P. 1
Penatalaksanaan Defisiensi Vitamin A

Penatalaksanaan Defisiensi Vitamin A

|Views: 183|Likes:
Published by mars_evianta

More info:

Published by: mars_evianta on Jan 12, 2014
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2014

pdf

text

original

Penatalaksanaan defisiensi vitamin A: (1) Pemberian vitamin A dosis tinggi secara berkala Kapsul vitamin A dosis tinggi berisi 200

000 SI vitamin A dan 40 Sl vitamin E sebagai antioksida di dalam larutan menjadi kapsul dibuat dari gelatin, jika ditelan dalam jangka waktu 10 menit dari dalam saluran pencernaan, gelatin tersebut akan tercerna. Golongan sasaran program pengobatan dan pencegahan kekurangan vitamin A dalam kapsul dosis tinggi yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini Direktorat Bina Gizi Masyarakat adalah anak-anak penderita xerophthalmia, kekurangan gizi, terkena campak , semua anak yang antara 1 - 5 tahun dan ibu-ibu yang baru melahirkan atau dalam masa nifas. Pemberian kapsul dosis tinggi tidak dilakukan pada ibu hamil karena diduga dapat menimbulkan aktbat negatif pada bayi yang akan dilahirkan. Secara serempak untuk anak balita pembenan kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada bulan Februari dan Agustus, hal ini dilaksanakan untuk mempermudah administrasi dan memningkatkan keberhasilan dalam pemberian karena para ibu-ibu sangat mudah mengingatnya. Jadwal dosis pemberian vitamin A 200 000 IV ini sesuai dengan anjuran WHO. (2) Fortifikasi bahan makanan dengan vitamin A Menurut Bavernferd (1978) disebutkan bahwa persyaratan yang harus dipunyai oleh bahan rnakan sehingga dapat dilakukan fortifikasi yang berhasil adalah sebagai berikut: a. Zat gizi yang ditambahkan adalah gizi yang kurang dan kebutuhan sehari-hari b. Bahan makanan tersebut dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk yang memerlukan zat gizi c. Bahan makanan tersebut proses produksinya harus disentralisir pada beberapa pabrik saja d. Bahan makanan tersebut tidak mengalami perubahan organoleptik setelah fortifikasi dilakukan e. Bahan makanan tidak mengalami perubahan harga yang berarti f. Zat gizi yang ditambahkan tidak cepat rusak (3) Penyuluhan gizi Tujuan utama dan penyuluhan gizi adalah terjadinya perubahan tingkah laku keluarga, sehingga konsumsi makanan sumber vitamin A untuk anak balita terutama sayuran dan buah-buahan, serta dapat mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh. Dalam jangka panjang kesadaran gizi masyarakat merupakan tumpuan utama terjadinya perbaikan gizi yang mendasar. Penyuluhan gizi ini dilakukan terus-menerus dan lintas sektoral berbagai hidangan. Hal ini dilaksanakan melalui bidang pendidikan, media masa, diskusi-diskusi ilmiah, penyuluhan masyarakat langsung dan posyandu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->