P. 1
A Om

A Om

|Views: 7,366|Likes:
Published by callmesuhe
Uraian Makalah AOM
Uraian Makalah AOM

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: callmesuhe on Oct 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

Sections

MODUL METODE PENELITIAN

DISUSUN OLEH DR. Drs. H. BAMBANG SUDARYANA MSi. DSM

BAB I PENDAHULUAN

A. Mengenal tentang Penelitian Banyak pendapat tentang arti penelitian, maka perlu dilakukan pihak pembahasan dan secara jelas apa sebenarnya penelitian. penelitian tersebut, sehingga akan mempermudah berbagai mengenal adalah memahami cara tentang guna Penelitian suatu menyelesaikan

permasalahan dengan menekan segala keterbatasan dan ketidaktahuan manusia. . Atau dengan pengertian lain bahwa penelitian adalah merupakan suatu pemikiran yang rasional untuk melakukan fakta-fakta aktivitas-aktivitas yang metode ada dan penelitian, kemudian sehingga mengumpulkan dengan

memprosesnya sehingga peneliti dapat mengkombinasikan menggunakan ilmiah, permasalahan yang ada dan pertanyaan yang tidak terjawab dapat dipecahkan atau diselesaikan .Penelitian sebagai suatu proses ilmiah tentunya menggunakan karakteristik keilmuan yaitu secara rasional, sistematis dan berdasarkan fakta empiris. Rasional artinya realitas, dilakukan dan dengan menggunakan dan dapat diterima oleh akal, empiris artinya sesuai atau berdasarkan memiliki tata urutan empiris artinya tersebut tertentu.. Mekanisme

merupakan kerangka dasar suatu metode ilmiah. Dan

apabila mekanisme tersebut digunakan untuk memecahkan permasalahan, maka hal ini dikenal sebagai penelitian ilmiah. Menurut Cooper (1996 : 11) penelitian ilmuah sebagai suatu penyelidikan yang sistematis, terkendali, empiris, dan kritis mengenai fenomena – fenomena alam yang dibimbing oleh teori dan hipotesis – hipotetsis mengenai hubungan – hubungan tersebut. Pada umumnya karakteristik penelitian berdasarkan proses penelitian adalah sebagai berikut : 1. Penelitian diawali dari suatu masalah tertentu 2. Penelitian memerlukan hal yang jelas dan identifikasi masalah. Permasalahan tersebut diperjelas terlebih dahulu kemudian dipersempit selanjutnya ditentukan tentang tujuan dari penelitian tersebut. 3. Penelitian tersebut bukan hanya menemukan atau mencari jawaban terhadap masalah secara mendadak atau efektif.
4. Penelitian terdiri dari masalah utama dan kemudian

yang

diduga

antara

fenomena

fenomena

kebetulan,

dengan

demikian

penelitian

memerlukan suatu perencanaan dan pengarahan yang

dibagii kedalam sub-sub masalah yang selanjutnya dilakukan pembatasan. Hal ini dilakukan guna menghindari masalah baru dalam penelitian tersebut.

5. Dalam penelitian ditetapkan hipotesis sesuai dengan

asumsi. Hipotetsis adalah kesimpulan atau dugaan sementara secara logis dan ilmiah yang mengarahkan kepada permasalahan dan menyelesaikan masalah tersebut. Tanpa asumsi mekanisme penelitian tidak dapat dilakukan dengan akurat. 6. Penelitian berkaitan erat dengan fakta-fakta yang diduga menyebabkan adanya permasalahan kemudian diorganisir dan ditafsirkan secara tepat. 7. Penelitian merupakan hal yang berputar atau sirkulasi Adapun langkah – langkah penelitian , terdiri dari serangkaian aktivitas sebagai berikut : 1. Merumuskan isu – isu penelitian 2. Merumuskan permasalahan penelitian 3. Memilih jenis penelitian yang akurat 4. Menentukan sample dari populasi objek penelitian 5. Melakukan pengukuran data 6. Mengumpulkan data 7. Melakukan analisis data 8. Menafsirkan / menterjemahkan data 9. Menyusun pelaporan 10. yaitu : a. Pendekatan rasional – empiris ( deduktif / kuantitatif) b. Pendekatan empiris – rasional ( induktif / kualitatif ) Mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam teori Penelitian dapat dilakukan dengan melalui dua pendekatan,

Pendekatan rasional- empiris (Kuantitatif), dalam proses penelitian dicari ini peneliti memulai dengan menghadapi teori . permasalahan yang harus dikaji secara teoritis, kemudian dasar-dasar rasionalitasnya berdasarkan Selanjutnya ditentukan kesimpulan sementara atas

permasalahan atau merumuskan hipotesis. Untuk menguji hipotesis tersebut diperlukan aktivitas pengumpulan data empiris. Hipotetsis hasil tersebut pengujian diterima atau atau data ditolak yang berdasarkan analisis

dilakukan yang kemudian disimpulkan. Keuntungan dengan pendekatan rasional empiris ini adalah (a) Untuk menuji hipotesis yang telah diajukan terlebih dahulu disipkan data empiris secara akurat dengan tingkat validitas dan reliabilitas karena secara optimal data dapat yang dijamin.; (b) Kesimpulannya telah terarah dan terbatas; dan kelemahannya yaitu rasionalisasi diperoleh dibatasi oleh paradigma teori, maka temuan penelitian hanya merupakan suatu verifikasi atas teori yang sudah ada. Pendekatan empiris – rasional (Kualitatif) ; dalam pendekatan ini , penelitian yang dilakukan dimulai sebelum diketahuinya permasalahan / problematic tertentu. Peneliti melakukan penelitian diawali dengan pengumpulan data dan fakta empiris yang telah tersedia. Selanjutnya data empiris tersebut dilakukan rasionalisasi guna diperoleh penafsiran,

dan kesimpulan akhir dari kegiatan ini adalah generalisasi empiris, konsep atau suatu teori. Keuntungan dengan pendekatan ini adalah : ( a) untuk mengambil kesimpulan data tidak dipersiapkan ; (b) rasionalisasi data empiris dapat lebih mendalam sebab tida dibatasi oleh paradigma teori tertentu dan akan memeproleh hasil temuan yang baru; dan kelemahannya karena tidak adanya tingkat validitas dan reliabilitas data yang optimal maka tidak terarah pada kesimpulan tertentu bahkan bisa melebar . dan Suatu proses penelitian akan diperoleh dengan pendekatan deduktif simultan dan saling digunakan secara karakteristik yang lengkap, apabila induktif melengkapi . Dalam penelitian dengan pendekatan rasional – empiris disebut sebagai penelitian kuantitatif, dan penelitian melalui pendekatan empiris – rasional disebut penelitian kualitatif. Mc Millan dan Schumacher (2001) membedakan kedua pendekatan ini . Pendekatan kuantitatif dibedakan pula antara metode-metode penelitian eksperimental dan noneksperimental. Dalam penelitian kualitatif dibedakan antara kualitatif inetraktif dengan non interaktif.
Metode-Metode Penelitian KUANTITATIF
Eksperimental Non Eksperimental Interaktif

KUALITATIF
Non interaktif

* Eksperimental *. Deskriptif murni kuasi lemah * Subyek tunggal Penelitian Pengembangan * Komparatif * Survai * Tindakan * Eksperimental * Korelasional * Eksperimental * Ekspos fakto

* Etnografis * Historis * Studi kasus * Teori Dasar * Studi Kritis

* Analisis Konsep *Analisis Kebijakan

*Fenomenologis * Analisis Historis

Sumber : Mc. Millan dan Schumacher (2001)

B. Makna Penelitian Ilmiah Penelitian ilmiah adalah suatu penyelidikan yang kritis dan sistematis dalam lingkungan yang suatu yang disiplin ilmu pengetahuan jawaban disiplin menguji, ilmu tertentu, bertujuan untuk terkait mencari dengan konsep,

terhadap

permasalahan dan

pengetahuan

tersebut

serta

menemukan,

mengubah,

mengembangkan

pengetahuan, dan teori-teori di lingkungan disiplin ilmu pengetahuan tersebut. Hasil dari upaya tersebut harus dapat dikomunikasikan serta diverifikasi kepada pihak lain atau oleh pihak lain. Penelitian sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan, memiliki sumber suatu peranan yang yang sangat strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan sendiri serta sebagai informasi signifikan dalam penyusunan kebijakan maupun penyusunan program kegiatan. Demikian juga apabila tanpa konsistensi yang berkelanjutan tentang

penelitian

ilmiah,

maka ilmu

pengetahuan

tidak akan

berkembang . Penelitian ilmiah dan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, ibaratnya sebagai saudara kembar identik, selalu saling bekerja sama, dan merupakan suati sstem dan keduanya secara bersama-sama mengembangkan sistem ilmiah . C. Tahapan Penelitian Ilmiah Dalam 1. proses penelitian seorang ilmiah peneliti dan harus menggunakan : Tahapan sosial dengan atau berpikir secara mencoba mengungkapkan teori dari sebuah fenomena-fenomena fakta-fakta berpikir empiris atau dan memulainya kemudian deduktif

mengintepretasikan hukum, teorti-teori, serta kaidahkaidah keilmuan lainnya. 2. Dari proses berpikir deduktif, peneliti memberikan jawaban sementara atau terhadap menjadi apa yang dalam dipermasalahkan pertanyaan

penelitian tersebut yang disebut sebagai hipotesis. Hipotesis diajukan dalam bentuk dugaan teoritis yang merupakan dasar dalam menjelaskan kemungkinan – kemungkinan adanya hubungan atau pengaruh. 3. Tahap selanjutnya dari proses penelitian , seorang peneliti harus melakukan pembuktian – pembuktian terhadap hipotesis yang telah dirumuskan yang akan menjadi jawaban sementara dalam penelitian. Dalam

pelaksanaan pembuktian, peneliti harus menyediakan piranti-piranti penelitian berupa metode penelitian guna merekam data sebagai langkah menguji hipotesis yang nantinya menunjukkan apakah hipotesis tersebut ditolak atau diterima. Kesimpulan dari fakta-fakta empiris yang diperoleh atas pengujian hipotesis akan menjadi jawaban yang sebenarnya dalam penelitian tersebut. Namun demikian proses ilmiah ini belum selesai, karena harus melalui proses analisis, yang bergerak dari hal yang bersifat khusus menuju kepada yang bersifat umum, yakni teori keilmuan sebagai sumber hipotesis dalam proses ilmiah. Kondisi inilah yang memungkinkan proses penelitian (ilmiah) tidak dapat dipisahkan dengan ilmu pengetahuan Suatu proses penelitian tidak saja menggunakan proses berpikir deduktif namun juga perlu memahami proses induktif, hal ini sejalan dengan langkah-langkah proses penelitian yang dikembangkan oleh Charles Darwin yaitu mengawinkan keduanya. Dalam proses berpikir induktif , seorang peneliti apabila telah sampai kepada kesimpulankesimpulan induktif, kemudian menarik kedalam ranah keilmuan yang telah ada, menganggap bahwa proses penelitian telah selesai dan telah menyiapkan kerangkakerangka atau landasan teori bagi penelitian lainnya sebagai wahana untuk mengembangkannya secara lebih luas lagi.

Untuk melengkapi tahapan tersebut, oleh Singarimbun dikemukakan langkah – langkah penelitian , terdiri darii serangkaian aktivitas sebagai berikut : 1. Merumuskan isu – isu penelitian 2. Merumuskan permasalahan penelitian 3. Memilih jenis penelitian yang akurat 4. Menentukan sample dari populasi objek penelitian 5. Melakukan pengukuran data 6. Mengumpulkan data 7. Melakukan analisis data 8. Menafsirkan / menterjemahkan data 9. Menyusun pelaporan 10. yaitu : 1. Pendekatan rasional – empiris ( deduktif / kuantitatif) 2. Pendekatan empiris – rasional ( induktif / kualitatif ) Mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam teori Penelitian dapat dilakukan dengan melalui dua pendekatan,

D. Merencanakan Proyek Penelitian . Penelitian yang akan berhasil adalah penelitian yang direncanakan. Hanya karena perencanaan yang kurang menyeluruh dan desain yang tidak meyakinkan banyak penelitian yang gagal, karena peneliti langsung melakukan aktivitas penelitian seperti menggunakan kepustakaan,

mencatat, mengumpulkan data, membuat observasi, dan melakukan pengolahan data. Seluruh bentuk prosedur penelitian pada dasarnya sama. Penelitian dengan latar belakang pengetahuan yang sama, seringkali harus dilakukan lebih luas jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh berbagai disiplin ilmu dalam meneliti bidangnya masing-masing. Peneliti mungkin melakukan kesalahan dengan berpikir terlalu sempit dengan membatasi masalah untuk meneliti displin ilmu tertentu. Peneliti kadang-kadang yang lebih menyukai untuk secara meneliti umum, masalah=masalah berkembang

daripada meneliti disiplin ilmu. Penelitian fisika berbeda dengan penelitian filosofi atau penelitian sejarah, Terdapat pula perbedaan yang nyata antara penelitian sebagai proses dengan metodologi dalam disiplin ilmu yang berbeda . Tidak semua disiplin ilmu menemukan ketepatan dalam mengerjakan metode yang sama pada jumlah data. Metode yang digunakan oleh seorang peneliti dengan peneliti lainnya berbeda, hal tersebut terjadi karena situasi data dengan lainnya berbeda. Penelitian harus merupakan kegiatan yang praktis, disusun dengan perencanaan yang jelas, realis dan dikerjakan dengan kerangka penelitian yang tersusun baik. Semua menggunakan penelitian kriteria hendaknya yang tepat. diuji Dalam dengan rancangan

penelitian, standar penelitian yang baik adalah sebagai berikut : a. Menyeluruh Proyek penelitian harus bias dikerjakan oleh seseorang yang mempunyai kompeten di luar pekerjaan penelitian itu sendiri b. Dapat diulang Penelitian harus bisa diulang. Peneliti yang lain harus dapat mengambil alih masalah dan mengumpulkan data dengan kondisi yang sama, parameter yang sama, serta dapat memperoleh hasil yang dapat diperbandingkan. c. Kontrol Kontrol penting untuk penelitian ulang, suatu percobaan akan diulang pada kondisi dan jalan yang sama d. Pengukuran Data yang akan diteliti harus mudah diukur. Dalam penelitian sosial lebih sulit untuk mengkuantifikasikan, mengukur atau mengevaluasi faktor-faktor kritis dalam rancangan penelitian. Perencanaan dalam proyek penelitian merupakan hal yang penting, walaupun nampaknya waktu penelitin habis untuk mempersiapkan perencanaan tersebut. Untuk memperkirakan suatu proyek penelitian diperlukan adanya studi. Dibawah ini akan ditemukan bagaimana bentuk kelayakan proyek penelitian yang dapat diterapkan secara praktis.

BAB II LINGKUP DAN KLASIFIKASI PENELITIAN

A. LINGKUP DAN KLASIFIKASI PENELITIAN Penelitian merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka pemecahan suatu permasalahan. Hasil penelitian tidak pernah dimaksudkan sebagai suatu pemecahan ( solusi) langsung atas permasalahan yang dihadapi, karena penelitian merupakan bagian saja dari usaha pemecahan masalah yang lebih besar. Penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan itu dapat bersifat abstrak dan umum sebagaimana hal dalam penelitian dasar ( basic research) dan dapat pula sangat konkret dan spesifik seperti biasanya ditemui pada penelitian terapan ( applied research) Penelitian dapat diklasifikasikan dari berbagai cara dan sudut pandang: I. Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian dibagi atas 2 macam yaitu : a. Penelitian Kuantitatif, penelitian yang menekankan pada analisis data – data numerial ( angka) yang diolah dengan metoda statisti. Pada pada dasarnya penelitian pendekatan inferensial kuantitatif dilakukan

( pengujian hipotesis) dan menyandarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis no ( nihil). Dengan metoda kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti. Pada

umumnya, penelitian kuantitatif merupakan penelitian sampel besar. b. Penelitian kualitatif, lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Hal ini bukan berati bahwa pendekatan kualitatif sama sekali tidak mengunbakan dukungan data kuantitatif akan tetapi penekannya tidak pada pengujian hipotesis, melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara berfikir formal dan argumentatif. Penelitian kualitatif vmerupakan penelitian sampel kecil II. Dilihat dari kedalaman analisisnya, penelitian diklasifikasikan atas : a. Penelitian deskriptif, melakukan analisis hanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan. Kesimpulan selalu jelas dasar faktualnya, sehingga semuanya selalu dapat dikembalikan langsung pada data yang diperoleh. Pengolahan data didasarkan pada analisis persentase dan analisis kecenderungan ( trend) b. Penelitian inferensial, antar variabel dengan melakukan analisis hubungan pengujian hipotesis. Dengan

demikian kesimpulan penelitian jauh melampaui sajian data kuantitatif saja. Dalam penelitian inferesial dapat

berbicara mengenai besarnya peluang kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. III. Dipandang dari karakteristik masalah berdasarkan kategori fungsional, penelitian dapat diklasifikasikan ( Isaac & Michael (1976) yaitu : a. Penelitian deskriftif, bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta serta karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Penelitian ini berusaha menggambarkan situasi atau kejadian. Data yang dikumpulkan semata – matabersifat deskriptif, sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajarai implikasi ( penelitian survai) b. Penelitian perkembangan, bertujuan mempelajari pola dan urutan perkembangan dan / atau perubahan, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara longitudinal dan dapat pula dilakukan secara cross sectional. Penelitian fokus kepada studi mengenai variabel – variabel dan perubahannya dalam periode bulan atau tahun, dalam upaya memperoleh jawaban atas pertanyaan. c. Penelitian lapangan atau studi kasus, tujuan studi ini adalah mempelajari secara intensif latar belakang, status terakhir, dan interaksi lingkungan yang terjadi pada suatu satuan sosial seperti individu, kelompok, lembaga, atau komunitas. Cakupan studi ini dapat meliputi keseluruhan

siklus kehidupan atau dapat pula hanya meliputi segmen – segmen tertentu saja. Penelitian ini menyelidiki banyak variabel dan banyak kondisi pada sampel yang kecil d. Penelitian korelasional, bertujuan menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi e. Penelitian kausal – komparatif, melalui penelitian ini hubungan sebab akibat dapat diselidiki lewat pengamatan terhadap konsekuensi yang sudah terjadi dan melihat ulang data yang ada untuk menemukan faktor – faktor penyebab yang mungkin terdapat disana f. Penelitian eksperimental murni, penelitiaauntuk meneliti kemungkinan adanya hubungan sebab akibat diantara variabel – variabel dengan cara menghadapkan kelompok eksperimental pada beberapa macam kondisi perlakuan dan membandingkan akibatnya ( hasilnya) dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan. g. Penelitian semieksperimental, penelitian ini meniru kondisi penelitian eksperimental murni, akan tetapi tidak semua variabel yang relevan dapat dikendalikan dan dimanipulasi. Peneliti harus menyadari betul keterbatasan penelitian ini dan seberapa jauh validitas internal dan eksternalnya.

B.

KLASIFIKASI PENELITIAN MANAJEMEN INFORMATIKA, DAN AKUNTANSI

BISNIS,

Memperhatikan tentang klasifikasi penelitian baik dari sudut pandang serta pendekatan karakteristik analisisnya, masalah kedalaman berdasarkan analisisnya,

kategori fungsional, maka klasifikasi penelitian manajemen bisnis, informatika, dan akuntansi dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Manajemen bisnis, dalam penelitiannya dapat menggunakan : - Metode deskriptif - Metode kuantitatif - Metode inferensial - Metode studi kasus - Metode Kausal – komparatif b. Manajemen menggunakan : - Metode kuantitatif - Metode inferensial - Metode studi kasus - Metode Kausal – komparatif - Metode eksperimental - Metode perkembangan c. Manajemen akuntansi, dalam penelitiannya dapat menggunakan : - Metode kuantitatif informatika, dalam penelitiannya dapat

- Metode inferensial - Metode studi kasus - Metode Kausal – komparatif - Metode eksperimental - Metode perkembangan

C. KARAKTERISTIK PENELITIAN BISNIS YANG BAIK 1. Maksud penelitian atau masalahnya harus didefinisikan dengan jelas dan tidak ambigu 2. Prosedur penelitianm harus diuraikan secara cukup rinci 3. Desain prosedur penelitian harus direncanakan dengan seksama untuk menghasilkann seobjektif mungkin. 4. Peneliti haruys melaporkan sejujurnya, kekurangan – kekurangan dalam desain prosedurnya dan menduga pengharuhnya terhadap hasil – hasil penelitian 5. Analisis data harus cukup memadai untuk mengungkapkan arti pentingnya, dan metode analisis yang dipakai harus cocok. 6. Kesimpulan harus dibatasi pada hal yang akan ditunjangh oleh data penelitian, dan juga pada hal yang mana data hasil penelitian dapaty menjadi dasar yang cukup 7. Keyakinan akan hasil penelitian lebih besar, jika penelitinya berpengalaman, mempunyai integritas,dan memiliki reputasi yang baik dalam penelitian.

D. KERJA PRAKTEK DAN TUGAS AKHIR Kerja Praktek, merupakan kewajiban bagi mahasiswa Program dengan diploma, pengetahuan sebagai yang suatu dimiliki kegiatan selama dalam menerapkan dan melihat kondisi tempat bekerja disesuaikan mengikuti perkuliahan. Selanjutnya pengalaman selama merngikuti kerja praktek, dituangkan dalam laporan kerja praktek secara komprehensif, kemudian bahan laporan tersebut dapat digunakan sebagai referensi dalam rangka menyusun laporan tugas akhir.

BAB III FORMULASI PERMASALAHAN

A. PERMASALAHAN PENELITIAN Pada dasarnya penelitian dilakukan guna mendapatkan data yang dapat Untuk digunakan itu setiap untuk penelitian memecahkan yang akan sering permasalahan. 1988 :25)

dilakukan selalu dimulai dari masalah. Menurut Tuckman bahwa memilih masalah penelitian merupakan hal yang paling sulit dalam proses penelitian 1. PENTINGNYA PERMASALAHAN Permasalahan dalam penelitian menjadi penting sebab : a. Karena penelitian permasalahan harus dapat

mengilustrasikan tingkat kepentingan penyandang dana

b.

Permasalahan yang dipilih tidak menimbulkan kerawanan dan goncangan sosial terutama menyangkut nilai dan norma yang berlaku dilingkungan masyarakat

c.

Karena permasalahan merupakan langkah awal dimulainya proses penelitian dan harus berupaya dipecahkan oleh peneliti

d.

Masalah harus feasible, karena masalah tersebut harus dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu

e.

Masalah harus jelas,

setiap orang memberikan

persepsi yang sama terhadap masalah tersebut f. Masalah harus signifikan, artinya jawaban masalah yang diberikan harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu , dan pemecahan masalah kehidupan manusia 2.TIPE PERMASALAHAN Dilihat dari apa yang diharapkan, masalah dapat

dikelompokan kedalam 3 (tiga) tipe yaitu : a. Masalah filosofis, jika gejala – gejala empirisnya tidak sesuai dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat b. Masalah Kebijakan, perilaku – perilaku atau kenyataan – kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pembuat kebijakan

c. Masalah ilmiah, kenyataan – kenyataan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan

B. BENTUK DAN PERUMUSAN MASALAH Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar – benar terjadi. Stoner ( 1982 : 257), mengemukakan bahwa sumber – sumber masalah dalam bidang manajemen adalah sebagai berikut : 1. Terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyatan 2. Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan 3. Ada pengaduan 4. Ada kompetisi Fraenkel dan Wallen ( 1990 : 22) mengemukakan masalah penelitian yang baik adalah sebagai berikut : 1. Masalah harus feasible, karena masalah tersebut harus dicari jawabannya melalui sumber yang jelas, tidak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu
2. Masalah

harus

jelas,

setiap

orang

memberikan

persepsi yang sama terhadap masalah tersebut 3. Masalah harus signifikan, artinya jawaban masalah yang diberikan harus memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu , dan pemecahan masalah kehidupan manusia

4. Masalah bersifat etis, yaitu tidak berkenaan dengan hal – hal yang bersifat etika, moral, dan nilai keyakinan. Untuk merumuskan masalah berangkat dari isu , kemudian perlu diperhatikan dua pertanyaan pokok yang membantu memperjelas masalah yaitu : 1. Mengapa masalah itu penting, untuk menjawabnya perlu diungkapkan latar belakang permasalahannya, sumber – sumber literatur yang relevan yang dapat membantu menjelaskan latar belakang, serta perlu dijajagi berbagai penelitian yang pernah dilakukann menyangkut masalah tersebut. Dari hal ini kita dapat mengungkapkan dilakukan. 2. Apa masalahnya. Untuk menjajakan di sekitar lokasi penelitian. Dengan metode induksi kita merumuskan konsep yang merupakan fokus penelitian. Selanjutnya, dengan konsep tersebut kita meruymuskan masalah penelitian secara eksplisit Biasanya kita merumuskan masalah dalam bentuk kalimat tanya, tetapi dapat juga dengan kalimat deklaratif. Contohnya : 1. Mengapa mutu pendidikan di lembaga – lembaga pendidikan kita semakin rendah ( merosot) ? 2. Mengapa lulusan perguruan tinggi di Kota X sukar mendapat pekerjaan ?
GEJALA EMPIRIS

signifikansi

penelitian

yang

akan

TEORI

ISU

MASALAH

Gambar : Membuat Perumusan Masalah

Bentuk masalah penelitian dikembangkan berdasarkan penelitian tingkat eksplanasi, yaitu : 1. Permasalahan deskriptif, adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan variabel mandiri, contohnya : Seberapa tinggi produktivitas Komparatif, pada dua kerja karyawan PT, Samudera ?. 2. Permasalahan suatu variabel adalah sampel permasalahan atau lebih . penelitian yang bersifat membandingkan keberadaan Contohnya : Adakah perbedaan produktivitas kerja

pegawai negari dan swasta ? 3. Permasalahan asosiatif, suatu pertanyaan penelitian yang bersifat menghubungkan dua variabel atau lebih. Bentuk permasalahan ini ada 3 jenis yaitu : a. Hubungan simetris, adalah suatu hu8bungan antara 2 variabel atau lebih yang bersifat kebersamaan. Contoh : Adakah hubungan antara banyaknya semut di pohon dengan tingkat manisnya buah ?. b. Hubungan kausal, adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Dalam hal ini ada variabel independen

dan variabel dependen. Contoh : Adakah pengaruh gaji terhadap prestasi kerja ?. c. Hubungan interaktif, adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini tidak tidak diketahui mana variabel independen dan variabel dependen. Contoh : Hubungan antara kepandaian dengan kekayaan. Kepandaian dapat menyebabkan kaya, demikian juga orang kaya dapat lebih pandai karena fasilitas belajar lengkap. Untuk memperjelas dan mengaplikasikan uraian diatas , penulis memberikan contoh tentang rumusan masalah dari penelitian yang penulis lakukan sebagai berikut :

Contoh : Perumusan Masalah

Bertolak

dari

pembatasan

masalah,

selanjutnya

dikemukakan pernyataan masalah penelitian secara umum yaitu Seberapa besar pengaruh variabel Kebijakan Latar Belakang Pendidikan (X2), Training (X1),

Penjenjangan

Strutural ( X3), dan Training Teknis Fungsional (X4) terhadap Kualitas Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y), baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama

Berdasarkan pernyataan masalah tersebut, maka fokus masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : a. Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Latar Belakang Struktural?. b. Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Latar Belakang Pendidikan terhadap Diklat Teknis Fungsional?. c. Seberapa Besar pengaruh Kebijakan dan Latar Belakang Pendidikan dan Diklat Penjenjangan Struktural terhadap Diklat Teknis Fungsional?. d. Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Latar Belakang Pendidikan terhadap Kualitas Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah?. e. Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Latar Belakang Pendidikan dan Diklat Penjenjangan Struktural terhadap Kualitas Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah ? f. Seberapa besar pengaruh bersama kebijakan, latar belakang pendidikan, Diklat Penjenjangan struktural, Pendidikan terhadap Diklat Penjenjangan

dan Diklat teknis fungsional terhadap Kualitas Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah ?.

Rumusan masalah penelitian tersebut dijabarkan dalam kaitan antar variabel penelitian, hal ini dikemukakan

Kerlinger ( 1973:20) bahwa variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari, dan suatu sifat diambil dari suatu nilai yang berbeda. Dengan demikian kaitan antar variabel dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

X X
1

3

ε6 Y

X

2
Gambar I.1 Kaitan Antar Variabel Penelitian

X

4

Keterangan : X1 X2 X3 X4 Y : Variabel independen Kebijakan : Variabel Independen Latar Belakang Pendidikan : Variabel independen Training Penjenjangan Strutural : Variabel Independen Training Teknid Fungsional : Variabel Dependen Kualitas Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah

BAB IV KERANGKA TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal – hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitian. Langkah kerangka teori : 1. Menjelaskan penelitian batasan tentang variabel – variabel langkah yang harus dilakukan oleh penelitii dalam membuat

2. Menjelaskan

tentang

teori

hubungan

/

pengaruh

( tergantung judul penelitian). Penjelasan tentang hubungan ini diberikan sekaligus untuk digunakan sebagai penjelasan kerangka berfikir yang kan mengarah pada hipotesis Agar kerangka teori dapat baik sesuai dengan ketentuan, peneliti dapat menggunakan pedoman sebagai berikut : 1. Kerangka teori hendaknya lengkap, meliputi konsep – konsep variabel pokok yang ada dalam permasalahan penelitiannya. 2. Kerangka teori bukan hanya langsung memberikan penjelasan tentang variabel yang dimaksud, tetapi mulai dari beberapa penjelsan umum kemudian mengarah pada alternatif yang dimaksudkan. 3. Kerangka teori tidak selalu yang diterangkan tetapi dapat juga diambil dari bidang – bidang lain yang relevan.

Pengajuan Hipotesis: Biasanya hipotesis menunjuk pada hubungan antara dua atau lebih variabel. Di awal suatu proses penelitian dikatakan bahwa peneliti dihadapkan pada problema yang ingin dicarikan pemecahannya dengan banyak informasi melalui penelitiannya. mengumpulkan

Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang dibuat peneliti bagi problema yang diajukan dalam penelitiannya. Dugaan jawaban merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian. Tujuan peneliti mengajukan hipotesis adalah agar dalam kegiatan penelitiannya, perhatian peneliti terfokus hanya pada informasi atau data yang diperlukan bagi pengujian hipotesis. Agar pemilihan alternatif dapat tepat, peneliti dituntut untuk hati – hati dan cermat. Menurut Borg dan Gall ada 3 syarat bagi hipotetsis yang baik : 1. Harus menggambarkan hubungan dua atau lebih variabel 2. Dirumuskan sesuai dengan dasar yang kuat 3. Dapat diuji serta dinyatakan dalam rumusan yang singkat dan padat. Tidak semua penelitian harus berhipotesis. Jika peneliti tidak mempunyai jawaban sebelum melakukan penelitian, maka yang dilakukan adalah penelitian tanpa hipotesis. Jenis penelitian tanpa hipotesis yaitu penelitian deskriptif, historis, filosofis, tindakan. A. STUDI PUSTAKA DAN TUJUAN STUDI PUSTAKA Uraian mengenai cara – cara mengkaji bahan pustaka, bukan hanya berguna bagi peneliti yang akan menyusun pelacakan, penelitian evaluasi, dan penelitian

proposal penelitian. Penyusun proposal penelitian menelaah sumber dengan tujuan untuk mmemperoleh pengetahuan yang sifatnya umum dan sedapat mungkin menyeluruh karena baru akan memilih problema yang akan digarap. Penyusun laporan penelitian di dalam menelaah bahan pustaka sudah digiring perhatiannya oleh permasalahan yang sedang di tekuni, yaitu terpecahnya problematika penelitian yang sudah dirumuskan serta sudah dicarikan data. Agar uraian tentang cara mengkaji bahan jenis sumber bahan pustaka sebagai berikut : I. Jenis sumber bahan pustaka. Untuk memperoleh informasi mengenai teori dan hasil penelitian, peneliti dapat mengkaji berbagai sumber yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.

pustaka

berurutan dan mudah dipahami, maka perlu dikemukakan

Klasifikasi Menurur bentuk : dibedakan atas

susmber tertulis atau dokumen ( printed materials) : buku harian, surat kabar, majalah, buku notulen rapat, buku inventaris, buku – buku pengetahuan, surat keputusan . dan sumber bukan tertuliskan ( Non Printed Materials) : rekaman suara, benda purbakala, film , dan slide
b.

Klasifikasi menurut isi : dibedakan sumber sumber bahan atau dokumen yang

primer dan sumber sekunder . Sumber primer : dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau

pihak yang hadir pada waktu kejadian yang digambarkan tersebut berlangsung, sehingga mereka dapat dijadikan saksi. Termasuk sumber primer : buku harian, notulen rapat, manuskrip, memorandum akhir jabatan, dan lain sebagainya yang berasal dari tangan pertama Sumber sekunder : sumber bahan kajian yang digambarkan oleh bukan orang yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung. Termasuk sumber sekunder : bahan publikasi, buku teks ( buku ajar) 2. Tujuan studi pustaka adalah : 1. Memudahkan peneliti untuk memberikan pengertian pengertian yang berkaitan dengan variabel penelitian .
2. Memudahkan

peneliti

memberikan

penjelasan

mengenai istilah dalam proses penelitian 3. Memudahkan peneliti dalam rangka mengemukakan sumber teori yang dijadikan landasan dalam penelitian 4. Membimbing peneliti dalam mengaplikasikan teori, cara menyusun data, mengolah data, dan menganalisis data

3. Manfaat peneliti harus melakukan kajian pustaka : 1. Peneliti akan mengetahui dengan pasti apakah

permasalahan yang dipilih untuk memecahkan melalui penelitian betul – betul belum pernah diteliti oleh orang terdahulu.

2. Dengan mengadakan kajian literatur peneliti dapat mengetahui masalah – masalah lain yang mungkin ternyata lebih menarik dibandingkan dengan yang telah dipilih terdahulu 3. Dengan mengetahui banyak hal yang tercantum di dalam literatur, peneliti akan dapat lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya. 4. Penelitian merupakan kegiatan akademik, peneliti adalah ilmuawan, maka harus bersifat jujur, terbuka, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. B. SUMBER – SUMBER KEPUSTAKAAN DAN PEMILIHAN SUMBER

Sumber – sumber kepustakaan dibedakan sumber primer dan sumber sekunder . Sumber primer : sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau pihak yang hadir pada waktu kejadian yang digambarkan tersebut berlangsung, sehingga mereka dapat dijadikan saksi. Termasuk sumber primer : buku harian, notulen rapat, manuskrip, memorandum akhir jabatan, dan lain sebagainya yang berasal dari tangan pertama Sumber sekunder : sumber bahan kajian yang digambarkan oleh bukan orang yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung. Termasuk sumber sekunder : bahan publikasi, buku teks ( buku ajar) Pemilihan sumber kepustakaan :

1. Dari

sumber

yang

telah

terdokumentasikan yang berwenang

dan (Data

dilegalisasi

oleh

institusi

sekunder Kerpendudukan dari BPS Statistik) 2. Dari hasil penelitian yang telah dipublikasikan dan diakui secara keilmuan. 3. Dari hasil penerbitan jurnal ilmu pengetahuan nasional maupun internasional yang telah terdokumentasikan secara faktual C. DESKRIPSI TEORI Deskripsi teori dalam penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori ( bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku ), dan hasil – hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan / dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung padea jumlah varibel yang diteliti. penelitian terdapat 3 variabel Apabila dalam suatu independen dan satu

dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada 4 kelompok teori, yaitu kelompok teori berkenaan dengan 3 variabel independen dan satu dependen. Oleh karena itu semakin banyak variabel yang diteliti , maka akan semakin banyak teori yang perlu dikemukakan. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan t erhadap variabel – variabel yang diteliti, melalui

pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Untuk menguasai teori, maupun generalisasi – generalisasi dari hasil penelitian , maka peneliti harus rajin membaca. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar ia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah – langkah berikutnya. Langkah – langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut : 1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya 2. Cari sumber – sumber bacaan yang sebanyak – banyaknya dan yang relevan dengan setiap variabel yang diteliti. 3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti 4. Cari definisi setiap variabel pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. 5. Baca seluruh isi topik buku yang sesuai dengan variabel yang diteliti, lakukan analisis, kemudian buatlah

rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca. Setiap peneliti selalu menggunakan teori. Seperti yang dinyatakan Neumen (2003) researchersr use theory differently in various types of research, but some type of theory is present in most social reserach. Kemudia Kerlinger (1978) bahwa theory is a set of interrelated construct ( concepts) definitions, and prepositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables with purpose of explaining and predicting the phenomena. ( teori adalah seperangkat konstruk / konsep, definisi, proposisi yang befungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variable sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Mark ( 1963) mengemukakan 3 macam tiga teori yang berhubungan dengan data empiris sebagai berikut : 1. Teori yang deduktif : memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan 2. 3. yaitu Teori yang induktif : cara menerangkan adalah Teori yang fungsional : disini tampak suatu data mempengaruhi pembentukan teori dan dari data ke arah teori interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, pembentukan teori kembali mempengaruhi data

Kegunaan teori dalam penelitian : Cooper and Schindler ( 2003) menyatakan bahwa kegunaan teori dalam peneltian adalah : 1. Theory narrows the range of fact we need to study 2. Theory suggest which research approaches are like to yield the greatest meaning 3. Theory suggest a system for the research to impose on data in order to classify them in the most meaningful way 4. Theory summarizes what is known about object of study and states the uniformities that lie beyond immediate observation 5. theory can be used to predict further fact that should be found. D. KERANGKA BERFIKIR Uma Sekaran ( 1992), mengemukakan bahwa

kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berfikir yang baik
1. Akan

menjelaskan secara teoritis

pertautan

antar

variabel yang kan diteliti 2. Secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen

3. Sebagai penelitian.

dasar

dalam

penyusunan

paradigma

Seorang peneliti harus menguasai teori – teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala – gejala yang menjadi objek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur – alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori – teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antarvariabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis. Untuk memperjelas proses penyusunan kerangka berfikir untuk merumuskan hipotesis, digambarkan sebagai berikut :

Variabel X

Variabel Y

Membaca buku & Hasil penelitian

Membaca buku & Hasil penelitian

Membaca buku & Hasil penelitian

Membaca buku & Hasil penelitian

Deskripsi teori & HP

Deskripsi teori & HP

Deskripsi teori & HP

Deskripsi teori & HP

Analisis Kritis terhadap teori & HP

Analisis Kritis terhadap teori & HP

Analisis Kritis terhadap teori & HP

Analisis Kritis terhadap teori & HP

Analisis Komparatif tehdp teori & HP yg diambil

Analisis Komparatif tehdp teori & HP yg diambil

Analisis Komparatif tehdp teori & HP yg diambil

Analisis Komparatif tehdp teori & HP yg diambil

Sintesa / Kesimpulan Teori dan HP

Sintesa / Kesimpulan Teori dan HP

Kerangka Berfikir

Perumusan Hipotesis

Selanjutnya Uma Sekaran ( 1992), bahwa kerangka berfikir yang baik memuat hal – hal sebagai berikut : 1. Variabel – variabel yang akan diteliti harus dijelaskan 2. Diskusi antar 3. Diskusi dalam variabel juga kerangka yang harus diteliti, dapat berfikir dan harus ada teori dapat yang dan menunjukkan dan menjelaskan pertautan / hubungan mendasari menunjukkan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausal atau interaktif 4. kerangka berfikir selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram ( paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian. E. HIPOTESIS DAN BENTUK HIPOTESIS PENELITIAN Perumusan hipótesis penelitian merupakan langkah

ketiga dalam penelitian. Setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. penelitian harus merumuskan Tetapi tidak setiap Hipótesis hipótesis.

merupakan jalaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah telah dinyatakan

dalam bentuk kalimat pertanyaan . Dikatakan jawaban sementara, karena jawaban baru didasarkan lepada teori yang relevan, Belem didasarkan pada falta –fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Penelitian yang merumuskan hipotesis ádalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Dan selanjutnya hipótesis tersebut akan diuji dengan pendekatan kuantitatif. Bentuk – bentuk Hipótesis: Bentuk bentuk hipótesis penelitian Sangat terkait

dengan rumusan masalah penelitian. Bila dlihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada 3 yaitu : Rumusan Komparatif masalah deskriptif dan (variable ( mandiri), hubungan). (perbandingan), asosiatif

Bentuk hipotesis juga tiga seperti rumusan masalah yaitu : 1. Hipotetsis deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah desktiptif, yaitu yang berkenaan dengan variable mandiri : a. Rumusan masalah deskriptif :
-

Berapa daya tahan lampu pijar merk Ok?

- Sewberapa tinggi semangat kerja karyawan di PT. KO ? b. Hipotetsis deskriptif:
-

Daya tahan OK = 600 jam

( H0), Ini merupakan

hipotesis 0 (H0), karena daya tahan lampu yang nyata

berbeda dengan yang diharapkan ( 600 Jam). Hipotesis alternatifnya ( Ha) yaitu : Daya tahan lampu pijar merk OK = 600 jam. Tidak sama dengan hal ini, bisa lebih besar atau lebih kecil dari 600 jam. c. Hipotesis Statistik, hanya ada bila berdasarkan data sampel - H0 : µ = 600 - Ha : µ = 600 atau > 600 atau < 600
-

µ adalah nilai populasi yang dihipotesiskan.

Untuk rumusan masalah no 2 H0 dapat berbentuk : a. Semangat kerka karyawan di PT.KO = 75% dari kriteria ideal yang diterapkan
b. Semangat kerja karyawan di PT . KO paling sedikit 60%

dari kriteria ideal yang diterapkan (paling sedikit berarti lebih besar atau sama dengan > )
c. Semangat kerja karyawan di PT . KO paling banyak 60%

dari kriteria ideal yang diterapkan (paling banyak berarti lebih kecil atau sama dengan > ) Dalam kenyatannya hipotesis yang diajukan salah satu saja, dan hipotesis mana yang dipilih, tergantung pada teori dan pengamatan pendahuluan yang dilakukan pada objek. Ha masing – masing adalah : a. Semangat kerja karyawan di PT. K = 75% b. Semangat kerja karyawan di PT. K < 75% c. Semangat kerja karyawan di PT. K > 75%

Hipotetsis statistiknya ( apabila berdasarkan data sampel ) adalah : a. H0 : p = 75% ( p = propesi / prosentase) Ha : p = 75% b. H0 : P > 75% Ha : p < 75% c. H0 : P < 75% Ha : p > 75%
2. Hipotetsis

komparatif, variabelnya sama

merupakan tetapi

jawaban dan

sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Rumusan Contoh: a. Rumusan masalah komparatif :
1.

populasi

sampelnya berbeda

Bagaimanakah produktivitas kerja karyawan PT. KO bila dibandingkan dengan PT. KP ?

2. Adakah perbedaan gaya kepemimpinan di lembaga KO dan KP ? b. Hipotesis untuk No. 1 sebagai berikut :
1. Tidak terdapat perbedaan productivitas verja antara

karyawan

di

PT.

KO

dan

PT.

KP

atau

terdapat

persamaan produktivitas kerja antara karyawan PT. KO dan PT . KP (H0) Hipotesis alternatifnya ( Ha) :

Terdapat perbedaan produktivitas kerja Karyawan PT, Ko dan PT. KP. 2. Produktivitas kerja karyawan PT. KO lebih kecil atau sama dengan karyawan PT. KP (H0) Hipotesis alternatifnya : Produktivitas kerja karyawan PT. KO lebih besar dari karyawan PT. KP ( Ha) 3. Produktivitas kerja karyawan PT KO lebih besar atau sama dengan karyawan PT. KP (H0) Hipotesis alternatifnya : Produktivitas kerja karyawan PT. KO lebih kecil dari karyawan PT. KP ( Ha) c. Hipotesis statistik untuk ke 3 rumusan tsb : 1.H0 : µ1 = µ2 Ha : µ1 = µ2 2. H0 : µ1 Ha : µ1 3. H0 : µ1 Ha : µ1 µ1 µ2 < µ2 > µ2 > µ2 < µ2

= Rata – rata produktivitas karyawan X
=

Rata – rata produktivitas karyawan Y asosiatif, rumusan Adalah masalah jawaban sementara yaitu

3. Hipotetsis terhadap

asosiatif,

menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Contoh : a. Rumusan masalah asosiatif:

1. Adakah hubungan antara pengawsan melekat dengan efisiensi kerja pegawai di departemen LN 2. Adakah hubungan antara disiplin kerja dengan gaya kepemimpinan di PT. Gembira b. Hipotetsis Penelitian H0 : tidak terdapat hubungan antara pengawasan melekat dan efisiensi kerja di departemen LN Ha : Terdapat hubungan positif antara pengawasan melekat dan efisiensi kerja di departemen LN C. Hipotetsis statistik : H0 : p = 0 Ha : P = 0 0 artinya tidak ada hubungan tidak sama dengan 0 artinya lebih besar atau kurang Dari 0 berarti ada hubungan P = Nilai korelasi dalam formulasi yg dihipotesiskan

F. KARAKTERISTIK HIPOTESIS YANG BAIK Menurut Borg dan Gall ada 3 syarat bagi hipotetsis yang baik :
a. Harus

menggambarkan hubungan dua atau lebih

variabel b. Dirumuskan sesuai dengan dasar yang kuat

c. Dapat diuji serta dinyatakan dalam rumusan yang singkat dan padat.

BAB V DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian merupakan cetak biru yang

menentukan pelaksanaan selanjutnya. Penyusunan desain ini dilakukan setelah ditetapkan judul / topik penelitian yang akan dilaksanakan. Desain penelitian memaparkan apa, mengapa, dan bagaimana masalah tersebut diteliti dengan menggunakan prinsip – prinsip metodologis yang telah dibicarakan sebelumnya. Berkaitan dengan persyaratan desain penelitian yaitu substansi penelitian dan metodologi penelitian, maka desain penelitian dibagi dalam 2 pokok, yaitu konseptualisasi masalah dan operasionalisasi. Kedua pokok tersebut disusn dalam pokok – pokok sebagai berikut : 1. Latar belakang penelitian 2. Tujuan dan hipotesis 3. Kerangka dasar penelitian 4. Penarikan sampel 5. Metode pengumpulan data

6. Analisis data Dibawah ini digambarkan Unsur – unsur pokok desain penelitian sebagai berikut :

Latar Belakang:
Latar belakang Masalah Gejala – gejala umum & khusus Perumusan masalah Signifikansi Penelitian

Konseptualisasi masalah

Tujuan:
Tujuan Hipotesis

Kerangka Hipotesis: Definisi operasional
Indikator empiris Pengukuran Kerangka hubungan

Penarikan sampel: Satuan analisis
Populasi Sampel
Metodologi

Metode Pengumpulan data

Analisis data: Analisis pendahuluan Analisis lanjut

A. TUJUAN STUDI PENELITIAN Sebagai suatu kegiatan ilmiah, penelitian memiliki tujuan yaitu : 1. Kegiatan penelitian dalam kerangka pemecahan permasalahan, walaupun tidak memberikan jawaban langsung terhadap permasalahan yang diteliti, tetapi hasilnya harus memberikan kontribusi dalam usaha pemecahan permasalahan. 2. Hasil penelitian harus memberikan penjelasan akan fenomena yang menjadi pertanyaan 3. Penelitian harus dapat melandasi keputusan serta tindakan pemecahan permasalahan Guna memperjelas uraian diatas, dikemukakan tujuan dan manfaat penelitian yang lazim digunakan oleh para peneliti sebagai berikut : Contoh : Maksud Dan Tujuan Penelitian

Penelitian

ini

bermaksud

untuk

mendeskripsikan,

mengkaji dan menganalisis proses pelaksanaan kebijakan pengembangan kemampuan profesional dan Latar belakang pendidikan aparatur/pegawai serta pengaruhnya terhadap peningkatan Kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah oleh Pemerintah Daerah beserta aspek-aspek yang terkait di dalamnya, sebagai bagian dari implementasi kebijakan pemerintah untuk membangun Kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah. Adapun tujuannya adalah mempelajari, mengkaji dan menganalisis tentang pengaruh antara kebijakan pengembangan kemampuan profesional, latar belakang pendidikan aparatur pemerintah daerah, dan peningkatan kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mendapatkan gambaran empiris tentang variabel Kebijakan, Latar Belakang Pendidikan, Diklat Penjenjangan Struktural, dan Diklat Teknis Fungsional terhadap kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah. b. Untuk mengidentifikasi alternatif- alternatif pengaruh Kebijakan, Latar Belakang Pendidikan, Diklat Penjenjangan Struktural, dan Diklat Teknis Fungsional terhadap kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah.

Manfaat Penelitian Dalam studi kebijakan pemerintah, upaya dalam memahami wujud nyata proses implementasi kebijakan merupakan sesuatu yang sangat penting. Dalam kaitan ini bagaimana kebijakan pemerintah dalam membangun SDM aparatur, dalam hal ini aparatur pemerintah daerah diwujud nyatakan pada level yang paling operasional, yaitu oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Badan Diklat. Dengan jumlah widyaiswara sebanyak 41 orang yang mengasuh peserta diklat sebanyak 890 orang pada program Diklat Struktural dan Fungsional, menjadi penting dan menarik untuk dikaji lebih dalam peran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah. Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
a. Secara akademis yaitu bahwa penelitian ini akan

memberikan kontribusi positif bagi pengembangan teori atau studi kebijakan pendidikan dan latihan aparatur, sebagai bagian dari kebijakan pemerintah (public policy) serta sebagai bagian dari studi administrasi pendidikan. Secara lebih khusus diharapkan menjadi bagian penting dari pengembangan sebagai teori bagian implementasi dari studi kebijakan kebijakan pendidikan,

pemerintah yang akhir-akhir ini mengemukakan untuk dikaji lebih mendalam;

b. Secara praktis-institusional, yaitu bahwa penelitian

ini hasilnya dapat bermanfaat bagi Pemerintah Daerah dan Badan Diklat sebagai bagian dari implementing agent dari kebijakan pemerintah untuk membangun sumber daya manusia. Secara lebih khusus bermanfaat bagi para pengambil keputusan (decision makers) pada berbagai jenjang tentang organisasi di Pemerintah Kota Tasikmalaya dan bagaimana mengembangkan

memberdayakan aparatur pemerintah daerahnya sebagai bagian integral dari manajemen sumber daya manusia (human resource management). Dengan hasil penelitian ini diharapkan peningkatan kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah yang dilakukan di masa depan lebih mendukung upaya tercapainya tugas, fungsi dan wewenang Badan Diklat sebagai institusi pendidikan dan latihan aparatur. B. TIPE HUBUNGAN VARIABEL Menurut Hatch & Farhady ( 1981) Variabel dapat didefinisikan sebagai atributy dari seseorang atau obyek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain. Tinggi badan, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut dari obyek.

Menurut Kerlinger ( 1973) bahwa variabel adaa atau sifat yang akan dipelajari. Contoh : Tingkat aspirasi, peeeeeeee, status soial, jenis kelamin, golongan gaji, produktivv. Dan menurut yang bersangkutan bahwa variabel dapat dikatakan sebagau suatu sifat yang diambil d ari sesuatu yang berbeda. Sedangkan menurut Kidder ( 1981) menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas di mana peneliti ingin mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya, maka macam – macam variabel dapat dibedakan sebagai berikut : 1. yaitu Contoh : Kemampuan kerja dan produktivitas Kemampuan kerja = VI Produktivitas 2. konsekuen, = VD Variabel dependen : variabel output, kriteria, variabel terikat., yaitu variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas contoh produktivitas, motivasi kerja 3. Variabel Moderator : yaitu variabel yang mempengaruhi hubungan antara variabel independen Variabel independen : Variabel bebas, sering juga disebut variabel stimulus, prediktor, merupakan variabel yang antecedent, sebab menjadi

perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)

dengan dependen. Variabel ini juga disebut variabel independen ke 2 4. Variabel intervening : yaitu variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen, tetapi tidak dapat diukur 5. peneliti Variabel kontrol, yaitu variabel sehingga dapat melakukan penelitian yang bersifat membandingkan. Bahwa inti penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antar variabel. Hubungan yang paling dasar adalah hubungan antara dua variabel, variabel pengaruh ( indpenden variabel) dengan variabel terpengaruh ( dependen variabel). Apabila hubungan antara variabel merupakan inti penelitian ilmiah, maka tentunya perlu diketahui berbagai macam hubungan antara variabel lainnya. Berikut ini diuraikan 3 jenis / tipe hubungan simetris, hubungan timbal balik (reciprocal) dan hubungan simetris. Berbagai hubungan variabel dapat dilihat sebagai berikut : Tipe hubungan antar variabel : I. Hubungan simetris: a. Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama b. Kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang sama c. Kedua variabel berkaitan secar fungsional d. Hubungan yang kebetulan semata – mata II. Hubungan timbal balik

III. Hubungan a simetris a. Hubungan antara stimulus dan respons b. Hubungan antara disposisi dan respons c. Hubungan anatara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku d. Hubungan yang imanen e. Hubungan antara tujuan dan cara C. LINGKUNGAN PENELITIAN ( Lokasi penelitian) Lingkungan penelitian merupakan suatu hal yang sangat penting dalam proses penelitian, sebab ketepatan objek, lokasi dan ke akuratan data, tergantung kepada bagaimana peneliti menentukan lingkungan hal ini, penelitian. perlu Untuk memudahkan Jenis memahami dapat diperhatikan tujuan,

mengenai jenis penelitian . penelitian dikelompokkan menurut pendekatan, tingkat eksplanasi, dan jenis data, hal ini disusun sebagai berikut : 1. Lingkungan Penelitian dasar dasar Penelitian berdasarkan dapat penelitian

menurut tujuan. berdasarkan tujuan dikelompokkan dan tidak di menjadi penelitian murni ( dasar) dan terapan. Penelitian bertujuan ( murni) mengembangkan pada teori memperhatikan kegunaan yang bersifat praktis. Penelitian umumnya dilakukan

laboratorium

yang

kondisinya

terkontrol

dengan

ketat. Dan penelitian terapan dilakukan dengan tujuan menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori atau memecahkan permasalahan kehidupan praktis menggunakan pengetahuan ilmiah, hal ini dilakukan di objek kemasyarakatan. 2. Lingkungan Penelitian Penelitian berdasarkan ini penelitian menurut pendekatan menurut pendekatan dikelompokkan menjadi penelitian survey, ex post facto, eksperimen, naturalistik, policy research, action research, evaluasi dan sejarah.
a.

penelitian

survey, peneilitian

ini

dilakukan

untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam terutama berhubungan dengan variabel sosiologis, maupun psikologis dan objeknya di lingkungan masyarakat.
b.

Penelitian Ex Post Facto,

penelitian yang

dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi , kemudian melihat kebelakang untuk mengatahui faktor – faktor penyebabnya . Lingkungan kegiatannya di alam terbuka / di lapangan.
c.

Penelitian

eksperimen,

penelitian

untuk

mencari pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain dilakukan di laboratorium

d. e. f.

Penelitian naturalistik, penelitian yang dilakukan Policy research, dilakukan di lingkungan institusi Action research, lingkungan penelitiannya di

pada objek yang natural atau alam. pemerintahan / swasta lakukan dalam suatu organisasi, karena tujuan utamanya dalam penelitian ini adalah mengubah situasi, perilaku, struktur organisasi, iklim kerja, dan kelembagaan. g. organisasi Penelitian evaluasi, atau dilakukan dilingkungan karena pemerintahan perusahaan,

penekanan nya kepada efektivitas pencapaian program yang berupa produk tertentu termasuk feedbacknya. h. Penelitian sejarah, dilakukan di laboratorium lapangan, khusus. 3. Lingkungan penelitian berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi, pada umumnya dilakukan di lingkungan suatu organisasi 4. Lingkungan penelitian berdasarkan menurt jenis data, lingkungan penelitiannya lebih luas tergantunga data yang digunakan, dapat dilingkungan laboratorium, pada suatu organisasi, dilingkungan kehidupan masyarakat , dan di alam terbuka. alam terbuka, dan laboratorium

D. UNIT ANALISIS penelitian)

DAN

HORIZON WAKTU

(waktu

Berdasarkan teknis analisis data dalam penelitian, unit analisis yang digunakan meliputi : 1. Statistik deskriptif dan infernsial 2. statistik parametrik dan non parametrik 3. Analisis statistik Waktu penelitian untuk setiap jenis penelitian berbeda namun berdasarkan beberapa pakar dan pengalaman dalam pelenlitian horizon waktu yang dibutuhkan berkisar antara 3 hingga 1 tahun, dan ini dikemukakan pada proposal penelitian. Untuk lebih memahami tentang horizon waktu penelitian, disampaikan contoh jadwal penelitian sebagai berikut : Pada jadwal penelitian ini dirancang mulai dari

persiapan sampai kepada ujian tesis. Waktu yang digunakan dalam rancangan penelitian ini selam 10 ( sepuluh 10 bulan dengan perincian sebagi berikut :

.JADWAL PENELITIAN
No 1. 2. 3. 4. 5. KEGIATAN Persiapan Mengajukan judul dan masalah Membuat usulan penelitian Konsultasi Seminar usulan Penelitian Pengumpulan Data Pengolahan Data Penulisan tesis Ujian tesis * * * * * * * * * JUN JUL AGS B U SEP OKT L A N NOV DES JAN PEB MRT

*

*

* *

Keterangan : * = Waktu pelaksanaan kegiatan

E. PENGUKURAN KONSTRUCT Dalam pengukuran konstruct,berkaitan dengan hasil penelitian yang valid dan reliable. Maka untuk itu diperlukan pengujian data berdasar instrumen validitas dan reliabilitas. Pengujian validitas konstruct dapat digunakan pendapat dari para ahli ( Judgement Experts) .

Rumus yang digunakan untuk pengukuran konstruct yaitu : a. Korelasi Spearman digunakan skala apabila pengukuran Langkah-

instrumen

menggunakan

ordinal.

langkahnya sebagai berikut : • Menentukan hipotesis statistik Ho : Butir I dalam kuesioner tidak valid Hi : Butir I dalam kuesioner valid • Penggunaan rumus Spearman
rs =
6Σdi 2 n( n 2 − 1)

…………………..

jika tidak ada data

kembar

rs =

ΣΧ2 2

+ Y2 ΣX 2

Σ

+ ΣY 2

Σdi 2

…… jika ada data kembar

(X dan Y merupakan variabel hasil pengamatan dari d i =R (X 1 -R(Y 1 )

b. Rumus Korelasi Pearson untuk menguji validitas : Korelasi Pearson digunakan apabila tingkat pengukuran mempunyai skala interval. Langkah-langkahnya sebagai berikut :

• Menetapkan hipotesis statistik Ho : Dimana butir ke-I dalam kuesioner tidak valid H1 : Dimana butir ke-I dalam kuesioner valid • Penggunaan rumus korelasi Pearson
rxy =
nΣ ΧΥ − (Σ Χ ) nΣ − (Σ Χ ) )
2 2

(Σ Υ ) (Σ Υ 2 ) )

Keterangan :

n

: Ukuran sample

X dan Y: Variabel penelitian

Criteria uji menolak Ho pada taraf uji ∝ jika t ∝.n.2

< t hitung artinya butir pernyataan dalam kuesioner valid.

BAB VI PEMILIHAN DATA PENELITIAN
A. POPULASI PENELITIAN Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek / subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang dapat ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda – benda alam lainnya. Populasi bukan hanya sekedar jumlah yang ada pada objek / subjek penelitian , tetapi meliputi seluruh karakteristik / sifat yang dimiliki oleh objek / subjek penelitian Misalnya organisasi merupakan akan dilakukan maka Di penelitian / di lembaga / ABJAD, lembaga lembaga organisasi ABJAD

populasi.

tersebut

mempunyai

pegawai berati populasi dalam arti kuantitas / jumlah pegawai. Tetapi lembaga/organisasi tersebut mempunyai karakteristik, misal motivasi kerjanya, kepemimpinannya, displin kerjanya, dan iklim organisasinya.

B. SAMPEL PENELITIAN

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, peneliti tidak memungkin melakukan penelitian terhadap populasi tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan dana, waktu, dan tenaga. Maka peneliti akan menggunakan sampel dari populasi tersebut sebagai objek / subjek penelitiannya.

C. TEKNIK SAMPLING Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang digunakan, secara skematis sebagai berikut :

Teknik sampling

Probability sampling

Non Probability sampling

1. Simple random sampling 2. Proportionate stratified random sampling 3. DisProportionate stratified random sampling 4. Area ( Cluster) sampling ( daerah)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Sampling sistematis Sampling kuota Sampling aksidental Purposive sampling Sampling jenuh Snowball sampling

1. Probability sampling : adalah teknisk sampling yang

memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel a. Simple random sampling, karena cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata anggota populasi
b. Proportionate

stratified random sampling,

Teknik ini digunakan apabila populasi mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional
c. DisProportionate

stratified ini digunakan

random untuk

sampling,

teknik

menentukan sampel apabila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misal populasi pegawai di PT. ASDAM meiliki pegawai lulusan S3 4 orang, Lulusan S2 2 orang, 50 Lulusan S1, 800 orang lulusan SLTA, 700 orang lulusan SLTP, maka unutk 4 orang lulusan S3 dan 2 orang l;ulusan S2 semuanya digunakan sebagai sampel karena jumlahnya sedikit.
d. Area ( Cluster) sampling ( daerah), teknik ini diambil apabila

daerah yang digunakan untuk menentukan sampel sangat luas
2. Non Probability sampling,

adalah teknik sampling

yang tidak memberi peluang / kesempatan yang sama

bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel . Teknik sampling ini terdiri dari :
a.

Sampling

sistematis,

adalah

teknik

pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor. Misal populasi 100 orang, setiap anggota populasi diberi nomor 1 sampai dengan 100. Pengambilan samplenya dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja, atau genap saja, ataupun kelipatan bilangan tertentu.
b.

Sampling

kuota,

teknik

untuk

menentukan

sampel dari populasi yang mempunyai ciri – ciri tertentu sampai jumlah yang diinginkan
c.

Sampling aksidental, yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan kebetulan dan cocok dijadikan sumber data

d.

Purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Misal akan melakukan penelitian manajemen komputer, maka ahli komputer akan menjadi sampel

e.

Sampling jenuh, teknik penentuan sampel bila semua sampel anggota populasi digunakan sebagai

f.

Snowball sampling, teknik penentuan sampel yang mula – mula jumlahnya kecil, kemudian

membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama – lama menjadi lebih besar . D. MENENTUKAN UKURAN SAMPEL Menurut Isaac & Michael, untuk tingkat kesalahan 1%, 5%,dan 10%. Rumusnya sebagai berikut :

λ2. N . P . O S = D2 ( N -1 ) + λ2 . P . O

Keterangan : λ2. dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%,5%,10% P = Q = 0,5 ; d = 0,05 ; s = jumlah sampel Dalam nomogram Henry king, jumlah populasi maksimum 2000, dengan taraf kesalahan yang bervariasi 0,3% sampai dengan 15%, dan faktor pengali yang disesuaikan dengan taraf kesalahan yang ditentukan. Dalam nomogram untuk confident 90% interval ( Derajat 1,195 kepercayaan) dan untuk 80% 99% faktor faktor pengalinya 0,780, untuk 85% faktor pengalinya 0,785, untuk faktor pengalinya pengalinya 1,573 E. KESALAHAN STATISTIK

Dalam menaksir parameter populasi berdasarkan data sampel secara statistik kemungkinan akan terdapat dua kesalahan yaitu :
1. Kesalahan tipe 1. adalah suatu kesalahan bila menolak

hipotesis nol ( H0) yang sebenarnya diterima. Dalam hal ini tingkat kesalahan dinyatakan dengan α ( alpha)
2. Kesalahan

tipe

2.

adalah

suatu

kesalahan

bila

menerima hipotesis yang salah ( seharusnya ditolak). Tingkat keslahan ini dinyatakan dengan β ( betha) Apabila nilai statistik ( data sampel) yang diperoleh dari hasil pengumpulan data dengan nilai parameter populasi atau masih pada nilai interval parameter populasi. Maka hipotesis yang telah dirumusk% tanpa ada kesalahan. Tetapi apabila nilai statistik tersebut Tingkat akan semakin besar di luar nilai parameter apabila nilai statistik level of populasi, maka akan terdapat kesalahan. Kesalahan menyimpang jauh dari nilai parameter. kesalahan tersebut dinamakan significance atau tingkat signifikansi. Dalam praktek tingkat signifikansi ini telah ditetapkan terlebih dahulu oleh peneliti sebelum hipotesis diuji. Biasanya tingkat signifikansi yang digunakan 1% dan 5% . Suatu hipotesis terbukti memiliki kesalahan 1%, artinya peneliti mengambil 100 sampel dari populasi yang sama (satu populasi), maka akan terdapat 1 kesalahan generalisasi. Dan dalam praktek pengujian hipotesis kebanyakan

digunakan kesalahan tipe 1 (α ( alpha) artinya berapa % kesalahan untuk menolak hipotetsis yang benar ( seharusnya diterima)

BAB VII METODE DAN INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian mempunyai tujuan mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti. Tujuan untuk mengetahui haruslah menggunakan metode atau cara – cara yang efisien dan akurat. Data dari tangan pertama (data Primer) biasanya diperoleh melalui observasi akan tetapi seringkali tidak efisien karena untuk memperolehnya diperlukan sumberdaya yang lebih besar. Sebaliknya, data dari tangan kedua (data sekunder) yang biasanya diperoleh dari otorita atau fihak yang berwenang, mempunyai efisiensi yang tinggi tetapi kadang – kadang kurang akurat.

A. JENIS DATA Data primer dan data sekunder dapat pula digolongkan menurut jenisnya sebagai : a. Data Kuantitatif, data yang berupa yang diperoleh melalui pengukuran ( alat ukur) misalnya jumlah, berat, dan semuanya berbentuk angka b. Data kualitatif, data yang diberikan pengertian / ditafsirkan dengan narasi atau penjelasan

B. SUMBER DATA Menurut sumbernya, data penelitian digolongkan

sebagai dat primer dan data sekunder. Data primer atau data tangan pertama, adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung sebagai sumber informasi yang dicari . Data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh lewat pihak lain , tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subyek penelitiannya. Data sekunder biasanya berbentuk data dokum,entasi atau data laporan yang telah tersedia C. SKALA PENELITIAN

Skala pengukuran dapat berupa skala nominal, skala ordinal, a. skala interval, dan skala rasio. Skala dalam penelitian yang digunakan terdiri dari : Skala Likert, digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial . Jawaban responden terdiri dari : Sangat setuju, ( SS) setuju, (S) cukup setuju, ( CS) kurang setuju, ( KS) dan tidak setuju (TS) b. 3 2 1 ini dilakukan bila 5 4

Skala Guttman, dalam skala

ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. ( Jawaban Ya atau tidak) c. d. Rating Scale, data yang mentah diperoleh berupa Semantic deferensial, digunakan untuk angka kem,udian ditafsirkan dalam penelitian kualitatif mendapatkan jawaban sangat positif dibagian kanan garis dan jawaban sangat negatif terletak di sebelah kiri garis Bersahabat Tepat janji Bersaudara Memberi pujian Mempercayai 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat Lupa janji Memusuhi Mencela Mendominasi

D. INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen Pengumpulan data,

yang harus digunakan

dalam berbagai penelitian diataranya : a. Sosiometri, digunakan sebagai metoda pengumpulan data mengenai preferensi atau pilihan individual dalam suatu kelompok. Pertanyaan yang diajukan dapat berupa : Siapakah yang anda sukai sebagai teman diskusi ?. Dengan siapakah anda paling dapat bekerjasama ?. Setiap anggota kelompok diminta memilih satu atau lebih diantara anggota lain dalam kelompok yang bersangkutan. Data pilihan para anggota kelompok disebut data sosiometri b. Skala sikap model Likert Skala sikap disusun untuk mengungkap sikap pro dan kontra, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju terhadap suatu objek sosial. Dalam skala sikap, objek sosial tersebut berlaku sebagai objek sikap. Suatu skala sikap biasanya terdiri atas 25 sampai 30 pernyataan sikap. Subyek memberi respon dengan lima kategori kesetujuan : a. Sangat tidak setuju b. Tidak setuju c. Antara setuju dan tidak d. Setuju e. Sangat setuju c. Tes dan skala psikologi, digunakan untuk mengungkap data mengenai atribut psikologis yang dapat

dikategorikan sebagai variabel kemampuan kognitif dan variabel kepribadian ( afektif) d. Kuesioner, merupakan suatu bentuk instrumen pengumpulan data yang sangat fleksibel dan relatif mudah digunakan e. Observasi, merupakan suatu proses pengumpulan data yang digunakan berkaitan responden tidak besar. E. METODE SURVEI Metode penelitian survei menggunakan informasi yang dikumpulkan kuesioner. dari responden penelitian dengan survei menggunakan dibatasi pada Umumnya dengan penelitian perilaku manusia, proses kerja, gejala – gejala alam, dan bila

penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Dengan demikian penelitian survai adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok Penelitian survei dapat digunakan untuk maksud : a. b. c. d. e. f. Penjajagan ( Eksploratif) Deskriptif Explanatory ( Penjelasan) Evaluasi Prediksi / Meramal Penelitian operasional

g.

Pengembangan indikator – indikator sosial

Melakukan survei adalah mengajukan pertanyaan kepada orang – orang / responden dan merekam jawabannya untuk dianalisis. berikut :
Ket

Untuk

melihat

lebih

luas

tentang

hal

ini,

dikemukakan perbandingan metode – metode survei sebagai Wawancara pribadi
Uraian Orang dipilih bagian sendiri – orang dari oleh yang sampel seorang untuk menjadi

Wawancara Telepon
Orang – orang yang dipilih untuk menjadi bagian dari sampel melalui diwawancarai

Survai Surat
Kuesioner diisi di poskan Amplop kepada sampel untuk sendiri. pengembalian berperangko umumnya disertakan. meningkatkan tanggapan Insentif tingkat dapat digunakan untuk

diwawancarai sendiri – pewawancara terlatih

telepon oleh seorang pewawancara terlatih

Keuntu ngan

-Kerjasama -

yang

baik dapat

-

Biayanya

lebih daripada

- Memakan biaya yang paling rendah -Memperluas geografis cakupan tanpa

dari responden Pewawancara menjawab tentang menggali menggunakan pertanyaan lanjut, mengumpulkan informasi observasi Alat bantu dan visual sarana dapat khusus penilaian digunakan melalui tindak dan pertanyaan survei, informasi,

rendah

wawancara pribadi -Memperluas cakupan geografis adanya lebih sedikit Menurunkan biaya pewawancara - Mempercepat waktu pengisian kuesioner tanpa peningkatan Menggunakan yang tetapi lebih terlatih,

meningkatkan biaya - Membutuhkan sedikit staf jati Dip[andang diri lebih mampu merahasiakan respondenkepada untuk sebelum

biaya yang tajam pewawancara jumlahnya

Memberikan kesempatan responden berpikir

menjawab pertanyaan - Memberikan peluang

- Responden yang buta huruf dan buta secara fungsional dapat dicapai menyaring untuk Pewawancara dapat responden meyakinkan sebelumnya

-

Akses ke

yang

lebih

untuk dapat CEO)

menghubungi ditemui ( Mis.

baik yang

responden dicapai

responden yang tidak

sulit

melalui kontak ulang - Dapat menggunakan pemutaran digit acak yang terkomputerisasi - CATI : Wawancara telepon yang dibantu komputer dapat komputer menurunkan kesalahan dan biaya jawaban langsung untuk

mereka aesuai dengan profil populasi CAPI : wawancara dibantu jawaban dimasukkan untuk pribadi dapat portabel dan biaya - Biaya tinggi Membutuhkan pewawancara yang terlatih Periode lebih yang panjang sangat yang

komputer;

disimpan ke dalam file

kedalam mikrokomputer menurunkan kesalahan Kerugia n

-

Tingkat tanggapan lebih rendah daripada wawancara pribadi

-

Tingkat tanggapan yang rendah

-

Tidak

adanya

intervensi pewawancara (untuk menggali informasi Tidak Kompleks Dibutuhkan daftar pengiriman surat akurat Acapkali responden yang mengembalikan yang atau dapat menjelaskan) dibuat panjang /

-

Biaya

yang

diperlukan untuk mengumpulkan data langan Bisa dalam geografis lebih luas Tindak adalah Tidak responden berada di tempat lanjut intensif semua tersebar wilayah yang

lebih tinggi jika wawancara dilakukan terhadap sampel geografis Lamanya wawancara harus dibatasi Banyak nomor telepon tidak yang terdaftar yang tersebar secara

tenaga kerja

atau ditemui Beberapa responden enggan berbicara dengan asing mereka Beberapa

dapat

atau bekerja,

tidak

kuesioner menggambarka n besar populasi (tanggapan yang benar) tidak perbedaan dari

membuat buku telepon dapat dimanfaatkan orang Beberapa kelompok sasasaran tidak memiliki telepon bisa atau oleh Ilustrasi Jawaban menjadi kurang lengkap tidak bisa digunakan tidak

dirumah

lingkungan susah dikunjungi Pertanyaan melenceng responden dituntun

pewawancara Sumber : Metode Penelitian Bisnis Cooper & Emory ( 1996 : 308)

BAB VIII ANALISIS DATA
A. STATISTIK DESKRIPTIF DAN INFERENSIAL Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang

berlaku

untuk

umum

atau

generalisasi.

Penelitian

ini

dilakukan pada populasi ( tanpa diambil sampel) jelas akan menggunakan statistik deskriptif dalam analisisnya. Tetapi bila penelitian dilakukan pada sampel, maka analisisnya dapat menggunakan statistik deskriptif maupun inferensial. Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel, dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. Tetapi bila peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi, maka teknik analisis yang digunakan statistik inferensial.
Statistik deskriptif

Macam Statistik Utk analisis data Statistik Inferensial

Statistik Parametris

Statistik Non Parametris

Termasuk dalam statistik deskriptif antara lain penyajian data melalui tabel, sentral), grafik, diagran lingkaran, pictogram, desil, persentil, perhitungan perhitungan modus, median, mean ( pengukuran tendensi perhitungan penyebaran, data melalui perhitungan rata – rata dan standar deviasi, perhitungan prosentase.

Dalam statistik ini juga hubungan melakukan antara prediksi

dilakukan untuk mencari kuatnya melalui analisis korelasi, dan dengan analisis regresi

variabel

membandingkan rata – rata data sampel atau populasi. Hanya dalam analisis korelasi, melakukan prediksi dengan analisis regresi dan membandingkan rata – rata data sampel atau populasi, tidak perlu dilakukan uji signifikansi. Dengan demikian dengan statistik deskriptif tidak ada uji signifikansi, tidak ada taraf kesalahan, karena peneliti tidak bermaksud membuat Statistik generalisasi, inferensial sehingga ( tidak ada kesalahan atau generalisasi. statistik induktif probabilitas ) , yaitu teknik statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakan sampel diambil dari populasi yang jelas, dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random. Suatu kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untu populasi itu mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran ( kepercayaan) yang dinyatakan dalam prosentase. Apabila peluang kesalahan 5% maka taraf kepercayaannya 95%. Peluang kesalahan dan kepercayaan tersebut disebut dengan taraf signifikansi. Pengujian taraf signifikansi ini juga akan lebih praktis bila didasarkan pada tabel sesuai teknik analisis. Misal Uji t akan menggunakan tabel t, Uji f akan menggunakan tabel f.

Maka

signifikansi

adalah

kemampuan

untuk

di

generalisasikan dengan kesalahan tertentu. Ada hubungan signifikansi berarti perbedaan itu dapat digeneralisasikan. Asignifikan berarti perbedaan itu dapat digeneralisasikan B. STATISTIK PARAMETRIS DAN NON PARAMETRIS Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau menguji ukuran populasi melalui data sampel . Parameter populasi itu meliputi rata – rata dengan notasi varians 2
.

μ (mu), simpangan baku  (sigma), dan

. Sedangkan statistiknya adalah rata – rata X

( X bar), simpangan baku s, dan varians s2. Misal nilai pelajaran 1000 mahasiswa rata – rata 7,5 . Dari 1.000 Mahasiswa diambil sampel 50 orang, dan nilai rata – rata 50 mahasiswa adalah 7,5. Hal ini menun jukkan tidak ada perbedaan antara parameter ( data populasi) dan statistiknya ( data sampel). Statistik non parametris menguji distribusi. Statistik parametris memerlukan banyak asumsi. Asumsi utama adalah data yang akan dianalisis harus bersistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu test mengharuskan data dua kelompok atau lebih , yang diuji harus homogen, dalam regresi harus terpenuhi asumsi linieritas.

Statistik non parametris tidak menuntut terpenuhi banyak asumsi, misalnya data yang akan dianalisis tidak harus berdistribusi normal. Statistik parametris data kebanyakan interval dan digunakan rasio. Statistik untuk non menganalisis

parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal, dan ordinal. C. JUDUL PENELITIAN, KONSEP DASAR PENGUJIAN HIPOTESIS Judul penelitian sering menjadi hal yang sering

dijadikan asumsi lebih mudah, padahal judul p[enelitian haruys dirumuskan secara benar dan komprehensif. Apabila judul penelitian tidak dapat mengembangkan varial – variabel yang diteliti yang serta tiddadahi Maka pemecahan akan permasalahan diteliti. penelitian

menghadapi kendala yang kompleks. Memperhatikan teknis penyusunan desain penelitian dan merumuskan permasalahan penelitian, maka teknis membuat judul penelitian harus melihat kepada langkah – langkah penelitian sebagai berikut :

Minat ? Y y ? X A

Gagasan Y B
A C B D

Teori
E X F Y

Konseptualisasi Tentukan konsep dan variabel yang diteliti

Pemilihan Metode Penelitian Penelitian lapangan Content analysis Analisa Data sekunder Eksperimen Penelitian evaluasi Penelitian Survai

Populasi dan Sampel Kesimpulan akan diambil dari kelopok mana ? Siapa yang diobservasi untuk itu ?

Operasionalisasi Bagaimana variabel penelitian diukur

Observasi Kumpulan Data untuk analisa dan penafsiran

Pengolahan Data Ubah data untuk dianalisis

Analisa Analisa data dan tarik kesimpulan

Sumber : Masri Singarimbun ( 1989 : 15) D. PENGUJIAN STATISTIK Dalam pengujian statistik dilakukan terhadap penelitian kuantitatif dirinci sebagai berikut :

Analisis Data Dalam memecahkan masalah penelitian sesuai dengan hipotesis yang diajukan, digunakan analisis korelasi, dan analisis jalur. 1.Analisis Korelasi Korelasi merupakan ukuran statistik untuk mengetahui sejauhmana keeratan dua variabel. Besarnya keeratan tersebut dinyatakan dalam suatu koefisien. Dalam analisis korelasi tidak mengenal variabel bebas maupun variabel tidak bebas. Salah satu ukuran korelasi tertua yaitu korelasi Pearson atau dikenal juga sebagai korelasi product moment . Apabila antara dua buah variabel X dan Y yang masingmasing mempunyai skala pengukuran sekurang-kurangnya interval dan hubungannya merupakan hubungan linier, maka keeratan hubungan antara kedua variabel itu disebut dengan korelasi Pearson berikut :
n∑ xi yi − ∑ xi ∑ yi
i =1 i =1 i =1 n n n

yang didefinisikan

sebagai

ryxi =

  n∑ xi −  ∑ xi  i =1  i =1 
n 2 n

2

 n  n∑ y −  ∑ yi  i =1  i =1 
n 2 i

2

Arti Koefisien korelasi Koefisien korelasi terletak antara –1 dan 1 atau -1≤ rXY≤ 1 rXY =1 menunjukkan hubungan linier positif sempurna antara X dan Y, dalam arti makin pula harga Y dan sebaiknya. rXY =-1menunjukkan hubungan linier negatif sempurna antara X dan Y, dalam arti makin besar harga X makin kecil pula harga Y atau makin kecil harga X makin besar pula harga Y rXY =0 menunjukkan menunjukkan tidak ada hubungan linier antara X dan Y Menguji Koefisien Korelasi Data yang dikemukakan dalam suatu penelitian merupakan data yang berasal dari sebuah sampel berukuran n, sebelum mengambil kesimpulan mengenai koefisien korelasi tersebut, terlebih dahulu keberartian koef.korelasi yang telah dihitung, yaitu dengan hipotesis sebagai berikut : Ho H1 :ρ :ρ
yxi yxi

besar harga X makin besar

= 0, tidak ada hubungan antara y dengan x ≠ 0, ada kaitan hubungan y dengan x

Statistik uji : t=
r n −2 (1 − r 2 )

Kriteria :

tolak Ho jika nilai

t

lebih besar dari t tabel atau

t1/2α (n-2) atau statistik tolak Ho jika nilai signifikansi lebih besar dari nilai α . (jika menggunakan Program) Penafsiran koefisien korelasi Setelah melakukan pengujian dan hasilnya signifikan, maka untuk menentukan 1. ≥ 0.00 - < 0.20 diabaikan 2. ≥ 0.21 - < 0.40 3. ≥ 0.41 - < 0.70 4. ≥ 0.71 - < 0.90 5. ≥ 0.91 - < 1.00 : Hubungan yang kecil (tidak erat) : Hubungan yang moderat : Hubungan yang erat : Hubungan yang sangat erat keeratan : hubungan yang digunakan sangat kecil kriteria dan bisa Guilford(1956), yaitu: Hubungan

2. Analisis Jalur (Path Analysis)

Pada dasarnya analisis jalur merupakan bentuk analisis regresi linier terstruktur yang berkenaan dengan variabelvariabel baku (standardized variables) dalam suatu sistem tertutup yang secara formal bersifat lengkap Dengan demikian analisis jalur dapat dipandang sebagai suatu analisis struktural yang membahas hubungan kausal di antara variabel-variabel dalam sistem tertutup. Menghitung Koefisien Jalur

Untuk menentukan berapa besarnya pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lainnya diperlukan persyaratan : 1. Hubungan antara variabel harus merupakan hubungan linier dan aditif 2. Semua variabel residu tidak mempunyai korelasi satu sama lain 3. Pola hubungan antara variabel adalah rekursif 4. Skala pengukuran baik pada variabel penyebab maupun pada variabel akibat sekurang-kurangnya interval. Apabila persyaratan ini dipenuhi, maka koefisien jalur bisa dihitung dengan langkah kerja sebagai berikut : 1. Gambarkan diagram jalur untuk hubungan antara variabel secara lengkap.Diagram jalur ini mencerminkan hipotesis konseptual yang diajukan, sehingga tanmpak dengan jelas yang mana sebagai variabel penyebab dan yang mana sebagai variabel akibat. 2. Hitung besarnya dengan pengaruh variabel antara akibat. suatu variabel ini penyebab Perhitungan

didasarkan pada substruktur antara k buah variabel penyebab dengan sebuah variabel akibat. 3. Berdasarkan data yang ada hitung koefisien korelasi sederhana dengan menggunakan rumus

ry = x n n n n 2 2 2 2 { ∑ xi − hn(∑ xi )h} ∑ yh −{(∑ yh) }n
= 1h = 1h = 1h
i

n∑ i yx h − ∑ xi ∑ hyh

n nn

i = 1,2,…,k

= 1h = 1h = 1h = 1h

harga koefisien korelasi antar variabel dibuat dalam sebuah matriks korelasi dengan bentuk sebagai berikut :

Y
ryy

X1
ryx
1 1

X2 …
ryx ...
2

Y
ryx
1 k

rx x

1

rx x ...
1 2

rx x rx

k

Y X1 Xk

kxk

4. Hitung matriks invers korelasinya
Y
CR yy

X1
CR yx
1

X2
CR yx ...
2


CR yx
1

Xk
k

CR x x

1 1

CR x x ...
1 2

CR x x CR x

k

Y X1 Xk

kxk

5. Hitung koefisein jalur dengan rumus
p yx =∑ CR ij  r yx j
i

k

i = 1,2,…k

j=1

pYxi merupakan koefisien jalur dari variabel XI terhadap variabel Y rYxi korelasi antara variabel Y dengan variabel XI CRij unsur elemen pada baris ke-I dan kolom ke-j dari matriks invers korelasi 6. Hitung pengaruh variabel lain yang tidak masuk ke dalam model dengan menggunakan rumus
p yε = 1 − R 2 x ... x yx
1 2 k

Pengujian Koefisien Jalur Sebelum mengambil kesimpulan mengenai hubungan kausal yang telah digambarkan dalam diagram jalur, terlebih dahulu diuji keberartian untuk setiap koefisien jalur yang telah dihitung. Untuk menguji koefisien jalur tersebut dapat ditempuh melalui dua cara yaitu : secara keseluruhan (overall) dan secara individual. Pengujian Secara Keseluruhan Hipotesis pada pengujian keseluruhan ini adalah : Ho : pYx1 = pYx2 = pYY = …. = pYxk = o H1 : Sekurang-kurangnya ada sebuah pYxi ≠ 0 Dengan statistik uji F pada Tabel ANOVA:
F=
2 (n − k − 1)R 1X2 ...Xk YX 2 k(1 − R X1X2 ...Xk ) Y

Dengan derajat bebas v1 = k dan v2= n-k-1 tolak Ho jika F hitung lebih besar dari Fα , Ho ditolak. Pengujian Secara Individual Apabila pada pengujian secara keseluruhan Ho ditolak artinya sekurang kurangnya ada sebuah pYxi ≠ 0. Untuk mengetahui pYxi yang mana sama dengan nol, atau untuk menguji hipotesis konseptual yang diajukan maka dilakukan pengujian secara individual. Hipotesis statistik yang akan diuji :
a. Ho : pYxi = 0 melawan H1 : pYxi ≠ 0 b. Ho : pYxi ≤ 0 melawan H1 : pYxi >0 c. Ho : pYxi ≥
v1,v2

atau bandingkan nilai

signifikansi (pada SPSS) dengan nilai α , jika sig.< α maka

0 melawan H1 : pYxi < 0

Rumus pengujian
ti = pYX (1 − R
i

2 YX 1 X 2 ... X 5

)CR ii

i= 1,2…

n − k −1

statistik uji di atas mengikuti distribusi t dengan derajat bebas n-k-1, tolak Ho jika t hitung lebih besar dari t(1-α ;- n-k1)

. atau bandingkan nilai signifikansi (pada SPSS) dengan

nilai α , jika sig.< α maka Ho ditolak.

E. PEMILIHAN METODE STATISTIK Statistik adalah ilmu yang terdiri dari teori dan metode yang merupakan cabang dari matematika terapan dan membicarakan tentang bagaimana mengumpulkan data, bagaimana meringkas data, mengolah dan menyajikan data, bagaimana menarik kesimpulan dari hasil analisis, bagaimana menentukan keputusan dalam batas – batas resiko tertentu berdasarkan strategi yang ada . Pemilihan metode statistik untuk berbagai hal diatas dapat menggunakan rumus – rumus sebagai berikut : 1. Apabila antara dua buah variabel X dan Y yang masingmasing mempunyai interval skala dan pengukuran sekurangmerupakan yang kurangnya hubungannya

hubungan linier, maka keeratan hubungan antara kedua variabel itu disebut dengan korelasi Pearson didefinisikan sebagai berikut :
n∑ xi yi − ∑ xi ∑ yi
i =1 i =1 i =1 n n n

ryxi =

  2 n∑ xi −  ∑ xi  i =1  i =1 
n n

2

 n  n∑ yi2 −  ∑ yi  i =1  i =1 
n

2

2. Menghitung koefisien korelasi sederhana dengan menggunakan rumus

ry = x n n n n 2 2 2 2 { ∑ xi − hn(∑ xi )h} ∑ yh −{(∑ yh) }n
= 1h = 1h = 1h
i

n∑ i yx h − ∑ xi ∑ hyh

n nn

i = 1,2,…,k

= 1h = 1h = 1h = 1h

3. Menghitung koefisein jalur dengan rumus
p yx = ∑CR ij ryx
i

k

j=1

j

i = 1,2,…k

pYxi merupakan koefisien jalur dari variabel XI terhadap variabel Y rYxi korelasi antara variabel Y dengan variabel XI CRij unsur elemen pada baris ke-I dan kolom ke-j dari matriks invers korelasi 4. Menghitung pengaruh variabel lain yang tidak masuk ke dalam model dengan menggunakan rumus
p yε = 1 − R 2 x ... x yx
1 2 k

5. Pengujian Secara Keseluruhan

Hipotesis pada pengujian keseluruhan ini adalah : Ho : pYx1 = pYx2 = pYY = …. = pYxk = o H1 : Sekurang-kurangnya ada sebuah pYxi ≠ 0 Dengan statistik uji F pada Tabel ANOVA:
F=
2 (n − k − 1)R 1X2 ...Xk YX 2 k(1 − R X1X2 ...Xk ) Y

Dengan derajat bebas v1 = k dan v2= n-k-1 tolak Ho jika F hitung lebih besar dari Fα , Ho ditolak. 6. Pengujian Secara Individual Apabila pada pengujian secara keseluruhan Ho ditolak artinya sekurang kurangnya ada sebuah menguji hipotesis konseptual yang pYxi ≠ 0. Untuk diajukan maka mengetahui pYxi yang mana sama dengan nol, atau untuk dilakukan pengujian secara individual. Hipotesis statistik yang akan diuji :
d. Ho : pYxi = 0 melawan H1 : pYxi ≠ 0 e. Ho : pYxi ≤ 0 melawan H1 : pYxi >0 f. Ho : pYxi ≥
v1,v2

atau bandingkan nilai

signifikansi (pada SPSS) dengan nilai α , jika sig.< α maka

0 melawan H1 : pYxi < 0

Rumus pengujian

ti =

pYX (1 − R

i

2 YX 1 X 2 ... X 5

)CR ii

i= 1,2…

n − k −1

statistik uji di atas mengikuti distribusi t dengan derajat bebas n-k-1, tolak Ho jika t hitung lebih besar dari t(1-α ;- n-k1)

. atau bandingkan nilai signifikansi (pada SPSS) dengan

nilai α , jika sig.< α maka Ho ditolak. 7. Rumus yang digunakan untuk pengukuran konstruct yaitu : a.Korelasi instrumen Spearman digunakan skala apabila ordinal. pengukuran Langkah-

menggunakan

langkahnya sebagai berikut : • Menentukan hipotesis statistik Ho : Butir I dalam kuesioner tidak valid Hi : Butir I dalam kuesioner valid • Penggunaan rumus Spearman
rs =
6Σdi 2 n( n 2 − 1)

…………………..

jika tidak ada data

kembar

rs =

ΣΧ2 2

+ Y2 ΣX 2

Σ

+ ΣY 2

Σdi 2

…… jika ada data kembar

(X dan Y merupakan variabel hasil pengamatan dari d i
=R (X 1 -R(Y 1 )

b. Rumus Korelasi Pearson untuk menguji validitas : Korelasi Pearson digunakan apabila tingkat pengukuran mempunyai skala interval. Langkah-langkahnya sebagai berikut : • Menetapkan hipotesis statistik Ho : Dimana butir ke-I dalam kuesioner tidak valid H1 : Dimana butir ke-I dalam kuesioner valid • Penggunaan rumus korelasi Pearson
rxy =
nΣ ΧΥ − (Σ Χ ) nΣ − (Σ Χ ) )
2 2

(Σ Υ ) (Σ Υ 2 ) )

Keterangan :

n

: Ukuran sample

X dan Y: Variabel penelitian

Criteria uji menolak Ho pada taraf uji ∝ jika t ∝.n.2

< t hitung artinya butir pernyataan dalam kuesioner valid. Guna melengkapi penjelasan yang diuraikan diatas , dikemukakan tabel Penggunaan Statistik Parametris dan

Non Para metris untuk menguji hipotesis sebagai berikut :

Macam Data

Deskriptif ( Satu Variabel)

Nominal

Binominal X2 One Sample Run Test

Bentuk Hipotesis Komparatif Komparatif ( Dua sampe) ( lebih dari dua sampel) Related independe Related independe n n Fisher X2 for k X2 for k Mc. Exact sample sample Nemar Probability X2 two Cochran sample Q Sign Test Wilcoxon Matched pairs Median test Mann – Whitney U test Kolmogoro v Smirnov Wald Woldfowitz t test independe nt Friedman Two Way Anova Median extention Kruskal – Walls one Way anova

Asosiatif (hubungan)

Contingency Contingency C

Ordinal

Spearman Rank Correlation Kendall Tau

Interval Rasio

t Test

t test of related

One Way anova Two Way Anova

One Way anova Two Way Anova

Perason Product Moment Partial Correlatin Multiple Correlation

BAB IX PENULISAN ILMIAH

A. KODE ETIK PENULISAN ILMIAH Dalam penulisan karya ilmiah tentunya terdapat

berbagai kode etik, yaitu sebagai berikut : 1. Penulisan karya ilmiah harus menggunakan teknik penyusunan karya ilmiah
2. Dalam penulisan dilarang melakukan penjiplakan karya

penelitian orang lain tanpa seijin yang bersangkutan 3. Dalam pencuplikan pencuplikan teori data, atau sumber pendapat informasi harus dan menuliskan sumbernya 4. Dalam sumber B. TATA CARA PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA 1. Mengajukan rencana dokumentasi harus mencantumkan penulis atau pemilik

judul Laboran dan Dosen Pembimbing lepada Lembaga

paling lambat 2 2.

(dua) minggu

estela melaksanakan Melaksanakan PKL

waktu PKL yang ditetapkan minimal 1 (satu) bulan dan selama – lamnya 3 (tiga) bulan di tempat PKL sesuai dengan waktu yang ditentukan 3. 4. Draft Laporan laboran setelah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing disetujui wajib dilakukan ujian sidang sesuai dengan batas waktu ujian sidang yang ditetapkan lembaga C. TATA CARA PENULISAN PROPOSAL TUGAS AKHIR Menyusun Proposal Penelitian Kegiatan penelitian selalu diawali dari penyusunan proposal atau rencana penelitian. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam merumuskan proposal penelitian, yaitu : 1. Latar Belakang Masalah 2. Identifikasi masalah 3. Pembatasan masalah 4. Perumusan masalah 5. Tujuan Penelitian 6. Menyusun kerangka Teori 7 Menentukan jadwal penelitian

D. TATA CARA PENULISAN LAPORAN TUGAS AKHIR 1. Mahasiswa telah menyelesaikan kewajiban administratif 2. Mahasiswa mengajukan usulan rencana judul dan pembimbing ke bidang akademik sesuai dengan waktu yang ditentukan 3. Mahasiswa mendapat persetujuan rencana judul dan pembimbing dari lembaga 4. Mahasiswa mengikuti proses bimbingan baik rencana konsep penulisan, teknik penulisan dan perjanjian waktu bimbingan dengan dosen pembimbing yang ditunjuk minimal 5 kali bimbingan 5. Mahasiswa mendapat persetujuan dari dosen pembimbing bahwa laboran yang dibuat telah dianggap layak untuk diujikan 6. Mahasiswa menempuh Ujian Sidang sesuai dengan waktu yang ditentukan 7. Mahasiswa yang dinyatakan tidak lupus dalam ujian sidang wajib mengikuti ujian sidang perbaikan 8. Mahasiswa yang dinyatakan lupus dengan perbaikan dalam ujian sidang diwajibkan melakukan perbaikan dengan Dosen pembimbing sesuai dengan lembar catatn perbaikan yang disarankan oleh tim penguji 9. Mahasiswa yang dinyatakan lupus tanpa perbaikan dalam ujian sidang disarankan agar laboran segera di hardcover dan diserahkan lepada lembaga. Untuk laboran semestre

menyerahkan

sebanyak

1

buah

dan

laboran

akhir

sebanyak 2 buah 10. Jangka waktu penyerahan laboran yang sudah diujikan / perbaikan hádala selama 30 hari terhitung Sejas pelaksanaan ujian sidang. Skematik prosedur penulisan laboran :

Mulai

Menyelesaikan ketentuan administratif

Lengkap

Mengajukan usulan rencana judul & pembimbingan

ya

tidak tidak
Persetujuan rencana ya judul & pembimbing

Proses pembimbingan dengan Dosen Pembimbing

ya

Penyusunan Laporan

Persetujuan Sidang dari pembimbing

tidak

Selesai

Perbaikan & penyerahan hasil laporan

ya
Persetujuan Ujian Sidang

tidak

E. MENYUSUN LAPORAN PENELITIAN Laporan penelitian , panjang, dan pendek, mempunyai sekelompok komponen yang dapat dikenali, guna melihat lebih luas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut : Modul Laporan
Informasi pembukaan (prefatory) Surat Trasmisi Halaman judul Surat otorisasi Ringkasan Eksekutif Daftar isi Pendahuluan Pernyataan masalah Tujuan Penelitian Latar Belakang Metodologi Penarikan Sampel Rancangan Penelitian Pengumpulan Data Analisa Data

Laporan Singkat Laporan Panjang Memo / Teknis Manajem Teknis surat pendek en
1 v V V 1 V V V v 2 v V v V v Singkat 1 V V V 2 V V V V V singkat 1 V v V 2 V v V V 3 V V V V

Batasan Temuan Kesimpulan Ringkasan Kesimpulan Saran –saran Lampiran Daftar Pustaka

dan

2 V v

V 3 4 V V 5

V 4 3 V V 5

v 4 5 V V 6 7

Sumber Cooper & Emory (1999 : 184)

F. FORMAT LAPORAN Pada umumnya format laporan disesuaikan dengan ketentuan yang lazim digunakan serta disesuaikan dengan Pedoman Penulisan laporan Tugas Akhir dan skripsi yang diperinci sebagai berikut : (Judul ; Contoh saja) I. LAPORAN SEMESTER ( KHUSUS PROGRAM D III / D IV) A. Bagian Awal : 1. Cover Depan 2. Cover Dalam 3. Lembar Pengesahan 4. Lembar Persetujuan 5. Lembar Tim Penguji 6. Lembar Pernyataan Penulis 7. Lembar Motto ( Jika Ada) 8. Kata pengantar 9. Daftar Tabel 10. Daftar Isi 11. Daftar Gambar 12. Daftar Lampiran

B. Bagian Isi BAB. I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Penulisan I.2. Pokok Permasalahan I.3. Pertanyaan Penelitian I.4. Tujuan dan Manfaat Laporan I.5. Kajian Ilmiah BAB II. Konsep dan Implementasi 2.1. Sejarah Singkat Perusahaan/ institusi/Dinas 2.2. Visi dan Misi 2.3. Tugas Pokok dan Fungsi
2.4.

Struktur Organisasi

2.5. Hasil Praktek Kerja Lapangan
a. Sistem Pelayanan Pelanggan

b. Hubungan antara Pelayanan Dengan Kepuasan Pelanggan c. Permasalahan Dalam Sistem Informasi Pelayanan Pelanggan d. Upaya Pemecahan masalah dalam sistem pelayanan pelanggan BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1. Kesimpulan 3.2. Saran c. Bagian Akhir : - Daftar pustaka

- Lampiran - Riwayat Hidup Penulis II. TUGAS AKHIR KHUSUS PROGRAM D III A. BAGIAN AWAL 1. Copver Depan 2. Cover Dalam 3. Lembar Pengesahan 4. Lembar Persetujuan 5. Lembar Tim Penguji 6. Lembar Pernyataan Penulis 7. Lembar Motto ( Jika Ada) 8. Kata pengantar 9. Abstrak Bahasa Indonesia 10. Abstrak Bahasa Inggris 11. Daftar Tabel 12. Daftar Isi 13. Daftar Gambar 14. Daftar Lampiran B. BAGIAN ISI BAB. I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Penelitian I.2. Pokok Permasalahan I.3. Pertanyaan Penelitian I.4. Tujuan Penelitian I.5. Kegunaan Penelitian

BAB II. Kerangka Pemikiran Dan Metodologi Penelitian 2.1. Kajian Ilmiah A. Pengertian Konsep dan Implementasi B. Pengertian dan Ruang Lingkup Sistem C. Data dan Informasi D. Pelayanan E. Sistem Informasi F. Sistem Informasi Pelayanan G. Pelanggan H. Pelayanan Pelanggan 2.2. Metodologi Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data A. Metodologi Penelitian B. Definisi Operasional C. Populasi Dan Sampel Penelitian D. Teknik Pengumpulan Data • BAB III. KONSEP DAN IMPLEMENTASI SISTEM

INFORMASI PELAYANAN PELANGGAN 3.1. 3.2. 3.3.
3.4. 3.5.

Sejarah Singkat Visi dan Misi Tugas Pokok dan Fungsi Struktur Organisasi Sistem Pelayanan Pelanggan

3.6. 3.7. 3.8.

Hubungan Kepuasan Pelanggan

anatara

Pelayanan

Dengan

Permasalahan Dalam Sistem Informasi Pelayanan Pelanggan Upaya Pemecahan masalah dalam sistem pelayanan pelanggan

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan 4.2. Saran 4. BAGIAN AKHIR - Daftar pustaka - Lampiran - Riwayat Hidup Penulis

III. SKRIPSI KHUSUS PROGRAM D IV A. BAGIAN AWAL 1. Copver Depan 2. Cover Dalam 3. Lembar Pengesahan 4. Lembar Persetujuan 5. Lembar Tim Penguji 6. Lembar Pernyataan Penulis 7. Lembar Motto ( Jika Ada)

8. Kata pengantar 9. Abstrak Bahasa Indonesia 10. Abstrak Bahasa Inggris 11. Daftar Tabel 12. Daftar Isi 13. Daftar Gambar 14. Daftar Lampiran B. BAGIAN ISI

BAB. I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Penelitian I.2. Pokok Permasalahan I.3. Pertanyaan Penelitian I.4. Tujuan Penelitian I.5. Kegunaan Penelitian BAB II. Landasan Teori, Kerangka Pemikiran Dan Hipotesis 2.1. Landasan Teori A. Pengertian Konsep dan Implementasi B. Pengertian dan Ruang Lingkup Sistem C. Data dan Informasi D. Pelayanan E. Sistem Informasi F. Sistem Informasi Pelayanan G. Pelanggan H. Sistem Informasi Pelayanan Pelanggan

2.2. Kerangka Pemikiran 2.3. Hipotesis BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian 3.2. Definisi Operasional Variabel A. Sistem Informasi Yang Cepat dan Modern B. Komunikasi yang Efektif C. Pelayanan yang simpatik kepada pelanggan D. ......................... 3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.4. Teknik Pengumpulan Data 3.5. Uji Hipotesis BAB IV. KONSEP DAN IMPLEMENTASI SISTEM

INFORMASI PELAYANAN PELANGGAN 4.1. 4.2. 4.3.
4.4. 4.5.

Sejarah Singkat Visi dan Misi Tugas Pokok dan Fungsi Struktur Organisasi Sistem Pelayanan Pelanggan Hubungan Kepuasan Pelanggan anatara Pelayanan Dengan

4.6. 4.7. 4.8.

Permasalahan Dalam Sistem Informasi Pelayanan Pelanggan Upaya Pemecahan masalah dalam sistem pelayanan pelanggan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 5.2. Saran C. BAGIAN AKHIR

- Daftar pustaka - Lampiran - Riwayat Hidup Penulis Berikut ini, guna menambah wawasan disampaikan beberapa contoh mengenai proposal penelitian sebagai berikut :

PROPOSAL PENELITIAN PENGARUH IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RENCANA UMUM TATA RUANG WILAYAH (RUTRW) TERHADAP KUALITAS PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PERKOTAAN ( STUDI KASUS KOTA SAMARINDA)

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Sebagian dari Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kebijakan Publik

DISUSUN OLEH : .BAMBANG SUDARYANA. NIM : 019817

FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK KONSENTRASI KEBIJAKAN PUBLIK UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 1999
Lembaran Persetujuan Proposal Penelitian

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PANITIA UJIAN SARJANA DAN PASCASARJANA

Ketua

Prof. Dr. ARIFIN LEO

Sekretaris

Prof. Dr. SAROSA HAMONGPRANOTO SH

Anggota

DRS. SUDJAYA, MA.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah merupakan faktor penyebab terjadinya perubahan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang meluas di daerah. Daerah otonom akan diberi

kewenangan

yang

luas,

nyata

dan

bertanggungjawab,

disertai dengan pemberian sumber-sumber keuangan yang cukup signifikan, seimbang dengan kewenangannya. Berdasarkan ketentuan tersebut serta berbagai

peraturan pelaksanaan lainnya, akan terjadi konsentrasi pengambilan keputusan dan perputaran uang yang lebih besar didaerah otonom, terutama daerah Kabupaten/Kota. Dengan bertambahnya jumlah uang yang beredar

diharapkan akan mempercepat proses pembangunan dan pemerataan masyarakat hasilnya setempat di daerah, tentunya apabila peluang

dapat

memanfaatkan

tersebut, dan apabila tidak, maka orang lain yang akan memanfaatkan peluang tersebut. Perubahan sebagaimana dikemukakan di atas juga akan menimbulkan berbagai konsekuensi, termasuk

kemungkinan terjadinya cultural shock bagi masyarakat dan pemerintah daerah, berupa kegamangan, rasa tidak percaya diri atau perasaan ego kedaerahan yang berlebihan. Kunci utamanya terletak pada sumber daya manusia yang dapat mengubah berbagai kelemahan menjadi kekuatan serta mengubah tantangan menjadi peluang, serta kebijakan-

kebijakan pembangunan sesuai dengan Rencana Strategis yang berfokus kepada peningkatan kesejahteraan rakyat. Rencana strategis sebagai pedoman pelaksanaan

pencapaian visi kota/kabupaten melalui misi, kebijakan, program , dan kegiatan, harus secara konsisten

dilaksanakan, walau bagaimanapun kebijakan inilah yang akan dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah

kepada rakyatnya. Kegagalan pelaksanaan pembangunan, bukanlah merupakan kesalahan pelaksana di lapangan saja ( Operating Core), tetapi juga semua stakeholder

pembangunan . Dalam pembangunan infrastruktur perkotaan,

seringkali menimbulkan dampak penting berupa perubahan tata lingkungan maupun kondisi sosial. Demikian juga kendala yang dialami pada saat pra konstruksi maupun pasca konstruksi pembangunan infra struktur. Kendalakendala tersebut muncul sebagai akibat tidak disiplinnya perencana dan pelaksana pembangunan terhadap kebijakan tata ruang yang sudah merupakan acuan awal dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur.

Berdasarakan kenyataan pada saat ini menunjukan, bahwa pada umumnya kualitas pembangunan infrastruktur di daerah otonom belumlah terlalu menjanjikan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan politik pembangunan yang

selama ini tidak optimal memihak kepada kebutuhan utilitas perkotaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, yang konkrit dan mudah diukur. Hal tersebut terlihat jelas pada dampak lingkungan di wilayah perkotaan antara lain banjir setiap musim hujan yang tidak pernah terselesaikan, penggunaan lahan tidak sesuai dengan peruntukannya, kemacetan lalu lintas sebagai akibat kawasan pembangunan campur aduk antara pendidikan, pertokoan, tempat hiburan, dan pemukiman menjadi satu. Berkaitan dengan hal tersebut, aparatur pemerintah daerah hendaknya tidak harus selalu melaksanakannya sendiri, tetapi lebih banyak bersifat mengarahkan (steering rather than rowing), atau memilih kombinasi yang optimal antara melaksanakan atau mengarahkan. Segala sesuatu yang sudah dapat dilaksanakan oleh masyarakat secara

mandiri/swadaya hendaknya tidak perlu lagi dilaksanakan oleh pemerintah, tetapi pemerintah cukup melakukan upaya pemberdayaan (empowering) guna mencapai kualitas

pelayanan yang memuaskan masyarakat. Artinya keputusan atas pilihan tersebut harus dilandasi oleh suatu kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan dan kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat. Dengan diberlakukannya ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, maka akan terjadi pergeseran pusat-pusat kewenangan dalam

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dari pusat ke daerah. Hakekatnya kebijakan desentralisasi

tersebut adalah pemerintah berusaha mendekatkan diri dengan tersebut yang diperintah diharapkan dengan dan (rakyat). Dengan berdekatan mampu apa yang

pemerintah baik tentang

mengenali/mengetahui menjadi permasalahan

kebutuhan,

serta

aspirasi

masyarakat yang dilayaninya. Maka sebagai konsekuensi logis dengan meningkatnya kewenangan daerah tersebut, tentunya harus diikuti dengan meningkatnya akuntabilitas

kinerja instansi pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Paradigma penyelenggaraan pemerintahan,

pembangunan, dan layanan masyarakat telah mengalami pergeseran governance. pembangunan, pula dari rule government menjadi good

Penyelenggaraan dan pelayanan publik,

pemerintahan, berdasarkan

paradigma ini tidak hanya berdasarkan pada peraturan saja (rule) atau pemerintah (Government), tetapi juga perlu melibatkan domain yang lain yaitu sektor swasta (Private Sector) dan masyarakat (Civil Society). Menghadapi dinamika tersebut, dibutuhkan suatu

pendekatan strategi besar dalam Adminsitrasi publik, yaitu pendekatan yang mencerminkan lompatan peningkatan

kualitas dan kekenyalan (Tamin, 2004:17). Aspek tersebut sangat penting dan harus terus menerus, disertai organisasi pemerintah yang solid dan berkinerja tinggi memang

imperatif. Secara konseptual, kualitas tinggi, dan kekenyalan terus kerja menerus dalam yang mengurus organisasi dan tata baik terkait dengan sikap

pemerintahan

profesionalisme kebutuhan dan

dan

responsivitas masyarakat dan

aparatur yang

terhadap

harapan

dipengaruhi lingkungan

perkembangan

(tantangan

peluang)

strategis nasional, regional, dan global. Maka dengan demikian aparatur pemerintah daerah harus senantiasa membangun kompetensi dirinya, aparatur pemerintah juga harus mau dan mampu mengubah posisi dan peran mereka dalam memberikan pelayanan publik. Selain itu mereka juga dituntut untuk profesional dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggung jawabnya yang telah diamanatkan oleh rakyat kepadanya. Profesionalisme lebih diarahkan kepada sikap dan perilaku para aparatur

pemerintah daerah yang mampu bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan segala sikap, perilaku, tindakan, dan kebijakan yang dilakukannya kepada masyarakat. Maka dari itu mereka harus memiliki kompetensi, bersikap

demokratis,

responsif,

dan adaptif dalam melaksanakan

semua tugas pokok dan fungsinya. Schermerhorn, Hunt, Osborne (1991:104)

mengemukakan bahwa kinerja merupakan hasil daripada

atribut seseorang,

upaya kerja, dan dukungan organisasi

yang ia peroleh. Artinya setiap faktor harus dioptimalkan untuk setiap pegawai dalam suatu tatanan kerja, jikalau tingkat pencapaian harus direalisasikan. Maka setiap

pimpinan/manajer harus mengerti bagaimana ketiga faktor tersebut berfungsi, baik sendiri - sendiri maupun dalam kombinasi dalam mempengaruhi hasil. kinerja pegawai yang tinggi Untuk mencapai

atribut individu merupakan Sebab siapa saja

suatu hal yang harus menjadi perhatian.

yang memiliki atribut individu harus memiliki kemampuan, ketrampilan, dan intelektual yang prima, serta yang

bersangkutan harus mengembangkan upaya kerja yang memadai. Tamin (2004:20) mengemukakan beberapa

indikator kinerja yang dikenal dengan good governance yaitu sebagai alat ukur yang sering disampaikan meliputi tingkat akuntabilitas publik, transparansi, efisiensi, dan efektivitas, rule of law, partisipasi, ekonomi pasar. Harapan dan keinginan masyarakat terhadap kualitas kinerja aparatur pemerintah yang baik merupakan suatu kewajaran, sebab fungsi aparatur adalah sebagai public

service. Tetapi hal ini seringkali dirasakan oleh aparatur pemerintah tidak rasional, karena euphoria masa lalu aparatur pemerintah beranggapan bahwa dirinya sebagai penguasa yang harus dilayani, dengan adanya reformasi masyarakat pengguna jasa, justru masyarakat menghendaki ingin menjadi raja dan harus dilayani dengan sebaik-baiknya dari aparatur pemerintah. Masyarakat merasa bukan lagi sebagai objek pelayanan yang dapat dijadikan sapi perahan oleh aparat pemerintah, dan masyarakat berharap menjadi subjek pelayanan yang ikut menentukan bentuk dan jenis pelayanan serta harus diperlakukan secara manusiawi. Berdasarkan hal-hal tersebut, serta mengingat sangat pentingnya tahap implementasi kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai bagian dari siklus kebijakan secara keseluruhan, khususnya dalam upaya pengembangan dan pembangunan mengkajinya infrastruktur, lebih jauh mendorong melalui penulis untuk dan

penelitian,

menuangkannya dalam penelitian yang berjudul : Pengaruh Implementasi Kebijakan Rencana Umum Tata Ruang

Wilayah

terhadap

Kualitas

Pembangunan

Infra

struktur di Perkotaan.

B. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah Kebijakan pemerintah untuk membangun infrastruktur yang sesuai dengan peruntukannya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah, khususnya memasuki era kompetisi global saat ini tidak dapat ditunda - tunda lagi. pemerintah daerah yang berkualitas Aparatur akan

kinerjanya

menjadi salah satu determinan pelayanan publik yang

utama bagi pelaksanaan yang pada giliran

berkualitas,

berikutnya akan berkontribusi positif terhadap kualitas kehidupan bangsa secara keseluruhan. Menghadapi dinamika masyarakat tersebut, aparatur pemerintah daerah dituntut profesional dan senantiasa meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh rakyat kepadanya. Profesionalisme ini lebih diarahkan kepada sikap dan perilaku para aparatur pemerintah daerah

yang benar-benar mau dan mampu bertanggung jawab (responsible) dan mempertanggungjawabkan (accountable) segala sikap, perilaku, tindakan, dan kebijakan yang telah dan sedang dilakukan kepada masyarakat secara

transparan. Meraka harus memiliki kompetensi, bersikap demokratis, responsif, dan adaptif dalam melaksanakan kewajibannya. lingkungan, Terutama dalam menyikapi dan perubahan yang

tuntutan,

aspirasi,

kepentingan

senantiasa mengalami pertumbuhan dan perkembangan di masyarakat. Pemerintah Daerah sebagai salah satu unsur

pelaksana dalam turut mengimplementasikan kebijakan pemerintah dihadapkan tersebut dalam pada membangun berbagai infrastruktur, pasti

kendala. tentang

Kendala-kendala kelembagaan, komunikasi.

bervariasi, sumber

termasuk daya,

kewenangan

peraturan

dan

Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa implementasi kebijakan pemerintah tentang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah belum sepenuhnya meningkatkan kualitas

kebutuhan akan infrastruktur yang konsisten dan berkualitas sesuai dengan yang diharapkan. Bahwa banyak faktor yang diasumsikan berpengaruh terhadap kualitas pembangunan infrastruktur di daerah diantaranya adalah faktor : • Kebijakan Proses pengadaan barang dan jasa

pemerintah ( Keppres 80 Tahun 2003 • Kebijakan Rencana Detail Tata Ruang Daerah • Kebijakan yang meliputi tujuan, filosofi, dan nilai dari pelayanan jasa yang sesuai dengan kebutuhan

masyarakat dan diterima oleh masyarakat • Komitmen yang jelas terhadap kualitas yang dipahami dan dianut oleh pegawai • Latar belakang pendidikan aparatur pemerintah daerah • Prosedur berkaitan kualitas • Diklat profesional bagi aparatur pemerintah daerah yang dilaksanakan oleh organisasi profesi pelatihan dengan dan pengembangan dan staf yang

penjaminan

pengendalian

• Pendidikan formal yang diasumsikan sebagai sumber dari pengetahuan dan ketrampilan

Benchmarking ke lembaga/badan/institusi yang sudah mampu melaksanakan pembangunan infrastruktur

sesuai dengan RTRW • Diklat Teknis di Luar negeri melalui kerjasama antar Kota (Sister City) • Pemberian fasilitas bea siswa untuk mengikuti

pendidikan di dalam dan luar negeri sesuai tuntutan tugasnya.

Pemberian reward berupa promosi atau tunjangan pendidikan bagi aparatur yang berprestasi.

• Penyelenggaraan diklat yang berkualitas dan sesuai kebutuhan peningkatan kualitas kinerja aparatur serta sesuai dengan visi dan misi penyelenggaraan

pemerintahan yang bersih. Berdasarkan uraian tersebut, maka ruang lingkup masalah penelitian oleh peneliti dibatasi hanya mencakup permasalahan : Kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang

Wilayah, Manajemen Proyek, Manajemen pembangunan

Infrastruktur

serta

Kualitas

Pembangunan

Infrastruktur.

Kaitan antar variabel tersebut dapat digambarkan secara visual, seperti yang yang tertera dalam gambar berikut ini:

X X
1

3

ε6 Y

X

2
mbar I.1 Kaitan Antar Variabel Penelitian 4

Ga

X

Keterangan : X1 X2 X3 X4 Y € : Variabel Independen Kebijakan : Variabel Independen Rencana Umum Tata Ruang Wilayah : Variabel Independen Manajemen Proyek : Variabel Independen Pembangunan Infrastruktur : Variabel Dependen Kualitas Pembangunan Infrastruktur : Variabel residual

2. Perumusan Masalah

Bertolak

dari

pembatasan

masalah,

selanjutnya

dikemukakan pernyataan masalah penelitian secara umum yaitu Seberapa besar pengaruh variabel Kebijakan (X1), Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (X2), Manajemen Proyek (X3), dan Manajemen Pembangunan Infrastruktur (X4)

terhadap Kualitas Pembangunan Infrastruktur Perkotaan (Y), baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Berdasarkan pernyataan masalah tersebut, maka fokus masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : • Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah terhadap Pembangunan Infrastruktur?. • Seberapa Besar pengaruh Kebijakan dan Manajemen Proyek terhadap Manajemen Pembangunan Manajemen

Infrastruktur?. • Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Manajemen Proyek terhadap Kualitas Pembangunan Infrastruktur perkotaan?.

• Seberapa besar pengaruh Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Infrastruktur terhadap Kualitas

Pembangunan Infrastruktur perkotaan ? • Seberapa besar pengaruh bersama kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah, Manajemen Proyek, terhadap

Manajemen

Pembangunan

Infrastruktur

Kualitas Pembangunan Infrastruktur Perkotaan ?. 3. Maksud Dan Tujuan Penelitian Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan,

mengkaji dan menganalisis proses pelaksanaan Kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah, Manajemen Proyek, Manajemen pembangunan Infrastruktur Infrastruktur beserta serta Kualitas yang

Pembangunan

aspek-aspek

terkait di dalamnya, sebagai bagian dari implementasi kebijakan pembnangunan di perkotaan Adapun tujuannya adalah mempelajari, mengkaji dan menganalisis tentang pengaruh antara kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah, Manajemen Proyek, Manajemen pembangunan Infrastruktur serta Kualitas Pembangunan

Infrastruktur. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : c. Untuk mendapatkan gambaran empiris tentang variabel Kebijakan, Manajemen Rencana Proyek, Umum Tata Ruang Wilayah,

Manajemen

pembangunan

Infrastruktur serta Kualitas Pembangunan Infrastruktur d. Untuk mengidentifikasi alternatif- alternatif pengaruh Kebijakan, Manajemen Infrastruktur Infrastruktur 4. Manfaat Penelitian Dalam studi kebijakan pemerintah, upaya dalam Rencana Proyek, terhadap Umum Tata Ruang Wilayah,

Manajemen Kualitas

pembangunan Pembangunan

memahami wujud nyata proses implementasi kebijakan merupakan sesuatu yang sangat penting. Dalam kaitan ini bagaimana kebijakan pemerintah dalam membangun

infrastruktur perkotaan, dalam hal ini aparatur pemerintah daerah diwujud nyatakan pada level yang paling

operasional, yaitu oleh Pemerintah Kota Samarinda, Badan Perencanaan dan Dinas Kimpraswil.

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :
c. Secara akademis yaitu bahwa penelitian ini akan

memberikan kontribusi positif bagi pengembangan teori atau studi kebijakan pendidikan dan latihan aparatur, sebagai bagian dari kebijakan pemerintah (public policy) serta sebagai bagian dari studi administrasi

pemerintahan. Secara lebih khusus diharapkan menjadi bagian penting dari pengembangan teori implementasi kebijakan publik, sebagai bagian dari studi kebijakan publik yang akhir-akhir ini mengemuka untuk dikaji lebih mendalam;
d. Secara praktis-institusional, yaitu bahwa penelitian

ini hasilnya dapat bermanfaat bagi Pemerintah Daerah dan Badan Perencanaan Daerah, dan Dinas Kimpraswil sebagai bagian dari implementing agent dari kebijakan pemerintah untuk membangun infrastruktur Perkotaan. Secara lebih khusus bermanfaat bagi para pengambil keputusan organisasi (decision di makers) pada berbagai jenjang tentang

Pemerintah

Kota

Samarinda

bagaimana menginplementasikan kebijakan pemerintah daerah sebagai bagian integral dari manajemen ini

pembangunan

daerah.

Dengan

hasil

penelitian

diharapkan peningkatan kualitas kinerja pembangunan infrastruktur di daerah yang dilakukan di masa depan dan lebih mendukung upaya tercapainya tugas, fungsi dan wewenang Pemerintah Kota Samarinda sebagai institusi pelayan publik yang prima. 5. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran studi ini dapat dinyatakan secara skematika visual seperti yang tertera pada gambar dibawah ini :

Kebijakan Good Governan ce

RENSTRA
Pemerintah Kota / Kabupaten

Manajemen Proyek

rastruktur Kebijakan

Kualitas Pembangunan Infrastrktur

RUTRW

Manajemen Pembangunan Infrastruktur

Gambar 1.2. Kerangka Pikir Penelitian

Kepemerintahan yang baik (Good Governance) terkait erat dengan akuntabilitas tugas, fungsi, administrasi dan publik dalam

menjalankan

tanggungjawabnya.

Pemerintahan pada hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk melayani dirinya sendiri, juga untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Thoha (1997:110) menegaskan bahwa untuk menemukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, itu sangat tergantung kepada hal-hal berikut ini : 1. Pelaku-pelaku dari pemerintahan, dalam hal ini sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya aparaturnya;

2. Kelembagaan yang dipergunakan oleh pelakupelaku pemerintahan untuk mengaktualisasikan

kinerjanya; 3. Perimbangan seberapa jauh kekuasaan yang mencerminkan itu harus

sistem

pemerintahan

diberlakukan; 4. Kepemimpinan dalam birokrasi publik yang

berahlak, berwawasan, demokratis, dan responsif. Karakteristik penyelenggaraan kepemerintahan yang baik menurut Bhata dan Nisjar (1997:119) adalah

akuntabilitas ( accountability), transparansi (transparency), keterbukaan (openess), dan rule of law. Dalam seluruh

penyelenggaraannya

menuntut

keterlibatan

stakeholder atau unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, hal ini bisa terwujud manakala sistem desentralisasi dan otonomi daerah mampu dijalankan artinya pemerintah didekatkan dengan yang diperintah. Dengan pemerintah dapat menjadi mengenali apa yang permasalahan, demikian

kebutuhan

masyarakat,

keinginan, kepentingan, serta aspirasi dari rakyatnya secara

tepat,

sebab

kebijakan

yang

akan

dibuat

harus

mencerminkan semua kepentingan dan aspirasi masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk mewujudkan kondisi good governance, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk membangun daerahnya kearah peningkatan kualitas kinerja aparatur pemerintah daerah sebagai penggerak pembangunan. Dalam konteks administrasi pembangunan, bahwa

pembangunan sarana infrastruktur perkotaan di desain untuk dengan menangani kebutuhan beberapa publik pelayanan dalam yang berkaitan kualitas

peningkatan

kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Fokus dalam penelitian ini adalah pada implementasi kebijakan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah, dikaitkan dengan kualitas pembangunan infrastruktur perkotaan. Karena keterbatasan peneliti, maka variabel kualitas pembangunan infrastruktur perkotaan yang menyangkut organisasi pemerintah daerah saja yang dianalisis, dan variabel tersebut dianggap relevan dengan fenomena-

fenomena yang terjadi dilapangan, yaitu Kebijakan, RUTRW,

Manajemen Infrastruktur

Proyek,

dan

Manajemen

Pembangunan

6. Asumsi Penelitian 1. Kebijakan ialah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-

peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan. Dengan demikian ciri-ciri kebijakan publik berimplikasi sebagai berikut : Kebijakan negara/publik dalam suatu sistem politik yang merupakan mengarah suatu tindakan yang suatu

direncanakan

pada

pencapaian

tujuan; merupakan suatu keputusan yang berkaitan dengan implementasi keterkaitan dan dengan masa apa pemberlakuannya; yang harus memiliki oleh

dilakukan

pemerintah pada bidang tertentu; mempunyai beberapa tindakan,baik yang harus dilakukan maupun tidak perlu dilakukan dalam menghadapi suatu permasalahan; dan tidak memiliki arti atau nilai jika kebijakan tersebut tidak

dimplementasikan (Udoji, 1981:32).

2. Implementasi

kebijakan

adalah

sesuatu

yang

penting,

bahkan mungkin jauh lebih penting daripada pembuatan kebijakan. Dan kebijakan akan sekedar berupa impian atau rencana bagus yang tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan. Hal ini disebabkan karena implementasi kebijakan publik berusaha untuk diwujudkan kedalam realita yang sebenarnya atau dengan kata lain implementasi kebijakan publik berusaha menimbulkan hasil (outcomes) yang dapat dirasakan oleh target groups. (Dunn, 2000:2122). 3. Sumber daya dalam implementasi ini kebijakan, sumber yang daya

dimaksudkan

dalam

konteks

adalah

manusia yang harus memiliki keahlian (profesionalisme) dan kemampuan untuk melaksanakan kebijakan tersebut.

Pengembangan sumber daya manusia layaknya melalui pendidikan, harus disesuaikan dengan perubahan

masyarakat. As an organized and sustained communication designed to bring about learning . Education can be defined as the organized,systematic effort to foster learning,to

establish the conditions and to provide the activities through which learning can accour. (Sujana,2000:423; Smith1981).
7. Hipotesis

Berdasarkan pada asumsi penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu : a. Kebijakan dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah berpengaruh terhadap Manajemen Pembangunan

Infrastruktur Perkotaan b. Kebijakan dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah berpengaruh terhadap Manajemen Proyek c. Kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah dan Manajemen Proyek berpengaruh terhadap Manajemen Pembangunan Infrastruktur Perkotaanl. d. Kebijakan dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah berpengaruh terhadap Kualitas Pembangunan

Infrastruktur perkotaan e. Kebijakan, Rencana Umum Tata Ruang Wilayah dan Manajemen Proyek berpengaruh terhadap Kualitas

Pembangunan Infrastruktur Perkotaan

f. Kebijakan, Manajemen Infrastruktur InfraStruktur

Rencana Proyek,

Umum dan

Tata

Ruang

Wilayah,

Manajemen Kualitas

Pembangunan Pembangunan

terhadap

BAB II METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survai berupa deskriptif-analitik dengan menggunakan data dari responden. Data diperoleh melalui hasil kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan. Adapun proses pengembangan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data dilaksanakan berdasarkan: (a).

Peraturan Daerah Renstra dan RUTRW, (b). Observasi pra penelitian, (c). Hasil diskusi dengan Dinas Teknis dan masyarakat, serta (d). Referensi yang berkaitan dengan Penelitian ini. Kemudian teknik analisis data dalam penelitian ini, menggunakan teknik analisis regresi korelasi dan analisis jalur (path analysis). (Sitepu,1994). I. Lokasi dan Sampel Penelitian. a. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan terhadap Pegawai dan

pimpinan Badan dan Dinas Teknis Daerah yang bertugas di Pemerintah Kota Samarinda serta warga masyarakat Kota Samarinda yang memerlukan pelayanan dari aparatur

pemerintah daerah.

b. Sampel penelitian. Penelitian menggunakan sampel yang berjumlah 280 Orang terdiri atas sebagai berikut : 1. Bapeda Kota Samarinda87 orang 2. Dinas Kimpraswil Samarinda66 orang 3. Anggota DPRD Kota Samarinda 4. Warga masyarakat 100 orang Sampel diatas berdasarkan stratified random sampling, hal ini disebabkan populasi yang heterogen, maka populasi tersebut dibagi berdasarkan strata dan dari setiap strata diambil secara acak sehingga setiap lapisan terwakili. c. Jadwal Penelitian: 27 orang

NO. 1. 2 3 4 5 6 7 8 9

KEGIATAN
PENYUSUNAN PROPOSAL

WAKTU
JANUARI ( MI) JANUARI (M3) PEBRUARI (MI) PEBRUARI (M2) PEBRUARI (M3) PEBRUARI (M4) MARET ( MI + M2) MARET ( M3) MARET (M4) APRIL (M1)

SEMINAR PROPOSAL PENELITIAN PENYUSUNAN
PENELITIAN OBSERVASI UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN TEST VALIDITAS DAN RELIABILITAS PENGAJUAN KUESIONER PENGUMPULAN DATA PENGKAJIAN PUSTAKA ANALISIS/PENGOLAHAN DATA

INSTRUMEN JANUARI (M4)

10 11 12 13

PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN DISKUSI DENGAN PEMBIMBING SEMINAR SKRIPSI PERBAIKAN SKRIPSI UJIAN PENDADARAN SKRIPSI

APRIL (M2) APRIL (M3) APRIL (M4) SESUAI JADWAL AKADEMIS

Keterangan : bersangkutan

M

adalah

minggu

pada

bulan

yang

Demikian, proposal penelitian ini disusun, dengan harapan mendapat persetujuan untuk ditindak lanjuti. Samarinda, 25 Desember 1999 Peneliti,

BAMBANG SUDARYANA

DAFTAR PUSTAKA

Ginanjar, Ary,2001, Emotional Spiritual Quotient, Jakarta, Penerbit Arga Giovany, 1998, Modern Filosofy, London, Everhaold, Inc Ki Fudyatanta,2006, Filsafat Pendidikan Barat Dan Filsafat Pendidikan Pancasila,yogyakarta, Penerbit Amus

Lokcyre, 2000, About Knowledge, Plato and sugest, Goldehall,USA Revert.R,2004, Filsafat Ilmu: Sejarah dan Ruang Lingkup Sejarah Bahasa. Jogyakarta,Pustaka Pelajar Russel, Bertrand,1974, History of Western Philosophy, London, George Allen Syna, 2001, Indahnya Toleransi Beragama, Darul T, Bandung Sumarna,2006, Filsafat Ilmu, Bandung, Pustaka Bany Quraisy Soleh,A Hudori,2004, Wacana Baru Filsafat Islam, Yohjakarta,Pustaka Pelajar Suriasumantri,S.jujun,2003, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Sinar Harapan Titus, Smith, & Nolan, 1984, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang

BAB X TEKNIK PRESENTASI HASIL PENELITIAN
1.

Presentasi

dilakukan

dengan

cara

memberikan penjelasan singkat dan padat tentang isi secara keseluruhan terutama permasalahan yang ada, dan pemecahan masalah yang diberikan

2.

Presentasi dapat dilakukan dengan media

transparan OHP, demo program dengan komputer dan atau menggunakan media in focus atau alat peraga lain yang dianggap menarik untuk mendukung kelancaran presentasi 3. Bagi mahasiswa yang presentasi dengan fasilitas komputer wajib untuk menggunakan

menyerahkan file / programnya paling lambat 1 (satu) hari sebelum ujian sidang 4. Setiap / laporan dilakukan Presentasi yang Ujian yang dibuat sidang wajib sebagai bagi dipresentasikan 5.

pertanggung jawaban akademik di depan Tim Penguji Waktu disediakan mahasiswa adalah paling lama 10 menit untuk laporan semester, dan laing lama 15 menit untuk tugas akhir dan skripsi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->