P. 1
Permasalahan Ijab Dan Qabul(1)

Permasalahan Ijab Dan Qabul(1)

|Views: 60|Likes:
Published by othis6564

More info:

Published by: othis6564 on Jan 11, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2014

pdf

text

original

Permasalahan Ijab dan Qabul (1) http://kerjoanku.wordpress.

com/2009/12/21/ijab-dan-qabul/

Hubungan interaksi antara dua orang, terlebih-lebih akad perniagaan, biasanya diungkapkan dengan rangkaian kata-kata, yang disebut dengan ijab dan qabul. Ijab-qabul tersebut berfungsi untuk mengekspresikan akan maksud dan keinginan kedua belah pihak. Segala puji hanya milik Allah Ta‟ala, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dans ahabatnya. Hubungan interaksi antara dua orang, terlebih-lebih akad perniagaan, biasanya diungkapkan dengan rangkaian kata-kata, yang disebut dengan ijab dan qabul. Ijab-qabul tersebut berfungsi untuk mengekspresikan akan maksud dan keinginan kedua belah pihak. Ijab ialah perkataan yang diucapkan oleh penjual, atau yang mewakilinya dalam mengutarakan kehendak hatinya yang berkaitan dengan akad yang dijalin Sedangkan Qabul ialah perkataan yang diucapkan oleh pembeli atau yang mewakilinya sebagai ekspresi dari kehendaknya berkaitan dengan akad tersebut. Transaksi jual-beli dapat berlangsung dengan segala ucapan yang menunjukkan kepadanya, misalnya: saya jual kepadamu barang ini, saya berikan kepadamu barang ini, milikilah barang ini, singkatnya tidak ada ucapan tertentu yang harus diucapkan dalam transaksi jual-beli, sehingga ucapan apa saja yang menunjukkan akan jual-beli, maka terjalinlah dengannya transaksi jual-beli. Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Pendapat inilah yang secara dalil lebih kuat, dan itulah yang saya pilih, karena dalam syari‟at tidak ada dalil yang mensyaratkan ucapan tertentu, sehingga kita harus mengikuti tradisi yang berlaku, sebagaimana hal-hal lainnya.”([1]) Dan praktek masyarakat sejak zaman dahulu, mereka menggunakan berbagai ucapan dalam menjalankan akad jual-beli, ada yang dengan kata: “kirimkan”, ada pula yang dengan kata: “beri saya beras sekian kilo”, misalnya, ada yang dengan kata: “minta minyak goreng sekian liter”, misalnya, dst. Dan dengan berbagai ucapan ini, dan masing-masing dari penjual dan pembeli memahami dan tidak ada perbedaan sedikitpun bahwa yang dimaksud dari berbagai ucapan ini adalah akad jual-beli. Bila ada yang bertanya: Apakah pendapat ini berlaku pada seluruh transaksi (akad)? Permasalahan ini diperselisihkan oleh para ulama‟: Pendapat pertama: Sebagian ulama‟ ada yang mensyaratkan bagi sebagian akad teks-teks tertentu, yang harus diucapkan padanya, misalnya akad nikah, mereka berpendapat bahwa pada

dan pihak kedua menjawab dengan berkata: Saya terima. Sebagaimana tidak pernah diriwayatkan dari seorang sahabat. hibah dan yang serupa. Dapa saja yang mereka anggap sebagai akad pernikahan. ada yang berpendapat bahwa setiap akad/ transaksi dapat terjalin dan sah dengan ucapan apa saja yang biasa digunakan oleh masyarakat guna menjalankan akad tersebut. Mu‟amalat hanyalah hubungan sesama manusia. puasa. baik dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam atau para sahabatnya yang dapat dijadikan dalil guna menggariskan definisi akad jualbeli. maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya. . bulan. Sebagian definisi nama-nama tersebut dapat diketahui melalui ilmu bahasa. maka itu dikatakan jual-beli. Ibnu Taimiyyah berkata: Berbagai nama dan istilah ini telah disebutkan dalam Al Qur‟an dan hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. langit. sewamenyewa. atau tabi‟inpun. munafiq. Apa saja yang mereka anggap sebagai wakaf. shalat.akad ini harus digunakan kata-kata: (‫زوجتك‬/ saya nikahkan/kawinkan anda). maka anda harus merujuk kepada tradisi masyarakat setempat. zakat. kafir. Tidak pernah ada satu dalilpun atau satu riwayatpun. Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah rahimahullah. Sedangkan nama atau sebutan yang tidak ditemukan definisinya dalam ilmu bahasa atau wahyu (syari‟at). dan bumi. gandum. Sebagian lainnya hanya dapat diketahui melalui wahyu (syari‟at). maka itu adalah pernikahan. laut. semisal sebutan: mukmin. baik dalam Al Qur‟an atau As sunnah.([2]) Permasalahan mu‟amalat (interaksi sesama manusia) tidaklah termasuk amalan ibadah sehingga harus seratus persen sesuai dengan yang dicontohkan. Apa saja yang mereka anggap sebagai akad pegadaian. Juga tidak pernah ditemukan satu ucapan yang dapat mengarah kepada pemahaman bahwa suatu akad tidak sah. beserta berbagai hukum yang terkait dengannya. maka itu adalah pegadaian. dan haji. sehingga apa saja yang mereka anggap sebagai transaksi jual-beli. Pendapat kedua inilah yang rajih (lebih kuat) dan yang semestinya untuk dianut. kecuali bila dijalin dengan ucapan-ucapan tertentu.” Telah diketahui bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyebutkan definisi jual-beli. Misalnya sebutan al qabdhu (serah-terima) yang disebutkan pada sabda nabi shallallahu „alaihi wa sallam berikut: ‫مه ابتاع طعاما فال يبعه حتى يقبضه‬ “Barang siapa yang membeli bahan makanan. bahwa ia menentukan ucapan tertentu guna menjalankan akad ini. Dan setiap nama pasti memiliki definisi tersendiri. maka itu adalah wakaf. Pendapat kedua: Sebagian lagi. semisal sebutan matahari.

sebagian ulama‟ menegaskan bahwa anggapan semacam ini nyata-nyata menyelisihi kesepakatan ulama‟ zaman dahulu. Dengan demikian. Allah sebutkan dengan kata (‫البيع‬/jual-beli).Sebaliknya.” Yang dimaksud dengan adat-istiadat disini ialah adat-istiadat yang telah berlaku dan dijalankan oleh setiap orang dan tidak menyelisihi syari‟at. Dan ini berlaku umum pada seluruh jenis transaksi. maka itulah hibah. maka dengan ucapan apa saja mereka menjalankan suatu akad. sehingga dapat dikatagorikan sebagai bid‟ah. semua akad ini tercakup oleh keumuman kaedah tersebut. (Majmu‟ Fatwa Ibnu Taimiyyah 29/16) Pada kesempatan lain beliau berkata: “Pendapat yang benar. maka rujukannya adalah tradisi masing-masing masyarakat. pernikahan dan yang serupa adalah sebagian dari bentuk adat istiadat. bahwa kedua pihak bila telah saling mengetahui maksud lawan transaksinya. sewa-menyewa. ternyata akad nikah dalam hadits-hadits nabi tidak hanya disebutkan dengan kata nikah. adalah boleh. Dan kaedah berikut juga menguatkan kesimpulan beliau di atas: ‫األصل في العادة اإلباحت‬ “Hukum asal pada setiap masalah yang tercakup dalam adat kebiasaan.”([3]) Ditambah lagi. Maka kita jawab: begitu juga halnya dengan (‫البيع‬/ jual-beli beli). Dan apa saja yang mereka sebut sebagai hibah. dan bukan peribadahan. Romawi atau lainnya. akad jual-beli beli dapat terjalin dengan ucapan apa saja yang biasa digunakan ketika menjual (ijab) dan begitu juga ketika membeli (kabul). Bila suatu hal tidak memiliki definisi dalam syari‟at. Akan tetapi disebut pula dengan kata lainnya. tidak juga dalam ilmu bahasa. apakah anda juga akan berpendapat bahwa ketika anda bertransaksi jual-beli anda harus menggunakan kata: (‫ )بعت‬saya jual? Jawabannya pasti: tidak. Sebagaimana transaksi dapat dijalin dengan bahasa Persia. Dikarenakan Allah dan rasul-Nya tidak pernah memberikan batasan dalam hal ucapan akad. Bila demikian. disebutkan oleh Allah dengan kata-kata nikah. Akan tetapi Allah Ta‟ala dan rasul-Nya menyebutkannya tanpa ada batasan. akad antara mereka berdua adalah sah.” Kesimpulan beliau ini didukung oleh kaedah ilmu fiqih yang berbunyi: ‫العادة محكمت‬ “Adat-istiadat itu memiliki kekuatan hukum. ْ َ‫مه‬ ْ ‫عليه‬ ْ َّ‫مل‬ ْ َ‫اذهَبْ فَق‬ َ ُ‫كت‬ ‫ متفق‬. maka transaksi boleh dijalin dengan ucapan apa saja dalam bahasa Arab yang menunjukkan akan transaksi tersebut. “Bila ada yang berkata: Akad nikah. sehingga pada akadnya harus menggunakan kata-kata: menikahkan.” Dan akad jual-beli.‫آن‬ ِ َ‫معَك‬ َ ‫ما‬ َ ِ‫كهَا ب‬ َ ‫د‬ ِ ْ‫القُر‬ . Pendek kata: apa saja yang oleh masyarakat disebut sebagai jual-beli maka itulah jual-beli.

Dan seandainya mereka menggunakan ijab dan qabul dalam perniagaan mereka. yaitu dengan adanya ucapan ijab dari penjual dan kabul dari pembeli. Dan seperti inilah praktek kaum muslimun di pasar-pasar dan dalam setiap perniagaan mereka. dan juga dalam batasan perpisahan dalam akad. dan telah dikenal sejak zaman dahulu. dan penjual menyerahkan barang yang dibeli oleh pembeli tanpa ada satu katapun dari kedua belah pihak (metode mu‟athah). Alasannya: Allah Ta‟ala melalui Al Qur‟an dan As Sunnah An Nabawiyyah hanya mensyaratkan dalam perniagaan adanya taradhi (suka sama suka). dan tetap membiarkannya seperti yang telah berjalan di masyarakat. niscaya akan diriwayatkan secara mutawatir. Sebagaimana ucapan ijab dan qabul dianggap sebagai bukti adanya rasa suka sama suka dalam hati. aku telah menjadikannya milikmu dengan mas kawin surat-surat Al Qur‟an yang telah engkau hafal. betapa susahnya hidup anda. Dan praktek masyarakat sejak zaman dahulu menunjukkan akan hal ini. maka anda tidak akan bisa berbelanja di supermarket. dan hal ini letaknya dalam hati setiap orang. Dan tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dan juga tidak dari para sahabatnya –padahal mereka seering melakukan perniagaan. Inilah pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini. pembeli menyerahkan uang pembayaran.penggunaan kata ijab dan qabul. begitu juga perbuatan saling menyerahkan. dan tidak mungkiun para ulama‟ melupakannya. Metode perbuatan. dan yang serupa.([4]) Ibnu Qudamah berkata: “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan transaksi jual-beli. niscaya hukumnya wajib untuk diriwayatkan. sehingga wajib atas kita untuk mengikuti tradisi yang telah berlaku. Dan seandainya ijab dan qabul adalah syarat dalam setiap perniagaan. akad jual-beli dapat dilakukan dengan metode ucapan lisan dan metode perbuatan Metode ucapan lisan. karena perniagaan adalah hal yang telah memasyarakat…”([5]) Dengan demikian. sehingga tidak boleh bagi kita untuk merubah yang telah berlaku hanya berdasarkan akal-pikiran dan seenak sendiri.” (Muttafaqun „alaih) Anda bisa bayangkan. yaitu dengan saling . akan tetapi Allah dan Rasul-Nya hanya menentukan beberapa hukum dengan peniagaan tersebut. Hal ini sebagaimana yang lazim terjadi di pusat-pusat perbelanjaan. yaitu yang diistilahkan dengan al mu‟athah. Karena perniagaan telah ada sejak zaman Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. sebagaimana tradisi telah dijadikan standar/pedoman dalam penentuan metode penyerah-terimaan barang yang diperjual-belikan. bila setiap transaksi yang anda jalankan harus diutarakan dan diucapkan. dan Allah tidak pernah menjelaskan kepada kita tentang metodenya.“Silahkan engkau membawanya pulang. Bila demikian adanya. dapat menjadi bukti adanya rasa suka sama suka yang dimaksudkan. seperti supermarket. Hukum Jual Beli Dengan Metode Mu’athah Dan di antara metode jual-beli yang dibenarkan dalam syari‟at ialah dengan cara saling menyerahkan barang yang dimaksud. atau tempat-tempat serupa.

pedomannya ialah tradisi masyarakat. "Wahai orang-orang beriman. baik secara berkesinambungan (antara ucapan ijab dan kabulnya) atau terjadi tenggang waktu antara keduanya. Semoga apa yang dipaparkan di sini bermanfaat bagi kita semua. Subulus Salaam.tiada penjual dan tiada ijab kabul. Firman Allah.Sebab saya ingin memulakan perniagaan ini jika diharuskan oleh islam. 3/4. baik berupa ucapan atau perbuatan.adakah diharuskan didalam islam. oleh Imam An Nawawi 3/337 [2] ) Ini adalah pendapat yang dianut dalam mazhab Maliky.wang dimasukkan didalam mesin untuk membeli minuman tersebut. atau hibah.” [3] ) Syarhul Mumti‟ 8/115. janganlah kamu saling memakan harta . [4] ) Sebagian ulama‟. tanpa adanya ucapan ijab atau qabul dari keduanya. Tujuan ijab dan qabul ialah untuk menzahir keredhaan/persetujuan dari kedua belah pihak untuk berjual-beli.sekian terima kasih. 1/239. Kifayatul Akhyar.yakni tentang perniagaan menjual air minuman seperti air tin dan air R.minta ustaz jelaskan. hal (121): “Dan setiap transaksi yang dianggap oleh masyarakat sebagai transaksi jual-beli. Syeikhul Islam berkata dalam kitab al Ikhtiyaraat.blogspot.Apakah hukumnya . Assalamualaikum ustaz. [5] ) Al Mughny Oleh Ibnu Qudamah 6/8. 1/479. [1] ) Raudhatut Thalibin.menyerahkan barang yang dimaksudkan oleh masing-masing dari yang menjalankan akad jualbeli. Saya ada satu permasalahan tentang perniagaan. Jawapan.html JUAL-BELI MELALUI MESIN Soalan. Permasalahan Ijab dan Qabul (2) http://ilmudanulamak. sehingga menurut mereka jual-beli tidak sah bila tidak ada ada ijab dari penjual dan qabul dari pembeli. dan seluruh masyarakat telah menganggap metode jual-beli dengan perbuatan semacam ini sebagai akad jual-beli yang jelas dan sah. diantaranya Imam As Syafi‟i dan kebanyakan para pengikutnya mensyaratkan adanya ijab dan qabul dalam akad jual-beli.O water yang menggunakan mesin. maka terjalinlah (telah sah-lah) transaksi jualbeli dan hibah. wallahu a‟alam bisshawab. Tafsir Ibnu Katsir. Baca: Raudhatut Thalibin 3/336.com/2011/03/jual-beli-melalui-mesin. Jual-beli tidak sah tanpa keredhaan/persetujuan kedua-belah pihak iaitu penjual dan pembeli. atau dari salah satunya: Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa urusan transaksi itu mudah.

. Tamam al-Minnah. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling meredhai antara kamu" (Surah an-Nisa'. 1. Tidak menafikan hak khiyar untuk pembeli (hak mengembalikan barang) jika barang yang keluar dari mesin itu rosak atau tidak menepati sebagaimana yang diiklankan. Ia juga boleh dengan perlakuan. Pandangan kedua inilah yang rajih. Ini kerana dengan adanya saling memberi dan menerima itu sudah cukup untuk membuktikan kedua mereka redha/bersetuju dengan akad jual beli yang berlaku. 2. Ahmad Adnan bin Fadzil. 2. Menurut mazhab Syafiie. Wallahu a'lam. antaranya.sesama kamu secara batil. 1. 3/289-290. kemudian mereka berdua berlalu pergi tanpa melafazkan ijab atau qabul). ayat 29). hlm. Syeikh Adil al-'Azzazi. tulisan dan sebagainya asalkan menunjukkan keredhaan/persetujuan. maka ia perlu dizahirkan. Antara yang mentarjihnya ialah Imam al-Baghawi dan Imam Nawawi (kedua-duanya ulamak besar mazhab Syafiie). sementara penjual pula memberi barang dan mengambil wang. isyarat. Soal-Jawab MLM Syariah. Oleh kerana keredhaan asalnya berada dalam hati. Barang/produk yang dijual jelas ada di dalam mesin tersebut dan menepati sebagaimana iklan yang terpampang di mesin. Untuk menzahirkan keredhaan tidaklah terhad kepada ucapan sahaja. Rujukan. jual-beli menggunakan mesin sebagaimana yang saudara sebutkan itu hukumnya adalah harus dan sah jika memenuhi syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh Syariat ke atas jual beli (selain syarat ijab dan qabul atau saling meredhai tadi). Berdasarkan pandangan kedua. menzahirkan keredhaan wajib dengan bahasa atau ucapan iaitulah ijab dari satu pihak (yakni ucapan penawaran) dan qabul dari pihak satu lagi (iaitu ucapan penerimaan). 3. bahasa badan. Harga bagi setiap satu produk juga jelas (tiada kesamaran atau kekeliruan). Namun menurut jumhur (majoriti) ulamak. mereka mengharuskan jual-beli secara almuathah (‫ )المعاطاة‬iaitu saling memberi dan menerima di antara penjual dan pembeli tanpa mengeluarkan sebarang ucapan (yakni pembeli memberi wang dan mengambil barang. Kerana itu. 42.

2.wordpress. 5.com/muamalat/jenis-jenis-jualbeli/ Jenis-jenis jual beli 1. 3. 6. Jual sarf Jual faedah Jual Jizaf Jual Fuduli Jual Mua’tah Jual Tasi’r Jual ‘Urbun Jual beli Fuduli Takrif –Jual sesuatu yang bukan hak miliknya seperti seseorang itu menjual barangan milik orang lain tanpa diwakilkan atau tanpa izin.JENIS JUAL BELI http://ustazabdulwahab. Contohnya –seorang suami menjual barang milik isterinya tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu daripada isterinya. 7. 4. Hukum jual beli Fuduli :- Mazhab Maliki dan Hanafi Sah sekiranya dipersetujui oleh tuannya dan dengan syarat : (1) sekiranya ia menguntungkan pemilik asal (2) sekiranya tidak menzalimi pemilik dan penjual serta harga .

Contohnya seseorang itu mengambil barang dan membayar harga tanpa ada sighah ijab dan qabul seperti jualan layan diri di pasaraya Hukum jual beli Mua’tah :- -Menurut Jumhur Ulamak(Hanafi . Hanbali dan Zahiri Batal walaupun setuju kerana persetujuan pemilik harta mestilah di waktu akad.(3) mestilah orang yang mampu melaksanakan urusan jual beli (4) mendapat persetujuan kedua belah pihak selepas akad Mazhab Syafi‟e. Hujah: (1)pengurusan harta orang lain tanpa izinnya adalah ditegah (2)bukan pemiliknya dan bukan pemilik waktu akad itu Jual beli Mua’tah Maksud – pembeli dan penjual bersetuju atas penetapan harga . Bagahawi dan Mutawalli)sah walaupun tidak dibuktikan dengan lafaz . tanpa lafaz ijab dan qabul. Syaratnya ialah pembeli dan penjual saling reda meredai Menurut pendapat Imam Syafi‟e tidak sah kerana tidak ada lafaz ijab dan qabul yang jelas atau secara sindiran.Malik dan Hanbali) sah dan harus dilaksanakan. Mestilah dengan lafaz kerana keredaan itu tersembunyi di dalam hati dan orang lain tidak tahu Segelintir pengikut Imam Syafi‟e (Imam Nawawi .

.kerana sudah menjadi adat kepada manusia tidak ada lafaz ijab dan qabul tetapi saling berterimaan di majlis akad. Hukum jual beli Tas’ir :- Menurut Syafi‟e haram sebab bukan miliknya Malik dan Hanafi harus sebab maslahah umum Jual beli U’rbun Menjual sesuatu barang dengan syarat membayar sebahagian dari harga barang sebagai wang pendahuluan dan bakinya dijelaskan kemudian (bayar cengkeram) Sekiranya tidak bersetuju Wang tersebut diberikan kepada penjual. Jual beli Tas’ir Kawalan harga oleh pemerintah dalam menetapkan harga sesuatu barang supaya tidak menzalimi pembeli dan penjual .Hukum jual U‟rbun :Jumhur Ulamak Haram . batal dan tidak sah kerana mengandungi unsure-unsur penipuan dan kezaliman . Contohnya barang keperluan asas seperti beras.

maka ia dinamakan hutanc. Al-Bai’Bi Thamani al-Ajil Oual beli dengan bayaran bertangguh). orang akan membeli dengan cara tunai seperti barang-barang makanan. pakaian dan alat persekolahan. Jika serahan barang jualan didahulukan dan bayaran dikemudiankan. Kedua-dua jenis jual beli ini berlaku dalam kehidupan seharian. Istilah Bai‟ al-Ajil dalam konsep mu‟amalat di Malaysia bermaksud membeli suatu yang dibayar harganya secara beransur-ansur. . AI-Bai’Bi Thamani al-’Ajil ( Jual beli dengan bayaran tunai) 2. Biasanya bagi barang-barang keperluan seharian atau yang tidak mahal harganya.. maka ia dikenali sebagai “al-Salam”. Al-Bai‟Bi Thaniani al-Ajil adalah termasuk dalam kumpulan “Bai‟ al-Aial” ( jual beli yang bertempoh). Namun begitu. Jika bayaran didahulukan dan barang dikemudiankan (mengikut tempoh).Nabi sendiri melarang jual beli cara U‟rbun kerana termasuk dalam penipuan dan makan harta orang lain secara haram berlaku penindasan dan hangus sekiranya tidak jadi berurusan Jual Beli Tunai dan Bertangguh 1. Tetapi bagi memiliki barang yang mahal harganya orang akan membeli dengan cara bayaran beransur seperti kereta dan rumah. orang yang kurang berkemampuan atau rendah daya beli biasanya akan membeli barang-barang keperluan secara bayaran beransur atau dibayar bertempoh mengikut tempoh yang dipersetujui antara penjual dan pembeli. A 1-Bai‟ Bi Thaniani al-Ajil bermaksud: Menangguhkan bayaran sesuatu barang jualan iaitu dengan pembeli menerima serahan barang dan pcnjual akan menerima bayaran dalam tempoh yang ditetapkan sama ada secara sekaligus atau secara beransur.

000 dan saya mengambil untung RM 5.000).000.000 daripada harga pokok. Contohnya: “Saya jual rumah itu dengan harga pokok RM 50. Bai‟al-Tauliah: Jual beli pada harga asal dengan penjual tidak mengambil sebarang keuntungan ( Jual beli pada harga kos). Bai‟al-Wadhi‟ah: Jual beli pada harga yang lebih rendah daripada harga asal dengan penjual sedia menerima kerugian pada kadar tertentu ( Jual beli pada harga di bawah kos).” (harga jualan RM 25. Contohnya:”Saya jual barang itu kepada kamu dengan harga RM 100. Contohnya: “Saya jual rumah itu dengan harga RM 45.000). Contohnva:”Saya jual kereta itu dengan harga pokok RM 25. Bai‟al-Musawamah: Jual beli dengan kerelaan kedua-dua pihak Penjual dan pembeli tanpa menyatakan keuntungan yang diambil oleh perjual. saya jual setengah daripadanya kepada kamu dengan harga RM 10.000 kurang RM 5. Contohnya: “Harga asal tanah itu ialah RM 20.” 5. 2.” (harga jualan RM 55. Bai‟ al Isyrak: Jual beli sebahagian barang dengan sebahagian harga asal dengan penjual tidak mengambil sebarang keuntungan. 3.” (Harga pokok ialah RM 50.000.Jenis-jenis Jual Beli Berdasarkan Harga 1 .000) 4.000 . Bai‟al-Murabahah: Jual beli pada harga asal dengan tambahan keuntunean pada kadar tertentu yang kedua-duanya dinyatakan oleh penjual daii dipersetujui olch pembeli.000.

10. 7. 14. bertaqwa. 7. jujur dan teratur mengikut 4. 6. 2. Gejala sosial dan jenayah mudah berkembang di dunia Islam. Sumber asli tidak dapat dimanfaatkan Kekayaan diterokai oleh orang lain Tidak dapat kuasai ekonomi dunia Taraf kehidupan umat Islam rendah. 6. Bahan yang dikeluarkan: Baik. 8. 5. Perjalanan perniagaan: Adil. Tujuan perniagaan: Meningkatkan modal pengeluaran. amanah dan dedikasi. Tidak berupaya menentang penindasan dan penjajahan. 12. Sumber kewangan: Bebas daripada riba dan halal.Etika/ Adab Perniagaan dalam Islam 1. Umat Islam mundur dan ketinggalan dalam semua lapangan kehidupan dan kemajuan dunia. Tidak dapat menjadi umat yang dihormati dan dicontohi. Matlamat perniagaan: Membina masyarakat sejahtera. 5. halal dan berkualiti. Peniaga/ pengusaha: Beriman. Peluang pembangunan tidak dapat dimanfaatkan oleh umat Islam. Dakwah Islam tidak dapat dilaksanakan dengan lancar atau terbantut. . 11. Kemiskinan meluas di dunia Islam. 3. Mudah menyerah dan mengalah kepada orang lain. 3. Kedudukan umat Islam dipandang rendah oleh orang lain. mendapatkan keuntungan dan memberi kepuasan kepada pelanggan. 2. 13. Akibat mengabaikan perniagaan dikalangan umat Islam 1. 9. 4. mempunyai ilmu dan kemahiran. Mudah terjerumus kepada gejala maksiat dan kekufuran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->