Permasalahan Ijab dan Qabul (1) http://kerjoanku.wordpress.

com/2009/12/21/ijab-dan-qabul/

Hubungan interaksi antara dua orang, terlebih-lebih akad perniagaan, biasanya diungkapkan dengan rangkaian kata-kata, yang disebut dengan ijab dan qabul. Ijab-qabul tersebut berfungsi untuk mengekspresikan akan maksud dan keinginan kedua belah pihak. Segala puji hanya milik Allah Ta‟ala, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dans ahabatnya. Hubungan interaksi antara dua orang, terlebih-lebih akad perniagaan, biasanya diungkapkan dengan rangkaian kata-kata, yang disebut dengan ijab dan qabul. Ijab-qabul tersebut berfungsi untuk mengekspresikan akan maksud dan keinginan kedua belah pihak. Ijab ialah perkataan yang diucapkan oleh penjual, atau yang mewakilinya dalam mengutarakan kehendak hatinya yang berkaitan dengan akad yang dijalin Sedangkan Qabul ialah perkataan yang diucapkan oleh pembeli atau yang mewakilinya sebagai ekspresi dari kehendaknya berkaitan dengan akad tersebut. Transaksi jual-beli dapat berlangsung dengan segala ucapan yang menunjukkan kepadanya, misalnya: saya jual kepadamu barang ini, saya berikan kepadamu barang ini, milikilah barang ini, singkatnya tidak ada ucapan tertentu yang harus diucapkan dalam transaksi jual-beli, sehingga ucapan apa saja yang menunjukkan akan jual-beli, maka terjalinlah dengannya transaksi jual-beli. Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Pendapat inilah yang secara dalil lebih kuat, dan itulah yang saya pilih, karena dalam syari‟at tidak ada dalil yang mensyaratkan ucapan tertentu, sehingga kita harus mengikuti tradisi yang berlaku, sebagaimana hal-hal lainnya.”([1]) Dan praktek masyarakat sejak zaman dahulu, mereka menggunakan berbagai ucapan dalam menjalankan akad jual-beli, ada yang dengan kata: “kirimkan”, ada pula yang dengan kata: “beri saya beras sekian kilo”, misalnya, ada yang dengan kata: “minta minyak goreng sekian liter”, misalnya, dst. Dan dengan berbagai ucapan ini, dan masing-masing dari penjual dan pembeli memahami dan tidak ada perbedaan sedikitpun bahwa yang dimaksud dari berbagai ucapan ini adalah akad jual-beli. Bila ada yang bertanya: Apakah pendapat ini berlaku pada seluruh transaksi (akad)? Permasalahan ini diperselisihkan oleh para ulama‟: Pendapat pertama: Sebagian ulama‟ ada yang mensyaratkan bagi sebagian akad teks-teks tertentu, yang harus diucapkan padanya, misalnya akad nikah, mereka berpendapat bahwa pada

langit. sehingga apa saja yang mereka anggap sebagai transaksi jual-beli. Pendapat ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah rahimahullah. dan haji. zakat. beserta berbagai hukum yang terkait dengannya. maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya. bahwa ia menentukan ucapan tertentu guna menjalankan akad ini. munafiq. semisal sebutan matahari. shalat. maka itu adalah pernikahan. baik dalam Al Qur‟an atau As sunnah. maka itu dikatakan jual-beli. gandum. sewamenyewa. Pendapat kedua: Sebagian lagi. dan pihak kedua menjawab dengan berkata: Saya terima. . kecuali bila dijalin dengan ucapan-ucapan tertentu. laut. atau tabi‟inpun. Tidak pernah ada satu dalilpun atau satu riwayatpun. Apa saja yang mereka anggap sebagai wakaf. Pendapat kedua inilah yang rajih (lebih kuat) dan yang semestinya untuk dianut. maka itu adalah pegadaian.akad ini harus digunakan kata-kata: (‫زوجتك‬/ saya nikahkan/kawinkan anda). hibah dan yang serupa. baik dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam atau para sahabatnya yang dapat dijadikan dalil guna menggariskan definisi akad jualbeli.” Telah diketahui bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menyebutkan definisi jual-beli. dan bumi. Sebagian lainnya hanya dapat diketahui melalui wahyu (syari‟at). Apa saja yang mereka anggap sebagai akad pegadaian. kafir. maka anda harus merujuk kepada tradisi masyarakat setempat. Juga tidak pernah ditemukan satu ucapan yang dapat mengarah kepada pemahaman bahwa suatu akad tidak sah. ada yang berpendapat bahwa setiap akad/ transaksi dapat terjalin dan sah dengan ucapan apa saja yang biasa digunakan oleh masyarakat guna menjalankan akad tersebut. Dapa saja yang mereka anggap sebagai akad pernikahan. Sebagaimana tidak pernah diriwayatkan dari seorang sahabat. puasa.([2]) Permasalahan mu‟amalat (interaksi sesama manusia) tidaklah termasuk amalan ibadah sehingga harus seratus persen sesuai dengan yang dicontohkan. bulan. Dan setiap nama pasti memiliki definisi tersendiri. Mu‟amalat hanyalah hubungan sesama manusia. maka itu adalah wakaf. Sedangkan nama atau sebutan yang tidak ditemukan definisinya dalam ilmu bahasa atau wahyu (syari‟at). Ibnu Taimiyyah berkata: Berbagai nama dan istilah ini telah disebutkan dalam Al Qur‟an dan hadits Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Sebagian definisi nama-nama tersebut dapat diketahui melalui ilmu bahasa. Misalnya sebutan al qabdhu (serah-terima) yang disebutkan pada sabda nabi shallallahu „alaihi wa sallam berikut: ‫مه ابتاع طعاما فال يبعه حتى يقبضه‬ “Barang siapa yang membeli bahan makanan. semisal sebutan: mukmin.

sehingga pada akadnya harus menggunakan kata-kata: menikahkan.”([3]) Ditambah lagi. Akan tetapi Allah Ta‟ala dan rasul-Nya menyebutkannya tanpa ada batasan. akad antara mereka berdua adalah sah. semua akad ini tercakup oleh keumuman kaedah tersebut. Maka kita jawab: begitu juga halnya dengan (‫البيع‬/ jual-beli beli). ternyata akad nikah dalam hadits-hadits nabi tidak hanya disebutkan dengan kata nikah. Bila demikian. sewa-menyewa. Dan kaedah berikut juga menguatkan kesimpulan beliau di atas: ‫األصل في العادة اإلباحت‬ “Hukum asal pada setiap masalah yang tercakup dalam adat kebiasaan. Allah sebutkan dengan kata (‫البيع‬/jual-beli). akad jual-beli beli dapat terjalin dengan ucapan apa saja yang biasa digunakan ketika menjual (ijab) dan begitu juga ketika membeli (kabul).” Kesimpulan beliau ini didukung oleh kaedah ilmu fiqih yang berbunyi: ‫العادة محكمت‬ “Adat-istiadat itu memiliki kekuatan hukum.” Dan akad jual-beli. Dikarenakan Allah dan rasul-Nya tidak pernah memberikan batasan dalam hal ucapan akad. disebutkan oleh Allah dengan kata-kata nikah. tidak juga dalam ilmu bahasa.‫آن‬ ِ َ‫معَك‬ َ ‫ما‬ َ ِ‫كهَا ب‬ َ ‫د‬ ِ ْ‫القُر‬ . Pendek kata: apa saja yang oleh masyarakat disebut sebagai jual-beli maka itulah jual-beli. apakah anda juga akan berpendapat bahwa ketika anda bertransaksi jual-beli anda harus menggunakan kata: (‫ )بعت‬saya jual? Jawabannya pasti: tidak. Akan tetapi disebut pula dengan kata lainnya. Sebagaimana transaksi dapat dijalin dengan bahasa Persia.” Yang dimaksud dengan adat-istiadat disini ialah adat-istiadat yang telah berlaku dan dijalankan oleh setiap orang dan tidak menyelisihi syari‟at. Dan apa saja yang mereka sebut sebagai hibah. bahwa kedua pihak bila telah saling mengetahui maksud lawan transaksinya. (Majmu‟ Fatwa Ibnu Taimiyyah 29/16) Pada kesempatan lain beliau berkata: “Pendapat yang benar.Sebaliknya. dan bukan peribadahan. sebagian ulama‟ menegaskan bahwa anggapan semacam ini nyata-nyata menyelisihi kesepakatan ulama‟ zaman dahulu. adalah boleh. maka transaksi boleh dijalin dengan ucapan apa saja dalam bahasa Arab yang menunjukkan akan transaksi tersebut. pernikahan dan yang serupa adalah sebagian dari bentuk adat istiadat. maka itulah hibah. Bila suatu hal tidak memiliki definisi dalam syari‟at. ْ َ‫مه‬ ْ ‫عليه‬ ْ َّ‫مل‬ ْ َ‫اذهَبْ فَق‬ َ ُ‫كت‬ ‫ متفق‬. Dan ini berlaku umum pada seluruh jenis transaksi. Romawi atau lainnya. “Bila ada yang berkata: Akad nikah. maka dengan ucapan apa saja mereka menjalankan suatu akad. Dengan demikian. sehingga dapat dikatagorikan sebagai bid‟ah. maka rujukannya adalah tradisi masing-masing masyarakat.

dan juga dalam batasan perpisahan dalam akad. dan tetap membiarkannya seperti yang telah berjalan di masyarakat.“Silahkan engkau membawanya pulang. Bila demikian adanya. Dan seperti inilah praktek kaum muslimun di pasar-pasar dan dalam setiap perniagaan mereka. Karena perniagaan telah ada sejak zaman Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Dan praktek masyarakat sejak zaman dahulu menunjukkan akan hal ini. dan Allah tidak pernah menjelaskan kepada kita tentang metodenya. sehingga tidak boleh bagi kita untuk merubah yang telah berlaku hanya berdasarkan akal-pikiran dan seenak sendiri. yaitu dengan adanya ucapan ijab dari penjual dan kabul dari pembeli. betapa susahnya hidup anda. karena perniagaan adalah hal yang telah memasyarakat…”([5]) Dengan demikian. Dan seandainya ijab dan qabul adalah syarat dalam setiap perniagaan. niscaya akan diriwayatkan secara mutawatir. Alasannya: Allah Ta‟ala melalui Al Qur‟an dan As Sunnah An Nabawiyyah hanya mensyaratkan dalam perniagaan adanya taradhi (suka sama suka). Inilah pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini. aku telah menjadikannya milikmu dengan mas kawin surat-surat Al Qur‟an yang telah engkau hafal. niscaya hukumnya wajib untuk diriwayatkan. Dan tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu „alaihi wa sallam dan juga tidak dari para sahabatnya –padahal mereka seering melakukan perniagaan.” (Muttafaqun „alaih) Anda bisa bayangkan. dan hal ini letaknya dalam hati setiap orang. yaitu yang diistilahkan dengan al mu‟athah. atau tempat-tempat serupa. Hal ini sebagaimana yang lazim terjadi di pusat-pusat perbelanjaan. seperti supermarket. dan telah dikenal sejak zaman dahulu. dan penjual menyerahkan barang yang dibeli oleh pembeli tanpa ada satu katapun dari kedua belah pihak (metode mu‟athah). yaitu dengan saling . sebagaimana tradisi telah dijadikan standar/pedoman dalam penentuan metode penyerah-terimaan barang yang diperjual-belikan. akad jual-beli dapat dilakukan dengan metode ucapan lisan dan metode perbuatan Metode ucapan lisan. akan tetapi Allah dan Rasul-Nya hanya menentukan beberapa hukum dengan peniagaan tersebut. maka anda tidak akan bisa berbelanja di supermarket. dan tidak mungkiun para ulama‟ melupakannya. begitu juga perbuatan saling menyerahkan. Hukum Jual Beli Dengan Metode Mu’athah Dan di antara metode jual-beli yang dibenarkan dalam syari‟at ialah dengan cara saling menyerahkan barang yang dimaksud. pembeli menyerahkan uang pembayaran. Dan seandainya mereka menggunakan ijab dan qabul dalam perniagaan mereka. sehingga wajib atas kita untuk mengikuti tradisi yang telah berlaku. dan yang serupa.([4]) Ibnu Qudamah berkata: “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan transaksi jual-beli. Metode perbuatan.penggunaan kata ijab dan qabul. Sebagaimana ucapan ijab dan qabul dianggap sebagai bukti adanya rasa suka sama suka dalam hati. dapat menjadi bukti adanya rasa suka sama suka yang dimaksudkan. bila setiap transaksi yang anda jalankan harus diutarakan dan diucapkan.

yakni tentang perniagaan menjual air minuman seperti air tin dan air R. tanpa adanya ucapan ijab atau qabul dari keduanya. dan seluruh masyarakat telah menganggap metode jual-beli dengan perbuatan semacam ini sebagai akad jual-beli yang jelas dan sah. Tujuan ijab dan qabul ialah untuk menzahir keredhaan/persetujuan dari kedua belah pihak untuk berjual-beli. Firman Allah. Jawapan.adakah diharuskan didalam islam.Sebab saya ingin memulakan perniagaan ini jika diharuskan oleh islam.menyerahkan barang yang dimaksudkan oleh masing-masing dari yang menjalankan akad jualbeli. Jual-beli tidak sah tanpa keredhaan/persetujuan kedua-belah pihak iaitu penjual dan pembeli. wallahu a‟alam bisshawab. baik berupa ucapan atau perbuatan. [1] ) Raudhatut Thalibin. Subulus Salaam. Kifayatul Akhyar. Saya ada satu permasalahan tentang perniagaan.sekian terima kasih. oleh Imam An Nawawi 3/337 [2] ) Ini adalah pendapat yang dianut dalam mazhab Maliky. diantaranya Imam As Syafi‟i dan kebanyakan para pengikutnya mensyaratkan adanya ijab dan qabul dalam akad jual-beli.blogspot. maka terjalinlah (telah sah-lah) transaksi jualbeli dan hibah. baik secara berkesinambungan (antara ucapan ijab dan kabulnya) atau terjadi tenggang waktu antara keduanya.minta ustaz jelaskan. 1/239. [5] ) Al Mughny Oleh Ibnu Qudamah 6/8.wang dimasukkan didalam mesin untuk membeli minuman tersebut. Baca: Raudhatut Thalibin 3/336. Syeikhul Islam berkata dalam kitab al Ikhtiyaraat. hal (121): “Dan setiap transaksi yang dianggap oleh masyarakat sebagai transaksi jual-beli. 1/479.com/2011/03/jual-beli-melalui-mesin.” [3] ) Syarhul Mumti‟ 8/115.tiada penjual dan tiada ijab kabul.Apakah hukumnya .html JUAL-BELI MELALUI MESIN Soalan. Assalamualaikum ustaz. atau hibah.O water yang menggunakan mesin. sehingga menurut mereka jual-beli tidak sah bila tidak ada ada ijab dari penjual dan qabul dari pembeli. 3/4. "Wahai orang-orang beriman. Tafsir Ibnu Katsir. Permasalahan Ijab dan Qabul (2) http://ilmudanulamak. Semoga apa yang dipaparkan di sini bermanfaat bagi kita semua. pedomannya ialah tradisi masyarakat. atau dari salah satunya: Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa urusan transaksi itu mudah. janganlah kamu saling memakan harta . [4] ) Sebagian ulama‟.

tulisan dan sebagainya asalkan menunjukkan keredhaan/persetujuan. Untuk menzahirkan keredhaan tidaklah terhad kepada ucapan sahaja. kemudian mereka berdua berlalu pergi tanpa melafazkan ijab atau qabul). hlm. 2. 2. jual-beli menggunakan mesin sebagaimana yang saudara sebutkan itu hukumnya adalah harus dan sah jika memenuhi syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh Syariat ke atas jual beli (selain syarat ijab dan qabul atau saling meredhai tadi). kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling meredhai antara kamu" (Surah an-Nisa'. Menurut mazhab Syafiie.sesama kamu secara batil. Wallahu a'lam. Tidak menafikan hak khiyar untuk pembeli (hak mengembalikan barang) jika barang yang keluar dari mesin itu rosak atau tidak menepati sebagaimana yang diiklankan. Ia juga boleh dengan perlakuan. 3/289-290. antaranya. Soal-Jawab MLM Syariah. Kerana itu. 3. Tamam al-Minnah. Harga bagi setiap satu produk juga jelas (tiada kesamaran atau kekeliruan). isyarat. menzahirkan keredhaan wajib dengan bahasa atau ucapan iaitulah ijab dari satu pihak (yakni ucapan penawaran) dan qabul dari pihak satu lagi (iaitu ucapan penerimaan). Ahmad Adnan bin Fadzil. ayat 29). Namun menurut jumhur (majoriti) ulamak. Oleh kerana keredhaan asalnya berada dalam hati. 1. maka ia perlu dizahirkan. bahasa badan. Antara yang mentarjihnya ialah Imam al-Baghawi dan Imam Nawawi (kedua-duanya ulamak besar mazhab Syafiie). Syeikh Adil al-'Azzazi. sementara penjual pula memberi barang dan mengambil wang. Barang/produk yang dijual jelas ada di dalam mesin tersebut dan menepati sebagaimana iklan yang terpampang di mesin. 1. 42. Rujukan. Berdasarkan pandangan kedua. . mereka mengharuskan jual-beli secara almuathah (‫ )المعاطاة‬iaitu saling memberi dan menerima di antara penjual dan pembeli tanpa mengeluarkan sebarang ucapan (yakni pembeli memberi wang dan mengambil barang. Pandangan kedua inilah yang rajih. Ini kerana dengan adanya saling memberi dan menerima itu sudah cukup untuk membuktikan kedua mereka redha/bersetuju dengan akad jual beli yang berlaku.

3.JENIS JUAL BELI http://ustazabdulwahab. Hukum jual beli Fuduli :- Mazhab Maliki dan Hanafi Sah sekiranya dipersetujui oleh tuannya dan dengan syarat : (1) sekiranya ia menguntungkan pemilik asal (2) sekiranya tidak menzalimi pemilik dan penjual serta harga .com/muamalat/jenis-jenis-jualbeli/ Jenis-jenis jual beli 1. Jual sarf Jual faedah Jual Jizaf Jual Fuduli Jual Mua’tah Jual Tasi’r Jual ‘Urbun Jual beli Fuduli Takrif –Jual sesuatu yang bukan hak miliknya seperti seseorang itu menjual barangan milik orang lain tanpa diwakilkan atau tanpa izin. 7. Contohnya –seorang suami menjual barang milik isterinya tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu daripada isterinya. 4. 5. 2.wordpress. 6.

Hanbali dan Zahiri Batal walaupun setuju kerana persetujuan pemilik harta mestilah di waktu akad. tanpa lafaz ijab dan qabul.(3) mestilah orang yang mampu melaksanakan urusan jual beli (4) mendapat persetujuan kedua belah pihak selepas akad Mazhab Syafi‟e. Hujah: (1)pengurusan harta orang lain tanpa izinnya adalah ditegah (2)bukan pemiliknya dan bukan pemilik waktu akad itu Jual beli Mua’tah Maksud – pembeli dan penjual bersetuju atas penetapan harga . Bagahawi dan Mutawalli)sah walaupun tidak dibuktikan dengan lafaz . Contohnya seseorang itu mengambil barang dan membayar harga tanpa ada sighah ijab dan qabul seperti jualan layan diri di pasaraya Hukum jual beli Mua’tah :- -Menurut Jumhur Ulamak(Hanafi .Malik dan Hanbali) sah dan harus dilaksanakan. Mestilah dengan lafaz kerana keredaan itu tersembunyi di dalam hati dan orang lain tidak tahu Segelintir pengikut Imam Syafi‟e (Imam Nawawi . Syaratnya ialah pembeli dan penjual saling reda meredai Menurut pendapat Imam Syafi‟e tidak sah kerana tidak ada lafaz ijab dan qabul yang jelas atau secara sindiran.

batal dan tidak sah kerana mengandungi unsure-unsur penipuan dan kezaliman . Contohnya barang keperluan asas seperti beras. . Hukum jual beli Tas’ir :- Menurut Syafi‟e haram sebab bukan miliknya Malik dan Hanafi harus sebab maslahah umum Jual beli U’rbun Menjual sesuatu barang dengan syarat membayar sebahagian dari harga barang sebagai wang pendahuluan dan bakinya dijelaskan kemudian (bayar cengkeram) Sekiranya tidak bersetuju Wang tersebut diberikan kepada penjual.Hukum jual U‟rbun :Jumhur Ulamak Haram . Jual beli Tas’ir Kawalan harga oleh pemerintah dalam menetapkan harga sesuatu barang supaya tidak menzalimi pembeli dan penjual .kerana sudah menjadi adat kepada manusia tidak ada lafaz ijab dan qabul tetapi saling berterimaan di majlis akad.

Namun begitu. pakaian dan alat persekolahan.Nabi sendiri melarang jual beli cara U‟rbun kerana termasuk dalam penipuan dan makan harta orang lain secara haram berlaku penindasan dan hangus sekiranya tidak jadi berurusan Jual Beli Tunai dan Bertangguh 1. Jika bayaran didahulukan dan barang dikemudiankan (mengikut tempoh). Biasanya bagi barang-barang keperluan seharian atau yang tidak mahal harganya. . maka ia dikenali sebagai “al-Salam”. maka ia dinamakan hutanc. orang yang kurang berkemampuan atau rendah daya beli biasanya akan membeli barang-barang keperluan secara bayaran beransur atau dibayar bertempoh mengikut tempoh yang dipersetujui antara penjual dan pembeli. Istilah Bai‟ al-Ajil dalam konsep mu‟amalat di Malaysia bermaksud membeli suatu yang dibayar harganya secara beransur-ansur. AI-Bai’Bi Thamani al-’Ajil ( Jual beli dengan bayaran tunai) 2. Al-Bai’Bi Thamani al-Ajil Oual beli dengan bayaran bertangguh). Al-Bai‟Bi Thaniani al-Ajil adalah termasuk dalam kumpulan “Bai‟ al-Aial” ( jual beli yang bertempoh). Tetapi bagi memiliki barang yang mahal harganya orang akan membeli dengan cara bayaran beransur seperti kereta dan rumah. Kedua-dua jenis jual beli ini berlaku dalam kehidupan seharian. A 1-Bai‟ Bi Thaniani al-Ajil bermaksud: Menangguhkan bayaran sesuatu barang jualan iaitu dengan pembeli menerima serahan barang dan pcnjual akan menerima bayaran dalam tempoh yang ditetapkan sama ada secara sekaligus atau secara beransur. Jika serahan barang jualan didahulukan dan bayaran dikemudiankan. orang akan membeli dengan cara tunai seperti barang-barang makanan..

Bai‟al-Wadhi‟ah: Jual beli pada harga yang lebih rendah daripada harga asal dengan penjual sedia menerima kerugian pada kadar tertentu ( Jual beli pada harga di bawah kos).000 daripada harga pokok. Bai‟ al Isyrak: Jual beli sebahagian barang dengan sebahagian harga asal dengan penjual tidak mengambil sebarang keuntungan.000 . Contohnva:”Saya jual kereta itu dengan harga pokok RM 25. saya jual setengah daripadanya kepada kamu dengan harga RM 10.Jenis-jenis Jual Beli Berdasarkan Harga 1 .” (Harga pokok ialah RM 50.” (harga jualan RM 55. Bai‟al-Murabahah: Jual beli pada harga asal dengan tambahan keuntunean pada kadar tertentu yang kedua-duanya dinyatakan oleh penjual daii dipersetujui olch pembeli.” (harga jualan RM 25. 2.000).000 dan saya mengambil untung RM 5.000).” 5.000 kurang RM 5. 3. Bai‟al-Tauliah: Jual beli pada harga asal dengan penjual tidak mengambil sebarang keuntungan ( Jual beli pada harga kos). Contohnya: “Harga asal tanah itu ialah RM 20.000) 4.000. Contohnya: “Saya jual rumah itu dengan harga RM 45. Contohnya: “Saya jual rumah itu dengan harga pokok RM 50.000.000. Bai‟al-Musawamah: Jual beli dengan kerelaan kedua-dua pihak Penjual dan pembeli tanpa menyatakan keuntungan yang diambil oleh perjual. Contohnya:”Saya jual barang itu kepada kamu dengan harga RM 100.

Peluang pembangunan tidak dapat dimanfaatkan oleh umat Islam. 2. 9. mendapatkan keuntungan dan memberi kepuasan kepada pelanggan. halal dan berkualiti. Tidak dapat menjadi umat yang dihormati dan dicontohi. jujur dan teratur mengikut 4. 11. 7. 12. 3. Tidak berupaya menentang penindasan dan penjajahan. Dakwah Islam tidak dapat dilaksanakan dengan lancar atau terbantut. Mudah menyerah dan mengalah kepada orang lain. 7. 4. 8. Bahan yang dikeluarkan: Baik. Sumber asli tidak dapat dimanfaatkan Kekayaan diterokai oleh orang lain Tidak dapat kuasai ekonomi dunia Taraf kehidupan umat Islam rendah. Matlamat perniagaan: Membina masyarakat sejahtera. 13. . 5. Perjalanan perniagaan: Adil. 3. Peniaga/ pengusaha: Beriman. 2. 5. Akibat mengabaikan perniagaan dikalangan umat Islam 1. mempunyai ilmu dan kemahiran. Mudah terjerumus kepada gejala maksiat dan kekufuran. Tujuan perniagaan: Meningkatkan modal pengeluaran.Etika/ Adab Perniagaan dalam Islam 1. Sumber kewangan: Bebas daripada riba dan halal. 10. Gejala sosial dan jenayah mudah berkembang di dunia Islam. Kemiskinan meluas di dunia Islam. 14. bertaqwa. Umat Islam mundur dan ketinggalan dalam semua lapangan kehidupan dan kemajuan dunia. 6. Kedudukan umat Islam dipandang rendah oleh orang lain. 6. amanah dan dedikasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful