Perpustakaan Nasional RI; Data Katalog Terbitan (KDT) Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh Fathul Baari syarah : Shahih Bukhari / Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani; penerjemah, Gazirah Abdi Ummah. - Jakarta: Pustaka Azzam, 2002. 460 hlm.; 23.5 cm Judul asli: Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari. ISBN 979-3002-03-4 1. Hadis I. Judul II. Ummah, Gazirah Abdi. 297.132

Judul Asli Pengarang Penerbit Tahun Terbit

: : : :

Fathul Baari Syarah Shahih Al Bukhari Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani Maktabah Darussalam, Riyadh Cetakan I, tahun 1418 H./1997M Edisi Indonesia:

FATHUL BAARI
Syarah: Shahih Al Bukhari
Penerjemah Editor Desain Cover Cetakan Penerbit Alamat Telp Fax : Ghazirah Abdi Ummah : Abu Rania, Lc. Titi Tartilah, S. Ag : Aminuddin : Pertama, Pebruari 2002M : PUSTAKA AZZAM Anggota I K A P I DKI : Jl. Kampung Melayu Kecil III/15 Jak-Sel 12840 : (021)8309105/8311510 : (021)8309105 E-Mail.pustaka_azzam@telkom.net

VI

— FATHUL BAARI

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan menjadi sempurna, dan dengan rahmat-Nya kebaikan akan berlipat ganda dan dosadosa a k a n d i a m p u n i . S h a l a w a t dan s a l a m m u d a h - m u d a h a n t e t a p terlimpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAWyang telah diutus oleh Allah sebagai rahmat, petunjuk, nikmat dan pelita yang menerangi hati umat manusia, sehingga mereka dapat melihat kebenaran dan memperoleh hidayah-Nya. Hadits (sunnah) dalam agama Islam merupakan sumber syariat yang kedua setelah Al Qur'an. Dalam hal ini fungsi Sunnah adalah untuk menguatkan apa yang ada dalam Al Qur'an, menjelaskan apa yang ada dalam Al Q u f an dan menerangkan hukum-hukum yang tidak tersebut dalam Al Qur'an. Begitulah urgensi sunnah dalam syariat Islam, sehingga kita umat Islam berkewajiban untuk mengetahui, mempelajari dan mendalaminya. Hal itu telah diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya, "Barangsiapa yang menaati Rasul, maka sesungguhnya ia telah menaati Al lak." (Qs. An-Nisaa' <4): 80) dan firman-Nya pula, "Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu ambillah, dan apa yang dilarangnya hentikanlah" (Qs. Al Hasyr (59): 7) Untuk itu sangat penting kiranya upaya untuk menerjemahkan bukubuku hadits, khususnya buku hadits yang telah diakui oleh para ulama akan keabsahan dan keotentikannya, terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Adapun buku yang ada di hadapan pembaca ini, adalah terjemahan buku Fathul Baari syarah hadits Shahih Bukhari, karangan Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. Perlu kami beritahukan bahwa dalam terjemahan ini tidak semua isi buku kami tulis sesuai dengan buku aslinya, diantaranya: 1. 2. Sanad Hadits (perawi) hanya ditulis nama perawi yang awal (sahabat) sebelum Rasulullah SAW. Tinjauan Nahwu (grama tikal), kecuali yang berkaitan dengan matan hadits. FATHUL BAARI — XIII

Hal itu karena kita lebih menfokuskan pada syarah (keterangan) matan hadits, supaya isi hadits dapat dipahami dengan mudah, utuh dan jelas. Disamping itu, pembahasan mengenai sanad hadits Bukhari secara panjang lebar dapat mempersulit dan membingungkan pemahaman orang yang belum begitu mengenal ilmu musthalahul hadits. Sementara bagi yang sudah mempelajari dan ingin mengetahui lebih dalam, dapat merujuk kepada buku aslinya. Selanjutnya, kami beritahukan bahwa buku ini telah mengalami beberapa kali proses pengoreksian, maka kami mohon maaf kepada para pembaca budiman apabila mendapatkan kesalahan dan kekurangan baik dalam isi maupun bahasa terjemahan buku ini. Saran dan masukan untuk kebaikan dan kemajuan dakwah kita semua di masa yang akan datang selalu kami harapkan dari semua pihak, dan tak lupa kami haturkan banyak terima kasih.

Wassalam, PUSTAKA AZZAM

KM KAMwmwmwi

XIV — FATHUL BAARI

FATHUL BAARI —

13

PERMULAAN TURUNNYA WAHYU

Syaikh Al Imam Al Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al Bukhari berkata:

BAB CARA PERMULAAN TURUNNYA WAHYU KEPADA RASULULLAH
1.

Allah berfirman dalam Al Qur'an,

"Sesungguhnya Kami menurunkan wahyu kepadamu (Muhammad) seperti Kami menurunkan wahyu kepada Nabi Nuh dan nabi-nabi selelahnya.'" (Qs. An-Nisaa' (4): 163) Imam Bukhari berkata, "BismiUahirrahmaamrrahiim, cara permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW." Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Imam Bukhari tentang tidak dimulainya penulisan kitab ini dengan kalimat hamdalah dan syahadat, sebagai pengamalan dari hadits Nabi SAW, "Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan membaca hamdalah (memuji Allah), maka pekerjaan itu terputus (dari rahmat-Nya)" Pada hadits yang lain disebutkan, "Setiap khutbah yang tidak terdapat di dalamnya syahadat, maka khutbah itu seperti tangan yang terpotong." Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah.

14

— FATHUL BAARI

Jawaban pertama, bahwa yang terpenting dalam khutbah adalah memulainya dengan apa yang dimaksudkan. Imam Bukhari telah memulai kitab ini dengan membahas "Permulaan Turunnya Wahyu" dan menjelaskan, bahwa maksud pekerjaan itu harus sesuai dengan niatnya, seakan-akan beliau mengatakan, "Aku memulai pembahasan wahyu yang berasal dari Allah untuk menunjukkan ketulusan pekerjaan dan niatku. Sesungguhnya perbuatan yang dilakukan setiap manusia adalah tergantung niat yang ada dalam hatinya, maka cukuplah kita memahami masalah ini dengan makna yang tersirat." Cara seperti ini banyak kita temukan dalam metode penulisan kitab-kitab yang lain. Jawaban kedua, bahwa kedua hadits tersebut bukan hadits yang memenuhi syarat Bukhari, bahkan kedua hadits tersebut masih mendapat kritikan. Kita setuju dengan kedua hadits ini sebagai hujjah, akan tetapi maksud hadits ini bukan berarti harus diucapkan dan ditulis. Mungkin beliau telah mengucapkan hamdalah dan syahadat ketika menulis, sehingga setelah itu beliau hanya cukup menulis basmalah saja, karena maksud ketiga hal tersebut {hamdalah, syahadat dan basmalah) adalah mengingat Allah SWT, dan itu cukup dengan mengucapkan basmalah. Sebagaimana ayat Al Qur'an yang pertama turun, jJi- ^JJ' ilfj J-L, Ki i "Bacalah dengan nama Allah." (Qs. Al 'Alaq (96): 1) yang berarti, bahwa mengawali suatu perbuatan dengan basmalah telah mewakili hamdalah dan syahadah. Kemudian juga surat-surat Rasulullah yang dikirimkan kepada beberapa raja, beliau hanya menulis di awal surat tersebut dengan basmalah tidak dengan hamdalah dan syahadah, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan tentang cerita Raja Hercules dalam bab ini, hadits yang diriwayatkan oleh Barra' tentang kisah Suhail bin Amar dalam bab "Perjanjian Hudaibiyah ", dan hadits-hadits lainnya. Untuk itu kita dapat memahami bahwa, hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan ketika khutbah bukan dalam penulisan surat atau dokumen, maka Imam Bukhari dalam memulai tulisannya memakai metode penulisan surat kepada ulama, dengan tujuan agar mereka dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya. Para penyarah kitab Bukhari telah mengemukakan pendapat dalam masalah ini, meskipun pendapat mereka masih harus diteliti kembali. Mereka berpendapat bahwa memulai kitab ini dengan menyebut basmalah dan hamdalah adalah termasuk dua hal yang bertentangan menurut Imam Bukhari, karena jika ia memulai dengan hamdalah, hal itu

F A T H U L BAARI —

15

akan bertentangan dengan adat (kebiasaan), dan seandainya ia memulai dengan basmalah, maka ia telah meninggalkan hamdalah, dengan demikian ia hanya memulai dengan basmalah. Seluruh penulis mushhaf di setiap negara juga mengikuti cara ini, baik mereka yang mengatakan bahwa basmalah adalah termasuk ayat surah Al Fatihah, atau mereka yang tidak berpendapat seperti itu. Disamping itu ada juga yang konsisten dengan firman Allah, 'Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya" (Qs. Al Hujuraat (49): 1), sehingga beliau tidak mendahului perkataan Allah dan Rasul-Nya kecuali dengan perkataan-Nya. Adapun pendapat yang sangat jauh dari kebenaran adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Imam Bukhari memulai tulisan ini dengan khutbah, yang di dalamnya ada hamdalah dan syahadah, akan tetapi telah dihapus oleh orang yang meriwayatkannya. Seakan-akan orang yang berpendapat seperti ini belum pernah membaca kitab yang ditulis oleh guru-guru Imam Bukhari dan ahli hadits pada waktu itu, seperti Imam Malik dalam kitab Muwaththa', Abd. Razaq dalam kitab Mushannif, Imam Ahmad dalam kitab MusnadAhmad, Abu Daud dalam kitab Sunan Abu Daud, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dimulai dengan khutbah dan hanya dimulai dengan basmalah. Golongan ini adalah mayoritas, sedangkan mereka yang memulai dengan khutbah hanya golongan minoritas. Apakah mungkin dikatakan setiap perawi kitab-kitab tersebut telah menghapus khutbah? Sama sekali tidak mungkin, karena menurut pendapat mereka hamdalah hanya diucapkan saja, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaikh Khatib dalam Kitab Al Jam?, bahwa Imam Ahmad hanya membaca shalawat Nabi dan tidak menulisnya ketika menulis hadits, hal ini menunjukkan hamdalah dan syahadah hanya dianjurkan untuk dibaca bukan ditulis. Akan tetapi mereka yang memulainya seperti metode khutbah, yaitu dengan menyebut hamdalah dan basmalah, seperti yang dilakukan oleh Imam Muslim, hal itu kita serahkan kepada Allah, karena Dia yang Maha Mengetahui akan suatu kebenaran. Sudah menjadi kebiasaan para pengarang kitab, untuk memulai penulisan dengan lafazh basmalah, tetapi dalam penulisan syair ada perbedaan pendapat jika dimulai dengan basmalah. Menurut Imam Sya'bi, itu tidak boleh. Imam Zuhri mengatakan, "Telah menjadi kesepakatan para ulama terdahulu untuk tidak mencantumkan basmalah dalam penulisan syair," sedangkan Sa'id bin Juba'ir dan Jumhur Ulama

16

— FATHUL BAARI

(Sesungguhnya kami menurunkan wahyu kepadamu [Muhammad]) Ada pendapat yang mengatakan. tertulis. 'J** y- j * JjJL' 'A—'i K&til\J^&\ J ^ j 'cJ^ • jl J\ '4'}** J± o l j u Jui\'l lzJ\t s y &isj* J&J FATHUL BAARI — 17 . sebagaimana diriwayatkan oleh Abu N u ' a i m dalam kitab Dalail dengan sanad hasan dari Alqamah bin Qais. Seperti cara turunnya wahyu pertama kali kepada para nabi adalah dengan mimpi. namun terkadang yang dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan. teman Ibnu Mas'ud.membolehkan hal itu. yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun pengertian "permulaan turunnya wahyu" adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu. menunjukkan bahwa nabi Nuh adalah nabi yang pertama diutus oleh Allah atau nabi pertama yang kaumnya mendapat siksaan. sehingga dengan demikian tidak menyalahi nabi Adam sebagai nabi pertama. Sedangkan menurut terminologi (syariat) adalah memberitahukan hukum-hukum syariat. Permulaan Turunnya Wahyu Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara samar. atau dapat diartikan juga dengan tulisan. dia berkata. "Sesungguhnya wahyu yang pertama turun kepada para nabi adalah dengan cara mimpi sehingga hati mereka menjadi tenang. setelah itu Allah menurunkan wahyu kepada mereka dalam keadaan sadar" ^ Is^j v^^to J. adalah menjelaskan bahwa turunnya wahyu kepada nabi Muhammad tidak berbeda dengan cara turunnya wahyu kepada nabi-nabi sebelumnya. ilham. perintah dan isyarat. Masalah ini akan dibahas secara panjang lebar dalam masalah syafa'at. utusan. disebutkannya nama nabi Nuh dalam ayat tersebut. Sedangkan korelasi ayat ini dengan pembahasan tentang wahyu. i i i u£-jf L'. Adapun Al Khatib membenarkan kedua pendapat tersebut.

(Madinah) o i — 3 b JUi^ji xj\ (Tiap-tiap amal perbuatan harus disertai dengan niat). maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan. Seperti orang yang melakukan perbuatan dengan motivasi ingin mendapat ridha Allah dan apa yang dijanjikan kepadanya. yaitu mimbar masjid Nabawi LS (tunggal) dengan alasan. bahwa tempat niat adalah dalam hati. balasan bagi setiap amal manusia sesuai dengan apa yang diniatkan. maka kalimat Jil^S ' o i — s e c a r a lengkap adalah cr-—jiOi 'JA «jsilaji JiliS'1 perbuatan yang 18 — FATHUL BAARI . Sebagian riwayat menggunakan Jafazh C ' dalam bentuk mufrad 1 '-^ —li. 'Tiap-tiap amal perbuatan harus disertai dengan niat. Barangsiapa yang berhijrah untuk mengharapkan dunia atau seorang perempuan untuk dinikahi. seakan-akan Rasulullah memberi pengertian bahwa niat itu bermacam-macam sebagaimana perbuatan. dan tidak ada sekutu bagi-Nya. 1 menurut para muhaqqiq Setiap perbuatan pasti membutuhkan pelaku. Berbeda dengan perbuatan yang sangat tergantung kepada hal-hal yang bersifat lahiriah yang jumlahnya sangat banyak dan beragam. Al Khauyi mengatakan. Setiap pekerjaan harus didasari dengan niat. atau ingin menjauhkan diri dari ancamanNya. maka kata niyat disebutkan dalam bentuk tunggal. Akan tetapi Abu Musa Al Madini dan Imam Nawawi menentang riwayat ini. Lafazh hadits yang tertulis dalam kitab Ibnu Hibban adalah J i l i ^ o L J X tidak tertulis lafazh. sehingga dalam hadits tersebut kata 'amal menggunakan lafazhjama' (plural) yaitu JiiiVi selain itu niat hanya akan kembali kepada Dzat Yang Esa. Lafazh " o i — % JUi^i lift" mengandung arti hashr (pembatasan) (peneliti).(di atas mimbar). 'Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda.'— 'J] dan ini juga terdapat dalam kitab AsySyihab karangan Al Qudha'i." Keterangan Hadits: J. "Aku mendengar Vmar bin Khaththab RA berkata di atas mimbar. Dari 'Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi bahwa ia berkata. sedangkan hati itu satu./.

karena ada beberapa perbuatan yang tidak didasari dengan niat. bahwa keinginan hati adalah melebihi maksud.berasal dari orang-orang mukallaf (orang yang dikenai beban syariat). karena perkataan tersebut ditujukan kepada orang yang mengerti. "Yang paling baik adalah bahwa suatu perbuatan tergantung kepada niatnya. Huruf ha' menunjukkan arti mushahabah (menyertai). FATHUL BAARI — 19 . yaitu keinginan yang ada dalam hati. iashihhu (menjadi sah) dan tastaqirru (langgeng). tidak termasuk. karena maksud perbuatan dalam hadits ini adalah ibadah. baik mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Dalam lafazh hadits tersebut ada kata yang dihilangkan {mahdzuj) sebelum jar majrur (binniyyaat)." Tetapi niat bukan inti dari perbuatan tersebut. Guru menakdirkan kami Syaikh Islam berkata. bahwa mengucapkan niat di awal pekerjaan adalah rukun. seakan-akan hadits ini mengatakan. cjlliij (dengan niat). sedangkan menyertakannya dalam pekerjaan adalah syarat. meskipun mereka diperintahkan untuk melaksanakan dan akan mendapat hukuman apabila meninggalkannya. maka maksud penafian tersebut adalah penafian hukumnya. "Perkataan Allah adalah berfungsi untuk menjelaskan hukum syariat. dan ada juga yang mengartikan sababiyah (menunjukkan sebab). ada yang mengatakan bahwa lafazh tersebut adalah. seperti sah atau kesempurnaan perbuatan." Niat dalam hadits ini menunjukkan makna etimologi (bahasa). sehingga orang kafir tidak termasuk dalam hadits ini." Baidhawi berkata. Para ahli fikih berselisih pendapat untuk menentukan apakah niat itu termasuk rukun atau syarat? Dalam hal ini pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan. Ath-Thibi berkata. seakan-akan mereka mendapat perintah apa yang tidak mereka ketahui kecuali dari Allah. "Niat adalah dorongan hati untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan. sedangkan syariat adalah sesuatu yang membawa kepada perbuatan yang diridhai Allah dan mengamalkan segala perintah-Nya. "Tidak ada perbuatan kecuali berdasarkan niat. Imam Nawawi mengatakan. takmulu (sempurna). Tetapi Syaikh Al Karmani menambahkan. Dengan demikian apakah perbuatan orang kafir termasuk dalam kategori ini? Jawabnya. tu'tabar (tergantung). bahwa niat berarti maksud.

" Dengan demikian lafazh yang dihilangkan menunjukkan isim fa 'U dan fi 'U. Sebagian ulama tidak mensyaratkan niat dalam melakukan suatu perbuatan. sedangkan perkataan menurut kebiasaan bukan termasuk perbuatan.." dimana ayat tersebut berada setelah ayat zukhrufal qauli (perkataan yang indah). karena bagi saya hadits ini telah memberi penjelasan bahwa perkataan termasuk perbuatan. "Seandainya Allah menginginkan maka mereka tidak akan melakukannya. Ibnu Daqiq Al Td berkata.. bahwa perkataan tidak termasuk dalam perbuatan. ia memperkirakan kalimat kamaalal a'maali (kesempurnaan perbuatan). bahwa perkataan adalah suatu perbuatan. bahwa masalah sumpah sangat tergantung kepada kebiasaan ('urf). Perbedaan tersebut bukan pada tujuannya tapi hanya pada sarana atau wasilahnya saja. Di sini saya katakan. Kemudian lafazh 'amal (perbuatan) mencakup perkataan (lisan). Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama. adalah secara hakikat perkataan tidak termasuk dalam perbuatan. meskipun hanya menahan diri untuk tidak melakukan suatu perbuatan. Pendapat ini adalah pendapat yang salah.sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits. berdasarkan firman Allah. (yaitu sebagian manusia ada yang membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indahindah dengan maksud menipu -ed." Memang akan terjadi suatu kontradiksi bagi orang yang mengatakan. maka kalimat yang dihapus dalam hadits tersebut diperkirakan adalah kalimat shihhatat a 'maali (sahnya perbuatan). Ji dalam lafazh o — S ' diakhiri dengan dhamir (kata ganti). ketika menjumpai orang yang bersumpah untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan. sebagaimana yang diterangkan dalam pembahasan fikih. Adapun pendapat yang benar. tapi orang itu tetap berbicara.) Ibnu Daqiq Al 'Id berkata. yaitu 1 ^ Ji—^V' (amal perbuatan adalah tergantung niatnya). Karena sikap seseorang yang meninggalkan sesuatu dapat juga dikategorikan dalam perbuatan. dan bagi yang tidak mensyaratkan niat. "Barang siapa melakukan hijrah. "Orang yang mensyaratkan niat dalam suatu perbuatan. maka madzhab Hanafi tidak mensyaratkan niat dalam wudhu. demikian juga Al Auza'i tidak mensyaratkan niat dalam tayammum. Dengan 20 — FATHUL BAARI . "Sebagian ulama mengatakan. akan tetapi secara majaz (kiasan) perkataaan termasuk dalam perbuatan. namun inti perbedaan terletak pada apakah niat harus disertakan dalam permulaan suatu perbuatan atau tidak. Memang diantara ulama terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini.

Tapi jika seseorang hanya berniat secara umum. maka akan mendapatkan pahala. kita dapat membedakan apakah niat shalat atau bukan. Wallahu a'lam. Berbeda dengan mandi junub pada hari jum'at. shalat fardhu atau sunnah. baik shalat fardhu atau sunnah rawatib. baik niat itu dilaksanakan ataupun tidak sebab alasan syariat. seperti orang yang melaksanakan shalat ketika masuk masjid. Namun demikian. karena hal itu sudah merupakan konsekuensi dari shalat qashar. karena mandi pada hari j u m ' a t merupakan ibadah. maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. "Kalimat ini membahas permasalahan yang berbeda dengan kalimat pertama (cjCtlu JLJsS'i CJV) karena kalimat pertama menjelaskan bahwa Adapun kalimat kedua suatu perbuatan harus disertai dengan niat. apakah masih diperlukan penegasan jumlah rakaat shalat yang akan dikerjakan? Dalam hal ini memerlukan pembahasan yang panjang. "Kalimat ini menguatkan bahwa suatu perbuatan harus disertai dengan niat dan keikhlasan yang mendalam. ia tidak perlu menegaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah dua." Maksud tidak diniatkan di sini adalah tidak ada niat baik secara khusus ataupun umum. FATHUL BAARI — 21 . dan setiap perbuatan yang tidak diniatkan tidak akan mendapatkan pahala. maka orang itu mendapat pahala mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. ^s'y ^ \sr 1 i^Ij (dan balasan bagi setiap amal manusia sesuai dengan apa yang niatkan). dhuhur atau ashar. baik diniatkan atau tidak. l —• iSj—^J^. Permasalahan ini juga berbeda dengan shalat tahiyatul masjid. karena yang dilakukannya termasuk dalam kategori penghormatan (tahiyat) terhadap masjid. Ibnu Daqiq Al 'Id berkata. diqashar (diringkas) atau tidak dan seterusnya.}) mempunyai arti bahwa seseorang tidak mendapatkan dari perbuatannya kecuali apa yang diniatkan. Tapi pendapat yang paling kuat menyatakan tidak perlu lagi menjelaskan jumlah bilangan rakaatnya.^. "Kalimat kedua memiliki arti bahwa barangsiapa yang berniat. tapi ia mendapat pahala karena melakukan perbuatan yang lain. bukan hanya membersihkan badan. ia tidak mendapat pahala mandi sunnah pada hari j u m ' a t menurut pendapat yang kuat (rajih). wallahu a jam. Imam Al Qurthubi berkata. sehingga memerlukan niat khusus.demikian. seperti seorang musafir yang berniat melakukan shalat qashar." Sedangkan ulama lain berkata. Terkadang seseorang mendapat pahala dari perbuatannya tanpa disertai dengan niat sebelumnya.

dan lebih baik daripada diam tanpa bertafakkur. "Perbuatan di luar ibadah tidak akan mendapatkan pahala kecuali disertai dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah (ibadah). ia tidak cukup hanya berniat melakukan qadha shalat. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ghazali. Setiap ibadah yang hanya dapat dibedakan dengan niat." Pendapat tersebut diperkuat dengan hadits Nabi Muhammad SAW. apakah shalat ashar atau zhuhur. Secara umum hadits ini menunjukkan tidak diperlukannya niat secara khusus. "Adapun berdzikir dengan lisan saja tidak cukup untuk dikategorikan dalam amalan hati. jika diniati untuk menambah kekuatan tubuh agar kuat untuk beribadah. Seperti makan. Sedangkan apabila seseorang membaca tashbih (subhanallah) ketika takjub. karena berdzikir adalah lebih baik daripada membicarakan orang lain (ghibah). "Setiap sendi kalian adalah shadaqah. " Imam Ghazali juga mengatakan. maka tidak disyaratkan adanya niat. Sudah barang tentu semua ini harus dilihat hukum asalnya. karena perbuatan ini jelas telah membedakan antara ibadah dan kebiasaan sehari-hari ('adat). "Bagaimana menurut kalian apabila orang itu menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram. Ibnu Sam'ani berkata. karena perbuatan mubah adalah lebih baik dari perbuatan haram. sedangkan perbuatan yang dapat dibedakan dengan sendirinya. "Kalimat pertama ( O L J U j'—li^'i \—'S) ^ b ) menjelaskan tentang akibat dari suatu menjelaskan apa yang termasuk dalam kategori perbuatan. maka ia tidak mendapatkan pahala. Ibnu Salam berkata. kecuali jika membacanya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. doa dan membaca Al Qur'an. seperti dzikir. maka ia akan mendapat pahala. "Apakah salah satu dari kami yang menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Nabi menjawab. maka ia akan mendapat pahala. "Kalimat kedua menunjukkan arti bahwa suatu pekerjaan harus disertai niat tertentu. bahwa seorang akan mendapatkan pahala dari perbuatan mubah yang dilakukannya. maka niat termasuk syarat dalam perbuatan itu." Kemudian dia menambahkan. "Berdzikir dengan menggerakkan lidah tanpa disertai hati yang khusyu' tetap akan mendapat pahala. atau suami yang meninggal dan tidak 22 — FATHUL BAARI . seperti halnya shalat sunnah tahiyatul masjid. seperti orang yang mengqadha shalat. akan tetapi harus disertai niat mengqadha shalat yang akan dilaksanakan.Imam Nawawi berkata. sedangkan kalimat kedua (USVJ ^ isj^ perbuatan. " seorang sahabat bertanya.

bahwa meninggalkan suatu perbuatan tertentu tidak memerlukan niat.diketahui oleh istrinya. tidak sama dengan orang yang terdetik dalam hatinya untuk melakukan perbuatan maksiat. kemudian ia berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya karena takut kepada Allah. "Hadits ini terdapat dalam riwayat kami dan kitab hadits para FATHUL BAARI — 23 . tidak akan mendapat pahala. Wallahu a 'lam. dan hal itu sudah diketahui oleh sang istri dalam waktu tersebut. sehingga apabila hal itu dimaksudkan untuk mendapatkan pahala dengan menaati perintah syariat. sedangkan untuk menjadikan nash sebagai dalil yang diakui. dengan demikian tidak wajib bagi sang istri untuk niat iddah lagi. diperlukan adanya kesepakatan yang bebas dari perselisihan. yaitu (*Jj_Ijj ii '<^J'J** LJiT Imam Khaththabi berkata. karena masalah yang dibahas adalah apakah meninggalkan suatu perbuatan harus disertai niat. dan bukan hanya meninggalkan (tidak melakukan perbuatan tertentu) saja yang perlu niat. Kalimat seperti ini hampir terdapat dalam semua kitab hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan menghapus sebagian (matan) hadits. Sedangkan pernyataan bahwa "altarku fl'lun" (Tidak melakukan sesuatu (meninggalkan) merupakan suatu perbuatan) masih diperselisihkan. sebagaimana pelakunya akan mendapat dosa jika meninggalkan niat itu? Namun yang diungkapkan Ghazali adalah apakah orang yang meninggalkan niat tetap akan mendapatkan pahala? Dengan demikian perbedaan masalah ini sangat jelas. Dari uraian di atas kita dapat mengambil intisari. Adapun pengambilan dalil yang kedua tidak sesuai dengan konteks pembahasan. Imam Al Karmani menentang pendapat Muhyiddin yang mengatakan. Kesimpulannya. maka harus ada niat untuk meninggalkannya. akan tetapi yang mendapatkan pahala adalah menahan diri. bahwa meninggalkan suatu perbuatan yang tidak disertai niat. bahwa semua perbuatan membutuhkan niat. karena maksud masa iddah adalah untuk mengetahui bahwa dalam rahim istri tidak ada janin dari suami yang telah meninggal. yaitu menahan diri untuk tidak melakukannya. Maka masa iddah sang istri telah habis dengan sendirinya. kecuali setelah lewat masa iddah (4 bulan). ^ J\ J 'J** (Barangsiapa yang berhijrah untuk mengharapkan dunia). karena meninggalkan itu sendiri termasuk perbuatan. Karena orang yang tidak terdetik sama sekali dalam hatinya untuk melakukan suatu perbuatan maksiat.

Shahih Abu Awanah dari jalur Humaidi. karena Humaidi adalah salah satu guru beliau dalam bidang hadits. dan ia memahami dari perkataan makhruuman (hilang) adalah maqtuu 'an (terputus) sanadnya. maka jawabannya sebagaimana dikatakan oleh Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'id Al Hafizh.jj iii J\ i'. kemudian ibnu At-Tin mengatakan.sahabat kami." Kita telah meriwayatkan hadits ini dari jalur Bisyr bin Musa dan Abu Ismail At-Tirmidzi dari Humaidi secara lengkap. karena riwayat tersebut dapat ditemukan secara lengkap dari para gurunya. Jika ditanyakan bahwa hilangnya sebagian baris hadits bukan dari Bukhari. sehingga tampak aneh dari perkataan Bukhari ^. tetapi baris hadits (*Jj . Ibnu At-Tin menukil perkataan Khaththabi secara ringkas. Tetapi banyak orang yang mengatakan dari biografi Imam Bukhari. "Mungkin saja Imam Bukhari dibacakan atau diriwayatkan beberapa hadits riwayat Humaidi secara lengkap. seperti dalam Kitab Mushannif karangan Qasim bin Ashbagh. dan Humaidi juga telah meriwayatkan kepada kami secara lengkap. dan riwayat ini telah disebutkan dalam kitab musnadnya secara lengkap. bahwa Bukhari memilih Humaidi karena beliau adalah gurunya yang terkemuka di kota Makkah. "Tidak ada alasan bagi Bukhari untuk menghilangkan riwayat dari Humaidi.i—LiJi \—(Humaidi telah menceritakan kepada kami) yang disebutkan berulang kali dalam kitab ini.'}*? '^J\t 'Jj) hilang (makhruman) dan tidak tercantum dalam hadits tersebut." Dia mengatakan. bahwa hal itu dikarenakan Imam Bukhari tidak pernah bertemu dengan Humaidi. Kitab Mustakhraj karangan Abu Nu'aim. yang mencakup maksud dari penulisan kitab ini." Imam Dawudi berkata. Ibnu Arabi berkata tentang guru Imam Bukhari. Hilangnya sebagian matan hadits tersebut berasal dari Imam Bukhari. saya tidak mengetahui sebab kelalaian ini? Karena Imam Bukhari telah menyebutkan secara lengkap dari jalur selain Humaidi. "Beberapa orang mengatakan. seakan-akan beliau memulainya dengan menyerahkan segala sesuatunya 24 — F A T H U L BAARI . Akan tetapi apabila hilangnya dari Bukhari. tetapi sebagian baris hadits hilang dari hafalan Imam Bukhari. "bahwa sebaik-baiknya jawaban adalah. sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. kenapa beliau memulai penulisan kitab ini dengan hadits yang tidak lengkap? Jawabnya. dimungkinkan Imam Bukhari memulai penulisan kitab ini dengan mengikuti pengarang-pengarang lain yang memulainya dengan metode penulisan khutbah. bahwa Humaidi adalah salah satu guru Imam Bukhari dalam bidang fikih dan hadits.

kepada Allah. *^ -J\ ^V ** 5 'J*» diletakkan sesudah kalimat £> . sedangkan kalimat yang tidak dihilangkan mencerminkan adanya tarik menarik antara ketulusan niat dan tidak. Wallahu a lam. Maka ketika Imam Bukhari ingin menggambarkan apa yang ada dalam jiwanya dengan menyebutkan hadits ini. yaitu dihilangkan bagian akhirnya. mendahulukan yang samar daripada yang jelas. karena konteks pembahasannya berbeda. Dengan demikian tidak bisa dikatakan bahwa Imam Bukhari membolehkan meringkas hadits secara sembarangan walaupun untuk dirinya sendiri. bahwa meringkas sebuah hadits dan meriwayatkan dengan maknanya. sebagaimana dilakukan oleh orang yang sering meringkas hadits. Imam Al Karmani mempunyai pandangan lain dalam hal ini." Kesimpulannya. sebagaimana yang kita lihat dalam periwayatan hadits ini baik dari segi sanad maupun matannya. Inilah pendapat yang paling kuat. sedangkan ketika meriwayatkan "setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya" beliau hanya mendengar seperti yang diriwayatkan di atas. karena riwayat Humaidi sampai kepada Imam Bukhari seperti konteks hadits di atas. beliau menghilangkan makna hadits yang menunjukkan ketulusan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah. dan menguatkan isnad dengan shighah (bentuk) sama' (mendengar) daripada yang lainnya adalah diperbolehkan. maka imam Bukhari berpendapat. kenapa beliau meringkasnya di awal kitab. Disarnping itu sudah menjadi kebiasaan para pengarang kitab untuk mengumpulkan istilah madzhab yang dianutnya dalam isi khutbah kitab. Seandainya beliau mempunyai niat mencari dunia atau maksud-maksud yang lain. Dalam riwayat Hammad bin Zaid pada bab Hijrah kalimat. dan beliau menulis bagian hadits yang menggambarkan adanya tarik menarik antara ketulusan niat dan tidak. maka hanya itu yang akan beliau dapatkan. Dengan demikian hilangnya sebagian kalimat hadits berasal dari sebagian F A T H U L BAARI — 25 . Beliau menyerahkan segalanya kepada Allah untuk memberi balasan niatnya. bahwa kalimat pertama yang dihilangkan menggambarkan ketulusan niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.J\ '^J ^ 1 44-4 hal itu dimungkinkan. "Seandainya Bukhari meriwayatkan hadits secara lengkap. sedangkan hukum boleh tidaknya meringkas hadits masih diperselisihkan? Tidak mungkin Bukhari menghilangkan sebagian isi hadits. Mungkin saja ketika menjelaskan "iman itu harus didasari dengan niat dan keyakinan hati" beliau mendengar riwayat hadits ini secara lengkap.

seperti hijrah ku Negeri 1 l. maka konteks hadits ini sesuai dengan isi yang dimaksud. Saya menjumpai orang yang selalu meneliti dan mengkaji hadits Bukhari.m i^iam iujiah i"tiumpun\ai dua pengertian. dan tidak pernah beliau menulis hadits dengan menghilangkan sebagiannya. Karena prinsip Imam Bukhari dalam menulis sebuah hadits adalah tidak menulis satu hadits yang berbeda periwayatannya dalam satu tempat.iba^\aii dari hij. Imam Al Karmani juga mengatakan. Pendapat ini dikatakan oleh orang yang tidak melihat dan meneliti perkataan para ulama yang telah saya sebutkan. dan ini dapat dijumpai dalam kitab Jarrn" Ash-Shahih. Apabila kamu mengatakan. maka saya katakan pula. Panumu. melainkan terkadang ia mendapatkannya secara lengkap dan terkadang tidak. Memang setiap perawi telah meriwayatkan hadits sesuai dengan apa yang dia dengar tanpa ada yang dihilangkan. "Hadits ini terkadang diriwayatkan secara lengkap dan terkadang tidak. bukan dari Imam Bukhari. kecuali sebagian kecil saja. Dala.h yang pertama kaii dyn Makkah ke Madinah. sedang Bukhari menulis riwayat hadits ini sesuai dengan judul bab yang dibicarakan. (hijrahnya) Hijrah berani meninggalkan. Apabila memang hilangnya dari beliau. hal itu disebabkan perawi yang meriwayatkannya juga berbeda. . dimana mereka mendapatkan hal seperti ini kurang lebih dua puluh tempat. Menuiut s\anat.uijrah berarti meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. 26 — F A T H U L BAARI . seperti hijrahnya kaum muslimin ke Madinah setelah Rasulullah menetap di sana.. hedua. sjmpai dibukanya kota Makkah (Fmini Mukkah). Apabila ada satu hadits yang mempunyai sanad lebih dari satu. pindah duri tumpat \ ang menakutkan ke tumpat yang tenang.. Hijrah pada iaat itu khusus berpindah ke Madinah. bahwa kalimat yang dihilangkan sangat sesuai dengan maksud isi hadits tersebut. juga tidak dijumpai satu hadits pun dengan sanad dan matan yang sama dan lengkap ditulis pada beberapa tempat.guru Imam Bukhari. yaitu bahwa niat harus karena Allah atau Rasul-Nya. khususnya Ibnu Arabi. n i ^ i h ja /i negeri Kafir ke negeri iman. bahwa yang damikian itu adalah pendapat mayoritas kaum muslimin. maka ia menulisnya pada tempat yang berbeda dengan sanad yang berbeda pula. sedang pada tempat yang lain beliau menulis secara lengkap." Seakan-akan Imani Al Karmani menjumpai hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari ini tidak hanya »atu riwayat saja. dan hijrah kepada suatu tempat berati pindai i dari satu tempat ke tempat yang lam.

bahwa hakikat dunia adalah apa yang ada di atas bumi berupa udara dan angkasa. Karena banyak orang Arab sebelum FATHUL BAARI — 27 . Ibnu Dihyah meriwayatkan. Sebagian orang mengatakan. karena mereka sangat menjaga kehormatan keturunannya. yaitu berpindah dari negeri kafir bagi siapa yang memiliki kemampuan. 't-* J ' ( * 1 a a u perempuan) Disebutkannya kata perempuan secara khusus setelah kata umum (dunia) adalah untuk menekankan bahwa bahaya dan fitnah yang ditimbulkan oleh perempuan sangat besar. tapi pendapat yang lebih kuat adalah semua apa yang ada di atas bumi berupa udara dan angkasa sebelum datang hari kiamat. dan sebagian lain mengatakan. 141^' (mengharapkan) atau mendapatkannya. dimana sebelum itu mereka tidak dapat melakukannya. melainkan mempunyai makna umum. Tetapi dalam hal ini masih dibutuhkan riwayat yang kuat untuk menyatakan bahwa orang laki-laki yang ikut berhijrah itu adalah seorang hamba sahaya sedangkan perempuan tersebut adalah orang Arab yang terhormat. Hal itu disebabkan kebiasaan orang Arab yang tidak mau mengawinkan anak perempuan mereka dengan hamba sahaya. maka banyak bangsa Arab yang pergi ke Madinah untuk menikahi perempuan tersebut. Ketika Islam datang membawa ajaran yang tidak membedakan kedudukan kaum muslimin dalam masalah pernikahan.Setelah itu hijrah tidak dikhususkan lagi. bahwa sebab munculnya hadits ini adalah cerita seorang muslim yang ikut berhijrah dengan maksud ingin mengawini seorang perempuan sehingga ia disebut Muhajir Ummu Qais. dekat. atau karena dunia sangat dekat dengan kehancuran atau kebinasaan. dinamakan demikian karena dunia lebih dahulu daripada akhirat. Sebagaimana telah disinggung pada pembahasan sebelumnya. bahwa nama perempuan itu adalah Qailah. Adapun bila disebutkan salah satu bagian dari dunia tanpa disebutkan secara keseluruhan adalah termasuk bentuk majaz (kiasan). Namun dalam hal ini ada perbedaan pendapat mengenai hakikat dunia. bahwa dunia adalah setiap makhluk yang diciptakan. Ibnu Baththal meriwayatkan dari Ibnu Siraj tentang manfaat disebutkannya kata mar 'ah (perempuan) secara khusus dalam hadits ini.

ia berkata. maka kedatangan Islam di sini telah menghapus kesetaraan yang tidak pada tempatnya. "Abu Thalhah telah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar masuk Islam. karena pernikahan adalah anjuran agama Islam. Hal ini seperti peristiwa masuk Islamnya shahabat Thalhah. Maka ketika Abu Thalhah melamarnya. Kecuali terjadi penduaan dalam niat seperti seseorang yang niat hijrah untuk menjauhi kekufuran dan mengawini seorang wanita. baik perempuan atau lainnya.JJ ^ J *—v*** *0—'"ji adalah untuk mengingat kebesaran Allah dan Rasul-Nya. atau dimungkinkan yang menjadi predikat adalah lafazh 4 — d a n kalimat 0 J\ adalah sebagai predikat dari (mubtada) subyek kalimat oli—T J—. maka orang itu tetap mendapatkan pahala apabila pernikahan yang dilakukannya untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata 'ala. Ummu Sulaim berkata. berbeda dengan perkataan dunya (dunia) dan mar 'ah (wanita).j—. maka hal ini bukan sesuatu yang tercela dan tidak sah. maka khabar (predikat) nya dihilangkan dan ditaqdirkan dengan kalimat gabihah (buruk) atau ghairu shahihah (tidak benar). padahal tidak demikian. sebagaimana diriwayatkan oleh Nasa'i dan Anas. Imam Al Karmani berkata. akan tetapi hijrah seperti ini kurang sempurna dibandingkan dengan orang yang berhijrah dengan niat yang tulus. . adapun kata ganti pada kalimat yang dihilangkan sebelumnya J > > ^) 1 ^. karena konteksnya adalah untuk menghimbau agar manusia selalu berhati-hati dan menjauhinya. Pendapat yang kedua adalah pendapat yang paling kuat. maka ia tidak akan mendapatkan pahala seperti orang yang hanya berniat hijrah. atau seorang yang mempunyai keinginan menikah saja tanpa melakukan hijrah kepada Allah.datangnya Islam telah mengawinkan anak perempuannya dengan hamba sahaya. karena pendapat yang pertama menunjukkan bahwa setiap hijrah itu secara mutlak adalah tercela. Fungsi kata ganti (dhamir) (dhamir) mencakup semuanya. Seseorang yang berhijrah disertai dengan niat untuk menikahi seorang perempuan.*—* 1 1 * J>\ « i ^ j (maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dalam kalimat "-v~$> adalah untuk IzJiS' diniatkan). 28 — FATHUL BAARI .—^] j*. karena Ummu Sulaim telah masuk Islam lebih dahulu dari pada Abu Thalhah. "Kalimat £\ il J\ berhubungan dengan dengan lafazh a! hijrah.

Dapat juga diambil kesimpulan dari pemahaman hadits di atas. dan orang yang melakukan suatu perbuatan dengan tidak mengetahui hukumnya secara jelas. Akan tetapi apabila seseorang berniat untuk ibadah dan mencampurnya dengan keinginan selain ibadah yang dapat mengurangi keikhlasan. maka saya bersedia dikawini." Lalu Abu Thalhah masuk islam dan menikahi ummu Sulaim. Akan tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa dia tetap mendapat pahala puasa yang sempurna berdasarkan sebuah hadits." Pendapat ini dikuatkan dengan apa yang telah dipraktekkan Rasulullah yaitu men- FATHUL B A A R I — 29 . tapi guru kami Syaikh Islam berkata. maka pekerjaan itu akan sia-sia."Aku sudah masuk Islam. adalah larangan untuk melakukan sesuatu perbuatan sebelum mengetahui hukumnya secara jelas. berbeda dengan pendapat ulama madzhab Syafi'i. seperti juga orang yang melakukan puasa dengan niat ibadah dan menjaga kesehatan. "Bamngsiapa mendapatkan sebagian dari rakaat (shalat jama 'ah). orang melakukan puasa sunah dengan niat sebelum tergelincirnya matahari. tetapi yang termasuk dalam perbuatan adalah shalat itu sendiri. begitu pula apabila terjadi keseimbangan antara keduanya antara keinginan untuk mendapatkan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah. karena setiap perbuatan harus dikerjakan dengan kesadaran diri. Hal ini dilakukan atas dasar keinginannya untuk masuk Islam dan menikahi ummu Sulaim. sedangkan orang yang lalai tidak mempunyai maksud. Contoh. bahwa yang tidak termasuk dalam kategori pekerjaan tidak memerlukan niat. maka dia telah mendapatkan/iya" artinya mendapatkan keutamaan jama'ah atau waktunya. maka Abu Ja'far bin Jarir Ath-Thabari telah menukil perkataan ulama salaf. maka perubahan niat tidak menggugurkan pahalanya. seandainya kamu masuk Islam. Wallahu a'lam. ia tetap tidak mendapatkan pahala. karena suatu pekerjaan yang tidak didasari niat. maka niatnya tidak sah. seperti shalat jama' tagdim menurut pendapat yang paling benar tidak diperlukannya niat tertentu. Kesimpulan dalam hadits ini. maka orang itu akan mendapat pahala dari waktu dia memulai niatnya. Akan tetapi orang yang lalai tidak termasuk dalam hukum ini. bahwa jama' (mengumpulkan shalat) bukanlah termasuk perbuatan. Imam Ghazali menggaris bawahi apabila keinginan untuk memperoleh dunia lebih besar dari keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. apabila ia memulai dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. bahwa yang harus menjadi tolak ukur adalah niat awal. maka orang itu tidak mendapatkan pahala.

Seperti seorang membebaskan budak dengan niat membayar kafarat. Sekiranya hal itu merupakan syarat maka Rasulullah akan memberitahukan terlebih dahulu kepada sahabat sebelum melakukan shalat. Syaikh Islam mengatakan. karena makna hadits di atas mengindikasikan bahwa setiap perbuatan tergantung kepada niatnya. Sedangkan dalam masalah kafarat yang harus dilakukan adalah mengeluarkan kafarat yang diwajibkan tanpa harus menentukan sebabnya. dan penjelasan pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini akan diterangkan lebih luas dalam kitab •Iman". "Konteks penjelasan hadits tersebut adalah umum walaupun mempunyai sebab khusus. bahwa yang menjadi dasar dalam menentukan hukum adalah lafazh nash secara umum." karena konteks hadits di atas adalah mengisahkan orang yang berhijrah dengan tujuan untuk menikahi seorang perempuan. maka hal ini diperbolehkan. bukan sebab-sebab yang khusus. tanpa menyebutkan jenis kafaratnya. maka disebutkannya "dunia" dalam hadits ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada manusia untuk selalu berhati-hati terhadap gemerlapnya dunia." maka kita dapat mengambil kesimpulan. apakah kafarat zhihar atau lainnya. 30 — FATHUL BAARI . Dalam nash hadits tersebut ada tambahan "sebab.j a m a ' shalat pada waktu perang Tabuk tanpa diberitahukan terlebih dahulu kepada para sahabat.

" 'J-'jH lL. bahwa Aisyah menyaksikan ketika Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah. aku baru mengerti apa yang disampaikannya. sehingga haditsnya menjadi hadits Mursal (hadits yang perawi dari salah satu sahabat tidak disebutkan). J C. tapi menurut para ulama hadits ini adalah hadits Maushul (hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi). Pendapat kedua dikuatkan dalam kitab Musnad Ahmad. " Aisyah berkata. dia adalah saudara kandung Abu Jahal dan termasuk tokoh dari kalangan para sahabat.b 'Sg (Bagaimana caranya wahyu turun kepada anda?) Mungkin pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat wahyu. dia berkata. karena maksud sebenarnya adalah menanyakan tentang sifat pembawa wahyu bukan wujud wahyu. Dia meninggal dunia pada waktu penaklukan negeri Syam. "Istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka (kaum muslimin)" Artinya dalam menghormati mereka dan larangan untuk menikahinya. Setelah bunyi itu berhenti. "Aku bertanya.(bertanya) Seperti inilah yang diriwayatkan sebagian besar dari jalur Hisyam bin Urwah. kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh.'" Keterangan Hadits: jy-jiii fi (Ummul Mukminin) Kata tersebut diambil dari firman Allah SWT. Harits bin Hisyam. Hal itu dimungkinkan. adalah seorang dari Bani Makhzumi.2. ia masuk Islam pada hari pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah). "Aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. "Ya Rasulullah bagaimana caranya wahyu turun kepada anda? Rasulullah menjawab. Ismaili berkata. Mu jam Al Baghawi dan kitab-kitab lainnya. "Hadits ini tidak FATHUL BAARI — 31 . bahwa Harits bin Hisyam RA bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah wahyu itu berhenti turun. atau yang lebih umum dari itu. Dari 'Aisyak Ummu! Mukminin RA. Dengan demikian penisbatan kepada wahyu tersebut merupakan bentuk majaz. dari jalur Amir bin Shalih Az-Zubairi dari Hisyam dari ayahnya dari Aisyah dan Harits bin Hisyam. Dengan demikian sebagian ahli hadits meletakkan hadits ini pada Musnad Aisyah. "Kadangkadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikannya. Atau juga pada Harits yang memberitahu kepada Aisyah. Itulah yang sangat berat bagiku. atau sifat pembawa wahyu.

" 32 — FATHUL BAARI . "Dalam semua kondisi itu telah datang kepadaku malaikat. tapi cukup dengan hadits yang berhubungan dengan pembahasan bab ini. Akan tetapi maksud kata tersebut dalam hadits ini adalah waktu. "auqaatan ya'tiinii (beberapa kali dia datang kepadaku)." Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'id dari jalur Abi Salmah Al Majisyun. tetapi yang lebih cocok adalah hadits setelannya. Sedangkan hadits ini berhubungan erat dengan topik pembahasan yang sedang kita bicarakan. "Mungkin saja pertanyaan ini mengenai bagaimana cara permulaan turunnya wahyu. maka dimulailah dengan Makkah kemudian Madinah.yang berarti waktu yang banyak atau sedikit. dan hal ini membuat aku takut. yaitu malaikat Jibril datang dan menyampaikan wahyu kepadaku sebagaimana seorang menyampaikan berita kepada orang lain. "Bahwa wahyu datang kepadaku dengan dua cara. Atau datang kepadaku dengan suara lonceng. dan ini tidak membuatku takut. seakan-akan Nabi berkata. Dengan demikian kita mengetahui adanya korelasi yang jelas antara hadits dengan judul pembahasan.*' Saya (Ibnu Hajar) katakan. juga masih berhubungan dengan pembahasan ini. sedangkan hadits ini cocok dimasukkan dalam bab "Cara Turunnyc Wahyu" bukan bab "Permulaan Turunnya Wahyu. dia menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda. meskipun demikian kita dapat melihat adanya korelasi antara hadits dan pembahasan di atas dari jawaban Rasulullah. karena konteks kalimat yang ada dalam hadits tersebut adalah kalimat yang digunakan untuk menunjukkan masa yang akan datang (mustaqbal) bukan masa lalu (madhi). sehingga hadits tersebut cocok diletakkan dalam bab ini.sesuai apabila diletakkan pada bab ini. begitu pula dengan ayat-ayat Al Qurian yang membicarakan tentang turunnya wahyu kepada para nabi sebelum Muhammad SAW. "Tidak seperti itu." Imam Al Karmani berkata. bahwa seluruh isi hadits yang ada dalam bab ini harus sesuai dengan permulaan turunnya wahyu. ia mengatakan. Demikian juga bukan merupakan suatu keharusan. Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Hisyam dalam bab "bad'ul khalqi" (Permulaan penciptaan). (Kadang-kadang) i — a d a l a h bentuk jama' (plural) dari j j . karena jawaban beliau telah menunjukkan sifat wahyu dan sifat pembawanya. dimana kedua hal tersebut mengindikasikan permulaan turunnya wahyu. Disamping itu Imam Bukhari sendiri ingin mengawali penulisan hadits dalam kitabnya dengan riwayat orang-orang Hijaz.

Nabi melihatnya duduk di antara langit dan bumi. Ada juga yang mengatakan. karena memahami perkataan dengan F A T H U L BAARI — 33 . . dan berbicara langsung pada malam Isra' Mi'raj dengan tanpa hijab.Disamping itu malaikat juga datang dalam bentuk manusia. menjelaskan sifat wahyu seperti turunnya wahyu dengan cara desingan tawon. bahwa wahyu turun kepada Nabi dalam 46 macam cara --kemudian ia menyebutkan semuanya— dan yang paling banyak adalah mengenai sifat pembawa wahyu. yaitu pertama-tama malaikat datang kepada Nabi seperti suara lonceng kemudian membisikkan wahyu ke dalam hati Nabi. Nabi melihat malaikat Jibril dalam bentuknya yang asli hanya dua kali menurut Aisyah. Adapun turunnya wahyu dengan cara membisikkan dalam hati Rasulullah dimungkinkan ada dua cara. Qana 'ah. akan tetapi wahyu yang diterima nabi dengan disertai bunyi lonceng adalah yang paling berat. apabila onta itu bergerak maka lonceng itu akan berbunyi. Al Hulaimi berkata. sifat pembawa wahyu. yang telah disebutkan dalam hadits "Sesungguhnya Ruh Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam hati. atau seorang laki-laki berbangsa Arab atau lainnya yang semuanya telah dijelaskan dalam hadits shahih. karena yang ditanyakan adalah sifat wahyu yang dibawa oleh malaikat. begitu juga turunnya wahyu pada malam Isra' Mi'raj. bahwa shalshalah adalah suara malaikat ketika menyampaikan wahyu. hakikat malaikat Jibril yang memiliki 600 sayap. j Shalshalah Dalam riwayat Muslim dikatakan J}^ arti-nya suara yang dihasilkan dari benturan antara besi. hadits ini shahih menurut Hakim dari jalur Ibnu Mas'ud. atau suara sayap malaikat. kemudian kata tersebut dinisbahkan kepada semua suara yang menimbulkan denging. (seperti bunyi lonceng) j£aL> J i . seperti ketika datang kepada Nabi dalam rupa sahabat Nabi yang bernama Dihyah. Adapun turunnya wahyu melalui Ilham tidak dipertanyakan. bisikan hati. 'J* »jif (Itulah yang sangat berat bagiku) Kita dapat memahami dari statement di atas bahwa semua wahyu itu berat. Al Karmani mengatakan. Kedua._ryJi j i . ilham." Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam bab. Sedangkan Jaras adalah lonceng kecil atau kerincingan yang digantungkan pada kepala hewan. Sebenarnya inti hadits ini. yaitu Pertama. mimpi. bahwa jaras adalah gentongan atau lonceng kecil yang di dalamnya ada potongan kuningan dan digantungkan di leher onta.

" Para filosof mengatakan. meskipun pendapat ini masih diperselisihkan. Imam Haramain berkata. apa yang dikatakan Imam Haramain tidak dapat dibenarkan. "Jibril dapat menyerupai kita. J u U. serta dapat berubah dalam berbagai bentuk yang diinginkannya. karena kematian adalah berpisahnya ruh dari tubuh berdasarkan kehendak Allah bukan kehendak manusia." Karena orangorang kafir menentang adanya wahyu dan turunnya malaikat yang menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Ulama lain mengatakan. y^J*j il_XJi ^—1 j i i ' (Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki) Alif lam pada lafazh 'JJ—itJi menunjukkan sesuatu yang telah diketahui. Hadits ini sesuai dengan ayat Al Qur'an yang menentang orang-orang kafir yang mengatakan." hal itu berarti Allah memusnahkan hamba-Nya ke-mudian mengembalikan lagi. dalam arti bahwa perubahan malaikat Jibril tidak menyebabkan kematian hamba itu. bahwa hal itu tidak berarti memusnahkan. bahwa malaikat adalah partikel terkecil yang bersifat ruhaniah. bahwa berat atau sulitnya menerima wahyu bertujuan agar Nabi lebih berkonsentrasi dalam menerima wahyu. ili c4^j JJ j (aku baru mengerti apa yang disampaikannya) Artinya aku (Rasul) mengerti perkataan yang disampaikan kepadaku setelah bunyi itu berhenti. Inilah yang menguatkan bahwa turunnya wahyu melalui perantara malaikat. yaitu malaikat Jibril. Para ahli teologi berkata. Hadits ini sebagai dalil bahwa malaikat dapat menyerupai manusia. Ibnu Salam mengatakan. tapi hanya menghilangkan. Sebagian ulama mengatakan. Syaikh Islam berkata. bahwa cara turunnya wahyu seperti ini biasanya membicarakan masalah adzab dan ancaman. "Malaikat memiliki wujud yang halus dan tinggi. t ^ i i (Setelah bunyi itu berhenti) Hilang ketakutanku.bunyi lonceng lebih sulit dari pada memahami perkataan secara langsung. "Sesungguhnya ini adalah perkataan manusia biasa. bahwa beliau melihat keadaan Nabi ketika menerima wahyu dalam keadaan pucat. " dia berkata. karena mungkin saja yang datang adalah malaikat jibril dengan wujud yang asli kemudian berubah menjadi manusia dan setelah itu kembali lagi kepada bentuknya yang 34 — F A T H U L BAARI . sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Ya'la bin Umayah pada masalah "Pemakai jubah yang dibauri Minyak wangi pada waktu haji. Adapun hikmah itu semua adalah untuk mendekatkan kepada Allah dan meninggikan derajat Rasulullah di sisi-Nya.

begitu juga riwayat Imam Muslim dari Usamah dan Hisyam. sedangkan pada bentuk yang kedua dengan memakai kata kerja muslaqbal menunjukkan bahwa nabi memperoleh pamahaman ketika berbicara dengan malaikat Jibril. sedangkan di sini mengunakan ^Lj bentuk masa yang akan datang (niustaqbal). U K J (menyampaikan kepadaku) 1>S Lafazh inilah yang banyak digunakan oleh para perawi hadits. J^i' C ^ ( i (dan aku mengerti apa yang disampaikannya) Abu Awanah menambahkan dalam kitab Shahihnya ''J* . Ibnu Abu Zinad dari Hisyam yang diriwayatkan oleh Baihaqi menambahkan FATHUL BAARI — 35 . Wailahu a 'lam. bahwa hadits pertama meriwayatkan tentang Harits. Dalam hadits yang berbunyi ^—S' ^A ^ J (pada hari yang 51 sangat dingin). Tapi dalam kitab Muwaththa' mengunakan lafazh dari jalur Al Qa'nabi. karena adanya perbedaan. sedangkan hadits kedua meriwayatkan tentang kesaksian Aisyah untuk menguatkan hadits pertama. Kalau lafazh pertama J-j J-S mengandung arti bahwa nabi memahami apa yang disampaikan oleh malaikat Jibril sebelum berpisah. iUiD (bersimpah) Al fashdu berarti keringat berhenti akibat darah keluar. Dahi nabi disamakan dengan keringat. menunjukkan betapa lelahnya beliau ketika menerima wahyu. Terjadinya pemisahan dalam hadits ini. Daruquthni meriwayatkan hadits Malik. karena dalam keadaan dingin keringat beliau tetap keluar. Artinya perubahan malaikat hanya dalam bentuknya saja bukan dzatnya. berbeda dengan riwayat Baihaqi dari jalur Al Qa'nabi dari Malik yang menggunakan lafazh ^—ui'v (maka dia mengajarkan kepadaku). maka akan berubah namanya tapi tidak berubah zatnya. seperti bahan katun apabila dijadikan baju. UJUV L J I J (Aisyah berkata) Sanadnya sama dengan sebelumnya.semula. begitu juga yang diriwayatkan olah Daruquthni dari jalur Al Qa'nabi.jii y> j i ada juga perubahan pada kalimat ini dengan mengunakan k a l i m a t ( ^ Ji) dengan bentuk lampau (madhi). dari jalur Atiq bin Ya'qub dari Malik secara terpisah dari hadits sebelumnya. karena banyaknya keringat beliau yang keluar. yang berarti bahwa beliau sedang menghadapi perkara yang sangat besar.

o t ' s ' ' d ^15^)1 J a j ^ j j f f ' j ^ ( „ .^ o . maka beliau akan menarik tali kendali kuda itu karena begitu beratnya. 8 i i 8 # ' ' ^ ^ * j _ k j j k ^JJl i i T . 3 tlj—>. . s £ ^ Q> j ' 0 •' a ^ ^. ^ ^ *.j l ^jr-i} ^ ^ rj j i > i j j l S ' j t ! ^ i J l 4 J I 1 ^ \J\ > j jkJl ^ S* J>%J otji ^ ^tJ^aJl jjJi J i » C-s-li-*-**^ ^oi.S i . 1 > ) JUi ^ j ' isllill ^Jb-li 1 —K^b 2 — J ^ » cJUi ^ c ^ J ^ jl s ' ^ J JiJ ^ » '** '' J 4 lJ ^ UI i L j k j C* <JLit_j *Ji-Jl 'S s' s O 31^ ^jJ-»uJl s . • * "i j ' ' . ^ D ^''^ . . „ t ' *t ' . ^ o ^ . f 36 — FATHUL BAARI .s p 2l|iJ ff^ < - ss . 1^ " •* ." * *." s _ 0 .Jj ^ 4«? J ^ J ^ i . b ^ 1 ^ ^ ' * O a 9 ' s ' ' i * ^ L H l i U iUI^Jlj J-aw^l c -r-^i ^ I j ^ ^ * -1 ^ V^J' 1 ^ °^ o ' s o +• * s s * *r * N ^ ^ .riwayat hadits ini dengan "Apabila Nabi mendapatkan wahyu ketika berada di atas kuda. . o*'. * ' y' ' I .

Malaikat datang kepadanya. Bacalah! Demi Tuhanmu Yang Maha Mulia. "Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa). untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. "Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid. Di situ beliau beribadat beberapa malam. demi Allah." Jawabku. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. tidak pulang ke rumah isterinya. "Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Tuhan tidak akan membinasakan kamu. lalu berkata. " Aku ditarik dan dipeluknya sampai aku kepayahan. "Aku tidak bisa membaca. selimuti aku!" Siti Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya.3. kemudian dilepaskan seraya berkata. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira. " Khadijah menjawab. Kujawab. "Aku tidak bisa membaca. Setelah perbekalan habis. "Jangan takut. "Selimuti aku. seperti jelasnya cuaca pagi."jawab Nabi. "Bacalah. Dari Aisyah Umul Mukminiin bahwa ia berkata. Kamu sela/u menyambung tali persaudaraan. "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Kemudian aku dilepaskan dan disuruh membaca. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira'. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca. hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran atau wahyu. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. "Aku ditarik dan dipeluknya sehingga aku kepayahan. lalu katanya. mem- FATHUL BAARI — 37 . " Aku ditarik dan dipeluk untuk ketiga kalinya. Kata Nabi kepada khadijah (setelah dikabarkan semua kejadian yang dialaminya itu). "Bacalah. " katanya. "Aku tidak bisa membaca. "Bacalah. " Kata Nabi selanjutnya menceritakan. beliau kembali kepada Khadijah. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau.

la pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Keterangan Hadits: ^-'^ (dari wahyu) Lafazh j? di sini mengandung arti sebagian (tab'idh). maksudnya adalah sebagian wahyu. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti mu tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari ini niscaya saya akan menolong anda sekuat-kuatnya. mendengar suara dan batu-batu kerikil memberi salam kepadanya. "Wahai Anak pamanku! Dengarkan kabar dari anak saudarmu (Muhammad) ini. " Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza.bantu orang yang sengsara. memuliakan tamu. "Apakah mereka akan mengusirku. (ketika tidur) 1 Kalimat ini untuk menekankan bahwa Rasulullah menerima wahyu tidak dalam keadaan sadar. Duhai. "Ya betul. "Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalin. rJ^ J'. "Wahai Anak Saudaraku! Apa yang telah terjadi atas dirimu?" Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. L J ." Jawab Waraqah. J^UJI jii j L (seperti jelasnya cuaca pagi) Maksudnya. semoga saya masih diberi kehidupan ketika kamu diusir kaummu. menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran. yaitu anak paman Khadijah.(tertarik) 38 — FATHUL BAARI . Khadijah berkata kepada Waraqah. " Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara. mengusahakan barang keperluan yang belum ada. "Nabi bertanya. Berkata Waraqah. " Kata Waraqah kepada Nabi. Turunnya wahyu dengan cara mimpi yang benar telah diriwayatkan oleh M a ' m a r dan Yunus. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta. kemudian ketika sadar beliau dapat melihat cahaya. hikmah turunnya wahyu yang diawali dengan mimpi adalah untuk latihan bagi nabi untuk menerimanya dalam keadaan sadar. bahwa malaikat turun (membawa wahyu) bagaikan cahaya di pagi hari. yang telan memeluk agama Nasrani pada masa Jahiliah itu.

Subjek dalam kalimat tersebut tidak disebutkan, karena motivasi yang mendorong (Rasulullah) untuk melakukan hal itu tidak ada, meskipun kita mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Disamping itu juga untuk memberi peringatan kepada manusia, bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan berasal dari motivasi manusia, tetapi dari ilham dan wahyu. Lafazh (">lJJI trasikan artinya mengosongkan hati dengan mengonsendiri terhadap apa yang akan dihadapi. Sedangkan gua hira' o - ^ j (mengasingkan diri) o - I ^ berarti l i ^ i ' i yaitu mengikuti ajaran agama Nabi Ibrahim. i i ^ 'j*j (yaitu beribadah)
1

adalah salah satu gua yang ada di Makkah.

Kalimat ini adalah kalimat tambahan dalam hadits, yaitu penafsiran dari Az-Zuhri sebagaimana yang dikatakan Ath-Thibbi. jj^I yJCii (beberapa malam) Dalam hal ini tidak disebutkan jumlah hari secara pasti, karena masih diperselisihkan. Ada yang mengatakan satu bulan, sebagaimana Ibnu lshaq, karena waktu itu adalah bulan Ramadhan. Sedangkan lafazh z/J-i artinya membawa bekal. Khadijah adalah Umul Mukminin anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Izzi.

itii Jiatau wahyu)

(hingga suatu ketika datang kepadanya al haq kebenaran

Atau hingga datang kepadanya perkara yang benar. Disebut dengan haq karena wahyu tersebut berasal dari Allah. Dalam riwayat Abu Aswad dari Urwah dari Aisyah disebutkan, bahwa Nabi pertama kali melihat Jibril dalam mimpi, kemudian Nabi melihat Jibril secara sadar pertama kali di Ajyad. Ketika mendengar panggilan Jibril, "'Ya Muhammad," Nabi melihat ke kanan dan kiri namun tidak menemukan siapa pun, lalu ketika beliau melihat ke atas beliau melihat Jibril di langit. Kemudian Jibril berkata, "Ya Muhammad, ini Jibril," kemudian Nabi lari menuju tempat keramaian dan beliau tidak melihat lagi. Tapi ketika keluar dari keramaian beliau melihat Jibril kembali sambil memanggilmanggil Nabi dan Nabi pun lari. Kemudian Jibril baru menemui Nabi di Gua Hira', sebagaimana telah diceritakan dalam kisah tersebut. Nabi melihat bahwa Jibril memiliki dua sayap yang terbuat dari Yaqut, menurut riwayat Ibnu Lahi'ah dari Abu Aswad. Telah disebutkan FATHUL BAARI — 39

dalam Shahih Muslim riwayat lain dari Aisyah, Nabi berkata, "Aku belum pernah melihat Jibril dalam bentuknya yang asli kecuali hanya dua kali." Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits Ibnu Mas'ud, bahwa pertemuan Nabi dengan Jibril dalam bentuknya yang asli hanya dua kali, Pertama, ketika bertemu pertama kali, dan kedua ketika peristiwa Isra' Mi'raj. Begitu juga Tirmidzi meriwayatkan dari jalur Masruq dari Aisyah, bahwa Nabi tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli kecuali dua kali. Pertama di Sidratul Muntaha, dan kedua di Ajyad. Dalam kitab Sirah yang ditulis oleh Sulaiman At-Taimi, diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdul ATa uari anaknya Mu'lamir bin Sulaiman dari bapaknya, bahwa Jibril datang kepada Nabi di Gua Hira. la menyuruh nabi membaca "Iqra bismirabbika.." lalu pergi dan Nabi terdiam kebingungan, kemudian Jibril menampakkan rupanya yang asli di hadapan Nabi. istij (datang kepadanya) Huruf fa' di sini sebagai fa' tafsiriyah (menjelaskan), karena datangnya malaikat bukan setelah turunnya wahyu, akan tetapi malaikat datang ketika wahyu turun. ^ j t i u' C (Aku tidak bisa membaca) Nabi mengatakan kalimat ini sebanyak tiga kali, dan ketika beliau mengucapkan yang ketiga kalinya, maka malaikat berkata, "Bacalah dengan nama Allah." Yakni janganlah membaca dengan kemampuan dan pengetahuanmu, akan tetapi bacalah dengan pertolongan Allah, karena Dialah yang akan mengajarkan kepadamu, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu dan mengeluarkan segumpal darah tempat bersarangnya syaitan ketika kamu masih kecil. Dia juga yang mengajarkan kepada umatmu cara menulis setelah mereka hidup buta huruf, demikian kata Suhaili. Ath-Thibi menyebutkan bahwa susunan kalimat (aku tidak bisa membaca) menunjukkan penguat (ta'kid), seakan-akan Nabi berkata, "Aku sama sekali tidak bisa membaca." Apabila dikatakan kenapa Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali? Abu Syamah menjawab, dimungkinkan jawaban pertama (aku tidak bisa membaca) mengandung arti menolak (imtina'), adapun ucapan kedua mengandung arti ketidakmampuan, sedangkan ucapan ketiga mengandung arti pertanyaan apa yang harus dibaca. Abu Aswad dan Zuhri meriwayatkan bahwa ucapan Nabi, "Bagaimana saya harus membaca?" (kaifa aqra'), Ubaid bin Umair 40 — FATHUL BAARI

menyebutkannya, madza aqra'? "Apa yang harus semua itu menunjukkan pertanyaan.

saya baca?" dimana

(dipeluknya), Seakan-akan Jibril memelukku dengan kuat. ^ — - i ji- o ^ dengan malaikat. Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma'ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga., kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit teras menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orang-orang kafir. Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas, cemoohan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terusmenerus). ->ir s^oi. U u i (Khadijah menjawab, "Jangan takut.") J^J (Aku benar-benar ketakutan) Karena bertemu

Siti Khadijah menguatkan keyakinan Nabi dengan perangai mulia yang dimilikinya, baik terhadap saudara-saudaranya atau orang lain, atau dari segi harta dan tenaga, begitu juga terhadap orang yang berbuat baik atau orang yang berbuat jahat kepadanya, semua sifat ini ada dalam diri Nabi Muhammad. Maksud kalimat (?/JSJ\ L—CS) adalah memberikan pertolongan kepada orang fakir miskin. Seakan-akan Khadijah berkata kepada beliau, "'Orang-orang ingin menikmati dan memanfaatkan hartanya, tapi engkau ingin memanfaatkan orang yang lemah untuk engkau beri pertolongan." Memang lafazh 'Yaksibu' menurut pendapat para ulama memiliki pengertian yang banyak, tapi yang kuat adalah memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. * Liliku (Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi) Mereka pergi bersama Nabi ke rumah Waraqah, sepupu Khadijah.

FATHUL BAARI —

41

S^If (yang telah memeluk agama Nasrani) Beliau dan Zaid bin Amru bin Nufail pergi ke Syam karena benci terhadap praktek peganisme yang ada, untuk mencari agama baru, sehingga Waraqah tertarik dan masuk agama Nasrani. Waraqah bertemu para pendeta yang masih berpegang teguh kepada ajaran agama Nasrani yang benar, maka di sanalah dia mendapat kabar akan kedatangan nabi terakhir, yaitu kabar yang disembunyikan oleh para pendeta pada saat itu. sji^Jij j j j i i i 'j. L f c » ^i^j'i v ^ - '
1

(ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani) Yunus bin M a ' m a r dan Muslim meriwayatkan, bahwa Waraqah menulis Injil dengan bahasa Arab. Semua pendapat ini benar karena Waraqah juga mengetahui bahasa Ibrani, sehingga dia mampu menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani sebagaimana dia mampu menulisnya dengan bahasa Arab, karena dia menguasai kedua bahasa tersebut. Dalam beberapa kitab disebutkan, Waraqah hanya menulis kitab Injil saja dan tidak menghafalnya, karena untuk menghafal Injil dan Taurat tidak semudah menghafal Al Qur'an. Kalimat |U 'J) ^ (Wahai anak pamanku) adalah panggilan yang benar, karena dalam kitab Muslim lafazhnya berbunyi jU \i (Wahai pamanku) dan ini masih diragukan. Perkataan Khadijah, — J ) ^ (dengarkan apa yang akan

dikatakan oleh keponakanmu) Ada pertanyaan mengapa Khadijah menjulukinya demikian? Karena silsilah keturunannya bertemu di kakeknya yang bernama Qushai bin Kilab, dengan begitu masih ada hubungan kekeluargaan. Atau juga ucapan Khadijah itu, karena memandang usia Waraqah yang lebih tua dari Nabi Muhammad. Ucapan Khadijah tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian Waraqah agar mendengarkan benar-benar apa yang akan dikatakan oleh nabi.
[

_ —'^y _ -Ji «—W Sy'
s i 5

j-y&

iAi (Inilah Namus (malaikat) yang

pernah diutus Allah kepada Nabi Musa) Namus adalah pemegang rahasia yang baik, sedang Jasus adalah pemegang rahasia yang buruk. Maksud dari Namus di sini adalah Jibril. Perkataan "datang kepada Nabi Musa" bukan kepada Nabi Isa, adalah karena kitab Nabi Musa "Taurat" lebih banyak mencakup hukum-hukum dibandingkan dengan kitab Injil nabi Isa, sehingga sama dengan Al

42

— FATHUL BAARI

Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebab lain, karena nabi Musa menghadapi cobaan dalam berdakwah menghadapi penguasa Fir'aun, sedang Nabi Isa tidak, sebagaimana akan dihadapi oleh nabi Muhammad dalam menyampaikan dakwah, yaini Abu Jahal bin Hisyam dan bersama-sama kelompoknya di perang Badar, atau juga karena orang-orang Yahudi telah mengakui bahwa Jibril telah turun kepada nabi Musa, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Jibril turun kepada nabi Isa, karena mereka menentang kenabian Isa. Pada kesempatan lain Waraqah juga menyebutkan "Namus Isa", sebagaimana diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dari jalur Abdullah bin Muadz dari Zuhri. Tapi pendapat yang benar adalah ucapan pertama, yaitu "Namus Musa", karena Abdullah bin Muadz termasuk periwayat yang lemah. Akan tetapi dalam riwayat lain dari Abu Nu'airn dengan sanad hasan tentang riwayat ini bahwa khadijah datang kepada Waraqah dan menceritakan apa yang terjadi dengan nabi Muhammad, kemudian Waraqah berkata kepadanya, "Jika kamu mempercayaiku, maka sesungguhnya telah datang kepadanya namus Isa yang tidak diajarkan oleh Bani Israil kepada anak-anak mereka." Dengan demikian terkadang Waraqah mengatakan, "Namus Isa" dan terkadang mengatakan "Namus Musa". Ketika Waraqah berbicara kepada Khadijah, ia mengatakan "Namus Isa," karena Waraqah adalah orang Nasrani, sedang ketika berbicara dengan Nabi dia mengatakan "Namus Musa" karena apa yang akan dihadapi Nabi sama dengan yang dihadapi nabi Musa, dan kedua pendapat ini benar. Wallahu a'lam. u l * L^j L' (Duhai, semoga saya masih diberi kehidupan)

Jadz' adalah binatang kecil, seakan-akan Waraqah beranganangan jika saja waktu datangnya dakwah Islam, dia masih berusia muda, sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, maka kita dapat mengetahui rahasia dijelaskannya bahwa Waraqah adalah orang yang sudah tua dan buta pada saat itu. ili^kj" ij (ketika kamu diusir) Ibnu Malik berkata bahwa makna lafazh i; menunjukkan masa yang akan datang seperti makna lafazh bi sebagaimana firman Allah, "Peringatilah mereka akan hari kebangkitan ketika akan dilaksanakan pengadilan." Pada saat itu Waraqah mengharapkan agar kembali menjadi muda sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, tapi hal itu sangat mustahil.

FATHUL BAARI —

43

Pelajaran yang dapat diambil adalah kita boleh mempunyai angan-angan dan cita-cita yang baik. Akan tetapi menurut saya maksud Waraqah mengatakan hal itu bukan mengharapkan agar kembali menjadi muda, melainkan meyakinkan kepada Nabi akan kebenaran dakwahnya. Jfi A * V (Apakah mereka akan mengusirku) Nabi mempertanyakan apakah mungkin mereka akan mengusirnya, karena tidak ada sebab yang menjadikan mereka malakukan perbuatan itu. apalagi kalau melihat bahwa beliau mepunyai perangai yang sangat mulia.
tjij* (dimusuhi)

Waraqah mengatakan hal itu, karena melihat sejarah-sejarah terdahulu dari kitab Injil dan Taurat bahwa mereka akan melakukan penyiksaan, penentangan dan permusuhan kepada para nabi. 2)—'y. ^—•S'jjS 0} (Apabila saya masih mendapati hari ini) Artinya apabila aku masih hidup di saat kamu diusir, maka aku pasti akan menolongmu.
'

,*

'J 'J (Tidak lama kemudian) Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia. Berbeda dengan riwayat Ibnu Ishaq yang mengatakan, bahwa Waraqah menyaksikan ketika Bilal disiksa, hal itu berarti Waraqah masih menyaksikan dakwah Islam. Kita dapat menggabungkan kedua pendapat ini, dengan mengatakan huruf j pada kalimat ^ — — » j bukan menunjukkan rangkaian kejadian (tartib), karena mungkin saja para perawi tidak menyebutkan kehidupan Waraqah selanjutnya berdasarkan pengetahuan mereka bukan menurut realita kejadian Pelajaran yang dapat diambil Dalam kitab sejarah karangan Ahmad bin Hambal terdapat riwayat dari Sya'bi yang mengatakan, bahwa masa tidak turunnya wahyu adalah 3 tahun, pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan menurut Baihaqi adalah 6 bulan, dan Nabi mendapatkan wahyu lewat mimpi pada bulan kelahirannya yaitu Rabi'ul Awal ketika umur beliau 40 tahun, sedangkan turunnya wahyu dalam keadaan sadar pada bulan Ramadhan. Bukanlah yang dimaksud dengan terputusnya wahyu selama tiga tahun berarti tidak turunnya malaikat Jibril kepada Muhammad setelah turunnya ayat "Iqra bismirabbika..." sampai turunnya ayat, "Ya Ayyuhal 44 — FATHUL BAARI

Muddatstsir," melainkan hanya diperlambat turunnya Al Qur'an kepada beliau. Asy-Sya'bi berkata, "Turunnya kenabian kepada Muhammad, ketika beliau berusia 40 tahun yang ditemani oleh malaikat Israfil selama 3 tahun yang mengajari beliau, dan pada saat itu belum turun Al Qur'an kepadanya. Setelah tiga tahun selanjutnya Nabi ditemani oleh Malaikat Jibril, dan turunlah Al Qur'an selama 20 tahun kepadanya. Ibnu Tin mempunyai pendapat lain, yaitu bahwa yang menemani Nabi adalah malaikat Mika'il bukan Israfil, akan tetapi pendapat ini ditolak oleh Waqidi karena riwayatnya mursal, dia mengatakan, "Tidak ada yang menemani Nabi kecuali malaikat Jibril." J I' I Jj% ^ J l J i i tf-'^ '
fl

~ j*
6

j * - ^ - £ * j 'j** JL* (SjCaiV T' r l' ^ \l ' > Jj& ,* '
fl

^ 'l ^
3

A - i JJ ^\^ \' '
r0

jl ' iiJi

' ^

0

, i _ U i 1 l* ) J #

^ii *1?

j Jj&

j oiii

4. Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata, beliau bercerita tentang terputus-nya wahyu, Rasulullah bercerita, "Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan-jalan, tiba-tiba kedengaran olehku suatu suara dari langit, maka kuangkat pandanganku ke arah datangnya suara itu. Kelihatan olehku malalikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira dahulu. Dia duduk di kursi antara langit dan bumi. Aku terperanjat karenanya dan terus pulang. Aku berkata kepada Khadijah, "Selimuti aku!. " Lalu Allah menurunkan ayat, "Hai orang-orang yang berselimut! Bangunlah! Maka berilah peringatan dan besarkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu dan jauhilah berhala. " Maka semenjak itit wahyu turun berturut-turut.

Keterangan Hadits: jjL-j ^jy~*j ^-L" (Aku berkata selimuti aku, selimuti aku)

FATHUL B A A R I —

45

Dalam riwayat Ushaili perkataan ^y^j

(selimuti aku) hanya datstsiruuni \$ C (Hai

disebutkan sekali. Dalam riwayat Yunus Nabi mengucapkan (selimutilah aku), maka turunlah ayat Al Qur*an, jiiti "J orang yang

berselimut bangunlah dan beri peringatan, yaitu berilah

peringatan akan adzab Allah bagi orang yang tidak beriman kepadamu, i^'j i (Bertakbirlah kepada Tuhanmu) artinya a g u n g k a n l a h , * ^ ^ 3* )\i (Sucikanlah bajumu) dari najis. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pakaian dalam ayat ini berarti jiwa, maka dari itu cara membersihkannya adalah dengan menjauhi perangai yang buruk dan sifat-sifat yang tercela. Lafazh rajzu berarti berhala, sedangkan menurut bahasa rajzu artinya adzab atau siksaan, dan berhala dinamakan rajzu, karena berhala menyebabkan orang mendapat siksa. ^_U^Ji ^ (Wahyu turun terus menerus) Artinya datang terus menerus dan berangsur-angsur.

46

— FATHUL BAARI

Ui" J . Q ' ' ' J ' 0 ' s 'f' _ * .* . beliau mendengarkannya secara seksama. j l L-LJp j j p_» ( AJLJ L J p j j p_i ) C — ' U £*£*<ll J l i ( Ajly Jj^ ?r al 'C' "I Ijl i J J i jJu' " » a a II p 'di' * * 2. "Apabila Kami membacakan Al Qur'an ikutilah bacaannya.. " AUah berfirman. Z 'i. Ibnu Abbas berkata.L ^ ' L " L' !' .f «• .j i ^-1 s. j ** i s ' ' ' o ' ' L l ^ S ' ^ f li'ls ^ L t p jj'i J U i Aliii. "Allah Telah mengumpulkan A! Qur'an di dalam hatimu dan membacakannya. > f' s I 9' 0 s . "Jangan kamu gerakkan lidahmu dalam membaca Al Qur'an dengan terburu-buru. .LUp J l • L l '° I ' . Bahwasanya Rasulullah SA W apabila setelah didatangi oleh Jibril. ' ' aDI J j ~ . dengan menggerakkan kedua bibirnya. I>a' ' ' .LV aJJi J j ~ .L % ..v°l j P or j) * * J ^ ^ . . " Allah berfirman. bahwa Rasulullah SAW berusaha mengatasi kesulit-an ketika menerima wahyu. 0 F' * t* „ ' s ' s 0 & L I-' !' a' 'Ajt b l * ) a l J & j ±)j. "Berkata Ibnu Abbas. " FATHUL BAARI — 47 . " kemudian kepada kami kamu membacanya (Al Qur'an). "Kemudian Kami yang memberi penjelasan." s ' ' .0 - 5. " ' i-*. ' . " Sa 'id berkata. apabila Jibril pergi barulah ia membacanya sebagaimana Jibril membaca.r ' 'T. ./ . sesungguhnya Kami telah mengumpulkannya (Al Qur'an)" Dia berkata.Jl—S" J U ( Aj_ J s n * 3 j J J C J O S' ) J U j A^S y » . "Jangan kamu gerakkan lidahmu dalam membaca Al Qar'an dengan terburu-buru.l C j I j U 5 L*^S LI JL*-* J U j U ..JL* ( aj l y j a**^. j . . t 0 of * | '° L " 1 i -~R° _ o *.L^> ^ ifJJ aa*a.4_Ul ^. "Dan Ibnu Abbas tentang firman Allah. " maka turunlah ayat Al Qur'an. "Aku menggerakkan kedua bibirku ini di hadapan kalian sebagaimana Nabi menggerakkan bibirnya. .' .' i ." Atau "dengarkanlah dan diam. "Saya menggerakkannya seperti Ibnu Abbas menggerakkan.p *J—j ^ J p J . f • «f' > ' i .j J L x i el^i? g .

" £> sedangkan pada hadits berikutnya dia menyebutkan ^ X (aku melihat) sehingga tampak ada pertentangan antara keduanya. karena ia lahir 3 tahun sebelum nabi hijrah. sedang Ibnu Abbas pada waktu itu belum lahir. karena Ibnu Abbas sendiri tidak melihat Nabi pada waktu itu.Keterangan Hadits: Lafazh berarti berusaha susah payah dengan semaksimal mungkin. "Siapa diantara kalian yang bermimpi tadi malam. Tetapi yang benar adalah pendapat yang pertama. "saya menggerakkan lidahku. Kesulitan yang dialami oleh Rasulullah pada awal turunnya wahyu. "Rasulullah apabila selesai melaksanakan shalat shubuh kadang-kadang berbicara kepada para sa-habatnya." atau hadits yang diriwayatkan oleh Samrah. seperti hadits yang diriwayatkan oleh Barra'. adalah bersumber dari usahanya untuk menggerakkan lidah dan bibirnya. Sy bi Jii J O jiS j y ^ S ^ Jijl* "ketika Malaikat Jibril turun kepada Rasulullah dengan membawa wahyu.!^-» H i—4* 'j—sJ t—fJ'—1* ^1 0> ^ "Apabila kami ^ bermakmum kepada Rasulullah 'i—ijj kadang-kadang kami berada disamping kanan beliau.") Ibnu Abbas menyebutkan di awal hadits ini. "Rasulullah menggerakkannya (lidah dan bibirnya).j U P Jii ^ u . . sebagaimana disebutkan dalam kitab Musnad Abu Daud Ath-Thayalisi. 48 — F A T H U L BAARI . Surah Al Qiyamah menurut kesepakatan ulama adalah surah Makkiyah. Namun ada kemungkinan bahwa Rasulullah mengabarkan kepada Ibnu Abbas atau sebagian sahabat yang menyaksikan kejadian tersebut mengabarkan kepadanya." Sebagian ulama mengatakan lafazh li mengandung arti C'j (kadang-kadang).^UwS' J j i O i4UJi ^iv> bi jju. Adapun S a ' i d b i n Jubair telah melihat langsung dari Ibnu Abbas. beliau menggerakkan lidah dan bibirnya. Saya katakan bahwa Imam Bukhari meriwayatkan 4^— i j iiLLJ A J ^Jj hadits ini dari ji5" jalur Jarir dari Musa bin Abu Aisyah dengan lafazh." U4—5*^-1 \—iti ^L-!^ ^_Ji j l _ u (Maka berkata Ibnu Abbas. i ' Sj^-j r — j .

3 s - Jf 6." FATHUL BAARI — 49 . "Bahwa Rasulullah SAW orang yang paling murah hati. TWaA mengabarkan kepada aku Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas." dalam riwayat Nasa'i." Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua dalil di atas. Nabi tidak sabar. atau cukup disebutkan "kedua bibir" tanpa menyebutan "lisan" karena lisan merupakan sumber dari pembicaraan. "Jangan kamu gerakkan lidahmu.o ' ° ) . dan sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.1. "Nabi buru-buru membacanya agar dapat menghafalnya. keduanya baik gerakan lisan maupun bibir berasal dari gerakan mulut." Kedua dalil ini tidak ada yang bertentangan.'^Jrj (Maka Nabi menggerakkan kedua bibirnya) sedangkan dalam firman Allah disebutkan." Maka ketika malaikat Jibril turun untuk menyampaikan ayat-ayat Al Qur'an. seperti dikatakan oleh Hasan dan ulama lainnya. bahkan beliau langsung membaca dan menghafalnya agar tidak hilang dari ingatannya. Dalam riwayat Tirmidzi dikatakan. "Nabi menggerakkan lisan dan kedua bibirnya. sedangkan pembicaraan berasal dari gerakan mulut. karena menggerakkan kedua bibir untuk mengatakan sesuatu yang hanya dapat diungkapkan dengan lisan mengharuskan adanya gerakan lisan itu sendiri. beliau bertemu dengan Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk mempelajari (membaca) Al Qur'an. " ' . "Nabi menggerakkan lidahnya karena takut lupa sebelum Jibril menyelesaikan bacaannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Jarir dalam kitab Tafsirnya. lebih-lebih ketika beliau bertemu Jibril pada bulan Ramadhan." dan dalam riwayat Abu Hatim. > t' 's'** t -n - s . "Rasulullah menggerakkan lidahnya agar dapat menghafalnya. t s . dia berkata. - I» j J L ' J o i r J U j& J\ J> <& 'J «i X£ JJ^ Jli ' j .

Nabi bersabda." Imam Nawawi berkata dalam hadits tentang 'Faidah'. dan orang yang paling bermurah hati selelahku adalah seorang yang mempunyai ilmu dan menyebarkan ilmunya.Keterangan Hadits: Ubaidullah adalah Ibnu Abdullah bin Utbah bin Mas'ud. "Nabi SAW adalah orang yang paling berani dan paling murah hati. karena murah hati adalah salah satu sifat terpuji. Karena bulan Ramadhan merupakan bulan kebaikan. karena kekayaan dapat menyebabkan orang menjadi dermawan atau murah hati. maka Dia sangat senang kepada orang yang bermurah hati. ^—•)) (Orang yang paling dermawan) Artinya orang yang paling murah hati. Nabi bersabda. serta orang yang menyerahkan dirinya untuk berjuang di jalan Allah. ' T i d a k ada sesuatu yang diminta darinya kecuali beliau memberikannya. murah hati) selalu ada pada diri Nabi seperti hembusan angin yang selalu ada. "Tidak ada sesuatu yang diminta darinya. "Saya adalah keturunan anak Adam yang paling bermurah hati (dermawan). Dalam hal ini Nabi disamakan dengan mursalah (angin yang berhembus) karena sifat itu (kasih sayang. *J— '"'J^ berarti berhembus dengan cepat. " Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Anas." atau dalam hadits Jabir dengan riwayat yang shahih dikatakan. maksudnya Rasulullah [ benar-benar cepat berikap dermawan atau murah hati melebihinya cepatnya hembusan angin. Lafazh j j — ^ menurut terminologi adalah memberikan sesuatu kepada yang berhak menerima. Beliau juga 50 — FATHUL BAARI . " jT ^Ji'^Lj\'xj(Beliau membaca atau mempelajari Al Qur'an) Hikmah membaca dan mempelajari Al Qur'an adalah dapat menambah kekayaan hati. dimana Allah memberikan kenikmatan yang lebih banyak kepada hamba-Nya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzt. lebih-lebih ketika bulan Ramadhan dan saat beliau berkumpul dengan orang-orang yang senang kedamaian. "Sesungguhnya Allah Maha Pemurah hati. kata ini lebih umum daripada sedekah. kemudian beliau mengatakan 'tidak'. Dalam riwayat Ahmad dikatakan. maka Nabi mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. "Sifat murah hati selalu ada pada dirinya dalam setiap waktu. " Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

dan pada bulan itu Jibril selalu menyimak bacaan Nabi. bahkan sebelum wafat beliau membacanya dua kali kepada Jibril.'. ^JJJ N y^f5 -1* '^S" N 0 J^i JL* V CUL* J L» J^-JJ IJ^ ^ j>Jj ^ c-L» j j J J Jjji V cJi J ^ 1 —* J — * 3-*4^' ^ ^ J-? ' ls^-^" ^ 4 = * 51 FATHUL BAARI — .' . J J C . karena membaca Al Qur'an adalah dzikir yang paling baik. Maksud mudarasah adalah menghafal Al Qur'an. _R—i'} o* V ^ J J.J ) iJ -F. 1 0 ^ $ ^ ? -4*"° ^ L 0 ^-ALP-Jj fiil 9yli y JUS'J OUj**. 4 ' 1 / . ' * ' ' « f ' " bl cJjU d La*.• " f V ' ' u .\jJJS j l j!dx_S V* — J J I I L J-FI JL* I_—D CJI JL_5 V ^LJC. ini merupakan bukti bahwa Al Qur'an pertama kali turun pada bulan Ramadhan. sebagaimana dikatakan dalam hadits Ibnu Abbas. Maka saya katakan." * V ' ' ' .y. * 'f ' h . rf -• ! ' .J J ) J U * 4J! j*PJJ ''i** JL* ' -f.L'l LJ_S JL» -o .V ' 1' ' ' jl a JU AiiJJ •Ua?*— JL»-! JJ^J J l j (JJJUJ.• ' .' * V . J f' i ~ " ' ojj-s' j L .u ' • " f' ^LD! J-ILI 'f" 1 -i' = .'' ' »1 d j J — J J J I J U j»_AJUJW3 JJ Cj -HI pjijJuuji J 'f ' »\ AJyt^j . «S J^J J*> 01 t>'J±\ ^>}.> J ^ L . ^ *s\T\ 'j* J L T 3 Ife J L I N/ C J I iL> l s s OKF 'f'.9 1 ' f AJUJ--JIJ f JUP ' ' J £ F'*' J* aJ^II> (*Jbjjjt=--LJ 4JL>W3I ' J J Y J FJI^JI S / Y . S A 0 f f J L — * L* J jL JP\—I Y» U 1 01 JL* < _ .' £ ' ' ^ > ^ I 3 ° *' s ' e) * .b J j ^ a i l . Dengan demikian sudah terjawab mengapa hadits ini diletakkan pada bab ini. ' ' .I I Y S_JJJ-XI ^ ' L R O I I J ^ ^ J I UII ^ p I I I J J C J ! j^J J L — i di AIP ^ T C J J F OII* p <IP CJISCJ _JI I L I J I B'JJT 'Js.membiasakan diri memperbanyak membaca Al Qur'an pada bulan Ramadhan. (JM\ ^ J * .

^ i ' " I ' . j IRJIN J^l' C I J ' J I! 5 . J.J y j l i L ' OJlJ ss s ^ o£ ^ ^ s^ s % E ^ O G ^ JIJ & ^ ^ ^ ^' O ^ J J j j J J J i ik!C-^ ^jJUl UJ .—U J—C- ikJl -J ^ ' ' l > 1 .f ' i ' - ^1 ' I 0 ' '" ' "'f V '.^ .t 4 -t.^JJl ^^Ip ^->0>Jj ' l>--'f'.^ j d £ ^ s s Y .^ L ^ j ^ tLJj-" v .' S .J ^ l JJ jjl J J .i b J i r j c . * s .' ' ' O ' ' ' ! ' - J '' ' ' S JL» ^ ' ' »O ' ' ' J ' J i" ' t l J i a^-uijL* ' 11 o J — > .i 'if-' i ' i ("f '' ' ' .' >JA * ' . ' 'f '. J ^ F J .* x -'".' Di J I P u i 5 J l j J D J j ifl J » J i i i V j » O ^ J J Ju C Y s f s i s l s } r s Qs s & s ' O . JLv JUk^& * T / J I J SI J ' R > J ' 0 ' S 4.L^"=F--L|'^-'' ' ' S*1 & j j j V J^)\ IIJ^J AIICiJ i j I _ _ j 5 jAJ ' ' -UJI Ij-L I J j l ^ y U l v J _ ^ J J -3 iiiiL-j j l * ^ J L i i J l j j l C a J l j otiCaJL) ( t .j -jj.L-. J0 4 ^ iIp I P I L ! ^ 5 JJJ AUI J W J L ^ O ' Y L PJ ^ * J J 'J A_.' "9 '' F ' ''J L ™ I "''I'L^LF' L' L^ ' X""'' jl o^5 ' • 'F I - ^jLsjui ^1 oyuj\ ^UJI ^jl^ikJL. J ^ . ' i S i. L f* Y ' ^'L' ^ * ''^_'' J ' B 8' ' . ° t '* ' i n is' ' ' L J J Lul I_J y>Jl c J ^ aLj j^SJiii jlS" i'. .U J c — u diu^ 'i ajl^t ^ oir> J^iil l i i Jl* ^in ^ 2 L i s Si y O ^ i i d i u ^ Jj—sj j l J . 1 J " ° £ Ji S T$ -Y ^ '% ' S s JLL ^^iJJ JUi ALU j I J ' s * s 9' S £»t ^ ' LJLIIJIJ J!UAJI_J ' 'i Lt-IJ J ^ S ^ I I J J I ' J Y L I C->^T-U j l — S ' J i J J j J C j <du» J J J ^ ^ .1 JaJj ^ " ' ' ^ I JU.VI y l JjAlji ' ' v^ >. (FF.J L ..jLc 'yi V L i i S ' j 'y j l cJf& A J j i .S * J I j j N I ' ' 'T • * ' ' L°f' i ' " 9 3 L l p Y Y ^ * J ^S*Lj 4 j L u i J I -''L-' ' Y .J j i " U j ! 5 o-Uf- Jp c~LJiJ C~iS* "*LaJ_ 52 - FATHUL BAARI .' 1 J 1 8 ( .JJ d j l ^ — i Lb.i'?f' ' f ' n' ' n ' V ' ^yH^ J-* k i .j aIH Ij -)-P 1 J ^ j cuii SI y L ' l i £ Jl* «u* j L J j iL..j ^ ^ y s s * s 0 s s' f ' ^s J £ s . .

J i yy <u*Oi iSr^. y J L ^^ ' Nj l ^ J OJ *J i J * 9 V J *JJl N ' ->^J ""''OVW ' 0 ' ' S " ' ' ' * * 1 j ^ ' j j w ' S ' l w .^ " i^' ajl^l o-L* *i-LU IJU> J i ' R » J U i Oj~kj 53 FATHUL BAARI — .^ i l s w i c~Lt* 0 0 s .* . . • 0 E f0^ V 0 J s b s 0 ^ *n L J . ' ^ l ' ' ' a. *.. F L f v 0 •"I'' * *\\ * •'''L L-^'L * L^' 11* E > U ^ . . *.o S n * * 4_JJ\ O v> °ja ' " UsuJ l L j a .j -i_^Jl j * ^ I J I I I J TIASOL* ^il >^ ^ * 9 > ' s ' .a * .' . "l'* f O j.> .t j L T j l j ^.^s-waJl a j l p _ j £ " ^ L 5 D T 5*1^5 ^ ^ y _ j ' I l' "L' ' I ' 'I-* F •i i l ' -J^b-TJ <uj <ui~5 ^ J I t .I ^V^^ 1 1•'TLI JLI 9^ jjSijt ' 'V * S / ^ i o^>d* jA^* ^ j ^ ^ ^ ^ * ^ O J T ? " J' '"N^FL'^"" 0* ^1 ° *' * f ' 9 <* . i t s i S i " \\ *J_J-*JJ> AUI J u P JuJ»-~* ^ ^->-jjl j .y ' I " f L'" V ? & R v 8 oj—-j j * j U p ^ *i L P J J * ^ J ^ ^ R ? ^ 1 3 1 1 J* ' * ^ il ° ' I * ' O ' S F * t s t ' * 6 ' ' ' ' t B J s ^ a i — . ss t s . s . 'i f . s " L F ' F -I L'" ° I ' L' VI I -' y \ j*\ J u J L > (0v>.* " ( JLL j i ' i» 'V 01 : I d-Llp OL» ^ J y jL* ISFJ i l ^ 1 <JJl -4 -1 f ^ .V 1 Lir # I U R Ji * # vi^ii " j j J 1. ' ' ' JLII j * * *"*0*S O^ ' ° * L*^J O F ' S S ^ ^ & f ' " * ' O ' B J F jLii (j—it)! j &LUJI ^ J j Oi J & 0 j * t\y>. > o v L .J I Y ^ 0 L 5 ^ j j ^ J i L i i l J i " ' S ' ' '-T' .J '^J 1. ' " ' " ' ^ O ' " ' ' ' J _ i 4I*JUUJ j . <y~& J>\ < H (U*.^ ^ O (*—^ ' ' '' ^ »1 j * * 0 * i y .

terus masuk ke dalam majelisnya di hadapan oleh pembesar-pembesar Romawi. " Kata Abu Sufyan. "katakan kepada mereka aku akan bertanya kepadanya (Abu Sufyan). "Pernahkah orang lain sebelumnya mengatakan apa yang dikatakannya? " Jawabku. % lr—i'J f-tP^ J ^ 5 1 -£>J ^ '-^^ ^ ^ j j ^ .j'y. "Bagaimana garis nasabnya di kalanganmu? " Aku jawab. "Adakah 54 — FATHUL BAARI . Waktu itu Rasulullah SA W sedang dalam perjanjian damai dengan Abu Sufyan dan dengan orangorang Quraisy. suruhlah mereka mengatakan bahwa dia berdusta. "Demi Tuhan! Jika tidaklah aku takut akan mendapat malu. Jika dia berdusta. 'Saya keluarga terdekatnya. " Kemudian dia berkata kepada juru bicaranya. ^fiu Sufyan mengabarkan bahwa Hercules menyuruh dia datang ke Syam bersama Kafdah saudagar Quraisy. " Pertanyaan pertama.f j*-* r * 1 J\ J*S? j . Mereka datang menghadap Hercules di Ilia. niscaya maulah aku berdusta.y ^\y^\ ' J\ ' ' J^'y>\ " ! •J-> 7. Hercules berkata. Kemudian Hercules memanggil orang-orang Quraisy itu beserta juru bahasanya. "Dia turunan bangsawan di kalangan kami. karena aku dikatakan pendusta.j p-^ 1 1 ^ '^. "Suruh dia mendekat kepadaku. " Hercules berkata. " Hercules berkata. "Tidak. dan suruh pula para sahabatnya duduk di belakangnya. Siapa diantara anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku sebagai Nabi itu? Jawab Abu Sufyan." Hercules berkata kepada juru bicaranya.

"Orangorang biasa. Karena mereka benci kepada agama yang dipeluknya? " jawabku. "Kalau ada seorang yang pernah mengumandangkan ucapan yang diucapkan sekarang. "Tidak. kami tidak tahu apa yang akan diperbuatnya dengan perjanjian itu. "tidak. "Dia hendak menuntut kembali kerajaan nenek moyangnya. " Hercules. " Hercules. "Apakah yang diperintahkannya kepada kamu sekalian? " jawabku. "Pernah kamu berperang dengannya? " Jawabku. " Hercules." Hercules. "Tidak. "Adakah di antara nenek moyangnya yang jadi raja? " kamu menjawab. "Pernah. "Saya yakin dia tidak berbohong kepada manusia apalagi kepada Allah. "tidak dan sekarang kami sedang dalam perjanjian damai dengan dia. diutus dari kalangan bangsa tinggi kaumnya." Hercules. "kalau ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja. "Apakah kamu menaruh curiga kepadanya dia berdusta sebelum dia mengumandangkan ucapan yang diucapkannya sekarang? "jawabku. "katakan kepadanya (Abu Sufyan) saya tanyakan kepadamu tentang turunannya Muhammad. Dikalahkannya kami dan kami kalah-kan pula dia." Hercules. "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa? " kamu jawab. " Kata Abu Sufyan menambahkan. " Hercules. "apakah pengikutnya semakin bertambah atau berkurang? " Jawabku. "Tidak ada.diantara nenek moyangnya yang menjadi raja?" Jawabku. "Hanya terdiri dari orang-orang biasa. Begitulah Rasul>-asul yang terdahulu. berlaku jujur. " Hercules. niscaya aku katakan. "Kami kalah dan menang silih berganti. "Dia meniru-niru ucapan yang diucapkan orang dahulu itu. "Pernahkah dia melanggar janji? " jawabku. niscaya kukatakan." Hercules. "Dia menyuruh kami menyembah Allah semata dan jangan mempersekutukan-Nya. "Tidak dapat aku menambahkan kalimat lain sedikitpun selain kalimat itu. " Hercules. memang mereka jualah yang menjadi pengikut Rasul- FATHUL BAARI — 55 . sebelum ia mengucapkan apa yang diucapkannya sekarang? " kamu menjawab. " Hercules. kamu jawab dia bangsawan yang tinggi. sopan /teguh hati) dan mempererat persaudaraan. "Bagaimanapeperanganmu itu? "Jawabku. "Hercules. Tinggalkan apa yang diajarkan nenek moyang kami! Disuruhnya kami menegakkan shalat. "adakah diantara mereka yang murtad. " Hercules. " Hercules. " saya tanyakan. "bahkan selalu bertambah. "Adakah salah seorang diantara kamu yang pernah mengumandangkan ucapan sebagaimana diucapkannya sekarang?" Jawabmu "tidak. "Aku bertanya adakah kamu menaruh curiga kepadanya bahwa ia dusta. "Apakah pengikutnya terdiri dari orang-orang mulia ataukah orang-orang biasa? "Jawabku. "Tidak. " Hercules.

walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang untuk menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya akan kucuci kedua telapak kakinya. Kesejahteraan kiranya untuk orang yang petunjuk. hamba Allah dan Rasul-Nya kepada kaisar Romawi. disuruhnya menegakkan shalat. begitulah halnya iman yang sempurna. yang isinya sebagai berikut: . begitu juga semua rasul yang terdahulu. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir di antara kamu sekalian. "mereka bertambah banyak.i ^ s ^ <. "tidak. - *' 1 ' -w * * U 'l. Kemudian sesungguhnya saya mengajak anda Hercules.rasul. niscaya dia akan berpijak di kedua telapak kakiku ini. mereka tidak suka melanggar janji. Sesungguhnya aku tahu bahwa dia akan lahir. "Adakah ia melanggar janji?" kamu jawab. Lalu dibacanya surat itu. "Apakah yang disuruhkannya kepada kamu sekalian? " kamu jawab. Kemudian Hercules meminta surat Rasulullah yang diantarkan oleh Dihyah kepada pembesar negeri Bashra. "Apakah pengikutnya makin bertambah atau berkurang? " kamu jawab. Dilarangnya pula menyembah berhala. Saya tanyakan. Dari Muhammad.^JIAi JJ 'lp-u *i]jpjf J u s s s y Bismillahirrahmanirrah iim. "adakah diantara mereka yang murtad karena benci kepada agama yang dipeluknya." Hercules.^£*y\ yy ^ J- ^ J 3 ^ J J j iif . setelah mereka masuk ke dalamnya?" kamu jawab. "tidak. " Hercules. "Ia menyuruh menyembah Allah subhanahu wata 'ala dan melarang mempersekutukanNya. begitulah iman apabila ia telah mendarah daging sampai ke jantung hati." Saya tanyakan. * - i ' t ' <y J* aui i i j j j j J l L j j u i . Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya.i. berlaku jujur dan sopan (teguh hati) " Jika yang kamu terangkan itu betul semuanya. yang kemudian diteruskan kepada Hercules. mengikuti memenuhi 56 — FATHUL BAARI . ' " i ' - U ' " -.

"Yang dikhitan hanyalah orang Yahudi. sehingga raja bangsa kulit kuning itu pun takut kepadanya. dan jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. " Pada suatu ketika dihadapkan kepada Hercules seorang utusan raja Bani Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah. ternyata memang dia dikhitan lalu diberitahukannya kepada Hercules. niscaya anda akan memikul dosa seluruh rakyat. "Ketika Hercules datang ke Iliya. "Sungguh anak Abu Kabsyah telah membuat masalah besar. Siapakah di antara umat ini yang telah dikhitan?" Jawab para pendeta. Kemudian Hercules menceritakan tentang kelahiran Nabi Muhammad. Tetapi jika anda enggan. "Hercules adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. sehingga karenanya Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku. Tetapi sebelum dia sampai di Hamas balasan surat dari sahabatnya telah tiba FATHUL BAARI — 57 . pembesar negeri Iliya sahabat Hercules dan uskup Nasrani di Syam menceritakan. Oleh sebab itu banyak di antara para pendeta yang berkata. sesungguhnya dia telah lahir. yaitu pupaya kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah. ia meneruskan perjalanannya ke negeri Hamas. "Apakah mereka dikhitan atau tidak?" Jawabnya. Tapi aku yakin. ternyata pikirannya sedang kacau. Sementara itu. Hercules berkata "Inilah raja ummat. "Kami sangat heran melihat sikap anda. " Selanjutnya Ibnu Nathur berkata. dan Allah akan memberi pahala kepada anda dua kali lipat. dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain menjadi tuhan selain Allah. " Kemudian Hercules berkirim surai kepada seorang sahabatnya yang ilmunya setaraf dengannya. dan kami disuruh keluar. Hercules memerintahkan agar dia diperiksa. " Ibnu Nathur. " Kata Abu Sufyan. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya pada suatu malam ketika melihat Raja Khitan muncul. "Orang-orang Arab semuanya dikhitan. supaya orangorang Yahudi di negeri itu dibunuh. Perintahkan saja ke seluruh negeri dalam kerajaan anda. apakah dia dikhitan atau tidak. Kemudian Hercules bertanya kepada orang itu tentang orang-orang Arab lainnya. Apabila anda enggan menuruti ajakan ini akuilah bahwa kami ini muslim. ruangan menjadi heboh dan hirukpikuk. Masuklah Islam! Pasti anda selamat. "Hai ahli Kitab! Marilah kita bersatu dalam satu kalimat (prinsip) yang sama antara kita. "Ketika ia mengucapkan perkataannya dan membaca surat itu. Muhammad pasti menang. Setelah diperiksa. Setelah selesai bercerita. maka aku berkata kepada kawan-kawan.panggilan Islam. Tapi anda jangan risau dengan mereka.

terlebih dahulu.^ J Ji (beberapa pasukan) Kata v . jumlahnya sekitar 20 orang termasuk di dalamnya Mughirah bin Syu'bah. Kini saya melihat keteguhan itu. seperti gelar Kisra bagi raja Persia.. Maksud mengutus kepada Abu Sufyan di sini adalah mengutus kepadanya ketika dia bersama rombongannya. karena ada yang mengatakan Mughirah sudah masuk Islam. " Mendengar ucapan itu mereka lari bagaikan keledai liar padahal semua pintu telah terkunci. Demikianlah akhir kisah Hercules. "Rasulullah mengirim surat kepada Kisra dan Kaisar." Keterangan Hadits: Abu Sufyan bernama Shakhr bin Harb bin Umayah bin Abd. Lalu ia memerintahkan supaya mereka kembali ke tempat mereka masing-masing seraya berkata. Hercules mengundang para pembesar Romawi supaya datang ke tempatnya di Hamas. dia berkata." Kemudian ia memanggil Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu'bah untuk 58 — FATHUL BAARI . sedangkan menurut Ibnu Sakan. ketika Kaisar membaca surat Nabi. maukah kamu semua mendapat kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang. atau mungkin saja ketika kembali dari raja Hercules Mughirah baru masuk Islam. Syams bin Abdi Manaf. Kemudian dia berkata. Abu Sufyan adalah pimpinan rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang. yang bergelar Kaisar. Akan tetapi ada perselisihan. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Hercules bahwa Muhammad telah lahir dan beliau memang seorang Nabi. Melihat keadaan demikian Hercules menjadi putus harapan untuk mengajak mereka beriman.. setelah semuanya hadir. S . sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau akuilah Muhammad adalah seorang Nabi. sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim dalam kitab 'IkliV.0 a d a l a h b e n t u k j a m a ' dari 1 — f i j yaitu penunggang kuda yang jumlahnya 10 orang atau lebih. Hercules memerintahkan supaya mengunci setiap pintu. "Lalu mereka sujud di hadapan Hercules dan mereka senang kepadanya. "Wahai bangsa Romawi. Hercules adalah raja Romawi. "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan ini hanya sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Dalam riwayat Ibnu Ishaq pada bab 'A l AmwaV dari riwayat Abu Ubaidah dari Sa'id bin Musayyab. dia berkata. "Tulisan seperti ini tidak pernah aku baca.

Dalam kitab Al Jihad. pendeta-pendeta dan Romawi dari keturunan 'Aish bin Ishaq bin Ibrahim. penjelasannya secara panjang lebar pada bab 'Al Maghazi'. bahwa ketika beliau berjalan dihamparkan karpet se-panjang perjalanan yang diberi hiasan dan wangi-wangian. '-4. Kejadian ini terjadi pada tahun ke-6 H. f (di Iliya) ada yang mengatakan artinya adalah Baitullah. dan disampingnya berdiri pembesar Konstantinopel." > -j ei—W (pembesar-pembesar) Dalam riwayat Ibnu Sakan dikatakan. Salih dan Ghassan. Bahra'. mereka semua pen-duduk Syam. Ibnu Ishaq menambahkan. dikatakan "Kami masuk ke tempat Hercules. ketika Hercules mendapat kemenangan dari Raja Kisra. Dalam kitab Jihad karangan Bukhari dikatakan. yang berlangsung selama 10 tahun sebagaimana dalam buku-buku sejarah. S/\ jX5 j d i (Hercules berkata. •_4=" J (Raja Hercules memanggil mereka ke majlisnya) artinya mereka di panggil ke hadapan raja Hercules. Dalam riwayat Thabari dikatakan. FATHUL BAARI — 59 . -—idir'ji uVaj ^uV> p (Kemudian Hercules memanggil rombongan Abu Sufyan dan para penerjemah kerajaan untuk berkumpul di tempatnya). "Raja Kisra mengirim pasukannya untuk memerangi Romawi. "Siapa di antara kalian yang lebih dekat nasabnya dengan laki-laki berkebangsaan Arab yang mengaku sebagai Nabi). ii— lii J (pada masa) artinya pada masa Hudaibiah. maka Hercules berjalan kaki ke Mesjidil Aqsha sebagai tanda syukur kepada Allah. maka hancurlah seluruh negeri Romawi. Kemudian Raja Kisra menginginkan panglima perangnya yang bernama Syahrabrazi diganti oleh Faruhan serta memerintahkan untuk membunuh Syahrabrazi. begitu juga Hakim dalam kitabnya 'Mustadrak\ tetapi pendapat pertama (10 tahun) lebih masyhur. Sedangkan Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar selama 4 tahun. ketika itu dia sedang duduk di singgasananya dengan memakai mahkota raja. maka Syahrabrazi bergabung dengan Hercules yang akhirnya Hercules kembali dapat menaklukan pasukan Persia. Disamping itu ada juga pembesar bangsa Arab dari Tanukh. beliau berjalan dari kota Hamas (Syria) ke kota Iliya (Palestina) sebagai tanda syukur kepada Allah. "Kami masuk ke hadapan Raja Hercules.menanyakan tentang Rasulullah.

jangan biarkan aku. karena aku tahu apa-bila aku berbohong mereka akan meyakini dan membicarakan bahwa aku adalah pembohong. 's ^ W J* ^ £ s j l ^ y (Demi tuhan kalau bukan karena malu yang mencegahku untuk berbohong. "Dia anak pamanku." Abdi Manaf adalah kakek ke-4 dari Nabi dan Abu Sufyan. Apakah nasabnya termasuk nasab yang terhormat diantara kalian? Mereka berkata. "Apa hubungan kamu dengannya?" aku berkata (Abu Sufyan). Hercules menanyakan orang yang lebih dekat nasabnya. »Ji—b i l t 'jJ-JJJ*L« (Mereka diperintahkan untuk berdiri dibelakang Abu Sufyan). maka aku akan berbohong kepadanya).—C* <. karena orang itu pasti lebih mengetahui tentang kepribadian Rasul. karena apabila Abu Sufyan berbohong. Dalam riwayat Ibnu Sakan. Aku adalah orang terhormat yang tidak senang dengan kebohongan." Abu Sufyan memang mempunyai garis keturunan yang dekat dengan Rasulullah. Abu Sufyan berkata. dengan tujuan agar Abu Sufyan merasa malu apabila berkata bohong. "Dia adalah orang yang paling dekat nasabnya. Mereka mengatakan.A b u Sufyan--. Dari ucapan ini terlihat bagaimana mereka sangat tidak senang dengan kebohongan baik itu menurut ajaran atau kebiasaan » * • mereka.J-j ul cii» (Aku berkata . Ketidakbohongan mereka disebabkan rasa malu. U LA—S (Bagaimana nasabnya diantara kalian)." j [. dan tidak ada dalam rombongan ini yang berasal dari Bani Abdi Manaf kecuali aku. karena dia berasal dari Bani Abdi Manaf. Lafazh ij^—iji yang digunakan bukan lafazh 'V-iSCj' menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak berbohong walaupun mereka bermusuhan dengan Nabi SAW. aku adalah orang yang paling dekat dengan nasabnya). Imam Bukhari menerangkan dalam kitab Al Jihad. Dalam riwayat Ibnu Ishaq. "Demi tuhan sekiranya aku berbohong." Jsi jii-i " a ^ J^iJi lii Jl» j ^ i (Apakah di antara kalian ada yang mengatakan perkataan ini sebelum dia). maka orang-orang yang hadir akan menamakannya pembohong. "Dia memiliki nasab yang terhormat. Hercules berkata. dia mengatakan Muhammad sebagai anak pamannya (sepupu) karena keduanya sama-sama cucu dari Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Ammi Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Lafazh jJ^U maksudnya bangsa a 60 — FATHUL BAARI . karena dia adalah sepupunya.

i a *.T i J j—L' i—'* i J\ (Dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh } bapak kalian). Dalam hal ini tidak termasuk orang yang keluar dari ajaran Nabi karena terpaksa. hal itu untuk menyatakan kejujurannya. (Apa yang diperintahkannya kepada kalian) karena setiap Nabi pasti memerintahkan kepada kaumnya. Maksud dari pemuka disini adalah orang-orang yang sombong dan eksklusif.—ST — » ( A p a k a h kalian menuduhnya sebagai pembohong). Abu Sufyan sengaja menyebutkan "nenek moyang"." Abu Sufyan berkata. sebagaimana dilakukan oleh Ubaidullah bin Jahsy. (bergantian menang dan kalah) Abu Sufyan menggambarkan seperti yang terjadi pada perang Badar dan Uhud. karena suatu tuduhan apabila hilang akan hilang pula sebabnya? J U. Ketika perang Uhud beliau meneriakkan. "Kami kalah ketika perang Badar dan aku tidak ikut dalam peperangan itu. ~. "Yang mengikutinya dari kalangan kami adalah orangorang yang lemah dan miskin. ^JiOi—." f ? i i i _ . atau benci kepada agama Islam.Quraisy dan Arab. * 'y\$i j& J>\'p. sedang pada perang Uhud ini kami memerangi mereka. Kalimat ini menggunakan kata menuduh (Tuhmah) dalam menanyakan kebohongan Rasul. dan kemenangan dan kekalahan dalam peperangan itu selalu silih berganti. akan tetapi karena sebab lain seperti melindungi diri. Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan. Kalimat ini memerintahkan kepada mereka untuk meninggalkan apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka pada zaman Jahiliyah. Pertanyaan ini ditujukan secara umum.*Su "iT'Ji j ly^aiL Li ^l 'j (Dan memerintahkan kepada kami untuk melakukan shalat dan berlaku jujur) Dalam riwayat lain dituliskan « J ^ I FATHUL BAARI — 61 . "Perang ini sebagai pembalasan perang Badar. Umar atau lainnya yang masuk Islam tidak termasuk dari perkataan 'Asyrafuhum' di sini. *—>'.jl#5 '•. J ^ L . bukan orang yang mendapat kehormatan atau terpandang. Sehingga Abu Bakar. bukan hanya kepada orang-orang yang diajak bicara atau yang hadir. sedangkan orang-orang yang terhormat tidak ada yang mengikutinya.% (Apakah ada pemuka-pemuka yang mengikuti ajarannya). karena mereka sangat tidak senang untuk menentang nenek moyang mereka hanya untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad. dan nenek moyang merupakan contoh agama penyembah berhala dan Nasrani." '4^—^ (kebencian).

" Adapun perkataan. Dalam kitab Jihad Bukhari meriwayatkan dari Abu Dzarr." begitu juga pengikut Nabi Muhammad akan terus bertambah sehingga apa yang dikehendaki Allah benar-benar sempurna. pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Islam. Ibnu Sakan menambahkan. " atau dalam ayat yang lain.» jf o ^ J i (Kamu katakan bahwa pengikutnya adalah orang-orang yang lemah) Hercules mengatakan. . bahwa hal itu tidak menjadi masalah sebagaimana perintah kepada mereka untuk menepati janji dan menjaga amanah." 62 — FATHUL BAARI .ji—i ^i'}>\ilJis'j (Begitu juga dengan keimanan) Artinya masalahmasalah yang berhubungan dengan keimanan. dalam arti bahwa keimanan telah menimbulkan kesenangan hati. Apa yang dikatakan oleh Hercules menunjuk-kan bahwa dia mengetahui berita tentang Muhammad dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. zakat. Begitu juga Bukhari dalam menafsirkan masalah "Zakat". s j — ' S fjti'i. oleh karena itu Allah menurunkan ayat Al Qur'an di akhir kehidupan Nabi. "dengan shalat.) \ iUiSJ (Para Rasul pun diutus dari nasab yang mulia diantara kaumnya). Saya katakan. ditambah lagi sebelum kalimat ini telah diterangkan bahwa mereka sangat tidak senang dengan kebohongan. sehingga Allah menghancurkan mereka dan menyelamatkan orang yang taat dan cinta kepada Rasulullah. dia berkata. j—LiJi i i — i i i J -kJLij 'o*. "dia memerintahkan kepada kami" setelah perkataan. karena dari keimanan akan tampak cahaya yang akan terus bertambah dengan melakukan ibadah seperti shalat.. "Sembahlah Allah" menunjukkan bahwa menyalahi atau melanggar kedua hal tersebut berdampak buruk pada pelakunya.(sedekah) bukan j l u J i (jujur). puasa dan lain-lain.(Ketika tercampur dengan cahaya hati). karena orang yang melanggar shalat akan menjadi kafir. i+—-y ^ — J c-i-r J . bahwa para pengikut Muhammad mayoritas sederhana tidak besar hati atau sombong yang diliputi dengan kebencian dan kedengkian seperti Abu Jahal dan pengikutnya. jujur dan sedekah. "Allah menolaknya kecuali telah sempurna cahaya-Nya. "Keimanan akan menambah kekaguman dan kebahagiaan. bahwa disebutkan shalat dengan zakat. "Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan Aku sempurnakan kepadamu nikmat-nikmatKu. adalah merupakan kebiasaan syariat. dan orang yang tidak jujur berarti telah berbuat dosa dan maksiat.

"Sekiranya benar dia seorang nabi aku pasti akan pergi kepadanya. Ditambah juga dengan perkataan Abu Sufyan. sehingga tidak mungkin mereka melakukan penipuan. Aku berusaha agar dapat bertemu dengannya. Adapun perkataan Hercules. Seandainya mereka tidak mencelakai diriku. seperti cerita "dhaqatir" yang dibunuh oleh kaumnya karena masuk Islam. tapi aku takut kepada orang-orang Romawi. karena 1 mereka tidak menginginkan dari dakwahnya kenikmatan dunia melainkan apa yang mereka harapkan hanyalah kenikmatan akhirat. ia hanya menanyakan tentang tanda-tanda kenabian sesuai dengan apa yang diketahuinya." Akan tetapi jika Hercules benar-benar memahami isi surat yang ditulis Rasulullah yang berbunyi "Masuklah ke dalam agama Islam maka kamu akan selamat. "Aku akan mencuci kakinya." maka dia tidak akan khawatir akan keselamatan dirinya. maka kerajaanku akan lenyap dan orang-orang Romawi akan membunuhku." Menunjukkan kesungguhan beribadah dan pengabdian kepada ajaran Islam." Dari perkataan. maka ia tidak menginginkan kekuasaan dan kedudukan." Dari perkataan Hercules ini menunjukkan adanya keraguan dalam dirinya. FATHUL BAARI — 63 . seperti perkataannya. " A k u mengetahui dia itu benar. bahwa pertanyaan yang diajukan oleh Hercules bukanlah pertanyaan yang berkenaan dengan kenabian. "Aku melihat jidatnya mengeluarkan keringat ketika membaca surat dari Muhammad. aku pasti akan mengikutinya. "Celaka kamu! Demi tuhan aku tahu bahwa dia memang seorang Nabi yang diutus. bahkan dia akan mendapatkan balasan pahala di dunia dan di akhirat. Hercules berkata. tetapi hanya mengharapkan keberkahan semata. Al Mazini berkata. "Aku menyangka Nabi yang akan datang bukan dari golongan kalian. Abdullah menambahkan. "Aku cuci kakinya" menunjukkan juga bahwa jika Hercules masuk Islam. ini menunjukkan bahwa dia tidak selamat dari pembunuhan apabila mengikuti agama Islam."' Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan. Kaisar berkata. akan aku cium kepalanya dan aku cuci kakinya. tapi aku tidak dapat melakukan apa-apa karena apabila aku melakukannya. apakah Muhammad benar-benar seorang Nabi yang diutus atau bukan. Dalam riwayat Thabari dari Abdullah bin Syadad dari Dihyah tentang cerita ini secara singkat." —ii L l j ^ i ) (Aku berusaha agar dapat bertemu dengannya).jj—JJ 'i J—l^Ji ii—iis"j (begitu juga Rasul tidak menipu).

Akan tetapi dalam kitab Tarikh Khalifah dikatakan." Dihyah adalah orang yang sangat menguasai bahasa Yaman. dia mengatakan bahwa Nabi menuliskan surat kepadanya di Tabuk. tapi dia tidak menjawabnya walaupun tempatnya dekat." Nabi berkata. karena Hercules ingin menguasai negera Syam seluruhnya. bahwa Dihyah menyampaikan surat kepada Hercules 64 — FATHUL BAARI . "Ketika kaum muslimin sampai di kota Ma'an. Bashra adalah kota antara Damaskus dan Madinah. Pendapat ini dikuatkan oleh sebagian ulama yang menyatakan.Dalam riwayat lain dikatakan beliau berkata. dia bukan seorang muslim. Dalam Musnad imam Ahmad dikatakan. Dialah sahabat yang diutus oleh Nabi untuk menyampaikan surat kepada Raja Hercules setelah pulang dari Hudaibiyah. salah satu kota di Syam. "Hercules menulis surat dari Tabuk kepada Nabi yang berbunyi. Dalam kitab Al Maghazi Ibnu Ishaq meriwayatkan. dan termasuk golongan sahabat yang masuk Islam pada periode pertama. Begitu juga diriwayatkan oJeh Ibnu Hibban dari Anas. "Dia bohong. "Musuh Allah telah berbohong. Dalam kitab Ash-Shahabah karangan Ibnu Sakan dikatakan. bahwa pertama kali Hercules memimpin kerajaannya dengan keimanan akan tetapi lama kelamaan dia memerangi kaum muslimin pada peperangan Mu'tah tahun ke-8 H yang berlangsung kurang dari 2 tahun. raja Hercules mengirim pasukannya sebanyak 100. memiliki wajah yang tampan. dia tetap dalam agama Nasrani. bahwa Dihyah sampai kepada Hercules pada tahun ke-5 H. Hal ini menunjukkan bahwa Hercules tetap hidup dalam kekafiran. Nabi berkata. ' ^ J J '•C^ i i i i j^>s (Pasti kerajaannya atau kekuasaan Muhammad ada dalam kekuasaanku). dia anak Khalifah Kalbi. Dihyah sampai kepada Hercules pada tahun ke-7 H sebagaimana dikatakan oleh Al Waqidi.000 orang musyrikin. serta takut ada upaya pembunuhan terhadap dirinya yang dilakukan oleh orang-orang Romawi. Dihyah meninggal dunia pada masa Mu'awiyah. "Saya seorang muslim." Dalam kitab Al Amwal karangan Abu Ubaid dari Mursal Bakar bin Abdullah Al Mazini dengan sanad yang shahih. Yang dimaksud adalah Masjidil Aqsha. tapi dimungkinkan dia menyembunyikan keimanannya untuk menjaga kekuasaan dan kerajaannya. salah seorang sahabat Nabi yang mulia. Gubernurnya pada waktu itu adalah Harits bin Abu Syamr Al Ghassani. namun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama.

tetapi Nabi menulisnya dengan kalimat " A z h i m " (pembesar) untuk tidak menghilangkan penghormatan kepadanya. "Apabila kamu menentang ajaran Islam maka kamu akan mendapat dosa yang berlipat ganda. Begitu juga kita dapat melihat pada isi surat berikutnya. dimana Adi bin Hatim pada waktu itu masih beragama Nasrani dan meninggal pada Fathu Makkah. "Wahai orang-orang yang beriman. bahwa sepupu Raja Hercules menolak surat itu karena tidak dicantum-kan "Raja bangsa Romawi. Dalam cerita Dihyah." Intinya bahwa Nabi tidak bermaksud mengucapkan salam kepada orang kafir selama orang itu tidak mengikuti ajaran Islam walaupun konteks kalimatnya menunjukkan hal itu. Bagaimana hukumnya mengucapkan salam kepada orang kafir? Maka para ahli tafsir mengatakan.bersama 'Adi bin Hatim." iijji (kamu akan mendapat) Dalam kitab Al Jihad dituliskan. karena kata JXi yang pertama adalah perintah untuk masuk agama Islam." juga sesuai dengan firman Allah. maka rakyatnya juga akan ikut masuk agama Islam. —*y *—Ai^ (Dengan kalimat ajaran Islam) atau dengan kalimat yang menyeru kepada agama Islam yaitu kalimat syahadat "Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. atau jika masuk agama Islam. »/j—^ (." i£j Ai j ? I J J* (Salam sejahtera bagi orang yang ikut jalan petunjuk). 'dfy. bahwa maksud dari salam ini bukan salam penghormatan. Hal itu dapat dilihat dalam konteks selanjutnya yang menjelaskan. sedangkan yang kedua dimaksudkan untuk selalu melaksanakan ajaran Islam. akan tetapi maksud salam di sini adalah salam atau keselamatan dari adzab Allah bagi orang yang masuk agama Islam. bahwa adzab Allah akan ditimpakan kepada orang yang menentang ajaran Islam." Hercules akan memperoleh pahala dua kali lipat. ^ | X i dengan mengulang kata |U-^ sebagai penguat (ta'kid). Jika ditanyakan. karena beriman kepada Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi tidak menyebutkan raja atau pemimpin bangsa Romawi. beriman-lah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. FATHUL BAARI — 65 . karena dia tidak mengikuti ajaran agama Islam. "Mereka akan memperoleh pahala dua kali lipat. sebagai-mana dalam firman Allah.^si (Pembesar Bangsa Romawi).

atau tidak mau mengikuti ajaran Islam.. tapi pendapat ini tidak benar. bahwa kata itu berasal dari bahasa Syamiah. Dimungkinkan dari 66 — FATHUL BAARI . bahwa ayat int turun dua kali. "Maka kamu menanggung dosa para pembajak. .^—'SJ ji_J (Apabila kamu berpaling). Memang pada hakikatnya kata berpaling dipakai untuk muka. akan tetapi pendapat ini ditentang oleh Ibnu Faris yang mengatakan. bahwa hukum ayat ini telah dihapus (Nasakh) dan tidak diperbolehkan membawa Al Qur*an ketika pergi ke daerah musuh. Al Jauhari mengatakan. sedang cerita Abu Sufyan pada tahun ke-6. sedangkan pendapat terakhir mengatakan.. 'J* -JJVI Menurut Ibnu Sayyidah 'iris' artinya pembajak. Ada yang mengatakan ayat ini turun diawal hijrah sesuai dengan perkataan ibnu Ishaq.) Ada yang mengatakan bahwa Nabi menulis surat ini sebelum turunnya ayat tersebut. (Wahai Ahli Kitab. akan tetapi lafazhnya cocok dengan ayat yang diturunkan oleh Allah. sementara menurut Kuta berarti pemim-pin. "Kamu mananggung dosa para Petani (Fallahin). "Apabila kamu tidak masuk ke dalam agama Islam. sebab orang-orang kecil (rakyat) selalu mengikuti orang-orang yang besar (pemimpin). J_*n . baik bekerja untuk sendiri atau untuk orang lain. karena sebab turunnya ayat ini mengenai utusan Nazaret (Najran) yang terjadi pada tahun ke-9. 1 sedangkan menurut Tsa'lab artinya petani. Berbeda dengan pendapat Ibnu Baththal yang mengatakan. Pelajaran yang dapat diambil Hadits ini mengindikasikan bahwa orang yang sedang junub boleh membaca satu atau dua ayat Al Qur'an. kemudian kata itu dipakai dengan pengertian menentang sesuatu. Menurut Al Khaththabi maksudnya adalah kamu akan menanggung dosa orang-orang yang lemah dan pengikut-pengikutmu apabila mereka tidak masuk agama Islam. dan ada pula yang mengatakan.. atau mengirim sebagian ayat-ayat Al Qur'an kepada musuh dan membawanya ketika bepergian. bahwa kata tersebut berasa! dari bahasa Arab. Ubaid meriwayatkan dari Abduilah bin Syadad. bahwa turunnya ayat ini bekenaan dengan orang-orang Yahudi." dalam riwayat Al Madaini.. Pembahasan ini diulas secara panjang lebar dalam pembahasan tentang Al Maghazi." atau dalam kitab Al Amwal. maksud dari "para petani" adalah rakyat. karena setiap yang bercocok tanam disebut dengan petani dalam bahasa Arab. Dalam riwayat Ibnu Ishaq dikatakan. maka kamu tidak akan dibiarkan oleh para petani dan kaum muslimin" Abu Ubaid berkata.

bahwa Abu Kabsyah masuk agama Islam dan memiliki anak perempuan yang bernama Kabsyah. & (Raja Bani Ashfar). dan sebagaimana kebiasaan bangsa Arab apabila ingin merendahkan seseorang. Tetapi terjadi perselisihan dalam masalah ini. Abu Kabsyah adalah kakeknya Wahab. karena Wahab mempunyai ibu yang bernama 'Atikah binti Auqash bin Murah bin Hilal. 11 ^'i-Jw^' o — U * (aku mengatakan kepada rekan-rekan ku). Khaththabi dan Daruquthni mengatakan. Dalam kitab Jihad ditambahkan perkataan Abu Sufyan.larangan tersebut adalah membawa mushhaf Al Qur'an ke daerah musuh. Maksud Ibnu Abi Kabsyah 1 adalah Rasulullah. tetapi diniatkan untuk berdzikir. yaitu suara yang bercampur dengan emosi. Akan tetapi Ibnu Hubaib mengatakan dalam kitabnya Al Mujtaba. Adapun bagi orang yang junub diperbolehkan apabila tidak diniatkan untuk membaca Al Qur'an. Abu Fatah Al Azadi dan Ibnu Makula mengatakan bahwa Abu Kabsyah adalah bapak susuan Nabi yang bernama Harits bin Abdul Izzi. "Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. suami dari Halimatus Sa'diyah. dan tidak ada orang yang ahli dalam ilmu nasab (keturunan) yang mengatakan bahwa Auqash mempunyai gelar Abu Kabsyah. Ada pula yang mengatakan Abu Kabsyah adalah kakeknya Abdul Muthalib dari jalur ibu." * — ^ J' (Anaknya Abu Kabsyah). Lafazh "shakhbu" artinya teriakan keras. Maksudnya adalah pertanyaan dan jawaban yang dikatakan oleh Hercules. bahwa kakek-kakek Nabi dari jalur bapak dan ibu seluruhnya dijuluki Abu Kabsyah. Ibnu Qutaibah. yaitu kakeknya Nabi dari jalur Ibu. dan ini juga masih diperselisihkan. Zubair mengatakan nama aslinya adalah Wajaz bin Amir bin Ghalib. Dalam kitab Jihad ditambahkan. dan tidak ada orang yang mengatakan. bahwa Amru bin Zaid mempunyai gelar Abu Kabsyah. karena Ibunya Abdul Muthalib bernama Salma binti Amru bin Zaid Al Khazraji. Yunus bin Bakir mengatakan. yaitu Rum bin 'Aish kawin FATHUL BAARI — 67 . "Ketika aku keluar dari tempat Hercules. maksudnya adalah bangsa Romawi. bahwa Abu Kabsyah berasal dari Khuza'ah yang tidak mengikuti orang-orang Quraisy dalam menyembah berhala. karena Abu Kabsyah adalah salah satu kakek Nabi. Abu Hasan mengatakan bahwa. Diceritakan bahwa kakek mereka. mereka menasabkan dengan kakek yang kedudukannya rendah. J —' 1 J'—»lili (ketika dia mengatakan apa yang dikatakannya).

Fathul Makkah dan tersebarnya agama Islam ke setiap penjuru. Kalimat "dia melihat bintang-bintang" merupakan penjelasan dari kata peramal. Kata suqfu berasal dari bahasa asing ('ajam) yang berarti pimpinan agama Nasrani. "Pada hari itu kaum mukminin mendapat kemenangan dari Allah. f^— -y '^—^ '*— J ^ U1 j l J**. serta muncul yang ketiga (20 tahun ketiga) waktu kemenangan Kota Khaibar. Kalimat ini sering digunakan untuk menunjukkan rasa malas. inilah yang diramalkan oleh Raja Hercules. maka anaknya memiliki kulit antara hitam dan putih. dukun) keadaan Hercules seperti seorang peramal. (Peramal. yaitu ketika pasukan Romawi mengalahkan pasukan Persia dan mengusir mereka. ( i — 1 | f JJ l o . Peristiwa itu terjadi bertepatan dengan kcberangkatan Nabi dan para sahabat untuk mengerjakan Umrah setelah perjanjian Hudaibiyah. Sedangkan apa yang dialami oleh Hercules menggambarkan perubahan dalam dirinya dari keadaan yang selalu senang kepada keadaan yang sangat menyedihkan. yaitu bintang komet. Bintang ini muncul pertama kali (20 tahun pertama) ketika Nabi Muhammad lahir.(Sampai Allah memasukkan ke dalam hatiku cahaya keislaman) atau menumbuhkan keyakinan pada diriku. Perkara ini merupakan salah satu kebiasaan pada zaman jahiliyah. " Nabi sangat membenci perkataan itu. Ibnu Hisyam dalam kitab At-Tijani mengatakan bahwa gelar "Asfar" tersebut dikarenakan istri Nabi Ibrahim yang bernama Saran mengusap badan Rum dengan emas. " ^~—«Si ~—(keadaannya sangat jelek) artinya keadaan Hercules pada waktu itu sangat menyedihkan. Nabi bersabda dalam haditsnya. "Janganlah mengatakan di antara kamu keadaanku sangat jelek (Khabatstu Nafsi). bintang ini muncul setiap 20 tahun sekali.dengan anak perempuan raja Habasyah (Ethiopia). Disamping itu bintang komet telah menunjukkan akan munculnya seorang pemimpin 68 — PATHUL BAARI .(Ketika Hercules datang ke kota Iliya). karena para peramal mengandalkan dua kemampuan. sebagaimana disebutkan oleh Tirmidzi dalam menafsirkan ayat. pertama dengan bantuan setan dan kedua dengan melihat bintang-bintang. Kaum muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi. Hercules meramal kedatangan dakwah Nabi dengan bintangbintang. dan yang kedua muncul (di akhir 20 tahun kedua) ketika malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad. yaitu kekuning-kuningan.

sebagaimana dikatakan bahwa pada hari itu adalah permulaan munculnya kenabian Muhammad. baik dari seorang dukun. Ketika orang-orang kafir melakukan perjanjian dengan kaum muslimin dalam perjanjian Hudaibiyah. Raja Ghassan adalah pe-mimpin daerah Bashra yang telah kami jelaskan sebelumnya. Ibnu Sshaq meriwayatkan bahwa orang tersebut menerangkan. Apabila dikatakan mengapa Bukhari mengangkat permasalahan ahli Nujum (peramal) dan mempercayai apa yang dikatakannya? Jawabnya.bagi orang-orang yang sudah disunat (khitan). 'fk. manusia atau jin." dimana Fathu Makkah terjadi karena orang-orang kafir mengingkari perjanjian Hudaibiyah. J—i'„ J J — ( D a t a n g Hercules dengan membawa seorang lakilaki) dan tidak disebutkan siapa yang dibawanya. tetapi mereka tetap memiliki kekuasaan.l. ada juga yang mengatakan khusus bangsa Arab. akan tetapi beliau bermaksud unmk menunjukkan \ e p a d a kita bahwa banyak sumber yang membenarkan akan datangnya kenabian k e p a d a N a b i Muhammad. J* 'jS (Setelah mereka melakukan musyawarah). Bukhari tidak bermaksud seperti itu. Ibnu Sakan meriwayatkan bahwa orang yang dibawa oleh Hercules adalah Adi bin Hatim. hal itu menurut pandangan ahli Nujum bahwa raja yang disunat akan mendapat kemenangan. Walaupun sebagian mereka ada di bawah kekuasaan bangsa Romawi seperti kaum Ghassan. Ada yang mengatakan bahwa lafazh Hiza' mengandung arti seorang neramal yang dapat m e n c a n g k a n tentang nasib seseorang hanya dengan melihat anggota tubuh dan wajahnya. Adapun dikatakan "kecuali orang-orang Yahudi" dalam hadits di atas adalah sesuai dengan pengetahuan mereka.1J J— * (telah nampak) Artinya mendapat kemenangan. Hal itu menunjukkan bahwa kekuasaan atau kerajaan akan pindah ke tangan bangsa Arab. Wallahu a'lam. maka Allah menurunkan ayat Al Qur'an. Ada yang mengatakan seluruh manusia yang hidup pada masa itu. berbeda dengan bangsa Arab. peram?. "Sesungguhnya kami telah memberikan kemenangan kepada kalian dengan kemenangan yang nyata. s__ivi 1 j—? (Dari umat ini). karena orangorang Yahudi banyak yang tinggal di Uiya (Bainil Maqdis) di bawah kekuasaan bangsa Romawi. orang yang bathil. orang yang benar. ada FATHUL BAARI — 69 .

"Dimungkinkan surat yang dibawa oleh Dihyah bukan surat yang ditulis setelah perjanjian Hudaibiyah. Wallahu a'lam. Setelah surat itu disampaikan kepada sesepuh Romawi. bahwa dia tidak masuk Islam dan tidak dibunuh. Dalam suatu riwayat Raja Ghassan berkata. dia memproklamirkan keislamannya dengan menanggalkan pakaian yang dikenakan dan menggantinya dengan pakaian berwarna putih. karena sesepuh Romawi yang lebih terpandang di mata mereka. Pada saat itu Hamas keadaannya lebih 70 — FATHUL BAARI . "Kalau aku mengikutinya maka kekuasaanku akan hilang. orang-orang Romawi membunuhnya. walaupun orang-orang Romawi akan menentangku setelah ini. kemudian keluar dan menyeru rakyat Romawi untuk memeluk agama Islam dan mengucapkan kalimat syahadat. "Inilah yang kami tunggu-tunggu. "Telanjangi dia apakah dia sudah disunat!." dan ketika pendeta itu keluar. JJ* J-'i (kemudian Hercules kembali ke Hamas) karena disanalah tempat kerajaannya. dia berkata kepada Dihyah. ketika mereka keluar dia disuruh masuk oleh Hercules dan meminta pemimpin agama Nasrani (pendeta) untuk datang sambil memberi kabar apa yang didengarnya. diantara mereka ada ikatan yang sangat kuat. banyak orang yang mengikutinya dan banyak pula yang menentangnya. Menurut cerita Dihyah. sesungguhnya aku telah mempercayai serta membenarkannya. "Sudah aku katakan kepadamu bahwa aku takut akan keselamatan diriku. Raja Hercules juga memerintahkanku untuk mendatangi sesepuh bangsa Romawi." Sedangkan cerita tentang sesepuh bangsa Romawi ada dua versi. sebagaimana Nabi Isa telah mengabarkan dan aku mempercayai serta mengikuti ajarannya. pendeta itu berkata.seorang dari kaumnya yang mengaku dirinya sebagai Nabi. lalu orang-orang Romawi langsung membunuhnya." Hercules berkata. Setelah Dihyah kembali ke Hercules. pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Ishaq. tetapi surat yang ditulis ketika perang Tabuk yang tidak ada kata "masuklah ke dalam agama Islam maka kamu akan selamat." Ibnu Hajar berkata." Rumiyah adalah Kota terkenal di Romawi. "Pergilah ke temanmu (Muhammad) sampaikan salamku kepadanya dan katakan aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Pertama dikatakan. pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Nathur. "Demi tuhan aku melihatnya dia sudah disunat." maka pendeta menyerahkan surat itu kepadaku dan berkata. <-^u> j* ^ i i f M J~ (sampai datang kepadanya kitab dari temannya). tetap dibunuh. sedangkan yang kedua dikatakan bahwa dia masuk Islam dan dibunuh." utusan itu berkata.

Mereka disamakan dengan keledai karena kebodohan dan kesesatannya.'j f \ iUi JISJ (Ini adalah keadaan terakhir Hercules). J—i'j* J—3. kemudian mengutus Dihyah untuk menghadap Hercules. Dalam Kitab Musnad dari jalur Sa'id bin Abi Rasyid disebutkan. karena mereka takut kehilangan kekuasaan.O — j i j yang terjadi sebelumnya. setelah itu seluruh pintunya ditutup. Hercules menginginkan agar mereka mendukungnya dengan sama-sama masuk Islam dan tetap taat kepadanya. cerita ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. bahwa utusan Hercules berkata. ^—i • — ' j (Bahwa dia seorang Nabi) Perkataan ini menunjukkan bahwa Hercules dan temannya telah mengakui keislamannya. dengan begitu kekuasaannya tetap langgeng. Ketika Dihyah sampai. dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat kepadanya dua kali. Mereka diumpamakan dengan keledai liar. karena mereka lari lebih kencang dari larinya binatang. dia hanya dapat memilih meninggalkan rakyat Romawi serta kekuasaannya dan masuk ke agama Islam untuk mencari keridhaan Allah. "Rasulullah datang ke Tabuk. {^-T j> (dari keimanan) yaitu dari keimanan mereka yang dilihat oleh Hercules. kemudian Hercules mengirimkan emas kepada Nabi dan dibagikan kepada para sahabatnya. Tetapi pilihan itu tidak didapatinya. FATHUL B A A R I — 71 .baik daripada Damaskus. (agar kekuasaanmu tetap) karena jika mereka keluar dari agama Nasrani maka hilanglah kekuasaan Hercules. untuk mengabarkan kepada mereka apa yang dia dengar. bahwa dia mengutus pasukannya untuk menghadapi kaum muslimin pada perang M u ' t a h dan Tabuk. Ummat Islam menaklukkan kota itu pada tahun ke 16 H dibawah panglima Islam Abu Ubaidah bin Jarrah. bukan berarti setelah itu Hercules meninggal dunia atau Hercules mengalami seperti apa yang dialami pendahulunya.^SL_lo (Istana yang sekililingnya ada rumah). Ada beberapa versi tentang keadaan Hercules setelah itu. kemudian Hercules meminta pembesar-pembesar Romawi untuk masuk ke istana tersebut. seperti \JA^> (Mereka kabur). . akan tetapi Hercules tidak masuk agama Islam. \—sXL. Hercules melakukan hal itu karena takut dirinya akan mengalami seperti apa yang dialami oleh sesepuh Romawi. yang berhubungan dengan seman agama Islam. ada yang mengatakan. maksudnya.

Umar dan Ibnu Umar? Pendapat yang kuat mengatakan bahwa dialah orangnya yang diperangi kaum muslimin. aku hanya ingin mengetahui akan keimanan kalian kepada agama kita. Hercules berkata." Ibnu Ishaq dari Khalid bin Bisyr meriwayatkan. bahwa dalam hadits itu digambarkan keadaan orang-orang terhadap Nabi pada awal dakwahnya. tapi sebaliknya apabila niatnya tidak benar. Kemudian Hercules pergi meninggalkan negeri Syam. Pertama masuk agama Islam. karena ayat Al Qur'an yang dituliskan kepada Hercules berisikan seruan kepada agama Islam yang mengandung makna yang sama dengan ayat yang ada di permulaan bab ini. akan tetapi mereka menentangnya. apakah dia yang diperangi oleh kaum muslimin pada masa Abu Bakar. kedua membayar jizyah (pajak) dan ketiga melakukan perdamaian kepada Nabi tanpa ada peperangan lagi. Dari sini terlihat kesesuaian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Nathur tentang permulaan turunnya wahyu dengan hadits yang membicarakan niat sebagai dasar suatu perbuatan. "Sesungguhnya kami berikan wahyu kepadamu 72 — FATHUL BAARI . dan kedua Hercules masih ragu akan kenabian Muhammad sehingga dia meninggal dalam keadaan kafir. maka dia akan merugi. ketika sampai di perbatasan dia mengucapkan salam kepada negeri Syam. Ada perbedaan pendapat. kemudian dia menceritakan apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Imam Bukhari hanya meriwayatkan cerita ini dengan perkataan "inilah keadaan terakhir Hercules. Catatan Keimanan Hercules menjadi samar dalam pandangan kaum muslimin karena dua kemungkian. bangsa Romawi diberi pilihan. bahwa ketika Hercules ingin keluar dari Syam untuk pindah ke Kostantinopel.Hercules memanggil pembesar-pembesar dan para pendeta bangsa Romawi." seakan-akan Bukhari ingin mengatakan apabila niat Hercules benar maka akan memberikan kepadanya sesuatu yang baik. mereka kebingungan sehingga sebagian mereka ada yang keluar dari perkumpulan itu. "Kalian diam dulu." Beliau menutup bab ini dengan perkataan tersebut setelah dibuka dengan hadits "Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya. pertama Hercules tidak ingin memproklamirkan keislamannya karena takut dirinya dibunuh. yaitu salam perpisahan dan setelah itu dia hidup di Kostantinopel. Apabila ada yang bertanya dari sisi mana korelasi antara hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sufyan tentang Hercules dengan permulaan turunnya wahyu? Jawabnya adalah.

bahwa beberapa orang meriwayatkan kepadaku dari Qadhi Nuruddin bin Shaiq Dimasqi dia berkata. maka kekuasaan tetap berada pada kami. Suhaili mengatakan bahwa Hercules meletakkan surat itu di kotak yang terbuat dari emas sebagai penghormatan bagi Rasulullah. " Ketika Nabi menerima jawaban dari Raja Kisra." dia mengeluarkan kotak yang terbuat dari emas yang dikeluarkan dari kotak itu kotak yang terbuat dari emas. dan dikeluarkan dari kotak itu surat yang terlihat sudah lama sekali. dan dia perlihatkan surat itu oleh Raja Francs. tapi tidak diperbolehkan. kami mewarisinya turun temurun dan menyembunyikan dari rakyat kami. Ketika Abdul Malik melihat surat itu. tapi dia melarangnya. aku telah menulis kepada rajamu dan dia menjaganya. "Ini adalah surat dari Nabimu yang dikirimkan kepada kakekku (Kaisar Hercules). surat itu akan tetap ada pada mereka tapi tidak ada keberanian dari mereka walaupun telah mencapai kehidupan bahagia.sebagaimana kami memberikan wahyu kepada Nabi Nuh. dia meminta izin untuk dapat mencium surat itu. "Adapun mereka (Kisra) akan merobek-robek. Dia berkata." sehingga inti ayat ini adalah seruan untuk menengakkan agama Islam. "Aku akan memberikan hadiah yang sangat berharga. beliau berkata. telah menceritakan kepadaku Saifuddin Falih Al Masyhuri dia berkata. " atau "Allah telah mensyariatkan ajaran-ajaran agama kepada kalian seperti Allah wasiatkan kepada Nuh. bahwa Rasulullah menulis ke raja Kisra dan Kaisar Romawi. "Aku diutus oleh raja Manshur Qa\awun untuk membawa hadiah ke raja Maghribi. sedangkan mereka (Romawi) surat itu akan selalu ada pada mereka." atau dalam riwayat Abu Ubaid dalam kitab Amwal." Ini sesuai dengan perkataan Nabi kepada utusan Hercules. Bapakku mengatakan kepada kami. "Wahai saudara Tanukh. "Allah akan FATHUL B A A R I — 73 . dan kotak ini diwariskan turun temurun sampai kepada Raja Francs (Francs adalah nama salah satu kabilah Jerman yang bertempat di Perancis pada abad ke 5 dan mendirikan kerajaan pertama. bertemu dengan Raja Francs. Beberapa sahabat saya menceritakan kepada saya bahwa Abdul Malik bin Sa'ad salah saru panglima kaum muslimin. setelah sampai di sana aku dipertemukan dengan Raja Francs. selama surat ini ada pada kami. Saya (Ibnu Hajar) katakan. Aku ingin tinggal disana sementara waktu." Rasulullah berkata. kemudian Raja Kisra merobek-robek surat itu sedangkan Kaisar (Romawi) menjaganya. dia berkata. sedangkan di Timur nama tersebut dikenal sebagai sebutan orang-orang salib atau orang Eropa secara umum).

menghancurkan kerajaannya. beliau berkata." Wallahu a'lam. 74 — FATHUL BAARI ." sedangkan ketika datang jawaban dari Raja Romawi. "Allah akan menjaga kerajaannya.

FATHUL BAARI — 75 .

Al Mudatstsir (74): 31) "Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman. "Keyakinan adalah sumber keimanan. sebagaimana firman Allah. " (Qs." (Qs. Al Baqarah (2): 260) Muadz berkata. SABDA NABI. Maryam (19): 76) "Dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan. maka perkataan itu menambah keimanan mereka. Barangsiapa yang menyempurnakan semua hal tersebut maka telah sempurna imannya. mari kita memperbarui iman kita dengan berdzikir sejenak. "Dan Allah akan menambahkan petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Aali Imraan (3): 173) "Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan kedudukan. Nabi Ibrahim berkata." (Qs. Al Fath (48): 4) "Dan Kami tambahkan ke-pada mereka petunjuk. " (Qs. Al Kahfi (18): 13). dan barangsiapa yang tidak menyempurnakannya maka belum sempurna imannya. Muhammad (47): 17) "Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya. Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi yang berbunyi. "Sesungguhnya iman itu terdiri dari kewajibankewajiban. At-Taubah (9): 124) "Karena itu takutlah kepada mereka. " (Qs. akan tetapi jika aku meninggal maka aku tidak dapat menjelaskannya kepadamu. Jika aku panjang umur. maka surat ini menambah iman-nya." (Qs. "Akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku-. sungguh aku akan menjelaskannya kepada kalian hingga kalian semua mengetahuinya." (Qs. "DASAR ISLAM ADA PERKARA" LIMA Iman itu adalah perkataan dan perbuatan. "Supaya keimanan mereka bertambah. dapat bertambah ataupun berkurang." (Qs." 76 — F A T H U L BAARI . hukum-hukum dan sunah-sunah. Al Ahzaab (33): 22) Mencintai dan membenci seseorang karena Allah adalah termasuk tanda-tanda iman.1." Ibnu Mas'ud berkata. "(Qs. "Duduklah bersama kami. syariat-syariat.

Ungkapan "Iman adalah perkataan dan perbuatan. dapat bertambah dan berkurang" terdiri dari dua kalimat. Ulama terdahulu mengatakan bahwa iman adalah mempercayai dengan hati. Oleh karena itu. atau harus diwujudkan dalam bentuk perbuatan seperti mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan? Permasalahan ini akan kami jelaskan Insya Allah. Adapun gologan Mu'tazilah berpendapat. barangsiapa yang sudah berikrar F A T H U L BAARI — 77 .Ibnu Umar berkata. sedangkan para ulama terdahulu menjadikan "perbuatan" sebagai syarat kesempurnaan iman. Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah mengenai mengenai. sehingga muncullah pernyataan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang seperti yang akan dijelaskan kemudian. dan yang kedua iman adalah dapat bertambah dan berkurang. diucapkan dengan lisan. Dalam hal ini. " Dan Mujahid menafsirkan ayat. sedangkan yang dimaksud dengan "perbuatan" adalah mencakup perbuatan hati (keyakinan) dan perbuatan anggota badan (ibadah). bahwa iman adalah perbuatan. Menurut mereka. AsySyuura (26): 13) bahwa maksudnya adalah "Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai Muhammad dan kepadanya satu agama. sehingga sebagian mereka memasukkan "perbuatan" dalam definisi "iman " dan sebagian yang lain tidak memasukkannya. mengamalkan dengan anggota badan adalah merupakan syarat kesempurnaan iman. ada perbedaan sudut pandang di antara para ulama. " (Qs. Sedangkan golongan Karramiyah mengatakan. bahwa iman cukup diucapkan dengan lisan saja. apakah disyaratkan mengucapkan iman dengan lisan. yaitu. Golongan Murji'ah berpendapat. dan diamalkan dengan anggota badan. sedangkan menurut istilah adalah mempercayai Rasulullah dan berita yang dibawanya dari Allah. Yang dimaksud dengan "perkataan" adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini disebabkan perbedaan sudut pandang mereka berdasarkan hukum Allah SWT. " Iman menurut bahasa adalah tashdiig (mempercayai). " (Qs. ucapan dan keyakinan. Tetapi jika berdasarkan hukum manusia. "Disyariatkan kepada kalian. "Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud dari "Aturan dan jalan yang terang. "Seorang hamba tidak akan mencapai ketakwaan yang hakiki hingga ia meninggalkan keraguan di dalam hatinya. pertama iman adalah perkataan dan perbuatan. bahwa iman adalah mempercayai dengan hati dan mengucapkan dengan lisan. Letak perbedaan mereka dengan ulama terdahulu adalah karena mereka menjadikan amal (perbuatan) sebagai syarat sahnya iman. maka iman hanya cukup dengan pengakuan saja. Al Maa'idah ( 5 ) : 48) adalah jalan dan sunnah.

" Abu N u a ' i m menambahkan bahwa iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang 78 — F A T H U L BAARI . bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Untuk itu ia dianggap sebagai orang kafir jika terbukti melakukan perbuatan kufur dan dianggap sebagai orang yang beriman berdasarkan hakikat keimanan itu sendiri. Dalam hal ini kelompok moderat mu'tazilah mengatakan. Jika perbuatan yang dilakukannya dapat menyebabkan kefasikan. bahwa setiap orang mengetahui bahwa apa yang ada dalam hatinya selalu pasang surut. maka ia dianggap sebagai orang yang beriman berdasarkan pengakuan yang diucapkan mulutnya. Fudhail bin Iyadh dan Imam Waki' meriwayatkan juga dari Ahlu Sunnah wal Jama'ah. kecuali ia terbukti melakukan perbuatan yang menyebabkan kekufuran seperti menyembah berhala.(percaya kepada Allah) maka ia dianggap sebagai mukmin. dimana pada suatu saat ia merasa imannya lebih kuat dan ikhlas serta lebih bertawakkal. bertambah dan berkurang. "Saya mendengar Imam Syafi 'i mengatakan." Ibnu Abi Hatim menjelaskan tentang periwayatan hal tersebut dengan sanad-sanad dari para shahabat dan Tabiin dan semua Ulama yang mengadakan ijma' (konsensus) dalam masalah ini. Oleh karena keimanan Abu Bakar lebih kuat dari pada keimanan orang lain karena keimanan beliau tidak bercampur keraguan sedikit pun. bertambah dan berkurang. bahwa Imam Bukhari mengatakan. ulama salaf berpendapat bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. dan Hakim mengatakan di dalam manaqib Syafi 'i. "Abu Al Abbas Al Asham menceritakan kepada kami. Dia menguatkan pendapat ini dengan mengatakan. bahwa Rabi'mengatakan. bahwa orang fasik tidak beriman dan tidak pula kafir. maka masih ada keraguan di dalamnya. Pendapat ini ditentang oleh ahli kalam. Syaikh Muhyiddin mengatakan yang benar adalah bahwa keyakinan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan banyaknya melihat dan mengkaji serta adanya dalil-dalil yang jelas. Dia meriwayatkan dari Iman Bukhari dengan sanad shahih. namun saya tidak menemukan satu pun dari mereka yang berbeda pendapat bahwa Iman adalah perkataan dan perbuatan. karena menurut mereka hal itu berarti ketika iman belum bertambah dan berkurang. Begitu juga yang diriwayatkan Abui Qasim dalam Kitab Sunnah dari Imam Syafi 'i dan Ahmad bin Hambal serta Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ubaid dan ulama lainnya. "Saya sudah menemui lebih dari seribu Ulama di berbagai penjuru. Sedangkan masalah kedua. tetapi ia dianggap tidak beriman berdasarkan kesempurnaan imannya.

benci." Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Amru bin Al Jumuh. Adi bin Adi atau Ibnu Umairah Al Kindi adalah seorang tabi'in dan putra salah seorang sahabat. maka sesungguhnya imannya telah sempurna." F A T H U L BAARI — 79 . dan sunan adalah hal-hal yang disunnahkan. hal ini berdasarkan perkataannya. sesungguhnya Iman itu mempunyai kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat) sampai akhir. yaitu iman bisa berkurang. sedangkan syariat adalah ajaran atau akidah agama. dia adalah pegawai Umar bin Abdul Aziz di kawasan jazirah. " Kemudian Imam Bukhari membuktikan dengan Ayat-ayat Al Qur'an yang me-nerangkan bahwa iman itu bisa bertambah. bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. yang dengan sendirinya dia dapat membuktikan sebaliknya. memberi dan menolak karena Allah." Sedangkan Al Bazar meriwayatkan. "Ciri-ciri iman paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah" Dalam haditsnya. Imam Bukhari menyebutkan. Ini adalah hadits yang dikeluarkan Abu Daud dari hadits Abu Umamah dan hadits Abu Dzarr.dengan kemaksiatan. "Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya." Dalam hadits lain dia menambahkan. Adapun Hudud (hukum) adalah larangan-larangan yang diharamkan. "Seorang hamba tidak akan mendapatkan realitas iman hingga dia mencintai sesuatu karena Allah dan membenci sesuatu karena Allah. "Dan memberi nasehat karena Allah. Adapun hadits Abu Dzarr adalah. "Iman bisa mencapai titik kesempurnaan dan bisa juga tidak. "Tanda-tanda iman adalah mencintai kaum Anshar." Tirmidzi meriwayatkan dari hadits M u ' a d z bin Anas seperti hadits Abu Umamah namun Ahmad menambahkan. "Perbuatan paling baik adalah cinta dan benci karena Allah. Maksud kewajiban adalah perbuatan yang diwajibkan. "Dan menggerakkan lisannya untuk menyebut nama Allah. (Amma ba'du." Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk mengatakan. oleh karena Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepadanya yang isinya." Sedangkan hadits Abu Umamah. "Cinta dan benci karena mencari keridhaan Allah adalah sebagian dari iman. Kemudian beliau membacakan firman Allah. Tujuan riwayat ini untuk menyatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah termasuk orang yang mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. "Barangsiapa cinta. karena cinta dan benci mempunyai tingkatan yang berbeda.

tambahlah keimanan. Mujahid dan lainnya telah mengacu kepada ayat ini. "Keyakinan keseluruhannya adalah iman. dia mengatakan." Ibnu Mas'ud berkata. "Duduklah bersama kami untuk beriman sejenak." Apabila hal tersebut benar-benar perkataan Nabi Ibrahim sedangkan Nabi Muhammad telah diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim maka seakan-akan hal tersebut juga berasal dari Nabi Muhammad. hal itu karena Imam Bukhari mengambil dalil dari ayat-ayat sebelumnya secara tekstual." Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Hakim dari Ibnu Mas'ud. Ibnu Jarir meriwayatkan kepada Said dengan sanadnya yang shahih. bahwa dia berkata. "Ya Allah. dia mengatakan."Nabi Ibrahim berkata." 80 — PATHUL BAARI . Qadhi Abu Bakar bin Arabi mengatakan. dimana potongan berikutnya adalah "Dan kesabaran adalah setengah dari iman. karena maksud M u ' a d z adalah ingin memperbaharui keimanannya." Ini adalah potongan hadits yang disampaikan oleh Thabrani dengan sanad shahih. sedangkan beliau mengambil dalil dari ayat ini secara kontekstual. "Hal itu tidak ada hubungannya dengan usaha untuk menambah keimanan. Al Baqarah (2): 260) Penafsiran Said bin Jubair." Kemudian keduanya duduk berdzikir dan memuji Allah. "Akan tetapi agar hatiku tetap mantapdengan imanku-" (Qs. Dari perkataan ini jelas bahwa maksud M u ' a d z adalah untuk menambah keimanan dengan berdzikir kepada Allah bukan untuk mulai beriman. Perkataan M u ' a d z bin Jabal kepada Al Aswad bin Hilal. selanjurnya ia hanya memperbaharui dan memperbaikinya setiap kali melihat dan berfikir. "Perkataan Ibrahim "agar hatiku tetap mantap" mempunyai arti agar keyakinanku bertambah. Tetapi Imam Bukhari memisahkan ayat "Akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku " dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang iman dapat bertambah dan berkurang. Sedangkan riwayat dari Mujahid. keyakinan dan pemahaman kami. karena Mu'adz adalah orang yang sudah beriman. Sebab seorang hamba diwajibkan untuk beriman pada awalnya saja. "Supaya aku menambah keimanan disamping keimananku yang sudah ada.

Al Bayyinah ( 9 8 ) : 5) F A T H U L BAARI — 81 . "Kesempurnaan takwa. keyakinan merupakan dasar daripada iman. Makna perkataan Ibnu Umar tersebut dapat ditemukan dalam hadits Athiyah. Imam Ahmad dan lainnya berpendapat. " Imam Syafi'i. "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)agama yang lurus. Jika keyakinan itu telah tertanam dalam hati. "Seseorang tidak termasuk diantara orang-orang yang bertakwa sehingga dia meninggalkan apa yang tidak meragukan karena berhati-hati terhadap apa yang menimbulkan keraguan. "Seandainya keyakinan benar-benar bersemayam dalam hati. dia berkata. bahwa perbuatan adalah termasuk iman. Untuk itu Sufyan Tsauri mengatakan. Untuk itu saya katakan. Kalimat "keraguan" dalam hadits ini mengindikasikan bahwa sebagian kaum muslimin telah mencapai hakikat keimanan dan sebagian yang lain belum mencapai tingkatan tersebut. maka ia akan terbang ke surga dan menjauhi api neraka" Yang dimaksud dengan takwa dalam hadits Ibnu Umar "Seorang hamba tidak akan mencapai ketakwaan yang hakiki hingga ia meninggalkan keraguan di dalam hatinya " adalah menjaga diri dari kesyirikan dan menekuni perbuatan-perbuatan yang baik. yaitu hendaknya kamu bertakwa kepada Allah hingga meninggalkan apa yang kamu lihat halal karena takut akan menjadi haram. Pendapat ini berdasarkan firman Allah." Ibnu Abi Dunya telah meriwayatkan dari Abu Darda.Catatan: Hadits ini berkaitan erat dengan pendapat yang mengatakan. maka semua anggota tubuh termotivasi untuk melakukan perbuatan yang baik." (Qs. bahwa maksud Ibnu Mas'ud adalah. bahwa Rasulullah bersabda. bahwa iman hanya sekedar keyakinan.

Dalam akhir riwayatnya. Membayar zakat. Apabila dikatakan bahwa empat dasar (pokok) di atas berdiri di atas dasar syahadah. Abdurrazaq menambahkan. Apabila dikatakan. Menunaikan ibadah haji. karena jihad diwajibkan sebelum terjadinya perang Badar. 2. "Jihad adalah perbuatan baik. 2. sedang perang Badar sendiri terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah.j u 1 * berarti lima perkara atau lima dasar (pokok). 5. maka tidak sah jika belum melaksanakan syahadah. Mendirikan shalat. Catatan : 1. "Kenapa dalam syahadat tidak disebutkan iman kepada para Nabi dan — FATHUL BAARI 82 . Jihad tidak termasuk dalam hadits ini.D O A A D A L A H I M A N Jji j ^ til^i of. Puasa bulan Ramadhan. karena hukum jihad adalah fardhu kifayah dan jihad tidak diwajibkan kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu." Lain halnya dengan Ibnu Baththal yang menganggap bahwa hadits ini muncul pada periode awal Islam sebelum diwajibkannya jihad.2. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah (dua kalimah sahadat). ^ s s - Vi? ' OUwj f j W J p ^ ^ J *^"_}^ o!)CaJl fl»! j 8. Dari Ibnu Umar R A berkata. (Kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah). dimana pada tahun itu juga diwajibkan puasa. zakat dan haji menurut pendapat yang benar. "Dasar (pokok-pokok) Islam ada lima perkara: I. 3. 4. bahkan merupakan jawaban yang salah. Memang jawaban ini masih dapat dikritik. ilii ni y'i Si of slip. Inilah jawaban Ibnu Umar tentang masalah jihad. "Rasulullah SAW bersabda. Tetapi dalam riwayat Imam Muslim disebutkan lima rukun. ^ — ' .

Malaikat dan lainnya sebagaimana yang ditanyakan oleh Jibril? Jawabnya. Maka jika dikatakan "Aku bersaksi atas kebenaran risalah Muhammad" berarti aku bersaksi atas kebenaran semua ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Namun pada hadits Imam Muslim dari riwayat Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar. yaitu hadits yang diriwayatkan berdasarkan maknanya. FATHUL BAARI — 83 ." Maksud mendirikan shalat adalah menjalankan atau melaksanakan shalat. puasa Ramadhan dan haji. atau karena ia lupa. Arti hadits secara umum menyatakan bahwa orang yang melaksanakan semua hal yang disebutkan. "Aku membaca Aihamdu". "Haji dan puasa Ramadhan. sedang maksud mengeluarkan zakat adalah mengeluarkan sebagian harta dengan cara khusus. "Hal ini merupakan penamaan sesuatu dengan menyebutkan bagiannya. Hal ini bisa jadi disebabkan beliau tidak mendengar sanggahan Ibnu Umar pada hadits di atas. dapat dikhususkan dengan arti tekstual Al Qur'an. Seseorang berkata. seperti seseorang mengatakan. puasa disebutkan lebih dahulu daripada haji. "Dan orang-orang yang beriman. Ath-Thuur(52): 21) Dalam hadits di atas. "Tidak. dengan begitu kalimat syahadah telah mencakup semua masalah yang berhubungan dengan akidah. Pemahaman ini dikhususkan dengan firman Allah." Ini menunjukkan bahwa hadits riwayat Handhalah yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari merupakan hadits bil makna. bukan berdasarkan lafazh yang diriwayatkan dari Rasulullah. maka Islamnya sah. Imam Bukhari lebih dahulu menyebutkan haji dari pada puasa. bahwa maksud dari syahadah adalah membenarkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah." lalu Ibnu Umar berkata. Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits di atas adalah bahwa pemahaman makna umum sunnah Rasul. maksudnya aku membaca surat A! Fatihah. Untuk menentukan keabsahan keislaman seseorang. Ismaili mengatakan. Sebaliknya orang yang tidak melaksanakan semua yang disebutkan. dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. " (Qs. maka Islamnya tidak sah. Al Baqillani mensyaratkan terlebih dahulu pengakuan terhadap keesaan Allah (tauhid) sebelum mengakui risalah.

kitab-kitab. malaikat-malaikat.M A S A L A H IMAN D A N F I R M A N A L L A H <—?. hari kemudian. Pendapat ini juga dikuatkan adanya tafsir Bukhari yang lebih mendahulukan lafazh puasa dari pada zakat. Wallahu A 'lam. 84 — F A T H U L BAARI . namun beliau lupa salah satu dari kedua hadits tersebut ketika memberikan sanggahan kepada pernyataan seseorang dalam hadits di atas tadi.^—£ j£j s^ y s J o^ij v^i'j ' 0 ASjidij * ^ jftf ' 0 Ji s ' y — i J J^CaJlj Ij-UL P lii '<+*M*i 0 y J * J J oLTjJl ^ ' L i j o^UaJI f Lif j ( (\ idj^p) jy~*y!>\ " * j a "*£ * y * l ai (\ VY : "y"J>) "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. dan (memerdekakan) hamba sahaya. anak-anak yatim. Apa mungkin para sahabat mendapatkan hadits ini dalam tiga bentuk? Hal ini mustahil terjadi. akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah. musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta. Sebenarnya adanya hadits yang diriwayatkan secara berbeda menunjukkan bahwa matan hadits tersebut disampaikan secara maknawi. 3 . orang-orang miskin. nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya.Kemungkinan ini lebih tepat dibandingkan pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Umar mendengar hadits tersebut dari Rasul dua kali dalam bentuk yang berbeda.

" Hadits ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan. kemudian meninggalkan perbuatan syirik dan dosa. Al Mu'minuun (23): 1) Pengambilan ayat ini sebagai dalil dan korelasinya dengan hadits pada bab ini tampak dari hadits yang diriwayatkan Abdurrazaq melalui Mujahid. Artinya bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang disifati dalam ayat di atas. bahwa semua prilaku yang diiringi dengan tashdiq (keimanan) termasuk dalam kategori perbuatan yang baik dan iman. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya). " (Qs. dan menunaikan zakat. karena ayat tersebut membatasi pengertian takwa kepada orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang terkandung dalam ayat. dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji. Al Baqarah(2): 177) dalam firman yang lainnya. FATHUL BAARI — 85 . Apabila mereka melaksanakan semua bentuk prilaku yang disebutkan dalam ayat. (Qs. seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim. berbahagia dan seterusnya sampai akhir ayat. Dimungkinkan ayat "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman" merupakan penafsiran tentang orang-orang yang bertakwa yang dijelaskan pada ayat sebelumnya. sedangkan Imam Bukhari hanya mengemukakan sebagian besar atau inti dari isi haditsnya saja dan tidak mencantumkan keseluruhannya. Adapun alasan pengambilan dalil dari ayat di atas. penderitaan dan dalam peperangan. Untuk itu kita dapat menggabungkan antara makna ayat dan hadits. namun Imam Bukhari tidak menyebutkan hadits tersebut karena tidak sesuai dengan syarat-syarat hadits beliau. Apabila dikatakan. maka Rasulullah membaca ayat di atas. Maksudnya adalah orang-orang yang menjaga dirinya dari kesyirikan dan perbuatan yang buruk. dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman ". yaitu orang yang beriman. maka Jawabnya kata tersebut telah disebutkan dalam hadits yang asli. bahwa dalam matan (isi) hadits ini tidak disebutkan kata Tashdig. "Sesungguhnya Abu Dzarr bertanya kepada Nabi SA W tentang iman. maka mereka adalah orang-orang yang sempurna imannya.mendirikan shalat.

" Iman mempunyai lebih dari enam puluh cabang. atau dua sampai sepuluh. tapi sebenarnya riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Bukhari. yaitu — j i jt *(~Y*i (enam puluh atau tujuh puluh)." sebagaimana disebutkan Hulaimi dan Iyad adalah berdasarkan 86 — FATHUL BAARI .9. Sedang riwayat Tirmidzi yang menyebutkan angka enam puluh empat adalah riwayat yang cacat. JJL (enam puluh) Tidak terjadi perbedaan kata ^ J . atau juga empat sampai sembilan. angka antara satu sampai sembilan. j tanpa ada keraguan. pendapat ini masih dapat dikritik mengingat Bisyr bin Amru dalam riwayatnya sempat mengalami keraguan. Imam Baihaqi lebih menguatkan riwayat Bukhari.J j 'J~r "karena itu tetaplah dia (yusuj) dalam penjara selama beberapa tahun ". Demikian l pula terjadi keraguan dalam riwayat Imam Muslim dari jalur sanad Suhail bin Abi Shalih dari Abdullah bin Dinar. Adapun upaya untuk menguatkan pendapat yang menyatakan "tujuh puluh. " Keterangan Hadits: Menurut Al Qazzaz berarti bilangan antara tiga sampai sembilan. sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad shahih. Menurut Ibnu Saidah berarti bilangan dari tiga sampai sepuluh. tetapi pendapat Al Qazzaz banyak disepakati oleh para ahli tafsir berdasarkan firman Allah ^ ^J^lJi J ^ . Adapun malu adalah salah satu cabang dari iman. Sedangkan pendapat yang lain mengartikan. — ~ pada sanad dari Abu Amir syaikh Imam Bukhari. Abu Awanah dalam salah satu riwayatnya menyebutkan OJLJ (enam puluh enam) atau (tujuh puluh tujuh). Adapun hadits riwayat Ashhab sunan Ats-Tsalats dari jalur Suhail menyebutkan. Dari Abi Hurairah RA. "Sesugguhnya kaum Quraisy pernah mengucapkan kata tersebut kepada Abu Bakar. Menurut Al Khalil berati tujuh. karena menurutnya Sulaiman bin Bilal tidak ragu dalam mengucapkan angka tersebut. Nabi SAW bersabda. namun kemudian beliau meyakinkan kembali angka tersebut." dan juga riwayat dari Ath-Thabari dengan sanad marfit'. Lain halnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Awanah melalui sanad Bisyr bin Amru dari Sulaiman bin Bilal.

sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits. karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain.banyaknya perawi yang dapat dipercaya. karena yang lebih sedikit adalah yang diyakini. "Malu itu baik keseluruhannya." Apabila dikatakan. " karena yang seperti ini tidak sesuai dengan syariat." FATHUL BAARI — 87 . tetapi Ibnu Shalah menguatkan pendapat yang menyebutkan bilangan (angka) yang lebih sedikit. pengetahuan dan niat. Tetapi tidak berarti keimanan seseorang akan cacat bila tidak mampu menentukan batasan tersebut secara terperinci. akan tetapi penggunaan rasa malu agar sesuai dengan jalur syariat membutuhkan usaha. Pelajaran Yang dapat diambil Ibnu Iyad berpendapat. sehingga malu dapat berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah. Karena menentukan hukumnya secara pasti sangat sulit untuk dilakukan. Dengan demikain tidak dibenarkan kita mengatakan. Kata tersebut juga berarti meninggalkan sesuatu dengan alasan tertentu. bagian. "Semua orang telah berusaha untuk menentukan cabang atau bagian iman dengan ijtihad. lalu bagaimana bisa dikategorikan sebagai cabang dari iman? Jawabnya. "Kenapa hanya malu yang disebutkan?" Jawabnya. Apabila ada pendapat yang mengatakan. "Ya tuhan aku malu untuk mengucapkan kata kebenaran atau malu untuk melakukan berbuatan baik. karena malu dapat menjadi faktor stimulus yang melahirkan perbuatan taat dan membentengi diri dari perbuatan maksiat. Sedangkan secara terminologi. atau perangai. maka dari sinilah dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman. berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada pemiliknya. sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat. • Secara etimologi L_IiJi berarti perubahan yang ada pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. bahwa malu bisa menjadi insting dan bisa menjadi sebuah prilaku moral. Arti kata adalah potongan. atau adanya sebab yang memaksa kita harus meninggalkan sesuatu. tapi maksud kata tersebut adalah • t cabang. bahwa sesungguhnya sifat malu merupakan insting manusia.

hari Akhir. 2. doa. dengan rincian sebagai berikut: 3. hari perhitungan. surga dan neraka. b). yaitu: bersuci dan menjahui segala hal yang najis. Perbuatan jasmani yang mencakup tiga puluh delapan cabang iman. mengupayakan malam qadar (lailatu! qadar). Berkenaan dengan badan. Perbuatan lisan yang mencakup tujuh cabang keimanan. Kemudian kecintaan kepada Allah. thawaf. hari kebangkitan. yaitu: 1. kemuna-fikan. kecintaan kepada sesama. sifat. zakat. kitab-kitab. ada lima belas cabang. taubat. mengajarkan ilmu. keesaan dan kekekalan Allah. yaitu: iman kepada dzat. Berkenaan dengan orang lain. melaksanakan nadzar dan melaksanakan kafarat. Ftikaf. Perbuatan hati. mempelajari ilmu. syukur. menunaikan hak anak dan 88 — FATHUL BAARI . Namun hal itu tidak menjelaskannya secara rinci. puasa wajib dan sunnah. yaitu melafalkan tauhid (mengesakan Allah). kerendahan hati. a). amanah. iman kepada malaikat. membebaskan budak. bahwa iman terbagi menjadi beberapa cabang. haji dan umrah.Orang-orang yang mencoba menghitung semua cabang tersebut tidak menemukan suatu kesepakatan. yaitu iffah (menjaga kesucian diri) dengan melaksanakan nikah. dermawan (termasuk memberi makan dan menghormati tamu). Prilaku hati ini mencakup 24 cabang. dzikir dan istighfar (mohon ampunan) dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. tawakkal. meninggalkan kesombongan. ridha terhadap qadha. sabar. Rasul. tetapi yang mendekati kebenaran adalah metode yang dikemukakan oleh Ibnu Hibban. kecintan kepada nabi dan keyakinan akan kebesarannya. qadha dan qadar. harapan. rasa takut. dengki dan amarah. ada enam cabang. menutup aurat. iri. shalat wajib dan sunnah. termasuk juga alam kubur. hanya saja saya telah meringkas apa yang mereka paparkan dan apa yang saya sebutkan. mempertahankan agama seperti hijrah dari daerah syirik. perhitungan pahala dan dosa. shalawat kepada Nabi dan malaksanakan sunnah. dikumpulkannya semua orang di padang mahsyar. membaca Al Qur'an. Selanjutnya keikhlasan yang mencakup meninggalkan riba. termasuk keyakinan dan niat. rahmah.

mengadakan ishlah (perbaikan) seperti memerangi para pembangkang agama. dan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan). mengikuti kelompok mayoritas. yaitu berlaku adil dalam memimpin. 4. ada tujuh belas cabang.^iS/i '•—M l i & i j Ji\ (yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha Ulatlah. j i J i j—e. menjauhi foya-foya dan menghambur-hamburkan harta. jihad. amanah dalam denda dan hutang serta melaksanakan kewajiban hidup bertetangga. serius dan tidak suka main-main. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan tingkatan antara satu cabang iman dengan cabang lainnya. Kemudian menjaga perangai dan budi pekerti yang baik dalam berinteraksi dengan sesama seperti mengumpulkan harta dijalan yang halal. Pembagian ini dapat dijumlahkan menjadi tujuh puluh sembilan cabang bila sebagian cabang di atas diperincikan kembali secara mendetail. berbakti kepada orang tua. serta menyingkirkan duri di jalanan. mendidik anak. tidak menyakiti orang lain.ilp ill PATHUL BAARI — . c). Vi *Ji S' ii*A*f j — . mendoakan orang yang bersin. menginfakkan sebagian hartanya. Dalam riwayat Muslim ditemukan tambahan kalimat. menjawab salam. taat kepada pemimpin.keluarga. O R A N G M U S L I M A D A L A H O R A N G Y A N G M E N Y E L A M A T K A N O R A N G ISLAM D A R I L I S A N DAN TANGANNYA 1 —* 'j** 'C? j*-^j a ^'j ?^-J 'o? ^?4~^ f-P 'c? ^ 89 J u . melaksanakan hukum Allah. Berkenaan dengan kemaslahatan umum. Demikianlah semua cabang keimanan tersebut yang jumlahnya kurang lebih menjadi enam puluh sembilan cabang. membantu dalam kebaikan seperti amar ma'ruf dan nahi munkar. taat kepada pemimpin dan beriemah lembut kepada pembantu. silaturrahim.

" Keterangan Hadits: Al Khaththabi mengatakan bahwa muslim yang paling utama adalah muslim yang mampu melaksanakan semua kewajibannya untuk memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesamanya. Dan orang muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah. karena apabila seorang muslim berlaku baik terhadap sesamanya. Lain halnya dengan ucapan yang mengandung ejekan atau menguasai hak orang lain secara paksa. Ada pengecualian dalam hadits di atas. Mungkin juga maksud bab ini adalah untuk menunjukkan kriteria seorang muslim yang dapat menunjukkan keislamannya. "Orang muslim itu adalah orang yang menyelamatkan semua orang Islam dari bencana akibat ucapan dan perbuatan tangannya. Hijrah zhahirah. 90 — FATHUL BAARI . kedua prilaku tersebut termasuk bencana lidah dan tangan yang harus dihindari oleh seorang muslim. mereka benar-benar melaksanakan perintah syariat dan meninggalkan larangannya. Ada dua macam bentuk hijrah. yaitu : 1. yaitu memukul dengan tangan untuk melaksanakan hukuman terhadap orang muslim yang berhak menerimanya. Seakan-akan orang-orang yang berhijrah diperintahkan seperti itu. yaitu mampu menyelamatkan kaum muslimin dari bencana akibat ucapan lidah dan perbuatan tangannya. Atau mungkin juga merupakan dorongan bagi seorang muslim untuk berlaku dan berbudi pekerti yang baik kepada Tuhannya. yaitu pergi meninggalkan tempat untuk menghindari fitnah demi mempertahankan agama. Memang orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah berarti ia telah melaksanakan hakikat hijrah.10. Hijrah bathinah. tetapi lebih dari itu. Dari Abdullah bin Amru RA dari Nabi SAW bersabda. 2. agar hijrah yang mereka lakukan tidak hanya berpindah tempat saja. yaitu meninggalkan perbuatan yang dibisikkan oleh nafsu amarah dan syetan. maka sudah barang tentu ia berprilaku baik kepada Tuhannya. sebagaimana yang ditentukan oleh syariat.

sedang kata yang datang setelah kata t / harus berbentuk plural. Menurut kami. Apakah hikmah dari bentuk pertanyaan dan jawaban seperti ini? Jawabnya. sebagaimana firman Allah. bahwa dalam hadits ini ada bagian kata yang dihapus.5. Jika kedua redaksi di atas diformulasikan.jp J\. B A G A I M A N A K A H ISLAM Y A N G P A L I N G BAIK? J—*a*i f^C^i c^ 1 J j ^ ^Li : J u AIP AJJi J*y J{ Jp 11.^ ^ (orang-orang Islam bagaimanakah yang paling afdhal). J — ^ j ^ . seperti menanyakan tentang "karakter Islam yang utama". f^Cyi . "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak.Dari Abi Musa berkata. maka keutamaan seorang muslim akan dapat dicapai dengan melakukan salah satu dari sifat atau hal-hal yang disebutkan dalam hadits tersebut. karena dengan pengertian seperti ini akan timbul pertanyaan lain. "Kata — d i sini adalah memakai bentuk singular (tunggal). karena kalimat yang sebenarnya adalah. kaum kerabat?' FATHUL BAARI — 91 . Pengertian seperti ini diperkuat dengan adanya riwayat muslim yang menggunakan redaksi. tetapi dijawab dengan orang yang mempunyai karakter tersebut. FL-^SF Ji—U*. "Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan? Jawablah. mungkin bentuk pertanyaan seperti ini mengikuti gaya bahasa Al Qur'an." Maka jawabnya. pengertian seperti inilah yang paling tepat. "Wahai Rasulullah. "Mereka bertanya. " Keterangan Hadits: Apabila ada pertanyaan. Pengertian seperti ini menjadi lebih baik dari pengertian yang dikemukakan oleh sejumlah penyarah yang menyatakan bahwa maksud pertanyaan dalam hadits ini adalah. ^1. "Seorang muslim yang menyelamatkan orang muslim lainnya dari bencana akibat perbuatan lidah dan tangannya. bagaimanakah Islam yang paling afdhal itu? Nabi menjawab.

Maka dengan sengaja beliau memberi judul pada bab ini dengan "memberi makan" bukan "Islam bagaimanakah". mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. Jika karakter kaum muslimin yang berhubungan dengan Islam lebih utama dari-sebagian karakter yang lain. "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasul. "Islam bagaimanakah yang lebih utama?" Nabi menjawab.Dengan pengertian seperti itu. beliau melanjutkan pada bab-bab selanjutnya untuk memaparkan pembahasan ini agar lebih jelas lagi. dimana beliau menyebutkan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. kita tidak lagi membutuhkan penakwilan. Laki-laki yang bertanya dalam hadits di atas tidak disebutkan namanya. dia berkata. " Setelah Imam Bukhari memaparkan hadits tentang cabangcabang iman yang diintisarikan dari Al Qur'an dan Sunnah. "Memberi makan (orang-orang miskin). 92 — FATHUL BAARI . sedang dalam riwayat Ibnu Hibban adalah Hanik bin Yazid. tetapi ada yang mengatakan bahwa dia adalah Abu Dzarr. M E M B E R I M A K A N A D A L A H P E R A N G A I I S L A M 12.Dari Abdullah bin Umar katanya. orang tua Syuraikh. karena iman dan Islam merupakan dua sinonim yang sama. Hal itu menunjukkan adanya perbedaan kedua bahasan tersebut seperti yang kita lihat dari perbedaan pertanyaan yang ada dalam redaksi haditsnya. 6. maka tampak jelas bagi kita korelasi hadits ini dengan hadits sebelumnya yang disebutkan Imam Bukhari tentang perkara iman.

sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya dari Abdullah bin Salam. dan mengucapkan salam berarti selamat dari bencana yang diakibatkan oleh lisan. Menurut Al Karmani. berarti juga perintah untuk memberi miskin. Tapi menurut pendapat yang masyhur. karena memberi makan berarti selamat dari bencana yang diakibatkan oleh tangan. Disamping itu para sahabat pada waktu itu sedang semangat melaksanakan perintah syariat. "Sebenarnya kedua jawaban itu tidak berbeda. maka hadits tersebut menunjukkan bentuk konkrit perihal tersebut. Sedangkan jawaban yang kedua.(Islam bagaimanakah yang lebih utama). adalah memberikan motivasi kepada orang yang mengharapkan manfaat dengan perbuatan atau perkataan. 'r—(memberi makan kepada fakir makan). Mungkin jawaban yang berbeda ini karena adanya pertanyaan yang berbeda tentang keutamaan suatu perbuatan atas perbuatan yang lain. bahwa pertanyaan yang sama dalam dua hadits di atas adalah disebabkan perbedaan kondisi penanya dan pendengarnya. Mungkin jawaban dalam hadits pertama dimaksudkan memberi peringatan kepada mereka yang takut menerima bencana yang diakibatkan oleh tangan atau lisan. lalu kenapa ada dua pertanyaan yang sama dalam dua hadits tersebut sedang jawabannya berbeda? Al Karmani menjawab. Pertanyaan ini sama dengan hadits sebelumnya. sehingga mereka selalu menanyakan kepada nabi perbuatan apa saja yang dapat mendatangkan kebaikan kepada mereka. sedang kata khair berarti manfaat. jadi kata yang pertama adalah berkenaan dengan kuantitas sedang pertanyaan kedua berkenaan dengan kualitas. termasuk juga menjamu tamu yang datang. maka hadits tersebut memberikan jalan untuk tidak melakukan perbuatan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari perbedaan makna afdhal (lebih utama) dan khair (baik). untuk meninggikan syiar Islam dan menjaga hubungan ukhuwah IslamiFATHUL BAARI — 93 . kata afdhal berarti yang paling banyak pahalanya. Dengan demikian disebutkannya dua bentuk atau perangai tersebut adalah sesuai dengan kebutuhan si penanya pada waktu itu agar mereka tertarik untuk masuk agama Islam. Ha! itu menunjukkan bahwa Rasulullah menekankan kedua prilaku tersebut pada awal masuk kota Madinah.

tapi hadits ini dikhususkan dengan hadits lain yang memberikan larangan. Apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa konteks kalimat ini masih umum sehingga mencakup orang kafir. bukan untuk kesombongan dan basa-basi belaka. memang konteks hadits ini masih umum. 94 — FATHUL BAARI . orang munafik dan orang fasik.yah. Jawabnya.

bahwa seseorang yang melaksanakan perintah dalam hadits ini (mencintai saudaranya). FATHUL BAARI — 95 . '•r-!y. dia tidak menjadi kafir. Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dijelaskan j C J y (seseorang tidak akan mencapai hakikat keimanan). dimana pada pembahasan sebelumnya disebutkan (memberi makan adalah sebagian dari iman). berarti imannya telah sempurna walaupun tidak melaksanakan rukun iman yang lain. Tetapi orang yang tidak melakukan apa yang ada dalam hadits ini. "Tidaksempurna seseorang dari kalian. V (tidak sempurna keimanan) orang yang mengaku beriman. Pada redaksi hadits yang diriwayatkan Al Mustamli menggunakan kata : r i ^ i .7. Seakan-akan beliau mengatakan. bahwa kecintaan di sini adalah bagian dari iman. Ushaili menggunakan kata *^'\ sementara Ibnu Asakir. pengertian seperti ini diambil dari kalimat . maksudnya adalah kesempurnaan iman. namun pada bab ini permasalahan yang diangkat berbeda dengan permasalahan sebelumnya. Jawabnya.4LA «^N melihat sifat-sifat yang lain 1 bagi seorang muslim. Dari Anas RA dari Nabi SAW bersabda. " keimanan (sesama Keterangan Hadits: Ai Karmani mengatakan. sebelum ia mencintai saudaranya muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. bahwa lafazh iman sudah dikemukakan pada bab sebelumnya. Muslim dan Abu Khaitsamah menggunakan kata X* Apabila dikatakan. M E N C I N T A I S A U D A R A N Y A S E B A G A I M A N A M E N C I N T A I DIRINYA SENDIRI A D A L A H SEBAGIAN DARI I M A N Jh y ^ #*^J^ ^ ^ 'c? 13.

—?v ^ — ( s a m p a i mencintai) hal ini bukan berarti bahwa tidak adanya keimanan menyebabkan adanya rasa cinta. Maksud lain dari cinta di sini adalah cinta dan senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia dapatkan. "Negeri akhirat itu. "Imam Iyad juga mengatakan demikian. bukan bersifat alami atau paksaan. kecurangan dan lainnya yang termasuk dalam perangai buruk. 96 — FATHUL BAARI . berarti ia termasuk orang-orang yang utama. Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat diindera. sebagaimana firman Allah. baik dalam halhal yang bersifat indrawi atau maknawi. Imam Nawawi mengatakan. seperti bentuk. mengambil manfaat atau menolak bahaya. 4 ~i3 L J J U (sebagaimana mencintai diri sendiri) dari kabaikan. berlebihan. Kata khair (kebaikan) mencakup semua ketaatan dan semua hal yang dibolehkan di dunia dan akhirat. sehingga dia tidak senang untuk melebihi orang lain." Saya berpendapat. keutaman. Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari (kebebasan). "Cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. sedang pada realitasnya menuntut pengutamaan. atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan. Adapun cinta adalah menginginkan sesuatu yang diyakini sebagai suatu kebaikan." Abu Zinad bin Siraj mengatakan. Maka apabila dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. "Secara zhahir hadits ini menuntut kesamaan. karena hal ini menuntut adanya persamaan. karena maksudnya adalah menekankan untuk bersikap tawadhu' (rendah hati). karena setiap orang senang jika ia lebih dari yang lainnya. Namun pendapat ini masih berpeluang untuk dikritik." Semua ini tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan perbuatan dengki. iri. sedangkan hal-hal yang dilarang oleh agama tidak termasuk dalam kategori al khair.

karena setiap anak pasti mempunyai orang tua dan tidak sebaliknya. Dari bersabda.j ^ L i ' ^ j k V s^U _~iJ s f ' 14. walaupun sebenarnya mencintai semua utusan Allah adalah sebagian dari iman. yang penting untuk menguatkannya. Sedangkan dalam hadits riwayat Nasa'i dari Anas kata "anak" disebutkan terlebih dahulu. sebelum ia lebih mencitai aku kedua orang tuanya dan anaknya. hal ini dikarenakan orang tua lebih mencintai anaknya daripada anak mencintai orang tuanya. akan tetapi kecintaan yang paling besar dikhususkan untuk Nabi Muhammad SAW. setiap orang tua mempunyai anak. Kalimat ^ ^ — u ^sj—lij (Demi diriku yang berada dalam kekuasaan-Nya) adalah ungkapan sumpah. sempurna daripada Abu Hurairah RA berkata. y f FATHUL BAARI — 97 . SAIJJ S JJ)J 'j* (dari kedua orang tua dan anaknya) Kata "kedua orang tua" disebutkan terlebih dahulu. "Sesungguhnya Rasulullah SAW "Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya tidak keimanan seseorang dari kalian.8. Ungkapan ini menunjukkan diperbolehkannya bersumpah terhadap sesuatu. M E N C I N T A I R A S U L S A W S E B A G I A N D A R I IMAN s s s 9 y ^y # 31 f - j <> £ ^ J L * ' 9 } i 9 "j-3 Jii '-X^j <1LP <JJl aJ—)j y AJJI J y j j ! AIP < U J l a'J'JT ^\ Jp JJl d lll L i i y 0>S*1 JS. " Keterangan Hadits: Maksud bab ini adalah kapan Rasul lebih dicintai.

karena menurut mereka melihat beliau sangat berpengaruh terhadap diri. Memang manusia berbeda-beda dalam hal ini.15. dan mereka telah mengetahui hal ini. maka ia akan menginginkan keselamatannya dari berbagai macam penyakit dan bencana. Hadits ini juga mengisyaratkan keutamaan berfikir. " Apabila ada pertanyaan. anaknya dan manusia semua. "Rasulullah SAW bersabda. meskipun kecintaan mereka itu berbeda-beda. maka ia akan mengetahui bahwa manfaat yang diperoleh dari Rasulullah akan lebih besar dari pada manfaat yang diperoleh dari selainnya. sebab cinta yang telah disebutkan di atas dapat diketahui dengan berfikir. Maka orang yang nafsu muthmainnahnya lebih dominan dalam dirinya. demikian juga sebaliknya dengan orang yang dirinya dikuasai oleh nafsu ammarah. Hal itu dikarenakan apa yang dicintai dari manusia dapat berupa dirinya atau halhal lain. Sebagian mereka ada yang cintanya kepada Rasulullah telah mencapai tingkat yang tinggi. Adapun apa yang dicintai dari dirinya. sedangkan apa yang dicintai dari selain dirinya. Maka 98 — FATHUL BAARI . tapi tidak diragukan bahwa para sahabat memiliki kecintaan yang sempurna terhadap Rasulullah. Untuk itu orang yang memikirkan manfaat yang diperoleh dari Rasulullah yang telah mengeluarkan dari gelapnya kekufuran menuju terangnya cahaya keimanan. anak-anak. ia akan lebih mencintai Rasulullah. karena kecintaan tersebut merupakan buah dari pengetahuan. harta dan orang tua mereka. dan sebagian yang lain hanya mencapai tingkat yang rendah. keluarga. sebelum ia lebih mencintai aku dari pada kedua orang tuanya. "Demi diriku yang berada dalam kekuasaan-Nya. maka hasrat mereka untuk melihatnya sangat besar. dan itulah sebenarnya hakikat yang diinginkan. hawa nafsu masuk dalam kalimat tersebut. Tetapi sebagian besar mereka jika disebut nama Rasulullah. Dari Anas RA berkata. Adapun maksud cinta di sini adalah cinta yang berdasarkan kebebasan (memilih) bukan cinta dalam pengertiannya sebagai tabiat. jika dilihat secara zhahir. apakah hawa nafsu masuk dalam kalimat "manusia semua"? Jawabnya. adalah tercapainya suatu manfaat yang diinginkannya. tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian. maka dirinya tidak akan pernah hampa dari rasa cinta kepadanya. Menurut Imam Nawawi. Iman Qurthubi mengatakan. hadits tersebut mengisyaratkan masalah nafsu ammarah (nafsu yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang dilarang) dan nafsu muthmainnah (nafsu yang cenderung melakukan hal-hal yang baik dan dapat menenangkan hati). "Setiap orang yang beriman kepada nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya iman.

sedangkan orang yang menderita sakit kuning misalnya.M A N I S N Y A I M A N jL _i y- & <dJl ^) ' " y & Jil J J\ & .jUii ^yiij oi iir 16. yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari pada cinta kepada selain keduanya.dalam ilmu balaghah kalimat ini disebut isti'arah takhyiliyyah. Untuk itu ketika disebutkan bahwa mencintai Rasulullah adalah sebagian dari pada iman. Orang yang sehat akan merasakan manisnya madu. "Tiga perkara yang membuat seseorang menemukan manisnya iman. mencintai orang lain karena Allah. Rasulullah SAW bersabda.tidak jarang kita mendapatkan sebagian mereka yang mengeluarkan tenaga. dan sangat benci untuk kembali kepada kekufuran. Imam Bukhari menggunakan bentuk isti'arah (pengandaian) untuk menjelaskan naik dan turunnya FATHUL BAARI — 99 . bahwa cinta tersebut akan membuahkan sesuatu yang manis. yang menyamakan rasa cinta seorang mukmin terhadap keimanan dengan sesuatu yang manis. ji—'s>\\ lp<—S. 9. maka dijelaskan setelah itu. Hadits ini mengisyaratkan tentang orang yang sakit dan orang yang sehat. sebagaimana ia membenci untuk dijatuhkan ke dalam api neraka. harta dan kemampuannya untuk berziarah ke makam Rasulullah dan melihat tempat-tempat sejarah beliau. Dari Anas RA. " Keterangan Hadits: Sesungguhnya manis adalah buah dari pada iman. rasa tersebut akan berubah menjadi pahit.

keimanan seseorang. Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah mengatakan, bahwa penggunaan istilah "manisnya iman" dikarenakan Allah menyamakan iman dengan sebatang pohon, sebagaimana dalam flrmanNya, "Perumpamaan kalimah yang baik seperti pohon yang baik.'" Kalimat dalam firman tersebut adalah kalimat ikhlash (makna yang terkandung dalam surah Al Ikhlas), sedangkan pohon tersebut adalah dasar keimanan, rantingnya adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan oleh seorang mukmin, buahnya adalah perbuatan taat, dan manisnya buah adalah buah yang sudah siap untuk dipetik, karena buah yang siap untuk dipetik menunjukkan manisnya buah tersebut. *Ji "v^ (lebih cinta kepadanya)
1

Imam Baidhawi mengatakan, bahwa maksud cinta di sini adalah cinta yang menggunakan akal. Artinya kecintaan tersebut lebih mengutamakan akal sehat, walaupun harus bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti orang yang menderita sakit, pada dasarnya enggan untuk minum obat, namun karena akalnya mengatakan bahwa obat adalah alat yang dapat menyembuhkan penyakit, akhirnya akal memilih untuk minum obat. Pilihan akal inilah yang membuat nafsu -orang sakit tersebut- untuk minum obat. Apabila manusia menganggap bahwa larangan dan perintah Allah pasti akan mendatangkan manfaat, dan akal pun cenderung membenarkan hal tersebut, maka orang tersebut akan membiasakan diri untuk melaksanakan semua perintah tersebut. Dengan demikian dalam masalah ini secara otomatis hawa nafsu seseorang akan mengikuti kemauan akal, artinya kemauan akal adalah kesadaran akan arti sesuatu yang sempurna dan baik. Rasul menjadikan tiga perkara tersebut sebagai tanda kesempurnaan iman seseorang, karena jika seseorang telah meyakini bahwa sang pemberi nikmat hanya Allah semata, dan Rasululah telah menjelaskan apa yang diinginkan oleh Allah, maka menjadi keharusan bagi manusia untuk mengorientasikan semua yang dilakukannya hanya untuk Allah semata, sehingga ia tidak menyukai dan membenci kecuali apa yang disukai dan dibenci oleh Allah, dan tidak menyukai seseorang kecuali hanya karena Allah dan Rasui-Nya. Ia yakin bahwa semua yang dijanjikan oleh Allah akan menjadi kenyataan, dengan demikian dzikir kepada Allah dan Rasulnya adalah surga dan kembali kepada kekufuran adalah neraka. Hadits ini dibenarkan Allah firman Allah, "Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, " sampai firman, "Lebih kamu cintai dari

1 0 0 — FATHUL BAARI

pada Allah dan Rasulnya," kemudian Allah mengancam akan hal tersebut dengan janjinya fatarabbashuu (maka tunggulah). Makna hadits ini telah mengisyaratkan kepada manusia untuk selalu melaksanakan keutamaan dan meninggalkan kehinaan. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa cinta kepada Allah mencakup dua hal: 1. Fardhu : Kecintaan yang mendorong manusia untuk melaksanakan segala macam perintah-Nya, meninggalkan segala macam maksiat dan ridha kepada ketetapan-Nya. Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, melaksanakan yang diharamkan dan meninggalkan yang wajib, maka dia telah lalai dan lebih mengedepankan hawa nafsunya dari pada kecintaan kepada Allah. Orang yang lalai terkadang lebih menyukai dan memperbanyak perbuatan-perbuatan yang mubah. Prilaku ini akan melahirkan ketidakpedulian, sehingga orang tersebut akan dengan mudah terperosok ke dalam maksiat yang menimbulkan penyesalan. 2. Sunnah : Membiasakan diri untuk melaksanakan shalat sunnah dan berusaha meninggalkan hal-hal yang syubhat. Prilaku orang yang demikian ini masih sangat jarang kita temukan. Disamping itu termasuk cinta kepada Rasulullah, adalah tidak melaksanakan perintah atau tidak menjauhi larangan kecuali ada cahaya penerang dari Beliau, dengan demikian orang tersebut akan selalu berjalan di atas jalan yang sudah digariskan. Orang yang mencintai Rasul pasti akan meridhai syariat yang dibawanya dan berperangai seperti akhlaknya, seperti dermawan, mulia, sabar dan rendah hati. Oleh sebab itu orang yang berupaya untuk melakukan perbuatan seperti di atas, niscaya akan menemukan manisnya iman. Syaikh Muhyiddin mengatakan, "Hadits ini mengandung makna yang mulia, karena hadits ini merupakan dasar agama. Adapun makna "manisnya iman" adalah kelezatan dalam melaksanakan ketaatan dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam agama, serta mengutamakan agama dari pada hal-hal yang berbau keduniaan. Cinta kepada Allah dapat dicapai dengan ketaatan dan meninggalkan segala yang melanggar aturan-Nya. Konsekuensi seperti ini tetap sama, bila kita mencintai Rasul-Nya. "Begitu pula bila kita mencintai Rasul-Nya, konseksuensinya tetap sama seperti ini." Kata yang dipakai dalam hadits tersebut adalah "apa saja" bukan "siapa saja". Hal ini berfungsi untuk menekankan bahwa makna hadits FATHUL BAARI — 101

ini umum mencakup semua benda hidup yang mempunyai akal dan yang tidak mempunyai akal. jiDl J JL jl s'£Z "CS jiSUi j jji; j ! e'jZS j i j Abu Nu'aim menambahkan dalam kitabnya Al Mustahkraj dari jalur Sufyan dari Muhammad bin Al Mutsna -guru Imam Bukharidengan kalimat, > Ui ij J — « (setelah diselamatkan Allah dari kekufuran). Redaksi seperti ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur yang lain. Kata Ingaadz (diselamatkan) lebih umum dari pada kata "ishmah" (dijaga) sejak lahir dalam keadaan Islam atau dikeluarkan dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman, sebagaimana yang dialami oleh sebagian para sahabat.

Catatan:
Semua sanad hadits ini adalah orang Bashrah. Hadits ini menjadi dalil akan keutamaan membenci kekufuran. Hadits ini dicantumkan pada bab adab dan keutamaan cinta kepada Allah dengan lafazh, J>lil J J-j \—U iii sliil i)

J\ '^r'J j ''JAji) t_-i-f J2\ j Redaksi hadits ini lebih

lugas, karena hadits ini menyamakan dua perkara, yaitu dilemparkan ke dalam api dunia adalah lebih baik dari pada kekufuran. Redaksi hadits seperti inilah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasa' i dan Ismail dari Qatadah dari Anas. Dalam riwayat Imam Nasa'i dari jalur sanad Thalq bin Hubaib dari Anas, ditambahkan kata hadits menjadi, karena Allah). (benci), dengan demikian redaksi
}

^—i 'j*—«l'j < & i J L J J J (Mencintai dan membenci

1 0 2 — FATHUL BAARI

10. M E N C I N T A I K A U M A N S H A R A D A L A H T A N D A KEIMANAN

17. "Dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi SAW bersabda, "Di antara tanda-tanda iman adalah mencintai kaum Anshar dan di antara tanda-tanda munafik adalah membencinya." Dalam bab yang lalu telah dijelaskan, bahwa di antara tandatanda iman adalah mencintai sesamanya karena Allah, sedangkan di sini Imam Bukhari menyebutkan hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar juga termasuk salah satu tanda iman, sebab mencintai mereka -karena mereka telah menolong Rasulullah- adalah termasuk mencintai seseorang karena Allah. Sebenarnya mereka sudah termasuk dalam sabda Nabi, "Mencintai seseorang karena Allah," akan tetapi disebutkannya mereka secara khusus dalam hadits ini menunjukkan adanya perhatian terhadap mereka.
Ji—ty\ C
1

(tanda-tanda iman), Demikianlah penulisan kata tersebut mustakhraj maupun musnad. Kata V berarti

yang terdapat dalam semua riwayat, baik dalam shahih Bukhari dan Muslim, kitab-kitab sunan, "tanda" seperti yang disebutkan oleh Imam Bukhari. Dalam kitab "I'rab Al Hadits" karya Abu Al Baqa' Al Akbari disebutkan dengan lafazh "innahul iiman" yaitu dengan menggunakan kata "innahu " dan "a/ iman" dalam keadaan marfu'. Kemudian Abu Al Baqa' Al Akbari meng 'irabnya dengan mengatakan bahwa kata "inna"berfungsi sebagai ta'kid (penguat), kata ganti "hu" adalah sebagai kata ganti keadaan "dhamir asy-sya'ni", sedangkan kata iman adalah sebagai mubtada' (subyek) dan kata selelahnya adalah sebagai khabar (predikat). Dengan demikian, hadits tersebut mengandung pengertian bahwa yang dinamakan iman adalah mencintai kaum Anshar,

FATHUL BAARI —

103

Hal ini adalah merupakan kesalahan dalam penulisan karena dari segi maknanya- menimbulkan kesan bahwa iman hanya terbatas pada mencintai kaum Anshar saja, padahal sebenarnya tidak demikian. Ada yang berpendapat bahwa lafazh yang masyhur dari hadits ter-sebut juga mengindikasikan bahwa iman hanya terbatas pada mencintai kaum Anshar saja, demikian pula dengan hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Fadha'ilul Anshar (keutamaan kaum Anshar)" dari Al Barra bin 'Azib yang berbunyi, "Tidak ada yang men-cintal golongan Anshar kecuali orang yang beriman." Mengenai hadits pertama, dapat dijawab bahwa tanda-tanda ('alamah) adalah seperti khashah (istilah dalam ilmu manthiq yang berarti ciri khusus) yang terdapat dalam beberapa benda dan tidak bisa diterapkan sebaliknya. Kita juga dapat menerima dakwaan adanya pembatasan tersebut, akan tetapi bukan secara hakiki melainkan hanya sebagai penekanan pada maknanya saja. Atau bisa jadi pembatasan itu bersifat hakiki, akan tetapi dikhususkan bagi orang yang membenci kaum Anshar karena mereka telah memberikan pertolongan kepada Rasulullah SAW. Sedangkan mengenai hadits kedua, dapat dijawab bahwa maksud dari hadits tersebut adalah mencintai kaum Anshar hanya terdapat dalam diri orang mukmin. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak mencintai kaum Anshar tidak termasuk orang mukmin, akan tetapi, maksudnya adalah bahwa orang yang tidak beriman tidak akan mencintai mereka. Apabila ada sebuah pertanyaan, "Apakah orang yang membencinya termasuk dalam golongan munafik, meskipun ia telah berikrar dan percaya kepada Allah?" Maka jawabannya adalah bahwa berdasarkan zhahirnya kalimat tersebut memang mengandung pemahaman seperti itu. Akan tetapi maksud sebenarnya tidak demikian, karena kata "bughdhun ( b e n c i ) " dalam hadits tersebut memiliki batasan, yaitu jika seseorang membenci mereka hanya karena mereka telah memberikan pertolongan kepada Rasulullah SAW, maka ia termasuk orang munafik. Penafsiran semacam ini sesuai dengan hadits yang dikeluarkan oleh Abu Naim dari Barra' bin 'Azib, "barang siapa yang mencintai kaum Anshar, maka aku akan mencintainya dengan sepenuh hati, dan barang siapa yang membenci kaum Anshar, maka aku akan membencinya dengan sepenuh hati" Tambahan seperti ini juga terdapat dalam bab "AJ Hub (cinta)" seperti yang telah disebutkan sebelumnya. marfu' Imam Muslim juga telah meriwayatkan dari Abu Sa'id secara (dinisbatkan kepada Rasul) dengan lafazh, "Tak ada seorang

1 0 4 — FATHUL BAARI

mukmin pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nyayang membenci kaum Anshar," dan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, "mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan." Ada kemungkinan kata tersebut disebutkan dengan fungsi sebagai peringatan (tahdzir), sehingga yang dimaksud bukanlah makna zhahimya dan oleh karena itu iman yang ada tidak digantikan dengan kekafiran yang merupakan kebalikan, tapi dengan kemunafikan yang mengisyaratkan bahwa janji dan ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang menampakkan keimanannya. Sedangkan yang menampakkan kekafiran tidak termasuk dalam apa yang dimaksud, karena yang dilakukannya lebih keras dari itu. j' ^JVi merupakan bentuk jamak (plural) dari kata atau 1^

yang berarti "penolong." Huruf lam dalam kata tersebut berfungsi untuk menunjukkan arti yang telah diketahui, maksudnya adalah para penolong Rasulullah. Mereka adalah suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya dikenal dengan Ibnay Qailah atau dua anak Qailah yang merupakan nenek moyang mereka. Kemudian Rasulullah SAW menamakannya dengan "Anshar", sehingga kata tersebut menjadi sebutan bagi mereka. Nama ini juga digunakan untuk menyebut keturunan, sekum dan pengikut mereka. Pemberian gelar agung tersebut dikarenakan mereka telah memberikan pertolongan yang lebih besar kepada Rasulullah SAW dan para pengikutnya (Muhajirin,) dari pada kepada kabilah-kabilah lainnya. Mereka menolongnya dengan jiwa, harta dan bahkan mereka mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin daripada kepentingan mereka sendiri. Perbuatan mereka ini menyebabkan mereka dimusuhi oleh kabilah-kabilah Arab maupun non-Arab dan juga menimbulkan kedengkian dalam diri kabilah-kabilah tersebut. Permusuhan dan kedengkian ini sebenarnya disebabkan karena kebencian kepada mereka. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memperingatkan kepada manusia agar tidak membenci kaum Anshar akan tetapi harus mencintainya, bahkan Rasulullah menjadikan hal itu sebagai tanda keimanan atau kemunafikan dengan maksud untuk mengingatkan akan keutamaan dan kemuliaan kaum Anshar. Bahkan orang yang ikut serta dalam apa yang mereka perbuat, juga masuk dalam keutamaan mereka yang disebutkan di atas. Ditemukan dalam shahih Muslim dari Ali, bahwa Nabi berkata kepadanya, "Tidak ada yang mencintaimu kecuali orang mukmin dan tak ada yang membencimu kecuali orang munafik? Hadits ini disampaikan di depan para sahabat yang menunjukkan kesetaraan mereka dalam kemuliaan

FATHUL BAARI —

105

karena kontribusi yang mereka berikan kepada agama. Pengarang Al Mafhum berkata, "Perang yang terjadi di antara mereka bukan karena hal ini, akan tetapi dikarenakan suatu perkara yang menyebabkan perselisihan, oleh karena itu kedua belah pihak tidak dapat divonis munafik, karena kondisi mereka pada saat itu adalah seperti hukum 2 orang mujtahid dalam berijtihad, yaitu bagi yang benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang salah mendapatkan satu pahala.

11. BAB

18. "Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu'anhu-salah seorang yang mengikuti perang Badar dan salah seorang utusan dalam pertemuan 'Aqabah bahwa Rasulullah SA W sedang dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau bersabda, "Berbaiatlah (berjanji) kalian semua kepadaku untuk: l- Tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apapun, 2- Tidak mencuri, 3- Tidak berzina, 4- Tidak membunuh anak-anakmu, 5- Tidak membuat fitnah di antara kalian, 6- Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan. Barang siapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan

1 0 6 — FATHUL BAARI

diberi pahala oleh Allah dan barangsiapa yang melanggar salah satu dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadi kaffarah (tebusan) baginya, dan barang siapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya."

Keterangan Hadits:
Dalam riwayat kita ini, dituliskan kata " B a b " tanpa disertai nama judulnya, sedangkan dalam riwayat Al Ushaili tidak dituliskan sama sekali baik "Bab" tersebut maupun judulnya karena -menurutnya- hadits ini termasuk dalam bab sebelumnya. Demikian pula dalam riwayat kita, hadits tersebut berkaitan dengan bab sebelumnya, karena kata "Bab "jika tidak disertai dengan judulnya, maka menunjukkan bahwa hadits yang terdapat di dalamnya termasuk dalam pembahasan bab sebelumnya, dan metode ini banyak dipakai oleh pengarang kitab fikih. Adapun korelasi antara hadits ini dengan hadits sebelumnya, bahwa dalam hadits yang lalu telah disebutkan kata "Al Anshar", sedangkan dalam hadits ini dijelaskan tentang sebab penamaan mereka (suku Aus dan Khazraj) dengan nama "Al Anshar". Hal itu berkaitan erat dengan malam Aqabah dimana mereka mengadakan kesepakatan bersama Rasulullah S A W di Aqabah yang berada di Mina pada saat musim haji sebagaimana yang akan dijelaskan pada bab sirah nabawiyah (sejarah Nabi). Imam Bukhari juga menyebutkan hadits ini dalam bab lain yaitu bab "man syahida badran (bab orang yang mengikuti perang Badar)" karena dalam hadits tersebut disebutkan, "salah seorang yang mengikuti perang Badar", dan juga dalam bab "wufud al-anshar (para utusan kaum Anshar) " karena dalam hadits tersebut disebutkan, "dan salah seorang utusan dalam pertemuan "Agabah." Sedangkan dalam bab ini, Imam Bukhari menyebutkannya karena berkaitan dengan hadits sebelumnya seperti yang telah kami jelaskan di atas.
i

Kemudian dari segi matannya., hadits ini berhubungan dengan pembahasan tentang iman dari dua segi, Pertama adalah bahwa menghindari larangan termasuk bagian dari iman, seperti halnya melaksanakan perintah, Kedua adalah bahwa hadits tersebut mem-bantah pendapat yang mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah termasuk orang kafir dan akan kekal di dalam neraka sebagaimana akan dijelaskan kemudian. FATHUL BAARI — 107

ji^i Sj (Tidak membuat fitnah di antara kalian). "Hadits ini menjelaskan tentang membunuh anak-anak. Hal ini bertujuan untuk menekankan larangan tersebut. Atau bisa saja dikhususkannya penyebutan kata tersebut dengan tujuan agar mereka menghindari perbuatan tersebut. 1 0 8 — FATHUL BAARI . yaitu perang yang terjadi di suatu tempat yang bernama "Badar. Dalam bab (kemarilah dan berjanjilah kepadaku). qaala Rasulullah SAW. begitupula dalam riwayat Ahmad dari Abu Yaman dengan rangkaian sanad yang sama bahwa Ubadah yang mengabarkan kepadanya. Memang biasanya para pakar hadits dengan sengaja menghilangkan kata "qaala" akan tetapi jika kata tersebut disebutkan berulang seperti. Penggunaan (para utusan kaum Anshar) kalimat tersebut ditambah kata iiAl* dari kata ^ ( j u a l beli) yang berarti perjanjian adalah termasuk bentuk majaz yaitu diqiaskan dengan transaksi barang seperti dalam '^i firman Allah. maka mereka harus menyebutkan kata tersebut. sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam bab "Al Maghazi (peperangan). J ^ [berjanji] kalian semua kepadaku). karena lafazh oii" dan yang sebelumnya bertentangan. Hadits ini juga dapat ditemukan dalam bab "man syahida badran" dengan rangkaian sanad yang sama. j(Berbaiatlah "wufud anshar" ' dengan." Perang ini adaiah perang yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam melawan kaum musyrikin.adalah merupakan kebiasaan kaum Jahiliyah.iy— ' J + i OiTj (salah seorang yang mengikuti perang Badar). karena ha! itu mengandung unsur pembunuhan dan memutuskan tali silaturrahim. i_J£a# berarti kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang. oleh karena itu agaknya penghapusannya di sini akan berlanjut. karena mengubur anak perempuan atau membunuh anak laki-laki -karena takut lapar." ^ L j 4& 4ii Kata 4li J J ^ J jf (bahwa Rasulullah SAW) Jii yang ada sebelumnya merupakan khabar (predikat) dari kata J yang dihapus dalam riwayat asalnya. "qaala. «£di ^ '^'pj j*4—^ iWi-^ 'j* <s'P~ ] jjs'iV j \ \Jh S'j (tidak membunuh anak-anakmu) Muhammad bin Al Ismaili dan yang lainnya berkata.

Pendapat lain mengatakan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al Harawi dalam kitab Al Gharbiyiin. karena yang dimaksudkan adalah tangan. karena apa yang ada dalam hati adalah diterjemahkan oleh lidah. lalu menisbatkan anak tersebut kepada suaminya. sedangkan kata "arjulikum" adalah masa yang akan datang. "Asalnya kata ini dipergunakan dalam jual beli wanita. karena berjalan adalah perbuatan yang dilakukan kaki. Oleh karena itu perbuatan yang dihasilkan disebut dengan perbuatan tangan. -^i'j" j (terhadap perintah kebaikan) FATHUL BAARI — 109 . maka makna kata tersebut diperluas kepada selain makna pertama. namun yang harus diperhatikan dalam pendapat tersebut adalah disebutkannya kata "arjur (kaki-kaki). maka tidak dilarang. karena mayoritas perbuatan dilakukan dengan menggunakan tangan dan kaki yang merupakan alat untuk melakukan secara langsung. Artinya disebutkannya kata "arjuF (kaki) jika tidak dikehendaki. "Mungkin maksud kalimat "baina aidiikum" adalah seketika. Al Karamani mengatakan bahwa disebutkannya kata kaki adalah sebagai penguat. bahwa yang dijuluki dengan kata tersebut adalah wanita yang melahirkan anak dari hasil zina. "Ini yang dihasilkan tanganmu. "Aku berkata seperti ini di depan (dengan saksi) si fulan. (jangan mendurhakaiku) dan kalimat tersebut sesuai dengan ayat diatas. Kata Sy—w (bohong) digunakan secara khusus bagi tangan dan kaki. Abu Muhammad bin Abu Hamzah berkata.Kata berarti kebohongan yang dapat menjadikan pendengar- nya tersentak. Ketika kata ini dipergunakan untuk jual beli laki-laki. sedangkan kata <->ji-^' maksudnya adalah kebaikan yang berasal dari Allah baik berupa perintah maupun larangan." Kemungkinan maksud larangan untuk berbohong di sini adalah jangan berusaha membohongi manusia dan saling bersaksi diantara kalian. Bahkan ada orang yang dihukum akibat perbuatan mulutnya. seakan-akan maknanya adalah jangan kalian membohongi seseorang dan mengguncang orang tersebut dengan lidah kalian. tapi dikatakan kepadanya. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah apa yang ada antara kaki dan tangan yaitu hati. Oleh karena itu kata iftira' (bohong) dinisbatkan kepada lidah. 'j—iaii M j (tidak durhaka) dalam riwayat Al Ismaili disebutkan V j j j — U i ." Inilah pendapat Al Khaththabi. seperti berkata.

Hal ini akan dijelaskan dalam hadits Muadz yang menjelaskan tentang hak Allah atas hamba-Nya. akan tetapi beliau menyebutkannya secara global dalam sabdanya U-Jai. Kemudian penggunaan kata "ala " adalah untuk menunjukkan arti "penekanan" bahwa hal tersebut benar-benar akan terwujud. Pendapat semacam ini sesuai dengan perintah untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Adapun hikmah disebutkannya larangan yang tidak disertai perintah adalah karena meninggalkan larangan lebih mudah dari pada melakukan suatu perbuatan. '•Si* j .An-Nawawi berkata. atau juga meninggalkan kejelekan lebih dianjurkan sebelum melakukan kebaikan. 'J** (Barangsiapa yang menepati). Js. "Kemungkinan maksudnya adalah jangan kalian menentangku atau salah seorang pemimpin kalian dalam kebaikan. Imam Ahmad menambahkan dalam riwayatnya dengan lafazh *J sehingga menjadi u_i iUi j* <_JU-I J*J 1 1 0 — F A T g U L BAARI . uL_i 2JJi J. bahwa Rasulullah tidak mengabaikan perintah-perintah tersebut. maka menyebutkan ganjaran kepada salah satu di antara kedua topik tersebut sangat sesuai.s (maka ia akan diberi pahala oleh Allah) Kalimat tersebut diucapkan untuk menunjukkan penghormatan. karena ketika penyebutan "sumpah" berefek kepada keharusan adanya balasan. Adapun balasan tersebut. maksudnya berpegang teguh pada isi perjanjian. bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah. bahwa ketaatan kepada makhluk diwajibkan sebatas kebaikan." Maka kata ^/J^ terikat dengan sesuatu setelannya. maka kata tersebut tidak dapat ditafsirkan secara zhahiraya saja. ^ C I'j*J (barangsiapa yang melanggar salah satu dari perjanjian itu maka ia akan dihukum). "Mengapa hadits ini hanya menyebutkan tentang larangan saja dan tidak menyebutkan perintahi" Maka jawabnya. V j (tidak durhaka) karena maksud durhaka. Jika ada pertanyaan. adalah tidak melaksanakan perintah. . atau karena menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mencari kemaslahatan. Akan tetapi berdasarkan dalil-dalil yang ada Allah tidak wajib melakukan sesuatu apapun. Ada yang berpendapat dengan kalimat tersebut Rasulullah SAW mengingatkan. disebutkan dengan menggunakan kata "surga" dalam riwayat Ash-Shanabahi dari Ubadah yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari Muslim.

Ath-Thibi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan syirik adalah syirik kecil. "Saya tidak mengetahui apakah hudud adalah sebagai kafarat bagi penderitanya atau tidak" Dalam hal ini. pendapat ini disebabkan karena kalimat. sehingga maksudnya adalah syirik dalam bentuk apapun. Al Qadhi Iyadh berkata. "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang menyekutukan-Nya" Oleh karena itu. "Sebagian besar ulama berpendapat bahwa hudud (hukuman-hukuman) adalah sebagai kafarah (tebusan dosa). Akan tetapi. li—i ii—J> ^ (salah satu dari perjanjian itu) jelas-jelas mencakup seluruh yang disebutkan. An-Nawawi berkata. Akan tetapi pendapat tersebut dapat dibantah karena huruf fa' dalam kalimat "fa man" berfungsi untuk menunjukkan arti "kemudian". yaitu bahwa hadits Abu Hurairah disampaikan oleh FATHUL BAARI — 1 1 1 . Dengan demikian. yaitu riya \ Hal ini diperkuat dengan disebutkannya kata "syai'an (sesuatu)" dalam bentuk nakirah {indefinite). syirik tidak perlu disebutkan di dalamnya. Menurut saya. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda. maka pembunuhan itu bukan merupakan kafarat baginya. Imam Bukhari dalam bab "masyi'ah menambahkan kata l J dan kata fj&j (pembersih dari dosa).f' 0" i jUf "lahu" (menjadi tebusan) Imam Ahmad menambahkan dengan kata (kehendak)" juga (baginya). ada sebagian ulama tidak mengatakannya secara pasti bahwa hudud adalah sebagai kafarat. orang murtad yang dibunuh dalam kondisi murtad. Sedangkan istilah had hanyalah merupakan istilah modern saja. maka maksudnya adalah lawan dari tauhid {mengesakan Allah). Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Abu Asy'asy dari Ubadah. "Hadits ini dikhususkan dengan firman Ailah. Pendapat ini dibantah karena Allah jika menyebut kata "syirik". karena hadits tersebut ditujukan kepada kaum muslimin. disamping itu tidak menutup kemungkinan bahwa Nabi melarang kaum muslimin agar tidak berbuat syirik. hadits Ubadah itu memiliki sanad yang lebih kuat dari pada hadits Abu Hurairah. dan mereka mengambil kesimpulan dari hadits ini. Maka pendapat yang benar adalah pendapat Imam Nawawi. Kedua hadits tersebut juga dapat disatukan sehingga tidak terjadi kontradiksi. "dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang mengharuskan ia dihukumi dengan hukuman had''' karena hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang berbuat syirik tidak dinamakan had. sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat maupun hadits dengan maksud seperti itu. Ada yang berpendapat bahwa yang disebutkan adalah selain perbuatan syirik.

bahwa ketika 1 1 2 — FATHUL BAARI . bahwa hadits Ubadah ini disampaikan di Makkah pada malam Aqabah ketika Rasulullah sedang menerima bait yang pertama di Mina. Kemudian Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dari Abd Razak dari M a ' m a r . Saya berpendapat hadits tersebut telah dimaushulkan dari Adam bin Abi Iyas dari Abi Dzi'bi yang juga diriwayatkan oleh Hakim.beliau berkata. Pembaiatan yang disebutkan dalam hadits Ubadah tidak terjadi pada malam Aqabah. Hisyam bin Yusuf meriwayatkannya dari M a ' m a r yang kemudian memursalkmnya. hanya saja Daruquthni mengatakan bahwa Abd. kemudahan. Akan tetapi Qadhi Iyadh dan para pengikutnya berpendapat. Kita akan menemui kembali hadits Ubadah dalam kitab fitan dan yang lainnya.Rasulullah SA W sebelum Allah memberitahukan tentang hal tersebut.." Lebih jelas lagi maksud hadits di atas adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Ubadah. dan kemudian setelah itu Allah mengajarinya. dan setelah itu Abu Hurairah tidak pernah mendengar dari Rasulullah bahwa hudud memiliki kafarah (denda) seperti yang didengar oleh Ubadah. maka penggabungan yang dilakukan oleh Qadhi Iyadh baik sekali. "Aku baiat kalian dengan syarat melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak kalian. Razak seorang diri yang menyampaikan hadits tersebut. Jika hadits tersebut shahih. "Kemungkinan Abu Hurairah tidak mendengarkan hadits tersebut dari Rasulullah. "Kami pun membaiat Rasulullah untuk mendengarkan dan taat dalam kesulitan. Saya berpendapat.. yang benar adalah hadits Abu Hurairah disampaikan lebih dulu daripada hadits Ubadah. dan hadits tersebut dinyatakan shahih 'ala syarti syaikhani. lalu bagaimana mungkin haditsnya lebih dahulu dari pada keislamannya?" Dalam menjawab pertanyaan itu ada yang berpendapat. hanya saja pendapat ini terdapat kekeliruan." Mereka pun membaiat beliau dengan syarat tersebut dan agar Rasul dan para sahabatnya pindah ke negeri mereka. dan sesungguhnya teks yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi pada malam Aqabah adalah riwayat Abu Ishaq. bahwa hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Hakim dalam kitabnya Al Mustadrak dan Al Bazzar dari riwayat M a ' m a r dari Ibnu Ubai Za'bi dari Sa'id Al Maqrabi dari Abu Hurairah. sedangkan Abu Hurairah memeluk Islam setelah 7 tahun dari peristiwa tersebut pada tahun Khaibar. sehingga riwayat M a ' m a r menjadi kuat. Saya berpendapat. yakni bahwa Rasulullah berkata kepada kaum Anshar yang hadir. akan tetapi dari sahabat lainnya yang mendengar dari Rasulullah. kerelaan dan paksaan.

"Kemudian beliau membacakan kepada kami ayat dari surah An-Nisaa' dan kemudian Nabi bersabda. Yang menguatkan bahwa pembaiatan tersebut terjadi setelah fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) adalah turunnya ayat dalam surah Mumtahanah yaitu firman Allah. Menurut riwayat Muslim dari jalur M a ' m a r dari Az-Zuhri. "Hai Nabi. bahwa ketika Rasulullah SAW membaiat mereka. mendukung Rasulullah jika musuh-musuh mendatangi kami serta melindungi beliau sebagaimana kami melindungi jiwa. menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. dia berkata. "Wahai Abu Hurairah. istri dan anak kami. "Rasulullah mengambil (janji) dari kami apa yang FATHUL BAARI — 113 ." Dan dalam riwayat Thabrani dari jalur lain dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama. "janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. "Kemudian kami pun membaiat Rasulullah sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari fathu Makkah (penaklukan Makkah). "Apakah kalian tidak ingin membaiatku dengan apa yang dilakukan oleh para wanita yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. beliau membacakan ayat tersebut secara lengkap. apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia. Kemudian Imam Bukhari dalam tafsir Al Mumtahanah menyebutkan riwayat dari jalur yang sama bahwa Rasulullah SAW membaca ayat surah An-Nisaa'. engkau belum bersama kami ketika kami membaiat Rasulullah untuk mendengar dan patuh dalam aktivitas dan kemalasan. Inilah baiat yang kami lakukan dengan Rasulullah. Dengan demikian jelaslah bahwa inilah hal-hal yang terjadi pada baiat pertama kemudian muncullah baiat-baiat lainnya yang akan kita kemukakan Insya Allah pada kitab "Ahkam"." kemudian dia menyebutkan sisa hadits tersebut. Adapun yang mendasarinya adalah riwayat Imam Bukhari dalam masalah "Al Hudud" dari jalur Sufyan bin Uyainah dari Zuhri dalam hadits Ubadah. AthThabrani memiliki jalur lain dengan lafazh yang mirip dengan riwayat di atas." Telah disepakati bahwa ayat ini diturunkan setelah ayat perjanjian Hudaibiyah." Dalam riwayat An-Nasa'i dari jalur Al Harits bin Fudhail dari AzZuhri disebutkan bahwa Rasulullah SA W bersabda. dan bagi kami surga." Imam Muslim meriwayatkan dari jalur Abu Asy'asy dari Ubadah dalam hadits ini. termasuk di dalamnya hadits tentang baiat ini. berkata jujur dan tidak takut kepada celaan dijalan Allah.terjadi pertemuan antara dia dan Abu Hurairah di hadapan Muawiyah di Syam.

"Kami membaiat Rasulullah dengan baiat perang" Ubadah adalah salah seorang dari 12 orang yang melaksanakan baiat Aqabah pertama yaitu. Ishaq bin Rawahah berkata. Akan tetapi hadits yang terdapat dalam 2 1 1 4 — FATHUL BAARI . Kerancuan yang terjadi berasal dari pernyataan bahwa Ubadah bin Shamit menghadiri kedua baiat tersebut. dia berkata. "jika shahih rangkaian sanad kepada Amru bin Syuaib. dari Ubadah bin Walid. "seperti baiat para wanita itu dan untuk mendengar dan patuh pada saat sulit dan mudah. "kami membaiat Rasulullah seperti para wanita membaiatnya. Ketika dia menyebutkan baiat ini dengan menyamakannya dengan baiat para wanita. "Aku baiat kalian untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Baiat Aqabah adalah berfungsi untuk dipuji kemudian dia menyebutkan baiat tersebut-jika benar terjadi. maka jelaslah perbedaan antara kedua bai'at ini." Semua ini merupakan dalil yang jelas bahwa baiat tersebut terjadi setelah turunnya ayat di atas. dari ayah dari kakeknya . baiat kaum Anshar pada malam Aqabah yang terjadi sebelum Hijrah dan baiat lain yang terjadi setelah fathu Makkah yang disaksikan oleh Abdullah bin Amru yang keislamannya setelah hijrah. Yang mirip dengan riwayat tersebut adalah hadits Jarir yang diriwayatkan oleh Thabrani. dan semua itu terjadi tak lama setelah keislaman Abu Hurairah." kemudian dia menyebutkan hadits tersebut. Jika Abdullah bin Amru salah seorang yang menghadiri baiat ini sedangkan dia bukan termasuk golongan Anshar bahkan keislamannya tak lama setelah keislaman Abu Hurairah." Kemudian dia menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits Ubadah dan orang-orang dalam sanadnya termasuk golongan yang tsigat.diambilnya dari para wanita. Keislaman Jarir telah disepakati terjadi setelah keislaman Abu Hurairah. Hal itu jelas dalam penyatuan dua baiat tersebut. Rasulullah bersabda. maka sanad tersebut seperti Ayub bin N a f i ' d a r i Ibnu Umar. Pendapat ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam kitab sejarahnya dari ayahnya dari Muhammad bin Abdurrahman At-Thafawi dari Ayub dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya yang berkata.y a n g merupakan salah seorang utusandia berkata. Yang sama dengan riwayat tersebut adalah riwayat Ahmad dari jalur Muhammad bin Ishaq. bahkan setelah ditaklukkannya kota Makkah." (Al Hadits). dari Ubadah bin Shamit. timbullah kesalahpahaman bagi orang yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.merujuk kepada 2 baiat sebelumnya.

. Yang patut untuk diketahui. (Dan dia berkata. tidak ditemukan penambahan tersebut.'''' serta yang berkaitan dengan perkataan tersebut. Dengan demikian riwayat Ibnu Ishaq dapat ditakwilkan dengan merujuk apa yang disebutkan tadi. "Kami baiat Rasulullah untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.."). "Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat Rasulullah." Jelaslah bahwa hadits ini merupakan penggabungan dari dua baiat di atas." Kemudian dia berkata. "kami bai'at beliau. maksudnya pada lain waktu. karena telah disepakati bahwa baiat tersebut terjadi sebelum turunnya ayat (nisa'). Hal tersebut diisyaratkan oleh penggunaan "waw athifah" dalam kalimatnya. Yang benar bahwa penjelasan tentang hal tersebut merupakan kesalahan dari beberapa perawi.Hal yang semisal juga ditemukan dalam Shahihain dari jalur Ash-Shanabahi dari Ubadah yang berkata. Dengan demikian tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa hudud memiliki kafarah. Wallahu A 'lam. "Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat -pada malam Aqabahuntuk melindungi dan mendukung beliau. Yang kedua adalah baiat harb yang akan dijumpai dalam kitab jihad yaitu berjanji untuk tidak akan lari dari peperangan. yaitu baiat Aqabah yang telah disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ubadah yang diriwayatkan oleh Ahmad yang terjadi sebelum diwajibkannya peperangan. Penjelasan yang terdapat dalam riwayat Ibnu Ishaq dari Ubadah bahwa baiat Aqabah seperti baiat nisa' dapat dibantah. yaitu hadits Abu Hurairah dan hadits Ubadah bin Shamit. Faktanya adalah baiat harb (perang) terjadi setelah baiat Aqabah. akan tetapi Ali bin Abi Thalib pun meriwayatkannya dalam riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan FATHUL BAARI — 115 . hanya saja maksudnya sebagaimana yang saya sebutkan yaitu. Riwayat tersebut mencakup 3 baiat. karena kita tidak menemukan adanya pertentangan antara kedua hadits di atas. karena peperangan dalam Islam disyariatkan setelah hijrah. Hadits tersebut berasal dari jalur Yahya bin Sa'id Al Anshari dari Ubadah bin Walid. Kemudian dia berkata *i ZJL' (kami JL»j membaiatnya). Hendaknya anda mengembalikan riwayat yang mengindikasikan bahwa baiat tersebut terjadi pada malam Aqabah kepada ta'wil ini. Yang ketiga baiat nisa' (para wanita) atau yang seperti baiat nisa'. Ubadah bin Shamit bukan satusatunya yang meriwayatkan makna tersebut.kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) yang akan ditemukan dalam kitab ahkam.

lalu hak apalagi yang belum terpenuhi? Karena orang yang terbunuh secara zhalim. maka akan dihapus dosanya.oleh Hakim. karena ia belum mendapatkan haknya. dosanya telah diampuni dengan pembunuhan tersebut. akan tetapi dapat dianalogikan dengan membunuh jiwa. Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat yang disahihkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya. lalu mengapa pengampunan kepada pembunuh juga disyariatkan? Apakah termasuk dalam hukuman tersebut 1 1 6 — FATHUL BAARI . "jika terjadi pembunuhan maka segala (dosanya) terhapus. "Barangsiapa yang berbuat dosa dan diberi hukuman (di dunia). Sedangkan dalam kasus membunuh anak kecil tidak terdapat hukuman yang pasti. "Maksud hukuman di sini adalah hukuman potong tangan dalam kasus pencurian dan hukuman cambuk atau rajam (dilempari batu) dalam kasus zina. Kemudian jika hukuman had diberikan kepada pembunuh hanya untuk tujuan preventif saja. Ibnu Tin berkata." Dalam riwayat Al Bazzar dari Aisyah disebutkan secara marfu'. dalam riwayat tersebut terdapat kalimat. "seseorang yang terbunuh. "Sesungguhnya pedang adalah penghapus kesalahan. Diriwayatkan dari Al Qadhi Ismail dan yang lainnya bahwa membunuh seorang pembunuh adalah tindakan preventif bagi orang lain." 1 — ( M a k a ia akan dihukum). "Jika tidak karena terbunuh." Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Mas'ud. Dalam hal ini." Kemudian dalam riwayat Ath-Thabrani dengan rangkaian sanad yang hasan dari hadits Abu Hamimah Al Jahimi dan riwayat Ahmad dari hadits Khuzaimah bin Tsabit dengan sanad hasan." Kemudian dari Ath-Thabrani dari Ibnu Amru. "Seseorang yang diberi balasan atas dosanya berarti ia telah diberi oleh Allah kafarah terhadap dosa tersebut. "Ini adalah pendapat Ibnu Tin. maka Allah Maha Mulia dan Pemurah untuk menjatuhkan hukuman tersebut kedua kalinya di akhirat. "barangsiapa yang melaksanakan dosa kemudian mendapatkan balasan di dunia. saya berpendapat bahwa orang yang terbunuh telah mendapatkan haknya. Sedangkan di akhirat nanti. dia berkata. maka dosanya itu tidak akan terhapus. "Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan yang haq" akan tetapi hukuman dalam hadits "fa uuqiba bihi" bersifat umum dan tidak hanya terbatas pada hukuman had ataupun ta'zir. maka hukuman tersebut merupakan kafarah baginya. tuntutan dari orang yang terbunuh akan tetap ada. Sebagaimana dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah yang berkaitan dengan hadits ini.

bahwa yang dimaksud disini adalah hukuman dunia. Akan tetapi dalam banyak hadits disebutkan bahwa musibah dapat menghapus dosa. demikian pula pendapat Mu'tazilah yang didukung oleh Ibnu Hazm. bahwa ia dapat saja bertaubat secara sembunyi-sembunyi. "Kalimat tersebut mengindikasikan larangan untuk memvonis seseorang masuk neraka atau surga. kalimat tersebut mencakup orang yang bertaubat dan yang tidak. bahwa pelaksanaan had (hukuman) dapat menghapus dosa walaupun tanpa disertai dengan taubat." i—i* L . J ' Jii 'j* j^JJi Vi maka jawabnya. Dari hadits tersebut dapat disimpulkan. Ada yang berpendapat bahwa untuk mengetahui hal itu. •—Lii . sehingga ada kemungkinan bahwa penghapusan di sini berlaku bagi dosa yang tidak memiliki had (hukuman).musibah dunia. kecuali ada nash khusus yang menunjukkan hal tersebut. Sedangkan menurut jumhur ulama. Ini adalah pendapat Jumhur (mayoritas) ulama. kalimat tersebut tidak mencakup orang yang bertaubat. Namun sebagian Tabi'in mengharuskan adanya taubat. Mereka berargumen kepada pengecualian terhadap orang yang bertaubat dalam firman Allah. karena ia tidak dapat mengetahui apakah taubatnya diterima atau tidak. menghapusnya" maka musibah tidak menghilangkan apa yang ditutup oleh Allah. dan jika berkehendak untuk mengampuni dosanya maka Dia akan mengampuninya) Menurut satu pendapat. Kemudian mereka juga berbeda pendapat tentang orang yang wajib diberi hukuman had. "Barangsiapa yang tertimpa sesuatu darinya kemudian Allah. dan itu sudah cukup FATHUL BAARI — 117 .J\ (Maka perkaranya terserah kepada Allah). maka ia akan disiksa. Oleh karena itu orang yang berbuat makar kepada Allah tidak akan merasa aman. ada yang berpendapat. At-Thibi berkata. seperti sakit dan lainnya? Dalam hal ini masih diperselisihkan. Al Muzani berpendapat bahwa kalimat ini mengandung bantahan kepada kaum Khawarij yang mengafirkan seseorang karena telah berbuat dosa dan juga bantahan kepada kaum Mu'tazilah yang berpendapat bahwa orang fasik yang tidak bertaubat sebelum meninggal dunia. Sebab Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hal itu di bawah kehendak Allah.i c j ( u-i o. Karena Sabda Rasul. (Jika Allah berhendak untuk menyiksanya maka Dia akan menyiksanya. dibedakan terlebih dahulu antara orang yang wajib diberi hukuman had dan yang tidak wajib.

" Kemudian Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam bab wufudul Anshar (utusan Anshar) dari Qutaibah dari Laits dengan lafazh. "jika kita melakukan semua itu maka kita akan masuk surga. hanya saja beberapa orang telah menjadikannya sebagai sandaran dan mengatakan. Selain itu ada juga sebagian ulama yang merincikannya. maka ia harus bertaubat secara terang-terangan pula. Sedangkan yang dimaksud dengan merampas di sini adalah merampas harta setelah perang. M E N G H I N D A R DARI F I T N A H M E R U P A K A N B A G I A N DARI A G A M A 1 1 8 — FATHUL BAARI . begitu pula sebaliknya. yaitu jika ia berbuat dosa secara terang-terangan. karena jihad belum menjadi suatu kewajiban pada waktu baiat Aqabah. dan juga riwayat Al Ismaili dari Hasan bin Sufyan serta Abi N u ' a i m dari Musa bin Harun yang keduanya berasal dari Qutaibah.baginya. "Secara zhahir riwayat tersebut melarang seseorang untuk menjadi qadhi. Catatan: Dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah ditambahkan lafazh. "ij Sebenarnya penulisan kata tersebut keliru. "bil jannah" (dengan surga) berkaitan dengan keputusan atau pengadilan. larangan tersebut dibatalkan dengan diangkatnya Ubadah radhiallahu anhu menjadi Qadhi di Palestina pada masa pemerintahan Umar. Sedangkan sebagian orang berpendapat bahwa ia harus menghadap seorang imam dan mengakui kesalahannya serta minta pelaksanaan had atas dirinya seperti yang dilakukan oleh Ma'iz dan Al Ghamidiah." Cukuplah riwayat Muslim dari Qutaibah yang membuktikan kekeliruan tersebut. Akan tetapi. Dalam riwayat tersebut juga ditambahkan lafazh. 12. 'jangan merampas." dan ini yang menjadi dalil bahwa baiat tersebut tidak dilakukan pada saat itu. artinya jangan mengadili manusia untuk masuk surga. Demikian pula hadits tersebut menurut Al Bukhari dalam kitab Ad-Diyaat dari Abdullah bin Yusuf dari Al-Laits dalam sebagian besar riwayat. Ada yang berpendapat bahwa kata.

menghindari fitnah adalah bersumber dari a g a m a . (puncak bukit) atau puncak gunung. ' (akan datang) dalam waktu dekat. maksudnya adalah dasar lembah.t e m p a t air hujan berkumpul).19. agamanya) Imam Nawawi berkata." Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Bukhari dalam pembahasan tentang Al Fitan (fitnah atau cobaan) dimana sebenarnya hadits tersebut lebih pantas untuk dibahas di sana. dan pembahasan tersebut -Insya Allah. £ — ( t e m p a t . maka beliau menyebutnya dengan a g a m a " Ada sebagian ulama yang berkata. FATHUL BAARI — 119 . maka kritikan itu dapat diterima. "Menjadikan hadits ini sebagai dalil pernyataan yang terdapat dalam judul bab akan menimbulkan kritikan. Dia menghindarkan agamanya dari bencana. akan tetapi maksud dari hadits tersebut adalah menjaga agama. "Dari Abu Sa'id Al Khudri RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda. Digembalakan di puncak-puncak bukit dan di tempat-tempat air hujan berkumpul (lembah-lembah)." Kemudian Imam Nawawi melanjutkan perkataannya. jika huruf "min "tersebut adalah hanya sebagai 'ibtidaiyyah (permulaan kalimat) -sehingga maksudnya. "Ketika Imam Bukhari melihat bahwa menghindar dari fitnah merupakan upaya untuk menjaga agama.akan disampaikan kemudian. "Akan datang suatu masa dimana sebaik-baiknya harta orang muslim adalah kambing (biri-biri). karena lafazh tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa menghindari fitnah adalah termasuk bagian dari agama. "Jika huruf min (dari) dalam hadits tersebut menunjukkan arti tab 'idhiyyah (bagian). Akan tetapi.maka kritikan itu tidak dapat diterima. " Keterangan Hadits: i U j .

Maksud firman Allah 1 2 0 — FATHUL BAARI . "Dari Aisyah RA bahwa ia berkata. * * l b* -* s V ' * Z' . "Apabila Rasulullah menyuruh para sahabatnya. " (Qs. "Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan oleh sumpahmu yang disengaja untuk bersumpah oleh hatimu. O*." Makrifat adalah Perbuatan Hati Berdasarkan Firman Allah. * i*j JJWJS cy ' S 'J' tj 1 ' s 1F ' ^ *i J*j {~ *j ^ ^ j * ^ 20. " Keterangan Hadits: Hadits di atas dijadikan dalil. maka beliau akan menyuruhnya untuk mengerjakan amalan-amalan yang sanggup mereka kerjakan. Rasulullah bersabda.s* ' .13. kami ini tidak sepertimu. " Maka. "Sesungguhnya yang paling takwa dan yang lebih mengetahui tentang Allah diantara kamu sekalian adalah aku. mendengar ucapan mereka itu. "Aku Adalah Orang Yang Paling Mengetahui tentang Allah. Rasulullah SAW marah hingga terlihat tanda kemarahan di wajahnya. Beliau pun bersabda. "Ya Rasulullah. bahwa keimanan yang hanya diungkapkan dengan lisan tidak akan sempurna. A! Baqarah (2): 225) . Allah Subhanahu Wa Ta aala telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. kecuali bila disertai dengan keyakinan yang merupakan perbuatan hati. Akan tetapi kemudian mereka berkata.

karena sabda Rasulullah. Hal ini mengandung bantahan kepada kelompok Karramiyah yang berpendapat bahwa iman hanyalah ucapan saja. Pelajaran yang dapat diambil: Imam Al Haramain berkata. 'S i — L adalah apa yang terpendam di dalam hati. Akan tetapi mereka berbeda pendapat apakah itu kewajiban yang utama? Ada yang berpendapat bahwa kewajiban yang pertama adalah makrifah (mengetahui). dan riwayat yang menjelaskan masalah ini banyak sekali. maka jelaslah korelasi antara ayat dengan hadits tersebut." Al Muqtarih berkata. "Telah disepakati bahwa kewajiban yang pertama menurut maksudnya adalah makrifah dan kewajiban pertama kali yang harus dilakukan dari maksud tersebut adalah mencari. akan tetapi penggunaannya sebagai dalil dalam masalah iman diperbolehkan karena ada kesamaan antara kedua kata tersebut yaitu bahwa keduanya (sumpah dan iman) sama-sama merupakan perbuatan hati. Pengetahuan tentang Allah mencakup pengetahuan tentang sifat dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Karena dalam masalah ini banyak perbedaan pendapat. bahwa golongan kafir mempertahankan dan berperang demi FATHUL BAARI — 121 . "jika aku berbuat seperti ini maka aku akan kafir. "Aku yang paling mengetahui Allah" menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang Allah bertingkat-tingkat. banyak yang harus diperhatikan. — ~ i J> & rS^'y N dengan berkata. dan juga merupakan dalil bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. sampai-sampai ada golongan yang menukil pendapat yang bertolak belakang dalam masalah ijma'.. Jawaban kelompok pertama. tapi pendapat lain mengatakan. "Akan tetapi Allah tidak akan memberikan hukuman atas perkataannya itu kecuali jika telah diyakini oleh hatinya" Dari sini. Mereka berargumentasi dengan diterapkannya prinsip tersebut pada generasi pertama Islam ketika menerima orang yang ingin masuk Islam tanpa harus diuji. Dalam hal ini. "Para ulama sepakat bahwa mengetahui Allah adalah merupakan suatu kewajiban. bahwa kewajiban yang pertama adalah mencari atau melihat. Imam Bukhari terpengaruh dengan pendapat Zaid bin Aslam dalam menafsirkan firman Allah. Ayat ini." Dalam menukil ijma' (konsensus ulama). dimana Rasulullah berada pada tingkatan yang paling atas.. Inilah yang dinamakan dengan iman yang sebenarnya.—SSJyi . meskipun disebutkan dalam konteks tentang (sumpah). "Hal ini seperti perkataan seseorang.

agamanya. ada beberapa riwayat yang menyebutkan lafazh "amarahum " sekali saja sebagaimana dijelaskan oleh Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi tentang sebuah riwayat dari jalur Ubadah. Oleh karena itu maka Firman Allah 4 — ^ ^—^ j — ^ >'M ^~ j&U '^4* serta hadits. dan juga riwayat yang disebutkan oleh Al Ismaili dari Abu Usamah dari Hisyam dengan lafazh. "Allah mengampuni apa yang ada dalam jiwa umatku selama tidak dikatakan atau dilakukan. tjili ^ >' jtT (Jika beliau memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu). Untuk lebih lengkapnya." Mereka mengatakan. "Masalah ini adalah salah satu masalah Mu'tazilah yang tersisa dalam madzhab (Ahlu Sunnah). demikianlah lafazh yang terdapat dalam banyak riwayat. karena beliau khawatir mereka tidak akan mampu melakukannya secara terus menerus. karena mereka berasumsi bahwa berlebihan dalam beramal dapat meningkatkan derajat mereka. Menurut saya. 'J*'fA b| (Apabila Rasulullah menyuruh para sahabatnya. mereka berkata. maka beliau akan memerintahkan sesuatu yang mudah. J — ( a t a u tidak dikerjakan).y a n g merupakan salah seorang penyair b e s a r ." An-Nawawi berkata.b a h w a dia mendengar Abu Walid Al Baaji berkata. akan tetapi dapat 122 — F A T H U L B A A R I . Akan tetapi..).. dan dari jalur Ibnu Numair dan yang lainnya dari Hisyam yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad.. bahwa maksud hadits tersebut adalah jika Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat. pendapat tersebut dapat didasarkan pada keumuman sabdanya. Oleh karena itu. Keterangan lebih lanjut Insya Allah akan ditemukan dalam kitab Tauhid. karena ketinggian derajat seseorang tidak hanya diperoleh dengan ibadah saja. Maka mundurnya mereka dari agamanya menunjukkan bahwa mereka telah mengetahui kebenaran. masalah ini dapat ditemukan dalam kitab Ar-Riqaaq. Adapun sabda Rasulullah. "Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah" secara eksplisit mendorong masalah ini keluar dari asalnya." mengandung pengertian jika perbuatan atau niat tersebut belum tertanam dalam hati. "Dalam ayat tersebut terdapat bukti bahwa perbuatan hati dihitung jika benar-benar ada dalam hati. Akan tetapi. karena keyakinan adalah perbuatan hati. l {J Telah dinukil dari Al Qudwah Abu Muhammad bin Abi Hamzah dari Abu Walid Al Baaji dari Abu Ja'far As-Sam'ani . para sahabat meminta kewajiban yang lebih berat. "kami ini tidak sepertimu" Perkataan ini menyebabkan Rasulullah SAW marah. maka beliau akan menyuruhnya.

diperoleh juga dengan menambah rasa syukur kepada Sang Pemberi Nikmat sebagaimana sabda Nabi. Hal ini disebabkan karena Rasulullah SAW tidak mengingkari pendapat dan argumentasi para sahabat tersebut dari segi ini. Ibadah yang paling utama adalah yang dilakukan secara sederhana akan tetapi dilakukan secara terus menerus. 4. maka maksud hadits tersebut adalah jika beliau memerintahkan sesuatu kepada mereka maka beliau akan memerintahkan kepada mereka yang dapat dilakukan terus menerus. Hadits ini menunjukkan betapa besarnya semangat para sahabat dalam beribadah dan keinginan mereka untuk menambah k e baikan. 3. Dianjurkan untuk melaksanakan hukum azimah (tmkum asal) ataupun rukhshah (keringanan) sebagaimana mestinya sesuai dengan ketentuan syariat (Allah). Seorang hamba yang telah mencapai puncak ibadah dan dapat menikmatinya. yaitu: 1. 5. maka ia akan terus melaksanakannya dengan maksud untuk menjaga nikmat tersebut dan menambah rasa syukur kepada Allah. bukan ibadah yang berlebih-lebihan sehingga dapat menyebabkan rasa bosan dan ingin meninggalkannya. Dengan demikian kata amarahum yang kedua berfungsi sebagai jawab syarth. FATHUL BAARI — 123 . maksudnya bahwa status kami tidaklah sama dengan statusmu wahai Rasulullah. 2. "Bukankah aku seorang hamba yang bersyukur?" Adapun maksud Rasulullah memerintahkan kepada mereka untuk mengerjakan sesuatu yang mudah adalah agar mereka dapat melaksanakannya secara terus menerus sebagaimana disebutkan dalam hadits lain. Penggunaan kata hai'ah hanya sebagai penguat saja. dl^rf—? (sepertimu). Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diintisarikan dari hadits ini. "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan terus menerus?' Dengan pengulangan kata J—»yi dalam riwayat ini. Perbuatan shalih dapat meningkatkan derajat orang yang melakukannya dan menghapuskan dosa-dosanya. dan berkeyakinan bahwa melaksanakan sesuatu yang lebih ringan tapi sesuai dengan syariat adalah lebih baik daripada melakukan sesuatu yang lebih berat tapi bertentangan dengan syariat.

Rasulullah SAW adalah orang yang mencapai tingkat kesempurnaan karena dalam dirinya terdapat dua hal sekaligus yaitu. dan dianjurkan untuk mengingatkan orang yang pintar jika ia lupa atau tidak dapat memahami sesuatu dengan maksud untuk menyadarkannya.^ J jl_J L l * 0 ." Dalam riwayat A b u N u ' a i m lafazhnya adalah. Seseorang dibolehkan untuk membicarakan tentang kelebihan dirinya sesuai dengan kebutuhan.U!l . *JJu IS-lcij 1 7. Hadits ini termasuk hadits yang hanya diriwayatkan oleh Bukhari dan termasuk dalam hadits gharib yang shahih. j U-f L . dengan syarat tidak berniat untuk membesar-besarkan dirinya. "yang paling takwa.6. ilmu dan amal. B E N C I U N T U K K E M B A L I K E P A D A K E K U F U R A N SEPERTI B E N C I U N T U K DIMASUKKAN KE DALAM NERAKA ADALAH SEBAGIAN DARI I M A N j l J jJLj^j J ji y \ £ & uji ^ j <J > y!>3\ Jt jl S^J j l j AJJ "VI -U^J N L . i—>i < * — J ! (Sesungguhnya orang yang paling baik dan bertakwa di antara kalian adalah aku). Marah dibolehkan bagi seseorang jika ia melihat sesuatu yang bertentangan dengan syariat agama. —i :i dengan penambahan huruf lam sebagai ta 'kiid (penguat).'" dan tentang hal yang kedua dalam sabdanya. Beliau telah mengisyaratkan tentang hal pertama (ilmu) dengan sabdanya. 8. Sedangkan dalam riwayat Abu Usamah dari Al Ismaili lafazhnya adalah.S J i j l B > ^ ' llS" 1 2 4 — FATHUL BAARI . 14. "Aku yang lebih mengetahui..

Dalam bab ini. "Ada tiga perkara. -seperti biasanya. " Hadits ini telah dibahas sebelumnya.21. maka Allah pun berfirman.O R A N G Y A N G B E R I M A N DALAM BERBUAT ^-. "Keluarkan dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.> ' U^Jt "J p l jIlJl ^ J l i ^ S ^ J l 22.l^C= j r . 3. p j& jifj jiji ji( ji -jj jljjl 1 J — 9 L^L. T I N G K A T A N O R A N G .d d \ S \ f - ^ LLJJL* J i ^ .Orang yang benci kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskannya dari belenggu kekafiran tersebut dengan kebencian yang sama seperti bencinya dia dilemparkan ke dalam neraka.j* 5 * JUi? y)I J 015" ' ' O — 1 *5 J dLi aL*JI j \ L>JI j ^iLi l j J ^ — J i i C j=ii s. Seluruh rangkaian sanadnya adalah orang-orang Bashrah. " D a n SaW Al Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. "Setelah penduduk surga masuk surga dan penduduk neraka masuk ke neraka.Orang yang cintanya kepada Allah dan Rasulnya melebihi kecintaannya kepada selain keduanya.Orang yang mencintai orang lain karena Allah semata. barangsiapa melaksanakan ketiga-tiganya akan mendapat kelezatan iman: I. " Mereka FATHUL BAARI — 125 . 2.\>>f Jus & j>.Imam Bukhari memberikan judul bab dengan matan dari hadits lain dengan sanad yang berbeda. "Dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi SAW bersabda. sedangkan korelasi antara judul bab dengan hadits ini sangatlah jelas. 15.

sedangkan dalam riwayat Karimah dan riwayat-riwayat lainnya ditulis dengan tidak menggunakan hamzah. "Sungai Al Hayat (kehidupan)" dan Wuhaib berkata. Tidakkah engkau melihat benih tersebut tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat" Wuhaib berkata." Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Al Ismaili dari jalur Ibnu Wahab.pun dikeluarkan dari neraka. Kata "haya " berarti hujan yang dapat menumbuhkan tanaman. "Bisa saja perbuatan yang ada diwujudkan kemudian ditimbang. Oleh 1 2 6 — FATHUL BAARI . Oleh karena itu. "Dia memasukkan siapa yang dikehendaki dengan Rahmat-Nya. Sedang yang dimaksud dengan biji sawi di sini adalah amalan yang lebih dari sekedar tauhid berdasarkan firman-Nya dalam riwayat lain. karena tujuan mengungkapkan sesuatu yang terlintas dalam pikiran dengan sesuatu yang dapat dilihat adalah agar mudah dipahami. " Keterangan Hadits: Sedangkan dari jalur M a ' a n disebutkan. mereka dilemparkan ke sungai Haya' atau Haya'a -terdapat keraguan dalam diri Imam Malik-. "Keluarkan (dari neraka) orang yang berkata *ui ~i\ < — ! • [ V dan berbuat kebaikan walaupun sebesar dzarrah. "Amru menceritakan kepada kami. "Kata tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan standar dalam pengetahuan bukan berat. Kemudian tubuh mereka berubah bagaikan benih yang tumbuh setelah banjir. hanya saja tubuh mereka telah hitam legam bagaikan arang. karena apa yang terjadi di akhirat tidak dapat dicapai oleh akal. "Berat hanya diperuntukkan bagi amal yang beratnya sesuai dengan ganjaran dari perbuatan yang dilakukan. Sebab maksudnya adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan hidup." Imam Haramian berkata. Pendapat ini didukung oleh Al Khaththabi dan inilah yang sesuai dengan maksud dari hadits tersebut." Yang lain berpendapat. tCidi J> (ke sungai Hayaa'} Demikianlah dalam riwayat ini ditulis dengan mad (menggunakan hamzah). Al Khaththabi berpendapat. "kebaikan sebesar biji sawi." Uraian lebih luas dapat ditemukan pada pembahasan tentang hadits Syafa'ah yang disampaikan oleh Imam Bukhari dalam kitab Ar-Riqaaq. J *-* (walaupun sebesar biji sawi) maksudnya adalah iman 1 yang paling kecil.

— h seperti yang dikomentari oleh Imam Bukhari dan jelaslah bahwa teks yang dimaksud tersebut bukan milik Musa.karena itu. R 0 A I u ADi [I < I ^ I ' AUi J y* j L ^ ° J J i i J j i j t_gjlbJi ^jt r _ 0 ~ -' » > * I " * I " • J' Z. J O' J i ' FATHUL BAARI — 127 . J — ' j — * Ji'J* Jiij (Wuhaib berkata. Yang dimaksud dengan Wuhaib adalah Ibnu Khalid. " Hal ' -' tersebut menunjukkan bahwa dia berbeda pendapat dengan Malik dalam lafazh ini. i\—iJi (sungai kehidupan). Kesesuaian antara hadits dengan tema telah tampak dengan jelas. "Dalam sungai hayah" dengan yakin tanpa keraguraguan. dengan kasrah merupakan bentuk jamak dari kata C. Sedangkan Abu Al Ma'ali dalam kitabnya Al Muntaha berpendapat bahwa "hibbah " adalah benih tumbuh-tumbuhan padang pasir yang bukan merupakan makanan pokok. Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari Malik dengan ragu. Sedangkan Amru adalah Ibnu Yahya Al Mazini yang disebutkan di atas. tetapi hal ini dijelaskan oleh riwayat Wuhaib tersebut. riwayat Wuhaib ini sama dengan riwayat Malik dari Amru bin Yahya dengan sanadnya. kata tersebut lebih tepat untuk menunjukkan arti "kehidupan" (benih) Abu Hanifah Ad-Dainuri berpendapat bahwa kata ^ daripada kata haya' yang berarti memalukan. iji ul7 *X*j . tapi lafazhnya adalah. Disamping itu juga merupakan bantahan terhadap Mu'tazilah yang berpendapat bahwa orang yang berbuat maksiat akan kekal dalam neraka. hanya saja dia tidak menyebutkan lafazhnya. "kebaikan sebesar biji sawi) kalimat ini berdasarkan riwayat Wuhaib. Akan tetapi ia menyebutkan lafazh. 'j> J j ^ 'j* J u i . . Imam Bukhari memaparkan hadits Wuhaib ini dalam kitab ArRiqaaq dari Musa bin Ismail dari Wuhaib dengan teks yang lebih lengkap daripada yang diriwayatkan oleh Malik. karena di dalamnya disebutkan bahaya kemaksiatan bagi keimanan yang ada dalam diri manusia. Imam Muslim juga meriwayatkannya dari Abu Bakar.yang berarti benih tumbuh-mmbuhan. j * 'j* j'. Pemaparannya di sini dimaksudkan sebagai bantahan terhadap kelompok Murji'ah.

kata tersebut adalah merupakan bentuk adalah — Tx . "Dar/ 5 o W . Wallahu a 'tam. yang ditambah alif.4/ Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. tff £• (Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan aku melihat manusia) kata berasal dari kata 'Jj. hadits ini dapat memperkuat penggunaan semacam itu. Ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut hanya digunakan untuk menunjukkan payudara perempuan. meskipun sebagian besar ulama tidak menyetujuinya. dan ada yang berpendapat bahwa kata tersebut Jj>(feminine). Penggunaan semacam ini sering digunakan oleh Al Asmu'i. 1 2 8 — FATHUL BAARI . Akan tetapi. Dan kulihat pula Umar bin Khaththab memakai baju yang dihela-helanya karena sangat panjang. Akan tetapi berdasarkan riwayat yang masyhur. orang yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa penggunaan kata tersebut untuk menunjukkan payudara laki-laki adalah termasuk majaz (kiasan). kata £ ' tidak digabungkan dengan kata bj atau ij. Pendapat ini dibantah oleh hadits tersebut. kata itu digunakan untuk menunjukkan arti "payudara" baik milik orang laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi. "Apakah takwil mimpi anda itu? " Rasulullah SAW menjawab. "Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan aku melihat manusia dihadapkan kepadaku. merupakan bentuk jamak dari kata >.(maskulin). ^J—tii (buah dada). Dalam hadits ini. Kemudian para sahabat bertanya. Menurut sebagian besar ahli bahasa. Baju mereka di antaranya ada yang sebatas buah dada dan ada yang kurang dari itu. "Agama?' Keterangan Hadits: j-i—lii c j r .23.

"Engkau sangat pemalu" seakan-akan ia berkata. Keterangan yang lebih bagus adalah seperti yang diterangkan oleh Imam Bukhari. bersabda. r j i . sehingga pembahasan sebelumnya bukanlah pembahasan tersendiri yang tidak berhubungan dengan pembahasan dalam bab ini.*SJ\ J^> jJJl J _J—J UI j ^ J L 4JJI J y* j J U i i L l i J l ALI-L J W ^A_J JCAI*I L ! ^rf ' S 24." FATHUL BAARI — 129 .'j* A $ S S S ( J' * y j ' *S d\ £ fl jJJl J-1 P (JJ P L ^ £ J*" J <£s. ' (Nabi lewat di hadapan orang Anshar) Muslim lafazhnya adalah J — ' J * Marra berarti Dalam Shahih melewati. *J'ji(dari ayahnya). dalam bab Adab melalui jalur Abdul Aziz bin Abu Salmah dari Ibnu Shihab yang lafazhnya t. Adapun pengulangannya di sini bertujuan untuk membahasnya secara terpisah dengan sanad yang berbeda. Demikianlah mereka menerangkan kata tersebut. "Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman. kata tersebut biasa digabungkan dengan "'Ala" atau"ba'. dari ayahnya. Dari Salim bin Abdullah.\—'S*)\ ^—> = i — ^ u j i — » (mencela sifat malu yang dimiliki oleh saudaranya). ''Sifat tersebut sangat membahayakanmu. Ia berkata.j ji. yaitu Abdullah bin Umar bin Khaththab. "Nabi lewat di hadapan seorang Anshar yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. " Keterangan Hadits: Sifat malu ini telah dibahas sebelumnya dalam masalah iman.16. baik yang memberikan nasihat atau yang diberi nasihat. Maka Rasulullah SAW. M A L U A D A L A H SEBAGIAN DARI I M A N X S ^Js." Saya tidak mengetahui nama dua orang yang ada di atas. -k « berarti menasihati. ia berkata. menakut-nakuti atau mengingatkan.

Karena itulah ia dicela oleh saudaranya. karena takut melakukan sesuatu yang dibenci oleh syariat. maka ia termasuk orang yang fasik. Sedangkan jika ia melakukan hal yang dibenci oleh adat. maka ia termasuk dalam kategori orang gila. Rasulullah bersabda kepadanya. pernyataan bahwa sifat malu merupakan sebagian dari iman termasuk majaz (kiasan). Ar-Raghib berkata. "Malu adalah menahan diri dari perbuatan buruk. maka dia 1 3 0 — FATHUL BAARI . Penegasan itu juga disebabkan karena masalah itu adalah masalah yang harus diperhatikan." Untuk itu.> (menasihati) dan 'itaab ^—»(mencela) disebutkan secara bersamaan dalam satu hadits. Oleh karena itu orang yang malu bukan orang yang fasik. Terkadang sifat malu juga berarti menahan diri secara mutlak.Ada kemungkinan bahwa dua lafazh tersebut J » * . biarkan dia tetap berada dalam akhlak yang disunnahkan itu. Ibnu Qutaibah berkata. Dalam hadits tersebut. bahwa sifat malu dapat menghalangi dan menghindarkan seseorang untuk melakukan kemaksiatan sebagaimana iman. akan tetapi sebagian periwayat ada yang menyebutkan dan ada yang tidak. sehingga setelah itu ditegaskan kembali eksistensi dari sifat malu tersebut. karena malu adalah sebagian daripada iman. meskipun jarang sekali kita temukan seorang pemberani yang pemalu. Jika ia melakukan hal yang dibenci oleh akal. "Maksudnya. Jika sifat malu menghalangi seseorang untuk menuntut haknya. meskipun tidak ada yang mengingkarinya. Sifat tersebut merupakan gabungan dari sifat takut dan iffah (menjaga kesucian diri). Ada pula yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti menahan diri." Sifat tersebut merupakan salah satu ciri khusus manusia yang dapat mencegah dari perbuatan yang memalukan dan membedakannya dengan binatang. tampaknya orang yang melarang itu tidak mengetahui bahwa malu termasuk salah satu kesempurnaan iman. Orang yang melakukan sesuatu yang dibenci syariat. seperti sesuatu dapat diberi nama dengan nama lainnya yang dapat menggantikan posisinya. ^—• termasuk "Fa" sababiyah" (yang mengindikasikan sebab) artinya seakan-akan pria tersebut sangat pemalu sampai tidak ingin meminta haknya. akal maupun adat kebiasaan. maka dia akan diberi pahala sesuai dengan hak yang ditinggalkannya itu. Maka sifat malu disebut sebagai iman. Hal tersebut dilakukan dengan keyakinan bahwa saiah satu dari kedua lafazh tersebut dapat mewakili lafazh yang lain. '•—«o artinya.

termasuk orang bodoh. Adapun perkataan Rasulullah SAW, "Malu adalah sebagian dari iman" mengandung arti, bahwa malu merupakan salah satu pengaruh iman. Al Hulaimi berkata, "Esensi dari rasa malu adalah takut akan dosa, karena melakukan perbuatan yang tidak terpuji." Yang lain menambahkan, bahwa rasa malu terhadap sesuatu yang diharamkan, adalah wajib hukumnya. Sedangkan terhadap sesuatu yang makruh, hukumnya sunnah. Namun malu terhadap sesuatu yang diperbolehkan (mubah) hukumnya masih harus disesuaikan dengan adat kebiasaan. Inilah maksud dari perkataan, "Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan" Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa menetapkan dan menafikan mubah harus sesuai dengan hukum syariat. Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf, "Aku melihat bahwa kemaksiatan itu adalah perbuatan hina, dan demi kehormatan kutinggalkan kemaksiatan tersebut. Setelah itu terbentuklah ruh agama." Terkadang rasa malu kepada Allah lahir karena besarnya nikmat yang diberikan, sehingga merasa malu menggunakan nikmat tersebut untuk melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Sebagian ulama berkata, "Takutlah kepada Allah sebesar kekuasaan-Nya atas dirimu, dan malulah kepadaNya sebesar kedekatan-Nya kepada dirimu." Wallahu A 'lam.

17. BAB
"Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan maka berilah kebebasan kepada mereka untuk (Qs. At-Taubah (9): 5) berjalan." zakat,

FATHUL B A A R I —

131

25. Dari Ibnu Umar berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, dan supaya mereka menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukan itu maka darah dan harta mereka mendapat perlindungan dariku, kecuali karena alasan-alasan hukum Islam. Sedangkan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah" Hadits ini dijadikan dasar untuk menafsirkan ayat di atas, karena maksud "taubat" dalam ayat tersebut adalah berhenti dari kekufuran menuju tauhid. Ayat tersebut ditafsirkan oleh sabda Rasulullah SAW,
; — J — j j i j «dji V ; il; M j n j - i ^ J

"Sampai mereka bersaksi

tiada

Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah." Disamping itu ada korelasi lain antara ayat dengan hadits di atas, yaitu takhalliyah (memberi kebebasan) dalam ayat dan 'ishmah (perlindungan) dalam hadits memiliki arti yang sama. Sedangkan korelasi hadits dengan bab iman, merupakan bantahan terhadap kelompok Murji'ah yang mengklaim bahwa iman tidak membutuhkan realisasi dalam bentuk amal perbuatan. (Aku diperintah) maksudnya, aku diperintah oleh Allah karena hanya Dialah yang memerintah Rasul-Nya. Jika ada seorang sahabat yang mengatakan "Aku diperintah," maka hal tersebut berarti "Aku diperintah oleh Rasulullah." Kalimat tersebut tidak mengandung kemungkinan "Aku diperintah oleh sahabat yang lain." Karena selama mereka adalah para mujtahid, maka mereka tidak menjadikan perintah mujtahid yang lain sebagai hujjah. Apabila kalimat tersebut dikatakan oleh seorang Tabi'i, maka ada kemungkinan demikian. Kesimpulannya, bahwa seseorang yang terkenal patuh kepada pemimpinnya, maka jika ia mengatakan kalimat tersebut, dapat dipahami bahwa perintah tersebut berasal dari pemimpinnya. i j j j j — J * , (sehingga mereka bersaksi). Kalimat ini menjelaskan, bahwa tujuan memerangi adalah adanya sebab-sebab yang telah disebutkan dalam hadits. Maka secara dzahir kalimat tersebut mengandung pernyataan, bahwa orang yang mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat, akan dijamin jiwanya walaupun mengingkari hukum-hukum yang lain. Karena syahadah (kesaksian) terhadap suatu risalah berarti meyakini semua yang berasal darinya, ditambah lagi bahwa konteks hadits, rrsC>'i li (kecuali yang 1 3 2 — FATHUL BAARI

berkaitan dengan hukum Islam) mencakup semua hal yang disebutkan dalam hadits. Jika ada pertanyaan, "Kenapa yang disebutkan hanya shalat dan zakat saja dalam nasli di atas?" Jawabnya, supaya manusia memperhatikan dua hal tersebut, karena shalat dan zakat adalah ibadah yang sangat mulia, disamping keduanya juga merupakan ibadah badaniyah (jasmani) dan maliyah (harta) yang paling penting.
W _ J ^ J i \ j—IJJ

j (menegakkan shalat), artinya melaksanakan shalat

secara kontinu dengan memenuhi semua syarat rukunnya. Maksud dari qiyaam (berdiri) adalah adaa' (melaksanakan) yang dalam hal ini termasuk ta'bir al kulli bil juz'i (menerangkan sesuatu dengan menyebutkan bagiannya), karena berdiri merupakan salah satu rukun shalat. Yang dimaksud dengan shalat di sini adalah yang diwajibkan, bukan shalat secara umum. Oleh karena itu, tidak termasuk di dalamnya sujud tilawah walaupun sujud tersebut dapat dikategorikan dalam shalat. Syaikh Muhyiddin An-Nawawi berkata, "Hadits ini mengindikasikan bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja akan dibunuh atau dihukum mati." Kemudian beliau menyebutkan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini. Ketika Al Karmani ditanya tentang hukum orang yang meninggalkan zakat, beliau menjawab bahwa hukum shalat dan zakat adalah sama karena tujuan kedua hal tersebut tidaklah berbeda, yaitu "memerangi" bukan "menghukum mati." Adapun perbedaannya, orang yang tidak mau membayar zakat dapat diambil secara paksa sedangkan dalam shalat tidak dapat diperlakukan seperti itu. Oleh karena itu, jika seseorang telah mencapai nisab dan tidak mau mengeluarkan zakat maka dia harus diperangi. Dalam kerangka ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq memerangi golongan yang tidak mau membayar zakat. Tidak ada satupun riwayat yang menunjukkan bahwa beliau membunuh mereka. Oleh karena itu, harus diteliti terlebih dahulu jika hadits ini dijadikan dalil untuk membunuh orang yang meninggalkan shalat, karena sighah (bentuk kalimat) uqaatil (saya memerangi) dengan aqtul (saya membunuh) adalah berbeda. Wallahu A 'lam. Ibnu Daqiq Al 'Id dalam kitabnya Syarh Al 'Vmdah telah menjelaskan secara panjang lebar dalam menolak pendapat yang menggunakan hadits tersebut sebagai dasar legalitas eksekusi bagi orang yang meninggalkan shalat. Beliau berkata, "Diperbolehkannya F A T H U L BAARI — 133

memerangi (golongan tersebut), bukan berarti diperbolehkan membunuh mereka. Karena bentuk "muaaatalah" berasal dari wazn (pola) "mufaa'alah" yang mengharuskan adanya interaksi dari kedua pihak, sedangkan dalam al qailu (membunuh) tidak seperti itu." Al Baihaqi meriwayatkan dari Asy-Syafi'i yang berkata, "Perang tidaklah sama dengan membunuh, karena terkadang kita dibolehkan untuk memerangi seseorang tetapi tidak boleh membunuhnya." iljj l y i liu (Jika mereka melakukan itu) Ungkapan tersebut menggunakan kata "fa'aluu" (melakukan), meskipun diantara obyeknya ada yang berbentuk perkataan. Hal itu mungkin disebabkan penggunaan metode taghlib (menamakan sesuatu dengan kondisi yang paling menonjol) atau karena menghendaki arti yang lebih umum, sebab perkataan adalah perbuatan lisan.
l

j

(mereka berada

dalam

lindunganku)

terjaga

atau

terlindungi. Al 'Ishmah berasal dari Al 'Ishaam, yaitu tali untuk mengikat mulut qirbah (tempat air yang berasal dari kulit hewan—penerj.) agar airnya tidak mengalir. *—w Ji- ^4'c_*-j (dan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah), maksudnya dalam hal-hal yang bersifat rahasia. Kalimat tersebut dapat dijadikan dalil diterimanya amal perbuatan yang bersifat lahiriah (nampak) dan menetapkan hukum dengan bukti-bukti yang zhahir. Demikian pula bahwa keyakinan yang kuat cukup sebagai syarat diterimanya iman. Pendapat ini berbeda dengan pendapat yang mengharuskan untuk mengetahui dan mempelajari dalil atau bukti-bukti secara mendalam, sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Kalimat di atas, dapat dijadikan sebagai dalil untuk tidak mengafirkan ahli bid 'ah yang mengikrarkan tauhid dan melaksanakan syariat. Begitu juga sebagai dalil diterimanya taubat orang yang kafir, terlepas apakah kekafirannya sebelum itu bersifat zhahir atau batin. Jika ada yang bertanya, "Hadits tersebut menuntut untuk memerangi orang yang menolak tauhid, lalu bagaimana orang-orang yang membayar jizyah dan mu 'ahadah (yang terikat dengan perjanjian damai) tidak diperangi? Ada beberapa jawaban atas pertanyaan ini. Pertama, nasakh (penghapusan hukum—penerj.) dengan alasan bahwa hukum penarikan jizyah dan mu'ahadah datang setelah haditshadits ini. Dalilnya adalah hadits yang melegalisasi pengambilan jizyah dan perjanjian datang setelah turunnya firman Allah, "Bunuhlah kaum musyrik."

1 3 4 — FATHUL BAARI

Kedua, hadits tersebut bersifat umum yang dikhususkan dengan hadits lain. Karena suatu perintah dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga apabila ada hukum lain yang tidak sama dengan hukum yang bersifat umum itu dengan alasan tertentu, maka hal itu tidak akan mengurangi atau merubah nilai hukum yang bersifat umum tersebut. Ketiga, konteks hadits itu bersifat umum yang mempunyai maksud tertentu. Seperti maksud kata "An-Naas (manusia)'" dalam kalimat "Uqaatila An-Naasa" adalah kaum musyrikin, sehingga ahlul kitab tidak termasuk di dalamnya. Hal ini diperkuat dengan riwayat dari An-Nasa'i yang berbunyi, o/^—iii JJiii o' o ' ^ i (aku diperintahkan untuk memerangi kaum musyrikin). Apabila ada yang mengatakan, "Walaupun hal ini bisa diterapkan dalam masalah ahlul jizyah, namun tetap saja tidak dapat diterapkan dalam kasus mu'ahadah atau golongan yang menolak jizyah.'" Karena faktor yang menyebabkan mereka harus diperangi adalah keengganannya untuk membayar zakat, bukan mengundurkan pelaksanaannya dalam selang waktu tertentu seperti dalam hudnah (gencatan senjata). Sedangkan golongan yang menolak membayar jizyah harus diperangi berdasarkan ayat tersebut di atas. Keempat, bisa jadi maksud dari syahadah dan lainnya yang disebutkan dalam hadits tersebut adalah menegakkan kalimat Allah dan menundukkan para pembangkang. Tujuan ini terkadang dapat dicapai dengan berperang, jizyah atau dengan mu 'ahadah. Kelima, bahwa tuntutan dari perang tersebut adalah agar mereka mengakui ajaran tauhid atau membayar jizyah sebagai pengganti. Keenam, tujuan diwajibkannya jizyah adalah mendesak mereka untuk memeluk Islam. Seakan-akan Rasulullah bersabda, "hingga mereka memeluk Islam atau melaksanakan perbuatan yang mengharuskan mereka memeluk Islam." Inilah jawaban yang paling baik. Wallahu A 'lam.

FATHUL BAARI —

135

18. O R A N G Y A N G M E N G A T A K A N "IMAN A D A L A H PERBUATAN**

Berdasarkan Firman Allah, J ^ L — J J i f C* U _ , I ^ \ "Dan itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan yang dahulu kamu kerjakan. " (Qs. Az-Zukhruf (43): 72) J j — l l i i tyis" di- oi-ii-f "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan mereka semua Hijr (15): 92-93) ditafsirkan dengan kalimat iili ^ iij ^ Allah berfirman, j j U i i J^lti I ji j i J "Untuk kemenangan ini hendaklah (37): 61) berusaha orang-orang serupa amal-amal difj'y

Beberapa ulama mengatakan bahwa firman Allah, 'J^Zt^l

menanyai

tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu." (Qs. Al

yang bekerja." (Qs. Ash-Shaffaat

J — L i i j L J l (^1 J i -

A1£ -UI J L «1)1 J 0 1 o^ys ^ 1

iSu

j j Jii j - L j li^Ji j u ilc Jj J J

Jji ou] J u i

26. Dari Abu Hurairah RA. katanya ada orang yang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Apakah amal yang paling utama?" Jawab Nabi, "Percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. " la bertanya lagi, "Lalu apa lagi?" Jawab beliau, "Jihad di jalan Allah." Tanyanya lagi, "Sesudah itu apa pula?" Jawab beliau, "Haji yang mabrur (haji yang diterima oleh Allah, karena memenuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan Allah)."

Keterangan Hadits:
JJo\ 'Jt jCJvi 01 (Iman adalah perbuatan) Dalam hal ini harus ada kesesuaian antara hadits dengan ayat ketika mempergunakan salah satunya untuk menafsirkan yang lain, 1 3 6 — FATHUL BAARI

karena satu ayat atau hadits dapat menjadi dalil untuk beberapa pendapat, seperti firman Allah, J j — J . Z? ^ (yang dahulu kamu kerjakan) ini bersifat umum, yang mencakup setiap perbuatan. Sedangkan sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa makna dari O-jJli; (kamu mengerjakan) adalah Sj*f (kamu beriman), yaitu dengan makna yang lebih khusus.
}

Sedangkan firman-Nya, o —LJJ i kerjakan dinukil dahulu) oleh adalah Imam Bukhari. Adapun

i l i (tentang apa yang kamu firman Allah, j j _ U i J i J — J ^

khusus bagi perbuatan mulut, sebagaimana

(berusahalah orang-orang yang bekerja) juga bersifat umum. Demikian pula dengan sabda Nabi dalam hadits, "Iman kepada Allah" sebagai jawaban dari pertanyaan, "Perbuatan apa yang paling utama?" mengindikasikan bahwa keyakinan dan perkataan termasuk dalam kategori perbuatan. Jika ada orang yang berpendapat bahwa karena kata ^ di dalam hadits tersebut menunjukkan perbedaan dan urutan, maka jihad dan haji tidak termasuk bagian daripada iman. Jawabnya bahwa yang dimaksud dengan iman di sini adalah hakikatnya yaitu at-tashdiq (meyakini), sedangkan iman sendiri -sebagaimana telah dijelaskan sebelumnyamencakup perbuatan fisik, karena perbuatan tersebut termasuk pelengkap iman. -Li_ji£j_}i (yang diwariskan kepadamu), maksudnya adalah menjadi warisan bagimu. Kata "irts" sering digunakan untuk menunjukkan mengandung pengertian memiliki. sehingga artinya "pemberian," karena sama-sama

Huruf i—* dalam kata LL dapat berupa "ma mashdariah"

adalah dengan perbuatan kalian, atau dapat berupa "ma maushulah" yang berarti dengan apa yang telah engkau kerjakan. Sedangkan huruf menunjukkan arti "pengganti atau balasan" .
1

Jika ada pertanyaan, "Bagaimana menyatukan antara ayat ini dengan hadits, "Tidak seorang pun masuk surga dengan amalnya?" Jawabnya adalah bahwa maksud dari amal dalam hadits tersebut adalah amal yang tidak diterima, sedangkan amal dalam ayat di atas adalah amal yang diterima. Dalam hal ini, diterimanya amal tersebut hanya diperoleh dengan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta 'aala. Oleh karena itu, tidak ada

Yang benar adalah ba' dalam kalimat ini berfungsi menunjukkan sebab musabab (sababiah),

FATHUL BAAR1 —

137

yang masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Ada yang berpendapat, bahwa jawabannya bukan itu seperti yang akan kami jelaskan. ' '^itJi
r

(Kami pasti akan menanyai mereka)

Menurut Imam Nawawi, maksud kalimat tersebut adalah seluruh perbuatan mereka atau yang berkaitan dengan taklif (kewajiban). Maka mengkhususkan kalimat tersebut hanya pada tauhid saja, adalah pendapat yang tidak mempunyai landasan dalil. Dalam ha! ini, saya berpendapat bahwa pengkhususan kalimat tersebut -seperti yang mereka lakukantetap mempunyai landasan dalil, karena firman Allah "Ajma 'iiri" (mereka semua) bersifat umum hingga firman-Nya "...dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman" (Qs, Al Hijr (15): 88) Oleh karena itu, baik orang muslim maupun orang kafir termasuk dalam pengertian ayat tersebut, sebab menurut kesepakatan ulama orang kafir juga terkena perintah untuk bertauhid. Sedangkan untuk amal-amal lainnya, terdapat perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa mereka terkena perintah (mukhathab) dan mereka akan ditanya tentang semua amal perbuatannya, dan ada pula yang berpendapat bahwa mereka tidak dikenai perintah tersebut sehingga orang-orang kafir tersebut hanya akan ditanya tentang tauhid saja. Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat dalam pertanggungjawaban masalah tauhid. Inilah dalil takhsish (pengkhususan), dimana ayat di atas sebaiknya ditafsirkan seperti itu dan tidak ditafsirkan dengan "seluruh perbuatan" yang masih menjadi bahan perdebatan. Wallahu A 'lam. Allah berfirman 'J—* J—uJ (untuk kemenangan serupa ini), yaitu kemenangan yang besar. OjL.Wi J ^ 4 > (hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja) di dunia. Jelas bahwa Imam Bukhari menakwilkan ayat tersebut sebagaimana beliau menakwilkan dua ayat sebelumnya, yaitu dengan maksud "Berimanlah orang-orang mukmin." Atau beliau menafsirkannya secara umum, karena setiap orang yang beriman harus menerima apa yang datang dari Rasulullah. Setiap orang yang telah menerimanya, maka ia wajib beramal, dan setiap orang yang beramal, maka ia pasti akan mendapatkan ganjaran. Jika telah mendapatkan ganjaran tersebut, maka ia akan berkata, "Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja. " (Qs. Ash-Shaffat (37): 61)

1 3 8 — FATHUL BAARI

^ Dengan demikian. tidak seperti jihad yang harus terus dilakukan. sang penanya tidak disebutkan dalam hadits ini. Wallahu A jam. yang di maksud dengan haji mabrur adalah haji yang diterima. Ia adalah Abu Dzarr Al Ghifari. Sebagian orang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dengan dosa.(Haji yang mabrur). maka tidak lagi afdhal (lebih utama). Oleh karena itu. Pernyataan semacam ini dapat dibantah. (ditanya). — ^ (Kemenangan yang besar) sedangkan kalimat selelahnya adalah firman Allah atau perkataan malaikat yang bukan merupakan cerita tentang perkataan seorang mukmin. dan agaknya inilah rahasia mengapa pengarang tidak menyebutkan dengan jelas orang yang mengatakan. karena bentuk nakirah juga dapat menunjukkan arti ta'zhim yang juga berarti kesempurnaan. "Jihad di jalan Allah. Dari sini. sedangkan jihad disebutkan dalam bentuk ma 'rifat (definit) untuk menunjukkan arti kesempurnaan. j / J S '7^. bahwa iman dan haji tidak perlu diulang. _fUi j JL^J I Ju ^ J J (Kemudian apa? Nabi pun menjawab. ketiga hal tersebut (iman. iman dan haji disebutkan dalam bentuk nakirah (indefinit) untuk menunjukkan arti tunggal. atau haji yang tidak mengandung unsur r i y a \ dengan nomor 2518 FATHUL BAARI — 139 . bahwa penyampaian dalam bentuk nakirah atau ma 'rifat hanyalah keinginan para perawi saja. Sedangkan bentuk ma'rifat dapat menunjukkan arti Al 'Ahdu (sesuatu yang telah diketahui). Ketiga kemungkinan tersebut dapat ditemukan dalam kitab tafsir. karena sumbernya adalah satu.") Dalam sanad milik Al Harits bin Abu Usamah dari Ibrahim bin Sa'ad disebutkan. jihad dan haji) disebutkan dalam bentuk nakirah (kata benda indefinit) berbeda dengan nash yang disebutkan oleh Imam Bukhari. Juga ada kemungkinan bahwa perkataannya hanya sampai pada firman Allah.Ada kemungkinan bahwa orang yang mengatakan hal tersebut adalah seorang mukmin dengan memperhatikan bukti atau tanda-tanda yang ada. Sebab jika jihad hanya dilakukan sekali padahal seharusnya dilakukan terus menerus. Saya berpendapat. maka dikotomi (pemisahan) semacam itu tidak dapat diterima. Al Karmani berpendapat. Haditsnya dapat dijumpai dalam bab Al Itqu'.

"Jika ada pertanyaan. sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr tidak disebutkan kata jihad." (Qs. Al Hujuraat (49): 14) Namun adalah sesuai dengan Firman Allah. sehingga jihad lebih penting dan harus dikedepankan daripada haji. "Mengapa jihad yang tidak termasuk dalam rukun Islam lebih didahulukan daripada haji yang merupakan rukun Islam?" Jawabnya adalah. Atau karena hadits tersebut mengandung kata "min" yang berarti "bagian ". 19. bahwa perbedaan jawaban tersebut disebabkan karena perbedaan kondisi dan kebutuhan para pendengar. Dalam hadits Ibnu Mas'ud urutannya dimulai dengan shalat. Maka para penanya dan pendengar diberitahukan tentang hal-hal yang belum mereka ketahui. bahwa manfaat haji sifatnya terbatas. "Kami telah (kepada mereka). Wallahu a 'lam. "Kamu belum beriman. K E I S L A M A N Y A N G D I S E B A B K A N SIKAP MENYERAH ATAU TAKUT DIBUNUH ADALAH KEISLAMAN YANG TIDAK SEBENARNYA Sebagaimana Firman Allah. sedangkan manfaat jihad sangat luas. V' ^ ' ^ beriman." Para ulama mengatakan. tapi yang disebutkan adalah Al ltqu (membebaskan budak). berbakti kepada orang tua kemudian jihad.Pelajaran yang dapat diambil Dalam hadits ini kata jihad disebutkan setelah iman. dan dalam hadits yang lalu telah disebutkan "selamat dari tangan dan mulut. sebagaimana hadits Nabi "Khairukum khairukum U ahlihi (sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling baik kepada keluarganya). Hal ini telah berulang kali disebutkan. tapi tunduk." Atau mungkin karena hukum jihad adalah fardhu 'ain. '•'•Orang-orang badui itu berkata. "Katakanlah katakanlah kami telah Islam yang sebenarnya j^ i "Sesungguhnya 1 J 1 4 0 — FATHUL BAARI .

Pada saat itu Sa'ad sedang duduk di dekat mereka. "Apa sebabnya engkau tidak memberikan hadiah tersebut kepada si fulan? " Nabi pun menjawab. Kemudian pengetahuan tentang orang itu mendesakku untuk bertanya lagi. J ' ' l ' a I^ Mi l ' ll I -* i ' ' . Aku bertanya kepada Rasul. Aali 'Imraan s J >/ a I ' ^ .l i p l U L 1 P ^ ( ^ i' L i l i J . c ^ L i ' L ^_lpl U l l l l L jf j U i ( = s L P p" L5Li l*IL* s l j ^ J l *JJl y j">li ^ & & y ji Ut % » ^ 27. 'Atau seorang muslim? "Aku terdiam sebentar.l i i l.agama (yang diridhai) (3): 19) di sisi Allah hanyalah Islam. sesungguhnya aku akan memberi orang itu. dan hal tersebut sangat menarik perhatianku. D a n S'a W radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW pernah membagi-bagikan hadiah kepada beberapa orang. Lalu beliau bersabda. "Nabi menjawab." (Qs. "Apa sebabnya engkau tidak memberikan hadiah tersebut kepada sifulan? Demi Allah! Menurut hematku dia adalah seorang mukmin. Akan tetapi Rasulullah tidak memberikannya kepada seorang laki-laki. » ' ' b ' y L < u > > I i / J J l ALi > otAi ^ > L u C J i i j ! L> c . akan tetapi aku lebih suka memberikannya kepada yang lain untuk menjaga supaya orang yang diberi itu jangan sampai ditelungkupkan Allah di dalam neraka. "Hai Sa 'ad." FATHUL BAARI — 141 . "Atau seorang muslim?" Kemudian pengetahuanku tentang orang itu mendesakku untuk bertanya kembali dan Rasulullah juga memberikan jawaban yang sama.

«ijfj disamarkan setelah disebutkan sebelumnya.).. _ U i y (demi Allah) adalah kalimat "sumpah" untuk menguatkan sebuah berita. "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam " dan firman-Nya. karena seseorang yang telah memperlihatkan keislamannya dapat disebut sebagai muslim meskipun tidak diketahui kondisi batinnya. Dalam riwayat yang berasal dari Ibnu Abi Dzi'bi disebutkan bahwa sekelompok orang mendatangi dan memintaminta kepada Rasulullah. kecuali satu orang. Akan tetapi orang tersebut tidak bisa disebut sebagai orang mukmin menurut pengertian terminologi. yang diridhai oleh Allah berdasarkan firman-Nya. meskipun dalam pengertian etimologi orang tersebut dapat dianggap sebagai orang yang beriman." Sedangkan secara etimologi (bahasa). (Menurut hematku dia adalah.. Dalam riwayat kami dari ditulis dengan harakat dhammah djfj seperti Abu Dzarr. "Dan Kami tidak mendapati di negeri itu. maksudnya mengapa engkau membedakannya yang lain? Kata J ">L_i berfungsi sebagai julukan nama yang .sama dengan pengertian iman. j (membagi-bagikan hadiah kepada beberapa orang) -LLij adalah sekelompok orang yang berjumlah antara 3 sampai 10 orang. Korelasi antara hadits dengan judul bab di atas sangatlah jelas. artinya adalah tunduk dan berserah diri. Al Qazzaz berkata. Sa'ad dalam hadits tersebut adalah putra Abi Waqqas (Sa'ad bin Abi Waqqash). Kemudian Rasulullah memberi mereka. Adapun yang dimaksudkan oleh Imam Bukhari di sini adalah pengertian secara terminologi. Syaikh Muhyiddin berpendapat bahwa huruf hamzah dalam kalimat tersebut harus ditulis dengan harakat fathah sehingga menunjukkan arti 1 4 2 — FATHUL BAARI . sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Ismaili dalam riwayatnya.Keterangan Hadits: Kalimat "Jika keislaman bukan yang sebenarnya" mengindikasikan bahwa Islam -secara terminologi (istilah)." Oaij juga dapat berarti bani atau kabilah. "Mungkin mereka lebih dari itu. OILJ j dengan c iU U (Apa sebabnya engkau tidak memberikan hadiah tersebut kepada si fulan?). huruf "hamzah" yang terdapat dalam riwayat Al Ismaili dan riwayat-riwayat lainnya. kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri.

") Dalam riwayat Ibnu Arabi disebutkan bahwa Rasulullah bersabda. bahwa mereka benar-benar beriman. Itulah yang disampaikan secara ringkas oleh Syaikh Muhyiddin. beliau tidak memberikannya kepada Ja'il yang berasal dari golongan muhajirin. dan jawaban Rasulullah kepada Sa'ad tidak bermanfaat. bahwa jika demikian maka isi hadits tersebut tidak sesuai dengan judul bab. Al Mumtahanah (60): 10) Meskipun kita menerima pendapat Syaikh Muhyiddin.) Dalam hadits tersebut. untuk indikasi pun yang karena kata J—Lc (pengetahuan) bisa 'yjlul* jii "maka jika kamu mengetahui menunjukkan asumsi yang kuat (zhannul ghaalib)." (Qs. padahal kalimat sebelumnya adalah J—L. bukan yakini (pasti). tidak ada satu mengharuskan digunakan harakat fathah. karena Rasulullah tidak pernah melarang Sa'ad untuk melakukannya. Kritikan ini tidak dapat diterima.J—li-f i—^—•Sli(pengetahuanku tentang orang itu mendesakku." Dari perkataan tersebut jelaslah bahwa arti kata "au" adalah untuk menunjukkan pengelompokkan. Hal semacam itu dapat kita terapkan dalam kasus ini. " Karena. tetapi untuk menjelaskan bahwa memanggil seseorang yang tidak diketahui apa yang ada dalam hatinya dengan sebutan "muslim " adalah lebih baik daripada memanggilnya dengan sebutan "mukmin. dan tidak boleh ditulis dengan harakat dhammah karena hal tersebut akan menunjukkan arti "azhunnuhu" (saya mengira). "Atau seorang muslim. Lalu FATHUL BAARI — 143 . akan tetapi jika premis sebuah ilmu pengetahuan bersifat zhanniyah (asumtif). Maka ungkapan tersebut bukan untuk mengingkari. Tapi Al Karmani mengkritiknya dengan mengatakan. maka ilmu pengetahuan tersebut sifatnya nazhari (teoritis). Kesimpulannya bahwa sumpah diperbolehkan meskipun hanya didasari asumsi yang kuat..a'lamuhu (saya mengetahuinya). Islam dapat diketahui dengan perbuatan zhahir. Ketika Rasulullah membagi-bagikan hadiah tersebut. Pendapat inilah yang dianut oleh pengarang kitab Al Mufham fi Syarhi Muslim dengan mengatakan. karena kita telah menjelaskan tentang titik temu antara hadits dan judul bab tersebut. "Riwayat tersebut ditulis dengan harakat dhammah. "Jangan katakan mukmin tapi katakanlah muslim. Dalam kisah ini Rasulullah membagi-bagikan hadiah kepada orang yang baru memeluk Islam (muallaj) untuk menarik hati mereka." C l U ji JUi (Nabi menjawab. berdasarkan firman Allah.

Sa'ad pun berulang kali menanyakan hal itu kepada Rasulullah. "Ia adalah pemimpin sukunya." Kemudian Rasulullah bersabda. Dengan demikian. tetapi jika ia bersaksi dengan keadilan Ja'il pasti diterima. akan tetapi memberikan suatu anjuran untuk melakukan hal yang lebih baik tidak berarti menolak kesaksiannya." Kemudian Rasulullah bertanya. maka jelaslah hikmah tindakan Rasulullah yang tidak memberikan hadiah kepada Ja'il dan memberikan kepada yang lain. Sebab jika Rasulullah tidak memberikan hadiah kepada mereka. Kami telah meriwayatkan dalam Musnad Muhammad bin Harun Ar-Rayani dengan sanad yang shahih dari Abu Salim Al Jaisyani dari Abu Dzarr. karena berdasarkan pengetahuannya Ja'il lebih berhak untuk menerima hadiah tersebut.Sa'ad bertanya kepada Rasulullah tentang Ja'il. "Jika demikian. Padahal. Maka. maka dikhawatirkan mereka akan murtad sehingga menjadi penghuni neraka. Bahkan bila dilihat dari konteksnya. bahwa Rasulullah bertanya kepadanya. meskipun Saad menggunakan kata syahadah." Demikianlah kedudukan Ja'il sebagaimana dijelaskan oleh hadits tersebut. Rasulullah menasihati Sa'ad agar tidak memuji seseorang dengan menilai batinnya. Pertama adalah hikmah Rasulullah memberikan hadiah kepada kelompok tersebut dan tidak memberikannya kepada Ja'il. dan dengan perbuatanku itu aku dapat menarik hati kaumnya. Jika ada pertanyaan. Kemudian Rasulullah memberitahukan kepada Sa'ad tentang dua perkara. "Dia adalah pemimpin suatu kaum. "Seperti muhajirin lainnya. "Bagaimana pendapatmu tentang J a ' i l ? " Aku menjawab." Lalu aku bertanya kepadanya. "Bagaimana pendapatmu tentang si fulan?" Aku pun menjawab. Rasulullah menerima perkataan Sa'ad dengan bukti bahwa beliau memberi maaf kepada Sa'ad. maka Ja'il lebih baik dari si fulan. 1 4 4 — FATHUL BAARI . Hikmah tersebut adalah untuk menarik hati mereka sebagaimana yang telah disebutkan di atas. kita mengetahui manfaat jawaban Rasulullah kepada Sa'ad yang lebih merupakan musyawarah (meminta pertimbangan) atau pemberian maaf kepadanya. "Jika demikian. mengapa engkau memperlakukan si fulan seperti itu?" Rasulullah menjawab. keadilan itu dapat menunjukkan keimanan seseorang?" Jawabnya adalah bahwa perkataan Sa'ad itu tidak termasuk syahadah (kesaksian) tetapi hanya merupakan pujian kepada Ja'il dan sebagai permohonan Sa'ad agar Rasulullah memberikan hadiah kepada Ja'il. padahal ia lebih disukai oleh Nabi daripada mereka. Kedua. "Mengapa kesaksian Sa'ad atas keimanan Ja'il tidak diterima.

walaupun tidak diketahui oleh sebagian rakyatnya. Perintah untuk membedakan antara esensi Iman dan Islam. Apabila seorang imam diberi saran yang menurutnya tidak benar.. 5. karena aku takut Allah akan melemparkan mereka ke dalam neraka. 3. J\ L i i i (hal tersebut sangat menarik perhatianku) (lebih disukai). Bahkan. Sedangkan larangan untuk mengklaim bahwa seseorang akan masuk surga tidak disebutkan secara eksplisit dalam hadits ini.Pelajaran penting yang dapat diambil 1.) Dalam riwayat Abu Daud dari Ma'mar. bahwa lafazhnya adalah riwayat Al Ismaili. harus dilakukan secara diamdiam. Seorang imam dibolehkan untuk memberikan pertolongan kepada orang yang berhak menerimanya 7. hendaknya tidak langsung membantahnya. Dalam ji Y. sebagaimana yang akan dijelaskan dalam bab zakat yaitu kalimat "fa qumtu iiaihi fasaarartu" (kemudian aku pun bangkit dan membisikinya). 4. 9. 2.. jika secara terang-terangan akan membawa kehancuran. tetapi menerangkan yang benar. <&t x Dalam riwayat Al Kasymihani dan mayoritas riwayat lainnya telah disebutkan. 6. padahal tidak ada nash yang menjelaskan hal tersebut. 8. Menasehati secara diam-diam lebih baik daripada menasehati secara terang-terangan. "Aku memberikan hadiah kepada beberapa orang dan tidak memberikannya kepada orang yang aku sukai. setelah kata <_J-i adalah kalimat *X' C. Bantahan terhadap kelompok Murji'ah yang berpendapat bahwa iman cukup dengan ucapan lisan saja.." FATHUL BAARI — 145 . Larangan untuk mengklaim bahwa seseorang memiliki iman yang sempurna. i—i)i (Aku tidak memberinya karena takut Allah akan melemparkannya. J—'^Jh ! ^ ^—h (Sesungguhnya aku akan memberi orang itu) Maksudnya memberi apa saja. Rakyat boleh memberikan nasehat kepada imam jika melakukan kesalahan. walaupun ada beberapa ulama yang berusaha menjelaskannya. Seorang imam (pemimpin) boleh membelanjakan kekayaan negaranya dan memprioritaskan mana yang lebih penting.

j p ^ l j i ( % ' u u ^if jis > f ? 0 ' 28. 'Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. 1 a ! " o * a ^' £ > * Cr* + s y : .L r !xii 2^*^" ^ 1 J • ) & t Crf j u t y j r ^ ^ Ammar berkata. sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Wahab dan Rasyid bin Sa'ad. "Barangsiapa yang telah melakukan tiga hal ini maka ia telah memperoleh kesempurnaan iman. 20. * r ' *i * > U J * s . " ^ £." 1 4 6 — FATHUL BAARI .Perhatian Tidak adanya pengulangan soal dan jawabannya. menyebarkan salam (perdamaian) ke seluruh alam (manusia) dan berinfak di waktu susah. JL AI3L J y* J JL r j\ jj** Jl JLJL -LP ^ P j_j l ] > j . dari Yunus dan AzZuhri dengan sanad yang berbeda dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf dari Ayahnya yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim adalah kesalahan dari seorang perawinya yaitu Al Walid bin Muslim ketika menukil hadits tersebut. y yy --ai j * < _ > C * J V I : jCJ^I * . M E N Y E B A R K A N S A L A M T E R M A S U K B A G I A N DARI I S L A M ' J . Z)oW Abdullah bin Amru. "Islam yang bagaimana yang lebih utama? " Maka beliau menjawab.*.' if \ '*X"j -UJ* a s ' i ' ' i.•*. bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah. yaitu berlaku adil kepada diri sendiri.

Amraar adalah putra Yasir (Ammar bin Yasir).Keterangan Hadits: f'*--V j * f ' * — (salam termasuk bagian dari Islam). Dalam riwayat l J Karimah ditambahkan kata ifsya' (menyebarkan). Sedangkan j'—a^' berarti miskin. Berinfak pada saat membutuhkan merupakan manifestasi dari keimanan kepada Allah. karena perkataan semacam itu hanya berasal dari lisan orang yang memiliki jawami 'ul kalim." FATHUL BAARI — 147 . Kata tersebut sesuai dengan perkataan Rasulullah. yang wajib maupun yang sunnah. (tiga). maka pada waktu lapang ia akan lebih banyak lagi berinfak. Kemudian berinfak dalam kesusahan adalah merupakan perbuatan yang benar-benar mulia." Penjelasan "menyebarkan salam termasuk bagian dari Islam" telah diterangkan dalam bab Ith 'am Ath-Tha aam (memberi makan). Jika arti kedua yang diambil. "kepada orang yang engkau ketahui dan tidak engkau ketahui. atau membutuhkan menurut pendapat 1 yang lain. Wallahu 'Alam. Dia adalah salah seorang yang pertama kali masuk Islam. maka kata 'j? dalam kalimat J j—berarti "dengan" atau "pada saat". sebab jika seseorang mau berinfak pada saat ia membutuhkan. Abu Zinad bin Siraj dan ulamaulama lainnya berkata. "Orang yang melakukan tiga hal tersebut maka imannya telah sempurna. akan selalu melaksanakan kewajiban yang diberikan kepadanya serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Tuhannya. Pengertian "berinfak" dalam hadits ini bersifat umum atau tidak hanya terbatas pada keluarga dan tamu. Hal ini dapat mencakup semua rukun iman. zuhud terhadap kehidupan dunia dan tidak banyak berangan-angan. yang berarti menyebarkan salam secara diam-diam atau terang-terangan. yaitu tiga sifat. sifat tawadhu' (rendah hati) dan menghormati serta tidak mencela orang lain. Mengucapkan salam mencerminkan akhlak yang mulia. Yang dimaksud ' A l a m " dalam hadits ini adalah seluruh manusia. sehingga dengan demikian dapat terjalin hubungan saling mencintai antar sesama. Sebab seorang hamba yang memiliki sifat adil. karena kesempurnaan iman sangat tergantung kepada tiga hal tersebut. Hal ini membuktikan bahwa hadits tersebut adalah hadits marfu' (dinisbatkan kepada Rasulullah).

D U R H A K A K E P A D A SUAMI A D A L A H PERBUATAN KUFUR Dalam masalah ini terdapat riwayat Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi SAW 29. "Mereka kafir (durhaka) kepada suami dan tidak mau berterima kasih atas kebaikan yang diterimanya. Akan tetapi. "Diperlihatkan kepadaku neraka. " Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi dalam syarah-nya." Kemudian dia berkata. Walaupun sepanjang masa engkau telah berbuat baik kepada salah seorang dari mereka dan kemudian ia melihat sedikit kesalahan darimu. "Durhaka kepada suami termasuk perbuatan dosa sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. "Maksud Imam Bukhari dalam bab ini adalah untuk menerangkan.21. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda. berkata. maka aku akan menyuruh seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. maka ia akan berkata. Ketika itu aku melihat di antara penghuninya adalah wanita pendurhaka. Rasulullah mensejajarkan hak suami dengan hak Allah. " Kemudian seseorang bertanya kepada Rasulullah "Apakah mereka durhaka kepada Allah?" Rasulullah menjawab. 'Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain." Dalam hadits ini. maksud kufur di sini adalah bukan kufur yang menyebabkan seseorang keluar dari agama. maka jika seorang istri durhaka kepada suaminya -padahal sang suami telah melakukan 1 4 8 — FATHUL BAARI . bahwa maksiat dapat dikatakan sebagai kekufuran sebagaimana taat dapat disebut iman. "Aku tidak pernah melihat kebaikan dari dirimu.

bahwa Imam Bukhari tidak mengulang sebuah hadits kecuali jika ada manfaatnya baik dalam matan atau sanad.maka perbuatan tersebut merupakan bukti penghinaan terhadap hak Allah. Tetapi karena tidak merubah sanad-nya. dan dalam bab "Penciptaan Makhluk" ketika menjelaskan tentang matahari dan bulan. bahwa pemotongan hadits semacam ini tidak sempurna. dimana beliau meriwayatkannya dari Abdullah bin Maslamah (maksudnya Al Qa'nabi) secara ringkas dan terbatas pada judul bab saja. maka beliau meringkas matan-nya. Pendapat ini tidak benar. Oleh karena itu. sebagaimana telah dijelaskan bahwa maksiat dapat dikatakan sebagai kekufuran. hanya saja kekufuran tersebut tidak sampai mengeluarkannya dari agama. Untuk itu perbuatan tersebut dapat dikatagorikan sebagai kekufuran. sesuai dengan judul bab. Beliau juga memaparkannya kembali secara lengkap dalam bab "Shalat Khusuf" dengan sanad yang sama. seperti Ibnu Shalah. Hal semacam ini dapat kita lihat dalam hadits ini. seperti yang telah saya jelaskan dalam pembukaan kitab ini.. "Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah. maka beliau akan menyebutkan satu jalur sanad dalam setiap bab. Pertama bahwa Imam Bukhari membolehkan memotong hadits jika tidak akan merusak maknanya. Kemudian matan ini juga disebutkan oleh beliau dalam bab j t — ' '* ^IJJJ 'J~? 'J dengan sanad tersebut. maka beliau tidak mengulangnya dalam bentuk yang sama. Kedua. Sedangkan jika jalur sanad-nya sedikit.. tidak sedikit orang yang mengira bahwa kedua hadits itu tidak sama karena memiliki permulaan yang berbeda. Jika terdapat dalam matan. baik dengan kalimat sebelumnya maupun sesudahnya. Syaikh Muhyiddin dan lain sebagainya. Kita dapat melihat dua hal penting dalam hadits ini.kewajibannya. karena setelah diteliti jumlahnya adalah 1513 hadits. maka beliau akan meringkas sanad atau matan hadits tersebut.ji Sedangkan permulaannya yang lengkap seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas adalah. Beliau FATHUL BAARI — 149 . Hal semacam ini dapat menimbulkan kesan bagi orang yang tidak hafal hadits tersebut. akan tetapi beliau akan membedakannya..(di sini disebutkan pula kisah tentang shalat khusuf (gerhana matahari) dan khutbah Rasulullah termasuk dalam bagian ini). terutama jika pemotongannya berada di tengah-tengah hadits seperti dalam sabda Nabi. Sehingga diantara mereka ada yang mengatakan bahwa jumlah hadits dalam kitab shahih Bukhari adalah empat ribu hadits tanpa pengulangan. Jika jalur sanad-nya banyak. JL _3 I i-—.

akan dijelaskan dalam pembahasan hadits ini secara lengkap. 1 1 5 0 — FATHUL BAARI . Mengenai pelajaran dan nasehat yang terkandung dalam hadits ini.ada sebuah hadits yang disebutkan pada dua tempat dalam bentuk yang sama.

mengampuni segala dosa selain itu" (Qs. hendaklah hamba sahaya itu diberikan makanan vang dimakan dan diberi pakaian yang dipakai serta janganlah mereka FATHUL BAARI — 1 5 1 . Lalu Rasulullah bersabda kepadaku.^ 5 A J j L ^ J l j ^ .1 ll * — J s . - ." Allah berfirman. 9S f 9 . 'Wahai Abu Dzarr. ' k' l I °I' . ' J JU* i aJs-j OJJ *^ V y l AJ"^»I Jl j ' O . "Saya bertemu dengan Abu Dzarr di Rabadzah. D a n Al Ma'rur bahwa ia berkata. Abu Dzarr pun menjawab. ' ' n ' * ' " i f ' ' C~J . • > ! . Apakah engkau memaki dia dengan menghina ibunya? Rupanya masih ada dalam dirimu karakteristik jahiliyah. t. " L dan Dia ' .j J S " I ' I L L J K J J J L Y U 5 J ^RLL I L " L J J J 30. t . ' . L J JSJ iiJJj OjJ> L' yU> j Jj-~! < ) > jAJu 3 ALIL jl "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.i ' i .22. "Aku pernah memaki seseorang dengan menghina ibunya. 9 f i . Para hambamu adalah saudara-saudaramu yang Allah titipkan di bawah tanggung jawabmu. s s . ' l . . ' . s f - "Masih terdapat dalam . • • . S . {.' tl 'l . K E C U A L I M E L A K U K A N P E R B U A T A N SYIRIK Berdasarkan sabda Rasulullah SAW. dirimu karakteristik Jahiliyah. ' I .A J J U JJ jjy1^' *. Kemudian saya bertanya apa sebabnya mereka mengenakan pakaian yang serupa. Oleh karena itu. Beliau dan hamba sahayanya mengenakan pakaian (mantel) yang serupa. An-Nisaa" (4): 48) > • . . M A K S I A T A D A L A H P E R B U A T A N J A H I L I Y A H DAN P E L A K U N Y A T I D A K D I A N G G A P KAFIR.j ^ Jl *. barangsiapa memiliki hamba sahaya.l— ^ j l J U * J i J J J P O U ! II ' j— "l' ^ A IFC^r L *\ D I I L y T I T ^ I j i L L C ^L-^ AJP J I I JL jj JL j o ~ a 0 1 5 " J ^ — J J U I — * j-»J JL^J-JJ^ c ~^*J AJJI J^JJL.

' ' " ' f C? J^ » > ' 0 4 UI J J—j C-**~» ^L* 1 - V _Jt 1JU6 ^*a3l C-JJ ' t' > ' ' 'f (jii - Ji s JjJL<J\ JI' L*j J J U J ' IJL* AUI J l ' cJi* ju!i ^ F Jyi*Jij jis' AJI -* ." mereka. Secara kebetulan saya bertemu dengan Abu Bakrah. "Karena orang yang terbunuh itu juga berusaha untuk membunuh saudaranya. " Keterangan Hadits: Seluruh perbuatan maksiat akibat meninggalkan kewajiban atau mengerjakan perbuatan yang haram adalah akhlak jahiliyah. 3 ^ c4*i J U ^-4* jr! . " (Qs. . Jika BAB U-$iIj I J *JL^\I !^jJ3l ju^J^Jl ^ jlib'lU j l j maka "Da« jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang damaikanlah antara keduanya." Ia berkata lagi. "Saya hendak menolong orang itu.Ao-Ca ji* ** s JS- CIJy<- 3 1 . "Kembalilah! Saya mendengar Rasulullah telah bersabda. "Pada suatu ketika saya hendak pergi menolong seseorang yang sedang berkelahi. "Apabila dua orang muslim berkelahi dan masing-masing mempergunakan pedang maka si pembunuh dan yang terbunuh akan masuk neraka. *l." Saya bertanya. dan 1 5 2 — FATHUL BAARI . 'o'j—J M. ia pun berkata. "Hal tersebut bagi pembunuh. "Hendak kemana kamu?" Maka saya menjawab. Al Hujuraat (49): 9) Dalam ayat ini Allah menamakan mereka orang mukmin.dibebani dengan pekerjaan yang berada di luar kemampuan mereka terpaksa mengerjakannya maka bantulah mereka. lalu bagaimana dengan yang terbunuh?" Beliau menjawab. s . ' l ' ' ^ u T ^ * J*"^ v 1 j * °r ' t . D e n Al Ahnaf bin Qais bahwa ia berkata.

Selanjutnya ayat Al Qur'an juga menolak pendapat mereka. "Dan jika ada FATHUL BAARI — 153 . Ayat tersebut mengindikasikan. Al Karmani mengatakan. bahwa dosa selain syirik masih mendapat ampunan dari Allah. maka ia akan kekal dalam neraka. Sedang yang dimaksud dengan syirik dalam ayat ini adalah kufur. Maksud dari pernyataan bahwa perbuatan maksiat termasuk kekufuran. orang seperti ini tidak mendapat ampunan. "Dan Dia mengampuni selain ilu sesuai kehendak-Nya" dapat dijadikan dalil untuk membantah pendapat mereka. adalah kufur nikmat bukan kufur yang berarti keluar dari agama. Kata syirik terkadang menunjukkan arti yang lebih khusus daripada kekufuran seperti dalam firman Allah. bahwa seorang mukmin yang melakukan perbuatan maksiat tidak dikafirkan. Imam Bukhari juga berargumentasi. karena ia'bir (ungkapan) dalam hadits tersebut bukan dosa besar dan juga mereka tidak menganggap kafir orang yang melakukan dosa kecil. . karena Allah tetap menyebutnya sebagai orang mukmin dalam firman-Nya. Al Bayyinah (98): 1) Ibnu Baththal mengatakan. bahwa dosa selain syirik adalah kufur seperti pendapat golongan Khawarij. Dalam hal ini. karena maksud ayat "Dan Dia (Allah) akan mengampuni dosa selainnya (syirik) bagi orang yang dikehendakr adalah bagi orang yang meninggal dunia sedang ia mempunyai dosa selain syirik. dan orang yang meninggal dalam keadaan demikian. bahwa maksud Imam Bukhari adalah untuk menyangkal pendapat yang menyatakan.. bahwa mengambil dalil dari perkataan Abu Dzarr (engkau memaki dia dengan mencela ibunya) masih harus diteliti kembali. Menurut kesepakatan ulama. " ( Q s . mereka tidak keluar dari iman meskipun sifat itu tergolong dosa besar atau pun dosa kecil. merupakan dalil yang menyatakan bahwa orang yang masih mempunyai sifat jahiliyah selain syirik.'JS'J J*f 'j? o*-^ c& r orang-orang 1 ^JLH j ^lifji "Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan.perbuatan syirik adalah kemaksiatan yang paling besar. Untuk itu saya katakan. berbeda dengan pendapat golongan Khawarij yang mengkafirkan orang yang berbuat dosa selain syirik. dan cukup bagi saya pendapat ibnu Baththal.. karena orang yang menentang kenabian Muhammad adalah kafir walaupun tidak menyekutukan Allah. nash Al Qur'an yang berbunyi. bahwa zhahir ayat tersebut merupakan dalil untuk menolak pendapat mereka. Adapun kisah Abu Dzarr.

Rabadzah adalah nama tempat di sebuah perkampungan yang berjarak 3 mil dari Madinah. "jika ada dua orang muslim berkelahi dengan pedang mereka.dua golongan dari orang-orang mukmin berperang.. "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu. yang menjelaskan bahwa kata ta 'yiir termasuk jenis cacian. Bukhari jis" (ada perkataan [cacian] diantara aku dengan laki-laki itu) dan Imam Muslim menambahkan kalimat 'j* ^—(dari saudaraku). kemudian pada bab "Adab" dalam kitab shahih kalimatnya adalah f^-f j i j jJ. "Dan ibunya adalah 'ajamiah (orang non Arab) sehingga aku menghinanya" Dalam riwayat lain disebutkan. "Dan aku berkata kepadanya. Maksudnya. anak angkat Abu Bakar. karena hal itu sangat aneh." Beliau juga berargumentasi dengan sabda Rasulullah. ii'Lj (kemudian aku bertanya kepadanya) Maksudnya. L ' i — (memaki) dalam riwayat Ismaili kata yang digunakan adalah (mencaci). "Dalam dirimu masih terdapat karakter Jahiliyah" padahal Abu Dzarr adalah orang yang telah mencapai derajat iman yang tinggi." dimana dalam hadits tersebut Rasulullah menyebut mereka dengan sebutan orang muslim walaupun disertai ancaman neraka. Ada yang berpendapat bahwa h u r u f / a ' d a l a m kalimat Lf\!o adalah fa' tafsiriyah.. Adapun yang meriwayatkan hal tersebut adalah Walid bin Muslim dengan sanad munqhati' (terputus). Dalam bab "Adab" terdapat tambahan kalimat." Kemudian Allah juga berfirman. " Yang dimaksud dengan 'ajamiah adalah orang yang tidak fasih berbahasa arab. terlepas apakah ia orang Arab atau bukan. jika pertengkaran tersebut terjadi bukan karena alasan yang dapat dibenarkan. Ada yang berpendapat bahwa orang tersebut adalah Bilal sang Muadzdzin Rasulullah. wahai anak si negro. 1 5 4 — FATHUL BAARI . iT4** (dengan menghina ibunya) Maksud dari kalimat ini adalah menisbatkan kata 'aar (hina atau tidak terhormat) kepada ibunya. Argumen lainnya adalah sabda Rasulullah kepada Abu Dzarr. bertanya tentang sebab mengapa beliau memberi pakaian kepada budaknya sama seperti pakaian yang dikenakannya. Kemudian beliau menjawabnya dengan menceritakan kisah yang mendasari perbuatannya itu.

"Aku berkata. meskipun teks hadits tersebut hanya menganjurkan agar seseorang memberikan pertolongan kepada budaknya dan bukan menuntut adanya persamaan.. beri mereka makanan yang engkau makan dan pakaian yang engfajH pakai. yaitu riwayat Thabrani dari jalur Abu Ghalib dari Abu Umamah.'s—j y'j-ii—1 (engkau memiliki salah satu karakteristik Jahiliyah). "Bukankah engkau pernah bersabda. dan beliau langsung merobeknya menjadi dua lalu memberikan setengah dari robekan tersebut kepada budaknya. Ada riwayat lain yang dinisbatkan kepada Rasulullah (hadits marfu') yang lebih jelas dalam menerangkan tentang sebab mengapa Abu Dzarr memberikan pakaian yang sama kepada budaknya." Pada waktu itu Abu Dzarr memiliki kain. demikian pula dalam hal-hal yang lain. maksudnya adalah prilaku kaum Jahiliyah. bahwa perbuatan itu dilakukan oleh Abu Dzarr sebelum mengetahui bahwa perbuatan tersebut dilarang dan juga sifat tersebut merupakan karakteristik Jahiliyah yang masih ada dalam dirinya. dia berkata -seperti yang disampaikan oleh Imam Bukhari dalam bab "Adab"-. maka Abu Dzarr pun menjawab. Dari sini dapat dipahami. dimana Rasulullah memberikan budak kepada Abu Dzarr seraya bersabda. Kemudian Rasulullah melihatnya dan menanyakan tentang hal itu.. "Rasulullah menjawab. Setelah mendengar sabda Rasulullah tersebut. Oleh karena itu. "Benar. Hal ini dilakukan sebagai sikap hati-hati. Maka Rasulullah menerangkan kepadanya tentang perbuatan yang tercela itu. "Ya. Abu Dzarr memberikan kepada budaknya pakaian yang sama dengan pakaiannya." Seakan-akan Abu Dzarr merasa heran karena pada usia yang sudah tua beliau tidak mengetahui hal tersebut." F A T H U L BAARI — 155 . "pada saat aku berusia senja seperti ini? Lalu Rasulullah menjawab. "Beri dia makanan yang engkau makan dan pakaian yang engkau pakai.

yaitu dari Al A'masy (Sulaiman) yang disebutkan pada hadits bab ini. apakah kalian tidak mendengar perkataan Luqman. bahwa pertanyaan tersebut menjadi sebab turunnya ayat lain dalam surah Luqman. K E Z H A L I M A N Y A N G PALING B E S A R Jl— i ( Jl* s ^Lcl - I L J j - f * " J - ^JUl ) * o ' CJ Jl5 ' ' ' ' Jii 3 oli- s o 32. "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik)." Dalam riwayat Waqi' dari Syu'bah "beliau pun berkata. "fa thaabat anfusana (maka kami menjadi tenang)" setelah firman Allah. "Siapa diantara kita yang tidak berbuat zhalim?" Maka Allah menurunkan ayat.. "Ketika turun ayat. Al An'aam (6): 83) para sahabat bertanya. Dari Abdullah bahwa ia berkata. "Bukan begitu. " Riwayat Syu'bah ini menunjukkan. "Siapakah diantara kita yang tidak menodai imannya dengan kezhaliman'!" Abu N u ' a i m dalam riwayatnya dari jalur Sulaiman bin Harb dari Syu'bah menambahkan kalimat.. " (Qs. Akan tetapi hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalur lain. "Maka mereka berkata. "Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar. "Maksudnya adalah syirik. sedangkan lafazh Abu Walid dipaparkan oleh Imam Bukhari dalam kisah Luqman dengan lafazh. " ( Q s . siapa di antara kita yang tidak menodai imannya dengan kezhaliman'? Beliau berkata." Semua ini menjelaskan bahwa ayat yang ada dalam surah Luqman telah 1 5 6 — FATHUL BAARI . "Tidak seperti yang kalian kira" Dalam riwayat Isa bin Yunus.23. tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman. Adapun lafazh riwayat Jarir dari Syu'bah adalah. Luqmaan (31): 13) Lafazh hadits yang menafsirkan surah Al A n ' a a m adalah lafazh Bisyr (Ibnu Khalid Al Asykari). "Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.

Keterangan Hadits: \jLS (dan tidak mencampuradukkan) Muhammad bin Ismail At-Taimi dalam penjelasannya berkata. Menafsirkan nash secara umum. mereka tidak memiliki dua sifat secara bersamaan. Adapun yang dimaksud dengan Abdullah adalah Abdullah Ibnu Mas'ud. Ibrahim bin Yazid An-Nakha'i dari pamannya 'Alqamah bin Qais An-Nakha'i. Al Khaththabi berkata.diketahui oleh mereka. 2. Maka maksud dari ayat tersebut adalah. Ada pelajaran penting yang dapat diambil dari hadits ini. dimana salah seorang dari mereka meriwayatkan dari yang lain. Inilah arti yang paling tepat. antara lain: 1. Bentuk nakirah (indefinit) dalam konteks kalimat negatif menunjukkan arti umum. hal itu juga sebagaimana yang dikehendaki oleh Imam Bukhari. baik secara zhahir maupun batin atau dengan kata lain tidak munafik. Ketiga orang tersebut merupakan ahli fikih dari Kufah. Dari sini. mereka menafsirkan kata "zhulmun "secara umum yaitu mencakup syirik dan perbuatan maksiat lainnya. kemudian Rasulullah menyampaikan dan memperingatkan mereka dengan ayat tersebut. "Menurut hemat saya. "Syirik menurut para sahabat lebih besar daripada kezhaliman. Kemudian dalam sanad ini terdapat 3 orang dari golongan tabi'in." Mungkin pula mereka tidak menggabungkan antara keduanya. Alasan mereka menafsirkannya secara umum adalah. yaitu Al A ' m a s y dari syaikhnya. maka kedua riwayat di atas dapat disatukan." Hal ini menunjukkan kepandaiannya dalam merangkai bab. oleh karena itu Imam Bukhari menyambungnya dengan bab "Tanda-tanda Orang Munafik. Atau ada kemungkinan bahwa ayat itu diturunkan pada saat itu. karena kata tersebut dalam bentuk nakirah (indefinit) dan dalam konteks kalimat negatif. selama tidak ada nash yang mengkhususkannya. F A T H U L BAARI — 157 . maka mereka menafsirkan kata "zhulmun" dengan selain syirik (perbuatan maksiat lainnya) dan mereka menanyakan tentang hal tersebut sehingga turunlah ayat ini. maka Rasulullah pun memperingatkan mereka dengan ayat tersebut. dan sanad ini merupakan sanad yang paling shahih. "Mencampuradukkan antara syirik dan iman tidak mungkin dapat dilaksanakan. yaitu kekafiran setelah keimanan atau keimanan itu sendiri.

Perbuatan zhalim bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Apabila ada orang mengatakan. maka ia akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda. 6. 'Tanda-tanda orang munafik ada tiga. " 34.3. maka ia benar-benar termasuk orang 1 5 8 — FATHUL BAARI . Sebuah lafazh dapat diartikan berbeda dengan arti zhahirnya dengan maksud untuk menghindari adanya kontradiksi (pertentangan) arti. "Barangsiapa yang memiliki empat sifat ini. 4. jika berjanji ia mengingkari dan jika diberi amanat ia berkhianat. Perbuatan maksiat tidak dikategorikan sebagai perbuatan syirik.T A N D A O R A N G M U N A F I K 33. 5. T A N D A . 7. jika berbicara ia berbohong. Dari Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi SAW bersabda. Orang yang tidak berbuat syirik. lalu rasa aman dan petunjuk seperti apakah yang akan didapatnya?" Jawabnya adalah. Kata yang mempunyai arti lebih khusus (khash) mengganti posisi kata yang mempunyai arti umum. "Orang yang berbuat maksiat akan diadzab. 24. bahwa yang dimaksud dengan rasa aman di sini adalah tidak kekal di dalam neraka dan akan diberi petunjuk menuju surga.

Maka dalam bab selanjutnya ia menjelaskan." Pada bab sebelumnya Imam Bukhari telah menjelaskan. maka disebut sebagai Nifaqul Kufri. Jika ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut membatasi tanda-tanda tersebut hanya pada tiga karakter. jika membuat perjanjian tidak setia. atau karena tanda-tanda orang munafik tersebut hanya akan terwujud jika terkumpul tiga karakter tersebut. sebagaimana kataatan dapat menambah iman seseorang. maka ia memiliki karakter munafik hingga dia melepaskannya. Dan barangsiapa yang ada dalam dirinya salah satu dari sifat tersebut. Tapi jika terjadi dalam selain iman. bahwa kemunafikan adalah tanda tidak adanya iman. Alasan pertama adalah alasan yang disetujui oleh Imam Bukhari. Nifaq (kemunafikan) menurut bahasa adalah. *—j J-F 'J G J (Barang siapa yang memiliki FATHUL BAARI — 159 . j i v l ^ **! (tanda-tanda orang munafik ada tiga) Arti dari kata «n adalah (tanda). dan jika berdebat bertindak tidak terpuji. lalu bagaimana dengan hadits lain yang berbunyi. Penggunaan bentuk tunggal dari kata oL_/l adalah untuk menunjukkan jenis. Syaikh Muhyiddin mengatakan.munafik. dalam bab lain beliau menggunakan bentuk j a m a ' (plural) seperti yang diriwayatkan oleh Abu Awanah dengan lafazh. Keterangan Hadits: e ^ . "Korelasi pembahasan ini dengan bab "Iman" adalah untuk menjelaskan. tidak adanya kesamaan atau kesesuaian antara lahir dan batin.(tanda-tanda orang munafik). bahwa kekufuran dan kezhaliman mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Oleh karena itu. Apabila hal ini terjadi dalam masalah akidah dan keimanan. atau untuk mengetahui bahwa sebagian kemunafikan adalah kufur. sebagaimana kekufuran dan kezhaliman. maka dinamakan Nafaau! 'Amal (nifaq dalam perbuatan). Sifat tersebut adalah jika dipercaya berkhianat." Al Karmani menambahkan. bahwa kemunafikan juga mempunyai tingkat yang berbeda-beda. jika berbicara berdusta. dan dalam hal ini kemunafikan tersebut mempunyai tingkatan yang berbeda. "Maksud Imam Bukhari adalah untuk menjelaskan bahwa kemaksiatan akan mengurangi keimanan. j i t i i oGyi.

karena sifat yang menunjukkan karakter yang sebenarnya dari orang munafik belum tentu merupakan tanda-tanda orang munafik. dan jika ditambahkan sifatsifat yang lain. "Dari kedua riwayat tersebut dapat diketahui ada lima karakter orang munafik. Pada hadits pertama ditambahkan sifat mengingkari janji.empat sifat ini) Al Qurthubi menjawab. karena kedua hadits itu mencakup sifat berdusta dalam berbicara dan mengkhianati amanat. yaitu: perkataan. dan mengingkari janji dapat merusak niat. Dari sini maka tambahannya hanya satu karakter. (di antara tanda-tanda orang munafik ada tiga hal.)." Menurut hemat saya. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al Ausath dari Abu Sa'id Al Khudri. dan pada hadits kedua ditambahkan sifat mengingkari perjanjian dan berkata buruk ketika berdebat. Agaknya beberapa perawi telah merubah sebagian lafazhnya.. adalah karena lafazhnya adalah Min 'Alamaati An-Nifaq Tsalatsatun. bahwa dusta dapat merusak perkataan. adalah untuk mengingatkan sifat-sifat yang lain. mengingkari perjanjian -dalam riwayat kedua dari Imam Muslim-adalah sebagai ganti mengingkari janji seperti yang terdapat dalam hadits pertama. yaitu berdusta dalam berbicara. Dalam hal ini. perbuatan dan niat. Apabila lafazh pertama ditafsirkan seperti ini. maka ia tidak 1 6 0 — FATHUL BAARI .. Karena bisa saja tanda-tanda tersebut merupakan sifat asli orang munafik. Al Qurthubi dan An-Nawawi juga berkata. khianat dapat merusak perbuatan. Karena sumber agama hanya terbatas pada tiga hal. Maka hadits tersebut mengingatkan. Yang dimaksud dengan "fujur" adalah. Karakter ini sudah tercakup dalam karakter pertama. maka pertanyaan tersebut tidak akan muncul. Sedangkan jika seseorang telah bertekad untuk menepatinya tetapi ada suatu halangan. tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. mengindikasikan tidak ada pembatasan dalam hadits tersebut. meninggalkan kebenaran dan mempergunakan tipu daya untuk menolaknya. Pembatasan tanda-tanda orang munafik hanya pada tiga sifat tersebut. yaitu berkata buruk ketika berdebat. "Ada kemungkinan bahwa Rasulullah baru mengetahui sifat yang baru itu. maka sifat munafik itu akan menjadi sempurna. karena kedua makna tersebut sama. Hanya saja dalam riwayat Muslim dari jalur Al 'Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah." Menurut hemat saya. mengingkari janji termasuk perbuatan dosa jika mengandung unsur kesengajaan. karena hadits di atas memberitahukan tentang tanda-tanda orang munafik pada satu waktu dan tanda yang lainnya di lain kesempatan.

karena sifat-sifat ini telah ditemukan dalam diri seorang muslim dan dia tidak dihukumi kafir." Kemudian beliau melanjutkan. bahwa yang dimaksud dengan munafik dalam hadits tersebut adalah Nifaqul 'Amal (kemunafikan dalam perbuatan) seperti yang kami sebutkan. "Makna hadits tersebut adalah benar dan tidak ada masalah di dalamnya. tapi yang berbahaya adalah orang yang berbicara tentang sesuatu yang berlawanan dengan realita dengan maksud berdusta. Sedangkan dusta yang ada dalam hadits yang diceritakan oleh Ibnu At-Tin dari Malik. bahwa orang yang memiliki karakter munafik disamakan dengan orang munafik. bahwa dia akan mengingkarinya. Thabrani meriwayatkan sebuah hadits panjang yang menguatkan pernyataan tersebut. Sedangkan apa yang dikatakan oleh para penahqiq. "Hadits ini dianggap oleh sebagian ulama sebagai hadits yang bermasalah.dianggap sebagai orang munafik. maka tidak ada dosa baginya. karena yang dimaksud dengan munafik di sini adalah Nifaqul Kufri (kekufuran). "Jika berjanji ia akan berkata kepada dirinya sendiri. karena janji dalam keburukan harus dilanggar dan tidak harus dipatuhi. Ada juga yang mengatakan. "Apakah engkau mengetahui kemunafikan dalam diriku?" Kemunafikan dalam pertanyaan tersebut maksudnya bukanlah Nifagul Kufri. lalu berlebih-lebihan dalam menceritakannya. Yang dimaksud dengan janji dalam hadits ini adalah janji dalam suatu kebaikan." l i j li'j (jika berjanji). ketika ditanya tentang orang yang berdusta. demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Salman. Pendapat ini didukung oleh Al Qurthubi berdasarkan perkataan Umar kepada Hudzaifah. ia mengatakan. "Jenis dusta yang mana?" Agaknya ia berbicara tentang masa lalunya. Inilah yang disampaikan oleh Al Ghazali dalam kitab Ihya'. tapi Nifaqul 'Amal. Kemudian diperkuat dengan menambahkan kata "khalishah" FATHUL BAARI — 161 . Hal ini tidak berbahaya. maka saya katakan bahwa pernyataan ini adalah dalam bentuk majaz. Kemudian dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam disebutkan." Hal semacam ini juga terdapat pada karakterkarakter yang lain. bahkan diwajibkan untuk ditentang jika mendatangkan bahaya. Imam Nawawi berkata. Artinya orang yang memiliki karakter tersebut seperti orang munafik. "Jika seseorang menjanjikan saudaranya dan berniat untuk membayar (hutang) kemudian tidak membayarnya.

(murni) dalam hadits kedua dengan lafazhnya C*JU. Ada sebagian yang mengatakan. Ada juga yang berpendapat. maka dia akan berdusta." Yang lebih utama adalah apa yang dikatakan Al Karmani. bahwa t huruf tersebut mengindikasikan ( 'Ahd) Hadits tersebut ditujukan kepada orang tertentu atau kepada golongan munafik pada masa Rasulullah pendapat tersebut berdasarkan hadits dhaif'yang berkaitan dengan kasus itu. Semua jawaban ini berdasarkan bahwa huruf "lam" pada kata j*\—lili yang menunjukkan jenis. bahwa disebutkannya sifat munafik secara umum adalah sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak melakukan sifat ini. Disebutkan juga bahwa kemungkinan yang disifati dengan sifat tersebut adalah orang yang telah terbiasa melakukan hal tersebut. sehingga menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Wallahu A 'lam. Jawaban yang paling baik adalah jawaban Al Qurthubi. 1 6 2 — FATHUL BAARI . sehingga artinya adalah jika telah menemukan inti pembicaraan. jika dia berkata tentang segala sesuatu. Artinya. "Pernyataan tersebut dikuatkan dengan disebutkannya kata idzaa (jika). Dia berkata. Kata tersebut dapat pula berarti menjadi pendek. bahwa ungkapan tersebut diinterpretasikan dengan orang yang memiliki sebagian besar karakter ini dan orang yang berada dalam kondisi seperti itu biasanya akidahnya rusak.Ui£ (dia murni orang munafik). maka ia akan berdusta." Ada yang mengatakan. "Penghapusan obyek dari kata "haddatsa" (mengatakan) mengindikasikan arti umum. Pendapat ini didukung oleh Al Khaththabi. karena kata tersebut menunjukkan pengulangan (pekerjaan).

Beliau menyampaikan ketiga hal tersebut dari Abu Hurairah. " Setelah Imam Bukhari menjelaskan tanda-tanda kemunafikan dan keburukannya. Ada sebagian ulama yang melarang dan ada yang membolehkannya. "Barangsiapa yang menegakkan shalat pada malam Qadar karena Iman dan Ikhlas. beliau menggunakan bentuk mudhari' (kata kerja bentuk sekarang) pada kalimat syaratnya dan menggunakan bentuk madhi (kata kerja bentuk lampau) pada kalimat jawabnya. "Menggunakan bentuk madhi ketika mengungkapkan balasan (pahala) merupakan isyarat akan terwujudnya hal tersebut. M E L A K S A N A K A N S H A L A T P A D A LAILATUL QADAR A D A L A H SEBAGIAN DARI I M A N jdijl iilS ^-«j cf ^~"3 ^ tj^ ^ J yj ° ' 0 <J^ Jii o J l ? J 'c? * \ ' ' f " ' . beliau kembali menyebutkan tanda-tanda keimanan dan kebaikannya. bahwa Rasulullah SAW bersabda. Hal ini sama dengan firman Allah.46« Hurairah berkata.' i ' 1*1' ° ( \ S \ ' \ 35. " Para ahli nahwu Kufah dan Basrah berbeda pendapat dalam kasus penggunaan bentuk mudhari' pada kalimat syarat dan bentuk madhi pada kalimat jawab. Berbeda dengan perawi-perawi lainnya yang menggunakan bentuk madhi pada kedua kalimat tersebut. shalat pada malam Ramadhan dan melaksanakan puasa Ramadhan adalah sebagian dari iman. Kemudian beliau menjelaskan bahwa shalat pada lailatul qadar. Dalam hadits tentang lailatul qadar. D « n . "Hal itu disebabkan karena melaksanakan shalat dan puasa pada bulan Ramadhan merupakan ibadah yang pasti. maka diampuni dosanya yang telah lalu. sehingga Imam Bukhari menggunakan bentuk mudhari'. Dalam hal ini Al Karmani berkata." Sedangkan ulama-ulama lainnya berkata. Dalil mereka adalah firman Allah. karena pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan iman adalah tujuan utama dari kitabnya. "Ataa amrullah. o i i * *UlJi ^ L j i j ^ j bj j j F A T H U L BAARI — 163 .25. sedangkan shalat pada malam qadar tidak dapat dipastikan.

Karena balasan itu diberikan kepada orang yang bangun pada malam qadar (lailatul qadar). dan menurut saya dalam argumentasi mereka ada yang harus diperhatikan. "man yaqum lailatal qadri yughfaru lahu (Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada lailatul qadar. Pembahasan tentang lailatul qadar dan puasa Ramadhan akan dijelaskan pada kitab shiyam (puasa)." Kemudian diriwayatkan pula dari Abu Nu'aim dalam kitabnya dari Sulaiman (Ath-Thabrani) dari Ahmad bin Abdul Wahab bin Najd dari Abu Yaman. Insya Allah. "laa yaquumuu ahadukum lailatal qadri fayuwaafiquha imaanan wahtisaaban illa ghafarallaahu lahu ma taqaddama min dzanbihl (Barangsiapa yang bangun dan berdiri pada malam qadar dengan keimanan dan mengharapkan ridha Allah maka Allah akan mengampuni dosanya). dan terdapat penambahan dalam lafazhnya dibanding dua riwayat sebelumnya. 1 6 4 — FATHUL BAARI . lafazh "fayuwafiquha" adalah tambahan yang berfungsi sebagai keterangan.. bahwa para perawi menyampaikan hadits tersebut dengan maknanya.. " Dalam hadits tersebut."Jika Kami kehendaki niscaya Kami menurunkan kepada mereka mukjizat dari langit. Imam An-Nasa'i telah meriwayatkan hadits tersebut dari Muhammad bin Ali bin Maimun dari Abu Yamani. Mereka juga berargumentasi dengan hadits ini. yaitu lafazh. baik pada kalimat syarat maupun jawabnya. akan tetapi ia berkata. Dari sini jelaslah. guru Imam Bukhari tanpa ada perbedaan antara kalimat syarat dan jawabnya. Karena riwayat tersebut berasal dari Abu Hurairah dengan menggunakan lafazh mudhari'. karena sumbernya adalah satu. maka ia akan diampuni). sedangkan maksud dari bangun pada malam qadar adalah melaksanakan ibadah pada malam itu. " karena Firman-Nya "fa zhallat" dalam bentuk madhi (kata kerja bentuk lampau) dan kata tersebut mengikuti jawabu syarth. dan saya menduga bahwa hal tersebut dari perawi.

Dalam kitab Ash-Shihah disebutkan "nadabtu fulaanan ii kadza fantadaba" maksud dari "fantadaba" adalah menjawab. lalu hidup kembali dan terbunuh pula.26.i ' " . ! ^J'J2\ (Allah menggembirakan hati) 1 Maksudnya segera memberikan balasan yang lebih baik.a I jl A^_LP jl y^l °t I ' . Pendapat lain mengatakan bahwa maknanya adalah mengabulkan permintaan.J J . Andaikata tidak akan menyulitkan umatku.1* ' o ' ' * ' o ' * A 4 s ' J - £ . sedangkan dari jalur Sa'id bin Musayyab dari Abu Hurairah dengan lafazh "tawakkalallahu" (Allah menjadi wakilnya). padahal sumbernya adalah satu (sama). Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah mengabulkan keinginannya. jL-j "ji^j (membenarkan Rasul-Ku) FATHUL BAARI — 165 . atau dimasukkan ke dalam surga. niscaya aku akan selalu ikut berperang. dan hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa riwayat dari para perawi yang berbeda dengan riwayat tersebut. bahwa ia akan kembali membawa kemenangan dan harta rampasan. 'Allah menggembirakan hati orang yang berperang di jalan Allah yaitu orang yang berperang semata-mata karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam riwayat Al Ushaili ditulis dengan lafazh "l'tadaba" yang merupakan kesalahan dalam penulisan (tashhiif). D a n Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda." ^ o-u* U ''/'•* A i I ' ' ^ L ? ^ ^ IJ* *J-'y* ^ IY - J P j-il jl ^ y j sJiJt «d*-. Pendapat ini diperkuat oleh riwayat Imam Bukhari dari jalur Al A'raj dari Abu Hurairah dengan lafazh Takaffalallahu (Allah akan mengabulkan permintaannya). i I ' 3 ''t . J I H A D A D A L A H SEBAGIAN DARI I M A N ." Keterangan Hadits: ii. Aku ingin mati terbunuh dijalan Allah kemudian hidup kembali dan terbunuh.UJI ^ O I I J U L .L J Jii J t O I ^ J jTJ- 36. J i i p £-1 p J^l p LO-I p 5JJI J .

maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (oleh Allah). "intadaballahu liman kharaja fii sabiilihi qaa'ilan laa yakhrujuhu illaa iimanun bihi (Allah menggembirakan hati orang yang berperang di jalan Allah dengan berkata."U. yaitu dari Umarah bin Q a ' q a ' . " 1 6 6 — FATHUL BAARI . Imam Bukhari banyak meringkas masalah yang kedua." Perhatian: Hadits ini berasal dari jalur Abu Zar'ah dan mencakup tiga masalah tersebut. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. Begitu pula telah disebutkan. akan tetapi hal ini dapat ditafsirkan bahwa ada pembuangan ism fa 'U (kata benda pelaku). Masalah tersebut disebutkan secara lengkap oleh Al Ismaili dan Abu N u ' a i m dalam riwayatnya dari jalur Abdul Wahid bin Ziyad.i j . Begitu pula dengan riwayat Muslim dalam hadits ini dari jalur yang lain. "Barangsiapa yang menegakkan shalat di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas. "Hadits tersebut seharusnya berbunyi iimanun bihi (iman kepada-Nya).* fJjb L* Al jAS- bin 37. I K H L A S M E N G E R J A K A N S H A L A T M A L A M PADA BULAN RAMADHAN ADALAH SEBAGIAN DARI I M A N jl L*j f 13 J* Jii jv-Lj <tl)t <J~& * • * * ' J ^ . bahwa pembahasan tentang shalat dan puasa pada bulan Ramadhan akan ditemukan pada bab "Shiyam" (puasa).Ibnu Malik berkata. "yaitu orang yang berperang semata-mata karena iman kepada-Ku.j Jl o'jjj* < ' ' { ' • • I l ' ° I I jP I ' l . Jadi asal hadits itu adalah. 27. Kemudian hadits tersebut muncul secara terpisah dari riwayat Al A'raj dan yang lainnya dari Abu Hurairah yang akan disampaikan oleh Imam Bukhari dalam bab "Jihad"-Insya Allah.

"Sesungguhnya agama itu ringan. " 2 >• /?_} oj^iJu I ' i ' j T ^ i L*O^J 1 ^J^~i N' J ^ l • 'u? JJ"^ 1 f-'J^j 39.28. dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta beribadahlah (mohon pertolongan Allah) pada waktu pagi. "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (oleh Allah). petang dan sebagian malam.L J LILCL ° i ' 38. maka orang yang menyusahkan dirinya dalam agama ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna. D a n ^ 6 » Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. A G A M A ITU M U D A H AU! ^'jjl t-i-i lil-j AILC. M E N G E R J A K A N PUASA R A M A D H A N D E N G A N I K H L A S A D A L A H SEBAGIAN DARI I M A N {Co °J* j j ^ j Alii JJ\ J^a ° ' JLL J ^ w j (3"L5 J ' i 6^ys.''' FATHUL BAARI — 167 . ^ ^ ° J P I * I ' I F J U I T» DJ Y P i*I' B L _ I ? .AJJI J ^ ^ 1 Jyj Rasulullah SAW bersabda "Agama yang paling disukai oleh Allah adalah agama yang lurus dan mudah. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. " 29. Oleh karena itu kerjakan sebagaimana mestinya atau mendekati semestinya.

akan tetapi yang paling disukai Allah adalah yang paling mudah. "Yangpaling baik dari agamamu adalah yang paling mudah. Sebagai contoh.i (agama yang paling disukai) 1 Yang dimaksud adalah karakter agamanya. Pengertian agama di sini adalah. "Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama sesuatu kesempitan. bahwa setiap orang yang bersikap konservatif dalam agama.disukai. Kata *iJV_JJ I artinya mudah. j i ^ t . Hal ini diperkuat oleh hadits Ahmad dengan sanad yang shahih dari seorang badui -tidak disebutkan namanya. Al Hajj (22): 78) i—pisekali-kali (ikutilah) j i i 'jiJd\ jCiJ 'J* (maka orang yang menyusahkan dirinya dalam agama ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna) Seseorang yang terlalu tenggelam dalam amalan-amalan agama (spiritual) dan tidak memperhatikan aspek kemudahan dalam agama. atau disebut dengan agama yang mudah karena berbeda dengan agama-agama lainnya. maksudnya adalah agama Islam didasarkan atas kemudahan berdasarkan firman Allah. sebab asal kata "hanafa" berarti cenderung.bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda. Sedangkan l i l i J \ (menurut bahasa) adalah orang yang memeluk agama Nabi Ibrahim." Atau yang dimaksudkan. maka 'ia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna. (*X^-1 ') adalah sebutan bagi agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS. seluruh syariat pada masa lalu sebelum mengalami perubahan dan penghapusan." (Qs. agama orang tuamu Ibrahim. karena seluruh karakter agama . "Dalam hadits ini terdapat ilmu para nabi. agama yang paling disenangi Allah adalah agama yang lurus. Kita dan para pendahulu telah melihat. Nabi Ibrahim dijuluki dengan Al Haniif (orang yang lurus) karena kecenderungannya kepada kebenaran.Keterangan Hadits: "JJ 'cy'^ (Agama itu mudah) Maksudnya. sedangkan taubat umat ini hanya dengan meninggalkan perbuatan tersebut dan menyesalinya serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi. agama Islam adalah agama yang memiliki kemudahan.p a d a dasarnya. dimana Allah telah menghilangkan kesulitan-kesulitan seperti yang dibebankan kepada umat-umat terdahulu. maka ia tidak akan dapat melaksanakan ajaran agamanya 1 6 8 — FATHUL BAARI . cara taubat umat terdahulu adalah dengan jalan bunuh diri. . Ibnu Mundzir berkata.j .

karena sebaik-baiknya agama kalian adalah yang mudah. karena melaksanakan Azimah (hukum asal) pada waktu dibolehkan melakukan rukhshah adalah perbuatan yang memberatkan. l ^ o U (kerjakan sebagaimana mestinya). Karena ketidakmampuan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan tidak adanya unsur kesengajaan. Jika kamu tidak dapat mengerjakannya dengan sempurna. Al Jauhari berkata. i j ^ i j (dan bergembiralah) Bergembiralah. orang yang tidak melaksanakan tayammum pada saat tidak mampu menggunakan air. dimaksudkan untuk mencegah sikap mengasingkan diri yang dapat menyebabkan rasa bosan atau berlebihlebihan dalam melaksanakan ibadah sunah. Pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk menghalangi seseorang dalam menyempurnakan ibadahnya. Dalam hadits Mahjan bin Al Adra' dari Ahmad. Akan tetapi kemudian ia merasa ngantuk ketika akhir malam tiba. Akan tetapi. Sebagai contoh. sehingga ia tertidur dan tidak dapat melaksanakan shalat subuh dengan berjamaah." Sedangkan kata "Ar-Rauhah" artinya waktu setelah terbenamnya FATHUL BAARI — 169 . bahkan tidak melaksanakannya sampai matahari terbit. maka kerjakanlah yang mendekati kesempurnaan. maka tidak akan mengurangi pahalanya. yaitu kerjakanlah dengan baik dan benar (tidak berlebihan dan tidak menguranginya). maka akan membahayakan dan memberatkan dirinya. "Kalian tidak akan mendapatkan perkara ini dengan berlebih-lebihan. '/J —>i 1 (atau yang mendekati semestinya). i/j^L-! i j L i — ( s e r t a beribadahlah (mohon pertolongan Allah) pagi) ibadah mohonlah secara pertolongan kepada Allah dengan kontinu pada waktu-waktu yang telah pada waktu melaksanakan ditentukan.secara sempurna. "yaitu waktu di antara shalat ghadah (zhuhur) dan terbitnya matahari. sehingga ibadah yang wajib ditinggalkan. Kata °y—iJi artinya permulaan siang." Hadits ini merupakan anjuran untuk melaksanakan rukhshah (keringanan atau dispensasi) yang diberikan dalam agama. Kabar gembira itu adalah bagi orang yang tidak mampu mengerjakannya dengan sempurna. seperti seseorang yang tidak tidur sepanjang malam untuk melakukan shalat sunah. karena hal itu termasuk perbuatan yang terpuji. karena akan mendapat balasan (pahala) atas amal yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit. Atau tidak melaksanakan yang fardhu pada waktunya.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa dunia -pada hakikatnya. puasa dan jihad. akan tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga dapat melaksanakannya secara terus menerus. Waktu-waktu ini merupakan yang paling baik bagi para musafir. dan kata < artinya pada akhir malam. bahwa hadits-hadits tersebut mengajak kepada kita untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi jika ia memilih untuk berjalan pada sebagian waktu tersebut. Sedangkan dalam hadits ini. 1 7 0 — FATHUL BAARI . Berikutnya. Imam Bukhari ingin menjelaskan bahwa dalam melakukan perbuatan-perbuatan (amalanamalan) tersebut sebaiknya tidak berlebihan. Imam Bukhari kembali membahas tentang haditshadits yang menjelaskan perbuatan baik yang merupakan bagian dari iman. maka ia akan sanggup meneruskan perjalanannya tanpa ada kesulitan. Korelasi antara hadits ini dengan hadits-hadits sebelumnya. karena seorang musafir jika berjalan sepanjang siang dan malam maka ia tidak akan sanggup. bahwa kata tersebut berarti seluruh maiam. dan waktu-waktu tersebut adalah waktu yang paling nyaman bagi fisik untuk melaksanakan ibadah.matahari.adalah sebagai tempat persinggahan menuju akhirat. Seakan-akan Rasulullah SAW mengingatkan kepada seorang musafir agar ia mempergunakan waktunya dengan baik dan tepat. Hal ini disebabkan karena amalan yang dilakukan pada malam hari lebih berat bila dibandingkan dengan amalan pada siang hari. maka hadits tersebut menggunakan kata "min "yang menunjukkan arti sebagian. Ada yang berpendapat.

beliau bertempat tinggal di rumah kakek atau paman-paman beliau dari kaum Anshar." Baqarah (2): 143) Maksudnya.dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. ".30. Al fJ_J I c L' 'A J j ! j L T jUl -j -Ip UJI i l f j jCaftl J . adalah shalatmu di Baitullah..^' 4 * fj Jl *4 ' j # ^ & Jt* ^ . bahwa pertama kali Rasulullah SAW datang ke Madinah. J U J ^ JlJl jl J g. (Qs.j J^J" j5vi> l ^ j J y l jjJ jji i 01 40.\'?\ J* JlU J' J j f j * « C b r f Jip J > ' **JuJl 4 1 * ^ > * AlLj O J > J J I o ^ A t ^ " jl I ^ *£ j^™. Ketika itu Rasul shalat menghadap ke Baitul Magdis (Yerusalem) lebih kurang 16 atau 17 bulan lamanya.^ J j-U*Jl A*Z~* U * > 0 0*>O» J J ' jii J P 4 j U C ~I^ J?* Ji-j jr>J o c v ii O j i f l j ^ J L J i l j j I jjSjl c _ 3 J^* J _ J U!lJl J P o U jLS' C j) J U . Dari Barra'.b . S H A L A T A D A L A H BAGIAN DARI I M A N Allah berfirman.jlij J Li. Sesungguhnya Nabi lebih suka Baitullah (Ka'bah di Makkah) menjadi kiblatnya.. Rasulullah SA W pertama kali melaksanakan shalat dengan FATHUL BAARI — 171 . AJJI J J ^ V 1 ^ J^ j ^ / r ^ 1 1 1 Ul l i i A i .(^» J j P JL»wl U L 2 " J _ > .

dan juga dalam riwayat Ats-Tsauri serta riwayat Israil yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Tirmidzi. Kami tidak mengerti bagaimana hukumnya shalat itu. "sittata 'asyara (enam belas)" tanpa ada keraguan. Kemudian salah seorang yang mengikuti Nabi keluar dan pergi melewati sebuah masjid pada saat jamaahnya sedang ruku' menghadap Baitul Magdis. " Lalu turunlah ayat. "Demi Allah. "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sedangkan dalam riwayat Bazzar dan Thabrani dari Amru bin Auf dengan lafazh 1 7 2 — FATHUL BAARI . Demikian pula yang terdapat dalam riwayat Muslim dari Abu Ahwash. menghadap ke arah Baitul Maqdis. Lantas orang itu berkata. J J (menghadap Baitul Maqdis) Maksudnya." Selanjutnya Barra' menyebutkan dalam hadits ini. " ( Q s . Nabi SAW tinggal di Madinah di tempat para saudaranya bani Malik bin Najjar. Sebutan paman dan kakek-kakeknya adalah merupakan majaz (kiasan) karena kaum Anshar adalah saudara Rasulullah dari garis keturunan sang ibu. dari Abu Nu'aim dari Zuhair. Hadits tersebut diriwayatkan pula oleh Abu Awanah dalam Shahihnya dari Ammar bin Raja' dan perawi-perawi lainnya dari Abu Nu'aim dengan lafazh. Orang Yahudi mulanya sangat bangga ketika Nabi dan para pengikutnya shalat menghadap Baitul Maqdis dan begitu pula Ahli kitab. "Banyak orang yang telah meninggal di masa kiblat masih ke Baitul Magdis dan banyak juga yang terbunuh setelah kiblat menghadap ke Baitullah. An-Nasa'i dari riwayat Zakaria bin Abu Zaidah.menghadap ke Ka 'bah adalah shalat ashar yang dilakukannya secara berjamaah. dimana ibu kakeknya Abdul Muthalib yang bernama Salma binti Amru adalah salah seorang dari Bani 'Adi bin Najjar yang berasal dari Anshar. \'J^ 'JsS j ' i^p *L. dan juga riwayat Ahmad dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas. riwayat Abu Awanah dari Ammar bin Zuraiq dari Abu Ishaq. Tetapi setelah umat Islam berubah ke Baitullah mereka mencela perubahan itu. baru saja saya shalat bersama Rasulullah menghadap ke Baitullah di Makkah.(16 atau 17 bulan) Keragu-raguan ini terdapat dalam riwayat Zuhair dalam bab ini dan juga dalam bab "Shalat". Al Baqarah (2): 143) Keterangan Hadits: Ji^-f jii ji (atau paman-pamannya) Keragu-raguan ini berasal dari Abu Ishaq. Maka dengan segera mereka merubah kiblat menghadap ke Baitullah.

Karena telah disepakati bahwa bulan kedatangan Rasulullah SAW di Madinah adalah bulan Rabi'ul Awal sedangkan bulan perpindahan Kiblat terjadi pada pertengahan bulan Rajab di tahun kedua. Pendapat tersebut berdasarkan hadits Umarah bin Aus yang FATHUL BAARI — 173 .. yaitu bahwa enam belas bulan itu diperoleh dengan menghitung bulan kedatangan Rasulullah di Madinah dan bulan perpindahan Kiblat."sab 'ata 'asyara (tujuh belas)".. ia berada di antara kedua hal tersebut. J y JLU *jT.) Shalat yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan menghadap ke Ka'bah adalah shalat ashar. 9 bulan. Pendapat inilah yang disebutkan dan didukung oleh Imam Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah padahal dalam keterangan Shahih Muslim ia menguatkan riwayat yang menyebutkan "16 bulan. Ibnu Hibban berpendapat. Adapun tujuh belas bulan diperoleh dengan menghitung kedua bulan tersebut menjadi dua bulan. maka pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. satu bulan dengan menghilangkan tambahannya. 10 bulan. Abu Bakar adalah orang yang lemah hafalannya dan telah melakukan kerancuan dalam meriwayatkan hadits. (dan Rasulullah pertama kali melakukan shalat. Sebenarnya kita dapat memadukan kedua riwayat tersebut dengan mudah. maka perpindahan Kiblat tidak mungkin terjadi pada bulan Sya'ban kecuali jika bulan kedatangan dan peralihan tidak dihitung. "Dari sini. Sedangkan orang yang ragu-ragu. Dalam riwayat Ibnu Sa'ad disebutkan bahwa kiblat dipindahkan ke Baitullah pada saat shalat dzuhur atau ashar." Pendapat-pendapat selain itu adalah pendapat yang lemah seperti riwayat Ibnu Majah dari jalur Abu Bakar bin Ayas dari Abu Ishaq yang menyebutkan 18 bulan. Riwayatriwayat ini adalah lemah. karena kedatangan Rasulullah pada tanggal 12 Rabi'ul Awal. Sebagian perawi meriwayatkan dari pendapat Muhammad bin Habib bahwa perpindahan Kiblat tersebut terjadi pada pertengahan Sya'ban. karena dalam riwayat Ibnu Jarir dari jalurnya disebutkan "17 bulan" dan dalam riwayat lain disebutkan 16 bulan. demikian pula dengan riwayat Thabrani dari Ibnu Abbas. Sedangkan Musa bin Uqbah mendukung pendapat yang mengatakan. Pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama dan diriwayatkan oleh Hakim dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas.. "17 bulan 3 hari. Termasuk diantara pendapat yang lemah adalah riwayat yang mengatakan 13 bulan. bahwa perpindahan itu terjadi pada bulan Jumadil Akhir. 2 bulan atau 2 tahun.

. ada yang berpendapat bahwa mereka adalah bani Salmah. s — j i (menghadap ke Mekkah) menghadap ke Baitullah yang segeralah ada di Makkah. karena mereka termasuk dalam kategori Ahlul Kitab. karena mereka adalah orang yang paling memusuhi orang Yahudi.) Yang dimaksud adalah Abbad bin Bisyr bin Qaizhi. Maka disebutkan dalam hadits tersebut. Yang ada dalam kalimat tersebut berarti "ma'a" (bersama). saya berpendapat bahwa kemungkinan tersebut jauh. Lalu. Adapun hadits Ibnu Umar menyebutkan bahwa shalat tersebut adalah shalat shubuh yang dilakukan di tengah penduduk Quba'. ji-j (kemudian salah seorang keluar. seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Mundih dalam sebuah hadits Thawilah binti Aslam. seperti terdapat dalam hadits Ibnu Umar yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Shalat". 1 7 4 — FATHUL BAARI . Ada juga yang berpendapat bahwa orang tersebut adalah 'Abbad bin Bisyr yang menginformasikan kepada penduduk Quba' pada waktu subuh. "Kami melaksanakan salah satu dari 2 shalat petang.. sedangkan shalat yang pertama kali dilakukannya (menghadap baitullah) di masjid Nabawi adalah shalat ashar. lalu apa yang membuat mereka bangga? Al Karmani berkata. "Maka mereka merubah kiblatnya menghadap Ka 'bah.berkata. Rajab atau Sya'ban? Ada beberapa pendapat mengenai hal tersebut." Yang benar adalah bahwa shalat yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah di Bani Salmah adalah shalat dzuhur yaitu ketika Bisyr bin Bararah bin M a ' r u r meninggal dunia." Dalam hal ini. sedangkan dia berada di Makkah. Akan tetapi ada yang harus diperhatikan dalam pendapat tersebut. bahwa orang tersebut adalah 'Abbad bin Nahik. apakah hal itu terjadi pada bulan Jumadil akhir. "Kebanggaan mereka (kaum Nasrani) adalah karena mengikuti orang Yahudi. sehingga artinya Rasul shalat bersama ahlul kitab menghadap ke Baitul Maqdis. karena kaum Nasrani tidak shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Dalam bab shalat tersebut. insya Allah akan kita terangkan tentang cara menggabungkan kedua riwayat itu dengan menjelaskan beberapa pelajaran penting di dalamnya. Ada kemungkinan kalimat tersebut ditulis dengan nashab dan huruf "waw". Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah kaum Nasrani." Ji (Orang Yahudi mulanya sangat bangga) Ahlul kitab dinisbatkan kepada orang Yahudi. Pendapat lain mengatakan. Mengenai jama'ah yang dilewatinya.

pendapat pertama adalah Rasulullah menjadikan atap ka'bah di belakangnya. " Imam Bukhari telah menyebutnya secara jelas dalam riwayatnya yang berasal dari jalur Israil. Tirmidzi. Di tanah Habasyah yang wafat adalah Huthab bin Haris Al Jumahi. dimana riwayat ini datang dari beberapa jalur. Sakran bin Amru Al Amiri.. Abdullah bin Harits As-Sahmi. Mereka adalah sepuluh orang yang telah disepakati. Yang meninggal dari golongan muslim sebelum peralihan kiblat berjumlah 10 orang. iUi (mereka mencela perubahan itu) \ 'j£>\ i Mereka adalah kaum Yahudi.. M^Ji ^ — l * o l i ilt (banyak orang yang meninggal di masa kiblat masih ke Baitul Maqdis) yaitu pada saat kiblat masih menghadap ke Baitul Maqdis sebelum dipindahkan ke Makkah. tetapi ketika tiba di Madinah beliau menghadap ke Baitul Maqdis yang kemudian dihapus. Adi bin Nadhlah A l ' A d w i y a n i . J t j (banyak orang meninggal atau terbunuh) Kata "Al Qatlu" hanya terdapat dalam riwayat Zuhair. bahwa Rasul masih tetap menghadap Ka'bah di Makkah. dan yang menguatkan pendapatnya adalah hadits tentang shalat yang diimami Jibril yang dilaksanakan di pintu Ka'bah. Dalam hal ini Ibnu Abdul Barr mendukung pendapat kedua. Az'Zuhri meriwayatkan. maka turunlah ayat "Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata. Sedangkan yang wafat dari golongan Anshar Madinah adalah Barra' bin Ma'rur dan As'ad bin Zararah. Muthalib bin Azhar Az-Zahrayani. Urwah bin Abdul izzi. Kemudian beberapa orang mengklaim. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Abu Daud. " Secara zhahir. sedangkan menurut pendapat kedua berarti beliau shalat diantara 2 rukun yamani. Sedangkan riwayat-riwayat yang lain menyebutkan "Al Maut" (kematian). apakah Rasul membelakangi Ka'bah atau memposisikannya diantara beliau dan Baitul Maqdis? Menurut saya. Sedang yang meninggal di Makkah dari golongan Quraisy adalah Abdullah bin Syihab. Amru bin Umayyah Al Asadi. "Kita shalat bersama Rasulullah SAW menghadap Baitul Maqdis 18 bulan lamanya kemudian mengalihkan kiblat ke Ka 'bah setelah 2 bulan kedatangan beliau di Madinah. mereka shalat di Makkah dengan menghadap ke Baitul Maqdis.Kemudian diriwayatkan dari Ibnu Majah dari jalur Abu Bakar bin Ayasy yang telah disebutkan. FATHUL BAARI — 175 . Ibnu Hibban.. dan Hakim dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas.

Diperbolehkan merubah suatu hukum jika mempunyai kemaslahatan. "Dia dalam keadaan muslim ketika terbunuh. sebagaimana yang diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Barra'.Pada masa tersebut wafat pula Iyas bin Muadz. "Perkataan ini adalah baik. Hadits tersebut menjelaskan tentang kedudukan dan kemuliaan Rasulullah di mata Allah. ia pun berkata. 2. Dikatakan bahwa golongannya mengatakan. Beberapa pakar mengatakan juga kepada saya. 1 7 6 — FATHUL BAARI . diantaranya adalah: 1. 3. bisa jadi yang dimaksud adalah golongan lemah yang berada di Makkah seperti kedua orang tua Ammar. Perhatian: Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari hadits ini. karena Allah telah memberikan sesuatu yang diinginkannya tanpa harus memintanya secara terangterangan. Saya tidak menemukan informasi yang mengatakan bahwa ada orang muslim yang terbunuh sebelum kiblat berpindah. Kemudian dalam kitab Al Maghazi disebutkan bahwa seorang yang diperselisihkan keislamannya yaitu Suwaid bin Shamad. bertemu dengan Rasulullah SAW sebelum kaum Anshar bertemu dengan beliau di Aqabah. 4. Jika lafazh ini memang telah dihafal. hanya saja keislamannya diperselisihkan. Hadits ini juga menunjukkan bagaimana para sahabat melaksanakan ajaran agama dan berbuat baik kepada sesamanya. Masalah yang serupa telah terjadi ketika diturunkannya ayat tentang pengharaman khamer." Oleh karena itu." Kemudian ia kembali ke Madinah dan terbunuh pada Perang Bu'ats yang berlangsung sebelum hijrah. bahwa kematian mereka terjadi setelah peristiwa Isra'. Bantahan kepada kelompok Murji'ah yang mengingkari bahwa amal perbuatan dalam agama adalah iman. maka bisa jadi beberapa kaum muslimin yang tidak terkenal pada saat itu terbunuh di luar jihad dan namanya tidak dicatat. Saya berpendapat masih diperlukan bukti-bukti yang kuat. Pada saat itu Rasulullah menyerukan Islam kepadanya. karena kurangnya perhatian terhadap sejarah pada saat itu. kemungkinan dialah yang dimaksud. akan tetapi bukan berarti peristiwa itu tidak pernah terjadi.

. ".. dan juga firman Allah."Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang shalih karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu. Al Maaidah (18): 93). kemudian mereka tetap pula bertakwa dan berbuat kebaikan. kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman. FATHUL BAARI — 177 . Al Kahfi (18): 30) Memperhatikan hal tersebut Imam Bukhari menyambung bab ini dengan bab "Kebaikan Islam Seseorang" dan menyebutkan dalil yang menguatkan. bahwa seorang muslim yang mengerjakan perbuatan yang baik akan mendapatkan pahala. apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih.tentulah kami tidakakan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik" (Qs. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (Qs.

1 7 8 — FATHUL BAARI . ia akan diberi balasan yaitu setiap kebaikannya akan dibalas Allah sepuluh sampai tujuh ratus kali. Dan . niscaya Allah SWT akan menghapus segala kejahatan yang telah dilakukan.31. i^ij menggunakan (Telah dilakukan). ' o'. "Apabila seseorang masuk Islam kemudian Islamnya menjadi baik. Artinya mencakup laki-laki dan perempuan. . " Keterangan Hadits: J iiy Uli 1. * * " ' o * ' M* * t t ' ' j l — S " j L^lij jlS" AJL U l j ^iiv? 2JU J T i £ Jii y L ' J l LjJLtil <>-^-» li| iu-J-l t^CaiJl dili J-w . Dalam riwayat Abu Dzarr — I I J t'-f^j Daruquthni telah meriwayatkan dari jalur Thalhah bin Yahya dari Malik dengan lafazh. L J I P *_JI jl V| Lj^** 41. hukum ini (Kemudian Islamnya menjadi baik). K E B A I K A N I S L A M S E S E O R A N G t * .1 j \i\ (Apabila seseorang masuk Islam).46« Sn' H / ^ / d i a i r i &4 6a/iwa Rasulullah SAW bersabda. keikhlasan dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Islam baik secara lahir maupun batin serta merasa dekat kepada Allah ketika sedang beribadah sebagaimana yang ditunjukkan dengan kata "ihsan "dalam hadits Jibril yang akan kita jelaskan kemudian. *. Sedangkan kejahatannya dibalas (hanya) setimpal dengan kejahatannya itu. keislamannya menjadi semakin baik dengan keyakinan. kecuali jika Allah memaafkannya. Setelah itu. jif i^i *^~>- jir il M i •£ VI i-y^-i j »*J jjju-j JIP'J*u (Tidaklah seorang hamba yang masuk Islam dan kemudian memperbaiki keislamannya kecuali Allah akan membalas setiap kebaikan yang dilakukannya dan menghapuskan segala kesalahan yang dilakukannya). i^iij i^iii.

Beliau berkata. pernyataan bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan kaidah tidak dapat diterima. lafazh yang dihilangkan oleh Bukhari adalah masalah pencatatan kebaikan yang dilakukan seseorang sebelum masuk Islam. Dalam hal ini. pendapat yang benar adalah bahwa pemberian pahala kepada seseorang yang telah memeluk Islam sebagai karunia dari FATHUL BAARI — 179 . "Upaya mendekatkan diri yang dilakukan oleh orang kafir tidak dapat diterima. Dalam kitab Al Jami' disebutkan bahwa kata "Az-Zulfaa" (perbuatan yang telah lalu) dapat dipergunakan baik dalam kebaikan maupun keburukan." Dalam hal ini.' ^ 4 & Jyi (Allah mengatakan kepada para malaikatnya. Imam Daruquthni juga meriwayatkan dari jalur Zaid bin Syu'aib dari Malik dengan lafazh. orang kafir tidak termasuk dalam golongan tersebut. hanya saja beliau menggunakan kata "Azlafahaa". yaitu yang telah lewat. "Pendapat yang didukung oleh para ulama adalah pendapat yang menyatakan bahwa seorang kafir yang telah melakukan kebaikan seperti sedekah atau silaturahim kemudian ia masuk Islam dan meninggal dalam keislamannya. maka pahala atas seluruh kebaikannya akan diberikan. Oleh karena itu." Pendapat ini didukung oleh Qadhi Iyadh dan dianggap lemah oleh Imam Nawawi. Sedangkan arti "Qurbah " (mendekati) hanya untuk hal-hal yang baik saja. karena telah disepakati bahwa jika seorang kafir telah membayar kafarat zhihar misalnya. "Catatlah!"). maka ketika masuk Islam ia tidak diwajibkan untuk mengulanginya kembali. Dari sini. Menurut Al Khaththabi kedua bentuk tersebut memiliki satu arti. Dalam kitab Al Masyariq dikatakan. "Zalafa " berarti mengumpulkan atau mencari (Jama'a au Kasaba). Ada yang berpendapat bahwa Imam Bukhari sengaja menghilangkan kalimat yang diriwayatkan oleh perawiperawi lainnya. : ^ . Al Mazari berkata. karena kalimat tersebut bertentangan dengan kaidah yang telah disepakati. Dalam semua riwayat disebutkan. maka perbuatan shalih yang telah dilakukannya dalam kondisi syirik tidak akan mendapat pahala. maka riwayat-riwayat selain Ahu Dzarr menjadi kuat dan hanya perkataan Al Khaththabi saja yang menguatkan riwayat Abu Dzarr tersebut. Arti ini mencakup hal-hal yang baik dan buruk. Hal itu disebabkan karena salah satu dari syarat orang yang melakukan pendekatan diri adalah harus mengetahui siapa yang didekatinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan "Kataballahu " (Allah telah mencatat).Riwayat dari Nasa'i hampir sama dengan riwayat yang ada di atas. maksudnya Allah menyuruh malaikat untuk mencatatnya.

"Yang bertentangan dengan kaidah adalah anggapan bahwa pahala atas perbuatannya itu dicatat pada waktu ia masih kafir. dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya.Allah SWT tidak berarti bahwa kebaikan yang dilakukannya pada saat ia kafir akan diterima oleh Allah. sama seperti memberikan pahala kepada orang yang kuat. Sedangkan jika ia mati ketika masih mengikuti agamanya yang dulu maka semua kebaikannya tidak akan bermanfaat atau sia-sia. —'«aii\ i L J i j_Ju' 01—f j (Setelah itu.'"' Hadits ini menunjukkan bahwa jika ia mengatakan kalimat tersebut setelah masuk Islam. maka ia akan diberi pahala dua kali lipat sebagaimana dijelaskan dalam Al Qurian dan Hadits shahih. "Tidak. Ibnu Baththal dan lainnya dari kalangan ulama terdahulu. Kalimat ini diungkapkan dalam bentuk 1 8 0 — FATHUL BAARI . Allah juga dapat memberikan pahala kepada orang yang lemah. ia akan diberi balasan). Ibnu Munir berkata. "Apakah perbuatan baiknya akan bermanfaat baginya?" Rasulullah menjawab. sekalipun berkata. sebagaimana Allah dapat memberikan karunia kepada seseorang meskipun ia tidak melakukan kebaikan. Akan tetapi. juga diberikan dan digabungkan dengan pahala atas perbuatannya setelah masuk Islam. Maka jika ia masuk Islam kebaikannya akan diterima. jika Allah dapat memberikan pahala kepada orang yang belum melakukan kebaikan (hanya sekedar niat). Pendapat Imam Nawawi ini juga didukung oleh Ibrahim Al Harbi. 'Wahai Tuhanku." Ulama-ulama lainnya berargumen bahwa seorang ahli kitab jika telah beriman. dimungkinkan bahwa diterima atau tidaknya kebaikan itu tergantung keislamannya. Adapun Allah memberikan pahala kepada seseorang atas kebaikannya dalam Islam. itu tidak dipertentangkan. maka Dia juga dapat memberikan pahala atas perbuatan yang tidak memenuhi syarat. Hadits tersebut hanya mengindikasikan diberinya pahala tanpa menjelaskan apakah kebaikannya itu diterima atau tidak. Maksudnya adalah. Pendapat tersebut juga diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Aisyah RA tentang Ibnu Jad'an. dan jika tidak maka akan ditolak. dan juga Al Qurthubi serta Ibnu Munir dari kalangan ulama modern. "Allah dapat memberikan sesuatu kepada hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini mengindikasikan bahwa pahala atas perbuatan yang dilakukan pada saat ia masih mengikuti agamanya yang dulu. bahwa amal perbuatannya di dunia akan ditulis dan akan dibalas di akhirat nanti. Oleh karena itu. ampuni kesalahanku pada hari kiamat. maka apa yang dilakukannya di waktu kafir akan bermanfaat." Ibnu Baththal berkata. Pendapat ini merupakan pendapat yang kuat.

Al A'raaf (7): 44) Al Mawardi mengatakan bahwa sebagian ulama menafsirkan kata llaa Sabi Mi'atin (sampai 700) berdasarkan zhahir lafazhnya saja. J l L^Jlif JJ^U iJSJ * L^LUJ' l' > J & ' s '•" '^yl*\ c ^-T-b-l t " f . sedangkan setiap kejelekan yang dilakukannya hanya ditulis sepertinya (satu)" FATHUL BAARI — 1 8 1 . yaitu bisa jadi Allah melipatgandakan kelipatan tersebut hingga mencapai 700 atau Aliah akan menggandakan 700 hingga melampaui jumlah tersebut. sedangkan bagian akhir hadits ini membantah golongan Khawarij dan Mu'tazitah. "Dan penghunipenghuni surga berseru. & s'jyi Jl ~i\ (Kecuali jika Allah mengampuninya dan Dia adalah Maha Pengampun). Imam Sibawaih dalam kitabnya menyebutkan. Pendapat tersebut juga dibantah secara jelas oleh hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas dalam bab "Ar-Riqaq" yang berbunyi. t> * ' 42..madhi (kata kerja bentuk lampau) untuk menunjukkan bahwa hal itu benar-benar terjadi. seperti dalam firman Allah SWT. Al Baqarah (2): 261) Ayat ini mengandung dua kemungkinan. " ( Q s . 3 l " * ' o ' S * ' s ' O l ' ' ' ' " ' o * ^O 'j—UUl Iji) L) s l*j iD! J L U < O J I S y j J-* e'jj* ^ - J* s 'L. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. "Jika seseorang memperbagus keislamannya maka untuk setiap kebaikan yang dilakukan akan dituliskan !0 hingga 700 kali lipat. Pendapat ini dibantah oleh firman Allah SWT." (Qs. Bagian awal hadits ini membantah pendapat yang menolak bahwa iman dapat bertambah atau berkurang. "Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. sehingga mereka berpendapat bahwa kelipatannya itu tidak akan melebihi 700. Hadits ini membantah golongan Khawarij dan golongan lainnya yang mengkafirkan seseorang karena dosanya (selain syirik) dan ia akan kekal di dalam neraka.. "Allah menuliskan untuknya W sampai 700 kali lipat kebaikan dan akan melipatgandakannya." 14—'i Jii _)_.'—*i 01 V' (Kecuali jika Allah memaafkannya).

Hadits ini menggunakan kata jamak dalam kata \—s"iiis karena hadits tersebut ditujukan kepada para hadirin. Razaq. Akan tetapi hukumnya tetap berlaku bagi semua orang. Ini adalah lafazh Imam Bukhari. maka "Alif lam ta'rif" pada hadits sebelumnya yang berbunyi U^Jiif J^> ~£~J-\ (Setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat.b..i J-="' ^! (Jika seseorang memperbagus keislamannya).Keterangan Hadits: J' B . seakan-akan ia meriwayatkan hadits tersebut dengan maknanya saja. J& J>. J>. Imam Muslim. f—(Maka untuk setiap kebaikan). Dengan demikian. (Jika keislaman seseorang 1 D menjadi baik). Ishaq dan Al Ismaili menambahkan hadits ini dengan kalimat.)" adalah menunjukkan arti istighraq (mencakup keseluruhan). v 1 8 2 — FATHUL BAARI . J — ^ bertemu dengan Allah SWT). Al Ismail! meriwayatkan hadits tersebut dari jalur Ibnu Mubarak dari M a ' m a r seperti riwayat yang pertama.i J J L J & s s «UJl J L J D i of Ciolif s t f % r ^ s s s j J a J s s 4__Ul y d jlu>al LL . Sedangkan menurut Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya dari Abd. atau majaz (kiasan). Muslim dan perawi-perawi lainnya. yaitu bagi mereka yang hadir pada waktu itu dan yang lainnya. walaupun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang alasan pemberlakuan hukum itu secara umum. i i' *VA—-J ^ o i . A G A M A (AMAL) Y A N G PALING DISUKAI ALLAH ADALAH YANG DILAKUKAN SECARA TERUS MENERUS fi AILP ^ y s ' ^ s y & y y * ^ ^ $gy J J i — s i\"J>\ liolpj L$11P J i . apakah berdasarkan kaidah bahasa. istilah. ilii ji. ^ l L A^P JL* l^pC* j > JSTJJ iJMi cJLJ s i i J ^1 ^ j J i Li-f S i T j i j * .(hingga ia 32.. lafazhnya adalah \ *V ^i fy^\ 'j-i. ^ l^H (Sepertinya).

Lalu Nabi bertanya. bahwa dalam hadits sebelumnya telah menjelaskan keislaman seseorang yang dapat ditingkatkan dengan melakukan amal shalih. "Siapa wanita itu?"). berasal dari bani Asad. Agama (amal) yang paling disukai Allah adalah yang dilakukan secara tetap dan teratur?'' Dalam bab ini. Hal ini telah dijelaskan dalam bab "Agama itu mudah". sehingga maksudnya adalah mereka mengingat bahwa shalatnya sangat banyak. karena maksud dari kata Ad-Din (agama) dalam hadits tersebut adalah amal. Ada yang atau subyeknya tidak diketahui (dalam meriwayatkan dengan kata bentuk pasif). hingga kamu sendiri yang malas berbuat amal. Imam Bukhari ingin menjelaskan bahwa amal dapat disebut sebagai "Iman". "Inilah si fulanah yang terkenal banyak melakukan shalat. Dia tidak bosan untuk memberikan pahala. Demi Allah. Demikian pula dalam riwayat Imam Bukhari dalam bab "Shalat Malam" dengan sanad muallaq dari Al Qa'nabi dari Malik dari Hisyam. Dalam riwayat Ahmad dari Yahya A! Qaththan lafazhnya. sedangkan Islam yang hakiki adalah sama pengertiannya dengan iman. "Siapa wanita itu? " 'j (Yang terkenal). jp* ^ v (Tidak tidur malam). "Siapa wanita itu? " Aisyah menjawab. »ii 'j* Jii tanpa huruf fa' karena kalimat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan seseorang. subyeknya adalah Aisyah. "Nabi bersabda. Sedangkan dalam riwayat Muslim dari Zuhri dari Urwah. "Apa yang dikatakannya ketika masuk?" Maka Aisyah berkata. •j—s 'j '* JUJ (Lalu Nabi bersabda. menurut riwayat Malik di atas. maka di sini Imam Bukhari ingin menekankan bahwa usaha untuk meningkatkan keislaman secara berlebihan tidak dianjurkan.43. bahwa pada suatu ketika Nabi SAW pulang ke rumah Aisyah dan beliau melihat ada seorang wanita di dekatnya. " Kemudian Nabi bersabda. Dari sini. sebab arti Ad-Din (agama) yang sebenarnya adalah Islam. JtJ ifii* V (Tidak tidur. maka pemahaman Imam Bukhari tersebut dapat dibenarkan. bahwa FATHUL BAARI — 183 . Perempuan ini. tetapi melaksanakan shalat). Riwayat tersebut disebutkan secara maushul dalam kitab Al Muwaththa' dari Al Qa'nabi dengan lafazh.Dalam riwayat Al Ushaili disebutkan dengan lafazh. Adapun korelasi antara hadits ini "Tetapi kerjakanlah semampumu" dengan hadits sebelumnya adalah. "Jangan begitu! Tetapi kerjakanlah semampumu. Dari Aisyah RA.

karena kisah yang berkenaan dengan hadits di atas hanya satu. atau dimungkinkan juga ada beberapa kisah tentang hal itu. maka kedua riwayat tersebut nampak saling bertentangan. riwayat-riwayat tersebut dapat disatukan. Dalam riwayat itu. Jika ada yang mengatakan. Kemudian ketika wanita tersebut bangun dan hendak pergi. yaitu bahwa wanita yang bertemu dengan Rasulullah adalah selain Al Haula' yang berasal dari bani Asad. Teguran ini ditujukan kepada Aisyah dengan maksud untuk melarangnya agar tidak memuji seseorang dengan cara seperti itu. atau untuk melarangnya agar ia tidak melakukan perbuatan seperti itu.wanita tersebut adalah Al Haula' binti Tuwait bin Habib Asad bin Abdul Izzi yang termasuk keluarga Khadijah RA. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ahli fikih. hadits tersebut diriwayatkan dengan lafazh. Pernyataan semacam itu dapat dibantah. seperti yang akan diterangkan kemudian. kalimat tersebut mengandung larangan untuk membebani seseorang dengan melakukan ibadah yang berada di luar kemampuannya. maksudnya kerjakanlah amal yang dapat kamu lakukan secara terus menerus. Riwayat ini dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr dalam bab "Bangun Malam". Qadhi Iyadh berkata. Dari sini dapat dijelaskan bahwa Al Haula' pada mulanya berada di rumah Aisyah. Dengan demikian. sehingga mereka berpendapat bahwa melakukan shalat sepanjang malam hukumnya makruh. oj LWi jU-iO* (Kerjakanlah semampumu). Al Haula' bangun seperti yang dijelaskan dalam riwayat Hamad bin Salmah yang akan kita sebutkan nanti. seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Hisyam "Al Haula binti Tuwait lewat di depan Rasulullah". Secara eksplisit. kalimat tersebut mengandung perintah untuk melakukan ibadah sesuai dengan kemampuan. maksudnya adalah cukuplah. Akan tetapi kedua hadits itu dapat disatukan. 1_J> (Jangan begitu)." Riwayat ini menguatkan riwayat kedua yang mengatakan bahwa kalimat tersebut bukan berasal dari Aisyah. Sedangkan secara implisit. "Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah khusus dalam masalah shalat 1 8 4 — FATHUL BAARI . tetapi ketika Rasulullah SAW pulang ke rumah Aisyah. Rasulullah pun menanyakan kepada Aisyah tentang wanita tersebut. "Dan mereka mengatakan bahwa wanita tersebut tidak pernah tidur pada malam hari. Maka setelah ia pergi. ia bertemu dengan Rasulullah. bahwa dalam hadits Hisyam pada bab ini disebutkan "ketika Nabi SAW pulang ke rumah Aisyah dan beliau melihat ada seorang wanita di dekatnya". sedangkan dalam riwayat AzZuhri disebutkan "Bahwa Al Haula' bertemu dengan Rasulullah".

malam atau bersifat umum yang menyangkut seluruh amalan syariah. —Llf ^ — ^ *i> JII N (Dia tidak bosan untuk memberikan pahala. maka Allah pun mengungkapkannya dengan kata malai (bosan). "Allah tidak bosan walaupun kalian bosan" dan ungkapan seperti ini telah dipakai dalam percakapan orang Arab. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa hukum tersebut bersifat umum. Asy-Syuuraa (42): 40) Al Qurthubi berkata. "Ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "hatta" disini berarti "waw". " (Qs. seperti halnya firman Allah SWT. baik bagi kaum lakilaki maupun wanita." Dalam hal ini saya berpendapat." Al Mazari berkata. "Saya tidak akan mengerjakan pekerjaan ini sampai burung gagak beruban. Al Ismaili dan para ulama berpendapat bahwa penggunaan lafazh tersebut dalam arti yang berbeda adalah sebagai bentuk majaz (kiasan). Sifat ini menurut kesepakatan ulama.adalah mustahil terdapat dalam dzat Allah SWT. dan hal ini termasuk dalam kategori menamakan sesuatu dengan sebabnya. Maksud dari kata malai (bosan) adalah merasa berat atau enggan untuk melakukan suatu perbuatan setelah sebelumnya menyukai perbuatan tersebut. l i—U i y' (Demi Allah)." Hal tersebut berdasarkan bahwa kata "hatta " dalam hadits tersebut bermakna akhir dari tujuan." Al Harawi berkata. "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. padahal lawan bicaranya adalah kaum wanita. kecuali jika kalian merasa bosan untuk memintanya atau tidak menginginkannya. Kalimat ini menunjukkan bahwa bersumpah tanpa diminta adalah dibolehkan. "Maksudnya adalah. bahkan menjadi sunah jika dilakukan dalam rangka menegaskan atau memberikan dorongan kepada seseorang untuk melakukan suatu perintah agama dan menjauhkan diri dari larangan. Dalam hadits ini Rasulullah SAW menggunakan kata "Alaikum" (atas kamu sekalian). "Ungkapan tersebut merupakan majaz karena Allah memutuskan pahala bagi orang yang bosan beribadah. oleh karena itu arti dari kalimat tersebut menjadi "Laa Yamullu wa Tamullun" (Dia (Allah) tidak jemu dan kalian FATHUL BAARI — 185 ." Yang lain berkata. akan tetapi lafazhnya bersifat aam (umum). "Kewajiban kalian untuk mentaati-Nya tidak akan terputus sampai habis kekuatan kalian. Mereka berkata. Allah tidak akan menghentikan karunia-Nya kepadamu. bahwa latar belakang keluarnya hadits tersebut bersifat khusus dalam masalah shalat. dan inilah pendapat yang kuat. hingga kamu sendiri yang malas berbuat amal). Mereka berkata. Akan tetapi sebagian dari mereka berusaha untuk menakwilkannya.

Li-f (Paling disukai). melakukan koreksi diri. Ibnu Hibban berkata dalam shahihnya. "Kerjakan amalan sesuai dengan kemampuan kalian karena sesungguhnya Allah tidak akan jemu memberikan pahala sampai kalian yang jemu melakukannya. sedangkan para perawi lainnya meriwayatkan dari Hisyam dengan lafazh S jp Li -f o&j (Dan sesungguhnya amalan yang paling disukai olehnya). Dalam hal ini tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. sedangkan amal yang banyak tapi memberatkan akan terhenti atau terputus di tengah jalan. Sebab amal yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus itu akan bertambah. "Amal yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus menunjukkan ketaatan seseorang kepada Allah SWT. bahwa makna kecintaan dari Allah adalah kehendak Allah untuk memberikan pahala. "Ini adalah lafazh ta'aruf. yang menjadikan lawan bicara tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan kecuali dengan kata tersebut. Dengan demikian." Ibnu Jauzi berkata. Maksudnya. dan dia termasuk perawi yang lemah. ikhlas dan menerima apa yang ditakdirkan Allah kepadanya. Riwayat ini sesuai dengan judul bab.p a d a hakikatnyasesuatu yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling dicintai oleh Rasul-Nya. . Pendapat pertama lebih sesuai dengan kaidah bahasa. Dalam riwayat Al Mustamli disebutkan dengan lafazh Jii JL (Kepada Allah). bahwa Allah mencintai amal yang dilakukan secara terus menerus karena dua hal: 1 8 6 — FATHUL BAARI . amal atau perbuatan yang paling banyak mendapat pahala adalah yang dilakukan secara terus menerus. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan dari jalur Aisyah dengan lafazh. Al Qadhi Abu Bakar Al Arabi berpendapat. mereka menghilangkan sifat bosan dari Allah dan menisbatkannya kepada mereka." Akan tetapi dalam rangkaian sanadnya terdapat Musa bin Ubaidah. dan juga dalam riwayat Ubdah dari Hisyam yang dikeluarkan oleh Ishaq bin Rahawaih dalam musnadnya. "Pendapat lain mengatakan bahwa kata "hatta" berarti hina. berbeda halnya dengan amalan yang banyak tapi memberatkan. 2i (Kepada-Nya). yaitu dengan mengingat-Nya. karena . Kemudian beliau berkata.merasa jemu). yaitu riwayat Malik dari Hisyam. Dengan demikian. yang paling disukai oleh Rasuullah SAW." Inilah pendapat beliau dalam semua kata yang ada kemiripan. Hal ini disebutkan secara jelas oleh Imam Bukhari dalam bab "ArRiqaq". Demikian pula dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari jalur Abu Salmah serta riwayat Muslim dari Qasim dari Aisyah. Imam Nawawi berkata.

> f ^ f i v * as s s J 3 & 0' vi ' y f d s 44.Pertama. " M J l — i 'J* p > 'j? £ > 4 J<i jUl-j Aiil J £ \ JP p \ °jl i—N V J i i 'j* p s s j ? r>dj P $ 'j? £ ^ j j <J* J>J <W ^1 *H * >* iLi v ." (Qs. Al Maa'idah (5): 3) "Apabila seseorang melakukan sesuatu secara tidak sempurna. "Akan dikeluarkan dari neraka: Ij Orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dan dalam FATHUL BAARI — 187 . Allah memberikan ancaman kepada orang yang hafal Al Qur'an kemudian melupakannya. B E R T A M B A H DAN B E R K U R A N G N Y A IMAN Allah SWT berfirman. Kemudian Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari jalur Abu Salmah dari Aisyah." 33. maka berarti imannya telah berkurang. padahal ancaman itu tidak ditujukan kepadanya sebelum ia menghafal Al Qur'an. "(Qs. Kedua. karena melakukan kebaikan secara terus menerus adalah menunjukkan pengabdian seseorang. Dari Anas RA bahwa Nabi SAW bersabda. karena orang yang meninggalkan amal yang telah dilakukannya adalah seperti orang yang berputar kembali setelah sampai ke tempat tujuan. "Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Oleh karena itu. i \ H ju °j> p •* 'j? £>j. A l K a h f i ( l S ) : 13) dan firman-Nya. Orang seperti ini adalah orang yang tercela. " Firman-Nya pula. tidaklah sama nilainya dengan orang yang melakukannya dalam satu hari penuh tapi setelah itu ia berhenti dan tidak meneruskannya. 'Dan supaya orangorang yang beriman bertambah imannya. "Sesungguhnya amal yang paling disukai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit. "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu. Maka orang yang selalu mengkaji ilmu selama beberapa jam saja tapi dilakukan setiap hari.

maka tingkat keyakinannya sebesar biji dzarrah. Apabila mereka telah mengucapkannya. yaitu antara tingkatan sya 'irah. "Perbedaan tingkat keyakinan manusia disebabkan karena perbedaan tingkat keilmuan dan kebodohan seseorang. burrah dan dzarrah." Kemudian Ibnu Uyainah pun menjawab. Dalam hal ini. Pada awal pembahasan tentang iman. sehingga ada yang berasumsi bahwa hal itu merupakan bentuk pengulangan. maka darah dan harta mereka dilindungi. Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk mengucapkan La Ilaha Illallah. Pada saat itu. karena bertambah atau berkurangnya iman seseorang dapat dilihat dari aspek perbuatan maupun keyakinan. melainkan harus bertambah dengan bertambahnya ilmu. kedua aspek ini masing-masing dapat dijadikan sebagai judul bab. Ketika Allah 1 8 8 — FATHUL BAARI .hatinya terdapat kebaikan (iman) seberat sya 'irah. "Hal itu sebelum disyariatkannya hukum. Pernyataan ini tidak benar. " Keterangan Hadits: Daiam bab ke-16 sebelum bab ini telah dijelaskan tentang tingkatan amal orang-orang yang beriman (Ahlul Iman). dasar keyakinan yang terdapat dalam hati setiap orang tidak boleh berkurang. Meskipun demikian. "Ada orang yang berkata kepada Ibnu Uyainah bahwa iman hanya terbatas pada ucapan saja. 2) Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallaha dan dalam hatinya terdapat kebaikan sebesar burrah. 3) Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dan dalam hatinya terdapat kebaikan sebesar dzarrah. karena hadits tersebut sama sekali tidak mengindikasikan adanya perbedaan tingkat keimanan manusia. maka tingkat keyakinannya sebesar biji burrah atau sya'ir. Orang yang tingkat keilmuannya rendah. Adapun maksud dari ayat di atas adalah seperti yang diisyaratkan oleh Imam Bukhari mengenai hadits Sufyan bin Uyainah. telah dijelaskan tentang perkataan Imam Nawawi yang mengindikasikan hal tersebut. Ibnu Baththal berkata. yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dari Amru bin Utsman Ar-Raqi bahwa ia berkata. dimana dalam bab tersebut disebutkan sebuah hadits dari Abu Sa'id Al Khudri yang memiliki kesamaan makna dengan hadits Anas yang kita sebutkan dalam bab ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas menjelaskan tentang adanya perbedaan tingkat keimanan manusia tersebut. Sedangkan orang yang tingkat keilmuannya lebih tinggi. hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id dipaparkan dalam pembahasan tentang aspek perbuatan.

" Kemudian dalam pembahasan tentang Iman." Kemudian Ibnu Uyainah menyebutkan rukun Islam yang lain dan berkata. Sedangkan orang yang tidak melaksanakannya karena membangkang. "Apabila seseorang melakukan sesuatu secara tidak sempurna. dan dua bagian lainnya adalah perbuatan. sedangkan dalam menyebutkan dua ayat sebelumnya beliau menggunakan ungkapan J i i j y (firman Allah)." (Qs. "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam" {Qs. karena kedua ayat tersebut mengindikasikan makna ziyadah (penambahan) dan sudah pasti juga menunjukkan makna naqshun (pengurangan). maka kita harus memperingatkannya dan ia termasuk orang yang tidak sempurna imannya. "Setelah Allah mengetahui bahwa mereka menerima dan melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. karena agama terdiri dari tiga bagian. Sedangkan kata kamal (kesempurnaan) tidak menunjukkan makna ziyadah. Akan tetapi karena kamal mengandung makna naqshun. "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu. tetapi hanya menunjukkan makna naqshun. Aali Imraan (3): 19) Hai ini disebabkan karena kata "Islam" jika disebutkan secara terpisah maka mengandung pengertian iman." Dari sini beliau menggunakan ungkapan ^ J -— i (Allah berfirman) sebelum menyebutkan ayat ketiga. Oleh karena itu Imam Bukhari berkata. Jika ada pertanyaan. Adapun jika mereka tidak mematuhinya. Dalam hal ini Abu Ubaid membantah pernyataan tersebut. maka Allah pun berfirman. Al Maaidah (5): 3) Oleh karena itu. 1 FATHUL BAARI — 189 . maka ia termasuk orang kafir. "Mengapa dalam bab ini disebutkan lagi dua ayat yang telah disebutkan dalam awal pembahasan tentang iman?" Maka jawabannya adalah. bahwa Imam Bukhari menyebutkan lagi kedua ayat tersebut dengan maksud agar makna kamal (kesempurnaan) dalam ayat ketiga dapat dipahami.mengetahui keyakinan mereka. maka ikrar kalimat La Ilaha Illallah itu tidak berguna. karena bertentangan dengan Al Qur'an sebagaimana firman Allah SWT. Abu Ubaid menjelaskan bahwa sebagian orang yang membangkang mengatakan bahwa iman tidaklah sama dengan agama. maka kata kamal juga mengandung makna ziyadah. maka Dia memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat dan mereka pun mematuhinya.Perbuatan itu sendiri terdiri dari hal-hal yang wajib dan sunah. maka berarti imannya telah berkurang. yaitu iman. barangsiapa yang tidak melaksanakan salah satu dari kewajiban tersebut karena malas atau sengaja.

Dengan demikian mengikrarkan tauhid merupakan kewajiban. karena kata ikmaai (menyempurnakan) jika maksudnya adalah kemenangan kaum muslimin atas para pembangkang atau kaum musyrikin. karena mencakup hukum yang tidak terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. bahwa kekurangan dalam agama adalah relatif. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kalimat ini mengisyaratkan. oleh karena itu kesempurnaan adalah perkara yang relatif sebagaimana yang diterangkan. Al Qadhi Abu Bakar bin Al Arabi menjelaskan. Ini adalah rujukan bagi yang berpendapat bahwa syariat Muhammad lebih sempurna dari syariat Musa dan Isa. seperti halnya jika 1 9 0 — FATHUL BAARI . Yang terakhir ini tidak dicela. Jika maksudnya adalah kesempurnaan dalam melaksanakan kewajiban. bahkan dipuji karena jika diberitahu maka dia akan menerima dan mengerjakan. Inilah kondisi para sahabat yang meninggal sebelum turunnya ayat ini. maka berarti sebelum turunnya ayat itu seseorang masih dalam kekurangan. karena iman mereka masih tetap sempurna. seperti orang yang tidak mengetahui kewajiban agama atau belum dikenakan kewajiban.. karena kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan dan dapat mewakili yang lain.Hal ini dapat membantah pendapat yang mengatakan bahwa ayat "Kusempurnakan untukmu agamamu" tidak dapat dijadikan dalil bagi pernyataan Imam Bukhari yang terdapat dalam judul bab. sehingga kalimat tersebut diulang-ulang dalam hadits ini. Yang dapat menyebabkan dosa adalah kekurangan yang dilakukan dengan sengaja seperti orang yang mengetahui kewajiban agama. 'i' Jii 'j* (Orang yang mengucapkan La Ilaha Illallah). Mengenai hal ini. maka ayat tersebut tidak dapat dijadikan dalil bagi Imam Bukhari. Dapat juga dipahami bahwa kata "Qaul" (perkataan) maksudnya adalah Qaul An-Nafsi (perkataan jiwa). Sedangkan yang tidak menyebabkan dosa adalah kekurangan yang tidak sengaja. J_Ui Vj •—i. bahwa mengucapkan La Ilaha Illallah merupakan syarat iman. mereka memiliki tingkat kesempurnaan. Kesimpulannya.. "Mengapa risalah tidak disebutkan dalam hadits ini?" Maka jawabannya adalah. sehingga para sahabat yang meninggal sebelum turunnya ayat tersebut berarti imannya tidak sempurna. yaitu ada yang dapat menyebabkan dosa dan ada yang tidak. akan tetapi ia meninggalkannya secara sengaja. Dengan ini maka syariat Musa pada masanya telah sempurna kemudian direvisi pada syariat Isa. kekurangan bagi mereka hanya bersifat formal atau imajinasi relatif Adapun dari segi makna.". sehingga maksud kalimat tersebut adalah "Barangsiapa yang mengikrarkan tauhid dan meyakininya. Jika ada pertanyaan.

maka akan kami jadikan FATHUL BAARI — 191 . bahwa artinya adalah semut kecil. dan ada pula yang berpendapat bahwa artinya adalah debu yang terlihat dalam sinar mentari seperti ujung jarum.3jt*J>r fjJ Aiyu ^Jl* y i j 45. Jika ada yang berpendapat bahwa konteks hadits tersebut menggunakan huruf "waw" yang tidak menunjukkan urutan. t Ahad".'''' Kemudian ada juga yang berpendapat bahwa berat empat dzarrah sama dengan satu khardaiah (biji sawi). "Akan dimasukkan ke surga orang yang dalam hatinya terdapat (iman) sebiji sawi (khardaiah) kemudian yang dalam hatinya terdapat yang lebih kecil dari itu".U i l j 'PSSII ^iO c -llS 'l ^jjl) Jii AJT .j ijT ^-L*3~J> 'JJ\ L' AJ JL* i J Q \ J * i-i—^ ^ • *°JS\ 'P j 01 L_jLUkJl J 'Y**. "Wahai Amirul Mukminin. maka jawabannya adalah. bahwa berat burrah lebih ringan daripada berat sya 'ir karena Rasulullah SAW menyebutkan sya 'ir. iji (Sebesar dzarrah). maksudnya adalah gandum. Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang arti kata dzarrah. maka yang terjatuh itu dinamakan dzarrah. Dari hadits ini dapat disimpulkan.seseorang berkata "Saya membaca Qul Huwallahu maksudnya adalah membaca surah Al Ikhlas seluruhnya. Pada akhir pembahasan tentang tauhid. Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari jalur Humaid dari Anas bahwa Nabi bersabda. bahwa dalam riwayat Muslim menggunakan kata tsumma (kemudian) yang mengindikasikan arti urutan. ada sebuah ayat dalam kitab kalian yang jika diturunkan kepada kami. dan inilah arti dari dzarrrah. maka i'jS (Sebesar biji gandum). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata. ^ .'JCQp Y iAii l u i J v CJJ JJ^2\ "JIX> ^JS-YT j^N^T ^LLP O .J\ JL* L^'jj «J C J ^ ^ j J i otCJij y i iu> I I > ai *jS J I I ( I T O f^Cy! ^ ^4^' . "jika engkau meletakkan kedua tanganmu di atas debu kemudian menepuknepukkannya. kemudian burrah dan terakhir dzarrah. Ada yang berpendapat bahwa dzarrah berarti sesuatu yang paling ringan timbangannya. Dor/ L'mar bin Khaththab RA bahwa ada seorang Yahudi yang berkata kepadanya. Sedangkan pendapat lain mengatakan.

'^'f ^ OiSCiij <j LJ^f ^JJi ^'fS\ pltj J\ Imam Muslim meriwayatkan dari Abdu bin Humaid dari Ja'far bin Aun dengan menambahkan lafazh.. bahwa ketika menyampaikan hal tersebut Ka'ab bersama sekelompok orang Yahudi dan kemudian ia menyampaikannya sebagai wakil mereka. dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Kuridhai Islam itu agama bagimu. karena hari tersebut adalah hari yang agung dimana pada saat itu agama telah disempurnakan. t—% «lii i. Kemudian dalam riwayat Ja'far bin 'Aun ditambah dengan lafazh. dan tidak berkata. "Kita akan jadikan hari tersebut sebagai hari 1 9 2 — FATHUL BAARI . " ( Q s .hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.. "Kami tahu hari tersebut dan tempat diturunkannya kepada Nabi SAW. "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu." Akan tetapi Umar RA menjawabnya bahwa ia mengetahui tentang waktu dan tempat turunnya ayat itu. " Maka Umar bertanya. begitu pula dalam kitab Tafsir dari jalur tersebut dengan lafazh. L-Ukh 1 (Akan kami jadikan.j U P 'Jf.\+i ^\ iiVCJij (dan waktu diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah SAW). Ketiga perawi itu meriwayatkannya dari jalur Raja' bin Abu Salmah dari Ubadah bin Nusa dari Ishaq bin Kharsah dari Qabisah bin Dzuaib dari K a ' a b . sebagaimana diterangkan oleh Musaddad dalam musnadnya. kami akan jadikan hari tersebut sebagai hari raya. yaitu pada saat beliau berada di Arafah pada hari Jum 'at. "Tidak ada kesesuaian antara jawaban dengan soal yang diajukan. Kata Xf berasal dari kata J y (kembali). " Keterangan Hadits: > Ji—2\ j — * •yirj o' (Sesungguhnya seorang Yahudi). fL. AthThabari dalam tafsirnya dan Ath-Thabrani dalam Al Ausath. (sesungguhnya aku mengetahui hari dan tempat diturunkannya ayat tersebut). Jika ada orang yang berkata. Dari sini dapat dijelaskan. "Ayat yang mana?" Kemudian orang itu menjawab. hal 'flSj itu karena hari raya selalu diperingati setiap tahun. Al Maa'idah (5): 3) Umar berkata. karena orang tersebut berkata. yaitu K a ' a b Al Ahbar. "Qaalat Al Yahud (sekelompok orang Yahudi berkata)".> w (Diturunkan kepada Nabi SAW). Kemudian Imam Bukhari menyebutkannya dalam pembahasan tentang Al Maghazi (peperangan) dari jalur Ats-Tsauri dari Qais bin Muslim bahwa orang tersebut berasal dari Yahudi.). Maksudnya akan kami agungkan dan kami jadikan hari itu sebagai hari raya yang kami peringati setiap tahun.

(Dan keduanya bagi kami adalah merupakan hari raya). bahwa melihat bulan setelah tergelincirnya matahari hanya untuk perbandingan. As-Sadi menguatkan. karena berada pada malam 'Id. bahwa ayat tersebut diturunkan di akhir siang hari Arafah sedangkan hari raya telah terjadi pada awal hari Arafah. "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. "Seorang Yahudi menanyakan tentang hal tersebut.raya?" Maka pernyataan ini dapat dijawab.4 7am. Para pakar fikih berkata. saya berpendapat bahwa riwayat ini telah mengisyaratkan maksud tersebut. Jika ada pertanyaan. bahwa mereka menjadikan hari Jum'at sebagai hari 'Id dan menjadikan hari Arafah juga sebagai 'Id. yaitu pada saat haji wada' (perpisahan) yang merupakan masa akhir kenabian ketika syariah dan rukun-rukunnya telah sempurna." FATHUL BAARI — 193 . Z A K A T A D A L A H S E B A G I A N D A R I I S L A M Allah SWT berfirman. "Ayat tersebut turun pada 2 hari raya. Sedangkan lafazh dari Thabrani adalah. pada hari Arafah dan Alhamdulillah kedua hari tersebut adalah hari raya bagi kami). yaitu hari Jum 'at dan hari Arafah" Jawaban tersebut mengandung penjelasan. X—«• i—3 LLi^f n 'ft ^ *'j IzJ'J (Diturunkan pada hari Jum'at. akan tetapi jika tidak maka riwayat Ishaq dari Qabishah dapat menjelaskannya. "Bagaimana cerita ini dapat dijadikan argumentasi dalam masalah ini?" Jawabnya. Dalam hal ini. Demikian pula riwayat dari Tirmidzi dari Ibnu Abbas dengan lafazh. J'-CF ^ v*. karena cerita ini menerangkan bahwa turunnya ayat tersebut pada hari Arafah. maka dia berkata. bahwa setelah ayat ini tidak pernah turun ayat tentang halal dan haram. Wallahu . 34. dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Adapun lafazhnya adalah sebagai berikut.

" Orang itu bertanya lagi. ^ lli U J I (J-U A J J I J_J~-J J l J>-j J y ^ ADI JL I P "JI 3_»Ji> ^ J ^ J y j ' C A I I N/J 1L__. "Adakah selain itu. Kemudian ia menanyakan perihal Islam. "Dan zakat. Kami mendengar suaranya tapi tidak mengerti apa yang diucapkannya sehingga ia mendekatkan diri kepada Rasulullah. "Adakah selain itu " Nabi menjawab. " Maka Rasulullah SAW bersabda. " Kemudian ia kembali bertanya.f s o ' . Dalam judul tersebut. "Apakah ada lagi selain itu?" Rasulullah pun menjawab." Maka Rasulullah SA W bersabda.j JUi ftC^l ^ s ^^JaJ 01 ^| V JU U ^ p J P J A J LU silJJlj ^1 J . D a n ' Thalhah bin Ubaidillah bahwa seorang laki-laki Najed datang kepada Rasulullah SA W dengan kepala penuh debu. kecuali jika anda suka berbuat sunah.o'. "Demi Allah! Tidak akan kami tambah dan kurangkan apa yang anda sebutkan itu. " *. " Keterangan Hadits: Ayat tersebut sebagai dalil pernyataan yang ada dalam judul bab." Kemudian orang itu pergi dan berkata." Kemudian Rasulullah meneruskan ucapannya. "Dia pasti beruntung jika ia benar-benar menepati perkataannya. karena maksud dari (agama yang lurus) adalah agama Islam. " Kemudian Rasulullah menyebutkan. * j ' e. "Tidak. kecuali jika anda suka berbuat sunah. °' o . "Dan puasa Ramadhan. Imam Bukhari hanya menyebutkan zakat karena rukun-rukun 1 9 4 — FATHUL BAARI . 'Tidak. "Shalat lima waktu dalam sehari semalam.J 4 % t £ j . "Tidak._^—p . kecuali jika anda suka mengerjakan shalat sunah.i j i t jjhi J>l [ Y jUL-j Jt -4 y» lili & s - A1)! J ^ A 1 ) 1 J ^ . " Rasulullah pun menjawab. " Orang itu bertanya lagi.ir> [js- ol^L> ^ J U - j i J l* oCaij ^t^>_j Jji Jji jJjj JUL>j 4luV <aji j ^ » *ui J_j— j Jii o( ^ ^ Jii jJL j il / 1 ^ j i i ^ A % j > L ' > j j i > >>ti j i i ^ oi Y S F Y ^ Si j i i i * £ ^ i -u j * Jii i^f ^ ^ L j *ip A L» Jji j jii ^«if 46.

Penggunaan kata ra 'sun (kepala) dengan arti rambut adalah untuk penekanan. karena rambut tumbuh di kepala. I (Dengan kepala penuh debu). begitu juga pertanyaan yang diajukan pun berbeda. Adapun tidak disebutkannya haji. atau karena perawi meringkas hadits tersebut. ^p adalah suara yang keras dan diulangulang. ini diperkuat oleh hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam bab "Shiyam" (puasa) dari jalur Ismail bin Ja'far dari Abu Suhail yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memberitahukan kepadanya tentang syariat Islam dan FATHUL BAARI — 195 . Pendapat ini dikuatkan oleh sebagian pakar. Dalam hadits ini tidak disebutkan dua kalimat syahadat." Akan tetapi Imam Qurthubi membantah pendapat itu. "Pendapat yang mengatakan bahwa kedua hadits tersebut adalah sama sangatlah berlebihan. seorang utusan bani Sa'ad bin Bakar sebagaimana diceritakan oleh Imam Muslim setelah menyebutkan hadits Thalhah. Kemungkinan kedua. dalam hadits tersebut disebabkan karena haji belum disyariatkan pada waktu itu.yang lain telah dibahas pada bab lain. 'j* iJL» (Kemudian ia menanyakan perihal Islam). Maksudnya adalah rambutnya kusut dan tidak teratur. Kemudian Abu Dzarr menambahkan lafazh J — J i f 'j* (Dari penduduk Najd). - Menurut Al Khaththabi. demikian pula riwayat Abu Dzarr dalam Muwaththa' 1' dan Muslim. tetapi tidak dinukilkan oleh para perawi karena hal tersebut sudah masyhur. Hadits ini mengisyaratkan bahwa ia berasal dari daerah yang jauh. maksudnya adalah tentang syariat Islam atau tentang hakikat Islam. i (Seorang laki-laki datang). tetapi tidak dapat dipahami karena berasal dari tempat yang jauh. karena Rasulullah SAW telah mengetahui bahwa orang tersebut mengetahuinya atau ia hanya bertanya tentang syariat fi'liyah (Ajaran syariat yang bersifat amalan). karena Ibnu Sa'ad dan Ibnu Abdul Barr tidak menyebutkan D h a m m a m kecuali pada awal kisah dan hal ini tidak lazim. Sanad hadits ini terdiri dari orangorang Madinah. dan ada kemungkinan bahwa Rasulullah telah menyebutkannya. karena dalam kedua riwayat tersebut dijelaskan bahwa ia adalah seorang Badui yang berkata. Beliau berkata." Wallahu 'Alam. Ibnu Baththal dan yang lainnya berpendapat bahwa orang tersebut adalah Dhammam bin Tsa'labah. "Aku tidak akan menambah dan menguranginya. karena konteks kedua hadits tersebut berbeda.

" Dalam riwayat tersebut. "Tidak ada amalan lain yang wajib bagimu kecuali jika kamu ingin mengerjakan amalan sunah. "Kabarkan kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah kepadaku?" Rasulullah SAW menjawab. shalat 'Id dan dua rakaat setelah Maghrib. Dari konteks riwayat Malik dapat disimpulkan." Hal ini disebabkan karena tidak ada amalan sunnah yang merupakan kewajiban. "Maksud dari kalimat tersebut adalah. karena huruf illa (kecuali) dalam hadits tersebut berkaitan dengan kalimat sebelumnya. bahwa shalat selain shalat yang lima tidak diwajibkan. perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena (VI). amalan-amalan fardhu lainnya. Sedangkan orang yang berpendapat bahwa huruf tersebut bersifat 1 9 6 — FATHUL BAARI . Dari hadits ini. maka ia berpegang pada hukum asal. yaitu bahwa wajib untuk menyempurnakan amalan sunnah yang dikerjakannya." Pendapat ini dibantah oleh Ath-Thibi dan dianggap sebagai pendapat yang keliru. Sebab dalam menyebutkan amalan sunnah. Dari sini maka seakan-akan Rasulullah bersabda. Orang yang perbedaan ulama dalam menafsirkan huruf istitsna' menganggap bahwa huruf tersebut bersifat muttashil atau berkaitan dengan kalimat sebelumnya. "Tidak kecuali jika anda suka mengerjakan shalat sunah'). shalat Dhuha.(Shalat lima waktu). ada sebagian orang yang berpendapat bahwa jika seseorang mengerjakan hal-hal yang sunah maka ia wajib untuk menyempurnakannya. Al Qurthubi berkata. berbeda dengan orang yang mewajibkan shalat Witir. "shalat yang lima. maka maksud dari hadits tersebut adalah bahwa jika seseorang telah berniat mengerjakan amalan sunah maka ia harus mengerjakannya. fJ*Ja5 Ji VI V Jii 'Cb'jj. maka tidak ada kewajiban lain selain yang telah disebutkan. maka menunjukkan arti positif. Akan tetapi karena tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa amalan sunah adalah wajib dikerjakan. Dalam riwayat Ismail bin Ja'far disebutkan bahwa orang tersebut bertanya. Demikianlah pendapat Ath-Thibi. bahwa tidak ada kewajiban lain kecuali jika anda suka mengerjakan shalat sunah. maka itu merupakan tambahan pahala bagimu. karena istitsna' (pengecualian) dalam kalimat ini bukan berasal dari jenis yang sama. Sebenarnya.'Ji j i (Apakah ada lagi selain itu? Rasulullah menjawab. kesesuaian antara pertanyaan dan jawaban terlihat sangat jelas. Rasulullah SAW tidak menggunakan kata "Alaika" yang mengandung arti wajib. jika huruf istitsna' (pengecualian) terdapat dalam konteks kalimat negatif. dua rakaat Fajar. bahkan amalan-amalan oiy_= J-li. Menurut kaidah bahasa.menyebutkan yang sunnah.

karena mereka tidak mengatakan bahwa hukum menyempurnakannya adalah fardhu tapi mereka mengatakan wajib. "Apakah hal itu juga berlaku dalam ibadah haji?" Jawabnya tidak. Dalam riwayat Ismail bin Ja'far. zakat apa yang diwajibkan Allah kepadaku?" Rasulullah SAW memberitahukan tentang syariat tersebut. bahwa sumpah dalam hal-hal yang dibolehkan sebagaimana telah diterangkan sebelumnya. "dan zakat"). Dalam Shahih Muslim penting (Dia pasti beruntung jika ia benar-benar menepati dari Ismail bin Ja'far disebutkan.munqathi' atau tidak berkaitan dengan kalimat sebelumnya. karena haji berbeda dengan ibadah yang lain. pengecualian dari kata V yang artinya tidak ada kewajiban bagi kamu atas yang lainnya. "Kabarkan kepadaku. Hanya saja dalam argumen madzhab Hanafi perlu diteliti kembali. Dalam riwayat Abdullah bin Ja'far diriwayatkan bahwa orang tersebut berkata. maka ia harus mempunyai dalil yang menguatkan. lafazhnya adalah'^-*'f\yjiJij (Dan demi Allah yang telah memuliakanmu). Sedangkan mengecualikan wajib dari fardhu adalah pengecualian (istitsna' munqathi') atau tidak bersambung. Kalimat ini mengindikasikan. Jika ada pernyataan. bahwa terkadang Rasulullah SAW berniat untuk berpuasa sunnah. atau karena maksudnya adalah bahwa orang yang telah melaksanakan hal-hal yang fardhu saja maka ia akan selamat dari api neraka. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan kepada Juwairiyah binti Harits untuk membatalkan puasa sunah yang sedang dilakukannya pada hari Jum'at. maka teks ini menunjukkan bahwa tidak diwajibkan untuk menyempurnakan puasa sunah dan juga amalan-amalan lainnya. Ha! ini mungkin disebabkan karena permasalahan seperti itu telah diketahui oleh mereka. maka kalimat J ' VI £j -merupakan . I—Uij (Demi Allah). FATHUL BAARI — 197 . karena keduanya berbeda. perkataannya). Begitu pula dengan istitsna" nafyi (menafikan) adalah bukan untuk menetapkan (itsbat). Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan perawi-perawi lainnya. Jn J jL] il ^ r l j (Kemudian Rasulullah SAW meneruskan ucapannya. yaitu diwajibkan untuk meneruskan atau menyempurnakannya. tetapi kemudian beliau membatalkan puasanya sebelum waktu maghrib datang.L _r> y V . Riwayat tersebut hanya menyebutkan beberapa kewajiban secara global saja dan tidak menjelaskan tentang kadar zakat ataupun namanama shalat. meskipun ia tidak mengerjakan hal-hal yang sunah.

berbeda dengan pendapat golongan Murji'ah. Adapun pendapat yang benar adalah. dan yang benar adalah wallahi (dan demi Allah). "Bagaimanakah cara menggabungkan antara riwayat ini dengan larangan bersumpah yang menggunakan nama orang tua?" Jawabnya. padahal riwayat tersebut termasuk riwayat yang tidak diragukan lagi kebenarannya. seperti halnya perkataan mereka "Aqari "atau "Halagi"yang berarti semoga Allah menghinakannya. atau karena kalimat tersebut merupakan perkataan yang sering digunakan tanpa ada maksud bersumpah.J J — ^ ji *Jj 'rJJ f) atau j' sSri J ^ J . Dalam riwayat Abu Daud juga seperti itu. bahwa -mungkinRasulullah mengatakan hal tersebut sebelum disyariatkannya laranganlarangan. dengan alasan bahwa riwayat tersebut tidak ditemukan dalam kitab Al Muwaththa'. Ibnu Baththal berpendapat. Kemudian ada yang berpendapat bahwa kalimat tersebut termasuk dalam kategori kalimat khusus." Imam Qurthubi membantah pendapat tersebut dan berkata. Bisa juga karena pembuangan kata rabbun (Tuhan). seorang utusan yang menghadap Rasulullah pada tahun ke-5 hijriyah bahkan ada yang mengatakan setelah itu. "Hal tersebut merupakan tashhiif (salah penulisan). sehingga asal kalimat tersebut adalah (dan demi Tuhan ayahnya). "Riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat yang shahih. bahwa hal itu dilakukan Rasulullah SAW sebelum turunnya larangan tersebut. karena Ibnu Baththal berkeyakinan bahwa si penanya adalah Dhammam. Imam Suhaili meriwayatkan dari syaikhnya bahwa ia berkata. jika ada pertanyaan. bahwa perkataan Rasulullah j j £dii mengindikasikan bahwa jika orang tersebut tidak melaksanakan kewajiban-kewajibannya maka ia tidak akan beruntung. oleh karena itu masih membutuhkan adanya dalil." Sedangkan Al Qarafi keliru ketika menyatakan riwayat dengan lafazh "Wa Abiihi". Agaknya beliau belum puas dengan jawaban yang ada sehingga ia mencari kesalahan dari segi riwayatnya. akan tetapi dengan membuang kata jf. Padahal banyak larangan yang telah disyariatkan sebelum itu. padahal dalam hadits tersebut tidak disebutkan laranganlarangan?" Dalam hal ini Ibnu Baththal menjawab. Adapun jawaban yang paling kuat adalah dua jawaban yang pertama. Jika ada sebuah pertanyaan. "Bagaimana seseorang dapat beruntung atau selamat hanya dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang disebutkan. bahwa larangan-larangan tersebut 1 9 8 — FATHUL BAARI . Jawaban ini sangatlah aneh.

seperti mengurangi shalat zhuhur menjadi satu rakaat atau menambahkan rakaat maghrib. uL_j. Ada juga yang berpendapat." Ibnu Munir berkata. V. bahwa hal tersebut juga dibantah oleh riwayat Ismail bin Ja'far. Jika ada orang yang bertanya. karena ia adalah utusan kaumnya untuk belajar dan mengajari mereka. Hal ini disebabkan karena dengan melakukan hal-hal yang wajib saja seseorang dapat beruntung. kedua kemungkinan tersebut tidak dapat diterima dengan riwayat Ibrahim bin Ja'far. "Kemungkinan bertambah dan berkurangnya tergantung pada penyampaiannya. maka ia akan lebih beruntung jika ia juga melakukan hal-hal yang sunnah. Saya jawab. U V (Aku tidak akan menambahkan yang sunnah dan tidak mengurangi apa yang diwajibkan oleh Allah terhadap diriku)." sebagaimana telah kita jelaskan di atas. Adt-Thibi berkata. u l _ i 'Pi. FATHUL BAARI — 199 . dan hal ini berlaku bagi asal masalah bahwa tidak ada dosa bagi yang meninggalkan sesuatu yang tidak fardhu dan dia masuk dalam golongan yang beruntung walaupun yang lain lebih besar keuntungannya dibandingkan dirinya. bahwa hal tersebut berbeda sesuai dengan orang dan tempat yang berbeda. "Pernyataan bahwa ia beruntung karena ia tidak mengurangi (kewajiban yang ditetapkan) adalah sangat jelas." Saya berpendapat. karena teksnya adalah. & 'je'j-* LJL. "Kemungkinan perkataan ini keluar dari dirinya dengan maksud tidak berlebih-lebihan mempercayai dan menerima. "Bagaimana Rasulullah membiarkan sumpahnya padahal ada bantahan terhadap orang yang bersumpah untuk tidak berbuat baik?" Saya jawab. "Maka Rasulullah SAW memberitahukan tentang syariat tersebut. Kemudian apabila ada pertanyaan. bahwa maksud dari "Tidak menambah dan menguranginya" adalah saya tidak akan merubah kewajiban. dalam artian saya terima perkataanmu tidak lebih dari apa vang kutanyakan dan tidak kurang dari yang kuterima. bahwa keberuntungan tersebut diberikan karena ia mengerjakan apa yang diwajibkan kepadanya dan bukan berarti bahwa jika ia melakukan hal-hal lainnya (sunah) maka ia tidak akan beruntung.tersirat dalam hadits. akan tetapi bagaimana dengan pernyataannya bahwa ia akan beruntung karena ia tidak menambahnya?" Imam Nawawi menjelaskan.

Lafazh * — v juga 1 mempunyai arti yang sama dengan '>-J. Dalam riwayat Al Ushaili menggunakan lafazh Xi. lafazhnya adalah jenazah. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda. maksudnya dengan orang muslim. Hal ini dijelaskan oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan perawi-perawi lainnya dari Ibnu Umar tentang berjalan di depan mayat. Barangsiapa yang ikut shalat jenazah saja kemudian dia pulang sebelum dimakamkan. ^ Ois'j (Bersamanya). ataupun berjalan bersamanya. maka orang itu membawa pahala dua girath. "Barangsiapa yang melayat jenazah orang muslim karena iman dan ikhlas. dimana lafazh ini banyak dikuatkan oleh orang yang berpendapat bahwa berjalan di belakang jenazah adalah lebih utama." Keterangan Hadits: '•* (Barangsiapa yang melayat). satu qirath kira-kira sebesar bukit uhud. U—" maksudnya bersama 2 0 0 — FATHUL BAARI . bertemu dengannya. M E L A Y A T J E N A Z A H M E R U P A K A N B A G I A N DARI I M A N 47. bersamanya sampai melaksanakan shalat jenazah dan menyelenggara-kan pemakamannya hingga selesai.35. karena perkataan *—'nJ (mengikutinya) dapat berarti bahwa ia berjalan di belakangnya. Akan tetapi argumen semacam ini tidak benar. Dalam riwayat Al Kasymihani. maka orang itu hanya membawa pulang pahala satu qirath.

berbeda dengan pendapat yang berpegang pada zhahir hadits. Mereka berpendapat." (Qs. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat. dan hanya orang munafik yang selalu dalam kemunafikan.-\\ J L» _j AILC <UJl J J ^ JJ. maka ia hanya mendapatkan pahala satu qirath. "Aku mengetahui 30 orang sahabat Rasulullah yang takut akan kemunafikan dirinya. 36. "Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu sedang mereka mengetahui. "Memaki orang muslim adalah kedurhakaan (fasik) dan membunuhnya adalah kekufuran. dia berkata. Sedangkan orang yang hanya melakukan shalat saja. Allah SWT berfirman. bahwa Nabi SAW bersabda. I °." Ibnu Abi Mulaikah berkata.j\j tj—^j- *ij (Hingga selesai). " FATHUL BAARI — 201 . insya Allah akan dijelaskan pada pembahasan tentang jenazah. karena saya takut menjadi seorang pembohong. "Hanya orang yang beriman yang takut akan kemunafikan. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa iman mereka serupa dengan iman Jibril dan Mikail. bahwa pahala sebesar dua qirath itu diperoleh dengan ikut menshalatkan dan mengantarkan ke kuburannya.I j l jJJl -UP J* 48.. S E O R A N G M U K M I N T A K U T A M A L N Y A A K A N HILANG T A N P A DISADARI Ibrahim An-Nakha'i berkata. "Perkataan dan perbuatan saya tidak pernah bertentangan. bahwa orang tersebut memperoleh pahala sebesar tiga qirath setelah digabungkan. Aali Imraan(3): 135) J_j „ j ^." Kemudian disebutkan dari Hasan. Dari Abdullah RA." Hanya taubat yang dapat mengingatkan orang munafik dari perbuatan maksiat dan kemunafikan. Pembahasan lain tentang hadits ini. Ada yang meriwayatkan dengan lafazh Riwayat ini menunjukkan.

maka dia akan berhenti pada kehendak Allah. Hal tersebut dikarenakan mereka mengakhirkan amal daripada iman. Ini merupakan pembatalan. maka dia akan sukses. Pada kedua pembatalan relatif ini dipakai istilah "ihbath" secara kiasan. maka pahala dari 2 0 2 — FATHUL BAARI . akan tetapi bantahan tersebut selalu berkaitan dengan bantahan terhadap selain mereka seperti ahli bid'ah. karena pahala akan didapatkan hanya dengan keikhlasan semata. Pertama. sedangkan berhenti dalam hal yang disiksa juga merupakan pembatalan yang lebih kuat untuk keluar dari neraka. Hubungan tema ini dengan sebelumnya tentang mengantarkan jenazah. "Iman adalah keyakinan dalam hati saja dan tidak harus diucapkan. karena kalau seseorang telah keluar dari neraka dan masuk ke surga. Sedangkan yang kuat kejelekannya. Kata berhenti bisa berarti berhenti dalam hal yang bermanfaat saat memerlukannya. Pernyataan ini menguatkan pendapat aliran Al Ihbathiyah yang mengatakan. bisa jadi diampuni atau diadzab. Konteks hadits tersebut mengindikasikan bahwa ganjaran yang dijanjikan akan didapat dengan mengerjakan hal tersebut dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan ridha Allah semata. karena mereka beranggapan bahwa perbuatan dosa sama sekali tidak merusak keimanan seseorang. Pertanyaan ini sangat populer dalam kitab-kitab akidah. bukan arti yang sebenarnya.K e t e r a n g a n Hadits: Bab ini sengaja dibuat sebagai bantahan khusus terhadap aliran Murji'ah walaupun banyak dari bab-bab sebelumnya yang mengandung bantahan terhadap mereka." Al Qadhi Abu Bakar bin Arabi membantah dan mengatakan. Kedua. berbeda dengan hadits ini." Seseorang yang berbuat maksiat tetap dalam kondisi sempurna imannya. Mereka berkata. adalah momen untuk memperhatikan atau menyatukan dua perkara. oleh karena Imam Bukhari menyambungnya dengan apa yang mengisyaratkan bahwa bisa saja terpampang di hadapan seseorang apa yang dapat menghalangi niat tulusnya. "Kejelekan akan membatalkan kebaikan. Maksud "Amalnya akan hilang" adalah tidak mendapatkan pahala dari amalan yang dikerjakannya. bahwa pembatalan terbagi menjadi dua. Kata Al Murji'ah berasal dari kata irja' yang berarti menunda atau mengakhirkan. membatalkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dan membuang seluruhnya seperti batalnya keimanan karena kekafiran dan sebaliknya. Barangsiapa yang kuat kebaikannya. sehingga dia tidak mendapatkan pahala tanpa merasakan hal tersebut. pembatalan dengan cara menimbang yaitu menjadikan yang jelek di timbangan kiri dan yang baik di timbangan kanan.

kata yang dipergunakan adalah hadits dengan maknanya. Telah diriwayatkan hadits dalam marfu' dari Aisyah dengan makna senada dengan hadits Ibnu Mulaikah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab AlAusath. maka bukan hanya Khawarij yang dimaksud dari zhahir hadits. ".. artinya tidak seorang pun dari mereka yakin bahwa mereka tidak disentuh oleh kemunafikan seperti keimanan Jibril. Allah S W T berfirman.dan menjadikan kamu kepada kekafiran.amalnya telah diterima." Jawabnya. Akan tetapi ketika membunuh lebih keras daripada memaki -karena perbuatan tersebut mengakibatkan kematian. yaitu kufur. Pendapat ini berseberangan dengan madzhab Ihbathiyah yang menyamakan hukum seorang yang berbuat maksiat dengan hukum orang kafir. Kata "fasik" dalam syariat lebih tinggi tingkatannya daripada kata maksiat. Kata tersebut dipakai dalam mayoritas riwayat. Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah golongan yang berpendapat adanya tingkatan keimanan dalam diri seorang mukmin. Akan tetapi riwayat Ahmad dari Ghandar dari Syu'bah. 7) Dalam hadits ini menunjukkan penghormatan hak seorang muslim. Wallahu A 'lam Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan kadar keimanannya sama dengan Jibril dan Mikail.Rasul mengekspresikannya dengan lafazh yang lebih keras daripada lafazh fasik. kalimat itu memang mengandung penolakan terhadap pelaku bid'ah. berlawanan dengan golongan Murji'ah yang berpendapat bahwa iman para shiddigin dan yang lainnya berada pada satu level. hanya saja rangkaian sanadnya lemah. maka hukumannya adalah kefasikan. dan mayoritas mereka adalah aliran Qadariyah. i 4 — ( O r a n g muslim). Secara terminologi berarti keluar dari taat kepada Allah dan rasul-Nya. bahwa daripada i—H (Mencela). Al Hujuraat (49) . j — ~ > berarti Al Khuruuj (Keluar). akan tetapi secara lahiriah menguatkan aliran Khawarij yang mengafirkan orang yang berbuat maksiat. FATHUL BAARI — 203 . Jika ada pertanyaan. Ibrahim Al Harbi berkata. kefasikan dan kedurhakaan (kemaksiatan)" (Qs. "Kalimat ini meskipun mengandung bantahan terhadap golongan Murji'ah. Secara etimologi. 1 (Memaki) lebih kasar j—>y dimana agaknya beliau meriwayatkan J °—"^J (Dan membunuhnya adalah kekufuran).. Apabila seseorang memakinya tanpa bukti.

Sebab disebutkan matan (redaksi) ini akan dijumpai pada awal "kitab Al Fitan" di akhir kitab Shahih Bukhari. pemakaian kata "kufur" di sini adalah kufur secara bahasa saja yang berarti menutupi. "Kemudian kamu (bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya. Wallahu 'Alam. yang pertama dalam kehormatan dan yang kedua dalam nyawa. "Janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan saling memenggal. 49. " Allah SWT berfirman. yaitu membunuh orang mukmin adalah perbuatan orang kafir. Pendapat lain mengatakan. Sedangkan sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim "Melaknat orang muslim seperti membunuhnya" tidak bertentangan dengan hadits ini. An-Nisaa'(4): 48) Atau dipakainya kata kufur dalam hadits tersebut karena adanya kemiripan antara keduanya. Al Baqarah(2): 85) Ayat tersebut mengindikasikan. tetapi hanya sebagai peringatan akan perbuatan tersebut. dia berkata. Yang serupa dengan hadits ini adalah sabda Rasulullah SAW. Kedua alasan tersebut lebih cocok dengan yang dimaksud oleh Bukhari. "Pada suatu ketika Rasulullah SA W keluar hendak mengabarkan tentang terjadinya 2 0 4 — FATHUL BAARI . "Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain" setelah firman-Nya. karena persamaan keduanya sangat jelas. Ketika dia membunuhnya seakan-akan tertutup baginya kebenaran tersebut. yaitu keluar dari agama.Pemakaian kata kufur di atas bukan berarti kufur yang sebenarnya." (Qs. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain itu terhadap orang yang dikehendaki-Nya" (Qs. karena hak seorang muslim dengan muslim yang lain adaiah menolong dan tidak menyakitinya. bahwa beberapa amal disebut sebagai kekufuran karena kekerasannya. Allah SWT berfirman. Diceritakan oleh Ubadah bin Shamit RA.

dari ingatan beliau. Maksudnya adalah lupa waktu." Jika ada pertanyaan." (Qs. ". Ibnu Dihyah menyebutkan kedua orang tersebut adalah Abdullah bin Abi Hadrad dan Ka'ab bin Malik. "Bagaimana mungkin bertengkar untuk mendapatkan kebaikan masuk dalam kategori tercela?" Saya jawab. ^ . FATHUL BAARI — 205 . Sebabnya adalah apa yang dijelaskan oleh Muslim dari hadits Abu Sa'id dalam cerita ini. Jawabnya. hanya saja dia tidak mengetahui besarnya dosa perbuatan itu. "Maksud firman itu adalah kalian tidak menyadari hilangnya pahala amalan yang kalian perbuat." Qadhi Iyadh berkata. "Saya keluar hendak mengabarkan tentang terjadinya lailatul qadar. "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa bertengkar merupakan perbuatan yang tercela. maka Nabi bersabda. janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak hapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadarinya. dan bersama dengan mereka adalah syetan sehingga aku lupa akan hal tersebut. Kemudian dilarang meninggikan suara di hadapan Rasulullah berdasarkan firman Allah. karena itu adalah waktu khusus untuk mengingat Allah. Kebetulan saya melihat dua orang sedang berbantah-bantahan. karena masjid adalah tempat mengingat Allah bukan untuk senda gurau. Begitu pula pada waktu bulan Ramadhan. Carilah malam qadar itu di malam ketujuh. Al Hujuraat (49): 2) Dari sini jelaslah hubungan dan kesesuaian antara hadits ini dengan tema yang tidak dipahami oleh kebanyakan orang. kesembilan dan kelima.i i y (Lupa). Kebetulan beliau bertemu dengan dua orang muslim yang saling berbantah. "Sedangkan kamu tidak menyadari" menjelaskan bahwa amalan yang tidak memiliki niat atau maksud akan mendapatkan dosa. Seseorang dapat saja mengetahui dosa perbuatan tersebut.." Keterangan Hadits: jJ —UySi (Bertengkar). "kemudian datanglah 2 orang yang saling menghancurkan. Mudahmudahan kelupaan tersebut berguna untuk anda sekalian. maka aku jadi lupa. Dari hadits ini dipahami bahwa berkah dan kebaikan suatu tempat akan hilang jika didatangi syetan. Dia berkata. Jika ada pertanyaan tentang firman Allah.lailatul qaa*ar. bahwa hal tersebut dapat diterima jika terjadi di masjid. karena kalian berkeyakinan bahwa dosa yang ditimbulkannya sangat kecil.

maka niscaya akan bertambah dan lebih utama dari pada kondisi tersebut karena apa yang diharapkan akan terwujud. "Wainnahu (Dalam permasalahan ini termasuk dosa besar). sesuai dengan urutan ke bawah. 38. Sedangkan apa yang diterangkan oleh Nabi SAW kepada utusan Abdil Qais. Aali Imraan(3): 85) 2 0 6 — FATHUL BAARI . r—& Q—^i^. Detail (rincian) pembahasannya insya Allah akan dipaparkan oleh Imam Bukhari dalam kitab I'tikaf. Akan tetapi dalam kelupaannya ada kebaikan yang diharapkan.Seperti yang dikatakan dalam firman-Nya. yaitu pahala yang lebih banyak karena hal tersebut menjadi sebab bertambahnya usaha dalam mencarinya. Maksudnya jika Rasulullah tidak lupa. ada pula yang berpendapat 9 hari yang tersisa dari satu bulan. dia jadikan semua itu sebagai agama.'" (Qs. adalah bagian dari iman. Ada yang berpendapat bahwa artinya adalah 9 hari dari sepuluh hari pertama. Firman Allah SWT. ISLAM. j*^ 1 J (Pada ke tujuh dan ke sembilan). Demikianlah yang terdapat dalam mayoritas riwayat. "Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya. P E R T A N Y A A N JIBRIL K E P A D A NABI S A W T E N T A N G IMAN." Oleh karena itu. mendahulukan tujuh daripada sembilan. Abu N u ' a i m dalam kitab Al Mustakhraj mendahulukan kata sembilan daripada tujuh. H A R I A K H I R DAN PENJELASAN NABI K E P A D A N Y A Kemudian Rasulullah berkata. IHSAN. "Jibril AS datang untuk mengajarkan kepadamu agamamu. Dalam mendahulukan kata "tujuh" menunjukkan bahwa angka tersebut lebih diharapkan. Kemudian muncul polemik mengenai arti dari sembilan. Hal tersebut didapat dengan berkah Rasulullah SAW. dan dia di akhirat termasuk golongan orang-orang yang rugi. Lakabiir" J' J~*j (Mudah-mudahan berguna bagi kalian).

maka sesungguhnya Dia melihat engkau. "Hanya Allah yang mengetahui hari kiamat. FATHUL BAARI — 207 ." Kemudian Rasulullah membaca. dan kiamat adalah salah satu dari lima rahasia Allah yang hanya Dia yang mengetahuinya. "Apakah artinya Iman?" Rasulullah menjawab. V I Jji. ^jji Sif ^ iLi \ 'Ji\ cl>." Orang tersebut bertanya lagi. membayar zakat dan puasa Ramadhan. apabila penggembala unta telah bermegahmegah dalam gedung yang indah mewah. "Panggillah dia kembali. "Apa artinya Islam?" Nabi menjawab. Maka Nabi bersabda. Biarpun engkau tidak melihat-Nya. menegakkan shalat. "Apakah artinya Ihsan?" Rasul menjawab. "Orangyang ditanya tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. filj iJi o O J j u & oi) . yaitu apabila budak perempuan melahirkan majikannya. "Islam yaitu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. tiba-tiba datang kepadanya seorang pria dan bertanya. 0 1 ^ ! 'JA & -ip Jji j J J i J^. tapi akan kuterangkan tanda-tandanya. J l i / . "Ihsan ialah menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Dia. Dikabarkan dari Abu Hurairah RA.J J j U . " Lalu dia kembali bertanya. "Kapankah hari kiamat?" Nabi menjawab.l i i J l i i U l i I j j j J J i a j j j J U i A JJ SJ^I ( A P C J I J L P ^1 J l i L i L i 50. ia berkata bahwa pada suatu hari Nabi SAW sedang tampak di hadapan orang-orang.^ j iiiy J l * oi^^Ji iS^jjj s * > C U J i 01 J l i ^ oUJ-Vl J £ Jli aiy Sl*j iiJI isi i^i>f V 0 i>-t-j jjiLji ^ <j U P L LjIP j jLJ i u Jii iiilii ^ U «J Orfl J Hhll J ." Akan tetapi mereka tidak melihatnya lagi.a Lili AJ'UL j ^LUJ L*V tjjL' <U!P AJJi 01 r JI)I Oli" J l i Jii olUvi £ CJJL ^ ^ JUi J 'J* j . Rasul-Nya dan kepada kebangkitan" Kemudian orang tersebut kembali bertanya.i j ^ U j JjL Sj ii 1 r OCJ^'i JijU ALJ'j ii>\—A oi '*Cyi J i i ^jjiUi Oli jSsi ' ^ N ° C. kepada malaikat-Nya. "Iman ialah percaya kepada Allah." Setelah itu orang tersebut pergi. V Jii oCi*j f j .

sedangkan Islam adalah menampakkan amalan-amalan khusus. Al Muzani dan Abu Muhammad Al Baghawi mengomentari tentang pertanyaan Jibril. sehingga nampak perbedaan di antara mereka. karena yang mengerjakan tanpa keyakinan maka perbuatannya bukan termasuk perbuatan agama yang diridhai. Rasulullah SAW bersabda. bahwa keduanya memiliki arti yang berbeda. dia mengajarkan agama kepada umat manusia" Sebelum ini telah disebutkan. sedangkan kata Iman mencakup keduanya. "Dan Kuridhai Islam sebagai agamamu.mendukung pendapat yang mengatakan bahwa kedua kata tersebut merupakan satu arti. sedangkan apa yang diterangkan oleh Nabi SAW kepada Abdul Qais bahwa Iman adalah Islam. Al Khaththabi berkata bahwa dalam masalah ini antara dua imam besar -Imam Syafi'i dan Imam Ahmad. bukan sebaliknya. Al Maa'idah (5): 3) "Barangsiapa yang mencari agama 2 0 8 — FATHUL BAARI . Secara eksplisit pertanyaan Jibril mengindikasikan adanya perbedaan antara Iman dan Islam dengan menganggap bahwa Iman adalah keyakinan terhadap perkara tertentu. bahwa keyakinan dan amal adalah agama. bahwa Imam Bukhari menganggap Islam dan Iman adalah satu makna. Perbedaan tersebut antara umum dan khusus. Berdasarkan ini. Sedangkan Imam Ahmad mendukung pendapat yang mengatakan. Ini tidak berarti bahwa perbuatan tersebut bukan termasuk bagian iman dan bukan berarti pembenaran hati tidak termasuk bagian dari Islam.masing-masing memberikan dalil. maka Islam dan Iman adalah satu. Abu Awanah Al Isfaraini dalam kitab Shahihnya dari Al Muzani -salah seorang sahabat Imam Syafi'i. Allah SWT berfirman. dan kata "Iman" sebagai nama bagi keyakinan yang tersembunyi di dalam hati. akan tetapi sebagai penjelasan bahwa semuanya adalah satu dan penggabungan antara keduanya dinamakan agama.'''' Allah SWT berfirman.Rasul kemudian bersabda. Penjelasan dalam hadits tersebut. "Itulah Jibril. bahwa setiap mukmin pasti muslim. Hal itu dikuatkan dengan penjelasan ayat dan berdasarkan riwayat dari Abu Sufyan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama. "Dan Kuridhai Islam sebagai agama kalian" (Qs." Kata "Islam" dalam ayat ini mencakup iman dan amal. Masing-masing pendapat memiliki dalil yang menguatkan. dan Rasulullah SAW menjadikan kata "Islam" di sini sebagai nama setiap perbuatan yang tampak. dan dia mendengar hal tersebut dari Imam Syafi'i. "Dia datang untuk mengajarkan agamamu. Hal tersebut menunjukkan bahwa kata Islam tidak mencakup keyakinan dan amalan sekaligus.

maka satu kata yang lain masuk ke dalamnya. yaitu makna yang dimaksud dapat diketahui lewat konteks kalimat. Begitu pula dengan apa yang diriwayatkan oleh AI-Lalikai dan Ibnu Sam'ani dan Ahlu Sunnah.selain Islam. bahwa mereka membedakan arti keduanya (Iman dan Islam) berdasarkan hadits Jibril. maka pemakaiannya boleh sebagai fungsi kata sebenarnya atau kata kiasan sesuai dengan konteks kalimat. Aali Imraan (3). Setelah itu kami buatkan untuknya tempat duduk dari tanah. Awal riwayat tersebut adalah. keduanya tidak terpisahkan dan saling melengkapi. datanglah orang asing bergabung bersama mereka. ^-UJ u j i i. Yang jelas dari masing-masing dalil mempunyai hakikat syariat dan hakikat bahasa. j ' . Rasul benar-benar berada di hadapan mereka tanpa penghalang. agar dapat mengetahui siapa yang datang. kalau dipakai dua kata tersebut bersamaan dalam kalimat pertanyaan. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Muhammad bin Nasr yang diikuti oleh Ibnu Abdul Barr yang menyatakan. Karena kata iman sering digunakan dalam kata Islam dan sebaliknya. "Ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya. Rasulullah tidak dapat membedakan dengan yang lain. Al Ismaili meriwayatkan dari Ahlu Sunnah yang mengatakan bahwa kedua kata itu berbeda sesuai dengan konteks kalimat. atau salah satu kata dipakai untuk arti keduanya sebagai kiasan. F A T H U L BAARI — 209 . Akhirnya kami meminta izin kepada Rasulullah untuk membuatkan tempat duduk bagi beliau. 85) Dengan demikian. jika hal tersebut memang dibutuhkan untuk kepentingan mengajar dan semisalnya. maka fungsinya sebagai kata sebenarnya. bahwa kedua kata tersebut memiliki satu makna seperti yang disebutkan dalam hadits Abdul Qais. Al Qurthubi menyimpulkan tentang disunahkannya bagi orang alim untuk duduk di tempat khusus yang ditinggikan.j — j <uU ^ji ^ J i j i y (Dan Nabi sedang tampak di hadapan orang-orang). dan orang yang berkeyakinan tidak dapat dikatakan mukmin yang sempurna kalau tidak mengerjakannya." Dari riwayat tersebut. Seperti seseorang yang melakukan suatu perbuatan. dia tidak dapat dikatakan muslim yang sempurna kalau tidak disertai dengan suatu keyakinan. Jika dipakai salah satu kata dari keduanya. Hal tersebut diterangkan dalam riwayat Abu Farwah yang telah kita sebutkan. Artinya. Kalau kedua kata tidak dipakai bersamaan atau dipakai tapi tidak dalam kalimat pertanyaan. agama yang diridhai dan diterima hanyalah yang disertai dengan At-Tashdiq (pembenaran hati). Wallahu A jam. Maksudnya. maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya" (Qs.

dia bukan penduduk daerah setempat tiba-tiba muncul tanpa meninggalkan bekas telapak kaki. At-Turbusyti juga sependapat karena dia menafsirkannya dengan." Dari riwayat ini dapat disimpulkan. hingga dapat menerobos orang-orang ke hadapan Rasulullah. Imam Bukhari dalam kitab tafsir menyebutkan. tidak ada bekas perjalanan dan tidak seorang pun mengetahui siapa dirinya. wangi badannya." Dalam riwayat Sulaiman At-Taimi. "Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah. akan tetapi perbuatan meletakkan tangan di paha Rasulullah bertujuan untuk menarik perhatian agar orang-orang mendengarkannya. bahwa orang tersebut datang dengan berjalan. Disamping itu hadits ini juga mengindikasikan agar seorang yang ditanya tentang suatu permasalahan bersikap rendah diri dan simpatik terhadap penanya. datanglah seorang pria yang putih kulitnya dan hitam rambutnya. Secara implisit apa yang dilakukan olehnya (Jibril) bertujuan untuk menyembunyikan jati diri dan memperkuat citra bahwa dirinya berasal dari Arab Badui. dan dikuatkan oleh Ath-Thibi dengan mengomentari bahwa riwayat tersebut berlawanan dengan apa yang disetujui oleh An-Nawawi." Dalam riwayat Ibnu Hibban disebutkan. Jika ada pertanyaan. "Kami sedang duduk bersama beliau ketika datang seorang pria yang tampan. Kemudian dia duduk di hadapan Rasul dengan mempertemukan lututnya dengan lutut Rasul dan meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah. maksudnya malaikat dalam wujud manusia." Walaupun secara eksplisit posisi duduknya dipahami seperti seorang murid. "Bagaimana Umar mengetahui bahwa dia bukan salah satu dari mereka?" Jawabnya adalah kemungkinan Umar mengetahui hal tersebut dari dugaannya atau berdasarkan pendapat orang yang hadir dalam majelis itu. "Sangat hitam janggutnya. Menurut saya kemungkinan kedua lebih kuat karena hal yang serupa ditemukan pada riwayat Ustman bin Ghiyats. bahwa Dhamir (kata ganti) dalam kalimat "Fakhidzaihi" kembali kepada Rasul. Pendapat ini juga dibenarkan oleh Al Baghawi dan Ibrahim At-Taimi." Dalam riwayat Muslim dari jalur Kahmas tentang hadits Umar. 2 1 0 — FATHUL BAARI . Oleh karena itu para sahabat merasa asing dengan prilakunya. dan pakaiannya tidak tersentuh debu. "Dia duduk dalam posisi seorang murid di hadapan guru. "Tidak tampak pada dirinya bekas perjalanan dan dia meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah. Sedangkan dalam riwayat Abu Farwah lafazhnya adalah.Kemudian datanglah seorang pria.

" Imam Muslim dalam riwayat Umarah bin Qa'qa' menjelaskan sebab munculnya hadits ini. terdapat perbedaan riwayat apakah pria tersebut mengatakan. "Pakaiannya tidak berdebu" sampai kepada kalimat." maksudnya untuk menutupi jati dirinya dan berbuat seperti layaknya orang badui. "Kemudian di sudut karpet dia menyampaikan salam dengan berkata. Al Qurthubi berpendapat bahwa pria itu tidak mengucapkan salam dan langsung berkata. "Ya Rasulullah. FATHUL BAARI — 211 . "Bagaimana mungkin pria tersebut mengajukan pertanyaan sebelum menyampaikan salam?" Jawabnya. maka datanglah pria tersebut. Pria itu mendekat tanpa memberikan salam terlebih dulu." Hadits serupa terdapat dalam riwayat Atha' dari Ibnu Umar hanya saja lafazhnya. dan apakah pria tersebut mengucapkan salam atau tidak." Dalam riwayat Mathar Al Warraq dia berkata. dan dijawab oleh Rasul. Menurut saya. Apakah Iman itu?" Jika ada pertanyaan. Dalam riwayat Yazid bin Zari' dari Kahmas disebutkan. bahwa pertama kali Rasulullah SAW berkata. "Assalamualaika ya Muhammad". Dalam riwayat itu disebutkan setelah perkataan. "Ya. "Bertanyalah kepadaku. Pendapat yang mengatakan bahwa pria itu mengucapkan salam adalah lebih kuat daripada yang mengatakan tidak. "Ya Rasulullah. "Bolehkah aku mendekat ya Muhammad?" "Mendekatlah!" jawab Rasul. Rasulullah" atau "Ya Muhammad". "Wahai Muhammad. Oleh karena itu. bolehkah aku mendekat kepadamu?" "Mendekatlah!" jawab Rasul. datanglah seorang pria -agaknya permintaan beliau kepada mereka untuk bertanya kepadanya dilakukan pada saat berkhutbah. (maka berkatalah). Ditambahkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Tafsir dengan lafazh. jawaban ketiga dapat dijadikan sandaran karena hal yang serupa juga ditemukan dalam riwayat Abu Farwah. Lalu dia mengatakan hal tersebut dan Nabi juga menjawab dengan jawaban yang sama. " Akan tetapi mereka segan untuk bertanya kepada beliau. "Assalamualaika ya Rasulullah. atau dia telah menyampaikannya tapi tidak dinukil oleh para perawi."'Mereka saling berpandangan lalu berkata kami tidak mengetahui orang ini. "Ketika Rasulullah sedang berkhutbah. Kemudian dia berkata. kemungkinan hal tersebut dilakukan untuk menyamarkan penampilannya atau untuk menerangkan bahwa hal tersebut bukan suatu yang wajib." Dari riwayat tersebut jelaslah bahwa pria tersebut datang pada saat beliau sedang berkhutbah terlepas apakah beliau sedang berdiri atau duduk.

"Siapa yang menghidupkan tulang yang telah hancur. "Assalamu alaika ya Muhammad. Jawaban tersebut membuktikan bahwa pria tersebut menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan iman. wallahu A Jam. kitabkitab-Nya. Kata malaikat disebutkan terlebih dahulu daripada kitab dan rasul. sebagaimana firman Allah SWT bahwa mereka adalah hamba-Nya yang mulia. 'j—*'/. "Pendapat ini sepertinya memberikan asumsi pengulangan." (Apakah Iman?). ^-jj Jiiijj JJL j*'y 'J k j y Jii (Iman ! adalah beriman Iman adalah beriman kepada Allah. hadits ini dimulai dengan Islam. Terbukti dalam riwayat Mathar Al Warraq. Ihsan. malaikat-Nya. karena hal tersebut tergantung kepada Iman dan Islam. 2 1 2 — FATHUL BAARI ." Beriman kepada malaikat berarti meyakini keberadaan mereka. lalu Iman. karena berkaitan dengan perkara lahiriah. karena berkaitan dengan perkara batin. karena pentingnya hal itu supaya diperhatikan. "Assalamu alaika ya Muhammad. "Katakanlah. yaitu yang menciptakan pertama kali. J. Pertanyaan kedua tentang Islam. dan pertanyaan kedua tentang Iman. Adapun urutan pertama dan terakhir hanya dari perawi. karena Iman adalah dasar atau pokok. Pendapat ini dikuatkan oleh At-Thibi. Sebagaimana firman Allah. pertemuan dengan-Nya. yaitu bahwa pertama kali dia memanggil nama Muhammad lalu bertanya kepadanya dengan memanggil.Menurut saya dengan menggabungkan kedua riwayat tersebut. " sebagai jawaban dari pertanyaan." Al Qurthubi berpendapat bahwa perkataan pria tersebut berbunyi. Saya menguatkan riwayat yang mengatakan. dan dalam konteks kalimat tidak menunjukkan urutan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas. pengulangan kata Iman. bukan tentang makna lafazhnya. setelah itu mengkhususkan siapa yang dituju. siapakah yang menghidupkan (tulang-belulang yang hancur). hanya saja para perawi berbeda dalam meriwayatkannya. rasul-rasul-Nya dan hari kebangkitan). Karena perkataan Rasul (beriman kepada Allah) mencakup pengakuan terhadap Allah. "Wahai Rasulullah. Pertanyaan ketiga tentang Ihsan." Hadits ini mengindikasikan disunahkan bagi orang yang masuk dalam suatu majelis untuk mengucapkan salam secara umum. Jika tidak maka jawabannya adalah "Iman adalah keyakinan (At-Tashdiq)" Ath-Thibi berkata. padahal tidak. Dalam riwayat Umarah bin Qa'qa' disebutkan bahwa pertanyaan pertama tentang Islam." Menurut saya. eJJi__. Sebenarnya kisah hadits ini adalah satu. Ada yang berpendapat bahwa pertanyaan pertama tentang Iman. karena Islam sebagai tanda keyakinan atas apa yang dinyatakan dan diyakininya.

Hal itu merupakan kebaikan dan rahmat dari Allah. pendapat ini disampaikan oleh Al Khaththabi. Keimanan kepada para rasul adalah keyakinan terhadap apa yang disampaikan mereka tentang Allah. J—« JJJI—> j o ^ J l . sedangkan kebangkitan terjadi setelah itu. Demikian pula dengan riwayat Muslim yang berasal dari dua jalur dan tidak ditemukan pada riwayat-riwayat lain. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bangkit adalah bangkit dari kubur. ditemukan diantara kata "Kutub" dan "KusuP'. karena Allah mengutus malaikat dengan membawa kitab kepada para rasul-Nya. Al Baqarah (2): 285) Kata "Rasul" dalam ayat tersebut disebutkan di muka." Demikian pula yang disebutkan dalam hadits Anas dan Ibnu Abbas. kecuali ada hal yang dikhususkan. Iman kepada kitab Allah adalah keyakinan bahwa kitab tersebut adalah kaiamullah. Urutan ini sesuai dengan ayat. Akan tetapi dibantah oleh An-Nawawi dengan mengatakan bahwa seseorang tidak dapat begitu saja melihat Allah. sedangkan yang dimaksud dengan kata tUJ (bertemu) adalah setelah dibangkitkan. J—i-j j Menurut riwayat Al Ushaili lafazhnya adalah * C > Dalam hadits Anas dan Ibnu Abbas menggunakan lafazh j i3Ji v b iirjCJij (dan para malaikat. kitab dan para nabi). Pendapat tersebut berdasarkan riwayat Mathar Al Warraq. Pengungkapan dengan kata "Nabiyiin" mencakup para rasul dan tidak sebaliknya. Ada yang berpendapat bahwa maksud dari kata iiqaa' (bertemu) adalah melihat Allah. karena hal tersebut dikhususkan bagi orang yang meninggal dalam keadaan beriman dan seseorang tidak mengetahui akhir dari hidupnya. j "Dengan kematian serta kebangkitan setelah kematian. Lalu bagaimana hal tersebut menjadi syarat keimanan? Jawabnya. kitab dan rasul secara global menunjukkan bahwa beriman terhadap mereka sudah cukup. "Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya" (Qs. dan termasuk salah satu rahmat yang paling besar adalah diturunkannya kitab-kitab-Nya kepada F A T H U L BAARI — 213 . karena hal itu benar-benar akan terjadi. Hal ini merupakan dalil kuat bagi Ahlu Sunnah bahwa melihat Allah pada hari akhir merupakan dasar keimanan. Kedua teks tersebut terdapat dalam surah Al Baqarah. Disebutkannya malaikat.Hal itu merujuk kepada kronologi kejadiannya. Dalam riwayat ini lafazh *JUL_. Tetapi ada juga pendapat yang mengatakan bahwa "pertemuan" itu akan terjadi dengan berpindah dari dunia. dan apa yang terkandung di dalamnya adalah benar.

sedangkan apa yang disebutkan sebelumnya telah ada pada saat ini. bangkit dari dalam kubur ke tempat yang abadi. bahkan dia menguatkannya dengan menggunakan kata * IS" (Semuanya). Sedangkan kata "Aakhir " disebutkan sebagai penguat.'j*Pi (Beriman kepada hari kebangkitan). ^ 'j—> V J >'y^j (Yang manis maupun yang pahit berasal dari Allah). keluar dari yang tidak ada kepada yang ada. (Dan beriman kepada qadar yang baik atau yang jelek). Dalam riwayat Muslim dari hadits Umar. —i j j-Uli j'p. jjiji—. Ada pendapat yang mengatakan bahwa dinamakan yaumul akhir. yaitu dari perut ibu ke alam dunia. Penambahan tersebut juga dapat dijumpai pada riwayat Abu Farwah dan pada riwayat Muslim dari Umarah bin Q a ' q a ' . kemudian mediator diantara mereka adalah malaikat. kata itu disebutkan karena kebangkitan itu terjadi dua kali. mengisyaratkan bahwa dia adalah jenis lain yang harus diimani karena hari kebangkitan akan ada pada masa yang akan datang. Kemudian ditambah dalam riwayat Atha' dari Ibnu Umar dengan kalimat. Pertama..semua hamba-Nya. Pengulangan tersebut adalah sebagai penekanan. penimbangan. Ada pendapat yang mengatakan. Yang menerimanya adalah para nabi. Catatan: Al Ismaili dalam kitab Mustakhraj menambahkan kalimat. dilakukan pengulangan untuk masalah menarik 2 1 4 — FATHUL BAARI . Oleh karena itu. Maksud beriman kepada hari akhir adalah percaya terhadap apa yang terjadi di hari akhir yang berupa hisab (perhitungan). wal yaumil aakhir (dan hari akhir). oleh sebab itulah Al Qur'an banyak mengulang kata tersebut. surga dan neraka. karena pada saat itu adalah akhir dari hari dunia dan masa yang ditentukan. •P^. Dalam riwayat Kahmas. Hikmah pengulangan kata ^ (dan beriman) ketika menyebutkan hari akhir. Kedua. Sulaiman At-Taimi dan Ibnu Abbas berbunyi. Disebutkannya kata 'j—?'?} pada saat membahas tentang qadar.(Dan beriman kepada qadar). karena banyak orang yang mengingkari akan hari kebangkitan tersebut. Keempat hal tersebut secara terang-terangan disebutkan setelah kata "Al Ba'tsu" dalam riwayat Sulaiman At-Taimi dan hadits Ibnu Abbas. seakan-akan mengisyaratkan perbedaan pendapat dalam tersebut. Dalam kitab tafsir 1 ditambahkan kata "Hari akhir".

Beberapa pengarang menceritakan. Pendapat tersebut diambil oleh para ulama salaf dari golongan sahabat dan tabiin yang terpilih hingga munculnya fitnah qadar pada akhir zaman para sahabat. "Jika orang-orang Qadariyah menerima adanya ilmu Allah. ^J-J-J- j »J* (baik." Kemudian diceritakan bahwa mereka mendatangi Abdullah bin Umar dan menayakan tentang hal tersebut. buruk. maka jawaban tersebut sesuai dengan Ahlu Sunnah. "Aliran Qadariyah pada saat ini mengakui bahwa Allah mengetahui apa yang hendak dilakukan hamba-Nya sebelum terjadi. Sedangkan FATHUL BAARI — 215 . "Dapatkah terjadi ketidaksesuaian antara ilmu Allah dengan apa yang terjadi dalam wujud ini?" Jika jawabannya tidak. Mereka adalah kelompok yang dikatakan oleh Imam Syafi'i secara khusus. Kemudian disusul dengan kalimat penggantinya. kekuasaan-Nya dan kehendak-Nya. dan Allah tidak akan menerima orang yang tidak benar-benar percaya terhadap qadar. Inilah yang telah diketahui secara umum dalam agama berdasarkan dalil-dalil yang qath'i (pasti).perhatian. kemudian pergilah aku bersama Humaid Al Humairi. mereka mengingkari adanya kaitan antara perbuatan hamba dengan kehendak Ilahi sebagai efek dari pengingkaran mereka terhadap kaitan antara yang baru dengan yang gadiim (abadi). bahwa beberapa sekte dalam aliran Qadariyah mengingkari bahwa Allah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh hamba-Nya. Maksud Al Qadar adalah Allah SWT memiliki pengetahuan tentang nasib sesuatu dan zamannya sebelum terjadi. dia berkata." Kemudian dia melanjutkan. Al Qurthubi dan lainnya berkata. manis dan pahit). Sedangkan golongan mutaakhirin. Imam Muslim meriwayatkan cerita tentang kasus tersebut dari jalur Kahmas dari Abdul Buraidah dari Yahya bin Ya'mar. hanya saja pertentangan mereka dengan golongan salaf terjadi akibat klaim mereka yang mengatakan bahwa perbuatan seorang hamba ditentukan oleh diri mereka sendiri. "Yang pertama kali berbicara tentang qadar di Bashrah adalah Ma'bad Al Juhani. Oleh karena itu semua yang baru berasal dari ilmu-Nya. kemudian dengan ilmu-Nya sesuatu itu diwujudkan. lalu Ibnu Umar menjawab bahwa dia tidak terlibat dengan orang yang mengatakan demikian." Maksudnya mereka bertanya kepada beliau. dan ditambah lagi keterangan dalam riwayat terakhir dengan kalimat Jii J> (dari Allah). maka mereka dapat dibantah. "Aliran ini telah punah dan kami tidak pernah mengetahui seseorang dari golongan mutaakhirin yang dinisbatkan kepada aliran tersebut." Walaupun aliran ini sesat akan tetapi kadarnya lebih rendah dari aliran sebelumnya.

maka berarti telah menisbatkan kebodohan kepada Allah. "Mungkin saja yang dimaksud dengan ibadah adalah mengetahui Allah (ma'rifatullah). karena kata-kata yang ada di dalamnya telah mencakup hal tersebut. maka dia harus menjelaskannya dengan kalimat. An-Nawawi berkata. "Pertanyaan tersebut bersifat umum karena dia bertanya tentang inti keislaman sedangkan jawaban yang diberikan bersifat khusus yaitu menyembah dan bersyahadat kepada Allah. Perhatian: Secara eksplisit." Hal ini menunjukkan. "tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun" Kalimat tersebut tidak dibutuhkan dalam riwayat Umar. Berdasarkan ini maka pengathafan antara shalat dan yang lainnya masuk dalam kategori 'Athaf Al Khas Ila Al 'Aam" Saya berpendapat bahwa kemungkinan pertama sangat jauh kebenarannya. Ketika perawi mengibaratkan ibadah. Oleh karena itu. bahwa seseorang dapat dikatakan beriman jika ia beriman kepada Allah dan rasul-Nya. * Ui J—2J JI (Untuk menyembah Allah). hendaknya kamu menyembah?" Jawabnya. bahwa yang dimaksud dengan ibadah dalam hadits ini adalah mengucapkan syahadatain. permasalahan tersebut merupakan daerah pemisah antara mashdar (gerund) dengan kata o* dan fi 'U (kata kerja). Oleh karena itu. maka jawabnya hendaknya kamu beriman. Dengan demikian merupakan bantahan terhadap kemungkinan kedua. teks tersebut mengindikasikan bahwa iman seseorang tidak sempurna kecuali ia meyakini seluruh rukun Iman yang telah disebutkan. Maha Suci Allah dari kebodohan. semua yang disebutkan tercakup dalam keimanan tersebut. karena ma'rifah merupakan efek dari Iman sedangkan Islam adalah perbuatan lahir dan batin. dan juga tentang ihsan.jika jawabannya dapat. Jika ada pertanyaan. dianeksasikannya (athaj) shalat dan yang lain kepada Iman kepada Allah untuk dimasukkannya (selain Islam) ke dalam Islam. karena kalimat Ji J_Jui. Demikian pula ketika ditanya tentang iman. "Engkau bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ha! tersebut dikarenakan maksud Iman kepada Rasulullah. mengindikasikan istiqbaal (waktu yang akan datang) sedangkan 2 1 6 — FATHUL BAARI . Mungkin juga yang dimaksud dengan ibadah adalah ketaatan secara mutlak. maka seluruh kewajiban sudah termasuk di dalamnya. adalah meyakini keberadaannya dan apa yang disampaikan dari Tuhannya. Dalam hadits Umar hal tersebut ditafsirkan sebagai berikut. Sedangkan para fuqaha telah sepakat.

Yang menyebutkan semuanya adalah riwayat Sulaiman At-Taimi. karena ibadah tersebut merupakan perjalanannya yang terakhir. "Mengapa haji tidak disebutkan?" Sebagian ulama menjawab. Sedangkan masalah haji telah disebutkan. beberapa perawi meriwayatkannya dengan menggunakan bentuk mashdar. Dalam riwayat Utsman bin Ghayyats lafazhnya adalah. dan dalam hadits Amir yang disebutkan hanya shalat dan zakat. "mengajarkan kepada manusia tentang agama-Nya. dan dia menambahkan setelah perkataan £— '^j dengan kalimat ^ J . bahkan dalam riwayat Kahmas dan dalam hadits Anas disebutkan. bahwa hal tersebut tidak masuk dalam kategori fardhu." Apabila ada pertanyaan. bahwa bertanya kepada orang alim tentang suatu perkara yang telah diketahui. akan tetapi maksudnya adalah mengajarkan kepada pendengar tentang hukum agama yang masuk dalam kategori mukallaf." Dalam riwayat Atha' Al Khurasani tidak disebutkan puasa. dengan tujuan agar orang lain mengetahuinya adalah diperbolehkan. Hal ini bukan berarti bahwa dengan menggunakan pola tunggal (singular) dalam berbicara berfungsi untuk mengkhususkan pembahasan kepada hal tersebut. Kemungkinan yang dimaksud dengan kalimat "Akhir umur Rasulullah" adalah setelah beliau menunaikan haji wada'. Jawaban ini tidak dapat diterima berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam kitab Al Iman dengan sanadnya yang menggunakan syarat Muslim dari jalur Sulaiman At-Taimi pada awal hadits Umar. V o' iiCji. bahkan dalam hadits Ibnu Abbas yang disebutkan hanyalah syahadatain. hanya saja mungkin beberapa perawinya sengaja tidak menuliskan atau lupa menuliskannya. Hal tersebut telah diterangkan pada akhir hadits tersebut yaitu. "Dan melaksanakan ibadah haji jika mampu. Hanya saja. Argumentasi atas pendapat tersebut adalah adanya polemik diantara mereka tentang disebutkannya sebagian amalan tanpa sebagian yang lain. "Datanglah seorang pria pada akhir hayat Rasulullah" kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Kemudian beliau wafat kurang dari 3 bulan setelah melaksanakannya. seakan-akan hadits tersebut datang setelah semua hukum diturunkan dan untuk menyatukan perkara-perkara agama yang terpisah-pisah dalam satu majelis agar lebih teratur. %\ V J ' — \ (Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan lafazh tersebut juga dapat ditemukan dalam hadits Anas.^ j FATHUL BAARI — 217 . Dari kasus tersebut dapat diambil kesimpulan.mashdar tidak mengindikasikan waktu atau zaman.

i . "Pengertian ini adalah prinsip penting dalam prinsip-prinsip teologi Islam dan merupakan dasar yang sangat 2 1 8 — FATHUL BAARI . Juga karena beliau meniru Lii—s' —^aJi Jl waktunya gaya bahasa firman "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan atas orang-orang yang beriman. khusu' dan berkonsentrasi penuh pada saat melaksanakannya. "Artinya anda akan selalu menjaga etika jika merasa bahwa Dia selalu melihat anda dan anda selalu melihat-Nya. An-Nawawi berkata. dan seseorang harus selalu memperbaiki ibadahnya karena Dia selalu melihat anda. Dalam riwayat Umarah bin Qa'qa'.*rf_!Uii kata * kata fJ. Yang kedua untuk selalu diingat bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan yang dilakukan. juga dalam hadits Anas diriwayatkan dengan lafazh. maka pengertian hadits tersebut adalah jika engkau tidak dapat melihatNya teruslah beribadah. "(Qs. Dalam kondisi Dia melihat anda. Dari apa yang kita sebutkan jelaslah bahwa sebagian perawi menyebutkan apa yang tidak disebutkan oleh perawi yang lain. kemudian dia menyebutkan Islam saja. Ihsan di sini adalah ihsan dalam ibadah. Hal tersebut karena beliau juga merangkai (yang diwajibkan). Imam Muslim iy&s (yang diwajibkan). An-Nisa'(4): 103) j i — i i j ^—tsjji (Dan berpuasa pada bulan Ramadhan). Kedua hal ini melahirkan ma'rifatullah (pengetahuan tentang Allah) dan kekhusyuan. yang paling tinggi diantara keduanya adalah ketika seseorang didominasi oleh Musyahadah Al Haq dengan batinnya sampai seakan-akan dia melihat-Nya dengan kedua matanya berdasarkan kalimat. dan selalu dimonitor oleh Yang disembah. "Sesungguhnya Dia melihatmu". Mathar Al Warraq berkata. L_ -yj \—>iif j—^'p menambahkan hanya sebagai penghias dalam gaya bahasa. "Seakan-akan kamu melihatnya". Kalimat ini dijadikan sebagai dalil kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. ini yang dimaksud dengan kalimat. karena Dia selalu melihatmu.j CiLi-i (Berumrah dan mandi dari junub serta menyempurnakan =i_5jJi wudhu).. «V 'sSk &\ J (Hendaklah kamu takut kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya).i'^g'jW ^ . anda tidak dapat melihat-Nya. sedangkan bentuk ihsan dalam ibadah adalah ikhlas. Oleh karena itu. (Dan mendirikan shalat). meskipun dalam kalimat itu tidak disebutkan bulannya. Jawaban tersebut mengisyaratkan dua hal. ." Kemudian dia melanjutkan. Penggunaan tersebut dengan Allah. (Mendirikan shalat dan menunaikan zakat).

" Pengertian seperti itu menunjukkan bahwa mereka tidak menguasai bahasa Arab. jika kamu tidak dapat menjadi sesuatu dan kamu telah fana dari dirimu atau seakan-akan kamu tidak ada. Semua ini membantah takwil tersebut. Perhatian: Konteks hadits tersebut mengindikasikan bahwa melihat Allah di dunia dengan mata telanjang tidak mungkin terjadi. Wallahu 'Alam. Sedangkan penglihatan Nabi. maka Dia melihatmu. Maka pengertiannya. Dalam riwayat Abu Farwah. lalu bagaimana dengan orang yang selalu merasakan kehadiran Allah pada segala perbuatannya baik yang tersembunyi maupun yang terangterangan? Prinsip ini telah dikomentari sebelumnya oleh Qadhi Iyadh dan insya Allah akan kita bahas lebih lanjut dalam tafsir Luqman. bahwa Rasulullah bersabda. "Maka kami pun terheran-heran dengan kelakuannya yang bertanya sekaligus membenarkan. Prinsip tersebut merupakan rangkuman dari seluruh perkataan Rasulullah. "Jika engkau tidak melihat-Nya. "Ketika kami mendengar perkataan 'Engkau benar' dari orang tersebut. "Kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian meninggal dunia" Beberapa orang sufi yang berlebihan menakwilkan hadits tersebut tanpa ilmu pengetahuan yang dapat dijadikan sandaran akan kebenarannya. maka pada saat itu kamu akan melihat-Nya. Imam Muslim menerangkan hal tersebut dalam riwayatnya dari Abu Umamah." Dalam hadits Anas. Catatan: Imam Muslim menambahkan dalam riwayat Umarah bin Q a ' q a ' dengan kata "Shadaqta" (engkau benar) setelah Nabi menyebutkan ketiga jawaban yang ditanyakan. "Lihatlah kepadanya bagaimana ia bertanya dan membenarkan jawaban Rasul." Dalam riwayat Al Mathar. Takwil mereka dapat dibantah oleh riwayat Kahmas dan Sulaiman At-Taimi yang berbunyi. Jika Ahlu Tahqiiq mensunahkan kita untuk menghadiri majelis para ulama karena hal itu dapat mencegah kita untuk melakukan sesuatu yang kurang sopan karena rasa hormat dan malu kita kepada mereka. FATHUL BAARI — 219 . kami pun membantahnya. mereka berkata." dan yang serupa lafazhnya ditemukan dalam hadits Anas dan Ibnu Abbas." Sedangkan riwayat Kahmas menyebutkan. Abu Farwah dalam riwayatnya menambahkan kalimat.penting bagi kaum muslimin. "Dalam hadits tersebut terdapat isyarat kepada maqam mahwi dan fana. maka Dia selalu melihatmu). "Fainnaka In Laa Taraahu Fainnahu Yaraaka" (kalaupun kamu tidak melihatnya. adalah karena adanya dalil yang menjelaskan tentang hal itu.

dan penanya ini bukanlah orang yang biasa bertemu dengan Rasulullah dan mendengarkannya. sama-sama tidak mengetahui (jawaban apa yang ditanyakan kepadanya). Kemudian Rasul berkata. "Lima perkara yang hanya diketahui oleh Allah. karena setelah bertanya dia membenarkan jawaban Rasulullah. seakan-akan dia yang mengajari Rasulullah dan berkata kepadanya. Jyl-Ui C (bukanlah yang ditanya). lima perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah" kemudian ia membacakan surah Luqman ayat 34. Orang itu pun kembali bertanya dan tidak dijawab oleh Rasul hingga berulang tiga kali. karena mereka sering bertanya tentang hal itu seperti yang diceritakan dalam ayat-ayat Al 2 2 0 — FATHUL BAARI . "Mereka terheran-heran karena mereka tidak mengetahui siapa yang bertanya kecuali Nabi. bahkan pengakuan tersebut menjadi tanda ketakwaannya. Meskipun pernyataan tersebut mengindikasikan adanya kesamaan dalam ilmu (mengetahui tentang hal yang ditanyakan). engkau benar. (lebih mengetahui). Kami tidak pernah melihat ada pria seperti ini. An-Nawawi berkata. Al Qurthubi berkata. Karena hal itu tidak menurunkan derajatnya. akan tetapi maksud persamaan di sini adalah hanya Allah yang mengetahui tentang apa yang ditanyakan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah. Tetapi kemudian dia bertanya tentang sesuatu yang telah diketahuinya. berdasarkan sabda beliau." Pertanyaan." Dalam riwayat Sulaiman Al Buraidah. (Bukanlah orang yang ditanya) huruf U dalam kalimat tersebut berfungsi sebagai nafyi (penafian). para sahabat yang hadir menyaksikan kejadian itu merasa terheran-heran. kapankah hari kiamat? Maksudnya kapan hari kiamat akan terjadi? Hal ini telah dijelaskan dalam riwayat Umarah bin Q a ' q a ' . Dalam riwayat Abu Farwah ditambahkan. Li_J£ Jy_J_Ui i—. Dalam hadits Ibnu Abbas dikatakan. Oleh karena itu. "Orang-orang berkata. "Subhanaliah. Huruf ba' dalam kalimat tersebut berfungsi sebagai penguat penafian (Ta'kid nafyi)." j&t ."Lihatlah dia bertanya dan membenarkan seakan-akan dia yang lebih mengetahuinya. jJ^r J*j 'J* Yang maksudnya adalah. "Kemudian Rasul menundukkan kepalanya dan tidak menjawabnya. "Maksud dari pertanyaan ini adalah agar orang-orang tidak menanyakan tentang hal tersebut." Hal yang serupa akan ditemui pada akhir hadits ini." Al Qurthubi berkata. "Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa jika seorang alim yang tidak mengetahui apa yang ditanyakan kepadanya maka dia harus berterus-terang bahwa dia tidak mengetahui hal tersebut. "Engkau benar.

" Kalimat yang sama dapat ditemukan pada hadits Ibnu Abbas dengan penambahan kalimat.. . "Isa bin maryam bertanya kepada Jibril tentang hari kiamat.. "HaddatsanF (telah menceritakan kepadaku). Berbeda dengan pertanyaan sebelumnya yang bermaksud memancing jawaban untuk mengajari orang yang mendengar dan memperingatkan mereka dengan pertanyaan ini secara detail mana yang dapat mereka ketahui dan mana yang tidak. "Jika demikian maka beritahu aku. hanya saja pada saat itu yang bertanya adalah Isa dan yang menjawab Jibril. yaitu tanda-tanda sudah biasa terjadi dan tanda-tanda yang tidak biasa FATHUL BAARI — 221 ." Orang tersebut menjawab. Penjelasan secara mendetail tentang tanda-tanda hari kiamat tersebut dapat ditemukan dalam riwayat lain." dan dalam riwayat Kahmas. artinya yang bertanya dan yang ditanya sama (tidak mengetahui) dalam hal ini. Rasulullah mengubah kalimat "Aku tidak lebih mengetahui daripada engkau" dengan kalimat yang lebih umum. "Jika demikian beritaku aku tanda-tandanya.akan tetapi jika engkau mau akan kuberitahukan kepadamu tanda-tandanya. " Y a ." Yang memperkuat pendapat tersebut adalah riwayat Sulaiman AtTaimi yang berbunyi. Al Qurthubi berkata. maka timbul keputusasaan untuk mengetahuinya lebih lanjut. "Kemudian orang tersebut berkata. "Yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya. Catatan: Tanya jawab ini juga terjadi antara Isa bin Maryam dengan Jibril. untuk memberi isyarat kepada para sahabat yang mendengarkan pada waktu itu." 'j—* i ^ t — j (Akan kuberitahukan kepadamu tandatandanya). Ketika keluar jawaban atas persoalan tersebut. Al Humaidi berkata dalam kitab Nawadir.Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah. ". Malik bin Mughawil dari Ismail bin Raja' dari Syu'bi. . "Tanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua. kemudian dia memberitahukan kepadanya sehingga kamu menjadi ragu-ragu" Apakah munculnya keraguan tersebut karena disebutkan tanda-tanda (hari kiamat) atau penanya bertanya tentang tanda-tanda tersebut? Kedua riwayat tersebut dapat disatukan bahwa hadits tersebut dimulai dengan kalimat "Fa akhbartuka" (aku beritahukan kepadamu) kemudian si penanya pun berkata. dia berkata. Dalam riwayat Abu Farwah disebutkan. "Sufyan telah menceritakan kepada kami. "Akan tetapi hari tersebut memiliki tanda-tanda yang dapat diketahui dari tanda-tanda tersebut." Jii-Jj) 'j* (Daripada yang bertanya). maka berkatalah Jibril. .

Pertama.terjadi. Kemudian dia berusaha mendekatkannya dengan fakta bahwa para pemimpin pada masa permulaan Islam enggan untuk menggauli para budak perempuannya. Maka anak yang berasal dari budak itu sama dengan posisi tuannya. Arti dari kata "Ar-Rabb" adalah tuan. Penggunaan kata "idza" dalam kalimat tersebut berfungsi untuk menunjukkan bahwa peristiwa tersebut pasti akan terjadi. "Orang asing (ajam) akan melahirkan orang Arab. Wallahu A 'lam. karena penguasaan hamba sahaya telah ada pada saat hadits ini dikeluarkan. bahkan perbedaan tersebut mencapai 7 pendapat menurut Ibnu At-Tin." Lafazh yang serupa ditemukan dalam riwayat Abu Farwah dan riwayat Utsman bin Ghayyats. Kalimat ini merupakan keterangan tanda-tanda tersebut apabila dilihat dari segi maknanya. sehingga para tuan memiliki budak perempuan yang melahirkan anaknya." Sebagian dari mereka berpendapat bahwa budak-budak perempuan tersebut melahirkan tuan atau raja dan seorang ibu menjadi bagian dari rakyat. I^ J 'J **H\ O J J J bi (Apabila budak melahirkan tuannya). O J J J bi (Jika melahirkan). Kemudian An-Nawawi dan yang lainnya berpendapat." Dalam riwayat Umarah bin Qa'qa'disebutkan. sedangkan yang termasuk dalam kelompok kedua seperti munculnya matahari dari arah barat. Para ulama. Konteks kalimat tersebut mengindikasikan. baik sekarang ataupun dahulu telah berbeda pendapat tentang hal tersebut. yaitu makin meluasnya negara Islam dan ditaklukkannya negara-negara musyrik kemudian menahan tawanan mereka. "Apabila kamu melihat perempuan melahirkan tuannya. Akan tetapi saya meringkasnya menjadi 4 pendapat. adalah apa yang dikatakan oleh Khaththabi. Kemudian ditambah dengan "Ya 'ni As-Sarari. bahkan mereka bersaing 2 2 2 — FATHUL BAARI . W a q i ' dalam riwayat Ibnu Majah telah menafsirkannya lebih khusus dengan mengatakan. Inilah pendapat Ibrahim Al Harbi. Dalam tafsir diriwayatkan dengan "Rabbataha"." Saya berpendapat untuk menjadikan pendapat tersebut sebagai interpretasi maksud dari hadits harus diteliti terlebih dahulu. "Budak perempuan (melahirkan) tuan-tuan mereka" dengan menggunakan pola plural. "Pendapat tersebut merupakan pendapat mayoritas. Adapun tanda-tanda yang disebutkan termasuk tanda-tanda yang pertama. sedangkan raja adalah pemimpin rakyatnya. begitu pula dalam hadits Umar dan Muhammad bin Bisyr. karena dia adalah anak tuannya. Bahkan penaklukan negara-negara musyrik dan penahanan tawanan perang banyak terjadi pada masa permulaan Islam. bahwa peristiwa yang akan terjadi pada saat hari kiamat sudah dekat.

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan suami dalam riwayat tersebut adalah tuannya. Ketiga. yaitu seorang budak melahirkan seorang anak dari orang yang merdeka dengan watha' syubhah (hubungan yang tidak jelas) atau dengan sesama budak baik dengan nikah maupun zina. FATHUL BAARI — 223 . seperti haram menjualnya pada saat hamil. Riwayat yang menggunakan ta' ta 'nits (rabbataha) tidak dapat menguatkan pendapat tersebut. An-Nawawi berkata." Salah saru dari riwayat tersebut adalah riwayat Imam Muslim." Muhammad bin Bisyr tidak menyetujui pendapat ini. Hanya saja kondisi tersebut berbalik hingga pada masa bani Abbasiyah. Kemudian sebagian yang lain lebih mengkhususkannya. "budak perempuan akan melahirkan suaminya. Kemudian ia dibebaskan pada saat dewasa dan menjadi tuan atau pemimpin lalu dia memperbudak ibunya dengan cara membelinya karena dia telah mengetahui hal tersebut atau tidak mengetahui. maka pembatasan seperti itu diperbolehkan. Pada beberapa riwayat ditemukan. sehingga dia tidak tahu bahwa yang membelinya adalah anaknya. Karena terlalu banyaknya. karena tidak ada kebodohan dan kehinaan bagi orang yang membolehkannya.untuk mendapatkan wanita yang merdeka. para tuan tersebut menjual para budak perempuan (ibu dan anak) mereka. bahwa perbudakan jika meluas dapat menjadikan anak sebagai budak. dan pendapat ini yang lebih sesuai dengan riwayat yang ada. Kemudian budak tersebut diperjualbelikan dan terus berputar kepemilikannya sampai akhirnya dia dibeli oleh anaknya. mengikuti model yang sebelumnya. yang dimaksudkan dengan tanda-tanda hari kiamat adalah mendominasinya sikap meremehkan hukum syariat. atau dia memerdekakan dan mengawininya. akan tetapi hadits tersebut memiliki gambaran lain. Menurut kita masalah tersebut masih dapat dipahami sesuai dengan apa yang disepakati oleh konsensus ulama. karena ketika bayi itu menjadi sebab merdekanya budak tersebut akibat ditinggal mati bapaknya. Selanjutnya dia menjadikan wanita tersebut sebagai budaknya dan menyetubuhinya. Sebagian yang lain berpendapat. Jika ada yang berpendapat bahwa dalam masalah ini ada perbedaan sehingga tidak dapat dipahami seperti di atas. Berdasarkan penafsiran ini. Kedua. karena menurutnya pengkhususan tersebut tidak mempunyai dasar yang kuat. bahwa penggunaan kata (tuan) untuk menunjukkan anaknya adalah merupakan bentuk majaz (kiasan). "Hadits tersebut tidak dikhususkan kepada anak yang membeli ibunya.

apa yang disebutkan dalam hadits ini yaitu mengartikan kata "Ar-Rab" dengan kata "As-Sayid" (tuan) dapat digabungkan dengan apa yang ada dalam hadits lain yang terdapat dalam kitab Shahih. Hal tersebut dikarenakan jika sesuatu dijadikan sebagai tanda untuk sesuatu yang lain. Kedua. Ada yang berpendapat bahwa kata "Al Buhmu" berarti warna yang tidak disukai oleh mereka. maka orang yang mempergunakannya sebagai argumen pada salah satu dari dua kasus di atas adalah salah." 2 2 4 — FATHUL BAARI . Ada juga yang berpendapat bahwa makna kata itu adalah mereka tidak memiliki sesuatu seperti sabda Rasulullah saw. . . "Hadits ini tidak dapat dijadikan dalil untuk melarang atau membolehkan menjual budak yang menjadi ibu. maka sesuatu itu tidak menunjukkan kepada pembolehan atau pelarangan.uU yh^f ji. "Interpretasi yang paling baik adalah kata tersebut bermakna bahwa mereka berkulit hitam. adalah karena banyaknya kedurhakaan terhadap orang tua hingga sang anak memperlakukan orang tuanya seperti budak dengan memaki. karena mereka tidak memiliki nasab yang jelas. Sehingga kata "tuannya" diqiyaskan kepada anak tersebut atas perlakuannya terhadap orang ma. yaitu yang seharusnya diawasi menjadi yang mengawasi dan yang buruk menjadi yang terhormat. Inilah pendapat-pendapat mengenai kasus tersebut. An-Nawawi berkata. Perhatian: Pertama. . j£* jii i j-' isi»} euf.t«- 'j^k. maka maknanya menjadi hakikat bukan kiasan. yaitu: tfSi>j bangunan. Atau bisa jadi yang dimaksud dengan kata "Ar-Rab" adalah pengawas. Menurut saya.UJi JJ^JJ^.Keempat. memukul dan mempekerjakannya. 'H J j i — * artinya bangga dalam meninggikan dan memperbanyak J — i i i j (Penggembala unta). Intinya isyarat tersebut menunjukkan dekatnya hari kiamat dimana semuanya menjadi berbalik. karena warna yang disukai mereka adalah warna kemerah-merahan yang dipakai sebagai kiasan dalam kalimat. Al Qurthubi berkata. "Al Buhmu". berdasarkan keumumannya hadits tersebut menunjukkan ke kondisi kerusakan pada masa yang tidak diketahui. karena warna tersebut mendominasi kulit mereka. Disifatinya gembala unta dengan kata.

"jika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggu saja waktu (kehancuran) nya. ditambahkan J — 5 3 jLtJi (Tuh dan bisu). artinya mereka tidak mempergunakan pendengaran dan penglihatan mereka untuk urusan agama walaupun panca indera mereka sehat.Al Qurthubi berpendapat bahwa ada yang harus diperhatikan dalam interpretasi di atas karena unta-unta telah dinisbatkan kepada mereka. "Tidak akan datang hari kiamat hingga orang yang paling bahagia di dunia menjadi orang yang paling hina" dan hadits lain. Kemudian perhatian mereka bergeser kepada pembangunan istana dan mereka membanggakannya. "Al FATHUL BAARI — 225 . ^ — ( D a l a m lima perkara) artinya pengetahuan tentang J artinya pergilah ada. bertanya. Perkataan Iman Bukhari dalam kitab tafsir oleh Ismaili dalam riwayatnya dengan '»<jf-iLb-. " Kedua hadits tersebut ada dalam kitab Shahih. lalu bagaimana mereka tidak memiliki apa-apa? Menurut saya. Kondisi yang biasa terjadi yaitu seorang penggembala menggembalakan hewan milik orang lain dengan menerima upah. "Maksudnya adalah berubahnya kondisi. termasuk Qurthubi waktu kiamat masuk dalam lima perkara. "Perkara itu dalam 5 perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Ada yang bertanya apa artinya S ' j — * Jli»-? Dalam riwayat AthThabrani dari jalur Abi Hamzah dari Ibnu Abbas. Ada yang berpendapat bahwa hal tersebut menunjukkan kebodohan yang sangat." Pendapat ini dikuatkan oleh hadits lain yang berbunyi. Penghapusan kaitan huruf jar diperbolehkan sebagaimana firman Allah. y 3i ^ j j j artinya para penguasa dunia. bukan kepemilikan. l 3 i J L _ U ^ I ^—» JJJJI > •ir 'J? jj—laiti J U i l — A l Qurthubi berkata. yaitu orang-orang badui menguasai negeri-negeri dengan kekerasan sehingga harta mereka bertambah banyak. Maksudnya orang-orang Badui seperti yang diterangkan dalam riwayat Sulaiman AtTaimi dan yang lainnya. hal tersebut telah kita saksikan pada saat ini. jarang sekali yang memiliki ternak turun tangan menggembalakan miliknya. Pengertian tersebut disebutkan oleh Ismaili dan juga dalam riwayat Abi Farwah. oi—?\ kepada fir'aun dengan salah satu bukti dari sembilan bukti yang Dalam riwayat Atha' Al Khurasani disebutkan. penisbatan tersebut dapat diartikan sebagai penggabungan (aneksasi) yang menunjukkan kekhususan. "Dia 'Kapankah kiamat terjadi?' Rasul pun menjawab.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab tafsir hingga firman-Nya." maka Ath-Thibi berkata. "Sesungguhnya perkara ghaib itu ada lima. sehingga ayat tersebut turun menjelaskan bahwa mereka tidak mengetahui hal itu dan hanya Allah yang mengetahuinya. hal itu agar umat memperhatikannya dan menjadi petunjuk bahwa mengetahui hal tersebut dapat mendatangkan manfaat. ?i\ maksudnya Rasulullah membaca ayat tersebut hingga akhir Hal tersebut secara jelas disebutkan oleh Ismaili. (Maha Mengetahui). "Dengan adanya hadits ini tidak seorang pun yang berambisi untuk mengetahui 5 perkara ghaib. V! dengan lima perkara yang terdapat dalam kitab Shahih ini. maka ia telah berdusta.berkata. JJ*J j _ J . Ibnu Abdul Barr telah menukilkan ijma' ulama tentang larangan mengambil upah. Jika ada yang mengatakan. Sedangkan dalam riwayat Muslim sampai kepada firman-Nya. maka kita dapat memahami adanya pembatasan (hashr) secara kinayah (kiasan). V w^Ji ^ r u i . i surah. dan dugaan tersebut tidak masuk dalam kategori mengetahui sebagaimana dalam firman Allah tersebut. Sedangkan dugaan akan perkara ghaib yang menyangkut hal-hal biasa. kemudian beliau membacakan ayat tersebut perkara ghaib selain itu dapat diketahui oleh suatu golongan dan tidak diketahui oleh golongan yang lain." Dari Ibnu Umar secara marfu' diriwayatkan pula oleh Ahmad. kemudian Rasulullah bersabda. "Dalam ayat tersebut tidak ditemukan adatul hashr (kalimat yang menunjukkan pengkhususan atau pembatasan) seperti dalam hadits. bahwa suatu perbuatan yang mengindikasikan perkara yang sangat penting. "Barangsiapa yang mengklaim mengetahui sesuatu dari 5 perkara tersebut tanpa menyandarkannya kepada Rasulullah. " Catatan: Jawaban di atas melebihi apa yang ditanyakan. hadiah dan memberikan sesuatu untuk hal tersebut. begitu pula j L J * - dalam riwayat Umarah. Dalam riwayat dari Ibnu Mas'ud disebutkan. yaitu bangsa Arab mengaku mengetahui turunnya hujan." Rasulullah telah menafsirkan firman Allah. Apalagi jika kita memperhatikan sebab turunnya ayat tersebut. f>—^jNi adalah ringkasan dari beberapa 2 2 6 — FATHUL BAARI . Dia berkata. bahwa Rasulullah diberitahukan tentang waktu sebelum terjadinya gerhana. begitu pula dalam riwayat Abi Farwah. Humaid bin Zanjawiyah dari beberapa sahabat. bisa saja didapat dari para peramal atau yang lainnya. "Seluruh ilmu diberikan kepada Rasulullah SAW kecuali 5 perkara ini.

Rasulullah pun bersabda. Dalam riwayat Imran bin Hushain dijelaskan. Dalam sabdanya "Datang mengajarkan manusia agama-Nya". tak sekalipun dia datang kecuali aku mengetahuinya kecuali pada saat ini. "Dia ingin agar kalian mengetahui walaupun kalian tidak bertanya. Jl « y ' j ' f ' (Kemudian Nabi berbalik dan berkata. "Wahai Umar." Dalam riwayat At-Taimi disebutkan.(Datang untuk mengajarkan kepada manusia). Rasul pun bersabda. "Tahukah kalian siapa orang tersebut. ini Jibril yang datang mengajarkan kepada manusia agama-Nya. Riwayat-riwayat ini sepakat bahwa Rasulullah memberitahu para sahabat tentang hal ini setelah mereka mengejar dan tidak mendapatkannya. Rasulullah menyuruh untuk mengambil darinya. Dalam kitab tafsir ditambahkan. "Panggil kembali orang tersebut. 'Dia adalah Jibril. dan aku tidak mengetahuinya sampai dia pergi. tahukah engkau siapa yang bertanya? Aku menjawab. "Kemudian dia pergi. mengisyaratkan bahwa dinisbatkannya pengajaran kepada Jibril merupakan bentuk majaz. karena dia merupakan sebab dalam jawaban itu." Dalam hadits Abu Amir. 'Panggil pria tersebuti' Kemudian kami mengejar tapi kami tidak mendapatkannya." Dalam riwayat Abi Farwah. tak pernah dia menyerupai orang sebelum ini. dia adalah Jibril. "Kemudian dia pergi. "Kemudian pria tersebut bangkit dan pergi. "Merekapun memanggilnya kembali dan tidak melihat sesuatu. "Subhanallah. Lalu Rasulullah berkata. dan konteks hadits menunjukkan bahwa Rasulullah membaca seluruh ayat tersebut. bahwa Nabi mendengar perkataan malaikat. dia adalah Jibril yang datang mengajarkan agama kalian. dia adalah salah seorang yang paling tsiaah (terpercaya). " FATHUL BAARI — 227 . " Umar berkata. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya. Wallahu a Jam. ambillah darinya. Ketika kami tidak melihat jejaknya bersabdalah Rasulullah." Dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa malaikat dapat menyerupai seseorang selain Rasulullah yang dapat dilihat dan berbicara di hadapannya dan Rasul mendengarnya. "Aku tetap berada di tempat. bahwa hanya Sulaiman At-Taimi yang meriwayatkan kalimat "ambil darinya. ")." Ibnu Hibban mengatakan. Dalam ? disebutkan —liJj. Untuk itu. ^LJS\ kitab tafsir ^ tii. Sedangkan hadits Umar dalam riwayat Muslim dari Kahmas." Menurut saya. "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui. begitupula dalam riwayat Ismaili dan Umarah.perawi. " Rasulullah bersabda kepadaku. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya. "Demi Yang mengutus Muhammad dengan kebenaran! Hanya aku yang paling mengetahui siapa orang itu.

"Tidak seorang pun yang mengetahuinya. Ini adalah penggabungan yang baik. Akan tetapi penggabungan tersebut bertentangan dengan perkataannya dalam hadits An-Nasa'i dan Tirmidzi. "Kemudian beliau menemuiku" dan perkataannya. wahai Umar" hanya ditujukan kepadanya secara khusus. "Dia adalah Jibril yang datang mengajarkan agamamu." Riwayat inilah yang dapat dijadikan pegangan karena sesuai dengan riwayat yang lain. "Dia adalah Jibril yang turun dalam rupa Dihyah Al Kalbi. "Aku tetap berada di tempat" alias beberapa waktu setelah kepergiannya. hanya saja dia tetap berada di majelis tersebut. berlawanan dengan khabar yang pertama. Jibril mendatangi mereka dalam bentuk seorang laki-laki yang berperawakan gagah dan tidak dikenal oleh mereka.Beberapa pensyarah hadits menggabungkan kedua riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa perkataan. sedangkan menurut Ibnu Manduh >5yi UJ. Akan tetapi dia termasuk kelompok yang mengejar orang tersebut dan tidak kembali lagi. riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak mengetahui bahwa yang ada di hadapannya adalah Jibril sampai terakhir." Muhammd bin Nasar Al Marwazi meriwayatkan dalam kitabnya Al Iman melalui jalur yang sama dengan riwayat An-Nasa'i. seakan-akan Rasulullah menerangkan hal tersebut kepadanya beberapa waktu setelah orang tersebut pergi." Dalam riwayat Ibnu Hibban J * iiJuJi. karena Dihyah Al Kalbi adalah orang yang mereka kenal. "Kemudian Rasulullah berkata kepadaku. An-Nawawi menyatukan 2 hadits tersebut dengan mengatakan bahwa Umar tidak hadir pada waktu Rasulullah berbicara dalam majelis. dimana pada akhir hadits disebutkan. "Aku diam 3 saat." Akan tetapi sebagian ahli hadits berpendapat adanya kesalahan dalam penulisan kata uStf. "Kemudian kami mendiamkannya beberapa malam i~ dan Rasulullah mendatangi kami pada malam ketiganya. Catatan: Pertama. Klaim tersebut dibantah karena dalam riwayat Abi Awanah disebutkan. 2 2 8 — FATHUL BAARI . karena kata tersebut ditulis tanpa alif." Ungkapan "Dalam rupa Dihyah Al Kalbi" mengandung ketidakjelasan. Kemudian Rasulullah memberitahukan kepada yang hadir saat itu dan Umar tidak memastikan berita tersebut kecuali setelah 3 hari berdasarkan perkataannya. Kemudian yang ditemukan dalam hadits Nasa'i dari jalur Abi Farwah pada akhir haditsnya menyebutkan. sedangkan Umar berkata.

Ibnu Munir berkata bahwa dalam sabda Rasul. dimana kita dapat mengambil faidahnya dari tanya jawab (antara Jibril dan Nabi). meskipun demikian dia disebut sebagai pengajar. Yang dimaksud adalah Imam Bukhari yang menyatakan "Semua itu merupakan sebagian dari Iman". "Mengajarkan kepada kalian agama kalian" merupakan dalil bahwa pertanyaan yang baik dapat dinamakan ilmu dan pengajaran. karena yang keluar dari Jibril hanyalah pertanyaan. oleh karena itu saya tidak menentang metode peringkasan. Menurut saya. dengan ini saya telah puas membahasnya.i jii (Abu Abdullah berkata). "Hadits ini dapat disebut sebagai ummu sunnah (induk sunnah) karena mengandung ilmu sunnah secara global. yaitu Iman yang sempurna yang mencakup seluruh perkara ini. Ketiga. "Berdasarkan hal inilah maka Al Baghawi mengawali kitabnya Al Mashabih dan Syarh As-Sunnah dengan hadits tersebut. waktu. sebagaimana Al Qur'an dimulai dengan Al Faatihah karena surah tersebut mengandung ilmu Al Qur'an secara global. FATHUL BAARI — 229 . harta. perbuatan anggota tubuh." Pepatah tersebut dapat diterapkan dalam hadits ini." Ath-Thibi berkata." Qadhi Iyadh berkata. "Seluruh hadits ini mencakup seluruh kewajiban ibadah secara lahir dan batin mulai dari iman. 4— \i\ j — s . ikhlas dan konsisten untuk melaksanakan amalan sampai-sampai seluruh ilmu syariat merujuk kepadanya dan menjadi cabangnya.Kedua. Hal itu sebagaimana pepatah masyhur mengatakan. j—. karena apa yang saya sebutkan walaupun banyak akan tetapi masih sedikit jika dibandingkan dengan apa yang dikandung oleh hadits tersebut. "Pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu. Al Qurthubi berkata.

' J . Karena jika disebutkan tanpa tema. s. ' AJ Jii 11 - « » .'. 'Bertambah..' . "Karena pertanyaan Jibril tidak berkaitan dengan hadits ini.'. "Semuanya termasuk dalam agama?' Hubungan tersebut nampak jelas dalam pernyataan Hercules 2 3 0 — F A T H U L BAARI ." Kemudian kutanyakan kepadamu. klaim tidak adanya hubungan di sini menjadi tidak sempurna sebab dua hal.' dan engkau menjawab." Menurut saya. J .* jl s-V" a s y ' ' ' f 1 .JL*J 51. f ' *'... AIJJJ AJa^T-w J J j j J j t JJJJL^J JVIJ J^J^. hanya saja An-Nawawi menguatkan riwayat yang pertama dan berkata. maka hubungan antara keduanya juga jelas. maka tidak benar memasukkannya ke dalam bab sebelumnya. . sehingga bab di atas memiliki hubungan dengan bab sebelumnya. yaitu berkaitan dengan perkataan Imam Bukhari dalam tema.W J ' Jbt. . • s . . i \ . "Saya diberitahu oleh Abu Sufyan bahwa Hercules berkata kepadanya.j- ' ' ' f ' T. i . f i . a. — j j j | ^ j l c~*P_)i J ^ ^ o i i . ^1 J j J b j j J A J J J J L * J • ' ° ' 'f f . "Tidak.Bab J ' l ' 9 1jA S' . Namun jika tidak ada kata bab. tidak seorang pun yang membencinya. Q ' a' ' 1 i ' . Keterangan Hadits: Begitulah disebutkan dalam riwayat Karimah dan Abi Al Waqt tanpa tema.° f y-* "' J 4 / s 0 1 .i ' t f ' & ' ' J' r ' ' — \ ' s' j J j J .9. 9 . maka bab tersebut menjadi sub-bab dari bab sebelumnya. . 'Saya bertanya kepadamu apakah para pengikut Muhammad bertambah atau berkurang. Sesungguhnya Abdullah bin Abbas berkata. J J ^ . ' Begitu pula dengan iman sampai iman tersebut mencapai kesempurnaan.. Bahkan bab ini tidak tercantum dalam riwayat Abu Dzar dan Al Ushaili serta yang lainnya. 'Apakah ada orang yang murtad dari agamanya karena benci terhadap agama tersebut setelah ia memeluknya? " Engkau menjawab. 9 ' . " begitu pula dengan iman jika sinarnya telah masuk ke dalam hati.. " " f ^ y ^ ' r ' ' • .

i ' j l ^ . maka jawabnya bahwa Hercules tidak akan mengatakan hal tersebut berdasarkan ijtihadnya. 39. K E U T A M A A N O R A N G Y A N G M E M E L I H A R A AGAMANYA f <Ji j ^ . karena hadits tersebut dinukil dari Hercules. Hal tersebut menunjukkan. bahwa hal tersebut tidak dapat dijadikan dalil.ji vi J l ^ a J l ^iJw» p& Cuii-Lf jsq jij vi Usiy jf i L i j . Wallahu A 'lam. bahkan beliau menyebutkannya secara lengkap pada bab "Jihad" dengan sanad yang sama. ^ J i j > jjj IJI AJL^» j j U t J l V ^ **-*jb>«-» i . hal itu sesuai dengan maksud dari Imam Bukhari yang mengatakan bahwa agama adalah iman. Jika ada yang mengatakan. akan tetapi hal tersebut ia dapatkan dari kitab para nabi sebagaimana yang kita sebutkan sebelumnya. bahwa riwayat tersebut shahih dalam segi lafazh dan maknanya. Disamping itu juga bahwa Hercules mengatakan hal tersebut dalam bahasa Romawi.Liiii > j vf ilr iijJi lui o aii bij Jr FATHUL BAARI — 231 .yang menyebutkan bahwa iman adalah agama. kemudian disampaikan oleh Abu Sufyan dengan menggunakan bahasa Arab kepada Ibnu Abbas -yang merupakan salah seoTang ahli bahasalalu diriwayatkan darinya tanpa ada pengingkaran. hal itu disebabkan adanya hubungan yang erat dengan tujuan pembahasan dalam bab ini. Di sini Imam Bukhari meringkas hadits panjang yang diriwayatkan dari Abu Sufyan yang telah kami sebutkan pada bab permulaan turunnya wahyu.

c ^ t . Ketahuilah dalam tubuh ada segumpal daging. "Banyak orang yang tidak mengetahui apakah perkara tersebut halal atau haram. artinya hal-hal yang tersamarkan yang tidak diketahui hukumnya secara pasti. "Perkara yang halal telah jelas dan yang karam telah jelas pula.'. Apabila daging itu rusak. Syaikh Imam Bukhari dengan lafazh. semua raja mempunyai larangan dan ketahuilah pula larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan. yaitu para Mujtahid. Dalam riwayat Al Ushaili kata yang disebutkan adalah.i J * i (Barangsiapa yang menghindarkan diri dari halhal syubhat) artinya berhati-hati dengan perkara yang syubhat. yaitu dalam dzat dan sifatnya sesuai dalil yang zhahir. Maknanya. i ^ ' ^ " D a n diantara keduanya terdapat perkara yang diragukan.52. Antara keduanya ada beberapa perkara yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan orang. Nu 'man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda. K e t e r a n g a n Hadits: l o —r ^ J S * (Yang halal jelas dan yang haram jelas). Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Namun." u-i—tii j — * J_JS V (Tidak banyak orang yang mengetahuinya). sehingga orang yang ragu-ragu adalah selain mereka. sama saja dengan penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang. Kemudian diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Abi Nu'aim. maka baik pula tubuh itu semuanya. yang juga merupakan riwayat Ibnu Majah dengan lafazh Ibnu 'Aun. keduanya sepakat untuk memperoleh hal yang serupa dari dua sisi yang saling bertolak belakang. Hal tersebut dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi dengan lafazh. Yang dimaksud adalah tidak mengetahui hukumnya. Apabila daging itu baik. . terkadang syubhat itu timbul dalam diri para mujtahid jika mereka tidak dapat mentarjih (menguatkan) salah satu diantara dua dalil.—'S adalah bahwa yang mengetahui hukum perkara tersebut hanya sebagian kecil manusia. Perbedaan 2 3 2 — FATHUL BAARI . Ketahuilah. dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya.. daging tersebut ialah hati. maka binasalah tubuh itu seluruhnya.lu yi. oL^Cii. o'4^— £ j (Dan diantara keduanya adalah hal yang meragukan)." Yang dapat dipahami dari kata 'J. Ketahuilah.

Sedangkan mubah adalah pembatas antara hamba dengan yang makruh. Perbedaan para perawi dalam kalimat ini seperti yang telah kami kemukakan. Orang yang menikmati hal tersebut seolaholah menikmati yang dilarang.\ Maksudnya adalah. beliau berkata. Yang melakukan hal tersebut. "Makruh merupakan pembatas antara hamba dan hal-hal yang haram. ada empat penafsiran tentang syubhat. Hadits ini menjelaskan. (Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat). ditakutkan akan jatuh ke dalam yang dilarang. karena orang yang tidak menghindari hal-hal syubhat.'" Artinya bahwa hal mubah yang dikhawatirkan akan menjadi FATHUL BAARI — 233 . maka perilaku dan agamanya akan selamat. maka dia tidak akan selamat dari perkataan orang yang mencelanya. yang dimaksud dengan kata tersebut (syubhat) adalah yang disebut dengan makruh. Ketiga. bentuk jamak (plural) dari kata i'JLl. Telah dinukil dari Ibnu Munir dalam Manaqib Syaikh Al Qabari. Disamping itu para ulama juga berselisih tentang hukum Syubhat. •JLA^IAVI j> g. Barangsiapa yang banyak melakukan hal yang mubah. maka dia telah menyerahkan dirinya untuk dicemooh dan dicela.antara para perawi dalam lafazh hadits. karena kata tersebut mengandung unsur "melakukan" dan "meninggalkan". Kasus ini sama dengan perbedaan pendapat tentang hukum sebelum turunnya syariat. K e d u a . Hal ini mengandung petunjuk untuk selalu menjaga hal-hal yang berkaitan dengan agama dan kemanusiaan. perbedaan ulama yang bermula dari adanya dalil-dalil yang saling bertentangan. adalah seperti sebelumnya. K e e m p a t . Barangsiapa banyak melaksanakan perbuatan yang makruh. terjadinya pertentangan dalil-dalil yang ada. Tapi menurut Muslim dan Ismaili adalah o i ^ i . ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan makruh. seperti disebutkan di atas. maka dia telah menuju kepada hal yang dimakruhkan. yang dimaksud dengan syubhat adalah yang mubah (yang diperbolehkan). maka dia berjalan menuju yang haram. "Buatlah pemisah antara yang halal dengan yang haram. bahwa orang yang tidak menjauhkan diri dari syubhat dalam pencaharian dan kehidupannya. agamanya selamat dari kekurangan dan perilakunya selamat dari celaan. dan dalam hadits tersebut terdapat tambahan. P e r t a m a ." Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Hibban dengan jalur yang disebutkan oleh Imam Muslim tanpa menyebutkan lafazhnya. Ringkasnya. 'J.

j . Akan tetapi kata j — . Misalnya berlebihan dalam halhal yang baik.makruh atau haram. atau dimaksudkan untuk membantah kelompok yang mengingkari qiyas. sehingga artinya menjadi barangsiapa yang 2 3 4 — FATHUL BAARI . akan berani melakukan sesuatu yang haram atau kebiasaannya melakukan sesuatu yang tidak diharamkan tersebut menyebabkannya melakukan sesuatu yang diharamkan. LS Demikianlah yang ditemukan dalam setiap teks Imam Bukhari dengan dihapuskannya jawab syarth apabila kata 'j (orang) dianggap berfungsi sebagai syarth. Kecuali jika yang dimaksud adalah bahwa hal tersebut mujmal dalam hak sebagian tanpa sebagian yang lain. Penghapusan tersebut juga dikuatkan dalam riwayat AdDarimi dari Abu Nu'aim Syaikh Imam Bukhari.dalam lafazh Bukhari dapat pula dianggap sebagai man maushulah (sambung). Atau dikarenakan ada syubhat di dalamnya sehingga orang yang mengerjakan sesuatu yang dilarang. hatinya akan gelap karena kehilangan sifat wara ' (kehati-hatian) dalam dirinya. Dengan demikian maka tidak ada penghapusan di dalamnya. maka harus dijauhi. dimana hal itu akan menyebabkannya jatuh ke dalam hal yang haram. ?• fj—S' (Seperti penggembala yang menggembalakan). "Orang yang meninggalkan dosa yang diragukan. Dalam riwayat tersebut adalah. maka dikhawatirkan akan jatuh kepada sesuatu yang jelas (dilarang)" Hadits ini merujuk kepada pendapat pertama sebagaimana yang saya isyaratkan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Buyu' (jual beli) dari Abu Farwah dari Sya'bi yang berkaitan dengan hadits ini. masih harus diteliti kembali.^> £ — b ^JJ' ^ 'g 3 j i (Barangsiapa yang 1 melakukan sesuatu yang diragukan maka dia terjatuh ke dalam yang haram seperti penggembala yang menggembalakan). maka sesuatu yang jelas baginya adalah harus lebih ditinggalkan. Catatan: Ibnu Munir menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk membolehkan tetapnya hukum "mujmal" setelah Rasulullah. i-'J. Adapun dalam menjadikannya sebagai dalil. karena hal itu akan menuntut seseorang untuk banyak bekerja yang terkadang dapat menyebabkannya mengambil sesuatu yang bukan haknya atau melalaikan ibadahnya. Sedangkan orang yang mengerjakan suatu dosa yang diragukannya.^—^' *fjJ> f ^ . Tidak diragukan lagi bahwa orang yang banyak melakukan sesuatu yang makruh.

Sebagian ulama mengklaim bahwS^terumpamaan tersebut adalah perkataan Sya'bi dan ia termasuk mudarri/ dalam hadits. Catatan: " . '"Saya tidak tahu apakah perumpamaan itu berasal dari perkataan Nabi atau perkataan Sya'bi. keragu-raguan Ibnu 'Aun menetapkannya sebagai hadits marfu' tidak menjadikannya sebagai hadits yang berstatus mudarraj. menjauh dan tempat itu adalah lebih selamat baginya. Oleh karena itu. betapapun ketatnya pengawasan seseorang terhadap binatang gembalaannya. Secara terminologi. maka perkataannya JSjl ^'S berfungsi sebagai kata awal untuk menarik perhatian terhadap sesuatu yang belum terjadi dengan sesuatu yang ada.melakukan sesuatu yang diragukan. sedangkan daerah larangan masih subur sehingga dia tidak dapat menguasai dirinya dan masuk ke dalam daerah tersebut. Orang yang takut akan hukuman dan mengharapkan ridha sang raja. Pendapat tersebut diceritakan oleh Abu Amru Ad-Dani. penjelasan FATHUL BAARI — 235 . Oleh karena itu. Oleh sebab itu. karena penghapusan tersebut diperkuat dengan riwayat Muslim dan yang lainnya dari jalur Zakaria yang juga merupakan riwayat Imam Bukhari. dan saya tidak memperhatikan dalil-dalil mereka kecuali yang dimiliki oleh Ibnu Jarud dan Ismaili dari riwayat Ibnu 'Aun dari Sya'bi. keragu-raguan sebagian mereka tidak mempengaruhi hal tersebut. Ada anekdot dalam perumpamaan tersebut. Rasulullah mengumpamakannya dengan sesuatu yang masyhur atau dikenal oleh mereka. Sedangkan orang yang tidak takut. Ibnu 'Aun berkata dalam akhir hadits. maka dia akan menjauhi tempat tersebut karena khawatir ternaknya akan masuk ke dalam daerah tersebut." l t Menurut saya. karena beberapa perawi yakin bahwa hadits tersebut berstatus marfu'. Pendapat pertama lebih utama untuk diterima. yaitu raja-raja Arab melindungi para pengembala mereka di suatu tempat khusus dengan ancaman hukuman berat bagi orang yang menggembalakan ternaknya di tempat itu tanpa izinnya. akan menggembalakan ternaknya di dekat tempat tersebut tanpa ada jaminan bahwa tak ada satupun ternaknya yang memisahkan diri dan masuk ke dalam daerah tersebut. mudarrij adalali yang berubah sanadnya atau dimasukkan dalam matannya sesuatu yang berasal dan luar tanpa ada tanda. Berdasarkan hal ini. Atau tempat yang ditempatinya sudah gersang dan tidak ada tumbuhan. maka orang tersebut seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya. Begitu pula dengan tidak dituliskannya 1.

Riwayat yang menguatkan tidak adanya idraj dalam hadits ini adalah riwayat Ibnu Hibban. Agaknya inilah rahasia penghapusan kata H ' ^ J i j . Penggunaan kata lii menunjukkan hal tersebut biasa terjadi dan bisa juga berarti "jika" seperti yang ada di riwayat ini.juga tidak berpengaruh terhadap perawi yang mencantumkannya. dorongan untuk memperbaikinya dan isyarat bahwa naflah yang baik memiliki efek terhadap hati. yaitu pemahaman yang diberikan oleh Allah. karena sifatnya yang selalu berubah atau karena dia adalah bagian badan yang paling bersih. — U i j * * . atau juga karena dia diletakkan terbalik dalam badan. Hadits ini mengandung peringatan akan pentingnya hati. Yang dimaksud dengan *J<—^ adalah perbuatan yang diharamkan atau meninggalkan pekerjaan yang wajib. berfungsi memperingatkan bahwa setelahnya adalah kebenaran." dan firman Allah. " Para ahli 2 3 6 — FATHUL BAARI . Dengan demikian. karena hati adalah pemimpin badan. "Mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami. (jatuh ke dalam yang haram) dalam riwayat Al Bukhari. huruf "waw" j>.j u ^ sesungguhnya larangan Allah). agar apa yang disebutkan sebelum perumpamaan berkaitan erat dengannya. Sedangkan kata S '. Dalam riwayat Mustamli tidak menggunakan kalimat Dzarr. maka dalam riwayat sebagai 1 Abi Farwah diinterpretasikan kata *j^S^ dengan " (kemaksiatan) ganti dari (yang diharamkan). maka hadits tersebut selamat dari tuduhan mudarraj. dan dicantumkannya perumpamaan tersebut dengan status marfu" dalam riwayat Ibnu Abbas dan juga Ammar bin Yasir. „>i vi (Sesungguhnya larangan Allah di bumiNya adalah hal-hal yang diharamkan-Nya). sedangkan dalam riwayat selain Abu (Dan dicantumkan dalam k a l i m a t . karena mereka adalah huffazh (para penghafal hadits). "Sesungguhnya dalam semua itu terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati. Pendapat tersebut dapat dijadikan dalil bahwa akal berada di hati berdasarkan firman Allah. Jika pemimpinnya baik maka rakyat pun akan baik. ^-—^iU> lij dan — '-j iji. Dikhususkannya hati dalam hal ini.perumpamaan tersebut dalam riwayat beberapa perawi -seperti Abu Farwah dari Sya'bi. 4JJ1 j ^ . -iiUi (Segumpal darah) dinamakan hati (l1»). demikian pula sebaliknya.

"Berzuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia. Adapun korelasi dengan kalimat sebelumnya adalah bahwa asal dari ketakwaan dan kehancuran adalah hati." FATHUL BAARI — 237 . Fondasi agama menurut kami adalah kalimat-kalimat yang disandarkan kepada sabda khairul barriyah (manusia yang paling baik) Tinggalkan yang syubhat dan berzuhudlah kemudian biarkan yang tidak ada di depan matamu lalu berbuatlah dengan niat. "Hal tersebut dikarenakan hadits tersebut mencakup perincian tentang halal dan haram serta yang lainnya.(sakit) sebagai ganti (-^Ce (baik) dan (rusak). Penambahan tersebut hanya ditemukan dalam riwayat Zakariya dari As-Sya'bi. A! Qurthubi berkata. maka seluruh hukum yang ada dapat merujuk kepadanya. Adapun disebutkannya hati. para ulama mengagungkan hadits ini dan menganggapnya sebagai faktor keempat dari 4 faktor yang mendasari hukum sebagaimana yang dinukilkan dari Abu Daud.. bahkan kebanyakan riwayat yang berasal dari Sya'bi tidak ada kalimat tersebut." sebagai ganti dari kalimat. Kemudian diikuti oleh Mujahid pada riwayat Ahmad.tafsir mengartikan hati dengan "akal". Abu Daud menganggap kalimat. serta adanya hubungan yang erat antara perbuatan dengan hati. Ada dua bait yang masyhur tentang hal tersebut. Oleh karena itu. "Apa yang aku larang maka jauhilah. Kemudian dalam beberapa riwayat digunakan kata (sehat) dan jU.." Ibnu Arabi mengisyaratkan bahwa hadits tersebut mencakup seluruh hukum syar'i. Pelajaran Yang Dapat Diambil Kalimat i .i ^ i JUJI j t j \ vi hanya ditemukan dalam riwayat As} Sya'bi. Mughirah dan lainnya pada riwayat Thabrani. karena hati adalah tempat bersemayamnya akal. karena ia adalah pemimpin tubuh.

Kemudian dia berkata kepadaku.• . f r LS ip J S j & .' jawab mereka. lalu dia berkata kepadaku. > ^ - 1 ^ j j j J J l J i i o O > . ^ O ' W f ^ ° . Mereka menjawab.j l ^ l i ^ j l j AJJI f e $ .f j i) * ji ^ j u Vj Lj1j>=- Aji Jii ^il^ r^^^ j ' fy^^.' Diucapkan oleh beliau tanpa maksud untuk menghina dan menyesal. ' ' i *ul 1 y i s o O ^ . 'Ya Rasulullah. Abu Jamrah berkata. f * i' ill V 0> ojL^i> ' i * ' . beliau bertanya kepada mereka. 'Utusan dari suku manakah anda semua?' 'Dari suku Rabi 'ah. "Ketika utusan Abui Qais datang kepada Nabi. . 'Aku duduk bersama Ibnu Abbas di atas dipannya.40. akan kuberikan kepadamu sebagian hartaku. iy\ uJ _4^i J-* j ( r i_jJi—a ^ i J u j *J ^ 1 .'" Maka aku pun tinggal di rumahnya lebih kurang 2 bulan lamanya.f • 1I ' ji\ 9 JjJI cJiS" Jii o s . Rasul pun bersabda.IjJJlj j » i ^ J l 53. * j > *' B « > y\o-o>-\ ' " i '> 9 ' ' $* ' * J 9 ' i' ' 9 9 Jl—ij ^ <Ljl J i i C H J J C J J A J I J j i f J l j «. 'Tinggallah di rumahku.^ j ^ l ' j lil'j fljiJl ^ J J l ^ B_ y ' ' *• y ' V I i L j l ' Oi ^ y ' r ^— *- V ifl iul J j l j b' S j* jA* < s v j O *- J *-A> j Wlj_J ^ J Aj ^ ^ ^ o J^S 4 0 \jy^ # r t jUS y ° ^ * *t ^ ^ y IJj> 0 a JLJ 'a ° s t 0 e of * t jjil AJ^-jj * . M E L A K S A N A K A N 1/5 D A L A M P E M B A G I A N R A M P A S A N P E R A N G A D A L A H S E B A G I A N DARI IMAN Jl # - a s oj j * * *. kami tidak 2 3 8 — FATHUL BAARI . \' 0 ^ 1 'jf0 3 -3 -_ r . 'Selamat datang wahai para utusan.j <U)b *< * oL-S'jJl l i i j o">Cflil ^ l i l j «OJl J j .j AU L O U J ^ I * .

kemungkinan yang kedua lebih kuat karena Abu Jamrah duduk bersamanya. maka tidak ada perbedaan antara keduanya pada saat berhadapan dengan banyak orang. 'Ingatlah semua itu dan sampaikan kepada orang kampung anda. Ada yang mengatakan bahwa Abu Jamrah mengetahui bahasa Persia dan menerjemahkannya untuk Ibnu Abbas. puasa di bulan Ramadhan dan memberikan 1/5 harta rampasan perang kepada baitul mal Rasulullah melarang mereka untuk melakukan 4 perkara yaitu. Dubba 3.dapat menemui anda kecuali pada bulan Haram ini. "Asal kata terjemah digunakan untuk mengungkapkan satu bahasa ke dalam bahasa lain. Muzaffat. Hantam 2. agar kami semuanya masuk surga. 'Mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. 'jawab mereka. bahwa Ibnu Abbas hanya menggunakan satu penterjemah. di sini kata tersebut memiliki arti yang lebih umum. karena dia menyampaikan perkataan Ibnu Abbas kepada orang yang tidak mengerti dan dia menyampaikan kepadanya perkataan mereka yang disebabkan oleh terlalu banyaknya orang yang berbicara atau pemahaman yang kurang.'" Keterangan Hadits: j\ iiif ois~ (Saya duduk di atas dipan bersama Ibnu Abbas) Dalam kitab Ilmu dari riwayat Ghundar dari Syu'bah. Rasul memerintahkan mereka untuk mengesakan Allah. maka Nabi menyuruh mereka melaksanakan 4 perkara dan melarang 4 perkara yang lain. Atau barang kali mugayyar (sebagai ganti dari naqiir). karena diantara negeri kami dan anda masih terdapat kampung Mudhar yang kafir. membayar zakat. bahwa Ibnu Abbas duduk di tengah dan Abu Jamrah duduk di pinggir tempat tidur di sebelah orang-orang yang diterjemahkan.' Kemudian mereka menanyakan kepada Nabi tentang meminum minuman keras." Menurut saya. Lafazhnya adalah. Naqiir 4. Nabi bersabda. Oleh karena itu." FATHUL BAARI — 239 . Sedangkan menurut saya. "Sayalah yang menjadi penerjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. I. "Dalam hadits ini ditemukan dalil. Imam Bukhari menjelaskan sebab penghormatan Ibnu Abbas kepadanya (Abu Jamrah). Rasulullah SA W bersabda.'Kemudian Rasulullah menyuruh mereka menegakkan shalat. Al Qurthubi berpendapat." Ibnu Shalah berkata. 'Tahukah kalian apa artinya iman kepada Allah satu-satunya?' 'Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Sabda Rasulullah SAW. Tapi dapat ditafsirkan. berilah kami pengajaran yang jelas dan tegas supaya kami sampaikan kepada orang-orang kampung kami.

Ibnu Tin mengambil kesimpulan diperbolehkannya mengambil upah mengajar berdasarkan kalimat. maka penyebutan namanya di sini mempunyai korelasi yang cukup kuat. ^ i*j J'J ~~ (Kemudian berkata. "Jangan engkau minum walaupun lebih manis dari madu." Ketika Abu Jamrab datang dari Abdul Qais. Abu Jumrah atau yang di bawahnya. Beliau berkata setelah kalimat y—~>' J — ( d a n diantara orang-orang)." Dalam riwayat Bukhari pada akhir kitab Al Maghazi disebutkan dari jalur Qurrah dari Abu Jamrah yang berkata. "Wahai Ibnu Abbas aku memeras anggur yang manis dalam sebuah belanga dan meminumnya. _ _ . "Sesungguhnya utusan Abdul Qais. seperti yang akan disampaikan oleh Imam Bukhari dalam "Kitab Haji"." Cmrthubi berkata. Agak aneh jika Al Karmani berkata. Hal ini membuktikan bahwa Ibnu Abbas belum mendengar tentang penghapusan larangan memeras anggur.Menurut saya. "Keragu-raguan tersebut berasal dari Ibnu Abbas. karena dalam riwayat Qurrah dan lainnya tidak disebutkan keragu-raguan beliau. "Datanglah seorang perempuan yang menanyakan tentang anggur Al Jar. "Siapakah suku ini?" atau "Utusan siapa ini?"). Ibnu Abbas pun melarang hal tersebut."' Berkatalah Ibnu Abbas. "Ambillah sebagian dari hartaku". 'Saya memiliki belanga yang berisi anggur perasanku untuk kuminum. Saya menduga Syu'bah." Wanita tersebut berkata. Al seorang dalilnya. dimana mereka membicarakan tentang larangan memeras anggur dalam bejana. Terdapat keraguan pada salah satu perawi. "Wanita tersebut berkata. Dengan kemungkinan bahwa pemberian tersebut disebabkan mimpi yang dilihatnya dalam umrah sebelum haji. "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa mufti harus menyebutkan dalil jika penanya mengetahui jf 'v—ili ^ Jii j Jii \'Jl (ketika mereka iJy'i mendatangi nabi." 2 4 0 — FATHUL BAARI . maka beliau bersabda. Dari hadits tersebut. tapi penghapusan tersebut tercantum pada hadits Buraidah bin Al Hashib dalam riwayat Muslim dan lainnya. akan tetapi perutku bergejolak. jika terlalu banyak minum maka orang-orang akan duduk karena takut muntah. Imam Muslim menjelaskan sebab terjadinya percakapan antara Ibnu Abbas dan Abu Jamrah dalam suatu riwayat Ghundar dari Syu'bah. "Hadapkan kepadaku utusan Abdul Qais. Imam Bukhari membahas kasus tersebut dalam bab khusus pada akhir kitab Al Ahkam.")." Ibnu Abbas pun berkata.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Ad-Daulabi dan yang lainnya dari jalur Abu Khairah Ash-Shu'bah yang dinisbatkan kepada Shubah Bathan yang berasal dari Abdul Qais dikatakan. bahwa telah disebutkan dalam riwayat Ibnu Sa'ad salah seorang diantara mereka adalah Uqbah bin Jarwah. Harits bin Jundub. Imam Bukhari menyebutkan nama A z . "Kata J j—>j adalah kelompok pilihan yang diutus untuk pertemuan besar. bahwa mereka adalah delegasi dari Abdul Qais. Kemudian Munqidz bin Hibban. "Siapakah kalian?" Mereka menjawab. dengan mengatakan bahwa 13 orang tersebut adalah para pemimpin delegasi. Ubaidah bin Hammam. bentuk tunggalnya adalah JJ*. kita dapat memadukan riwayat ini dengan riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa delegasi tersebut berjumlah 13 orang. Dalam kitab Al Adab. Mereka semua adalah 6 orang yang tersisa dari 14 orang tesebut. Lalu dia bertanya. Shahar bin Abbas." Saya katakan. Haris bin Syuaib. kemudian dalam kitab Al Ma'rifah karangan Abi Nu'aim disebutkan Juwairiyah Al Abidi. Mazidah bin Malik. ' Dari jurusan ini akan muncul para pengendara kuda yang merupakan orang-orang terbaik di wilayah barat. Kemudian dalam beberapa riwayat disebutkan nama lain delegasi Abdul Qais."' Kemudian berdirilah Umar dan menemukan 13 orang pengendara kuda. Amru bin Marhum. dan ada kemungkinan di antara mereka ada yang tidak menunggang kuda. diantaranya adalah Mundzir bin A'idz yang disebut sebagai Asaj. Nama mereka disebutkan oleh pengarang kitab At-Tahrir dalam syarh Muslim.An-Nawawi berkata. yang telah disinggung dalam riwayat Muslim tanpa disebutkan namanya. Dalam kitab Al Ma 'rifah dari jalur Hud Al 'Ashri yang dinisbatkan kepada Ashr Bathan dari kakeknya dari ibunya Mazidah. diantaranya adalah Akhu Zarra' yang F A T H U L BAARI — 241 . Delegasi Abdul Qais ini terdiri dari 14 orang dan Asaj yang paling tua. ia berkata. Kemudian beliau melarang kami akan. "Saya salah seorang dari delegasi yang menghadap Rasulullah dengan jumlah 40 orang. Dalam Musnad Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah disebutkan nama Rustum Al Abidi. "Ketika Rasulullah sedang duduk berbicara dengan para sahabatnya tiba-tiba beliau berkata. Oleh sebab itu. bahwa utusan tersebut berjumlah 14 orang.." Di sini.Z a r i ' b i n Amir Al Abidi.. Lalu disebutkan pula dalam sunan Abu Daud Qais bin N u ' m a n Al Abidi yang juga disebutkan oleh Khatib dalam kitab Al Mubhamaat. mereka menunggang kuda sedangkan yang lainnya adalah para pengikut mereka.. Tidak ada dalil dalam menyebutkan. Dalam Musnad Al Bazzar dan sejarah Ibnu Abi Khaitsamah disebutkan nama Jahm bin Qatsam.

tapi jika diakhiri dengan kasrah (J. u 'i j (Tidak sedih). Tambahan ini diriwayatkan oleh Al Baghawi dalam kamusnya.(Selamat datang)..berarti yang ditimpa penyesalan. ^ — . demikian dikatakan oleh An-Nawawi dan diperkuat dengan riwayat Imam Bukhari dalam kitab Adab dari jalur Abi Tayyah dari Abi Jamrah.\ 'jx\ j±'y\L >^J. Dalam hadits Ummu Salamah.'JJ. Panjangnya pembahasan ini karena pengarang At-Tahrir berpendapat. Di dalamnya terdapat dalil disunnahkannya untuk memperlakukan suku tersebut dengan baik dan juga hal tersebut telah disepakati oleh Nabi. "Marhaban bi Ibnati" (selamat datang kepada anakku) dan semuanya benar. Khuzaimah bin Abdu bin Amru. Ibnu Abi Jamrah berkata. dan yang dimaksud di sini adalah mereka masuk Islam dengan suka rela tanpa peperangan atau ditawan. "Marhaban li Raakib Al Muhajirin. Ditemukan dalam riwayat An-Nasa'i dari 1 jalur Qurrah. Yang masyhur adalah penulisan yang pertama. Lalu ada pula Nuh bin Makhlad -kakek Abi Jamrah-dan juga Abi Khairah As-Shubahi seperti yang disebutkan di atas.—«•). bahwa yang pertama kali mengucapkan salam adalah Saif bin Dzi Yazan. Semuanya disebutkan oleh Ibnu Syahin dalam Mu'jamnya. bahwa hanya merekalah yang ditaklukkan. i — ^ . maka menunjukkan sifat. Kemudian Ibnu Sakan meriwayatkan nama Musyammaraj AsSa'di yang datang bersama dengan delegasi Abdul Qais. maka menunjukkan hal (kondisi). jte li j &'y. bahwa kalimat j * Vj & menunjukkan anjuran untuk bertanya kepada orang yang mempunyai maksud tertentu supaya dapat diketahui sehingga kita dapat menempatkan sesuai dengan posisinya. (selamat datang para delegasi tanpa penyesalan dan kesedihan). dimana peperangan dan penawanan itu menyebabkan mereka menyesal dan sedih. "Marhaban Wa 'alaika Salaam.bernama Mathar dan keponakannya yang tidak disebutkan namanya. "Selamat datang kepada para delegasi yang tidak ada 2 4 2 — FATHUL BAARI . kemudian dalam kisah Ikrimah bin Abi Jahal disebutkan lafazhnya adalah. Kata ^ jika diakhiri dengan fathah Q—«•). Diantara mereka juga terdapat Jabir bin Harits. Kemudian AnNasa'i meriwayatkan bahwa Rasulullah mengatakan. Askari menyatakan.\ . Hammam bin Rabi'ah dan Jariah bin Jabir." Kemudian dalam cerita Fatimah juga disebutkan." !_~>y/~ 'jl—* (Tidak merasa menyesal). Kata 'j'j. "Marhaban li Ummi Hani'" (selamat datang wahai Ummi Hani').

Hai tersebut karena kabilah Mudhar selalu mengagungkan bulan Rajab. Begini pula dalam ucapan mereka. Penjelasannya ditemukan dalam riwayat Baihaqi. mereka berkata -seperti yang ditemukan dalam riwayat Syu'bah dalam kitab Al 'llm. Ibnu Abu Jamrah berkata. (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui). Pelaksanaan shalat Jum'at setelah kepulangan utusan mereka mengisyaratkan bahwa mereka telah lebih dahulu memeluk agama Islam. L'ntuk itu hadits ini menjadi dalil diperbolehkannya memuji orang lain di hadapannya jika tidak menimbulkan fitnah. Hal ini membuktikan bahwa kabilah Abdul Qais lebih dulu memeluk Islam daripada kabilah Mudhar." Kemudian yang dapat dijadikan dalil bahwa keislaman mereka lebih dahulu. Rasulullah bersabda. "Perintahkanlah kami untuk melaksanakan sesuatu." Ada yang berpendapat bahwa huruf lain dalam kalimat tersebut menunjukkan sesuatu. "kecualipada setiap bulan haram. Daerah yang didiami oleh Abdul Qais terletak di Bahrain. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka telah memeluk Islam ketika menghadap.kesedihan dan penyesalan." ^ J . mereka mengkhususkan bulan Rajab dengan keagungannya meskipun dilarang berperang pada 3 bulan yang lain. "Diberitakan kepada mereka kebaikan pada saat ini (dunia) atau nanti (akhirat). yaitu bulan Rajab. ^—j-' 1 •I'J—*Ji ^ — t S\ (Kecuali pada bulan haram). karena penyesalan itu timbul di belakang atau kemudian hari. "Kuperintahkan kalian" dan dalam riwayat Bukhari dari Abi Tayyah bahwa kata tersebut disebutkan dalam FATHUL BAARI — 243 .—'u—i 1 Ji—li (Mereka berkata." Dalam riwayat Hammad bin Zaid dan vang lainnya. maka yang timbul adalah sebaliknya (kegembiraan). adalah riwayat dalam masalah shalat Jum'at dari jalur Abu jamrah dari Ibnu Abbas yang berkata. "Kecuali pada bulan-bulan haram" Juga dalam riwayat Harumad dalam kitab Al Manaqib disebutkan. ~j^C.'' Ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari jalur Syu'bah." Juwatsi adalah nama kampung mereka yang terkenal. Berdasarkan hal ini.j ^ S dan U>l U'JLJ. Hal itu diperkuat dengan riwayat Qurrah dalam kitab Al Maghazi dengan lafazh. Secara eksplisit. Jika tidak ada penvesalan. "Kami mendatangi anda dari jarak yang jauh. "Shalat Jum 'a r yang aku lakukan kedua setelah di masjid Rasul adalah di masjid Abdul Qais di Juwatsi Bahrain. "Rajab Mudhar". J—Ui & (Pengajaran yang jelas dan tegas). '"Wahai Rasulullah!"). maka dalam hadits Abi Bakrah dikatakan. Yang dimaksud dengan syahrul haram adalah mencakup empat bulan suci.

seperti yang terjadi pada masa awal Islam. dan setiap perbuatan yang baik akan masuk surga jika diterima. dapat dibaca kasrah yang diathafkan 2 4 4 — FATHUL BAARI . bahwa disebutkannya huruf athaf (sambung) tidak dapat membantah hal tersebut. menerangkan atau yang menjelaskan.J ^ j_UiJi (pembeda yang jelas). berarti J > ^ i -seperti jliil'i berarti . Adapun disebutkannya dua kalimat syahadat. baik wajib maupun sunah. Tetapi ada kemungkinan mereka menyangka bahwa iman hanya sebatas itu. karena yang dibutuhkan adalah makna bukan lafazhnya. maka mereka menjadikan teksnya khusus bagi sesuatu itu dan membuang yang lainnya. dua kalimat syadahat tidak dimasukkan dalam perintah. Akan tetapi sabda beliau -'iij IH—UJi (Dan menegakkan shalat). adalah untuk tabarru' (mencari berkah) berdasarkan firman Allah. "Ada yang mengatakan bahwa yang pertama dari keempat perkara tersebut adalah menegakkan Shalat. dan ada yang mengatakan •iCkii. »J 'J>J (Kami mengabarkan). Atau mengandung anjuran untuk menanyakan terlebih dahulu persoalan yang lebih penting. "Kami diperintahkan dengan sejumlah perintah" Ucapan tersebut adalah riwayat Qurrah dalam kitab Al Maghazi. \ . "Jika tidak ada huruf athaf. karena mereka telah beriman dan berikrar dengan kelimat syahadah. Ibnu Abi Jamrah mengatakan. Al Qurthubi berkata. Al Khaththabi mengatakan. pji—.yaitu yang memisahkan antara yang benar dan yang salah atau berarti yang memisahkan. Oleh karena itu.bentuk (kerjakan). bahwa ungkapan tersebut mengandung dalil untuk menyatakan udzur jika tidak mampu melaksanakan yang hak. Untuk itu di sini bukanlah bertujuan untuk menyebutkan dua kalimat syahadat. "Ketahuilah apapun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang maka ketahuilah bahwa 1/5 nya adalah milik Allah" (Qs. maka kami menduga penyebutan kedua kalimat syahadat tersebut berfungsi untuk menunjukkan awal kalimat. Demikian yang diriwayatkan oleh Ath-Thibi. . Al Anfaal (8) : 41) Ath-Thibi bersandar kepada pendapat mi dan berkata. Al Qadhi Abu bakar Ibnu Arabi berkata. "Merupakan kebiasaan kaum sastrawan jika menisbatkan suatu tertentu. Diterima atau tidaknya amal perbuatan tergantung rahmat Allah." Ada yang berpendapat. jU^ii (Kemudian memerintahkan mereka akan empat) Yang dimaksud adalah empat perkara berdasarkan ucapan mereka.

. menegakkan shalat. bahwa amalan yang dapat memasukkan mereka ke dalam surga... Ibnu Rasyid menjawab." Jika ada yang mengatakan bahwa tema yang disebutkan oleh Imam Bukhari -melaksanakan 1/5 harta rampasan perang adalah sebagian dari iman. jL_ tyu i—i^l (Aku perintahkan kepada mereka untuk beriman). Beliau pun menjawab.mengharuskan untuk dimasukkan dalam perangai yang lain dalam penafsiran Iman. yaitu mereka bertanya kepada Rasul tentang amalan yang dapat memasukkan mereka semua ke dalam surga. dan riwayat tentang kewajiban melaksanakan 1/5 rampasan perang sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari." FATHUL BAARI — 245 . bahwa kesesuaian antara tema dengan hadits terletak pada segi yang lain. "Dan lakukan dengan kedua tanganmu. sedang makna yang disebutkan bertentangan dengan hal tersebut." yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Al Maghazi.). Yang menguatkannya adalah penghapusan keduanya pada riwayat Imam Bukhari dalam kitab Adab yang berasal dari jalur Abi Tayyah dari Abi Jamrah dengan lafazh. Adapun amalan yang dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga adalah amalan iman. . Jika ada yang mengatakan.pada kalimat." kemudian ditafsirkan dengan "Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah." Sedangkan yang ditemukan dalam kitab Zakat dari jalur ini adalah adanya tambahan huruf waw dalam ucapannya *ii Vj *J\ i' JI SM+i dimana Jt tambahan tersebut tidak mempunyai dasar yang kuat selain Hajjaj bin Manhal dan tidak ada yang mengikutinya. Begitu juga perintah mendirikan shalat dan yang lainnya.. yaitu beriman kepada Allah dan bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan keyakinan adalah satu. perintah kepada mereka untuk beriman bersumber dan disyaratkan dengan dua kalimat syahadat. Maknanya adalah. iy^\ \'Jli\ i ^ u i ^ j i (empat perkara. diantaranya melaksanakan 1/5 dari rampasan perang. "Aku perintahkan kepadamu empat perkara dan melarangmu empat perkara. "Bagaimana dapat dikatakan bahwa syahadat masuk dalam salah satu dari empat perkara sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Hammad bin Zaid dari Abu Jamrah. sehingga melaksanakan 1/5 rampasan perang adalah sebagian dari iman dengan pernyataan ini. yaitu beriman kepada Allah. "Aku perintahkan kepada kalian empat perkara." Yang dimaksud dengan persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah adalah seperti yang diterangkan dalam riwayat Ubadah bin Ibad pada awal kitab Al Mawaqit.

Jika yang diinginkan adalah menafsirkan kata iman. karena haji belum diwajibkan pada waktu itu. "Aku perintahkan kepada kalian empat perkara. sedangkan jihad pada saat itu belum menjadi fardhu 'ain. karena hal itu adalah akibat dari jihad. bahwa kalimat dengan i ji j berkaitan ^ j l . hal tersebut juga berdasarkan lafazh riwayat Muslim dalam hadits Abu Sa'id Al Khudri dalam kisah ini. maka seharusnya kata ganti yang digunakan adalah kata ganti (maskulin). maka artinya adalah "Aku perintahkan kepada kalian empat perkara untuk ditaati". menyembah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan yang lain." 2 4 6 — FATHUL BAARI ." Qadhi Abu Bakar bin Arabi berkata. karena kata ganti dalam perkataan j— Ij \—' disebutkan dalam bentuk cSy (feminim) yang kata gantinya kembali kepada empat perkara tersebut. karena termasuk dalam keumuman mengeluarkan zakat. bagaimana dikatakan empat sedang yang disebutkan adalah lima? Pertanyaan tersebut dijawab oleh Qadhi I y a d mengikuti Ibnu Baththal.Disebutkannya syahadat ilahiah (bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah) dengan maksud dua kalimat syahadat (bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah) adalah sebagai pengetahuan akan hal itu seperti yang telah dijelaskan dalam kitab Ziyadatul Iman. bukan berarti tidak diperbolehkan adanya penambahan." Menurut saya. Berdasarkan hal ini. yaitu keduanya sama-sama mengeluarkan harta dalam jumlah tertentu pada waktu tertentu.bahwa pembagian 1/5 merupakan pengecualian dari empat perkara tersebut. " Yang lainnya berpendapat. ""Kemungkinan dia menghitung shalat dan zakat sebagai satu perbuatan karena keduanya saling bergandengan dalam Kitabuliah. Atau dia tidak menghitung pembagian 1/5 rampasan perang. Ibnu Tin berkata. "Seakan-akan dia hendak memberitahukan kepada mereka kaidah-kaidah keimanan dan apa yang harus mereka lakukan jika terjadi jihad karena mereka berhadapan dengan kabilah Mudhar yang kafir. Hal ini juga menjadi dalil bahwa syahadat termasuk dalam empat perkara tersebut. menegakkan shalat. Begitu pula tidak disebutkan ibadah haji. Maka di sini tidak dimaksudkan menyebutkan pembagian harta rampasan perang secara khusus. Dia berkata. Lalu keempatnya adalah melaksanakan pembagian 1/5 rampasan perang. "Walaupun ganjaran telah didapat dengan melaksanakan empat perkara tersebut. mengeluarkan zakat dan berpuasa pada bulan Ramadhan serta melaksanakan pembagian 1/5 dari rampasan perang.

Sedangkan dapat ditunda {^'P Imam Syafi'i berargumen. Begitu pula dengan larangan. Akan tetapi keyakinan Qadhi lyadh dan Al Waqidi bahwa keislaman mereka terjadi pada tahun ke delapan. tetapi banyak berdasarkan kewajibannya. Sedangkan tiga perkara lainnya dihapus oleh perawi. jika tidak maka kezhahiran tersebut didapat dari teks yang mengatakan bahwa syahadat merupakan salah satu dari empat perkara tersebut berdasarkan kalimat. Seakan-akan Qadhi lyadh ingin menghapus masalah bahwa iman sebagai satu perkara. sehingga tidak bertentangan dengan mazhabnya bahwa haji harus dilaksanakan dengan segera (J'U' j i ) . karena penundaan pelaksanaan haji tidak menggugurkan perintah haji itu sendiri. FATHUL BAARI — 247 . "Secara eksplisit. ia adalah satu yang bisa menjadi banyak sesuai dengan peringatannya. Iman adalah satu. adalah agar orang-orang mencari detailnya dan orang yang mendengar berusaha untuk menghafalnya. Jawabannya adalah.Al Baidhawi berkata. Apa yang dikatakan oleh Qadhi lyadh tentang tidak disebutkannya haji. adalah pernyataan yang kurang dapat diterima. ji—iij. Akan tetapi Qadhi lyadh memilih pendapat yang mengatakan bahwa haji diwajibkan pada tahun kc-9. karena belum diwajibkan untuk dapat dijadikan sandaran. penyebutan tersebut berdasarkan empat bagian yang saling terpisah. Pendapat yang mengatakan tidak disebutkannya haji dalam hadits tersebut karena haji adalah kewajiban yang dapat ditunda (^'J^< J*) tidak dapat diterima. bahwa kewajiban haji J*). Hikmah disebutkannya secara global sebelum ditafsirkan. karena haji diwajibkan pada tahun ke-9 H dan Nabi baru melaksanakannya pada tahun ke-10 H. Artinya iman merupakan kata penyatu dari empat perkara yang disebutkan. jika tidak sesuai maka dia mengetahui bahwa ada yang tidak didengarnya. Jika dia lupa akan detailnya maka dia dapat merujuk kepada angka tersebut. Begitu pula dengan pendapat yang mengatakan bahwa tidak disebutkannya haji adalah karena haji telah dikenal oleh mereka. bisa jadi karena lupa atau diringkas. padahal yang dijanjikan untuk disebut adalah empat perkara. kelima perkara yang ada di sini adalah penafsiran dari iman yang merupakan salah satu dari empat perkara yang dijanjikan akan disebutkan." Sebagian pendapat mengatakan bahwa apa yang disebutkan di atas adalah berdasarkan apa yang tampak (zhahir). dimana pada hakikatnya adalah satu. karena haji diwajibkan pada tahun ke-6 menurut pendapat yang kuat sebagaimana yang insya Allah akan kita sebutkan. dan kita telah memaparkan dalil keislaman mereka sebelum hal tersebut.

dubba'. adalah karena mereka bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang dapat memasukkan mereka ke dalam surga. merupakan jawaban dari "Dia bertanya tentang minuman'" dan masuk dalam kategori J t _ ^ J i « u _ . apa yang diperas dalam hantam. juga tidak dapat diterima. dari Ikrimah dan dari Ibnu Abbas dalam kisah delegasi Abdul Qais. Maksud tersebut diterangkan dalam riwayat Nasa'i dari jalur Qurrah. karena orang yang meriwayatkan dari keduanya dan Nasa'i. padahal masih banyak perbuatan yang lebih dari itu yang harus dilarang. "Yang 2 4 8 — FATHUL BAARI . juga tidak dapat diterima. ini yang berkaitan dengan riwayat Abi Jamrah. Penyebutan haji juga didapati dalam Musnad Imam Ahmad dari riwayat Abban Al Aththar. Di sini larangan Rasul tersebut berdasarkan pada apa yang sering mereka lakukan. dari Sa'id bin Musayyab. Apa yang ditemukan pada bab "Puasa" dari Sunan Al Kubra karya Al Baihaqi berupa penambahan dari jalur Abi Qilabah Ar-Raqqasyi dari Abu Yazid Al Harawi dari Qurrah. Ibnu Khuzaimah. naqir dan muzaffat. karena ketidakmampuan mereka dalam melaksanakan haji tidak harus menjadi penghalang untuk memberitahukan hal tersebut kepada mereka agar dapat melaksanakan haji pada saat yang memungkinkan seperti yang disebutkan dalam ayat.pendapat ini juga tidak kuat. Bahkan tuduhan yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki jalan untuk melaksanakan haji. dari hantam. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak disebutkannya haji dalam riwayat tersebut karena mereka tidak memiliki jalan untuk menunaikannya disebabkan adanya kaum kafir Mudhar. sehingga Rasulullah membatasi jawabannya pada ibadah yang dapat dilakukan oleh mereka pada saat itu. Dapat dikatakan bahwa disebutkannya sebagian perkara kepada mereka. dari Qatadah. : (Dan melarang mereka tentang empat perkara. ibnu Hibban dari jalur Ourrah tidak menemukan kata haji. Hal itu dikuatkan oleh larangan Rasul untuk memeras anggur. J i — k j i jy—&\ (yang dimaksudkan adalah kandungannya) alias apa yang ada dalam hantam dan lainnya. karena pada bulan-bulan tersebut mereka dalam keadaan aman. Rasulullah tidak bermaksud mengabarkan kepada mereka seluruh hukum yang wajib dan yang harus ditinggalkan oleh mereka. karena haji lebih dikenal oleh orang-orang selain mereka. "Dan menunaikan haji ke Baitul Haram" merupakan riwayat yang syadz (cacat).). ^—I'JJU ^—*3u tiijij J. 'y liLp _. "Aku larang kalian akan empat perkara. Agaknya kalimat di atas disebabkan oleh perubahan yang dilakukan oleh Abu Qilabah...

jika dilihat dari tempat.- [. Kata 'S*\j . Rangkaian sanad ini hasan. dan Al Muqayyar adalah apa yang dilapisi dengan pernis. lalu ditafsirkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa hantam adalah wadah hijau. F A T H U L BAAJRI — 249 . penduduk Yamamah melubangi sarang lebah dan memeraskan ruthub dan busur (jenis kurma yang belum masak) kemudian dibiarkan sampai bergejolak dan mati. insya Allah. Imam Bukhari mengambil kesimpulan diperbolehkannya bersadar kepada khabar ahad. Sedangkan dikhususkannya larangan memeras anggur pada wadah ini.—i 2 * ''i'j^i (Sampaikan kepada orang kampung anda). dan Muzaffat adalah wadah yang terkandung di dalamnya zaffat (ter atau pernis).. i . Al Muzaffat adalah apa yang dilapisi dengan aspal. Kata Dubba' adalah sejenis tumbuh-tubuhan seperti labu. maka termasuk anak-anak. Hal tersebut dikatakan oleh pengarang Al Muhkam.mencakup semua yang datang dan tempat mereka. Sedangkan naqir. An-Nawawi berkata yang dimaksud adalah yang basahnya. darah dan rambut. °—isSj. Oleh karena itu dapat dinterpretasikan kepada keduanya. Lagipula penafsiran para sahabat lebih kuat dari yang lain. Dalam Musnad Abu Daud Ath-Thayalisi dari Abi Bakrah dikatakan tentang Dubba'. karena peragian yang ada di dalamnya sangat kuat. yaitu sejenis tumbuhan yang terbakar iika kering dan dipakai untuk melapisi kapal dan yang lainnya.dimaksud dengan kata hantam adalah periuk atau wadah. yaitu hakiki dan majazi. bahwa penduduk Yamamah mengambil qar' dan mencampurkannya dengan anggur kemudian memendamnya hingga bergejolak sampai mati. karena mereka yang mengerti maksudnya. Kemungkinan ada yang meminumnya tanpa sadar. Naqiir adalah inti lebah yang diiubagi dan dijadikan wadah. Sementara hantam adalah wadah untuk membawa khamer. Al Harbi meriwayatkan dalam kitab Al Gharaib dari Al Atha' bahwa hantam adalah periuk yang dibuat dari tanah. Adapun jika dilihat dari masa. kemudian setelah itu ada keringanan untuk memeras di setiap wadah dengan mengharamkan apa yang memabukkan sebagaimana yang akan ditemui dalam kitab Asyrihah. seperti yang akan diterangkan.

Al Israa' (17): 85) maksudnya tergantung niatnya. Barangsiapa hijrahnya demi Allah dan Rasul-Nya. Kalimat -Jy 'C* iij>' j^!> adalah bagian dari hadits yang pertama. Hanya saja tidak ditemukan dalam hadits ini bahwa setiap perbuatan hanya untuk mendapatkan.41. Nafkah seorang pria kepada keluarganya dihitung sebagai shadaqah. puasa dan berbagai hukum.i l f C L * ^SW* ^ j j ? « ' y 1 j LJjJ 54. "Setiapperbuatan dengan niat. «—Jy««* AJJ—L j j *ii J l i f ^ * c . Barangsiapa yang hijrahnya demi dunia yang dikejarnya dan perempuan yang dinikahinya. Dimasukkannya kata hisbah diantara dua 2 5 0 — FATHUL BAARI . K A R E N A SETIAP O R A N G T E R G A N T U N G K E P A D A NIATNYA Maka tema ini mencakup shalat. dan ada yang berkata. haji. Allah berfirman. maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. "Katakanlah setiap orang berbual menurut kebiasaannya masing-masing. akan tetapi \& berargumentasi dengan hadits Umar bahwa setiap perbuatan tergantung niatnya dan hadits Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa setiap amal adalah untuk mendapatkan pahala. pahala semata. dan setiap orang tergantung dengan apa yang diniatkan." Keterangan Hadits: Bab ini menerangkan bahwa setiap perbuatan syar'iyyah tergantung dengan niat dan hisbah (keinginan untuk mendapatkan pahala)." (Qs. wudhu zakat. "Bahkan jihad dan niat. SETIAP P E R B U A T A N HARUS DISERTAI NIAT D A N INGIN M E N D A P A T K A N P A H A L A . maka hijrahnya kepada yang dimaksud. D a n Umar." . Rasulullah bersabda.

Imam Bukhari menyebutkan terlebih dahulu haji daripada puasa berdasarkan hadits "Bunial Islam" yang telah disebutkan. karena Ramadhan itu sendiri telah dibedakan dengan bulan yang lain. adalah untuk menunjukkan bahwa hadits kedua menjelaskan apa yang tidak ada dalam hadits pertama. Oleh karena i m. Sementara yang dimaksud hukum di sini adalah. untuk FATHUL BAARI — 251 . maka mustahil perbuatan tersebut akan terwujud. Dalil mereka adalah. Apabila perbuatan tersebut menimbulkan efek seketika dan telah dipraktekkan sebelum datangnya syariah karena adanya kesesuaian diantara keduanya. Setiap perbuatan yang tidak disyaratkan adanya niat. maka tidak disyaratkan niat untuk menghindari adanya pengulangan yang tidak perlu. karena ada perbedaan pendapat bagi golongan yang tidak mensyaratkan niat dalam wudhu seperti yang dinukil dari Auza'i dan Abu Hanifah serta yang lainnya. Berdasarkan hai tersebut. "Setiap perbuatan yang tidak menimbulkan dampak seketika tetapi dimaksudkan mencari pahala.kalimat yang lain. niat merupakan syarat logis bagi perbuatan tersebut. Ibnu Munir menyebutkan kaidah perbuatan yang memerlukan niat dan yang tidak. akan tetapi merupakan sarana ibadah seperti shalat. kecuali yang mengerjakannya memiliki maksud lain untuk mendapat pahala. Sedangkan perkataan yang harus disertai niat ada tiga. karena penguasa lelah menempati posisi niat tersebut. Dalam hal ini mencakup masalah wudhu. karena dengan niat akan mendapat pahala. jika tidak ada niat. ikrar dan lain sebagainya. perkataan yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menghindari rtya'. Adapun disebutkan puasa di sini sebagai sanggahan bagi orang yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan tidak membutuhkan niat. setiap transaksi yang mengandung peradilan. Mayoritas Ulama berargumentasi tentang diwajibkannya niat dalam wudhu dengan hadits shahih. Pendapat mereka bertentangan dengan tayammum yang juga merupakan sarana akan tetapi disyaratkan niat. Beliau berkata. karena perbuatanperbuatan tersebut tidak akan terwujud tanpa disertai dengan niat. yang mencakup jual beli. wudhu bukan ibadah independen (bebas). adalah karena adanya dalil khusus. maka disyaratkan niat. Kedua." Semua yang bersifat maknawi seperti rasa takut dan raja' (permohonan) maka tidak disyaratkannya niat. maka tidak disyaratkan niat. Pertama. yaitu hadits Ibnu Abbas dalam kisah Syubrumah. Ibadah haji menjadi fardhu bagi siapa yang menghajikan orang lain berdasarkan dalil khusus. nikah. Sedangkan kewajiban zakat akan gugur dengan diambilnya harta oleh penguasa walaupun pemiliknya tidak berniat.

*^ Jj~ (Tergantung niatnya) merupakan penafsiran dari firman Allah. ' ° ' i a y) ' ~ . "Sesuai dengan kehendaknya.->. yaitu Abdullah bin Maslamah. jLriL JUivi (Semua perbuatan tergantung niatnya). " dt. jj>- I^Ap o y t . Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari Al Qa'nabi. J**J L.'f >.ah\ Jl^> £>\ J J^j . 0 '< 55. Semua pendapat tersebut saling berdekatan.'I' 0 j\ o JsA AJ\ .«uli l 5 L? ^ 1 Js' f z ^ J I ' J „' ' • ~ ' ' ' . Dari Abi Mas 'ud radhiallahu 'anhu dari Rasulullah SA W. Dari Mujahid disebutkan kata syakilah (menurut kebiasaan masing-masing) berarti thariaah (jalan) atau arah.membedakan kalimat lain yang tidak dimaksud. Ketiga. dan ini adalah pendapat mayoritas.j^j e . — ' j — 3 (Akan tetapi jihad dan niat).. *_i j J 1 4 . Demikian pula : ditemukan dalam riwayat Malik dengan menghilangkan kata CJ\ pada permulaannya.A l . Namun ada yang mengartikan agama. '9 ' . ^*1" s j* 'I' '' I ' 1' A 0 ^ ^ ii •" ' 0 i ' i ' i'.l y l «01! L«>j j i i J AJIAJ j ^ ." J\_s .. 'Apabila seorang pria menafkahkan hasil usahanya kepada keluarganya maka perbuatan tersebut dianggap sedekah baginya. Ji ji-^Jl j i l l lisi J i i s ' O i .* «uli." Ditafsirkannya kata syakilah dengan niat dapat dibenarkan dengan riwayat dari Hasan Al Bashri dari Muawiyah bin Qurrah Al Muzani dan Qatadah yang diriwayatkan oleh Abdu bin Humaid Ath-Thabari dari mereka. 2 5 2 — FATHUL BAARI . "Tidak ada hijrah setelah jathu Makkah" dan hadits ini dimasukkan oleh Imam Bukhari dalam status maushul dalam kitab Jihad dari jalur Thawus. ' y. membuat kalimat baru untuk keluar dari pembicaraan sebelumnya. fCalimat tersebut merupakan bagian dari hadits Ibnu Abbas yang awalnya.

" Hal ini dalam perbuatan tersebut mempunyai efek pada diri manusia. maka perbuatan yang diarahkan untuk mencari pahala akan mendapatkan pahala dengan kemurahan Allah. Sedangkan yang dimaksudkan di sini adalah sabdanya. insya Allah. kecuali diberi pahala oleh Allah. Menurut saya. bahwa Rasulullah SA W bersabda. namun dimaksudkan siapa saja yang berinfak.'" Pembahasan tentang hal tersebut akan ditemukan dalam kitab Washiah. j 'i yang merupakan riwayat paling banyak." Mereka pun berkata. yaitu apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Dzarr. maksudnya pahala yang '3—fa "j. apakah kalian tidak melihat jika dia menyalurkannya pada yang haram (maka dia akan mendapat dosa). karena asal kata tersebut tidak ada huruf mim yang berdasarkan bentuk pluralnya (jamak) ' adalah «ij—i' dan tashghirnya menjadi *Jy. "Benar. "Apakah jika salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya maka dia akan diberi ganjaran?" Beliau menjawab. ada yang lebih jelas dalam maksud ini daripada meletakkan makanan. "Mengharapkan dengan perbuatan tersebut wajhullah (ridha Allah). . Menurut Al Kasymihani (Semata-mata karena Allah).di Makkah. lalu bagaimana dengan perbuatan yang tidak mempunyai efek pada diri manusia? Perumpamaan dengan suapan makanan adalah mubalaghah (menekankan dengan sangat) dalam merealisasikan kaidah F A T H U L BAARI — 253 . Perkataan beliau yaitu.56. l u y i jv* j adalah (Kepada mulut istrimu). "Dan dalam kemaluan kalian ada sedekah. 'Sesungguhnya engkau tidak menafkahkan (harta) semata-mata karena Allah. Qadhi lyadh berkata bahwa riwayat terakhirlah yang paling benar. Pencantuman mim cocok pada bentuk ifrad (tunggal). Kalimat ini merupakan bagian dari hadits Sa'ad bin Waqqas pada saat Rasulullah menjenguknya -karena sakit. bahkan apa yang anda berikan untuk makan istri anda akan diberi pahala juga oleh Allah. sedangkan dalam bentuk idhafah pencantuman tersebut tidak cocok.—Ui berasal dari Allah. " Keterangan Hadits: jx![ (Sesungguhnya engkau^ yaitu Sa'ad bin Abi Waqqash. Dari Sa'ad bin Abi Waqqas radhialiahu 'anhu telah diceritakan kepadanya. " Dari hadits tersebut An-Nawawi dapat mengambil kesimpulan. "Aku mewasiatkan setengah hartaku. bahwa pembagian yang sesuai dengan syariat tidak akan mengurangi pahala.

Kemudian juga.jOlJ ^ U i l j SIS^I ftll-lj e ^ J l 57. £ a t a / a n ' r bin Abdullah. pemimpin Oj . 42. BAB SABDA R A S U L U L L A H SAW.' '' 1 2 5 4 — FATHUL BAARI . " .ini. atau orang yang melaksanakan ketaatan yang tingkat kesulitannya berada di atas harga sesuap makanan? Terakhir. berbeda dengan memberi nafkah kepada orang lam. membayar zakat dan berlaku jujur terhadap semua orang muslim. "Saya bersumpah kepada Rasulullah SAW akan menegakkan shalat.AJJ^j* Ali Iy^Sj "Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. "Agama adalah keikhlasan bagi Allah. lalu bagaimana dengan orang yang memberikan beberapa suapan bagi orang yang membutuhkan. Rasul-Nya dan para kaum muslim dan kaum awamnya" Firman Allah. hadits ini berhubungan dengan hak istri yang dinikmati manfaatnya oleh suami. Karena jika dia diberi pahala dengan sesuap makanan kepada istrinya pada saat tidak membutuhkan. biasanya memberikan nafkah kepada istri merupakan panggilan jiwa. karena apa yang diberikan kepada istrinya bermanfaat bagi kesehatan badannya yang dimanfaatkan pula oleh sang suami.

telah diceritakan dari Muhammad bin Ubbad dan Sufyan. Hadits ini termasuk dalam hadits yang dikatakan sebagai salah satu dari empat pilar agama. dan taubat telah menjahitnya. Disebutkannya di sini menunjukkan keabsahan hadits tersebut. maka artinya adalah sebagian besar agama adalah keikhlasan seperti yang disebutkan dalam hadits Ada pula kemungkinan untuk diinterpretasi secara zhahir. Ia berkata. bahwa Suhail menceritakan kepada kami dari Atha' bin Yazid. karena tidak masuk dalam syarat Imam Bukhari. Had dicantumkan oleh Imam Bukhari sebagai tema. dia menyatukan kembali saudaranya dengan nasihat. i—kl^D'i 'jt^ (Agama adalah keikhlasan). Ia berkata. bahwa Rasulullah S A W bersabda. Kata 3—kl-il'i adalah kata yang masih mengandung pengertian umum. Kemungkinan digunakan untuk (melebih-lebihkan). "Saya mendengarnya dari orang yang mendengar dari ayahku.—'yj\ seakan-akan dosa telah merobek agama. bahkan tidak ada kata tunggal yang dapat mengartikan kata tesebut. Termasuk dalam hal ini adalah ^. " Imam Muslim meriwayatkan. seperti kain jahitan yang disatukan dengan jarum. maka kami be "Untuk siapa ya Rasulullah?" Beliau bersabda. yang berarti memperoleh keuntungan bagi orang yang dinasehati. dimana ia mendengarnya pada saat beliau berkata kepada Abu Shalih dan menyebutkan hadits tersebut. bahwa i — ^ r 1 1 1 berarti membersihkan. "Saya katakan kepada Suhail bin Abi Shalih bahwa Umar menceritakan kepada kami dari Al Oja^a' dari ayahmu tentang hadits ini. Tidak diriwayatkannya dengan rangkaian sanad. Arti ini merupakan ringkasan dari makna kata tersebut. sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Muhammad bin Aslam AthThusi. atau berasal dari kata JJUIii yang berarti menjahit dengan jarum. 'Agama adalah keikhlasan. Saya menduga ada salah seorang dan rawi yang terlewati. karena setiap pekerjaan tanpa keikhlasan dari pelakunya bukan bagian dari agama. "Agama adulah keikhlasan" jalla." Kemudian dia berkata. mubalagah "Haji adalah Arafah" Al Mazi berkata. yaitu Atha' bin Yazid. Maksudnya. Ayat dan hadits yang disebutkannya dari Jarir juga mencakup isi hadits berikutnya. mengikhlaskan.'" "Untuk Allah azza Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Rauh bin Al Qasim.—-Oi . dari Tamim Ad-Dari. FATHUL BAARI — 255 . yang merupakan salah seorang sahabatnya di Syam.Keterangan Hadits: Sabda Rasulullah SAW.

m e m a h a m i maknanya. m e n g a m a l k a na p a yang a d a di dalamnya d a nm e n j a u h k a n penyimpangan yang dilakukan oleh golongan batil." A d a p u n ikhlas k e p a d a kitab Allah. memperbaiki kelakuan m e r e k a ketika khilaf. kita d a p a tm e n g a t a k a na g a m ad a p a t juga diartikan dengan perbuatan. d a n yang paling berharga adalah mengembalikan m e r e k a dari kezhaliman k e p a d a yang lebih baik. m e n g u s a h a k a n yang bermanfaat bagi mereka. Hadits ini juga mengisyaratkan diperbolehkannya m e n g a k h i r k a n keterangan setelah w a k t u khitah (perintah atau pembicaraan) b e r d a s a r k a n ucapan. m e m b e t u l k a nh u r u f yang keluar ketika m e m b a c a . mengikuti beliau d a l a m perbuatan d a n perkataan. tujuan a g a m a dapat tercapai. Ats-Tsauri meriwayatkan dari A b d u l Aziz bin Rafi' dari A b u T s u m a m a h . ikhlas k e p a d a Allah adalah t u n d u k kepada-Nya secara lahir d a n batin. Ikhlas kepada Rasul. Oleh k a r e n a itu. siapakah yang ikhlas k e p a d a Allah?' Beliau menjawab. T e r m a s u kd a l a m kategori p a r ap e m i m p i nu m a t adalah p a r au l a m a mujtahid. Keikhlasan terhadap p a r a pemimpin muslim adalah menolong m e r e k a d a l a m melaksanakan a p a yang harus m e r e k a laksanakan. d a n berusaha u n t u k mengembalikan orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya. " B a h k a n dengan satu hadits tersebut. mencegah penyiksaan terhadap diri m e r e k ad a n mencintai m e r e k a sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri serta m e m b e n c ia p a yang m e r e k a benci. d a n mencintai beliau serta p a r a pengikutnya. k a r e n a tujuan a g a m a terbatas p a d a hal-hal yang disebutkan oleh hadits. adalah dengan memuliakannya d a n m e n d u k u n g n y a baik w a k t u hidup m a u p u n setelah wafat. m e n g h i d u p k a n S u n n a h n y a dengan belajar d a n mengajarkannya. m a k aI m a mB u k h a r i paling b a n y a k menjelaskan tentang iman. " K e l o m p o k Hawariyin berkata kepada Isa AS. Berdasarkan hal ini. mengingatkan m e r e k a ketika lupa atau lalai. m e n y a t u k a n mereka. Sedangkan keikhlasan k e p a d a golongan muslim a w a m adalah dengan mengasihi mereka. jli lili ( K a m i berkata u n t u k siapa?) Kita d a p a t menyaksikan semangat k a u m salaf d a l a m 2 5 6 — FATHUL BAARI . dia berkata. serta berbaik sangka (husnu zhari) k e p a d a mereka. Keikhlasan terhadapnya dapat dengan m e n y e b a r k a n ilmunya d a n sejarah hidupnya. " Y a n gm e n d a h u l u k a nh a k Allah daripada h a k manusia. cinta kepada-Nya dengan mentaati perintah-Nya. Dengan demikian.An-Nawawi berkata. takut a k a nk e m u r k a a n N y a dengan menjauhi segala m a c a m perbuatan maksiat. adalah mempelajari d a n mengajarkannya. k a r e n a Rasul m e n a m a k a n keikhlasan dengan agama. ' W a h a iR u h Allah. m e n g a j a r k a na p a yang b e r m a n f a a t bagi mereka. sahabat Ali. mengerti batasan-batasannya.

"Kuda milikmu ini harganya lebih dari 300 dan dia menambah lagi hingga harganya mencapai 800. oleh karena itu pilihlah. Ketika ia melihat kuda yang dibeli oleh budaknya. hal tersebut dapat kita lihat dari kisah Sufyan dengan Suhail. kemudian dalam kitab Ahkam melalui riwayat milik Muslim dari jalur Sya'bi dari Jarir. kalimat tersebut ditemukan pula pada riwayat Imam Bukhari dalam kitab Al Buyu' (jual beli) dari jalur Sufyan dari Ismail seperti yang telah disebutkan. Adapun tidak disebutkannya puasa dan lainnya.J S ^_ * ^ •J 1 -J S - - F A T H U L BAARI — 257 . . Qadhi lyadh berkata. l -J - S' s * i ^ ^ s i " *- • s w' s J'"-/ *• r- ^ f ^ ' i ' * ' f s s ' . Redaksi tersebut mengindiksikan pemberian maaf bila terjadi suatu kesalahan atau kealpaan. Menurut saya. . Maksud ungkapan "Sesuai dengan kemampuanmu" adalah bahwa perkara yang dibaiatkan harus berupa sesuatu yang mampu dilaksanakan." i . bahwa pembaiatan Rasulullah dalam hadits ini hanya terbatas pada shalat dan zakat saja. sebagaimana syarat dalam taklif (pembebanan kewajiban)." kemudian Beliau berkata kepadaku. "Aku berjanji kepada Rasulullah untuk mendengar dan patuh.t\ * "i f <^ s +-S^JS- •' _ Li ss :•- °\* t s 3" -"-f _j . U — j ^—1^ ^ ' ^ ' J ~ j ^-iv (Aku berjanji kepada Rasulullah). hal itu karena shalat dan zakat merupakan dua hal yang sangat masyhur." Al Qurthubi berkata. . maka dia mendatangi pemiliknya dan berkata. karena hal itu telah masuk dalam kalimat i &uaJ'j .)JJ~J (mendengar dan mematuhi).mencari sanad yang paling tinggi. "Ketahuilah bahwa yang kami ambil durimu lebih kami sukai dari apa yang kami berikan kepadamu. "Baiat yang dilakukan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya adalah untuk memperbaharui janji dan menegaskan suatu perintah." Kemudian hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalur Abu Zar'ah bin Amru bin Jarir dari kakeknya dengan tambahan. maka redaksinya berbeda-beda. . ." Diriwayatkan juga dari Thabrani dalam biografinya bahwa budaknya membelikan kuda untuknya seharga 300. * * < . ^ " i 5Jj>. ^ 1 t &X I J J^>t_S >L? ' • ^_TS s * • i- S s . "Jika Jarir membeli atau menjual sesuatu selalu berkata kepada temannya.* Ali' ftbL'b -J • •- . "Semampumu dan berlaku ikhlas kepada seluruh muslim.

karena dia orang yang pemaaf. Mughirah adalah gubenur Kufah pada masa kckhalifahan Muawiyah. "Bertakwalah anda sekalian kepada Allah. Aku berjanji kepada beliau untuk memenuhi syarat-syarat tersebut dan mengamalkan nasihat-nasihat itu. K e t e r a n g a n Hadits: —i y o ^ j. yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Untuk ini dapat dipahami. Demi Tuhan masjid ini. "Berilah maaf kepada amirmu (Mughirah). Dari Z/yad Tlaqah RA.y (Pada hari kematian Mughirah bin Syu'bah). Hal tersebut diceritakan oleh Al Ala'i. sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada anda sekalian. '^j—t j—^(Hingga datang kepada kalian seorang amir). " Selelah itu dia melanjutkan. Sesungguhnya dia akan datang kepada anda sekarang juga. 'Saya puji Allah dan saya sanjung Dia setinggi-tingginya." Kemudian dia melanjutkan. 'Saya telah datang kepada Nabi dan berjanji akan melaksanakan segala perintah Islam. Didahulukannya perintah untuk bertakwa kepada Allah. "Kemudian dia mohon ampun kepada Allah dan turun dari mimbar. bahwa maksud ungkapan di alas tidak 2 5 8 — FATHUL BAARI . serta nasihat-nasihat untuk kaum muslimin seluruhnya. hingga datang gubenur yang baru. Kemudian dia mewakilkan tugasnya kepada anaknya yang bernama Urwah. karena biasanya kematian seorang penguasa dapat menimbulkan kekacauan dan fitnah. maksudnya adalah datang seorang amir sebagai ganti gubenur yang wafat. Ada yang mengatakan dia mendelegasikan tugasnya kepada Jarir. ia berkata.s ^ * ' y O y r ' ° I 11" ^' ^ I ' T ^ I '°F^'I' J ' ^ I ' ' 1 _ L ysi LJI "y B f V J£ " y ' Z ' JJJ " jii ^ O ' L>J jir ^ y j j} p S P * r ^ \ ' y ^ t'- Q W 58. apalagi penduduk Kufah yang pada waktu itu menentang para wali dan pemimpin mereka. Lalu beliau memberikan beberapa syarat kepadaku. karena peristiwa inilah dia menyampaikan khutbah di atas. Beliau wafat pada tahun ke 50 H.'" Selanjutnya dia berkata. Sabar dan tenanglah anda semua.> 0 y y ^ f ' O ^ O . "Saya mendengar Jarir bin Abdullah berpidato pada hari wafatnya Mughirah bin Syu'bah. 1 Pada saat itu.

lr>— v ? l-i (Mohonkan kepada Allah ampunan bagi amir kalian). maka nasihat tersebut ditujukan kepada orang kafir untuk menyeru mereka kepada Islam. '•> ^L. Kalimat ini menunjukkan dekatnya waktu.\." Disebutkannya hal itu untuk menunjukkan kemuliaan sumpah tersebut agar dapat diterima. karena kalimat tersebut merupakan lawan dari berdiri. Kalimat ini mengandung isyarat bahwa dia mematuhi apa yang disepakati dalam baiat dengan Rasulullah. (nasihat) dalam hadits ini dikhususkan untuk orang Islam. bahwa pahala akan didapat dari apa yang dilakukan. Imam Bukhari menutup pembahasan Iman dengan bab "Nasihat". ^ — ( D a n Tuhan masjid ini) menunjukkan bahwa khutbahnya dilakukan di masjid. Bisa jadi kalimat tersebut mengisyaratkan kepada Baitul Haram berdasarkan riwayat Ath-Thabrani dengan redaksi. untuk segera berangkat ke Kufah untuk menjadi gubenur di sana. yaitu Ziyad. Kata tersebut menunjukkan kelembutan Rasulullah SAW. "T^. J ' ' 1 i r ' ' } ' ' 'wJil JLT (Karena Dia senang memaafkan). Akan tetapi dalam riwayat Ibnu Asakir dan Al Ismaili dalam Al Mustakhraj disebutkan dengan redaksi. Pelajaran yang dapat diambil: Kata U—UI!'. Dalam redaksi tersebut terdapat petunjuk. Jj—0 (Kemudian turun) menunjukkan bahwa khutbah tersebut dilakukannya di atas mimbar atau dimaksudkan duduk. Kemudian dia menutupnya dengan khutbah Jarir yang FATHUL BAARI — 259 . tetapi konsistensi tersebut harus tetap dijaga setelah datangnya seorang amir. karena memang yang mendominasi pertemuan tersebut adalah orang muslim. Jika tidak. dan apa yang diucapkannya tidak menyimpan maksud tertentu.berarti bahwa perintah tersebut akan berakhir dengan datangnya seorang amir pengganti. karena ketika Muawiyah mengetahui kematian Mughirah. j^' 1 (Sekarang). Demikian yang ditulis dalam sebagian besar riwayat. dia langsung menulis surat kepada wakilnya di Bashrah. "Dan Tuhan Ka'bah. p—Uli i j (Dan ikhlas). hal itu menunjukkan bahwa dia mengamalkan apa yang terkandung dalam hadits tersebut sebagai anjuran untuk mengamalkan hadits yang shahih.\—J (penasihat).

Wallahu A jam. Kemudian dalam bentuk mutaha 'ah atau komentar terdapat 22 hadits. Lalu ucapan "Mohonkan kepada Allah untuk mengampuninya". 4. Semua hadits tersebut telah disepakati oleh Muslim kecuali tujuh: 1. Syu'bah dari Abdullah bin Amru dalam bab "Muslim dan Muhajir". mengisyaratkan agar dia didoakan karena perbuatan baik yang pernah dilakukannya. 3. 5. Aecuali atsar Ibnu Nathur yang berstatus maushul (bersambung). Dalam bab "Bad'ul Wahyi " terdapat 15 hadits dan dalam bab "Iman" terdapat 66 hadits dan 33 hadits yang diulang. Al A'raj dari Abu Hurairah dalam bab "Cinta Rasulullah". Al Ahnaf dari Abi Bakrah pada bab "Yang Membunuh dan yang Terbunuh". Hisyam dari ayahnya dari Aisyah pada bab "Aku yang Paling Mengetahui tentang Agama Kalian". dan sisanya adalah 48 hadits maushul yang tidak diulang. dalam bab "Iman" 14 hadits dan yang maushul yang diulang berjumlah 8 hadits. dengan rincian: dalam bab "Wahyu" 8 hadits. mulai bab diturunkannya wahyu mencakup 81 hadits marfu' dengan pengulangan. Kemudian Imam Bukhari melanjutkan dengan bab "Ilmu". Jumlah yang mauquf kepada sahabat dan tabiin adalah 13 Atsar muallaq. "Mohon ampunlah kalian! Kemudian dia turun" Dengan demikian. timbullah perasaan bahwa ini adalah akhir bab. Sa'id dari Abu Hurairah pada bab "Agama itu Mudah". Lalu dari ta 'liq (komentar) yang tidak dimaushulkan hingga akhir ada 3 hadits. Ibnu Abi Sha'sha'ah dari Abi Sa'id dalam bab "Menghindar dari Fitnah". 2. 6.menjelaskan kondisinya pada saat menyusun khutbah. sebagaimana yang terkandung dalam hadits nasihat bahwa sebagian besar didapat dengan belajar dan mengajar. 7. 2 6 0 — FATHUL BAARI . Anas dari Ubadah pada bab "Lailatul Qadar". Begitu pula dengan khutbah Jarir yang menjadi penutup kitab Iman. Kemudian khutbah tersebut ditutup dengan perkataan. maka redaksi "Sesungguhnya telah datang kepada kalian saat ini" menunjukkan kewajiban berpegang pada syariat yang ada hingga datang orang yang menegakkannya. Penutup: Kitab Iman dan pembukaannya.

FATHUL BAARI — 261 .

karena beliau menganggap hakikat ilmu telah diketaui oleh banyak orang. j j l ' » «f U J '^-^J- 5 p M £*J* • jirf". 114) Tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan " (Qs. " (Qs. ini adalah metode Al Ghazali dan gurunya yang berpendapat bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan karena kesukarannya atau kejelasannya sehingga tidak membutuhkan penjelasan.1. Kedua makna ini dapat diterima karena Imam Bukhari tidak mengarang kitabnya untuk menentukan definisi sesuatu. Thahaa (20): Imam Bukhari memulai pembahasan ini dengan keutamaan ilmu bukan dengan hakikatnya. ^—=r ji i yy J J O J I j (. "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. yang 2 6 2 — FATHUL BAARI . Al Mujaadilah ( 5 8 ) : 11) Serta F i r m a n . "Ilmu lebih jelas daripada upaya untuk menjelaskannya. Ibnu Arabi dalam kitab Syarh At-Tirmidzimembantah siapapun yang berusaha untuk mendefinisikan ilmu dan berkata.i-. ly^i y>ji\ &\ o j_ (Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat).N y a .L i i * ^ J j >->j "Ya Tuhanku. akan tetapi kitab ini berlandaskan gaya Arab klasik yang memulai tulisan dengan menyebutkan keutamaan sesuatu untuk menarik perhatian jika hakikatnya telah diketahui. Maksudnya adalah banyaknya pahala. Ada yang berpendapat bahwa penafsiran ayat tersebut adalah." Ketinggian derajat ilmu menunjukkan keutamaannya. K E U T A M A A N I L M U Firman Allah. ." Menurut saya. atau bisa jadi pembahasan tentang hakikat sesuatu bukanlah tujuan dari kitab ini. "Allah meninggikan orang mukmin yang alim di atas orang mukmin yang tidak alim.

dimana ia tidak menyebutkan ayat atau riwayat hadits.mana dengan banyaknya pahala tersebut. berikanlah kepadaku ilmu pengetahuan). maka ayat FATHUL BAARI — 263 ." Maka Umar pun berkata. "Kami (Allah) meninggikan derajat orang yang Kami kehendaki. insya Allah. Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu pengetahuan. dan Hissiyyah di akhirat dengan kedudukan yang tinggi di surga. "Dia adalah seorang yang ahli dalam kitab Allah (Al Qur'an) dan ilmu Faraidh (ilmu waris). Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah. "Apakah kamu menjadikan seorang hamba sahaya sebagai pemimpin?" Ia menjawab. karena Allah tidak pernah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk mencari sesuatu kecuali menuntut ilmu. "Mengapa Imam Bukhari tidak mencantumkan hadits dalam bab ini?" jawabnya. Jika ada ayat atau atsar yang dicantumkan dalam judul. Sedangkan beberapa pakar Irak mengatakan. adalah karena hadits tersebut tidak sesuai dengan syarat Bukhari. bahwa dia bertemu dengannya di Usfan dan berkata. Derajat yang tinggi mempunyai dua konotasi. hamba sahaya kami." dengan Ilmu. Dalam pendapat tersebut ada yang harus diperhatikan dan akan kita terangkan kemudian. "Yang memimpin segala urusanku adalah Ibnu Abza. bahwa susunan bab dalam Shahih Bukhari ini dan penghapusan yang dilakukan olehnya bisa jadi disebabkan karena dia akan menggantikannya. "Siapakah yang memimpin k a m u ? " Ia menjawab. bisa jadi 2 ayat ini sudah cukup untuk dijadikan sebagai penjelasan. Atau disebutkannya hadits Ibnu Umar dalam bab setelah ini merupakan perbuatan beberapa perawi." Umar berkata. bahwa hadits yang tidak disebutkan setelah penyebutan judul. "Sesungguhnya Nabi kamu sekalian telah menyatakan. Al Karmani menukilkan dari beberapa ahli Syam. ilmu-ilmu syariat yang berfungsi untuk menjelaskan apa-apa yang wajib bagi seorang mukallaf tentang urusan agama yang meliputi ibadah. i J i ' i lip g r — ' J (Ya Tuhanku. apa yang dilakukan oleh Imam Bukhari memang sudah sepantasnya. muamalah. Jika ada pertanyaan." Menurut saya. maka derajat seseorang akan terangkat. yaitu maknawiyah di dunia dengan memperoleh kedudukan yang tinggi dan reputasi yang bagus. ilmu tentang Allah dan sifatsifat-Nya baik yang wajib maupun yang mustahil bagi-Nya yang semuanya itu terdapat dalam kitab tafsir. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari N a f i ' b i n Abdul Harits Al Khuza'i (pegawai Umar di Makkah). hadits dan fikih. "Sesungguhnya Allah telah mengangkat derajat suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain dengan kitab ini (Al Quran)" Dalam sebuah riwayat dari Zaid bin Aslam menafsirkan firman Allah.

Sebagian orang mengatakan sebab dari sikap Rasulullah adalah karena beliau mendengar pertanyaan tersebut akan tetapi tidak menyukainya. beliau bertanya. katanya. Yang kuat adalah. "Barangsiapa yang berjalan di jalan ilmu maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga" Hadits tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari. 2.j lii _ ^>( 5 £*~~ J f' Oi_Jsr J L J iii LJI jiL Li f ifu^f c . 'Kapankah hari kiamat?'" Rasulullah tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. bahwa diantara dia dengan Abi Shalih ada seorang perawi lagi sebagai perantara. 2 6 4 — FATHUL BAARI . "jawab orang tersebut. karena Al A'masy dalam hadits ini masih diperselisihkan.) A ILP AU| AILP AJJI C -L> ^ J j l LUli J U O'JI'JA 'J* ^J^a AIJI J y ^ j ^L*j ApCJl JL* J U i ^\Js-\ Afrlir >-°yS\ (*-$ LA jL»_j J i i l> oJ>** J i i L» Jii A P L J I JSJJL—JI O\J\ JI' ^jij! JOJU J l i i O-b^j (»-L-.atau atsar tersebut merupakan isyarat terhadap penafsiran ayat tersebut. D a n Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. K E M U D I A N IA MENYEMPURNAKAN PEMBICARAANNYA DAN MENJAWAB PERTANYAAN ^ ji-L. yaitu hadits Abu Hurairah.i ! ^ I1L> jii -Li j ^ u ut Jl ^ 1 . "Dimana orang yang bertanya tentang perkataan tadi?" "Saya. "Pada suatu ketika Rasulullah sedang berbicara dengan orang banyak (memberi ceramah atau pengajian). tiba-tiba dalang seorang Arab dusun menanyakan kepada beliau. Setelah Rasulullah selesai berbicara. ya Rasulullah. S E S E O R A N G Y A N G DITANYA P A D A SAAT IA S E D A N G B E R B I C A R A . sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa beliau tidak mendengarnya. Hadits yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu sangat banyak. akan tetapi beliau meneruskan pembicaraannya dengan orang banyak.APILJI j k i l i Alif j £ ALj lil J i i L^PL>1 59. diantaranya hadits yang dishahihkan oleh Muslim.

tetapi pertanyaan tersebut akan dijawab sesudah khutbah. maka orang yang berkhutbah dianjurkan untuk menjawabnya terlebih dahulu dan menyempurnakan khutbahnya. adalah anjuran mengambil ilmu atau belajar kepada orang yang lebih senior dan menanyakan sesuatu yang belum dipahami kepada orang yang lebih mengetahui. Akan tetapi jika pertanyaan tersebut tidak berhubungan dengan masalah agama. Hal itu karena mereka berasal dari Badui (orang-orang pedalaman) yang kasar. sehingga dia tidak wajib menjawabnya. apakah pertanyaan tersebut disampaikan pada saat ia melaksanakan kewajiban. "Bagaimana cara disia-siakannya amanat?" Berdasarkan hadits tersebut Ibnu Hibban membuat judul. walaupun pertanyaan tersebut tidak terfokus kepada satu masalah. "Pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu". Sedangkan bagi orang yang belajar hendaknya tidak menanyakan kepada orang alim yang sedang sibuk berbicara dengan orang lain. "Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?" Rasulullah SAW menjawab. sehingga menjadi jelas apa yang belum dipahami. maka dianjurkan untuk menunda jawabannya. "Apabila suatu urusan (pekerjaan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya." Hanya saja maksud konteks cerita tersebut bukan menunjukkan hal itu secara mutlak. Ahmad dan lainnya dalam masalah khutbah. karena hak orang pertama lebih utama untuk dipenuhi. Zhahir hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Malik. hendaknya seorang khatib bisa membedakan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hadits ini juga mengandung anjuran untuk menjawab pertanyaan. namun hendaknya ia menyempurnakan pembicaraannya dan baru setelah itu menjawab apa yang ditanyakan dengan lemah lembut.Rasulullah pun bersabda. FATHUL BAARI — 2 6 5 . maka waspadalah akan datangnya kiamat" Keterangan Hadits: Inti kandungan hadits ini adalah peringatan akan etika seorang pengajar dan penuntut ilmu. maka waspadalah akan datangnya kiamat. "Tidak diperkenankan memotong khutbah untuk menjawab pertanyaan. yaitu peringatan bagi orang yang alim agar tidak mengindahkan pertanyaan orang yang bertanya di saat ia sedang berbicara. "Apabila amanat telah disia-siakan. Jika pertanyaan tersebut berkenaan dengan masalah agama. Dalam kondisi seperti itu." Sedangkan mayoritas ulama membedakan." Orang tersebut kembali bertanya. atau di luar kewajiban. berdasarkan ucapannya. namun yang diisyaratkan oleh hadits tersebut adalah bahwa ilmu itu dapat diperoleh dengan tanya jawab. Kesimpulan dari hadits ini. Mereka berpendapat. "Boleh Menunda Jawaban Sebuah Pertanyaan. Untuk itu ada sebuah pepatah yang mengatakan. sehingga dia harus menjawab.

"Salah satu tanda kiamat adalah ilmu diambil dari orangorang kecil. dimana hal itu merupakan tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Apabila pertanyaan tersebut tidak berkaitan dengan masalah yang penting maka dapat diakhirkan. berdasarkan riwayat Abi Umayyah Al Jumahi. setelah itu kembali berkhutbah dan menyelesaikannya.J^j (kemudian meneruskan) yaitu meneruskan pembicaraannya. sebab beliau membenci pertanyaan tersebut. maka beliau berkata.). Keraguan tersebut terjadi karena Rasulullah tidak menoleh dan mendengar kepada si penanya. Serupa dengan masalah ini.. bahkan kemungkinan akhir hadits tersebut melengkapi hadits yang ada di dalamnya. Hubungan antara matan ini dengan bab "Ilmu" adalah. cj-ili Jtu (Sebagian orang mengatakan. Hal itu terlihat dari jawaban yang tidak terbatas pada dua perkara tersebut. 2 6 6 — FATHUL BAARI . "Datanglah seorang yang tidak diketahui asalnya bertanya tentang Islam.. Apabila si penanya benar-benar membutuhkan. bahwa Rasulullah bersabda. apalagi jika tidak menjawab persoalan tersebut lebih utama." Pembahasan selanjutnya tentang hadits ini akan ditemukan dalam kitab Ar-Riqaq. bahwa sesungguhnya menyandarkan sesuatu kepada orang yang bukan ahlinya adalah akibat kebodohan yang telah mendominasi dan dicabutnya ilmu.Perbedan pendapat dalam hal ini. bahwa Rasulullah berkata pada saat berkhutbah. bahwa sebab dari sikap Rasulullah adalah karena beliau mendengar pertanyaan. Seakan-akan Imam Bukhari ingin menunjukkan bahwa ilmu dapat diperoleh dari para senior. JL_» C £»1. 'j—^'i A*-J (Jika diserahkan atau disandarkan). . Ketika Rasulullah selesai mengerjakan shalat. "Siapa yang bertanya? "Lalu beliau menjawabnya. disebabkan perbedaan hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini. adalah seseorang yang bertanya tentang hari kiamat pada waktu shalat. maka jawabannya harus didahulukan seperti peristiwa yang disebutkan dalam hadits Muslim. insya Allah. Rasul pun menghentikan khutbahnya dan duduk di atas kursi kemudian mengajarkannya.

3. "Sampai-sampai orang yang ada di pasar mendengarnya." Ucapan itu diteriakkan beliau dua atau tiga kali berulang-ulang." Imam Bukhari menjadikan redaksi "Dan beliau berteriak sekeras-kerasnya" sebagai dalil diperbolehkannya meninggikan suara untuk memberitahu. "Pada suatu perjalanan bersama kami. M E N I N G G I K A N S U A R A U N T U K MEMBERITAHU * * +- $ * J s s * ' * A ' f' ~ — > LUiii J u£* 1 (J**-*$ o^C*aJl LuiAjI Jij UJ'jiLi JPI lili^iC* a y L w 0 ~. karena jarak yang jauh atau banyaknya orang. "Jika Rasulullah mengingatkan akan hari kiamat pada saat khutbah. Ternyata. FATHUL BAARI — 267 . Agaknya beliau memperhatikan kami lalu berteriak sekeras-kerasnya. Muslim). waktu shalat telah tiba dan kami sedang berwudhu. insya Allah.l JP C^ 1 i? V U P ^ J JJJ) 60. D a n Abdullah bin Amru bin Ash. Kemudian pembahasan tentang matan hadits ini akan disampaikan dalam "Kitab Wudhu". Rasulullah SAW tertinggal. beliau berkala. Adapun riwayat Ahmad dan hadits Nu'man menambahkan. Hal itu untuk memberi nasehat kepada mereka." Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk mengulangi pembicaraan agar dapat dipahami. maka beliau menjadi marah dan suaranya meninggi" (HR. sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir. Ketika beliau dapat menyusul kami. kami kurang sempurna menbasuh kaki. "Celakalah tumit-tumit yang terbakar api neraka.

Anas berkata. Menurut saya maksud Imam Bukhari adalah apakah kata-kata ini (haddatsanaa.A i j J j . "Rasulullah menceritakan kepada kami dua ucapan." J U JUj tfJJ. "Dari Nabi SA W yang diriwayatkan dari Tuhan kamu sekalian. bahwa judul ini menunjukkan bahwa Imam Bukhari menulis kitabnya berdasarkan rangkaian sanad yang diriwayatkan dari Rasulullah. i i ir ^ j *£* [jp p <P J* u* -u-^ '••S-J* J ^ J $ J 'J* -J*-) & J Al Humaidi berkata kepada kita. "Rasulullah menceritakan kepada kami.JjjJUUl JiCaJl f' y s s* •* ' f ' 9 f . "saya mendengar Rasulullah satu kalimat.«U_P J J | J L ^ jii I ^ J L . 'j* 'J* 'j- i s i . "Dari Rasulullah yang diriwayatkan dari Tuhannya azza wa jalla. " Abu Hurairah berkata.J l * J . isbf) C . "Syaqiq dari Abdillah juga berkata. 2 6 8 — FATHUL BAARI . "Ibnu Uyainah menyatukan arti haddatsanaa. u > f . beliau adalah orang yang paling dipercaya. akhbaranaa dan anba'anaa. 1 * 1 5 ' («J—'J ^-CP fi —1-j <—o r^j AIP &\ ^ ^ii ^ s ' ^1 r ^p j. "Dari Ibnu Abbas.L P [•jP s ) ^ ( jlii -V JlSj ^ ^ ^ ^ .j ULJI J U J U J J J .^ ^ J I U) JLij AILP -J'-J lii j ^ L ^ ^ 1 cJi*l> * ^ s . dari Nabi apa yang diriwayatkan kepada tuhannya. Abu Aliyah berkata.JJL-J J <ULP Aill (^jUtf *JJI J j — j l l ." Keterangan Hadits: Ibnu Rasyid berpendapat. P E R K A T A A N AHLI HADITS < i & * . " Hudzaifah berkata." Ibnu Mas'ud berkata. J j > .4.J L * _ — . ^ j ^ J j s . akhbaranaa dan anba 'anaa) memiliki satu arti atau tidak? Disebutkannya Ibnu Uyainah dalam hadits ini menunjukkan bahwa Imam Bukhari telah memilihnya.

jjU -J. sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas yang tidak menggunakan kalimat Dari Tuhannya". karena tidak diragukan lagi bahwa perantara antara Allah dan Rasul pada malam isra' adalah Jibril.\ JUJ Komentar ini merupakan bagian dari hadits masyhur dalam penciptaan janin. sedang Abdullah yaitu Ibnu Mas'ud. yakni sanadnya disebutkan secara ringkas. kaiena hadits yang disebutkan telah dikenal berasal dari riwayat Ar-Rayyahi. yang dikategorikan sebagai hadits maushul oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Qadr yang akan kita bicarakan. Maksud dari komentar ini menunjukkan. sedangkan maksud disebutkannya di sini adalah untuk memperhatikan metode Apabila sanadnya bersambung. maka dihukumi sebagai hadits maushul jika sanad tersebut saling bertemu.U J I I J Jiij (bersambung). disebutkan oleh Imam Bukhari secara bersambung dalam bab "Tauhid". Semua hadits tersebut akan ditemukan dalam bab "Al Janaiz" dan "Ar-Riqaq ". Semua ini berlaku khusus bagi hadits-hadits hukum. 11 Menurut saya. Dalam riwayat Karimah tidak begitu juga dalam riwayat Al Ushaili disebutkan disebutkan kalimat kalimat i — N a m u n dalam riwayat Abu Dzarr ketiga kalimat tersebut disebutkan.Dalam riwayat Karimah dan Al Ushaili dikatakan ^ ^ U J i jii J sedang Abu N u ' a i m dalam Mustakhrajnya mengatakan. karena dikhawatirkan sebagian sahabat meriwayatkannya dari beberapa tabiin seperti Ka ab Al Ahbar. 'S*—i J' *3 Vang dimaksud adalah Abu Wa'il. 'J. Catatan: Abu Aliyah di sini adalah Abu Rayyahi dan namanya adalah rufi'. Jika ada yang berpendapat hadits ini diriwayatkan dari Al Barra' maka dia teiah keliru. Anas dan Abu Hurairah dalam riwayat Nabi dari Tuhannya. hal ini dapat dijadikan dalil akan keabsahan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat secara mursal. sedangkan secara eksplisit hadits tersebut tidak FATHUL BAARI — 269 . Begitupula yang menjadi perantara antara Nabi dan sahabatnya adalah sahabat yang lain. Jika ada pertanyaan apa hubungan antara hadits Ibnu Umar dengan tema bab yang menyatakan bahwa kata-kata tersebut memiliki satu arti. Lalu riwayat Ibnu Rasyid menegaskan. dengan sanad muttashii ^ J . bahwa apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah adalah dari Tuhannya baik hal itu dijelaskan oleh sahabat atau tidak. bahwa para sahabat tidak membedakan bentuk dan Adapun hadits Ibnu Abbas.

dan untuk apa yang diucapkan oleh \ — k h u s u s untuk yang dibacakan kepadanya. maka tidak ada jaminan untuk tidak terjadi 2 7 0 — FATHUL BAARI . "pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Ibnu Uyainah. maka yang dipakai adalah bentuk jamak (plural) Begipulajika dia membacakan kepada syaikhnya seorang diri. para ulama berbeda pendapat. Inilah madzhab Ibnu Juraij. Kemudian para pengikut mereka membuat perincian lain. maka lafazhnya ^ ^ ( .'" (Qs. Ini adalah pendapat Az-Zuhri. Kata W dikhususkan untuk ijazah yang diberikan oleh syaikh secara lisan. karena bagi mereka hal itu menjadi hakikat urfiyah. Karena jika tidak. pengertian tersebut didapat dari perbedaaan hadits-hadits yang telah disebutkan. y ^ j'y^-. riwayat An-Nafi dalam kitab tafsir.'" (Qs. maka bentuk yang digunakan adalah bentuk jamak. Memang benar. sebagaimana firman Allah. yaitu mereka mengkhususkan bentuk Syaikh. dan Kufah. Redaksi riwayat Abdullah bin Dinar yang ada dalam tema di atas yaitu. dalam Haya' riwayat Al Ismaili adalah minal Iman". dan jika lebih dari satu. Az-Zilzalah (99): 4) dan firmanNya "Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Sang Maha Mulia. AnNasa'i. maka kalimat yang dipakai adalah dan jika ia mendengar bersama orang lain. memiliki j>/}?' dan riwayat Malik dalam bab "Al Semua itu menunjukkan bahwa kata CJJ -. yaitu apabila dia mendengar hadits tersebut seorang diri dari syaikhnya. Yahya Al Qaththan dan sebagian besar ahli Hija/. dan Ibnu Hibban. Malik. * i— '' Jy-^t. Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Hajib dalam kitab Mukhtasarnya dan dinukil dari Hakim bahwa pendapat tersebut adalah pendapat imam empat. tf^if arti yang sama. dan Syafi'i. Sebagian mereka ada yang tetap berpegang pada makna bahasa. para ulama modern (mutakhiiruun) harus memperhatikan istilah yang disebutkan di atas agar tidak bercampur. Siapa yang mengabaikan istilah tersebut maka dia harus menjelaskan tujuannya. dimana hal itu akan lebih jelas jika semua jalurnya disebutkan. Sedangkan yang lainnya membedakan ketiga kata tersebut. Ishaq bin Rahawaih. Pendapat ini tidak diperdebatkan oleh para pakar jika dilihat dari segi bahasa.menunjukkan hal itu? Jawabannya adalah. Al Fatir (35): 14) Akan tetapi dari segi istilah. Al Auza'i.

bahwa ketika kami sedang bersama Rasulullah SA W. " Mereka berkata. Dengan demikian. "Beliau bersabda. Dari Ibnu Umar RA. kemudian beliau mendatangi sebatang kurma dan bersabda. beliau berkata. Dalam riwayat Mujahid dalam bab "Al Fahm minal Ilmu" ada penambahan redaksi yang berbunyi. " pil-Ji y* i ^ l j Li>jj i i . "Diantara beberapa pohon ada pohon yang tidak gugur daunnya. "Orang muslim seperti pohon yang FATHUL BAARI — 2 7 1 . pohon apakah itu? "Nabi menjawab. pohon itulah perumpamaan orang muslim. berbeda dengan apa yang disampaikan oleh ulama yang datang kemudian (mutakhiriin). "pohon kurma. seperti itulah seorang muslim). "Tunjukkan kepada kami wahai Rasulullah. " Ibnu Umar berkata. 61.J V (Yang tidak jatuh daunnya. "Pohon dalam hutan belukar. 'Diantara pohon-pohon?" Begitu pula dalam kitab Buyu'(jual beli). "Ketika saya menemani Ibnu Umar ke Madinah. Terangkan kepadaku pohon apakah itu?" Yang hadir pada saat itu menebak.percampuran antara yang didengar dengan majaz setelah mengetahui pengertian dalam segi istilah. "Saya menebak pohon kurma. "Ketika saya bersama Rasulullah. Persamaan antara kaum muslim dengan kurma telah diterangkan dalam riwayat Al Harits bin Abi Usamah dalam tema ini dari jalur lain dari Ibnu Umar "Pada suatu hari kami sedang bersama Rasulullah SAW. beliau memakan kurma. apa yang disampaikan oleh para salaf dapat diinterpretasikan dengan satu makna. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. tapi saya malu untuk mengatakannya." Keterangan Hadits: 'o'j-—i y* ^ j J! (Diantara beberapa pohon ada pohon).

datanglah seseorang membawa kurma. Begitu juga dengan berkah orang muslim yang berlaku umum pada seluruh kondisi. tidak gugur daunnya dan tidak." Hadits ini lebih umum dari hadits sebelumnya. bijinya dapat digunakan sebagai makanan ternak dan tangkai buahnya dapat dibuat tali serta masih banyak lagi kegunaannya. "Sesungguhnya kurma adalah pohon yang kuberkahi sebagaimana orang muslim kuberkahi. sehingga Sufyan bin Ibrahim yang meriwayatkan hadits tersebut menganggap kalimat tersebut berkaitan dengan kalimat setelahnya yaitu. Beliau melanjutkan. 2 7 2 — FATHUL BAARI . i^isl j?y . 'Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW. Oleh karena itu dia berkata. Kalimat (laa) ^y 4—is "f tidak seperti yang diduga. ^ vj ^ 4>3 '^^h (X^Ji ^ t ^ s - "lieritahukan pohon yang memiliki sifat seperti seorang mukmin. Ditemukan riwayat Imam Bukhari dalam kitab tafsir dari jalur Ibnu Umar yang berkata. Apakah kalian mengetahui pohon tersebut?" "Tidak." Redaksi penafian (tidak) dalam riwayat ini disebutkan sebanyak tiga kali. "Agaknya kata y (tidak) hanya sebagai tambahan. Selain itu setiap bagian pohon tersebut dapat dimanfaatkan.tidak. juga manfaatnya bagi diri dan oning lain yang akan berlangsung terus-menerus hingga setelah wafatnya. Keberkahan kurma terdapat pada setiap bagiannya. bayangannya tidak pernah hilang dan manfaatnya tidak pernah habis. mulai dari muncul buahnya hingga dikeringkan dan dapat dimakan. Salah satu pendapat mengatakan. penafian tersebut hanya disebutkan satu kali. " jawab mereka. "Ketika kami sedang bersama Rasulullah beliau bersabda. Namun dalam riwayat Muslim. "Pohon itu adalah pohon kurma yang tidak gugur daunnya. bahwa penafsiran "penafian" tersebut adalah tidak putus buahnya. dan tidak gugur dakwah bagi orang muslim.tidak gugur daunnya..'" Kemudian Rasulullah bersabda. oleh karena kalimat setelah huruf nafyi tidak disebutkan demi efisiensi struktur seperti yang telah kita Kata ^ y adalah awal kalimat yang berfungsi untuk terangkan.tidak. "Telah menceritakan kepadaku Mujahid dari Ibnu Umar yang berkata." Riwayat Imam Bukhari dalam kitab Ath 'imah (tentang makanan) dari jalur A'masy dikatakan..

'J^~ (unta yang berharga). "Ayah. Beliaupun berkata.. "Saya mengira bahwa dia mengatakan. "Kemudian aku mengatakan kepada ayahku apa yang terpikirkan olehku. Peristiwa tersebut diterangkan Abu Awanah dalam kitab Shahihnya dari jalur Mujahid dari Ibnu Umar. Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Muawiyah yang menyatakan bahwa Rasulullah melarang pertanyaan yang sulit.j j j (Dan terbetik dalam hatiku). Yang dimaksud dengan Abdullah adalah Ibnu Umar. i ' ^ — » ^ . bahwa yang diberi pertanyaan harus melihat kepada faktor-faktor yang ada di sekelilingnya ketika pertanyaan tersebut dilontarkan. dia berkata. Ketika kami berdiri aku berkata kepada ayahku. Kemudian bagi yang memberi pertanyaan hendaknya tidak terlalu umum. Aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berbicara. "Bagaimana aku akan berbicara kepada mereka sedangkan umurku baru W tahun. sang perawi. (Akan tetapi aku malu). yaitu seorang pengajar dapat menguji kemampuan muridnya dengan apa yang tersembunyi dan memberitahukannya jika mereka tidak mengetahui hal tersebut. "Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa pohon tersebut adalah kurma. "Aku menduga pohon tersebut adalah kurma yang dibawa oleh beliau. dalam hadits ini juga terdapat pelajaran lain." Selain yang telah diterangkan.. dapat diinterpretasikan bahwa FATHUL BAARI — 273 ." 11 Dalam riwayat Malik bin Dinar dalam bab "A!Haya'ftlIlmi"\ Abdullah berkata.menafsirkan. supaya tidak membingungkan bagi yang akan menjawab. redaksi tersebut ditambah dengan kalimat.. hanya saja pada saat itu aku adalah orang yang paling muda diantara mereka" Kemudian masih dalam riwayat Abu Awanah dalam kitab Ath'imah disebutkan." Dalam redaksi tersebut terdapat petunjuk. Dalam riwayat Abu Awanah pada bab "Pemahaman Merupakan Bagian dari Ilmu".'Apa yang engkau katakan lebih baik dari apa yang aku pikirkan yaitu " Ibnu Hibban menambahkan dalam Shahihnya. maka aku pun menjadi segan untuk berbicara. " Sedangkan dalam riwayat Nafi' disebutkan." Al Ismaili dalam riwayatnya mendahulukan kalimat Jj Maksudnya pikiran mereka langsung tertuju kepada pohon-pohon padang pasir. dan hal tersebut membuat mereka mencoba menafsirkannya dengan berbagai jenis pohon kecuali kurma.

Dia dapat memanfaatkan setiap apa yang dihasilkan oleh agama tersebut. "Aku yakin bahwa yang dimaksud adalah kurma. baik pada saat hidup atau setelah meninggal dunia.. "Maka terlihatlah persamaan antara keduanya. Lalu Rasulullah SAW bersabda. "Rasulullah membacakan ayat ini kemudian bersabda. Dalam hadits tersebut terdapat dorongan untuk memahami sebuah ilmu. kemudian beliau memakannya selelah membacakan ayat tersebut dan bersabda. maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah datang dengan membawa kurma yang dipanggang. Al Bazzar juga meriwayatkan dari jalur Sufyan bin Hushain dari Abi Bisyr dari Mujahid dari Ibnu Umar bahwa dia berkata. akarnya kokoh dalam tanah dan batangnya menjulang ke angkasa?" Kemudian dia menyebutkan hadits tersebut. Riwayat ini menguatkan riwayat Al Bazzar. untuk itu Imam Bukhari membuat bab khusus yaitu bab "Al Fahm fil 'Ilmi" yang terdapat dalam kitab Al 'Ilm dan kitab Al Adab. halal juga diperjualbelikan dan hal ini telah dibahas dalam bab khusus oleh Imam Bukhari dalam kitab Al Buyu\ Hal tersebut disebutkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir firman Allah.maksudnya adalah pertanyaan yang tidak bermanfaat atau pertanyaan untuk menyakiti si pengajar atau orang yang akan menjawab. adalah amal perbuatan mereka diangkat dan diterima. "Siapa yang dapat memberitahukan kepadaku pohon apa yang seperti orang muslim.. Kemudian di dalamnya juga terdapat bukti akan barakah kurma dan dalil diperbolehkannya seseorang untuk menjual kurma panggang. 2 7 4 — FATHUL BAARI . yaitu dasar agama orang Islam sangat kuat dan apa yang dihasilkannya berupa ilmu dan kebaikan merupakan makanan bagi ruh. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa maksud dari cabangnya di langit. "pohon tersebut adalah pohon kurma?' Jika hadits ini dipadukan dengan hadits sebelumnya. Secara gamblang hal ini dijelaskan dalam riwayat Al Bazzar dari jalur Musa bin Uqbah dari Nafi' dari Ibnu Umar yang berkata. karena semua yang halal dimakan. "Diantara pohon-pohon terdapat sebuah pohon " Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah berkata." (Qs. akan tetapi umurku menahanku untuk tidak berbicara. "tahukah kalian pohon apakah itu?" Ibnu Umar berkata. sedang dia tetap dijaga oleh agamanya. Ibrahim (14): 24) yang mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan pohon dalam kalimat tersebut adalah pohon kurma. "Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik. Al Qurthubi berkata.

Kita juga mendapatkan dalam hadits tersebut penghormatan terhadap yang lebih tua dan mendahulukan ayah dalam menjawab serta tidak tergesa-gesa menyampaikan apa yang dipahami olehnya. Terdapat pula indikasi bahwa memisalkan sesuatu dengan sesuatu yang lain tidak harus sama dalam segala aspek. yang merupakan instink (naluri) manusia untuk dipuji atas perbutan baik yang dilakukan oleh dirinya dan anaknya. pohon tersebut berpasangpasangan dan pohon tersebut minum dari atas. Kemudian seorang pakar dapat saja tidak mengetahui sesuatu yang diketahui oleh orang yang status keilmuannya lebih rendah. karena tak pernah ditemukan hadits yang menegaskan hal tersebut. Pendapat tersebut diambil dari harapan Umar di atas."Rasulullah SAW bersabda. karena dia membandingkan pendapat anaknya dalam satu masalah dengan unta yang sangat berharga. bahwa hadits dengan redaksi seperti ini hanya diriwayatkan oleh Ibnu Umar. karena semua persamaan terdapat pada seluruh manusia tidak khusus orang muslim. Juga untuk menunjukkan bahwa si anak semenjak kecil telah memiliki kelebihan dalam pemahaman agar Rasulullah mendoakan anak tersebut. walaupun dia menduga jawabannya benar. karena orang mukmin tidak dapat dimisalkan dan dibandingkan dengan benda mati. "Orang mukmin seperti pohon kurma. Semua persamaan yang disebutkan adalah lemah. setiap yang dihasilkan olehnya bermanfaat bagimu. At-Tirmidzi berkata. "Hadits tersebut FATHUL BAARI — 275 . Pendapat yang lebih lemah mengatakan bahwa pohon tersebut diciptakan dari kelebihan tanah penciptaan Adam. bahwa pohon kurma tidak akan mati kecuali dipotong kepalanya dan tidak akan berbuah kecuali jika dibuahi. Ketika mendengar pendapat tersebut. dengan syarat perbuatan tersebut karena Allah." Demikianlah disebutkan secara ringkas dengan sanad yang shahih. Sedangkan orang yang mengklaim bahwa persamaan antara orang muslim dengan pohon kurma adalah. Dalam hadits tersebut terdapat cara menggunakan contoh dan permisalan untuk menambah pemahaman dan menggambarkan suatu makna agar lebih meresap dalam pikiran. karena ilmu adalah anugerah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya. imam Malik menjadikan hadits ini sebagai dalil diperbolehkan adanya keinginan untuk dipuji atas perbuatan baik yang dilakukan. Dalam hadits tersebut tampak pula betapa hinanya dunia di mata Umar. Pohon tersebut tidak akan mati kecuali jika ditenggelamkan. Pelajaran yang dapat diambil Al Bazzar dalam musnadnya menyatakan. serbuknya berbau seperti sperma manusia.

akan tetapi dengan 2 7 6 — FATHUL BAARI . pohon tersebut seperti orang muslim." Keterangan Hadits: Dalam bab ini disebutkan kembali hadits ibnu Umar dengan redaksi yang mirip dengan hadits sebelumnya. sedangkan aku menduga pohon tersebut adalah pohon kurma. "Beritahu kami pohon apakah itu?" Rasulullah menjawab. Untuk itu dapat kita simpulkan. ditambah Abu Hurairah dan Anas bin Malik jika keduanya benar-benar mendengar hadits ini dalam majelis tersebut. beliau bersabda. Umar. "Yang dimaksud dengan pohon tersebut adalah pohon kurma" Dalam riwayat sebelum ini dari Mujahid dari Ibnu Umar diketahui bahwa umur Ibnu Umar pada saat itu adalah 10 tahun. Mereka pun berkata. Ibraahhm (14): 24) beliau melanjutkan.P^ 5 ^ 'd*y ^'^^^/-^ ''o i .AJ>IJJ( r ^ 1 J** # b >*jy «d) I p ^ J J ^ P Jii iS^'p . B E R T A N Y A U N T U K M E N G U J I I L M U Y A N G DIMILIKI V i'y*~^ > A ) 1 ^ jl jLi j £ j a^p 41)1 J*> ^Jl j * 'p P^ Ijjl J>\ j .°9 iZ~"PZ*\j i i k J l Ljjl ^ J k Jii Aj\i\ J y* j b ^ L > LljJj- 26. Dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW. Ibnu Umar. "Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik" (Qs. An-Nasa'i dan Ibnu Hibban bahwa ketika Rasulullah membacakan firman Allah. "Pohon kurma.ditemukan pula dalam bab ini dari Abu Hurairah." Kemudian dia mengisyaratkan kepada hadits pendek dari Abu Hurairah yang disebutkan oleh Abdu bin Humaid dalam tafsirnya dengan redaksi. "Perumpamaan seorang muslim adalah seperti pohon kurma. bahwa diantara sahabat yang hadir adalah Abu Bakar. "Diantara pohon-pohon ada pohon yang tidak jatuh daunnya. beritahu aku pohon apakah itu? " Orang-orang menyangka pohon tersebut adalah pohon belukar. 5." Demikian pula menurut Tirmidzi. J.

Pendapat ini tidak dapat diterima. 6. "Kita mendapatkan ijazah dari fulan." Jika seorang qan FATHUL BAARI — 277 . tambahkanlah "<Qs. Al Karmani sering kali mengulang pendapat ini dalam syarahnya. "Apakah Allah memerintahkan kamu untuk mengerjakan shalat?" Nabi menjawab. maka tidak ada keistimewaan Bukhari dibanding yang lain." Malik mengambil dalil dengan kitab yang dibacakan kepada kaumnya. "Ya Tuhanku. "Dan katakanlah. "Ya {benar)" Mereka berkata. maka mereka mengatakan. yang menyatakan bahwa dia meniru tema yang dibuat oleh gurunya. sedangkan riwayat Khalid -menurutnyamenjelaskan masalah "pertanyaan imam". ilmu pengetahuan. Kemudian riwayat Qutaibah menunjukkan makna tahdits dan ikhbar. Setelah itu Al karmani menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Syaikhnya yang berkaitan dengan hal tersebut.rangkaian sanad yang berbeda. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk membantah pendapat yang mengatakan. "Maka ini adalah bacaan kepada Nabi yang dikhabarkan Dhimam kepada kaumnya. karena kami tidak pernah menemukan orang yang mengetahui kadar kejeniusan Al Bukhari. maka mereka membolehkannya. walaupun saya tidak menemukan ada yang berpendapat seperti ini sebelumnya. Sedangkan Al Karmani mengklaim bahwa pengulangan tersebut disebabkan karena dia memperhatikan judul dan karangan karya gurunya. bahwa hadits ini merupakan pengulangan tanpa maksud. Karena jika memang perbuatan tersebut ternyata dilakukan. Sebagian mereka mengambil dalil dalam membacakan sesuatu kepada orang yang berilmu dengan hadits Dhimam bin Tsa'labah yang berkata kepada Nabi SAW. Hasan. H A L . Thaahaa(20): 114) kepadaku Qira'at dan 'Ardh kepada seorang muhaddits (ahli hadits). Telah diriwayatkan dan beberapa pakar bahwa keistimewaannya dibanding yang lain adalah dalam ketajaman analisanya untuk menentukan judul-judul setiap bab.H A L Y A N G B E R H U B U N G A N D E N G A N ILMU Firman Allah. Tsauri dan Malik memandang bahwa membaca adalah diperbolehkan. oleh karena itu apa yang diklaim oleh Al Karmani menunjukkan bahwa dia tidak memiliki keistimewaan karena menjiplak gurunya.

'S.'Telah menceritakan kepada saya ( ^ ^ . ' " Saya mendengar Abu Ashim berkata dari Malik dan Sufyan. JUi iL-uif Ju' L L i aJlLUl ^ I L ^ ALL J L .^ Jtiij 1UJ> Lslff 1 4 J JL» ji-J li jj^lUJi jt li-tiU j l i - J_^ji l i djX j ^ > u * d i j^jfti ^. "| ' S * If * [ ' 0 ' L -—* oy» p±y j> ^ c?~" ^ o. "Membaca kepada orang yang berilmu adalah sama dengan bacaannya.membacakan bacaannya kepada seorang muqri'." Sufyan berkata.-dJl Jw3 J j l JUi Ldl^ii J i . maka dia boleh mengatakan." ' '9' ' . Aii u l i ^ » i i i i j fj\ ^ j-ikii oi^iuaJi 'J '$jA siif iluf ji_i jlLjl ^ ^ 1 3 1 lii » ^ af s A l JJL i l i i j f j i JUi" J4i. ' _ s . aiaLJi a i i i^L °ji iiif JJL iliiJf j i i p ^ 1 Jl—ii ^—U J^JJl JlHj Oi. "fulan telah membacakan atau mengajarkan kepada saya. r' 1 l*uif ^ .41—iii L t ' ' 2 7 8 — FATHUL BAARI . "Apabila dibacakan pada seseorang muhadits.^ - 3 - i 'i ' ' ." Muhammad bin Salam.i p ^ i i j u i ^ I r ^ilii J i i i L . "Tidak apa-apa membacakan kepada orang yang berilmu. j ^ i ij j u i J** ^ Ji j i i i u ^ikJi _ a i!llli i l i C J l jJLj ^ « d J i J l .) . J !fj J ^ l J p IsJ JUi H^f iiiLJll JUi i)J 1 1 ji Jl. Muhammad bin Hasan Al Wasith meriwayatkan dari 'Auf dan dari Hasan.^ ^ <y- u* i J . tidak apa-apa mengatakan. ^ j 4^LP AJJI ^Lj au i u. ia berkata. i.

benar "la berkata lagi. "Saya bertanya dengan nama Allah. lalu ia mengizinkan untuk meriwayatkan darinya. Untuk itu. " Maka laki-laki itu berkata pada Nabi SAW. dimana hal itu lebih khusus daripada qira'ah (membaca).63. "Saya bertanya dengan nama tuhanmu dan tuhan orang-orang sebelum kamu. "Siapakah diantara kalian yang bernama Muhammad. " la lalu berkata. maka janganlah anda gusar! "jawab Nabi.' Benar (iya). "Saya telah mendengarmu. Dari Syarik bin Abdullah bin Abi Namir bahwa beliau mendengar Anas bin Malik berkata. "Ya. tanpa harus membaca kepada syaikhnya. kecuali dengan membaca." K e t e r a n g a n Hadits: Membaca berbeda dengan ardh. adakah Allah memerintahkan anda untuk menegakkan shalat 5 waktu sehari semalam?" Jawab Nabi. Sebagian ulama salaf tidak menambah apa yang mereka dengar dari para syaikhnya. yang mungkin pertanyaan saya ini agak sukar. "Laki-laki putih yang bersandar. karena membaca lebih umum daripada 'ardh. dan saya adalah seorang utusan dari kaum saya. " Maka ia berkata. yaitu jika seseorang menghadirkan syaikhnya yang asli dan melihatnya serta ia mengetahui kebenarannya. "Saya bersumpah padamu atas nama Allah. Bukhari menulis bab khusus tentang bolehnya hal tersebut dan FATHUL BAARI — 279 . "Ya Allah. pengertian semacam ini disebut dengan 'Ardhul Munawalah. Seorang murid tidak dapat melakukan 'ardh. Sebagian orang memperluas pengertian 'ardh. Sebenarnya. apakah Allah yang mengutusmu kepada semua manusia? "Nabi menjawab. adakah Allah yang memerintahmu untuk mengambil shadaqah dari orang-orang kaya dan membagikannya untuk orang-orang miskin?" Nabi berkata. "Saat kita duduk bersama Rasulullah di dalam masjid. Saya Dhimam bin Tsa labah. benar. "Anak Abdul Muthalib? Nabi SAW berkata kepadanya. " Lalu orang itu berkata kepada Nabi. "Adakah Allah memerintahmu untuk berpuasa pada bulan ini (Ramadhan) setiap tahun? Jawab Nabi. "Saya bertanya kepadamu. karena 'ardh adalah apa yang dikemukakan oleh seorang murid kepada syaikhnya atau kepada orang lain dengan kehadiran syaikhnya. " Nabi SA W berada diantara mereka. "Saya beriman pada apa yang kamu bawa. masuklah seorang laki-laki yang turun dari atas unta dan menghentikan untanya di depan masjid dan mengikatnya. benar. " Tanyanya pula. " Kemudian dia berkata kepada mereka yang ada di situ. "Ya. "Tanyakan apa yang ada pada diri anda. maka kami berkata. saudara bani Sa ad bin Bakr. "Ya. " Maka ia berkala.

Hal itu dijadikan dalil oleh Humaidi. Adapun maksudnya di sini. bahwa Bani Saad Bin Bakar mengutus Dhimam bin Tsa'labah. kemudian ia mengatakan. Tetapi hal itu terdapat dalam jalur lain yang disebutkan Ahmad dan lainnya dari jalur Ibnu lshaq. kemudian Imam Bukhari bersandar kepadanya setelah mengkritiknya. Begitu juga apabila dibacakan kepada orang-orang berilmu dan ia mengakuinya. Kemudian diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri. dan ia menceritakan kisah Dhimam bin Tsa'labah.bahwa kata HUJI berarti buku. guru Imam Bukhari yang dijelaskan dalam bukunya An-Nawadir. ia berkata. Demi Allah. maka disebutkan hadits panjang dan diakhimya Dhimam berkata pada kaumnya saat kembali pada mereka. "Saya mendengar Malik 2 8 0 — FATHUL BAARI . Ia berkata. la berkala. Sedangkan Imam Malik dalam menganalogikan membaca hadits dengan membaca Al Qur'an seperti yang diriwayatkan Khatib dalam kitab Kifayah dari jalur Ibnu Wahab. tidak dimaksudkan memberi ijazah seperti istilah yang digunakan diantara ahli hadits. Maka boleh bersaksi dengannya atau memberi izin. Kemudian saya melihat ada perbedaan dalam hal ini. kecuali lelah menjadi muslim'." Dalam matan hadits yang dijelaskan oleh Imam Bukhari. Sesungguhnya Allah telah mengutus rasul dan menurunkan kitab kepadanya. "Ya atau benar". Perkataannya (Malik berdalil dengan buku atau tulisan) Imam Jauhari berkata. kata tersebut berasal dari bahasa Persia yang teiah masuk ke dalam kosa kata Arab. dan Malik berpendapat bahwa mendengar dari orang-orang berilmu adalah sama dengan membaca kepadanya. tidak terdapat hadits Anas dalam kisah Dhimum yang memhentahu kaumnya tentang masalah tersebut. adalah sesuatu yang tertulis di dalamnya pengakuan seseorang apabila dibacakan sesuatu kepadanya.' Maka ditanyakan kepadanya. Saya telah dalang kepada kalian dengan apa yang dibawanya dan dengan apa-apa yang diperintahkan dan dilarang untuk kalian. Abu Said Al Haddad berkata. bahwa yang mengatakannya adalah Abu Said Al Haddad yang diriwayatkan Baihaqi dalam kitab Ma 'rifah dari Ibnu Kliuzaimah. Ini juga dikatakan sebagian orang yang bertemu dengannya atau mengikutinya. maka dibenarkan untuk meriwayatkan darinya. 'Saya mempunyai berita dari Nabi tentang membaca kepada orang yang berilmu. tidak ada pada hari itu dan selelahnya laki-laki dan perempuan. "Saya mendengar Muhammad bin Ismail Al Bukhari mengatakan bahwa.mengemukakan perkataan Hasan Al Bashri yang membolehkan qira'ah kepada orang yang berilmu." Perkataan Bukhari "membolehkan" atau memberi izin. meskipun orang itu belum melafazhkan apa-apa. "Dari Ibnu Abbas.

maka ia berkata. dan saya mendengar dia menolak keras siapa yang mengatakan. Hasan telah menceritakan kepada kami. "Ya.ditanya tentang buku yang dibacakan kepadanya. "Membaca kepada orang yang berilmu adalah diperbolehkan. "Maka saya mengatakan Hasan telah menceritakan kepada saya?" la menjawab. padahal Al Qur'an adalah lebih mulia dan a g u n g ? " Sesungguhnya sebagian perawi yang berhaluan keras dari Irak mengatakan. lalu ia berkata. ia berkata. saya membacakan padamu atau kamu membacakan pada saya. rumah saya jauh. apakah seseorang akan mengatakan ^ (dia telah menceritakan kepadaku)?' Maka 1 ia menjawab. ia mengatakan. begitu juga dengan Al Qur'an. Tetapi yang masyhur dari Malik sebagaimana dinukil oleh Bukhari dan Sufyan Tsauri bahwa dua hal mi adalah sama. katakan bahwa Hasan berbicara kepada saya. karena sebagian penduduk Madinah dan lainnya berbeda pendapat dengan mereka dan mengatakan." Adapun perkataan I lasan. "Janganlah kamu menganggap bahwa membaca seperti mendengar. apakah yang patut kita katakan untuk buku yang kita bacakan kepadamu?'" Ia mengatakan. bahwa mendengar dari syaikh lebih mulia tingkatannya daripada membacakan kepadanya. ia berkata." Ia berkata. Dikeluarkan dan Jalur Ahmad bin Hambal dari Muhammad bin Hasan Al Wasilh dan Auf Al A'rabi. sehingga membuat saya susah. maka saya akan membaca (belajar) kepadamu."' Dari Abu Ubaid. Adapun yang masyhur dari jumhur ulama." Diriwayatkan oleh Abu Fadhl Sulaimani dalam Kitab Al Hatstsu 'ala Thalabil Hadits dari jalur Sahal bin Mutawakkil. Apabila kamu mengizinkan. bahkan merekalah yang membacakan kepadanya." F A T H U L BAARI — 281 . bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan. "Bagaimana hal ini tidak cukup bagi anda. "Fulan telah membacakan untuk saya?" Diriwayatkan hakim dalam Ulumul Hadits dari jalur Mutharrif. "Saya berteman dengan Malik selama 17 tahun. "Katakanlah. bahwa telah diriwayatkan oleh Khatib dari Ibrahim bin Sa'ad.'Kita berkata kepada Hasan. kecuali mendengar dari lafazh syaikh. Saya tidak melihat dia membacakan Al Muwatha' kepada seorang pun. "Muhammad bin Salam mengatakan kepada saya dengan lafazh. "Wahai Abu Said." Hadits ini diriwayatkan oleh Khatib. sesuatu yang telah disebutkan dalam hadits dan dibenarkan dalam Al Qur'an. "Membaca pada saya lebih melekat dan lebih paham daripada saya yang membacakan. 'Sesungguhnya membaca pada syaikh lebih mulia dari pada mendengar lafazhnya.'" Beliau berkata. Saya tidak peduli. "Ya. 'Tidak cukup." Bukankah hal ini juga benar jika seorang membaca kepada orang lain.

Beliau dikelilingi oleh mereka dari segala sisi. "Dari Anas. Dalam riwayat Musa bin Ismail disebutkan. atau mungkin Imam Laits mendengar dari Sa'id dengan perantara." adalah riwayat yang masih diragukan dan banyak tambahan dalam sanad-sanadnya. Hal ini mengandung dalil bahwa riwayat Imam Nasa'i dari jalur Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad dari Laits. Imam Daruquthni mengatakan. insya Allah. kemudian ia bertemu dengannya dan berbicara. disebutkan oleh Ibnu Mundih dari jalur Adh-Dhahhak bin Utsman yang keduanya dari Said dari Abu Hurairah. "Dia 2 8 2 — FATHUL BAARI . "Muhammad bin Al 'Ajlani dan lainnya menceritakan kepada saya dari Said. Hal itu telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar setelah jalur ini. Namun menurut Imam Bukhari perbedaan ini tidak mengapa. tetapi ia meriwayatkanya dari jalur Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit dari Anas. "Kami dilarang untuk bertanya kepada Nabi mengenai Al Qur'an. Tetapi riwayat Laits yang dikuatkan. namun Ibnu Saad menyebutkan bahwa ia termasuk salah seorang sahabat. Pendapat ini hanya sebuah kemungkinan. Ibnu Baththal mengambil kesimpulan dari kalimat (Dalam Masjid).Dalam riwayat Ismail dari jalur Yunus bin Muhammad dari Laits." seakan-akan Anas mengisyaratkan kepada suatu ayat dalam surah Al Maa'idah. Dalam perbedaan yang lain. namun mereka meragukan bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Laits. Pembicaraan lebih luas tentang hal ini akan dibahas dalam tafsir. Keberadaan Rasulullah bersama para sahabatnya menandakan bahwa beliau telah meninggalkan sifat takabur. bahwa air kencing dan tahi unta adalah suci. yaitu datangnya seorang laki-laki badui yang cerdas yang bertanya kepada Muhammad SAW dan kita mendengarkannya. apa yang diriwayatkan oleh Nasa'i dan Baghawi dari jalur Harits bin Umair dari Ubaidillah bin Umar. Tidak diketahui nama sebenarnya dari Ibnu Abi Namtr. Kemudian terjadi sesuatu yang mengejutkan kita. Demikian juga Ibnu Mundih dari jalur Ibnu Wahab dari Laits. Sedangkan Imam Muslim tidak meriwayatkan dan" jalur ini. adalah masjid Rasulullah. bahwa telah diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Umar dan saudaranya -Abdullah dan Adh-Dhahhak bin Utsman.dari Maqburi dari Abu Hurairah. Yang dimaksud dengan masjid dalam hadits ini. ia berkata. karena riwayat Al Maqburi dari Abu Hurairah telah dikenal. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu'aim. karena Laits lebih menguatkan Said Al Maqburi dengan kemungkinan bahwa Said memiliki dua guru. karena Nabi tidak menolak keberadaannya dalam masjid.

Maka Umar berkata dalam riwayat Abu Hurairah." Abu Awanah menambahkan dalam Shahihnya. sebagaimana firman Allah. "Saya mendesak kamu dalam masalah." Riwayat ini untuk menguatkan sifat Nabi SAW. "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain." Perkataannya ilU^ii (Meninggikan suara). dan yang mengejutkan kita adalah datangnya seorang laki-laki dari badui yang cerdas dan bertanya kepada Rasul sedangkan kita mendengarkan. Kita dapat melihatnya dalam ucapannya setelah itu. Konon dikatakan bahwa beliau belum mengatakan "Ya". "Dia putih kemerahmerahan. jika kita mengatakan bahwa dia datang dalam keadaan muslim dan larangan itu belum sampai kepadanya. "Mereka lebih berani daripada kita. Sahabat berangan-angan supaya badui yang cerdas itu tahu apa-apa yang ditanyakannya. "Dia turun dari untanya di depan pintu masjid kemudian mengikatnya dan masuk. "Utusanmu menganggap bahwa kamu menduga. "(<>." Kalimat putih atau kemerah-merahan terdapat dalam riwayat Harits bin Umair. semua itu merupakan dalil atas tingkah lakunya yang baik dan kecerdasan akalnya. mendengarmu) atau turunnya ketetapan Nabi kepada para sahabat untuk memberitahukan sesuatu dari beliau. An-Nuur {24)." dan perkataannya dalam riwayat Tsabit. Dalam riwayat Tsabit dari Ziyad bahwa dia membenarkan apa yang ia tanyakan dan mengulang sumpah dalam setiap masalah sebagai penguat ketetapannya. karena perbuatan tersebut merupakan sisa-sisa tabiat kasar orang Arab. "Saya tidak melihat seorang pun yang lebih teliti dan kritis dalam setiap permasalahan daripada Dhimam. 63) Merupakan sesuatu yang dimaafkan. Hamzah bin Harits berkata. dan mereka mendapatkan keringanan karena ketidaktahuan mereka. artinya saya bertanya padamu dengan meninggikan suara." Hal itu dijelaskan lagi dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Hakim. "Kita dilarang dalam Al Qur'an untuk bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu. karena orang badui im tidak berbicara kepada Nabi sesuai dengan kedudukan beliau yang mulia." Inilah yang terdapat pada awal riwayat Tsabit dari Anas. bahwa beliau tidak putih dan tidak pula sawo matang atau tidak putih sekali. lalu turun dari unta dan mengikatnya kemudian masuk ke dalam masjid. sebagaimana perkataaan Al Baghawi F A T H U L BAARI — 283 ." Para sahabat berhenti saat ada larangan.membawa untanya sampai mendatangi masjid.

"Siapa yang menciptakan langit?" Dijawab. apakah Allah yang mengutusmu? Rasul menjawab." Hakim mengambil kesimpulan dari kisah tersebut. karena 284 . yaitu anjuran untuk mengambil hadits dari sanad yang paling tinggi. "Ya. bahwa hal ini mengandung dalil tidak diperbolehkannya seseorang untuk membedakan sedekahnya sendiri. mendirikan gunung dan menciptakan manfaat di dalamnya." Dalam riwayat Karib dari Ibnu Abbas dan Thabrani. ji (Kamu ambil sedekah ini). Kemudian ia bertanya. Namun saya mengatakan. "Telah datang kepada kita kitabmu dan urusanmu. Dalam hal ini orang badui tersebut tidak hanya mempercayai apa yang didengar dari Rasulullah SAW.dalam Syarah Sunnah. i—iluJi ( j — * JJJ. seolah-olah kamu mengingat dan diingat. Dalam riwayat Musa dikatakan." Demikianlah yang dijelaskan dalam riwayat Imam Bukhari." Siapa yang menciptakan manfaat? Dijawab.—. karena mayoritas mereka adalah ahli shadaqah. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Tsabit. o' (Hendaknya kamu mengerjakan shalat)." Sebenarnya jawaban Rasul itu menggunakan kata " Y a " (na'am). demikian juga kata Ibnu Sakir. bahwa pedapat itu masih harus diteliti kembali. seakan-akan beliau bersaksi kepada Allah untuk menguatkan keimanannya. "Allah. "Kamu meminta kepada Allah. Jauhari berkata. "Hendaknya kita shalat lima waktu sehari semalam). Ha! ini tidak termasuk 1_L. Ibnu Tin berkata. Dalam riwayat Tsabit dari Muslim dikatakan. "Utusan kamu menduga. keumuman mereka. bahwa dia (orang badui) datang setelah masuk Islam untuk meyakinkan kepada Rasul apa yang dikhabarkan utusan beliau kepada mereka (Dhimam bin Tsa'labah). "Kamu benar".FATHUL BAARI . tetapi dia ingin mendengarkan langsung dari Rasulullah." Siapa yang menciptakan langit. "Allah. \—ji> *—! (Kepada fakir miskin kita). Imam Al Qurtubi mengatakan. Saya katakan bahwa pendapat ini masih harus diteliti kembali." Siapa yang menciptakan bumi dan gunung? Dijawab. bahwa kata V**^ adalah perkataan yang tidak dapat dipercaya. karena untuk mencari berkah.T (Saya beriman dengan apa yang kamu bawa). bumi. Dalam riwayat Al Ushaili menggunakan "nun" 'j-J> J (hendaknya kita mengerjakan shalat). — L — _ ^ Kemungkinan ungkapan ini adalah khabar dan merupakan pilihan Bukhari yang dikuatkan Qadhi 'lyadh. "Allah. Tetapi dalam hadits ini Rasul menyebutkan Allahumma.

dan ayat larangan ini (surah Al Maa'idah) turunnya terakhir. karena haji telah diketahui FATHUL BAARI — 285 . bukan berarti bahwa Dhimam datang dalam keadaan musyrik. dan Bani Saad . Kedua. tapi Muslim dan yang lainnya menyebutkannya. Badar Zarkasyi lupa dan mengatakan. "Melaksanakan haji ke Baitullah merupakan kewajiban bagi yang mampu?" Hal ini diriwayatkan juga oleh Muslim dalam hadits Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. dalam hadits Ibnu Abbas bahwa kaumnya mentaati dan masuk Islam setelah dia kembali kepada mereka. Ibnu Tin menjadi kaget dan berkala.juga digunakan dalam perkataan yang benar atau yang terjadi. Sebaliknya. Maka benar bahwa kedatangan Dhimam terjadi pada tahun ke-9 yang dikuatkan Ibnu Ishaq dan Abu Ubaid serta lainnya. adalah karena haji belum diwajibkan pada saat itu. seperti yang dinukil Abu Umar Zaid dalam menjelaskan kefasihan Syaikh Tsa'lab. pendapat ini tidak dapat diterima dari berbagai segi.yaitu Ibnu Bakr bin Hawazin belum masuk Islam. "Sesungguhnya tidak disebutkannya haji. bahwa pengiriman utusan untuk menyerukan kepada Islam dimulai setelah perjanjian Hudaibiyah dan pengiriman sebagian besar utusan itu setelah fathu Makkah. Ketiga..Uj untuk dijadikan 1 dasar dalil. Adapun perkatannya (Saya beriman) merupakan pemberitahuan bahwa dia tidak menanyakan tentang tauhid. Al Ojjrtubi mengambil kesimpulan dari hadits tersebut untuk menyatakan keabsahan iman seorang muqallid (orang yang bertaqlid) kepada rasul. Tetapi. Seakan-akan hal itu sebagaimana yang diungkapkan Al Waqidi dan Muhammad bin Habib. tetapi maksudnya adalah mereka membiarkan seseorang datang dan masuk masjid. Musa mengatakan dalam riwayatnya. dalam riwayat Muslim bahwa kedatangannya adalah setelah turunnya larangan dalam Al Qur'an untuk bertanya kepada Nabi. Pertama. Demikian yang diisyaratkan oleh Ibnu Shalah. kecuali setelah terjadinya perang Hunain dan itu pada bulan syawal tahun ke-8. bahwa datangnya Dhimam adalah tahun kelima. tetapi menanyakan keumuman risalah dan syariat Islam. bahwa tidak disebutkannya haji dalam riwayat tersebut. Hal itu telah kami jelaskan dalam hadits Abu Sufyan tentang permulaan turunnya wahyu. walaupun belum nampak mukjizatnya. Peringatan Dalam riwayat Syarik tidak disebutkan (haji). Adapun Syibawaih banyak mengatakan J ^i. dimana pada tahun itu belum diwajibkan haji. Sedangkan penyusunan bab "Orang Musyrik Masuk Masjid" oleh Abu Daud.

karena riwayat Hamman bin Salmah dari Tsabit 2 8 6 — FATHUL BAARI ." Umar bin Khaththab berkata." yakni keburukan. "Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Sesungguhnya Bukhari mengkritiknya karena dia tidak mengambil dalil dari gurunya." maka disebutkan hadits ini. "Hadits ini juga diriwayatkan Musa bin Ismail." Dalam akhir hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dikatakan.mereka dalam syariat Ibrahim. Imam Muslim pada akhir hadits mengatakan. bahwa seorang laki-laki dari bani Saad bin Bakr datang menemui Rasulullah yang sedang bersama dengan mereka. Kemudian kembalinya Dhimam kepada kaumnya dan mereka mempercayainya. "Saya utusan kaum saya. Haditsnya sampai kepada Nabi menurut Abu Awanah dalam Shahihnya. "Saya anak Abdul Muthalib." Dari hadils ini terdapat beberapa faidah yang lain." Dalam riwayat Ahamd dan Hakim dikatakan. "Sedangkan larangan-larangan ini.sesungguhnya kami telah mensucikan sejak zaman jahiliyah. Perkataan Ibnu Abbas "Lalu datang bertemu dengan kami" menunjukkan keterlambatan datangnya utusan itu. "Saya Dhimam bin Tsa'labah". diantara perkataan Rasulullah SAW pada saat perang Hunain. saya tidak akan mengurangi atau menambah. Nabi berkala." Maka Nabi berkata. ^-I) j j 'j—'• J Y'j tfj (Saya utusan dari kaum saya). diantaranya kedatangan Dhimam yang bertujuan untuk bertemu dan berbicara kepada Rasulullah seperti yang dipaparkan oleh Hakim. "Kita tidak mendengar utusan kaum yang lebih baik dari Dhimam. Ini diucapkannya setelah perkataan. Seakan-akan dia belum merujuk kepada Shahih Muslim. maka akan masuk surga. maka ia berkata. Adapun mengenai apakah hadits ini sampai kepada Rasul (maushul) atau tidak masih diperselisihkan. "Laki-laki yang cerdas. Dalam riwayat Ubaidillah bin Umar dari Makburi dari Abu Hurairah yang ditujukan kepadanya sebelum tambahan dalam kisah ini. "Kalau seandainya ia benar beriman. Dalam riwayat Karib dari Ibnu Abbas dikatakan. apalagi yang lainnya." Hal lain adalah diperbolehkannya bersumpah untuk menguatkan apa yang terjadi. karena Ibnu Abbas datang ke Madinah setelah fathu Makkah. Disamping itu boleh menisbatkan seseorang kepada kakeknya apabila ia lebih masyhur dari bapaknya. seperti dalam hadits Ibnu Abbas. guru Imam Bukhari. demi Allah . "Saya tidak melihat seseorang lebih baik dan teliti dari Dhimam. Musa adalah Ibnu Ismail Abu Salamah At-Tabudzuki. Sulaiman bin Mughirah. Dhimam berkata. Setelah dia pergi. "Bani Saad bin Bakr mengutus Dhimam bin Tsa'labah sebagai utusan menemui Rasulullah yang sedang bertemu dengan kami.

teman imam Bukhari.'" FATHUL BAARI — 287 ." dimana teks tersebut adalah. membuatkan untuknya tanda-tanda. Padahal sebaliknya. Shaghani berkata. "Diriwayatkan Musa dan Ali bin Abdul Hamid dari Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit. hal itu menunjukkan bahwa hadits syarik mempunyai asal. sebagaimana pernyataannya.menyebutkan secara mursai dan dikuatkan oleh Daruquthni. Sulaiman bin Mughirah." Lalu ia menjelaskan hadits ini dengan sempurna. Tsabit dari Anas. "Hadits ini hilang dari semua naskah. Sebagian yang lain menganggap bahwa hadits ini mempunyai cacat yang menghalanginya untuk dikategorikan dalam hadits shahih.setelah perkataannya. 'Demikianlah telah hilang teks ini dan semua naskah yang saya teliti dan ketahui. kecuali naskah yang dibacakan kepada Firabri. 'Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail. Peringatan Ada beberapa teks yang hilang dalam naskah Baghdad -yang dibenarkan Abu Muhammad bin Shaghani setelah mendengar dari sahabat-sahabat Abi Waqt dan menerimanya dari banyak catatan.

Ketika telah sampai pada tempat tersebut. Abdullah bin Umar. "Semoga kerajaan mereka dihancurkan oleh Allah. "Janganlah kamu membacanya kecuali jika telah sampai pada tempat ini. maka Imam Bukhari mcnyebulkan metode-metode lain dalam menyampaikan hadits yang diakui jumhur ulama.7. Yahya bin Said dan Malik membolehkan hal itu. Sebagian ulama dari Hijaz berhujjah dalam masalah munawalah dengan hadits Nabi Muhammad ketika menulis sebuah surat kepada pemimpin pasukan dan bersabda.i -L. surat itu dikirimnya kepada raja Pcrsia (Abru^aiz bin ilurnuiz bin Anusyirwan). " 2 8 8 — FATHUL BAARI . M E T O D E M U N A W A L A H DAN P E N G I R I M A N S U R A T O L E H U L A M A KE B E R B A G A I D A E R A H Anas berkata. karena perbuatan raja Persia itu. Setelah selesai membaca surat. diantaranya adalah metode munawalah yaitu seorang guru memberikan sebuah kitab kepada muridnya dan berkata. Dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah SA W menyuruh seorang laki-laki untuk mengantarkan suratnya kepada pembesar Bahrain (Al Mundur bin Sawi) Kemudian oleh pembesar Bahrain.. atau kitab ini adalah hasil karanganku.j r±S* LP ^* J i i ^ — ^ lAi ISJ-Z .. Sp . Rasulullah SAW berdoa. " Keterangan Hadits: Setelah menjelaskan metode samai (mendengar) dan 'ard (membaca).^P si ^> j — .j AIIP AUI -UJi 64." y_ J>*J\ J AJOJJ jjJuJl A*JJy j f o ^ji J l c — A » ^ J S " I j * > * i O' y.. maka ia membacakan dan menyampaikannya sesuai dengan perintah Nabi. maka raja itu merobek-robeknya Saya kira Ibnu Musayyab mengatakan. maka riwayatkanlah hadits ini dari diriku. "Kitab ini adalah hasil pendengaranku dari si fulan. Utsman menulis beberapa mushhaf dan mengirimnya ke berbagai daerah.dan ini..

Dari kisah pengiriman Mushhaj oleh Utsman dapat diambil pelajaran. sedangkan dalam metode mukutabah tidak. akan tetapi orang-orang yang menolak metode Ard Qira 'ah (membaca) pasti akan menolak metode tersebut. bahwasanya dia memberikan sebuah kitab kepada Abdullah yang berisikan hadits.Dalam pembahasan sebelumnya. Pendapat yang lebih utama adalah pendapat ulama modem yang membolehkan dengan memberikan pengiasan. Meskipun ada sebagian orang yang mengutamakan metode Munawalah daripada Mukatabah. bukan pada asal Al Qur'an itu sendiri karena Al Qur'an lelah diriwayatkan secara Mutawatir. Setelah saya meneliti hadits tersebut. Akan tetapi saya telah menemukannya dalam kitab Al Washiyah milik Abu Qosim bin Mundih dari jalur Bukhari dengan sanad shahih kepada Abu Abdurrahman Al Hubli. bahwa penisbatan Mushhnf kepada l'tsman hanya terbatas pada penulisannya saja. Potongan hadits tersebut sangat jelas membolehkan periwayatan dengan metode Mukatahah. Jumhur ulama telah membolehkan periwayatan hadits dengan metode semacam itu. karena Yahya lebih tua dan lebih berkualitas. Al Mukaatabah merupakan salah satu metode penyampaian hadits. Hadits ini adalah potongan dari hadits panjang yang insya Allah akan dibicarakan pada bab "Fadhailul Qur'an" (keutamaan-keutamaan Al O u r ' a n ) . maka apa yang telah engkau FATHUL BAARI — 289 . atau ia mengizinkan orang lain yang dipercaya untuk menulis hadits tersebut. telah kita kemukakan tentang metode Ard Al Munawalah. Sebagian ulama terdahulu telah membolehkan penyampaian hadits dengan kedua metode tersebut secara mutlak. karena dalam metode Munawalah terdapat pemberian l/in secara lisan. Kemudian setelah selesai. ia mengirimnya kepada si murid dan mengizinkannya untuk meriwayatkan hadits tersebut. yaitu seorang murid memperlihatkan sebuah kitab kepada gurunya. yaitu seorang guru menulis hadits dengan tulisannya sendiri. Sebelumnya saya mengira bahwa Abdullah bin Umar adalah Amri Al Madani yang haditsnya telah saya keluarkan dalam kitab "Ta iiq At-Ta Y/i/" dan Al Karmani juga membenarkan hal itu. menjelaskan bahwa ia bukan Amri. kemudian dia mengatakan. Tetapi disebutkannya Abdullah bin umar lebih dahulu daripada Yahya bin Said. "Perhatikanlah isi kitab ini. karena L 'tsman telah memerintahkan kepada mereka untuk berpegang teguh pada isi Mushhaj tersebut dan menolak yang lain. Dalam hal ini Imam Bukhari menyamakan antara metode Mukatabah dengan Munawalah. ternyata saya tidak mendapatkannya dari riwayat Abdullah bin Umar bin Khaththab secara gamblang.

Hal ini telah disebutkan dalam kitabnya. "Tingkau membaca hadits kepada seorang ulama. dan juga disebutkan oleh Abu Yaman dalam kitabnya dari Syu'aib dari Zuhri yang keduanya dari Urwah bin Zubair. " 1 Ar-Ramahurmuzi meriwayatkan dari jalur Ibnu Abi U w a i s j u g a dari Malik tentang metode-metode periwayatan hadits." Orang yang memberi argumen ini adalah scorany penduduk Hijaz yang bernama Al Humaidi. Dalam hadits tersebut ada kemungkinan bahwa Abdullah adalah Ibnu Umar bin Khaththab. karena Al Hubli terkenal sering meriwayatkan hadits darinya. Jalur lainnya adalah hadits maushul yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Hadits Jundub Al Rajli dengan sanad hasan.ketahui diantara hadits-hadits tersebut biarkanlah. 'Riwayatkan ini dariku. Hadits ini termasuk dalam kategori Munawaiah. dan ada juga kemungkinan bahwa Abdullah adalah Ibnu Amru bin 'Ash. 'Tunjukkan kepadaku seratus hadits yang diriwayatkan Ibnu Shihab sehingga aku bisa meriwavatkannya darimu Malik berkata. Kemudian saya menemukan hadits lain dari Ibnu Abbas yang terdapat dalam Tafsir At-Thabari. Satu diantaranya adalah hadits mursal yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam kitab Al Maghazi dari Yazid bin Ruman. Sariyyah adalah peleton pasukan tentara. 2 9 0 — FATHUL BAARI . Ia berkata. dan yang belum engkau ketahui hapuslah. saudara lelaki Zainab Ummu] Mukminin. maka hadits tersebut menjadi shahih. atau ia yang membaca dan engkau yang mendengarkannya. karena Al Hubli pernah mendengar darinya. padahal hadits ini termasuk hadits shahih. ia pun menyebut hadits ini. Hadits yang menunjukkan pembolehan tersebut tidak dituliskan secara maushul (bersambung sanadnya) dalam kitab ini. yaitu membolehkan periwayatan hadits dengan metode Munawaiah. bahwa Yahya bin Said Al Anshari berkata kepadanya ketika hendak pergi ke Irak. "Maka aku pun menulis dan mengirimkan hadits-hadits tersebut kepadanya. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Yahya bin Sa'id dan Malik adalah seperti dikeluarkan oleh Hakim di dalam Ulumu/ Hadits dari jalur Ismail bin Abi Uwais yang berkata. atau ia memberi kitab kepadamu sambil berkata. yang diangkat sebagai raja pada tahun kedua sebelum perang Badar. dan mereka terdiri dari dua belas orang laki-laki dari kaum Muhajirin. Adapun komandan sariyyah (pasukan) adalah Abdullah bin Jahsy Al Asadi. "Setelah itu. Saya telah menemukannya dari dua jalur. Dengan terkumpulnya jalur-jalur itu. "Saya mendengar pamanku Malik bin Anas mengatakan.

Kisra adalah Abruwaiz Hurmuz bin Anusyirwan. Dalam hal ini. mereka berdua mengatakan. Orang yang mengatakan ini adalah Ibnu Syihab. — ( S a y a kira). —LJ y_\&j ^ (Menyuruh seorang laki-laki untuk mengantarkan suratnya). yaitu Rasulullah menyodorkan sebuah kitab dan memerintahkan untuk membacakannya kepada para sahabat agar mereka mengetahui isi kitab itu. FATHUL BAARI — 291 . "Baik Jundub maupun Urwah. "la membuka kitab tersebut di sana hingga kami mendapatkan berita tentang Quraisy. Pembahasan hadits ini akan kita bahas dalam kitab Al Maghazi. seorang periwayat hadits. seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut dalam kitab Al Maghazi. tidak seperti generasi berikutnya seperti yang dikatakan oleh Al Baihaqi. sedangkan pembesar Bahrain adalah Al Mundzir bin sawi. maka hadits tersebut mengandung metode Munawaiah dan Mukalabah. sedangkan selebihnya masih melanjutkan perjalanan hingga mereka bertemu dengan Amru bin Al Hadhrami yang membawa barang dagangan untuk kaum Quraisy. Wallahu A lam. maka bukalah kitab ini. "Maka dua orang berjalan pulang. 'Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram " (Qs. Al Bauarah (2): 217) Indikasi dan hadits tersebut sangat jelas. dan jangan sekali-kali engkau menyakiti seorang wanita. saya berpendapat bahwa metode Mukatahah dapat dijadikan hujjah jika surat tersebut bersifat resmi (distempel). atau ada syarat lain yang dapat menutup kemungkinan terjadinya perubahan atau penggantian." Dalam hadits Jundub dikatakan. yaitu pada awal bulan Rajab. Hal ini disebabkan karena sahabat adalah orang yang diakui keadilannya. maka turunlah firman Allah. Orang tersebut adalah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. pembawanya adalah orang yang bisa memegang amanat dan orang yang menerimanya mengetahui tulisan guru itu. Hadits-haditsnya tentang pengiriman surat tersebut disebutkan secara maushul (bersambung sanadnya). Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits tersebut dapat dijadikan hujjuh. Perampasan ini adalah pertama kalinya dalam Islam sehingga orang-orang kafir mencela mereka karena hal tersebut.Demikianlah hadits Jundub tidak menyebutkannya secara mendetail. "Jika engkau telah bepergian selama dua hari. " Amru bin Al Hadhrami adalah orang kafir pertama yang terbunuh oleh kaum Muslimin. karena tidak mungkin ada perubahan atau penggantian. maka mereka pun membunuhnya. Dalam riwayat Urwah Rasulullah berkata kepada Abdullah bin Jahsy. dan mereka merampas semua barang dagangan kaum Musyrikin.

.'Inu.v bin Malik R A.' Keterangan Hadits: j' )\} (Nabi menulis sepucuk surat atau ingin menulisnya).sepucuk surat atau ingin menulisnya. ' Lalu Nabi membuat sebuah stempel dari perak yang bertuliskan Muhammad Rasulullah. - - . "Nabi menulis . dengan maksud untuk menjelaskan bahwa yang menulis adalah orang tam atas perintah beliau. 292 — FATHUL BAARI . 'Siapakah yang mengatakan stempel itu bertuliskan tulisan Muhammad Rasulullah?' Qatadah menjawab. bahwa surat ini adalah berasal dari Rasulullah walaupun ia tidak mendengar dan membacanya. dengan maksud agar terhindar dari perubahan atau pemalsuan. bahwa ia berkata.^ L i r jii p^J. ^ j i ^ji j i r jjji # i r « s • . * . Adapun penisbatan surat tersebut kepada Nabi merupakan majaz (kiasan). _ J i J U AJJI J J — J J_»J>^ AJljij J\j 65 /)uW . 'Mereka tidak suka membaca surat yang tidak dicap (stempel).. Hadits ini menunjukkan metode Mukatabah secara jelas.sedangkan hadits-hadits tentang doa disebutkan secara mursal. Akan tetapi. f .' - . Pengulangan ini disebabkan adanya keragu-raguan dari perawi hadits. i —i jUi S[ i j ^ f Jji^i' 'i' (Mereka hanya membaca surat yang dicap atau distempel).^'s j «o. Seakan-akan aku melihat putihnya stempel itu ketika berada di tangan Nabi. dan juga dapat menunjukkan metode Munawalah yaitu Nabi SAW menyerahkan surat kepada utusannya dan menyuruhnya untuk menyampaikan kepada pembesar Bahrain. Dari sini dapat diketahui bahwa syarat diperbolehkannya metode Mukatabah adalah surat tersebut harus berstempel (bercap). Maka aku (Syu 'bah) bertanya kepada Oatadah. s s . ji V) y U i i f 'X\p »ip cJui* ^ J . terkadang syarat ini tidak diperlukan jika si pembawa surat itu adalah orang yang adil dan dapat dipercaya. tiba-tiba seseorang berkata kepada beliau. 'Anas.

Wasiat serta metode I'lam (pemberitahuan) yang terlepas dari metode ijazahHal itu dapat disimpulkan. 8. Imam Bukhari tidak membolehkan metode Ijazah yang berarti tahdits (dengan menggunakan haddatsa). Pelajaran yang dapat diambil Imam Bukhari tidak menyebutkan metode penyampaian hadits dengan cara ijazah yang terlepas dari metode Munawaiah ataupun Mukatabah. Yang mengatakan ini adalah Syu'bah. Akan tetapi alasan penggunaan metode ini adalah untuk membedakan antara hadits yang memenuhi syarat dan hadits yang tidak memenuhi syarat. D U D U K PALING B E L A K A N G D A L A M S U A T U MAJELIS DAN M E N E M P A T I T E M P A T Y A N G K O S O N G -__ill Jli J FATHUL BAARI — 293 . Allah akan dan pembahasan selanjutnya tentang hadits ini insya dibicarakan pada bab "Jihad" dan bab "Libas" (pakaian). bahwa beliau tidak membolehkan metode-metode tersebut.oii> (Maka aku bertanya). beliau juga tidak menyebutkan metode Wijadah (penemuan kitab). karena metode tersebut -menurut beliau.termasuk dalam kategori masmu ' (didengar). karena saya menemukan banyak hadits yang terdapat dalam kitab Al Jami' dengan menggunakan j Jii ternyata dalam kitab lain beliau menggunakan kata (menceritakan kepadaku). bahwa semua perkataan Imam Bukhari yang menggunakan j J'j (berkata kepada saya) merupakan bentuk ijazah dan tidak dapat diterima. Ibnu Mundih berpendapat.

2 9 4 — FATHUL BAARI . Orang yang kedua merasa malu-malu. maksudnya keduanya sampai dalam majelis Rasulullah. 1 nafar" adalah tiga J\—-J' JLJL—i (Dua orang diantaranya masuk) diletakkan setelah kalimat . dua orang diantaranya masuk ke dalam masjid dan satu orang lagi terus saja pergi.ij 1 . yang seorang mencari tempat di sisi Allah. A I P «U I ^ _^-ti 66. Maka. maka ia duduk di situ Yang seorang lagi duduk di belakang mereka. maka Allah pun berpaling darinya. Keterangan Hadits: <yt (Tiga orang). Sedangkan makna dari "tsalat. Ketika selesai memberikan khutbah. maka Allah pun malu kepadanya.su orang yang merupakan satu kelompok. kedua orang dari mereka terus masuk ke dalam masjid sedangkan salah seorang dari mereka keluar. Sedangkan orang yang ketiga berpaling. Dori Abu Waqid AS Laitsi RA bahwa ia berkata. seorang diantaranya melihat tempat lowong di tengah-tengah jamu 'ah. Nafar adalah kelompok yang terdiri dari 3 sampai 10 orang. sedangkan orang yang ketiga terus saja pergi. maka diberi oleh Allah.j—L»ij 4 Lg-j j~i>>-» Jji J ^iJj-Ji ^ ilii 4>-\i LUIJ Cj^oi-l L^U 'pJS^ j j l i i y^U ^Jiii» riu Ui J L ^ J-J *y lr&* Uij iii ai/i» i-i A\* 1LI CU I L I » uU£l. "Baiklah.—u «JSC J J ' menunjukkan bahwa mereka bertiga -pada awalnya- baru datang dan kemudian masuk ke dalam masjid seperti disebutkan dalam hadits Anas.Lu^i (Setelah keduanya sampai di hadapan Rasulullah). Setelah keduanya sampai di hadapan Rasulullah. akan saya jelaskan tentang ketiga orang itu. 'Ketika Nabi sedang duduk dalam masjid bersama para sahabat. Rasulullah bersabda. Akan tetapi setelah mereka melihat majelis Nabi. •ii'Jj—-j js. ketiga orang tersebut masuk ke dalam masjid. datanglah tiga orang.

Arti atau secara implisit maksudnya J. i—U . Li^—l-'i (Orang yang kedua merasa malu-malu). menurut pendapat Qadhi "Iyadh. Maksudnya. tetapi juga tidak akan menyiksanya. Hadits ini mengandung anjuran untuk beretika dalam majelis ilmu dan mengisi tempat yang kosong dalam majelis tersebut.[> (Yang seorang mencari tempat di sisi Allah. yaitu kepada orang yang meninggalkan majelis bukan karena suatu halangan jika ia adalah seorang muslim.'—L' ^ '/' murka kepadanya. Sedangkan makna Lv> J'/J adalah bahwa Allah memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. "Dan orang kedua itu berlalu kemudian ia dalang dan mengambil tempat duduk" Maka hadits mi menunjukkan. maka dianjurkan untuk duduk paling belakang seperti yang dilakukan oleh orang kedua dalam hadits ini. j . ' adalah berlindung kepada Allah. *—'J. adalah bergabung bersama majelis Rasulullah. Akan tetapi jika ia khawatir akan mengganggunya. i' / — > *Ui Ji 3 .—U' L^JI-'J (Maka Allah pun malu kepadanya). '. dan orang yang datang lebih dahulu berhak untuk duduk di depan. Hadits ini juga mengandung pujian bagi orang yang rela berdesakan untuk mencari kebaikan atau pahala. Sedangkan Anas telah menjelaskan penyebab rasa malu orang tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim. atau mungkin perkataan Nabi O J>'*^ adalah sebagai pemberitahuan atau doa. Artinya Allah i (Maka Allah pun berpaling darinya) atau Allah tidak akan memberinya rahmat. ia tidak mau berdesak-desakan seperti yang dilakukan oleh orang pertama.* — { T e m p a t lowong). bahwa ia malu untuk meninggalkan majelis seperti yang dilakukan oleh temannya yang ketiga. seseorang diperbolehkan untuk lewat di depan orang lain selama tidak mengganggunya. karena ia malu kepada Rasulullah dan hadirin dalam majelis itu. 1 maka diberi oleh Allah). Sedangkan halaqah adalah segala sesuatu yang berbentuk lingkaran. Dalam hadits ini mengandung anjuran untuk membentuk haiaqah dalam majelis dzikir atau majelis ilmu. yaitu sela di antara dua benda. Dalam hal ini.s lain. FATHUL BAARI — 295 . sebagaimana anjuran untuk mengisi s haj (barisan) yang kosong dalam shalat yang telah diterangkan dalam hadit. atau mungkin ia adalah orang munafik sehingga Nabi mengungkapkan kejelekannya. yaitu dengan memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya.

.w J i * ' I ' • ' t s .^ maksudnya Allah tidak membutuhkan kepadanya. Adapun penisbatan kemurkaan kepada Allah hanya sebagai Muqabalah (perbandingan) atau Musyakalah (persamaan).. Hadits ini juga menerangkan tentang keutamaan orang yang mengikuti majelis ilmu dan majelis dzikir. yt ^ AJu. ( c ^ p v & P) P>-')\p . ..1 o! p 'i ' l p * J> J l ' r ' t ' i j \ F *J 'i J u 'U. Z?or( Abdurrahman bin Abu Bakrah. "Suatu ketika Rasulullah berpidato sambil duduk di atas untanya.i. serta duduk bersama orang yang berilmu dan berdzikir di dalam masjid. lafazh tersebut harus ditafsirkan sesuai dengan keagungan dan ketinggian-Nya. Oleh karena itu. . ° J ^ r i i . "Hari apakah sekarang? " Kami diam saja. Hadits tersebut juga membolehkan untuk memberitakan keadaan orang-orang yang berbuat maksiat dengan maksud untuk mencela perbuatan tersebut.\ o 4 ~ « ~ ~ _ 4jl Jl j U i A* I *I ^JL. . ya 2 9 6 — FATHUL BAARI . Adapun fungsi penisbatan itu adalah untuk menerangkan sesuatu secara jelas. "Bukankah hari ini hari Nahr? " Kami menjawab.UJ) j (j 67. ^jVj. - F J A^ADI j U * \ j j t - p ' '. "Betul.«w A J l i i J ^ j ^ i J 'J^i °p*°y. dari ayahnya bahwa ia berkata. 9. Hadits ini juga memuji orang yang malu dan duduk di tempat paling akhir (belakang).ij o ^ p rit ' ~' LUI ' . Rasulullah bertanya.Y ji - JLUI jiU. L i i J i .' . j l ^°P^ Jj. i ^ i o P j i i jj uu . Hal semacam ini tidak dianggap ghihah.L U ^ I J IJLA pt.Dalam hadits Anas disebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Nabi tersebut adalah sebagai pemberitahuan.j u j j uu J * J I .'l * \ \ JjkLiJl i i l i l i i ^ J d j ' J .' . karena kami mengira beliau akan memberikan nama lain bagi hari itu.»y ^^4-1 JL* ijj J A'p*. dan seseorang memegangi tali kekangnya. •—^ & J ^ . O> . S A B D A R A S U L U L L A H . Kemudian beliau berkata.

dan hari telah tertanam dalam benak mereka. bahwa mereka (para sahabat) menjawab setiap pertanyaan Rasulullah dengan perkataan . dan dalam bab "Haji" dari Qurrah yang diriwayatkan dari Ibnu Sirin. harta dan kehormatan yang dihalalkan pada masa Jahiliyah. karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah telah mengetahui jawaban tersebut. Al Qurtubi berkata.disebutkan dalam bab "Qurban" dari Ayub. oleh karena itu dalam riwayat itu disebutkan v — ^ s»—1.(Sehingga kami mengira bahwa beliau akan memberikan nama lain). karena asalnya adalah menumpahkan darah. Tujuan pertanyaan Rasulullah bukan untuk memberitahu tentang hal-hal yang sudah mereka ketahui. bulan. Maksud dari perkataan ini adalah perintah untuk menyampaikan perkataan atau hukum yang telah dijelaskan oleh Rasulullah. '-^ 'S-'*'<*'jSadalah karena hal-hal tersebut muncul di hadapan para pendengar.^> J*. LJW' adalah orang yang tidak hadir dalam majelis tersebut. Maka hukum syura' menjelaskan bahwa penyucian darah. Hal itu merupakan sopan santun atau adab yang baik. baik yang terdapat dalam dirinya atau leluhurnya. 2 9 8 — FATHUL BAARI . harta dan kehormatan seorang muslim lebih penting daripada penyucian negeri Makkah. dan juga agar mereka merasakan keagungan berita tersebut. Dalam hadits ini. sebab penyucian negara. Oleh karena itu.— 'J i -i' (Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui). "Pertanyaan Rasulullah tentang ketiga hal tersebut dan diamnya pada setiap pertanyaan dimaksudkan agar mereka mudah meresapi dan menerima Rasulullah secara keseluruhan. 'hdh adalah kehormatan manusia. merampas harta dan mengganggu kehormatan kalian. bulan Dzulhijjah dan hari Nahr." ] Analogi yang terdapat dalam sabda Nabi. Di sini ada penghapusan aneksasi. terdapat perintah untuk mengembalikan setiap permasalahan kepada syari' (pembuat hukum). berbeda dengan jiwa. sabda beliau 'S+ —adalah sebagai Mubalaghah (penekanan) terhadap kesucian hal-hal tersebut. Dalam riwayat Imam Bukhari dan riwayat-riwayat lainnya disebutkan. UVi—o JU (Sesungguhnya darah kamu). illli (Hendaknya orang yang hadir ini menyampaikan) AAI —l )i adalah orang yang hadir dalam majelis Rasulullah.

Khutbah sebaiknya dilakukan pada tempat yang tinggi agar para pendengar dapat melihat khatib dan mendengar suaranya. bahwa pandangan orang yang datang belakangan lebih kuat daripada orang yang lebih dahulu. "Hari apakah ini? " Mereka menjawab. "Hari ini adalah hari Haram. F A T H U L BAARI — 299 ." Atau hadits Ibnu Abbas itu hanya diriwayatkan dengan maknanya saja (secara maknawi). "Allah Wa Rasuluhu A 'lam.Pelajaran Yang Dapat Diambil Dalam hadits bab ini disebutkan. akan tetapi sebenarnya keduanya dapat dipadukan. Duduk di atas binatang peliharaan yang sedang berdiri dibolehkan jika dalam keadaan darurat. Sedangkan kelompok yang bersama Abu Bakrah. J ' u bab "Haji" dari Ibnu Abbas disebutkan. Pemahaman bukan merupakan syarat dalam pelaksanaan. Anjuran untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan. _ . sedangkan jika tidak dalam keadaan darurat maka tidak dibolehkan. antara lain: 1. I Ia! ini disebabkan kedekatan Abu Bakrah dengan Rasulullah. dan penafsiran seorang perawi lebih tepat dibandingkan penafsiran orang lain. 4. Bagi orang yang belum memiliki keahlian yang sempurna boleh menyampaikan hadits. 3.") atas pertanyaan Rasulullah. i»Ji -'Y >-u» (Bukankah hari ini hari Nahr?) adalah sama —>• . Ibnu Munir menerangkan. 6. Bakrah meriwayatkan hadits tersebut secara utuh. Terkadang orang yang datang belakangan lebih paham daripada para pendahulunya. Kedua riwayat ini kelihatannya saling bertentangan. mereka tidak menjawabnya dan berkata. sedangkan Ibnu Abbas meringkasnya. karena hadits Abu Bakrah yang terdapat dalam bab "Haji" dan "Fitnah" berupa jawaban mereka —i (Mereka berkata. dan dialah yang memegang tali kekang untanya. "benar. mereka menjawab pertanyaan Rasulullah tersebut."). Kelompok yang bersama Ibnu Abbas. L '•J ''Y_ IjJli ? ~ » -'Y ^ l 1 sedangkan pada 1 J'-i* P -'Y (Rasulullah S P (Rs berkhutbah di depan manusia pada hari Nahr.*')—i Dalam hal ini Abu maknanya dengan perkataan mereka. kemudian beliau bertanya. 5. Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting selain hal-hal di atas. 2.

Semoga pelajaran ini sampai kepada orang yang lebih dalam memahaminya Keterangan hadits: y --.'» ." Kemudian beliau bersabda. Hendaklah orang yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir. dan aku memegangi -apakah ia mengatakan 'Khitam ' atau 'V. Sebagian ulama menjelaskan. bahwa orang yang memegangi tali kekang tersebut adalah Bilal berdasarkan riwayat Nasa'i dari jalur Ummu Al Hushain. ketiga pertanyaan tersebut FATHUL BAARI — 297 . Hal itu telah dibuktikan dalam riwayat Ismail dari jalur Ibnu Mubarak dan Ibnu 'Aun yang lafazhnya adalah sebagai berikut. " Beliau pun bertanya lagi. dalam negeri ini (Makkah).imaam '. sebagaimana terpeliharanya kehormatan hari ini (hari Nahr). bulan ini (Dzulhijjah). Hal ini termasuk dalam kaidah "!th!aqu! Kuil 'Ala Al Ba 'dh" (menggunakan kata yang umum untuk menunjukkan arti yang khusus). Dia berkata. "Rasulullah membacakan khutbah di atas untanya pada hari Nahr. " Dari sini dapat kita simpulkan. Sedangkan dalam riwayat Bukhari. Kata y (atau) menunjukkan adanya keraguan dari perawi hadits. kemudian Rasulullah membacakan beberapa khutbah" Akan tetapi yang benar di sini. "Betul../ ±±-?. 'Bulan apa sekarang? "Kami pun terdiam karena kami mengira beliau akan memberikan nama lain bagi bulan itu. 'J — 1 1 „-l' J " v ^ j" v — r . bahwa keraguan ini bukan dari Abu Bakrah. adalah Abu Bakrah. dia berkata. Sesungguhnya darahmu. Beliau bertanya lagi. tetapi perawi lainnya. J' ^ i (Hari apakah sekarang?) Dalam riwayat Al Mustamli ^ ?'» j. hartamu dan kehormatanmu adalah dipelihara /dilindungi).'.Rasulullah. 'Bukankah ini bulan Dzulhijjah?" Kami menjawab." Sedangkan dalam kitab Sunan Ibnu Majah dari Amru bin Kharijah. Dipegangnya tali kekang unta tersebut adalah untuk menjaga agar tidak bergerak-gerak sehingga mengganggu orang yang menaikinya. saya melihat Bilal memegangi tali kekang unta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.Liuv J U . Dalam riwayat Muslim dan riwayat-riwayat lainnya terdapat pertanyaan tentang negara seperti yang terdapat dalam riwayat Ibnu 'Aun. "Akulah yang memegangi tali kekang unta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. ya Rasulullah. maka bunyi hadits tersebut adalah.< dan Al Hamawi tidak disebutkan pertanyaan tentang bulan dan jawaban tentang hari.\* (Seseorang memegangi tali kekangnya). demikian pula dalam riwayat Al Ushaili. '-i. "Ketika saya melaksanakan ibadah haji.

ajCT l'/jT) jii JJ' J'l JL»_J ." (Qs.^1i —_jl JA j^JW^j °y :jj j j ' J L» j JiJl ." •O f j i j i i j i . L_Lii 'y\ li\ n ^ \-U-M Maka bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan (Qs.l. dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. "Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. i i l j ' lis" y i jj J .J ^ i j us' u lii. ) J l * j «Jp «0)1 J U a ^Jjl jLsJ ( j J i i .lyjLiiS' JLP lj£»f jl J . "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan -peringatan ituniscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang 3 0 0 — FATHUL BAARI .. M E N G E T A H U I S E B E L U M B E R K A T A D A N BERBUAT Sebagaimana firman Allah. ft l (JJL'J .a b u ' " J l ' ' .A^Ji J j i l . Mereka telah mewariskan ilmu.J l J ^ ^ j j l JlTJI : JLLj JJ . V ' jJJU Jjll*J r JJJJl «l. i i > i i L j . r aJjii . j ( j J j L j J l N'l L f l i l u ' C j ) JtsJ ( e U i j J l o i U p 'JA «0)1 y J i ^ . Al 'Ankabuut (29): 34) Firman-Nya pula.+JJIJ' U ^JJJi U j i j ^ ^ l i (A^iij i j U ^jLilj— 4 j Aiii .i' j 4 f j j ' o L i L . > Jl . dan barangsiapa yang mengambil ilmu dari ulama maka hendaknya ia mengambilnya dengan sempurna.fl4ii Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (Qs. r " - . J p .J UJI) s^5"J> i°Jii_j) i^j: l-o J i ) ( J i ^ b .10.. hanyalah ulama. Muhammad (47)-./JV.*—* i * J 5 »' J # i i ' . Allah berfirman. "Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hambahamba-Nya. 19) Allah memulai ayat ini dengan kata "Ilmu " ketahuilah Allah. K l^i*. Faathir (35): 28) dan firman-Nya.

" Ibnu Abbas berkata.menyala-nyala. ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah?' kemudian ayat ini diteruskan dengan firmanNya. karena ilmu dapat meluruskan niat dalam melakukan perbuatan. sungguh aku akan mengerjakannya. akan tetapi ayat itu juga ditujukan kepada umatnya. bahwa setelah membaca ayat tersebut. akan tetapi -seperti yang telah kita jelaskan bahwa.pertentangan tersebut terletak pada kewajiban untuk mempelajari FATHUL BAARI — 301 . dan ilmu lebih utama daripada perkataan ataupun perbuatan. maksudnya adalah para ulama dan j'ugaha. "Ada yang berpendapat bahwa "Rabbam" adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu pada waktu kecil sebelum menginjak masa dewasa. "Firman Allah. "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?" (Qs." Allah memulai ayat ini dengan kata "ilmu" yaitu dalam firmanNya. "Maka. Oleh karena itu. "Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan-Nya. Al Mulk (67): 10) Allah juga berfirman dalam ayat lain. Imam Bukhari mengingatkan hal tersebut sebelum orang-orang mendengar perkataan. Sufyan bin Uyainah menarik kesimpulan dari ayat ini tentang keutamaan ilmu seperti yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Al Hilyah dari Ar-Rubai' bin Nafi' dari Sufyan. 'Jadilah kamu sekalian rabbaniyun'. yang dimaksud dengan ungkapan "mengetahui sebelum berkala dan berbuat" adalah bahwa ilmu merupakan syarat dalam perkataan dan perbuatan. yaitu dengan firman-Nya "Vlam" (ketahuilah)." (Qs. Meskipun ayat tersebut ditujukan kepada Nabi. Keterangan Hadits: Ibnu Munir berkata. 'Seandainya kalian meletakkan pedang di sini -ia menunjuk ke arah tengkuknyakemudian kalian berpikir sesungguhnya saya akan menyampaikan kalimat yang lelah aku dengar dari Rasulullah sebelum kalian memperbolehkanku. Az-Zumar (39):9) Nabi bersabda. niscaya Dia akan memberi pemahaman kepadanya. "Sesungguhnya ilmu tidak berarti tanpa perbuatan. lalu Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk berbuat?" Hal ini bertentangan dengan dalil para ahli ilmu kalam (mutakallim) yang mewajibkan adanya ma 'rifah (pengetahuan) sebelum melakukan segala sesuatu. "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu. Kedua hal tersebut tidak akan dianggap kecuali dengan ilmu. " Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar. ia berkata: "Tidakkah anda mendengar sesungguhnya Allah memulai ayat ini dengan kata "Ilmu". Abu Dzarr berkala.

aninya sempurna. sedangkan J. 1 j + . akan tetapi mereka sesungguhnya mewariskan ilmu" maksudnya bagian. Ada yang berpendapat bahwa huruf ra' tidak ditasydidkan. "Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami"(Q^. t (Yang sempurna) adalah potongan hadits Abu Daud. Alfiqhu fahmu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah. maka maksudnya adalah para ulama. Faathir (35): 32) '<. Pendapat yang pertama diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan perawi-perawi lainnya. ti-Ujlji J . Ada beberapa bukti yang menguatkan hadits tersebut meskipun tidak dijelaskan sebagai hadits oleh Imam Bukhari. akan tetapi menunjukkan bahwa hadits itu mempunyai sumber.bukti-bukti menurut metode-metode yang digariskan daiam buku ilmu kalam.(Allah memudahkan baginya jalan).'y (Barangsiapa 7 yang Allah pemahaman menghendaki kepadanya). Hal ini telah kita jelaskan dalam bab "iman". begitu juga dengan kata ilmu yang berarti mencakup semua jalan atau cara untuk mendapatkan ilmu agama. niscaya Dia akan memberi Dalam riwayat Al Mustamli bukan '-1^4. berarti Al kebaikannya. V' J j. Ibnu Hibban dan Hakim yang telah dishahihkan oleh hadits Abu Darda' dan dianggap sebagai hadits hasan oleh Hamzah Al ICanani. *—iii: 'l—>. Tirmidzi. karena menuntut ilmu adalah salah satu jalan menuju surga. Hal ini mengandung berita gembira bagi orang yang menuntut ilmu.Yaitu Allah memudahkan baginya jalan di akhirat kelak. baik sedikit maupun banyak. apalagi diperkuat dengan firman Allah. "Hampir-hampir mereka (orang-orang munafik) tidak memahami pembicaraan sedikitpun. sedangkan sebagian yang lain mengangapnya sebagai hadits dha '//"(lemah) karena ada kerancuan dalam sanadnya. "Sesungguhnya para nabi tidak meninggalkan warisan dalam bentuk dinar dan dirham. Dengan mentasydidkan huruf 1 ra ' maksudnya adalah para nabi. An-Nisaa' (4): 78) 3 0 2 — FATHUL BAARI . tapi i l i i ' .« v ^ > ." (Qs. atau memudahkan baginya jalan di dunia dengan cara memberi hidayah kepadanya untuk melakukan perbuatan yang baik yang dapat menghantarkannya menuju surga. Kata i — i diungkapkan dalam bentuk nakirah (indefinit). (Mereka mewariskan). (Dan sesungguhnya para ulama itu) hingga perkataan j). bahwa Allah memudahkan mereka untuk mencari dan mendapatkannya.

Sanad hadits ini hasan. uj'ij (Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan cara t^lC orangHadits ini juga termasuk hadits marfu ' yang dikeluarkan oleh i. kami mendengarkan). Allah Subhana. Adapun maksud dari ayat tersebut adalah. Sanad riwayat ini termasuk sanad hasan (yang baik). (memahamkan-Nya). jika kita ini termasuk ahlul 'ilmi forang-orang yang berilmu) maka kita akan mengetahui apa yang harus dikerjakan. Setelah bab ini Imam Bukhari menggunakan lafadz yang pertama dalam 2 bab lainnya.hu i-^-V*—"Hampir-hampir Wata'ala memahami mereka tidak sedikifpun..). seperti layaknya orang yang berakal. . FATHUL BAARI — 303 . j£l y (Atau memikirkan).i -T ^ r maksudnya (Sekiranya maksudnya mendengar seperti pendengaran orang yaitu berpikir yang menyadari dan memahami. akan tetapi riwayat tersebut diperkuat dengan riwayat yang lain. sedangkan lafadz kedua dikeluarkan oleh Ibnu A b i ' A s h i m dalam bab "Ilmu" dari jalur Ibnu Umar dan Umar yang merupakan hadits marfu ' (dinisbatkan kepada Nabi). 'Vlijj {Wahai orang yang beriman. dan jika Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang maka Dia akan menjadikannya sebagai orang yang ahli fikih).4—liiu L-J (Dan tiada yang memahaminya memikirkan contoh-contoh yang telah diberikan. i mengandung arti pemahaman. sesungguhnya ilmu itu didapatkan dengan cara belajar. 'p j 1 J 'J*) Demikian disebutkan dalam banyak riwayat. dan jika kita telah mengerjakannya maka kita akan selamat. sedangkan Abu Nu'aim Al Ashbahan meriwayatkannya secara marfu'. <.. 'fl& „«J. ^Lall_i belajar). pembicaraan syariah. sedangkan dalam riwayat Al Mustamli disebutkan dengan lafadz «—'«4. Al Bazzar juga meriwayatkan hadits seperti itu dari Ibnu Mas'ud secara mauiju/^dinisbatkan kepada sahabat)... kata hukum-hukum Sj4—berarti —^ (memahami). meskipun di dalamnya terdapat seorang perawi yang tidak diketahui (mubham). kecuali. Hal ini merupakan sifat orang-orang yang berilmu (ahlul 'i/m/).LJ. " (Qs.ii iji 'y *iiJL. An-Nisaa' (4): 7S> Dalam ayat ini. dan kepahaman diperoleh dengan cara memahami. ' berfirman. *il.< . yaitu memahami Ibnu Abi 'Ashim dan Thabrani dari Muawiyah yang berbunyi.

dan orang yang melarangnya untuk berfatwa adalah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.dari ayahnya bahwa ayahnya berkata. Maka datanglah seorang laki-laki kemudian berdiri di hadapannya dan berkata.Hadits yang terdapat pada bab ini juga diriwayatkan oleh Abu Darda' dan perawi-perawi lainnya. Abu Dzarr berselisih paham dengan Muawiyah dalam mentakwilkan firman Allah Subhanahu Wata'ala. bahwa ilmu yang diakui adalah ilmu yang berasal dari para nabi dan para pewarisnya (ulama) dengan cara belajar. "Dan orang-orang vang menimbunkan emas dan perak. " ( Q s . sedangkan Abu Dzarr berpendapat bahwa ayat tersebut bersifat umum baik untuk mereka (ahli kitab) maupun ktta (kaum muslimin). At-Taubah (9): 34) Muawiyah berpendapat bahwa ayat tersebut diturunkan khusus untuk ahti kitab. Adapun maksud dari hadits ini adalah. Oleh karena itu. dan manusia telah berkumpul di sekelilingnya untuk meminta fatwa. Komentar ini adalah yang kami riwayatkan secara maushul (bersambung sanadnya) dalam kitab Musnad Ad-Darimi dan kitab-kitab lainnya dari jalur Al Auza'i: Telah menceritakan kepadaku Abu Kaisir -yaitu Malik bin Mar'id. menjelaskan bahwa Abu Dzarr tidak mau mematuhi seorang imam (pemimpin) jika melarangnya untuk berfatwa. karena beliau memandang bahwa menyampaikan fatwa merupakan 3 0 4 — FATHUL BAARI . ' Tidakkah kamu berhenti untuk memberikan fatwa ' Maka Abu Dzarr mengangkat kepalanya sambil memandang ke arah orang tersebut dan kemudian berkata. Riwayat tersebut. Alasan dari larangan tersebut adalah karena ketika berada di Syatn." ' dan seterusnya seperti Kami juga meriwayatkannya dalam kitab Al lljlyah dengan menjelaskan bahwa perkataan tersebut ditujukan kepada seseorang dari kaum Ouraisy. "Saya mendatangi Abu Dzarr pada saat ia sedang duduk di dekat Jumrah iVustha (tiang jamarat pertengahan). Maka Muawiyah menulis surat kepada Utsman. ji j •' Jiij (Abu Dzarr berkala). Karena perselisihan ini. Ini diriwayatkan oleh Nasa'i. 'Apakah kamu ingin 7 menjegalku? Seandainya kalian meletakkan yang disebut di permulaan bab ini. pendapat yang mengatakan bahwa perkataan tersebut merupakan perkataan Bukhari adalah pendapat yang tidak benar. maka Abu Dzarr berpindah dari Madinah dan menetap di Rabadzah sampai akhir hayatnya. dan kemudian surat tersebut dikirim kepada Abu Dzarr.

Hal ini diperkuat oleh Ibnu Mas'ud. baik yang banyak maupun sedikit. Ibnu Abbas telah menafsirkan kata j'—J. sedangkan Al Khaththabi juga mempunyai sanad hasan yang lain. j 4 artinya dengan saya menyampaikan. sedangkan ilmu-ilmu yang besar adalah mengetahuinya secara mendetail. kata ' . i—-Cal-aJi berarti pedang tajam yang tidak dapat dibengkokkan.—*. dapat disimpulkan bahwa perselisihan tersebut terletak pada asal katanya.dengan arti orang yang bijak dan mengetahui hukum-hukum syanah. dan • \/£ *J artinya membunuhnya sempurna.kewajiban baginya sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah SAW.pedang yang mempunyai satu ujung. Di sini. Demikian pula karena Abu Dzarr telah mendengar ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu dan tidak mau menyampaikannya. Adapun maksud dari hadits tersebut adalah.. bahwa Abu Dzarr akan menyampaikan apa yang dibebankan kepadanya dan tidak akan berhenti walaupun harus menghadapi ancaman maut. baik yang berkaitan dengan ilmu maupun amal.} ->')> yang berarti Tuhan atau berasal dari kata ] yang berarti pendidikan. atau -menurut sebagian orang. yaitu apakah berasal dari kata KJ. Tsa'lab berpendapat bahwa para ulama adalah merekalah yang membina dan mengamalkan ilmu. Al Asma'i dan Al Ismaili berpendapat bahwa kata berasal dari " (Tuhan) yang maksudnya adalah orang yang berusaha j ^ l i — ' j karena menjalankan perintah Tuhan. Peristiwa seperti ini juga pernah terjadi pada diri Ali dan Utsman. sebagaimana diriwayatkan oleh Ibrahim Al Harbi dengan sanad yang shahih. 1 (Dan Ibnu Abbas berkata).^ (perkataan) disebutkan dalam bentuk nakirah (indefinit) agar mencakup semua jenis perkataan. Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah mengajarkan kepada mereka (manusia) tentang permasalahan-permasalahan yang kecil sebelum permasalahan yang FATHUL BAARI — 305 . Dari sini. —'J-'J—"'J . Maksud dari ilmu-ilmu yang kecil adalah mengetahui setiap permasalahan secara global. Komentar ini juga disampaikan oleh Ibnu Abi 'Ashim dengan sanad hasan.

mengerjakan dan mengamalkannya." 1 3 0 6 — FATHUL BAARI .besar. atau permasalahan furu'iyah (cabang) sebelum permasalahan ushuliyyah (dasar). atau pendahuluannya sebelum menerangkan maksudnya. "Seorang yang berilmu (alim) tidak dapat disebut sebagai "rabbani" kecuali jika benar-benar telah menguasai ilmu. Ibnu Arabi berkata.

Menurut Al Khaththabi. Adapun korelasi antara hadits ini dengan hadits sebelumnya adalah. olf (Selalu memilih waktu yang tepat bagi kami). Mal ini dapat dilihat pada sebagian besar bab pada kitab ini. (dengan huruf "nun") juga mempunyai arti memperhatikan. Diriwayat-kan bahwa Abu Amru bin A! 'Ala mendengar Al A'masy menyampaikan hadits ini dengan lafadz i-~'-'jJJ (menggunakan huruf "lam").LOP ^xLJI iii^r 68. NABI M E M I L I H W A K T U YANG T E P A T U N T U K M E M B E R I NASIHAT DAN M E N G A J A R K A N ILMU A G A R PARA S A H A B A T TIDAK M E N I N G G A L K A N MAJELIS i 3jiP^*jlj ^X"J AJJI ^ J U * J3\ j l T J L S 3yt~~* JJ\ Jf- . Beliau tidak memberikan nasihat setiap waktu supaya kami tidak merasa bosan. maksud dari hadits ini adalah bahwa Rasulullah selalu memperhatikan aspek waktu dalam memberikan nasihat kepada kami. Oleh karena itu. sedangkan * V j . Kalimat yang disebutkan kedua hadits yang akan dijelaskan.berarti dalam judul bab mengandung maksud nasihat atau peringatan. "Dari Ibnu Mas'ud. " K e t e r a n g a n Hadits: j j — ^ artinya A ^ (Memperhatikan). menjaga atau menjauhi perbuatan khianat. kemudian Abu Amru FATHUL BAARI — 3 0 7 . bahwa Nabi SAW selalu memilih waktu yang tepat bagi kami untuk memberikan nasihat. kata Al khaa 'il (isim fa'il dan khaala) berarti orang yang memperhatikan atau menjaga harta. sebab kata CCJ\ (bosan) dan jjjJi (meninggalkan) mempunyai kemiripan makna. karena beliau takut kami akan merasa bosan. bahwa hadits-hadits tersebut menekankan untuk menyampaikan ilmu (tabligh) seperti yang dilakukan oleh Abu Dzarr.1 1 .

Dalam hal ini saya berpendapat bahwa yang benar adalah riwayat pertama ( ' — k a r e n a Manshur juga meriwayatkan dari Abu Wa'il seperti riwayat Al A'masy. Kemungkinan kedua tersebut merupakan kemungkinan yang paling tepat. 2. yang artinya Nabi memperhatikan kondisi kami ketika hendak memberikan nasihat. akan tetapi hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. adalah makruh hukumnya. Perbuatan Ibnu Mas'ud dan pemberian alasannya itu adalah dalam rangka mengikuti perbuatan Nabi Muhammad. "Berilah kemudahan dan jangan kalian mempersulit. Dari hadits ini. 69. atau Ibnu Mas'ud mengikuti Nabi dengan memperhatikan waktu dalam melakukan ataupun meninggalkannya. Ada beberapa pelajaran penting dalam hadits ini." 3 0 8 — F A T H U L BAARI . yaitu dilaksanakan setiap hari dengan syarat tidak membebani. dan Al A'masy tidak membantahnya karena kedua lafazh tersebut dibolehkan. atau dilakukan dua hari sekali sehingga dapat melakukan perbuatan tersebut pada hari berikutnya dengan penuh semangat. sebagian ulama menyimpulkan bahwa menyamakan antara shalat sunah rawatib dengan yang bukan dalam pelaksanakannya secara kontinyu dalam waktu tertentu. Meskipun ketekunan atau kontinuitas sangat diharapkan dalam melakukan pekerjaan. Abu Ubaid Al Harawi menyebutkan dalam kitab Al bahwa yang benar adalah lafadz Gharibiin (dengan huruf "ha"). Dari Anas bahwa Nabi SAW bersabda.mengulangnya dengan menggunakan huruf "NUN" '^'Y^. berilah berita gembira dan jangan kalian menakut-nakuti. antara lain: 1. atau bisa juga dilakukan seminggu sekali disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. 3. Anjuran untuk tidak melakukan perbuatan shalih secara terus menerus karena dikhawatirkan akan menyebabkan rasa bosan.

"Jika hanya menggunakan kata '••' ^~: (berilah kemudahan). Berbeda halnya jika pengajaran itu dimulai dengan kesulitan.J . Rasulullah bersabda. IVailahu A 'lam. Sebab kata S Si. Dalam bab "Adab". T Imam Nawawi berkata. setelah kata u ' J . Menggunakan metode bertahap dalam mengajarkan suatu ilmu. Oleh karena itu. FATHUL BAARI — 309 . Kita harus berlaku ramah kepada orang yang baru memeluk Islam dan tidak mempersulitnya. 1. Akan tetapi karena menyampaikan kabar buruk pada awal sebuah pengajaran dapat menyebabkan orang tidak menghiraukan nasihat yang akan diberikan kepadanya. J . dan Syu'bah dengan menggunakan lafazh dan ^v—4-" • (berilah ketenangan) yang merupakan antonim (lawan kata) 'i'. karena segala sesuatu jika diawali dengan kemudahan.emah lembut dalam melarang perbuatan maksiat agar dapat diterima dengan baik. Imam Bukhari meriwayatkan dan Adam. 2.. maka akan dapat memikat hati dan menambah rasa cinta. — — ( D a n berilah berita gembira). bahwa memberikan kemudahan kepada orang lain harus selalu dilakukan dalam setiap situasi dan kondisi.J L ^ ^.Keterangan Hadits: Faidah penambahan kalimat '-/J-* l'. Adapun maksud dari hadits ini adalah.i — ( b e r i t a buruk).(ketenangan) adalah lawan kata dari /yl 1 (meninggalkan). adalah sebagai penegasan. l. Demikian pula dengan sabda Nabi.. maka orang yang hanya memberikan kemudahan sekali dan sering mempersulit orang lain termasuk dalam hadits tersebut. 3. seperti halnya kata ^ L U (berita gembira) merupakan lawan dari kata v . maka kata i j i — ^ (berita gembira) di sini diikuti dengan kata ^ (meninggalkan). (Janganlah mempersulit) dengan maksud untuk mengingatkan.

Dari Abu Wa 'H.^H-. Sedangkan laki-laki yang bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud tidak diketahui dengan jelas. s ' O H'F. jadi asal kalimat tersebut adalah «iij o : / (Demi Allah. --O .V M ^ ' l ' 9 Z." Abdullah menjawab. sedangkan dalam hadits Anas sebelumnya adalah orang-orang Bashrah. i. Di sini huruf "lam" sebagai jawaban dari sumpah yang tidak disebutkan. kemudian seorang laki-laki berkata kepadanya. . Mengenai matan hadits ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya.* j — > 0 ^^O^J^^F f -ui Ui J i i .Uli. "Hai Abu Abdurrahman. saya mengharap). 3 1 0 — FATHUL BAARI .^ i *F ^ y j-**-^1 . bahwa Abdullah mengajar suatu jamaah setiap hari Kamis. yang biasa dipanggil Abu Abdurrahman. •^•o-jj—1 (Saya mengharap). sebagaimana juga Nabi memilih waktu yang tepat bagi kami untuk belajar agar kami tidak merasa bosan.' J T b'/a . saya mengharap supaya anda dapat mengajar kami setiap hari. maka saya memilih waktu yang tepat bagi kalian untuk menerima nasihat. Sanad hadits ini terdiri dari orang-orang Kufah. sebagaimana disinyalir oleh Imam Bukhari pada akhir bab "Dakwah".iULUl S J l i ^ l^j lU^i-ii ^JLJ-j AILP * ^ 70. Keterangan Hadits: Abdullah dalam hadits ini adalah Abdullah bin Mas'ud. "Saya khawatir kalau kamu sekalian akan merasa bosan. mungkin Yazid bin Mu'awiyah An-Nakha'i.

maka Dia akan menjadikannya sebagai ahli agama. Pelajaran pertama adalah berkaitan dengan bab "ilmu" dan pelajaran kedua berkaitan dengan permasalahan shadaqat (sedekah). Pada hakikatnya yang memberi segala sesuatu adalah Allah. 3. sedangkan yang memberi adalah Allah. karena hal itu mengisyaratkan bahwa seorang mujtahid akan tetap ada sepanjang masa. JIKA A L L A H M E N G H E N D A K I K E B A I K A N S E S E O R A N G . Akan selalu ada sebagian orang yang tetap berpegang teguh kepada kebenaran (agama Islam). yaitu bab "Khumus" (seperlima rampasan perang). maka Imam Bukhari meletakkannya dalam bab "I'tisham" (berpegang teguh pada agama).— — LJl j—* Jyu l—k^. "Saya mendengar Muawiyah berkhutbah. Hadits ini mengandung tiga pelajaran penting. 2. oleh karena itu Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam bab "Zakat". yaitu: 1.13. Keutamaan mendalami agama. Sebagian dari umat ini akan tetap berpegang teguh pada agama Allah. Sedangkan pelajaran ketiga berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat. iiumaid bin Abdurrahman RA berkala.Ajjli* ' ^ «JU»*— j**-'J\ J JJ alis. FATHUL BAARI — 311 . M A K A DIA A K A N M E N J A D I K A N N Y A S E B A G A I AHLI A G A M A —. tidak ada yang dapat mempengaruhinya sampai hari kiamat nanti. "JikaAllah menghendaki kebaikan kepada seseorang. " Keterangan Hadits: Muawiyah dalam hadits ini adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Saya hanya membagi-bagikan.Jli ^ j^-li ^* V A!H ^ 1 ^ ji tj-* p-^J i l ' l i ONi a i i J l y j J ^ J u 71. "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda.

maka ia tidak dapat disebut sebagai orang yang mendalami agama. "Yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ahli sunah wal jama'ah dan orang-orang yang mengikuti jejak para ulama hadits. yaitu mencakup kebaikan yang sedikit maupun yang banyak. i ' J ' J 'J J-AJI J> '<i^_ i 'y *—J (barangsiapa yang tidak mendalami agama. Meskipun lafazhnya berbeda. "Jika bukan ulama hadits. orang yang zuhud. Karena orang yang tidak mengetahui permasalahan agamanya. Ketiga hadits di atas sangat berkaitan dengan bab "Ilmu". Dari hadits ini dapat dipahami secara implisit." Al Qadhi Iyadh berkata. Dalam hal ini. karena hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang mendalami agama Allah akan selalu mendapatkan kebaikan. ia dapat dikatakan sebagai orang yang tidak menginginkan kebaikan.seperti yang telah dijelaskan. Penggunaan kata \'j. dan hal ini tidak hanya dapat dicapai oleh manusia dengan usaha saja. tetapi dapat dicapai juga oleh orang yang hatinya telah dibukakan oleh Allah. ahli fikih. 3 1 2 — FATHUL BAARI . akan tetapi maksudnya dapat dibenarkan. Allah akan menjadikannya sebagai orang yang memahami agama . adalah. bahwa orang yang tidak mendalami agama atau tidak mempelajari dasar-dasar dan masalah-masalah furu 'iyyah (cabang) dalam Islam. dan orang semacam itu akan tetap ada sampai hari kiamat nanti. maka saya tidak tahu siapa selain mereka. Imam Bukhari berpendapat. Imam Ahmad berpendapat bahwa kelompok tersebut adalah kelompok kaum mukminin yang terdiri dari orang-orang yang menjalankan perintah Allah seperti para mujahid (orang yang berjihad). bahwa orang-orang tersebut adalah para ulama hadits. * (kebaikan) menggunakan bentuk nakirah (indefinit) yang menunjukkan arti yang lebih umum. ahli hadits. Oleh karena itu. maka Allah tidak akan memperhatikannya). Ahmad bin Hambal berkata. Abu Ali telah meriwayatkan hadits Muawiyah tersebut dari jalur lain dengan sanad dha '(/(lemah) yang berbunyi.Adapun yang dimaksud dengan J-JJ' U\ di sini adalah angin yang mencabut jiwa setiap orang yang beriman dan membiarkan orang-orang jahat tetap hidup sehingga mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat. orang yang melaksanakan amar ma 'ruf nahi munkar dan kebaikan-kebaikan lainnya. maka ia tidak akan mendapatkan kebaikan." Maksud <—'^A.

yaitu bahwa Ibnu Umar berkata. bahwa para sahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits dan Nabi SAW. Ibnu Umar telah mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Nabi adalah pohon kurma. - ^ J ^ B J U ' ' > o - i iif lir Jii u*-w Jl !l Jli LL_U- vi j *X JJI Jyl jl 9 - -Li J J. Maka mereka hanya menyampaikannya pada saat dibutuhkan. disebabkan banyaknya orang yang bertanya dan meminta fatwa kepadanya. saya hanya mendengar beliau membacakan satu hadits saja dari Rasulullah SAW. "Pohon itu ada/ah pohon kurma. "Ada sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang muslim.K E U T A M A A N M E M A H A M I I L M U F R3 S a T T . bahwa ketika Nabi SAW bertanya kepada sekelompok orang. -- s > . 14. " K e t e r a n g a n Hadits: Kita dapat memahami dari ungkapan "selama menemani Ibnu Umar ke Madinah". Adapun korelasi antara hadits dengan judul bab ini. D«r/ Mujahid RA bahwa ia berkala. Adapun banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. "Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW datanglah sekelompok orang dan beliau bersabda. "Selama menemani Ibnu Umar ke Madinah. j Jl~Jl I F /JUi tfi \fy ilklll ^ T* _. akan tetapi karena usia saya paling muda maka saya hanya diam saja.Hadits ini juga menerangkan tentang keutamaan para ulama dibanding manusia lainnya. Ini adalah metode Ibnu Umar dan ayahnya (Umar) serta para sahabat lainnya. karena mereka takut akan terjadi penambahan atau pengurangan terhadap hadits yang disampaikan oleh Rasulullah. FATHUL BAARI — 313 . oojl* - 72. dan keutamaan memperdalam ilmu-ilmu agama dibanding ilmu-ilmu lainnya. Kemudian Rasulullah bersabda lagi. "Maka sava (Ibnu Umar) ingin menjawab bahwa pohon itu adalah pohon kurma.

kecuali kepada dua orang. yaitu Nabi bersabda. yaitu orang yang diberi Allah harta kemudian dipergunakannya dalam kebenaran. "Sesungguhnya Allah telah memilih seorang hamba-Nya -dengan memanggilnya. baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Hal itu dikarenakan Abu Bakar telah memahami dari konteks hadits yang diucapkan oleh Rasulullah bahwa beliau adalah orang yang dimaksud dalam sabdanya itu." Sesungguhnya Allah adalah Sang Pemberi petunjuk kepada kebenaran. "Pelajarilah agama secara mendalam sebelum kalian menjadi pemimpin" Abu Abdillah berkata. 15-TEKUN DALAM MENCARI ILMU DAN H I K M A H Umar berkata.V p< i_JJI i _ J T p\\ j^JT P j> 4}l jCff ' Pk* p iLi Jii > JL~* f p iLi P\ "p'j y. "Abu Bakar adalah orang yang paling mengetahui dengan maksud perkataan Nabi tersebut. " Sesungguhnya para sahabat Nabi tetap menuntut ilmu walaupun sudah tua.'''' Maka seketika itu Abu Bakar menangis dan berkata. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id mengenai wafatnya Nabi.Karena definisi Al Fahmu (pemahaman) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami suatu perkataan dengan memperhatikan konteksnya. "Sesudah kalian menjadi pemimpin. Oleh karena itu. Dari Abdullah bin Mas'ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda.W^JJ«JJ p**I P 73. dan orang yang diberi Allah hikmah (ilmu) kemudian dipergunakannya dengan baik dan diajarkannya. "Kami pertaruhkan untukmu ya Rasulullah dengan segala kemampuan kami" sehingga semua orang yang hadir terkesima.&\Xs-'j* pz\ A*5^>JI a . Abu Said berkata. "Tidak ada iri hati. i VI JwJ. " 3 1 4 — FATHUL BAARI .

karena seseorang yang telah mendalami agama maka ia akan mengetahui bahaya kekuasaan. Oleh karena itu. "Dan selelah kalian menjadi pemimpin. "Daiamilah ilmu agama sebelum kalian menjadi pemimpin. Sebab. maka ia akan menjadi pemimpin keluarganya apalagi jika telah dikaruniai anak. dan kekuasaan adalah lebih umum daripada pernikahan. dengan demikian ia akan berusaha menjauhinya. Sanad hadits tersebut adalah shahih.Keterangan Hadits: Umar berkata." Imam Syafi'i juga berkata. " Sedangkan Syamir Al-I.tidak mau duduk dalam suatu majelis bersama para penuntut ilmu. karena yang dimaksud dengan "Tusawwaduu" adalah kekuasaan. bahwa maksud hadits tersebut adalah sebelum kalian menikah. FATHUL BAARI — 315 . " Al Kasyinihani menambahkan dalam riwayatnya." Sedangkan perkataan Umar dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalur Muhammad bin Sirin dari Al Ahnaf bin Qais bahwa Umar berkata (seperti disebutkan di atas). "Jika seorang hakim telah turun dari jabatannya. maka kalian akan merasa malu untuk menuntut ilmu kepada orang yang lebih rendah kedudukannya sehingga kalian tetap menjadi orang-orang yang bodoh. karena maksud dari perkataan Umar adalah bahwa kekuasaan sering menjadi penghalang seseorang untuk mendalami agama. Maksud Imam Bukhari menambahkan "dan setelah kalian menjadi pemimpin" adalah agar tidak menimbulkan kesan bahwa seseorang dibolehkan untuk tidak mendalami agama jika telah memperoleh kekuasaan. maka ia tidak mau kembali ke dalam majelis yang pernah diikutinya. terkadang seorang pemimpin -karena perasaan sombong dan malunya. karena jika seseorang telah menikah. karena faktor yang menghalangi seseorang untuk mencari ilmu dapat berupa pernikahan ataupun hal-hal lainnya. karena jika kalian telah menjadi pemimpin. Maka Imam Malik mengomentari tentang keburukan para qadhi (hakim) dengan berkata. Imam Abu Ubaid telah menjelaskan hadits tersebut sebagai berikut: "Daiamilah agama selagi kalian masih menjadi orang kecil (rakyat) atau sebelum menjadi seorang pemimpin. Ada sehagian orang yang berpendapat bahwa Umar ingin menghilangkan sifat rakus terhadap kekuasaan. maka ia tidak akan banyak mengetahui " Dalam kitab Gharibul Hadits. Pendapat ini sangat jauh dari apa yang dimaksudkan. "Apabila terjadi berbagai peristiwa.ughawi menjelaskan. tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengkhususkan makna kata tersebut.

Al Karmani menafsirkan kata "Tusawwaduu" dengan arti "tumbuh jenggotnya". Akan tetapi pendapat yang benar adalah yang mengatakan bahwa hasad adalah bersifat umum. saya berpendapat bahwa maksud Imam Bukhari adalah menjelaskan." Dalam hal ini. beliau mewasiatkan kepada para muridnya agar menggunakan waktunya dengan baik dalam mencari ilmu sebelum menjadi pemimpin. karena jika seseorang mengetahui bahwa ilmu merupakan perantara untuk mencapai kekuasaan. Orang yang mempunyai sifat semacam ini adalah orang yang tercela. Tapi suatu kebaikan tidak dapat dikatakan sebagai hal yang terpuji jika tidak berdasarkan ilmu. namun ada hadits yang menunjukkan bahwasanya iri dan dengki tidak boleh terjadi kecuali dalam dua hal. maka ia akan berharap agar benda itu lepas dari tangannya. maka ia akan menjadi giat belajar. 3 1 6 — F A T H U L BAARI . sehingga hadits tersebut ditujukan kepada para pemuda agar mereka mendalami agama sebelum tumbuh jenggotnya atau bisa juga ditujukan kepada orang dewasa sebelum putih jenggotnya. Ibnu Munir berkata. Hal ini sangat mendorong seseorang dalam mencari ilmu. Seolah-olah Imam Bukhari ingin mengatakan. Sebagian orang berpendapat bahwa hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain untuk menjadi miliknya sendiri."" Dia juga mengatakan. maka tinggalkan kebiasaan tersebut dan pelajarilah ilmu agar kalian benar-benar mendapatkan ghibthah yang sebenarnya." Adapun arti ghibthah adalah. Oleh karena itu. "Belajarlah sebelum mendapat jabatan agar kalian bisa berlomba-lomba dalam kebaikan. ""Kesesuaian antara perkataan Umar tersebut dengan judul bab adalah. dengan demikian ia akan lebih unggul atau paling tidak dapat menyamainya. yaitu ilmu dan kebaikan. bahwa Umar menjadikan kekuasaan sebagai salah satu hasil yang dicapai dari mencari ilmu. Oleh karena itu. sesungguhnya jabatan kepemimpinan menurut kebiasaan sering menimbulkan iri hati dan dengki. Hal ini disebabkan karena manusia mempunyai tabiat selalu ingin mengungguli orang lain sehingga apabila ia melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya. seseorang berharap mendapatkan apa (nikmat) yang ada pada orang lain tanpa menginginkan hilangnya nikmat dari orang tersebut. sehingga ia menginginkan hilangnya nikmat yang dimiliki orang lain. jika hal itu terdetik dalam hati atau diungkapkan dengan perkataan dan perbuatannya. sifat tersebut harus dijauhi sebagaimana larangan-larangan lainnya. Hasad adalah sifat yang terdapat dalam diri seseorang. "Apabila sebuah jabatan menurut kebiasaan bisa menghalangi pemiliknya untuk menuntut ilmu.

^ J ^ ^ <> rjA J ' ^ i ' »Uai-i "Dan 1 orang yang diberi Allah Al Quran kemudian ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang. Dari sini seakan-akan Rasulullah bersabda dalam hadits ini.Sifat hasad dibolehkan jika nikmat tersebut dimiliki oleh orang kafir atau fasik yang dijadikan sebagai sarana untuk berbuat maksiat kepada Allah.'" Tetapi jika dilakukan dalam halhal yang diperbolehkan. j . akan tetapi huruf istitsna ' (pengecualian) di sini bersifat mungathi' (terpisah dengan kalimat sebelumnya). Al Muthaffifiin (83): 26) Sedangkan jika persaingan itu dilakukan untuk kemaksiatan. yaitu ilmu dan kebaikan. maksud dari hadits ini adalah meniadakan sifat hasad secara mutlak. maka termasuk perbuatan yang tercela sebagaimana firman Allah. Dalam hadits di atas. "Janganlah kalian berlomba-lomba. dan kedua hal ini (ilmu dan kebaikan) merupakan hal yang terpuji atau tidak mengandung unsur hasad. maka hukumnya adalah mubah (boleh)." Juga dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar. " Mengamalkan di sini adalah mengamalkan secara mutlak. Maksud ghibthah adalah perasaan ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain tanpa ada perasaan ingin menghilangkannya dari pemiliknya. Dengan demikian. "Tidak ada persaingan yang lebih utama daripada persaingan dalam dua hal berikut ini. FATHUL BAARI — 317 . «—J >~±.jij jii-—Di <X'J j i i 1 LJI <y J^i J I ^ J I Z>\ iUai-f 'Dan orang yang diberi Allah Al Qur 'an kemudian ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang. Dengan demikian. " Pembatasan pada dua hal tersebut (ilmu dan kebaikan) dikarenakan ketaatan kepada Allah dapat berupa ketaatan fisik dan harta atau harta dan fisik. dan mengikuti ajaran-ajarannya. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Yazid bin Al Akhnas dengan lafazh. Nabi telah mengisyaratkan ketaatan dalam bentuk fisik. maka termasuk perbuatan yang mulia sebagaimana firman Allah. tidak hanya sekedar membacanya di dalam maupun di luar shalat atau mengajarkannya. juga harus berdasarkan Al Q u f a n . Akan tetapi termasuk dalam mengambil hukum atau fatwa. Hai semacam ini juga disebut dengan persaingan yang jika dilakukan untuk ketaatan. Adapun yang dimaksud dengan hasad dalam hadits di atas adalah ghibihah. "Untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba" (Qs. Ini adalah definisi hasad secara umum. tidak ada kontradiksi (pertentangan) antara kedua lafazh hadits tersebut. yaitu dalam sabdanya: "Dan orang yang diberi Allah hikmah kemudian dipergunakannya dengan baik dan * - diajarkannya. " Kata "hasad" dalam hadits tersebut juga dapat ditafsirkan secara hakiki (bukan kiasan).

'j^t ^ ' . Kata tersebut digunakan untuk menunjukkan. "Semoga Allah memberikan kepadaku seperti yang diberikan kepada si r'ulan. segala sesuatu yang melindungi seseorang dari kebodohan dan keburukan. Adapun lafazhnya adalah. bahwa ia membelanjakan semua hartanya sehingga ia tidak memiliki harta lagi. Pelajaran yang dapat diambil: Dalam hadits ini. Sedangkan dalam bab "I'tisham" (berpegang teguh pada agama). bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda. Demikianlah disebutkan dalam banyak riwayat. Kata ini disebutkan untuk menghilangkan adanya sifat boros yang berlebihan. maka 3 1 8 — FATHUL BAARI . sifat hasad (iri) tidak dibolehkan kecuali dalam dua hal. Imam Bukhari menyebutkan dengan lafazh j£\ J> V|. L*a^-[i ij*^ J i * ^ ji- '^lyS v L » J.i \'J } U U . Dalam riwayat Tirmidzi dari Abu Kabsyah Al Anmari disebutkan. Lafazh ini disebutkan dalam bentuk nakirah (indeftnit) agar mencakup seluruh jenis harta.j—li' 1 j V) (Kecuali kepada dua orang).(Kemudian orang itu berkata.& o j j } fij'. yaitu dalam ketaatan kepada Allah. Abu Hurairah menambahkan kalimat yang mengindikasikan bahwa makna hasad dalam hadits tersebut adalah Al Ghibthah. yaitu dengan huruf /a' la (yang menunjukkan bentuk mu annats (feminin). j Kalimat tersebut adalah jy ^ jl. " i i — ^ (harta). «-—-f±* (Menghabiskannya). baik dalam jumlah banyak atau sedikit. sehingga aku dapat melakukan apa yang ia lakukan. Kemudian Nabi menyempurnakan kata tersebut dengan kata j — ^ ' ^ < (dalam kebenaran). maka ia menyebutkan sebuah hadits panjang yang menyamakan ganjaran orang yang membelanjakan hartanya dalam kebenaran dan orang yang tidak mempunyai harta namun ia berharap bisa melakukan seperti orang pertama tadi. Maksudnya adalah. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hikmah adalah.. seperti yang lelah dijelaskan di atas.")-sebagaimana disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Fadhailul Qur'an" (keutamaan A! Qur'an). Maksud u i ^ J ' adalah Al Qur'an. ^ — ~ . J 'j :Sji J i L -» "Dan ada hamba dengan yang diberi rezeki oleh Allah berbentuk ilmu bukan harta. > J ^» 1 'nits '^i LJ.

^ . MUSA PERGI KE LAUT U N T U K M E N E M U I NABI KHIDHVR Allah berfirman dalam kitab suci Al Qur'an. merupakan jawaban atas pernyataan Al Khaththabi yang mengatakan. dan dia sama sekali tidak berharap bisa seperti orang tadi. ^'f.j j / j ^4. 'Seandainya aku memiliki harta pasti aku akan berbuat seperti yang dilakukan si fulan. p '^Up J*P ^ 'PP Jl J ^ * J& 'J Jl pp Py JC- y UJ-J Jji p-. "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (Qs." Kemudian diteruskan dengan lawannya yaitu.dan dosa kedua orang tersebut adalah sama.niat yang tulus dia mengatakan. Al Kahfi (18): 66) ^r-» iS/j 4\ J*>. ' Maka ganjaran kedua orang tersebut adalah sama. f 'p JA J^j JJlJ-l JJ/jtiti* J> 319 3 — y JL-J ^ l-Lp J . Memang dia lebih baik jika dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki harta. p~ 4-LJI p& jUi 5D1 J y j C~»a— JU 4jUi Jl—i i & . insya Allah. Kita akan membahas masalah ini pada hadits /UaJi ^J^i'S ^"LU .Upf l u i . bahwa sanad hadits ini adalah hasan shahih.y J l jf.p\> y." 1 Ll Imam Tirmidzi mengatakan. Adapun penamaan kedua orang tersebut mempunyai ganjaran yang sama. ^ U i f ' * UI jC* J\ S * P— /X. 1 16. J P'J. 4JJI ^_>U V ^ y FATHUL BAARI — . !l p J ^P^ J ^ 9 l p< p *JJI p. bahwa orang kaya yang mengindahkan syarat-syarat dalam membelanjakan harta adalah lebih baik daripada orang miskin.

"Apabila ikan itu hilang. " Keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Ibnu Abbas berpendapat bahwa sahabat nabi Musa itu adalah nabi Khidhir. Maka Allah menjadikan ikan sebagai tanda bagi Musa. "Ada orang yang lebih pintar. lalu Ibnu Abbas memanggilnya. "Pada suatu ketika Musa berada dalam satu kelompok bani Israil. "Itulah yang kita kehendaki. Apakah kamu pernah mendengar Rasulullah SA W menceritakannya? " Ubai pun menjawab. "Saya dan sahabat saya ini berbeda pendapat tentang sahabat nabi Musa yang dimintanya kepada Allah supaya dapat bertemu dengannya. Dari Ibnu Abbas RA bahwa ia berbeda pendapat dengan Hurr bin Qais bin Hishn Al Fazari tentang sahabat nabi Musa AS. "Apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pintar darimu?" Musa menjawab. dan akhirnya bertemu dengan Khidhir.l o i .il c-jljl ala ^ J l l i J <jy_pJl j\ A -1 j L f j flUiH. "Tahukah kamu ketika kita berhenti di sebuah batu besar. Dia berkala kepada Ubai. yaitu hamba Kami Khidhir. tiba-tiba datang kepadanya seseorang dan bertanya. Saya mendengar Rasulullah bersabda. Pada saat itu lewat Ubai bin Ka ah. " Musa menjawab.' OijL» f' i UT C iJJi J l i ) S i a ^ J^J 'j* ^ o** ^ ^ 74. Di tengah perjalanan. 3 2 0 — FATHUL BAARI . pelayan Musa berkata kepadanya. Kemudian antara Musa dan Khidhir terjadi beberapa peristiwa seperti yang dikisahkan Allah Subhanahu Wata 'ala di dalam Al Qur an. niscaya engkau akan bertemu dengannya. ' Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa. dan kemudian mewasiatkan kepadanya. kembalilah. saya lupa memperhatikan ikan itu: hanya syetanlah yang memperdayakanku untuk terus memperhatikannya. 'Tidak. "Maka Musa mengikuti jejak ikan itu di laut. "Ya.y ( CtU* L*>jUi * . " Setelah itu Musa memohon kepada Allah supaya diberi jalan untuk bertemu dengan Khidhir. pernah.ClJlL* f J' t' * * -- * r j tf jr 1 s ^ S l^ai.

FATHUL BAARI — 321 . Tetapi hal ini mendatangkan kritikan. '-' (Hingga akhirnya mereka mendatangi -r 1 7 sebuah batu besar) Dari sini dapat dipahami. Nabi Musa 'alaihi salam meskipun telah memiliki kedudukan yang tinggi. Dari judul bab di atas dapat diketahui bahwa nabi Musa mengarungi lautan untuk menemui nabi Khidhir. tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu. Dari sini jelaslah korelasi antara bab ini dengan bab sebelumnya. Oleh karena itu. Dia mengatakan. karena sesuatu yang ditekuni akan selalu dibarengi dengan kesulitan. Sebab nabi Musa menaiki perahu bukan karena keinginannya sendiri. bahwa Musa telah mengarungi laut untuk menemui Khidhir. "Air terbelah akibat jalan yang ditempuh ikan sehingga kelihatan membentuk jalur yang terbuka. dimana Abdu bin Humaid meriwayatkan dan Abu Al Aliyah. ^ — >•*-'' '•• Maka wacana perkataan beliau ini mungkinan untuk Musa. seperti disebutkan -'L-™-:' (Maka mereka berdua keluar dengan berjalan kaki). Ibnu Ar-Rasyid mengatakan bahwa kemungkinan yang menjadi ketetapan bagi Bukhari adalah bahwasanya Musa pergi menuju lautan ketika Khidhir meminta hal tersebut." Maka hal ini menjelaskan. kata "ke nabi Khidhir " maksudnya adalah menuju ke tempat peristirahatan nabi Khidhtr. bahwa nabi Musa dan Khidhir menaiki perahu setelah mereka bertemu. sepertinya pendapat yang kuat menurut Bukhari adalah antara salah satu dan dua kemungkinan yang terdapat dalam perkataan Nabi. Ibnu Munir mensinyalir maksud bahwa kata-kata ^—1[ JJ»J1 J\ ini dengan mengatakan mengandung arti V.Keterangan Hadits: Bab ini berkaitan dengan anjuran untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam menuntut ilmu. Kemungkinan pertama diperkuat oleh apa yang dikabarkan dari Abu Al Aliyah dan yang lain. dan mungkin juga untuk ikan. kemudian Musa mengikuti jejak ikan ini hingga dia menemukan Khidhir. akan tetapi beliau hanya mengikuti nabi Khidhir. (dengan). karena dalam riwayat Imam Bukhari dan perawiperawi lainnya disebutkan bahwa nabi Musa berjalan bersama nabi Khidhir di atas daratan. Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan i -^-^ . Saya katakan. "Musa AS bertemu dengan Khidhir diantara pulau-pulau yang terdapat di lengah lautan" Abu Al Aliyah juga mempunyai riwayat dari jalur Ar-Ruba'i bin Anas. J^'.—. bahkan beliau mengarungi lautan dan daratan hanya untuk belajar. Memang sanad kedua hadits ini tidak sampai kepada Rasulullah.

tetapi individu yang ada dalam sanad tersebut adalah orang-orang yang tsiqat (dapat dipercaya). apakah dia disebut Khidhir atau orang lain. J ^ j o (U. Kemudian akan dibahas mengenai nasab Khidhir. Mengapa Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini dengan mengatakan L'jli dan tidak mengatakan i i llt. 3 2 2 — FATHUL BAARI . Al Hurr adalah seorang sahabat terkenal yang disebutkan oleh Ibnu As-Sakan dan Imam Bukhari dalam kisahnya bersama Umar yaitu. maksudnya dia lebih mengetahui dari pada Musa. yaitu hamba Kami). dan apakah dia masih hidup atau sudah wafat. tidak diketahui namanya. Penuturan Sa'id bin Jubair mengenai hadits ini dan Ibnu Abbas adalah lebih lengkap dan sempurna daripada penuturan Abdullah bin Abdillah bin Utbah. "Al Hurr adalah diantara orang-orang yang diajak Umar memeluk Islam karena kelebihannya. nabi atau seorang raja. i — ( A d a Kasymihani orang yang lebih pintar. Dalam riwayat Al menggunakan kata y sehingga tidak menyatakan penafian. Hadits ini mengisyaratkan kepada beberapa pelajaran penting. apakah dia Musa bin Imran yang diturunkan kitab Taurat kepadanya ataukah dia Musa Bin M isya.(Tiba-tiba datang kepadanya seseorang). akan tetapi untuk memastikan bahwa ada orang yang lebih pintar dari Musa yaitu nabi Khidhir. " 4—'y* J' J'J (Ibnu Abbas berpendapat bahwa sahabat nabi Musa itu ialah Nabi Khidhir). hal itu disebabkan Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini dengan mengisahkannya dari Allah. i j — j i '—!r —'• (Itulah yang kita kehendaki). Berdebat dalam masalah ilmu dibolehkan jika tidak menyebabkan perpecahan. apakah dia seorang rasul. karena perbedaan ini adalah tentang perihal sahabat Musa. Begitu juga dengan perihal nabi Musa. atau kita cari karena lenyapnya ikan itu menunjukkan bahwa nabi Khidhir berada di tempat tersebut. Ini menjelaskan bahwa perawi hadits tidak menyebutkan perkataan Al Hurr bin Qais. yaitu: 1. dia juga tidak menyinggung sedikit pun tentang hal itu diantara jalur-jalur hadits ini. Silang pendapat yang terjadi antara Ibnu Abbas dengan Al Hurr bin Qais tidak seperti yang terjadi antara Said bin Jubair dan N u f Al Bakkali.

Dianjurkan bersikap tawudhu' (merendahkan diri) dalam setiap kondisi. Diharuskan untuk membawa bekal dalam melakukan perjalanan menuntut ilmu. Dianjurkan untuk mengarungi lautan dalam mencari ilmu. nabi Musa sangat antusias untuk menemui nabi Khidhir dan belajar kepadanya dengan maksud untuk memberi peringatan kepada kaumnya agar mereka berperilaku seperti dia dan bersikap tawidhu '.Dianjurkan merujuk kepada ulama jika terjadi perselisihan. Dibolehkan untuk mengamalkan isi hadits yang diriwayatkan oleh satu orang yang dapat dipercaya. #AMPU#CWNXfi§t FATHUL BAARI — 323 . Oleh karena itu.

Imam Bukhari menjelaskan dalam pasal "Thaharah" tentang sebab doa ini. —-j ^ •—" j-^> «•. Juga dalam riwayat Muslim disebutkan. Peristiwa tersebut berlangsung pada malam hari di rumah Maimunah dan pada malam itu Ibnu Abbas menginap di rumahnya untuk melihat shalat Nabi seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya. Pada saat itu Ibnu Abbas adalah anak yang mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding teman-temannya yang sebaya. —\ XI L J L t 1 (Ajarkan kepadanya Al Kitab). X . 'Ibnu Abbas. "Ya Allah. adalah menunjukkan bahwa doa tersebut tidak hanya dibolehkan untuk Ibnu Ahbas saja.' . "Ya Allah. O i O ' i O i j O'. 3 2 4 — FATHUL BAARI . "Maka orang-orang berkata. saya ke dada beliau). dia berkala. Mungkin saja yang dimaksud adalah Ibnu Abbas karena dia disebutkan pada hadits sebelumnya yang merupakan isyarat bahwa kemenangan Ibnu Abbas dalam perseteruannya dengan Al Ilurr bin Qais adalah karena doa Rasulullah. tetapi dibolehkan juga untuk orang lain. dari Ibnu Abbas bahwa yang memberitahu Rasul adalah Maimunah. Hal ini menunjukkan diperbolehkan merangkul atau memeluk anak kecil sebagai ungkapan rasa kasih sayang. lalu kusediakan air untuk wudhu beliau" Muslim menambahkan dalam riwayat tersebut lafazh "Siapa yang menaruh air ini'." y ajarkan H lli J i i .^•liSJl O i i 75.'" Maka disebutkanlah orangnya. " Menurut Ahmad dan Ibnu Hibban dari jalur Said bin Jubair. " Menurut pendapat Imam Bukhari. ajarkan kepadanya Al Kitab {Al Qur'an). "Pada suatu ketika Nabi SAW masuk ke kamar mandi. Rasulullah merangkul saya dan berdoa.R A S U L U L L A H B E R S A B D A . ^ jli f ' ' v' . r-" -i 3 (Rasulullah SAW memelukku) ^\ (Merangkul Imam Bukhari menambahkan keutamaan Ibnu Abbas yang diriwayatkan dari Musaddad dari Abdul Warits dengan kalimat. Dur/ Abbas RA. Kepadanya Al Qur an." Lagi pula dhamir (kata ganti obyek) dalam hadits tersebut ditujukan kepada selain yang disebutkan dalam hadits.17. "Dipakainya lafa/h hadits sebagai tema.i .

"Sesungguhnya Umar memanggil Ibnu Abbas dan mendekat kepadanya. " Aku pun menjawab. Dalam riwayat Musaddad kata-kata Al Kitab digantikan dengan Al Hikmah.Ahmad telah meriwayatkan dari jalur Amru bin Dinar dari Karib. Jadi. Dalam hadits tersebut terdapat lafazh. "Ada apa dengan kamu? Aku sengaja berdiri sejajar denganmu namun engkau berdiri di belakangku. dan yang dimaksudkan dengan Al Hikmah adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Mas'ud meriwayatkannya dari jalur lain dari Ikrimah secara Mursal. " Kemudian Humaidi mengatakan. "tetapi dalam riwayat Muslim tidak disebutkan kata J?±. karena Imam Bukhari meriwayatkan hadits tersebut dari hadits Wahib dari Khalid dengan lafazh. "Al Kitab?'' Oleh karena itu kata "A! Kitab" diartikan Al Qur'an. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat Abdullah bin Abu Yazid yang telah kita terangkan. dari Ibnu Abbas mengenai berdirinya Ibnu Abbas di belakang Nabi pada saat mengerjakan shalat malam (Tahajjud). kemungkinan kejadian tersebut tidak hanya sekali. Menurut saya._JJ J I i^it j^iJi JIJ'JL^ 1 "Ya AUah! Beri/ah dia pemahaman agama dan ajarkanlah dia ilmu takwil. Humaidi menjelaskan bahwa Abu Mas'ud menyebutkan dalam riwawt dari Bukhari dan Muslim dengan lafazh. menurut Ismaili kata tersebut terdapat dalam semua jalur dari Khalid Al Hiza'. Memang tambahan tersebut terdapat dn'^m riwayat Said bin Jubair yang telah kita sebutkan dalam riwayat dari Ahmad dan Ibnu Hibban serta Thabrani. "Tidakkah memang seharusnya seseorang harus shalat di belakang engkau karena engkau adalah Rasulullah? "Maka beliau mendoakan aku supaya aku diberi tambahan pemahaman dan ilmu?' Arti kata '^-ilc lebih luas dari sekedar menghafal dan mendalami. yang dia katakan adalah benar. bahwa kalimat tambahan ini tidak terdapat dalam kitab Shahihaini. dia mengatakan bahwa Rasulullah mendoakan sebanyak dua kalj supaya aku {Ibnu Abbas) diberi hikmah. "Beliau berkata kepadaku. tetapi berulang kali. maka sebagian mereka meriwayatkan hadits ini dengan maknanya. F A T H U L BAARI — 325 . Kemudian Al Baghawi meriwayatkannya dalam Mu jam Ashshahabah dari jalur Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar. lilt.> ^ (dalam masalah agama). lalu beliau berkata. Menurut Imam Nusa'i dan Tirmidzi dan jalur A t h a \ dari Ibnu Abbas. j—3 y v " *4-^ "Ya Allah berilah dia pemahaman dalam masalah agama. tetapi ada yang perlu dipertimbangkan dalam pendapat tersebut. Maka yang dimaksud dengan Al Kitab adalah Al Qur'an.

Doa ini merupakan jawaban Nabi ketika beliau mengetahui kondisi Ibnu Abbas. dan pemahaman tentang Allah." 18." (Qs. ada pula yang mengatakan. Para pensyarah hadits berbeda pendapat dalam menafsirkan maksud "Al hikmah" di sini. ketakutan. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Al hikmah adalah Al Our'an seperti yang telah dikemukakan._. "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman. atau ketepatan dalam berbicara.K A P A N D I P E R B O L E H K A N M E N D E N G A R P E N D A P A T A N A K KECIL x y i y ^ Utj j 1 * 1 * r j * f * Jsy * k r ^-LjI Jli ^CP J> AJJI OIP J P t _ w3 j!— e- JL\ J~J ^ i . w>L_3^i JJ/—'•. Pendapat-pendapat ini disebutkan oleh sebagian ahli tafsir dalam menafsirkan firman Allah. "Aku dipanggil Rasulullah dan beliau mengusap ubun-ubunku seraya bersabda. Luqman (31). Ada pula yang menafsirkannya dengan akal. atau apa yang disaksikan dengan kebenaran akal. Dia mengatakan."Pada suatu hari aku melihat Rasulullah berdoa dan mengusap kepalamu kemudian beliau mengatakan. i—is^J'i. Jl. Tambahan ini ditemukan pada riwayat Ibnu Said dari jalur lain.^ j.Ju-j AIIP . atau cepat mendapat jawaban dari suatu masalah disamping keakuratannya. hikmah yang paling dekat dalam hadits Ibnu Abbas adalah "pemahamar terhadap Al Qur'an. atau cahaya yang membedakan antara ilham dan bisikan. J^jl—. yang menguasai r tfs : dan mempunyai pemahaman mendalam tentang agama yang diridhai Allah. dan Ibnu Abbas. yaitu dari Thawus.UJl aiji n j n f s s -" s > o JjLjj ojilJ 3 2 6 — FATHUL BAARI . bahwa Al hikmah adalah pengamalan Al Qur'an. " Penambahan lafazh ini tidak dikenal karena yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ismail serta yang lain-lain dari jalur Abdul Wahab tanpa tambahan ini. ^ ti-" 1 Dalam riwayat Ibnu Majah dari jalur Abdul Wahab Ats-Tsaqafi dari Khalid Al Hidza' bahwa lafazh hadits tersebut adalah. i l l i j t+l'i 'Ya Allah ajarkan kepadanya hikmah dan menakwilkan Al Kitab. Sunnah. 12) Adapun penafsiran A.

Rasulullah "Saya damng (ke Mina) mengendarai hampir baligh.dan Rasulullah sedang di hadapannya. bahwasanya Yahya mengatakan. maka pendapat tersebut tidak bisa diterima. Dalam riwayat tersebut terdapat bukti bahwa yang F A T H U L BAARI — 3 2 7 . Ibnu Abbas RA bercerita. " Ketika pendapat tersebut sampai kepada Imam Ahmad. Tapi Al Karmani mengatakan. Tapi jika yang dia maksudkan adalah menolak hadits seseorang yang disepakati bahwa dia telah mendengar hadits tersebut pada masa kanak-kanak. untuk makan rumput. saya lepaskan masuk ke dalam shaf. Saya lewat di muka shaf. Kemudian saya tidak menegur perbuatan saya itu" Keterangan Hadits: Bab ini menunjukkan bahwa baligh bukan menjadi syarat dalam tahammul (meriwayatkan) hadits. Inilah pendapat yang dapat dijadikan sandaran. "Tidak boleh kurang dari lima belas tahun bagi seseorang untuk meriwayatkan hadits. keledai betina -ketika itu saya shalat di Mina tanpa dinding Sedang keledai." Menurut saya. penafsiran ini merupakan hasil pembolehan bukan pembolehan itu sendiri. berbeda dengan cerita Ibnu Umar yang minta izin untuk ikut perang. hadits Ibnu Abdil Barr meriwayatkan tentang kesepakatan diterimanya tersebut. dia berkata. Jika yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Ma'in adalah batasan mulai diperbolehkannya seseorang untuk meriwayatkan hadits. maka pendapat itu dapat diterima." Kemudian Al Khatib menjelaskan tentang apa yang dihafal sejumlah sahabat dan orang-orang setelah mereka di masa kecil. Hal itu berdasarkan sikap Nabi yang menolak Ibnu Umar untuk ikut dalam perang Uhud. "Namun (yang benar) hal tersebut diperbolehkan apabila dia sudah memahami apa yang dia dengar. Imam Bukhari dengan pernyataan di atas ingin menunjukkan adanya perbedaan antara Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Ma"in yang diriwayatkan Khatib dalam kitab Kifayah dari Abdullah bin Ahmad dan yang lainnya. lalu mereka menyampaikan hadits tersebut dan diterima. karena umurnya belum mencapai lima belas tahun.76. "Sesungguhnya makna "pembolehan" di sini adalah dibolehkannya menerima apa yang telah didengarkan oleh anak yang belum baligh.

sedangkan ikut masuk shaf untuk shalat mempunyai kemaslahatan yang lebih besar. bahwa yang dibutuhkan dalam peperangan adalah kekuatan dan kejelian dalam pertempuran. Dari hadits ini. itu tidak dapat diterima. "Perintahkan mereka untuk shalat pada umur 7 tahun. dan itu kembali kepada usia baligh. sedangkan argumentasi yang menyatakan penolakan Nabi terhadap Al Barra' dan lainnya pada perang Badar karena belum mencapai umur lima belas tahun. Ada yang berpendapat bahwa hadits ini membolehkan mengutamakan kemaslahatan yang penting daripada keburukan yang ringan. Ini adalah anak i yang tepat dari segi teori. Adapun yang dimaksud dengan pendengaran di sini adalah pemahaman. ^ _ L t eui> 'J5Z! U* (Namun tak seorang pun menegur perbuatan saya itu). Imam Al Auza'i telah menguatkan pendapat tersebut dengan hadits. Lagi pula teguran tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan isyarat. Disamping itu.h.js j. Ibnu Al Atsir menyebutkan faidah penggunaan kata-kata keledai betina dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan bahwa lewatnya seorang perempuan tidak membatalkan shalat dikarenakan mereka lebih mulia. Menurut Imam Syafi i. . Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini sebagai dalil bahwa berjalan di tengah-tengah orang yang sedang shalat tidak membatalkan shalatnya. Dengan alasan. dan maksud ihtilam adalah baligh secara syar'i." j ] «-r ^ (Mengendarai keledai). m lala/. J^. dan hal itu kembali kepada tamyiz (kemampuan untuk membedakan). Yang dimaksud adalah speciesnya. Ibnu Abbas menarik kesimpulan dibolehkan untuk tidak menegur (mengingkari) karena tidak adanya penghalang./ar den. hanya saja hadits shahih tidak diperuntukkan untuk hal-hal seperti itu yang akan dibahas pada pasal shalat. karena hadits ini secara mutlak menafikan adanya teguran baik sedang shalat maupun setelah shalat. terlepas dari jantan atau betina. o j i t — ( S a y a hampir) atau mendekati. 1 berarti tidak ada penghalang. karena konteks kalimat tersebut mengindikasikan hal itu. karena berjalan melewati shaf shalat adalah kesalahan ringan.dimaksudkan oleh Ibnu Ma'in adalah kemungkinan pertama. 3 2 8 — FATHUL BAARI . "Dan Nabi melaksanakan shalat wajib tanpa adu tabir (satrj " p e n g h . Tapi bukan berarti larangan untuk mengingkari atau menegur itu disebabkan mereka sedang melakukan shalat. m g •—'•} berarti memakan apa yang disukainya. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat Al Ba/. atau berjalan dengan cepat. msya Allah.

Ji—_—U. Saya tidak melihat adanya keterkaitan usia dalam penyampaian hadits. Hanya saja lafazhnya dalam riwayat Thabrani dan Al Khatib dalam kitab Al Kifayah dari jalur Abdurrahman FATHUL BAARI — 329 ." Abu Daud mengatakan. "Tidak terdapat kesalahan dalam haditsnya (Zubaidi). kecuali pada jalur Zubaidi. seperti yang sering beliau lakukan terhadap anak-anak para sahabat. sedangkan saya waktu itu anak yang baru berumur lima tahun. (semburan).i P JL» Ji Jy*^** jf- J OiV j ." Sesungguhnya Abdurrahman bin Namir telah menambahkan riwayat yang berasal dari Zuhri. bahwa pembatasan definisi anak kecil dan yang belum baligh dalam bab ini adalah tidak sesuai dengan hadits Ibnu Abbas. Perbuatan Nabi terhadap Mahmud bisa jadi hanya bercanda atau untuk memberikan keberkahan kepadanya dengan semburan itu. Hal ini akan dijelaskan dalam masalah "Shalat" insya Allah. sehingga disebutkannya lafazh tersebut adalah sebagai penjelas. maka Al Karmani menjawab bahwa yang dimaksud dengan anak kecil adalah anak yang belum mencapai usia baligh. "Sesungguhnya Al Auza'i lebih mengutamakan Zubaidi daripada semua orang yang mendengar dari Zuhri. hingga Al Walid bin Muslim mengatakan. Zubaidi adalah seorang yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits dari Zuhri. "Saya ingat suatu kejadian dimana Nabi menyembur ke muka saya dengan satu timba air.Bila ada yang mengatakan. sedangkan lafazh "Shabiy" berkenaan dengan keduanya. 3 -J Alif- 4JJ| J^p ^jjl JA c J . Dari Mahmud bin Arrabi'. dia mengatakan. baik dalam shahihaini atau pun kitab-kitab kumpulan shahih dan musnad-musnad yang lain.^ - 'J ^> J ^ 11._— • . Ada juga kemungkinan bahwa lafazh "Ash-Shaghir" berkenaan dengan kisah Mahmud yang akan dijelaskan nanti. — ( S e d a n g k a n saya waktu itu anak yang baru berumur 'ima tahun). " K e t e r a n g a n Hadits: ^-iii- (Saya ingat) atau saya hafal.

bahwa Al Muhallab membutuhkan bukti untuk menyatakan bahwa kisah Ibnu Zubair adalah benar-benar shahih menurut syarat Imam Bukhari. dimana disebutkan bahwa dia ingat penyemburan itu terjadi pada saat dia berumur empat atau lima tahun. bukan keadaan atau peristiwa yang ada. tidak terdapat pesan sunnah Nabawiyah yang dapat memasukkan kisah tersebut ke dalam bah ini. "Inilah jawaban Musaddad.bin Namir dari Zuhri dan yang lain-lain. terdapat faidah syar'i yang membuktikan bahwa Mahmud adalah salah seorang sahabat. Pada saat itu dia mendengar riwayat dan ayahnya. Oleh karena itu. dalam kisah Mahmud tidak tcre. Sebab itulah. bahwa Mahmud bin Arrabi' meninggal pada tahun 99 setelah Hijrah pada saat umurnya mencapai 94 tahun. "Saya diberitakan Mahmud bin Arrabi'. Sesungguhnya penyebab keraguannya ini adalah kibat perkataan Al Waqidi. sedang umur dia. Dalam menukil hadits bahwa Nabi menyemburkan air ke mukanya. saya tidak menemukan pernyataan ini secara eksplisit dalam satu riwayat pun kecuali apabila pernyataan tersebut diambil dari perkataan sang pengarang kitab Al Isti db. dimana dia mengatakan.ipat penegasan bahwa dia pernah mendengarkan sesuatu. Dalam kitab Al lima'. dia lebih muda dari Mahmud. Adapun dalam kisah Ibnu Zubair. Pendapat pertama lebih baik satu. "pemilik rumah'lebih mengetahui isi rumahnya. "Menurut saya. Apabila diperhatikan lebih jauh maka sesungguhnya Al Muhallab telah memberi sanggahan kepada Bukhari. karena sanadnya shahih." Maka dapat dipastikan dari riwayat ini. ketika Nabi wafat dia baru berumur lima tahun. karena beliau di sini tidak menyebutkan dan merujuk kepada hadits Ibnu Zubair yang berkenaan dengan apa yang dilihatnya dari ayahnya di Bani Quraizhah. Al Badr Az-Zarkasyi lupa ketika dia mengatakan. Akan tetapi. dimana dia mengatakan bahwa Mahmud meninggal ketika berumur 93 tahun. Bukhari telah meriwayatkan kisah Ibnu Zubair tersebut pada pembahasan "Perangai Zubair" dalam kitab Shahih. penyebutan hadits Ibnu Zubair sebenarnya lebih utama daripada kedua hadits yang diriwayatkan secara makna ini. dengan demikian kita 3 3 0 — FATHUL BAARI . Qadhi Iyadh dan yang lain-lain menyebutkan bahwa dalam sebagian riwayat dia baru berumur empat tahun. hal ini sesuai dengan riwayat di atas. waktu itu berkisar antara 3 sampai 4 tahun. Namun Ibnu Munir menjawab bahwa yang diinginkan oleh Al Bukhari adalah menyampaikan sunnah-sunnah Nabi. Tapi setelah melakukan penelitian. bahwasanya kejadian yang kita sebutkan terjadi pada akhir hayat Nabi. Ibnu Hibban dan yang lainnya menyebutkan.

sedangkan anak yang di bawah lima tahun hanya dikatakan hadir (dalam majelis itu) dan tidak dapat dikatakan mendengar. bahwa hadits ini menunjukkan tasmi' (hal mendengarkan) anak yang berumur lima tahun dalam suatu majelis. Tapi jika dia tidak memahami. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Khatib dari jalur Abu Ashim. meskipun dia anak yang herumur dt bawah lima tahun. Akan tetapi pengertian seperti ini tidak terdapat dalam hadits ini dan juga hadits shahih Bukhari yang lainnya. karena diperkirakan pada usia itu anak bisa mendengar dengan baik. yaitu diperbolehkannya membawa anak kecil dalam majelis pengajian dan diperbolehkan bagi seorang imam mengunjungi rumah para sahabatnya serta bercanda dengan anak-anak mereka yang masih kecil. Dalam hadits ini ada faidah yang belum disebutkan. FATHUL BAARI — 331 . Ibnu Rasyid mengatakan." Pendapat yang mirip dengan pendapat Ibnu Rasyid adalah pembatasan yang dilakukan oleh para ulama fikih yang menyatakan bahwa umur tamyiz (yang sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah) adalah umur 6 atau 7 tahun. Bukhari \ . Oleh karena itu. sehingga mereka menyangkal dari seorang yang mengkritisi bahwa dia lupa akan kandungan yang terdapat dalam judulnya dan dia menyangkalnya seolah-seolah hal itu tidak disebutkan dalam kitab ini.sebagai pengganti V Kedua hal ini dapat menyebutkan lafazh dipadukan. barangsiapa yang memahami objek pembicaraan berarti dia mendengar. Anehnya orang yang mengkritik lalai.(Dengan satu timba). karena air diambil dari dalam sumur dengan menggunakan timba dan Nabi mengambilnya dan dalam timba tersebut.akan mengetahui jawabannya dengan pasti. —. Diantara pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dalam hal ini adalah pemahaman. bahkan menurut Bukhari yang menjadi pijakan dalam hal ini adalah pemahaman. maka akan ada perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya. Demikian pula dalam riwayat lain dalam bab "Thaharah" dan "Shalat" dan lainnya . Imam Bukhari mempunyai lafazh lain dalam bab "Ar-Riqaaq" dari riwayat Ma'mar. Ini bukan berarti bahwa umur lima tahun merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. yaitu ^ LJii* >J 'j* \ — ( d e n g a n timba yang ada di rumah mereka). "Secara zhahir mereka ingin membatasi umur lima tahun tersebut. maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dia telah mendengar. Sebagian mereka berpendapat.

i tf/j—«J' aJ ^-l 1 jP * J p ' 'J 'p* > v i j U i *ji p* * J\ Ji' ' i ^—IJ Jl Jl J ^ * L ' -r-*' ' s - j>\ a l p j j ^ R * 9 S j. AjLi jS"JJ „J— ^ «ILP AJJI J ^ a J j j l ' ' ** r s** 0 ' V J*y* Jl* i l L JPI 1 JjJjf J l i i J ^ j e bV ij J j f ^ . lalu Ibnu Juraij mengatakan.Dia mengatakan.' Maksudnya apabila dia dapat memahami apa yang disampaikan kepadanya. 'Tidaklah mengapi mengajarkan AJ Qur'an dan hadits kepada anak seusianya. J ' I L*^J p " ^ y ~ r ^ ~ ^ a J^T ' ' ^ * 1 1 3 ' F 11 A p *J ^jjl JLA* « J l j .PERGI M E N U N T U T ILMU Jabir bin Abdullah menghabiskan waktu satu bulan untuk pergi menemui Abdullah bin i'nais demi mendapatkan satu buah hadits.' J— 'di w' *~-J J* 'i!—* ( J ^ y / L*. > ^ i j » < j f ii ' s * ' p:j) pp ' 3 3 2 — FATHTJL B A A R I .1 c ^ J P$ J\ JP J ' ^ 'P* ' ' -* ' o a ^' J*y* Jl P i '•> ^ pk " ' r ' ' ' ^ \ + - ^ ^ J lii ^^**Ji j ^ o JJi ^X AILP *JJi J L » J . J'JJ ^L- *JjS AJ. ^ oiSJ» c w j i i .^j J y . 19. "Saya pergi bersama anak saya yang berumur 3 tahun menuju Ibnu Juraij dan dia membacakan hadits kepada anak saya." Dalam hai ini kita bisa melihat kisah masyhur tentang Abu Bakar bin Al Maqri Al Hafizh yang mendengarkan seorang anak yang berusia 4 tahun setelah mengujinya untuk menghafal beberapa surah dalam Al Qur'an.

'' " Ubai menjawab. dan kemudian Illah mewasiatkan kepadanya. maka kembalilah. 'Tidak. dan akhirnya bertemu dengan Khidhir. ia berkata.' Keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. " Setelah itu Musa memohon kepada Allah \itpaya diberi jalan untuk bertemu dengan Khidhir. Itulah yang kita kehendaki. lalu dipanggil oleh Ibnu Abbas. "Apabila ikan itu hilang. " K e t e r a n g a n Hadits: Dalam pembahasan ini tidak disebutkan sesuatu yang menerangkan secara jelas bahwa hadits ini termasuk hadits marfu '. Sava mendengar Rasulullah bersabda. "Ya. "Saya dan sahabat saya ini berbeda pendapat tentang sahabat nabi Musa yang dimintanya kepada Allah supaya dapat bertemu dengannya. "Pada suatu ketika Musa berada dalam satu kelompok bani Israil. adakah anda mendengar Rasulullah menceritakannya. pelayan Musa berkata kepadanya.' u< J^>Lt Li] > Ju~. ada. Dia berkata kepada Ubai. "Tahukah anda ketika kita berhenti di sebuah balu besar. Akan tetapi Imam Muslim telah meriwayatkan hadits Abu Hurairah yang dianggap marfu ' olehnya. maka FATHUL BAARI — 333 . yaitu hamba Kami Khidhir. 'Tahukah anda bahwa ada seseorang yang lebih pintar dari anda'' Musa menjawab. "Muka Musa mengikuti jejak ikan itu di laut. ' Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa. dalam Al Qur'an. Maka Allah menjadikan ikan sebagai tanda bagi Musa.78. yaitu * i. hanya setanlah yang memperduvakanku untuk terus memperhatikannya ' A f u . "Ada orang yang lebih pintar. Kemudian antara Musa dan Khidhir terjadi beberapa peristiwa seperti yang dikisahkan Allah Subhanahu Wata 'ala. "Ia berbeda pendapat dengan Hurr bin Qais bin Ihshn Al Fazari rentang sahabat nabi Musa alaihissaluin Pada saat itu lewat Ubai bui Ka ab. tiba-tiba datang kepadanya seseorang dan bertanya. Di tengah per/aianan. D a n Ibnu Abbas RA. niscaya engkau akan bertemu dengannya. saya lupa memperhatikan ikan itu.'jj—!iJi J\ "Barangsiapa yang menempuh jalan demi menuntut ilmu. s u menjawab.

]A ^v o''j—<• i i L i i i ." Hadits Jabir ini merupakan dalil usaha untuk mencari dan mendapatkan hadits dari sanadnya yang paling atas. maka ia tidak puas kecuali pergi sendiri menemuinya dan mendengarkan langsung dari Abdullah bin Unais tanpa perantara orang lain. "Apakah dia Ibnu Abdullah'!" Aku berkata. "Aku diberitahu oleh seseorang tentang saru hadits yang didengar oleh Abdullah bin Unais dari Rasulullah." Al Khatib mengeluarkan riwayat dari Abu 'Aliyah. "Aku mendapatkan sebuah hadits yang berasal darimu dan aku khawatir akan meninggal dunia sebelum mendengarnya langsung darimu. dan aku berkata. Sedangkan Abdullah bin Unais adalah Abdullah bin Unais Al Juhani. Aku berkata kepada penjaga pintu. salah seorang sahabat yang terkenal. " N a m u n Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadits ini. maka kami tidak puas hingga kami pergi menemui mereka dan langsung mendengarkan dari mereka. "benar. "Aku mendengar Rasulullah bersabda. Sedangkan Ahmad bersama Abu Ya'la juga meriwayatkannya dalam kitab Musnad dari jalur Abdullah bin Aqil. karena Jabir telah mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Unais melalui orang lain. " Kemudian dia menyebutkan hadits di atas. "Seandainya ada orang yang lebih mengetahui Al Qur'an daripada aku maka aku akan pergi menemuinya. Jabir bin Abdullah di sini adalah Jabir bin Abdullah Al Anshari. "Ketika kami mendengar hadits dari sahabat-sahabat Rasulullah. sekum kaum Anshar. "Katakan kepadanya bahwa Jabir datang dan menunggu di depan pintu" Kemudian Abdullah bin Unais berkata. " Ada yang bertanya kepada Imam Ahmad." Kemudian dia keluar dan memelukku. Hadits yang dicari Jabir tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam bab "Adab". Adapun riwayat dari Ibnu Mas'ud dalam Kitab Fadha'ilul quran. kita dapat menemukan perkataan Jabir. "Apabila ada orang yang ingin menuntut ilmu apakah dia harus menuntutnya kepada orang 3 3 4 — FATHUL BAARI . maka aku membeli seekor unta kemudian aku membulatkan tekad untuk pergi. Bahwasanya dia mendengar Jabir bin Abdullah mengatakan. Aku habiskan saru bulan dalam perjalanan hingga tiba di Syam." Maka Abdullah bin Unais berkata. lalu aku bertemu dengan Abdullah bin Unais._ ^j-Ui r Ha\ 'Allah mengumpulkan manusia di hari kiamat dalam keadaan tanpa sehelai baju (telanjang). karena adanya perbedaan pendapat dalam sanadnya. dia berkata.Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

'j—i-J" j 'j* Hurr).K E U T A M A A N O R A N G Y A N G M E N G E T A H U I DAN M E N G A J A R FATHUL BAARI — 335 . lafazh j * ditiadakan dan riwayat dianeksasikan kepada subjek tanpa ada penguat {ta 'kid) dan huruf pemisah (fashl). Adapun yang menunjukkan hal ini adalah tirman Allah kepada Nabi-Nya. Dalam 'S (Sesungguhnya dia berbeda pendapat dengan Al Ibnu Asakir. dan ini diperbolehkan menurut sebagian orang. Pembahasan hadits ini telah dikemukakan dalam dua bab sebelumnya. walaupun harus menghadapi kesulitan dalam memperolehnya. Al An'aam (6): 90) 20. Disamping itu juga diperbolehkan merangkul orang yang datang jika tidak ada keraguan.yang banyak ilmunya atau pergi merantau?" Ahmad berkata. "(Qs. dan perinlah untuk bersikap tawadhu' (merendahkan diri) bagi seseorang terhadap orang \ a n g menuntut ilmu kepadanya. maka ikutilah petunjuk mereka. "Mereka itulah orang-orang vang lelah diberi petunjuk oleh Allah. dan tidak ada perbedaan antara dua riwayat tersebut kecuali perbedaan sedikit yang tidak sampai merubah maknanya. "Sebaiknya dia pergi dan menulis ilmu tersebut dari para ulama di berbagai daerah. " Dalam hadits ini digambarkan bagaimana antusiasnya para sahabat Rasulullah untuk mendapatkan sunnah-sunnah beliau. Riwayat ini menjelaskan keutamaan menambah dan menuntut ilmu.

"Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan. karena kata subur ) merupakan sifat bagian tanah yang pertama yang bisa menumbuhkan sesuatu. kalanya Nahi SAW bersabda. bahwa lshaq berkata. sedangkan ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan tentang dalil-dalil syariah. Mereka dapat minum dan memberi minum fbiih mg ternak dan sebagainya). Dari Abi Musa RA. menumbuhkan tumbuh-tun. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah." Dia mengatakan. Sedangkan apa yang disebutkan 0 — * ' ) . tapi tidak menyerap. dipelajarinya dan diajarkannya. '—'Ji (Subur)." Abu Abdillah berkata. yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumpui Begitulah perumpamaan orung yang belajar agama. yang mau memanlaalkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya. seperti hujan lebut jatuh ke bumi. "Ini adalah sebuah kesalahan dan dapat menyalahi makna.' tidak menyerap air sehingga tergenang. maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Ada pula yang kera. gambaran menakjubkan dan bukan kata-kata biasa pada umumnya. dan untuk bercocok tanam. cocok untuk sifat bagian tanah yang kedua yang tergenang airnya. Ada pula hu/an vang jatuh ke bagian yang lain. "Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air. "Dapat kita pastikan dalam 3 3 6 — FATHUL BAARI ." K e t e r a n g a n Hadits: Perumpamaan yang dimaksudkan adalah.79. vang aku diutus untuk menyampaikannya. Abu Dzarr menggunakan kata-kata ~<X yang berarti tempat bergenangnya air di pegunungan dan padang pasir. Al Qadhi lyadh mengatakan. o 'A !l yang yang adalah petunjuk yang mengantarkan kepada diinginkan. yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikannya. bumi itu ada yang subur. Dalam riwayat Al Khaththabi dan Humaidi dalam kitab Hasyiah.nuhan dan rumputrumput yang banyak. Menurut Al Khaththabi. menyerap air.

sangat tepat dengan kata oi?ti (menumbuhkan). -—LJ (menyerap) tapi dalam riwayat Ushaili menggunakan lafazh dan ini merupakan kesalahan dalam penulisan seperti yang akan kita sebutkan nanti.'— 5 sedangkan dalam riwayat selain Abu menggunakan lafazh ^ J ' — > Karib dengan menggunakan Muslim yang keras yang tidak menyerap air. — ( r u m p u t ) setelah lafazh y^< termasuk metode penyebutan yang lebih spesifik. (dan menggembala). Al Qadhi lebih mengutamakan ij-tJJ. ' • — ( d a n bercocok tanam). Al Qurtubi dan yang lain-lain mengatakan. lafa/h kedua lafazh tersebut dapat dibenarkan. yaitu seperti dalam riwayat Muslim s-» ^ U .JUII riwayat '-y-f-j.semua jalur riwayat Bukhari menggunakan kata-kata C?. sedangkan Muslim dan Nasa'i dan Abu Karib menggunakan lafazh ' y-j. namun yang dimaksudkan adalah sesuatu yang layak tumbuh. (bagian yang baik). karena mencakup 1 tumbuhan yang kering dan tumbuhan yang basah. j' «J yaitu tanah datar yang licin dan tidak bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. sedangkan v . Adapun Ismail menwavatkannya dari Abu Ya'la dari Abu dan sebagian juga mengatakan yang artinya tanah lapang yang tidak ditumbuhi tumbuhan. Kemudian kembali kepada tanah yang bisa menghasilkan tumbuhtanah yang keras tidak Al Qadhi mengatakan. bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama. riwayat Muslim tanpa alasan.'. bahwa perkataan subur karena tumbuhan. Menurut Imam Nawawi. . Walau. Dalam menyebutkan lafazh .^ untuk tumbuhan yang kering saja.— " dengan mendhammahkan huruf qaf yang berarti menjadikan dia sebagai orang yang mengerti dan memahami. Dalam riwayat Abu Dzarr menggunakan lafazh artinya tanah yang tidak menyerap air sebagai ganti lafazh Dzarr atau dalam Shahih yang berarti tanah hanya —yang -J. beliau mengumpamakannya dengan hujan yang diperlukan ketika FATHUL BAARI — 337 . karena riwayat dengan menunjukkan cocok tanam yang dilakukan secara langsung sehingga sesuai dengan anjuran untuk menuntut ilmu dengan segera.

Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua.:i dua kelompok. "Allah n u mpenndah seseorang yang mendengar perkatan-perkataanku dan dia mengerjakannya seperti yang dia dengar" Diantara mereka ada juga yang mendengar iimu namun tidak menghafal atau menjaganya serta mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya. Diantara mereka ada juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan. 'j* (Orang yang tidak mau memikirkan) atau dia berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa memanfaatkannya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain. diantara mereka adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan mengajar. demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati. i ^ A »y. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah datar yang keras. adalah karena keduanya sama-sama bermanfaat.mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. dimana air mengalir di atasnya tapi tidak dapat memanfaatkannya. Adapun bagian kedua adalah orang yang sama sekali tidak memeluk agama. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga karena tercela dan tidak bermanfaat. maka dia seperti tanah yang tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yang ada di sekelilingnya. tapi ia mengingkari dan kufur kepadanya. maka dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya. Hal ini 3 3 8 — FATHUL BAARI . sedang perumpamaan kedua. Kemudian dalam setiap perumpamaan terdiri d. Kelompok ini diumpamakan dengan tanah tandus sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi Shallaliahu Alaihi Wasaliam dalam sabdanya. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi.. bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati. akan tetapi dia mengajakannya untuk orang lain. bagian pertamanya adalah orang yang masuk agama (Islam) namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkan tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kemudian beliau mengumpamakan orang yang mendengarkan ilmu agama dengan berbagai macam tanah yang terkena air hujan. 1 — . Orang inilah yang diindikasikan dalam sabda beliau. kemudian tanah tersebut dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.

. diantaranya ada yang subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yang kering. ^ i Wj >'<J> j * . Al Ushaili mengatakan hal tersebut merupakan kekeliruan dan lshaq. Lafazh hadits di atas adalah bentuk plural dan '—~>."' Al Qurthubi membantah. Menurut saya. Sedangkan dalam riwayat Ash-Shaghani juga ada. FATHUL BAARI — 339 . *— '-^-rj ^ ^ *s'-** j i (Dan tidak peduli dengan petunjuk Allah). Orang semacam ini termasuk dalam. . • J y~~^' Lafa/1 1 • . Yang lain mengatakan. karena maksudnya tidak terbatas minum di tengah hari. " ^—Li i-. "Ishaq berkata dari Abu Usamah. Dia meriwayatkan h a d i t N mi dan Abu LVamah dengan menyangkal keberadaan kalimat ini. Catatan: Dalam riwayat Karimah terdapat kalimat tersebut "Ibnu lshaq berkata. dan tidak ada larangan untuk menggunakannya selain makna aslinya. Begitu juga dengan tanaman yang tumbuh.'' Sesungguhnya Syaikh Al lraqi menguatkan lafazh ini (Ibnu Ishaq). karena secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. yaitu lembah yang tidak menampung air. maka dia adalah orang fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama. j jS'. "Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air). itu adalah makna asal dari kata tersebut. manusia yang memanfaatkan ilmu untuk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain. At-Thibi mengatakan. dan artinya adalah menyerap.. I. sebenarnya dia termasuk dalam kelompok kedua seperti yang telah kita jelaskan. walaupun saya belum pernah mendengar hal itu dari beliau. tapi ia mengajarkan kepada orang lain." Riwayat ini telah menguatkan riwayat yang pertama. "Manusia terbagi menjadi dua. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yang wajib dan meninggalkan yang sunnah. jt^J dalam ini terdapat dalam riwayat Al Mustamli.diisyaratkan dengan perkataan beliau. — ) A ~ J (Tanah yang digenangi air).shaq adalah Ibnu Rahawaih. Sedangkan Al Qailu artinya minum di tengah hari. Wallahu A 'lum. JJ (Ishaq berkata. dan seandainya dia meninggalkan hal-hal wajib. manusia yang tidak memanfaatkan untuk dirinya. Kedua. P e r a m a . "Kalimat itu benar.

"Tidak sepantasnya menyia-nyiakan dirinya.1 :ekih dijelaskan dalam hadits bab ini bahwasanya diangkatnya ilmu adalah diantara tanda liari kiamat. supaya hal tersebut tidak membawa kepada kesirnaan ilmu. diminumnya khamer. dia berkata. ' ' . Rabi'ah adalah Abu Abdurrahman." seorang yang memiliki ilmu untuk ^ Jl ^ OP 4JI -UI J ^ J l i J l i p!f J_ ^ J l Vi 80. Dia dikenal dengan ahli r a y u karena banyaknya melakukan ijtihad. supaya seorang yang berpengetahuan tidak mati sebelum mengajarkan hal tersebut.' ' *. ' li. bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda. Rabi'ah berkata.. dan selama masih aJa utang \ ang mempelajari ilmu. Dari ^HAS radhiallahu anhu. seorang Ulama fikih dari Madinah. meningkatnyu kebodohan. ' -i. Maksud perkataan Rabi'ah adalah. I . Atau seorang yang berpengetahuan hendaknya memperkenalkan diri agar ilmunya dipelajari oleh orang-orang supaya tidak sia-sia.ikan tenadi. bahwa orang-orang yang memiliki pemahaman dan mendapatkan ilmu tidak seharusnya mengabaikan dirinya sehingga meninggalkan kesibukannya. maka kepunahan ilmu tidak .. Atau maksudnya adalah anjuran untuk menyebarkan ilmu pengetahuan di kalangan keluarga. "Diantara tanda-tanda kiamat. seperti yang akan ditegaskan nanti. Scsungguhnv . 34O — F A T H U L B A A R I .21.HILANGNYA ILMU DAN MUNCULNYA KEBODOHAN > . ialah punahnya ilmu. sehingga mengakibatkan kelangkaan ilmu pengetahuan. dan merajalelanya zina" K e t e r a n g a n Hadits: Bab ini merupakan anjuran untuk menuntut ilmu Sesungguhnya ilmu tidak akan punah kecuali dengan kemalian ulama. „' = ..

namun yang selaras dengan penamaan Imam Bukhari terhadap bab ini adalah pendapat yang sebelumnya.itau yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Lj>'' ^Laj jl Ja ^ .' o ' * * ' l ' j. bahwa semua ini tidak terdapat dalam 'j-—J-' Shaluhaini.. seorang guru Imam Bukhari. ataupun ciri-cirinya seperti yang dijelaskan sebelumnya pada bab "Iman". JA J y u jtJJ-J «J-P aJJI "Ca « U J I Jj^. ' * .' —-'J— y ji^. *U\Iii ><.i ' \ f ' * . i*'J.Namun ada juga yang mengatakan. Maksud diangkatnya ilmu adalah. J u m i ' . • « (MemiiL'kutin a i Dalam n u ayat Muslim. Dalam riwayat Nasa'i dari Iniran.J ' .) tidak disebutkan. "Dalam riwayat ^ J J . (Diminumnya khamer).j j j _ _ C ^S>- J l _ ^ > j £ . maka seseorang tidak merendahkan dirinya dengan menjadikan ilmu hanya sebagai tujuan untuk mencapai dunia._. namun Imam \awav> i menceritakannya dalam Syur h Muslim. meninggalnya para ulama. dan telah dikemukakan bahwa diantara tanda-tandanya ada yang biasa terjadi dan ada yang di luar kebiasaan . kata-kata ( . W karmani lengah sehingga dia mcuisbatkan riwayat Muslim ini kepada Bukhari. = 1 *i . 1 1 ' . bahwa yang dimaksud adalah menghormati dan memuliakan ilmu.— 1 (Tanda-tanda kiamat). J^. yang berarti lersianna. Al Karmani mengatakan.m» meminum khamer dan mempertontonkannya dengan terang-terangan Dalam bab "Nikah" disebutkan riwayat dan jalur Hasyim dari Qatadah. (Merajalelanya zina) atau tersebarnya perzinaan seperti dalam riwayat Muslim -f o ' ' . maksudnya adalah banyakn\a orang y. Al Khatib telah menyambung Atsar Rabi'ah tersebut dalam kitab Al Baihaqi dalam kitab Madkha! dari jalur Abdul Aziz Al Uwaisi dari Malik dari Rabi'ah. — J L I o V (Diangkatnya ilmu). Pendapat ini baik. fy\ J^Ji ^k'j FATHUL BAARI — 341 ." saya katakan.

i . munculnya perzinaan. Ibnu Baththal mengatakan. ^ 'J i 1 klak akan disampaikan uleh orang kepadamu sepeninggalku). dia berkata. banyak perempuan dan sedikit laki-laki.' . . Mereka menjawab. 3 4 2 — FATHUL BAARI . "Kemunginan Anas mengatakan hal ini ketika dia menemukan adanya kekurangan ilmu.'" Keterangan Hadits: ^—isl'ji-^ (Akan kusampaikan 1 kepada anda). Dari Anas radhiailahu 'anhu." Hal ini ditegaskan oleh Abu Awanah dari jalur Hasyim dari Qatadah Ghundur kepada kalian ). "Ya " Setelah itu baru dia berkata. i (Yang tidak akan disampaikan orang kepadamu apa yang dia dengar dan Rasulullah sepeninggalku}. sehingga bagi lima puluh perempuan hanya seorang pengawalnya.J "I'. begitulah lala/h Bulikari dan Muslim dengan menghapus objek. Ibnu Majali dari Ghu.. ^—!u 1 . J ^ J U Zi' S*-. mushanmj memiliki la la/h dan |A!N. \ — N maka kemungkinannya mengatakan kepada mereka." ! las\ M I s ~* -. bahwa pendapat pertama lebih tepat. Anas telah mengetahui bahwasanya tidak ada satu pun orang yang mendengarnya dan Rasulullah kecuali dia sendiri.ulur dan Syu'bah menipum J lata/li . Itu adalah jawaban -JJ"J "Demi Allah akan 1 qasam (sumpah) yang dihilangkan yaitu 'SZ^k kusampaikan kepada anda. maka dia mengabarkan hadits yang dimilikinya.l i ^ . V^-"-^ l'' "'Apakah aku akan menyampaikan kepada kalian'. s dan Abu Awanah mempiinvai lata/h dari jalur ini juga. 'Diantara tanda-tanda kiamat ialah berkurangnya ilmu. Barangkali tujuan perkataan dia waktu itu adalah penduduk Bashrah ataupun untuk kalangan umum. keadaan akan semakin buruk. "Akan kusampaikan kepada anda sebuah hadits yang tidak akan disampaikan orang kepadamu sepeninggalku. Karena jika tidak. Dia menyampaikan hadits ini pada akhir hayatnya.^ ' V . 9 1 Imam Muslim mempunya riwayat lain dari (Apakah aku akan menyampaikan adalah pada mulanya dia 1 dari Syu'bah.P . karena waktu itu tidak ada sahabat yang tersisa setelah dia yang menetapkan pendengarannya dari Nabi kecuali sedikit. Saya katakan. karena dia yang paling terakhir meninggal diantara sahabat-sahabat dari Baslirah.81. meratanya kebodohan. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.

ik anak peieinpuaii. karena dalam hadits Abu Musa dalam bab " / a k a l ' ' disebutkan dengan jelas. bahwa hal ini merupakan pertanda sering terjadinya peperangan yang menimbulkan meningkatnya jumlah tawanan sehingga setiap orang laki-laki mengawini perempuan lebih dari satu. Pertama adalah agama. L>-' *J'J_ Abi Syaibah dari Said riwayat dari Hamam kesemuanya itu dari Athiyah dan mushanmf begitu juga riwayat Ibnu dan para /m«/ja«m/(penulis) dalam bab "Hudud" dan dalam bab "Nikah" dari Hisyam yang Qatadah.(Berkurangnya ilmu). Lafazh itu sama dengan riwayat Abi dalam bab "Al Asyribah" dari jalur Hisyam. atau mungkin juga kata tersebut adalah kiasan yang menggambarkan kin\akn>a jumlah kaum hawa.^Jw—'. karena dengan minum alkohol akan merusak pikiran. Dalam riwayat Muslim dari Ghandur dan selain dia dari Syu'bah. Kalimat ini sebagai penjelasan atau sebagai pengganti kalimat JNI'I^J. Maksud (setiap lima puluh) adalah jumlah perempuan dan lakilaki adalah 5 0 berbanding 1.>uai dengan timbulnya kebodohan dan punahnya ilmu. karena dengan punahnya ilmu berarti agama juga sekarat. Ketiga adalah FATHUL BAARI — 343 .ir .(Telah saya dengar.v . akan tatapi memang takdir Allah menetapkan pada akhir /aman dengan mengurangi anak laki-laki \ ang i ulur dan menipcrb. Banyakmu jumlah wanita >ebugai tanda-tanda kiamat adalah se. _U. Disebutkannya lima tanda kiamat secara khusus adalah mengisyaratkan bahwa lima tanda-tanda inilah yang menjadi pemicu kesenjangan dan kerusakan.1—Jti' j — i . Abu Abdul Malik mengatakan. "sedikitnya kaum laki-laki dan banyaknya kaum perempuan" dimana hal ini merupakan fenomena \ a n g bukan karena sebab lam. *—^' (Pengawal) atau orang yang mengurus urusan kaum hawa. Kedua adalah akai. Ada yang mengatakan c penyebabnya adalah karena banyaknya peperangan sehingga kaum lelaki banyak yang terbunuh. J : maka kemungkinan yang terjadi adalah ilmu menjadi langka dan setelah itu punah. bahwa kaum laki-laki adalah sebagai pemimpin kaum wanita. Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Musa yang memebutkan. ' _ j i > — ( D a n banyak perempuan). Saya katakan bahwa pandangan ini perlu diteliti kembali. . dimana dengan menjaga hal-hal ini akan membawa kebaikan dunia dan akhirat. Huruf "lam " pada kata tersebut berfungsi untuk mengisyaratkan. "kamu melihat seorang laki-laki diikuti empai puluh orang wanita.

aku bermimpi seseorang datang kepadaku memberikan segelas susu. Terakhir adalah jiwa dan harta. bahwa kerusakan lima perkara ini merupakan tanda runmhnya dunia karena manusia telah meremehkannya dan tidak ada nabi lagi setelah Nabi kita Muhammad SAW. Dalam kitab Tadzkirah. karena Nabi memberitakan apa >ang akan terjadi dan hal ini sungguh-sungguh terjadi. maka hal-hal tersebut akan menjadi kenyataan. ''Ilmu" 3 4 4 — FATHUL BAARI .. sehingga dia mengawini hanya seorang istri karena tidak tahu hukum syar'i. 22. bahwa hal tersebut telah kita jumpai pada beberapa umara (penguasa) dan urang-orung selam mereka pada masa sekarang. "Mungkin yang dimaksud dengan "Al (Javvim" adalah orang yang mengurusi urusan perempuan. terlepas apakah dia seorang istri atau tidak. khususnya pada zaman sekarang. "Ketika aku sedang tidur. bahwa hadits ini memberitahukan akan ilmu kenabian." Saya katakan. Mungkin juga hal itu terjadi pada zaman dimana tidak tersisa lagi orang yang mengucapkan Allah.j . j>- ^ J_Jt UaPl 82. karena dengan banyaknya peperangan akan merusak keduanya. Bahwasanya Ibnu Umar mengatakan: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda. Al Qurtubi mengatakan. * y < .^ o / y . karena perzinaan akan merusak keturunan. Lalu kuminun susu itu. sehingga kulihat a i r merengat (merembas) keluar dari ujung kukuku. ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab. Al Cjurtubi juga mengatakan.keturunan.\ t x x ' l . kemudian sisanya kuberikan kepada Umar bin khaththab." Para sahabat bertanya. Al Karmani mengatakan. "Apakah takwil mimpi anda itu.K E U T A M A A N ILMU ^<a ui £ • j u c ' . ?—• \sy—**> .

K e t e r a n g a n Hadits: Kata Al fadhlu berarti kelebihan. ' 'JLI '. J' . karena keduanya banyak memberi manfaat. 'Saya lupa.^LnJ' v' ' y-£r! -djL -^-^ . sedangkan dalam Atta'bir yang mempunyai arti yang sama. saya lebih dahulu bercukur sebelum menyembelih. . J ^ 1 J L ' 1 J _ 'i ^i - j ./ 'Ilmu. F A T W A Y A N G D I K E L U A R K A N S E O R A N G MUFTI SEDANG DIA D U D U K DI A T A S B I N A T A N G t A_L_P Al}' ^J_3 "dj' ^ 4~<.' Kemudian datang pula yang lain menanyakan. ' Nabi Menjawab. Ibnu Munir mengatakan. "Waktu melakukan haji Wada' (haji terakhir yang dilakukan Sabi).^ -I ' . dengan nashab dan rafa ' bersamaan.' i L>^S . W Jij dalam riwayat t e r s e b u t . dimana ilmu telah diibaratkan dengan keutamaan atau kelebihan Nabi yang diberikan Allah kepadanya. pendapat ini berdasarkan. sedangkan Al fadhlu dikemukakan pada permulaan Kitabul 'Ilmi artinya keutamaan.Maka datang kepada beliau seseorang menanyakan. 23. bahwa keutamaan ilmu dalam hadits ini dapat dilihat dari ungkapan yang ada dalam hadits tersebut. saya lebih dahulu menyembelih F A T H U L BAARI — 345 . 'i • ^ i' v . Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berhenti di Mina untuk menjawab pertanyaan para jamaah haji. ' • j 'i J I • I Li o~iL>>j 1 1 i- ' -• • r/- j> _ L j t -*' 1 ^ *^i t ^ j Abdullah bin Amru bin Ash RA menceritakan. 'Sembelihlah! Sekarang tidak berdosa. 'Saya lupa. s y—ib' dalam riwayat Ibnu Asakir menggunakan menggunakan ^p'y yang * s ' y . Dalam hal ini Rasulullah menafsirkan susu dengan ilmu. bahwa maksud Al Fadhlu adalah keutamaan.

R a s u l u l l a h 'Lakukanlah. / a n t a r a m e n c u k u r m e n y e m b e l i h ) . Penjelasan ini akan disinggung pada pembahasan bab "Haji". Muslim dan Nasa'i menyambung sanadnya sampai kepada Nabi. " D a n b e l i a u t i d a k menyuruh m e m b a y a r k a f a r a h . a " . " j- -j ^ (Maka datanglah seseorang). " R a s u l u l l a h . Sedangkan riwayat Ma'mar. baik karena tidak mengerjakannya secara turtib atau meninggalkan fidyah. dia adulah seorang sahabat yang tidak disebut namanya karena pada saut itu banyak orang yang bertanya kepada Nabi. Ahmad. Pendapat mi perlu penjelasan lebih lanjut karena dalam sebagian riwayat yang s h a h i h disebutkan. d u d u k Ibnu S\ihab tidak menyebutkan lata/hn\a.S'-f 11 b e r d i r i d i a t a \ u n t a i v . " S a b i w a k t u i t u d i a t a s w i t a n y u " . o r a n g 'lemparlah! k e p a d a d a n b e l i a u Sekarang t e n t a n g tidak m a n a berdosa. jawabannya adalah bahwa penulis mengeluarkan n w a \ at dari jalur lain dalam masalah Haji s e d a n g Dalam riwayat itu Abdullah bin Amru berkata. Saya tidak mengetahui nama si penanya. a dalam konteks hadits ini binatang yang ditunggangi tidak disebutkan. baik yang pertama atau yang kedua dalam hadits mi. selanjutnya dari julur Shalih bin Kisan dari Ibnu Svihab dengan lafa/h.' Tidak berdosa. Semua r i j a l u l h a d i t s sanad hadits ini adalah orang-orang Madinah. " S a w i m e l i h a t R a s u l u l l a h S h a i l a l l a h u A l a i h i W i t s a l l a m d u d u k d i a l a s u n t a m u d i M i n a . Namun yang jelas. kemudian beliau mengeluarkan dan jalur Ibni: Juraij seperti hadits itu juga. ' y a n g 'S a b i m e n j a w a b .' y a n g S e t i a p d i l a m a k a n m e l e m p a r .V /'(yang biasa digunakan) apa yang bisa ditunggangi Sebagian ahli L >/"mengkhiisuskannya dengan keledai. . artima adalah segala sesuatu yang berjalan di atas bumi. Maka jika ada y ang mengatakan buhv. 3 4 6 — FATHUL BAARI . Sebagian Ulama fikih mengatakan. bahwa yang dimaksud adalah peniadaan dosa.D a b b u h menurut bahasa. dan menurut £. dan setelah itu dia mengatakan bahwa jalur mi diikuti oleh Ma'mar dari / u l i n .s e b e l u m m e l e m p a r / j u m r a h } . d i d a h u l u k a n m e n j a w a b . A d . rjj—y(Tidak berdosa) atau sama sekali dia tidak berdosa. yang diberi judul " B a h u A l f u i \ a ' A l u A d D a b b a t i ' l a d u ! J u m r a h " Beliau men\ ebutkau hadits dari jalur Malik dari Ibnu Syihab dan beliau me:nebutkan seperti hadits pada bab ini.' " Keterangan Hadits: Maksud bab ini adalah seorang yang berilmu menjawab pertanyaan seorang murid walaupun dia sedang duduk di atas binatang. " dan i s n y a A l l a h akan dibahas nanti pada bab "Haji".

Kemungkinan yang menanyakan ini adalah orang yang pertama juga. Maka riwayat itu termasuk hadits yang diriwayatkan secara (penetapan atau pengukuhan dan Nabi). Pendapat ini paling kuat. berarti setiap orang menanyakan satu pertanyaan. atau dia menanyakan (kepada rasul) apakah saya dikenai denda karena saya telah menyembelih sebelum saya melempar jumrah? J'i (Dia berkata. M E N J A W A B F A T W A D E N G A N I S Y A R A T T A N G A N ATAU K E P A L A 8-4. D a n I b n u S A H A b b a s d u a n y a r a d h t a l l a h u s e s e o r a n g t e l a h i s \ a r a t o r a n g \ i n h u n a k n < D i a b e r k a t . B a h w a s a n y a h a j i b e l i a u . t e l a h i s y a r a t R a s u l u l l a h t a n g a n n y a l a g i . dan ada kemungkinan orang lain." r a m b u t t a n g a n m u . "Tidak m e n c u k u r d e n g a n apa-apa. dan itu adalah dari perbuatan Aisyah Makanya riwayat ini (apa yang dinisbatkan kepada perkataan sahabat. m a m p i j m a r t u ' . b e r t a n y a M a k a S a b i " A k u s e b e l u m m e n \ e m b e l i h ."). namun hukumnya karena Aisyah shalat di belakang Nabi dan beliau menulen untuk melihat siapa v ang berdiri di belakangnya. m e m b e r i "Tidak apa-apa. karena selaras dengan riwayat FATHUL BAARI — 347 . " K e t e r a n g a n Hadits: Isyarat dengan tangan diambil dan kedua hadits \ a n g lersebul dalam bab mi. perbuatan dan pengukuhan mereka]. Jika demikian. R a s u l u l l a h O r a n g j u m r a h . t a a r i r y—- (Ditanya).. dan kedua hadits lersebul berasal dari Rasulullah (niaiTu') Kemudian isyarat dengan kepala diambil dari hadils Asma . "Saya telah mencukur.24.. " i t u p a d a p e l a k s a n a a n s e b e l u m b e r k a l a . " S a \ a m e m b e r i K e m u d i a n m e n y e m b e l i h d e n g a n i t u " m e l e m p a r d a n b e r k a t a .

Keterangan Hadits: 1^-1*1' ( \ a n t i akan dilenvapkan ilmu pengetahuan). bahwa hal itu karena jawaban pertama adalah permulaan hukum. Jika ilmu pengetahuan punah. " T\—i. Al Karmani mengatakan.LJ^ sedangkan dalam riwa\ at Abu dzarr tidak ada. — L ' — ' . j L <j.o l a h i s y a r a t s u a t u d e n g a n m e n g g a m b a r k a n p e m b u n u h a n } . (Maka Nabi memberi isyarat dengan tangannya.J a p a . maka sudah pasti kebodohan makin meningkat. h i i r u j " A l a i h i a k a n b e r s a b d a . S h a l l a l l a h u p e n g e t a h u a n . d i l e n y a p k a n s e r t a k e j a h a t a n . . (Akan merajalela kebodohan). dan kata Abdullah bin Umru dengan. Maksud telah ditafsirkan dengan perkatan Nabi pada bab terdahulu i' ditafsirkan oleh hadits kalimat ini inJ'i « J V (diangakatnya ilmu). (Beliau menjawab.S _ L' 85. s e o l a h .sebelum ini. y a S e s e o r a n g " B e g i n i ! h a r a j R a s u l u l l a h ' . pada .i'_. ' t a n g a n m e n j a w a b . i s y a r a t t a n g a n ) 3 4 8 — FATHUL BAARI . S a l i m K A m e n d e n g a r W a s a l l a m m e r a j a l e l a b c r t a n \ a . J'. " ' K e m u d i a n d a t a n g o r a n g l a i n . Dalam riwayat Al Ushaili dan selainnya tetap menggunakan huruf "waw "pada jawaban pertama. < X u h i A b u H u r a i r a h m e n g a t a k a n . .a p a . s n " B e g i n i ! " d e n g a n m e m b e r i adalah bentuk pengungkapan maksud suatu perkataan dengan menggunakan gerak-genk (tindakan). Cj >J' 'LuiL_. dimana dalam riwayat sebelumnya Abdullah bin Amru bin Ash berkata. "Lenyapnya ilmu pengetahuan terjadi dengan kematian para Ulama". a k a n b a h w a N a b i i l m u b a n y a k " B e l u m b e l i a u . • ' - 1 1 . 1 " T i d a k Begitulah dalam riwayat ini memakai huruf uuv. sedangkan yang kedua hanya mengikuti apa yang disebutkan pada jawaban pertama. k e b o d o h a n " A p a k a h m e m b e r i t e r j a d i n y a " \ a n t i d a n i t u ." i' V •J*. " ) .

O' 1 . I 1>o ^ 4_iP i. \ t i . 3 : . . j ^ ' ^ t. ] . dan sepertinya hal itu merupakan penafsiran perawi dan Hun/halah (dia adalah Ibnu Abi Sufyan bin Abdurrahman Al Jamin Al Madam t.^ ^ ^ * l-*»J f ^ .' -& 'i •. i ^ I ^ ^Sj^ .'-I -v-J. j AILC. Huruf/j di sini a d a l a h / a ' t a f s m y a h ..i i' . Sesungguhny a Abu Awanah telah meriwayatkannya dan Abbas Ad-Dauri dan Abi Ashim. Jl w''J L O ^ j L ^ 1 'J o^' v FATHUL BAARI — 349 .. bahwa A i H a r a / adalah timah (bencana). 1 . dan Hanzhalah. bahwa pemberian isyarat dan Nabi dilakukan dengan gerakan tangan beliau yang menyimpang.-LJJ OLi U ' . dan pembahasan hadits mi akan dijelaskan lebih lanjut pada masalah "fitnah". .• - L.. * 1 s . J'] . Barangkali hal ini dipahami oleh Salim r a d h i a l l a h u ' a n h u dari gerakan tangan Nabi yang menyimpang seperti gerakan orang yang hendak memukul seseorang. J—'-^ '-—. ^ .<JJ ^L^ o^~' "-». Sepertinya perawi hadits ingin menginspirasikan. . Saya katakan. i.1»—V (Seolah-olah menggambarkan terjadinya suatu pembunuhan). _»li jLi'I». kecuali jika lelah terbukti pemakaian A l H a r a / dalam bahasa berarti pembunuhan.^ V • • 1 . Maka pemakaian lala/h •!/ H a r a / untuk menyalakan makna pembunuhan adalah terlalu berlebihan. i l i J ' I f • i 'S . akan tetapi penambahan lafazh ini tidak saya temukan dalam kebanyakan riwayat.! ' i J • _* L* J (j i j k^ij" *isJi . 3 J ' • 3 i' 11 '. . . - ° y ^ ' . UJ' -. karena pembunuhan selalu menyertai kerusuhan atau malapetaka. 1 = . . : > .. dan dia mengatakan. ^ ' 1 ' . ' .o ^ L ^ l s ki\ c~Ls i * ' i a i ' j ' . . la menambahkan. . " A h i A s h i m m e m p e r l i h a t k a n k e p a d a k a m i . bahwa itu merupakan sebuah kekhilafan yang ada pada Bukhari dalam masalah timah A l H a r a / adalah 4 1 ( J a t l u (pembunuhan) dalam bahasa orang 1 labs\ah. ." ^ . i' * .i' L»U . O JJl O' > cJLIi ' . s e o l a h o l a h d i a h e n d a k m e m u k u l l e h e r s e s e o r a n g " Al Karmani mengatakan. : Ll^ j) >'< L> ' i V C. i n s \ a A l l a h . I : .v J t j o ' W . 1 ^Z ijlj 1 C'L-J-J'I 1 Jii o j L i l i i.^ " > — .

H i s y a m m e n c e r i t a k a n ' a n h a ' h a l a l D i a A k u k e k e p a d a k a m i d a r i F a i h i t n a h . i n i d a l a m p e r n a h t e l a h k u l i h a t t e m p a t k u a k a n i n g a t d i u j i m e w a h v u k a n a t a u k e p a d a k u . A i . s e r u j i a a t a u q a n h - b a k m i . ' A k u d a l a n g k e r j a k e p a d a o r a n g i t u k e b e t u l a n " A i s y a h j a m a a h b e r t a n y a . nenek Hisyam dan Fathimah. ( p yang dikerjakan manusia). d a n a p a k a h .r a g i t ) m a k a s a y a m e n j a w a b . l a n g i t . m b a " w a M u h a m m a d d a n p e t u n i u k R a s u l u l l a h K a m i d a t a n g d a n k e p a d a m e n g i k u t i M u k a b a h w a p e n g u i n m u i t u m e n e r i m a t i g a a j a r a n n y a .a k u u j i a n k a m u t i d a k A l k u b u r m u .r a g u . a i r . 3 5 0 — FATHUL BAARI . " S a y a d e n g a r m e n y e b u t n y a m e n g a t a k a n n y a p u l a . " s a m j i u i k a l i l a h u d i k a t a k a n n y a . " S u b h a u n u l l a h ' .UiL) (Aisyah menunjuk') ke arah langit atau gerhana matahari. t a n d u i a s e t u j u .86. e n g k a u p e r c a y a d e n g a n d e n g a n S e s u n g g u h n y a k a m i A d a p u n i n g a t a p a k a h o r a n g A s m a t i d a k m u n a f i k a t a u o r a n g y a n g a t a u r a g u .a k u t i d a k m e n g u c u j ) n y u l a h u . A s m a h a m p i r m i t s l a b e n a r a p u k a h m e n g u c a p k a n M a s i h D a i / u l D i t a n y a k a n M a k a m u c p n k a m i m e o r a n g M u k m i n o r a n g . k e t i k a t s h u l a t i . d e n g a n i t u S a b i b e r k h u t b a h . w a h . d a r i A s m a r a d h i a l l a h u i a s e d a n g b e r k a l a . y^-Z'. Pertanyaan itu muncul a a ketika Asma melihat kekalutan mereka. A i \ \ a h b e r k a t a . " A p a m e m u j i b e l u m d a n m e n y a n j u n g a k u l i h a t s e s u d a h d i b e l i a u b e r s a b d a . J a w a b a n " T i d u r l a h d a n y a k i n d i u c a p k a n n y a b a i k d i a . s a y a m u n a f i k u r u n g m u r t a b ( r a g u . istri Zubair bin A w a m . m e n g a n g g u k k a n l a l u k i e . i r a m b e r d i r i k e p a l a k u A l l a h . k e p a l a . " K e n a l k a h A s m a e n g k a u a p a k a h D i a o r a n g m u k m i n i n i y " i n g a t u c a p a n a t a u m e n j a w a b . a r a h . b e r t u n y a .a k u " D i a d a l a m t i d a k k u b u r . j ! ^ . — . ' / k e l i h a i a n ) " A k u A k u m e m b e r i s e d a n g " A y a t ' m e r a s a b e l i a u y a n g A l l a h s e r u p a " i s y a r a t b e r d i r i A i s y a h p e n i n g . m a k a s e k a r u n g ' . " K e t e r a n g a n Hadits: Asma' adalah anak perempuan Abu Bakar As-Shiddiq.

Ibnu Malik mengatakan. Atau ia melakukann> a pada saat menghadapi perasaan itu untuk m e n g h i l a n g k a n i i N a. Akan datang pembahasan lebih lanjut tentang hadits ini d a l a m masalah shalat gerhana. maka dia menemukan mereka sedang berdiri mengerjakan shalat gerhana. maka ungkapan ini adalah maiaz (kiasan). "Ini mengibaratkan.—0 jJ~L-ifAisyah memberi isyarat sambil mengatakan S u b h a a n a l l a h i . M i t s l a O u r i h a . Sedangkan artinya pingsan. "Aku tidak ingat benar apakah Asma mengucapkan atau ini merupakan keraguan dari perawi a p a k a h Asma mengatakan alau Untuk itu matan hadits mi akan dijelaskan pada "Kitab Al Jana'i/". Oleh karena inilah Asma mengatakan. namun dalam riwayat yaitu merasa gelap atau berkunang-kunang. A l g h a s v a seperti ini. " L a l u k u s i r a m k e p a l a k u d e t i g u n a i r " i s n v a A l l a h • i . bahwa Ibnu Abbas mengatakan Dalam hal ini masih harus diteliti kembali. ^ (Serupa atau hampir serupai. karena hal ini tidak terdapat dalam hadits walaupun ada keterkaitan dengannya. Seolah-olah Asma dan kamar Aisyah menoleh ke arah masjid. _5—y~ Dalam kebanyakan riwayat disebutkan dengan lafazh Karimah menggunakan lafazh ^ > y ^ ." Adapun perkataan. bahwa makna dasarnya adalah menyerupai fitnah Danai alau hampir menyerupai fitnah Dajjal. M a i y a t l u n u m a k h r a j u n a FATHUL BAARI — 351 . tetapi yang dimaksudkan di sini adalah keadaan yang mendkati pingsan.* ' — J y—'-• 'j J (Maka ketika itu (kelihatan] jamaah sedang berdiri shalat). Catatan: Terdapat dalam teks Ash-Shaghani. m i t s l a q u r i b " . Penulis menyinggung hal tersebut dalam pembahasan Surah Yaasin. i n s v a A l l a h . V c -J atau tanda (kekuasaan Allah). .

1 1 • • ly^J. k u n a . a'i ll I • fj — j l S" J' JUJ_. 'L* ''JJ* .»_A *JJI • 'r' 'i l l l j ! . L j U ji 4. ( (UAJ • . L » j . m a k a " A k u d u d u k I b n u b e r s a m a A b b a s . . A N J U R A N NABI KEPADA UTUSAN A B D U L OAIS UNTUK M E N J A G A IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN . DaW . • ' ^ ' r 87. d i a " b e r k a t a .25. IJi v. .s T M a l i k h i u A S J J i n v t i i r i h k e p a d a b e r k a h i . 1 : 1 .o r a n g .'j:J'. B a h u a \ ' a h i S h u U u l h i h u k a u m A l a i h u d a n W u s a l l a m a j a r i l a h b e r s a b d a m e r e k a . o r a n g . " K e m b a l i l a h k e p a d a k a l i a n ••j o v' Vi j . slu L* ^ j i . I Y* -. d a t a n g b e r k a t a l a h S a b i " K e t i k a u t u s a n A b d u l Q a i s k e p a d a S h a i l a l i a h u 3 5 2 — FATHUL BAARI . J • .46« I b n u j a m r a h A b b a s d a n r a d h i a l l a h u d i t e n g a h ' a n h i t .

„ j . m e n e m u i n e g e r i b e r i l a h k e p a d a t i d a k k e c u a l i a d a b u l a n H a r a m k a r e n a m a s i h t e g a s . k a m p u n g M u d h a r j e l a s k a m i k a r e n a p e n g a j a r a n y a n g s u p a y a s a m p a i k a n s u r g a o r a n g .S v u m e l a k u k a n D u b b a .o r a n g k a m p u n g a g a r k a m i s e m u a m a s u k K e m u d i a n m i n u m a n p e r k a r a s u p a y a k e r a s . M e r e k a "Tahukah m e n u i u a h . r n u z a f j a t a t a u m e n g a t a k a n . d a n i t u . b e r k a t a . "Mengakui Allah. m e l a r a n g . Maksudnya bukan berarti dia (perawi hadits) mengalami keragu-raguan untuk menentukan salah satu dari kedua lafazh ini. rambut dan darah. Yang dilarang adalah membuat nira pada beiana-bejana tersebut. bahwa Ahmad telah meriwayatkannya dari Ghundar. "Selamat a d a n i a t R a s u l u l l a h ! i n i . B a i t u l Muhammad m e n e g a k k a n m e m b e r i k a n N a b i itu Rasul s h a l a t . Saya katakan. d i a R a m a d h a n . 'L'tusan dari " K a m i d a n (suku) ( s u k u ) manakah R a b i ' a h . anda sekalian. d a n apa artinya R a s u l . M u a l ) . d a n b e r i m a n N a b i m e r e k a m a k a m e n a m a k a n \ a b i e m p a t m e n y u r u h p e r k a r a k e p a d a m e r e k a p u l a . tetapi kemudian larangan itu dicabut kembali dan yang dilarang ialah minuman yang memabukkan. m e m b a y a r s e p e r l i m a m e r e k a ' b a h r a m p a s a n e m p a t p e r a n g p e r k a r a . M u z a f f a t : Bejana yang dilumuri dengan ter (pelakm). a n t a r a k a f i r . \ u n g d a n datang p e n g h i n a a n K a m i para d a n d a p a t n e g e r i O l e h k a m i utusan. m e n g a t a k a n a t a u b a r a n g k a l i m e n g a t a k a n ) N a b i b a r a n g k a l i d i a M i u / a y v a r S e l a n j u t n y a b e r s a b d a . " anda sekalian?''' M e r e k a m e n j a w a b .A l a i h i W a s a l l a m . N a b i b e r s a b d a . h a n t a m . "Ingatlah semuanya itu dan sampaikan kepada orang kampung anda.— j ' — > J ' j J . Dia mengatakan. N a q i r : Batang kurma yang dilubangi. N a a i r ." r a s a d a t a n g k a m i B e l i a u m e n g u c a p k a n n y a M e r e k a a n d a a n d a k a m i m e n j a w a b . b e l i a u b e r t a n y a k e p a d a m e r e k a . . karena dengan menyebut kata M u q a y y a r berarti FATHUL BAARI — 353 . D u b u ' : Labu (botol) (empat tuak." h a r t a z a k a i . " H a n t a m K e t e r a n g a n Hadits: : Sebuah bejana terbuai dan campuran tanah. t a n p a " Y a . N a b i t e n t a n g m e m i n u m e m p a t m e r e k a m e l a k s a n a k a n m e n y u r u h m e l a r a n g h a n y a N a b i k e p a d a A l l a h s e m a t a . 'ww'j « i . tidak ada Tuhan selain Allah. (Dan memberikan).N \ a y a n g iman l e b i h kepada t a h u " Allah?" N a b i " A l l a h b e r s a b d a . d i p e n y e s a l a n . bahwa sepertinya kata " a n "ini dihapus oleh Imam Bukhari j . dan K e m u d i a n p u a s a d i S a b i m e n y u r u h m e r e k a d a n b u l a n ( k e p a d a y a i t u .

Akan tetapi maksudnya. " S a \ p u l a s a y a m e n y u s u k a n p e r e m p u a n M a k a m e n j a w a b . ' a n h u m e n c e r i t a k a n d a t a n g t e l a h b a h w a i a m e n i k a h d e n g a n p u t r i I h a b K e m u d i a n s e o r a n g p e r e m p u a n a n d a m e n g a t a k a n d a n k e p a d a n y a . ~-J AJ-taJ'u -. bahwa perawi sangat yakin dalam menyebut tiga poin pertama dan mengalami keraguan pada poin ke-empat. . e n g k a u t i d a k a t i d a k t a h u e n g k a u t e l a h m e n y u s u k a n s e b e l u m i n i . J . 3 •'s—S' > (Dan sampaikan hal itu). Dukun riawayat Al ECasymihani M u z a f f a t N u a i r . M u z a j f a t M u q a v v u r S a q i r . dia sesekali mengatakan dan sesekali mengatakan Ini adalah penjelasan dia yang tidak ada hubungannya dengan riwayat lainnya. y a n g L a b u h s a y a . yaitu makanya dia sesekali menyebutkan dan sesekali tidak menyebutkannya. " d a n a n d a " S e s u n g g u h n y a n i k a h i i t u . K e m u d i a n W a s a l l a m V q b a h d i b e r k e n d a r a a n u n t u k S h a l l a l l a h u A l a i h i M a d i n a h m e n a n y a k a n 3 5 4 — FATHUL BAARI .^ r ' 88.L.. Pembahasan hadits ini telah dijelaskan pada akhir bab "Iman".S ' • 26. tidak memakai dhamir (kata ganti] h a '. U g h a h b i n h a r i t s A b u r a d h i a l l a h u b i n A z i z . . karena keduanya mempunyai arti yang sama.-'' ^ _ **" J ^ 1 ~ y o"^. Dalam bab itu penulis mengeluarkan riwayatnya dengan mengambil sanad paling atas dari Ali bin Al Ja'd dan Syu'bah. BEPERGIAN DAN M E N G A J A R K A N ILMU •0.mengulangi arti kata yang disebutkan sebelumnya. m e m b e r i t a h u k a n n y a m e n e m u i h a l k e p a d a k u R a s u l u l l a h i t u . dimana dalam hadits itu tidak ada pengulangan kata kecuali kata dan saja Dia mempertahankan lafazh dan hal ini memperkuat apa yang saya katakan tadi. Dia juga raguragu pada lafazh yang ke tiga. \ a q i r M a z a f f a t M u q a y y a r .

" i s t r i n y a . Saya belum ! metieniukaii nama perempuan itu.M a k a R a s u l u l l a h b e r s a b d a . il—t — ' ~ ^ S .— ( K e m u d i a n datang seorang perempuan). akan dijelaskan dalam kisah Khabib bin Adi. Hadits ini dan Uqbah. Ada perbedaan antara judul bab itu dengan bab "Alkhuruj Fii Tlialabil Ilmi" (keluar mencari ilmu). = -'->•. d e n g a n l a k i .«. s a m a ' . memperistrikannya.—Ghaniyah (bahwa ui menikah dengan putri).l a k i S e m e n j a k m e n i k a h R u h l a h K e t e r a n g a n Hadits: artinya bepergian. karena Makkah adalah tempat tinggalnya. yaitu Dhuraib- F A T H U L BAARI — 355 . —. bukankah sepersusuan denganmu?" d a n k e m u d i a n p e r e m p u a n u u "Bagaimana mungkin engkau terus sudah dikatakannya bahwa dia saudara u u U a b a h m e n c e r a i k a n l a i n . berbeda dengan orang yang mengingkarinya. dan kadang juga digunakan untuk menyalakan seseorang yang berpindah kepadanya.— . bahwa nama perempuan dan Abu Ihab tersebut tidak diketahui. seperti diterangkan pada bab Namun Al kurmatu menyanggah dan mengatakan.ngkau tidak pula memberitahukannya kepadaku sebelumnya! seakan-akan dia menuduh perempuan itu. (Dan perempuan itu menikah dengan laki-laki lain). " S y a h a d a t " . yaitu judul bab ini lebih khusus sedangkan bab "Khuruj" lebih umum. i" j (Kemudian l'qbah berkendaraan) atau dia berangkat dan Makkah menuju Madinah. Dalam riwayat kami juga dengan fa titah artinya keberangkatan. Adapun jika dengan maka maksudnya adalah tujuan perjalanan.\> (b. tetapi yang jelas dia termasuk seorang sahabat.. i n s y a A l l a h . Istrinya bernama vang dijuluki 1 mimi Yahya. Pembahasan hadits uu akan dijelaskan pada "Kitab Syahadat'". Adapun mengenai perbedaan julukan Uqbah. R i h l a h d h a m m a h — ^ — ' ^ ' y Dalam " K i i u b S i k u h "penulis menyalakan dengan (pendengaran].

LJI J . ' R a s u l u l l a h ) ' A p a k a h ' T e l a h m e n g e t u k d i a ' ' A k u r u m a h k u d a n U m a d e n g a n a d a t e r j a d i k e l u a r r M m e n e m u i n y a . i t u d a n m a k a t e n t a n g y a n g w a h y u y a n g l a i n n y a . m e n c e r a i k a n m u ? H a f s h a h R a s u l u l l a h m e n j a w a b . i a a k u a p a k a h t a h u .27. b e g i t u d i a m e n d a t a n g i d i a K e m u d i a n p i n t u t e r k e j u t b e s a r . jjjju U . p e r i s t i w a t e r n y a t a ' b e r k u t u . ^ 'iTj £. B E R T U K A R PIKIRAN D A L A M ILMU M L' i—^ O M 3 1 M r^r 1 J ^ J* i I > J_.. B a n i i a b e r k a l a .> ^ U J a . d a n ' S a y a L a l u a k u ( U m a r ) m e n d a t a n g i e n g k a u a k a a k u b e r k a t a . b i n " S a v a Z a i d d a n t e t a n g g a s a t u d a n d e s a d i a g o l o n g a n d i A n s h a r d i d a e r a h U m a y y a h m e n d a t a n g i . o j / ^ i U'j 'j i .py'^ J j J.s a l a h S A W . J ^ r^-J '' ^r-^y r - ^ ^ ? J" _ ^ V 1 — > ' ^ ^ " y y ?y c^j'^N fl >*--f . A p a k a h M m e n c e r a i k a n m e n g a t a k a n . ^ u _ . b e r k u t u .. b e r g a n t i a n h a r i d a n R a s u l u l l a h k e p a d a a k u d i m a n a h a r i d a l u n g a k u d a t a n g b e l i a u m i n t a j u g a p a d u k h a b a r b i l a v a n g l a i n .- 3 ^J* J > ' J ^ j * J > i r' J r' S' Jy? J}** J ^ ^ J i r ^ l l-flfl^ ^ .i s t r i m u ? ' ' A l l a h M a h a B e s a r b e r k a t a . «JJI c~Jis v . U Z^or/ U m a r .. t s t r t . m e n a n g i s . d i a ' p a d u h a r i g i l i r a n n y a k e r a s / m e n d a l a n g i d a n l a l u b e r k a t a .s e d a n g k a n B e l i a u " ' b e r d i r i . m e n d a t a n g i p a d a h a r i b e l i a u .1 <~Lt 8 .' 3 5 6 — F A T H U L BAARI . 'Tidak. a k a a k u ' K e m u d i a n b e r t a n y a . M a d i n a h p a d a J i k a s a l i n g s u a t u a k u t u r u n R a s u l . t i d a k m e n d a t a n g i R a s u l u l l a h a k u l l a j ' s h a h .

karena dalam hadits aslinya setelah perkataan Al Anshari (Utban) A t u r a n A d h i i m dikatakan. Masalah ini akan diterangkan lebih lanjut dalam "Kitab nikah". y a n g d i t u r u n k a n k e p a d a " A k u b e r s a m a t e t a n g g a k u s a l i n g b e r t u k a r a p a hanya terdapat dalam riwayat Syu'bah dari hadits Zuhri. " R a s u l u l l a h t e l a h m e n t a l a k i s t r i n y a D a l a m h a t i s a y a . " Tetangga yang dimaksud adalah Utban Oasthalani. dan tidak boleh melupakan meneai i nalkah hidup agar dapat dipergunakan dalam menuntut ilmu dan lainnya Selain itu. S a v a s u b u h b e r p i k i r s a y a b a h w a h a l i n i b e n a r b u / u t e r j a d i . Hal mi diterangkan oleh Ad/-D/uhli dan Daruquthni serta Hakim dan lain-lain. Secara lahir konteks ungkapan mi dapat menimbulkan dugaan bahwa yang mengatakannva adalah l. Hadits ini juga mengisyaratkan. Hal'sah adalah Umumi Mukminin. dan penulis di sini menyebut riwayat Yunus bin Yazi untuk memberitahukan bahwa hadits ini semuanya bukan hanya dari jalur Syu'aib saja. "Maka aku masuk menemui Hafshah. namun penulis tidak menyebut dalilnya. — j — ( M a k a bin Malik Ibnu Al aku masuk menemui Hafshah). m s y a A l l a h .Keterangan Hadits: Perkataan Umar. Penulis telah menyebutkan hadits ini lebih lengkap pada " K i t a b N i k a h " d a n Abu Al Yaman. Dalam hadits ini menunjukkan diperbolehkannya bersandal kepada k h a b a r \ \ a h i d I hadits \ ang diriwa\ atkan oleh seorang perawi) dan hadits m u r k a i . "Maka aku masuk menemui Hafshah. anak perempuan Umar. R a s u l u l l a h . Disamping itu menganjurkan kepada manusia untuk menuntut ilmu. p e r g i h i n g g a u n t u k s e t e l a h m e n e m u i a k u s h a l a t m e n g e n c a n g k a n d a n H a f s h a h ." Kalimat ini telah mengalami pemotongan. padahal yang masuk menenun Hafshah adalah Umar Menurut Al Kasymiham lafa/hn\a." atau dengan kata lain Umar berkata. bahw a syarat hadits m u l a w a t i r adalah harus bersandar kepada sesuatu yang dapat diindera atau kenyataan.than. FATHUL BAARI — 357 . bukan bersandar kepada isu yang tidak diketahui sumbernya. merupakan anjuran untuk menanyakan sesuatu yang terlewatkan karena ketidakhadirannya pada saat itu Hal ini diketahui dari keadaan Umar yang melakukan perniagaan pada saat itu seperti yang akan diterangkan pada K i t a b B u y u ' (jual beli I.

j^-T 1 =". m e n r e r i t a k a n d i a b e r k a l a . b a h w a " Y a s i s e s e o r a n g R a s u l u l l a h .'U* JJ> 5 -' - l*-* oLLUJi V* 'J » -2. seolah-olah si imam memanjangkan shalatnya sehingga dia belum ruku' tapi sudah lelah.28. J n v a . o r a n g v a n g m e n g i m a m i d i d a n a n t w a o r a n g s h a l a t .. j i t l a n y a n g m e n g a d u h a m p i r m e n j a t i i . 1 '«J j*yj 'J. o r a n g i a d a r i j a m a a h ' ." • . " l - L/ 90 A b u M a s ' u d A l A n s l i a n k e p a d a s a j a a k u r a d i u a i l u h u R a s u l u l l a h a d u k m a m p u ' a n h u S A i f. bahwa maksudnya orang itu merasa lelah karena shalatnya lama. 1 -J O' L.jy4 . s e k a l i a n b e l u m s e p e r t i p e r n a h m a r a h n y a J a n g a n l a h h a r i N a b i b e r s a b d a .-ij o '^j . m a r a h w a k t u " W a h a i s h a l a t S a \ a m e n g a j a r . Abu Az-Zinad bin Siraj mengatakan. m e n j a u h k a n h e n d a k l a h b e r j a m a a h . M A R A H D A L A M MEMBERI N A S I H A T D A N M E N G A J A R JIKA M E L I H A T SESUATU Y A N G DIBENCI * J oi il f' V. Keterangan Hadits: Ada yang mengatakan r a j u l (orang laki-laki vang bertanya kepada Rasulullah) di sini adalah Hazm bin Abi Ka'ab. . s * •Cis.'—^ (Hampir saja aku tidak mampu shalat berjamaah. maksud L 3 5 8 — FATHUL BAARI . Saya katakan. namun penulis m e n u a\atkailnya dan Al Fayyabi dari Sufyan dengan sanad ini juga dengan lafa/h ^' _ _ f S'Su J " S e s u n g g u h n y a a k u h a m p i r k e t i n g g a l a n s h a l a t "maka dari sini. m e m e n d e k k a n y a n g s a k i t . dan hampir saja dia tidak bisa menyempurnakan shalatnya bersama imam. d i a h . karena si fulan yang menjadi imam memanjangkan shalatnya). J i a l u t b e r j a m a a h b e r s a m a s a n g a t k a r e n a i m a m m e m a n j a n g k a n m e l i h a t p a d a a n d a s h u l a t n \ u \ a h : S A I V n u k a m i . m e r e k a \ a n g ( m a k m u m ) a d a o r a n g m e m p u i w a t k e p e r l u a n . S i a p a k a r e n a l e m a h . bahwa makna ini baik.

"Lntuk kamu. O r a n g R a s u l u l l a h i t u b e r t a m a l a g i .. O r a n g i t u b e r t a n y a l a g i .1 UjLi. I V u s a l l a m . 'i • ^ 'J ji 1 ^ . atau untuk saudaramu. Kemudian heritahukan kepada khalayak ramai dalam tempo satu tahun. C^i-L^'^' (sangat marah). Biarkan saja unta itu sampai ditemukan oleh yang punya. " B a g a i m a n a k e l i h a t a n B e l i a u k a l a u v a n g d i t e m u k a n i t u u n t a . bahwa kemarahan (dan orang sang mempunyai keperluan) demikian lafazh y***- Nabi karena beliau sudah pernah melarang untuk memanjangkan shalat. m a r a h m e n d e n g a r p e r t a n y a a n "Apaperlunya engkau ambil unta itu.perkataan i y — ^ j - ^ V adalah aku tidak mendekati shalat berjamaah bahkan kadang-kadang aku berlambat-lambat karena rakaatnya panjangpanjang. b a h w a s e s e o r a n g b a r a n g b e r t a n y a k e p a d a d i j a l a n m e n g e n a i "Kenalilah pengikat dan karungnya (ciri-cirinya). ' . R a s u l u l l a h ? " s e h i n g g a R a s u l u l l a h m u k a n y a ._i -i>~ Ji u^. ataukah untuk serigala?" FATHUL BAARI — 359 . berikan atau bayarlah kepadanya. . Tetapi kalau pemilik datang memintanya. Bukankah dia mempunyai kantong air dan sepatu. ia dengan sendirinya sanggup minum dan mencari makan dari daun-daun kayu. / a i d b i n K l h i l i J A l d i d i a m \ a b i " r a d h u i l L i h u S h a l i a i l a h u ' a n h u A l a i h : m e n g a b a r k a n . Hal ini akan dibahas pada bab "Shalat''. 1 • r L^J ^ j . • • • '. y a i t u . " m e r a h b e r k a t a . Sesudah lewat satu tahun boleh engkau pergunakan. Ada vang mengatakan. JL?- H * i'- 91. Adapun dalam riwayat Al Qabisi dikatakan Jf^ •) "J'— • 11 • t->— • V-*" ^ -.." p e n e m u a n \ a h i b e r s a b d a . hadits yang disebutkan dalam banyak riwayat. " K a l a u k a m b i n g b a g a i m a n a ' ' " m e n j a w a b . -jjJ 1 :V _ 'J J ^ ' ' u i i ' j 'j • < seu>r t f' - W l i J ' i 'uri_i ' L&'JL. 'vP ji .

m a r a h r a d h i a i i u h n M a d u ' a n h u .4/>u . ayah Malik. ." 7 R a s u l u l l a h " N a b i "Bapakmu r a s a Salim. b a p a k k u . " S e s e o r a n g p e r k a r a b e r t a n y a v a n g t i d a k N a b i k e p a d a d i d u k a i m e n j a d i S h a l l a l l a h u M a k a W a s a l l a m i t u m e n g e n a i t a t k a l a o r a n g b e l i a u h ." ' T a t k a l a w a j a h U m a r ( b i n K h a t h t h a b i k a r e n a m e l i h a t k u r a n g t i d a k s e n a n g t e r g a m b a r i t u .j ^ .V/u. " S i a p a k a h b e r t a n y a . Hal itu akan dibahas dalam bab "Luqathah" (Barang temuan). Yang dimaksud dengan adalah kantong air. atau si penanya kurang begitu paham. K i t a b A l B u v u i n .vij \ ' a h i b e l i a u . K e m u d i a n b e r k a t a "Tanyakanlah t k k i t ? l a i n . "Bapakmu.l a k i " S i a p a k a h p u l a y h a p a n g m e n j a w a b . maka Nabi menganalogikan apa yang sudah diterangkan dengan apa yang belum diterangkan untuk diambil.r l a l u b a n y a k b e r t a n y a . " S a b i apa yang hendak kamu tanyakan. 'S* (Maka beliau marah). h a i Httdzafah. S e o r a n g l a k i . B e r ! a n \ a m e n j a w a b . v a A l i a h . hamba sahaya d i i a Syaibah. Dur/ . d i a b e r k a t a . Pembahasan hadits mi lebih lengkap kita dapatkan pada ' (jual-beli).s o a l \ a n g m e n e n t u 3 6 0 — FATHUL BAARI . s e g e r a R a s u l u l l a h s o a l .i w . karena unta sekali minum bisa menyimpan air di dalam kantongnya yang cukup selama berhari-hari.jj». Hal itu bisa karena apa yang ditanyakan itu sudah pernah dilarang sebelumnya.ij^ji JJ 'L wj c i 'J T ajji j L ' J *^>.Keterangan Hadits: Orang yang menanyakan adalah Umair. pj' ^ - i) w I j u s i j^JI ^ w . dan ada yang berpendapat selain dia. u ^i ^ w ' j j ' y_tjj «'.*p j : ' ^ 1 j L )2.

Perbedaannya. hamba sahaya Syaibah bin Rabi'ah. Dalam tafsir Surat Al Maa'idah akan dijelaskan lebih lanjut tentang hal ini. berbeda dengan Ibnu Hud/afah. Begitu juga seorang guru. Dalam hadits Anas dijelaskan bahwa Umar bin Khaththab bersimpuh di hadapan Nabi dan mengatakan. karena dia sebagai orang yang memberi peringatan. hai Rasulullah!" Dalam tafsir Muqatil terdapat kisah yang sama. kemudian para sahabat meriwayatkan semua yang mereka hafal. keduanya (Abu Musa dan Ana. "Siapakah bapakku'!" Nabi menjawab. dia adalah Sa'ad bin Sahm. Catatan: Penulis membatasi bentuk kemarahan hanya sebatas untuk memberi nasihat dan pengajaran.I! . Orang laki-laki tersebut adalah Abdullah bin Hudzafah Al Qurasy As-Sahmi seperti yang dijelaskan dalam hadits Anas. J\ „ i 1 (Aku bertaubat kepada Allah) atau bertaubat dari hal-hal yang membuat engkau murka..'" Untuk memadukan kedua lafazh hadits ini. bahwa orang yang memberi nasihat boleh menampakkan sikap marah.s) sama-sama menyampaikan kisah Abdullah bin Hudzafah. "Wahai Rasulullah' Kami tobat kepada Kuasa dan Yang Maha Agung. akan tetapi hal itu harus disesuaikan dengan keadaan psikologi masingmasing murid. Islam sebagai agama kami. Begitu pula orang laki-laki yang lain. " Allah Yang Maha K e t e r a n g a n Hadits: Diantara pertanyaan yang ditanyakan oleh orang-orang kepada Rasulullah. "Kami rela Allah sebagai Tuhan kami. dan Muhammad adalah Nabi kami. di situ dijelaskan bahwa seorang dan Bani Abd Addar berkata. "Sa 'ad" dimana beliau menisbatkannya kepada selain bapaknya. y J. dan tidak dalam aspek hukum. jika dia mencela kesalahan murid yang belajar kepadanya. karena seorang pemegang otoritas hukum tidak diperkenankan memutuskan sesuatu ketika dia lagi marah. Hal itu terbukti. seperti akan dibahas pada hadits Ibnu Abbas dalam tafsir Surah Al Maa'idah. Karena terkadang hal itu terpaksa dia lakukan agar si murid dapat menerima kebenaran darinya.berkata. adalah pertanyaan tentang hari kiamat dan yang semacam itu dari berbagai masalah. V . "Siapakah bapakku. Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah seorang sahabat berdasarkan perkataan dia sendiri. FATHUL BAARI — 361 . bahwa semua itu diucapkan oleh Rasulullah.

y>. seperti yang akan dijelaskan pada pembahasan yang akan datang. "Bapak kamu. 3 J -i' *U* T . berbeda dengan orang lain. bahwa sesungguhnya Rasulullah telah memutuskan sesuatu di saat beliau marah. 29. Keterangan Hadits: Dikatakan Baraka Al Ba'iir (unta menderum).Adapun seorang hakim tidak demikian. Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi." Maka Umar bersimpuh di kaki beliau untuk meminta maaf sambil berkata. dimana beliau mengatakan. "kami ridha Allah sebagai Tuhan. bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam keluar. J U i n' n' ^ » ^ r j ^ i p j-^f ii^-i J l ± ' jJJ. dan itu merupakan kekhususan Nabi dimana beliau selalu terjaga dari kesalahan.- - \ >j A UL 1 Jj-. Jika ada yang mengatakan. bagi Rasulullah adalah sama. Hudzafah." Maka jawabnya. 3 6 2 — F A T H U L BAARI . "dan Nabi diam saja. s a I . Dia berkata. bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan hukum. jika dengan sekonyong-konyong menjatuhkan badannya.. berdirilah Abdullah bin Hudzafah. O R A N G YANG BERSIMPUH DI KAKI NABI KETIKA MENJADI IMAM ATAU B E R B I C A R A i} yj J U i ^ j i >• J l i i a j l j ^ v J .pJ_* j t s f o ^ .-a - ^ . sehingga Nabi mengatakan. "Tanyakanlah apa yang hendak engkau tanyakan. /Inas Malik radhiallahu anhu menceritakan. Bahkan kemarahan Rasulullah terhadap sesuatu menunjukkan bahwa hal ini dilarang atau dibenci.- ^ ( .J j i j j l jiS'i | " |^ * ' 93. Keadaan marah atau bukan. "Bapak kamu si fulan. " Kemudian makin banvak orang bertanya. "Siapakah bapakku''"Nabi bersabda. Adapun penggunaannya untuk manusia adalah dalam arti majaz (kiasan).

Umar bin Khaththab dapat memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada beliau merupakan bentuk pembangkangan dan kecurigaan. apabila beliau memberi salam. Ibnu Umar berkata. maka Umar takut kalau adzab Allah akan turun sehingga dia mengatakan. "Dan mimik Rasulullah. "Hindarilah perkataan yang keji. . Dalam kalimat ini ada lafazh yang dihapus.i j u i ." kemudian Nabi pun ridha dan diam. maka Abdullah bin Hudzafah berdiri).y -i i iU. J — i *UJ ^ 1 < X U J^~» jli. Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi. "Kami ridha Allah sebagai Tuhan. Dari Shallallahu Anas radhiallahu 'anhu bercerita.'bnu Baththal mengatakan.- ^ ^ - * 94..). "Apakah aku sudah menyampaikan?"Nabi mengatakannya liga kali. J'j* (Nabi ditanya oleh para sahabat dan mereka banyak 7 bertanya kepada beliau. Kemungkinan kata tersebut adalah. ini terlihat dari riwayat yang lain. 30." dan Nabi masih mengulanginya sampai tiga kali. i—* . bahwasannya Nabi Alaihi Wasallam.LJ*>C (?<LJJJ J i ) ji-L-_j AILP <JJl JZ> ^III jLs 'J>\ jLsj A'di/?. M E N G U L A N G I HADITS S E B A Y A K TIGA KALI SUPAYA DIPAHAMI JIS . "Bertanyalah kepadaku apa saja "Maka Abdullah berdiri. sehingga beliau menjadi marah dan mengatakan. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda. bersabda.LU ^'"ji (Nabi keluar. i — j Lu (Kami rela Allah sebagai Tuhan kami]. diulangnya FATHUL BAARI — 363 .

dan apabila beliau mengucapkan beliau mengulangnya sampai tiga kali. '(X* J ^ I U j U — * f y" ^ ^ ^ ^ 95. namun jika dia mengulangnya berarti sebagai penekanan terhadap apa yang dikatakan pada pertama kali. dan beliau mengingkari bahwa orang yang meminta pengulangan termasuk orang yang bodoh. Z)an /4nas radhiallahu 'anhu. bukan Nabi yang memberitahunya. begitu juga Tirmidzi dan Hakim menyebutkan dalam kitab A! Mustadrak. Tujuan Nabi mengulang perkataannya sebanyak tiga kali adalah supaya agar dipahami. mengisyaratkan bahwa Nabi jika berbicara selalu mengulang sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengatakan." Keterangan Hadits: Adalah merupakan kebiasaan Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali. bahwa Imam Bukhari dengan bab ini bertujuan untuk memberi peringatan terhadap orang yang enggan mengulangi pembicaraan. Apabila Nabi datang kepada satu kaum. bahwa yang benar adalah hal ini tergantung perbedaan masing-masing tabiat manusia. Anas menceritakan kebiasaan Rasulullah SAW yang dia ketahui. dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. tidak mengapa tidak mengulangnya kembali. 3 6 4 — FATHUL BAARI . beliau memberi salam kepada mereka sampai tiga kali. apabila beliau mengucapkan satu patah kata. Maksudnya. satu patah kata. makanya tidak tercela bagi seorang pendengar yang belum bisa mengingat pada kali pertama untuk meminta pengulangan. bahwa susunan kalimat seperti ini menurut para ulama Ushul fiqih (Ushuliyin). sehingga orang mengerti maksudnya. Ibnu Munir mengatakan. diulangnya sampai tiga kali. lalu dia memberi saksi akan hal itu. "Sesungguhnya Nabi. -^•ij 'V (Apabila beliau berbicara) Al Karmani mengatakan. Pendapat ini diperkuat dengan riwayat yang dikeluarkan oleh mushannij pada pembahasan izin. dan hadits lshaq dan Abd Shamad dengan sanad yang serupa dari Anas. Begitu juga si pembicara.sampai tiga kali.

Apabila tanpa pengulangan sudah dapat dipahami.u l a n g K e t e r a n g a n Hadits: — • _—j* (dua kali atau tiga kali). j i -j v * ' fl . Hal ini menunjukkan bahwa pengulangan yang dilakukan oleh Nabi sebanyak tiga kali itu bukan merupakan suatu keharusan. bahwa stuktur kalimat tersebut menunjukkan i s t i m r a r (kontinuitas).LJ-yA. 90. K e t i k a s h a l a t b a h w a N a b i t e r l a m b a t m e n y u s u l d a l a m k a m i . k e r a s n y a . d a p a t d a n l u l u k a m i b e l i a u a p i . karena yang berlaku pada umumnya hanya sekali. d i t e r i a k k a n t e l a h b e r s a m a t i b a . Namun ada kemungkinan ketika akan meninggalkan mereka. D a n A b d u l l a h b i n Amru k a m i \ a i t u b e r k a t a . s e d a n g b e r t e r i a k n e r a k a . apakah Nabi S h a l l a l l a h u A l a i h i W a s a l l a m mengucapnya dua kali atau tiga kali. Hal mi bukan termasuk salam yang disampaikan oleh orang yang sedang berjalan. maka beliau mengeluarkan hadits ini dengan hadits Abu Musa mengenai kisah Nabi bersama Umar.ini perawi hadits raguragu. " b e r w u d h u . b e l i a u a s h a r k a m i . Saya berpendapat bahwa Sebenarnya m u s h a n n t j telah memahami lafazh ini seperti itu juga. Nabi mengulang salamnya sampai tiga kali karena beliau takut mereka tidak mendengar salam sebelumnya. 1 y y~~'' ^ v f •—'Li>-*>'- 'b_j < 0 " ^ f ^ ^ ^ L <_J.—-j) "^JJ r^tJ s") ^ O^W^J' Lia^'i J i j LwS'j^U ou ^jl—. s u a t u w a k t u p e r j a l a n a n s h a l a t A d u k n y a .iL3 llL^ji ^ l i . seperti akan dijelaskan pada bab I s t i ' z a a n (minta izin). maka hal itu FATHUL BAARI — 365 . s e k e r a s i t u b e l i a u " C e l a k a b e l i a u m e m p e r h a t i k a n t u m i t .»(maka beliau memberi salam kepada mereka) Al Ismaili mengatakan. namun yang terpenting adalah perkataan atau perintah tersebut dapat dipahami. Adapun Al Karmani mengatakan. tidak diulang.t u m i t s a m p a i d u a y a n g a t a u t e r b a k a r k a l i U c a p a n t i g a b e r u l a n g . Di -.-' J 1 3 J y~~) ~-S*S\j J l i f 1 0 ^ 'dJl • LU*J 'w? *iJ j l ^. bahwa hal ini berkenaan dengan salam untuk meminta izin ( s a l a m u l i s t i d z a n ) sebagaimana yang diriwayatkan Abu Musa dan lainnya.

maka ketiga jenis orang itu mendapat dua pahala. 2. 3 6 6 — FATHUL BAARI . Matan hadits ini akan dibahas lagi pada masalah ( bersuci). Karena memperhatikan keluarga sendiri yang bukan hamba sahaya dengan memberikan pengajaran tentang kewajiban-kewajiban kepada Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya. sedangkan disebutkannya "keluarga" adalah berdasarkan analogi." Keterangan Hadits: Disebutkannya "budak" dalam tema bab ini adalah sesuai dengan teks hadits. apabila dia melaksanakan kewajibannya kepada Allah dan kewajiban kepada majikannya. kemudian memerdekakannya dan mengawininya. adalah lebih diprioritaskan daripada hamba sahaya.sudah cukup. mengajarkannya ilmu pengetahuan dan menyempurnakan pengaran tersebut. maka dia mengajarkannya sopan santun dan menyempurnakannya pengajaran tersebut. dan bapaknya. Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). 3. M E N G A J A R K A N ILMU K E P A D A H A M B A S A H A Y A DAN K E L U A R G A 97. 1. Hamba sahaya. Diceritakan oleh Abu Burdah RA. dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasaliam bersabda. Thaharah 31. yaitu. insya Allah. Laki-laki yang mempunyai hamba sahaya perempuan." Ada liga jenis orang yang mendapat dua pahala sekaligus. yang percaya kepada nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasaliam.

maka mereka tidak termasuk orang yang beriman sehingga mereka tidak termasuk dalam ahli kitab. hal itu jika kita mengatakan bahwa agama Nasrani adalah penghapus agama Yahudi. Termabuk dalam conloh ini adalah orang-orang Arab >ang beragamu Yahudi di negeri Yaman ilan negerinegeri lain dan tidak sampai kepada mereka dakwah nabi Isa karena beliau khusus diutus untuk Bani Israil. Ada yang berpendapat. Qashash (28): 52) FATHUL BAARI — 367 . Barangsiapa dan kelompok ini yang mengetahui dakw ah Muhammad dan mempercayainya. t / u a Turunnya ayat ini berkenaan dengan golongan orang-orang Yahudi yang beriman. Namun sebenarnya tidak disyaratkan adanya penghapusan. namun di sini berarti khusus. m e r e k a m a k a b a p a k k u m e r e k a R i l a ' a h b e r i m a n S h a l l a l l a h u m e r e k a dari Ali k i t a b N a b i d a n K a m i a h l i m e n e m u i h e p a d a v a n g N a b i d i s i k s a .hi. Karena dia mengimani kenabian nabi Musa dan tidak mengingkari seorang nabi \ a n g lain. ada kerancuan dalam masalah orang Yahudi yang ada pada masa nabi Muhammad. Dia berkata. b e r s a m a k u " S e p u l u h o r a n g k e l u a r . A l K i t a b O u r ' a n " O r a n g .-1/ (memerdekakan budak) dan lainnya. a l a i h i s s a l u m h i u l a h a l a i h i s s u l a m . yaitu apa yang diturunkan dari Allah tanpa Taurat dan Injil. Memang benar. maka dia juga dianggap orang Yahudi y anu. bahwa maksud kitab di sini adalah kitab Injil. maka dia termasuk dalam ahli kitab. seperti yang dikatakan mushannif'dalam pembahasan . " " A y a t i n i i w u n b e r k e n a a n d e n g a n a k u J u a o r a n g . dan bagi yang mendustaiuya dan tetap dalam agama Yahudi. ' i t q u w'—3o J * ' 'y (dari ahli kitab).o r a n g v a n g s h a h i h d a r i b e r i m a n ' Imam Thaban meriyatkannya dengan sanad bin Rila'ah Al purazhi. m e r e k a i t u .t e r m a j a l : A l a i h i d i a n t a r a U ' a s a l l a m . Maka bagi orang-orang Yahudi yang mengikuti ajaran Isa. kemudian turunlah ayat. l e l a h d a t a n g k a n p u l a k e p a d a k e p a d a A l s e b e l u m m e r e k a b e r i m a n "(Qs. seperti yang dijelaskan dalam Al Qur'an dan hadits. dia berkata.Vshash a\at M . seperti Abdullah bm Salam dan yang lainnya. karena syarat ahli kitab adalah mengakui kenabian Isa Benar. Dalam riwayat Ath-Thabrani dan hadits Ritu'ah Al Oura/. Lafazh k i t a b berlaku untuk umum.o r a n g A l O u r ' a n . karena tidak ada perselisihan bahwa Isa AS telah diutus kepada bani Israil. seorang yang bukan keturunan bani israil dan bukan pula termasuk masyarakat Nabi Isa yang mendapat seruannya sedang dia bukan bani kiaii.Bapak Abu Burdah adalah Abu Musa Al Asy'ari. I lal uu sebagaimana disebutkan dalam ayal Al Q u i an vang sesuai dengan hadits di atas. yaitu firman Allah dalam surah M '. " M e r e k a U u ( U b e r i p a h a l a k a l i . mereka dinisbatkan kepada Injil. beriman.

Allah hanya memberi pahala atas kebenaran akidah dan perbuatannya. Kedua. A! Qurtubi berpendapat bahwa ahli kitab yang diberi pahala dua kali adalah orang yang benar akidah dan perbuatannya. maka mereka diberi pahala dua kali oleh Allah. Sedangkan Ad-Dawudi dan pengikutnya mengatakan bahwa kemungkinan hadits ini mencakup 3 6 8 — FATHUL BAARI . Yang membingungkan dalam pendapat ini. dalam syarak ibnu At-Tin dan selainnya. bahwa kemungkinan konteks hadits ini adalah umum. sebab dia masuk Islam pada zaman Umar bin Kbathlhab.Mereka adalah bani Israil yang tidak mengimani Isa AS. seperti akan diterangkan dalam pembahasan Jual-bcli. adalah orangorang Yahudi yag tinggal di Madinah. karena dakwah ini belum tersebar di banyak wilayah. "Masuklah Islam maka Allah Akan memberimu pahala dua kali" Padahal Hercules. dijelaskan bahwa ayal tersebut diturunkan mengenai Ka'ab Al Ahbar dan Abdullah bin Salam. namun ayat ini bukan berkenaan dengan Ka'ab bin Al Ahbar tetapi berkenaan dengan Abdullah bin Salam karena Ka'ab bukan termasuk sahabat. adalah pemeluk agama Nasrani setelah diselewengkan ajarannya oieh para pemeluknya. Maka. bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Salam dan Salman Al Karisi. Ath-Thibi mengatakan. Atau mungkin yang termasuk diantara mereka. karena Abdullah adalah seorang Yahudi kemudian masuk Islam seperti akan diterangkan dalam pembahasan Hijrah. Adapun yang terdapat dalam Tafsir Ath-thaban dan lainnya. Keduanya adalah para sahabat yang terkenal. hingga dia beriman dengan Nabi kita Muhammad. Dengan demikian tidak ada iagi kerancuan mengenai hal ini. Abu Abdul Malik Al Buni dan lainnya berpendapat. sehingga mereka tetap beragama Yahudi dan beriman kepada Nabi mereka. Ketiga. Pembahasan ini telah disinggung oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hadits Abu Sufyan tentang permulaan turunnya wahyu. hingga datang fslamjalu mereka beriman kepada Nabi Muhammad. Sesungguhnya dakwah nabi Isa alaihissalam tidak sampai kepada mereka. yaitu Musa AS. dari Qatadah. bahkan mereka tetap beragama Yahudi hingga mereka mengakui kenabian Muhammad. akibat mereka menerima agama Yahudi walaupun telah dihapus dengan Nasrani. bahwa Nabi telah mengirim surat kepada raja Hercules. Karena tidak mustahil mereka menjadi lunak dengan Muhammad. Catatan: Pertama. Sedangkan Salinan adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam. bahwa hadits ini sama sekali tidak mencakup agama Yahudi sebagaimana yang telah kita singgung di muka. dan ini benar.

bahwa dua pahala untuk ahli kitab >ang beriman tidak terjadi pada masa vang akan datang. kata-kata Idzu i apabila) \ a n g mengandung arti pada masa yang akan datang. Ahli Perbedaan antara Ahli kitab dengan orang-orang kafir. mereka mendapat keutamaan atas sebagian >ang lain. maka dosanwi melebihi dosa selainnya.\ ' y a .uilinva masalah vang berkenaan dengan istri-istri nabi adalah khusus bagi mereka tidak untuk vang lain. Begitu pula barangsiapa yang mendustauna. 1 Maksud penisbatan mereka kepada selain Nabi Muhammad. Al Karmani mengatakan.semua ummat yag telah mengerjakan kebaikan. bahwa sesuimi. mengapa masalah istri-istri Raval tidak disebutkan dalam hadits ini. Dengar. FATHUL BAARI — 369 . sedangkan. Pendapat ini kurang benar. karena hadits ini berkaitan dengan Ahli kitab. sedangkan liga poin dalam hadits d i a t a s . karena ia hanya melihat lafazh sebara lahiriyah saja. Adapun dalam perkataan N'abi " y a n g b e r i m a n k e p a d a \ ' a b i . bahwa permasalahan orang yang beriman dari Ahli Kitab akan terus berlangsung sampai hari kiamat. hukumnya berlaku sampai hari kiamat. bahwa kitab mengetahui kenabian Muhammad. karena wahvu telah diturunkan d i tempat atau rumah mereka sebagaimana dijelaskan dalam hadiis belum Jika a d a \ ang mengatakan. " E n g k a u b e r a g a m a I s l a m s e b e l u m e n g k a u m a s u k " I s l a m k a r e n a e n g k a u l e l a h b e r b u a l k e b a j i k a n s e b e l u m n y a .'/ t a m t untuk mcn\ atakan orang yang telali diketahui) dan ditambahkan padati}. kecuali dengan menganalogikan kebajikan dengan iman. hal itu dikarenakan nabi mereka setelah h i ' t s a h adalah \h•iu^mmad SAW berdasarkan uni\ersahtas dakwah beliau. maka dengan sendirinya tidak mencakup selain Ahli kitab. ) a rasul). Al Karmani berpendapat. bahwa h. berbeda dengan hamba sahaya.. dimana orang mukim-1 Alih Kitab dikatakan r ajui i seorang laki-laki) dalam bentuk n a k i r a h i indehinu. seperti dalam firman Allah d a p a t i " t e r t u l i s d i d a l a m T a u r a t d a n I n j i l v a n g a d a d i s i s i " M e r e k a m e r e k a . Hal >ang serupa adalah masalah hak istri-istri Rasulullah. I ial ini teluh diterangkan oleh oleh Syuikh. " dimana hadits ini menggambarkan ketinggian pahala atau sebab dia mendapatkan dua pahala.il i t u khusus bagi siapa yang beriman pada masa b i 't s a h ( d i u t u s i . bahwa konteks lata/b hadits jelas berbeda. sehingga jumlahmu menjadi empat'' Syuikh Islam Ibnu laimivah menjawab. .•!/. adalah berdasarkan keadaan mereka sebelumnya. seperti yang digambarkan dalam hadits Hakim bin Hazzam. adalah karena mengimani seluruh nabi-nabi. (Qs. mengenai ' A b d u n (hamba sahaya) digunakan. Al A'raaf f ) : 157) Maka barangsiapa diantara mereka yang beriman kepada Muhammad dan mengikutinya. demikian menunjukkan. Pendapat ini tidak dibenarkan.

Wallahu A 'lam.j l i <\ '^L> 4 I R -dJl ji* '^~} Js- j.^y ^J'^JB ^ J*>\jj*iL>Jij V^i 98. Hal ini diambil dari perkataan Ibnu Abbas. Ms. Dengan judul bab ini.bukan hanya merupakan tugas kepala keluarga saja. AJS- * *. M E M B E R I K A N NESEHAT DAN P E L A J A R A N KEPADA KAUM W A N I T A '. karena ta 'rif dengan lam jinsi menunjukkan makna nakirah. 32.Adapun perbedaan antara tankir dan ta ' n / t i d a k ada hubungannya di sini. ' } . bahwa kaum perempuan masuk dalam golongan laki-laki kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. i " " i { . akan tetapi juga dianjurkan kepada seorang pemimpin ataupun wakilnya untuk memberikan nasihat kepada mereka. J ^ i l J l i ^Cff f 1 ' . "Kemudian beliau memberikan kepada nasihat kepada kaum wanita.\ ' ' ' ' H ^j £ y1 F ^ J _ j KSS. . Imam Bukhari menjelaskan bahwa anjuran untuk memberikan nasihat kepada keluarga -sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. "Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata. Pembahasan (hamba sahaya laki-laki) akan dijelaskan dalam bab "Memerdekakan Budak ". . sedangkan pembahasan (hamba sahaya) pada bab "Nikah"." Nasihat tersebut berupa sabdanya. sehingga kaum wanita itu menyerahkan perhiasan berupa anting dan cincin mereka.-OJ^ JL\& «JJ . *. "Saya melihat bahwa sebagian besar dari kamu (kaum wanita) menjadi penghuni 3 7 0 — FATHUL BAARI . hukum perempuan ahli kitab dalam masalah ini sama dengan hukum laki-laki seperti yang telah berlaku. Keempat. ' ' "i . "Saya menyaksikan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam keluar bersama Bilal kemudian beliau memberikan nasehat kepada kaum wanita dan memerintahkan untuk bersedekah.' . i i • ' i. J F jl ^ L f f -^1 Js--" JK^-il - £ 3 V ' k— t ' " - _^ ' i ^. Bilalpun mengumpulkan semua itu dengan bajunya.

insya Aliah akan dipaparkan dalam bab " A l i rol FATHUL BAARI — 371 .a n t i n g \ .n e r a k a . " di telinga kaum wanita. perhiasan yang dipakai ' I d a i n i / d u a h a r i r a y a ) . m e n d u r h a k a i s u a m i " " D a n m e m e r i n t a h k a n n y a u n t u k b e r s e d e k a h " ' a l a i h i s h a l l a l l a h u w a s a l l a m j'„—i' ( A n t i n g . k a r e n a k a m u s e r i n g m e l a k u k a n s u m p a h p a l s u t'li " a r i ) d a n Sedangkan pernyataan bahwa Rasulullah telah memberikan pelajaran kepada mereka berdasarkan perkataan Ibnu Abbas. Maksudnya adalah. dari sini dapat disimpulkan bahwa Rasulullah mengajarkan kepada mereka bahwa sadaqah dapat menghapuskan dosa atau kesalahan yang telah mereka lakukan. Penjelasan tentang matan hadits ini.

keutamaan Abu Hurairah. dan keutamaan sikap antusiasnya untuk mendapatkan hadits dan Rasulullah SAW. benar benar ikhlas dari hati sanubari dan seluruh jiwanya. belum ada urung yang bertanya kepadaku tentang perkara ini sebelumnya. Orang yang paling beruntung mendapatkan pertolonganku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan La Ilaha Ulatlah. selain mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah. D a r i A b u S A H . Kalimat ini berfungsi untuk menghindari dan menjaga kemusyrikan. mungkin barangkali karena saya lihat engkau sangat antusias untuk mendapatkan hadits. Keterangan Hadits: Hadits menurut syariat adalah Nabi muhammad SAW. Namun sebenarnya jika 3 7 2 — FATHUL BAARI . k a t a n y a v a n g p a l i n g a d a o r a n g b e r t a n y a d e n g a n k e p a d a s y a f a a t R a s u l u l l a h ( p e r t o l o n g a n ) " S i a p a k a h d i h a r i b e r b a h a g i a "Saya kira. hai Abu Hurairah. i. juga Muhammad adalah Rasul-Nya." a n d a k i a m a t ' " R a s u l u l l a h m e n j a w a b .33. semua yang dinisbatkan kepada •J Jji (Belum ada orang sebelum kamu). Maksudnya. "i' J i — i 'y (Barangsiapa yang mengucapkan Laa llaha p e r t a m a k e d u a Illallah). Dalam hadits ini ada dua bentuk keutamaan. A N T U S I A S M E UNTUK M E N D A P A T K A N HADITS r 99. H u r a i r a h R A .

maka hai itu sudah cukup. atau memohonkan mereka untuk tidak dimasukkan ke dalam api neiaku setelah ditetapkan bahwa mereka akan masuk neraka Rasul juga dapai memberikan syafaat bagi seseorang untuk masuk surga tanpa melalui proses l u .disebutkan bagian pertama («—~ 'I. . dan orang yang paling bahagia karena itu semua adalah orang mukmin yang benar-benar ikhlas. A r .a b atau dengan mengangkat derajat sebagian uieieka untuk bisa tinggal dalam surga vang lebih tinggi. ' — J J 'y (Dari dalam lubuk hatinya atau seluruh jiwanya). sebagaimana yang terjadi pada diri paman beliau Abu Thalib. karena menurut Imam Bukhari dalam kitab ^ jj. Al Baqarah (2): 273) Hadits ini menunjukkan dalil disyaratkannya mengucapkan kedua kalimat syahadat berdasarkan kalimat „ J 'y dalam hadits di atas.— . FATHUL BAARI — 373 . Rasul juga memberikan syafaatnya dengan memohon kepada Allah untuk mengeluarkan sebagian orang mukmin liari siksa api nereka. Rasul juga memberikan syafaat dengan memohon keringanan adzab untuk sebagian orang-orang kafir. sebagaimana dalam firman-Nya "Dan paling indah tempa! istirahatnya. sebagaimana Firman A l h h " O r a n g v a n g b e r d o s a h a t i n y a " (Qs. Al Furqaan (25): 24) Tapi mungkin juga b e r a r t i / M / tafdhil. karena setiap orang pasti akan bahagia jika mendapatkan syafaat dari Rasul. Kalimat ini dimaksudkan untuk menghindari orang munafik. 1 \ ) saja. Rasulullah memberikan syafaat kepada manusia pada hari kiamat. kalimat tersebut berbunyi 'y lU 'U- Ada keraguan dari permuvat mengenai kalimat di atas. karena bagian pertama sudah mewakili bagian kedua kalimat tersebut.R i q a q slaksud beliau menyebutkan kedua kalimat di atas adalah untuk menunjukkan adany:' penekanan arti pada kalimat tersebut. yaitu dengan memberikan ketenangan pada waktu mereka berada dalam ketakutan." (Qs. Demikianlah nampak adanya dualisme pengertian dari hadits ini antara kebahagiaan dan svalaat. Kata J »_J -' berarti manusia yang paling bahagia. namun dalam kasus ini orang mukmin yang ikhlas adalah orang yang paling bahagia. 1 =1* (Benar-benar ikhlas).

v ^ j .& 3 i 'L. d ^ya JS- ^L^> L O J j u . I jjiiti ^ JJU -j 100. .^ U . f > . Orang-orang bodoh ini akan berfatwa tanpa ilmu. mereka itu sesal dan menyesatkan" 3 7 4 — F A T H U L BAARI .j . Pelajarilah ilmu dengan seksama. maka masyarakat akan mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin yang akan dijadikan tempat bertanya. .1 ' J ._-_«_^. "Kumpulkan hadits-hadits Sabi SAW \ang engkau temukan.s. C A R A A L L A H M E N C A B U T ILMU J-t $ ^ ^ : f > ^' ^ J'i > ^ JH 'F^ 'J*5 \ -.1 1 J'j 1 ^ ' U L ! 1 _tj-»-C- 'JJ i 1 jf- Jfc [v>Jj) ^ J j J * I 'r* " ^ J . sampai dapat mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Ilmu tidak akan rusak keeuali setelah menjadi rahasia. kemudian tulislah. Apabila orang berpengetahuan telah punah. = .' ^ J j J l 1 r .^ : "b' ^ 3 JJ J j J J J " J) 1-}j ^ J J JbsJ» U S U jl U 1 IJJ J>- «. "Allah tidak menarik kembali ilmu pengetahuan dengan jalan mencabutnya dari hati sanubari manusia.. .] ^ L ^ ' ' J ^ ' ^ i J j i .. tetapi dengan jalan mematikan orang-orang berpengetahuan (ulama). D a n Abdullah bin Amr bin 'Ash RA katanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda.CJJOl ^yali (UJl . .^ ! j i U j J ^ ." .^ j . » ' „ . i AJ)I Q ' . -jV (imor /j/n Abdul Aziz menulis sura! kepada Abu Bakar bin flazm.34.VI JJJ ^ ' -fr^iJi . Aku khawatir akan hilangnya ilmu dan perginya para ulama (meninggal). . 0 . Janganlah engkau terima keeuali dan hadits Sabi.

sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dan hadits Abu Umamah. Dalam nwavat Muslim disebutkan 'Sy. i n s y a A l l a h . FATHUL BAARI — 375 ._ . Dan kalimat ini dapat diartikan. Rasulullah mengucapkan hadits ini pada saat haji wada'. Hadits mi berisi anjuran menjaga ilmu.U b) J=- . peringatan bahw a yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar-benar mengetahui. dan kita akan membahas masalah ini dalam kitab A l I ' t i s h a m . peringatan bagi pemimpin yang bodoh. bahwa saat haji Wada' Nabi SAW bersabda. dan larangan bagi orang yang beram mengeluarkan fatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan.—-f- . Pada saat Umar bin Abdul Aziz merasa khawatir akan hilangnya ilmu dengan meninggalnya para ulama. "Bagaimanakah cara ilmu diangkat atau dipunahkan? Beliau bersabda.- Dalam riwayat Abu Al Aswad pada kitab —'. J ^ L > A l I ' i i s h a m karangan Imam Bukhari disebutkan (mereka memberikan fatwa dengan pendapainya). J^. L _i' J'. Arabi berkata. " " P u n a h n y a i l m u i l m u i t u d e n g a n p u n a h n y a p a r a u l a m a ( o r a n g y a n g m e n g u a s a i l e r s e b u l \. Hadits ini juga dijadikan alasan oleh jumhur ulama untuk mengatakan. bahwa pada /aman sekarang ini tidak ada lagi seorang mujtahid.l •-. karena sebelumnya umat masih bergantung kepada hafalan. begitu pula dengan hadits vang diriwayatkan oleh Imam Muslim. „Uji "i (Allah tidak menarik kembali ilmu pengetahuan dengan jalan mencabutnya) atau menghapus ilmu dari lubuk hati sanubari.Keterangan Hadits: (Tulislah). maka ia berpendapat bahwa penulisan ilmu berani usaha untuk melestarikan ilmu itu sendiri. " P e l a j a r i l a h i l m u s e b e l u m d a l a n g m a s a p u n a h n y a i l m u l e r s e b u l . bahwa ini adalah awal mula penulisan hadits Nabi.'.

Rasulullah SAW. k h u s u s b e l a j a r i t u " p e r m o h o n a n d a r i A n d a . "J—A'S'I* pilihan dan ketetapan dikembalikan kepada P e n g h a p u s a n (Rasul memerintahkan) untuk bersedekah. sebagaimana akan kami jelaskan pada bab "Al Janaiz".35. ' r- a ' i s 3 s f s " 1 '' ' ' '' ' ' r 'i i - l i j j j ^yk 4j*>Ij f J j i j a ^ ' i . menggeneralisasi semua perintah-Nya dimaksudkan untuk (Seorang wanita berkata).1 j ' l' ^QV\Cjt 101. maka niscaya kematian mereka akan menjadi dinding baginya dari api neraka." "Ya dua orang juga. " K a m i w a k t u t i d a k t e l a h ' S e j u m l a h m e m p e r o l e h d i i s i o l e h a g a r s u a t u p r i a . s e m u a k a r e n a s e d i a k a n l a h M a k a S a b i w a n i t a . Menurut sumber lain wanita tersebut bukanlah Ummu Sulaim. t a ' t a ' n i t s . o r a n g ? " K e t e r a n g a n Hadits: U __J. "Barangsiapa diantara kalian tertimpa musibah. Menurut riwayat Al Karimah ( -4^ij) dengan wT tambahan Kemudian timbul pertanyaan apakah hukum dua dapat diikutkan dalam hukum tiga atau tidak? Akan dijelaskan lebih lanjut pada bab "Al Janaiz". j . 3 7 6 — FATHUL BAARI .p e r i n t a h . Namun demikin.kematian tiga orang anak. (Dan dua).L i (Maka sediakanlah untuk kami) atau tentukanlah untuk kami. Wanita itu adalah Ummu Sulaim. " k a l a u d u a K e m u d i a n j a w a b b e l i a u .i . S a b i . k a m i w a n i t a w a k t u O l e h d a p a t m e n g a j u k a n u n t u k k a r e n a b e l a j a r .i l l a h A n t a r a b e l i a u b e r s a b d a .1 k a l a n y a . w a k t u b a r a n g s e h a r i u n t u k k a m i m e n j a n j i k a n d i m a n a S a b i k e p a d a d a p a t m e r e k a p e n g a j i a n d a n u n t u k m e n g a j a r i l a i n m e r e k a m e n y a m p a i k a n p e r i n t a h . R A S U L U L L A H M E N G A J A R I K A U M W A N I T A f ." B e r t a n y a s e o r a n g w a n i t a . objek (bersedekah) yang diperintahkan. Dan A b u S a i d A l K h u d r i k e p a d a F L .* ' t ' ' ' ^j^J J l i ' ' ' ' t L » — *jl^J i' ^.

Iladils A b i Hurairah ini (hadits >ang sanadnva sampai kepada Rasulullah). yaitu anak \ ang meninggal tersebut belum mencapai umur akil baligh. o r a n g ' A k u a n a k m e n d e n g a r y a n g b e l u m A b u a k i l H u r a i r a h b e r k a l a . dan anakanak orang Islam akan masuk surga selelah meninggal dunia. a z m Dan' d a r i " A b d u r r a h m a n A b u b i n A l A s h f a h a n i " T i g a b e r k a t a . atatan: Dan sanad hadits ini.uga ajaran agama dalam setiap sisi kehidupannya. maka ia akan menjadi dinding pemisah antara orang tuanya dan api neraka. Dalam hadits ini juga dinyatakan. dengan demikian orang tua akan merasa sangat sedih jika ditinggal mati oleh anaknya yang belum mencapai umur akil baligh. M u b h a m m a r t u ' FATHUL BAARI — 377 . kita dapat memahami dua hal: Riwayat Ibnu Al Ashfahani vang pertama adalah hadits (hadits yang sanadnya tidak jelas).- < ^ j ^ ^ ^ ^ JA1 ^ -.v. maka tidak akan mendapatkan dosa. Dengan kata lain. Arti dari hadits ini. bahwa para istri sahabat terdahulu sangat m. bahwa anak yang belum akil baligh tidak pemah melakukan perbuatan dosa atau durhaka kepada orang tuanya. karena dosa manusia dicatat setelah mereka mencapai akil baligh.P « J ^ V I ^ W-_Jl ^- J' JLP )2. bahwa anak yang meninggal dunia sedang dia belum mencapai umur baligh. i l i g h . Penambahan jalur sanad pada hadits Abu Hurairah. Barangsiapa kembali ke hadirat Allah dengan meninggalkan kedua orang tuanya.

0 3 " - ° » 103. K e t e r a n g a n Hadits: y'f-*!' berarti menghadapkan seorang hamba di depan pengadilan Allah.J . j-—> J (Dihisab dengan teliti). dan Nabi pun tidak pernah merasa bosan untuk menjelaskan setiap ilmu yang ditanyakan. m e n a n y a k a n N a b i k e p a d a d i a P a d a b e r s a b d a . -. ^Jj. "Barangsiapa A l l a h r i n g a n ' " dihisab (diperiksa) akan b e r f i r m a n . Maksudnya.l i * J ! jl ASyJ ^ j > ." d i h i s a b N a b i b e r k a t a . bahwa pemeriksaan Allah terhadap seorang hamba akan menyebabkan adanya siksaan. karena perbuatan baik seorang hamba tergantung apakah perbuatan tersebut diterima atau tidak. " B u k a n k a h y a n g (Qs. 1 ' * " i y u V LUJ. a p a b i l a m a k a d i a d i a s u a t u m e n d e n g a r a k a n k e t i k a A i s y a h d e n g a n N a b i k e m b a l i m a k s u d n y a . tetapi orang yang dihisab dengan teliti akan binasa. " N a n t i a k a n disiksa.A_i O J ^ r l j C U l J CiJLP l l J l i ^ j j ^ . llf. maka dia tidak akan selamat dan siksa-Nya.Al) I ^LJ? >J Al) I J _ j i ' ' \ * .36. Al lnsyiqauq (S4): X) "Itu hanya dihadapkan saja (di hadapan pengadilan Allah). " p e r h i t u n g a n m e n j a w a b . D a r i i b n u s a b d a A b i M u l a i k a h d a n d i a b a h w a t i d a k S a h i A i s y a h m e n g e r t i s a m p a i i s t r i S a b i . i. maka hadits ini mengandung isyarat diperbolehkannya mengadakan dialog dan 3 7 8 — FATHUL BAARI . Jika bukan karena rahmat Allah yang menjadikan amal perbuatan tersebut diterima di sisi-Nya. i' l' s . lU^I—i (Binasa). M E N A N Y A K A N SESUATU YANG D I D E N G A R SAMPAI M E N G E R T I A ^Jt a ' . Hadits ini menjelaskan antusiasme Aisyah untuk memahami makna setiap hadits. m e n g e r t i .* ^-t-J Jlj Jll-j ' * fyJjjjl J w — ' .

" Kasus serupa juga pernah terjadi pada selain Aisyah. "Bukankah Allah berfirman. Penjelasan lebih lanjut mengenai hai ini. Maryam (19):71) Kemudian Beliau menjawab. FATHUL BAARI — 379 .-^-r U. bahwa pertanyaan yang dilarang sebagaimana yang dijelaskan di depan adalah pertanyaan vang akan menyulitkan orang yang bertanya. " t i d a k a d a s e o r a n g Hafshah p u n berkata. apakah hal ini tidak berarti larangan bagi para sahabat untuk banyak bertanya sesuai dengan FirmanNya.- (hadits sahabat). " (Qs Maryam (19) 72) Ketika turun ayat \^S' 14. maka Rasulullah menjelaskan arti khusus dan kata lersebul Kejadian seperti ini tidak banyak terjadi di kalangan para sahabat. sebagaimana dalam firman-Nya. (hadits Hafshah) dan 'J-*. • • .m e r e k a d a n ' D a n v a n g m a t i s y a h i d d a l a m p e r t e m p u r a n H u d a t b t y a h . diceritakan bahwa Umar pernah mengingkari dan menghukum seorang bernama Subaigh karena terlalu banyak mengajukan pertanyaan.—s :J 1 Oleh sebab itu.—>-• (hadits Aisyah). _". ' " (Qs. m e l a i n k a n d a r i p a d a m u . Aali Imraan (3): 7) atau dalam hadits Aisyah.a y a t c o n d o n g y a n g k e p a d a k e s e s a l a n .^ 1 ~: ' j _ . yaitu adanya kata yang masih mempunyai pengertian yang sangat umum.R i q a q . " °J* S.o r a n g y a n g d a l a m h a t i n y a a y a t . " H a i o r a n g . A l l a h m a k a p a d a d a l a m a n c a m a n k a l i a n a d a l a h m e l i h a t o r a n g . seperti dalam hadits Hafshah ketika mendengar sabda Nabi yang menyatakan. J 4 — s a h a b a t menanyakan siapa yang tidak berbual / h a h m (aniaya) terhadap dirinya sendiri'.h a l y a n g d i t e r a n g k a n k e p a d a m u .mendiskusikan sesuatu.o r a n g y a n g b e r t a k w a . karena mereka mengerti dan memahami bahasa Arab Dari sini dapat dipahami. " A d a p u n m a k a o r a n g . u n t u k m e r e k a m e n g i k u t i f i t n a h s e b a g i a n m u t a s y a b i h a t m e n i m b u l k a n " A p a b i l a m e r e k a k a l i m a t "(Qs. m e n d a l a n g i n e r a k a i t u . p e r t a n y a a n a k a n s e s u a t u h a ! k e p a d a m e n g a j u k a n N a b i .o r a n g / j a u h i l a h ) . Kemudian muncul pertanyaan.' Nabi menjawab bahwa maksud dan kata Ui^I (aniaya) dalam ayat tersebut adalah syirik kepada Allah. " T i d a k m e d a n a k a n m a s u k n e r a k a B a d a r m e r e k a . Al Maa'idah (5): 101) dan hadits Anas. m e n y u s a h k a n d i l a r a n g u n t u k "(Qs.o r a n g y a n g b e r i m a n . h a l . m e r e k a y a n g m e n a n y a k a n t e r m a s u k m e n g e n a i h a l i t u . menghubungkan Sunnah dan Al Qur'an serta perbedaan manusia dalam pemeriksaan (hisab) Allah. " K e m u d i a n K a m i a k a n m e n y e l a m a t k a n o r a n g . j i k a j a n g a n l a h k a m u m e n a n y a k a n n i s c a y a " K a m i ( k e p a d a N a b i m u ) k a m u . i n s y a A l l a h akan dijelaskan dalam kitab A l I ' t i s h a m dan A r . Pengertian yang dapat diambil dari ketiga hadits tersebut.

d i S a i d k e t i k a t e n t a r a S a h i M a k k a h . .^LUJC._l-XJ _-.J . . • A ^ P D' j* I \^ —1 ^ ipll* . Tidak hului bagi orang yang percaya kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah dan menebang pohon-pohon di Makkah. - .^>. 'Sesungguhnya Allah hanya memberi izin kepada Rasul-Sya saja dan tidak memberi izin kepada 3 8 0 — FATHUL BAARI . .W ? AL) J j i ' L*J^ 0 j ^ l j J^JJ -J J-^O 5 C pj^i. - . . l a n g s u n g " B e l i a u b e r s a b d a .A J -jijl « ^~LS aLfr . F J_J I J U I ^ I P JL*. ^ . S a b d a l a n g s u n g d a n d e n g a n k u p a h a m i m a t a k u m e m u j i l a n g s u n g k e t i k a d a n d e n g a n k u l i h a t i n i .. 1 . . • 1 . maka katakanlah kepadanya. Jika ada arang yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah halal karena Sabi sendiri berperang di kota Mukkah. s ' . k e d u a d a h u l u b e l i a u t m m e n g u c a p k a n n a m a s a b d a n y a A l l a h n g a g u n g k a u l a l u "Sesungguhnya kota Makkah diharumkan Allah dan tidak diharamkan oleh manusia. d e n g a n t e r l e b i h M a k k a h . l' . A tjj j ^ Ui'i AJC»~. M E N Y A M P A I K A N ILMU BAGI Y A N G HADIR K E P A D A YANG TIDAK HADIR S -'S O y 'J AJ. 1 _I _ » L ^ J ^. d i a b e r k a t a k< k e p a d a A m r u b i n A m r u . . y a n g : m " W a h a i i z i n k a n l a h p a g i h a r i k e d u a m e n y a m p a i k a n k o t a s a b d a d i u c a p k a n k u d e n g a r h a t i k u b e l i a u p e n a k l u k k a n t e l i n g a k u . C O 1 ^ ^ i l J JL 1 ^S'L 1 ?J&5 &\> 'j*'y.' V L ' T J O I . f i .37.TIIAJ! o-- JL» W'JJM LJH J ^ J J V_. /)«/"/' f/'/ A m r u s a v u s e d a n g S v i t r a i h m e n g i r i m R A .Ju.J JJ>L J J A!) J' I J » I I Li_J . . JUlaJ .p ^I CI J I S J^II JII 104. . . ^ V J j i i L-Jliil luLiJi AJJij» -cS'C ' 4 ^ " A ' f'pl t ^ y N J . - ^ .j>.S. 0 AJJ! J J A J .

Uain halnya dengan Ibnu Zubair yang tetap bersiteguh meminta perlindungan kepada Makkah. bahwa Muawiyah menyerahkan kursi keklulafahan kepada Ya/id bin Muawivah Seluruh masyarakat membaiat kepemimpinannya kecuali liusain bm Ah dan / u b a i r . bukan lala/. ( D i a mengirim pasukan) atau Amru mengirim pasukan ke kota Makkah untuk memerangi Abdullah b m / u b a i r yang menolak untuk membaiat kepemimpinan Ya/id bin Muawiyah.hnya. Secara singkat kisah tersebut. ^ — . kemudian kesucian kota ini kembali seperti semula. "Dia menjawab. sedang anaknya Abu Bakar meninggal terlebih dahulu sebelum meninggalnya Muawiyah. FATHUL BAARI — 381 . sedang Husein pergi menuju Kufah untuk mencari dukungan yang mau membaiat beliau. Kota Makkah tidak akan melindungi pendurhaka.anda sekalian. Kalimat ini menunjukkan adab dan etika 1 yang halus untuk mengingkari para pemimipin vang menyimpang dan zhalim. j-e (Izinkan saya). J . yaitu orang >ang hadir harus menyampaikan kepada yang tidak hadir perihal pertemuan yang dihadirinya. karena Amru adalah wali yang diutus Ya/id bin Muawiyah untuk kota Madinah. itu pun hanya sesaat di siang hari penaklukan. Anaknya Umar turut serta membaiat Ya/id selelah kematian ayahnya. karena kewajiban yang diperintahkan dalam hadits ini adalah menyampaikan ilmu. . Dalam jalur sanad yang diriwayatkan dan Ibnu Abbas dan selainnya. .'" Seseorang bertanya kepada Abu Syuraih. Inilah yang menjadi akar masalah yang menyebabkan pembunuhan Husein. saya lebih tahu dari anda. o. 'Hai Abu Syuraih. _ S .—iJ. Keterangan Hadits: Kata l» 1 —' di sini artinya orang yang hadir dalam sebuah pertemuan. Demikian kisah singkat yang diakhiri dengan kesepakatan para penduduk kota Madinah untuk melepas jabatan kekhilafahan dari tangan Yazid bin Muawiyah. kemudian Yazid bm Muawiyah memerintahkan kepada para stafnya untuk mempersiapkan pasukan perang. orang yang lari dengan darah /pembunuh) dan tidak pula melindungi pencuri. "Apakah jawaban yang dikemukakan Amru?" Abu Syuraih berkata. Hendaklah yang hadir menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir. tidak disebutkan kata (ilmu) Bentuk seperti ini menunjukkan bahwa beliau hanya menyampaikan makna haditsnya saja.

Hal ini fathu Makkah (pembukaan kota Makkah). •A ^ (Tidak melindungi). tapi jika berharakat fathah berarti pencurian. > (Lari menghindar). Maksud dalam hadits ini adalah waktu pada hari jathu Makkah. Makkah tidak memberikan perlindungan bagi orang yang berbuat maksiat untuk menghindar dan hukuman yang ditetapkan syariat. '^i (Tidak diharamkan oleh manusia). 3 8 2 — FATHUL BAARI . bukan hukum yang dibuat oleh manusia. dia hafal dan yakin tidak salah dalam mendengarkannya. menunjukkan. Diharamkannya kota Makkah itu berdasarkan wahyu Allah. Nabi berkhutbah pada hari kedua setelah (Aku mendengarnya dengan kedua telingaku). bahwa selain mendengarkan sendiri khutbah tersebut secara langsung. dan izin yang diberikan kepada Nabi adalah izin berperang. Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan rentang waktu tersebut adalah dari terbitnya matahari sampai waktu ashar. yaitu memotong dengan alat pemotong seperti kapak. bukan izin memotong pepohonan. yaitu menumpahkan darah atau melakukan pembunuhan. Menurut Ibnu Baththal jika huruf kha ' berharakat dhammah berarti kerusakan. ^ > — . maksudnya melarikan diri untuk berlindung di Makkah supaya tidak dihukum (diqishash) i—Dalam riwayat Al Mustamli berarti pencurian.L—-J' (Keesokan hari).(waktu).

• • . s e b e l u m n y a s a m p a i k a n .m e n g e n a i Keterangan Hadits: Kalimat \. ' A k u "Sesungguhnya k i r a b e l i a u darah dan harta kalian " k e h o r m a t a n k a l i a n - b e r k a t a . ' B u k a n k a h ' s e b a n y a k " R a s u l u l l a h s u d a h d u a k a l i a k u S A W m e m b e n a r k a n h a l i t u . FATHUL BAARI — 383 . k e m u d i a n h a l m i b e r k a t a . adalah haram bagi kalian.— Z' / s (Disebutkan bahwa Nabi) menunjukkan bahwa Abu Bakrah menyampaikan hadits tentang sesuatu yang pernah disampaikan oleh Rasulullah.. Z—_Li 'i'i (Bukankah sudah aku sampaikan). Yang dimaksud Muhammad dalam hadits di atas adalah Ibnu Siriti.105 D a r i A b u B a k r a h d i s e b u t k a n b a h w a M u S a b i h a m m a S A d W b e r s a b d a . sebagaimana diharamkannya hari kalian dalam bulan kalian ini. Ungkapan ini menunjukkan bahwa perawi ragu atas perkataan ! _ > ^ ' i U (kehormatan kalian). Perkataan ini adalah ucapan Rasulullah. Bugi yang hadir sampaikanlah hal ini kepada yang tidak hadir. i ' a d a s a a t i t u M u h a m m a d b e r k a t a . b e r k a t a . X~S'} (Aku kira). apakah kata ini disebutkan oleh Ibnu Abi Bakrah atau tidak.

b a h w a b e r k a t a . sehingga mereka membuat hadits-hadits palsu mengenai (janji) dan (ancaman) dan mengatakan. " S v u ' b a h m e n g a b a r k a n " D i a d i a k e p a d a k u . Alasan itu menunjukkan kebodohan mereka dalam memahami bahasa Arab. m e n d e n g a r " D i a ' A k u A l i b e r k a t a . karena Nabi sendiri telah melarang semua bentuk kebohongan. haram dan makruh. yaitu mencakup semua jenis kebohongan. A l i b i n A l J a ' d i b e r k u t u . yaitu diperbolehkan melakukan kebohongan untuk Nabi. 'Janganlah kalian berbohong atas namaku. •JL-*^..38. Sebagian mereka berpegang kepada beberapa l a r g l u b t a r g h i b t a r h i b t a r h i b 3 8 4 — FATHUL BAARI . m e n d e n g a r m e n g a t a k a n " M a n s h u r R i b 'i b i n m e n g a b a r k a n H i r a s y S A i V k e p a d a k u . Suatu kaum yang bodoh telah terpedaya. sesungguhnya barangsiapa yang berbohong atas namaku maka hendaknya ia masuk neraka.'" b a h w a N a b i K e t e r a n g a n Hadits: 7__^ " i (Janganlah kalian berbohong alas namaku). Bohong '_.L<J dalam hadits ini mengandung pengertian umum. Kata ' . b e r s a b d a . jli ^ -J1 Jli A_m_i u j l i JjrjrJI v M " L - J' O ' 106. DOSA O R A N G Y A N G B E R B U A T D U S T A T E R H A D A P NABI . karena kebohongan tersebut telah membantu untuk menguatkan hukum-hukum syanah. «J ." Mereka beralasan bahwa mengatakan sesuatu vang tidak dikatakan Nabi tidak berarti melakukan kebohongan kepada Allah SWT. janganlah kalian menisbatkan kebohongan kepadaku. b e r k a t a .^ (atas diriku) tidak mempunyai maksud lain.'. Golongan Karramiyah membolehkan melakukan kebohongan dalam masalah dan untuk menguatkan apa yang ada dalam Al Qur'an dan Sunnah. Maksudnya. dengan alasan bahwa kebohongan itu adalah untuk Nabi. "Kami tidak melakukan kebohongan atas Nabi. seperti wajib. tapi kami sebenarnya melakukan ini dalam rangka untuk membela agama dan syariat beliau. sunah.

AJJUI p ^ 1 L. Amir bin Abdillah bin Zubair dari ayahnya. Demikian pula dengan firman "Siapa yang lebih zhalim Allah 'J'JJV bahwa hadits ini adalah hadits mursal. yJli J-JJ u^i" JJ y orang yang (Qs. ''Js'z. melipatgandakan riba dan menyesatkan dalam ayat-ayat di atas berfungsi untuk menekankan (ta'kid) masalah yang disebutkan dalam ayat.~ * — • ' . — i » .yJJI 107." fl f*i ' ' ' i * ' i- I .riwayat hadits yang tidak dapat dikukuhkan kebenarannya karena adanya penambahan matan hadits. 'Ji." Juga hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Majah melalui jalur sanad Syarik dan Manshur." ( Q s . apakah hadits mursal dan j. "Kebohongan yang disampaikan atas namaku akan dimasukkan ke dalam neraka.' i ' . o i * J l j ^ ^ Jl v *sS xs. Masuknya seseorang ke dalam neraka adalah . Hadits mi diperkuat oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur sanad Cihundar dan Syu'bah dengan lafadz •••—.sebab kebohongan yang dilakukannya.- = ' ' i . 0 s s " t 0 . " Hadits maushul. y—Di y j-al. * -• o . "Aku pernah berkata kepada Zubair.I .~>-^" 'J* "Barangsiapa yang melakukan menyesatkan manusia. Al A n ' a a m : 151) dimana membunuh anak. Al An'aam (6): y ^ J.y Hakim lebih condong untuk mengatakan.' r "Barangsiapa berbohong atas namaku maka akan masuk neraka. Allah. ini Daruquthni 1 kebohongan atas namaku untuk atau masih dipertentangkan." . - ' a . dia berkata. J** l^144) 1 dari berbual kebohongan terhadap u^OJ untuk menyesatkan "Jangan/ah anak manusia" dan ayat.. y—'j* ^ J t (Hendaknya ia masuk neraka]. " ( Q s .^ kalian memakan riba dengan berlipat ganda.' L ' llS" pUji • a JXsi dt s A *t ' o d'' j s*. f W-J J^JJ^J * s . Aali Imraan ( 3 ) : 1 3 0 ) "i'j "Dan janganlah kamu membunuh anak kamu karena takut kemiskinan._ y ^ °Jfa JLJ OVJjj JtAi r C->-b-o '-"\ . bahwa aku tidak pernah mendengar F A T H U L BAARI — 385 .u^ \yyAi Js- J* jyu J S J J . bukan untuk mengkhususkan hukum tertentu. misalnya hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Mas'ud yang menyebutkan. p. * - - 1 V ^\ f.

i s t r i b i b i k u . a k u d a n N a b i t e r i k a l N a b i H a l a l i Z a h r a h . " B a r a n g s i a p a d i s i a p k a n y a n g m e l a k u k a n a d i k e b o h o n g a n a l a s n a m a k u . (dengan sengaja). sedang Ibnu Majah dan Ismaili dari Muadz dari Syu'bah menambahkan matan sanad dengan kata ij—lili. Diantara nama kedua orang ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah. '"Aku memang tidak pernah berpisah dari sisi Rasul.engkau meriwayatkan sebuah hadits pun dan Rasul sebagaimana si fulan dan si fulan lainnya menwayatkan hadits. akan tetapi dia tidak melakukan hal tersebut untuk menjaga makna hadits yang disampaikan. (Sebagaimana si fulan dan si fulan lainnya meriwayatkan hadits).a Zubair ikut hijrah ke 1 labasyah dan tidak ikut hijrah bersama Nabi ke kota Madinah. m a k a a k a n l e m p a r u n t u k i i ) n e r a k a . N a b i N a b i b i n t i a d a l a h w a h a b i b u k u . artinya bahwa Zubair tidak pernah berpisah dari sisi Nabi sejak dia masuk Islam." Zubair berkata. artinya tidak pernah berpisah dari sisi Nabi SAW Dalam riwayat Ismaili ditambahkan kata S.(Barangsiapa yang melakukan kebohongan atas x namaku) Matan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Zubair menyebutkan hadits dengan jalur sanad v ang berbeda. A m i n a h a n a k d a n n e n e k k u M a n a j ' b i n a k a n W a h i b d a n k e d u a n y a i s t r i N a b i a d a l a h A i s y a h p e r e m p u a n d a l a h d a r i i s t r i k u p e r n a h k e d u a n y a " b e r s a u d a r a . karena Zubair selalu bersama Nabi dan sebagaimana lazimnya dia selalu mendengar haditshadits Nabi dan akan menyampaikan kembali hadits-hadits tersebut kepada orang lain. kata sambung yang dipakai adalah (tetapi).•'—< : jy — 'Si * — J ^ — (Aku tidak pernah berpisah dengannya). . kemudian Zubair berkata. . i tanpa menggunakan kata . Ismail dan Zubair 'ZlS. adalah Abdullah bin Mas'ud. Lain halnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi 3 8 6 — FATHUL BAARI . Dengan kata lain sebagian besar waktunya dihabiskan bersama Nabi. m e n d e n g a r N a b i b e r s a b d a . akan tetapi aku pernah mendengar Rasul bersabda. „-. t e t a p i a k u p e r s a u d a r a a n K h a d i j a h b i n t i a d a l a h y a n g s u n g a i I b u d e k a t .. Dan ayah Hisyam bin Urwah dan Abdullah bin Zubair berkata. Aku tidak banyak meriwayatkan hadits. " W a h a i b i b i a n a k k u . " K e t e r a n g a n Hadits: Zubair dalam hadits ini adalah Ibnu Al Awwam (Zubair bin Awwam) . karcr. Kata ini diucapkan Zubair dalam rangka menjaw ab pertanyaan ayahnya. Oleh karena itu." Maka kutanya kepadanya kenapa seperti itu.

Sikap Zubair inilah yang kemudian menjadi dalil pendapat yang benar untuk mengartikan kebohongan dengan menyampaikan sesuatu yang tidak sebenarnya. sehingga merekapun tidak mungkin menyembunyikan ilmu. Artinya. Allah akan menyediakan suatu tempat bagi mereka (neraka). peringatan. Kata perintah ini mempunyai makna berita. Ath-Thibi mengatakan. Walaupun kesalahan dalam menyampaikan sesuatu itu tidak berdosa menurut konsensus ulama. Kalaupun mereka meriwayatkan hadits dalam jumlah yang banyak. maka orang lain akan mengamalkan apa yang disampaikannya Selanjutnya. hal ini karena keyakinan mereka akan kebenaran yang disampaikannya atau karena mereka sudah lanjut usia sehingga ilmu mereka sangat dibutuhkan untuk dijadikan rujukan (tempat bertanya). Dalam arti jika orang tersebut telah berniat untuk berbohong. "Matan hadits ini mengandung isyarat untuk sengaja melakukan dosa dan balasannya. Telah diriwayatkan dari Ahmad dengan jalur sanad shahih dari Ibnu Umar (dibuatkan rumah untuknya di neraka). maka semakin besar kemungkinan terjadi suatu kesalahan.dengan jalur sanad yang lain namun lelap bersumber dan Zubair dengan menggunakan lafazh. Artinya barangsiapa yang berbohong atas nama Nabi. maka tidak ada jaminan akan terbebas dari dosa jika ia dengan sengaja memperbanyak menyampaikan sesuatu. dalam matan hadits ini tidak menyebutkan kata i ^ U (dengan sengaja)." F A T H U L BAARI — 387 . »-*—«•* ''SJJ (Disediakan tempatnya). barangsiapa yang takut banyak melakukan kesalahan. kata perintah ini lebih cenderung menunjukkan arti yang sebenarnya. Untuk berpegang teguh pada hadits ini. Oleh karena itu. Zubair memilih untuk tidak terlalu banyak meriwayatkan hadits. maka dia juga telah berniat untuk menerima ganjarannya. baik disengaja atau sebab kesalahan. Zubair dan sejumlah sahabat lainnya tidak banyak meriwayatkan hadits. sedang dia tidak merasakan kesalahan tersebut Walaupun dia tidak berdosa karena kesalahan. • — J * — S S (Barangsiapa berbohong dengan meriwayatkan sesuatu dariku). dan orang yang mempunyai kredibilitas l s i q a h (dapat dipercaya) sulit dilihat kesalahannya. maka dia harus memerintahkan dirinya untuk mengambil tempat di neraka. namun Zubair tetap khawatir akan sering terjebak dalam kesalahan. Menurut Al Karmani. yaitu masuk neraka. sindiran atau doa bagi orang vang melakukan kebohongan. tapi dia bisa menjadi berdosa jika terlalu sering melakukan kesalahan. Semakin banyak beliau menyampaikan.

yaitu diperbolehkan meriwayatkan hadits dengan makna seperti yang diriwayatkan oleh A! Khatib dari Anas secara jelas. bahwa Anas tidak menwa\atkan hadits kecuali setelah diteliti terlebih dahulu keabsahannya dan meninggalkan apa yang diragukan. Ahmad) Diterangkan juga. Riwayat-riwayat tersebut dapat kita temukan. " Sebagian orang mengatakan. m e m p e r b a n y a k 3 8 8 — FATHUL BAARI . bahwa Anas selalu meriwayatkan hadits dengan lafazh. m e m p e r b a n y a k a i r k e t i k a w u d h u m a k a n a n . " K c t e r a g a n Hadits: Yang dimaksud dengan kala di sini adalah jenis hadits atau k a t s r a h pembicaraan.108. maka kata tersebut disifati dengan (banyak). k e p a d a s e n g a j a k a l i a n . " S e a n d a i n y a k e p a d a m u s a y a t i d a k a p a t a k u t s a l a h . . Dalam hal ini Anas merasa khawatir sebagaimana yang dirasakan oleh Zubair. m e l a k u k a n i a k e b o h o n g a n t e m p a t m u m e n g a t a s n a m a k a n h e n d a k n y a m e n e m p a t i n e r a k a . Meskipun demikian Anas tetap sebagai peraw i yang banyak meriwayatkan hadits. s e s u n g g u h n y a d e n g a n d i S a b i b e r s a b d a . tidak dengan m a k n a m a Hat itu dapat diperhatikan dari ungkapannya. " S e s u n g g u h n y a k a r e n a s a y a d i l a r a n g b a n y a k m e r i w a y a t k a n " B a r a n g a k u . karena di wafat paling akhir sehingga ia sangat dibutuhkan dan tidak mungkin untuk menyembunyikan hadits Rasulullah. bahwa ia mendengar Amis berkata. m a k a o l e h s a y a a k a n m e n g a t a k a n (HR. Dalam bal ini tidak memperbanyak meriwayatkan alau membicarakan (hadits) merupakan sikap hati-hati.v h a d i t s s i a p a m a k a b e r k a t a . maka dia menjelaskan dengan lafa/. maka tumlahma akan lebih banyak lagi Dalam riwayat Itab dikatakan. seperti dalam hadits tentang dan b a s m a l a h . "Seandainya saya tidak takut salah" meskipun masih harus diteliti kembali kebenaran pendapat mi sebagaimana yang diketahui dari Anas. Jika ia mau meriwayatkan semua hadits yang ada padanya. s e m u a v a n g d i k a t a k a n R a s u l u l l a h .i".4/iii. (memperbanyak) karena lal'a/h inilah yang cocok Barangsiapa yang mencari sesuatu di tempat yang dijaga. maka dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.h /.

- s I J * 'j*) • ..^ : ^jr-^ . namun pendapat uu disanggah oleh pendapat yang membolehkannya. Disampmg itu ucapan juga termasuk dalam kategori perbuatan. dimana perbuatan termasuk dalam keumuman hadits Zubair dan Anas sebelumnya. "yjj *—--J S - ] ! l 5 ~y—") . ( . . I ^ s i 1 > * 3 <?i 'f" f ' " ' * " o " 9 " o f F A T H U L BAARI — 389 . Sehingga keduaina diungkapkan dengan kala (dusta) kepadanya. seperti hadits Abu Hurairah yang disebutkan setelah hadits Salamah Keduanya tidak mempunyai perbedaan. Jika hal ini terjadi. meskipun kita mengetahui bahwa meriwayatkan hadits dengan lafazh adalah lebih utama daripada menwayatkannya dengan makna. sehingga mencakup semua jenis dusta." b e r s a b d a . aku dengan mengatakan hendaknya ia menempati Keterangan Hadits: Dalam hadits ini disebutkan "perkataan atau ucapan". baik ia mengatakan "Rasulullah telah bersabda. Mereka mengatakan. maka tempatnya di neraka. bahwa maksud larangan tersebut adalah larangan meriwayatkan hadits dengan lafazh yang dapat merubah hukum. J V S . karena keduanya sama dalam alasan dilarangnva perbuatan tersebut. atau Rasulullah lelah melakukan.Kata ' .. Lafazh hadits ini secara zhahir mengandung larangan untuk meriwayatkan hadits dengan maknanya. i u b e r k a l a b a h w a i a m e n d e n g a r R a s u l u l l a h "Barangsiapa mengatasnamakan sesuatu yang tidak aku katakan.'lw I . i - > v-*. karena itulah yang banyak terjadi. padahal beliau tidak mengatakan atau melakukannya. -s ' ' i ' aJuuL* fcJL_J J s '' U' 'u" 109. maka termasuk dusta. D a n S a l a m a h .V dalam hadits ini ditulis dalam bentuk nakirah (indefinit).

dan sesuatu yang menyebabkan kekufuran adalah kuiur. D a r i A b u H u r a i r a h n a m a k u . " N a m a i l a h y a n g d i r i m u d e n g a n d a n j a n g a n m e m a k a i m a k a s e p e r t i d i a g e l a r k u . seperti Imam Al Juwaini yang dilemahkan oleh anaknya. 4 . B a r a n g s i a p a n a m a k u . s e n g a j a d i s y e t a n a t a s a k u . dan kita mengetahui bahwa kemaksiatan akan mendapat ancaman neraka. i a b e n a r B a r a n g s i a p a t e l a h b e r m i m p i k a r e n a b e r d u s t a n e r a k a " m e l i h a t k u t i d a k d a l a m m a m p u t i d u r n y a . R . dusta terhadap (atas nama) Rasulullah yang dilakukan dengan sengaja. dusta terhadap Rasulullah adalah termasuk perbuatan dosa besar. demikian juga dengan lamanya berada dalam neraka sebagaimana y ang diisyaratkan dalam kata '' lis. maka apa perbedaan ancaman dusta terhadap Rasulullah dengan dusta terhadap selainnya'. dan menghalalkan yang haram adalah kufur. } karena dia tidak mempunyai tempat selain neraka. Alasan penulis menyebutkan hadits ini secara lengkap adalah untuk mengingatkan bahwa berdusta atas nama Nabi baik dalam keadaan sadar atau tidur adalah sama hukumnya. Bahkan secara zhahir pelakunya tidak akan keluar dari neraka. bahwa pelakunya tidak dihukumi katir kecuali ia meyakini kehalalan sesuatu vang haram tadi. pelakunya dihukumi kafir menurut sebagian ulama. sedangkan dusta terhadap selamnya termasuk dosa kecil. m a k a b i a r l a h m e n e m p a t i t e m p a t n y a K e t e r a n g a n Hadits: Pengarang juga menulis hadits ini dengan lengkap dalam masalah "adab". maka hal yang haram itu tidak akan berubah menjadi halal.' Jawabannya ada dua: Pertama. Kedua. bahwa orang yang berdusta atas nama Rasulullah untuk menghalalkan yang haram misalnya. Untuk itu ancaman keduanya tidaklah sama. Adapun Imam Muslim hanya menyebutkan bagian akhir hadits ini yang merupakan tujuan bab y ang sedang kita bahas. bahwa yang kekal dalam neraka adalah khusus orang-orang kafir. Adapun iumhur ulama mengatakan. m e n j e l m a m e l i h a t k u . yaitu Imam Al llaramaiu. Sedangkan Ibnu Munir berpendapat. Jika ada yang bertanya. maka Nabi membedakan antara dusta kepadanya dengan dusta kepada selamnya sebagaimana yang 3 9 0 — F A T H U L BAARI . Hanya saja dalil yang qath'i mengatakan.110. kecuali dusta >aug bertujuan untuk memperbaiki dan laiuu>a. bahwa dusta adalah suatu kemaksiatan. k a t a n y a N a b i S A W b e r s a b d a .

akan dijelaskan dalam masalah "Janaiz" dari hadits Al Mughirah, dimana Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya dusta kepadaku (atas namaku) tidaklah sama dengan dusta kepada selainku " Dalam hal ini kami menjelaskan perbedaan taubat orang yang sengaja melakukan dusta terhadap beliau, apakah diterima atau tidak? Catatan: Penulis telah menyusun hadits dalam bab ini dengan baik, dimana penulis telah menyebutkan terlebih dahulu hadits Ali RA yang menjadi tujuan utama bab ini. Kemudian kedua, ia mencantumkan hadits Zubair yang menunjukkan sikap para sahabat yang menjauhi segala macam bentuk dusta kepada Rasulullah. Sedangkan ketiga, hadits Anas yang menjelaskan keengganan para sahabat untuk banyak meriwayatkan hadits yang menyebabkan kesalahan. Hal itu bukan berarti mereka enggan untuk meriwayatkan hadits. karena mereka telah diperintahkan untuk menyampaikan apa yang mereka dapatkan dari Rasulullah. Kemudian penulis mengakhiri bab ini dengan memaparkan hadits Abu Hurairah yang mengisyaratkan, bahwa dusta kepada Rasulullah dengan dakwaan telah mendengar dan beliau baik dalam keadaan sadar atau tidur adalah sama hukumnya, yaitu haram. Imam Bukhari juga telah meriwayatkan hadits, "Barangsiapa dus t u atas namaku" dan hadus Al Mughirah dalam bab "Janaiz". dan hadits Abdullah bin Amru bin Ash dalam kisah bani Israil, dan dari hadits Watsilah bin Al Asu,a' dalam manaqib Ouraisy, namun dia tidak menyebutkan dengan jelas ancaman masuk neraka bagi para pelakunya.

39. PENULISAN ILMU

c U i J U ijLpwill

y

L- _jl

J^rj

y

^!

FATHUL BAARI —

391

111.

D a r i

A b i

J u h a i f a h A U

b e r k a t a .

" A k u

b e r k a t a k e c u a l i d a l a m a d a

k e p a d a k i t a b

A l i ,

a p a k a h

a n d a

m e m i l i k i s e o r a n g " A k u A l i

k i t a b ' " m u s l i m

b e r k a t a , c a t a t a n c a t a t a n t e b u s a n a k a n

" T i d a k , y a n g a p a k a h a d a

A l l a h , i n i .

p e m a h a m a n " l a b e r k a t a , i t u ? "

d a n

k e r t a s d a l a m d a n

b e r k a t a

l a g i , " D i y a t ,

\ a n g

k e r t a s - k e r t a s o r a n g m u s l i m

b e r k a t a ,

t a w a n a n "

p e r a n g

y a n g

m e m b u n u h

k a f i r

t i d a k

d i q i s a s h .

K e t e r a n g a n Hadits: j — * (Apakah anda sekalian memiliki). Pertanyaan ini ditujukan kepada Ali RA. Penggunaan kata ganti plural dalam kalimat tersebut dimungkinkan, karena hal itu merupakan cara Abi Juhaifah dalam berinteraksi dengan ahlul bait atau sebagai rasa penghormatan. — ' i — ( K i t a b ) . Kitab yang kamu tulis dari Rasul. Hal ini telah diisyaratkan oleh riwayat imam Bukhari dalam bab '"Jihad",
_-'iir 'J. "i';
J ^ y
\ .

li"ldt j i

(Apakah anda memiliki catatan wahyu selain yang
" D i y u t " ^ > - ~

tertulis dalam Al Q u r a n ) atau dalam bab

J—

. ' y -

'~5~-y

j>

ji\—U' (Apakah anda memiliki catatan selain yang terdapat dalam Al Qur'an). Bcgitupula dengan hadits dan jalur Ishaq bin Kahawaih, dan Jarir, dari Mutharrif, —^
r y

—. ^

J (Apakah anda mengetahui

sesuatu dari wah\u). Abu Juhaifah menamakan hal ini dikarenakan kelompok islam Syiah menganggap bahu a ahlul bait -terutama Ali R A- memiliki pengetahuan tentang wahvu vang dikhususkan oleh Nabi dan tidak diketahui orang lain Ali mga ditanva tentang hal ini oleh (jjais bin Ubadah dan Al Asytar An-Nakha 'i Kedua pertanyaan mereka diriwayatkan dalam <—S.y (Kecuali Al Qura .ni. Ibnu Munir mengatakan.
M u s n a d I m a m S a s a ' i .

"Hadits ini menunjukkan bahwa Ali memiliki catatan mengenai fikih yang diintisarikan dan Al Qur an. pemahaman seperti mi adalah maksud dan kata j — W - U-* / i pemahaman yang diberikan kepada seorang). Tujuan disebutkannya kata U- - (pemahaman) adalah, untuk menetapkan
1

kemungkinan adanya tambahan >ang diintisarikan dan Al Qur'an Riwayat Imam Bukhar; pada bab
A d - D i y a r

berbunyi.

\- -U* '-

IC j , J-^ y ^ . . ^Ui \, - " y - j_ (Kami tidak memiliki selain yang ada

3 9 2 — F A T H U L BAARI

dalam Al Qur'an, kecuali pemahaman yang diberikan kepada seseorang tentang Al Cmr'an) Artinya, apabila Allah memberikan pemahaman kepada seseorang akan Al Q u r a n , maka tentunya orang tersebut akan mampu mengambil intisari Al Qur'an, dengan begitu orang tersebut mendapatkan tambahan dari Al Qur'an. Dalam riwayat Ahmad dengan sanad hasan (baik), disampaikan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, "Aku menvaksiksikan Ali berpidato di atas mimbar, beliau berkata. "Demi Allah aku tidak memiliki lagi yang dapat kami bacakan di depan kalian semua, selain kitab Allah dan kertas-kertas ini." Hadits inilah yang mendukung pernyataan kami di atas. ' v - ^ i (Kertas) kertas catatan, diriwayatkan dari An-Nasa'i beliau melalui sanad Thariq Al Asytar disebutkan, "Kemudian mengeluarkan sebuah kitab dari kantong dekat pedangnya (Diyat atau denda)

Disebutkan dengan istilah ini karena

mereka membayar denda tersebut dengan onta yang diikat dengan tali di halaman rumah orang yang terbunuh. Maksud dan kata ini mencakup hukum, kadar dan sifat denda tersebut.
4L—>J.

(Pembebasan). Maksudnya adalah pembebasan tawanan

perang dari tangan musuh. j-ij "i. (Tidak diqishash). Yaitu seorang muslim yang membunuh seorang kafir, tidak dikenai hukum qishash. Pembahasan mengenai masalah mi akan dijabarkan pada bab "Cjishash" dan "Diyat" Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari jalur sanad Yazid AlTainu dari Ali, ia berkata, "Kami tidak membaca selain Al Qur'an dan kertas-kertas ini dimana di dalamnya tercatat bahwa kota Madinah adalah haram.. Hadits riwayat Muslim dan Abu Thufail dari Ali, "Rasulullah tidak mengkhususkan kepada kami sesuatu yang tidak diketahui masyarakat pada umumnya, kecuali yang tercatat dalam kertas dekat pedangku ini. Kemudian beliau mengeluarkan kertas tersebut, tercatat di dalamnya (Allah melaknat orang-orang yang membunuh bukan karena Allah) '" Menurut Imam Nasa'i bahwa catatan dalam kertas tersebut berbunyi, "Dari Asytar dan lainnya, dari Ali RA, ia berkata, "Orangorang mukmin dilarang saling membunuh. " Menurut Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Jalur Thariq bin Syihab, "Dalam kertas tersebut tercatat permasalahan faraidh atau warisan dan shadagah."

FATHUL BAARI —

393

Dalam menggabungkan semua hadits tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa semua permasalahan telah tercatat dalam lembaran yang ada pada Ali. Kemudian setiap permasalahan itu diriwayatkan oleh para periwayat hadits sesuai dengan hafalan dari kertas tersebut. Hal ini sudah dijelaskan oleh Qatadah dalam hadits yang diriwayatkan Abi Hissan dari Ali. Beliau juga menjelaskan sebab-sebab pertanyaan para sahabat mengenai permasalahan ini kepada Ali. Imam Ahmad dan Imam Baihaqi dalam kitab Dalai! dari Abi Hissan, "Alipernah memerintahkan sebuah perintah, kemudian dijawab, "Kami sudah mengerjakannya. " Ali berkata, "Maha benar Allah dan Rasul-Nya, " Asytar berkata kepada Ali, Apakah yang anda ucapkan ini merupakan suatu hal yang disampaikan oleh Rasul kepadamu secara khusus, tanpa sepengetahuan orang lain pada umumnya? "Kemudian disebutkan olehnya satu persatu secara terperinci. "

J—e»
't _-)a>J IZL>-\J j &\ XJ-

>^ ^ *j* y^j ^
*•

^ ° ' J > ^ 'j*
dJjJj j>-'u
°JS~ '^~>&\ oySi ^f~»

-sii- <0ll
U i \ } j£>\

'^j^
'£J

j
^ j
l5

1 J\j

\jk

y\ J l i

Oi J U s

\c J a i l * j

J

O^j-J Jliil y
V'

(ii-iJl ^Js- &^li>^ j < ^ ^
^-AJU

—L> j ^ V J ^ J °J ^ j vi

J-^°Pb j U - j
OJJ-

^

Al J _ ^ j

^ si c

i^'u vi

j^v V ffy- oJu»

VI
J—^ J*'

1» Jaili' V_j l i ^ k i l^JJ V; LJ5"P
«J' £|j J ^ ' ^1 Ji'j& ^ P

j ^ Ir^

^

^

Al J P j

L'

J> U''

o^

1

'jf

> J

W
^

ij
j—1' jii > l y

^ i; > , v i vi , > ; > ^
^ j i j ^ i " J ^ » y»

ju,
jiii

3 9 4 — FATHUL BAARI

, Oai«Jl oJj> AJ

' J'

t

°

> '

112. Dari Abu Hurairah RA. kalanya, "Suku Khuza'ah membunuh seorang laki-iaki dari bani Lails di tahun penaklukan kota Makkah, sebagai pembalasan dibunuhny a seorang suku Khuza 'ah oleh bani Lails. Ketika kejadian itu diberitakan kepada Sabi, beliau lalu menaiki omanya dan berpidato. 'Sesungguhnya Allah melindungi negeri Makkah ini dari pembunuhan atau dari gajah -Abu Abdillah ragu- dan memberi kekuatan kepada Rasulullah dan orang-orang mukmin untuk menaklukannya. Ketahuilah tidak dihalalkan kepada seorang pun sebelum dan sesudahku berperang di negeri ini, kecuali hanya kepadaku sesaat di siang hari penaklukan. Tidak boleh dicabut rumputnya dan tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh pula diambil barangnya yang tercecer kecuali untuk memberitahukannya. Barangsiapa terbunuh, maka familinya boleh memilih antara dua; minta diyat (denda) atau menuntut balas (pembunuhan). " Lalu datang seorang penduduk Yaman dan berkata. 'Tuliskanlah untuk saya (khutbah anda/, ya Rasulullah! " Kemudian Nubi bersabdu, "Tuliskan untuk si fulan itu. " Kemudian berkata pula seorang laki-laki dari suku Quraisy, "Tidak boleh dicabut selain idzkhir ya Rasulullah, karena idzkhtr ini kami pakai di rumah dan kuburan kami. " Jawab Nabi, "Ya, selain idzkhir."

Keterangan Hadits: Khuza'ah adalah nama kabilah terkenal di kota Makkah. Adapun yang dibunuh dalam peristiwa ini hanya seorang dari suku Khuza'ah. Disebutkannya nama kabilah di sini adalah sebagai majaz. Nama pembunuhnya adalah Kharrasy bin Umayyah Al Khuza'i dan nama korban yang terbunuh adalah Ahmar, sedang dalam Islam korban yang terbunuh dari bani Laits tidak disebutkan namanya.
u

y (Dilarang) di kota Makkah pembunuhan dan gajah -tentara

gajah- sebagaimana cerita tentara Habasyah yang datang untuk menghancurkan kota Makkah dengan menunggang gajah, kemudian pasukan tersebut dihancurkan oleh Allah dengan perantara burung Ababil, walaupun pada saat itu penduduk kota Makkah masih dalam keadaan kufur. Oleh sebab itu, tentunya setelah penduduk kota Makkah

FATHUL BAARI —

395

masuk Islam, maka larangan tersebut bertambah keras. Bahkan hadits d. atas dengan jelas menyebutkan, bahwa Nabi secara khusus memerang. tentara gajah tersebut. Pembahasan mengenai masalah ini, insya Allah akan dilanjutkan secara terperinci pada bab "Haji". y~^: S (Tidak dihalalkan). Al Kasymihani menyebutkan j ? J 'J. (mustahil dihalalkan sampai kapan pun). Imam Bukhari pada bab "Luqathah "(baTang temuan) dari Al Auza 'i dari Yahya menggunakan redaksi
v

Redaksi ini dianggap lebih sesuai untuk masa mendatang. j — ' ^ . .< (Tidak mencabut) atau tidak memetik. Redaksi hadits ini menyebutkan kata rumput, berarti mencakup semua jenis rerumputan. Hal ini akan dibicarakan pada bab "Haji". J — • -J~ (Keeuali untuk diumumkan) atau diberitahukan, dan
:

penjelasan ini akan dibahas pada bab "Luqathah'* ^Jjiaji y** 'jL> LJ \JJ (Barangsiapa terbunuh, maka familinya boleh memilih antara dua). Ada redaksi vang terhapus di sini, sebagaimana dijelaskan pada riwayat Imam Bukhari dalam bab "Diyal" dari Abu Nu'aim, denda). jti.' j , y . (Membalas bunuh) Oishash.
1

y? i yi\~*

(Barangsiapa yang terbunuh, maka dia berhak atas

y*' 'y y-;

(I.alu datang seorang penduduk Yaman), yaitu

Abu Syah Baha* Vlanunah. Sebenarnya ada redaksi tambahan dalam hadits ini dari Walid bin Muslim,
" A k u b e r k a l a k e p a d a A u z a 'i, u n t u k k u k h u l b a h v a n g d i d e n g a r d a r i N a b i .

T u l i s l a h

y — — •

y

;

(Seorang laki-laki dari suku Quraisy berkata).

Pada bab "Luqathah," orang tersebut bernama Abbas bin Abdul Muthalib. y'^i" adalah jenis tumbuhan yang digunakan untuk menutup liang lahat.

° j — . j *

y

j i i \y-\

y-

y

:

^ j-*"

1

J V * Jy-Z

UJ^-

.Lk\

Vy

jir % ^

J.

di

^ j oir c *v »

3 9 6 — FATHUL BAARI

113. Abu Hurairah berkata, "Tidak seorang pun diantara sahabat Nabi yang lebih banyak dari saya dalam mengumpulkan hadits, kecuali Abdullah Bin Amru bin Ash. Beliau menulis hadits-hadits yang tidak aku tulis. "

Keterangan Hadits: 'i j jii" l u (Beliau menulis hadits-hadits yang tidak aku
r

tulis). Hal ini merupakan alasan Abu Hurairah yang menunjukkan bahwa Abdullah bin Amru bin Ash lebih banyak memiliki hadits ketimbang dirinya. Dengan demikian Abu Hurairah bukan sahabat yang paling banyak memiliki hadits, padahal hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah jauh lebih banyak daripada hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru sendiri. Apabila dikatakan bahwa kalimat pengecualian dalam hadits ini adalah munqathi' (terputus) maka pengertiannya, "Tetapi tulisan yang ada pada Abdullah bin Amru bukan dari aku, baik keadaan ini membuat Abdullah bin Amru lebih banyak memiliki hadits ataupun tidak." Apabila dikatakan bahwa kalimat pengecualian dan hadits di atas adalah muttashil (bersambung) dengan kalimat sebelumnya, maka akan ada sejumlah sebab yang menerangkan hal ini: Pertama, Abdullah bin Amru terlalu menyibukkan diri dalam beribadah daripada belajar, maka dari itu sangat sedikit hadits yang diriwayatkan dari beliau. Kedua, setelah perluasan Islam ke Mesir dan Thaif, beliau lebih banyak menghabiskan waktu di kedua tempat itu. sedang para pelajar tidak banyak yang datang mengunjungi kedua kota tersebut untuk belajar, sebagaimana mereka mengunjungi kota Madinah tempat Abu Hurairah memberikan fatwa dan menyebarkan hadits. Dari sinilah nampak banyaknya orang yang menerima hadits dari beliau, Imam Bukhari menyebutkan ada 800 orang dari golongan tabiin yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Ketiga, Nabi secara khusus meminta kepada Abu Hurairah agar tidak melupakan hadits yang disampaikan kepadanya. Keempat, Abdullah pernah menjadi orang yang selalu menuntun onta yang membawa buku-buku milik ahli kitab di negeri Syam. Beliau sempat membaca buku tersebut dan membicarakannya, oleh sebab itu banyak para imam tabiin menghindari untuk mengambil hadits dari beliau.

FATHUL BAARI —

397

Catatan: Perkataan Imam Bukhari 1
m e m b i c a r a k a n m e m e g a n g m e l i h a t t u l i s a n h a d i t s d e n g a n d a n A b u

=f

;

bertentangan dengan hadits
k e m u d i a n k e r u m a h A b u f I u r a i r a h

yang disampaikan dari Thariq bin Amru bin L'mayyah. Ia berkata, " A k u
H u r a i r a h , m a s u k S a b i , t a n g a n k u k i t a b a d a m e n g a j a k h a d i t s b e l i a u . K a m i " I n i l a h

s e b u a h h a d i t s y a n g

b e r i s i k a n p a d a k u ".

B e l i a u

b e r k a t a ,

Menurut pendapat Ibnu Abdul Bait, hadits Hammam di atas lebih Kedua hadits tersebut dapat diselaraskan bahwa Abu Hurairah tidak pernah menuliskan hadits di masa Nabi, namun beliau menulisnya setelah masa kenabian. Menurut saya, bahwa adanya buku hadits pada Abu Hurairah tidak mesti bahwa buku tersebut adalah hasil tulisannya, sedang dalam hadits tersebut disebutkan bahwa beliau tidak menulis hadits. Dengan demikian, sangat dimungkinkan bahwa buku tersebut bukan ditulis oleh Abu Hurairah sendiri.
s h a h i h .

J ±£\ Jl»

< ^L> • AJS- iX

]

J_u5 _Jl' Alj,l u j Jli

JCS- V

1

"fP

114.

I b n u

A b b a s

b e r k a t a ,

" K e t i k a

p e n y a k i t

S a b i

s e m a k i n

p a r a h ,

b e l i a u

b e r s a b d a .

untukmu
K h a t h t h a b K i t a b u l l u h , b e r s e l i s i h

'Bawalah kertas kemari supaya aku dapat sesuatu agar kamu tidak sesat sesudahnya.'"
b e r k a t a . c u k u p l a h p e n d a p a t " P e n y a k i t i t u . h i n g g a " S a h i P a r a s e m a k i n s a h a b a t p a r a h , y a n g k i t a d i S a b i h a d i r g a d u h .

menuliskan
U m a r B i n p u n y a s a l i n g s u d a h s i t u

m e n i m b u l k a n

s u a r a

b e r s a b d a .

"Saya harap anda semua pergi.' Tidak pantas anda sekalian di dekatku."
I b n u A b b a s k e l u a r d a r i d a n b e r k a t a , " ' A l a n g k a h t e r h a l a n g m e n c a t a t s e s u a t u R a s u l u l l a h .

bertengkar
m a l a n g n y a ,

3 9 8 — FATHUL BAARI

ia hanya ingin mengulur-ulur waktu saja. yaitu penyakit yang mengiringi Nabi berpulang ke pangkuan Ilahi.J S J CLJ . Oleh sebab itu mereka tidak mau menyulitkan beliau dalam keadaan seperti itu." Imam Bukhari dalam hadits riwayat Said bin Jubair menyatakan. apalagi mereka sudah hafal firman Allah yang menyebutkan lainnya r '^—\—> ^'iS^J 1 y L t y C dan firman — . empat hari sebelum Nabi meninggal. Dari sinilah kenapa umar mengatakan. dengan redaksi hadits "Nabi SAW memerintahkan kepadaku mengambil papan untuk menulis sebagai petunjuk agar umatnya tidak tersesat setelah beliau wafat. i-jji ilu (Penyakit yang semakin parah). Namun bagi Umar dan sahabat lainnya. Bila saja perintah itu wajib. karena setelah kejadian itu Nabi masih sempat bertahan hidup untuk beberapa hari. Selain itu Nabi tidak akan meninggalkan tugasnya sebagai penyampai risalah FATHUL BAARI — 399 . Dalam Musnud Ahmad diriwayatkan bahwa yang diperintahkan adalah menulis. Imam Bukhari dalam kitab Al Maghazi dan Ismaili menyatakan. mengandung perintah untuk menulis. karena para sahabat mudah mengingat segala sesuatu terutama yang datang dari Nabi. perintah tersebut hanya semacam nasihat atau petunjuk kepada yang lebih baik. bahwa yang paling utama adalah dengan menuliskan. bahwa kata "Ambillah" adalah bentuk perintah. dan orang yang diperintah sepantasnya bersegera untuk melaksanakan perintah tersebut. bahwa pada waktu itu adalah hari kamis. "Sesaat sebelum Nabi meninggal. Nabi sudah tidak kuasa lagi untuk menulis. "Cukuplah dengan Kitab Allah." Sedangkan kelompok lain berpendapat. maka Nabi tentunya tidak akan membiarkan terjadinya perbedaan pendapat antara para sahabat. Al Qurthubi dan lainnya berpendapat. sebagai pelaksanaan perintah dari Nabi sekaligus berdampak pada semakin jelasnya suatu perintah. dan nampaknya Umar memahami situasi itu. namun Beliau tidak mengulang perintah tersebut kepada para sahabat.Keterangan Hadits: 'A—*jJ' (Penyakit). Perintah untuk menuliskan dalam hadits tersebut bersifat ikhtiyar (kebebasan untuk memilih). hal itu bukanlah perintah yang wajib.

Semua yang dilakukan oleh kedua kelompok tersebut adalah hasil ijtihad dan maksud keduanya adalah baik. maka hilanglah keutamaan para ulama dan ijtihad pun tidak akan diperlukan lagi. bahwa perdebatan diantara mereka pada saat itu sama halnya dengan perdebatan yang terjadi diantara sahabat terhadap sabda beliau. namun hal ini belum diketahui oleh Nabi. menyebabkan mereka meninggalkan perintah untuk menulis. jika masalah yang masih diperselisihkan itu ditulis. Catatan: Al Khaththabi mengatakan. Ditambahkan dalam hadits riwayat Al Ma'mar. " J a n g a n l a h k a l i a n s h a l a t a s h a r Jj_°J ^uV y r'^J (Maka keluarlah Ibnu Abbas dan berkata). Pendapat lain yang mendukung statemen ini akan dicantumkan pada akhir pembahasan A ! Maghazi. Para sahabat tidak akan melaksanakan sebuah perintah bila perintah tersebut belum pasti. Bila memperhatikan redaksi hadits. mereka langsung melaksanakan shalat dalam perjalanannya. H/J' (Bencana) atau musibah. Ibnu Al Jauzi mengomentari pendapat tersebut dengan mengatakan. kemudian beliau keluar dari tempat kejadian sambil mengucapkan kata-kata sebagaimana dalam hadits di atas. Namun pada waktu itu Umar khawatir jika orang-orang munafik akan mengambil kesempatan untuk menghujat apa yang ditulis pada waktu beliau sakit. maka tidak bisa dikatakan bahwa ijtihad tidak diperlukan lagi. bahwa apabila segala hal sudah tertulis. karena peristiwa dan kejadian di muka bumi sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya. sedang yang lain tetap bersiteguh memegang /hahir hadits.(tabligh)." Atau dengan adanya perbedaan diantara mereka. Sebenarnya kejadian yang terjadi tidak demikan. 4 0 0 — FATHUL BAARI . karena para sahabat tentunya akan langsung mengembalikan permasalahan yang masih dalam perdebatan diantara mereka kepada Nabi. ^tjjLf." Bagi yang merasa khawatir untuk kehabisan waktu sebelum tiba di bani Quraidhah. V. "Umar berpendapat. Imam Qurthubi berpendapat. akan tetapi sebenarnya perkataan Ibnu Abbas tersebut diucapkan pada saat beliau meriwayatkan hadits ini. ^1. "Bencana karena perdebatan dan kegaduhan yang terjadi diantara mereka. bahwa yang terbaik pada saat itu adalah bersegera melaksanakan perintah Nabi. (Tidak pantas kalian berdebat dihadapanku). sebelum tiba di bani (Juratdhah. seakan-akan menunjukkan bahwa pada saat itu ibnu Abbas hadir di tempat kejadian. Kalaupun yang menjadi pilihan Umar adalah benar. Ini menandakan.

hadits Ibnu Abbas menunjukkan bahwa Nabi berkeinginan keras untuk menuliskan hadits untuk umatnya agar mereka tidak berselisih dan sesat 40. Dan sinilah terjadinya ijtihad para sahabat. maka hadib ini menjadi hadits Nasikh (yang menghapus atau membatalkan hadits yang melarang).Dengan begitu. Kedua. Ketiga. adalah penyebab tidak terlaksananya sebuah perbuatan baik. Hal ini sama halnya dengan kisah para sahabat yang berselisih untuk menentukan lailatul Qadar. Sedangkan perdebatan diantara sahabat. Dimungkinkan Ali mulai menuliskan hadits setelah meninggalnya Nabi sebelum adanya larangan. Pembahasan selanjutnya akan dikembangkan dalam kitab Al Maghazi.^JI \\\j> «Oil <—> jL>J^ FATHUL BAARI — 401 . hadits Abdullah bin Amru. hadits Ali menyatakan bahwa beliau menuliskan hadits dari Nabi. mengingat hadits ini memberikan perintah untuk menuliskan hadits untuk Abi Syah. insya Allah Catatan Pertama. hadits Abu Hurairah menyatakan perintah untuk menulis hadits setelah adanya larangan. l c J l i « I C fl J i Sjjjl J. hadits ini merupakan dalil perintah untuk menulis hadits. pada saat timbul permasalahan tentang tidak diturunkannya wahyu kepada Nabi. ILMU DAN NASIHAT DI M A L A M HARI Jl Sj 2 £} o ' j *llp &\ J~o '•nSi i '-Li 'l i ^ ^ . menyatakan pada sebagian sanadnya. Perintah seperti ini sangat dimungkinkan. maka hadits ini sebagai dalil yang paling kuat dibolehkannya menulis hadits. bahwa Nabi memberi izin untuk menulis hadits. walaupun Nabi masih ada. terutama bagi orang yang buta huruf atau buta. Keempat.

115.i (Diturunkan). Dalam lafazh Al Kasymihani. Ad-Dawudi mengatakan. atau juga hal ini termasuk "Mulailah dari diri anda sendiri kemudian baru keluarga anda. *Jii dengan menyebutkan subjeknya. ia berkata. seakan-akan dia memahami —adalah Khazain negeri Persia dan Romawi serta 1 bahwa maksud wilayah-wilayah lainnya. rumah-rumah para istri Nabi SAW. bahwa para malaikat telah turun untuk memberitahukan tentang perkara-perkara yang telah ditetapkan." 4 0 2 — FATHUL BAARI . atau Nabi bermimpi telah diturunkan wahyu kepadanya mengenai beneana dan fitnah yang akan terjadi setelah meninggalnya. "Maha suci Allah. bahwa 'j "f. Dari Ummu Salamah. Maksudnya. Shaad (38): 9) Begitu juga dengan kata adzab yang diungkapkan dengan jitan (kesesatan ataupun fitnah). Maksudnya. j — ^ u . kemudian berkata. karena fitnah adalah penyebab diturunkannya adzab.dan mengandung arti yang sama. 4 — U i j ' i i J — K a t a istifham rasa takjub dan (pertanyaan) dalam kalimat ini j)'y mengambarkan Rahman < pengagungan. "Nabi SAW terbagun dari tidurnya pada suatu malam. J. adalah karena pada saat itu mereka hadir. apakah yang diturunkan pada malam ini dari fitnah (bencana)." Keterangan Hadits: Maksud Imam Bukhari tentang bab mengajarkan ilmu di malam hari adalah. menjelaskan bahwa larangan bercengkrama setelah isya' adalah khusus dalam masalah yang tidak ada unsur kebaikannya. bangunlah wahai orang-orang yang berada dalam kamar (istri Nabi). karena sesuatu kadang bisa di aneksasikan terhadap dirinya untuk menekankan konteksnya. Karena apa yang dibuka (^») dari rahmat adalah menjadi sebab timbulnya fitnah. Sedangkan kata Ar- diungkapkan dengan kata Al Khazain seperti firman Allah. j — ' ) ' ^ 'j* c? ( P y g akan dibukakan dari perbendaharaan a a a n x rahmat). berapa banyak orang yang berpakaian di dunia dan telanjang di akhirat.i y ^ . Namun perbedaan antara rahmat atau G ^ ) dan fitnah adalah jelas.—. — . karena banyak orang yang mendapatkan rahmat terlepas dari bencana dan fitnah. "Perbendaharaan rahmat e J — j y—^-j Tuhanmu " (Qs. Dikhususkannya mereka untuk dibangunkan. apakah yang akan dibukakan dari perbendaharaan rahmat.

adalah Ummul Mukminin -istri Nabi-dan Nabi pada malam itu berada di rumahnya. Hadits ini mengandung anjuran untuk menyegerakan shalat khawatir akan dilanda keburukan. Jika benar. terdapat dua riwayat. ' " FATHUL BAARI — 403 . dan memberi pengarahan untuk menghadapi sesuatu yang diwaspadai. Sedangkan Ilindun. karena sifat ini adalah untuk kaum hawa dan kebanyakan mereka adalah ahli neraka. 'Cjs(Telanjang). maka Hadits itu adalah riwayat tabun dan tabiin atau sahabat dari sahabat. ketika " J a d i k a n l a h s a b a r d a n s h a l a i s e b a g a i p e n o l o n g m u . Amru dan Yahya dari A/. atau mimpi melihat sesuatu yang tidak disukai. " S a b h a n a i l a h " P e r t a m a .-Zuhn yang di dalamnya terdapat riwayat ketiga orang tabun. seperti firman Allah. Disamping itu seorang guru harus memberi peringatan kepada muridnya dari segala sesuatu yang ingin dicapai. Hadits ini mengandung isyarat diperbolehkannya mengucapkan ketika terkejut. (Qs. atau diwajibkan bagi mereka untuk tidak lalai menunaikan ibadah agar tidak mengandalkan status mereka sebagai istri Nabi. (Berapa banyak orang yang berpakaian). bahwa kata-kata — _ • umumnya menunjukkan makna yang banyak. Disamping itu. Dalam Hadits ini juga mengandung anjuran untuk bertasbih ketika melihat sesuatu yang menakutkan. K e d u a . Sedangkan Ummu Salamah. ada yang mengatakan adalah seorang sahabat. Dalam satu sanad sang serupa. Ibnu Uyainah dari Ma'mar.C— iT ^'j. dan anjuran untuk menyebut nama Allah setelah bangun tidur. apalagi yang dibicarakan adalah ay at-ayat Al Qur'an. Rasulullah mengisyaratkan akan kewajiban untuk membangunkan istri-istri beliau. diperbolehkan bagi seseorang membangunkan keluarganya di malam hari untuk beribadah. Imam Malik r mengambil kesimpulan. Al liaqarah (2): 4 5 ) Rasulullah memerintahkan untuk mengerjakan shalat jika ditimpa kesusahan.

o /Vi Ji~!e j — L * 'y. beliau berdiri dan bersabda." Keterangan Hadits: Shalat yang dilaksanakan oleh Nabi pada waktu itu adalah shalat isya". dan umur mereka tidak seperti umur umat-umat terdahulu. "Nabi SAW shalat isya bersama kami pada akhir hidupnya. sebagaimana firman Allah. terangkanlah kepadaku jika datang kepadamu siksaan Allah. sesungguhnya di penghujung seratus tahun tidak ada seorang (diantara kalian) yang hidup di atas bumi.jL\ M (Tidak ada seorang (diantara kalian) yang hidup di atas bumi) atau sekarang mereka yang hidup pada waktu itu sudah tidak ada lagi. "Katakanlah. maka beliau memberi nasihat akan pendeknya umur mereka. M E M B I C A R A K A N ILMU S E B E L U M TIDUR ioji ^ jji ^ u. bahwa maksud Rasulullah adalah menjelaskan bahwa generasi yang hidup pada masa itu akan meninggal dunia dalam waktu seratus tahun ini. _. ya. bahwa orang yang ada pada malam itu tidak akan hidup lebih dari seratus tahun lagi.41." (Qs. Imam Nawawi mengatakan. yang berarti di penghujung seratus tahun. Hal itu tidak menafikan. Abdullah bin Umar berkala. Ibnu Baththal mengatakan. "Apakah kalian mengetahui malam kalian ini. r — y berarti apa kamu mengetahui? Jawabnya. menurut zamakhsyan. Maka ketika salam. Al An'aam (6): 40) y j j \ — i . \ 1 . bahwa orang yang lahir setelah malam itu akan hidup seratus tahun lamanya. 4 0 4 — FATHUL BAARI . jlj -js 'j Jii :c> y 116. Lafazh yang diriwayatkan oleh Al Ushaili adalah Ji» y j . agar mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah. Namun kata tersebut dalam hadits ini berarti kabarkan kepada saya. yaitu sebulan sebelum beliau meninggal dunia.

Ibnu Baththal berpendapat. Dalam -v riwayat lain disebutkan •—LiJa* adalah suara nafas orang yang sedang tidur (mendengkur). sedangkan '«•••'J!. "Aku berdiri di sebelah kiri beliau. kalanya.'f 'i i '• ' ' - " V 117.kemudian bangunlah.'\ \ . "Saya belum pernah menemukan kata tersebut FATHUL BAARI — 405 . lalu beliau tidur." Keterangan Hadits: —iiJi -'u. Kemudian beliau bangun. yaitu huruf hamzah liili fCi. J*£ y (atau kalimat). kemudian keluar melaksanakan shalat.. dan artinya sama seperti yang pertama. 'Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah binti Al Hariths istri Nabi SAW. Yang dimaksud adalah Ibnu Abbas RA. kemudian beliau berpindah sehingga aku berada di sebelah kanannya. dan setelah itu beliau bersabda. Dari Ibnu Abbas RA. kemudian mendatangi rumahnya sendiri dan shalat empat rakaat. "Tidurlah wahai Al Ghulayyim -atau kata-kata yang menyerupai. Ini juga keragu-raguan dari perawi. ini menurut pendapat Ad-Dawudi. Ini adalah raguan dari perawi Hadits. Nabi shalat lima rakaat kemudian shalat dua rakaat. Mungkin juga hal itu merupakan pemberitahuan dari Nabi bahwa Ibnu Abbas sedang tidur atau kemungkinan juga sebagai Istifham (pertanyaan) yang tidak disebutkan kata tanyanya. -' a -'i* i i' ' ' - 1 '.s ° ' * ' > t " 3 * " " ' a -' T " " ' ^ * ' f S /* iQ ^ LAJIP jU^-j A' ^ji-» JLS"_j jju -j y *J) ^jJutf 1 5 1 e—'J J^ ' f * - 4 £ J\ »£• ^ * - * . dan pada malam itu Nabi ada bersamanya Nabi SA W shalat isya.^ (mendengus) suaranya lebih keras daripada dengkur. lalu beliau tidur hingga aku mendengar dengkuran beliau ataupun langkah beliau.

berdasarkan pendapat yang lain. Namun Al Karmani berkata. "Saya sudah berdiri " Semua yang dia sebutkan uu bertentangan. dengan demikian Ibnu Abbas telah berjaga di malam hari dalam rangka menuntut ilmu. ~ ^ s * j ^> 'J (Kemudian beliau shalat dua rakaat) Atau shalat fajar dua rakaat. setelah perkataan C'LJJO . namun lebih baik jika kita mengatakan bahwa shalat dua rakaat tersebut adalah shalat sunnah fajar. "Sesungguhnya Nabi SAW memisahkan antara dua rakaat ini dengan lima rakaat sebelumnya. dan inilah vang sangat diinginkan oleh penulis anmk men\ehdiki dan menelusuri 406 ~ FATHUL BAARI . Ibnu Munir dan pengikutnya mengatakan. Al Karmani menambahkan." Pendapat ini diikuti oleh Al Qadhi Iyadh. karena kata hanya digunakan untuk berbincang-bincang. Tidak ada bedanya antara mengajar dengan lisan atau dengan perbuatan. berbeda dengan yang dua rakaat. kemungkinan yang dimaksud oleh Imam Bukhari bahwa para kerabat apabila berkumpul. Hubungan Hadits Ibnu L' mar dengan penamaan bab sangat jelas berdasarkan perkataan dia. karena seseorang yang hanya mengucapkan sepatah kata tidak bisa dikatakan mengobrol. Menurut saya.J~? Adapun mengenai hadits Ibnu Abbas. "Berdirilah di sebelah kananku!" Ibnu Abbas menjawab. Penjelasan ini akan diterangkan dalam bab "Shalat witir". Sepertinya Al Karmani menduga. sebagaimana pendapat Ismaili. bahwa >ang dipahami dari tindakan Nabi yang memposisikan Ibnu Abbas di sebelah kanan beliau. seolaholah beliau mengatakan kepadanya. dan tidak dikatakan tujuh rakaat karena yang lima rakaat diikuti oleh Ibnu Abbas. A s . dan pembicaraan Rasulullah itu sendiri semuanya merupakan ilmu pengetahuan yang dapat diambil manfaatn\a.menggunakan kha' menurut ahli bahasa. bahwa korelasi antara judul dengan isi diambil dari segi lafazh lain dalam hadits yang sama dengan jalur yang lain. dia mengatakan khaihith. dan hal itu masih dimungkinkan. bahwa kemungkinan yang dimaui oleh penulis adalah bahwa dasar berbicara pada malam hari sebelum tidur disinggung oleh kalimat ~L" dan mungkin juga yang dimaksud adalah tindakan Ibnu Abbas yang selalu mengawasi keadaan Rasulullah. Sedangkan apa yang dilakukan Ibnu Abbas adalah berjaga di malam hari bukan mengobrol. i n s y a A l l a h .S a m a r Al Karmani mengatakan. Atau karena yang lima rakaat diakhiri dengan salam sedangkan yang dua rakaat ditutup dengan salam. maka mereka berbincang-bincang atau ngobrol. bahwa shalat dua rakaat yang dilakukan Nabi termasuk shalat tahajjud.

adalah menjelaskan hakikat AsSamar setelah isya. Abu Musa berkata." maka Umar berkata. As-Samar dalam ilmu pengetahuan dibarengi dengan As-Samar dalam menjalankan shalat sunah. Oleh sebab itu. "Bahwasanya Rasulullah SA W berbincang-bincang sebelum tidur bersama Abu Bakar mengenai permasalahan kaum Muslimin." telah dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dan Nasa'i dengan sanad yang dipercaya. "Bahwasanya Nabi SAW mencenlakan kepada kami tentang bani Israil hingga dalang waktu shubuh dimana beliau tidak pernah bangkit kecuali memperbanyak shalat. "Tidak ada pembicaraan setelah isya kecuali yang mengerjakan shalat malam atau yang melakukan perjalanan". Jika ada yang mengatakan. karena penafsiran hadits dengan hadits lebih utama daripada menyeretnya ke dalam dugaan-dugaan. FATHUL BAARI — 407 . bahwasanya Nabi menceramahi mereka setelah shalat isya... Jawabannya adalah. bahwa yang dibicarakan Rasulullah tidak terlepas dari ilmu pengetahuan dan manfaat. Sesungguhnya yang dimaksudkan oleh Imam Bukhari di sini. Sesungguhnya Umar telah berbincang-bincang bersama Abu Musa mengenai masalah fikih. dikeluarkan oleh Ahmad yang di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang majhul (tidak dikenal). dan telah disinggung oleh penulis dalam bab "Shalat"." (Al Hadits) Dengan begini." diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. "Saya bermalam di rumah Maimunah.jalur-jalur hadits. sesungguhnya hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah hanya berbincang-bincang bersama keluarganya dan bukan membicarakan ilmu pengetahuan." Wallahu A 'lam. Maka walaupun hadits ini benar. Anas juga memiliki Hadits lain mengenai kisah Usaid bin Iludhair yang telah disinggung dalam kitab . kecuali Alqamah yang masih diperselisihkan statusnya. Adapun hadits.-1/ Manaqib. Sedangkan Hadits Umar. maka Rasulullah berbincang-bincang dengan keluarganya selama satu jam kemudian beliau tidur. penulis tidak mengesahkan hadits ini menurut kriteria hadits beliau. Adapun hadits Abdullah bin Amru. "Shalat. berdasarkan penafsiran yang berasal dari selain beliau dari jalur Ka'ab dari Ibnu Abbas. "Sesungguhnya kita sekarang dalam shalat. serta memperhatikan konteks-konteks lafazh para perawi hadits. hadits Anas radhiallahu 'anhu. Alhamdulillah penamaan judul bab sesuai dengan konteks hadits tanpa perlu meraba-raba dan mereka-reka. Termasuk juga dalam bab ini.

" m e n g a t a k a n . "Abu Hurairah adalah orang yang 4 0 8 — FATHUL BAARI . mangadakan perbaikan dan menjelaskan kembali keterangan-keterangan Allah. t i d a k m e r e k a k e k a u m d e n g a n m a s i n g . Aku Mulia Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. ) _jJL J ( 1 lijii.! i J j i ." (Os.42.a --v < "i' L* IIS. d i s a m p i n g T e t a p i s a y a s a w i d a p a t s e l a l u m e n g i k u t i k e b u t u h a n N a b i y a n g m e r e k a m a n a . AI Baqarah (2): !?9-160) L a l u A b u h u r a i r a h m e n e r u s k a n . ' S a u d a r a . maka taubat mereka itu akan Kuterima.^« J'J-A'L JulaJi '^^II^ ^~li Al A'.p a s a r .^ j^Ii-Juj J—**Ji jisT JLUJS' JA 'Jjj*i-.U Jjl ) 4 > Jl ( WJIIS^ «J'— < O O . j. mereka itu dikutuk oleh Allah dan orang-orang yang turut mengutuk kecuali mereka yang taubat. " s a y a .c e r a m a h a p a v a n g t i d a k h a d i r . u r u s a n d a n h a r t a s a u d a r a . ^1 iJJ> y 'JS"\ JjiyZ j l Jli i'J_'y> ^ 1 Ji j—f C 1 Jy*j& 'j». a n .„. A b u H u r a i r a h t i d a k p a l i n g k a r e n a h a d i t s . karena dia adalah sahabat yang paling hafal tentang hadits Rasulullah SAW.s a u d a r a k e k a y a a n R a s u l u l l a h p e r u t m e r e k a h a / d l . J ^ . d i a b a n y a k d u a " a y a t . jj' j . Imam Syafi'i mengatakan. j jiiii^j 'i' isJu«*j • J * .m a n a : s a y a p u n d a p a t d a p a t m e m e n u h i m e n g h a d i r i m e n g h a f a l c e r a m a h .j *JL' JIS' l'J* L'l J J J ^-fi'jAl ^i ' • A'h . m e r i w a y a t k a n d a l a m A l Q u r " K a l a u a y a t " O r a n g h a d i t s . s e r t a d a p a t K e t e r a n g a n Hadits: Dalam bab ini tidak disebutkan selain hadits Abu Hurairah RA.m a s i n g . b a h w a n i s c a y a s a y a t i d a k a k a n m e r i w a y a t k a n K e m u d i a n "Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang Kami turunkan sesudah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab. M E N G H A F A L ILMU i JL l ^y.s a u d a r a k i t a m e m b a c a p a r a M u h a j i r i n s i b u k k i t a d e n g a n d a r i p e r n i a g a a n A n s h a r m e r e k a s i b u k d i p a s a r . Diceritakan oleh Abu Hurairah RA.

"). JJ mereka). yaitu hadits dari Rasulullah SAW sebagaimana telah disebutkan oleh penulis dalam bab "Buyu* (jual beli)" dari Syu'aib. dimana hal itu tidak ada pada selainnya. Untuk itu banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. yang alasannya sudah dijelaskan. Adapun hadits yang kedua ini menunjukkan. jelaslah hikmah disebutkannya Muhajirin dan Anshar. >s—ij*?s j ^ ' (Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadits). dimana Abu Hurairah menyatakan bahwa Ibnu Umar lebih banyak meriwayatkan hadits daripada dirinya. dia adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. dan mengatakan. bahwa Abu Hurairah tidak lupa apa yang didengarnya dari Rasulullah. obVi 'i y* (Kalau tidak karena dua ayat). bahwa Abu Hurairah tidak meriwayatkan semua hadits yang dihafalnya. I lai itu merupakan kebiasaan yang mereka lakukan dalam akad atau transaksi jual beli. dari Az-Zuhri dengan tambahan (Mereka berkata. dan ketika dilarang untuk menyembunyikan ilmu. Dengan demikian. Maka hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya. "Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits seperti hadits Abu Hurairah." Untuk itu Ibnu Umar menyayangi jenazahnya.paling hafal hadits pada masanya." (HR. maka Abu Hurairah tidak akan meriwayatkan (hadits). Artinya kalau tidak karena 1 Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu. U J / jJ -y 'J^4 J'S. adalah karena banyaknya hadits yang dihafalnya. yaitu saudara seagama (Islam) Kata j—Cai< berarti memukul tangan di atas tangan. maka yang harus dilakukan adalah menampakkan dan menjelaskannya.? — ( M e r e k a disibukkan dengan pekerjaan pertanian kemaslahatan pertanian mereka. Abu Hurairah RA senantiasa menghadiri majelis Rasulullah dan menghafal ucapan atau sabda beliau. "Abu Hurairah telah menghafal hadits Nabi untuk kaum muslimin. dari Az-Zuhri. j (Sesungguhnya saudarasaudara kita). Dalam riwayat Muslim dikatakan. Meskipun demikian. dan dalam bab "Muzara'ah" dan Ibrahim bin Sa'ad. Imam Bukhari telah meriwayatkan F A T H U L BAARI — 409 . dan riwayat Ibnu Sa'ad berbunyi. ' —JO ri (Dalam harta kekayaan mereka) atau bekerja untuk ' 4 . Kemudian beliau mcinebutkan sebab banyaknya hadits yang diriwayatkannya dengan perkataannya. Ibnu Sa'ad) Dalam hadits yang ketiga menunjukkan.

.. ' >I I *j • j . " Rasulullah berkata. Demikian ia meriwayatkan hadits terus menerus. . sehingga dikenal pada waktu itu bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal tentang hadits Rasulullah SAW. ' jA jt- ' . Umar. ia berkata. J lJ c J j J i i . ' > > ' .' . Dari Abu Hurairah RA. j * . aJju l i J i O . ' . 119. saya tidak lupa apa yang telah saya dengar dan Rasulullah." Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Muhammad bin Umarah bin Hazm. ' j o J l » A'. kemudian mereka menelaah dan meneliti kembali sehingga mengetahuinya. "Saya tidak ragu. "Kumpulkanlah!" Lalu kukumpulkan dan setelah itu aku tidak pernah lupa lagi. bahwa ia duduk dalam majelis para sahabat yang berjumlah kurag lebih puluhan orang. . . saya banyak menerima hadits dari engkau.y>.. "Demi Tuhan yang telah mengurusnya dengan benar. hal itu karena dia adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa dan menjadi tamu Rasulullah. ' . ' s j _ i ^il d i J y djj_j i. bahwa dia telah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak kami dengar. "Singkapkanlah jubahmu!" Lalu kusingkapkan jubahku. . Kemudian Rasulullah menyauk dengan kedua tangannya dan berkata. tapi sava banyak lupa.* 'I ' 'n Ja~_1\ J i i ." Dalam riwayat 4 1 0 — FATHUL BAARI . Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Dia berkata kepada Abu Hurairah.dalam kitab Tarikh dan Hakim dalam Al Mustadrak dari hadits Thalhah bin Ubaidillah yang menjadi penguat hadits Abu Hurairah. dimana dalam majelis itu Abu Hurairah telah meriwayatkan hadits dari Rasulullah yang tidak diketahui oleh mereka yang hadir. "Kamu adalah orang yang menyertai Rasulullah diantara kita dan paling hafal tentang beliau." Sanad kedua hadits mi telah dinyatakan shahih oleh Bukhari dan Muslim.^ . selalu hadits Imam ol l*jf I jjk~ UjJiiI . "Wahai Rasulullah. y j t jjl* JU ' . Dalam riwayat Ibnu Uyainah dan lainnya dari Zuhri dalam hadits yang lalu dikatakan. ." Keterangan Hadits: *j_JJ l i — i '-J (Maka aku tidak lupa lagi setelah itu).i ' .

Dalam dan hadits Zaid bin Tsabit berkala. nampak jelas keutamaan Abu Huiairah RA dan mukji/at kenabian. ^l^o J ' ' ' u J - f t _/ i ' .Yunus dalam hadits Muslim dikatakan. " Dalam dua hadits ini. dan aku memohon ilmu yang tidak terlupakan. dan hal itu dapat dicapai dengan tidak tamak terhadap dunia. a k a r .' o. Dalam riwayat Syu'aib. Disamping itu juga menjelaskan tentang keutamaan bekerja bagi orang yang sudah berkeluarga.' J ' " f ^ _ _ ' FATHUL BAARI — 411 . "Maka saya tidak lupa perkataan beliau setelah itu.Jii 3 J J> jl -J.LS ^i-Jl J_*~v • £ > t S' . ^ * ' * ' a ' s ' ' ' t * 3 * t' " o Al s 1• • -> A' J w > -r* s^Jii>. "Dan kami juga demikian wahai Rasulullah. t i g a . d i a e m p a t a t a u l i m a d a r i d a n y a n g d i w a j i b k a n k e i A l l a h . karena Abu Hurairah telah menerangkan bahwa dia banyak menghafal hadits. "Ya Allah aku memohon kepada-Mu apa yang diminta oleh kedua saudaraku." dimana hadits ini hanya mengkhususkan bahwa Abu Hurairah tidak lupa hadits itu saja." dan Nabi mengamininya. u a ' i s u r g a . " Maka aku dan temanku berdoa.im bagi manusia dan Abu Hurairah telah mengakui hai itu.t ' >' t t ' t ' _ ' ' ^ e ' v \^t~ s J ' \ S ' -• ^ . I. tapi saya dapatkan dengan jelas dalam kitab milik Tirmid/i dan kitab A l H i l y u h milik Abu Nu'aim dari jalur lain dari Abu Hurairah. " Hadits mi menganjurkan untuk menghafal dan menjaga ilmu. Perkataan yang dimaksud dalam hadits Zuhri belum jelas semua jalurnya. bahwa Abu Hurairah tidak lupa semua hadits. bahwa Rasulullah SAW bersabda. lalu beliau berkata. karena lupa merupakan suatu ha! vang la/. "Aku dan Abu Hurairah seria yang lauima bersama Nabi. kemudian sifat (lupa) itu hilang dengan berkah kenabian Muhammad SAW. '"Maka setelah itu saya tidak lupa apa yang dikatakan beliau kepada saya.alu kami berkata. la berkata. d u a . dan diperbolehkannya mengabarkan tentang suatu keutamaan jika tidak dikhawatirkan munculnya sifat ujub. A l M u s t a d r a k H a k i m " B e r d o a l a h k a l i a n b e r d u a ' " G h u l a m A d . Kemudian Abu Hurairah berdoa. dan Nabi mengamininya. k e m u d i a n m a s u k m e m p e l a j a r i n y a m e n g a j a r k a n n y a . J a m i ' " T i d a k a d a s e o r a n g a p a y a n g m e n d e n g a r o l e h d i a s a t u k a l i m a t ." Hadits ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah tidak lupa semua hadits. Namun demikian konteks hadits telah menguatkan apa yang diriwayatkan oleh Yunus." Rasulullah berkata.D u s t t e l a h m e n d a h u l u i k a l i a n ..

bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits sebelumnya yang mengatakan. "Aku menghafal tiga kantong. f-j-iiii i-u> A J ^ (Dipotong leherku atau dibunuh). sehingga dua kantong diletakkan dalam satu karung yang besar dan satu kantong diletakkan dalam karung yang kecil. karena ia memerintah pada tahun 60 H. dari Abu Hurairah RA. dan yang satu karung lagi jika saya siarkan niscaya dipotong orang leherku (dibunuh)" Keterangan Hadits: Maksud J?'i—adalah dua macam ilmu. Yang satu karung telah saya siarkan. Ibnu Bathiniyyah Munir berkata. "Saya hafal dua karung hadits dari Rasulullah." Abu Hurairah mengisyaratkan perkataannya tersebut kepada Yazid bin Muawiyah. karena dia takut terhadap mereka. bahwa hadits-hadits yang tidak disebarkan oleh Abu Hurairah adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan dan masa para pemimpin yang buruk. Pernyataan ini telah membantah dakwaan orang yang mengatakan." Karena maksud hadits ini adalah." Karena hal itu mengandung kemungkinan. Allah telah mengabulkan doa Abu Hurairah. Dari Sa'id A! Magburi. yakni kepala. Para ulama berpendapat. "Saya berlindung kepada Allah dari pemimpin sittin (enam puluh) dan pemerintahan shibyan (anak kecil). dan dia meninggal dunia setahun sebelumnya. Hadits ini tidak bertentangan dengan riwayat Abu Hurairah dalam kitab Musnad yang mengatakan. ia berkata. Dalam hal ini Abu Hurairah telah menyembunyikannya dari sebagian orang. tetapi kata tersebut dalam hadits ini berarti pembunuhan (kiasan). sehingga dimungkinkan bahwa Abu Hurairah telah mendiktekan hadits yang dihafalnya kepada orang yang dipercaya. bahwa apa yang dihafal oleh Abu Hurairah jika ditulis maka akan memenuhi dua karung. sehingga mereka 4 1 2 — FATHUL BAARI . dan aku siarkan dua kantong. seperti perkataan Abu Hurairah. Dalam riwayat Ismaili dikatakan -i*». bahwa kedua karung (dalam hadits sebelumnya) salah satunya berukuran besar dan yang satunya kecil.120. "Saya tidak menulis. Hal ini akan dibahas pada bab "Fitnah" (bencana). Kata rj^ { berarti saluran makanan antara tengkuk dan kerongkongan. "Hadits ini dijadikan oleh kelompok untuk membenarkan kebatilan mereka.

Ibnu Abdul Barr mengatakan. perubahan kondisi dan peperangan di akhir zaman. Hal itu karena hadits-hadits yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat tidak mungkin untuk disembunyikan. Nabi SAW berkata kepadanya pada waktu haji wada' (haji terakhir). bahwa Jarir masuk Islam sekitar empat puluh hari sebelum Rasulullah meninggal dunia. "Janganlah kamu kafir kembali sesudahku. Adapun batin." Adapun maksud perkataan Abu Hurairah (dipotong).meyakini bahwa syariat itu mempunyai sifat zhahir dan batin. M E N D E N G A R K A N ULAMA o ' ' J J J J ' • * * ' T J » ' ' " ' S . adalah orang-orang yang suka berbuat kezhaliman akan memotong lehernya (membunuhnya) jika mendengar aib perbuatan mereka. dimana sebagian kamu memenggal (membunuh) sebagian yang lain" K e t e r a n g a n Hadits: Sebagian ulama mengatakan bahwa lafazh i dalam kalimat il J i i s^iCJ ^ 1 J i adalah kata tambahan. Pendapat lain mengatakan. 43. dan apa yang dikatakan ini bertentangan dengan pendapat Al Baghawi yang mengatakan. karena Jarir masuk Islam kurang lebih dua bulan setelah haji wada'. bahwa Jarir masuk Islam pada bulan Ramadhan tahun ke-10. syariat dapat dicapai dengan melarutkan diri dalam agama. Apa yang dikatakan oleh penulis mengenai hadits ini dalam bab "Haji w a d a ' " bahwa Nabi telah mengatakan kepada FATHUL BAARI — 413 . '•'•Suruhlah manusia untuk tenang!"Kemudian beliau bersabda. w'lij *SJj2*o wJj^aj \JjS~ ^ £ A * j ^ y* J 7 M JUi 121. bahwa apa yang disebutkan mengisyaratkan akan apa yang berhubungan dengan tanda-tanda hari kiamat. sebagaimana disebutkan dalam hadits yang pertama yang menjelaskan celaan bagi mereka yang menyembunyikan ilmu. Dari Jarir RA.

sehingga kalian menyerupai mereka ketika sebagian mereka membunuh sebagian yang lain." Ketika Rasulullah berkhutbah untuk mengajari mereka. "Pangkal ilmu adalah mendengarkan. Kata tersebut mempunyai arti yang berbeda. Pada waktu itu Rasulullah berkata kepada mereka. tidak mengandung perkataan Al Baghawi. maka beliau menyuruh untuk mendengarkan dengan baik.Jarir." Lalu Ibnu Uyainah berkata kepadanya. maka ia tidak dikatakan melakukan (memperhatikan). bahkan telah menguatkan (memukul) adalah janganlah kalian melakukan perbuatan orang-orang kafir. Ia berkata. menghafal. kata lebih didahulukan daripada Ali Ibnu Al Madini menyebutkan. mengerjakan dan menyebarkannya (mengajarkan)." Ini berdasarkan kebiasaan yang sering terjadi. i s l i m a ' A l I n s h a i A l I s t i m a ' . lalu ia tidak melihatmu. karena kata berarti diam yang dapat dilakukan oleh orang yang mendengar dan tidak mendengar." Adapun riwayat Al Ashmu'i. Maksud unsur takwil. I n s h a i i n s h a i 4 1 4 — FATHUL BAARI . karena ulama adalah pewaris para nabi. "Jika kamu berbicara dengan orang lain. Sufyan Ats-Tsaun dan lainnya mengatakan." Dengan demikian akan nampak korelasi antara tema bab dengan isi hadits. "Kami tidak mengatahui bagaimana itu bisa terjadi?" Ia menjawab. Ibnu Baththal berkata. " A l adalah berasal dari kedua mata. bahwa ia mengatakan kepada Ibnu Uyainah. Sedangkan kata dapat dilakukan dengan diam atau berkatakata yang tidak menyibukkan si pembicara untuk memahami apa yang didengarnya. lalu memperhatikan. dari Mutharrif. "Ambillah dariku manasik (amalan ibadah) kamu. karena khutbah Nabi di atas pada waktu haji wada' dan manusia yang berkumpul pada waktu itu sangat banyak untuk melempar jumrah dan melaksanakan amalan haji. "Mendengarkan apa yang dikatakan ulama adalah kewajiban bagi para murid atau orang yang belajar. "Mu'tamir bin Sulaiman telah menceritakan kepadaku dari Kahmis. Di sini ada perbedaan antara ^ '««^-J -'l-^ i n s h a i 1 A l I n s h a i dan A l h t i m a ' dalam firman Allah. seperti memikirkan yang lain.

«Uli ' '<. . ' ' ' ' ^jjl J j J .«"y^JJ i V ' j L _J 1 _ 5 ^ r ^ J ' Ju* 1 J .J 5 " J L J 'J i 15" ^i>..." > '-LP j ! _ 1 ijJl . - - - > >' 'i ' " .'I • ' i . . • >JO J Lii ^ y& Lkjl -J ' -J y*l J.^ : 1 ^l*ji i Li ^1 'LILI Oi • ' . » c j * a .^ * L' JU* . 'I*' Di .44. ^ . |-"-" " " a l X*" ' A > j * \ ^^'l jlS-oJ' j j L ^ '' ^« _L>T_: j^Jj (l^a-' o C J i C.' LJ 'i J'UUJ V . t —Z L . • AJJLAJ 1 3 1 * L-C« 1 U Lu- ^1 J v i - LA* A. .^ U J - j v ^ y i SLUJ JiUaJ'j J v U ^ l i + j j>jl l»^ S) J^Jj 'l iLJ * Ju ULLUils I-^-P s l i i j « J ' j 15"j _V 1 ( L ^ y >IJ 'l 4 -L™« Ijjb Lf .'1 -Ljt-J j "f -"l' ' i . * .J o j j J ' ' ' " ' * t J I * i'plaij " * j\ ^ y ^ ^Jiji) ^ ^ ^ ^ ' a i 1 k £ JII* ^ ii j U* o''""' ^ 1 ..y J u * J . / i. •/ r * 3 s ^ 'O' ' r ' i ' f ' * & f'' ' ^L>.^ i l l f y_ ' 'J' 1 J U* ^-li0> .y FATHUL BAARI — 415 . v ji y j p *' ~ ' 1 L i i Jii i JJ' J: '. i . _Lil ''-^''-Lc. Ul 'A * I Lll v\kJl W. JL* 7t~^>' 'LLl* U^J-» *J ^ ~ -" J -/ t .Li$J> * ~ 'J » j . u ' . j * . ' \ I il ZSs.di «Ik^. JIKA DITANYA SIAPAKAH YANG LEBIH MENGETAHUI? MAKA HENDAKNYA M E N Y E R A H K A N N Y A KEPADA A L L A H .U J ' I .

^i.l^Ji \ ' } _ — J J '^A '^ASU 'J i i l l J i i JJl J l i ) l^lil J J c i V^sT^i j> ^ j .e£» ^ y ^i) J^ j\ J . * ' ^ r'" ^ ' r s s r rr- O 3l J ^ C J i . e \ ' ' * -\ °' \'{* 'i .1^ ^siu^JI * •* ' ' (i^Li J>-lJ j U i i J l *^ x ^ 9 £A •^M\J ^YJ4 J^ r t r £ ^^ ^x-xx y r * J—s"ji ijij A£UP j i jii ( i ^ j * ."-Jl 9 ^J>y' 9 J i _ji f JYUASt ' . ^ i > J ^ f -^r- 4 j s- t „ s B S r .J U ) «wU-l N.jJf^ J i c-i^ C .r J JS.W . ASJJlp.H» f j. ' ' * • 9 CfciJ-J -J a 8 X* ™' 2 9 B *f * ^—H c J — 1 P J J—1 U_.^ Ci *j" N. ^ ^ (iJiv'j _ J J ^* ^ 1 J^i l y ^ l ^ i r .^ y ^ j> JUi «i^i — .^jZJU JI jj ^ y M ^J.r t j- H P' * s ^ s r r * * ' ( l U i j ^ l i i LU * 0 j ' J i i l L " J i ) J l i JUi J l i J-Jl^-l ' j ^ ' s ' L ^ ' & c — ^ J T & J + J L .I*i. i3 J U i ^ lili ajjj ^-*a>Jl J l i (4-*lili J|AaL' j l JJs a ^ \ *I Jli v f l .y-. '* UUaJli ( i ^ i 1 ^oi-l V J ° r *Ul Q . ^ J^ IJLi Lallajlj UtC-J ^ ' ^ 4^. ^ ^ ' . r . jt-^J 5^ < U M 4 1 6 — FATHUL BAARI .UliJlJ) J J^J I j I J o r L ^j V) O. ' fUtJ J ^ J u f ' . Uaiu j iu'i j i i jji j i i ) lj_>-y LLft^LJaj j l fjjli L^lil l*«]a^l j i i C'i IJI ^ J i .

Maka berkatalah sang murid kepadanya. "Musuh Allah telah berdusta. dan ketika keduanya menjumpai batu besar. "Musa sang nabi berdiri sambil memberi khutbah kepada bani Israil. Ketika subuh menjelang Musa berkata kepada muridnya. " Musa berkata. "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Khidhir berkata. "Sa'id bm Jubair mengabarkan kepadaku. 'Aku lebih mengetahui." Musa dan muridnya tidak memperhatikan kejadian ini dan kembali berangkat di sisa malam." Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Musa mengucapkan salam. "Lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.122. apabila engkau kehilangan jejaknya maka di sanalah hamba-Ku tadi berada. terdapatlah seorang laki-laki yang menutupi dirinya dengan baju. Khidhir berkata. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad. sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini " Musa tidak merasa letih hingga mereka melewati tempat yang ditentukan Allah. "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar FATHUL BAARI — 417 ." Ia berkata. "Apakah ada kesejahteraan di negeri kamu?" Maka Musa berkata.'Maka Allah menegur Musa karena dia tidak mengembalikan kepada Allah pertanyaan tersebut." Musa berkata. dan Allah mewahyukan kepada dia bahwa seorang hamba diantara hamba-hamba-Nya yang tinggal di penemuan dua buah laut adalah lebih mengetahui daripada Musa." Keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. "Saya mengatakan kepada Ibnu Abbas. "Hawalah ke mari makanan kita. Pada saat itu. "Musa bani Israil?" Musa menjawab." Ubai bin Ka'ab telah menceritakan kepada kami dari Nabi SAW. " Maka berangkatlah Musa bersama muridnya -Yusyak bin Nun. "Wahai Tuhan! Bagaimana dengan orang tersebut?" Maka Allah mengatakan kepadanya. "Telah menceritakan kepada kami Amru. ia berkata. hingga ketika menjumpai batu besar keduanya menyandarkan kepala mereka dan tertidur. 'Siapa manusia yang paling pandai?' Musa berkata. bahwa Nauf Al Bakali mendakwakan bahwa Musa adalah bukan Musa bani Israil." Sa'id berkata. "Benar!" Kemudian dia meneruskan." Nabi Khidhir berkata. tetapi Musa yang lain.dengan membawa ikan di dalam keranjang." Ia berkata. "Bawalah ikan vang ada dalam keranjang dari daun kurma. "Aku adalah Musa. "Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu ini. "Itulah tempat yang kita cari. maka seseorang bertanya kepada dia. maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakan kembali kecuali syetan. si ikan melepaskan diri dari keranjang.

'"Mereka adalah orang-orang yang memberikan tumpangan kepada kita tanpa memungut bayaran dan engkau memboeormya agar orang-orangnya tenggelam. Khidhir pun berkata. Berkata Musa. sesungguhnya aku diberi ilmu yang Allah ajarkan kepadaku dan tidak diketahui olehmu." "Ada yang meriwayatkan bahwa Khidhir menegakkannya dengan kedua tangannya. yang tetap bersabar mendengarkan penjelasan tentang hal tersebut sehingga kita mendapatkan cerita tentang mereka berdua. "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih bukan karena dia membunuh orang lain?" Khidhr berkata Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku'" Maka keduanya berjalan hingga sampai kepada penduduk suatu negeri. "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku " Kejadian tersebut adalah kesilapan pertama yang dibuat oleh Musa. Khidhir berbicara dengan mereka agar mengangkut mereka berdua. "Kalau kamu mau." Khidhr berkata." Rasulullah berkata. maka Khidhir menegakkan dindingnya. Kemudian mereka mendapatkan rumah yang hampir roboh. Ketika sebuah kapal melewati mereka." Musa berkata. mereka minta dijamu oleh penduduk negeri itu dan penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian datanglah seekor burung yang berdiri di lantai perahu dan memasukkan paruhnya ke laut." Maka berangkatlah keduanya ke pesisiran pantai dan keduanya tidak memiliki perahu. tiba-tiba Khidhir memenggal kepala anak itu dan membunuhnya Berkatalah Musa.bersamaku. Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku" Musa berkata." Berkatalah Khidhir "Bukankah aku telah berkata. niscaya kamu mengambil upah untuk itu. Lalu mereka kembali berjalan dan bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain bersama teman-temannya." Berkatalah Musa kepadanya. Orang-orang tersebut mengenali Khidhir dan mengangkut mereka dengan gratis." 4 1 8 — FATHUL BAARI . "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Musa." Lalu Khidhir berlalu dan menanggalkan layar perahu tersebut. dan engkau diberi pengetahuan dari Allah yang tidak aku ketahui. "Insya Allah kamu akan mendapatkan aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apapun. "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. "Wahai Musa. ilmu yang aku dan engkau dapat bagaikan tetes air yang diambil oleh burung ini.' "Wahai Musa.

'Aku tidak mendapati seseorang yang mengetahui tentang Allah dan perintah-Nya melebihi Aku. beliau yakin bahwa tidak ada orang yang dianugerahi ilmu seperti yang diberikan kepadanya. yaitu Amru dan Said. wallahu A 'lam f maka tidak ada cacat dalam perkataan tersebut. Dalam riwayat An-Nasa' i dari jalur Abdullah bin Ubaid dari Said bin Jubair dengan sanad yang serupa. yaitu Ibnu Abbas dan Ubai. "Apakah engkau mengatahui orang yang lebih pintar dari kamu?" Menurut saya. tetapi hendaknya Musa mengembalikan semuanya (ilmu) kepada Allah. dan Dia berfirman. Jika Musa berkata. yang lafadznya adalah. i—i*' —'i JLU (Kemudian berkatalah dia. "Apakah engkau mengetahui orang yang lebih pintar dari kamu?" sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. " Dalam riwayat Abd. Padahal maksud Musa FATHUL BAARI — 4 1 9 . dari Said bin Jubair berkata. Kalimat ini merupakan jawaban dari pertanyaan "Siapa manusia yang paling tahu (pintar)?" Ada yang berpendapat bahwa hal im bertentangan dengan perkataan beliau pada riwayat sebelumnya dalam bab "Al Khuruj fii Thalabil llmi". "Menurut saya tidak seperti itu. "Aku adalah orang yang 1 paling t a h u " ) . "Dalam riwayat Muslim dari jalur lain dari Abu Ishaq. Karena dalam rangkaian sanad terdapat riwayat tabi'in dari tabi'in. tidak ada pertentangan diantara kedua riwayat tersebut. "Aku tidak mengetahui ada orang di atas permukaan bumi yang lebih mengetahui daripada aku. bahwa yang paling baik dalam hal ini bagi Musa adalah tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang dikemukakan kepadanya. Kritikan tersebut datang karena Musa membatasi pernyataan tersebut kepada dirinya saja. karena perkataan beliau di sini 'J^'i u menurut pengetahuanku sangat sesuai dengan kata-kata beliau "tidak" untuk menjawab pertanyaan." Kemudian dia berkata. dan riwayat sahabat dari sahabat. " Ibnu Munir mengatakan. sesungguhnya ada diantara hambaku yang aku berikan kepadanya ilmu yang belum aku berikan kepadamu. "Saya (yang paling pintar).Keterangan Hadits: ^—l—! ' y tio^ dengan menggunakan kala hadits (haddatsana) yang merupakan dalil bagi Imam Bukhari untuk menguatkan kedudukan khabar wahid. "Ibnu Baththal beranggapan. "Ketika Musa berdiri memberi khutbah. "Wahai Musa. sehingga menimbulkan image bahwa itulah yang dimaksud olehnya dalam kasus ini. terlepas apakah dia memberi jawaban atau tidak. Allah mengetahui apa yang ada dalam benaknya. Razak dari Ma'mar dari Abu lshaq.

Dengan keputusan tersebut banyak permasalahan yang terpecahkan. karena substansi teks sebagaimana yang dikatakan oleh tidak sesuai dengan topik ini. berdasarkan perkataan Khidhir. il—1>'. dan mendorong seorang alim untuk menjawab "tidak tahu". Kritikan yang datang dari Allah merupakan hal yang terpuji bagi yang berhak mendapatkannya. Zamakhsyari mengajukan sebuah permasalahan. "Perkataan Musa "Saya lebih mengetahui" tidak seperti perkataan r a h i m u l l a h 4 2 0 — FATHUL BAARI .kita jelaskan sebelumnya. dan tidak memiliki arti yang sama dengan yang biasa dipakai oleh manusia. Karena jika tidak demikian. Dia menjawab. e n g k a u d i b e r i p e n g e l a b u a n d a r i " Maksudnya. Musa tidak diutus kepada Khidhir. Berdasarkan hal tersebut. k e t a h u i Diantara dalil paling nyata yang menyatakan Khidhir adalah seorang nabi yaitu firman Allah. dalam jawaban Musa ini ada yang perlu diperhatikan. Persoalan ini dijawab. CAI Kahfi (18): 82) Kemudian keharusan untuk menyakim bahwa Khidhir adalah seorang nabi berguna untuk menghindari celotehan golongan sesat yang akan menyimpulkan bahwa seorang wali lebih baik dari seorang nabi. karena seorang nabi haruslah paling pintar pada masanya. Sebenarnya maksud dan kata-kata "lebih mengetahui" adalah pengetahuan tentang hal yang khusus. bahwa seorang nabi yang menimba ilmu dan nabi lainnya tidak akan mengurangi kredibilitasnya. dan hal ini tidak dapat diterima. " D a n b u k a n l a h a k u m e l a k u k a n n y a i t u m e n u r u t k e m a u a n k u s e n d i r i " Ibnu Munir mengkritik Ibnu Baththal yang banyak mengambil perkataan ulama-ulama salaf dalam memberi peringatan agar manusia tidak mengaku memiliki ilmu. bahkan seorang nabi yang diutus. Kalimat ini menjelaskan 1 bahwa Khidhir adalah seorang nabi. nabi adalah seseorang yang paling pintar dari orang-orang pada masanya atau kaum tempat dia diutus. " S e s u n g g u h n y a d i k e t a h u i a k u a k u d i b e r i d a n i l m u y a n g A l l a h a j a r k a n k e p a d a k u A l l a h d a n y a n g s i d a k t i d a k o l e h m u . karena jawaban tersebut akan menafikan sesuatu yang wajib hukumnya (seorang rasul adalah orang yang paling pintar pada masanya). atau dia lebih mengetahui mengenai hal-hal spesifik yang tidak diketahui Musa jika kita katakan bahwa dia seorang nabi atau seorang wali. dan hal itu sama sekali tidak benar. li ^ (Dia lebih pintar darimu). apalagi jika kita katakan bahwa Khidhir adalah seorang nabi sekaligus rasul. yaitu kebutuhan Musa akan pengajaran dari selainnya. oleh sebab itu bukanlah suatu kekurangan apabila Khidhir lebih mengetahui daripada Musa. Menurut pendapat saya.. maka yang terjadi adalah mengutamakan yang utama di atas yang lebih utama.

Yang benar adalah. "Ketika menjelang pagi". Ada kemungkinan maksud dan kata-kata "sampai menjelang pagi" adalah. para nabi dan orang-orang yang berada pada level di bawah mereka tidak mengetahui tentang hal-hal ghaib kecuali apa yang diberitakan oleh Allah. mereka berjalan dari siang hari sampai malam tanpa berhenti-henti. " " A m u u i l u k a negerimu'. Perkataan ini menjelaskan bahwa Yusya' juga ikut mereka berdua dalam melakukan pembicaraan dengan para nelayan. —-•' —•——• _jr^' (Bagaimana ada salam (keselamatan) di " H a i h i a n l h i k a m i n a s s a l a a m ' \ h a z a . Mereka (manusia) mengatakan hal seperti ini untuk membanggakan diri dan takabbur. U* J O > J (Para pemilik kapal itu berkata kepada mereka). walaupun pada hakikatnya hal tersebut benar.tidak disebutkan karena dia hanya mengikuti Musa.'). seperti dalam firman Allah. karena dalam hal ini Musa menentang pendapat tersebut dengan hukum secara zhahir. bahwa maksudnya adalah berjalan dan pagi hingga sore. '•-i '-J O. sedangkan sahabat M u s a . ataupun penduduknya memberi penghormatan bukan dengan salam Di sini terdapat bukti bahwa. Sebagian ahh bahasa mengatakan. begitupula dengan efek yang dihasilkan dari dua perkataan tersebut. sedangkan perkataan Musa tersebut menunjukkan bahwa beliau mempunyai ilmu yang banyak dan sebagai anjuran untuk merendahkan diri dan tamak dalam mencari ilmu. karena perkataan tersebut FATHUL BAARI — 421 . Dalam hadits tersebut juga terdapat legitimasi terhadap perbuatan yang tidak diperbolehkan. Karena jika Khidhir telah mengetahui semua hal yang ghaib. Yang berjalan adalah Musa dan Khidhir. mereka berdua berjalan siang dan malam berdasarkan perkataan sesudahnya. Dengan kata lam. maka Musa juga akan mengetahuinya sebelum dia bertanya kepada Khidhir. karena waktu pagi tidak akan datang kecuali setelah melewati malam.i usva'. bukan dengan akal semata. „•L -Cj i i ' j (Maka keduanya pun berjalan). dan mana datangnya keselamatan dalam negeri yang tidak diketahuinya'' Perkataan tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa negeri itu adalah negeri orang-orang kafir. bahwa teori yang tidak membolehkan menentang syara' dengan akal adalah pernyataan yang salah. Ini diperkuat dalam tatsir yang berarti dari mana.J (Keduanya berjalan dalam sisa malam) berjalan semalam suntuk." Ibnu Munir mengambil kesimpulan dari masalah ini.manusia biasa.• ^ . W a l l a h n a j a m .

berdasarkan terdapatnya huruf lab 'idh (J?) (untuk menyatakan sebagian). Tafsirannya seperti tafiran kata jC_iJJ. Ada yang mengatakan itu sejenis burung.' ^sj . (}lmu aku dan kamu di sisi ilmu Allah hanya seperti yang diambil oleh burung ini dengan paruhnya dari laut). Kesimpulannya. Yang lebih utama adalah menakwilkan bahwa yang dimaksud dengan kata ^ adalah ^jii' (Yang diketahui).menggunakan kata ganti jU» (mereka) untuk menyatakan tiga orang atau lebih (jama')." Riwayat Ibnu Juraij menggunakan lafazh yang lebih baik daripada lafazh ini dan jauh dari kejanggalan. begitu juga ilmu pengetahuan tidak mempunyai batas akhir. Aliah bebas berbuat apa saja dengan kekuasaan-Nya sesuai dengan apa yang dikehendaki4 2 2 — FATHUL BAARI . Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Musa dan Khidhir adalah. bahwa kata Ja-L: (kurang) yang dimaksud adalah 1 untuk mubalaghah (untuk melebih-lebihkan dari sebenarnya). j j — i U * j—(Kemudian datanglah seekor burung). Dalam kitab Rihlah milik Al Khatib disebutkan. karena setelah ini tidak ada kalimat yang menunjukkannya. bahwa maksudnya adalah burung-burung yang minum di laut tidak mengurangi air laut. Al Qurthubi mengatakan. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah "belum diambil". Riwayat ini sebagai penafsiran lafazh yang ada. Ada yang mengatakan. Ismaili mengatakan. Dia berkata. Karena ilmu adalah sifat qadim (azali) yang melekat pada dzat Allah Subhanahu Wala 'ala yang tidak terbagibagi. atau dan tidak seperti paruh burung ini. maka yang dapat dibagi-bagi adalah yang "diketahui" dari-Nya. "Orang yang menggunakan lafazh ini dengan maksud mengagungkan adalah termasuk sikap yang berlebihan. karena ilmu Allah tidak akan berkurang. Sehingga perumpamaannya dikembalikan kepada yang mengambil. i — l i jJ^i ji (Mereka mengangkut keduanya). bahkan kata illaa di sini mempunyai makna walau (dan tidak). O? '^Jj An-Naqshu (kekurangan) di sini bukan dalam arti yang sebenarnya. bukan kepada sumber. iuie-j ^Jj^ i* j—^3 ^—> jj-iLiii ix» M~' CS -i. Ada kemungkinan bahwa Yusya' tidak ikut bersama mereka. karena pengetahuan Allah tidak akan berkurang. bahwa itu adalah burung layang-layang yang suka menyambar mangsanya. dan keterangan ini lebih baik.

Vlaka jika Dia membeberkan salah satu dari rahasia tersebut. dan apa yang dianggap buruk oleh syara'. Al Ourthubi menambahkan. " H a i M u s a s e s u n g g u h n y a ( d i m a s a m u ) A k u ( m e l e b i h k a n ) r i s a l a h . P e r t a m a . maka buruklah ia. apakah itu bermanfaat bagi makhluk ataupun tidak. akal akan berhenti (tidak dapat mencapainya) Untuk itu berhati-hatilah seseorang jika melakukan protes. Yaitu apa yang dianggap baik oleh syara'. " m e m i l i h a (Qs. maka tidak seharusnya akal mempertanyakan mengapa dan bagaimana terhadap pengaturan-Nya. Dia mengatur mahkluk-Nya menurut kehendak-Nya. dan manfaat tergantung kehendak serta keinginan-Nya tanpa ada keharusan vang dibebankan kcpada-N'ya. maka hal itu lebih baik. Hanya kepada Allah-lah dikembalikannya semua rahasia.Nya. dan seorang rasul lebih utama daripada seorang nabi yang bukan rasul Jika kita mengatakan bahwa khidhir adalah seorang rasul namun risalah Musa lebih besar dan umatnya lebih banyak. FATHUL BAARI — 423 . I alu semua nabi-nabi bani Israil menjalankan syariahnya. Al A 'raaf (7): 144) begitu juga dengan ucapan para nabi tentang kelebihan nabi Musa a l a i h t s s a l a m Sedangkan Khidhir. Sesungguhnya tidak ada peranan akal manusia untuk menghukumi baik atau jelek terhadap sesuatu. maka ia akan menjadi baik. sebagaimana tidak pantas bagi akal untuk mempertanyakan dari mana dan bagaimana wujud-Nya. Oleh karena itu. walaupun dia seorang nabi namun telah disepakati dia bukanlah seorang rasul. Khidhir tidak lebih dan salah seorang nabi bani israil dimana Musa adalah yang terbaik diantara mereka (nabi-nabi bani Israil). v a n g d i Dalil-dalil tentang hal ini banyak terdapat dalam A! Qui'an. "Kita harus memperhatikan dua kesalahan yang terjadi. diantaranya firman Allah.K u k a m u d a r i m a n u s i a b e r b i c a r a y a n g l a i n u n t u k m e m b a w d a n u n t u k l a n g s u n g d e n g a n . sedangkan kewajiban makhluk adalah ihklas serta berserah diri kcpadaNya. kita harus memperingatkan orang-orang yang keliru mengatakan bahwa Khidhir lebih baik daripada Musa berdasarkan cerita mi dan mereka tidak melihat kekhususan yang diberikan Allah kepada Mu->a mulai dari risalah kenabian. karena hal tersebut dikembalikan kepada hukum syar'i. Oleh karena itu.K u . mereka diperintahkan berdasarkan apa >ang diturunkan kepada Musa hingga nabi Isa. mendengar percakapan Allah dan menurunkan Taurat dalamnya terdapat segala sesuatu. Karena sesungguhnya kemampuan akal untuk mengetahui rahasia ketuhanan sangat terbatas. apa yang dilakukan dan diputuskan-Nya tidak dapat dijangkau oleh akal. karena sesungguhnya akhir daripada itu adalah kekecewaan.

bahwa Khidhir bukanlah seorang nabi seorang wali. maka dia adalah kafir. bahwa hukum-hukum Allah tidak akan dapat dipahami kecuali dengan perantara utusan-utusan-Nya yang menjelaskan kepada mahkiuk-Nya apa yang ditetapkan oleh syariat-syariat dan hukumhukum-Nya. maka nabi adalah lebih utama daripada seorang sebagaimana ditetapkan oleh akal dan wahyu. sehingga tidak membumbkan hukum yang bersifat kulli (universal) seperti syariah. halal darahnya dan tidak akan diterima taubatnya. tetapi wali. Barangsiapa yang mengklaim bahwa ada jalan lain selain jalan yang telah disampaikan kepada rasul untuk mengetahui perintah dan larangan-Nya. "Dan Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia" dan firman-Nya. mereka mencari cela dalam kisah ini. orang-orang zindiq yang berusaha menghancurkan syari'at. Hal tersebut dikarenakan hati mereka suci dari kekeruhan dan terbebas dari tipu daya. Oleh karena itu. Hal itu diperkuat oleh sebuah hadits masyhur. bahwa hukum-hukum syariah bersifat awam dan diperuntukkan khusus bagi orang-orang awam dan bodoh. Mereka telah mengetahui hukum-hukum yang bersifat terperinci atau kecil. sebagaimana yang dialami oleh Khidhir yang tidak membutuhkan ilmuilmu yang ditampakkan kepada Musa. Seperti firman Allah dalam surah Al Haj j ayat 75. Merupakan sunah-Nya.Jika kita katakan. "Ini adalah perkataan orang-orang zindiq dan kafir. Dia mengatakan. maka dia telah menyatakan sesuatu 4 2 4 — FATHUL BAARI . Mereka mengatakan. dari kisah Musa dan Khidhir dapat disimpulkan. hingga tampaklah di hadapan mereka ilmu Ilahi dan hakikat-hakikat Tuhan. Itu adalah dakwaan yang menetapkan bahwa ada seorang nabi setelah nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. karena orang yang mengatakan bahwa dia mengambil hukum berdasarkan hatinya dengan keyakinan itu adalah hukum Allah dengan mengacuhkan Al Qur'an dan Sunnah. karena mengingkari apa yang diajarkan oleh syariah. "Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan-Ny a" (Al An'aam (6): 124) Allah memerintahkan mereka agar mentaati apa yang datang dari para rasul. "Tanyakan hatimu walaupun aku telah memberi fatwa kepadamu" Al Qurtubi berkata. karena apa yang dibawa mereka mengandung hidayah dalam dorongan untuk mentaati ketaatan mereka. kisah dapat Kedua. Musa dan Khidhir adalah sebagai ujian bagi Musa agar dia mengambil pelajaran. sedangkan para wali dan kalangan khawas tidak membutuhkan nash (teks) tersebut Mereka bergantung kepada apa yang terlintas dalam benaknya dan menghakimi berdasarkan kecenderungan yang ada dalam hati mereka.

' Al Cjurtubi mengatakan. Kita meminta petunjuk dan keselamatan kepada Allah. 'Aku tidak akan mengambil dari yang sudah mati." 45.^i j^i OJJI 123.' Yang lain mengatakan. maka dia itu berperang di jalan Allah. dari Tuhanku. seperti sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam." Kemudian Rasulullah mengangkat kepalanya Rasul tidak mengangkat kepalanya jika si penanya tersebut tidak berdiridan berkata.. namun sesungguhnya aku mengambil dari Yang Hidup dan Tidak Mati. "Barangsiapa yang mengambil kesimpulan dan kisah Musa dan Khidhir.' Semua perkataan itu dianggap kufur. "Siapa yang berperang karena hendak menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya. "Sesungguhnya ruh suci lelah membisikkan dalam hatiku.j i i Jii J^y J\ 'J^ t i ' ' l' t i * ' ' ' ° y^>- JJ'UJJ IWIF- J ^ L'i^-I Jl* Al ij v! £*j ^i Juiii U Al Jj—j J^ ij vl Y Al CiS' jjSJJ jji i ^ Jui Uji* jis" 4ji V 'i . maka dia telah sesat." F A T H U L BAARI — 4 2 5 .yang dikhususkan kepada para nabi. Li-j Al J^A. j ' S Ai J ^ ' ' ' I * > \ J i j i . 'Aku mengambil sumber dari hatiku. "Sebagian mereka berkata." Sebagian dari mereka mengatakan. Abu Musa radhiallahu anhu bercerita. "Ya Rasulullah! Apakah artinya perang fi sabilillah? Diantara kami ada yang berperang karena marah dan panas hati.SESEORANG YANG B E R T A N Y A D E N G A N BERDIRI S E D A N G K A N YANG ALIM D A L A M KEADAAN D U D U K L J Ji— a X . bahwa seorang wali boleh memberitahukan rahasia-rahasia suatu permasalahan yang berseberangan dengan syariah dan melakukannya.

. dan anjuran untuk menjawab suatu pertanyaan. . I—' v fljjl J_p -S- - - - • 0 l—i i ' i. " Jawab Rasul. "Ya Rasulullah." Juga merupakan dalil bahwa seseorang diperbolehkan meminta sesuatu yang dibutuhkan dengan berdiri dengan syarat tidak ada rasa angkuh dan kesombongan. tidak ada dosa bagimu. D o n Abdillah bin Amru. Pembahasan lebih lanjut akan kita temukan dalam kitab Al Jihad. - - . Kemungkinan yang berbicara adalah Abu Musa atau orang lain. . BERTANYA DAN MEMBERI FATWA KETIKA MELONTAR JLMRAH • i^S. ' k J L " ' u '/*•-> J > ~ j jjl^o 124.Keterangan Hadits: Bertanya dengan posisi berdiri kepada seorang alim yang sedang duduk bukanlah perbuatan yang disukai. - 1 . Salah seorang dari mereka berkata. "Ya Rasulullah. "Lempar saja. karena jawaban beliau mencakup apa yang ditanyakan. > fl ' l — * (Barangsiapa yang berperang). *—~L t—^i *—v (Dan dia tidak akan mengangkat kepalanya). "Sembelihlah 4 2 6 — FATHUL BAARI . "Pada saat saya berada di Jumrah. sebelum melontar sava telah menyembelih". beliau berkata. msya Allah.i L J O±^> ~'' C—' t " -• 'L» 'J 1 1 J . ^' . saya telah mencukur rambut sebelum berkurban." Kemudian yang lain bertanya. Hadits ini merupakan bukti atau penguat dan hadits "Seluruh perbuatan tergantung kepada niat. . Jawaban tersebut menunjukkan jawami' kulim (kemampuan sastra) Rasulullah. Rasulullah berkata. tapi diperbolehkan dengan syarat tidak adanya keangkuhan ketika melakukan hal tersebut. keutamaan para Mujahidin adalah khusus bagi orang yang berjuang demi menegakkan kalimat Allah. saya melihat Rasulullah SAW sedang ditanya. 46.

juga berpegang kepada khabar mi dan berkata. wallahu A'lam. Jika sebuah perintah ditujukan kepada 2 perkara kemudian dirangkaikan dengan huruf "\vaw'\ maka menurut Al Ismaili. Apa yang diinginkan oleh Imam Bukhari dalam pemberian judul ini merupakan suatu hal yang baik." Kemudian Al Ismaili juga mengkritik judul tersebut dengan mengatakan. prinsipnya adalah mendahulukan yang didahulukan dan mengakhirkan yang diakhirkan. karena menurut mereka tema di atas menjelaskan kejadian pada saat melontar. Jawabannya adalah. tetapi hadits tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah hanya berdiri di tempat melontar Jumrah. Hadits ini telah disampaikan pada bab "Futya A'ala Dabbah" dan pada akhir pembahasan haji Abdul Aziz bin Abi Salmah adalah Ibnu Abdullah yang dinisbatkan kepada kakeknya. yaitu bab tanya jawab dalam perjalanan dan bab pertanyaan pada hari Nahr. Jika memang harus maka lebih baik membuat judul baru." Kemudian tidak ada pertanyaan yang dilontarkan sebelum atau selelahnya kecuali beliau berkata. "Hingga ada dalil yang menunjukkan urutan tersebut.kurban dan tak ada dosa bagimu. Beberapa orang tidak setuju dengan judul tersebut. bahkan merupakan suatu keharusan untuk bertanya tentang masalah yang tidak diketahui pada saat F A T H U L BAARI — 427 . bahwa tidak ada faidahnya menjadikan tempat berlangsungnya tanya jawab sebagai bab tersendiri. Imam Bukhari sering menggunakan lafazh yang umum. Abi Salmah Al Majisyun. "Kerjakan. Dengan khabar ini. maka mereka tidak akan bertanya tentang didahulukannya perbuatan kedua dan yang pertama. maksudnya kesibukan seorang alim dalam mengerjakan ketaatan tidak menjadi penghalang untuk bertanya tentang ilmu. Kemudian orang yang berpendapat bahwa kalimat tersebut tidak menunjukkan urutan. Al Ismaili berargumen bahwa urutan sesuatu tergantung kepada redaksionalnya selama tidak ada dalil yang menyatakan sebaliknya. Kesimpulannya adalah apabila mereka tidak memiliki paham yang sama dengan pendapat ini. Juga diperbolehkannya bercakap-cakap ketika melontar dan melaksanakan manasik lainnya." Keterangan Hadits: Bab bertanya dan memberi fatwa ketika melontar Jumrah. Jawaban atas tidak adanya faidah telah kita kemukakan sebelumnya. tidak ada dosa bagimu. kecuali jika ada dalil yang menunjukkan wajibnya persamaan. maka terjadinya pertanyaan di tempat Jumrah lebih umum daripada mengkhususkannya pada saat Nabi sedang atau sesudah melontar.

i . Apa yang dikehendaki oleh Al Ismaili (untuk membuat bab sendiri-penerj. bahwa hari "Id adalah hari suka cita sehingga tidak diperkenankan adanya pertanyaan tetang sesuatu pada hari itu.bit'i'i j l-t5Ja . seakan-akan dia ingin mengganti waktu dengan tempat. Sedangkan yang kedua. Wa Allahit A 'lam.melaksanakannya. Akan tetapi beberapa penghayal telah berkhayal. ~—^ ' " ^JS- ) O yj ^UU^LoJ ! 1 I I ' .) telah dilakukan pertama kali dalam bab "Futya Wahuwa Waaqif 'Alaa Ad-Daabbah". Kasus ini meskipun dilarang. ' ' ^ fA JAS ' 4JC . 'O £ ' >— J ^ - » ' ' ' ' ^ ^'^ * U I ' ^ j ' '' j ^ O \J l « ij*< t — ~ " U^ ! ' I Iji lj J t U U*Ji I J> «jj c — v !. bahu a tanya jawab yang dilakukan pada saat Jumrah akan menyusahkan para pelontar lainnya.'''' (Qs. FIRMAN ALLAH. walaupun telah diketahui bahwa pertanyaan tentang ilmu tidak terkait dengan hari. tetapi terdapat pengecualian jika pertanyaan tersebut berkaitan dengan hukum ibadah yang sedang dijalankan.» i y ' l J l i *>Ui 4 2 8 — FATHUL BAARI . Hal tersebut dikarenakan sahnya suatu pekerjaan berkaitan dengan pengetahuan tentang tata cara pelaksanaannya. 47. Kemudian pertanyaan yang diajukan kepada seorang alim di tengah jalan tidak mengurangi derajatnya dan pahala orang yang bertanya.j y^A <CjL _J U-USJ yfr~4jU JL U U "-'i c -Js— J* r < j JyJ 'T ^Xj" . Kemudian \ a n g dapat diambil dari hadits im adalah bantahan kepada orang yang menduga. "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. Al Israa"(17): 85) ' ' S ' ' fi ' B 2Ju J'ULI J^^_J' J t ' r /.

dan lain-lain. " M a d i n a h . bahwa yang ditanyakan wahyu. d i t u n a i k a n . s e k e l o m p o k k e p a d a n y a K a l a u . ji w-j —. tapi yang jelas hanya Allah yang mengetahui hakikat ruh. Ada juga yang berpendapat. p u n ' M a r i b e r d i r i s e o r a n g A p a k a h s a a t b e l i a u . Di sana akan kita jelaskan tentang apa yang dimaksud dengan ruh hewan.i* (Saya berdiri) sehingga saya tidak mengacaukan konsentrasi beliau.y 1 (Beberapa orang Yahudi). r^i'j—Mayoritas orang-orang Yahudi itu adalah hakikat ruh yang ada dalam hewan. penciptaan ruh. bahwa yang mereka tanyakan adalah tentang malaikat Jibril. '. Hal ini akan disinggung dalam Kitab A t . Al Qur'an. •_-. ruh itu urusan Tuhan belaka.r u m a h s e o r a n g m a s a l a h b e r k a t a R u h . s a v a k u r m a C e r i t a d a r i A b d u l l a h r a d i a l l a h u y a n g ' a n h u . Atau setelah terlepas dan himpitan. j—l^J 1 LLJ. FATHUL BAARI — 429 . d a r i " K e t i k a p e l e p a h m e l e w a t i b e r j a l a n d i b e r s a m a r e r u n t u h a n R a s u l u l l a h b e r t e l e k a n d i t o n g k a t r u m a h . "Mereka bertanya kepadamu perihal masalah ruh. nabi Isa. karena takut jika beliau memberi jawaban yang tidak menyenangkan kita. -^ atau tongkat dan pelepah kurma. k e p a d a y a n g k a m i l a i n . b e r d i r i b e l a k a n g S e t e l a h b e l i a u m e m b a c a . Saya tidak menemukan nama-nama mereka —>v 'i J e'J-:' Janganlah kalian tanyakan hal itu. " K e m u d i a n A b u s a y a d i b e r k a t a . karena datangnya pendapat mengatakan. " d i a . m e r e k a b e r t a n y a . m e m b e r i k a n l a i n n y a d a r i y a n g i t u j a w a b a n m e n y e n a n g k a n . " N a b i m a k a " W a h a i d a n d i m a k s u d w a h y u d e n g a n t e r d i a m a k u i k u t p u n p a d a s e d a n g s e l e s a i d i t u r u n k a n . b e l i a u b e r k a t a . atau dalam kata lain saya berdiri dengan tegak sebagai pembatas antara Nabi dan orang-orang Yahudi. i n s y a A l l a h . Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit"(Qs Al Israa'(J7): 85) Keterangan Hadits: Abdul Wahid adalah Abu Ziyad Al Bashn.T a j s i r .125.>• berarti reruntuhan. Katakanlah kepada mereka. S a l a h " T a n y a k a n " J a n g a n ! ( M u h a m m a d ) d i a y a n g Y a n g y a n g k i t a d a n R u h 0 l a i n k u r a n g t a n y a b e r k a t a .k a l a u A k a n s a l a h Q a s i m ! d u g a t e t a p i Y a h u d i .

maka apa yang dia bicarakan mengenai Ka'bah?" Saya berkata. M E N I N G G A L K A N SEBAGIAN I K H T I Y A R K A R E N A T A K U T SEBAGIAN M A N U S I A T I D A K M E M A H A M I N Y A SEHINGGA M E L A K U K A N K E S A L A H A N YANG LEBIH BESAR jl_i j> j ± iiL !^ r J 'j JJl^-i 'j J * j * 'j 4L1 x i 'jj CJ^ j> Hi >.niscaya kurombak Ka'bah. "Ibnu Zubair berkata kepada saya.72 H. 'Dengan kekufuran. ty£ Ji maksudnya bacaan Al A'masy.'. karena Abu Abid dalam kitabnya Al Qira 'at tidak memasukkan bacaan Al A'masy.y ^ o I_JIJ_J j j . Akan kubuat dua pintu. 4 3 0 — FATHUL BAARI .Dalam lafazh Al Kasymihani.™ Maka Ibnu Zubair (Dalam masa pemerintahannya 64 . "Aisyah berkata kepada saya. 48. bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasaliam bersabda.L f i ' . bahwa Aisyah banyak membuka rahasia kepadamu. Wallahu A 'lam. Ubaidillah bin Musa menceritakan kepada kami dari Israil dari Abu lshaq dari Al Aswad. Bacaan ini bukan termasuk qira 'at sab 'ah dan bukan termasuk qiraat-qiraat terkenal lainnya. satu pintu masuk dan yang satu lagi pintu keluar. Dia berkata. Aisyah! Jikalau tidak karena kaummu masih baru (memeluk Islam) -Ibnu Zubair berkata.T£ IJ idi L j i i ^jir j jii dL-Jy Jj 'l a jij i i j L > Jtii j i i J 'ciu L i i ^ jjl J l J i i ^ . LjJ L i i i o iJtSJl C-^a-aJ y i ^ j ' 1 ^ J o 1' u ' ° •y ^ y ' 'H 1' • • • ' 1 ' L' I "n 1' ° ' "djuii j ^ t ^ . 'Hai. penerj J benar-benar melaksanakan apa yang disabdakan Nabi itu.L J ' 126.

dan Ismail meriwayatkannya dari jalur Zahir bin Muawiyah dari Abu lshaq dengan lala/h. keeuali perkataan dia ~ C yang digantikan dengan kata-kata C v ^ . seorang sahabat yang terkenal.'n'u ismaili lebih condong kepada riwayat 1111 daripada riwayat Israil. ^ . karena orang Qurais\ sangat mengagungkan Ka'bah. — ^ ~. Israil adalah Ibnu Yunus.. maka Nabi SAW takut kedekatan masa mereka dengan Islam akan membuat mereka mengira bahwa Nabi hendak mengubah bentuk Ka'bah. diantaranya diperbolehkannya meninggalkan kepentingan demi menjaga timbulnya kerusakan.N a k h a ' i . Ishaq adalah As-Sabi'i dan dia kakek dari Israil yang meriwayatkan darinya.J menambahkan dengan kata-kata Adapun perkataan menyebutkannya. Zubair (. FATHUL BAARI — 431 . sehingga Ka'bah lebih identik dengan kebanggaan bagi umat Islam saja dan bukan menjadi kebanggaan mereka lagi H a j i .karena Al Aswad lupa Ui^sampai akhir hadits). Ibnu Zubair 'J atau Ibnu setelah itu. Nabi SAW. "S. Dalam lafazh Al Ushaili disebutkan . dan semua Sanad yang disandarkan kepadanya adalah orang-orang Kufah. Berdasarkan perkataan dia. d a n ' E n g k a u d i b e r i t a h u k a n s a t u h a d i t s v a n g e n g k a u h a f a l a w a l m u e n g k a u l u p a k a n a k h i m v a . juga mempunyai dua kemungkinan. dan seorang pemimpin harus mengurus apa yang menjadi kepentingan raky atnya.K e t e r a n g a n Hadits: Bab ini menjelaskan tentang meninggalkan hal yang terbaik dan tidak menyebarluaskannya. seperti akan diterangkan pada kitab Makna hadits mi ada hubungannya dengan penamaan bab ini. apakah kalimat ini diantara kalimat yang dilupakan Aswad atau dia menyebutkannya. kemungkaran boleh didiamkan jika takut menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Begitu juga Imam Bukhari dalam kitab dan jalur lain dari Al Aswad. ' " i d r a p W a l l a h u A ' l a m . Sementara Ibnu Zubair adalah Abdullah (Abdullah bin Zubair). m s v a A l l a h . Sedangkan Al Aswad adalah Ibnu Yazid A n . Sesungguhnya hal itu telah dinw a\ atkan oleh Tirmidzi dan jalur Syu'bah dari Abu lshaq. Pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini. dan Al Aswad dengan lengkap. maka dalam riwayat Syu'bah terdapat * yaitu Zubair membangun Ka'bah seperti yang diinginkan H a j i b e r k a t a ..

' i 'f * . . J ' ' J* cr*r Oi^-*** - 127. bab ini membahas perkataan atau ucapan. ' " i L ' o i . Dia berkata.sampai akhir riwayat. KARENA KHAWATIR MEREKA TIDAK MEMAHAMINYA . Dia seorang tabiin yang kurang terkenal. kecuali dalam pembahasan ini.*J j . yang berasal dari Makkah. Dia tidak memiliki riwayat lain dalam Shahih Buhkari. apakah kalian suka jika seseorang akan berbuat dusta kepada Allah dan rasul-Nya? " Ubaidullah bin Musa menceritakan kepada kami dari Ma'ruf bin Kharrabudz. sedangkan bab sebelumnya membahas perbuatan dan ucapan sekaligus. J Ilmu dari Abdullah bin Dawud dari Ma'ruf. Dalam riwayat selain dia telah didahulukan matan haditsnya. dari Abu Thufail dan dari Ali tentang hal itu. /I// radhiallahu 'anhu berkata. . jj_JYU \y%-. Begitu pula yang terdapat dalam riwayat Abu Dzar. namun perbcdaanya. dimulai dengan menyandarkan hadits langsung kepada Ali (Muallaq). Keterangan Hadits: Penamaan judul bab ini hampir menyerupai judul bab sebelumnya.. t j' ° L °'-F L L . Ubaidullah adalah Ibnu Musa. 4 3 2 — FATHUL BAARI j/jfll Uj atau jj-^j-^ (Dan tinggalkan Adam bin Abi Iyas menambahkan pada akhir riwayat dalam kitabnya/l/ ^ i/joj ." Kemudian. setelah itu baru mengikuti matan dengan sanad.J l i j ' 9 i' . "Berbicaralah kepada suatu kaum tentang apa yang telah mereka ketahui. sedang Ma'ruf adalah Ibnu Kharrabudz -seperti dalam riwayat Karimah.^ j j * Al ' j l j _j-3-*JI j y J*j F A ^ l U J ^ l O l I j j J b . "Ali berkata.'i . • J B \ > t ' t ( j — ^ u— e J^ ' 1 ^ ^ . Yang dimaksudkan dengan perkataan Ali."^Js. J' > ' ' * ' * 'j'f 'J&j * i ' t ti ' • * » .49. M E N G K H U S U S K A N SUATU P E N G E T A H U A N KEPADA SUATU KAUM DAN TIDAK M E M B E R I K A N N Y A K E P A D A K A U M Y A N G LAIN.

"Saya. sedangkan kata .'" Muadz menyahut. Keterangan Hadits: '—SJJj atau berboncengan di belakang Nabi SAW. mereka akan bersikap tawakkal saja tanpa amal." Kemudian ketika Muadz telah dekat ajalnya.. disampaikannya juga berita itu.J-U^i biasanya digunakan untuk seekor unta. "Ya Rasulullah! Apakah tidak lebih baik berita itu saya sampaikan kepada orang banyak. maka Allah akan melindunginya (mengharamkannya) dari api neraka. "Siapa yang mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu sesungguhnya Rasul Allah dengan pengakuan yang benar-benar dari hati sanubarinya. Akan tetapi Muadz pada saat FATHUL BAARI — 433 . karena dia takut berdosa (sebab menyembunyikan hadits). jl *i . "Hai." Muadz bertanya.*V . *Lf.-'V jUJ> Lgj 128. Sabi berkata. Muadz-'" Muadz menyahut. Nabi bersabda._. "Saya.J l-VLi*^ j l j < & l ^ 1 *i\ 'V j l . Dalam riwayat ini terdapat bukti. L >L-j U jjJ3 J I I JLIR j J L ^ Lj j i i JU ^JI \ju>j ^j —Lt Zi i/j». "Hai. . va Rasulullah! " Sabi berkata.\ «-J j lilw? ^IL J ^ .Jua J^i\ j i jJ}\J J JS\ \Z'Sj>„ Jl» aiLa J s - J> iJbol_-. Muadz. bahwa pada suatu ketika Sabi SA H' bepergian dengan kendaraan dan Muadz menyertai beliau di belakang. "Kalau mereka mendengar berita itu. ya Rasulullah!"Sampai tiga kali.UJLI AJ ^> -* _Llp -. supaya mereka gembira'/ " Sabi menjawab. Dicernakan ok'h Anas bin Malik radhiallahu 'anhu. b a h w a hal-hal y a n g syubhat tidak seharusnya diajarkan kepada orang-orang a w a m .ilmu p e n g e t a h u a n yang mereka Ingkah") m \ i s ^Ma &i ^ « r % v^ereVA Vviaifc dapat m e m a h a m i n y a dengan benar.

Ini akan kita bahas pada pembahasan Haji. seakan-akan dia mengatakan "Siap Rasulullah!" Namun keduanya adalah pujian yang mengandung makna penegasan atas kesiapan melayani dan melakukannya kapan saja. bahwa zhahir hadits bukanlah menjadi tujuan. "Oleh 4 3 4 — FATHUL BAARI ." Beliau berkata lagi. kemudian dikeluarkan dengan syafaat. Ditambahkannya kata-kata ini agar syahadah orang munafik tidak termasuk di dalamnya. Akan tetapi ahli sunnah berpendapat." (Az-Zumar (39): 33) ataupun mewujudkan perbuatan yang sesuai dengan apa yang diucapkan. "Sesungguhnya jaminan tidak disentuh api neraka dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan yang baik. 1 — m a k s u d n y a panggilan serta jawabannya dilakukan sebanyak tiga kali. seolah-olah Imam Bukhari ingin mengatakan. bahwa perkataan beliau "Shidaan" menduduki posisi istiqamah karena pengakuan adalah kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan khabar dan diinterpretasikan kepada perbuatan yang diridhai seperti firman Allah. Mungkin juga hubungannya dengan yasyhad atau bersaksi dengan hatinya. hanya saja kemungkinan pertama lebih tepat. bahwa terdapat dalil yang bersifat qath 'i yang menunjukkan adanya sekelompok orang-orang beriman yang diazab dalam neraka karena perbuatan maksiat yang mereka lakukan. dan -w artinya bantuan. seperti akan diterangkan dalam pembahasan Jihad. Dari sini diketahui. Ath-Thibi mengatakan. «±<i JJLJ C iip J'J) i u i di sini artinya menjawab panggilan ya. yaitu dengan kata lain mengucapkan dengan lidah dan mengukuhkannya dalam hati. Perkataan beliau *Ji ^ (dari hati sanubarinya) mungkin ada hubungannya dengan shidqu. tidak hanya dengan bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah. Hal itu dinyatakan dengan jelas dalam riwayat Muslim dan diperkuat oleh hadits sebelumnya pada bab ""Siapa yang Mengulang Pembicaraan hingga Tiga Kali agar yang Mendengar Dapat Memahaminya".itu berboncengan di belakang Rasulullah di atas keledai. insya Allah. L—>'-v (pengakuan). Ada pendapat yang mengatakan. "Dan orang vang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya. karena hadits tersebut secara zhahir menghendaki semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat tidak masuk neraka dikarenakan keumuman dan penegasan yang terdapat dalam hadits tersebut. Dengan keterangan ini Imam Bukhari bermaksud menghilangkan problem yang berkaitan dengan makna zhahir hadits. (ll'xw_. bahwa Labbaik menurut etimologi tidak seperti itu.

Diantara jawaban para ulama. Hal seperti itu terdapat dalam hadits Abu Musa yang diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad Hasan. karena hadits seperti ini terdapat dan Abu Hurairah seperti yang diriwayatkan oleh Muslim. jjUili-. maka mereka akan pasrah saja.karena maksud hadits bukan zhahimya." Para Ulama juga memberi jawaban lain tentang kasus ini. i'USsi' ataupun mereka dengan sengaja meninggalkan ibadah seperti yang terlintas dalam pikirannya dari dzahir hadits. Akan tetapi jika manusia mendengar hal FATHUL BAARI — 435 . bahwasanya Nabi SAW mengizinkan Muadz menyebarluaskannya. Nabi bersabda tentang ini sebelum kewajiban-kewajiban sebagai seorang mukmin diturunkan. neraka yang dipersiapkan bagi orang-orang kafir. Dalam lafazh Al Ushaili serta Al Kasymiham. diantaranya kemutlakan hadits dikaitkan dengan orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan bertaubat kemudian meninggal dalam keadaan Islam. "Wahai Nabi Allah. l^iSo IJ . Lalu ada yang menjawab. dan kedatangan Abu Musa pada tahun yang sama dengan Abu Hurairah. Yaitu apabila engkau memberitahu mereka. maka Nabi melarang Muadz untuk menyebarluaskan hadits ini. Kemudian. Wallahu a 'lam. Kemudian maksud dari diharamkannya dia atas api neraka. dan Abu Hurairah menjadi salah seorang sahabat setelah banyak kewajiban diturunkan. bahwasanya penafsiran dengan menggunakan zhahir tersebut keluar dari kebiasaan. "Jangan dilakukan sekarang!" Kemudian dia masuk dan berkata.' 'J? dan lafazh selebihnya mereka menghilangkan huruf "nun ". Dalam jawaban tersebut ada yang perlu diperhatikan. karena api neraka tidak melahap bagian-bagian bekas sujud seorang mukmin. yaitu diharamkannya untuk abadi dalam neraka. begitu pula lidah yang mengucapkan kalimat tauhid. jjj Begitu pula dalam lafazh Abu Dzarr. sesungguh yang paling bijaksana pandangannya adalah engkau. maksud dari pengharaman dari api neraka adalah pengharaman dari pembakaran seluruh badan oleh neraka. seperti yang ditetapkan dalam hadits syafaat bahwa ha! itu terjaga dari api neraka. karena yang biasa terjadi adalah orang yang menyakmi keesaan Allah akan taat pada perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Al Bazzar meriwayatkan dengan sanad hasan dari hadits Abu Said Al Khudri RA yang berkaitan dengan kasus ini. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah. kemudian dia bertemu dengan Umar dan dia berkata kepada Muadz. bukan neraka yang diperuntukkan bagi orang mukmin yang melakukan maksiat.

" Kasus ini masuk dalam kategori dipakainya pendapat Umar oleh Rasul. dan vang tepat adalah pendapat pertama. seperu yang diriwayatkan Ahmad dengan sanad shahih dari Jabir bin Abdullah Al Anshari. Juga menjelaskan keilmuan 4 3 6 — FATHUL BAARI . ''^4^ bahwa seorang hamba memiliki pilihan atas kelakuannya. karena Muadz menunda menyampaikan hadits hingga dekat w afatny a. inakanya Muadz memberitahukan hadits mi kepada orang yang dia percaya tidak akan bersikap begitu Jika demikian apabila kaitannya tidak ada. Menurut pendapat saya. kata ganti (dhamir) tersebut ditujukan kepada Muadz. Sebagian ulama Mutakallimin dari A s y a r i menyimpulkan dari perkataan beliau. . i—Ifc (Takut dosa) atau takut terjerumus ke dalam dosa. Pendapat pertama lebih mengenai sasaran. Hadits ini menjelaskan diperbolehkannva berboncengan dan tawadhu' (rendah hati) seperti Rasulullah SAW. kenapa Muad? memberitahukan hadits ini pada akhir hayatnya. apa yang yy U* (Ketika kematiannya) atau kematian Muadz." Menurut sava. bahwa ada kemungkinan kata gantinya ditujukan kepada Rasulullah. Jika tidak.itu. j ' maka disebutkan hadits ini. karena beliau bersedia uiituk duduk satu kendaraan dengan Muadz." Nabi bersabda.. I lal ini telah diterangkan dalam hadits permulaan wahyu dalam perkataan N a b i . "Bentahu aku siapa yang menyaksikan perkataan Muadz ketika akan meninggal " Dia mengatakan. Qadhi lyadh berpendapat.. "Maka tolak saja haditsnya. Dia berkata. "Saya mendengar dari Rasulullah SAW sebuah hadits yang tidak dilarang bagi sava untuk menyampaikannya kepada kalian kecuali beliau takut kalian akan pasrah diri. riwayat berikut ini secara tegas menunjukkan larangan. hingga dia hanya menunda keinginan penyebarluasan hadits kepada mereka. mereka akan memasrahkan diri. Yang aneh Al Karmani mengatakan. Perbuatan Muad/ tersebut menunjukkan bahwa larangan menyebarkan hadits mi hanyalah sebagai sikap hati-hati. u ^ (menjauhkan diri dari berbuat dosa) Dosa yang dimaksud di atas adalah karena menyembunyikan pengetahuan (hadits). "Barangkali Muadz tidak memahami larangan yang ada dalam hadits tersebut. Hadits ini juga menjelaskan diperbolehkannya berijtihad di depan Nabi SAW. walaupun Allah telah mengetahui sebelumnya akan dia pilih. Atau larangan menyampaikan hadits terkait dengan sikap skeptis. bukan pengharaman. maka yang dikaitkanpun tidak berfungsi lagi.

" Muadz berkata. Anas tidak menyebut nama orang yang memberitakan hadits ini. Hal tersebut dikarenakan Muadz menyampaikan hadits ini menjelang ajalnya di negeri Syam. 3 . Sesungguhnya yang membawa hadits ini dan Muadz adalah Amru bin Maimun At Audi. ketidakjelasan yang terdapat dalam hadits ini dapat ditafsirkan dengan menggunakan salah satu dari keduanya. '' 1 Keterangan Hadits: ^—!—f^. Dia bekata. demikian pula Jabir bin Abdullah -seperti telah kita kemukakan yang ada pada Ahmad. karena Nabi mengatakan hadits ini hanya kepadanya. " Dia berkata.. Di dalamnya dijelaskan pula. bahwa Nabi mengatakan kepada Muadz. - J j j a >i J\J ^\ C — ' JU ysjw ^ b . Musaddad bercerita kepada kami. Oleh karena itu. maka dia masuk surga. seperti dijelaskan oleh Imam Bukhari dalam bab "Jihad" dimana kita akan membahas lebih lanjut konteks hadits ini. "Mu'tamir bercerita kepadaku. "Saya mendengar Anas yang berkata.Muadz bin Jabal. i^kj ji 129. sehingga mereka tidak menyaksikannya. " Dia berkata. seorang murid boleh meminta penjelasan mengenai hal-hal yang masih diragukan dan memperkenankan dia menyebarluaskan apa yang dia ketahui secara pribadi. FATHUL BAARI — 437 . "Barangsiapa yang menghadap Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. "Saya mendengar dari bapak saya. Nasa'i meriwayatkannya dari jalur Abdurrahman bin Samrah. "Tidakkah lebih baik jika kusampaikan kepada orang banyak?" Nabi bersabda. seorang sahabat terkenal.J L * i J _ _ . -•' 3 I ' ' ' ' \. Dia juga mendengar hal itu dari Muadz. UjJL»- j _ > 'l ^ Jl j ^ i ^lli! jii ^Ld *yi J l i s £«Ji J i o y L^i ^ i ^JIJ jl* v 2)1 ^ ^ .L > . seorang Hadhrami.' ' l' ' ' * .-Z'* ' ' ' l . "Jangan! Sesungguhnya aku takut mereka akan berpasrah diri. Wallahu A 'lam. sedangkan Jabir dan Anas pada saat itu ada di Madinah.tidak menemukannya dalam semua jalur.

dan itu seperti halnya ^JL<. sesungguhnya dia telah berbuat dusta kepada Allah. Kemudian dia melihat bahwa larangan tersebut ternyata hanya dikhususkan kepada orang awam saja. barangsiapa yang meninggal dunia sedang dia beriman terhadap semua yang wajib diimani. Seperti ucapan seseorang. "Tidakkah baik jika kusampaikan kepada arang banyak " Kemudian dia mengamalkan keumuman larangan tersebut dengan tidak memberitahukan hadtts ini kepada semua orang. maka sah shalatnya. Seharusnya dia mengategorikan hadits ini ke dalam Mubhamai (hal-hal yang belum jelas). • 'f disampaikannya juga berita itu. sebab barangsiapa yang berbuat dusta kepada Rasulullah. Maka maksud hadits di atas adalah. J—^ j ' ^ '-f • (Ketika Muadz telah dekat ajalnya. karena masuk surga mempunyai konteks yang lebih umum. (menjauhkan diri dari perbuatan dosa). maka dia adalah orang musyrik. terlepas apakah diazab dulu di neraka atau langsung masuk ke dalam surga. Dari hadits ini dapat diambil faidah bahwa seseorang yang l e b i h 9 4 3 8 — FATHUL BAARI . oleh karena itu pada akhirnya dia menyampaikan hadits tersebut kepada orang-orang tertentu. "Barangsiapa yang berwudhu. adalah hari ^JJ 'i (Tidak menyekutukan Allah). Hal itu diperkuat jika larangan tersebut bersifat umum maka dia tidak akan menyampaikan hal tersebut. Peniadaan kemusyrikan telah menunjukkan ketauhidan seseorang serta pengakuan terhadap rasul secara otomatis. Yang ditakutkan oleh Muad/. Mungkin juga maksudnya kebangkitan atau melihat Allah di hari akhirat. adalah dosa yang disebabkan menyembunyikan pengetahuan yang dimilikinya. *—l*Ji J ^ J tidak terdapat kesamaran seperti pada hadits sebelumnya." dengan maksudjika dia juga mengerjakan syarat-syarat yang lain. dijelaskan lebih lanjut mengenai potongan hadits ini. karena dia takut berdosa) aninya perasaan takut terjerumus ke dalam dosa. dia telah menyatukan 2 hukum yang berbeda.Catatan: Dalam kitab Musnad Anas yang merupakan kumpulan hadits mursal. Dengan demikian. Dalam perkataan beliau. t w r' *— 'J? IR* (Barangsiapa yang menghadap Allah) atau barangsiapa yang meninggal dunia. Sepertinya dia memahami bahwa larangan dari Rasulullah bersifat umum berdasarkan perkataannya. dan barangsiapa yang berdusta kepada Allah.

"Barangsiapa meninggal dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. dia tidak pernah membicarakan ini kepada kalian hingga ajal menjemputnya. Larangan tersebut sebenarnya untuk kemaslahatan dan bukan bentuk pengharaman. "Saudaraku benar. "Ya Rasulullah' Saya anjurkan engkau tidak melakukannya. maka biarkan mereka terus berusaha. Maka Abu Darda' berkala. Kata V (jangan) berfungsi sebagai larangan. karena sesungguhnya aku lakui mereka akan bersikap pasrah saja. terjadi setelah kisah Abu Hurairah." Maka mereka pun masuk menemuinya. tidak mungkin aku akan menceritakan kepada kalian tentang hal itu. bahwasanya Abu Ayyub memerangi orang Romawi sehingga dia jatuh sakit. Hanya saja larangan tersebut tidak berhubungan dengann kata ." Mirip dengan hadits ini adalah riw ayat Abu Ayyub dalam kitab Musnad daii jalur Abu Zhibyan." Nabi pun bersabda. "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda.j l ^ I (saya takut). "Barangsiapa yang meninggal dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. maka ketika sekarat dia berkata. Muadz menyampaikannya berdasarkan keumuman ayat yang mengharuskan untuk menyampaikan. kemudian dia bertemu dengan Umar dan melarangnya dengan berkata. "Biarkan mereka berusaha" Seakan-akan ucapan Nabi kepada Muadz "Aku khawatir mereka akan bersikap skeptis".berada dalam kondisi seperti Muadz. "Akan kusampaikan kepada kalian satu hadits yang aku dengar dari Rasulullah Jika bukan karena keadaanku. dia akan masuk surga. diperkenankan melakukan seperti yang dilakukannya. " Apabila yang disebutkan di atas adalah jawaban dari kesamaran tersebut. Oleh karena itu. Aku mendengar beliau bersabda." Saya tidak akan membicarakannya kepada kalian kecuali ketika hendak meninggal. Dia berkata. ia berkata. "Suruh orang-orang masuk menemui saya. Yang menjadi saksi saya atas hal itu adalah Abu Darda . tetapi FATHUL BAARI — 4 3 9 . maka Allah akan menempatkannya di dalam surga. Wallahu A 'lam. "kembalilah wahai Abu Hurairah!" Kemudian Umar berjalan bersamanya dan berkata. Jawaban ini sesuai dengan riwayat yang dikeluarkan Ahmad dari jalur lain -dalam jalur itu ada sanad yang terputus dari Muadzbahwasanya ketika Muadz hendak wafat. maka saya akan menjawab bahwasanya Muadz terbukti tidak memaksudkan larangan dengan pengharaman atas dasar bahwa Rasulullah menyuruh Abu Hui -'^ah untuk menyebarkan berita tersebut kepada orang banyak.

karena sesungguhnya aku khawatir mereka semua akan bersikap pasrah. sehingga mereka saling berlombalomba dalam mencari amal.berkaitan banyak. "Jangan! Biarkan mereka. dari Mu'tamir t'j—£S J —'J J')—> J i — j > iVLo^ yi "Nabi bersabda. dengan upaya untuk tidak menyebarluaskan kepada orang Dalam riwayat Karimah. " 4 4 0 — F A T H U L BAARI . dan dalam riwayat Hasan bin Sufyan dalam kitab Musnadnya dari L'baidiilah bin Muadz. lafazhnya J i ' J\.

' l ' ' ' P \Jj^-\ " ' L ' JL» " • V . Dari Ummu Salamah.1 - " ' ' 0 ' k » ' ' w ^ J)I j l 4JJI J y» ju r j L Jjlii j i i l . j AILP JjI ^Lj=> i ) i J_J~-j ^ ' O I I U I iii S-* ' i » J ' S F P ^ j * i j^Ji A L J L JJ L c J U j \-$&>r* . '"Orang yang malu dan sombong tidak menuntut ilmu. "Ya wajib. dan bukan FATHUL BAARI — 4 4 1 . Dia berkata. S . MALU D A L A M M E N U N T U T ILMU Mujahid berkata. "Wahai Rasulullah." 0Jj I P j! fy\^J> Lj-L>.50.U ^ T * L\JJJ>' S 0. dan ini adalah perbuatan yang terpuji. berlumuran tanahlah tanganmu. "Kaum wanita yang paling beruntung adalah wanita Anshar." Aisyah berkata. sesungguhnya Allah tidak segan (mengatakan kepadamu) tentang kebenaran.UJJ^J L f ^ I U A»J— f*l LJ-JAJU (. "Benar. dari Zainab anak Ummu Salamah. sebagaimana telah dikemukakan bahwa malu adalah sebagian dari iman. Hisyam bercerita kepada kami dari bapaknya.LJl O l j lii j j — J c n y " f*i J l i OL^Jl ^JII^JJL 130. rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami masalah-masalah agama. "Wahai Rasulullah. apakah seorang wanita juga bermimpi?" Nabi bersabda. "Ummu! Sulaim mendatangi Rasulullah SAW Dia berkata.karena malu dan berkata. jika dia melihat air (keluar mani)" Maka Ummu Salamah menutup -mukanya. Adapun malu yang dapat melalaikan perintah-perintah syariat adalah malu yang tercela. maka apakah bagi seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi " Nabi bersabda. Sikap ini sangat dianjurkan dalam syariat jika dilakukan untuk menghormati orang-orang yang lebih besar. Kalau tidak.J l i AJJUL* y) > J . kenapa anaknya serupa dengan dia?" 7 Keterangan Hadits: Bab malu atau hukum malu.

Kalimat (Aisyah berkata) disampaikan Imam Muslim dari jalur Ibrahim bin Muhajir. dari dia (Mujahid). Maka Aisyah berkata kepada dia. bahwa kalimat tersebut merupakan dalil bahwa sebagian kaum perempuan telah bermimpi dan sebagian yang lain tidak. j >J'. Dalam Shahih Muslim dari hadits Anas. Lafazh Al Kasymihani yaitu. dalam hadits yang diawali dengan pertanyaan Asma binti Yazid Al Anshari kepada Nabi tentang mandinya orang ya. maka tidak wajib mandi junub. bahwa Aisyah juga menutup mukanya. • • i«j j. anjuran kepada orang-orang yang menuntut ilmu agar mereka melepas sikap ketidakberdayaan dan sombong. dari Shafiah binti Syaibah dari Aisyah. "Kamu telah menjelekkan kaum wanita. ibu Anas bin Malik. i« • ^ (yaitu mukanya). yaitu melihat cairan yang keluar setelah bermimpi. '<. Tetapi dalam 4 4 2 — FATHUL BAARI . seperti yang ditetapkan dalam Shahih Muslim. dan yang melakukannya adalah Zainab. Jika tidak melihat cairan (walaupun bermimpi). tL-J JL>\J '. yang keduanya bisa mempengaruhi ketidaksempurnaan dalam menuntut ilmu. 'i. g sedang haid.JI (Jika dia melihat cairan yang keluar). oleh karena itu Ummu Salamah mengingkarinya.malu yang disyariatkan. Ini menunjukkan bahwasanya hal ini benar-bernar terjadi. Perkataan Mujahid ini disampaikan oleh Abu Nu'aim dari jalur Ali bin Al Madini. sedangkan kata ganti yang ada kembali kepada Ummu Salamah. Ummu Sulaim mengungkapkan pembicaraan ini secara sederhana.—&Jj (dan bermimpi). Sebagian pendapat mengatakan. "Tidaklah menuntut ilmu orang yang malu" Seolah-olah yang dia maksudkan adalah. dan sanadnya shahih menurut penulis. Ummu Salamah adalah binti Malhan.i ^Jo^ (Maka Ummu Salamah menutup mukanya). 'j—. dari Ibnu Uyainah. Itulah yang dimaksudkan oleh Mujahid dengan ungkapannya. Mungkin kedua cerita ini bisa akumulasikan." J—Ui-i 1 h\ (Jika dia bermimpi) atau melihat dalam mimpinya bahwasanya dia bersenggama. (Sesungguhnya Allah tidak segan (mengatakan kepadamu) tentang kebenaran) atau Allah tidak menyuruh manusia untuk bersikap malu-malu dalam kebaikan. karena dia ingin membuka permasalahan kewanitaan di hadapan kaum laki-laki. -UiJ y. Yang mengatakan ini adalah Urwah. yaitu keduanya hadir pada majelis tersebut. dari Manshur. Nabi menjadikan melihat cairan sebagai syarat mandi junub. ^~J~t ^ -—ui j .

g ingkari hal itu. B e n t u h u k a n a p a k a h R a s u l u l l a h "Pohon itu adalah pohon kurma.. " " A k u m e m b e r i t a h u k a n d i k a t a k a n o l e h b a p a k k u R a s u l u l l a h a k a n " a p a t a d i . t a d i d a n a p a " A p a k a h d e n g a n h a l i t u e n g k a u d a r i p a d a m e n g a t a k a n a k u b e g i t u m e m b u a t k u m e n e r i m a m e m i l i k i i n i . M a k a d i p a d a n g s a y a p a s i r i t u . Adapun disebutkannya kembali F A T H U L BAARI — 443 . i n i .gapa kamu sebodoh itu?" Pembahasan dijelaskan lag: pada "Kitab Thaharah" (bersuci). -—y Ungkapan ini digunakan untuk menghardik. ' K e t e r a n g a n Hadits: Ismail adalah Ibnu Abi Uwais. 1. makar.» i z:i rr. . .jawabannya merur. m e n j a w a b . .'-jL-car. "Sesungguhnya diantara pohon-pohon. bahwa Ummu Salamah mengingkari keluarnya mani.er. b a h w a s a n y a R a s u l u l l a h S A W b e r s a b d a . insya Allah. Hadits Ibnu Umar ini telah disebutkan pada awal pembahasan ilmu. l e b i h s u k a o l e h k u b e r k a t a . b e r k a t a .l a i n i t u ! " " W a h a i R a s u l u l l a h . d a n m a l u s a y a b e r p i k i r b a h w a i t u a d a l a h Y a n g p o h o n n a m u n m e r a s a ( u n t u k m e n j a w a b n y a ) .Muslim. Katakan kepadaku apakah nama pohon tersebut?"Semua o r a n g m u l a i b e r p i k i r t e n t a n g p o h o n y a n g t u m b u h k u r m a . yang ini akan berarti "Ah mer. k a m i p o h o n l a i n . ' . D a n A b d u l l a h b i n L ' m a r . y a n g " D i a v a n g A b d u l l a h t e r p i k i r b e r k a t a . ada pohon yang tidak gugur daunnya dan itu bagaikan seorang .11.

J j l ij*^\ . insya Allah. air yang keluar dari seorang laki-laki ketika mula'abah (bercumbu). O R A N G Y A N G MALU K E M U D I A N M E N Y U R U H O R A N G LAIN UNTUK B E R T A N Y A 0 s y—*j * } \ J j pd Jj AILP Jii U > 0 ^ j. D a n Ali radhiallahu 'anhu. Sebagian ulama hadits berkesimpulan dari hadits ini.u (namun aku merasa malu) dan penyesalan Umar karena dia tidak mengatakan itu (pohon kurma) agar terlihat kelebihannya. "Sebelumnya saya orang yang banyak keluar madzi. sehingga dengan begitu kedua kemaslahatan (malu dan ingin memperlihatkan kemampuan intelektualnya) bisa bertemu. 51. "Cukuplah dia mengambil wudhu" K e t e r a n g a n Hadits: iJ—i — UjLJf (Saya adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi). Madzi yaitu. yaitu diperbolehkannya mempercayai khabar wahid (hadits yang diriwayatkan t 4 4 4 — FATHUL BAARI . Masalah ini akan dibahas lagi pada "Kitab Thaharah".e ' j ' ] 'j* 'i Al JJa jlliJl ^y\ <JT J U * Oytli • 'u" 132. Padahal jika dia malu untuk mengatakannya. Oleh karena itu. maka Nabi SAW bersabda.'J*'J* * J2>\ J U . penulis meletakkan bab sesudahnya tentang "orang yang malu kemudian menyuruh orang lain untuk bertanya".di sini. adalah karena perkataan Ibnu Umar J l ^ . maka dia bisa membisikkannya kepada orang lain dan menyuruhnya mengabarkan hal itu dari dia. maka saya menyuruh Miqdad untuk menanyakannya kepada Nabi SAW (apakah itu mewajibkan mandi atau tidak) dan dia menanyakannya. sehingga kesempatan untuk memberitahu itu hilang akibat sifat malu yang ada pada dirinya. dia berkata.

Hal ini sebagai jawaban bagi orang yang kurang setuju dalam masalah ini. bahwasanya seorang laki-laki berdiri dalam masjid dan mengatakan. mereka memakainya dari Yalamlam. 52. FATHUL BAARI — 445 ." Ibnu Umar berkala." 7 Ibnu Umar berkata. Dari Abdullah bin Umar. "Dan warga Yaman. penduduk Syiria harus memakai ihram dari Al Juhfah. "Wahai Rasulullah. apakah beliau mengucapkannya atau tidak? " Keterangan Hadits: Bab memberi ilmu dan fatwa dalam masjid. H U K U M MEMBERI ILMU DAN F A T W A D A L A M MASJID * AIIUC.hanya dan satu jalur) yang masih dipertanyakan kebenarannya disamping ada kemungkinan hadits itu berstatus maqthu ' (terputus sanadnya). dan Ah sendiri hadir pada saat itu. karena dalam Sunan An-Nasai disebutkan bahwa pertanyaan itu benar-benar terjadi. Ini tidak dibenarkan. "Saya tidak ingat hal ini dari Rasulullah. dan penduduk Najd Makkah harus memakainya dari Qarn. "Penduduk Madinah harus memakainya dari Dz.uf Hulaifah. dan bab ini telah membolehkannya.«uji 133. dari tempat mana engkau memerintahkan kami harus menggunakan ihram " Nabi menjawab. "Mereka beranggapan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda.

53. berdasarkan perkataan dia — * 'J. Faidah-faidah hadits ini akan diulas kembali pada kitab Haji. Mengenai Perkataan Ibnu L'mar. Atau dia tidak ingat tentang kalimat yang terakhir. dan yang dimaksud dengan masjid di sini adalah Masjid Nabi SAW. Dari sini dapat disimpulkan. Saya tidak menemukan siapa nama orang ini.j * _ I _ J i ^-j f . insya Allah. seperti Ibnu Abbas dan lainnya.—i y^j j ' (Bahwasanya seseorang berdiri di dalam 1 masjid). Hal ini juga menjadi dalil bahwa kata "Beranggapan" dalam hadits tersebut berarti sesuatu yang terjadi. dari Nabi SAW bahwa seseorang bertanya kepada beliau. Dari Ibnu Umar. Namun dia tidak ingat. "Mereka beranggapan " ditafsirkan dengan orang-orang yang meriwayatkan hadits dengan sempurna. karena Ibnu Umar mendengar hal itu dari Nabi SAW. M E N J A W A B O R A N G YANG B E R T A N Y A MELEBIHI APA YANG D I T A N Y A K A N 134. sehingga kelihatannya dia meriwayatkannya dari orang lain. 'Apa (jenis pakaian) yang dikenakan oleh seorang muhrim (orang muslim yang bersiap mengerjakan haji dan umrah/'' 4 4 6 — FATHUL BAARI . keshaliban dan ketaatannya (wara '). bahwa pertanyaan tentang miqai haji terjadi di Madinah sebelum melakukan perjalanan. Hal ini menunjukkan ketelitian.

dan yang dimaksud dengan kesesuaian bukanlah tidak boleh ada penambahan. Oleh karena itu. FATHUL BAARI — 447 . Dalam hadits di atas jawabannya dialihkan untuk mempersingkat. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Daqiq Al Td. Dari sini dapat disimpulkan. Disamping itu. maka dia harus merinci jawabannya. yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah apa yang diharamkan memakainya ketika berihram. celana.Maka Nabi bersabda. maka jumlahnya akan sangat banyak sehingga pembahasannya akan sangat panjang. namun dianjurkan kepadanya untuk menghindari sesuatu yang dikhususkan.. "Dia tidak boleh menggunakan baju. tetapi maksudnya jawabannya harus memenuhi semua aspek yang dipertanyakan. "Jika tidak menemukan sandal. dan Nabi menjawabnya serta menambahkan lagi kepadanya cara menghadapi situasi yang tidak banyak punya pilihan. dan menurut hemat dia si penanya ingin mendapatkan jawaban yang lebih. jenis mantel yang bertudung kepala. dan apabila tidak menemukan sandal maka hendaknya memakai Al Khuffain (sejenis sepatu bot)." seolah-olah si penanya bertanya tentang situasi yang menggambarkan banyaknya pilihan dalam berihram. bukan apa yang dibolehkan. bahwa apabila seorang mufti (pemberi fatwa) ditanya mengenai sesuatu. namun dia harus memotong keduanya hingga tidak melebihi (menutupi) kedua mata kaku " K e t e r a n g a n Hadits: Ibnu Munir berkata.. Jika dihitung apa yang boleh dipakai. bahwa pemberian nama bab ini adalah sebagai peringatan bahwa antara pertanyaan dan jawaban tidak harus bersesuaian. karena pada dasarnya semua jenis pakaian adalah boleh dan tidak ada larangan untuk memakainya. karena si penanya menanyakan mengenai apa yang boleh dipakai ketika berihram. sebab Nabi tidak menjawab pertanyaan tentang pakaian yang khusus. sorban. bahkan dibolehkan memberikan jawaban yang lebih umum terhadap pertanyaan yang khusus atau menghukumi sesuatu sesuai dengan keumuman lafazhnya bukan berdasarkan kekhususan sebabnya. sedangkan Nabi menjawabnya dengan apa yang tidak boleh dipakai. bahwa suatu jawaban harus sesuai dengan pertanyaannya. tidak juga baju yang beri wars dan za'faran (sejenis wangi-wangian). Adapun apa yang terdapat dalam perkataan ulama ushul fikih adalah. Nabi bersabda.

yang menyusui anak orang lain). (kesaksian seorang ibu Hurauah i i A A l b yS\ JJJ-'. hadits Ibnu Abbas wiSJi ZJihadits Uqbah bin Harits mengenai pembicaraan sebanyak tiga kali. sebagai isyarat dari beliau bahwasanya suatu jawaban menemukan titik kesempurnaannya jika disertai nasihat dan berlandaskan niat yang lurus. hadits Abu Hurairah berkenaan dengan keberadaannya sebagai sahahat yang paling banyak meriwayatkan hadits. hadits Ali mengenai Shahifah. dan hadits Abu Hurairah ." 4 4 8 — FATHUL BAARI . keberangkatan Jabir kepada Abdullah bin Anis. diantaranya ada yang diulang-ulang sebanyak 16 hadits. walaupun terdapat sebagian perbedaan dalam sebagian konteksnya. sedangkan selebihnya muallaq. "Imam Bukhari mengakhiri kitab ilmu pengetahuan ini dengan bab "Orang yang Menjawab Pertanyaan Melebihi Apa yang Ditanyakan oleh si Penanya". yaitu 4 hadits mual\aq yang disebut di atas tadi. Ibnu Rasyid mengatakan. hadits Ummu Salamah JA\\ }y iU!i J i lic. Hadits-hadits muallag yang belum disambungkan sanadnya -yang terdapat pada tempat lain. kisah Dhimam mengenai kepulangannya kepada kaumnya. Di dalamnya ada yang berdasarkan atsar sahabat (hadits yang diriwayatkan dari tingkah laku dan perkataan yang dirujukkan kepada sahabat) dan selebihnya ada 22 Atsar 4 diantaranya maushul. hadits Abu hadits Zubair 'j* hadits Salamah hadits beliau tentang menyembelih kurban sebelum melempar jumrah. yaitu: Penulisan kepada Amir As-Sirriyah.Penutup: Dalam pembahasan tentang ilmu ini memuat sekitar 102 hadits marfudiantaranya berkenaan dengan penelusuran bentuk-bentuk hadits mu'allaq (yang di dalamnya ditambahkan komentar para sahabat Nabi) dan selebihnya ada 18 hadits. dan hadits Uiiib jU*!' ilf. (Sesungguhnya ilmu itu harus dengan belajar). dan yang tidak diulang sebanyak 64 haditsImam Muslim telah sepakat dengan Imam Bukhari kecuali 16 hadits.ada 4 hadits. Selebihnya ada 80 hadits maushul. v Maksud yang disepakati Imam Muslim (Muwafaqah) adalah kesepakatan beliau terhadap penemuan dan penelusuran asal hadits dari para sahabatnya. hadits Anas mengenai pengulangan \*. hadits Abu serta Hurairah t—!*' r-—* J\ 'J'' V j ' ° ! .