BAB II PERUSAHAAN PEMBIAYAAN

A. Pengertian Perusahaan Pembiayaan Perusahaan merupakan badan usaha yang menjalankan kegiatan di bidang perekonomian ( keuangan, industri, dan perdagangan), yang dilakukan secara terus menerus atau teratur ( regelmatig ) terang-terangan ( openlijk ) , dan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan/ atau laba. 12 Dalam Pasal 1 huruf (b) UU Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan dijelaskan bahwa perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Sedangkan, pengertian dari Perusahaan Pembiayaan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan, dalam pasal 1 huruf ( b) dikatakan bahwa Perusahaan Pembiayaan adalah badan usaha di luar Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha Lembaga Pembiayaan. Perusahaan Pembiayaan merupakan badan usaha yang melaksanakan kegiatan usaha dari lembaga pembiayaan. Selain Perusahaan Pembiayaan, bank dan lembaga keuangan bukan bank juga meruapakan badan hukum yang melaksanakan aktivitas dari lembaga pembiayaan yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sewa Guna Usaha; Modal Ventura; Perdagangan Surat Berharga; Anjak Piutang; Usaha Kartu Kredit; Pembiayaan Konsumen.
12

Abdul R Saliman, SH, MM, dkk, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan (Teori dan Contoh Kasus), Kencana Renada Media Group, Jakarta 2005. Hal. 100.

Universitas Sumatera Utara

B. Kegiatan Usaha Perusahaan Pembiayaan. Kegiatan Perusahaan Pembiayaan merupakan sebagian kegiatan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan. Dalam pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan, disebutkan bahwa bentuk kegiatan usaha dari Perusahaan Pembiayaan antara lain : 1. Sewa Guna Usaha; 2. Anjak Piutang; 3. Usaha Kartu Kredit; dan/atau 4. Pembiayaan Konsumen. Ad.1 Sewa Guna Usaha. Sewa Guna Usaha (Leasing) merupakan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara Sewa Guna Usaha dengan hak opsi (Finance lease) maupun Sewa Guna Usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran. Kegiatan Sewa Guna Usaha dilakukan dalam bentuk pengadaan barang modal bagi Penyewa Guna Usaha, baik dengan maupun tanpa hak opsi untuk membeli barang tersebut. Pengadaan barang modal dapat juga dilakukan dengan cara membeli barang Penyewa Guna Usaha yang kemudian disewagunausahakan kembali. Sepanjang perjanjian Sewa Guna Usaha (Leasing) masih berlaku, hak milik atas barang modal objek transaksi Sewa Guna Usaha berada pada Perusahaan Pembiayaan. Ad. 2 Anjak Piutang Anjak Piutang (Factoring) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut.

Universitas Sumatera Utara

dijelaskan bahwa kegiatan anjak piutang dilakukan dalam bentuk piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut. Anjak piutang tanpa jaminan dari penjual piutang (Without recourse) adalah kegiatan anjak piutang dimana Perusahaan Pembiayaan menanggung seluruh resiko tidak tertagihnya Piutang. Kegiatan Pembiayaan Konsumen dilakukan dalam bentuk penyediaan dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Ad. Kegiatan usaha kartu kredit dilakukan dalam bentuk penerbitan kartu kredit yang dapat dimanfaatkan oleh pemegangnya untuk pembelian barang dan/atau jasa. 4 Pembiayaan Konsumen Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance) adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran. Kebutuhan konsumen yang dimaksud meliputi antara lain : Universitas Sumatera Utara . 3 Usaha Kartu Kredit Usaha Kartu Kredit (Credit Card) adalah kegiatan pembiayaan untuk pembelian barang dan/atau jasa dengan menggunakan kartu kredit.Dalam pasl 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Perusahaan Pembiayaan yang melakukan kegiatan usaha kartu kredit. dapat dilakukan dalam bentuk anjak piutang tanpa jaminan dari penjual piutang (Without Recourse) dan anjak piutang dengan jaminan dari penjual piutang (With Recourse).012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan. Sedangkan anjak piutang dengan jaminan dari penjual piutang (With recourse) adalah kegiatan anjak piutang dimana penjual piutang menanggung resiko tidak tertagihnya sebagian atau seluruh piutang yang dijual kepada Perusahaan Pembiayaan. sepanjang berkaitan dengan sistem pembayaran wajib mengikuti ketentuan Bank Indonesia. Kegiatan anjak piutang tersebut. Ad.

e. Pembiayaan barang-barang elektronik.a. Universitas Sumatera Utara . atau 2. Wewenang. Permodalan. Nama dan tempat kedudukan. masa jabatan direksi dan dewan komisaris atau pengurus dan pengawas. c. Pembiayaan perumahan. C. b. yang sekurang-kurangnya memuat: a. wajib terlebih dahulu memperoleh Izin Usaha sebagai Perusahaan Pembiayaan dari Menteri. b. Pembiayaan alat-alat rumah tangga. d. Pembiayaan kendaraan bermotor. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Adapun hal-hal yang perlu dilampirkan didalam format yang diajukan kepada Menteri untuk mendapatkan Izin Usaha untuk melakukan kegiatan usaha adalah sebagai berikut : 1. Perusahaan Pembiayaan dapat didirikan oleh: 1. c. tanggung jawab. Kepemilikan. d. Setiap pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud diatas. Warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia. Akta pendirian badan hukum termasuk anggaran dasar yang telah disahkan oleh instansi berwenang. Badan usaha asing dan warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia (usaha patungan). dijelaskan bahwa Perusahaan Pembiayaan didirikan dalam bentuk badan hukum Perseroan Terbatas atau Koperasi.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan pada pasal 1. dimana Perusahaan Pembiayaan tersebut harus mencantumkan dalam anggaran dasarnya kegiatan pembiayaan yang dilakukan secara jelas. Tata Cara Pendirian Perusahaan Pembiayaan. Kegiatan usaha sebagai Perusahaan Pembiayaan.

Bukti berpengalaman operasional di bidang Perusahaan Pembiayaan atau perbankan sekurang-kurangnya selama 2 (dua) tahun bagi salah satu direksi atau pengurus. 3) Tidak pernah dihukum karena tindak pidana kejahatan. e. dan angka 3 serta surat pernyataan bahwa setoran modal tidak berasal dari pinjaman dan kegiatan pencucian uang (money laundering). wajib dilampiri dengan dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 1. Data pemegang saham atau anggota dalam hal: a. Perorangan. Data direksi dan dewan komisaris atau pengurus dan pengawas meliputi: a. Fotokopi Kartu Izin Menetap Sementara (KIMS) dan fotokopi surat izin bekerja dari instansi berwenang bagi direksi atau pengurus berkewarganegaraan asing. 2) Tidak tercantum dalam Daftar Tidak Lulus (DTL) di sector perbankan. 6) Tidak merangkap jabatan lebih dari 3 (tiga) Perusahaan Pembiayaan lain bagi Komisaris. 3. Daftar riwayat hidup. c. wajib dilampiri dengan: 1. d. angka 2. b. b. 4) Tidak pernah dinyatakan pailit atau dinyatakan bersalah yang mengakibatkan suatu perseroan/perusahaan dinyatakan pailit berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.2. Badan hukum. Surat pernyataan: 1) Tidak tercatat dalam Daftar Kredit Macet di sektor perbankan. Universitas Sumatera Utara . Akta pendirian badan hukum. Fotokopi tanda pengenal yang dapat berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau paspor. termasuk anggaran dasar berikut perubahan-perubahan yang telah mendapat pengesahan dari instansi berwenang termasuk bagi badan usaha asing sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara asal. 5) Tidak merangkap jabatan pada Perusahaan Pembiayaan lain bagi Direksi.

neraca dan perhitungan laba/rugi bulanan dimulai sejak Perusahaan Pembiayaan melakukan kegiatan operasional. Bukti kepemilikan. 8. 9. Perjanjian usaha patungan antara pihak asing dan pihak Indonesia bagi perusahaan patungan. Apabila setelah jangka waktu yang telah ditentukan. Rencana kerja untuk 2 (dua) tahun pertama yang sekurang-kurangnya memuat: a. 5. yang mana laporan atas pelaksanaan kegiatan tersebut disampaikan kepada Menteri selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari sejak tanggal dimulainya kegiatan usaha tersebut. 3. Perusahaan Pembiayaan yang telah memperoleh Izin Usaha wajib melakukan kegiatan usaha selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal Izin Usaha ditetapkan. Daftar aktiva tetap dan inventaris. 4. Bukti kesiapan operasional antara lain berupa: a.2. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam huruf b angka 1. Menteri mencabut Izin Usaha Perusahaan Pembiayaan yang bersangkutan. 6. Proyeksi arus kas. Fotokopi bukti pelunasan modal disetor dalam bentuk deposito berjangka pada salah satu bank umum di Indonesia dan dilegalisasi oleh bank penerima setoran yang masih berlaku selama dalam proses pengajuan izin usaha. Universitas Sumatera Utara . penguasaan atau perjanjian sewa-menyewa gedung kantor. struktur organisasi. 7. Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (P4MN). Rencana pembiayaan dan langkah-langkah yang dilakukan untuk mewujudkan rencana dimaksud. b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). dan angka 3 bagi pemegang saham dan direksi atau pengurus. contoh perjanjian pembiayaan yang akan digunakan. Perusahaan Pembiayaan tidak melakukan kegiatan usaha. dan c. dan personalia. Laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik dan laporan keuangan terakhir. b. Sistem dan prosedur kerja. angka 2.

cadangan dan saldo laba/rugi dari Perusahaan Pembiayaan tersebut. dan kepala cabang ) sekurang-kurangnya memiliki persayaratan sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara . Namun hal ini tidak menutup kemungkinan badan usaha asing untuk menanamkan sahamnya di suatu Perusahaan Pembiayaan.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan dijelaskan bahwa badan usaha asing. jumlah penyertaan modal pada Perusahaan Pembiayaan ditetapkan setinggi-tingginya sebesar 50 % (lima puluh perseratus) dari modal sendiri. c. Komisaris. Sedangkan bagi pemegang saham yang berbentuk badan hukum. Modal sendiri yang dimaksud disini adalah penjumlahan dari modal disetor. dapat memiliki saham dalam suatu Perusahaan Pembiayaan setinggi-tingginya adalah 85% (delapan puluh lima perseratus) dari modal disetor. modal sendiri yang dimaksud terdiri dari penjumlahan dari simpanan pokok. simpanan wajib. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. aktiva bersih terikat secara temporer. Dan yang pemegang sahamnya berbentuk badan hukum yayasan. dan aktiva bersih tidak terikat. Sementara untuk Perusahaan Pembiayaan yang pemegang sahamnya berbentuk badan hukum koperasi. Kepemilikan Perusahaan Pembiayaan. b. 2. dana cadangan. dapat didirikan oleh badan hukum ataupun koperasi. Pengurus suatu perusahaan pembiayaaan terdiri dari : a. komisaris.D. dan hibah. Kepengurusan Perusahaan Pembiayaan. Kepala cabang. Perusahaan Pembiayaan. Setiap pengurus dari suatu Perusahaan Pembiayaan ( direksi. Kepemilikan dan Kepengurusan Perusahaan Pembiayaan 1. agio saham. Direksi. modal sendiri yang dimaksud terdiri dari aktiva bersih terikat secara permanen.

Setoran modal pemegang saham tidak berasal dari pinjaman dan kegiatan pencucian uang (money laundering). E. Konsolidasi. e.a. Sedangakan Komisaris Perusahaan Pembiayaan. Salah satu direksi atau pengurus harus berpengalaman operasional di bidang Perusahaan Pembiayaan atau perbankan sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun. Tidak tercatat dalam Daftar Kredit Macet di sektor perbankan. Merger. diperkenankan merangkap jabatan menjadi komisaris sebanyak-banyaknya pada 3 (tiga) Perusahaan Pembiayaan. Konsolidasi. Direksi Perusahaan Pembiayaan wajib menetap di Indonesia dan dilarang melakukan perangkapan jabatan sebagai Direksi pada Perusahaan Pembiayaan lain. ataupun Akuisisi dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Merger adalah penggabungan dari 2 (dua) Perusahaan Pembiayaan atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu Perusahaan Pembiayaan dan membubarkan Perusahaan Pembiayaan lainnya dengan atau tanpa likuidasi.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan dikatakan bahwa Merger. Tidak pernah dihukum karena tindak pidana kejahatan. d. Suatu perusahaan pembiayaaan dimungkinkan untuk melakukan Merger. dan f. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. dan Akuisisi Perusahaan Pembiayaan. Tidak pernah dinyatakan pailit atau dinyatakan bersalah yang mengakibatkan suatu perseroan/perusahaan dinyatakan pailit berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. b. namun diperkenankan merangkap jabatan sebagai komisaris pada 1 (satu) Perusahaan Pembiayaan lain. Universitas Sumatera Utara . Tidak tercantum dalam Daftar Tidak Lulus (DTL) di sector perbankan. c. Konsolidasi ataupun Akuisisi apabila dianggap perlu.

Status kantor Perusahaan Pembiayaan yang menggabungkan diri atau Konsolidasi. Universitas Sumatera Utara . dan pengawas. Merger. maka menteri dapat mencabut Izin Usaha yang telah ditetapkan dan menetapkan status kantor pusat dan Kantor Cabang dari Perusahaan Pembiayaan yang menggabungkan diri atau memberi izin usaha kepada Perusahaan Pembiayaan hasil Konsolidasi serta mencatat perubahan pemegang saham. Apabila laporan tersebut telah diterima oleh Menteri. Dalam pasl 21 angka 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Perusahaan Pembiayaan hasil dari Konsolidasi tersebut telah dapat menjalankan kegiatan usahanya.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan dikatakan bahwa laporan tersebut harus dilengkapi dengan : a. dengan cara mendirikan Perusahaan Pembiayaan baru dan membubarkan Perusahaan-Perusahaan Pembiayaan tersebut dengan atau tanpa likuidasi. b.Sedangkan Konsolidasi adalah penggabungan dari 2 (dua) Perusahaan Pembiayaan atau lebih. dan Konsolidasi dilakukan. d. dan Konsolidasi wajib dilaporkan kepada Menteri selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah Merger. Perubahan anggaran dasar yang telah disahkan atau dilaporkan kepada instansi berwenang dan didaftarkan dalam Daftar Perusahaan. Data pemegang saham. Akuisisi. Izin usaha baru yang diperoleh oleh Perusahaan Pembiayaan yang melakukan Konsolidasi berlaku sejak Konsolidasi disetujui oleh instansi yang berwenang. Risalah rapat umum pemegang saham atau rapat anggota. Dan yang dimaksud dengan Akuisisi adalah pengambilalihan baik seluruh maupun sebagian besar saham Perusahaan Pembiayaan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap Perusahaan Pembiayaan. pengurus. dan dewan komisaris atau anggota. Dan sebelum izin usaha tersebut diberikan. Akta Merger atau akta Konsolidasi. e. Akuisisi. direksi. c.

melainkan dalam bentuk barang modal yang digunakan untuk kegiatan usaha bisnis. Menurut Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan. hal. 13 Untuk mengetahui Leasing sebagai Sewa Guna Usaha. Berdasarkan defenisi tersebut konsep Leasing sebagai bentuk sewamenyewa yang disebut Sewa Guna Usaha sudah lebih terarah dan jelas. Nomor : 30/Kpb/I/74. Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : Kep-122MK/IV/2/1974. 13 Universitas Sumatera Utara . Bandung. 2. Kemudian. PT Citra Aditya Bakti. Penyediaan barang modal Dalam hal ini. hal. atau memperpanjang jangka waktu Leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama. berdasarkan pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (opsi) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang modal yang bersangkutan. Pembiayaan Perusahaan. yang artinya sewa menyewa. Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati.201. 14 Ibid. biasanya disediakan oleh Supplier atas biaya Lessor untuk digunakan oleh Lessee bagi keperluan bisnis. Nomor : 32/M/SK/2/1974. Hal ini dinyatakan oleh unsur-unsur berikut : 14 1. yaitu dalam bentuk pembiyaan perusahaan berupa penyedia barang modal yang digunakan untuk menjalankan usahanya dengan mebayar sewa selama jangka waktu tertentu. yaitu suatu bentuk dari sewa-menyewa. teertanggal 7 Februari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing dalam Pasal 1. Pembiayaan tidak dalam bentuk dana.F. perlu ditelaah ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Perizinan Usaha Leasing. 2004. Pengertian dan Sejarah Berkembangnya Leasing di Indonesia Sewa Guna Usaha adalah istilah yang dipakai dalam peraturan tentang Lembaga Pembiayaan sebagai terjemahan dari istilah bahasa Inggris Leasing dari kata dasar Lease.202. dalam dunia bisnis Leasing berkembang sebagai bentuk sewa-menyewa. menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu. Segi Hukum: Lembaga Keuangan dan Pembiayaan.

yaitu : 15 1. 6. Transaksi Sewa Guna Usaha dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu Sewa Guna Usaha dengan hak opsi ( Finance Lease) dan Sewa Guna Usaha tanpa hak opsi (Operating Lease).012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Sewa Guna Usaha (Leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara Sewa Guna Usaha dengan hak opsi (Finance Lease) maupun Sewa Guna Usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha ( Lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara angsuran. Jangka waktu tertentu. Digunakan oleh suatu perusahaan.3. Hak opsi untuk membeli barang modal. terdapat hal-hal penting yang perlu digaris bawahi di dalam transaksi Sewa Guna Usaha. Yaitu merupakan kewajiban Lessee membayar angsuran harga barang modal kepada Lessor yang sudah melunasinya kepada Supplier. Barang modal tersebut merupakan bentuk pembiayaan suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya. Menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 84/PMK. Lessee diberi hak opsi untuk membeli barang modal tersebut sesuai dengan harga yang disepakati. hal. 58. 4. 15 Budi Rahmat. dan setelah jangka waktu berakhir. Selain itu. Pada saat kontrak berakhir. Objek pembiayaan Sewa Guna Usaha harus berbentuk barang modal. Pembayaran sewa secara berkala. 5. Yaitu berapa tahun Sewa Guna Usaha dilakukan. ditentukan status kepemilikan barang modal tersebut. atau mengembalikannya kepada Lessor. Universitas Sumatera Utara . 2. kegiatan Sewa Guna Usaha dapat juga dilakukan dengan cara membeli barang modal milik penyewa guna usaha yang kemudian disewagunausahakan kembali ( Sale and Lease back).cit. op. Berdasarkan defenisi tersebut.

yang khusus mengatur tentang hukum Leasing tersebut. Dimana perkembangan perusahaan dan jumlah besarnya kontrak Leasing mengalami peningkatan. Hukum Tentang Pembiayaan (dalam teori dan praktek). yang terjadi antara tahun 1984 sampai dengan tahun 1990. beberapa segi operasionalisasi Leasing telah berubah. Fase pengembangan Yaitu merupakan fase kedua. Pada fase kedua ini. berdasarkan kesepakatan antara Lessor dan Lessee.3. 2006. tiga bulanan. hal ini bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan bisnis di Indonesia. Dalam fase ini. Konsekuensinya. dua bulanan. Leasing belum begitu dikenal dalam masyarakat. sebagai berikut :16 1.hal. jumlah perusahaan Leasing pada waktu itu belum seberapa dan jumlah transaksinya juga masih relatif kecil. Fase Pengenalan Yaitu merupakan fase pertama dari bisnis Leasing di Indonesia. dan perkembangannya tidak begitu pesat. bisnis Leasing cukup pesat perkembangannya. Eksistensi Leasing di Indonesia baru terjadi di awal dasawarsa tahun 1970an. Fase pertama ini dimulai dengan keluarnya beberapa peraturan pada tahun 1974. Bandung. Dalam fase ini. 4. 2. 14 16 Universitas Sumatera Utara . dan perkembangan sejarah bisnis Leasing di Indonesia sangat terkait secara erat dengan kebijaksanaan pemerintah. yang terjadi antara tahun 1974 sampai dengan tahun 1983. misalnya dalam hal metode perhitungan penyusutan aset untuk kepentingan perpajakan. Pembayaran Sewa Guna Usaha dapat dilakukan secara bulanan. PT Citra Aditya Bakti. Hal ini merupakan akibat berlakunya Undang-Undang Pajak tahun 1984. Perkembangan Leasing dalam sejarah di Indonesia tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam (3) tiga fase. Transaksi Sewa Guna Usaha mensyaratkan dibuat dalam jangka waktu tertentu. Munir Fuadi.

3. Masyarakat masih lebih terfokus pada barang-barang primer. banyak pihak yang mengatakan bahwa perkembangannya masih jauh dari yang diharapkan. dan belum terhadap barang-barang lainnya. Salah satu perubahan yang terjadi pada fase ini adalah diubahnya sistem perpajakan. merupakan fase Konsolidasi dari fase perkembangan Leasing di Indonesia. Kurangnya promosi dan lemahnya aturan hukum. 17 Ibid. berdasarkan ketentuan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK. bahwa beban yang dipikul oleh para pihak lebih besar dibandingkan dengan fasilitas perbankan. Fase Konsolidasi Yaitu merupakan fase ketiga.01/1991.sementara itu sistem peloporan pajak dalam periode ini masih menggunakan Operating method seperti fase sebelumnya. sehingga orang cenderung memilih sistem perbankan. 5. Universitas Sumatera Utara . 4. Hal ini antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut. Sungguhpun perkembangan bisnis Leasing sudah mulai terasa di Indonesia. izin-izin pendirian perusahaan Leasing yang sebelumnya agak diperketat. Untuk Leasing barang-barang tertentu dibutuhkan jaminan. Perusahaan Multi Finance juga didirikan pada periode ini. dari semula dengan Operating method berubah menjadi Financial method.16. hal. 3. Perubahan sistem perhitungan pajak ini mulai berlaku sejak 19 Januari 1991. kemudian dibuka kembali. 2. yang terjadi sejak tahun 1991 sampai sekarang. Ada anggapan sementara pihak. Karena bisnis Leasing masih terbilang relatif baru. yaitu : 17 1. Pada periode ini.

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia no. 448/KMK. tanggal 6 Mei 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.1/7/1974.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. Beberapa peraturan di tahun 1974 tersebut merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum Leasing di Indonesia. c. Pengumuman Direktur Jenderal Moneter Nomor : Peng- 307/DJM/III.650/MK/IV/5/1974. 13. Surat Edaran Direktur Jenderal Moneter dalam Negeri no: SE4835/MD/1983 tentang Syarat-Syarat dan Tata Cara Pendirian Kantor Cabang dan Kantor Perwakilan Perusahaan Leasing. f. Universitas Sumatera Utara . hal. b. peraturan-peraturan tersebut adalah : 18 a. d.Dasar Hukum Leasing Pranata hukum Sewa Guna Usaha (Leasing) baru mulai diatur secara khusus untuk pertama kalinya dalam perundang-undangan Negara Republik Indonesia pada tahun 1974. tertanggal 7 Februari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing. Surat Edaran Direktur Jenderal Moneter dalam Negeri no : SE499/MD/1984 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penyampaian Laporan Perusahaan Leasing. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor Kep.649/MK/IV/5/1974. Nomor : 32/M/SK/2/1974. g. tanggal 8 Juli 1974 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Leasing. 18 Ibid. Dasar Hukum Leasing dan Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Leasing 1. e. Nomor : 30/Kpb/I/74. tanggal 6 Mei 1974 tentang Penegasan Ketentuan Pajak Penjualan dan Beasrnya Bea Materai Terhadap Usaha Leasing. Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : Kep- 122MK/IV/2/1974. Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor Kep.G.

memuat rumusan kehendak berupa hak dan kewajiban Lessor sebagai Perusahaan 19 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati. Segi Hukum Perdata Pada setiap kegiatan usaha pembiayaan. Dalam perundang-undangan juga diatur mengenai kewajiban dan hak pihak-pihak dan hanya akan berlaku sepanjang pihak-pihak tidak menentukan lain secara khusus dalam perjanjian yang dibuat. a. op. 19 Dengan demikian dasar hukum Leasing dapat dilihat dari 2 (dua) segi. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 834/KMK. terutama Lessee. yaitu dari segi perdata dan dari segi publik. sedangkan perundang-undangan adalah sumber utama hukum Sewa Guna Usaha (Leasing) dari segi publik. Dengan demikian. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 1169/KMK. hal. Leasing sebagai salah satu bentuk kegiatan ekonomi di bidang bisnis pembiayaan bersumber dari berbagai ketentuan hukum. cit. Perjanjian adalah sumber utama hukum Sewa Guna Usaha (Leasing) dari segi perdata.h. kehendak pihak-pihak tersebut dituangkan dalam bentuk tertulis berupa rumusan perjanjian yang menetapkan kewajiban dan hak masing-masing pihak dalam hubungan hukum Leasing. Asas Kebebasan Berkontrak Dalam perjanjian Leasing. termasuk juga Leasing. i. inisiatif mengadakan hubungan kontraktual berasal dari pihak pihak-pihak yang berkepentingan. 214. Dengan demikian. Universitas Sumatera Utara . yaitu asas kebebasan berkontrak dan undang-undang bidang hukum perdata.013/1990 tentang Pengadaan Barang Modal Berfasilitas Melalui Perusahaan Sewa Guna Usaha (Perusahaan Leasing). Perjanjian Leasing dibuat berdasarkan asas kebebasan berkontrak.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing). 1. ada 2 (dua) sumber hukum perdata yang mendasari Leasing. baik perjanjian maupun perundang-undangan. perjanjian selalu dibuat tertulis sebagai dokumen hukum yang menjadi dasar kepastian hukum (legal certainly).

b. 2). op. yang juga termasuk dalam pengertian pihak yang menyewakan dan pihak penyewa. Perajanjian Sewa-Menyewa Perjanjian Leasing tergolong ke dalam perjanjian sewa-menyewa karena objeknya adalah barang khusus berupa barang modal. Ada juga ketentuan-ketentuan dalam berbagai Undang-Undang di luar Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. kecuali jika dalam perjanjian diatur secara khusus menyimpang dari peraturan tersebut. Segi Perdata di Luar Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Undang-Undang yang dimaksud adalah sebagai berikut :20 a) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Berlakunya Undang-Undang ini apabila perusahaan Leasing hukum berbentuk koperasi. Universitas Sumatera Utara . 20 Sunaryo. yang juga termasuk menjadi objek sewa-menyewa. Perjanjian Leasing dibuat secara sah berlaku sebagai UndangUndang bagi para pihak (Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). yang mengatur aspek perdata Leasing. kedua belah pihak juga berstatus khusus sebagai Perusahaan Pembiayaan (Lessor) dan perusahaan pengguna barang modal (Lessee).cit. Mengenai perjanjian sewa-menyewa ada diatur dalam Pasal 1548 sampai dengan Pasal 1580 Kitab Undang-Undang hukum Perdata. Selain itu. hal. Undang-Undang Bidang Hukum Perdata 1). 50. dengan demikan ketentuan pasal-pasal tersebut juga berlaku dalam perjanjian Leasing. sehingga di dalam pendirian dan kegiatan juga harus memenuhi ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang tersebut.Pembiayaan ( Finance Company) dan Lessee sebagai perusahaan atau perorangan yang dibiayai.

dan peraturan pelaksanaannya. pendaftaran ulang.51.b) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan pelaksanaannya. c) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Agraria. dan peraturan pelaksanaannya. dan pendaftaran likuidasi perusahaan. Berlakunya Undang-Undang ini apabila perusahaan Leasing berbentuk hukum Perseroan Terbatas (PT). Segi Hukum Publik. Berlakunya Undang-Undang ini apabila Leasing berurusan dengan pendaftaran. Berlakunya Undang-Undang ini apabila Leasing berhubungan dengan bank. Leasing banyak diatur dalam berbagai bentuk peraturan perundang-undangan Administrasi Negara. a. Universitas Sumatera Utara . terutama yang bersifat administratif. Leasing banyak menyangkut kepentingan publik. dan peraturan pelaksanaannya. 2) Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. dan peraturan pelaksanaannya. Berlakunya UndangUndang ini apabila Leasing mengadakan perjanjian meneganai hakhak atas tanah serta pendaftarannya. Undang-Undang Bidang Hukum Publik Berbagai Undang-Undang bidang Administrasi Negara yang menjadi sumber utama Leasing adalah sebagi berikut :21 1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan. 2. d) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Berlakunya UndangUndang ini apabila Lessor melakukan pelanggaran kewajiban dan larangan Undang-Undang yang secara perdata merugikan konsumen (Lessee). hal. 21 Ibid. Oleh karena itu. Sebagai usaha yang berkiprah di bidang jasa pembiayaan.

Konsolidasi dan Akuisisi (pasal 21). pelaksanaan dan fasilitas pendukung (pasal 13-pasal 16). Universitas Sumatera Utara .012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan. Pajak Pertambahan Nilai dan jenis pajak lainnya. dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1991 yang telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai. Yang diantaranya memuat tentang kegiatan usaha Perusahaan Pembiayaan (pasal 2 – pasal 6). serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.012/2006 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. kepemilikan dan kepengurusan (pasal 14-pasal 20).3) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 yang telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Peraturan tentang Lembaga Pembiayaan Pertaturan tentang Lembaga Pembiayaan mengatur Sewa Guna Usaha antara lain adalah : 1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. b. Berlakunya Undang-Undang ini karena Leasing membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Berlakunya Undang-Undang ini apabila Lessor melakukan pelanggaran kewajiban dan larangan Undang-Undang yang secara perdata merugikan konsumen (Lessee). 5) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Yang diantaranya memuat tentang prinsip mengenal nasabah (pasal 2. 4) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan. tata cara pendirian (pasal 7 – pasal 13). sanksi (pasal 44). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991 yang telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan. dan peraturan pelaksanaanya. Merger. Berlakunya Undang-Undang ini karena Leasing wajib melakukan pembukuan perusahaan dan pemeliharaan dokumen perusahaan. 2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK. Pajak Penghasilan. dan peraturan pelaksanaanya. sanksi (pasal 18).pasal 12).

op. b. Lessee yang memerlukan barang modal berhubungan langsung dengan Lessor. dan telah melunasi barang modal tersebut. Perusahaan Leasing menyediakan dana kepada pihak yang membutuhkan. Pihak-pihak dalam Perjanjian Leasing Dalam setiap transaksi Leasing selalu melibatkan 3 (tiga) pihak utama. cit. c. biasanya perusahaan Leasing berhubungan langsung dengan pihak penjual (Supplier). kecuali jika ada hak opsi untuk membeli barang modal dengan harga berdasarkan nilai sisa.2. yaitu: 22 a. atau memperoleh keuntungan dari penyediaan barang modal dan pemberian jasa pemeliharaan serta pengoperasian barang modal. hal. Pada akhir kontrak Leasing. Lessee mengembalikan barang modal tersebut kepada Lessor.203 Universitas Sumatera Utara . Pihak Lessee Pihak Lessee adalah perusahaan atau pengguna barang modal yang dapat memiliki hak opsi pada akhir kontrak Leasing. yang telah membiayai barang modal dan berstatus sebagai pemilik barang modal tersebut. Pihak Supplier 22 Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati. Pihak Lessor Pihak Lessor adalah perusahaan Leasing yang memiliki hak kepemilikan atas barang modal. Dalam usaha pengadaan barang modal. Lessor bertujuan untuk mendapatkan kembali biaya yang telah dikeluarkan untuk membiayai penyediaan barang modal dengan memperoleh keuntungan. Barang modal yang dibiayai oleh Lessor tersebut kemudian diserahkan penguasaannya kepada dan untuk digunakan oleh Lessee dalam menjalankan usahanya.

205. cit. Pihak Supplier Pihak Supplier adalah penjual barang modal yang menjadi objek Leasing. 23 Namun demikian. Harga barang modal tersebut dibayar tunai oleh Lessor kepada Supplier untuk kepentingan Lessee. sebagi pemilik barang modal tersebut. misalnya dalam bentuk Sale and Lease back. Ada juga jenis Leasing yang tidak melibatkan Supplier. Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniati. Jenis-Jenis Leasing Pada prinsipnya ada dua macam jenis Leasing yaitu Leasing yang berbentuk Operating dan Leasing yang berbentuk Finance. hal. Pihak Supplier dapat berstatus perusahaan produsen barang modal atau pihak penjual biasa.Financial Lease (Hak Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi) Financial Lease sering disebut dengan Capital Lease atau Full-Payout Lease.c. Financial Lease merupakan suatu corak Leasing yang paling sering digunakan. Universitas Sumatera Utara . melakukan pemesanan. Financial Leasing mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :24 23 24 Munar Fuadi. pemeriksaan serta pemeliharaan barang modal yang menjadi objek transaksi Leasing.16. Lessee biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama Lessor. Lessor adalah pihak yang membiayai penyediaan barang modal. op. cit. op. H. melainkan hubungan bilateral antara pihak Lessor dengan pihak Lessee. Dalam jenis ini. terdapat juga berbagi bentuk lainnya yang lebih merupakan derifatif dari kedua bentuk pokok tersebut 1. hal.

Dalam jenis ini. dibutuhkan keahlian khusus dari Lessor untuk memelihara dan memasarkan kembali barang modal yang sudah disewagunausahakan kembali. atau mengembalikannya kepada Lessor. Operating Lease (Sewa Guna Usaha tanpa Hak Opsi) Operating Lease disebut juga Service Lease. d. Perbedaan ini disebabkan karena Lessor mengharapkan keuntungan justru dari penjualan barang modal yang disewagunausahakan. Objek Sewa Guna Usaha (Leasing) dapat berupa barang bergerak dan tidak bergerak. Jumlah sewa yang dibayar secara angsuran per bulan terdiri dari biaya perolehan barang ditambah dengan biaya lain dan keuntungan yang diinginkan Lessor. e. c.a. atau melalui beberapa kontrak Sewa Guna Usaha lainnya. Dalam Leasing jenis ini. Jangka waktu berlakunya kontrak relatif lebih panjang. Selama jangka waktu kontrak. Besarnya harga sewa ditambah hak opsi harus menutup harga barang ditambah keuntungan yang diharapkan oleh Lessor. yang berumur maksimum sama dengan masa kegunaan ekonomis barang tersebut. f. Lessor membeli barang modal dan selanjutnya disewagunausahakan kepada Lessee. b. Universitas Sumatera Utara . atau perpanjangan masa kontrak dengan pembayaran yang lebih rendah dari sebelumnya. pajak. 2. asuransi) atas barang modal ditanggung oleh Lessee. jumlah seluruh pembayaran Leasing berkala dalam Operating Lease tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan bunganya. Lessee diberi hak opsi untuk membeli barang modal sesuai nilai sisa. dan resiko biaya pemeliharaan dan biaya lain (kerusakan. Berbeda dengan Finance Lease. Lessor tidak boleh secara sepihak mengakhiri kontrak Sewa Guna Usaha (Leasing) atau mengakhiri pemakaian barang modal tersebut. Pada akhir masa kontrak.

Biasanya bentuk Sale and Lease Back ini mengambil bentuk Financial Lease. dan pembayaran barang tersebut dilakukan secara cicilan. Kontrak Operating Lease dapat dibatalkan secara sepihak oleh Lessee dengan mengembalikan barang modal kepada Lessor. pemeliharaan) atas barang modal ditanggung oleh Lessor. b. op. Barang modal yang menjadi objek Operating Lease. Jangka waktu kontrak relatif lebih pendek dari umur ekonomis barang modal. Setelah kontrak berakhir. kemudian barang modal tersebut dijual kepada Lessor dan selanjutnya oleh Lessee disewa kembali dari Lessor untuk digunakan kembali bagi keperluan usahanya daalam suatu bentuk kontrak Leasing. pajak. hal. lalu dialihkan melalui kontrak Leasing. yang tadinya ditanggulangi sendiri. Lessee membeli terlebih dahulu barang modal atas namanya sendiri. 25 26 Ibid.17. e. antara lain sebagai berikut : 26 3. Sale and Lease Back mirip dengan hutang-piutang uang dengan jaminan barang.Ciri-ciri dari Operating Lease adalah sebagai berikut :25 a.208.cit. asuransi. Lessor dapat memetik keuntungan dari hasil penjualan setelah kontrak berakhir. biasanya barang yang mudah dijual. c. Bahwa selain kedua bentuk utama Leasing diatas. Jumlah sewa secara berkala (angsuran) yang dibayar oleh Lessee kepada Lessor lebih kecil daripada harga barang ditambah keuntungan yang diharapakan Lessor (non full payout) d. hal. Segala resiko ekonomi (kerusakan. Munar Fuady. Universitas Sumatera Utara . Sale and Lease Back ( Jual dan Sewa Kembali) Dalam bentuk transaksi ini. f. Atas dasar perhitungan tersebut. Lessee wajib mengembalikan barang modal tersebut kepada Lessor. Tujuan Lessee mengunakan bentuk ini untuk memperoleh dana tambahan modal kerja. masih terdapat bentukbentuknya dari Leasing.

Lessor membeli barang modal dan sekaligus menyewakannya kepada Lessee. Dalam pelaksanaanya. bea masuk. seorang Lessor tidak sanggup membiayai sendiri keperluanbarang modal yang dibutuhkan Lessee karena alasan tidak memiliki kemampuan pendanaan. tujuan Lessee adalah memperoleh barang modal untuk perusahaannya dengan pembiayaan secara Leasing dari Lessor.Bentuk ini banyak digunakan di Indonesia akibat masalah kesulitan impor barang modal terutama mengenai perizinan. Pembelian tersebut dilakukan atas permintaan Lessee dan Lessee pula yang menentukan spesifikasi barang modal. 6. Syndicated Lease (Sewa Guna Usaha Sindikasi) Dalam bentuk transaksi. Dengan kata lain. 4. salah satu Leasing Company bertindak sebagai Coordinator of Laesing Companies untuk menghadapi Lessee dan juga pihak Supplier. Untuk mengatasi hal tersebut. Direct Finance Lease (Sewa Guna Usaha Langsung) Dalam bentuk transaksi ini. pajak impor. Penyerahan barang langsung kepada Lessee tidak melalui Lessor. harga dan Suppliernya. maka beberapa Leasing Companies mengadakan kerja sama membiayai barang modal yang dibutuhkan Lessee. Lessee berhubungan langsung dengan Supplier dan Lessor membiayai kebutuhan barang modal tersebut untuk kepentingan Lessee. Leveraged Lease Leveraged Lease merupakan suatu jenis Financial Lease. dengan mana pihak yang memberikan pembiayaan di samping Lessor juga pihak ketiga. yang banyak memakan biaya. Jadi. Universitas Sumatera Utara . 5. tetapi pembayaran harga secara angsuran langsung dilakukan kepada Lessor.

Cross Border Lease Cross Border Lease merupakan Leasing dengan mana pihak Lessor dan pihak Lessee berada dalam dua negara yang berbeda. bahkan Lessee harus juga mengembalikan barang kepada Lessor dalam kondisi dan nilai seperti pada saat mulainya perjanjian Leasing. Pihak ketiga ini sering disebut dengan Credit Provider atau Debt Participant. dan mengatur hubungan dan negoisasi antara Lessor.Biasanya Leveraged Lease ini dilakukan terhadap barang-barang yang mempunyai nilai tinggi. Biasanya dengan Leveraged Lease ini terdapat juga seorang yang disebut manager. 9. Universitas Sumatera Utara . Maksudnya adalah Leasing dengan mana pihak Lessor bertanggungjawab atas pemeliharaan barang. Sering juga dipakai istilah Non-Maintenance Lease baik untuk Net Lease maupun untuk Net-net Lease. Net-net Lease Ini juga merupakan bentuk Financial Leasing. membayar asuransi dan pajak. 7. Lessee dan Debt Participant. Yakni pihak yang melaksanakan tender kepada Lessee. Full service Lease Full service Lease disebut juga dengan Rental Lease atau Gross Lease. Net Lease Ini merupakan bentuk Financial Leasing. dimana pihak Lessor hanya membiayai antara 20% sampai dengan 40% dari pembelian barang. dimana Lessee yang menanggung resiko dan bertanggungjawab atas pemeliharaan barang dan membayar pajak dan asuransinya. dimana Lessee tidak hanya menanggung resiko dan bertanggungjawab atas pemeliharaan barang dan membayar pajak saja. sedangkan selebihnya akan dibiayai oleh pihak ketiga. yang merupakan hasil pinjaman Lessor dari pihak ketiga tersebut dengan memakai kontrak Leasing yang bersangkutan sebagai jaminan hutangnya. 10. 8.

sehingga jangka waktunya lebih singkat dari biasanya. Big Ticket Lease Ini merupakan Leasing untuk barang-barang mahal. misalnya pesawat terbang dan dengan jangka waktu yang relatif lama. Jadi. Universitas Sumatera Utara . karena ia akan membayar cicilan yang besar. Seasonal Lease dan Return on Invescment Lease Pembagian kepada tiga jenis Leasing ini adalah jika dipergunakan kriteria “cara pembayaran” terhadap cicilan harga barang oleh Lessee kepada Lessor. Tetapi tentunya ini akan memberatkan Lessee. Yang dimaksud dengan Straight Payable Lease adalah Leasing yang cicilannya dibayar Lessee kepada Lessor tiap bulannya dengan jumlah cicilan yang selalu sama. Captive Leasing Yang dimaksud dengan Captive Leasing adalah Leasing yang ditawarkan oleh Lessor kepada langganan tertentu. Dalam trnasaksi ini. 15. Dalam hal ini. Oleh karena itu. pihak Lessor biasanya melease kembali barang tersebut kepada investor yang mau menanggung resiko. pihak Lessor bebas menawarkan Leasing kepada siapa saja.11. sehingga jangka waktu Leasing bagi Lessee menjadi lebih panjang. sehingga cicilannya menjadi relatif kecil. Lessor tidak harus mempunyai hubungan terlebih dahulu dengan Lessee. 12. 14. misalnya 10 tahun. Wrap Lessee Wrap Lease merupakan jenis Leasing. Third Party Leasing Transaksi bentuk ini merupakan kebalikan dari Captive Leasing. 13. yang biasanya pihak Lessor tidak mau mengambil resiko. biasanya yang menjadi barang objek Leasing adalah barang yang merupakan merek dari Lessor itu sendiri. Straight Payable Lease. yang telah terlebih dahulu ada hubungannya dengan Lessor.

Universitas Sumatera Utara . yang dimaksud dengan Seasonal Lease adalah Leasing yang metode pembayaran cicilannya oleh Lessee kepada Lessor dilakukan setiap periode tertentu. miasalnya dibayar tiap tiga bulan sekali. Sementara hutang pokoknya baru dibayar setiap akhir tahun dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan Lessee.Sementara itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Return on Invescment Lease adalah suatu jenis Leasing dimana pembayaran cicilan oleh Lessee kepada Lessor hanya terhadap angsuran bunganya saja.