PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

LAMPIRAN

:

NOMOR TANGGAL

: :

PERMEN PU TENTANG PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN SPAM 18/PRT/M/2007 6 JUNI 2007

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ....................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................... KATA PENGANTAR ......................................................................... PENDAHULUAN ............................................................................... 1. 2. 3. 4. 5. 5.1. 5.2. Ruang Lingkup ..................................................................... Acuan Normatif .................................................................... Istilah dan Definisi ............................................................... Pengelolaan SPAM ............................................................... 1 3 3 4 5 6 6 6 8

Pengoperasian dan Pemanfaatan ...................................... 10 Persiapan Operasi ................................................................ 10 Pengoperasian ....................................................................... 11

5.2.1 Unit Air Baku .......................................................................... 11 5.2.2 Unit Produksi ......................................................................... 13 5.2.3 Unit Distribusi ........................................................................ 17 5.2.4 Unit Pelayanan ...................................................................... 19 5.2.5 Pelaksana Kegiatan Operasi SPAM ...................................... 20 5.2.6 Waktu Pengoperasian ........................................................... 20 5.2.7 Kebutuhan Standar Pelayanan .............................................. 20 5.3. Pemanfaatan .......................................................................... 21

PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

1 dari 30

6. 6.1. 6.2.

Administrasi dan Kelembagaan ......................................... 22 Administrasi ............................................................................ 22 Kelembagaan ......................................................................... 23

6.2.1 Umum..................................................................................... 23 6.2.2 Bentuk Kelembagaan Penyelenggaraan SPAM...................... 23 6.2.3 Jenis Kelembagaan ................................................................ 24 6.2.4 Pembentukan Kelembagaan .................................................. 24 6.2.5 Kelengkapan Kelembagaan ................................................... 25 6.2.6 Kelembagaan Lain yang Terkait dengan Penyelenggaraan SPAM ..................................................................................... 25

LAMPIRAN A

Proses Pengolahan Air Minum.................................. 26

PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

2 dari 30

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Standar Pelayanan Berdasarkan Besaran Kota .................. 20

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Skema Kegiatan Operasional SPAM dengan Sumber Air Baku dari Air Tanah ....................................................... 27 Skema Kegiatan Operasional SPAM dengan Sumber Air Baku dari Mata Air ........................................................ 28 Instalasi Pengolahan Air ................................................ 29

PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

3 dari 30

Lampiran IV : Pedoman Pelaksanaan Konstruksi SPAM 6. konsumen. disusun untuk melengkapi pengaturan teknis yang terdapat dalam batang tubuh Permen. Lampiran VI : Pedoman Pemeliharaan dan Rehabilitasi SPAM 7. Lampiran VII : Pedoman Pemantauan dan Evaluasi SPAM Lampiran mengenai Pedoman Pengelolaan SPAM ini. Rapat konsensus ini dihadiri oleh wakil-wakil produsen. Lampiran II : Pedoman Penyusunan Pengembangan SPAM 3. lembaga penelitian. Lampiran III : Pedoman Penyusunan Pengembangan SPAM 5. Pedoman ini disusun oleh Panitia Teknis Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri PU tentang Penyelenggaraan Pengembangan SPAM yang telah dirumuskan dan melalui rapat-rapat teknis dan rapat konsensus pada tanggal 17-18 Oktober 2006 di Bandung. pengelolaan SPAM. 16 tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). disusunlah suatu Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Selain batang tubuh yang bersifat pengaturan. pemeliharaan dan rehabilitasi SPAM.KATA PENGANTAR Menindaklanjuti Peraturan Pemerintah No. yaitu: 1. serta pemantauan dan evaluasi SPAM. Lampiran V : Pedoman Pengelolaan SPAM 4. Lampiran I : Pedoman Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPAM Studi Perencanaan Kelayakan Teknis 2. Penyusunan Pedoman Pengelolaan SPAM bertujuan untuk menghasilkan air minum yang sesuai dengan standar yang berlaku dan agar prasarana dan sarana air minum terpelihara dengan baik sehingga dapat melayani kebutuhan air minum kepada masyarakat secara berkesinambungan. Permen PU ini dilengkapi pula dengan 7 (tujuh) lampiran yang bersifat teknis. Permen PU ini mencakup seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM yaitu perencanaan pengembangan SPAM. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 4 dari 30 . asosiasi. pelaksanaan konstruksi. perguruan tinggi serta instansi terkait.

Dalam rangka efisiensi. memenuhi standar Pelayanan Minimum.PENDAHULUAN Dalam mengelola SPAM. penyelenggara harus berdasarkan pada prinsip Good Corporate Governance. Pedoman penyusunan pengelolaan SPAM ini merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Namun dalam kondisi suatu wilayah belum terjangkau oleh pelayanan BUMN/BUMD sebagai penyelenggara pengembangan SPAM. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 5 dari 30 . maka diperlukan pedoman pengelolaan SPAM yang antara lain terdiri dari pedoman pengoperasian dan pemanfaatan sarana serta administrasi dan kelembagan SPAM.Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau dilakukan kerjasama dengan penyelenggara lainnya. Muatan pedoman ini adalah materi yang bersifat pengaturan maupun teknis. persyaratan kualitas air minum sesuai peraturan Menteri Kesehatan yang berlaku dan memberikan pelayanan secara penuh 24 jam per hari kepada pelanggan. maka pengelolaan SPAM sendiri dapat dilakukan melalui kerjasama antar pemerintah daerah. Secara garis besar. Untuk memenuhi hal tersebut di atas. pedoman ini memberikan acuan dalam pengelolaan SPAM. atau kerjasama dengan penyelenggara lainnya dalam bentuk kemitraan. maka dapat dibentuk Badan Layanan Umum (BLU) .

7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Undang-undang No. Badan usaha milik negara yang selanjutnya disebut BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan yang dibentuk khusus sebagai penyelenggara. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. g. d. Peraturan Presiden No 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Acuan Normatif a. 2. 3. f. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 6 dari 30 . 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Istilah dan definisi Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan: 1. Peraturan Pemerintah No.PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 1. Undang-undang No. Pengelolaan SPAM adalah kegiatan menjalankan fungsi-fungsi SPAM yang telah dibangun. Undang-undang No. Ruang Lingkup Ruang lingkup pengelolaan SPAM meliputi kegiatan pengoperasian dan pemanfaatan serta administrasi dan kelembagaan SPAM. Peraturan Pemerintah No. c. b. 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 2. e.

9. sistem pemompaan. bangunan pengambilan/penyadapan. 5. perangkat operasional. dan peralatan pemantauan. Masyarakat adalah kumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama yang tinggal di daerah dengan yuridikasi yang sama. kimiawi an/atau biologi. Badan Layanan Umum yang selanjutnya disebut BLU adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. meliputi bangunan pengolahan dan perlengkapannya. hidran umum. serta bangunan penampungan air minum. alat pengukuran. Unit pelayanan adalah sarana untuk mengambil air minum langsung oleh masyarakat yang terdiri dari sambungan rumah. meliputi bangunan penampungan air. dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya. 6. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 7 dari 30 . Unit air baku adalah sarana dan prasarana pengambilan dan/atau penyedia air baku. Koperasi adalah kumpulan orang yang mempunyai kebutuhan yang sama dalam sektor ekonomi atau sosial budaya dengan prinsip demokrasi dari anggotanya dan yang dibentuk khusus sebagai penyelenggara. 11. Unit distribusi adalah sarana untuk mengalirkan air minum dari titik akhir pipa transmisi air minum sampai unit pelayanan. 4. 10. alat pengukuran dan peralatan pemantauan. 8. Unit produksi adalah adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik. 7. dan hidran kebakaran.3. Badan usaha swasta yang selanjutnya disebut BUS adalah badan hukum milik swasta yang dibentuk khusus sebagai penyelenggara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Badan usaha milik daerah yang selanjutnya disebut BUMD adalah badan usaha yang pendiriannya diprakarsai oleh pemerintah daerah dan seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh daerah melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan yang dibentuk khusus sebagai penyelenggara.

pada daerah pemekaran dengan daerah induknya. Regionalisasi dapat dilakukan pada daerah-daerah dengan daerah pelayanan yang bersinggungan. dan sosialisasi dalam penyelenggaraan SPAM. maka dapat dilakukan kerjasama antar pemerintah daerah. Penyelenggara harus menjamin air minum yang diproduksinya memenuhi syarat kesehatan dengan melaksanakan pemeriksaan secara berkala terhadap kualitas air yang diproduksinya dan melakukan pengamanan terhadap sumber air baku yang dikelolanya dari segala bentuk pencemaran. Pengelolaan SPAM bertujuan untuk menghasilkan air minum yang sesuai dengan standar yang berlaku dan agar prasarana dan sarana air minum terpelihara dengan baik sehingga dapat melayani kebutuhan air minum masyarakat secara berkesinambungan. Regionalisasi dapat pula berbentuk kerjasama PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 8 dari 30 . Standar pelayanan minimum air minum harus memenuhi ketentuan sesuai peraturan yang berlaku. Kerjasama antar pemerintah daerah berupa kerjasama operasional atau kerjasama manajemen penyelenggaraan SPAM. Pelibatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan SPAM dapat difasilitasi oleh penyelenggara SPAM. Selain itu kerjasama dapat berupa regionalisasi penyelenggaraan SPAM. penertiban sambungan liar. berdekatan atau pada daerah perbatasan. perlindungan sumber air baku. Penyelenggara dapat dilakukan oleh BUMN/BUMD yang dibentuk secara khusus dan dapat mengikutsertakan Badan Usaha Swasta.4. Pembangunan prasarana dan sarana air minum harus simultan dengan pembentukan kelembagaan pengelola SPAM. Pengelolaan SPAM Kegiatan pengelolaan SPAM dilakukan oleh penyelenggara dan dapat melibatkan peran serta masyarakat. Penyelenggara SPAM dapat melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan SPAM berupa pemeliharaan. dan lain-lain. koperasi dan/atau masyarakat. telah terbentuk lembaga pengelola SPAM yang berbadan hukum. Pengelolaan SPAM dilaksanakan apabila prasarana dan sarana SPAM yang telah terbangun siap untuk dioperasikan dengan membentuk organisasi penyelenggara SPAM. pembentukan unit khusus yang mudah dihubungi untuk menampung keluhan dan laporan masyarakat mengenai pengelolaan SPAM. sehingga ketika prasarana dan sarana air minum sudah siap beroperasi. Dalam rangka efisiensi dan efektifitas pengelolaan SPAM. antara lain melalui pembentukan forum pelanggan. Sedangkan khusus penyelenggara dari kelompok masyarakat tidak diharuskan berbadan hukum.

mekanisme penyelesaian sengketa. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 9 dari 30 . pemutusan atau pengakhiran perjanjian. koperasi dan BUMD di kabupaten/kota terdekat atau dibentuk. Dalam kondisi suatu wilayah belum terjangkau oleh pelayanan BUMN/BUMD sebagai penyelenggara pengembangan SPAM. Dengan adanya regionalisasi diharapkan akan memperkuat kinerja pelayanan kepada masyarakat dan kinerja keuangan dalam penyelenggaraan SPAM. dan tidak dapat melakukan investasi jangka panjang. jangka waktu. keadaan memaksa. transparan. dapat memiliki utang sehubungan kegiatan operasional. Kerjasama pemerintah dengan badan usaha swasta dilakukan melalui pelelangan umum dengan perjanjian kerjasama yang memuat ketentuan mengenai lingkup pekerjaan. laporan keuangan badan usaha. tarif dan mekanisme penyesuaiannya. hak dan kewajiban termasuk alokasi resiko. mekanisme pengawasan kinerja badan usaha. lembaga/pemerintah daerah untuk tujuan pemberian layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh instansi induk yang bersangkutan. saling menguntungkan. kecuali atas persetujuan Menteri Keuangan/Gubernur/Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya.antar beberapa pemerintah daerah yang dilakukan dibawah koordinasi Pemerintah atau pemerintah provinsi sesuai kewenangannya. BLU menyusun rencana strategis bisnis lima tahunan dan rencana bisnis dan anggaran (RBA) tahunan. Pengelolaan SPAM harus berdasarkan prinsip-prinsip prinsip Good Corporate Governance yaitu adil. terbuka. bersaing. jaminan pelaksanaan. Kerjasama dengan penyelenggara lainnya dalam bentuk kemitraan antara lain badan usaha swasta. pengembalian infrastruktur kepada kepala daerah. Kerjasama pemerintah dengan badan usaha swasta mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. sanksi.Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau dilakukan kerjasama dengan penyelenggara lainnya. Badan Layanan Umum (BLU) beroperasi sebagai unit kerja kementerian negara. status kepemilikan asset selama jangka waktu perjanjian dan hukum yang berlaku. maka dapat dibentuk Badan Layanan Umum (BLU) . bertanggung gugat. Pengelolaan SPAM harus berdasarkan prinsip transparansi dan akuntabel sesuai dengan kaidah sistem akuntansi air minum Indonesia. larangan pengalihan perjanjian kerjasama. saling membutuhkan dan saling mendukung. standar kinerja pelayanan.

• Pembuatan larutan alum sulfat (Al2 (SO4)3) 10% atau koagulan lain seperti PAC. Pengukuran. unit distribusi dan unit pelayanan. Pemeriksaan bahan-bahan kimia: larutan-larutan yang harus dibuat. b. Pengoperasian sarana sistem penyediaan air minum dengan jaringan bertujuan untuk menjalankan. unit distribusi. Pengoperasian dan Pemanfaatan Kegiatan pengoperasian dilaksanakan untuk sekurang-kurangnya memenuhi kebutuhan standar pelayanan minimum air minum kepada masyarakat. • Pembuatan larutan soda abu (Na2CO3) 10%. Pembuatan larutan bahan kimia. mekanikal. elektrikal. Kegiatan pengoperasian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan jaringan meliputi pengoperasian unit air baku. Persiapan operasi suatu unit pengolahan air minum meliputi kegiatankegiatan: a. Pemeriksaan semua alat peralatan. meliputi: unit air baku.5. dan Ultra Violet. unit pelayanan. • Pembuatan larutan kaporit 1% atau bahan desinfektan lain seperti: gas chlor. unit produksi. unit produksi. Filtrasi dan Reservoir. mengamati dan menghentikan unit-unit agar berjalan secara berkesinambungan pada sebagian dan/atau keseluruhan unit. Ozon. dan beberapa kandungan mineral lain. sangat penting untuk dimonitor sebelum operasi dijalankan. Ketinggian muka air di Sumber Air Baku. Bak-bak Sedimentasi. c. cadangan bahan kimia. yaitu debit air baku dan kualitas air baku terutama derajat keasaman pH. kekeruhan.1 Persiapan Operasi Persiapan Operasi selalu dimulai dengan: a. 5. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 10 dari 30 .

dan manual operasi pemeliharaan (SOP). Pengoperasian unit air baku air minum. dan alkalinitas air baku. ruang operator. • Pengaturan katup pembubuhan larutan dengan sistem gravitasi. b. 907 tahun 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Pengaturan kapasitas alat pembubuhan. bengkel penunjang. Unit Distribusi. Setiap penyelenggara SPAM wajib memiliki gambar nyata pelaksanaan (as built drawing). dan ruang pompa. Penentuan Dosis Bahan Kimia. meliputi pengoperasian bangunan dan perlengkapan penyadapan air baku. Unit Produksi. 5. c. serta bangunanbangunan yang mendukung proses pengolahan yang terjadi di sedimentasi. reservoir. dan Unit Pelayanan.2. kekeruhan warna. untuk mengalirkan air baku dari sumber ke unit produksi.1 Unit Air Baku Pengoperasian unit air baku meliputi kegiatan pengaturan jumlah debit air baku yang akan diambil serta pemantauan kualitas air baku yang diambil dengan ketentuan sebagai berikut: a. ruang pompa.b. • Pengaturan kapasitas pompa pembubuhan larutan bahan kimia untuk sistem pembubuhan dengan pompa.2 Pengoperasian Tujuan pengoperasian unit produksi ini adalah mengolah air baku dengan debit yang sudah direncanakan. Jumlah air baku yang disadap tidak boleh melebihi izin pengambilan air baku dan sesuai jumlah yang direncanakan sesuai tahapan perencanaan. gudang kimia. 5. gambar sistem keseluruhan. Ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap: pH. ruang kimia. filter. Pengoperasian ini meliputi Unit Air Baku/Bangunan Intake. Pelaksanaan pengoperasian bangunan penunjang dan alat peralatan kelengkapan meliputi pengoperasian kantor. sampai menjadi air minum yang memenuhi syarat kualitas yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan No. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 11 dari 30 .

atau bilamana ada penyimpangan kapasitas debit. dilakukan pemantauan terus menerus atas kondisi pompa selama beroperasi agar kinerja pompa diketahui terus menerus. Pada unit pompa air baku harus selalu diperhatikan: a. Manometer untuk indikator Head/tekanan discharge pompa. maka air yang disadap harus dikurangi sedemikian rupa sehingga masih ada sisa untuk pemeliharaan lingkungan di hilir sumber. • Intake bebas. adalah tipe intake dimana air permukaan mengalir secara bebas ke bak/sumuran penampung. untuk memonitor dan menjamin bahwa debit air yang disadap sesuai dengan yang sudah diijinkan dan direncanakan. dan bilamana ada gangguan dapat dilakukan tindakan penyetopan sementara untuk perbaikan dan penyesuaian seperlunya. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 12 dari 30 . maka diambil langkah-langkah untuk perbaikan dan penyesuaian. adalah tipe dimana permukaan air dibagian hilir dari lokasi bangunan intake ditinggikan dengan bangunan bendung (dapat disamping intake atau dibagian hilir). Tipe Intake untuk Sumber Air Permukaan. adalah tipe intake untuk pengambilan air permukaan yang mempunyai fluktuasi muka air yang cukup tinggi. • Intake dengan bendung. adalah tipe Intake pada air sungai/danau dengan bentuk tebing yang curam dan bantaran yang sempit. Apabila kapasitas sumber berkurang dari kapasitas yang dibutuhkan.c. • Bangunan pengumpul (sumuran) untuk mata air yang muncul ke permukaan secara vertikal. untuk mata air yang mengalir/muncul secara horisontal. dengan tanah dasar yang cukup porous dan berpasir. Pengoperasian Intake mulai dilakukan pada alat ukur yang dipasang. dan untuk air baku yang berada dibawah permukaan tanah (sumur dangkal dan sumur dalam). • Intake Ponton. • Intake jembatan. Tipe bangunan intake. yaitu: a. tergantung pada sumber air bakunya. b. • Intake Infiltration Galleries. khusus untuk intake yang menggunakan pompa. Selain pada alat ukur. Tipe bangunan penyadap (Intake) untuk sumber mata air: • Bangunan penangkap mata air (broncaptering). digunakan pada kondisi dimana air permukaan sungai sangat tipis.

Menyiapkan daya dan perlengkapannya untuk mengoperasikan peralatan. Kegiatan pengoperasian meliputi kegiatan persiapan sebelum pengoperasian. meliputi: a. Pelaksanaan operasi meliputi operasi bangunan dan perlengkapan peralatan pengolahan.2 Unit Produksi Pengoperasian unit produksi dapat berupa rangkaian kegiatan aerasi. meliputi bangunan dan perlengkapan peralatan pengolahan air minum. Pengguna bahan kimia dan sumber daya g.2. sehingga proses pengolahan berlangsung f. Persiapan operasi meliputi kegiatan: Menyiapkan bahan kimia dalam bentuk larutan atau serbuk akan digunakan dalam proses pengolahan. Pengoperasian unit produksi. mata air dan air permukaan. 5. e. Pemantauan selama operasi harus dilakukan terhadap: Kuantitas dan kualitas masukan. netralisasi. filtrasi. sampai menjadi air minum yang memenuhi syarat kualitas. Hasil pemantauan harus dicatat dalam buku harian (log book) Pengoperasian unit produksi meliputi pengoperasian seluruh komponen bangunan. Frequensi/Hertz dari Generator (Power Supply). Voltmeter. c. Menyiapkan bangunan dan perlengkapan peralatan pengolahan. sedimentasi. sehingga siap didistribusikan. sehingga siap dioperasikan. pelaksanaan operasi serta pemantauan proses pengolahan. koagulasi. dan RPM pompa. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 13 dari 30 . dan desinfeksi bagi air baku yang berasal dari air tanah. biasanya di bak prasedimentasi (untuk sumber air permukaan dengan kekeruhan tinggi atau aerator biasanya untuk air tanah/mata air) sampai air hasil olahan ditampung di reservoir dan sudah diberi desinfektan. dan sarana penunjang yang masuk dalam unit produksi yaitu dimulai dari inlet air baku.b. flokulasi. Tujuan pengoperasian unit produksi adalah mengolah air baku sesuai dengan debit yang direncanakan. b. Amperemeter. d. kinerja proses serta hasil keluaran di setiap tahapan proses pengolahan.

• Lakukan pembuangan lumpur dari bak prasedimentasi sesuai dengan periode waktu yang telah ditentukan dalam perencanaan atau tergantung pada kondisi air baku. Pengaduk Cepat • Operasikan pompa pembubuh Alum/Soda dan stel stroke pompa sesuai dengan perhitungan debit yang diperlukan (ada jenis pompa kimia lain yang penyetelan strokenya dilakukan pada saat pompa tidak dioperasikan). Bak Prasedimentasi • Baca debit air yang masuk pada alat ukur yang tersedia. • Periksa kekeruhan air baku yang masuk dan keluar bak prasedimentasi. pH dan dosis bahan koagulan. apakah terbentuk dengan baik. atau ada bagian yang terlalu lambat/cepat. apakah merata. Bilamana ada aliran tidak merata. c. • Apabila tidak. dengan menambah atau mengurangi stroke pompa. • Amati unjuk kerja pompa pembubuh. • Atur pH sehingga sama dengan pH pada waktu jar test. Pengaduk Lambat • Amati flok–flok yang terbentuk. dan lakukan penyesuaian bila diperlukan. • Pertahankan keadaan seperti pada awal operasi. persediaan dan aliran larutan bahan kimia. b. • Periksa pembentukan buih-buih yang terjadi dipermukaan air dan bersihkan apabila terdapat buih-buih. • Perhatikan aliran dalam bak.a. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 14 dari 30 . • Bersihkan bak dari kotoran/sampah yang mungkin terbawa. • Amati ketinggian muka air dalam bak sesuai yang direncanakan. periksa kembali pH air di pengaduk lambat dan lakukan penyesuaian-penyesuaian pembubuhan. maka hal ini merupakan indikasi adanya pembebanan yang tidak merata pada seluruh bidang bak prasedimentasi.

• Untuk itu harus diperiksa. • Amati debit outlet pada alat ukur yang tersedia. agar saringan pasir dapat berkinerja tidak terlalu berat. • Lakukan pembuangan lumpur sesuai dengan yang telah direncanakan. • Harus diperhatikan apakah pembebanan merata (Surface Loading merata). • Alirkan air sampai ketinggian yang telah ditentukan. atau apakah Plate Settler/Tube Settler dalam keadaan baik.d. maka kinerja bak sedimentasi menjadi tidak optimal. yaitu untuk Saringan Pasir Lambat kalau kecepatan menyaring < 2 m/jam. • Bilamana tidak merata. • Periksa kekeruhan air yang keluar dari bak sedimentasi. Indikasi tersebut dapat dilihat PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 15 dari 30 . e. • Periksa kekeruhan air pada inlet dan outlet penyaring. Biasanya efluen dari bak sedimentasi mempunyai kekeruhan dibawah 10 NTU. • Lakukan pencucian penyaring bila debitnya menurun sampai batas tertentu. tidak ada yang pecah atau tersumbat. maka air masuk kedalam bak sedimentasi. • Buka katup outlet penyaring dan atur kapasitasnya sesuai dengan perencanaan. Bak Filtrasi (Penyaring) • Saringan Pasir (lambat dan cepat) pada umumnya untuk menyaring efluent dari bak sedimentasi yang mempunyai kekeruhan dibawah 10 NTU. katup pencucian dan katup outlet penyaring. dan Saringan Pasir dengan Tekanan < 9 m/jam. • Bersihkan buih-buih atau bahan-bahan yang terapung. Saringan Pasir Cepat < 5 m/jam. • Tutup katup penguras. • Periksa fungsi katup–katup. Penurunan kecepatan menyaring merupakan indikator bahwa media filter sudah mulai clogging. Bak Sedimentasi • Setelah proses koagulasi dan pembentukan flok-flok. apakah inlet (yang memakai baffle) berfungsi dengan baik.

filter dipakai untuk mengolah efluen dari bak sedimentasi yang sudah diturunkan turbiditinya. 5. Pencucian Filter Pencucian filter dilakukan bilamana filter sudah kotor (clogging).5. sehingga media tidak terbawa. • Periksa pH. Bak Reservoir • Periksa pH air bersih/Reservoir. Sebagian indikator bahwa media filter sudah memerlukan pencucian bilamana kecepatan penyaringan filter untuk: • Saringan Pasir Lambat < 2 m3/m2/jam. yaitu pH antara 6. Operasikan pompa pencuci dan atur debitnya. 4.bila air pada permukaan penyaring naik sampai melampaui batas ketinggian yang sudah ditetapkan dalam perencanaan. 3. Biasanya turbiditi yang masuk unit Filter antara 50 – 100 NTU. • Saringan Pasir Cepat < 5 m3/m2/jam. kekeruhan dan sisa khlor dari air bersih di bak penampung setiap jam. Tutup katup inlet dan outlet penyaring.0 – 7. f. 6. seperti larutan kaporit sesuai perhitungan. apabila pHnya < 7. Buka katup outlet buangan pencucian dan inlet air pencuci. kekeruhan PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 16 dari 30 . Hentikan pencucian jika air pencucian sudah jernih. • Bubuhkan larutan desinfektan. yang masuk ke bak penampung air • Ukur debit air yang masuk • Bubuhkan larutan Netralisator (larutan Soda Ash 10% atau larutan Kapur jenuh). dengan cara: 1. • Saringan Pasir bertekanan < 9 m3/m2/jam. Pada instalasi dengan proses pengolahan lengkap. sesuai perhitungan. Amati penyebaran air pada permukaan penyaring. 2. Atur debit pencucian dengan mengatur katup.

Kontinuitas: • Air harus mengalir di pelanggan selama 24 jam perhari. c. 5. dan minum. alat ukur dan peralatan pemantauan. • Periksa Kualitas air secara lengkap (fisika. serta bangunan sarana pelengkapnya. Pengoperasian pipa transmisi dan jaringan distribusi beserta perlengkapannya. dan alat ukur. Untuk Pompa Distribusi biasanya digunakan jenis Pompa Sentrifugal. jaringan transmisi dan distribusi.2 ppm. Pompa Distribusi mengisap air dari Reservoir Penampung hasil olahan. b. jaringan distribusi utama (distribusi primer). 17 dari 30 PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM . Kuantitas: • Jumlah air mencukupi minimal untuk mandi. Kualitas: • pH antara 6.5. • Bakteriologis.3 Unit Distribusi Unit Transmisi Air Minum dan Distribusi dimulai dari Pompa Distribusi (untuk sistem distribusi yang memakai pompa). Pengoperasian unit distribusi meliputi kegiatan pengoperasian sistem perpompaan. serta bakteri E-coli = 0 (negatif). jaringan distribusi pembagi (distribusi tertier). yaitu bakteri E-colli = 0. • sisa chlor minimal 0.0 – 7. Untuk sistem distribusi yang tidak memakai pompa distribusi. kualitas. kimia dan bakteriologi) di Laboratorium Departemen Kesehatan setempat minimal setiap bulan.2 ppm. Tujuan pengoperasian unit distribusi ini untuk mengalirkan air hasil olahan keseluruh jaringan distribusi sampai di semua unit pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan baik dari segi kuantitas. makan. • Tekanan air di pelanggan (titik jangkauan pelayanan terjauh) minimum 1 atm. dan melewati reticulation pipe menuju sambungan rumah.2. jaringan distribusi pembawa (distribusi sekunder). dan kontinuitas. meliputi: a.dibawah 5 NTU dan sisa chlor 0. maka air hasil olahan langsung mengalir melalui pipa transmisi air minum. atau cara gravitasi. yaitu: a. atau sesuai yang telah ditetapkan dalam perencanaan. bangunan penyimpanan (reservoir).

b. Operasi pompa distribusi. termasuk pemeriksaan fungsi katup udara dan katup wash out. serta pompa distribusi dan perlengkapannya untuk sistem distribusi dengan sistem perpompaan. sehingga air mengalir di seluruh jaringan distribusi. Hasil pemantauan harus dicatat dalam buku harian (log book) Pengoperasian pipa transmisi air minum dan jaringan pipa distribusi air minum meliputi kegiatan–kegiatan: a. Pengurasan dapat dilakukan secara berkala sekurang-kurangnya 3 bulan sekali atau sesuai kebutuhan. Pemeriksaan bangunan penyimpanan (reservoir) dan alat ukur. apakah ada kebocoran/kerusakan. Persiapan operasi meliputi kegiatan: Pemeriksaan pipa transmisi dan jaringan distribusi beserta perlengkapannya. e. b. • Pemeriksanaan jalur pipa. Tekanan serta aliran air di jaringan. Daya yang dipergunakan. apabila sistem distribusi menggunakan sistem pemompaan. perbaikan jalan. d. meter air.serta pompa distribusi beserta perlengkapannya. Pelaksanaan operasi meliputi operasi pompa distribusi. Selama operasi harus dilakukan pemantauan terhadap: Debit aliran air yang masuk ke jaringan. bangunan dan penampung (reservoir). Kegiatan pengoperasian meliputi kegitan persiapan sebelum pengoperasian. Kualitas air yang keluar dari jaringan. perlengkapan jaringan perpipaan. atau antisipasi terhadap kemungkinan kerusakan yang diakibatkan oleh akar tanaman. pelaksanaan operasi serta pemantauan distribusi. c. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 18 dari 30 . Pengurasan Pipa Pengurasan pipa (wash out) dimaksudkan untuk membuang kotoran yang terakumulasi dalam pipa pada saat tidak ada aliran. Inspeksi Jaringan Pipa Dilakukan minimal seminggu sekali meliputi: • Pemeriksaan kondisi katup. f. dan tanah longsor.

Pemompaan Distribusi Pemompaan air kedalam jaringan pipa distribusi dilakukan pada daerah pelayanan yang tidak memungkinkan pengaliran terus menerus secara gravitasi. Pengamatan saat pompa beroperasi dilakukan untuk: a. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 19 dari 30 . A. 5. Membaca angka pada meter air yang terpasang pada sistem output pompa. kemungkinan diperlukan pengaturan buka tutup katup pada jaringan distribusi untuk mengatur pengaliran air yang merata kesemua wilayah pelayanan. Mengatur katup untuk menjaga tinggi muka air.2. perkantoran. sehingga selalu dapat mempertahankan tekanan air yang dikehendaki dalam jaringan pipa utama. hidran umum dan terminal air. Tekanan air yang cukup dapat menghambat infiltrasi air tanah dari luar yang dapat menyebabkan kontaminasi terhadap air hasil olahan.4 Unit Pelayanan Pengoperasian unit pelayanan meliputi kegiatan pelayanan untuk domestik yaitu sambungan rumah. harus dilengkapi dengan meter air induk. rumah sakit. b. dan untuk menjaga tekanan air di pelanggan (titik jangkauan pelayanan terjauh) minimum 1 atm. c. dan hidran kebakaran. Meter air induk dan meter air pelanggan wajib ditera secara berkala oleh badan yang diberi kewenangan untuk melakukan tera. restoran. Menjamin muka air dalam bak tetap pada ukuran yang disyaratkan. industri besar. Meter Air Pada setiap unit produksi dan unit distribusi. d. Memperhatikan adanya bunyi dan getaran yang tidak biasa. Membaca nilai tekanan air pada manometer yang dipasang pada pipa tekan. sambungan halaman.c. e. hotel. d. Pengaturan Buka Tutup Katup Pada kondisi tertentu dimana debit pengolahan menurun. dan nondomestik yaitu industri kecil. maka instalasi pemompaan dilengkapi dengan hydrophor yang bekerja secara otomatis. Sedangkan unit pelayanan harus dilengkapi dengan meter air pelanggan. Untuk efisiensi pemompaan.

Hidran Umum Pada setiap unit pelayanan harus dipasang hidran umum untuk memberikan pelayanan air minum bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah maupun daerah yang tidak memenuhi persyaratan teknis yang diperlukan. 5. Hidran Kebakaran Pada setiap unit pelayanan perlu dipasang hidran kebakaran dengan jarak antar hidran kebakaran maksimal 300 meter yang dimaksudkan untuk mengatasi apabila terjadi kebakaran di daerah tersebut sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Standar pelayanan SPAM dapat mengacu pada peraturan yang berlaku. 5.7 Kebutuhan Standar Pelayanan Pengoperasian SPAM harus dapat memenuhi kebutuhan standar pelayanan yang bergantung pada sumber daya masing-masing wilayah.2. Hal ini dimaksudkan agar pipa distribusi selalu terisi air dalam tekanan tertentu agar tidak terjadi infiltrasi air tanah dari luar.B. maka pelaksanaan kegiatan operasional SPAM dilakukan oleh sumber daya manusia penyelenggara SPAM yang mempunyai kompetensi dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan unit-unit SPAM.6 Waktu Pengoperasian Pengoperasian seluruh atau sebagian prasarana dan sarana SPAM dilaksanakan oleh penyelenggara SPAM untuk memenuhi pelayanan secara kontinu selama 24 jam per hari. Dalam hal ini pada unit pelayanan harus dapat dilayani 24 jam penuh.5 Pelaksana Kegiatan Operasi SPAM Untuk menjamin agar kegiatan operasi berjalan sesuai norma standar yang berlaku. 5.2. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 20 dari 30 .2. C.

dan masak. Pemasangan sambungan rumah harus melalui proses pendaftaran di kantor penyelenggara SPAM. cuci.3 Pemanfaatan Pemanfaatan air minum hasil pengoperasian SPAM harus dilakukan secara efisien dan efektif yang terdiri dari kegiatan pemanfaatan sarana sambungan rumah. Pemasangan hidran umum. Pemasangan hidran kebakaran. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 21 dari 30 .5. Pemanfaatan dilaksanakan untuk memberikan pelayanan air minum kepada masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar air minum seperti mandi. b. Pemasangan sambungan rumah. Pemanfaatan bertujuan untuk memenuhi pelayanan air minum kepada masyarakat untuk kebutuhan domestik dan nondomestik. Pemasangan Hidran Umum diprioritaskan pada kawasan yang belum terjangkau jaringan perpipaan dan kawasan permukiman padat dan kumuh dan rawan air. kualitas air. Pemeriksaan meter air di unit-unit pelayanan. b. Pelaksanaan penyambungan sesuai daftar urut dan biasanya harus dapat diselesaikan kurang dari 1 minggu. Pemanfaatan dilaksanakan oleh penyelenggara SPAM untuk kebutuhan pelayanan air minum masyarakat. Kegiatan ini meliputi: a. serta kebutuhan lainnya sesuai dengan standar pelayanan kualitas dan kuantitas. Masyarakat pemakai hidran umum harus menyiapkan pengelolaan yang akan bertanggung jawab atas pemungutan penjualan air dan menyetor biaya retribusi kepada penyelenggara SPAM. Lokasi pemasangan hidran umum minimal seluas 4m x 4m serta ada bukti tertulis atas ijin penggunaan tanah dari pemilik. Sistem Penyediaan Air Minum harus dimanfaatkan seoptimal mungkin melalui kegiatan: a. hidran umum dan hidran kebakaran. Memantau aliran air dan jumlah pemakaian air. Pemeriksaan instalasi perpipaan dan perlengkapannya. dan membayar biaya pemasangan sesuai ketentuan yang berlaku. c. c. dan kontinuitas.

d. Pemakaian listrik PLN. c. pelaporan dan kegiatan tata persuratan. Debit harian air baku melalui alat ukur pada intake atau kapasitas pemompaan. Pemakaian bahan bakar dan pelumas untuk genset. Kegiatan administrasi dimaksudkan untuk membantu kegiatan operasional dan pemanfaatan melalui proses pencatatan. Pencatatan data pelanggaran b. Administrasi dan Kelembagaan 6. Pemakaian bahan kimia. Administrasi keuangan meliputi pencatatan pemasukan dan pengeluaran tertib administrasi keuangan baik yang berasal dari operasional maupun non-operasional. Administrasi perkantoran meliputi pencatatan.6. e.1 Administrasi Kegiatan administrasi wajib dilaksanakan selama penyelenggaraan SPAM. penyelenggaraan SPAM wajib membuat laporan bulanan untuk pertanggung jawaban kepada pemerintah sebagai pembina/pemilik. Kegiatan administrasi dilaksanakan sesuai dengan pedoman akuntansi air minum dan/atau ketentuan lain yang berlaku. pelaporan seluruh kegiatan harian dan bulanan. Kegiatan administrasi dilaksanakan untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi. pengarsipan. Debit air yang diproduksi melalui meter induk pada pipa transmisi. Pencatatan pemakaian air sesuai meter air c. b. Kegiatan administrasi meliputi: a. Kualitas pemeriksaan laboratorium untuk air baku dan air produksi. Pencatatan pemompaan distribusi d. f. Pencatatan pencucian pipa (wash out) Berdasarkan catatan-catatan tersebut. Kegiatan administrasi operasional meliputi pencatatan: a. Kegiatan administrasi dilaksanakan oleh Penyelenggara SPAM dan dapat dilaksanakan melalui kerjasama dengan pihak lain. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 22 dari 30 . b. pengarsipan. Kegiatan administrasi pemanfaatan meliputi: a.

kabupaten atau kota) berdasarkan Peraturan Daerah dan mengacu pada Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tahun 1984 atau perubahannya. Prinsip-prinsip koperasi menurut UU No.2. Koperasi adalah salah satu bentuk kelembagaan dibentuk oleh beberapa individu untuk saling membantu dan merupakan milik bersama. c. dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 28/KPTS/1984 atau perubahannya.6. Pembagian hasil usaha secara adil sebanding besarnya jasa usaha masing-masing anggota. Kelembagaan pengelola dibentuk agar penyelenggaraan SPAM sesuai dengan pengaturan tujuan penyelenggaraan SPAM. Kegiatan kelembagaan dapat dimulai setelah adanya izin/kerjasama antara penyelenggara dengan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. BUMN (Badan Usaha Milik Negara) adalah bentuk perusahaan yang dibentuk dan dimiliki oleh pemerintah pusat yang diatur lebih lanjut dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). BUMD (Badan Usaha Milih Daerah) adalah bentuk perusahaan yang dibentuk dan dimiliki oleh pemerintah daerah (provinsi.1 Umum Pelayanan air minum bagi masyarakat perlu pengelolaan yang baik.2 Kelembagaan 6. oleh sebab itu perlu dibentuk kelembagaan atau institusi yang akan bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaan sistem pelayanan. 25 tahun 1992 antara lain: Keanggotaan bersifat terbuka dan sukarela.2 Bentuk Kelembagaan Penyelenggaraan SPAM Bentuk kelembagaan pengelolaan air minum sesuai PP No. Kelembagaan penyelenggara SPAM harus dilengkapi dengan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pengelolaan SPAM sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan peraturan perundangan yang berlaku. Pengelolaan dilakukan secara demokratis. Tanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaan berarti akan menjamin terjadinya air minum melalui sistem perpipaan yang memenuhi syarat kuantitas dan kualitas. 16 tahun 2005 dapat berupa: a. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 23 dari 30 .2. b. 6.

Pengelolaan air minum secara berkelompok harus mempunyai ijin pengelolaan serta berbadan hukum. 6. Semua bentuk kelembagaan tersebut diatas harus mempunyai ijin usaha khusus bidang air minum. b. atau Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) 6. Pengelolaan air minum dalam skala tertentu dapat dilakukan oleh masyarakat secara individu atau berkelompok. Badan Usaha Swasta (BUS) adalah bentuk perusahaan berbadan hukum yang dibentuk oleh perorangan atau suatu badan usaha lain.4 Pembentukan Kelembagaan Kelembagaan pengelola harus disiapkan dan dibentuk sebelum SPAM selesai dibangun agar SPAM dapat langsung beroperasi. Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus). e.2. g.Kemandirian Mempunyai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang disetujui oleh anggotanya d. Kelembagaan pengelolaan air minum dapat dibentuk oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. berdasarkan aspek yuridis formal pembentukannya dapat berupa: a. d.3 Jenis Kelembagaan Kelembagaan pengelolaan air minum. c. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kelompok Masyarakat seperti Himpunan Kelompok Pemakai Air Masyarakat (HIPAM). f. Kelembagaan pengelolaan air minum dapat berdiri sendiri atau bekerjasama antar lembaga-lembaga terkait. e.2. Perusahaan Negara (PN) Perusahaan Daerah (PD) Perseroaan Daerah (Perseroda) Perseroaan Terbatas (PT) Koperasi Air Minum (KOPAM) Badan Layanan Umum (BLU) . Penyelenggaraan SPAM oleh PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 24 dari 30 . atau atas ijin khusus sesuai peraturan daerah setempat.

Susunan organisasi/pengurus. profesi/akademisi dan pelanggan.koperasi dan BUS dilaksanakan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. b. Organisasi meliputi struktur organisasi kelembagaan dan personil unit pengelola SPAM Tata laksana meliputi uraian tugas pokok dan fungsi. Manual yang berlaku dalam hal penyelenggaraan SPAM. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 25 dari 30 .6 Kelembagaan Lain yang Terkait dengan Penyelenggaraan SPAM Kelembagaan-kelembagaan lain yang terkait dengan penyelenggaraan SPAM. b. Badan Pengawas.2. Keanggotaan BPP SPAM harus ganjil dan sebanyak-banyaknya 5 orang. Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga yang sudah disahkan notaris. Pedoman. yaitu bertugas mendukung dan memberikan bantuan dalam rangka mencapai tujuan pengembangan SPAM guna lebih memberikan manfaat yang maksimal kepada negara dan rakyat. Badan Pendukung Pengembangan SPAM (BPP SPAM). 6. adalah: a. 6. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam kaitannya dengan Peraturan-peraturan. Surat ijin lainnya sesuai yang disyaratkan. serta pembinaan karir pegawai penyelenggara SPAM Kegiatan kelembagaan pengelolaan air minum memiliki: Kelembagaan pengelola SPAM harus dilengkapi dengan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pengelolaan SPAM sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. c. Standar. yaitu Badan yang dibentuk untuk pengawasan yang terdiri dari 3 orang mewakili: Pemerintah. Norma. d. Tenaga ahli yang dimiliki dan uraian tugas.5 Kelengkapan Kelembagaan Setiap lembaga/institusi yang akan mengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) minimal harus mempunyai: a. c. b.2. a.

peningkatan keterampilan karyawan.d. peningkatan tata cara pengelolaan air minum. dan kerjasama internasional lainnya. Di dalam forum ini dilakukan saling tukar menukar informasi diantara anggota didalam hal pengetahuan teknologi. Organisasi non-pemerintah dan asosiasi profesi. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 26 dari 30 .

Klorinasi .1 Skema rangkaian proses kegiatan operasional sistem penyediaan air minum dengan sumber air baku dari air tanah Proses lain bila dibutuhkan Air Baku Desinfektan Reservoir Distribusi Gambar 1 Skema Kegiatan Operasional SPAM dengan Sumber Air Baku dari Air Tanah Catatan: Untuk air tanah yang mengandung Fe dan Mn. dan filtrasi. biasanya diperlukan proses flokulasi.LAMPIRAN A CONTOH PROSES PENGOLAHAN AIR MINUM Untuk mengubah kualitas air baku (yang belum memenuhi kualitas air minum) menjadi air minum diperlukan suatu proses pengolahan air minum.Dan lain-lain Setelah proses oksidasi. terutama untuk air baku dengan konsentrasi Fe ≥ 5 mg/L.Ozonisasi . Proses oksidasi dapat menggunakan proses antara lain: .Aerasi . sedimentasi. maka diperlukan proses penghilangan Fe dan Mn (Fe & Mn Removal). Proses pengolahan air minum yang digunakan atau dipilih harus sesuai dengan kualitas air baku berdasarkan kebutuhannya untuk memenuhi syarat kualitas air minum. A. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 27 dari 30 . Proses penghilangan Fe dan Mn pada dasarnya adalah mengoksidasi Fe dan Mn sehingga dapat disisihkan.

Aerasi . warna. Desinfektan digunakan untuk menghilangkan mikroorganisme patogen. sedimentasi. terutama untuk air baku dengan konsentrasi Fe ≥ 5 mg/L. warna.2 Skema rangkaian proses kegiatan operasional sistem penyediaan air minum dengan sumber air baku dari mata air Proses lain bila dibutuhkan Air Baku Desinfektan Reservoir Distribusi Gambar 2 Skema Kegiatan Operasional SPAM dengan Sumber Air Baku dari Mata Air Catatan: Untuk air baku dari mata air yang mengandung Fe dan Mn.Dan lain-lain Setelah proses oksidasi. dan kekeruhan. maka diperlukan proses penghilangan Fe dan Mn (Fe & Mn Removal). rasa. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 28 dari 30 . dapat menggunakan proses pengolahan sesuai tabel 4 pada Lampiran 2 (Pedoman Penyusunan Studi Kelayakan Pengembangan SPAM). A. Desinfektan digunakan untuk menghilangkan mikroorganisme patogen. Proses penghilangan Fe dan Mn pada dasarnya adalah mengoksidasi Fe dan Mn sehingga dapat disisihkan.Klorinasi . rasa.Ozonisasi . dan filtrasi. Untuk menghilangkan bau. Proses oksidasi dapat menggunakan proses antara lain: . dan kekeruhan.Untuk menghilangkan bau. dapat menggunakan proses pengolahan sesuai tabel 4 pada Lampiran 2 (Pedoman Penyusunan Studi Kelayakan Pengembangan SPAM). biasanya diperlukan proses flokulasi.

Aerasi . Proses penghilangan Fe dan Mn pada dasarnya adalah mengoksidasi Fe dan Mn sehingga dapat disisihkan. Proses oksidasi dapat menggunakan proses antara lain: . Untuk air permukaan yang mengandung Fe dan Mn. PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 29 dari 30 .Ozonisasi .Dan lain-lain Setelah proses oksidasi. dan filtrasi. Instalasi Pengolahan Air Catatan: Untuk air permukaan dengan kandungan pasir atau material abrasif lainnya. terutama untuk air baku dengan konsentrasi Fe ≥ 5 mg/L. maka diperlukan proses penghilangan Fe dan Mn (Fe & Mn Removal).A.3 Skema rangkaian proses kegiatan operasional sistem penyediaan air minum dengan sumber air baku dari air permukaan Pembubuhan bahan kimia (Koagulan) Desinfektan Air Baku Pengadukan Cepat (Koagulasi) Pengadukan Lambat (Flokulasi) Bak Pengendap (Sedimentasi) Saringan (Filtrasi) Proses lain bila dibutuhkan Reservoir Distribusi Gambar 3. biasanya diperlukan proses flokulasi.Klorinasi . biasanya pengendapan dilakukan dengan sistem gravitasi). dapat digunakan Bak Pengendap Pasir atau Grit Chamber (sejenis bak sedimentasi. sedimentasi.

Untuk menghilangkan kalsium dan magnesium (Kesadahan/Hardness) dapat dilakukan pelunakan dengan kapur dan soda. Untuk menghilangkan ion-ion yang tidak diinginkan dari air baku. dan kekeruhan. Untuk menghilangkan bahan organik. dapat digunakan teknologi seperti Karbon Aktif (Granular Activated Carbon). warna. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Juni 2007 MENTERI PEKERJAAN UMUM DJOKO KIRMANTO PEDOMAN PENGELOLAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM 30 dari 30 . dapat menggunakan proses pengolahan sesuai tabel 4 pada Lampiran 2 (Pedoman Penyusunan Studi Kelayakan Pengembangan SPAM). atau kombinasi aerasiadsorpsi. adsorpsi. Desinfektan digunakan untuk menghilangkan mikroorganisme patogen. atau menggunakan proses aerasi.Untuk menghilangkan bau. dapat digunakan proses pertukaran ion (ion exchange). rasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful