P. 1
SKRIPSI : Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif ( Studi Atas Pola Pembelajaran Inklusif di Madrasah Aliyah Negeri Maguwoharjo)

SKRIPSI : Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif ( Studi Atas Pola Pembelajaran Inklusif di Madrasah Aliyah Negeri Maguwoharjo)

|Views: 10,450|Likes:
Published by winda
Hakikat pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi realita sosial. Pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan bermasyarakat. Sistem pendidikan yang ideal akan mengintegrasikan peserta didik dengan realita, bukannya mengisolasi anak dari masyarakat yang beragam. Sayangnya, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideologi memanusiakan manusia. Sekolah tidak menjadi tempat pembentukan daya kritis dan kreativitas namun tempat untuk membentuk manusia yang seragam. Akibatnya, peserta didik gagap dalam menghadapi keberagaman di masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sekolah yang mampu memfasilitasi pendidikan kaum minoritas, khususnya difabel, di dalam pendidikan reguler. Berangkat dari kondisi tersebut muncul gerakan para pemerhati pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan anak untuk hidup di lingkungan sosial yang beragam melalui sebuah model pendidikan inklusif. Melalui metode pendidikan yang mencampur siswa difabel dan siswa nondifabel dalam satu ruang sosial, peserta didik dilatih untuk menerima keberagaman sebagai realita.
Metode yang digunakan di dalam penelitian adalah studi kasus. Penulis melakukan eksplorasi terhadap fenomena sosial, mengelompokkan data menjadi kategori-kategori tertentu lalu menampilkannya sebagai suatu kesatuan data yang holistik. Penulis menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap elemen-elemen sekolah dalam mengumpulkan data utama. Foto, dokumen dan data tertulis lain menjadi data yang melengkapi penelitian ini.
Pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo dikonstruksikan melalui konsepsi pendidikan yang menyejajarkan siswa. Sekolah meletakkan siswa difabel dan siswa nondifabel dalam kedudukan yang sama namun tetap memberi kemudahan bagi siswa difabel untuk mengakses pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Praksis pendidikan inklusif diwujudkan sekolah dalam berbagai instrumen pendidikan yang memiliki peran masing-masing namun saling terkait. Dalam aplikasinya, intsrumen pendidikan berupa kurikulum, metode pembelajaran, ekstrakurikuler, dan evaluasi dilaksanakan secara fleksibel sesuai kemampuan fisik masing-masing siswa.
Penulis melihat pendidikan inklusif berdampak positif bagi peningkatan kemampuan hidup siswa di lingkungan plural. Siswa diajarkan untuk menerima dan menghargai setiap elemen masyarakat dalam kedudukan yang sejajar. Melalui pendidikan inklusif siswa dikondisikan untuk memiliki kepekaan dan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus, sedangkan siswa berkebutuhan khusus dilatih untuk hidup di tengan masyarakat umum. Namun penulis masih menemukan faktor yang bias dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo, misalnya kebijakan penjurusan IPS bagi siswa tunanetra dan fasilitasi GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang dituding beberapa pihak sebagai kebijakan yang tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel.
Hakikat pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi realita sosial. Pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan bermasyarakat. Sistem pendidikan yang ideal akan mengintegrasikan peserta didik dengan realita, bukannya mengisolasi anak dari masyarakat yang beragam. Sayangnya, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideologi memanusiakan manusia. Sekolah tidak menjadi tempat pembentukan daya kritis dan kreativitas namun tempat untuk membentuk manusia yang seragam. Akibatnya, peserta didik gagap dalam menghadapi keberagaman di masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sekolah yang mampu memfasilitasi pendidikan kaum minoritas, khususnya difabel, di dalam pendidikan reguler. Berangkat dari kondisi tersebut muncul gerakan para pemerhati pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan anak untuk hidup di lingkungan sosial yang beragam melalui sebuah model pendidikan inklusif. Melalui metode pendidikan yang mencampur siswa difabel dan siswa nondifabel dalam satu ruang sosial, peserta didik dilatih untuk menerima keberagaman sebagai realita.
Metode yang digunakan di dalam penelitian adalah studi kasus. Penulis melakukan eksplorasi terhadap fenomena sosial, mengelompokkan data menjadi kategori-kategori tertentu lalu menampilkannya sebagai suatu kesatuan data yang holistik. Penulis menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap elemen-elemen sekolah dalam mengumpulkan data utama. Foto, dokumen dan data tertulis lain menjadi data yang melengkapi penelitian ini.
Pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo dikonstruksikan melalui konsepsi pendidikan yang menyejajarkan siswa. Sekolah meletakkan siswa difabel dan siswa nondifabel dalam kedudukan yang sama namun tetap memberi kemudahan bagi siswa difabel untuk mengakses pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Praksis pendidikan inklusif diwujudkan sekolah dalam berbagai instrumen pendidikan yang memiliki peran masing-masing namun saling terkait. Dalam aplikasinya, intsrumen pendidikan berupa kurikulum, metode pembelajaran, ekstrakurikuler, dan evaluasi dilaksanakan secara fleksibel sesuai kemampuan fisik masing-masing siswa.
Penulis melihat pendidikan inklusif berdampak positif bagi peningkatan kemampuan hidup siswa di lingkungan plural. Siswa diajarkan untuk menerima dan menghargai setiap elemen masyarakat dalam kedudukan yang sejajar. Melalui pendidikan inklusif siswa dikondisikan untuk memiliki kepekaan dan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus, sedangkan siswa berkebutuhan khusus dilatih untuk hidup di tengan masyarakat umum. Namun penulis masih menemukan faktor yang bias dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo, misalnya kebijakan penjurusan IPS bagi siswa tunanetra dan fasilitasi GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang dituding beberapa pihak sebagai kebijakan yang tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel.

More info:

Published by: winda on Sep 28, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2015

Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif

( Studi Atas Pola Pembelajaran Inklusif di Madrasah Aliyah Negeri Maguwoharjo)

Disusun Oleh :

Winda Tri Listyaningrum 05/186842/SP/21142

Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2009

1

ABSTRAKSI
Hakikat pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi realita sosial. Pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan bermasyarakat. Sistem pendidikan yang ideal akan mengintegrasikan peserta didik dengan realita, bukannya mengisolasi anak dari masyarakat yang beragam. Sayangnya, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideologi memanusiakan manusia. Sekolah tidak menjadi tempat pembentukan daya kritis dan kreativitas namun tempat untuk membentuk manusia yang seragam. Akibatnya, peserta didik gagap dalam menghadapi keberagaman di masyarakat. Kondisi ini diperparah dengan minimnya sekolah yang mampu memfasilitasi pendidikan kaum minoritas, khususnya difabel, di dalam pendidikan reguler. Berangkat dari kondisi tersebut muncul gerakan para pemerhati pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan anak untuk hidup di lingkungan sosial yang beragam melalui sebuah model pendidikan inklusif. Melalui metode pendidikan yang mencampur siswa difabel dan siswa nondifabel dalam satu ruang sosial, peserta didik dilatih untuk menerima keberagaman sebagai realita. Metode yang digunakan di dalam penelitian adalah studi kasus. Penulis melakukan eksplorasi terhadap fenomena sosial, mengelompokkan data menjadi kategori-kategori tertentu lalu menampilkannya sebagai suatu kesatuan data yang holistik. Penulis menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap elemen-elemen sekolah dalam mengumpulkan data utama. Foto, dokumen dan data tertulis lain menjadi data yang melengkapi penelitian ini. Pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo dikonstruksikan melalui konsepsi pendidikan yang menyejajarkan siswa. Sekolah meletakkan siswa difabel dan siswa nondifabel dalam kedudukan yang sama namun tetap memberi kemudahan bagi siswa difabel untuk mengakses pendidikan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Praksis pendidikan inklusif diwujudkan sekolah dalam berbagai instrumen pendidikan yang memiliki peran masing-masing namun saling terkait. Dalam aplikasinya, intsrumen pendidikan berupa kurikulum, metode pembelajaran, ekstrakurikuler, dan evaluasi dilaksanakan secara fleksibel sesuai kemampuan fisik masing-masing siswa. Penulis melihat pendidikan inklusif berdampak positif bagi peningkatan kemampuan hidup siswa di lingkungan plural. Siswa diajarkan untuk menerima dan menghargai setiap elemen masyarakat dalam kedudukan yang sejajar. Melalui pendidikan inklusif siswa dikondisikan untuk memiliki kepekaan dan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus, sedangkan siswa berkebutuhan khusus dilatih untuk hidup di tengan masyarakat umum. Namun penulis masih menemukan faktor bias dalam pelaksanaan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo, misalnya kebijakan penjurusan IPS bagi siswa tunanetra dan fasilitasi GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang dituding beberapa pihak sebagai kebijakan yang tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel.

2

DAFTAR ISI
ABSTRAKSI.................................................................................................... 2 DAFTAR ISI..................................................................................................... 3 DAFTAR TABEL............................................................................................ 5 DAFTAR SKEMA........................................................................................... 6 DAFTAR GAMBAR........................................................................................ 7 BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 8 A Latar Belakang .............................................................................. 8 B Perumusan Masalah ...................................................................... 12 C Tujuan Penelitian .......................................................................... 13 D Kerangka Teori dan Kerangka Pemikiran...................................... 13 D.1. Kerangka Teori...................................................................... 13 D.1. 1. Pandangan Freire terhadap Pendidikan ......................... 13 D.1. 2. Hakikat Pendidikan ....................................................... 15 D. 1. 3. Pendidikan dan Multikulturalisme................................ 19 D. 2. Kerangka Pemikiran............................................................ 22 E Metode Penelitian ......................................................................... 23 E.1 Lokasi Penelitian ................................................................ 23 E.2 Sifat Penelitian .................................................................... 24 E.3 Sasaran Penelitian ............................................................... 25 E.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................. 26 E.5 Teknik Analisa Data ........................................................... 29 F Sistematika Penulisan ................................................................... 30 BAB II. KONSEPSI OBJEK PENELITIAN ............................................... 31 A Konteks Geografis dan Sosial MAN Maguwoharjo ..................... 31 B Profil MAN Maguwoharjo ............................................................ 33 B.1 Sejarah MAN Maguwoharjo............................................... 33 B.2 Visi, Misi, dan Tujuan MAN Maguwoharjo ...................... 35 B.3 Struktur Organisasi Sekolah................................................ 36 B.4 Kurikulum Sekolah............................................................. 37 B.5 Tenaga Pendidik.................................................................. 40 B.6 Keadaan Ruang................................................................... 40 B.7 Fasilitas Sekolah.................................................................. 41 B. 8 Atribut Siswa...................................................................... 42

3

C D

B. 9 Pembiayaan Pendidilan...................................................... 43 B. 10 Manajerial Inklusi............................................................ 44 Sehari Di Sekolah.......................................................................... 45 Profil Informan............................................................................... 46

BAB III KONSTRUKSI PENDIDIKAN INKLUSIF .................................. 50 A Konsep Pendidikan Inklusif........................................................... 50 A. 1. Pendidikan dan Pembebasan................................................. 50 A. 2. Ideologi Inklusi..................................................................... 52 A. 3. Mengapa Pendidikan Inklusif?.............................................. 54 B Keberagaman di MAN Maguwoharjo........................................... 56 B. 1. Seleksi Guru dan Siswa......................................................... 56 B. 2. Komposisi Guru dan Siswa................................................... 57 BAB IV. PRAKSIS PENDIDIKAN INKLUSIF .......................................... 59 A Instrumen Pendidikan.................................................................... 59 A. 1. Rancangan Kurikulum : Pengembangan KTSP.................... 59 A. 2. Metode Pembelajaran yang Digunakan di Kelas.................. 61 A. 3. Ekstrakurikuler dan Keterampilan Praksis............................ 63 A. 4. Evaluasi Pembelajaran.......................................................... 64 B Fasilitasi Guru Pembimbing Khusus............................................. 66 C Kebijakan Sekolah Terkait Siswa Difabel..................................... 68 D Output Proses Pendidikan.............................................................. 71 D. 1. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Wawasan.................. 71 D. 2 Perubahan Pola Pikir dan Perilaku.................................... 72 D. 3 Peningkatan Daya Kreasi.................................................. 79 E Faktor-Faktor yang Menghambat Pelaksanaan Pendidikan Inklusif di MAN Maguwoharjo..................................................... 81 BAB V PENUTUP............................................................................................ 84 A. Kesimpulan....................................................................................... 84 B. Catatan Kritis..................................................................................... 85 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR TABEL Tabel 1 Struktur Kurikulum MAN Maguwoharjo........................................ 39 Tabel 2 Seragam Siswa MAN Maguwoharjo............................................... 43

4

Tabel 3 Biaya Pendidikan yang Ditanggung Orang Tua Siswa.................... 43 Tabel 4 Perbedaan Sekolah Inklusi dan Sekolah Konvensional................... 79

DAFTAR SKEMA Skema 1 Skema 2 Skema 3 Skema 4 Alur Pemikiran Freire.................................................................... 14 Kerangka Pemikiran....................................................................... 23 Struktur Organisasi MAN Maguwoharjo....................................... 37 Struktur Manajerial Inklusi MAN Maguwoharjo.......................... 45

5

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Upacara hari Senin....................................................................... 46 Gambar 2 Suasana PPI dipandu GPK .......................................................... 69 Gambar 3 Koleksi Al Qur’an braille MAN Maguwoharjo............................ 70 Gambar 4 Siswa awas membacakan materi pelajaran untuk siswa tunanetra 74 Gambar 5 Suasana pembelajaran di kelas...................................................... 75 Gambar 6 Siswa difabel bermain musik di pameran inklusi Sekaten............ 80

6

Gambar 7 Band tuna netra tampil di UNY.................................................... 81

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Success is a process, a quality of mind and way of being, an outgoing affirmation of life (Alex Noble)

7

Apakah makna pendidikan? Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia karena pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat bagi terciptanya peradaban manusia. Tanpa pendidikan, diyakini bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau yang dibandingkan dengan manusia sekarang telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses pemberdayaannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. Tidak berlebihan jika pendidikan dikatakan sebagai investasi jangka panjang suatu bangsa, baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Lalu, bagaimana kondisi pendidikan di sekitar kita? Kondisi pendidikan yang sentralistis sejak era Orde Baru dapat dikatakan telah mematikan roh pendidikan di Indonesia. Semua elemen pendidikan diarahkan untuk kepentingan penguasa, untuk melegitimasi kedudukan penguasa Orde Baru, bukannya demi kemajuan peserta didik. Kurikulum yang padat dan militeristik sengaja diciptakan agar semua peserta didik (dan guru) memiliki pola pikir yang seragam. Sebagai contoh, pada pelajaran Sejarah siswa hanya diajarkan peristiwa G 30 S versi pemerintah, padahal menurut bukti sejarah terdapat banyak versi peristiwa tersebut. Siswa tidak dibimbing untuk mengetahui konteks historis peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia namun hanya dicekoki dengan kebenaran yang dipaksakan.

8

Kurikulum yang berkaitan dengan wacana kemanusiaan harus merupakan pegangan tentang tujuan metode, lingkup materi, dan evaluasi pendidikan yang terintegrasi1 karena kurikulum yang tersentralisir dan menganut kebenaran tunggal serta tidak memberi kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi akan memasung kreativitas dan daya kritis siswa. Sistem pendidikan semacam itu tidak mustahil akan menghasilkan individu-individu tanpa inisiatif dan tidak memiliki inkuisitas terhadap ilmu pengetahuan: Kurikulum yang bersifat absolut, pedagogi yang berbentuk alih pengetahuan dan sistem evaluasi yang bersifat reproduksi pengetahuan yang telah dipelajari menghasilkan lulusan, meminjam istilah Wildam Yatim, para SDM yang bekerja sebagai tukang. Pendidikan menghasilkan manusia yang berpikir dalam dimensi “benar-salah”. Benar berarti sesuai dengan yang datang dari ‘atas’, dari pengajar, dari pejabat, dari atasan. Salah berarti berasal dari arah yang bukan ‘atas’. Mereka akan bekerja seperti mesin fotokopi yang bernapas. Mereka bekerja seperti robot, ‘ya’ atau ‘tidak’ sesuai dengan perintah programnya, manusia yang telah kehilangan keunikan dan otonominya. Selain itu, pendidikan semacam ini juga berhasil membuat manusia Indonesia menyenangi sesuatu yang serba seragam, sesuatu yang serba sama, sesuatu yang homogen. Dalam setiap kesempatan selalu terdengar perkataan ‘untuk menyamakan persepsi’, ‘untuk menyamakan sudut pandang’ dsb. Akibatnya, banyak orang tidak berani menampilkan dirinya, berbeda pandangan dengan pandangan orang banyak atau pandangan yang sejalan dengan pandangan ‘atasan’nya. Mereka takut diberi label ‘tidak benar’ atau ‘salah’. Apalagi label ‘salah’ tersebut diikuti oleh proses peminggiran kepada yang bersangkutan. Berbeda pendapat dengan ‘atasan’ berarti ‘harus tidak kebagian’. Dengan demikian, banyak orang terdorong untuk ‘berpurapura’ berpandangan sama dengan pandangan ‘atasan’ agar tetap di dalam lingkungan di sekitar ‘atasan’ dan tidak dipinggirkan.2 Menurut Darmaningtyas, fungsi pendidikan bukanlah untuk menyamakan selera agar menjadi tunggal, tetapi memelihara dan mengembangkannya agar tetap beragam. 3 Sebab keragaman itu sendiri merupakan keindahan dunia. Bukankah dunia lebih indah karena memiliki banyak warna, tidak hanya hitam dan putih? Lanjutnya, melarang perbedaan adalah identik dengan merampas kemerdekaan orang lain; dan itu bertentangan dengan prinsip
1

A. Waidl. Pendidikan yang Memahami Manusia dalam A. Atmadi dan Y. Setiyaningsih (Editor). 2000. Transformasi Pendidikan : Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama, hal. 24. 2 Leo Sutrisno. Pluralisme, Pendidikan Pembelajaran dalam Tradisi Konstruktivisme dalam Th. Sumartana, dkk. 2001. Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta : Interfidei, hal 208-9. 3 Darmaningtyas. 1999. Pendidikan Pada dan Setelah Krisis (Evaluasi Pendidikan di Masa Krisis). Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cetakan Pertama, hal 180.

9

pendidikan yang harus membimbing individu untuk mencapai kemerdekaannya. 4 Seorang tokoh nasional yang concern di bidang pendidikan, Romo Mangun, menyebut kurikulum nasional pada era Orde Baru tidak lebih sebagai kurikulum terselubung yang mengadopsi sistem militer dan diperkuat oleh kebijakan-kebijakan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah, seperti yang ditulis berikut ini: Memang resmi untuk muatan lokal cukup diberi banyak kesempatan sehingga guru dapat menyesuaikan isi sebagian kurikulum dengan suasana dan keperluan khas setempat. Tetapi dalam iklim yang serba satu ragam, satu bahasa dan gaji terlalu sedikit, mana ada guru yang masih sempat berkreasi? Dan bila toh masih ada guru yang begitu cinta kepada anak-anak didiknya, dan ingin membuat eksperimen itu masih dalam batas-batas ketentuan Depdikbud, apakah Kakanwil dan rekan-rekan guru akan mendukung orang yang berjalan kreatif lucu di luar barisan? Bukankah keseragaman dan kesatubahasaan di Indonesia adalah hukum yang, yang sering lebih tinggi daripada Hukum Tuhan? Tuhan, mencipta anak yang serba dinamis, bergerak dan bermain, serba mencari dengan kagum. Tetapi menurut peraturan (dari mana, entah), anak-anak TK harus berbaris dan berseragam seperti itik, terkotak, dan terpagar. Iklim sekolah membuat anak-anak segan bertanya dan lebih “aman” untuk menghafal, dan menghafal seolah-olah Tuhan menciptakan anak muda dan remaja itu sebagai beo. Padahal remaja direka Tuhan justru agar semakin kritis dan serba bertanya, bahkan membantah terhadap dimensi-dimensi sikap yang perlu agar mantap perkembangannya, menuju kedewasaannya menjadi pribadi yang kuat.5 Penyeragaman tidak hanya terdapat pada kurikulum namun juga pakaian seragam, aktivitas, hingga metode mengajar dan alat tes kelulusan. Pemerintah tidak memberi kesempatan kepada siswa dan sekolah untuk menggunakan pakaian seragam sesuai selera atau identitas historis sekolah. Semua harus seragam, merah putih untuk sekolah dasar, biru putih untuk tingkat menengah pertama dan abu-abu putih untuk tingkat menengah atas. Upacara bendera juga harus dilaksanakan setiap hari Senin untuk meningkatkan patriotisme dan cinta tanah air, padahal sebenarnya masih banyak cara untuk menumbuhkan patriotisme dan cinta tanah air di kalangan siswa. Rutinitas penyeragaman ini telah berlangsung selama beberapa dekade walau pun tidak memiliki dasar yang kuat, kecuali alasan militeristik,
4 5

Ibid. hal.126. YB. Mangunwijaya, Kompas, 28 September 1988 dalam Y. Dedy Pradipto. 2007. Belajar Sejati VS Kurikulum Nasional : Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama, hal 63.

10

”Aturan dari atas”, “Demi ketertiban”, atau ”Menghindari kesenjangan sosial” yang terkesan mengada-ada. Bagaimana seharusnya? Indonesia adalah negara yang plural, terdiri dari berbagai macam etnis, suku bangsa dan agama. Sebagai negara multikultural, pendidikan yang diadakan di Indonesia seharusnya merupakan pendidikan yang menanamkan toleransi terhadap keberagaman, bukannya menyeragamkan siswa secara nasional dan menghilangkan ciri-ciri lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Siswa yang tidak diajarkan mengenai keunggulan budaya lain akan menganggap budayanya sebagai kebenaran mutlak dan tidak menoleransi perbedaan di dalam masyarakat. Penghargaan terhadap keberagaman dapat ditemui pada konsep pendidikan

inklusi yang saat ini menjadi trend pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Terdapat 123 sekolah inklusi yang tersebar di DIY, baik tingkat taman kanak-kanak (TK), pendidikan dasar (SD), maupun pendidikan menengah (SMP/SMU/sederajat)6, antara lain SD Gejayan (sejak 1983) , SD Giwangan, SMU Pembangunan (sejak 1989), SMU Muhammadiyah 4, dan MAN Maguwoharjo (sejak 1968). MAN Maguwoharjo adalah pionir pendidikan inklusif di Yogyakarta. Sebagai sekolah inklusif yang tertua, konsep pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo telah menjadi percontohan berbagai institusi pendidikan di DIY. Konsep pembelajaran MAN Maguwoharjo adalah sebuah konsep pembelajaran yang menempatkan siswa berkebutuhan khusus dan siswa biasa dalam satu ruang sosial dengan kedudukan yang sejajar. Pendidikan inklusif memiliki keterkaitan dengan pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus dan toleran terhadap keanekaragaman

6

Ptu. Jumlah Sekolah Minim, Banyak Anak Difabel Tidak Bersekolah. Bernas, 2 April 2008. Diakses dari www.bernas.co.id, tanggal 20 April 2009.

11

budaya yang hidup ditengah-tengah masyarakat7, sedangkan pendidikan inklusif diartikan sebagai pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik.8 Proses pembelajaran inklusif dalam suasana saling menghormati akan menanamkan dan melatihkan nilai-nilai pada anak didik sehingga nantinya mereka memiliki spirit multikultural berupa hidup secara rukun dan damai dalam suasana kemajemukan.

B. Perumusan Masalah Pendidikan yang ditawarkan MAN Maguwoharjo memberi alternatif konsep pendidikan di dalam sistem pendidikan nasional kita. Di tengah sistem pendidikan nasional yang berkultur homogen, MAN Maguwoharjo melawan mainstream dengan melaksanakan pembelajaran yang menghargai perbedaan fisik pada tiap anak. Oleh karena itu, keunikan pembelajaran di MAN Maguwoharjo menimbulkan beberapa pertanyaan : 1. 2. 3. Bagaimana konstruksi pendidikan inklusif yang dibangun MAN Maguwoharjo? Bagaimana praksis pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo? Bagaimana output praksis pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo?

C. Tujuan Penelitian Penulis menilai MAN Maguwoharjo dapat memperkaya atmosfer pembelajaran di Indonesia, khususnya di DI Yogyakarta dengan kebijakan inklusinya yang menjadi pendidikan alternatif bagi siswa dan orang tua dalam memilih lembaga pendidikan sekolah menengah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menelusuri konstruksi pendidikan
7

Musa Asy’arie (2004) dalam Widiyanto. 2009. Pendidikan Multikultural dalam Konteks Masyarakat Indonesia. http://staff.blog.unnes.ac.id/widiyanto/, diakses tanggal 21 April 2009. 8 Inti Rerstuningtyas. 2009. Pendidikan Inklusif. http://inti.student.fkip.uns.ac.id, diakses tanggal 21 April 2009.

12

inklusif yang dibangun MAN Maguwoharjo serta menjelaskan praksis konsepsi pendidikan inklusif beserta output pendidikan di MAN Maguwoharjo

D. Kerangka Teori dan Kerangka Pemikiran D.1. Kerangka Teori D. 1. 1. Pandangan Freire terhadap Pendidikan Manusia adalah makhluk yang merdeka dan berpikir secara bebas. Oleh karena itu, Freire berkeyakinan bahwa pendidikan harus berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri secara obyektif dan subyektif. Pendapat ini dikuatkan oleh Romo Mangun dengan pernyataannya di dalam Pradipto, “Kemerdekaan dalam pendidikan dapat dilihat sebagai kemampuan anak untuk mengakses pengetahuan dengan caranya sendiri”.9 Menurut Escobar, sekolah adalah lembaga sosial yang pada umumnya mempreservasi kekuatan-kekuatan sosial-politik yang ada atau menjaga status quo bukan membebaskan manusia dari tirani kekuasaan.10 Sedangkan Freire menyatakan hakikat pendidikan adalah pembebasan manusia dari berbagai penindasan. Menurut Freire, pendidikan dengan sistem “gaya bank” merupakan pendidikan yang menindas peserta didik karena meminimalisir kebebasan mereka untuk berkreasi dan berpikir kritis, seperti yang ditunjukkannya pada alur pemikiran berikut ini :
Skema 1 Alur Pemikiran Freire11

TEORI DIALOG
9

TEORI ANTI DIALOG

Pradipto. 2000. hal.15 Escobar dalam H.A.R. Tilaar. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, Cetakan Ketiga. 11 A. Sudiarja. 2001. Pendidikan Radikal tapi Dialogal. Basis No. 01-02, Tahun ke-50, Edisi Januari-Februari, hal.12.
10

13

Subjek (pendidik revolusioner)

Subjek (kaum tertindas)

Subjek (elit sebagai kelompok dominan)

Interaksi realita yang harus dipertahankan realita yang harus diubah bersama humanisasi sebagai proses yang terus menerus (sebagai tujuan) (kaum tertindas sebagai bagian dari realitas) berlangsungnya situasi penindasan (sebagai tujuan)

Pendidikan gaya bank semacam ini akan menjadi sarana untuk mendehumanisasi peserta didik. Oleh karena itu, Freire menciptakan alternatif sistem pembelajaran “problemposing education” yang dialogis dan memungkinkan guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru. Di dalam sistem pembelajaran hadap-masalah ini guru berperan sebagai pendamping yang merangsang pemikiran kritis peserta didik mengenai dirinya dan dunia tempatnya berada, seperti yang ditulisnya di Pendidikan Kaum Tertindas : Akhirnya, dialog sejati tidak akan terwujud kecuali dengan melibatkan pemikiran kritis − pemikiran yang melihat suatu hubungan tak terpisahkan antara manusia dan dunia tanpa melakukan dikotomi antara keduanya − pemikiran yang memandang realitas sebagai proses dan perubahan, bukannya entitas yang statis − pemikiran yang tidak memisahkan diri dari tindakan, tetapi senantiasa bergumul dengan masalah-masalah keduniawian tanpa gentar menghadapi resiko. Bagi pemikir naif, yang penting adalah memberi tempat bagi “hari ini” yang normal itu. Bagi pemikir kritis, yang penting adalah kelanjutan dari perubahan realitas, demi kelanjutan proses humanisasi manusia.12 Mochtar Buchori dalam Transformasi Pendidikan juga mengungkapkan pentingnya transformasi pendidikan di Indonesia dari ‘sekolah tempat menghafal’ menjadi ‘sekolah tempat berpikir’, yaitu sekolah sebagai sarana untuk menumbuhkan daya kritis siswa terhadap realita dunia. Dengan kemampuan berpikir yang disertai daya kritis, seseorang dapat
12

Paulo Freire. 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, Cetakan Keenam (edisi revisi), hal 83.

k 14

terus-menerus mempersalahkan pendapatnya sendiri dan membuat reinterpretasi terhadap dunianya. Menurutnya, ‘mendewasakan anak’ tidak sekadar “mengajarkan seperangkat

pengetahuan dan ketrampilan” namun merupakan ”proses membimbing anak untuk sedikit demi sedikit mengenali dirinya sendiri, menyadari kemampuan-kemampuannya, dan menyadari pula hal-hal yang terletak di luar batas kemampuannya”.13 D. 1. 2. Hakikat Pendidikan Learning is not the accumulation of knowledge. Learning is movement from moment to moment. (J. Krishnamurti) Menurut Nasution dalam Sosiologi Pendidikan (1983), pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda.14 Lanjutnya, pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat.15 Pendidikan berperan besar dalam menanamkan nilai dan norma yang ditaati masyarakat serta membentuk pribadi yang disiplin dan taat. Hasil cetak kepribadian manusia adalah hasil dari proses transformasi pengetahuan dan pendidikan yang dilakukan secara humanis, bukan secara politis maupun kapitalis. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan bukan semata ditunjukkan dari nilai akademis namun juga perilaku sehari – hari, kesehatan mental serta kepribadian peserta didik. To be a good human being is to have a kind of openness to the world, an ability to trust uncertain things beyond your control. (Martha Nussbaum) Menurut Plato, pendidikan ada pada kualitas etis. Pendidikan sekolah harus memainkan perannya yang lebih sejati, yakni sebagai sarana regenerasi sosial.16 Pendidikan menjadi tempat untuk menumbuhkembangkan kepekaan peserta didik akan nilai – nilai dan
13 14

A. Waild. op.cit. hal.156. Nasution. 1983. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Jemmars. 15 Ibid 16 A. Supratikno. Hantu Masyarakat Bernama Pendidikan, Basis, No.01-02, Tahun ke-47 1998, hal. 90.

15

norma moral dan secara progresif mewujudkan masyarakat yang dicita-citakan. Sedangkan Freire berpendapat bahwa tujuan utama pendidikan adalah membuat peserta didik sampai pada tingkat kesadaran akan realitas diri dan dunianya. Kesadaran itu hanya dapat terwujud saat dimensi-dimensi humanistik peserta didik mendapat tempat dalam kegiatan belajar mengajar, seperti dihargainya keunikan, kreativitas dan otonomi serta kebebasannya. Pendidikan bukan hanya berupa transfer ilmu (pengetahuan) dari satu orang ke satu atau beberapa orang lain, tapi juga mentransformasikan nilai-nilai (bukan nilai hitam di atas kertas putih) ke dalam jiwa, kepribadian, dan struktur kesadaran manusia itu. Pendidikan merupakan proses dialektis. Peserta didik seharusnya berperan sebagai subyek yang bergulat maksimal dalam proses pendidikan didampingi oleh para pendidik, bukannya obyek yang sekedar menerima ilmu pengetahuan dari pendidik. Lebih dari itu, realisme melihat pendidikan sebagai sarana dimana orang harus mernperoleh pengetahuan dan pengertian yang mendalam. Hal ini dapat dicapai dengan menjelajahi permasalahan lewat dunia nyata. Menurut Romo Mangun dalam Wirapradja, kita harus menjadi pembelajar sejati, yaitu belajar sebagai bentuk kesadaran yang tidak akan berhenti meski pun sekolah telah berakhir.17 Sejatinya, pendidikan difungsikan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki nilai, norma, dan perilaku sesuai dengan sistem dan aturan yang berlaku sehingga dapat mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai dengan tata cara hidup bangsa. Dalam hal ini pendidikan bertujuan memberikan bekal moral, intelektual dan keterampilan agar peserta didik siap menghadapi masa depan dengan penuh percaya diri. Pendidikan mengenai baik-buruk atau benar-salah harus ditempatkan pada posisi sentral dalam ranah pendidikan karena pendidikan secara murni berupaya membentuk insan akademis yang berwawasan dan berkepribadian kemanusiaan.
17

Nana Rukmana Wirapradja, M.A dimuat di harian Pikiran Rakyat tanggal 2 Mei 2007.

16

“Education shall be directed to the full development of the human personality and tho strenghtening of respect for human rights and fundamental freedom. It shall promote understanding, tolerance and friendship among all nations, racial or religious groups, and shall further the activities of the United Nations for maintenance of peace.” (Article 26, Universal Declaration of Human Rights) Driyarkara mengungkapkan, pendidikan adalah hominisasi (menjadikan seseorang menjadi manusia) dan humanisasi (proses pengembangan kemanusiaan manusia). Peserta didik harus belajar bertanggung jawab untuk menciptakan situasi masyarakat yang tenteram karena pendidikan yang benar bertujuan mengarahkan manusia-manusia muda menjadi pribadi yang berkarakter serta mengenal budi pekerti (tidak sebatas nilai) agar mereka mampu menghadapi segala tantangan zaman. Tercapainya “kesempurnaan” ditunjukkan oleh terbentuknya “pribadi yang bermoral” atau moral character.18 Pendidikan yang berhasil juga akan menghasilkan pribadi-pribadi tangguh yang memiliki kapabilitas untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Sedangkan di dalam Pendidikan Berbasis Masyarakat, Zubaedi mengungkapkan pentingnya menanamkan pendidikan budi pekerti pada anak didik, tidak sekadar memfokuskan pada sisi kognitif saja. “dengan memperkaya dimensi nilai, moral dan norma pada aktivitas pendidikan di sekolah, akan memberi pegangan hidup yang kokoh bagi anak-anak dalam menghadapi perubahan sosial... dengan bekal pendidikan budi pekerti secara memadai, akan memperkuat konstruksi moralitas peserta didik sehingga mereka tidak gampang goyah dalam menghadapi aneka macam godaan dan rayuan negatif di luar sekolah”.19 Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Muslikhah di dalam Quo Vadis Pendidikan Multikultur, bahwa ideologi pendidikan yang memanusiakan manusia berimplikasi kepada semua aspek kehidupan manusia dan memperhatikan seluruh dimensi yang ada dalam diri

18

Montemayor dalam YB. Adimassana. Revitalisasi Pendidikan Nilai di Dalam Sektor Pendidikan Formal dalam A. Atmadi dan Y. Setiyaningsih (Editor). 2000. Transformasi Pendidikan : Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama, hal. 35. 19 Zubaedi. op. cit., hal 3

17

seseorang.20 Pendidikan dengan kurikulum yang terlalu padat, banyak menghafal dan bersifat satu arah akan membuat anak didik tidak memiliki ketrampilan hidup karena mereka tidak diajarkan untuk mengenal kondisi lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, hubungan dialektis di dalam pendidikan harus melibatkan unsur pengajar, pelajar atau anak didik serta realitas dunia. Selama ini yang sering terjadi adalah sekolah diisolasi, terasing dari masyarakat karena tidak peka terhadap permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat. Bahkan, sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sering kurang mampu mengikuti dan menanggapi arus perubahan cepat yang terjadi dalam masyarakat.21 D. 1. 3. Pendidikan dan Multikulturalisme Multikultur berasal dari kata multi (banyak) dan kultur (budaya). Multikulturalisme menegaskan bahwa setiap budaya unik namun tidak semuanya baik, karena multikulturalisme tetap memiliki postulasi kebaikan moral yang menolak penyelewengan-penyelewengan seperti berjudi, mencuri atau merendahkan perempuan. Alo Liliweri dalam Prasangka dan Konflik mengungkapkan beberapa pengertian multikulturalisme, yaitu : 1) multikulturalisme adalah konsep yang menjelaskan dua perbedaan dengan makna yang saling berkaitan, yaitu sebagai kondisi pluralisme budaya masyarakat dan sebagai seperangkat kebijakan pemerintah yang dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat memberi perhatian kepada kebudayaan dari seluruh etnis; 2) multikulturalisme sebagai konsep sosial yang diintroduksi ke pemerintahan agar pemerintah sebagai pihak yang representatif dapat menjadikannya kebijakan yang mampu mendorong lahirnya apresiasi, toleransi serta prinsip kesetaraan; 3) multikulturalisme merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keragaman latar

20

Muslikhah. 2007. Quo Vadis Pendidikan Multikultur : Rekonstruksi Sistem Pendidikan Berbasis Kebangsaan. Salatiga : Stain Salatiga Press bekerjasama dengan JP Books, Cetakan Pertama, hal. 55-56. 21 J. Sudarminta. Tantangan dan Permasalahan Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium Ketiga dalam A. Atmadi dan Y. Setiyaningsih (Editor). 2000. Transformasi Pendidikan : Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama, hal.3.

18

belakang kebudayaan para peserta didik sebagai kekuatan untuk membentuk sikap multikultural; dan 4) multikulturalisme sebagai sebuah ideologi dapat dikatakan sebagai gagasan bertukar pengetahuan dan keyakinan melalui pertukaran kebudayaan atau perilaku budaya setiap hari sebagai pedoman dalam kehidupan multikultural.22 Di dalam bidang pendidikan, multikulturalisme berarti pengakuan terhadap kontribusi semua kelompok kultural terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan dengan demikian kurikulum yang dikembangkan harus pula mencakup semua materi dari berbagai kultur.23 Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan multikultural yang disebutkan James A Banks dalam Reissman dalam Zubaedi (2006) : “The goal of multicultural education is an education for freedom... Multicultural education should help student to develop the knowledge, attitudes, and skills to participate in a democratic and free society... Multicultural education promotes the freedom, abilities and skills to cross ethnic and cultural boundaries to participation in other cultures and groups”.24 Multikulturalisme tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karena pendidikan merupakan bagian dari budaya, dengan kata lain di dalam pendidikan terdapat akar-akar kultur yang berasal dari masyarakat. Di lain sisi, budaya tidak akan berkembang dan berkelanjutan tanpa pendidikan karena budaya tidak diwariskan secara generatif tetapi diperoleh dengan sosialisasi dan belajar. Menurut Tilaar dalam Maslikhah, mengisolasikan pendidikan dari keanekaan budaya berarti melihat proses pendidikan dalam ruangan yang hampa.25 Pendidikan multikultural dapat diterapkan dalam pola pembelajaran inklusif, yaitu metode pembelajaran yang tidak membedakan peserta didik yang memiliki berbagai
22

Alo Liliweri. 2005. Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : LkiS, Cetakan Pertama. 23 Andreas A. Susanto dalam Josep J. Darmawan (ed). 2005. Multikulturalisme : Alternatif yang Problematik. Yogyakarta : Universitas Atma Jaya. 24 Zubaedi, op.cit., hal 70. 25 Maslikhah. op.cit., hal 23.

19

kemampuan

intelegensia

(cerdas,

sedang,

kurang)

atau

berbagai

kondisi

fisik

(difabel/nondifabel). Siswa tidak sekedar dicekoki ilmu pengetahuan namun juga kemampuan untuk hidup bersama di dalam masyarakat plural, misalnya toleransi dan saling menghormati dengan golongan masyarakat yang terkadang dianggap liyan. Pendidikan yang menghargai perbedaan ini didasari oleh konsep kebermaknaan perbedaan yang unik pada tiap orang dan masyarakat. Ia merupakan pendidikan yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bersosialisasi dengan sesama yang beragam baik dari segi fisik, agama, suku, dan lain-lain. Pendidikan multikultural mengandaikan sekolah dan kelas dikelola sebagai simulasi arena kehidupan nyata yang plural, terus berkembang dan berubah. Hal ini didasari oleh adanya kepekaan dan solidaritas di antara peserta didik. Potensi transedental, intelektual, moral dan estetis dikembangkan dengan cara mengintegrasikan nuansa moralitas dan spiritual di dalam kurikulum. Pelajaran agama pun tidak sekadar merupakan penyalehan individu namun lebih dari itu, pelajaran agama yang diberikan berfungsi untuk penyalehan sosial. Sikap dan sifat yang umumnya berkembang di masyarakat plural seperti di Indonesia antara lain memiliki solidaritas buta, etnosentrisme, partikularis, eksklusif serta masalah mayoritas-minoritas yang berujung pada ketidakadilan di dalam masyarakat. Sebagai negara yang memiliki beragam etnis, religi dan budaya, Indonesia perlu menerapkan pola pendidikan yang mampu menghadapi keberagaman. Hidup bersama di dalam masyarakat tidak sekedar membiarkan segala sesuatunya berbeda namun juga mengenali dan memahami perbedaan itu sehingga setiap elemen yang hidup bersama di suatu masyarakat memiliki kedudukan yang sejajar tanpa adanya dominasi dari kultur tertentu. Oleh karena itu, paradigma multikulturalisme yang mempercayai bahwa semua kultur memiliki kedudukan yang sama dan menghilangkan perspektif kultur dominannon dominan tepat jika diterapkan di dalam sistem pendidikan kita.

20

Pendidikan multikultural dikatakan berhasil jika di dalam masyarakat terjadi perubahan cara berpikir dari yang sebelumnya bercara pandang dan interpretasi sosial budaya sempit dan fanatis berubah menjadi cara pandang dan interpretasi demokratis-pluralis dan mampu menghargai budaya orang lain.26 Maksudnya, siswa mampu menghargai segala perbedaan di dalam masyarakat dan menganggap perbedaan itu sebagai realitas yang harus ada dan diterima di dalam kehidupan bermasyarakat. James mengungkapkan, “substansi pendidikan multikultural adalah pendidikan untuk kebebasan (as “education for freedom”) sekaligus sebagai penyebarluasan gerakan inklusif dalam rangka mempererat hubungan antar sesama (as inclusive and cementing movement)”.27 Jadi, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang bersifat antirasis (dan anti pembedaan berdasar etnis, suku, maupun agama), mendasar, penting (berguna) untuk semua siswa, pervasif (dapat meresap/ menembus/ merembes), untuk keadilan sosial serta merupakan sebuah proses pedagogi kritis. D. 2. Kerangka Pemikiran Salah satu ciri hakiki manusia ialah bahwa ia menyadari eksistensinya, dengan situasinya dan dimensinya.28 Penyadaran ini dapat ditemukan pada pendidikan yang menghargai keberagaman, yaitu pendidikan yang memberi kesempatan kepada setiap kelompok kultural untuk berkontribusi dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidikan multikulural yang menghargai keberagaman tidak terjadi secara serta merta namun didasari kesadaran dari pendidik dan peserta didik untuk hidup berdampingan dengan berbagai elemen masyarakat. Menurut Keith Wilson, beberapa kelengkapan yang harus dimiliki oleh segenap sivitas akademika sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang multikultural, antara lain : a) lingkungan belajar yang mendukung kontak positif antar “ras”, b) kurikulum
26

Zubaedi. 2006. Pendidikan Berbasis Masyarakat : Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cetakan Ketiga, hal 79. 27 James dalam Zubaedi. op.cit., hal. 70-1. 28 Broto Semedi Wiryotenoyo. 1984. Hidup Bersama Orang Lain. Gema No.27, Edisi Desember, hal 5.

21

multikultural, c) cara berpikir yang positif dari para guru, d) dukungan administrasi, dan e) lokakarya dan pelatihan guru secara terus-menerus tentang multikulturalisme.29 Terdapat berbagai elemen pendidikan inklusi yang terkait sebagai satu kesatuan pendukung pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo. Elemen-elemen ini memiliki peran masing-masing yang khas dan pokok namun tidak dapat dipisahkan dalam praksis pendidikan inklusif. Penulis mengkategorisasi elemen-elemen tersebut menjadi tiga golongan, yaitu input (menjadi awal konstruksi pendidikan inklusif), proses (berperan dalam praksis pendidikan inklusif) dan output (hasil proses pendidikan inklusif) seperti yang ditunjukkan dalam skema berikut:
Skema 2 Kerangka Pemikiran

Output Proses Input
• Seleksi • Komposisi siswa & guru • Ideologi • Metode pembelajaran • Kurikulum • Evaluasi • Peran guru/pendamping • Ekskul • Kebijakan khusus difabel • Hasil proses pendidikan (bagi siswa difabel & nondifabel), termasuk perubahan pola pikir pada siswa, guru & elemen sekolah lain.

E. Metode Penelitian E.1. Lokasi Penelitian

29

Wilson (1999) dalam Sidharta (2005)

22

Penelitian ini mengambil kasus di MAN Maguwoharjo yang menerapkan pola pembelajaran inklusif dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

E.2. Sifat Penelitian Penelitian ini bersifat eksploratif dan menggunakan metode studi kasus, yaitu suatu teknik eksplorasi dan analisa dalam penyelidikan mengenai sebuah kesatuan sosial tertentu. 30 Menurut Yin, studi kasus dikehendaki untuk melacak peristiwa-peristiwa kontemporer, bila peristiwa-peristiwa tersebut tidak dapat dimanipulasi.31 Kasus di dalam penelitian studi kasus bersifat kontemporer, masih terkait dengan masa kini, baik yang sedang terjadi, maupun telah selesai tetapi masih memiliki dampak yang masih terasa pada saat dilakukannya penelitian. 32 Tidak semua peristiwa/fenomena dapat diteliti dengan metode studi kasus yang menuntut eksplorasi yang mendalam dan intensif. Metode ini dipilih karena dirasa sesuai dan holistik di dalam pengumpulan data sesuai tema yang dipilih oleh penulis. Obyek penyelidikan di dalam studi kasus dapat berupa seseorang, suatu keluarga, suatu kelompok kebudayaan, suatu pranata, atau suatu kelompok masyarakat.33 Dalam penelitian ini, obyek penyelidikan yang dimaksud adalah seluruh elemen sekolah yang berperan dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu peserta didik, pengajar, dan wali siswa. Metode kualitatif juga penulis rasa dapat mengetahui “the means behind the facts” atas berbagai peristiwa sosial yang terjadi karena berakar pada paradigma interpretatif. Hal ini ditunjukkan dari adanya beberapa perbedaan mendasar pada penelitian kuantitatif dan kualitatif, yaitu :

30 31

Komaruddin.,1987. Kamus Riset. Bandung : Angkasa, Cetakan Kesepuluh. Robert K. Yin. 2008. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, Cetakan Kedelapan, Edisi Pertama, hal. 12. 32 Yin (2003) dalam Hadi Wahyono. 2009. Pengertian Penelitian Studi Kasus. http://penelitianstudikasus.blogspot.com, diakses tanggal 21 April 2009. 33 Komaruddin, op. cit.

23

1. Cara memandang sifat realitas sosial Penelitian kualitatif menganggap realitas sosial itu bersifat ganda. Realitas sosial merupakan hasil konstruksi pemikiran dan bersifat holistik. Di pihak lain, penelitian kuantitatif memandang realitas sosial bersifat tunggal, konkret, dan teramati. 2. Peranan nilai Penelitian kualitatif menganggap bahwa proses penelitian tidak dapat dikatakan sebagai sepenuhnya ‘bebas nilai’. Di pihak lain, penelitian kuantitatif menganggap bahwa proses penelitian sepenuhnya ‘bebas nilai’. 3. Fleksibilitas dalam pengumpulan data Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif tidak bersifat kaku tetapi selalu disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Demikian pula hubungan antara peneliti dan yang diteliti bersifat interaktif dan tidak dapat dipisahkan. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif prosedur pengumpulan data distandardisasi dan menganggap bahwa hubungan peneliti dengan yang diteliti adalah independen dan dapat dipisahkan.34 Studi kasus tunggal menyajikan suatu kasus yang ekstrem atau unik. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus tunggal yang bertujuan menelusuri, menyingkap dan menggambarkan secara rinci eksistensi MAN Maguwoharjo untuk mengetahui makna dibalik eksistensinya. Melalui studi kasus, kita dapat mengetahui keunikan dari fenomena pendidikan inklusif yang diterapkan MAN Maguwoharjo serta menjelaskan keunikan tersebut, yang berkaitan dengan pola pembelajaran, instrumen pendidikan, dan konteks kasus berdirinya MAN Maguwoharjo di Yogyakarta.

E.3 Sasaran Penelitian Menurut Hendrarso, penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya.35 Oleh karena itu, tidak ada istilah populasi dan sampel pada penelitian kualitatif. Informan adalah subjek yang akan memberi informasi selama penelitian berlangsung. Hendrarso menyebutkan, informan meliputi beberapa macam, yaitu
34

Emy Susanti Hendrarso dalam Bagong Suyanto dan Sutinah (editor). 2007. Metode Penelitian Sosial : Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta : Kencana, Edisi Pertama, Cetakan Ketiga. 35 Ibid, hal. 171-2.

24

informan kunci yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian, informan utama yang terlibat langsung dalam interaksi sosial fenomena yang diteliti, serta informan tambahan yang dapat memberikan informasi walau pun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial fenomena yang diteliti. Untuk mendapatkan data yang mendukung, peneliti membatasi informan dalam penelitian ini adalah siswa serta pengajar sebagai inti dari populasi di MAN Maguwoharjo. Siswa merupakan subyek aktif yang menjadi sasaran kerja proses pendidikan. Dalam hal ini, siswa mencakup siswa difabel maupun siswa nondifabel. Sedangkan pengajar sebagai pihak yang menjalankan fungsi institusi pendidikan, yaitu transfer ilmu pengetahuan mencakup guru reguler dan guru khusus (GPK) di lingkungan MAN Maguwoharjo.

E. 4. Teknik Pengumpulan Data Menurut Yin, posisi pemanfaatan teori yang telah ada di dalam penelitian studi kasus dimaksudkan untuk memberikan arah penelitian36 yang disebut proposisi. Proposisi berfungsi sebagai arahan teoritis yang digunakan untuk membangun protokol penelitian, yaitu petunjuk praktis pengumpulan data yang harus diikuti peneliti agar penelitian terfokus pada konteksnya.37 Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik agar tingkat validitas dan realibilitas penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Jenis-jenis data yang diperoleh dari penelitian kualitatif antara lain berupa catatan lapangan, rekaman wawancara, foto, dan lain-lain. Adapun teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

36 37

Yin (2003) dalam Hadi Wahyono, op. cit. Ibid

25

a. Observasi Pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.38 Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi umum lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar yang dilakukan di MAN Maguwoharjo secara mendalam. Data yang akan didapat melalui observasi antara lain rincian kegiatan, perilaku serta keseluruhan interaksi yang terjadi di lokasi penelitian yang dapat diamati oleh peneliti. Terdapat tiga teknik yang lazim digunakan dalam observasi, yaitu observasi partisipan, observasi sistematik dan observasi eksperimental. Observasi partisipan ialah apabila peneliti turut mengambil bagian atau berada dalam keadaan objek yang diobservasi. Observasi sistematik terdiri dari kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorinya, yaitu a) materi, b) cara-cara mencatat, dan c) hubungan observasi dengan observees, sedangkan observasi eksperimental dilakukan ketika peneliti mengendalikan unsur-unsur penting dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi tersebut dapat diatur sesuai dengan tujuan penelitian dan dapat mengurangi timbulnya faktor-faktor yang tidak diharapkan mempengaruhi situasi tersebut. Sebagai instrumen yang harus menyerap informasi secara lengkap, peneliti harus melakukan observasi dengan detail. Peneliti memperhatikan keadaan fisik lokasi penelitian, perilaku orang-orang, dan lain-lain yang menampilkan ‘atmosfer’ di lokasi penelitian. Peneliti harus bisa menangkap data yang kompleks untuk memahami permasalahan secara lengkap dan obyektif seperti yang diungkapkan oleh Neuman, ”The researcher records such details because something of significance might be revealed... if they are not noticed, the

38

Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara, Cetakan Pertama.

26

details are lost, as is a full understanding of the event.”39 Pendapat ini dikuatkan oleh Lincoln dan Guba dalam Moleong yang menyatakan bahwa ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya.40 b. Wawancara Wawancara suatu penelitian berbeda dengan percakapan sehari-hari. Di dalam wawancara terdapat suatu tujuan yaitu memperoleh keterangan atau pendapat dari seorang informan/responden mengenai fenomena tertentu dengan cara bertemu langsung (face to face) maupun memanfaatkan sarana komunikasi seperti telepon atau internet. Wawancara semi-terstruktur dilakukan untuk memperjelas hasil observasi serta mengetahui segala permasalahan yang tidak tertangkap indera. Wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar di MAN Maguwoharjo, antara lain siswa, pengajar, dan wali murid. Field research interview involves a mutual sharing of experience41 dengan tujuan tertentu, yaitu memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian berupa pengalaman, pendapat, perasaan maupun pengetahuannya. c. Studi literatur Studi literatur dapat meningkatkan pengetahuan penulis dalam menghadapi suatu permasalahan yang terjadi pada obyek penelitian, misalnya mengetahui suatu teori dari pustaka. Tinjauan literatur berguna antara lain untuk : 1) menunjukan pentingnya masalah yang diteliti; 2) membantu menyempitkan fokus masalah; 3) menunjukkan konsep-konsep teoritis umum dan variabel-variabel operasional dari peneliti lain; 4) mengusulkan

39

William Lawrence Neuman. 2000. Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. 4rd Edition. Needham Heights : Allyn and Bacon, hal.362. 40 Lincoln dan Guba (1985) dalam Lexy J. Moleong (1999), hal 4. 41 Neumann. Op cit

27

kemungkinan hipotesis yang diperlukan untuk dites; serta 5) membantu peneliti menghindari “mengadakan penelitian mengenai masalah yang sudah diteliti berulangkali pada waktu lampau dengan hasil yang cukup konsisten dari masing-masing penelitian”.42 Sedangkan data sekunder yang digunakan peneliti meliputi dokumen kurikulum pendidikan MAN Maguwoharjo, catatan, brosur dan lain-lain. E. 5. Teknik Analisa Data Analisis studi kasus menunjukkan kombinasi pandangan, pengetahuan,dan kreativitas dalam mengidentifikasi dan membahas isu-isu relevan dalam kasus yang dianalisisnya. 43 Penulis mengumpulkan informasi yang relevan untuk memahami situasi, khususnya masalahmasalah kunci dalam kasus seperti pemahaman terhadap pendidikan inklusif, instrumen pendidikan inklusif dan praksis pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo. Pada analisis data studi kasus, proposisi digunakan sebagai pijakan untuk mengetahui posisi hasil penelitian terhadap teori. Dengan mengetahui posisi tersebut, dapat diketahui apakah hasil penelitian mendukung, memperbaiki atau bahkan mematahkan teori yang telah ada.44 Studi kasus kerap dituding tidak menghasilkan informasi yang obyektif. Untuk mendukung validitas data, penulis menentukan tema tertentu lalu melakukan observasi yang diikuti dengan wawancara dan studi dokumen. Observasi dan wawancara dilaksanakan secara berulang untuk mendapatkan informasi yang holistik. Identifikasi kebenaran dilakukan dengan cara membandingkan dan menyilangkan pendapat dari orang per orang sehingga menghasilkan data yang spesifik. Analisa data yang diperoleh dari berbagai sumber yang berbeda dilakukan dengan mengelompokkan data (kategorisasi data), membandingkan hasil
42 43

Adi Rianto. op. cit. hal. 159-160. G.L Kreps dan C.L. Lederman dalam Deddy Mulyana. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, Cetakan Keempat, hal. 202. 44 Yin (2003) dalam Hadi Wahyono, op. cit.

28

temuan dan melakukan penarikan kesimpulan. Informasi yang diterima dari ketiga sumber tersebut lalu diolah dan disajikan secara komprehensif.

F. Sistematika Penulisan Skripsi Konstruksi dan Model Pendidikan Inklusif ini terdiri dari empat bab yang diawali dari BAB I yang berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan metode penelitian sebagai landasan operasional penelitian. Kerangka teori juga disebutkan di dalamnya. BAB II akan mendeskripsikan wilayah penelitian, yaitu mencakup konteks sosial budaya kabupaten Sleman, letak MAN Maguwoharjo, profil lembaga pendidikan MAN Maguwoharjo serta profil informan. BAB III dan IV akan menampilkan berbagai data yang ditemukan penulis di lapangan beserta analisisnya. Analisis data dikaitkan dengan konsep yang telah dijelaskan di dalam BAB I demi keajegan penulisan skripsi. Terakhir, BAB V berupa kesimpulan dan catatan kritis akan menjadi penutup tulisan ini.

BAB II

29

KONSEPSI OBJEK PENELITIAN

A. Konteks Geografis dan Sosial MAN Maguwoharjo Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis Kabupaten Sleman terletak diantara 107° 15' 03" dan 107° 29' 30" Bujur Timur, 7° 34' 51" dan 7° 47' 30" Lintang Selatan dengan ketinggian antara 100 – 2.500 meter diatas permukaan air laut. Jarak terjauh Utara-Selatan kira-kira 32 km, Timur-Barat kira-kira 35 km, terdiri dari 17 kecamatan, 86 desa, dan 1.212 dusun. Kabupaten Sleman memiliki luas 57.482 Ha atau 574,82 km2 atau sekitar 18% dari luas Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta dengan jumlah penduduk 895.327 jiwa, terdiri dari 443.471 jiwa lakilaki dan 451.856 jiwa perempuan pada akhir 2004.45 Wilayah Kabupaten Sleman sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah dan sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi D.I.Yogyakarta. Sebagai daerah yang bersebelahan dengan kota pendidikan Yogyakarta, pendidikan di Sleman tidak kalah maju. Pada tahun 2006/2007 tercatat kabupaten Sleman memiliki 499 unit sekolah dasar yang terdiri dari 387 SD negeri dan 112 SD swasta dengan jumlah kelas masing-masing sebanyak 2.576 kelas untuk SD negeri dan 778 kelas untuk SD swasta. Pada jenjang SMP, jumlah sekolah tercatat sebanyak 104 sekolah, yang terdiri 55 SMP negeri dan 49 SMP swasta dengan 649 kelas untuk SMP negeri dan 248 kelas untuk SMP swasta. Untuk jenjang SMA, tersedia sebanyak 50 sekolah dengan 17 SMA negeri dan 33 SMA swasta. Bahkan, berbagai perguruan tinggi yang terkemuka sebenarnya secara administratif terletak
45

Sumber : Badan Pusat Statistik Sleman

30

di wilayah Sleman, diantaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Islam Negeri (IAIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Universitas Atmajaya Yogyakarta, dan STIE YKPN Yogyakarta. Penelitian ini mengangkat permasalahan pendidikan dengan melihat peran sekolah inklusi dalam memberikan akses kepada siswa difabel untuk dapat mengenyam pendidikan dengan mengambil objek di salah satu institusi pendidikan di kabupaten Sleman, tepatnya di sekolah inklusi MAN Maguwoharjo yang terletak di Jl. Maguwoharjo, Tajem, Depok, Sleman, DI Yogyakarta. Di sekolah ini lah para pendiri sekolah inklusi MAN Maguwoharjo mengembangkan sebuah alternatif pendidikan bagi masyarakat di daerah Depok, khususnya yang beragama Islam. Sekolah ini berdiri di lahan yang cukup luas, yaitu 7.350 m² dengan bangunan seluas 1684 m², pekarangan seluas 3.382 m², kebun seluas 1.500 m² dan lapangan olahraga seluas 1.000 m². Sekolah ini berlokasi di pinggir jalan dan berbatasan langsung dengan tanah penduduk di sebelah utara, makam muslim di sebelah barat, sungai dan sawah di sebelah timur serta Jalan Raya Maguwoharjo-Ngemplak di sebelah selatan. Lokasi sekolah terhitung cukup strategis karena dekat dengan fasilitas-fasilitas publik seperti pasar Stan, rumah makan, kuburan muslim serta stadion sepakbola. Situasi sekolah yang terletak di pinggir jalan menciptakan situasi yang kurang tenang bagi proses belajar mengajar di sekolah karena suara bising yang kerap dikeluarkan kendaraan bermotor. B. Profil MAN Maguwoharjo Pendidikan inklusi yang dijalankan di MAN Maguwoharjo sedikit banyak dapat diketahui dari profil sekolah tersebut. Melalui profil ini dapat diketahui gambaran kehidupan dan kondisi sekolah sehingga menjadi basis bagi pendidikan inklusi yang dijalankan dalam

31

pembelajaran sehari-hari. Sejarah sekolah menjelaskan perjalanan MAN Maguwoharjo sejak didirikan hingga menjadi sekolah inklusi yang cukup terkemuka seperti saat ini. Visi Misi dan Kurikulum Pendidikan menjadi basis pengembangan sistem pendidikan yang dibangun oleh sekolah. Struktur Organisasi Sekolah dan Tenaga Pendidik menunjukkan sistem pendukung kegiatan akademik yang dilakukan stake holder sekolah. Keadaan Ruang dan Fasilitas Sekolah menunjukkan kondisi fisik sekolah yang mempengaruhi kelancaran kegiatan belajar mengajar di sekolah. Atribut Siswa menunjukkan syarat identitas yang harus dipatuhi siswa sebagai warga sekolah, sedangkan Biaya Pendidikan menjelaskan banyaknya biaya yang harus dibayarkan orang tua dan pemerintah agar siswa dapat mengakses pendidikan di sekolah ini dan menjadi konsekuensi bagi sebuah sistem pendidikan berbasis inklusifitas. Profil MAN Maguwoharjo menjadi gambaran dasar bagi kegiatan akademis maupun non akademis yang dibangun sekolah. B. 1. Sejarah MAN Maguwoharjo MAN Maguwoharjo adalah madrasah inklusi yaitu madrasah yang menerima siswa berkebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama dengan para siswa umum lainnya.46 Awal pendirian sekolah ini diawali dari kesadaran akan akses terhadap pendidikan yang merupakan hak semua orang, baik mereka yang difabel/berkebutuhan khusus maupun yang nondifabel. Sayangnya, fasilitas pendidikan bagi difabel belum begitu baik pada tahun 1970-an. Minimnya sekolah bagi difabel pada saat itu menjadi suatu kekhawatiran bagi Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis). Padahal, sekolah merupakan sarana yang penting untuk menyiapkan kemandirian difabel.

46

Mukadimah Brosur MAN Maguwoharjo untuk Pameran Pendidikan Inklusi di Sekaten Yogyakarta 17-18 Februari 2009.

32

Berdasar semangat ingin mencukupi kebutuhan pendidikan umat Islam di daerah Depok dan sekitarnya, tokoh masyarakat yang bernama Alm. Bp. Boto Wiarjo (Kadus Denokan, Maguwoharjo), Bapak H. Subandi, BA dan Bapak Syarkowi (Mantan Pimpinan MWC NU Kecamatan Depok, Sleman), Alm. Bp. Solihin (Yaketunis) serta Bapak H. Abdul Fatah (Mantan Pembantu Kepala Bagian Kesra Kelurahan Maguwoharjo) mendirikan

sekolah yang bagi siswa tuna netra. Awal pendirian sekolah ini merupakan keunikan tersendiri yang membedakannya dari sekolah lain. Yaketunis bekerja sama dengan MWC NU kecamatan Depok mendirikan sekolah Pendidikan Guru Agama Luar Biasa (PGALB) bagian A (Tuna Netra) dengan harapan anak–anak tuna netra dapat mengikuti pendidikan sebagaimana mestinya orang-orang sempurna yang fisiknya. PGALB tidak hanya ditujukan bagi siswa tuna netra, siswa nontuna netra juga berhak menuntut ilmu di sekolah ini. Pada perkembangannya, PGALB bagian A mengalami beberapa perubahan. Tahun 1972 PGALB berubah menjadi PGAN (Pendidikan Guru Agama Enam Tahun). Pada tanggal 10 Juli 1978 lembaga pendidikan yang dibangun oleh Yaketunis ini mendapatkan SK tetap bernama PGALB/A dengan SK No.143. 1968 dan dikepalai seorang tuna netra bernama Bapak Supardi Abdushomad, kemudian pada tanggal 16 Maret 1978 berubah status menjadi Sekolah Negeri bernama MAN Maguwoharjo dengan dasar SK No.07/1978. Setelah menjadi MAN, lembaga pendidikan mengalami perubahan, yaitu yang awalnya kelas 1-6 menjadi MTs Maguwoharjo (kelas 1-3) dan MAN Maguwoharjo (kelas 46) dengan jurusan IPA, IPS dan Agama. Kemudian MTs dan MAN dipisah oleh DEPAG DIY dan sekarang MAN dikenal sebagai MAN 5 Maguwoharjo. Saat jurusan IPA dan IPS dihapus karena perubahan kurikulum, MAN Maguwoharjo melakukan penyesuaian dan kemudian membuka jurusan A-1 (jurusan Agama), A-2 (jurusan Ilmu Biologi) dan A-3

33

(jurusan Sosial). Sesuai dengan kurikulum terbaru, saat ini penjurusan di MAN Maguwoharjo terbagi menjadi jurusan IPA dan IPS yang dimulai dari tingkat XI (kelas 2). B. 2. Visi, Misi, dan Tujuan MAN Maguwoharjo Visi, misi, dan tujuan yang dicanangkan MAN Maguwoharjo hingga mengalami perkembangan hingga saat ini adalah : a. Visi MAN Maguwoharjo memiliki visi mendidik siswa agar bertakwa, berilmu, dan beramal untuk membentuk siswa yang islami, cerdas, terampil, berbudi luhur dan mandiri serta berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Sekolah menanamkan ketakwaan harus dimiliki siswa sebelum mereka memilih profesi yang akan ditekuni di masa mendatang karena ketakwaan dipercaya akan menyelamatkan siswa. b. Misi 1. Menciptakan suasana pendidikan madrasah yang islami 2. Meningkatkan kekeluargaan. 3. Meningkatkan sinergi kerja guru, pegawai, siswa, dan komite. 4. Meningkatkan pelayanan stake holder madrasah secara maksimal. 5. Meningkatkan pelayanan masyarakat dengan baik. c. Tujuan 1. Menjadikan madrasah yang berkualitas dalam mengemban tugas pokok lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Sleman, sehingga terselenggaranya pendidikan Islam yang mencetak anak bangsa yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah. kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, keindahan, keamanan, dan

34

2. Mewujudkan lingkungan madrasah yang kondusif, bersih, indah, nyaman dan aman dengan penataan ruang yang harmonis, sehingga menjadi tempat belajar yang berdaya guna dan berhasil guna. 3. Memberikan pelayanan hak belajar yang sama dan adil kepada semua peserta didik sehingga tidak ada pembedaan antara anak normal dan anak berkebutuhan khusus dengan selalu berusaha meningkatkan pemenuhan sarana dan prasarana yang menopang berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencetak sumber daya manusia yang beriman, berakhlaqul karimah, cerdas, terampil, kreatif dan bertanggungjawab dalam pembanguna diri, masyarakat dan negara. B. 3. Struktur Organisasi Sekolah Struktur organisasi sekolah adalah kerangka kerjasama personalia madrasah dalam rangka terlaksananya proses belajar mengajar. Struktur organisasi menggambarkan garis komando yang menunjukkan alur tanggung jawab atas pekerjaan tertentu.

Skema 3 Struktur Organisasi MAN Maguwoharjo

35

Kepala Madrasah
Drs. H .Bukhari Muslim, M.Pd.I

BP3
Drs. H. M. Sularna, M.A

Kepala TU
Sukidi, S.Pd, MM

Urusan Sarana /Prasarana
Dra. Hj. Sriyati J

Urusan Kurikulum
Drs. Aris Fuad

Urusan Pembinaan Kesiswaan Drs. Suprapto R

Urusan Hubungan Kerjasama Masyarakat Drs. H. Abdul Hadi, S.Pd

Koordinator Guru Mapel IPA
Dra. Siwi Istiarni

Koordinator Guru Mapel IPS
Dra. Rr. Istirochah

Koordinator Urusan ekskul/GUDEP
Giyarta, S.Pd

Koordinator BP
Drs. Rubai, M.Pd

Koordinator Agama
Drs. H. Rahmad P

Sumber : Dokumen MAN Maguwoharjo

B. 4. Kurikulum Pendidikan Kurikulum merupakan salah satu perangkat yang harus dimiliki institusi pendidikan dalam melaksanakan tugas mengantarkan anak bangsa menuju kehidupan yang lebih baik, mandiri, terampil, dan berakhlak mulia.47 Saat MAN Maguwoharjo masih berbentuk PGALB Negeri Bagian A, kurikulum sekolah terdiri atas dua bagian, yaitu kurikulum PGAN dan kurikulum yang berkaitan dengan ketunanetraan yang meliputi baca tulis huruf braille, ilmu jiwa khusus tunanetra, metodik tunanetra, bimbingan dan penyuluhan khusus tunanetra, serta rehabilitasi tunanetra. Kurikulum MAN Maguwoharjo difungsikan sebagai kerangka acuan bagi semua stakeholders dalam menyusun perencanaan, melaksanakan kegiatan, serta melakukan evaluasi madrasah baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler48 dan bertujuan

47 48

Sumber : Kerangka Dasar Kurikulum MAN Maguwoharjo Sleman Ibid

36

memastikan semua warga madrasah dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masingmasing dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan tujuan madrasah.49 Perubahan-perubahan kebijakan di bidang pendidikan yang dilakukan di MAN Maguwoharjo bertujuan menyesuaikan tuntutan perkembangan zaman sesuai dengan firman Allah SWT : Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang mau menuntut ilmu (QS. Al Mujadilah :11). Seiring perkembangan pendidikan, kegiatan pembelajaran di MAN Maguwoharjo saat ini menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006, dalam aplikasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini siswa dituntut untuk aktif pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Kurikulum MAN Maguwoharjo Sleman terdiri atas lima kelompok mata pelajaran, yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlaq mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Tabel 1 Struktur Kurikulum MAN Maguwoharjo

49

Ibid

37

Komponen 1. Pendidikan Agama : a. Qur’an Hadits b. Fiqih c. Akidah Akhlak d. SKI 2.Pendidikan Kewarganegaraan 3. Bahasa Indonesia 4. Bahasa Inggris 5. Bahasa Arab 6. Matematika 7. Fisika 8. Kimia 9. Biologi 10. Sejarah 11. Geografi 12. Ekonomi 13. Sosiologi 14. Seni Budaya (seni musik) 15.Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 16. Teknologi Informasi dan Komunikasi Mulok : Bahasa dan Sastra Jawa Pengembangan Diri/BK *) Jumlah

kelas X 1 2 2 2 4 4 3 5 3 2 2 1 2 3 3 1 2 2 1 45

Alokasi Waktu Per Minggu kelas XII kelas XII IPA IPS IPA IPS 2 2 2 4 5 2 7 5 5 4 2 2 2 1 45 2 2 2 4 5 2 4 4 4 6 4 2 2 1 45 1 2 2 2 4 5 2 6 5 5 4 2 2 2 1 45 1 2 2 2 4 5 2 4 4 4 6 4 2 2 1 45

*) Pengembangan Diri di samping masuk ke intrakurikuler 1 jam pelajaran yang dibimbing oleh Guru BK juga dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler (Seni, Olahraga, dan Keterampilan) Sumber : Dokumen MAN Maguwoharjo

Kurikulum sekolah yang diterapkan madrasah inklusi MAN Maguwoharjo menampakkan eksistensi sekolah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam. Sebagai sekolah yang berciri agama Islam, pelajaran Agama di MAN Maguwoharjo memiliki alokasi waktu yang cukup banyak dan terbagi menjadi empat mata pelajaran, yaitu Qur’an Hadits, Fiqih, Akidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Tadarus Al Qur’an juga rutin dilakukan setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Oleh karena itu, sekolah menerapkan kebijakan wajib menguasai huruf hijaiyah bagi siswa sebagai syarat dasar untuk mengikuti rumpun pelajaran Agama Islam. B. 5. Tenaga Pendidik

38

Tenaga pendidik di MAN Maguwoharjo terdiri dari 27 guru dengan latar belakang akademik mayoritas dari IAIN dan IKIP. Selain itu juga terdapat dua orang Guru Pendamping Khusus (GPK) yang bertugas mendampingi siswa berkebutuhan khusus dalam pembelajaran sehari-hari. B. 6. Keadaan Ruang Lingkungan fisik tidak dapat dilepaskan dari segala aktivitas yang berlangsung di sekolah karena menjadi tempat bagi interaksi antara berbagai elemen sekolah. Bangunan di MAN Maguwoharjo terdiri dari beberapa gedung dan menempati lahan yang cukup luas. Halaman kosong di samping dan belakang dimanfaatkan menjadi ruang parkir, sedangkan lapangan yang berada di tengah sekolah dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan upacara bendera setiap hari Senin. Upacara bendera hari Senin diikuti oleh seluruh elemen sekolah, baik siswa, guru, maupun staf sekolah. Upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan sekolah dimanfaatkan sebagai salah satu sarana memberi nasehat kepada siswa, misalnya mengenai urgensi belajar dan tanggung jawab. Jika salah satu siswa sekolah mengikuti kejuaraan dan menang, pada akhir upacara pihak sekolah akan mengumumkan dan memberi penghargaan terhadap siswa tersebut di depan teman-temannya. Hal ini bermaksud untuk memacu siswa lain dalam berprestasi dan mengharumkan nama sekolah. Bangunan MAN Maguwoharjo terdiri dari beberapa bangunan kecil satu lantai yang disatukan lorong outdoor. Ruang kosong yang cukup luas menyebabkan sirkulasi udara yang baik di sekolah namun saat istirahat siswa terkonsentrasi di dalam kelas, di depan kelas, mushola serta kantin. Kantin seringkali menjadi tempat nongkrong siswa saat pelajaran kosong atau setelah pelajaran olahraga selesai. Ruang kelas di MAN Maguwoharjo sama seperti ruang kelas di sekolah formal di Indonesia pada umumnya. Papan tulis dan meja guru di depan, lambang negara, foto presiden

39

dan wakil presiden, majalah dinding mini, beberapa alat kebersihan kelas serta meja dan kursi kayu sejumlah siswa kelas tersebut. Siswa awas duduk di meja-kursi kecil yang digunakan untuk satu orang dengan maksud mengurangi kemungkinan mengobrol, sedangkan siswa tuna netra duduk di meja-kursi berlaci dua bersebelahan dengan seorang siswa awas yang bertugas membacakan tulisan di papan tulis dan buku bagi siswa tuna netra tersebut. Siswa awas yang duduk di sebelah siswa tuna netra adalah petugas piket membaca atau siswa awas yang sukarela membantu temannya. B. 7. Fasilitas Sekolah Fasilitas sekolah berupa sarana dan prasarana dapat memberikan gambaran mengenai keadaan lingkungan fisik dan berbagai fasilitas penunjang kegiatan pendidikan dan pengajaran yang ada di sekolah sehingga menjadi penting untuk diketahui. MAN Maguwoharjo memiliki fasilitas pembelajaran yang mendukung perluasan wawasan siswa, yaitu koran dinding, perpustakaan, laboratorium biologi, laboratorium fisika dan ruang komputer. Koran dinding diperbarui tiap hari. Koleksi perpustakaan berupa buku-buku paket mata pelajaran kelas X-XII baik berupa buku bertulisan latin maupun braille. Perpustakaan juga memiliki buku cerita latin dan braille, Al Quran tulisan arab, Al Quran tulisan braille yang terbagi per juz, buku-buku tafsir serta berbagai macam buku agama Islam. Mushola terletak di bagian belakang dan dipergunakan seluruh warga sekolah untuk beribadat sesuai tuntunan agama Islam. Dua buah kantin yang menjual mie, roti, dan panganan ringan terdapat di sayap kanan dan sayap kiri bagian belakang sekolah. MAN Maguwoharjo belum memiliki ramp standar untuk mempermudah akses siswa difabel di sekolah. Siswa harus menaiki undakan yang cukup tinggi saat memasuki kelas. Untuk mempermudah akses siswa difabel terhadap fasilitas fisik sekolah, sekolah membangun kamar mandi yang diperuntukkan khusus bagi difabel tuna netra dan tuna daksa.

40

Sekolah juga berencana memasang ubin khusus yang berfungsi sebagai petunjuk arah bagi tuna netra. Pemasangan ubin ini merupakan hasil kerja sama sekolah dengan sebuah LSM dari Jerman dalam rangka persiapan dini menghadapi gempa bumi yang sangat mungkin terjadi lagi di Sleman. Untuk mempermudah pembelajaran siswa tuna netra, sekolah melengkapi fasilitas pembelajaran inklusi dengan komputer bagi tuna netra dengan program khusus JAWS (mengeluarkan suara). Sekolah juga berencana menjalin kerjasama antar perpustakaan tuna netra secara on line untuk memperluas akses informasi siswa tuna netra serta program alih tulisan latin menjadi braille dan printer khusus braille. B. 8. Atribut Siswa Siswa MAN Maguwoharjo menggunakan seragam dalam mengikuti pembelajaran sehari-hari, seperti siswa sekolah formal di Indonesia pada umumnya. Seragam standar tingkat menengah atas adalah seragam putih-abu, yakni putih untuk kemeja dan abu-abu untuk rok/celana. Selain menggunakan seragam putih-abu, siswa mengenakan seragam tertentu sesuai dengan kebijakan sekolah. Seragam batik hijau digunakan sebagai perlambang sekolah turut nguri-uri budaya Jawa dengan dasar menghormati identitas budaya Jawa (Yogyakarta) berupa batik, sedangkan warna hijau dipilih karena melambangkan perdamaian dan kesuburan.
Tabel 2 Seragam Siswa MAN Maguwoharjo Hari Senin dan Selasa Rabu dan Kamis Jumat dan Sabtu Seragam kemeja putih, celana/rok panjang putih, kerudung biru laut (putri) kemeja putih, celana/rok panjang abu-abu kemeja batik hijau/baju pramuka (atasan coklat muda, bawahan coklat tua)

Sumber : MAN Maguwoharjo

41

B. 9. Pembiayaan Pendidikan Pembiayaan pendidikan di MAN Maguwoharjo berfungsi sebagai salah satu elemen pendukung kelangsungan proses pendidikan di MAN Maguwoharjo. Dana pendidikan berasal dari orang tua siswa, pemerintah, maupun pihak lain. a. Dana dari orang tua siswa Orang tua siswa memberi dana bagi kelangsungan pendidikan dalam bentuk dana komite (SPP) dalam jumlah tetap yang dibayar tiap bulan. Selain itu terdapat komponen pembiayaan berupa uang pendaftaran, modul/latihan soal, seragam identitas serta pendalaman materi pelajaran bagi siswa kelas XII.
Tabel 3 Biaya Pendidikan yang Ditanggung Orang Tua Siswa Komponen Biaya pendaftaran SPP Seragam Les tambahan Lembar Kerja Siswa Modul UAN Besaran dana (Rp) 25.000 85.000 342.000 450.000 ± 64.000 350.000 Keterangan dibayar satu kali pada saat penerimaan siswa baru dibayar tiap bulan, setiap siswa membayar dalam jumlah sama. 5 stel kelas XII, 6 mata pelajaran UAN tiap kelas, per semester kelas XII semester dua

Sumber : MAN Maguwoharjo

b. Bantuan pemerintah Bantuan pemerintah kepada MAN Maguwoharjo disalurkan melalui Departemen Pendidikan Nasional pusat (Jakarta) direktorat Pendidikan Luar Biasa dalam bentuk block grant, yaitu software JAWS, uang operasional, bantuan rintisan sekolah penyelenggara inklusi serta subsidi e-learning, sedangkan bantuan dari Dinas Sosial berupa bantuan sarana dan prasarana buku pelajaran dan buku cerita braille. Siswa difabel juga mendapatkan

42

beasiswa inklusi dari Departemen Pendidikan Nasional. Bantuan dari pemerintah tidak bersifat tetap namun tergantung kualitas komunikasi antara pihak sekolah dengan dinas. c. Bantuan pihak lain Bantuan pihak lain berasal dari unsur swasta, baik organisasi kedaerahan, sekolah, maupun pihak lain yang tidak mengikat. Bentuk bantuan berupa sarana prasarana pendidikan inklusi. B. 10. Manajerial Inklusi Program pendidikan inklusi masih tercakup dalam konteks program sekolah secara umum namun manajerial pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo terpisah dari manajerial sekolah sejak tahun 2008. Pemisahan manajerial ini atas instruksi dari Direktorat Pendidikan Luar Biasa agar setiap sekolah yang menerapkan metode pendidikan inklusi membentuk susunan manajerial inklusi yang bertugas mengkoordinasikan kegiatankegiatan yang berkaitan dengan pendidikan inklusi. Keleluasaan dan kemandirian dalam membuat suatu kebijakan bagi pendidikan inklusi menjadi hal yang pokok dalam manajerial inklusi karena sebelum manajerial inklusi dibentuk, setiap program atau kebijakan yang menyangkut siswa berkebutuhan khusus dan pendidikan inklusi harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan kepala madrasah. Kemandirian manajerial inklusi dari pihak sekolah antara lain dalam penyaluran dana bantuan inklusi yang langsung dikelola manajemen inklusi tidak melalui pihak sekolah.
kema 4 Struktur Manajemen Inklusi SMAN Maguwoharjo

Kepala madrasah

Manajer inklusi

43
Anggota Sekretaris Bendahara

Sumber : Bapak Abdul Hadi- guru, 17 Februari 2009

C. Sehari Di Sekolah Siswa MAN Maguwoharjo sudah harus masuk kelas pukul 07.00 WIB kecuali hari Senin, pelajaran dimulai pukul 08.00 karena sebelumnya diadakan upacara bendera sejak pukul 07.00 WIB selama kurang lebih tiga puluh menit. Selisih waktu dimanfaatkan siswa untuk membersihkan kelas, membaca buku, maupun mengobrol dengan teman. Sebelum pelajaran pertama dimulai siswa melakukan tadarus Al Qur’an sebanyak satu ruku’ (± 10 menit) terlebih dahulu, kemudian berdoa sebelum belajar. Dua kali waktu istirahat, yaitu pukul 09.40 WIB dan pukul 12.00 selama 15 menit dan 30 menit digunakan siswa untuk makan, sholat Dhuha dan sholat Dhuhur di mushola sekolah. Sekolah menyediakan dua buah kantin, masing-masing di sayap kiri dan sayap kanan sekolah yang memungkinkan siswa memperoleh makanan secara mudah, murah, sehat serta variatif. Siswa kelas XII pulang sekolah pukul 14.20 WIB karena selain memperoleh pelajaran biasa, siswa kelas XII mengikuti les pelajaran sebagai persiapan Ujian Nasional kelulusan setiap hari Senin hingga Kamis. Les pelajaran ini mencakup mata pelajaran yang diujikan dalan Ujian Akhir Nasional, antara lain matematika, bahasa inggris, dan bahasa indonesia. Khusus bagi siswa tuna netra, terdapat penambahan les persiapan UAN setelah pelajaran terakhir selesai hingga pukul setengah lima sore.

Gambar 1. Upacara hari Senin

44

Sumber : Dokumentasi penulis, Februari 2009

D. Profil Informan 1. Bapak Imam, kepala madrasah (2008-Februari 2009). Bapak Imam yang tinggal di Bambanglipuro ini mengaku baru pertama kali memimpin sebuah sekolah dengan metode pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo. Kondisi ini membuat beliau terpacu untuk banyak membaca mengenai metode pendidikan, khususnya pendidikan inklusi. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 2 Februari 2009. 2. Bapak Abdul Hadi, guru. Bapak Abdul Hadi adalah manajer inklusi yang bertanggung jawab atas manajerial inklusi di MAN Maguwoharjo. Sebagai guru, bapak Abdul Hadi mengampu mata pelajaran Pendidikan Seni dan Matematika. Beliau percaya manusia harus menggunakan otak kanan dan kiri secara seimbang. Sewaktu muda beliau aktif di LSM yang bergerak di bidang pertanian pemberdayaan masyarakat. Bapak Abdul Hadi percaya setiap orang, termasuk siswa difabel memiliki kelebihan. Oleh karena itu, beliau tidak ragu mendorong siswa difabel menampilkan bakatnya di luar lingkungan sekolah. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 3 Februari 2009 dan di Yogyakarta tanggal 17 Februari 2009.

45

3. Ibu Mardinah, guru. Ibu Mardinah menjabat sebagai Guru Pembimbing Khusus di MAN Maguwoharjo sejak tahun 2004. Beliau adalah alumni MAN Maguwoharjo saat masih berbentuk PGALB. Ketertarikan beliau terhadap pendidikan membuat beliau terpanggil untuk membantu siswa difabel dalam menuntut ilmu. Berbekal ilmu pedagogi luar biasa dari PGALB, beliau mengabdikan diri di MAN Maguwoharjo sejak tahun 2004. Wawancara dilaksanakan di MAN Maguwoharjo tanggal 6 Februari 2009. 4. Bapak Aris Fuad, guru. Bapak Aris yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris juga memiliki tugas mengurusi kurikulum MAN Maguwoharjo. Beliau mengapresiasi kurikulum 2006 (KTSP) yang menghargai aspirasi sekolah dan memungkinkan siswa mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Bersama dengan guru-guru bahasa inggris di MAN, Bapak Aris membentuk klub bahasa inggris untuk meningkatkan kemampuan siswa berbicara. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 23 Februari 2009. 5. Bapak Marijo, guru. Sebelum MAN Maguwoharjo memiliki GPK tahun 2004, Bapak Marijo yang mengampu pelajaran Sosiologi ini merangkap guru penbimbing khusus. Beliau mampu membaca dan menulis dalam tulisan braille karena pernah mengajar di Sekolah Luar Biasa. Wawancara dilakukan di Yogyakarta tanggal 17 Februari 2009. 6. C, siswa. Siswa kelas XI yang aktif di kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) ini mengaku bersekolah di sekolah inklusi adalah pengalaman berharga baginya dalam menumbuhkan empati terhadap sesama. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 4 Februari 2009. 7. F, siswa. Siswa kelas XII ini mengaku pada awalnya merasa direpotkan dengan keberadaan siswa difabel karena siswa nondifabel harus banyak membantu namun setelah hampir tiga tahun bersekolah bersama mereka, ia mengaku banyak mendapat

46

pelajaran positif dari siswa difabel. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 9 Februari 2009. 8. M, siswa. Siswa kelas XII ini mengaku MAN Maguwoharjo melatihnya untuk selalu siap berdiskusi di kelas. M cukup kritis dalam melihat permasalahan sehari-hari. Ia juga menggugat ketidakadilan yang masih sering dialami orang-orang berkebutuhan khusus. Wawancara dilakukan di MAN Maguwoharjo tanggal 23 Februari 2009. 9. E, Z, Wd, siswa. Ketiga siswa kelas XII ini mengaku bersekolah di MAN Maguwoharjo yang menerapkan metode inklusif merupakan pengalaman baru. Wawancara dilakukan di kediaman siswa tanggal 13 Febuari 2009. 10. Fd, siswa. Siswa kelas XII yang berniat melanjutkan kuliah di Tarbiyah UIN ini tertarik dengan bidang pendidikan karena menurutnya metode pendidikan inklusi yang diterapkan MAN Maguwoharjo meningkatkan kesempatan difabel dalam menuntut ilmu. Wawancara dilakukan di Yogyakarta tanggal 17 Februari 2009 dan 1 Maret 2009. 11. SL, siswa. Siswa kelas XII yang ramah ini telah akrab dengan pendidikan inklusi sejak bersekolah di sebuah SMP di Bantul yang juga menerapkan metode pendidikan inklusi. Wawancara dilakukan di Yogyakarta tanggal 18 Februari 2009. 12. W, siswa (alumni). Alumni MAN Maguwoharjo yang sedang menempuh studi di Pendidikan Agama Islam UIN ini tertarik dengan konsep pendidikan inklusi. Difabilitas baginya adalah keberagaman di dalam masyarakat, sama halnya dengan perbedaan etnis atau agama. Wawancara dilakukan di UIN Sunan Kalijaga tanggal 26 Februari 2009. 13. Bapak N dan Ibu A-wali. Suami istri yang sudah bertahun-tahun hidup bersama dengan siswa difabel MAN Maguwoharjo ini memandang siswa berkebutuhan khusus sama seperti siswa lain yang tidak perlu diistimewakan. Wawancara dilakukan di kediaman beliau di daerah Maguwoharjo tanggal 5 Maret 2009.

47

BAB III KONSTRUKSI PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Konsep Pendidikan Inklusif A. 1. Pendidikan dan Pembebasan Pembacaan pendidikan dan sekolah dalam karya ini sepenuhnya memakai dasar pemikiran Paulo Freire dan multikulturalisme. Pertemuan konsep pendidikan Freire dan multikulturalisme bertemu dalam tataran proses, fungsi dan aktivitas institusional pendidikan.

48

Paulo Freire bermaksud melakukan penyadaran kepada masyarakat melalui pendidikan pembebasan yang terintegrasi dengan realita dunia. Pendidikan pembebasan bertujuan menghilangkan kubu penindas-tertindas namun bukan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi penindas melainkan menghapus dominasi yang terjadi di masyaakat. Tidak adanya dominasi akan menyebabkan masyarakat melihat golongan lain sebagai golongan yang sejajar dengan mereka. Perbedaan yang terjadi di dalam masyarakat tidak lagi dianggap sebagai konflik namun realita keberagaman. Idealita sekolah adalah tempat yang nyaman bagi anak untuk mempersiapkan masa depannya. Pedagogi (pendidikan) berasal dari bahasa Yunani “pedagogia” dari akar kata “paedos” yang berarti anak dan “agoge” yang berarti saya membimbing atau memimpin. Seorang pedagog (guru) berarti seseorang yang tugasnya membimbing anak-anak dalam pertumbuhannya ke arah kemandirian dan sikap bertanggung jawab.50 Pendidikan harus mendewasakan siswa dan membantu mereka agar mampu menghadapi realita kehidupan saat ini dan di masa depan. Pendidikan di Indonesia merupakan media yang strategis untuk mewujudkan salah satu cita-cita nasional yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara teoritis pola pendidikan di Indonesia sangat ideal dengan landasan budaya, Pancasila dan UUD 1945 namun pada aplikasinya, pendidikan di Indonesia masih jauh dari idealita mencerdaskan karena belum mengakar pada akar kebudayaan bangsa dan bersifat otoriter. Akibatnya, siswa terisolasi dari lingkungan sosial kulturalnya. Padahal, sekolah sesungguhnya bukan hanya merupakan tempat untuk memperoleh informasi semata melainkan suatu ruang interaksi bagi guru dan siswa untuk sama-sama belajar serta samasama mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya dan diri masing-masing:
50

Choirul Mahfud. 2008. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cetakan Kedua, Edisi Revisi, hal. 32.

49

Dulu waktu di asrama semua sama, tuna netra. Mau ngapain-ngapain, kanca dhewe, sudah tahu. Sekarang di sekolah ada yang tuna netra, ada yang awas. Kita harus tebal kupingnya. Terus pas di SLB lebih kondusif lingkungan pembelajarannya, lebih tenang. Kalau disini anak-anak suka ramai, suka bising motor war-wer juga. Butuh konsentrasi tinggi tapi enggak apa-apa, lama-lama biasa. (Wd-siswa, 13 Februari 2009) Paulo Freire beranggapan bahwa pendidikan merupakan ikhtiar untuk mengembalikan fungsi pendidikan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketertindasan yang dialami oleh masyarakat, baik dari soal kebodohan sampai ketertinggalan.51 Pendidikan seharusnya mampu menyadarkan bahwa pemaksaan dan penindasan tidak hanya mengenai faktor fisik namun juga merasuk hingga kesadaran manusia. Pendidikan seringkali hanya menekankan faktor otak dan kepandaian sehingga tidak jarang siswa pandai namun emosinya tidak berkembang. Diabaikannya faktor pendidikan selain faktor kognitif secara tidak langsung menghambat pembentukan manusia menjadi manusia. Menurut Freire, pembebasan dan pemanusiaan manusia hanya bisa dilakukan dalam artian yang sesungguhnya jika seseorang memang benar-benar telah menyadari realitas dirinya52 bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya sekitarnya. Multikulturalisme di dalam pendidikan ditunjukkan dalam persamaan hak dan kewajiban setiap siswa dalam mengikuti pembelajaran tanpa mempertimbangkan latar belakang agama, ekonomi, status sosial, kondisi fisik, dan sebagainya. Pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis dan bertanggungjawab. Untuk mencapai tujuan itu, setiap siswa harus dibentuk menjadi individu yang mampu menghargai perbedaan dan
51

Paulo Freire (1976, 214) dalam Firdaus M. Yunus. 2005. Pendidikan Berbasis Realitas Sosial : Paulo Freire dan Y.B. Mangunwijaya. Yogyakarta : Logung Pustaka, Cetakan Kedua, hal viii. 52 Pengantar terbitan Indonesia, Paulo Freire. 1999. Politik Pendidikan : Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan. Yogyakarta : ReäD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Cetakan Pertama, hal. xvii.

50

berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal siswa dipisahkan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus.

A. 2. Ideologi Inklusi Ideologi menjadi batu pijakan dalam melaksanakan sebuah perubahan dalam masyarakat.53 Ideologi mengandung keinginan untuk mengubah keadaan yang dirasa kurang baik. MAN Maguwoharjo memiliki tujuan yang idealistis, yaitu menciptakan lembaga pendidikan yang mampu mewadahi aspirasi siswa difabel, khususnya tuna netra. Proses pendidikan yang berlangsung di MAN Maguwoharjo seperti formulasi pendidikan Paulo Freire yang bermuara pada usaha memanusiakan manusia sebab di dalam proses pendidikan inklusif tersebut terdapat kekuatan penggugah atau penyadar dan pembebas manusia, yaitu memerdekakan anak untuk berpikir kritis dan mengenal realita dunia. Pendidikan formal yang masih minim dan kurang memihak pada orang berkebutuhan khusus menjadi alasan tersendiri bagi pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah ini. Ideologi pendidikan yang dimiliki pendiri MAN Maguwoharjo hingga kini masih terasa dalam kehidupan sosial sekolah. Sekolah Inklusi MAN Maguwoharjo dirancang agar pendidikan yang diselenggarakan dapat dijangkau oleh semua siswa, baik yang difabel maupun nondifabel. Sekolah memandang siswa nondifabel dan difabel dalam kedudukan yang sejajar: Sekolah inklusi beda dengan sekolah luar biasa yang khusus untuk difabel. Disini malah semua siswa dianggap sama. Yang namanya inklusi itu sama, bukan khusus untuk difabel. (Bp. Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Sekolah memperlakukan seluruh siswa secara sama dalam hak dan kewajiban namun tetap memberi pelayanan khusus bagi siswa tn. Misalnya, sekolah memfasilitasi siswa tn
53

Hendra Lesmana Putra. Thesis. 2009. Konsep Pendidikan Alternatif di Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah (Studi Kasus tentang Sekolah Alternatif Qaryah Tayyibah Salatiga, Jawa Tengah). Yogyakarta : Pasca Sarjana Sosiologi UGM

51

dengan guru pembimbing khusus dan program pengayaan intensif. Fasilitas yang diperuntukkan khusus bagi siswa difabel bukan berarti mengistimewakan siswa difabel namun membantu siswa dalam usaha mengakses ilmu pengetahuan. Sekolah memiliki pemikiran bahwa siswa berkebutuhan khusus seperti tuna netra maupun tuna daksa adalah siswa yang normal dalam segi intelegensi sehingga tidak boleh dibedakan dari siswa lain. Siswa difabel tidak memiliki perbedaan dengan siswa nondifabel kecuali dalam kemampuan fisik. Siswa difabel sama seperti siswa lain yang bisa pintar, mencontek saat ulangan, bahkan merasakan jatuh cinta. Sekolah percaya siswa difabel dan nondifabel memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk meraih prestasi di bidang akademik dan nonakademik di MAN Maguwoharjo: Siswa difabel ada yang juara satu paralel, juara olahraga, bahkan sampai ikut PON. Kalau ada yang bilang siswa tuna netra pasti tertinggal, itu salah. Tapi kalau ada yang bilang tuna netra pasti pintar-pintar, itu juga salah. Ya sama saja. Ada yang p intar, ada yang biasa saja. Tergantung orangnya. (Bp. Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Pendidikan inklusif didasarkan pada gagasan keadilan sosial dan persamaan hak dalam pendidikan. Terlebih MAN Maguwoharjo bernafaskan agama Islam yang mengajarkan manusia tidak boleh membeda-bedakan etnik, ras, dan lain sebagainya karena semua manusia sama, yang membedakannya adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Keragaman kemampuan fisik bukanlah alasan untuk memarginalkan kaum difabel di sekolah-sekolah khusus: Pendidikan inklusi positif banget ya mbak. Jadi tuna netra di dalam hatinya merasa sama. Jadi enggak ada diskriminasi. Coba, mbak sendiri kalau ada kekurangan terus dipisahkan, rasanya apa, kan ada perbedaan. (C-siswa, 4 Februari 2009) A.3. Mengapa Pendidikan Inklusif? Kenapa harus memalingkan muka Kenapa harus berprasangka Kenapa harus membenci?

52

Apakah begitu buruk Apakah kau merasa yang paling hebat Bukankah kita sama, dengan harga yang sama Bukankah perbedaan itu diciptakan untuk melengkapi Bagaimana bisa kau putuskan membenci Jika kau tak pernah mengenal atau coba untuk Singgah... (Singgah oleh Dwi Ariyani)54 Tidak jarang kita menemukan pandangan negatif mengenai difabel dan difabilitas di dalam masyarakat. Masih terdapat sebagian orang yang menganggap difabilitas sebagai penyakit, beban, kekurangan, bahkan sebuah kutukan. Penggantian sebutan difabel (different ability) dari disabel dan penyandang cacat belum sepenuhnya mengubah perspektif difabel sebagai bagian dari masyarakat. Marginalisasi difabel disebabkan belum banyak masyarakat yang hidup berdampingan dan mengenal kehidupan difabel. Masyarakat belum memahami difability secara mendalam dan memiliki stigma tersendiri terhadap difabel: Ketidakmampuan fisik dan pengaruh sosial budaya sama-sama berpengaruh dalam membuat minder tuna netra tapi lebih banyak sosial budayanya. Ibaratnya masyarakat bilang,”Kowe ki tuna netra kudune ngene”. Menurut saya itu karena mereka belum tahu saja. (W- alumni, 27 Februari 2009) Tak kenal maka tak sayang. Masyarakat seringkali melakukan prejudice terhadap kemampuan difabel terkait dengan keterbatasan indera yang dimiliki. Padahal, difabel sebagai keberagaman di dalam masyarakat sebenarnya memiliki potensi yang sama dengan elemen masyarakat lain. Difabel memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan pekerjaan tertentu sesuai kondisi fisiknya. Prejudice masyarakat seringkali tampak dari sikap meremehkan potensi difabel : Saya enggak bangga kalau dibilang pintar. Bukan gaya tapi menurut saya itu biasa saja. Kalau ada orang bilang, ”Jebul tuna netra yo isa pinter yo”, berarti dia

54

Yuyun, dkk. 2006. Ojo Dumeh : Antologi Puisi Difabilitas. Solo : Padepokan KoSaKaTa, Cetakan Pertama, hal. 17.

53

menganggap tuna netra enggak layak pintar. Padahal sebenarnya kami sama saja kayak yang lainnya. (W- alumni, 26 Februari 2009) Keberagaman di sekolah sebenarnya tidak terbatas pada keberagaman suku, agama maupun etnis namun juga kemampuan intelegensia (IQ) dan kondisi fisik siswa. Sekolah adalah miniatur kehidupan dalam masyarakat55, yaitu simulasi masyarakat umum yang majemuk. Sekolah harus mampu menyiapkan siswa untuk memasuki kehidupan bermasyarakat dengan mengarahkan siswa untuk memiliki karakter yang bisa menghargai dan menghormati diri sendiri dan orang lain serta mampu hidup damai dengan diri sendiri dan orang lain. Salah satu model pendidikan yang dapat menjadi sebuah alternatif dimana seluruh peserta didik merasa nyaman adalah pendidikan yang mampu menanamkan penghormatan terhadap sesama manusia, menghargai setiap manusia dengan identitasnya masing-masing. Di sekolah yang menerapkan metode pendidikan inklusif siswa dapat belajar mengenai keberbedaan dan keberagaman dari teman-temannya baik melalui sikap, perilaku, ide serta karya yang mereka buat.

B. Keberagaman di MAN Maguwoharjo B. 1. Seleksi Guru dan Siswa Tidak terdapat seleksi khusus bagi guru yang mengajar di MAN Maguwoharjo. Seleksi guru bersifat umum melalui ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang dilaksanakan bersama-sama dengan departemen pemerintah lain. Namun secara tidak langsung guru yang mengajar di MAN harus beragama Islam karena sifat sekolah yang bernafaskan Islam (madrasah aliyah).
55

Anita Lie. 2007. Wawasan Multikultural dalam Pendidikan Karakter. Basis No. 07-08 tahun ke-56, JuliAgustus 2007.

54

Seleksi bagi calon murid dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan dengan seleksi sekolah lain. Bentuk seleksi antara lain tes wawancara, tes baca Al Qur’an, hafalan Hadits, dan tes tertulis. Siswa tuna netra tidak dibebani tes yang berbeda dari siswa lain, bahkan siswa tuna netra tidak mengikuti ujian tertulis terkait dengan kondisi fisik mereka. Sekolah belum pernah menolak calon siswa difabel karena selain menjunjung semangat inklusif, difabel telah banyak berjasa dalam pendirian sekolah. Sekolah tidak menjadikan NEM (Nilai Ebtanas Murni) sebagai patokan dalam penerimaan siswa baru, namun siswa difabel yang mendaftar di MAN Maguwoharjo memiliki NEM yang cukup, yaitu rata-rata per mata pelajaran mendapat nilai tujuh hingga delapan. Selama ini orang-orang tahunya pendidikan inklusi itu pendidikan yang mencampur siswa difabel dengan anak normal padahal kalau di sekolah ada anak yang hitam, putih, pintar, kurang, itu sudah inklusif. (Bp. Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Tidak semua calon siswa yang mendaftar pasti diterima. Sekolah memiliki syarat moral tidak tertulis bagi calon siswa, baik putra maupun putri untuk menjaga proses pembelajaran di sekolah tetap kondusif: Waktu seleksi kami perhatikan, kalau yang LMD –londo mung ndase-, tindikan, mulutnya hitam ngrokokan, apalagi matanya keliatan kalau sering mabuk, guru-guru sudah hafal sama anak begitu. Tidak akan kami terima walaupun pintar. Kami tidak mau anak-anak lain ketularan. (Bp. Imam-kepala madrasah, 2 Februari 2009)

B. 2. Komposisi Guru dan Siswa Guru di MAN Maguwoharjo berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, antara lain IKIP, IAIN dan perguruan tinggi lain. Guru yang akan mengajar di MAN Maguwoharjo tidak harus menguasai ilmu pendidikan luar biasa, bahkan tidak sedikit yang tidak mengetahui sistem pendidikan inklusi sebelum mengajar di MAN Maguwoharjo. Tidak

55

adanya pembatasan kriteria tertentu terhadap calon guru yang akan mengajar di MAN Maguwoharjo membuat setiap orang dari latar belakang pendidikan apa pun berhak untuk menjadi guru di MAN Maguwoharjo. Siswa di MAN Maguwoharjo berasal dari SMP dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) di daerah Tajem maupun di luar kota. Sebagian siswa tinggal di dekat sekolah, baik rumah orang tua maupun kos. Siswa tahun ajaran 2008/2009 terdiri dari 253 siswa, masing-masing 25 siswa laki-laki kelas X, 42 siswa perempuan kelas X, 45 siswa laki-laki kelas XI, 47 siswa perempuan kelas XI, 36 siswa laki-laki kelas XII dan 58 siswa perempuan kelas XII. Di kelas X terdapat 1 orang difabel tuna daksa, di kelas XI terdapat 1 orang yang memiliki kepercayaan diri rendah, di kelas XII terdapat 1 orang tuna daksa dan 6 orang tuna netra. 9 siswa difabel tersebut terdiri dari 8 laki-laki dan 1 perempuan. Selama menjadi sekolah inklusi, jenis disability siswa yang pernah menimba ilmu di MAN Maguwoharjo adalah tipe A (tuna netra), tipe D (tuna daksa), serta siswa yang memiliki kepercayaan diri sangat rendah. Sekolah tidak membatasi disability tipe tertentu saja yang boleh mengikuti pembelajaran di MAN tetapi belum pernah ada siswa difabel jenis tuna grahita, tuna rungu atau tuna wicara yang mendaftar di sekolah tersebut. Namun sekolah mengaku belum memiliki kapasitas dalam membina siswa berkebutuhan khusus dari disability tipe tersebut. Hal ini disebabkan tiap tipe disability membutuhkan metode pengajaran khusus yang belum dikuasai sekolah. Misalnya, tuna grahita perlu mendapatkan perlakuan khusus karena tingkat IQ di bawah standar, berbeda dengan disability tipe lain yang tetap memiliki intelegensi normal.

56

BAB IV PRAKSIS PENDIDIKAN INKLUSIF

A. Instrumen Pendidikan A. 1. Rancangan Kurikulum : Pengembangan KTSP Pendidikan yang ideal akan ditujukan untuk menguntungkan pihak yang paling berperan di kegiatan belajar mengajar, yaitu siswa. Pendidikan harus terlepas dari kepentingan politik yang meminggirkan kepentingan siswa untuk memanusiakan dirinya. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya diciptakan, dilaksanakan dan ditujukan bagi kepentingan siswa. Guru dan siswa adalah dua elemen pendidikan yang berhadapan langsung dengan proses belajar dan mengajar sehingga mereka berhak untuk menentukan materi yang perlu dipelajari. Penghargaan atas aspirasi guru dan siswa di MAN Maguwoharjo ditunjukkan antara lain dalam penyusunan kurikulum yang melibatkan berbagai stakeholders sekolah, antara lain guru dan pengurus OSIS Naba Kharisma MAN Maguwoharjo sebagai perwakilan pihak siswa.

57

Kurikulum MAN Maguwoharjo mengadopsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kebijakan pemerintah untuk menciptakan kurikulum yang menghargai lokalitas dan aspirasi sekolah. Di dalam pelaksanaan KTSP, guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Kurikulum yang diadopsi sekolah bersifat desentralisasi sehingga sekolah memiliki otonomi untuk menentukan pelajaran yang dibutuhkan sekolah tanpa terlepas dari standar nasional yang ditetapkan pemerintah. Pengembangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian menjadi wewenang satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.56 Kurikulum baru yang disusun MAN Maguwoharjo secara substansial berbeda dengan kurikulum terdahulu (kurikulum 1984, kurikulum 1994, KBK). Kurikulum MAN Maguwoharjo yang baru mengkondisikan siswa untuk mampu mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, misalnya di dalam pelajaran bahasa inggris siswa tidak hanya ditekankan dalam kemampuan grammar namun guru juga mendorong kemampuan berbicara siswa.57 Walaupun kurikulum yang diterapkan di MAN Maguwoharjo secara garis besar sama seperti kurikulum yang diterapkan di sekolah umum namun dalam aplikasi pembelajaran terdapat penyesuaian-penyesuaian terkait kondisi siswa. Praktik pembelajaran dilaksanakan secara fleksibel agar tidak membebani siswa. Misalnya, tidak ada paksaan terhadap siswa difabel baik tuna netra maupun tuna daksa jika tidak mampu mengikuti praktik pelajaran tertentu:
56

Tiar. 2008. Tentang Kurikulum Indonesia. http://dedidwitagama.wordpress.com/2008/03/24/ tentangkurikulum-indonesia/, diakses tanggal 24 Februari 2009. 57 Substansi materi pelajaran kurikulum 1994 dan sebelumnya berbeda dengan KBK dan KTSP. Kemampuan siswa dalam mengaplikasikan ilmu menjadi poin penting dalam KBK dan KTSP. Untuk meningkatkan kemampuan siswa berbicara bahasa inggris, guru-guru bahasa inggris membentuk klub bahasa inggris sebagai salah satu jenis ekstra kurikuler.

58

Tidak ada konsekuensi nilai kalau siswa tn tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. Siswa tidak harus mengganti nilai praktik dengan nilai teori, kecuali guru yang meminta. Tergantung kebijakan masing-masing guru. (Bp. Abdul Hadi-guru, 4 Februari 2009) Mengaitkan kurikulum dengan realitas sosial adalah strategi MAN Maguwoharjo untuk menciptakan model pendidikan yang berorientasi kemanusiaan. KTSP yang diwacanakan mendukung keberagaman seyogyanya memfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif monokultural, penuh prasangka dan diskriminasi menjadi perspektif multikulturalis yang menghargai perbedaan, toleran dan inklusif. A. 2. Metode Pembelajaran yang Digunakan di Kelas Proses belajar mengajar dapat dilihat dalam metode yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Metode mengajar dapat dilakukan dengan ceramah, diskusi, tanya jawab maupun presentasi yang melibatkan pihak guru dan siswa maupun salah satu pihak saja. Dalam diskusi dan presentasi, terjadi tukar pendapat antar peserta yang mengekspresikan kebebasan berfikir seseorang. Metode ini juga membuka peluang siswa untuk berfikir kritis dan kreatif dalam usaha mencari ilmu. Diskusi merupakan sarana yang tepat untuk memupuk nilai demokrasi di MAN Maguwoharjo. Di dalam diskusi, siswa difabel (di sekolah disebut ‘tn’) dan nondifabel (diistilahkan ‘awas’) memiliki hak yang sama dalam berpendapat. Pencarian kebenaran melalui diskusi dilakukan dengan cara yang menghargai setiap individu, bukannya pemaksaan kehendak absolut. Guru tidak selalu ‘menang’, siswa juga tidak selalu ‘kalah’. ‘Menang’ dan ‘kalah’ dalam diskusi kelas tergantung dari tingkat pemahaman terhadap suatu masalah dan kekuatan argumentasi kedua belah pihak. Pengetahuan hanya lahir melalui usaha penemuan dan penemuan ulang, melalui pencarian manusia yang gelisah, tidak sabar, terus menerus dan penuh harapan di dunia,

59

dengan dunia dan bersama orang lain.58 Di dalam metode pembelajaran dialogis, guru bukan sumber belajar yang dominan. Budaya diskusi di kelas membuat guru dan siswa terpacu untuk mencari sumber pembelajaran selain buku paket, misalnya e-book atau mencari informasi dengan media internet. Proses belajar tidak berjalan satu arah sehingga anak tidak pasif dan menyerap materi pelajaran. Di dalam proses pendidikan satu arah, materi pelajaran (termasuk nilai-nilai) tidak akan terinternalisasi. Bahkan fenomena yang nampak adalah makin tercerabutnya anak dari nilai-nilai kemanusiaannya.59 Partisipasi siswa secara aktif di dalam kelas menunjukkan hubungan yang dialogis dan tidak otoriter. Guru tidak menjadi sosok menyeramkan yang bercerita di kelas namun menjadi kawan yang memfasilitasi siswa dalam mengembangkan pemikiran kritisnya. Partisipasi siswa di dalam kelas tidak tumbuh secara kebetulan namun dibudayakan oleh guru sejak awal pembelajaran (kelas X). Tidak jarang siswa pada tahun pertama (kelas X) masih pasif karena di SMP/MTs mereka terbiasa dengan metode pembelajaran satu arah. Untuk merangsang minat siswa berpartisipasi, guru menerapkan reward bagi siswa yang aktif : Untuk aktif ya diberikan nilai lah. Siapa yang mengeluarkan pendapat apapun, minimal bertanya kita akan berikan nilai. Kira-kira kapan siswa siap untuk berdiskusi tanpa imbalan? Kelas dua kira-kira baru mulai. Kelas satu belum, masih perlu dibimbing. (Bp. Aris-guru, 22 Februari 2009) Untuk meningkatkan kemampuan siswa, guru tidak hanya membekali teori mengenai materi pelajaran namun juga menekankan praktik agar siswa mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Setiap siswa, termasuk siswa difabel, berhak dan wajib berlatih untuk mengaplikasikan ilmu yang diberi guru. Misalnya, di pelajaran Teknologi Informasi dan

58 59

Paulo Freire. 2008. Op. Cit., hal. 52. Ign. Gatut Saksono. 2008. Pendidikan yang Memerdekakan Siswa. Yogyakarta : Rumah Belajar Yabinkas, Cetakan Pertama, hal. 82.

60

Komputer siswa tuna netra wajib melakukan praktik komputer dengan bantuan program JAWS60 bersama-sama dengan teman-teman sekelasnya. Guru harus menjamin setiap siswa di kelas mendapatkan ilmu secara sama. Terkait kondisi fisik difabel khususnya tuna netra, guru mengembangkan metode pengajaran di kelas dengan alat peraga untuk memeragakan konsep-konsep visual yang tidak dapat diakses siswa tuna netra. Misalnya, untuk menerangkan konsep sinus di pelajaran Matematika guru menggunakan peraga segitiga. Metode peragaan ini mempermudah siswa mengilustrasikan benda dan mampu memahami konsep yang diberikan guru walaupun tidak semua konsep sains dapat diperagakan secara tepat. Guru tidak hanya mengenalkan konsep-konsep teori kepada siswa namun juga melatih siswa mampu mengaplikasikan teori di dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya ilmu sosial. Misalnya, saat pelajaran Sosiologi bab Interaksi Sosial, guru menugaskan siswa untuk berinteraksi dengan minimal satu orang warga Tajem. Hal ini bertujuan mengenalkan siswa dengan kehidupan sosial masyarakat lokal Tajem dan menghilangkan sekat antara sekolah dengan masyarakat. Outing kelas juga bermanfaat untuk menanamkan konsep ilmu secara lebih mendalam kepada para siswa.

A. 3. Ekstrakurikuler dan Keterampilan Praksis Untuk mengimbangi kegiatan belajar mengajar inti di kelas (intrakurikuler), MAN Maguwoharjo mengadakan kegiatan ekstrakurikuler pilihan wajib bagi siswa kelas X dan XI. Kegiatan ekstrakurikuler di MAN Maguwoharjo terdiri dari Pramuka, olahraga (tae kwondo, tenis meja, voli), tata boga, baca tulis Al Qur’an, dan seni qosidah yang diadakan tiap hari mulai pukul 15.00 s.d. 16.00 WIB. Kegiatan ekstrakurikuler diadakan dengan maksud mewadahi siswa dalam mengekspresikan dirinya.
60

Software JAWS dapat membaca dan mengeluarkan suara seperti tulisan yang ditunjuk mouse di layar komputer sehingga siswa tunanetra dapat mengoperasikan komputer seperti siswa lain.

61

Keterampilan yang diajarkan sekolah melalui ekstrakurikuler adalah keterampilan yang dinilai strategis dari segi ekonomi. Ekstrakurikuler olahraga mencakup olahraga populer yang banyak digemari masyarakat dan menjanjikan untuk dijadikan mata

pencaharian/profesi. Ekstrakurikuler tata boga mengajarkan keterampilan praksis memasak masakan sehari-hari dan masakan komersial. Tidak ada pembedaan hak siswa di dalam mengakses ekstrakurikuler. Siswa tuna netra pun berhak mengikuti ekstrakurikuler tata boga atau seni musik, tergantung dari minat dan bakatnya. Pemilihan jenis ekstrakurikuler yang mengajarkan keterampilan praksis merupakan kebijakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa di dunia kerja karena mayoritas lulusan MAN Maguwoharjo terjun ke dunia kerja setelah menyelesaikan studi. Sekolah menilai keahlian praksis yang dimiliki siswa akan membuat siswa memiliki nilai tambah daripada sekedar lulusan sekolah menengah dan menciptakan lulusan yang berjiwa entrepeneur dan jobmaker, bukan sekedar jobseeker.

A. 4. Evaluasi Pembelajaran Evaluasi yang dilakukan saat sekolah masih berbentuk PGALB bagian A adalah ujian teori dan praktik. Saat ini evaluasi di MAN Maguwoharjo dilaksanakan dalam berbagai bentuk ujian oleh pendidik (guru), sekolah dan pemerintah. Evaluasi oleh guru meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, pemberian tugas serta pengamatan sikap, perilaku dan budi pekerti. Ulangan harian bagi siswa tuna netra dilaksanakan dengan cara soal dibacakan lalu siswa menjawab dalam tulisan braille sedangkan tugas yang diberikan kepada siswa (difabel dan nondifabel) antara lain berwujud pekerjaan rumah, latihan soal (LKS), pembuatan portofolio, dan pembuatan

62

artikel bagi siswa jurusan IPA. Evaluasi dan pemberian tugas diberikan kepada siswa difabel dan nondifabel dalam bentuk dan waktu yang sama: Kalau ada PR yang harus dikerjakan cepat kita juga harus bikin mbak, sama kayak teman lain. Kalau kepepetnya enggak garap, kita alasan sama guru, enggak ada yang bacain. Guru ngerti koq. Tapi ya enggak dibiasain kayak gitu. (Wd-siswa, 13 Februari 2009) Persamaan hak dan kewajiban siswa didasari ideologi pendidikan inklusif yang dianut MAN Maguwoharjo, yaitu persamaan kemampuan siswa difabel dan nondifabel dalam segi intelegensia. Tidak boleh ada pembedaan hak dan kewajiban antara siswa difabel dan nondifabel namun jika siswa difabel memerlukan pelayanan khusus terkait kondisi fisiknya, sekolah harus melayani. Evaluasi yang dilakukan oleh sekolah dilakukan dalam bentuk uji kompetensi madrasah, misalnya ujian tulis dan praktik pada rumpun pelajaran Agama Islam (Akidah Akhlak, Fiqih, Al Qur’an Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam). Sedangkan penilaian oleh pemerintah dilaksanakan dalam bentuk ujian nasional mata pelajaran tertentu dari kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.61 Ujian nasional yang mengacu pada Kurikulum Nasional dilaksanakan dalam bentuk Ujian Akhir Nasional (UAN). Dalam pelaksanaan ujian, siswa tunanetra membaca soal UAN dalam tulisan braille, bukan dibacakan oleh guru. Penambahan waktu 20 menit dari waktu ujian yang berdurasi 120 menit belum banyak membantu siswa tuna netra dalam pelaksanaan UAN karena tulisan braille berbeda dari tulisan latin yang dapat dibaca dengan cepat. Evaluasi tingkat nasional (UAN) bukan hal yang mudah bagi siswa tuna netra karena mereka harus menghafal banyak materi tanpa bisa membaca buku paket seperti teman-teman awas. Terlebih tahun ini syarat kelulusan adalah memiliki nilai minimal 5,5. Ujian tertulis juga terkadang memiliki soal berupa gambar, bagan atau tabel yang menambah kerepotan
61

Kerangka Dasar Kurikulum MAN Maguwoharjo Sleman

63

siswa tuna netra karena harus mengilustrasikan terlebih dahulu. Namun, siswa tuna netra mengaku lebih menyukai ujian tertulis dibanding lisan karena tidak akan menunjukkan kegugupan mereka di depan guru penguji. Evaluasi pendidikan di MAN Maguwoharjo bersifat holistik. Mengacu KTSP, penilaian hasil belajar/evaluasi di setiap mata pelajaran dan muatan lokal di MAN Maguwoharjo meliputi ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Siswa diharapkan tidak hanya mampu memahami materi pelajaran namun juga mampu mengaplikasikan ilmu secara praksis di kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa harus terampil berbicara bahasa Inggris, tidak hanya memahami grammar saja.

B. Fasilitasi Guru Pembimbing Khusus Guru merupakan syarat utama pelaksanaan kegiatan pendidikan di MAN Maguwoharjo yang harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan bagi seluruh siswa (education for all). Tidak mudah mengambil peran sebagai subjek dalam sistem pendidikan nasional yang sentralistis dan birokratis namun guru di MAN Maguwoharjo mencoba untuk menciptakan iklim demokrasi dengan metode pembelajaran diskusi kelas, kecuali bagi siswa kelas XII saat semester dua karena pembelajaran di kelas lebih difokuskan pada persiapan UAN (membahas soal). Tenaga pengajar di MAN Maguwoharjo terdiri dari 27 guru reguler dan 2 guru pendamping khusus (GPK), yaitu Bp. Haminarto dari SLB Wiyata Dharma 2 Tempel dan Ibu Dra. Marginah dari SLB Yapenas Condong Catur. Sekolah inklusi ini terhitung cukup memfasilitasi siswa difabel karena tidak sedikit sekolah inklusi yang belum memiliki special teacher untuk mendampingi siswanya. Adapun jadwal pendampingan siswa difabel oleh GPK di sekolah adalah hari Rabu, Kamis dan Jumat oleh Ibu Mardinah serta hari Kamis oleh

64

bapak Haminarto. GPK melaksanakan pendampingan di sekolah pada saat istirahat, pulang sekolah atau sore hari, tergantung kesiapan siswa. GPK berperan penting sebagai mediator antara siswa dengan guru reguler. Pada aplikasi pembelajaran sehari-hari siswa tuna netra menulis dalam tulisan braille, termasuk dalam ulangan. GPK berperan sebagai translator yang menerjemahkan tulisan braille ke dalam tulisan latin untuk kemudian diperiksa guru reguler. Hal ini disebabkan tidak banyak guru reguler yang menguasai tulisan braille. GPK di MAN memiliki tugas mendampingi siswa difabel, misalnya membantu jika mereka mengalami kesulitan atau belum memahami substansi pelajaran dengan cara merekam catatan/materi pelajaran untuk didengarkan siswa di rumah. GPK juga mendatangi rumah siswa untuk memberi memberi penjelasan mengenai suatu materi pelajaran yang telah diberi guru mata pelajaran (mengulang materi) setiap hari Sabtu sore atau menyesuaikan kebutuhan siswa. Jika GPK tidak datang padahal siswa harus belajar atau membuat PR, siswa difabel lah yang harus aktif dalam mencari orang yang mau membantu, misalnya teman atau tetangga yang awas. Hal ini dipercaya akan mendorong siswa difabel untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya serta menghindari ketergantungan siswa terhadap guru pendamping khusus: Kalau ada PR mendadak dan GPK tidak bisa membantu ya siswa tn yang harus aktif mencari orang yang mau membacakan. Bisa teman atau tetangganya. Memang sengaja, pendidikan inklusi kan tidak hanya di sekolah tapi juga di masyarakat. Mau tidak mau itu akan membuat siswa kenal dengan masyarakat. (Bp. Marijo-guru, 17 Februari 2009) Fasilitasi GPK yang dimulai sekolah sejak tahun 2004 sedikit banyak mempengaruhi sosialisasi siswa difabel dengan orang awas. Terlepas dari peran GPK yang berperan mempermudah akses siswa terhadap materi pelajaran bertulisan latin, beberapa pihak memandang keberadaan GPK tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel:

65

Zaman saya dulu enggak ada GPK mbak, jadi saya berusaha minta bantuan teman. Teman saya banyak, dari luar kelas juga ada karena tiap istirahat saya jalan-jalan. Kalau ada PR essai, pagi-pagi saya minta tolong teman untuk translate ke tulisan latin. Kalau sekarang saya lihat sudah beda sekali. Sosialisasinya kurang dibanding saya dan teman-teman dulu. (W-alumni, 27 Februari 2009) Menurut saya GPK itu malah bikin anak-anak jadi enggak mandiri. Saya melihat mereka (anak-anak tuna netra) itu biasa, sama saja seperti kita jadi enggak ada yang istimewa. Kalau enggak ada GPK kan mereka bisa usaha minta tolong ke saya atau teman untuk membacakan atau merekam materi. Yang penting kan itu, mereka bisa sosialisasi sama orang awas. (Ibu A-wali, 3 Maret 2009)

C. Kebijakan Sekolah Terkait Siswa Difabel Sekolah memiliki beberapa kebijakan tertulis dan tidak tertulis yang berkaitan dengan siswa difabel: 1. Penjurusan siswa difabel di jurusan IPS Menurut rancangan kurikulum sekolah, penjurusan bagi siswa dari kelas X ke kelas XI dilaksanakan dengan mempertimbangkan nilai mata pelajaran/muatan lokal, bakat dan minat.62 Jadi, penjurusan siswa ke jurusan IPA atau IPS ditentukan oleh kemampuan dan keinginan siswa pribadi. Kenyataannya, siswa tuna netra di MAN Maguwoharjo diarahkan untuk masuk jurusan IPS dengan alasan lebih mudah diikuti, tidak seperti jurusan IPA yang banyak memiliki konsep sains yang susah untuk dipahami siswa tuna netra, misalnya konsep tentang cahaya. Padahal, tidak sedikit siswa tuna netra yang menyukai dan mampu pelajaran IPA secara teori : Banyak anak tn yang pintar IPA mbak tapi karena diarahkan ke IPS ya masuk IPS. Diberi pengertian guru kalau di IPA begini-begini. Kendalanya memang praktikum. Seandainya bisa cuma teori pasti bisa... ya, seandainya saja. (Sl-siswa, 18 Februari 2009)

62

Kerangka Dasar Kurikulum, Op.Cit.

66

Katanya dulu ada anak tn yang pintar matematika, malah nomor satu di kelas tapi karena tuna netra jadi ga bisa masuk IPA. Aku juga pernah tanya,”Kenapa tho ga bisa masuk IPA?”. Ternyata kendalanya praktik. (M-siswa, 22 Februari 2009) Sekolah telah mengusahakan pembelajaran matematika dan IPA yang maksimal bagi siswa tuna netra dengan metode peragaan namun sekolah belum memberi ruang kepada siswa tuna netra untuk menampung bakat di bidang IPA. Hal ini terkait dengan sistem evaluasi yang harus ditaati sekolah, yaitu UAN (Ujian Akhir Nasional) dan ujian praktik. Padahal siswa tunanetra tidak mampu melakukan praktikum IPA seperti melakukan percobaan kimia, melihat mikroskop, dan sebagainya. 2. Program Pengayaan Intensif (PPI) Tujuan awal PPI sebenarnya ditujukan untuk membimbing siswa yang memiliki Intelegency Quotien (IQ) di bawah standar namun dalam pelaksanaan di MAN Maguwoharjo, PPI diberikan kepada siswa tuna netra dalam bentuk bimbingan khusus belajar (pengayaan materi dan persiapan ujian) oleh guru reguler dan guru pembimbing khusus, tergantung kebutuhan siswa. Mata pelajaran yang diberikan dalam PPI tidak ditentukan oleh sekolah. Guru menerangkan pelajaran yang dipilih siswa difabel dengan tema yang diinginkan atau belum dipahami siswa. Jadwal pelajaran yang fleksibel membuat guru harus selalu siap mendampingi siswa di PPI.

Gambar 2. Suasana PPI yang dipandu GPK di kost siswa difabel

67

Sumber : Dokumentasi penulis, Februari 2009

3. Penambahan sarana dan prasarana pendidikan Sarana dan prasarana pendidikan bagi siswa difabel selain ditujukan untuk meningkatkan akses siswa terhadap bangunan fisik juga untuk memudahkan siswa mengakses ilmu. Oleh karena itu, sekolah berupaya melengkapi fasilitas yang diperuntukkan khusus bagi siswa difabel dengan cara aktif menjalin kerjasama dengan pihak luar. Sarana fisik yang sedang dalam tahap pembangunan dan ditujukan untuk siswa difabel antara lain kamar kecil khusus difabel. Kamar kecil ini memiliki desain khusus yang memudahkan akses tuna daksa dan tuna netra. Sedangkan sarana yang berfungsi memudahkan siswa difabel dalam mengakses ilmu antara lain komputer tuna netra. Komputer ini berupa komputer biasa yang dilengkapi software JAWS yang dapat membaca (menyuarakan) tulisan di layar komputer. Sebagai madrasah agama Islam, sekolah bekerjasama dengan Departemen Agama juga menyediakan Al Qur’an braille bagi siswa tuna netra.
Gambar 3. Koleksi Al Qur’an braille MAN Maguwoharjo

68

Sumber : Dokumentasi penulis, Februari 2009

D. Output Proses Pendidikan Output proses pendidikan di suatu institusi pendidikan sebenarnya tidak hanya ditunjukkan dari penguasaan ilmu pengetahuan dan keluasan wawasan siswa saja namun juga tampak pada pola pikir, perilaku, dan daya kreasi siswa setelah mengikuti pembelajaran di institusi pendidikan tersebut. Output proses pendidikan dalam segi kognitif misalnya ditunjukkan dengan nilai rapor dan NEM (Nilai Ebtanas Murni), sedangkan hasil dari segi afektif tampak dari peningkatan kemampuan siswa untuk hidup bersama di dalam masyarakat. Output proses pendidikan ini dapat dilihat saat siswa masih mengikuti pembelajaran dan beradaptasi dengan lingkungan sosial sekolah maupun setelah siswa menyelesaikan pendidikan di MAN Maguwoharjo.

D. 1. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Wawasan Prestasi akademik bukan hanya milik siswa biasa namun juga siswa berkebutuhan khusus. Siswa difabel membuktikan keterbatasan kemampuan fisik tidak identik dengan kebodohan, bahkan siswa difabel mampu melebihi prestasi teman-temannya. Beberapa siswa tunanetra berhasil meraih peringkat pertama di kelas dan menjadi juara satu paralel

69

matematika di sekolah, bahkan ada siswa tuna netra yang berhasil mendapat beasiswa. Dilihat dari perolehan NEM, siswa difabel memiliki nilai yang memuaskan dengan indikasi tingkat kelulusan difabel sebesar 100%, sedangkan secara umum tingkat kelulusan sekolah mencapai 80% dengan nilai rata-rata umum 7,65. Dulu kalau lihat orang tuna netra saya kasihan. Sekarang juga masih kasihan tapi dikit. Ternyata banyak yang pintar. Kita belum paham, dia sudah. (M-siswa, 23 Februari 2009) Beda banget mbak. Kirain yang namanya orang enggak bisa ngelihat itu prestasinya kurang. Karena apa? Ya, dia enggak bisa melihat jadi enggak bisa maksimal gitu. Tapi kenyataannya sangat jauh. Dulu juara satu paralel malah tuna netra. Terus dia masuk UIN tanpa tes, gratis lagi. (C-siswa, 4 Februari 2009) Menanggapi kemajuan di bidang teknologi, sekolah melatih siswa difabel untuk mengoperasikan komputer secara mandiri. Menggunakan program JAWS, siswa difabel mengikuti pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komputer) bersama teman sekelasnya. Siswa tunanetra juga memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mempermudah akses mereka terhadap ilmu pengetahuan. Walkman digunakan untuk merekam dan mendengar materi pelajaran yang disampaikan guru, scanner dan komputer digunakan untuk membaca teks yang telah dipindai. Sedangkan untuk mendukung keluasan wawasan siswa tunanetra, sekolah mengusahakan pengadaan literatur braille berupa buku pelajaran, buku umum, dan majalah “Gema Braille”. D. 2. Perubahan Pola Pikir dan Perilaku Suatu sekolah merupakan sebuah kebersamaan dari para pelajar yang hargamenghargai satu sama lain.63 Pada awal pembelajaran, saat siswa kelas X mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) dan merasakan bersekolah dalam kelas yang beragam untuk pertama
63

J. Drost, SJ. 2005. Dari KBK Sampai MBS (Esai-Esai Pendidikan). Jakarta : Penerbit Buku Kompas, Cetakan Pertama, hal 57.

70

kalinya, guru melakukan sosialisasi mengenai keberagaman di antara siswa. Sosialiasi mengenai keberagaman dan inklusivitas pada awal pencampuran siswa biasa dengan siswa berkebutuhan khusus bukan merupakan hal yang sulit diterima siswa: Saya kira itu tidak terlalu sulit dan tidak perlu perlakuan khusus. Sekedar informasi saja barangkali. Cukup diberitahu saja,”Disini ada anak tuna netra dan kalian sebagai siswa awas harus bersyukur, bukan hanya berterima kasih tapi dalam bentuk bantuan kepada tuna netra dalam mengikuti pelajaran.” (Bp. Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Untuk adaptasi, untuk yang sekolah disini kan mereka sudah menginjak jadi adaptasi sudah tidak begitu susah. (Ibu Mardinah-guru, 6 Februari 2009) dewasa

Penerimaan siswa terhadap kondisi sekolah yang plural tidak hanya karena dorongan guru dan sekolah namun juga kesadaran diri siswa untuk saling menghargai sesama manusia. Interaksi sosial siswa difabel dan nondifabel tidak pernah mengalami masalah serius. Hubungan siswa difabel-nondifabel berjalan normal sebagai teman sebaya, bahkan siswa difabel bersahabat dengan siswa nondifabel: Kalau ejek-ejekan sudah biasa mbak tapi untuk guyon. Kalau ada yang ejek tentang fisik ya dibalas,”mBangane kowe, iso ndelok tapi kaya ngono”. Enggak ada yang sakit hati soalnya sudah tahu kalau cuma guyon sesama teman. Wong aku juga ikut ngece koq. (Wd-siswa, 13 Februari 2009) Kalau gelut antarsiswa ya pernah ada, yang laki-laki. Tapi kalau anak awas dengan tuna netra malah belum pernah. Bahkan yang paling nakal kalau sama tuna netra malah baik banget. (M-siswa, 23 Februari 2009) Saya rasa sampai sekarang tidak ada masalah antara anak awas dengan tuna netra. Dan berjalan dengan baik menjadi suatu pendidikan yang namanya pendidikan toleran. (Bp. Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Untuk mendorong siswa berpartisipasi dalam program inklusi, guru menginstruksikan siswa untuk membentuk jadwal piket membacakan bagi siswa tuna netra, sekolah juga pernah

71

melaksanakan training yang bertujuan meningkatkan kualitas hubungan antarelemen sekolah di dalam pendidikan inklusif. Pada awal tahun pelajaran, guru menginstruksikan siswa untuk membagi jadwal piket harian dengan tugas membacakan materi pelajaran di buku maupun di papan tulis bagi siswa tuna netra. Siswa tuna netra pun diwajibkan untuk mengikuti pelajaran seperti teman-teman sekelasnya dengan bantuan dari guru dan teman nondifabel jika siswa difabel mengalami kesulitan. Bagi Freire, dialog antarmanusia harus berdasarkan pada kepekaan terhadap kemampuan bawaan di dalam tiap manusia untuk menemukan dirinya sendiri.64 Untuk menemukan realita diri, manusia memerlukan sifat-sifat kerendahan hati untuk menganggap orang lain sederajad walaupun berasal dari minoritas, kepercayaan bahwa manusia pada hakikatnya harus mengubah dunia menjadi lebih kaya, serta percaya dan kasih terhadap sesama manusia. Penghargaan terhadap sesama yang ditumbuhkan di MAN Maguwoharjo antara lain dengan cara meningkatkan kerjasama siswa tn dengan siswa awas di dalam proses pembelajaran sehari-hari: Siswa tn tetap ikut pelajaran olahraga mbak. Dibantu kita yang awas. Misalnya kalau pas olahraga, lari kita gandeng. Pertama ya sebel, ngerasa direpotin banget deh, ngapain sih harus gandeng segala. Tapi lama-lama biasa, mulai tumbuh empati. Wong namanya juga sesama teman. Gimana pandangan kamu sama orang tuna netra di luar sekolah? Sekarang kalau lihat orang tuna netra jadi gimana gitu. Aku juga punya teman kayak gitu di sekolah. Aku jadi ngerasa lebih bersyukur. (F-siswa, 9 Februari 2009)

Gambar 4. Siswa awas membacakan materi pelajaran untuk siswa tunanetra

64

Ign. Gatut Saksono. 2008. Pendidikan yang Memerdekakan Siswa. Yogyakarta : Rumah belajar Yabinkas, Cetakan Pertama, hal.6.

72

Sumber : Dokumen MAN Maguwoharjo, 2009

Siswa difabel tidak disatukan dalam satu kelas melainkan dipisah di beberapa kelas. Pemisahan ini bertujuan menghilangkan anggapan bahwa siswa difabel hanya akan bergaul dengan sesama difabel. Pemisahan kelas juga merupakan strategi agar setiap siswa awas di kelas yang berlainan turut merasakan kelas ‘campuran’ dan berpartisipasi dalam praksis pendidikan inklusif di kelas. Selain itu, sekolah mempercayai hasil pendidikan inklusi akan lebih dirasakan siswa jika mereka berada di dalam lingkungan sosial yang plural: Prinsip inklusi kan bagaimana anak-anak bergaul dengan siswa-siswa normal sehingga di masyarakat nanti siswa tuna netra tidak hanya bergaul di komunitas tuna netra saja. Padahal di dalam masyarakat nanti harus menerima kenyataan selalu akan lebih banyak bergaul dengan orang-orang awas. (Bp.Abdul Hadi-guru, 3 Februari 2009) Kebijakan sekolah yang memungkinkan setiap siswa awas bergaul dengan siswa difabel dianggap positif oleh siswa difabel: Pemisahan itu bertujuan biar enggak ada gap, anggapan kalau tuna netra pasti berteman dengan tuna netra. Kadang teman bilang,”Kae kancamu” kalau melihat tuna netra lain. Padahal kan enggak mesti tuna netra kenal dengan tuna netra, wong enggak sekelas. (W-alumni, 26 Februari 2009)

Gambar 5. Suasana pembelajaran di kelas

73

Sumber : Dokumen MAN Maguwoharjo, 2009

Tugas pendidikan adalah menyiapkan siswa terjun ke dalam masyarakat luas. Pendidikan yang dalam proses belajar mengajarnya ‘memisahkan’ siswa berdasar ciri fisik sangat mustahil menyiapkan siswa untuk terjun ke dalam masyarakat yang majemuk. Pendidikan sebagai proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitar serta dengan alam sekeliling, tempat ia hidup.65 Esensi filosofi pendidikan menurut Paulo Freire adalah interpretasi terhadap realitas serta konsep konsientasi yang menyentuh aspek hati nurani dan kepedulian sosial. Selain mengembangkan intelektualitas, pendidikan juga harus berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial kemanusiaan.66 Pendidikan tidak membuat peserta didik mampu menghafal namun juga memahami realitas diri dan lingkungannya. Konsientasi yang diharapkan Freire adalah mengarahkan peserta didik kepada komitmen perubahan sosial, yaitu di dalam diri mereka ditumbuhkan kesadaran untuk berpartisipasi dalam perjuangan bersama dan bagi mereka yang tertindas, salah satunya kaum difabel:
65

Omar Muhammad Al-Toumy Al Syaibany (1979; 57) dalam Qomaruzzaman. 2001. Skripsi. Studi Kritis Atas Pemikiran Prof. DR. Paulo Freire (Analisa Paradigma Pendidikan Pembebasan). Universitas Islam Indonesia : Jurusan Tarbiyah Fakultas Ilmu Agama Islam, hal 46. 66 Agistinus Mintara. 2001. Sekolah Atau Penjara. Basis No. 01-02, Tahun ke50, edisi Januari-Februari, hal, 12.

74

Dulu saya sempat minder, apa iya saya mampu bersaing sama teman-teman awas? Aku iki sopo tho? Tapi lama-lama minder itu hilang. Halah, jebul kaya ngene tho. Podo wae. (Wd-siswa, 13 Februari 2009) Dulu saya minder, enggak percaya diri bersaing sama awas. Waktu di SLB komunitas saya ya tuna netra. Waktu itu saya ngerasa orang awas sedikit yang peduli. Ternyata enggak juga. (W-alumni, 26 Februari 2009) Pendidikan inklusif diakui siswa difabel membawa dampak positif bagi kesiapan mereka untuk hidup di tengah masyarakat umum. Pendidikan inklusif membiasakan siswa difabel berinteraksi dengan setiap orang dan mengandung upaya memandirikan siswa sehingga mereka tidak terus menerus terisolasi dari kehidupan masyarakat plural. Metode pembelajaran dua arah yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdampak pada hubungan siswa dan guru di dalam dan di luar kelas. Hubungan dialogis yang terjadi diantara siswa dan guru yang akrab tidak hanya terjalin di dalam kelas namun juga di luar kelas: Saya rasa tidak ada perbedaan hubungan guru dan murid di dalam atau Ya sama saja mbak. (Bp. Aris-guru, 23 Februari 2009) luar kelas.

Kayanya sama saja mbak, di kelas atau di luar guru-murid akrab. Kalau pelajaran bisa gojeg, guru juga enggak marah asal siswa tetap konsen. Sering ada yang nyeletuk-nyeletuk tapi guru enggak marah, asal enggak terlalu ramai. (M-siswa, 23 Februari 2009) Tidak sedikit guru yang mengaku belum mengenal pendidikan inklusif sebelum mengajar di MAN Maguwoharjo. Pengalaman mengajar di kelas campuran pun menjadi hal unik yang menambah pengalaman guru dalam mengajar: Saya baru tahu tentang inklusi di sekolah ini. Waktu awal mengajar saya kadang lupa dan mengajar dengan cepat. Tahu-tahu ingat, oh ya ada yang tidak bisa melihat. Saya lalu pelan-pelan, saya ulang. Lama-lama jadi terbiasa mengajar siswa tn. (Bp.Aris-guru, 23 Februari 2009)

75

Guru yang mengajar di MAN Maguwoharjo dilatih untuk teliti dan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa dalam menuntut ilmu. Guru harus menjamin setiap siswa memiliki akses yang sama besar dalam proses pembelajaran sehari-hari dengan menerapkan hubungan yang dialogis dan akrab namun masih ada sebagian kecil guru yang belum menerapkan hubungan dialogis dalam berhubungan dengan siswa, bahkan tidak bisa menerima kritik dari siswa. Untuk menghadapi guru semacam ini, biasanya siswa wadul ke wali kelas atau guru lain yang dianggap dekat dengan siswa: Kita bilang ke guru,”Pak, guru ini koq begini-begini tho? Mbok tolong dikandhani, kami enggak berani”. Nanti guru yang menyampaikan. Pak Guru juga bilang, ”Kalian bilang sendiri enggak kenapa-kenapa kan? Asal ngomongnya benar.” Tapi kami enggak enak. (M-siswa, 23 Februari 2009) Dalam kasus tertentu yang dinilai siswa keterlaluan, kritik terhadap guru yang otoriter dilakukan secara spontan oleh siswa yang dianggap paling berani atau bersama-sama dengan teman lain: Paling mereka ngomong,”Mbok ora koyo ngono Pak... guru koq koyo ngono”. Mereka kan yang paling berani. Tapi ya enggak sering, nek sudah keterlaluan saja. (M-siswa, 23 Februari 2009) Wah, kalau bapak itu harus barengan mbak ngomongnya. Nek enggak, enggak ngaruh. Omongannya juga pedes banget, enggak peduli sama tuna netra atau bukan, cowok atau cewek. (Fd-siswa, 1 Maret 2009) Guru memiliki peran signifikan dalam mempersiapkan siswa difabel bersekolah di sekolah campuran karena mayoritas siswa difabel pertama kali mengenal pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo. Guru harus memastikan siswa difabel siap mengikuti proses pembelajaran di lingkungan sosial yang plural karena sebelumnya mereka bersekolah di sekolah luar biasa dan tidak banyak berinteraksi dengan orang awas: Sebelum anak-anak masuk saya tanting.”Kamu sekolah di sekolah umum, harus siap mental. Kamu disana bersaing dengan anak-anak normal. Nanti disana, namanya 76

anak banyak, kadang-kadang ada yang njlomprongke, ada yang suka, ada yang benci, ada yang sering bantu, ada yang cuek, macam-macam”. Rata-rata anak bisa menerima itu dan bisa memilih kawan yang cocok dan bisa menjadi tutor sebaya. (Ibu Mardinah-guru, 6 Februari 2009) Dari hasil penelitian, penulis menemukan perbedaan mendasar diantara pendidikan inklusif dan pendidikan luar biasa, yaitu kemandirian siswa difabel untuk terjun ke masyarakat lebih terasah di sekolah inklusif. Penulis juga menemukan beberapa perbedaan yang terdapat pada pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo dibandingkan dengan pendidikan konvensional yang diterapkan di sekolah lain sebagai berikut: Tabel 4 Perbedaan Sekolah Inklusi dan Sekolah Konvensional

Komponen Seleksi Masuk Kurikulum

Sekolah Inklusi Menggunakan parameter moral, tidak mementingkan nilai akademik Siswa berperan dalam pembuatan teori dan

Sekolah Konvensional Berdasar nilai ujian nasional Kurikulum sekolah dibuat pihak

kurikulum Mementingkan Metode Pembelajaran Kondisi Sosial Sekolah penguasaan implementasi ilmu Diskusi kelas, ceramah, Kondisi fisik heterogen Menghargai perbedaan Sekolah terintegrasi dengan masyarakat Hasil pendidikan Tumbuh empati dan toleransi terhadap sesama Mementingkan segi afektif siswa

Mementingkan

penguasaan

tanya-jawab,

teori Ceramah, tanya-jawab Homogen Sekolah masyarakat Mementingkan segi kognitif siswa terisolasi dari

presentasi oleh siswa, outing (keluar kelas)

77

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

D. 3. Peningkatan Daya Kreasi Hubungan otentik yang dicirikan oleh kepercayaan dan persahabatan antara pengakar dan pelajar merupakan syarat mutlak untuk setiap pengembangan menuju komitmen kepada nilai-nilai67. Cinta kasih dan perhatian pribadi terhadap tiap-tiap pelajar merupakan unsur mendasar yang mendukung pola pembelajaran dalam mewujudkan tujuan tersebut. Perbedaan kondisi fisik seringkali membuat siswa difabel tidak memiliki kepercayaan diri/minder saat pertama kali bergabung dengan lingkungan sekolah yang majemuk. Padahal tidak sedikit siswa difabel yang memiliki keahlian yang patut dibanggakan. Guru memiliki peran penting dalam pembentukan kepercayaan diri siswa difabel baik di dalam lingkungan sekolah maupun di masyarakat dengan cara mendorong siswa berani menampilkan keahliannya di depan orang lain. Guru di MAN Maguwoharjo tidak hanya berperan sebagai fasilitator belajar namun juga sebagai motivator yang jeli menangkap bakat siswa dan mendorong mereka untuk mengembangkannya: Saya sering ajak dia keluar main musik. Kemarin juga barusan main di SLB, diajak ibu Mardinah. Sekarang dia sudah PD main di depan orang, malah pernah main di depan pejabat. (Bp. Abdul Hadi-guru, 17 Februari 2009) Usaha guru memotivasi kepercayaan diri siswa diakui berhasil oleh siswa difabel. Krisis kepercayaan diri yang dialami siswa perlahan mulai hilang:
67

Ibid

78

Dulu pernah jantungku deg-degan waktu main band, aduh, kaya mau kumat. Masa lagi main ambruk? Sekarang sudah biasa, enggak deg-degan lagi. Soalnya sudah sering main di depan orang. (Z-siswa, 13 Februari 2009)

Gambar 6. Siswa difabel bermain musik di pameran inklusi Sekaten 17-18 Februari 2009

Sumber : Dokumentasi penulis, Februari 2009

Sekolah memfasilitasi siswa untuk meningkatkan keterampilan di bidang akademik dan nonakademik, misalnya di bidang seni musik, olahraga, teknologi informasi dan bidang keterampilan lain. Namun siswa tuna netra diutamakan untuk terampil di bidang seni musik. Alasannya, siswa tunanetra memiliki kepekaan indera pendengaran yang lebih tajam dari siswa awas. Siswa tunanetra juga mengakui mereka lebih mudah untuk mengaktualisasikan diri di bidang seni musik dibanding bidang seni yang lain.

Gambar 7. Band tuna netra tampil di UNY

79

Sumber : Dokumen MAN Maguwoharjo, 2009

E. Faktor-Faktor yang Menghambat Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di MAN Maguwoharjo Pendidikan inklusi yang dijalankan di MAN Maguwoharjo memiliki beberapa faktor penghambat yang mempengaruhi berjalannya pendidikan inklusi di sekolah tersebut. Faktor penghambat berasal dari elemen-elemen sekolah (intern) maupun kebijakan pemerintah (ekstern). 1. Masih ada stereotype terhadap siswa difabel Secara umum, masyoritas warga MAN Maguwoharjo sudah memiliki kesadaran untuk menempatkan difabel sejajar dengan dirinya namun masih ada sebagian kecil yang masih memandang difabel sebagai subordinat. Hal ini disebabkan konstruksi pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya terlepas dari stereotype mengenai difabel. Di dalam masyarakat masih ada anggapan bahwa tuna netra adalah golongan yang harus dikasihani, tuna netra tidak lebih pintar dari nondifabel serta adanya anggapan bahwa tuna netra hanya cocok bekerja di profesi tertentu. Pandangan-pandangan negatif seperti ini menjadi suatu hambatan tersendiri bagi pelaksanaan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo karena secara tidak sadar menciptakan gap antara difabel dengan nondifabel. Stereotype yang masih melekat pada tuna 80

netra menjadi kontradiktif bagi pendidikan inklusi yang bertujuan ‘membebaskan’ siswa tuna netra dari belenggu kultural dan pandangan diskriminatif masyarakat umum. Sikap pakewuh yang ditampilkan siswa awas pada awal pembelajaran juga menjadi hambatan bagi interaksi antarindividu. Kekhawatiran yang berlebihan yang didasari ketakutan menyinggung perasaan justru menciptakan gap antarsiswa, bahkan menjurus ke pengucilan minoritas. Siswa difabel juga belum memiliki pengalaman bergaul dengan siswa awas, bahkan cenderung minder. Sikap ini terlihat di awal proses pencampuran siswa difabel dan nondifabel serta menghilang seiring rutinnya interaksi mereka sebagai teman sebaya di sekolah. 2. Keterbatasan sarana dan prasarana Sarana dan prasarana pendidikan merupakan unsur pokok yang menentukan keberhasilan pendidikan. Minimnya buku braille membuat siswa tuna netra tidak memiliki banyak pilihan buku yang dapat dibaca. Buku paket yang ditulis dalam tulisan braille hanya buku matematika dan bahasa inggris, termasuk kamus. Bantuan pemerintah yang masih minim serta harga buku braille yang tidak bisa dibilang murah menjadi penyebab pengadaan buku braille terhambat. Pembuatan buku braille pun tidak secepat buku bertulisan latin.68 Hal ini menjadi pertimbangan sekolah dalam pengadaan buku paket braille karena perubahan kurikulum nasional yang relatif cepat berdampak pada perubahan buku acuan pula. 3. Campur tangan pemerintah dalam pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan pemerintah dengan maksud mewadahi aspirasi sekolah dan keberagaman menjadi kontras dengan tujuan awalnya karena pemerintah masih turut campur dalam pelaksanaan pendidikan dengan menekankan
68

Menurut Bapak Abdul Hadi (wawancara 3 Februari 2009), pengadaan buku paket braille di MAN Maguwoharjo tidak secepat pengadaan buku paket bertulisan latin. Biasanya buku braille baru terbit tiga tahun setelah buku latin terbit.

81

evaluasi pendidikan yang bersifat nasional, Ujian Akhir Nasional (UAN). KTSP yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan peserta didik mengenai hal-hal yang dibutuhkan siswa atau menjadi ciri khas suatu sekolah/daerah menjadi kontradiktif karena pada akhir pembelajaran/evaluasi menggunakan ujian yang bersifat nasional dengan standar yang ditetapkan pemerintah. 4. Kontribusi orangtua siswa sangat terbatas Pendidikan inklusi seharusnya dijalankan dengan melibatkan tiga faktor pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun pendidikan inklusi di MAN Maguwoharjo belum banyak melibatkan peran orangtua siswa. Latar pendidikan orangtua yang rendah menjadi pemicu rendahnya partisipasi orangtua dalam pendidikan anak-anak mereka. Orangtua kurang memahami signifikansi pendidikan dan menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak kepada pihak sekolah. Hal ini menjadi penghambat terselenggaranya pendidikan inklusi yang holistik.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Terdapat beberapa poin penting yang dapat disimpulkan dari hasil penelitian mengenai pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo. Pertama, pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo dikonstruksikan melalui konsepsi pendidikan yang menyejajarkan kedudukan siswa. Sekolah mempercayai pendidikan inklusif bukanlah pendidikan yang

mengistimewakan siswa difabel namun memberi hak dan kewajiban yang sama kepada seluruh siswa. Kedua, pendidikan inklusif dikonstruksikan sebagai pendidikan yang dapat

82

diakses seluruh anak. Sekolah memberi kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus untuk menimba ilmu di sekolah reguler dengan memberi kemudahan pada seleksi masuk dan fleksibilitas metode pembelajaran. Ketiga, praksis pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo mencakup berbagai instrumen pendidikan, antara lain kurikulum, metode pembelajaran, ekstrakurikuler dan evaluasi. Instrumen pendidikan ini memiliki peran khas masing-masing namun saling terkait dalam pelaksanaan pendidikan inklusif. Keempat, pendidikan inklusif mengenalkan keberagaman di dalam masyarakat. Peserta didik diajarkan untuk menerima dan menghargai setiap elemen masyarakat dalam kedudukan yang sejajar. Melalui pendidikan inklusif siswa dikondisikan untuk memiliki kepekaan dan empati terhadap siswa berkebutuhan khusus. Siswa juga dilatih untuk hidup di tengah masyarakat yang plural.

B. Catatan Kritis Penelitian ini merupakan hasil observasi dan wawancara peneliti terhadap elemenelemen sekolah MAN Maguwoharjo dengan metode studi kasus oleh karena itu penelitian ini tidak bertujuan membuat generalisasi statistik. Penelitian ini melihat input, proses, output pendidikan beserta latar belakang sekolah dan supporting system yang menunjang penyelenggaraan pendidikan inklusif di MAN Maguwoharjo menggunakan paradigma pendidikan pembebasan dan pendidikan multikultural. Terdapat beberapa hal penting yang penulis kritisi dalam penelitian ini. Penulis melihat sekolah memiliki kebijakan khusus siswa difabel yang dalam pandangan penulis masih bias dengan konteks keberagaman. Misalnya kebijakan penjurusan IPS bagi siswa

83

tunanetra. Sekolah belum menyediakan ruang yang cukup untuk mengembangkan bakat siswa tunanetra di bidang IPA. Kesulitan dalam mengajarkan konsep visual IPA telah diantisipasi sekolah dengan pembuatan alat peraga pendidikan namun sekolah tidak mampu melawan sistem pendidikan yang ditetapkan pemerintah. Sistem pendidikan nasional menerapkan sistem evaluasi UAN (Ujian Akhir Nasional) yang mewajibkan ujian praktik bagi seluruh siswa jurusan IPA. Ujian praktik berupa percobaan-percobaan sains ini tidak mampu dilakukan oleh siswa tunanetra yang memiliki keterbatasan penglihatan. Selain itu, sekolah memberikan fasilitas GPK (Guru Pembimbing Khusus) bagi siswa difabel sejak tahun 2004. Fasilitas yang diharapkan membantu siswa difabel dalam proses pendidikan ini dinilai menyebabkan siswa difabel tergantung dengan keberadaan GPK. Kebijakan ini juga dituding beberapa pihak sebagai penghambat sosialisasi siswa difabel dengan masyarakat, bahkan tidak mendukung usaha pemandirian siswa difabel. Dalam pandangan penulis, pendidikan inklusif yang diterapkan di MAN Maguwoharjo sudah berjalan dengan baik namun akan semakin berkualitas jika setiap elemen pendidikan memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai inklusivitas. Pemerintah, masyarakat, guru dan siswa perlu bekerjasama dalam mewujudkan pendidikan inklusif dengan menerapkan ideologi inklusif di dalam kurikulum, metode pengajaran, evaluasi, serta seluruh instrumen pendidikan lainnya. Pendidikan inklusif sebagai salah satu alternatif pendidikan merupakan fenomena pendidikan yang belum banyak dikaji. Peneliti memandang perlu diadakan kajian mengenai pendidikan inklusif dari bidang kajian sosiologi, psikologi dan pedagogi untuk meningkatkan pemahaman mengenai pendidikan inklusif.

84

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Rianto. 2004. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta : Granit, Edisi Pertama. Aditya, Willy. 2007. Membandingkan Sistem Pendidikan http://www.vhrmedia.net/ diakses 20 Mei 2008. Indonesia & Kuba,

Darmawan, Josep J (ed). 2005. Multikulturalisme : Alternatif Yogyakarta : Universitas Atma Jaya.

yang Problematik.

Assegaf, Abd. Rahman. 2004. Pendidikan Tanpa Kekerasan : Tipologi Kondisi, Kasus dan Konsep. Yogyakarta : Tiara Wacana. Atmadi, A dan Y. Setiyaningsih (Editor). Transformasi Pendidikan : Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama. Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Kompas, Cetakan Pertama.

85

Baker, Therese L. 1999. Doing Social Research. 3rd edition. Singapore : McGraw-Hill. Buchori, Mochtar. 1995. Transformasi Pendidikan. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Darmaningtyas. 1999. Pendidikan Pada dan Setelah Krisis (Evaluasi Pendidikan di Masa Krisis). Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cetakan Pertama. Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Dasar Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional, http://www.depdiknas.go.id/ diakses tanggal 20 Mei 2008. . 2007. Sistem Pendidikan Nasional, http://www.depdiknas.go.id/ tanggal 20 Mei 2008. diakses

Freire, Paulo. 1999. Politik Pendidikan : Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan. Yogyakarta : Read bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, Cetakan Pertama. . 2008. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : LP3ES Indonesia, Keenam (edisi revisi). Cetakan

Hamdany, S Abdurrachman. Kurikulum Pendidikan Pasca Reformasi, http://www.wikarya. net/ diakses tanggal 20 Mei 2008. Holliday, Adrian. 2002. Doing and Writing Qualitative Research. London : Sage Publications Ltd. 2005. Dari KBK Sampai MBS (Esai-Esai Pendidikan). Jakarta : Penerbit Buku Kompas, Cetakan Pertama. Kartono, Kartini. 1992. Tinjauan Holistik Mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta : Pradnya Paramita, Cetakan Pertama. Komaruddin. 1987. Kamus Riset. Bandung : Angkasa, Cetakan Kesepuluh. Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik : Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogyakarta : Lkis, Cetakan Pertama. Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, Cetakan Kedua. Manggeng, Marthen. 2005. Pendidikan yang Membebaskan Menurut Freire dan Relevansinya dalam Konteks Indonesia. INTIM, Jurnal Teologi Kontekstual, Edisi No.8, diakses dari www.oaseonline.org tanggal 8 Juni 2008. Marzuki. 2000. Metodologi Riset. Yogyakarta : Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi UII, Cetakan Ketujuh. Maslikhah. 2007. Quo Vadis Pendidikan Multikultur : Rekonstruksi Sistem Pendidikan Berbasis Kebangsaan. Salatiga : STAIN Salatiga Press bekerjasama dengan JP Books, Cetakan Pertama.

86

Mintara, Agus. 2001. Sekolah Atau Penjara. Basis No. 01-02, Tahun ke-50, Edisi JanuariFebruari. Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, Cetakan Keempat. Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara, Cetakan Pertama. Nasution, S. 1983. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Jemmars. Neuman, William Lawrence. 2000. Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. 4rd edition. Needham Heights : Allyn and Bacon. Ptu. 2008. Jumlah Sekolah Minim, Banyak Anak Difabel Tidak Bersekolah. Diakses dari www.bernas.co.id, tanggal 20 April 2009. Rahardjo, Yonathan. 2007, Menutup Buku Pendidikan http://suaralingkungan.blogspot.com/ diakses tanggal 20 Mei 2008. Rerstuningtyas, Inti. 2009. Pendidikan Inklusif. tanggal 21 April 2009. Orde Baru,

http://inti.student.fkip.uns.ac.id, diakses

Silverman, David. 2005. Doing Qualitative Research : A Practical Handbook. London : Sage Publications Ltd, Edisi Kedua. Sudarminta, J. 2000. Tantangan dan Permasalahan Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium Ketiga dalam A. Atmadi dan Y. Setiyaningsih (Editor). Transformasi Pendidikan : Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta : Kanisius, Cetakan Pertama. Sudiarja, A. 2001. Pendidikan Radikal tapi Dialogal. Basis No. 01-02, Tahun ke-50, Edisi Januari-Februari. Sufyanto. 2007. Refleksi Hardiknas, Politik Pendidikan Tanpa Humanitas. Dimuat di Harian Surya tanggal 1 Mei 2007. Sumartana, Th dkk. Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta : Interfidei. Suyanto, Bagong dan Sutinah (Editor). 2007. Metode Penelitian Sosial : Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta : Kencana, Edisi pertama, Cetakan Ketiga. Tilaar, H.A.R. 2002. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, Cetakan Ketiga. Tribana, I.G.K. 2007. Cemoohan, Penghalang Anak http://www.balipost.co.id/ diakses tanggal 8 Juni 2008. Menjadi Kreatif.

Tuhusetya, Sawali. 2008. Akankah Kurikulum 2004 Berakhir Konyol?, http://sawali.info, diakses 20 Mei 2008.

87

Wahyono, Hadi. 2009. Pengertian Penelitian Studi http://penelitianstudikasus.blogspot.com, diakses tanggal 21 April 2009.

Kasus.

Widiyanto. 2009. Pendidikan Multikultural dalam Konteks Masyarakat Indonesia. http://staff.blog.unnes.ac.id/widiyanto/, diakses tanggal 21 April 2009. Wiryotenoyo, Broto Semedi. 1984. Hidup Bersama Orang Lain. Gema No.27, Edisi Desember. Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, Cetakan Kedelapan, Edisi Pertama. Zubaedi. 2006. Pendidikan Berbasis Masyarakat : Upaya Menawarkan Solusi Terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, Cetakan Ketiga.

88

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->