P. 1
Mahasiswa Kampus Dan Politik

Mahasiswa Kampus Dan Politik

2.5

|Views: 6,367|Likes:
Published by firdaus putra
Survei tentang PEMIRA BEM tingkat Fakultas di UNSOED Purwokerto
Survei tentang PEMIRA BEM tingkat Fakultas di UNSOED Purwokerto

More info:

Categories:Types, Research
Published by: firdaus putra on Oct 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2013

pdf

text

original

Partisipasi mahasiswa dalam Pemira merupakan fakta sosial. Ciri dari

fakta sosial adalah sifatnya yang eksternal, umum dan memaksa. Partisipasi

mahasiswa mencukupi ciri tersebut, karena partisipasi mahasiswa bersifat di luar

individu yang merupakan turunan dari sistem politik kampus. Selain itu,

partisipasi mahasiswa bersifat umum, yakni berlaku bagi seluruh

individu/mahasiswa pada fakultasnya masing-masing. Terakhir, partispasi

mahasiswa bersifat memaksa individu untuk melibatkan dirinya dalam sebuah

peritiwa politik (suksesi BEM). Daya paksa/koersif ini berasal dari ikatan

administratif mahasiswa dengan institusi pendidikan/fakultas.

Daya paksa ini terekam dalam wawancara dengan Auriza yang

menyatakan, “Kan mahasiswa harus nyoblos, tidak boleh golput”. Pernyataan

Auriza menyiratkan ada sesuatu yang mewajibkan dirinya untuk ikut Pemira.

Sesuatu itu adalah nilai tentang kampus yang lebih baik. Perlu diperhatikan,

bahwa nilai merupakan salah satu fakta sosial yang bersifat nonmaterial.

Durkheim69

menjelaskan bahwa untuk menganalisis sebuah fakta sosial

69

Dalam Lawang hal. 177-178 dan dalam Ritzer hal. 17.

Mahasiswa, Kampus dan Politik | Survei tentang Partisipasi Mahasiswa dalam
Pemira BEM tingkat Fakultas di UNSOED Purwokerto

101

diperlukan analisis terhadap fakta sosial lainnya. Nilai ideal tentang kampus

dalam konteks ini merupakan sebuah fakta sosial yang pada gilirannya

melahirkan fakta sosial lainnya berupa partisipasi mahasiswa dalam Pemira.

Susana agustin mengatakan bahwa dirinya berpartisipasi dalam Pemira agar

kampusnya bisa bersaing dengan kampus lain dalam konteks dinamika kegiatan

mahasiswa. Nilai-nilai yang secara tidak langsung diterima individu tersebut

kemudian mendisposisi yang bersangkutan agar menggunakan hak pilih dalam

Pemira.

Pada konteks lain, partisipasi mahasiswa sejalan dengan teori struktur

fungsional yang menyatakan bahwa setiap elemen/subsistem menyumbangkan

perannya ke arah ekuilibrium/keseimbangan. Keseimbangan dalam konteks ini

adalah sebuah keteraturan sosial (order) yang lebih khusus lagi berupa lestarinya

sistem pemerintahan mahasiswa.

Elemen-elemen dalam konteks politik kampus adalah BEM sebagai

pemerintahan mahasiswa yang menjalankan peran/fungsi eksekutif. UKM

merupakan departemen BEM yang mendukung kerja-kerja BEM sebagai

pemimpinnya. HMJ jika berada dibawah BEM berperan sama dengan UKM,

namun jika berada dibawah DLM, maka HMJ berfungsi sebagai lembaga yang

mendelegasikan wakil-wakilnya di lembaga legislatif70

. DLM sebagai lembaga

legislator yang merumuskan dan menetapkan kebijakan-kebijakan tertentu yang

70

Di beberapa kampus ada yang menempatkan HMJ secara struktural berada di bawah BEM ada
juga yang menempatkannya di bawah DLM. Perbedaan ini tergantung pada rasionalitas
kepolitikan kampus masing-masing. Bahkan pada tahun 2008/2009 dengan alasan tertentu HMJ
di FISIP dilepaskan dari struktur pemerintahan mahasiswa (tidak berada di bawah BEM dan DLM).

Mahasiswa, Kampus dan Politik | Survei tentang Partisipasi Mahasiswa dalam
Pemira BEM tingkat Fakultas di UNSOED Purwokerto

102

salah satunya adalah pelaksanaan Pemira. KPR merupakan lembaga operasional

yang bertanggungjawab kepada DLM dalam konteks penyelenggaraan Pemira.

Mahasiswa merupakan konstituen yang berperan sebagai pemilih calon presiden

BEM tertentu dalam ajang Pemira. Partai mahasiswa dan/atau organisasi

mahasiswa ekstra kampus merupakan kelompok kepentingan dan penekan yang

melakukan kiritik/oposisi dan/atau dukungan terhadap BEM yang dengan

sendirinya melegitimasi sistem tersebut.

3. Penerimaan Hipotesis dan Taraf Signifikansi

Mengacu pada hasil analisis korelasi Kendall Tau di bagian sebelumnya

dapat dinyatakan bahwa Ho ditolak dan Hk diterima karena koefisien signifikansi

hitung < koefisien signifikansi tabel (0,000 < 0,05). Taraf signifikansi dalam

pengujian hipotesis sebesar 5% dengan derajat kepercayaan sebesar 95%.

Derajat kepercayaan pada kisaran itu artinya apabila peneliti menerima hipotesis

berarti mengambil resiko salah dengan keputusan sebesar 5% dan benar

sekurang-kurangnya 95%.

Mahasiswa, Kampus dan Politik | Survei tentang Partisipasi Mahasiswa dalam
Pemira BEM tingkat Fakultas di UNSOED Purwokerto

103

BAB V

REFLEKSI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->