1

DAFTAR ISI
MATERI AJAR KRIDA – I
KRIDA PEMANDU WISATA
Halaman
Daftar isi 1
I PESERTA PELATIHAN 2
II WAKTU PELATIHAN 2
III
PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI
PESERTA PELATIHAN
2
IV
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
V
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
VI TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM 2
VII TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 2
VIII INDIKATOR KEBERHASILAN 2
IX RANCANGAN MATERI TOT 3
1. PENGERTIAN KRIDA PEMANDU WISATA


3






2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK)
KRIDA PEMANDU WISATA
3
3. MATERI AJAR SKK KRIDA PEMANDU WISATA 3
3.1. SKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata 3
3.2. SKK Penyusunan Program Perjalanan Wisata
(tour planner)
13
3.3. SKK Pemanduan Perjalanan Wisata (tour
guiding)
27
3.4. SKK Pemimpin Perjalanan Wisata (tour
leader)
40



2

I. PESERTA PELATIHAN
Peserta Diklat Saka Pariwisata adalah :
 Pengurus KWARDA
 Anggota Pramuka Pandega
 Staff di lingkungan Dinas Pariwisata Kota dan Daerah.

II. WAKTU PELATIHAN
2 hari (Krida Pemandu Wisata dibagi ke dalam 4 Sesi )

III. PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI PESERTA
PELATIHAN
1) Mereka yang memenuhi persyaratan sebagai peserta
(butir ke 1)
2) Mereka yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang
Pariwisata dan atau Pramuka
3) Bersedia mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir
4) Bersedia menjadi tutor dalam kegiatan pengembangan
Saka Pariwisata di daerahnya

IV. TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI PELATIHAN
Kemampuan yang diharapkan peserta setelah selesai
mengikuti pelatihan ini adalah:
1) Peserta mampu memahami Konsep Krida Pemandu Wisata
2) Peserta memiliki kecakapan Kepramukaan dalam
penyelenggaraan dan pemanduan perjalanan wisata,
3) Peserta memahami dan menguasai 4 SSK dalam Krida
Pemandu Wisata yaitu: SKK Pengetahuan Daya Tarik
Wisata, SKK Penyusunan Program Perjalanan Wisata (tour
planner), SKK Pemanduan Perjalanan Wisata (tour guide),
SKK Pemimpin Perjalanan Wisata (tour leader)

V. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Peserta pelatihan Saka Pariwisata Krida Pemandu Wisata cakap
dan terampil untuk berperan dalam penyelenggaraan dan
pemanduan perjalanan wisata.

VI. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1) Mampu menguasai pengetahuan tentang Daya Tarik
Wisata
2) Mampu menyusun Program Perjalanan Wisata
3) Mampu bertindak sebagai Pemandu Perjalanan Wisata
4) Mampu menjadi Pemimpin Perjalanan Wisata

VII. INDIKATOR KEBERHASILAN
Setelah menyelesaikan mata pendidikan dan latihan dalam
acara pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu :
1) Menjelaskan pengetahuan tentang Daya Tarik Wisata
2) Membuat simulasi Program Perjalanan Wisata
3) Mempraktekkan peran sebagai Pemandu Perjalanan Wisata
4) Mempraktekkan peran sebagai Pemimpin Perjalanan
Wisata
VIII. RANCANGAN MATERI TOT

3

MATERI AJAR KRIDA – I
KRIDA PEMANDU WISATA

1.1. PENGERTIAN
Krida Pemandu Wisata adalah salah satu Krida Saka
Pariwisata, yang bertujuan memberikan kecakapan bagi
Pramuka untuk dapat berperan dalam penyelenggaraan dan
pemanduan perjalanan wisata.
1.2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK) KRIDA
PEMANDU WISATA
Krida Pemandu Wisata, terdiri atas4 (empat) SKK :
1) SKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata
2) SKK Penyusunan Program Perjalanan Wisata (tour
planner)
3) SKK Pemanduan Perjalanan Wisata (tour guide)
4) SKK Pemimpin Perjalanan Wisata (tour leader)
1.3. MATERI AJAR KRIDA PEMANDU WISATA

1.3.1. SKK PENGETAHUAN DAYA TARIK WISATA
1.3.1. Pengertian:
SKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata merupakan syarat
kecakapan khusus yang berkaitan dengan kemampuan
individu anggota pramuka untuk dapat memiliki wawasan
dan pengetahuan mengenai keragaman daya tarik wisata
dan pengelolaan/ pemanfaatannya sebagai bagian dari
syarat kecakapan khusus untuk pemanduan wisata.
1.3.2. Tujuan:
Agar anggota pramuka memiliki bekal dan materi
mengenai daya tarik wisata sebagai dasar pengembangan
paket wisata dan pemanduan wisata.
1.3.3. Materi Ajar Skk Pengetahuan Daya Tarik Wisata
Materi ajar SKK pengetahuan daya tarik wisata mencakup:
A. Pengertian Daya Tarik Wisata
B. Pengetahuan tentang jenis-jenis daya tarik wisata (Alam,
Budaya, dan Buatan)
C. Pengetahuan tentang karakteristik dan keunikan suatu
daya tarik wisata
D. Pengetahuan tentang jenis kegiatan wisata yang dapat
dikembangkan dari jenis daya tarik wisata.
E. Pengetahuan tentang jenis-jenis wisata (wisata bahari,
wisata budaya, wisata kuliner, wisata religi dsb).
4


PENJABARAN MATERI AJAR:
A. PENGERTIAN DAYA TARIK WISATA
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
1) PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan arti daya tarik wisata dan jenis
daya tarik wisata
2) PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat memberikan contoh arti daya tarik wisata
(minimal
3) PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan posisi dan kedudukan daya tarik
wisata dalam destinasi pariwisata
4) PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat memberikan contoh posisi dan kedudukan
daya tarik wisata dalam destinasi pariwisata



A.2. Materi
Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki
keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan
manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan
wisatawan.
B. PENGETAHUAN TENTANG JENIS-JENIS DAYA TARIK WISATA
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaanmateri ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan arti daya tarik wisata dan jenis daya
tarik wisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Mengerti dan dapat memberikan contoh masing-
masing jenis daya tarik wisata (minimal 3)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Mengerti dan dapat menjelaskan contoh–contoh
masing-masing jenis daya tarik wisata (minimal 2)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan daya tarik wisata yang ada di
daerahnya.

5

B.2. Materi
Jenis-Jenis Daya Tarik Wisata terdiri dari 3 (tiga) kategori:
1) Daya tarik wisata alam adalah daya tarik wisata yang
berupa keanekaragaman dan keunikan lingkungan
alam.Daya tarik wisata alam selanjutnya dapat
dijabarkan, meliputi:
a) Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi
keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam
di wilayah perairan laut, yang berupa antara lain:
o bentang pesisir pantai; contoh : pantai Kuta,
pantai Pangandaran, pantai Gerupuk – Aan,
dan sebagainya.
o bentang laut (baik perairan di sekitar pesisir
pantai maupun lepas pantai yang
menjangkau jarak tertentu yang memiliki
potensi bahari);contoh : perairan laut
Kepulauan Seribu, perairan laut kepulauan
Wakatobi, dan sebagainya
o kolam air dan dasar laut;contoh : taman laut
Bunaken, taman laut Wakataboi, taman
laut dan gugusan pulau-pulau kecil Raja
Ampat, atol pulau Kakaban, dan
sebagainya.
b) Daya tarik wisata alam yang berbasis potensi
keanekaragaman dan keunikan lingkungan alam
di wilayah daratan, yang berupa antara lain:
o pegunungan dan hutan alam/ taman
nasional/ taman wisata alam/ taman hutan
raya (Contoh : TN gunung Rinjani, TN
Komodo, TN Bromo – Tengger – Semeru,
dsbnya).
o perairan sungai dan danau (contoh : danau
Toba, danau Maninjau, danau Sentani,
sungai Musi, sungai Mahakam, situ
Patengan).
o perkebunan; contoh : agro wisata Gunung
Mas,dsbnya.
o pertanian; contoh : area persawahan
Jatiluwih, dsbya.
o bentang alam khusus(gua, karst, padang
pasir, dan sejenisnya); contoh : Karst
Gunung Kidul, Karst Maros.
2) Daya tarik wisata budaya adalah daya tarik wisata
berupa hasil olah cipta, karsa, dan rasa manusia
sebagai makhluk budaya. Daya tarik wisata budaya
selanjutnya dapat dijabarkan, meliputi:
a) Daya tarik wisata budaya yang bersifat berujud
(tangible); yang berupa antara lain :
o cagar budaya; yang meliputi : bangunan atau
komplek percandian, keraton, situs
purbakala/ artefak historis (a.l: tugu/
monumen), museum, kota tua, dan
sejenisnya. Contoh : Candi Borobudur,
Keraton Kasunanan Surakarta, Komplek
6

Trowulan, Monumen Tugu Pahlawan,
Museum Nasional, Kuta Tua Jakarta – Sunda
Kelapa, dsbnya.
o perkampungan tradisional dengan adat dan
tradisi budaya masyarakat yang khas;
(misalnya: kampung Naga, perkampungan
suku Badui, desa Sade, desa Penglipuran)
o museum, galeri seni, rumah budaya, dll.
b) Daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak
berujud (intangible), yang berupa antara lain:
o Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan
aktifitas budaya masyara-kat yang khas di
suatu area/ tempat; (misalnya: Sekaten,
Karapan sapi, Pasola, pemakaman Toraja,
Ngaben, pasar terapung, Kuin, dan
sejenisnya).
o Kesenian; contoh : kesenian angklung,
kesenian sasando, kesenian reog, dsb.
3) Daya tarik wisata hasil buatan manusia adalah daya
tarik wisata khusus yang merupakan kreasi artifisial
(artificially created) dan kegiatan-kegiatan manusia
lainnya di luar ranah wisata alam dan wisata budaya.
Daya tarik wisata hasil buatan manusia/ khusus,
selanjutnya dapat dijabarkan meliputi antara lain:
 fasilitas rekreasi dan hiburan/taman bertema;
yaitu fasilitas yang berhubungan dengan
motivasi untuk rekreasi, hiburan/ entertainment
maupun penyaluran hobby; contoh: taman
bertema (theme park)/ taman hiburan (kawasan
Trans Studio, TI Jaya Ancol, Taman Mini
Indonesia Indah).
 fasilitas peristirahatan terpadu (integrated
resort); yaitu kawasan peristirahatan dengan
komponen pendukungnya yang membentuk
kawasan terpadu; misalnya :kawasan Nusa Dua
resort, kawasan Tanjung Lesung, dan
sebagainya.
 fasilitas rekreasi dan olah raga, misalnya:
kawasan rekreasi dan olahraga (kawasan
Senayan), kawasan padang golf, area sirkuit olah
raga.

C. KARAKTERISTIK DAN KEUNIKAN SUATU DAYA TARIK
WISATA
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan karakteristik dan nilai keunikan
suatu daya tarik wisata (minimal 2)

7

C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan karakteristik dan nilai keunikan
suatu daya tarik wisata (minimal 3)
E. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan karakteristik dan nilai keunikan
suatu daya tarik wisata yang ada di daerahnya

C.2. Materi
1) Pengertian Karakteristik dan Keunikan suatu Daya
Tarik Wisata
Karakteristik dan Keunikan suatu Daya Tarik Wisata
adalah ciri khas yang dimiliki oleh sebuah objek wisata
yang menjadi tujuan utama wisatawan untuk
menikmatinya dan sebagai pembeda dengan objek
wisata yang lainnya.
2) Contoh beberapa Jenis karakteristik dan keunikan
daya tarik wisata
a) Wisata Bahari
Keunikan atau ciri khas yang dimiliki sebuah wisata
bahari. Misalnya keunikan wisata bahari Raja Ampat
adalah memiliki gugusan pulau-pulau kecil, pantai
yang masih terjaga keasliannya dan keindahan bawah
laut yang masih alami (untuk snorkeling/penyelaman).

b) Wisata Budaya
Keunikan atau ciri khas yang dimiliki sebuah Wisata
Budaya. Misalnya paket wista budaya di Yogyakarta
yang memiliki keunikan yang khas dibandingkan
dengan daerah lain. Wisata budaya di Yogyakarta ini
mengenalkan sejarah dan budaya Yogyakarta yang
meliputi tour di Kraton Yogyakarta, Puro Pakualaman,
Istana Air Tamansari, Makam Kotagede, Makam
Imogiri, dll.
c) Wisata Kuliner
Keunikan atau ciri khas yang dimiliki sebuah Wisata
Kuliner. Misalnya menikmati makanan khas Yogyakarta
yaitu gudeg di sepanjang jalan Malioboro sambil
menikmati suasana Yogyakarta di malam hari.
d) Wisata Religi
Keunikan atau ciri khas yang dimiliki sebuah Wisata
Religi. Misalnya paket wisata mengunjungi tempat-
tempat yang memiliki nilai sejarah religi seperti
Sendang Sono, Makam Wali Songo, Candi Borobudur,
Masjid Demak, Masjid Kudus, dan lain sebagainya.

8

D. PENGETAHUAN TENTANG KEGIATAN WISATA YANG DAPAT
DIKEMBANGKAN DARI SETIAP JENIS DAYA TARIK WISATA.
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan jenis-jenis kegiatan wisata yang
dapat dikembangkan dari setiap jenis daya tarik wisata
(minimal 2)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan jenis-jenis kegiatan wisata yang
dapat dikembangkan dari setiap jenis daya tarik wisata
(minimal 3)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan jenis-jenis kegiatan wisata yang
dapat dikembangkan dari setiap jenis daya tarik wisata
yang ada di daerahnya

D.2. Materi
1) Pengertian Kegiatan Wisata
Kegiatan Wisata adalah usaha yang bertujuan untuk
menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan
atau mengusahakan objek dan daya tarik wisata,
usaha sarana pariwisata, dan usaha lain yang terkait di
bidang tersebut.
2) Contoh beberapa Jenis kegiatan wisata
a) Daya tarik wisata Alam Bahari
Jenis kegiatan yang bisa dikembangkan terhadap daya
tarik wisata Bahari antara lain:
 Water sport / olahraga air (volli pantai, bola pantai,
jetski, selancar, layar, menyelam/ dibing,
snorkeling, coral viewing, dll)
 Water game / permainan air (parasailing,
snorkeling, diving, memancing, banana boat,
paragliding, dll)
b) Daya tarik wisata Alam Hutan dan pegunungan
Jenis kegiatan yang bisa dikembangkan terhadap daya
tarik wisata alam hutan dan pegunungan antara lain:
 Hiking, trekking,
 River rafting
 Bird watching
 Mountainering
 Fotografi
 Dsb

9

c) Daya tarik wisata Budaya peninggalan sejarah
Jenis kegiatan yang bisa dikembangkan terhadap daya
wisata Budaya peninggalan sejarah antara lain:
 Fotografi
 Apresiasi keunikan artefak
 Penelitian arkeologis, dsb

E. PENGETAHUAN TENTANG JENIS TEMAWISATA
E.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan tema wisata (minimal 2)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan tema wisata (minimal 5)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan jenis tema wisata di daerahnya




E.2. Materi
Pengertian jenis tema wisata adalah pengelompokan/
penggolongan tipe pariwisata berdasarkan sumberdaya
wisatanya.
1) Pengertian beberapa Jenis Wisata
a) Wisata Budaya
Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk
memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan
mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain
atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan
adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni
mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan
kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam
kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari,
seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang
bermotif kesejarahan dan sebagainya.
b) Wisata Maritim atau Bahari
Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga
di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti
memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan
pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung,
melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah di
bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang
banyak dilakukan didaerah–daerah atau negara–negara
maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya.
Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki
potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–pulau
Seribu di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan
10

pulau–pulau kecil disekitarnya, taman laut di Kepulauan
Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula wisata tirta.
c) Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)
Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan
oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan
usaha–usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau
daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah
pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi
oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak
dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam
kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau
marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna
yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah
dan masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan
kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di
pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa
yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat
di tempat–tempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang
telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan
Kebun Raya Eka Karya.
d) Wisata Konvensi
Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang
dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa
ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan
fasilitas bangunan dengan ruangan–ruangan tempat
bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah,
konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat
nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya
memiliki Pusat Kongres Internasiona (International
Convention Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC
(Philippine International Convention Center) di Manila dan
Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta
untuk tempat penyelenggaraan sidang–sidang pertemuan
besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik
yang ada di Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha dengan
keras untuk menarik organisasi atau badan–badan nasional
maupun internasional untuk mengadakan persidangan
mereka di pusat konvensi ini dengan menyediakan fasilitas
akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi
yang menarik serta menyajikan program–program atraksi
yang menggiurkan.
e) Wisata Pertanian (Agrowisata)
Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah
pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–
proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan
sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat
mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi
maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya
tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan
berbagai jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar
perkebunan yang dikunjungi.
f) Wisata Buru
Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang
memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang
dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai
agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam
bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan,
11

seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah,
singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerah–daerah
yang memang disediakan untuk berburu macan, badak dan
sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah membuka
wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana
wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan.
g) Wisata Ziarah
Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama,
sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok
dalam masyarakat.Wisata ziarah banyak dilakukan oleh
perorangan atau rombongan ke tempat–tempat suci, ke
makam–makam orang besar atau pemimpin yang
diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat,
tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia
ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan
dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk
memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan
tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan
kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang–orang
Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana
Vatikan di Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–
orang Budha ke tempat–tempat suci agama Budha di India,
Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat–
tempat suci atau keramat yang dikunjungi oleh umat–umat
beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur,
Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa
Tengah, makam Wali Songo, Gunung Kawi, makam Bung
Karno di Blitar dan sebagainya. Banyak agen atau biro
perjalanan menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–
waktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan sarana
angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempat–tempat
tersebut di atas.
Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja
ditambahkan di sini, tergantung kapada kondisi dan situasi
perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau
negeri yang memang mendambakan industri pariwisatanya
dapat meju berkembang. Pada hakekatnya semua ini
tergantung kepada selera atau daya kreativitas para ahli
profesional yang berkecimpung dalam bisnis industri
pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan–gagasan
yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup
mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia
ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang
dapat diciptakan bagi kemajuan industri ini, karena industri
pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani dengan
kesungguhan hati mempunyai prospektif dan kemungkinan
sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang
melahirkan gagasan–gagasan baru dari waktu–kewaktu.
Termasuk gagasan–gagasan untuk menciptakan bentuk dan
jenis wisata baru tentunya.

12

Kerangka penilaian tentang penguasaan pengetahuan Daya Tarik
Wisata
No. Nama
Objek
Diskripsi
Singkat
Lokasi
dan
Aksesibi
litas
Keunikan
Daya
Tarik
Kegiatan Pengel
olaan



Dapat
menye
butkan
dan
menjela
skan
nama
objek
Dapat
menjelask
an objek
wisata
tersebut
selengkap
nya
(misalnya
dengan
rumus
what,
when,
where,
who, how)
Dapat
menjelask
an
tempat /
lokasi
objek
wisata
tersebut,
rute,
jarak
tempuh
dan
menggun
akan
transport
asi apa
saja
untuk
bisa
mencapai
nya
Dapat
menyebutk
an keunikan
atau cirri
khas yang
dimiliki
objek
wisata
tersebut.
Misalnya
unik karena
ceritanya
(intangible)
, unik
karena
bentuknya
(tangible),
menjadi
satu-
satunya,
Dapat
menjelaska
n kegiatan
apa saja
yang bisa
dilakukan
Misalnya,
melihat
tarian,
mengerjak
an
membuat
kerajinan,
dll
Dapat
menjelas
kan
pengelol
aan
tempat
wisata
tersebut.
Misalnya
: jam
buka/tut
up,
retribusi,
tata
tertib,
contact
person,
alamat,
dll
Semakin banyak atau lengkap pramuka dapat mengisi matriks
tersebut semakin baik pula penilaiannya.


F. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penggalang
untuk memperoleh TKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penegak
untuk memperoleh TKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata

13


1.3.2. SKK PENYUSUNAN PROGRAM PERJALANAN
WISATA (Tour Planner)
1.3.2.1. Pengertian:
Merupakan syarat kecakapan khusus yang berkaitan
dengan kemampuan individu anggota pramuka untuk
dapat menyusun program perjalanan wisata sebagai
bagian dari syarat kecakapan khusus untuk pemanduan
wisata.
1.3.2.2. Tujuan:
Agar anggota pramuka memiliki bekal dan materi
pengetahuan penyusunan program perjalanan wisata.
1.3.2.3. Materi Ajar SKK Penyusunan Program Perjalanan Wisata
Materi ajar SKK Penyusunan Program Perjalanan Wisata
mencakup:
A. Pengetahuan tentang Paket Wisata
B. Pengetahuan tentang Teknik Penyusunan Paket Wisata
C. Pengetahuan tentang Jalur Wisata (Rute)
D. Pengetahuan Tentang Produk Program Perjalanan Wisata/
Paket Wisata
E. Pengetahuan tentang Menghitung Biaya dan Kuotasi Harga
Paket Wisata

PENJABARAN MATERI AJAR
A. PENGETAHUANTENTANG PAKET WISATA
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian paket wisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian paket wisata dan
komponen dalam suatu paket wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan dan memberikan contoh-contoh
dari masing-masing komponen dalam suatu paket
wisata (minimal 2)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan contoh-contoh dari masing-
masing komponen dalam suatu paket wisata di
daerahnya



14

A.2. Materi
1) Pengertian
Pengadaan beberapa fasilitas atau pelayanan yang dibutuhkan
wisatawan dalam satu kesatuan yang dibutuhkan wisatawan
dalam satu kesatuan kemasan dapat disebut sebagai paket
wisata. Paket Wisata merupakan produk wisata yang dibuat,
ditawarkan atau dijual oleh perencana perjalanan (tour
operator) kepada wisatawan, yang dapat meliputi:
a) Paket wisata yang dibuat sudah jadi (Ready Made Package
Tour)
b) Paket wisata yang dibuat menyesuaikan (Tailor Made
Package Tour)
c) Paket-paket wisata untuk liburan
2) Potensi, Sarana, dan Pasar
Paket wisata akan disusun berdasarkan pada potensi, sarana,
dan pasar
a) Potensi: menyangkut berbagai hal yang terkait dengan
daya dukung atau kemampuan untuk penyusunan suatu
pakeL wlsaLa. Mlsalnya ºlnfrasLrukLur" daya Larlk obyek,
tema dan manfaat kegiatan.
b) Sarana: Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada
(misal: sarana pokok, sarana penunjang, sarana pelengkap).
c) Pasar: Identifikasi pasar sangatlah penting agar produk
yang dijual bisa laku. Ada dua kutub yang saling melakukan
daya tarik sehingga terjadi interaksi. Satu pihak adalah
PRODUK; maka orang yang mementingkan ini disebut
product oriented, satunya lagi adalah PASAR; maka orang
yang selalu mengutamakan ini disebut orang memikirkan
keduanya (produk dan pasar). Produsen melihat kemauan
pasar dan produk yang dibuat atau dipaketkan akan sesuai
dengan selera.
3) Efisiensi Waktu, Efisiensi Biaya, dan Kualitas Produk
Bagaimanapun keberadaan paket wisata itu ketika disusun atau
dibuat dan dilaksanakan harus memperhatikan efisiensi (biaya
dan waktu), dan kualitas produk.
a) Efisiensi waktu : Berkenaan dengan jumlah hari libur dan
jumlah waktu yang dimiliki yang hendaknya dapat
dimanfaatkan seefisien mungkin.
b) Efisiensi Biaya : Efektifitas penggunaan biaya atau dana
c) Kualitas Produk : Dapatkah produk itu dinikmati dengan
baik atau sebaliknya
4) Nyaman, Menyenangkan, dan Aman
Faktor nyaman, menyenangkan, dan aman sangatlah penting
dan merupakan daya dukung potensial atas berhasilnya
pelaksanaan konsumsi produk wisata.
a) Nyaman: Ketika berada di suatu daerah tujuan wisata
merasa ºnyaman" karena dl daerah LersebuL llngkungannya
bersih, rapi, tertib, segar dan sehat
b) Menyenangkan: Apa yang dilakukan di suatu daerah tujuan
wisata dapat menyukakan hati atau dapat member
kepuasan.
c) Aman: Dalam konsep Sapta Pesona pariwisata,
maksudnya adalah memperoleh keselamatan, terlindung
dan bebas dari tindak kejahatan; terserang penyakit
menular; kecelakaan yang disebabkan oleh perlengkapan
15

dan fasilitas yang kurang baik, gangguan oleh sikap
penduduk (masyarakat) yang tidak bersahabat, dll.

B. PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK PENYUSUNAN PAKET
WISATA
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelasakan pengertian teknik penyusunan
paket wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan teknik penyusunan paket wisata
dan komponen dalam penyusunan paket wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu menjelaskan teknik penyusunan paket wisata
dan memberikan contoh masing-masing teknik
penyusunan
B.2. Materi
1) Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan
Setelah mengkualifikasi ´clleot´ dan kebutuhan-kebutuhan
mendasar, demikian pula menganalisa pasar Tour Operatorakan
menyusun paket wisata dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Mengetahui tujuan melakukan perjalanan
Adalah menentukan motivasi. Mengapa atau untuk apa
melakukan perjalanan? Apakah untuk perjalanan
leisure(pelesiran), atau perjalanan commercial(bisnis), atau
yang lain.
b) Mengetahui sifat dan karakteristik ´costomet´
Hal ini antara lain berkenaan dengan:
 Umur
 Jenis Kelamin
 Bahasa atau kebangsaan
 Pekerjaan atau profesi
c) Melihat kemampuan ekonomi (´Jlsposoble locome´)
Adalah kemampuan biaya yang sanggup dikeluarjan pada
saat perjalanan dilakukan. Berdasarkan kemampuan
ekonomi (´Jlsposoble locome´) ini terdapatpenggolongan
jenis tour, yaitu:
 º1our" kaLegorl lsLlmewa (´Je loxe´)
Untuk kategori ini wisatawan sanggup mengeluarkan
biaya tinggi karena menginginkan fasilitas dan
pelayanan yang terbaik.
 ´1oot´kategori menengah (´stooJott´)
Dengan biaya yang tidak terlalu mahal dan tidak terlalu
murah.
16

 ´1oot´kategori sederhana (´boJqet´)
Dengan biaya (budget) yang sungguh-sungguh
diperhitungkan.
d) Memahami Identifikasi Waktu
Adalah berkenaan dengan jumlah waktu sehingga
pengaturannya (penyusunan program acara tour) harus
menyesuaikan dengan jumlah waktu itu.
e) Menentukan ´ltloetoty´, kondisi tour, dan biaya
Itinerary: adalah rencana perjalanan yaitu: program-acara
perjalanan dari mulai kedatangan, kemudian tour, lalu
akhir perjalanan (keberangkatan ke destinasi lain).
Kondisi tour: adalah menunjuk pada fasilitas dan pelayanan
apa saja yang termasuk dalam harga
(whaL’excluded/included)
Biaya: menghitung harga paket wisata sesuai dengan
program perjalanan (itinerary) dan kondisi tour (tour
condition) dengan menghitung terlebih dahulu setiap
komponen fasilitas dan pelayanan yang dibutuhkan
(transport, akomodasi, meals, objek kunjungan, pemandu,
dll) dan jumlah minimal peserta (pax=wisatawan), demikian
pula lama perjalanan.
2) Komposisi Paket Wisata
a) Komposisi paket wisata dapat meliputi:
b) Jasa angkutan udara x jasa akomodasi
c) Jasa akomodasi x jasa tour
d) Jasa akomodasi x jasa tour x jasa angkutan udara
e) Jasa akomodasi x jasa tour x jasa meals
3) All Inclusive and Semi Inclusive
Hal ini berhubungan dengan condition of tour.Suatu paket
wisata disebut All inclusive apabila di dalam paket yang
ditawarkan termasuk:
a) Pengangkutan (transport) dari asal ke tujuan kembali
ke asal
b) Akomodasi selama dalam paket
c) Pelayanan penjemputan (Transfer in) dan
pelayanan pengantaran (Transfer Out)
d) Kebutuhan makan/minum (Meals) ditanggung selama
dalam paket (Full Board)
e) Tour(sesuai dengan acara dalam paket)
f) Land/local Transport (dari dan ke objek)
g) Pajak airport (Airport Taxes)
Pengurangan dari sejumlah pelayanan dan pengadaan fasilitas
di atas (All Inclusive) disebut Semi Inclusive
4) Peristilahan dan Nama-nama Paket
Terdapat beberapa istilah yang sering muncul dalam paket
wisata berkenaan dengan tarif dalam suatu paket wisata:
a) Sharing basic: satu kamar dihuni bersama
b) Sharing twin: satu kamar double dihuni 2 (dua) orang
c) Sharing triple : satu kamar triple dipakai untuk 3(tiga) orang
d) Sharing occupancy : satu kamar dihuni sendiri
17

e) Singgle supplement : tambahan pembayaran apabila
konsumen mau menempati satu kamar sendiri
f) Single traveler: seorang yang bepergian sendiri. Dalam
pengertian pembeli paket wisata hanya seorang diri.
5) Kepentingan Promosi
Dalam upaya untuk mempromosikan suatu produk (wisata)
diperlukan beberapa sarana, antara lain berupa: brosur, leaflet,
pamphlet, dll. Kepentingan promosi dimaksud, adalah:
 Menginformasikan produk
 Mempengaruhi konsumen untuk membeli
 Mengingatkan konsumen akan nama perusahaan
Ketiga hal di atas harus mencakup data-data teknis yang
penting, seperti:
 Frekuensi Tour
 Tempat tujuan
 Adanya suasana yang menyenangkan
 Lamanya perjalanan
 Harga atau besarnya biaya yang diperlukan
 Jadwal perjalanan
 Keadaan-kedaan umum (cuaca, iklim, dll)
6) Jenis Paket Wisata, In-Bound and Out-Bound Tour
Jenis paket wisata :
 Paket wisata yang dibuat sudah jadi
 Paket wisata yang dibuat menyesuaikan
 Paket wisata yang dibuat untuk liburan
In-Bound Tour : Mengatur pelayanan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan wisatawan yang masuk – dating
dari bagian Negara lain atau mereka berasal (incoming)
Out-Bound Tour : Menawarkan untuk pergi ke tempat wisata
atau Negara lain kepada calon pembeli dengan paket wisata
yang terencana atau berdaarkan permintaannya sendiri (out-
going)
7) Pengetahuan Tentang Ciri-Ciri Pokok Paket Wisata
Agar dapat lebih memahami bahwa produk wisata (paket
wlsaLa) lLu merupakan ºproduk" yang berslfaL ´ooo-moblle´,
artinya konsumen yang datang kepada produk, dibawah ini
adalah ciri-ciri pokok paket wisata:
a) Tidak bisa dibawa kepada konsumen. Konsumen harus
dating sendiri menikmati produk itu.
b) Produksi dan konsumsi terjadi pada saat yang bersamaan.
Namun, jati diri Tour operator sangatlah berperan.
c) Tidak ada standart objektif. Disebabkan oleh berbagai
bentuk pelayanan pariwisata. Tidak memiliki standar
ukuran fisik, tetapi standar pelayanan untuk suatu criteria
tertentu.
d) Tidak bisa disimpan. Harus dinikmati pada saat itu juga.
e) Tidak bisa dicicipi atau menguji sebelumnya. Namun dapat
melihat dan membaca brosur-brosur dan gambar-gambar.
f) Mengandung resiko besar. Misalnya jika terjadi perubahan
karena pergolakan politik, ekonomi, social, bencana alam.
g) Leblh LerganLung kepada ºLangan manusla" sedlklL sekall
yang dapat digantikan dengan mesin

18

C. PENGETAHUAN TENTANG JALUR WISATA (RUTE WISATA)
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang jalur wisata
dalam konteks paket wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat memberikan contoh jalur wisata dalam konteks
paket wisata didaerahnya (2)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat memberikan contoh jalur wisata dalam konteks
paket wisata didaerahnya (5)

C.2. Materi
a) Pengertian Tentang Jalur Wisata (Rute Wisata)
Jalur Wisata / Rute adalah jarak atau arah yg harus diturut
(ditempuh, dilalui) dalam pengemasan paket wisata
b) Aspek-Aspek dalam perencanaan Jalur Wisata (Rute
Wisata)
1. Atraksi
Adalah berbagai hal yang dimiliki objek wisata yang
merupakan daya tarik wisatawan di daerah tujuan
wisata sepertiseni, budaya, warisan sejarah, tradisi,
kekayaan alam, atau hiburan.
2. Aksesibilitas
Adalah segala hal yang dapat dijadikan akses dalam
kegiatan wisata, seperti moda angkutan, jenis
transportasi, kemudahan jalan, dll
3. Amenitas / fasilitas pendukung
Adalah sarana untuk melancarkan pelaksanaan kegiatan
selama aktifitas wisata
4. Aktifitas
Adalah berkaitan dengan pengemasan kegiatan yang
dapat didasarkan kepada waktu, tema, event, atau
bauran (campuran)
5. Durasi waktu
Adalah waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan wisata
baik selama perjalanan menuju objek, di objek, dan
kembali dari objek wisata.
6. Jumlah obyek yang dilewati
Adalah banyaknya objek wisata yang dilewati atau
dikunjungi.
7. Keunikan atau karakteristik masing-masing obyek
Adalah ciri khas yang dimiliki masing-masing objek
wisata yang berbeda dengan objek wisata yang lain.
(Keunikan alam, budaya, makanan, social, dll)
19

8. Sistem pengelolaan obyek
Adalah cara mengelola sebuah objek wisata sehingga
berjalan dengan baik. (siapa pengelola, kontribusi, tata
tertib, pengelola dan kontak person)
c) Pola Pengembangan Jalur Wisata
Pola umum yang ada dalam sebuah jalur wisata adalah:
1. Single loupe
Adalah pola perjalanan wisata satu arah dimana jalur
berangkat dan tempat wisata yang dilewati wisatawan
sama dengan jalur pulangnya.
Ilustrasi:



Hub : Tempat mulai rute (starting point)
A-B-C-D : Objek Wisata yang dilalui
: Arah rute (berangkat dan pulang)

2. Continuous loupe
Adalah pola perjalanan wisata dimana jalur wisata yang
dilewati tidak kembali ke tempat wisata asal, namun di
akhir tujuan wisata wisatawan akan langsung kembali ke
Negara asal atau melanjutkan ke destinasi berikutnya.



Hub : Tempat mulai rute (starting point)
A-B-C-D : Objek Wisata yang dilalui
: Arah rute (berangkat dan pulang)

3. Multi loupe
Adalah pola perjalanan wisata menerus dimana jalur dan
tempat wisata yang dilewati wisatawan sampai ke tempat
asal (hub) kembali.








Hub : Tempat mulai rute (starting point)
A-B-C-D : Objek Wisata yang dilalui
: Arah rute (berangkat dan pulang)
d) Contoh Jalur Wisata
HU
A B
C D
HU
A B
C
Pulang /
next
destination
HU
A
B
C
D
20

No ROUTE
(JALUR WISATA)
OBJEK TEMA & AKTIFITAS AKSES & AMENITAS PENGEMBANGAN & PENGELOLAAN
1 Yogya 
Kotagede  Yogya
 Situs peninggalan
sejarah kerajaan
Mataram Kuno
 Aktifitas budaya &
social masyarakat
local
- Kesenian
- Tradisi
- Daily Life
 Cultural & Heritage tour
program
 Living Culture di Kotagede
 Terdapat pasar yang dapat mewakili
potret aktivitas masyarakat setempat
 Fasilitas parker yang belum memadai
 CuLleLºsouvenlr dan makanan khas
 Kios-kios minum
 Restaurant Omah Duwur
 Pusat kerajinan perak dan emas
 Transportasi umum, becak, andhong,
pribadi

 Alur Kunjungan dapat dimulai dari Pasar
Kotagede kemudian masuk ke komplek
situs peninggalan sejarah kerajaan
Mataram Kuno kemudian masuk ke
lingkungan masyarakat setempat via jalan
senggol
 Wisata berkelanjutan dan
bertanggungjawab dapat dibangun melalui
pemberdayaan masyarakat lokal
2 Yogya  Solo 
Semarang 
Yogya
 Kraton Yogya
 Situs Kotagede
 Candi Prambanan
 Candi Borobudur
 Selo dan Lereng
gunung Merapi
 Desa Senggi
 Desa Candirejo
 Kraton Surakarta
 Jelajah alam & budaya
- Borobudur Triangle Tour
- The Soul of Solo & Yogya
Package Tour
- An Unforgettable Cultural
Evening
- Mount Menoreh Thrill &
Borobudur Tour
 Natural and based
Community Tour Program
 Living Culture
 Akses jalan dan infrastruktur cukup
memadai
 Fasilitas penunjang seperti Hotel,
restaurant, outlet penjualan barang
untuk wisatawan dan kebutuhan-
kebutuhan lain cukup memadai
 Pusat-pusat layanan informasi perlu
ditingkatkan
 Aspek kelembagaan untuk pengembangan
& pengelolaan membutuhkan SDM yang
berpengetahuan luas, memiliki ketrampilan
yang mumpuni dan tindakan etika yang
memadai
 Promosi dan pemasaran
 Pemberdayaan masyarakat lokal
3 Yogya  Surabaya
 Bromo
Kalibaru 
Banyuwangi
BaliYogya
 Solo & sekitarnya
 Situs Purbakala
Trowulan
 Pantai Pasuruhan
 Sentra Industri
Mebel di Kraton
 Kawasan Bromo-
Tengger-Semeru
 Jelajah wisata alam
 Sunrise di Bromo
 Living culture masyarakat
Tengger
 Adventure Tour
 Bali tour program
 Wisata Penyu di Sukamade
 Kemah wisata
 Akomodasi cukup
 Fasilitas wisata bahari & berselancar
perlu ditingkatkan
 Sarana transportasi memadai
(darat/laut/udara)
 Guidence lines
 Rest Area
 Atraksi kesenian perlu ditingkatkan
 Retribusi yang pasti & legal (tidak ada
pungutan liar)
 Perlu disusun paket-paket wisata yang
sesuai dan laku
 Peningkatan kelembagaan
 SDM
 Promosi dan pemasaran
 Pemberdayaan masyarakat local
21

No ROUTE
(JALUR WISATA)
OBJEK TEMA & AKTIFITAS AKSES & AMENITAS PENGEMBANGAN & PENGELOLAAN
 Kalibaru-Sukamade
 Alas Purwo
 Muncar
 Nggrajangan
 Kawah Ijen
 Kawasan
Perkebunan
 Lengger
 Wisata budaya
 Berselancar
 Jelajah perkebunan
 Wisata pantai
 Jelajah hutan
 Camping Ground
 Pemandu/instruktur
 Perlu pusat-pusat layanan informasi
 SOP
 Pengadaan & Pengelolaan Jalur Alternatif

22

D. PENGETAHUAN TENTANG PRODUK PROGRAM
PERJALANAN WISATA/ PAKET WISATA
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan pengertian produk program
perjalanan wisata / paket wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan contoh produk program perjalanan
wisata / paket wisata (minimal 2)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu membuat dan menjelaskan perencanaan
produk program perjalanan wisata / paket wisata







D.2. Materi
a) Jenis atau tipe produk dan pelayanan wisata meliputi:
 Akomodasi
 Transport
 Persewaan
Kendararaan
 Atraksi
 Paket wisata
(
t
o
u
r
)
 Katering
 Hiburan
 Fasilitas konvensi
 Pelayanan khusus
(special service)
Sejumlah tipe
atau jenis produk
ini dapat
diperuntukkan
bagi sejumlah
pelayanan
wisata:
 Paket-paket
konvensi
 Special events
 Paket-paket
wisata
 Itinerary wisata
insentif
 Paket-paket
wisata series

Terjadinya inisiatif produk akan sangat tergantung pada
mekanisme pelaksanaan tindakan manajemen dalam:
 Perencanaan kegiatan usaha
 Fokus tindakan pemasaran
23

b) Secara procedural pembuatan produk wisata dapat
terjadi atas tindakan:
 Customer meminta kepada Travel Agentsesuai dengan
yang diinginkan. Kesesuaian ini meliputi: budget,
biaya, produk yang dikehendaki, ketersediaan waktu,
aspek kemanfaatan atas tindakan mengkonsumsi
produk.
 Travel agent menghubungi pihak pemasok (hotel,
transport, restoran, objek, dll) untuk menyusun atau
membuat suatu produk.
 Travel agent kemudian mengajukan usulan produk
kepada customer dalam suatu tindakan professional
dan juga memperhatikan persyaratan perusahaan.
 Dengan demikian produk disampaikan kepada
customer.
Bagan alur hubunganpekerjaan tersebut ditunjukkan
dengan gambar berikut:








c) Kriteria untuk pembuatan suatu produk (tour) meliputi
pertimbangan sebagai berikut:
 Budget
Berkenaan dengan jumlah dana atau biaya yang
dimiliki customer dan kemampuan membelanjakannya
 Product Service Preverences
Berkenaan dengan jenis produk dan pelayanan yang
diinginkan customer.Misal: hotel bertaraf
internasional, restoran terkenal, maskapai
penerbangan spesifik, dll
 Time Constraints
Berkenaan dengan jumlah waktu yang dimiliki
customer dan bagaimana ia ingin mengaturnya.
 Practicality
Sejauh mana aspek praktisnya berkesan dengan harga,
waktu, berbagai kemudahan yang diperlukan, dan
aspek kenyamanan mengkonsumsi produk bagi
customer.
Berikut contoh membuat paket wisata:
Form to developing the tour product
No Item Description
1 Name of product
(tour)
Sebutkan nama atau tema
tour
2 Type of tour Misal: Privat, seat in coach,
Tour
Operator
Client Suppliers
Product
24

No Item Description
dll
3 Tour duration Sebutkan lama tour
4 Tour Description
(Itinerary)
Day 1: _______
Day 2: _______
Day 3: _______
Berisi tentang rencana
program/acara
5 Price/pax Sebutkan harga paket / per
orang
6 Terms and
condition
 wbot’s locloJeJ
 wbot’s excloJeJ
 Payment
 Cancelation policy
 Contact person
and address
Berisi tentang keterangan-
keterangan yang diperlukan
seperti paket sudah
termasuk atau biaya diluar
paket, cara pembayaran,
peraturan-peraturan,
nomer yang bisa dihubungi,
alamat, dll
7 Other Information Keterangan hotel, transport
yang digunakan, dll



E. PENGETAHUAN TENTANG MENGHITUNG BIAYA DAN
KUOTASI HARGA PAKET WISATA
E.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian penghitungan paket
wisata dan kedudukannya dlm penyusunan program
perjalanan wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan komponen-komponen dalam
penghitungan paket wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu membuat dan menjelaskan penghitungan paket
wisata di daerahnya

E.2. Materi
Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu kegiatan
perjalanan (tour) dapat dihitung dari harga (biaya)
perkomponen kebutuhan selanjutnya akan dapat dibuat kuotasi
harga (tour)

25

1) Per Komponen Kebutuhan
Adalah setiap komponen fasilitas dan pelayanan yang
dibutuhkan ketika melakukan perjalanan. Membuat
catatan yang selalu ´op to Jote´mengenai keterangan yang
memuat: Jenis, Fasilitas, dan Harga untuk setiap komponen
kebutuhan akan memudahkan dalam menentukan biaya
dan membuat kuotasi harga (tour). Catatan tersebut
meliputi komponen kebutuhan untuk pengadaan:
Akomodasi, Transport, objek kunjungan, kebutuhan
makan/minum (meals), pemandu wisata, dll.
Ketika Tour Operator atau pihak pengatur perjalanan ingin
menentukan biaya dan kuotasi harga tentunya telah
mengetahui sejumlah tariff setiap komponen kebutuhan
yang akan dihitungnya. Dibawah ini terdapat 3 (tiga) tipe
tarif:
 Tarif resmi sesuai dengan panduan
 Tarif yang dapat disesuaikan sendiri
 Tarif kontrak atau khusus
2) Formulasi menentukan biaya dan kuotasi harga (tour) per
ºÞax" dengan sysLem 8LÞ“ (Break Event Point System).

F.C = Fixed Cost (Biaya Tetap)
V.C = Variable Cost (Biaya Tak tetap)
B.E.P.S. = Biaya Titik Impas
Σ. W. = Sigma/jumlah wisatawan
Q = Kuotasi Harga
8laya 1lLlk lmpas per ºÞax"




Kuotasi Parga Þer ºpax"




3) V.D.R = Volume Discounted rates
Adalah potongan harga yang diberikan berdasarkan volume
hubungan bisnis. Makin besar volume hubungannya makin
mempunyai kesempatan untuk memperoleh potongan
harga V.D.R.merupakan salah satu upaya bagi Tour
Operator untuk menentukan biaya dan membuat kuotasi
harga (Tour) agar dapat lebih murah.

F. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
F . Cost + V. Cost
BEPS = _________________
Σ . W
Q = BEPS + ( … % profit) + ( … %
pajak)
26

Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Pengga-lang
untuk memperoleh TKK Program Perjalanan Wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Mampu Telah melatih sedikitnya seorang pramuka
Penegak untuk memperoleh TKK Program Perjalanan
Wisata


1.3.3. SKK PEMANDUAN PERJALANAN WISATA (Tour
Guiding)

1.3.3.1. Pengertian:
SKK Pemanduan Perjalanan Wisata merupakan syarat
kecakapan khusus yang berkaitan dengan kemampuan
individu anggota pramuka untuk dapat menjalankan tugas
sebagai pemandu wisata yang mendampingi / memandu
kegiatan perjalanan wisata dari suatu rombongan
wisatawan.
1.3.3.2. Tujuan:
Agar anggota pramuka memiliki bekal dan materi
pengetahuan pemanduan perjalanan wisata
1.3.3.3. Materi Ajar SKK Pemanduan Perjalanan Wisata
Materi ajar SKK Penyusunan Pemanduan Perjalanan Wisata
mencakup:
A. Pengetahuan tentang Eksistensi Pemandu Wisata
B. Pengetahuan tentang Transfer In dan Transfer Out
C. Pengetahuan Umum Dan Kepariwisataan Terhadap Lokasi
Daya Tarik Wisata Yang Dikunjungi
D. Pengetahuan Tentang Teknik dalam Pemanduan Wisata
E. Pengetahuan Tentang Mekanisme Kerja Pemandu Wisata

PENJABARAN MATERI AJAR
A. PENGETAHUAN TENTANG EKSISTENSI PEMANDU WISATA
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang pemandu
wisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang pemandu
wisata , fungsi dan perannya dalam penyelengga-raan
paket wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
27

Dapat menjelaskan pengertian tentang pemandu
wisata, fungsi / peran dan tugas nya dalam
penyelenggaraan paket wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang pemandu
wisata, fungsi/ peran, tugas dan kualifikasinya dalam
penyelenggaraan paket wisata

A.2. Materi
1) Pengertian Pemandu Wisata
Maksud atau tujuan mendasar orang melakukan
perjalanan wisata adalah untuk memperoleh
pengalaman baru yang menyenangkan dan kenangan
yang mengesankan.Untuk mencapai maksud atau
tujuan ini diperlukan yang disebut dengan pemanduan
wisata, yang dapat berupa brosur, leaflet, majalah,
peta wisata, dll.
Pemandu wisata dalam bahasa aslinya berasal dari
kata pathfinder (orang yang tahu lebih dulu, atau
pandu), dan mentor (orang yang mampu memberi
bimbingan atau penjelasan).
Pemandu wisata adalah orang yang bertugas member
penjelasan dan bimbingan kepada wisatawan, serta
melayani atau membenatu apa yang menjadi
kebutuhan wisatawan. Kehadirannya menjadi penting
seiring dengan pencapaian tujuan orang melakukan
perjalanan wisata. Dengan kemampuyannya untuk
member bimbingan dan penjelasan yang benar-
benarbermakna, mudah dipahami, dan menarik ia
sanggup membuat sesuatu yang sempit dan dangkal
menjadi sesuatu yang luas dan mendalam.
Pemandu wisata harus secara sungguh-sungguh dapat
mendiskripsikan dan mendistribusikan produk wisata
dengan baik, benar, dan menarik. Untuk itulah
siapapun yang ingin memiliki profesi di bidang
pemanduan wisata harus benar-benar dipandu oleh
pendalaman teknik dalam pemanduan wisata.
2) Fungsi / Peran Pemandu Wisata
Fungsi / peran pemandu wisata itu adalah sebagai
berikut :
a) Membimbing perjalanan bersama wisatawan untuk
mencapai tujuan yng telah ditentukan sesuai dengan
tugas pramuwisata
b) Memberikan informasi, bila perlu menjadi
penterjemah mengenai perjalanan secara keseluruhan
khususnya mengenai obyek-obyek wisata yang
dikunjungi
c) Memperkenalkan hal-hal yang dirasakan baru bagi
wisatawan atau yang perlu diketahui serta dijumpai
selama perjalanan
d) Memberikan saran kepada wisatawan untuk
melakukan sesuatu tindakan atau kegiatan yang
mungkin timbul dan ada sangkut pautnya dengan
perjalanan yang sedang dipandunya
28

3) Tugas Pemandu Wisata atau Pramuwisata
Pramuwisata memiliki tugas sebagai berikut :
a. Memahami isi dan fasilitas yang tertera dalam paket
wisata
b. Memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen
perjalanan wisata
c. Mengantar wisatawan baik rombongan maupun
perorangan yang mengadakan perjalanan dengan bis,
kereta api, kapal laut, pesawat terbang dan jenis
transportasi lainnya
d. Memberikan penjelasan tentang rencana perjalanan
wisata dan destinasi serta memberikan penjelasan
tentang peraturan-peraturan /ketentuan mengenai;
visa,pasport, keterangan kesehatan, akomodasi,
transportasi dan lain sebagainnya
e. Memberikan petunjuk tentang destinasi yang menarik
f. Membantu wisatawan pada saat melaksanakan
perjalanan wisata
g. Memberi petunjuk untuk mematuhi peraturan atau
ketentuan yang ditetapkan pemerintah dan
instansi/perusahaan lainnya
h. Membantu menghubungi petugas terkait bila ada
wisatawan sakit dalam perjalanan, kecelakaan,
pencurian dan musibah lainnya
i. Menjamin kepuasan berlibur semua wisatawan secara
keseluruhan
j. Merekonfirmasi/memesan komponen acara tour yang
wajib
k. Memimpin pengantaran kedatangan dan
keberangkatan dari tempat penginapan (check in/out)
l. Menyelenggarakan serangkaian tour termasuk tour
setengah hari/sehari penuh, tour malam, tempat-
tempat menarik dan tour khusus
m. Menawarkan tour optional sesuai peraturan biro
perjalanan wisata
n. Membuat laporan administrasi perjalanan wisata
termasuk laporan keuangan
4) Kualitas diri pemandu wisata dan kebiasaan-
kebiasaan yang tidak perlu dilakukan
a. Kualitas diri pemandu wisata
Dengan maksud agar diperoleh ketahanan diri dan
kualitas dalam tindakan pemanduan wisata maka,
pemandu wisata harus memiliki kualitas diri, sebagai
berikut:
 Kualitas moral
Pemandu wisata harus selalu bertindak atau
bersikap santun, sopan, jujur, serta memiliki
ketahanan diri untuk tidak melakukan perbuatan
yang tercela.
 Kualitas intelektual
Pemandu wisata harus senantiasa tekun
mengolah diri untuk memiliki penguasaan
pengetahuan luas karena senang belajar
 Kualitas profesional
29

Pemandu wisata harus paham akan tugas dan
pekerjaannya, bertanggungjawab, berdedikasi
tinggi serta setia kepada tugas
 Kualitas penampilan
Pemandu wisata harus senantiasa berpenampilan
yang baik, rapi, dan menarik sebagai upaya untuk
menampilkan karakter diri yang menyenangkan
dan mengesankan
b. Kebiasaan yang tidak perlu dilakukan
Pemandu wisata terutama dalam melaksanakan
tugasnya sangat tidak diperbolehkan untuk melakukan
kebiasaan-kebiasaan sbagai berikut
Kebiasaan sebagai berikut:
 Merokok
 Menggerak-gerakkan anggota badan secara tidak
wajar
 Bersin, menguap, kentut
 Mengorek-orek hidung atau telinga
 Mengunyah permen karet
 Mengumpat
 Melepas tanggungjawab
 Meminta belas kasihan
 Menjelekan pihak lain
 Memiliki pamrih yang tidak baik, dll

B. PENGETAHUAN TENTANG TRANSFER IN DAN TRANSFER
OUT
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang transfer in dan
transfer out
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan dalam contoh proses transfer in
dan transfer out
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan proses transfer in dan transfer
out

B.2. Materi
1) Layanan Pemanduan Wisata Untuk Kedatangan
Wisatawan (Transfer In)
a) Nama kegiatan (Layanan untuk penerimaan
kedatangan wisatawan).
b) Bentuk kegiatan, adalah ´meetloq setvlce´.
c) Lokasi : Tempat kedatangan yang telah ditentukan.
30

d) Pengecekan berbagai persiapan yang diperlukan
Misal:
 Transport yang akan digunakan
 Nama wisatawan
 Jumlah wisatawan
 Asal wisatawan
 Waktu, tanggal kedatangan
 Program perjalanan yang akan disajikan
e) Competence to handle
 Menyambut kedatangan wisatawan dengan
sopan, santun, penuh rasa hormat, dan antusias.
 Memperkenalkan diri kepada wisatawan.
 Membantu wisatawan atas berbagai hal yang
dibutuhkan, termasuk mengatasi masalah-
masalah yang terjadi.
 Mendeskripsikan dan mendistribusikan produk
tour (tour program) kepada wisatawan dengan
baik dan menarik.
 Menginformasikan berbagai hal yang sifatnya
umum dan khusus berkenaan dengan destinasi
dimana wisatawan berada.
 Menginformasikan sejumlah prosedur, tata tertib
yang harus ditaati dan diamalkan.
Untuk latihan Pramuka bisa melakukan tindakan praktek
simulasi pemanduan wisata untuk layanan kedatangan
wisatawan (transfer in).
2) Layanan Pemanduan Wisata Untuk Keberangkatan
Wisatawan (Transfer Out)
a) Nama Kegiatan (layanan pemanduan wisata untuk
keberangkatan wisatawan).
b) Bentuk kegiatan, adalah meeting service.
c) Lokasi (tempat keberangkatan yang telah ditentukan).
d) Pengecekan berbagai persiapan yang diperlukan
Misal:
 Uniform and grooming
 Transport
 Waktu, tanggal keberangkatan
 Rekonfirmasi. Misalnya tiket Kereta Api, Voucer,
tour itinerary
 Penandatanganan dokumen. Misal: Quaranty
Letter, Statement Of Tour, Questionaire
Comentary
Pastikan seluruh persiapan telah well-
prepared.Pastikan tidak ada satu client pun yang
ketinggalan.

e) Mampu untuk menangani:
 Procedure – check out
 Menyampaikan ucapan terimakasih kepada
customer atas perhatiannyadan berharap mereka
telah menikmatiprogram tour dan akan
menikmati sisa waktu yang masih ada.
31

 Berbagai Prosedur yang harus ditempuh
berkenaan dengan keberangkatan wisatawan.
Untuk latihan Pramuka bisa melakukan tindakan praktek
simulasi pemanduan wisata untuk layanan keberangkatan
wisatawan (transfer out).

C. PENGETAHUAN UMUM DAN KEPARIWISATAAN
TERHADAP LOKASI DAYA TARIK WISATA YANG
DIKUNJUNGI
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan lokasi daya tarik wisata dan
wilayah geografisnya (minimal 3)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan gambaran umum wilayah geografis
lokasi daya tarik wisata dan potensi
kepariwisataannnya tujuan wisata (minimal 1)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan gambaran umum wilayah geografi
lokasi daya tarik wisata dan potensi
kepariwisataannya (minimal 3)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan gambaran umum wilayah geografi
lokasi daya tarik wisata dan potensi
kepariwisataannya (minimal 5)

C.2. Materi
a) Tindakan untuk memiliki pengetahuan dan wawasan
tentang Daerah Tujuan Wisata sangatlah dianjurkan
terutama bagi pengelola produk wisatadan tour
operator. Hal demikian akan menjadi daya dukung
yang tidak kecil yang memang diperlukan untuk
perencanaan, pengaturan perjalanan wisata. Semakin
luas dan mendalam penguasaan mengenai daerah
atau kawasan tujuan wisata yang dimiliki akan semakin
member peluang adanya tindakan inovativ dan kreatif
dalam mengkreasi paket-paket wisata tanpa
mengabaikan focus pemasaran produk.
b) Membaca karakteristik Daerah Tujuan Wisata dapat
dilakukan dengan menjawab sejumlah unit-unit dasar
pemahaman, sebagai berikut:
 Nama daerah Tujuan Wisata
 Lokasi
 Posisi geografis
 Lintasan sejarah
 Tipe penduduk
 Kehidupan sehari-hari
32

 Arsitektural dan cirri khas fisik lainnya
 Susunan flora dan fauna
 Kegiatan Industri
 Potensi wisata, meliputi keunikan dan daya tarik,
akses, amenitas, dll.
 Dll

D. PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK DALAM PEMANDUAN
WISATA
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang teknik dalam
pemanduan wisata dan komponen didalamnya
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan teknik–teknik tahapan dalam
penyelenggaraan pemanduan wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan teknik–teknik tahapan dan contoh-
contohnya dalam penyelenggaraan pemanduan wisata

D.2. Materi
1) Teknik Persiapan
Teknik persiapan dalam pemanduan wisata memiliki 3 (tiga)
bagian penting yang harus diperhatikan:
a) Penguasaan Pengetahuan
Pemandu wisata harus memiliki penguasaan pengetahuan
umum yang luas baik berkenaan dengan pengetahuan
dengan pengetahuan kepariwisataan maupun penetahuan
tentang ekonomi, sosial, budaya, politik, agama,
lingkungan, dll.
Pemandu wisata juga harus memiliki penguasaan pokok,
yaitu: pengetahuan menguasai fasilitas / pelayanan yang
dibutuhkan wisatawan, objek dan daya tarik wisata,
keimigrasian dan lainnya yang bersifat wajib.
b) Persiapan bagi Pemandu
Pemandu wisata harus memiliki persiapan yang matang
sebagai upaya untuk memperoleh sukses dalm
pekerjaannya. Persiapan bagi pemandu dapat dilakukan
dalam dua hal, yaitu:
1. Persiapan jangka pendek, yaitu persiapan yang
dilakukan karena sudah mengetahui kapan akan
memandu. Persiapan jangka pendek ini meliputi:
menganalisa wisatawan, mempersiapkan bahan,
informasi pemanduan wisata sesuai dengan program
wisata yang akan dikonsumsi, dan persiapan-persiapan
teknis lainnya yang diperlukan.
33

2. Persiapan jangka panjang, yaitu persiapan yang
dilakukan terus-menerus, belum mengetahui kapan
akan memandu. Lebih merupakan upaya untuk melatih
diri agar menjadi yang terbaik.
c) Perlengkapan dan Kelengkapan
Adalah berkenaan dengan perlengkapan dan kelengkapan
bagi pemandu wisata, baik yang di rumah (misal: papan
tulis, jadwal tugas, perpustakaan pribadi), maupun yang
portable (misal: peta, P3K, guide book, catatan-catatan
penting, dll).
2) Teknik Pelaksanaan
Ketika Pemandu Wisata melaksanakan tugas pemanduannya ia
telah dibekali dengan semacam guide order(perintah kerja bagi
pemandu). Isi lengkapnya: nama wisatawan, jumlah wisatawan,
jadwal kegiatan, dan hal-hal lain yang terkait dengan produk
wisata yang akan dikonsumsi wisatawan. Pemandu wisata harus
siap dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan
tahap-tahap teknis pelaksanaan, sebagai berikut:
a) Persiapan memandu
Adalah persiapan Pemandu Wisata yang telah ditentukan
sebelum memulai pemanduan. Biasanya diperlukan waktu
sekitar 30 menit untuk checkingberbagai hal yang
diperlukan, seperti voucer, tiket, checking transport, dan
perlengkapan (kelengkapan lain-lain yang diperlukan)
b) Memulai Pemanduan
Pemandu Wisata memberi ucapan salam (greeting), ucapan
selamat datang (welcoming), memperkenalkan diri
(introducing), dan memberi kesan bahwa tour akan
berjalan dengan baik dan lancar.
c) Dalam Perjalanan Menuju ke Objek
Pemandu Wisata memberi penjelasan atau bimbingan:
 Program tour
 Objek dan Daya Tarik Wisata yang akan dikunjungi
 Waktu atau durasi tour
 Tata tertib
 Objek-objek atau daya tarik aplikatif yang dijumpai
dalam perjalanan
d) Sampai di tempat tujuan
Ketika sampai di tempat tujuan Pemandu Wisata harus
mampu membuat kesan bahwa kegiatan kunjungan akan
berlangsung dengan baik dan lancar, memberi informasi,
fasilitas / pelayanan yang dibutuhkan wisatawan,
menginformasikan jumlah waktu kunjungan, teknik
kunjungan, ´teoJez-voos´(kencan), ketemu kembali, dan
hal-hal penting lainnya, lalu mengajak wisatawan menuju
objek-objek dengan antusias dan menyenangkan.
e) Tiba di objek
Mencari dan menemukan tempat yang teduh atau
memadai untuk memberi info atau penjelasan umum
tentang objek dan tata cara kunjungan yang harus ditaati.
f) Berada di Dalam Objek
Pemandu Wisata memberi penjelasan secara detail tentang
berbagai daya tarik yang ada di dalam objek secara
informatif, komunikatif, dan menarik.
g) Free Time at Leisure
34

Setelah memberi penjelasan / bimbingan di dalam objek,
berikutnya adalah waktu bebas sementara (Free Time at
Leisure).Namun pada saat ini Pemandu Wisata tidak boleh
berada jauh dari wisatawan.Tujuan pemberian waktu bebas
sementara adalah agar wisatawan dapat menatap
keindahan lebih dalam sambil mengabadikan keindahan
tersebut.
h) Paska kunjungan dan kembali ke kendaraan
Setelah kunjungan di objek wisata berakhir wisatawan
kembali ke kendaraan. Lalu pemandu mengecek apakah
wisatawan sudah di kendaraan semua dan tidak ada barang
yang tertinggal.
i) Meninggalkan Objek
Kesan dan pesan akan menyelimuti wisatawan setelah
kunjungan di objek berakhir. Berikutnya adalah
meninggalkan objek pemandu wisatamemberi penjelasan /
blmblngan LenLang ºwbot wlll be tbe oext´(apa berikutnya)
dengan sebelumnya menyampaikan kesan dan pesan, serta
kesimpulan atas kunjungan di objek.
3) Mengatasi Keluhan Wisatawan (Handling Complaint)
Pemandu Wisata harus mampu mengatasi berbagai keluhan
wisatawan. Akibat terjadi permasalahan dapat menimbulkan
keluhan (complaint). Permasalahan dapat disebabkan oleh
faktor teknis (yang dapat diperhitungkan oleh kemampuan
manusia) dan atau non teknis (tidak dapat diperhitungkan oleh
kemampuan manusia).
Jenis permasalahan yang dapat menimbulkan keluhan dapat
disebabkan oleh faktor:

a) Mechanical Problem
Yaitu, permasalahan yang diakibatkan oleh berbagai hal
yang terkait dengan mekanik. (misalnya kendaraan mogok,
mati lampu, dll)
b) Service Related to Problem
Yaitu, permasalahan yang diakibatkan oleh tindakan
pelayanan yang tidak sesuai
c) Attitudinal Problem
Yaitu, permasalahan yang diakibatkan oleh tindakan etika
yang tidak sopan santun, atau tindakan etika yang
merugikan.
Berikut ini adalah berbagai permasalahan yang sering
dihadapi Pemandu Wisata:
1. Berkaitan dengan tugas:
 Keluhan kualitas pelayanan
 Keluhan karena cuaca
 Keluhan karena waktu terbatas
 Keluhan karena objek tidak menarik
 Keluhan karena gangguan keamanan
 Keluhan karenainfrastruktur tidak memadai
 Keluhan terhadap fasilitas penunjang
 Dll
2. Persoalan dengan pihak lain, terkait dengan:
 Tempat kedatangan /keberangkatan wisatawan
 Pihak pengelola akomodasi
 Pihak pengelola Obyek wisata
 Guide lokal
 Guide luar daerah provinsi
35

 Pemakai jasa pemandu wisata
 Maskapai penerbangan
 Pengelola bandara
 Penyeberangan
 Pedagang asongan
 Souvenir shop / gallery
 Rumah makan
 Pengelola transport
 Pengemudi/crew
 Perbankan / money changer
 Postel agent
 Masyarakat, dll
3. Persoalan yang bersifat intern atau kelembagaan.
 Terhadap diri sendiri
 Terhadap rekan seprofesi
 Terhadap organisasi
 Terhadap pemerintah
 Terhadap berbagai perubahan yang faktual

Atas terjadinya persoalan atau perubahan yang dapat
menimbulkan keluhan wisatawan pemandu wisata harus:
a. Mengutamakan wisatawan dulu
b. Bersikap tenang
c. Mengidentifikasi permasalahan atau keluhan wisatawan
lalu mencari dan menemukan solusinya
d. Dalam mengatasi keluhan mengikuti prosedur yang
berlaku
e. Mengimplementasikan rencana lain bila terjadi
permasalahan atau perubahan yang dapat menimbulkan
keluhan
f. Mengkomunikasikan perubahan kepada: wisatawan, tour
operator (travel agent), pemasok(suppliers), pihak lain
bila perlu, seperti polisi.

E. PENGETAHUAN TENTANG MEKANISME KERJA PEMANDU
WISATA
E.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian tentang mekanisme
kerja Pemandu Wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan tentang posisi dan klasifikasi
pemandu wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan tentang kode etik dan mekanisme
proses klasifikasi / sertifikasi pemandu wisata

36

E.2. Materi
1) Untuk menjadi pemandu wisata profesional
Ketika seseorang ingin menjadi pemandu wisata profesional
maka ia harus mengikuti pendidikan dan pelatihan yang
diselenggarakan oleh lembaga pemilik otoritas untuk perihal
dimaksud, dengan persyaratan dan kurikulum sesuai standar
kompetensi yang berlaku dan telah ditetapkan.Lalu mengikuti
uji kompetensi. Setelah dinyatakan kompeten, mendapatkan
lisensi, kemudian bergabung dengan organisasi yang
menghimpunnya( HPI = Himpunan Pramuwisata Indonesia)
Selanjutnya pemandu wisata itu dapat memposisikan diri
sebagai :
a) Pemandu wisata Payrole
Yaitu pemandu wisata yang bekerja sebagai salah satu staf
biro perjalanan wisata.
b) Pemandu wisata Freelance
yaitu pemandu wisata yang bekerja tidak terkait pada salah
satu biro perjalanan wisata
Pemakai jasa pemandu wisata adalah wisatawan, namun
wisatawan dapat menghubungi pihak agent perantara
(Travel agent, hotel, perusahaan transportasi, dll). Akan
tetapi dapat pula wisatawan menghubungi langsung
Pemandu Wisata lewat jaring komunikasi yang dapat di
akses dengan mudah dan legal.
2) Klasifikasi Pemandu Wisata
Berdasarkan SK Menparpostel No. 2/MPPT/88, klasifikasi
Pemandu Wisata meliputi:
a) Pemandu Wisata Lokal; yaitu: pemandu wisata yang
bekerja di lokal objek wisata tertentu
b) Pemandu Wisata Muda; yaitu pemandu wisata yang
bekerja di lingkup wilayah Kabupaten / Kodya (Tingkat II)
c) Pemandu Wisata Madya; yaitu Pemandu Wisata yang
bekerja di lingkup wilayah Provinsi (Tingkat I)
d) Pengatur Wisata (Tour Leader); yaitu seseorang yang
bertugas sebagai pengatur wisata dalam lingkup nasional
dan internasionalsebagai pemimpin rombongan wisatawan
(Tour Leader.)

3) Kode Etik Pramuwisata Indonesia dan Lencana
Pramuwisata Indonesia
a) Kode Etik Pramuwisata Indonesia
Pramuwisata merupakan ujung tombak yang mengantarkan
wisatawan menikmati dan mendapatkan penjelasan-
penjelasan mengenai aset-aset wisata yang dikunjungi dan
yang dapat mempengaruhi citra Pariwisata Indonesia
secara keseluruhan.
Untuk menjalankan tugas dan disiplin Profesi Pramuwisata
yang penuh tanggung jawab, maka pramuwisata harus
melaksanakan hal-hal sebagai berikut:
1. Pramuwisata harus mampu menciptakan kesan
penilaian yang baik atas negara, bangsa dan
kebudayaan
2. Pramuwisata dalam menjalankan tugasnya harus
mampu menguasai diri, tenang, rapi, bersih serta
37

berpenampilan yang simpatik (menghindari bau
badan, perhiasan dan parfum yang berlebihan)
3. Pramuwisata harus mampu menciptakan suasana
gembira dan sopan menurut kepribadian Indonesia.
4. Pramuwisata harus mampu memberikan pelayanan
dan perlakuan yang baik kepada wisatawan dengan
tidak meminta tip, tidak menjajakan barang dan tidak
meminta komisi.
5. Pramuwisata mampu memahami latarbelakang asal
usul wisatawan serta mengupayakan untuk
menyakinkan wisatawan agar mematuhi hukum,
peraturan, adat istiadat yang berlaku dan ikut
melestarikan objek(mencegah fandalisme)
6. Pramuwisata mampu menghindari timbulnya
pembicaraan serta pendapat yang mengundang
perdebatan mengenai kepercayaan, adat istiadat,
agama, ras dan sistem Politik Sosial Negara asal
wisatawan.
7. Pramuwisata berusaha memberikan keterangan yang
baik dan benar.Apabila ada hal-hal yang belum
dapatdijalankan, maka pramuwisata harus berusaha
mencari keterangan mengenai hal tersebut dan
selanjutnya menyampaikan kepada wisatawan dalam
kesempatan berikutnya.
8. Pramuwisata tidak dibenarkan mencemarkan nama
baik perusahaan teman seprofesi dan unsur-unsur
pariwisata lainnya.
9. Pramuwisata tidak dibenarkan untuk menceritakan
masalah pribadinya yang bertujuan untuk
menimbulkan rasa belas kasihan dari wisatawan.
10. Pramuwisata pada saat perpisahan mampu
memberikan kesan baik agar wisatawan ingin
berkunjung kembali.
b) Lencana Pramuwisata Indonesia



F. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
38

Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penggalang
untuk memperoleh TKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penegak
untuk memperoleh TKK Pengetahuan Daya Tarik Wisata


1.3.4. SKK PEMIMPIN PERJALANAN WISATA (Tour Leader)
1.1.1.1. Pengertian:
SKK Pemimpin Perjalanan Wisata merupakan syarat
kecakapan khusus yang berkaitan dengan kemampuan
individu anggota pramuka untuk dapat menjalankan
tugas sebagai pemimpin perjalanan wisata sebagai
bagian dari pemanduan wisata terhadap rombongan
wisatawan.
1.1.1.2. Tujuan:
Agar anggota pramuka memiliki bekal dan materi
pengetahuan pemimpin perjalanan wisata

1.1.1.3. Materi Ajar SKK Pemimpin Perjalanan Wisata
Materi ajar SKK Pemimpin Perjalanan Wisata mencakup:
A. Pengetahuan tentang pengertian dan prosedur
reservasi
B. Pengetahuan tentang cara penanganan dokumen
perjalanan peserta perjalanan
C. Pengetahuan tentang prosedur keimigrasian dan
kepabeanan
D. Teknik Berkomunikasi dalam Pemanduan Wisata

PENJABARAN MATERI AJAR
A. PENGETAHUAN TENTANG RESERVASI DAN PROSEDUR
RESERVASI
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan pengertian Reservasi dalam
perjalanan wisata


39

B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan dengan contoh reservasi dalam
perjalanan wisata ( min 2 aspek)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan dengan contoh reservasi dalam
perjalanan wisata (min 4 aspek)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan proses reservasi dalam
perjalanan wisata

A.2. Materi
1) Pengertian Reservasi
Pengertian reservation tidak hanya terlepas dari fungsi dan
tugas dari reservation department itu sendiri yaitu:
penyediaan tempat baik sebelum tamu atau para
wisatawan datang.
2) Prosedur Reservasi
Prosedur dalam melakukan reservasi dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Menerima permintaan pemesanan kamar adalah suatu
kegiatan atau proses mengumpulkan informasi atau data
tentang calon tamu dan orang yang melakukan pemesanan
kamar. Informasi yang diperlukan oleh pihak hotel antara
lain:
a) Jenis dan jumlah kamar yang diinginkan
b) Jumlah orang yang akan menginap
c) Tanggal kedatangan & tanggal keberangkatan
d) Nama tamu yang menginap di hotel
e) Nama pemesan/ orang yang dapat dihubungi untuk
tindak lanjut informasi pemesanan kamar
f) Nama perusahaan atau biro perjalanan
g) Alamat dan nomor telepon perusahaan
h) Rincian kedatangan(waktu & transportasi yang
digunakan)
i) Cara pembayaran yang digunakan
j) Permintaan khusus

B. PENGETAHUAN TENTANG CARA PENANGANAN
DOKUMEN PERJALANAN PESERTA PERJALANAN
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan dokumen perjalanan yang
diperlukan untuk berwisata

40

B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan fungsi dari dokumen-dokumen
perjalanan wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan cara penanganan dokumen
perjalanan bagi peserta wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat melaksanakan penanganan dokumen perjalanan
bagi peserta wisata

B.2. Materi
1) Pengertian Paspor
Adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang
berwenang dari suatu negara yang memuat identitas
pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar
negara.
Paspor berisi biodata pemegangnya, yang meliputi antara lain,
foto pemegang, tanda tangan, tempat dan tanggal kelahiran,
informasi kebangsaan dan kadang-kadang juga beberapa
informasi lain mengenai identifikasi individual. Ada kalanya pula
sebuah paspor mencantumkan daftar negara yang tidak boleh
dimasuki oleh si pemegang paspor itu. Sebagai contoh, dahulu
pemegang paspor Indonesia sempat dilarang berkunjung ke
negara Israel dan Taiwan.

2) Jenis- Jenis Paspor
a) Paspor biasa
Paspor Biasa diberikan kepada Warga Negara
Indonesia yang akan melakukan perjalanan ke luar dan
atau masuk ke wilayah Negara Republik Indonesia,
Paspor Biasa diberikan atas dasar permintaan, Paspor
Biasa berlaku paling lama 5 (lima) tahun sejak tanggal
diterbitkan. Paspor Biasa terdiri dari dua jenis yaitu 48
(empat puluh delapan) halaman dan 24 (dua puluh
empat) halaman untuk Warga Negara Indonesia.
Paspor 24 (dua puluh empat) halaman diberikan
kepada Calon Tenaga Kerja Indonesia yang akan
bekerja ke Luar Negeri.
Di Indonesia paspor ini diberi sampul berwarna hijau
dan dikeluarkan oleh Ditjen Keimigrasian, Departemen
Hukum dan Hak Asasi Manusia
b) Paspor diplomatik
Paspor Diplomatik diberikan kepada Pegawai Negeri,
Pejabat Negara tertentu yang akan melakukan
perjalanan ke luar wilayah Negara Republik Indonesia
untuk melaksanakan tugas diplomatic, Paspor
Diplomatik diberikan juga istri atau suami dan anak
dari Pegawai Negeri atau Pejabat Negara atau Warga
Negara Indonesia tertentu sebagimana dimaksud
dalam ayat (1), Permintaan Paspor Diplomatik diajukan
kepada Menteri Luar Negeri atau Pejabat yang
ditunjuk, Paspor Diplomatik berlaku 5 (lima) tahun
sejak tanggal diterbitkan
Di Indonesia, paspor ini diberi sampul berwarna hitam
dan dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri.
41



c) Paspor dinas/resmi
Paspor Dinas diberikan kepada Pegawai Negeri,
Pejabat Negara tertentu, atau Warga Negara Indonesia
tertentu yang akanmelaksanakan tugas Pemerintah
Republik Indonesia yang tidak bersifat diplomatik,
Pemberian Paspor Dinas dilakukan oleh Menteri Luar
Negeri atau Pejabat yang ditunjuk, Paspor Dinas
berlaku 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan.
Di Indonesia, paspor ini diberi sampul berwarna biru
dan dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri setelah
mendapat izin dari Sekretariat Negara.
d) Paspor orang asing
Paspor untuk Orang Asing diberikan kepada orang
asing yang bertempat tinggal di wilayah Negara
Republik Indonesia dan akan melakukan perjalanan ke
luar wilayah Negara Republik Indonesia, Paspor untuk
Orang Asing hanya diberikan kepada orang asing yang:
mempunyai Izin Tinggal Tetap; tidak mempunyai Surat
Perjalanan yang sah dari negaranya atau negara lain;
Dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat
memperoleh Surat Perjalanan yang sah dari negaranya
atau negara lain; dan Tidak terkena tindak
pencegahan. Paspor Orang Asing berlaku untuk 1
(satu) kali perjalanan ke luar dan masuk wilayah
Indonesia dan berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal
diterbitkan. Paspor untuk Orang Asing berisi 24 (dua
puluh empat) halaman
Contoh paspor ini adalah paspor yang dipakai untuk
berhaji (paspor coklat), yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
e) Paspor kelompok
Paspor kelompok akan diberikan untuk, misalnya,
kelompok perjalanan anak liburan sekolah. Semua
anak dalam perjalanan tersebut cukup memiliki
sebuah paspor kelompok selama perjalanan liburan
mereka berlangsung.
3) Prosedur Pembuatan Paspor
Permintaan Paspor Biasa dilakukan dengan mengisi
formulir yang telah ditentukan dengan melampirkan
beberapa persyaratan yang terdiri dari:
a) Bukti Domisili/Kartu Tanda Penduduk (KTP); atau
resi Kartu Tanda Penduduk (bukan surat
permohonan Kartu Tanda Penduduk), dilengkapi
dengan Surat Keluar/ Surat Pindah bagi Daerah
yang telah mengeluarkan Kartu Keluarga atau
keterangan bertepat tinggal dari Kecamatan.
b) Bagi warga negara Indonesia yang bertempat
tinggal di luar wilayah Indonesia berupa Kartu
Tanda Penduduk negara setempat atau
bukti/petunjuk/keterangan izin yang menunjukan
bahwa pemohon bertempat tinggal dinegara
tersebut.
c) Bukti identitas diri (Untuk meyakinkan kebenaran
identitas pemohon agar melampirkan salah satu
bukti identitas diri sebagi berikut :
42

 Akte kelahiran;
 Akte perkawinan/Surat Nikah;
 Ijazah;
 Surat Babtis;
 Surat keterangan ganti nama;
 Bukti Kewarganegaran Republik Indonesia bagi
warga negara Indonesia yang memperoleh
kewarganegaraan berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan yang berlaku.
d) Atau resi Surat Izin dari Instansi yang berwenang
bagi yang akan bekerja di Luar Negeri; SPRI untuk
warga negara Indonesia yang lama, bagi pemohon
yang telah memiliki SPRI untuk warga negara
Indonesia atau yang namanya tercantum dalam
SPRI untuk warga negara Indonesia yang dimiliki
oleh orang tuanya.
4) Pengertian Visa
Visa adalah sebuah rekomendasi yang diberikan
kepada warga negara asing untuk dapat masuk ke
negara tertentu (yang mempunyai kaitan kerjasama
bilateral antara Indonesia dengan semua negara2 di
dunia) dan bukan berarti izin mutlak atau jaminan
untuk dapat masuk ke negara tertentu. Keputusan
terakhir untuk dapat masuk atau tidak ke negara
tertentu akan diberikan oleh pihak Imigrasi pada saat
mendarat negara tujuan.
Visa berlaku bagi antara negara (misal Indonesia -
Australia, Indonesia Jepang dll) atau negara yang
mempunyai hubungan diplomatik, sementara negara
yang tidak terikat perjanjian diplomatik seperti
Indonesia - Israel, atau Indonesia - Taiwan maka Visa
tidak bisa didapat karena dengan negara tersebut
Indonesia tidak punya hubungan diplomatik.
a) Visa on Arrival
Tidak seperti Visa yang harus di urus dan disetujui
oleh kedutaan besar negara yang dituju, Visa on
arrival lebih bermakna "bebas masuk" tanpa harus
izin atau pengurusan surat ini dan itu, layaknya
perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, kita melewati
pabean misal memasuki Singapore (dari Batam
Seaport menuju Singapore, atau masuk Malaysia di
Bandara Kuala Lumpur dan) melewati imigrasi
tanpa perlu surat izin dari kedutaan, tapi tidak
semua negara memberlakukan visa on arrival,
untuk sementara baru negara Asean yang
diberlalukan visa on arrival, serta sebagian negara
yang sudah mempunyai "aggrement" seperti
daftar negar APEC diatas.
b) Jenis-Jenis Visa
Visa dapat dibedakan menjadi beberapa jenis
sebagai berikut:
(1) Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan
Kunjungan Keluarga
43

(2) Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan
Wisata atau Kunjungan Teman
(3) Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan
Bisnis
(4) Visa Khusus (Visa Pelajar/ Bekerja/ Pelatihan/
Menetap dalam jangka waktu tertentu)
(5) Visa Transit

c) Proses Pembuatan Visa
(1) Permohonan Visa tidak bisa diterima, apabila
seluruh persyaratan tidak dipenuhi / tidak
lengkap.
(2) Setelah permohonan diperiksa, apabila
diperlukan dokumen lain sebagai tambahan,
akan diminta kemudian.
(3) Proses pembuatan visa memakan minimal 4
(empat) hari kerja

C. PENGETAHUAN TENTANG PROSEDUR KEIMIGRASIAN DAN
KEPABEANAN
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan prosedur keimigrasian dalam
perjalanan wisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan prosedur dan kelengkapan
dokumen yang harus disiapkan dalam proses
keimigrasian dan kepabeanan
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan prosedur dan keleng-kapan
dokumen yang harus disiapkan dalam proses
keimigrasian dan kepabeanan
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat membantu penanganan keimigrasian dan
kepabeanan

C.2. Materi
1) Pengertian Keimigrasian
Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 1992, keimigrasian adalah hal ikhwal lalu lintas
orang yang masuk atau keluar wilayah Negara Republik
Indonesia dan pengawasan orang asing di wilayah
Negara Republik Indonesia.
Setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia
harus melalui prosedur yang berlaku, dalam hal ini
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992
44

Tentang Keimigrasian, dan khusus bagi Warga Negara
Asing


2) Prosedur Keimigrasian
Berikut penjelasan singkat mengenai Warga Negara
Asing (WNA) yang akan memasuki wilayah Negara
Republik Indonesia memiliki kewajiban sebagai berikut:
a) Memiliki Surat Perjalanan masuk yang sah dan
masih berlaku;
b) Mengisi kartu E/D, kecuali bagi pemegang kartu
elektronik;
c) Memiliki visa yang masih berlaku, kecuali orang-
orang yang tidak diwajibkan memiliki visa. Dan
yang tidak diwajibkan memiliki visa antara lain:
 Warga Negara Asing dari negara-negara yang
berdasarkan Keputusan Presiden tidak diwajibkan
untuk memiliki visa;
 Orang asing yang memiliki izin masuk kembali;
 Kapten atau nahkoda dan awak yang bertugas pada
alat angkut yang berlabuh di pelabuhan atau
mendarat di bandar udara wilayah Indonesia;
 Penumpang transit.
Untuk pemeriksaan Keimigrasian terhadap Warga
Negara Asing yang akan memasuki wilayah Negara
Republik Indonesia, meliputi :
a) Memeriksa Surat Perjalanannya dan mencocokkan
dengan pemegangnya;
b) Memeriksa visa bagi orang asing yang diwajibkan
memiliki visa;
c) Memeriksa pengisian lembar E/D; dan
d) Memeriksa nama yang bersangkutan dalam daftar
penangkalan.
Dalam daftar yang dianggap perlu dapat dilakukan juga
pemeriksaan:
a) Tiket untuk kembali atau meneruskan perjalanan ke
negara lain;
b) Keterangan mengenai jaminan hidup selama
berada di Indonesia; atau
c) Keterangan kesehatan, bagi negara yang sedang
mengalami wabah.
Adapun tempat pemeriksaan imigrasi adalah pelabuhan
(laut), bandara udara, atau tempat-tempat lain yang
ditetapkan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia
sebagai tempat masuk atau keluar wilayah Indonesia.
Tempat-tempat pemeriksaan imigrasi tersebut
maksudnya adalah seperti perbatasan darat antara
Republik Indonesia dengan Serawak (Malaysia) dan
perbatasan Republik Indonesia dengan Timor Leste.
Pemberian atau penolakan ijin masuk yang dicirikan
melalui visa atau surat perjalanan orang asing yang
45

memasuki wilayah Indonesia dilakukan oleh Pejabat
Imigrasi yang bertugas ditempat pemeriksaan imigrasi.
3) Pengetahuan Kepabeanan
A. Pengertian Kepabeanan
Menurut Undang Undang Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 1995, Kepabeanan adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan
atas lalu-lintas barang yang masuk atau keluar
Daerah Pabean dan pemungutan Bea Masuk.
B. Pengertian Daerah Pabean
Adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi
wilayah darat, perairan dan ruang udara di
atasnya, serta tempat- tempat tertentu di Zona
Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen yang di
dalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.
C. Pengertian Daerah Pabean
Kawasan pabean adalah kawasan dengan batas-
batas tertentu di pelabuhan laut, bandar udara,
atau tempat lain yang ditetapkan untuk lalu lintas
barang yang sepenuhnya berada di bawah
pengawasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

D. TEKNIK BERKOMUNIKASI DALAM PEMANDUAN WISATA
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan pengertian teknik komunikasi
pemanduan wisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan syarat-syarat dalam teknik
komunikasi pemanduan wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan teknik pemanduan wisata
dengan benar

D.2. Materi
1) Proses Berkomunikasi
• Pramuwisata berkomunikasi dengan wisatawan
• Pramuwisata harus:
- memilih daya tarik yang pantas/cocok
- menyampaikan informasi yang akurat, bermakna,
mudah dipahami, menarik
- menjembatani perbedaan antara budaya
wisatawan dengan budaya lokal
• Sejak komunikasi merupakan suatu proses dengan
melibatkan dua atau lebih orang, maka terjadilah
46

pertukaran pandangan, ide, pengetahuan,
pengalaman, perasaan, sentimen.
• ÞramuwlsaLa … wlsaLawan … reaksl …!
• Seseorang mempunyai sesuatu berkomunikasi
dengan plhak laln dlsebuL ºpenglrlm".
• Seseorang atau sekelompok orang menerima apa
yang dlkomunlkaslkan dlsebuL ºpenerlma".
• “esuaLu yang dlkomunlkaslkan dlsebuL ºpesan".
• “arana komunlkasl dlsebuL ºmedla".
• Pesan yang disampaikan oleh pramuwisata adalah
berkenaan dengan atraksi/objek yang menarik,
adat-istiadat, tradisi, pandangan hidup, dan lain-
lain kepada wisatawan.
• Pesan itu disampaikan melalui komentar/uraian-
uraian.
2) Cara Berkomunikasi Secara Efektif
• Agar komunikasi dapat berjalan efektif
pramuwisata sangat memerlukan kemampuan
untuk mengantisipasi reaksi yang muncul dari
wlsaLawan yang dlpandu…!
• Daya baca dan daya paham mengenai
ºkarakLerlsLlk" wlsaLawan harus dlkuasal dengan
baik.
• Karakteristik dimaksud biasanya didasarkan pada:
- kondisi alam (natural)
- nilai sejarah (historical)
- nilai moral (morality)
- budaya (cultural)
- kondisi politik (politic)
- kondisi ekonomi (economic).
3) Membuat Uraian
• Ide harus jelas tentang apa yang akan
dikomunikasikan.
• Menganalisa subjek untuk menjamin dapat
dimengerti oleh wisatawan.
• Sederhana, jelas, ringkas.
4) Mempersiapkan Uraian
• Mengumpulkan informasi.
• Mempersiapkan bahan.
• Persiapan diri:
- Apa yang menjadi daya tarik
pendengar/wisatawan?
- Apa yang disukai?
- Apa yang dianggap penting?
- Apa yang dapat menjengkelkan?
- Apa yang dapat mendorong wisatawan
mendengarkan ºsaya"?
- Dalam hal apa wisatawan mempunyai kesamaan
dengan pemandu dan dalam hal apa berbeda?





47

5) Persyaratan Uraian
• Impression/kesan
- Kunjungan wisatawan yang dipandu harus berkesan
balk karena kun[ungan lLu merupakan ºlnvesLasl"
yang berharga.
• Clarity/jelas
- Kejelasan presentasi diperoleh dari penyampaian
informasi yang logis dan metodis yang mestinya
diaktualisasikan pramuwisata.
• Continuity/berkelanjutan
- Ini bukan berarti berbicara tanpa henti.
- Tidak memotong uraian dan lompat dari satu topik
ke topik lain.
- Berbicara secara runtut.
• Relevance/keterkaitan
- Uraian harus selalu dihubungkan dengan apa yang
sedang terjadi dan dinikmati. Misal: lewat depan
masjid tetapi bilang itu gereja.
• Interest/ketertarikan
- Mampu merebut ketertarikan wisatawan. Savoir
parler en public.







6) Struktur Uraian
• A Descriptive comment
• An explanation comment
• An imaginative comment
7) Penyampaian Uraian
• Metode naskah
• Metode hafalan
• Metode outline
• Metode serta merta
8) Elemen Pokok Uraian
• Presentasi
• Pengembangan
• Konklusi
9) Cara Memilah Variasi
Hal ini berkaitan dengan a conducting (tour)


48

E. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan Pramuka
adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Peng-galang
untuk memper-oleh TKK Pengetahuan Daya Tarik
Wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Pene-gak
untuk memperoleh TKK Pengetahuan Daya Tarik
Wisata


















49

DAFTAR PUSTAKA
Amato, Ettore. (1993). Manual for Guiding Techniques.
UNESCO/UNDB.
Cohe, E. (1985). The Tourist Guide: The Origin, Structure, and
Dynamic of a Role. Salt Laku City: Pergoman Press, Ltd.
Curran, P.J.J. (1978). Principles and Procedures of Tour
Management. Boston, Massachusetts: CBI Publishing Company.
Former, A. (1990). The New World of Travel. New York: Prentice
Hall.
Linge Pound, K. (1993). The Professional Guide. Dynamic of The Tour
Guiding. New York: Van Nostrand Reinhold.
Mac Intosh, Robert, W. (1972). Tourism: Principles, Practice, and
Philosophie. Columbus: Grid. Inc.
NN. (1993). Buku Panduan: Pemandu Wisata Indonesia. Borobudur,
Prambanan, dan Yogyakarta City Tour (Guiding Techniques).
Yogyakarta: Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata
Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta.
Oemar Hamalik. (1959). Travel & Tour, Asas, Metode, dan Informasi.
Djembatan.
Prabowohadi, Susetyo. (1983). Teknik Memandu Wisata.
Yogyakarta: RIA.
Purwanggono, Djoko. (2002). Pemandu Wisata: Teknik dan
Mekanisme Kerja. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Spillane, james, J. (1991). Ekonomi Pariwisata. Sejarah dan
Prospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Yoeti, Oka. (1985). Pemasaran Pariwisata. Bandung: Angkasa.
1

DAFTAR ISI
MATERI AJAR KRIDA – II
KRIDA PENYULUH PARIWISATA
Halaman
Daftar Isi 1
I PESERTA PELATIHAN 2
II WAKTU PELATIHAN 2
III
PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI
PESERTA PELATIHAN
2
IV
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
V
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
VI TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM 2
VII TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 2
VIII INDIKATOR KEBERHASILAN 2
IX RANCANGAN MATERI TOT 3
1. PENGERTIAN KRIDA PEMANDU WISATA 3
2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK)
KRIDA PENYULUH PARIWISATA
3
3. MATERI AJAR SKK KRIDA PENYULUH
PARIWISATA
3
3.1. SKK SKK Penyuluh Sadar Wisata 3
3.2. SKK SKK Penyuluh Ekowisata 22
I. PESERTA PELATIHAN
Peserta Diklat Saka Pariwisata adalah :
 Pengurus KWARDA
 Anggota Pramuka Pandega
 Staff di lingkungan Dinas Pariwisata Kota dan Daerah.

II. WAKTU PELATIHAN
2 hari (Krida Pemandu Wisata dibagi ke dalam 4 Sesi )

III. PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI PESERTA
PELATIHAN
1) Mereka yang memenuhi persyaratan sebagai peserta
(butir ke 1)
2) Mereka yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang
Pariwisata dan atau Pramuka
3) Bersedia mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir
4) Bersedia menjadi tutor dalam kegiatan pengembangan
Saka Pariwisata di daerahnya


2

IV. TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI PELATIHAN
Kemampuan yang diharapkan peserta setelah selesai mengikuti
pelatihan ini adalah:
1) Peserta mampu memahami Konsep Krida Penyuluh
Pariwisata
2) Peserta memiliki kecakapan Kepramukaan dalam
penyelenggaraan dan pepenyuluhan di bidang
pariwisata,
3) Peserta memahami dan menguasai 2 SSK dalam Krida
Penyuluh Pariwisata yaitu: SKK Penyuluh Sadar Wisata
dan SKK Penyuluh Ekowisata

V. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Peserta pelatihan Saka Pariwisata Krida Penyuluh Pariwisata
cakap dan terampil untuk berperan dalam penyelenggaraan
dan pemanduan perjalanan wisata.

VI. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1) Mampu bertindak sebagai Penyuluh Sadar Wisata
2) Mampu bertindak sebagai Penyuluh Ekowisata

VII. INDIKATOR KEBERHASILAN
Setelah menyelesaikan mata pendidikan dan latihan dalam
acara pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu :
1) Mempraktekkan peran sebagai Penyuluh Sadar Wisata
2) Mempraktekkan peran sebagai Penyuluh Ekowisata


VIII. RANCANGAN MATERI TOT
MATERI AJAR KRIDA – II
KRIDA PENYULUH PARIWISATA

2.1. PENGERTIAN
Krida Penyuluh Pariwisata adalah salah satu krida Saka
Pariwisata, yang bertujuan memberikan kecakapan bagi
Pramuka untuk dapat berperan sebagai motivator dan
komunikator dalam penyelenggaraan kepariwisataan.
2.2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK) KRIDA PENYULUH
PARIWISATA
Krida Penyuluh Pariwisata, terdiri atas 2 (dua) SKK :
1) SKK Penyuluh Sadar Wisata
2) SKK Penyuluh Ekowisata
2.3. MATERI AJAR SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK) KRIDA
PENYULUH PARIWISATA

3

2.3.1. SKK PENYULUH SADAR WISATA
2.3.1.1. PENGERTIAN
SKK Penyuluh Sadar Wisata adalah syarat kecakapan
khusus yang berkaitan dengan kemampuan untuk dapat
menjalankan tugas sebagai penyuluh sadar wisata dalam
rangka mendorong peran masyarakat untuk mewujudkan
lingkungan dan suasana yang kondusif bagi tumbuh dan
berkembangnya kepariwisataan di daerah.
2.3.1.2. TUJUAN
Agar pramuka dapat memiliki bekal dan materi penyuluh
sadar wisata
2.3.1.3. MATERI KECAKAPAN SKK PENYULUH SADAR WISATA
Materi ajar SKK Penyuluh Sadar Wisata mencakup:
A. Nilai manfaat Pembangunan Pariwisata
B. Posisi dan peran masyarakat dalam pembangunan
pariwisata
C. Pengertian Sadar Wisata dan Sapta Pesona
D. Penerapan komponen Sapta Pesona

PENJABARAN MATERI AJAR
A. NILAI MANFAAT PEMBANGUNAN PARIWISATA
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan salah satu manfaat pembangunan
pariwisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan contoh manfaat pembangunan
pariwisata di daerahnya (minimal 2)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan manfaat pembangunan pariwisata di
bidang ekonomi sosial budaya dan lingkungan kepada
lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan manfaat pembangunan pariwisata di
bidang ekonomi sosial budaya dan lingkungan kepada
masyarakat



4

A.2. Materi
Manfaat pariwisata dapat dilihat dari beberapa bagian
yaitu:
1) Manfaat Pariwisata di bidang ekonomi
a. Meningkatkan devisa
Sektor pariwisata mempunyai peluang besar
untuk mendapatkan devisa.hal ini dapat di lihat
dengan semakin meningkatnya kunjungan
wisatawan manca negara ke Indonesia. Sebagai
penghasil devisa yang diandalkan, pembangunan
pariwisata dapat mendukung kelanjutan
pembangunan nasional.
b. Meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan
berusaha
Peningkatan pembangunan pariwisata dapat
membuka lapangan kerja dan lapangan berusaha,
baik secara langsung maupun tidak langsung, baik
pada waktu sebelum dan sesudah berlangsungnya
kegiatan kepariwisataan tersebut secara langsung
pada usaha akomodasi, restaurant dan hiburan,
cinderamata, informasi pariwisata, pramuwisata
dan pemerintah. Secara tidak langsung pada
usaha taxi, pusat perbellanjaan, industri kecil,
katering dan pengolahan makanan, pertanaian,
peternakan, perkebunan, perbankan, olah raga,
sanggar tari dan teater dan jasa-jasa lain.
c. Menunjang pembangunan daerah
Pembangunan pariwisata cenderung untuk tidak
terpusat di kota, melainkan ke daerah pedalaman
dan pantai yang bebas dari kebisingan kota.
Dengan demikian sektor pariwisata amat sangat
berperan dalam menunjang pembangunan
daerah.
d. Meningkatkan Penerimaan devisa
Pajak langsung, yaitu dari pajak penjualan dan
penghasilan dari perusahan pariwisata serta pajak
dari wisawan yang menggunakan fasilitas umum.
Pajak tak langsung, yaitu bea masuk dan bea cukai
dari penghasilan barang dan jasa.
e. Meningkatkan dan memeratakan pendapatan
rakyat
Belanja di DTW akan meningkatkan pendapatan
dan pemerataan pada masyarakat setempat baik
secara langsung maupun tidak langsung melalui
dampak berganda (multiflier effect )
f. Meningkatkan ekspor
Dengan semakin banyaknya wisatawan manca-
negara yang berkunjung berarti akan ikut
memperkenalkan barang-barang produksi dalam
negeri yang di nikmati wisatawan yang kemudian
akan membuka peluang untuk ekspor.
5

2) Manfaat pariwisata di bidang sosial dan budaya
Keanekaragaman kekayaan sosial budaya Indonesia
merupakan modal dasar dari pengembangan
pariwisata. Oleh sebab itu pengembangan
kepariwisataan harus mampu melestarikan dan
mengembangkan budaya yang ada. Memudarnya daya
tarik budaya kita pasti akan merugikan pengembangan
pariwisata indonesia.
3) Manfaat Pariwisata di bidang lingkungan hidup
Pada dasarnya pengembangan pariwisata
memanfaatkan kondisi lingkungan senantiasa
menghindari dampak kerusakan lingkungan senantiasa
menghindari dampak kerusakan lingkungan hidup,
yaitu dengan pengaturan yang teratur dan terarah.
B. POSISI DAN PERAN MASYARAKAT DALAM
PEMBANGUNAN PARIWISATA.
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
1. Dapat menyebutkan pihak-pihak yang terkait
(pemangku kepentingan) dalam pembangunan
kepariwisataan
2. Dapat menyebutkan posisi dan peran masyarakat
dalam pembangunan kepariwisataan
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
1. Dapat menjelaskan pihak-pihak yang terkait
(pemangku kepentingan) dalam pembangunan
kepariwisataan kepada kepada lingkungan terbatas
(gudep, sekolah, dsb)
2. Dapat menjelaskan posisi dan peran masyarakat
dalam pembangunan kepariwisataan kepada
lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
1. Dapat menjelaskan pihak-pihak yang terkait
(pemangku kepentingan) dalam pembangunan
kepariwisataan kepada masyarakat
2. Dapat menjelaskan posisi dan peran masyarakat
dalam pembangunan pariwisata kepada masyarakat

6


B.2. Materi
Pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat dengan
masyarakat, mengingat masyarakat merupakan bagian
atau komponen dari penyelenggaraan kegiatan pariwisata
melalui keunikan entitas masyarakat dengan tradisi dan
budaya lokal sebagai daya tarik kepariwisataan.





Hubungan pariwisata dan masyarakat
Masyarakat berperan sebagai salah satu pemangku
kepentingan (stakeholder) dalam pengembangan
pariwisata dalam kedudukannya sebagai komunitas yang
turut berperan dalam proses pengembangan, maupun
sebagai pelaku usaha kepariwisataan (misalnya: pengusaha
penginapan, rumah makan, pemandu wisata, pengrajin,
pertunjukan seni, dan sebagainya). Selain itu masyarakat
juga merupakan tuan rumah (host) bagi tamu atau
wisatawan yang berkunjung ke daerahnya.

Stakeholders dalam pengembangan pariwisata
(Sumber: Murphy, 1990)
Oleh karena itu pengembangan pariwisata harus
memperhatikan posisi, potensi dan peran masyarakat
sebagai aktor atau subjek pengembangan, karena posisi,
peran dan dukungan masyarakat turut menentukan sukses
atau keberhasilan jangka panjang pengembangan kegiatan
pariwisata.
Terkait dengan nilai strategis pengembangan destinasi
pariwisata bagi masyarakat, maka kegiatan kepariwisataan
dapat menjadi instrumen strategis dalam pengentasan dan
penanggulangan kemiskinan pada masyarakat setempat
dimana kegiatan kepariwisataan itu berada.
Dimana tujuan penanggulangan kemiskinan dalam jangka
panjang adalah untuk mewujudkan penghormatan,
perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat
miskin secara bertahap dan progresif agar dapat menjalani
tu a n ru m a h , p e la k s a n a /
s u b je k p e n g e m b a n g a n
MASYARAKAT
PEMERINTAH
fa s ilita to r da n
re g u la to r
p e la k s a n a /
p e n g e m b a n g /
in v e s to r
SWASTA
tu a n ru m a h , p e la k s a n a /
s u b je k p e n g e m b a n g a n
MASYARAKAT
tu a n ru m a h , p e la k s a n a /
s u b je k p e n g e m b a n g a n
MASYARAKAT
PEMERINTAH
fa s ilita to r da n
re g u la to r
PEMERINTAH
fa s ilita to r da n
re g u la to r
p e la k s a n a /
p e n g e m b a n g /
in v e s to r
SWASTA
p e la k s a n a /
p e n g e m b a n g /
in v e s to r
SWASTA
Pariwisata Masyarakat
A k o m o da s
i
T ra n s p o rta s i
O b je k /A tra k s i
Ma k a n /Min u m
H ib u ra n
s o u v e n ir
W is a ta w a n
Pariwisata Masyarakat
A k o m o da s
i
T ra n s p o rta s i
O b je k /A tra k s i
Ma k a n /Min u m
H ib u ra n
s o u v e n ir
W is a ta w a n
A k o m o da s
i
T ra n s p o rta s i
O b je k /A tra k s i
Ma k a n /Min u m
H ib u ra n
s o u v e n ir
W is a ta w a n W is a ta w a n
7

kehidupan yang bermartabat, dan menurunkan jumlah
penduduk miskin laki-laki dan perempuan.
Berikut adalah nilai-nilai strategis manfaat kegiatan
kepariwisataan bagi masyarakat setempat, terkait dengan:
1) Pariwisata yag eiliki karakter IN “ITU yaitu
konsumen/wisatawan harus datang ke lokasi untuk
mengkonsumsi produk, sehingga hal ini berarti
memberikan peluang dan kontribusi sangat besar bagi
pengembangan wilayah, membuka isolasi wilayah dan
penanggulangan kemiskinan.

Karakter in situ pariwisata
2) Pariwisata memiliki keterkaitan lintas sektor yang mampu
membuka peluang investasi sangat luas. Sistem keterkaitan
produk dan jasa layanan dalam kegiatan kepariwisataan
akan melibatkan unsur-unsur jaringan maskapai
penerbangan, tranportasi, jaringan hotel, biro-biro
perjalanan, industri jasa boga dan berbagai jasa terkait
lainnya dari seluruh dunia. Prospek ini menciptakan
peluang yang sangat besar bagi ketersediaan lapangan
kerja dan tumbuhnya sektor-sektor usaha yang terkait.

Keterkaitan produk dan jasa dalam pariwisata
3) Pariwisata mampu membangkitkan dampak ekonomi
multiganda. Pariwisata yang memiliki keterkaitan lintas
sektor dan usaha mampu membangkitkan DAMPAK
EKONOMI MULTI GANDA (multiplier effect) yang sangat
signifikan bagi tumbuhnya mata rantai usaha lintas skala,
terutama UKM sehingga membantu penciptaan lapangan
kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
A k o m o da s i
W is a ta w a n
ORIGIN
/ ASAL
DESTINATION/ TUJUAN
A k o m o da s i
W is a ta w a n W is a ta w a n
ORIGIN
/ ASAL
DESTINATION/ TUJUAN
8


Dampak ekonomi multiganda dalam sektor pariwisata
C. KONSEP SADAR WISATA DAN SAPTA PESONA
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
1. Dapat menyebutkan pengertian sadar wisata
2. Dapat menyebutkan unsur sapta pesona
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
1. Dapat menyebutkan tujuan dan sasaran Sadar
Wisata
2. Dapat menguraikan pengertian unsur – unsur sapta
pesona
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
1. Dapat menjelaskan pengertian, tujuan dan sasaran
Sadar Wisata kepada lingkungan terbatas (gudep,
sekolah, dsb)
2. Dapat menjelaskan pengertian sapta pesona kepada
lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
1. Dapat menjelaskan pengertian , tujuan dan sasaran
Sadar Wisata kepada masyarakat
2. Dapat menjelaskan pengertian sapta pesona kepada
masyarakat

C.2. Materi
Sadar Wisata dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep
yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap
komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya
iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya
kepariwisataan di suatu wilayah dan bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sapta Pesona merupakan jabaran konsep Sadar Wisata
yang terkait dengan dukungan dan peran masyarakat
sebagai tuan rumah dalam upaya untuk menciptakan
lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong
tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata melalui
perwujudan tujuh unsur dalam Sapta Pesona tersebut.
Dampak Langsung
H o te l, G u ide / R e s to ra n , /
O D T W / P e ru s h A irlin e /
A n g k t/ B P W /
G a lle ri/ a rt s h o p
J a s a k e u a n g a n
D a m p a k Ik u ta n
P e ta n i s a y u ra n , b u n g a da n b u a h
P e te rn a k a y a m , ik a n da n s a p i
P e n g h a s il b a h a n b a k u k e ra jin a n
S e k to r in du s tri & p e rda g a n g a n
S e k to r a g rib is n is
Dampak Tak Langsung
K a ry a w a n h o te l, re s to ra n ,
B P W , O D T W , ds b .
S u p ir a n g k t. U m u m
P e m e rin ta h (p a ja k )
P e n g ra jin c in de ra m a ta
P o m p a b e n s in
P e n ju a l s a y u ra n , b u a h &
b a h a n m a k a n a n
S e n im a n ik la n / P e rc e ta k a n
Dampak Langsung
H o te l, G u ide / R e s to ra n , /
O D T W / P e ru s h A irlin e /
A n g k t/ B P W /
G a lle ri/ a rt s h o p
J a s a k e u a n g a n
D a m p a k Ik u ta n
P e ta n i s a y u ra n , b u n g a da n b u a h
P e te rn a k a y a m , ik a n da n s a p i
P e n g h a s il b a h a n b a k u k e ra jin a n
S e k to r in du s tri & p e rda g a n g a n
S e k to r a g rib is n is
Dampak Tak Langsung
K a ry a w a n h o te l, re s to ra n ,
B P W , O D T W , ds b .
S u p ir a n g k t. U m u m
P e m e rin ta h (p a ja k )
P e n g ra jin c in de ra m a ta
P o m p a b e n s in
P e n ju a l s a y u ra n , b u a h &
b a h a n m a k a n a n
S e n im a n ik la n / P e rc e ta k a n
9

Logo Sapta Pesona
berbentuk matahari
tersenyum yang
menggambarkan
semangat hidup dan
kegembiraan. Tujuh
sudut pancaran sinar
yang tersusun rapi di
sekeliling matahari
menggambarkan unsur-
unsur Sapta Pesona yang terdiri dari: unsur aman,
tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan.
Berikut ini penjabaran dari unsur-unsur sapta pesona:
AMAN
Pengertian Suatu kondisi lingkungan di destinasi
pariwisata atau daerah tujuan wisata yang
memberikan rasa tenang, bebas dari rasa takut dan
kecemasan bagi wisatawan dalam melakukan
perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :
 Tidak menganggu kenyamanan wisatawan
 Menolong dan melindungi wisatawan
 Menunjukkan sifat bersahabat terhadap
wisatawan
 Memelihara keamanan lingkungan
 Membantu memberi informasi kepada wisatawan
 Menjaga lingkungan yang bebas dari bahaya
penyakit menular
 Meminimalkan resiko kecelakaan dalam
penggunaan fasilitas publik.
TERTIB
Pengertian kondisi lingkungan dan pelayanan di
destinasi pariwisata/daerah tujuan wisata yang
mencerminkan sikap disiplin yang tinggi serta kualitas
fisik dan layanan yang konsisten dan teratur serta
efisien sehingga memberikan rasa nyaman dan
kepastian bagi wisatawan dalam melakukan
perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :
 Mewujudkan budaya antri
 Memelihara lingkungan dengan mentaati
peraturan yang berlaku
 Disiplin waktu/tepat waktu
 Serba jelas, teratur, rapi dan lancar.
BERSIH
Suatu kondisi lingkungan serta kualitas produk dan
pelayanan di destinasi pariwisata/daerah tujuan
wisata yang mencerminkan keadaan yang
sehat/hygienik sehingga memberikan rasa nyaman
10

dan senang bagi wisatawan dalam melakukan
perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :
 Tidak membuang sampah sembarangan
 Menjaga kebersihan lingkungan objek wisata
 Menjaga lingkungan yang bebas dari polusi udara
 Menyiapkan sajian makanan dan minuman yang
higienis
 Menyiapkan perlengkapan penyajian makanan
dan minuman yang bersih
 Pakaian dan penampilan petugas bersih dan rapi.
SEJUK
Suatu kondisi di destinasi pariwisata/daerah tujuan
wisata yang mencerminkan keadaan yang sejuk dan
teduh yang akan memberikan perasaan nyaman bagi
wisatawan dalam melakukan kunjungannya ke daerah
tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :
 Melaksanakan penghijauan dengan menanam
pohon
 Memelihara penghijauan di lingkungan objek
wisata
 Menjaga kondisi sejuk dalam berbagai area di
daerah tujuan wisata.

INDAH
Suatu kondisi di daerah tujuan wisata yang
mencerminkan keadaan yang indah dan menarik dan
memberikan kesan yang mendalam bagi wisatawan
sehingga mewujudkan potensi kunjungan ulang serta
mendorong promosi ke pasar wisatawan yang lebih
luas.
Bentuk Aksi yang perlu diwujudkan antara lain :
 Menjaga objek wisata dalam tatanan yang estetik,
alami dan harmoni
 Menata lingkungan secara teratur
 Menjaga keindahan vegetasi, tanaman hias dan
peneduh.
RAMAH
Suatu kondisi lingkungan yang bersumber dari sikap
masyarakat di destinasi pariwisata yang
mencerminkan suasana yang akrab dan terbuka.
Bentuk Aksi yang perlu diwujudkan:
 Bersikap sebagai tuan rumah yang baik serta
selalu membantu wisatawan
 Memberi informasi tentang adat istiadat secara
sopan
 Menunjukkan sikap menghargai dan toleransi
terhadap wisatawan
11

 Memberikan senyum yang tulus.
KENANGAN
Suatu bentuk pengalaman yang berkesan di destinasi
pariwisata yang akan memberikan rasa senang dan
kenangan yang indah bagi wisatawan.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan :
 Menggali dan mengangkat keunikan budaya lokal
 Menyajikan makanan dan minuman khas lokal
yang bersih dan sehat
 Menyediakan cinderamata yang menarik,
unik/khas serta mudah dibawa
D. PENERAPAN DAN MANFAAT SAPTA PESONA
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan contoh-contoh tindakan dalam
rangka penerapan unsur –unsur Sapta Pesona (minimal
2)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan contoh-contoh tindakan dalam
rangka penerapan unsur – unsur Sapta Pesona kepada
lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
1. Dapat menjelaskan berbagai tindakan dalam rangka
penerapan unsur –unsur Sapta Pesona kepada
masyarakat
2. Dapat menyusun program aksi sapta pesona di
daerahnya
D.2. Materi
1) Aman
Apa yang akan Anda rasakan jika melancong ke tempat
yag ligkugaya aa ? Tetu Ada eyukai tepat
wisata tersebut, kan?. Sebaliknya jika tempat atau daerah
obyek wisata yang kita kunjungi dinyatakan tidak aman,
maka kita akan takut dan pasti ingir cepat-cepat
meninggalkan tempat tersebut. Inilah akibat kita tidak
menciptakan rasa aman.
Oleh karena itu, marilah kita ciptakan, kondisikan,
pelihara, dan masyarakatkanlah situasi aman agar
terwujud rasa aman yang sesungguhnya dengan cara yang
tidak melanggar aturan, norma adat dan budaya kita
sebagai bangsa yang besar dan beradab. Ada beberapa
cara yang bisa anda lakukan untuk menciptakan dan
menjaga rasa aman, di antaranya adalah:
12

a. Kita semua harus sadar akan adanya keseimbangan
antara hak dan kewajiban; harus selalu disadari bahwa
setiap perilaku kita dalam bergaul dengan siapapun
dan di manapun apa yang kita lakukan pasti
berhubungan dengan kepentingan orang lain bahkan
dengan kepentingan sistem, dan prosedur yang
berlaku.
b. Membangun sistem keamanan yang kuat. Sistem
keamanan bisa dibangun mulai dari sikap disiplin kita
baik secara individu maupun secara komunitas sosial,
masyarakat.
c. Kita juga harus taat kepada hukum; artinya bahwa
negara kita adalan negara hukum dan harus bangga
bahwa bangsa kita sudah mampu membangun sistem
keamanan melalui bidang hukum Untuk itu seyogianya
kita semua menjungjung tinggi dan menjaga sistem,
hukum yang ada agar keberadaannya mampu
melindungi hak dan kewajiban. Jadi, sudah tentu
hukum itu patut ditaati. Dalam kaitan pelaksanaan
Program Sadar Wisata juga dapat dikatakan sebagai
sikap taat dan menjunjung tinggi hukum secara tidak
langsung
d. Memfungsikan semua alat penerangan lampu
terutama pada malam hari khususnya di daerah obyek
wisata sesungguhnya hal ini adalah hal sederhana
yang mendasar dalam Iingkungan hidup
bermasyarakat. Namun apakah kita sudah
melaksanakannya berkaitan dengan kepentingan
sebagai tempat obyek wisata?
e. Disiplin dalam melakukan segala sesuatu berhubungan
dengan orang lain; maksudnya bahwa setiap warga
masyarakat diharapkan mampu berdisiplin, baik
secara individu maupun dalam interaksi dengan orang
lain di mana pun berada. Dengan demikian, akan
tumbuh sikap saling menghargai yang secara tidak
langsung sudah memberikan rasa arnan bagi semua
orang.
f. Memberikan kepercayaan kepada orang lain sesuai
dengan potensinya, terutama terhadap petugas
keamanan; maksudnya bahwa kita semua diharapkan
bisa memberikan rasa percaya dan menghormati sikap
orang lain sesuai dengan profesinya sebagai petugas
keamanan.
Anda pasti bisa merasakan betapa besar kebutuhan akan
rasa aman in ketika berkunjung ke daerah wisata tertentu.
Terpenuhinya kebutuhan akan rasa aman akan
menghasilkan kepuasan berwisata. Tentu siapa pun ingin
mengulangi kepuasaan ini dan mengunjungi lagi tempat
wisata tersebut di lain waktu. Inilah seharusnya yang kita
upayakan bersama. Bagi kita sebagai pihak yang berupaya
menciptakan dan memelihara, maupun bagi pihak lain
yang turut menikmatinya, ada beberapa manfaat minimal
yang dapat dirasakan dari rasa aman yaitu:
a. Tidak ada rasa takut untuk bepergian
13

b. Keinginan wisatawan untuk berkunjung lebih besar.
c. Citra positif pariwisata tetap terjaga
d. Memberikan peluang pembangunan dan
penyempurnaan fasilitas dan sistem pelayanan jasa
informasi yang bermanfaat baik di tempat-tempat
obyek wisata maupun di tempat-tempat lain.
Itulah manfaat terciptanya rasa aman! Apakah hal itu
mendatangkan keuntungan dan peluang bagi
pengembangan kualitas daerah obyek wisata yang kita
miliki? Tentunya pasti!
Berdasarkan uraian di atas, marilah kita beraktivitas
dengan selalu menaati rambu-rambu atau aturan-aturan
yang mengatur dan mejaga keamanan demi terwujudnya
keselamatan bersama. Jika semua itu terwujud, maka
kondisi bidang kepariwisataan di Indonesia akan membaik
dan terbangun kembali.
2) Tertib
Apa yang anda rasakan ketika harus berebutan untuk
mendapatkan sebuah tiket masuk sebuah pertunjukan
musik? Apakah anda merasa senang berdesakan saling
sikut dan saling injak dengan pengunjung lain?
Jawaaya ua satu tidak seag.
Dan kunci pengondisian ketidakteraturan tersebut adalah
dega Terti. Utuk itu seyogiaya kita seua ersikap
tertib demi kepuasan bersama. Perlu disadari bahwa
suasana tertib merupakan cerminan tingkat disiplin yang
tinggi dari sebuah masyarakat yang terpuji.
Berikut ini cara-cara yang dapat kita lakukan dalam
menciptakan ketertiban umum :
a. Ikuti ketentuan atau tata tertib yang berlaku, di
manapun kita berada;
Perlu diakui, kita sering menyepelekan dan
mengabaikan masalah tata tertib. Padahal kita semua
tahu pasti tujuan dan manfaat diberlakukannya
sebuah tata tertib.
Pemberlakuan tata tertib diharapkan mampu
memberikan pemenuhan atas aspek-aspek seperti
rasa aman, nyaman dan rasa keindahan. Contohnya
jika kita berjalan-jalan di taman kemudian melihat
tanda pemberitahuan yang berbunyi: Dilarang
menginjak rumput. Sudah tentu maksud papan
peringatan tersebut agar taman tetap kelihatan indah
dengan tanaman yang tetap subur dan enak
dipandang mata. Untuk itu marilah kita kendalikan diri
kita untuk tidak melanggar tata tertib apapun, baik itu
yang berhubungan dengan pribadi maupun dengan
orang lain, apalagi bila sudah berkaitan dengan
kepariwisataan, pemeliharaan keindahan dan
kenyamanan wisatawan tentu perlu diutamakan.
b. Janganlah kita menciptakan suasana berisik atau
gaduh;
14

Ajakan ini bertujuan agar setiap warga masyarakat
Indonesia bisa saling menghormati, menghargai tertib
dan teratur dalam melakukan segala sesuatu, baik
demi kepentingan pribadi maupun kepentingan
umum. Sebagai contoh, pada waktu ada kunjungan
wisatawan asing atau domestik ke tempat obyek
wisata sebagai tuan rumah kita diharapkan bisa
menciptakan situasi yang tenang di lingkungan sekitar.
Hal ini bertujuan agar wisatawan dapat benar-benar
merasakan kenyamanan, dan keindahan obyek wisata
yang mereka kunjungi. Dengan demikian, para
wisatawan pun akan menghargai dan menghormati
kita sebagai warga masyarakat yang berbudi luhur,
ramah, dan berwibawa.
Sehubungan dengan uraian di atas, berikut ini
diketengahkan manfaat terwujudnya suasana tertib,
yaitu: a) terciptanya ketenangan; b) terciptanya
kondisi teratur; dan c) terbentuknya wibawa sebagai
masyarakat yang berbudaya. Nah, jika kita semua
eyadari afaat eiptaka situasi terti ii,
janganlah menciptakan suasana yang sebaliknya.
Karena ketidaknyamanan yang kita rasakan, juga akan
dirasakan oleh tamu kita, para wisatawan.
3) Bersih
Jika Iingkungan disekitar kita bersih, semua orang akan
merasakan kenyamanan dalam penglihatan, pernapasan,
dan aktivitas hidup lainnya. Terlebih jika aktivitas itu
adalah pelancongan ke tempat wisata. Jika sebuah tempat
wisata bersih, tentu akan membuat wisatawan betah
berlama-lama menikmatinya.
Tidak sukar membiasakan diri hidup bersih. Mulailah dari
hal-hal kecil pada diri sendiri, karena lingkungan keluarga,
lingkungan di sekitar sehingga akhirnya kita akan terbiasa
hidup bersih di manapun berada.
Berikut ini adalah cara sederhana melakukan dan
membiasakan hidup bersih ini bermula dari diri kita
sendiri, yaitu:
a. Selalu teratur membersihkan badan;
b. Makan, minum secara teratur dan bersih;
c. Tidak membuang sampah sembarangan;
d. Tidak meludah di sembarang tempat, atau membuang
kotoran seenaknya;
e. Menyediakan tempat sampah;
f. Lakukan pemusnahan sampah secara teratur dan
memerhatikan sanitasi lingkungan;
g. Penataan saluran air dan tempat pembuangan sampah
di sekitar lingkungan anda;
h. Memasyarakatkan nilai-nilai santasi lingkungan.
Jika terbiasa hidup sehat, tentunya anda akan selalu
memakan rnakanan sehat yang higienis den selalu
menjaga kebersihan lingkungan. Membiasakan hidup
bersih berarti kita menciptakan :
15

a. pola hidup sehat;
b. suasana hidup yang lebih menyenangkan;
c. semangat hidup yang lebih bergairah.
Untuk itu marilah kita senantiasa membiasakan diri hidup
bersih dalam setiap aspek kehidupan, demi kepentingan
kita bersama.

4) Sejuk
Kondisi yang sejuk pasti sangat didambakan semua orang.
Kondisi alam yang segar, enak dipandang nikmat dihirup
udaranya dan mampu membawa pikiran anda ke dalam
nuansa ketenangan. Kondisi itulah yang dicari oleh para
wisatawan dalam perjalanan wisatanya.
Jadi, akibat kesejukan ini tiada lain tercipta dari kondisi
lingkungan yang sehat, bersih dan nyaman. Untuk itu
marilah kita menciptakan kondisi yang memberikan makna
sejuk bagi lingkungan dan tempat-tempat obyek wisata.
Ada beberapa cara sederhana yang kita semua bisa
melakukarnya sehingga kondisi sejuk bisa terwujud. Yaitu:
a. melakukan penghijauan di lingkungan, termasuk
tempat-tempat yang menjadi objek wisata;
b. menjaga kebersihan ingkungan; dan
c. melestarikan segala potensi wisata yang dimiliki
lingkungan sekitar kita; dan yang terpenting adalah
d. mengatur sirkulasi udara bebas yang baik. khususnya
untuk ruangan -ruangan tertutup
Marilah kita ciptakan kondisi yang sejuk di manapun kita
berada. Berikut in manfaat kesejukan yaitu:
a. tubuh dan pikiran kita menjadi segar dan fit setiap
saat;
b. stamina kita dalam beraktivitas bertahan lebih lama.
5) Indah
Keindahan merupakan cerminan atas kuasa Tuhan dan
karya manusia kreatif. Semua insan pasti menyukai
keindahan, tetapi keindahan yang bagaimanakah yang
perlu kita mewujudkan dan nikmati bersama terutama di
bidang pariwisata? Anda mungkin pernah melihat
pemandangan di Pantai Kuta Bali, pada saat melihatnya
anda pasti merasakan keindahan alam waktu itu. Atau
mungkin di tempat wisata lainnya.
Bahkan sesungguhnya keindahan juga bisa kita ciptakan
mulai dari lingkungan sekitar. Misalnya dengan menata
pekarangan rumah, atau menata lingkungan tempat kita
tinggal. Hakikat keindahan itu cenderung kita nikmati
melalui penglihatan yang pada akhirnya berpusat pada
perasaan estetis dengan demikian mulailah menciptakan
keindahan ini dengan menata segala apa yang kita lihat
16

Ada beberapa cara sederhana untuk menciptakan dan
menjaga keindahan yang tentunya bisa anda lakukan,
diantaranya:

a. Gemar menata ruang
Artinya kita semua mencoba menyadari bahwa segala
kegiatan kita yang berhubungan dengan menata
ruang, baik itu di ruangan rumah, pekarangan,
lingkungan, bahkan tempat obyek wisata tertentu,
merupakan upaya nenciptakan keindahan visual.
Jadi ketika anda melakukan penataan di tempat-
tempat tersebut, maka indera penglihatanlah yang
pertama kali merasakan keindahan yang muncul
dihadapan kita semua. Inilah yang seyogianya kita
kembangkan sebagai perilaku individu bangsa
Indonesia yang mampu memaknai nilai-nilai dan
pengalaman Sadar Wisata melalui pembenahan dan
pengembangan Sapta Pesona dalam kehidupan sehari-
hari
b. Melestarikan lingkungan;
Artinya kita semua harus mampu, menjaga
keseimbangan lingkungan mulai dari lingkungan
pribadi sampai dengan lingkungan tempat kita
beraktivitas sehari-hari. Melestarikan lingkungan
dapat dilalukan dalam dua sudut pandang:
 menjaga dan mempertahankan keseimbangan alam
yang sudah ada;
 melestarikan dalam arti kita semua berupaya
mengubah alam yang tadinya belum memunculkan
rasa ketenangan, keindahan, dan kenyamanan,
menjadi lebih memberikan rasa ketenangan,
keindahan, dan kenyamanan.
Untuk itu marilah kita wujudkan kelestarian baik
dalam bentuk tindakan menjaga, mempertahankan
serta mewujudkan keindahan.
c. Mencegah dan menghilangkan aksi corat-coret
Aksi corat-coret pada pagar atau dinding rumah jelas
amat merusak nilai keindahan Oleh sebab itu, mari
kita bersarna-sama menjaga dan mencegah agar diri
kita bali sebagai orang tua, pemuda-pemudi, dan
anak-anak menjaga lingkungan sekitar agar aksi
menjadi ajang aksi corat-coret tersebut. Jika anda
melihat di suatu tempat obyek wisata ada corat-coret
yang dilakukan wisatawan tentunya hal itu akan
mengurangi nilai keindahan. Terlebih jika yang
melakukan kita sendiri sebagai pribumi, perilaku
terseut jelas tidak sesuai dega kapaye “adar
Wisata elalui “apta Pesoa ii.
d. Gemar akan kegiatan hias-menghias secara teratur;
17

Jika Anda seorang seniman atau seniwati mungkin
tidak asing lagi dengan kegiatan hias-menghias. Akan
tetapi, melalui kampanye Sadar Wisata dan Sapta
Pesona ini kita semua sebagai warga masyarakat
Indonesia diharapkan bisa melakukan kegiatan-
kegiatan yang termasuk ke dalam kategori hias-
menghias ini. Apalagi jika ditujukan untuk
menghasilkan daya tarik bagi orang lain atau
wisatawan baik domestik mapun mancanegara
tentunya hal ini sangat kita harapkan bersama. Jadi
secara langsung kita semua yang terlibat di dalamnya
sudah mampu menunjukkan dukungar terhadap
kebangkitan kembali pariwisata Indonesia melalui
program Sadar Wisata dan Sapta Pesona.
Manfaat keindahan adalah :
 Timbulnya kesadaran akan kebesaran Tuhan ;
 Terciptanya perasaan senang;
 Mencegah munculnya perasaan stress
 Mempertajam kepekaan estetis.
Kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang memiliki
nilai keindahan pasti membuat orang tertarik. Jika
suatu tempat wisata memiliki keindahan yang khas,
wisatawan pun akan berdatangan. Sekali lagi marilah
kita ciptakan, jaga dan lestarikan nilai-nilai keindahan
ini bersama-sama.

6) Ramah
Keramahan merupakan sikap positif dari seseorang yang
memiliki etika moral dan berpendidikan. Akan tetapi
keramahan dapat menjadi milik kita semua sebagai warga
masyarakat yang berbudaya dan memiliki adat istiadat
ketimuran.
Perilaku atau pribadi yang ramah memang disukai banyak
orang. Keramahan inilah yang harus kita munculkan dan
tingkatkan kembali dalam kehidupan sehari-hari dan
dalam segala aspek kehidupan. Jika sudah terwujud,
marilah kita semua mempertahankan keramahan tersebut
sampai betul-betul bisa dinikmati dan dicontoh oleh orang
Iain. Aspek keramahan inilah yang selama ini menjadi
kebanggaan dan diharapkan dapat mengembalikan
prestasi bidang pariwisata Indonesi ini ke masa kejayaan
yang pernah kita capai pada masa Ialu. Memasyarakatkan
keramahan bisa di muIai pada diri kita sendiri di antaranya
dengan cara:
a. Bertutur kata yang sopan dengan mimik wajah yang
menyenangkan:
Keramahan yang diwujudkan lewat perilaku tutur kata
dan ekspresi wajah yang manis bukan berarti harus
dibuat-buat akan tetapi diharapkan sudah menjadi
kepribadian kita sebagai rnasyarakat Indonesia yang
cinta damai dan persahabatan.
18

Untuk itu kita semua harus mampu membargun
kepribadian hakiki yang bertutur kata sopan, penuh
senyum yang ramah. Hal ini dapat kita mulai dan diri
masing-masing. Di mana pun berada, tunjukkanlah
tutur kata yang sopan dan ramah ini, karena hal ini
pasti akan melahirkan persahabatan dan membuat
orang senang dan menghargai kita.
b. Pengendalian diri;
Maksudnya mengendalikan diri terhadap perilaku-
perilaku yang dapat meresahkan masyarakat, apalagi
meresahkan warga negara asing (sebagai wisatawan
mancanegara). Pengendalian diri ini juga berlaku pada
perilaku yang dapat mengakibatkan bencana alam.
Kita semua bisa melatih sikap pengendalian diri pada
diri sendiri di manapun dan dalam kondisi apapun.
Maka upayakanlah mengedepankan pengendalian diri
pasti kita semua akan selamat dan dihargai orang lain.
c. Saling menghormati
Mungkin anda sudah tidak asing lagi dengan ungkapan
horat eghorati ii karea sejak diagku “D
bahkan para orang tua dan guru telah mengajari kita
akan hal ini. Sikap saling menghormati terutama
diperlukan dalam pergaulan sosial. Akan tetapi, kita
kadangkala sukar untuk bersikap seperti itu. Hal ini
terjadi ketika kita merasa lebih baik, lebih pintar, atau
lebih tahu daripada orang lain.
Sebagai konsekuensinya, sulit pula orang lain
menghargai kita. Untuk itu marilah kita saling
merendahkan hati, saling menghargai perasaan,
pikiran, maupun karya orang lain sehingga kita pun
menerima perlakuan yang sama dari orang lain.
Sikap seperti inilah yang seyogyanya bisa
dikembangkan tatkala kita ingin mewujudkan kembali
keluhuran nilai-nilai pariwisata Indonesia kepada
dunia internasional.
d. Gemar bertegur-sapa dengan baik;
Pada intinya sikap inilah yang menjadi salah satu dasar
keberhasila kita dalam pergaulan. Melalui bertegur
sapa maka kita akan rnenebar kebaikan dan
menciptakan ikatan persaudaraan, persahabatan, dan
kekeluargaan di manapun kita berada. Dengan
bertegur sapa secara baik-baik, maka ketika anda
sedang berada di negeri asing sekalipun pasti tidak
akan mendapat kesulitan. Terlebih jika dilakukan di
lingkungan sekitar kita atau di tempat-tempat wisata
yang banyak dikunjungi wisatawan asing, tegur sapa
akan memberikan kesan keramahan sehingga akhirnya
mereka kerasan untuk menikmati lebih lama lagi
pesona tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi
di negara kita.
Manfaat tegur-sapa yang ramah adalah
19

 Terjadinya keakraban; dengan tegur-sapa suasana
hangat akan senantiasa tercipta dalam perasaan
setiap individu meskipun tidak saling
mengenal satu dengan lainnya.
 Terciptanya rasa damai keakraban yang tercipta
pada akhirnya tentu membuat hati kita menjadi
damai, tanpa rasa was-was meski berada di
lingkurgan dan orang-orang yang asing bagi
kita.
 Mencegah terjadinya konflik; melalui tegur
sapa bisa tercipta tali persaudaraan dan
kekeluargaan yang akan mampu mencegah
terjadinya konflik.
7) Kenangan
Pernahkah anda merasa terbayang lagi akan keindahan
panorama tempat wisata yang telah dikunjungi sehingga
amda merasa ingin kembali mengunjungi tempat itu? Pasti
pernah kan? Perasaan itulah yang dimaksud dengan istilah
Keaga" dala duia pariwisata.
Kenangan merupakan ingatan ataupun kesan positif yang
tersimpan di dalam pikiran seseorang setelah
mendapatkan dan merasakan pelayanan yang baik
menyangkut 6 (enam) unsur aman, tertib, bersih, sejuk,
indah, dan ramah. Disamping ada produk yang dibawa
sebagai oleh-oleh.
Setiap anda akan mengunjungi suatu tempat wisata, pasti
pada benak anda muncul perasaan ingin, memperoleh
kenangan yang indah dan menyenangkan.
Oleh sebab itu, marilah kita berlomba-lomba menciptakan
kenyamanan dan keunikan yang khas penuh pesona agar
melahirkan kenangan yang indah bagi setap wisatawan
yang datang, dalam rangka rnengampanyekan kembali
dunia pariwisata Indonesia melalui Program Sadar Wisata
dan Sapta Pesona. Kita bisa mulai menciptakan dan
menjaga kenangan ini dengan cara-cara yang sederhana
seperti :
a. Memberikan pelayanan yang baik; kita semua
melakukannya ketika kita dihadapkan dalam kegiatan
yang melibatkan orang lain, terutama yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan orang
lain, seperti dalam pelayanan jasa memandu
perjalanan, penyediaan makanan, dan sejenisnya.
b. Menjaga perasaan orang lain; kita bisa melakukannya
tatkala kita sedang berbincang dengan orang lain, baik
itu orang yang sudah lama dikenal atau orang yang
baru dikenal baik dengan orang yang seusia, lebih tua,
ataupun lebih muda daripada kita.
c. Menjaga kualitas produk; kita semua sadar, cinta
tanah air berarti kita juga cinta produk negeri sendiri.
Untuk itu kita harus berusaha agar kualitas produk
dalam negeri tetap terjaga meningkatkan kualitasnya.
Kualitas produk yang tinggi akan mendukung
20

terciptanya kenangan yang membuat orang lain
datang kembali.
d. Percaya diri melalui kampanye Sadar Wisata dan Sapta
Pesona ini marilah kita berbenah diri dan tunjukkan
kemampuan kita sesuai dengan bidangnya masing-
masing serta bekerja keras dengan mengedepankan
rasa percaya diri agar semua yang dicita-citakan
berhasil.
e. Jujur; kejujuran adalah modal kepercayaan orang lain
terhadap kita. Dalan aspek kehidupan apapun
termasuk dalam memberikan pelayanan wisata
terhadap para wisatawan, kejujuran akan
menumbuhkan rasa simpati. Pada akhirnya kita akan
dipercaya dan disenangi, karena mampu memberikan
perasaan tenang dan damai kepada mereka.
Kita sadari bersama bahwa unsur kenangan ini mampu
memberikan berbagai manfaat pada kita semua. Manfaat
tersebut, di antaranya adalah :
a. Terbentuknya penghormatan dan penghargaan dari
orang lain
b. Terbentuknya citra yang baik bagi pribadi, masyarakat,
dan negara kita;
c. Terciptanya kepuasan bagi diri kita dan terlebih bagi
wisatawan;
d. Meningkatkan rasa saling percaya di antara sesama.
Marilah kita mulai dengan niat yang ikhlas, sadar, dan
penuh percaya diri dengan bekal pengetahuan dan
wawasan yang luas untuk merealisasikan suksesnya
pembangunan dunia pariwisata Indonesia melalui Program
Sadar Wisata dan Sapta Pesona berkat terbentuknya
masyarakat yang mampu menjadi Tuan Rumah, yang baik
bagi setiap wisatawan yang berkunjung.
Apabila konsep Tiga Serangkai ini dapat dilaksanakan
dengan baik, maka hasilnya adalah berkembangnya dunia
pariwisata Indonesia. Selanjutnya pergerakan dan
penyebaran Wisatawan Nusantara akan berjalan dengan
baik dan Wisatawan Mancanegara pun akan datang dan
masuk ke Indonesia.
Untuk itu marilah kita semua bersama-sama mewujudkan
konsep Tiga Serangkai ini dalam sikap serta aktivitas kita
sehari-hari dimanapun berada, baik itu secara langsung
maupun tidak langsung ditujukan pada upaya peningkatan
prestasi pariwisata Indonesia sekarang dan masa yang
akan datang.
E. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
21

Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penggalang
untuk memperoleh TKK Penyuluh Sadar Wisata
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penegak
untuk memperoleh TKK Penyuluh Sadar Wisata


2.2. SKK PENYULUH EKOWISATA
1. PENGERTIAN
SKK Penyuluh Ekowisata adalah syarat kecakapan khusus
yang berkaitan dengan kemampuan untuk dapat
menjalankan tugas sebagai penyuluh ekowisata dalam
rangka mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan
melalui pengembangan kegiatan wisata yang bertanggung
jawab dan ramah lingkungan.
2. MANFAAT
Agar pramuka dapat memiliki bekal dan materi terkait
dengan ekowisata dalam mendukung pengembangan dan
pengelolaan pariwisata secara berkelanjutan.

3. MATERI KECAKAPAN SKK PENYULUH EKOWISATA
Materi ajar SKK Penyuluh Ekowisata mencakup:
A. Prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan
B. Pengertian dan prinsip Ekowisata
C. Penerapan prinsip-prinsip ekowisata dalam
pengelolaan kepariwisataan
D. Kemampuan menyuluh Ekowisata kepada masyarakat
dan wisatawan

PENJABARAN MATERI AJAR
A. PRINSIP PEMBANGUNAN PARIWISATA BERKELANJUTAN
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
ditiadakan
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
1. Dapat menyebutkan pengertian pembangunan
pariwisata berkelanjutan
2. Dapat menyebutkan tujuan dan sasaran
pembangunan pariwisata berkelanjutan
22

3. Dapat menyebutkan prinsip-prinsip pembangunan
pariwisata berkelanjutan


C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
1. Dapat menjelaskan contoh prinsip-prinsip
pembangunan pariwisata berkelanjutan
2. Dapat menjelaskan pengertian, prinsip dan tujuan
sasaran pembangunan pariwisata berkelanjutan
kepada lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
1. Dapat menjelaskan contoh program yang mewakili
penerapan prinsip pembangunan pariwisata
berkelanjutan
2. Dapat menjelaskan arti prinsip dan tujuan sasaran
pembangunan pariwisata berkelanjutan kepada
masyarakat

A.2. Materi
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development)
telah menjadi agenda global dalam setiap proses
pembangunan. Oleh karenanya, seluruh pemangku
kepentingan termasuk pemerintah dalam berbagai sektor
pembangunan harus menerapkan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan baik dalam setiap kebijakan
maupun rencana pembangunan yang akan dilaksanakan,
tentu saja termasuk di dalamnya pembangunan sektor
kepariwisataan.
Konsep pembangunan berkelanjutan dimunculkan
pertama kali oleh World Commission on Environment and
Development Report pada tahun 1987 dengan
mendefinisikan Sustainble Development sebagai ´meetloq
the needs of the present without compromising the ability
of fotote qeoetotloos to meet tbelt owo oeeJs´.
Berdasarkan definisi tersebut, World Tourism Organization
(WTO), telah menerapkannya pada sektor-sektor
kepariwisataan dengan mendefinisikan Sustainable
Tourism Development menjadi:
´“ostolooble tootlsm Jevelopmeot meets tbe oeeJs of
present tourists and host regions while protecting and
enhancing opportunity for the future. It is envisaged as
leading to management of all resources in such a way that
economic, social, and aesthethic needs can be fulfilled
while maintaining cultural integrity, essential ecological
processes, and biological diversity, and life support
system.´
Definisi tersebut diadopsi oleh banyak negara di seluruh
belahan dunia dalam berbagai macam variasi, misalnya
definisi dari Organization of East Carribean States (OECS)
adalah sebagai berikut:
´1be optlmol ose of oototol ooJ coltotol tesootces fot
national development on an equitabel and self-sustaining
23

basis to provide a unique visitor experience and an
improved quality of life through partnership among
qovetomeot, tbe ptlvote sectot ooJ commooltles.´
Definisi-definisi tersebut belum dapat membuat konsep
keberlanjutan mudah diimplementasikan pada industri
pariwisata. Pada tahun 1989, British Columbia, Canada
(Rees, 1989 dalam Gunn, 1994) mencoba
memformulasikan definisi Sustainable Development yang
cukup relevan dengan perencanaan pariwisata yaitu,
´“ostolooble Jevelopmeot ls positive socioeconomic
change that does not undermine the ecological and social
systems upon which communities and society are
dependent. Its successful implementation requires
integrated policy, planning, and social learning processes;
its political viability depends on the full support of the
people it affects through their governments, their social
lostltotloos, ooJ tbelt ptlvote octlvltles.´
Definisi tersebut mengungkapkan kunci-kunci
implementasi pembangunan pariwisata harus memenuhi
paling tidak tiga kisi – kisi sebagai berikut :
a. posltlve socloecooomlc cbooqe´ yang artinya
perubahan harus membawa keadaan sosial dan
ekonomi menjadi lebih baik.
b. ´Joes oot ooJetmloe tbe ecoloqlcol ooJ soclol
systems´ yang artinya menghindari penggunaan
sumber daya alam dan buatan secara gegabah dan
tanpa perhitungan.
c. ´loteqtoteJ pollcy, ploooloq, ooJ soclol leotoloq
ptocesses´ yang artinya implementasi pembangunan
berkelanjutan bergantung pada integrasi antara
pemerintah dan masyarakat. Hal ini juga merupakan
jantung dari perencanaan, prinsip, dan praktek
kepariwisataan.
Kunci-kunci tersebut juga telah diadopsi di Indonesia
seperti yang disebutkan dalam Piagam Pariwisata
Berkelanjutan (1995) bahwa pembangunan pariwisata
berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat didukung
secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil
secara etika, dan berkeadilan sosial terhadap masyarakat.
Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya
terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas
hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan,
pemanfaatan, dan pemeliharaan sumber daya secara
berkelanjutan. Hal tersebut hanya dapat terlaksana
dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang
baik (good governance) yang melibatkan partisipasi aktif
dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak saja
terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu
demokratisasi, hak asasi manusia, dan isu lain yang lebih
luas cakupannya.
Sementara itu, menurut United Nations Environment
Programme on Tourism, sustainable tourism merupakan
24

pengembangan pariwisata yang mempertemukan
kebutuhan wisatawan pada saat ini dengan tetap
mempertimbangkan, melindungi, dan mempertinggi
potensi asset untuk masa yang akan datang. Hal ini juga
berarti pengembangan yang mempertimbangkan potensi
masa yang akan datang dalam segala sektor, termasuk di
dalamnya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya yang
akan dipenuhi, yang didukung oleh sistem integrasi
kebudayaan, proses ekologi yang esensial, keragaman
biologi, dan life support.
Peagua pariwisata harus didasarka pada kriteria
keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat
didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus
layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap
asyarakat. Piaga Pariwisata Berkelajuta, 1995.
Dengan demikian secara ringkas, konsep pengembangan
pariwisata secara berkelanjutan tersebut pada intinya
menekankan pada 4 (empat) prinsip, sebagai berikut :
a. Berwawasan lingkungan (enviromentaly sustainable).
b. Diterima secara sosial & budaya (socially and culturally
acceptable).
c. Layak secara ekonomi (economically viable).
d. Memanfaatkan teknologi yang pantas diterapkan
(technologically appropriate).
Secara skematis konsep tersebut dapat digambarkan
dalam gambar berikut:

Pendekatan Sustainable Tourism Development
Prinsip environmentally sustainable yang menekankan
bahwa proses pembangunan kepariwisataan harus
tanggap dan memperhatikan upaya-upaya untuk menjaga
kelestarian lingkungan (baik alam maupun budaya), dan
mampu mencegah dampak negatif yang dapat
menurunkan kualitas lingkungan dan mengganggu
keseimbangan ekologi.
Prinsip socially and culturally acceptable yang menekankan
bahwa proses pembangunan dapat diterima secara sosial
dan budaya oleh masyarakat setempat. Oleh karenanya,
upaya-upaya pembangunan yang dilaksanakan harus
memperhatikan nilai-nilai sosial-budaya dan nilai-nilai
kearifan lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, dan
bahwa dampak pembangunan tidak boleh merusak
tatanan dan nilai-nilai sosial-budaya sebagai jati diri
masyarakat.
25

Prinsip economically viable yang menekankan bahwa
proses pembangunan harus layak secara ekonomi dan
menguntungkan. Oleh karenanya, pembangunan harus
dilaksanakan secara efisien agar dapat memberikan
manfaat ekonomi yang signifikan baik bagi pembangunan
wilayah maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat
lokal.
Prinsip technologically appropriate yang menekankan
bahwa proses pembangunan secara teknis dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien, dengan
memanfaatkan sebesar-besar sumber daya lokal, dan
dapat diadopsi masyarakat setempat secara mudah untuk
proses pengelolaan yang berorientasi jangka panjang.
Tujuan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang
didasarkan atas prinsip-prinsip tersebut, akan bermuara
pada 5 (lima) sasaran sebagai berikut (Fennel, 1999):
a. Terbangunnya pemahaman dan kesadaran yang
semakin tinggi bahwa pariwisata dapat berkontribusi
secara signifikan bagi pelestarian lingkungan dan
pembangunan ekonomi
b. Meningkatnya keseimbangan dalam pembangunan
c. Meningkatnya kualitas hidup bagi masyarakat
setempat
d. Meningkatnya kualitas pengalaman bagi pengunjung
dan wisatawan
e. Meningkatnya dan menjaga kelestarian dan kualitas
lingkungan bagi generasi yang akan datang.

Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan






KUALITAS PENGALAMAN
 Keunikan
 Keingintahua
n mendalam
 Imaginasi/
interpretasi
KUALITAS HIDUP
 Keterpaduan
dalam komunitas
 Kelayakan secara
ekonomi
 Dampak sosial
KUALITAS SUMBER
DAYA
 Keutuhan
 Daya dukung
 Pelestarian
26

B. PENGERTIAN DAN PRINSIP EKOWISATA
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
ditiadakan
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
1. Dapat menyebutkan pengertian ekowisata
2. Dapat menyebutkan tujuan dan sasaran
pengembangan ekowisata.
3. Dapat menyebutkan potensi sumber daya
ekowisata
4. Dapat menyebutkan bentuk-bentuk kegiatan
ekowisata
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan contoh-contoh jenis kegiatan
ekowisata (minimal 3), contoh lokasi ekowisata, kepada
lingkungan terbatas (gudep, sekolah, dsb)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan contoh-contoh jenis kegiatan
ekowisata (minimal 3), contoh lokasi ekowisata, contoh
penerapan prinsip-prinsip ekowisata kepada
masyarakat.
B.2. Materi
1) Pengertian Ekowisata
Definisi Ekowisata menurut organisasi The Ecoturism
Society (1990) sebagai berikut: Ekowisata adalah suatu
bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan
dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan
melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk
setempat. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan
pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata
tetap utuh dan lestari, disamping budaya dan
kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.
Definisi Ekowisata menurut Eplerwood (1999) yaitu bentuk
baru perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan
berpetualang yang dapat menciptakan industry pariwisata.
Definisi Ekowisata menurut Black (1999) yaitu wisata
berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek pendidikan
dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya
masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis.





27

2) Prinsip Ekowisata
Pengembangan ekowisata harus memenuhi beberapa butir
prinsip agar ekowisata dapat menjamin pembangunan
yang ecological friendly dari pembangunan berbasis
kerakyatan. Butir-butir prinsip ekowisata yaitu:
a. Berbasis Alam (Nature Based)
Ekowisata harus mendasarkan lingkungan alam
dengan fokus pada atraksi biologi, fisik dan budaya.
b. Secara Ekologis Yang Berkelanjutan (Ecologically
Sustainable)
Bahwa Ekowisata memberikan perhatian lebih kepada
bagaimana pariwisata bisa dibuat secara berkelanjutan
dan ekologis secara keseluruhan.
c. Memiliki Misi Pendidikan Lingkungan (Environmentally
Educative)
Ekowisata dapat mendorong peningkatan kesadaran
konservasi alam lewat pendidikan dan pengetahuan
tentang alam dan lingkungan
d. Bernilai Manfaat Yang Tinggi Bagi Masyarakat Lokal
(Locally Beneficial)
Kegiatan-kegiatan di dalam ekowisata dapat
menciptakan manfaat yang signifikan bagi masyarakat
lokal (yang terlibat dalam kegiatan ekowisata, dalam
pemberian pengetahuan, pelayanan, fasilitas dan
produk)

e. Memiliki Nilai Kualitas Pengalaman Bagi Wisatawan
(Generates Tourist Satisfaction)
Sebuah destinasi ekowisata harus memberikan
pengalaman yang memuaskan bagi wisatawan,
sehingga akan menjadi promosi yang baik bagi
destinasi tersebut.
3) Potensi Sumber Daya Alam Ekowisata
Negara Indonesia memiliki sejumlah besar sumber daya
wisata yang dapat dikembangkan dan dikemas sebagai
bentuk kegiatan ekowisata. Walaupun Indonesia hanya
memiliki luas daratan seluas 1,32% dari seluruh daratan di
dunia, namun kekayaan yang dimiliki cukup berlimpah
dengan potensi alam, seni, budaya, dan etnis yang
beraneka ragam. Gambaran potensi ekowisata di Indonesia
antara lain dapat diinventarisir sebagai berikut:
a. Di wilayah pulau Sumatera, meliputi antara lain:
Taman Nasional (TN) Gunung Leuser yang
membentang di Aceh dan Sumatera Utara, TN Bukit
Barisan yang membentang di sepanjang sisi barat
pulau Sumatera, TN Siberut – Sumatera Barat, TN
Kerinci Seblat, TN Way Kambas, serta Taman laut dan
pulau-pulai kecil di Pulau Rubiah, Weh, Nias, dan
Mentawai.
b. Di wilayah pulau Kalimantan, meliputi antara lain: TN
Kayan Mentarang (Kalimantan Timur), TN Kutai, TN
Tanjung Puting (Kalimantan Tengah), Taman Laut Pulau
Derawan – Maratua – Sangalaki
28

c. Di wilayah pulau Jawa, meliputi antara lain: Kawasan
Gunung Krakatau, TN Gunung Halimun, TN Ujung
Kulon, TN Gunung Merapi, Eko-karts Gombong dan
pegunungan Sewu, TN Karimun Jawa, TN Gunung
Bromo – Tengger –Semeru, TN Baluran, TN Meru Betiri
d. Di wilayah pulau Bali dan Nusa Tenggara, meliputi
antara lain: TN Bali Barat, TN Gunung Rinjani, TN Pulau
Komodo
e. Di wilayah pulau Sulawesi meliputi antara lain: TN
Dumoga Bone, TN. Lore Lindu, TN Nani Wartabone, T
Laut Bunaken, Perairan Teluk Amurang dan Selat
Lembeh, TN Tangkoko Dua Sudara, TN Wakatobi, TN
Takabonerate.
f. Di wilayah Maluku dan Papua, meliputi antara lain: TN
Manusela, TN Lorenz, TN Laut Banda, TN Raja Ampat,
Kawasan Perairan Biak.
Kekayaan potensi wisata alam tersebut dikombinasikan
dengan kekayaan budaya yang tersebar di 17.000 lebih
pulau di Indonesia, menjadi sebuah potensi yang luar biasa
dan tidak ada habisnya bagi pengembangan ekowisata di
Indonesia.
Kekayaan potensi ekowisata yang dimiliki Indonesia serta
didukung oleh perkembangan tren pasar ekowisata dalam
konteks internasional telah mendorong Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata untuk mendorong
pengembangan ekowisata secara lebih serius untuk
meningkatkan diversifikasi produk wisata Indonesia.
Kekayaan potensi wisata alam tersebut dikombinasikan
dengan kekayaan budaya yang tersebar di 17.000 lebih
pulau di Indonesia, menjadi sebuah potensi yang luar biasa
dan tidak ada habisnya bagi pengembangan ekowisata di
Indonesia.

C. PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP EKOWISATA DALAM
PENGELOLAAN KEPARIWISATAAN
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan Prinsip –prinsip ekowisata
(berbasis sumber daya alam/ lingkungan, penguatan
keberlanjutan ekologi, pendidikan lingkungan,
pemberdayaan sumber daya lokal, kegiatan wisata yang
berkualitas)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan contoh bentuk-bentuk penerapan
prinsip ekowisata di lingkungan terbatas.
29

D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
1. Dapat menjelaskan contoh bentuk-bentuk penerapan
prinsip ekowisata kepada masyarakat.
2. Dapat menyusun program-program kegiatan
ekowisata yang mencerminkan penerapan 5 prinsip
ekowisata
3. Dapat melaksanakan perintisan pengembangan
kegiatan ekowisata di daerahnya.
C.2. Materi
Penerapan Prinsip-prinsip ekowisata harus memenuhi
beberapa butir prinsip agar ekowisata dapat menjamin
pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan
berbasis kerakyatan. Penerapan butir-butir prinsip
ekowisata yaitu:
a) Berbasis Alam (Nature Based)
 Konservasi sebagai cara melindungi
keanekaragaman hayati dari kerusakan dan atau
kepunahan, misalnya dengan membuat Taman
Nasional, Hutan Lindung, Cagar Alam, dan lain-
lain.
 Biodiversity flora dan fauna
 Menampilkan keindahan alam yang lestari dan
alami
 Menampilkan kebudayaan local sebagai atraksi
utama
b) Secara Ekologis Yang Berkelanjutan (Ecologically
Sustainable)
 Pendapatan dari aktivitas wisata dan bea masuk
digunakan untuk konservasi, managemen dan
pelatihan pengelolaan aset wisata alam.
 Meminimalkan penggunaan transportasi dengan
bahan bakar yang menghasilkan polusi diganti
dengan kendaraan ramah lingkungan di area
wisata seperti sepeda, perahu dayung, berjalan
kaki, kereta kuda dan lain-lain.
 Menggunakan energy alternative, yaitu energy
yang bisa diperbaharui dan tidak menggunakan
energy fosil. Contohnya adalah energy matahari,
energy angin, energy ombak, energy panas bumi,
dan lain-lain.
 Managemen Pengelolaan Sampah misalnya
dengan memilah sampah menurut jenisnya
(kertas, logam, kaca, bahan berbahaya),
mengelola sampah organic menjadi kompos,
memanfaatkan sampah menjadi barang yang
berguna (reused).
 Hanya menggunakan Arsitektur Lokal dengan
menggunakan bahan-bahan local.
 Mempromosikan makanan tradisional lokal
30

 Menggunakan akomodasi local yang disediakan di
tempat wisata
c) Memiliki Misi Pendidikan Lingkungan (Environmentally
Educative)
 Kelompok Masyarakat local di area ekowisata
memiliki kewenangan menyelenggarakan
kegiatan pendidikan alam.
 Membuat zona khusus ekowisata yang ditawarkan
kepada anak-anak sekolah, mahasiswa dan umum
untuk berkemah agar dapat lebih mengenal alam
dan konservasinya.
 Membuka kelas pendidikan khusus (1/2 sampai 1
jam) dilakukan di lingkungan hutan/konservasi
oleh staf terlatih untuk siswa dan umum
 Penanda-penanda penting dan pelabelan pohon
disediakan di semua jalur dan jalan di lokasi.
 Selama program trekking, pemandu lokal yang
terlatih dimanfaatkan untuk memberikan
pendidikan.
 Pemuda lokal diberikan pelatihan tentang
pengetahuan dan membantu kesempatan kerja
untuk memanfaatkan diri dalam ekowisata
d) Bernilai Manfaat Yang Tinggi Bagi Masyarakat Lokal
(Locally Beneficial)
 Peningkatan ekonomi lokal (Guide profesional,
porter, usaha akomodasi, kerajinan)
 Program-program wisata (misalnya trekking)
dikelola oleh kelompok swadaya/local yang
didukung oleh swasta
 Pemberdayaan SDM local dan peran wanita dalam
kegiatan/aktifitas wisata. (mengelola kafetaria,
took souvenir, dll)
 Peningkatan kesadaran masyarakat akan manfaat
konservasi
 Peningkatan kemampuan / kapasitas masyarakat
local (mengadakan training berkala)
 Perbaikan mekanisme pengelolaan kawasan
wisata alam dan produk-produknya dibantu oleh
pemerintah.
e) Memiliki Nilai Kualitas Pengalaman Bagi Wisatawan
(Generates Tourist Satisfaction)
 Memiliki pelayanan, fasilitas dan akomodasi yang
baik dan memadai
 Memberikan pengalaman baru bagi wisatawan
 Memiliki keunikan / kekhasan yang berbeda dari
ekowisata lain
 Wisatawan memperoleh berbagai informasi dan
edukasi yang memadai tentang ekowisata
tersebut
31

 Wisatawan memperoleh kemudahan dalam akses
dan perijinan
DAFTAR PUSTAKA
Black, R. 1999. Ecotour Guides: Performing A Vital Role in The
Ecotourism Experience. World Ecotourism Conference. Kota
Kinabalu. Sabah.
Ceballos-Lascurain, Hector (1996) Tourism, Ecotourism and
Protected Areas, IUCN.
Eagles, P.F.J.; Sustainable Tourism in Protected Areas : Guidelines for
Planning and Management, IUCN, 2002
Chafid Fandeli dkk, 2000, Pengusahaan Ekowisata.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset
Eplerwood, M. 1999. Successful Ecotourism Business. The Right
Approach. World Ecotourism Conference. Kota Kinabalu. Sabah.
Lindberg, Kreg, Hawkins, Donald E., Ecotourism, a guide for Planners
and Managers, volume 1, The Ecotourism Society, Vermont, 1998.
Lindberg, Kreg, Wood, Epler, Megan, Engeldrum, David (1998)
Ecotourism, a guide for Planners and Managers, volume 2, The
Ecotourism Society, Vermont.
Page, Stephen J. and Dowling Ross K. (2002), Ecotourism, Pearson
Education Limited, Prentice Hall.
The Ecotourism Society. 1993. Ecotourism Guidance for Planner and
Manager. The Ecotourism Society. North Bennington. Vermont.



1

DAFTAR ISI
MATERI AJAR KRIDA – III
KRIDA KULINER WISATA
I PESERTA PELATIHAN Halaman
II WAKTU PELATIHAN 2
III
PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI
PESERTA PELATIHAN
2
IV
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
V
TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI
PELATIHAN
2
VI TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM 2
VII TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 2
VIII INDIKATOR KEBERHASILAN 2
IX RANCANGAN MATERI TOT 3
1. PENGERTIAN KRIDA PEMANDU WISATA 3
2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK)
KRIDA PEMANDU WISATA
3
3. MATERI AJAR SKK KRIDA PEMANDU WISATA 3
3.1. SKK Masakan Khas Lokal 3
3.2. SKK Makanan Ringan Khas Lokal 13

I. PESERTA PELATIHAN
Peserta Diklat Saka Pariwisata adalah :
 Pengurus KWARDA
 Anggota Pramuka Pandega
 Staff di lingkungan Dinas Pariwisata Kota dan Daerah.

II. WAKTU PELATIHAN
2 hari (Krida Pemandu Wisata dibagi ke dalam 4 Sesi )

III. PERSYARATAN ADMINISTRASI DAN KUALIFIKASI PESERTA
PELATIHAN
1) Mereka yang memenuhi persyaratan sebagai peserta
(butir ke 1)
2) Mereka yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang
Pariwisata dan atau Pramuka
3) Bersedia mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir
4) Bersedia menjadi tutor dalam kegiatan pengembangan
Saka Pariwisata di daerahnya

IV. TINGKAT KEMAMPUAN PESERTA USAI PELATIHAN
Kemampuan yang diharapkan peserta setelah selesai mengikuti
pelatihan ini adalah:
1) Peserta mampu memahami Konsep Krida Kuliner Wisata
2

2) Peserta memiliki kecakapan Kepramukaan dalam
penyajian dan pembuatan di bidang Kuliner Wisata,
3) Peserta memahami dan menguasai 2 SSK dalam Krida
Kuliner Wisata yaitu: SKK Masakan Khas Lokal dan SKK
Makanan Ringan Khas Lokal

V. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Peserta pelatihan Saka Pariwisata Krida Kuliner Wisata cakap
dan terampil untuk berperan dalam pembuatan dan penyajian
kuliner khas daerah.

VI. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1) Mampu bertindak sebagai pembuat dan penyaji Masakan
Khas Lokal daerahnya
2) Mampu bertindak sebagai pembuat dan penyaji Makanan
Ringan Khas Lokal daerahnya

VII. INDIKATOR KEBERHASILAN
Setelah menyelesaikan mata pendidikan dan latihan dalam
acara pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu :
1) Mempraktekkan peran sebagai pembuat dan penyaji
Masakan Khas Lokal
2) Mempraktekkan peran sebagai pembuat dan penyaji
Makanan Ringan Khas Lokal

VIII. RANCANGAN MATERI TOT

MATERI AJAR KRIDA – III
KRIDA KULINER WISATA

3.1. PENGERTIAN
Krida kuliner wisata adalah salah satu krida Saka Pariwisata,
yang bertujuan untuk memberikan kecakapan bagi Pramuka
untuk dapat membuat, menyajikan dan melestarikan
makanan khas lokal sebagai salah satu daya tarik wisata.
3.2. LINGKUP SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK) KRIDA KULINER
WISATA
Krida Kuliner Wisata, terdiri atas 2 (dua) SKK, yaitu :
1) SKK Masakan khas Lokal
2) SKK Makanan ringan khas lokal

3.3. MATERI AJAR SYARAT KECAKAPAN KHUSUS (SKK) KRIDA
KULINER WSATA

3

3.3.1. SKK MASAKAN KHAS LOKAL
3.3.1.1. Pengertian
SKK Masakan Khas Lokal adalah syarat kecakapan khusus
yang berkaitan dengan kemampuan individu anggota
pramuka untuk dapat memasak dan menyajikan masakan
(kuliner) khas lokal sebagai bagian dari upaya
mempromosikan keunikan potensi kepariwisataan daerah
3.3.1.2. Tujuan
Agar pramuka dapat memiliki bekal dan materi mengenai
masakan khas / lokal di daerahnya
3.3.1.3. Materi Kecakapan SKK Masakan Khas Lokal
Materi ajar SKK Masakan Khas Lokal mencakup:
A. Pengetahuan tentang peran kuliner wisata sebagai
keunikan lokal dalam pengembangan pariwisata
B. Pengetahuan tentang jenis-jenis makanan setempat
C. Pengetahuan tentang bahan dasar makanan
setempat
D. Pengetahuan tentang cara pengolahan makanan khas
setempat
E. Pengetahuan tentang cara dan momen penyajian
makanan khas setempat
PENJABARAN MATERI AJAR
Pendahuluan
Masakan Indonesia mencerminkan keanekaragaman masyarakat
yang menghuni sekitar 6.000 pulau yang membentuk negara
Indonesia. Mungkin sebenarnya tidak ada satu bentuk tunggal
"masakan Indonesia", tetapi lebih kepada, keanekaragaman
masakan regional yang dipengaruhi secara lokal oleh Kebudayaan
Indonesia serta pengaruh asing.
Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah terlibat dalam perdagangan
dunia berkat lokasi dan sumber daya alamnya. Teknik memasak dan
bahan makanan asli Indonesia berkembang dan kemudian
dipengaruhi oleh seni kuliner India, Timur Tengah, China, dan
akhirnya Eropa. Para pedagang Spanyol dan Portugis membawa
berbagai bahan makanan dari benua Amerika jauh sebelum
Belanda berhasil menguasai Indonesia. Pulau Maluku yang
termahsyur sebagai "Kepulauan Rempah-rempah", juga
menyumbangkan tanaman rempah asli Indonesia kepada seni
kuliner dunia. Seni kuliner kawasan bagian timur Indonesia mirip
dengan seni memasak Polinesia dan Melanesia.
Beberapa jenis hidangan asli Indonesia juga kini dapat ditemukan di
beberapa negara Asia. Masakan Indonesia populer seperti sate,
rendang, dan sambal juga digemari di Malaysia dan Singapura.
Bahan makanan berbahan dasar dari kedelai seperti variasi tahu
dan tempe, juga sangat populer. Tempe dianggap sebagai
penemuan asli Jawa, adaptasi lokal dari fermentasi kedelai. Jenis
lainnya dari makanan fermentasi kedelai adalah oncom, mirip
4

dengan tempe tapi menggunakan jenis jamur yang berbeda, oncom
sangat populer di Jawa Barat.
Makanan Indonesia umumnya dinikmati atau disantap dengan
menggunakan kombinasi alat makan sendok pada tangan kanan
dan garpu pada tangan kiri, meskipun demikian di berbagai tempat
(seperti Jawa Barat dan Sumatra Barat) juga lazim didapati makan
langsung dengan tangan telanjang. Di restoran atau rumah tangga
tertentu lazim menggunakan tangan untuk makan, seperti restoran
seafood, restoran tradisional Sunda dan Padang, atau warung tenda
Pecel Lele dan Ayam Goreng khas Jawa Timur. Tempat seperti ini
biasanya juga menyajikan kobokan, semangkuk air kran dengan
irisan jeruk nipis agar memberikan aroma segar.
A. PENGETAHUAN TENTANG PERAN KULINER WISATA
SEBAGAI KEUNIKAN LOKAL DALAM PENGEMBANGAN
PARIWISATA
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan pengertian kuliner wisata
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan peran kuliner wisata sebagai daya
tarik wisata.
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan peran kuliner sebagai daya tarik
wisata di suatu daerah disertai contoh (minimal 2).
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan peran kuliner sebagai daya tarik
wisata dan manfaatnya terhadap pencitraan daerah dan
pemberdayaan masyarakat.

A.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menjelaskan
tentang pengertian makanan umum tradisional, ciri utama
makanan tradisional, aspek yang terkait dalam makanan
tradisional, potensi makanan tradisional dalam
meningkatkan ekonomi, dan peran makanan tradisional
dalam pengembangan pariwisata.
Berikut ini pengertian masing-masing materinya:
1) Pengertian makanan tradisional
Definisi
Makanan tradisional merupakan makanan yang paling
banyak memiliki ciri-ciri dimana seseorang dilahirkan
dan tumbuh (Winarno, 1994). Secara lebih
spesifik,kepekatan tradisi-tradisi itu dicirikan antara
lain :
5

 Makanan tradisional dikonsumsi oleh golongan
etnik dalam wilayah tertentu.
 Makanan tradisional pada umumnya lebih banyak
dikonsumsi oleh masyarakat yang menjadi daerah
asal tersebut yang kemudian diperkenalkan
kepada orang lain atau orang pendatang
 Makanan tradisional diolah mengikuti ketentuan
(resep) yang diberikan secara turun-temurun.
Pada umumnya resep dalam makanan tradisional
yang dibuat oleh penduduk asli tersebut
merupakan hasil resep turun-temurun dan
biasanya lebih banyak diturunkan didalam
keluarga. Hal ini dilakukan dengan tujuan supaya
citarasa khas makanan tersebut dapat tetap
terjaga.
 Makanan tradisional terbuat dari bahan-bahan
yang diperoleh secara lokal dan disajikan sesuai
selera dan tradisi setempat. Bahan-bahan untuk
membuat makanan tradisional bisa dikatakan
dapat mudah untuk diperoleh karena pada
dasarnya bahan-bahan tersebut dapat dengan
mudah dibeli di pasar-pasar daerah penghasil
makanan tradisional tersebut dan biasanya
disesuaikan dengan selera yang diinginkan
sehingga ada makanan tradisional yang terasa
pedas, manis, dan lain-lain.
Tradisional itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu
proses yang menggambarkan tidak berubah, namun
juga bisa menggambarkan dinamika dalam cara
berbagi pengetahuan dan belajar (Empat Dewan Arah,
1996). Kuhlein dan Receveur mendefinisikan sistem
pangan masyarakat adat menyiratkan proses sosial
budaya berbagi: siste akaa tradisioal
masyarakat adat dapat didefinisikan ke sistem yang
berasal dari lokal, lingkungan alam yang secara
kultural dapat diterima dan juga mencakup makna
sosiokultural, akuisisi/ teknik pemrosesan,
penggunaan, komposisi, dan sizi konsekuensi bagi
orang yang menggunakan makanan (Kuhlein dan
Receveur,1996:417).
Makanan tradisional adalah makanan dan minuman,
termasuk makanan jajanan serta bahan campuran
yang digunakan secara tradisional dan telah lama
berkembang secara spesifik di daerah atau masyarakat
Indonesia. Biasanya makanan tradisional diolah dari
resep yang sudah dikenal masyarakat setempat
dengan bahan-bahan yang diperoleh dari sumber lokal
yang memiliki citarasa yang relatif sesuai dengan
selera masyarakat setempat. Disadari atau tidak
banyak makanan tradisional yang berkhasiat bagi
kesehatan. Dilihat dari sifatnya yaitu mempunyai
karakteristik sensori, bergizi, dan mempunyai sifat
fisiologis berkhasiat bagi kesehatan, maka seharusnya
banyak makanan tradisional yang dapat dikategorikan
sebagai makanan fungsional.
6

2) Ciri utama makanan tradisional Indonesia:
a. Banyak mengandung rempah-rempah sebagai bumbu;
b. Mengandung banyak sayuran;
c. Daging dan ikan;
d. Sumber protein nabati lebih tinggi dibanding protein
hewani.
Perkembangan kuliner di Indonesia masih bersifat
sporadik karena sangat luas wilayahnya dan beragam
jenisnya selain itu belum ada satu lembaga yang
langsung dibina oleh pemerintah dengan pendanaan
yang konsisten dalam melakukan penelitian,
pendataan, penyuluhan, dan melakukan kegiatan seni
kuliner antar daerah secara silang.
Lembaga-lembaga pendidikan dan pariwisata, masih
belum jelas mengarah ke pengembangan dalam seni
kuliner Indonesia.
3) Aspek yang terkait di Makanan tradisional
 aspek budaya meliputi kebiasaan makan meliputi
selera, kepercayaan, agama, seremonial, bukti
peninggalan kuno;
 aspek ekologi meliputi biologis, geografi;
 aspek teknologi meliputi substansi makanan, gizi,
pengolahan, pengawetan, pengemasan, estetika;
 aspek ekonomi meliputi produksi, konsumsi, nilai
tambah, harga (pricing policy), dan kesejahteraan.
4) Makanan Tradisional Sebagai Pangan Fungsional
Makanan Tradisional bukan hanya sekedar makanan
yang dikonsumsi oleh sekelompok masyarakat
tertentu dimana daerah asal makanan tersebut, tetapi
makanan tradisional juga bisa berperan sebagai
pangan fungsional. Orang-orang yang bijaksana sering
egataka bahwa kesehata adalah harta yag
palig berharga dala hidup ii. Utuk
mewujudkannya antara lain dapat kita lakukan melalui
pengaturan makanan (Made Astawan dalam situs
www.pdgi-online.com).
Pangan fungsional dapat berupa makanan dan
minuman yang berasal dari hewani atau nabati.
Contoh pangan tradisional Indonesia yang memenuhi
persyaratan pangan fungsional adalah : minuman
beras-kencur, temulawak, kunyit-asam, dadih (susu
fermentasi khas Sumatera Barat, dali ni horbo (susu
kerbau hasil fermentasi khas Sumatera Utara), tempe,
tape, dan lain-lain. Pangan fungsional dapat
dikonsumsi tanpa dosis tertentu. Konsumsi pangan
fungsional dapat dilakukan oleh semua kelompok
umur (kecuali bayi). Makanan tradisional juga dapat
mencegah terjadinya penyakit kanker.
Kematian yang disebabkan penyakit kanker akan terus
meningkat, jika tidak ada perubahan pola makan,
7

perilaku, gaya hidup di masyarakat. Satu upaya
bermakna yang bisa mengurangi penyakit kanker
adalah lebih banyak mengonsumsi makanan
tradisional (lokal). "Globalisasi mendorong terjadinya
perubahan radikal dalam sistem retail pangan, yang
ditandai dengan menjamurnya "hypermarket",
restoran cepat saji, waralaba, "food court" dari
berbagai penjuru dunia, yang sebagian besar
meyajikan "junk food" (makanan sampah) dengan
risiko terkena kanker sangat tinggi," kata Prof dr
Muhammad Sulchandalam pidato pengukuhannya
sebagai Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran
Pengawetan dan pengolahan makanan dengan
menggunakan garam, pengasapan bersifat inisiator
dan promotor kanker. Makanan cepat saji
menggunakan proses pengolahan dan pematangan
yang berisiko menyebabkan kanker. Untuk
mengurangi risiko kanker, Sulchan menyarankan agar
masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan lokal
yang menggunakan bahan baku alami dan diolah
secara tradisional. Selain itu, harus mengkonsumsi
banyak sayuran dan buah-buahan segar, karena pada
keduanya terdapat banyak zat yang bersifat
antioksidan.
5) Potensi Makanan Tradisional Bagi Peningkatan
Perekonomian Rakyat
Sistem perekonomian Indonesia menganut sistem
ekonomi campuran (mixed economy sistem). Sistem
ekonomi campuran diartikan sebagai sebuah sistem
yang mengambil kebaikan liberalisme dan nilai
filosofis dari sosialisme. Inilah yang sering disebut
sebagai sistem ekonomi Pancasila dalam spirit
demokrasi ekonomi.
Peran usaha kecil sangat penting dalam
menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi
rakyat dan merupakan sektor usaha yang strategis dan
potensial dalam menciptakan lapangan kerja,
mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat
proses pemerataan dan memberikan pelayanan
ekonomi kepada masyarakat luas. Hal ini memberikan
legitimasi tentang perlunya jaminan hak hidup, hak
untuk berkembang, dan hak untuk dibina bagi usaha
kecil agar dapat berkembang menjadi usaha yang
tangguh, sehat, dan mandiri serta dapat berkembang
menjadi usaha besar (Prawirokusumo, 2001).
Potensi yang dikandung dari makanan tradisional
sesungguhnya sangat besar. Beragam budaya adalah
modal dasar yang tak ternilai karena mengangkatnya
secara ekonomi dalam wujud sajian makanan
tradisional diharapkan dapat pula menarik
keuntungan-keuntungan social yang lebih besar dari
yang diperkirakan yaitu meningkatnya kontrak,
transaksi, dan investasi dalm wujud munculnya
organisasi-organisasi ekonomi yang baru.
Namun upaya menghasilkan makanan tradisional
sekaligus menyaingi dan mempersandingkannya
8

dengan makanan produk impor senantiasa
menghadapi kendala, misalnya, sanitasi yang buruk,
proses pengolahan yang overcook, kurang
memperhatikan gizi, lemahnya unsur teknologi atau
kendala budaya lainnya. Industri fast food memaksa
penduduk dunia menyantap makanan yang seragam.
Selanjutnya, dalam perkembangannya, makanan
tradisional tersebut dipilih dan dikreasikan sehingga
dapat menjadi aset ekonomi yang baik.
Memanfaatkan potensi daerah adalah salah satu
langkah yang dapat ditempuh, yaitu dengan
mengembangkan apa yang menjadi kekhasan daerah
untuk dijadikan sebagai usaha yang menopang
kesejahteraan rakyat. Makanan tradisional adalah
salah satu peluang usaha yang dapat menopang
kesejahteraan rakyat.
B. PENGETAHUAN TENTANG JENIS-JENIS MAKANAN
SETEMPAT
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menyebutkan jenis-jenis masakan khas lokal
(minimal 3)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menjelaskan contoh masakan khas lokal
(minimal 3 )

C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan kekhasan yang dimiliki masakan
khas lokal (minimal 3)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan kekhasan yang dimiliki masakan
khas lokal (minimal 6 menu masakan khas / lokal
daerah)

B.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menyebutkan
beberapa macam makanan lokal daerah masing-masing
yang menjadi ciri khas daerah tersebut, sejarah, kategori
makanan dan dimana wisatawan dapat menemukan dan
berapa harga makanan tersebut. Berikut ini contoh
makanan tradisional di Indonesia.
1) Rendang (Padang)
Rendang daging adalah
masakan tradisional
bersantan dengan
daging sapi sebagai
bahan utamanya.
Masakan khas dari
Sumatera Barat,
9

Indonesia ini sangat digemari di semua kalangan
masyarakat baik itu di Indonesia sendiri ataupun di luar
negeri.
Selain daging sapi, rendang juga menggunakan
kelapa(karambia), dan campuran dari berbagai bumbu khas
Indonesia di antaranya Cabai (lado), lengkuas, serai,
bawang dan aneka bumbu lainnya yang biasanya disebut
sebagai (Pemasak).
Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya
masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi
tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatra Barat yaitu
musyawarah, yang berangkat dari 4 bahan pokok, yaitu:
1. Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang dari
Niniak Mamak (para pemimpin Suku adat)
2. Karambia (Kelapa), merupakan lambang Cadiak
Pandai (Kaum Intelektual)
3. Lado (Cabai), merupakan lambang Alim Ulama
yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak
(agama)
4. Pemasak (Bumbu), merupakan lambang dari
keseluruhan masyarakat Minang.






2) Pempek / Empek-empek (Sumatera Selatan)
Pempek atau Empek-
empek adalah makanan
khas Palembang yang
terbuat dari ikan dan
sagu. Sebenarnya sulit
untuk mengatakan
bahwa pempek pusatnya
adalah Palembang
karena hampir di semua
daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam
kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa
Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan,
kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit
tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli
Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah
nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar
pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko
dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko
dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email
dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek
biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam
menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu
timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam",
yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek
dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain
seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan
10

nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya
irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek
telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di seantero
Kota Palembang. Pempek dijual dimana-mana di
Palembang, ada yang menjual di restoran, ada yang
dipinggir jalan, dan juga ada yang dipikul. Disemua kantin
sekolah/tempat kerja/kampus pasti ada yang menjual
pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek biasa memikul 1
keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota
Palembang jalan kaki menjajakan makanannya. Pempek
sekarang ada dua jenis yaitu Pempek biasa dan Parempek,
campuran antara Pare dan Pempek.
Sejarah
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak
masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar
abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di
kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek
atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu
sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek
berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian
Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan
yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya
dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan
dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan
lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung
tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru
tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda
keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan
sebuta "pek … apek", aka akaa tersebut akhirya
dikenal sebagai empek-empek atau pempek.
Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena
singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia
pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal
di Perancis dan Jerman pada abad 18. Selain itu Sultan
Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767. Juga singkong
sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada zaman
penjajahan Portugis dan baru dibudidayakan secara
komersial tahun 1810. Walaupun begitu sangat mungkin
pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti
baso ikan, kekian ataupun ngohyang.

Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun,
dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida,
ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya
lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.
Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan
sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk.
Dipakai juga jenis ikan laut seperti Tenggiri, Kakap Merah,
parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Juga sudah
ada yang menggunakan ikan dencis, ikan lele serta ikan
tuna putih.

11

3) Soto Betawi(Jakarta)
Soto Betawi merupakan
soto yang populer di
daerah Jakarta. Seperti
halnya soto Madura dan
soto sulung, soto Betawi
juga menggunakan
jerohan. Selain jerohan,
seringkali organ-organ
lain juga disertakan,
seperti mata, penis, dan
juga hati.
Sejarah
Istilah soto Betawi hadir dalam kuliner masakan Indonesia
sekitar tahun 1977-1978, namun bukan bearti tidak ada
soto sebelum tahun tersebut. Yang memopulerkan dan
yang pertama memakai kata soto Betawi adalah penjual
soto di THR Lokasari / Prinsen Park, tentunya dengan ciri
khas cita rasa sendiri.
Banyak penjual soto pada masa tahun-tahun tersebut,
biasanya menyebut dengan soto kaki Pak "X" atau sebutan
lainnya. Istilah soto Betawi mulai menyebar menjadi istilah
umum ketika penjual soto tersebut tutup sekitar tahun
1991.



4) Empal Gentong (Jawa Barat)
Empal gentong adalah
makanan khas
masyarakat Cirebon,
Jawa Barat. Makanan
ini mirip dengan gulai
(gule) dan dimasak
menggunakan kayu
bakar (pohon mangga)
di dalam gentong
(periuk tanah liat). Daging yang digunakan adalah usus,
babat dan daging sapi. Empal gentong berasal dari desa
Battembat, kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.
Selain menggunakan kayu bakar dan gentong, makanan ini
disajikan menggunakan kucai (Chlorella sorokiniana) dan
sambal berupa cabai kering giling. Empal gentong dapat
disajikan dengan nasi atau juga lontong. lontong menurut
orang cirebon hanyalah beras yang dimasukan kedalam
daun pisang yang sudah dibentuk silinder, tidak ada
campuran lainnya, kemudian direbus selama 4 jam.
[
5) Nasi Liwet (Solo-Jawa Tengah)
Nasi liwet adalah makanan khas kota
Solo. Nasi liwet adalah nasi gurih
(dimasak dengan kelapa) mirip nasi
uduk, yang disajikan dengan sayur
labu siam, suwiran ayam (daging ayam
dipotong kecil-kecil) dan areh
(semacam bubur gurih dari kelapa).
12

Penduduk kota Solo biasa memakan nasi liwet setiap waktu
mulai dari untuk sarapan, sampai makan malam. Nasi liwet
biasa dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu
yang menggendongnya tiap pagi atau dijual di warung
lesehan (tanpa kursi). Tempat paling terkenal untuk
penjualan nasi liwet (warung lesehan) adalah di daerah
Keprabon yang hanya berjualan pada malam hari.
6) Gudeg (Yogyakarta)
Gudeg (bahasa Jawa
gudheg) adalah
makanan khas
Yogyakarta dan Jawa
Tengah yang terbuat
dari nangka muda yang
dimasak dengan santan.
Perlu waktu berjam-jam
untuk membuat
masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun
jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi
dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam
kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek.
Ada berbagai varian gudeg, antara lain:
 Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan
areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada
masakan padang.
 Gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan
areh encer.
 Gudeg Solo, yaitu gudeg yang arehnya berwarna
putih.
7) Sate Madura (Madura)
Sate Madura adalah
sate khas Madura. Sate
Madura biasanya
terbuat dari ayam.
Madura selain terkenal
sebagai pulau garam,
juga terkenal dengan
satenya. Sate madura
sudah terkenal di
seluruh Nusantara, Sate Madura dapat ditemukan hampir
di semua daerah khususnya di kota besar seperti Medan,
Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Konon di Madura sendiri
sate susah dicari. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama
sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai
dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di
rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran
kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang
merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang
dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok
kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka
yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat
akut.
Sate Madura umumnya adalah sate ayam yang diberi
sambal berupa saus kacang. Namun di Madura sendiri
kadangkala yang dipakai bukanlah saus kacang namun saus
atau sambal kemiri. Selain itu seringkali arang pembakaran
sate ini sering ditaburi dengan jeruk limau.
13

Untuk meraup lebih banyak keuntungan, pedagang sate
sering mencampur bumbu kacang dengan nasi kering yang
telah dihaluskan. Nasi kering ini, dalam bahasa Bali disebut
senggauk, merupakan nasi sisa yang dijemur di bawah terik
matahari. Di beberapa daerah di Jawa, seperti pesisir utara,
sepanjang pantura (pantai utara) meliputi daerah
Indramayu, Brebes, nasi semacam itu disebutnya nasi
aking. Umumnya dimakan orang-orang miskin yang tidak
mampu membeli beras yang termurah sekalipun
8) Ayam Betutu (Bali)
Betutu adalah lauk yang
terbuat dari ayam atau
bebek yang utuh yang
berisi bumbu, kemudian
dipanggang dalam api
sekam. Betutu ini telah
dikenal di seluruh
kabupaten di Bali. Salah
satu produsen betutu
adalah desa Melinggih, kecamatam payangan kabupaten
Gianyar. Ayam betutu juga merupakan makanan khas
Gilimanuk. Betutu digunakan sebagai sajian pada upacara
keagamaan dan upacara adat serta sebagai hidangan dan di
jual. Konsumennya tidak hanya masyarakat Bali tapi juga
tamu manca negara yang datang ke Bali, khususnya pada
tempat-tempat tertentu seperti di hotel dan rumah
makan/restoran. Betutu tidak tahan disimpan lama.

9) Bubur Manado (Manado)
Tinutuan atau Bubur Manado
adalah makanan khas Indonesia
dari Manado,Sulawesi Utara.
Ada juga yang mengatakan tinutuan adalah makanan khas
Minahasa,Sulawesi Utara. Tinutuan merupakan campuran
berbagai macam sayuran, tidak mengandung daging,
sehingga makanan ini bisa menjadi makanan pergaulan
antar kelompok masyarakat di Manado. Tinutuan biasanya
disajikan untuk sarapan pagi beserta berbagai pelengkap
hidangannya.
Kata tinutuan tidak diketahui asalnya. Sejak kapan tinutuan
menjadi makanan khas kota Manado tidak diketahui
dengan jelas. Ada yang mengatakan tinutuan mulai ramai
diperdagangkan di beberapa tempat di sudut kota Manado
sejak tahun 1970. Ada juga yang mengatakan sejak tahun
1981.
Tinutuan dipakai menjadi motto Kota Manado sejak
kepemimpinan walikota Jimmy Rimba Rogi dan wakil
walikota Abdi Wijaya Buchari periode 2005-2010,
menggantikan motto Kota Manado sebelumnya yaitu
Berhikmat.
Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Pariwisata
setempat pada tahun 2004 (ada juga yang mengatakan
pada pertengahan tahun 2005) menjadikan kawasan
Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado sebagai lokasi
wisata makanan khas Tinutuan.
10) Sup Konro (Makasar)
Sup Konro adalah masakan
sup iga sapi khas Indonesia
yang berasal dari tradisi Bugis
dan Makassar. Sup ini
biasanya dibuat dengan
bahan iga sapi atau daging
14

sapi. Masakan berkuah warna coklat kehitaman ini biasa
dimakan dengan ketupat kecil yang dipotong-potong
terlebih dahulu. Warna gelap ini berasal dari buah kluwek
yang memang berwarna hitam. Bumbunya relatif "kuat"
akibat digunakannya ketumbar.
Konro aslinya dimasak berkuah dalam bentuk sup yang
kaya rempah, akan tetapi kini terdapat variasi kering yang
disebut "Konro bakar" yaitu iga sapi bakar dengan bumbu
khas konro.

11) Soto Banjar (Kalimantan Selatan)
Soto Banjar adalah soto
khas suku Banjar,
Kalimantan Selatan
dengan bahan utama
ayam dan beraroma
harum rempah-rempah
seperti kayu manis, biji
pala, dan cengkeh.
Soto berisi daging
ayam yang sudah disuwir-suwir, dengan tambahan
perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat.
Seperti halnya soto ayam, bumbu Soto Banjar berupa
bawang merah, bawang putih dan merica, tapi tidak
memakai kunyit. Bumbu ditumis lebih dulu dengan sedikit
minyak goreng atau minyak samin hingga harum sebelum
dimasukkan ke dalam kuah rebusan ayam. Rempah-rempah
nantinya diangkat agar tidak ikut masuk ke dalam mangkuk
sewaktu dihidangkan.
C. PENGETAHUAN TENTANG BAHAN DASAR MAKANAN
SETEMPAT
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti bahan dasar masakan khas
lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bahan dasar masakan khas lokal
(minimal 3 bahan dasar menu masakan khas lokal
suatu daerah)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan fungsi/ kegunaan masing-masing
bahan dasar untuk masakan khas lokal tersebut
(minimal 2 jenis masakan)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat membuat rincian dan menyiapkan kebutuhan
bahan dasar masakan khas lokal di daerahnya.

15

C.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menyebutkan
bahan dasar makanan lokal daerah tersebut, bagaimana
cara mendapatkan bahan-bahan tersebut dan bagaimana
membudidayakannya.
1) Pengertian Bumbu Makanan Khas Indonesia
Indonesia termahsyur di seluruh dunia sebagai "Pulau
Rempah-rempah", kepulauan Maluku
menyumbangkan tanaman rempah aslinya bagi seni
kuliner dunia. Rempah atau bumbu seperti pala,
cengkeh, laos adalah tanaman asli Indonesia;
sementara lada hitam, kunyit, sereh, bawang merah,
kayu manis, kemiri, ketumbar, dan asam jawa
diperkenalkan dari India sebagaimana jahe, daun
bawang, dan bawang putih yang diperkenalkan dari
China. Tanaman bumbu dari benua Asia itu telah
dikembangkan sejak zaman dahulu kala, dan telah
menjadi bagian integral seni kuliner Indonesia.
Pada masa kuna, Kerajaan Sunda dan kemudian
Kesultanan Banten terkenal di seluruh dunia sebagai
penghasil utama lada hitam dengan kualitas terbaik.
Kemaharajaan bahari seperti Sriwijaya dan Majapahit
juga berkembang dan makmur berkat perdagangan
rempah-rempah antara pulau rempah Maluku di
Nusantara dengan India dan China. Kemudian VOC
juga meraih keuntungan besar dari perdagangan
rempah dunia. Kegemaran orang Indonesia akan
makanan pedas semakin diperkaya dengan
diperkenalkannya cabai dari benua Amerika oleh
pedagang Spanyol sejak abad ke-16. Sejak saat itu
sambal menjadi bagian penting dalam masakan
Indonesia.
Campuran rempah sebagai bumbu dasar masakan
Indonesia, diantaranya kombinasi kayu manis, bunga
lawang, biji ketumbar, jintan putih, lada hitam,
kapulaga dan cabai merah, dengan komposisi rempah
sesuai variasi regional.
2) Bahan Dasar Masakan Tradisional Indonesia
a) Rendang (Padang)
Bahan untuk membuat rendang terdiri dari 4 bahan
pokok, yaitu:
1. Dagiang (Daging Sapi), merupakan lambang
dari Niniak Mamak (para pemimpin Suku adat)
2. Karambia (Kelapa), merupakan lambang Cadiak
Pandai (Kaum Intelektual)
3. Lado (Cabai), merupakan lambang Alim Ulama
yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak
(agama)
4. Pemasak (Bumbu), merupakan lambang dari
keseluruhan masyarakat Minang.


16

b) Pempek / Empek-empek (Sumatera Selatan)
1. Daging ikan giling halus( yg paling baik adalah
ikan Gabus atau Tenggiri, jika tidak ada, dapat
diganti dengan ikan apa saja yg dagingnya lebih
banyak seperti Salmon,Tuna, Toman, Tongkol
Kecil, Gurame, Sepat Besar, buang tulang nya
giling sampe halus dan jangan pake ikan yg
banyak lemaknya seperti Lele, Patin dsb )
2. Tepung SAGU atau tepung kanji (tapioka), Air,
garam halus secukupnya, penyedap
secukupnya. Catatan:
perbandingan antara Ikan dan sagu bisa 1:1
atau 1:3/4 atau 1:1/2, semakin banyak ikan
semakin enak, tapi maksimal ikan 1 kg tepung
sagu 0,5 kg.
c) Soto Betawi (Jakarta)
Bahan bahan dasar untuk membuat soto betawi
adalah:
Tulang iga, sandung lamur, daun salam, serai, kelapa
sangrai dan diluskan, mata asam jawa, belimbing
wuluh,
d) Empal Gentong (Jawa Barat)
Bahan dasar yang digunakan untuk membuat Empal
Gentong adalah:
Babat rebus, limpa rebus, daging sapi, kaldu sapi,
daun salam, serai, garam, gula pasir, santan kelapa,
minyak untuk menumis.
e) Nasi Liwet (Jawa Tengah)
Bahan dasar yang digunakan untuk membuat Nasi
Liwet Solo adalah terdiri dari Nasi gurih, Opor ayam,
Resep Telur Dadar Tim / Kukus, Kumut.
Bahan membuat Nasi Gurih: sereh, garam, daun
salam, beras, santan.
Bahan membuat Opor Ayam: 1 ekor ayam kampung,
telur bebek di rebus, kupas kulitnya (atau telur
pindang), ampela ati rebus, Uritan (telur muda),
minyak goreng untuk menumis, santan kelapa. Selain
itu juga dibutuhkan bawang merah, bawang putih,
garam, lengkuas, daun salam.
Bahan membuat Kumut: santan kental (daur ulang
bekas opor biar ada gurihnya ayam), telur kocok
sampai kaku.
Bahan membuat Telur Dadar Tim / Kukus: santan
kental bekas opor (atau sisanya), telur, kuning telur
(sisa kumut)
Cara Penyajian :
Letakkan nasi di piring saji ( bisa dialasi dengan pincuk
/ alas dari daun pisang ). Tuangkan Sambal goreng labu
siam dan kuah diatas atau di sebelahnya. Taruh ayam
opor suwir, telur opor yang di belah. Taruh satu-dua
17

sendok makan telur dadar tim. Tuangkan kumut
diatasnya. Sajikan hangat.

f) Gudeg (Yogyakarta)
Bahan dasar untuk membuat masakan gudeg adalah:
Nangka muda, santan kelapa, air teh, telur rebus
nya), tahu putih/tahu kulit (sesuai selera), gula merah,
minyak goreng, daun salam
Bumbu Yang Dihaluskan :
Bawang putih, red onion, ketumbar, jintan, lengkuas
sereh (ambil bagian putihnya)

g) Sate Madura (Madura)
Bahan dasar pembuatan Sate Ayam Madura terdiri
dari, ayam, kecap, jeruk, tusuk, Bumbu Kacang,
bawang putih, bawang merah, cabe merah, daun
jeruk, garam
Pelengkap Sate Ayam Madura: lontong atau ketupat
h) Ayam Betutu (Bali)
Bahan dasar membuat ayam betutu adalah:
 ayam besar
 daun singkong muda,
 minyak, untuk menumis
 daun pisang/aluminium foil, untuk pembungkus
Bumbu yang dihaluskan:
 cabai merah dan rawit
 buah kemiri
 bawang merah
 terasi
 bawang putih
 ketumbar, disangrai
 serai,
 merica bulat
 lengkuas
 pala bubuk
 kunyit dicincang
 daun jeruk purut
 jahe dicincang
 kencur dicincang
 garam dan gula

i) Sup Konro (Makasar)
Bahan dasar membuat Sup Konro adalah:
Iga sapi, kayu manis, cengkeh, lengkuas, daun salam,
air asam jawa, minyak untuk menumis, bawang merah
garam, siung bawang putih, merica bulat, pala, kluwek
kacang merah.
j) Bubur Manado/Tinutan (Manado)
Bahan pembuatan tinutuan sederhana. Tinutuan
merupakan campuran berbagai macam sayuran yaitu
labu kuning yang juga disebut sambiki, beras,
singkong, bayam, kangkung, daun gedi,
jagung,kemangi.
18

k) Soto Banjar (Kalimantan Selatan)
Bahan pembuatan Soto Makasar adalah:ayam, susu
cair, pala, kayu manis, cengkeh bawang merah,
bawang putih, merica bulat, minyak goreng.

D. PENGETAHUAN TENTANG CARA PENGOLAHAN MAKANAN
KHAS SETEMPAT
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut:
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti pengolahan masakan khas
lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bentuk/ teknik pengolahan
masakan khas lokal suatu daerah (minimal 2 jenis
masakan khas suatu daerah)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan bentuk / teknik pengolahan
masakan khas lokal suatu daerah (minimal 3 jenis
masakan khas lokal suatu daerah
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan pengolahan masakan khas lokal
di daerahnya (minimal 2)

D.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menyebutkan
proses cara pengolahan, waktu yang dibutuhkan, dan
peralatan yang digunakan untuk membuat makanan khas
daerah tersebut. Selanjutnya pramuka juga diharapkan
mampu mengolah sendiri atau membantu pembuatan
makanan tersebut. Berikut ini contoh pengolahan makanan
khas Indonesia.,
a) Rendang (Padang)
1. Panaskan minyak 1 sendok sayur, tumis bumbu halus,
masukkan rempah daun,kayu manis, dan asam kandis
tumis sampai harum.
2. Masukkan daging, tumis sampai bumbu meresap ke
daging.
3. Masukkan santan, garam, penyedap rasa, dan masako,
aduk rata. setelah mendidih masukkan kacang merah,
aduk terus sampai matang (hingga kuah kering dan
kacang lunak).
b) Pempek / Empek-empek (Sumatera Selatan)
1. Keluarkan daging ikan giling dari freezer, cairkan.
Masukkan air es, vetsin, dan garam. Aduk sampai
lengket.
19

2. Tambahkan tepung sagu atau kanji sedikit demi sedikit
sambil diuleni/diuli hingga tidak menempel lagi
ditangan.
3. Uleni/Uli adonan sampai rata, ambil sedikit adonan
dasar dan dibentuk sesuai dengan jenis pempek.
c) Soto Betawi (Jakarta)
1. Rebus daging sapi dalam 2 lt air sampai empuk,
kemudian potong daging sesuai dengan selera,
disarankan untuk memotongnya dengan ukuran dadu.
Jangan buang kaldunya.
2. Panaskan sedikit minyak, kemudian setelah panas
tumis bumbu yang telah dihaluskan sampai
mengeluarkan aroma yang harum. Setelah harum
masukan daging yang telah dipotong-potong
sebelumnya.
3. Aduk-aduk sampai rata kemudian tambahkan
lengkuas, daun jeruk, sereh, dan yang terakhir garam
dan gula.
4. Masukkan tumisan bumbu dan daging tersebut ke
dalam kaldu rebusan daging. Kemudian tambahkan
santan kental dan aduk sesekali. 5. Masak sampai
daging empuk dan kuah sedikit menyusut.
d) Empal Gentong (Jawa Barat)
1. Tumis bumbu halus, masukkan daun salam dan sereh,
tumis terus hingga baunya harum.
2. Masukkan potongan jeroan dan daging, lalu santan
cair, masak hingga mendidih.
3. Tambahkan santan kental, setelah mendidih taburkan
potongan daun bawang, potongan daun kucai dan
cengkeh. Setelah matang angkat dan sajikan dengan
taburan bawang goreng.
e) Nasi Liwet (Jawa Tengah)
Cara Memasak Nasi Gurih :
1. Beras dicuci bersih.
2. Santan, garam, sereh dan daun salam dicampur
kemudian direbus sampai mendidih,
3. Sesudah mendidih masukkan beras sambil diaduk
hingga santan kering
4. Angkat, diamkan sebentar lalu kukus sampai matang
5. Angkat, sisihkan
Cara memasak Opor Ayam
1. Tumis bumbu halus dan bumbu lain dengan sedikit
minyak sampai harum,
2. Masukkan ayam, telur rebus dan ampela ati,
tambahkan santan
3. Masak sambil di aduk2 / di timba-timba agar santan
tidak pecah, sampai ayam matang dan empuk
4. Pisahkan santan dan isinya. (tiriskan ayam dan bahan
lainnya)
5. Ampela ati di potong2, di tusuki dengan tusuk sate
20

6. Uritan di tusuki dengan tusuk sate.
7. ( nanti hasil tusukan ini di celup di kumut )
8. Ayam di suwir2
9. kuah opor : pisahkan yang kental dengan yang bening,
sisihkan untuk membuat kumut dan telur tim
Cara Memasak Kumut :
1. Didihkan santan, masukkan telur putih, sambil tetap
diatas api kecil,
2. Aduk secukupnya, asal busa telur menggumpal dan
matang.
Cara Memasak Telur Dadar Tim / Kukus:
1. Campurkan santan dengan telur dan kuning telur sisa
kumut
2. Aduk sampai bercampur rata.
3. Tambahkan garam bila perlu.
4. Buat takir dari daun pisang, tuang telur
5. Kukus hingga matang.
f) Gudeg (Yogyakarta)
Cara memasak makanan gudeg adalah:
1. Olesi pisau dengan minyak goreng. Kupas nangka
dan bersihkan getahnya, lalu cacah kasar. Rebus
daun singkong hingga setengah matang, tiriskan,
peras airnya.
2. Tutup rata dasar panci dengan 6 lembar daun jati.
Masukkan nangka muda dan cakar ayam ke dalam
panci. Tuang santan cair, masukkan bumbu halus,
daun salam, lengkuas dan daun singkong.
3. Tutup bagian atasnya dengan 2 lembar daun jati,
lalu tutup panci. Masak dengan api sedang sampai
mendidih, lalu kecilkan api. Masak + 6 jam atau
sampai nangka berwarna kecokelat-cokelatan
sambil sesekali di aduk. (jika suka, masak terus
hingga gudeg kering sesuai selera).
4. Areh: campur garam dengan santan kental. Masak
dengan api kecil + 30 menit hingga areh
berminyak dan mengental. Yuang ke atas gudeg
yang sudah matang.
5. Sajikan dengan sambal krecek, opor campur dan
sambal terasi goreng.
g) Sate Madura (Madura)
Cara membuat sate Madura adalah:
1. Potong 2 x 3 cm daging ayam (atau sesuai selera)
2. Susun daging dan 1 potong lemak atau kulit per
tusuk sate nya.
3. Campur bawang putih dan 2 sdm air lemon lalu
lumurin ke daging yang sudah di tusuk, biar kan
kurang lebih 1 jam.
21

4. Panaskan lemak ayam di wajan, biarkan sampe
keluar minyak, lalu masukan minyak.
5. Setelah panas, masukan bumbu yang sudah
dihaluskan, aduk rata.
6. Setelah wangi, masukan bahan tumis-an yang lain,
biarkan sampai matang.
7. Campur rata 2 sdm bumbu kacang + 2 sdm kecap
manis + 2 sdm air jeruk limau, lalu lumurin rata di
daging, lalu bakar.
8. Untuk kuah atau saos sate, campur 3 sdm bumbu
kacang + 1 sdm kecap manis dan perasan jeuk
limau.
9. Sajikan sate yang sudah dibakar dengan kuah atau
saos nya dan pelengkap lainnya.
h) Ayam Betutu (Bali)
Cara membuat makanan ayam betutu adalah:
1. Tumis bumbu halus sampai harum dan kering.
Angkat dan dinginkan. Bagi menjadi dua bagian.
2. Campur satu bagian bumbu dengan daun
singkong. Masukkan dalam rongga badan ayam,
semat lubangnya dengan tusuk gigi. Lumuri sisa
bumbu pada permukaan ayam dan di bawah kulit.
3. Bungkus dengan beberapa lapis daun pisang, ikat
erat dengan tali. Panggang dalam oven dengan
panas 180°C, selama 2-3 jam sampai matang.
4. Angkat, potong-potong dan hidangkan. Catatan:
sebelum dipanggang, bisa juga dikukus lebih dulu
± 45 menit, kemudian dipanggang selama 1 jam.
Betutu adalah masakan kebanggaan masyarakat
Bali. Biasanya dibuat dari bebek yang dibungkus
daun pisang, lalu dibungkus lagi dengan pelepah
pinang sehingga rapat. Bebek ditanam dalam
lubang di tanah dan ditutup dengan bara api
selama 6-7 jam sampai matang.
i) Sup Konro (Makasar)
Rebus iga dengan kayumanis, lengkuas, cengkeh, salam, air
asam dan garam hingga empuk. Tumis irisan bawang merah
dan bumbu halus hingga harum dan masukkan kedalam
kaldu iga. Masak hingga mendidih dan sajikan panas
dengan sambal terasi.
j) Bubur Manado/Tinutan (Manado)
1. Didihkan air dalam panci, masukkan beras, serai,
dan jahe. Masak hingga mendidih. Tambahkan
garam dan masukkan jagung, aduk rata.
2. Masak terus hingga matang, baru masukkan
ubi/labu kuning. Tambahkan daun melinjo dan
kacang panjang. Masak hingga ubi lunak,
masukkan bayam, kangkung, dan daun kemangi.
Aduk rata.
3. Masak kembali beberapa menit hingga sayuran
matang tetapi tidak lembek. Angkat.
22

4. Hidangkan dengan pelengkap sambal tomat dan
ikan asin goreng atau ikan tongkol goreng.
k) Soto Banjar (Kalimantan Selatan)
1. Di dalam panci masukkan 2 liter air, ayam dan
garam secukupnya. Rebus sampai ayam matang
dan empuk.
2. Angkat, lepaskan daging ayam dari tulangnya.
Potong ayam berbentuk dadu atau disuwir-suwir.
Sisihkan. Sisakan air perebus ayam kurang lebih
1¾ liter.
3. Di dalam wajan, masukkan sedikit minyak goreng.
Panaskan dengan api sedang.
4. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dalam wajan
sampai harum.
5. Masukkan tumis bumbu ke dalam kuah ayam.
Masukkan juga kayu manis, pala dan cengkeh,
didihkan. Tambahkan susu cair, aduk rata supaya
tidak pecah.
Catatan:
Soto Banjar biasa dihidangkan dengan beberapa bahan
pelengkap:
 12 buah perkedel kentang
 100 gr soun direndam air panas sampai lunak, tiriskan
 6 butir telur rebus, potong-potong
 4 sdm bawang merah goring
 2 batang daun bawang, iris tipis
 1 batang daun seledri, iris halus
 kecap manis secukupnya
 jeruk nipis
 sambal soto banjar

PENGETAHUAN TENTANG CARA DAN MOMEN PENYAJIAN
MAKANAN KHAS SETEMPAT
E.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti penyajian masakan khas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bentuk/ teknik penyajian
masakan khas lokal suatu daerah (minimal 1 jenis
masakan khas lokal)


23

C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan bentuk/ teknik penyajian masakan
khas lokal suatu daerah (minimal 3 jenis masakan khas
lokal)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan bentuk/ teknik penyajian
masakan khas lokal di daerahnya (minimal 3 jenis
masalan khas lokal)

E.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu:
1) menyebutkan teknik / cara dan momen penyajian
makanan khas daerah tersebut, yang disesuaikan
dengan kebiasaan dan tradisi daerah setempat.
Contoh, misalnya di
daerah Jawa
penyajian makanan
tradisional Nasi
Tumpeng disajikan
pada saat acara adat
Kenduri atau
Selametan, dengan
lauk daging, ayam,
ikan atau sayuran
ditambah garnis
renyah dan berbagai sambal Penyajiannya sering
dijumpai menggunakan daun pisang sebagai alas
(menu nasi kuning, tumpeng, hidangan non kuah, dll)
diatas piring rotan, bambu, tembikar atau keramik.
Untuk hiasan biasanya digunakan hiasan daun kelapa
(janur). Untuk makanan berkuah biasanya digunakan
wadah (tempat) dari tembikar (gerabah). Gambar
diatas adalah penyajian makanan Nasi Tumpeng sesuai
adat Jawa.

Di beberapa daerah
tradisi makan bersama
masih dilakukan
dengan cara yang lebih
sederhana. Seperti di
Desa Tenganan Bali
pada acara adat
Megibung masyarakat
melaksanakan acara
ritual makan bersama
di ruang terbuka.
Makanan berupa nasi
dagng sapi atau ayam,
sayuran dan buah-
buahan disajikan diatas
piring bamboo beralaskan daun pisang. Cara makan
adalah dihidangkan di atas tikar pandan dan warga
mengguakan pakaian adat untuk bersama-sama
24

menikmatinya. Gambar disamping adalah penyajian
makan bersama menurut adat Desa Tenganan, Bali
2) Mampu menjelaskan fungsi dan tujuan Penyajian dan
Makanan.
Fungsi penyajian dan pelayanan makanan adalah:
a) Memenuhi selera tamu agar puas terhadap makanan
dan minuman.
b) Mendapatkan keuntungan yang wajar (tamu puas
hingga mau menjadi pelanggan tetap).
c) Memelihara dan meningkatkan nama baik daerah
setempat.
Tujuan dari penyajian dan pelayanan makanan adalah:
a) Membangkitkan selera makan
b) Memberikan kepuasan
c) Memberikan kenyamanan
d) Mencerminkan tata cara makan yang baik
e) Mempererat hubungan kekeluargaan
f) Mempertinggi efisiensi kerja (mencegah pemborosan
tenaga dan hidangan)
3) Mampu mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar
Penataan dan Pelayanan Makanan. Prinsip-prinsip
tersebut adalah:
Kebersihan
Faktor utama yang sangat penting diperhatikan dalam
penyajian makanan adalah kebersihan, baik tempat,
ruangan, lingkungan, peralatan maupun makanan dan
petugas pelayanan.



Keserasian
Suasana tempat makan, peralatan dan dekorasinya harus
serasi yang akan membuat selera makan wisatawan
menjadi meningkat dan loyal.
Keseimbangan
Luasnya ruangan dan kecermatan pemilihan perabot yang
digunakan akan menciptakan keseimbangan dan
mempengaruhi suasana yang nyaman sehingga menambah
loyalitas pelanggan.
Pusat perhatian
Display makanan yang tertata rapi dan bersih merupakan
salah satu daya tarik. Disamping itu tatanan rangkaian
bunga di atas meja makan juga menjadi pusat perhatian
yang membuat semarak dan gairah nafsu makan.
Ketepatan
25

Penempatan perabot yang tepat akan memberikan
kenyamanan bekerja bagi petugas pelayanan. Tepat juga
dalam menciptakan suasana yang diinginkan pelanggan,
termasuk dalam penyajian makanan dan peralatan yang
digunakan.
Keindahan
Penataan yang rapi tidak saja menjadikan kenyamanan
tetapi juga menciptakan keindahan, apalagi bila ditambah
dengan sebuah rangkaian bunga ditengah meja, sehingga
memberikan kesegaran alami dan membuat kesan
romantisme.
4) Mampu menerapkan atau membantu mempraktekkan
prinsip-prinsip tersebut di atas.
E. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penggalang
untuk memperoleh TKK Masakan khas lokal
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penegak
untuk memperoleh TKK masakan khas lokal

3.3.2. SKK MAKANAN RINGAN KHAS LOKAL
3.3.2.1. PENGERTIAN
SKK makanan ringan khas lokal adalah syarat kecakapan
khusus yang berkaitan dengan kemampuan individu
anggota pramuka untuk dapat memasak dan menyajikan
makanan ringan khas lokal sebagai bagian dari upaya
mempromosikan keunikan potensi kepariwisataan
daerah.
3.3.2.2. TUJUAN
Agar pramuka dapat memiliki bekal dan materi mengenai
makanan Ringan / Jajanan Pasar khas lokal di daerahnya
3.3.2.3. MATERI KECAKAPAN SKK MAKANAN RINGAN KHAS
LOKAL
Materi ajar SKK Makanan ringan khas lokal mencakup:
A. Pengetahuan tentang jenis-jenis makanan ringan
setempat
B. Pengetahuan tentang keunikan makanan ringan
setempat
C. Pengetahuan tentang bahan-bahan dasar makanan
ringan setempat.
26

D. Pengetahuan tentang cara pengolahan makanan
ringan setempat
E. Pengetahuan tentang cara penyajian makanan ringan
setempat

PENJABARAN MATERI AJAR
A. PENGETAHUAN TENTANG JENIS-JENIS MAKANAN RINGAN
SETEMPAT
A.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Mengetahui yang dimaksud dengan jenis makanan
ringan khas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan contoh makanan ringan khas lokal
di suatu daerah (minimal 3 jenis makanan ringan khas
lokal)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan contoh makanan ringan khas lokal
di suatu daerah (minimal 6 jenis makanan ringan khas
lokal)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan lokasi/ sentra produksi makanan
ringan khas lokal di suatu daerah (minimal 6 jenis
makanan ringan khas lokal)

A.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menjelaskan
tentang Jenis-jenis makanan ringan setempat, ciri utama,
aspek yang terkait, potensi dalam meningkatkan ekonomi,
dan peran makanan ringan tersebut dalam pengembangan
pariwisata.
Pengertian makanan ringan
Makanan ringan (Inggris: Snack) adalah istilah bagi
makanan yang bukan merupakan menu utama (makan
pagi, makan siang atau makan malam). Makanan yang
dianggap makanan ringan adalah: sesuatu yang
dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang
sementara waktu, memberi sedikit suplai energi ke tubuh,
atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati rasanya.
B. PENGETAHUAN TENTANG KEUNIKAN MAKANAN RINGAN
SETEMPAT
B.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
27

A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Mengetahui yang dimaksud dengan keunikan
makanan ringan khas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan keunikan makanan ringan khas
lokal suatu daerah (minimal 3 jenis makanan ringan
khas lokal)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan keunikan makanan ringan khas
lokal suatu daerah (minimal 6 jenis makanan ringan
khas lokal)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menjelaskan latar belakang sejarah keunikan
dan teknik perwujudan keunikan makanan ringan khas
lokal
B.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menjelaskan
tentang ciri khas dan keunikan masing-masing makanan
ringan tersebut dibanding dengan makanan ringan daerah
lainnya.
Berikut ini contoh makanan ringan di beberapa daerah di
Indonesia:
1) Lapis Legit (Sumatera Utara)
Spekkoek atau lapis legit adalah sejenis kue yang terbuat
dari adonan tepung dan telur. Umumnya spekkoek
berwarna kuning dan coklat. Spikoek dapat dihias dan
dihidangkan sebagai kue tart untuk acara-acara tertentu.
2) Bika ambon (Sumatera Utara)
adalah sejenis penganan asal Indonesia. Terbuat dari
bahan-bahan seperti telur, gula, dan santan, bika ambon
umumnya dijual dengan rasa pandan, meskipun kini juga
tersedia rasa-rasa lainnya seperti durian, keju, dan cokelat.
Asal-muasal bika ambon tidak diketahui dengan jelas.
Walaupun namanya mengandung kata "ambon", bika
ambon justru dikenal sebagai oleh-oleh khas Kota Medan,
Sumatera Utara. Di Medan, Jalan Mojopahit di daerah
Medan Petisah merupakan kawasan penjualan bika ambon
yang paling terkenal. Di sana terdapat sedikitnya 40 toko
yang menjual kue ini.
Bika ambon biasanya dapat bertahan dalam kondisi terbaik
selama sekitar empat hari karena setelah itu kue tersebut
mulai mengeras.
3) Karupuak Sanjai (Sumatera Barat)
adalah sejenis peganan kerupuk dari singkong yang diparut
tipis lalu digoreng dan diberi garam sebagai penyedapnya.
Kerupuk ini amat populer sebagai makanan oleh-oleh khas
kota Bukitinggi, Sumatra Barat. Kerupuk sanjai terdiri dari
tiga rasa :
28

 Karupuak Sanjai Tawar adalah kerupuk sanjai yang
tidak menggunakan lado(cabai)ataupun Gula merah
melainkan hanya diberi garam.
 Karupuak Sanjai Saka adalah Kerupuk sanjai yang
diberi/dioleskan Gula merah.
 Karupuak Balado adalah Kerupuk sanjai yang diberi
bumbu balado.
4) Dodol Garut (Garut-Jawa Barat)
Merupakan makanan khas dari kota Garut provinsi Jawa
Barat. Terdapat banyak jenis dari dodol Garut ini,
diantaranya adalah dodol wijen, dodol nanas, dodol tomat,
dodol durian, dodol coklat, dan masih banyak lagi jenis-
jenisnya. Dodol ini termasuk kepada makanan camilan
karena rasanya yang manis.
Terdapat banyak sekali toko-toko atau warung-warung
yang menyajikan dodol sebagai jualannya. Di sepanjang
jalan kota Garut banyak penjual yang menjajakan dodol
garut, terutama di jalan-jalan yang sebagai pintu gerbang
ke daerah lain di sekitar kota Garut.
Orang banyak yang menyukai dodol Garut ini karena rasanya
yang khas, sehingga membedakan dengan dodol-dodol yang
berasal dari daerah lainnya di Indonesia.
5) Lumpia (Semarang-Jawa Tengah)
Lumpia semarang adalah makanan semacam rollade yang
berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.
Cita rasa lumpia semarang adalah perpaduan rasa antara
Tionghoa dan Indonesia karena pertama kali dibuat oleh
seorang keturunan Tionghoa yang menikah dengan orang
Indonesia dan menetap di Semarang, Jawa Tengah.
Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang ketika
pesta olahraga GANEFO diselenggarakan pada masa
pemerintahan Presiden Soekarno.
Variasi
Dewasa ini, terdapat lima jenis lumpia semarang dengan
cita rasa yang berbeda. Pertama aliran Gang Lombok (Siem
Swie Kiem), kedua aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem
Swie Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (almarhumah
Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga
Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan
putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–
Wasih.
Aliran keempat adalah sejumlah bekas pegawai lumpia
Jalan Pemuda, dan aliran kelima adalah orang-orang
dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia
dengan resep hasil pembelajaran dari lumpia yang sudah
beredar.
Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie
Kiem (68), tetap setia melayani konsumennya di kios
warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11.
Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah
penggemarnya yang sempat ditemui di kios tersebut adalah
racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan
udangnya tidak amis.
29

Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios
lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda
dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios
almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang
dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen)
sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.
Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang
ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula
meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien
membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang,
lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia
spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena
merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka
yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu
macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung
dicampur udang dan ayam.
Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari
almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie
Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT
Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa
tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum
Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di
Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai
generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.
Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang
tersebut, sekarang banyak juga orang-orag luar yag
membuat lumpia semarang. Mereka umumnya mantan
karyawan mereka. Mereka yang mempunyai hobi kuliner
juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan
membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa
Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden
Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.
6) Bakpia (Yogyakarta)
Bakpia adalah makanan yang terbuat dari campuran
kacang hijau dengan gula yang dibungkus dengan tepung
lalu dipanggang. Di beberapa daerah di Indonesia, makanan
yang terasa legit jika dimakan ini dikenal dengan nama pia
atau kue pia. Isi bakpia bisa menyesuaikan dengan
keinginan konsumen di antaranya cokelat, keju, kumbu
hijau, dan kumbu hitam. Bakpia yang cukup dikenal salah
satunya berasal dari daerah Pathok (Pathuk), Yogyakarta.
Istilah bakpia sendiri adalah berasal dari dialek Hokkian
(Hanzi: 肉餅), yang secara harfiah berarti roti berisikan
daging, yaitu kata "Bak" yang berarti daging (umumnya
daging babi) dan "Pia" yang berarti kue. Karena masyarakat
Jogja mayoritas beragama Islam, maka barulah isi bakpia
yang semula daging babi diubah menjadi kacang hijau.
Kemudian rasa-rasa dari bakpia dikembangkan menjadi
cokelat, keju, kumbu hijau, dan kumbu hitam.
Di desa Pathok, dulunya penduduk tidak mengenal istilah
"merek", sehingga bakpia yang dijual hingga saat ini
berlabel "nomor rumah produsen". Kemudian barulah
muncul beberapa merek-merek pathok seperti Djava dan
lain-lain.

30

C. PENGETAHUAN TENTANG BAHAN-BAHAN DASAR
MAKANAN RINGAN SETEMPAT
C.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti bahan dasar makanan ringan
khas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bahan dasar masakan khas lokal
(minimal 3 bahan dasar menu makanan ringan khas
lokal suatu daerah)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan fungsi/ kegunaan masing-maisng
bahan dasar untuk makanan ringan khas lokal tersebut
(minimal 3 jenis makanan ringan khas lokal)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat menyusun dan menyiapkan kebutuhan bahan
dasar makanan ringan khas lokal suatu daerah
(minimal 3 jenis makanan ringan)



C.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menyebutkan
bahan-bahan dasar makanan ringan lokal daerah tersebut,
bagaimana cara mendapatkan bahan-bahan tersebut dan
bagaimana membudidayakannya. Berikut ini contoh
bahan-bahan dasar pebuatan makanan ringan:
1) Lapis Legit (Sumatera Utara)
Bahan-bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat
makanan Lapis Legit adalah:
Bahan Kue Lapis Legit Spesial :
 30 butir kuning telur
 250 gram gula halus
 3 sendok makan susu bubuk
 50 gram tepung terigu protein sedang, ayak
 350 gram mentega
 150 gram margarin
Cara membuat Kue Lapis Legit Spesial :
1. Campur mentega, margarin dan gula halus. Kocok
hingga lembut.
2. Masukkan kuning telur satu per satu sambil terus
kocok adonan hingga putih dan mengembang.
3. Masukkan susu bubuk dan terigu sedikit demi
sedikit sambil terus dikocok rata.
31

4. Tuangkan satu sendok sayur adonan dalam loyang
yang telah dilapisi kertas roti dan diolesi margarin.
Panggang dalam oven dengan api atas selama 5
menit.
5. Keluarkan loyang dari oven, tekan-tekan kue
menggunakan alat khusus hingga permukaan kue
rata.
6. Tuangkan lagi 1 sendok sayur adonan di atas
lapisan pertama. Panggang kembali selama 5
menit dengan api atas. Lakukan proses yang sama
hingga adonan habis.
7. Jika adonan telah habis dan proses pelapisan
selesai, panggang kue dalam oven dengan api atas
dan api bawah hingga matang. Angkat, sajikan.
2) Bika Ambon (Sumatera Utara)
Bahan-bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat
makanan Lapis Legit adalah:
Bahan Kue Bika Ambon Keju :
 adonan dasar Bika Ambon panggang 1 resep
 keju cheddar 100 gram, parut
 keju tua/parmesan cheese 50 gram, parut halus
Cara Membuat Kue Bika Ambon Keju :
1. Campur adonan dasar bika dengan keju
tua/parmesan cheese, aduk rata.
Diamkan/istirahatkan adonan selama 10 menit.
2. Panaskan cetakan kue lumpur, tuang adonan
hingga 3/4 tinggu cetakan. Masak hingga 3/4
matang.
3. Taburi permukaan bika dengan keju cheddar,
tutup. Masak hingga matang. Angkat dan hias
sesuai selera. Sajikan.
3) Dodol Garut (Garut – Jawa Barat)
Bahan-bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat
makanan Lapis Legit adalah:
Bahan Membuat Dodol Garut :
 Tepung ketan 500 gram
 Tepung beras 50 gram
 Garam 1/2 sendok teh
 Gula merah 250 gram
 Gula pasir 250 gram
 Santan cair 750 ml dari 1/2 butir kelapa
 Santan kental 250 ml dari 1 butir kelapa



32

Cara Membuat Dodol Garut :
1. Campur tepung ketan, tepung beras dan garam.
Sisihkan
2. Masak gula merah, gula pasir dan santan cair.
Saring
3. Masukkan ke dalam campurna tepung ketan.
Aduk terus hingga menjadi bubur.
4. Tuang santan kental sedikit demi sedikit. Aduk
terus hingga kental dan keluar minyak. Angkat.
5. Cetak dalam loyang. Dinginkan dan potong
potong.
4) Lumpia (Semarang-Jawa Tengah)
Bahan-bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat
makanan Lapis Legit adalah:
Resep lumpia semarang :
 15 lembar kulit lumpia
 2 sendok makan tepung terigu dan 1 sendok
makan air, dilarutkan untuk perekat
 Minyak untuk menggoreng
Resep isi lumpia semarang :
1. 3 siung bawang putih, dicincang halus
2. 1 sendok teh ebi sangrai, dihaluskan
3. 50 gram udang, dicincang kasar
4. 50 gram ayam, dicincang kasar
5. 2 butir telur, dikocok lepas
6. 200 gram rebung kaleng, diiris korek api
7. 1 sendok makan kecap manis
8. 1/2 sendok teh garam
9. 1/4 sendok teh merica bubuk
10. 1/2 sendok teh gula pasir
11. 2 sendok makan minyak untuk menumis
Resep saus lumpia semarang :
 1 siung bawang putih, dihaluskan
 300 ml air
 50 gram gula merah, disisir halus
 1/4 sendok teh merica bubuk
 25 gram gula pasir
 3 sendok makan tepung sagu dan 1 sendok makan
air, dilarutkan untuk pengental
Cara membuat lumpia semarang :
1. Isi : panaskan minyak. Tumis bawang putih dan
ebi sampai harum. Tambahkan udang dan ayam.
Aduk sampai berubah warna.
33

2. Sisihkan di pinggir wajan. Masukkan telur. Aduk
sampai berbutir. Tambahkan rebung. aduk sampai
layu.
3. Masukkan kecap manis, garam. merica bubuk, dan
gula pasir. Masak sampai meresap.
4. Ambil selembar kulit lumpia. Beri isi. Lipat dan
gulung. Rekatkan dengan larutan tepung terigu.
Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan
hingga matang.
5. Saus : rebus bawang butih dan air sampai
mendidih. Masukkan gula merah, merica bubuk,
dan gula pasir. Aduk sampai larut.
6. Kentalkan dengan larutan tepung sagu. Masak
sampai meletup-letup.
7. Sajikan lumpia semarang dengan sausnya.
5) Bakpia (Yogyakarta)
Bahan-bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat
makanan Lapis Legit adalah:
BAHAN A :
 250 gr tepung terigu cakra
 1 sdm mentega putih
 50 gr gula tepung
 140 ml susu cair
BAHAN B :
 250 gr tepung terigu cakra
 100 gr minyak goring
 1/4 sdt garam
BAHAN ISI :
 100 gr kacang hijau kupas, rendam 1 jam
 150 ml santan dari 1/2 butir kelapa
 1/4 sdt garam
 2 lembar daun pandan
 100 gr gula pasir
Cara Membuat
Isi :
1. Kukus kacang hijau selama 15 menit.Angkat.
2. Masak bahan-bahan lainnya bersama kacang hijau
yang sudah dikukus sampe kalis. Sisihkan, bentuk
bulat.
Adonan A:
uleni bahan A sampai kalis.
Adonan B :
1. aduk semua bahan B sampe bergumpal.
34

2. Timbang adonan A masing-masing 20 gram dan
adonan B masing-masing 10 gr.
3. Pipihkan adonan A, masukkan adonan B di
dalamnya, bentuk bulat, demikian seterusnya
sampai adonan habis.
4. Pipihkan Adonan A yang sudah bercampur dengan
adonan B, isi dengan adonan isi, bulatkan.
5. Letakkan di loyang tanpa dioles margarin.
6. Oven dengan suhu 180 derajat Celcius selama 10
menit, lalu keluarkan dari oven dan balik,
masukkan lagi ke dalam oven selama 10 menit.
keluarkan lagi dan balik lagi masukkan ke oven
dan biarkan 5 menit, keluarkan lagi dan balik lagi,
lalu masukkan ke dalam oven selama 5 menit lagi.
7. Sajikan

D. PENGETAHUAN TENTANG CARA PENGOLAHAN MAKANAN
RINGAN SETEMPAT
D.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti pengolahan makanan ringan
khas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bentuk/ teknik pengolahan
makanan ringan khas lokal suatu daerah (minimal 2
jenis makanan khas suatu daerah)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan bentuk / teknik pengolahan
makanan ringan khas lokal suatu daerah (minimal 3
jenis makanan ringan khas lokal suatu daerah)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan pengolahan makanan ringan
khas lokal di daerahnya (minimal 2)

D.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu menyebutkan
proses cara pengolahan, waktu yang dibutuhkan, dan
peralatan yang digunakan untuk membuat makanan ringan
khas daerah tersebut. Selanjutnya pramuka juga
diharapkan mampu mengolah sendiri atau membantu
pembuatan makanan tersebut. Contoh pengolahan
makanan ringan telah disebutkan diatas bersama bahan-
bahan pembuatan.

35

E. PENGETAHUAN TENTANG CARA DAN MOMEN PENYAJIAN
MAKANAN RINGAN SETEMPAT
E.1. Kecakapan yang harus dikuasai setiap tingkatan Pramuka
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
Dapat menjelaskan arti penyajian makanan
ringankhas lokal
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
Dapat menyebutkan bentuk/ teknik penyajian
makanan ringan khas lokal suatu daerah (minimal 1
jenis makanan ringan khas lokal)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Dapat menjelaskan bentuk/ teknik penyajian makanan
ringan khas lokal suatu daerah (minimal 3 jenis
makanan khas lokal)
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Dapat mempraktekkan bentuk/ teknik penyajian
makanan ringan khas lokal di daerahnya (minimal 3
jenis makanan ringan khas lokal)



E.2. Materi
Pada materi ini pramuka diharapkan mampu:
1) menyebutkan teknik / cara dan momen penyajian
makanan ringan tersebut. Penyajian makanan ringan
bisa dilakukan menggunakan:
a) Tampah dan hiasan daun pisang





b) Kotak Plastik

c) Piring

36

d) Wadah Rotan

e) Piring Susun


2) Mampu menjelaskan fungsi dan tujuan penyajian dan
makanan ringan tersebut.
Fungsi penyajian dan pelayanan makanan adalah:
a) Memenuhi selera tamu agar puas terhadap makanan
dan minuman.
b) Mendapatkan keuntungan yang wajar (tamu puas
hingga mau menjadi pelanggan tetap).
c) Memelihara dan meningkatkan nama baik daerah
setempat.
Tujuan dari penyajian dan pelayanan makanan adalah:
a) Membangkitkan selera makan
b) Memberikan kepuasan
c) Memberikan kenyamanan
d) Mencerminkan tata cara makan yang baik
e) Mempererat hubungan kekeluargaan
f) Mempertinggi efisiensi kerja (mencegah pemborosan
tenaga dan hidangan)
3) Mampu mendeskripsikan prinsip-prinsip dasar
Penataan dan pelayanan makanan ringan. Prinsip-
prinsip tersebut adalah:
Kebersihan
Faktor utama yang sangat penting diperhatikan dalam
penyajian makanan ringan adalah kebersihan, baik tempat,
ruangan, lingkungan, peralatan maupun makanan dan
petugas pelayanan.
Keserasian
Suasana tempat makan, peralatan dan dekorasinya harus
serasi yang akan membuat selera makan wisatawan
menjadi meningkat dan loyal.
Keseimbangan
Luasnya ruangan dan kecermatan pemilihan perabot yang
digunakan akan menciptakan keseimbangan dan
mempengaruhi suasana yang nyaman sehingga menambah
loyalitas pelanggan.
37

Pusat perhatian
Display makanan ringan yang tertata rapi dan bersih
merupakan salah satu daya tarik. Disamping itu tatanan
rangkaian bunga di atas meja makan juga menjadi pusat
perhatian yang membuat semarak dan gairah nafsu makan.
Ketepatan
Penempatan perabot yang tepat akan memberikan
kenyamanan bekerja bagi petugas pelayanan. Tepat juga
dalam menciptakan suasana yang diinginkan pelanggan,
termasuk dalam penyajian makanan dan peralatan yang
digunakan.
Keindahan
Penataan yang rapi tidak saja menjadikan kenyamanan
tetapi juga menciptakan keindahan, apalagi bila ditambah
dengan sebuah rangkaian bunga ditengah meja, sehingga
memberikan kesegaran alami dan membuat kesan
romantisme.
4) Mampu menerapkan atau membantu mempraktekkan
prinsip-prinsip tersebut di atas.





F. PENGALAMAN PEMBINAAN
Kecakapan dan penguasaan materi ini di tiap tingkatan
Pramuka adalah sebagai berikut
A. PRAMUKA SIAGA (7-10 tahun)
B. PRAMUKA PENGGALANG (11-15 tahun)
C. PRAMUKA PENEGAK (16-20 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penggalang
untuk memperoleh TKK Makanan ringan khas lokal
D. PRAMUKA PANDEGA (21-25 tahun)
Telah melatih sedikitnya seorang pramuka Penegak
untuk memperoleh TKK makanan ringan khas lokal

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful