P. 1
ekonomikesejahteraansyariah

ekonomikesejahteraansyariah

|Views: 3,737|Likes:
Published by Muhammad RH

More info:

Published by: Muhammad RH on Oct 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2013

pdf

text

original

Sections

Setelah meninjau kembali berbagai pendekatan terkemuka terhadap

permasalahan kemiskinan dan pemerataan pendapatan di masa lalu dan masa

sekarang, maka dianjurkan sekarang untuk mengalihkan pandangan pada

pengidentifikasian keistimewaan pendekatan Islam yang khas terhadap masalah

73

kemiskinan dan pemerataan pendapatan. Kerangka kerja kebijaksanaan terhadap

upaya memberantas kemiskinan dan menurunkan ketidakadilan pendapatan,

sebagaimana disimpulkan dari ajaran-ajaran Islam, telah dikemukakan pada bab

sebelumnya. Berbagai komponen yang beragam dari kerangka kerja

kebijaksanaan ini beriisikan konsep-konsep keTuhanan yang secara langsung

berkaitan dengan struktur dasar masyarakat yang memperlihatkan skema

pemerataan dan distribusi yang nyata di dalam masyarakat.Jika seorang mencari

ciri-ciri yang istimewa dari struktur dasar masyarakat, maka elemen-elemen yang

dominan bersandar pada konsep manusia tentang ‘perwalian’. Melalui konsep

perwalian ini, Islam mencoba untuk mengilhami para pengikutnya dengan rasa

tanggung jawab yang kuat terhadap kesejahteraan setiap orang dimasyarakat. Inti

dari konsep perwalian ini adalah bahwa Tuhan adalah pemilik segala sesuatu yang

ada di dunia, dan apa yang dipegang oleh manusia sebagai barang milik

mempunyai sifat sebagai titipan yang diberikan atas kehendak Tuhan. Jika konsep

ini mengendap dalam jiwa manusia maka akan jelas akan mendatangkan tatanan

sosio-ekonomi yang adil dan kesamarataan. Betapapun, Islam tidak hanya

membatasi pada pengajaran prinsip-prinsip etika. Islam memanfaatkan kekuasaan

negara, sepanjang dianggap perlu, untuk menjamin keadilan di seluruh hubungan

manusia, dan hal ini termasuk keadilan ekonomi, dalam pengertian dimana

masyarakat terbebas dari kemiskinan dan kekacauan akibat ketidakadilan

pendapatan dan kekayaan. Garis-garis pedoman untuk semua perbuatan individu

dan negara diambil dari Al Qur’an dan perkataan dan perbuatan Nabi SAW yang

dikenal sebagai sunnah. Pendekatan ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

terhadap pemberantasan kemiskinan dan penahanan ketidakadilan pendapatan dan

74

kekayaan dalam batas-batas tertentu dengan demikian merupakan paduan elemen-

elemen etika, sosial-politik dan yuridiksi, yang diambil dari sumber-sumber

agama, yang berbeda dengan pendekatan-pendekatan lainnya yang tidak

dikelilingi oleh ajaran-ajaran agama tertentu.

Fakta bahwa pendekatan ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

terhadap upaya pemberantasan kemiskinan dan penurunan ketidaladilan

pendapatan dan kekayaan didasarkan pada ajaran-ajaran agama, sedangkan

pendekatan-pendekatan lainnya menggambarkan hasil pemikiran keduniaan tidak

berarti bahwa tidak ada hal-hal tertentu yang sama antara pendekatan Islam

dengan pendekatan-pendekatan lainnya. Apabila tujuan akhirnya adalah sama,

maka terdapat beberapa kesamaan antar sistem. Beberapa uraian kebijaksanaan

pemberantasan kemiskinan dan penurunan ketidakadilan pendapatan dan

kekayaan sebagaimana disimpulkan dari ajaran-ajaran Islam, mendapatkan

imbangan dari pendekatan-pendekatan lainnya. Betapapun, meski ada beberapa

kesamaan, namun pendekatan ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

memiliki kekhasan tersendiri, dan merupakan sistem yang berdiri sendiri.

Islam berbagi dengan sosialisme dalam permasalahan pemerataan

pendapatan dan kekayaan yang adil (merata). Akan tetapi, sangatlah ditentang

beberapa alat-alat kebijakan yang dianjurkan oleh filosofi sosialis pada

penghapusan harta milik pribadi dan pengsosialisasian alat-alat produksi tidak

seimbang dengan keunggulan perusahaan swasta dalam sistem Islam. Islam

melekatkan kepentingan yang besar terhadap kebebasan individu dan

perlindungan terhadap kehormatan manusia. Hal ini mengharuskan alat-alat

produksi tidak dimonopoli oleh negara dan masyarakat bebas untuk menggunakan

75

seluruh kegiatan yang diizinkan menurut kecenderungan dan pilihan mereka

sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara sosialis itu sendiri mulai

menyadari kekurangan dari penghapusan harta milik pribadi, dan dalam hal ini

berbagai perubahan yang berarti disejumlah negara tercipta dengan

meliberalisasikan kebijakan-kebijakan mereka.

Perbedaan Islam dan sosialisme tidak hanya pada kepemilikan dan

pengontrolan alat-alat produksi; keduanya juga memiliki perbedaan yang tajam

dalam pusat kekuasaan perekonomian, sistem motivasional dan proses-proses

social untuk mengkoordinasikan perekonomian. Negara sosialis memiliki

kebebasan yang tak terkekang dalam merancang kebijaksanaan-kebijaksanaan

mereka untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Namun, dalam Islam,

kekuasaan yang dilaksanakan oleh negara tidaklah tidaklah mutlak. Menurut

Islam, kedaulatan adalah milik Tuhan. Dengan demikian, kekuasaan negara hanya

bisa dilaksanakan berdasarkan norma-norma yang digariskan oleh shari’ah.

Berkaitan dengan hal ini, beberapa ukuran yang telah diadopsi dari sejarah

sosialisme untuk memberantas kemiskinan dan menurunkan ketidakadilan

pendapatan dan kekayaan gagal mendapatkan legimitasi dalam kerangka kerja

Islam. Misalnya, cara hidup yang digunakan oleh negara sosialis tertentu untuk

mengakhiri pengangguran dan kemiskinan tidak bisa dibuat sebagai bagian dari

strategi Islam untuk memberantas kemiskinan karena Islam menentangnya.

Demikian pula, pemerataan pendapatan fungsional, yang dalam negara yang

berdasarkan system Islam pada dasarnya ditentukan oleh kekuatan pasar meski

negara diharapkan untuk campur tangan setiap kali mempertimbangkan keadilan

social memerlukan intervensi tertentu.

76

Filosofi sosialis tidak banyak bersandar pada instink filantropi manusia

untuk membantu upaya pemberantasan kemiskinan dan penurunan ketidakadilan

pendapatan. Sosialisme tanpa ragu-ragu menyatakan secara langsung penerimaan

tanggungjawab kolektif untuk memberantas kemiskinan dan menyetujui prioritas

yang tinggi terhadap keringanan penderitaan dan ketidakberuntungan masyarakat.

Akan tetapi, secara eksklusif ia bersandar pada alat negara untuk mencapai tujuan

ini. Di lain pihak, Islam mewajibkan peranan infaq yang menonjol (pemberian

sukarela demi kesejahteraan kaum miskin) dalam memperkuat pola pemerataan

pendapatan. Islam menerpakan system yang menitikberatkan motivasi yang tajam,

berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, untuk menciptakan dorongan

terhadap kelompok masyarakat yang berlebih untuk memberi amal kesejahteraan.

Selain menolong mengatasi masalah kemiskinan dan pemerataan pendapatan,

pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan rasa solidaritas social, sedangkan

tujuan pendekatan sosialisme adalah murni mekanisitik dan impersonal.

Proses-proses sosial untuk mengkoordinasikan ekonomi juga menandai

perbedaan antara kedua system. Negara sosialis mempengaruhi kebijaksanaan

mereka melalui system perencanaan terpimpin yang komprehensif dan

mengembangkan mesin birokratis yang terperinci, walau ada juga beberapa

contoh sosialisme desentralisasi dan mereka banyak melakukan upaya

memperbarui system untuk memindahkan kekuasaan dan menyebarluaskan

kekuatan dan tanggungjawab. Komoditas produksi campuran ditentukan secara

umum oleh kekuasaan negara dan dapat berbeda-beda tergantung dari pilihan-

pilihan konsumen. Harga komoditas dikontrol. Perbedaan upah didalam

masyarakat sosialis juga ditentukan oleh para penguasa negara, dan dengan

77

demikian tidak banyak diperlukan kebijakan fiscal dan moneter untuk memberi

perubahan yang diinginkan dalam pola pemerataan pendapatan. Di lain pihak,

dalam system Islam keputusan produksi pada dasarnya tidak diatur oleh kekuatan

perencanaan yang terpusat, tetapi meresponsi permintaan konsumen meskipun

mungkin ‘kedaulatan konsumen’ agak terbatas jika perintah-perintah Islam sangat

dituntut. Harga- harga komoditas ditentukan oleh factor-faktor persediaan dan

permintaan, dan pemakaian control harga tidaklah disukai kecuali dalam keadaan

yang luar biasa. Perbedaan upah secara umum ditentukan oleh kekuatan pasar.

Kekuatan pasar diperkenankan untuk beroperasi dalam komponen pasar yang lain

meskipun negara diharapkan untuk campur tangan bila pasar menghasilkan

penderitaan bagi kelompok penduduk miskin dan berjalan berlawanan dengan

tujuan-tujuan sosio-ekonomi yang lain. Berbeda dengan kedudukannya dalam

negara sosialis, maka kebijakan mengenai moneter dan fiscal dalam

perekonomian Islam diharapkan memainkan peranan penting dalam

menghasilkan perubahan-perubahan yang diinginkan terhadap pola pemerataan

pendapatan.

Pendekatan ekonomi kesejateraan dan keadilan syariah terhadap

pemberantasan kemiskinan dan penahanan ketidakadilan pendapatan dan

kekayaan dalam ‘batasan-batasan yang diterima’ memiliki keunggulan tertentu

yang membedakannya dengan pendekatan yang diterapkan dalam sistem

perekonomian kapitalis untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan dan

ketidakadilan pendapatan dan kekayaan. Keunggulan yang paling membedakan

adalah bahwa pendekatan ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah terhadap

78

pemberantasan kemiskinan merupakan sifat perintah dari sistem jaminan sosial

Islam. Al Qur’an menyatakan:

Artinya : “Ambillah zakat dari kekayaan mereka, dimana dengannya akan

membersihkan dan membuat kekayaan mereka bertambah…” (QS . 9 : 103)

Keunggulan sistem jaminan sosial Islam yang utama, sebagaimana

mengambil bentuk dari masa periode Islam yang pertama, yaitu masa Rasulullah

dan Kulafaur Rasyidin. Para ahli hukum menyetujui bahwa, terlepas dari tahap

pembangunan sebuah negara dan income per kapitanya, ajaran-ajaran Islam

mengikatkan negara untuk mengelola sistem jaminan sosial dengan suatu

pandangan yang dapat memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tetap

tercabut dari keperluan hidup yang mendasar. Tidak ada kekuatan tertentu yang

memaksa didalam filosofi kapitalis mengenai pembangunan. Sejarah kapitalisme

memperlihatkan bahwa hingga seperempat abad ini, negara-negara kapitalis yang

berkembang bahkan tidak berpikiran untuk membuat sistem jaminan sosial yang

komprehensif. Malahan sekarang perasaan umum yang nampak adalah bahwa hal

tersebut merupakan kemewahan yang hanya dapat dicapai oleh negara-negara

yang sangat kaya saja. Dan meskipun berkembang perhatian yang semakin besar

terhadap kaum miskin, namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa negara-

negara kapitalis tetap tidak memiliki ‘perlindungan yang aman’ bagi kaum

miskin.

Sistem jaminan sosial yang telah dilembagakan dinegara-negara yang

sangat berkembang selama abad ini memperoleh sejumlah dukungan pada saat itu.

Akan tetapi, tidak seperti sistem Islam (Syariah), sistem jaminan sosial tersebut

tidak berdasarkan pada kesucian agama apapun sehingga manfaat yang mengalir

79

kepada kelompok masyarakat yang miskin tidak diterima dengan sebenarnya.

Pada kenyataannya, berbagai lobi muncul dari kelompok yang lebih menyukai

adanya penghentian sistem jaminan sosial. Kelompok-kelompok politik yang

berpengaruh disejumlah Negara industri yang berkembang mendukung penurunan

jangkauan bahwa disejumlah Negara yang memiliki system jaminan sosial yang

baik tidak ditemukan komitmen pemerintah yang tegas bahwa setiap orang yang

membutuhkan akan memperoleh jaminan penghasilan minimum. Bertentangan

dengan hal ini, dalam system Islam, setiap manusia harus mendapat jaminan

tingkat kehidupan minimum, dan banyak ahli hukum mempunyai pandangan

bahwa perlindungan yang sah harus diberikan sesuai dengan prinsip pemenuhan

kebutuhan sehingga setiap warganegara bisa mengadu ke pengadilan untuk

memperoleh pelaksanaan prinsip ini.

Keistimewaan sistem jaminan sosial Islam yang khas lainnya adalah

bahwa syariah menitikberatkan secara khusus pemberantasan kemiskinan,

sedangkan program-program jaminan sosial negara-negara kapitalis maju

dirancang untuk seluruh warga negara, tanpa memperhatikan posisi keuangan

mereka masing-masing. Barangkali karena alasan inilah sehingga meskipun

bentuk program-program jaminan sosial tersebut berukuran luas, akan tetapi

kemiskinan tidak terberantas secara sempurna dinegara-negara ini. Program

jaminan sosial dinegara-negara kapitalis maju secara umum terstruktur sebagai

sebuah sistem yang bersifat kesejahteraan dan jaminan. Dalam kebanyakan

permasalahan, sifat jaminan jauh lebih berbobot daripada sifat kesejahteraan.

Banyak analis memiliki pandangan bahwa dinegara-negara kapitalis maju, kaum

miskin menerima transaksi yang relative sedikit dari masyarakat, dan sejumlah

80

uang yang sangat besar diredistribusi oleh tindakan pemerintah yang

mencerminkan transaksi ‘ulang alik’ diantara kelompok berpendapatan menengah

(Siddiqi, 1988:251-286).

Sifat yang sangat istimewa dari sistem jaminan sosial Islam adalah bahwa

ia mencoba untuk memberantas kemiskinan melalui sebuah pendekatan yang

multi cabang dan tidak hanya membatasi dirinya pada mendermakan uang kepada

kaum miskin untuk penyambung hidup belaka. Pada kenyataannya, system ini

dirancang menurut sifat alamiah dan apat menggunakan cara-cara yang beragam

untuk mencegah kemiskinan dan menghilangkan penderitaan yang disebabkan

oleh kemiskinan. Sejarah masa periode Islam yang pertama memperlihatkan

bahwa system jaminan social bahkan dibayarkan untuk biaya perkawinan bagi

orang-orang yang benar-benar dalam kesusahan dan juga untuk membayarkan

hutang seseorang yang sudah meninggal. Penekanan dititikberatkan pada

pemanfaatan sistem jaminan social untuk menolong orang-orang yang tidak

mempunyai pekerjaan dengan memberikan aset modal kepada mereka agar

mereka memperoleh penghasilan hidup. Berbagai studi tentang program system

jaminan social di negara-negara kapitalis maju menunjukkan bahwa penekanan

utama dari program-program tersebut adalah pada ‘pemberian kompensasi bagi

orang-orang yang tidak bekerja’ daripada menolong orang-orang yang secara tak

sengaja menganggur dengan memberi pekerjaan yang menguntungkan (Ornati.

1966:115-119).

Bagian terbaik dari program sistem jaminan sosial yang dilaksanakan

dinegara-negara kapitalis maju adalah ia dibiayai oleh pajak penghasilan. Untuk

kebanyakan ahli waris, bagian yang terbaik pada dasarnya adalah program

81

pension, yang baik pengusaha maupun pekerja turut mengambil andil dalam

pembiayaan program. Pajak yang dibayarkan oleh kelompok kerja digunakan

untuk membayar para pensiunan. Artinya bahwa, setiap generasi dari pekerja

memberikan bantuan pada kelompok non-kerja atau yang tidak memenuhi syarat

untuk bekerja secara mutlak menginginkan perlakuan yang sama. Sifat system

jaminan social Islam mempunyai cirri yang berbeda. Unsur pension sama sekali

tidak diperhitungkan. Ataupun sifatnya sebagai rencana simpanan sumbangan

wajib bagi masa depan. Sistem jaminan sosial Islam hanya mencerminkan dana

solidaritas dimana dana tersebut diperoleh dari bagian kelompok penduduk yang

berlebih (kaya) dan diperuntukkan membantu mereka yang fakir miskin.

Kebaikan yang memenuhi syarat dari system jaminan sosial Islam tidaklah

bergantung pada seseorang yang lazim memberikan sumbangan terhadap

pembiayaan system ataupun kebaikan yang diterima tidak berkaitan dengan

sumbangan utama seseorang.

Sistem jaminan sosial Islam bertujuan untuk mencegah dan mengatasi

kemiskinan. Akan tetapi, hanya ada satu unsur dari kerangka kerj kebijaksanaan

yang dilaksanakan Islam untuk menghadapi permasalahan ini. Beberapa unsur

dari paket kebijaksanaan yang dibahas, semuanya bertujuan untuk menolong

upaya memberantas kemiskinan.

Selain memberantas kemiskinan, memelihara pemerataan yang adil juga

berada dalam urutan yang paling tinggi dalam prioritas social dari ekonomi

kesejahteraan dan keadilan syariah. Keistimewaan pendekatan ekonomi

kesejateraan dan keadilan syariah yang paling khas adalah memuat ‘batasan-

batasan yang diterima’ dalam ketidakadilan pendapatan dan kekayaan dimana

82

ukuran pemerataan atau redistribusi dirinci secara tegas menurut syariah

(pedoman yang diberikan oleh Al Qur’an dan Sunnah) yang wajib dilaksanakan,

ukuran lainnya yang dipakai harus tidak melanggar ajaran-ajaran Islam dan harus

tidak melanggar ajaran-ajaran Islam dan harus memenuhi persyaratan al-adl

(keadilan). Juga patut diperhatikan bahwa untuk mencapai tujuan pemerataan

yang adil, Islam tidak mengandalkan badan pemerintahan sendiri tetapi mencoba

untuk mengaktifkan kesadaran moral manusia untuk bertindak adil terhadap

sesamanya dan menolong orang-orang yang membutuhkan dengan semangat

persaudaraan yang universal.

Secara khusus sistem ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

mengamanatkan negara untuk melembagakan pungutan khusus yang dikenal

dengan zakat yang diperolehnya hanya dapat digunakan untuk tujuan-tujaun yang

telah ditetapkan. Selama ruang lingkup zakat adalah pada kelompok penduduk

yang kaya dan perolehannya diutamakan dikeluarkan untuk memberantas

kemiskinan selama masih ada kemiskinan, hal ini berlaku sebagai tujuan

redistribusi. Secara luas, zakat dikeluarkan untuk bentuk aset-aset yang produktif,

sehingga perolehan zakat membri peningkatan pendapatan bagi kelompok

penduduk miskin.

Pemerataan harta kekayaan orang yang meninggal sesuai dengan hukum

warisan secara tegas dinyatakan dalam syariah berjasa untuk menurunkan

ketidakadilan pendapatan dan kekayaan setiap waktu dalam masyarakat Islam.

Keistimewaan hukum warisan Islam bersandar pada kenyataan bahwa, jika

dibandingkan dengan hukum warisan dan adat istiadat yang lazim dibanyak

83

masyarakat lainnya, maka hokum warisan Islam menghasilkan penyebaran

penumpukan kekayaan yang meluas.

Ajaran-ajaran Islam sangatlah melarang semua bentuk transaksi yang

berdasarkan bunga. Pelarangan ini menyingkirkan kemungkinan bentuk

pertambahan kekayaan apapun terhadap pemilik modal uang, kecuali jika

pemakaian modal tersebut menciptakan pertambahan kekayaan. Eksploitasi

terhadap kelompok penduduk yang lemah oleh penyewa uang pribadi, yang

memungut tingkat bunga yang sangat tinggi, tidak dapat dibenarkan dalam

ekonomi kesejateraan dan keadilan syariah yang harus mengadakan ketetapan

alternative untuk memenuhi kebutuhan keuangan dari seluruh bagian masyarakat

sesuai dengan cita-cita Islam yang ideal terhadap keadilan sosial.

Islam menguraikan sejumlah keistimewaan hukum keluarga, yang diantara

hukum-hukum lainnya berbeda, memberikan hak yang sah bagi kerabat dekat

tertentu untuk menuntut bantuan pemeliharaan dari mereka yang berada dalam

posisi baik untuk menolong. Ajaran-ajaran Islam mendorong manusia untuk

membantu secara sukarela kerabat-kerabat mereka yang miskin dan apabila ajaran

ini diabaikan, maka pengadilan berwenang untuk menyelenggarakan bantuan

perlindungan yang layak.

Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah menerapkan pendekatan yang

khas dalam mengatur hasil keuntungan dari berbagai faktor-faktor produksi untuk

meningkatkan pemerataan yang adil. Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

menolak keuntungan apapun yang diperoleh dari modal uang kecuali jika pemilik

modal bersedia berbagi resiko bisnis (usaha) yang berasal dari modal tersebut.

Berbagi laba/rugi dipandang sebagai sistem yang lebih adil. Ajaran-ajaran Islam

84

menekankan bahwa buruh harus dijamin dengan ‘upah yang adil’ yang

melindungi martabat manusia. Negara diharapkan untuk turut campur tangan

setiap kali pemilik factor produksi tampak mengeksploitasi pihak yang lemah

dalam proses produksi.

Ajaran-ajaran Islam menguraikan dengan agak terperinci pedoman-

pedoman yang mengatur praktek-praktek bisnis dan mempercayakan negara

dengan tanggung jawab untuk menjamin praktek-praktek nyata sesuai dengan

pedoman-pedoman tersebut. Tujuannya adalah untuk melindungi kepentingan

pihak yang lemah dan mencegah keuntungan yang tidak patut dalam transaksi

bisnis apapun. Pada masa periode Islam yang pertama sebuah lembaga khusu

dibuat yang dikenal dengan hisbah, selain hal-hal lainnya, yang memiliki

tanggungjawab untuk meningkatkan praktek-praktek bisnis yang adil.

Islam memperkenankan sejumlah fleksibilitas bagi penguasa negara yang

dalam hal tertentu tidak diperintahkan oleh syariah. Pada kenyataannya, syariah

hanya menguraikan elemen-elemen penting dari dasar strategi, sedangkan ukuran

kebijaksanaan yang terperinci mesti disusun oleh para penguasa negara sesuai

dengan keadaan masing-masing negara. Satu-satunya persyaratan adalah bahwa

berbagai kebijaksanaan yang diadopsi harus memberikan kontribusi yang positif

terhadap realisasi maqasid (tujuan-tujuan) tanpa menyebabkan pelanggaran

apapun terhadap prinsip-prinsip syariah. Unsur-unsur utama dari kerangka kerja

kebijaksanaan yang memuat ketidakadilan pendapatan dan kekayaan menurut

‘batasan yang diterima’ dalam keadaan sekarang, sebagaimana disimpulkan dari

ajaran-ajaran Islam.

85

Beberapa kebijaksanaan dari paket kebijaksanaan yang menyerupai

sejumlah kebijaksanaan yang dipakai oleh negara-negara kapitalis setelah

menanggalkan kebijakan laissez-faire dibawah rezim ‘kapitalis yang dikelola’.

Akan tetapi, bahkan dalam masalah-masalah ini sering terdapat perbedaan

penekanan dan nuansa kebijaksanaan. Khususnya, hal ini dapat diketahui dalam

hal peranan ‘kedaulatan konsumen’ dan kebijakan moneter, fiscal dan kebijakan

perintah lainnya yang menentukan pengalokasian sumber-sumber daya.

Komposisi hasil di negara-negara kapitalis secara umum ditentukan oleh

pilihan-pilihan konsumen. Dalam sistem Ekonomi kesejahteraan dan keadilan

syariah juga, pilihan-pilihan konsumen memberikan ruang lingkup yang luas

tetapi ‘kedaulatan konsumen’ tunduk pada pengendalian sesuai dengan

kepentingan keadilan sosial. Filosofi kapitalis adalah bahwa manusia bebas

mengeluarkan penghasilannya denagn cara apapun yang ia sukai dan struktur

produksi haruslah menanggapi permintaan konsumen terlepas dari karakter dari

permintaan ini. Pengalokasian sumber daya yang dihasilkan dari interaksi antara

permintaan dan persediaan ini dianggap optimal. Dilain pihak, ajaran-ajaran Islam

menilai optimalitas alokasi sumber daya berasal dari sudut pandang al’adl (adil).

Para ahli hukum menggariskan perbedaan antara tiga jenis kebutuhan manusia

yang digolongkan sebagai daruriyyat (keperluan mendesak), hajiyyat (kesenangan

hidup) dan tahsiniyyat (budi pekerti). Para ahli hukum juga mengindikasikan

bahwa merupakan tanggungjawab masyarakat bersama untuk mengutamakan

pemenuhan daruriyyat terlebih dulu dari pada kedua kategori lainnya. Lebih

lanjut, dalam Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah, komposisi hasil tidak

86

bisa dibiarkan untuk menentukan sendiri kekuatan pasar tetapi harus diatur

menurut kepentingan keadilan sosial.

Untuk alasan yang sama, kebijakan moneter, fiskal dan kebijakan

pemerintah lainnya tidak dapat menjadi nilai netral dalam Ekonomi kesejahteraan

dan keadilan syariah. Dinegara-negara kapitalis kebijakan moneter pada

umumnya berkaitan dengan stabilitas moneter dan pertumbuhan ekonomi, sedang

tujuan-tujuan keadilan dalam pemerataan tidak diperhitungkan secara jelas

sebagai tujuan kebijakan moneter. Pada kenyataannya, penyelenggaraan sistem

perbankan tampak menjadi faktor yang penting dalam mempertajam ketidakadilan

pendapatan dan kekayaan disejumlah negara. Bank-bank dalam negara-negara

kapitalis menyediakan uang terutama pada para pengusaha ‘creditworthy’ yang

umumnya sudah memiliki kekayaan pribadi yang besar jumlahnya dan

kemampuan menawarkan jaminan yang disyaratkan oleh bank. Bank juga

mempraktekkan ‘diskriminasi harga’ dengan memungut tingkat bunga yang lebih

rendah kepada klien kaya yang mengambil kredit dalam jumlah yang besar.

Kedua faktor ini cenderung mempertambah ketidakadilan pendapatan dan

kekayaan. Di lain pihak, kebijakan moneter diharapkan memainkan peranan yang

penting dalam upaya mencapai tujuan-tujaun egaliter dari Ekonomi kesejahteraan

dan keadilan syariah (Chapra, 1985:173-174).

Kebijakan fiskal dalam Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

dibatasi oleh sejumlah norma yang diuraikan dalam syariah. Negara tidak bisa

menerima pinjaman yang didasarkan bunga untuk menutupi anggaran belanja

defisit. Ajaran-ajaran Islam menekankan perekonomian sepenuhnya pada

pengeluaran pemerintah. Banyak ahli hukum yang mengkaitkan hal ini dengan

87

ketegasan Al Qur’an mengenai pemborosan yang dilakukan oleh individu maupun

pemerintah. Ajaran-ajaran Islam juga menekankan pajak harus diambil hanya dari

biaya ‘pengeluaran pokok’ dan beban pajak harus didistribusikan secara adil.

Meski pemerintah dalam perkonomian Islam tidak dihalangi untuk menjalankan

anggaran deficit, tetapi pemerintah harus mengelola keuangannya dehingga

stabilitas moneter tetap terpelihara. Ekonomi dalam pengeluaran pemerintah,

keadilan dalam pemerataan beban pajak, dan kebijakan ‘keuangan yang bijaksana’

diterima sebagai norma yang diinginkan dari kebijakan fiskal dalam

perekonomian kapitalis juga ajaran-ajaran Islam menginvestasikan mereka dengan

tekanan moral yang lebih besar.

Selain kebijakan moneter dan fiskal, seluruh orientasi kebijakan

pemerintah lainnya memiliki pengaruh yang penting terhadap pola pemerataan

pendapatan. Telah diamati bahwa meskipun tujuan-tujuan egalitar dinyatakan,

namun kebijakan-kebijakan pemerintah di negara-negara kapitalis tidak

menghasilkan keberhasilan dalam menurunkan ketidakadilan pendapatan dan

kakayaan sementara di negara-negara lain ketidakadilan cenderung meningkat

setiap waktu. Kebanyakan negara kapitalis tetap berikrar untuk meningkatkan

kondisi pasar bersaing tetapi pada kenyataannya praktek perekonomian di banyak

negara diciri-cirikan dengan elemen-elemen monopoli. Kelemahan kekuatan

persaingan dan munculnya struktur pasar yang oligopolistik dalam banyak bidang

kegiatan menghasilkan akibat-akibat yang tidak diinginkan terhadap pola

pemerataan pendapatan. Sejarah perekonomian negara Amerika Serikat dan

sejumlah negara Eropa memperlihatkan bahwa setiap waktu pengontrolan industri

semakin dan lebih terpusat. Hal ini menyebabkan beberapa penulis

88

menggambarkan system perekonomian pada saat itu di negara-negara yang

disebutkan tadi sebagai ‘kapitalisme monopoli’. Serupa dengan hal ini, di banyak

negara sedang berkembang, berbagai kebijakan pemerintah yang berhubungan

dengan perdagangan, bea cukai, dan perindustrian serta perizinan terhadap pola

pemerataan pendapatan. Dalam kerangka kerja Islam, semua kebijakan

pemerintah diharapkan mengikuti petunuj yang ditetapkan dalam ayat 59 : 7 dari

Al Quran, bahwa kekayaan tidak diperkenankan menjadi ‘barang dagangan antara

kaum kaya di antara kamu’.

Akan tampak dalam pembahasan ini bahwa negara diharapkan memainkan

peranan yang sangat penting dalam Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah

untuk memberantas kemiskinan dan membolehkan ketidakadilan pendapatan dan

kekayaan dalam batasan-batasn yang diterima. Hal ini tanpa menyebutkan bahwa

untuk memperlengkapi pengharapan ini maka para penguasa perlu mengikuti

petunjuk dari ajaran-ajaran Islam.

Islam tidak mengandalkan badan pemerintahan saja untuk menghasilkan

pemerataan yang adil. Islam mencoba untuk membuat para pengikutnya memiliki

perasaan tanggungjawab sosial yang kuat terhadap kesejahteraan kelompok

masyarakat yang miskin. Jika ajaran-ajaran Islam dilaksanakan, maka pemerataan

yang adil dapat dicapai sementara kebebasan individu terpelihara dan cara hidup

yang teratur dihindari. Ada satu bagian dalam buku ini yang mengemukakan

bahwa beberapa analis mengemukakan sejumlah pesimisme terhadap

kemungkinan memberantas kemiskinan di negara-negara sedang berkembang

dimana mereka sangat meragukan kelompok yang berpendapatan tinggi akan

bersedia untuk memberikan perngorbanan tertentu yang diperlukan. Keengganan

89

ini diatasi dengan memasukkan nilai-nilai moral yang mendorong manusia untuk

melihat lebih jauh dari kepentingan dirinya sendiri. Meningkatkan gagasan saling

ketergantungan dari pemanfaatan fungsi, dapat juga membantu mengatasi masalah

ini. Terakhir sangat jelas terlihat bahwa di sejumlah wilayah penting,

perekonomian beratanggungjawab atas pelaksanaannya yang tidak bagus sebab

tanpa memanfaatkan ‘perbuatan baik’ yang minimal. Sejumlah karya mengenai

peranan altruisme dalam perekonomian telah muncul dalam tahun-tahun trakhir.

Sumbangan ini banyak menekankan bahwa sekali persepsi seseorang tebangun,

maka perbuatan baik menjadi perilaku yang rasional dan dapat diharapkan

menyebar diseluruh masyarakat. Yang dimaksud dari perspektif ini, adalah

pemberantasan kemiskinan dan pemeliharaan keadilan pemerataan yang lebih

besar, sebagai tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

90

BAB 3

KESIMPULAN

Kesejahteraan yang berkeadilan merupakan komponen yang paling

penting dalam ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah. Ekonomi

kesejahteraan dan keadilan syariah berpihak pada upaya pemberantasan

kemiskinan absolute yang sempurna dan pengorganisasian kehidupan ekonomi

dengan suatu cara dimana kebutuhan dasar seluruh masyarakat dapat terpenuhi.

Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah tidaklah menyeru permusuhan semua

ketidakadilan pendapatan dan kekayaan tetapi mewaspadai ketidakadilan yang

terlalu menyolok. Untuk menjamin pemenuhan kebutuhan – kebutuhan dasar bagi

seluruh rakyat, maka ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah menyatakan

suatu prinsip bahwa kaum miskin “berhak” atas pendapatan dan kekayaan anggota

masyarakiat lainnya yang berlebihan (kaya). Hukum-hukum Islam dan ajaran-

ajaran ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah dalam bidang produksi,

konsumsi, transaksi, dan pemerataan dan menjamin pola pemerataan pendapatan

dan kekayaan yang adil (merata).

91

Hal-hal yang pokok dari kerangka kerja ekonomi kesejahteraan dan

keadilan syariah terhadap upaya pemberantasan kemiskinan dan pencapaian

pemerataan pendapatan dan kekayaan yang adil (merata) sebagaimana

disimpulkan dan dipandang dari ajaran-ajaran Islam. Pertama-tama, ekonomi

kesejahteraan dan keadilan syariah mendorong usaha yang produktif. Ia

menganjurkan seluruh orang yang bertubuh sehat untuk memeliki penghasilan

hidup dan berhenti mencari bantuan dari orang-orang lain kecuali dalam keadaan

darurat yang sangat mendesak membutuhkan pertolongan. Dengan cara membuat

strategi bagi pembangunan, maka pesan-pesan umum ekonomi kesejahteraan dan

keadilan syariah adalah perubahan yang dinamis dari waktu ke waktu melalui

kemajuan teknologi. Disamping tingkat pertumbuhan yang menyeluruh, ekonomi

kesejahteraan dan keadilan syariah sangat memperhatikan mekanisme

pertumbuhan dan pola pertumbuhuan. Islam memerpertim bangkan kegiatan yang

produktif untuk dilaksanakan terlebih dahulu yang didasarkan pada perusahaan

swasta tetapi juga memberi hak bagi Negara untuk mempengaruhi dan mengatur

pekerjaan sector swasta agar tujuan-tujuan ekonomi kesejahteraan dan keadilan

syariah tercapai. Ekonomi kesejahteraan dan keadilan syariah menginginkan

bahwa sebaiknya pertumbuhuan menjadi landasan utama, dan pembangkitan

kesempatan kerja yang layak secara maksimum merupakan tuntutan yang terkuat

sebagai prioritas utama dalam strategi pertumbuhuan yang berorientasi syariah.

Ajaran-ajaran Islam menguraikan kode etik bisnis yang komprehensif

yang mencoba untuk menghilangkan seluruh bentuk praktek eksploitatif. Tujuan

utama mengatur praktek bisnjios adalah untuk mencegah pengkayaan yang tidak

92

patut dari beberapa orang atas pengeluaran banyak orang dan juga untuk

mengekang ketidakadilan pendapatan dan kekayaan.

Islam sangat menentang stratifikasi social dan menekankan pada

kesempatan yang adil. Hak memiliki harta kekayaan pribadi di dalam Islam

dibebani oleh beberapa kewajiban tertentu. Apabila kewajiban-kewajiban tersebut

tidak diamalkan, maka Negara dapat turut campur tangan demi kepentingan

keadilan social. Pemerataan harta kekayaan orang yang sudah meninggal harus

dijalankan dengan cara tegas sesuai dengan hokum-hukum warisan Islam yang

menghasilkan penyebaran timbunan kekayaan antar generasi.

Ajaran-ajaran Islam memiliki sikap yang penting terhadap factor

kemitraan dan pemerataan pendapatan fungsional yang selanjutnya mempunyai

implikasi terhadap ukuran pemerataan pendapatan perseorangan. Modal uang

menolak hak keuntungan apapun jika ia hanya dipinjamkan pada orang lain untuk

bebrapa waktu yang ditentukan. Hal ini berarti bahwa tidak seorangpun dalam

system perekonomian Islam yang dapat memperoleh penghasilan dengan cara

memungut bunga.

Pembagian keuntungan/kerugian lebih disukai sebagai sistem pengaturan

faktor keuntungan yang adil. Ajaran-ajaran Islam menekankan agar buruh dijamin

dengan ‘upah yang adil’ yang memelihara kehormatan manusia. Negara

diharapkan untuk mengintervensi pada setiap saat pemilik faktor produksi

diketahui mengeksploitasi pihak yang lemah dalam proses produksi.

Islam sangat mendorong pemberian sukarela untuk kesejahteraan kaum

miskin. Memberi makan orang yang kelaparan ditegaskan berulang-ulang,

sedemikian sehingga menghardik anak yatim dan mengabaikan pemberian

93

makanan kepada kaum miskin adalah sama dengan mendustakan agama. Jumlah

kekayaan yang harus dikeluarkan untuk kesejahteraan kaum miskin tidak

diperinci secara khusus menurut ketentuan yang jelas. Betapapun, petunjuk umum

dalam salah satu ayat dalam Al Qur’an bahwa setiap pertambahan kekayaan diatas

kebutuhan hidup seseorang harus dikeluarkan. Hukum-hukum keluarga Islam

memberikan hak yang sah terhadap kerabat dekat tertentu untuk menuntut bantuan

pemeliharaan dari orang-orang yang berada dalam posisi untuk membantu.

Ajaran-ajaran Islam mendesak manusia untuk memberikan bantuan secara

sukarela kepada kerabat dekat yang miskin, akan tetapi jika ajaran-ajaran ini

diabaikan, maka pengadilan mempunyai kewenangan untuk menyelenggarakan

bantuan penyelelenggaraan yang layak.

Kebijakan moneter dan fiskal diharapkan memainkan peranan yang sangat

penting dalam upaya pemberantasan kemiskinan dan mengekang ketidakadilan

pendapatan dan kekayaan dalam system perekonomian Islam. Kebijakan pajak

harus memiliki nilai keadilan dan berhenti dari mempertambah ketidak adilan

pendapatan dan kekayaan. Pemberantasan kemiskinan dan penghilangan

penderitaan yang dialami oleh kelompok penduduk yang miskin harus

diperhitungkan secara jelas dalam prioritas pengeluaran publik. Untuk membantu

mencapai tujuan-tujuan sosio-ekonomi Islam, maka kebijakan moneter perlu

digunakan untuk mengatur penggunaan sumber dana keuangan system

perbankkan sehingga secara berarti menolong ketidak adilan pendapatan dan

kekayaan dan mendapatkan hasil campuran yang sesuai dengan batasan prioritas

Islam. Kebijakan fiskal dan moneter diharapkan meningkatkan stabilitas moneter,

yang selain hal-hal lainnya mengamankan kepentingan kaum miskin.

94

Ajaran-ajaran Islam membebankan pada Negara tanggungjawab yang

penting untuk menjamin sedikitnya standar kehidupan minimum seluruh

warganegara. Berkaitan dengan hal ini, merupakan kewajiban Negara untuk

menetapkan system jaminan social yang religius dengan menobatkan pemungutan

zakat (hak orang yang miskin) agar memainkan peranan utama. Bagian terbesar

dari pembiayaan yang dibutuhkan untuk melaksanakan system jaminan social

Islam diharapkan dating dari hasil perolehan zakat. Betapapun, sekiranya hasil

perolehan zakat tidak mencukupi untuk tujuan tersebut, maka pembiayaannya

harus ditamabhkan dari dana anggaran umum sejumlah yang dianggap perlu.

Studi ini mencoba untuk mengemukakan keistimewaan pendekatan Islam

terhadap permasalahan kemiskinan dan pemerataan pendapatan dengan

membandingkan pendekatan sistematis tertentu lainnya. Buku ini meninjau sikap

dan kebijaksanaan masa kuno hingga masa modern terhadap kemiskinan dan

ketidakadilan pendapatan dan kekayaan, dan secara khusus mencatat beberapa

kesamaan dan perbedaan antara pendekatan Islam dengan dua pendekatan yang

dipengaruhi oleh dua sistem terbesar yaitu kapitalisme yang dikelola dan

sosialisme. Terlihat bahwa meskipun Islam berbagi dengan sosialisme dalam hal

pemerataan pendapatan dan kekayaan yang adil, namun Islam dengan tegas

menentang aspek-aspek kebijaksanaan

Jika dibandingkan dengan kapitalisme yang dikelola, maka yang paling

istimewa dari pendekatan Islam terhadap pemberantasan kemiskinan adalah sifat

pemerintah dari sistem jaminan sosialnya. Dari sejarah kapitalisme terlihat bahwa

sampai seperempat abad yang pertama dari abad ini, negara-negara yang sangat

maju dari negara kapitalis tidak berfikir untuk membuat sebuah sistem jaminan

95

sosial yang komprehensif. Dan sampai sekarangpun ada pemikiran umum bahwa

sistem jaminan sosial merupakan suatu kemewahan dimana hanya negara-negara

yang sangat kayalah yang mampu melakukannya. Fakta yang ada adalah bahwa

meski terdapat perhatian yang berkembang terhadap keadaan kaum miskin, akan

tetapi mayoritas negara-negara yang kapitalis tetap tidak memberi ‘jaminan

keamanan’ bagi kaum miskin. Bertentangan dengan hal ini, ajaran-ajaran Islam

mengikat negara untuk mengorganisir sebuah sistem jaminan sosial yang dapat

menjamin pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh rakyat, terlepas dari tahap-

tahap pembangunan sebuah negara dan sistem jaminan sosial dan income per

kapita negara tersebut. Studi ini juga mencatat titik-titik perbedaan yang utama

antara pendekatan Islam dan sistem jaminan sosial dari negara-negara yang

berekonomi maju pada saat ini.

Beberapa kebijakan yang dianjurkan oleh Islam untuk kepentingan

pemerataan yang adil banyak menyerupai kebijakan sejumlah negara kapitalis

yang memilih mengikuti kebijakan setelah ditinggalkannya kebijakan laissez-

faire. Namun demikian, ada beberapa perbedaan yang berkenaan dengan

penekanan dan nuansa dari kebijaksanaan. Hal ini dapat diketahui dari peranan

‘kedaulatan konsumen’ dan kebijakan moneter, fiskal serta kebijakan-kebijakan

lainnya untuk menentukan pengalokasian sumber daya.

96

DAFTAR PUSTAKA

Abbaasi, .M..,K.W. Hollman dan J.H. Murray, 1990. Islamic Economics:

Foundations and Practices. International Journal of Social Economics.

Jilid V.

Ahmad, Ziauddin. 1998. Islam, Proverty and Income Distribution. The Islamic

Fondation, Lahore

Aronsson,T.,Lofgren,K.G. and Backlund,K. 2004. Welfare Measurement In

Imperfect Markets : A Growth Theoretical Approach, Cheltenham,

Edward Elgar.

Arrow, K.J. and Scitowsky,T. 1969. Readings in Welfare Economics,

HomeWood, hal.255-283

Asheim,G.B. and Buchholz,W. 2004. A General Approach to Welfare

Measurement Through National Income Accounting, Scandinavian Journal

of Economic 106, hal. 361-384.

97

Asheim,G.B. and Weitzman,M.L. 2001. Does NNP Growth Indicate Welfare

Improvement?, Economics Letters 73, hal. 233-239.

Atkinson, A. 1975. The Economics of Inequality, Oxford University Press,

London.

Besley,Timothy. 2002. Welfare Economics and Public Choice, London School of

Economics and Political Science, London, April., hal 1-3.

Boadway,R.W. 1974. The Welfare Foundations of Cost-Benefit Analysis,

Economic Journal 86, Desember, hal. 926-939.

Bornstein, Morris. 1973. Plan and Market, Economic Reform in Eastern Europe,

Yale University Press.

Braudel, Fernand. 1982. Civilization and Capitalism, Harper & Row, hal.251-255.

Carbonell, A.F. 2002. Subjective Questions To Measure Welfare and Well-being,

Discussion Paper, Tinbergen Institute, Amsterdam, hal 1-5.

Chapra, M. Umer, 1970. The Economic System of Islam : Discussion of its Goal

and Nature, The Islamic Cultural Centre, London.

______________, 1979. Objectives of the Islamic Order, The Islamic Foundation,

United Kingdom.

______________, 1979. The Islamic Welfare State and its Role in the Economy,

The Islamic Foundation, United Kingdom.

______________, 1986. Toward a Just Monetary System, The Islamic

Foundation, United Kingdom.

______________, 1992. Islam and the Economic Challenge Order, The Islamic

Foundation, United Kingdom.

98

______________, 2000. The Future of Economics : An Islamic Perspective, The

Islamic Foundation, United Kingdom.

Choudhury, Masudul Alam and Houque, M. Ziaul. 2003 Islamic Finance: A

Westen Perspective – Revisited , International Journal of Islamic Financial

Services, Volume 5, Number 1, April-June

Chowdhury, A. Abdul Mannan. 1999. Resource Allocation, Investment Decision

and Economic Welfare : Capitalism, Socialism and Islam, University of

Chittagong, Banladesh

Creswell, John W. 1994. Research design : Qualitative & Quantitative

Approaches, SAGE Publicatios, London

Crone, P. 1987. Meccan Trade and Rise of Islam, Oxford, Basil Blackwell

Elliot, John E.. 1985. Comparative Economic Systms, Wadsworth Publishing

Company, Belmont, hal.408-429.

Fabozzi, Frank J Franco, Modigliani, Ferri, Michael G.,1994. Foundations of

Financial Markets and Institutios, Prentice-Hall Inc.

Friedman, Thomas L., 2001. The Lexus and The Olive Tree: Undertanding

Globalization, Achor Book, New York

Ghazali, Imam. 1937. Al-Mustasyfa, Al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, Kairo,

Vol.I hlm 139

Giddens, Anthony, 2000. Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial

(Terjemahan dari Judul Asli: The Third Way: The Renewal of Social

Democracy), (Penerjemah: Ketut Arya Mahardika), PT Gramedia Pustaka

Utama, Jakarta, Cetakan ketiga, Juni, Tebal: (xxviii + 189) halaman

99

Griffin, Keith. 1989. Alternative Strategies for Economic Development,

Macmillan, London, hal.218-219.

Grutchy, Allan G. 1977. Comparative Economic Systms, Mifflin Company,

Houghton.

Hause,J.C. 1975. The Theory of Welfare Cost Measurement, Journal of Political

Economy 83, Juni, hal. 1145-1182.

Heilbroner, Robert.L, 1975. The Making of Economics Society, Prentice Hall,

hal.32.

Heilbroner, Robert dan Lester Thurow, 1994. Economic Explained, New

York:Simon & Schuster,

Hyman David N., 2005. Public Finance : A Contemporary Application of

Theory to Policy with Economic Applications, 8th

Edition , New York,

Dryden Press.

Kakwani, Nanak C. 1980. Income Inequality and Proverty, Oxford University

Press, hal.397-398.

Kazarian, E. 1991. Finance and Economic Development, Islamic Banking in

Egypt, Lund Economic Studies No.45, University of Lund, Lund.

Kegley, Charles W., Wittkopfl Eugene R. , 2001. The Global Agenda: Issues and

Perspectives, , Penerbit: McGraw-Hill Higher Education – A Division of

The McGraw-Hill Companies, Inc., Singapore, International Edition, Sixth

Edition, Tebal: (xiv + 503) halaman.

Khaldun, Ibnu. 1964. Muqaddimah, hlm 3,4,39

100

Khan, M. Fahim 1999. Financial Modernization in 21st

Century and Challenge

for Islamic Banking, International Journal of Islamic Financial Services,

Volume 1, Number 3, Oct-Dec.

Khan, M. Mushin 1979. Sahih Al-Bukhari : Arabic-English, Islamic University

Al-Medina Al-Munawara, Kazi Publication, Lahore, Vol.7 No.277.

hal.208-209

Little, I. 1973. A Critique of Welfare Economics, 2nd edition, Oxford University

Press, London.

Lenski, Gerhard.E. 1966. Power and Privilege : A Theory of Social

Strattification, Mc Graw Hill.

Majid Fakhry, 1997. A Short Introduction in Islamic Philosophy, Theology and

Mysticism, Oneworld Publications, Oxford, England.

Mannan, M. A.,1970. Islamic Economics, Theory and Practic. The Islamic

Foundation, United Kingdom.

Marx, Karl. dan Engels, Friedrich. 1937. Manifesto of the Communist Party.

International Publishers Co., New York.

McKenzie,G.W. 1982. Welfare Measurement : A Syntesis, The American

Economic Review 72(4), September, hal. 669-682.

Nadwi, S.Abu Hasan Ali.1975. The Four Pillars of Islam, Majlis Nashreyat-e-

Islam, Karachi, Edisi kedua,hal.98.

Noman, Abdullah M. 2002. Imperatives of Financial Innovation for Islamic

Banking, International Journal of Islamic Financial Services, Volume 4,

Number 3, Oct-Dec..

101

Nomani, Shibli. 1962. Seeratun Nabi, Matbee Maarif Azamgarh, Karachi, Vol.1,

hal.573.

O'Connell, J. 1982. Welfare Economic Theory, Auburn House Publishing, Boston.

Ornati, Oscar. 1966. Proverty Amid Affluence, A Report on Research Project, The

Twentieth Century Fund, New York.

Perlman, Richard. 1976. The Economics of Proverty, Mc Graw Hill, hal.4-5.

Qureshi, Anwar Iqbal, 1946. Islam and the Theory of Interest, Lahore, Sh. Md.

Ashraf.

Rahardjo, Dawam, 2002. Sejarah Ekonomi Islam, The International Institute of

Islamic Thought, Jakarta, Indonesia

Rahman, Afzalur.,1980. Islamic Doctrine on Banking and Insurance, Muslim

Trust Company, London

Rahman, Yahia Abdul. 1999, Islamic Instruments for Managing Liquidity,

International Journal of Islamic Financial Services, Volume 1, Number 1,

Apr-Jun.

Ravallion, M. and Lokshin, M. .2000. Subjective Economic Welfare,

Development Research Group, World Bank.

Rosen, Harvey S.2005. Public Finance, McGraw-Hill.

Sabzwari, MA.1979. Zakah and Ushr with Special Reference to Pakistan,

Industries Printing Press, Karachi, hal.5

____________.1982. The Concept of Saving in Islam, An NIT Publication,

Karachi, hal.1

102

Samuelson, P.A. dan Nordhaus, William D. 1985. Economics, Edisi kedua belas,

Mc Graw Hll, hal.49.

Sarker, Abdul Awwal. 1999. Islamic Business Contracts : Agency Problems and

The Theory of The Islamic Firms , International Journal of Islamic

Financial Services, Volume 1, Number 2, Jul-Sep.

Schnitzer, Martin C. 1987. Comparative Economic Systms, South-Western

Publishing Group, Cincinnati.

Sen, Amartya. 1998. Social Choice, Welfare Distribution and Poverty, Trinity

College, Cambridge, United Kingdom..

Siddiqi, Muhammad Nejatullah.1982. Recent Work on History of Economic

Thought in Islamic Survey, International Centre for Research in Islamic

Economic, King Abdul Aziz University, Jeddah.

__________________________. 1988. Distributive Justice and Need Fulfilment

in on Islamic Economy, International Intitute of Islamic Economic,

Islamabad, The Islamic Foundation, Leicester, hal. 251-286.

Siddiqui, Amir Hasan.1962. Studies in Islamic History, The

Jamiyatul Falah Publications, Karachi, hal.102.

Smith,V.K. and Haefen,R.V. 1997. Welfare Measurement

and Representative Consumer Theory, Discussion

Paper, Washinton DC, hal.2-4.

103

Stiglitz, Joseph E. ,2002. Globalization and Its Discontent,

Penerbit: WW Norton & Company, New York –

London, Edisi pertama, Tebal: (xxii + 282) halaman.

Swasono, Sri-Edi. 2003. Ekspose Ekonomika : Kompetensi

dan Integritas Sarjana Ekonomi, Jakarta, UI-Press

_________________. 2004. Indonesia dan Doktrin

Kesejahteraan Sosal : Dari Klasikal dan Neoklasikal

Sampai ke The End of Laissez-Fair, Jakarta,

Perkumpulan PraKarsa.

Taleqani, Sayyed Mahmood. 1983. Islam and Ownership,

Mazda Publishers, Lexington. Hal.76-77.

Vartia, Y. 1983. Efficient Methods of Measuring Welfare

Change and Compensated Income in Terms of

Ordinary Demand Functions , Econometrica 51, hal.

79-98.

Wilson, R.,1983. Banking and Finance in the Arab Middle

East, Macmillan, London.

104

Woodhouse, Mark B.,1994. A Preface to Philosophy,

Wadsworth, A Division of International Thomson

Publishing Inc.

Yazdi, M. Taqi Mishbah. 1999. Philosophical Instructions :

An Introduction in Contemporary Islamic Philosophy,

Institute of Global Studies, University of Binghamton.

SISTEM EKONOMI ISLAM: Keniscayaan Menuju
Kesejahteraan Manusia
Publikasi 22/11/2003
hayatulislam.net ?

Pendahuluan
Sosialisme sebagai ideologi dunia boleh
dikatakan telah runtuh walau masih ada
negara yang menganutnya, yaitu sejak
keruntuhan komunis/ sosialis Sovyet pada
awal tahun 1990-an. Dengan demikian, saat
ini ideologi yang mendominasi dunia
adalah ideologi Kapitalisme yang
dipelopori oleh Amerika Serikat dan Eropa
Barat.

105

Apakah itu menandakan, bahwasannya
Kapitalisme sebagai ideologi keluar
sebagai
pemenang dan akan bertahan lama? Orang
banyak menganggap demikian, tetapi
sebenarnya Kapitalisme-pun sebagai sebuah
ideologi akan mengalami kehancuran
seperti apa yang diramalkan oleh Marx.
Karena bentuk dan pertumbuhan
kapitalisme historis seperti yang
diramalkannya, misalnya terjadinya
konsentrasi dan sentralisasi kekuatan
kapital dan terciptanya kemiskinan yang
cukup luas pada saat ini telah terjadi.

Memang secara global, sistem ekonomi yang
lahir dari ideologi Kapitalis ini
berangkat dari asumsi bahwa tujuan
seluruh aktivitas ekonomi adalah
(semata-mata) untuk mengejar puncak
kenikmatan yang bersifat materi, suatu
pemikiran yang lahir dari motivasi
manusia yang terendah (gharizah
baqa==naluri
mempertahankan diri). Berikutnya, kita
dapati realitas masyarakat yang
mengadopsi pemikiran ini, akan senantiasa
berusaha meraih nilai materi yang
sebesar-besarnya, -bahkan bila perlu-
dengan menghalalkan segala macam cara.
Selanjutnya, terbentuklah sekelompok
kecil kaum kapitalis yang mendominasi
sejumlah besar orang yang telah bekerja
keras dan senantiasa hidup dalam
kegelisahan, yang sebagian besar hidup
dalam kemiskinan dan tak mampu memenuhi

106

kebutuhan dasar (basic needs) mereka
Sedangkan dalam menghadapi problematika
yang ada, ekonomi Kapitalis tidak bisa
menjawab

krisis yang terjadi di dunia. Misalnya
dalam menghadapi krisis yang terjadi
sejak pertengan tahun 1997 sistem
Kapitalisme gagal dalam memulihkan
kembali
ekonomi bagi negara-negara yang terkena
krisis ekonomi. Hal itu dapat dilihat,
bagaimana badan internasional, seperti
IMF, World Bank, WTO, yang menangani
negara-negara yang kena krisis, belum
menunjukkan pulihnya ekonomi negara yang
ditangani oleh badan dunia tersebut.
Sebaliknya, hasil riset Johnson dan
Schaefer (1997) menunjukkan selama 1965-
1995, perekonomian 48 dari 89 negara
yang menerima bantuan IMF tidak menjadi
lebih maju. Bahkan, 32 dari 48 negara
tersebut justru menjadi lebih miskin.
Lebih menyedihkan lagi, negara-negara
tersebut telah menjadi pasien IMF selama
puluhan tahun. (Sunarsip, ?Seputar
Konspirasi IMF?, Republika 20 Juni 2001).

Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa
depresi besar (great depression) pada
tahun 1929 yang akhirnya memunculkan
aliran Keynes yang menggantikan aliran
Klasik (Adam Smith, dkk). Dan sekarangpun
aliran Keynes tidak bisa menjawab
krisis ekonomi yang terjadi, sehingga
banyak orang mulai mencari pengganti dari

107

sistem Kapitalisme. Dan ini sebuah
indikasi, bahwasannya sistem Kapitalisme
akan runtuh jika ada alternatif
terpercaya yang siap menggantinya.

Sebenarnya, jauh-jauh sebelum ideologi
Kapitalisme dan Sosialisme yang muncul
akibat sekularisme (pemisahan antara
kehidupan dan agama), Islam telah
menawarkan dan merealisasikan konsep
sistem pemeliharaan dan pengaturan urusan
rakyat, cara pemenuhan kebutuhan pokok
bagi warga masyarakat, cara penanganan
kemiskinan, perwujudan kesejahteraan
hidup, dan lain sebagainya. Islam tidak
berangkat dari keprihatinan sosial, yang
bersifat nisbi dan kondisional atau
berpijak di atas dasar nilai-nilai sosial
dan kemanusiaan semata.

Pada artikel ini, akan diberikan gambaran
tentang ekonomi Islam sebagai sebuah
aturan (nizam) yang dapat memecahkan
problematika kehidupan manusia, yang
bertitik tolak dari pandangan dasar
tentang manusia dan kehidupan ini
(aqidah).
Islam memandang bahwa manusia memiliki
keterikatan dengan hokum dan tata aturan
dari Pencipta Alam Semesta ini.

Sistem Ekonmi Islam
Menurut An Nabhani dalam bukunya An-Nizam
Al-Iqtishadi Fi Al-Islami, system
ekonomi Islam ditegakkan di atas tiga
asas utama, pertama, konsep kepemilikan

108

(al-milkiyah); Kedua, pemanfaatan
kepemilikan (al tasharuf fil al-
milkiyah);
Ketiga, distribusi kekayaan di antara
masyarakat (tauzi'u altsarwah bayna
al-naas).

I. Konsep Kepemilikan (al-Milkiyah)
Islam memiliki pandangan yang khas
tentang harta. Bahwa harta pada
hakikatnya
adalah milik Allah (Qs. 24: 33). Harta
yang dimiliki manusia, sesungguhnya
merupakan pemberian dari Allah (Qs. 57:
7). Kata rizq artinya pemberian
(a'tha). Atas dasar ini, kepemilikan atas
suatu barang ?yang artinya ada proses
perpindahan kepemilikan- harus selalu
didasarkan pada aturan-aturan Allah SWT.
Seseorang tatkala hendak memiliki sepeda
motor, maka cara untuk mendapatkan
?kepemilikan? sepeda motor, maka cara
untuk mendapatkan ?kepemilikan? sepeda
motor tersebut harus didasarkan pada
aturan-aturan Allah SWT, misalnya, dengan
membeli, atau diberi hadiah, atau dengan
cara-cara lain yang dibenarkan oleh
hukum Islam. Pandangan di atas berbeda
dengan paham kapitalisme, yang
menganggap ?harta milik adalah pencurian?
yang muncul dari pernyataan klasik
Proudhon. Artinya negara-negara maju
memperoleh kekayaan yang mereka nikmati
dari tindakan mereka merampas dan
menguras harta negara-negara lain dan

109

kecenderungan ini merupakan faktor
pendorong kapitalisme (Berger, Peter L.,
?Piramida Pengorbanan Manusia: satu
jawaban diantara sosialisme dan
kapitalisme?, IQRA Bandung, 1983).
Pandangan ini menghasilkan sebuah aksioma
?harta adalah milik manusia?, maka
manusia bebas untuk mengupayakannya,
bebas
mendapatakan dengan cara apapun, dan
bebas pula memanfaatkannya. Dari
pandangan
ini muncul pula falsafah hurriyatu al-
tamalluk (kebebasan kepemilikan), yang
merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Manusia bebas menentukan cara
mendapatkan dan memanfaatkan harta,
dengan cara apapun, meskipun cara
tersebut
bertentangan dengan norma dan etika
masyarakat, atau bahkan dengan aturan
Islam.

Islam juga berbeda dengan sosialisme,
yang tidak mengakui kepemilikan individu.
Mereka berpendapat bahwa harta adalah
milik negara. Seseorang hanya diberi
barang dan jasa terbatas yang diperlukan
dan dia bekerja sebatas yang dia bisa.
Pada hakikatnya, Sosialisme telah
mematikan 'kreativitas manusia'. Motif-
motif
internal yang bersifat individual telah
dikebiri. Prinsip ini, semula diyakini,
dapat menghancurkan dominasi ekonomi oleh
satu atau beberapa kelompok manusia,

110

namun akibat yang ditimbulkan justru
lebih mengerikan. Karena kepemilikan
individu tidak diakui, maka motif-motif
pencapaian ekonomi yang bersifat
pribadi menjadi lemah, bahkan tidak
nampak sekali. Tidak ada gairah kerja
lagi
pada individu-individu sosialis.
Akhirnya, timbullah penurunan drastic
produktivitas masyarakat, karena
masyarakat telah kehilangan hasrat untuk
memperoleh keuntungan (profit motives),
suatu hal yang sangat manusiawi.
Tidaklah aneh bila produksi pertanian
kolektif RRC, tidak mungkin melebihi
tingkat produksi individual rakyat
negara Kapitalis.

Jadi Islam memiliki berbeda dengan
Kapitalisme, yang tidak mengatur
kuantitas
(jumlah) dan cara perolehan harta serta
pemanfaatannya. Begitu pula, Islam
berbeda dengan Sosialisme yang menjadikan
negara mengatur kepemilikan harta.
Dalam hal kepemilikan terhadap harta,
Islam tidak mengenal kebebasan
kepemilikan, sebagaimana sistem
Kapitalisme, dan pembatasan mutlak,
sebagaimana
sistem Sosialisme. Islam hanya mengatur
cara memiliki barang dan jasa serta
cara pemanfaatan pemilikan tersebut.
Kepemilikan adalah izin dari Syaari?
(Allah SWT) untuk menguasa dzat dan
mnafaat suatu benda. Menurut Dr. Husain

111

Abdullah, kepemilikan (milkiyah) dibagi
menjadi tiga macam, yakni: (1)
kepemilikan individu (milkiyah fardiyah),
(2) kepemilikan umum (milkiyah ?amah)
dan (3) kepemilikan negara (milkiyah
daulah).

I.I. Kepemilikan Individu (al-Milkiyah ?
Fardiyah)
Kepemilikan individu adalah izin Syaari?
(Allah SWT) kepada individu untuk
memanfaatkan barang dan jasa. Adapun
sebab-sebab pemilikan (asbabu al-
tammaluk)
individu, secara umum ada lima macam: 1)
Bekerja (al 'amal), 2) Warisan
(al-irts), 3) Kebutuhan harta untuk
mempertahankan hidup, 4) Pemberian negara
(i'thau al-daulah) dari hartanya untuk
kesejahteraan rakyat berupa tanah
pertanian, barang dan uang modal, dan 5)
Harta yang diperoleh individu tanpa
harus bekerja.

Harta dapat diperoleh melalui bekerja,
mencakup upaya menghidupkan tanah mati
(ihyau al-mawat), mencari bahan tambang,
berburu, perantara (samsara),
kerjasama mudharabah, bekerja sebagai
pegawai. Sedang harta yang diperoleh
tanpa adanya curahan daya dan upaya
mencakup, hibah, hadiah, wasiat, diyat,
mahar, barang temuan, santunan.

Islam melarang seorang muslim memperoleh
barang dan jasa dengan cara yang tidak

112

diridhai Allah SWT, seperti judi, riba,
pelacuran dan perbuatan maksiyat lain.
Islam juga melarang seorang muslim untuk
mendapatkan harta melalui cara
korupsi, mencuri, menipu. Sebab hal ini
pasti merugikan orang lain dan
menimbulkan kekacauan di tengah-tengah
masyarakat.

I.II. Kepemilikan Umum (al-Milkiyah ?
Amah)
Pemilikan umum adalah izin dari Syaari'
(Allah SWT) kepada masyarakat secara
bersama untuk memanfaatkan benda. Benda-
benda ini tampak pada tiga macam, yaitu:

1. Fasilitas umum, yaitu barang-barang
yang mutlak diperlukan manusia dalam
kehidupan sehari-haru seperti air, api
(bahan bakar, listrik, gas), padang
rumput (hutan).

2. Barang-barang yang tabiat
kepemilikannya menghalangi adanya
penguasaan
individu seperti; sungai, danau, jalan,
lautan, udara, masjid dan sebagainya.

3. Barang tambang dalam jumlah besar yang
sangat dibutuhkan oleh masyarakat,
seperti emas, perak, minyak dan
sebagainya.

Ketiga macam benda di atas telah
ditetapkan oleh syara' sebagai
kepemilikan

113

umum, berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
?Manusia berserikat (punya anadil) dalam
tiga hal, yaitu air, padang rumput,
dan api.? (HR. Ibnu Majah)

Pengelolaan terhadap kepemilikan umum
pada prinsipnya dilakukan oleh negara,
sedangkan dari sisi pemanfaatannya
dinikmati oleh masyarakat umum.
Masyarakat
umum bisa secara langsung memanfaatkan
sekaligus mengelola barang-barang 'umum'
tadi, jika barang-barang tersebut bisa
diperoleh dengan mudah tanpa harus
mengeluarkan dana yang besar seperti,
pemanfaatan air disungai atau sumur,
mengembalikan ternak di padang
penggembalaan dan sebagainya. Sedangkan
jika
pemanfaatannya membutuhkan eksplorasi dan
eksploitasi yang sulit, pengelolaan
milik umum ini dilakukan hanya oleh
negara untuk seluruh rakyat dengan cara
diberikan cuma-cuma atau dengan harga
murah. Dengan cara ini rakyat dapat
memperoleh beberapa kebutuhan pokoknya
dengan murah.

Hubungan negara dengan kepemilikan umum
sebatas mengelola, dan mengaturnya
untuk kepentingan masyarakat umum. Negara
tidak boleh menjual aset-aset milik
umum. Sebab, prinsip dasar dari
pemanfaatan adalah kepemilikan. Seorang
individu tidak boleh memanfaatkan atau
mengelola barang dan jasa yang bukan

114

menjadi miliknya. Demikian pula negara,
tidak boleh memanfaatkan atau mengelola
barang yang bukan menjadi miliknya. Laut
adalah milik umum, bukan milik negara.
Pabrik-pabrik umum, tambang, dan lain-
lain adalah milik umum, bukan milik
negara. Atas dasar ini, negara tidak
boleh menjual asset yang bukan menjadi
miliknya kepada individu-individu
masyarakat.

Timbulnya dominasi ekonomi, serta
terakumulasinya kekayaan pada sejumlah
individu, lebih banyak disebabkan karena
kelompok-kelompok tersebut telah
menguasai aset-aset umum, atau sektor-
sektor yang menjadi hajat hidup
masyarakat banyak; karena ada kebijakan
dari Pemerintah. Misalnya; privatisasi
BUMN atas sektor publik.

I.III. Kepemilikan Negara (al-Milkiyah
Daulah)
Kepemilikan negara adalah izin dari
Syaari' atas setiap harta yang hak
pemanfaatannya berada di tangan negara.
Misalnya harta ghanimah, fa'i, khumus,
kharaj, jizyah 1/5 harta rikaz, ushr,
harta orang murtad, harta orang yang
tidak memiliki ahli waris, dan tanah
milik negara. Milik negara digunakan
untuk
berbagai keperluan yang menjadi kewajiban
negara seperti menggaji pegawai,
keperluan jihad dan sebagainya.

115

II. Pemanfaatan Kepemilikan (al-Tasharuf
al-Milkiyah)
Kejelasan konsep kepemilikan sangat
berpengaruh terhadap konsep pemanfaatan
harta milik (tasharuf al-mal), yakni
siapa sesungguhnya yang berhak mengelola
dan memanfaatkan harta tersebut
Pemanfaatan pemilikan adalah cara -sesuai
hukum
syara?- seorang muslim memperlakukan
harta miliknya. Pemanfaatan harta dibagi
menjadi dua topik yang sangat penting,
yakni: (1) Pengembangan harta (tanmiyatu
al-mal), dan (2) infaq harta (infaqu al-
mal).

II.I. Pengembangan Harta (Tanmiyatu al-
Mal)
Pengembangan harta adalah upaya-upaya
yang berhubungan dengan cara dan sarana
yang dapat menumbuhkan pertambahan harta.

Islam hanya mendorong pengembangan harta
sebatas pada sektor riil saja; yakni
sektor pertanian, industri dan
perdagangan. Islam tidak mengatur secara
teknis
tentang budidaya tanaman; atau tentang
teknik rekayasa industri; namun Islam
hanya mengatur pada aspek hukum tentang
pengembangan harta. Dalam sektor
pertanian misalnya, Islam hanya mengatur
pada aspek hukum tentang pengembangan
harta. Dalam sektor pertanian misalnya,
Islam melarang seorang muslim
menelantarkan tanahnya lebih dari tiga
tahun, bolehnya seseorang memiliki tanah

116

terlantar tersebut bila ia mengolahnya,
larangan menyewakan tanah, musaqah, dan
lain-lain. Dalam perdagangan, Islam telah
mengatur hukum-hukum tentang syirkah
dan jual beli. Demikian pula dalam hal
perindustrian, Islam juga mengatur hukum
produksi barang, manajemen dan jasa,
semisal hukum perjanjian dan pengupahan.

Islam melarang beberapa aktivitas-
aktivitas pengembangan harta, misalnya,
riba
nashi'ah pada perbankan, dan riba fadhal
pada pasar modal. Menimbun, monopoli,
judi, penipuan dalam jual beli, jual beli
barang haram dan sebagainya.

II.II. Infaq Harta (Infaqu al-Mal)
Infaq harta adalah pemanfaatan harta
dengan atau tanpa ada kompensasi atau
perolehan balik. Berbeda dengan sistem
Kapitalisme, Islam mendorong ummatnya
untuk menginfaqkan hartanya untuk
kepentingan umat yang lain -terutama
pihak
yang sangat membutuhkan. Islam tidak
hanya mendorong kaum muslim untuk
memanfaatkan hartanya dengan kompensasi
atau perolehan balik yang bersifat
materi saja, akan tetapi juga mendorong
ummatnya untuk memperhatikan dan
menolong pihak-pihak yang memperhatikan
dan menolong pihak-pihak yang
membutuhkan, serta untuk kepentingan
ibadah, misalnya zakat, nafkah anak dan
istri, dorongan untuk memberi hadiah,
hibah, sedekah pada fakir miskin dan

117

orang yang memerlukan (terlibat hutang,
keperluan pengobatan dan musibah);
infaq untuk jihad fii sabilillah.

Islam telah melarang umatnya untuk
menggunakan hartanya pada hal-hal yang
dilarang oleh hukum syara', seperti
riswah (sogok), israf, tadbir, dan taraf
(membeli barang atau jasa haram), serta
mencela keras sikap bakhil. Pelarangan
pemanfaatan harta pada jalan-jalan
tersebut akan menutup pintu untuk
kegiatan-kegiatan tersebut, yang telah
terbukti telah menimbulkan apa yang
dinamakan dengan pembengkakan biaya
(karena ada biaya siluman).

III. Konsep Distribusi Kekayaan (Tauzi?
al-Tsarwah)
Islam telah menetapkan sistem distribusi
kekayaan diantara manusia dengan cara
sebagai berikut:

III.I. Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar adalah bagian terpenting
dari konsep distribusi. Akan tetapi
mekanisme ini akan berjalan dengan alami
dan otomatis, jika konsep kepemilikan
dan konsep pemanfaatan harta berjalan
sesuai dengan hokum Islam. Sebab, dalam
kehidupan ekonomi modern seperti saat
ini, di mana produksi tidak menjadi
jaminan konsumsi, melainkan hanya menjadi
jaminan pertukaran saja, maka

118

pengeluaran seseorang merupakan
penghasilan bagi orang lain. Demikian
pula
sebaliknya.

III.II. Bentuk Transfer Dan Subsidi
Untuk menjamin keseimbangan ekonomi bagi
pihak yang tidak mampu bergabung dalam
mekanisme pasar -karena alasan-alasan
tertentu, seperti; cacat, idiot dan
sebagainya-maka Islam menjamin kebutuhan
mereka dengan berbagai cara sebagai
berikut:

1. Wajibnya muzakki membayar zakat yang
diberikan kepada mustahik, khususnya
kalangan fakir miskin.

2. Setiap warga negara berhak
memanfaatkan pemilikan umum. Negara boleh
mengolah dan mendistribusikannya secara
cuma-cuma atau dengan harga murah.

3. Pembagian harta negara seperti tanah,
barang dan uang sebagai modal kepada
yang memerlukan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->