P. 1
JURNAL Bisnis Dan Manajemen (JBM)

JURNAL Bisnis Dan Manajemen (JBM)

|Views: 3,065|Likes:

More info:

Published by: Bambang Wisnu Wijaya on Sep 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 2 No. 3 Mei 2006 Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra

Jurnal

JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN

Vol. 2

No.3

Hal. 159 -256

Bandarlampung Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN
TIM REDAKSI
Penanggung Jawab : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Pembina

Pemimpin Umum

Dewan Editor Ketua Anggota

: Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E.

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

: : : : : : :

Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 2 No. 3, Mei 2006

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI
Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung Ernie Hendrawaty ………………………………………………………….. 159 Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung Iban Sofyan ……………………………………..………………………….. 173 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek (Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Mahrinasari MS. …………………………….…………………………….. 189 Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung Mustafid …………………………………………………………………….. 205 Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham Di Pasar Modal Sri Hasnawati ………………………………….………………………….. 213 Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham A. Zubaidi Indra ……………………………….………………………….. 239

DAFTAR ISI

Pengembangan Konsep Manajemen Mutu Terpadu Bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung
Oleh :

Ernie Hendrawaty1
ABSTRACT This research was aimed to develop TQM concept for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch by determining which elements stated important for developing TQM for State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch and this study was willing to know the adoption of those elements at State Owner’s Financial Service Company Bandarlampung Branch. Number of respondent companies involved in this study is 21 branch offices. The respondents who participate in this study are branch managers and head of department from each of branch office. The study was conducted to determine the perception of respondent managers and head of departments as to the critical strategy that should define a particular MMT. The validation TQM is done by conducting Factor Analysis. The result from the survey is that the original of 72 elements of MMT is remain 45 elements which are grouped into 6 (six) factors. Those factors are Education and Analysis Tools Supporting, Facility Management, Management Commitment and Quality Leadership, Customer Focus, Mesurement and Benchmarking. Keywords : Total Quality Management, Manajemen Mutu Terpadu

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era perdagangan bebas masalah daya saing merupakan isu kunci dan sekaligus sebagai tantangan yang tidak ringan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai suatu badan usaha yang bergerak hampir di seluruh aspek ekonomi juga tak terkecuali menghadapi tantangan ketatnya persaingan global, perkembangan teknologi yang cepat dan kondisi dinamis lainnya yang pada akhirnya menuntut BUMN untuk menjadi Badan Usaha berkarakteristik
1

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

DAFTAR ISI

perusahaan kelas dunia, sehingga BUMN perlu melakukan reorientasi terhadap struktur dan strategi usahanya untuk mencapai sasaran menjadi Badan Usaha berkarakteristik perusahaan kelas dunia. Untuk menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan dalam Master Plan BUMN tersebut harus didukung oleh suatu sistim Manajemen yang handal. Manajemen Badan Usaha harus melakukan perubahan (transformasi) dari paradigma manajemen tradisional menuju paradigma Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). Bagi BUMN, MMT telah menjadi suatu program yang harus dilaksanakan karena sesuai dengan amanat Menneg BUMN No. S-910/M-MBU/2003 tanggal 18 Februari 2003. MMT adalah suatu pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Manfaat bagi badan usaha dengan diterapkannya MMT adalah perbaikan pelayanan, pengurangan biaya dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam sistem manajemen dan kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan. Sebagai tambahan, manfaat lain yang bisa dilihat adalah peningkatan keahlian, semangat dan rasa percaya diri karyawan, peningkatan akuntabilitas dan transparansi serta peningkatan produktifitas dan efisiensi pelayanan pelanggan. Namun demikian, di sisi lain sesungguhnya masih banyak para pelaku bisnis masih mengahadapi kesulitan dalam memahami kekuatan dan manfaat MMT dalam memenuhi kualitas dan kinerja usaha yang direncanakan. Penyebabnya adalah adalah sebagai suatu bidang ilmu belum ada suatu definisi standar atau tunggal dan menyeluruh tentang program-program MMT. MMT hanya merujuk pada sebuah pendekatan, sebuah sistem, sebuah alat, sebuah teknik dan atau atau filosofi yang ditujukan untuk mencapai target kualitas tertentu (V. Talavera, 2004, 356). 1.2 Rumusan Masalah Dengan demikian maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini adalah : “Elemen-elemen MMT mana sajakah yang dipersepsikan penting dalam Pengembangan Konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung ?” 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung. Konsep MMT bagi

160

DAFTAR ISI

1.4 Kerangka Penelitian 1.4.1. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang MMT telah banyak dilakukan untuk menghasilkan suatu konsep untuk merumuskan komponen-komponen yang penting dalam MMT. Sebelumnya terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencoba untuk mengumpulkan dan mensintesa berbagai macam elemen MMT. Diantaranya seperti yang dikutip dari V. Talavera (2004, 357) adalah penelitian Saraph (1989); Powell (1995); Ahire (1996); Flynn (1996) dan Black dan Porter (1996). Masingmasing penelitian menghasilkan suatu konsep MMT yang memiliki elemenelemen yang tidak sama, mengingat penelitian yang dilakukan memiliki perbedaan dalam hal jenis industri, sampling frame dan uji kevalidan maupun kereliabelan. Penelitian V. Talavera (2004) dilakukan terhadap 347 orang manajer yang berasal dari 63 perusahaan responden yang meliputi industri elektronik, pengolahan makanan, otomotive, farmasi, semen dan lain-lain. Hasil analisis pada survey tahap pertama menunjukkan semula terdapat 12 elemen (72 item program MMT) yang dipersepsikan penting dalam system manajemen mutu. Namun sesudah dilakukan uji kevalidan dengan Analisis Faktor ternyata hanya terdapat 7 elemen ( terdiri dari 35 item pernyataan strategi ) yang dipersepsikan penting oleh responden, yaitu (1) Getting feedback in designing QM Strategies (2) Customer Focus (3) Employement of Kaizen and 5S (4) Quality Monitoring and Control (5) QM Technique Orientation (6) Employee Involvement dan (7) Incentive and Recognition System. 1.4.2 Landasan Teori 1.4.2.1 Mengapa Mutu itu Penting Mutu sangat penting. Dimulai pada tahun 1970an, perusahaan manufacture di Jepang dengan bantuan konsultan Amerika, yang bernama W. Edward Demming mulai menggunakan mutu sebagai daya saing perusahaan. Mutu menjadi salah satu faktor selain harga yang menentukan tingkat permintaan konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggannya akan menjadi perusahaan yang berhasil. Pada dasarnya mutu dapat mempengaruhi perusahaan dalam empat cara, yaitu : (1) Biaya dan Pangsa Pasar (2) Reputasi Perusahaan (3) Pertanggungjawaban produk dan (4) Implikasi internasional. Mutu yang baik dapat mengarah pada peningkatan pangsa pasar, produktivitas dan penghematan biaya. Perbaikan mutu juga berarti penurunan kerusakan produk 161

DAFTAR ISI

dan biaya jasa. Selanjutnya reputasi perusahaan akan ditentukan oleh reputasi mutu yang dihasilkan buruk atau baik. 1.4.2.2 Konsep Manajemen Mutu Terpadu a. Definisi Manajemen Mutu Terpadu Manajemen Mutu Terpadu mengambarkan penekanan mutu yang memacu seluruh organisasi, mulai dari pemasok sampai konsumen. Definisi MMT juga bermacam-macam. Definisi yang berbeda-beda akan menurunkan perbedaan pula dalam unsur atau prinsip pokok dalam MMT. Pengertian mutu yang diadopsi oleh American Society for Quality Control : bahwa Mutu adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak jelas maupun yang tersembunyi (Render dan Haizer, 2001 : 92). Meskipun demikian pendapat lain mengatakan bahwa definisi mutu menyangkut berbagai kategori. Beberapa dari definisi tersebut berorientasi pada pengguna dan berorientasi pada produk. Krajewski (1996, 14) menyatakan bahwa pelanggan mendefinisikan mutu dengan berbagai macam cara, yaitu (1) Conformance to Specifications atau kesesuain dengan spesifikasi (2) Value atau nilai/harga (3) Fitness of Use atau modelnya, keawetannya, pelayanannya (4) Support atau dukungan layanan (5) Psychological Impressions atau image, keindahan, kebersihan. Menurut Goetsch dan Davis (1997:3) Mutu adalah keadaan dinamik yang diasosiasikan dengan produk, jasa, orang, proses, lingkungan yang mencapai atau melebihi harapan. Definisi MMT menurut Ishikawa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4), MMT diartikan sebagai perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan kepuasan pelanggan. Santosa (Tjiptono dan Diana, 2000 :4) menyatakan bahwa MMT adalah: MMT merupakan sistim yang mengangkat mutu sebagai strategi usaha dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan dan melibatkan seluruh anggota organisasi. Menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) Manajemen Mutu Terpadu adalah : Suatu pendekatan untuk menjalankan bisnis yang berusaha untuk memaksimalkan persaingan sebuah organisasi melalui perbaikan yang terusmenerus atas mutu produk, jasa, orang, proses, dan lingkungannya. Hingga saat ini belum ada definisi mutu yang diterima secara universal, namun dari beberapa definisi mutu terdapat beberapa kesamaan, yaitu dalam elemenelemen sebagai berikut :

162

DAFTAR ISI

1. 2. 3.

Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan Mutu merupakan suatu kondisi yang selalu berubah.

b. Prinsip dan Unsur Pokok dalam Manajemen Mutu Terpadu Prinsip-prinsip dan unsur pokok dalam MMT menurut Krajewski (1996, 140-141) adalah MMT menekankan tiga prinsip, yaitu customer satisfaction, employee involvement dan continous improvement. Variabel-varibel MMT menurut Goetsch, dan Davis (1997:3) adalah : MMT didasarkan pada strategi, focus kepada pelanggan, obsesi terhadap mutu, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja kelompok, peningkatan terus-menerus, kebebasan melalui kontrol, kesatuan tujuan, dan Keterlibatan dan pemberian wewenang kepada karyawan. Render dan Heizer (2001, 98) mengembangkan lima konsep MMT yang efektif, yaitu (1) Perbaikan yang terus menerus (2) Pemberdayaan karyawan (3) Perbandingan kinerja (Patok duga/Benchmark) (4) Penyediaan kebutuhan yang tepat waktu (Just In Time) dan (5) Pengetahuan mengenai peralatan MMT, seperti Metode Taguchi, Diagram Pareto, Diagram Sebab Akibat dan pengendalian Proses secara statistik. Pendapat yang lain mengenai MMT dikemukakan oleh Tenner dan Detoro yang dikutip oleh Hamidah (2003, 276) yang menyatakan bahwa MMT dapat diuraikan menjadi tiga subsistem yaitu (1) Fokus pada pelanggan (customer focus) (2) Perbaikan proses berkesinambungan (continous process improvement) dan (3). Keterlibatan terpadu (total involvement) dimana ketiga sub sistem tersebut saling berkaitan. V. Talavera (2004, 358-360) juga berhasil merumuskan konsep MMT hasil telaah pustaka yang terdiri dari 12 (dua belas) elemen MMT, yaitu : (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement).

163

DAFTAR ISI

Penelitian ini akan menggunakan prinsip dan unsur pokok atau variablevariabel MMT yang berasal dari konsep yang disusun oleh V. Talavera (2004) karena memiliki cakupan yang luas. 1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan menggunakan daftar pertanyaan (questioner) sebagai alat pengumpul data yang pokok. 1.5.2 Populasi dan Sample Populasi obyek penelitian adalah seluruh BUMN Jasa Keuangan yang beroperasi di Bandarlampung yang berasal dari kelompok usaha Perbankan, Asuransi dan Jasa Pembiayaan, yang berkedudukan sebagai kantor cabang utama, yaitu sebanyak 21 buah. Tabel 1 : BUMN Jasa Keuangan Kelompok Bank Badan Usaha BRI BTN BNI Bank Mandiri Jiwasraya Jasaraharja Taspen Jamsostek Askes Jasindo Pegadaian Jumlah KC 2 1 3 5 1 1 1 1 1 1 4

Asuransi

Pembiayaan

Penelitian ini akan mengumpulkan data dari seluruh populasi obyek penelitian. Populasi responden adalah kepala cabang masing-masing badan usaha dan kepala departemen atau setingkat dengannya dari departemen-departemen yang berbeda. Data tentang populasi dan sample tersaji pada table berikut ini :

164

DAFTAR ISI

Tabel 2 : Populasi Obyek Penelitian dan Responden Tahap Pengujian MMT Pengujian dengan menggunakan ‘perception of importance’ sebagai dasar Target Ukuran Populasi 21 Badan Usaha 102 responden Teknik Sensus Realisasi 21 Badan Usaha 100 responden

Pendapat responden dibutuhkan untuk melakukan validasi konsep MMT, yaitu data persepsi dari responden mengenai tingkat kepentingan (perception of importance) elemen MMT. 1.5.3 Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah elemen-elemen MMT hasil kajian pustaka V. Talavera (2004). Variabel tersebut adalah: (1) Komitmen Manajemen Puncak (Top Management Commitment ) (2) Perencanaan Mutu Strategis (Strategic Quality Planning) (3) Orientasi Pelanggan (Customer Focus) (4) Manajemen Mutu Pemasok (Supplier Quality Management) (5) Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management) (6) Pendidikan dan Pelatihan Karyawan (Employee Education and Trainging) (7) Perancangan Produk / Jasa ( Product/Service Design) (8) Ketertiban Organisasi Tempat Kerja (Workplace Organization Orderliness) (9) Manajemen dan Pengawasan Proses (Process Management Control) (10) Manajemen Informasi Mutu (Quality Information Management) (11) Patok Duga (Benchmarking) (12) Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement). 1.5.4 Instrumen Penelitian Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan. Sebelum dilakukan pengujian, harus dilakukan uji kereliabelan (reliability) dan uji kevalidan (validity) daftar pertanyaan Penelitian ini menggunakan uji kevalidan internal menggunakan Teknik Alpha. Pada penelitian ini uji kevalidan yang digunakan adalah Construct Validity. Menurut Sekaran (1992: 173) Construct Validity testifies how well the result obtained from the use of measure fits theories around which the test is designed. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10.

165

DAFTAR ISI

1.5.5. Analisis Data 1. ANALISIS FAKTOR Analisis factor akan meringkas beberapa variable MMT menjadi beberapa faktor saja yang paling penting dalam mendukung keberhasilan MMT. Tahap-tahap pada analisis faktor : 1. Memilih variable yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. Analisis factor berupaya mengelompokkan sejumlah variable. Untuk itu digunakan alat analisis Measure of Sampling Adequacy (MSA) atau Barlett’s test. Melakukan ekstrasi variable menjadi satu atau beberapa factor. Dalam hal ini digunakan metode Principal Component Melakukan rotasi factor untuk memperjelas apakah factor yang terbentuk sudah secara signifikan berbeda dengan factor lain. Melakukan uji Anova untuk melihat apakah factor yang terbentuk berbeda nyata dengan factor lain. Faktor yang sebenarnya terbentuk adalah factor-faktor yang merupakan komponen MMT yang dipersepsikan sebagai factor yang penting oleh BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung.

2. 3. 4. 5.

2. HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1 Pengujian Reliabilitas Alat Ukur Hasil Uji Reliabilitas menunjukkan bahwa nilai koefisien reliabilitas instrument daftar pertanyaan sebesar 0,9552. Nilai ini memberi makna bahwa tingkat kepercayaan dan konsistensi pertanyaan maupun pernyataan bernilai tinggi yaitu sebesar 95,52%. Untuk menguji construct validity dilakukan Analisis Faktor dengan software SPSS 10. Uji construct validity dengan Analisis Faktor. 2.2 Analisis Faktor Dalam penelitian ini, variabel yang diproses dengan analisis factor sebanyak 72 variabel dengan jumlah populasi sebanyak 100 responden. Output Analisis Faktor dengan menggunakan SPSS adalah ternyata dari 72 variabel awal, yang tersisa atau tereduksi hanya 45 variabel dengan rata-rata loading 0,733. Tabel 3 menunjukkan distribusi variable MMT pada ke-6 faktor.

166

DAFTAR ISI

Tabel 3 Distribusi variable MMT
Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance 17.864 SDM DIK 3 DIK 5 DIK 6 IKC 1 Nama Variabel Manajemen memberikan balas jasa (imbalan) kepada karyawan untuk usaha-usaha perbaikan kualitas Semua karyawan dilatih tentang Team Building / Group Dynamics Mengintegrasikan materi pelatihan pada proses pekerjaan sehari-hari Melakukan pelatihan karyawan secara berkala (rutin) Investasi dalam peralatan dan teknologi untuk meningkatkan kualitas dalam operasi /proses Menggunakan piranti data numerik (check sheet, diagram Pareto, run chart dll) dan piranti data verbal (flow chart, brainstorming, diagram sebab akibat) guna mendiagnosis masalah kualitas dan masalah kelemahan proses Pengendalian kinerja proses dilakukan pada setiap tahap , mulai dari tahap input, proses/transformasi, output dan customer Melakukan pengawasan kualitas dengan menggunakan survey kepuasan pelanggan metode statistik atau teknik lain untuk memonitor kualitas produk / jasa yang dihasilkan Menggunakan siklus PDCA (PlanDo-Check-Action) untuk melakukan perbaikan dan pengendalian proses secara berkesinambungan Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk mengurangi siklus waktu operasi perusahaan Item Loading

1

12.862

0.692 0.705 0.732 0.719 0.686

IKC 3

0.605

IKC 4

0.736

IKC 5

0.851

PTM 1

0.717

PTM 2

0.766

167

DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Membuat perencanaan dan program yang berkesinambungan untuk memikirkan berbagai cara untuk memperbaiki kualitas produk dan pelayanan Manajemen puncak menyediakan bantuan teknis, finansial dan pendidikan bagi program manajemen kualitas perusahaan Memfasilitasi program pengembangan produk untuk dapat segera merespon kebutuhan pasar Kejelasan dan keformalan dalam menuliskan sasaran kualitas Manajemen memiliki rencana kualitas untuk pemasok Kualitas menjadi pertimbangan utama dalam memilih pemasok Bekerjasama dengan tidak terlalu banyak pemasok namun dapat diandalkan Memasukkan umpan balik dari pemasok untuk memperbaiki produk, pelayanan dan perancangan proses Menerapkan program evaluasi terhadap pemasok Manajemen bekerjasama dengan pemasok untuk meningkatkan kualitas Fasilitas yang nyaman, bersih dan teratur/rapi Adanya sistim manajemen pencatatan/arsip yang efektif Karyawan memiliki disiplin dan inisiatif untuk mematuhi peraturan dengan tertib Pemeliharaan fasilitas dilakukan secara berkala dan dilakukan monitoring serta evaluasi terhadapnya Penyediaan peralatan kantor, dokumen, office supplies hanya yang benar-benar dibutuhkan saja

Item Loading

PTM 3

0.798

PTM 4

0.779

IKD 5 PKS 2 2 10.286 14.286 MKP 1 MKP 2 MKP 3

0.703

0.742 0.848 0.849 0.756 0.859 0.868 0.834 0.926 0.936 0.902

MKP 4 MKP 5 MKP 6 RAP 1 RAP 2 RAP 3

RAP 4

0.93

RAP 5

0.796

168

DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Pemberian tanda/papan penunjuk/label terhadap assetasset, departemen-departemen untuk keperluan identifikasi dan memudahkan mencari lokasi/letaknya. Manajemen Puncak terlibat secara penuh dalam implementasi dan tindak lanjut program Manajemen Mutu Pemberian penghargaan kepada karyawan yang mencapai sasaran kualitas Semua karyawan dilatih tentang konsep Manajemen Mutu Terpadu Semua karyawan dilatih tentang Quality Control Menyediakan data kualitas yang terbaru dan lengkap dan dilaporkan pada semua departemen Seluruh karyawan dapat mengakses data kualitas Manajemen melakukan audit sistim manajemen kualitas secara periodic baik audit internal maupun eksternal Terdapat suatu proses efektif untuk memproses informasi tentang ekspektasinasabah Mempertimbangkan keinginan pelanggan dan umpan balik pemasok untuk memperbaiki produk, pelayanan dan perancangan proses Mengumpulkan umpan balik dari para ahli dalam perancangan produk/jasa Pengkajian (review) sasaran dan tujuan departemen-departemen untuk menyelaraskan dengan rencana organisasi secara keseluruhan Melakukan tindakan pencegahan dan pemeliharaan secara berkala terhadap peralatan/perangkat sistim operasional perusahaan

Item Loading

RAP 6

0.905

3

7.3

10.139

KMP 1

0.876

SDM 5 DIK 1 DIK 2 MKI 4 MKI 5 PTM 6

0.788 0.851 0.864 0.703 0.714 0.762

FKP 5

0.816

4

6.762

9.392

IKD 2

0.708

IKD 4

0.621

PKS 5

0.626

5

4.405

6.118

IKC 6

0.708

169

DAFTAR ISI

Initial Eigenvalues No Faktor Total % of Variance Nama Variabel Adanya sistim database untuk mengumpulkan, mengontrol dan menyimpan data kualitas kegiatan operasi untuk menyediakan informasi yang relevan yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas dari output yang dihasilkan Menerapkan sertifikat ISO 9000 untuk memenuhi standar kualitas internasional Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang sama dan dari pesaing utama untuk mengembangkan sasaran kualitasdan untuk memperbaiki operasi perusahaan Manajemen mempelajari praktek fungsi-fungsi usaha dari perusahaan terkemuka dalam industri yang berbeda untuk mengembangkan sasaran kualitas dan untuk memperbaiki operasi perusahaan Menganalisis, mengadopsi dan mengimplementasikan praktek terbaik strategi manajemen kualitas dari perusahaan mitra patok duga yang menjadi teladan patok duga Memastikan bahwa kegiatan patok duga yang dilakukan menghasilkan perbaikan kualitas yang signifikan Sepanjang waktu target patok duga dan metode-metode patok duga dievaluasi kembali

Item Loading

MKI 2

0.621

PDG 3

0.626

6

3.781

5.251

PDG 1

0.765

PDG 2

0.737

PDG 4

0.683

PDG 5

0.634

PDG 6

0.691

Nama ke-6 faktor tersebut adalah : 1. 2. Faktor 1 terdiri dari 14 item yang dinamakan Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis. Faktor 2 terdiri dari 12 item yang dinamakan Manajemen Fasilitas

170

DAFTAR ISI

3. 4. 5. 6.

Faktor 3 terdiri dari 8 item yang dinamakan Komitmen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas. Faktor 4 terdiri dari 3 item yang dinamakan Fokus Pelanggan Faktor 5 terdiri dari 3 item yang dinamakan Pengukuran Faktor 6 terdiri dari 5 item yang dinamakan Patok Duga

3. SIMPULAN DAN SARAN 3.1 Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa konsep MMT bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung adalah : (1) Faktor Pendidikan dan Dukungan Perangkat Analisis (2) Faktor Manajemen Fasilitas (3) Faktor Komitemen Manajemen dan Kepemimpinan Kualitas (4) Faktor Fokus pada Pelanggan (5) Faktor Pengukuran dan (6) Faktor Patok Duga 3.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, maka bagi BUMN Jasa Keuangan Cabang Bandarlampung yang akan mengadopsi konsep MMT sebaiknya memprioritaskan keenam factor dari hasil analisis factor tersebut dalam program MMTnya. DAFTAR PUSTAKA Goetssch, David L and Davis, Stanley B. 2002. Manajemen Mutu Total. Edisi ke dua. Penerbit PT Prenhalindo. Jakarta Krajewski, Lee J. and Larry P. Ritzman. 1996. Operations Management : Strategy and Analysis. Addison-Wesley P:ublishing Company. Inc. Hamidah. 2003. Pengaruh Manajemen Mutu Terpadu terhadap Perilaku Produktif Karyawan Industri Tekstil Berskala Besar di Kota Bandung. Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen. September 2003. 275-290. Muchsinati, Evi Silvana. 2001. Repositioning dan Perubahan Peran Fungsi Departemen Sumber Daya Manusia Sebagai Upaya Mencapai Keunggulan Kompetitif. Usahawan No. 03. Th XXX. Maret 2001. 3-8.

171

DAFTAR ISI

Nasution,M.N.2004. Manajemen Mutu Terpadu. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor Selatan Render, Barry dan Jay Haizer. 2001. Prinsip-prinsip Manajemen Operasi. Edisi Pertama. Salemba Empat. Jakarta Sekaran, Uma. 1992. Research Methods For Business: A Skill Building Approach. Second Edition. John Wiley & Sons, Inc. Supranto, J .2004. Analisis Multivariat, Penerbit Rineka Cipta.Jakarta. Suwandi, Adig. 2001. Arah Privatisasi BUMN. Usahawan No. 5 Th XXX Mei 2001. 3-6 Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana.2000. Total Quality Management. Penerbit Andi Offset Yogyakarta. Umar, Husen.2000. Riset Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. V. Talavera, Ma Gloria. 2004. Development and Validation of TQM Construct. The Philippine Experience.Gadjah Mada International Journal of Business Volume 6, No. 3 September 2004: 355-380. __________BUMN On Line. Master Plan BUMN 2002-2006.

172

DAFTAR ISI

Kajian Modal Kerja Usaha Kecil Dalam Rangka Peningkatan Kinerja Usaha Menghadapi Era Pasar Bebas di Bandar Lampung
Oleh :

Iban Sofyan2
ABTRACT The reseach aims to analyze : (1) the influencing factors of working capital from small business and determining alternative solution; (2) alternative strategic management from small business. The types of data are : (1) the secondary time series data which analyzed by financial models and (2) the primery data of owner from the small business which analyzed by description approach. The result shows that the small business in Bandar lampung need to improve their working capital trough : (1) the increasing level of effectivities from their business; (2) the creating of business innovation; (3) making commitment about business efficiency and competitiveness. Based on the result of this reseach, researcher is prepairing strategic standar and business commitment for the small business to enter global business. Key words: Working Capital management.

I. PENDAHULUAN Usaha kecil di Indonesia di era reformasi ini mempunyai peranan yang sangat berarti dalam menunjang perekonomian. Banyak usaha besar pada saat ini mengalami keterpurukan sebagai akibat resesi ekonomi berkepanjangan,justru usaha kecil semakin bergairah untuk berkembang, secara kuantitatif dapat dibuktikan dari pemerataan usaha dan peluasan lapangan kerja,yang berkembang dari 1.755.000 unit usaha tahun 1997 menjadi 2.143.500 unit usaha pada tahun 1999, sementara jumlah tenaga kerja yang diserap juga meningkat dari 5.308.800 orang tahun 1997 menjadi 10.113.600 orang tahun 1999. Lebih jauh lagi jika dilihat dari sumbangannya pada ekspor nonmigas yaitu dari 102 juta dollar Amerika tahun 1998 terus naik menjadi 136,8 juta dollar Amerika pada akhir tahun 2001, secara persentase rata-rata kenaikan nilai ekspor usaha kecil meningkat dengan 30,5 persen per tahun ( Puji Wahono,2000)
2

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung.

DAFTAR ISI

Peranan usaha kecil yang penting ini, seyogyanyalah mendapat perhatian kita semua, tetapi pada kenyataan sekjarang banyak hambatan dan pembinaan yang kurang serius baik dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang terkait termasuk perguruan tinggi. Janji-janji untuk memberi kemudahan baik dalam perizinan,permodalan,maupun pembinaan manajemen baru sebatas pernyataan atau retorika politik,sehingga semua kebijakan selalu tidak menyentu pengembangan usaha kecil. Hasil pengamatan ada beberapa hal yang menghambat pembinaan usaha kecil di Indonesia ( Indra Ismawan,1999), yaitu : (1) Indonesia belum memiliki undang-undang yang mengatur usaha kecil,walaupun sekarang rancangan undang-undang (RUU) itu mungkin sudah disahkan menjadi undang-undang namun realisasinya dan sosialisasi sampai saat ini belum jelas adanya ; (2) masih lemahnya komitmen dalam pembinaan usaha kecil, baik yang disuarakan oleh pemerintah maupun oleh pengusaha besar selaku mitra usaha, sehingga dapat dikatakan bahwa usaha kecil itu ada dan berkembang sepenuhnya atas usaha mereka sendiri, kerena didorong oleh kebutuhan hidup. Penghambat lain yang juga dapat dikatakan secara structural usaha kecil umumnya di Indonesia menghadapi kendala-kndala bersifat internal,yaitu kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah, kelemahan dalam struktur permodalan,dan kelemahan dalam mengakses permodalan,termasuk dalam manajemen modal kerja( Suryadi Soedirdja,1998). Kondisi usaha kecil Indonesia yang demikian ini, jika kurang mendapat binaan yang serius di masa mendatang,khususnya dalam menghadapi pasar bebas versi AFTA ataupun versi Dunia nantinya akan berdampak serius bagi perkembangan usaha kecil di Indonesia umumnya dan secara khusus pada usaha kecil di Bandar Lampung. Kenyataan di lapangan dapat kita lihat pada saat ini banyak usaha kecil kita kewalahan dalam menghadapi serbuan produk-produk dari luar negari yang sampai saat ini sudah meramba ke berbagai pelosok Indonesia. Apalagi jika penerapan pasar bebas AFTA ini benar- benar sudah direalisasikan, dimana kita tidak dapat lagi membantasi barang masuk dengan pembatasan tarif masuk antar negara-negara ASEAN. Kenyataan ini akan menambah beban berat bagi usaha kecil,dan mungkin juga akan dialami oleh perusahaan besar yang tidak efisien. Bukti-bukti telah mununjukkan pada kita betapa kewalahannya usaha otomatif kita menghadapi serbuan produk –produk otomotif China,Taiwan, Korea,dewasa ini, masih banyak lagi produk-produk dari Negara jiran seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura yang sudah lama beroperasi di Negara kita. Situasi ini akan menjadi siutasi sulit bagi usaha-usaha kita khususnya usaha kecil jika dikaitkan dengan kelemahan usaha kecil kita yang telah diuangkapkan sebelumnya, terutama yang berhabungan dengan modal khususnya modal kerja. Usaha kecil menurut Levi dan Sarnat (1989) justru membutuhkan tambahan modal kerja relatif lebih besar dari kebutuhan usaha menengah 174

DAFTAR ISI

maupun usaha besar. Kesulitan yang terbesar pada usaha kecil dalam modal kerja terletak pada usaha pemisahan antara kebutuhan modal kerja dengan kebutuhan hidup pengusaha dan keluarga sehari-hari. Hal ini terjadi kerena usaha kecil umumnya tidak mampu mengakses modal,terutama jika berhubungan degan pihak ketiga ( bank maupun mitra usaha lainnya yang sifatnya sangat selektif ). Kelemahan ini tentunya berdampak luas pada daya saing dan kemantapan berusaha, apalagi dihubungkan dengan inovatif. Kunci keberhasilan usaha kecil menurut Steiner,Goerge(1985) justru terletak pada usaha inovatifnya. Peranan usaha kecil di Lampung khususnya di Bandar Lampung tidak terlalu berbeda dengan peranan usaha kecil secara nasional,ini terlihat dari sumbangan industri kecilnya mampu memberi 21,0 persen ekspor komoditi non migas yang dihasilkan oleh Lampung (BPS,1993). Jumlah usaha kecil juga meningkat dari 12,067 unit usaha kecil telah meningkat menjadi 18.488 unit usaha kecil sampai tahun tahaun 1998( BPS). Dan diperkirakan jumlah ini akan naik lagi selama era reformasi ini, sementara perusahaan besar dan menengah justru mengalamai stagnan karena masih dipengaruhi oleh dampak resesi ekonomi yang sampai saat ini belum dikatakan membaik. Kedala yang dihadapi dalam pengembangkan usaha kecil di Lampung khususnya usaha kecil di Bandar Lampung hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh usaha kecil secara nasional, yaitu kesenjangan antara usaha menengah dan usaha besar semakin melebar. Usaha kecil di Bandar Lampung umumnya lemah dalam permodalan, sulitnya mendapatkan modal termasuk modal kerja,kelemahan dalam manajemen, dan rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Kondisi ini setelah ditelusuri lebih jauh merupakan suatu sistem dalam kegiatan manajemen, ini berarti bahwa manajemen usaha kecil itu merupakan suatu sistem,sehinga salah satu dari sistem ini terganggu akan berdampak serius pada sistem secara keseluruhan ( Collins and Devana,2001), ini jelas apabilah usaha kecil itu lemah dalam modal kerja akan berdampak serius pada keunggulan bersaing baik secara lokal apalagi dalam mengahadapi persaingan di pasar bebas, apakah itu versi AFTA atau secara global. A. Perumusan Masalah Masalah yang dapat ditarik dari uraian sebelumnya adalah: (1) Apakah pengelolaan modal kerja usaha kecil yang telah dioperasikan oleh usaha kecil di Bandar Lampung telah dilakukan secara efektif atau secara optimal.

175

DAFTAR ISI

(2) Teknik manajemen apa yang tepat yang harus diterapkan oleh pengusaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ketatnya persaingan di era basar bebas. (3) Strategi apa sebaiknya digunakan oleh usaha kecil di Bandar Lampung dalam menghadapi ancaman persaingan degan produk-produk luar sekarang dan di era pasar bebas. B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi usaha kecil di Bandar Lampung terutama yang berhubungan dengan manajemen modal kerjanya. (2) Memberikan solusi manajemen dalam mengatasi masalah manajemen modal kerja setelah menganalisis modal kerja, memperhitungan kebutuhan modal kerja, dan teknik mengakses modal khususnya modal kerja. (3) Merumuskan strategi bersaing yang sesuai dengan kekuatan ,kelemahan, peluang dan ancaman yang bakal dihadapi di masa yang akan datang. (4) Merumuskan teknik Pembinaan yang tepat dan fleksibel untuk usaha ecil di Bandar Lampung.

II. KERANGKA PENDEKATAN Kerangka pendekatan yang digunakan dalam pemecahan maslah ini dapat dilihat dari bagan alur berikut :

176

DAFTAR ISI

(a)

Peneliti melakukan survey Usaha kecil yang telah ditentukan Mendapatkan data manajemen Modal kerja.

(b)

Pengolahan data : Tabulasi,perhitungan Dan analisis. Memisah-misah hasil sesuai Dengan tujuan penelitian yang sudah di Tetapkan.

Solusi berdasarkan Manajemen modal Kerja

(c)

Solusi berdasarkan manajemen strategi bersaing

Penyusun Pedoman Manajemen usaha kecil Terutama yang berhubungan Manajemen modal kerja dan Teknik inovatif untuk mening- katkan daya saing

Gambar 1. Bagan Alur Pemecahan Masalah Penelitian Gambar 1. ini menujukkan bahwa penyelesaian masalah penelitian akan dilakukan melalui empat tahap, yaitu : (a) tahap penelitian,menggunakan metode penelitian yang sesuai sehingga didapatkan data yang valid dari respondenyang telah dipilih;(b) tahap pengolahan data dengan tabulasi, menghitung, memisah-misah hasil sesuai dengan tujuan untuk analisis,yaitu berdasarkan konsep manajemen keuangan khususnya manajemen modal kerja dan konsep manajemen stratetegi bersaing; (c ) tahap menganalisis hasil yang telah dipisahkan secara jelas. Konsep yang digunakan untuk mencari teknik bersaing, dan menumbuhkan inovatif digunakan konsep dari Glueck(1998),Konsep Collins and Devanna (1995), Kenichi Ohmae(1996), beberapa konsep dari David. Fred.R (1998), dan banyak sistesa yang dibuat oleh peneliti dan pengalaman mengajar manajemen strategi. Pendekatan yang digunakan untuk penyelesaian masalah modal kerja digunakan pendekatan Keown, et al (2000), Vanhorn(2000), Weston and Copland (1987),Levi and Sarnad ( 1983); (d) tahap penyusunan pedoman pembinaan mananjemen berdasarkan’manajemen modal kerja dan manajemen strategi bersaing.

177

DAFTAR ISI

III. METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian. Penelitian ini telah dilakukan di Kotamadya Bandar Lampung, pada bulan Mei 2006. B. Metode Penarikan Sampel Metode penarik sampel adalah menggunakan metode Purposive random Sampling, yang diambil usaha kecil yang yang potensial yang ada di Kota Madya Bandar lampung, Usaha kecil yang diambil satu unit berdasarkan jenisjenis usaha, yaitu sebagai berikut: Tabel 1. Responden
No 1. 2 3 4 5 6. 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Usaha Kerajinan Keripik Tanaman hias Tukang Jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Usaha bengkel Motor Usaha Bengkel mobil Usaha Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk Ikan Total Jumlah(unit) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 15

C. Hiptesis (1) (2) Pengololaan modal kerja usaha kecil di Bandar Lampung belum optimal. Strategi inovasi adalah pilihan yang tepat untuk usaha kecil untuk tetap bertahan hidup dan bersaing di era pasar bebas.

178

DAFTAR ISI

D. Alat analisis. Alat analisis yang digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diangkat adalah menggunakan : (1) Untuk membuktikan bahwa modal kerja usaha kecil belum optimal digunakan pendekatan manajemen keuangan konsep dari Weston and Copland (1998), yaitu dengan cara membagikan volume penjualan yang dicapai dengan jumlah hari perputaran seruhan modal kerja yang digunakan dalam usaha kecil. Modal kerja optmal bila Working Capitan (WC)≤ 0. Rumus hipotesisnya : Ho = Nilai modal yang terpakai. H1 ≠ Nilai modal kerja yang optmal (2) Untuk membuktikan hipotesis keduadigunakan pendekatan manajemen strategi. Rumus hipotesisnya: Ho = usaha kecil tidak inovatif H1 ≠ Usaha kecil inovatif E. Pengolahan Data Data yang sudah terkumpul diolah secara tabulasi, dihitung, dan dianalisis berdasarkan konsep manajemen modal kerja yaitu menghitung perputaran modal kerja,menghitung kebutuhan modal kerja optimal sesuai dengan perkembangan jumlah permintaan.sedangkan untuk memilih dan menerapkan konsep manajemen strategi,dari data yang ada dikaji berdasarkan TOWS Matrix dari David,Fred (1998). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Perhitungan Hasil perhitungan dimulai dari perputran modal kerja,kebutuhan modal kerja, dibandingkan dengan realiasi modal kerja dan realisasi volume penjualan,dapat dilihat dari Tabel 2 berikut :

179

DAFTAR ISI

Tabel 2. Hasil Perhitungan Berdasarkan Manajemen Modal Kerja Usaha Kecil
No Jenis Usaha (1 unit) Modal KerjaYang dioperasikan /hr (Rp) 12.916,67 60.130, 56 23.826,38 12.288,89 142.502,78 599.291,67 223.611,11 26.112,50 12.715,28 31.805,56 321.875,21.405,14 70.711,11 113.548,28 82.288,89 Volume Penjuan yang dicapai/hr (Rp) 45.833,33 68.299,44 45.500,16.666,67 366.666,67 744.444,44 291.666,67 46.666,67 20.000,00 56.666,67 388.888,89 60.750,45 104.877,78 154.444,44 113.194,44 Jumlah hari Perputaran modal kerja (satu tahun) 68,74 109,42 223,80 158,68 443,76 557,87 338,76 390,28 189,64 590,45 236,67 36,11 466,43 169,26 208,53 Jumlah Kebutuhan Modal kerja seharusnya/hr (Rp) 24.034,90 77.360,69 73.190,35 37.811,95 283.937.26 480.398,66 309.953,95 16.448,29 109.301,33 123.126,43 591.540,96 36.471,58 80.946,77 328.488,72 195.415,52

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan

Sumber : Data diolah (2006)

Tabel 3. Perbandingan Modal Kerja Yang Diopersikan Dengan Kebutuhan Modal Kerja Seharusnya Berdasarkan Volume Penjualan
Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 12.916,67 60.130, 56 23.826,38 12.288,89 142.502,78 599.291,67 223.611,11 26.112,50 12.715,28 31.805,56 321.875,00 Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 24.034,90 77.360,69 73.190,35 37.811,95 283.937.26 480.398,66 309.953,95 16.448,29 109.301,33 123.126,43 591.540,96

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Jenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil

Keterangan +11.118,23 +17.229,79 +49.363,97 +25.523,06 +141.434,48 -118.893,01 +86.342,55 -9.664,21 +96.586,05 +91.320,87 +269.665,96

180

DAFTAR ISI

No 12 13 14 15

Jenis Usaha Kecil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan

Modal Kerja yang dioperasikan/hr (Rp) 21.405,14 70.711,11 113.548,28 82.288,89

Jumlah Kebutuhan Modal Kerja seharusnya berdasarkan volume Penjualan/Hr (Rp) 36.471,58 80.946,77 328.488,72 195.415,52

Keterangan +15.066,44 +10.235,66 +214.900,44 +113.126,63

Sumber : Data Diolah (2006) Tabel 4. Tingkat Pencapaian Margin Usaha Kesil Di Bandar Lampung
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 NamaJenis Usaha Kecil Kripik Singkong Tanaman hias Tukang jahit Warung P&D Restoran Toko Meubel Apotik Kecil Kerajinan Bambu Usaha Ikan Asin Bengkel Motor Bengkel Mobil Toko Kue Toko Manisan Katering Krupuk ikan Pencapaian Volume Penjualan harian(Rp) 45.833,33 68.299,44 45.500,16.666,67 366.666,67 744.444,44 291.666,67 46.666,67 20.000,00 56.666,67 388.888,89 60.750,45 104.877,78 154.444,44 113.194,44 Biaya Variabel Harian(Rp) 32.679,49 44.920,54 20.11,50 13.020,00 226.233,34 310.210,00 229.308,34 20.421,33 11.014,00 25.902,33 193.900,00 34.761.40 73.183,48 107.771,33 63.349,76 Persentase Kontribusi margin 28,66 34,23 54,70 21,88 38,30 58,33 21,38 56,24 44,93 54,29 50,14 42,78 31,77 61,99 43,91

Sumber : Data Diolah (2006) B. Pembahasan 1. Kajian Berdasarkan Manajemen Modal Kerja

Hasil dari riset terhadap lima belas jenis usaha kecil yang beroperasi di Bandar Lampung setelah diuji berdasarkan kebutuhan modal yang seharusnya berdasarkan rumusan yang membagi total penjualan dengan lamanya hari rata perputaran setiap item modal kerja maka didapatlah hasil lengkap seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 1. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir rata-rata perusahaan kecil atau 87% usaha kecil di Bandar Lampung umum belum optimal dalam penggunaan modal kerjanya,ini dibuktikan oleh adanya kelebihan ( bertanda +) dalam penggunaan modal kerja, dan hanya 13% (bertanda - ) yang efektif dalam penggunaan modal kerjanya. Ketentuan 181

DAFTAR ISI

penggunaan modal kerja yang optimal menurut Weston dan Copland (1998), adalah tercapai jika WC ≤ 0 . Kelemahan ini umumnya karena lemahnya manajemen modal kerja sebagai akibat dari banyaknya keterbatasan sumberdaya dari usaha kecil itu sendiri, diantaranya banyak perusahaan harus menalang atau menggunakan persekot uang muka dalam pengadaan pesediaan untuk menjaga stabilitas produksi, sehingga banyak usaha kecil memiliki tingkat perputuran persediaan yang rendah ,disisi lain kurang efektif dalam penagihan piutang,sehingga perputaran piutang rendah. Kelemahan ini juga umumnya disebabkan adanya keterbatasan modal kerja secara umum, karena kesulitan dalam mengakses modal kerja. Sumber-sumber dana yang ada umumnya adalah bersifat individu dengan ratarata tingkat suku bunga yang tinggi. Kemampuan menggunakan sumberdana dari bantuan bank, KUK dari koperasi atau instansi pemerintah umumnya masih jarang. Kalaupun ada pada umumnya mereka tidak begitu tertarik menggunakan sumberdana ini karena dipandang terlalu sulit dan sangat birokrasi,dan persyatan ini tidak dapat dipenuhi oleh banyak perusahaan kecil. Akibatnya banyak usaha kecil berjalan seadanya dan orientasi usaha hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Kondisi seperti ini tentukannya akan mempersulit usaha kecil untuk dapat eksis di era pasar bebas pada tingkat AFTA apalagi pada tingkat dunia. 2. Kajian Berdasarkan Manajemen Strategi Hasil perhitungan dimulai dari Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3, dapat dijadikan dasar dalam kajian lingkungan usaha kecil, ditambah dengan fakta lingkungan yang ada pada usaha kecil sekarang dan prediksi di masa yang akan datang. Guna menyusun strategi pengembangan usaha kecil sekarang dan yang akan datang digunakan pendekatan David,Fred (1998) yang dikenal dengan TWOS Marix Analysis. Berdasarkan kajian ini kekuatan,kelemahan, peluang, dan ancaman dari manajemen usaha kecil itu dituangkan dalam matrik TOWS sebagai berikut: Matrik TOWS Usaha Kecil Di Bandar Lampung

182

DAFTAR ISI

Gambar 1. Matriks TOWS, Usaha Kecil di Bandar Lampung

S= Kekuatan KSF Internal 1. 2. 3. KSF O= Peluang 1. 2. 3. Prospek pasar lokal Prospek pasar luar Binaan Pemerintah T= Ancaman 4. 5. 6. Persaingan Teknologi Perubahan trand/mode 1. 2. 1. 2. 3. Kontribusi margin (ratarata ±41% ) pada bahan baku Keuletan berusaha Volume Penjualan Modal kerja Naik terus S-O Melakukan inovasi Pengembangan usaha Peningkatan mutu S- T Penguatan Penguasaan pasar Antipasi Perubahan tek nologi 1. 1. 2. 3.

W=Kelemahan Ketergantung Tinggi Manajemen Akses modal

W- O Memperbaiki manajemen modal kerja 2. Pelatihan SDM 3. Kontrak BB W- T Menambah wawasan SDM tentang Persaingan dan pening katan modal kerja

Hasil kajian lingkungan berdasarkan TOWS ini secara umum menggambarkan peta kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari keberadaan usaha kecil di masa yang akan datang ,selain itu melalui matriks TOWS ini dapat dirancang strategi apa yang layak diterapkan dalam jangka pendek ,jangka menengah, dan jangka panjang terutama dikaitkan dengan persaingan secara bebas di era AFTA maupun era Global. Kekuatan dari saha kecil di Bandar Lampung berdasarkan kajian hasil survei ada tiga pilar yaitu (1) setiap usaha kecil umumnya memiliki kontribusi margin yang tinggi yaitu berkisar rata-rata antara 41%, ini menunjukkan bahwa usaha kecil ini secara bisnis masih cukup potensial kalau dikelola dengan benar. Masalahnya terletak pada kemampuan mengatur biaya operasional usaha, jika biaya operasional rutin ini dapat diefisienkan maka usaha tersebut akan tetap eksis dan berkembang secara mandiri apalagi jika menggunkan dana binaan pemerintah atau yang disalurkan melalui Bank atau non Bank.; (2) Rata-rata pengusaha kecil ini memiliki keuletan dalam berusaha karena terdorong oleh motivasi untuk mempertahan hidup secara mandiri; (3) Selain itu kekuatan lain adalah hampir semua produk yang ditawarkan oleh usaha kecil dapat diterima pasar local karena itu sampai saat ini masalah penjualan tetap baik. 183

DAFTAR ISI

Kelemahan usaha kecil di Bandar Lampung umumnya (1) masih rendahnya pengetahuan mengena modal kerja, sehingga mereka belum sadar dan sungguh-sungguh mengatur penagihan piutang, memgatur persediaan, termasuk sulitnya memisahkan kebutuhan rumah tangga dengan kebutuhan usaha; (2) Kelemahan ini hampir dilakukan oleh setiap usaha kecil sebagai akibat masih rendahnya SDM yang ada, yaitu keterampilan berbisnis secara profesional ; (3) Masalah pengadaan bahan baku belum diatur berdasarkan perkiraan kebutuhan produksi,tetapi lebih banyak didorong oleh adanya rasa takut kehabisan bahan baku,sehingga mereka banyak yang bertjaga-jaga secara berkelebihan pada pengaadaan bahan baku dan pelengkap. Peluang usaha kecil di Bandar Lampung diantaranya (1) masih terbukanya peluang untuk menggarap pasar local maupun non local; (2) Tingginya dukukung pemerintah melalaui binaan manajemen ataupun bantuan modal yang dapat dimanfaat untuk mengembangkan usaha kecil. Ancaman usaha kecil kedepan antara lain (1) datang dari semakin ketatnya persaingan baik secara lokal maupun global ; (2 ) ancaman datang di era pasar bebas adalah semakin cepatnya trend/perubahan mode yang berpengaruh pada perubahan salera konsumen; (3) selain itu ancaman datang dari peningkatan mutu dan pe layanan sebagai akibat adanya perkembangan teknologi produksi yang baru. Kajian –kajian TOWS inilah yang dijadikan dasar untuk menyusun langkah atau strategi usaha kecil ke depan agar dapat bertahan dan bekembang terutama di era pasar bebas, apakah itu di era pasar bebas AFTA atau pada era Global. Tindakan strategi yang harus diambail dalam jangka pendek adalah : (1) Memperbaiki modal kerja, dengan cara meningkatkan pengetahuan mengenai modal kerja, cara mengatur persediaan, cara mengatur piutang, cara mengatur seluruh kebutuhan operasional termasuk melakukan efisiensi usaha; (2) Melakukan peningkatan dengan suplier lokal sehingga terjalin harmonisasi hubungan dan kontinyuitas pemasokan dapat terjamin sesuai dengan kebutuhan. (3) Melatih SDM agar mampu menguasai ketearampilan bisnis moderen dan mampu menyerap binaan atau bantuan modal kerja dari pemerintah yang disalurkan melalui Bank atau dana KUK. Tindakan jangka menengah adalah : (1) Meningkatkan mutu dan perbaikan sistem pelayanan kepada setiap konsumen baik secara lokal maupun untuk meningkatkan pelayanan di luar Bandar Lampung; (2) Menerapkan sistem pemasaran yang moderen dengan memperbaiki pelayanan, dimulai dari perbaikan kemasan,peningkatan daya kerja produk,maupun bentuk pelayanan purna servis,dll.

184

DAFTAR ISI

Tidakan strategi jangka panjang adalah (1) berusaha untuk mengganti teknologi yang ada dengan teknologi yang baru sesuai dengan kemajuan zaman ;( 2) strategi inovasi menjadi andalan utama, hal ini dap, sehingga mampu membaca kebutuhan pasar dengan cepat. Hal dapat dikembangkan berkat kesadaran mengenai pemahaman salera konsumen dan ketersediaan teknologi. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Hasil perhitungan dan kajian yang telah dilakukankan meunjukkan bahwa secara umum hipotesis yang diungkapkan pada penelitian ini dapat dibuktikan, dengan alasan sebagai berikut : (a) Hasil perhitungan kebutuhan modal kerja berdasarkan besaran pencapaian volume penjualan umumnya menunjukkan hampir ( 87% ) usaha kecil itu menggunakan modal kerjanya secara berkelebihan ( WC>0). Menurut ketentuan manajemen kerja yang diungkapkan oleh Weston dan Copland yang menyatakan bahwa modal kerja yang optimum adalah jika working of capital (WC) ≤0, (b) Efek dari buruknya manajemen modal kerja ini juga berpengaruh pada kemampuan bersaing dari usaha kecil sehingga jika ini diteruskan tanpa dicari solusi tidak tertutup kemungkinannya akan berpengaruh pada keberadaan dan daya saing usaha kecil itu di masa yang akan datang terutama pada era AFTA ataupun era Global. 2. Saran a) Dianjurkan kepada semua pihak yang terkait dimulai dari Departemen atau dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM ataupun instansi pemerintah atau swasta yang terkait, maupun masyakat yang peduli seperti masyarakat kampus untuk melakukan binaan manajemen modal kerja dan teknik mengakses modal serta peningkatan wawasan SDM usaha kecil mengenai keterampilan bisnis moderen, sehingga dapat mengkuti perkembangan pasar dan perubahan salera konsumen secara tepat dan cepat b) Hasil penelitian ini harus disosialisasikan sehingga setiap usaha kecil mengetahui strategi apa yang harus mereka terapkan, agar tetap bertahan dan berkembang di masa yang akan datang . Strategi itu adalah : 185

DAFTAR ISI

1.

Strategi jangka pendek : (a) Memperbaiki modal kerja, dengan memperhatikan lebih intensif pada item persediaan dan piutang, sehingga kedua item ini dapat efektif dimanfaatkan sebagai bagian dari modal kerja yang dapat memperbaiki kinerja modal kerja;(b)Usaha kecil perlu meningkatkan hubungan baik dengan supliernya sehingga terjamin kontinyuitas produksi, yang secara tidak lansung berpengaruhi terhadap efektivitas item persediaan; (c) Usaha kecil perlu mengikuti pelatihan SDM khususnya untuk menambah wawasan bisnis moderen;. Strategi jangkah menengah yang perlu diambil oleh usaha kecil adalah : (a) meningkatkan mutu dan sistem pelayanan kepada konsumen lokal maupun di luar Bandar Lampung; (b) menerapkan sistem pemasaran moderen dengan memperbaiki pelayanan, perbaikan kemasan, daya kerja produk maupun pelayanan purna servis. Strategi jangka panjang yang perlu diambil adalah : (a) berusaha mengganti teknologi dengan teknologi yang moderen sesuai dengan kemajuan zaman ; (b) mengembangkan inovasi produk, sebagai keunggulan bersaing di era AFTA maupun era global.

2.

3.

Daftar Pustaka Bernard W.Taylor III, Intoduction to Management Science. Virginia: Pearson Education-Prentice Hall, 8th,ed Bill Scott,1997. The Skill of Communicating.England: Wildwood House. Collin and Devana,2001. The Portable MBA.New York : John Wiley & Sons,Inc. Indra Ismawan,1999. Menghapus Kesenjangan: Makalah Seminar Pembinaan Usaha Kecil.Jakarta, September 21. Iban Sofyan,2000. Konsep dan Aplikasi Lampung: Penerbit Lamda Sains. Manajemen Keuangan.Bandar

Kenoichi Ohmae,1996. Managing in a borderless World.New York: Harvard University Review .67,p 153. Keown,David,Martin,and Petty,2000. :Prentioce-Hall,Inc,9th-ed Basic Financial Management,Virginia

186

DAFTAR ISI

Levi and Sarnat,1983. Capital Investment and Financial Decisions.Singapore: Prentice Hall International. Punji Wahono,2000. Kunci Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar-Kerja sama antar Lembaga,Jakarta,23 April. ,Philip,1998. Copetitive Advantage. New York : Collier Macmilan Publishers. Steiner, George,1989. Starting A Successful Small Business. Great Britain: Kogan Page Limited. Suryadi Soedirdja,2000. Faktor Penghambat Pengembangan Usaha Kecil: Makalah Seminar Antar Instasi, Jakata. 19 Juni. Richard E. Feinberg-Valeriana Kallap,2000.PerbankanKomersil,di Ketiga,Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Dunia

Vanhorn,2001. Fundamentals of Financial Management. New Yersey : Printice Hall,Inc.Weston and Copland,1998.

187

DAFTAR ISI

(Studi Pada Produk Tabungan, Tiga Bank Umum Terbesar Di Provinsi Lampung) Oleh :

Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek

Mahrinasari MS.3
ABSTRACT The objective of this research is to explore what the brand equity factors especially study in the biggest three general is banking in Lampung Province. The research result shows that the determining factors of the equity brand value are 14 factors, determined by 67 indicators. These 14 factors are taken from the KMO’s and MSA’s values of The Factor Analysis more than 0.50, as follows: 1) Top Of Mind of the saving account brand, 2) Aware the brand because of Advertising, 3)Aware the brand because of On Line Mareketng, 4) Asociate the brand with the product function, 5) Asociate the brand with the facilities and services, 6) Asociate the brand with the product atributes, 7) be Satisfied with supporting facilities, On-Line Technology, and Services offered by human Resources, 8)Satisfied with fisical facilities, 9)Satisfied with office location, 10) Satisfied with keeping in promise, 11) Satisfied with easily transaction, 12)Satisfied with additonal benefit, 13)CustomerLoyalty because of customers Liking and commits, 14) customers loyalty because of no brand swiching. Key Words: Brand Equity, Brand Awareness, Brand Asociation, Brand Perceived Quality, and Brand Loyalty.

Pendahuluan Merek produk berkembang menjadi sumber aset terbesar dan merupakan faktor penting dalam kegiatan pemasaran perusahaan. Hermawan Kertajaya (On Brand, 2004, hal. 11) mengungkapkan bahwa merek merupakan indikator nilai (Value) suatu produk. Nilai bagi konsumen adalah perolehan Manfaat Fungsional, dan Emosional. Manfaat fungsional adalah manfaat langsung berkaitan dengan fungsi-fungsi yang diciptakan oleh suatu produk. Sedangkan

3

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Unila

DAFTAR ISI

manfaat emosional adalah manfaat yang diperoleh berupa stimulasi terhadap emosi dan perasaannya. Persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat, dan hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu bersaing, merebut dan menguasai pasar (Durianto, Darmadi, Sugiarto, Sitinjak Tony, 2001, hal. 3). Ekuitas Merek menurut Darmadi Durianto, Sugiarto, Sitinjak Tony (2001, hal.4), adalah Seperangkat aset dan liabilitas merek yang terkait dengan suatu merek, nama, simbol, yang mampu menambah atau mengurangi nilai sebuah produk atau jasa baik pada perusahaan maupun pada pelanggan. Agar aset dan liabilitas mendasari ekuitas merek, maka aset dan liabilitas merek harus berhubungan dengan nama atau sebuah simbol sehingga jika dilakukan perubahan terhadap nama dan simbol merek, beberapa atau semua aset dan liabilitas yang menjadi dasar ekuitas merek akan berubah pula. Menurut David A. Aaker (1998) yang dikutip oleh Darmadi Durianto, Sugiarto, Sitinjak Tony (2001, hal. 4), ekuitas merek memiliki beberapa elemen, yaitu : a. Kesadaran Merek (Brand Awareness), menunjukkan kesanggupan seseorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu.

b. Asosiasi Merek (Brand Association), mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga pesaing, selebritis dan lainlain. c. Persepsi Kualitas (Perceived Quality), mencerminkan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas/keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud yang diharapkan, sehingga menciptakan kepuasan pelanggan.

d. Loyalitas Merek (Brand Loyalty), mencerminkan tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek produk. e. Aset-aset Merek Lainnya (Other Proprietary Brand Assets). Elemen ekuitas merek yang kelima ini secara langsung dipengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama tersebut.

Perbankan nasional di Indonesia saat ini memperlihatkan persaingan yang ketat dalam merebut konsumen dan mengembangkan pangsa pasar, khususnya pada 190

DAFTAR ISI

produk tabungan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tawaran promosi yang begitu agresif dan menarik dalam bentuk iklan di media elektronik, iklan di media cetak, dan pemberian hadiah. Sebagai contoh, terdapat 3 bank Indonesia yang memiliki aset terbesar posisi september 2005, yaitu Bank mandiri dengan aset Rp256.783.842 Juta menawarkan program iklan “Berburu Hadiah, dengan produk tabungan Mandiri Fiesta, dan tawaran hadiah beberapa mobil mewah BMW dan Mercy; begitupun pada Bank BCA dengan aset Rp148.550.297 Juta menawarkan beberapa ratus hadiah mobil mewah dan intensitas iklan melalui program tayangan di Indosiar TV “Gebyar BCA” , dengan produk tabungan Tahapan BCA; serta Bank Negara Indonesia dengan aset Rp147.675.083 Juta menawarkan program tayangan “Layar BNI dan Undian Berhadiah menarik” dengan produk tabungan “Taplus BNI” (Info Bank, Vol. XXVII, Desember 2005, hal. 14). Di Propinsi Lampung eksistensi ke tiga perbankan tersebut menunjukkan suatu bank yang besar baik dari jumlah aset, maupun perolehan dana pihak III. Tabungan merupakan sumber dana pihak III yang masih menjadi primadona sebab biaya dana yang dikeluarkan berada pada nilai tengah dan relatif stabil, dan bahkan nilai pengendapan dana cukup lama dibandingkan dengan giro dan deposito. Posisi dana demikian berdampak terhadap perolehan pangsa pasar bank atas produk simpanannya, dimana pangsa pasar produk tabungan selama tiga tahun terakhir tertinggi dimiliki oleh PT BCA, kemudian menyusul PT Bank Mandiri, dan PT BNI (persero) Tbk di Provinsi Lampung (Sumber: Bank Indonesia Bandarlampung, SKEM, September 2005). Secara Nasional, PT BCA memiliki pangsa pasar tabungan tertinggi dibandingkan dengan PT BNI, dan PT Bank Mandiri (Sumber: Mark Plus dan Biro Riset Info Bank, dalam InfoBank, Volume XXVII, hal. 14) Hasil survey MARS tahun 2005 (Siti Sumaryati dalam artikel Sajian Utama, SWA, No. 15. Vol. XXI, Juli – Agustus 2005, hal. 36, dan hal. 44) menunjukkan bahwa BCA memiliki peringkat pertama sebagai “The Best Corporate Brand”, dan peringkat berikutnya diikuti oleh BRI, BNI, Mandiri, dan Lippo. Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Faktor – faktor apakah yang menentukan nilai ekuitas merek ?.

191

DAFTAR ISI

Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: • • Untuk mengetahui fator-faktor yang menentukan ekuitas merek. Sebagai bahan informasi bagi manajemen bank dalam mengeksekusi atau merencanakan program pemasaran produk Tabungan pada masa depan.

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk: 1. 2. Pengembangan ilmu pengetahuan di bidang manajemen pemasaran perusahaan, khususnya pada perusahaan perbankan. Sebagai bahan informasi bagi pengambil keputusan yang terkait dengan produk perbankan pada umumnya.

Tinjauan Teori Merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual tertentu, dengan demikian membedakannya dari barangbarang dan jasa yang dihasilkan para kompetitor.(David A.Aaker, 1997 hal.9) Merek menurut bahasa kamus dalam menyebutkan: Encyclopedia Americana, 1989, hal. 438.

Brand is a word, term, symbol or design or a combination of two or more of these, used to identify a product or service of a seller, thus differentiating the product or service from others. A Brand name has value to both the owner of the name and the consumer. For the owner it helps to stimulate buying, maintain prices, differentiate products or services, aid promotional efforts, and maintain a corporate image. For the consumer, it helps to assure him of Quality, and offer him the security, and sometime the prestige, associated with the Brand of the product or service and its owne. Suatu merek pada gilirannya memberi tanda pada konsumen mengenai sumber produk tersebut, kualitas produk, kelebihan-kelebihan produk, dan melindungi konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha memberikan produk-produk yang tampak identik. Defenisi tersebut di atas juga menunjukkan bahwa begitu pentingnya arti dan keberadaan sebuah merek. Merek memegang peranan sangat penting, salah satunya adalah menjembatani harapan konsumen pada saat kita menjanjikan sesuatu kepada konsumen. Dengan demikian dapat diketahui adanya ikatan emosional yang tercipta antara 192

DAFTAR ISI

konsumen dengan perusahaan penghasil produk melalui merek. Pesaing bisa saja menawarkan produk yang mirip, tapi mereka tidak mungkin menawarkan janji emosional yang sama. Merek menjadi sangat penting saat ini, karena beberapa faktor seperti: 1. 2. Emosi konsumen terkadang turun naik. Merek mampu membuat janji emosi menjadi konsisten dan stabil. Merek mampu menembus setiap pagar budaya dan pasar. Bisa dilihat bahwa suatu merek yang kuat mampu diterima diseluruh dunia dan budaya. Contoh yang paling fenomenal adalah Coca Cola yang berhasil menjadi “Global Brand”, diterima dimana saja dan kapan saja di seluruh dunia. Merek mampu menciptakan komunikasi interaksi dengan konsumen. Semakin kuat suatu merek, makin kuat pula interaksinya dengan konsumen dan makin banyak Asosiasi Merek yang terbentuk dalam merek tersebut. Jika Asosiasi Merek yang terbentuk memiliki kualitas dan kuantitas yang kuat, potensi ini akan meningkatkan Citra Merek. Merek sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku konsumen. Merek yang kuat akan sanggup merubah perilaku konsumen. Merek memudahkan proses pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. Dengan adanya merek, konsumen dapat dengan mudah membedakan produk yang akan dibelinya dengan produk lain sehubungan dengan kualitas, kepuasan, kebanggaan ataupun atribut lain yang melekat pada merek tersebut. Merek berkembang menjadi sumber aset terbesar bagi perusahaan. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa Coca Cola Company yang memiliki Stock Market Value (SMV) yang besar ternyata 97 % dari SMV tersebut merupakan nilai merek.

3.

4. 5.

6.

Ekuitas merek menurut Aaker, David A. (1997: 22) adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbol yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan. Ekuitas Merek merupakan aset yang dapat memberikan nilai tersendiri dimata pelanggannya. Aset yang dikandungnya dapat membantu pelanggan dalam 193

DAFTAR ISI

menafsirkan, memproses, dan menyimpan informasi yang terkait dengan produk dan merek tersebut. Ekuitas Merek dapat mempengaruhi rasa percaya diri konsumen dalam pengambilkan keputusan pembelian atas dasar pengalaman masa lalu dalam penggunaan atau kedekatan asosiasi dengan berbagai karakteristik merek. Menurut Durianto Darmadi - Sugiarto - Tony Sitinjak, 2001 hal. 7) disamping memberi nilai bagi konsumen, Ekuitas Merek juga memberikan nilai bagi perusahaan dalam bentuk : 1. Ekuitas Merek yang kuat dapat mempertinggi keberhasilan program dalam memikat konsumen baru atau merangkul kembali konsumen lama. Promosi yang dilakukan akan lebih efektif jika merek dikenal. Ekuitas Merek yang kuat dapat menghilangkan keraguan konsumen terhadap kualitas merek. Empat dimensi Ekuitas Merek: Kesadaran merek, Kualitas yang dipersepsikan atas merek, Asosiasi-asosiasi merek, dan loyalitas merek dapat mempengaruhi alasan pembelian konsumen. Bahkan jika Kesadaran merek, Kualitas yang dipersepsikan atas merek, dan Asosiasi-asosiasi merek tidak begitu penting diperhatikan dalam proses pemilihan merek, ketiganya tetap dapat mengurangi keinginan atau rangsangan konsumen untuk mencoba merek-merek lain. Loyalitas merek yang telah diperkuat merupakan hal penting dalam merespon inovasi yang dilakukan para pesaing. Loyalitas merek adalah salah satu elemen Ekuitas Merek yang dipengaruhi oleh elemen ekuitas merek lainnya. Asosiasi Merek juga sangat penting sebagai dasar penciptaan Kesan Merek yang kuat dan strategi perluasan produk. Salah satu cara memperkuat Ekuitas Merek adalah dengan melakukan promosi besar-besaran yang membutuhkan biaya besar. Ekuitas Merek yang kuat memungkinkan perusahaan memperoleh imbuhan nilai yang lebih tinggi dengan menerapkan harga premium, dan mengurangi ketergantungan pada promosi sehingga dapat diperoleh laba yang lebih tinggi. Ekuitas Merek yang kuat dapat digunakan sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perluasan merek kepada produk lainnya atau menciptakan bidang bisnis baru yang terkait yang biayanya akan jauh lebih mahal untuk dimasuki tanpa merek yang memiliki Ekuitas Merek tersebut.

2.

3.

4. 5.

6.

194

DAFTAR ISI

7.

Ekuitas Merek yang kuat dapat meningkatkan nilai penjualan karena mampu menciptakan loyalitas saluran distribusi. Produk dengan Ekuitas Merek yang kuat akan dicari oleh pedagang karena mereka yakin bahwa produk dengan merek tersebut akan memberikan keuntungan bagi mereka. Dengan Ekuitas Merek yang kuat, saluran distribusi dapat berkembang sehingga semakin banyak tempat penjualan yang pada akhirnya akan memperbesar nilai/volume penjualan produk tersebut, dan mempertinggi perolehan pangsa pasar. Aset-aset Ekutias Merek lainnya dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dengan memanfaatkan celah-celah yang tidak dimiliki pesaing. Biasanya, bila empat faktor penentu utama dari Ekuitas Merek yaitu Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek sudah sangat kuat, secara otomatis aset Ekuitas Merek lainnya juga akan kuat.

8.

Dengan demikian, perusahaan yang ingin tetap bertahan dan melangkah lebih maju untuk memenangkan persaingan, sangat perlu mengetahui kondisi Ekuitas Merek produknya melalui penelitian faktor-faktor penentu elemen Ekuitas Merek (Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kualitas Merek, dan Loyalitas Merek). Metode Penelitian Objek penelitian pada produk Tabungan Bank Umum PT. Bank Mandiri Tbk, PT BCA Tbk, dan PT BNI Tbk (Persero) di Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dengan pengambilan data melalui survey lapangan pada bulan September 2005 hingga bulan Desember 2005. Jumlah sampel terpilih menggunakan pendapat Slovin (Husein Umar, 1997, hal. 59-60) dengan mengasumsikan populasi berdistibusi normal dan tingkat kesalahan pengambilan sampel sebesar 10%. Populasi nasabah tabungan pada ketiga bank masing-masing sebanyak di atas 50.000, sehingga besarnya jumlah sampel diperoleh minimal sebesar 100. Dengan demikian jumlah sampel keseluruhan adalah 300 responden. Responden terpilih disurvey pada kantor cabang utama, dan kantor cabang pembantu dengan lokasi kantor di kota/kota kabupaten terpadat atau terbanyak respondennya melebihi 5000 nasabah, sehingga jumlah sampel pada masing-masing kantor cabang dan cabang pembantu dipilih secara proporsional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non -probability sampling, khususnya dengan jugjemen sampling atau sampling pertimbangan (Moh. Nasir, 1999, hal.332). Pendekatan 195

DAFTAR ISI

ini dilakukan karena karakteristik populasi nasabah bank responden tidak dapat diketahui dengan pasti dan nasabah diperkirakan homogen. Oleh karena itu, penulis menentukan pertimbangan yang menjadi responden adalah nasabah aktif yang berarti nasabah melakukan transaksi menabung minimal satu kali dalam satu bulan pada bank responden dan pernah menjadi dan atau sedang menjadi nasabah pada produk tabungan bank lainnya. Hasil Dan Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas Hasil pengujian validitas dengan metode analisis Korelasi Pearson yang dapat dilihat pada Tabel 1. berdasarkan aplikasi komputer Software SPSS Versi 11.5, dan mengunakan 30 sampel responden pada peubah Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Kepentingan, Kepuasan, dan Loyalitas menunjukkan nilai tingkat signifikansi P lebih kecil (<) dari 0.05. Dengan demikian, alat ukur yang digunakan dalam pengukuran Ekuitas Merek dapat diyakini kevalidannya/keakuratannya. Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan metode statistik “Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,9468 atau 95%. Nilai Cronbach’s Alpha ini masuk dalam kategori tingkat kereliabelan sangat tinggi. Dengan demikian, skala pengukuran dikatakan reliabel atau tepat untuk digunakan pada penelitian selanjutnya. Tabel 1. No Hasil Pengujian Validitas Pengukuran Ekuitas Merek Peubah Ekuitas Merek Nilai Korelasi Pearson 0,553 0,406 0,464 0,648 0,646 Hasil Signifikansi= < 0,05, Berarti Valid 0.002 0,026 0,010 0,000 0,000

1 Loyalitas pada Merek 2 Kesadaran pada merek 3 Asosiasi atas Merek 4 Kepentingan pada Merek 5 Kepuasan atas Merek Sumber: Data diolah, 2005 Analisis Faktor Penentu Ekuitas Merek

Analisis faktor penentu ekuitas merek menggunakan model analisis faktor. Hasil Model analisis faktor I dilakukan tampa terjadi reduksi indikator menunjukkan bahwa angka KMO (Kaiser-Meyer-Olkin,) – MSA (Mesure of Sampling Adequacy) sebesar 0,874. Angka ini berarti bahwa pengukuran atas 196

DAFTAR ISI

peubah ekuitas merek dapat diproses dan digunakan dalam model selanjutnya. Nilai Bartlett’s Test yang dilihat pada angka Kai Kuadrat (Chi-Square) sebesar 10890,365 dengan signifikansi sebesar 0,000, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Namun, besaran MSA pada peubah Loyalitas, khususnya pada indikator Pembeli Kebiasaan sebagai bagian dari peubah ekuitas merek menunjukkan nilai di bawah 0,50. Hal ini berarti perhitungan analisis faktor I perlu diulang dengan cara menghilangkan peubah indikator “kebiasaan”. Model analisis faktor II setelah menghilangkan peubah kebiasaan menunjukkan bahwa nilai KMO- MSA (Kaiser-Meyer-Olkin, Measure of Sampling Adequacy) sebagai pengukuran ketepatan model dapat digunakan sebesar 0,876. Nilai Bartlett’sTest of Sphericity yang dilihat pada angka Kai Kuadrat sebesar 10823,739 dengan signifikansi sebesar 0,000 yaitu kurang dari nilai signifikansi kepercayaan 0,05, yang berarti bahwa model analisis faktor dapat dilanjutkan. Nilai MSA pada Model faktor II menunjukkan bahwa masing-masing peubah ekuitas merek memiliki nilai lebih tinggi dari 0,50. Kemudian nilai faktor komponen matrik korelasi terdiri 15 faktor. Penentuan masing-masing indikator yang masuk dalam suatu faktor komponen matrik korelasi yaitu dilihat dari nilai korelasi matrik terbesar pada masing-masing komponen. Namun, nilai komponen matrik korelasi pada faktor 13 yang terdiri dari indikator KPS 6 ( Lokasi Strategis dekat dengan tempat tinggal) serta faktor 12 yang terdiri dari indikator BA 13 (Asosiasi Penggunaan layanan Auto Debet) dan BA 14 (komunikasi Pemasaran On-Line)_memiliki 2 nilai faktor komponen matrik korelasi yang berdekatan hampir sama, maka peneliti mencoba menggabungkan faktor 13 nilai indikator KPS 6 ke dalam faktor 3 serta faktor 12 nilai indikator BA 13 ke dalam faktor 4, dan nilai indikator BA14 pada faktor komponen 12 ke dalam faktor komponen 14. Sehingga jumlah faktor penentu nilai ekuitas merek secara keseluruhan menjadi 14 faktor. 14 faktor ini adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek karena Promosi Media Iklan Dalam dan Luar Ruangan; 3) Pengenalan Merek Karena Komunikasi Pemasaran On-Line; 4) Asosiasi yang dibentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah, suku bunga tinggi, dan aman; 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan aman dan nyaman; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta Integritas; 7) Kepuasan atas produk tabungan karena tawaran fasilitas teknologi on-line dan layanan oleh SDM tepat, cepat, dan aman; 8) Kepuasan atas tawaran fasilitas fisik yang melekat pada ruang kantor (Gedung mewah, ruang tunggu, dan halaman parkir luas); 9) Kepuasan Atas Lokasi Strategis, 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai fungsi inti produk berupa: suku bunga 197

DAFTAR ISI

tinggi, biaya administrasi rendah, dan hadiah undian serta hadiah langsung menarik; 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi; 12) Kepuasan atas manfaat tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik, parkir gratis, desain kartu ATM menarik; 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan, kesukaan, dan komitmen nasabah terhadap merek produk tabungan pada ke tiga bank responden; serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek, yang berarti jika ada tawaran yang menarik dari bank lain, nasabah akan cenderung berpindah walaupun nasabah harus mengeluarkan biaya perpindahan atas merek. Tabulasi hasil faktor komponen matrik korelasi terdiri dari 14 faktor dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini. Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai korelasi matrik antara indikator dan faktor menunjukkan rerata korelasi di atas 50% (0,536). Nilai ini menunjukkan hubungan yang cukup erat. Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Faktor Komponen Matrik Korelasi
Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi I Nama Faktor Pengingatan Puncak Atas Merek Indikator Pikiran Puncak (Top of Mind) 1. Iklan Radio Pengenalan Merek 3. Surat Kabar Karena Promosi Iklan Media Dalam 4. Majalah dan Luar 5. Tayangan “Bill Board” Ruangan, Berupa; 6. Pameran 7. Rekomendasi Teman 3 4 5 Pengenalan Merek karena Asosiasi Terbentuk Karena Fungsi Produk, Berupa: Asosiasi Terbentuk karena Pemanfaatan Fasilitas dan Akses Layanan, Berupa: 1. Pemasaran On-Line 1. Biaya Administrasi Rendah 2. Suku Bunga Tinggi 3. Aman 1. Akses Jaringan Kantor Luas danj Akses ATM banyak 2. Akses layanan Phone Banking 24 Jam, Bebas Pulsa 3. Fasilitas Antrian Nyaman 4. Fasilitas Transaksi penarikan Dana , Kapan Saja, Dimana Saja, Tampa Batasan Jumlah 5. Akses layanan cepat, aman dan nyaman 2. Iklan TV Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0,789 0,504 0,522 0,769 0,766 0,765 0,465 0,418 0,303 0,648 0,742 0,476 0,676 0,728 0,605 0,600 0,689

2

198

DAFTAR ISI

Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi

Nama Faktor

Indikator 6. Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah 7. Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik, Telephone, dan Air 8. Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja

Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0,547 0,757 0,683 0,754 0,533 0,633 0.412 0.446 0.465 0.692 0.325 0.678 0.629 0.573 0.607 0,780 0,832 0,832 0,717 0,817 0,343 0,481 0,573 0,607 0,780

6

Asosiasi Terbentuk Karena 2. Layanan Simpati Atribut Produk Berkesan: 3. Tanggung jawab dan Integritas 1. Ruang antrian nyaman 2. Teknologi Informasi On-Line 3. Dilengkapi dengan Buku Transaksi 4. Profesionalisme karyawan dalam pelayanan 5. kemampuan Karyawan dalam menjelaskan produk dan layanan denagn baik dan tepat 6. Layanan transaksi oleh karyawan cepat 7. Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah 8. FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung 9. Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana 10. Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat 11. Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah 12. Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah 13. Pelayanan prima oleh Karyawan 14. Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah 1. Gedung Mewah 2. Ruang Tunggu Bertransakasi Luas 3. Ruang tunggu Bertransaksi Bersih 4. Ruang Tunggu Bertransaksi Sejuk 5. Ruang Tunggu Bertransaksi Nyaman

1. Profesional

7

Kepuasan Atas Fasilitas Pelengkap, Teknologi dan Layanan SDM, Berupa:

8.

Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang Melekat pada Ruang kantor, Berupa:

199

DAFTAR ISI

Nomor Faktor Komponen Matrik Rotasi

Nama Faktor

Indikator 6. Halaman Parkir Luas

Nilai Korelasi Faktor Komponen Matrik Rotasi 0,832 0,396 0,437 0,775 0,691 menarik 0,663 0,748 0,768 0,799 0,780 0,387 0,481 0,497 0,526 0,494 0,604 0,403 0,789 0,784 0,634 0,749

9

Kepuasan Atas Lokasi Strategis Kepuasan atas Kepastian dan Ketepatan Janji Sesuai Fungsi Inti Produk

1. Dekat dengan tempat tinggal/Usaha 2. Mudah Dijangkau dengan Alat Transportasi 1. Suku bunga tinggi dan menarik 2. Biaya administrasi rendah 3. Hadiah undian tabungan 4. Hadiah langsung menarik 1. Fasilitas Internet Banking 2. Fasilitas SMS Banking 3. Fasilitas Call Center

10

11

Kepuasan atas Kemudahan Bertransaksi, Dengan:

4. Memanfaatkan Jaringan ATM Bank Lain 5. Memanfaatkan Fasilitas Ruang Antrian Kantor 6. Memanfattkan fasilitas ATM sendiri yang banyak 7. Memanfaatkan fasilitas Auto Debit 1. Halaman parkir gratis 2. Tampilan fisik karyawan cantik/ ganteng, dan menarik 3. Desain Kartu ATM menarik 1. Kepuasan 2. Kesukaan 3. Komitmen 1. Tidak Adanya Perpindahan Merek

12

Kepuasan atas Manfaat Tambahan, Berupa: Loyalitas Nasabah Terbentuk Karena: Loyalitas Nasabah Terbentuk , Karena:

13

14

Sumber: Data Diolah dengan Metode Analisis Faktor - Aplikasi SPSS Versi 11.5, Januari 2006 Tabel 1. tersebut memberikan makna bahwa nilai korelasi faktor matrik yang besar diperoleh dari nilai di atas 0,50. Sehingga penentu ekuitas merek yang kuat dari masing-masing indikator adalah nilai yang menghasilkan korelasi faktor di atas 0,50. Simpulan a. 200 Analisis faktor membuktikan ada 14 Faktor dari 67 Indikator Peubah

DAFTAR ISI

penentu ekuitas merek dengan memiliki nilai KMO-MSA (Kayser-MeyerOlkin, Measure of Sampling Adequacy), yaitu nilai penentu kecukupan sampling sebagai penentu faktor model yang tepat untuk digunakan sebesar di atas 0,5. b. 14 Faktor penentu Ekuitas Merek yang kuat dilihat dari hasil nilai korelasi faktor matrik rotasi indikator di atas 0,50 adalah 1) Pengingatan atas Merek Paling Tinggi (Top Of Mind); 2) Pengenalan Merek karena Promosi Iklan Media Dalam dan Luar Ruangan berupa: Iklan TV, Radio, Surat Kabar, Majalah dan Bill Board ; 3) Pengenalan Merek Karena Pemasaran On-Line; 4) Asosiasi Terbentuk karena fungsi produk tabungan menawarkan biaya administrasi rendah, dan suku bunga tinggi,; 5) Asosiasi terbentuk karena pemanfaatan fasilitas dan akses layanan berupa: Akses Jaringan Kantor Luas dan Akses ATM banyak; Akses layanan Phone Banking 24 Jam dan Bebas Pulsa; Fasilitas Antrian Nyaman; Fasilitas Transaksi penarikan Dana, Kapan Saja, Dimana Saja, dan Tampa Batasan Jumlah; Akses layanan cepat, aman dan nyaman; Fasilitas Undian Tabungan Berhadiah; Fasiltias Layanan “ Auto Debet ” Pembayaran Listrik, Telephone, dan Air; dan Fasilitas Aplikasi kartu Debit Belanja; 6) Asosiasi yang terbentuk karena atribut produk berkesan: profesional, Layanan Simpati, dan Tanggung Jawab serta Integritas; 7) Kepuasan atas Fasilitas Pendukung, Teknologi on-line dan Layanan oleh SDM berupa: Profesionalisme karyawan, Layanan transaksi oleh karyawan cepat, Karyawan mengesankan keyakinan dan percaya diri yang tinggi kepada nasabah, FasilitasJaminan Asuransi kepada keluarga penabung, Aman dan terpercaya terbukti dengan penarikan dana kapan saja dan tampa batasan jumlah dana, Karyawan ramah dalam memberikan informasi yang dibutuhkan nasabah dengan tepat, Karyawan cepat tanggap atas keluhan dan masalah nasabah, Karyawan penuh semangat bersedia membantu menjawab pertanyaan nasabah, Pelayanan prima oleh Karyawan, dan Karyawan peduli terhadap kepuasan nasabah; 8) Kepuasan atas Fasilitas Fisik yang melekat pada Ruang Kantor (Ruang tunggu Bertransaksi Bersih, Sejuk, dan Nyaman, serta Halaman Parkir Luas); 9) Kepuasan Atas Lokasi . Strategis, 10) Kepuasan atas kepastian dan ketepatan janji sesuai dengan fungsi inti produk berupa: Suku bunga tinggi dan menarik, Biaya administrasi rendah Hadiah undian tabungan menarik Hadiah langsung menarik; 11) Kepuasan atas Kemudahan Transaksi: internet banking, SMS banking, Call Center, dan pemanfaatan Auto Debit; 12) Kepuasan atas Manfaat Tambahan berupa tampilan fisik karyawan menarik; 13) Loyalitas nasabah terbentuk karena kepuasan, kesukaan, dan komitmen nasabah; serta 14) Loyalitas nasabah terbentuk karena tidak adanya perpindahan merek.

201

DAFTAR ISI

Saran Ekuitas merek dapat ditingkatkan dengan memperbaiki beberapa aspek yaitu: a. Aspek kesadaran ditingkatkan melalui pengenalan dan penyadaran merek untuk menciptakan Pikiran Puncak atas Merek produk (Top of Mind) melalui program promosi intensif, dan agresif. Penguatan kesan pada merek dengan penciptaan asosiasi seperti merek memiliki makna profesional, layanan simpati, akses layanan 24 jam, layanan cepat dan aman, dan biaya administrasi rendah. Peningkatan kepuasan nasabah dengan memberikan beban biaya administrasi rendah, dan layanan prima. Menciptakan biaya peralihan tinggi sehingga menyulitkan nasabah untuk berpaling ke bank lain Menciptakan program relationship marketing terpadu.

b.

c. d. e.

DAFTAR PUSTAKA Aaker, David. A, 1997, Alih Bahasa Ananda Aris, Manajemen Ekuitas Merek: Memanfaatkan Nilai dari Suatu Merek, Spektrum Mitra UtamaPrentice Hall. Cravens, DW, 2000, Strategic Marketing, 6th. Ed. Irwin. Chicago Durianto, Darmadi, Sugiarto, Sitinjak, Toni, 2001, Strategi Menaklukkan Pasar, Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Husein Umar, 2000, Riset Strategi Pemasaran, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hermawan Kartajaya, 2004, Hermawan Kertajaya On Branding, Mizan Media Utama, Bandung Indonesia. Kottler Phillip, 2000, Marketing Management, The Millenium Edition, Prentice Hall International. Kasmir, 2000, Manajemen Perbankan, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

202

DAFTAR ISI

Lukman Dendawijaya, 2003, Manajemen Perbankan, Penerbit Galia Indonesia, Jakarta. Nasir, Moh., 1999, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta. Nicolino, Patricia F., 2004, Brand Management, alih Bahasa, oleh Sugiri, Penerbit: Prenada Media, Jakarta. Pahlawan Jauhari, 2003, Analsis Elemen Ekuitas Merek pada PT Bank Mandiri Tbk (Persero), dikutif dalam “Jurnal Ilmiah – Entrepreneurship”, Volume 1., No. 3, Agustus 2003, ISSN 1693-1696. Syaifudin Anwar, 1997, Reliabilitas dan Validitas, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Sugiarto, dkk, 2001, Teknik Sampling, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Suharsimi Arikunto, 1999, edisi revisi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, cetakan kesebelas, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Susanto, A.B., dan Wijarnako, Himawan, 2004, “Power Branding”, Penerbit: Quantum Bisnis dan Manajemen (PT Mizan Publika), Jakarta Indonesia. _______________, 1997, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan, Untuk Menaikkan pangsa pasar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta Temporal, Paul, Alih bahasa Suminto, Hari, 2001, Branding in Asia (Membangun Merek di Asia), Interaksara. Zeithaml, A. Valerie, A. Parasuraman and Leonard, L. Berry, 1990, Delivering Quality Service: Balancing Customer Perception and Expectations, The Free Press A. Division of Macmillan, Inc. Zeithaml, A. Valerie, Bitner, Mary Jo, 1996, Service Marketing, International Edition, McGraw Hill. Encyclopedia Americana, 1989, Printed and Manufactured in the USA Buletin Mandiri, Journal Mandiri, 2001-2005, Jakarta -------------------, Juli 2003, Indonesian Best Brand 2003, Majalah SWA, Edisi Volume XIX, No. 14, Jakarta. 203

DAFTAR ISI

-------------------, Juli – Agustus 2004, Indonesian Best Brand 2004, Majalah SWA, Edisi Volume XX, No. 15, Jakarta. -------------------, 21 Juli – 3 Agustus 2005, Indonesian Best Brand 2005, Majalah SWA, Edisi Volume XXI, No. 15. -------------------, Juli 2003, Peringkat Merek Memuaskan, Majalah SWA, Edisi Volume XX, No. 19, Jakarta. -------------------, Juni 2004, Rating 134 Bank, Majalah SWA, Edisi Volume XXVI, No. 303, Jakarta. -------------------, September 2005, Peringkat Merek Memuaskan 2005, Majalah SWA, Edisi Volume XXI, No. 19, Jakarta. -------------------, Desember 2005, Nasabah Mulai Gelisah, Majalah Info Bank, Edisi Volume XXVII, No. 321. Jakarta.

204

DAFTAR ISI

Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Tata Niaga Kopi Biji Di Propinsi Lampung
Oleh :

Mustafid4
ABSTRACT The research analysis result shows that the distribution channel I form farmers, district traders, and exporters is more effective (0,375) than that from others. The value of distribution from farmers, village traders, district traders, and exporters is 0,345. And the value of distribution from farmers, village traders, regency traders, and exporters is 0,300. While in efficiency and margin, it proves that exporters are more efficient than collecting traders and farmers (exporters 0,97, regency traders 0,98, district traders 0,99 , village traders 0,99, and farmers 0,83). The average efficiency level at distribution channel I is 0,93, at distribution channel II 0,95, and at distribution channel III 0,94. Based on the conclusion, it is suggested, in marketing of coffee commodity, to use distribution from farmers district traders exporters, and it is better for exporters to help coffee commodity farmers to increase margin. Therefore, it is necessary to activate association to be involved in blocking marketing of coffee commodity in general and especially helping coffee farmers in carrying out their farming. Keywords : Coffee, Exporters, Farming

PENDAHULUAN Ekspor dari sektor pertanian dan kehutanan Propinsi Lampung memberikan devisa negara sebanyak 271.617,88 ton dengan nilai seharga US$ 250.453.333, Bank Indonesia Cabang Bandar Lampung, 2004. Dan Kopi Biji menduduki tempat yang penting dalam devisa dimana luas dan hasil produksi kopi biji di Propinsi Lampung sekitar 41,14%, yaitu dari Kabupaten Lampung Barat, 29,21% dari Kabupaten Tanggamus, 14,73% dari Kabupaten Way Kanan, 9,12% dari Kabupaten Lampung Utara, 4,50% dari Kabupaten Lampung Selatan, 0,79% dari Kabupaten Lampung Tengah, 0,69% dari Kabupaten Lampung Timur, 0,33% dari Kabupaten Tulang Bawang, dan 0,05% dari Kota Bandar Lampung, satu4

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Unila

DAFTAR ISI

satunya daerah yang tidak menghasilkan kopi biji adalah Kota Metro (Dinas Perkebunan Propinsi Lampung, 2004). METODE PENELITIAN Penelitian lapangan terdiri dari observasi dan mempelajari hal-hal yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Ruang lingkup penelitian lapangan meliputi: 1. Daerah penelitian adalah daerah Propinsi Lampung, yaitu Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Way Kanan. Jumlah sampel yang diambil dari petani produsen sebanyak 47 rensponden, hal ini didasarkan dari pendapat Mubiarto (1993:95), bahwa besarnya sampel produk hasil pertanian dapat di ambil antara 10% sampai dengan 20% dari populasi petani produsen komoditas kopi biji sebanyak 410 orang di sentra produksi komoditas kopi biji di Lampung yang terdiri dari 21 dari Kabupaten Lampung Barat, 16 dari Kabupaten Tanggamus, 10 dari Kabupaten Way Kanan. Hal ini didasarkan pada proporsi hasil produksi di wilayah tersebut. Pedagang desa sebanyak 17 pedagang, 10 pedangang dari Kabupaten Lampung Barat, 5 dari Kabupaten Tanggamus, dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. Pedagang kecamatan sebanyak 20 pedagang, 9 dari Kabupaten Lampung Barat, 7 dari Kabupaten Tanggamus, dan 4 dari Kabupaten Way Kanan. Pedagang kabupaten sebanyak 7 pedagang, 3 dari Kabupaten Lampung Barat, 2 dari Kabupaten Tanggamus, dan 2 dari Kabupaten Way Kanan. Sedangkan Eksportir sebanyak 2 responden. Jumlah sampel tersebut di ambil secara proporsif (proporsive random sampling) atas dasar homogenitas (relatif sama) yang diharapkan dapat mewakili dari populasi yang ada.

2.

Dalam menyusun penelitian ini akan digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi. 1. Dalam analisis kualitatif akan digunakan analisis berdasarkan teori pemasaran dengan membandingkannya, khususnya dengan tata niaganya. Selain analisis kualitatif juga akan dilakukan analisis dengan pendekatan kuantitatif, antara lain menganalisis tentang efektivitas dan efisiensi tata niaga pemasaran komoditas kopi biji di Propinsi Lampung, yaitu:

2.

206

DAFTAR ISI

a.

bahwa ntuk mengukur tingkat efektivitas digunakan metode faktor tertimbang menurut Basu Swastha D.H. dan Irawan (2000:314) digunakan rumus:

n Ni = ∑ Tj.Fij j=1 Keterangan: Ni Tj j n ∑ j Fij = Nilai total untuk kebijaksanaan saluran disrtibusi(I). = Timbangan pada faktorj; = 1, 2, 3, .., n dan 0 ≤ Tj ≤ 1; Tj = 1 = 1 = Nilai kebijaksanaan I pada faktor j, pada 0 ≤ Fij ≤ 0,5

Kriteria penentuan efektif adalah jika Ni > 0,30 (Basu Swastha D.H. dan Irawan 2000:314). Asumsi-asumsi untuk metode ini adalah: 1. 2. 3. 4. Menggunakan skala jarak tertentu (0,1 sampai dengan 0,5). Timbangan faktor tidak dapat dipisahkan dengan nilai faktornya. Faktor-faktor itu tidak dapat berdiri sendiri. Produk, harga, promosi, dan lingkungan dianggap tetap.

b. Untuk mengukur tingkat efisiensi pemasaran kopi biji di Lampung sehingga dapat diketahui margin yang diperoleh masing-masing lembaga yang terkait dalam pemasaran kopi biji termasuk margin yang diperoleh produsen. Untuk Mengetahui tingkat efisiensi tata niaga pada setiap lembaga menurut Noegroho Besar Koesnadi (1990:5) adalah dengan rumus sebagai berikut: e = Z + Zm . C + Cm

207

DAFTAR ISI

Keterangan: e Z C Zm Cm = = = = = Efisiensi saluran perlembaga. Keuntungan yang diterima oleh lembaga tata niaga persatuan barang. Biaya saluran persatuan barang. Pendapatan produsen dari hasil penjualan persatuan barang. Biaya penyaluran dan pemasaran yang dikeluarkan oleh produsen persatuan barang.

Kriteria penentuan efisien adalah jika e > 1. Asumsi-asumsi yang dianggap konstan, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kebijaksanaan produk, dengan alasan komoditas kopi biji sangat dipangaruhi olah faktor alam. Kebijaksanaan promosi yang dilaksanakan relatif terbatas. Kondisi perekonomian yang tidak dapat dipengaruhi secara parsial atauperubahannya berlaku umum. Peraturan Pemerintah, karena peraturan pemerintah harus dipatuhi, dengan demikian bersifat given. Teknologi, hal ini didasarkan berlakunya bersifat umum dan tidak setiap perubahan teknologi langsung dapat diikuti. Faktor kebudayaan.yang perubahannya relatif lambat.

208

DAFTAR ISI

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Efektivitas Tabel 1. Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran I
No. 1 Fakt or Tj 0,5 Nilai Fakt or (Fij) 0,4 0,3 0,2 0,1 x T j - Fij 0,045

2

3

Efekt ivitas unt uk mencapai pembeli at au 0,15 konsumen Laba yang diperoleh jika alt ernat if saluran 0,25 yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman 0,10 perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah invest asi at au biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan unt uk menut upi kerugian 0,30

x

0,100

x

0,050

4

x

0,120

5

0,20 Nilai T ot al

x

0,060 0,375

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

Tabel 2.

Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran II
No. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0,15 0,5 Nilai Faktor (Fij) 0,4 0,3 0,2 x 0,1 Tj - Fij 0,060

2

0,25

x

0,075

3

0,10

x

0,030

4

0,30

x

0,120

5

0,20

x

0,060 0,345

Nilai Total

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

209

DAFTAR ISI

Tabel 3.

Hasil Perhitungan Metode Faktor Tertimbang yang Diterapkan pada Strategi Saluran III
No. 1 Faktor Efektivitas untuk mencapai pembeli atau konsumen Laba yang diperoleh jika alternatif saluran yang digunakan dilakukan dengan baik Pengalaman perusahaan dalam memasarkan produk Jumlah investasi atau biaya yang diperlukan Kemampuan perusahaan untuk menutupi kerugian Tj 0,15 0,5 x Nilai Faktor (Fij) 0,4 0,3 0,2 0,1 Tj - Fij 0,075

2

0,25

x

0,075

3

0,10

x

0,020

4

0,30

x

0,090

5

0,20

x

0,040 0,300

Nilai Total

Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

Berdasarkan analisis efektivitas tata niaga komoditas kopi biji Propinsi Lampung bahwa tata niaga I ( Petani Produsen ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir) lebih efektif dengan nilai 0,375 dari bentuk tata niaga II (Petani Produsen ---> Pedagang Desa ---> Pedagang Kecamatan ---> Eksportir} dengan nilai 0,345 dan tata niaga III (Petani Produsen --->Pedagang Kabupaten --> Eksportir) dengan nilai 0,300. Analisis Efisiensi Tabel 4. Hasil Perhitungan Tingkat Efisiensi Tata Niaga I, II, dan III Komoditas Kopi Biji Propinsi Lampung
No. 1 Keterangan Saluran I Saluran II Saluran III

2

3

Petani 0,93 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0,95 Pedagang Kecamatan Eksportir Petani Pedagang Desa 0,94 Pedagang Kabupaten Eksportir Sumber: Data Diolah dari Hasil Penelitian.

210

DAFTAR ISI

KESIMPULAN Kesimpulan penelitian jika dilihat secara parsial, terlihat adanya usaha untuk menyelenggarakan tata niaga komoditas kopi biji di Lampung seefektif dan seefisien mungkin terlihat dari angka perhitungannya yang lebih dari 70 %. Efektivitas tata niaga I (petani, pedagang kecamatan, eksportir) lebih efektif daripada bentuk saluran distibusi lainnya dengan nilai 0,375. Analisis efisiensi pada tata niaga II lebih tinggi daripada tata niaga yang lain, yaitu 0,95, tata niaga I rata-rata sebesar 0,93, dan tata niaga III rata-rata sebesar 0,94. Berdasarkan kesimpulan tersebut disarankan, jika lebih mengutamakan efektivitasnya, maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga I (petani, pedagang kecamatan, eksportir). Sedangkan bila mengutamakan efisiensinya, maka sebaiknya menggunakan bentuk tata niaga II (petani, pedagang desa, pedagang kecamatan, eksportir). Eksportir juga dapat membantu petani komoditas kopi agar marjin yang diperolehnya meningkat. Untuk itu perlu diaktifkannya peran serta lembaga asosiasi untuk ikut serta meningkatkan pendapatan pada tata niaga kopi biji. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. 2004. Lampung Dalam Angka. Lampung: Bappeda Tingkat I Lampung dan Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. Craven, D.W. 2000. Strategic Marketing International Edition. New York: Irwin McGraw – Hill. Departemen Perindustrian dan Perdagangan. 2004. Indonesian Commodity Review. Jakarta: Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Kotler, Philip. 2000. Marketing Management Millenium Edition. Prentice Hall.Kotler, Philip. 1999. International Marketing. Jakarta: Salemba Empat. Siswoputranto, P.S. 1999. Buletin Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan No. 07.1.00.35. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Swastha D.H., Basu dan Irawan. 2000. Manajemen Pemasaran. Yogyakarta: LPFE UGM.

211

DAFTAR ISI

Universitas Lampung. 1999. Universitas Lampung

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.

Lampung:

212

DAFTAR ISI

Penilaian Saham, Memahami Cara Berinventasi Saham di Pasar Modal
Oleh :

Sri Hasnawati5
ABSTRACT

This paper is to discuss the Discounted Dividend Model for investing in stocks. Stocks are one of the investment alternatives with both high expected return and high risk. Rumors might work well for short-term investment, but long-term investment based on rumors may not be profitable. Long term investment in stocks based on a fundamental approach seems more promising. The Discounted Dividend Model is a fundamental approach to investment that looks into the earning growth of the companies in question. Three varieties of the model are presented here, Constant Discounted Dividend Model, Constant Growth Discounted Dividend Model., and Multi Stages Discounted Dividend Model. Keywords : Discounted divident, earning growth, varietes model

I. Latar Belakang “The madness of crowds” itulah istilah yang digunakan oleh Burton G.Malkiel dalam bukunya yang berjudul: “A Random Walk Down Wall Street”, untuk menggambarkan masyarakat yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa dasar pemikiran yang rasional. Keinginan manusia seperti itu adalah naluri manusia di mana saja. Sejarah telah mencatat bagaimana misalnya masyarakat di Negeri Belanda pada abad ke enam belas beramai-ramai memborong bibit bunga tulip dalam rangka mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kelangkaan bunga tulip yang disebabkan oleh hama telah menyebabkan harga bibit bunga tulip dalam bentuk siung (bulb) meningkat dengan cepat. Gejala mi telah
5

Doctor of Finance, Lecturer of University of Lampung, Faculty of Economy, Management Dept.

DAFTAR ISI

memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi mereka yang telah terlanjur membeli bibit tersebut. Keuntungan yang dinikmati oleh segelintir orang ini telah mendorong yang lain untuk membeli bunga tulip lebih banyak lagi. Hukum ekonomi mengatakan bahwa dengan suplai yang tetap, tambahan permintaan akan menyebabkan harga akan meningkat (ceteris paribus). Demiikianlah harga meningkat dari hari ke hari sampai pada suatu titik di mana harga sudah menjadi terlalu tinggi untuk bibit bunga tulip yang nilai intrinsiknya rendah. Pada akhirnya tulip tetaplah tulip yang tidak dapat menghasilkan emas. Menyadari hal tersebut di atas masyarakat tidak lagi mau membeli tulip sehingga harga turun dengan cepat. Akibatnya banyak masyarakat yang menderita kerugian. Nampaknya masyarakat di manapun tidak pernah mau belajar dan sejarah. Kejadian di Negeri Belanda terulang kembali di Inggris pada Abad ke delapan belas. Masyarakat lagi-lagi beramai-ramai membeli saham perusahaan pelayaran “The South Sea” yang tidak jelas benar kinerja keuangannya. Masyarakat membeli saham semata-mata karena meinbeli saham memberikan status simbol tertentu. Akhir cenita sama dengan kejadian di Belanda, sebagian inasyarakat mengalami kerugian karena perusahaan itu sendini tidak pernah mendatangkan dividen. Di abad keduapuluh sekarangpun masyarakat mengulangi kesalahan yang sama. Pada tahun enampuluhan di Amerika Serikat, masyarakat sangat menyenangi saham-saham yang namanya berbau “trons” seperti Astron, Dutron, Vulcatron dan Transitron dan juga yang berbau “onics” seperti circuitronics, supronics, vicieotronics dan masih banyak lagi. Harga saham yang berbau dua kata ajaib tersebut meningkat dengan cepat walaupun tanpa didukung oleh kinerja keuangan ( financial performance) perusahaan yang jelas. Akibatnya setelah meningkat dengan cepat, harga kembali turun juga dalam waktu yang singkat dan timbul korban. “The madness of crowds” juga terjadi di Indonesia. Harga-harga saham meningkat dengan cepat dari indeks sebesar 68 menjadi sekitar 600 dalam waktu kurang dari tiga tahun. Kemudian seperti telah dapat diduga hargaharga saham meluncur ke indeks 240 pada bulan November 1991.Kemudian tahun 1992 IHSG meningkat dari 274,3 menjadi 637,4 . lalu terjun menjadi 398,0 ditahun 1998 karena situasi krisis. Kejadian seperti ini lagi-lagi membawa korban. syukur-syukur kalau yang menjadi korban adalah mereka orang lugu (the innocent). Kalau para profesional ikut-ikutan “mad” tentunya sudah sangat keterlaluan.

214

DAFTAR ISI

Untuk nenghindari “madness” atau kegilaan tersebut, penulis merasa perlu untuk mencoba menjelaskan teori atau forsula yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya dari suatu aset atau saham. 2. Ruang Lingkup dan Tujuan Penulisan Tulisan ini bertujuan untuk membahas teori, pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya sari suatu aset khususnya saham. Selain itu juga akan dibahas asumsi-asumsi, pokok pemikiran yang melandasi teori, metode dan formula yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu aset tersebut. 3. Penilaian Aset Secara Umum Nilai intrinsik (intrinsic value) atau harga yang pantas suatu aset baik aset fisik (phisical assets) maupun aset keuangan adalah penjumlahan nilai sekarang (present value) dari arus uang (cash flow) yang diciptakan oleh aset yang bersangkutan selama umur ekonomis aset tersebut 6. Secara matematis nilai intrinsik suatu aset (P0) adalah: C1 -----(1+r)1 C2 -------(1+r)2 C3 -------(l+r)3 Ct --------(l+r)t

P 0=

+

+

+

N

Ct .................................................................(1)

Po = Ʃ -----------t =l (l+r)t

Ct adalah arus kas (cash flow) untuk peniode t, t adalah periode (tahun, kuartalan, tengah tahunan, bulanan atau harian), r atau required rate of return atau risk adjusted discount rate atau “hurdle rate” adalah tingkat bunga yang dituntut oleh investor sehubungan dengan oppurtunity cost7 dan resiko yang
6

7

Yang dimaksud umur ekonomis dapat didefinisikan sebagai jangka waktu suatu aset dapat dimanfaatkan secara ekonomis ( man faat lebih besar dan biaya). Oppurtunity cost dapat didefinisikan sebagai pengorbanan yang timbul karena alternatif investasi tertentu dipilih. Misal, seseorang memilih saham sebagai alternatif investasi maka oppurtunity costnya adalah nilai manfaat dan bunga yang dihasilkai~ oleh obligasi atau alternatif investasi lainnya seperti bunga deposito kalau investor berniat memegang (hold) saham dalam jangka pendek kurang dari satu tahun. Penghitungan oppurtunity cost ini dimaksudkan agar investor mengetahui alternatif terbaik dari sumber dana yang terbatas.

215

DAFTAR ISI

melekat pada aset i.

r1 = rf + rpi
rf = risk free rate atau tingkat bunga bebas default risk. rpi= risk premium atau premium resiko adalah tambahan return yang dituntut oleh investor karena ia mau menanggung resiko. Besarnya resiko ini dapat dinyatakan oleh besarnya deviasi standar dari return dan koefisien ß yang akan dijelaskan kemudian. 4. Menentukan Nilai Intrinsik Saham Seperti telah dijelaskan sebelumnya nilai intninsik suatu aset adalah penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang dihasilkan oleh aset yang bersangkutan. Untuk saham maka cash flow yang dihasilkan adalah arus dividen yang akan diterima oleh investor di masa yang akan datang. Oleh karena itu Persamaan satu di atas dapat dirubah menjadi: N Po = Dt ..............................................................(2)

Ʃ ------------t=1 (l+r)

di mana: r = required rate of return t = peniode Dt= dividen untuk peniode t P0= Nilai intrinsik atau harga saham pada saat sekarang. Persamaan dua di atas disebut juga Discounted Dividen Model atau DDM. Menurut model ini nilai intrinsik dari saham akan sangat tergantung pada d!viden yang dibagikan dan required rate of return. Semakin tinggi dividen yang dibagikan semakin tinggi harga saham dan sebaliknya. Semakin tinggi required rate of return semakin rendah harga atau nila! intrinsik saham. Oleh karena itu tidak aneh kalau tingkat bunga meningkat, harga saham akan turun seperti terjadi di Indonesia tatkala pemenintah memberlakukan TMP (Tight Money Policy).
Konsep oppurtunity cost inii diyakini oleh para ekonom yang berbeda dengan konsep biaya yang diyakini oleh para akuntan. Akuntan di dalam melihat biaya lebih memperhatikan kapan biaya itu mulai benlaku (historic cost), untuk peniode mana suatu biaya itu akan dibebankan (konsep accrual accounting dan defferral accounting). Konsekuensi dari perbedaan ini , return bagi akuntan adalah profit sementara return bagi ekonom adalah cash flow yang lebih mencerminkan return yang sesungguhnya . Profit mempunyai kelemahan karena keuntungan diperoleh berdasarkan prinsip dan metode akuntansi yang menawarkan angka profit yang berbeda-beda tergantung pada pninsip dan metode akuntansi yang digunakan

216

DAFTAR ISI

Dari persamaan di atas akhinnya kita dapat menyimpulkan bahwa estimasi harga saham akan sangat tergantung pada keakuratan kita mengestimasi dividen dan required rate of return di masa yang akan datang. Penjelasan bagaimana kita dapat mengestimasi dividen dan required nate of return di masa yang akan datang akan dijelaskan kemudian. Secana teoritis terdapat tiga kemungkinan pola perkembangan dividen di masa yang akan datang yang sekaligus pula akan memberikan model atau formula yang berbeda. Pola tersebut adalah: a. b. c. Dividen tetap (saham preferen atau preferred stock sama dengan obligasi) akan menghasilkan Discounted Fixed Dividen Model. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang konstan akan menghasilkan Constant Growth Discounted Dividen Model. Dividen berkembang dengan laju pertumbuhan yang berbeda untuk berbagai tahap (stages) suatu penusahaan akan menghasilkan Multi Stages Growth Discounted Dividen Model.

Keunggulan Discounted Dividen Model: Dari persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini diturunkan dani konsep nilai waktu dari uang (time value of money) dan konsep arus kas (cash flow). Konsep nilai waktu dari uang merupakan konsep yang memperhatikan oppurtunity cost dari sumber ekonomi (dana) yang tenbatas sehingga keputusan investasi yang dibuat secara otomatis mencerminkan keputusan yang optimal. Konsep arus kas (cash flow) merupakan konsep yang lebih baik bila d!bandingkan dengan konsep keuntungan (profit) kanena arus kas lebih mencerminkan final return dan lebih dapat dibandingkan (comparable). Konsep keuntungan adakalanya tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain kanena keuntungan merupakan definisi return yang diturunkan (derived) oleh akuntan yang dilandasi oleh metode dan prinsip akuntansi tententu. Metode dan prinsip yang berbeda akan menghas!lkan def inisi keuntungan atau kerugian yang berbeda. Dari persamaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dividen yang dihargai adalah dividen tunai sementara saham bonus atau Pay In Kind (P1K) dividen tidak dapat dimasukkan sebagai “final return”. Saham bonus baru merupakan potensi daya beli. Saham bonus dapat menjadi final return kalau saham tersebut 217

DAFTAR ISI

telah diuangkan.8 Sesungguhnya pembagian saham bonus tidak selalu berarti negatif. Pembagian saham bonus dapat berarti positif kalau pembagian tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa pemilik perusahaan merasa yakin bahwa perusahaaan mempunyai “proyek” atau peluang investasi yang menawarkan ROE (return on equity) yang lebih besar dari required rate of return perusahaan. Dengan perkataan lain para pengelola penusahaan merasa yakin bahwa dengan menunda pembagian dividen tunai, kekayaan pemegang saham akan bertambah secara riil. Untuk labih jelasnya lihat contoh berikut. Pemilik perusahaan (pemegang saham) mempunyai required of return 27% (22 % merupakan balas jasa risk free rate dan 5% adalah premium resiko). Pemilik perusahaan yakin bahwa dengan penundaan pembagian dividen tunai (perusahaan hanya membagikan saham bonus) dapat melaksanakan pengembangan usaha yang mendatangkan ROE sebesar 35 %, Dalam kasus ini pembagian saham bonus sama sekali tidak merugikan investor karena mereka memperoleh kelebihan sebesar 5% (net) atas pengorbanan mereka menenima “kertas” atau saham bonus sebagai balas jasa. Dalam kasus yang terakhir ini investor hanya menunda sementara penerimaan uang tunai. Penundaan itu diberi imbalan. Idealnya saham bonus diambilkan dani pos retained earnings perusahaan dan ini lazim dilakukan di Amenika. Di Amenika serikat bila suatu perusahaan membagikan stock dividen itu benarti berita baik investor. Alasannya itu tadi, pengelola perusahaan merasa yakin bahwa tersedia peluang business yang bagus. Sebaliknya di Indonesia saham bonus diambilkan dari pos agio, ini sudah keterlaluan atau istilah Kwik Kian Gie disebutnya sebagai brutal. Modus operandi pembagian saham bonus biasanya dikombinasikan dengan merger dan akuisis perusahaan lain. Merger dan akuisisi ini adalah cara yang digunakan untuk menarik kas yang ada diperusahaan di dalam pos tambahan modal disetor berupa agio.

8

Saham bonus berdampak pada penambahan jumlah saham yang beredar yang pada akhirnya akan menurunkan earning pen share (EPS). Dengan asumsi PER adalah tetap, maka harga saham cenderung akan turun. Misal sebelum dibagikan saham bonus, Earning per share saham perusahaan X adalah Rp 600 dan harga saham adalah Rp 6000,- Sehingga Price Earning Ratio adalah 10 (diasums!kan pula bahwa PER =10 ini adalah ideal dalam arti sesuai denga PER ratarata industn). Sekarang setelah saham bonus dibagikan Earning Per Share turun menjad! Rpi400. Dengan demikian untuk mempertahankan PER=l0, maka harga yang pantas adalah Rp 4000,-.

218

DAFTAR ISI

Kelemahan Discounted Dividen Model: Dani persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini secana tidak langsung mengasumsikan bahwa investor akan memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga dan mengabaikan capital gain. Asumsi-asumsi ini jelas sangat tidak realistis karena investor sangat mementingkan capital gain dan jarang sekali atau mungkin tidak ada investor yang bersedia memegang saham untuk jangka waktu yang tak terhingga. Dengan demikian akan timbul pentanyaan “Buat apa kita mempelajari model tensebut kalau kita ketahui model tensebut dilandasi oleh asums! yang tidak realistis ?“ Jawabnya pasti: “Tetap ada manfaat mempelajari model tersebut meskipun asumsinya tidak masuk akal” Asumsi yang tidak masuk akal tersebut dipilih sebagai cerminan kita sebagai manusia yang penuh keterbatasan. Manusia tidak mungkin dapat menjelaskan seluruh fenomena yang ada di dunia ini. Hanya “X” yang Maha mengetahui. Kemudian dengan model ini paling tidak kita mengetahui berapa nilai intrinsik suatu aset khususnya saham sebagai batas bawah atau standar. Adapun kelebihan dari nilal intrinsik tersebut merupakan hasil dari faktor-faktor di luar model seperti faktor psikologis investor. Yang pasti kita ketahui (sejarah telah membuktikannya) saham-saham yang harganya sangat jauh di atas nilai intrinsiknya pada akhirnya akan jatuh. Bisa saja harga saham ditentukan oleh faktor—faktor di luar faktor fundamental seperti earning dan deviden seperti dijelaskan oleh “The Castle In The Air Theory”9 ****, akan tetapi pada titik tertentu harga saham akan ditentukan oleh nilai intrinsik saham. Kapas tetaplah kapas dan tidak pernah akan berubah menjadi emas.Yang penting bagi analis, meminjam istilah Bapak Charles Naibaho dan Dana Reksa dan Bapak DR Wahyudi Prakasa dari UI “janganlah menjadi ekstrimis atau terlalu fanatik pada konsep atau pandangan fundamentalis di satu pihak dan technical analysis di lain pihak”. Tidak ada salahnya kita menggunakan keduanya dengan bijaksana.

9

Teori ini berdasarkan faktor-faktor psikis investor. Adalah Lord Keynes (seorang investor yang sukses) yang menyatakan bahwa sesungguhnya tugas seorang analis adalah bagaimana ia dapat menangkap mood (suasana hati) investor khususnya pada saat perekonomian mengalami booming. Pada periode booming investor merasa optimistis terhadap masa depan. masyarakat akan membentuk “The castle in the air” atau angan-angan mereka tentang masa depan bahwa perekonomian akan baik, iklim investasi akan baik, perusahaan akan mendatangkan keuntungan, dividen akan meningkat dan demikian juga harga saham akan meningkat

219

DAFTAR ISI

4.1

Constant Discounted Deviden Model:

Untuk saham yang menjanjikan deviden dalarn jumlah tetap, nilai intrinsiknya secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: N Dt

Po = Ʃ ______ . ..............................................................................................(1) t=l (l+r)t

Karena D0=D1=D2= ....................... = Dt, maka dapat disederhanakan menjadi: 1 1 - ----------------(1 + r)t \P0= D0 x---------------------- . ................................................................................ (3) r Rumus di atas tidak lain adalah rumus penghitungan nilai sekarang dari cash flow yang diterima di masa yang akan datang dalam jumlah yang sama untuk setiap periode atau anuitas (annuity). Karena t inendekati tak terhingga, maka: 1 --------------------- = 0 (l+r)

nilai

dari persamaan tiga (3) di atas dapat diubah menjadi:

D0 P0= Do x 1/r = ----------- ....................................................................................(4) r Keunggulan: Persamaan empat tersebut di atas karena kesederhanaannya relatif mudah untuk diaplikasikan. Persamaan tersebut membantu kita untuk memahami model yang lebih rumit seperti model yang akan dijelaskan kemudian. Kelemahan: Penggunaannya relatif terbatas, hanya dapat digunakan untuk saham preferen dan atau obligasi. 220

DAFTAR ISI

Nilai Intrinsik Saham Yang Membagikan Dividen Yang Berkembang Pada Tingkat Pertumbuhan Yang Tetap (Constant Growth Discounted Dividen Model). Secara matematis dapat dinyatakan sebagai benkut: D0(l+g)1 D0(1+g)2 D0(l-1-g)3 D0(1+g)t P0= ---------- + ----------- + ---------- + ......... + ----------(l+r)1 (l+r)2 (1-r)3 (l+r)t

................(5)

Di mana: P0 = Harga saham sekarang r = required rate of return g =laju pertumbuhan deviden (cosntant untuk jangka waktu tak terhingga). Karena jangka waktu adalah tak terhingga maka persamaan 5 di atas dapat dirubah menjadi: D1 D0(1+g) --------- = -----------(r-g) (r-g)

P0=

............................................................................(6)

Di mana: R = requiered rate of return g = laju pertumbuhan deviden Do = besarnya deviden terakhir yang dibagikan D1 = estimasi deviden untuk satu tahun yang akan datang. Nilai intninsik kemudian dibandingkan dengan harga yang berlaku (current market price) , jika harga yang berlaku lebih nendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka saham perusahaan adalah “over priced” atau terlalu mahal. Dalam kasus ini berarti saham tersebut harus dijual. Sebaliknya jika harga yang berlaku lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai intrinsiknya maka berarti saham tersebut “under priced” dan harus dibeli. Decision rules: if current price > intrinsic value =>over priced => sell if current price < intrinsic value =>under pniced=> buy

221

DAFTAR ISI

Keunggulan Persamaan enam (6): Secara umum persamaan enam jauh lebih baik bila dibandingkan dengan persamaan dua (3) di atas. Pensamaan enam dapat digunakan untuk mengestiniasikan nilai intrinsik saham yang menawarkan pertumbuhan yang kosntan. Kelemahan: Persamaan tersebut secara langsung mengasumsikan bahwa pertumbuhan saham di masa yang akan datang adalah tetap (constant) . Asumsi ini adalah terlalu naif karena di dalam dunia nyata tidak ada saham yangmenawarkan dividen yang berkembang secara terus menerus pada tingkat yang tetap. Kemungkinan pola perkembangan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang secara detail akan dibahas kemudian. Kelemahan dua model terdahulu telah medorong para pakar untuk memodifikasinya lebih lanjut. 4.3 Nilai Intrinsik Saham Yang Menawarkan Pertumbuhan Deviden Yang Berbeda Untuk Masing-Masing Periode/Tahap (Multi Stages Discounted Dividen Model). Model ini pada dasarnya merupakan modifikasi dan rumus dasar pada persamaan 1 di atas. Untuk memudahkan kita cantumkan lagi: N P 0= Ʃ t=1 Dt ------(l+r)t .................................................................(1)

Persamaan di atas dapat dimodifikasi ke dalam berbagai fase atau tahap. Untuk memudahkan pembahasan berikut akan disajikan model dua tahap (Two Stages Model) Model Dua Tahap (Two Stages Model): Misal pola perkembangan perusahaan hanya ada dua yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase pertumbuhan melambat (tidak tenlalu cepat bila dibandingkan fase sebelumnya).

222

DAFTAR ISI

g1=15% <-------------------- . ---------. ---------. --------- . -------------------------------------------1 2 3 4 -------->g2=10% Fase I Fase II n= 4

Langkah perhitungan: a) Menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 ---------r-g2 D4(1+g2) ---------------r-g2

P 4=

=

b)

Menghitung D4: D4 = D0(l+g1)4

c)

Hasil langkah a dan langkah b digabung: D0(1+g1)4(1+g2) P4= ------------------------r - g2

Menghitung harga saham sekarang (nilai intrinsik) P0 yaitu penjumlahan nilai sekarang dari cash flow yang akan diterima sampai dengan periode 4. D1 D2 D3 D4 1 -----+ --------+ -------- + -------- + ------- x P4 (l+r)1 (l+r)2 (1+r)3 (l+r)4 (1+r) 4 1 -------- X Pn (1+r)n

Po =

n

Dt

P0= Ʃ ------ + t=l (l+r)t

di mana: n < N n = jumlah periode tahap I

223

DAFTAR ISI

Contoh: Misal Bank BNI untuk peniode 4 tahun mendatang menjanjikan pentumbuhan deviden sebesar 10 % per tahun. Untuk peniode setelahnya diperkirakan laju pertumbuhan deviden tunun menjadi 8%. Deviden tahun terakhir (D0) =Rp 300, per lembar saham. Pertanyaan: Berapa harga saham Bank Duta yang pantas dengan asumsi pola pertumbuhan seperti di atas dan required rate of return 20 %. Jawaban: a) menghitung perkiraan harga saham pada akhir periode keempat: D5 D5 D4(l+g2) = ----------------- = --------------- = ------------------r — g2 0,20—0,08 0,12

P 4=

b)

menghitung deviden pada akhir tahun keempat: P4 = D0(1+g1)4 = Rp300 (14-0,10) Rp300xl,4641 = Rp439,-

c)

menggabungkan hasil perhitungan langkah a dan langkah b: D4(l+g2) P4= ---------- = 0,12 Rp439(1+0,08) -------------------- = Rp 3.959,0,12

menghitung harga saham Bank BNI yang wajar. Harga saham yang wajar adalah harga saham yang sama dengan nilal intrinsiknya. Nilai intrinsik merupakan penjumlahan nilai sekarang (present value) dan cash flow yang diciptakan oleh saham Bank BNI berupa deviden selama empat periode berturut-turut dan harga saham pada periode keempat. D0(1+g1) ------------ + (l+r)1 D0(l+g1)2 D0(1+g1)3 D0(1+g1)4 1 ----------- + ----------- + ------------- + ----------x P4 (l+r)2 (1+r)3 (1+r)4 (1+ r)4

Po =

224

DAFTAR ISI

Po =

Rp300(1+0,1)1 ------------------ + (1+0,20)1

Rp300(1+0,1)2 ------------------(1+0,20)2

Rp300(1+o,1)3 + ------------------ + (1+0,20)3

Rp300(1+0,l)4 1 +------------------ + -------------x Rp3.953,(1+0,2)4 (1+0,20)4 Po = Rp275,0 + Rp 250,0 + Rp210,0 +Rp 211,82 +Rpl906,34 =Rp2 .855, —Jika hanga saham Bank BNI pada saat tententu adalah Rp 2600,-, maka harga saham Bank BNI adalah “under priced ”. Decision Rules: If V0 = P0 = lntrinsic Value > current market prcie ==> Buy If V0= P0 =I ntrinsic Value < current market price ==>Sell Keunggulan: Model dua tahap ini dapat dikembangkan menjadi model tiga tahap dan seterusnya. Dengan demikian model ini (Multi Stages Dividen Growth Model) lebih realistis bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya. Kelemahan: Dari contoh perhitungan di atas jelas model ini lebih rumit bila dibandingkan dengan dua model sebelumnya. 5. Memperkirakan Pola Perkembangan Pertumbuhan Dividen Suatu Perusahaan

Dengan memperhatikan constant growth discounted dividend model maupun multi stages growth discounted dividend kita dapat melihat bahwa hasil perhitungan nilai intrinsik suatu saham sangat tergantung pada besarnya laju pertumbuhan deviden atau besarnya g. Oleh karena itu pemahaman tentang berbagai kemungkinan pola pertumbuhan devidem dan metode yang digunakan memperkinakan pertumbuhan deviden mutlak diperlukan 5.l. Pola Umum Pertumbuhan Revenue, Profit Margin dan Earnings. Dividen yang dapat diterima oleh pemegang saham akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan “earning”, profit margin dan penerimaan dari hasil penjualan . Hubungan ketiga komponen tersebut dapat digambarkan oleh siklus keuntungan perusahaan berikut ini: 225

DAFTAR ISI

Gambar 1: Life Cycle of Profit:

: : + + + * * * : : : : : : I : : +

+ +

+ : : : * : : : : : :

+ : * :

+ ?

Revenue

*

: * : : : : : : : IV

Profit Margin

Earnings

II

: : III

time Sumber: 1992 CFA Reading:Industry Analysis, Jerome B.Cohen, Edward D. Zinbarg and Anthun Zeikel. Keterangan: Tahap I (Early Development): Fase pertumbuhan awal ditandai oleh peningkatan laju pertumbuhan penerimaan penjualan, margin keuntungan dan earning perusahaan. Seperti digambarkan pada gamban 1 di atas, pada tahap ini perusahaan baru saja mengalami titik pulang pokok. Keuntungan yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan (profit margin) dan keuntungan bersih adalah positif dan memberikan trend yang positif. Skenario seperti ini adalah skenario yang lazim terjadi di pasar modal yang telah maju. Perusahaan yang go public adalah perusahaan yang sungguh—sungghuh menawarkan keuntungan bagi investor dalam jangka panjang atau mempunyai prospek yang baik. Bukan perusahaan yang untung karena akal-akalan akuntan yang menyajikan laporan keuangan.

226

DAFTAR ISI

Saham perusahaan yang ada pada tahap ini lazim disebut saham pertumbuhan (growth stock). Saham ini tidak memberikan “current dividend” dalam jumlah yang besar akan tetapi menjanjikan pertumbuhan dividen yang tinggi di masa yang akan datang. Tugas analis adalah menernukan “growth stock” seperti ini dan jika telah menemukan jenis saham seperti itu segera melaksanakan pembelian, karena kalau terlambat harganya sudah terlanjur tinggi. Dengan perkataan lain masalah “timing” sangat penting di dalam proses pengambilan keputusan investasi. Pertumbuhan deviden pada tahap ini belum akan begitu cepat karena perusahaan baru saja melewati batas kritis yaitu titik pulang pokok. Tahap II (Rapid Expansion): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap satu. Tahap ini ditandai oleh laju pertumbuhan revenue, profit margin dan earning yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya dan periode sesudahnya. Pertumbuhan revenue, profit margin dan earning yang tinggi dimungkinkan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan produksi sedemikian rupa sehingga biaya per unit menjadi minimum. Gejala ini sering juga disebut dengan “economic of scale”. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar fungsi biaya rata-rata berikut ini: Gambar 2: Fungsi Biaya Rata-rata

Average Cost/Marginal Cost

* * *

: MC * : * : : * * II Quantity Produced 227 * AC

I 0

DAFTAR ISI

Kalau kita perhatikan tahap I dari gamban 2 di atas nampak biaya rata—rata per unit barang yang dihasilkan semakin lama menurun sampai pada titik minimum. Biaya produksi yang menurun memungkinkan perusahaan untuk menjual lebih banyak dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pada tahap ini kemungkinan besar laju pertumbuhan deviden akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Taflap III (Mature Growtfl): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya. Dari gambar 1 di atas kita dapat melihat gejala di mana revenue dan earning perusahaan secara absolut masih meningkat akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (rapid expansion). Selain itu gejala yang nampak adalah penurunan margin keuntungan (profit margin) perusahaan. Gejala ini sejalan dengan pola perkembangan biaya perusahaan yang digambarkan oleh gambar 2 di atas. Penurunan biaya per unit tidak mungkin terjadi selamanya. Pada tingkat tertentu akan timbul ketidakefisienan di dalam pengelolaan perusahaan yang ditanda! oleh peningkatan biaya marjinal yang lebih cepat bila dibandingkan dengan peningkatan biaya ratarata. Pada tahap ini perusahaan justru memasuki tahap “disenomic of scale”. Tambahan produksi justru meningkatkan biaya secara lebih cepat. Akibat dari semua gejala ini tentunya adalah penurunan keuntungan perusahaan. Apabila perusahaan memasuki tahap ini, pimpinan/pemilik perusahaan harus berhati-hati. Kebijaksanaan mendasar seperti penggantian direksi dan pemilik lama (kelompok keluarga) ke kelompok profesional, pemilihan teknologi perusahaan, upaya pemasaran yang lebih efektif dan lain sebagainya, harus segera dilaksanakan. Kalau tidak ada upaya serius maka perusahaan akan memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap penurunan yang merupakan gambaran kematian suatu perusahaan. Analis keuangan yang baik harus menghindari perusahaan yang memberikan gejala seperti di atas. Perusahaan-penusahaan keluarga yang sangat agnesif di dalam upaya pengembangannya harus dihindari. Secara alamiah akan timbul masalah antara lain “span of control” berbagai aspek perusahaan seperti keuangan, produks!, pemasaran dan lain sebagainya. Perusahaan-perusahaan yang “higly geared” atau perusahaan yang terlalu banyak menggunakan hutang apapun bentuknya (termasuk Convertible Bonds) harus ditelaah secara hati-hati. Pada tahap ini laju pertumbuhan dividen mengalami penurunan bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan deviden pada tahap selanjutnya.

228

DAFTAR ISI

Tahap IV menurun (Decline): Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap III kalau tidak ada upaya yang serius dan berhasil untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi di dalam lingkungan perusahaan. Kalau suatu perusahaan sampai pada tahap ini berarti terjadi kesalahan di dalam pengelolaan perusahaan yangterjadi pada periodeperiode sebelumnya. Misal kesalahan pihak direksi di dalam mengantisipasi perubahan teknologi, selera konsumen, persaingan dengan perusahaan lain dan lain sebagainya. Di dalam pasar modal yang telah maju selalu ada mekanisme yang mengatur kejadian seperti di atas. Perusahaan yang memasuki tahap IV ini akan diambil alih oleh pihak lain dan selalu akan terjadi penggantian pimpinan perusahaan. Pada tahap ini kemungkinan besar perusahaan tidak akan membagikan deviden karena perusahaan mengalami kerugian. 5.2 Model Dupont: Sejauh ini k!ta belum lagi membahas bagaimana cara memperkirakan besarnya pertumbuhan deviden secara mendalam. Kita baru sampai pada tahap pengenalan kemungkinan pola pertumbuhan deviden di masa yang akan datang. Pola tersebut seperti telah dijelaskan pada bagian terdahulu sangat ditentukan oleh tahap-tahap yang dilewati oleh suatu perusahaan di dalam siklus pertumbuhan/perkembangan perusahaan. Berikut ini kita akan melihat model yang dapat digunakan untuk memperkinakan pertumbuhan deviden di masa yang akan datang. Sekarang kita lihat rumus penentuan nilai intrinsik saham secara detail: E(D1) E(E1)x(1—b) P0 = V0 = ------------ = ------------------- .............................................................(7) (r-g) (n-g) b = Plow back ratio = (1 DividendPayOutRatio) .........................................(8) Dividend per Share Dividend Pay Out Ratio = --------------------------- ..............................................(9) Earning per Share R = required rate of return

229

DAFTAR ISI

Dari persamaan tujuh di atas dapat dilihat bahwa nilai intrinsik saham akan ditentukan oleh expected dividen setahun yang akan datang, required rate of return dan laju pertumbuhan dividen. Expected dividend itu sendiri ditentukan oleh perkalian expected earnings per share satu tahun yang akan datang dengan Dividend Payout Ratio. Contoh: Misal Saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menghasilkan Earning per Share sebesan Rp 800,- , required rate of return sama dengan 25%, Dividend Pay Out Ratio (DPR) sama dengan 40%, pertumbuhan dividen sama dengan 10 % maka besarnya nilai intrinsik Saham Bank BNI adalah: E(E1) x (1—b) = ---------------------(r-g) Rp800 x 0,40 = ---------------------(0, 25—0, 10) = Rp2133,-

P0 = V0 = nilai intrinsik saham

Benikut ini akan dilihat hubungan antara laju pertumbuhan dividen dengan Return On Equity dan Plowback Ratio. Hubungan tersebut dapat dinyatakan oleh persamaan berikut: g = ROE x (1-Dividen Pay Out Ratio) 10
....................................................................................

(10)

10

Untuk mendapatkan rumus g=ROEx(l-Dividen Pay Out Ratio) perhatikan penjelasan berikut: Per definisi, expected growth rate of earnings = perubahan earnings dibagi current earnings: ∆E I ∆E g = --------- = ------- x ------E0 E0 I ROE dapat diubah menjadi : Net Income Pretax Income EBIT Sales Total Assets ROE = -------------------- x -------------------- x ------- -- x ------------------ x ----------------Pretax Income EBIT Sales Total Assets Equity (a) (b) ( c) (d) (e) .................................11)

Catatan : EBIT= Earning Before Interest and Tax

230

DAFTAR ISI

dimana : Net Income ROE = Return On Equity = ----------------Equity Lebih lanjut dengan menggunakan Du pont Mode

Dari persamaan 11 tersebut di atas pertumbuhan dividen dapat dihitung asalkan besarnya ROE dan besarnya retention ratio dan plowback ratio diketahui. Contoh perhitungan: ROE saham Bank BNI satu tahun yang akan datang diperkirakan akan menjadi 15% dan Dividend Pay Out Ratio sama dengan 0,4. Maka besarnya laju pertumbuhan dividen adalah: g= ROE x (1—b)= 15% x (1—0,4)= 9% Persamaan 12 tesebut di atas kalau dilihat lebih jauh ternyata terdiri dari lima komponen utama yaitu: • • • • • komponen a merupakan Tax Burden komponen b merupakan Interest Burden komponen c merupakan Profit Margin (profit on sales) komponen d merupakan Assets Turn Over komponen e merupakan Financial Leverage

Dengan memahami kelima komponen ROE di atas kita dapat dengan mudah memahami faktor—faktor apa yang menentukan besar kecilnya ROE yang juga menentukan besar kecilnya g atau pertumbuhan deviden. Tax Burden: Semakin besar tax rate, semakin besar tax burden . Tax burden yang meningkat dinyatakan oleh rasio antara Net Income dan Pretax Income yang semakin keci1. Semakin besar tax burden per definis! (ceteris paribus) ROE semakin kecil.

231

DAFTAR ISI

Hal ini disebabkan karena pajak selamanya akan mengurangi earning yang dapat dibagikan kepada pemilik perusahaan atau pemegang saham. Jika dua perusahaan berada pada tax bracket yang sama maka tax burden tidak terlalu berpengaruh pada hasil perhitungan ROE. Sebaliknya jika kita membedakan dua perusahaan yang berada pada tax bracket yang berbeda pajak dapat mempenganuhi hasil perhitungan ROE. Tax Burden yang berbeda dapat pula disebabkan oleh kemampuan perusahaan memanipulasi pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Interest Burden: Komponen Interest Burden (Pretax Prof it/EBIT) yang dirubah menjadi: Pretax Profit -----------------EBIT EBIT-Intenest Expense = --------------------------------------- . .........................(12) EBIT

Dari rumus interest burden di atas dapat dilihat bahwa jika suatu perusahaan sama sekali tidak menggunakan pinjaman atau interest expense sama dengan nol, maka interest burden atau rasio antara pretax profit dengan EBIT sama dengan satu. Rasio sama dengan satu adalah angka yang maksimum. Jika perusahaan banyak menggunakan pinjaman beranti interest expensenya besar, maka rasio ini akan semakin kecil (kurang dan satu). Interest burden mempunyai hubungan yang erat dengan financial leverage suatu perusahaan. Semakin tinggi financial leverage (semakin banyak debt digunakan) semakin tinggi interest burden. Semakin tinggi interest burden , per definisi (ceteris paribus) ROE semakin kecil. Perlu diingat bahwa Interest burden yang tinggi dinyatakan oleh rendahnya rasio antara Pretax Income dan Earnings Before Interest and Tax Adapun hubungan financial leverage (Assets/Equity) dengan debt to equity ratio dapat dinyatakan oleh persamaan benikut: (Financial Leverage) Assets = -------------- = Equity Equity+ Debt Debt ---------------- = 1+ -------------...........(13) Equity Equity

Profit Magin Per definii EBIT Profit Margin = ----------------------Sales 232

DAFTAR ISI

Semakin tinggi profit margin, semakin tinggi ROE suatu perusahaan. Profit margin disebut juga sebagai return on sales menunjukkan keuntungan untuk setiap satu dollar atau rupiah penjualan. Profit margin 10% berarti untuk set!ap dollar penjualan keuntungan sebesar 10 sen dollar. Assets Turn Over Komponen ini menggambankan efisiensi pemanfaatan aset perusahaan. Semakin efisien pemanfaatan aset suatu penusahaan (yang dicerminkan assets turn over yang tinggi) semakin tinggi ROE. Financial Leverage: Per definisi: Financial Leverage = Assets ------------------ = 1 + Equity Debt -----------Equity

Jika Financial Leverage = l,67 maka, Debt ----------- = 1,67- 1 = Equity 67 ---------100

Debt to Equity Rat!o

=

Dan persamaan duabelas tersebut di atas dapat dilihat bahwa semakin tinggi financial leverage, semakin tinggi ROE. Financial Leverage dapat mem”boost” atau meningkatkan ROE dengan ketentuan bahwa ROA (Return On Assets) lebih besar bila dibandingkan dengan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Untuk jelasnya lihat modifikas! Persamaan dua belas di atas benikut ini: Debt ROE = (1-TaxRate) ⃒ ROA + (ROA-InterestRate) --------Equity .......................(14)

Dari pensamaan 15 di atas dapat dilihat bahwa jika ROA lebih kecil bila dibandingkan dengan interest rate maka ROE akan turun berarti akan terjadi dilusi (dilution) dari earning yang dapat diterima oleh pemegang saham. Dengan perkataan lain pemegang saham dirugikan.

233

DAFTAR ISI

Dan persamaan 15 tersebut di atas dapat pula disimpulkan bahwa kalau pemilik perusahaan yang ada yakin bahwa ROA akan leb!h besar bila dibandingkan dengan interest rate yang akan dibayarkan, maka usaha yang harus dilakukan adalah meningkatkan Financial Leverage setinggi mungkin. Masalahnya adalah kalau financial leverage terlalu tinggi, resiko keuangan (financial risk) suatu perusahaan menjadi tinggi dalam arti kalau terjadi sesuatu dengan hasil penjualan (misal menurun tajam) maka perusahaan kemungkinan besar tidak dapat memenuhi kewajibannya dan dapat dinyatakan bangkrut dan dilikuidasi. Dari uraian ini jelaslah bahwa salah satu motivasi perusahaan go public adalah dalam rangka menurunkan financial risk. KESIMPULAN: Jadi jelaslah dengan memahami berbagai komponen dari ROE kita lebih dapat memahami mengapa ROE suatu perusahaan lebih rendah bila dibandingkan oleh perusahaan lain yang sejenis. Kemungkinan besar hal itu disebabkan misalnya oleh perusahaan tensebut tidak efisien dalam memanfaatkan asetnya. Dengan mengetahui ROE dan Dividen Pay Out Ratio kita dapat menentukan berapa besannya pertumbuhan deviden di masa yang akan datang. Contoh Perhitungan Laju Pertumbuhan Deviden: Perusahaan metniliki ROE = 35 %. Dividen Pay Out Ratio adalah 0,65 maka dengan mudah kita dapat memperkinakan benapa besarnya g atau laju pertumbuhan deviden di masa yang akan datang ya!tu 22,75% Contoh Perhitungan ROE: Perusahaan A Ta x Burden Net Income = -------------------------- = 0,7 Pretax Income Atau Tax Rate = 30% Perusahaan B 0,7

Pretax Income Interest Burden = ---------------------- = EBIT

0,67

0,73

234

DAFTAR ISI

Profit Margin

EBIT = ------------------ = Sales

12%

17%

Sales Assets Turn Over = ------------------- = Total Assets

3x

2,5 x

Leverage

Financial Total Assets = ------------------------------Equity

=

1,5

1,1

ROE

0,2532

0,2388

Dan contoh perhitungan ROE tersebut kita dapat melihat bahwa ROE Perusahaan A (0,2532) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ROE Perusahaan B (0,2388). Hal ini utamanya disebabkan oleh: a) Perusahaan A lebih efisien dalam menggunakan asetnya. Hal ini terbukti dengan angka assets turnover yang lebih besar yaitu 1,5 kali dibandingkan dengan 1,1 kali b) Financial Leverage perusahaan B lebih rendah bila dibandingkan dengan financial leverage perusahaan B yaitu 1,1. dibandingkan dengan 1,5. Seperti telah dijelaskan sebelumnya financial leverage dapat mem~boost” ROE aset ROA lebih besar bila dibandingkan dengan interest rate yang harus dibayarkan. Benikut adalah perhitungan ROA untuk Perusahaan A dan Perusahaan B: ROA = Profit Margin x Assets Turn Over Perusahaan A Operating Margin EBIT = -------Sales Sales = ---------Total Assets 12% Perusahaan B 17%

Assets Turn Ove

3x

2,5 x

ROA

36%

42,5%

235

DAFTAR ISI

Berikut ini adalah hasil perhitungan tingkat bunga yang harus dibayarkan oleh Perusahaan A dan Perusahaan B: Debt ROE(1-Tax Rate) ⃒ ROA + (ROA- Interest Rate) ----------Equity Interest rate Perusahaan A: ROE = (1-0,3) 136% + ( 36%-interest rate) x 0,5 1

0,2532 = (0,7) 136% + 0,18% — 0,5 interest rate l 0,2532 = 0,7x 54% — 0,7 x 0,5 interest rate) = 37,8% - 0,35 interest rate 0,35 interes rate = 0,378—0,2532=0,1188 Interest rate = 0,3394 x 100 % = 33,94%

Interest rate Perusahaan B : ROE=(1—0,7) 142,5%+(42,5%—interes rate)x 0,11 0,238=0,7J42,5%+4,25%—0,l interest rate l 0,238=0,7146,75%—0,l interest rate l 0,238=32,725%-0,07 interes rate 0,07 interest rate = 32,725% - 23,8% = 0,008925 = 127,5%

interest rate

Dan Contoh perhitungan di atas yang menjadi penyebab utama mengapa Perusahaari B memiliki ROE yang yang rendah bila dibandingkan dengan Perusahaan A walaupun Perusahaan B memiliki ROA yang lebih baik dan Financial Leverage yang tidak terlalu tinggi adalah kenyataan bahwa Perusahaan B memilih pembiayaan yang salah. Tingkat bunga yang dibayarkan oleh Perusahaan B terlalu tinggi yaitu 127,5%. Tingkat bunga ini tidak sebanding dengan ROA yang dimiliki oleh Perusahaan B yaitu hanya 42,5%.

236

DAFTAR ISI

Kalau seandainya Perusahaan B menggunakan tingkat bunga yang tidak tenlalu tinggi maka ROE Perusahaan B kemungkinan akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Perusahaan A. KESIMPULAN Berdasarkan pada uraian tulisan di atas maka dapat disimpulkan bahwa seorang investor atau analis sekuritas khususnya saham di pasar modal apabila akan melakukan investasi pada saham tidak boleh hanya ikut-ikutan , akan tetapi perlu menganalisa secara detail fundamental perusahaan. Hal penting yang harus diperhatikan adalah earning perusahaan. Karena earning akan menentukan besarnya dividen dan pertumbuhan dividen yang akan menentuakan nilai intrisik saham. Nilai intrinsik saham dapat digunakan sebagai cut of point untuk memutuskan belu atau menjual saham apabila sudah dimiliki saham tersebut. Kedua yang tidak kalah penting adalah perlu memperhatikan laverage perusahaan, karena akan mempengaruhi tingkat suku bunga yang harus dibayarkan perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi ROE yang akan dihasilkan. DAFTAR PUSTAKA Bodie, Kane and Marcus, Investment, 2006, Irwin,Homewood Burton G.Malkiel, A Random Walk Down Wall Street, W.W Norton & Company, New York-London 1990

237

DAFTAR ISI

Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham
Oleh :

A. Zubaidi Indra11
ABSTRAK Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. Faktor-faktor fundamental seperti DER, ROE, EPS, PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. Keywords : faktor fundamental, stakeholder, rasio A. PENDAHULUAN Latar Belakang Pasar modal saat ini dipandang sebagai sarana efektif untuk mempercepat pembangunan suatu negara. Melalui pasar modal dimungkinkan terciptanya usahawan yang dapat menggalang penyerahan dana jangka panjang dari masyarakat untuk disalurkan ke sektor-sektor produktif. Hal ini sejalan dengan fungsi pasar modal yaitu meningkatkan dan menghubungkan aliran dana jangka panjang dengan kriteria pasarnya secara efisien yang akan menunjang pertumbuhan riil ekonomi secara keseluruhan. Sumber pembiayaan yang sudah sangat populer adalah bank yang digolongkan sebagai sumber pembiayaan tradisional. Satu keunggulan penting yang dimiliki pasar modal dibandingkan bank adalah bahwa untuk mendapatkan dana sebuah perusahaan tidak perlu menyediakan agunan, sebagaimana dituntut oleh bank. Dengan menunjukkan prospek yang baik, maka surat berharga perusahaan tersebut akan laku dijual di pasar modal. Di samping itu, dengan memanfaatkan dana dari pasar modal perusahaan tidak perlu menyediakan dana tiap bulan atau setiap tahun untuk membayar bunga. Sebagai gantinya perusahaan harus membayar dividen pada investor, jika memang perusahaan memperoleh untung. Kegiatan investasi yang dilakukan investor adalah kegiatan untuk menempatkan dana pada suatu atau lebih suatu aset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Biasanya para pemodal
11

Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

DAFTAR ISI

tidak akan menempatkan seluruh dana yang tersedianya pada satu jenis aset. Hal ini menunjukkan bahwa ada factor yang harus dipertimbangkan sebelum memilih jenis investasi yang akan dimasuki seperti risiko yang akan ditanggung. Sumber risiko dapat dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu risiko sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan dan resiko tidak sistematis yang merupakan risiko yang mempengaruhi atau (sekelompok kecil) perusahaan. Risiko sistematis menurut Beaver, Kettle dan Scholes (1970) : “A, systematic component reflects common movement of a single security’s return with the average return of all other securities in the market, the larger the value, the greater the riskiness of the security a β of the implies an averages riskiness” dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa beta atau risiko sistematis suatu saham merupakan indikator yang menunjukkan sensitivitas pergerakan return saham terhadap pergerakan return saham-saham lainnya di pasar. Adanya kaitan antara saham individual dengan pasar membawa pemikiran bahwa besarnya risiko sistematis suatu saham seharusnya dapat diperkirakan dari aspek fundamental perusahaan dengan karakteristik pasar. Jika kaitan antara aspek fundamental tersebut diketahui maka akan sangat membantu investor dalam menganalisa kepekaan pergerakan return saham terhadap pergerakan saham. Faktor-faktor fundamental adalah merupakan data akuntansi berupa ratio-ratio yang dapat membantu investor untuk memprediksi risiko suatu saham. Penggunaan data akuntansi juga dapat menghasilkan peningkatan kualitas pengambilan keputusan pada setiap lini dari pembuat keputusan individu. Hasil penelitian Suad Husnan, Mahduh, M., Hanafi dan Ari Wibowo (Kelola, 1997), menunjukkan bahwa pengumuman laporan keuangan perusahaan emiten juga mempunyai pengaruh terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut : 1. Laporan keuangan yang diumumkan tampaknya dipergunakan oleh investor dalam kegiatan di bursa, ini terlihat dari relatif tingginya perdagangan di hari pengumuman dibanding dengan kegiatan diluar hari pengumuman tersebut. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara perdagangan pada saat sebelum dan sesudah pengumuman laporan keuangan. Laporan keuangan Desember mempunyai dampak yang lebih besar dibanding dengan bulan Maret.

2. 3.

Dari hasil penelitian ini bisa dikatakan bahwa peranan laporan keuangan sudah sangat penting, dan investor sudah sangat sadar untuk memperhatikan faktor fundamental perusahaan. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian lainnya oleh Hanafi (Kelola, 1997) yang tetap menyatakan bahwa pengumuman informasi laporan keuangan perusahaan emiten menunjukkan dampak yang besar terhadap aktivitas perdagangan saham di pasar modal Indonesia. Dari latar belakang di atas maka permasahan yang diangkat adalah bagaimanakah pengaruh faktor-faktor fundamental keuangan perusahaan terhadap risiko saham. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih 240

DAFTAR ISI

memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. B. TINJAUAN TEORITIS 1. Keputusan Investasi Dalam teori manajemen keuangan modern disebutkan bahwa tujuan perusahaan adalah untuk memaksimumkan kekayaan para pemegang saham. Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut manager keuangan harus mampu memanfaatkan dana yang tersedia untuk investasi pada suatu investasi yang menguntungkan. Pendapat lain dari Jogiyanto (1998), investasi dapat didefinisikan sebagai penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu. Untuk dapat memilih investasi yang aman, diperlukan satu analisis yang cermat, teliti, dan mendukung dengan risiko yang akurat. Pemilihan teknik yang benar dalam analisis akan mengurangi risiko investor dalam investasi. Salah satu analisis yang dapat digunakan oleh calon investor adalah analisis fundamental. Analisis ini sangat berhubungan dengan kondisi perusahaan. Data yang dipakai sebenarnya adalah data historis yaitu risiko yang telah lewat. Alat yang dipakai untuk melakukan analisis adalah rasio keuangan yang pada dasarnya melihat hubungan antar pos dalam laporan keuangan perusahaan yang mencerminkan keadaan keuangan serta hasil operasional perusahaan. Proses keputusan investasi berkenaan dengan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan mengenai pemilihan sekuritas, seberapa ekspansi investasi yang dilakukan dan kapan investasi seharusnya dilaksanakan. Investor terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana konsep dasar investasi yang menjadi dasar pijakan dalam setiap tahap pembuatan keputusan investasi yang akan dibuat. Hal penting dan mendasar dalam setiap proses keputusan investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang diharapkan dengan risiko suatu investasi. 2. Konsep Model Security Market Line Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa risiko total terdiri dari risiko dan risiko tidak sistematis, sementara itu risiko tidak sistematis atau sering disebut risiko financial adalah risiko yang berhubungan dengan risiko usaha yang ditunjukkan oleh variabilitas ini akan semakin besar jika penggunaan hutang semakin besar yang pada akhirnya akan mempengaruhi risiko financial. Untuk mengukur nondiversifiable risk ini dapat menggunakan koefisien beta untuk mengukur Nondiversifiable risk. Formula CAPM dapat ditulis sebagai berikut : Ri = RF + (RM – RF) βi

241

DAFTAR ISI

Keterangan: = Tingkat return yang diucapkan Ri RF = Tingkat bunga bebas risiko βi = Koefisien beta saham RM = Tingkat Keuntungan portofolio pasar Dari formula di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi risiko, semakin tinggi return yang diharapkan, dan sebaliknya semakin rendah risiko semakin rendah pula return yang diharapkan. Jika hubungan antara beta dan return digambarkan dalam sebuah gambar, maka akan diperoleh gambar sebagai berikut : Gambar 1. Hubungan Antara Beta dengan Return yang Dinyatakan Sebagai Security Market Line Return 17 15 Rz =13 Rm=11 9 Rf = 7 5 3 1 Beta 0 brf .5 1.0 br 1.5 bz 2.0
Market Risk Premium 4% Asset Z’s Risk Premium (6%)

Gambar di atas menunjukkan adanya hubungan yang linier antara return dan beta atau risiko. Garis yang menghubungkan return dan beta ini disebut sebagai Security Market Line. Makin besar beta maka return yang diharapkan juga semakin besar.

242

DAFTAR ISI

3. Risk dan Return Pengertian risiko pada umumnya sering dikaitkan dengan memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Menurut William (1997) risiko didefinisikan sebagai berikut : “Risk can be defined as the chance of financial loss. Assets with greater chances of loss are viewer as more risky than those with lesser chance of loss”.Dari definisi tersebut di atas risiko dipandang sebagai peluang menderita kerugian keuangan. Menurut Jogiyanto, (1998): Dalam membuat keputusan investasi, sebenarnya investor belum mengetahui tingkat return (rate of return) karena return yang diharapkan (expected return) memang belum terjadi, sehingga belum diketahui dengan tepat berapa nilainya. Ketidakpastian tingkat return (rate of return) ini berkaitan dengan risiko. Semakin besar risiko suatu sekuritas, maka tingkat return yang diharapkan juga semakin besar, ataupun sebaliknya. Hubungan positif antara tingkat return yang diharapkan dengan risiko dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 2. Hubungan Positif antara Return Ekspektasi dengan Risiko Return Ekspektasi

opsi

Saham Waran Obligasi Pemerintah RBR Obligasi Perusahaan Risiko

243

DAFTAR ISI

Dari pengertian di atas dapat disebutkan bahwa risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return yang sebenarnya diterima dengan return yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya berarti semakin besar risiko investasi tersebut. Ada beberapa sumber risiko yang bisa mempengaruhi besarnya risiko suatu investasi menurut Tandelin (2001) yaitu : 1. Risiko suku bunga dimana perubahan suku bunga akan mempengaruhi harga saham secara terbalik, artinya jika suku bunga meningkat maka harga saham akan turun, ceteris paribus, demikian sebaliknya jika suku bunga turun harga saham akan naik. Risiko pasar. Fluktuasi pasar biasanya ditunjukkan oleh berubahnya indeks pasar saham secara keseluruhan. Perubahan pasar dipengaruhi oleh banyak faktor serta munculnya resesi ekonomi, kerusuhan, ataupun perubahan politik. Risiko inflasi. Risiko inflasi biasa disebut sebagai risiko daya beli, jika inflasi meningkat biasanya menuntut tambahan premium inflasi untuk mengkompensasikan penurunan daya beli yang dialaminya. Risiko financial. Risiko ini berkaitan dengan keputusan perusahaan untuk menggunakan pinjaman dalam pembiayaan modalnya. Semakin besar proporsi utang yang digunakan, semakin besar risiko financial yang diahadapi perusahaan. Risiko likuiditas. Risiko ini berkaitan dengan kecepatan suatu saham yang diterbitkan perusahaan bisa diperdagangkan di pasar sekunder, semakin cepat suatu saham bisa diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut. Risiko nilai tukar mata uang. Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap nilai mata uang Negara lain dan sering disebut sebagai currency risk atau exchange rate risk. Risiko Negara atau country risk. Risiko ini berkaitan dengan kondisi stabilitas politik suatu negara.

2. 3. 4.

5. 6. 7.

Dalam manajemen investasi modern dikenal pembagian risiko total investasi ke dalam dua jenis risiko, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis merupakan risiko yang berkaitan dengan perubahan yang terjadi secara keseluruhan dimana perubahan pasar tersebut akan mempengaruhi variabilitas return atas suatu investasi. Sedangkan risiko tidak sistematis merupakan risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan tetapi lebih terkait pada perubahan kondisi mikro perusahaan penerbit saham. Risiko tidak sistematis bisa diminimalkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada setiap jenis saham. Return atau hasil investasi merupakan tujuan utama bagi investor. Investasi saham akan memberikan keuntungan atau return dalam dua cara, yaitu menjual saham hingga harganya menguat, sering disebut sebagai capital gain atau menunggu dividend, yaitu bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Menurut Jogiyanto, (1998) menyatakan bahwa: return total merupakan return keseluruhan dari suatu

244

DAFTAR ISI

investasi dalam suatu periode tertentu, return total sering disebut return saja. Return total terdiri dari Capital gain dan yield Return = Capital gain (loss) + Yield Capital gain (loss) merupakan selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu. dan yield dianggap tidak diperhitungkan sehingga dengan demikian, return total dapat di nyatakan sebagai berikut : Return = Pt Pt-1

Pt − Pt −1 Pt −1
= Harga saham sekarang (periode t) = Harga saham periode lalu (periode t-1)

Dengan cara yang sama, tingkat pengembalian pasar (rate of market return). Jika digunakan IHSG adalah :

Rmt =

IHSG t − IHSG IHSG t -1

t -1

Rmt IHSG t IHSG t-1

= Return pasar untuk periode t = merupakan indeks pasar periode t = merupakan indeks pasar periode t-1

Return ekspektasi (expected return) dapat dihitung dengan mengalikan masing-masing hasil masa depan (outcome) dengan probabilitas kejadiannya dan menjumlah semua produk perkalian tersebut, secara matematik, return ekspektasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Jogiyanto, 1998). E (Ri) =

∑R P
i =t i

n

i

Keterangan : E (Ri) = Perolehan diekspektasi suatu aktiva atau sekuritas Ri = Hasil masa depan ke-i Pi = Probabilitas hasil masa depan ke-i n = jumlah dari hasil masa depan Disamping mengestimasi return yang diharapkan dari suatu investasi saham, investor juga perlu menghitung berapa besarnya risiko yang terkait dengan investasi pada saham yang bersangkutan. Risiko sebagai sisi lain dari return menunjukkan kemungkinan penyimpangan return yang diharapkan dari return actual yang diperoleh. Banyak 245

DAFTAR ISI

metode yang tersedia untuk mengukur risiko, meskipun tidak ada metode yang standar, tetapi secara umum risiko diukur dalam bentuk probabilistik atau dalam bentuk varians (standar deviasi). Alat ukur yang paling umum digunakan untuk menjelaskan sejauh mana penyimpangan expected return dari actual return adalah dengan varians atau standard deviasi. Varians maupun standar deviasi merupakan besarnya penyebaran variabel random diantara rata-ratanya, semakin besar penyebarannya, semakin besar varians atau standar deviasi investasi tersebut. Secara matematis rumus untuk menghitung varians atau standar deviasi adalah sebagai berikut : M

Var R = i

( ) ∑ ⎛⎜⎝ [Ri − E (Ri)]2 . pi ⎞⎟⎠
i =1

C. PEMBAHASAN C.1. Faktor-faktor Fundamental Beta merupakan ukuran risiko yang dinyatakan dalam “Sensitivity to market” yaitu ukuran risiko yang didasarkan pada sensitivitas pergerakan return suatu saham terhadap market return. Menurut Beaver, Kettler dan Scholes (Grubber:1995) menyatakan : “Beta is risk measure that arises from the relationship between the return on a stock and the return on the market, however, we should know that the risk a firm should be determined by some combination on the firm’s fundamental of the firm’s stock. If these relationship could be determined, they would help us to understand betas and to better forecast betas”. Lebih lanjut Beaver, Kettler dan Scholes menyatakan jika data akuntansi dapat digunakan untuk meramalkan risiko, hal itu akan merupakan peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi investor untuk keperluan analisis portofolio. Meskipun tidak ada standar untuk menetapkan variabel-variabel mana yang diduga memiliki pengaruh terhadap risiko sistematis (beta saham) namun variabel-variabel yang digunakan Beaver, Kettler, dan Scholes yaitu beberapa variabel fundamental dapat digunakan sebagai dugaan awal untuk penelitian tesis ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko pasar, dengan hanya membatasi variabel-variabel penelitian sebagai berikut : 1. Debt Equity Ratio (DER) Setiap sumber dana selalu mempunyai biaya masing-masing yang biasa disebut cost of funds. Pada saat akan digunakan, dana dari luar perusahaan dalam bentuk hutang atau obligasi dan biasanya akan timbul biaya-biaya (cost of debt) yang minimal harus ditanggung adalah sebesar biaya bunga. Sementara jika dari modal sendiri (equity), akan timbul biaya yang tidak kelihatan yang merupakan opportunity cost dari modal tersebut. Mengingat begitu bervariasinya biaya dari luar maupun dari dalam perusahaan, maka 246

DAFTAR ISI

perlu dipertimbangkan dengan seksama sebaiknya dari sumber dana mana investasi yang harus dibiayai, karena akan berpengaruh terhadap harga saham di bursa. Formulasi struktur modal itu sendiri adalah sebagai berikut : DER =

Long Term Debt Equity

DER yang semakin besar akan mengakibatkan risiko financial perusahaan yang semakin tinggi. Dengan penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Penggunaan hutang dalam valuta asing juga akan menimbulkan currency risk dimana risiko ini berkaitan dengan fluktuasi nilai mata uang domestik terhadap mata uang Negara lain. Investor biasanya selalu menghindari risiko, maka semakin tinggi DER akan mengakibatkan saham perusahaan tersebut semakin dihindari investor, sehingga harga saham akan semakin rendah. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hubungan DER dengan beta saham adalah positif artinya semakin tinggi tingkat DER akan mengakibatkan semakin tinggi risiko pasar dan sebaliknya tingkat DER yang rendah akan mengakibatkan risiko sahamnya rendah. 2. Return On Equity (ROE) Return on equity menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham (earning available for common stockholder’s) agar bisa terlihat seberapa besar kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba, maka diperlukan perhitungan laba bersih yang sudah dikurangi dengan biaya bunga dari modal asing (cost of debt) dan pajak perseroan (income tax). Sedangkan modal yang dihitung adalah modal sendiri yang bekerja dalam perusahaan, ROE bisa dihitung dengan formula sebagai berikut : Return On Equity (ROE) =

Earnings after Tax and Interest equity

Dari sudut pandang investor ROE merupakan salah satu indikator penting untuk menilai prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan mengetahui tingkat ROE, investor dapat menilai prospek perusahaan di masa mendatang. Dengan mengetahui tingkat ROE, investor dapat melihat sejauh mana pertumbuhan profitabilitas perusahaan. Indikator ROE sangat penting diperhatikan untuk mengetahui sejauh mana investasi yang akan dilakukan investor di suatu perusahaan mampu memberikan return yang sesuai dengan tingkat yang diharapkan investor, ROE akan berubah jika EAT atau equity mengalami perubahan. Dalam menentukan pilihannya, investor biasanya akan mempertimbangkan perusahaan yang mampu memberikan kontribusi ROE yang lebih besar. Bagi investor semakin tinggi ROE menunjukkan risiko investasi kecil. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa

247

DAFTAR ISI

semakin tinggi ROE akan mengakibatkan beta saham tersebut semakin rendah sebaliknya bila ROE rendah akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi.

3. Earning Per Share (EPS) Informasi earning per share suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. Meskipun tidak semua perusahaan mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam laporan keuangannya, besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan rugi laba perusahaan. Rumus untuk menghitung EPS suatu perusahaan adalah sebagai berikut : Earning Per Share (EPS) =

Earning after Tax (EAT) and Interest Number of Share

EPS = ROE X Book Value per Share EPS =

Earning after Tax and Investment Equity x Number of share Equity

4. Price Earning Ratio Informasi PER mengindikasikan besarnya Rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu Rupiah earnings perusahaan atau dengan kata lain, PER menunjukkan besarnya harga setiap satu Rupiah earning perusahaan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa PER juga merupakan ukuran harga relatif dari saham perusahaan. Rumus PER juga dapat ditulis sebagai berikut : PER =

D1 / E1 k−g

Keterangan : D1/E1 = Tingkat dividend payout ratio yang diharapkan k = Tingkat return yang diharapkan g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan Dari persamaan di atas, ada tiga komponen untuk menghitung PER, yaitu : a. Dividend payout ratio (DPR) yang diharapkan yang menunjukkan besarnya dividen yang akan dibayarkan perusahaan dari total earning yang diperoleh perusahaan

248

DAFTAR ISI

b.

Tingkat return yang diisyaratkan (k) yang menunjukkan tingkat return yang diisyaratkan investor atas suatu saham, sebagai kompesasi atas risiko yang harus ditanggung investor. Secara matematis tingkat return yang diisyaratkan adalah : k = R f + Rp Keterangan: K = tingkat return bebas risiko + premi risiko

c. Tingkat pertumbuhan dividen yang diharapkan (g), yang merupakan fungsi dari besarnya ROE dan tingkat laba ditahan perusahaan. 5. Operating Profit Margin (OPM) Operating profit margin mengukur presentase setiap penjualan setelah semua cost and expenses diluar biaya bunga dan pajak. OPM menunjukkan laba murni (pure profit) yang diperoleh dari setiap penjualan. Bagi investor yang diinginkan tentunya adalah operating profit margin. Formula untuk menghitung operating profit margin sudah dikenal luas sebagai berikut : Operating Profit Margin =

Operating Profit Sales

OPM adalah salah satu alat untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan. Tanpa profit, perusahaan tidak akan menarik bagi investor. Oleh karena itu rasio ini sangat penting bagi investor untuk menilai masa depan perusahaan. Dalam memilih investasi saham, investor akan memilih perusahaan yang memiliki OPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memiliki OPM rendah. Bagi investor perusahaan yang memiliki tingkat OPM yang tinggi memberikan indikasi bahwa risiko pada perusahaan tersebut adalah rendah. Dapat dikatakan semakin tinggi OPM akan semakin rendah beta sahamnya, sebaliknya semakin rendah OPM akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. C.2. Beta Beta adalah pengukur risiko sistematik dari suatu sekuritas atau portofolio relatif terhadap risiko pasar. Mengetahui beta suatu sekuritas atau beta suatu portofolio merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio tersebut.Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematiknya yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Untuk menghitung beta portofolio, maka beta masing-masing sekuritas perlu dihitung terlebih dahulu. Beta portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari beta masing-masing sekuritas. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut kedalam portofolio yang akan dibentuk (Jogiyanto, 1998). 249

DAFTAR ISI

Beta sekuritas dapat dihitung dengan teknik estimasi yang menggunakan data histories. Beta yang dihitung berdasarkan data historis ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengestimasi beta masa mendatang. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa beta histories mampu menyediakan informasi tentang beta masa depan (Elton dan Gruber : 1994). Beberapa beta historis berdasarkan jenis data yang akan digunakan yaitu: 1. Beta pasar Dapat diestimasi dengan mengumpulkan nilai-nilai histories return dari sekuritas dan return dari pasar selama periode tertentu, misalnya 60 bulan untuk return bulanan atau 200 hari untuk return harian. 2. Beta akuntansi Beta akuntansi dapat dihitung dengan menggunakan data histories yang berupa data akuntansi seperti laba perusahaan dan laba indeks pasar. (Jogiyanto, 2000). 3. Beta fundamental Dapat diestimasi dengan menggunakan data histories berupa variabel-variabel fundamental perusahaan (Dividen pay out, asset growth, leverage, dan lainnya) (Jogiyanto, 2000). Bagian dari risiko sekuritas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang well-diversified disebut dengan risiko yang dapat didiversifikasi (diversifiable risk) atau risiko perusahaan (company risk) atau risiko spesifik (specific risk) atau risiko unik (Unique risk) atau risiko yang tidak sistematik (unsystematic risk). Karena risiko ini unik untuk suatu perusahaan, yaitu hal yang buruk terjadi di suatu perusahaan dapat diimbangi dengan hal yang baik terjadi diperusahaan lain, maka risiko ini dapat didiversifikasi di dalam portofolio. Contoh dari diversifiable risk adalah pemogokan buruh, tuntutan dari pihak lain, penelitian yang berhasil atau tidak berhasil dan lain sebagainya. Sebaliknya, risiko yang tidak dapat didiversifikasikan oleh portofolio disebut dengan nondiversifible risk atau risiko pasar (market risk) atau risiko umum (general risk) atau risiko sistematik (systematic risk). Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian di luar kegiatan perusahaan, seperti inflasi, resesi, dan lain sebagainya. Risiko total (total risk) merupakan penjumlahan dari diversifiable dan nondiversifiable risk sebagai berikut : Risiko total = Risiko dapat di-diversifikasi + Risiko tidak dapat di-diversifikasi = Risiko perusahaan + risiko pasar = Risiko tidak sistematik + risiko sistematik = Risiko spesifik (unik) + risiko umum

Gambar 3. berikut ini menunjukkan risiko total dan komponennya yang berupa risiko yang dapat di-diversifikasi dan risiko yang dapat didiversifikasi.

250

DAFTAR ISI

Gambar 3. Risiko Total, risiko yang dapat di-diversifikasi dan yang tidak dapat risiko fortofolio (%) Risiko dapat di-diversifikasi Atau risiko perusahaan Atau risiko spesifik Atau risiko unik Atau risiko tidak sistematik

Risiko total

Risiko tidak dapat di-diversikfikasi Atau risiko pasar atau risiko umum Atau risiko sistematik Jumlah

saham

Estimasi Nilai Beta Metode yang paling banyak digunakan untuk menetukan beta adalah cara penaksiran dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta masa itu, yang kemudian dipergunakan sebagai taksiran beta masa datang. Dengan menggunakan persamaan regresi dari single indeks model maka beta untuk tiap saham dapat dihitung seperti tampak pada Gambar 4. Beta saham tidak akan merupakan kemiringan (scope) garis regresi tersebut. Beta menunjukkan pergerakan vertikal (stock return) per unit pergerakan horizontal (market return). Semakin besar beta, menunjukkan semakin peka pergerakan harga saham tersebut terhadap pergerakan haraga saham di pasar, sehingga semakin tinggi risikonya.

251

DAFTAR ISI

Gambar 4. Garis Regresi Untuk Mengukur Beta Saham Rit

β

α
Rmt

Alpha merupakan intersep dari garis regresi, nilai alpha merepresentasikan return saham yang diakibatkan oleh faktor-faktor di luar pergerakan pasar atau dikenal sebagai independent component. Nilai alpha dan beta dapat bernilai positif, negatif atau nol. Jerome (1987). Saham-saham dengan beta lebih besar dari satu (β > 1) digolongkan sebagai sahamsaham agresif (aggressive stock) karena saham melonjak lebih cepat daripada pasar dalam situasi boom (bull market) sebaliknya jatuh lebih tajam daripada pasar pada situasi lesu (bear market), saham-saham jenis ini lebih peka sehingga mempunyai risiko yang tinggi. Saham-saham dengan beta kurang dari satu (β < 1) digolongkan sebagai saham-saham defensive (defensive stocks), keuntungan saham ini berfluktuasi kurang dari kondisi pasar secara keseluruhan. Saham-saham dengan beta sama dengan satu, merupakan saham-saham netral karena pergerakan return saham sejalan dengan market return. Estimasi besarnya risiko sistematis (β) dihitung dengan menggunakan formula standar (Elton/Gruber: 1995) sebagai berikut :

βi =

σ im σ 2m

t =1 =

∑ [(Rit − R it )(Rmt - R mt )]
N

∑ [(R
N t =1

mt

- R mt )

2

]

252

DAFTAR ISI

Keterangan; : Resiko sistematis untuk saham i βi

σ σ

im 2 im

: kovarian antara return saham Ri dengan market return RM. : varian market return. : Rata-rata dari return on security : rata-rata dari market return

Rit Rmt

Penggunaan konsep model indeks tunggal dalam menaksir, beta memerlukan penaksiran beta dari saham-saham yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Cara lain adalah dengan menggunakan data histories untuk menghitung beta waktu lalu yang dipergunakan sebagai taksiran beta di masa yang akan datang. Secara sistematis, model indeks tunggal adalah sebagai berikut : Ri =αi + βiRm + ei Keterangan: Ri : return saham i Rm : return indeks pasar : bagian return saham i yang tidak dipengaruhi kinerja pasar : ukuran kepekaan return saham i terhadap perubahan return saham : kesalahan residual

αi
βi

ei

Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham menjadi dua bagian, yaitu yang independent dari perubahan pasar dan yang dipengaruhi oleh pasar. Persamaan di atas juga merupakan persamaan regresi linier sederhana yang dihitung dengan Ri sebagai variabel dependent dan Rm sebagai variabel independent. Penggunaan model indeks tunggal menghasilkan tingkat keuntungan yang diharapkan, deviasi standar tingkat keuntungan dan covariance antar saham sebagai berikut : Tingkat keuntungan yang diharapkan, E (Ri) = αi + βi E (Rm) - Variance tingkat keuntungan,

σi2 = βi2σm2 + σei2
Covariance tingkat keuntungan saham i dan j,

σei = βiβjσm2

253

DAFTAR ISI

Model indeks tunggal menunjukkan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan terdiri dari dua komponen yaitu αi dan bagian yang berhubungan dengan pasar yaitu βiE(Rm). Demikian juga variance tingkat keuntungan terdiri dari dua bagian. Yaitu risiko yang unik (σei2) dan risiko yang berhubungan dengan pasar βi2σm2, sebaliknya covariance semata-mata tergantung pada risiko pasar. Salah satu alasan penggunaan model indeks tunggal adalah untuk mengurangi jumlah variabel yang perlu ditaksir karena untuk portofolio model indeks tunggal mempunyai karakteristik yaitu bahwa beta portofolio (βp) merupakan rata-rata tertimbang dari beta saham-saham yang membentuk portofolio tersebut.

βp

= ∑ X i βi

Demikian juga alpha portofolio (αp) adalah,

α p = ∑ X iα i
Untuk variance portofolio rumusnya adalah sebagai berikut:

α p 2 = β p 2σ m 2 + ∑ X i 2σ ei 2
Resiko yang tidak bisa dihilangkan kalau bentuk portofolio merupakan risiko yang berkaitan dengan βp. kalau resiko residual dianggap nol, maka risiko portofolio akan mendekati :

σ p = β p 2σ m 2 = βpσm = σm [ ∑ X i β i ]
D. KESIMPULAN DAN SARAN Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai referensi bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan faktor fundamental perusahaan dalam mengeliminir pengaruh risiko pasar sehingga nilai perusahaan akan lebih tinggi dan akhirnya akan bisa memberikan kemakmuran bagi stakeholders. Faktor-faktor fundamental seperti DER, ROE, EPS, PER dan OPM mempunyai berpengaruh terhadap risiko sistematis Beta. Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang memiliki tingkat DER yang tinggi sementara tingkat ROE nya rendah. Pada masa krisis juga diduga banyak perusahaan yang memiliki tingkat earning per share yang rendah karena kemampuan menghasilkan laba yang rendah. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini menganalisis variabelvariabel yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental yang diperkirakan dapat menjelaskan risiko sistematis. 254

DAFTAR ISI

Alasan yang lain pada penggunaan variabel-variabel fundamental adalah karena dalam berbagai studi literatur menunjukkan masih kurangnya penelitian yang mengkaitkan antara risiko sistematis saham dengan faktor-faktor fundamental yang dapat menjelaskannya. Di lain pihak telah banyak studi dan penelitian yang dilakukan kurang meneliti hubungan faktor-faktor makro ekonomi terhadap risiko sistematis seperti perubuhan tingkat inflasi dan tingkat suku bunga terhadap risiko sistematis. Berbagai alasan dikemukakan terhadap kurangnya penelitian yang menitikberatkan pada pengaruh faktor-faktor fundamental terhadap risiko sistematis (risiko pasar) diantaranya adalah masih dalam dugaan bahwa faktor-faktor tersebut kurang memberikan penjelasan yang berarti pada risiko sistematis suatu saham. DAFTAR PUSTAKA Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti. 1995. “Pengantar Pasar Modal”. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Baridwan, Zaki dan H.M. Salno. 2000. “Analisis Perataan Penghasilan (Income Smoothing) : Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan kinerja Saham Perusahaan Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol.3 No.1 Ikantan Akuntan Indonesia. Beaver, P.Kettler, dan M. Scholes, “The Association Between Market Determined and Accounting Determined Risk Measures”, Accounting Review 45, (October 1970), Hal 654-682. Bildersee, J.S, “The Association Between Market Determined Measure of Risk and Alternative Measure of risk” Accounting Review 50 (January 1975). Brealey, Richard.A, - Steward C. Myers, “Fundmental of corporate Finance” Fifth Edition, Mc Graw Hill, New York, 1998. Elton, Edwin J. and Gruber, Martin J.” Modern Portfolio Theory and Investment Analysis”, 5th Edition, New York, Jhon Wiley & Sons, Inc. 1995. Eskew, R.K, “The Forecasting Ability of Accounting Risk Measure Some Additional Evidence”. Accounting Review 54. (Januari 1979). Gitman, Lawrence J, “Principles of Managerial Finance”, 9th Edition, USA, 2000. Hargitay, Stephen E, and Ming Yu Shi, “Investment Decision – A Quantitative Approach”, London, E&FN Spon, 1993. Helfert, A Erich, “Teknik Analisis Keuangan”, Edisi Kedelapan, Alih Bahasa, Herman Wibowo, Penerbit Airlangga, Jakarta. Indonesia,1997. 255

DAFTAR ISI

Institude for Economic and Financial Research, “Indonesia Capital market Directory 2000, 2003”, Prasetio Utomo. Jogiyanto, 2000. Teori Portfoliodan Analisis Investasi”. Edisi ke-2. BPFE. Yogyakarta. Jones, Charles P, 1998. “Investment”. Sixth Edition. John Wiley & Sons. Kasali, Rhenald. 2001. “Membidik Pasar Indonesia, Segmentasi, Positioning,”. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Targeting,

Keown, Arthur J. Scott, David F, JR, Martin, John D,, Petty, J. William, “Basic Financial Management” 7th New York, Prentice Hall, Inc, 1996. Megginson, L.William, “Corporate Finance Theory”, 1st edition, Addison-Wesley Educational Publisher Inc, 1997. Munawir, S, “Analisa Laporan Keuangan”, Edisi Keempat, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1997. Po. Haryanto, “Pengaruh Operating And Financial Leverage Terhadap Risiko Sistematis Pada Beberapa Perusahaan Unggulan di Bursa Efek Jakarta Periode 1998—2001” Tahun 2004. Santoso, Singgih, “SPSS / Statistical Product and Service Solution” Elex Media Komputindo, Jakarta. Suad Husnan DR, MBA, “Dasar-dasar Teori Portfolio dan analisa sekuritas”, Edisi kedua, UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 1994. Sembel, Roy, 2001, “Berfikir Ekonomis di Masa Krisis”, Edisi Pertama, Elex Media Komputindo, Jakarta. Van Horne, James, “A Financial Management and Policy”, 7th edition, New York, Prentice Hall International, 1986. Tandellilin, Eduardus, “Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio”, Edisi Pertama, Yogyakarta, BPFE-Yogyakarta,2001. Weston, J. Fred, Copeland, Thomas E., “Manajemen Keuangan”, Edisi Kedelapan. Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996.

256

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->