P. 1
Negara demokrasi

Negara demokrasi

|Views: 5,252|Likes:
Published by jo3octav

More info:

Published by: jo3octav on Sep 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

Negara demokrasi: ISRAEL, INGGRIS, AMERIKA, INDIA

,

Inggris merupakan negara demokrasi yang berbentuk kerajaan yang berparlemen. Kenyataannya, monarki, yang sekarang adalah Ratu Elizabeth II, mempunyai kekuasaan politik yang sangat kecil, meskipun dia tetap memegang gelar sebagai kepala negara, dan memainkan suatu bagian yang resmi dalam proses berpolitik. Kekuasaan politik di tangan pemerintah yang dipilih (dikepalai oleh seorang Perdana Menteri dan Kabinet) didasarkan pada kekuatan dukungan yang ada di parlemen. Selama abad ini, pemerintahan selalu dibentuk oleh salah satu dari ketiga partai politik utama yaitu partai buruh, konservatif dan liberal-demokrat. Pemerintahan koalisi jarang terjadi dalam sejarah politik Inggris. Ada juga dua partai nasional satu di Wales (Plaid Cymru) dan satu di Scotland (The Scotish National Party), seperti juga beberapa partai nasional di Irlandia Utara. Parlemen terdiri dari dua bagian (chamber/house) yaitu House of Common dan House of Lord. House of Lord terdiri dari lord Spiritual dan Lord Temporal. Lord Spiritual terdiri para pemimpin gereja, sedangkan Lord Temporal adalah keturunan bangsawan kerajaan dari perserikatan kerajaan (United Kingdom). Ratu yang bertindak dengan nasihat perdana menteri, menganugerahkan gelar kebangsawanan ini, biasanya pengakuan atas jasanya terhadap negara atau berbagai kegiatan lain yang menguntungkan bagi negara, akan tetapi yang tidak ingin menjadi anggota parlemen. House of Common sebenarnya adalah yang berperanan dalam sistim politik Inggris. Anggotanya dipilih oleh rakyat. House of Common beranggotakan 650 orang yang tetap dan digaji, yang setiap anggota ini mewakili suatu lingkungan atau daerah (constituency). Anggota parlemen ini (MP) harus memenangkan pemilihan di daerahnya paling sedikit sekali dalam lima tahun suatu pemilihan umum. Ketua partai politik memenangkan mayoritas dalam pemilihan umum tersebut (saat ini Partai Conservative) diminta oleh ratu untuk membentuk kabinet, dan dalam lima tahun, atau sesuai dengan keinginan pemerintah yang berkuasa, atau pemerintah telah kehilangan mayoritasnya dalam House of Common, harus melakukan pemilihan umum kembali. Partai minoritas yang terbesar (sekarang partai buruh), secara resmi menjadi partai oposisi dan mempunyai pemimpin sendiri dan suatu “kabinet bayangan”.

Hiruk pikuk pesta demokrasi telah mencapai antiklimaksnya. Ketika sejumlah lembaga survei menayangkan hasil quick countnya, ternyata dari sekian banyak partai hanya 9 partai berhak duduk di kursi legislatif. Mungkin hanya sebagian partai yang sukses, akan bertepuk tangan dan bertepuk dada. Sebaliknya sebagian yang hasilnya tidak memuaskan secara tidak jantan mulai menampilkan kambing hitam. Mulai dari tudingan kecurangan pemilu, masalah DPT, KPU tidak becus, pemerintah curang dan berbagai paranoid lainnya. Tampaknya hal ini adalah sebuah antiklimaksnya yang berpotensi mencederai sebuah demokrasi yang indah yang diharapkan tumbuh di Indonesia. Dalam sebuah kompetisi demokrasi seperti perhelatan pemilu, kalah dan menang adalah hasil yang harus dihadapi. Sebagian kelompok partai yang sukses pasti sukacita menyikapinya. Sebaliknya tampaknya sebagian besar lagi yang lain akan berduka. Terutama yang perolehan suaranya turun dari pemilu sebelumnya atau partai yang tidak melampaui "electoral threshold".

Keindahan Demokrasi Barack Obama memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat secara luar biasa. Kandidat Demokrat itu menang telak atas rivalnya John McCain dari partai Republik. John McCain juga luar biasa. Dengan kepala tegak dan kebesaran hati seorang negarawan, dia langsung mengucapkan selamat kepada rivalnya. Dia bahkan menyatakan siap mendukung Obama sebagai Presiden AS. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ribuan pendukungnya, kendati para pendukung ada yang mencemooh Obama. Sikap positif McCain sama dengan yang ditunjukkan Hillary Clinton ketika dikalahkan Obama saat bertarung untuk menjadi calon Presiden AS mewakili Partai Demokrat. "Saya tahu bahwa kemenangannya merupakan kebanggaan bagi kaum AfrikaAmerika. Tapi kemenangannya juga merupakan pilihan rakyat AS. Di negara kita, kesempatan itu terbuka bagi semua orang, tak terkecuali senator Obama yang memiliki ide dan kemampuan. Kita semua orang Amerika. Buat saya, itu ikatan paling penting," ujar McCain berusaha menenangkan pendukungnya. "Biarkan dia memimpin kita. Seluruh warga Amerika harus saling bahu-membahu membantu

untuk membawa Amerika kepada kesejahteraan, melindungi segenap bangsa," seru McCain disambut tepuk tangan meriah oleh para pendukungnya. McCain bahkan mengatakan, nenek Obama Madelyn Dunham, yang meninggal dua hari sebelum pemilihan, pasti bangga dengan keberhasilan cucunya "Sayang dia tidak melihat. Dia pasti bangga dengan kemenangan ini," ujar McCain.

Di Indonesia Langka Sikap patriotis dan kedewasaan berdemokrasi yang dilakukan McCain itu tampaknya langka dijumpai di Indonesia. Tampaknya sampai saat ini tidak banyak yang bersikap elegan seperti McCain. Banyak kasus menunjukkan seorang calon bupati atau gubernur kalah, bukan memberi selamat kepada pemenang. Tetapi selalu mencari celah untuk menggugat pemilu yang telah dilakukan. Sebuah contoh besar bagi bangsa ini adalah Megawati sewaktu dikalahkan SBY. Jangankan mengucapkan selamat, sampai sekarang untuk bicara, bertemu muka atau bertegur sapa saja belum pernah. Contoh besar tadi banyak diteladani contoh kecil yang lain. Setelah kalah pemilu, bebagai calon gubernur, calon walikota yang kalah bukan memberi selamat kepada pemenang. Tetapi selalu mencari celah untuk menggugat pemilu yang telah dilakukan. Terdapat calon bupati atau gubernur yang kalah massanya melakukan perusakan kantor KPU atau demo ke DPR. Sementara calon bupati lainnya ada yang sampai sekarang sakit hati mempermasalahkan keabsahan ijazah lawannya yang sudah menang, dan masih banyak lagi contoh ketidak dewasaan, ketidak-eleganan yang belum mencerminkan sikap dewasa dalam berdemokrasi. Pascapemilu legislatif tampaknya kedewasaan berdemokrasi pelaku politik di Indonesia mulai diuji. Bila dicermati sikap kaum yang kalah ini dapat dinilai kualitas kedewasaan berdemokrasi. Meskipun jarang tetapi harus diapresiasi beberapa politisi yang kalah dengan sportif memberi selamat kepada pemenang dan menyatakan dukungan dan mawas diri terhadap ketidak berhasilannya. Adalah sesuatu yang manusiawi bila kecewa dalam sebuah kekalahan. Apalagi kekalahan itu melalui pertarungan dengan pengorbanan habis-habisan yang menguras harta dan seluruh hidupnya. Jangankan uang miliaran kadangkala harga diri sudah dikorbankan. Dengan pengorbanan yang demikian besar tersebut maka wajar kalau sikap "tidak siap kalah" akan dialami. Kalaupun sikap tidak elegan tersebut dilakukan, yang pasti tidak akan pernah menguntungkan. Sikap sakit hati dan ketidakdewasaan berpolitik ini akan menambah masalah baru. Lost cost akan bertambah dan memperburuk kredibilitas di mata masyarakat. McCain pun pasti telah mengorbankan jutaan dolar dan segalanya, tapi dengan jiwa demokrat dan tanpa tedeng aling-aling langsung mengucapkan selamat dan dukungan kepada Obama.

Tidaklah heran, saat ini bagi politisi yang tidak sukses sangat mudah untuk menyebutkan kekurangan pemilu. Begitu mudahnya mereka menyebutkan bahwa di kecamatan tertentu ratusan bahkan ribuan orang tidak terdaftar dalam DPT. Padahal faktanya belum tentu yang digembar-gemborkan. Apalagi beberapa kasus tersebut diembuskan lebih kuat lagi oleh berbagai media massa atau elektronik.

Tetapi bila berpikir jernih dan rasional sebenarnya berbagai permasalahan seperti kecurigaan kecurangan pemilu, masalah DPT, KPU tidak becus, dan berbagai paranoid lainnya itu sebenarnya dialami semua peserta pemilu. Atau dengan kata lain, hal itu bukan merupakan penyebab utama kekalahan partai tertentu. Kalaupun hal itu merugikan partai tertentu biasanya tidak terlalu signifikan.

Tetapi bila diduga terjadi kecurangan yang masif dan berat mungkin bisa saja diajukan dalam jalur hukum yang tersedia. Saksi dan partai politik dapat mengadukan melalui KPU kecamatan, kabupaten dan provinsi. Berbagai putusan tentang gugatan pemilu semuanya diputuskan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. Sejatinya, setiap perkara yang memperkarakan keputusan yang dibuat oleh pejabat negara atau pihak yang melaksanakan urusan pemerintahan diselesaikan di PTUN. KPU selaku pejabat negara ketika mengeluarkan keputusan, maka memiliki peluang untuk digugat oleh individu atau badan hukum perdata. Hanya ada satu keputusan KPU yang tidak bisa digugat oleh melalui PTUN adalah Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di daerah mengenai hasil pemilihan umum (UU no 9 tahun 2004 pasal 2 angka 7). Artinya selain tahapan penghitungan suara, semua tahapan pemilu memiliki peluang untuk digugat melalui mekanisme hukum. Mengingat setiap tahapan pemilu memiliki dasar hukum yakni Surat Keputusan KPU, maka SK KPU tentang setiap tahapan itulah yang berpeluang menjadi objek perkara dalam PTUN. Bila hal ini masih belum dapat diselesaikan dapat diajukan pada Mahkamah Konstitusi.

Seyogianya sikap demokratis McCain harus mengilhami semua politisi di Indonesia. Demokrasi indah yang dipertontonkan negara demokrasi itu harus menjadi contoh setiap politisi dan masyarakat kita. Keberhasilan pemilu di Indonesia nantinya jangan dirusak oleh hujatan kepada KPU dari kaum yang tidak siap kalah. Ketidakberdayaan KPU dalam penyelenggaraaan pemilu yang sempurna adalah sebuah hal yang normatif dalam sebuah kerja yang sangat besar dan berat ini.

Kekurangan yang terjadi pada pemilu ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi pemilu presiden berikutnya. Ketidakpuasan elite politik dan sikap gugatan yang berlebihan bagi pemilu akan berpotensi merambah ke masyarakat luas. Bila ini terjadi maka kerawan sosial dan keamanan dalam masyarakat menjadi taruhannya.

Dalam pertarungan demokrasi, kalah atau menang adalah kehendak yang harus diterima. Pemenang pun harus bijak, tidak harus bertepuk dada tetapi harus mawas diri. Bahwa kehendak menang itu adalah amanah dari masyarakat yang harus diperjuangkan. Sedangkan kehendak kalah pun, akan menjadi terhormat bila dengan sikap jantan memberi selamat kepada pemenang. Kekalahan adalah kemenangan tertunda yang harus diperjuangkan dalam pertarungan berikutnya dengan penuh mawas diri dan kerja keras. http://www.harian-global.com/index.php? option=com_content&view=article&id=4989:keindahandemokrasi&catid=57:gagasan&Itemid=65

Kemerdekaan dan Demokrasi di India Belum lama ini, tepatnya tanggal 15 Agustus 2007, India merayakan hari kemerdekaannya yng ke-60. Sehari sebelumnya, Pakistan merayakan juga hari kemerdekaannya yang ke-60. Kedekatan hari kemerdekaan kedua negara yang bertetangga ini bukanlah suatu kebetulan. Kolonial Inggris memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada mereka pada saat yang hampir bersamaan. Suara tembakan meriam menggema dari Benteng Merah di New Delhi saat Perdana Menteri Manmohan Singh menaikkan bendera India di tempat bendera Inggris yang diturunkan selamanya pada tahun 1947.

India memiliki banyak kisah keberhasilan untuk menandai enam dekade kemerdekaannya. Meski diwarnai berbagai keraguan pada awal-awal berdirinya negara tersebut, namun India telah mengalami proses yang tergolong menyeluruh, baik secara sosial maupun geografis.

Sebetulnya, kawasan yang dikenal dengan nama British India itu semula merupakan satu kawasan luas di bawah kolonial Inggris. Namun pada waktu itu, perbedaan kepercayaan yang kuat antar kelompok-kelompok Hindu dan Islam sudah terasa kuat. Maka itulah Inggris memberikan kemerdekaan atas wilayah kolonialnya itu menjadi 2 negara: Pakistan yang mayoritas penduduknya beragama Muslim, dan India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Pemberian kemerdekaan kepada kedua negara itu bukan merupakan hal yang mudah. Terutama menyangkut garis batas kedua negara dan kedaulatan satu daerah untuk memilih ke pihak negara mana ia ingin bernaung.

Setelah lewat 60 tahun, bisa dikatakan perasaan benci belum diselesaikan. Meski PM baru Manmohan Singh mencoba menyelesaikan hal tersebut secara diplomatik. Masalah memberi dan menerima bisa jadi hanyalah tinggal suatu konsep belaka jika berbicara mengenai hubungan antara kedua negara tersebut. Ambillah contoh masalah Kashmir yang masih menjadi salah satu masalah terbesar hingga kini. Meskipun beberapa waktu lalu perbatasan itu telah dibuka dan arus lalu lintas masyarakat diperlancar. Sejarah sengketa perbatasan Kashmir dimulai pada sekitar masa pembagian wilayah dengan menarik garis perbatasan. Wilayah yang terletak tepat di antara kedua negara ini berpendudukan mayoritas Muslim. Namun pemerintahannya berada pada kerajaan setempat yang beragama Hindu.

Namun pada perayaan hari kemerdekaan bulan lalu, India mulai melihat ke depan. India adalah salah satu negara yang memiliki perekonomian dengan pertumbuhan terpesat di dunia, tapi Singh mengatakan masih sedikit rakyat India yang menikmatinya. Pidato yang dikatakan Singh serupa dengan komentar yang disampaikan sebelumnya oleh presiden wanita pertama negara itu, Pratibha Patil, yang mengatakan semua orang harus menikmati ledakan ekonomi negara dan India harus memastikan ”pertumbuhan yang adil bagi semua orang”.

India kini telah mampu menempatkan dirinya sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan setelah selama empat dekade kebijakan ekonomi negara tersebut gagal meredam lonjakan penduduk. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi hampir mendekati China, posisi India tentunya semakin strategis, baik dipandang dari kepentingan Washington maupun Tokyo.

Sedangkan demokrasi sebagai ’tawaran dagang utama’ India tak pelak lagi telah menjelma sebagai pencapaian penting negara itu. Karena status demokrasi itu pula

yang membuat India tidak terlalu sulit mencapai kesepakatan dengan AS dalam hal pasok bahan bakar nuklir meski negara tersebut tidak ikut menandatangani pakta nonproliferasi nuklir.

Tidak hanya itu, peran India di kancah internasional juga semakin diperhitungkan. Industri berat dan manufaktur negara itu juga terbilang semakin mengalami kemajuan dan modern seperti jaringan telekomunikasi, farmasi dan alih daya. http://www.forum-politisi.org/berita/article.php?id=499

Demokrasi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.

Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).

Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).Daftar isi [sembunyikan] 1 Sejarah dan Perkembangan Demokrasi 2 Demokrasi di Indonesia 3 Lihat pula 4 Pranala luar

[sunting] Sejarah dan Perkembangan Demokrasi

Istilah "demokrasi" berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem "demokrasi" di banyak negara.

Kata "demokrasi" berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini disebabkan karena demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat.

Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga

negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut. [sunting] Demokrasi di Indonesia

Semenjak kemerdekaan 17 agustus 1945, Undang Undang Dasar 1945 memberikan penggambaran bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.Dalam mekanisme kepemimpinannya Presiden harus bertanggung jawab kepada MPR dimana MPR adalah sebuah badan yang dipilih dari Rakyat. Sehingga secara hirarki seharusnya rakyat adalah pemegang kepemimpinan negara melalui mekanisme perwakilan yang dipilih dalam pemilu. Indonesia sempat mengalami masa demokrasi singkat pada tahun 1956 ketika untuk pertama kalinya diselenggarakan pemilu bebas di indonesia, sampai kemudian Presiden Soekarno menyatakan demokrasi terpimpin sebagai pilihan sistem pemerintahan. Setelah mengalami masa Demokrasi Pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto, Indonesia kembali masuk kedalam alam demokrasi pada tahun 1998 ketika pemerintahan junta militer Soeharto tumbang. Pemilu demokratis kedua bagi Indonesia terselenggara pada tahun 1999 yang menempatkan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan sebagai pemenang Pemilu. http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

Bagaimana Peranan Militer Di Negara Demokrasi Seharusnya Di jalankan? Januari 10, 2009 — er1kzs

Bagaimana Peranan Militer Di Negara Demokrasi Seharusnya Di jalankan?

Oleh: Hendriko Firman

ABSTRAK

Militer menurut pendapat ahli yaitu: Militer adalah semua hal yang berkaitan dengan profesi sebagai militer, kemiliteran/angkatan bersenjata dan operasi militer sedangkan Etika adalah semua hal yang berkaitan dengan moralitas, kebenaran atau prinsip-prinsip tentang kebenaran

A military is an organization authorized by its nation to use force, usually including use of weapons, in defending its country (or by attacking other countries) by combating actual or perceived threats. As an adjective the term “military” is also used to refer to any property or aspect of a military. Militaries often function as societies within societies, by having their own military communities, economies, education, medicine and other aspects of a functioning civilian society.

Militer adalah sebuah organisasi yang diberi wewenang oleh Negara untuk menggunakan kekuatan, biasanya termasuk menggunakan senjata, dalam mempertahankan bangsanya (atau menyerang Negara lain) dengan sesungguhnya menyerang atau merasa terancam. Dalam kata sifat istilah “militer” juga di gunakan untuk merujuk kepada beberapa peralatan atau aspek yang menyangkut militer. Militer sering berfungsi sebagai kelompok yang tanpa kelompok, dengan memiliki masyarakat militernya sendiri, ekonomi sendiri, pendidikan sendiri, kesehatan sendiri dan aspek lainnya dari fungsi kelompok sipil

Militer adalah angkatan bersenjata dari suatu negara dan segala sesuatu yang berhubungan dengan angkatan bersenjata. Padanan kata lainnya adalah tentara’ atau angkatan bersenjata. Militer biasanya terdiri atas para prajurit atau serdadu. Kata lain yang sangat erat dengan militer adalah militerisme, yang artinya kurang lebih perilaku tegas, kaku, agresif dan otoriter “seperti militer”. Padahal pelakunya bisa saja seorang pemimpin sipil.Karena lingkungan tugasnya terutama di medan perang, militer memang dilatih dan dituntut untuk bersikap tegas dan disiplin. Dalam kehidupan militer memang dituntut adanya hirarki yang jelas dan para atasan harus mampu bertindak tegas dan berani karena yang dipimpin adalah pasukan bersenjata.

Jadi pertanyaannya sekarang bagaimanakah peranan militer dalam peranan negara demokrasi?

Militer telah disinggung diatas tadi memiliki dunianya sendiri sehingga akibat peran inilah ia bisa melakukan intervensi ke dalam urusan politik. Dan di sisi lain di Negara-negara demokrasi berkembang peranan militer selalu berada di atas orang sipil berbalik di negara barat dimana kekuatan militer berada di bawah kekuatan sipil dan mereka menerimanya. Secara garis besar kita bisa menemukan bahwa peranan militer yang seharusnya adalah tidak memberikan kekuasaan penuh ke militer di Negara yang pada bentuk konstitusi beralandaskan azas demokrasi. Dimana peran militer di redusir dan membuat akses-akses ke dalam kancah politik di minimalisir dimana dalam tatanan ini Negara yang awalnya masih bayi dalam menerapkan demokrasi pasti akan menghadapi tantangan dalam konflik antara para politikus yang dalam artian masih mementingkan peranan partai dan kepentingan kolektif yang tidak memandang azas rakyat sebagai Negara itu sendiri. Di sisi lain dalam konteks ini apabila dalam rutinitas tersebut apabila hal ini apabila terus berlanjut maka peran militer akan lebih dominan lantaran akibat tidak adanya sebuah aspek kepercayaan dalam sebuah Negara yang bisa dikatakan demokrasi semu ini, ini akan mengakibatkan Negara yang baru ini akan mengalami semacam atau prospek untuk melakukan kudeta di mana peran militer lah yang menjadi basisnya. Demokratisasi Dalam studinya yang dilakukan di delapan negara ketiga, Robert P Clark (1996) menyimpulkan bahwa naiknya kekuasaan militer memang merupakan gejala umum di dunia ketiga sebagaimana maraknya otoritarianisme. Clark mengidentifikasi munculnya rezim militer di suatu negara senantiasa bersamaan dengan menjauhnya demokrasi dari negara yang bersangkutan. Memang, tidak semua kasus otoritarianisme disebabkan karena militerisme. Pada faktanya banyak juga negara otoriter yang dipimpin oleh rezim sipil. Namun, seperti kata Nordlinger, jika sebuah pemerintahan dikuasai oleh militer maka hampir pasti akan melahirkan otoritarianisme. Mengapa rezim militer lebih pro pada otoritarianisme? Dalam kasus Indonesia, hal ini bisa dijawab karena secara formal, ideologi sebagai konsepsi kenegaraan yang dipedomani militer Indonesia untuk mengarahkan posisi dan perannya dalam kedudukan kenegaraan ialah doktrin Tri Ubaya Cakti dan Catur Darma Eka Paksi. Di samping itu, karena militer juga berperan dalam menentukan pola kenegaraan serta cara mengisi kemerdekaan, maka konsep kenegaraan integralistik yang dipedomani dan dipertahankan militer juga bisa disebut sebagai bagian dari ideologi militer. Di dalam doktrin pertahanan negara dan perjuangan militer, dikenal dua konsep utama yang secara langsung akan melibatkan militer dalam proses demokratisasi, yakni konsepsi tentang perang dan konsepsi tentang musuh. Doktrin militer di Indonesia mengajarkan konsep “perang rakyat semesta” dimana atas perintah pimpinan militer, seluruh rakyat harus ikut berperang.

Implikasi dari pelaksanaan doktrin ini adalah: Pertama, militer bisa menentukan arah kebijakan politik yang bukan saja harus dipatuhi oleh kalangan prajurit militer, tetapi juga oleh seluruh komponen masyarakat sipil. Kedua, karena mencakup semua komponen bangsa maka otomatis menutup peluang bagi pemimpin sipil untuk mengambil kebijakan-kebijakan politik yang memberikan kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasi sesuai dengan bisikan hati nuraninya karena yang ada dan berhak disalurkan hanyalah aspirasi pimpinan militer. Hal ini sangat erat kaitannya dengan konsepsi militer mengenai “musuh”. Di sisi lain hal ini akan kita lihat setelah adanya suatu perebutan legitimasi antara orang-orang sipil dan orang orang militer yang dominan, dimana peranan masingmasing instansi akan membuat suatu tendensi yang berkepanjangan dan akhirnya rakyat adalah sebuah korban dari tidak efesien. Dalam struktur yang seperti ini tidak akan adanya suatu stabilitas Negara yang demokratis lantaran tidak berjalan secara semestinya peran dari orang-orang sipil dan orang-orang dari peran militer lantaran akibat tindih-mendih yang sangat dualisme. Disatu lain mereka tidak berpihak kepada satu azas yang pasti. Dalam Negara-Negara yang baru merasakan demokrasi yang masih bayi hal ini tidak saja akan melahirkan beberapa masalah-masalah baru seperti suatu sektarian dalam berbagai instansi. Hal ini bisa kita lihat dari kekacauan dari pemerintahan Indonesia pada masa rezim soekarno yang tidak melakukan suatu balancing pada peran sipil dan peran militer. Bisa dilihat peran militer dikucilkan dengan adanya beberapa pengnonefesienan peran militer itu sendiri. Dan tidak berjalannya struktur lembaga yang efesien karena presiden merasa sebagai panglima militer, yang menganggap dirinya sebagai representasi dari AL AU dan AD. Sehingga tendensi pemerintah kepada militer tapi disisi lain adanya semacam penganak tirian dari pemerintah itu sendiri telah melahirkan berbagai kecumburaan social. Dalam konteks reformasi politik, pembongkaran wacana hubungan sipil-militer merupakan hukum besi perubahan sosial ke arah terbentuknya tatanan politik demokratis. Inilah keharusan dari proses transisi otoritarianisme menuju demokrasi yang seharusnya makin disadari oleh setiap elemen militer dan para politisi sipil. Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat posisi dan peran militer lebih kondusif bagi perwujudan demokrasi. Kekuatan militer yang dibutuhkan dalam suatu negara demokrasi bukanlah tipe militer pretorian, tetapi militer yang profesional sebagai kekuatan pertahanan (eksternal) negara yang oleh sosiolog Louis W Goodman disebut sebagai tujuan utama militer. Senada dengan Goodman, Stevan Melniksalah seorang thinker partai liberal Jerman-menegaskan: As far the professional military forces must be out of politics. Adanya sifat yang tegas di tubuh militer dalam Negara demokrasi membuat badan ini menjadi sangat kuat dan teguh dalam hirarki sturukturalnya dimana perannya yang sangat tegas ini baik ke luar (eksternal) dan kedalam (internal) mengakibatkan militer menjadi tidak demokratis karena ia menerapkan suatu

command sebagai putusannya bukan suara terbanyak. Organisasi militer, menurut Janusz Onyszkiewicz, wakil Partai Perserikatan Kebebasan di Parlemen Polandia, merupakan entitas yang tidak demokratis (a completely undemocratic entity) dalam suatu negara demokrasi, seperti halnya organisasi-organisasi kemasyarakatan yang menganut hierarki ketat. Yang membedakan di antara keduanya adalah bahwa organisasi militer bukan semata institusi otokratik (autocratic institution) yang selalu menuntut loyalitas dan komitmen total dari para anggotanya, lebih dari itu juga dirancang sebagai kekuatan represif untuk melayani kepentingan negara. Masalahnya, kepentingan negara tidak selalu identik dengan kepentingan rakyat seperti pernah digugat Marx dengan teori negara kelas. Pengalaman Indonesia di bawah kekuasaan Orde Baru yang lalu menunjukkan betapa perilaku negara bergerak di antara dua kutub kepentingan. Kutub pertama dan yang utama adalah kepentingan modal internasional yang nyaris sepenuhnya menjadi “tuan asing”. Sedangkan kutub kedua adalah kepentingan negara itu sendiri yang direpresentasi oleh kepentingan pemerintah (birokrasi sipil dan militer). Pada sisi yang lain kepentingan rakyat banyak terabaikan, atau paling-paling terjadi ideologisasi bahwa kepentingan negara identik dengan kepentingan rakyat. Faktanya, rakyat acapkali tidak memperoleh manfaat yang berarti dari kinerja kekuasaan negara, dan bahkan sebaliknya tertindas karenanya . Karena itulah dalam strukturalnya militer acapkali hanya berisikan sebuah institusi yang massiv tapi sifatnya itu minor karena dia tidak punya improvisasi dalam hal kenegaraan. Sebagai institusi otokratik dan sekaligus represif, militer berkecenderungan menegakkan otoritarianisme kekuasaan. Makanya militer sering dianggap sebagai ancaman demokrasi, meskipun dalam batas-batas tertentu ia bisa memberi makna bagi perwujudan demokrasi. Sejarah bangsa-bangsa di dunia mencatat bahwa militer menegakkan otoritarianisme kekuasaan diktator personal dan melayani kepentingan sang penguasa. Ia tidak dikontrol oleh rakyat, melainkan oleh agenagen dan kroni kekuasaan sang diktator. Dalam negara dengan rezim militer, ia mengontrol diri sendiri dan menegakkan otoritarianisme untuk kepentingan dan misinya sendiri. Sementara dalam rezim satu partai seperti di bekas negara-negara komunis, militer menegakkan otoritarianisme kekuasaan partai, dan tentu saja ia juga dikontrol oleh partai yang berkuasa. Kecenderungan itulah yang harus direformasi. Artinya, bagaimana kekuatan militer tidak lagi terjebak dalam kepentingan kekuasaan belaka, melainkan lebih melayani kepentingan rakyat dalam arti yang seluas-luasnya dan sebenar-benarnya. Sebab untuk konteks Indonesia, track record militer yang terjebak dalam arus kepentingan kekuasaan sangat jelas, yakni ketika militer melayani kepentingan subyektif kekuasaan rezim Soekarno, rezim militer Soeharto, dan rezim transisional Habibie. Kesemua itu adalah sejarah kelabu penindasan demokrasi di Indonesia.

Adalah otoritas rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara untuk mendefinisikan posisi dan peran militer. Rakyat, yang merupakan entitas politik sipil, berwenang menentukan dan sekaligus mengontrol peran dan fungsi militer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Janusz, kontrol sipil atas kekuatan militer merupakan aksioma demokrasi. Hal ini sebenarnya sejalan dengan doktrin TNI yang setiap saat kita dengar: Yang terbaik untuk rakyat adalah terbaik untuk TNI. Dengan begitu kita sesungguhnya berharap profesionalisme militer dapat segera terwujud di Negara Negara yang baru melek demokrasi termasuk itu Indonesia. Dalam negara demokrasi, supremasi dan kontrol sipil atas militer merupakan conditio sine qua non, demikian halnya dengan profesionalisme militer itu sendiri. Premis ini telah diterima secara luas oleh dunia internasional dan menandai terjadinya progresivitas politik di negara-negara demokrasi baru seperti di belahan Afrika Selatan, Asia, Amerika Latin, dan bahkan di bekas negara komunis Eropa Timur. Inilah yang menjadi counter attack positif sendiri bagi rezim diktatorian yang menganut militer sebagai basis akomodasi politiknya sehingga nantinya suatu kekuasaan yang kejam terhadap rakyatnya akan melahirkan Negara yang akan tumbuh menjadi Negara demokrasi. Tapi ini tentunya akan terjadi secara evolusi yang dimana tidak manusiawi. Yang ingin dikatakan di sini adalah bahwa kontrol sipil dan profesionalisme militer telah menjadi fakta dari pertumbuhan negara-negara di dunia ke arah pembentukan sistem pemerintahan demokrasi. Suatu sistem pemerintahan yang oleh Dalai Lama (1997) disebut yang terdekat dengan hakikat kita sebagai manusia dan merupakan pondasi yang stabil di mana di atasnya dapat dibangun struktur politik dunia yang adil dan bebas. Fakta global itu dapat menjadi pelajaran berharga bagi upaya rekonstruksi relasi sipil-militer yang benar-benar kondusif bagi demokratisasi. Tidak sejalannya kekuatan sipil dan militer dalam Negara yang di cambuk oleh kekuatan militer tentunya akan melahirkan suatu perasaan didiskreditkan makanya akibat tidak adanya control demokrasi yang transparan dan indpenden rakyat akan merasakan bahwa demokrasi nantinya akan menjadi romantisme dalam sebuah Negara yang dikukung oleh militer yang agresif dan melek politik. Namun demikian, semua itu tergantung pada tiga entitas politik utama, yaitu para politisi sipil, petinggi-petinggi militer dan para pemimpin masyarakat sipil. Para politisi sipil, baik di jajaran eksekutif maupun legislatif, dituntut soliditasnya agar benar-benar kuat alias tidak terpecah-pecah. Politisi sipil yang terpecah-pecah, tidak kompak dan saling serang hanya akan membuka pintu bagi intervensi militer ke dalam politik, baik melalui kudeta maupun intervensi prerogatif dan kekuasaan. Sementara itu, para petinggi militer dituntut untuk berkonsentrasi pada tugas utamanya, yaitu pertahanan (eksternal) negara dan sejauh mungkin meminimalisasi intervensinya ke dalam politik kenegaraan. Militer harus mulai percaya pada kemampuan politisi sipil menjalankan kekuasaan negara, dan memberikan jaminan atas berlangsungnya kekuasaan secara regular. Di pihak

masyarakat sipil harus mulai melakukan peran strategisnya dengan berpartisipasi secara aktif dalam proses kontrol terhadap peran militer maupun politisi sipil itu sendiri. Ini penting agar para politisi sipil dan militer tidak keluar dari garis mandat yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka. Perlu dicatat bahwa pemberian mandat oleh rakyat kepada politisi sipil tidak berarti penyerahan seluruh kedaulatan kepada mereka. Hal itu bersifat relatif. Dengan demikian sangat dimungkinkan bagi masyarakat sipil untuk mengungkapkan kritik dan aspirasi-aspirasinya melalui saluran nonpolitik. Meski demikian harus ditegaskan pula bahwa pemanfaatan dan sekaligus penguatan saluran politik akan lebih mempercepat proses pelembagaan demokrasi. Dalam tataran seperti inilah seharusnya peranan militer dan responsivitasnya terjadi di Negara-negara demokrasi. Dan adapula menjadi kendala yang sangat serius adalah Negara-negara yang baru menerapakan demokrasi modern karena mereka masih belum mempunyai azas kesatuan yang sama dibawah payung demokrasi itu sendiri, sehingga tak pelak kita melihat di Negaranegara yang baru memulai demokrasi yang terjadi adalah suatu hagemoni dan monopoli politik yang tidak seimbang di antara kedua belah pihak antara militer dan sipil. Hal ini menjadikan situasi politik di Negara tersebut mengalami siklus ganda (double cycle) atau terjadi perebutan balas dendam kekuasaan untuk merebut peran tersebut dan tidak menghiraukan progresifitas dari jalannya demokrasi Negara tersebut. Itu bisa kita lihat di Negara Indonesia sendiri yaitu politik yang terlalu kuat di Orla dan militer yang terlalu kuat di Orba. Hal ini melahirkan tesa sipil di Orde lama dan Orde baru melahirkan sintesa dan pada reformasi melahirkan jawaban atas antitesa yang dimana hal itu dijawab dengan peranan militer yang saling mem-backing satu sama lain agar tetap terfokus kepada rakyat dan demokrasi. Menariknya dalam kasus kasus Negara yang baru menerapkan ide demokrasi hal ini tidak sejalan akhirnya dengan kebijakan dalam negeri itu sendiri seperti contoh kasus di Orde baru Indonesia yang militer sebagai shoulder legitimasinya dimana ia menerapkan kebebasan ekonomi tapi perannya di Negara tidak demokratis justru ia malah menekan kedalam institusinya sendiri, bukan keluar dari ranah institusinya untuk bisa menerepakn reformasi kebijakan dan pengeneralisasian diktatornya dalam situasi kondusif melalui represif tindakan militer adalah salah. Seperti yang dikatakan oleh Siddharth Chandra dan Douglas Kammen bahwa: “Soeharto new order began as a typical hierarchical military regime (1965-1974), took and additional characteristic of bureaucratic authoritarianism, (1975-88), and during its last decade came increasingly resemble sultanic regime (1989-1998). As the nature of regime changed, so too did the political position of the military. While soeharto was careful to maintain control over the appointment of senior officers and sought to prevent the military form becoming and independent political actor, the military nonetheless enjoyed a reasonable degree of administrative freedom, particularly in the appointment and promotion of lower and middle ranking officer.

Seyongyanya peran militer dalam tatanan dunia barat yang masih bisa dikatakan baik adalah kekuatan mereka yang stabil karena berjalannya sebuah good governance yang baik karena impul-impul dari pendukungnya berkerja dengan baik sehingga menghasilkan kekuatan dan rasa saling kepercayaan dalam politk yang mendasari lahirnya demokrasi yang otokritik dan ballance. Hal ini dikatakan oleh Ayuzumardi Azra dalam paparannya yang mengatakan bahwa good governance adalah salah satu hal yang wajib di dalam Negara demokrasi sehingga: ”government is of course only one of the actors in the governance. There are many other actors outside of the executive branch of government, including legislative and judicative branches which play an important role in decision making process. Even in a wider sense, other non government actors that also play a role in decision making or in influence decision making progress, can be called as actors of governance; they are, for instance, civil society organizations and groups, NGOs, research institutes, political parties, the military, religious leaders, public intellectuals, and others. But, above all, it is government especially that is central in the creation for good governance.

Hal selanjutnya yang perlu dikritisi adalah peran militer di dalam Negara demokrasi yang menerapkan asas ekonomi yang tidak transparan sehingga oknum militer bisa menjadi kabur dan akhirnya bisa mengakibatkan perimbangan pendapatan yang sebelumnya kepada sipil atau pun tidak adanya perbaikan salary dari militeris atau tentara maka akan melahirkan tindakan penyimpangan. Hal ini bisa kita lihat di Negara yang berdemokrasi di dalamnya masih dibayangi romantisme yang kandas dari pemimpin sebelumnya itu bisa kita lihat dari contohnya Indonesia yang dimana ia dalam romansanya dengan rezim soeharto melahirkan anak emas terhahadap anak nya sendiri dan, akhirnya munculah apa yang disebut kronisme. Dan tak pelak lagi militer yang punya ekses dan kelonggaran dalam hukum bisa mencari celah untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Dan hal itu di lakukan dengan “kerja sama” ataupun dengan tindakan pungli. Hal ini bisa menjadi contoh adalah militer yang terjun kedalam praktek-praktek birokrasi. Dimana golongan birokrasi militer, yang telah mendapat basis ekonomi bukan dari pemilikan modal swasta, tetapi dengan menggunakan kekuasaan dan jabatan birokrasi. Dengan kekuasaan dan jabatan birokratis ini memungkinkan komandokomando tertentu mempunyai akses (terobosan masuk) dalam pasaran ekonomi, sampai ke daerah-daerah. Dengan cara menduduki pusat-pusat kekuasaan dalam birokrasi Negara dagang yang patrimonial, mereka mendapat bagian dari keuntungan yang dihasilkan oleh modal asing dan modal Cina. Hal ini tentunya tidak sejalan dengan prinsip demokrasi yang seharusnya diterapkan di Negara-negara demokrasi. Dimana peran militer yang seharusnya

terjadi dalam basis ekonomi adalah menitikberatkan pada keamanan yang in dan out itu bisa kita lihat di Negara-negara barat yang telah mapan. KESIMPULAN Tak terbantakah lagi bahwa seyongyanya peranan militer dalam Negara demokrasi adalah ibarat pedang bermata dua apabila ia tidak di atur dengan cara ataupun system yang demoktatis maka ia akan memakan negaranya sendiri dalam bentuk Negara yang dictator militer. Sehingga pulalah ketentuan yang ada hanya akan melahirkan berbagai masalah kudeta yang berkepanjangan mengingat adanya peran yang tidak imbang dalam tataran pendemokrasian. Di lihat dari sudut pandang yang lain ketentuan pola lain dari hal ini tidak akah berjalannya system demokrasi yang benar. Perlu di ingat bahwa adanya semacam peran dari institusi lain ataupun dari masyarakat untuk melakukan semacam pengawasan terhadap tindak-tanduk militer yang kita ketahui bahwa ia memiliki norma-normanya sendiri yang tentunya tidak bisa diremehkan mengingat sectarian keberpihakannya memiliki unsur yang loyalitis yang fanatis ataupun normal. Sedangkan yang terjadi seharusnya peranan militer di Negara demokrasi adalah tidak ikut campur dalam politik, focus kepada bidangnya dalam HANKAM, netral dalam politik, berswadaya dalam masyarakat, walaupun tidak punya peran yang tegas dalam politik kekuasaan seyongyannya militer juga harus siap dengan keadaan darurat untuk member sumbangsih dalam politik tapi sifatnya yang sementara. Dalam hal ini militer juga harus pandai membaca situasi poliltik karena bisa jadi militer ditunggangi oleh politisi ataupun oleh parpol untuk melakukan perbuatan yang diluar wewenangnya untuk bisa menghalalkan kekuasaan segilintir orang dimana pada saat itu militer seharusnya melihat pada pimpinan yang lebih tinggi, yaitu kepentingan rakyat, apakah benarkah ini situasi yang krusial atau hanya sabotase dan propaganda dari elite. Tidak riskan lagi kalau kita mengatakan bahwasanya militer harus netral dan objektif, dimana dalam Negara demokrasi peran masyarakat juga memainkan peranan penting dalam hal ini dimana Di samping itu masyarakat sipil juga harus kuat, solid, tidak terpecah-pecah dan tidak mudah terprovokasi. Di antara elemen masyarakat sipil sudah seharusnya dibangun iklim dialog dan kerja sama kualitatif untuk pembebasan bersama dari kungkungan situasi yang terus memburuk. Dengan begitu masyarakat sipil dapat mengatasi vulnerabilitas internalnya yang potensial menjebaknya ke dalam konflik-konflik horizontal sebagaimana fenomena konflik sosial dan kerusuhan-kerusuhan dewasa ini. ***

DAFTARKEPUSTAKAAN – Ahmad Adaby Darban. Pengaruh akar budya politik budaya pada dinamika politik ekonomi di Indonesia. Universitas Muhamadiyah press. Malang. 2001

– Azyumardi Azra. Religious-based civil society, and anti-corruption campaign. An Indonesia experience in the creation of good governance. Paper untuk konferensi civil society, religion and global governance: paradigms of power and persuasion. Canberra. 2005

– Gardiner, Juliet. What is History Today…?. MacMillan Education. London. 1988

– Muh Hanif Dhakiri. Harian Kompas. Rabu, 16 Februari 2000.

–Siddharth Chandra dan Douglas Kammen. Generating Reforms and reforming generation military politic in Indonesia democratic transition and consolidation. Dalam World Politics. Academic Research Library. 2002.

– http://www.tnial.mil.id/Majalah/Cakrawala – http://en.wikipedia.org/wiki/Military – http:// Kammi.or.id http://hendrikofirman.wordpress.com/2009/01/10/bagaimana-peranan-militer-dinegara-demokrasi-seharusnya-di-jalankan/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->