P. 1
Merokok Pada Wanita (Juga Pria)

Merokok Pada Wanita (Juga Pria)

2.0

|Views: 4,586|Likes:
Published by Hakiki Akbari
Sebagai referensi tentang bahaya merokok
Sebagai referensi tentang bahaya merokok

More info:

Published by: Hakiki Akbari on Oct 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

PENGARUH MEROKOK PADA WANITA

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT IMMNANUEL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG 2001

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………………………….…i DAFTAR ISI…………………………………….………………………..………………ii PENDAHULUAN……………………………………………………………………..….1 BAB I. TEMBAKAU, ROKOK DAN ASAP ROKOK…………………………..……....3 Jenis Produk Tembakau…………………………………………………….……..3 Sifat Fisik Asap Rokok……………………………………………………..…….4 Bahan Kimia Dalam Asap Rokok…………………………………………..….…5 Nikotin ……………………………………………………….……………….6 Enviromental Tobacco Smoke…………………………………………………….8 BAB II. PENGARUH MEROKOK PADA WANITA……………………………………9 Fakta – fakta………………………………………………………………….……9 Konsekuensi Kesehatan Yang Harus Didapat Bila Wanita Merokok …………10 1. Kanker a. Kanker Paru – paru………………………………………………10 b. Kanker Payudara…………………………………………………11 c. Kanker Endometrium…………………………………………….11 d. Kanker Ovarium………………………………………………….12 e. Kanker Cervix Uteri …………………………………………….12 f. Kanker Oropharinx ….………………………………………… 13 g. Kanker Larinx ……………………………………………..……13 h. Kanker Oesophagus…………………………………………… 14 i. Kanker Colorectal ……………………………………………… 14 j. Kanker Hepar…………………………………………………… 14 k. Kanker Pankreas…………………………………………………14 l. Kanker tractus urinarius………………………………………… 14 m. Kanker Thyroid…………………………………………………. 15 n. Kanker limphoproliferatif – Hematologis………………………. 16 2. Penyakit Kardiovaskular……………………………………………..16 3. Penyakit Cerebrovaskular……………………………………………17 4. Chronic Obstructive Pulmonary Disease ……………………………18 5. Gangguan Hormonal ……………………………………………….. 19 6. Berat Badan…………………………………………………………..20 7. Densitas tulang dan resiko terjadi fraktur……………………………21 8. Penyakit Lain………………………………………………………...22 9. Menstruasi dan Menopause………………………………………….23 10. Kelainan Ginekologis………………………………………………..24 11. Fungsi Reproduksi…………………………………………………...25 12. Kehamilan ………………………………………………………….. 26 13. Pengaruh pada Janin…………………………………………………28 14. Laktasi…………………………………………………………….….29 BAB III. BERHENTI MEROKOK ……………………………………………………30 KESIMPULAN…………………………………………………………………………..32 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………34

PENDAHULUAN
Sudah lebih dari seribu tahun, manusia mengenal kebiasaan merokok. Selama itu pula, merokok sudah mempengaruhi kesehatan manusia. Dalam kurun waktu tersebut banyak sudah yang dialami manusia dan dipelajari dari merokok. Dari sekian lama pengalaman dan sekian banyak pengetahuan, maka dapat disimpulkan bahwa merokok berbahaya untuk kesehatan manusia. Namun demikian, semua itu tidak cukup untuk dapat menghilangkan rokok dari muka bumi. Kebiasaan merokok pada wanita timbul setelah sebelumnya menjadi kebiasaan pada kaum pria. Pada awalnya, tingkat prevalensi merokok pada wanita jauh dibawah pria. Perbedaan tingkat prevalensi ini kemudian menyempit pada dekade ke 6 hingga dekade ke 8 abad 20. Sejak tahun 1985, tingkat prevalensi merokok pada pria dan wanita adalah sama. Adalah menarik mempelajari pengaruh rokok pada wanita. Hal ini disebabkan karena, pertama, tentang rokok itu sendiri, diluar pengetahuan kita tentang ribuan bahan kimia yang terdapat dalam asap rokok, semuanya masih merupakan misteri. Efek langsung dari asap rokok terhadap tujuh manusia serta mekanisme bagaimana asap rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, masih harus kita pelajari lagi. Kemudian oleh karena begitu banyak kandungan asap rokok, dan begitu luasnya sifat biologis yang dimiliki asap rokok, maka sulit sekali mempelajari hal tersebut. Dengan demikian adalah penting artinya bagi kita, penelitian secara epidemiologis dalam mempelajari masalah rokok. Dalam bab-bab berikutnya, akan dijelaskan bagaimana pengaruh merokok pada kesehatan. Hampir semua kesimpulan yang diambil, didasarkan kepada data epidemiologis, dan sebagian besar penyakit yang bisa disebabkan merokok, patogenesanya belum jelas benar. Penelitian-penelitian ini dilakukan dihampir lima benua. Namun sayang sekali, penulis tidak berhasil menemukan literatur tentang penelitian mengenai pengaruh merokok pada wanita di Indonesia. Namun demikian, walaupun mempunyai karakteristik kependudukan dan demografis yang berbeda, namun

hasil atau kesimpulan yang didapat universal.

dari penelitian di luar negeri, berlaku secara

Kedua, wanita itu sendiri memiliki karakteristik dan kepentingan yang berbeda dengan pria. Yang paling penting ialah bahwa wanita mempunyai kemampuan untuk mengandung dan melahirkan keturunan. Dengan demikian, merokok selain berpengaruh pada kesehatan dirinya, dapat juga berpengaruh kepada keturunannya. Terakhir, masalah merokok ini pada akhirnya sudah tersangkut paut dengan segala aspek kehidupan manusia, mulai dari masalah kesehatan, kependudukan, ekonomi, sampai masalah pertahanan dan keamanan suatu negara, tersangkut dengan masalah rokok, sehingga masalahnya sedemikian kompleks dan sulit diatasi.

BAB I TEMBAKAU, ROKOK DAN ASAP ROKOK
Rokok yang bahan bakunya tembakau, telah dikenal dan digunakan oleh manusia kara-kira seribu tahun lamanya. Dahulu, tanaman tembakau hanya tumbuh di dunia barat dan banyak diperdagangkan oleh suku indian untuk keperluan upacara keagamaan dan pengobatan saat Colombus datang dan mendarat di tanah yang kemudian dikenal sebagai benua Amerika. Ketika itu suku indian menghirup rajangan halus daun tembakau atau menghisapnya setelah dibakar dalam pipa-pipa yang mereka namakan tobagos atau tobacos secara bergantian dalam kelompok untuk tujuan kedamaian dan menggalang perdamaian antar suku. Setelah zaman Colombus, para penjelajah dunia dan pedagang membawanya ke eropah, kemudian ke asia, dimana tanaman komoditi ini cepat berakar dalam kehidupan sosial maupun komersial mereka. Linnaeus pada tahun 1753 menamakan genus tumbuhan tembakau sebagai Nicotiana tabacum, diambil dari nama seorang tokoh pemerintah perancis saat itu, Nicot. Dan dalam tahun 1828, kandungan yang paling penting dari tembakau yang dikenal sebagai nicotine berhasil diisolasi. JENIS PRODUK TEMBAKAU Banyak cara menyajikan tembakau untuk dinikmati. Tembakau bisa dibakar untuk dihisap asapnya (dirokok) ataupun tidak dibakar, misalnya dikunyah, dihirup atau dihisap melalui hidung dalam bentuk rajangan halus daunnya (snuff) dan sebagainya. Untuk membakar tembakau, ada beberapa cara. Tembakau dapat disediakan sendiri oleh perokok untuk dimasukkan kedalam lintingan daun kawung (bidis), atau dimasukkan kedalam pipa/cangklong. Jenis yang paling banyak di pasaran adalah jenis rokok cigaret. Disini tembakau sudah dibungkus oleh kertas khusus setelah dicampur dengan berbagai bahan aditif penambah rasa. Pada jenis ini bisa disertai atau tanpa disertai filter pada ujung bagian mulut (kretek).

Perokok cerutu dan pipa biasanya menghirup asap rokok lebih sedikit dan tidak sedalam rokok cigaret. Secara keseluruhan, angka kematian akibat merokok pada perokok pipa dan cerutu lebih rendah dibanding perokok cigaret. Akan tetapi resiko untuk terjadi kanker mulut, laring atau oesophagus sebanding diantara ketiganya. Pemakaian tembakau dengan cara dihirup (snuff) atau dikunyah sama efektifnya dalam meningkatkan kadar nikotin plasma dengan memakai tembakau dalam rokok. Dengan demikian tetap saja mempunyai resiko tinggi terkena penyakit akibat zat yang terkandung dalam tembakau, terutama kanker oral. Dalam 20 tahun terakhir, 50-90% pasaran produk tembakau dikuasai oleh produk cigaret dengan filter yang diklaim mengandung kadar nikotin dan tar rendah. Turunnya kadar nikotin dan tar ini sudah hampir mendekati separuh dari kadar nikotin dan tar pada rokok sigaret ketika pertama kali diperkenalkan . Logikanya, dengan makin turunnya kadar nikotin dan tar dalam rokok, maka resiko terkena penyakit akibat merokok pun akan berkurang. Akan tetapi sungguh disayangkan, ada kecenderungan orang untuk menambah frekwensi merokok atau jumlah rokok yang dihisap tiap harinya, karena perokok merasa lebih aman dengan rokok yang rendah nikotin dan tar. Sesungguhnya kalaupun ada penurunan angka resiko, maka bila dibandingkan dengan tidak atau berhenti merokok, maka penurunan angka resiko itu tidak ada artinya. Suatu Penelitian membagi rokok dalam 3 kategori, yaitu, rokok dengan kadar TarNikotin Tinggi, yaitu bila dalam 1 batang rokok, terkandung Nikotin 2 – 2,7mg, dan tar 25,8 – 35,7mg. Kadar Tar-Nikotin sedang, bila kadar Nikotin 1,2 – 1,9 mg, dan Tar 17,6 – 25 mg. Kadar Tar-Nikotin Rendah bila kadar Nikotin kurang dari 1,2 mg dan Tar kurang dari 17,6 mg. SIFAT FISIK ASAP ROKOK Asap rokok adalah aerosol yang heterogen yang merupakan hasil pembakaran tak sempurna dari tembakau. Asap rokok ini terdiri dari fase gas dimana benda-benda partikel tersebar didalamnya.

Komposisi asap rokok dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti jenis tembakau, suhu pembakaran, porositas kertas pembungkus, bahan-bahan aditif dalam rokok, serta ada tidaknya filter. Suhu pada batang rokok bervariasi mulai 30o C pada sisi mulut, sampai 900oC pada sisi yang terbakar. Pada suhu tertentu, beberapa macam zat akan mengalami dekomposisi akibat panas (Pyrolisis), zat volatil akan langsung menguap ke dalam asap, sedangkan zat yang tak stabil akan membentuk ikatan-ikatan baru dengan zat lain (pyrosintesis). Beberapa macam zat yang dapat ditemukan dalam tembakau dapat ditemukan dalam asap rokok dalam bentuk yang tidak berubah karena panas. BAHAN KIMIA DALAM ASAP ROKOK Diperkirakan 92-95% asap rokok ada dalam bentuk gas. 85% diantaranya terdiri dari gas Nitrogen, Oksigen, dan Karbondioksida. Sisanya terdiri dari gas dan partikel lain yang umumnya berbahaya untuk kesehatan. Telah diketemukan lebih dari 4000 macam bahan kimia yang dapat ditemukan pada tembakau dan asap rokok. Termasuk diantaranya secara farmakologis bersifat aktif, sitotoksik, mutagenik, dan karsinogenik. Sifat biologisnya yang luas inilah yang membuat pengertian akan konsekwensi asap rokok bagi kesehatan menjadi sangat penting. Dalam lampiran / dapat kita lihat seluruh bahan kimia yang pernah ditemukan pada asap rokok. Pada lampiran 2 dapat kita lihat bahan kimia dalam asap rokok yang diseleksi. Sebagai gambaran kita umpamakan, seorang perokok menghabiskan satu pak rokok berisi 12-16 batang rokok sehari. Maka selama ia merokok, ia akan menghirup dan menghembuskan asap rokok sedikitnya 70.000 kali dalam setahun. Tentu saja selama ini, maka mukosa mulut, pharinx, larinx, trachea, bronchus dan cabng-cabangnya akan terekspos dengan asap rokok dan segala isinya. Respon jaringan dan sistem organ terhadap asap rokok bersifat multipeldan sangat kompleks. Hampir semua penelitian mempelajari efek asap rokok secara keseluruhan, atau zat-zat tertentu yang dinilai mempunyai potensi paling berbahaya bagi manusia seperti Nikotin dan Karbonmonoksida.. Boleh dikatakan relatif sedikit yang kita ketahui

tentang efek masing-masing atau secara individual dari zat-zat berbahaya lain yang ada dalam asap rokok. NIKOTIN Nikotin pertama kali diisolasi dari daun tembakau atau Nicotiana Tabacum oleh Posselt dan Reiman pada tahun 1828. Nikotin adalah zat yang secara farmakologis paling penting yang terdapat dalam tembakau. Walaupun sebenarnya nikotin tidak mempunyai manfaat terapi, namun secara farmakologis bersifat sangat toksik, dan keberadaannya dalam tembakau, serta dengan adanya efek ketergantungan fisik terhadap nikotin, membuat zat ini sangat penting dalam ilmu kedokteran. Nikotin merupakan alkolona yang sangat toksik yang merupakan stimulan, sekaligus depresan ganglion. Efeknya sangat kompleks dan luas pada tubuh manusia. Presentase nikotin dalam daun tembakau bervariasi mulai 0,5-8%. Tembakau pada rokok berisi ± 1,5% nikotin dan asap yang dihasilkan rokok pada umumnya bisa mengandung nikotin hingga 6-8 mg. FARMAKOKINETIK Ketika tembakau terbakar selama merokok, nikotin terlepas ke dalam asap dan masuk ke dalam paru-paru, dimana ia akan diabsorpsi dengan cepat dalam alveoli. Ratarata nikotin yang ada dalam asap rokok dihisap ke dalam paru-paru, dan 60-80% nikotin akan diabsorpsi. Setelah diabsorpsi, nikotin akan didistribusikan ke dalam berbagai jaringan dalam tubuh. Organ yang mempunyai afinitas tertinggi terhadap nikotin secara berurutan adalah ginjal, hepar, paru-paru, otak dan jantung, Disusul oleh jaringan otot dan terakhir jaringan lemak, Nikotin dimetabolisme di hepar menjadi beberapa macam metabolit. Nikotin diexcresikan terutama lewat urine. FARMAKODINAMIK Nikotin menyebabkan berbagai efek terhadap mood. Tergantung pada dosis dan keadaan (toleransi atau putus obat) atau mood awal seseorang, nikotin bisa merangsang nafsu dan kewaspadaan, atau bisa melemaskan dan menegangkan. Dalam menghadapi

stress, perokok cenderung untuk mengalami keinginan yang lebih kuat untuk merokok, dan cenderung untuk meningkatkan intensitas merokoknya. Dalam hal ini wanita lebih sering terpengaruh stress dibanding pria. Nikotin dapat memperbaiki kemampuan dalam hal memperhatikan, mempelajari dan fungsi memori, serta meningkatkan fungsi performa sensoris dan motoris. Nikorin mengalami efek toleransi, dimana untuk menghasilkan efek yang sama seseorang memerlukan kadar yang lebih tinggi dengan cara menambah jumlah rokok yang dihisap. Inilah dasar dari ketergantungan fisik terhadap nikotin. KETERGANTUNGAN FISIK TERHADAP NIKOTIN Nikotin memenuhi semua kriteria untuk menjadi bahan adiktif. Kriteria itu adalah sebagai berikut : 1. Adanya efek psikoaktif yang mempengaruhi mood, perilaku dan atau daya tangkap. 2. Efek yang mempengaruhi penderita untuk mengkonsumsi obat sendiri. 3. Adanya pemakaian yang kompulsif, disertai keinginan yang kuat untuk menghisap rokok. 4. Timbul gejala putus obat jika tidak merokok. 5. Pemakaian yang terus menerus, walaupun menyadari efek negatif rokok. 6. Adanya kesulitan dalam mengurangi atau menghilangkan sama sekali jumlah nikotin yang dihisap. 7. Adanya kebutuhan akan obat/rokok secara berulang. Ketergantungan fisik ditandai terutama dengan timbulnya gejala putus obat bila tidak merokok. Gejala putus obat ini disebabkan karena nikotin mempunyai sifat toleransi, dimana efek nikotin akan berkurang setelah pemakaian yang berulang, sehingga untuk mendapatkan efek yang sama seperti sebelumnya, dosisnya harus dinaikkan. Gejala putus obat antara lain ditandai dengan adanya rasa marah, rasa cemas, keinginan kuat untuk merokok, sukar berkonsentrasi, rasa lapar, tidak sabar, perasaan lebih dan tidak bisa beristirahat. Gejala ini mencapai puncaknya dalam 1-2 hari setelah berhenti merokok, dan kembali normal dalam 3-4 minggu.

Sebagai gambaran, menurut penelitian di USA tahun 1995 kurang lebih 90% perokok, merokok setiap harinya. Dari mereka yang menghabiskan 1 pak rokok sehari, 80% tidak berhasil mengurangi jumlah rokok yang dihisap. Sedikitnya separuh dari mereka yang berhenti merokok mengalami gejala putus obat. Dari mereka yang berusaha keras berhenti merokok, hanya kurang dari 3% yang berhasil tidak merokok dalam waktu lama. Umumnya mereka akan kembali merokok. Dalam bab berikutnya, dapat kita lihat bahwa semua penyakit akibat merokok ada hubungannya dengan kerja nikotin pada tubuh. ENVIROMENTAL TOBACCO SMOKE (ETS) Di Amerika serikta, 37% orang dewasa yang tidak merokok tinggal bersama sedikitnya seorang perokok, atau mengalami ETS ditempat kerja. 1. Asap rokok yang terhisap oleh para perokok pasif ini terdiri dari : asap rokok yang keluar dari rokok yang masih menyala sebelum dihisap. Asap rokok yang dikeluarkan/ekshalasi seorang perokok.

2. Bahwa kenyataan menunjukkan umumnya ETS terjadi di tempat-tempat umum, tempat kerja atau bahkan di rumah, dimana terdapat sedikitnya 1 orang perokok. Makin banyak jumlah perokok disuatu tempat makin besar kemungkinan terjadinya ETS. Dari kedua pertimbangan di atas, maka perlu disadari, betapa seorang perokok pasif dapat sedemikian rupa, memiliki seidikitnya keadaan yang sama dengan para perokok aktif, atau bahkan relatif lebih dibanding perokok aktif, karena pertama, mereka bukanlah perokok dan sudah seharusnya tidak mendapat akibat dari merokok. Kedua, asap rokok yang terhisap bisa merupakan kumulasi asap dari banyak perokok, sehingga jumlah dan konsentrasinya menjadi lebih tinggi. Dengan demikian, resiko untuk mendapat berbagai penyakit akibat merokok, minimal sama dengan para perokok aktif. Sebagai contoh, jika setidaknya tingkat eksposurenya hanya 1% dari perokok aktif, resiko untuk terjadinya PJK hampir separuh dari merokok 20 batang sehari.

BAB II PENGARUH ROKOK PADA WANITA
FAKTA - FAKTA Berikut adalah beberapa fakta, menyangkut hubungan antara merokok, dan wanita. Fakta-fakta ini adalah kesimpulan dari berbagai penelitian yang dilakukan di Amerika serikat, Eropa dan Asia. 1. Prevalensi merokok pada wanita terus meningkat. Pada awalnya, merokok jarang dilakukan oleh wanita. Seiring dengan makin banyaknya pria yang merokok, makin banyak pula wanita yang merokok, walaupun prevalensinya masih dibawah pria. Pada tahun 1965-1985, perbedaan prevalensi ini terus makin kecil. Dan sejak tahun 1985, prevalensi antara wanita dan pria adalah sama. Di Indonesia mungkin tidak sebanyak di Amerika atau Eropa, namun ada kecenderungan untuk terus meningkat. 2. Wanita yang merokok, cenderung untuk lebih menyukai jenis sigaret dibanding jenis lain, Seperti yang kita ketahui, jenis sigaret adalah jenis yang paling banyak dipakai, dan yang resiko untuk terkena penyakit akibat merokoknya paling tinggi. Penggunaan tembakau kunyah atau susur di Indonesia boleh dikata makin lama makin sedikit, namundemikian tidak ada penelitian tentang hal ini di Indonesia. 3. Dari generasi ke generasi, usia awal seseorang merokok, baik pria maupun wanita, makin lama makin muda. Dahulu, merokok hanya dilakukan oleh orang dewasa, sekarang bahkan anak sekolah dasar pun sudah banyak yang mencoba untuk merokok. Usia awal seseorang merokok ini penting artinya, karena berkaitan dengan makin lamanya seseorang merokok, makin sulitnya untuk berhenti merokok, dan makin besarnya resiko untuk terserang penyakit akibat merokok. Usia paling rawan untuk mulai merokok adalah usia 14-16 tahun. 4. Ada peningkatan jumlah rokok yang dihisap dari tahun ke tahun. Dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap, maka makin besar pula resiko untuk terkena penyakit akibat merokok, makin besar pula keinginan untuk menjadi tergantung pada nikotin, makin sulit untuk berhenti merokok.

5. Ikhtisar Merokok di Indonesia Menurut penelitian yang dilakukan pada 216 389 responden usia 10 tahun ke atas pada tahun 1995, prevalensi merokok pada wanita di Indonesia usia diatas 10 tahun adalah 2 %, usia diatas 20 tahun adalah 2,6%, usia antara 50 – 54 tahun 3,4 %. Sedangkan pria usia 10 tahun ke atas 61,3 %nya merokok, dan usia 20 tahun ke atas 68,8%. 67% wanita Indonesia yang merokok, menghabiskan 1 – 10 batang sehari, sedangkan 30% sisanya, menghabiskan 11 – 20 batang sehari. Kurang lebih 3 % dari wanita perokok di Indonesia menghabiskan lebih dari 20 batang rokok sehari. 16,7 % wanita di Indonesia menggunakan tembakau kunyah / sirih, terutama pada wanita usia lanjut diatas 60 tahun. Jadi, prevalensi merokok pada wanita di Indonesia termasuk rendah dibanding prevalensi pada pria. Prevalensi ini juga termasuk rendah, dibanding prevalensi merokok pada wanita di negara lain. Perlu di ingat, bahwa kadar nikotin pada rokok yang beredar di Indonesia, adalah yang tertinggi di dunia, yaitu mengandung nikotin hingga 78 %, sedangkan rokok di luar negeri hanya mengandung 2,6 % nikotin menurut Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, prevalensi merokok pada wanita di Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu, ‘mumpung’ prevalensi itu masih rendah, maka perlu dilakukan usaha – usaha pencegahan yang lebih intensif. KONSEKUENSI KESEHATAN YANG HARUS DIDAPAT BILA WANITA MEROKOK 1. KANKER a. Kanker Paru-paru Wanita mulai merokok 20-30 tahun setelah pria merokok, yaitu sekitar dekade ke 3 dan ke 4 abad 20. Pada mulanya, kematian akibat kanker paru masih sedikit. Selama dalam hampir 50 tahun, kematian akibat kanker paru pada wanita meningkat hingga 600 persen, atau peningkatan 5,3 persen pertahunnya. Pada tahun 1987, kanker paru menggantikan kedudukan kanker payudara sebagai penyebab kematian nomor satu pada wanita. Dan pada tahun 2000, kanker paru

menyebabkan 1 dari 4 kematian akibat kanker, dan merupakan 1 dari 8 kanker yang baru ditemukan pada wanita. Pada tahun 2000 juga, dari Amerika diperkirakan akan ada 74.600 kasus kanker paru, dan akan ada 67.600 kematian dari penyakit tersebut pada wanita. Merokok merupakan penyebab utama dari kanker paru pada wanita. Penelitian menunjukkan 90% dari semua kematian akibat kanker paru pada wanita di Amerika serikat, disebabkan oleh merokok. Resiko untuk terserang kanker paru meningkat sesuai dengan jumlah, lamanya, dan intensitas dari merokok. Resiko akan kematian akibat kanker paru pada wanita yang merokok 2 pak atau lebih rokok ialah 20 kali wanita yang tidak merokok. b. Kanker Payudara Ada bukti tidak langsung yang menunjukkan adanya kemungkinan biologis bahwa merokok dapat menurunkan resiko terjadinya kanker payudara. Seperti yang kita ketahui, estrogen dalam kadar tinggi, terutama estrone dan estradiol, berperan dalam meningkatnya resiko terkena kanker payudara, sedangkan merokok diperkirakan mempunyai efek antiestrogenik. Kejadian terjadinya menopouse lebih awal juga sering terjadi pada wanita merokok, sedangkan kita ketahui bahwa menopouse pada usia lanjut juga meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker payudara. Akan tetapi dilain pihak, asap rokok mengandung banyak karsinogen yang dapat saja berpengaruh pada terjadinya kanker payudara. Penelitian-penelitian menunjukkan hasil yang saling bertentangan. Kalaupun ada peningkatan atau penurunan angka resiko untuk terjadinya kanker payudara, perbedaannya tidak secara statistik bermakna. c. Kanker Endometrium Beberapa peneliti menduga, bahwa merokok mempunyai efek menurunkan resiko terhadap kemungkinan terjadinya kanker endometrium. Hal ini diduga disebabkan karena merokok diduga mengurangi produksi estrogen dan juga adanya efek antiestrogenik dari merokok. Teori lain mengatakan bahwa merokok

mempengaruhi absorpsi, metabolisme dan distribusi dari estrogen. Merokok juga diduga merubah estrogen lebih banyak menjadi 2-hidroksiestrone yang efek estrogeniknya rendah. Akan tetapi, dalam beberapa penelitian, walaupun memang tampak adanya penurunan angka resiko, namun penurunan itu masih secara statistik tidak bermakna. d. Kanker Ovarium Frekuensi ovulasi diduga berhubugan dengan resiko terjadinya kanker epitel ovarium, dimana makin banyak jumlah siklus ovulasi selama hidupnya, makin tinggi seorang wanita beresiko untuk terkena kanker ovarium. Jika merokok mengganggu proses ovulasi misalnya karena iregularitas menstruasi, maka merokok diduga bisa mengurani angka resiko terjadinya kanker ovarium. Akan tetapi sejumlah besar karsinogen dalam asap rokok, terutama Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH), dapat juga berpengaruh pada kemungkinan terjadinya kanker ovarium. Penelitian-penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan ini, umumnya tidak menemukan adanya hubungan merokok dengan resiko terjadinya kanker ovarium. e. Kanker Cervix Uteri Penelitian-penelitian banyak menemukan adanya hubungan antara merokok dengan resiko terjadinya kanker Cervix Uteri, dimana ditunjukkan bahwa merokok meningkatkan resiko untuk terjadinya kanker Cervix Uteri. Ada beberapa dugaan tentang bagaimana mekanisme yang terjadi sehingga merokok dapat menyebabkan kanker Cervix Uteri. Dugaan pertama, ialah bahwa adanya efek langsung dari merokok terhadap epitel cervix uteri. Ini disebabkan karena ditemukannya nikotin dan kotinin dalam kadar tinggi pada sekret mukosa cervix uteri wanita yang merokok. Dugaan lain berhubungan dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Seperti yang kita ketahui, infeksi HPV merupakan penyebab utama kanker Cervix Uteri diberbagai negara. Merokok, diduga dapat menyebabkan Immunosupresi lokal di

daerah Cervix Uteri. Hal ini dapat menyebabkan HPV yang sudah ada dapat terus berkembang biak, atau dapat juga menyebabkan mudahnya terjadi infeksi baru HPV. Apakah merokok sendiri, ataukah harus disertai dengan infeksi HPV yang menyebabkan kanker, masih dalam penelitian. f. Kanker Oral dan Pharynx. Faktor resiko utama untuk terjadinya kanker pada mulut, lidah dan pharynx adalah merokok dan alkohol. Pada wanita yang merokok, resiko untuk terjadinya kanker orapharynx lima kali lipat wanita yang tidak merokok. Jika wanita itu merokok lebih dari 20 tahun dan lebih dari 2 pak seharinya, kemudian ditambah dengan konsumsi minuman beralkohol, maka resiko untuk terjadinya kanker Orapharynx menjadi 10 kali lipat wanita yang tidak merokok. Jika konsumsi alkoholnya melebihi 15 kali atau lebih setiap minggunya, maka resiko tersebut akan lebih dari 10 kali lipat wanita yang tidak merokok dan tidak minum minuman beralkohol. 60 persen dari kanker Orapharynx disebabkan oleh kombinasi rokok dan alkohol. Akan tetapi, resiko itu akan tetap ada bila wanita tersebut terus merokok, walaupun ia sudah berhenti minu-minuman beralkohol. Penggunaan tembakau kunyah atau susur juga meningkatkan terjadinya resiko untuk terjadinya kanker mulut, terutama dari daerah mukosa pipi dan gusi yang sering kontak langsung dengan tembakau. g. Kanker Larynx Kanker Larynx relatif jarang terjadi pada wanita. Perbandingan prevalensi antara pria dan wanita adalah 5:1. Umumnya disebabkan oleh karena merokok berat dan lama, serta alkoholisme. Walaupun data mengenai hubungan penyakit ini dengan merokok jumlahnya tidak banyak, sehingga kurang akurat, namun data-data tersebut menunjukkan adanya peningkatan resiko hingga 10 kali lipat bagi wanita perokok dibanding yang tidak merokok, untuk terserang kanker Larynx.

h. Kanker Oesophagus Faktor resiko utama untuk penyakit ini ialah merokok dan alkoholisme. Hanya sedikit data yang ada tentang efek merokok pada resiko kanker Oesophagus. Salah satu penelitian mengatakan bahwa resiko untuk terjadinya kanker Oesophagus bagi wanita perokok hampir 8 kali lipat wanita yang tidak perokok. Resiko ini meningkat seiring dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. i. Kanker Colorectal Merokok dihubungkan dengan meningkatnya resiko terjadinya kanker Colorectal hingga 2-3 kali lipat dibanding yang tidak merokok. j. Kanker Hepar Faktor resiko utama untuk terjadinya kanker Hepar dan Tractus Biliaris adalah alkoholisme dan infeksi virus Hepatitis B kronis. Merokok juga diduga sebagai faktor resiko, walaupun wanita tersebut tidak minum alkohol dan tidak pernah terinfeksi virus Hepatitis B. Peningkatan resiko terjadinya kanker Hepar pada wanita merokok dibanding tidak merokok bervariasi dan tidak ada peningkatan hingga 3 kali lipat. Namun penelitian lebih lanjut mengenai hal ini masih diperlukan. k. Kanker Pankreas Penelitian menunjukkan adanya peningkatan resiko untuk terjadinya kanker Pankreas pada wanita merokok hingga 2 kali lipat wanita yang tidak merokok. Jika wanita itu merokok hingga 40 batang per hari atau selama 40 tahun lebih, maka resiko untuk terjadinya kanker pankreas menjadi 3 kali lipat wanita yang tidak merokok. l. Kanker Tractus Urinarius Kanker dari Tractus Urinarius meliputi hanya 7% dari seluruh kanker. Kanker Vesico Urinaria meliputi 67% dari seluruh kanker Traktus Urinarius, kanker Parenkim ginjal 23%, kanker Pelvis Renal 5%, dan kanker Ureter serta kanker bagian lain 5%.

Merokok adalah faktor resiko yang penting bagi terjadinya kanker disetiap bagian Traktus Urinarius. Bagian yang paling rendah resiko terkena kanker akibat merokok ialah Parenkim Ginjal I (Adeno Caranoma), dan yang paling tinggi resikonya ialah kanker pada Pelvis dan Ureter. m. Kanker Thyroid Walaupun kanker Thyroid sering dibicarakan sebagai satu kesatuan, namun ada 4 tipe kanker secara histologis, yaitu : papiller, follikular, medullar, dan anaplastik. Tipe yang pappiler adalah yang paling umum (50-80%) disusul tipe yang follikular (10-40%). Tingkat mortalitas cukup tinggi pada tipe anaplastik, sedangkan pada tipe lain, angka ketahanan hidup 5 tahunnya mencapai 95%. Karena tipe yang papiler dan folikullar lebih banyak terjadi pada wanita, maka secara keseluruhan, wanita mempunyai resiko terjadinya kanker Thyroid lebih tinggi dibanding pria. Faktor resiko untuk terjadinya kanker Thyroid antara lain ialah terkena radiasi, penyakit Thyroid seperti Gotter dan Thyrotoxicosis, serta tinginya Body Mass Index (BMI). Tingginya angka kejadian kanker Thyroid pada wanita menimbulkan pernyataan akan adanya peraan hormon sex wanita sebagai faktor penyebab kanker Thyroid. Dan walaupun belum meyakinkan, ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa estrogen merupakan pemicu tumbuhnya tumor Thyroid pada hewan percoban, demikian juga penggunaan kontrasepsi oral, Hormon Replacement Therapy (HRT), serta riwayat reproduksi. Penelitian mengenai hubungan merokok dengan kanker Thyroid menunjukkan hasil yang belum meyakinkan. Namun demikian ada kecenderungan untuk terjadinya penurunan resiko pada wanita yang merokok untuk terjadinya kanker Thyroid. Tidak diketahui bagaimana merokok berhubungan dengan menurunnya resiko terjadi kanker Thyroid. Ada teori yang mengatakan bahwa pada perokok terdapat kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang lebih rendah, sehingga rendahnya resiko kanker Thyroid dikarenakan kelenjar Thyroid lebih kurang

terstimulasi. Teori lain mengatakan bahwa adanya efek antiestrogenik dari merokoklah yang berperan. n. Kanker Lymphoproliferatif dan Hematologis. Dari sekian banyak keganasan hematologis, hanya Acute Myeloid Leukemia saja yang banyak dihubungkan dengan merokok. Peningkatan resiko terjadinya Acute Myeloid Leukemia bervariasi mulai 1,3 kali hingga 3 kali lipat wanita yang tidak merokok. 2. PENYAKIT KARDIOVASKULAR a. Penyakit jantung Koroner (PJK) Setiap tahun, di Amerika serikat, lebih dari 500.000 wanita mengalami myokard infark, dan hampir separuhnya meninggal karenanya. Walaupun secara keseluruhan, mortalitas penyakit ini terus turun sejak tahun 1960, namun pada wanita usia pertengahan dan usia lanjut, penyakit ini masih merupakan penyebab kematian paling tinggi. Data epidemiologis yang terkumpul seama 40 tahun menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara merokok dan PJK. Lebih dari selusin penelitian yang menyatakan bahwa wanita yang merokok beresiko tinggi terserang PJK. Resiko terjadinya PJK makin besar seiring dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap perharinya, jumlah total rokok yang dihisap dalam tiap tahunnya, seberapa dalam ia menghisap, serta usia awal wanita itu merokok. Dalam 20 tahun terakhir, ternyata resiko bagi wanita perokok untuk terjadinya PJK makin tinggi. Hal ini mungkin berhubungan dengan faktor-faktor tersebut diatas. Sebagai gambaran, seorang wanita yang merokok 1-4 batang perhari, resiko terkena PJK adalah 2 kali lipat wanita yang tidak merokok. Wanita yang mulai merokok sejak usia kurang dari 15 tahun, resiko terkena PJK adalah 9 kali lipat wanita yang tidak merokok. Hampir separuh dari wanita usia di bawah 65 tahun yang meninggal karena PJK, mempunyai riwayat merokok yang berat.

Setelah berhenti merokok, resiko untuk terjadinya PJK mengalami penurunan cepat hingga 25-50% dalam satu tahun, yang disusul dengan penurunan lambat dan gradual hingga akhirnya mencapai angka resiko yang sama dengan wanita yang tidak merokok dalam waktu ± 10-15 tahun. b. Merokok dan penanganan Kontrasepsi Oral (KO) Pada saat pertama kali diperkenalkan 30 tahun yang lalu, KO berisi 150 mg etinil estradiol dan 10 mg progestin, yaitu ± 5-10 kali isi KO yang beredar sekarang. Sebelum 1985, wanita yang memakai KO memiliki resiko terserang Miokard Infark 4 kali lipat wanita yang tidak memakai. Jika wanita ini merokok, resiko Miokard Infark menjadi 10 kali lipat wanita yang tidak memakai keduanya. Bahkan resikonya menjadi 40 kali lipat jika wanita itu merokok lebih dari 25 batang rokok sehari. Demikian juga dengan resiko terjadinya stroke. Dengan makin turunnya dosis KO, maka seharusnya resiko PJK juga ikut turun. Akan tetapi penelitian tetap saja menunjukkan tingginya resiko PJK pada wanita yang memakai KO jika ia merokok. Karenanya ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi wanita usia diatas 35 tahun yang merokok lebih dari 15 batang sehari, sebaiknya tidak menggunakan KO. Namun karena merokok cenderung lebih berperan dalam meninggikan resiko PJK, maka perhatian seharusnya lebih ditujukan kepada usaha menghentikan kebiasaan merokok 3. PENYAKIT CEREBROVASKULAR Stroke, adalah jenis penyakit Cerebrovaskular utama, dan merupakan penyebab kematian ke 3 pada wanita usia pertengahan di Amerika serikat dengan ± 87.000 kematian tiap tahunnya. Stroke juga merupakan penyebab utama cacat tubuh dan menghabiskan biaya ± 15 Milyar dollar tiap tahunnya untuk biaya perawatan kesehatan, termasuk usaha rehabilitasi. Merokok sudah lama diketahui sebagai faktor resiko untuk terjadinya stroke.. Lebih dari separuh wanita yang meninggal karena stroke mempunyai riwayat merokok berat.

Resiko terjadinya stroke pada wanita merokok, secara keseluruhan 2 kali lipat wanita yang tidak merokok. Bila dilihat dari jenis stroke, maka resiko untuk terjadinya Pendarahan Sunarathroid (PSA) pada wanita merokok adalah 3 kali lipat wanita yang tidak merokok, sedangkan untuk terjadinya Infark Cerebri adalah 2 kali, dan tak ada peningkatan resiko untuk terjadinya perdarahan intra Cerebri (PIS). Hipertensi mungkin dimasa datang bukan lagi faktor resiko utama untuk terjadinya stroke. Sebab penanganan penyakit hipertensi makin lama makin baik, sedangkan kebiasaan merokok makin lama makin sulit dikendalikan. Penghentian merokok akan menurunkan resiko terjadinya stroke hingga akhirnya mencapai angka yang sama dengan wanita yang tidak merokok dalam waktu ± 15 tahun, tergantung bagaimana intensitas merokok wanita tersebut sebelum berhenti merokok. 4. CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD) Keadaan utama dari COPD adalah adanya obstruksi aliran udara, yang ditandai dengan FEV, dan rasio FEV, dengan FVC yang rendah. COPD dapat berupa Bronkitis kronis yang ditandai dengan batuk-batuk kronis dengan produksi spulum berlebih disertai obstruksi jalan udara, atau berupa Emphysema yang ditandai dengan pelebaran abnormal dari saluran udara distal dari bronkiolus terminalis disertai kerusakan dinding, tanpa tanda fibrusis yang jelas. Merokok merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya COPD. Pada setiap perokok terjadi proses inflamasi pada saluran udara kecil seperti bronkiolus respiratorius. Proses ini kemudian bisa menimbulkan penyempitan saluran udara, dan bisa menyebar ke alveoli dan merusak dinding alveoli. Inilah yang mendasari terjadinya Brinkitis kronis. Dan emphysema pada perokoli. Boleh dikatakan 90% kematian akibat COPD pada wanita di Amerika serikat disebabkan oleh merokok. Apakah ada perbedaan kejadian antara pria dan wanita masih dipertanyakan. Yang pasti, menurut penelitian didapatkan bahwa angka kejadian COPD pada wanita terus meningkat. Resiko ini terus meningkat dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap. Fungsi paru pada wanita perokok lebih jelek dibanding wanita yang tidak

merokok, dan penurunan fungsi paru ini berbanding lurus dengan jumlah rokok yang dihisap. Penghentian merokok akan mengurangi gejala-gejala gangguan pernafasan seperti batuk, produksi spurum berlebihan, atau wheezing, dan menurunkan resiko terjadinya infeksi saluran nafas seperti bronkitis atau pneumonia. Penghentian merokok juga memperbaiki fungsi paru, dalam beberapa bulan setelah berhenti merokok. Bila pengentian merokok ini terus berlangsung, angka kematian akibat OCPD terus menurun. Merokok pada wanita hamil menyebabkan fungsi paru-paru pada bayi terganggu. Demikian juga bila anak-anak itu mengalami ETS. 5. GANGGUAN HORMONAL a. Hormon Sex Oleh karena asap rokok mempunyai efek anti estrogenik, maka banyak terjadi yang diakibatkan defisiensi estrogen dan penurunan resiko terjadinya penyakit akibat kadar tinggi estrogen. Merokok menyebabkan kadar estrogen terutama esriol dan estradiol yang lebih rendah pada waktu hamil dibanding wanita yang tidak merokok, walaupun wanita itu mendapat tambahan estrogen atau progestin oral. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan metabolisme estrogen secara berbeda dibanding wanita yang tidak merokok. Perokok akan lebih banyak menghasilkan 2 hidroxy estradiol yang mempunyai aktifitas estrogenik lebih rendah, sedangkan yang tidak merokok lebih banyak menghasilkan estriol yang mempunyai aktifitas estrogenik yang tinggi. b. Hormon Thyroid Seperti yang telah dibahas sebelumnya, gangguan thyroid lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria. Penelitian yang mempelajari hubungan antara merokok dengan gangguan hormon thyroid baik hpertiroid maupun hipotiroid masih menunjukkan hasil yang saling berhubungan.

c. Diabetes mellitus Diabetes mellitus ialah suatu penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah yang disebabkan defisiensi relatif atau absolut hormon insulin. Ada 2 tipe DM. Pada tipe 1, lebih sering terjadi pada anak-anak, dimana prevalensi merokok masih jarang. Karenanya penelitian untuk mencari hubungan antara merokok dengan timbulnya DM tipe 1 tidak ada. Namun penelitian yang mencari hubungan antara ibu yang merokok dan kemungkinan timbulnya DM tipe 1 pada anaknya sudah banyak dilakukan. Namun semuanya menunjukkan tak ada hubungan diantara keduanya. Demikian pula dengan DM tipe 2 dan DM Gestrasional. Penelitian ke arah hubungan merokok dengan kedua tipe DM ini menunjukkan hasil yang bertentangan. Merokok tampaknya lebih berhubungan dengan proses metabolik yang berhubungan dengan DM, misalnya homeostatis glukosa, hiperinsulinemi dan resistansi insulin. Namun mekanisme yang jelas mengenai hal ini belum diketahui. 6. BERAT BADAN Istilah obesitas ditujukan kepada keadaan dimana berat badan tinggi dibandingkan tinggi badan. Sedangkan istilah Body Moss Index ialah berat badan (dalam kilogram) dibagi luas permukan tubh (dalam meter persegi). Berat badan seseorang, selain berpengaruh pada kesehatan, juga sering berhubungan dengan penampilan dan daya tarik seseorang, terutama wanita. Merokok sudah lama dikenal berhubungan dengan berat badan yang rendah, dan untuk alasan berat badan inilah kadang seorang wanita mulai merokok atau tidak mau berhenti merokok. Jika berhenti merokok, maka berat badan akan segera naik, ratarata 3-6 kg dalam 1 tahun berhenti merokok. Penelitian menunjukkan bahwa makin lama seseorang merokok, dan makin banyak rokok yang dihisap setiap harinya, makin jauh perbedaan berat badan dengan wanita yang tidak merokok.

Berat badan yang rendah ini disebabkan wanita tersebut susah untuk mendapatkan berat badan selama merokok. Namun mekanisme bagaimana rokok menyebabkan sulitnya berat badan naik belum diketahui dengan pasti. Diduga kuat merokok menyebabkan efek anorexia atau turunnya nafsu makan pada wanita. Apakah merokok meningkatkan metabolisme sehingga berat badan turun belum dapat dipastikan. Pada kehamilan, sulitnya menaikkan berat badan pada wanita yang merokok akan sangat berpengaruh terutama pada janinnya. Kemungkinan terjadi IUGR, dan berat badan lahir rendah menjadi tinggi. 7. DENSITAS TULANG DAN RESIKO TERJADI FRAKTUR Patah tulang adlah kejadian yang sering terjadi pada wanita. Sedangkan osteoporosis, suatu keadaan dimana densitas atau kepadatan tulang rendah, merupakan faktor resiko utama untuk terjadinya fraktur, karena pada osteoporosis, terjadi gangguan integritas struktural tulang. Merokok beresiko untuk terjadinya osteoporosis hinga fraktur. Mekanisme terjadinya osteoporosis pada wanita yang merokok bisa lewat beberapa cara. Pertama, pada wanita yang merokok, sulitnya meningkatkan berat badan bisa juga disertai dengan densitas tulang yang rendah. Beberapa penelitian menunjukkan dugaan bahwa merokok juga meningkatkan proses resorpsi tulang, dimana pada wanita yang merokok, kadar hormon paratyroid dan 25-hidroxhyvitamin D3 rendah. Mekanisme lain adalah efek vaskular dari merokok mungkin juga mempengaruhi tulang, misalnya dengan menurunnya aliran darah. Atau efek Cadmium dalam asap rokok yang mempunyai efek merusak tulang dan sel-sel osteoblas. Dengan menurunnya kepadatan jaringan tulang, maka resiko terjadinya fraktur pun meningkat.

8. PENYAKIT LAIN a. Uicus Pepticum Wanita yang merokok cenderung untuk mempunyai resiko yang meningkat untuk terjadinya Uicus Pepticum. Mungkin hal ini disebabkan infeksi bakteri Helicobacta Pylori yang meningkat akibat efek Imunosupresi lokal pada mukosa lambung. b. Arthritic Penelitian menunjukkan adanya penurunan resiko untuk terjadinya osteoartritis pada wanita yang merokok, dibanding wanita yang tidak merokok. Hal ini mungkin disebabkan karena berat badan yang berpengaruh pada timbulnya osteoartritis, pada wanita merokok lebih rendah dibanding wanita yang tidak merokok. Akan tetapi resiko untuk terjadinya Rheumatoid artritis meningkat pada wanita perokok. Mekanisme untuk terjadinya hal ini belum jelas benar. c. Penyakit Mata Data epidemidogis menunjukkan adanya peningkatan resiko bagi wanita yang merokok untuk terjadinya penyakit cataract dan degenerasi macular dini. Mekanisme terjadinya hal ini belum dapat dijelaskan. d. Infeksi HIV Pada penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan resiko bagi wanita yang merokok untuk terinfeksi virus HIV tipe 1. Akan tetapi data mengenai hal ini masih sedikit, sehinga belum diketahui apakah merokok berhubungan langsung dengan resiko terinfeksi virus HIV, atau dengan perilaku seksual seseorang. Data yang sedikit juga membuat keakuratan penelitian mengenai hal ini masih belum meyakinkan. e. Muka keriput (Facial Wrinkling) Facial Wrinkling biasanya disebabkan oleh karena penuaan, atau karena sering terkena sinar matahari. Selain kedua hal tersebut, belum belum diketahui banyak mengenai mekanisme Facial Wrinkling.

Merokok sering dihubungkan dengan keriputnya wajah, terutama daerah periorbital , karena sering ditemukan wanita yang merokok terlihat pucat, terutama pada pipi, dan keriput berat. Mekanisme terjadinya hal ini mungkin disebabkan menurunnya aliran darah kapiler dan arteriol dikulit dan tekanan O2 subkutis yang merusak jaringan, sehingga terjadi iskemia kulit kronis, mekanisme lain, mungkin dikarenakan efek iritasi langsung asap rokok terhadap kulit wajah. f. Depresi dan gangguan kejiwaan Nikotin telah diketahui memiliki efek antidepresi dengan jalan mempengaruhi beberapa sistem neurotransmitter di susunan syaraf pusat yang mengatur tentang depresi, mood, dan perasaan nyaman. Merokok dapat meningkatkan mood dan memberikan efek perasaan tenang dan senang pada perokok. Akan tetapi, oleh karena depresi dapat timbul juga bila perokok itu tidak merokok, maka timbul pertanyaan, mungkinkah merokok dapat menimbulkan depresi. Mungkin mekanismenya adalah dua arah, sebab pemberian obat antidepresi terbukti bisa membantu menghilangkan keduanya, merokok dan depresi. Gangguan kejiwaan lain yang banyak berhubungan dengan merokok adalah anxietas, bulimia, gangguan perhatian, dan alkoholisme. Mekanisme mengenai terjadinya hal ini belum diketahui. 9. MENSTRUASI DAN MENOPAUSE a. Menstruasi Menstruasi dan menopouse adalah aspek yang normal pada fisiologi wanita, namun dapat mempengaruhi kehidupan dan kualitas hidup wanita tersebut. Gangguan dalam menstruasi dapat berupa dysmenorrhea, ketidak teraturan dalam siklus dan jumlah darah, emenorrhea dll. Umumnya penelitian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita yang merokok untuk terjadinya dysmenorrhea. Wanita yang merokok juga mempunyai resiko terjadinya amenorrea 50% lebih tinggi dibanding wanita yang tak merokok. Ketidakteraturan dalam menstruasi juga lebih sering terjadi pada wanita perokok.

Mekanisme terjadinya hal ini karena pengaruh merokok pada hormon sex wanita, terhadap proses ovulasi, terhadap pertumbuhan endometrium di uterus. b. Menopause Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita perokok, dapat terjadi menopause lebih awal. Resiko untuk mendapat menopause lebih awal yaitu pada usia 40-44 tahun adalah 2 kali lipat wanita yang tidak merokok, atau 1-2 tahun lebih awal dibanding wanita yang tidak merokok. Resiko timbulnya menopause lebih awal ini berbanding lurus dengan makin banyaknya jumlah rokok yang dihisap tiap harinya. Pada perokok berat, menopause dapat datang lebih dari 2 tahun lebih awal. Mekanisme terjadinya menopause lebih awal ini belum jelas benar. Mungkin disebabkan oleh efek toksik dari asap rokok terhadap ovarium. Pada hewan percobaan kontak dengan asap rokok dalam jangka lama menyebabkan Atresia Folikular Ovarium. Efek nikotin terhadap regulasi dan metabolisme hormon sex juga diduga berpengah dalam menimbulkan menopause lebih awal ini. 10. KELAINAN GINEKOLOGIS a. Endometriosis Endometriosis ialah terdapatnya endometrium diluar uterus. Biasanya lokasi endrometriosis ialah di pelvis, namun sebenarnya bisa dimana saja. Adanya endrometriosis, terutama di pelvis berhubungan erat dengan timbulnya dysmenorrhea, dyspareunia dan infertilitas. Hubungan antara merokok dengan endometriosis sudah banyak dipelajari. Namun hasil yang didapat masih saling bertentangan. Namun ada dugaan bahwa merokok dapat menurunkan resiko untuk terjadinya endometriosis. Dimana diduga merokok mempunyai efek anti estrogen yang mana estrogen diperlukan untuk tumbuhnya jaringan endometrium di luar uterus.

b. Myoma Uteri Merokok diduga dapat menurunkan resiko terjadinya myoma uteri. Penelitian menunjukkan bahwa resiko itu terus turun sesuai dengan makin banyaknya rokok yang dihisap setiap hari. Mekanisme terjadinya hal ini karena efek anti estrogenik dari merokok yang bersifat protektif terhadap timbulnya myoma uteri. 11. FUNGSI REPRODUKSI a. Delayed Conception Delayed Conception ialah bila kemungkinan terjadinya konsepsi pada setiap siklus haid menjadi lebih rendah. Merokok, pada beberapa penelitian berpengaruh pada terjadinya Delayed Conception, wanita yang merokok cenderung untuk lebih lambat menjadi hamil dibanding wanita yang tidak merokok. Angka kemampuan hamil wanta yang merokok hanya sekitar 60-90% wanita yang tak merokok. Mekanisme untuk terjadinya hal ini belum jelas benar. Diduga efek merokok pada hormon sex mempengaruhi proses ovulasi dan siklus menstruasi sehingga kemungkinan konsepsi menjadi lebih rendah. Namun kemampuan konsepsi juga dipengaruhi oleh pihak pria. b. Infertilitas Infertilitas ialah terjadinya kegagalan konsepsi setelah seorang wanita melakukan usaha hubungan sexual selama 12 bulan. Penelitian menunjukkan bahwa merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya infertilitas pada wanita, baik infertilitas primer, maupun infertilitas sekunder. Mekanisme untuk terjadinya infertilitas pada wanita yang merokok bisa bermacam-macam. Pada wanita yang merokok, ditemukan bahwa kadar estradiol yang rendah dalam darah dan cairan folicular. Jumlah dosis total pada wanita yang merokok juga lebih rendah dibandingkan wanita yang tidak merokok. Respon ovarium terhadap clomifen pada wanita yang merokok juga lebih rendah dibanding wanita yang tidak merokok.

Merokok selain menyebabkan fertilitas yang rendah, juga menyebabkan implantasi yang baik dan bisa menyebabkan aborsi, sehingga angka keberhasilan kehamilan juga rendah. Semua ini disebabkan efek negatif dari asap rokok dan isinya seperti nikotin dan PAH terhadap gonadotropin, pembentukan corpus luteum, interaksi gamet, fungsi tuba, dan implantasi hasil konsepsi, sehingga bisa terjadi disfungsi tuba, delayed conception, infertilitas, abortus spontan, kehamilan ektopic dan PID akibat gangguan imun. 12. KEHAMILAN a. Kehamilan Ektopic (KE) Beberapa faktor penting untuk terjadinya KE antara lain adalah PID, riwayat KE sebelumnya, riwayat operasi pada pelvis, riwayat penggunaan IUD, dan riwayat pemakaian kontrasepsi oral. Merokok merupakan faktor resiko terjadinya KE. Resiko terjadinya KE ini berbanding lurus dengan makin banyaknya rokok yang dihisap setiap harinya. Mekanisme terjadinya hal ini sebenarnya belum jelas. Diduga disebabkan gangguan transportasi dalam tuba, dan lambatnya ovum masuk ke dalam cavum uteri yang disebabkan gangguan mukosa dan cillia dalam tuba. Merokok juga menyebabkan KE secara tak langsung, dengan meningkatkan resiko untuk terjadinya PID. b. Solutio Placenta (SP) Solucio Placenta ialah lepasnya placenta yang letaknya normal, dari dinding uterus, sebelum bayi lahir. Faktor resiko untuk terjadinya SP antara lain hypertensi, trauma abdomen, pemberian obat secara IV, riwayat persalinan pretem, rwayat stillbirth, abortus spontan, usia ibu yang sudah lanjut, dan kediaman yang tinggi diatas permukaan laut selama kehamilan. Merokok, bisa merupakan faktor resiko terjadinya SP. Mekanisme terjadinya SP diduga disebabkan kurangnya perfusi placenta akibat efek vasokontriksi, atau

akibat meningkatnya COHb, sehingga terjadi hipoxia lokal yang menyebabkan palcenta rusak dan terlepas dari cengkramannya. c. Placenta Previa (PP) Placenta Previa ialah keadaan dimana letak placenta demikian rendahnya, sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium internum. Faktor resiko terjadinya placenta previa antara lain, akibat kerusakan dinding endometrium akibat myoma, atau riwayat kuretase, atau pada kebutuhan perfusi yang meningkat, seperti pada kehamilan kembar. Merokok, merupakan faktor resiko terjadinya PP, diduga karena pada wanita hamil yang merokok, terjadi hipoxiemi kronis yang akibat vasokontriksi atau meningkatnya COHb. Hal ini membuat placenta akan mencari tambatan aliran darah dengan cara meluaskan jaringannya sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium unternum. d. Abortus Spontan (AS) Faktor resiko terjadinya AS antara lain usia ibu yang sudah lanjut, riwayat abortus sebelumnya, alkoholisme, demam, kontrasepsi, kelainan kromosom, trauma, sosio ekonomi dll. Merokok, diduga merupakan faktor resiko untuk terjadinya AS. Mekanisme terjadinya hal ini belum diketahui dengan jelas. Diduga merokok menyebabkan gangguan implantasi hasil konsepsi pada endometrium. Dugaan lain ialah efek toksik dari nikotin dan CO terhadap fetus. e. Preeklampsia Faktor resiko untuk terjadinya preeklampsia antara lain hipertensi kronis, multipel fetus, nullipara, riwayat preeklampsia-eklampsia, DM tipe 1, riwayat kenaikan BB yang besar dan bekerja selama hamil. Merokok diduga menurunkan resiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan. Makin banyak jumlah rokok yang dihisap, resiko itu makin turun. Namun bukti-bukti yang didapat baru berupa data epidemiologis. Mekanisme bagaimana ini bisa terjadi masih belum diketahui.

13. PENGARUH PADA JANIN a. Partus prematur Partus prematur (peralinan pada usia kehamilan < 37 minggu) berhubungan erat dengan tingginya resiko mortalitas fetal, neonatal dan perinatal. Faktor resiko terjadinya partus prematur antara lain, KPSW, pendarahan antepartum, pre eklampsia, kehamilan kembar, kelainan uterus, atau infeksi saluran kemih. Merokok merupakan faktor resiko untuk terjadinya partus prematur, tapi hanya pada situasi tertentu. Misalnya keadaan bila tidak ada faktor resiko lain untuk terjadinya partus prematur atau sudah terjadi KPSW sebelumnya. Resiko makin tinggi bila ibu berumur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun. Semua keadaan diatas didapat dari hasil penelitian. Penghentian merokok akan menurunkan resiko ini. Mekanisme tingginya resiko partus prematur pada wanita yang merokok diduga disebabkan efek vasokontriksi nikotin pada placenta, atau tingginya kadar katekolamin dalam darah. b. Berat badan lahir rendah Berat badan lahir dikatakan rendah bila kurang dari 2500 gram. Sedangkan istilah Small For Gestation Age (SGA) ialah bila berat badan lahir dibawah 10 persentil grafik. Merokok pada wanita hamil meninggikan resiko untuk terjadinya BBLR dibanding wanita yang tidak merokok. Selain itu faktor resiko lain ialah umur kehamilan, umur ibu,paritas, berat badan sebelum lahir, status ekonomi, dan prenatal care. Perbedaan berat badan lahir antara bayi yang ibunya merokok dan bayi yang ibunya ridak merokok berkisar antara 250-320 gram. Perbedaan ini juga terlihat pada panjang badan dan lingkar dada. Mekanisme timbulnya berat lahir rendah akibat merokok bisa dengan berbagai cara. Merokok bisa menyebabkan partus prematur, sehingga berat badan lahirnya memang kurang dari 2500 gram, walaupun sesuai dengan usia kehamilan.

Merokok

juga

bisa

menyebabkan

retardasi

pertumbuhan

karena

efek

vasokontriksi dari nikotin menyebabkan sirkulasi uteroplacenta berkurang, sehingga terjadi hipoxia dan gangguan nutrisi janin. Wanita yang merokok juga sulit untuk menambah berat badan selama kehamilan. Rata-rata penambahan berat badan pada perokok selama hamil adalah 9 kg, sedangkan wanita yang tidak merokok rata-rata bertambah 11 kg, walaupun wanita perokok itu makan lebih banyak kalori dibanding yang tidak merokok. c. Malformasi Kongenital Secara keseluruhan, merokok tidak meninggikan resiko untuk terjadinya malformasi kongenital, atau bila pun ada perbedaan, namun secara statistik tidak signifikan atau hasilnya saling bertentangan. d. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) SIDS adalah kematian yang tiba-tiba terjadi pada bayi usia kurang dari 1 tahun yang tidak diketahui sebabnya. Merokok, meningkatkan resiko untuk terjadinya SIDS dan resiko ini makin tinggi dengan makin banyaknya konsumsi rokok. Mekanisme bagaimana merokok bisa menyebabkan SIDS masih belum jelas. Diduga, merokok menyebabkan gangguan pada proses neuroregulasi dari pernafasan sehingga terjadi apneic spells yang menyebabkan terjadinya SIDS. 14. LAKTASI Menyusui diketahui mempunyai manfaat nutrisi dan prefentif terhadap infeksi seperti ISPA dan diare pada bayi. Penelitian menunjukkan bahwa wanita yang merokok lebih lambat dalam mulai menyusui dibanding wanita yang tidak merokok, dan cenderung menyapih bayinya lebih awal. Produksi ASI juga ± 250 ml lebih sedikit setiap harinya dibanding wanita yang tidak merokok. Keadaan ini makin sering terjadi dengan makin banyaknya rokok yang dihisap. Mekanisme terjadinya hal ini mungkin disebabkan antara lain rendahnya kadar hormon prolactin yang lebih rendah pada wanita yang merokok.

BAB III BERHENTI MEROKOK
Dengan berhenti merokok, selain bermanfaat besar bagi fisik, mental psikologis dan ekonomis, manfaat itu pun datang dalam waktu yang relatif cepat dan berlangsung untuk jangka waktu lama. Sebagai gambaran, dalam hitungan hari setelah berhenti merokok, indera penciuman dan perasa akan membaik. Dalam satu tahun setelah berhenti merokok, terjadi penurunan resiko yang bermakna untuk terjadinya PJK, MIA, dan stroke. Jika merokok sudah menyebabkan kerusakan permanen seperti emphysema, maka dengan berhenti merokok, progresifitas kemunduran fungsi paru akan jauh lebih lambat. Wanita yang berhenti merokok juga mempunyai rata – rata umur yang lebih lama dibanding wanita yang terus merokok. Jika seorang wanita berhenti merokok pada trimester pertama kehamilan, maka resiko untuk terjadinya BBLR akan hilang. Ada banyak cara menghentikan kebiasaan merokok. Lebih dari 90% eks perokok, berhenti merokok tanpa bantuan orang lain. Asal ada kesadaran akan bahaya merokok, dan keinginan kuat untuk berhenti, maka seseorang bisa berhasil berhenti merokok. Tiap orang punya cara yang berbeda, seperti berusaha mengganti rokok dengan permen, dengantidak membawa korek api, menghindari tempat-tempat dimana banyak perokok,dsb. Dengan bantuan dan konsultasi para dokter dan psikolog, dapat diusahakan bantuan medis, walaupun minimal namun cukup bermanfaat. Pada saat ini dapat juga diberikan pendidikan dan penyuluhan mengenai bahaya merokok. Di Amerika, dan eropa, sudah banyak berjalan institusi-institusi yang bergerak dibidang jasa menawarkan bantuan untuk berhenti merokok. Pada institusi ini dapat dilaksanakan per pribadi, per kelompok, atau dengan councelling per telepon. Kombinasi dari cara-cara diatas terbukti tinggi tingkat keberhasilannya. Pada institusi-institusi ini dapat juga dilakukan usaha-usaha medikasi dengan obat-obatan, nicotine replacement therapy, hypnosis atau akupuntur. Semua dalam usaha membantu menghentikan kebiasaan merokok.

Selama

dekade

terakhir,

sejumlah

farmako

therapi

untuk

mengatasi

ketergantungan terhadap nikotin telah banyak dilakukan. Pemberian nicotine gum, nicotine patch, nicotine nasal spray, nicotine oral inhaler dan bupropion adalah macammacam cara untuk mengurangi penggunaan rokok. Sedikit demi sedikit efek ketergantungan dari nikotin dapat dihilangkan. Obat lain sebagai farmakotherapi lini ke 2 adalah clonidine dan antidepresan nortriptiline, namun belum disetujui FDA untuk penggunaan penghentian merokok. Memanfaatkan faktor psikologis seorang wanita, bisa juga mengurangi kebiasaan merokok. Momen-momen seperti kehamilan, atau saat depresi bisa dijadikan pijakan untuk seorang wanita untuk berhenti merokok. Dalam skala yang lebih luas, misalnnya dalam skala kenegaraan, maka peranan pemerintah sangat penting. Perbaikan sosio ekonomi, menaikkan harga cukai rokok, penyuluhan melalui media massa, pengurangan biaya bantuan kesehatan, atau pembuatan Undang-undang yang melarang merokok di tempat-tempat umumserta dukungan kepada LSM yang bergerak dalam usaha menghentikan kebiasaan merokok, adalah contoh tindakan yang dapat diambil oleh pemerintah dalam rangka mengurangi penggunaan rokok secara nasional. Di Indonesia, tampaknya pemerintah belum serius dalam menindaklanjuti Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 1999 dan Peraturan pemerintah No.38 Tahun 2000 tentang pembatasan merokok untuk kesehatan, terutama pelanggaran merokok di tempattempat umum.

KESIMPULAN
1. Produk tembakau, apapun jenisnya, mengandung ribuan bahan kimia yang bersifat aktif, sitotoksik, mutagenik, dan karsinogenik. Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan tindakan manusia memasukkan ribuan bahan kimia tersebut ke dalam tubuh kita Tidak ada satupun jenis produk tembakau yang aman bagi manusia, bagaimanapun usaha produsen rokok menurunkan kadar nikotin dan tar dalam produknya. 2. Merokok, terbukti dapat menyebabkan berbagai penyakit, mengureangi angka harapan hidup, dan meningkatkan tingkat mortalitas secara keseluruhan. 3. Merokok, sama sekali bukan masalah individual. Merokok menyangkut diri sang perokok dan orang – orang disekitarnya. Dengan merokok, selain merugikam diri sendiri, juga merugikan orang yang tidak merokok yang dengan tanpa keinginan menghisap asap rokok yang dihasilkan oleh orang yang merokok. Sedangkan konsekuensi yang didapat akibat merokok secara pasif tersebut boleh dikata sama dengan para perokok aktif. Bahkan janin dalam kandungan pun ikut merasakan akibat dari merokok. 4. Penghentian kebiasaan merokok terbukti dapat memperbaiki tingkat resiko terkena berbagai penyakit, mengurangi progresifitas suatu penyakit, memperbaiki keadaan fisik dan mental, meningkatkan angka harapan hidup, dan memperbaiki kualitas kesehatan secara keseluruhan.

5. Pengetahuan kita mengenai bahaya merokok sudah lebih dari cukup. Tidak ada alasan untuk tidak berhenti merokok. Tidak ada kata terlambat untuk segera berhenti merokok. Berhentilah merokok, sekarang !

DAFTAR PUSTAKA
1.

A Surgeon’s General Report : Smoking on Woman, published 27th May 2001, hal 183-375. A surgeon’s General Report : Nicotine Addiction and Pharmacodynamics , 1988, hal 1 – 18, 465 - 534 http://www.cdc.gov/tobacco/sgr/sgr_forwomen/sgr_women_chapters.htm

2.

A report of INWAT Europe Seminar on Women on Tobacco, 4th June 1999, hal. 1044 http://www.ama-assn.or/special/womh/library/readroom/arch8/yoa7356.htm

3. Barraclough, Simon, Women and Tobacco in Indonesia, 1995, hal 1-8 http://tc.bmjournals.com/cgi/content/abstract
4.

Goodman and Gillman, The Pharmacological Basis of Theurapeutics, MacMillan Company, 2nd Edition, 1960, hal 620-627

5.

John H. Holbrook, Nicotine Addiction, Harrison’s Priciples of Internal Medicine, 13th edition, vol.2, 1994, hal.2433-2436

6. Prastowo Mardjikoen, Rokok dan Kehamilan, Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Vol.13, Nomor 2, April 1987, hal 105 – 113
7. 8. 9.

http://www.antirokok.or.id/fact_index.htm http://www.bebasrokok.com/home.html http://rokok.komunikasi.org/home.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->