P. 1
Cdk 128 Masalah Saluran Napas

Cdk 128 Masalah Saluran Napas

|Views: 3,973|Likes:
Published by revliee

More info:

Published by: revliee on Oct 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Komplikasi utama refluks esofagitis adalah perdarahan,
ulkus, striktur dan terbentuknya epithelium Barrett(1,3,7)

).
Perdarahan dari refluks esofagitis umumnya ringan, namun
kadang kala timbul perdarahan masif, sehingga tidak jarang
terjadi anemia defisiensi Fe(3)

. Ulkus esofagus pada umumnya
sulit dipulihkan, terutama yang didapati dengan epithelium
Barrettt(3,7)

. Striktur esofagus umumnya berlokasi pada squamo

columnar junction(1,3)

; secara umum dapat diterapi dengan pre-
parat anti refluks yang dikombinasi dengan dilatasi esofagus
berulang. Bila dilatasi berulang ini tak membuahkan hasil,
dianjurkan untuk dilakukan pembedahan(3)

.
Epithelium Barrett merupakan perubahan metaplastik dan
epithelium squamous mukosa esofagus menjadi epithelium
kolumnar seperti pada lambung(7,8)

. Perubahan metaplastik ini
terjadi pada 10 hingga 12% pasien dengan refluks esofagitis
berat. Sekali transformasi ini terjadi, epithel sangat jarang
kembali pada bentuk semula(7)

. Meski sering asimptomatis, lesi
ini memberi arti yang sangat penting; sebuah kajian menemu-
kan epithelium Barrett pada 36% kasus ulkus dan 38% striktur.
Ulkus dan striktur yang muncul pada penderita dengan epi-
thelium Barrett umumnya resisten dengan pengobatan yang
ada(9)

.
Perhatian utama diletakkan pada kecenderungan keganasan
dari proses ini. Insidensi timbulnya adenokarsinoma diperkira-
kan sekitar 18 hingga 40 kali lebih besar dibanding populasi
umum. Oleh karenanya dianjurkan pemeriksaan berulang
dengan endoskopi dan biopsi pada penderita refluks esofagitis
kronis setiap dua atau tiga tahun sekalit.

KEPUSTAKAAN

1. Goyal RJ. Diseases of The Esophagus. In: Braunwald E. et al (eds)
Harrison's Principles of Internal Medicine 12th

ed. Hamburg:

McGraw-Hill Book Co. GmbH, 1991; 122-9.
2. Goff JS. Reflux Oesophagitis: diagnosing the problem. Mod Med Austral
1990; (Jan): 41-3.
3. Tygat GNJ, Nio CY, Schothorgh RH. Reflux oesophagitis. Scand
Jgastroenterol. 1990; 25: 1-2.

Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000 35

4. Naveh F, Texter EC. Gastroesophageal reflux. Pathophysiologic
Concepts. Arch Intern Med 1985; 145: 329-33.
5. Dodds WJ, Dent J, Hogan WJ. Mechanisms of Gastroesophageal reflux in
patients with retlux oesophagitis. N Engl J Med 1982; 307: 1547-52.
6. Hanslry J. Oesophagitis and Hiatus Hernia. Med Progr 1988; Nov: 32-6.
7. Kerlin P, MacDonald G. Diagnosis and Management of Reflux Oesopha.

in the Adult. Mod Med Austral 1993; Jan: 54-8.
8. Spechler SJ, Goyal RK. Barnet's Oesophagus.N Engl J Med 1986;315-62.
9. Dent J, Bremner CG, Collen MJ, Haggitt RC, Spechler SJ: Barrett
Oesophagus J Gastroenterol Hepatol 1991; 6: 1-22.

Sekarang para dokter
mendeteksi

penyakit
dengan aplikasi serba jitu
……..
alat-alat modern ke
sasaran !
Sedang mbah dukun
tak mau kalah,
dengan memejamkan mata
dan …..digrayangi !

Cermin Dunia Kedokteran No. 128, 2000

36

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Pankreatitis Akut

Laksma Dr. A. Nurman, Ph.D., DSPD-KGEH

Rumah Sakit TNI Angkatan Laut, Mintohardjo, Jakarta

PENDAHULUAN

Pankreatitis akut (PA) adalah keadaaan dari pankreas
dengan gejalanya yang khas yakni nyeri perut hebat yang
timbul tiba-tiba, dan peningkatan enzim amilase atau lipase.
Perjalanan penyakitnya sangat bervariasi dari yang ringan yang
self limited sampai yang sangat berat disertai renjatan dengan
gangguan ginjal dan paru-paru yang berakibat fatal(1,2,3)
.
Pankreatitis yang berat, enzim-enzim pankreas, bahan-bahan
vasoaktif dan bahan-bahan toksik lainnya keluar dari saluran-
saluran pankreas dan masuk ke dalam ruang pararenal anterior
dan ruang-ruang lain seperti ruang-ruang pararenal posterior,
lesser sac dan rongga peritoneum. Bahan ini mengakibatkan
iritasi kimiawi yang luas. Bahan-bahan tersebut memasuki
sirkulasi umum melalui saluran getah bening retroperitoneal
dan jalur vena dan mengakibatkan berbagai penyulit sistemik
seperti gagal pernapasan, gagal ginjal dan kolaps kardio-
vaskuler.

Pankreatitis akut saat ini tidak jarang didapatkan di bagian
Ilmu Penyakit Dalam, sekali-kali ditemui di bagian bedah
sewaktu laparatomi pasien dengan nyeri perut hebat tanpa
dugaan adanya pankreatitis akut sebelumnya. Pada saat lapara-
tomi baru disadari bahwa sedang dihadapi pasien pankreatitis
akut karena didapatkan cairan intraabdominal berwarna merah
anggur atau didapatkan pankreas yang meradang. Hal ini
disebabkan anggapan masa lalu bahwa pankreatitis akut sangat
sering ditemukan di Negara Barat karena mereka adalah
pengkonsumsi alkohol yang banyak dibandingkan di Indonesia
yang sebagian besar penduduknya beragama Islam sehingga
konsumsi alkohol nihil atau sangat rendah. Selain itu juga pada
masa itu sebelum era USG, batu saluran empedu relatif jarang
ditemukan di Indonesia sedangkan di Negara Barat frekuensi-
nya sangat sering. Pengalaman penulis menunjukkan bahwa
tidak jarang terapi pankreatitis akut yang diberikan oleh sejawat
Ahli Penyakit Dalam kurang tepat, memberi kesan berlebihan
sehingga mengakibatkan biaya yang sangat besar. Pada kasus-
kasus tertentu terapinya malah sangat sederhana saja seperti
yang tertulis ilustrasi kasus pada makalah ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->