P. 1
Hukum Tanah 1

Hukum Tanah 1

|Views: 4,859|Likes:
Published by street_lawyer1945
horas....
horas....

More info:

Published by: street_lawyer1945 on Oct 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953 tentang Penguasaan Tanah-

Tanah Negara jo Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1979 tentang

Pokok-Pokok Kebijaksanaan Dalam Rangka Pemberian Hak Baru Atas

Tanah Asal Konversi Hak-Hak Barat antara lain menyatakan bahwa:

a. Kepada Daerah Swatantra dapat diberikan penguasaan atas tanah

negara untuk menyelenggarakan kepentingan daerahnya (Pasal 4 ayat

(2) PP Nomor 8 Tahun 1953)

b. Kecuali jika penguasaan atas tanah negara dengan UU atau dengan

peraturan lain pada waktu berlakunya PP ini, telah diserahkan kepada

sesuatu Kementerian atau Jawatan maka penguasaan atas tanah negara

berada pada Menteri Dalam Negeri (Pasal 2 PP No.8 Tahun 1953)

c. Sebelum dapat menggunakan tanah-tanah negara yang penguasaannya

diserahkan kepadanya menurut peruntukannya, dapat diberikan izin

kepada pihak lain untuk memakai tanah-tanah itu dalam waktu tertentu

(Pasal 9 PP Nomor 8 Tahun 1953)

d. Tanah HGU, HGB, HP asal konversi Hak Barat yang jangka waktunya

akan berakhir selambat-lambatnya tanggal 24 September 1980, pada

saat berakhirnya hak yang bersangkutan menjadi tanah negara (Pasal 1

ayat (1) Keppres No.32 Tahun 1979).

35

3. Tukar Menukar/Ruislag

Keppres No.16 Tahun 1994 jo Keppres No.24 Tahun 1995 dan

Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No.360/KMK.03/1994 tentang

Tata Cara Tukar Menukar Barang Milik/Kekayaan Negara dan

PMNA/Kepala BPN No. 500-468 tanggal 12 Pebruari Tahun 1996 tentang

Masalah Ruislag Tanah-Tanah Pemerintah menyatakan bahwa:

a. Tukar Menukar/Ruislag Barang Milik/Kekayaan Negara adalah

pengalihan pemilikan dan atau penguasaan barang tidak bergerak milik

Negara kepada pihak lain dengan menerima penggantian utama dalam

bentuk barang tidak bergerak dan tidak merugikan negara (Pasal 1

Keputusan Menteri Keuangan RI No.360/KMK.03/1994)

b. Ruislag dapat dilakukan antara Departemen/LPND dengan Pemda,

BUMN, BUMD, Koperasi dan Swasta (Pasal 4 Keputusan Menteri

Keuangan RI No.360/KMK.03/1994)

Untuk tukar menukar tanah perlu izin dari Menteri Keuangan dan telah

ditetapkan keanggotaan Panitia Penaksir (untuk menaksir harga tanah

dengan menggunakan komponen nilai/harga yang ada, yaitu harga dasar,

NJOP, harga umum (dari PPAT) diambil angka tertinggi. Segera diikuti

dengan pensertifikatan tanah yang telah dilepas oleh instansi Pemerintah,

dan terhadap tanah pengganti diminta haknya oleh Instansi Pemerintah

yang menerimanya dan kemudian didaftarkan sebagai aset pihak penerima

atau aset Instansi Pemerintah yang bersangkutan.

36

Dalam penyelesaian hak atas tanah untuk masing-masing pihak,

sebelum dilakukan ruislag perlu diketahui secara pasti mengenai status hak

dan luas tanah, dengan meminta SKPT dan Gambar Situasi ke Kantor

Pertanahan.

4. Penguasaan Atas Tanah Negara Bekas Balatentara Jepang

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.20/5/7 Tanggal 09-05-

1950 dan No.40/25/13 Tanggal 13-05-1953 mengenai Penyelesaian

Tanah-Tanah Yang Dahulu Diambil Oleh Pemerintah Pendudukan Jepang

menyatakan bahwa:

1) Tanah-tanah asal kepunyaan penduduk Indonesia yang diambil

Pemerintah Pendudukan Jepang dengan pemberian ganti

kerugian, dipandang sebagai tanah negara.

2) Dalam hal pengambilan tanah-tanah dari penduduk Indonesia

tidak dengan pemberian ganti rugi, maka tanah-tanah tersebut

tetap menjadi kepunyaan penduduk.

Sedangkan Surat Edaran Ditjen Agraria No.593/III/Agr Tanggal 07-01-

1953 menyatakan antara lain:

1) Batas waktu mengajukan tuntutan ganti rugi s/d akhir tahun 1953

2) Setelah tahun 1953, tuntutan ganti rugi lewat Pengadilan

5. Nasionalisasi Perusahaan Milik Belanda

UU No.86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan

Milik Belanda.

37

6. Pencabutan Hak Atas Tanah

UUPA No.5 Tahun 1960 jo Undang-Undang No.20 Tahun 1961

tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada Di

Atasnya dalam Pasal 18 UUPA menyatakan bahwa:

“Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara
serta kepentingan bersama dari seluruh rakyat, hak-hak atas tanah dapat
dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara
yang diatur dengan undang-undang”.

Berkenaan dengan Kriteria Kepentingan Umum :Pasal 5 Peraturan

Presiden No.65 Tahun 2006 menyatakan antara lain :

a. Dilaksanakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah,

b. Dimiliki atau akan dimiliki oleh Pemerintah/Pemerintah Daerah

Adapun Jenis-Jenis Kepentingan Umum (sebagaimana diatur dalam

Pasal 5 Perpres 36/Tahun 2005 jo Perpres 65/Tahun 2006) antara lain :

a. Jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (di atas tanah, di ruang atas

tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih,

saluran pembuangan air dan sanitasi;

b. Waduk, bendungan, bendungan irigasi dan bangunan pengairan

lainnya;

c. Pelabuhan, Bandar udara, stasiun kereta api, dan terminal;

d. Fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan bahaya

banjir, lahar, dan lain-lain bencana;

e. Tempat pembuangan sampah;

f. Cagar alam, cagar budaya;

g. Pembangkit, transmisi, distribusi tenaga listrik”.

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->