Opini

Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif

Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif
Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc.*)

Abstrak ikotomi penelitian kuantitatif dan kualitatif yang selama ini digunakan kurang tepat karena dalam penelitian tertentu kedua pendekatan ini dipergunakan secara bersama-sama. Dilihat dari pendekatan, penggolongan yang lebih sesuai ialah pendekatan positivistik, postpositivistik atau fenomenologik dan hermeneuistik. Pendekatan pertama yang berakar pada ilmu-ilmu eksakta menemukan kebenaran untuk tujuan generalisasi. Pendekatan kedua dan ketiga yang berakar pada ilmu sosial dan antropologi menemukan kebenaran tidak untuk keperluan generalisasi. Untuk penelitian di bidang sosial, seharusnya pendekatan fenomenologik atau hermeneustik yang diterapkan. Pendekatan postpositivistik masih berkembang dengan perspektif ideologi baru seperti seperti pasca modernis, paradigma kritis, penedekatan feminis, dan pendekatan konstruktivis yang perlu dikaji lebih lanjut.

D

Kata kunci: Paradigma penelitian, kebenaran, kuantitatif, kualitatif, positivistik, pascapositivistk, hermeneustik Abstract As both quantitative and qualitative approaches can be employed in a research simultaneously , the dichotomy of these two approaches should be reconsidered. The research approaches can be classified as positivistic and post positivistic or phenomenological and hermeneuitic approaches. The first approach based on the pure science is mostly used for findings to be generalized. The second and the third based on the sociology and anthropology are not intended for a generalization. The researchers in social studies should employ more phenomenological or hermeneuitic approaches. The post positivistic is still developing such as postmodernism, critical paradigm, feminist approaches, and constructivism which need more studies.
*) Guru Besar Universitas Negeri Jakarta
Jurnal Pendidikan Penabur - No.05/ Th.IV/ Desember 2005

63

dan ditujukan untuk menggeneralisasi sampel ke dalam populasi. korelasi dan lain-lain (Campbell dan Stanley. pengujian validitas dan realibilitas instrumen. oleh karena itu. sedangkan pendekatan kualitatif bila seseorang berusaha menafsirkan realitas dan berusaha membangun teori berdasarkan apa yang dialami. studi kasus. 2003. teori membumi (grounded theory).Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Pendahuluan Sebenarnya penulis kurang sependapat dengan dikotomi penelitian kuantitatif dengan kualitatif. Ke dua pendekatan tersebut memang dapat dibedakan karena latar belakang filsafatnya dapat dibedakan. lapis di atasnya adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui kegiatan sistematik. survai. Hampir semua penelitian sosial merupakan kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. biografi. desain pretestpostest. Pendekatan pascapostivistik/fenomenologik berakar pada tradisi dalam sosiologi dan antropologi yang bertujuan untuk memahami suatu gejala seperti apa adanya tanpa harus mengontrol variabel dan tidak berusaha menggeneralisasi gejala tersebut dalam gejala-gejala yang lain. Dikotomi yang lebih tepat adalah antara postivistik dan pascapostivistik atau fenomenologik. studi naturalistic. Merriam. dan etis oleh mereka yang terpelajar. Sedangkan pada lapis kebenaran tertinggi adalah kebenaran religi yang diperoleh dari Yang Maha Pencipta melalui wahyu kepada para nabi serta diikuti oleh mereka yang meyakininya. Pendekatan postivistik berakar pada ilmu-ilmu eksakta dan karena itu dapat juga disebut pula dengan studi statistik. dan studi deskriptif (Creswell. Kebenaran ini dapat dibedakan dalam empat lapis. sebab ke duanya saling mengisi. Dalam penelitian ini dipersyaratkan adanya variabel yang dikontrol. kuasi-eksperimen. Denzin dan Lincoln. 1963). pengacakan sampel. Termasuk dalam penelitian ini adalah etnografi. 1998. Termasuk dalam kategori penelitian ini adalah eksperimen. 64 Jurnal Pendidikan Penabur . Landasan Berpikir Semua penelitian pada hakekatnya merupakan usaha mengungkap kebenaran. Pada lapis di atasnya lagi adalah kebenaran falsafati yang diperoleh melalui kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar dan hasilnya diterima serta dipakai sebagai rujukan oleh masyarakat luas. Lapis paling dasar adalah kebenaran inderawi yang diperoleh melalui pancaindera kita dan dapat dilakukan oleh siapa saja.No. sesuai dengan pendapat Newman dan Benz (1998:9-10) ke dua metodologi tersebut merupakan continuum interaktif.IV / Desember 2005 . sejarah.05/ Th. pendekatan kuantitatif digunakan bila seseorang memulainya dengan teori atau hipotesis dan berusaha membuktikan kebenarannya. 1998). logis.

Ada dua ujung kubu yang berbeda penafsirannya tentang dunia. Suatu gejala atau peristiwa yang sama. seorang murid Plato. dapat diberi arti yang lain oleh orang yang berlainan. Penganut paham ini juga berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan ciri-ciri yang sudah ditentukan (predetermined). yang dapat ditemukan dengan melalui observasi dan pemikiran.IV/ Desember 2005 65 . apalagi yang kasatmata yang ada dalam otak dan hati kita masing-masing. riset tindakan. serta perkembangan budaya dan akal manusia. yang dapat dipahami melalui pikiran. Kepada kita hanya ada dua pilihan: ambil atau tinggalkan (take it or leave it). Seringkali kita ragu-ragu untuk menentukan apakah pikiran sehat (common sence) dapat dikategorikan sebagai salah satu inkuiri ilmiah (scientific atau disciplined inquiry). Jurnal Pendidikan Penabur . Pada satu kubu yang sumbernya dapat ditelusuri pada sekitar 400 tahun SM dengan dipelopori oleh Plato (paham idealis). mempunyai pendapat yang berbeda mengenai cara memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Dunia dianggap mengandung gagasan dan nilai-nilai abadi dan obyektif. namun ada perbedaan yang mendasar tentang dunia tersebut. berpendapat bahwa penginderean manusia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya (reliable) untuk dijadikan sumber pengetahuan. biografi. Kebenaran diperoleh melalui penggunaan logika formal dan operasi matematikal atau statistik. Timbul pula pertanyaan apakah gejala yang kita amati di sekitar kita yang didasarkan pada akal sehat (common sense) dapat pula dipertimbangkan sebagai kebenaran yang dapat diterima secara ilmiah. Kalau penampakan kita saja dapat dibedabedakan. seperti misalnya sidik jari dan DNA.Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Kebenaran falsafati dan religi dianggap sebagi kebenaran mutlak. dan bahkan alam semesta ini seragam? Mulailah berkembang berbagai mazhab atau aliran dalam bidang falsafah dan agama dengan memberikan penafsiran terhadap apa yang telah diperintahkan secara tertulis. masingmasing di antara kita berbeda. maka kita mulai mempertanyakan apakah memang kebenaran mutlak itu mengharuskan adanya kesatuan pengertian dalam segala hal mengenai hidup. evaluasi.05/ Th. histori. kehidupan. korelasional.No. apalagi dalam memperoleh kebenaran ilmiah. Kita semua dilahirkan aebagai mahluk yang unik. kalau kita mengambilnya atau menganutnya maka kita harus mengerjakan semua perintah atau ajarannya. Namun justru karena perkembangan dalam falsafah dan agama itu sendiri. yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran ilmiah. Aristoteles. riset kebijakan dan lainlain. apakah itu eksperimen. Meskipun semua penelitian ilmiah. merupakan usaha investigatif untuk menemukan kebenaran tentang dunia. studi kasus. Kalau kebenaran falsafati dan religi saja memungkinkan adanya tafsir yang menimbulkan mazhab atau aliran tersendiri. Aristoteles (paham realis) berpendapat bahwa dunia berjalan atas dasar hukum alam yang tetap.

fenomenologik. Mereka percaya bahwa variabel yang mereka teliti. yaitu: positivistik. yang berpendapat bahwa pengetahuan dapat dibangun baik melalui proses induktif dari pengalaman. h. bagaimana kita dapat mengetahui hubungan dengan variabel lain. Pengetahuan merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara empirik. Para positivis berpendapat bahwa penelitian adalah pengamat obyektif atas peristiwa yang ada di alam semesta.05/ Th. Penganut paham ini berpendapat bahwa pertimbangan manusia (human judgment) merupakan kunci untuk mentransformasikan data mentah menjadi penegetahuan.4). maka sesuatu itu mengandung besaran yang dapat diukur. dan hermeneutik (1989:4-8).IV / Desember 2005 . Variabel dan pengetahuan tentang manusia. Eichelberger selanjutnya membedakan tiga paradigma filsafat yang melandasi metodologi pengetahuan. Hubungan antara variabel yang mereka temukan. Teori penguatan (reinforcement theory) oleh Skinner misalnya. Semua pengetahuan yang dibangun melalui pendekatan deduktif didasarkan pada logika formal dan matematik. yang antara lain dipelopori oleh Francis Bacon dan John Locke. antar lain dalam bentuk “mesin pengajaran” (teaching machine). Banyak di antara kita menganggap bahwa pernyataan itu masuk akal. harus dapat diuji dan dibuktikan secara empirik. merupakan rampatan dari percobaan laboratorik dengan merpati. Kedua kubu pendapat tersebut ditengahi oleh Emanuel Kant dalam buku The Critique of Pure Reason dengan paham rasionalisnya. dan reaksi burung itu dicatat dan diulang hingga diperoleh atau terjadi peristiwa yang berlaku secara tetap. Tradisi positivistik ini menggunakan landasan berpikir:”kalau sesuatu itu ada. di mana peneliti tersebut tidak mempunyai pengaruh atau dampak terhadap peristiwa tersebut. sebab kalau kita tidak dapat mengukur dengan tepat. merupakan suatu yang telah ada di dunia. kepemimpinan. Peneliti memberikan berbagai macam rangsangan kepada burung merpati yang dikurung.Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Pada kubu yang berseberangan terdapat paham empiris. (Eichelberger.” (Eichelberger. 1989:2-3). dapat dinyatakan dalam istilah fisika seperti halnya dalam pengetahuan eksakta. dan hubungan antar personal. Peneliti adalah pengamat yang objectif atas peristiwa yang terjadi di dunia. 66 Jurnal Pendidikan Penabur .No. lahirlah kemudian teori yang mendasari dikembangkannya pengajaran terprogram. maupun dengan proses deduktif menggunakan penalaran. Misalnya peran Kepala Sekolah dapat dijabarkan meliputi variabel kemampuan komunikasi. Data empirik yang diperoleh melalui penginderaan mengenai dunia. adalah cara yang terpenting untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. telah ada sebelumnya untuk dapat diungkap. Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur.

Pembakuan seperti ini mungkin dilakukan untuk mempermudah pengelolaan. Oleh karena itu pendekatan positivistik ini seringkali juga dikenal sebagai paradigma kuantitatif kerena semua datanya perlu ditransfer dalam bentuk angka yang dapat dihitung. Keberadaan manusia memang bersifat unik.IV/ Desember 2005 67 . Indikator operasional ini dijabarkan lebih lanjut dalam serangkaian instrumen yang dapat dikuantifikasikan. Filsafat fenomenologik menganggap bahwa pengalaman bukanlah merupakan suatu dunia eksternal yang bersifat objektif. Filsafat fenomenologik pertama kali dikembangkan oleh seorang matematikawan Jerman Edmund Husserl (1850-1938). tanggapan. ketekunan. Untuk memahami pengalaman itu digunakan pemikiran. Variabel mengenai ciri manusia. Hal-hal yang esensial tersebut selanjutnya perlu digabungkan dengan hasil pengalaman lain.No. tetapi juga dicurigai bahwa para pengambil keputusan yang menetapkan pedoman tersebut tidak peduli (ignorance) dengan berbagai pendekatan atau paradigma baru dalam memperoleh kebenaran ilmiah.05/ Th. sehingga dapat diidentifikasi kesamaan yang bersifat hakiki. seperti misalnya kemampuan berbahasa. karena pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam. perasaan. Kemampuan membaca misalnya ditunjukkan dengan indikator perbendaharaan kata. yang berbasis pada ingatan. Menurut Husserl seperti dikutip Creswell (1998:52) filsafat fenomenologik berupaya untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman. usaha.Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Para penganut positivistik yang setia memandang pengetahuan sebagai pernyataan mengenai keyakinan atau fakta yang dapat diuji secara empirik. dan berbagai ungkapan psikologis atau mental lain. dapat dinyatakan dalam bentuk istilah fisik yang dapat dihitung sebagaimana halnya dalam ilmu alam. melainkan pelajaran yang diperoleh dalam rentangan waktu tertentu. Gejala yang diamati dari suatu pengalaman perlu dibandingkan dengan pengalaman lain agar hal-hal yang esensial dari berbagai pengalaman itu dapat dipahami. Pengalaman bukan sekedar lama waktu seseorang berinteraksi dengan lingkungannya. ejaan. dapat dikonfirmasi atau dapat ditolak. Yang lebih parah bahkan dibuat pedoman untuk melakukan penelitian dengan format yang standar termasuk harus adanya hipotesis dan pengujian atasnya. jadi bukan berpengalaman 15 tahun. Pendekatan positivistik ini telah begitu dominan ibarat tabir yang menutupi berbagai upaya yang memperoleh kebenaran dengan melalui cara lain. Seorang dosen yang telah memberi kuliah selama 15 tahun dapat berarti mempunyai pengalaman setahun diulang 14 kali. gambaran dan makna. dan pemahaman. Demikian pula motivasi belajar misalnya dijabarkan dalam indikator operasional keinginan. Jurnal Pendidikan Penabur . gramatika. persaingan dan sebagainya. Indikator ini kemudian dijabarkan secara kuantitatif dalam serangkaian instrumen yang hasilnya dapat dinyatakan dengan angka.

Kebenaran itu juga bersifat unik dan hanya dapat ditransfer bila kondisi dan situasinya sama atau tidak berbeda. mendalam. Seorang ahli tafsir agama akan berusaha menelaah ayat-ayat dari kitab suci dan memberikan makna berdasarkan kondisi yang berkembang sekarang. Jadi tidak semata-mata didasarkan pada data atau informasi yang diperoleh melalui penginderaan. Sejarawan akan menafsirkan legenda. namun secara induktif mengakumulasikan pengalaman khusus menjadi umum.Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif karena adanya ciri-ciri khas yang melekat pada diri manusia itu sendiri-sendiri. Kebenaran ini sarat dengan nilai (value loaded). meskipun dapat dikatakan satu kategori dengan paradigma 68 Jurnal Pendidikan Penabur . teliti dan tepat agar dapat diterima oleh orang lain yang melakukan pengkajian yang sama. Pengkajian atas objek itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam paradigma ini suatu kebenaran ilmiah tidak dimulai dengan adanya sejumlah teori yang mendasari. Mereka ini menafsikan apa yang ada dalam naskah (kitab suci. Pendekatan hermeneutik ini pada awalnya banyak digunakan oleh para agamawan. Implikasinya adalah bahwa ilmuwan sosial atau interpretator harus telah memiliki pra-pemahaman atas objek ketika ia mengkaji objek tersebut. dalam usaha mencari kebenaran dengan menafsirkan makna atas gejala yang ada. artefak atau kitab undang-undang) sesuai masalah yang dihadapinya dengan membangun argumentasi sendiri. atau yang konkrit menjadi abstrak. dan kemudian dapat digabungkan menjadi bangunan pengetahuan. artefak atau berbagai naskah kuno berdasarkan perspektif terkini. Paradigma hermeneutik. Kebenaran ilmiah menurut paradigma ini tidak bersifat nomotetik melainkan bersifat ideografik. Filsafat hermeneutik dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dilthey (Bleicher.IV / Desember 2005 . Paradigma fenomenologik ini justru menggunakan akal sehat (common sense) yang oleh penganut positivistik dianggap tidak/kurang ilmiah. sehingga tidak mungkin untuk memulai dengan sebuah pemikiran netral (Bleicher. sejarawan dan ahli hukum. Eichelberger. 2003: ix).05/ Th.No. Sedangkan seorang ahli hukum akan menafsirkan pasal dan ayat dalam kitab hukum dan jurisprudensi dengan mempertimbangkan azas keadilan dan/atau manfaat. 2003: 17. dan bahkan kemudian bahkan mengukuhkan pengalaman itu menjadi teori (teori membumi = grounded theory) yang bersifat holistik (meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman yang bersangkutan). Namun dari berbagai keunikan tersebut dapat disimpulkan adanya kebenaran yang berlaku umum. Interprestasi atau penafsiran tersebut berlangsung dalam suatu konteks tradisi. yaitu mengungkap secara naratif dengan memberikan uraian rinci mengenai hakekat suatu objek atau konsep. Akal sehat ini mengandung makna yang diberikan seseorang dalam menghadapi pengalaman dan kehidupannnya sehari-hari. 1998: 7).

Sintesis atas berbagai landasan epistemologik guna memperoleh pengetahuan atau kebenaran ilmiah dapat digambarkan sebagai berikut: Positivistik Analitik Nomotetik Dedukatif Laboratorik Pembuktian dengan logika Kebenaran universal Bebas nilai Fenomenologik Holistik Ideografik Induktif Empirik Pengukuhan pengalaman Kebenaran bersifat unik Tidak bebas nilai Hermeneutik Sintetik Interpretatik Sinkretik Empatik Penafsiran tak memihak Kebenaran yang diterima Tidak bebas nilai Para ilmuwan dalam bidang eksakta (kimia.IV/ Desember 2005 69 . Seorang pengacara dalam membela kliennya. Kebenaran dinyatakan dalam bentuk interpretatik. biologi dsb. sehingga banyak ilmuwan sosial yang mengikutinya dengan membuta. dan karena itu usaha espistemologik untuk memperoleh kebenaran adalah dengan metode objektif dengan hasil yang dapat digeneralisasikan. yang memandang dunia sebagai telah tertata secara objektif. Kebenaran ilmiah dalam paradigma ini tidak analitik maupun holistik. Pendekatan yang dilakukan tidak berupa deduktif atau induktif. melainkan dengan cara empatik yaitu data yang diperoleh dengan membangun kepedulian dengan adanya getaran yang bermakna. mempunyai sejumlah ketentuan yang berbeda. melainkan berusaha memasukkan aspek moral. Kebenaran diperoleh melalui penafsiran yang tidak memihak. meskipun dilandasi oleh prasangka dan adanya pengetahuan awal. yaitu dengan mengambil posisi ontologik hermeneutik (hermeneutics) atau fenomenologik (phenomenologycs) dengan titik tolak bahwa dunia itu bersifat subjektif.05/ Th. sehingga diharapkan dapat menjadi suatu keputusan jurisprudensi tersendiri. Dia berlindung dibalik azas ini tanpa “kelihatan” memihak kepada klien yang dibelanya.No.Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif fenomenologik. dan karena itu diperlukan usaha epistemologik dengan menafsirkan dunia yang Jurnal Pendidikan Penabur . Kebenaran ini tidak bersifat bebas nilai. Para ilmuwan sosial yang peduli. sosial dan politik. fisika. tidak hanya menafsirkan hukum dari aspek legal saja (secara deduktif membangun kesimpulan dari kasus). Kebenaran yang diusahakan adalah kebenaran yang dapat diterima oleh mereka yang berkepentingan. yaitu penafsiran yang didasarkan pada keyakinan tertentu. Pendapat para ilmuwan eksakta ini memang telah mengakar dan sangat populer. yaitu menggunakan berbagai pandangan dan praktek. Data dan informasi yang dikumpulkan tidak dari latar laboratorik maupun empirik. melainkan sinkretik. Setiap pengacara akan bertolak dari azas praduga tidak bersalah sebagai suatu kebenaran.) cenderung menggunakan posisi ontologik logical positivism. seyogyanya berbeda dengan mereka yang ada dalam posisi logical positivism. melainkan sintetik yaitu memadukan pendapat yang berlawanan (tesis dan antitesis).

Pendekatan positivistik pada dasarnya menggunakan teori dalam merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian. atau masih adanya tabir yang perlu diungkapkan lagi. serta keserasian dalam lingkungannya. Kebenaran pascapositivistik ini masih belum lengkap. dan pendekatan konstruktivis. dan berdasarkan data empirik dari lapangan yang berhasil dikumpulkan. Posisi Teori Pendekatan pascapositivistik cenderung menggunakan teori secara bervariasi.IV / Desember 2005 . and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables. Paradigma baru ini pada dasarnya menganggap bahwa perkembangan ilmu tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. (Greenwwod & Levin. pengetahuan yang telah ada sebelumnya. definitions. Jadi bersifat subjektif. Dunia. with the purpose of explaining natural phenomena” (Creswell.No. Paradigma baru ini masih perlu dikaji dan dipelajari lebih dalam lagi untuk dapat disajikan. Perspektif ideologis baru itu meliputi paradigma pasca modernis (postmodernism).Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif subjektif tersebut. karena akhir-akhir ini telah berkembang perspektif ideologis baru. Teori dianggap sebagai penjelasan dan peramalan ilmiah (scientific explanation and prediction). sikap atau keterampilan berdasarkan pengalaman. Dengan kata lain.05/ Th. 1998: 68). Seperti halnya pada paradigma pasca positivistik. Teori didefinisikan sebagai “a set of interrelated constructs (variables). menurut penganut aliran ini. dan karena itu diperlukan berbagai cara alternatif untuk memahaminya. penelitian ini cenderung menggunakan landasan teori belajar konstruktivis. tidak berusaha untuk membuktikan teori. 70 Jurnal Pendidikan Penabur . oleh karena itu dalam penelitian untuk memecahkan masalah belajar misalnya. tidak terorganisasikan secara objektif sesuai dengan prakonsepsi sebagian orang. Teori ini secara ringkas menyatakan bahwa setiap orang membangun pengetahuan. paradigma kritis (critical paradigm). dianalisis dan disintesiskan dalam bentuk teori sebagai teori yang membumi. 2003:120). dan kemudian berusaha membuktikannya. Pendekatan ini senantiasa memandang manusia sebagai mahkluk yang unik. kebenaran dalam paradigma baru ini bersifat unik dan menekankan pada manusia sebagai mahluk yang mampu membangun pengetahuan sendiri yang tidak terlepas dari lingkungannya. maka terjadilah gejala yang dikenal dengan intersubjektivitas. pendekatan feminis (feminist approaches). Kebanyakan menggunakan teori sebagai “jendela” untuk mengamati gejala yang ada. Namun kalau apa yang dibangunnya itu dapat diterima oleh lingkungannya.

San Franscisco: Jossey-Bass Publishers Newman. London: Sage Publications Denzin. atau mereka yang bermaksud untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan keberadaan manusia sebagai mahluk yang unik. & Yvonna S.IV/ Desember 2005 71 . quantitative. (1998). Qualitative. Tony R.) (1994). namun disarankan agar azas aksiologis dalam memperoleh kebenaran itu lebih diutamakan daripada kecanggihan kebenaran matematis. Qualitative-quantitative research methodology. Second edition. Qualitative research and case study applications in education. Souther Illinois University Jurnal Pendidikan Penabur . dukungan moral dan kebijakan. (1998). Norman K. Kebenaran mengenai mahluk ini dapat diungkapkan dengan berbagai pendekatan baik kuantitatif maupun kualitatif. (eds. agar pendekatan penelitian ini dapat dikembangkan sebagai perkembangan paradigma penelitian. Disciplined inquiry: Understanding and doing educational research. Lincoln. dan keinginan untuk mencari kebenaran dengan cara yang lebih manusiawi. (1998). Exploring the interactive continuum. (2003).Landasan Berpikir dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Kesimpulan Penelitian kualitatif atau pascapostivistik perlu mendapat perhatian lebih besar dari para ilmuwan sosial. Carolyn R. Handbook of qualitative research.No. Masih banyak yang harus kita pelajari dan laksanakan dalam penelitian pascapositivistik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah adanya iklim keterbukaan. John W. (1989).05/ Th. Merriem.Research Design. London: Sage Publications Eichelberger. Qualitative inquiry and research design: Choosing among the five traditions. and mixed methods approaches. Isadore and Benz. Daftar Pustaka Creswell. London: Sage Publications ——-. New York: Longman Inc. Sharan B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful