Perang Kurusetra – Karna dan Arjuna

PDF & ePub by fotoselebriti.net
Adipati Karna memandang langit mendung yang menyelimuti padang Kurusetra. Ini saatnya bagiku, begitu pikirnya. Ya! Mulai kemarin Karna bertugas sebagai panglima utama yang memimpin pasukan Kurawa melawan pasukan Pandawa, setelah Bisma dikalahkan dan Dorna gugur. Kemarin Karna dapat mengalahkan Gatotkaca dengan senjata Kontanya, sehingga ksatria Pringgondani itu akhirnya gugur. Dan ini membuat para Kurawa menari-nari gembira. Namun seperti halnya Pandawa yang sedih kehilangan Gatotkaca, Karnapun sedih karena dia harus kehilangan senjata andalannya. Dan hilangnya senjata itu baginya sebuah tanda bahwa inilah waktunya bagi Karna. Mendung berarak-arak menyelimuti padang Kurusetra, seolah-olah hendak memanggil Karna. Suara angin yang menderu meneriakkan nama Karna di telinga dan hati sang Adipati yang masih saja mematung memandangi perang besar yang telah mengorbankan laksaan nyawa manusia. Karna tahu bahwa hari ini dia harus maju melawan saudaranya sendiri, Arjuna. Dan dia ingat pada janji pada ibunya yang baru dia tahu sebelum perang Baratayuda ini pecah, Dewi Kunti, bahwa dia hanya akan melawan hanya satu orang Pandawa, sehingga siapapun yang kalah putra Kunti tetap lima. Karna memilih Arjuna sebagai lawannya, meski dalam hatinya dia tidak ingin melawan adiknya itu karena perlahan rasa kasih sayang itu tumbuh di hati Karna. Sebuah perang di hati Karna telah terjadi sebelum perang Baratayuda. Dan dia harus memilih. Karna yang tangguh lebih memilih menjalankan tugasnya sebagai sebuah karma, meski dia harus membuang dan menghempaskan perasaannya ke ujung dunia.

begitulah janji Karna pada Kunti saat Kunti membuka rahasia bahwa Karna itu adalah anaknya. aku hanya akan melawan satu orang Pandawa saja. Sehingga siapapun yang mati maka anak ibu tetap berjumlah lima". Karna adalah kesatria tangguh yang tidak pernah meneteskan air mata. Hari ini salah satu putra Kunti harus gugur! Dan dewa-dewapun turun untuk menyaksikan perang yang sebenarnya lebih besar dari perang Baratayuda itu sendiri. bahkan saat caci-maki dan penghinaan pada Pandawa yang mengatakan dia hanya anak kusir. namun sesungguhnya hatinya tertunduk lesu. perang ksatria! Kembang-kembang bhakti. Setiap anak panah yang lepas akan menghempaskan beberapa nyawa dan diikuti oleh sorak-sorak pasukan Kurawa yang gembira melihat kedatangan panglima mereka yang sakti. Tetapi ini adalah masalah pilihan. karena setiap teriakan kematian membuat retaknya tali persaudaraan yang mulai tersusun. Dan saat Kunti membuka rahasia itu. Sekali-sekali Karna melepaskan anak panah untuk membuyarkan kepungan pasukan Pandawa yang mencoba menghalanginya. mengelu-elukan setinggi langit. Dan janji itu hadir. tak sanggup dia memandang wajah mendung gelap itu. Meski dia membusungkan dada dan mendongakkan kepalanya. Kehadiran Prabu Kresna dan Prabu Salya sebagai kusir sungguh kejadian yang luar biasa. Angin menderu kencang menerbangkan debu-debu yang tersibak kereta kuda yang membawa Karna menuju ke pusat pertempuran. Duryudana yang telah membuatnya menjadi manusia. Prabu Kresna! Ya. itupun tidak cukup membuatnya meneteskan air mata. Prabu Salya. Saat kereta kuda berjalan. Baru kali ini kesatria sakti ini mengalirkan air mata. begitu juga Karna. Karna terhenyak dari kursinya. dan mengangkatnya dari jurang kehinaan. Dan hari ini hal yang menakutkan itu harus terjadi. Karna baru tahu bahwa dia adalah saudara tua dari Pandawa. Karna segera memandang ke arah yang lain. Lebih dari itu mendung itu menikamkan belati di jantung Karna. saudara seibu yang selama ini tidak dicari-carinya dan menjadi pertanyaan selama hidupnya. Air mata Kunti mengalir deras. Karnalah yang ingin menunjukkan kesetiaannya pada Duryudana dan berjanji untuk membela Kurawa pada perang Baratayudha. Karna memandangi mendung hitam pekat yang menyelimuti padang Kurusetra. untuk segera menjalankan kereta. Karna mulai sadar apa yang akan terjadi dalam pertempuran antara dia dan Arjuna. Karna melihat kereta kuda yang membawa Arjuna berada di kejauhan. Sebuah pertanda bahwa pertempuran ini adalah pertempuran istimewa. menorehkan rasa nyeri yang dalam. Ada dua janji yang membuat mata Karna berkaca-kaca di atas keretanya. seperti juga Pandawa. Duryudana yang selalu membela Karna saat dicaci dan dihina oleh Bima dan Arjuna. Karna tahu bahwa Kurawalah yang banyak membantu dia hingga menjadi kesatria pilih tanding. para Kurawa meneriakkan nama Karna. Dia harus memilih antara persaudaraan dan janji seorang kesatria. yang seolah-olah berduka saat menyaksikan betapa nyawa manusia sudah tidak lagi punya arti. Dia harus membunuh atau terbunuh oleh saudaranya sendiri. janji tentang kesetiaan dan janji akan bhakti yang membuat hatinya semakin merasa sakit. . sedang pasukan Pandawa menjadi kecut. namun teriakan-teriakan itu tidak dapat mengalahkan bisikan angin dan tatapan mendung yang berduka.Dia memandangi senjata-senjatanya sejenak lalu memerintahkan kusir spesialnya. Arjuna. Namun setiap anak panah yang lepas itu juga menghunjamkan rasa sakit di hati Karna. Dan betapa terkejutnya Karna saat tahu siapa yang menjadi kusir Arjuna. amanah dan kesetiaan ditaburkan di hamparan padang Kurusetra. "Ibu. janji. Dan Duryudana tidak pernah meminta apapun.

Hari ini harus tumpah darah seorang kesatria dari tangan saudaranya sendiri. menjadi saksi atas perseteruan dua saudara yang sudah digariskan dan tidak mungkin diubah. Ia tidak ingin berhadapan dan saling membunuh dengan saudaranya. Perang yang sebenarnya lebih dahsyat dari perang Baratayuda itu sendiri. Mereka berdiri mematung di atas kereta kudanya masing-masing. Dewa-dewapun seolah tidak berdaya untuk mengubah putaran nasib yang berjalan. Mereka sama-sama punya senjata yang ampuh dan sakti. Tidak ada satupun mahluk hidup dan bendabenda mati di padang Kurusetra ini berani bergerak. Tidak ada gerakan. Karna dan Arjuna. Padang Kurusetra hening. Sepanjang jalan Arjuna melepaskan anak panah menghempaskan banyak nyawa pasukan Kurawa seperti menyiangi rumput. Kalau boleh dikata merekalah kesatria yang benar-benar kesatria di atas tanah Kurusetra. Karna dan Arjuna saling berhadapan dengan kepala tegak. Inilah perang kesatria.Kereta kuda Arjuna semakin mendekat. dia lebih baik mundur dan menghindar. Karna melihat Arjuna sudah merentangkan busur dan siap untuk memanah. Semuanya diam mematung seperti waktu yang berhenti berdetak. senjata terhunus dan kegagahan kesatria sejati. seakan-akan menjadi saksi kedukaan atas permainan hidup anak manusia. Kedatangan Arjuna seperti kedatangan dewa penolong bagi pasukan Pandawa. Keduanya anak pada dewata. Mereka bersaudara dan sedarah. Mendung dan anginpun ikut terdiam. meniupkan terompet membahana menyelimuti langit padang Kurusetra sebagai tanda bahwa perang harus dimulai. Akhirnya dua kesatria itu berhadapan. Karna juga melihat setetes bening jatuh dari kelopak mata Arjuna. Perang dua kesatria yang sama-sama memegang janji dan teguh atas janjinya. Karna yang sedari tadi sudah siap . kalau dia bisa menghindari pertempuran ini. Karna menunggu sepatah dua patah kata dari mulut Arjuna yang biasanya akan langsung mencaci-maki dan menghinanya sebagai anak kusir. dan bunga-bunga yang terjatuhpun seakan terhenti di langit. kalau Arjuna dari betara Indra maka Karna dari betara Surya. Arjuna. Namun ucapan itu tidak keluar juga dari mulut Arjuna. Karna terkejut dan terharu. Karna dan Arjuna seperti dibangunkan dari lamunannya. namun seperti dewa pencabut nyawa yang menakutkan bagi pasukan Kurawa. Tanpa terasa. bukan satu dua nyawa yang tercabut tetapi lebih dari sepuluh nyawa lepas dari jasadnya. Perang yang akan mengalirkan darah mereka dan menghempaskan salah satu tubuh mereka ke tanah Kurusetra sebagai saksi atas sebuah permainan nasib. Bahkan dewa-dewa di langit tidak lagi menaburkan bunga. dan tidak pernah tahu apakah Arjuna juga tahu bahwa Karna itu adalah kakaknya sendiri. Sebentar lagi perang maha dahsyat akan dimulai. menjadi saksi atas bertemunya dua kesatria yang sama-sama memegang janji atas nama bhakti dan kemanusiaan. Karna hanya bisa memandangi adiknya yang harus dia lawan hari ini. Keduanya kesatria tangguh dan sakti. Sejenak padang Kurusetra sunyi senyap. Kurusetra. Bahkan saat tatapan mata mereka beradu. Tak lama kemudian. Tidak ada suara. Sekali melepaskan anak panah. Namum dalam hati Karna. entah siapa yang telah memiliki keberanian sebesar Mahameru. Kalau saja detik ini ada aba-aba untuk menghentikan perang Baratayuda dari kedua pihak Puntadewa dan Duryudana. namun mereka harus berhadapan untuk saling bunuh demi sebuah tugas seorang kesatria. air bening itupun menetes di pipinya. ia akan bersujud di tanah Kurusetra sebagai rasa syukur yang sangat dalam.

Tak satupun anak panah bisa mengenai Arjuna. Karna ingin membelai Arjuna dulu untuk menumpahkan rasa rindu seorang kakak pada adiknya yang lama tidak bertemu. panah Nagasatra. Entah keraguan macam apa lagi yang menyelimuti. Dengan segala daya upaya Karna menahan gempuran anakanak panah yang terus memburunya sampai akhirnya semuanya runtuh. hanya mahkotanya yang rusak terkena angin yang terbawa senjata Nagasatra. Melihat Arjuna melepaskan anak panah. Dan ketika dia melihat Arjuna juga merentangkan busur. Namun Karna tidak punya pilihan lagi. Arjuna terkejut. terpana dengan ratusan anak panah yang terus-menerus dilepaskan dan membentuk bentangan pelangi dengan berjuta warna. dia terkejut. Karna segera melepaskan anak panahnya juga. namun entah kenapa saat anak panah dilepaskan. namun tidak seperti biasanya senyuman Arjuna yang selalu mengejeknya. Karna memandangi Arjuna yang masih tegak berdiri. meski hanya empat anak panah terasa seperti ribuan anak panah yang menyerang Karna. . Mungkin karena Prabu Salya yang menghentakkan kereta kuda terlalu kencang. tubuhnya terguncang. Karna tidak ingin berlarut-larut dalam kedukaannya yang akan membuatnya lemah. Arjuna tersenyum. saat anak panah Nagastara dilepaskan. Dewa-dewa tergetar melihat hujan anak panah yang dilepaskan Arjuna dan Karna. kini Karna melihat senyuman Arjuna adalah senyum kasih sayang. Anak panah itu berkilau dan mempunyai daya serang yang sangat dahsyat. Benar-benar hebat anak panah yang dilepaskan Arjuna. seperti juga tidak satupun anak panah yang dilepas Arjuna bisa mengenainya. atau mungkin juga karena ada perasaan tidak tega dalam hati kecil Karna. Benar saja. Arjuna menggunakan empat anak panah yang terkenal sakti untuk melawannya. Jeritan kematianpun memenuhi tempat pertempuran sebagai tanda bahwa tidak boleh ada yang berada di dekat tempat itu. Melihat Arjuna selalu menggunakan senjata-senjata saktinya yang seolah-oleh tiada habisnya itu. Boleh dikata. Hatinya memberontak. setiap anak panah itu dikeluarkan dapat dipastikan akan memakan korban jiwa. Mereka tak mampu bergerak. angin Kurusetra mempermainkan rambut mereka seperti permainan nasib mereka. kemudian dia merentangkan busur untuk memulai kembali perang tanding ini.sepertinya menunggu Arjuna memulai. Bagai hujan anak panah yang sangat deras yang datang dari dua arah. namun sang kusir Kresna sepertinya mengenal senjata itu dan entah bagaimana caranya Kresna mengendalikan kereta kudanya hingga Arjuna terlepas dari maut. Entah karena kelelahan atau kehabisan anak panah. anak-anak panah itu bertumbukan di angkasa. Seperti suara dewa kematian yang sangat menakutkan. Anak-anak panah itu bisa menggempur musuh-musuhnya dari segala arah. Tetapi Karna tidak dapat berbuat banyak. Karna membalas senyum Arjuna. Karna tersentak. tangan Karna bergetar. Kerinduan akan berkumpul dengan para saudaranya menjadi sebuah ledakan bom atom dalam jiwa Karna. tiba-tiba hujan anak panah itu terhenti. Karna segera mengeluarkan senjata andalannya. Anak panah sudah dilepaskan. dia harus segera menyelesaikan perang ini apapun yang terjadi. rupanya mahkota di kepalanya rusak akibat gempuran anak panah itu. Karna terkejut. namun semua itu harus dibuang jauh-jauh demi sebuah janji kesatria. Dibidikkan anak panah itu ke leher Arjuna. ada pula yang melenceng dan mengenai para prajurit yang kebetulan masih ada di sekitar mereka. Kini dua kesatria sama-sama telah kehilangan mahkotanya. ada yang patah dan jatuh. Seandainya boleh. suaranya menderu menggocangkan padang Kurusetra.

Janji bhakti seorang kesatria telah membawa Karna berdiri di atas kereta kudanya sebagai panglima perang yang tangguh seperti mahameru. Mulai masa kecilnya dimana dia menjadi anak seorang kusir bernama Adirata. Hanya janji seorang kesatria saja yang membuat Karna masih berani tegak. Tidak ada ketakutan seperti itu bagi Karna. Karna teringat betapa banyak dia sudah menghempaskan nyawa di tanah kering Kurusetra. dan Karna sadar bahwa kutukan itu akan segera terjadi. . dan sebanyak itu juga air mata darah menetes di bilik hatinya. Dalam dendam itu juga. Sehingga lagu rindu yang dinyanyikan hanya menjadi debu-debu yang selalu luruh ditelan angin padang Kurusetra. Tetapi Duryudana selalu membantunya dan memberinya semangat hingga dia masih bisa bertahan. Dan bagai tiada habisnya anak-anak panah itu kejar-mengejar. pertama oleh Parasurama yang mengetahui Karna berbohong menjadi brahmana. Meski setiap permusuhan itu sebenarnya ada setitik rasa sayang yang tak pernah terungkapkan. Karna tidak takut pada kedua kutukan itu. tetapi dari hatinya yang tertutup awan gelap dendam. Kematianpun bagi Karna lebih baik dari pada menjadi seorang pengecut yang lari di ketiak ibunya atau di bawah kolong bangku. Setiap anak panah yang dilepaskan menghunjam tanah kering padang Kurusetra. dan sampai akhirnya dia juga membunuh Gatutkaca. Namun ada ketakutan yang berbeda dalam hati Karna. Bahkan dia tidak akan takut dan akan tetap tegak meski harus melawan dewata sekalipun. Permusuhan yang selalu membawa dendam. Di atas janji itulah Karna berdiri dan hatinya menyanyikan lagu rindu. dan baru dia merasakan bahwa awan gelap itu telah membuat hatinya semakin sakit dan tergelepar. meskipun akhirnya dia kehilangan sejata andalannya Kota. Sambil terus menghalang anak-anak panah yang tiada habisnya dari Arjuna. Mungkin darisinilah pribadi seorang Karna mulai terbentuk. terlebih saat Karna melihat senyum hormat Arjuna sebelum pertempuran ini. Kutukan yang akan membuat Karna akan lupa pada semua ilmunya pada saat pertempuran terbesar. Janji yang diucapkan bahwa dia harus memainkan perannya dalam perang Baratayuda agar kekacauankekacauan sebelum perang ini bisa dimusnahkan. berlomba untuk menyebar maut dan saling menjatuhkan. anak kesayangan Arjuna. dan kedua ketika Karna menabrak mati seekor sapi milik brahmana. Teringat juga betapa dia telah ikut membantu para Kurawa untuk membunuh Abimanyu. Padang Kurusetra bagai kuburan anak panah yang patah. Dan selamanya dendam akan melahirkan kekacauan-kekacauan . Ada bibit permusuhan antara Karna dan Pandawa. ketakutan akan runtuhnya sebuah tali persaudaraan yang mulai tumbuh. Karna terombangambing dalam lamunannya. khususnya Bima dan Arjuna. Janji bhakti itu juga yang telah merebut kerinduan dari hati Karna. Karna harus menerima kutukan dari dua orang brahmana. Teringat juga Karna bahwa benih-benih permusuhan antara dia dan Pandawa ternyata membuat Karna harus menjalani kehidupan yang keras. melahirkan tangisan panjang kedukaan. Air mata tidak keluar dari matanya. anak kesayangan Bima. dan dia menjadi obyek penghinaan. dan penilaian-penilaian mulai dituliskan. Nasib seakan sebuah permainan dadu yang berputar dan mengeluarkan angka-angka yang tak pernah bisa ditebak selain oleh keberuntungan. dan sebuah permainan dewata atas nasib manusia. dan ini yang membuat Karna semakin berduka.Pertempuran antara Karna dan Arjuna masih berlangsung seru. membuat Karna harus melalui hidupnya dengan membawa dendamnya. senyum hormat seorang saudara. Apa yang dia lakukan terasa sangat berat dibandingkan kesalahan para Pandawa yang telah menghinanya. mayat manusia yang bergelimpangan.

Rupanya memang pertempuran ini harus selesai hari ini agar tidak terjadi pertumpahan darah lebih banyak lagi. Pasopati. Inilah yang dipegang oleh Karna. hanya kesaktian dan keterampilan Karna saja yang selalu bisa menghalau semua serangan Arjuna. Karna selalu menepisnya dengan menghunus kembali busurnya dan melepaskan anak-anak panah mengimbangi serbuan anak panah yang terus-menerus datang dari arah Arjuna.Bumi gonjang ganjing langit kelap kelip katon lir gincangingalir risang maweh gandrung sabarang kadulu dunyo wukir monyag manyig "Bumi berguncang. Dalam perannya ini. dia harus menjalankan perannya sebagai lawan kebaikan Pandawa dan dia sadar dengan perannya ini maka perang Baratayudha akan terjadi. Karna melihat Kresna memberi tanda agar Arjuna mengeluarkan Pasopati. Untuk memancing agar Arjuna mau mengeluarkan senjata saktinya. dan kebajikan akan kembali terwujud setelahnya. meski ada sebersit keinginan untuk mengungkapkan rasa sayang seorang saudara. Nagasatrapun sudah terlepas dan tidak mampu melukai Arjuna yang dilindungi kekuatan sakti Kresna. Dan membuat pertempuran berlangsung lama hingga matahari mulai beranjak ke barat. terlihat seperti orang yang cinta melihat segala kehormatan dan keindahan dunia. Konta dan Nagasatra. Arjuna yang masih mempunyai Pasopati yang sangat sakti belum juga mau melepaskan senjata itu. Namun dia juga melihat Kresna dan Salya juga gelisah. Arjuna terkejut. gunung pun berantakan. baju perang sakti. Karna gelisah. hanya darah yang boleh jatuh dan . Tidak semua orang harus menjadi pahlawan seperti yang diinginkan oleh banyak orang. Karna segera mengeluarkan kesaktian yang mampu membuat anak panah yang dilepasnya mampu menggandakan diri sehingga menjadi sangat banyak. Namun itulah permainan hidup yang harus dilakoni (baca: dijalankan) dan terkadang manusia harus dapat memainkan perannya dengan sebuah kesadaran bahwa dia adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan untuk menciptakan kehidupan masa depan. Dan benar. Karna harus melakukan yang terbaik meski dia akan dikenang sebagai musuh Pandawa yang menjadi simbol kebaikan. Tanpa terasa ada air bening menetes di pipi Karna. ataukah memang Arjuna seperti halnya Karna sudah tahu bahwa mereka berdua adalah anak-anak Kunti. Entah mengapa Arjuna juga tidak segera melepaskan senjata andalannya. Kini tak ada lagi senjata sakti. Dalam kesadarannya itu. Karena sebuah kehormatan dan kesetiaan janji kesatria. dan siangpun mulai meninggalkan padang Kurusetra. Dan yang mengherankan Karna. padahal Karna sudah kehilangan semua senjata saktinya. langit berkilat. Konta. Namun Karna siap untuk menghadapinya. juga telah lepas dan membunuh Gatutkaca yang ditubuhnya tersimpan sarung Konta. Entah apa yang ada dalam benak Arjuna. senjata sakti yang bisa membunuh siapapun yang diinginkan meskipun mempunyai kesaktian apapun. Baju perang sakti dan anting-anting adalah senjata yang membuat Karna tidak akan bia dilukai dengan sanjata apapun. maka hancurlah gunung persaudaraan. Namun dengan kesaktian yang dimiliki Arjuna juga mampu mengimbangi. sayang itu diberikan kepada seorang pengemis yang ternyata Betara Indra. Hanya setetes dan cepat sekali kering diterpa angin Kurusetra yang seolah-olah tidak menginjinkan ada air mata." Sebuah ungkapan yang tidak bisa dibantah dalam pertempuran antara Karna dan Arjuna. namun Karna juga melihat Arjuna ragu-ragu.

namun semuanya rontok sia-sia. mengapa engkau ragu-ragu? Bukankah Karna yang telah ikut mengeroyok Abimayu sehingga anakmu itu tewas. baru saja dilepaskan suaranya menderu dan terdengar dari jauh hingga suara anginpun seolah-olah mati. Dan saat itu juga kutukan pada Karna terjadi. debu-debu berhenti bergerak dan gunung-gunung tertunduk. Darah kesatria yang akan membuat padang Kurusetra menjadi hidup sepanjang jaman. Dengan keberanian dan keyakinan bahwa dia harus bertahan dengan segala ilmu dan kesaktiannya. Dan meski sudah memegang Pasopati. Saat itu Karna tidak berada di atas keretanya yang dikawal oleh Salya.Karna mencoba tersenyum. Semua senjata yang ada dilepaskan untuk menahan lajunya Pasopati. Dan benar juga. Karna melihat itu." Kresna mencoba menghilangkan keraguan yang ada dalam hati Arjuna. dan juga Karna yang telah membunuh Gatutkaca dengan senjata Konta. Mendengar itu Arjuna tersentak dan melepaskan kembali Pasopati. Karna melihat juga mata Arjuna sempat terpejam sebentar dan tertunduk seperti sebuah isyarat bahwa Arjuna memang tidak punya pilihan lagi. Karna yang sedang mencoba mengeluarkan roda kereta kuda terkejut mendengar deru suara Pasopati yang menuju ke arahnya. Sekalian ingin melihat apakah keraguan Arjuna itu disebabkan Arjuna sudah tahu bahwa Karna sebenarnya saudara tua Pandawa. satu-satunya yang tersisa yang dimilikinya. luka yang bagi Karna jauh lebih menyakitkan dari luka karena senjata Pasopati atau bahkan lebih menyakitkan dari kematian. Senyuman Karna seperti sebuah persetujuan yang membuat Arjuna melepaskan panah Pasopati. Namun itu membuat kereta terperosok lobang yang menganga. Karna ini mencoba kesaktian senjata Arjuna yang terkenal itu. "Arjuna. Senjata Pasopati tidak menuju tubuh Karna.membasahi tanah Kurusetra. mengapa Arjuna tidak juga melepaskan Pasopati. namun Karna mendengarnya dengan jelas. Tidak ada lagi kesempatan yang lebih baik. Pasopati benar-benar senjata yang sangat dahsyat. Karna lupa pada semua kesaktiannya. Melihat itu semua hati Karna semakin terluka. Karna mencoba melawan raungan Pasopati. Bagai raungan suara hati yang terhentak oleh sunyinya kasih sayang dan gelapnya sebuah bhakti. Dia segera menghadapinya dengan mengembangkan senyumnya. tetapi meleset menyambar roda kereta. Karna juga bertanya-tanya. Lalu Karna mencoba menggunakan kesaktian. . lepaskan Pasopati!" Meski Kresna mengatakan itu dengan lirih pada Arjuna dan jarak kereta kuda mereka yang agak jauh. Dia sadar inilah saatnya darahnya membasahi pada Kurusetra sebagai tanda bahwa kejahatan-kejahatan Kurawa harus terhenti sampai disini dan kebaikan-kebaikan Pandawa akan segera berkembang dimulai dari Kurusetra. Entah ini keberuntungan atau mungkin karena Arjuna masih belum tega membunuh Karna. Roda kereta amblas. Arjuna masih saja melepas anak-anak panah yang lain seolah-olah menunggu persetujuan dari Karna. dan kesigapan Salya membuat roda kereta tidak kena panah sakti Pasopati dan terselamatkan. Pasopati kembali melesat meraung-raung di langit Kurusetra. dan Arjuna menghentikan serangan Pasopati dan memegangnya sambil memandangi Karna yang turun dari kereta dan hendak mengangkat roda kereta. Karna mengangkat kedua tanggannya untuk melindungi tubuhnya dan pasrah pada apapun yang terjadi karena benar-benar dia tidak sanggup melakukan apa-apa. akhirnya Arjuna memegang panah Pasopati yang sangat terkenal dahsyat. "Arjuna.

Matahari seolah enggan bersinar.Karna mati oleh senjata Arjuna. dan Karna sudah memilihnya. Mati dalam pertarungannya yang membuat dia berada dipersimpangan antara kekuatan persaudaraan dan janji seorang kesatria. Layar panggungpun ditutup dan lampu-lampunya dihidupkan kembali. namun membuat Karna terus tersenyum karena dia sudah menyelesaikan perannya dalam perang kesatria. Anginpun diam terpaku. Padang Kurusetra menjadi sunyi senyap. Kematian yang meski tidak diiringi isak tangis. Perang telah usai.net . namun perang-perang yang lain yang lebih besar masih selalu menunggu dalam setiap langkah anak manusia. Karna memilih mati sebagai kesatria yang menjadi titik tonggak menangnya kebajikan atas kejahatan. SELESAI PDF & ePub by fotoselebriti.