P. 1
momen inersia

momen inersia

5.0

|Views: 18,700|Likes:
Published by bat.laugh

More info:

Published by: bat.laugh on Oct 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2016

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Momen inersia adalah besaran yang analog dengan massa yang dikenal pada
gerak rotasi. Momen inersia (I) dari sebuah partikel bermassa m dapat didefinisikan
sebagai hasil kali massa massa partikel dengan kuadrat jarak partikel pada atau dari
titik poros yang biasa ditulis dengan I = m.r
2
Sebuah benda tegar tersusun atas banyak partikel terpisah yang mempunyai
massa masing-masing m
1
, m
2
, m

, ! . "ntuk menentukan momen inersia dari
benda-benda seperti ini terhadap suatu poros tertentu maka mula-mula massa
masing-masing partikel harus dikalikan dulu dengan jarak dari porosnya (r
1
, r
2
, r

,
!) kemudian menjumlahkannya.
1.2 TUJUAN PERCOBAAN
#ujuan dari per$obaan ini adalah untuk men$oba mengenalkan dan
menerapkan hukum II %e&ton pada gerak rotasi serta untuk menentukan momen
inersia sistem suatu benda ber&ujud roda sepeda.
1.3 PERMASALAHAN
'ermasalahan yang mun$ul pada per$obaan momen inersia ini adalah
sulitnya menentukan besarnya momen inersia benda yang tidak pejal dan bagaimana
$aranya menentukan besarnya momen inersia suatu sistem yang ber&ujud roda
sepeda. (alam per$obaan ini mun$ul permasalahan yaitu bagaimana menentukan
momen inersia untuk as roda, roda dengan satu beban dan roda dengan dua beban.
1.4 SISTEMATIKA LAPORAN
)aporan ini terdiri dari lima bab se$ara garis besar dan berisi tentang
per$obaan penentuan nilai momen inersia, untuk lebih jelasnya maka susunan
laporan adalah sebagai berikut. *ab I 'endahuluan yang di dalamnya berisi tentang
latar belakang, tujuan per$obaan, permasalahan, sistematika laporan praktikum. *ab
II (asar #eori merupakan penjelasan dan ulasan singkat tentang teori dasar yang
mendasari kegiatan per$obaan yang dilakukan. *ab III +ara ,erja dan 'eralatan,
dalam bab ini menerangkan tentang tata urutan kerja yang dilakukan dalam
melaksanakan kegiatan praktikum serta pengenalan peralatan yang diperlukan dalam
melakukan praktikum. *ab I- .nalisa (ata dan 'embahasan, dalam praktikum
tentunya kita akan memperoleh data-data sehingga perlu adanya penganalisaan lebih
lanjut karena tidak sempurnanya alat ukur, ketidaktepatan $ara mengukur, tidak
sempurnanya alat indera dan lain-lain. (engan memperhitungkan ralat-ralat dari data
yang diperoleh dalam melakukan praktikum agar mendapatkan data yang
mempunyai ketelitian yang sesuai. *ab - ,esimpulan, memberikan kesimpulan dari
kegiatan praktikum yang dilakukan.
BAB II
2
DASAR TEORI
Momen inersia adalah kelembaman suatu benda yang berotasi yang
dirotasikan terhadap sumbu tertentu. Momen Inersia (I) adalah suatu besaran yang
memperlihatkan tentang usaha suatu sistem benda untuk menentang gerak rotasinya.
*esaran ini dimiliki oleh semua sistem benda (khususnya padat) apapun bentuknya
(bulat, persegi, segitiga, dll). /leh karena itu momen inersia didefinisikan sebagai
ke$enderungan suatu sistem benda untuk berputar terus atau diam sebagai reaksi
terhadap gaya torsi dari luar.
'ada dasarnya menentukan momen inersia benda ber&ujud tertentu seperti
silinder pejal, bola dsb $enderung lebih mudah dibandingkan jika kita harus
menentukan besar momen inersia untuk bentuk benda yang tidak beraturan dengan
distribusi massa yang tidak sama.
0ambar 2.1
'ada gambar di atas terlihat bila seutas tali tanpa massa dililitkan pada
silinder yng dapat berputar bebas pada sumbu mendatar melalui porosnya. Salah satu
ujungnya diikatkan pada silinder dan ujung yang lain digantungi beban. ,emudian
tali dilepaskan maka beban akan turun dengan per$epatan a sehingga berlaku hukum
II %e&ton.
Silinder berjari-jari r akan berotasi dengan per$epatan sudut konstan karena
adanya gaya yang bekerja pada tepian silinder. (engan demikian momen putar
terhadap silinder besarnya adalah τ = T.r .pabila momen inersia silinder I dan
silinder diper$epat dengan per$epatan anguler maka beban m akan turun dengan
per$epatan linier sebesar a = α.r dan momen putar terhadap silinder besarnya adalah
τ = α.I "ntuk turun selama t detik, jarak yang ditempuh beban adalah h = ½.a t
2

Se$ara matematis gambar di atas dapat diketahui momen inersianya sebagai berikut 1
α = τ . I
a m F
y
. = Σ

2
a
. I = τ
a . m # g . m = −

a
2
. I τ =
) a g .( m # − =

m

maka

a
2
. 2 . 3 I =

a
2
). a g .( m I
2
− =






− = 1
a
g
. 2 . m I
2
dimana I 4 momen inersia (kg.m
2
)
m 4 massa beban (kg)
2 4 jari-jari roda (m)
g 4 per$epatan gra5itasi (6,7 m8s
2
)
a 4 per$epatan tangensial (m8s
2
)
τ 4 momen gaya (%.m)
3 4 gaya (%)
# 4 tegangan tali (%)
Sedangkan besarnya per$epatan tangensialnya adalah
2
t
h 2
a =
dimana h 4 jarak tempuh beban (m)
t 4 &aktu tempuh beban (s)
(engan mengetahui per$epatan tangensial momen inersia dapat dihitung
melalui per$obaan dengan menggunakan berbagai ma$am beban yang berbeda.
.dapun faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya momen inersia antara lain 1
 massa benda
 bentuk benda
 sumbu putar
*ila bentuk benda beraturan dan pejal maka momen inersianya lebih mudah
dihitung daripada menghitung momen inersia pada benda yang bentuknya tidak
beraturan. ,edudukan dan sumbu putar berpengaruh terhadap momen inersia karena
bila benda mempunyai sumbu putar berbeda maka momen inersianya juga berbeda.
(i ba&ah ini terdapat beberapa $ara untuk menghitung momen inersia pada
beberapa benda yang telah dapat terdiskripsikan.
9
'ersamaan ini kemudian dapat diselesaikan dengan persamaan hukum II %e&ton
untuk gerak rotasi dan translasi sistem, sehingga diperoleh 1
τ 4 I α 4 # 2
# 2 4 I α
# 2 4 I a 8 2
# 4 I a 8 2
2
!!!..(a)
*erdasar gambar disamping 1
:1 - # 4 m1 . a
m1 . g - # 4 m1 . a
# 4 m1 ( g - a )!!!.(b)
0ambar 2.2
2oda dg beban tunggal
Substitusi persamaan (a) ke (b) 1
I a 8 2
2
4 m1 ( g - a )
I a 4 m1 2
2
( g - a )
I 4 m1 2
2
( g - a ) 8 a
sehingga didapat besar momen inersia 1 I 4 m1 2
2
( g 8 a - 1 )
Selain $ara diatas dapat pula memakai metode dua beban seperti pada
gambar 2.2 diba&ah ini.
0ambar 2.
2oda dg beban ganda
'ada 0ambar diatas diasumsikan bah&a m1;m2 sehingga m1 bergerak ke ba&ah
dengan persamaan tegangan #1 4 m1 ( g - a ) < sama dengan # pada beban
tunggal =.
"ntuk persamaan #2 1
#2 - m2 . g 4 m2 . a
#2 4 m2 ( a > g )
0aya resultan pada roda terhadap sumbu 1
∑ τ 4 I α
#1 . 2 - #2 . 2 4 I α
( #1-#2 )2 4 I a 8 2 < masukkan harga-harga #1 dan #2 =
Maka diperoleh harga momen inersia 1 I 4 2
2
? m1(g 8 a - 1) - m2(g 8 a > 1) @
A
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 ALAT DAN BAHAN
1. 2oda sepeda beserta statip 1 set
2. Ble$tri$ stop $lo$k 1 buah
. .nak timbangan 1 set
9. 2ollmeter 1 buah
A. :aterpas 1 buah
C. #empar beban 1 buah
D. #ali se$ukupnya
III.2 CARA KERJA
1. Mengatur roda sepeda seperti pada gambar
0ambar .1
2. Memeriksa posisi sumbu statip agar tegak lurus bidang
&aterpas.
. Menentukan tinggi antara poros dengan kedudukan akhir
beban (h) dan melepaskan beban. Men$atat &aktu tempuh
beban untuk men$apai jarak h. Melakukannya sebanyak A
kali.
9. Melakukan langkah 1− untuk beban yang berbeda.
A. Melakukan langkah 9 1− untuk ketinggian yang berbeda.
C. Melakukan langkah A 1− untuk jari- jari roda yang berbeda.
D. Menyusun alat seperti pada gambar .2.
C
h
m
statip
roda
7. Mengatur ketinggian kedua beban agar sama dan
mengukurnya dari lantai.
6. Melepaskan beban dan men$atat &aktu yang ditempuh beban
untuk men$apai lantai.

0ambar .2
D
roda
m
1
statip
m
2
h
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 ANALISA DATA
4.1.1 Roda Besar (2 4 2A $m 4 E,2A m)
9.1.1.1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
E,71
E,79
E,77
E,D
E,6
-E,E22
E,EE7
E,E97
-E,1E2
E,EC7
9,79.1E
-9
E,C9.1E
-9
2,.1E
-
1E,9.1E
-
9,C.1E
-
t 4
E,72
∑( t t − )
2
41D,6.1E
-
#abel 9.1
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 6 , 1D

=
E26 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
E7 , E
E , E
× =
%
6 , A =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
6 , A −
%
1 , C9 =
%
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on)
( t t −
) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,1C
1,1C
1,1D
1,1E
1,1
E,E1C
E,E1C
E,E2C
-E,E99
-E,E19
2,AC.1E
-9
2,AC.1E
-9
C,DC.1E
-9
1,6.1E
-
1,6.1E
-9
t 4
1,199
∑( t t − )
2
4,.1E
-
7
#abel 9.2
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=

2E
1E . ,

=
E1 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
199 , 1
E1 , E
× =
%
1 , 1 =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
1 , 1 −
%
7D , 67 =
%
 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,16
1,1C
1,1A
1,12
1,1A
E,EC
E,EEC
-E,EE9
-E,E9
-E,EE9
1,.1E
-
E,.1E
-9
E,1C. 1E
-9
1,1A.1E
-
E,1C.1E
-9
t 4
1,1A9
∑( t t − )
2
42,A2.1E
-
#abel 9.
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . A2 , 2

=
E112 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
1A9 , 1
E112 , E
× =
%
6D , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
6D , E −
%
E , 66 =
%
6
9.1.1.2 h 4 DE $m 4 E,D m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,1D
1,12
1,1A
1,17
1,19
E,E17
-E,E2
-E,EE2
E,E27
-E,E12
,2.1E
-9
1,E2.1E
-
E,E9.1E
-9
D,7.1E
-9
1,99.1E
-9
t 4
1,1A2
∑( t t − )
2
42,27.1E
-
#abel 9.9
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 27 , 2

=
E1ED , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %

1EE
1A2 , 1
E1ED , E
× =
%
6 , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
6 , E −
%
ED , 66 =
%
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,91
1,9C
1,AE
1,A1
1,9A
-E,EAC
-E,EEC
E,E9
E,E99
-E,E1C
,19.1E
-
E,.1E
-9
1,1A. 1E
-9
1,6.1E
-
2,AC.1E
-9
t 4 1,9C ∑( t t − )
2
4 C,A.1E
-

#abel 9.A
1E
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . A , C

=
E17 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
1E , 1
E2 , E
× =
%
7 , 1 =
%
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
9CC , 1
E17 , E
× =
%
2 , 1 =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
2 , 1 −
%
DD , 67 =
%
 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,C
1,C
1,A2
1,A
1,C
E,E29
E,EA9
-E,EAC
-E,EDC
E,EA9
A,D.1E
-9
2,6.1E
-
,1.1E
-
A,7.1E
-
2,6.1E
-
t 4
1,ACD
∑( t t − )
2
41,A.1E
-2
#abel 9.C
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . A , 1
2 −
=
E2DD , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
ACD , 1
E2DD , E
× =
%
DAC , 1 =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = % DAC , 1 − % 29 , 67 = %
11
4.1.2 Roda Kecil (2 4 2,A $m 4 E,E2A m)
9.1.2.1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
F1
2

9
A
6,EC
6,ED
6,2
6,6
6,
-E,19
-E,19
-E,EE9
E,17C
E,E6C
2,ED.1E
-2
1,7.1E
-2
E,1.1E
-9
,A.1E
-2
6,2.1E
-
t 4
6,2E9
∑( t t − )
2
47,2.1E
-2
#abel 9.D
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 2 , 7
2 −
=
EC9 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
2E9 , 6
EC9 , E
× =
%
D , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
D , E −
%
, 66 =
%
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
11,AC
11,C6
12,EC
11,CC
11,DC
-E,E17C
-E,EAC
E,19
-E,E7C
E,E19
,A.1E
-2
,1.1E
-
6,7.1E
-2
D,9.1E
-
1,6.1E
-9
t 4 ∑( t t − )
2
4 1,9.1E
-
12
11,D9C
1
#abel 9.7
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 9 , 1
1 −
=
E7A , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
D9C , 11
E7A , E
× =
%
ED , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
ED , E −
%
6 , 66 =
%
 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
12,D
12,AC
12,71
12,79
12,71
-E,E99
-E,179
E,ECC
E,E6C
E,ECC
1,6.1E
-
,9.1E
-2
9,.1E
-
6,2.1E
-
9,.1E
-
t 4
12,D9
∑( t t − )
2
4 A,.1E
-2
#abel 9.6
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . , A
2 −
=
EA17 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
D9 , 12
EA17 , E
× =
%
9 , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
9 , E −
%
C , 66 =
%
9.1.2.2 h 4 DE $m 4 E,D m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
1
2

9
A
11,22
11,1
11,1
11,12
11,16
E,EC2
-E,E27
-E,E27
-E,E7
E,E2
,7.1E
-
D,7.1E
-9
D,7.1E
-9
1,9.1E
-
1,E2. 1E
-
t 4
11,1C
∑( t t − )
2
4 D,77.1E
-
#abel 9.1E
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=

2E
1E . 77 , D

=
E167 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
1C6 , 11
E167 , E
× =
%
1D7 , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
1D7 , E −
%
722 , 66 =
%
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
19,1E
19,1A
19,E7
1,79
1,72
E,1E2
E,1A2
E,E72
-E,1A7
-E,1D7
1,E9.1E
-2
2,.1E
-2
C,D.1E
-
2,A.1E
-2
,2.1E
-2
t 4
1,66
∑( t t − )
2
4 6,D.1E
-
2
#abel 9.11
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . C , 6
2 −
=
EC6C , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
66 , 1
EC6C , E
× =
%
A , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
19
1EE = %
A , E −
%
A , 66 =
%
 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1A,1
1A,22
1A,E7
1A,1C
1A,1E
E,1C
E,E9C
-E,E69
-E,E19
-E,ED9
1,7.1E
-2
2,1.1E
-
7,7.1E
-
1,6.1E
-9
A,9.1E
-
t 4
1A,1D
∑( t t − )
2
4 ,A.1E
-2
#abel 9.12
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . A ,
2 −
=
E92 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
1D , 1A
E92 , E
× =
%
2DC , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
2DC , E −
%
D29 , 66 =
%
4.1.3 Roda Kecil (2 4 2,A $m 4 E,E2A m) dengan dua massa berbeda
9.1..1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1A
1
2

9
A
1,1C
1,E6
1,1C
1,22
1,1A
E,EE9
-E,ECC
E,EE9
E,EC9
E,EEC
E,1C.1E
-9
9,.1E
-
E,1C.1E
-9
9,E6.1E
-
E,C.1E
-9
t 4
1,1AC
∑( t t − )
2
4 7,A2.1E
-2
#abel 9.1
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . A2 , 7

=
E2 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
1AC , 1
E2 , E
× =
%
D7 , 1 =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
D7 , 1 −
%
22 , 67 =
%
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,97
1,A
1,96
1,9A
1,96
E,EE2
E,E17
E,EE7
-E,E2
E,EE7
E,E9.1E
-9
,2.1E
-9
E,C9.1E
-9
1,E2.1E
-
E,C9.1E
-9
t 4 1,97 ∑( t t − )
2
4 1,9.1E
-

#abel 9.19
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 9 , 1

=
EE7C , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1C
1EE
97 , 1
EE7C , E
× =
%
A7 , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
A7 , E −
%
92 , 66 =
%


 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,AA
1,AC
1,A1
1,C
1,A7
-E,E1
E
-E,EA
E,E9
E,E2
1.1E
-9
E
2,A.1E
-
1,C.1E
-
E,9.1E
-
t 4 1,AC ∑( t t − )
2
4 9,C.1E
-
#abel 9.1A
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . C , 9

=
E1A , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
AC , 1
E1A , E
× =
%
6D , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
6D , E −
%
E , 66 =
%
9.1..2 h 4 DE $m 4 E,D m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1D
1
2

9
A
1,92
1,96
1,A
1,A
1,9C
-E,EC
E,E1
E,E2
E,EA
-E,E2
,C.1E
-
E,1.1E
-
9.1E
-9
2,A.1E
-
9.1E
-9
t 4 1,97 ∑( t t − )
2
4 9,A.1E
-
#abel 9.1C
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=

2E
1E . A , 9

=
E1A , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
97 , 1
E1A , E
× =
% 1 = %
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = % 1 − % 66 = %
 m 4 12E g 4 E,12 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,C2
1,CC
1,A7
1,C
1,CC
-E,E1
E,E
-E,EA
E
E,E
1.1E
-
6.1E
-9
2,A.1E
-
E
E,6.1E
-
t 4 1,C ∑( t t − )
2
4 9,9.1E
-

#abel 9.1D
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 9 , 9
9 −
=
E197 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
CC , 1
E197 , E
× =
%
6 , E =
%
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = %
6 , E −
%
1 , 66 =
%
17
 m 4 1EE g 4 E,1 kg
%o t (se$on) ( t t − ) ( t t − )
2
1
2

9
A
1,77
1,61
1,71
1,72
1,7
E,E
E,EC
-E,E9
-E,E
-E,E2
6.1E
-9
,C.1E
-
1,C.1E
-
E,6.1E
-
E,9.1E
-
t 4 1,7A ∑( t t − )
2
4 D,9.1E
-
#abel 9.17
2alat mutlak t ∆
) 1 n ( n
) t t (
2

− Σ
=
2E
1E . 9 , D

=
E16 , E =
2alat nisbi I
1EE
t
t
×

= %
1EE
7A , 1
E16 , E
× =
% 1 = %
,eseksamaan 1EE , = % I −
1EE = % 1 − % 66 = %
4.1 PEMBAHASAN
Roda Besar
(2 4 2A $m 4 E,2A m)
9.1.1.1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I








− = 1
A , E . 2
) 72 , E .( 1E
) 2C , E .( 2 , E
2
2

1E . ED , 7E

=
kg.m
2
 m 4 12E g 4 E,12 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . EA , 67 1
1
) 99 , 1 .( 1E
) 2C , E .( 12 , E

=








− =

kg.m
2

 m 4 1EE g 4 E,1 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 2C , 7 1
1
) 1A9 , 1 .( 1E
) 2C , E .( 1 , E

=








− =

kg.m
2
9.1.1.2 h 4 DE $m 4 E,D m
16
 m 4 2EE g 4 E,2 kg








− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I









− = 1
D , E . 2
) 1A2 , 1 .( 1E
) 2C , E .( 2 , E
2
2

1E . C9 , 119

=
kg.m
2
 m 4 12E g 4 E,12 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 92 , 11C 1
9 , 1
) 9CC , 1 .( 1E
) 2C , E .( 12 , E

=








− =

kg.m
2
 m 4 1EE g 4 E,1 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 1D , 11 1
9 , 1
) ADC , 1 .( 1E
) 2C , E .( 1 , E

=








− =

kg.m
2
4.1.2 Roda Kecil (2 4 2,A $m 4 E,E2A m)
9.1.2.1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . DD , 1EA 1
A , E . 2
) 2E9 , 6 .( 1E
) E2A , E .( 2 , E

=








− =

kg.m
2
 m 4 12E g 4 E,12 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 9 , 1E 1
1
) D9C , 11 .( 1E
) E2A , E .( 12 , E

=








− =

kg.m
2
 m 4 1EE g 4 E,1 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 99 , 1E1 1
1
) D99 , 12 .( 1E
) E2A , E .( 1 , E

=








− =

kg.m
2
9.1.2.2 h 4 DE $m 4 E,D m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . E , 111 1
9 , 1
) 1A7 , 11 .( 1E
) E2A , E .( 2 , E

=








− =

kg.m
2
 m 4 12E g 4 E,12 kg
2E









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . 76A , 1E9 1
9 , 1
) 667 , 1 .( 1E
) E2A , E .( 12 , E

=








− =

kg.m
2
 m 4 1EE g 4 E,1 kg









− = 1
2
.
2
2
h
gt
R m I

2
2
1E . D2 , 1E2 1
1
) 1D9 , 1A .( 1E
) E2A , E .( 1 , E

=








− =

kg.m
2
4.1.3 Dengan Menggunaan 2 Massa Berbeda
9.1..1 h 4 AE $m 4 E,A m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

116 , E ) EA , E 2 , E ( ) EA , E 2 , E (
A , E . 2
) 1AC , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2
 m 4 12E g 4 E,12 kg









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

E629 , E ) EA , E 12 , E ( ) EA , E 12 , E (
A , E . 2
) 972 , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2
 m 4 1EE g 4 E,1 kg









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

ED2 , E ) EA , E 1 , E ( ) EA , E 1 , E (
A , E . 2
) AC , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2

9.1..1 h 4 DE $m 4 E,D m
 m 4 2EE g 4 E,2 kg
21









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

192 , E ) EA , E 12 , E ( ) EA , E 12 , E (
9 , 1
) 97 , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2
m 4 12E g 4 E,12 kg









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

ED7 , E ) EA , E 12 , E ( ) EA , E 12 , E (
D , 1
) C , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2
 m 4 1EE g 4 E,1 kg









+ − − = ) ( ) (
2
2 1 2 1
2
2
m m m m
h
gt
R I

ED2 , E ) EA , E 1 , E ( ) EA , E 1 , E (
9 , 1
) 7A , 1 .( 1E
) 2C , E (
2
2
=








+ − − =
kg.m
2
22
BAB V
KESIMPULAN
1. Momen inersia dapat dirumuskan sebagai berikut 1
α
τ
= I
a
2 ). a g .( m
I
2

=
2
a
2 . 3
I
Σ
=






− = 1
a
g
. 2 . m I
2
2
a
2 ). a g .( m
I

=
2
2. Gasil perhitungan besarnya momen inersia dengan menggunakan 1 beban adalah
sebagai berikut1
2.1 2oda besar
2.1.1 h 4 AE $m
m 4 2EE g H I 4 E,E7 kg.m
2
m 4 12E g H I 4 E,E6 kg.m
2
m 4 1EE g H I 4 E,E7 kg.m
2
2.1.2 h 4 DE $m
m 4 2EE g H I 4 E,119 kg.m
2
m 4 12E g H I 4 E,11C kg.m
2
m 4 1EE g H I 4 E,11 kg.m
2
2.2 2oda ke$il
2.2.1 h 4 AE $m
m 4 2EE g H I 4 E,1EA kg.m
2
m 4 12E g H I 4 E,1E kg.m
2
m 4 1EE g H I 4 E,1E1 kg.m
2
2.2.2 h 4 DE $m
m 4 2EE g H I 4 E,111 kg.m
2
m 4 12E g H I 4 E,1E9 kg.m
2
m 4 1EE g H I 4 E,1E kg.m
2
. *esarnya momen inersia suatu benda dipengaruhi oleh massa, jarak
yangditempuh, dan per$epatan tangensial benda tersebut.
9. #idak hanya benda yang tertentu saja yang dapat ditentukan momen inersianya,
tetapi benda yang tak beraturanpun dapat ditentukan momen inersianya.
DAFTAR PUSTAKA
1. 3isika, Iilid 2 Bdisi ,etiga, Galliday J 2esni$k, 'antur Silaban 'h.( J
(rs. Br&in Su$ipto, 'enerbit Brlangga.
2. 3isika "ni5ersitas 2, Sears J Kemansky.
29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->