P. 1
tugas pkn negara

tugas pkn negara

|Views: 5,208|Likes:
Published by parliend

More info:

Published by: parliend on Oct 18, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

Definisi Negara.

Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang berbeda dengan bentuk organisasi lain terutama karena hak negara untuk mencabut nyawa seseorang. Untuk dapat menjadi suatu negara maka harus ada rakyat, yaitu sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada. Keberadaan negara, seperti organisasi secara umum, adalah untuk memudahkan anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya. Keinginan bersama ini dirumuskan dalam suatu dokumen yang disebut sebagai Konstitusi, termasuk didalamnya nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai anggota negara. Sebagai dokumen yang mencantumkan cita-cita bersama, maksud didirikannya negara Konstitusi merupakan dokumen hukum tertinggi pada suatu negara. Karenanya dia juga mengatur bagaimana negara dikelola. Konstitusi di Indonesia disebut sebagai Undang-Undang Dasar. Dalam bentuk modern negara terkait erat dengan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan cara-cara yang demokratis. Bentuk paling kongkrit pertemuan negara dengan rakyat adalah pelayanan publik, yakni pelayanan yang diberikan negara pada rakyat. Terutama sesungguhnya adalah bagaimana negara memberi pelayanan kepada rakyat secara keseluruhan, fungsi pelayanan paling dasar adalah pemberian rasa aman. Negara menjalankan fungsi pelayanan keamanan bagi seluruh rakyat bila semua rakyat merasa bahwa tidak ada ancaman dalam kehidupannya. Dalam perkembangannya banyak negara memiliki kerajang layanan yang berbeda bagi warganya. Berbagai keputusan harus dilakukan untuk mengikat seluruh warga negara, atau hukum, baik yang merupakan penjabaran atas hal-hal yang tidak jelas dalam Konstitusi maupun untuk menyesuaikan terhadap perkembangan jaman atau keinginan masyarakat, semua kebijakan ini tercantum dalam suatu Undang-Undang. Pengambilan keputusan dalam proses pembentukan Undang-Undang haruslah dilakukan secara demokratis, yakni menghormati hak tiap orang untuk terlibat dalam pembuatan keputusan yang akan mengikat mereka itu. Seperti juga dalam organisasi biasa, akan ada orang yang mengurusi kepentingan rakyat banyak. Dalam suatu negara modern, orang-orang yang mengurusi kehidupan rakyat banyak ini dipilih secara demokratis pula. Pengertian Negara menurut para ahli: Georg Jellinek Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu. Georg Wilhelm Friedrich Hegel Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal Roelof Krannenburg Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri. Roger H. Soltau Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat. Prof. R. Djokosoetono Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Prof. Mr. Soenarko Negara ialah organisasi manyarakat yang mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai sebuah kedaulatan. Aristoteles Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama. Prof. Dr. Ing. Vicky Rahadian F. Negara adalah suatu tempat yang bisa diduduki dan ditinggali. Asal Mula Terjadinya Negara Berdasarkan fakta sejarah

Pendudukan (Occupatie) Hal ini terjadi ketika suatu wilayah yang tidak bertuan dan belum dikuasai, kemudian diduduki dan dikuasai.Misalnya,Liberia yang diduduki budak-budak Negro yang dimerdekakan tahun 1847. Peleburan (Fusi) Hal ini terjadi ketika negara-negara kecil yang mendiami suatu wilayah mengadakan perjanjian untuk saling melebur atau bersatu menjadi Negara yang baru.Misalnya terbentuknya Federasi Jerman tahun 1871. Penyerahan (Cessie) Hal ini terjadi Ketika suatu Wilayah diserahkan kepada negara lain berdasarkan suatu perjanjian tertentu.Misalnya,Wilayah Sleeswijk pada Perang Dunia I diserahkan oleh Austria kepada Prusia,(Jerman). Penaikan (Accesie) Hal ini terjadi ketika suatu wilayah terbentuk akibat penaikan Lumpur Sungai atau dari dasar Laut (Delta).Kemudian di wilayah tersebut dihuni oleh sekelompok orang sehingga terbentuklah Negara.Misalnya,wilayah negara Mesir yang terbentuk dari Delta Sungai Nil. Keterkaitan Dasar Negara dengan Konstitusi 1. Pengertian Dasar Negara Dalam Ensiklopedi Indonesia, kata “dasar” (filsafat) berarti asal yang pertama. Bila dihubungkan dengan negara (dasar negara), kata “dasar” berarti pedoman dalam mengatur kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan negara yang mencakup berbagai bidang kehidupan. Bagi bangsa Indonesia, dasar negara yang dianut adalah Pancasila. Dalam tinjauan yuridis konstitusional, Pancasila sebagai dasar negara berkedudukan sebagai norma obyektif dan norma tertinggi dalam negara, serta sebagai sumber segala sumber hukum sebagaimana tertuang di dalam TAP.MPRS No. XX/MPRS/1966,jo.TAP.MPR No.V/MPR/1973,jo.TAP.MPR No.IX/MPR/1978. Penegasan kembali Pancasila sebagai dasar Negara tercantum dalam TAP.MPR No.XVIII/MPR/1998. 2. Pengertian Konstitusi Konstitusi atau Undang-Undang Dasar ? Dalam kehidupan sehari-hari kita telah terbiasa menerjemahkan kata Inggris constitution (konstitusi) dengan Undang-Undang Dasar. Kesulitan pemakaian istilah “Undang-Undang Dasar” adalah bahwa kita langsung membayangkan suatu naskah tertulis, karena semua Undang-Undang dasar adalah suatu naskah tertulis. Padahal istilah “constitution” lebih luas, yaitu keseluruhan peraturan- baik yang tertulis maupun tidak tertulis- yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat. Undang-Undang Dasar adalah konstitusi yang tertulis, sedangkan konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun tidak tertulis. Para penyusun UUD 1945 menganut pikiran yang sama; dalam penjelasan UUD 1945 dikatakan : “Undang-Undang Dasar suatu negara ialah hanya sebagian hukum dasar negara itu. Undang-Undang Dasar ialah Hukum Dasar yang tertulis, sedang di sampingnya Undang-Undang Dasar tersebut berlaku juga Hukum Dasar yang tidak tertulis, yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis”. Hukum dasar tidak tertulis disebut Konvensi. Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita-cita, dan tujuan negara yang tertuang dalam Mukadimah atau Pembukaan Undang-Undang Dasar suatu negara. Dari dasar negara inilah kehidupan negara yang dituangkan dalam bentuk peraturan perundangundangan diatur dan diwujudkan. Salah satu perwujudan dalam mengatur dan menyelenggarakan kehidupan ketatanegaraan suatu negara adalah dalam bentuk Konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Keterkaitan Dasar Negara dengan Konstitusi. Pancasila secara resmi menjadi dasar Negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945. secara rinci, rumusan Pancasila tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. Pancasila dan UUD 1945 mempunyai keterkaitan sangat erat yang dapat dideskripsikan antara lain melalui proses penyusunan dan tekstualnya. 1. Ditinjau dari Proses Penyusunan dan Penetapan. a. Tahap Pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada tanggal 29 April 1945 dibentuk bPUPKI dan dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. dengan terbentuknya badan ini, bangsa Indonesia mendapat kesempatan secara legal untuk membicarakan dan mempersiapkan keperluan kemerdekaan Indonesia, anta lain mempersiapkan Undang-Undang Dasar yang berisi antara lain dasar negara, tujuan negara, bentuk negara, dan sistem pemerintahan.

b.Penyusunan konsep rancangan dasar negara dan Rancangan Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi negara Indonesia merdeka. 1) Pada tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945 diselenggarakan sidang BPUPKI yang pertama. Dalam sidang ini, Ketua BPUPKI dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat menyatakan kepada peserta sidang mengenai dasar falsafah apa yang akan dibentuk bagi negara Indonesia merdeka. a.) Mr.Muhammad Yamin. → 29 Mei 1945 ~Usulan rumusan dasar negara secara lisan: 1. Peri kebangsaan 2. Peri kemanusiaan 3. Peri Ketuhanan 4. Peri kerakyatan 5. Kesejahteraan rakyat ~Usulan rumusan dasar negara secara tertulis : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kebangsaan Persatuan Indonesia 3. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan 5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. b.) Prof.Dr.Mr.R.Soepomo. → 31 Mei 1945 Usulan konsep dasar negara Indonesia : 1. Paham negara persatuan 2. Hubungan negara dan agama 3. Sistem badan permusyawaratan 4. Sosialisme negara 5. Hubungan antarbangsa c.) Ir. Soekarno. → 1 Juni 1945 Ir. Soekarno mengusulkan dasar negara Indonesia merdeka adalah Pancasila. Rumusan dasar negara Indonesia : 1) Kebangsaan Indonesia 2) Internasionalisme atau peri kemanusiaan 3) Mufakat atau demokrasi 4) Kesejahteraan sosial 5) Ketuhanan yang berkebudayaan Rumusan Dasar Negara menurut Jakarta Charter (22 Juni 1945) : 1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3) Persatuan Indonesia. 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. c. Sidang BPUPKI yang kedua tanggal 10 s/d 16 Juli 1945. Pada sidang pleno kedua BPUPKI membicarakan tentang rancangan undang-undang dasar Negara Indonesia merdeka dan berhasil membentuk panitia kecil. Panitia Kecil yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, bertugas merumuskan rancangan Pembukaan undang-undang dasar yang berisi tujuan dan asas Negara Indonesia merdeka. Panitia Kecil yang dipimpin oleh Prof.Dr.Mr.R.Soepomo, bertugas merumuskan rancangan batang tubuh undang-undang dasar dan rancangan naskah proklamasi. Pada hari kelima sidang ini, yakni tanggal 14 Juli 1945 telah diterima rancangan dasar Negara sebagaimana tersebut dalam Piagam Jakarta yang dicantumkan dalam Pembukaan dari rencana UUD yang sedang disiapkan. d. Penetapan UUD 1945. Pada tanggal 18 Agustus 1945, anggota PPKI bersidang menetapkan: 1. Mengesahkan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.

2. Memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan Drs.Moh.Hatta sebagai Wakil Presiden RI yang pertama. 3. Untuk sementara waktu, pekerjaan presiden sehari-hari dibantu oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat ( BP-KNIP ). Rumusan dasar Negara yang disahkan dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, berbunyi sebagai berikut. a. Ketuhanan Yang Maha Esa. b. Kemanusiaan yang adil dan beradab. c. Persatuan Indonesia. d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Ditinjau dari Tekstualnya. Ditinjau dari tekstualnya, bahwa Pancasila sebagai dasar negara kesatuan Republik Indonesia tercantum di dalam konstitusi negara, yakni dalam UUD 1945 yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 Sebagai dasar negara, Pancasila tercantum di dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yang merupakan landasan konstitusional dan ideologi negara. Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum sehingga semua peraturan hukum yang bertentangan dengan Pancasila harus dicabut. Secara tekstual rumusan Pancasila tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea keempat. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtsstaat), dan pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Penegasan ini mengandung makna bahwa di dalam negara Republik Indonesia, penyelenggaraan negara tidak boleh dan tidak akan dilakukan berdasarkan atas kekuasaan belaka. Seluruh penyelenggaraan pemerintahan dan hukum harus dilaksanakan berdasarkan konstitusi yang berlaku. Pada awal kemerdekaan, penyelenggaraan pemerintahan dan hukum dilakukan dengan sistem presidentil sebagaimana diatur dalam UUD 1945. UUD 1945 ternyata telah mampu berfungsi sebagai hukum dasar tertulis selama berlangsungnya perjuangan fisik. Namun demikian, untukkepentingan perjuangan/diplomasi pada masa perjuangan menegakkan kemerdekaan, maka dalam perkembangannya kemudian telah diambil kebijaksanaan yang cukup mendasar dalam sistem pemerintahan, yaitu merubah sistem pemerintahan presidentil menjadi sistem parlementer, di mana para menteri bertanggung jawab kepada Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang berfungsi sebagai badan perwakilan rakyat berdasarkan pasal IV Aturan Peralihan, tanpa merubah UUD 1945 itu sendiri. Masa perjuangan fisik berakhir dengan pengakuan kedaulatan pada tahun 1949. Namun sebagai basil perundingan Konperensi Meja Bundar (KMB), bentuk dan susunan negara republik terpaksa berubah, yaitu dari negara kesatuan Republik Indonesia menjadi negara federal Republik Indonesia Serikat, dan UUD 1945 digantikan dengan UUD RIS. Bagi para pejuang, diterimanya RIS dan UUD-RIS ini merupakan taktik belaka, oleh karena itu negara RIS tidak berumur panjang yaitu kurang dari satu tahun.Atas kesepakatan antara negara-negara bagian lain dengan negara bagian RI yang beribu kota di Yogyakarta, pada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara kesatuan Republik Indonesia, dan UUD RIS menjadi UndangUndang Dasar Sementara tahun 1950 (UUDS-1950). UUDS 1950 menganut sistem pemerintahan demokrasi barat dengan sistem kabinet parlementer. Ternyata sistem ini tidak dapat memberikan stabilitas politik dan pemerintahan. Kabinet cepat berganti sehingga program-program pembangunan tidak dapat dijalankan, dan tidak ada kesinambungan dalam kebijaksanaankebijaksanaan pemerintah. Perbedaan ideologi juga mengakibatkan pertentangan-pertentangan politik yang tajam antara partai-partai politik. Akibatnya keadaan ekonomi dan sosial masyarakat tidak ada perbaikan. Sementara itu beberapa daerah bergolak karena ada usaha separatisme dan kuatnya rasa kedaerahan. Dalam UUDS 1950 ditentukan adanya konstituante yang bertugas membuat undang-undang

dasar RI yang tetap. Konstituante dibentuk melalui pemilihan umum pada tahun 1955 yang juga memilih anggota DPR. Dalam mengemban tugasnya, konstituante ternyata gagal melaksanakan tugasnya walaupun telah melakukan persidangan selama lebih dari 2 tahun. Mempertimbangkan ketidakberhasilan konstituante dalam membuat undang-undang dasar yang tetap, sementara keadaan politik dan keamanan semakin mengancam keutuhan negara dan persatuan serta kesatuan bangsa, maka pada tanggal 5 Juli 1959 dikeluarkanlah Dekrit Presiden yang menetapkan berlakunya kembali UUD 1945. Dengan kembalinya negara Indonesia kepada UUD 1945 maka berlakulah kembali sistem pemerintahan presidentil. Lembagalembaga yang ditetapkan oleh UUD 1945 juga dibentuk. Namun berlakunya kembali UUD 1945 ternyata tidak dengan sendirinya membawa perbaikan pada kehidupan negara, bangsa dan masyarakat. Pelaksanaan UUD 1945 pada kurun waktu 19591965, diterapkan dalam "demokrasi terpimpin" di mana kekuasaan menjadi terpusat. Pimpinan lembaga-lembaga legislatif dan yudikatif menjadi anggota kabinet, dan dengan demikian berada di bawah kedudukan Presiden. Bahkan ketua MPR(S) juga menjadi anggota kabinet. Penyimpanganpenyimpangan terhadap ketentuan-ketentuan UUD 1945, serta gerakan-gerakan yang dilakukan oleh. PKI untuk memperkuat kedudukannya, telah menyebabkan situasi politik dan pemerintahan menjadi tidak mantap dan banyak gejolak. Keadaan ini mencapai puncaknya dengan terjadinya pemberontakan G-30-S/PKI. Pemberontakan ini dapat segera diatasi, dan peristiwa itu telahmembangkitkan semangat persatuan, kesadaran dan tekad bangsa Indonesia untuk mengadakan koreksi terhadap penyimpangan pelaksanaan UUD 1945 dengan membangun tatanan negara dan masyarakat yang melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Lahirlah Orde Baru yang bertekad untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang konstitusional, demokratis dan berdasarkan hukum. Di bidang hukum sejak tahun 1945 hingga tahun 1966, selain telah dihasilkan UUD 1945, UUD RIS, dan UUDS 1950, telah pula dihasilkan sejumlah peraturan perundang-undangan, di antaranya 133 buah undang-undang selama tahun 1945-1950; 8 buah undang-undang dan 30 buah undangundang darurat dalam kurun waktu berlakunya UUD RIS; 167 buah undang-undang antara tahun 1950-1959; dan 123 buah undang-undang pada kurun waktu 1959-1966. Dalam masa demokrasi liberal menurut sistem parlementer, patut dicatat digunakannya hak inisiatif DPR dalam pembuatan hukum, yaitu dari 167 buah undang-undang yang dihasilkan pada periode tersebut, 9 buah di antaranya merupakan inisiatif DPR. Sementara itu dalam masa demokrasi terpimpin patut dicatat pula, adanya bentuk peraturan perundang-undangan yang muatannya adalah materi undang-undang namun berbentuk penetapan presiden. Pada waktu itu dikembangkan ajaran revolusi sebagai sumber hukum dan karena Presiden adalah Pemimpin Besar Revolusi, maka Penetapan Presiden memiliki kekuatan hukum seperti undang-undang. Semenjak itu dikenal bentuk-bentuk baru peraturan negara di samping bentuk peraturan negara yang sudah ada menurut UUD 1945. Peraturan baru tersebut adalah : (1) Penetapan Presiden, (2) Peraturan Presiden; (3) Peraturan Pemerintah untuk melaksanakanPeraturan Presiden; (4) Keputusan Presiden; dan (5) Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri. Orde Baru sejak awal berusaha untuk menata kembali kehidupan dengan sungguh-sungguh dan hanya berlandaskan ketentuan-ketentuan dalam UUD 1945. Melalui sidang-sidang MPRS tahun 1966, upaya penataan hukum dilakukan dengan antara lain Ketetapan MPRS Nomor XX/MPRS/66 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Dalam ketetapan tersebut dinyatakan bahwa sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah Pancasila,

sedangkan tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia adalah : (1) UndangUndang Dasar 1945; (2) Ketetapan MPR; (3) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang; (4) Peraturan Pemerintah; (5) Keputusan Presiden; (6) Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya, seperti Peraturan Menteri, Instruksi Menteri, dan lain-lainnya. Berdasarkan UUD 1945, kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. Namun pada awal kemerdekaan hingga lahirnya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964, sistem peradilan di Indonesia, berdasarkan pasal II Aturan Peralihan, masih tetap mengikuti sistem peradilan di masa penjajahan Belanda yang mengenal lebih dari satu tatanan peradilan. Hal penting yang patut mendapat perhatian dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 adalah dihapuskannya peradilan di luar peradilan negara, seperti peradilan swapraja dan peradilan adat, sehingga hanya ada satu sistem peradilan negara di seluruh wilayah Indonesia. Namun pengadilan adalah tidak bebas dari pengaruh kekuasaan eksekutif dan kekuasaan membuat undang-undang apabila ada kepentingan negara dan bangsa yang lebih besar.Pada masa pemerintahan orde baru dengan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman diadakan koreksi terhadap Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964, yang menetapkan kekuasaan kehakiman yang merdeka, terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dikenal adanya empat lingkungan peradilan yaitu peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara. Sebagai penjabarannya ditetapkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Landasan hukum bagi kejaksaan pada saat terbentuknya Republik Indonesia adalah pasal II aturan peralihan UUD 1945 yang kemudian diatur lagi pada pasal 1 PP Nomor 2 Tahun 1945. Dengan demikian seluruh tugas dan wewenang kejaksaan pada waktu itu masih berdasarkan peraturan yang diciptakan oleh pemerintah bala tentara Jepang dan pemerintahan kolonial Belanda. Semula status kejaksaan berada di lingkungan Departemen Kehakiman dan barulah pada tahun 1960 menjadi lembaga yang berdiri sendiri yang diperkuat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1961 tentang Ketentuan Pokok Kejaksaan RI. Undang-undang itu pada masa Orde Baru diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991. Salah satu produk hukum pokok yang sangat penting artinya bagi proses penegakan hukum dan bagi perlindungan hak asasi manusia adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. KUHAP ini menggantikan Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR). Berdasarkan undang-undang ini masalah penyidikan dan penahanan dalam perkara tindak pidana umum menjadi kewenangan pihak kepolisian. Dalam perkara tindak pidana khusus, kejaksaan tetap memiliki kewenangan untuk melaksanakan pengawasan terhadap penyidik di samping melakukan penyidikan dan penahanan sendiri.Di bidang pemasyarakatan, pada awal kemerdekaan pembinaan pemasyarakatan masih dilakukan dengan sistem perlakuan terhadap narapidana yang didasarkan pada Gestichten Reglement Tahun 1917 (Staatsblad 1917 No. 708) yang diberlakukan melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945. Sistem perlakuan terhadap narapidana ini masih didasarkan kepada pandangan individualis dan liberalis dengan konsep pemidanaan yang meliputi pembalasan, penjeraan, penutupan, rehabilitasi atau reformasi dan perlindungan terhadap masyarakat yang wujudnya adalah penderitaan dan pembalasan terhadap terpidana dengan tujuan agar bekas narapidana tidak akan melakukan pelanggaran hukum lagi. Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 1948 serta melalui beberapa surat keputusan/edaran Menteri Kehakiman telah dilakukan perbaikan sistem perlakuan terhadap

terpidana yang dititikberatkan pada perikemanusiaan, misalnya memberikan perhatian terhadap kesehatan, memberikan pekerjaan yang sesuai dan memperhatikan lamanya jam kerja, memberikan pendidikan jasmani/rohani, perbaikan makanan dan pemberantasan buta huruf bagi narapidana dewasa/anak. Hal yang patut dicatat adalah bahwa mulai tahun 1951 secara berangsur-angsur sistem kepenjaraan beralih ke sistem pemasyarakatan. Perlakuan terhadap narapidana ditujukan kepada reedukasi dan resosialisasi yang bertujuan memberikan pekerjaan kepada narapidana. Pada tahun 1964 diperkenalkan sistem pemasyarakatan yang didasarkan pada ide pengayoman sebagai lambang hukum di Indonesia. Tugas hukum adalah memberi pengayoman agar cita-cita luhur bangsa tercapai dan terpelihara. Masyarakat diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat oleh terpidana, juga orang yang telah tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga yang berguna di dalam masyarakat.

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia: Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden, Kementerian Negara, Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, Lembaga Pemerintah Non Departemen, Kejaksaan, Badan Ekstra Struktural Badan Independen, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara RI, Perwakilan RI di Luar Negeri Bank Indonesia, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, Badan Pemeriksa Keuangan.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD 1945 atau UUD '45, adalah konstitusi negara Republik Indonesia saat ini. UUD 1945 disahkan sebagai undang-undang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Sejak tanggal 27 Desember 1949, di Indonesia berlaku Konstitusi RIS, dan sejak tanggal 17 Agustus 1950 di Indonesia berlaku UUDS 1950. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 kembali memberlakukan UUD 1945, dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh DPR pada tanggal 22 Juli 1959. Pada kurun waktu tahun 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan (amandemen), yang mengubah susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia.

Naskah Undang-Undang Dasar 1945.
Sebelum dilakukan Perubahan, UUD 1945 terdiri atas Pembukaan, Batang Tubuh (16 bab, 37 pasal, 65 ayat (16 ayat berasal dari 16 pasal yang hanya terdiri dari 1 ayat dan 49 ayat berasal dari 21 pasal yang terdiri dari 2 ayat atau lebih), 4 pasal Aturan Peralihan, dan 2 ayat Aturan Tambahan), serta Penjelasan. Setelah dilakukan 4 kali perubahan, UUD 1945 memiliki 20 bab, 73 pasal, 194 ayat, 3 pasal Aturan Peralihan, dan 2 pasal Aturan Tambahan. Dalam Risalah Sidang Tahunan MPR Tahun 2002, diterbitkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 Dalam Satu Naskah, Sebagai Naskah Perbantuan dan Kompilasi Tanpa Ada Opini.

Sejarah Awal
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945, adalah Badan yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 Ir.Sukarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar Negara" yang diberi nama Pancasila. Kemudian BPUPK membentuk Panitia Kecil yang terdiri dari 8 orang untuk menyempurnakan rumusan Dasar Negara. Pada tanggal 22 Juni 1945, 38 anggota BPUPK membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemelukpemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Nama Badan ini tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Di Sumatera ada BPUPK untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal 10-17 Juli 1945. Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Periode berlakunya UUD 1945 18 agustus 1945- 27 desember 1949 Dalam kurun waktu 1945-1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet Semi-Presidensiel ("Semi-Parlementer") yang pertama, sehingga peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis. Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949 27 desember 1949 - 17 agustus 1950 Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer. Periode UUDS ' 50 17 agustus 1950 - 5 juli 1959 Pada masa ini sistem pemerintahan indonesia adalah parlementer. Periode kembalinya ke UUD 1945 5 juli 1959-1966 Karena situasi politik pada Sidang Konstituante 1959 dimana banyak saling tarik ulur kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD baru, maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu isinya memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai undang-undang dasar, menggantikan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang berlaku pada waktu itu. Pada masa ini, terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, diantaranya: • Presiden mengangkat Ketua dan Wakil Ketua MPR/DPR dan MA serta Wakil Ketua DPA menjadi Menteri • • Negara MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup

• Pemberontakan Partai Komunis Indonesia melalui Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia Periode UUD 1945 masa orde baru 11 maret 1966- 21 mei 1998 Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun pelaksanaannya ternyata menyimpang dari Pancasila dan UUD 1945 yang murni,terutama pelanggaran pasal 23 (hutang Konglomerat/private debt dijadikan beban rakyat Indonesia/public debt) dan 33 UUD 1945 yang memberi kekuasaan pada fihak swasta untuk menghancur hutan dan sumberalam kita. Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral", diantara melalui sejumlah peraturan: • Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang menyatakan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak akan melakukan perubahan terhadapnya • Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 tentang Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum. • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang merupakan pelaksanaan TAP MPR Nomor IV/MPR/1983. Periode 21 mei 1998- 19 oktober 1999 Pada masa ini dikenal masa transisi. Periode UUD 1945 Amandemen. Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan mulitafsir), serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi. Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta halhal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mempertegas sistem pemerintahan presidensiil. Dalam kurun waktu 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR:

• Sidang Umum MPR 1999, tanggal 14-21 Oktober 1999 → Perubahan Pertama UUD 1945 • Sidang Tahunan MPR 2000, tanggal 7-18 Agustus 2000 → Perubahan Kedua UUD 1945 • Sidang Tahunan MPR 2001, tanggal 1-9 November 2001 → Perubahan Ketiga UUD 1945 • Sidang Tahunan MPR 2002, tanggal 1-11 Agustus 2002 → Perubahan Keempat UUD 1945

Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia
Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, atau dikenal dengan UUDS 1950, adalah konstitusi yang berlaku di negara Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1950 hingga dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. UUDS 1950 ditetapkan berdasarkan UndangUndang Nomor 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, dalam Sidang Pertama Babak ke-3 Rapat ke-71 DPR RIS tanggal 14 Agustus 1950 di Jakarta. Konstitusi ini dinamakan "sementara", karena hanya bersifat sementara, menunggu terpilihnya Dewan Konstituante hasil pemilihan umum yang akan menyusun konstitusi baru. Pemilihan Umum 1955 berhasil memilih Dewan Konstituante secara demokratis, namun Dewan Konstituante tersebut gagal membentuk konstitusi baru hingga berlarut-larut. Pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden, yang antara lain berisi kembali berlakunya UUD 1945.

U U D S 1950
MUKADDIMAH Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Dan perjoangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan berkat dan rahmat Tuhan tercapailah tingkatan sejarah yang berbahagia dan luhur. Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam Negara yang berbentuk republik-kesatuan, berdasarkan pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, peri-kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna. BAGIAN I BENTUK NEGARA DAN KEDAULATAN Pasal 1 1. Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis dan berbentuk negara kesatuan. 2. Kedaulatan Republik Indonesia adalah ditangan Rakyat dan dilaku- kan oleh Pemerintah ber-sama-2 dengan Dewan Perwakilan Rakyat. BAGIAN II DAERAH NEGARA PASAL 2 Republik Indonesia meliputi seluruh daerah Indonesia. BAGIAN III LAMBANG DAN BAHASA NEGARA PASAL 3 1. Bendera kebangsaan Republik Indonesia ialah bendera Sang Merah Putih 2. Lagu kebangsaan ialah lagu "Indonesia Raya". 3. Meterai dan lambang Negara ditetapkan oleh Pemerintah. PASAL 4 Bahasa resmi Negara Republik Indonesia ialah Bahasa Indonesia. BAGIAN IV KE-WARGA-NEGARAAN DAN PENDUDUK NEGARA PASAL 5 1. Kewarga-negaraan Republik Indonesia diatur oleh undang-undang. 2. Pewarga-negaraan (naturalisasi) dilakukan oleh atau dengan kuasa undang-undang. Undang-undang mengatur akibat-akibat kewarga-negaraan

terhadap isteri orang yang telah diwarga-negarakan dan anak-anaknya yang belum dewasa. PASAL 6 Penduduk Negara ialah mereka yang diam di Indonesia menurut aturan-2 yang ditetapkan dengan undang-2. BAGIAN V HAK-2 DAN KEBEBASAN-2 DASAR MANUSIA PASAL 7 1. Setiap orang diakui sebagai manusia pribadi terhadap undang-2. 2. Sekalian orang berhak menuntut perlakuan dan perlindungan yang sama oleh undang-2. 3. Sekalian orang berhak menuntut perlindungan yang sama terhadap tiap-2 pembelakangan dan terhadap tiap-2 penghasutan untuk me- lakukan pembelakangan demikian. 4. Setiap orang berhak mendapat bantuan-hukum yang sungguh dari hakim-2 yang ditentukan untuk itu, melawan perbuatan-2 yang berlawanan dengan hak-2 dasar yang diperkenankan kepadanya menurut hukum. PASAL 8 Sekalian orang yang ada didaerah Negara sama berhak menuntut perlin dungan untuk diri dan harta-bendanya. PASAL 9 1. Setiap orang berhak dengan bebas bergerak dan tinggal dalam per- batasan Negara. 2. Setiap orang berhak meninggalkan negeri dan - jika ia warga-negara atau penduduk - kembali kesitu. PASAL 10 Tiada seorangpun boleh diperbudak, diperulur atau diperhamba. Perbudakan, perdagangan budak dan perhambaan dan segala perbuatan berupa apapun yang tujuannya kepada itu, dilarang. PASAL 11 Tiada seorang juapun akan disiksa ataupun diperlakukan atau dihukum secara ganas, tidak mengenal peri-kemanusiaan atau menghina. PASAL 12 Tiada seorang juapun boleh ditangkap atau ditahan, selain atas perin tah untuk itu oleh kekuasaan yang sah menurut aturan-2 undang-2 dalam hal-2 dan menurut cara yang diterangkan didalamnya. PASAL 13 1. Setiap orang berhak, dalam persamaan yang sepenuhnya, mendapat perlakuan jujur dalam perkaranya oleh hakim yang tak memihak, dalam hal menetapkan hak-2 dan kewajiban-2-nya dan dalam hal menetapkan apakah suatu tuntutan hukum yang dimajukan terhadap- nya beralasan atau tidak. 2. Bertentangan dengan kemauannya tiada seorang juapun dapat dipisahkan dari pada hakim, yang diberikan kepadanya oleh aturan-2 hukum yang berlaku. PASAL 14 1. Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan setiap pe- ristiwa pidana berhak dianggap tak bersalah sampai dibuktikan kesalahannya dalam suatu sidang pengadilan, menurut aturan-2 hukum yang berlaku, dan ia dalam sidang itu diberikan segala jaminan yang telah ditentukan dan yang perlu untuk pembelaan. 2. Tiada seorang juapun boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi hukuman, kecuali karena suatu aturan hukum yang sudah ada dan berlaku terhadapnya. 3. Apabila ada perubahan dalam aturan hukum seperti tersebut dalam ayat diatas, maka dipakailah ketentuan yang lebih baik bagi si tersangka. PASAL 15 1. Tiada suatu pelanggaran atau kejahatanpun boleh diancamkan hukuman berupa rampasan semua barang kepunyaan yang bersalah. 2. Tiada suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata atau kehila- ngan segala hak-2 kewargaan. PASAL 16

1. Tempat kediaman siapapun tidak boleh diganggu-gugat. 2. Menginjak suatu pekarangan tempat kediaman atau memasuki suatu rumah bertentangan dengan kehendak orang yang mendiami, hanya dibolehkan dalam hal-2 yang ditetapkan dalam suatu aturan hukum yang berlaku baginya. PASAL 17 Kemerdekaan dan rahasia dalam perhubungan surat-menyurat tidak boleh diganggu-gugat, selainnya dari atas perintah hakim atau kekuasaan lain yang telah disahkan untuk itu menurut peraturan-2 undang-2 da lam hal-2 yang diterangkan dalam peraturan itu. PASAL 18 Setiap orang berhak atas kebebasan agama, keinsyafan batin dan pikiran. PASAL 19 Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. PASAL 20 Hak penduduk atas kebebasan berkumpul dan berapat diakui dan diatur dengan undang-2. PASAL 21 Hak demonstrasi dan mogok diakui dan diatur dengan undang-undang. PASAL 22 1. Sekalian orang baik sendiri-2 maupun ber-sama-2 berhak dengan bebas memajukan pengaduan kepada penguasa, baik dengan lisan ataupun dengan tulisan. 2. Sekalian orang baik sendiri-2 maupun ber-sama-2 berhak memaju- kan permohonan kepada penguasa. PASAL 23 1. Setiap warga-negara berhak turut-serta dalam pemerintahan dengan langsung atau dengan perantaraan wakil-2 yang dipilih dengan bebas menurut cara yang ditentukan oleh undang-2. 2. Setiap warga-negara dapat diangkat dalam tiap-2 jabatan pemerin- tah. Orang asing boleh diangkat dalam jabatan-2 pemerintah menu- rut aturan-2 yang ditetapkan oleh undang-2. PASAL 24 Setiap warga-negara berhak dan berkedudukan turut-serta dengan sungguh dalam pertahanan Negara. PASAL 25 1. Penguasa tidak akan mengikatkan keuntungan atau kerugian kepada termasuknya warga-negara dalam sesuatu golongan rakyat. 2. Perbedaan dalam kebutuhan masyarakat dan kebutuhan hukum golongan rakyat akan diperbaiki. PASAL 26 1. Setiap orang berhak mempunyai milik, baik sendiri maupun ber-sama-2 dengan orang lain. 2. Seorangpun tidak boleh dirampas miliknya dengan se-mena-2. 3. Hak milik itu adalah suatu funksi sosial. PASAL 27 1. Pencabutan hak milik untuk kepentingan umum atas suatu benda atau hak, tidak dibolehkan kecuali dengan mengganti kerugian dan menu- rut aturan-2 undang-2. 2. Apabila suatu benda harus dibinasakan untuk kepentingan umum, ataupun, baik untuk se-lama-2-nya maupun untuk beberapa lama, ha- rus dirusakkan sampai tak terpakai lagi, oleh kekuasaan umum, ma- ka hal itu dilakukan dengan mengganti kerugian dan menurut aturan-2 undang-2, kecuali jika ditentukan yang sebaliknya oleh aturan-2 itu. PASAL 28 1. Setiap warga-negara, sesuai dengan kecakapannya, berhak atas pe- kerjaan yang layak bagi kemanusiaan. 2. Setiap orang berhak dengan bebas memilih pekerjaan dan berhak pula atas syarat-2 perburuhan yang adil. 3. Setiap orang yang melakukan pekerjaan yang sama dalam hal-2 yang sama, berhak atas pengupahan yang sama dan atas perjanjian-2 pe- kerjaan yang sama

baiknya. 4. Setiap orang yang melakukan pekerjaan, berhak atas pengupahan adil yang menjamin kehidupannya bersama dengan keluarganya, sepadan de- ngan martabat manusia. PASAL 29 Setiap orang berhak mendirikan serikat-sekerja dan masuk kedalamnya untuk memperlindungi dan menperjoangankan kepentingannya. PASAL 30 1. Tiap-2 warga-negara berhak mendapat pengajaran. 2. Memilih pengajaran yang akan diikuti adalah bebas. 3. Mengajar adalah bebas, dengan tidak mengurangi pengawasan penguasa yang dilakukan terhadap itu menurut peraturan undang-2. PASAL 31 Kebebasan melakukan pekerjaan sosial dan amal, mendirikan organisasi-2 untuk itu, dan juga untuk pengajaran partikelir, dan mencari dan mem punyai harta untuk maksud-2 itu, diakui, dengan tidak mengurangi pengawasan penguasa yang dilakukan terhadap itu menurut peraturan undang-2. PASAL 32 Setiap orang yang ada didaerah Negara harus patuh kepada undang-2 termasuk aturan-2 hukum yang tak tertulis, dan kepada penguasa-2. PASAL 33 Melakukan hak-2 dan kebebasan-2 yang diterangkan dalam bagian ini hanya dapat dibatasi dengan peraturan-2 undang-2 se-mata-2 untuk menjamin pengakuan dan penghormatan yang tak boleh tiada terhadap hak-2 serta kebebasan-2 orang lain untuk memenuhi syarat-2 yang adil untuk ketenteraman, kesusilaan dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat yang demokratis. PASAL 34 Tiada suatu ketentuanpun dalam bagian ini boleh ditafsirkan dengan pengertian sehingga sesuatu penguasa, golongan atau orang dapat memetik hak dari padanya untuk mengusahakan sesuatu apa atau melakukan perbuatan berupa apapun yang bermaksud menghapuskan sesuatu hak atau kebebasan yang diterangkan dalamnya. BAGIAN VI AZAS-2 DASAR PASAL 35 Kemauan Rakyat adalah dasar kekuasaan penguasa; kemauan itu dinyatakan dalam pemilihan berkala yang jujur dan yang dilakukan menurut hak-pilih yang bersifat umum dan berkesamaan, serta dengan pemungutan suara yang rahasia ataupun menurut cara yang juga menjamin kebebasan mengeluarkan suara. PASAL 36 Penguasa memajukan kepastian dan jaminan sosial, teristimewa pemastian dan penjaminan syarat-2 perburuhan dan keadaan-2 perburuhan yang baik, pencegahan dan pemberantasan pengangguran serta penyelenggaraan persediaan untuk hari-tua dan pemeliharaan janda-2 dan anak-2 yatim-piatu. PASAL 37 1. Penguasa terus-menerus menyelenggarakan usaha untuk meninggikan kemakmuran rakyat dan berkewajiban senantiasa menjamin bagi setiap orang derajat hidup yang sesuai dengan martabat manusia untuk dirinya serta keluarganya. 2. Dengan tidak mengurangi perbatasan yang ditentukan untuk kepentingan umum dengan peraturan-2 undang-2, maka kepada sekalian orang diberikan kesempatan menurut sifat, bakat dan kecakapan masing-2 untuk turut-serta dalam perkembangan sumber-2 kemakmuran negeri. 3. Penguasa mencegah adanya organisasi-2 yang bersifat monopoli partikelir yang merugikan ekonomi nasional menurut peraturan-2 yang ditetapkan dengan undang-2. PASAL 38

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas ke- keluargaan. 2. Cabang-2 produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. 3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk se-besar-2 kemakmuran rakyat. PASAL 39 1. Keluarga berhak atas perlindungan oleh masyarakat dan Negara. 2. Fakir-miskin dan anak-2 yang terlantar dipelihara oleh Negara. PASAL 40 Penguasa melindungi kebebasan mengusahakan kebudayaan serta kesenian dan ilmu pengetahuan. Dengan menjunjung azas ini maka penguasa memajukan sekuat tenaganya perkembangan kebangsaan dalam kebudayaan serta kesenian dan ilmu pengetahuan. PASAL 41 1. Penguasa wajib memajukan perkembangan rakyat baik rohani maupun jasmani. 2. Penguasa teristimewa berusaha se-lekas-2-nya menghapuskan buta- huruf. 3. Penguasa memenuhi kebutuhan akan pengajaran umum yang diberikan atas dasar memperdalam keinsyafan kebangsaan, mempererat persa- tuan Indonesia, membangun dan memperdalam perasaan peri-kemanusia- an, kesabaran dan penghormatan yang sama terhadap keyakinan agama setiap orang dengan memberikan kesempatan dalam jam pelajaran un- tuk mengajarkan pelajaran agama sesuai dengan keinginan orang-tua murid-2. 4. Terhadap pengajaran rendah, maka penguasa berusaha melaksanakan dengan lekas kewajiban belajar yang umum. 5. Murid-2 sekolah partikelir yang memenuhi syarat-2 kebaikan-2 me- nurut undang-2 bagi pengajaran umum, sama haknya dengan hak murid-2 sekolah umum. PASAL 42 Penguasa senantiasa berusaha dengan sungguh-2 memajukan kebersihan umum dan kesehatan rakyat. PASAL 43 1. Negara berdasar atas ke-Tuhanan yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-2 penduduk untuk memeluk agamanya masing-2 dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 3. Penguasa memberi perlindungan yang sama kepada segala perkumpulan dan persekutuan agama yang diakui. Pemberian sokongan berupa apapun oleh penguasa kepada pejabat-2 agama dan persekutuan-2 atau perkumpulan-perkumpulan agama dilakukan atas dasar sama hak. 4. Penguasa mengawasi supaya segala persekutuan dan perkumpulan agama patuh-taat kepada undang-2 termasuk aturan-2 hukum yang tak tertu- lis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->