P. 1
jilbab's makalah

jilbab's makalah

|Views: 343|Likes:
hasil kerja keras gua neeeee
hasil kerja keras gua neeeee

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Muhammad Pasti Lulus on Oct 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

Pengalaman orang orang yang berjilbab

Vika : Sebenarnya aku waktu SMP aku pernah ngomong pengen berjilbab kalo udah SMA. Nggak tahu kenapa punya pikiran macam begitu, juga nggak tahu kok kenapa pas SMA mau berjilbab. Itu semacam pikiran selintas yang tiba-tiba diomongin. Tapi mamaku bilang, nggak usah aja, dimantapin dulu hati, baru berjilbab. Ternyata entah pengaruh kata-kata mama atau aku yang suka labil waktu itu, pas SMA aku masih juga nggak berjilbab. Malah, kayaknya makin tambah hepi aja dengan pakaian seadanya. Mungkin karena pengaruh usia dan pergaulan juga. Aku masuk SMA usia lima belas tahun. Lagi ABG-ABG nya. Pengen niru gayanya para seleb. Juga suka hepi-hepi ke sana kemari sama temen-temen. Kebetulan waktu SMA aku punya temanteman se genk yang akrab banget. Temanku se genk yang bisa dibilang tetanggaan, dia ini berjilbab. Suatu kali, pas hari jum’at, aku iseng minjem jilbab temenku ini untuk ke sekolah. Dan ternyata reaksi teman-temanku sungguh nggak terduga. Teman-temanku bilang, “wah, bagus banget, cantik banget lho kalo kamu berjilbab.”
riafariana Malam pertama? Eits….pengalaman pertama berjilbab maksudnya? Hmm…nano-nano. Sama, ketika pertama kali memutuskan untuk menutup aurat dengan sempurna, hati penuh dengan dag dig dug plas. Kalo permen punya rasa manis asem asin, rasa ini juga gak beda. Awalnya memberanikan diri ngomong ke ortu tentang keinginan berjilbab. Ternyata ditolak mentah-mentah sodara-sodara, hiks…hiks… Bahkan sempat disidang oleh kakak laki-laki selama hampir 2 jam untuk mempertanggungjawabkan keinginan itu. Hasil dari sidang itu tak lantas boleh memakai kerudung tapi dengan syarat ntar nunggu masa SMA kelar. Huaa…mana tahan, padahal saat itu masih kelas 1 SMA. Nunggu 3 tahun lagi dan menumpuk dosa padahal sudah tahu hukum menutup aurat? Bete banget. Setahun berikutnya penuh dengan pergolakan batin. Antara nekat memakai jilbab dan itu artinya gak nurut ortu atau nekat gak makai berarti membantah perintah Allah. Hiii…pilih mana, coba? Sempet puyeng juga. Akhirnya saya aktif di OSIS, KIR dan YKKM (Yayasan Kreativitas Kawula Muda) untuk sekedar melupakan keinginan itu. Tau nggak, setiap ketemu teman yang udah berkerudung dengan manis, tanpa bisa ditahan mata saya selalu basah. Akhirnya tepat setahun keinginan itu saya pendam, saya memutuskan untuk nekat berubah. Sempat perang dingin sama keluarga dalam artian didiamkan dan tidak diajak ngomong kurang lebih 2 minggu lamanya. Tapi saya tetap berusaha memulai pembicaraan dan terus menjalin ukhuwah dengan keluarga. Episode di sekolah Hari pertama yang mendebarkan, malamnya saya ke rumah teman dan nginap di sana. Itu karena saya belum bisa memakai kerudung dengan baik dan benar. Di jaman itu belum ada kerudung kaos seperti saat ini yang bisa praktis tanpa peniti. Jadilah ngungsi ke rumah teman yang akan membantu memasangkan kerudung putih pertama saya ketika berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, pandangan-pandangan aneh mulai saya dapatkan. Apalagi hari Senin kan biasanya ada upacara bendera tuh. Ada celetukan dari teman sekelas saya yang nasrani ‘Wih… Ria sekarang jadi suci, gak bisa dong kumpul bareng kita-kita lagi dong’. Jelas aja itu pendapat gak bener. Bla…bla…bla…saya jelaskan bagaimana hukum menutup aurat dalam Islam. Kalo dalam keyakinannya mungkin berlaku. Tapi Islam beda. Menutup aurat dengan berkerudung dan berjilbab bukan berarti sok suci tapi dalam rangka melaksanakan perintah Allah, tul nggak?  Ketika masuk kelas pun ada guru bahasa Inggris yang mengucapkan selamat ke saya atas perubahan itu. Alhamdulillah. Ketika istirahat, juga banyak disalami dan diberi ucapan selamat oleh teman-teman di rohis. Yang paling lucu adalah ketika pulang sekolah, dan siangnya diganti dengan anak-anak kelas 1. Bukannya nyombong, saya sempat jadi runner up satgas (satuan tugas, istilah untuk panitia penyambutan siswa baru di SMUN 9 Surabaya beberapa tahun silam) favorit, sehingga banyak juga adik-adik kelas yang mengenali saya. Awalnya mereka ngeliatin saya terus, lalu berbisik-bisik lalu senyum-senyum. Bete nggak sih

diperlakukan seperti itu? Yang kemudian mereka komentar, ‘ih, Mbak Ria lucu.’ Huaa….saya pun berlalu dengan tersipu-sipu (ehem..ehem…). Belum lagi ada kakak kelas cowok yang memberi saya hadiah lewat temannya. Wah…hadiah apa ini? Saya sih siaga satu, bukan siap antar jaga loh yah. Tapi siaga dalam artian waspada. Masalahnya, khawatir ada ekor di balik pemberian hadiah tak jelas itu. Lalu dengan sangat sopan, saya tolak hadiah itu. Saya berkerudung karena Allah bukan karena manusia apalagi cowok. Masih belum puas juga, sebagai hadiah ulang tahun katanya. Kebetulan saya memakai kerudung pertama kalinya di bulan yang sama dengan bulan kelahiran. Nah, bingung juga kan. Pokoknya, intinya saya tak bisa menerima hadiah darinya. Titik. Duh, semoga ini bukan sikap yang kejam. Saya khawatir ada udang di balik rempeyek, eh…maksudnya ada maksud-maksud yang lain di balik pemberiannya. Bukannya su’udzon, saya hanya menjaga kebersihan niat saya ketika memutuskan menutup aurat. Ketika menjelang kelulusan SMA, siswi berjilbab harus menandatangani sebuah nota perjanjian bahwa bila terjadi apa-apa berkenaan tidak mau melepas jilbab dan memperlihatkan telinganya, maka pihak sekolah tidak mau terkena beban. Kami menyetujuinya dengan senang hati. Pertama, jangankan berjilbab, tidak berjilbab pun bila terjadi sesuatu pada kami, apa pihak sekolah mau menanggung? Kedua, apa yang kami lakukan ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan apa yang telah diperjuangkan kakak kelas kami terdahulu demi golnya SK berjilbab di lingkungan sekolah. Jadi, kami tak boleh menyerah. Episode bikin KTP Ngomong-ngomong tentang foto kelihatan telinga, saya pernah bersitegang dengan petugas kecamatan dalam pengurusan KTP. Petugas di kecamatan itu memaksa (sayangnya naluri kepenulisanku belum gede waktu itu jadi lupa nyatat namanya) foto harus terlihat telinga. Padahal setahuku teman-teman dari kecamatan lain mempunyai KTP lengkap dengan foto menutup aurat. Karena tidak terima dengan peraturan sepihak itu, tidak tanggung-tanggung, KTP asli teman SMA berbeda-beda kecamatan saya bawa semua ke hadapan petugas di kecamatan saya tinggal. Ternyata itu pun tidak berhasil. Petugas itu semakin marah dan membentak-bentak saya di hadapan banyak orang. Petugas kecamatan yang lain pun berdatangan dan semua memojokkan saya. Kartu saya yang setengah jadi, tinggal tanda tangan bapak kecamatan dibanting di depan saya dan saya disuruh pulang dan dilarang kembali bila tidak memasang foto yang terlihat telinga serta lehernya. Hhh… sebel banget. Kenapa telinga harus dibuktikan keberadaannya sih? Pikir saya jengkel. Toh saya juga juga masih bisa mendengar dengan baik tanpa sosok telinga dipajang dan dipamerkan. Dengan menahan jengkel karena dibentak-bentak di depan orang banyak sekaligus menahan rasa malu, saya pulang. Seminggu lamanya saya memutar otak bagaimana agar KTP tetap gol tapi dengan pas foto yang tetap menutup aurat. Seminggu kemudian saya kembali, tetap nekat dengan pas foto semula. Apa pun yang terjadi, terjadilah. Saya bahkan sudah siap untuk merekam setiap detil kejadian yang bakal terjadi untuk kemudian saya kirimkan pada surat pembaca menulis di surat kabar harian. Phew….ternyata, kegigihan saya membuahkan hasil. Allah memudahkan pengurusan KTP kali ini. Orang yang sama menggerutu tapi tetap melayani saya meski dengan membentak dan membanting kartu KTP itu di depan muka. Ah…biarlah. Sebagai hadiahnya, sikap menjengkelkan petugas kecamatan tadi urung untuk kuekspos di surat pembaca menulis surat kabar. Episode Ngurus SIM & Teror Surat Kaleng Masalah belum berhenti ketika pengurusan SIM terjadi. Di antara semua siswa yang mengurus SIM kolektif diselenggarakan oleh OSIS SMA tempat saya bersekolah, sayalah satu-satunya yang memakai jilbab. Singkat kata, saya kembali bersitegang dengan petugas kepolisian yang bertugas mengambil foto dengan kamera digital. Saya sempat menolak memperlihatkan telinga saya. Sebaliknya, guntingan surat kabar yang sudah saya persiapkan dari rumah tentang pernyataan pimpinan polantas sebagai jawaban atas kebolehan foto SIM berjilbab saya tunjukkan ke beliau. Bukan itu saja, SIM asli teman saya juga saya bawa dan tunjukkan bahwa foto SIM berjilbab seharusnya tidak masalah. Petugas yang memakai seragam polisi itu bukannya menggapi dengan simpatik tapi sama sekali

tidak mengindahkan argumen saya. Beliau bahkan tidak menanggapi sedikit pun kata2 saya. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat sikapnya yang memuakkan dan mempersilahkan saya untuk pergi dari depan kamera digital bila tetap memaksa tidak mau memperlihatkan telinga. Bukan saya takut dengan sikapnya itu tapi nilai 98 ribu rupiah di tahun 95 bagi saya dan keluarga sangatlah besar. Wajah ibu saya yang mengeluarkan uang segitu besarnya untuk pengurusan SIM, dan juga keberatan anggota keluarga yang lain ketika saya memutuskan berjilbab, membuat saya menyerah. Tapi saya tidak kalah. Dengan menahan mata yang berkaca-kaca dan terus beristighfar dalam hati, saya berfoto dengan menunjukkan telinga tanpa melepas jilbab. Saya tidak kalah! Saya harus berjuang, tekad itu terus berdengung dalam diri saya hingga sampai rumah. Tekad yang sama pula yang menggerakkan pena saya untuk mengirim protes ke surat pembaca menulis dan saya kirimkan ke surat kabar harian terkemuka di Jawa Timur. Tepat hari Senin, hari pertama saya Ebtanas kelas 3 SMA surat itu dimuat. Sudah banyak editan dilakukan sehingga lebih pendek dan tidak ‘garang’ lagi. Tapi tetap, ada konsekuensi yang harus saya terima akibat pemuatan itu yang sama sekali di luar perhitungan. Saya mendapat surat kaleng untuk pertama kalinya seumur hidup. Isinya begitu menakutkan untuk gadis berumur 17 tahun saat itu. Kata-kata ancaman serta pelecehan terhadap gadis berjilbab, gambar-gambar jorok baik digunting dari majalah atau pun digambar tangan menghiasi berlembar-lembar surat kaleng itu. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Tangan saya gemetar dan hati saya sukar dilukiskan rasanya. Sesaat setelah surat kaleng yang diantar pak pos itu sampai di tangan saya, teman saya datang menjemput untuk berangkat ngaji liqo’ bersama. Saya tunjukkan surat itu padanya. Dan kami sepakat untuk membakar surat itu, saat itu juga di halaman rumah. Sepanjang perjalanan dan ketika kajian berlangsung, konsentrasi saya hilang. Gemetar itu masih tersisa. Bahkan selama beberapa hari. Saya adukan semuanya pada Allah, sambil terus meyakinkan diri bahwa apa pun yang bakal terjadi pada diri saya, baik atau pun buruk pastilah atas sepengetahuan-Nya. Allah selalu dekat, dan pasti akan menjaga saya. Saya yakinkan diri berulang-ulang. Saya tidak boleh kalah oleh surat kaleng dari seseorang yang begitu pengecut hingga tidak berani menunjukkan jati dirinya. Sempat terbersit keinginan untuk menulis surat pembaca lagi atas surat kaleng yang saya terima yang penuh berisi penghinaan terhadap muslimah berjilbab. Tapi kemudian urung saya lakukan. Bukannya menyelesaikan masalah, ada kekhawatiran situasi akan semakin buruk. Saya hanya meningkatkan kewaspadaan saja dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Hingga surat kaleng kedua hadir lagi, masih dengan isi yang sama. Subhanallah, efeknya pada diri saya sudah banyak berkurang. Kali ini saya bisa mentertawakan surat kaleng itu, mengasihani pengirimnya dan mendoakannya. Bahkan saya masih menyimpannya hingga kini! Saya tak lagi ketakutan, saya tak lagi gemetar, saya tak lagi gentar. Saya menikmati setiap episode yang menyertai perjalanan berjilbab saya, pahit getirnya, asam manisnya, semua menjadikan hidup lebih indah untuk dinikmati. Ini baru awal. Kerikil-kerikil tajam masih banyak menghadang langkah di depan. Dan inilah yang namanya perjuangan. Bismillah, saya harus kuat! Episode Karier Karier? Mmm…sebetulnya enggan saya untuk menyebutnya karier. Hanya batu lompatan untuk mandiri karena mulai semester lima kuliah, ada rasa malu untuk menadahkan tangan ke ortu. Saya mulai sering membuka surat kabar di halaman lowongan kerja. Saat itulah pertama kalinya saya belajar menulis surat lamaran kerja baik dalam bahasa Indonesia atau pun dalam bahasa Inggris agar ada nilai lebih maksudnya. Menjadi tutor di LBB saya lirik. Entah sudah berapa kali saya kirim lamaran dan menindaklanjuti dengan telpon, penolakan demi penolakan saya terima. Ada yang karena dengan alasan, yang dicari adalah mahasiswa tingkat akhir untuk menjadi tutor LBB. Tapi ada juga yang dengan halus menolak karena cara berpakaian saya. Yeah…sejak menginjak bangku kuliah dan insya Allah lebih memahami makna menutup aurat dengan lebih baik, saya mulai konsisten untuk memakai baju terusan semacam longdress panjang hingga menutup kaki. Orang biasanya menyebutnya jubah, abaya atau gamis. Tapi saya memahaminya sebagai jilbab. Lengkap dengan kerudung saya (dulu saya menyebutnya jilbab) yang cukup panjang, di

beberapa LBB hal itu sempat dipermasalahkan. Di salah satu LBB, pewawancara sempat memuji kemampuan berbahasa Inggris saya. Hingga dia bertanya bila saya diterima sebagai staf pengajar di LBB tersebut, bagaimana dengan gaya berbusana saya. Karena saya muslimah dan pantang bagi saya untuk merasa rendah diri hanya karena pakaian takwa yang saya kenakan, maka dengan tegas pula saya katakan ‘This is the way I am, I won’t change myself just to get a job.’ Inilah saya apa adanya, dan saya tak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan. Dia pun merespons bahwa secara pribadi terkesan pada saya tapi dia harus mempertimbangkan dengan partnernya yang lain karena usaha LBB itu adalah milik bersama. Saya tahu itu indikasi penolakan secara halus tapi saya puas. Saya bisa menunjukkan bahwa muslimah yang berusaha konsisten dengan baju takwanya bisa bersaing sama tinggi kemampuannya dengan mereka yang ber-rok mini. Untuk beberapa saat saya keluar masuk dari satu LBB ke LBB lain. Bahkan ada satu LBB yang mencari tenaga pengajar bahasa Inggris untuk anak-anak. LBB itu cukup punya nama dan bekerjasama dengan lembaga di Australia. Lamaran saya masukkan lewat pos, dan dipanggil melalui telpon untuk datang ke kantornya dan wawancara. Suara resepsionis terdengar ramah ketika menelpon saya. Bahkan karena hari itu tepat tanggal kelahiran saya, ia pun sempat mengucapkan happy birthday dengan ramahnya. Tapi apa yang terjadi keesokan hari ketika saya memenuhi jadwal untuk interview? Sikap resepsionis yang tadinya ramah di telpon langsung berubah dingin ketika saya memperkenalkan diri. Di saat menunggu giliran untuk interview dan memperagakan gaya mengajar di satu ruangan tersendiri, meski tanpa melihat saya tahu sorot pandang asing dan tak bersahabat dari orang-orang yang ada di sana. Saya tahu konsekuensi itu, jadi saya berusaha menikmati setiap detik yang berlalu hingga giliran saya dipanggil. Di dalam ruangan peraga, saya mengoptimalkan kemampuan di depan interviewer bagaimana cara mengajar anak-anak dengan beberapa alat peraga sambil terus mengoceh dalam bahasa Inggris. Saya merasa maksimal dan lumayan dalam persentasi. Tapi tetap, pandangan ‘beda’ itu yang saya dapatkan. Ketika selesai, saya tahu kemungkinan diterima itu minim. Tapi paling tidak saya keluar ruangan demi ruangan di LBB itu dengan bangga karena saya bisa tampil maksimal dengan skill yang bisa diperhitungkan. Hanya karena diskriminasi gaya berpakaian saya sebagai seorang muslimah saya kalah…untuk menang. Seberapa pun butuhnya saya terhadap pekerjaan, tak akan pernah saya menggadaikan keyakinan saya dari ketundukan pada hukum syara’. Saya yakin bahwa jangankan manusia, cacing saja di dalam tanah sudah dijamin rizkynya oleh Allah. Keyakinan itu saya tanam kuat-kuat dalam hati dan pikiran saya ketika masih belum lelah juga tangan ini menulis lamaran kerja dan kaki melangkah dari satu LBB ke LBB lain. Beberapa les privat saya dapatkan untuk mengurangi ketergantungan saya meminta ‘beasiswa’ pada keluarga. Bahkan ada juga murid private saya yang ketika pertemuan pertama tahu kondisi saya, ortunya langsung menolak saya datang lagi. Meski tidak menutup mata bahwa banyak juga murid-murid saya yang lain, yang pada ngefans sama saya hehehe;p Hingga akhirnya saya mengajar private business English dua orang cewek yang bekerja. Saat itulah di sela-sela belajar, saya selalu didorong untuk mencoba melamar pekerjaan di perusahaan forwarding export-import. Awalnya saya tanggapi biasa saja karena memang saya tidak pernah bercita-cita bekerja kantoran, selain juga ada keraguan apa mungkin kesempatan itu ada bagi seseorang yang berjilbab dan berkerudung rapat seperti saya. Setelah beberapa lama, ah…nothing to loose. Tak ada salahnya mencoba. Paling tidak pengalaman ditolak saya akan bertambah. Lagipula, dengan skill yang saya punya paling tidak saya tidak malu-maluin bersaing dengan pencari kerja yang berbaju mini. Bahkan saya PD sekali dengan kemampuan saya yang lumayan di atas pelamar kerja lainnya. Saya kirim surat lamaran kerja berbahasa Inggris via pos dengan lampiran seadanya. Apalagi waktu itu IPK saya seperti hidup segan mati pun tak mau alias pas-pasan hehe;p Tapi saya PD aja lagi karena secara skill English terutama percakapan atau conversation saya boleh diuji coba. Dan benar, ada panggilan interview disampaikan melalui telpon. Karena jadwal yang ditentukan bentrok dengan kuliah, maka saya menawarkan interview di hari yang kosong dari jadwal kuliah. Ternyata HRD perusahaan tersebut mengiyakan.

Di hari yang sudah ditentukan datanglah saya tetap dengan berjilbab dan berkerudung panjang. Setelah melalui tahapan interview mulai hal-hal umum, test komputer Microsoft word dan exel, plus yang pasti test bahasa Inggris terlewati, saya dihadapkan langsung dengan Branch Manager. Saat itulah saya yakin bahwa pengalaman berkarier saya akan dimulai di sini. Selalu ada kemudahan di balik kesulitan, itu janji Allah. Dan saya seratus persen percaya. Kemudahan demi kemudahan saya dapatkan. Diterima bekerja di kantor forwarding export-import di saat saya belum lulus kuliah, minim pengalaman dan masih ada beberapa SKS yang harus saya tuntaskan di kampus. Persyaratan saya untuk datang terlambat atau bahkan tidak masuk sehari dua hari dalam seminggu pun diiyakan. Saya minta ditempatkan di mana kemampuan komputer, internet dan bahasa Inggris saya bisa maksimal berkembang pun dikabulkan. Dan tanpa saya ucapkan, waktu ibadah, keyakinan dan gaya berbusana saya yang tidak bisa diganggu-gugat juga terjamin. Subhanallah. Sebetulnya saya bisa langsung bekerja keesokan harinya setelah dinyatakan positif diterima kerja, tapi sengaja saya minta jeda waktu satu bulan. Saya bereskan urusan dengan murid-murid private Inggris, beberapa saya limpahkan ke teman, tapi ada beberapa yang tetap ingin saya teruskan mengajar sesempatnya. Urusan-urusan kampus yang perlu diselesaikan dan yang utama saya menikmati masa-masa ketika di pagi, siang hingga sore hari saya masih bisa pergi ke mana pun sesuka hati. Saat itu saya masih aktif di self access English center British Council, maka saya manfaatkan untuk setiap hari ‘nongkrong’ di sana. Ah…saya pasti merindukan suasana ‘bebas’ seperti ini. Tapi di lain pihak, saya pun harus sudah bisa mandiri. Malu rasanya menadahkan tangan pada ortu dan keluarga lagi. Saatnya tangan saya yang di atas dan bisa memberi sesuatu pada ortu, keluarga, dakwah dan orang lain juga. Tepat tanggal 1 Februari 2001, saya masuk kerja pertama kali. Semua biasa-biasa saja meski ada rasa sedikit canggung. Pengalaman pertama kerja di kantoran. Hingga satu saat HRD menegur tentang gaya berbusana saya. Heran juga, karena Branch Manager saja tidak meributkan. Alasannya lucu lagi. “Mbak Ria, lebih baik Mbak memakai celana panjang dan jas dipadu dengan kerudung untuk bekerja. Karena kantor kita ini kan 4 lantai, khawatirnya nanti Mbak Ria jatuh waktu naik turun,” begitu katanya. “Jangan khawatir, Pak. Dengan pakaian saya ini, berlomba lari dengan Bapak hingga ke lantai 4 pun belum tentu Bapak menang,” kata saya dengan kalem. End. Akhir dari mempermasalahkan tentang jilbab dan kerudung saya. Beberapa teman perempuan di kantor ada beberapa yang bertanya tentang hal yang sama, maka dengan senang hati saya jelaskan bagaimana syara’ mengatur tentang berbusana seorang muslimah. Alhamdulillah, terbuka satu lahan lagi untuk berdakwah dan menyebarkan pemahaman Islam. Banyak teman yang belum pernah bertemu dengan saya, biasanya kenal melalui mailing list di internet, atau vendor dari PT lain yang berhubungan kerja sebatas telpon, mengira saya yang kerja kantoran ini pastilah memakai celana panjang feminine dipadu dengan jas kerja wanita dan kerudung yang dilipat ke belakang leher agar terlihat aktif dan energik. Tapi mereka seringkali terkecoh ketika bertemu saya. Jilbab saya yang longgar yaitu baju panjang tanpa putusan di tengah hingga menutup kaki sebagai baju luar menutupi baju dalam, plus kerudung lebar hingga menutup rambut, telinga, leher dan dada dengan sempurna tak pernah lepas dari tubuh saya ketika keluar rumah. Pun, ketika bekerja di kantoran. Tapi satu hal, aktif dan energik harus dong. Bahkan ketika rekreasi tahunan yang diselenggarakan kantor ‘wajib’ diikuti, saya pun dengan riang gembira ikut dalam tour arung jeram yang asyik banget itu tetap dengan gaya busana jilbab dan kerudung saya. Siapa bilang jilbab dan kerudung itu ribet dan menghalangi? Buktinya saya jauh lebih aktif dan energik di tengah-tengah arus sungai yang cukup beriak daripada teman-teman perempuan saya yang memakai celana dan kaos santai. Setiap detik dalam hidup saya selalu percaya bahwa semua kejadian ada hikmahnya. Tapi satu hal yang pasti, keyakinan untuk berpegang teguh pada hukum syara’ apa pun yang terjadi, tak akan pernah saya lepas seujung jari pun. Sungguh, Allah Maha Menepati Janji. Di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Dan nikmat Tuhan-mu yang manakah yang akan engkau dustakan?

vienky Aku mengenakan jilbab pertama kali yaitu dipertengahan kelas 2 SMA. Ketika duduk di kelas 1 SMA aku mempunyai dua orang teman akrab yang telah mengenakan jilbab lebih dahulu (dan alhmadulillah persahabatan kami bertiga tetap awet dan langgeng hingga sekarang). Saat itu di antara kami bertiga hanya aku yang masih begitu bandel tetap dengan baju dan rok sekolah pendek. Dimana-mana setiap kali melihat kami bertiga jalan, semua pasti pada ngomentarin, "Waah..sebentar lagi Herma nih nyusul." Aku sih senyum-senyum aja, tapi sedikitpun belum terlintas untuk mengenakan busana muslimah. Kedua sahabatku pun tak pernah memaksakan. Saat bulan ramadhan tiba, sekolahku mengadakan pesantren kilat. Ternyata tanpa sepengatahuan peserta, panitia memperhatikan antusiasme dan keaktifan peserta untuk kemudian diplih dan dijadikan nominator sebagai peserta terbaik. Dan benar-benar tak kusangka sama sekali, aku termasuk yang menjadi nominator. Waduuuh...gak salah nih panitia. Sempet binun juga kok bisa terpilih, tapi ya udah aku manut aja. Para nominator yang telah dipilih panitia kemudian akan diberi serangkain tes untuk dinobatkan sebagai peserta terbaik. Dan sekali lagi aku dibuat binun...kok bisa ya.....masalahnya, akhirnya yang terpilih sebagai peserta terbaik adalah DIRIKU....wedew....sampe sekarang piagam peeserta terbaiknya masih ada loh...hehehe... Nah...sebagai peserta terbaik, aku kudu mengikuti follow up dari kegiatan pesantren kilat yang diadakan di sebuah masjid (aku lupa nama Masjidnya). Setiap kali ke masjid, aku selalu mengenakan jilbab. Tapi pas pulang ke rumah, ya dibuka lagi. Saat itu sudah mulai terniat dalam hatiku untuk mengenakan jilbab. Pertentangan batin mulai mendera. Bagaimana tidak, di saat yang sama aku pun tengah terlibat sebagai salah satu pengisi acara pada acara perpisahan siswa kelas 3. Setiap pulang sekolah, aku ikut latihan menari untuk mengisi acara perpisahan, gak tanggungtanggung, tarinya tari modern lagi. Tapi di hari lain, aku mendatangi masjid untuk mengikuti kegiatan di sana, dan bergabung dengan para jilbaber lain. Benar-benar sebuah pertentangan batin yang sangat kuat. Aku mulai menyadari akan kewajiban sebagai muslimah yang salah satunya adalah menutup aurat. Tapi keinginan untuk tetap dengan keadaan selama ini juga sama kuatnya. Bayang-bayang tampil di pentas juga masih menggoda. Hingga pada suatu hari, selesai mengikuti kegiatan di masjid. Aku pulang bersama mba Endah, salah seorang tutor. Selama bersamanya aku mengaku bahwa sebenarnya aku belum mengenakan jilbab. Bahkan mungkin di antara semua peserta, hanya aku yang belum mengenakan jilbab. Beliau sedikit kaget, namun kemudian dengan tenang mengatakan bahwa jika aku telah punya niat, maka jangan di tunda-tunda. Hanya itu yang beliau katakan, tak banyak. Namun begitu membekas di hatiku. Tepat sehari setelah itu, aku pun resmi mengenakan pakaian muslimah. Alhamdulillah...semoga aku dapat menjaga amanah pakaian yang kugunakan ini ya Allah, amiin... annisa Ini cerita tentang adikku Nur Annisa , gadis yang baru beranjak dewasa namun rada Bengal dan tomboy. Pada saat umur adikku menginjak 17 tahun, perkembangan dari tingkah lakunya rada mengkhawatirkan ibuku, banyak teman cowoknya yang datang kerumah dan itu tidak mengenakkan ibuku sebagai seorang guru ngaji. Untuk mengantisipasi hal itu ibuku menyuruh adikku memakai jilbab, namun selalu ditolaknya hingga timbul pertengkaran pertengkaran kecil diantara mereka. Pernah satu kali adikku berkata dengan suara yang rada keras: “Mama coba lihat deh, tetangga sebelah anaknya pakai jilbab namun kelakuannya ngga beda beda ama kita kita, malah teman teman Ani yang disekolah pake jilbab dibawa om om, sering jalan jalan, masih mending Ani, walaupun begini-gini ani nggak pernah ma kaya gituan”, bila sudah seperti itu ibuku hanya mengelus dada, kadangkala di akhir malam kulihat

ibuku menangis , lirih terdengar doanya: “Ya Allah, kenalkan Ani dengan hukum Engkau ya Allah “. Pada satu hari didekat rumahku, ada tetangga baru yang baru pindah. Satu keluarga dimana mempunyai enam anak yang masih kecil kecil. Suaminya bernama Abu Khoiri, (bukan Effendy Khoiri lhoo) (entah nama aslinya siapa) aku kenal dengannya waktu di masjid. Setelah beberapa lama mereka pindah timbul desas desus mengenai istri dari Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga dijuluki si buta, bisu dan tuli. Hal ini terdengar pula oleh Adikku, dan dia bertanya sama aku: “Kak, memang yang baru pindah itu istrinya buta, bisu dan tuli ? “..hus aku jawab sambil lalu” kalau kamu mau tau datangin aja langsung kerumahnya”. Eehhh tuuh, anak benar benar datang kerumah tetangga baru. Sekembalinya dari rumah tetanggaku , kulihat perubahan yang drastis pada wajahnya, wajahnya yang biasa cerah nggak pernah muram atau lesu mejadi pucat pasi….entah apa yang terjadi.? Namun tidak kusangka selang dua hari kemudian dia meminta pada ibuku untuk dibuatkan Jilbab ..yang panjang, lagi..rok panjang, lengan panjang…aku sendiri jadi bingung….aku tambah bingung campur syukur kepada Allah SWT karena kulihat perubahan yang ajaib.. yah kubilang ajaib karena dia berubah total..tidak banyak lagi anak cowok yang datang kerumah atau teman teman wanitanya untuk sekedar bicara yang nggak karuan…kulihat dia banyak merenung, banyak baca baca majalah islam yang biasanya dia suka beli majalah anak muda kaya gadis atau femina ganti jadi majalah majalah islam, dan kulihat ibadahnya pun melebihi aku …tak ketinggalan tahajudnya, baca Qur’annya, sholat sunat nya…dan yang lebih menakjubkan lagi….bila teman ku datang dia menundukkan pandangan…Segala puji bagi Engkau ya Allah SWT jerit hatiku.. Tidak berapa lama aku dapat panggilan kerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan asing (PMA). Dua bulan aku bekerja disana aku dapat kabar bahwa adikku sakit keras hingga ibuku memanggil ku untuk pulang ke rumah (rumahku di Madiun). Di pesawat tak henti hentinya aku berdoa kepada Allah SWT agar Adikku di beri kesembuhan, namun aku hanya berusaha, ketika aku tiba di rumah, didepan pintu sudah banyak orang, tak dapat kutahan aku lari masuk kedalam rumah, kulihat ibuku menangis, aku langsung menghampiri dan memeluk ibuku, sambil tersendat sendat ibuku bilang sama aku: “Dhi,adikkmu bisa ucapkan dua kalimat Syahadah diakhir hidupnya “..Tak dapat kutahan air mata ini… Setelah selesai acara penguburan dan lainnya, iseng aku masuk kamar adikku dan kulihat Diary diatas mejanya..diary yang selalu dia tulis, Diary tempat dia menghabiskan waktunya sebelum tidur kala kulihat sewaktu almarhumah adikku masih hidup, kemudian kubuka selembar demi selembar…hingga tertuju pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hatiku..perubahan yang terjadi ketika adikku baru pulang dari rumah Abu Khoiri…disitu kulihat tanya jawab antara adikku dan istri dari tetanggaku, isinya seperti ini : Tanya jawab ( kulihat dilembaran itu banyak bekas tetesan airmata ): Annisa : Aku berguman (wajah wanita ini cerah dan bersinar layaknya bidadari), ibu, wajah ibu sangat muda dan cantik. Istri tetanggaku : Alhamdulillah, sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati. Annisa : Tapi ibu kan udah punya anak enam, tapi masih kelihatan cantik. Istri tetanggaku : Subhanallah, sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT dan bila Allah SWT berkehendak, siapakah yang bisa menolaknya. Annisa : Ibu, selama ini aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam macam dan kulihat banyak wanita memakai jilbab namun kelakuannya melebihi kami yang tidak memakai jilbab, hingga aku nggak pernah mau untuk pakai jilbab, menurut ibu bagaimana?

Istri tetanggaku : Duhai Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT diakhirat nanti, jilbab adalah hijab untuk wanita. Annisa : Tapi yang kulihat banyak wanita yang memakai jilbab yang kelakuannya nggak enak, nggak karuan. Istri Tetanggaku : Jilbab hanyalah kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami. Annisa : Apa itu hakekat jilbab ? Istri Tetanggaku : Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (ghosib) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allah SWT. Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat. Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab. Annisa : Ibu aku jadi jelas sekarang dari arti jilbab, mudah mudahan aku bisa pakai jilbab, namun bagaimana aku bisa melaksanakan semuanya. Istri tetanggaku : Duhai Anisa bila kamu memakai jilbab itulah karunia dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rahmat, yang Maha Penyayang, bila kamu mensyukuri rahmat itu kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan amalan jilbab hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT. Duhai Anisa, ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya. Ketika ditiup terompet yang kedua kali, pada saat roh roh manusia seperti anai anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tidak ada rumput maupun tumbuhan. Ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gulita. Ketika seluruh Nabi ketakutan. Ketika ibu tidak memperdulikan anaknya, anak tidak memperdulikan ibunya, sanak saudara tidak kenal satu sama lain lagi, kadang satu sama lain bisa menjadi musuh, satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini. Ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya memperdulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berkeringat karena rasa takut yang luar biasa hingga menenggelamkan dirinya, dan rupa rupa bentuk manusia bermacam macam tergantung dari amalannya, ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syetan, semuanya menangis, menangis karena hari itu Allah SWT murka, belum pernah Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu, hingga ribuan tahun manusia didiamkan Allah SWT dipadang mahsyar yang panas membara hingga Timbangan Mizan digelar itulah hari Yaumul Hisab. Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal dihari ini, entah dengan apa nanti kita menjawab bila kita di sidang oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar, Yang Maha Kuat, Yang Maha Agung, Allah SWT. Di Yaumul Hisab nanti! Di Hari Perhitungan nanti!! Sampai disini aku baca diarynya karena kulihat, berhenti dan banyak tetesan airmata yang jatuh dari pelupuk matanya, Subhanallah, kubalik lembar berikutnya dan kulihat tulisan, kemudian kulihat tulisan kecil di bawahnya: buta, tuli dan bisu, wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya, wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka

Allah SWT, wanita yang tidak pernah berbicara ghibah, ghosib dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia tak tahan airmata ini pun jatuh membasahi diary. Itulah yang dapat saya baca dari diarynya, semoga Allah SWT menerima Adikku disisinya, Amin , Subhanallah. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, Saudara-Saudaraku, adik-adikku dan Anak-anakku yang dimuliakan oleh Allah SWT. Khususnya kaum hawa. Saya mengharap kisah nyata ini bisa menjadi iktibar, menjadi pelajaran bagi kita , bagi putri-putri kita semua. Semoga meresap dihati yang membacanya dan semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk, memberi Rahmat, hidayah bagi yang membaca dan menghayatinya. TIPS PDKT JILBAB 1. Beri pengertian kepada orang tua dengan lemah lembutdan sabar. Jangan mengharapkan mereka akan langsung mengerti keinginanmu. Bagaimanapun, setiap orang memerlukan waktu untuk berdamaidengan situasi yang bertentangan dengan kata hatinya. 2. Gunakan kalimat yang baik, dan berilah contoh jilbaber-jilbaber sukses di sekitarmu, yang berprestasi dan bisa member kebanggaan pada orang tua. ü Perbaiki dirimu, ubah kebiasaan buruk, dan buktikan kamu bisa menjadi anak yang lebih baik dibandingkan sebelum berjilbab. 3. Pacu semangat belajarmu dan raih sebanyak mungkin prestasi, buatlah kedua ortu dan keluarga besarmu lebih bangga lagi padamu, setelah berjilbab. 4. Jika ortu masih bersikeras melarang, bicaralah dan cari dukungan dari sanak keluarga lain, mungkin tante atau om yang dihormati kedua ortumu. Minta mereka membantu member pengertian kepada kedua ortumu. 5. Bangun komunikasi dengan ortu, betapapun susahnya. Berikan penjelasan seperlunya terhadap aktivitasmu sekarang. Jangan berahasia yang tidak perlu dan menambah kecurigaan ortu terhadapmu. 6. Pekerjaan rumah. Ringankan pkerjaan Ibu. Jangan hanya karena malas sebab harus mengenakan jilbab, kamu jadi rajin mengurung diri di kamar dan tidak bisa diandalkan. 1.Rambut Muslimah yang erjilbab terlindung dari sengatan panas matahari dan terlindung dari debu serta polusi, sehingga ketika jilbabnya dibuka, rambutnya tampak selalu bersinar. Rambut indahnya hanya diperlihatkan untuk orang-orang yang berhak melihatnya. 2.Terjaga dari pandangan pria nakal. Muslimah yang berjilbab tidak mengumbar tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Oleh karena itu, pria pun terbatas memandangnya. 3.Pria segan menggoda apalagi melecehkan. Biasanya, pria segan mendekati apalagi menggoda wanita berjilbab, kecuali kalau peluang itu diciptakan oleh wanita itu sendiri. 4.Termotivasi untuk terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Muslimah yang berjilbab merasa dirinya menjadi alat ukur kebaikan dan kesuksesan. Tuntutan ini sangat bagus karena memacu dirinya untuk senantiasa berlomba meraih prestasi, kebaikan, dan sekuat mungkin menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat mencemarkan nama baik Islam oleh perbuatan dosa dan tercela. 5.Terjaga kehormatannya. Wanita berjilbab akan selalu menjaga kehormatannya seiring dengan ilmu yang dimilikinya karena mereka mengetahui dan dapat membedakan perilaku yang harus dilakukan dengan perilaku yang harus dihindari. Wanita berjilbab dan berilmu merasa selalu diawasi Allah dari segala kemaksiatan. 6.Terjaga dari polusi. Berjilbab berarti menutup aurat. Kain penutup yang menutupi bagian tubuh

wanita menghalangi kotoran dan polusi udara. itu beberapa manfaat memakai jilbab...oya tmen2,memekai jilbab tidak akan mengurangi kecantikkan seseorang,malah ia menghargai tubuhnya sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->