Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD

)
Posted by ReTRo

oleh Salvador Pinto PENGERTIAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU No. 17 Tahun 2003 pasal 1 butir 8 tentang Keuangan Negara). Semua Penerimaan Daerah dan Pengeluaran Daerah harus dicatat dan dikelola dalam APBD. Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas desentralisasi. Sedangkan penerimaan dan pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak dicatat dalam APBD. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu. Pemungutan semua penerimaan Daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah, maka APBD menjadi dasar pula bagi kegiatan pengendalian, pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah. Tahun anggaran APBD sama dengan tahun anggaran APBN yaitu mulai 1 Januari dan berakhir tanggal 31 Desember tahun yang bersangkutan. Sehingga pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan keuangan daerah dapat dilaksanakan berdasarkan kerangka waktu tersebut. APBD disusun dengan pendekatan kinerja yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat tercapai untuk setiap sumber pendapatan. Pendapatan dapat direalisasikan melebihi jumlah anggaran yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan belanja, jumlah belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. Jadi, realisasi belanja tidak boleh melebihi jumlah anggaran belanja yang telah ditetapkan. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Setiap

dalam dokumen anggaran. peruntukannya. 2. yang seharusnya dibayar. 4. Fungsi Distribusi : Anggaran daerah harus mengandung arti/ memperhatikan rasa keadilan dan Fungsi Stabilisasi : Anggaran daerah harus mengandung arti/ harus menjadi alat untuk kepatutan memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. 2. atau menguntungkan anggaran untuk penerimaan yang seharusnya diterima. yaitu : 1.pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. Fungsi Otorisasi : Anggaran daerah merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan Fungsi Perencanaan : Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam Fungsi Pengawasan : Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan Fungsi Alokasi : Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan belanja pada tahun yang bersangkutan. FUNGSI-FUNGSI ANGGARAN DAERAH Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (4) UU No. 5. 6. 3. merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. Kesatuan : Azas ini menghendaki agar semua Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah disajikan Universalitas : Azas ini mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan secara utuh Tahunan : Azas ini membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun tertentu Spesialitas : Azas ini mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara jelas Akrual : Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani untuk pengeluaran dalam satu dokumen anggaran. 4. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. PRINSIP-PRINSIP ANGGARAN DAERAH Prinsip-prinsip dasar (azas) yang berlaku di bidang pengelolaan Anggaran Daerah yang berlaku juga dalam pengelolaan Anggaran Negara / Daerah sebagaimana bunyi penjelasan dalam Undang Undang No. penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 3. sumber daya. 5. walaupun sebenarnya belum dibayar atau belum diterima pada kas . Fungsi APBD adalah sebagai berikut : 1.

Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. dan lain-lain PAD yang sah. retribusi daerah. Jumlah pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlah defisit anggaran. tuntutan ganti rugi. ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan . hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.6. jasa giro. 2. dilaksanakan selambat-¬lambatnya dalam 5 (lima) tahun. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Kas : Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani pada saat terjadi pengeluaran/ penerimaan uang dari/ ke Kas Daerah Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 13. potongan. terdiri dari : pajak daerah. 15 dan 16 dalam UU Nomor 17 Tahun 2003. Pendapatan Daerah Belanja Daerah Pembiayaan Selisih lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut surplus anggaran. Pendapatan daerah terdiri atas: a. 1) 2) 3) 4) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Pendapatan Asli Daerah (PAD). digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Daerah. dan komisi. 1. yang menambah ekuitas dana lancar. hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan. 3. terdiri dari : hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. STRUKTUR APBD Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari : 1. pendapatan bunga. tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut defisit anggaran. 14.

dan/atau jasa yang berasal dari pemerintah. 2. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib pemerintahan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan oleh pemerintah. terdiri dari : Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum (DAU). Hibah yang merupakan bagian dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah merupakan bantuan berupa uang. 1) 2) 3) 5) Dana Perimbangan. Urusan wajib adalah urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar kepada masyarakat yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah. meliputi hibah. c. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. kesehatan. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah. Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi. serta jenis belanja. Belanja penyelenggaraan urusan wajib tersebut diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintah yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi. program dan kegiatan. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang tidak mengikat. Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah. fungsi. Belanja Daerah Komponen berikutnya dari APBD adalah Belanja Daerah. pendidikan. dana darurat. masyarakat. Klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari: .barang dan/atau jasa oleh daerah. dan potensi keunggulan daerah. barang. dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Lain-lain pendapatan daerah yang sah. kekhasan.

perumahan dan fasilitas umum. b. b. belanja barang dan jasa. e. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahuntahun anggaran berikutnya. hibah. h. pariwisata dan budaya. 3. subsidi. j. belanja pegawai. dan belanja tidak terduga. Sedangkan klasifikasi belanja menurut fungsi pengelolaan negara digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. kesehatan. b. Pembiayaan daerah tersebut terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. bantuan sosial. ketertiban dan keamanan. belanja modal. f. h. g. d. bunga. dan klasifikasi fungsi pengelolaan keuangan negara. f. g. klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan. Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. ekonomi. pelayanan umum. Penganggaran dalam APBD untuk setiap jenis belanja berdasarkan ketentuan perundang-undangan. c. Sedangkan klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari: a. Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut kewenangan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. agama. Pembiayaan Daerah Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. . c. pendidikan.a. d. i. e. serta perlindungan sosial. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. i. lingkungan hidup.

Dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. 2. Penyusunan dan Penetapan APBD. Dalam menyusun APBD. e. b. Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD. SIKLUS ANGGARAN APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Pendapatan. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. c. dan penerimaan kembali pemberian pinjaman. SiLPA tahun anggaran sebelumnya. pemerintah melaksanakan kegiatan keuangan dalam siklus pengelolaan anggaran yang secara garis besar terdiri dari: 1. penyertaan modal pemerintah daerah. pembentukan dana cadangan. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pembiayaan neto merupakan selisih lebih penerimaan pembiayaan terhadap pengeluaran pembiayaan. penerimaan pinjaman. Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. pembayaran pokok utang. b. Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup defisit anggaran. pencairan dana cadangan. 3.Penerimaan pembiayaan mencakup: a. APBD. d. c. d. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah. Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian atas tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. belanja dan . dan pemberian pinjaman. perubahan APBD. PENYUSUNAN APBD A.

didanai dari dan atas beban APBN. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat di daerah Penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada beban APBD. perlu diperhatikan kesesuaian antara kewenangan pemerintahan dan sumber pendanaannya. PENYUSUNAN RANCANGAN APBD Pemerintah Daerah perlu menyusun APBD untuk menjamin kecukupan dana dalam menyelenggarakan urusan pemerintahannya. 4. Pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Pusat.pembiayaan daerah yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan dianggarkan secara bruto dalam APBD. Pengaturan kesesuaian kewenangan dengan pendanaannya adalah sebagai berikut: 1. prioritas pembangunan dan kewajiban daerah. Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah baik dalam bentuk uang. Penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasar hukum penganggaran. kewajiban daerah mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal . didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota. kabupaten/kota dan/atau desa. barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah. rencana kerja yang terukur dan pendanaannya. Secara khusus. Karena itu. Rencana Kerja Pemerintahan Daerah Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah. B. didanai dari dan atas beban APBD provinsi. Karena itu kegiatan pertama dalam penyusunan APBD adalah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk melaksanakan kewajiban pemerintahan daerah sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. 3. 2. pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa. 1. RKPD tersebut memuat rancangan kerangka ekonomi daerah.

Sedangkan asumsi yang mendasari adalah pertimbangan atas perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan Umum APBD Setelah Rencana Kerja Pemerintah Daerah ditetapkan. disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah. kepala daerah dibantu oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah. daerah. 2. Dalam menyusun rancangan KUA. RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. c. Rancangan KUA yang telah disusun. Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah. pelaksanaan. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. penganggaran. b. sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. Rancangan . Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun.yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Rancangan KUA disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaranberikutnya. Pemerintah daerah perlu menyusun Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan. Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. Pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri tersebut memuat antara lain: a. paling lambat pada awal bulan Juni. dan hal-hal khusus lainnya. dan pengawasan. Program-program diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. teknis penyusunan APBD. alokasi belanja daerah. d.

Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. standar pelayanan minimal yang ditetapkan. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Berdasarkan nota kesepakatan yang berisi KUA dan PPAS. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan. Rancangan PPAS tersebut disusun dengan tahapan sebagai berikut : a. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPAS. penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPAS dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati. tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja.KUA yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan. 4. dan . TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA SKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD. pemerintah daerah menyusun rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). b. dan menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program. efektifitas. d. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. Rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi PPAS paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. c. peningkatan efisiensi. Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKASKPD mencakup: a. b. PPAS yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut rencana pendapatan dan sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD. KUA serta PPAS yang telah disepakati. 3. Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun kepada DPRD untuk dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. c. Dalam hal kepala daerah berhalangan. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip pembiayaan.

belanja. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA. PPA. kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA¬SKPD diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. format RKASKPD. analisis standar belanja dan standar satuan harga. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan menyusun prakiraan maju.e. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD. kode rekening APBD. Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut . Prakiraan maju tersebut berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful