P. 1
Kandungan logam berat Pb, Cu, Cd, dan Hg pada beberapa ikan laut di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung 2008

Kandungan logam berat Pb, Cu, Cd, dan Hg pada beberapa ikan laut di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung 2008

|Views: 3,313|Likes:
Published by Indra Gumay Yudha
Ternyata ikan-ikan di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung telah mengandung logam berat Hg, Cu, Cd, dan Pb. Walaupun masih berada di bawah ambang batas, namun fenomena ini harus diwaspadai.
Ternyata ikan-ikan di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung telah mengandung logam berat Hg, Cu, Cd, dan Pb. Walaupun masih berada di bawah ambang batas, namun fenomena ini harus diwaspadai.

More info:

Published by: Indra Gumay Yudha on Oct 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENELITIAN

ANALISIS KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA BIOTA LAUT DI WILAYAH PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh: INDRA GUMAY YUDHA, S.Pi., M.Si NIP 132231087

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG NOVEMBER 2008

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bandar Lampung yang terletak pada posisi 5º20’LS - 5º30’LS dan 105º28’BT105º37’BT berada di ujung Pulau Sumatera merupakan suatu wilayah pesisir. Kota Bandar Lampung memiliki luas 197,22 km2 terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan. Terdapat 12 kelurahan yang berada di wilayah pesisir yang terletak di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kecamatan Teluk Betung Barat dan Kecamatan Panjang. Sebagai salah satu kota yang terletak di wilayah pesisir, Bandar Lampung dengan segenap potensi yang dimilikinya telah menjadi magnet yang menarik berbagai pihak untuk melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Salah satu dampak negatif yang mengemuka dan perlu mendapat perhatian akibat berlangsungnya berbagai aktivitas tersebut adalah pencemaran perairan laut akibat limbah industri. Beberapa limbah yang dihasilkan oleh industri adakalanya berupa limbah B3, seperti jenis-jenis logam berat yang apabila masuk ke ekosistem pesisir dapat menimbulkan dampak yang fatal, baik bagi biota perairan maupun manusia yang ada di wilayah tersebut. Polutan yang berupa logam-logam berat diketahui dapat menyebabkan keracunan, kelumpuhan, kelainan genetik, hingga kematian. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Yudha (2007) diketahui bahwa logam berat Pb, Hg, Cu dan Cd telah terdeteksi keberadaannya dalam jumlah yang bervariasi, baik di badan sungai, sumur penduduk dan perairan laut di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. Logam berat Pb terdapat dalam jumlah yang melebihi dari baku mutu yang ditetapkan untuk biota laut pada lokasi di sekitar perairan laut di depan lahan reklamasi PT BBS, perairan di sekitar Pelabuhan Peti Kemas Panjang, di sekitar Pulau Kubur, dan pantai Puri Gading. Keberadaan logam berat Hg umumnya masih berada dalam baku mutu yang ditetapkan, bahkan di beberapa tempat tidak terdeteksi, namun di sekitar perairan laut di depan lahan reklamasi PT BBS terdeteksi dalam jumlah yang telah melebihi baku mutu. Kandungan logam Cu diketahui telah melebihi baku mutu pada beberapa lokasi pengukuran, yaitu di perairan di sekitar Pelabuhan Srengsem, di tengah laut, perairan Pulau Kubur, perairan di PPP Lempasing, di sekitar pantai Puri Gading, dan di perairan Pulau Pasaran. Keberadaan logam Cd telah melebihi baku mutu pada lokasi pengukuran di perairan lahan reklamasi PT BBS, di

perairan Gudang Lelang, perairan Pelabuhan Peti Kemas, dan pantai Puri Gading. Bahkan di perairan sekitar lahan reklamasi PT BBS kandungan Cd telah mencapai 0,026 ppm atau sekitar 26 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan. Terkait dengan keberadaan logam berat Pb, Hg, Cu, dan Cd di perairan pesisir Kota Bandar Lampung, maka perlu dilakukan suatu kajian lanjutan untuk mengetahui keberadaan logam-logam berat tersebut pada beberapa biota laut yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan pangan. Hal ini perlu

dilakukan sebagai bentuk pemantauan dalam rangka jaminan keamanan pangan bagi masyarakat setempat, sehingga Tragedi Minamata tidak terjadi di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana konsentrasi logam berat yang terkandung pada berbagai biota laut (ikan) yang terdapat di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb), air raksa (Hg), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) yang terdapat di biota laut (ikan) di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. 1.4 Kontribusi Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah untuk melakukan pencegahan pencemaran logam berat dan mengambil langkah-langkah yang tepat apabila telah terjadi pencemaran logam berat pada biota laut yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan masyarakat setempat.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Logam Berat Logam berat adalah suatu terminologi umum yang digunakan untuk menjelaskan sekelompok elemen-elemen logam yang kebanyakan berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh. Logam berat adalah unsur-unsur yang mempunyai nomor atom dari 2292 dan terletak di dalam periodik tiga dalam susunan berkala, mempunyai densitas lebih besar dari 5 gram/ml (Hutagalung, 1991). Logam berat umumnya berada di sudut kanan bawah pada susunan berkala, seperti unsur-unsur Pb, Cd, dan Hg. Kebanyakan dari logam-logam tersebut mempunyai afinitas sangat besar terhadap belerang (Saeni, 1989). Berbeda dengan logam biasa, logam berat dapat menimbulkan efek-efek khusus dalam mahluk hidup. Menurut Palar (1994), secara umum bisa dikatakan bahwa semua logam berat dapat menjadi bahan pencemar yang akan meracuni tubuh mahluk hidup. Sebagai contoh logam air raksa, khrom, timbal, dan kadmium. Kadmium dan vanadium tergalong katagori khusus karena mempunyai efek yang merugikan tetapi belum tergolong unsur yang sangat beracun seperti timbal, arsen, dan berlium. Logam berat berbahaya dan sering mencemari lingkungan terutama adalah air raksa, timbal, arsenik, kadmium, dan nikel. Logam tersebut dapat mengumpul dalam tubuh suatu organisme dan tetap tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu lama sebagai racun terakumulasi. Selain berada dalam bentuk ion logam bebas, kompleks anorganik, dan pasangan ion, logam juga dapat membentuk komplek dengan senyawa organik dan partikel koloid (Johnston, 1976). Umumnya logam berat pada kadar rendah sudah bersifat toksik pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Logam berat ini akan terakumulasi di dalam tubuh disalurkan sepanjang perjalanan rantai makanan. Logam berat di perairan paling banyak berasal dari limbah industri seperti industri pengolahan logam dan pestisida (Hutagalung, 1991). Dalam kondisi normal, beberapa jenis logam ringan maupun logam berat berbeda dalam jumlah sedikit di dalam air. Menurut Darmono (1995) beberapa logam ringan tersebut bersifat esensial, misalnya kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) yang berguna untuk pembentukan kutikula atau sisik pada ikan atau udang. Logam berat seperti tembaga (Cu), zink (Zn), dan mangan (Mn) sangat berguna dalam pembentukan hemosianin dalam sistem darah dan enzimatik pada

hewan air tersebut. Ada beberapa logam berat yang termasuk unsur mikro yang tidak mempunyai fungsi hayati dan bahkan sangat berbahaya serta menyebabkan keracunan pada mahluk hidup, misal timbal (Pb), merkuri (Hg), arsenik (As) dan cadmium (Cd). 2.2 Pengaruh Logam Berat terhadap Ekosistem Perairan Menurut Nybakken (1992), logam berat merupakan salah satu bahan kimia beracun yang dapat memasuki ekosistem bahari. Bahan-bahan kimia ini seringkali memasuki rantai makanan di laut dan berpengaruh pada hewan-hewan, serta dari waktu ke waktu dapat berpindah-pindah dari sumbernya. Keadaan tersebut menyebabkan sulit sekali untuk memperkecil pengaruh bahan kimia tersebut, terutama apabila pengaruhnya terulang kembali pada tahun-tahun berikutnya. Unsur-unsur logam berat biasanya erat kaitannya dengan masalah pencemaran dan toksisitas. Pencemaran yang dapat menghancurkan tatanan lingkungan hidup, biasanya berasal dari limbah-limbah yang sangat berbahaya dalam arti memiliki daya racun (toksisitas) yang tinggi. Limbah industri merupakan salah satu sumber pencemaran logam berat yang potensial bagi perairan. Pembuangan limbah industri secara terus menerus tidak hanya mencemari lingkungan perairan tetapi menyebabkan terkumpulnya logam berat dalam sedimen dan biota perairan, seperti yang terlihat pada Gambar 1. Menurut Darmono (1995) logam berat dapat masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu: saluran pernafasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Di dalam tubuh hewan logam diabsorpsi darah, berikatan dengan protein darah yang kemudian didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akumulasi logam yang tertinggi biasanya dalam detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal).

Gambar 1. Skema proses alami yang terjadi jika polutan masuk ke lingkungan laut (EPA, 1973) Bahan pencemar, termasuk logam berat, masuk ke tubuh organisme atau ikan melalui proses absorpsi. Absorpsi merupakan proses perpindahan racun dari tempat pemejanan atau tempat absorpsinya ke dalam sirkulasi darah. Absorpsi, distribusi dan ekskresi bahan pencemar tidak dapat terjadi tanpa transpor melintasi membran. Proses transportasi dapat berlangsung dengan 2 cara : transpor pasif (yaitu melalui proses difusi) dan transpor aktif (yaitu dengan sistem transport khusus, dalam hal ini zat lazimnya terikat pada molekul pengemban) (Hutagalung, 1991). Beberapa biota laut tertentu juga dapat mempertinggi pengaruh toksik berbagai unsur kimia tersebut karena memiliki kemampuan untuk mangakumulasi zat tersebut di tubuhnya jauh melebihi yang terkandung di perairan sekitarnya. Faktor-faktor lainnya yang cenderung membantu meningkatkan pengaruh unsur kimia terhadap sistem kehidupan adalah magnifikasi biologis. Pada situasi ini konsentrasi bahan kimia di tubuh jasad hidup meningkat dengan adanya perubahan tingkat trofik. Dari kenyataan bahwa unsur-unsur kimia tersebut tidak mengalami metabolisme di tubuh makhluk hidup, maka jumlah yang terakumulasi pada jaringan-jaringan tubuh semakin bertambah. Apabila beberapa individu tersebut dimangsa oleh karnivora dari tingkat trofik di atasnya, maka karnivora-karnivora tersebut akan mengandung unsur kimia yang berasal dari individu-individu terdahulu, sehingga konsentrasi unsur kimia tersebut akan meningkat di tubuhnya. Kesinambungan proses ini, apabila rantai

makanan panjang, dapat menyebabkan tingkat konsentrasi yang cukup berarti pada

karnivora puncak. Manusia juga sering mengkonsumsi biota laut yang sebagian besar berasal dari tingkat trofik tertinggi (Nybakken, 1992). Peristiwa Minimata merupakan salah satu contoh yang didokumentasikan oleh Goldberg (1974) yang menggambarkan akibat pembuangan limbah industri yang mengandung Hg ke laut pada tahun 1930-an di Teluk Minimata. Melalui proses biomagnifikasi, ikan-ikan laut dan kerang mengakumulasi senyawa majemuk klorida metil merkuri beracun dalam konsentrasi tinggi. Ikan-ikan dan kerang ini dikonsumsi oleh penduduk di sekitar teluk. Kira-kira setelah 15 tahun sejak pembuangan Hg tersebut, terjadi keanehan mental dan cacat syaraf secara permanen yang dialami oleh penduduk setempat, terutama anak-anak. Keanehan mental tersebut dinamakan

penyakit minimata yang didiagnosis sebagai akibat keracunan Hg pada tahun 1959. 2.3 Pencemaran Logam Berat di Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung Wilayah pesisir Kota Bandar Lampung merupakan daerah yang rentan terhadap pencemaran yang berasal dari limbah domestik maupun limbah industri yang mengalir melalui sungai-sungai yang bermuara ke wilayah perairan laut. Dari hasil identifikasi yang telah dilakukan oleh Wiryawan dkk (2002), diketahui bahwa setidaknya terdapat 9 sungai yang bermuara ke pesisir Kota Bandar Lampung yang berpotensi mencemarkan wilayah pantai tersebut. Sungai-sungai tersebut adalah:

Way Sukamaju, Way Keteguhan, Way Tataan, Way Belau, Way Kunyit, Way Kuala, Way Lunik, Way Pancoran, dan Way Galih. Sumber pencemaran yang berasal dari limbah industri diperkirakan berasal dari berbagai kegiatan industri yang berada di DAS tersebut. Sebagai contoh, setidaknya terdapat 22 industri di DAS Way Kuala, 13 industri di DAS Way Lunik, 5 industri di DAS Way Pancoran, dan 2 industri di DAS Way Kunyit. Kemungkinan pencemaran industri juga terjadi di wilayah

pelabuhan Panjang dan pelabuhan milik swasta yang berada di sekitar Kecamatan Panjang. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Yudha (2007) terhadap sample air laut yang berasal dari 9 lokasi pengukuran diketahui bahwa kandungan logam berat Pb, Hg, Cu, dan Cd ditemukan dalam badan air laut dalam jumlah yang bervariasi. Hasil analisis untuk masing-masing paramater pada masing-masing lokasi disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa Pb terdapat dalam jumlah yang melebihi dari baku mutu yang ditetapkan untuk biota laut pada lokasi di sekitar perairan laut di

depan lahan reklamasi PT BBS, perairan di sekitar Pelabuhan Peti Kemas Panjang, di sekitar Pulau Kubur, dan pantai Puri Gading. Keberadaan logam berat Hg umumnya masih berada dalam baku mutu yang ditetapkan, bahkan di beberapa tempat tidak terdeteksi, namun di sekitar perairan laut di depan lahan reklamasi PT BBS terdeteksi dalam jumlah yang telah melebihi baku mutu. Adanya logam-logam berat Pb, Hg, Cu, Cd, dan kemungkinan logam berat yang lainnya di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung sangat memprihatinkan. Walaupun keberadaan logam berat tersebut masih dalam batas baku mutu yang ditetapkan, namun keberadaannya di lingkungan perairan dapat mempengaruhi kehidupan biota dan manusia yang berinteraksi di wilayah tersebut. Tabel 1. Kandungan logam berat di perairan laut di wilayah Kota Bandar Lampung 2007
No.
1. 2. 3. 4.

Parameter
Pb Hg Cu Cd

Sat.
ppm ppm ppm ppm

BM *)
0.008 0.001 0.008 0.001

L1
0.012 0.002 0.002 0.026

L2
0.008 Ttd 0.003 0.013

L3
0.009 0.001 0.002 0.014

Hasil Pengukuran L4 L5 L6
0.008 Ttd 0.013 ttd 0.008 0.001 0.014 0.001 0.009 0.001 0.015 0.001

L7
0.008 Ttd 0.013 ttd

L8
0.012 0.001 0.025 0.002

L9
0.006 Ttd 0.010 ttd

Sumber: Yudha (2007) Keterangan: *) Berdasarkan Kep. Men. LH No.51 thn. 2004 Baku Mutu Air Laut, untuk Biota Laut
L1 = Perairan di depan Lahan Reklamasi PT BBS (S 05º27’25,3”; E 105º16’12,2”) L2 = Perairan di dekat Gudang Lelang (S 05º27’10,0”; E 105º16’12,6”) L3 = Perairan di depan Pelabuhan Peti Kemas (S 05º27’51,8”; E 105º18’33,5”) L4 = Perairan di sekitar Pelabuhan Srengsem (S 05º29’22,8”; E 105º19’26,9”) L5 = Tengah Laut (S 05º29’32,3”; E 105º17’44,7”) L6 = Perairan di sekitar Pulau Kubur (S 05º29’15,3”; E 105º15’42,9”) L7 = Perairan di sekitar PPP Lempasing (S 05º29’14,5”; E 105º15’12,4”) L8 = Perairan di sekitar pantai Puri Gading (S 05º28’14,0”; E 105º15’08,4”) L9 = Perairan di sekitar Pulau Pasaran (S 05º27’53,4”; E 105º15’48,2”) Ttd = tidak terdeteksi

Kandungan logam Cu diketahui telah melebihi baku mutu pada beberapa lokasi pengukuran, yaitu di L4, L5, L6, L7, L8, dan L9. Keberadaan logam Cd telah

melebihi baku mutu pada lokasi pengukuran L1, L2, L3, dan L8. Di lokasi L1, yaitu di perairan sekitar lahan reklamasi PT BBS, kandungan Cd telah mencapai 0,026 ppm atau sekitar 26 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan. Sumber pencemaran logamlogam berat ini diperkirakan dapat berasal dari aktivitas pelabuhan, docking kapal, ataupun limbah industri yang berasal dari perkotaan yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara di sekitar perairan tersebut, seperti sungai Way Belau, Way Sukamaju, Way Keteguhan, dan Way Kunyit. Di wilayah Kecamatan Panjang terdapat aktivitas bongkar muat batubara, yaitu di DUKS milik PT Bukit Asam. Pada saat bongkar muat cukup banyak debu-debu batubara yang masuk ke perairan laut. Hal ini juga

diduga turut menyumbangkan sejumlah besar kandungan logam berat di perairan laut di sekitarnya.

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung, yang meliputi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kecamatan Teluk Betung Barat dan Kecamatan Panjang. Pengambilan sample biota laut yang berupa ikan dan kerang dilakukan pada beberapa lokasi yang terdeteksi telah mengalami pencemaran logamlogam berat Pb, Hg, Cu dan Cd berdasarkan hasil kajian sebelumnya yang telah dilakukan Yudha (2007). Analisis laboratorium dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Tanjungkarang. Waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah 2 bulan, yaitu Oktober-November 2008. 3.2 Bahan dan Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, blender, hot plate, neraca analitik, oven, lemari pendingin, spektrofotometer serapan atom, dan alat-alat gelas yang umum digunakan di laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah organ ikan (daging), asam nitrat (HNO3) dengan konsetrasi 65%, timbal (PbNO3), CdCl2H2O dan akuades. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah data hasil analisis laboratorium kandungan Pb, Cd, Hg dan Cu pada beberapa sample biota laut (ikan). Teknik pengambilan sample biota laut yang akan dianalisis pada dasarnya mengikuti kaidah statistika, yaitu bersifat random dan berulang. Pengambilan sample akan dilakukan dengan metode survei di sejumlah lokasi perairan di sekitar wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. Sample ikan yang akan diteliti diupayakan ikan-ikan yang

bersifat menetap dan merupakan jenis predator yang berada pada posisi top carnivora dalam sistem rantai makanan sehingga indikasi keberadaan logam berat melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi melalui aliran rantai makanan dapat terdeteksi . Ikan tersebut juga haruslah jenis ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat, misalnya ikan kerapu, keting, jolot, dan lain-lain. 3.4 Analisis Sample

Sample yang telah diperoleh secara otopsi (daging) dicuci bersih dengan akuades hingga darah dan kotoran hilang. Kemudian sampel yang dipisahkan menurut bagian masing-masing, setelah itu sampel dipotong kecil-kecil dengan pisau lalu dibelender dan di masukkan dalam kemasan plastik tertutup. Masing-masing sampel yang sudah diblender dari setiap ikan dengan berat awal 0,3 0 – 0,5 gram dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 1050C sampai berat konstan. Setelah itu ditimbang untuk memperoleh kadar air. Kemudian ke dalam tabung dimasukkan 1 ml asam HNO3 65% dan dipanaskan kembali dengan menggunakan hot plate sampai semua sampel larut, sampel ditambahkan lagi HNO3 11% sampai volume 10 ml. Kemudian larutan sampel siap diukur dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom. Secara lebih jelas metode analisis sample dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Bagan alir analisis logam berat pada biota laut

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Pengambilan Sample Sample ikan diambil dari beberapa tempat di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. Umumnya sample berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat. Lokasi

pengambilan sample adalah di sekitar perairan laut Pantai Sukaraja, Karang Maritim, Gudang Agen (dekat lahan reklamasi PT BBS), Pantai Puri Gading, dan PPP Lempasing. Ikan-ikan tersebut dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan setempat, dan bukan berasal dari kapal-kapal penangkap ikan yang mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan setempat. Hal ini dimaksudkan agar sample yang diuji benar-benar dari lokasi penelitian dan menggambarkan kondisi pencemaran logam berat di pesisir Kota Bandar Lampung. Ikan-ikan yang dikumpulkan pada awalnya berjumlah 11 ekor, dengan perincian sebagai berikut: Tabel 2. Asal sample dan jenisnya
No. 1 2 3 4 5 6 7 Lokasi pengambilan sample Pantai Sukaraja Pantai Karang Maritim Pantai Gudang Agen Pantai Puri Gading 1 Pantai PPP Lempasing Pantai Puri Gading 2 Pantai Puri Gading 3 Jenis ikan Keting, jolot Kerapu Lodi, bandeng, baronang Belanak Keting Keting Jolot Belanak Jumlah (ekor) 2 3 1 1 1 1 1

Ikan-ikan yang telah dikumpulkan selanjutnya diseleksi untuk diukur kandungan logam beratnya. Jenis-jenis ikan yang diutamakan untuk diuji adalah ikan-ikan

predator, seperti kerapu lodi, keting, dan ikan jolot. Ikan bandeng dan baronang yang berasal dari lokasi 2 tidak diuji dan hanya dipilih ikan kerapu lodi, dengan pertimbangan bahwa prioritas pengukuran ditujukan untuk ikan-ikan predator. Namun demikian, untuk lokasi 3 dan 7 hanya tertangkap ikan belanak yang sebenarnya adalah jenis ikan pemakan detritus (serasah). Dengan pertimbangan

bahwa ikan detritivora juga rentan terhadap pencemaran jika logam berat masuk ke perairan, maka ikan belanak pun memenuhi syarat untuk diuji.

Gambar 3. Beberapa contoh ikan uji 4.1.2 Hasil Analisis

Analisis kandungan logam berat terhadap ikan-ikan diuji dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Tanjung Karang. Hasil analisis tersebut tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan logam berat pada beberapa ikan uji
No. Jenis ikan Asal sample Pantai Sukaraja Karang Maritim Gudang Agen Puri Gading 1 PPP Lempasing Puri Gading 2 Puri Gading 3 Dirjen POM *) SNI **) Kandungan logam berat (mg/kg) Hg Cd Cu Pb 0,002 0,008 0,030 0,023 ttd 0,007 0,019 0,010 ttd 0,006 0,025 0,012 ttd 0,008 0,040 0,025 ttd 0,006 0,020 0,016 ttd 0,010 0,025 0,019 ttd 0,009 0,030 0,015 0,5 --20,0 2,0 0,5 0,1 --0,4

1 Keting 2 Kerapu lodi 3 Belanak 4 Keting 5 Keting 6 Jolot 7 Belanak Batas Maksimum dalam makanan (mg/kg) Keterangan:

ttd = tidak terdeteksi

*) = Sesuai dengan SK Dirjen POM No.03725/B/SK/VII/89 tanggal 10 Juli 1989
tentang Batas Maksimum Cemaran Logam dalam Makanan **) = Sesuai dengan SNI 01-2729.1-2006

Sebagian besar ikan-ikan uji mengandung logam berat Cd, Cu, dan Pb dengan konsentrasi yang bervariasi. Kandungan Hg hanya terdeteksi pada sample ikan keting yang berasal dari Pantai Sukaraja.

4.2 Pembahasan Tidak terdeteksinya kandungan Hg pada beberapa sample, kecuali di Pantai Sukaraja, menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan Yudha (2007) seperti yang tertera pada Tabel 1. Di sekitar perairan laut di depan lahan reklamasi PT BBS Hg terdeteksi dalam jumlah yang telah melebihi baku mutu. Sayangnya pada penelitian tersebut tidak dilakukan pengukuran sample air di Pantai Sukaraja. Namun lokasi Pantai Sukaraja sebenarnya tidak terlalu jauh dari perairan di sekitar lahan reklamasi PT BBS dan Pelabuhan Peti Kemas. Dari Tabel 3 terlihat keberadaan logam berat Hg pada ikan keting yang berasal dari Pantai Sukaraja masih berada di bawah batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk

komoditas ikan, sesuai dengan SK Dirjen POM No.03725/B/SK/VII/89 dan SNI 012729.1-2006, yaitu 0,5 mg/kg. Kandungan Cd pada ikan uji yang berasal dari semua lokasi pengambilan sample menunjukan hasil antara 0,006-0,010 mg/kg. Ikan-ikan uji yang berasal dari Pantai Puri Gading mengandung Cd yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan uji yang berasal dari lokasi lainnya, yaitu antara 0,008-0,010. Nilai ini masih berada di bawah batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk komoditas ikan, sesuai

dengan SNI 01-2729.1-2006, yaitu 0,1 mg/kg. Dari hasil penelitian Yudha (2007) memang telah diindikasikan bahwa di sekitar perairan pantai Puri Gading kandungan logam Cd telah melebihi baku mutu. Demikian juga di pantai sekitar lahan reklamasi PT BBS, Gudang Lelang, dan Pelabuhan Peti Kemas. Bahkan di perairan sekitar lahan reklamasi PT BBS kandungan Cd telah mencapai 0,026 ppm atau sekitar 26 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan. Ikan belanak yang tertangkap di sekitar

perairan Gudang Agen (dekat dengan perairan lahan reklamasi PT BBS) juga terindikasi telah mengandung Cd dalam jumlah 0,006 mg/kg. Kandungan logam berat Cu yang diukur menunjukkan hasil yang lebih tingi dibandingkan kandungan Hg, Cd dan Pb, dan nilainya bervariasi antara 0,019-0,040 mg/kg. Kandungan Cu tertinggi terindikasi pada sample ikan yang berasal dari Pantai Sukaraja, pantai di sekitar Gudang Agen, dan Pantai Puri Gading. Namun demikian, nilainya masih di bawah batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk komoditas ikan, sesuai dengan SK Dirjen POM No.03725/B/SK/VII/89, yaitu 20 mg/kg. Dari hasil penelitian Yudha (2007) menunjukkan bahwa logam berat Cu terindikasi telah melebihi baku mutu di beberapa lokasi pengukuran dan konsentrasi terbesar terdapat di perairan Pantai Puri Gading yang nilainya sudah mencapai 3 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan. Kandungan Pb terindikasi pada seluruh sample ikan dan nilainya bervariasi antara 0,010-0,025 mg/kg. Kisaran nilai tersebut masih di bawah batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk komoditas ikan sesuai dengan SNI 01-2729.12006, yaitu 0,4 mg/kg. Walaupun berdasarkan hasil penelitian Yudha (2007) diketahui bahwa perairan pesisir Kota Bandar Lampung telah tercemar logam berat Hg, Pb, Cu, dan Cd dan di beberapa tempat konsentrasinya telah melebihi baku mutu yang ditetapkan, namun seluruh sample ikan tidak menunjukkan kadar logam berat yang melebihi batas maksimum cemaran logam berat pada makanan, sehingga aman dikonsumsi. Walaupun ikan-ikan uji yang tertangkap berasal dari perairan yang tercemar logam berat, namun kandungan logam berat pada ikan tersebut masih berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan. Hal ini dijelaskan oleh Connel dan Miller (1995) bahwa akumulasi logam berat dalam tubuh organisme tergantung pada konsentrasi logam berat dalam air/lingkungan, suhu, keadaan spesies dan aktifitas fisiologis. Ikan-ikan

memiliki kemampuan untuk membuang bahan toksik yang masuk ke dalam tubuhnya melalui proses ekskresi. Organ yang berperan dalam proses ekskresi adalah ginjal. Ginjal berfungsi untuk filtrasi dan mengekskresikan bahan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, termasuk polutan seperti logam berat yang toksik, sehingga kandungan logam berat yang terakumulasi dalam tubuh ikan pun dapat dikurangi.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Ikan-ikan uji yang berasal dari wilayah pesisir Kota Bandar Lampung mengandung logam berat Hg, Cu, Cd, dan Pb dalam jumlah yang relatif kecil dan masih berada di bawah batas maksimum bahan cemaran logam berat pada makanan untuk komoditas ikan segar, sehingga aman dikonsumsi. 5.2 Saran Dari hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa hal, yaitu: Oleh karena pencemaran logam berat merupakan salah satu permasalahan yang serius dan dapat menimbulkan bencana di masa depan, maka pemerintah daerah sebaiknya melakukan tindakan nyata untuk mengurangi laju pencemaran tersebut. Pemerintah daerah perlu melakukan pengujian logam berat pada biota laut secara berkala untuk memonitoring tingkat bahaya mengkonsumsi ikan-ikan laut yang tertangkap di wilayah pesisir Kota Bandar Lampung. Selanjutnya hasil

monitoring tersebut harus disampaikan kepada publik secara transparan.

DAFTAR PUSTAKA

Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Terjemahan Y. Koestoer. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. CRMP. 1998. Potensi dan Isu Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan Propinsi Lampung. Proyek Pesisir Publication. Tec. Report TE-98/01-I. CRC-URI. Jakarta. Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI Press. Jakarta. Hutagalung. 1991. Pencemaran Laut oleh Logam Berat. Pengembangan Pseanologi. LIPI. Jakarta. Johnston, R. 1976. Marine Pollution. Academc Press. London. Nybakken, W. J. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta. Jakarta. Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. PAU Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. Bogor Wiryawan, B. dkk. 2000. Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Lampung. Bekerjasama dengan Proyek Pesisir PKSPL IPB. Bandar Lampung. Wiryawan, B. dkk. 2002. Atlas Sumberdaya Wilayah Pesisir Lampung. Cetakan ke2. Bekerjasama dengan Proyek Pesisir PKSPL IPB. Bandar Lampung. Yudha, I.G. 2007. Kajian Pencemaran Logam Berat di Wilayah Pesisir Kota Bandar Lampung Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Universitas Lampung, September 2007. Bandar Lampung. Pusat Penelitian dan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->