P. 1
Tumbuh-kembang Anak

Tumbuh-kembang Anak

4.0

|Views: 2,244|Likes:
Teori tumbuh kembang anak yang patut dipahami olheo orang tua, karena sangat berperan dalam kehidupannya di masa depan. Diambil dari panduan penggunaan modul cuci tangan pakai sabun, Save the Children - USAID.
Teori tumbuh kembang anak yang patut dipahami olheo orang tua, karena sangat berperan dalam kehidupannya di masa depan. Diambil dari panduan penggunaan modul cuci tangan pakai sabun, Save the Children - USAID.

More info:

Published by: rahadian p. paramita on Sep 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

B A G I A N

-

I I I

Tumbuh Kembang Anak
ejak kapan anak mulai tumbuh dan berkembang? Seorang anak mulai tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan. Sebuah janin yang terbentuk telah dilengkapi dengan organ-organ yang terus berkembang dan tumbuh hingga siap untuk dilahirkan. Namun, perkembangan dan pertumbuhan akan terus berlanjut hingga kira-kira anak berusia 18 tahun. Otak bayi pada saat lahir, telah berisi 100 miliar neuron (kirakira sebanyak bintang dalam galaksi Bima Sakti), dan dilengkapi dengan 1 triliun sel glia (dari kata Yunani yang berarti perekat) yang membentuk semacam sarang pelindung dan pemberi makan neuron. Otak telah berisi hampir semua sel syaraf yang akan dimilikinya, namun pola penyambungan antar sel-sel itu masih belum mantap. Neuron-neuron ini bersambungan satu sama lain dengan sangat kompleks. Jumlah sambungannya bertriliun-triliun. Setiap neuron rata-rata terhubung ke 15.000 neuron lainnya. Jika sistem syaraf yang berkembang diibaratkan kabel telepon, maka kabel-kabel utama jaringan telepon antar wilayah dalam setiap kota telah tertanam secara tepat. Namun belum dipilahpilah untuk membuat sambungan ke rumah-rumah.

S

Jaringan syaraf otak 1.400 kali lebih rumit daripada seluruh jaringan telepon di dunia. Dibandingkan jaringan syaraf lainnya, otak orang dewasa rata-rata mengandung 10 miliar sel syaraf dengan kondisi lebih rapat. Seluruh sel syaraf mampu merekam 88 juta bit informasi atau setara dengan 12,5 triliun huruf. Jika dituliskan di kertas folio dengan spasi ganda, dibutuhkan sekitar 33 miliar helai kertas. Di dalam otak terjadi ratusan ribu kali reaksi kimia. Setiap reaksi kimia memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam kaitannya dengan aktivitas tubuh. Kinerja otak ini didukung oleh 17.000 ujung syaraf yang ada di setiap cm2 kulit.

Daerah sentuhan

Daerah gerakan Daerah berpikir

Daerah bercakap Daerah melihat Daerah mendengar

11

B A G I A N

-

I I I

Pengalaman adalah arsitek utama otak anak
Penyambungan sistem syaraf pada masa pembentukan otak adalah pekerjaan terberat. Setelah bayi lahir, terjadi semacam ledakan penyambungan antar neuron. Neuron otak yang jumlahnya miliaran itu masing-masing mengadakan hubungan dengan ribuan sel syaraf lainnya. Mula-mula sel tersebut mengeluarkan semacam serabut mirip kabel listrik yang disebut axon (yang mengirimkan sinyal) dan dendrit (yang menerima sinyal). Tujuannya adalah membentuk sinapsis, suatu struktur seperti sela pemisah. Melalui sela inilah axon dari salah satu neuron memancarkan sinyal ke dendrit dari neuron lainnya. Pengiriman sinyal ini hanya dimungkinkan bila axon dan dendrit hampir bersentuhan (sangat dekat). Dendrit pendek yang berserabut banyak tidak bergerak, tetapi axon harus melintasi jarak yang cukup jauh (jika diumpamakan sebagai pejalan kaki, maka pejalan kaki ini harus menempuh jarak yang jauhnya berkilo-kilometer).

1. Otak embrio menghasilkan neuron (sel syaraf ) jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan, dan memusnahkan kelebihannya.

2. Neuron yang bertahan, mengeluarkan axon (sambungan transmisi jarak jauh sistem syaraf ). Di ujungnya, axon mengeluarkan cabang-bercabang sebagai penghubung sementara dengan banyak sasaran.

3. Semburan spontan kegiatan listrik memperkuat beberapa sambungan ini, sementara lainnya (sambungan yang tidak diperkuat oleh pengalaman) mengalami atrofi (menyusut sampai lenyap). i

4. Setelah kelahiran, otak mengalami lonjakan pertumbuhan kedua: axon (yang mengirim sinyal) mengadakan banyak sekali sambungan baru. Kegiatan listrik, yang dipicu oleh banjir pengalaman indera, memperhalus untaian otak (menentukan sambungan yang akan dipertahankan, dan yang dipangkas).

12

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

Molekul-molekul pada ujung axon mencari-cari kandungan protein yang sesuai, yang dapat mendekatkannya kepada dendrit. Proses ini dikendalikan oleh gen. Namun, segera setelah terjadi kontak pertama, saraf mulai menembakkan sinyal, dan apa yang dilakukan axon itu mulai berperan. Kegiatan neuron mengambil alih peran pembentukan dengan cara menghaluskan peta kasar secara berangsur-angsur. Kegiatan neuron ini tidak lagi spontan, melainkan digerakkan oleh banjir pengalaman indera.

Informasi yang diterima struktur serupa akar serabut yang disebut dendrit, terintegrasi di dalam badan sel otak. t Badan sel kemudian mengirimkan sinyal elektrokimia melalui sepanjang serabut neuron (biasanya hanya satu) yang disebut axon hingga ke ujungnya di titik mana sinaps bisa terbentuk. Sinapsis (bentuk jamak sinaps), mengutip Willlis pada 1998, adalah gang-gang atau jalan raya yang memungkinkan masing-masing sel syaraf saling terhubung satu sama lain. Laju ‘komunikasi’ antar sel semakin cepat pada axon-axon yang ter-myelinasi. Axon ibarat kabel listrik yang bila tak terlindungi myelin akan kian melemah sinyal yang melaluinya. Sel-sel otak adalah neuron dan glia. Neuron yang menyalurkan sinyal elektrokimia ini terhubung satu sama lain. Sel glia sering disebut sel pekerja atau pendukung yang perannya membersihkan dan mencerna sebagian neuron yang mati. Ada sel glia (oligodendroglia) yang membantu membentuk lapisan myelin. Tak ada sinaps kimia antar sel glia, meskipun riset mutakhir tengah menyelidiki gelombang kalsium yang kemungkinan dipakai dalam memproses informasi.

Salah satu sinyal elektrokimia sampai di cabang-cabang axon, sejumlah hal berlangsung: 1. Neurotransmitter membanjiri ruang sinaptik (synaptic cleft), r t 2. Terjadi penguraian oleh sejumlah enzim, 3. Penyerapan kembali (reuptake) terjadi saat neuron menyerap lagi neurotransmitter untuk aksi selanjutnya, r 4. Informasi itu dikomunikasikan ke axon selanjutnya dan terbentuk sinaps baru. Hanya yang terakhir itu yang menandakan transmisi sinyal elektrokimia sukses. Semakin banyak sinaps yang terbentuk, anak semakin cerdas. Pembentukan axon, dendrit, dan sinaps sangat t tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan adanya pertambahan axon, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, t berkurangnya axon, dendrit, dan sinaps. t

13

B A G I A N

-

I I I

Otak manusia harus menyelesaikan sebanyak berkuadriliunkuadriliun sambungan. Namun dalam DNA manusia hanya terdapat 100.000 gen. Jika setengah dari jumlah tersebut (kira-kira 50.000 gen) dikhususkan untuk membangun dan memelihara sistem syaraf, gen sebanyak itu hanya mampu untuk menghasilkan suatu bagian kecil sambungan dari kebutuhan sebuah otak yang berfungsi penuh. Gen-gen dalam DNA tidak mungkin menyelesaikan sambungan syarafnya sendiri. Syaraf-syaraf otak seorang anak dapat menyambung karena adanya pengalaman yang diulang-ulang. Setiap kali seorang bayi mencoba menyentuh suatu benda yang merangsangnya, atau memandang suatu wajah atau mendengarkan lagu, aliran listrik memancar ke otak, menghubungkan neuron-neuron menjadi sirkuit yang terancang dengan baik. Hasilnya adalah tonggak-tonggak tanda kemajuan perilaku yang menggembirakan orang tua atau mencemaskan orang tua. Pada usia 2 bulan, misalnya, pusat pengendalian gerak dalam otak berkembang sampai tingkat tertentu sehingga anak sanggup menggapai atau menangkap suatu benda yang dekat. Pada usia ± 4 bulan, korteks mulai memperhalus sambungan yang diperlukan untuk menangkap kedalaman (jarak benda) dan melihat dengan dua mata. Dan usia ± 12 bulan, pusat bicara dalam otak mencapai kesiapan berkembangnya bahasa (ditandai dengan kata pertama dari bayi).

IMPLIKASINYA DALAM PENGAJARAN ATAU PELATIHAN
Stimulus/rangsangan adalah apapun yang mengakibatkan adanya kontak dengan otak melalui ke-5 indera (peraba, pengecap, penciuman, pendengaran, dan penglihatan). Jika rangsangan/stimulus adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu, otak menerima input ke dalam melalui neuron. Input ini kemudian diperbandingkan dengan konsep-konsep yang diingat dan memperkuat gambaran yang ada di otak. Jika rangsangan/stimulus itu adalah yang pertama kali diterima (belum ada pengalaman sebelumnya), energi listrik dihasilkan untuk mengkonversi input menjadi denyut syaraf. Sinyal ini menjelajah ke berbagai area otak, dimana sinyal tersebut dipilah-pilah, diproses, dan/atau disimpan untuk dipanggil kembali suatu saat nanti. Jika otak menerima input beberapa kali, proses pengiriman sinyal menjadi lebih efisien karena adanya ‘peta jalan’ pada sistem syaraf yang pernah terbentuk. Semakin sering input diterima, menjadi semakin jelas peta ‘jalan tersebut’, dan semakin efisien proses pengiriman sinyalnya. Itulah sebabnya mengapa menjadi sangat penting untuk membiasakan selalu mengkaji ulang konsep-konsep yang baru diperkenalkan selama pertemuan kegiatan. Sedapat mungkin usahakan untuk menyuntikkan kegiatan yang menyenangkan untuk pengkajian ulang konsep yang baru diberikan, sekitar setiap 10-15 menit, atau memberikan kesempatan/waktu bagi para peserta belajar untuk memproses informasi dan pengetahuan yang baru diperolehnya.

Otak anak akan membentuk triliunan sambungan antar neuron dan sekaligus memangkas sinapsis yang berlebihan, dalam 10 tahun pertama kehidupannya. Perkembangan otak yang pesat ini mulai berakhir kira-kira pada usia 10 tahun. Selama beberapa tahun setelah itu, otak akan menghancurkan 14

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

sinapsisnya yang paling lemah dan hanya mempertahankan yang telah dibentuk secara ajaib oleh pengalaman. Gebyarangebyaran listrik yang mengalir di otak dengan menciptakan apa saja (mulai dari gambar penglihatan dan perasaan senang, sampai mimpi suram dan pikiran liar), akan memperkuat kelestarian sinapsis dengan cara: merangsang gen yang meningkatkan keluarnya faktor pertumbuhan kuat, dan z menekan gen yang mengatur enzim penghancur sinapsis. Setelah masa pemangkasan sinapsis ini, sambungansambungan yang tidak pernah digunakan atau jarang digunakan, akan hilang. Yang tertinggal adalah otak dengan pola emosi dan pola pikirannya unik (dalam arti baik maupun buruk). Jendela pengetahuan yang dibutuhkan bagi perkembangan otak, telah ditutup.
z

Beberapa pengecualian terjadi untuk jendela perkembangan bahasa. Penguasaan sintaksis mungkin telah menutup pada usia 5 - 6 tahun, namun penambahan kata-kata baru mungkin tidak pernah tertutup. Sejak lahir hingga usia 6 tahun, adalah periode di mana kemampuan untuk belajar suatu bahasa asing paling tinggi. Setelah itu, menurun secara tetap dan tak terpulihkan. Banyak orang dewasa masih belajar bahasa baru, tetapi biasanya dengan sangat bersusah payah. Walaupun sinapsis-sinapsis baru terus terbentuk seumur hidup, dan orang dewasa juga terus menerus membaca dan belajar, namun otak tidak pernah mampu menguasai kemahiran baru atau bangkit kembali dari kekeliruan dengan semudah yang terjadi pada masa kanak-kanak.

Kelenturan otak mulai menurun pada akhir masa remaja, kirakira usia 18 tahun, namun dayanya (kemampuannya) bertambah. Bakat dan kecenderungan laten yang telah dipelihara telah siap untuk berkembang. Pengalamanpengalaman yang mendorong kegiatan neuron dapat 15

B A G I A N

-

I I I

diibaratkan sebagai pisau ukir seniman pematung yang menciptakan bentuk dari sebongkah batu. Adanya bahan berlebih itu memperluas banyaknya kemungkinan, tetapi pemangkasan apa yang berlebih inilah yang melahirkan karya seni. Kelebihan produksi sambungan sinapsis yang disusul dengan hilangnya kelebihan itulah yang menimbulkan pola dalam otak yang unik. Pertumbuhan anak secara fisik dapat kita bedakan menjadi beberapa periode yaitu: 1. Masa pralahir yang dibagi atas masa mudigah (sejak pembuahan sampai usia kehamilan 8 minggu) dan masa janin (usia kehamilan 8 minggu hingga 42 minggu); 2. Masa bayi, mulai sejak bayi dilahirkan hingga usia 1 tahun; 3. Masa prasekolah yang dibagi atas masa batita (1-3 tahun) dan masa balita (1-5 tahun); 4. Masa sekolah (6-12 tahun); 5. Masa remaja, yang berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Untuk anak laki-laki, masa remaja dimulai dari usia 12,5 tahun sampai dengan usia 18 tahun, sedangkan untuk anak perempuan dimulai dari usia 10,5 tahun sampai dengan 18 tahun. Pertumbuhan berjalan cepat pada tahun pertama, kemudian berkurang secara berangsur-angsur sampai anak berusia 3-4 tahun. Pertumbuhan berjalan lambat dan teratur sampai masa akil balik (12-16 tahun). Pada masa akil balik, pertumbuhan berjalan dengan cepat lagi yang akan melambat mendekati umur 18 tahun.

Perkembangan Intelektual dan Mental
Pemahaman mengenai perkembangan intelektual dan mental anak, dapat membantu dalam mengembangkan proses belajar yang cocok dan tidak membosankan. Proses dan alat pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak pada akhirnya akan memacu perkembangan dan merupakan tantangan yang tidak membosankan anak. Sebagaimana manusia dewasa, perkembangan anak pada dasarnya kompleks. Aspek-aspek fisik, emosi, kehidupan sosial, maupun kemampuan mental berkembang secara kompleks dan saling berpengaruh. Bagi kepentingan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, secara garis besar aspek perkembangan anak yang perlu diperhatikan pendidik adalah aspek kognitif (pengetahuan) dan aspek afektif (sikap, mental, nilai moral, sosial). Pada usia anak di bawah 6 tahun, perkembangan fisik dan kemampuan motorik anak-anak justru menjadi perhatian dan pertimbangan utama dalam proses pembelajaran. 16

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

Beberapa ahli, seperti Jean Piaget (1961) menyatakan bahwa terdapat beberapa tahapan intelektual anak, yaitu: Usia 0-2 tahun disebut masa sensomotorik, z Usia 2-7 tahun disebut masa pra-operasional, z Usia 7-11 tahun disebut masa konkrit operasional, z Usia 11-14 tahun disebut masa formal operasional. Pada dua tahap pertama, intelektual anak dipengaruhi oleh peranan pancaindera. Anak memahami suatu pengertian dan konsep melalui pengalaman pancaindera yang konkrit. Pada dua tahap berikutnya secara bertahap, anak mulai mengembangkan kemampuan intelektual dengan menggunakan logika sederhana dalam memahami persoalan, mengklasifikasi dan membandingkan, dan seterusnya.
z

Untuk kelompok usia anak-anak antara 7 - 11 tahun ini, sebagian pihak mengindentifikasi adanya 6 tingkat utama aspek kognitif, yaitu: Pengetahuan: berorientasi pada fakta, gagasan, dan informasi; z Pengertian: mampu menyerap makna dari satu informasi atau pengalaman; z Aplikasi: menggunakan aturan, prinsip, gagasan, cara yang telah dimilikinya dalam situasi atau kegiatan tertentu; z Analisa: memahami komponen dan kaitan setiap bagian dari benda atau peristiwa; z Menyusun: mampu mengkombinasikan peristiwa atau pengalaman untuk diterapkan menjadi sesuatu yang baru; z Evaluasi: membuat penilaian kualitatif dan kuantitatif terhadap suatu benda atau peristiwa untuk tujuan tertentu. Dalam mengembangkan proses pembelajaran, tingkatan aspek kognitif ini sangat membantu untuk menyusun suatu proses yang dimulai dengan pencapaian tingkat paling bawah dan secara bertahap berkembang sampai tingkat selanjutnya.
z

Anak usia 9-10 tahun mulai mengembangkan logika mereka untuk memecahkan masalah sederhana, mengelompokkan dan mengklasifikasi berbagai hal, serta mulai menggunakan pemahaman mengenai ukuran dan perbandingan. Anak-anak mulai mengembangkan penilaian berdasarkan alasan-alasan subyektif, meskipun telah memahami adanya aturan-aturan. Mereka juga memahami benda terdiri dari berbagai unsur dan mengelompokkannya. Namun pada umumnya, mereka masih berpikir secara “hitam-putih” dan masih tergantung kepada orang dewasa untuk membantu pemecahan masalah yang dihadapinya. Dalam tahap ini, anak dapat mulai diperkenalkan dan mempelajari berbagai informasi mengenai lingkungan di sekitarnya. Bahkan mereka sebenarnya mulai belajar untuk terlibat dan mengelola sebuah kegiatan sederhana, sesuai dengan 17

B A G I A N

-

I I I

perkembangan kemampuan pengamatan, mengorganisir, membandingkan, dan menerangkan. Tahap ini (9-10 tahun) adalah tahap yang baik untuk memulai proses pembelajaran sesuatu yang “baru” yang terfokus pada peningkatan pengetahuan dan pembentukan sikap mereka. Proses pembelajaran dapat ditujukan untuk pengembangan kemampuan berpikir mereka, misalnya dengan melibatkan mereka dalam sebuah percobaan yang memberikan rangsangan untuk melakukan pengamatan, perbandingan, dan mendiskusikan beberapa pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan satu topik bahasan tertentu. Pada usia 11 tahun ke atas (tahap formal operasional), anakanak mulai berpikir pada hal-hal yang lebih abstrak dan mulai mengembangkan analisa berdasarkan perkiraan dan pola berpikir deduktif. Dengan petunjuk yang sederhana, anakanak dapat melakukan analisa suatu peristiwa dengan pemahaman mengenai kombinasi, proporsi, dan kaitannya dengan aspek lainnya. Bahkan tidak jarang sebagian anak-anak pada usia ini sudah mengembangkan abstraksi pemikiran yang sedikit lebih tinggi. Anak-anak dalam tahap formal operasional ini dapat mulai belajar untuk mencari alternatif dan gagasan terhadap masalah. Meskipun masih dimungkinkan adanya analisa yang mengacu pada pikiran “hitam-putih”, namun anak-anak sebenarnya mulai mampu berpikir mengenai peristiwa yang kompleks.

Mental, Etika dan Moral
Sistem nilai merupakan gabungan dari keyakinan dan sikap yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti lingkungan, pendidikan, dan kepribadian. Interaksi dalam keluarga, sekolah, teman sebaya, bahkan menonton televisi, membaca, dan kehidupan bersama masyarakat pada umumnya, telah memberikan pengaruh pada pengembangan keyakinan, sikap, dan pada akhirnya sistem nilai yang dimiliki setiap orang. Pengembangan mental, etika, dan moral ini sepertinya tidak pernah selesai. Hampir setiap orang pasti pernah mengalami “konflik” maupun “kebimbangan” dalam bersikap dan bertingkah laku. Di satu sisi, kita didorong oleh keinginan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan pribadi. Namun di sisi lainnya kita juga harus berhadapan dengan kepentingan dan nilai-nilai umum dari masyarakat. Misalnya secara pribadi, suatu sikap kita nilai sebagai tidak baik, namun dianggap baik oleh masyarakat secara umum. Atau kadang kala kita menghadapi kondisi sebaliknya, ketika secara pribadi kita menganggap baik suatu sikap, namun masyarakat pada umumnya menganggap sikap tersebut tidak baik.

18

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

Anak-anak usia 7-11 tahun mulai mengembangkan kemampuan menilai sesuatu yang dianggap benar dan salah berdasarkan pendapat mereka sendiri. Bahkan kadang-kadang mereka mencoba berontak terhadap aturan umum (kadang mengerti berbohong). Anak-anak cenderung melihat dunia dari kacamata sendiri, bahkan terkesan “melawan” terhadap nilainilai umum. Mereka juga mampu menilai sebuah perilaku dari kosekuensi yang dihadapinya. Pada tahap ini (7-11 tahun) sebenarnya proses pembelajaran dapat mulai memperkenalkan materi yang cukup kontroversial. Materi yang mendorong anak-anak untuk mengungkapkan pendapatnya, dan memahami pendapat anak lain terhadap isu tertentu. Anak-anak yang berusia lebih tua, sekitar usia 11-15 tahun (tahap formal operasional), mulai mengembangkan kepribadian yang unik dan rasa ego dirinya. Anak-anak mulai memahami tingkatan dan penggolongan dari “kesalahan’ dan “hukuman”. Dalam kehidupan sosial, mereka mulai mengerti perlunya kerjasama dengan orang lain untuk mencapai satu tujuan. Dengan kata lain, mereka mulai menerapkan keseimbangan antara keinginan pribadi dengan tuntutan nilai kelompok atau masyarakat. Tahapan ini dianggap sebagai tahap yang tepat untuk mendorong anak-anak mengevaluasi perilaku mereka sendiri dan dampak dari perilaku tersebut terhadap lingkungan dan orang lain. Beberapa kalangan kemudian menambahkan, bahwa perkembangan mental, etika, dan moral berkembang secara bertahap dan terkait dengan perkembangan intelektual anak-anak.

Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
Pembelajaran seseorang sejak kanak-kanak, dapat dibedakan menjadi tiga ranah (wilayah) belajar yaitu: Kognitif (pengetahuan, informasi, serta keterampilan intelektual lainnya); z Afektif (sikap, nilai-nilai, serta apresiasi-apresiasi); dan z Psikomotor (penggunaan gerak dan koordinasinya). Setiap anak harus menjalani pembelajaran pada tiga ranah tersebut. Pembedaan ranah belajar ini dimaksudkan untuk mempermudah para pendidik dalam membantu pembelajaran anak.
z

Ranah Kognitif melibatkan asimilasi informasi dan pengetahuan. Mencakup dari yang paling sederhana seperti ‘mengingat’ hingga membentuk ‘hubungan’ baru. Bloom dkk. membagi ranah kognitif ini menjadi 6 tingkatan intelektual yaitu: 19

B A G I A N

-

I I I

1. Pengetahuan (knowledge): mengingat informasi; 2. Komprehensi (comprehension): menginterpretasikan informasi; 3. Aplikasi (application): menerapkan informasi; 4. Analisis (analysis): memecah informasi menjadi bagianbagian yang lebih kecil; 5. Sintesis (synthesis): menggabungkan elemen-elemen informasi untuk membentuk suatu keseluruhan yang baru; 6. Evaluasi (evaluation): membuat penilaian berdasarkan kriteria-kriteria yang disepakati. Ranah Afektif melibatkan sikap, perasaan dan emosi. f Mencakup mulai dari kesadar-tahuan mengenai suatu nilai hingga internalisasi sekelompok perasaan-perasaan dan nilai-nilai untuk membentuk pola perilaku (karakter). Ranah Afektif terdiri dari 5 tingkatan sikap, ketertarikan, dan/atau keterlibatan personal (Krathwohl dkk.), yaitu: 1. Menerima (receiving): menarik perhatian pembelajar; 2. Menanggapi (responding): kemauan/keinginan pembelajar g untuk membalas atau bertindak; 3. Mengenakan nilai (valuing): mengambil sikap; g 4. Pengorganisasian (organizing): membuat penyesuaian atau keputusan dari beberapa alternatif yang ada; 5. Pengembangan karakter (characterization of value complex): mengintegrasikan kepercayaan, gagasan-gagasan, dan sikapsikap ke dalam suatu filosofi. Ranah Psikomotor melibatkan gerak atletik, gerak manual, atau keterampilan gerak fisik. Mencakup mulai dari peniruan gerakan sederhana hingga keterampilan fisik yang membutuhkan pengkoordinasian syaraf otot yang kompleks. Meskipun ranah psikomotor yang mencakup 6 tingkatan perilaku (mulai dari gerak refleks hingga gerakan terlatih) telah dikembangkan oleh Bloom, namun klasifikasi ini sulit untuk diinterpretasikan dalam pembelajaran. Sebagai gantinya, skala aktivitas fisik lainnya (Kibler) lebih membantu bagi para pendidik, yaitu: 1. Gerakan kasar tubuh (gross body movement): bahu, lengan, ( kaki dan paha (motorik kasar). 2. Gerakan yang terkoordinasi baik (finely coordinated ( movements): tangan dan jari; tangan dan mata; tangan dan telinga; tangan, mata, dan kaki (motorik halus). 3. Komunikasi nonverbal (nonverbal communication): ekspresi muka, bahasa tubuh, gerakan tubuh. 4. Perilaku bicara (speech behaviors): memproduksi dan memproyeksikan suara, koordinasi suara dan gerak isyarat.

20

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

Bagi kepentingan pendidikan anak, berkaitan dengan tumbuh kembang anak, ranah-ranah pembelajaran tersebut kemudian dijabarkan sebagai berikut: 1. Kemampuan Motorik, dibedakan menjadi: a. Motorik halus, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan gerakan halus yang biasanya dimungkinkan oleh adanya koordinasi tangan dan mata (misalnya memegang benda kecil). Kemampuan ini adalah rangkaian gerakan yang berawal dari mata. Misalnya mengikuti sasaran titik, menggoyang ibu jari, membuat menara dari kubus, membolak-balik halaman buku satu per satu, menggunakan sendok walaupun masih tumpah, memegang alat tulis dan menggunakannya dengan benar. Mengambil gelas dan minum tanpa dibantu, memutar pegangan untuk membuka pintu, mencuci dan mengeringkan tangan, meronce, mencontoh lingkaran, bujur sangkar, belah ketupat, dan garis silang, menggunting pada garis, mengikat tali, serta mencontoh huruf dan kalimat. b. Motorik kasar, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan gerakan yang dilakukan oleh bagian tubuh secara keseluruhan. Kemampuan ini pada anak meliputi kegiatan merangkak, berjalan, berlari dengan kaki, melompat dua kaki dan tidak jatuh, berdiri dengan satu kaki, menyundul bola, melempar bola memakai tangan dan lengan, lari berjingkat, jalan di atas titian, melompat tali dengan atau tanpa pertolongan, menendang bola ke depan, naik tangga, naik sepeda roda tiga dan berjalan mundur. 2. Kemampuan Pengamatan dan Ingatan Visual: Kemampuan ini menitikberatkan pada persepsi atau pendapat anak mengenai sesuatu hal yang dilihat dan diamati, yaitu: a. Pengamatan Visual dengan mengelompokkan warna, bentuk, ukuran yang sama, mencocokkan lambang bilangan, mencocokkan huruf, mencocokkan arah gambar yang sama. Juga mempersepsi berbagai gambar yang dijadikan satu serta mencocokkan kata. b. Ingatan Visual anak dimulai dari mampu mengingat gambar binatang, menyebut benda yang diingat, mengingat warna yang berurutan, mengingat dan menempatkan urutan bentuk, mengingat tempat gambar sesuai dengan urutannya, mengingat urutan gambar bentuk dan mengingat kata. 3. Pengamatan dan Ingatan Auditori: Keterampilan yang berkaitan dengan kemampuan pendengaran: a. Pengamatan Auditori anak dimulai dengan mampu mengetahui arah asal suara, mengenal suara atau bunyi, mengenal perbedaan suara atau bunyi, mencocokkan asal 21

B A G I A N

-

I I I

suara yang sama, mendengarkan perbedaan kata yang hampir sama, mampu mendengar kata bersajak, dan mengelompokkan suara dari kata berakhiran sama. b. Ingatan auditori, meliputi kemampuan mengingat guna menjalankan beberapa perintah, mengulang satu kalimat, mengulang ketukan sesuai dengan urutannya, mengulang bilangan, mengingat fakta dalam cerita, dan mengulang bunyi huruf. 4. Kemampuan Bahasa: Keterampilan yang berkaitan dengan mengungkapkan atau menjelaskan sesuatu. Kemampuan ini dimulai dari memberikan informasi tentang diri sendiri, menerangkan benda-benda sederhana, menghubungkan kata dengan gambar, menerangkan kata-kata, serta memahami dan memakai bahasa. 5. Keterampilan Berpikir: Kemampuan ini berkaitan dengan daya pikir anak melalui pengenalan nilai bilangan, mengetahui atas-bawah, posisi tengah-samping, menceritakan persamaan dan perbedaan dua benda, urutan bilangan serta mengelompokkan dua benda dalam dua cara. 6. Kemampuan Sosial-Emosional: Kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan untuk mengendalikan diri sendiri dan bersosialisasi dengan lingkungan. Kemampuan ini dalam diri anak terlihat dari kelancaran bicara, menyesuaikan dengan rutinitas sekolah, sanggup mengatasi kebosanan, bangga atas keberhasilan, bisa menahan emosi, berkomunikasi dengan orang dewasa, menerima kondisi dengan teman yang berbeda, menghargai kebutuhan teman, sadar akan perasaan orang, serta bisa bermain dan bekerja sama. Dalam kaitannya dengan tumbuh kembang anak, ranah-ranah pembelajaran ini menjadi perlu untuk dilaksanakan dengan baik hingga anak berusia kira-kira 18 tahun. Meskipun pada masa pra-sekolah adalah masa-masa kritis bagi tumbuh kembang anak, namun masa sekolah dan remaja tidaklah kalah pentingnya. Perkembangan otak anak yang terjadi hingga kirakira usia 10 tahun, memberikan peluang bagi ranah-ranah pembelajaran. Setelah usia 10 tahun (untuk beberapa tahun berikutnya), sinapsis-sinapsis yang terhubung lemah akan dimusnahkan. Hal ini tidak berarti bahwa pembelajaran akan menjadi sia-sia. Hingga usia anak mencapai kira-kira 18 tahun, pembelajaran ranah-ranah tersebut masih sangat bermanfaat. Setidaknya, sinapsis-sinapsis yang lemah masih dapat ‘digoreskan’ agar meninggalkan jejak (jika tidak dapat dipertahankan).

22

T U M B U H

K E M B A N G

A N A K

Di sisi lainnya, meskipun kemampuan otak anak untuk belajar sangat tinggi - hingga anak berusia kira-kira 10 tahun - pembelajaran yang diserapnya tidaklah kemudian siap digunakan secara optimal. Pada masa pemangkasan sinapsis, sesungguhnya juga terjadi pemantapan atas hal-hal yang dipelajari otak. Kadang, untuk beberapa hal, jangka waktu pemantapan yang dibutuhkan cukup lama, misalnya untuk keterampilan membaca dan mendengar. Antara usia 4-7 tahun, anak mulai belajar membaca. Biasanya, proses belajar membaca ini didampingi orang dewasa. Orang dewasa mendengarkan anak membaca dan memberi bantuan yang diperlukan. Meskipun keterampilan membaca telah dimulai sejak usia 4 tahun, dan mendengar telah dimulai sejak lahir, namun kemampuan membaca dan mendengar baru mulai menyatu kira-kira saat anak duduk di kelas 2 SMP. Berarti rata-rata dibutuhkan waktu 6 hingga 8 tahun sekolah agar anak mampu membaca seefisien dan secakap dia mendengar. Periode sekolah dan remaja adalah periode pemantapan dan pengitegrasian agar keterampilan-keterampilan yang dipelajari anak menjadi efisien dan cakap.

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->