the Unconscious in Psychoanalysis” (1912)

Esensi dari psikoanalisa, yang didirikan oleh Sigmund Freud (1856-1939), adalah “Alam Bawah Sadar”. (Saya mengikuti penggunaan standar tentang huruf besar U ketika menamakan fakultas kesadaran). Sebuah hiruk-pikuk dari banyak sekali ide-ide berbahaya yang bersifat kejiwaan, Alam Bawah Sadar ini yang menjadi penyebab dari semua masalahmasalah kita. Ia adalah bagian dari sang diri, diri kita yang lebih baik yang terlupakan. Ia adalah apa yang tersingkap saat kita membuat suatu “ketergelinciran Freud”---ia adalah kebenaran yang kita harapkan untuk tidak menyatakan diri, sebuah kebenaran yang kita bahkan tidak menyadarinya. Alam bawah sadar ini membimbing mimpi-mimpi kita, menghadirkan hasrat-hasrat terlarang dan mengganggu kita dengan teror. Alam bawah sadar ini bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Freud tidak menemukan Alam bawah sadar; ia hanya mengisinya dengan penyesuaian-penyesuaian dengan masanya. Istilah ini banyak menjadi bahan perbincangan bebas dalam disiplin psikologi dan filsafat abad sembilan belas, meskipun beberapa filosuf menolaknya seolah ia

adalah gagasan yang tak masuk akal. Pikiran, mereka berargumen, adalah sama saja dengan kesadaran; tidak ada yang seperti sebuah “pemikiran tak sadar” karena jika ia tidak bersifat sadar, maka ia bukan sebuah pemikiran dan selanjutnya tidak eksis. Freud, yang telah menggunakan hipnosa, histeria dan mimpi-mimpi, meminta pengecualian tentang ini. Katakanlah seorang pasien yang dihipnotis , diberi sebuah perintah, dan kemudian tersadar. Beberapa waktu kemudian, dia membawa perintah ini, tapi tidak tahu mengapa demikian. Bagaimana ini menjadi mungkin, tanya Freud, kecuali bahwa terdapat sugesti hipnotis yang eksis di dalam pikiran, tapi berada di luar kesadaran? Ini bukan sesuatu yang sangat baru. Kontribusi nyata Freud adalah menunjukkan dua jenis pemikiran-pemikiran bawah sadar yang berbeda. Yang pertama adalah apa yang disebut oleh banyak psikolog sebagai ‘alam bawah sadar” jenis ini---seperti nomor telepon yang setengah terlupa dan nama-nama dari orang-orang yang anda temui di pestapesta---yang bertempat tinggal tepat di bawah level kesadaran, sedang menunggu untuk melompat menuju pikiran. Yang kedua---seperti traumatrauma dari masa kanak-kanak dan hasrat-hasrat yang tabu--- berada di lapisan yang lebih dalam dan secara aktif ditentang dan dilawan oleh pikiran sadar. Freud menyebut jenis pemikiran yang pertama ini sebagai “pra-sadar” dan menyebut yang kedua sebagai pemikiran “alam bawah sadar” yang disimpan. Sebagai orang yang telah dibesarkan dalam tradisi mekanistik dari perkembangan sains abad sembilan belas, Freud membayangkan pikiran

sebagai sejenis mesin yang penuh dengan energi psikis. Tulisan-tulisan awalnya terutama bertaburkan istilah-istilah seperti “tekanan”, “energi”, “dinamik”, dan istilah-istilah lain yang meminjam dari disiplin ilmu Fisika, yang membuat pikiran terlihat seperti sepotong mesin hidrolik. Dalam teorinya yang paling awal, “Alam bawah sadar” adalah wilayah mental yang paling gelap dan paling dalam, yang didiami oleh ide-ide yang secara giat berupaya keras untuk menjangkau permukaan kesadaran. Pikiran yang sadar, pada gilirannya, menggunakan energi untuk menahan atau “menekan” pemikiran-pemikiran tak sadar ini. Pikiran ini diperlakukan sebagai sebuah obyek yang solid di dalam ruang bersama dengan “wilayah-wilayah” dan “perbatasan-perbatasan”, sebuah topografi yang mempunyai kemampuan untuk ilustrasi (Freud menyukai diagramdiagram). Relasi-relasi dinamis antara dua wilayah utama ini---Alam bawah sadar dan “Pra-sadar-Sistem sadar”---menghasilkan peristiwaperistiwa psikis. (Freud sendiri merasa agak sedikit malu dengan materialisme yang mewarnai teorinya yang paling awal, tapi ia telah menjadi penanda atas kelahiran psikoanalisa). Misalnya, mimpi-mimpi dihasilkan (hampir seperti suatu proses kimiawi) ketika hasrat-hasrat tak sadar yang mendalam---lebih kuat yang menunjuk pada masa kanak-kanak---yang bercampur dengan “residu” pra-sadar dari masa sekarang. Tapi, Alam bawah sadar tidak dapat sepenuhnya muncul bahkan di dalam mimpi-mimpi, begitu efektifnya represi pikiran yang sangat protektif. Ketika mereka bercampur dengan residu-residu pra-sadar, atau ketika mereka berjuang ke dalam fantasifantasi sadar, pemikiran-pemikiran tak sadar harus melewati suatu

transformasi untuk dapat menghindari penyensoran. Freud memutuskan bahwa terdapat dua moda transformasi: “kondensasi” dan “penelantaran”. Kondensasi (pemadatan), yang ekuivalen dengan sejenis logika tak sadar, mengemas suatu konstelasi dari ide-ide atau hasrat-hasrat yang direpresi ke dalam satu tema makna yang tersembunyi (sesuai dengan pembacaan sandi psikoanalitik). Pada sisi lain, penelantaran, menelantarkan “energi” psikis yang terpaku dan terikat dalam pemikiranpemikiran tak sadar di atas ide-ide yang lebih aman dan dapat diterima sampai kepada rantai asosiasi-asosiasi. Penelantaran, dalam pandangan Freud, menjelaskan banyak perilaku neurotik---yaitu, perilaku dimana banyak energi diarahkan menuju apa yang tampaknya sebagai sesuatu yang relatif tidak penting. Bagaimanapun juga, Freud menyadari bahwa model topografis tentang psike ini mempunyai cacat logika yang fatal sifatnya. Jika bagian yang sadar dari pikiran ini dalam keadaan direpresi, maka tindakan represinya ini seharusnya menjadi sadar. Tapi, dalam kenyataan, kita tidak sadar akan tindakan merepresi atau menentang Alam bawah sadar, atau hal yang sedang kita kondensasikan, telantarkan, dan jika tidak demikian, kita menyensornya. Singkatnya, terdapat suatu bagian dari kesadaran yang ia sendiri tidak sadar: bagian yang direpresi. Bagian yang sadar ini tidak dengan sendirinya direpresi, atau ia akan menjadi bagian dari Alam bawah sadar. Yaitu, ketika segala yang direpresi bersifat tak sadar, bukan segala yang yang tidak sadar itu direpresi.

Atas kesimpulan ini, Freud mengetahui dia perlu untuk mengembangkan suatu peta pikiran yang lebih baik. Hasilnya telah digambarkan dalam permulaan pembahasan kita tentang EGO, ID, DAN SUPER-EGO, HAL. 171.

Oedipus Complex
[Ketika seorang anak laki-laki] tidak dapat lagi memelihara dan mengemban keraguan yang mengklaim pengecualian untuk kedua orangtuanya sendiri dari perilaku seksual yang buruk dari penduduk lain di bumi ini, dia mengatakan kepada dirinya sendiri dengan logika yang sinis bahwa perbedaan antara ibunya dengan seorang pelacur, bagaimanapun juga, tidaklah begitu besar, karena pada dasarnya, keduanya melakukan hal yang sama. Apa yang telah dia jelaskan [tentang seks], dalam kenyataan, telah membangkitkan jejak-jejak memori dari kesan-kesan dan hasrat-hasrat dari masa kanak-kanaknya yang paling dini, dan dengan demikian mengaktifkan kembali perasaan-perasaan tertentu dalam pikirannya. Dalam cahaya dari pengetahuan baru ini, dia mulai menghasratkan ibunya sendiri dan membenci sang ayah dengan cara yang berbeda dalam sikapnya yang baru ini; dia berada dalam, sebagaimana yang kami katakan, pengaruh Oedipus Complex. Sigmund Freud, “A Special Type of Object Choice Made by Men” (1910)

Freud pertama kali menulis dalam sebuah surat pada tahun 1897 tentang “memakukan kuasa Oedipus Rex.” Jadi, upaya memaku ini adalah tragedi Sophocles yang diadopsi skenarionya oleh Freud untuk menjelaskan mengapa kita semua begitu neurotik. Jika seandainya anda telah melupakan kisah ini, maka ia akan berlangsung seperti ini: Pangeran Oedipus dari Corinthian belajar dari sebuah ramalan bahwa dia ditakdirkan untuk membunuh ayahnya dan

tidur dengan ibunya. Secara mengejutkan, dia melarikan diri menuju kota Thebe, tapi sepanjang perjalanan, dia dihadapkan pada berbagai gangguan dari orang-orang pengembara yang berpapasan dengannya. Satu gangguan disusul dengan gangguan yang lain dan segera saja Oedipus membunuh mereka semua. Sebagaimana dikisahkan, salah satu dari pengembara ini adalah ayah kandung Oedipus, Raja Laius dari Thebe, yang telah menyengsarakan dia di masa kanak-kanaknya. Lau, dengan berupaya untuk menghindari takdirnya, Oedipus justru memenuhi takdirnya, meskipun dia tidak menyadari hal ini sampai dia dimahkotai sebagai Raja baru Thebe dan menikahi Ratu Jocasta, yang ternyata kemudian adalah ibu kandungnya sendiri. ketika semuanya telah menjadi jelas, maka Oedipus yang merasa sangat malu ini mencongkel kedua matanya. Kisah yang menyedihkan ini, lanjut Freud dalam suratnya, “memaksa setiap orang untuk menyadari karena dia merasakan eksistensinya dalam dirinya.” Apa yang dirasakan oleh Freud, dan yang bersumber dari setiap laki-laki, adalah hasrat seksual kepada ibunya dan sebuah kecemburuan yang mematikan terhadap ayahnya. Tidak menjadi soal bahwa dalam drama itu, Oedipus tidak merasakan kecemburuan itu dan hanya memperoleh gangguan dalam mencoba untuk menghindari takdirnya. Freud merebut paradigma ini dan membubuhkan pada peristiwa mencekam yang tidak membahagiakan ini dengan istilah “Oedipus complex”, sebuah istilah yang pertama kali muncul dalam paper-nya pada tahun 1910, “A Special Type of Object Choice Made by

Men.” (Ini selalu disebut Oedipus complex; oedipal adalah satu-satunya bentuk kata sifat). Penyalahgunaan Freud tentang legenda Yunani ini melahirkan “Teori Seksualitas,” teori orisinal dia tentang kekerasan. Dengan mencatat jumlah yang sangat mencemaskan dari para pasien penderita neurotik telah melaporkan pengalaman seksual yang tak diinginkan semasa kanakkanak mereka, Freud meyakini bahwa gangguan-gangguan seksual dapat dilacak jejak-jejaknya pada semacam “keterlibatan-keterlibatan seksual.” Tapi, ketika dia melihat secara lebih cermat pada kisah-kisah para pasiennya, dia memutuskan bahwa beberapa, jika bukan mayoritas, dari mereka ini sedang berfantasi daripada proses mengingat kekerasan di masa kanak-kanak---atau lebih tepat lagi, bahwa mereka mengingat kembali fantasi-fantasi masa kanak-kanak. “Penemuan” ini (yang baru-baru ini telah diserang secara meluas) telah menimbulkan krisis dalam pandangan menyeluruh Freud tentang perkembangan psikologi. Sebagaimana halnya dengan semua orang, Freud telah meyakini bahwa anak-anak tidak mempunyai konsep apapun tentang seksualitas, apalagi mempunyai kecenderungan-kecenderungan seksual apapun, dan bahwa pembeberan dan penyingkapan seksualitas manusia dewasa adalah tidak komprehensif dan membahayakan sifatnya. Tapi jika, sebagaimana dalam pandangan barunya, anak-anak mampu dan mempunyai fantasi-fantasi seksual. Sehingga mereka tidak benar-benar “suci” (innocent). bukan hanya mereka mempunyai perasaan-perasaan seksual, tapi, perasaan-perasaan ini juga sangat kuat dan bersifat otonom.

Berdasarkan ini, Freud berpikir dia telah mempunyai sebuah jawaban atas banyak symptom-symptom neurotik yang umum. Beberapa dari pasien-pasiennya hanya berhasrat pada perempuan yang telah lama menjalin hubungan perasaan dan kesetiaan. Sedangkan yang lain mencari pasangan cinta yang sepertinya menipu dan mengkhianati mereka. Jenis laki-laki seperti ini tampaknya dapat mengundang sikap permusuhan dan kecemburuan. Kategori lain mendesak untuk melihat obyek-obyek cinta mereka sebagai unik dan sosok-sosok yang tak tergantikan; namun fantasi-fantasi lain yang dialami tentang “menyimpan” seorang perempuan dari terancam kehilangan moralitas. Bagi pikiran Freud, semua hasrat-hasrat neurotik ini hanya sekadar manifestasi-manifestasi universal yang ekstrem dan “sikap normal dalam cinta”. Dalam kasus-kasus abnormal, pasien-pasiennya tampaknya gagal untuk melenyapkan emosiemosi dari masa kanak-kanak dimana kebanyakan dari kita berupaya untuk menaklukkannya. Emosi-emosi ini adalah rasa cinta terhadap ibunya dan rasa cemburu terhadap ayahnya. Sang ibu, dalam kenyataannya, adalah “unik dan tak tergantikan”; sang ayah ayah adalah pesaing seksual yang aktual dan potensial. Ketika seorang anak laki-laki telah sampai pada tepian pubertas, dia pertama mendengar dari teman-teman sebayanya tentang seks, seksualitas diperlakukan sebagai sesuatu yang “kotor.” Dengan memikirkan kedua orangtuanya dengan cara seperti ini sungguh sangat menggoncangkan, dan ketika perasaan-perasaan seksual kanak-kanaknya terhadap ibunya sedang meluap-luap, anak laki-laki ini mengembangkan

fantasi-fantasi tentang “menyelamatkan” dia dari ayahnya dengan mengambil alih posisi ayahnya. Apa yang telah dia bangkitkan---dan apa yang biasanya lenyap ketika anak usia remaja mengalihkan perasaan-perasaan seksual kepada anak-anak perempuan sebayanya---inilah yang dicari oleh Oedipus complex-nya Freud. Di masa kanak-kanak, kompleksitas bermula ketika anak laki-laki menemukan dirinya sendiri terangsang oleh sentuhan kasih sayang yang lembut dari ibunya, yang membuat perasaan-perasaannya terhadap ibunya menjadi lebih kuat. Suatu saat, daya rangsangan ini menjadi terpusat pada satu anggota tubuhnya yang sangat penting: penisnya. Secara alamiah, kedua orangtuanya merasa tidak senang ketika anak laki-lakinya memberi perhatian yang berlebihan pada alat vitalnya ini dan salah satu atau keduanya mengancam akan “mencabutnya” jika dia terus mengutak-atiknya. Anak laki-laki ini tidak benar-benar mempercayai ini, hingga suatu hari dia mengintai anggota tubuh yang paling pribadi dari anak perempuan---dan dia (anak perempuan ini) kehilangan penisnya! Penisnya pasti telah dicabut, demikian anak laki-laki ini mengambil kesimpulan, karena dia (pr) terlalu banyak bersenangsenang dengannya. Ancaman kastrasi (pengebirian), tiba-tiba saja menjadi sangat nyata baginya, dan ini menghancurkan sang Oedipus complex: jika perasaan-perasaan seksual dan kesenangannya terus berlanjut, penisnya yang sangat berharga itu akan dikutuk melalui pengebirian. Cinta narsistiknya yang melekat kuat terhadapnya telah mencegahnya untuk bermain-main dengan alat vitalnya.

Sebagai akibatnya, lanjut Freud, anak laki-laki kecil ini belajar untuk menyalurkan (“sublimasi”) libido-nya pada perasaan-perasaan yang kurang mengancam seperti perasaan senang yang lembut (afeksi) kepada kedua orangtuanya. Cinta terhadap ibunya dan kebencian terhadap ayahnya karena “merampas” ibunya dari dia menjadi lenyap dengan mengidentifikasi pada keduanya, yaitu, bagaimana sang anak laki-laki kecil ini memperoleh “super-ego”nya. Sementara itu, hasrat-hasrat dan fantasi-fantasi seksualnya yang mengalami represi selama apa yang disebut oleh Freud sebagai “periode laten,” hingga mereka terbangunkan saat pubertas. Anda akan memperhatikan bahwa selama periode waktu ini, kita telah memfokuskan diri pada anak laki-laki kecil dan penisnya; apa yang harus dikatakan oleh Freud tentang anak perempuan kecil? Pertama kali, dia beranggapan bahwa anak perempuan kecil mengalami tahap-tahap yang sama dengan anak laki-laki, dengan pengecualian bahwa fantasifantasi seksual mereka difokuskan pada sang ayah. (Sebenarnya, Freud berpikiran bahwa seksualitas masa kanak-kanak mengandung sejumlah kadar tertentu dari bi-seksual, sebagaimana halnya hasrat terhadap sang ibu dominan pada anak laki-laki, dan hasrat terhadap sang ayah yang dominan pada anak perempuan). Tapi, setelah mengambil keputusan bahwa rasa takut akan pengebirian inilah yang membunuh kompleksitas pada diri anak laki-laki, sehingga dia harus mengubah teorinya. Anakanak perempuan, bagaimanapun juga, tidak dapat merasa takut pada pengebirian---bukan karena ini tidak mungkin terjadi, tapi, karena mereka berpikir ini telah terjadi. (Freud juga dengan tepat membuang paksa

anggapan bahwa anak perempuan melihat genital mereka sebagai “kehilangan sesuatu”, sehingga mereka merasa “iri” pada penis anak lakilaki, dan bahwa mereka merasa minder selamanya karena tidak mempunyai penis). Dalam teori barunya yang bersifat sementara dan samar (tidak jelas), Freud mengemukakan bahwa anak perempuan mempunyai sifat kanak-kanak yang jauh lebih sederhana. Alih-alih berharap untuk memenuhi hasrat seksual mereka terhadap sang ibu sebagai obyek, mereka hanya berharap untuk mengambil alih posisinya terkait hubungannya dengan sang ayah. Meskipun, seperti halnya anak laki-laki, anak perempuan merasakan cinta pertama mereka yang sangat kuat pada sang ibu, tapi begitu mereka memperhatikan bahwa anak laki-laki kecil mempunyai sesuatu yang tidak mereka punyai, cinta mereka berubah menjadi rasa benci. Ayah mereka mengambil alih posisi ibu mereka dalam menyayangi mereka. Selanjutnya, begitu mereka semakin menerima fakta bahwa mereka tidak akan pernah memperoleh penis, anak perempuan mulai menghasratkan penggantinya---yaitu, seorang bayi. Mereka berharap untuk mengambil alih posisi ibu mereka dan memberi seorang anak kepada ayah mereka. Tidak ada ketakutan pada pengebirian berakhir dengan munculnya fantasi ini. Freud menganggap bahwa Oedipus complex dalam diri anak perempuan, tertundukkan oleh sarana yang lebih halus, yaitu, “pengaruhpengaruh edukatif” dan “Intimidasi eksternal yang mengancam hilangnya cinta” (“The Passing of the Oedipus Complex”, 1924). Ini, dan fakta bahwa keterikatan “pra-oedipal” anak perempuan terhadap ibunya diperluas dan

hanya digantikan setelah melibatkan sebuah proses, membuat Freud menolak pandangan-pandangan dari muridnya, Carl Jung. Jung meyakini pandangan bahwa “perkembangan yang secara persis mencerminkan anak laki-laki” dari seorang anak perempuan dan pada tahun 1913, dia menemukan sebuah istilah baru “Electra complex” untuk menggambarkan versi perempuan. Untuk penggunaan istilah baru ini, Jung juga menoleh pada tragedi Yunani, terutama pada beberapa versi dari kisah Electra. Dalam Libation Bearers karya Aeschylus, Electra, yang memperoleh bisikan ilham dari dewa Apollo, bekerja sama dengan saudara laki-lakinya untuk bertindak terhadap ibu mereka, Clytaemestra, yang bertanggung jawab atas kematian ayah mereka. Namun, Jung, seperti halnya Freud, tampaknya lebih banyak bersandar pada Sophocles, dimana Electra sang pahlawan mengambil peran penting dalam merencanakan aksi balas dendam. Meskipun tidak sekasar atau sesugestif sebagaimana penggambarannya tentang Oedipus, kisah Electra versi Sophocles, sebagai seorang perempuan yang menjalin ikatan perasaan yang sangat mendalam dengan ayahnya dan mendesak untuk membunuh ibunya, yang dikemukakan oleh Jung dengan cukup bagus sebagai sebuah analog.

Ego, Id, dan Super-Ego
Pada tahap-tahap awal pengembangan sebuah pandangan komprehensif tentang psike, Freud mempertimbangkan bahwa pikiran dapat dipahami sebagai sebuah “sistem” dengan tiga wilayah yang berbeda: Alam Sadar,

Pra-Sadar, dan Alam Bawah Sadar. Tapi, pada awal tahun 1920-an, dia telah mengubah teori ini dengan sebuah teori baru. Dimana Freud pernah bicara tentang “Alam Sadar,” dia sekarang membicarakan “ego,” sebuah istilah (dari bahasa Latin yang berarti “Saya”) yang lahir di dalam perkembangan disiplin psikologi abad sembilan belas. Ego mengandung makna lebih dari diri yang sadar, meskipun ia mencakupnya; dalam teori baru Freud, ego adalah bagian atau wilayah pikiran yang membentuk permukaan luarnya dan yang mengembangkan indera persepsi kita dan pengalaman-pengalaman kita di dunia ini. Adalah sang ego yang mempunyai pemikiran-pemikiran sadar, tapi adalah juga sang ego yang (tidak diketahui oleh pikiran sadar kita) terus-menerus mengancam dan memeriksa pemikiran-pemikiran dan impuls-impuls bawah sadar. Ego adalah diri sosial, diri yang sangat banyak diekspos dan dipengaruhi oleh “realitas,” dalam bentuk sensasisensasi dan kode-kode sosial. Dapat dipahami, jika ego berkembang di luar pengalaman, kita tidak terlahir dengannya. Inti dari psike, yaitu yang selanjutnya dilapisi oleh ego, Freud menyebutnya sebagai “id,” dari bahasa Latin yang berarti “nya.” (Dia mengklaim memperoleh istilah ini dari seorang fisikawan modern, Georg Groddeck, yang dipengaruhi oleh Nietzsche). Id ini adalah sang kegelapan, tidak sadar, pusat libido dari pengalaman dalam, tempat impuls-impuls dan nafsu-nafsu, sang kuda liar, untuk menggunakan metafor Freud, ditunggangi dan diawasi oleh sang ego. Sementara sang ego dengan sibuk (dan dalam keadaan tidak sadar) merepresi impulsimpuls yang menentang norma sosial dan tabu dari alam id, namun

demikian, id berupaya untuk mempengaruhi perilaku kita, dengan menyalurkan energinya ke dalam tindakan-tindakan yang telah disetujui oleh sang ego, atau kadang-kadang ke dalam tindakan-tindakan yang tidak dapat sepenuhnya kita pahami dan yang menimbulkan rasa bersalah. Barangkali, cara termudah untuk memahami perbedaan dan dinamika antara ego dengan id adalah dengan memasangkan sifat-sifat mereka yang kontras. Ego bersifat koheren, id bersifat tidak koheren; ego rasional sifatnya, sedangkan id, tidak rasional. Dimana sang ego mengoperasikan apa yang disebut oleh Freud sebagai “prinsip realitas” (“merespon pada tuntutan dan aturan-aturan dari dunia nyata), id mengoperasikan “prinsip kesenangan” (berupaya untuk meminimalisir penderitaan dan gangguan, atau dengan kata lain untuk meminimalkan energi psikis). Ego berada pada permukaan dari aktivitas mental; sedangkan id berada pada kedalamannya. Ego adalah sebuah gambaran mental dari sensasi eksternal dan pengalaman; sedangkan id adalah sebuah representasi dari insting. Ego menjual konsep-konsep, terutama sekali yang bersifat verbal (yang bersifat sadar adalah yang dapat dibicarakan); sedangkan id menujual simbol-simbol, terutama dalam bentuk visual. Terkait komplikasi timbal balik antara ego dengan id ini, Freud telah menambahkan kekuatan ketiga, yaitu, hasil pertumbuhan dan perkembangan dari ego dan yang dia sebut dengan istilah “ego-ideal” atau “superego.” Super ego menggambarkan harapan-harapan sang diri untuk muncul menjadi kenyataan, dan ini adalah tempat bagi berbagai hal

seperti moralitas, kewajiban moral, dan kepercayaan. Berdasarkan kerja keras Freud, lahir konsep super ego tepat ketika konsep Oedipus complex mulai meredup. Cara seorang anak laki-laki kecil, misalnya, untuk melenyapkan hasrat terlarangnya terhadap ibunya dan membenci ayahnya adalah untuk “menginternalisasikan” “obyek-obyek” ini (ibu dan ayah). Cinta terhadap sang ibu kemudian dibelokkan menjadi cinta kepada sang diri, atau lebih berupa cinta terhadap potensi diri untuk menjadi ideal; dan kebencian terhadap sang ayah dikalahkan oleh identifikasi yang sangat intens dengannya sebagai bagian yang lebih tinggi atau lebih superior dari sang diri. Dengan demikian, ideal-ideal, moral-moral, larangan-larangan dan hukum-hukum dari kedua orangtua ini dapat diserap oleh pikiran, dan untuk selamanya setelah mengendalikan sang ego untuk bertanggung jawab. Super-ego, pada akhirnya, adalah bagian dari sang diri yaitu diri yang kritis, yang mengukur jarak antara realitas dengan yang ideal, dan yang menutup saluran energi yang menuju id agar dapat menghubungkan sang ego menuju tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Freud menyebut proses ini dengan istilah “sublimasi,” dan dengan upaya sublimasi ini, dia menjadi sumber dari prestasi-prestasi seni dan peradaban manusia, termasuk semua ide-ide besar.

Prinsip Kesenangan
Dalam teori psikoanalisa, kami tidak ragu untuk berasumsi bahwa wacana yang dicakup oleh peristiwa-peristiwa mental, secara otomatis diatur oleh prinsip kesenangan. Kami yakin untuk mengatakan, bahwa wacana dari

peristiwa-peristiwa ini, secara konstan, digerakkan oleh suatu ketegangan yang tidak menyenangkan, dan bahwa ia mengambil arah yang membuat hasil akhirnya bertepatan dengan penurunan ketegangan itu---yaitu, dengan menghindari ketidaksenangan atau memproduksi kesenangan. Sigmund Freud, Beyond the Pleasure Principle (1920)

Anda boleh memikirkan “prinsip kesenangan” sebagai sebuah impuls untuk mengenakan topi-topi pesta atau menghabiskan semangkuk kecil es krim Ben and Jerry. Tapi Freud, yang telah “menemukan”nya, berpikir bahwa kita mempunyai banyak kesenangan jika kita sepenuhnya tidak merasakan apapun, terutama untuk tidak menghasratkan sesuatu. Kesenangan adalah sebuah keadaan dimana tak ada satupun yang pernah terjadi. Ini karena pemikiran Freud tentang kesenangan bukan sebagai suatu perasaan yang positif tapi lebih berupa seperti ketiadaan “ketidaksenangan,” atau, dalam ungkapan bahasa Jerman yang menarik, “unlust.” Psike (jiwa) sangat tidak menyukai ketegangan, yang muncul dalam banyak bentuk (kecemasan, hasrat, rasa bersalah, dan lain-lain), dan ia secara insting ingin menungganginya. Apa yang benar-benar kita inginkan, dan apa yang dicari oleh prinsip kesenangan, adalah sebuah keadaan yang mantap, pasti dan tak terganggu, yang oleh Freud disebut “homeostasis.” Prinsip kesenangan ini, dengan demikian, secara psikologis serupa dengan prinsip inersia. Bahwa kita menyukai ketegangan, tampaknya, mudah untuk dipahami, tapi, Freud melangkah lebih jauh yang memerlukan proses mengasah secara terus-menerus atau terus-menerus berharap.

Sebagaimana halnya dengan jenis gangguan apapun, bahkan satu hal yang kita pikir sebagai sesuatu yang menyenangkan, jauh di bawah sana ternyata sangat tidak dikehendaki kehadirannya. Kandungan apapun dari “kegembiraan dan gairah” yang signifikan untuk mendapat perhatian termasuk rangsangan seksual, sebenarnya adalah ketegangan yang tidak menyenangkan---kesenangan adalah ketidaksenangan. (lust is unlust). Bahkan jika kita menikmati peningkatan kesenangan ini, ini hanya karena kita mengetahui bahwa pelepasannya akan terasa sangat baik. Dan semakin banyak kesenangan atau “ketegangan” yang kita lepaskan, semakin baik ia akan dirasakan. Laki-laki akan mendapati gagasan ini lebih mudah diterima daripada perempuan, setidaknya, ketika ini terkait dengan kesenangan seksual, tapi kemudian, Freud tidak dapat memberikan solusi ketika soal ini dikaitkan dengan psikologi perempuan. (pertanyaan Freud yang terkenal: “Apa yang diinginkan oleh seorang perempuan?” sekarang ini justru melawan dia). Apapun yang terjadi, ketika Freud selalu mempertahankan posisinya tentang prinsip kesenangan ini, penggambaran dia tentangnya berkembang menjadi lebih rumit seiring berjalannya waktu. Menyadari bahwa ketika kita mempunyai suatu kecenderungan yang kuat akan kesenangan (stasis), keputusan-keputusan atau tindakan-tindakan kita tidak selalu mengarahkan kita kesana, dia menyimpulkan bahwa faktorfaktor lain harus juga dipertimbangkan. Salah satu dari faktor ini adalah “prinsip realitas,” yaitu upaya mengakomodasi realitas dalam kaitannya dengan tindakan melindungi diri; seringkali, sebuah kesenangan harus ditunda atau dikorbankan jika

kita ingin mengalami kesenangan di masa datang. Misalnya, ketika prinsip kesenangan mungkin mendesak kita untuk memberikian ide cemerlang kepada bos kita, prinsip realitas melakukan intervensi dengan menahan lidah kita---dipecat adalah harga mahal yang harus dibayar, pada ranah “realitas” demi untuk terbebas dari sedikit ketegangan ini.

Melampaui Prinsip Kesenangan
Meskipun prinsip kesenangan tetap ada, bagi Freud yang selalu berubah pikiran ini, di antara dorongan-dorongan atau kecenderungankecenderungan yang paling mendasar, saat menulis bukunya “Beyond the Pleasure Principle, dia telah menyimpulkan bahwa pasti terdapat impulsimpuls yang lebih mendalam lagi. Salah satu dari impuls ini adalah “tekanan yang berulang-ulang” : suatu kecenderungan yang misterius untuk mengulang kembali atau mengalami kembali (dalam kehidupan atau dalam mimpi-mimpi) bahkan termasuk pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan. Satu contohnya adalah kecenderungan yang aneh dan misterius dari beberapa orang untuk selalu mendapati diri mereka dalam jalinan hubungan yang bersifat kekerasan. Freud menjelaskan sejenis perilaku yang aneh dengan beberapa cara yang berbeda, semuanya bersifat hipotesis. Pertama, dia menggambarkan tekanan yang berulang-ulang ini sebagai suatu imbal balik bagi setting tindakan dari aksi kriminal yang gagal. Berbagai hal yang kita cenderung untuk mengulanginya, ternyata adalah pengalamanpengalaman (“traumatik”) yang sangat mengganggu dimana kita, pada

saat itu, tidak mampu untuk membentengi diri kita. Kita ingin terus mengulanginya kembali dalam suatu upaya untuk belajar dari kesalahankesalahan kita dan merenungkan kembali guna “menguasai” trauma ini. Cara itu, yang diharapkan oleh jiwa, kita akan menjadi sipa untuk aksi kriminal selanjutnya. Hipotesa kedua Freud adalah bahwa pengulangan kembali ini tampaknya bersifat inheren dalam kehidupan itu sendiri. sebagaimana telah dia katakan dalam penjelasan sistematis (eksposisi)nya tentang prinsip kesenangan, kita menyukainya ketika berbagai hal ini tetap sama dan rasa benci berubah atau terdapat gangguan secara umum. Insting kita mendorong kita menuju masa lalu, menuju pada keadaan yang baru saja kita alami dimana kita telah dipaksa oleh kekuatan-kekuatan eksternal untuk bersikap abai. Insting, dengan demikian, adalah bersifat konservatif; ia tidak cenderung pada perubahan atau perekembangan tapi lebih cenderung pada kesamaan dan pengulangan kembali. Terdapat “suatu tekanan organik untuk mengulang,” sebagaimana dalam cara burung-burung bermigrasi pada setiap tahunnya dan ikan berenang melawan arus untuk menghasilkan telur-telur mereka yang boleh jadi merupakan rumah leluhur bagi spesies mereka. Freud kemudian membawa hipotesa ini menuju posisi ekstrim yang baru. Bukan hanya kita berharap untuk menyimpan keadaan damai kita di masa lalu, kita, pada akhirnya, berharap untuk dapat kembali lagi pada keadaan yang paling utama—suatu keadaan tidak mampu untuk bergerak dan bertindak atau keadaan tak berjiwa, yang disebut dengan kematian. “Dorongan kematian” ini, sebagaimana Freud menyebutnya, berdasarkan

pikirannya sendiri adalah hal yang paling fundamental dari insting-insting. Bahkan insting akan perlindungan diri, yang dikemukakan Freud, adalah sebuah percobaan untuk memastikan bahwa kita mati dari sebab-sebab yang alami, yaitu, mati oleh sebuah proses internal. Namun, beruntung bagi kita, dorongan kematian ini hanyalah bagian dari ego. Kita mempunyai insting mendalam yang lain yang menandinginya, yang disebut dengan dorongan seks. Insting-insting seksual kita tidak mengarah pada kematian tapi pada memperlama dan memperpanjang masa hidup dan suatu jenis keabadian. Tapi, dorongan seksual ini, sebuah insting kehidupan, adalah seperti dorongan kematian yang konservatif: ia berupaya untuk melindungi kehidupan, tapi hanya dengan cara kembali pada keadaan yang lebih primitif (masa kanakkanak)---yaitu, dengan “membawa kembali keadaan-keadaan yang baru saja dialami tentang substansi kehidupan.” Namun, dengan mengizinkan insting-insting kehidupan semacam ini, Freud dapat melihat bahwa tidak ada insting dalam bentuk kehidupan apapun yang mengarah pada sesuatu yang baru, berbeda, atau tahap perkembangan yang “lebih tinggi”. Organisme boleh jadi mengalami perkembangan, tapi hanya dalam respons pada perubahan-perubahan atau tekanan-tekanan eksternal. Bukan karena kehendak dari individu atau kehendak kolektif. Secara maksimal, insting-insting mungkin bertindak untuk melindungi modifikasi-modifikasi yang mengikat secara moral (tidak dikehendaki) dalam struktur atau perilaku dari sang individu atau spesies. Diatas semua ini, Freud tidak melihat “insting yang menuju pada kesempurnaan dalam diri umat manusia,” yang dia sebut sebagai

suatu “ilusi perbuatan yang baik”---sebuah sentimen yang dia peroleh dari beberapa rekannya. Freud tidak mengingkari bahwa beberapa orang berupaya keras tanpa kenal lelah menuju kesempurnaan, tapi, dia mendasarkan semua ini pada “sublimasi”, yaitu dalam kenyataannya, represi enerjik dari dorongan-dorongan yang yang bersifat insting atau tidak sadar. Insting-insting kehidupan dan kematian memerankan diri mereka pada level-level kejiwaan yang beragam, dalam suatu tarian yang rumit. Tapi, pada akhirnya, sebagai insting-insting, mereka berbagi satu tujuan umum: menyimpan sebuah keadaan yang baru saja dialami tentang berbagai hal. Tujuan ini mungkin sesuai atau tidak sesuai, dalam beberapa contoh yang telah diberikan, dengan prinsip kesenangan; tapi dalam jangka panjang, tampak bahwa prinsip kesenangan, yang berupaya untuk menolak rangsangan, menghapus ketegangan ini, menyimpan equilibrium, dan menemukan kedamaian, adalah lebih dekat pada kematian daripada insting kehidupan. Kedamaian yang sangat kita harapkan untuk menemukannya adalah kedamaian di alam kubur. Semoga hari anda menyenangkan.

Alam Bawah Sadar Kolektif
Kita harus membedakan antara alam bawah sadar personal dengan alam bawah sadar tidak personal atau trans-personal. Kita membicarakan yang disebut paling akhir ini juga sebagai alam bawah sadar kolektif, karena ia tidak terhubung atau terpisah dari apapun yang bersifat personal dan ia sepenuhnya bersifat universal, dan karena kandungan-kandungannya dapat ditemukan dimana-mana, yang secara alami bukan contoh dengan kandungan-kandungan personal.

Carl Gustav Jung, “On the Psychology of the Unconscious” (1943)

Jika anda telah membaca mitos-mitos dari periode-periode waktu dan budaya-budaya yang berbeda, anda mungkin memperhatikan beberapa kemiripan yang menakjubkan diantara mereka. Demikian yang diungkap oleh psikiater Swiss Carl Gustav Jung (1875-1961), yang juga mencermati sejumlah citra-citra primitif dan mendasar---seperti makhluk-makhluk setan, Ibu-ibu Bumi, manusia-manusia bijak, dan manusia-manusia liar--yang muncul secara tak terduga dalam sesi-sesinya bersama dengan para pasiennya. Menyebut citra-citra ini sebagai “arketipe-arketipe” (yang bermakna “kesan-kesan atau pola-pola yang orisinal”), Jung menyimpulkan bahwa mereka harusnya menjadi bagian dari pikiran bawah sadar yang memberi kehidupan pada pengalaman personal seorang individu sebelum kehidupan ini (pra-eksis). Ia menyebut bagian ini sebagai “alam bawah sadar kolektif”---yang tidak mengacu, seperti yang mungkin anda pikirkan, pada jenis apapun dari “kelompok pikiran” dimana kita semua terkait secara bersamaan, tapi lebih berupa potongan dari jiwa (psike) individu masing-masing yang mewariskan pengalaman-pengalaman kolektif dan kesan tentang manusia leluhur. (Kita semua mempunyai materi pelengkap, tapi tidak ada “materi pelengkap kolektif” dimana kita semua dapat berbagi sekaligus; kita masing-masing mempunyai watak kolektif kita sendiri yang dapat dilacak, dan telah berkembang).

Teori Jung tentang arketipe-arketipe ini hanya lah satu unsur dari sebuah teori yang lebih luas yang juga melibatkan “tipe personalitas” dasar dari seorang individu (berkepribadian ekstrovert atau introvert), “persona”-nya (sang diri yang dia tunjukkan ke dunia), “bayangan”-nya (diri yang dia represikan), dan “ketidaksadaran personal”-nya (diri yang dia lupakan). Tapi, arketipe-arketipe dan ketidaksadaran kolektif ini segera menjadi, dan masih tetap, unsur-unsur yang paling terkenal dan paling kontroversial dari teorinya. Yang paling terkenal, terutama sekali, adalah dua citra arketipal khusus---bahwa manusia yang sedemikian ini (Jung menyebutnya animus) dan perempuan yang sedemikian ini (yang dia sebut anima). Telah menyimpulkan bahwa tiap-tiap ketaksadaran seseorang didominasi oleh watak-watak ini dan citra-citra yang dipaksa keluar dari diri yang sadar, Jung secara alamiah telah mengasumsikan bahwa anima ini adalah citra yang paling kuat dalam alam bawah sadar laki-laki dan animus adalah citra paling kuat di alam bawah sadar perempuan. Jadi, kita secara fisik adalah bersifat banci, dan semakin keras kita berupaya untuk merepresi separuh diri kita yang tersembunyi, maka semakin ia membebani kita dengan konflik-konflik psikologis. Dalam pandangan Jung, hanya dengan mengenali dan menerima kandungankandungan dari alam bawah sadar personal dan kolektif kita, kita dapat menjadi utuh dan sehat secara fisik. Pandangan ini mengarahkan dia untuk bersandar pada “asosiasi bebas,” yang dia yakini akan menyingkap para pasien yang mengalami represi, perasaan-perasaan tak sadar dan citra-citra yang begitu kuat dan yang berpotensi mengancam.

Meskipun komunitas psikiatri, pertama kali bersikap menerima ideide Jung, mereka akhirnya merasa kehilangan aspek ilmiah yang kongkrit dan ide-ide ini bersifat terlalu “sastra.” Jung, pada gilirannya, menyalahkan sains yang mengasingkan umat manusia dari alam dan kekuatan-kekuatan primitifnya dengan “menjelaskan” segala sesuatunya dalam istilah-istilah rasional. Dengan kata lain, ini adalah kesalahan sains yang sama sekali tidak menyentuh pengalaman-pengalaman para leluhur. Baru-baru ini, banyak para psikiater yang kembali menoleh pada tulisan-tulisan Jung, dan psikologi arketipal sedang menikmati masa renaissance-nya. (Ironisnya, terdapat banyak persepsi sastra untuk arketipe-arketipe ini juga). Uji coba klinis mungkin sekali tidak pernah dapat membuktikan teori Jung ini sebagai benar, tapi seperti yang telah ditunjukkan oleh pergerakan manusia dan Joseph Campbell, kadangkadang, ide-ide tidak harus kedengaran ilmiah untuk memuaskan sang jiwa.

Relasi-relasi Obyek
Perkembangan anak kecil telah diatur oleh mekanisme-mekanisme introjeksi dan proyeksi. Dari sejak awalnya, sang ego meng-introjeksi “kebaikan” dan “keburukan,” dimana payudara sang ibu adalah tipe dasar---untuk obyek-obyek yang baik ketika seorang anak memperolehnya, dan untuk obyek-obyek yang buruk ketika ia membuat anak itu gagal. Melanie Klein, “A Contribution to the Psychogenesis of ManicDepressive States” (1935)

Freud berpikir bahwa dia telah memecahkan banyak masalah, tapi dia tidak pernah berpretensi untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung dalam pikiran seorang anak kecil. Dia telah menteorikan tentang fase-fase atau “tahap-tahap” psikhis yang paling awal---oral, anal, genital, dan macam-macam---tapi mengalami jalan buntu dalam meneliti hal-hal semacam ini secara langsung. Psikoanalisa Freudian hanya berfungsi ketika sang pasien sedang berkehendak dan mampu untuk mengungkapkan masalah-masalahnya. Namun, diantara para pengikut Freud, seorang analis Inggris Melanie Klein memikirkan ini sebagai suatu hal yang penting dan perlu untuk melihat pada pengalaman-pengalaman dari masa kanak-kanak yang paling dini. Teori yang dihasilkan ini disebut “relasi-relasi obyek,” dan ini sangat sentral bagi praktek psikoanalisa kontemporer. Teori ini mengambil namanya dari penggunaan “obyek” oleh Klein untuk mengacu pada persepsi anak-anak yang terpotong-potong, tidak utuh, yang sangat bergantung pada perintah-perintah. Bagi anak-anak, dunia ini tidak terbuat dari berbagai hal dan orang-orang yang koheren, yang berbeda dari sang diri atau kebutuhan-kebutuhannya dan yang bersifat datang dan pergi, tapi lebih berupa obyek-obyek transisi yang menimbulkan kesenangan atau penderitaan. Obyek-obyek yang memberi kesenangan adalah obyek-obyek yang “baik”; sedangkan obyek-obyek yang tidak menyenangkan adalah obyek-obyek-obyek yang “buruk.” “Obyek yang baik” yang paling esensial dalam kehidupan seorang anak adalah payudara ibunya, yang merupakan sumber terbesar bagi kesenangannya. Dalam kenyataan, pengalaman yang paling mendesak

dan memaksa adalah proses menyusu---menghisap air susu dari payudara---yang diikuti dengan ketat oleh pengalaman tidak menyenangkan dari melewatkan sesuatu secara sia-sia pada ujung lainnya. Pengalaman-pengalaman biologis ini menyuplai kita dengan mekanisme-mekanisme psikologis yang paling awal, dimana Klein yang mengikuti Freud, menyebutnya dengan istilah “introjeksi” (“mengkonsumsi” obyek-obyek eksternal) dan “projection” (mengirim atau memindahkan obyek-obyek batin ke dunia ini). Secara alami, anakanak berharap untuk “meng-introjeksi” atau mengkonsumsi obyek-obyek yang baik (yang menyenangkan dan “mem-proyeksi” ataumemindahkan obyek-obyek yang buruk (yang tidak menyenangkan). Tapi, tak ada di dalam hidup ini yang sedemikian sederhana, sehingga tahun-tahun kita sebelum ini dipenuhi dengan kecemasan. Tanpa mempunyai pemahaman nyata tentang waktu atau koherensi (menjalin hubungan secara logis), anak-anak tidak mengetahui bahwa penderitaan (seperti rasa lapar atau rasa panas akibat munculnya bintikbintik merah di kulit) adalah bersifat sementara dan akan menghilang. Demikian pula, yang menimbulkan rasa shock adalah ketika sang ibu menjauhkan payudaranya padahal kegiatan menyusu ini menimbulkan kesenangan surgawi. Perubahan sedikit saja dapat menciptakan sebuah neraka di luar surga atau sebuah surga di luar neraka, dimana ini semua sangat merepotkan dan membingungkan bagi ego anak yang masih sangat hijau ini. Sang anak mendapati dirinya hanya mempunyai kontrol yang sangat terbatas atas obyek-obyek yang baik dan yang buruk,

sehingga sulit untuk memahami dan memberikan apa yang ia inginkan pada saat dia menginginkan sesuatu. Kerumitan kedua muncul perihal insting. Klein menerima teori Freud bahwa kita terlahir dengan dua insting dasar dan yang saling bertentangan: insting kematian (yang bersifat agresif dan destruktif) dan insting kehidupan (yang bersifat melindungi dan memelihara). Sikap agresi seorang anak, pada prinsipnya, melawan “obyek-obyek yang buruk” ini yang membuatnya menderita; apa yang tidak dia ketahui, pada mulanya, adalah bahwa beberapa dari obyek-obyek yang buruk ini adalah identik dengan obyek-obyek yang baik. Misalnya, pada saat lapar, seorang anak menangis keras karena marah ketika payudara ibunya mengering; sehingga payudara ini kemudian menjadi sebuah “obyek yang buru” yang tampak berbeda sepenuhnya dari payudara yang berlimpah air susunya dan yang bersifat menyenangkan. Anak kecil dalam penderitaannya berharap untuk menghancurkan payudara yang buruk dengan fantasi-fantasi yang ekstrim. Namun pada akhirnya, ia mulai menyadari bahwa payudara yang buruk yang dia benci ini sama dengan payudara yang baik yang dia sukai, dan bahwa sikap agresifnya, impuls-impuls destruktifnya telah diarahkan pada sumber yang sama dengan kesenangannya. Merasa takut bahwa fantasinya dapat mengancam obyek-obyeknya dan juga dirinya sendiri, anak-anak melangsungkan sebuah perang batin yang kuat antara impuls yang destruktif dan impuls yang melindungi. Di luar konflik ini, muncul teori “super ego” yang terkenal, bahwa aksi psikis ini bertujuan untuk merepresi insting-insting yang membahayakan.

Gambaran tentang fantasi kanak-kanak ini, yang diklaim oleh Klein untuk meng-asal-kan baik dari teori dan dari observasi, membalikkan satu dari hipotesa-hipotesa Freud yang paling bermasalah. Menurut Freud , super ego berkembang hanya setelah Oedipus complex luruh, katakanlah ketika anak telah menginjak usia kira-kira lima tahun. Tapi, Klein telah mengobservasi tindakan psikis yang kasar dan represif bahkan disaat anak baru berusia tiga tahun, sebuah tindakan yang bahkan lebih kasar dan lebih represif dibandingkan dengan super ego orang dewasa, untuk tidak menyebut kedua orangtuanya. Teori relasi-relasi obyek bukan hanya menjelaskan penampakan paling awal dari super ego, ia juga menjelaskan kekasarannya yang khas, yang berasal dari intensitas konflik di antara insting-insting dan fantasi-fantasi seorang anak, yang mendistorsi realitas. Selanjutnya, teori Klein menjauh dari fiksasi yang memalukan dari teori Freudian tentang pengalaman-pengalaman dari anak laki-laki kecil. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan, merasakan kesenangan dan penderitaan yang setara, dan mereka saling berbagi fantasi-fantasi yang sama tentang mengkonsumsi atau menghancurkan “obyek-obyek” dari dunia mereka yang terpisah-pisah. Jadi, untuk mengakrabkan diri dengan pernyataan Klein yang elegan, “formasi dari super ego bermula pada waktu yang sama dengan seorang anak yang membuat introjeksi-introjeksi oralnya yang paling awal dari obyek-obyeknya” (“The Early Development of Conscience in the Child”, 1933). Dan dengan ini, kita tinggalkan sastra psikoanalisa.

De-Signs of the Times:
Paradigma-paradigma Posmodern

Strukturalisme dan Semiotika
Ilmu yang mempelajari kehidupan tentang tanda-tanda dalam masyarakat adalah masuk akal; ini akan menjadi sebuah bagian dari psikologi sosial dan, sebagai konsekuensinya, menjadi bagian dari psikologi umum; aku akan menyebutnya semiologi (dari bahasa Yunani semeion = “tanda”). Semiologi akan menunjukkan apa saja yang menjadi unsur-unsur dari tanda-tanda, apa hukum-hukum yang mengatur mereka. Ketika ilmu ini belum eksis, tak seorang pun dapat mengatakan tentangnya; tapi, ia mempunyai hak untuk eksis, sebuah wilayah yang mendapat pengawasan terlebih dahulu. Ferdinand de Saussure, Course in General Linguistics (1916)

Strukturalisme (studi tentang struktur-struktur budaya) dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan semiotika (ilmu tentang tanda-tanda), keduanya terlahir oleh sebuah teks tunggal, yaitu, Course in General Linguistics, yang ditulis oleh pakar linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure (1857-1913), setelah kematiannya. Dalam praktek, dua karya Saussure ini sulit untuk dibedakan, tapi pada garis besarnya, keduanya dapat didefinisikan sebagai berikut: • Strukturalisme adalah istilah yang lebih inklusif. Ia mengacu pada penelitian untuk sturktur-struktur “mendalam” umum, yang melandasi ranah yang luas dari ekspresi-ekspresi budaya. Sebuah contoh dari antropologi adalah analisa Claude Levi-Strauss tentang mitos: banyak mitos yang tampak berbeda, sebenarnya mempunyak “makna” yang sama (menyediakan fungsi yang sama) ketika mereka beroperasi dengan cara yang sama (mempunyai struktur yang sama). Para strukturalis dari satu jenis atau jenis lain mungkin juga ditemukan di kalangan para filosuf, sejarawan, psikolog, dan kritikus sastra, disamping pakar linguistik.

Semiotika adalah sebuah cabang dari strukturalisme. Ide dasarnya adalah bahwa semua jenis perilaku itu bersifat komunikatif, untuk mengatakan bahwa mereka adalah “penanda”. Segala sesuatu dari gambaran detail tentang apa saja yang menjadi perhatian anda mengenai sebuah aksi perang, dapat dipahami sebagai sebuah “tanda” yang analog bagi sebuah kata atau kalimat. Semiotika mempelajari sistem-sistem, yang serupa dengan bahasa, dimana tanda-tanda semacam ini mengandaikan adanya makna (yang ditandai). Mayoritas dari pakar semiotika sekarang ini adalah para teoritisi sastra atau para mahasiswa perfilman, karena citra mereka sebagai orang yang sangat mencintai Perancis, yang merokok secara terus-menerus.

Saussure menyebut dirinya sendiri sebagai bukan seorang strukturalis (sebuah istilah yang belum ditemukan) dan bukan juga seorang pakar semiotika (meskipun dia menemukan istilah ini), tapi dalam karya ilmiahnya the Course, dia mengajukan konsep-konsep fundamental yang umum bagi masing-masing. Dia mulai dengan menyerang bias sejarah dan bias komparatif dari pakar linguistik di masanya. Para pakar linguistik, kebanyakan menyibukkan diri mereka dengan ide-ide penting yang menjadi bahan perdebatan tentang sejarah, perkembangan, dan saling keterhubungan dengan bahasa-bahasa modern. (Dia menyebut ini sebagai aspek “diakronik” sejarah/temporer). Saussure mempertahankan pendapatnya bahwa studi-studi semacam ini sebagai meletakkan kereta di depan kuda, karena para pakar linguistik tidak mempunyai teori yang memadai tentang bagaimana bahasa berfungsi dalam semua waktu (dalam aspek strukturalnya atau aspek “sinkronik”). Bayangkan para ilmuwan yang mempelajari evolusi manusia tanpa memahami biologi atau fisiologi, dan anda akan memahami apa yang sedang dikeluhkan oleh Saussure.

Saussure bertujuan untuk menyembuhkan kelemahan ini. Pertama, dia memerinci bahasa menjadi dua komponen: langue (struktur dan aturan-aturan tentang bahasa) dan parole (bahasa sebagaimana ia diucapkan). Langue, pada intinya, adalah sinkronik---ia adalah sebuah sistem abstrak dan dibakukan dan tidak berubah kapanpun. Parole bersifat cair dan diakronik---pembicaraan adalah merangkai kata-kata pada suatu waktu, dan sementara diatur oleh konvensi-konvensi dari langue, ia berlangsung dalam waktu singkat dan cenderung cepat berubah. (Pikirkan tentang langue sebagai kamus raksasa yang tidak penting-bersama dengan---buku panduan grammar). Saussure berpikir bahwa untuk dapat memahami secara mendalam tentang bagaimana bahasa bekerja, kita pertama kali harus memahami langue, yang bersifat lebih fundamental daripada parole. Inilah teorinya: langue adalah sebuah struktur dari tanda-tanda yang, secara inheren, tidak mempunyai makna atau dalam keadaan terisolasi, tapi hanya sebagai bagian dari sistem. Kata tree (pohon), misalnya, adalah sebuah tanda linguistik dengan sebuah makna bagi orang –orang yang berbahasa Inggris. Tapi, jika anda mengatakan “tree” kepada seorang warga kepulauan Aleut di Alaska, ia tidak mempunyai makna sama sekali. Sebuah kata mempunyai makna hanya jika ia mempunyai sebuah tempat khusus dalam sebuah sistem tanda-tanda (misalnya, bahasa Inggris). Selanjutnya, ia tidak mengandung makna aslinya ketika terjadi penggabungan suara yang melahirkan kata tree, tapi lebih karena ia adalah berbeda dari semua tanda-tanda lain dalam bahasa Inggris. Poin Saussure yang paling mendasar adalah bahwa tanda-tanda linguistik (suara-suara, kata-kata, frasa-frasa, kalimat-kalimat, dll.) tidak mempunyai makna yang esensial; dalam dan tentang diri mereka, mereka adalah hampa makna. Makna dihadirkan oleh sistem tanda-tanda---sistem tentang perbedaan-

perbedaan---yang sepenuhnya netral. Tidak ada alasan yang diperlukan bagi kata tree agar diingat oleh pikiran sebagai citra dari sebuah pohon; tidak ada alasan yang diperlukan oleh kata “tetapi” yang bermakna kontradiksi; tidak ada alasan tentang penambahan suara sdi akhir kata-kata dalam bahasa Inggris yang membuat mereka bersifat plural. Semua makna-makna ini didefinisikan oleh konvensi, sebagaimana tercakup dalam langue; makna adalah sebuah produk budaya. Yang membawa kita pada poin dimana semiotika muncul pertama kali dari strukturalisme: pembedaan antara suatu penanda (suara, tanda, atau isyarat) dan yang ditandai (konsep yang diasosiasikan atau citra). Misalnya, suara-suara yang anda buat saat anda mengatakan kata tree, atau tanda-tanda yang anda buat pada halaman buku saat anda menuliskannya, mencakup suatu penanda; citra mental atau konsep dari sebuah pohon (tree) adalah benda yang ditandai yang diasosiasikan. Kombinasi dari penanda dan yang ditandai menciptakan tanda; dan kenetralan dari tanda ini berasal dari fakta bahwa penanda dan yang ditandai hanya dihubungkan oleh konvensi atau kesepakatan bersama. Dengan menyadari kenetralan dari tanda-tanda, ini hanyalah langkah pertama dari seorang strukturalis atau analis semiotika. Langkah selanjutnya adalah menguji sistem atau struktur dibaliknya. Tokoh sentral dari strukturalisme adalah bukan seorang pakar linguistik, melainkan seorang antropolog, Claude Levi-Strauss, seorang yang menganut keyakinan yang kokoh bahwa anda tidak dapat memahami ritual, keyakinan, praktek, pertukaran, atau mitos tertentu kecuali anda memahami struktur keseluruhan (seperangkat polapola) dari suatu budaya yang diandaikan, yang tersembunyi dan tidak disadari. Jika anda mengambil sebuah mitos, misalnya, anda tidak dapat memahaminya

hanya dengan menganalisanya secara terpisah---katakanlah melalui psikoanalisa atau mencari dasar pijakan historisnya. Apa yang perlu anda lakukan adalah melihat secara menyeluruh pada mitos-mitos budaya untuk menemukan “bahasa” mitis yang mendalam dibalik itu. bahasa ini, pada esensinya, bersifat bipolar---seperangkat oposisi-oposisi (murni/tidak murni, subur/mandul, mentah/matang, dll.) yang dapat berakhir dengan berbagai macam cara dalam setiap mitos. Semiotika, meskipun bersifat tersembunyi dalam karya-karya Saussure dan rekan semasanya, filosuf Charles S. Peirce, benar-benar berangkat dari tulisan-tulisan dari kritikus Perancis, Roland Barthes (1915-1980). Barthes juga mempelajari mitos, tapi dia memperluas konsep ini untuk mencakup keragaman yang luas dari kode-kode budaya dan keyakinan-keyakinan. Dalam Mythologies (1957), dia mengelola signifikansi budaya tentang segala sesuatu dari otak Einstein bagi penanganan profesional, menguji cara-cara obyek dan tindakan mengemban makna-makna kedua atau bahkan makna-makna ketiga dalam sebuah budaya. Sebuah contoh dari saya: warna-warna dan pola-pola tertentu pada sepotong kain menandakan bendera negara; sebuah bendera negara menandakan identitas nasional; identitas nasional mengimplikasikan patriotisme; patriotisme mengimplikasikan kepatuhan pada negara; dan lainlain. Barthes kemudian melatih wawasan-wawasannya pada sastra, misalnya dalam karya masterpiece-nya S/Z (1970), sebuah studi tentang kisah Honore de Balzac “Sarrasine”. Yang ingin ditunjukkan oleh Barthes adalah bahwa apa yang “dimaksudkan” oleh sebuah karya tertentu, sebagiannya ditentukan oleh keragaman kode-kode yang luas, beberapa kode semantik, beberapa kode ideologis, beberapa kode estetis, dan lain-lain. Setiap teks (atau, jika anda

inginkan, setiap penulis) berupaya untuk menempatkan beberapa batasan pada bagaimana kode-kode ini berfungsi, sehingga pembaca mengalami perasaanperasaan dan makna-makna yang diinginkan. Hingga pada tingkat bahwa sebuah teks sukses dalam proyek ini, ini adalah “bersifat pembaca” (readerly)---yang disesuaikan ke arah konsumsi yang pasif. Tapi, tak ada penulis atau karya yang dapat mengontrol semua kode dan membatasi watak ekspansif atau permainan bebas dari makna-makna yang melebihi niatan semula. Hingga pada tingkat bahwa seorang pembaca berpartisipasi dalam memilah-milah dan merangkai makna-makna yang melampaui yang diperlukan, dia membuat teks ini menjadi “bersifat penulis” (writerly)---sebuah obyek tentang konsumsi yang aktif. Selama masa keemasannya di tahun 1950-an dan 1960-an, strukturalisme berakar dalam keragaman dari disiplin ilmu-ilmu kemanusiaan, yang memunculkan aliran-aliran pemikiran yang sekarang ini disebut dengan “posstrukturalis”. Pergerakan-pergerakan seperti dekonstruksi filsafat dan psikoanalisa Lacanian layak memperoleh sebutan yang menimbulkan keraguan ini karena, disamping sebagai strukturalis, mereka mempertanyakan beberapa asumsi-asumsi strukturalisme---misalnya, superioritas pembicaraan dari tulisan atau koherensi tentang topik manusia. Untuk pembahasan lebih jauh dari salah satu pergerakan yang menyenangkan dan menarik ini, lihat DEKONSTRUKSI, hal....

Grammar Universal
Menurut pakar linguistik, Noam Chomsky (lahir tahun 1928), yang sekarang ini mungkin terkenal dengan kuliah-kuliah politiknya, otak manusia tidak bersifat tabula rasa ketika ia dihadapkan pada soal bahasa. Jumlah bahasa manusia yang

sangat banyak, baik yang masih ada maupun yang telah punah, adalah sangat serupa dalam struktur secara kebetulan. Otak, pikirnya, harus tersambung dan terhubung (hard-wired) dengan suatu “grammar universal” yang memungkinkan anak-anak untuk belajar bahasa dengan sangat cepat, tapi yang juga merancang batasanbatasan tentang seperti apa bahasa itu. Chomsky mengasalkan ide ini dari studinya tentang sintaksis, yang merupakan penyusunan kata-kata penuh makna dalam sebuah kalimat. “Kucing ada di atas karpet” (The Cat is on the mat) menunjukkan sintaksis bahasa Inggris yang sempurna (dan dengan demikian mempunyai sebuah makna), sementara “Kucing karpet di atas adalah” (Cat mat the on is) tidak demikian. Ketika Chomsky memulai karirnya, sintaksis bukanlah sebuah topik yang banyak diperbincangkan; strukturalisme sedang berada di puncak kejayaannya, dan kaum strukturalis jauh lebih banyak menaruh perhatian pada sifat dari “tanda” linguistik (kata/konsep yang berpasangan) daripada tentang grammar atau struktur kalimat-kalimat yang koheren. Chomsky juga tertarik dengan struktur, tapi tidak begitu banyak dalam struktur permukaan bahasa (penggunaan aktual dari tanda-tanda) sebagaimana dalam apa yang ia sebut sebagai “struktur mendalam”. Dengan mengobservasi bahwa, praktis, semua anak-anak, apapun kecerdasan bawaan mereka, akan dengan mudah dan dengan cepat dapat memiliki kompetensi dasar dalam berbahasa, Chomsky berteori bahwa manusia harus berbagi beberapa kemampuan linguistik bawaan, saat lahirnya. Ini adalah kemampuan untuk belajar, dari mendengarkan hanya sejumlah kecil dari semua kalimat yang mungkin, grammar dasar dan aturanaturan untuk mentransformasi kalimat-kalimat menjadi kombinasi-kombinasi yang baru.

Poin utama Chomsky adalah bahwa, ketika tak satu pun dari kita yang mempelajari aturan-aturan grammar sebelum belarjar cara berbicara, otak harusnya mempunyai kemampuan grammatika yang built-in (sudah terkonstruk di dalam otak sejak lahir). Ketika kita mengajarkan kepada seorang anak kalimat “Lihatlah tempat berlari,” kita tidak (dan tidak perlu) men-diagram kalimat ini menjadi unsur-unsur grammatikal. Seorang anak bagaimanapun telah mengetahui bahwa kombinasi suara-suara ini adalah mengandung makna, dan sudah mempunyai pemahaman tentang bagaimana kata-kata saling sesuai untuk menciptakan makna. Selanjutnya, suatu studi komparatif tentang bahasa-bahasa yang beraneka ragam di dunia ini menunjukkan bahwa hampir semua dari mereka didukung oleh sekelompok kecil dari struktur-struktur grammatika yang umum. Kombinasi subyekkata kerja-obyek, misalnya, adalah mendekati universal. Bahkan struktur-struktur yang lebih sederhana, seperti klausa-klausa relatif, cenderung untuk terlihat sama dalam setiap bahasa. Kalimat berbahasa Inggris “Buku yang saya baca” (The book that I read) menurut ucapan bahasa Perancisnya adalah: “Le livre que j’ai lit”: ini adalah grammar yang sama. Padanan kalimat ini dalam bahasa Ibraninya yang agak berbeda---mungkin menjadi “Buku yang saya membacanya,” (The boook that I read it) sebuah bentuk yang kita temukan dalam bahasa-bahasa lain (bahkan kadangkadang dalam bahasa Inggris). Dua bentuk dasar ini, “yang saya baca” dan “yang saa membacanya,” menggambarkan klausa relatif dalam setiap bahasa yang dikenal dan yang dipraktekkan. Mengapa hanya dua bentuk ini, ketika yang lain dapat melakukan pekerjaan yang sama? Mengapa “Buku yang saya baca” dan bukan “Buku yang oleh aku yang membaca yang dilakukan di masa lalu” (The book by me reading it past time done) atau formasi lain yang seperti ini? Jawaban Chomsky adalah grammar universal: sebuah grammar yang mengizinkan kita untuk mempelajari bahasa apa saja dengan contoh dan membatasi

cara-cara yang mungkin dalam membentuk sebuah frasa atau kalimat yang mengandung makna. Dan meskipun biasanya terdapat beberapa cara untuk mengucapkan hal yang sama, masing-masing cara harus menderivasikan, dengan bantuan dari aturan-aturan bawaan dan baku tentang transformasi, yang disebut Chomsky sebagai “struktur yang mendalam” (deep structure) dari kalimat. Misalnya, kalimat yang diucapkan “John mudah merasa puas” adalah sebuah transformasi dengan aturan-aturan ketat dari kalimat yang lebih eksplisit dan primitif “Adalah mudah untuk menyenangkan John” (“ubah posisi obyek John ke posisi awal dan hapuskan subyek ‘it’”). Kalimat serupa yang berbunyi “John ingin sekali untuk menyenangkan (“John is eager to please”) yang dihasilkan dari “struktur mendalam” yang sangat berbeda---yaitu, “John ingin sekali untuk menyenangkan seseorang”--melalui sebuah aturan transformasi yang berbeda. Bahwa kita secara insting memahami semua aturan ini, dan bahwa kita dapat mengerti banyak kalimat yang kacau atau kalimat yang ambigu, mendukung teori suatu grammar universal. Jika benar, teori Chomsky menempuh jalan panjang menuju penjelasan tentang bagaimana manusia itu dapat mengatakan apa saja yang baru. Jika akuisisi bahasa itu bersifat empirik murni---dengan kata lain, jika kita mempelajari semua bahasa hanya dari tindakan mendengar---maka, akan menjadi sulit untuk menjelaskan bagaimana kita dapat berbicara secara kreatif selain dari sekadar mengulang-ulang apa yang telah kita dengar. Kemampuan untuk mengganti katakata yang baru dan ide-ide menjadi bentuk-bentuk kalimat yang telah dipelajari, setidaknya, haruslah bersifat bawaan. Selanjutnya, Chomsky meyakini, struktur-struktur mendalam yang terdapat di bawah permukaan bahasa, harusnya mempunyai beberapa keterhubungan esensial bagi proses konstruksi otak. Dengan demikian, sebagaimana yang dia kemukakan, bahasa adalah suatu “cermin dari pikiran” (Reflections on Language,

1975). Dalam suatu cara yang paling mendasar, apa yang dapat kita pikirkan sebagai terhubung dengan apa yang dapat kita katakan, tidak harus karena pemikiranpemikiran dan konsep-konsep ini pada esensinya bersifat linguistik (meskipun beberapa pihak akan mengatakan demikian), tapi karena organ otak dikonstruk untuk memiliki pembicaraan, dan cara ia dikonstruk harusnya menentukan cara kita berpikir. Ide-ide Chomsky membawa perubahan yang sangat revolusioner dalam ilmu linguistik dan ilmu kognitif, dan ide-ide ini masih berperan sangat besar dalam kedua disiplin ilmu ini. (Tapi, pandangan-pandangan Chomsky telah mengalami perkembangan secara bertahap; dia sekarang menyusun sebuah versi dari teorinya yang disebut dengan “minimalism”.). Teori-teorinya jelas mempunyai keterbatasanketerbatasan, khususnya ketika ia mulai memahami memahami tindakan berbicara, yang sangat menarik perhatiannya daripada tentang hal-hal yang potensial untuk dibicarakan. Dinamika-dinamika percakapan dan nuansa-nuansa yang tidak disadari tentang komunikasi praktis, adalah melampaui grammar universal; kadang-kadang, permukaan itu lebih penting dari kedalaman. Bahwa kita semua mampu untuk berbicara secara kreatif tidak berarti bahwa kita semua dapat melakukan itu, dan bahwa kita dapat mengatakan dan memahami “I love you” atau “Waspadalah terhadap ocehan tak berguna, putraku” tidak berarti bahwa kita akan melakukannya.

Dekonstruksi
Tentu saja, ini bukan sebuah pertanyaan tentang memilah-milah kembali konsep yang sama tentang penulisan dan tentang membalik hal-hal yang tidak simetris [pembicaraan atas tulisan] yang sekarang telah menjadi problematis. Ini lebih berupa sebuah pertanyaan tentang memproduksi sebuah konsep baru tentang

menulis. Konsep ini dapat disebut dengan gram (sesuatu yang tertulis) atau differance. Peran dari differances, sebenarnya, mengandaikan sintesa-sintesa dan acuan-acuan (referrals) yang mencegah pada momen apapun, atau dalam pemahaman apapun, bahwa sebuah unsur sederhana hadir dalam dan dari dirinya sendiri, yang mengacu hanya pada dirinya sendiri. Apakah dalam tertib (order) wacana pembicaraan atau wacana tulisan, tidak ada unsur yang dapat berfungsi sebagai sebuah tanda tanpa proses mengacu pada unsur lain yang dirinya sendiri, sungguh-sungguh, hadir. Hasil-hasil yang serba jalin-menjalin ini pada masingmasing “unsur”---fonem [unit suara] atau grapheme [tanda tertulis]---yang tersusun pada basis dari jejak di dalamnya dari rangkaian sistem unsur-unsur yang lain. Proses jalin menjalin ini, tenunan ini, adalah teks yang dihasilkan hanya dalam transformasi dari teks lain. Tak ada satupun, tidak juga di antara unsur-unsur, tidak juga dalam sistem, dimana saja berada, yang sungguh-sungguh hadir atau absen. Yang ada hanyalah, dimana saja berada, perbedaan-perbedaan dan jejak-jejak dari jejak-jejak. Jacques Derrida, “Semiologi and Grammatology” (1968)

Well, ini menjelaskan segalanya! Tapi sebenarnya, adalah sulit untuk menyalahkan siapapun karena melewatkan poin inti dari dekonstruksi, ketika tulisan seorang dekonstruksionis begitu berbelit-belit dan kompleks. Meskipun ini dapat menimbulkan sedikit gangguan untuk melihat istilah dekonstruksi sedang merebak dimana-mana, dengan cemoohan terhadapnya, ketika kebanyakan dari mereka yang menggunakan dan mengejek istilah ini tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Au contraire (Sebaliknya), beberapa pihak mengatakan; adalah para dekonstruksionis, terutama pemimpin mereka, Jacques Derrida (lahir tahun 1930), yang melakukan penyalahgunaan istilah ini. Diantara dosa-dosa para pendukung dekonstruksi, kata mereka, adalah yang memutar-balikkan bahasa dan mengingkari semua yang benar dan baik. Para pendukung dekonstruksi mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang disebut dengan kebenaran, bahwa segala sesuatu bersifat relatif, bahwa nilai-nilai moral adalah suatu ketololan, dan bahwa makna telah dirampas.

Dekonstruksi, singkatnya, berada di balik semua kejahatan masyarakat modern, dari kebenaran politik menuju relativisme moral dan relativisme estetika. Terdapat suatu kadar tertentu dari kebenaran dalam distorsi-distorsi ini, tapi ini adalah kepanikan yang tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Karena fakta yang sederhana adalah bahwa Derrida dan rekan-rekan, mereka tidak benar-benar mengadakan kampanye nihilistik13 untuk menghancurkan kebudayaan. Mereka hanya ingin menghancurkan tradisi metafisik dalam filsafat Barat, yang dalam pikiran mereka adalah sebuah benteng dari bahasa absurd yang dibangun di udara. Inilah poin utamanya, ringkasnya, bagi siapa saja dari anda yang dapat hidup tanpa detail-detail: bahkan sejak era sebelum Sokrates, para filosuf telah merancang ideal-ideal seperti “kebenaran”, “orisinalitas”, “wujud”, dan “kehadiran”, dan terus berlanjut untuk mengkonstruk sistem-sistem berdasarkan pada kategori-kategori ini dan kategori-kategori yang berlawanan dengan mereka. Mimpi filosofis adalah untuk menemukan dan mengklarifikasi prinsip-prinsip metafisik yang mendasar ini. Tapi, mereka semua penuh dengan lubang-lubang, dan upaya apapun untuk mendukung mereka, secara tak terhindarkan, akan penuh dengan tautologi-tautologi dan kontradiksi-kontradiksi diri. Sekarang, untuk detail-detail yang kotor; para pembaca yang lebih waras mungkin akan terus melanjutkan langkah mereka. Sebuah awal yang bagus untuk memulai adalah karya terbaik dan paling terkenal dari Derrida yaitu, Of Grammatology (1967), yang terus menyerang secara gencar beragam target, termasuk tulisan-tulisan strukturalis dari Saussure dan Levi-Strauss. Saussure, kata Derrida, mempublikasikan sebuah kesalahan yang sudah berlangsung sangat lama dengan memperlakukan pembicaraan (speech) sebagai sesuatu yang lebih murni dan lebih orisinal daripada tulisan. Pembicaraan diandaikan sebagai memberi kehadiran
Nihilisme = doktrin yang menyatakan bahwa semua nilai adalah tidak mempunyai dasar dan bahwa tak ada satupun yang dapat diketahui atau dikomunikasikan. Penerjemah.
13

dan tubuh bagi pemikiran, sementara tulisan hanyalah sekadar parasit, sebuah copyyang kalah penting dari pembicaraan. Derrida menyebut doktrin ini sebagai logosentrisme. Saussure dan para pendahulunya tidak hanya berhenti sampai disini saja. Logosentrisme hanyalah sekadar sebuah gejala dari kecenderungan metafisik untuk mengobrak-abrik realitas menjadi dua hal yang saling berlawanan, satu aspek adalah “kebaikan” dan aspek lain adalah “keburukan”. Bahasa ucapan itu sendiri, dalam pemikiran Saussure, diperinci menjadi dua bagian yang berlawanan, yang disebut “hal-hal yang ditandai” (makna-makna) dan “penanda-penanda” (suara-suara yang menunjuk pada makna-makna); hal-hal yang ditandai adalah lebih penting dan lebih substansial daripada penanda-penanda (signifiers), yang adalah tidak bermakna dan netral. Sebuah daftar parsial dari hal-hal yang berlawanan ini mencakup: Ucapan : tulisan Yang ditandai : penanda Di dalam : di luar Hadir : absen Presentasi : representasi Sentral : marjinal Serius : retoris Ada : tidak ada Benar : salah Alam : budaya Para filosuf metafisika memandang dunia ini dalam istilah-istilah yang sedemikiran rupa dan, sadar atau tidak sadar, memperlakukan unsur yang pertama dari masingmasing yang berpasangan ini sebagai lebih orisinal, lebih murni, dan lebih baik daripada unsur yang kedua. Apa yang tidak mereka lakukan adalah berhenti untuk

mempertanyakan logika dari pembuatan pembedaan-pembedaan seperti ini. Tidak juga mereka menjelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan semacam ini dapat muncul di tempat pertama jika ucapan, alam, dan lain-lain, adalah begitu murni, hadir dan baik. Tujuan dari dekonstruksi adalah tidak untuk membatalkan hal-hal yang berlawanan seperti ini, yang akan menjadi cukup idealistis dan romantis. Tidak juga ia ingin menunjukkan bahwa istilah-istilah yang merupakan unsur kedua (tulisan, penanda, dapat di-indera, dll) ini adalah lebih baik dalam kenyataan ketimbang unsur yang pertama (ucapan, yang ditandai, hal yang dapat dimengerti, dll), yang akan hanya berupa memainkan game yang sama yang merupakan langkah mundur. Tapi, tujuan dekonstruksi lebih untuk menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan diantara istilah-istilah di atas, menyembunyikan suatu saling-ketergantungan atau atau kesamaan. Marilah kita ambil contoh tentang pembedaan antara ucapan/tulisan. Dalam penjelasan filsafat tradisional, ucapan disetarakan dengan “kehadiran” dari seorang pembicara, dengan beberapa pemahaman. Sang pembicara hadir dalam tubuh saat dia berbicara, tapi pembicaraannya juga merupakan presentasi langsung dari pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaannya. Tulisan, pada sisi lain, didefinisikan dengan ketidakhadiran dari sang penulis: anda dapat membaca katakata Rousseau meskipun Rousseau telah mati. Ketidakhadiran Rousseau secara fisik juga membuat upaya untuk memahami berbagai hal yang dimaksudkan oleh Rousseau menjadi sulit: jika satu dari kalimat-kalimatnya tampai ambigu atau membingungkan, anda tidak dapat menelponnya untuk menanyakan apa yang dia maksudkan. Dengan menetapkan makna yang “benar” dari karya tulisnya adalah termasuk membuat dugaan yang berdasarkan pada pengetahuan.

Penolakan Derrida, terletak pada, bahwa ucapan (speech) itu tidak lebih aman ketimbang tulisan dari (bahaya) ketidakhadiran, kebingungan, atau kesalahan. Ucapan, dalam kenyataan, adalah semua hal tentang ketidakhadiran, ketika jika sesuatu itu hadir (terlihat oleh) di depan mata atau pikiran dan maknanya atau tujuannya telah menjadi jelas, maka, tidak akan ada alasan untuk membicarakannya. Kita berbicara untuk menujukan pada berbagai hal---obyek-obyek, ide-ide, sikapsikap, dan lain sebagainya---yang belum ada disana atau yang belum menjadi jelas. Dan ketika kata-kata tidak memerintahkan berbagai hal yang diucapkan untuk menjadi hadir, mereka hanya memperkuat kembali ketidakhadiran mereka. Meskipun kita berbicara untuk menghadirkan apa yang tidak hadir, untuk mengisi ruang, dan untuk mengimbangi kebisuan (silence) dan kehampaan, dalam kenyataan, semua yang kita lakukan adalah menghasilkan penanda-penanda, bukan menghasilkan hal-hal yang ditandai. Inilah yang dimaksudkan Derrida ketika dia, secara ambigu, menyindir bahwa “Il n’y a pas de hors-text”---Tidak ada yang ada di luar teks.” Dengan jargon “teks” ini, dia memaksudkan sebagai menelusuri perbedaan-perbedaan, penggunaan tanda-tanda (marks) untuk memisahkan ini dari itu atau untuk menandai apa yang tidak hadir. Ucapan adalah sama tekstualnya dengan tulisan, sama mudah membuat bingung, dan sama sama mudah disalah-tafsirkan. Kita mempunyai semua argumenargumen itu yang tidak pernah berakhir, dimana kata-kata kita hanya menciptakan lebih banyak perbedaan-perbedaan lagi, bukan kesepakatan. Dan ucapan, jauh dari membuat berbagai hal atau ide-ide menjadi sepenuhnya jelas dan hadir dan dengan demikian membuat setiap orang menjadi terdiam, tampaknya, secara tak terhindarkan, akan memprovokasi lebih banyak ucapan. Bagaimana saya mengklarifikasi apa yang saya maksudkan? Saya menggunakan kata-kata, tau tandatanda. Tapi, apakah tanda-tanda ini jelas? Dan sebagainya dan sebagainya.

Tidak ada satupun yang berada di luar rangkaian ketidakhadiran dan acuan ini, demikian pendapat Derrida. Bahkan untuk mengucap kata “di dalam” dan “di luar”, (tidak terlepas dari) menggunakan dan menerapkan kategori-kategori lama yang sama yang mengasumsikan bahwa semua hal yang baik seperti kehadiran dan wujud (being) telah dihancurkan oleh hal-hal yang buruk seperti ketidakhadiran dan ketiadaan. Bahwa pernah ada satu periode waktu, pernah ada suatu keadaan yang alami, yang bebas dari ketidakhadiran, perbedaan-perbedaan, dan tekstualitas menyerang dia hingga dalam kadar tertentu membuat dia menjadi sangat ragu--sebuah fantasi metafisik. Tanda-tanda yang terucap atau yang tertulis adalah bersifat mereproduksi dan menduplikasikan-diri. Penanda-penanda terus mengalir seperti sebuah aliran sungai. Tidak tempat untuk istirahat dalam wacana, tidak ada kata akhir, tidak ada jangkar transendental, tidak ada kebenaran akhir atau kehadiran dimana kita dapat memerintahkan untuk berhenti pada semua pembicaraan dan semua tulisan. Bagaimana mungkin seseorang dapat memutuskan apa yang benar, apa yang otentik, apa yang eksis kecuali melalui wacana? Ucapan dan “tulisan” (dalam definisi Derrida yang lebih luas) membentuk suatu sistem yang membungkus dan melingkupi yang hanya merupakan konteks itu sendiri: jika anda mencari sebuah kata di dalam kamus, anda mendapatkan lebih banyak kata-kata, dimana anda kemudian mencari hanya untuk memperoleh lebih banyak kata-kata lagi, dan seterusnya dan demikian seterusnya. Tak ada satu pun di luar bahasa yang dapat menjamin kebenarannya, keotentikannya, kehadirannya, atau maknanya; bukti-bukti, demonstrasi-demonstrasi, argumen-argumen, pembandingan-pembandingan, dan kontras-kontras, semua itu adalah gestur-gestur linguistik (“diskursif”). Poin inti Derrida, kemudian adalah, bukan bahwa tak ada

satupun yang bermakna apapun, tapi lebih berupa, bahwa terdapat lebih banyak “makna” yang menyebar daripada makna yang dapat dikontrol oleh seseorang. Derrida “men-dekonstruksi” beberapa oposisi (hal-hal yang berlawanan) metafisika kunci, seperti pusat/pinggir dan kehadiran/ketidakhadiran. Pada masingmasing kasus, dia menunjukkan bahwa istilah yang pertama kali disebut, tidak pernah mencukupi dirinya sendiri (self-sufficient), tapi selalu memahami hanya dalam relasi untuk istilah yang kedua: sebuah lingkaran mempunyai sebuah pusat hanya karena mempunyai sebuah “pinggir” atau perimeter (batas terluar dari sebuah area); sesuatu itu hadir hanya dalam relasi dengan ketidakhadiran potensialnya dan ketidakhadiran aktual dari hal-hal lainnya. Ide-ide yang kita pertimbangkan sebagai “sentral” bagi tradisi Barat adalah bukan karena mereka, secara jelas dan secara tidak meragukan, menyingkap suatu kebenaran transendental, tapi karena masyarakat telah menciptakan mereka secara demikian. Mereka menjadi sentral oleh suatu proses sejarah. Jadi, Derrida tidak mengingkari bahwa kebenaran, keindahan, dan kebaikan itu eksis---karena mereka memang eksis, sebagai fungsi-fungsi, dalam semua budaya. Tapi lebih berupa, Derrida mengingkari bahwa mereka adalah realitasrealitas transendental yang eksis di luar dan menjamin konsep-konsep manusiawi, wacana, dan sejarah. Singkatnya, orang-orang akan terus bicara dan bicara tanpa ada akhir, dan tidak ada kebenaran absolut atau kehadiran absolut yang akan pernah turun dari atas untuk menghentikan mereka. Dimana semua ini menimbulkan situasi stres dan situasi menyenangkan sekaligus.

“Desa Global”

Media elektronik yang dimiliki manusia pasca melek huruf (post-literate), membuat dunia ini berkerut dan menyusut menjadi sebuah desa atau suku dimana segala sesuatunya terjadi terhadap setiap orang pada waktu yang sama: setiap orang mengetahui tentang, dan oleh karena itu, berpartisipasi di dalamnya, segala sesuatu yang sedang terjadi di menit pertama ia terjadi. Televisi memberi sifat simultanitas (terjadi pada waktu yang bersamaan) ini pada peristiwa-peristiwa di desa global ini. Marshall McLuhan, Explorations in Communication (1960), Introduction

Marshall McLuhan (1911-1980) begitu intens menjelaskan keseluruhan budaya Barat bahwa dia membiarkan banyak detail yang terlewatkan. Bahkan generalisasigeneralisasi sedikit dibelokkan dan jangkauannya melampaui rengkuhannya; tapi poin-poin utamanya adalah jelas dan wawasan-wawasannya sangat menarik dan memesona. Mcluhan meramalkan suatu pergeseran budaya, secara tak terduga, yang direkayasa oleh teknologi canggih, terutama sekali oleh media elektronik. Hasilnya adalah “desa global” demikian dia menamainya pada tahun 1960. Ini adalah sebuah dunia dimana peristiwa-peristiwa yang berjauhan lokasinya, dapat dikomunikasikan dan dialami secara spontan, melalui radio, televisi, dan, setelah kematiannya, mesin faks dan jaringan komputer. Ruang mengalami kolaps, waktu dimampatkan, dan dengan terjadinya ini, cair pula batasan-batasan dari dunia-dunia tradisional dan parokial (pandangan yang sempit dan terbatas). Seperti hubungan bertetangga dan negara. Hidup kita menjadi saling terjalin berkelindan dengan semua orang. Ini adalah observasi yang fundamental, tapi McLuhan melangkah lebih jauh lagi. Dia menjelaskan (secara lebih terperinci) teorinya yang lebih luas dalam The Gutenberg Galaxy (1962), yang dimulai dengan pendahuluan proses cetak-mencetak di Eropa. McLuhan mengklaim bahwa penemuan Gutenberg ini lebih besar maknanya ketimbang membuat buku-buku tersebar dan tersedia secara lebih luas; ia juga merevolusionerkan kesadaran. Bangsa Yunani kuno, setelah mengadopsi

apfabet fonetik, menjadi mampu untuk merekam ide-ide dalam urut-urutan yang linear, dan oleh karena itu, mampu untuk berpikir secara rasional dan linear; proses mencetak menyebarkannya ke seluruh budaya Barat. Dan dengan membuat teksteks menjadi tersedia, proses mencetak ini telah mengembangkan dan memajukan suatu relasi baru diri manusia dengan masyarakatnya: budaya-budaya buku (tradisi membaca) adalah budaya-budaya yang bersifat individualistik dan introspektif, yang penekanannya bertumpu pada “kebebasan pemikiran” dan analisa yang bebas dari bias dan bebas dari kepentingan pribadi. Pada masyarakat yang belum melek huruf, situasinya sangatlah berbeda. Budaya sebelum membaca buku---budaya oral---dipusatkan pada pembicaraan dan mendengar; pengetahuan disampaikan oleh generasi yang lebih tua, dan tradisi (lebih dari inisiatif individu) mendominasi aktivitas budaya. Dalam analisa McLuhan, pengalaman berpusat pada sensasi aura adalah lebih konkret dan lebih komunal, lebih langsung dan dramatik dan emosional, daripada pengalaman visual yang terutama berlangsung melalui teks-teks. Suatu dunia suara adalah sebuah dunia tentang gerak dan aktivitas, dimana semua pengalaman dikonsentrasikan di masa sekarang. Dunia visi, pada sisi lain, adalah sebuah dunia yang berjarak dan abstraksi, yang tidak bias. Kebanyakan dari apa yang kita lihat, yang dipertentangkan dengan mayoritas apa yang kita dengar, bertempat tinggal dalam satu tempat dan tetap tidak mengalami perubahan. Kebanyakan dari apa yang kita lihat, yang dipertentangkan dengan mayoritas apa yang kita dengar, adalah tidak ditujukan kepada kita dan tidak secara langsung melibatkan kita. Kita berada pada jarak yang lebih jauh dari dunia visual; kita dapat mengelilinginya, membelakanginya, menganalisanya, meletakkannya dalam perspektif. Di periode karirnya yang lebih awal, McLuhan telah memenangkan nilai-nilai rasionalistik dan linear dari budaya buku, dimana dia melihatnya terancam oleh

radio dan televisi. Dalam karya-karya ilmiah selanjutnya, dia memperkuat serangan dan pada saat yang sama menghentikan vonis-vonis tentang nilai. Teknologiteknologi baru membuat kita benar-benar kalah, mereka menghancurkan (secara bertahap) perspektif-perspektif yang bergantung pada jarak waktu dan ruang, mereka menghancurkan (secara bertahap) analisa dan dan membuka secara paksa apa yang tampaknya telah tertutup; tapi, ini tidak harus menjadi sesuatu yang buruk. Dalam salah satu aspek, proses mengalir, keterpisahan dan ketakterhubungan, kehadiran yang bersifat abadi dari pengalaman media massa, dengan menghapus batasan-batasan, membawa kita lebih dekat kepada realitas yang semakin berjarak lagi, dimana ilmu fisika telah menunjukkan hal ini sebagai dikonstruksi yang berdasarkan pada medan-medan terbuka dan kemungkinan-kemungkinan daripada berdasarkan pada obyek-obyek yang telah dibakukan (fixed) dan kepastiankepastian. Dalam pandangan McLuhan, terdapat sesuatu yang sangat memiskinkan tentang sebuah budaya yang terobsesi dengan dunia visual ini: budaya semacam ini sangat tidak menyatu dan menyeluruh, tidak menyentuh kekayaan dari pengalaman yang dikomunikasikan secara langsung melalui semua indera. Media elektronik mengembalikan kita kepada situasi “desa” dalam banyak cara daripada hanya satu cara. “Sekarang ini,” ramalan-ramalan McLuhan dalam The Gutenberg Galaxy, “kita bergerak kembali dengan sangat cepat menuju sebuah dunia tentang pengalaman mendengar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi secara simultan dan kesadaran yang komprehensif.” Teknologi-teknologi baru “men-sukukan” kita kembali (retribalize), membawa kita kembali ke periode waktu dimana realitas bersifat lebih langsung dan lebih dangkal sepenuhnya, dihadapan kemenangan abstraksi, keberjarakan, dan garis linear satu dimensi, yang begitu sempurnanya terkandung dalam ilmu pengetahuan mekanistik dari Descartes dan Newton, dan tempat-tempat perakitan dari pabrik-pabrik di abad dua puluh. Media

massa yang populer, katanya, “tidak menawarkan visi yang tunggal, tidak menawarkan sudut pandang, tapi menawarkan suatu mosaik (desain gambar yang harus disusun melalui kepingan-kepingan gambar agar menjadi utuh) dari kerangka berpikir dan sikap-sikap dari kesadaran kolektif.” Sekarang ini, “ilmu pengetahuan dan metode kita tidak memperjuangkan suatu sudut pandang, tidak mengupayakan metode yang tertutup dan perspektif, tapi mengupayakan ‘medan’ yang terbuka dan vonis yang ditunda untuk sementara waktu. Hal sedemikian ini sekarang merupakan satu-satunya metode yang mampu bertahan dan berkembang dibawah kondisikondisi dari gerakan informasi secara serentak dan saling ketergantungan total manusia.” seseorang mungkin merasa enggan untuk mendukung antusiasme McLuhan ini. Jika semua umat manusia sekarang ini menjadi satu suku yang berterima kasih kepada CNN dan Internet, maka, klan-klan dan kerabat-kerabatnya masih mampu untuk berperilaku yang tidak terpuji. Peristiwa-peristiwa membuktikan bahwa dalam desa global ini, kita belum menjadi satu keluarga besar yang bahagia. Ini barangkali setara dengan memberi peringatan adanya bahaya bahwa ritual magis dari suku ini sekarang, berdasarkan pengakuan langsung dari pribadi McLuhan sendiri, kewenangannya diambil alih oleh para pendeta periklanan. “Sekali lagi,” dia melaporkan dengan sikap netral, siapapun anak kecil yang lahir di Barat sekarang ini, tumbuh dan berkembang dalam jenis [kesukuan] dari dunia repetitif magis ini ketika dia mendengar tayangan iklan-iklan di radio dan TV.” Desa global ini disatukan bukan hanya oleh aliran informasi dan citra-citara yang bersifat spontan, tapi juga oleh dari McDonald’s dan film-film Terminator yang merebak dimanamana di berbagai penjuru dunia ini. Saya pikir, saya harus berpartisipasi untuk membaca sebuah buku sekarang ini.

“The Medium Is the Message”
Dalam suatu budaya yang kita punyai, yang telah lama dibiasakan untuk memilahmilah dan membagi berbagai hal sebagai suatu sarana kontrol, ini kadang-kadang agak mengejutkan untuk diingat bahwa, dalam fakta praktikal dan operasional, media ini adalah pesan. Ini sekadar untuk mengatakan bahwa konsekuensikonsekuensi dari media apapun secara personal maupun secara sosial---yaitu, terkait dengan perluasan (extension) diri kita---yang dihasilkan dari skala baru, yang diperkenalkan ke dalam urusan-urusan kita oleh masing-masing dari perluasan diridiri kita ini, atau melalui teknologi baru apa saja. Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man (1964)

Jika anda mendapati sindiran dari Marshall McLuhan bahwa “media adalah pesan” ini agak sedikit membingungkan, jangan merasa bingun, karena ia memang bersifat samar dan tidak jelas. McLuhan ingin membuat diri anda bingung untuk memahami apa yang dia maksudkan---yaitu, dia ingin menjadi “cool”, sebuah istilah yang akan saya jelaskan berikut ini. Untuk menerjemahkan secara sederhana, McLuhan sedang mengatakan “media-media yang mengkomunikasikan mempunyai lebih dari satu pengaruh (pesan) dibandingkan dengan informasi apa saja yang ia komunikasikan.” McLuhan memandang teknologi-teknologi komunikasi sebagai perluasan dari tubuh-tubuh dan indera-indera kita---kamera adalah perluasan dari mata, radio adalah perluasan dari telinga, dan seterusnya. Ide besar dia adalah bahwa teknologiteknologi ini tidak pernah bersikap netral---bahwa mereka bukan sekadar mediamedia yang jelas untuk menyampaikan pesan-pesan. Lebih tepatnya adalah bahwa ketika mereka memperluas indera-indera kita yang ditransformasi oleh mereka, dengan mengubah hubungan kita terhadap ruang dan waktu dan mempengaruhi interaksi-interaksi kita dengan dunia. Penemuan tulisan, misalnya, bukan hanya memperluas kuasa kita untuk berbicara menyeberangi ruang dan waktu, ia juga membuat mungkin perkembangan

dari pemikiran rasional dan analitik, yang mentransformasikan hubungan-hubungan laki-laki dan perempuan terhadap alam dan terhadap satu sama lain. Dan penemuan-penemuan dari mesin cetak dan buku, yang melahirkan dan mengembangkan tradisi membaca dan berrefleksi yang dilakukan secara menyendiri, terpisah dari orang-orang lain, adalah hal-hal yang sangat esensial bagi perkembangan individualisme yang berlangsung pada abad tujuh belas. “Pesan” (hasil, pengaruh) dari tulisan adalah pemikiran analitik; “pesan” dari mesin cetak adalah individualisme. McLuhan, meskipun terlatih sebagai seorang Profesor dalam bahasa Inggris, adalah sangat dikenal atas tulisan-tulisannya tentang media elektronik, televisi secara khusus. Dia menyebut televisi sebagai sebuah media yang bersifat “rileks” (cool), yang disifatkan dengan keakraban dan privasi, citra-citra yang mengandung definisi tentang berbagai hal yang remeh (low-definition) dan ide-ide yang sangat menuntut partisipasi para pemirsanya. (Media “hot” seperti film dan percetakan, menghadirkan citra-citra yang didefinisikan secara jelas dan mendetail serta mendorong konsumsi pasif). Meskipun McLuhan menyetujui kritik-kritik yang menyatakan bahwa TV telah mengubah masyarakat secara radikal, dia mencibir upaya-upaya moralistik mereka untuk menyensor atau mempersingkat program-program tayangan tertentu. Dia mengklaim bahwa isi dari (pemrogaman) TV adalah tidak relevan; apa yang sedang mengubah masyarakat, lebih tepatnya, adalah stimulasi media tentang caracara melihat pada dunia secara baru dan lebih aktif, dimana “informasi” menjadi kurang penting dibandingkan dengan pola-pola merasa dan keikut-sertaan (oartisipasi). Cara dia yang romantis dengan mengajukan poin ini adalah bahwa televisi memperkenalkan kembali anak-anak muda kepada pemikiran “mitis”, “visi

yang instan dari sebuah proses yang kompleks yang biasanya meluas hingga periode waktu yang lama. Televisi, menegasikan ruang dan waktu dengan membawa abad-abad sejarah dan semua sudut-sudut dari belahan dunia ini ke dalam kamar-kamar kita setiap malam. Dengan kata lain, ia telah membantu menciptakan suatu “desa global”. Namun, dalam prosesnya, televisi “mendinginkan” apa yang ia sajikan, dengan mengurangi konflik-konflik dan membuat datar (membosankan) kepribadiankepribadian, membuatnya menjadi mungkin untuk melompat dari meng-cover peperangan ke iklan komersial produk bir. Definisi yang remeh dan tidak penting, keikut-sertaan (partisipasi), “pesan” TV yang berorientasi pada proses, barangkali sangat baik digambarkan dengan contoh acara-acara TV yang sukses seperti “The People’s Court” dan “America’s Funniest Home Videos”; kesimpulan-kesimpulan logisnya adalah bahwa iklan-iklan “gelombang baru” yang elusif (cenderung rumit) ini dan parade yang bergairah dari pola-pola mitis ini, MTV. McLuhan meramalkan bahwa transformasi televisi terhadap masyarakat, pada akhirnya, akan menjadi usang dan tak berguna lagi---dan ramalannya ini menjadi benar dengan kemunculan buku-buku komputer dan kematian surat kabar secara perlahan-lahan. (Semua ini masih terlihat hidup lebih seperti layar-layar TV setiap tahun, dengan foto-foto warna padi-padian dan grafik-grafik yang mengandung informasi yang menghibur. Harian USA Today menjual kotak-kotak yang dibentuk seperti perangkat TV). Tapi, dia juga mengatakan bahwa ketika citra televisi mencapai ketajaman dan definisi tentang film, ia akan tidak lagi menjadi televisi, karena ia tidak lagi menjadi bersifat cool (rileks). Andaikan dia hidup kembali untuk menyaksikan HDTV (dia meninggal tahun 1980), dia mungkin sekarang ini akan memprediksi kematian dari tube sebagaimana kita mengetahuinya.

Virtual Reality
(Realitas Maya)

“Realitas virtual” adalah sebuah frasa tentang dunia maya yang banyak dibicarakan oleh orang-orang sekarang ini, tapi, apakah ia benar-benar eksis? Tidak---setidaknya menurut beberapa kamus yang pernah saya lihat. Sebagai bahasa, maka, ia hanya bersifat maya, dan hal yang sama mungkin juga dapat dikatakan atas realitas yang dihasilkannya. Cara yang paling sering digunakan oleh mayoritas orang untuk mengarungi dunia maya adalah dengan memainkan video game yang sangat dipuja, yang menampilkan “jalan setapak yang beratap di alam maya” (“virtual arcade”). Lalu, apa intinya? Intinya adalah bahwa ia akan datang segera dan memasuki rumah anda. Ketika komputer menjadi semakin kuat, semakin berpengaruh, dan semakin murah harganya dari hari ke hari, mereka membuka lebih banyak kemungkinan untuk simulasi-simulasi yang lebih meyakinkan tentang situasi-situasi kehidupan-nyata. Realitas yang dihasilkan oleh komputer tentang masa depan ini, bukan sekadar gambar yang sangat jelas. Ia akan menjadi, kata “nabi-nabi” suatu gambar berdefinisi tinggi yang dapat anda masuki secara maya. Istilah “realitas maya” berkembang berdasarkan jargon komputer, dimana “maya” aslinya bermakna “tidak hidup, tapi dibuat tampak nyata melalui software”. (Istilah ini pertama kali digunakan pada tahun 1959, dalam frasa, “memori maya”, yang masih digunakan sekarang ini dan yang berarti “ruang hard-disk yang dirancang oleh sistem software untuk digunakan seolah-olah ia adalah akses memori secara acak (RAM = Random Access Memory). Dengan demikian, realitas maya--suatu pengalaman sensoris yang diciptakan oleh software komputer---suatu simulasi

tiga dimensi yang, pada titik terbaiknya, dapat dilihat, dirasa, didengar, dan tercium seperti realitas. Seperti banyak teknologi-teknologi baru lainnya, realitas maya telah dikembangkan di industri pertahanan (militer) Amerika. Realitas maya yang sangat mirip dengan aslinya adalah simulator-simulator pesawat terbang yang dikembangkan untuk melatih pilot-pilot tempur di akhir tahun 1940-an. Dengan menggunakan simulator-simulator ini, para pilot dapat menguasai berbagai macam skenario-skenario berbahaya tanpa membahayakan diri mereka (atau membahayakan mesin pesawat yang sangat mahal harganya). Satu dekade kemudian, menurut Howard Rheingold dalam Virtual Reality (1991), sinemator Hollywood, Morton Helig, telah memikirkan dan merakit “Simulator Sensorama” pertamanya, suatu ruang-ruang yang bersekat-sekat dengan jalan setapak yang dilengkapi dengan tangkai pemutar dan sebuah lempengan ceper untuk memasuki pengalaman maya untuk mengendarai motor (salah satu dari program-program yang tersedia) melalui jalanan Brooklyn. Tapi, alat mekanis (gadget) dari Helig ini, yang melampaui visi untuk membungkus semua indera, tidak pernah dilirik oleh berbagai pihak. Baru pada tahun 1980-an, ketika Departemen Pertahanan dan NASA menyadari potensi penting dari realitas maya (yang kemudian dipercanggih di M.I.T. dan di tempattempat lain) dimana teknologi ini membutuhkan perhatian serius dan banyak uang. Yang membuat realitas maya ini melampaui simulasi adalah bahwa bukan cuma sekadar mengimitasi atau mensimulasi sebuah pengalaman, ia mensimulasikan lingkungan dan kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk menciptakan pengalaman-pengalaman baru yang aktual. Ini adalah realitas yang terjadi dalam suatu lingkungan maya.

Semakin hari, pengalaman maya ini semakin menjadi lebih akrab. Hingga sekarang ini, basis teknologi dari realitas maya ini---yang menggunakan helm, “power glove”, goggles, dan komputer kabel milik perseorangan---secara relatif masih kasar dan belum matang, terutama dalam aplikasi-aplikasi komersialnya. Tapi, terdapat ide-ide besar untuk aplikasi-aplikasi mendatang: bangunan-bangunan virtual yang dapat anda “lalui” sebelum mereka dibangun; komunikasi maya jarak jauh, dimana anda dapat menjangkau dan mengontak seseorang yang berjarak ribuan mil; manipulasi virtual dari molekul-molekul dengan kekuatan tangan seseorang yang terbungkus sarung tangan (power-gloved hands); perjalanan virtual melalui tubuh seorang pasien; konferensi bisnis virtual. (Ucapkan selamat tinggal pada pertemuan bisnis yang membutuhkan banyak biaya ke Vegas dan Frisco). Ide besar bagi kebanyakan orang, tentu saja, adalah seks virtual; tapi, saya tidak ingin menganggap baik hal ini pada simulasi komputer (sangat memprihatinkan) di era kita sekarang.

IN SEARCH OF THE INVISIBLE HAND: EKONOMI

Hukum Gresham

Hukum Gresham---“Uang buruk dapat menghasilkan uang bagus” (“Bad money drives out good”)---terdengar sederhana, tapi, apa maksudnya? Terdapat berbagai macam penggunaan, tapi, pengertiannya yang utama sekarang ini adalah bahwa kapan saja seseorang bermaksud untuk meningkatkan dan mengembangkan investasinya, cepat atau lambat, orang awam atau orang bodoh akan mengambil alih. Uang pintar (smart money) akan memberi jalan pada emas yang bodoh (fool`s gold). Hampir pasti, bukan itu aslinya yang dimaksudkan dengan “hukum” ini, ketika Sir Thomas Gresham (sekitar tahun 1519-1579) adalah pebisnis top Inggris. Gresham telah dipuji semasa hidupnya dan menjadi legenda sebagai pahlawan wiraswasta, menduduki posisi puncak dari birokrasi pemerintah yang penting. Diantara pengabdian-pengabdiannya kepada kerajaan adalah bahwa dia di awal tahun 1550-an, menjadi wakil kerajaan di Antwerp, pusat bisnis Eropa yang paling utama. Yang termasuk dalam tugasnya adalah menangani hutang Kerajaan dan mengadakan negosiasi pertukaran mata uang (currency exchange), Gresham dengan cepat menjadi seorang ahli tentang tarif pertukaran dan tentang sirkulasi uang secara umum. Sebagaimana yang dipunyai oleh seorang legenda, Gresham sangat terkesan dengan Ratu Elizabeth I, segera setelah dia menduduki tahta kerajaan pada tahun 1558. dia menulis dan menjelaskan kepada sang Ratu bahwa mata uang Inggris (dan demikian pula dengan berbagai

komoditinya) mengalami keterpurukan di pasar luar negeri. Gresham, secara bijaksana, menyalahkan situasi ini kepada pendahulunya “Bloody Mary”, yang secara otoritatif menyetujui penurunan nilai mata uang logam. Ketika tak seorangpun yang menginginkan penurunan nilai uang logam, yang terbuat dari logam yang lebih murah dibandingkan dengan mata uang logam yang telah beredar, setiap orang berupaya untuk menukarkan uang “buruk” ini dan dalam waktu yang sama menyimpan uang “bagus”. Dengan demikian, koin-koin yang lebih baik mutunya, tidak lagi beredar dan koin-koin yang lebih rendah mutunya-lah yang dipakai sebagai alat untuk nilai pertukaran komersial. (Sebenarnya, Gresham hanya mengutip sebuah peribahasa, tapi ini tidak menghalangi ekonom Henry Macleod untuk menyebutnya sebagai “Gresham Law” pada tahun 1858). Gresham terus melangkah pada tahun 1568 untuk mendirikan pertukaran mata uang logam London (London’s Royal Exchange), sebuah tempat pertemuan para pedagang, orang-orang dari berbagai status dan kelas, truk,14 dan barter. (Dia mencontoh Bursa Antwerp). Bangunan ini dihiasi dengan banyak patung belalang, jenis serangga yang sangat penting bagi lambang Gresham, dan ini memunculkan tradisi dari para bankir Inggris, pandai emas, ahli permata, dan para pedagang uang dan koin lain untuk menempatkan belalang-belalang ini sebagai lambang. Gresham juga menjadi legenda yang sangat populer sebagai orang yang, secara spektakuler, memamerkan selera untuk tingkat konsumsinya yang luar biasa. Telah dilaporkan bahwa ketika Ratu Elizabeth melakukan
14

Truk = Lori untuk mengangkut muatan-muatan berat. Penerjemah.

kunjungan pertamanya ke gedung Pertukaran mata Uang Gresham yang baru, sang pakar uang ini mengangkat sebuah piala anggur yang telah dia campur dengan bubuk batu mulia senilai £15.000. Bahkan lebih aneh lagi, dia meminum anggur bercampur bubuk batu mulia ini.

Laissez Faire dan Hukum tentang Keuntungan yang [Semakin] Menyusut
Secara harfiah, “membiarkan menjadi” atau “membiarkan untuk melakukan sesuatu”, “laissez faire” adalah sebuah doktrin ekonomi yang dibuat oleh bangsa Perancis di pertengahan tahun 1700-an. Pada masa itu, ia mengacu pada suatu kebijakan non-intervensionis, yang secara ekonomi, setara dengan aforisme dari Henry David Thoreau, “Bahwa pemerintah yang terbaik adalah yang paling sedikit memerintah.” Di masa sekarang, frasa ini ---masih belum dapat diterjemahkan---diterapkan secara lebih umum pada sikap lepas tangan terhadap apa saja. Doktrin aslinya telah dikembangkan oleh sekelompok ekonom Perancis yang selanjutnya memberi julukan “fisio-krat” (“physiocrats”) setelah doktrin Yunani tentang “aturan alam” (the rule of nature). Dipimpin oleh François Quesnay (1694-1774), mereka meyakini bahwa Alam adalah bijak dan baik dan tahu apa yang sedang ia lakukan, sementara rejim-rejim pemerintahan adalah dapat membuat kesalahan, mudah tersesat, dan seringkali bodoh. Tetap saja, praktek yang menang di

Eropa di masa itu adalah untuk rejim-rejim pemerintahan yang mengontrol dan mengarahkan dalam skala mikro (micromanage) secara praktis pada setiap aspek dari produksi dan distribusi barang-barang. Pemerintah, demikian para fisio-krat berdalih, harus mempraktekkan “laissez faire” sehingga Alam melakukan sendiri segala sesuatunya, yang membimbing dunia ekonomi secara efisien menuju keadaan alaminya yang menguntungkan. Siapa sebenarnya yang menemukan ungkapan “laissez faire” masih dalam perdebatan. Beberapa pihak meyakini bahwa Quesnay-lah yang menemukannya, sementara pihak-pihak yang lain mengatakan bahwa Vincent de Gournay-lah penemunya, seorang inspekstur (pemeriksa) produksi di pemerintahan raja Louis XVI dan yang mengubah bentuk menuju doktrin fisiokratik. Apa saja kebenaran yang dihasilkan, para fisiokrat adalah lebih baik dalam menemukan uangkapan-ungkapan ketimbang mengoperakikan kebijakan-kebijakan mereka. Ada suatu hal yang nge-trend untuk waktu yang singkat di dalam istana Louis tentang laissez faire, tapi, ini tidak berlangsung lama, dan ia hanya diperkenalkan kembali (dalam suatu bentuk yang telah dilumpuhkan sedemikian rupa) setelah Revolusi Perancis. Doktrin ini terbukti lebih sukses di Inggris, dimana ia sangat menjulang dalam karya Adam Smith yang sangat mengguncang, Wealth of Nations (1776), buku teks “klasik” pertama tentang ekonomi.

Hukum tentang Keuntungan yang Menyusut

Fisiokrat yang lain, Robert-Jacques Turgot, telah memperoleh pujian atas formulasinya mengenai “hukum tentang keuntungan yang menyusut” setelah sebuah kondisi tertentu, upaya yang dilanjutkan atau proses ekspansi akan menghasilkan keuntungan-keuntungan yang semakin berkurang. Katakanlah, misalnya, bahwa anda menemukan sebuah aliran air yang mengandung emas di bawah ruang garasi anda. Ini tidak akan menguntungkan anda kecuali anda mengeluarkan sejumlah uang terlebih dahulu untuk meratakan garasi dan merancang sebuah penggalian. Setelah itu, keuntungan anda dari setiap dolar yang telah anda habiskan akan menjadi sangat besar, hingga, ketika aliran air ini telah mengering, masing-masing dolar yang telah dihabiskan, mulai berkurang keuntungan yang dihasilkannya dan semakin sedikit emas yang ditemukan. Tambang anda telah menjadi korban dari hukum tentang keuntungan yang menyusut ini. Turgot memformulasikan gagasan ini, sekitar tahun 1767, dalam hubungan dengan menumpuk berat di atas sebuah pegas yang kencang. Berat yang signifikan dibutuhkan untuk melenyapkan resistensi awal dari pegas itu, tapi, melampaui titik ini, bahkan beban sekecil apapun akan dapat menekan hingga tingkat tertentu. Namun, Turgot mengatakan, “setelah menghasilkan sejumlah keuntungan tertentu, ia akan kembali mulai menahan (resist) kekuatan (beban) ekstra yang diletakkan di atasnya, dan beban-beban yang pada awalnya telah menimbulkan tekanan sebesar satu inci atau lebih, sekarang tidak dapat menggerakkannya meski hanya selebar benang. Begitu pula dengan efek-

efek dari beban-beban tambahan, yang secara bertahap akan menyusut.” (Obsevations sur un Mémoire de M. De Saint-Péravy).

“Tangan yang Tak Tampak”
setiap individu, seharusnya, bekerja untuk memberi pendapatan tahunan dari suatu masyarakat sebesar kemampuannya. Dia, pada umumnya, sungguh, tidak berniat untuk mempromosikan kepentingan publik, tidak juga mengetahui sejauh mana dia mempromosikannya. Dengan lebih mendahulukan dukungan terhadap pasar domestik daripada industri luar negeri, dia hanya berniat melindungi rasa amannya sendiri; dan dengan mengarahkan industri sedemikian rupa sehingga produknya dapat mencapai nilai tertinggi, dia hanya merancang perolehan dan keuntungannya sendiri, dan dia dalam hal ini, sebagaimana dalam banyak kasus-kasus lain, diarahkan oleh sebuah tangan yang tak tampak untuk mempromosikan sebuah tujuan yang bukan merupakan bagian dari niatan dan rencananya. Tidak juga ia merupakan hal terburuk bagi masyarakat dimana ia bukan merupakan bagian darinya. Dengan mengejar kepentingannya sendiri, dia berulangkali mempromosikan bahwa suatu masyarakat itu lebih efektif daripada ketika dia benar-benar berniat untuk mempromosikannya. Adam Smith, The Wealth of Nations, Book IV, chapter 2

pada tahun 1776, tahun dimana terjadi protes pajak terbesar dalam sejarah, Adam Smith seorang warga Skotlandia (1723-1790) telah mempublikasikan karya ilmiah yang telah mempopulerkan dan membuat terkenal doktrin “laissez faire”. Cukup layak, bahwa Smith telah menjadi, dalam dua abad setelah publikasi karyanya, santo pelindung para pedagang bebas konservatif yang tidak membenci satu kata yang melebihi kata “pajak”.

Karya Smith, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, mungkin adalah treatise (buku yang membahas suatu masalah secara sangat rinci) ekonomi yang paling terkenal, lebih karena kejelasannya dan kekuatan retoriknya ketimbang orisinalitasnya. Dengan mengambil ide-ide dari fisio-krat Perancis dan fisio-krat Inggris seperti Sir William Petty dan Sir Dudley North, Smith menyusur serangkaian argumen yang terkait dengan, sungguh, pukulan mematikan menuju ekonomi yang tertata rapi. Smith yakin, seperti banyak filosuf kontemporer, bahwa Alam semesta adalah pembimbing terbaik manusia. Tuhan (“Yang Maha Pemurah”) telah begitu mengatur berbagai hal sehingga jika manusia lakilaki dan perempuan dalam keadaan bebas untuk mengejar kepentingankepentingan utama mereka, maka mereka, secara alami, akan bertindak yang terbaik untuk masyarakat. Apakah mereka meniatkan demikian atau tidak---dan kebanyakan dari mereka tidak meniatkan ini---orang-orang saling membantu satu sama lain dengan cara menolong diri mereka sendiri; bahkan motif-motif yang paling rakus pun seringkali mengarah menuju hasil-hasil yang paling menguntungkan bagi semua. Ini adalah kerja dari “tangan yang tak tampak” dari Yang Maha Pemurah. Smith pertama kali memperkenalkan konsep ini dalam bukunya Theory of Moral Sentiments (1759), tapi, baru berkembang sepenuhnya dalam karyanya The Wealth of Nations, dimana dia mengajukan gagasan harmoni dari kepentingan-kepentingan diri. jika setiap orang mencari demi kepentingan dirinya sendiri, hasilnya tidak akan terjadi “keadaan perang” sebagaimana yang digambarkan oleh Thomas Hobbes, tapi lebih

mengarah pada gelombang pasang kebahagiaan yang melambungkan semua kapal boat. Dengan memperkaya diri mereka, orang-orang (otomatis juga) memperkaya masyarakat. Jadi, masyarakat harus mengizinkan orang-orang untuk memperkaya diri mereka sendiri sebesar dan sejauh kemampuan mereka. Masing-masing orang akan melakukan yang sebaik dan semaksimal mungkin untuk mewujudkan keuntungan terbesar, dengan menghasilkan komoditi yang dapat dibeli dengan harga yang lebih murah oleh orang lain daripada membuat sendiri komoditi ini. Dan jika seseorang menjadi terlalu serakah, dengan mengambil keuntungan tapi dengan mengorbankan masyarakat luas dengan cara mengkatrol harga tinggi-tinggi, maka tangan yang tak tampak ini akan mengilhami yang lain untuk berkompetisi dan melakukan aksi tandingan. Dengan cara inilah harga-garga bisa dikendalikan dan sepak terjang bisnis yang tidak menguntungkan akan hancur. Ketika tangan yang tak tampak ini melakukan pekerjaannya dengan baik, simpul Smith, merupakan tindakan bodoh yang dilakukan oleh rejimrejim pemerintahan untuk memaksakan kehendaknya atas proses produksi dan perdagangan. Lebih jauh lagi, “raja-raja dan menterimenteri... diri mereka selalu saja, dan tanpa terkecuali, adalah orangorang yang menghambur-hamburkan uang secara sia-sia dalam masyarakat.” Singkatnya, Laissez faire”. Doktrin ini bekerja dengan baik dalam suatu masyarakat dengan iklil ekonomi yang bebas, kuat dan ekspansif, seperti situasi Inggris di era Adam Smith. Tapi, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman, laissez faire tidak dapat bekerja dengan baik dalam suasana ekonomi yang

sedang berkontraksi, atau di negara-negara yang sedang berkembang, atau ketika tingkat pengangguran sangat tinggi. Saya ragu bahwa Smith akan mampu menjelaskan mengapa tangan yang tak tampak ini memutar siklus bisnis ke arah bawah atau mengapa ia menghukum perdagangan bebas yang meningkat pesat dengan kegagalan dan kebangkrutan yang tak terhindarkan.

The Division of Labour
(Pembagian Kerja)
Peningkatan terbesar dalam kekuatan-kekuatan buruh yang produktif, dan bagian terbesar dari skill, ketrampilan, dan proses pengambilan keputusan dimana ia diarahkan atau diterapkan ke berbagai arah, tampaknya merupakan efek-efek dari pembagian kerja. Adam Smith, The Wealth of Nations, Book 1, chapter 1

Tak seorangpun yang menemukan pembagian kerja ini, yang hanyalah membagi bagian-bagian kerja kepada orang-orang atau kelompokkelompok yang berbeda-beda. Pembagian tugas-tugas yang kompleks dapat ditelusuri sejak proses yang paling awal dari terbentuknya masyarakat dan telah memberi pengaruh dalam skala yang sangat besar, setidaknya, sejak masa paling awal dari konstruksi piramida di Mesir. Tapi,

sebelum era Revolusi Industri, ini bukan prosedur operasi yang standar di tempat kerja, dan kita dapat mengucapkan terima kasih pada peningkatan-peningkatan secara teknik yang berlangsung pada abad sembilan belas terkait produksi massa modern. Kontributor penting bagi berlangsungnya dominasi pembagian kerja adalah Adam Smith. Smith mempertimbangkan pembagian kerja sebagai cukup penting untuk memulai penulisan Wealth of Nations-nya tentang topik ini. Sebagai contoh, dia mengutip tentang pembuatan bros (peniti, pin), yang tampaknya adalah tugas yang sederhana, namun berlangsung lambat dan melelahkan bagi seseorang untuk membuatnya. Tapi, jika sebuah pabrik itu membagi tugas diantara sepuluh hingga dua puluh pekerja, masing-masing dari orang dengan tingkat skill tinggi ini dalam satu proses operasi, maka, dimungkinkan untuk menghasilkan kira-kira dua belas pounds---48.000 bros---per hari. Smith mendapati ini cukup mengesankan. Poin pertama Smith adalah bahwa pembagian kerja ini mengizinkan setiap pekerja untuk fokus pada satu tugas dan hanya satu tugas, dimana dia secara alami akan menjadi sangat trampil. Kedua, waktu yang dihemat jika para pekerja tidak harus berganti-ganti tugas. Terakhir---dan mereview masa lampau yang sangat penting---jika kerja dibagi-bagi menjadi serangkaian dari tugas-tugas yang terbatas, jelas dan pasti, adalah mungkin untuk setidaknya untuk me-mekanisasi mereka secara sebagian, “memungkinkan satu orang untuk melakukan kerja dari banyak orang.” Tentu saja, pembagian kerja ini juga mempunyai biaya-biaya yang harus dibayar, beberapa diantaranya telah diidentifikasi oleh Smith. Ketika

pengangguran bukan suatu masalah nyata di era Smith, dia tidak dapat meramalkan suatu periode waktu ketika mekanisasi menuntut pekerjaanpekerjaan harus dilakukan dalam skala massif. Tapi, Smith merasa khawatir bahwa dengan memaksa para pekerja untuk menghabiskan setiap hari untuk melakukan tugas-tugas repetitif yang sederhana, tidak akan dapat meningkatkan semangat kerja. Jika seseorang tidak terpanggil dalam pekerjaannya untuk “mengerahkan pemahamannya, atau melatih skill untuk menemukan sesuatu” dalam menghadapi tantangantantangan, maka, dia “pada umumnya akan menjadi bodoh dengan tingkat kebodohan yang mungkin dapat dicapai oleh seorang manusia.” Jawaban Smith: pendidikan bebas, dan barangkali, yang bersifat memaksa dan wajib. Para lulusan dari sekolah-sekolah negeri sekarang ini dapat menjadi bukti bagi keefektifan solusi ini.

Paradoks Nilai
Tidak diragukan lagi jika anda merasa terheran-heran, ketika sepotong permata tertangkap oleh pandangan mata anda, bagaimana mungkin potongan sampah ini seharga $74.95?” Adam Smith juga terheran-heran dengan cara yang sama tentang mengapa berlian-berlian itu harus dihargai mahal dan air dihargai begitu murah ketika yang disebut pertama hampir-hampir tidak berguna sedangkan yang disebut terakhir begitu esensial. Tentu saja, yang pertama sangat jarang dan yang kedua tersedia secara berlimpah, tapi, Smith menyadari bahwa suplai dan permintaan

hanya akan diperhitungkan karena faktor harga dan bukan karena faktor nilai---yaitu, untuk mengapa ada suatu permintaan di tempat pertama. Ini adalah “paradoks nilai” versi Smith; jawaban dia adalah bahwa berlian-berlian itu bernilai karena mereka membutuhkan begitu banyak pekerja untuk meng-ekstrak, memotong, dan membuatnya bersinar cemerlang, sementara air dapat diperoleh dengan sebuah timba. Dengan kata lain, nilai diproduksi oleh kerja manusia; inilah sebabnya mengapa lemari yang diukir dengan tangan adalah lebih “bernilai” daripada lemari yang dihasilkan oleh jalur berjalan dari proses perakitan. Tentu saja, dalam beberapa pengertian, air tetap saja masih lebih “bernilai” dibandingkan dengan berlian, karena ia lebih bermanfaat---ia mempunyai “nilai guna” yang lebih besar meskipun lebih murah “nilai tukarnya”. Yang ingin dikukuhkan oleh Smith dengan teori nilai kerja-nya adalah perbedaan antara kedua hal ini, dengan yang kedua (air) yang bersifat melayani, dalam kaitan dengan permintaan pasar, untuk menentukan harga komoditas. Teori Smith mengarahkan dia untuk menginvestasikan keyakinannya pada suatu pasar bebas dan terbuka sebagai yang terbaik dari semua perencanaan-perencanaan ekonomi, ketika ia memaksa para produsen, melalui kompetisi, untuk meminimalkan penggunaan buruh, dan juga, biaya. Cukup ironis, teori nilai kerja Smith ini juga merupakan basis dari ekonomi Marxis. Dalam pandangan Marx, sementara kaum buruh sungguh menciptakan nilai, kaum kapitalis yang rakus, jika dibiarkan, secara tak terhindarkan akan membayar para pekerja dengan lebih sedikit uang daripada yang seharusnya, menutup angin perubahan. Perbedaan antara

biaya dari memproduksi sebuah produk dan harganya di pasar, disebut “nilai surplus”. Moral dari semua ini adalah bahwa cara untuk memecahkan paradoks nilai dari Smith ini adalah untuk menemukan sebanyak mungkin jenis-jenis nilai yang berbeda-beda, yang diperlukan.

Materialisme Dialektika dan Perjuangan Kelas
Sebagaimana anda, para pembaca cerdas, mungkin telah menduga, materialisme dialektika adalah apa yang anda peroleh ketika anda mengarungi materialisme dengan dialektika Hegel [lihat hal. ...]. kita berhutang budi kepada Karl Marx (1818-1883), yang dipengaruhi secara mendalam oleh Hegel di saat mudanya tapi kemudian meninggalkan idealisme Hegelian secara terburu-buru. Banyak orang mempunyai ide yang salah tentang Marx. Sebagaimana nanti akan kita lihat, dia tidak memikirkan kapitalisme sebagai sesuatu yang dapat dilakukan tanpa keberadaan sebuah bangsa. Dialektika materialis adalah tentang langkah berbaris yang teratur dan bertahap dari ketertindasan menuju kebebasan, dari feodalisme menuju komunisme, dan kapitalisme harus dihentikan sepanjang jalur ini. Lalu, dengan istilah “materialisme” Marx tidak memaksudkannya sebagai suatu hasrat untuk memiliki. Yang dia maksudkan adalah bahwa sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, dan aktivitas-aktivitas manusia itu dibentuk oleh lingkungan-lingkungan material (seperti geografi dan ekonomi). Adapun tentang bagian “dialektis”-nya, Hegel telah menggambarkan

sejarah sebagai suatu perjuangan yang terus-menerus dan progresif, dimana tesa berbenturan dengan anti-tesa untuk menghasilkan sintesa yang lebih baik. Marx menyukai model ini, tapi, dia menolak asumsi Hegel bahwa dialektika sejarah dibimbing oleh “Ide-ide” atau “Spirit”---yaitu, Tuhan. Sejarah berproses melalui serangkaian pembalikan-pembalikan dan perubahan secara besar-besaran, yakin Marx, tapi semua ini diilhami oleh lingkungan-lingkungan kehidupan yang bersifat material, yang “basisnya” adalah struktur ekonomi dari era itu. Perencanaan-perencanaan ekonomi menentukan setiap bentuk dari ekspresi kultural dan perubahan, dari politik dan kelas menuju seni dan agama. Marx menyebut ekspresiekspresi ini sebagai “superstruktur”. Dialektika muncul atas dasar konflik-konflik yang terkandung secara inheren dalam sistem-sistem ekonomi. Dalam sistem kapitalis, untuk mengambil contoh yang paling dikenal, terdapat konflik yang tak terhindarkan antara mereka yang mengontrol sarana-sarana produksi (kaum borjuis) dan mereka yang sebenarnya memproduksi (kaum proletar). Tapi, kapitalisme adalah sebuah tahapan yang harus dijalani dalam perkembangan ekonomi. Berkembang dari puing-puing feodalisme (yang telah menemukan anti-tesanya dalam perkembangan dari kelas borjuis), sistem kapitalis mempromosikan pengembangan industri dan efisiensi produksi. Tapi, konflik internal antara kapitalis dan pekerja, akan mengarah secara tak terhindarkan menuju perjuangan kelas, dengan para pekerja tampil untuk pertama kalinya menempati posisi puncak. Dalam istilah dialektika, “tesa” dari kapitalisme bertemu dengan anti-tesa-nya

dalam suatu kaum proletarian yang terorganisir, dan dari akibat perjuangan kelas, muncul “sintesa” tentang sistem sosialis. Marx membayangkan bahwa Eropa----yang tersiksa oleh berbagai revolusi di awal tahun 1800-an---tepat berada di bibir pencapaian sintesa ini. (Sebagaimana dia telah melihatnya, semacam masyarakatmasyarakat yang terbelakang seperti Rusia dan Cina untuk menempuh jalan panjang, padahal mereka belum melalui tahapan kapitalisme). Marx tidak dapat mengetahui masa depan yang akan terjadi dalam hal ini, tapi, di sisi yang lain, dia tidak berada dibawah ilusi terkait dengan bentuk sosialisme yang akan berlangsung untuk pertama kalinya. Dia meramalkan suatu “kediktatoran dari kaum proletariat”, yang dia pikir sebagai tak terhindarkan meskipun tidak bersifat ideal. Akhirnya, ketika kepemilikan pribadi telah sepenuhnya ditiadakan, perbedaan-perbedaan kelas telah lenyap, dan dengan demikian, masyarakat secara inheren menjadi adil (menurut prinsip-prinsip materialis), maka, sebuah sintesa baru akan muncul: yaitu tentang masyarakat demokratis yang tidak terdapat kelas-kelas. Dengan kata lain, Marx akan berpandangan bahwa kebanyakan dari sistem-sistem politik yang kita sebut sebagai “Marxis” itu sebagai suatu keburukan yang bersifat temporer, jika perlu. Penindasan-penindasan dan kebobrokan-kebobrokan yang berlangsung selama beberapa dekade adalah bukan bagian dari rencananya. Dalam praktek, filsafat-filsafat sosial bersifat serba salah, tapi, ketika suatu metode tentang analisa historis, Marxisme masih tetap bertahan dalam berbagai bentuk. Para antropolog, sejarawan, ilmuwan politik, dan sarjana-sarjana sastra,

masing menggunakan alat-alat analitiknya untuk menanggalkan lapisanlapisan sentimen dan idealisme dari budaya-budaya yang mereka pelajari. Dalam kenyataan, hampir metode analitik apa saja, menekankan kondisikondisi material yang mungkin disebut sebagai “Marxis”, yang berarti bahwa Marxisme muncul dalam banyak bentuk, meskipun tidak semua dari mereka bersifat compatible. Jadi, jika dialektika ini dapat bertahan dimana saja, ia masih berada dalam Marxisme itu sendiri.

“Agama Adalah Candu bagi Masyarakat”
Penderitaan agama ada pada satu waktu dan waktu yang sama dengan ekspresi tentang penderitaan yang nyata dan sebuah protes melawan penderitaan yang nyata. Agama adalah keluhan dari makhluk yang tertindas, jantung dari dunia yang tidak berhati nurani dan jiwa dari kondisi-kondisi tak berjiwa. Ia adalah opium bagi rakyat. Karl Marx, “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right” (1844)

Anda persisnya akan memperhatikan dua hal. Pertama, Marx mengatakan bahwa agama adalah opium, bukan opiate (obat-obatan yang mengandung candu), bagi masyarakat---sebuah perbedaan yang tipis, tapi layak dikedepankan. (Opium adalah narkoba secara khusus, sementara opiate adalah sebuah kelas [kategori]). Kedua, Marx sangat menyukai berbagai hal yang italic (huruf miring). Dengan memberi karakter agama sebagai penenang rasa sakit, yang mengejutkan banyak pihak, adalah sesuatu yang sangat radikal di

eranya. Dan Marx, lebih dari menyalahkan agama itu sendiri, ia sebenarnya sedang mengkritik kondisi dari suatu masyarakat yang akan mengarahkan masyarakat kepada agama. Namun demikian, setelah mendengar tentang “kaum komunis yang tidak ber-Tuhan”, kita selalu mengimplikasikan (melaui kriteria logis) bahwa pemikiran kaum Marxis tidak mengandung nilai-nilai dan moral-moral. Ini tidak cukup benar. Apa yang benar-benar dimaksudkan oleh Marx adalah bahwa agama berfungsi untuk mem-pasifikasi (menenangkan) kaum tertindas; dan penindasan adalah jelas salah secara moral. Agama, katanya, merefleksikan apa yang tidak ada dalam masyarakat; ia adalah sebuah idealisasi dari apa yang diinginkan oleh masyarakat tapi belum dapat diwujudkan sekarang. Kondisi-kondisi sosial di Eropa abad pertengahan telah mereduksi para pekerja pada taraf yang sedikit lebih baik daripada kaum budak; kondisi-kondisi yang sama telah menghasilkan sebuah agama yang menjanjikan dunia yang lebih baik di akhirat. Agama bukan hanya sekadar suatu takhayul atau suatu ilusi. Ia mempunyai sebuah fungsi sosial: untuk mengalihkan perhatian kaum yang tertindas dari realitas ketertindasan mereka. Selama orang-orang yang tereksploitasi dan tertindas ini meyakini bahwa penderitaanpenderitaan mereka akan memperoleh imbalan pahala berupa kebebasan dan kebahagiaan di akhirat kelak, mereka akan berpikir bahwa ketertindasan mereka ini merupakan bagian dari tatanan yang alami--suatu beban kesulitan yang niscaya daripada sesuatu yang dibebankan secara paksa oleh orang lain. Jadi, inilah yang dimaksudkan oleh Marx dengan menyebut agama sebagai “opium masyarakat”: ia meniadakan

rasa sakit dan penderitaan, tapi, pada waktu yang sama, membuat mereka menjadi lamban dan tidak aktif, mengaburkan persepsi mereka tentang realitas dan mencuri paksa keinginan mereka untuk mengubah keadaan. Apa yang Marx inginkan? Dia ingin “masyarakat” untuk membuka mata mereka terhadap realitas-realitas kejam dari kepitalisme borjuis abad sembilan belas. Kaum kapitalis terus memeras dan memeras lebih banyak lagi keuntungan dari kerja kaum proletar, dan pada waktu yang sama “mengasingkan” para pekerja dari realisasi diri mereka. Apa yang sangat layak menjadi milik para pekerja---dan mereka tentu saja layak untuk memiliki itu jika saja mereka bangkit dari tidur ketidaksadaran mereka---adalah kontrol atas kerja mereka, kepemilikan nilai (imbalan yang ekuivalen) yang telah mereka ciptakan melalui kerja, dan dengan demikian, layak untuk memiliki harga diri, kebebasan dan kekuasaan. Guna mencapai tujuan itu, Marx menyerukan “penghapusan agama sebagai kebahagiaan yang bersifat ilusi bagi masyarakat.” Dia menghendaki mereka untuk menuntut “kebahagiaan yang riil”, yang dalam filsafat materialis Marx adalah kebebasan dan tercapainya tujuan hidup di dunia ini. Ketika orang-orang kaya dan mempunyai kekuasaan tidak hanya berpangku tangan dan serta-merta menyerahkan semua yang mereka miliki begitu saja, maka massa akan harus merebut paksa mereka. Dengan demikian, butuh perjuangan kelas dan revolusi. Andaikan masalahnya menjadi sesederhana itu.

Konsumsi yang Berlebihan
[Gentleman yang mempunyai waktu luang, dalam masyarakat yang telah maju dan mandiri, tidak lagi menjadi] sekadar sukses, laki-laki yang agresif---manusia yang memiliki kekuatan, sumber daya, dan keberanian. Agar dapat menghindari situasi yang membuatnya terlihat sebagai orang bodoh, dia harus juga mengolah taste-nya, karena ini sekarang menjadi kewajiban baginya untuk membuat perbedaan yang jelas dengan cara yang menyenangkan antara kaum bangsawan dengan kaum awam dalam hal benda-benda komoditas yang dikonsumsi.... Sangat dekat hubungannya dengan kebutuhan ini bahwa gentleman itu harus mengkonsumsi secara bebas dan mengkonsumsi benda-benda komoditas yang yang tepat, terdapat desakan bahwa dia harus tahu bagaimana mengonsumsi mereka dalam cara dan gaya yang terlihat cocok dan menyenangkan. Hidupnya yang penuh dengan waktu senggang ini harus diarahkan dalam bentuk yang sesuai. Oleh karena itulah, muncul caracara berperilaku yang baik secara sosial.... cara-cara berperilaku yang superior dan cara-cara menjalani hidup merupakan faktor-faktor yang mendukung norma dari waktu luang yang berlebihan dan konsumsi yang berlebihan. Thorstein Veblen, The Theory of the Leisure Class, chapter 4

Konsumsi yang luar biasa ini begitu pesat menyebar sekarang ini sehingga ia membuat terkejut siapa saja untuk menemukan ide ini. Dalam kenyataan, ini adalah sesuatu yang bersifat kuno---sekuno kebutuhan untuk menunjukkan atau mempunyai sesuatu yang dimiliki oleh para tetangga---tapi, ide ini belum pernah dinyatakan oleh seorang pakar teori pun sebelum filosuf Amerika Thorstein Veblen (1857-1929), penemu dari ungkapan ini. Veblen, yang sikap menghinanya terhadap masyarakat yang suka mengkonsumsi adalah sangat jelas, memulai dengan menemukan istilah “kelas yang mempunyai waktu luang” (Leisure Class) dalam karya tulisnya

yang pertama dan paling terkenal, The Theory of the Leisure Class (1899). Menurut Veblen, segera setelah suatu masyarakat menjadi maju dan sukses melewati tahapan primitifnya, dan benda-benda komoditas tersedia dalam jumlah yang melimpah dan mengalami keadaan surplus, yang melebihi apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, perbedaanperbedaan kelas yang mendasar akan muncul. Pada satu pihak adalah mereka yang menghabiskan hari-hari mereka dengan pekerjaan manual mereka; pada pihak lain, mereka yang mempersembahkan diri mereka untuk mengejar target-target yang “mulia.” (terutama, di tahap-tahap awal, berburu dan berperang). Satu kelas memproduksi, sementara kelas yang lain meng-“eksploitasi”---dengan kata lain, yang satu membuat, yang lain mengambil. Ketika masyarakat berkembang lebih jauh, kelas yang mengalami peningkatan lebih tinggi, menarik diri dari berbagai jenis kerja yang bersifat produktif. Kelas ini, melalui paksaan sosial dan politik, mengembil kontrol sumber daya-sumber daya komunal dan kemakmuran. Sementara itu, dengan cara mewakilkan dan memberi wewenang kepada semakin banyak pekerja atas para pekerja yang lain, yang terjadi kemudian adalah semakin banyak waktu luang yang tersedia. “Kelas leisure” ini kemudian memanfaatkan waktu luang ini untuk memuaskan kebutuhan manusiawi yang paling mendasar: kebutuhan untuk dihargai oleh orang lain. “agar dapat memperoleh dan menggenggam harga diri dari orangorang,” kata Veblen, “adalah tidak cukup untuk hanya sekadar memiliki kekayaan dan kekuasaan. Kekayaan atau kekuasaan harus dijadikan sebagai bukti, karena harga diri itu diberikan hanya berdasarkan pada

bukti.” Dalam masyarakat barbar, bukti ini terdiri dari trofi (medali penghargaan sebagai simbol kemenangan) dan pampasan perang, simbol-simbol konkret dari kesuksesan mengeksploitasi. Dalam masyarakat yang lebih maju, bukti ini adalah berupa waktu yang berlebih dan uang untuk dihamburkan. Dengan demikian, peningkatan menuju target-target yang “tidak berguna” seperti melukis, musik, fashion, mempelajari bahasa-bahasa yang telah punah, mengembang-biakkan anak-anak kuda balap, dan lainlain. Semua ini membutuhkan banyak waktu luang dan dengan demikian juga membutuhkan banyak kebebasan dari kerja kasar dan sangat rendah. Dan dengan demikian, pertunjukan yang berlebihan tentang benda-benda mewah yang berharga sangat mahal, mulai dari pakaian hingga mobil, karpet hingga lampu-lampu kristal. Semakin benda-benda ini tidak berhubungan dengan cara mempertahankan hidup atau dengan produksi, maka semakin baik ia. Namun, pamer kekayaan dan kekuasaan ini tidaklah mencukupi dalam dirinya sendiri. karena “konsumsi yang berlebihan”, demikian sebut Veblen, adalah dimaksudkan untuk menegaskan superioritas seseorang atas orang-orang lain, ia bersifat sangat individu---ia menghasilkan sikap iri hati. Dan dengan demikian, ia melahirkan kompetisi, bukan hanya untuk memiliki apa yang dipunyai oleh para tetangga, tapi, untuk melebihi mereka. Jadi, pertunjukan dan pameran kekayaan dan taste (selera tinggi) ini hanya sekadar sebuah tawaran (bid) dalam permainan poker dari sikap iri hati yang kompetitif; anda harus terus-menerus

mengungguli mereka untuk tetap dalam posisi puncak atau menanggung pelecehan diremehkan karena ketidaksanggupan anda untuk memberi. Tak satupun dari ini yang akan menjadi masalah besar jika ia dibatasi hanya pada orang yang paling kaya dari “kelas hartawan superior”, untuk menggunakan istilah Veblen. Sangat disayangkan, bahwa kelas menengah, segera setelah seseorang mengalami peningkatan kemakmuran, menjadi terseret dalam permainan ini, sampai pada tingkat membahayakan bukan hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi situasi ekonomi. Perolehan-perolehan yang mengalami surplus, terhubung bukan pada investasi-investasi produktif, tapi pada pertunjukan dan pameran dari ambisi besar seseorang. Ketika masyarakat lebih dikontrol dan dikuasai oleh ego ketimbang oleh rasio (yang merupakan salah satu alasan mengapa ekonomi klasik mengalami kegagalan), mereka akan sering, berdasarkan pilihan yang tersedia, membeli mainan berteknologi tinggi yang baru daripada menabung uang dalam bentuk surat obligasi atau sesuatu yang bermanfaat. Disamping serangkaian sikap sarkastiknya atas keangkuhan manusia yang berlebihan, Veblen mempunyai banyak hal yang dapat disumbangkan pada pemikiran sosial. Salah satunya, sikapnya yang kasar dan tajam dalam Theory of the Leisure Class menyembunyikan sebuah concern mendalam atas situasi sulit dari kelas pekerja, yang, dengan mengucap terima kasih pada doktrin laissez faire, telah tumbuh secara sangat mengkhawatirkan di peralihan abad ini. Banyak kontribusi lain dari dia, berupa tulisan-tulisan yang kurang terkenal, yang menunjukkan jalan bagi para arsitek dari Pembuat Kebijakan Baru untuk menerapkan

kebijakan sosial guna memperbaiki dan memberi solusi atas situasi Depresi yang telah dia prediksi sebelumnya. Bahkan jika karya tulis pertamanya ini juga merupakan satu-satunya buku yang dia tulis, kita masih harus mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menawarkan cara yang menghibur untuk melewati momen-momen luang untuk membaca.

Pembelanjaan Defisit
Ekonom dan sastrawan Inggris, John Maynard Keynes (1883-1946) pernah dipuji dan memperoleh reputasi yang sangat terhormat, dan sekarang ini secara kontinyu dipersalahkan, atas cetusan teorinya tentang pembelanjaan defisit. Adalah benar bahwa Keynes (dieja “Canes”) adalah seorang yang terus-menerus menggembar-gemborkan ketersediaan lapangan kerja yang bersifat massif, bahkan yang bersifat tidak produktif sekalipun. Tapi, faktanya adalah bahwa tak satupun dalam karya-karyanya yang banyak itu dimana kita dapat menemukan istilah “pembelanjaan yang defisit” atau “pembiayaan yang defisit”, atau pembelaan terperinci tentang negara yang makmur. Apa yang kita temukan---terutama dalam buku yang membuatnya memperoleh reputasi tinggi, The General Theory of Employment, Interest and Money(1936)---adalah sesuatu yang ambisius dan di masanya, upaya yang sangat tidak biasa untuk menganalisa jalinan kerja berskala besar atau faktor-faktro aggregat ekonomi. Pendekatan ini sekarang dikenal

sebagai “makro ekonomi”, atau “Ekonomi Baru”. Di suatu masa ketika kebanyakan ekonom sibuk mempelajari pohon-pohon, Keynes telah mempertimbangkan hutan. Gagasan esensial dari Keynes adalah bahwa kita mungkin memahami dan memanipulasi ekonomi nasional jika kita menerima satu aksioma sederhana: bahwa pendapatan (income) nasional setara dengan seluruh konsumsi dan investasi. Selanjutnya, tingkat okupasi tenaga kerja nasional adalah proporsional secara langsung bagi pendapatan nasional. Dengan demikian, jika konsumsi dan investasi, keduanya bertumbuh, maka demikian pula dengan okupasi tenaga kerja akan bertumbuh pula. Tertarik? Tidak, tapi implikasi-implikasinya sangat mendalam. Cara Keynes menyusun dan merancang formula-formulanya, ternyata bahwa peningkatan investasi apapun harus menghasilkan peningkatan income yang lebih besar. Dengan kata lain, setiap dolar yang diinvestasikan dalam bidang ekonomi, akan menghasilkan lebih dari satu dolar dalam income nasional, yang pada gilirannya akan membuat anda layak memperoleh lebih dari satu dolar bagi ketersediaan lapangan kerja yang baru. Dengan demikian, kesimpulan Keynes adalah: bahwa dalam rentang peristiwa-peristiwa, investasi publik (public investment)---yaitu, pembelanjaan pemerintah---adalah selalu demi kepentingan masyarakat secara penuh. Ini benar bahkan jika pajak penghasilan tidak menutup kerugian dari proses membelanjakan uang, dengan membuat pemerintah mempunyai hutang---atas disar inilah ungkapan “pembelanjaan defisit” muncul.

Mengapa tak seorang pun yang melihat ini sebelumnya? Bagaimanapun juga, aritmatika Keynes cukup mendasar. Di tempat pertama, para ekonom tidak terbiasa untuk melihat secara “makro ekonomi”. Di tempat kedua, Keynes membuat sebuah asumsi baru tentang perilaku ekonomis. Dia meyakini bahwa masyarakat didorong dan dibimbing oleh suatu “kecenderungan bawaan untuk mengkonsumsi” yang secara relatif baku (fixed) terkait dengan pendapatan individu. Tapi, hubungan antara pendapatan dan pembelanjaan adalah bukan suatu hubungan proporsional yang langsung. Seseorang yang membelanjakan $15.000 dari pendapatan sebesar $20.000, tidak akan membelanjakan $30.000 jika pendapatannya digandakan. Semakin lebih kaya anda, semakin kecil presentase dari pendapatan anda yang anda belanjakan untuk mengkonsumsi berbagai hal---orang kaya tidak makan begitu banyak es krim daripada orang miskin. Demikianlah, tingkat konsumsi nasional akan selalu tertinggal di belakang kenaikan pada income nasional. Ini adalah basis matematis bagi proses argumentasi Keynes tentang investasi publik. Karena, jika income itu setara dengan konsumsi plus investasi, dan konsumsi bergerak lebih lamban daripada income, maka rasio antara pertumbuhan pada income dan perubahan pada investasi yang menyebabkannya harus menjadi lebih besar daripada yang satunya. Ini karena kebiasaan-kebiasaan konsumsi kita berubah lebih lamban daripada income kita, sehingga investasi publik dapat memberi keuntungan. Jika ia juga mengarah pada hutang nasional, ini memalukan, tapi Keynes lebih menyukai hutang pada penghematan yang tolol. Disamping

itu, Keynes tidak menyediakan stok sama sekali dalam keyakinan ekonomi klasik bahwa ekonomi kapitalis, terserah kepada mereka sendiri, akan cenderung menuju ketersediaan pekerjaan secara penuh dan penggunaan sumber daya secara maksimal. Dia, lebih tepatnya, berpikir bahwa kapitalisme yang bebas dari batasan-batasan, dengan memberi dukungan dan memfasilitasi orang yang telah kaya, yang rakus, yang licik, dan yang tidak punya prinsip, hanya akan mengarah selalu pada peningkatan konsentrasi kekayaan dan pada tingkat pengangguran yang tidak sehat. Adalah penting bahwa pengaruh Keynes semakin besar sebagai akibat dari terjadinya depresi parah (Great Depression), yang tidak hanya mensuplai contoh skenario terbaiknya untuk aplikasi ide-idenya, tapi juga membuat surut reputasi laissez-faire. Terutama di saat depresi seperti ini dan tingkat ketersediaan pekerjaan yang rendah, investasi perseorangan cenderung menciut, ketika keuntungan yang akan diraih di masa depan tampaknya sangat meragukan; tingkat konsumsi juga menciut, dan bersama dengan kedua faktor ini, menciut pula income nasional. Jadi, membutuhkan pekerjaanpekerjaan publik dan bentuk-bentuk lain dari stimulasi ekonomi pemerintah. Namun, Keynes juga bersikap pesimis atas capaian di Inggris dan di berbagai negara tentang ketersediaan pekerjaan secara penuh, dan dia meyakini bahwa stimulasi teknologi terhadap dunia industri telah mencapai puncaknya di Barat. Keynes tampaknya telah ketinggalan kereta terkait dengan kemajuan teknologi. Dan banyak ekonom yang cenderung untuk meragukan satu dari pernyataannya yang paling mendasar: bahwa relasi

konsumsi terhadap income nasional adalah stabil, dan bahwa yang disebut pertama tidak pernah tumbuh lebih cepat daripada yang disebut belakangan. Dalam jangka pendek, barangkali tidak; tapi, dalam jangka panjang, pola-pola konsumsi telah berubah secara demonstratif dimanamana. Pada sisi lain, sebagaimana sindiran Keynes yang terkenal, “dalam jangka panjang, kita semua akan mati.”

Moneterisme
Teori makro ekonomi Keynesian telah lama menguasai para pembuat kebijakan di negara-negara Barat, tapi ada beberapa pihak yang mendapatinya sulit untuk dicerna. Sebagaimana mereka melihatnya, yang menjadi masalah dengan ide-ide Keynes, setidaknya saat mereka dipraktekkan, adalah bahwa mereka menghasilkan suatu ketergantungan yang tidak sehat pada kebijakan fiskal---yaitu, atas pemungutan pajak dan pembelanjaan. Kritik paling berpengaruh tentang kebijakan fiskal sejak tahun 1960an adalah Milton Friedman, seorang profesor di University of Chicago dan seorang tokoh sentral dalam “Aliran Chicago” tentang ekonomi. Di tempat pertama, sebagaimana dicatat oleh Friedman, jika tujuan obyektif dari pemungutan pajak dan pembelanjaan adalah untuk mempromosikan ketersediaan lapangan pekerjaan secara penuh tanpa ada peningkatan

inflasi, ini merupakan kegagalan yang mengenaskan, sebagaimana pengalaman rakyat AS pada tahun 1970-an dapat memberi penjelasan kepada anda. Di tempat kedua, adalah bodoh untuk menganggap bahwa para birokrat pemerintah dan para pembuat kebijakan adalah orang-orang yang lebih bijak daripada pasar, yang kearifan kolektifnya dan aktivitasaktivitas otonomnya, pada akhirnya, mendorong perkembangan ekonomi. Pasar-pasar cukup samar dan tak dapat diramalkan dalam tindakantindakan mereka bahwa hanya manusia saja yang biasanya akan membuat sesuatu menjadi lebih buruk dengan memanipulasi mereka. Disini Friedman menganut argumen-argumen lama tentang laissez faire, dan secara umum, ide-ide politiknya jelas berhubungan dengan ideide dari akhir abad delapan belas. Namun, teori ekonominya---yang dikenal sebagai “moneterisme”---adalah, lebih baru dan luar biasa (meskipun tidak seluruhnya baru). Dengan menolak formula-formula Keynes untuk investasi dan konsumsi, Friedman mengajukan pendapat bahwa income, ketersediaan lapangan kerja, dan harga-harga adalah jauh lebih bergantung pada suplai uang dan kecepatannya mengubah kepemilikan daripada terhadap investasi publik. Dalam pandangannya, kekuatan riil dari ekonomi Amerika bersandar bukan pada kontrol yang rakus dan boros dari Kongres, tapi, dalam kontrol yang pasti dan dapat dipercaya dari Federal Reserve (Bank Sentral Amerika, penerjemah), yang mengontrol suplai uang dan tingkat suku bunga. Tapi, Friedman, konsisten dengan sikap oposisi politiknya terhadap kontrol negara, tidak pernah berargumen untuk memanipulasi suplai uang

demi untuk mem-fix-kan masalah-masalah ekonomi mutakhir. Dia lebih bersikap untuk menyerahkan segala sesuatunya pada pasar, dengan Federal Reserve bertindak hanya dalam suatu cara yang konsisten dan stabil menuju peningkatan secara bertahap suplai uang sepanjang waktu---dengan sikap mantap (tidak ragu-ragu) dan tidak bias pada gangguan-gangguan atau kesuksesan saat itu. Harus dicatat bahwa Friedman bukan menolak teori-teori Keynes, tapi lebih tepatnya, bagaimana teori-teori ini telah dipergunakan. Keynes sendiri, yang bukan seorang penganut kebijakan fiskal yang murni, memikirkan peran lembaga perbankan sebagai sama pentingnya dengan peran pemerintah. Setiap aliran ekonomi modern, termasuk moneterisme, berhutang pada Keynes atas pengukuhan teori makro ekonomi dasar. (Bahkan Richard Nixon, hampir bukan pembelanja dan pemungut pajak yang besar, menyebut dirinya sebagai seorang Keynesian). Selanjutnya, tidak ada ekonom, yang menyelam dan mengabdi sepenuhnya pada laissez faire---jika dia memang demikian halnya, dia tidak akan mempunyai alasan apapun untuk mempelajari ilmu ekonomi. Sungguh, sulit untuk melihat apa yang dilakukan oleh Fried sepanjang hari.

Hukum Parkinson
“Pekerjaan berekspansi agar dapat mengisi waktu yang tersedia bagi penyelesaiannya.” C. Northcote Parkinson, Parkinson’s Law, or the Pursuit of Progress (1957)

Anda mungkin memperhatikan bahwa jika anda mempunyai waktu sepuluh menit untuk menulis surat, anda akan melakukannya dalam waktu sepuluh menit; tapi, jika anda mempunyai waktu empat jam, anda akan memanfaatkan waktu selama empat jam. Yang demikian ini adalah esensi dari “Hukum Parkinson”, yang pertama kali dimunculkan pada tahun 1955 oleh sejarawan Cyril Northcote Parkinson dalam jurnal The Economist. Dengan mem-parodi-kan esai yang sangat khas dalam sosioekonomi, Parkinson “membuktikan” klaimnya dengan membuat grafik statistik pertumbuhan dalam birokrasi Angkatan Laut Inggris di suatu masa ketika tanggung jawab-tanggung jawab yang diembannya semakin berkurang: ia membutuhkan lebih banyak orang untuk menyelesaikan yang semakin berkurang. “adalah orang yang paling sibuk yang mempunyai waktu lebih,” ujar Parkinson. Orang-orang cenderung untuk melakukan pekerjaan untuk diri mereka sendiri; yang bervariasi adalah bukan waktu luang tapi efisiensi. Sangat tertarik tentang bagaimana hukumnya dapat diterapkan di tempat kerja, Parkinson secara ironis mencermati bahwa “seorang pejabat (official) ingin untuk melipatgandakan orang-orang yang lebih lemah dan lebih rendah (subordinate) darinya, bukan pesaing-pesaing (rivals)” dan bahwa “Para official membuat pekerjaan terhadap satu sama lain.” Tak peduli dengan jumlah pekerjaan yang riil, para manajer terus mempekerjakan lebih banyak orang-orang yang inferior, hanya untuk membuat diri mereka terlihat lebih bertanggung jawab dan lebih powerful---yang memutus reaksi berantai yang membutuhkan lebih

banyak subordinasi dan supervisi, tanpa ada peningkatan apresiasi dalam produktivitas. Disamping ironi Parkinson ini, hukumnya membunyikan suara kebenaran baik tentang suasana di kantor dan di rumah. Semakin sibuk anda, semakin efisien anda jadinya. Semakin luang hari anda, semakin anda menuntut tugas-tugas yang sederhana jadinya. Berdasarkan sifatsifat manusia, maka tugas-tugas yang tak pernah berakhir ini---seperti spring-cleaning (pembersihan besar-besaran yang dilakukan pada musim semi)---adalah sesuatu tentang hal yang diinginkan, yang datang secara tak terduga.

Sebelum Kami Meninggalkan Anda, Beberapa Pemikiran
Luddisme
“Luddisme” berdasarkan makna mutakhirnya ---“rasa takut akan teknologi dan suatu sikap menolak pada kemajuan”---adalah sebuah alasan yang cukup disesalkan untuk sebuah ide besar. Tapi, gambaran sejarah dari penganut Luddisme ini

menawarkan sebuah kisah yang lebih kompleks dan menarik; dan sementara hari mereka di bawah sinar matahari ini sangat singkat (1811-1816), concern mereka masih tetap diperhitungkan, terutama di negara-negara berkembang. Gerakan ini, menurut dugaan, mengambil namanya dari seorang manusia pemberontak dari Leicestershire (Inggris Tengah), Ned Ludd, dimana Oxford English Dictionary memberi acuan sebagai “orang gila yang hidup sekitar tahun 1779”. Tak seorang pun yang benar-benar tahu persis apa yang ingin dilakukan (perpetrate)15 oleh Ludd, tapi ada satu kisah yang menyatakan bahwa dia menghancurkan sebuah mesin perajut kaos kaki di sebuah pabrik tempat dia bekerja karena sang bos telah memarahinya. Apapun kebenaran yang dikatakan, Ludd menjadi pahlawan penduduk desa itu, dan gelar “Raja Ludd” dan “Jenderal Ludd” dilekatkan padanya setelah berbagai pemberontakan anti-industri. Tidak seperti Ludd, pengikut Ludd (Luddites) di awal abad sembilan belas adalah bukan para pekerja pabrik, atau setidaknya tidak memulai dengan cara itu. Mereka kebanyakan adalah para perajin (craftsmen) desa yang mempunyai ketrampilan tinggi, terutama di Yorkshire, yang mengerjakan berbagai macam perdagangan di bidang industri kain wool. Mereka memperoleh bayaran yang pantas, dan informasi tambahannya, bahwa mereka adalah para pemimpin komunitas dengan ikatan famili yang kuat, sebuah ikrar kesetiaan pada industri domestik, dan sebuah pengabdian pada tradisi. Tapi, berbagai hal berubah dengan cepat. Terluka oleh Revolusi Amerika dan Perang Napoleon, ekonomi Inggris sedang terpuruk. Pada waktu yang sama, industrialisme memperoleh momentumnya, secara sangat cepat, sebagai pabrikpabrik dan mesin otomatis yang menyebar melalui pedesaan. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak dipaksa bekerja di pabrik-pabrik, dan cara-cara tradisional harus takluk dibawah disiplin ketat di tempat kerja. Bagi para perajin yang mempunyai
15

Perpetrate= melakukan perbuatan yang negatif dan buruk (misalnya: kejahatan, penipuan). Penerjemah.

ketrampilan tinggi, ini berarti kehancuran bisnis kecil mereka dan tercabik-cabiknya struktur-struktur rumah dan kehidupan komunitas mereka. Revolusi Amerika adalah sejarah yang baru saja lewat, dan ia terbukti memberi inspirasi kepada penduduk Yorkshire, yang telah diabaikan oleh para politisi mereka. Dalam suatu cara yang terorganisir sangat rapi dan sistematis, para perajin dan aliansi mereka---kaum “Luddites”---mendobrak paksa tempat-tempat penggilingan gandum dan merusak kerangka-kerangka mesin hingga hancur berkeping-keping. Ini lebih mirip Pesta Teh Boston dengan palu-palu. Pemberontakan kaum saleh atau terorisme industri? Sejarah berpihak pada para pemenang, dan orang-orang yang kalah harus membayar sangat mahal. Banyak diantara mereka yang ditembak atau digantung, dan sekarang istilah Luddite hampir digunakan secara bergantian dengan istilah luny (keadaan gila atau sangat bodoh). Amuk massa dari para perajin Yorkshire, yang dapat dimengerti, yang melawan kaum kapitalis (bukan melawan mesin) dewasa ini dianggap sama dengan penolakan secara ksatria dan romantis untuk mempercayai sebuah mesin penjawab berdasarkan pada alasan-alasan yang prinsipil. Tentu saja, sekarang ini hanya sedikit yang meyakini bahwa gerak maju teknologi ini dapat dihentikan, tapi, di suatu masa dimana hasil bukanlah suatu kesimpulan yang bersifat pasti. Dan masih ada negara-negara, seperti India, dimana sebuah tradisi dari perajin desa masih dapat bertahan dan demikian pula halnya menghadapi ancaman dan bahaya dari kemajuan zaman. Luddisme sejati masih hidup di tempat-tempat yang demikian ini, tapi sejarah tidak begitu memberi harapan.

Gagasan Salah yang Menyedihkan
(The Pathetic Fallacy)

[Ada] sebuah gagasan salah yang ditimbulkan oleh keadaan perasaan gembira, yang membuat kita, untuk saat itu, menjadi lebih atau kurang irrasional.... Semua perasaan yang kuat mempunyai efek yang sama. Mereka menghasilkan di dalam diri kita sebuah kepalsuan dalam semua kesan-kesan kita tentang berbagai hal eksternal, dimana saya ingin mengkarakterkan secara umum sebagai “gagasan salah yang menyedihkan”. John Ruskin, “Of the Pathetic Fallacy”, in Modern Painters (1856), Part IV, chapter 12

Apakah perut anda mengeluhkan pizza pepperoni? Apakah uang membakar dan menimbulkan sebuah lubang di dalam kantong saku anda? Apakah langit tersenyum pada romansa terakhir anda? Jika demikian halnya, anda divonis bersalah telah menerapkan “gagasan salah yang menyedihkan” ini, tapi jangan menganggapnya terlalu serius karena hampir setiap orang melakukannya. Apapun yang terjadi, yang menyedihkan (pathetic) ini tidak berarti apa yang anda pikirkan sebagai telah ia lakukan. Kritikus era Victoria, John Ruskin (18191900), penemu ungkapan ini, mengetahui dalam benaknya akar makna dari pathos, bahasa Yunani untuk “emosi”. Yang dia maksudkan dengan kesalahan adalah jenis kesalahan yang dibuat terutama oleh tipe-tipe yang kreatif---yaitu, perasaan-perasan untuk memenuhi (mengabulkan) sesuatu, niat-niat, dan sifat-sifat manusia lain terhadap obyek-obyek yang tidak dapat kita miliki. Singkatnya, kesalahan yang menyedihkan ini adalah suatu spesies dari antropo-morfisme. Jenis kesalahan ini tidak bersifat intelektual. Kita tidak benar-benar memikirkan perut dapat mengeluh, atau bahwa laut dapat menjadi marah, atau bahwa kursi yang dimaksudkan untuk membuat jari kita memar. Tapi, kadangkadang, didorong oleh gairah (Ruskin menyebutnya “perasaan kuat”), kita melihat berbagai hal dengan cara itu. Dalam jerat rasa senang atau amarah, persepsi kita menjadi berwarna-warni, dan imajinasi kita menaklukkan rasio kita.

Semua ini tidak harus sesuatu yang buruk. Dalam kenyataan, bagi para penyair dan pelukis, ini adalah bahan bagi jualan mereka. Dengan menggambarkan dalam kata-kata tentang perjuangan menuju pantai, penyair Alton Locke menulis: “Mereka mendayungnya mengarungi buih yang bergulung-gulung---/ Buih yang ganas, yang bergerak perlahan.” Tentu saja, catat Ruskin, “buih tidak ganas, tidak juga ia bergerak perlahan.” Dalam kasus lain, Oliver Wendell Holmes menulis dengan penuh khayal tentang: “[Bunga] Crocus yang boros, merekah seperti dicetak/Telanjang dan menggigil, dengan piala emasnya.” Ini, jelas Ruskin tanpa mengeluarkan air mata, “adalah sangat indah, namun sangat tidak benar. Bunga Crocus bukanlah pemboros, tapi tanaman yang punya daya tahan bagus terhadap cuaca dingin; warna kuningnya bukan kuning emas, tapi kuning kunir (kunyit).” Klaim-klaim dari para penyair ini, dengan demikian, adalah kesalahan, tapi, untuk alasan yang sama inilah kita sangat menyukai puisi. Tapi, pengaruh-pengaruh emosional dan antropo-morfisme, tidak cukup untuk membuat puisi yang bagus. Tidak juga keduanya diperlukan karena, jelas Ruskin, kesalahan yang menyedihkan ini sulit ditemukan dalam karya-karya Shakespeare, Homer, atau Dante. (Namun, ia mudah ditemukan dalam puisi “reflektif, terutama oleh para penyair beraliran Romantik---Coleridge, Wordsworth, Shelley, Keats, dan lain-lain). Selanjutnya, ia sebenarnya bukan “tidak benar” dalam dirinya sendiri yang menyenangkan kita; lebih tepatnya, untuk membuatnya paradoks, ketidakbenaran yang mengandung kebenaran. Jika seorang penyair berniat untuk melakukan kesalahan, dia harus memastikan bahwa kekaburan atau ketidakbenaran ini adalah compatible (sesuai) dengan emosi yang dianggap mengilhaminya. Dalam kenyataan, ia tidak berfungsi dengan baik, tapi ia menyenangkan, untuk menggambarkan dengan kata-kata tentang seseorang yang terkungkung oleh amarahnya, mengagumi senyuman matahari.

Singkatnya, pengaruh-pengaruh dari perasaan harus serasi dengan kekuatan dan karakter dari perasaan. Diantara para penyair yang terbesar, seperti Shakespeare, kekuatan perasaan ini diserasikan dengan kekuatan pemikiran, sehingga kesalahan dapat dihindari: perasaan-perasaan bisa saja diasosiasikan dengan sebuah pohon primrose (pohon yang berbunga kecil dan menyerupai tabung dengan warna yang bermacam-macam), tapi pohon primrose ini masih tetap sebuah primrose. Demikian pula, tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh mereka yang sedikit merasa atau sama sekali tidak merasakan sesuatu, karena mereka hanya melihat sesuatu sebagai “benar-benar” apa adanya mereka. Kesalahan muncul baik ketika seorang penyair yang memiliki berbagai talenta tapi mempunyai intelek yang hebat, penyair seperti ini dikalahkan oleh emosi (Penyair aliran Romantik menjadi salah satu hasilnya) atau ketika seorang penyair yang kuat, dan kecerdasan pikiran, ditundukkan oleh sebuah pengalaman intens yang tidak biasa, dengan melihat sejenak pada berbagai hal yang transenden sifatnya, dengan meliputi kebenaran. Ini mengilhami kesalahan, dan ini adalah jenis yang terbaik. Pada sisi lain, metafor-metafor yang diulang-ulang, emosi yang tidak otentik, dan tuntutan puitis---dari jenis yang derivatif dan sangat dielaborasi, yang ditulis oleh penulisnya setelah acara bubar---adalah cukup buruk dan tak dapat dimaafkan. Hingga pada tingkat dimana kesalahan yang menyedihkan ini bersifat khayalan daripada dirasakan, ia hanya sekadar kesalahan; hingga pada tingkat bahwa ia benar secara emosi, ini adalah menyedihkan. Jadi, simpul Ruskin, “kesalahan yang menyedihkan adalah powerful hanya sejauh ia bersifat menyedihkan, lemah sejauh ia mengandung suatu kesalahan.” Ide Ruskin, selanjutnya akan dimunculkan kembali dalam jargon psikoanalisa. Apa yang dia sebut dengan “kesalahan yang menyedihkan”, disebut oleh Freud sebagai “proyeksi”, pen-transfer-an sensasi-sensasi obyektif dan emosi-emosi

terhadap obyek-obyek di luar dunia. “Proyeksi dari persepsi-persepsi batin menuju luar,” tulis Freud, “adalah suatu mekanisme primitif yang, misalnya, juga mempengaruhi persepsi-persepsi indera kita, sehingga ia secara normal mempunyai bagian terbesar [diantara pertahanan-pertahanan psikhis] dalam membentuk dunia kita.” Dan juga, menurut J.A.C Brown, “kapan saja aspek internal dan subyektif dikaburkan dengan aspek eksternal dan obyektif, kita boleh jadi berbicara tentang proyeksi.” Bukan hanya dilakukan oleh para penyair dan seniman; kita semua juga melakukan ini.

“Bentuk Mengikuti Fungsi”
semua benda secara alami mempunyai sebuah bentuk (shape), untuk mengatakan, sebuah bentuk (form), suatu penampakan luar, yang menjelaskan kepada kita tentang identitas mereka yang sebenarnya, yang membedakan mereka dari diri kita sendiri dan dari satu sama lain.... Apakah ia menjadi burung elang yang sedang menyambar dalam aksi terbangnya atau bunga pohon apel yang terbuka, kerja keras dari kuda pekerja, angsa yang ceria, pohon oak yang bercabang, aliran air yang berkelok-kelok pada bagian bawahnya, awan-awan yang terbawa angin, semuanya mengarah ke matahari, bentuk selalu mengikuti fungsi, dan inilah hukum itu. Dimana fungsi tidak berubah, bentuk (juga) tidak berubah. Batu-batu granit, bukit-bukit yang selalu merenung, masih terus ada selama berabad-abad; kehidupan yang cerah, memasuki bentuk, dan mati dalam waktu yang singkat. Louis Sullivan, “The Tall Office Building Artistically Considered” (1896)

Louis Sullivan (1856-1924) memikirkan arsitektur Amerika di akhir abad ini sebagai suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Amerika yang dinamis, kekuatan ekonomi yang berkembang pesat, rumah bagi gedung-gedung pencakar langit, sedang mendirikan gedung-gedung yang didasarkan pada masa lalu---gedung-gedung yang

diilhami oleh Yunani, Roma, era Gothic dan Baroque, era Renaisans dan era Abad Pencerahan---(Pokoknya) segala hal kecuali Amerika modern. Arsitektur profesional di saat itu terutama sekali adalah suatu lembaga bisnis yang historis, sangat artifisial (dibuat oleh manusia daripada berlangsung secara alami), fokus pada tradisi dan terbiasa dengan pemberian ornamen-ornamen yang netral. Penekanan terletak pada penemuan sang arsitek dan wawasannya yang luas. Namun, Sullivan, mendesak bahwa para arsitek harus mengkonstruk bangunan-bangunan berdasarkan prinsip-prinsip yang natural daripada bersandar pada prinsip-prinsip yang artifisial. Dan determinan (faktor penentu) paling penting dalam arsitektur alami adalah untuk apa sebuah bangunan itu didirikan---tujuannya, esensinya, raison d’ětre-nya. Dia menyebut ini sebagai “fungsi” bangunan dan pada tahun 1896, mengeluarkan diktum terkenalnya, yang sekarang ini lebih dikenal ketimbang pencetusnya: “Bentuk selalu mengikuti fungsi.” (Bahwa kata “selalu” yang merusak aliterasi16 huruf f, selalu dibuang). Sullivan menemukan ungkapan ini dalam sebuah esai tentang apa yang kemudian disebut dengan “bangunan kantor yang tinggi menjulang”. (Kita menyebutnya sebuah “pencakar langit”; yang paling pertama dari bangunan jenis ini adalah the Home Insurance Building di Chicago, yang dibangun tiga belas tahun sebelum esai Sullivan ditulis). Apa esensi dari bangunan semacam ini? Tanya Sullivan, Apa fungsinya? Bagi orang yang berada di jalanan, bangunan ini harus mengkomunikasikan kehebatan, kemuliaan, dan ambisi. Prinsip arsitektur yang alami yang mengikuti adalah untuk mendesain bangunan ini sehingga aspek tinggi menjulangnya ditekankan dan tidak terputus. Tapi, cara mayoritas dari gedunggedung pencakar langit itu dibangun, pemberian ornamen dan variasi-variasi ide yang aneh telah merusak garis kemenjulangannya, dengan memutus pergerakan mata dari lantai dasar menuju puncak bangunan.
16

Aliterasi = pemakaian kata-kata yang sama awal katanya, yaitu huruf F (Form Follows Function)

Jadi, salah satu dari fungsi bangunan ini telah dikhianati oleh bentuknya. Ada beberapa fungsi lain, dilihat dari perspektif pemanfaatan gedung ketimbang pengaruh estetikanya. Lantai dasar dan tingkat pertama mempunyai tujuannya masing-masing: untuk bisnis rumahan (house businesses) dan bank-bank, untuk menyediakan ruang yang terbuka dan yang mengundang para pengunjung dan para pekerja, untuk melengkapi dengan perabot yang memancarkan sikap terbuka dan kebebasan untuk mengakses. Tujuan-tujuan semacam ini barangkali secara alami disediakan oleh bentuk-bentuk arsitektur khusus: “liberal [sikap terbuka], ekspansif, [dan] mewah”, “yang didasarkan secara pasti di atas keharusan-keharusan praktis, tapi diekspresikan dengan sebuah sentimen yang lapang dan bebas”. Tapi, bagaimana dengan sisa bangunan lainnya? Setiap lantai antara lantai pertama dan lantai paling atas, secara fungsional, akan menjadi identik: masingmasing “deretan persis seperti deretan yang lain, sebuah kantor persis seperti semua kantor-kantor yang lain”. Ini adalah persyaratan praktis tentang penggunaan ruang secara efisien. Secara alami, jelas Sullivan, berbagai hal yang menyediakan fungsi yang sama (katakanlah, deretan anak-anak tangga), semuanya mempunyai bentuk yang sama (yaitu, sayap-sayap). Selama sebuah obyek yang alami terus menyediakan tujuan yang sama, ia mempertahankan bentuk yang sama. Dengan istilah “fungsi” Sullivan memaksudkannya sebagai sesuatu yang seperti “esensi natural”: bentuk burung mengekspresikan fakta dan esensi dari menjadi seekor burung, yang dipertentangkan dengan yang selain burung; tidak ada burung yang terlihat seperti seekor monyet, tidak ada batu karang yang terlihat seperti sebuah pohon. (ini adalah sejenis tautologi). Jadi, sebuah bank harus tidak terlihat seperti sebuah kuil Yunani atau rumah yang besar dan indah khas Ghotic; jadi, setiap tingkat (lantai) dari sebuah bangunan yang menyediakan fungsi yang sama, harus mempunyai bentuk yang sama.

Ini tampak sangat jelas sekarang ini, ketika gedung-gedung pencakar langit yang kita lihat, secara praktis, semuanya mengikuti diktum Sullivan. Tapi, yang sedemikian ini bukan menjadi maslaah di masa Sullivan. Sullivan menyalahkan gedung berlantai enam belas yang terdiri dari “enam belas bangunan yang terpisah, berbeda-beda dan tidak saling terhubung, yang ditumpuk satu di atas yang lain hingga tumpukan yang paling atas dapat dijangkau.” Keadaan yang tidak normal semacam ini tidak didesain oleh arsitek-arsitek yang bodoh atau naif, tapi oleh para arsitek yang “terlatih” yang dikepung oleh rasa takut akan terlihat tidak canggih atau tidak cerdas dan imajinatif. Sullivan agak sedikit membesar-besarkan masalah. Dan, dalam kenyataan, dia tumbuh lebih getir bersama dengan berjalannya waktu, ketika bisnisnya anjlok, yang dipengaruhi secara negatif oleh agenda sosialnya yang radikal. Tapi, sementara praktek dia telah berakhir, dia mulai mengubah konvensi-konvensi di masanya. Bekerja berdasarkan pijakan ajaran filsafat tentang demokrasi alami dan pertumbuhan organik, Sullivan berupaya untuk membawa spirit alam ke dalam arsitektur dunia bisnis Amerika. (Barangkali, contoh terbaik yang masih bertahan adalah Gedung Wainwright yang dia bangun di St. Louis, dibangun tahun 18901891). Ide-idenya tidak sepenuhnya orisinal, tapi cukup berpengaruh, terutama ketika dipraktekkan oleh murid Sullivan, Frank Lloyd Wright, sang pemuncak “arsitektur organik”. Diantara para arsitek, Sullivan dan Wright membawa arsitektur Modern ke Amerika, dengan penekanannya pada ruang dan struktur yang telanjang, fungsionalitas dan modernitas. Dibawa ke sisi ekstrim dari utilitas yang telanjang, prinsip-prinsip semacam ini dapat menghasilkan bangunan-bangunan yang buruk dan yang mengasingkan, seperti contoh-contoh paling buruk dari “Gaya Internasional”. Tapi, kesalahan tidak dapat benar-benar ditimpakan kepada Sullivan

atau pada ungkapan (frasa)nya yang sangat menarik yang seringkali disalahpahami “Bentuk selalu mengikuti fungsi.” Dia bukan musah dari nilai-nilai estetika, atau bahkan dari dekorasi dan ornamen, dimana dia hanya ingin untuk menghadirkan sesuatu yang bersifat organik daripada yang artifisial. Dia menyerukan suatu arsitektur yang merespon pada hal-hal spiritual sebagaimana halnya dengan kebutuhan-kebutuhan kaum utilitarian dan yang mengekspresikan spirit zaman itu. “Dan dengan demikian,” dia menyatakan dalam kesimpulan esainya, “ketika insting bawaan dan kemampuan untuk mencerap akan mengatur penggunaan seni kita yang tercinta; ketika hukum yang dikenal, hukum yang dihormati, adalah bentuk yang selalu mengikuti fungsi,” maka “mungkin dapat dinyatakan bahwa kita berada di high-road (jalan yang lurus dan nyaman dilalui) menuju seni yang alami dan memuaskan, suatu arsitektur yang akan segera menjadi seni berkualitas tinggi berdasarkan pemahaman terbaik dan yang paling benar dari kata-kata itu, sebuah seni yang akan hidup karena ia akan menjadi dari masyarakat, untuk masyarakat dan melalui masyarakat.” Tapi tidak, tentu saja, seluruhnya orisinal.

“Kurang adalah Lebih”
paradoks pemikiran Barat yang terbesar, harus dikatakan, jarang sekali mempunyai akibat-akibat praktis. Kemungkinan yang akan terjadi adalah baik-baik saja, jika seandainya anda menghidupkan mesin mobil anda, mengarahkannya menuju pusat pertokoan, dan melaju, anda akan sampai disana cepat atau lalmbat, tak perduli dengan apa yang dikatakan oleh Zeno [lihat, hal. ....]. Demikian pula, paradoks Russel [hal. ... ] bisa saja telah menimbulkan keadaan kacau dengan perangkat teori, tapi akibat yang terjadi setelah itu akan, sangat mungkin, berlangsung seperti sebelumnya.

Pengecualian yang membuktikan aturan ini adalah “Kurang adalah lebih,” sebuah ungkapan [sangat menarik] favorit dari arsitek Jerman, Ludwig Mies van der Rohe (1886-1969). Sebenarnya, Mies tidak menemukan ungkapan ini; tidak juga dia menemukan “Tuhan ada dalam detail-detail,” sebuah slogan lain yang diatributkan kepadanya. “Kurang adalah lebih” telah muncul dalam puisi hebat Robert Browning, “Andrea del Sarto” (1855) dan telah menyebar di dunia seni Jerman dalam beragam bentuk. (Sumber acuan paling langsung dari Mies adalah gurunya, Peter Behrens). Tapi, adalah Mies yang telah memperkenalkan dan menjadikan akrab paradoks ini yang menyenangkan berbagai pihak dan, masa sekarang ini, menjadi bahan ejekan dari banyak orang. Apa yang dia maksudkan dengan ungkapan adalah sebagai berikut: sebuah bangunan harus dikonstruksi berdasarkan pada esensi-esensi yang dikandungnya; simbol-simbol ekstra atau tambahan-tambahan hanya akan membelokkan dari kejelasan, manfaat, dan pengaruh. (Inilah esensinya tentang bagaimana kita memanfaatkan ungkapan ini sekarang: “Yang lebih dari sesuatu yang baik tidak harus menjadi lebih baik”). Yang diupayakan oleh seorang arsitek adalah bukan “kurang” demi dirinya sendiri---dengan sekadar melucuti detail-detail yang berlebihan dan yang tak berhubungan dengan struktur bangunan---tapi lebih tepatnya adalah apa saja yang dirasa cocok dan sesuai dengan peralatan, lokasi, desain yang diinginkan. Tujuan ini, di permukaan, mirip dengan tujuan dari Louis Sullivan, yang memenagi kesatuan organik dengan ungkapannya: “Bentuk selalu mengikuti fungsi.” Namun, Mies lebih fokus pada rasionalitas dan presisi (akurat, pasti) daripada metafisika Sullivan. “Fungsi” yang bersifat langsung dari sebuah bangunan tidak menarik minatnya secara berlebihan; dia, tidak seperti Sullivan, meramalkan bahwa struktur apapun di masa depan, akan dirancang berdasarkan pada beragam

penggunaan yang menyediakan berbagai macam fungsi. Ini adalah salah satu alasan utama dari tuntutan untuk kesederhanaan: semakin terbuka dan murni sebuah gedung itu, semakin ia dapat diadaptasikan. Dalam praktek, diktum Mies “Kurang adalah lebih” telah menghasilkan bangunan-bangunan yang menekankan pada rigiditas (baku, tidak bergerak, tidak fleksibel) geometris, daripada mencoba untuk menyembunyikan, bahan-bahan dan alat-alat konstruksi. Contoh paling terkenal, setidaknya di Amerika, adalah Seagram Building di Park Avenue, New York, yang didesain oleh Mies di akhir tahun 1950-an bersama dengan Philip Johnson. Sangat biasa dalam konstruksinya, gedung Seagram ini secara struktur hampir tanpa dekorasi dan perabot-perabot, sebuah menara kaku yang terbuat dari kaca dan perunggu. Meskipun bukan bangunan pertamanya, ia adalah proto-tipe “kotak kaca”, yang memberi inspirasi kepada bangunan-bangunan imitasi yang inferior dan yang tak akan pernah berakhir pada dekade-dekade selanjutnya. Yang bersifat kurang yang terkandung dalam gaya ini, pastinya, akan menjadi kelebihannya.

“Mereka Yang Tidak Dapat Mengingat Masa Lalu Akan Dihukum untuk Mengulanginya”
Kemajuan, jauh dari menetap (bertempat tinggal) dalam perubahan, bergantung pada daya ingat yang kuat. Ketika perubahan itu bersifat absolut, tak ada wujud yang tersisa untuk menjadi lebih baik dan tak ada arah yang dirancang bagi peningkatan kualitas yang mungkin: dan ketika pengalaman tidak diingat, sebagaimana yang terjadi di kalangan masyarakat barbar, maka tahap permulaan dari suatu perkembangan akan berlangsung abadi. Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu akan dihukum untuk mengulanginya. George Santayana, The Life of Reason (1905), Volume I, chapter XII

Dengan telah menjadi sebuah klise, observasi dari filosuf Spanyol-Amerika ini, George Santayana (1863-1952) telah kehilangan semua kedalamannya. Biasa diucapkan dalam bentuk kalimat “Mereka yang tidak ( do not) ingat masa lalu...,” ia telah direduksi menjadi wacana tindakan tentang suatu kurikulum yang sesuai dan layak. “Pelajari sejarahmu, boys and girls, atau di masa mendatang [masukkan pengalaman yang tidak menyenangkan disini] yang akan berlangsung, kamu tidak akan mengingat apa yang telah terjadi pertama kali.” Bukan karena ini adalah salah; ini hanya karena bukan demikian yang dimaksudkan oleh Santayana. Dia memilih kata tidak dapat berdasarkan satu alasan---yaitu, karena dia memaksudkannya sebagai “secara harfiah adalah tidak dapat untuk”. Yang demikian ini adalah nasib dari anak kecil dan “kaum barbar”, dimana mereka setiap harinya memulai kehidupannya secara baru, pengalamanpengalaman dan pelajaran-pelajaran di hari kemarin sedang dilupakan. Ini bukan berarti bahwa orang-orang yang demikian ini (seseorang dapat berargumen dengan istilah “kaum barbar”) memilih untuk menjadi bodoh; ini artinya bahwa m ereka tidak mempunyai kemampuan perihal pemikiran historis. Dalam kondisi lupa ini, seseorang tidak dapat untuk membuat keputusankeputusan apapun yang telah diinformasikan sebelumnya atau untuk membuat dirinya maju. Dia tampaknya hanya akan melanjutkan untuk bertindak berdasarkan pada insting dan refleks, yang sifat mereka adalah repetitif (selalu mengulangulang). Setiap hari, kurang lebihnya, adalah hari yang sama, inilah yang dimaksudkan oleh Santayana sebagai “mengulangi masa lalu”. Poin yang lebih luas dari Santayana adalah bahwa kemajuan menuntut suatu stabilitas yang pasti dan “daya ingat yang kuat” dalam diri individu-individu dan masyarakat-masyarakat. Ini adalah basis bagi evolusi manusia, yang dimodelkan menurut evolusi spesies Darwin: perilaku yang terpelajar, yang berbasis pada

pengalaman, adalah lebih merupakan upaya suksesi dalam menghadapi kondisikondisi yang terus berubah. Yaitu, kita akan meraih yang lebih baik dan lebih baik lagi dalam menghadapi dunia yang terus-menerus berubah ini kita kita mempunyai “daya ingat yang kuat” dan sikap “fleksibel”: sadar akan masa lalu dan mudah beradaptasi. Konteks yang lebih luas dari spekulasi-spekulasi Santayana adalah “naturalisme”-nya, yang lebih dikenal dengan sebutan “materialisme”. Manusia, dalam pandangannya, adalah produk dari alam secara menyeluruh dan utuh; dan pikiran tidak lebih dari aktivitas alami (natural) dari otak. Berdasarkan keadaan ini yang terus-menerus berubah, demikian pula dengan apa yang kita sebut sebagai “sifat manusia”. Keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, proses-proses pemikiran, instinginsting, dan hasrat-hasrat dari penduduk Yunani kuno adalah sangat berbeda dengan para penduduk Eropa abad pertengahan atau dengan para penduduk Afrika kontemporer. Oleh karena itu, tidak ada sejenis sesuatu yang disebut dengan “hukum universal”, jika dengan itu kita maksudkan sebagai aturan-aturan (rules) yang dapat diterapkan di dalam ruang dan waktu. Namun, pada waktu yang sama, dalam waktu dan tempat khusus (particular) apapun, manusia (laki-laki dan perempuan) saling berbagi pengalaman-pengalaman, nilai-nilai, proses-proses pemikiran, dan lain-lain. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada komunikasi sama sekali. Dan sifat manusia khusus yang semacam ini mempunyai suatu “keadaan ideal” yang potensial, dimana ia dapat menjadi segalanya: yang secara ideal sesuai, dalam batas-batasnya, dengan waktu dan kondisi-kondisi. Masing-masing individu mempunyai idealnya sendiri, yang tidak ada hubungannya dengan apa yang dipikirkan, dirasa, atau dilakukan oleh banyak orang.

Dalam kenyataan, Santayana meyakini secara mendalam bahwa masyarakat telah diberkahi dengan rasio dan bakat-bakat yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Ini mungkin bersifat ideal bagi beberapa pihak untuk bekerja di pabrik perakitan (assembly lines), sementara pihak lain menganggap ideal untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Oleh karena itu, dia bukanlah seorang yang bersikap antusias terhadap demokrasi. Dalam pandangannya, Sifat (Natur) dalam dirinya sendiri adalah tidak demokratis (undemocratic); beberapa spesies mati, sementara spesies lain berkembang melalui proses evolusi, dan ini karena beberapa spesies adalah lebih superior dibandingkan yang lain. Dalam diri laki-laki dan perempuan, ketajaman rasio dan ingatan tentang masa lalu saling bersesuaian untuk melangkah maju dan mengalami realisasi diri, guna mencapai apa yang diidealkan. Jadi, buatlah diri anda terpaku membaca buku-buku sejarah, sekarang.

APPENDIKS Persamaan Energi dan Massa Einstein (Hal...)
Inilah ide dasarnya: sebagai sebuah obyek dari massa m (yang berbeda dari beratnya, yang bergantung pada gravitasi) menempuh kecepatan konstan v, mempunyai sebuah momentum yang mungkin dapat diekspresikan sebagai hasil mv. Inersia obyek, yang proporsional dengan massa-nya, m, akan membuatnya terus bergerak ke arah yang sama pada kecepatan yang sama, kecuali energi (force) diterapkan kepadanya,

yang menyebabkan suatu akselerasi (sebuah perubahan dalam v). Ini energi yang telah ditambahkan ini, akan menambah energi kepada obyek ini, yang dibawah situasi normal diekspresikan sebagai suatu peningkatan dalam kecepatan (momentum ekstra). Energi total yang diekspresikan dalam gerak obyek ini disebut dengan “energi kinetik”, yang momentumnya dikalikan dengan kecepatannya, dibagi dua---yaitu,

E = m v2/2

Ini memberi sejumlah energi yang dibutuhkan untuk men-set suatu tubuh dari massa m dari keadaan diam ke dalam gerak dari kecepatan v. Namun ekuasi ini dianggap benar hanya dibawah hukum relativitas Newtonian. Jika kita mempertimbangkan ekuasi-ekuasi Lorentz tentang teori khusus (yang menggambarkan kontraksi ruang dan pengembangan waktu dalam arah gerak yang relatif), maka, formulanya menjadi:

E= .....

Dimana c adalah kecepatan cahaya dalam suatu vakum (ruang kosong). Ketika kecepatan obyek, v, mendekati kecepatan cahaya ini, v/c mendekati I, dan denominatornya (angka penyebut dalam pecahan) menjadi lenyap. Dalam hal ini, karena kita sedang membagi dengan angka nol, E adalah tak terbatas: dengan kata lain, ia akan mengambil sejumlah energi yang tak terbatas untuk menggerakkan sebuah obyek hingga keceptan cahaya. Ringkasnya, tidak ada obyek dengan massa apapun yang pernah dapat menempuh kecepatan cahaya ini---tidak ada cukup energi untuk bisa sampai kesana. (Cahaya itu sendiri tidak mempunyai massa). Sekarang, marilah kita lihat pada hal yang berlawanan: energi ditambahkan pada suatu obyek dari massa m dalam gerak pada kecepatan v, tapi, kita, bagaimanapun, mencegah obyek ini dari bergerak yang lebih cepat daripada v. Untuk mudahnya, (dan ia akan menghasilkan yang sama, jika tidak demikian), marilah kita mengasumsikan bahwa obek ini dalam keadaan diam untuk memulai---ia tidak mempunyai energi kinetik sama sekali---dan bahwa v masih tetap 0 meskipun ada

penambahan energi E. Jika v = 0, maka demikian pula v/c, dan denominator dari ekuasi kita direduksi menjadi I. Dalam hal mana, E = mc

Dengan kata lain, energi yang ditambahkan, semuanya harus menjadi massa, ketika massa ini menjadi satu-satunya variabel yang tersisa yang dapat berubah. Masa yang telah ditambahkan ini, jika kita menampilkan pembagian mendasar, akan menjadi sama dengan E/c. Tapi, massa adalah massa, apakah ia dihasilkan oleh suatu penambahan energi atau tidak. Oleh karena itu, formula Einstein tetap dipertahankan dalam setiap kasus; jika kita ingin mengetahui seberapa banyak energi yang bersifat laten dalam suatu tubuh dari massa 10 gram, kita hanya menggandakan 10 gram dengan kecepatan dari cahaya yang dikwadratkan, dan mengubah ke unit-unit yang sesuai. Keluarkan kalkulator anda!

Chaos dan “Ekuasi Logistik” (hal....)
Ekuasi logistik, yang memainkan peran yang krusial dalam perkembangan teori chaos, adalah sebuah varian dari suatu ekuasi linier yang sederhana. Anggaplah kita sedang mempelajari pertumbuhan populasi diantara sekelompok binatang yang khusus---katakanlah, tupai abu-abu di Central Park. Hipotesis pertama kita adalah bahwa populasi tupai ini tumbuh secara stabil dari tahun ke tahun, katakanlah .I atau 10%. Dalam kasus ini, populasi dalam setahun n+1 akan menjadi 1.1 (100% + 10%) dikali populasi dalam tahun n, atau, untuk meletakkannya dalam bentuk matematis, xn+1=1.1(xn), dimana xn adalah populasi dalam tahun n. Laju perubahan (1.1) adalah dibakukan. Tapi, semakin kita lebih mencermati, semakin kita menyadari bahwa pertumbuhan populasi ini tidaklah stabil sama sekali, tapi bahwa laju perubahan itu sendiri berubah bersama dengan besarnya populasi itu. sebagai ganti dari menerapkan suatu pengganda (multiplier) yang baku dari tahun ke tahun, kita dipaksa untuk memperkenalkan sebuah faktor linier. Suatu predictor (yang memprediksi) yang lebih baik tentang populasi tupai di Central Park adalah ekuasi logistik non-linier, yang terlihat seperti ini:

Xn+1 = rxn (1-xn) Dimana xn melambangkan populasi di tahun n, yang diekspresikan sebagai suatu persentase dari populasi keseluruhan yang maksimum, dan dimana r melambangkan beberapa faktor perubahan yang telah baku. (Jika populasi tupai maksimum di Central Park adalah 1,500 dan dalam tahun n yang diandaikan, populasi aktualnya adalah 1,000, maka, xn = 1,000/1,500 =.667.) Ekuasi logistik menyerupai pendekatan linier kita dimana seseorang mempertahankan (save) faktor tambahan (non-linier) 1-xn, yang tumbuh lebih kecil ketika jumlah populasi meningkat dan tumbuh lebih besar ketika jumlah populasi menurun. (Ketika xn adalah sebuah persentasi--yaitu, sebuah bilangan antara 0 dan 1---maka, 1-xn akan selalu menjadi positif; dengan demikian, jumlah populasi tidak pernah turun di bawah angka nol). Lebih jauh lagi, ekuasi ini disebut dengan “iterative” (ditampilkan kembali), karena hasil-hasil dari satu tahun dihubungkan kembali (plugged back) untuk meraih hasil-hasil di tahun selanjutnya; yaitu, ekuasi adalah sebuah “putaran feedback”. Sebagaimana diketahui, ekuasi logistik, yang bersifat non-linier (laju perubahannya bervariasi), mempunyai sejumlah sifat-sifat yang sangat menarik. Nilai-nilai tertentu dari r (untuk menyatakan, nilai-nilai yang kurang dari 3), jumlah populasi pada akhirnya akan terasah pada satu kuantitas yang akurat, pasti dan tidak berubah. Ini bahkan bukan soal bilangan apa yang anda hubungkan pertama kali, selama ia kecil tapi tidak sama dengan nol. Tujuan akhir ini---nilai xn mendekat ketika anda terus mengulang-ulang ekuasi ini---disebut dengan “penarik” (“attractor”). Bahkan yang lebih menarik, ketik r melebihi 3, jumlah populasi ini pada akhirnya bergerak menuju dua nilai yang menggantikan, dengan mendekati pada satu dari tahun yang diandaikan dan kemudian mendekati yang lain di tahun selanjutnya. Sang penarik telah terbagi dan sekarang disebut dengan sebuah “penarik dari periode 2”. Selanjutnya, jika kita meningkatkan r hingga hampir mendekati 3.45, sang penarik dibagi menjadi empat, dan selanjutnya dibagi menjadi delapan, dan selanjutnya dibagi menjadi enam belas, dan seterusnya. Tapi, ia tidak terus menggandakan diri selamanya; apa titik tertentu, ketika r kira-kira sama dengan 3.57, sang penarik menjadi tidak dapat diprediksi, varian yang liar, yang tampaknya bersifat chaotic sepenuhnya. (Pada poin ini, ia disebut dengan “penarik yang aneh”.) tapi, sebagaimana diketahui, ini adalah chaos dengan sebuah pola.

Ekuasi logistik bukan hanya satu-satunya yang menghasilkan penarik-penarik yang membagi dan chaos yang terpola. Sebagaimana telah ditemukan oleh Mitchell Feigenbaum pada tahun 1970-an, terdapat semua jenis ekuasi-ekuasi, banyak diantaranya yang digunakan secara umum oleh para ilmuwan praktek, bahwa ketika diperlengkapi dengan suatu putaran feedback yang terlihat dari hasil-hasilnya, persis seperti ekuasi logistik (satu contoh adalah r sinus ...x). para pakar matematika menyadari bahwa ini bukan sekadar suatu kebetulan yang aneh, dan penemuan Feigenbaum benar-benar membuat bola chaos ini terus menggelinding.

Sumber-sumber
Aristoteles, The Basic Works of Aristotle, editor: Richard McKeon (New York: Random House, 1941).

Santo Agustinus, On the Two Cities: Selections from ‘The City of God,’ terjemahan Marcus Dods (New York: Frederick Ungar, 1957).

Francis Bacon, Essays, Advancement of Learning, New Atlantis, and Other Pieces, editor: Richard Foster Jones (New York: Odyssey, 1937).

Jacques Derrida, Of Grammatology (1967), terjemahan Gayatri Chakravorty Spivak (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976).

______, Positions (1972), terjemahan Alan Bass (Chicago: University of Chicago Press, 1981).

Albert Einstein, Relativity: The Special and General Theory, terjemahan Robert W. Lawson (New York: Wings Books, 1961).

______, Beyond the Pleasure Principle (1920), terjemahan James Strachey (New York: Norton, 1961).

______, The Ego and the Id (1923), terjemahan Joan Riviere dan James Strachey (New York: Norton, 1962).

______, General Psychological Theory, editor: Philip Rieff (New York: Macmillan, 1963).

______, New Introductory Lectures on Psychoanalysis (1933), terjemahan James Strachey (New York: Norton, 1965).

______, Sexuality and the Psychology of Love, editor Philip Rieff (New York: Macmillan, 1963).

G.W.F. Hegel, Phenomenology of Spirit, terjemahan A.V. Miller (Oxford: Clarendon, 1977).

The Holly Bible, King James Version (1611).

Edmund Husserl, Ideas: General Introduction to Pure Phenomenology, terjemahan W.R. Boyce Gibson (New York: Collier, 1962).

C.G. Jung, “On the Psychology of the Unconscious”, terjemahan R.F.C. Hull, dikutip dalam Great Ideas in Psychology, editor: Robert W. Marks (New York: Bantam, 1966). Melanie Klein, Love, Guilt and Reparation & Other Works 1921-1945 (New York: Dell, 1975).

Steven Knapp dan Walter Benn Michaels, “Against Theory”, Critical Inquiry 8 (Summer 1982).

Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, second edition (Chicago: University of Chicago Press, 1970).

Robert W. Marks, editor, Space, Time, and the New Mathematics (New York: Bantam, 1964).

Karl Marx, Early Writings, editor: Quintin Hoare (New York: Vintage, 1975).

Marshall McLuhan, The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (Toronto: University of Toronto Press, 1962).

______, Understanding Media: The Extensions of Man, edisi yang telah direvisi (New York: McGraw Hill, 1965).

______, and Edmund Carpenter, eds., Explorations in Communication (Boston: Beacon Press, 1960).

Friedrich Nietzsche, The Portable Nietzsche, diterjemahkan dan diedit oleh Walter Kaufmann (New York: Viking, 1968).

Plato, The Collected Dialogues of Plato, editor: Edith Hamilton and Huntington Cairns, edisi yang telah dikoreksi (Princeton: Princeton University Press, 1963).

Plutarch, “The Impossibility of Pleasure according to Epicurus”, terjemahan William Baxter (New York: n.p., 1859).

Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery, second edition (New York: Harper & Row, 1968).

Jean-Jacques Rousseau, The Social Contract, or Principles of Political Right, terjemahan Henry J. Tozer (London: George Allen & Unwin, 1895).

John Ruskin, Modern Painters, 5 vols. (London: Dent, 1906).

Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness (1943), terjemahan Hazel E. Barnes (New York: Philosophical Library, 1956).

Louis Sullivan, The Public Papers, editor: Robert Twombly (Chicago: University of Chicago Press, 1988).

Philip Wheelwright, editor, The Presocratics (New York: Odyssey Press, 1966).

Norbert Wiener, The Human Use of Human Beings: Cybernetic and Society, edisi yang telah direvisi (Garden City, N.Y.: Anchor/Doubleday, 1954).

Buku-buku Acuan
Mortimer J. Adler, The Great Ideas: A Lexion of Western Thought (New York: Macmillan, 1992).

S.T. Bindoff, Tudor England (Harmondsworth: Penguin, 1950) Werner Blaser, Mies van der Rohe: Less Is More (New York: Waser Verlag Zurich, 1986).

I.M. Bochenski, Contemporary European Philosophy, terjemahan Donald Nicholl and Karl Aschenbrenner (Berkeley: University of California Press, 1961).

J.A.C. Brown, Freud and the Post-Freudians (Harmondsworth: Penguin, 1961).

Douglas Bush, English Literature in the Earlier Seventeenth Century 1600-1660 (New York: Oxford University Press, 1945)

Jeremy Campbell, Grammatical Man: Information, Entropy, Language, and Life (New York: Simon & Schuster, 1982).

Richard and Fernande DeGeorge, eds., The Structuralists: From Marx to LéviStrauss (Garden City, N.Y.: Anchor/Doubleday, 1972).

Dictionary of the History of Ideas: Studies of Selected Pivotal Ideas, editor: Philip P. Wiener, 5 vols. (New York: Scribner`s, 1973).

Timothy Ferris, Coming of Age in the Milky Way (New York: William Morrow, 1988).

James Gleick, Chaos: Making a New Science (New York: Viking, 1987).

Stephen Jay Gould, Ontogeny and Phylogeny (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1977).

Stephen W. Hawking, A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes (New York: Bantam, 1988).

Douglas R. Fofstadter, Metamagical Themas: Questing for the Essence of Mind and Pattern (New York: Basic Books, 1985).

Judy Jones and William Wilson, An Incomplete Education (New York: Ballantine, 1987).

Joseph J. Kockelmans, editor: Phenomenology: The Philosophy of Edmund Husserl and Its Interpretation (Garden City, N.Y.: Anchor/Coubleday, 1967).

Bart Kosko, Fuzzy Thinking: The New Science of Fuzzy Logic (New York: ....kurang...

APPENDIKS

Ekuasi Energi dan Massa Einstein (Hal...)
Inilah ide dasarnya: sebagai sebuah obyek dari massa m (yang berbeda dari beratnya, yang bergantung pada gravitasi) menempuh kecepatan konstan v, mempunyai sebuah momentum yang mungkin dapat diekspresikan sebagai hasil mv. Inersia obyek, yang proporsional dengan massa-nya, m, akan membuatnya terus bergerak ke arah yang sama pada kecepatan yang sama, kecuali energi (force) diterapkan kepadanya, yang menyebabkan suatu akselerasi (sebuah perubahan dalam v). Ini energi yang telah ditambahkan ini, akan menambah energi kepada obyek ini, yang dibawah situasi normal diekspresikan sebagai suatu peningkatan dalam kecepatan (momentum ekstra). Energi total yang diekspresikan dalam gerak obyek ini disebut dengan “energi kinetik”, yang momentumnya dikalikan dengan kecepatannya, dibagi dua---yaitu,

E = m v2/2

Ini memberi sejumlah energi yang dibutuhkan untuk men-set suatu tubuh dari massa m dari keadaan diam ke dalam gerak dari kecepatan v. Namun ekuasi ini dianggap benar hanya dibawah hukum relativitas Newtonian. Jika kita mempertimbangkan ekuasi-ekuasi Lorentz tentang teori khusus (yang menggambarkan kontraksi ruang dan pengembangan waktu dalam arah gerak yang relatif), maka, formulanya menjadi:

E= .....

Dimana c adalah kecepatan cahaya dalam suatu vakum (ruang kosong). Ketika kecepatan obyek, v, mendekati kecepatan cahaya ini, v/c mendekati I, dan denominatornya (angka penyebut dalam pecahan) menjadi lenyap. Dalam hal ini, karena kita sedang membagi dengan angka nol, E adalah tak terbatas: dengan kata lain, ia akan mengambil sejumlah energi yang tak terbatas untuk menggerakkan sebuah obyek hingga keceptan cahaya. Ringkasnya, tidak ada obyek dengan massa apapun yang pernah dapat menempuh kecepatan cahaya ini---tidak ada cukup energi untuk bisa sampai kesana. (Cahaya itu sendiri tidak mempunyai massa).

Sekarang, marilah kita lihat pada hal yang berlawanan: energi ditambahkan pada suatu obyek dari massa m dalam gerak pada kecepatan v, tapi, kita, bagaimanapun, mencegah obyek ini dari bergerak yang lebih cepat daripada v. Untuk mudahnya, (dan ia akan menghasilkan yang sama, jika tidak demikian), marilah kita mengasumsikan bahwa obek ini dalam keadaan diam untuk memulai---ia tidak mempunyai energi kinetik sama sekali---dan bahwa v masih tetap 0 meskipun ada penambahan energi E. Jika v = 0, maka demikian pula v/c, dan denominator dari ekuasi kita direduksi menjadi I. Dalam hal mana, E = mc

Dengan kata lain, energi yang ditambahkan, semuanya harus menjadi massa, ketika massa ini menjadi satu-satunya variabel yang tersisa yang dapat berubah. Masa yang telah ditambahkan ini, jika kita menampilkan pembagian mendasar, akan menjadi sama dengan E/c. Tapi, massa adalah massa, apakah ia dihasilkan oleh suatu penambahan energi atau tidak. Oleh karena itu, formula Einstein tetap dipertahankan dalam setiap kasus; jika kita ingin mengetahui seberapa banyak energi yang bersifat laten dalam suatu tubuh dari massa 10 gram, kita hanya menggandakan 10 gram dengan kecepatan dari cahaya yang dikwadratkan, dan mengubah ke unit-unit yang sesuai. Keluarkan kalkulator anda!

Chaos dan “Ekuasi Logistik” (hal....)
Ekuasi logistik, yang memainkan peran yang krusial dalam perkembangan teori chaos, adalah sebuah varian dari suatu ekuasi linier yang sederhana. Anggaplah kita sedang mempelajari pertumbuhan populasi diantara sekelompok binatang yang khusus---katakanlah, tupai abu-abu di Central Park. Hipotesis pertama kita adalah bahwa populasi tupai ini tumbuh secara stabil dari tahun ke tahun, katakanlah .I atau 10%. Dalam kasus ini, populasi dalam setahun n+1 akan menjadi 1.1 (100% + 10%) dikali populasi dalam tahun n, atau, untuk meletakkannya dalam bentuk matematis, xn+1=1.1(xn), dimana xn adalah populasi dalam tahun n. Laju perubahan (1.1) adalah dibakukan. Tapi, semakin kita lebih mencermati, semakin kita menyadari bahwa pertumbuhan populasi ini tidaklah stabil sama sekali, tapi bahwa laju

perubahan itu sendiri berubah bersama dengan besarnya populasi itu. sebagai ganti dari menerapkan suatu pengganda (multiplier) yang baku dari tahun ke tahun, kita dipaksa untuk memperkenalkan sebuah faktor linier. Suatu predictor (yang memprediksi) yang lebih baik tentang populasi tupai di Central Park adalah ekuasi logistik non-linier, yang terlihat seperti ini: Xn+1 = rxn (1-xn) Dimana xn melambangkan populasi di tahun n, yang diekspresikan sebagai suatu persentase dari populasi keseluruhan yang maksimum, dan dimana r melambangkan beberapa faktor perubahan yang telah baku. (Jika populasi tupai maksimum di Central Park adalah 1,500 dan dalam tahun n yang diandaikan, populasi aktualnya adalah 1,000, maka, xn = 1,000/1,500 =.667.) Ekuasi logistik menyerupai pendekatan linier kita dimana seseorang mempertahankan (save) faktor tambahan (non-linier) 1-xn, yang tumbuh lebih kecil ketika jumlah populasi meningkat dan tumbuh lebih besar ketika jumlah populasi menurun. (Ketika xn adalah sebuah persentasi--yaitu, sebuah bilangan antara 0 dan 1---maka, 1-xn akan selalu menjadi positif; dengan demikian, jumlah populasi tidak pernah turun di bawah angka nol). Lebih jauh lagi, ekuasi ini disebut dengan “iterative” (ditampilkan kembali), karena hasil-hasil dari satu tahun dihubungkan kembali (plugged back) untuk meraih hasil-hasil di tahun selanjutnya; yaitu, ekuasi adalah sebuah “putaran feedback”. Sebagaimana diketahui, ekuasi logistik, yang bersifat non-linier (laju perubahannya bervariasi), mempunyai sejumlah sifat-sifat yang sangat menarik. Nilai-nilai tertentu dari r (untuk menyatakan, nilai-nilai yang kurang dari 3), jumlah populasi pada akhirnya akan terasah pada satu kuantitas yang akurat, pasti dan tidak berubah. Ini bahkan bukan soal bilangan apa yang anda hubungkan pertama kali, selama ia kecil tapi tidak sama dengan nol. Tujuan akhir ini---nilai xn mendekat ketika anda terus mengulang-ulang ekuasi ini---disebut dengan “penarik” (“attractor”). Bahkan yang lebih menarik, ketik r melebihi 3, jumlah populasi ini pada akhirnya bergerak menuju dua nilai yang menggantikan, dengan mendekati pada satu dari tahun yang diandaikan dan kemudian mendekati yang lain di tahun selanjutnya. Sang penarik telah terbagi dan sekarang disebut dengan sebuah “penarik dari periode 2”. Selanjutnya, jika kita meningkatkan r hingga hampir mendekati 3.45, sang penarik dibagi menjadi empat, dan selanjutnya dibagi menjadi delapan, dan selanjutnya dibagi menjadi enam belas, dan seterusnya. Tapi, ia tidak

terus menggandakan diri selamanya; apa titik tertentu, ketika r kira-kira sama dengan 3.57, sang penarik menjadi tidak dapat diprediksi, varian yang liar, yang tampaknya bersifat chaotic sepenuhnya. (Pada poin ini, ia disebut dengan “penarik yang aneh”.) tapi, sebagaimana diketahui, ini adalah chaos dengan sebuah pola. Ekuasi logistik bukan hanya satu-satunya yang menghasilkan penarik-penarik yang membagi dan chaos yang terpola. Sebagaimana telah ditemukan oleh Mitchell Feigenbaum pada tahun 1970-an, terdapat semua jenis ekuasi-ekuasi, banyak diantaranya yang digunakan secara umum oleh para ilmuwan praktek, bahwa ketika diperlengkapi dengan suatu putaran feedback yang terlihat dari hasil-hasilnya, persis seperti ekuasi logistik (satu contoh adalah r sinus ...x). para pakar matematika menyadari bahwa ini bukan sekadar suatu kebetulan yang aneh, dan penemuan Feigenbaum benar-benar membuat bola chaos ini terus menggelinding.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->