1

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Sitem Muskuluskuletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab terhadap komponen utama dari sistem muskuloskletal adalah jaringan ikat. System ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon ligamen gursa jaringan khusus yang menghubungkan struktur ini. Dalam hal ini tulang sebagai jaringan yang dinamis mempunyai fungsi ganda yaitu fungsi mekanik dan metabolik. Tulang sebagai pembentuk rangka tubuh yang mempunyai bergai jenis bentuk. Menurut bentuknya tulang dibedakan tulang panjang, tulang pendek dan tulang pipih. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebab kan oleh ruda paksa atau trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung (R. Sjamsuhidajat Win de Jong 1997) Negara indonesia merupakan Negara yang berkembang yang berada dalam taraf halusinasi menuju industrialisasi tentunya akan mempengaruhi peningkatan mobilisasi masyrakat / mobilitas masyarakat yang meningkat otomatisasi terjadi peningkatan penggunaan alat-alat transportasi / kendaraan bermotor khususnya bagi masyarakat yang tinggal diperkotaan. Sehinga menambah kesemrawutan arus lalu lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan

2

kecenderungan terjadinya kecelakaan kendaraan bermoto . Kecelakaan tersebut sering kali menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur. Jumlah korban Tahun 2008 di Amerika Serikat terdapat lebih dari 135.000 kasus cedera yang di sebabkan olah raga papan selancar dan sekuter, dimana kasus cedera terbanyak adalah Frakktur sebanyak 39 % yang sebagian besar penderitanya laki-laki di bawah umur 15 tahun. Di Negara maju seperti Australia masalah frakur merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendapat perhatiaan serius, dengan jumlah korban setiap tahun 20.000 penduduk. Sedangkan di Negara Maju lainnya seperti di Kamerun dan Maroko dimana pada tahun 2007 perbandingan insiden frktur pada kelompok umur 50 – 65 tahun, Pria 4,2 % penduduk, dan Wanita 5,4 % penduduk. Di Maroko pada tahun 2009 insiden fraktur pada pria 43,7 % penduduk, pada wanita 52 % penduduk. Jumlah korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia yaitu 47.401 orang pada tahun 1989, menjadi 32.815 orang pada tahun 1995. Rasio jumlah korban cedera sebesar 16,80 per 10.000 penduduk dan dan rasio korban meninggal sebesar 5,63 per 100.000 penduduk. Angka kematian tertinggi berada di wilayah Kalimantan Timur, yaitu 11,07 per 100.000 penduduk dan terendah di Jawa Tengah, yaitu sebesar 2,67 per 100.000 penduduk (Lukman, 2009). Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2007 terdapat lebih dari

delapan juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang mengalami prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstermitas bawah sekitar 46,2%

3

dari

insiden

kecelakaan

yang

terjadi.(

Http://

Lukman

rohamin.Blogspot.com.html.). Berdasarkan data Kepmenkes 116/Menkes/SK/VIII/2007 di dapatkan 25 % penderita fraktur mengalami kematiaan, 45% mengalami cacat fisik, 15 %

mengalami stress psikologis karena cemas bahkan depressi, dan 10 % mengalami kesembuhan dengan baik. Kecelakaan merupakan pembunuh nomor 3 di indonesia. Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan langsung kapada klien yang mengalami fraktur, sebagai mendidik memberi kan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan kepada klien fraktur melalui metode ilmiah. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan Asuhan Keperawatan pada dengan Gangguan Muskuloskletal Fraktur Tibia dan Fibula. 1.1. Tujuan Penulisan 1.1.1. Tujuan Umum Mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan yang diterapkan pada pasien. Dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal Post Op Fraktur Tibia Fibula yang dirawat di Rumah Sakit. 1.1.2. Tujuan Khusus a. Mampu melaksanakan pengkajian dengan melakukan pendekatan secara Sistematis untuk mengumpulkan data, menganalisa dan menegakkan diagnosa keperawatan.

1. c. mengumpulkan data. menganalisa data dan menarik kesimpulan. Ruang Lingkup Masalah Mengingat luasnya permasalahan Gangguan Sistem Muskuloskletal. 1. Study Literatur Dengan cara mempelajari buku-buku perpustakaan. d. 1. Sedangkan cara berdasarkan tindakan keperawatan yang Dengan mengumpulkan data yang penulis lakukan adalah: 1. skripsi dalam tulisan ini yang berhubungan dengan kasus ini. Melaksanakan tindakan Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal Post Op Fraktur Tibia Fibula. Mampu membuat perencanaan Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Muskuloskletal. maka dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis membatasi ruang lingkup Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal Post Op Fraktur Tibia Fibula.Pots Op Fraktur Tibia Fibula.4 b.2. Mampu membuat evaluasi dilakukan.4. Post Op Fraktur Tibia Fibula. e. . Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada dengan Gangguan Sistem Muskuloskletal. Metode Penulisan Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriftif yaitu metode ilmiah yang bersifat menggambarkan. makalah.3.

Ruang Lingkup.5.4.4.2. serta tim kesehatan lainnya. Tanda dan Gejala. Observasi Mengamati gejala yang muncul pada pasien dengan insfeksi. Komplikasi. Diagnosa Keperawatan. yang meliputi: Pengkajian. keluarga pasien. Wawancara (interview) Tanya jawab langsung dengan pasien. Etiologi. . Tinjauan Pustaka Keperawatan. BAB II Tinjauan Pustaka Terdiri Dari: a. untuk memperoleh dan mengatasi keadaan pasien sebenarnya. Rasional. Tinjauan Pustaka Medis.4. yang meliputi: Defenisi. Metode Penulisan. Patofisiologi.3. Sistematika Penulisan Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini disusun secara sistematika yang terdiri dari 5 (lima) BAB yaitu: BAB I Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang. Intervensi. Dokumentasi Dengan cara melihat dan mempelajari catatan medis dan Asuhan Keperawatan pasien itu sendiri. 1. Anatomi Fisiologi. palpasi. serta Sistematika Penulisan. b. Penatalaksanaan Medis. 1.5 1.4. Tujuan Penulisan. 1.

tahap evaluasi.6 BAB III : Tinjauan kasus yang meliputi pengkajian. tahap implementasi. diagnosa keperawatan. BAB V : Kesimpulan dan saran. tahap intervensi. catatan perkembangan. implementasi. intervensi. tahap diagnosa keperawatan. . BAB IV : Pembahasan yang meliputi tahap pengkajian. evaluasi.

ETIOLOGI Fraktur dapat disebabkan oleh: pukulan langsung gaya remuk.1 . 2000) 2.2. gaya punter.1. (Brunner & Suddrat. dkk. . dan sekunder dari penyakit ostogenesis imperfekta. jatuh. mendadak. 2008).1 Tujuan Teoritis Medis 2. Trauma kerena kecelakaan dari kendaraan. olahraga.1. dan kontraksi otot ekstrem (Suratun. Defenisi Fraktur adalah : Patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.7 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. (Suriadi 2000).

tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung. Tibia atau tulang kering merupakan kerangka yang utama dari tungkai bawa dan terletak medial dari fibula atau tulang betis. Anatomi Tulang (Evelyn 2007) Tulang ialah suatu bentuk khusus jaringan ikat ditandai dengan sel bercabang panjang . Anatomi Fisiologi Gambar 2.1.panjang dan terletak (osteosit )yang mengisi rongga-rongga (lekukan ) didalam matriks yang keras terdiri atas serabut kologen pada jaringan amorf yang mengandung gangguan fosfat kalsium. .1.3.8 2.

Tulang terdiri dari 1. .Syahrifuddin.H. 2. pelpis) 2. Efisis ( Tulang sponglosa) Fungsi Tulang Fungsi tulang secara umum: 1. 2007). Formasi kerangka Tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentuka bentuk dan ukuran tulang tubuh tulang -tulang menyongkong struktur tubuh yang lain.tulang itu digabungkan oleh sebuah ligmen antara tulang membentuk sebuah sendi ketiga antara tulang-tulang itu (Drs. Tulang kobaid (Tulang Vetebrata) 3.kedua tungkai bawah batang dari tulang . tulang fibia) Tulang panjang terdiri dari: 1. Tulang tersilia/ tulang panjang (tulang femur. Dinfensis (Tulang kompakta dengan rongga sum-sum tulang ) 2.9 Fibula atau tulang betis adalah tulang sebelah lateral tungkai bawah.tulang membentuk persendiaan yang bergerak dan tidak bergerak tergantung kebutuhan fungsional. Tulang pipih (Tulang kepala . Sendi tibia fibula dibentuk antara ujung atas dan ujung bawah. 2006). Formasi Sendi Tulang. tulang itu adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung (Evelyn.

10 3. Menyongkong Berat Badan Memelihara sikap tegak tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang. Perlengketan otot Tulang. Sebagai Pengungkit Untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakan.. 8. 9. 6. 4. ( Syaifudin 2006). 7. Penyimpanan Kalsium Tulang mengandung 97% kalsium yang terdapat dalam tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam teutama kalsium fosfat. .tulang menyediakan permukaan untuk tempat melekatnya otot. Limfosit Imunologi Limfosit “B” dan makrofag dibentuk dalam sistem retikuloendotel sumsum tulang. Hemopotesis Sumsum tulang tempat penbebntukan sel-sel darah. Proteksi Tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur yang halus seperti otak. 5.

penderita mungkin biasa sedikit di khususkan untuk memotong. 5. (Syaifudin 2006). Sinus –sinus paranalisis dapat menimbulkan nada khusus pada suara. Panggul wanita di khususkan untuk memudahkan proses kelahiran bayi. . Tulang-tulang kecil telinga dalam mengkonduksi gelombang suara untuk fungsi pendengaran.11 Fungsi Tulang Secara Khusus : 1. Hilangnya kemampuan gerak. 4. Emai gigi makanan 3. mengigit dan menggilas menggerakkan bagian yang cedera. 2. tetapi tidak bisa menggerakkan secara penuh.

1.2. Patofisiologi Trauma Daya Resiko Fraktur Tulang Emboli Paru Emboli Lemak Fraktur Terbuka Tertutup Gas Gangren Infeksi Reduksi Debdridemen n Delayed Union Pemulihan Imobilisasi Debdridemen Union Malunion Union Mobilisasi Gambar 2. Skema Patofisiologi ( Lukman.12 2. 2009) .1.

5.Sjamsuhijadat Wim De Jong. Patah tulang serong 3. pendek atau . Patah tulang impaksi. Patah tulang dahan hijau. Patah tulang impresi. Patah tulang komunitif oleh cedera hebat. 2. 1997) Ciri. Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar patah tulang epifisis tulng pipa. 10. Terasa nyeri yang menusuk pada area cedera.13 Jenis-jenis Patah Tulang 1. Situasi sekitar menimbulkan dugaan bahwa telah terjadi cedera (tulang mencuat keluar kulit). 2. Patah tulang segmental karena cedera hebat. 6. pertosttetap utuh . 3. Patah tulang patoogis akibat tumor tulang atau proses desktruksi lain.ciri Patah Tulang 1. 8. 9. Kelainan bentuk. 7. Patah tulang lintang 4. ( R. Fisura Tulang Disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terus menerus yang cukup lama seperti juga di temukan pada retak stress pada struktur logam. kadang juga disebut inklavasi. kadang-kadang kepatahan tulang menyebabkan bentuk yang tidak biasa atau pembengkokan dari bagian tubuh.

Keganjilan pada sendi 4. Sindrom Kompatemen (Celci 2002) . Status neurovaskuler pada daerah distal dari tempat fraktur mengalami penurunan 8.14 2. Nyeri yang hilang dengan istirahat 2. Nyeri tekanan 3. Deformitas ekstermitas 2. Cedera saraf yang dapat menyebabkan mati rasa 6.5.4. Kerusakan Fungsi 5. Gerakan terbatas 6. Perbedaan panjang ekstermitas 3. Keterbatasa garak 5.1. Manifistasi Klinis 1. Kontraktur iskemik volkam 8. Komplikasi 1.1. Pembentukan sirkulasi 7. Ganggren 9. Ekimalis disekitar fraktur 7. Krepitus disis fraktur 9. Atropi distal 2. Bengkak 4.

Fraktur Sipiral Timbul akibat torsi pada ektermitas b. dapat berbentuk From Within (dari dalam). Fraktur Terbuka Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak. (Arif Muttaqin 20004) Klasifikasi Fraktur berdasarkan garis Patah Yaitu: a. 2. Klafikasi Fraktur terbagi dua : 1.1. . Sudut Patah 1.6. Fraktur tertutup Adalah Fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan /tidak mempunyai hubungan luar. Atau From without (dari luar).15 2. Fraktur Oblik Adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang 3. Fraktur Segmental Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang menyebabkan terpisahnya segmental dari suplai darahnya. Fraktur Transversal Adalah fraktur yang garis patahanya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang 2. Fraktur Multipel pada sudut tulang 1.

Fraktur beban (kelelahan) lainya 1. Fraktur yang terjadi pada daerah-daerah tulang yang menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. seperti satu vetebrata dengan dua bertebrata lainnya. Fraktur avulsi memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon atau pun ligament Fraktur adalah fraktur yang melibatkan sendi.16 2. g. Fraktur ini akan segera sembuh dan segera mengalami nomedeling kebentuk dan fungsi normal. Fraktur beban terjadi pada orang 2. 2006) . c. Orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka f. Fraktur Impaksi 1 . Fraktur koordinata Adalah serpihan terputusnya kebutuhann jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang. (Sylvia Anderson.Fraktur Kompresi Terjadi ketika dua tulang menumpuk (akibat tubrukan) tulang ketiga yang berada di antranya. Fraktur Grensik Fraktur yang tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak korteks dan peridiumnya menarik utuh. e. Fraktur Patologik d.

gips panjang dari paha atas sampai leher natotarsal jika fraktur bergeser ini dapat direduksi dibawah anastesi umum dengan pengawasan sinar-x diposisi tidak perlu tetapi penjajaran harus mendekati sempurna kemudian dipasang gips dari paha atas leher metatarsal. Derajat II Fraktur dengan luka lebih dari 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang luas. Sebagian besar fraktur dengan sedikit kerusakan jaringan lunak dapat diterapi secara tertutup jika praktek tak bergeser atau sedikit bergeser. yaitu fraktur yang disertai dengan cedera arteri. . Penatalaksanaan Medis Pada prinsipnya terapi fraktur Tibia dan Fibula adalah reposisi dan imobilisasi. kemudian posisi dicetak dengan sinar-x. luka bersih yang di akibatkan oleh proporsi tonjolan tulang kecil. 2.2.17 Fraktur terbagi 3 derajat yaitu : 1. 2005) 2.Merkow dan Templemen . Derajat III Fraktur dengan luka lebih dari 1 cm dengan kerusakan yaitu dengan cedera jaringan lunak yang masih memadai. yaitu fraktur dengan kehilangan kulit. ( Gustit .III B. 3. III C. Derajat I Fraktur dengan luka kurang dari 1 cm. tungkai ditinggikan dan pasien diobservasi selama 48-72 jam kalau terjadi pembengkakan gips dibelah.1.

jari kaki. Pemasangan Gips Merupakan bahan kuat yang dihubungkan disekitar tulang yang patah. Pembentukan hematom fraktur. Proses penyembuhan fraktur : 1. 2. 5. Penarikan (traksi) Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Fiksasi Internal . Remodeling : Tulang yang baru berbentuk kembali seperti struktur normalnya. 4. Konsolidasi (anyaman tulang yang dirangkai kembali menjadi tulang hamelar dan fraktur diperlukan sangat kuat). gips dipertahankan sampai fraktur dimana pada anak + 8 minggu dan orang dewasa + 16 minggu. 3. Pembentukan kaleus (anyaman tulang fibrosa). tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi. Patah tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digunakan (imobilisasi) imobilisasi bisa dilakukan melalui : 1. 4. Sel radang mulai muncul pada hematom/prekaleus. Dan beberapa patah tulang dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan dengan pengobatan ini biasanya patah tulang selangka (terutama pada anakanak). dan jari tangan akan sembuh sempurna. tulang iga.18 Selama dua minggu posisi dicetak dengan sinar-x. Pembidaian Benda keras yang ditempatkan didaerah sekeliling tulang. Setelah sembuh. 2. 3. tulang bahu.

2.19 Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batangan logam pada pecahan-pecahan tulang merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang disertai komplikasi. ansietas. sensasi. Penurunan tak teraba nadi distal. Aktivitas/Istirahat Tanda : Keterbatasan gerak kehilangan fungsi mootorik pada bagian yang terkena (dapat segara atau sekunder akibat pembengkakan /nyeri). trauma lain. spasme otot. Adanya kesulitan istrahat tidur akibat dari nyeri. pemendekann rotasi. krepiasi. ongulasi abnormal. Sirkulasi Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansitas) atau hipotensi (hipivolomi). spasme otot.1 Tinjauan Pustaka Keperawatan 2. 2.1 Pengkajian 1. kebas. kelemahan/hilang fungsi. kesemutan (parestesis). pengisian kapiler lammmbat (Capillaryrefill). Neurosensori Gejala : Hilang gerak. Takikardi (respon stress . kulit dan kuku pucat? sianotik pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera. 3.1. Angitasi berhubungan dengan nyeri. .hipovelemia). Tanda : Deformitas lokal.

Kriteria hasil : Meningkatkan stabilitas dan posisi fraktur. Penyuluhan/Pembelajaran Gejala : Lingkungan cedera. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat terjadi cedera. tak ada nyeri akibat kerusakan syaraf. Berikan sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak/membalik. dapat berkurang pada imobilisasi). - Rasional Meningkatkan stabilitas. menurunkan kemungkinan gangguan posisi / penyembuhan.20 4. Resiko tinggi terhadap trauma bila kehilangan integritas (fraktur). . perubahan warna pembengkakan lokal. ovulasi jaringan. perdarahan.1. Keamanan Tanda : Laserasi kulit. (Lukman 2009) 2.2 Diagnosa Keperawatan 1. 6. Tujuan : Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur. Intervensi Pertahankan tirah baring ekstremitas sesuai indikasi. Spasme /kram otoot (setelah imobilisasi) 5. (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang.

- Pembebat koaptasi mungkin digunakan untuk memberikan mobilisasi fraktur dimana pembengkakan jaringan berlebihan. - Traksi memungkinkan tarikan pada fraktur tulang dan mengatasi tegangan . - Evaluasi pembebat ektremitas terhadap resolusi edema. - Tugaskan petugas yang cukup untuk membalikan pasien dengan gips spika. - Mencegah gesekan yang perlu dan perubahan posisi. kegagalan untuk menyokong ekstremitas yang di gips dapat menyebabkan gips patah. - Gips panggul/tubuh atau multipasi dapat membuat berat dan tidak praktis secara ekstrem. - Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat deformasi gips yang masih basah.21 - Letakkan papan dibawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur orthopedi. - Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut. - Pertahankan posisi integritas traksi. mematahkan gips yang sudah kering atau mempengaruhi dengan penarikan traksi.

hindari mengangkat/menghilangkan berat. Pertahankan katrol tidak terhambat dengan beban bebas menggantung. Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul karena terapi. Jumlah beban traksi optimal dipertahankan. . Yakinkan bahwasanya semua klem berfungsi. contoh pergelangan tidak menekuk/duduk dengan traksi Buck atau tidak memutar di bawah pergelangan dengan traksi Russell. Catatan : memastikan gerakan bebas beban selama mengganti posisi pasien menghindari penarikan berlebihan tiba-tiba pada fraktur yang menimbulkan nyeri dan spasme otot. Kaji integritas alat fiksasi eksternal. Yakinkan bahwa susunan berfungsi dengan tepat untuk penyambungan fraktur.22 otot/pemendekan untuk memudahkan posisi/penyaluran. Traksi Hoffman memberikan stabilisasi dan sokongan kaku Mempertahankan integritas tarikan traksi.

2. . Nyeri berhubungan dengan spasme otot. Kaji ulang foto/evaluasi. Mungkin diindikasikan untuk meningkatkan pertumbuhan tulang pada keterlambatan penyembuhaan/tidak menyatu. memungkinkan imobilisasi/ kenyamanan pasien lebih besar dan memudahkan perawatan luka. cedera pada jaringan lunak. tali atau beban. Kriteria hasil :Mampu berpartisipasi dalam aktivitas/istirahat dengan tepat. ditandai dengan keluhan nyeri dan distraksi. Tujuan : Nyeri hilang/terkontrol. Berikan/pertahankan stimulasi listrik bila digunakan. Memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan terapi. gerakan fragmen tulang.23 untuk tulang fraktur tanpa menggunakan katrol.

pembebat. karakteristik. Meningkatkan kenyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering. gips. Tingkatkan penutup tempat tidur. Tinggikan ekstremitas yang sakit. - Dorong klien untuk mengekspresikan masalah berhubungan dengan cedera. tingkat ansietas. Hindari penggunaan sprei/bantal plastik di bawah ekstermitas dalam gips. intensitas (skala 0-10). .24 Intervensi Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. Klien dapat merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan. pertahankan klien terbuka pada ibu jari kaki. - Rasional Mengurangi nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/tegangan jaringan yang cedera. - Evaluasi nyeri. Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidaknyamanan karena tekana selimut pada bagian yang sakit. mengurangi edema. - Membantu mengatasi ansietas. dan nyeri. Meningkatkan aliran balik vena. - Mempengaruhi efektifitas intervensi. lokasi. Klien dapat merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman terhadap nyeri. Pertahankan petunjuk nyeri non verbal (perubahan tanda vital dan emosi/prilaku.

meningkatkan rasa control. seperti relaksasi progresif.25 - Jelaskan prosedur sebelum memulai tindakan. Berikan alternative tindakan kenyamanan. - Berikan obat sebelum perawatan latihan rentang gerak pasif/aktif. dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri. - Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera. Meningkatkan sirkulasi umum. imajinasi visualisasi. Dorong penggunaan untuk periode yang manajemen stress. perubahan posisi. yang mungkin menetap yang lama. . Memfokuskan kembali perhatian. seperti pijatan punggung. menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot. - Lakukan dan awasi latihan /aktivitas. - Memungkinkan klien untuk siap secara mental dalam melakukan aktivitas. sentuhan terapeutik. - Meningkatkan relaksasi otot dan partisipasi klien. latihan nafas dalam. dan berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.

- Pemberian rutin mempertahankan kadar analgesik darah secara adekuat. - Untuk menurunkan nyeri dan atau spasme otot. mencegah fluktuasi dalam menghilangkan nyeri akibat . Berikan narkotik sesuai order selama 35 hari. - Berikan/awasi analgesik yang dikontrol klien. - Berikan obat sesuai order: narkotik dan analgesik non narkotik. sindrom kompartemen. menurunkan ketegangan. tiba-tiba atau dalam. - Dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi. meningkatkan kekuatan otot. - Lakukan kompres dingin 24-48 jam pertama sesuai kebutuhan. iskemia jaringan.26 - Identifikasi aktivitas terapeutik yang tepat untuk usia klien. seperti infeksi. Mencegah kebosanan. menurunkan sensasi nyeri. kemampuan fisik. lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgesik. NSAID. Menurunkan edema atau pembentukan hematom. dan penampilan pribadi. - Observasi adanya keluhan nyeri yang tidak biasa.

Tujuan Kriteria hasil : Aliran darah kembali normal. 3. Rasional Dapat menyebabkan bendungan bila terjadi edema.27 spasme/ tegangan otot. . Waspadai bahwa kadang-kadang nadi dapat terhambat oleh bekuan halus dimana pulsasi mungkin teraba. Penurunan/tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler dan perlunya evaluasi medis segera terhadap status sirkulasi. : Mempertahankan perfusi jaringan terhadap disfungsi neurovaskuler perifer. Bandingkan dengan ekstremitas yang sehat. Intervensi Lepaskan perhiasan dari ekstremitas yang sakit. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer terjadi interupsi aliran darah. Evaluasi kualitas nadi perifer distal terhadap cedera dengan palpasi.

- Alat traksi dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah . Minta klien untuk melokalisasi nyeri. dan kehilangan distal pada fraktur. warna kulit. - Panjang dan posisi syaraf perifer meningkatkan resiko cedera pada adanya fraktur kaki. atau malposisi alat traksi. peningkatan penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada syaraf tidak adekuat atau syaraf rusak. kesemutan. Kembalinya harus cepat (<3). menimbulkan kerusakan/nekrosis. - Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua. - Awasi posisi/lokasi cincin penyokong bebat. Sianotik diduga ada gangguan vena. - Lakukan pengkajian neuromuskuler. kemudian kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan.28 - Kaji aliran kapiler. - Perasaan kebas. Selidiki keluhan “rasa terbakar” dibawah gips. Perhatikan perubahan fungsi motorik atau sensori. edema/sindrom kompartemen. - Faktor ini disebabkan atau mengindikasikan tekanan jaringan/iskemia. Warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial. - Kaji jaringan sekitar akhir gips untuk titik kasar/tekanan.

perlu intervensi darurat untuk menghilangkan Meningkatkan drainase vena/menurunkan edema. . terjadinya parestesia. tegangan otot/nyeri tekan dengan eritema. Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali ada kontra indikasi. seperti adanya sindrom kompartemen. dan perubahan nadi distal. terutama pada aksila dan lipat paha.29 saraf. Perdarahan/pembentukan edena berlanjut dalam otot tertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan iskemia miositis atau sindrom kompartemen. mengakibatkan iskemia dan kerusakan saraf permanen. Perhatikan keluhan nyeri ekstrem untuk tipe cedera atau peningkatan nyeri pada gerakan pasif ekstremitas. Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema. Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada pembengkakan jaringan/edema umum tetapi dapat menunjukkan perdarahan.

Meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnya pada ekstremitas bawah. . Terjadi peningkatan potensial untuk tromboflebitis dan emboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari atau lebih. Peningkatan insiden perdarahan gaster menyertai fraktur/trauma. dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal. Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi. Tes feses/aspirasi gaster terhadap darah nyata. contoh penurunan suhu kulit. Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. Ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan. Awasi tanda vital. yang dapat mengganggu sirkulasi. Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari / sendi distal cedera.30 tekanan/memperbaiki sirkulasi. Menurunkan edema/pembentukan hematoma. Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan. Selidiki nyeri tekan. pembengkakan pada dorsofleksi kaki. Ambulasi sesegera mungkin. dan peningkatan nyeri.

perhatikan terjadinya ketidaksamaan bunyi hiperesonan juga adanya gemericik/ronki/mengi dan inspirasi mengorok/bunyi sesak napas. Rasional Takipnea. Tujuan Kriteria hasil : Pertukaran gas tidak terjadi. - Siapkan intervensi bedah ( fibulektomi/fasiotomi). - Mempercepat tindakan pembedahan. Auskultasi bunyi nafas. 4. - Mungkin dilakukan pada keadaan darurat. . pertukaran gas dan perubahan aliran darah/emboli lemak. frekuensi pernafasan dalam batas normal. dispnea dan perubahan dalam mental dan tanda dini insufisiensi pernafasan dan mungkin hanya indikator terjadinya emboli paru pada tahap awal. - Kaji /awasi tekanan intrakompartemen.31 - Bebat/buat spalk sesuai kebutuhan. : Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat dibuktikan tidak adanya syanosis. Intervensi Awasi frekuensi pernafasan dan upayanya. Resiko tinggi terhadap kerusakan. - Peninggian tekanan kebutuhan evaluasi segera dan intervensi.

kantung konjungtiva dan retina. - Ini dapat mencegah terjadinya emboli lemak. - Infeksi kulit untuk ptekie diatas garis putting pada sila. - Perubahan dalam/adanya bunyi adventisus menunjukkan tejadinya komplikasi pernapasan. - Observasi sputum untuk tanda adanya darah. stupor.32 - Atasi jaringan cedera tulang dengan lembut. letargi. - Gangguan pertukaran gas/adanya emboli paru dapat menyebabkan penyimpangan pada tingkat kesadaran pasien seperti terjadinya hipoksemia/asidosis. - Bantu dalam spirometri - Ini adalah karakteristik paling . - Instruksikan dan bantu dalam latihan napas dalam dan batuk. kacau. palatum keras. khusuisnya selama beberapa hari pertama. - Perhatikan peningkatan kegelisahan. meluas ke abdomen/tubuh. mukosa mulut. - Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi. - Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru.

Mempertahankan mobilitas fisik . Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler ditandai dengan ketidakmampuan untuk bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik. Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi.Memperhatikan posisi fungsional. - Memaksimalkan ventilasi/oksigenasi. . 5.Mampu melakukan aktivitas. Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik rekreasi.33 insentif. . memfokuskan kembali perhatian. : . Tujuan Kriteri hasil : Mobilitas fisik stabil. - Berikan tambahan 02 bila diindikasikan. Rasional Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri persepsi tentang keterbatasan fisik aktual memerlukan informasi untuk kemajuan kesehatan. nyata dari tanda emboli lemak. yang tampak dalam 2-3 hari setelah cedera. Intervensi Kaji imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.

Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul. tongkat sesegera mungkin.34 - Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tidak sakit. - Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstremitas. gulungan trokanter/tangan yang sesuai. - Kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan massa otot. tangan/kaki dan mencegash komplikasi. - Instruksikan dorong menggunakan trapeze dan pasca posisi untuk fraktur tungkai bawah. - Bantu dalam perawatan diri/ kebersihan. - Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring. - Berikan dalam posisi telentang secara periodik bila mungkin. . bebat pergelangan. - Berikan papan kaki. - Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai Tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus. - Berikan atau bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda. - Memudahkan gerakan selama hygiene/perawatan kulit.

- Tingkatkan jumlah diet kasar. - Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/napas dalam. - Tirah baring. - Lakukan program defekasi sesuai indikasi. - Penambahan bulk pada feses membantu mencegah konstipasi. Batasi makanan pembentuk gas. menurunkan resiko infeksi. - Pada adanya cedera muskuloskletal. - Auskultasi bising usus. - Mencegah dan menurunkan komplikasi kulit/pernapasan. Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus. karbohidrat. - Berguna dalam membuat aktivitas individual / program latihan . - Dorong peningkatan masukan cairan 2000-3000 ml/hari. Termasuk air asam/jeruk. - Mempertahankan hidrasi tubuh. - Pasien/orang terdekat memerlukan tindakan intensif. - Berguna dalam membuat aktivitas individual/program latihan. - Rujuk ke perawat spesialis psikiatrik klinikal. - Konsul dengan ahli terapi fisik/ okupasi/rehabilitasi spesialis. dan perubahandalam keadaan diet. vitamin dan mineral.35 - Awasi TD dengan melakukan aktivitas. penggunaan analgesik. - Berikan diet tinggi protein.

tekanan pada . Menurunkan kadar kontaminasi kulit. Memungkinkan untuk pengkajian cepat terhadap benda yang terselip. Tujuan : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan cedera tusuk. fraktur terbuka ditandai dengan nyeri.36 pasien dapat berlatih aktivitas. Bersihkan kulit dengan air sabun hangat. Kekuatan untuk penggunaan traksi plester. Intervensi Balik pasien dengan sesering mungkin jika dapat dilakukan. Tandai garis dimana plester keluar sepanjang ekstremitas. Berikan tintur bezoin gunakan plester fraksi kulit. kebas dan gangguan permukaan kulit. 6. Letakkan bantal pelindung dibawah kaki dan diatas Meminimalkan tekanan pada zona ini. Kriteria hasil : Mengatakan ketidaknyamanan hilang mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. traksi melingkar tungkai dapat mempengaruhi sirkulasi. Rasional Meminimalkan sekitar tepi gips.

Bila zona dibawah plester nyeri tekan ada iritasi kulit dan siapkan untuk membuka balutan.37 tonjolan tulang. Resiko tinggi terhadap infeksi dan prosedur infasif dan traksi tulang. Gunakan tempat tidur busa bantal apung atau kasur udara sesuai indikasi. Karena imobilisasi bagian tubuh tonjolan dari zona yang sakit oleh gips mungkin sakit karena penurunan sirkulasi. Beri bantal/pelindung dari kulit domba. Tujuan Kriteria hasil : Infeksi tidak terjadi. Mencegah cedera pada bagian kulit lain. . Tekuk ujung kawat/pen dengan karet atau gabus pelindung. Palpasi jaringan tiap hari dan catat nyeri tekan. busa. 7. :Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu tidak terjadi demam. Mencegah tekanan berlebihan pada kulit meningkatkan evaporasi kelembaban yang menurunkan resiko nekrosis.

- Observasi luka perubahan warna kulit. Contoh insisi/drainase. - Kaji sisa pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri. therapy 02. - Tanda perkiraan infeksi gangren. - Rasional Pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi atau abrasi. - Bantu prosedur. - Banyak prosedur dilakukan pada pengobatan infeksi lokal gangren gas. rasa terbakar atau adanya edema entema drainase/bau tak enak. - Berikan perawatan kawat/pen steril. - Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus. - Mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi.38 Inetrvensi Infeksi kulit adanya intraksi atau robekan kontinuitas. - Berikan obat sesuai indikasi. - Siapkan pembedahan sesuai - Sequestrektomi (pengangkatan . bau drainase yang tak enak. - Dapat mengidentifikasi timbulnya infeksi lokal inekrosis jaringan yang dapat menimbulkan osteomielesis.

. tulang nekrotik) perlu untuk membantu pengobatan dan mencegah perluasan proses infeksi. Tujuan : Pengetahuan klien meningkat.39 indikasi. 8. Kurangnya pengetahuan terhadap prognosis penyakit berhubungan dengan salah interpretasi dirtandai dengan sering bertanya dan permintaan informasi. Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan. Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang penyakit.

- Mencegah kekakuan sendi kontraktur dan kelelahan otot. meningkatkan kembali aktifitas sehari-hari secara dini. - Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh lengkap dan kerja sama dengan pasien membantu untuk penyatuan yang tepat. - Menurunkan resiko tulang/jaringan daru infeksi yang . - Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi atas dan bawah fraktur. - Banyak fraktur yang memerlukaan gips. - Rasional Memberikan dasar pengetahuan pasien dapat membuat pilihan informasi. - Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. - Beri pengetahuan metode mobilisasi dan ambulansi sesuai dengan terapi fisik bila diindikasikan.40 Intervensi Kaji ulang patologis prognosis dan harapan yang akan datang. - Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis. kerusakan lanjut dapat terjadi sekunder terhadap ketidaktahuan penggunaan alat ambulansi. gabat atau penjepit selama proses penyembuhan.

2000) . Doenges. (Marillyn.41 dapat berlanjut menjadi osteomelitis. E.

Dengan diangnosa Post Op Fraktur Tibia Fibula Sinistra. Riwayat kesehatan a. dan dirawat sekarang di ruang VII dengan nomor RM. II.J dengan jenis klamin laki-laki. Pengkajian I.Pirngadi Kota Medan pada tanggal 17 Maret 2013.54. Pasien bertempat tinggal di Jln. Pendidikan SMP dan menganut Agama Kristen Protestan.1.42 BAB III LAPORAN KASUS 3. Tanah Jawa Panambean Marjanji Kab. Belum menikah. Simalungun. 00. bersuku bangsa Batak / Indonesia dan masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. tempat dan tanggal lahir Lampung. Identitas Pasien An. Riwayat penyakit sekarang : 1.61. 14 Agustus 1997. Tanda Vital TD HR RR : 118 / 75 mmHg : 80 x / i : 20 x / i S BB TB : 35 0 C : 47 kg : 160 cm .87.

3. Riwayat kesehatan masa lalu Informasi yang diperoleh pada saat pengkajian. Pirngadi Medan tanggal 17 Maret 2013 melalui UGD dengan keluhan kaki sebelah kiri pasien mengalami patah tulang kecelakaan dari mobil Pick up. Keluhan Utama : Nyeri adanya patah tulang dibagi anterior (depan) tulang tibia dan fubula dengan intensitas nyeri (4-6). Faktor Pencetus Lamanya keluhan Upaya yang dilakukan : Kerena kecelakaan : 1 hari yang lalu : Pasien di bawah ke Rumas sakit Dr.43 2. Alasan masuk ke Rumah Sakit Pasien datang ke RSU Dr. pasien menumpang mobil pick up terbuka. Pasien menyatakan belum pernah di operasi dan tidak memiliki riwaya alergi . Menyebabkan tulang tibia fibula sinistra fraktur. Pasien terjatuh dan kemudian di lindas oleh sepeda motor yang melintas di belakang mobil pick up tersebut. Pirngadi kota Medan Faktor yang memperberat : Terputusnya kontinius jaringan tulang Dimana lokasinya : Fraktur dibagian tibia dan fibula sinistra Kapan mulai timbul Bagaimana terjadinya Diangnosa medis : Sering : Bertahap : Post Op Fraktur Tibia dan Fibula b. Pasien tidak bisa berjalan.

c. Pada saat pengkajian. Intensitas nyeri sedang (4-6). sudah mulai mengering dengan jumlah jahitan 10 jahitan. R pada saat ini dirawat diruang VII. Dengan kondisi Fraktur Tibia Fibula Sinistra dan sudah dilakukan tindakan infasif pembedahan dengan Debridement dan pemasangan Backslab. W Ny. W dan Ny.44 . . R RR 15 Thn Penjelasan : Pasien berinisisal An. pasien terpasang Backslab bagian extremitas bawah Sinistra dengan kondisi luka bekas operasi ± 10 cm. J anak Pertama dari 3 bersaudara anak dari Tn. Riwayat Kesehatan Keluarga Tn.

Pola Eleminasi Urine .hari 1. Pola Eleminasi Fekal / BAB Frekuensidan benyaknya Konsistensi dan warna 1 kali sehari Lembek dan Kekuning . tidak teratur Tidak ada Tidak ada 3. Biologi No 1. Pola kebiasaan sehari. Nutrisi 2.kuningan 1 x sehari Lembek dan Kekuning – kuningan 4.45 d. Pola Sebelum Masuk RS Setelah Masuk RS Pola makan Makanan yang disukai Diet Pola minum Jenis minuman Banyaknya Minuman yang disukai 3 x Sehari Nasi Goreng Makanan biasa 7 – 8 gls/ hari Air putih 7 – 8 gls / hari Jus 3 x Sehari Tidak ada Makanan biasa 5 – 6 gls / hari Air putih 4 – 5 gelas Tidak ada Pola Tidur Kebiasaan tidur malam Kebisaan tidur siang Kesulitan tudur Cara mengatasinya 6 – 8 jam 1 – 2 jam Tidak ada Tidak ada 7 jam 2 – 3 jam.

46

Frekuensi dan banyak nya Kejernihan dan warnanya

1500 - 2000 cc / hari Jernih kuningan

1000 – 1500 cc / hari

kekuning– Jernih kekuning – kuningan

5.

Pola Aktivitas Pekerjaan sekarang Lama bekerja Pelajar Tidak tentu Tidak ada Tidak ada

6.

Pola Hygiene Personal Kebiasaan mandi Menggosok gigi Mencuci rabut Memotong kuku Hambatan dalam personal Hygiene 2 x sehari 2 x sehari 1 x sehari 1 x seminggu Tidak ada 1 x sehari 1 x sehari Tidak tentu 1 x seminggu Ada, Pasien di bantu oleh keluarganya ke toilet.

2. Psikologis Presepsi penyakit pasien mengerti tentang penyakitnya dan optimis unuk sembuh,konsep diri baik, pasien berharap cepat sembuh, emosi pasien stabil, pasien dapat beradaptasi dengan baik, mekanisme pertahanan diri baik, pasien slalu berdoa agar penyakitnya segera sembuh.

47

3. Sosial Hubungan antara anggota kelurga pasien harmonis, Pasien dapat membina hubungan dengan orang lain. Respon pasien terhadap lawan bicara baik, komunikasi 2 arah. Bahasa yangg digunakan sehari-hari adalah bahasa Batak dan Indonesia. 4. Spiritual Pola ibadah pasien taat beribadah. Mengikuti kebaktian, keyakinan tentang kesehatan, pasien yakin akan sembuh dengan pengobatan dan perawatan di rumah sakit . III. Pemeriksaan Fisik A. Tanda – tanda Vital . Tgl: 08 April 2013 Pasien berinisial An.J pada saat ini dirawat diruang VII dengan kondisi Fraktur tibia fibula sinistra. Tinggkat kesadarannya compos mentis, suhu 350 C, tekann darah 118 / 75, Nadi / denyut jantung 80 x / i, pernafasan 20 x / i, tinggi badan 160 cm dan berat badan 47 kg. B. Head to toe dan pengkjiaan system 1. Kepala. Bentuk kapala pasien bulat, posisi simetris kanan dan kiri, warna rambut hitam, ikal, kulit kepala bersih tidak ada keluhan pada kepala. 2. Mata / Pengelihatan. Bentuk mata pasien bulat, tidak ada anemis pada konjungtiva, pupil isokor kanan dan kiri, dan keadaan simetrisi, ketajaman pengelihatan baik (dapat membaca buku ± 30 cm). Refleks cahaya baik, tidak memakai alat

48

bantu dan tidak ditemukan tanda-tanda peradangan, serta kebutuhan pada lensa. 3. Hidung / Penciuman. Posisi simetris kanan dan kiri. Tidak ada peradangan, perdarahan dan sumbatan (polip). Fungsi penciuman baik (dapat membedakan bau parfum dan buah mangga). 4. Tenggorokkan. Pasien tidak mengalami kesulitan menelan dan tidak ada tanda-tanda peradangan pada kelenjar thyroid. 5. Telinga / Pendengaran. Bentuk dan posisi telinga pasien simetris kanan dan kiri, tidak ada ditemukan tanda-tanda peradangan, perdarahan. Fungsi pendengaran pasien baik dan dapat mendengar suara panggilan keluarganya. Pasien tidak memakai alat bantu pendengaran dan tidak ada keluhan. 6. Mulut dan Gigi. Bibir dan mukosa gusi pasien lembab, tidak ada masalah pada lidah, terdapat caries gigi, tidak ada pembengkakan tonsil, fungsi pengecapan baik, tidak ditemukan tanda-tanda peradangan dan perdarahan. Nutrisi : Jenis diet makanan biasa, nafsu makan pasien baik. Tidak ada smasalah seperti mual dan muntah. Intake 1500-2000 ml /hari OutPut 1000-1500 ml/hari, terpasang infuse RL 20 gtt / i.

tidak ada pembesaran hepar. Genitounaria. tidak ada peradangan. ini di karenakan Tibia Fibula Sinistra terpasang beckslab. Bunyi nafas vesikuler dan teratur. rentang gerak normal. . alat genetalianya terjaga kebersihannya.49 7. Genetalia. HR : 80 x / i tidak terjadi haematoma pada (fraktur) dan terpasangnya backslab pada kaki sebelah kiri. 11. Abdomen. tidak ada nyeri abdomen. 10. Sirkulasi. fungsi pencernaan baik. Thorak. hematuri tidak ada. 9. Ekstermitas Atas. turgor kulit baik. Bentuk abdomen pasien simetris kanan dan kiri. inkontinensia urine out put tidak tentu tetapi ke kamar mandi perlu dibantu keluarganya seperti BAK. 20 gtt / i. 12. 8. Kebersihan genetalia terjaga karena pasien dapat menjaga personal hygiene (genetalia) dengan baik. Bentuk thorak pasien simetris kanan dan kiri. Bentuk simetris kanan dan kiri. Pasien tidak memakai kateter karena dapat bereleminasi kekamar mandi dan tidak ada masalah. Jenis pernafasan thorakoabdominal. ginjal tidak teraba. sesak (-) dan nyeri dada (-). Post tranfusi darah 700 cc (RBC) Free operasi. tangan kiri terpasang infuse RL. bising usus 12 x/I.

dapat berorientasi dengan baik terhadap orang lain. dapat mengenal perawat. Muskuloskletal. berjalan dengan menggunakan tongkat dan kadang . keluarga dan pasien lain diruangannya. 14. Tingkat kesadaran pasien compos mentis dengan. Ekstermitas Bawah. . Terjadi gangguan integritas tulang (fraktur) dan luka bekas operasi dengan tindakan pembedahan debridement dan backslab. Terjadi fraktur tibia dan fibula sinistra.kadang di bantu oleh keluarganya bila ingin ke toilet.50 13. Neurologis. 15. dengan indikasi pemasangan Backslab. Rentang gerak tidak baik ( harus di gerakkan perlahan ) elastis dan skala nyeri ( 4 – 6).

61 Pemeriksaan HEMATOLOGI Darah Rutin WBC RBC HGB HCT MCV MCH PLT Glukosa Adrondom Ureum Creatinin Uric Acid Atrium.8 143 4.9 23. Inj.1 25. Ketorolac 1 amp / 8 jam 5. Ranitidine 1 amp / 8 jam 6.0 – 48. clorida Natrium Kalium Hasil 10700 3. kalium.5 – 5.5 / 10 6 / UL 13 – 16 / gr / dl 39.0 mg / dl / 136 – 155 mmol / dl / 3. Metronidazole 500 mg / 12 jam 4. Inj.0 – 97. Infus RL.0 Nilai Normal 4000 – 10000 / UL 4.5 – 7.7 / pg 150000 – 440000 / UL <140 mg / dl / 10 – 50 mg / dl / 0. Terfacef 1 gr / 12 jam 3.39 8. 20 gtt / i 2.87.5 mmol / dl / Therapy : 1. Inj.0 / FL 27. Gentamycin 80 mg / 12 jam .05 6.6 – 1.RM : 00.0 / % 80. Inj.2 mg / dl / 3.4 74.0 – 33.5 – 5. Inj.51 DATA PENUNJANG / PEMERIKSAAN PENUNJANG Tanggal Pemeriksaan : 17 Maret 2013-06-03 No.9 181000 108 37 1.54.

Terpasang backslab dengan kondisi luka bersih. Data Ds : Pasien mengatakan nyeri pada kaki kiri dengan intensitas nyeri sedang(4-6) Do : Pasien tampak meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur. Do : Aktivitas pasien Post op Fraktur Tibia Fibula sinistra Imobilisasi Keterbatasan gerak .52 ANALISA DATA No 1. Ds : Pasien mengatakan kaki kiri sulit untuk digerakkan. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i RR : 22 x/i Temp : 35 ºc Kemungkinan penyebab Trauma Masalah Nyeri Fraktur Tibia Fibula dan terpasang backslab Nyeri 2.

dengan 10 jahitan. Resiko tinggi infeksi Luka operasi masih basah Post op debridement dan backslab Open fraktur Trauma langsung/kecelakaan Resiko tinggi infeksi Imobilisasi Intoleransi aktivitas . Ds : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki kiri terdapat luka bekas operasi. 3. backslab terpasang daerah fraktur. Terpasang infuse RL 20 gtt/ i pada tangan kiri. Terpasang backslab. Do : Pada bagian anterior Kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ± 10 cm.53 dibantu keluarganya.

54 3. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan backslab. Terpasang infus RL 20 gtt / i pada tangan kiri. . Nyeri berhubungan dengan trauma ditandai dengan pasien meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur. RR : 20 x / i Temp : 35 ºc. luka bekas operasi ± 10 cm. 2. TD : 118/75 mmHg. 3. backslab terpasang daerah fraktur. Tampak ada dengan jumlah jahitan 10 jahitan. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan post op fraktur tibia fibula ditandai dengan Aktivitas pasien dibantu keluarganya. Diagnosa keperawatan 1.2. HR : 80 x / i.

Meningkatkan aliran balik . . J : Laki .55 ASUHAN KEPERAWATAN Nama J. Kelamin Tanggal : An. Dengan intensitas nyeri sedang (4-6).Pertahankan .Tinggikan dan dukung daerah .laki : 10 April 2013 Tanggal Masuk Ruangan Diagnosa Medis : 17 Maret 2013 : VII / VIII : Fraktur Tibia dan Fibula sinistra No 1 Tanggal Data Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan trauma ditandai dengan pasien meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur.Menghilangkan imobilisasi bagian yang sakit. Do : Pasien tampak meringis kesakitan dan tidak Rencana Keperawatan Intervensi Rasional . 10 – 04-2013 Ds : Pasien mengatakan nyeri pada kaki kiri. Tujuan / KH Nyeri hilang K/H : Melaporkan nyeri hilang / terkontrol. nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang.

Evaluasi keluhan nyeri dan skala nyeri. yang cedera.Memberikan posisi yang nyaman pada pasien. . RR : 20 x/i Temp : 35 ºc. . TD : 118/75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i Temp : 35 ˚c. . HR : 80 x/I. . . vena.Lakukan jadwal perawatan luka yang telah dianjurkan .Atur posisi yang Nyaman.56 tampak haematoma pada sisi fraktur.Meningkatkan kenyamanan pasien dan mengetahui skala nyeri. TD : 118/75 mmHg. .Mencegah terjadinya infeksi.

Dorong pasien untuk mendiskusikan .57 dokter setiap hari.Jelaskan Prosedur Sebelum Melakukan tindakan.Memumingkan pasien untuk siap secara mental untuk aktivitas dan berpartisipasi dalam tindakan pengobatan. . . .Membantu menghilangkan ansietas. .

Terpasang infus RL ditandai dengan Aktivitas pasien dibantu keluarganya.Meningkatkan aliran darah ke .Instrusikan pada pasien untuk . .Kaji mobilitas fisik yang dihasilkan oleh cedera. . K/H : Mampu melakukan aktivitas. .58 masalah sehubungan dengan cedera. Terpasang Mobilitas fisik stabil.Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan. . . 2 11-04 -2013 Ds : Pasien mengatakan kaki kirinya sulit digerakkan. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan post op fraktur tibia fibula dextra Do : Aktivitas pasien dibantu keluarganya.Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan dari keterbatasan fisik aktual.Menentukan pengobatan yang tepat.

backslab terpasang daerah fraktur. . Backslab terpasang pada daerah fraktur. . .Menurunkan komplikasi tirah baring. . infuse RL 20 gtt / i pada tangan kiri. otak dan tulang untuk meningkatkan tonus otot.Mencegah terjadinya penyatuan fraktur yang salah.59 20 gtt / i pada tangan kiri. bantu dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang sehat.Bantu dalam mobilisasi dengan tongkat.Perhatikan balutan / perban elastis. .

Menentukan pengobatan yang tepat. bau yang . K/H : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. .Tanda perkiraan infeksi ganggren. Infeksi tidak terjadi.Observasi luka. .Membantu proses penyembuhan dengan diet yang baik. tidak terjadi demam.60 . 3 12-04-2013 Ds : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki kiri terdapat luka operasi.Dapat mengidentifikasi terjadinya infeksi. .Berikan diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium. perubahan warna kulit. .Kaji tanda-tanda infeksi.Kolaborasi dengan dokter dala pengobatan. Do : Pada bagian anterior Kaki kiri pasien Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan backslab. . . .

61 tampak ada luka bekas operasi ± 10 cm. . . . .Mengetahui keadaan umum pasien. .Pantua TTV pasien. kurang sedap.Mencegah terjadinya kontaminasi yang menyebabkan infeksi. Terpasan backslab.Gunakan anti septic (sabun) untuk mencuci tangan.Mencegah terjadinya infeksi silang.Anjurkan pada pasien untuk tidak menyentuh luka bekas operasi. . . dengan jumlah jahitan 10 jahitan.

Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan . .Menentukan pengobatan yang tepat.62 .

.Kelamin : Laki – laki Tanggal : 10 – 04 2013 13. 08.J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013 Ruangan Dx Medis : VII : Fraktur Tibia Dan Fibula Sinistera Hari / Tanggal Rabu 10-04-2013 No. 08.40 Mengevaluasi adanya keluhan nyeri dan skala Jam Evaluasi J.35 Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan merapikan tempat tidur.30 Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1 bantal.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya masih terasa sakit. P : Rencana tindakan dilanjutkan.63 CATATAN PERKEMBANGAN Nama : An. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c A : Masalah belum teratasi. O : Pasien masih tampak meringis kesakitan. DX Jam 08. 08.30 Implementasi Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah baring.

20 gtt / i Inj. 12. 12.40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.10 Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. Metronidazole 500 . 12. Terfacef 1 gr / 12 jam Inj.64 nyeri 4 – 6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan. Gentamycin 80 mg / 12 jam Inj.00 Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi Gentamycin 80 mg/12 jam. Infus RL.

terpasang backslab kaki kirinya. 09.10 Menginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif pada kaki yang cedera dengan cara menggerakkan jari – jari kakinya. A : Masalah belum teratasi . Ketorolac 1 amp / 8 jam Inj.15 Memperhatikan balutan/perban elastis masih terpasang dengan tepat. 09.20 Membantu pasien menggunakan tongkat 14. dibagian tangan kiri. O : Pasien dibantu keluarga dalam melakukan aktivitas (berjalan kekamar mandi akan BAK). Ranitidine 1 amp/8 jam Rabu 10-04-2013 2 09.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya tidak dapat digerakkan spontan dan tidak dapat melakukan aktivitas. 09.65 mg / 12 jam Inj. Terpasang infus RL 20 gtt/i.00 Mengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari – jari kakinya.

00 Memberikan diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan biasa + sup. .35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah kirinya terdapat luka P : Rencana tindakan dilanjutkan. 20 gtt/i Inj.66 saat berjalan. Metronidazole 500 mg/12 jam Inj. Ranitidine 1 amp/8 jam Rabu 10-04-2013 3 08.40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat Infus RL. 11. Terfacef 1 gr/12 jam Inj.Inj. 10.50 Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan bertanya langsung pada pasien skala nyeri 4 – 6 14. Ketorolac 1 amp/8 jam . Gentamycin 80 mg/12 jam Inj.

5 0c O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm. tidak tampak kemerahan pada sekitar luka. 12. .67 bekas operasi.00 Mengobservasi perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda – tanda infeksi. A : Masalah belum teratasi. Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. 10. P : Rencana tindakan dilanjutkan. backslab.00 Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh bagian luka operasi. 10. luka tidak bau.00 Memantau TTV pasien TD : 110 / 70 mmHg HR : 82 x/i RR : 22 x/i T 13.00 : 36.

68 13.30 - Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat. .

69 CATATAN PERKEMBANGAN Nama J. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c 08. O : Pasien masih tampak meringis kesakitan.Kelamin Tanggal : An.30 S : Pasien mengatakan kaki kirinyanya masih terasa sakit.J : Laki – laki : 11 April 2013 Tanggal Masuk Ruangan Dx Medis : 17 Maret 2013 : VII : Fraktur Tibia dan Fibula Sinistera Hari / Tanggal Kamis 11-04-2013 No.35 - Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan merapikan tempat tidur. A : Masalah belum teratasi. Jam Evaluasi 12. DX 1 Jam 08. 08. 08.30 - Implementasi Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah baring.40 - Mengevaluasi adanya .30 - Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1 bantal. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

Infus RL.70 keluhan nyeri dan skala nyeri 4 – 6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan. Gentamycin 80 mg/12 jam Inj. 12. Terfacef 1 gr/12 jam Inj. Metronidazole 500 .10 Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. 20 gtt/i Inj.00 Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi Gentamycin 80 mg/12 jam. 12. 12.40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.

71

mg/12 jam Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam Inj. Ranitidine 1 amp/8 jam

72

Kamis 11-04-2013

2

09.00

-

Mengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari – jari kakinya.

14.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinyanya tidak dapat digerakkan spontan dan tidak dapat melakukan aktivitas. O : Pasien dibantu keluarga dalam melakukan aktivitas (berjalan kekamar mandi akan BAK). Terpasang infus RL 20 gtt/i, dibagian tangan kiri, terpasang backslab kaki kirinya .

09.10

-

Menginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif pada kaki yang cedera dengan cara menggerakkan jari – jari kakinya.

09.15

-

Memperhatikan balutan/perban elastis masih terpasang dengan tepat.

09.20

-

Membantu pasien menggunakan tongkat saat berjalan.

A : Masalah belum teratasi P : Rencana tindakan dilanjutkan.

10.00

-

Memberikan diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan

73

biasa + sup. 11.40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat Infus RL. 20 gtt/i Inj. Terfacef 1 gr/12 jam Inj. Gentamycin 80 mg/12 jam Inj. Metronidazole 500 mg/12 jam Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam - Inj. Ranitidine 1 amp/8 jam

tidak tampak kemerahan pada sekitar luka.74 Kamis 11-04 2013 3 08. O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm. A : Masalah belum teratasi. luka tidak bau.35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah kirinya terdapat luka bekas operasi.00 Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh bagian luka operasi. . dengan 10 jahitan terpasang backslab. 10.00 Memantau TTV pasien TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i RR : 20 x/i T : 35 0c 14. 12. P : Rencana tindakan dilanjutkan.00 Mengobservasi perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda – tanda infeksi.50 Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan bertanya langsung pada pasien skala nyeri 4 – 6 10.

75 13. 13.30 - Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.00 - Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. .

08. DX 1 Jam 08.76 CATATAN PERKEMBANGAN Nama J. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c 08. J : Laki – laki : 12 April 2013 Tanggal Masuk : 17 Maret 2013 Ruangan : VII Dx Medis : Fraktur Tibia dan Fibula Sinistera Hari / Tanggal jumat 12-04-2013 No. Jam Evaluasi 12.30 - Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1 bantal.30 - Implementasi Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah baring.40 - Mengevaluasi adanya .35 - Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan merapikan tempat tidur. A : Masalah belum teratasi.30 S : Pasien mengatakan kaki kirinya masih terasa sakit. 08. P : Rencana tindakan dilanjutkan. O : Pasien masih tampak meringis kesakitan.Kelamin Tanggal : An.

12. Gentamycin 80 mg/12 jam Inj. Infus RL.10 Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. Metronidazole 500 .77 keluhan nyeri dan skala nyeri 4 – 6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan. Terfacef 1 gr/12 jam Inj. 12.00 Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi Gentamycin 80 mg/12 jam. 20 gtt/i Inj.40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat. 12.

15 kakinya. dibagian tangan kiri. 09. terpasang backslab kaki kiri. Membantu pasien 14.00 Mengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari – jari kakinya. Terpasang infus RL 20 gtt/i.78 mg/12 jam Inj. Ranitidine 1 amp/8 jam Jumat 12-04-2013 2 09.10 Menginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif pada kaki yang cedera dengan cara menggerakkan jari – jari 09. Ketorolac 1 amp/8 jam Inj. A : Masalah belum .00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya tidak dapat digerakkan spontan dan tidak dapat melakukan aktivitas.20 tepat. O : Pasien dibantu keluarga dalam melakukan aktivitas (berjalan kekamar mandi akan BAK). Memperhatikan balutan/perban elastis masih terpasang dengan 09.

Metronidazole 500 mg/12 jam Inj. 20 gtt/i Inj.35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah .40 Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat Infus RL. 14. Gentamycin 80 mg/12 jam Inj. 11.79 menggunakan tongkat saat berjalan.50 Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan bertanya langsung pada pasien teratasi P : Rencana tindakan dilanjutkan.00 Memberikan diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan biasa + sup. Ranitidine 1 amp/8 jam Jumat 12-04-2013 3 08.Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam . 10. Terfacef 1 gr/12 jam Inj.

30 - tindakan.00 - T : 35 0c Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan 13. luka tidak O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm.80 skala nyeri 4 – 6 kirinya terdapat luka bekas operasi.00 - Mengobservasi perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda – tanda infeksi. P : Rencana tindakan dilanjutkan. Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh 12.00 - bagian luka operasi. 10. 10. Berkolaborasi dengan . A : Masalah belum teratasi. tidak tampak kemerahan pada sekitar luka.00 - bau. Memantau TTV pasien TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i RR : 20 x/i 13.

.81 dokter dalam pemberian obat.

sosio dan spiritual. riwayat kesehatan sekarang dan kebiasaan hidup sehari-hari. Pengkajian diawali dari pengumpulan data tentang identitas pasien. Tahap Pengkajian Didalam tahap pengkajian penulis mengadakan wawancara langsung pada pasien. riwayat kesehatan masa lalu. 4. psiko. . dan evaluasi. Selama pasien dirawat dirumah sakit dilakukan pengkajian yang meliputi bio. Pirngadi kota medan yang di observasi 3 hari. implementasi. Dalam hal ini penulis akan membahas melalui tahapan – tahapan proses keparawatan yaitu : pengkajian. Selain itu juga didukung oleh data yang ada dalam catatan keperawatan / studi dokumentasi yang mendukung pengkajian penulis.1. diangnosa keperawatan. intervensi.82 BAB IV PEMBAHASAN Setelah penulis melaksanakan dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan muskuloskuletal fraktur tibia dan fibula post op debridement dan pemasangan backslab di ruang VII RSU dr. maka penulis akan membahas setiap permasalahan dan kesenjangan yang di jumpai pada asuhan keperawatan pada kasus pasien.

Karena fraktur yang dialami An. b. takikardia. Dari data-data tersebut (secara teori) ada beberapa data yang tidak penulis temukan pada kasus antara lain : a. hipotensi. pemendekan otot.83 Adapun data yang penulis temukan pada teori dan tidak ditemukan pada kasus fraktur meliputi : a. tidak ada nadi pada bagian distal. TD : 118 / 75 mmHg. S : 35 0c. Pembengkakan / hematoma pada sisi fraktur c. hipotensi. tidak ada nadi pada bagian distal. pengisian kapiler lambat dan parastesis. Deformitas. J sudah . Spasme otot d. Keterbatasan fungsi / kehilangan fungsi pada bagian yang cedera b. keterbatasan gerak e. Pemendekan Tulang Pada kasus An. RR : 20 x/i. takikardia. Hipertensi. pengisian kapiler lambat dan parastesis tidak penulis temukan pada kasus karena pada saat pengkajian penulis mendapatkan TTV pasien. Karena sudah dilakukan tindakan infasif pembedahan debridement dan backslab serta fraktur tampak bersih. Perdarahan atau perubahan warna kulit g. Hipertensi. Nyeri f. J tidak terdapat adanya deformitas. HR : 80 x/i.

Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. 6. 4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur). Resiko tinggi terhadap disfungsi neuromuskuler perifer berhubungan dengan penurunan aliran darah. 2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.2.84 dilakukan tindakan infasif pembedahan debridement dan pemasangan backslab dengan grade III dan kemungkinan sangat kecil. Tahap Diagnosa Keperawatan Pada diagnosa keperawatan dalam tinjauan teoritis penulis menemukan 8 (delapan) diagnosa keperawatan yaitu : 1. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak. Dari diagnosa keperawatan diatas tersebut ada beberapa diagnosa keperawatan yang tidak penulis temukan pada kasus antara lain : . 8. 7. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi. 5. 3. 4.

Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur). 3.85 1. Menurut teori hal ini terjadi karena penurunan aliran darah. cedera vaskuler. Maka dalam hal ini tidak terdapat kerusakan integritas kulit. Dimana dijumpai data terabanya nadi. 5. Hal ini tidak ditemukan dalam kasus karena pasien hanya mengalami fraktur tibia fibula sinistra dan sebagian anggota gerak yang lain dapat digerakkan dengan normal kecuali daerah yang dioperasi. TTV stabil. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. cedera vaskuler. Hal ini tidak ditemukan karena pasien sudah menjalani tindakan infasif pembedahan dengan debridement dan pemasangan backslab. frekwensi pernafasan 20 x/i. pengeluaran urine normal dan kulit hangat. emboli lemak. Hal ini tidak ada ditemukan pada kasus dibuktikan dengan tidak adanya syanosis. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah. sedangkan pada kasus ini tidak dijumpai. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan aliran darah. . 4. 2. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.

Nyeri. J hal ini tidak dilakukan karena luka tidak terjadi hematoma tetapi luka yang ada akibat insisi post operasi debridement dan pemasangan backslab. Pada teori yang terdapat pada intervensi untuk mengatasi kerusakan mobilitas fisik dengan konsul. sedangkan pada kasus An. . 1. J ada pada diagnosa keperawatan tinjauan pustaka. Sedangkan 3 (tiga) diagnosa yang penulis temukan pada An.3. dengan ahli terapi fisik / okupasi. 2.86 Hal ini tidak ditemukan pada kasus karena pasien memiliki keluarga yang memberikan pengetahuan dan informasi tentang penyakitnya. Tetapi pada kasus An. Pada teori terdapat intervensi untuk mengatasi nyeri dengan melakukan kompres dingin (es) 20 – 28 jam pertama sesuai keperluan. Kerusakan Mobilitas Fisik. Tahap Intervensi Berdasarkan dari intervensi pada diagnosa yang sama pada teori dan pada kasus tidak semua direncanakan. J kerusakan mobilitas fisik hanya ditangani dengan tindakan mandiri saja misalnya melatih untuk menggerakkan kaki perlahan – lahan melatih berjalan dengan tongkat. 4.

tanda infeksi. dari penulis untuk melakukan tindakan keperawatan pada pasien. dan tidak di jumpai tanda . Hal ini juga tidak terdapat pada kasus An. adanya kerjasama antara penulis dengan tim kesehatan lainnya dan adanya kerjasama antara penulis dengan pasien itu sendiri. J karena infeksi / ganggren tidak terjadi dan intervensi persiapan pembedahan sesuai indikasi. . Selama pelaksanaan penulis menemukan beberapa faktor pendukung dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu : adanya kerja sama perawat ruangan dengan penulis. 4.87 3. pada prinsipnya semua yang direncanakan pada setiap diagnosa keperawatan dapat dilaksanakan pada pasien tersebut dan sebelumnya penulis memilih tindakan keperawatan yang sudah diberikan pada pasien.J karena sudah dilakukan debridement dan pemasangan backslab sebelumnya. Dan tindakan yang diberikan hanya berdasarkan kepada implementasi yang sudah tercantum pada rencana keperawatan.4. Sedangkan faktor penghambat lainnya dalam pelaksanaan tindakan yaitu: keterbatasan waktu. Resiko Tinggi Terhadap Infeksi Hal ini tidak ditemukan pada kasus An. Tahap Implementasi Pada tahap ini penulis melaksanakan semua yang sesuai dengan apa yang direncanakan. Sedangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan tindakan yaitu : implementasi yang diharapkan tidak sesuai dengan intervensi yang ada sehingga adanya keterbatasan dalam pemberian tindakan.

RR : 20 x/i. terpasang backslab di kaki kiri. terpasang backslab di kaki kiri. teratasi pada hari ke-5. O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak ada luka bekas operasi ± 10 cm dengan jumlah jahitan 10 jahitan. TD : 118 / 75 mmHg. kaki kiri. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neurovaskuler ditandai dengan aktivitas dibantu keluarganya. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi ini merupakan penilaian terhadap hasil dari tindakan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan. RR : 20 x/i. HR : 80 x/i. A : Masalah belum teratasi. . O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ± 10 cm dengan jumlah jahitan 10 jahitan. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak ditandai dengan pasien meringis kesakitan. sehingga rencana dilanjutkan oleh perawat ruangan.88 4. S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah kiri terdapat luka bekas operasi. T : 35 0. Terpasang backslab di kaki kiri A : Masalah sebagian teratasi. b. sedangkan diagnosa yang sebagian masalahnya teratasi yaitu nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak ditandai dengan pasien meringis kesakitan. TD : 118 / 75 mmHg. Terpasang infus RL 20 gtt/i pada tangan kiri. T : 350c. Adapun diagnosa yang terdapat pada kasus antara lain : a.5. terpasang backslab pada. P : Rencana tindakan dilanjutkan. S : Pasien mengatakan susah bergerak karena kaki kiri terdapat luka bekas operasi 10 cm. P : Intervensi dilanjutkan.

teratasi pada hari ke-5. Terpasang infus RL 20 gtt/i pada tangan kiri. . Resiko tinggi infeksi Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan backslab. T : 350c. S : Pasien mengatakan susah bergerak karena kaki kiri terdapat luka bekas operasi 10 cm. sehingga rencana dilanjutkan oleh perawat ruangan. kaki kiri. terpasang backslab di kaki kiri. P : Intervensi dilanjutkan. RR : 20 x/i. terpasang backslab pada.89 c. Terpasang backslab di kaki kiri A : Masalah sebagian teratasi. O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak ada luka bekas operasi ± 10 cm dengan jumlah jahitan 10 jahitan. TD : 118 / 75 mmHg. sedangkan diagnosa yang sebagian masalahnya teratasi yaitu nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak ditandai dengan pasien meringis kesakitan.

Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olah raga. penderita fraktur kemungkinan besar akan mengalami tindakan amputasi apabila kondisi fraktur tidak tertolong. . 2. penulis membuat kesimpulan : 1. hal ini adalah salah satu metode mobilisasi fraktur dengan Fiksasi Interna melalui Operasi Orief. retak atau patahnya tulang yang utuh. pekerjaan atau kecelakaan. Pada kondisi lebih lanjut.1. yang biasanya disebabkan oleh trauma/ruda paksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma. Penanganan segera pada klien yang dicurigai terjadinya fraktur adalah dengan mengimobilisasi bagian fraktur. Kesimpulan Setelah melakukan pembahasan. Penanganan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. 4. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang. Sedangkan pada usia lanjut (usila) prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon 3.90 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.

3. Fiksasi Internal Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batangan logam pada pecahan-pecahan tulang merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang disertai komplikasi. Imobilisasi pada pasien fraktur bisa dilakukan melalui : 1. 7. 2. keluarga. Saran Adapun saran penulis antara lain : 1. 6. 5. dan tim kesehatan dalam hal pengobatan sehingga dapat mencapai hasil yang optimal. Pembidaian Benda keras yang ditempatkan didaerah sekeliling tulang.2. Pada prinsipnya terapi fraktur Tibia dan Fibula adalah reposisi dan imobilisasi. Diharapkan kepada keluarga. masyarakat terutama pasien lebih berhati – hati dalam mencegah terjadinya suatu trauma yang dapat menyebabkan fraktur. Penarikan (traksi) Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Keberhasilan tindakan asuhan keperawatan pada pasien fraktur sangat tergantung kerja sama antara pasien.91 5. 4. Pemasangan Gips Merupakan bahan kuat yang dihubungkan disekitar tulang yang patah. .

92 2. . Diharapkan kepada pasien fraktur agar dapat mengikuti terapi yang diberikan selama perawatan dan juga pengobatan. Diharapkan kepada pasien fraktur agar dapat melakukan mobilisasi atau gerakan-gerakan agar melatih daerah fraktur untuk dapat kembali normal. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful