P. 1
17. Ideologi Dan Masyarakat by DN Edited

17. Ideologi Dan Masyarakat by DN Edited

|Views: 813|Likes:
Published by Sigit Suryawan

More info:

Published by: Sigit Suryawan on Oct 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Sections

1

IDEOLOGI DAN MASYARAKAT
Kritik Islam Terhadap Ideologi-Ideologi Kontemporer dalam Prespektif Sosio Historis
Oleh : Sigit Suryawan, SE

I. PENDAHULUAN: “MANUSIA DAN PENCIPTAAN PERADABAN”.

Sejak awal di ciptakan, manusia adalah sosok makhluk yang revolusioner, di mana proses penciptaannya mengundang polemik yang cukup membingungkan para malaikat dan jin selaku makhluk awal di semesta ini. Adanya Adam mengharuskan Allah membuka sebuah dialog dengan para malaikat, dan adanya Adam mengakibatkan di kutuknya Iblis dan di cap nya Iblis sebagai pembangkang utama dalam semesta ini, kondisi ini menghasilkan sebuah tradisi baru di dalam dinamika semesta yang Allah ciptakan ini. Maka tidak berlebihan kalau dikatakan adanya manusia berarti adanya suatu dinamika dan perubahan tradisi. Seperti dalam pernikahan, ketika seorang anak terlahir maka akan timbul tradisi baru dalam lingkaran sosial kedua orang tua nya, kedua orang tua mulai dipanggil Bapak dan Ibu, dan kewajibannya pun bertambah, masing-masing akan berubah. Selanjutnya pula jika anak tersebut melahirkan anak kembali, maka kedua orang tua tersebut akan menjadi Kakek dan Nenek, singkatnya adanya manusia baik Adam maupun kita saat ini mensyaratkan terjadinya perubahan lingkungan disekitarnya secara mendasar. Tidak berlebihan dikatakan bahwa perubahan merupakan aspek fitrah dari manusia, dan perubahan merupakan kecenderungan yang harus dilakukan manusia jika ingin dia menjadi lebih baik dan lebih manusiawi, hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya;

“Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum, sampai kaum itu mau mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Qs. 8:53) “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka”.(Qs. 13:11). Kata kunci dari dua ayat diatas adalah Perubahan, makna perubahan ini harus di klasifikasikan dalam pola perubahan Islami yaitu wajib, sunnah, makruh atau haram. Atas dasar

) Penulis Makalah ini merupakan pemerhati permasalahan Islam dan relevansi Islam terhadap perkembangan peradaban

2

pertimbangan itulah maka setiap perubahan dapat dinilai hasil dan tujuannya, tapi hakekatnya perubahan adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk membawa sebuah atau bahkan sejuta hal yang konstruktif bagi pribadi maupun masyarakat. Karena itulah setiap langkah perubahan harus ditimbang dan dipikirkan secara matang agar yang terjadi nantinya adalah sebuah ‘Effektifitas’ yang mampu menghasilkan perubahan yang komprehensif dan bukan merupakan pengulangan dari suatu kealpaan dimasa lalu, untuk hal itulah maka kita sebagai seorang muslim dalam mengadakan suatu perubahan diri dan masyarakat harus terpola pada Qur’an (sebagai guide lines) dan Assunah sebagai kerangka interprestasi yang komprehensif (Qs. 2:203). Untuk mempermudah interpretasi kita, marilah kita pertama-tama membuang segala keunggulan kita dengan makhluk lain, kita berusaha duduk pada posisi yang sama yakni ‘sebagai makhluk Tuhan yang tak tahu dan tidak memiliki keunggulan apa-apa, hal ini dalam rangka membentuk suatu paradigma kita akan makna sebuah kata “Manusia”. Firman Allah yaitu Qs. 16:68-69; Posisi lebah disini adalah dimana dia sebagai makhluk Tuhan yang merelakan dirinya untuk diatur oleh Allah, sebagai Penciptanya yang Maha Tahu. Allah menurunkan wahyu (sebagai panduan masyarakat lebah) kepada masyarakat lebah, yang kemudian mereka patuhi tanpa “Reserve” , hasil dari sebuah kepatuhan ini adalah :  Lebah mampu eksis mempertahankan kehidupannya sampai beribu tahun.  Lebah melakukan penyerbukkan bunga.  Madu; dan masih banyak lagi.

Hal inilah yang dapat kita ambil pelajarannya, bahwa betapa lebah mampu menghasilkan manfaat bagi kita dan alam sekitarnya, walaupun hanya sebagai binatang kecil yang tak berarti, yang harus kita bawahi disini adalah bahwa Lebah makhluk yang secara notabene memiliki derajat secara biologis maupun strata kehidupan jauh dibawah manusia, dan juga sebagai makhluk yang hanya dikaruniai instink bukan akal, mampu menghasilkan manfaat yang tak ternilai karena ketaatannya dengan Wahyu Allah. Namun alangkah berbedanya dengan manusia , coba kita renungkan firman Allah dibawah ini : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh” (Qs. 33:72). Pemikulan suatu amanah Allah oleh manusia menandakan bahwa manusia punya potensi dan kapabel untuk menjalankan amanah tersebut, namun makhluk Allah yang lain tidak. Sebagai contoh : Lebah tidak dikaruniai akal untuk mengembangkan wahyu, namun instink-lah yang menjadi andalannya dan dengan instink dan wahyu dia mampu bertahan, walaupun dengan pola

3

kehidupan yang sama dari ribuan tahun yang lalu, lebah praktis tidak menciptakan suatu peradaban. Manusia dikaruniai oleh Allah akal untuk menterjemahkan wahyu-Nya dalam kehidupan, namun kedzaliman dan kebodohan manusia pun bermula dari akal yang digunakan untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia tidak menggunakan Qur’an dan Assunah sebagai Manner of Thinking manusia . Manusia memiliki tanggung jawab (tugas) yang maha besar dalam skenario Tuhan, yaitu untuk tampil sebagai khalifah dibumi (Qs. 2:30), dimana ia harus “mewujudkan” Peradaban Tuhan dimuka bumi yang nantinya akan menghasilkan manfaat bagi semesta alam, terlebih lagi bagi si ”Lebah”. Atas dasar inilah maka akal harus manunggal dengan wahyu, kekuatan interpretasi akal terhadap wahyu yang di aktualisasikan di dalam lingkungannya harus semata-mata dimanfaatkan untuk sebuah pengagungan Allah sebagai Penciptanya. Seperti yang dituturkan oleh Hasan Al-Banna; Akal diciptakan untuk memikul beban amanah (seperti Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji dsb.), juga untuk merasionalisasikan konsep siksa dan pahala dimuka bumi. Akal model begini yang telah disebut dalam al Qur’an lebih dari 40 kali, dan seluruhnya diiringi anjuran untuk mempergunakannya secara layak. 1 Renungi, bahwa Amanat manusia adalah untuk membangun suatu peradaban yang diridhoi Allah, hal tersebut adalah proyek terbesar manusia, yang hanya bisa terwujud dengan integralnya kekuatan akal yang terpola dalam kerangka wahyu, jadi akal hakekatnya dianugrahkan kepada manusia untuk “membumikan” wahyu, bukan untuk kepentingan nafsu yang bersifat menentang wahyu tersebut (Qs. 51: 56) dan sudah selayaknya dalam menginterprestasikan wahyu agar dia dapat sesuai dengan keinginan Allah, maka kita dalam interprestasi kita selayaknya harus terbebas dari “kepentingan” pribadi kita. Peradaban merupakan suatu hal yang terbesar yang tercipta dari aktifitas sejarah kehidupan manusia, dimana sejarah menyimpan pengalaman pahit dan manis tentang aktifitas peradaban manusia, yang selayaknya bagi kita yang ingin maju mampu mempelajari alurnya sehingga kita mampu untuk bangkit dalam upaya menciptakan Peradaban Tuhan dimuka bumi. Inilah Visi kemanusiaan. Peradaban adalah produk zaman yang tertinggi, dia melampaui kebudayaan yang hanya bersifat lokalistik, maka peradaban adalah sesuatu yang universal dia meliputi segala batas teritotial yang nantinya mengarahkan manusia pada titik koordinat peradaban (Qs. 2:148), entah itu membawa syafa’at atau mudharat tergantung dari ruh peradaban tersebut (Qs. 12:111). Berbicara peradaban berarti kita berbicara mengenai “Organisme” yang bertanggung jawab terhadap hal itu, yakni; Manusia. Manusia dengan kekuatan akalnya mampu untuk merekayasa atau lebih tepatnya mengakumulasikan segala tantangan zaman yang ada, sehingga ia mampu

4

untuk memiliki suatu persepsi terhadap lingkungan dan zaman dimana dia hidup, dimana persepsi terhadap lingkungan lebih penting dari pada lingkungan itu sendiri, karena dengan adanya persepsi manusia mampu untuk mengadakan suatu pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan (kognitif dan affektif) yang nantinya akan merangsang manusia untuk membentuk suatu lingkungan yang kondusif, dimana dia dapat hidup dan bebas mengembangkan segala potensi dirinya (dan masyarakat), atas unsur inilah suatu peradaban tercipta. 2. Peradaban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata adab; yang artinya kesopanan, kehalusan, dan kebaikan budi pekerti; akhlak; sehingga di katakan bahwa peradaban adalah kecerdasan, kebudayaan lahir-batin suatu bangsa. 3 Berarti kisah Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub adalah kisah penciptaan suatu peradaban, yang dalam proses penciptaannya diperlukan perbuatan-perbuatan besar dan ilmu-ilmu yang tinggi, ditambah dengan akhlak yang tinggi (Qs. 38: 45-46). Peradaban merupakan bentuk dari aspek kognitif, affektif dan psikomotorik manusia yang dengan hal itu manusia mampu menghasilkan suatu bentuk tatanan basis sosial, ekonomi, politik dan sebagainya yang kondusif pada masanya (Environtment as Preceived). Dalam uraian diatas terlihat betapa manusia memiliki andil yang cukup kuat dalam merekayasa suatu peradaban. Ada 2 (dua) jenis peradaban menurut persepsi kesejarahan yaitu:

 Trans Generational History; yaitu dimana unsur lingkungan (outher power) lebih dominan dari pada manusia dalam menciptakan suatu peradaban (determinisme sejarah)  Generational History; yaitu dimana aktor sejarah berfungsi secara dominan untuk menentukan/merekayasa alur peradaban (sejarah yang bersifat progresif ) 4.

Contoh terdekat dari Trans Generational History adalah; lihat peradaban lebah, dimana persepsi lebah terhadap lingkungannya tidak ada dan tidak mampu berpikir tentang apa yang harus kita lakukan kemudian pada zaman/ lingkungan dimana dia hidup, namun dia mampu eksis selama beribu tahun, hal ini dikarenakan komitmennya tanpa reserve terhadap wahyu (yang merupakan skenario drama yang maha besar ini), dan pada peradaban manusia adalah suatu perubahan yang harus terjadi akibat stagnasi “lingkungannya” dan juga karena faktor kekuatan alam/faktor-x- yang memaksa terjadinya perubahan dan Generational History adalah dominannya faktor aktor sejarah/peradaban dalam melakukan aktifitasnya untuk menentukan dan merekayasa

lingkungannya, yang tidak hanya sebagai antisipasi terhadap tantangan/zaman yang dihadapinya, namun adalah suatu pola peradaban yang konsisten dengan cara mempelajari peradaban masa lalu,

. Hasan Al-Banna, TAFSIR AL BANNA, Pustaka Progresif Jan. 1999, Hal. 136 .Lihat, PRISMA Edisi Khusus 20 Tahun 1971-1991, LP3ES hal. 4 . KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA; Edisi Kedua, DEPDIKBUD, Balai Pustaka 4 .Ibid, hal. 6-7.
1 2 3

5

mengaktualisasikannya pada masa kini dan merumuskan sebuah masa depan, contoh yang tepat adalah : Nabi –sebagai sosok Ideolog sejati--. Kemudian marilah kita melakukan sebuah analogi ringan yang akan memberikan kita pemahaman yang lebih sederhana: Tanah liat yang basah dalam hukum alamnya pasti akan mengering yang nantinya menjadi pecah dan berubah menjadi debu, karena hal inilah yang pasti terjadi (mutlak, Trans Generational History), tapi bagaimana jika tanah liat basah tersebut bertemu dengan tangan-tangan kreator yang terampil yang mampu menghasilkan berbagai macam bentuk dari tanah liat tersebut. Jika dia (manusia) memiliki asosiasi (akal) yang positif maka dia akan mengubahnya menjadi suatu karya seni yang indah dan lainnya, lain halnya jika dia memiliki suatu asosiasi yang negatif maka dia akan membentuk tanah liat tersebuat menjadi sesuatu yang dapat membahayakan manusia lainnya. Maka dari hal tersebut dapat kita pahami bahwa peradaban terdiri dari 3 (tiga) komponen vital, yaitu: Takdir, Realitas Objektif dan ikhtiar. Peradaban Islam berdiri atas tiga hal tersebut, maka apakah kelesuan/tertindasnya Islam pada saat ini adalah takdir, ataukah ketidak mampuan kita dalam menterjemaahkan realitas objektif dalam kerangka idealitas Tuhan (Islam) ?. Hal tersebut harus dipahami secara ideologis selaku Agent of Change yang hanya berkata Takdir jika Ikhtiar telah mencapai titik kuluminasinya (kesyahidan, Qs. 8:53). Haruslah kita pahami bahwa perjalananan peradaban adalah ketentuan historis semesta yang harus kita jawab dan kita taklukkan dan gembalakan, sebab jika manusia tidak mampu menghadapi tantangan zaman dan menghadapi zaman dengan landasan yang salah maka akan timbul suatu peradaban yang Chaostik bukan Cosmos (keteraturan), yang tentu saja karena diakibatkan oleh tantangan zaman yang makin menggila dan hilangnya persepsi manusia terhadap lingkungannya, sehingga manusia tidak mampu bertindak secara konstruktif.

Kemudian kita mencoba merujuk kembali kepada firman Allah dibawah ini: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan/menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”, Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan Berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Qs. 2:30) dan ,Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada (Dien)-Nya, niscaya Allah memasukan mereka kedalam rahmat yang besar dari-Nya (Syurga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya “ (Qs. 4:175). Sesungguhnya Allah menciptakan manusia (kaum) itu dalam satu rahim dengan guide lines peradaban (wahyu), yang artinya setiap kaum memiliki tantangan peradabannya sendiri yang guide

6

lines tersebut harus diaktualisasikan dalam menghadapi zamannya guna mencapai suatu keemasan peradaban. Tantangan zaman yang berbeda, akan membawa pada sebuah revolusi sosial
5

peradaban, disinilah peran seorang Nabi sebagai pengawal sekaligus pencetus revolusi peradaban yang diturunkan Allah sebagai penjaga kelangsungan hidup ummat manusia (Qs. 13:7). Para Nabi diutus oleh Allah adalah seorang aktor sejarah yang memiliki tujuan untuk membangun kembali persepsi manusia dalam landasan yang positif (Qur’an/wahyu) dalam usaha untuk menciptakan suatu pendinamisan peradaban, selain sisi spiritual yang menjadi sasaran perubahan (fitrah keberagamaan) secara otomatis Nabi juga mengadakan perbaikan dalam segi materialnya, karena jika pandangan (persepsi) terhadap materil telah terbentuk secara positif maka dengan mudah perbaikan secara menyeluruh dapat dilaksanankan, artinya Nabi berusaha menciptakan Sinergitas antara sisi Spiritual dan Material
6

dan jika sinergi ini telah terwujud

maka akan timbul suatu peradaban yang dinamis, misi kita selaku agent of change pun adalah demikian, sinergitas disini dapat diterjemaahkan dalam sisi praktik (salah satunya) berupa Da’wah (Qs. 36:3-8 dan 14:4). Seorang Nabi adalah aktor sejarah dimana dia muncul (yang juga akibat Rekayasa Tuhan) ditengah-tengah masyarakat beradab yang memerlukan suatu revitalisasi --rejuvening power-terhadap persepsi-persepsi, pemikiran-pemikiran dan perasaan untuk beradab, dan juga dimana sinergitas antara dimensi spiritual dan material tidak lagi terjadi sehingga menghasilkan ketimpangan peradaban. Dan yang pasti para Nabi diutus sesuai dengan kondisi zaman yang ada dan dibekali oleh pendidikan (pengetahuan) yang sesuai dengan tantangan zamannya oleh Allah (Qs. 2:253, maknanya untuk kita adalah membekali diri) dan juga kehadiran Nabi-lah (yang tak lepas pada prinsip-prinsip diatas) yang mampu memberikan kekuatan di masyarakat, maka tak salah jika saya katakan bahwa, manuver Nabi adalah berdasarkan kepada kepentingan/keinginan Tuhan dimana perjuangan terhadap kepentingan Tuhanlah yang menghasilkan manfaat bagi manusia (hakekatnya kepentingan Tuhan berdasarkan keinginan Tuhan untuk mengasihi hambaNya, Qs. 30:30). Dalam tindakan perubahannya Nabi dibekali oleh suatu Mukjizat, namun kita juga harus memahami mukjizat tersebut dalam upaya Nabi dalam melakukan perubahan. Nabi adalah manusia terpilih yang telah di didik oleh Allah guna menghadapi segala tantangan zaman yang ada, kemudian keberhasilan didikan Allah tercermin dari Mukjizat para Nabi (yang berbeda antara satu nabi dengan lainnya). Mukjizat para Nabi hakekatnya adalah kemampuan Nabi untuk mengakumulasikan segala tantangan dan kecenderungan zaman yang ada yang kemudian

) Revolusi sosial peradaban bersifat mutlak ; bertujuan untuk memperbaharui kredo sosial yang ada agar dapat meng akumulasi tantangan zaman dan kreatifitas berfikir manusia yang senantiasa dinamis. 6 ) Lihat, ISLAM DALAM PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA, Dr. Ali Syari’ati, IQRA Bandung: Dalam buku tersebut Ali Syari’ati menjelaskan tentang landasan sosiologis mengapa Nabi diturunkan dalam sebuah masyarakat, disana Ali Syari’ati mencoba untuk mengadakan redefinisi aktual terhadap peran nabi, yang sesungguhnya pada saat ini oleh para ulama hanya didefinisikan secara mistik belaka –nash keagamaan—yang miskin dari nilai Ibrah, sedangkan Islam harus didefinisikan secara holistik dalam artian mencakup seluruh peran kemanusiaan (sosiologi).
5

7

menghasilkan suatu ekses positif yang luar biasa terhadap masyarakatnya (yang tercipta atas didikan Allah).

Marilah kita sedikit memahami kata-kata Imam Shadiq a.s, seorang dalam Kitab Al-Kafi, berkata: “Barang siapa yang mengerti tentang zamannya, tak akan dikejutkan oleh serbuan segala yang membingungkannya” ) 7

Artinya; ketika kita memahami zaman dimana kita hidup maka kita akan mampu menjawab segala tantangan zaman yang ada dan mampu memberikan kita kemampuan untuk bertindak secara konstruktif yaitu bagaimana menerjemaahkan nilai-nilai normatif Islam kepada bangunan teorinya sehingga bisa menjawab tantangan realitas objektif, dan Nabi adalah seorang pemberi contoh yang terbaik akan hal ini. Dalam gerakan para Nabi kita harus melihat mengapa Nabi mampu dengan semangat yang tak terpatahkan mengadakan suatu usaha dalam menciptakan perubahan terhadap peradaban ? (Contoh: Ulul Azmi), tentu hal ini dilandasi oleh sesuatu hal yang luar biasa; hal tersebut adalah Wahyu dan hal tersebut dipegang dengan komitment yang cukup tinggi (Qs. 2:214), karena inilah idealitas Tuhan, inilah Visi para Nabi yang harus menjadi Visi kita yang nantinya akan mampu menghasilkan ledakan gerak yang revolusioner dan terpola. komitment terhadap visi ini adalah kunci kepada pencerahan (Qs. 30:30 dan 62:2-3). Hakekat peradaban adalah rekayasa Tuhan sekaligus progresif, maka manusia dituntut untuk berpola kepada Wahyu, berjalan atas sunnatullah (lingkungan) dan dengan akalnya dia harus berpikir konstruktif akan dua hal tadi yang nantinya peradaban sempurna akan terlahir kembali dan manusia terbebas dari hal yang membuatnya ter-Stagnasi.

7

) lihat Murtadha Muthahari ,MENJANGKAU MASA DEPAN ISLAM, Mizan , hal. 65.

8

II. IDEOLOGI SUMBER PENGGERAK SEJARAH “Kenapa suatu ideologi mampu menjadi sumber penggerak sejarah?”, terlebih dahulu kita harus memahami arti dari ideologi itu sendiri. Pada bab pertama sedikit kita singgung bahwa keyakinan (ideologi)-lah yang menjadi pijakan dasar para nabi untuk melakukan “movement

society” dalam misi Ilahiyahnya untuk melakukan upaya mensinergikan aspek materil dan spirituil masyarakat (kelompok sosial), yang nantinya akan mengubah suatu pola pikir, pola tindak dan segala perubahan lainnya dari setiap individu masyarakat (penyadaran) yang di dakwahi oleh nabi, yaitu perubahan dari sistem sosial ideologi yang jummud --- akibat tidak adanya sinergi --- kepada sebuah sistem sosial ideologi, yang merupakan idealitas setiap manusia (Qs. 30:30). Perlu jadi catatan bagi kita bahwa Ideologi/Dien Islam bukan lahir dari realitas yang dihadapi manusia (fenomenologis) tapi ia adalah perwujudan atau cerminan dari ideal-ideal Tuhan pada manusia serta idealitas manusia secara fitri. Kemudian, marilah kita memahami ideologi dari dua unsurnya, yaitu; secara etimologi dan terminologinya yang kemudian bisa samasama kita kembangkan menjadi paradigma kita dalam rangka memahami ideologi dan juga kita mampu untuk menerjemaahkan Islam sebagai alternatif perubahan yang ada ( menjadi visi da’wah pergerakan islam). Secara etimologi ideologi berasal dari Bahasa Grik (Yunani), yang terdiri dari dua kata yaitu; idea dan logos; idea yang berarti; cita-cita, keyakinan, pemikiran atau konsep. Sedangkan logos (logi) berarti; ilmu, logika, ajaran dan pengetahuan. Jadi kita dapat tarik suatu pemahaman dari arti etimologinya tersebut yaitu; Ideologi merupakan rasionalisasi idealitas yang

dipengaruhi oleh lingkup tertentu (sosial/alam) yang kemudian diterjemaahkan menjadi tahapan-tahapan yang sistematis dalam usaha untuk meraih idealitas (sosial/individu) yang biasanya kolektif, inilah terjemaahan dari ideologi (ilmu tentang keyakinan dan cita-cita) 8. Pertanyaan penting bagi kita, “Mengapa Idealitas perlu dirasionalisasikan (baca--

disistematikakan)? ”, hal karena manusia hidup pada dua alam (Idealitas dan Realitas) yang masing-masing bukan untuk saling di eksploitasi satu sama lain, namun untuk ditempuh dengan cara “Makrifat” 9, sebuah idealitas dia ada dan hidup dalam alam pemikiran manusia hal ini menyangkut perasaan untuk “being” (ada) dan atas desakan-desakan tertentu yang kemudian menjadikannya untuk “becoming” (menjelma/nyata), maka pentingnya sistematisasi idealitas adalah dalam rangka mendisiplinkan suatu ideal (dalam hal ini Allah) yang ada pada diri manusia

8 9

) Firdaus AN., Panji-Panji Dakwah; Pedoman Ilmu Jaya Hal. 29 ) Makrifat berasal dari kata ‘Arafa - ya’rifu yang artinya mengetahui, yaitu bagaimana kita mampu menggunakan wahyu dan akal secara Integral.

9

untuk mencapai suatu keberhasilan (pemenuhan ideali tadi) 10 . Idealitas penting, ia adalah landasan untuk mempola lingkungan yang dihadapinya yang nantinya akan disimpan dalam “kesan” manusia (ingatan---pen.), yang kemudian akan berusaha diwujudkan oleh manusia (realisasi dengan sistemik) dan kemudian jika hal tersebut berhasil maka manusia akan dengan mudah serta kondusif untuk mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya (yang bi-dimensional) yang nantinya akan menghasilkan suatu kebahagiaan/kepuasan bagi manusia, barometernya lihat Qs. 63:2-3. Penjelasan: Wahyu adalah bentuk idealitas Allah terhadap manusia, karena itu Allah menciptakan pasangan yang tepat dalam rangka perwujudannya, yaitu akal pikiran, dan dengan hal inilah wahyu tersebut dikembangkan ( yang terlebih dahulu Qur’an memberi falsafah dasarnya yaitu Tauhid) untuk mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang kondusif bagi manusia. Point yang harus kita ambil disini adalah kekuatan idealitas dan sistematisasi atasnyalah membuat sebuah “keberhasilan” kehidupan. Suatu ideologi berarti dibentuk berdasarkan suatu realitas dan tantangan hidup yang dihadapi oleh suatu individu/masyarakat, atas kepentingan untuk menjawab tantangan yang dihadapinya maka ideologi tadi dirumuskan dan dijadikan suatu patokan-patokan/premis dasar dalam kehidupannya (baik secara individu/masyarakat). Praktis, ideologi yang ada akan rentan oleh perubahan , karena berjalannya waktu yang berarti perubahan letak, bentuk serta tantangan geografis dunia maka sudah jadi sebuah deterministik sejarah ; konsep-konsep pandangan hidup yang lama akan mengalami ketengelaman (basi), sehingga akan menyulut suatu perubahan yang revolusioner, karena hal ini berkaitan dengan sifat dan kebutuhan universal manusia. Jika suatu ideologi tidak lagi relevan, maka akan terjadi perlawanan-perlawanan dari segala kubu konflik sosial untuk memaksakan –ataupun secara sukarela-- perubahan terhadap sistem ideologi yang ada; karena itulah, maka ideologi-ideologi yang ada didunia secara mayoritas tidak akan memberikan sebuah jawaban final terhadap polemik sosial yang terjadi --hal ini terjadi karena ideologi tersebut tidak mampu mensistematikakan suatu sifat/keinginan manusia yang universal secara integral-- karena sifatnya yang sangat lokalistik dan subjektif (lihat bab dimuka tentang ideologi-ideologi dunia). Eksesnya; maka suatu ideologi akan menghasilkan ideolog-ideolog besar yang memiliki suatu kekuatan sebagai penganjur
11

(wahyu) yang

keyakinannya (ideologi-ideologi

tertentu). Para Ideolog (baik kafir ataupun muslim) adalah sosok aktor sejarah yang banyak melakukan gerakan-gerakan yang membuat suatu sejarah yang dapat menghasikan dinamisasi dalam polemik-polemik sosial (baik negatif maupun positif) yang ada, karena ideolog (sosok yang memahami visi, misi dan tujuan hidupnya) mampu merasionalisasikan (merealisasikan---pen.)
) Bandingkan dengan dialektika yang dikemukakan Hegel dengan Karl Marx; Hegel mengemukakan dialektika dari ide rasional menjadi teorisasi kepada tindakan sedangkan Karl Marx dari Empirisme kepada teori, sedangkan Islam mengemukakan bahwa ada hal yang telah diketahui manusia —fitrah--, namun hal ini akan mendapatkan hujjahnya secara objektif jika hal tersebut di aplikasikan dalam lapangan empiris ( Surat Iqra & Mudatsir), lebih jelasnya untuk bahan perbandingan lihat, tentang pemikiran Karl Marx pada PEMIKIRAN POLITIK DI NEGERI BARAT, Deliar Noer, MIZAN, dan tentang Kritik terhadap Marxisme pada FALSAFATUNA, Muhammad Baqir Ash Shadr, MIZAN 11 ) Firdaus A.N, PANJI-PANJI DAKWAH; Pedoman Ilmu Jaya, hal. 30
10

10

suatu idealitas dan mampu menterjemaahkannya menjadi tahapan-tahapan yang sistematis dalam upaya untuk meraih idealitas tersebut , kekuatan idealitaslah yang mampu membius masyarakat untuk mengikuti sang ideolog tersebut. Seorang ideolog adalah seorang yang hidup pada 2 (dua) alam --alam konseptual dan praktikal-- yang masing-masing mampu disinggahinya secara proporsional sehingga menghasilkan sebuah aktualisasi diri yang mengagumkan. Sebagai contoh; seorang ideolog mampu untuk menciptakan perang besar, pembunuhan massal ataupun bertindak sebagai seorang juru selamat dan dalam kesejarahan hal inilah yang menjadi variabelvariabel dominan yang menyusunnya. Berikut ini adalah skema sistematika alur ideologi (yang merupakan produk pemikiran yang serba terbatas):

Dari ide-ide/ keyakinan kemudian dimotivisir -> diadasari oleh lingkungan Idealitas

Menghasilkan Suatu: - Pemikiran - Konsep - Persepsi terhadap lingkungan

Yang menghasilkan suatu yang ---> Sistematisasi tindakan yang berdasarkan yang tinggi

_____________________________Ideologi_________________________

Berdasarkan skema diatas dimana dapat kita pahami bahwa ideologi adalah “ Suatu pemikiran (idealitas) manusia yang didasari oleh realitas yang mampu dirasionalisasikan, baik dalam kerangka konsep/teori sampai kepada langkah-langkah praktisnya, yang bertujuan untuk menjawab suatu hal yang urgent (penting) dimana ide-ide tersebuat muncul ”. Karena pentingnya suatu ideologi dalam suatu masyarakat dalam menjawab tantangan zamannya, maka setiap civitas comunitas harus bertitik tolak dari ideologi tersebut (sebagai falsafah dasar dan pengikat) agar idealitas yang dicita-citakan masyarakat (walaupun dalam kenyataannya hanya dinikmati oleh segelintir manusia---pen.) dapat tercapai Kemudian secara terminologinya menurut Kamus Oxford Advanced Learner’s of Current English (AS. Hornby), ideologi adalah; Ideology : is manner of thinking, ideas, characteristic of a person, group and the others, especialy as forming the basis of an economic and political system (suatu cara/adab berfikir, ideide, karakter seseorang/sekelompok orang dan lainnya terutama dalam tujuannya untuk membentuk suatu basis sistim ekonomi dan politik).

Menurut definisi Prof. Miriam Budiarjo yang mendefinisikan ideologi dalam kerangka politik yang dalam hal ini sedikit mendapat saduran dari penulis;

11

Ideologi adalah himpunan nilai-nilai, ide, norma-norma, kepercayaan dan keyakinan, suatu pandangan hidup, yang dimiliki seseorang/sekelompok orang atas dasar mana dia menentukan tingkah laku/perbuatannya di masyarakat 12

Kesamaaan pandangan dua definisi diatas adalah; bahwa ideologi mempengaruhi dan memberikan pengaruh besar segala tingkah laku seseorang dan juga mencetak/menghasilkan sebuah karakter bagi seseorang/masyarakat, misalnya: Rasisme kulit putih memandang orang kulit putih sebagai cap identitas yang menganut teori ini, bila mengatakan kami, kita maka yang dimaksud adalah ras kulit putih. Begitu juga dengan marxisme yang label pengikutnya adalah “kaum pekerja”, kata kami atau kita dinisbatkan pada golongan, etnis atau kelompok mereka
13

Inilah

suatu kekuatan ideologi dalam membentuk suatu karakter penganutnya, namun pembentukan karakter ideologi ini yang akan menghasilkan suatu karakter-karakter manusia yang terpolarisasi pada kekerdilan pandangan (geografis, kelas dan sistem produksi ekonomi) masyarakat, maka alurnya pun akan membentuk suatu lingkungan kemasyarakatan yang egoistis, yang akan berusaha membuang jauh-jauh sinergi antara kelompok masyarakat yang tidak menganut paham seperti mereka, lingkungan egoistis ini adalah merupakan salah satu sumber konflik yang terbesar dalam sejarah. “Bagaimana dengan Ideologi Islam (kita sepakat menggunakan kata ini karena kata inilah yang lebih mewakili dalam Bahasa Indonesia) yang bukan produk lingkungan dan pemikiran manusia? “ , karena Ideologi Islam tidak terbentuk oleh hal-hal diatas melainkan suatu Justifikasi Formal Allah akan manusia (subjektifitas-Nya), maka nilai serta misi yang terkandung didalamnya bersifat universal yang berarti meninggalkan perbedaan kelas, status sosial, ras dan hal lain yang bersifat separatis (namun bukan untuk di ‘nafi’kan). Ideologi Islam akan membentuk suatu Unity of Manner of Thinking bagi manusia atas landasan Ibadah kepada Tuhannya (Qs. 51:56) sehingga dia secara dinamis akan mampu menjawab semua tantangan zaman yang dihadapinya karena Ideologi Islam adalah manifestasi dari Tuhan (Qs. 3:85, Qs. 10:37, Qs. 3:132), dia terlepas dari pada ruang dan waktu sehingga menghasilkan suatu konsep ideologi yang relevan hingga akhir zaman dan memiliki aspek teologis, humanistis serta ekologis yang integral. Hal ini sangat berbeda dengan ideologi manusia yang terbentuk atas dasar tantangan lingkungan yang temporal serta lokalistik dan kemudian disimpulkan/dirumuskan menjadi sebuah sistem ideologi oleh manusia atas dasar ra’yu dan hawa’hu-nya (Qs. 10:35-36), hal ini yang harus kita pahami agar kita mampu menapak pada

12 13

) Bidiarjo, Miriam, DASAR-DASAR ILMU POLITIK, Gramedia Jakarta, hal. 32 ) lihat Muthahhari, Murtadha, MASYARAKAT DAN SEJARAH, Mizan, hal. 39-44

12

persepsi yang jelas terhadap perbedaan antara Ideologi dari Manusia dengan Ideologi dari Tuhan (Islam). Atas dasar inilah Allah selalu menganjurkan dan bahkan mewajibkan agar Islam tidak hanya dijadikan sebagai landasan moral belaka/sebagai pemanis suatu interaksi sosial, tapi dia harus mampu menjadi pengontrol interaksi sosial tadi dengan norma-normanya, atau dengan kata lain bahwa setiap aktifitas Muslim harus berpola dari Idelogi Islam , (Qs. 2:208, Qs. 62:9-10). Berdasarkan definisi ideologi diatas maka dapat disimpulkan bahwa adanya suatu ideologilah yang membuat seseorang/masyarakat menjadi maju dan berkembang dan ideologi yang berkembang luas mau tidak mau akan dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman dalam masyarakatnya/individunya dimana dia berada, dan sering harus mengadakan kompromi (usaha) dan perubahan yang cukup luas sebagai hasil dari upaya adaptif dan proaktif yang diciptakan oleh semangat ideologi demi tercapainya suatu tujuan ideologi 14 . Kemudian suatu definisi dibawah ini akan menjadi penguat bagi kita bahwa ideologi adalah sumber penggerak sejarah.

Edward Shils : Ideologi adalah produk dan usaha manusia untuk menciptakan suatu tata intelektual tentang dunia dan sebagai suatu intensifikasi kebutuhan manusia akan peta kognitif dan moral yang harus dicapai dan bahwa ideologi biasanya lahir dalam kondisi krisis dan tumbuh diberbagai sektor masyarakat yang tidak dapat menerima pandangan hidup yang berlaku
15

Dapat diambil benang merahnya yaitu bahwa ideologi bersifat revolusioner dan akan selalu mengadakan perubahan dimasyarakat, dimana masyarakat tersebut tidak menerima suatu aturan, sistem dan status quo yang ada. Inilah dinamika yang dihasilkan ideologi. Tanpa adanya ideologi tidak akan ada pasang surut dalam sejarah kehidupan manusia dan sejarah tidak akan memiliki dinamisasi. Maka suatu ideologi adalah suatu hal yang mutlak harus dipeluk dan diperjuangkan oleh manusia karena hal ini demi kemaslahatan bagi manusia itu sendiri (Qs. 3:85) memperjuangkan suatu ideologi adalah fitrah (Qs. 9:38-39) yang akan menghindari manusia dari kejummudan pribadi dan sejarah secara logis Ideologi Islam dapat menjadi alternatif yang patut ditawarkan kepada peradaban dunia dewasa ini, mengapa tidak ?.

2.1 TIPOLOGI IDEOLOGI BESAR DUNIA Suatu langkah kehidupan manusia dewasa ini tak lepas dari pengaruh dominasi ideologiideologi yang ada, hal inilah yang membuat suatu kecenderungan suatu langkah peradaban manusia
14 15

) lihat, Budiarjo, Miriam, DASAR-DASAR ILMU POLITIK , Gramedia Jakarta, hal. 32 ) lihat Amien Rais, CAKRAWALA ISLAM , Mizan.

13

dapat diramalkan, karena ideologi adalah parameter suatu kecenderungan peradaban. Maka jika kita ingin melihat kecenderungan dunia/arah kehidupan suatu bangsa pada hari ini lihatlah pada ideologi apa yang mendasarinya dan nilai ideologi yang dibawanya, hal ini (penilaian) sangat diperlukan sebagai upaya untuk menelaah kondisi dengan lebih rasional dan objektif. Dewasa ini (maupun setback) secara garis besar, dunia memiliki 2 (dua) format dasar ideologi (dalam pengertian manner of thinking) hal ini yang mempengaruhi watak suatu masyarakat. Berarti berbicara 2 (dua) format ideologi harus menghantarkan kita kepada komitment terhadap Ideologi mana yang seharusnya dia anut oleh masyarakat dalam rangka pemenuhan kefitrahannya.

2 (dua) format tadi adalah :  Subjetivitas Pemikiran Manusia : yaitu, menyangkut seluruh potensi kemanusiaan yang ada; cipta, rasa dan karsa, dalam terminologi Islamnya adalah Ideologi “Ardhi” (bumi).

 Subjektifitas Tuhan (Allah) : yang dalam definisi ini adalah islam, yang diturunkan kepada manusia untuk membimbing kehidupan mereka, dalam “Samawi” (langit). terminologinya adalah Ideologi

Hal ini yang menjadi suatu manner of thinking manusia di dunia, maka layaknya perlu kita ketahui/pahami yang manakah nantinya akan menjawab seluruh tantangan hidup manusia secara komprehensif. Manusia adalah mahkluk bi-dimensional dimana sisi pemenuhan kebutuhan hidupnya harus integral serta proporsional; disatu sisi manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan dibidang material namun disaat itu pula sisi spiritualnya menghendaki sebuah pemenuhan kebutuhan yang sama; hal inilah yang perlu kita sadari dan pahami terlebih dahulu. Ideologi adalah sebuah manner of thinking yang dengan ini manusia dapat hidup dalam keteraturan dan kepastian ---dalam hal ini terlepas terhadap ideologi itu bernilai atau tidak--- , maka segala civitas kehidupan manusia harus berpola dari manner of thinking tadi; penyimpangan darinya akan mengakibatkan manusia kehilangan eksistensi diri (identitas diri) yang nantinya akan berimbas terhadap hilangnya suatu identitas sosial, dengan kata lain; menyebabkan timbulnya anarkisme dalam sebuah sistem sosial. Secara mayoritas, pandangan hidup hari ini berkiblat kepada Ideologi Ardhi --yang merupakan hasil ra’yu dan hawahu manusia-- yang dalam perjuangannya secara umum mengedepankan pemuasan tanpa batas terhadap nilai-nilai ketanahan manusia (estetik-humanisme).

14

Sebuah ideal ketanahan manusia (baca, estetika humanisme) yang diterjemaahkan dalam ideologi-ideologi modern/ardhi adalah penerjemaahan nilai-estetika manusia, dengan wanita (manusia) sebagai titik sentral inspirasi (antroposentris), secara fanatik ideologi ardhi beranggapan bahwa hanya dengan kerangka persepsi inilah sebuah aktualisasi manusia bisa tersalurkan/tertata dengan baik, namun dalam aktualisasinya lebih cenderung mengkebiri potensi manusia untuk kejayaan manusia lainnya. Kembali kepada pemahaman akan keadaan manusia yang bi-dimensional , berarti nilai ini tidak cukup untuk dijadikan sebuah jawaban terhadap kebutuhan manusia yang harus integral (materil/immateril), dengan menggunakan kapasitas ideal humanistis seperti ini maka dalam aplikasinya akan terjadi sebuah pengingkaran-pengingkaran terhadap nilai-nilai immateril/metafisis manusia, sehingga dengan hilangnya (ditutupinya) satu sisi dalam dimensi hidup manusia akan mengakibatkan ketidak seimbangan hidup dalam diri manusia tersebut, contoh : Angka

kematian/gila dalam negara maju lebih tinggi dari negara berkembang, walaupun secara fakta, ideologi yang dianut oleh mayoritas negara berkembang adalah ideologi manusia berdasarkan kepada filsafat ketimuran yaitu etika nenek moyang (Qs. 2:170) yang terdiri dari animisme, dinamisme, polytheisme dan lain-lain. Artinya upaya pemahaman manusia akan dirinya dan kemudian berusaha merumuskan suatu pandangan hidup yang sempurna dia didunia ini adalah sangat tidak mungkin, hal ini dikarenakan perlunya sebuah penilaian objektif yang mampu menela’ah kedua kecenderungan azali manusia yaitu; ruh dan tanahnya, dan secara real hari ini ideologi ardhi yang ada tidak mampu menelaah hal tersebut (padahal ini subtansi manusia), yang hanya mampu dia telaah adalah sebab-sebab dan ekses-ekses tindakan manusia secara temporal, duz dipengaruhi realitas yang ada, jadi bukan atas penilaian subtansi akan kebutuhan manusia secara integral. “ Berarti sebuah nilai humanisme harus dipandang sebagai manifestasi dari kekuatan yang menciptakan subtansi kebutuhan manusia (yang mampu menelaah secara objektif—Tuhan, God, Janus, Allah) ”, maka hakekatnya humanisme merupakan ungkapan nilai ilahiyah yang ada dalam diri manusia yang merupakan petunjuk agama (baca---alat pengatur) dalam kebudayaan dan moral manusia
16

, penyelewengan manusia hari ini adalah bagaimana manusia secara aktual

berusaha untuk tidak mau diatur oleh kekuatan ilahiyah, yang secara totok –radikal-- dipandang sebagai upaya pengekangan terhadap potensi manusia dan alam. Manusia memiliki sebuah pola hubungan unik yang mempengaruhi aspek hidupnya, yaitu; Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, pola hubungan ini yang luput/tidak mampu terjangkau oleh ideologi-ideologi ardhi yang ada sehingga
), Dr. Ali Syariati, HUMANISME; Antara Islam dan MazhabBarat Pustaka Hidayah , hal. 119 *) hal ini adalah pengaruh dari paradigma pemikiran barat yang berdasarkan kepada filsafat humanisme yunani yang beranggapan bahwa nilai-nilai ilahiyah (simbolisasinya adalah Dewa) akan mengekang kehendak manusia itu sendiri, contoh: Dewa Possedion dalam terminologi yunani adalah
16

15

cenderung menghasilkan ‘kebuasan’ dalam aktualisasi hidup manusia, yang aktualisasinya cenderung menuhankan aspek rasionalitas dan cenderung menentang aspek kekuatan metafisis -sebagai pengatur hidupnya-- duz hakekatnya ideologi ardhi mengusung virus atheis dalam bingkisan yang indah yang nantinya akan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri (Qs. 59:19) dengan kiblat pemikirannya yaitu: “Fanatisme Materialistik”. Ideologi ardhi terbentuk dari ra’yu dan hawahu manusia (Qs. 10:36) yang didorong oleh realitas kehidupan yang mendorong dan mendesak manusia untuk mengadakan sebuah rekonstruksi akan kehidupan yang menjanjikan secara materil --better live--. Landasan dari ideologi ardhi adalah sebuah spekulatif, dan antisipatif, maka atas landasan ini maka ideologi tersebuat akan sangat rentan terhadap sebuah perubahan (changeable dan destruktif) dan perjuangan ideologi ini merupakan perjuangan salah satu kepentingan manusia/kelompok saja, bukan aspirasi universal keinginan ummat manusia secara global (dilingkungan wilayah tersebut), maka dinamika pergantian ideologi yang terjadi hanya sebatas penghancuran-penghancuran masyarakat secara kontinyu ( Qs. 30:41). Oleh karena itu sebuah akumulasi serta sinergi antara dimensi materil dan immateril (outher power) akan sangat diperlukan manusia untuk meraih kesempurnaan hidup dan kehidupannya (Qs. 3:92), hanya ideologi samawi-lah yang memiliki hal itu, permasalahannya ideologi samawi apa yang patut/pantas kita anut dan perjuangkan, Yahudi, Nasrani atau Islam ?.

Untuk itu marilah kita telaah firman Allah dibawah ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”. (Qs. 5:52) Ideologi (dien, agama) yang kita sepakati sebagai manner of actuating manusia secara kesejarahan terbagi menjadi 3 (tiga) aliran besar, yaitu : Yahudi, Nasrani dan Islam. Pertanyaan besar bagi kita, mengapa Allah melarang keras kepada orang-orang yang beriman untuk mengambil pemimpin dari golongan Yahudi/Nasrani ?, Hari ini dilema yang terjadi oleh hampir 80% ummat Islam di Indonesia, memiliki pemimpin campuran dari semua golongan, maka dimana kita harus mengadakan realisasi?, tak mungkin Al Qur’an sebagai statement Tuhan dapat kita rubah. Sebagai jalan terbaik marilah kita membuka tabir tersebut dengan jalan pemahaman. Mengapa Allah melarang keras kepada kita untuk mengambil pemimpin dari golongan yahudi dan nasrani, hal ini dikarenakan yahudi dan nasrani merupakan sebuah terjemaahan dari
penguasa lautan, mungkin epik Nyi Roro Kidul jika terdapat dilautan atlantik juga akan dikritik oleh para pemikir Renaisance. Juga dalam epic Yunani adanya Tokoh Hercules merupakan simbolisasi perlawanan manusia terhadap kekuatan dewa-dewa.

16

terminologi etnik (etnosentris) suatu bangsa di suatu zaman, yahudi dan nasrani itu etnik bukan universal. Jadi perjuangan, pembelaan dan segala civitas kehidupan mereka itu tak lepas dari terminologi etnik, sangat sempit
17

. Jika suatu manner of thinking sudah terbentuk dari dasar

kepentingan suatu etnik yang memiliki sosio-historisnya sendiri sesuai dengan zamannya maka aspirasi perbuatan dan pendapatnya pun akan digunakan untuk kepentingan golongan mereka, perjuangan golongan atau sentimen golongan ini akan menghasilkan suatu kecemburuan sosial yang berbahaya bagi stabilitas suatu masyarakat. Islam itu universal, dimana pun dia dianut dia tetap sama yaitu berkiblat ke ka’bah dan berpedoman Qur’an dan Sunnah. Kemudian selain hal diatas ada hal lain yang menjadi pertimbangan kita untuk menelaah pandangan/ideologi yahudi dan nasrani tersebut. Lihat ayat Qs. 5: 44, 48 dan Qs. 3:100. Estafeta kenabian adalah sebuah skenario Tuhan dalam rangka membumikan suatu pandangan hidup yang komprehensif bagi manusia, untuk itu Tuhan dengan segala ke Mahaan-Nya membuat tahapan-tahapan besar dalam rangka penyempurnaan pandangan hidup tersebut, yang estafeta terakhirnya jatuh pada Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi (pembawa risalah kehidupan) yang terakhir (Qs. 2:253). Yahudi dan Nasrani merupakan tahapan yang integral dari Islam, kitab-kitab yahudi dan nasrani telah menunaikan tugasnya dengan baik pada zamannya, dan sebagai penyempurnanya hari ini adalah giliran Qur’an untuk menunaikan tugas sucinya sebagai pedoman ummat manusia, Islam dan Qur’an telah melewati proses yang sangat panjang sebelum sampai kepada kita (yaitu melalui 25-nabi-Nya) maka Islamlah yang hari ini harus kita anut karena dia adalah penyempurna risalah hidup dari Taurat dan Injil 18. Hari ini yahudi dan nasrani berusaha dipaksa, ditarik dan dihapuskan keintegralannya dari Islam dan digunakan sebagai manner of thinking di era globalisasi ini, yang notabenenya adalah kepentingan semua etnik, bukan etnik yahudi dan nasrani saja. Islam itu menghilangkan tidak menghilangkan batas teritorial maupun etnik tapi memang dia mencakup seluruh teritorial dan etnik yang ada diseluruh dunia, ajaran Islam tentang rahmatan lil’alamin adalah konsep globalisasi pertama yang lahir 14 abad yang lalu, namun sayang keangungan konsep tersebut tidak didukung oleh tanggung jawab dan tidak berusaha untuk membangun teorisasi yang objektf berdasarkan nilai normatif-nya, serta pemahaman yang integral dengan sunnah rasul oleh para penganutnya sehingga hari ini Islam hanya terpuruk pada masalah-masalah fiqiiyah yang tidak mendidik, serta hanya menghasilkan perpecahan maka wajar jika hari ini Islam (terlebih lagi di Indonesia) belum menjadi sebuah manner of thinking bagi penganutnya secara kaffah (Qs. 2:208, Qs. 49:13). Pertarungan Ideologi, yang tentu saja harus kita sikapi secara dewasa dan empirik serta mau mengadakan introspeksi terhadap pandangan hidup kita hari ini,

) Banyak sekali ayat-ayat Tuhan yang mengatakan demikian, Nabi Isa as. Diutus untuk kaumnya, Nabi Musa as. Diutus untuk kaumnya, sedangkan Nabi Muhammad Saw. Diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, maka reliable ajaran nasrani/yahudi tidak sampai sekarang sedangkan Qur’an itu sampai akhir zaman—hal ini jika dilihat dari nash keagamaan versi Islam. Dan juga dengan adanya Negara Yahudi dan Cleansing etnis palestina adalah indikasi yang jelas—Pen. 18 ). Untuk lebih jelasnya baca ISLAM DALAM PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA; Ali Syari’ati, IQRA Bandung.
17

17

untuk itu pahamilah bahwa Islam tidak akan tertinggal oleh zaman selama kita mau berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah secara lebih dewasa.

2.1.1 SOSIO-HISTORIS IDEOLOGI LIBERAL Setelah kita sama-sama membahas dan mengetahui ideologi-ideologi dunia secara empirik, maka dalam bahasan ini kita akan mengambil beberapa contoh ideologi-ideologi yang ada untuk sama-sama kita pahami dan ambil hikmahnya, dan dari pembahasan ini Insya Allah kita mampu memahami mana ideologi yang patut dianut dan berlandaskan apa ideologi itu kita anut, untuk itu marilah kita memasuki pembahasan ideologi liberal terlebih dahulu. Istilah liberal secara terminologi berasal dari Bahasa Perancis yaitu Liberte’, yang berarti kebebasan/pembebasan. Mengambil setting sejarah pada masa sebelum revolusi perancis, ideologi ini terpacu atas dasar adanya sebuah sistem Absolutisme kerajaan (staat-absolutism) yang mekanismenya di atur oleh Raja Louis ke XIV (dengan dukungan kekuatan teokrasi gereja). Sistim pemerintaan ini tidak saja memiskinkan rakyat kerajaan pada waktu itu, tapi memberikan sebuah kesewenangan pihak kerajaan untuk mengambil hak azasi manusia pada waktu itu, ini terlihat dari kata yang diucapkan (adagium) Raja Louis XIV, yaitu “Negara adalah Saya” (‘etat c’est moi). Hal ini menghasilkan sebuah eksploitasi besar-besaran dari pihak kerajaan kepada rakyat, manifestasinya; penarikan pajak sejara besar-besaran, pemenjaraan tanpa pertimbangan HAM di Penjara Bastile dan lain-lain, sehingga menghasilkan defisit yang luar biasa yang menghancurkan tidak hanya ekonomi, melainkan seluruh komponen sosial masyarakat. Atas dasar realitas inilah suatu ide-ide, keyakinan dan persepsi rakyat mulai terbentuk untuk melakukan suatu perubahan, yang secara implisit di dasari oleh kecemburuan dan kemarahan yang amat mendalam pada suatu situasi, dan fenomena ini secara lokalistik tidak hanya terjadi di Perancis, melainkan seluruh wilayah yang memiliki setting yang sama. Sebutlah Adam Smith dengan teori Induvidualismenya, yang tidak menghendaki pemerintah untuk campur tangan dalam urusan ekonomi, John Locke (dalam Two Treatises of Government, 1632-1704) dengan teori Permintaan Pasarnya, mereka adalah salah satu dari komponen masyarakat yang terpacu akan realitas ini, jika tidak terpacu oleh keadaan ini bukan mustahil mereka tak akan dikenal dunia. Konsep kelas yang muncul pertama kali pada zaman pertengahan, yaitu dalam zaman feodalisme eropa. Dalam prespektif sejarah feodalisme adalah suatu mata rantai dan sistem hubungan kemasyarakatan antara kelas tuan tanah dan kelas budak yang terjadi di eropa antara pertengahan abad IX sampai abad XV. Corak hubungan itu lebih khusus ditandai dengan ikatan Land Ownership, yaitu berkaitan soal kepemilikan tanah. Menurut seorang sejarawan Jerman yang bernama Leopard Fountain telah

mengidentifikasikan adanya tiga kelas dalam struktur masyarakat feodal eropa

pada zaman

pertengahan itu. Yang pertama adalah kelas pendeta, kemudian kelas bangsawan dan terakhir

18

adalah kelas borjuis. Konsep mengenai kelas borjuis ini berbeda dengan yang kita kenal dalam terminologi kontemporer, tidak hanya golongan pengusaha, tetapi juga penduduk kelas menengah kota pada umumnya, para tukang dan pekerja kasar lainnya, dan bahkan petani. Pada waktu belas borjuis menjadi kuat karena memperoleh dukungan negara, mereka lalu memberontak terhadap kelas pertama dan kedua dan inilah yang kemudian menghasilkan Revolusi Perancis yang kita kenal itu. Menurut Fountain, Revolusi Perancis sesungguhnya merupakan revolusi borjuis yang pertama untuk sekaligus menumbangkan kelas pendeta dan bangsawan 19 . Revolusi Perancis adalah babak baru dimulainya Renaissance (kebangkitan) barat, disana terjadi proses sekularisasi yang memisahkan kekuasaan negara dari gereja, para filsuf seperti Thomas Hobbes, Locke dan Rousseau mencoba melakukam mengkritik terhadap kekuasaan negara pada fase-fase abad tengah. Mereka menawarkan model negara dalam mainstream

liberalisme, sebagai hasil dari gaya berfikir renaissance yang mengagumkan anatomi manusia. Para filsuf tersebut mengajukan model negara, yang dapat menjamin otonomi manusia dari kekuasaan di luar dirinya. Pada zaman ini lahir pandangan bahwa negara merupakan wakil dari kepentingan umum atau publik, sedangkan masyarakat hanya memiliki kepentingan pribadi dan terpecah-pecah. Pandangan tentang kekuasaan ini selanjutnya diperkuat oleh pandangan George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Melalui konsep dialektikanya, Hegel mengatakan bahwa negara adalah ungkapan roh objektif, dimana roh objetif tersebut merupakan cerminan dari kehendak pikiran dan hasrat masingmasing individu (roh subjektif). Dengan demikian negara merupakan institusi yang paling paham akan kehendak para individu; rakyat tidak mengetahui kehendaknya yang mengetahui adalah negara, karena secara “objektif” mengungkapkan apa yang bagi rakyat hanya ada secara “subjektif”. Liberalisme tersebut diatas menjadi lahan subur bagi berkembangnya kapitalisme, yang pada akhir abad ke 19 menunjukan wajahnya yang beringas. Teori-teori yang mengideolog ini mereka lemparkan kepada masyarakat dalam upaya memunculkan semangat kaum tertindas untuk melakukan perlawanan terhadap status quo yang ada, merupakan akibat yang dihasilkan dengan kebencian yang mendalam dari rakyat terhadap status quo maka dengan mudah rakyat digerakkan untuk mengadakan suatu revolusi, tanpa menyadari bahwa setelah revolusi mereka akan diperbudak kembali oleh sistem ideologi yang akan berkuasa, dan revolusipun berjalan dengan gemilang, yang dengan Napoleon Bonaparte’ berhasil menggulingkan pemerintah tiran Raja Louis XIV. Secara fisik revolusi yang di dasari oleh ideologi liberal tersebut berhasil menghasilkan suatu tingkat kemakmuran dan kemajuan yang cepat di bidang ekonomi, namun sisi lain menimbulkan dampak yang tidak sehat contoh; melebarnya jurang antara proletar dan optimat, kemudian sebuah eksplorasi kapitalisme akan menghasilkan sebuah orientasi pencaharian terhadap bahan baku yang

19

. Dr. Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Bandung: Mizan, 1994) hlm. 294.

19

termurah serta pasar kapitalisme mereka hal inilah yang kemudian menghasilkan imprealisme, kolonialisme. Selain itu revolusi perancis tidak hanya ditujukan kepada penghancuran sistem pemerintahan tiran namun juga berusaha menghancurkan suatu otoritas teokrasi gereja – Renasainnce dan Humanisme -- yang telah membelenggu mereka dalam kurun waktu yang cukup lama, karena teokrasi gereja secara subjektif mendukung status quo, itu motif eksplisitnya. Motif secara implisit adalah keinginan untuk mengeksploitasi alam dan diri mereka secara brutal tanpa adanya ikatan-ikatan protokoler agamis, moral dan batasan etis kemanusiaan – inilah awal lahirnya demokrasi -- (Qs. 6:4-6), demokrasi yang diperjuangkan oleh masyarakat liberal hakekatnya adalah manifestasi nilai liberal yang ditujukan untuk mendeskriditkan otoritas Tuhan secara tidak langsung. Sekarang coba akan kita kaji tentang modernitas sebagai --implikasi dari akselerasi Revolusi Indusntri-dan Hak-Hak Azasi Manusia, “bagaimanakah hak-hak ini

mengental di Eropa dalam bentuk kesejarahan, dan dalam konteks pertentangan dan interaksi apakah hal itu terjadi ?”. Secara ringkas, begini; Pada awalnya seperti sudah saya paparkan, di Eropa terdapat pemikiran keagamaan, dan yang pertama muncul adalah hak-hak Allah bukan hak-hak manusia. Karena Allah adalah Pencipta, dan tindakan penciptaan tersebut adalah suatu karunia. Karena Allah adalah Pemberi Karunia kepada manusia dengan menciptakannya pada pusat jagad raya, dan memberinya tempat yang agung dalam jagad raya. Sebagai balasan dari nikmat-nikmat ini Allah menunggu jawaban yang baik dari manusia, yaitu ketaatan dan rasa syukur. Tetapi ketaatan yang dimaksudkan bukan ketaatan yang berdasarkan ketakutan dan kengerian, tetapi merupakan hubungan yang terus menerus yang berdasarkan “Cinta” (mahabbah)-dalam arti Islam klasik dari kata tersebut-, suatu hubungan yang berdasar atas pengakuan manusia terhadap nikmat-nikmat Allah. Berdasarkan hubungan yang berdiri atas dasar pengakuan terhadap nikmat-nikmat inilah ditetapkan beberapa kewajiban atas manusia. Ditambahkan, bahwa manusia tidak akan cukup dan tidak akan besar kecuali dengan pertolongan Allah. Inilah gambaran-gambaran yang dikemukakan ajaran keagamaan kepada kita atas tiga agama Tauhid (Yahudi, Nasrani ,dan Islam), termasuk pada agama-agama lain selain agama tersebut (seperti Budha). Masalah seperti ini berlangsung selama beberapa abad; sampai upaya-upaya akal untuk memperoleh kebebasan (liberte’) telah berhasil karena berbagai faktor dan menjelma dengan tingkat kepastian (positivitas) yang menyolok terhadap gambaran keagamaan (yang merupakan kepastian epistemologis dan politis). Kepastian yang menyolok ini menyatakan secara tegas: Tidak ada alasan untuk mengacuhkan hak-hak Allah. Hak-hak Allah adalah keputusan pribadi, manusia boleh mengambilnya atau meninggalkannya. Dia bebas untuk melakukan hal itu. Artinya, hak-hak Allah tersebut tertolak pada domain umum masyarakat (yaitu diluar rumah, gereja, dan lembagalembaga keagamaan).

20

Sebabnya, adalah bahwa domain umum tersebut menjadi otoritas negara untuk mengaturnya, dan negara tidak dipandang berdiri diatas dasar keagamaan atau hak ketuhanan sebagaimana halnya pada sistem klasik di Perancis pada masa monarkhi dan Katolik. Tetapi negara semata-mata terwujud dari kehendak manusia, bukan kehendak yang lain atau kekuatan supranatural. Kehendak manusia tersebut menyatakan dirinya ditengah-tengah pertentangan politis dan sosiologis, yaitu dari celah-celah persaingan dan pertentangan yang berlangsung diantara manusia dalam masyarakat. Dan dipandang tidak mungkin untuk berpaling kepada agama (atau Allah) pada setiap moment, dari moment-moment pertentangan ini yang justru menjadi tumpuan perkembangan masyarakat di Eropa sebagai suatu keseluruhan. Inilah positivitas besar yang tercapai di Eropa, dan sekali lagi hanya di Eropa. Ia bukan semata-mata positivitas keilmuan, tetapi juga positivitas kejiwaan (psikologis). Ia merupakan positivitas yang ada didalam sisi aktivitas akal itu sendiri. Maka akal yang sebelumnya, selama berabad-abad, memandang dengan cara vertikal menuju Ketuhanan, sejak saat itu, dan seterusnya, memandang masalah-masalah secara horizontal. Hal ini secara kejiwaan akan mempengaruhi pandangan akal terhadap essensinya, dan dengan demikian, mempengaruhi pandangan akal terhadap posisi manusia itu sendiri, yaitu pandangannya terhadap kepribadian ( self ) manusia. Karena faktor inilah gereja Katolik Perancis menolak “Pernyataan yang termasyhur tentang hak-hak azasi manusia dan warga negara”. Pernyataan ini lahir dari Revolusi Perancis pada tahun 1789. Hal itu karena makna kepribadian manusia lebih besar dari pada makna warga negara, sekalipun makna (warga negara) ini memuat dan meliputi makna pribadi tersebut, baru pada tahun 1961, pada masa Paus Johannes XXIII (yaitu setelah lebih dari 170 tahun kemunculannya), hal tersebut diakui 20. Sehingga para Orientalis memberikan kritik terhadap Islam, bahwa Islam tidak mengakui hak-hak azasi manusia, Islam tidak bisa membedakan mana masalah agama dan negara, namun mereka tidak memahami bagaimana pandangan sejarah melihat besarnya periode zaman yang dihabiskan pihak Kristiani untuk mengakui hak-hak azasi manusia. Dengan kata lain, merupakan keharusan untuk menggugurkan “gambaran mitos” dari Barat dan menggantikannya dengan “gambaran kesejarahan”.

Faktor-faktor keterlambatan dalam pengakuan terhadap hak-hak azasi manusia ini bukanlah perendahan manusia dari pihak orang-orang yang beragama -atau paling tidak kekuatan yang terpancar dari mereka-, tetapi semata-mata kembali pada perbedaan antara pandangan vertikal dan pandangan horizontal terhadap manusia.

20

. Mohammed Arkoun, Membongkar WACANA HEGEMONIK Dalam Islam dan Post Modernisme, Al-FIKR Jan. 1999, hal.83.

21

Jika demikian peristiwa ini (perubahan pandangan dari vertikal ke horizontal) menggambarkan pemisahan psikologis (kejiwaan) yang besar dalam sejarah kemanusiaan  . Maka disaat penggambaran keagamaan tersebut hilang dari horizon manusia, maka tidak ada lagi kecuali horizon kemasyarakatan atau kehidupan kemasyarakatan

dengan hilangnya horizon keagamaan

tersebut, sebagaimana tidak berarti bahwa manusia mampu melakukan tindakan-tindakan besar disaat berada dibawah payung horizon keagamaan. Ini merupakan sesuatu yang harus mendapatkan penjelasan
21

. Penggambaran yang membunuh persepsi usaha dan gerak dalam diri manusia dan

menyerukannya untuk bersikap pasif, fatalis, dan menolak untuk terjun kedunia nyata itulah gambaran Barat terhadap agama. Masyarakat liberal –Barat-- telah memiliki sikap a priori

terhadap “agama” yang mereka lihat dalam bingkai praktis otoritas gereja yang mengekang kebebasan berfikir dan bertindak masyaratnya. Sehingga paham demokrasi sangat a priori terhadap Sistem Agama. Sebenarnya salah satu tujuan dari liberalisme adalah untuk membatasi/ menghindari suatu Absolutisme Negara dengan mencoba mengembalikan otoritas negara/gereja kembali kepada individu/rakyat (demokrasi) – suara rakyat, suara Tuhan --yang dalam beberapa dekade memang terbukti keberhasilanya karena masih aktualnya janji-janji liberalisme. Namun masalah-masalah sosial kembali muncul secara simultan yaitu munculnya suatu konflik baru karena terjadi sebuah perbedaan kelas yang cukup jauh antara proletar dan optimat (timbulnya suatu kasta sosial). Kalau dulu yang dihujat adalah Absolutisme Negara, saat ini dalam kubu liberalis muncul suatu Absolutisme Optimat yang bergerak menindas dan mengeksploitasi rakyat kecil secara tidak manusiawi, sehingga timbul suatu fenomena “Eternal Pooverty” dimasyarakat, hal inilah yang kemudian dalam kurun waktu beberapa tahun berikutnya muncul sebuah revolusi baru yaitu: Revolusi Komunis (yang akan kita bahas kemudian), yang ide-idenya didasari dari dampak sebuah borjuasi sosial, namun adanya revolusi sosialisme tidak menghancurkan seluruh bangunan liberalisme, sehingga secara empirik, teori Marx tentang Dialektika Materielisme yang diterjemaahkan dalam Teori Penghancuran nya, tidak universal. Ideologi liberal merupakan

manifestasi sikap atheis era baru yang mengedepankan suatu fanatisme materialistik.

2.1.2 SOSIO-HISTORIS IDEOLOGI KOMUNIS Ideologi komunis muncul seiring dengan realitas sosial masyarakat yang kondusif akan halhal tersebut (ide-ide komunis), hal ini yang harus kita sama-sama kita telaah baik secara struktural


21 .

. Qs. 59:19 . Inilah pandangan kesejarahan dari sebuah sekularisme

Pengalaman kesejarahan Barat ADALAH bahwa mereka tidak mampu-melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, kecuali setelah melepaskan diri dari horizon belenggu keagamaan, sehingga Barat mendapatkan gambaran yang begitu menakutkan terhadap agama.

22

maupun sosial. Iklim masyarakat liberal yang kemudian mengalami pematangan dalam kapitalisme menciptakan kaum-kaum borjuis yang tak tersentuh oleh aspirasi objektif masyarakat bawah, cenderung mengadakan upaya pelepasan diri atau bahkan penindasan terhadap golongan proletar, hal ini adalah suatu iklim yang kondusif bagi ide-ide persamaan kelas (komunis) untuk tumbuh berkembang dan mengakar pada golongan yang ter-marjinal-kan oleh realitas sosial yang ada -- ide sosialisme adalah batu pertamanya. Kesenjangan sosial yang tercipta dari sistem persaingan ekonomi bebas (free competition) dalam lingkungan birokrasi liberal menimbulkan suatu kesakitan sosial yang tak terelakkan, manifestasinya adalah; penindasan, pembayaran upah yang tidak manusiawi, distribusi pembangunan yang masih tersentralisasi dan lain-lain menimbulkan suatu ‘kesepakatan’ bersama antara golongan proletar untuk membuat suatu “sistem anti bodi” terhadap kondisi sosial yang bagaikan virus berusaha membenamkan mereka pada comberan kemiskinan, dan itu adalah kepastian sejarah. Sistem anti bodi ini kemudian bermetamorfosa menjadi penggalang sebuah kekuatan emosi rakyat yang secara fantastis akan menghasilkan suatu pengulangan revolusi sejarah (causalitas revolusi sosial) sebagaimana perlawanan paham liberalisme terhadap staat-absolutisme yang di motori oleh teokrasi gereja. Itulah kekuatan rakyat (people power), yang sayangnya hanya memperjuangkan suatu kepentingan subjektif yang sesaat. Revolusi komunis dan liberal sama-sama menentang manifetasi kekuatan Tuhan, baca Agama (yang entah dari pikiran yang mana konklusi tersebut dihasilkan) 22 Sebutlah Karl Marx yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh Hegel, tokoh revolusi komunis garis keras yang hidup dan matang dalam kehidupannya diantara kaum proletar yang dengan pemikirannya yang terjebak atau bahkan tercetak dari kecemburuan yang mendalam terhadap sistem sosial yang ada --yang harus kita pahami itu adalah temporal-- menghasilkan ideide revolusioner untuk menciptakan suatu masyarakat tanpa kelas (efek anti bodi yang begitu kental dari liberalisme) yang berdasarkan idealitasnya akan menghasilkan suatu one supreme class, yaitu: kelas Pekerja/Buruh, dengan adanya persamaan kelas berarti ada persamaan kepentingan sehingga akan menghasilkan suatu masyarakat yang terikat pada kepentingan kelas sosialnya dimana tidak ada hak yang diakomodir untuk bertindak atas kepentingan pribadi --hal itu yang menurut perkiraannya akan menghasilkan kemakmuran. Berbagai persoalan ekonomi politik yang penuh penindasan terjadi pada masa itu. Karl Marx dalam latar historis demikian lantas memberikan pandangannya yang kritis terhadap liberalisme. Berbeda dengan filsuf politik sebelumnya (Hobbes, Locke, dan Rousseu) yang hanya menolak realisasi negara yang mengekang kebebasan, Marx menganggap eksistensi negara justru diakibatkan oleh adanya ketidakberesan yang sifatnya fundamental dari masyarakat. Menurut Marx

) Hal ini didasari oleh dialiektika marxisme yang berlandaskan atas Paham Empirisme kehidupan, jika Tuhan ada menurut dialektikanya maka dia akan menampakkan eksistensinya secara rasional dan empiris dalam proses kehidupan sosialnya, contoh: Jika Tuhan ada, mengapa penindasan harus ada !!!.
22

23

negara tidak mengabdi kepada kepentingan seluruh masyarakat, melainkan hanya melayani kepentingan kelas-kelas sosial tertentu saja, menjadi alat suatu kelas dominan untuk mempertahankan mereka 23. Pada abad ke 19, setelah terjadi revolusi industri, konsep kelas diperkenalkan lagi secara baru oleh Karl Marx. Marx melihat bahwa fenomena industrialisasi yang mengiringi terjadinya Revolusi Industri, telah menghasilkan kelas baru yang disebut kelas Proletar (kelas Buruh). Meskipun jumlah kelas buruh proletar ini demikian massif tetap secara ekonomis maupun politis mereka berada dibawah kekuasaan golongan borjuis yang kini telah menguasai modal atau kapital. Kelas pemilik modal (kelas kapitalis) sangat berkepentingan untuk menggunakan tenaga kelas buruh, dan kemudian mengeksploitasinya untuk mengembangkan industri mereka; hanya satu tujuan yakni untuk melakukan akumulasi kapital lebih banyak lagi. Demikianlah dalam terminologi Marxis, masyarakat industri akhirnya hanya mengenal adanya dua kelas yaitu kelas kapitalis (borjuis) dan proletar. Dengan dua doktrinnya yang terkenal yaitu “Materealisme
24

Dialektika”

dan

“Determinisme Ekonomi atau Pandangan Ekonomi daripada Sejarah”

Marx yakin bahwa

dalam masyarakat industri-kapitalis itu golongan proletar akan menjadi golongan yang paling miskin. Hal ini karena dalam struktur masyarakat kapitalistik terjadi pemiskinan massal –mass poverty-- dengan tenaga buruh hanya diperas dan diperas tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka. Hal itu disebabkan, menurut Marx bahwa negara dalam masyarakat borjuis merupakan senjata represif dari kaum borjuis 25. Vladimir Ilyich Lenin (1870-1924), seorang penafsir Marx dari Russia, menganggap bahwa jalan untuk menyelesaikan pertentangan kelas itu adalah dengan revolusi. Bila pertentangan kelas selesai, maka dengan demikian negara akan turut “melenyap”. Harapan Lenin bahwa menyusul Russia, revolusi yang sama akan pecah di Jerman dan negara eropa lainnya setelah Perang Dunia I berakhir, ternyata pupus. Tidak seperti yang diramalkan Marx, revolusi sosialis yang sangat ekstrim justru muncul dalam masyarakat-masyarakat non-kapitalis. Ini terjadi baik di Russia maupun China. Di Russia, revolusi sosialis ditunjukkan untuk merombak sistem monarki yang korup dibawah Tsar Russia yang kondisinya sangat kusut masai setelah terjadinya P.D I. Begitu pula di China, Revolusi komunis terjadi dalam masyarakat feodal yang masih bercorak setengah-agraris , setengah industrialis. Di dalam dua jenis masyarakat yang telah mengalami revolusi sosialis itu, kelas proletar tidak mengalami perbaikan nasib. Dibandingkan dengan nasib kelas proletar dalam sistem kapitalis modern , ternyata kelas proletar dalam sistem sosialis juga tidak lebih beruntung, karena mereka tetap menjadi buruh dari industri-industri negara. Jika
23

dalam sistem kapitalis

. Nezar Patria dan Andi Arief, Antonio Gramsci; Negara dan Hegemoni (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 25

24. Deliar Noer, PEMIKIRAN POLITIK DINEGERI BARAT, Mizan Des. 1997, hal. 198

24

mereka diperas oleh industri-industri kapitalis swasta, dalam sistem sosialis mereka diperas dan dicengkram oleh negara. Revolusi sosialis ternyata tidak dapat menciptakan masyarakat tak berkelas . Seperti dikatakan Milovan Djilas, setelah partai-partai komunis berkuasa, para
26

fungsionaris partai muncul sebagai kelas baru yang sangat berkuasa

. Oleh Karena itu

Gorbacev menawarkan konsep perestroika dengan maksud memperkuat sendi-sendi sosialisme. Ia menegaskan bahwa kepada rakyat; “Kita harus hidup dan bertindak berdasarkan prinsip sosialisme, yaitu from each according to his ability, to each according to his need” . Prinsip ini mengatakan bahwa tiap-tiap orang harus menyumbangkan tenaga dan pikirannya menurut

kemampuannya; dan tiap-tiap orang akan menerima (dari negara) setara dengan apa yang dibutuhkannya. Adalah Lenin sendiri yang mula mencetuskan prinsip ini, tujuannya ialah untuk mencapai equality atau keadilan dikalangan masyarakat namun tidak pernah terwujud. Bangunan teorisasi Marx berlandaskan kepada Dialektikanya (yang terdiri dari tesis-antitesis-sentesis) menghasilkan Teori Penghancuran yaitu: Tesis awal dari teori ini adalah munculnya sebuah Masyarakat Purba yang pada awalnya aktifitas ekonomi belum konpleks dan hanya berdasarkan kepada kebutuhan semata, sistem ekonomi yang ada berlandasarkan kepada Sistem Barter sehingga keinginan penumpukan capital belum ada secara kuat dalam dialektika masyarakat ini menghasilkan antitesisnya yaitu timbulnya Masyarakat Perbudakan dimana para pemiliki budak menguasai sistem dan alat produksi seperti budak dan tanah garapan. Kemudian seiring dengan dilarangnya perbudakan maka munculah sistem masyarakat baru yanitu Feodal dimana perbudakan diganti dengan pekerja upahan/petani yang mengarap tanah bukan miliknya Masyarakat Feodal inilah awal dari sebuah Sistem Kapitalisme yang menciptakan kelas sosial di masyarakat, hal ini merupakan antitesis dari Sistem Barter yang memiliki azas kepuasan sama. Sosialisme merupakan sintesa dari hal tersebut; terwujudnya masyarakat tanpa kelas, sama-rata dan sistem produksi yang dikuasai dan digunakan secara bersama, dimana kepemilikan alat-produksi secara pribadi ditiadakan dan seluruh alat/sistem produksi dikuasai oleh negara untuk kemakmuran bersama. Pada masa ini Marx yakin bahwa sosialisme merupakan akhir dari dialektika, dia merupakan sistem sosial yang paripurna karena dalam sosialisme tidak ada kelas yang antagonistik , masing-masing sama rasa. Dalam sosialisme tidak akan terjadi dialektika kembali, karena unsur kelas sosial yang menurut Marx merupakan pemicu konfik (negara—pen)telah tidak ada, sehingga dinamisasi

sejarah akan berhenti. Secara tidak langsung dalam Dialektika nya Marx telah mengedepankan suatu Materealisme Sejarah, dimana penilaiannya hanya berdasarkan kepada aspek interaksi

ekonomi, namun ternyata dewasa ini justru sosialismelah yang terlebih dahulu hancur karena sistem
25 26

. Nezar Patria dan Andi Arief, Ibid, hlm. 10 . Dr. Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Bandung: Mizan, 1994) hlm. 295

25

perekonomiannya terlalu sentralistik sehingga sendi-sendi ekonomi daerah menjadi rapuh – lihat dampak galsnost dan perestroika Mikail Gorbacev di Uni Sovyet yang memicu lahirnya Negara Commonwealth 27 Rusia dan hancurnya Komunisme Uni Sovyet – . Materialisme Sejarah Marx telah membuang aspek nilai spritual masyarakat sehingga kegiatan spritual-keagamaan adalah sebagai dogma yang tidak berdampak pada produktifitas dan ujung-ujungnya hanya menghasilkan masyarakat yang tak memiliki kekuatan revolusioner. Namun sungguh disayangkan nilai atheis yang secara vulgar diusungnya membentuk paradigma penganutnya tidak jauh beda dari kaum borjuis --karena tak ada nilai moral tertinggi yang dijadikan sebagai pemenuhan konsumsi ruhani --sebutlah begitu--, lepas kontrol sehingga terciptalah suatu pandangan Fanatisme Materealistik. Perbedaannya adalah liberalisme memberikan suatu kebebasan seluas-luasnya untuk meraih ideal kemakmuran (baca--fanatisme materialistik), sedangkan komunis dengan sistem sosial yang terikat dan sangat menyesakkan penganutnya hanya berjalan pada tujuan yang sama yaitu Borjuasi, padahal ide sentralnya menentang borjuasi. Revolusi Liberal (Industri) merupakan awal dari suatu pemunculan masalah baru , yang secara temporal, revolusi tersebut berhasil menarik Barat dari ketertinggalannya, dan peradaban manusia terikat pada suatu lingkungan metafisis yang mutlak yaitu: Perubahan, dimana suatu ideologi yang tidak future oriented akan cepat ter-nafi-kan oleh determinisme sejarah dan hanya akan menghasilkan korban-korban revolusi yang sia-sia dan tak terhitung jumlahnya. Ideologi yang temporal, berpijak pada suatu realitas tidak akan mampu menjawab tantangan manusia secara simultan, dan coba kita pahami ideologi komunis adalah hasil justifikasi salah satu manusia yang tidak akan menghasilkan suatu kekomprehensifan dalam memandang manusia dan kehidupan maka dia akan terjebak dalam realitas kehidupan itu sendiri (perubahan). Ideologi Liberalisme-Kapitalis dan Marxisme-Sosialis sama-sama terperangkap dalam

determinisme sejarah. Kedua ideologi tu telah gagal menghantarkan masyarakat feodal di masa abad pertengahan, menuju masyarakat yang sejahtera, beradab (bermoral) dan berkeadilan sosial. Justru kita menyaksikan fenomena masyarakat modern yang tidak pernah merasakan apa arti kesejahteraan dan keadilan sosial, malah sebaliknya di negara-negara maju (kapitalis) dan negaranegara berkembang kini sedang menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan dan belum ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Sungguh merupakan tragedi bahwa revolusi liberalisme dan komunisme adalah setali tiga uang yang hanya menimbulkan bencana sosial disana-sini, tingkah lakunya dalam sejarah hanya memiliki suatu skenario yang sama yaitu perjuangan untuk duduk dalam “Kursi Hegemoni

27

) Persemakmuran --pen

26

Materealitik”, yang nyatanya Komunisme dan Liberalime adalah saudara jauh yang masih memiliki darah yang sama yaitu: “Atheis-Materealistik”. Menurut Ahmad Syafi’I Ma’arif, ideologi ini sedang diarak ke tiang gantungan sejarah untuk mempertanggungjawabkan segala dosa dan kedzaliman yang pernah dilakukan kepada umat manusia. Ideologi komunis yang berkembang pertama kali pada awal abad ke 19 di Russia, dan kini mulai ditinggalkan, karena cita-cita ideologi ini hendak menjadikan masyarakat komunal, yaitu masyarakat tanpa kelas dan kepemilikan harta secara merata tidak pernah dirasakan, maka lambat laun ideologi komunis menjadi tidak laku. Apalagi ideologi komunis anti Tuhan, yaitu menolak ajaran monotheisme sebagaimana yang diajarkan utusan-utusan Tuhan yang dijelaskan dalam kitab-kitab suci-Nya seperti Kristen, Yahudi dan Islam yang secara azasi memiliki kesamaan yaitu mengakui dan menganut ajaran yang dibawa oleh rasul-Nya 28 . Sementara itu kapitalisme masih berada diatas angin, menurut beberapa pengamat juga tidak dijadikan alternatif bangunan peradaban masa depan, mengapa ? , karena wataknya yang rakus, tidak bermoral dan hanya dapat menghasilkan masyarakat hedonistik dibawah selubung negara kesejahteraan --The Walfare State--. Kapitalisme menjanjikan kebahagian dan kesejahrteraan hidup manusia semata-mata dengan kemampuan dirinya meraih yang berbentuk materi (kekayaan) tanpa batas Disinilah manusia mempertaruhkan harkat dan martabatnya dengan ukuran-ukuran kapital, bahkan manusia merasa kehilangan harga diri apabila tidak memiliki kapital yang banyak. Kapitalisme sesungguhnya sangat merusak tabiat dasar manusia yang kikir (tabiat destruktif yang inhern), sehingga manusia-manusia modern bersifat loba, kikir dan individualistik. Hal ini merupakan implikasi dari kapitalisme-ekonomi (Qs. 17:100).

2.1.3 IDEOLOGI PANCASILA Pancasila merupakan sistem ideologi unik dari sistem ideologi lainnya, yang lebih mengedepankan masalah idealitas dan keinginan pribadi masyarakatnya (barat), sedangkan pancasila adalah salah satu contoh dari ideologi timur yang landasan dasar perumusannya adalah komitmen kepada nenek moyang (baik itu yang menyangkut nilai animisme, dinamisme, polytheisme dan agama Hindu, Budha yang dalam hal ini cukup dominan), yang berarti mengedepankan sebuah backward oriented dalam pandangan hidupnya (Qs. 2:170) yang jelas akan menimbulkan sebuah letupan-letupan fatalistis dalam interaksi sosialnya, suatu solusi yang cukup rentan dalam menjawab tantangan masyarakat akan kehidupan. Dalam prakteknya nilai-nilai liberalis dan komunispun tak luput dari adaptifnya ideologi ini pada ideologi tersebut, yang memang secara kesejarahan ideologi tersebut pernah singgah di Indonesia dan memberikan sentuhan yang menarik kepada para teknokrat dan birokrat di negeri ini.

28

. Dr. Syafi’I Ma’arif, Islam dan Masalah Ketatanegaraan.

27

Pancasila adalah ideologi yang dengannya Indonesia tidak disebut negara agama dan negara sekuler, tapi Negara Pancasila, yang tidak rasional untuk menopang eksistensinya ia berdiri diatas keagungan agama, agama dijadikannya sebuah tameng integrasi bagi kepentingan politiknya yang tak menentu (secara hakikat). Pluralisme didalamnya berusaha dilebur dengan harapan menghasilkan sebuah kesatuan pandang, yang berarti pemusnahan kepentingan etnik dalam kepentingan nasional (konsensus nasional), demokrasipun yang hakekatnya adalah tuntutan universal berusaha untuk di-desa-kan dalam bingkai demokrasi pancasila yang berfalsafah dasar yaitu; Jawa. Perjuangan Ideologi pancasila di Indonesia hakekatnya adalah perjuangan para aristokrat priyayi-abangan jawa, bukan perjuangan bagi rakyat sumatera, sulawesi, kalimantan atau irian jaya, berarti tatapan demokrasi pancasila adalah tatapan orang jawa. Ini dapat terlihat dari istilah-istilah dalam tubuh ABRI, nama gedung-gedung penting sampai kepada ideom-ideom program pemerintah bagi masyarakat mengunakan bahasa sansakerta. Pancasila berusaha mencari suatu kesatuan pandang bagi masyarakatnya, dia tidak mau menumpukan pada Islam, dikarenakan sentimen lama akan Kerajaan Demak yang menghancurkan kebudayaan raksasa Majapahit di nusantara atau kepada pandangan ideologi lain, tapi ia menemukan pada jawa yakni patrimonialime
29

. Jawa adalah budaya yang sangat menabukan

(secara ekstrim begitu--penulis) suatu perubahan yang “radikal” baik dalam adat istiadat maupun suksesi kepemimpinan untuk hari ini, kita telaah budaya jawa yang sangat membenci perdagangan, mereka lebih suka menjadi pegawai negeri (abdi dalem), berarti secara awal bisa dikatakan jawa adalah etnis yang tertutup dan sempit secara paradigma sosial dalam konteks politik keindonesiaan, dan tidak ada kebebasan individu didalamnya 30, maka sangat rasional kalau konsep Negara Integralistik usulan Dr. Supomo yang diambil sebagai mainstream awal pembentukan Pancasila. Kerangka landasan Integralistik adalah pemikiran filosof Hegel, yang memiliki suatu pandangan yang tidak bisa dipisahkan dari monarkhi (paham kerajaan), hal ini bisa disikapi dari sistem pemerintaan Indonesia yang secara implisit menjalankan prinsip One Man Show --bisa terlihat dari kekuasaan presiden yang memegang unsur eksekutif, legislatif dan yudikatif sekaligus-(demokrasi terpimpin/otoriter-birokratik) yang dilegalkan secara

konstitusional, hal itu merupakan budaya monarki modern.

Salah satu perkataan Adam Muller yang mewakili adalah:

lihat, ICMI Sebagai Gerakan Kebudayaan, Kuntowijoyo, ICMI ANTARA STATU QUO DAN DEMOKRATISASI, hal. 63, Mizan Jakarta 1995, Partimonialisme adalah paham Kebapakan dalam sebuah masyarakat. 30 . Ibid hal. 62-66
29 .

28

Negara merupakan sebuah organisme yang mencakup semua kekuatan dalam bangsa itu, dan induvidu harus mengorbankan segala sesuatunya demi negara 31

Dalam main stream Integralistik Pancasila adalah suatu manifestasi sikap Totaliter Kekeluargaan, dimana kepala keluarga memiliki otoritas penuh, dimana peran “Sang Ayah”

sebagai kepala negara diibaratkan sebagai kepada keluarga yang arogan serta memiliki sifat egoisme terhadap para anggota keluarganya, dengan legitimasi dalam memberikan terapi sosial “untuk keutuhan keluarga”, maka hakekatnya (dalam sistem pancasila) individu yang melanggar keinginan orang tua di anggap “anak durhaka”, tanpa mengingat dan mau tahu apa yanh ada dalam kalbu anak tersebut. Dalam sistemnya maka dalam pandangan pancasila kepala negara berhak melakukan apa saja, itulah premis dasar pancasila. Kemudian kendati pancasila mengklaim dirinya sebagai pejuang nilai-nilai humanistis, namun dalam kerangka operasional demikian maka yang akan terjadi adalah idealitas tanpa realitas, sistemnya tidak mendukung. Sebagai premis dasar disini perlu ditekankan, bahwa nilai humanis adalah suatu manifestasi nilai-nilai ilahiyah kepada manusia 32. Perjuangan atas humanisme oleh pancasila walaupun dalam Pembukaan UUD ‘45 negara ini terkesan cukup religius, namun sekali lagi prinsip religius apa yang melandasi pandangan “religius” dalam pancasila, Theisme atau Deisme. Untuk itu kita lihat arti dua kata tersebut, Theisme berasal dari Bahasa Yunani, yaitu dari kata Theos yang berarti Tuhan, yang dimaksud dalam istilah ini adalah bahwa Tuhan mengatur seluruh kehidupan manusia, sampai adanya kepercayaan kepada messiah, kitab-kitab dan norma keagamaan lainnya, agama dijadikan sebagai social control dalam kehidupan manusia (terlepas itu monotheis/polytheis). Sedangkan Deisme berasal dari bahasa latin yaitu Deus yang juga berarti Tuhan, secara etimolog dua kata ini adalah signifikan. Namun dalam penterjemaahan istilah dia adalah dua kata yang memiliki arti yang berbeda, theisme menghendaki agama menjadi sebuah kontrol sosial kehidupan dan deisme adalah suatu bentuk kepercayaan kepada Tuhan secara utopis dan Agama tidak berfungsi sebagai kontrol sosial tapi hanya sebagai lip service, tatanan sosial yang di bentuk oleh deisme adalah keluar dari kerangka nilai agama 33 . Dalam proses pendoktrinisasiannya, mereka menggunakan istilah penataran, yang artinya adalah sebuah istilah ringan untuk dialektika materealisme, yaitu sebuah istilah untuk pengajaran kepada generasi muda dan hendaknya semua bentuk penelitian ilmiah, didasarkan atas azas ini

31 . lihat,

Simanjuntak, Marsilam, PANDANGAN NEGARA INTEGRALISTIK, Gramedia Press, hal. viii.

lebih jelasnya baca, Dr. Ali Syariati, HUMANISME; Antara Islam dan Mazhab Barat, Pustaka Hidayah 33. Firdaus A.N, PANJI-PANJI DAKWAH , Pedoman Ilmu Jaya
32.

29

(pancasila), bukan agama. Singkatnya Ideologi Pancasila membentuk suatu pemerintahan “agama” minus agama 34. Basis keberagamaan yang digunakan untuk menopang Negara Pancasila adalah menggunakan sebuah utopia keberagamaan yang secara “vulgar” hal ini diakui sendiri secara implisit maupun eksplisit pada bagaian lain oleh pemerintah (P-4), manifestasi utopia tadi adalah sikap sikretisme dan indifferentisme dalam kehidupan beragama, hal ini memang dibangun agar; ketika masyarakat beragama tadi tidak menemukan solusi dalam pemecahan agamis dalam kehidupan mereka, (yang sudah dibatasi oleh pemerintah, Qs. 8:35) maka dengan mudah mereka akan menelan bulat-bulat Pancasila sebagai aturan hidupnya, artinya Pancasila secara tidak langsung memproyeksikan dirinya untuk menjadi “agama baru” bagi manusia Indonesia (secara khusus) yaitu dengan menghayati prinsip “Bhineka Tunggal Ika” (yang didalamnya serat konflik masih sangat jelas), dengan itu Pancasila berusaha menghancurkan paham-paham etnisitas dan agama yang merupakan potensi yang bersifat sparatis dalam sebuah negara. Atas dasar kejahatan itulah dan pencarian Ridho Allah maka kita harus kembali meneguhkan Visi dan memperjuangkan Misi kita sebagai ummat Islam.

2.1.4 SOSIO-HISTORIS IDEOLOGI ISLAM Masyarakat arab pada zaman Nabi rupanya terbagi dalam dua kelas sosial. Yang pertama adalah kelas bangsawan, yang jika diambil analoginya dizaman yunani-kuno, termasuk warga “polis”; dan yang kedua kelas budak. Kelas pertama, kelas arsitokrat, terdiri dari para elit suku yang menguasai sumber-sumber ekonomi dan perdagangan. Mereka menjadi warga “polis” kelas satu dan kelas pada sementara itu sebagai warga kelas dua 35. Dan masyarakat arab pada saat itu berkembang paham pengelompokan sosial -ashabiyah- yang melahirkan pembagian stratifikasi sosial yang terbentuk berdasarkan suku-suku dan kabilah lalu menyebabkan munculnya kelas-kelas bangsawan yang berkuasa. Kita mengenal adanya kelas aristokrasi perdagangan sebagai elit yang paling berpengaruh dalam masyarakat arab. Tokoh-tokoh semacam Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu Sofyan sebagai contoh adalah representasi-representasi termasyhur dari kelas elit aristokrasi dagang seperti itu. Al Qur’an menggambarkan fenomena dan bentuk struktur sosial masyarakat arab waktu itu. Kelas bangsawan yang menguasai perdagangan dalam terminologi Al-Qur’an disebut kaum AlMala (hartawan). Mereka kaum yang melakukan monopoli perekonomian masyarakat arab (Qs. 111:1-5) sehingga terjadi sentralisasi kapital pada golongan kapitalis (Qs. 59:7). Maka wajar pada saat itu terjadi kesenjangan ekonomi yang tajam antara kelas aristokrat dengan budak (masyarakat proletar). Kelas Aristokrat pola hidupnya hedonis (Qs. 102:1-8) dan mereka tidak memiliki
34. 35

Dr. Ali Syariati, HUMANISME; Antara Islam dan Mazhab Barat, Pustaka Hidayah hal. 59 . Dr. Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Bandung: Mizan, 1994) hlm. 292

30

kepedulian sosial terhadap kelas budak yang miskin, menghardik anak yatim, dan lalai dalam mendirikan sholat (Qs. 107:1-7). Kelas aristokrat dalam mempertahankan status quo-nya mereka melembagakan sistem perbudakan (penindasan struktural ekonomi) terhadap masyarakat yang miskin. Fazlur Rahman, menegaskan bahwa tujuan al Qur’an adalah menegakkan suatu tata masyarakat yang etis dan egalitarian terlihat didalam celaan terhadap disequilibirium (ketidakseimbangan) ekonomi dan ketidak adilan sosial dalam masyarakat mekkah pada waktu itu
36

. Pada saat yang sama al Qur’an berbicara tentang kewajiban membebaskan kaum mustadh’afin

(kaum yang lemah), menyantuni anak yatim, fuqara dan masakin, membela budak-budak belian, para tawanan dan siapa saja orang yang malang yang “bergelimang debu”. Dalam Islam, Tuhan muncul tidak dibelakang para raja, tetapi disamping mereka yang tertindas 37 , karena Islam sebagai Ideologi yang memihak kepada kaum tertindas (Qs. 7:137). Al Qur’an, dengan jelas, memandang hina (pemilikan dan kekayaan) sebagai sumber pemberontakan manusia terhadap Allah, yakni orang-orang kaya menentang nilai-nilai kerendahhatian dan ketaqwaan dan kebajikan-kebajikan yang diserukan Nabi kepada umat manusia Sungguh, manusia bersifat memberontak merasa cukup)” (Qs. 96:6-7). Lagi, kita melihat bahwa, untuk menunjuk buruknya hak milik dan kepemilikan, Al Qur’an berkisah tentang Qarun. Qarun bukanlah seorang mesir, tetapi dari bani Israil. Ia adalah salah seorang umat Musa, umat tertindas yang dihisap oleh Fir’aun. Namun demikian, orang yang tertindas ini, setelah menjadi kaya, mulai menghisap orang-orang yang sama menderita seperti dia sendiri, dan bangkit melawan Musa 39 . Al Qur’an berkata : “Sungguh, Qarun adalah Kaum Musa, tapi ia memberontak terhadap mereka…” (Qs. 28:76). Pengalaman Nabi Musa hampir sama dengan Nabi Muhammad beliau berda’wah pada kalangan bangsawan (al-Mala) dan tanggapan mereka mencemoohkan ajakan nabi. “Berkatalah al-Mala” yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat engkau kecuali manusia juga seperti kami, dan tidak kami lihat pengikut-pengikutmu kecuali orang-orang yang hina dina diantara kami, yang lekas percaya, dan kami tidak melihat kamu memiliki kelebihan diatas kami, bahkan kami yakin kamu semua pembohong “(Qs. 11:27). Semua ini menunjukan bahwa konfrontasi para nabi dengan musuh-musuh mereka dan perjuangan antara keimanan dan kekafiran mencerminkan permusuhan antara kelas masyarakat; yang tertindak dan penindas 40. Selain kaum al-Mala (hartawan), juga penguasa pun menjadi musuh yang paling gigih menentang misi para nabi. Kelompok penguasa ini disebut didalam al Qur’an
. Fazlur Rahman, Tema Pokok Al Qur’an (Bandung: Pustaka 1992) . Dr. Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif (Bandung; Mizan, 1994), hlm. 75 38 . Murtadha Mutahhari; Kritik Islam Terhadap Materealisme dan Teori Lainnya (Bandung, Mizan, 1986), hlm. 148.
36 37
39

38

.“

ketika ia beranggapan bahwa dirinya kaya (dan

. op Cit, hlm 148

31

adalah kelompok Mustaqbirin. Contoh Fir’aun dilukiskan sebagai tiran durhaka, perusak, penindas, pembunuh orang yang tidak bersalah, penipu dan fasiq. Al Qur’an berkata : “ Dia berkata: Sesungguhnya raja-raja, apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka akan membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina “ (Qs. 27:34). Kaum lainnya, yang tidak kalah penting adalah kaum agamawan, seperti Bal’am. Kelompok bal’am selalu memanipulasi kebenaran dan mereka berkolaborasi dengan penguasa (mustaqbirin) dan pengusaha (al-Mala) (Qs. 9:30-31). Jadi Qarun, Fir’aun dan Bal’am adalah kaum yang menindas masyarakat, mengeksploitasi kekayaan alam, melanggar hak-hak azasi manusia, memanipulasi kebenaran dan melakukan ketidak adilan sosial, yang pada akhirnya menimbulkan masalah yang krusial ditengah masyarakatnya. Pada penjabaran sosio historis diatas cukup untuk dapat memberikan kita sebuah paradigma akan sebuah ideologi alternatif yang selayaknya harus di pilih dan diperjuangkan oleh manusia. Bukan berdasarkan subjektifitas semata kita dapat melakukan pemilihan melainkan dari aspek kemanusiaan kita sendiri yang universal duz sangat kompleks. Pada pembahasan awal saya sedikit menjelaskan bahwa untuk menjaga suatu kelanggengan tata sosial universum dari manusia dalam aspek kosmisnya memiliki 3 (tiga) keterkaitan, yaitu; Tuhan, sesama manusia dan alam, ini adalah keselarasan kosmis yang tidak boleh dilanggar atau di-nafi-kan seiring dengan berkembangnya/pendewaan terhadap apa yang disebut rasionalitas dan modernitas (yang puncaknya menghasilkan suatu pandangan hidup sekular), penafian terhadapnya hanya akan menciptakan sosok manusia-manusia yang tidak terintegritas dan cenderung akan menghasilkan dampak yang destruktif yang universal bagi manusia. Islam adalah sebuah cakupan yang meyakinkan dari segala aspek kosmis kehidupan dengan landasan penciptaan manusia menjadi 3 (aspek) tujuan penciptaan, yaitu: Khalifah (Qs. 6:160), Abdi (Qs.49:13) dan Rahmatan lil alamin (Qs.21. 107). Ketika ketiga aspek penciptaan ini integral dalam diri manusia maka dia akan terhindar dari visi ataupun ideologi yang terkontaminasi atas dasar-dasar nafsu (Qs. 10:35-36) yang menghasilkan eksploitasi terhadap sumber alam, maupun manusia (pemikiran, dll.), intinya terhindar dari penghambaan terhadap materialisme dan pemusatan kepentingan pribadi/politik kepentingan dalam masyarakat
41

.

Untuk itu sebuah kemusliman tidak hanya terbatas pada pemenuhan kepada segala furuiyah atau aktifitas ritual belaka, tapi harus memasuki kepada suatu hal yang azasi dalam kemusliman itu sendiri, yaitu pemberian Wala’ (komitment, loyalitas, pertolongan) terhadap Islam secara menyeluruh (Qs. 2:208). Dalam retorika modern al-wala’ ini dapat kita telaah pada visualisasi ketaatan muslim kepada Islam secara mengideolog/mampu menjadikan Islam sebagai

. op. Cit, hlm.149. . Politik kepentingan ini sudah lama timbul yaitu, sebagai contoh adalah realitas politik mekkah, yang merupakan rekayasa bagi kepentingan-kepentingan saudagar (penguasaha Quraisy), yang dipersatukan atas azas masyarakatnya: adanya 360 berhala disekeliling Ka’bah, Latta, Uzza, Manna dan pemusatan kepentingan tertinggi divisualisasikan sebagai Hubal.
40 41

32

Ideologinya (bahasa Qur’annya Dien). Hanya dengan hal ini kita mampu menggerakkan segala civitas gerak kita pada pemenangan Islam secara nyata, hari ini terminologi memenangkan agama Allah tidak jelas apa yang harus dimenangkan dan apa yang harus dikalahkan, ummat Islam terjebak pada terminologinya sendiri pada saat ini. Inilah titik permasalahan terbesar bagi ummat Islam tidak mampu menciptakan furq’an pada landasan ibadahnya, dengan menideolognya Islam pada pribadi muslim maka furq’an akan tercipta dan Wala’ itupun harus berlandasan pada furq’an. Islam hanya membenarkan pemberian Wala’ kepada sesama “muslim” , pemberian Wala’ kepada non-muslim (kafir) ataupun pada azas nasionalisme (prurallisme-sekularis), atheis, materealis adalah kafir (Qs. 5:48, Qs. 5:44, Qs. 3:100). Ideologi Islam, dalam arti etimologinya adalah : keyakinan dan kesadaran diri (self conciousness) yang menuju kepada suatu cita-cita suci (Islaman) murni dari nilai fanatisme materialistis, berdasarkan Islam 42 (fitrah: Qs. 3:84-85). Kecenderungan utama (megatrends) ideologi manusia adalah segala aspek dinamisasi dan mobilitas sosialnya tetap tertumpu pada polarisasi terhadap azas materalisme (atau rasionalitik dan empirik ), yang dengan itu mereka berusaha untuk mengaktualisasikan nilai-nilai humanisme -yang notabenenya tidak bisa dipisahkan dari kepentingan nilai teologis dan ekologis--. Atas visi pemenuhan estetik-humanisme belaka tanpa dibarengi dua aspek yang berkait maka manusia tidak akan mampu mengaktualisasikan dirinya kepada kesempurnaan hakiki (Qs. 3:92), yang kemudian hanya akan menghasilkan kejummudan peradaban, maka Islam sebagai solusi hidup adalah view of live yang berpola pada pola pikir yang integral dengan wahyu sebagai guide lines and general concept. Ideologi Islam lahir dibumi bukan karena Ijtihad dan Ikhtiar para nabi ataupun keadaan lingkungan yang memaksanya untuk lahir secara teritori dan lokalistik, Islam adalah manifestasi Tuhan sebagai pencipta manusia (Qs. 5:3), yang secara de facto berhak dan rasional untuk menentukan jalan hidup manusia kemudian secara de jure agar Islam dapat menjadi empiris dan objektif; maka Islam harus diberi ruang dalam proses sosialnya (Ibadah), Islam adalah Universal melampaui batasan ruang dan waktu sehingga subtansinya tak pernah memudar dan jika adanya kehancuran Islam disana-sini itu karena mereka tak berpegang pada subtansi keislamannya, Wahyu Tuhan adalah refleksi Dzatnya yang Izatti dan tak pernah mati. Islam adalah ideologi samawi, maka dia terbebas dari kerangka berfikir manusia yang cenderung mengikuti hawa nafsu ( seperti positifisme, Qs. 5:49-50) dan lokalistik yang mengarah kepada sebuah utophia. Islam tidak mengenal utophia, dia hanya mengenal komitment (wala’) yang bermuara pada kepastian (Qs. 4:100). Maka apakah dengan fakta yang jelas akan kebangkrutan liberalisme dan komunis (perwakilan ideologi modern) kita tak bisa mengambil pelajaran, ataukah kita yang menutup diri kita pada pemahaman yang haq, hal itu hanya bisa kita jawab sendiri dan

33

buktikan (Qs. 12:111, Qs. 7:179). Hanya dengan landasan operasional Qur’an yang integral/komprehensif (teologis, humanis dan ekologis) peradaban manusia dapat berdiri dengan seimbang dan ma’ruf yang akan menghasilkan masyarakat/manusia yang mampu mensejajarkan kepentingan akhirat dengan aktifitas duniawi, karena itu Islam merupakan sebuah aktualisasi humanis-etik yang bertitik pola dari Allah dan Rasul-nya, hanya dengan humanis-etik segala idealisme manusia dapat terbumikan dengan ma’ruf. Maka secara harfiah Ideologi Islam bersifat “memaksa” manusia untuk

menterjemaahkannya dalam sebuah sistem-sosial yang nyata, sehingga aksentuasi Ideologi Islam akan lebih jelas dan dalam pemberian Wala’ tidak akan terjadi suatu hal yang syubat seperti hari ini
43

. Untuk mewujudkan itu harus dimiliki sebuah semangat yang tangguh serta mengideolog

dalam memperjuangkan “Mulki Allah” yang kemudian diterjemaahkan pada hal yang kongkret, yaitu peraihan terhadap kekuatan-kekuatan strategis yang ada guna mengakbarkan Islam (Qs. 8:60-66), Ideolog (mujahid) adalah seorang yang selalu menyumbangkan hal yang nyata bagi ideologinya (Islam) karena kita hidup pada alam realitas. Jihad adalah semangat ideolog Islam, hal itu adalah syarat pembenaran mutlak atas kesungguhan wala’ yang diberikan pada Islam, maka refleksi muslim yang terbaik, adalah: bersungguh-sungguh dalam berjihad (Qs. 9:38-41). Jihad dalam islam, harus diterjemaahkan pada konteks yang praktis dan proporsional. Hanya seorang ideolog (mujahid) yang dapat ikhlas dan yakin terhadap hal itu, dan hanya seorang yang yakin lah yang mendapat petunjuk (Qs. 25:1). Untuk menjadikan segala aktifitas kita bernilai dalam pandangan Allah, adalah bagaimana kita dapat dengan sabar berjuang pada kerangka kepemimpinan yang ada, karena ridho tidaknya Allah kepada ibadah kita itu berkaitan dengan Wala’ yang kita berikan kepada kepemimpinan Islam yang ada (Qs. 4:59, Qs 48:8-10). Jihad tanpa ketaatan institusi Islam adalah bohong besar. “ Dan Kami hendak menunjukan karunia kepada orang-orang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan mereka sebagai para pewaris” (Qs. 28:5) “…dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain” (Qs. 6:6) “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur . Sesudah (Kami tulis dalam) lauh mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai (dikuasai) oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh” (Qs. 21:105) Adalah sangat menarik bahwa dalam puncak kekacauan, pada saat segala sistem sosial – liberalisme-kapitalis, marxisme-sosialis--, dan atau sisten jahiliah masyarakat mekkah dimasa nabi, tidak mampu lagi mengatasi masalah kemanusian seperti masalah ekonomi, sosial, politik dan hukum, selalu hadir seorang messiah (penyelamat) yang membawa masyarakatnya menuju perdamaian, kesejahteraan, kemerdekaan sejati, kemulian harkat martabat manusia dan keadilan.
) Firdaus A.N, PANJI-PANJI DAKWAH, Pedoman Ilmu Jaya; hal. 10 mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, tapi pada tampuk kebijakan itu terdapat pruralisme agama dan ideologi atas dasar nasionalisme, sedangkan Allah hanya membenarkan wala’ yang hanya diberikan pada Ummah yang jelas (ideologinya). Maka tanpa adanya sebuah sistem pemerintahan Islam pemberian wala’ pada pemerintahan “lainnya” adalah kafir dari Islam.
42 43.

34

Nabi

Muhammad

Saw.

adalah

seorang

messiah

(penyelamat)

yang

dapat

merubah

sistemmasyarakat jahiliyah mekkah menuju masyarakat Islam (peradaban Islam) yang sempurna. Suatu bukti kemenangan sistem ilahi terhadap sistem Thagut (Qs. 16:36) . Oleh karena itu, apa visi kepemipinan rasulullah ?, yang berperan sebagai pemimpin Islam dan umat manusia secara keseluruhan. Disini dijelaskan tentang Visi Kepemimpinan Islam, sebagai berikut:

 Memenangkan agama Tuhan (Dinul Haq), Qs. 9:33; 61:9  Menegakan keadilan sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain-lain sebagainya Qs. 4:58/ 16:90/ 75:25.  Mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan hidup ummat manusia Qs. 2:126; 34:15

2.2. “NOMADEN” CERMIN IDEOLOG SEJATI Mengapa kata nomaden bisa diterjemaahkan kepada kerangka pemahaman terhadap

ideolog ?, nomaden berasal dari kata Nomad, yang artinya suku yang suka berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Marilah kita bayangkan insan ideolog yang penuh semangat gerak –pantha rhei- dalam rangka mencetuskan dan mengaktualisasikan Ideologinya (tentunya dengan dasar potensi kemampuannya). Hakekatnya Ideolog sejati adalah manusia yang “bergerak”/ hakekat dirinya adalah bergerak, baik itu fisik dan jiwa yang masing-masing bergerak secara simultan sebagai sebuah akses dari ideologi yang mereka anut dan kemudian mengadakan perubahan yang fundamen di masyarakatnya. Itulah penjiwaan nomaden yang saya pakai “bergerak dan bergerak”, maka dalam terminologi Islam, terjemaahannya adalah Jihad. Jihad /Nomaden merupakan suatu cermin pencarian dan ketidakpuasan akan apa-apa yang pernah mereka capai, senantiasa ingin selalu lebih baik dan lebih baik. Orang berjihad hakekatnya adalah menomadenkan dirinya dan segala potensi dirinya kearah pencerahan dan senantiasa bergerak dan berusaha mewujudkan ideal Ideologinya (Tuhan/Manusia). Maka bukan hal yang idealis seorang mujahid berkorban segala sesuatu bagi Islam, bukan idealis Abu Bakar Shiddiq mengorbankan seluruh hartanya buat Islam, dalam pandangan ideologi itu adalah hal yang rasional, itu bukti komitmen di semua ideologi, maka orang yang berjuang

35

dengan tidak sungguh-sungguh dalam Islam diadalah munafiq dan senantiasa terstagnasi dalam hidupnya (sedangkan akhirat balasannya adalah neraka jahanam). Maka berlombalah menghadirkan karya-karya besar bagi perjuangan sebagai bukti komitmen kita yang sesungguhnya (Qs. 38: 45-46).

III. MASYARAKAT “ Hai manusia kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan besuku-suku supaya kamu saling mengenal (bukan demikian, lalu kamu bisa berunggul diri dari yang lain). Tentu, yang paling mulia diantara kamu dalam pandangan Allah, ialah yang paling bertaqwa diantara kamu...” (Qs. 49:13).

Sebagai upaya penjejakan paradigma kita, yang saya ajukan adalah bagaimana kita memahami, bahwa dalam terminologi Allah tidak menginginkan suatu perlombaan atau dinamisasi masyarakat atas dasar hal-hal sekunder (ataupun tertier). Secara sosial memang kerangka gender, suku, ras ataupun bangsa sangat mempengaruhi sebuah pendinamisan suatu masyarakat, yang kadang dengan hal ini muncullah budaya-budaya konflik sosial yang tak sehat, bahkan pada suatu sistem kemasyarakatan hal-hal inilah yang menjadi sebuah sistem kontrol sosial yang ampuh bagi kelangsungan hidup suatu status quo (SARA). Dinamisasi pada hal ini hanya akan menghasilkan perubahan sosial yang temporal, reaksioner dan dangkal, yang kemudian hanya akan menghasilkan realitas sosial yang penuh dengan konflik yang meresahkan dan juga kekanak-kanakan. Mengapa ?, ketika sentimen pada hal-hal/ ideom-ideom tersebut terjadi maka yang timbul hanya sebuah kekerdilan pemikiran pada masyarakat, bayangkan potensi-potensi yang bisa diraih dari perbedaan tersebut; contohlah, pemikiran, wacana budaya, teknologi, pandangan-pandangan hidup dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika hal tersebut kita lupakan atas landasan sentimentil pada sebuah hal yang tidak subtansial tersebut. Maka hal subtansialah yang musti digali oleh masyarakat guna memperoleh manfaat yang lebih besar dari kehidupan ini. Allah sebagai Rabb-kita telah menjelaskan pada ayat diatas bahwa hal-hal terbut bukanlah suatu yang subtansial dalam sebuah masyarakat, maka perjuangan terhadap hal-hal tersebut tidak akan menghasilkan suatu kemulyaan bagi para manusia. Allah menjadikan hal-hal tersebut hanya sebagai media ta’aruf, takaful dan tafahum bagi manusia agar masing-masing menyadari bahwa perbedaan tersebut akan menghasilkan suatu kesatuan (unity) terhadap visi sosial ketuhanan yang egaliter, yaitu Taqwa. Taqwa adalah media pemersatu yang universal dikarenakan dalam definisi takwa tidak dikenal sentimen sosial atas dasar yang tidak subtansial, karena hal yang tidak subtansial hanya cenderung memenjarakan manusia pada hal-hal yang tidak realistis (manusia akan menciptakan sendiri penjara-penjara sosialnya). Sebagai contoh; penciptaan penjara-penjara sosial

36

tadi diwujudkan dengan tidak adanya jembatan interaksi antara golongan intelektual dengan rakyat jelata, antara teori sosial dan praktek sosial, dan lain sebagainya, masing-masing menciptakan batasan wilayahnya tersendiri sehingga terwujud pemikiran-pemikiran yang parsial --walaupun hal ini agak melenceng dari masalah antar gender, ras, suku atau bangsa, tapi secara subtansi tidak adanya interaksi atas dasar visi sosial yang egaliter, diantaranya akan menghasilkan juga pola pikir yang parsial--. Dalam masyarakat Islam pada masa Kenabian Muhammad dan para Khalifah Rasyidin iklim ini selalu dapat dijembatani, dimana para komponen masyarakat ini saling berbaur menjadi satu dalam alunan visi pengakbaran nama Allah dimuka bumi, pembauran dalam hal kemasyarakatan disini bukan terjadi sebuah “fusi” terhadap back ground para komponen masyarakat tadi, mereka tetap pada kecakapan awal mereka sehingga selalu menimbulkan sebuah kedinamisan sosial yang tiada tandingnya (meskipun antara muslim dan kafir zimmi), maka pembauran disini lebih tepatnya saya katakan adalah sebuah “federasi” kekuatan-kekuatan (kutubkutub sosial). Sebelum melangkah lebih jauh, marilah kita kuatkan dulu landasan pijakan kita tentang masyarakat dimana dalam kubu dunia hanya terdapat 2 (dua) realitas masyarakat yang real, yaitu; Ummah dan Jahiliyah, maka setiap pembahasan kita senantiasa penulis akan membenturkan hal tadi sebagai titik tolak pembahasan. Masyarakat berdasarkan definisi Oxford Advanced Learner’s Dictionary (As. Hornby) adalah : “ people living ini one place, district, country considered as whole” (sekumpulan manusia yang hidup pada suatu lingkungan / bangsa yang sama yang merupakan satu kesatuan secara secara sadar). Masyarakat dalam definisi ini maka individu didalamnya akan terdefinisikan jika didalamnya terdapat kesamaan kepentingan, orientasi, kebutuhan dan lain-lain, serta suatu masyarakat

terbentuk atas azas kebersamaan dan segala ketetapan dan tindakan dalam suatu masyarakat bersifat penjunjungan terhadap hak kolektifitas, dan biasanya kepentingan interaksi dalam suatu masyarakat tadi bersifat materialistik. Masyarakat dalam definisi ini adalah jahiliyah dimana interaksinya hanya terjadi ketika yang bermain adalah kepentingan pribadi atau status quo, bukan kepentingan atas hal yang paling azasi dari nilai kemanusiaan itu sendiri, yaitu: fitrah, yang didalamnya tidak terdapat hal yang bersifat egois semata (teologis, humanis, ekologis). Dalam dinamisasinya maka masyarakat memerlukan suatu pandangan hidup (ideologi-yang kemudian diterjemaahkan menjadi premis dasar bermasyarakat). Maka hakekat yang terjadi antara adanya baro’ah antara Muslim dan Kafir adalah masalah pandangan hidup, yang nantinya ini akan menghasilkan suatu persepsi dan menjadi sebuah orientasi hidup suatu masyarakat, maka darinya akan menghasilkan sebuah realitas masyarakat yang berbeda (yang satunya makrifat dan yang lainya dzulumat), tapi dalam kedua realitas masyarakat tadi masing-masing mempunyai satu

37

kesamaan, yaitu;

keteguhan terhadap pandangan hidup, yang namanya komitmen dimanapun

dalam aktifitas sosial begitu diagungkan dan dihargai. Maka demi kelanggengan suatu masyarakat komitment terhadap pandangan hidup harus disadari dan dilakukan secara kolektif, maka jika tidak suatu masyarakat akan mengalami kehancuran (hal ini terlepas pada masyarakat manapun) ( Qs. 3:103) dan kemudian selalu harus mengadakan perbaikan dalam aktifitas sosialnya (Qs. 26:157). Berbicara mengenai masyarakat berarti tidak dapat dilepaskan dari person yang ada didalamnya, dan ini yang sering membentuk karakter suatu masyarakat (atas dasar ideologi yang dianutnya) yang dengan individu didalamnya akan membentuk suatu karakter global dalam masyarakat itu secara dominan. Sebagai contoh adalah Masyarakat Kapitalis; maka didalamnya akan terdiri dari individu-individu yang memiliki jiwa dan karakter kapitalis. Masyarakat terdiri dari kumpulan induvidu yang memiliki kehendak dan idealitas dan dalam interaksinya memerlukan suatu pandangan hidup (ideologi) dalam rangkan mensistematikakan dinamisasinya dalam rangka mencapai suatu cita-cita bermasyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pandangan R. Mac Iver : “Masyarakat adalah suatu sistem hubungan-hubungan yang ditertibkan”44 Masyarakat adalah suatu media interaksi manusia yang diformat oleh ideologi yang nantinya dari situ akan terlihat kecenderungan suatu masyarakat, yaitu akan mengalami kehancuran atau kedinamisan yang tanpa henti. Hal ini tergantung dari ideologi yang memformat suatu masyarakat, maka salah satu yang akan menjaga masyarakat dari kehancuran (yang otomatis akan menghancurkan individu yang ada didalamnya) adalah pemilihan ideologi yang tepat (furq’an) dan juga interaksi yang postif; dalam Ummah interaksi tersebut adalah Ukhuwah (Qs. 3:103, Qs. 45:28)

3.1 MASYARAKAT DAN SEJARAH Masyarakat adalah kumpulan induvidu yang selalu mengadakan kedinamisan dalam sejarah, dia merupakan objek telaah sejarah. Masyarakat dan dinamisasinya membuat bumi ini kaya akan pelajaran-pelajaran yang bisa dipelajari dan ditelaah oleh manusia (Qs. 12:111) yang nantinya bertujuan untuk menghindari suatu pengulangan terhadap pengalaman sejarah yang destruktif di masyarakat yang hari ini dan akan datang. Setiap masyarakat dalam determinisme sejarah dia akan menghasilkan tokoh-tokoh utama sejarah yang akan memiliki peran yang sama dengan terdahulu, sejarah tidak berubah secara substantif tapi dia berubah secara instrumen dan aktor-aktornya –Qs. 28:4 -tentang mengulangi penguasa yang dzalim— , namun kenapa manusia kembali

prosesi sejarah yang destruktif ?, hal ini bermula dari ketidakmauan (tidak tahu ? )

manusia untuk belajar dari masa lalu melalui pandangan hidup yang Haq. Sejarah adalah sunatullah yang berarti didalamnya terdapat hubungan sebab akibat yang dapat dijelaskan secara rasional dan empiris (Qs. 25: 2). Masyarakat yang mengalami suatu kemunduran / stagnasi akan tergilas oleh alur kesejarahan yang deteminis, hal ini terjadi apabila

38

individu dalam suatu masyarakat tidak lagi menghasilkan suatu interaksi sosial yang konstruktif dan cenderung menyebarkan kedzaliman (Qs. 8:73) maka hal tersebut akan memandulkan manusia secara keseluruhan -Qs. 28: 4 - serta interaksi yang ada harus dilandasi oleh paradigma interaksi yang haq (Qur’an). Kerangka Idealis-Qur’anis adalah hal yang harus dimiliki oleh suatu masyarakat apabila dia ingin survive . Idealnya, masyarakat yang survive adalah masyarakat yang memahami benar esensi kemasyarakatannya dalam proses perjalanannya, dia harus memahami labat belakang - baik geografis - yang membentuk kulturnya, paradigma pemikirannya dan akar segala aspek sosiokulturalnya, dengan memahami hal ini masyarakat tidak akan mengalami ‘kegagalan ‘ dalam kesejarahannya 45 dengan satu syarat bahwa hal tersebut harus dilandasi oleh nilai yang bersumber dari Nilai Ilahiyyah, contoh: jika aspek itu terbentuk oleh azas pemikir-pemikir dalam suatu masyarakat yang tidak mengunakan nilai ilahiyyah (trans senden) dan hanya didasari oleh azas spekulatif-probabilistik (Qs. 29:25; 10:35-36) maka hasilnya pun akan spekulatif-probabilistik dalam proses sejarahnya dan terciptalah masyarakat yang mengalami semacam split personality . “Tapi bukankah masyarakat Islam pun yang secara letter-lux, mengunakan azas ini juga mengalami kegagalan sejarah di era modern ini ?”, sehingga landasan apa yang akan membuat hal tersebut diatas bersifat objektif ?, pertanyaan pertama terjawab bahwa bukan konsepnya yang mengalami pembusukan, melainkan ketidakaktualan cara berfikir penganutnya dalam upaya memahami Al -Qur’an sebagai konsep dasar hidupnya , ketidakmampuan Umat Islam dalam menterjemaahkan nilai Al Qur;an dalam kerangka realitas objektif; dalam hal ini bangunan teori yang digunakan sebagai jembatan antara nilai-nilai normatif Qur’an kedalam realitas objetif sangat minus. Hal ini disebabkan karena secara mayoritas umat islam terjebak dalam permasalahan furuiyyah yang kompleks. Pertanyaan kedua terjawab, hal tersebut dapat bersifat objektif jika kita memahami kesejarahan secara kritis. Untuk memahami Islam selayaknya kita harus menelaahnya dari aspek tipologinya,
46

yaitu tipologi apa yang orisinal dari agama ini, apa produk orisinalnya,

peran-laku aktornya dan sebagainya yang berkaitan. Sehingga penilaian tersebut tidak semata berlandaskan dalam aspek kasat tapi juga harus menilai secara lebih kritis. Untuk melihat Islam kita harus melihat karekter tokoh yang masih menganut nilai Islam yang orisinil, bukan yang mengalami kontaminasi / pembusukan dalam sejarahnya, kita harus kembali menilai masyarakat Islam pada era Nabi Muhammad yang dimana pada masa itu adalah masa yang paling orisinil dalam mengamalkan Qur’an, mereka adalah produk orisinal Qur’an. Perlu diingat bahwa Qur’an bukan juru selamat yang senantiasa mengangkat hamba-Nya secara ajaib tanpa melihat hukum kausalitas sejarah (Qs. 8: 53), dalam Islam kemalasan, kemiskinan, kebodohan serta penyakit sosial lainnya begitu dibenci, harena hal tersebut adalah virus yang akan
44. 45.

Budiarjo, Miriam, DASAR-DASAR ILMU POLITIK, PT. Gramedia, hal. 33. Dr. ali Syari’ati, MEMBANGUN MASA DEPAN ISLAM, Mizan, Cetakan ke IV 1994, hal. 46

39

menyebabkan kemandulan sosial. Islam adalah dien yang memberikan suatu cahaya bagi keberlangsungan kehidupan yang memiliki keselarasan yang utuh – Islam merupakan tafsir batiniah atas dunia -- , dia akan membimbing masyarakat dalam kesempurnaan sejarah -Qs. 4: 175 - , bukan kemoderenan dalam artian prespektif materealisme tapi modern dalam pandangan yang memiliki aspek cinta kasih (darussalam), Ikhtiar kolekti sangat diperlukan dalam menjaga proses dinamisasi sejarah (Qs. 3:110), sehingga jelas bagi kita untuk kembali memetakan peran kita dan mengetahui siap musuh kita dewasa ini yaitu Kapitalisme dan kejummudan diri kita.

05 November 1999 Sigit Suryawan Dedicated to all Moslem Thinkers “Keep Struggle”

46.

Dr. Ali Syari’ati, TIPOLOGI ISLAM, IQRA Bandung

40

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->