P. 1
Desain Rencana Aksi YJL_nhk (Masukan)

Desain Rencana Aksi YJL_nhk (Masukan)

|Views: 332|Likes:
Published by yajalindo

More info:

Published by: yajalindo on Oct 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

DESAIN RENCANA AKSI

“Program Peningkatan Kapasitas Warga dan Inisiasi Kebijakan Publik untuk mendukung proses Pembangunan Daerah yang Partisipatif, Transparan dan Akuntabel di Kabupaten Bantaeng”

A. INFORMASI DASAR ORGANISASI 1. Nama Organisasi • • 2. • • • • 3. Alamat No. telepon No. Fax Email Kabupaten Propinsi Yayasan Jalarambang Indonesia ( YAJALINDO ) Jl. Dr. Ratulangi (Ruko No. 3 Depan Stadion Mini Lamalaka). Kabupaten Bantaeng 0413 – 22689 0413 – 22689 Email : yajalindobantaeng@yahoo.com Bantaeng Sulawesi Selatan Yudhi : 0813 426 45 624

Contact Person dalam Organisasi

B. INFORMASI DASAR PROYEK Program Peningkatan Kapasitas Warga dan Inisiasi Kebijakan Publik untuk mendukung proses Pembangunan Daerah yang Partisipatif, Transparan dan Akuntabel di Kab. Bantaeng HUSNI ALAM, S.Sos Sulawesi Selatan Bantaeng 8 Kecamatan di Kab. Bantaeng ( Kec. Bissappu, Kec. Sinoa, Kec. Uluere, Kec. Bantaeng, Kec. Ere merasa, Kec. Pakjukukang, Kec. Gantarakeke, dan Kec. Tompobulu ) 22 desa dan 19 Kelurahan di Kab. Bantaeng 01 Juni 2009 31 Mei 2010 12 Bulans Mekanisme pembangunan di Kabupaten Bantaeng menerapkan prinsip-prinsip transparan,

1

Judul Proposal Program

2

Penanggung Jawab Program Lokasi Kegiatan • Propinsi • Kabupaten

3 • Kecamatan • Desa/Kelurahan 4 5 Perkiraan dimulai Perkiraan selesai Jangka waktu program Tujuan Umum Program

akuntabel & partisipatif serta memastikan keterlibatan perempuan, orang miskin dan kelompok marjinal lainnya dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal. Total Anggaran : 1.254.395.000,Terbilang : ( Satu Miliar Dua Ratus Lima Puluh Empat Juta Tiga Ratus Sembilan Puluh Lima Ribu Rupiah ) Kontribusi Lembaga : 62.250.000,Kontribusi Komunitas : --Kontribusi Pemda btg : 540.000.000,Kontribusi ACCESS : 652.145.000,-

6

Jumlah Dana Hibah dan kontribusi berbagai pihak

1. LATAR BELAKANG Sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten untuk menerapkan pembelajaran ini di seluruh desa/kelurahan di Kabupaten Bantaeng dengan program Bupati Bantaeng yang baru terpilih yang mencanangkan Program Desa Mandiri sebagai perwujudan pelaksanaan Otonomi Desa. Untuk mengimplementasi program ini mutlak mempersyaratkan adanya RPJMDesa/Kelurahan sebagai acuan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunan di setiap Desa/Kelurahan, selain itu peningkatan kapasitas warga dan pemerintahan untuk mewujudkan Program Desa Mandiri penting dilakukan untuk menjawab keraguan pemerintah kabupaten terhadap kapasitas warga dan pemerintahan desa yang akan menjadi penghambat Program Desa Mandiri. Sekaitan dengan hal diatas, para penggiat sosial di Kabupaten Bantaeng yang selama ini banyak terlibat kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat dari berbagai latar belakang profesi dan mengorganisir diri dalam sebuah forum dengan nama Forum Lintas Aktor (FLA) Gerakan Membangun Bantaeng (GERBANG) telah berkomitmen untuk mewujudkan “Tata Kelola Kepemerintahan Lokal Yang Demokratis Menuju Bantaeng Mandiri” dengan 8 Agenda Aksi, sebagai berikut : 1) Terwujudnya Accidong sipangadakkang sebagai pilar utama perencanaan pembangunan partisipatif, 2) Terwujudnya Tuntas Belajar 12 tahun, 3) Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Prima, 4) Terwujudnya Bantaeng Hijau Bersih, 5) Terwujudnya Pelayanan Publik Bermutu, 6) Terwujudnya Bantaeng salah satu pusat pendidikan berkualitas, 7) Terwujudnya BUMDes yang profesional dalam mewujudkan kemandirian warga, dan 8) Efektifnya Forum Belajar Bersama. Sebagai wujud kepedulian untuk ikut berperan aktif dalam mewujudkan Visi Kabupaten, maka Yayasan Jalarambang Indonesia (Yajalindo) bermaksud untuk mengimpelementasikan salah satu Agenda Aksi yaitu mewujudkan Accidong Sipangngadakkang Sebagai Pilar Utama Perencanaan Pembangunan Partisipatif. Hal ini didasari bahwa secara kelembagaan telah memiliki pengalaman yang cukup dan didukung personil yang memiliki kemampuan metodologi dalam mengimplementasikan program sejenis.

Sebagai respon dari semangat mengembalikan nilai-nilai budaya dalam pembangunan daerah, maka Yayasan Jalarambang Indonesia (Yajalindo) bermaksud menginternalisasi nilai-nilai budaya warga dalam proses assesment dan perencanaan pembangunan desa untuk melahirkan dokumen perencanaan desa yang inklusif warga miskin, perempuan dan orang muda dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa/Kelurahan (RPJMDes/Kel), sekaligus meningkatkan kapasitas warga dan pemerintahan desa dalam menyusun dan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa secara partisipatif, transparan dan akuntabel. Untuk menyusun Rencana Aksi program, maka Yayasan Jalarambang Indonesia (YAJALINDO) telah melakukan assessment pada bulan Maret 2009. Penjajakan dilakukan dengan terlebih dahulu menganalisis stakeholder yang akan terlibat dalam rencana aksi dan sekaligus menentukan Boundary Partner (BP) dan dari hasil analisis stakeholder terdapat beberapa pihak yang akan terlibat dalam rencana aksi antara lain Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai BP yang akan menjadi pelaku utama di desa. Selanjutnya Pemerintah Desa, Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (PM & PD), dan Bagian Hukum Sekretariat Daerah serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai mitra strategis dalam menjalankan rencana aksi, sementara lembaga maupun individu yang peduli dengan demokratisasi juga akan menjadi sekutu dalam proses pelaksanaan rencana aksi khususnya dalam memperjuangkan adanya kebijakan kabupaten terkait transparansi dan partisipasi. Dari proses penjajakan yang dilakukan dengan mitra strategis melalui interview dan diskusi maka telah teridentifikasi beberapa hal yaitu bahwa Pemerintah Kabupaten melalui Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa telah mengalokasikan anggaran pada tahun 2009 untuk penjajakan dan perencanaan pada 41 desa/kelurahan (22 desa dan 19 kelurahan) yang diharapkan dapat menghasilkan data based desa/kelurahan dan RPJMDesa/kelurahan. Selain itu masih dirasakan minimnya pemahaman dan pengetahuan teknis dalam membuat penganggaran dan mengelola anggaran desa dalam bentuk APBDes, sementara sejak tahun 2008 Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah mengucurkan Alokasi Dana Desa (ADD). Sementara itu kebijakan kabupaten tentang transparansi dan partisipasi telah pernah diupayakan pada tahun 2004 oleh aktivis-aktivis yang bergerak dibidang sosial kemasyarakatan melalui Program Prakarsa Tata Pemerintahan Daerah (P2TPD) namun hanya sampai pada pembuatan rancangan perda transparansi dan partisipasi, hal ini terkendala masih minimnya pemahaman pentingnya perda ini dan tidak kuatnya komitmen para pihak terhadap program khususnya oleh legislatif dan eksekutif dan dengan perubahan paradigma pembangunan saat ini seiring pergantian kepemimpinan kabupaten dan keanggotaan di legislative menjadi potensi untuk kembali mendorong pentingnya kebijakan (perda) ini. Sementara penjajakan dengan Boundary Partner (BP) khususnya dengan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) melalui Focus Group Discussion (FGD), ditemukan bahwa proses perencanaan dan penganggaran serta pelaksanaan

pembangunan didesa belum sepenuhnya memenuhi prinsip-prinsip pemberdayaan warga, pelibatan secara penuh masyarakat terpinggirkan seperti perempuan, warga miskin, dan kelompok warga terpinggirkan lainnya seperti pemuda. Demikian pula prinsip dan nilai-nilai transparan dan akuntabel belum tercermin dalam proses pelaksanaan pembangunan didesa. Proses pembangunan di desa masih didominasi oleh elit-elit di desa, pengambilan keputusan cenderung masih dikuasai oleh kelompok-kelompok yang dekat dengan pemerintah desa yang sering mengabaikan kepentingan masyarakat khususnya kelompok pinggiran, lembaga-lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan tidak efektif menjalankan peran dan fungsinya. Rendahnya kesadaran kesadaran kritis warga secara kolektif, rendahnya kapasitas pengurus lembaga-lembaga di desa untuk menjalankan peran dan fungsinya, dan rendahnya kemauan politik pemerintahan desa untuk melibatkan secara penuh warga dalam proses-proses pembangunan menjadi penyebab dari kondisi tersebut diatas. Disisi lain juga tersedia kader-kader potensial yang dapat menjadi agen-agen perubahan di desa namun rendahnya kapasitas dan kurang terbukanya ruang partisipasi mengakibatkan mereka tidak mampu berbuat maksimal untuk kemajuan desanya. Namun demikian semangat dan keinginan mereka untuk berbuat lebih banyak di desa cukup tinggi dan cukup menjadi modal awal bagi mereka. Sementara itu, Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng bekerja sama dengan ACCESS di 24 desa/kelurahan pada 8 kecamatan dan sebelumnya pada 2 desa di Kecamatan Sinoa sebelumnya (CLAPP-4) telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi warga, pemerintah desa, kecamatan sampai Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Lahirnya RPJMDesa/Kelurahan dari proses perencanaan dengan Metode CLAPP-GPI yang dilakukan di desa/kelurahan tersebut telah membuktikan bahwa pendekatan ini sangat dibutuhkan untuk menyusun dokumen perencanaan di desa/kelurahan selama 5 tahun ke depan. Namun, masih lemahnya payung hukum yang dapat mengikat semua pihak untuk mengimplementasikan dokumen perencanaan tersebut masih menjadi hambatan RPJMDesa untuk diterapkan secara efektif, hal ini juga terkendala karena minimnya kapasitas pemerintahan desa dalam membuat Peraturan Desa. Padahal, sebagai wilayah pemerintahan yang otonom, pemerintah desa dituntut untuk mampu meningkatkan kinerja pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakatnya. Otonomi desa hanya akan menjadi euphoria jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas warga dan pemerintahan desa dalam menyusun perencanaan, monitoring evaluasi dan penganggaran. Idealnya perencanaan dan penganggaran partisipatif merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Salah satu syarat desa memperoleh dana ADD (Alokasi Dana Desa) adalah adanya dokumen perencanaan pembangunan desa. Faktanya, belum semua desa memiliki dokumen tersebut. Sebagian desa sudah melakukan perencanaan pembangunan secara partisipatif, namun penganggaran pembangunan masih dilakukan oleh elit desa tanpa sosialisasi dan pelibatan masyarakat, terlebih lagi masyarakat miskin dan perempuan. Contohnya, penganggaran melalui ADD yang menjadi hak desa, belum

melibatkan warga untuk alokasi penggunaannya. Pengelolaan dan kontrol terhadap penggunaan anggaran masih didominasi elit desa. Untuk itu, berdasarkan kenyataan yang telah diuraikan diatas maka sudah sepatutnya semua pemerintah desa dan lembaga-lembaga yang ada didesa serta warga telah menyadari pentingnya RPJMDes sehingga mendorong mereka untuk ikut terlibat aktif dalam proses menyusun RPJMDes dan aktif mengawal dokumen perencanaan ini walaupun dalam perjalanan lima tahun tersebut terjadi pergantian kepemimpinan di desa/kelurahan, selain itu dokumen ini penting untuk menjadi acuan semua pihak yang akan melaksanakan kegiatan di desa baik dari pemerintah maupun dari pihak lain sehingga desa/kelurahan dapat fokus pada visi dan misi yang telah ditetapkan bersama. Selain itu untuk menjamin semua pihak menggunakan dokumen perencanaan desa tersebut maka RPJMDesa perlu pengesahan dengan Peraturan Desa yang tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas pemerintahan desa dalam merumuskan Peraturan Desa yang partisipatif. Demikian pula pentingnya kapasitas dalam menyusun dan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang partisipatif, transparan dan mampu dipertanggungjawabkan. Prinsip-prinsip pemberdayaan warga, pengarusutamaan gender dan warga miskin dan kelompok terpinggirkan lainnya bukan hanya perlu diterapkan pada proses perencanaan dan penganggaran pembangunan mulai dari desa/kelurahan, kecamatan sampai kabupaten, akan tetapi juga pada setiap proses-proses pelaksanaan pelayanan publik oleh pemerintahan disetiap level pemerintahan sekaitan dengan bagaimana memberi pelayanan yang maksimal pada masyarakat. Untuk kebutuhan tersebut maka proses-proses partisipasi, transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembangunan daerah di Kabupaten Bantaeng sangat dibutuhkan payung hukum dalam bentuk peraturan daerah, untuk itu melalui program ini juga direncanakan untuk mendorong munculnya inisiatif stakeholders dalam menginisiasi Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Partisipasi, Transparansi, dan Akuntabilitas dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Perda ini penting untuk menjamin tercapainya visi “Tata Kelola Kepemerintahan Lokal Yang Demokratis Menuju Bantaeng Mandiri”. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka Yayasan Jalarambang Indonesia (Yajalindo) yang telah memiliki pengalaman melakukan assessment dan perencanaan pembangunan desa dan penguatan kelembagaan desa serta mendorong adanya kebijakan publik yang berpihak pada warga miskin, perempuan dan kaum muda mengajukan Program Peningkatan Kapasitas Warga dan Inisiasi Kebijakan Publik untuk mendukung proses Pembangunan Daerah yang Partisipatif, Transparan dan Akuntabel di Kabupaten Bantaeng untuk diimplementasikan yang tentunya mengharapkan dukungan Pemerintah Kabupaten Bantaeng, ACCESS dan pihak-pihak lainnya.

2.

TUJUAN PROGRAM

2.1 visi Terwujudnya Tata Kelola Kepemerintahan lokal yang baik dengan menerapkan nilai-nilai demokrasi, partisipasi, transparansi, akuntabilitas, kesetaraan dan keadilan, yang menjamin keterlibatan perempuan, warga miskin dan kelompok marjinal lainnya terhadap proses-proses Pembangunan Daerah di 22 desa dan 19 kelurahan, di 8 (delapan) kecamatan (Kecamatan Bissappu, Kecamatan Sinoa, Kecamatan Uluere, Kecamatan Bantaeng, Kecamatan Ere Merasa, Kecamatan Pa’jukukang, Kecamatan Gantarangkeke dan Kecamatan Tompobulu) di Kabupaten Bantaeng. Yajalindo yang mempunyai Kapasitas Manajemen Sumber daya, pengalaman dalam melakukan proses penyusunan penjajakan dan perencanaan partisipatif dengan pendekatan CLAPP-GPI memberikan pelayanan yang bermutu/berkualitas kepada KPM (Kader Pemberdayaan Masyarakat) dan LPM/BPD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat/Badan Permusyawaratan Desa) agar mampu mendorong kesadaran kritis warga untuk berperan aktif dalam proses Penyusunan Rencana Pembangunan Desa, Peningkatan Kapasitas Warga dalam penyusunan RPJMDesa/kelurahan, Penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yang partisipatif, dan perancangan dan pengelolaan APBDes yang partisipatif, transparan dan akuntabel. Selanjutnya, untuk menjamin implementasi nilai-nilai demokratik dalam proses pembangunan mulai ditingkat desa sampai kabupaten maka pemberlakuan secara efektif Peraturan Daerah tentang Partisipasi dan Transparansi akan menjadi legitimasi dari upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka mewujudkan Tata Kelola Kepemerintahan yang Demokratik.

2.2 Misi Dalam mendukung pencapaian visi, Yajalindo berupaya untuk : 1) Memberikan pelayanan berkualitas/bermutu kepada penguatan kapasitas KPM agar : a) Mampu menjadi Agen perubahan yang memiliki daya kritis sehingga dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam proses-proses pembangunan (perencanaan, pelaksanaan dan monev),

(b) Mampu dan aktif mendorong aparatur pemerintahan desa lebih responsif dan akomodatif terhadap kebutuhan masyarakat miskin, perempuan dan kelompok yang termarjinalkan lainnya, serta transparan dalam proses pembangunan, (c) Secara internal memiliki kemampuan dan kemauan kuat mengimplementasikan perencanaan berbasis asset serta nilai-nilai partisipatif dan transparan; 2) Menyediakan ruang bagi kader KPM agar mereka mampu melakukan transformasi/berbagi informasi dan mendorong terbangunnya komunikasi efektif dengan dan antar aktor pembangunan di tingkat desa, lintas desa sampai dengan tingkat kabupaten. 2.3 Hasil Yang Diharapkan ( Outcome Challenge ) Rencana aksi Program Peningkatan Kapasitas Warga dan Inisiasi Kebijakan Publik untuk mendukung proses Pembangunan Daerah yang Partisipatif, Transparan dan Akuntabel sebagai judul yang kami pilih, dirancang agar dapat mewujudkan KPM (Kader Pemberdayaan Masyarakat) dan aparat pemerintahan desa yang memiliki kapasitas untuk mendorong dan memastikan keterlibatan masyarakat (terutama orang miskin, Perempuan dan kaum marginal lain) dalam proses pembangunan. KPM dan aparat pemerintahan desa akan mampu memfasilitasi perencanaan penganggaran, pelaksanaan dan monev program pembangunan yang partisipatif, transparan, akuntabel, pro orang miskin, berbasis asset dan memastikan pengarusutamaan jender dan inklusif social dengan bekerja secara intens dengan warga dan memberikan perhatian khusus pada perempuan, warga miskin, kelompok pemuda dan kelompok terpinggirkan lainnya untuk memastikan peningkatan mutu proses dan hasil perencanaan penganggaran, pelaksanaan dan monev program pembangunan. Selain itu KPM secara teratur dan sistematis mendorong warga memiliki kesadaran kritis mengorganisir diri untuk menyuarakan aspirasinya, membentuk jaringan untuk menuntut kualitas pelayanan dasar yang prima, dan melakukan hubungan dinamis dengan pemerintah lokal. KPM juga secara aktif berkolaborasi dengan para pihak, mengorganisir diri dengan mendorong lahirnya Forum Belajar bersama antar KPM yang di prakarsai sendiri oleh aktor-aktor KPM sebagai wadah pembelajaran yang menghasilkan fasilitator-fasilitator perencanaan yang handal. LPM/BPD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat/Badan Permusyawaratan Desa) sebagai lembaga pemerintahan Desa yang dipilih atas musyawarah Desa juga nantinya akan berfungsi sebagai penyelenggara dan pengawas proses-proses perencanaan dan monitoring evaluasi, akan tetap mengontrol kegiatan-kegiatan pembangunan desa sehingga program menjadi lebih terarah dan tepat sasaran. LPM bersama warga mampu merancang dan mengelola APBDes secara baik dan pemerintah desa setiap tahunnya mampu mempertanggungjawabkan kegiatankegiatan pembangunan dan keuangannya dihadapan warga dan BPD. Sementara BPD telah mampu menyusun Peraturan Desa dengan melibatkan warga terutama warga miskin, perempuan dan warga terpinggirkan lainnya.

Selain itu Yajalindo sebagai penyelenggara program (Tim Implementasi Program) semakin memiliki pengalaman handal dalam mengembangkan dan menerapkan metode dan alat-alat kajian CLAPP sehingga mampu memberikan pelayanan yang berkualitas (training, coaching, mentoring dan exchange visit) pada KPM dan pemerintahan desa yang mampu memfasilitasi lahirnya perencanaan dan penganggaran pembangunan desa partisipatif, transparan, akuntabel, pro orang miskin, berbasis asset dan memastikan pengarusutamaan jender dan inklusif sosial. Selain itu, hasil-hasil pembelajaran dari program ini akan terus dipromosikan pada pihak-pihak lain dan mendorong direplikasi pada program-program lain secara kolaboratif. Secara internal, Yajalindo juga mempraktekkan nilai-nilai demokratisasi dalam kehidupan pribadi dan organisasi untuk mendorong lembaga dapat berfungsi baik sebagai lembaga yang efektif, demokratis, partisipatif, inklusif, transparan dan akuntabel serta secara aktif berkolaborasi dengan para pihak (pemerintah lokal tingkat kecamatan dan kabupaten/kota, LSM-OMS lainnya, swasta dan aktor lainnya). 2.4 Boundary Partner ( Mitra Kerja ) Yayasan Jarambang Indonesia ( YAJALINDO ) yang memiliki/mempunyai pengalaman melaksanakan program-program pemberdayaan di tingkat warga, memiliki fasiltitas sarana dan prasarana yang tersedia, sumber daya dan staf pengurus yang berpengalaman, jaringan yang luas ( lokal, regional, nasional dan internasional ), penguasaan alat-alat kajian CLAPP-GPI dan PRA, siap mengawal/melaksanakan Program ini, sehingga Yajalindo menetapkan 3 (tiga) Mitra Kerja utama (Boundary Partner) Yaitu : 1) Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) yang ada di 8 kecamatan (kec. Bissappu, Sinoa, Uluere, Bantaeng, Ere merasa, Pa’jukukang, Gantarangkeke dan Tompobulu) yang terdiri dari 41 Desa dan kelurahan ( 22 Desa dan 19 kelurahan ) di kabupaten Bantaeng yang belum memiliki dokumen Perencanaan dan penganggaran berbasis partisipasi masyarakat (RPJMdes/kel). Potensi atau asset yang dimiliki oleh KPM adalah : a) Kemauan yang kuat untuk belajar dan berubah; b) kepedulian yang besar terhadap issu-issu yang berkembang di komunitasnya; c) sangat memahami kondisi wilayahnya; d) mempunyai hubungan yang kuat dan baik dengan pemerintah desa maupun dengan warga miskin, perempuan dan kelompok marjinal lainnya; e) memiliki dasar-dasar fasilitasi dan kefasilitatoran; serta f) kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah desa dan warga : 2) LPM/BPD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat/ Badan Permusyawaratan Desa) yang ada di 22 Desa dan juga belum memiliki dokumen perencanaan dan APBDes. Dimana LPM/BPD memiliki potensi seperti, : (a) Faham terhadap kondisi, potensi dan masalah di komunitasnya; (b) Berpengalaman dalam kegiatan perencanaan dan pengawasan, monitoring evaluasi kegiatan; (c) dipilih atas hasil musyawarah desa dan legalitas formal kelembagaan di desa.

3) OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) yang akan mendorong lahirnya Perdes (Peraturan Desa) yang diprakarsai oleh LPM/BPD bersama dengan warga. Perdes ini dibuat berdasarkan Musyawarah di tingkat warga sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Selain itu OMS-OMS juga akan mendorong diberlakukannya Peraturan Daerah Transparansi dan Partisipasi sebagai legalitas hukum pelaksanaan prinsip-prinsip TKLD.

2.5 PENANDA KEMAJUAN ( Progress Markers ) Program ini akan terlihat penanda kemajuan sebagai berikut :
1.

Mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan berbagai ragam metodologi baik untuk perencanaan, pelaksanaan maupun monitoring dan evaluasi. Memberikan ruang dan peluang untuk mengembangkan metode alat-alat kajian CLAPP. Nilai-nilai demokratis, transparan serta perspektif gender dalam pengelolaan program dan kelembagaan diakui dan diterapkan oleh lembaga dan staf lembaga. Menerapkan Manajemen sumber daya yang efektif untuk peningkatan kapasitas lembaga. Memprakarsai berbagai kegiatan/pertemuan antar KPM ( Kader Pemberdayaan Masyarakat ), KPM ( Kader Pemberdayaan Masyarakat ) dan pemerintahan Desa serta KPM dan pemerintahan antar desa, agar mereka dapat saling berbagi informasi, saling belajar dan bekerjasama terkait dengan fasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan dan monev pembangunan yang partisipatif.dalammengimplementasi RPJM KPM mendukung warga ( perempuan,orang miskin dan kelompok marginal lainnya) membangun jaringan dengan warga lain atau kepentingan bersama. KPM secara rutin dan sistematis mengajak warga berefleksi atau melakukan pembelajaran dan memprakarsai aksi-aksi berikutnya. Memainkan peran yang aktif dalam membangun dan mendorong kerja-kerja kolaboratif dengan para pihak dan antar pihak (pemerintahan, swasta dan aktor kunci lainnya); Menyediakan layanan konsultasi teknis kepada pemerintahan Desa dan KPM sehingga dapat mengorganisir diri dalam mengelola sumberdayanya.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

3. STRATEGY MAP

Dalam Strategy Map (Peta Strategi) digunakan dua sasaran yang terbagi dalam :
A. Sasaran Internal Boundary Pertner.

Casual ( Langsung ) • Menerapkan metodologi CLAPP-GPI yang telah disempurnakan dan dikembangkan sebagai. metodologi perencanaan program yang lebih berfokus pada asset/sumberdaya potensial yang ada dan yang dapat digunakan bukan saja untuk perencanaan namun juga dapat digunakan untuk monitoring dan evaluasi pelaksanaan dan capaian program.

Penyediaan dan pemberian bahan bacaan metodologi untuk perencanaan, pelaksanaan dan monev partisipatif (seperti Metodologi CLAPP-GPI yang telah disempurnakan dan dikembangkan serta bahan bacaan pendukung lainnya). • Memberikan contoh-contoh temuan tema-tema pembelajaran yang dapat digunakan untuk saling berbagi berdasarkan pengalaman.

Melaksanakan penjajakan dan perencanaan dengan metodologi CLAPP-GPI.

Persuasive ( Mempengaruhi ).
• • • • • • •

Mensosialisasikan program dan hasil-hasil perencanaandan pembelajaran kepada para pihak. Menyelenggarakan Orientasi bagi Fasilitator pendukung.

penjajakan,

Menyelenggarakan Pelatihan metodologi CLAPP-GPI-GPI untuk proses penjajakan, perencanaan,dan monitoring-evaluasi bagi KPM. Lokalatih Musrenbang Desa/Kelurahan bagi Pengurus LPM. Pelatihan Up_date Data dan penyusunan Data Base. Review Refleksi hasil-hasil Penjajakan. Review Refleksi hasil-hasil Perencanaan. Pelatihan penyusunan Peraturan Desa ( Perdes ) Partisipatif. Pelatihan Penyusunan APBDes.

• •

• •

Pelatihan Penyusunan Ranperda Partisipatif dan Transparansi. Pelatihan tentang teknis fasilitasi perencanaan partisipatif berbasis

asset. • Bagaimana dengan menyediakan gender training atau refresher untuk KPM, mengingat dalam visi, misi dan PM selalu menjadi hal yang ingin dilihat? Di setiap kegiatan pelatihan, lokalatih dan review refleksi selalu mempertimbangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. (lihat kolom kegiatan yang dilakukan pada variable jumlah peserta Supportif ( memperkuat ) •
• •

Menyediakan tenaga Fasilitator Pendukung, Melaksanakan Pertemuan Monitoring dan Evaluasi secara berkala.

Assistensi/pendampingan dalam proses penyusunan gagasan dan strategi fasilitasi pertemuan antara KPM dan pemerintahan Desa dan KPM dengan pemerintahan antar desa.

Assistensi/pendampingan dilakukan oleh KPM. •
• • •

proses

fasilitasi

pertemuan

yang

Assistensi dan pendampingan teknis identifikasi aktor kunci.

Pendampingan proses pengembangan strategi penguatan kapasitas KPM dan pemerintahan Desa. Pendampingan dalam praktek fasilitasi perencanaan berbasis asset.

Pendampingan pelaksanaan Musrenbang tingkat Desa/kelurahan dan tingkat kecamatan. • •

Pendampingan Penyusunan dan Pengelolaan APBDes Pendampingan Penyusunan Perdes secara partisipatif Assistensi/pendampingan tentang sistem pendokumentasian yang Pendampingan Penyusunan Ranperda Transparansi dan Partisipatif

baik. •

B.

Sasaran eksternal Boundary Partner

Casual ( Langsung ) • Menyediakan kesempatan pada KPM mengambil peran aktif dalam pertemuan kolaboratif

Penyediaan wadah belajar tentang internalisasi nilai-nilai demokratis, transparansi serta perspektif gender dalam pengelolaan program.
• •

Memberikan ruang bagi KPM untuk berkonsultasi dalam melakukan pengembangan model metodologi. Bagaimana strategy terhadap hal-hal yang terkait perubahan kebijakan mengenai perencanaan partisipatif/RPJMDes yang ingin diwujudkan? misalnya

Persuasive ( Mempengaruhi )
• • •

Mendorong para pihak untuk menjadikan KPM sebagai mitra utama dalam menjalankan programnya di desa/kelurahan. Mendorong tersedianya kesempatan belajar bersama para aktor. Promosi hasil pendokumentasian.

Supportif ( memperkuat )
• • • •

Fasilitasi pembentukan forum komunikasi antar KPM. Menyediakan ruang komunikasi dengan para aktor.

Assistensi dalam menyusun gagasan/ rancangan membangun kerjasama para aktor. Fasilitasi pengembangan strategi membangun kerjasama dengan aktor kunci. • Mendorong Pemdes dan Pemerintah Kecamatan untuk ikut terlibat dalam proses penjajakan dan perencanaan

C. KEGIATAN-KEGIATAN UTAMA

1. Workshop Fasilitator Pendukung.

Tujuan Workshop Fasilitator Pendukung dilakukan sebagai rencana awal program yang bertujuan untuk : • memberikan penguatan kapasitas para Fasilitator pendukung, memberikan pemahaman tentang seni fasilitas,

• pendalaman metodologi alat-alat kajian CLAPP yang akan diterapkan dilokasi program untuk menggali berbagai informasi-informasi penting di desa. • Memberikan tentang tips-tips dalam pengembangan strategi penguatan kapasitas.

Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung selama 4 (empat) hari dan dilaksanakan di Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat menginap peserta. Peserta Peserta pada kegiatan ini sebanyak 15 orang yang terdiri dari 11 orang Fasilitator Pendukung (5 perempuan dan 6 laki-laki) ditambah 4 orang merupakan staf lembaga yang akan ikut dalam pembelajaran selama 4 hari, pembiayaan untuk staf lembaga ini merupakan kontribusi lembaga. Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh 2 orang fasilitator (Perempuan dan laki-laki) dan akan mendapat dukungan metodologi dari Tim Mitra Samya.
2. Workshop Persiapan Tingkat Kabupaten dan Sosialisasi di Tingkat

Desa/Kelurahan. 2.1 Workshop Persiapan Tingkat Kabupaten Tujuan Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk : • mensosialisasikan konsep, tahapan kegiatan program yang akan dilaksanakan.
• membangun dukungan dari instansi terkait tingkat kabupaten, Pemerintah

Kecamatan dan Desa.

Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung sehari dan dilaksanakan Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng. Peserta Kegiatan ini akan diikuti oleh Kepala Desa dan Lurah, KPM, LPM, SKPD, OMS-OMS yang ada di Kabupaten Bantaeng. Jumlah Peserta pertemuan dan workshop tingkat Kabupaten diperkirakan sekitar 100 orang dengan mengupayakan perimbangan jumlah perempuan dan laki-laki. 2.2. Sosialisasi Di Tingkat Desa Tujuan 1. Mensosialisasikan konsep, dan tahapan kegiatan program yang akan dilaksanakan di Tingkat Desa/kelurahan

2. Memilih Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) yang akan memfasilitasi

kegiatan di desa/kelurahan Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung sehari dan dilaksanakan di 22 desa dan 19 kelurahan lokasi program. Peserta Kegiatan ini akan diikuti oleh Kepala Desa/Lurah, KPM, LPM, Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan dan warga desa. Jumlah peserta musyawarah desa berkisar 30 – 50 orang dengan mengupayakan perimbangan jumlah perempuan dan laki-laki sampai 50:50, demikian pula perimbangan warga miskin dan warga mapan serta tingkat usia.
3. Lokalatih dan Finalisasi Desain Fasilitasi Penjajakan dan Perancangan

alat-alat kajian CLAPP untuk Penjajakan. Tujuan

Meningkatkan keterampilan fasilitator memposisikan diri sebagai orang yang belajar dan berpikir kreatif layaknya seorang fasilitator andalan serta keterampilan melakukan analisa GSI. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan fasilitator tentang strategi-strategi pelembagaan gender and Poverty Inclusive (GPI) serta alat-alat kajian sederhana untuk penjajakan sesuai kebutuhan serta kemampuan analisis. Meningkatkan kemampuan KPM sebagai Fasilitator Desa dalam menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat dalam rangka pelibatan masyarakat luas dalam pembangunan desa. Menyusun desain final fasilitasi penjajakan Meningkatkan kemampuan KPM mendokumentasikan proses dan hasil. sebagai fasilitator desa dalam

• • • •

Waktu dan Tempat Lokalatih akan dibagi kedalam 4 (empat) angkatan dan akan dilaksanakan di Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat penginapan peserta, Peserta Peserta lokalatih dan finalisasi fasilitasi penjajakan akan diikuti oleh 11 orang Fasilitator Pendukung (5 perempuan dan 6 laki-laki) dan 123 KPM (Perimbangan jumlah perempuan dan Laki-laki minimal 45:55) dari 22 Desa dan 19 Kelurahan, setiap desa/kel akan diwakili oleh masing-masing 3 (tiga) orang KPM (laki-laki dan perempuan). Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh Fasilitator Lokal 1 orang yang akan dibantu oleh Fasilitator Pendukung dan Konsultan Metodologi dari Mitra Samya.

4. Lokalatih tentang Perencanaan yang dipimpin masyarakat dan Penyusunan Desain Fasilitasi Perencanaan Masyarakat. Tujuan : • Menyamakan pemahaman dan meningkatkan keterampilan KPM sebagai Fasilitator Desa tentang bagaimana memfasilitasi dalam membangun visi bersama dan strategi mobilisasi sumber daya. • Meningkatkan keterampilan KPM sebagai Fasilitator Desa dalam mengembangkan alat-alat perencanaan sederhana sesuai kebutuhan. • Meningkatkan kemampuan KPM sebagai Fasilitator Desa menumbuhkembangkan pemahaman hak dan tanggungjawab para pihak. • Menyusun desain fasilitasi perencanaan. dalam

Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung 2 angkatan, setiap angkatan akan berlangsung selama 6 hari. Lokalatih ini akan dilaksanakan Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat menginap peserta, Peserta Peserta lokalatih dan finalisasi kegiatan fasilitasi penjajakan akan diikuti oleh 11 orang Fasilitator Pendukung (5 perempuan dan 6 laki-laki), 4 orang dari staf lembaga (2 perempuan dan 2 laki-laki) yang akan ikut pembelajaran dan 66 KPM dari 22 Desa, setiap desa/kel akan diwakili oleh masing-masing 3 (tiga) orang KPM ( laki-laki dan perempuan ), Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh seorang fasilitator dibantu 4 (empat) orang fasduk (2 perempuan dan 2 laki-laki) dan 1 orang sebagai konsultan metodologi dari Mitra Samya. 5. Fasilitasi Proses Penjajakan Tujuan
o Memfasilitasi partisipasi masyarakat luas (laki-laki dan perempuan, dan kelompok

marginal lainnya) dalam kegiatan untuk membenahi kehidupan mereka dan membuat potret desa, mengidentifikasi kekuatan-kekuatan dalam rangka menyusun agenda pembangunan desa.

o Memetik pembelajaran dan mendokumentasikan hal-hal penting yang terjadi di komunitas dan bisa dipelajari di pihak lain.

Waktu dan Tempat Proses penjajakan akan dilakukan masyarakat lokasi program (41 desa/kelurahan) dengan menggunakan alat-alat kajian yang telah dikembangkan selama proses

lokalatih. Kegiatan ini akan difasilitasi oleh KPM Fasilitator didesa dan akan berlangsung selama 20 hari efektif di setiap desa. Selama proses di lapangan, KPM akan didampingi oleh Fasilitator Pendukung. Selama proses ini, juga akan selalu dibangun proses review dan refleksi yang akan di fasilitasi oleh Fasilitator Pendukung. Hal ini dimaksudkan untuk belajar dari pengalaman dan dan mendokumentasikan hal-hal menarik baik tentang proses maupun hasil. 6. Review Refleksi proses hasil-hasil penjajakan tingkat Kabupaten Tujuan • Melakukan review terhadap proses hasil-hasil penjajakan yang dilakukan di tingkat warga • Sharing pembelajaran, pengalaman dan Informasi antar Fasilitator Pendukung, dan KPM. • Melakukan review refleksi tentang Pendalaman dan pengembangan metodologi Alat-alat kajian CLAPP yang telah diterapkan, • Mendapatkan pembelajaran yang terkait dengan kekuatan dan hambatan yang diperoleh dari apa yang telah dilakukan dan apa yang dirasakan selama proses penjajakan • Mengidentifikasi temuan-temuan kunci sebagai hasil pelaksanaan program untuk merancang proses fasilitasi perencanaan. Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung 4 angkatan, setiap angkatan akan berlangsung 2 hari dan akan dilaksanakan Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat menginap peserta, Peserta Kegiatan ini akan diikuti oleh 11 orang Fasilitator Pendukung (5 Perempuan dan 6 Laki-laki) dan 123 KPM (Perimbangan jumlah perempuan dan Laki-laki minimal 45:55) dari 22 Desa dan 19 kelurahan, setiap desa/kel akan diwakili oleh masingmasing 3 (tiga) orang KPM (laki-laki dan perempuan), Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh Fasilitator Lokal 1 orang yang akan dibantu oleh 4 orang (2 perempuan dan 2 laki-laki) Fasilitator Pendukung dan Konsultan Metodologi dari Mitra Samya. 7. Fasilitasi Proses Perencanaan dan aksi-aksi jangka pendek Tujuan • memberikan kesempatan dan pendampingan bagi Kader Pemberdayaan Masyarakat dalam penyelenggaraan dan memfalilitasi pertemuan-pertemuan tingkat warga,

Memfasilitasi masyarakat menyusun visioning dalam bentuk RPJM Desa dan RPTDes serta aksi-aksi jangka pendek yang masyarakat akan lakukan dengan kekuatannya. Mendapatkan feedback secara rutin dari Pemerintahan Desa dan masyarakat umum tentang hasil-hasil perencanaan dan menggalang komitmen Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat untuk mendukung programprogram dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan kesetaraan gender.

Waktu dan Tempat Proses perencanaan akan dilakukan masyarakat lokasi program (22 desa) dengan menggunakan alat-alat kajian yang telah dikembangkan selama proses lokalatih. Kegiatan ini akan difasilitasi oleh KPM sebagai Fasilitator di desa dan akan berlangsung selama 25 hari efektif di setiap desa. Selama proses di lapangan, Fasilitator Desa akan didampingi oleh Fasilitator Pendukung. Selama proses ini, juga akan selalu dibangun proses review dan refleksi yang akan di fasilitasi oleh Fasilitator Pendukung. Hal ini dimaksudkan untuk belajar dari pengalaman dan dan mendokumentasikan hal-hal menarik baik tentang proses maupun hasil. 8. Review Refleksi proses hasil-hasil Perencanaaan tingkat Kabupaten Tujuan : • Melakukan review terhadap proses hasil-hasil Perencanaan masyarakat yang dilakukan di tingkat warga • Sharing pembelajaran, pengalaman dan Informasi antar Kader Perberdayaan Masyarakat dan Fasilitator Pendukung. • Pengembangan rancangan desain fasilitasi perencanaan yang dipimpin oleh masyarakat. • Evaluasi proses hasil-hasil perencanaan masyarakat yang dilakukan ditingkat warga. • Memetik pembelajaran baik yang terkait dengan kekuatan maupun hambatan yang di peroleh dari apa yang telah di lakukan dan apa yang dirasakan selama proses perencanaan masyarakat termasuk kiat-kiat fasilitasi untuk membangun kesadaran kritis masyarakat.
• Mengidentifikasi temuan-temuan kunci sebagai hasil pelaksanaan kegiatan

termasuk nilai-nilai GSI untuk merancang proses dan tindakan aksi bersama.

Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung 2 angkatan, setiap angkatan akan berlangsung 2 hari, dan akan dilaksanakan Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat menginap peserta, Peserta

Kegia akan diikuti oleh 11 orang Falilitator Pendukung (5 perempuan dan 6 Laki-laki) dan 66 KPM dari di 22 Desa, setiap desa/kel akan diwakili oleh masing-masing 3 (tiga) orang KPM (laki-laki dan perempuan). Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh Fasilitator Lokal 1 orang yang akan dibantu oleh 4 orang (2 perempuan dan 2 laki-laki) Fasilitator Pendukung dan Konsultan Metodologi dari Mitra Samya.

9. Sosialisasi Hasil Perencanaan

Tujuan : • mensosialisasikan hasil-hasil penjajakan dan hasil-hasil perencanaan yang telah dilakukan di 22 desa oleh Fasilitator Pendukung, KPM bersama Warga. • Sharing pengalaman antar pihak di tingkat kabupaten dalam proses-proses pembangunan di komunitas dan umpan balik hasil perencanaan masyarakat • membangun strategi berkelanjutan program masyarakat serta proses-proses pembelajaran para pihak dalam pengelolaan pembangunan. • membangun komitmen dan dukungan nyata para pihak di tingkat kabupaten untuk mengembangkan dan mendukung proses-proses selanjutnya. Waktu dan Tempat Kegiatan sosialisasi hasil-hasil perencanaan akan dilaksanakan di Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng, Peserta Kegiatan ini akan diikuti oleh Kepala Desa dan Lurah, KPM, LPM, SKPD, OMS-OMS yang ada di Kabupaten Bantaeng. Jumlah Peserta pertemuan dan workshop tingkat Kabupaten diperkirakan sekitar 100 orang.
10. Pembuatan Dokumen Penjajakan dan RPJMDes/Kel

Tujuan • Melakukan Input data sensus di 67 desa/kelurahan, • Melakukan Pembuatan Peta desa dan kelurahan. • Melakukan Pendokumentasian dan Penggandaan Peta desa dan kelurahan. • Melakukan Pendokumentasian dan Penggandaan data sensus di desa/kelurahan. • Melakukan Input data RPJMDesa di 22 desa. • Melakukan Pendokumentasian dan Penggandaan RPJMDesa di 22 desa.

67

Pembuatan Dokumen Penjajakan dilakukan untuk 67 desa/kelurahan, dimana selain penjajakan yang akan dilakukan 42 desa/kelurahan yang merupakan lokasi program tahun 2009, juga akan dilakukan pemutakhiran data based pada 26 desa/kelurahan yang telah dilakukan penjajakan dan penyusunan RPJMDes pada tahun 2007 dan 2008. Sementara untuk Penyusunan dan pembuatan dokumen RPJMDes hanya

dilakukan pada 22 desa lokasi program tahun 2009, untuk 19 kelurahan sisa hanya dilakukan penjajakan tahun 2009 ini dan untuk penyusunan RPJMKel rencana akan dilakukan pada tahun anggaran 2010. Dari kegiatan ini diharapkan akan tersusun buku dokumen hasil penjajakan dari 67 desa/kelurahan di Kabupaten Bantaeng yang berisi data based tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan indikator-indikator yang disepakati oleh masyarakat, tingkat pendidikan, kepemilikan asset dan lain-lain. Selain itu juga akan ada dokumen perencanaan pada 22 desa dalam bentuk RPJMDes yang berisi rencana pembangunan desa selama 5 tahun ke depan. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menyusun rencana kegiatan tahunan desa melalui forum musrenbang yang dilaksanakan setiap tahunnya dan dapat menjadi pedoman SKPD dalam menyusun perencanaan diinstansi masingmasing. Dokumen ini juga dapat digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam mengontrol usulan-usulan kegiatan dari desa yang sampai saat ini masih dianggap tidak terkendali dan terkesan merupakan daftar keinginan kepala desa, apalagi untuk menyusun program 1 milyar 1 desa. Dalam proses penyusunan dokumen hasil penjajakan yang akan melahirkan data based desa, maka Yajalindo berharap adanya service provider yang dapat menyiapkan sistem pengolahan data yang efektif yang dapat menghasilkan data based yang setiap waktu dapat terupdate. Dari sistem ini juga dihasilkan peta sosial desa yang secara otomatis dapat dicetak dan dapat menampilkan gambaran keadaan sosial masyarakat sesuai dengan data based yang ada. 11. Lokalatih Musrenbang Desa/Kelurahan bagi LPM

Tujuan Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk : • Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pengurus LPM Desa/Kelurahan dalam melaksanaan Musrenbang Desa/Kelurahan. Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan dilaksanakan Gedung Wanita Jalan Elang Bantaeng dan Guest House sebagai tempat menginap peserta, yang akan berlangsung selama 6 ( enam ) hari, yang akan dibagi dalam 2 (dua) angkatan. Peserta Peserta pada kegiatan ini adalah 67 orang pengurus LPM dari 67 desa dan kelurahan di Kabupaten Bantaeng. Fasilitator/Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh seorang fasilitator dibantu oleh 4 orang (2 perempuan dan 2 orang laki-laki) Fasilitator Pendukung, sedangkan Narasumber berasal dari SKPD Kabupaten Bantaeng.

12. Komunikasi dan Koordinasi dengan Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten dan ACCESS Tujuan : Menginformasikan proses dan hasil-hasil kegiatan secara berkala pada pemerintah disemua tingkatan dan ACCESS
1. 2.

Membangun komunikasi dan kerjasama para pihak dalam mendukung program-program ditingkat masyarakat 3. Mendapatkan input strategis dalam pengintegrasian program masyarakat dan program pemerintah. Komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah disetiap tingkatan akan dilakukan untuk menjamin terlaksananya program sesuai yang telah direncanakan. Koordinator program dibantu fasilitator pendukung senantiasa akan melakukan komunikasi dan koordinasi pada pemerintah tentang proses dan hasil-hasil kegiatan yang telah dicapai, termasuk melakukan upaya-upaya penyelesaian jika terdapat kendala yang dihadapi dalam proses kegiatan. Komunikasi dan koordinasi juga akan senantiasa dilakukan dengan pihak ACCESS terkait perkembangan program dan kendala-kendala yang dihadapi, selain pelaporan yang secara berkala dilakukan. Yang terpenting juga adalah komunikasi dengan pelaksana program-program lain yang terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan program yang sedaang dijalankan dalam rangka menjajaki kemungkinan pengintegrasian program di lapangan. 13. Pelatihan & Pelaksanaan Pemutakhiran Data Based Desa (Up Dating) 13.1. Pelatihan Pemutakhiran Data Based

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam melakukan pemutakhiran data based desa. Waktu dan Tempat Kegiatan ini akan berlangsung 2 hari di Gedung Wanita Kabupaten Bantaeng Peserta Kegiatan ini akan diikuti oleh KPM dari 26 desa/kelurahan yang sebelumnya telah melakukan penjajakan. Setiap desa akan mengirimkan 1 orang KPM untuk dilatih teknis memutakhirkan data. Fasilitator/ Narasumber Kegiatan ini akan difasilitasi oleh satu orang staf Lembaga Mitra Turatea Jeneponto yang merupakan lembaga yang akan bekerjasama dengan ACCESS dalam pembuatan buku data based hasil assessment yang dilakukan. 13.2. Pemutakhiran Data Based

Kegiatan ini bertujuan memutakhirkan kembali data social desa yang telah ada dari hasil kegiatan assessment sebelumnya sehingga data yang ada di desa terjamin keakuratannya.

Pada 26 desa/kelurahan yang telah memiliki data based hasil penjajakan sebelumnya akan kembali dilakukan sensus dengan tetap mengacu pada hasil peringkat kesejahteraan di desa itu. Pemutakhiran data based disetiap desa akan dilakukan oleh 3 orang KPM dengan waktu efektif 10 hari setiap desa. .(saya mendapat kesan dari sini kalau data based menjadi tugas utama KPM, yang patut kita pikirkan bagaimana koordinasinya dengan pemerintahan desa untuk meneguhkan data based ini tanggungjawab desa) Hasil dari pemutakhiran data ini akan dijadikan buku bersama dengan 41 desa/kelurahan lainnya.

14. Pelaksanaan Musrenbang Desa dan Kelurahan

Tujuan : - Untuk mengevaluasi kegiatan pembangunan desa/kelurahan tahun sebelumnya. - Untuk menyusun rencana kegiatan pembangunan tahunan desa/kelurahan - Untuk menyusun usulan kegiatan pembangunan ke tingkat kecamatan. Kegiatan ini akan berlangsung sehari di 67 desa/kelurahan di Kabupaten Bantaeng yang difasilitasi oleh masing-masing Kepala Desa/Lurah dihadiri oleh camat dan seluruh utusan SKPD dan tokoh-tokoh masyarakat desa/kelurahan. Jumlah peserta musrenbang rata-rata minimal 50 orang dengan perimbangan perempuan dan lakilaki diupayakan minimal 50 : 50 demikian pula perimbangan dari tingkat kesejahteraan dan tingkat usia.
D. PENGARUS UTAMAAN NILAI-NILAI ACCESS DAN NILAI-NILAI TKLD.

Dalam mengimplementasikan program, Yajalindo berkomitmen untuk tetap taat pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh program ACCESS seperti prinsip dan nilai-nilai pemberdayaan warga, keterlibatan penuh perempuan, orang miskin dan kelompok terpinggirkan (termasuk kelompok pemuda) demikian pula nilai-nilai transparansi, partisipasi dan akuntabilitas baik di internal lembaga dalam mengelola program, maupun dalam berinteraksi dengan warga dan pemerintah. Proses pengambilan keputusan ditingkat warga akan dilakukan melalui musyawarah desa dengan menghadirkan warga dari khususnya yang selama ini terpinggirkan seperti perempuan, orang miskin, kelompok muda ataupun kelompok warga yang selama ini tidak ‘sejalan’ dengan elit desa. Dalam setiap pertemuan di desa, baik musyawarah desa maupun diskusi terfokus, jumlah pesertanya diupayakan berimbang antara perempuan dan laki-laki sampai 50;50, demikian juga perimbangan antara warga miskin dengan warga mapan ataupun perimbangan tingkat usia. Selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan, fasilitator dalam hal ini KPM ataupun fasduk diarahkan untuk lebih banyak memberi kesempatan berbicara dalam memberikan input dan saran pada mereka yang selama ini terpinggirkan dan menghindari monopoli pembicaraan oleh warga yang merupakan elit-elit di desa.

Ditingkat lembaga, rekruitmen fasilitator pendukung juga akan sangat mempertimbangkan perimbangan jumlah perempuan dan laki-laki sampai 50;50 yang tentunya tanpa mengabaikan kapasitas individu dan prinsip perluasan pembelajaran dari program ini, demikian pula dalam proses rekrutmen KPM disetiap desa akan dipersyaratkan perimbangan tersebut. Hal ini penting, selain untuk memberi ruang pembelajaran yang cukup pada perempuan, juga karena proses fasilitasi dilapangan untuk memberi ruang partisipasi bagi perempuan terkadang terhambat fasilitatornya semua laki-laki selain karena hal ini juga telah menjadi komitmen lembaga dalam pengarusutamaan gender. Untuk menjamin diterapkannya nilai-nilai partisipasi, transparan dan akuntabel dalam pelaksanaan program maka lembaga akan melibatkan semua pihak yang akan terlibat untuk memberikan masukan-masukan tentang pelaksanaan setiap tahapan program baik melalui pertemuan evaluasi maupun melalui kotak saran yang akan disiapkan di lembaga. Rencana kegiatan dan hasil-hasil pelaksanaan setiap tahapan program juga akan dilaporkan pada pihak-pihak yang membutuhkan baik dalam bentuk laporan pertanggungjawaban secara rutin pada pihak ACCESS dan Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan desa maupun melalui media cetak dan elektronik (radio komunitas) dalam bentuk berita serta pada papan informasi di kantor lembaga. Hasil-hasil program juga akan dipresentasekan dan disosialisasikan pada pihak-pihak yang berkepentingan pada suatu kegiatan ekspose hasil-hasil kegiatan ditingkat kabupaten. E. FAKTOR-FAKTOR DAN RESIKO LUAR YANG MEMPENGARUHI

Peluang dan Tantangan yang mungkin mempengaruhi keberhasilan program, antara lain :

Peluang / Tantangan Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah mengalokasikan dana sharing untuk memfasilitasi kegiatan penjajakan dan Penyusunan RPJMDesa untuk tahun 2009, dan belum ada kejelasan untuk tahun berikutnya sementara program dirancang selama 3 tahun

Bagaimana Memanfaatkan Peluang dan mengatasi tantangannya ? • Memaksimalkan kinerja lembaga pada tahun pertama untuk mendapatkan hasil-hasil yang maksimal sehingga pada tahun berikutnya dapat lebih dipercaya untuk mengimplementasikan program-program kolaboratif

Mekanisme perencanaan desa telah • Meningkatan kapasitas pemerintahan diatur secara jelas dalam permendagri, desa dalam menyusun perencanaan perda maupun SK Bupati namun dan penganggaran secara partisipatif demikian proses perencanaan dari desa, sesuai dengan mekanisme dan regulasi kecamatan dan kabupaten melalui forum yang ada. musrenbang belum dilakukan sesuai • Mendorong lahirnya komitmen kuat dengan mekanisme yang telah ada pemerintah untuk menerapkan karena rendahnya kapasitas dalam mekanisme perencanaan dan pengimplementasian aturan. penganggaran sesuai dengan regulasi

Masih terdapat beberapa desa yang telah memiliki RPJMDes hasil program sebelumnya tidak memanfaatkan dokumen perencanaan tersebut dalam menyusun perencanaan dalam musrenbang. Hasil Pemilu legislative 2009 mendudukkan mayoritas orang baru, disisi lain terdapat beberapa orang yang dapat diandalkan (berlatar belakang aktivis) untuk ikut mendukung pencapaian hasil-hasil program.

yang ada. Mendorong adanya kebijakan untuk memproteksi adanya usulan-usulan kegiatan dari desa yang tidak sesuai dengan RPJMDes. Membangun Koordinasi dan Komunikasi yang intensif dengan legislative untuk mendorong keberlanjutan program dan adanya regulasi (perda) utuk mendukung TKLD

1. ORGANISASI PENGUSUL

Organisasi pengusul adalah Yayasan Jalarambang Indonesia ( YAJALINDO ) yang berkedudukan/berpusat di Kabupaten Bantaeng dengan alamat jalan Dr. Ratulangi (Ruko No. 3 Depan Stadion Mini Lamalaka) kabupaten Bantaeng. Yajalindo telah berpengalaman dalam program-program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Bantaeng ( lihat matriks, red ).
Intensif Studi Perencanaan Pembangunan Partisipatif kerjasama dengan Pemkab Bantaeng Intensif Studi Perencanaan Pembangunan Partisipatif kerjasama dengan Pemkab Bantaeng Pendampingan Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD) Kerjasama dengan Pemkab Bantaeng Tahun 2001 Tahun 2002 - Indepht Interview - FGD dengan alat-alat PRA - Lokakarya Perencanaan Desa - Indepht Interview - FGD dengan alat-alat PRA - Lokakarya Perencanaan Desa - Pembentukan Tim Inti Pelaksana Program. - Lokakarya Perencanaan Kegiatan - Pelibatan masyarakat miskin dan perempuan

1.

2

3

Tahun 2002

4

Penyusunan Tata Ruang Kawasan Pesisir Kabupaten Bantaeng

Tahun 2002

- Adanya arahan lokasi dalam penyusunan pemanfaatan dan untuk kegiatan perlindungan lahan dalam rangka tercapainya fungsi kawasan yang optimal - Adanya bahan acuan dalam mengambil keputusan atau kebijakan dalam mengelola atau mengimplementasikan kegiatankegiatan fisik dan pengelolaan atau perlindungan dalam lingkup Pemkab Bantaeng - Adanya informasi dan masukan baru sebagai jawaban tuntutan perubahan dan dinamika penataan ruang wilayah untuk pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dimasa akang datang. - Indepht Interview - FGD dengan alat-alat PRA - Lokakarya Perencanaan Desa

5

Intensif Studi Perencanaan Pembangunan Partisipatif kerjasama dengan Pemkab Bantaeng

Tahun 2003

- Tersedianya sebuah masterplan
pengembangan kawasan pesisir yang mencakup jurisdiksi wilayah Kabupaten Bantaeng, - Identifikasi potensi dan pemanfaatan sumber daya laut dalam wilayah yurisdiksi Kabupaten Bantaeng, - Adanya determinasi arah dan strategi pengembangan sector industry di kawasan pesisir Kabupaten Bantaeng - Adanya inisiasi dan pengembangan basis data tentang profil sumber daya wilayah pesisir dan laut Kabupaten Bantaeng.

6

Penyusunan MasterPlan Kawasan Pesisir Kabupaten Bantaeng

Tahun 2003

7

Pendampingan Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD) Kerjasama dengan Pemkab Bantaeng

Tahun 2003

- Pembentukan Tim Inti Pelaksana Program. - Lokakarya Perencanaan Kegiatan - Pelibatan masyarakat miskin dan perempuan

8

Program Peningkatan Taraf Hidup masyarakat Pesisir Kabupaten Bantaeng.

Tahun 2003

- Terciptanya kesadaran masyarakat sasaran dalam melakukan kegiatan penignkatan taraf hidupnya, - Adanya penguatan modal usaha yang dikelola oleh kelompok masyarakat.

9

Study Pengembangan Hutan Kemasyarakatan Kabupaten Bantaeng.

Tahun 2003

- Terinventarisasinya aktifitas ekonomi yang terkait dengan pengembangan Hutan kemasyarakatan baik di dalam maupun di luar kawasan hutan - Terkajinya potensi ekonomi dan prospek pengembangannya pada setiap wilayah kajian - Terkajinya persepsi masyarakat terhadap pola pengembangan hutan kemasyarakatan, - Terkajinya potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pengembangan hutan kemasyarakatan, - Tersusunnya pola pengembangan hutan kemasyarakatan yang bersifat local spesifik untuk masing-masing wilayah kajian.

10

Penjajakan dan Perencanaan Kegiatan Bersama Masyarakat dengan Metode CLAPP di Desa Baruga Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng kerjasama dengan ACCESS – AusAID

Tahun 2003

-

FGD dengan Alat-alat kajian CLAPP Pleno hasil-hasil FGD FGD Perencanaan Program Pleno komitmen pihak-pihak terkait Pelibatan secara penuh masyarakat miskin dan perempuan

11

Pendampingan Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (P2MPD) Kerjasama dengan Pemkab Bantaeng

Tahun 2004

- Pembentukan Tim Inti Pelaksana Program. - Lokakarya Perencanaan Kegiatan - Pelibatan masyarakat miskin dan perempuan - Identifikasi calon KK sasaran - Pembentukan KSM - Pelatihan Peningkatan kapasitas masyarakat - Pengadaan Ternak Kambing - Pengadaan & Pelayanan TPK - Pengguliran Ternak Kambing - Pembentukan Kopnak - Monitoring & Evaluasi - Pelibatan secara penuh masyarakat miskin dan perempuan

12

Program Peningkatan Pendapatan Petani Peternak di Desa Baruga Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng kerjasama dengan ACCCESS AusAID.

Tahun 2005

13

Program Pengembangan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Multipihak di kawasan Hutan Kabupaten Bantaeng kerjasama dengan DFID MFP – Pemkab Bantaeng

Tahun 2005

- FGD dengan alat-alat kajian Analisis Kemiskinan Partisipatif - Pelatihan Pemetaan Partisipatif - Pemetaan partisipatif - Pertemuan reguler masyarakat - Lokakarya Perencanaan HKM Multi Pihak - Advokasi kebijakan pengelolaan hutan - Pelatihan pengelolaan Hkm

14

Penjajakan dan Perencanaan Kegiatan Bersama Masyarakat dengan Metode CLAPP di Desa Nipa-Nipa Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng kerjasama dengan ACCESS - AusAID

April – Juli 2005 -

FGD dengan Alat-alat kajian CLAPP Pleno hasil-hasil FGD Perumusan Visi dan Misi desa FGD Perencanaan Program Pleno komitmen pihak-pihak terkait Pelibatan secara penuh masyarakat miskin dan perempuan

15

Program Peningkatan Pendapatan Petani Peternak di Desa Nipa-Nipa Kecamatan Pa’jukukang Kabupaten Bantaeng kerjasama dengan ACCESS – AusAID.

Tahun 2005

- Identifikasi calon KK sasaran - Pembentukan KSM - Pelatihan Peningkatan kapasitas masyarakat - Pengadaan Ternak Kambing - Pengadaan & Pelayanan TPK - Pengguliran Ternak Kambing - Pembentukan Kopnak - Monitoring & Evaluasi - Pelibatan secara penuh masyarakat miskin dan perempuan

Staf yang akan terlibat dalam mendukung Program Peningkatan Kapasitas Warga dan Inisiasi Kebijakan Publik untuk mendukung proses Pembangunan Daerah yang Partisipatif, Transparan dan Akuntabel di Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut :
Posisi dalam organisasi dan lama menjabat Keahlian khusus yang dimiliki yang relevan dengan program Waktu yang dialokasik an untuk program

NO

NAMA

L/P

Posisi dalam program

• Menjalankan

1

HUSNI ALAM

L

Direktur

Penanggung Jawab

manajerial kepemimipinan yang terbuka. • Memiliki pengalaman yang cukup dalam program pemberdayaan • Mampu memberikan motivasi untuk meningkatkan kinerja staf

4 bulan

2

ASRIUDY A. PASAOERY

L

Bendahara Yayasan

3

SYARIF T. BUANA

L

Divisi Pengkajian, Penelitian & Pelatihan

4

ANDI RAHMAWATY

P

Staf Admin Keuangan

• Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman melatih dan menerapkan alat-alat kajian CLAPP dan Koordinator PRA Program • Memiliki pengalaman mengkoordinir program penjajakan dan perencanaan dengan metode CLAPP GPI • Mampu mengoperasikan computer dengan baik • Mampu melakukan Staf Admin kegiatan dan olah data pengadministrasian yang baik • Mampu berkomunikasi dengan baik • Mampu mengelola keuangan yang transparan • Mampu membuat pelaporan keuangan dengan Staf Keuangan menggunakan metode ASSYS • Memiliki pengalaman dalam mengelola keuangan program • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman melatih dan menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman melatih dan menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman melatih dan menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP

Selama program

Selama program

Selama program

5

MUH. SYAHRIR HK.

L

Divisi Pemberdayaan Masyarakat

Fasilitator Pendukung

Selama program

6

SYARFIAH ZAINUDDIN

P

Divisi Pemberdayaan Perempuan

Fasilitator Pendukung

Selama program

7

ANDI SUKRI

L

Fasduk

Fasilitator Pendukung

Selama program

8

NUZULIAH HIDAYAH

P

Divisi Pemberdayaan Perempuan

Fasilitator Pendukung

Selama program

9

SURIYANI HS.

P

Fasdes

Fasilitator Pendukung

10

ASISJAH

P

Fasduk

Fasilitator Pendukung

11

MUH. SYAKHRUL Z.

L

Divisi Pemberdayaan Masyarakat

Fasilitator Pendukung

12

ASTUTI

P

Fasdes

Fasilitator Pendukung

• Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian PRA • Memiliki pengalaman memfasilitasi program pemberdayaan • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP. • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP. • Mampu memfasilitasi proses pertemuan • Memiliki pengalaman menerapkan alat-alat kajian CLAPP.

Selama program

Selama program

Selama program

Selama program

13

USMAN

L

KPM

Fasilitator Pendukung

Selama program

14

IRDAWATI

P

KPM

Fasilitator Pendukung

Selama program

15

SYAMSUL BAHRI

L

Fasilitator Lokal PNPM

Fasilitator Pendukung

Selama program

2. ANGGARAN

Jumlah anggaran yang di gunakan dalam program ini adalah sebesar : Rp. 1.254.395.000,- ( Satu Miliar Dua Ratus Lima Puluh Empat Juta Tiga Ratus Sembilan Puluh Lima Ribu Rupiah), Yang merupakan sharing anggaran antara Pihak Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan Pihak ACCESS, yang diperuntukkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang telah di programkan.

3. DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP

Pengurus dan anggota Yajalindo bersama-sama dengan para Boundary Partner, Pemerintah dan komponen masyarakat lainnya berkomitmen bahwa masalah lingkungan hidup merupakan tanggungjawab bersama, namunpun sesungguhnya program ini tidak memiliki dampak langsung terhadap lingkungan hidup, Yajalindo tetap menerapkan prinsip mencegah untuk meminimalkan atau menghindarkan terjadinya tindakan-tindakan yang merusak lingkungan hidup. Kegiatan dikantor lembaga maupun dilapangan, staf lembaga maupun warga yang terlibat diarahkan untuk menggunakan kertas sehemat mungkin untuk menghindari pemborosan mengingat bahan baku kertas adalah kayu yang jika dilakukan pengelolaan yang tidak terbatas akan dapat merusak lingkungan, peserta diarahkan untuk memanfaatkan kertas untuk pencatatan secara timbal balik dan memanfaatkan sisi kertas yang telah digunakan untuk pencatatan ataupun pembuatan laporan, misalnya untuk menempel nota-nota pertanggungjawaban. Meminimalisasi penggunaan bahan-bahan plastik dalam setiap kegiatan, misalnya menghindari penggunaan air kemasan gelas plastik disetiap pertemuan dan pelatihan. Untuk air minum dapat menggunakan gelas dan air galon atau dengan air kemasan botol karena botol bekas masih bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah untuk pelampung rumput laut. Namun jika tidak dapat dihindari penggunaan air kemasan gelas plastik, maka sampahnya dikumpulkan untuk diberikan pada warga yang biasa membuat kerajinan tangan dari plastik. Di kantor atau ruangan pertemuan akan disediakan tempat sampah, agar sisa material yang sudah tidak dipergunakan dibuang ditempat yang telah disediakan secara terpisah antara sampah kertas dengan sampah bahan dari plastik. Demikian pula bagi peserta yang memiliki kebiasaan merokok, dianjurkan untuk tidak merokok di dalam ruangan pertemuan, agar asap rokok tidak mengganggu peserta yang tidak merokok.

4. RENCANA MONITORING DAN EVALUASI Untuk mengukur dan mengontrol tingkat pencapaian keberhasilan pelaksanaan kegiatan program, maka disusun sebuah rencana monitoring dan evaluasi yang dibuat secara berkala dan berkesinambungan dengan melibatkan warga miskin, perempuan dan kelompok marjinal lainnya secara partisipatif, transparansi dan akuntabel. Ini dimaksudkan agar warga miskin, perempuan dan kelompok marjinal lainnya benar-benar memahami/mengetahui proses-proses kegiatan pembangunan di tingkat desa, sehingga warga merasa memiliki dan mengetahui potensi-potensi dan kebutuhan yang benar-benar mendasar dan dirasakan oleh warga, perempuan dan kelompok marjinal lainnya, begitupun masalah-masalah yang terjadi di tingkat warga kemudian berusaha mencari solusi dari masalah yang terjadi. 1. MONITORING Monitoring bertujuan untuk mengendalikan jalannya program dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan. Monitoring akan dilakukan bersama setiap bulan oleh Managemen Program, Fasilitator Pendukung dan Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa dengan melakukan

pertemuan-pertemuan rutin setiap bulan di Kantor Yajalindo atau di Kantor PM dan PD atau dengan melakukan kunjungan ke lokasi dimana program berjalan. Hasil-hasil monitoring setiap bulan didokumentasikan oleh manajemen program dan akan menjadi bahan pertemuan evaluasi. 2. EVALUASI Evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pencapaian sasaran, maksud dan hasil-hasil yang telah ditetapkan dalam jangka waktu yang tertentu sesuai dengan indikator pencapaiannya yang telah ditetapkan bersama. Evaluasi akan dilakukan pada setiap 3 bulanan dan 6 bulanan. Pada Evaluasi 3 bulanan akan dilakukan pertemuan oleh managemen program, penanggung jawab program, Fasilitator Pendukung dan Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa. Dalam pertemuan ini akan dibahas laporan perkembangan pelaksanaan program, mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi selama melaksanakan program, dan merumuskan solusi pemecahannya. Kegiatan ini selain untuk mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai sesuai indikatorindikator yang ada, juga sebagai wadah saling belajar antar pihak dalam mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi dan merencanakan kegiatankegiatan pemecahan masalah yang akan dilakukan pasca evaluasi. Sedangkan pada evaluasi 6 bulanan akan dilakukan pertemuan dengan menghadirkan managemen program, penanggung jawab program, Fasilitator Pendukung dan Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa dan Camat. Pada evaluasi ini akan didiskusikan perkembangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh program sekaitan dengan indikator-indikator yang telah direncanakan, disamping itu juga akan didiskusikan masalah-masalah yang dihadapi selama pelaksanaan program yang menyebabkan tidak tercapainya indikator-indikator hasil dan solusi-solusi kegiatan yang akan dilakukan dan penguatan-penguatan apa yang dapat dilakukan pada hasil-hasil yang telah dicapai. Indikator-indikator yang akan dicapai dan menjadi acuan monev yang dilakukan dapat dilihat pada lampiran 5 (Kerangka Monitoring, Evaluasi dan Pembelajaran). 5. PEMBELAJARAN DAN PERLUASAN HASIL

a. PEMBELAJARAN Pembelajaran terpenting yang akan diperoleh dengan berjalannya program ini, mulai dari proses persiapan, perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi oleh semua pihak yang terlibat dalam program akan dapat pembelajaran dari proses-proses kegiatan yang telah diikuti. Yajalindo, KPM, Warga dan pemerintah dapat memetik pembelajaran dari setiap tahapan kegiatan dengan melakukan evaluasi, review dan refleksi bersama. Dalam proses ini, semua pihak diarahkan untuk dapat mengidentifikasi apa yang telah berhasil dilakukan dalam kegiatan dan apa yang masih perlu ditingkatkan dan pembelajaran apa yang dapat diambil dari setiap kegiatan yang telah dilakukan tersebut. Proses pembelajaran dilakukan dengan mengedepankan prinsip berperan setara, dimana pada setiap proses senantiasa melakukan sharing antar pihak.

Hasil-hasil pembelajaran yang telah dilakukan akan didokumentasikan baik dalam bentuk laporan hasil setiap kegiatan yang dilengkapi dengan foto-foto kegiatan, laporan proses kegiatan, ungkapan-ungkapan menarik dari peserta dan lain-lain. Yajalindo akan memberi kesempatan kepada semua pihak untuk mendapat pembelajaran dari program ini, termasuk di internal lembaga akan mengikutkan sedikitnya 4 orang staf untuk ikut berproses dalam setiap kegiatan tanpa harus membebani anggaran program. Hal ini juga diharapkan pada pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa. b. PERLUASAN HASIL Pada bagian ini, digambarkan beberapa hal terkait tentang perluasan hasil program yang dijalankan yaitu berkaitan dengan Penyebaran Informasi dan Publikasi serta Rencana Keberlanjutan Program. 1) Penyebaran Informasi/Publikasi Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi rencana-rencana kegiatan maupun hasil-hasil kegiatan serta kemajuan program secara berkala sehingga masyarakat secara luas (warga) dapat mendapatkan informasi perkembangan program. Kegiatan ini dilakukan dengan membuat sebuah BROSUR / BULLETIN INFORMASI secara berkala akan dibagikan kepada pihak terkait. Buletin informasi selain dibagikan kepada pihak yang terkait dengan program, juga akan ditempel di papan informasi kantor-kantor, atau masjid sehingga juga dapat dibaca dan diketahui oleh masyarakat. Melalui brosur atau Bulletin Informasi yang dibuat secara berkala juga akan menjadi media sharing pengalaman dan informasi antar pelaku kegiatan (KPM) diwilayah masing-masing sehingga akan memperkaya wawasan mereka tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan program serta untuk mengetahui dinamika (hambatan-hambatan atau kisah sukses) program yang terjadi disetiap lokasi/wilayah pelaksanaan program. Media informasi dan publikasi berupa Brosur/Bulletin ini dibuat oleh Tim Implementasi Program bekerjasama dengan Forum Lintas Aktor Gerbang Kabupaten Bantaeng. Untuk memperkuat kemampuan lembaga menyebarkan informasi dan publikasi, Yajalindo bekerjasama dengan FLA GERBANG Bantaeng didukung oleh ACCESS terlebih dahulu membuat diklat singkat tentang Jurnalistik. Melalui kursus singkat ini diharapkan akan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi pengurus lembaga dan para boundary partner tentang dunia tulis menulis khususnya dalam membuat reportase atau laporan perkembangan kegiatan di lapangan. Penyebaran hasil-hasil melalui publikasi dengan pendokumentasian yang baik diharapkan banyak pihak dapat belajar dari proses pembelajaran yang dilakukan pada program ini sehingga dapat mendorong pihak-pihak lain untuk mereplikasi metode, prinsip dan nilai-nilai yang diperjuangkan pada program ini pada program-program lain atatupun dilokasi lainnya sehingga dapat mendorong terwujudnya TKLD. 2) Rencana Keberlanjutan Untuk menjamin keberlanjutan kegiatan setelah dukungan pihak luar selesai maka telah dirumuskan kegiatan-kegiatan keberlanjutan yang merupakan

kegiatan yang diharapkan tetap berlanjut selama satu tahun masa program selesai dan kegiatan-kegiatan yang merupakan kegiatan pengembangan kegiatan masa program. Kegiatan-kegiatan keberlanjutan untuk tahun pertama pasca program lebih banyak diarahkan untuk : a) Memperkuat KPM dan Jaringan KPM untuk dapat lebih berperan mewujudkan Tata Kepemerintahan Lokal Demokratik dilevel warga, organisasi warga, maupun pemerintahan. Mendorong para pihak terkait dengan pemberdayaan warga agar dapat mengoptimalkan peran Kader Pemberdayaan Masyarakat yang ada di desa/kelurahan sebagai Mitra Utama dalam pelaksanaan kegiatankegiatan yang ada di desa/kelurahan.
b)

Mendorong Para pihak agar dapat menerapkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan lokal yang demokratis yang partisipatif, transparan dan akuntabel dalam lingkup pemerintahan, organisasi dan ditingkat warga.
c)

d) Secara internal Lembaga YAJALINDO berkomitmen untuk konsisten dalam menerapkan nilai-nilai partisipatif, transparansi dan akuntabilitas dalam manajemen organisasi dan dalam pelaksanaan programprogramnya. Keberlanjutan program sangat di tentukan dengan kinerja lembaga dalam membangun komunikasi dan jaringan yang kuat seperti di Partai Politik, Parlemen, OMS, dan Pemerintahan ditingkat desa/kelurahan, kecamatan hingga kabupaten untuk berkomitmen kuat terhadap keberpihakan pada orang miskin, perempuan dan kaum marjinal lainnya.

6. KRITERIA KELAYAKAN

Matriks Kriteria Kelayakan
KRITERIA KELAYAKAN Apakah organisasi Anda telah diakui oleh Pemerintah setempat dan sudah terdaftar ( sesuai Permendagri No. 38 tahun 2008 ) ? Bagi organisasi yang terdaftar sebagai yayasan, apakah lembaga Anda sudah memenuhi persyaratan di bawah UU No. 16/2001 dan UU No. 26/2004 ? Untuk yayasan yang belum memenuhi persyaratan YA TIDAK

YA

---

YA

di bawah UU No. 16/2001 dan UU No. 26/2004 secara penuh. Apakah organisasi Anda bersedia untuk memenuhi segala persyaratan tersebut dalam jangka waktu satu tahun setelah kerja sama dengan ACCESS tahap II di mulai ? Apakah organisasi Anda bersedia dan mampu untuk menunjukkan laporan keuangan tahunan atau laporan audit eksternal lembaga untuk tahun fiskal yang terakhir ? Apakah organisasi Anda bersedia untuk membuat rekening yang terpisah atas nama program yang di danai ?

YA

--

YA

--

Dengan ini, kami menyatakan bahwa informasi tersebut di atas adalah benar adanya.

Bantaeng, Mei 2009

Mengetahui :

Menyatakan :

IR. ALIM BAHRI L. TANA Ketua Yajalindo

HUSNI ALAM, S.Sos Direktur Eksekutif Yajalindo

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->