P. 1
Rekonstruksi Nalar Religius

Rekonstruksi Nalar Religius

|Views: 1,334|Likes:
Published by Abaz Zahrotien
skripsi, makalah, naskah, artikel, proposal, proposal skripsi, abaz, abaz zahrotien, abazzahra, NU, Nahdlatul Ulama, PBNU, Dokumen, sejarah, jawa, islam, indonesia, islam indonesia, pmii, ipnu, ansor, fatayat
skripsi, makalah, naskah, artikel, proposal, proposal skripsi, abaz, abaz zahrotien, abazzahra, NU, Nahdlatul Ulama, PBNU, Dokumen, sejarah, jawa, islam, indonesia, islam indonesia, pmii, ipnu, ansor, fatayat

More info:

Published by: Abaz Zahrotien on Oct 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

Naskah buku

Catatan-catatan Ringan Aktivis

Rekonstruksi Nalar Religius

Memahami Posisi Islam dalam Konstelasi Geo Sosio Politik

Oleh : Abaz Zahra

1

Sebagai Jembatan Awal Menatap Dunia Yang Sesungguhnya

2

Pengantar Penulis

Sejak diterbitkannya buku terbaru Samuel P. Huntington yang berjudul Who Are We?- ˆ: The Challenges to America's National Identity tahun 2004 lalu kondisi Islam dalam konstelasi geopolitik semaki1n tertantang. Dalam buku sebelumnya, The Clash of Civilization, penasehat awakan Gedung Putih ini belum
terang-terangan mengatakan bahwa Islam adalah musuh besar bagi Amerika Serikat,

namun dalam buku terbarunya itu, Huntington mengatakan dengan tegas bahwa Islam Fundamental adalah musuh besar yang harus dibasmi. Ketika dilihat dalam buku tersebut memang tercantum Islam Fundamental yang militant sebagai musuhnya, namun pada realitas di lapangan semua kelompok Islam, baik Islam moderat, Islam liberal dan kelompok Islam lainnya mendapatkan serangan dan warning yang sama dari Amerika Serikat. Secara politis demikian, bahwa kondisi percaturan politik global dalam pemetaan Huntington sebelumnya, Islam merupakan salah satu kekuatan besar yang akan menjadi lawan dari peradaban Barat. Benturan peradaban yang akan terjadi salah satunya adalah antara Islam dan Barat, disamping nanti muncul Confucianisme yang berkembang di China. Ini memberi alamat yang semakin jelas bagi perkembangan Islam ke depan, apalagi setelah Irak dan Afghanistan diserang secara membabi buta oleh Amerika Serikat serta Libanon oleh Israel, ini mengalamatkan bahwa Islam secara politis akan terus diserang tanpa ampun

1

3

untuk memenuhi ambisi Amerika Serikat dan mematahkan kekuatan Islam dalam konstelasi geopolitik. Di samping penyerangan secara politis, Barat (baca: Amerika Serikat) juga menyerang sisi kebudayaannya, dalam bahasa Hassan Hanafi disebut dengan imperialisme budaya. Dimana kebudayaan non-Barat secara perlahan akan diputus akar kesejarahannya dan menggantinya dengan budaya popular ala Barat. Penyerangan sisi budaya ini berbuntut pada hilangnya khazanah local yang dimiliki oleh negara-negara non-Barat, tradisi dan ritus budaya akan tergilas oleh kemasan budaya popular yang memang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan khazanah local. Inilah yang kemudian menjadi persoalan pelik disamping persoalan pada ranah politik. Sementara itu, dalam tubuh Islam sendiri, komunikasi internal juga belum selesai, dimana satu madzhab dengan madzhab lainnya belum berada pada satu pandangan yang sama untuk menentukan satu musuh bersama (common enemy). Kalaupun telah mencapai kesepakatan itu, jalur pergerakan yang dilakukanpun masih khilafiyah dikarenakan perbedaan penafsiran atas model perjuangan (jihad). Indonesia yang merupakan kandangnya warga Islam dengan jumlah penduduk yang menganut agama Islam terbesar di dunia tentunya juga menjadi wilayah yang turut serta tergabung dalam permainan sosio politik dunia. Dan ini juga tidak hanya terjadi saat ini saja, campur tangan Barat terhadap kemerdekaan secara sosial telah terjadi sejak zaman kuno hingga sekarang.

4

Percaturan politik nasional tidak terlepas dari persoalan politik global, karena diakui atau tidak Indonesia telah terpetakan sebagai negara Islam moderat yang dengan mudah telah menjadi boneka Amerika Serikat. Tulisan yang ada disini merupakan ungkapan dari keresahan yang saya alami ketika saya membaca buku-buku. Dari buku saya menjadi tahu kondisi yang sebenarnya tentang dunia ini, tetapi, berangkat dari tanggung jawab saya sebagai kader organisasi pergerakan, saya tidak mampu melakukan apapun untuk merubah tatanan busuk ini. Oleh karena itulah saya ingin membagi keresahan yang saya alami ini kepada semua orang. Buku kecil ini merupakan wujud konkrit ucapan terima kasih saya kepada kedua orang tua tersayang atas perjuangannya mendidik saya untuk selalu resah dengan kemapanan, adik dan kakak beserta anak-anaknya atas dukungannya dalam menatap masa depan, We will always together. Wacana-wacana yang digulirkan dalam buku kecil ini merupakan buah dari diskusi rutin yang diadakan oleh PC PMII Wonosobo, oleh karena itu melalui buku ini saya hendak mengucapkan terima kasih kepada Pengurus PC PMII Wonosobo, PMII Komisariat Ahimsa Unsiq, BEM Unsiq, Senat Fakultas Dakwah dan Komunikasi, PPTQ Al Asy’ariyyah, LPM SQ dan kawan-kawan teater BanyuDahsyat. Alumni PMII di Wonosobo yang telah memberikan motivasi berlebih kepada saya. Terima kasih buat sahabat pemburu ilmu, Nadr Rose, Parman, Pak Dhe Tujo, Dhe Ulfi, Ushi Myut, Yuti Riau, Ipul Lampung, Fredy Nabire, Mudzakir, Masruh, Mat Leader, Fasihul Lisan dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu

5

persatu, yang paling utama untuk De’ Titin Apriyani yang telah memberi semangat berlebih secara spiritual dan sugesti yang besar dalam bergerak. Perhatian dan pengarahan dari ‘Wong Gedhe’ seperti Mas Hasan Asy’ari, S.Pd.I (PKB), Pak Drs. Arifin Shidiq, M.Pd (PCNU/KPU), Mas Arif Ruba’I (KM’B’PI), Mas Syarif Abdillah (KMNU Jateng), Mas Bobby (PKC PMII Jateng), Pak Kholiq Arif, M.Si (Bupati Wonosobo), Mas Herry Haryanto Azumy (PB PMII) dan lain-lain. Bimbingan dari Dosen Muda Gaul, Om Mubin, Mas Haqqy, Bang Wondo, Om To’am, Mas Amirrudin, Dekan Fakultas, Drs. Samsul Munir, MA dan Rektor, Prof. Dr. Zamachsari Dhofier, MA merupakan pembangkit sugesti yang besar.

Banjarnegara, Februari 2008

Abaz Zahra

6

Daftar Isi
Halaman Judul Pengantar Penulis Daftar Isi Islam Revolusioner :.............................................................................. :.............................................................................. :.............................................................................. :.............................................................................

Dekonstruksi Pemahaman Klasik atas Ajaran Islam : ......................... Jalan Baru, Mungkinkah? :.......................................................................... Dirasat • • • Al Islamiyyah Yasar Hassan Al Hanafi Islam : atau Tukang Ramal? : :

Oksidentalisme Oksidentalis

Jihad, Dulu, Sekarang dan yang akan Datang: ..................................... Jihad Hari Ini dan yang Akan Datang :........................................................ Islamophobia • • • :.............................................................................

Islamophobia Max Weber................................................................ Kritik Agama Marx :........................................................................ Dampak Islamophobia : ..................................................................

Konstelasi Geo Sosio Politik dan Pengaruhnya terhadap Geografi Sosio : Religius Nasional

7

• • • • •

Definisi Realitas Geneologi

dan

Gambaran Hari Politik

Global Ini (Geosospol)

: : :

Geopolitik Sosial

Islam Indonesia : Konstelasi Geopolitik dan Geografi Sosio Religius Nasional : : :

Daftar Pustaka Biografi Penulis

8

ISLAM REVOLUSIONER

Sebelum sampai pada makna yang sesungguhnya dari Islam Revolusioner yang sebenarnya esensinya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang menjadi tesis Hassan Hanafi yakni The Left Of Islam (Al Yassar Al Islam) atau Islam Pembebasan (Islam and the Relevance to our age) yang ditulis oleh Asghar Ali Engineer, ada satu hal yang seharusnya kita kaji dulu dalam Islam itu sendiri terkait dengan ajaran-ajaran serta semua hal yang melingkupi tentangnya. Banyak sesungguhnya di dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa Islam merupakan agama revolusioner atau agama yang hendak merubah tatanan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat secara kolektif ke arah yang lebih baik. Di dalam Al Qur’an, tidak terlalu tampak secara berlebihan tentang revolusionernya secara implisit, namun secara eksplisit ketika ayat tersebut ditafsirkan dengan metode kontekstual histories (meminjam istilah Hassan Hanafi) hampir sebagian besar isi Al Qur’an merupakan upaya untuk merubah atau tepatnya menjadikan Al Qur’an sebagai media utama revolusi. Satu hal lagi yang perlu ditekankan dalam hal ini, yakni terkait dengan makna Islam revolusionernya sendiri. Bahwa revolusioner yang diangkat dalam Islam itu tidak hanya hal-hal besar yang cakupannya global saja, tetapi hal-hal kecil sampai detail merupakan objek perubahan. Sebagai pembandingnya, Islam tidak hanya merubah tatanan geososiopolitik saja tetapi melakukan perubahan sampai hal yang sifatnya personal dan tabu sekalipun seperti berkhitan,

9

memotong bulu kemaluan, sex dan sebagainya. Artinya, revolusi yang ditawarkan oleh Islam sebagai solusi kolektif atas berbagai persoalan yang sifatnya mendunia hari ini berangkat dari hal-hal yang sebenarnya ringan dan tidak terpikirkan oleh kita untuk diubahnya, karena sesungguhnya Islam mempercayai bahwa hal-hal yang kita anggap sepele akan berbuntut pada hal-hal yang besar yang terkadang kita sendiri tidak mampu mengatasinya. Persoalan sederhana yang kita hadapi sehari-hari dengan sendirinya akan menjadi kebiasaan dan seterusnya mampu menjadi persoalan besar. Ini memang benar adanya, artinya dalam hal ini Islam mencoba menggulirkan satu wacana baru tentang bagaimana memanage hal-hal sepele dalam hidup kita sebagai langkah antisipatif terhadap munculnya hal-hal besar. Analogi sederhananya, ibaratkan persoalan sepele itu setitik debu, maka lama-kelamaan debu itu akan bergabung bersama debu-debu lainnya, menggumpal dan kemudian menjadi batu gunung yang besar yang mampu meremukkan apapun yang dilewatinya. Dalam wilayah sederhana ini, kemudian Islam mengajak umatnya untuk berkaca pada sejarah masa lalu untuk di jadikan referensi dan mempelajari kejadian tersebut mulai dari tahap penampilan masalah sampai pada ending dari sejarah itu. Klimaks konflik dan anti klimaksnya yang kemudian harus mendapatkan perhatian khusus agar persoalan-persoalan yang muncul dapat segera diketahui penyebabnya serta kemudian merumuskan strategi untuk bagaimana persoalan tersebut mendapat penyelesaian yang paling baik dan solutif.

10

Hal ini ada kaitannya dengan apa yang dikatakan oleh penganut filsafat materialisme historis (evolusionisme mekanis) yang cenderung mempercayai bahwa sejarah pada dasarnya selalu berputar, apa yang terjadi pada kejadian hari ini dan akan datang sesungguhnya telah terjadi juga di masa lampu dengan konsep yang sama. Perbedaan dari kejadian itu hanya terletak pada kuantitas dan kualitasnya saja. Dapat dicontohkan misalnya imperialisme dan kolonialisme ekonomi hari ini yang kita rasakan sesungguhnya telah terjadi pada masa lampau dengan kejadian yang sama namun dalam konsep yang berbeda, kolonialisme dan imperialisme ekonomi yang terjadi pada masa lampau dilakukan dengan system yang sederhana dan strategi yang masih dangkal. Islam dikatakan membawa sejarah sebagai referensi umat Islam dalam menyelesaikan persoalan menjadi alasan kenapa Allah kemudian banyak menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul terdahulu dalam Al Qur’an. Yang ditulis di dalam Al Qur’an, terutama kisah-kisah para nabi dan rasul ini bukan hanya untuk diketahui sebagai pengetahuan umum untuk kemudian di dongengkan kepada anak cucunya saja tetapi untuk dipelajari dan diambil makna dari cerita itu. Tiap tokoh kemudian dikaji dari berbagai sisi, baik sisi sosial, ekonomi maupun budayanya dan kemudian dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya, bagaimana munculnya konflik, penyelesaian konflik sampai pada bagaimana menciptakan tata sosial yang baru pasca konflik. Kisah-kisah nabi dan rasul terdahulu ketika dikaji dengan model kontekstual histories dapat ditemukan banyak hal terkait dengan persoalan yang dilematis hari ini. Persoalan mengenai konflik antara rakyat dengan penguasa

11

dapat dijumpai pada kisah nabi Yusuf dan nabi Musa, bagaimana Yusuf bersikap ketika sedang dalam masa hukuman di penjara, tentang bagaimana Nabi Musa bersama pasukannya melawan dominasi kekuatan Raja Fir’aun2. Persoalan mengenai politik dapat berkaca dari Nabi Sulaiman, tentang manajemen Negara sebesar negara Sulaiman yang dilakukan secara sentralistik yang langsung kepada Raja Sulaiman, bagaimana Nabi Sulaiaman melakukan penggabungan negara dengan negara ratu Bilqis, di bidang militer Kisah Nabi Sulaiman dengan tentara dari manusia, binatang dan jin dapat di control dalam one man one commando di tangan nabi Sulaiman. Di bidang pendidikan, kisah nabi Musa ketika mencari Nabi Khidzir, ketabahannya dan kesabarannya dalam menuntut ilmu dapat menjadi rujukan hari ini bagaimana menyelesaikan persoalan rendahnya sugesti masayarakat untuk bersekolah, sehingga negara kita dilanda kebodohan kolektif. Manajemen pendidikannya, dapat diambil dari kisah nabi-nabi yang menyampaikan risalahnya secara kontinyu dengan tempat seadanya dan waktu sesenggangnya. Artinya belajar dapat dimanapun, kapanpun dengan guru siapapun. Banyak kejadian sejarah dari para nabi terdahulu yang dapat dijadikan rujukkan untuk mencari solusi kolektif atas multiproblem yang terjadi di tengahtengah kita hari ini.
2

Kisah ini disebutkan dalam Al Qur’an saat bagaimana Bani Isra’il yang dipimpin Musa melawan Fir’aun, pada akhir cerita Allah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya saat menyeberangi lautan. Allah berfirman; “Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka” (QS.20.78)

12

Sederhananya, dari kisah sejarah yang dituliskan dalam Al Qur’an saja dapat kita ambil banyak pelajaran untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dilematis di tengah-tengah kita hari ini. Belum lagi ketika kita buka ayat-ayat makiyyah yang di turunkan di Makkah yang kebanyakan isinya tentang hukum syariat yang mengatur hubungan teologis dan hubungan muammalah (sosiologis), disini secara lebih jelas diatur mengenai bagaimana seharusnya kita berpolitik, bagaimana menciptakan tata sosial yang madani, tentang apa yang seharusnya dilakukan ketika berhubungan dengan Allah dan seterusnya. Dalam Al Qur’an, kisah-kisah nabi terdahulu tidak hanya untuk kemudian dijadikan petuah dan dongeng saja, akan tetapi apa yang digambarkan tentang kemurkaan Allah terhadap suatu kaum yang mengabaikan kepentingan teologis dan humanis di tengah-tengah kaumnya secara nyata, kemudian atas mereka Allah dengan kebesarannya kemudian menurunkan beraneka bencana yang terkadang diluar akal sehat manusia. Kaum Nabi Nuh yang berada di sekitar gurun berpasir oleh Allah kemudian diturunkan bencana berupa banjir bah yang besar sehingga seluruh kaum, kecuali pengikut nabi Nuh, tenggelam oleh banjir tersebut. Atau yang lebih jelas lagi, Raja Ramses (Fir’aun) di zaman nabi Musa ditenggelamkan di dalam lautan ketika nabi Musa berhasil membelah lautan hanya dengan pukulan tongkatnya. Satu hal lagi, bahwa selain memberikan petuah secara implicit dan eksplisit, Al Qur’an juga memberikan jawaban atas persoalan motivasi dalam melakukan revolusi (perubahan) sebagai manifestasi atas ajaran yang terkandung

13

di dalam Islam, seperti misalnya, Allah memberikan sindiran halus dengan Firmannya

“… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubahnya”.3

Disinilah kemudian apa yang dimaksud Hassan Hanafi bahwa Islam itu harus mampu menciptakan antroposentrisme yakni peradaban yang berpusat pada manusia memperoleh legitimasi selain dari ayat yang mengatakan bahwa manusia adalah khalifatu fi al ardl yang berhak memanage dunia beserta isinya. Di sisi lain, bahwa terkait dengan manusia sebagai khalifatu fi al ardl maka manusia memperoleh kebebasan dan tanggung jawab untuk melakukan perubahan terhadap tata sosial masyarakat dan alam sekitarnya yang tidak sesuai dengan hokum Islam untuk menciptakan kemaslahatan bersama (kesalehan kolektif). Allah berfirman :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”4

Jabatan khalifatu fi al ardl dan keharusan manusia melakukan perubahan terhadap negaranya apabila negara tersebut di pegang oleh kekuasaan yang menindas dan sewenang-wenang memberikan inspirasi lebih bahwa dengan

3

Surat Al Ra’d ayat 11 Surat Al Baqarah [2] 30

4

14

hanya dua tanggung jawab ini motivasi untuk revolusi dapat dimunculkan dengan bermodalkan keberanian dan tanggung jawab secara kolektif masyarakat Islam di dunia, tanpa membedakan status dan madzhab yang dianut. Disini baru satu sumber utama, sumber yang kedua berupa hadits dapat lebih jauh lagi diketahui tentang bentuk revolusi yang ditawarkan oleh Islam sebagai langkah efektif untuk dapat merubah tatanan ipoleksosbudhankam yang dilematis dan menindas. Hadits memberikan jabaran lebih luas dan mendalam serta lebih detail, tugas hadits adalah menterjemahkan isi Al Qur’an secara lebih luas dan teknis, oleh karena itu peran hadits sebagai penerjemah akan lebih luas cakupannya di bandingkan dengan sumber utamanya. Menjabarkan tentang peran hadits dalam melakukan dukungan revolusioner terhadap Al Qur’an akan di temukan penjelasan yang lebih mendalam, mengingat hadits tidak hanya ucapan nabi Muhammad, tetapi juga tindakan dan sikapnya maka dapat dengan mudah diketahui tindakan revolusioner nabi Muhammad dalam melakukan perubahan di tanah Arab khususnya dan dunia pada umumnya. Masyarakat Arab sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi Rasululullah banyak tindakan yang tidak manusiawi muncul. Bayi yang lahir dengan jenis kelamin perempuan akan dikubur hidup-hidup, berjudi dan mabukmabukan merupakan identitas mereka, perbudakan, penindasan dan kesewenangwenangan terhadap kaum miskin dapat mudah dijumpai. Sesembahan mereka berupa batu yang dipahat berbentuk berhala yang di letakkan di bangunan suci

15

Nabi Ibrahim, Ka’bah, yang mereka namai Latta dan ‘Uzza. Dan sederetan tindakan jahiliyyah lainnya. Dari fenomena yang kurang manusiawi di tengah-tengah masyarakat Arab ini, Muhammad muncul sebagai orang yang berhati halus, jujur, berotak cerdas dan oleh masyarakatnya Muhammad mendapatkan gelar Al Amin5. Muhammad yang merasa prihatin dengan kondisi ini kemudian menyeret dirinya untuk merenungi dan menyendiri berkontemplasi di gua Hira’, sebuah gua yang berada di pegunungan berbatu di luar kota Makkah. Ditengah kontemplasinya yang dilakukan secara kontinyu (istiqamah), Jibril kemudian atas perintah Allah menurunkan wahyu pertama yang membuat Muhammad merasa ketakutan. Asghar Ali Engineer6 mencatat dalam peristiwa penurunan wahyu pertama ini, bahwa wahyu yang pertama kali secara esensial memang berwatak religius, namun tetap menaruh perhatian lebih kepada fenomena sosial yang ada di sekitarnya. Makkah yang ketika itu merupakan pusat perdagangan yang penting. Dimana secara geografis Makkah menjadi kota yang paling diperuntungkan karena menjadi jalur perdagangan dari Arabia Utara ke Arabia Selatan atau sebaliknya. Makkah menjadi jalur utama perdagangan dan menjadi pusat pertemuan para pedagang dari kawasan Laut Tengah, Teluk Parsi, Laut Merah melalui Jeddah. Pedagang dari Afrika pun banyak yang melakukan transaksi perdagangan melalui rute Makkah ini. Dari keadaan inilah Makkah kemudian
5

Gelar Al Amin diterima oleh Muhammad sebelum ia diangkat menjadi Rasulullah. Al Amin adalah gelar yang diberikan kepada orang yang jujur, menjaga amanat dan dapat dipercaya.
6

Asghar Ali Engineer, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus Salim dkk, LKiS Jogjakarta, hal. 4

16

diuntungkan sebagai kota penting yang menjadi pusat keuangan dari kepentingan internasional yang besar. Seiring dengan perubahan kota Makkah menuju wilayah perdagangan internasional ini, maka secara perlahan masyarakat arab tata nilai sosialnya sedikit demi sedikit bergeser ke arah baru yang lebih praktis. Masyarakat yang sebelumnya lebih mengutamakan sentiment kesukuan atau sentiment Klan untuk kemudian mengalami transisi sosial. Dan ternyata tidak hanya perubahan pada wilayah kesukuan saja, tetapi juga perubahan terjadi pada wilayah kepercayaan dan pandangan hidup masyarakat. Masyarakat Badui yang tinggal di sekitar kota Makkah mungkin yang paling merasakan pil pahit dari perubahan sosial dan ekonomi ini. Biaya hidup yang harus ditanggung oleh masyarakat suku Badui dan suku-suku lainnya semakin meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang cepat ini. Hal yang terjadi pada suku Badui ini berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi para pedagang. Dimana ketika masyarakat Badui menderita karena tekanan ekonomi dengan biaya hidup yang semakin tinggi, justru para pedagang di kota Makkah merasakan sebaliknya, mereka berlomba-lomba memperkaya diri dengan menjual komoditas perdagangan yang banyak disukai oleh pangsa pasar. Keadaan yang terlalu kacau balau ini, merupakan akar pusat yang menyebabkan banyaknya konflik sosial di kota Makkah. Dimana dari persoalan kesenjangan ekonomi ini, kemudian secara perlahan mulai menurun pada bidang sosial lainnya.

17

Para pedagang yang memegang kendali atas dunia perdagangan pada saat itu kemudian melakukan berbagai cara untuk memusatkan kekayaan pada diri mereka masing-masing. Berbagai koorporasi perdagangan kemudian muncul sebagai akibat dari keinginan untuk terus memperkaya diri. Koorporasi ini selain untuk menguasai arus perdagangan dalam satu wilayah juga untuk melakukan monopoli perdagangan sepenuhnya atas wilayah yang telah dikuasainya itu. Sebagai bentuk tandingan atau strategi banding atas kekuasaan ekonomi dalam koorporasi itu, orang-orang miskin Makkah kemudian membentuk komunitas yang sama. Tujuannya adalah untuk mengurangi dominasi ekonomi para pedagang yang monopolistic, dimana system ini menjerat dan

menyingkirkan secara perlahan kaum miskin. Komunitas ini mereka namai sebagai al Fudul7 (Liga orang-orang tulus). Dalam pembentukan komunitas ini, Muhammad turut serta menghadirinya dan menyatakan menyetujui dan mendukung berdirinya komunitas kaum tertindas ini. Selain untuk menjaga integritas perdagangan, komunitas ini juga bertugas untuk mencegah keluarnya para pedagang Yaman dari kota Makkah. Hal ini disebabkan karena pedagang Yaman merupakan para pedagang yang cerdas dalam managemen perdagangan antar kota, sehingga apabila pedagang Yaman harus keluar dari Makkah, sebagai akibatnya, komunitas al Fudul ini harus mengirimkan kafilahnya ke Yaman. Pedagang yang kaya raya menguasai secara sepenuhnya kehidupan sosial masyarakat Makkah. Sehingga dari sini, selain menindas secara ekonomi,
7

Sering dijumpai nama-nama lain untuk menyebut komunitas kaum tertindas ini selain Al Fudul.

18

juga melakukan penindasan sosial dengan pembudakan manusia. Orang-orang merupakan komoditas perdagangan yang dapat diperjual belikan antar orang kaya untuk dieksploitasi tenaganya. Selain eksploitasi tenaga, untuk budak wanita diperalat untuk memenuhi hasrat seksual para pedagang. Nabi Muhammad setelah diangkat menjadi Rasul melakukan revolusi sosial masyarakat Makkah, dengan tegas ia melawan setiap tindakan pemberhalaan terhadap batu, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, berjudi, penindasan ekonomi dan sosial dan sebagainya8. Revolusi ini jelas tidak mudah dilakukan, hal ini dikarenakan tindakan jahiliyah merupakan sesuatu yang telah masuk dalam lingkaran tradisi masyarakat Arab sehingga untuk merubah tradisi tersebut akan mendapatkan perlawanan yang jauh lebih tegas dari serangan yang dilakukan Muhammad. Nyawa Muhammad menjadi taruhan sebagai konsekuensi dari revolusi yang ia lakukan bersama pasukannya. Ia tidak menyerah meskipun mendapatkan pertentangan dari setiap arah. Sampai-sampai karena revolusi yang beliau lakukan membuatnya di usir dari Makkah dan bersama-sama sahabatnya hijrah ke kota Madinah yang masih dalam wilayah Hijaz. Di Madinah, Muhammad bersama-sama sahabatnya masih terus

mendapatkan desakkan dari berbagai pihak, tidak hanya kaum Quraisy di Makkah saja, tetapi wilayah-wilayah luar Makkah dan Madinah yang mengetahui tentang kerasulan dan agama baru yang dibawa Muhammad.
8

Pada tahap awal Muhammad melakukan sosialisasi secara sembunyi-sembunyi tentang wahyu yang diperolehnya kepada istri dan sahabatnya untuk mendapatkan dukungan dalam menyebarkan paham baru yag dia peroleh. Tahap selanjutnya, Muhammad mulai menyebarkan Islam dengan terang-terangan sebagai agama yang hendak memperbaiki moral (akhlaq) masyarakat.

19

Al Qur’an di Madinah masih tetap turun dengan berbagai kondisi social dan kondisi pribadi Muhammad yang berbeda-beda. Sering kali pula Allah menurunkan Ayat yang berisi tentang cerita-cerita kenabian terdahulu untuk menjadi cermin oleh Muhammad dalam menghadapi setiap serangan dari pihak luar. Ayat-ayat yang turun kemudian oleh nabi dimanifestasikan dalam setiap gerakan dan perjuangan melawan desakan dan tantangan yang ia terima. Disinilah peran hadits sebagai penerjemah dari Al Qur’an dapat di ketahui, bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah hadits dan hadits tersebut merupakan pengejawantahan dari apa yang dikatakan dalam Al Qur’an. Selain dalam bidang teknis, hadits secara tekstual juga banyak yang mendukung revolusionisme Al Qur’an. Misalnya saja, hadits tentang berperang melawan kebatilan, penindasan, kesewenang-wenangan dan sebagainya banyak muncul dalam periode kehidupan nabi Muhammad, hadits tentang berperang merupakan realisasi dari perintah jihad yang diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur’an. Sampai pada wafatnya nabi Muhammad, perubahan di bidang politik dan budaya banyak dilakukan dan banyak menyebar di berbagai negara. Revolusi terhadap budaya lain yang tidak humanis di wilayah Negara lainpun ia lakukan dengan strategi yang halus dan manusiawi. Perubahan social yang paling kentara adalah berubahnya pandangan hidup yang semula berwatak imperialistic dan kolonialistik antara orang kaya dengan orang miskin sedikit demi sedikit mulai terkikis, Islam yang dibawa Muhammad membawa ajaran agar orang kaya menyantuni orang miskin. Diakui atau tidak, Islam saat ini merupakan gerakan

20

yang sedang melakukan revolusi total, dimana Islam mengibarkan bendera kiri (perlawanan) terahadap system yang primitive. Terkait dengan Tesis Hassan Hanafi dengan Kiri Islamnya, maka posisi Islam Revolusioner merupakan harga mati. Hubungan antara Islam Revolusioner dan Kiri Islam adalah searah dan saling melengkapi, Tugas Kiri Islam adalah menguak unsur-unsur revolusioner dalam agama, dan menjelaskan pokok-pokok pertautan antara agama dan revolusi. Atau dengan kata lain, memaknai agama sebagai revolusi. Tugas ini merupakan sebuah ‘tuntutan zaman’ yang telah menerapkan sebuah system yang sistematis tetapi menindas dan melakukan kesewenang-wenangan halus. Dikatakan sebagai tuntutan zaman mengingat bahwa hari ini fenomena kapitalisasi di segala bidang kehidupan telah mencapai titik kritis. Semua bidang kehidupan telah disusupi oleh kapitalisme yang kapitalisme sendiri menjajah berbagai peradaban lain yang mencoba menggugurkannya. Dan parahnya lagi posisi Islam hari ini oleh para penganutnya dianggap sebagai agama teosentris dimana peran tuhan sebagai pemegang utama atas kendali dunia berperan dominan, manusia adalah boneka yang harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh Tuhan, sehingga tidak ada kebebasan manusia untuk melakukan perubahan atas segala yang terjadi pada Islam dan penganutnya. Paradigma fungsionalis ini menganggap bahwa Tuhan adalah sentral peradaban, apa yang terjadi di dunia ini adalah merupakan kehendak Tuhan, atau istilahnya takdir, manusia tidak berhak untuk melakukan perlawanan atau merubah kehendak Tuhan, tugas manusia adalah sabar menghadapinya dan

21

tawakal ketika kesabaran itu telah habis. Penindasan, kesewenang-wenangan yang terjadi atas mereka oleh siapapun merupakan kehendak Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. Dari sinilah kemudian memunculkan persoalan yang sangat fatal dan riskan untuk merealisasikan Islam sebagai agama revolusi. Orang-orang Islam mayoritas tidak memiliki paradigma yang strukturalisme radikal, hanya sebagian orang Islam yang sadar dan menganggap bahwa dunia ini merupakan ‘peradaban’ yang dipegang oleh manusia dan manusia diberi kebebasan untuk mengelola dan memanfaatkan segala sesuatu yang ada di dunia. Apabila terjadi something trouble dalam system kesetaraan kosmologi maka hal yang harus dilakukan adalah melawan terhadap apapun atau siapapun yang membuat kesetaraan itu mengalami something wrong. Paradigma masyarakat kebanyakan dalam memandang penindasan kapitalisme dilihat dari kaca mata religiusitas, merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Tuhan, sebagai muslim yang taat maka harus menerimanya dengan lapang dada dan sabar. Penjajahan ekonomi harus diterima dengan tawakal, penguasaan akses politik dan ekonomi oleh ‘orang hitam’ merupakan sesuatu yang harus ditawakali dan berpasrah karena semua itu merupakan kehendak dari Allah yang merupakan cobaan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tugas Islam untuk mampu menjadi agama revolusioner ada dua macam, dan keduanya merupakan rangkaian yang tidak mungkin terputus salah satunya, yakni pertama Islam harus mampu merubah paradigma pemeluknya dari Islam yang konservatif fundamentalis

22

dengan paradigma fungsionalis ke budaya humanis dengan paradigma strukturalisme radikal. Setelah semua pemeluknya merubah paradigmanya dan telah sampai pada common sense (satu pandangan) maka untuk selanjutnya yang kedua Islam baru dapat melakukan revolusi total di segala bidang kehidupan untuk melawan dominasi kapitalisme yang menjerumuskan. Namun, satu hal yang kemudian sampai saat ini belum dapat terrealisasi yakni pengkondisian masyarakat muslim itu sendiri. Artinya, masyarakat muslim masih terkotak-kotak berdasarkan madzhab, aliran dan kepercayaan yang berbeda-beda sebagai akibat dari kesalahan sejarah yang telah membudaya di tengah-tengah Islam. Inilah yang kemudian membuat komunikasi internal di dalam Islam sampai sekarang belum dapat terjadi dialog yang komunikatif dan konstruktif. Semuanya berjalan menurut kepercayaan dan ajaran mereka. Artinya benar kata Samuel P. Huntington bahwa perang yang terjadi hari ini dan seterusnya bukan berlatar belakang adu kekuatan militer serta penguasaan satu negara oleh negara lainnya, tetapi lebih pada perang antar peradaban (The Clash of Civilization). Perang untuk menjadi weltanschauungs yang diakui di seluruh dunia sebagai paradigma yang berkuasa dan harus dianut oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Peradaban yang menang merupakan peradaban yang akan menguasai masyarakat dunia secara kolektif dan menjadi kiblat atas peradaban-peradaban kecil yang dikalahkannya. Sebelum terlalu jauh, konsep ini akan lebih baik lagi ketika ditarik dalam wilayah keberagamaan, terutama Islam. Dalam Islam, selalu dipercayai

23

bahwa setiap orang lahir dalam keadaan suci, tidak ada dosa, tidak ada kejahatan dan kebaikan, istilah mudahnya, manusia yang baru lahir dalam keadaan fithri. Begitu pula, dalam relung kesadaran manusia dan dalam naluri kemanusiaannya mempunyai tendensi ke arah wilayah hanif, yang pro kemanusiaan dan kebenaran. Namun nalar dan kefitrahan itu akan terkikis ketika manusia dalam pandangan sadarnya melihat ke fenomena sekelilingnya yang ternyata tidak sesuai dengan naluri kemanusiaan yang dimiliki. Ada penyelewengan ke arah pemberontakan terhadap kefitrahannya itu. Sebagai akibatnya, manusia tersebut akan terjadi pergoalakan bathin yang mencoba mengambil keputusan untuk ikut serta dalam ‘penyelewengan’ tersebut atau tetap mengikuti naluri dan fitrahnya sebagai manusia dengan konsekuensi akan kehilangan sesuatu yang menjadi target dari ‘penyelewengan’ itu. Dari sinilah kemudian penyadaran akan sangat dibutuhkan dan agama menjadi solusi atas transisi sosial dan konflik sosial semacam ini. Jadi benar bahwa kebaikan pada dasarnya telah tercetak dalam relung kesadaran yang terdalam dalam diri manusia, manusia telah mengetahui kebenaran dan kebaikan dalam bersikap, dan oleh karena itulah maka proses penyadaran ini sangat dibutuhkan sebagai usaha untuk menempatkan kembali pada ranah kefitrahan. Perubahan sosial yang terjadi dalam Islam akhir-akhir ini dalam era kapitalisme global yang tidak mengenal batas wilayah hunian manusia dan tradisi lokalnya telah terjadi secara radikal. Dalam keadaan seperti ini, tidak hanya capitalisme yang sulit dibatasi, berlari ke wilayah manapun selama di tempat itu

24

menjanjikan keuntungan secara kapitalistik, tetapi juga kekuatan capital itu telah mempunyai akibat terhadap aspek sosial dan kemanusiaan yang lain. Kapitalisme yang selama ini telah dianggap sebagai kekuatan lawan yang tangguh yang menggerogoti Islam bukan hanya satu-satunya lawan yang harus dibasmi. Tetapi akibat turunan dari kapitalisme itu justru telah menjadi salah satu madzhab dalam Islam sendiri, kapitalisme telah me-make up dirinya sehingga berwajah Islam. Artinya hari ini Islam sebenarnya dihadapkan pada persolan dilematis, dimana selain mempunyai musuh besar berupa kapitalisme, ternyata koordinasi internal Islam sendiri belum selesai, tidak ada integrasi secara paradigmatic dalam Islam. Selain harus berperang melawan kapitalisme, Islam juga harus menyembuhkan penyakit yang ada dalam tubuhnya sendiri.

25

DEKONSTRUKSI PEMAHAMAN KLASIK ATAS AJARAN ISLAM Membuka Jalan Baru Menuju Pemahaman Ajaran Islam

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa masyarakat Islam sampai hari ini masih terus terjebak pada pemahaman secara teks normative terhadap ajaranajaran yang ada dalam Islam. Sebagai akibatnya, perkembangan pemikiran dan tindakan masyarakat secara kolektif belum bisa tersentuh, yang muncul adalah perubahan-perubahan yang bersifat revolutif dan pencarian paradigma baru dalam memahami isi kandungan ajaran Islam pada masyarakat muslim kelas menengah dan intelektual-intelektual muslim. Pemerataan terhadap pemahaman baru dalam memahami ajaran Islam belum bisa dilakukan secara menyeluruh. Banyak hal yang menyebabkannya, selain diantaranya kepercayaan public terhadap ajaran Islam yang telah mengakar juga disebabkan karena rendahnya kesadaran intelektual masyarakat muslim untuk melakukan kajiankajian yang bersifat pencarian cara pandang baru dalam beragama. Untuk banyak kalangan, agama hanya selesai pada dataran teosentris dan itu cukup dilakukan hanya dengan shalat lima waktu, puasa, berzakat, haji kalau mampu dan seterusnya. Sementara aspek keberagamaan yang sifatnya muammalah

revolusioner, bagi banyak kalangan, merupakan bukan esensi dari kehidupan keagamaan. Kehidupan keberagamaan masyarakat yang cenderung fundamentalis ini, dalam berbagai wilayah, merupakan penyakit yang mematikan untuk

26

perkembangan Islam sendiri. Kurangnya kesadaran untuk menumbuhkan jiwajiwa religiusitas dalam ranah muammalah revolutif menyebabkan Islam peranannya akan semakin mundur dalam percaturan memperebutkan mainstream paling berpengaruh untuk menjadi weltanschauungs yang diakui diseluruh dunia. Baiklah, untuk selanjutnya kita kaji dari awal mulai dari penyebab munculnya fundamentalisasi keberagamaan masyarakat hingga upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk menghilangkan ekstrimisme beragama semacam itu dan kemudian menanamkan pola keberagamaan baru yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi social politik hari ini. Tindakan semacam ini, dalam kaca mata kita, ada beberapa kemungkinan yang mungkin membuat pola keberagamaan semacam ini. Pertama, ini merupakan reaksi atas tindakan ghuluw (melampaui batas), artinya keberagamaan mereka merupakan kesadaran keberagamaan teosentris yang melebihi batas ketentuan. Ini disebabkan karena keyakinan mereka yang berlebih atas ‘Teo’ yang mereka sembah, sehingga sebagai manifestasi atas keyakinan yang berlebih itu, mereka mengekspresikan rasa tersebut dengan tindakan ghuluw dalam beribadah, yang kemudian oleh masyarakat secara umum ditiru tanpa dipandang dari sisi lain. Ini cukup mempengaruhi mengingat bahwa dalam kepercayaan masyarakat secara umum, fenomena keagamaan merupakan hubungan teosentrisme, sementara humanisme yang dimunculkan dalam ekspresi keagamaan merupakan ajaran subdominant dalam agama.

27

Dalam masalah ghuluw ini, secara tegas Allah telah memperingatkan manusia untuk tidak melakukan tindakan semacam ini dalam beragama dalam Al Qur’an yang artinya :

“Katakanlah, ‘Wahai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam beragama. Dan jangnlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya, dan menyesatkan banyak orang, sehingga mereka sesat dari jalan yang sama”9

Untuk lebih mudah dipahami oleh umat Islam pada zaman Rasulullah tentang ayat ini, nabi Muhammad SAW juga telah memperingatkan kepada umat Islam untuk menjauhi tindakan ghuluw dalam beragama. Beliau bersabda ;

“Takutlah akan berlebih-lebihan dalam beragama. (kaum10) sebelumnya telah binasa karena berlebih-lebihan”11

Hadits di atas secara tidak langsung memberi peringatan kepada umat Islam agar lebih waspada terhadap munculnya sikap ghuluw, karena terkadang

9

QS. Al Maidah Ayat 77. Peringatan ini ditujukan kepada Ahlul Kitab serta orang Yahudi atau Nasrani secara keseluruhan yang meng-’itiqad-kan Isa a.s sebagai Tuhan. Mereka diserukan untuk tidak mengekspresikan keberagamaan mereka secara berlebih supaya tidak tersesat dalam beragama, serta tidak mengikuti orang-orang yang telah sesat sebelumnya karena ekspresi keagamaan yang berlebih.
10

Kaum yang dimaksud oleh nabi Muhammad adalah, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, Yahudi dan Nasrani.
11

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Abu Abd al Rahman al Nasa’I dan Abu Abdillah ibn Majah dalam Sunan mereka.

28

sifat semacam ini muncul tanpa dapat kita sadari. Ghuluw dapat terjadi dengan kita melakukan tindakan yang tidak ada gunanya dan selanjutnya menjalar pada ghuluw dalam tingkatan yang sebenarnya. Di riwayatkan, dalam perjalanan Haji Wada’, setelah sampai di Muzdalifah Nabi Muhammad SAW meminta Abdullah Ibn Abbas untuk mengumpulkan beberapa batu untuknya. Ibn Abbas memilih batu-batu yang kecil. Setelah melihat batu-batu itu, Nabi Muhammad SAW menyetujui ukurannya dan berkata; “Ya, seperti itu. Berhati-hatilah akan berlebih-lebihan dalam agama”12. Dari permisalan melalui batu dalam hadits di atas, Nabi mengisyaratkan bahwa, dalam memilih batu-batu (dapat di terjemahkan sebagai ritual keagamaan) harus dapat menetukan ukuran yang dinamis. Tidak terlalu besar (berlebihan) dan tidak terlalu kecil (kurang). Orang tidak harus untuk sepanjang hari menyembah kepada Allah, meskipun itu baik sebenarnya, sementara kewajiban lain yang harus di kerjakan seperti memberi nafkah, mencari sumber penghasilan (terkait manusia sebagai khalifatu fi al ardl) dan sebagainya kemudian ditinggalkan. Atau karena semua itu, sebagai kebalikan atas yang pertama tadi, kemudian Allah ditinggalkan begitu saja. Karena bekerja lupa shalat dan sebagainya. Manusia harus fleksibel dalam mengatur masalah keberagamaan, karena pada dasarnya Allah menurunkan Islam semata-mata tidak hanya untuk manusia menyembahnya, tetapi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Manusia harus tahu porsinya sebagai abdillah dan sebagai khalifatu fi al ardl. Ada kalanya
12

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

29

orang harus tunduk pasrah kepada Allah, dan pada kesempatan yang lain, manusia juga diberi kebebasan untuk memanage bumi dengan tanpa intervensi dari Allah. Sekali lagi untuk mempertegas itu, Allah telah berfirman;

“Wahai Ahli Kitab, Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu”13

Kedua, dapat juga diketahui bahwa keberagamaan masyarakat yang demikian itu disebabkan oleh sikap tanattu’ (berlebihan, keberagamaan yang terlalu ketat). Sikap semacam ini disebabkan, masih berkutat pada wilayah yang sama, oleh pemahaman teosentrisme beragama. Perbedaan dari yang pertama adalah, dalam wilayah ini orang cenderung ekstrim terhadap ritual keagamaan dan terlalu berhati-hati dalam bertindak. Berhati-hati yang berlebih dalam beragama ini menyebabkan seolah agama merupakan wilayah yang sacral dalam mengatur manusia, sehingga ketika masuk di dalamnya orang terikat dengan peraturan dan doktrin keagamaan yang ketat. Sementara, wilayah lain yang memberikan ruang kebebasan terkadang tidak berani disentuh karena kehati-hatiannya itu. Yang kemudian patut disayangkan adalah, kehati-hatian itu hanya berlaku pada hubungan teosentris saja, kehati-hatian tidak pada aspek pengembangan keagamaan dan

pemberdayaan masyarakat muslim. Nabi bersabda :

13

Surat An Nisa’ ayat 171.

30

“Kehancuranlah bagi merkea yang berpuas diri dalam tanattu’”14

Ketiga, tasydid (Kekakuan, kesederhanaan berlebih). Orang yang berpandangan seperti ini, sulit untuk dapat menerima factor eksternal yang mencoba masuk kedalam wilayah keberagamaan mereka, tidak hanya factor eksternal saja, tetapi inovasi dan kreasi yang muncul dalam internal agama itu sendiri terkadang banyak ditolak dengan serta merta. Menanggap itu sebagai bid’ah yang tidak pantas untuk dilakukan dan sampai pada pengecapan bahwa tindakan inovatif tersebut adalah syirik dan seterusnya. Artinya, sesungguhnya dari berbagai sudut pandang, dapat diketahui bahwa Islam merupakan agama yang selalu mengajarkan keseimbangan, menempatkan diri pada posisi moderat. Islam selalu menyeimbangkan antara kebutuhan yang bersifat rohani dan kebutuhan jasmani, rohani tercukupi dengan tepat, jasmani juga terpuaskan. Islam sangat mengecam berlebih-lebihan meskipun dalam beragama. Nabi sendiri memperingatkan kepada sahabatsahabatnya yang berlebih-lebihan dalam beribadah dan terlalu asketik, karena tindakan ini merupakan tindakan melompat dari garis Islam moderat. Islampun tidak pernah melarang untuk umatnya menikmati keindahan dunia dan menikmati kenikmatannya. Karena Allah menciptakan semua itu untuk di nikmati oleh manusia. Allah berfirman;

14

H.R. Muslim

31

“Wahai anak-anak Adam! Pakailah perhiasanmu setiap kali pergi ke Masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sungguh ia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” “Katakanlah: “Siapa yang mengharamkan perhiasan tuhan yang di sediakan untuk hamba-hamba-Nya, dan rezeki yang baik. Katakanlah, ia untuk orang-orang yang beriman…”15

Fenomena keberagamaan masyarakat yang jumud dan fundamentalis merupakan tindakan yang berlebih-lebihan atau bahkan asketis. Mengingat posisi keberagamaan fundamental lebih mengutamakan agama hanya hubungan teosentris semata yang kemudian sebagai ekspresi atas keberagamaannya itu dinyatakan dalam peribadatan yang berlebih. Sementara itu, fundamentalisme beragama seringkali menyingkirkan aspek-aspek muammalah (humanisme) dalam beragama. Secara dangkal dapat dikatakan bahwa fenomena

keberagamaan semacam ini merupakan penafsiran sepihak atas agama. Dalam beribadah, juga harus mengedepankan unsure humanisme, dalam wilayah teosentris juga tidak bisa terlepaskan dari humanisme. Sebagaimana Nabi pernah sabdakan:

Pada suatu ketika nabi berpesan pada imam shalat dengan marah yang tidak biasa “Beberapa di antara kalian telah membuat orang-orang tidak menyukai shalat. Maka, siapa saja di antara kalian yang menjadi imam harus melakukannya dengan singkat, karena di antara mereka (makmum) ada yang lemah, tua, seseorang yang mempunyai bisnis yang harus diperhatikan…”16
15 16

Surat Al Maidah ayat 31-32 H.R Bukhari

32

Orang yang memiliki sifat semacam ini (berlebih-lebihan) akan menutup diri dari masuknya pemahaman lain tentang apa yang dilakukannya. Dia tidak akan mengadukan secara ilmiah ataupun cultural tentang ritualitas yang dia lakukan dengan bentuk-bentuk lain. Ia hanya akan mencari pendukung untuk kemudian membawa masyarakat ke dalam barisannya. Hari ini masyarakat Islam telah terkontaminasi virus semacam ini. Orang menganggap bahwa Islam hanyalah agama teosentris, dan oleh karenanya hanya ibadahlah yang harus dilakukan. Di sisi lain, asketisme masyarakat dan sifat acuh tak acuh terhadap ritual keberagamaan juga marak. Islam hari ini telah lari dari posisi moderatnya. Posisi semacam ini menyebabkan Islam tidak dapat berkembang dengan pesat, ketika Islam hanya dibangun pada satu sisi, yakni sisi ubudiyah semata, maka yang akan terjadi adalah Islam tergilas pada hubungan muammalah-nya karena wilayah ini tidak dapat dibangun. Islam hanya di beratkan pada sisi timbangan hablum minallah saja, sementara mangkuk timbangan hablum minannas masih kosong, apalagi hablum minal ‘alam. Ketimpangan atas kesetaraan dalam Islam ini kemudian berbuntut pada hilangnya kreativitas dan inovasi orang-orang muslim dalam mempertahankan dan mengembangkan agamanya. Orang Islam cenderung untuk mendiskreditkan persoalan penyesuaian Islam dengan zaman, sehingga fenomena yang terjadi hari ini bukan zaman sesuai dengan Islam tetapi Islam sesuai dengan zaman. Islam tidak mampu mengolah zaman dan hanya menjadi satu bagian dari zaman itu.

33

Autentitas nilai Islam sesungguhnya merupakan problematic dalam sejarah yang harus di rekonstruksi terus menerus dan bukanlah nilai yang sudah jadi, tanpa imajinasi kaum muslim sendiri. Sehingga, apa yang sering kita bayangkan sebagai sesuatu Islam yang ‘murni’ dan yang ‘asli’, tidak lain itu semua adalah bagian dari pengalaman sejarah yang menempatkan nama orang atau tokoh dengan pikiran dan sikapnya yang terlibat dalam ‘proses’, tatkala kitab suci dan tradisi itu berhadapan dengan konteksnya masing-masing. Sederhananya, Islam pada dasarnya merupakan nilai yang bukan harga mati, yang kemudian harus begini begitu saja. Islam fleksibel dan selalu dapat masuk dalam zaman manapun dan kondisi social apapun, dengan catatan, yang membawa Islam pada zaman atau kondisi tersebut dapat menyesuaikan konteks ke-Islam-annya dengan kondisi riil yang terjadi. Pada gambaran di atas, kebanyakan orang selalu mengaitkan Islam yang sesungguhnya dengan tradisi Islam dahulu. Bahwa Islam yang ‘benar’ adalah Islam yang telah diejawantahkan oleh orang-orang sebelumnya dengan beragam pemikirannya yang diakui sampai sekarang oleh masyarakat kebanyakan. Saat ini, mau atau tidak mau, kita harus meyakini bahwa Islam yang benar (tanpa tanda kutip) adalah Islam yang sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits yang merupakan dasar hukum terpercaya dalam Islam. Selanjutnya, untuk dapat menerapkan Islam yang sesuai dengan konteks social hari ini adalah bagaimana kita mampu menterjemahkan Al Qur’an dan hadits tersebut sesuai kondisi riil yang terjadi. Maksudnya, dalam menafsirkan Al Qur’an dan Al Hadits, agar dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan,

34

harus dipertimbangkan aspek social yang sedang terjadi. Tujuannya adalah agar Islam tetap berada pada posisinya sebagai agama moderat yang berada pada titik tengah dan dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat non muslim sekalipun. Al Qur’an dan Hadits selalu bersesuaian dengan zaman. Islam selalu sesuai dengan zaman apapun dan kondisi bagaimanapun. Yang sesungguhnya membuat Al Qur’an dan hadits tidak dapat menyesuaikan dengan zaman adalah kita sendiri yang salah dalam menterjemahkannya. Sehingga, Islam hari ini banyak dicap dengan asumsi-asumsi kotor yang nyata-nyata tidak sesuai dengan Islam itu sendiri. Dapat dipastikan apabila kita mampu membawa Islam pada kondisi social apapun, kebenaran bahwa setiap ide-ide kemanusiaan yang muncul telah terdapat dalam Al Qur’an. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat ide-ide dasarnya telah tercantum dalam Al Qur’an ataupun hadits meskipun hal tersebut disebutkan secara implicit. Ketika hal ini telah dapat diyakini oleh masyarakat secara keseluruhan, tentulah pergulatan pemikiran Islam dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan referensi universal dari setiap peradaban baru. Dalam memahami teks kitab suci, dan untuk mengetahui makna yang paling dalam atas teks-teks tersebut, maka harus disekularisasikan dan dirasionalisasikan. Tanpa melakukan berpikir sejarah (historical thinking) atau mencari kebenaran dalam proses (truth as process), maka teks hanya akan menghasilkan pengikut-pengikut yang imannya bersemangat, tapi mereka hidup dalam kesadaran-kesadaran palsu yang menentramkan.

35

Fenomena yang terjadi hari ini demikian, dalam pandangan kaum muslim kebanyakan teks-teks suci (baca : Al Qur’an) merupakan teks yang dimuliakan dan dibaca terus menerus yang akan menghasilkan umat yang secara keimanan dan ketakwaan bersemangat. Sementara untuk penggalian unsur-unsur dan makna yang terkandung di dalamnya secara lebih dalam orang Islam hari ini kebanyakan mengabaikannya, bahkan asbab an nuzul atau dalam konteks masyarakat yang seperti apa teks yang mereka baca tersebut turun sama sekali tidak diketahuinya. Inilah yang sesungguhnya konsep masyarakat yang kurang begitu diharapkan oleh Islam sendiri. Yakni orang yang menganggap Al Qur’an sebagai kitab suci dan sesuatu yang harus dipuji dan dimuliakan. Sementara peran Al Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk diabaikan. Ini berarti al Qur’an telah mengalami disfungsi dan dikebiri secara perlahan-lahan oleh umatnya. Orang yang hanya menganggap teks suci hanya sebagai bahan bacaan sebagai bentuk perwujudan atas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah berarti orang tersebut tidak memuliakan Al Qur’an. Yang diburu hari ini adalah bagaimana orang berlomba-lomba untuk membaguskan suaranya dalam membaca Al Qur’an, sementara pada sisi lainnya, makna yang terkandung di dalam Al Qur’an sendiri tidak pernah disentuh. Lalu penghormatan semacam apa yang di berikan orang Islam kepada teks sucinya? Apakah penghormatan hanya cukup dengan membacanya tanpa mengkajinya? Tercatat sejak abad ke VII M umat Islam mulai masuk pada fundamentalisme beragama. Orientasi keberagamaan manusia saat itu selalu

36

merujuk pada fiqh sebagai justifikasi keselamatan dan kesesatan. Fiqh berada pada puncak kesakralan dan kemapanan. Sebagai sebuah rujukan hukum, fiqh tampak subjektif, hitam putih, benar salah, halal haram. Dengan sifat-sifat yang demikian itu, fiqh membuat kreativitas dan kebebasan manusia menjadi hal yang mahal. Dan ortodoksi fiqih ini juga mendapatkan perlindungan pengamanan sempurna dari penguasa, sehingga mulai saat itu dan hingga hari ini, fiqh menjadi satu-satunya justifikasi dalam menentukan hukum social dan ubudiyah, dan semua orang Islam harus mengikutinya tanpa kreativitas apapun. Kemandekan kreativitas dalam mengekspresikan kegagamaan juga di topang oleh booming besar para ulama yang mengeluarkan statemen bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Gerakan menjaga otoritas fiqh ini selanjutnya

mengorientasikan umat Islam untuk selalu taklid terhadap peraturan-peraturan yang diciptakan berabad silam tanpa melihat perubahan zaman yang semakin maju dan komplektisitas permasalahan. Belakangan ini, barulah ortodoksi fiqh sedikit demi sedikit mulai mencair. Namun itu, sekali lagi, belum menyentuh umat Islam secara keseluruhan pada lapisan grass root dan Islam abangan. Banyak sudah percobaan-percobaan yang dilakukan oleh pemikirpemikir besar yang menggoncangkan dunia Islam, khususnya untuk kaum fundamental. Dimana pemikiran-pemikiran mereka membuat orang muslim fundamental gundah dan merasa dilecehkan keislamannya. Nasr Hamid Abu Zaid terpaksa mengungsi ke Leiden karena membuat lembaga-lembaga keagamaan di Mesir kebakaran jenggot dengan “Kritik Wacana Keagamaan” yang ia

37

publikasikan.

Muhammad

Syahrur

juga

ikut

berperan

serta

dalam

‘pembangkangan’ ortodoksi fiqh dengan menulis buku Al Kitab wa Al Qur’an: Qira’ah Muassirah, Muhammad Said al Asymawi, seorang pemikir secular Mesir juga turut serta melontarkan ide-ide pembaharuannya dengan perspektif humanisme. Hassan Hanafi dengan Al Yasar Al Islam dan Oksidentalisme, Muhammad Abed al Jabiri, Muhammad Arkoun, Ali Gharb, Jamaludin Al Afghani, Muhammad Abduh dan sederet nama-nama pemikir lainnya. Di Indonesia sendiri, banyak pemikir besar yang turut serta ‘melawan’ ortodoksi fiqh dengan ide-ide pembaharuannya. Tercatat ada Munawir Sadzali, (Alm) Nur Kholis Majid, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ulil Abshar Abdalla, Prof. Dr. Harun Nasution dan lainnya yang mencoba menggulirkan wacanawacana dan pemahaman yang baru dalam memandang Islam. Bahkan Ulil Abshar Abdalla yang juga coordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) oleh kebanyakan ulama salaf di fatwa-kan halal darahnya karena pemikirannya yang cenderung memancing konfrontasi antara Islam liberal yang dipimpinnya dengan aliran Islam lain yang ada di Indonesia. Tulisannya di Koran Kompas yang berjudul “Menyegarkan Kembali Islam Kita” merupakan titik awal tokoh ini dikenal di blantika intelektual muslim Indonesia. Para pembaharu, baik di dalam maupun di luar Indonesia banyak menuai kritik pedas dari ulama-ulama fundamental. Mereka seringkali tidak hanya difatwakan halal darahnya, tetapi juga mendapatkan serangan-serangan yang ‘keji’ melalui pembantahan wacana yang ada. Merekapun mendapatkan gelar riddah17 dari para ulama fundamental. Dalam pandangan ulama
17

Istilah yang digunakan untuk menyebutkan orang keluar dari agama (murtad).

38

fundamentalis, riddah konsepnya tidak hanya terhenti pada perpindahan dari satu agama ke agama yang lain saja, tetapi juga tindak sparatis terhadap peraturan yang telah ada. Sehingga ulama-ulama salaf banyak menganugerahi gelar riddah untuk para pemikir yang mencoba memperbaharui tatatan pemahaman dan gerakan dalam Islam. Mereka dianggap melakukan tindak provokasi terhadap masayakat untuk lepas dari kekuatan tiranik Fiqh salafiyyah. Parameter yang digunakan oleh para pembaharu dalam memperbaharui Islam adalah dengan menguji pada wilayah umat secara kolektif. Tujuannya agar tidak terjadi penimpangan terhadap hukum yang telah ada sebelumnya. Seberapa jauhkan hukum baru yang diciptakan oleh para pembaharu itu dapat menyentuh kemaslahatan kolektif (kesalehan social) dan sejauh mana hukum tersebut dapat digunakan tanpa melanggar batas-batas norma social. Maksudnya, dalam menentukan hukum, mereka mempertimbangkan sisi humanisme dan sisi social disamping sumber hukum tetap Islam. Hasil ciptaan hukum para pembaharu tersebut sering kali memancing kontroversi di tengah-tengah kemapanan ortodoksi pemahaman Islam. Taruhlah mislanya Munawir Sadzali yang melakukan kritik pedas terhadap ayat-ayat dan hadits tentang hukum waris yang tidak seimbang pembagiannya antara laki-laki dan perempuan, Jaringan Islam Liberal yang memfatwakan kebolehan tidak menggunakan jilbab bagi wanita, dan sebagainya. Baiklah, sebelum sampai jauh, marilah kita tinjau kembali salah satu tesis yang diajukan oleh pakar keagamaan samawi Karen Amstrong18 dalam

18

Karen Amstrong, The History of God, Mizan Pustaka, Bandung

39

pengantar di buku best sellernya The History of God. Tesis yang dia ajukan adalah, fenomena keagamaan kita (manusia secara keseluruhan) lebih di dominasi pada kecondongan ketakutan terhadap sosok makhluk yang diberi nama neraka, dan kecenderungan mengharapkan sorga, bahkan dari ketakutan terhadap itulah, manusia sering kali lebih takut pada nerakanya tuhan dibandingkan takut terhadap tuhan yang menciptakan neraka itu. Pandangan terhadap sorga dan neraka (yang tentunya immaterial dan mistis) dengan mudah dapat membawa orang untuk menitik beratkan agama pada wilayah teologis. Artinya, sorga dalam pandangan awam jelas hanya mampu di dapat dengan terus menerus beribadah kepada tuhan. Dan untuk menjauhi neraka (yang penuh dengan siksaan sebagai balasan atas tindakan buruk) juga melalui peribadatan dan penghambaan sepenuhnya kepada tuhan. Dalam ketakutan dan harapan ini, pada intinya, yang dibangun dalam agama lebih pada jiwa-jiwa teologinya saja, sementara aspek humanisme menjadi sesuatu yang di diskreditkan dalam kehidupan beragama. Fenomena ini banyak dijumpai dengan banyaknya sufi-sufi yang selalu menghambakan diri sepenuhnya kepada tuhan. Allah dalam Al Qur’an telah berfirman:

(apakah) perumpamaan (penghuni) sorga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan

40

ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?19

Dari ayat ini setidaknya dapat memberikan gambaran jelas bahwa harapan-harapan terhadap kenikmatan di sorga selalu akan mengarahkan manusia untuk lebih mendekati tuhan, menyembahnya dan kemudian mengabdi kepadanya sepenuhnya. Apalagi ketika melihat neraka sebagai balasan atas kehidupan dunia yang berbuat dosa sebagai air yang mendidih dan dapat memotong usus manusia, tentunya mereka akan semakin berlari untuk mengejar tuhan dibandingkan harus berurusan dengan dunia. Pada titik ini, manusia akan kehilangan satu hal yang penting dan merupakan tanggung jawab manusia, yakni jabatan manusia sebagai khalifah fi al ardl yang mewajibkan manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam di dunia (termasuk manusia). Yang dibangun hanya pada jabatan manusia sebagai ‘abdillah yang harus selalu menyebah kepada-Nya. Dan sebagai dampak selanjutnya, Islam juga kehilangan posisinya sebagai agama moderat. Ia hanya dipandang sebagai agama vertical yang membangun wilayah ubudiyah, di doktrin untuk selalu bertaqwa dan beriman. Tidak ada aspek humanisme dalam Islam.

Jalan Baru, Mungkinkah? Fenomena di atas, setidaknya memberikan gambaran bahwa ternyata masyarakat muslim di seluruh dunia masih terkungkung dalam keterbelakangan
19

Surat Muhammad [47] ayat 15

41

dan kemunduran dalam bidang sains dan teknologi, namun cukup maju dalam bidang teologi keagamaan (teological religious). Dan sayangnya, kemajuan bidang ini tidak begitu mampu menjamin kemerdekaan bidang lainnya yang dapat menjamin kemajuan umat Islam sendiri dalam perebutan wilayah di era sekarang, termasuk sains dan teknologi tentunya. Dalam catatan Dr. M. Amin Abdullah20, memberikan gambaran lugas tentang alur pemahaman agama. Pada penghujung abad ke-19, lebih-lebih pada pertengahan abad ke-20, terjadi pergeseran paradigma pemaham tentang ‘agama’ dari yang dahulu hanya berkisar pada ‘doktrin’ ke arah entitas ‘sosiologis’, dari diskursus ‘esensi’ ke arah ‘eksistensi’. Terlepas dari benar atau tidaknya catatan ini, setidaknya ada beberapa wilayah yang kemudian harus dikaji lebih jauh. Terkait dengan perkembagan ini, ada kemungkinan bahwa yang terjadi perubahan hanya di kalangan ‘atas’ yakni kalangan intelektual agama dan akademisi yang berada pada disiplin ilmu ini. Perubahan secara social yang menyeluruh belum dapat terjamah. Dr. Amin Abdullah juga menegaskan bahwa fenomena keagamaan hari ini telah menjadi sesuatu yang kompleks, dan untuk dapat memahaminya, tidak hanya dapat di dekati secara teologis normative saja. Salah satu penyebabnya adalah terbukanya batas-batas ‘geografis’ dalam kebudayaan, percampuran antar satu budaya dengan budaya yang lainnya menjadi hal yang biasa dan memang perlu dilakukan untuk mempertahankan eksistensi budaya itu sendiri.

20

Dr. M. Amin Abdullah, 2004, Study Agama, Normativitas atau Historisitas, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, hal. 9

42

Dalam rangka mendekati agama hari ini, maka, dalam pandangan Dr. Amin Abdullah, tidak dapat disalahkan ketika orang mengkaji agama secara aspectual, dimensional, dan bahkan multi dimensional approaches. Diluar keberadaan agama yang mempunyai doktrin teologis normative, sebagai letak inti dari keberagamaan manusia, agama dapat pula dipandang sebagai tradisi. Sisi lainnya, agama yang semula berangkat dari keyakinan bathiniah yang mendalam (esoteris) perlahan-lahan berubah menjadi lembaga-lembaga agama di mana di dalamnya terlibat pranata-pranata social yang kadang juga bersifat birokratis. Dan untuk selanjutnya, kelembagaan-kelembagaan agama itu sudah dapat dipastikan mengalami proses evolutif dalam bidang ekonomi, social, militer dan berbagai kevenderungan manusiawi lain yang tidak kalah kompleksnya dibanding dengan urusan esoteris sebagai inti dasar agama. Lembaga-lembaga agama ini semakin lama juga akan semakin berkembang kuantitasnya, dalam satu agama saja misalnya, akan tumbuh berbagai macam lembaga-lembaga yang antara satu lembaga dengan lembaga yang lain saling terkait dan hubungannya lebih bersifat kompetitif. Terlepas dari itu semua, kembali pada bagaimana proses evolusi keagamaan masyarakat dapat dilakukan. Perubahan secara paradigmatic membutuhkan perangkat yang lebih kompleks, berbanding searah dengan komplektisitas masyarakat itu sendiri. Bagaimana hari ini agama (teologi), dalam perspektif awam, tidak lagi hanya terbatas sekedar menerangkan hubungan antara manusia dan tuhan, tetapi juga melibatkan kesadaran berkelompok (sosiologis), kesadaran pencarian asal

43

usul agama (antropologis), pemenuhan kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang kuat dan ketenangan jiwa (psikologis). Nasib agama hari ini secara umum cukup memprihatinkan, sama halnya dengan nasib filsafat, pada awalnya filsafat dianggap sebagai “The Mother of Knowledge” yang menjadi induk dari semua ilmu hari ini filsafat hanya difungsikan sebagai metodologi berpikir yang kritis konstruktif dalam segala cabang keilmuan. Agama tidak jauh berbeda, agama yang dahulu memperoleh predikat sebagai “The Queen of Knowledge” hari ini hanya ditelaah seabgat aspek-aspek yang terkait dengan doktrin keagamaan secara normative. Dan ini juga memberikan arahan bahwa agama (teologi) harus mampu bertanding melawan kawan sejawatnya seperti psychology of religion, sociologi of religion, history of religion atau phenomenology of religion agar agama mampu kembali menjadi “Queen” dari semua cabang ilmu yang ada. Untuk semakin mempermudah dalam mengkaji persoalan agama, Islam khususnya, maka kita juga harus membedakan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama (religiositas) itu sendiri dan ekspresi keberagamaan. Yang pertama lebih mengarah pada esoteris dan yang kedua (ekspresi keberagamaan) lebih menjurus ke arah eksoteris. Yang pertama akan diwakili pada munculnya truth (iman) dan yang kedua dimanifestasikan dalam ritual keagamaan (shalat dsb). Sejauh mana pengaruh dari keduanya terhadap eksistensi Islam, dan metodologi yang seperti apa yang mungkin dapat digunakan untuk mendekati salah satu diantara keduanya secara lebih jelas dan terstruktur, kedua

44

hal ini agaknya (dan memang bahkan) mutlak dilakukan untuk membuktikan fenomena Islam yang sekarang ini. Iman sebagai pengejawantahan atas nilai religiusitas membawa penganutnya pada pandangan tentang hal-hal yang harus diyakini eksistensi dan keberadaannya. Objeknya pun berragam, mulai dari persoalan yang tidak mampu untuk dikaji dengan nalar (mistis) hingga persoalan sejarah dan masa depan. Pada titik ini, umat Islam lebih mengarahkan arti iman untuk mempercayai keberadaan Allah sebagai tuhan umat manusia, mempercayai keberadaan malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah, meyakini keberadaan nabi-nabi yang telah menyebarkan agama Allah kepada kaum-kaumnya, meyakini adanya kitab-kitab suci Allah yang dibawa oleh nabi untuk kaumnya, percaya pada keberadaan sejarah masa depan berupa hari kiamat dan mempercayai adanya qadha dan qadar yang Allah telah tentukan untuk manusia. Kesemuanya itu merupakan kerangka awal yang akan membentuk ekspresi keagamaan atas apa yang diyakininya. Sebagai manifestasi atas keimanannya kepada Allah, manusia akan mengekspresikan keagamaannya itu dengan shalat, puasa, haji, membaca al qur’an dan sebagainya. Untuk mengkspresikan keyakinannya atas keberadaan hari kiamat, umat Islam mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan beramal baik sesuai dengan syari’at Islam. Ekspresi meyakini kebenaran nabi-nabi terdahulu, umat Islam mengkaji sejarah kehidupannya dan meniru tindakan nabi tersebut.

45

DIRASAT ISLAMIYYAH HASSAN HANAFI

Hassan Hanafi adalah pemikir besar yang berasal dari Kairo, Mesir. Dalam sejarahnya, Mesir merupakan Negara yang paling awal merasakan masuknya Islam sejak Islam disana dibawah pemerintahan Amr bi Ash pada abad ke-IV, dan wajarlah ketika Mesir kemudian mendapatkan gelar The Earliest Arabised Country. Hal ini berbeda dengan kondisi Islam di nusantara dan wilayah Asia Tenggara lainnya yang termasuk The Least Arabised Country. Sejak awal perkembangannya, Mesir merupakan pusat peradaban Islam yang cukup maju, maka kemudian tidak mengejutkan ketika dari Negara ini memunculkan banyak intelektual Muslim yang handal. Banyak karya-karya besar yang lahir di Negara sungai Nil ini, mulai dari Tafsir Al Qur’an sampai wacana politik Islam yang controversial. Pada abad XX saja misalnya, dinegara ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Ali Abdur Raziq, Thaha Hussein Muhammad Al Ghazali, Sayyid Qutb, Yusuf Al Qardhawi dan lainnya. Termasuk diantaranya tokoh yang menjadi panutan Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani juga menerapkan ilmunya di Negara Mesir ini hingga keduanya diasingkan oleh pemerintah Mesir ke Prancis. Tokoh-tokoh yang lahir di Mesir ini, selain aktivis pergerakan terkemuka, juga memiliki kecemerlangan pemikiran. Sebagian pemikiran mereka mampu menembus menjadi mainstream dalam pemikiran keagamaan dan pemikiran politik tidak hanya di Mesir saja, tetapi juga menembus sampai dunia

46

Islam secara keseluruhan. Demikian juga pemikir paling mutakhir diantara mereka yang sangat kontroversi, Hassan Hanafi yang mencetuskan gagasan Kiri Islam (Al Yasar Al Islam atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Islamic Left) dan Oksidentalisme (Occidentalism). Hassan Hanafi lahir pada tanggal 13 Februari 1953. Sejak masa mudanya, Hanfi sudah tertarik dengan wacana politik di negaranya dan wacanawacana politik Islam di dunia Islam secara keseluruhan. Dengan cermat perubahan dan kejadian politik yang terjadi di negaranya diamati, mulai dari pertarungan sengit antara Ikhwanul Muslimin dibawah pimpinan Sayyid Qutb melawan Pemerintahan otoriter Gamal Abdul Nasser hingga pada persoalan ketertarikannya terhadap organisasi pergerakan Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin dikaji secara serius oleh Hassan Hanafi terutama dalam keberhasilan dan kegagalannya dalam perjuangannya melawan Rezim Nasser serta pemikiranpemikiran religio-politik Sayyid Qutb. Dari wacana-wacana yang digulirkan oleh Sayyid Qutb inilah, terutama wacana agama dan revolusi, Hassan Hanafi kemudian konsis menggeluti dunia Revolusi agama. Selain bergelut dibidang politik dengan semangat turunan dari Sayyid Qutb, Hanafi juga merasakan keprihatinannya terhadap arus Barat yang terus melanda negerinya (westernisasi). Keprihatinannya berangkat dari

pengamatannya terhadap perkembangan Barat yang semakin mengikis khazanah local yang dimiliki oleh Mesir. Dunia Islam pada umumnya selalu terjebak dan menjadikan Barat sebagai tolok ukur kemodernan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Keperihatinan semacam ini yang kemudian Hanafi harus

47

mencari solusinya dan menggulirkan wacana oksidentalisme sebagai antitesis melawan westernisasi dan orientalisme. Selain terpikat pada wacana-wacana revolusioner dan westernisasi, Hanafi sejak mudanya juga tertarik kajian-kajian pemikiran dan Filsafat, baik yang berangkat dari Barat ataupun yang tumbuh dan berkembang di dalam Islam. Hal ini pula yang menjadikan sugestinya untuk mempelajari lebih dalam di Universitas Kairo semakin memanas. Di Universitas ini, Hanafi berhasil menyelesaikan studynya pada tahun 1956 dan melanjutkan pendidikannya di Sorbonne University di Paris Prancis. Di Sorbonne University inilah dia berhasil menggondol dua gelar sekaligus, master dan doctor untuk kajian keilmuan filsafat. Dalam disertasi doktoralnya, Hanafi menyelesaikannya dengan hasil luar biasa. Disertasi yang ia susun setebal 900 halaman dengan jugul ‘L’ Exegesses de la Phenomenologie, L’etat actuel de la Methode Phenomenologie et son Application au Phenomene Religiux. Disertasi yang ia susun termasuk paling unik karena dalam disertasi ini dia ‘mengawinkan’ antara Usul Fiqh dengan Fenomenologi Edmund Husserl. Keunikan pembacaan Usul Fiqh yang dikaji melalui perspektif filsafat fenomenologi inilah yang kemudian

mengantarkan Hanafi pada titik awal ketenarannya sebagai seorang pemikir revolusioner Islam. Dalam studynya di Sorbonne University, Hanafi tidak hanya terpaku pada kajian filsafat dan usul fiqh saja, tetapi di universitas ini, Hanafi berhasil mempelajari secara lengkap kajian puncak dari filsafat dan pemikiran Eropa.

48

Hanafi dengan cerdas dapat menyerap gagasan-gagasan liberalisme, demokrasi, filsafat penmcerahan dan rasionalisme Cartesian. Dan jelasnya, Hanafi juga mempelajari dengan sempurna filsafat fenomenologi Edmund Husserl, Martin Heifegger, Marxisme-Sosialisme dengan berbagai varian tafsirannya. Dari sederet pengetahuannya yang ia geluti di Paris ini, wacana yang paling membuatnya terpengarah dan mengikutinya secara lebih teliti adalah wacana filsafat fenomenologinya Edmund Husserl dan Marxisme-sosialisme. Hanafi dengan tegas mengambil metode materialisme sejarah (Historical Materialism) dan dialektika materialism (dialectic materialism) sebagai perangkat metodologi dan piau bedah analisisnya. Hanafi menggunakan ajaran Karl Marx ini untuk memahami berbagai persoalan sosial, keagamaan dan politik, karena memang apa yang didoktrinkan Marx bergelut pada ranah ini. Sebagai contoh, dia menjelaskan sejarah perkembangan pemikiran Islam dan perjuangan Islam melawan hegemoni cultural Barat dengan metode dialektika. Dengan metode yang sama ia juga menentukan apa dan bagaimana sebuah revolusi Islam bisa dilakukan di Dunia Islam. Dengan kuatnya pemikiran yang diambil dari Karl Marx ini, sering kali ia dituding sebagai Marxis. Hassan Hanafi dalam meniti karirnya di bidang akademis hingga menjadi Guru Besar Fakultas Filsafat di tempatnya belajar filsafat pertama kali (Universitas Kairo) sama sekali tidak meninggalkan sisi revolusionernya. Disamping kesibukannya menularkan ilmu filsafatnya, ia tetap melakukan kajian kritis terhadap gagasan-gagasan westernisasi dan orientalisme.

49

Menarik apa yang dituturkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam pengantar buku tentang kajian pemikiran Hasan Hanafi yang ditulis oleh Kazuo Shimogaki21. Pemikir Indonesia ini mengatakan, bahwa eksperimentasi yang dilakukan oleh Hassan Hanafi menunjukkan penalaran yang semakin meningkat tatarannya. Dari kajian ilmiah atas satu bidang studi keislaman, ia menaikkan taraf pemikirannya kepada pembuatan paradigma ideology baru, termasuk pengajuan Islam sebagai alternatif pembebasan bagi rakyat jelata di hadapan kekuasaan kaum feudal. Pendekatan tersebut diproklamasikan sebagai Kiri Islam. ‘Pujian’ Gus Dur untuk pemikiran solutif-efektifnya Hassan Hanafi ini kemudian membuka ruang yang lebih luas dalam mempublikasikan wacanawacana yang digagas oleh Hassan Hanafi di Indonesia. Bukan berarti karena Gus Dur pernah kuliah di Mesir dengan serta merta kemudian dia menerima pemikiran orang Mesir ini, tapi ini memang nyata dan tidak lagi dapat dinafikkan keberadaannya. Proyek besar ini menurut Gus Dur telah mampu membawa Islam berfungsi orientatif bagi ideology populistik yang ada, yang waktu itu diwakili oleh berbagai bentuk sosialisme. Hanafi dengan mengambil posisi kekirian (Al Mauqif al Yassari) didasari atas kenyataan bahwa ia membawa gagasan pembebasan melalui penghancuran konstruk lama yang serba reaksioner dari feodalisme kapitalistik, yang menguasai masyarakat-masyarakat dunia yang sedang berkembang. Buku yang diterbitkan Hassan Hanafi pada tahun 1988 yang bertitel Min al-‘Aqidah ila ats-Tsaurah merupakan salah satu model dari sekian banyak
21

Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. xviii

50

model buku yang paling diminati dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para pengikut dan peminat kajian Hassan Hanafi. Paling tidak, buku ini tentunya mendapatkan tempat tersendiri bagi para peminat kajian Hassan Hanafi yang telah membaca kajian-kajiannya secara terus menerus. Hanafi yang juga seorang penulis produktif yang berwawasan luas serta memiliki pisau analisis yang cukup tajam dalam setiap riset dan kajiannya tentunya telah matang dalam melakukan kajian yang mendalam mengenai buku barunya ini. Sampai saat ini (1988), sedikitnya ada lima volume buku yang menjadi hasil riset dan kajian Hassan Hanafi. Volume pertama terfokus pada premispremis teorits (Al Muqaddimah an Nazhariyyah) ; volume kedua lebih membahas tentang ketahuidan (at Tauhid); volume ketiga memperbincangkan tentang keadilan (al- ‘Adl); volume ke empat bertajuk kenabian (An nubuwwah al Mu’ad) dan volume yang terakhir mendiskusikan tentang amal, keimaman dan imamah (al Iman wa al ‘Amal wa al Imamah). Dalam pengakuannya, kelima seri buku tersebut memakan waktu penulisan yang cukup lama, yakni mencapai satu dasawarsa. Sebuah kajian yang tentunya dipikir secara matang dan bersih.

Al Yassar Al Islam Islam pada eranya pernah memimpin peradaban dunia, Islam menjadi central pengetahuan, tolok ukur peradaban dan menjadi sumber utama kajiankajian wacana keagamaan. Pada saat itu, Islam mampu membangunkan dunia dari tidur panjangnya yang terkungkung dalam keterbelakangan.

51

Kejayaan ini, banyak kalangan mempercayai bahwa ini semua berangkat dari kekuatan benteng tauhid yang kemudian merambah untuk melakukan developmentalisasi di berbagai bidang lainnya. Demikian juga Hassan Hanafi, dia mempercayai bahwa tauhid merupakan kekuatan besar yang mampu merubah tatanan dunia, dalam bukunya Madza Ya’ni Al Yassar Al Islam sebagaimana dikutip oleh Kazuo Shimogaki22 dia mengatakan

Tauhid menjadi kekuatan dalam kehidupan di bumi ini, dan ia mempunyai fungsi praktis untuk melahirkan perilaku dan keyakinan yang kuat guna mentransformasikan kehidupan sehari-hari muslim dan system sosialnya.

Yang kemudian menjadikan pertanyaan yang paling mungkin adalah kenapa hari ini Islam ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman untuk kembali memimpin peradaban. Dengan kata lain, Islam hari ini mengekor zaman yang sedang berjalan, dia tidak mampu menembus pemimpin peradaban untuk menjadi pimpinan dari pemimpin peradaban sekarang ini. Pada dasarnya, dalam system dunia hari ini hanya ada dua kemungkinan dalam peradaban, yakni pemain dan yang dimainkan. Pemain sebagai subjek yang mengatur peradaban. Sedangkan yang dimainkan merupakan objek yang dimainkan oleh pemain dalam percaturan peradaban. Sebagai akibatnya, pemain akan terus mendominasi system peradaban dan berhak atas otoritarianisme peradaban.

22

Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. 93

52

Islam hari ini merupakan objek yang terus dimainkan oleh dominasi pemain rezim imperialisme. Apa yang dikatakan oleh Barat merupakan tolok ukur untuk peradaban Islam, baik dari sisi pengetahuan maupun pada wilayah praksis kebudayaan dan tradisi. Inilah yang sekarang menyebabkan Islam kehilangan ‘harga diri’ dan dengan terpaksa kemudian menyerahkan haknya untuk melakukan perubahan dalam tubuh Islam sendiri, sebagai dampaknya, kemandirian dalam Islam dalam menentukan nasibnya sendiri hilang tertelan oleh peradaban Barat yang mendominasi. Fenomena ini yang kemudian oleh Jamaludin Al Afghani, setelah melakukan kajian kritis atas Islam yang demikian, merupakan dampak dari munculnya something trouble dalam semangat ketauhidan. Menambah analisis Al Afghani, Hanafi lebih kritis memandangnya, selain karena hilangnya semangat ketauhidan sebagai pandangan dunia yang monoteistik, juga karena dari dalam tubuh Islam sendiri terdapat dualisme yang kuat. Penyebab dari munculnya dualisme dalam Islam adalah, kata Hanafi, hilangnya semangat tauhid dan beraneka ragamnya pandangan dunia yang dualistic. Akhirnya, hal ini akan memaksa kita untuk kembali merumuskan dari awal tentang Islam itu sendiri dan relevansinya dalam ranah sosio politik global. Sempat muncul wacana bahwa dalam Islam tidak ada istilah ‘kanan’ dan ‘kiri’, Islam adalah Islam yang mengadung ajaran transcendental dan humanisme. Tidak ada ‘kanan’ yang sok religius dan tidak ada ‘kiri’ yang sok jagoan.

53

Pada wacana ini, Hanafi menolak dengan tegas. Hanafi berpendapat bahwa dalam Islam tetap ada ‘kanan’ dan ‘kiri’. Wacana tersebut dalam pandangan Hassan Hanafi bersifat naïf dan mengacu pada prinsip atau sesuatu yang berada diluar relaitas histories umat Islam. Pandangan tidak adanya kanan dan kiri dalam Islam berwatak ahistoris karena mengabaikan realitas sosial budaya umat Islam masa lampau dan masa kini. Hanafi lebih tegas lagi mengatakan, bila kita berpikir empiris maka sesungguhnya Islam dihadapkan pada pertarungan dan wadah berbagai kepentingan yang kuat antara kiri (tertindas) dan kanan (penindas). Ciri utama Kiri Islam adalah dia mengeluarkan slogan-slogan yang revolusioner, radikal dan berpihak pada kaum tertindas. Slogan-slogan itu menurut hanafi banyak ditemukan dalam teks-teks Al Qur’an dan tradisi Islam Klasik. Terminology Kiri hendak menyadarkan umat Islam yang berada dalam situasi ketertindasan dan keterbelakangan, sehingga diharapkan dari kesadaran yang tumbuh itu akan memunculkan gerakan untuk merubahnya. Terkait dengan terminology ‘Kiri’ yang ada dalam Al Qur’an, sempat banyak ilmuwan yang tidak sependapat pada penggunaan kata ‘Kiri’ itu. Al Qur’an banyak yang mengidentifikasikan makna ‘Kiri’ dalam artian yang negative. Kiri dalam Al Qur’an lebih disebut sebagai orang-orang yang banyak melakukan dosa besar, penghuni neraka, orang-orang Kafir, munafik dan orangorang yang termasuk dalam golongan al ashab asy syimal (golongan orang-orang yang merugi). Sedangkan Kanan selalu diidentikan dengan golongan al ashab al

54

Yamin (orang-orang yang beruntung) yang sholeh, beriman, penghuni sorga dan seterusnya.23 Pengambilan kata kiri dalam kiri Islam oleh Hassan Hanafi tidaklah demikian penafsirannya, yang diarahkan oleh Hassan Hanafi mengambil kata kiri adalah lebih pertimbangan pada keilmiahan bahasa tersebut. Kiri dalam kajian ilmu politik melambangkan resistensi dan kritisisme. Artinya, penggunaan kata Kiri oleh Hanafi tidak bersumber dari Al Qur’an yang mengilustrasikan kiri sebagai orang yang tersesat, tetapi dia memilih menggunakan kata kiri dalam perspektif kajian ilmiah yang menandakan resistensi, yang menjelaskan jarak antara idealitas dan realitas. Kiri Islam yang merupakan karya terbesar Hanafi dipublikasikan dalam jurnal Al Yasar Al Islam (Kiri Islam) di Mesir. Menurut berbagai sumber, bahwa munculnya jurnal ini terinspirasikan oleh jurnal Al Urwah Al Wustqa (Jalamaluddin Al Afghani & Muhammad Abduh) dan Jurnal Al Manar. Jurnal ini sayangnya hanya terbit sekali pada bulan Januari 1981 di Kairo, Mesir. Namun kematian jurnal Al Yasar Al Islam tidak kemudian dapat dengan serta merta menghapus makna kedatangan gagasan-gagasan Kiri Islam-nya. Meskipun jurnal itu tidak terbit untuk edisi selanjutnya, Hassan Hanafi yang paling bertanggung jawab atas jurnal itu serta segala esensi yang terkandung didalamnya terus secara intens mengawal wacana Kiri Islam itu. Pergulatan Hanafi dengan khazanah klasik (turats qadim) dan apresiasinya yang
23

Secara jelas dapat dilihat dalam surat Al Waqi’ah ayat 8-9. Disini Al Qur’an membagi umat manusia dalam dua golongan, yakni golongan Kanan yang memperoleh kebahagiaan dan golongan kiri yang memperoleh siksa dan keterhinaan dihadapan Allah. Lebih terperinci lagi, pembagian kanan dan kiri dalam al Qur’an disesuaikan dengan pembagian catatan amal, yakni apabila menerima catatan amal dengan tangan kanan maka dia termasuk golongan kanan yang beruntung, demikian pula sebaliknya.

55

mendalam terhadap tradisi Barat (turats Gharbi) merupakan bukti konkrit kekokohan Kiri Islam yang tidak terpengaruh matinya Jurnal Al Yasar Al Islam. Namun ada satu hal yang kemudian harus dikaji lebih mendalam mengenai pergulatan Hassan Hanafi dengan budaya (tradisi) baik tradisi local (khazanah klasik), tradisi Barat ataupun tradisi Islam. Dalam buku Min al-‘Aqidah ila ats-Tsaurah, Hassan Hanafi memasukkan satu premis yang bombastis dengan ide-ide cemerlangnya yang ia beri judul At Turats wa at Tajdid. Jika dalam buku itu ia menyatakan sikapnya terhadap tradisi masa lampau (al Mauqif min at turats al qadim) maka pada bagian kedua ini ia menyatakan sikapnya terhadap tradisi Barat (Al Mauqif min at turats al Gharbi). Hassan Hanafi dalam buku tersebut juga menunjukkan pandangannya terhadap tradisi, baik dalam ranah cara memahami dan menafsirkannya ataupun metode-metode pengkajiannya. Hal itu dilakukan sejak awal hingga sekarang, yakni mulai dari keyakinan (Al Aqidah) sampai revolusi (Ats tsaurah). Dalam pandangannya, Hassan Hanafi keyakinan merupakan tradisi (at turats), sedangkan revolusi adalah pembaharuan (at tajdidi). Demikan juga ia melakukan pembacaan ulang terhadap Islam untuk merekonstruksi dan mereformulasinya, yakni mencari (melacak kembali) dasar-dasar dan membangun kembali serta memperbaharui pengetahuan masa lampau. Menarik pula ketika dalam bagian pengantar volume pertama, yang bertitel, al muqaddimat at taqlidiyyah, bahwa secara tegas ia menolak premispremis ortodoks yang terdapat dalam ilmu ushul ad Din al Islami, yakni ilmu

56

kalam. Menurutnya, karena premis-premis tersebutmerupakan premis keimanan murni yang mengungkapkan keimanan sejati-murni (al Imanu khalish dzati) dan yang bersumber dari kegaiban (Al Ghaib). Sementara menurut pandangan Hassan Hanafi, pengetahuan yang benar (Al Ma’rifah ash shalihah) tidak datang dan menjadi sempurna begitu saja seperti wahyu dan ilham, tetapi hadir melalui perenungan dalam seperangkat data-data pikiran dan kenyataan, dan menjadi sempurna melalui analisis penalaran dengan menyimpulkan kejadian-kejadian. Sederhananya, pengetahuan yang benar menurut keyakinan Hassan Hanafi adalah yang tidak bersumber dari kegaiban ( Al Ghaib) atau hanya sebatas informasi tanpa data dan analisis yang rasional. Dalam pengantarnya ini pula, ia secara tegas menolak ide-ide mengenai tradisionalisme (taqlidisme) yang membelenggu dan memenjarakan kebebasan berpikir masyarakat. Ia juga secara tegas menyatakan untuk tidak mengikuti jejak para as salaf ash shalih. Dalam pandangannya, orang-orang tersebut (as salaf ash shalihin/qudama’) juga manusia yang sama seperti manusia saat ini. Jadi tidak menjadi persoalan ketika mempelajari teori-teori yang disajikan oleh Qudama’ tersebut, namun dalam menentukan sikap untuk menolak atau mengikutinya adalah hak-hak individual yang tidak dapat diintervensi secara bebas. Apa yang para as salaf ash shalihin katakana tidak harus diikuti dan menjadikan perdebatan yang sengit, tetapi harus dikaji secara kritis sebagai pijakan untuk merekonstruksi dan melihat ulang.

57

Mengenai mati surinya Al Yasar Al Islam, Hassan Hanafi mengatakan ketika dihubungi secara langsung oleh Kazuo Shimogaki24.

“Saya kecewa bukan oleh nasib jurnal itu, melainkan oleh sikap intelektual muslim lain. Ada di antara merekamenuduh saya marxis, yang lain marah-marah dengan istilah ‘Kiri’ yang saya gunakan, dan tidak tertarik pada proyek inovatif ini. Memang saya tidak bisa melanjutkan menerbitkan jurnal ini, tetapi bukan berarti saya menghentikan proyek ini. Saya hanya kesulitan financial”.

Pemikiran

Kiri

Islam

yang

digagas

Hanafi

berangkat

dari

pengamatannya terhadap gerakan-gerakan Islam revolusioner di Sudan (Revolusi Al Mahdi), Libya (Revolusi Sanusiyyah), Aljazair (Revolusi Islam), Maroko dan yang paling berpengaruh diantaranya adalah revolusi yang dilakukan oleh Gerakan Ikhwanul Muslimin dibawah Sayyid Qutb (Revolusi jihad Ikhwan) di negaranya. Hanafi dengan cerdas mempelajari dan mendalami revolusi-revolusi di Negara-negara Islam tersebut, selain itu, dia juga mempelajari bagaimana terjadinya revolusi-revolusi dalam sejarah keagamaan yang kemudian dari situ membuat dia yakin bahwa setiap agama revolusioner bersifat Kiri. Setiap agama mengandung dalam dirinya ajaran-ajaran pembebasan manusia dan perlawanan terhadap segala bentuk kejahatan yang menistakan dirinya. Dalam sejarah revolusi keagamaan, seringkali perlawanan terhadap penindasan dan gerakan pembebasan
24

manusia dipelopori oleh para pemuka

Kazuo Shimogaki, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta, Hal. 72

58

agama. Di zaman Mesir kuno, Nabi Musa membebaskan bangsa Israel (Yahudi) dari perbudakan Raja Fir’aun. Isa Al Masih (Yesus Kristus) membebaskan bangsa Yahudi dari penindasan Imperium Romawi. Ayatollah Khomaini menentang rezim represif Pahlevi yang dikendalikan Amerika Serikat bersama dengan Ali Syari’ati. Pada agama lain, gerakan-gerakan pembebasan di Amerika Latin dipimpin para uskup dan Kardinal Katolik dengan teologi pembebasannya (theology of liberation). Di Vietnam, para biksu agama Buddha mempelopori gerakan-gerakan revolusioner menentang kekuasaan tiranik. Di Filipina cardinal Jaime Sin, pimpinan katholik, menjadi oposisi terhadap rezim repressif koruptif marcos. Para pendeta di Thailand mengalami penyiksaan, pemenjaraan dan bahkan pembunuhan karena mempelopori aksi-aksi perlawanan terhadap tirani kekuasaan. Hanafi mengklaim bahwa pemikiran Kiri Islam yang digagasnya itu memiliki akar histories intelektual dalam revolusi-revolusi agama diatas. Dalam penjelasannya, Hanafi melihat bahwa dalam percaturan geo sosio politik, dunia dibagi menjadi dua wilayah, yakni pemain atau penindas (penguasa) dan yang dimainkan atau yang ditindas (rakyat). Hanafi membagi dua kelas ini tidak hanya berdasarkan realitas di lapangan saja, tetapi dia juga mengambil pembagian ini atas isi dari Al Qur’an. Sejarah dalam Al Qur’an yang paling kentara mengenai pembagian ini adalah kisah Fir’aun sebagai penguasa dan Bani Israil yang dipimpin oleh Nabi Musa. Fir’aun adalah profil yang

59

digambarkan oleh Al Qur’an sebagai tokoh yang menindas dengan kekuasaannya atas kebebasan Bani Isra’il. Dari gambaran itu, kemudian Hanafi meletakkannya pada dunia kontemporer, dia menganalogikan Fir’aun sebagai Negara-negara kapitalis imperialis dan Bani Isra’il sebagai Negara-negara Islam yang terus menerus mengalami penindasan. Hubungan antara ‘Fir’aun’ dan ‘Bani Isra’il’ mengalami ketimpangan yang luar biasa, ‘Fir’aun’ melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap Negara-negara Islam. Selain eksploitasi, Negara kapitalis-imperialis juga melakukan hegemoni di segala bidang kehidupan untuk diikuti sebagai ‘takdir’ zaman. Di wilayah inilah kemudian Kiri Islam berperan. Kiri Islam harus menentang ‘Fir’aun’ itu. Titik utama perlawanan yang harus dilakukan adalah pada wilayah hegemoni budaya, atau lebih tepatnya imperialisme kebudayaan Barat. Pertanyaannya, kenapa harus imperialisme kebudayaan yang menjadi focus utamanya. Dalam kesempatan lain Hanafi25 memperincinya, bahwa imperialisme kebudayaan inilah yang menghancurkan Islam dengan meotong sejarah umat Islam saat ini dari akar-akar tradisi dan budaya klasiknya (turats qadim) sehingga mereka seakan terserabut (up rooted) dari masa lampaunya. Selanjutnya setelah memotong akar kesejarahan tradisi ini, Negara imperialis budaya ini kemudian memasukkan apa yang dibahasakan Hanafi sebagai turats gharbi (khazanah Barat) atau proses westernisasi.

25

Hassan Hanafi, 2007, Dirasat Islamiyah, Penerj. Miftah Faqih, LKiS, Jogjakarta

60

Segala produk budaya Barat disuntikkan ke Negara-negara non-Barat. Ekspor budaya ini bertujuan untuk menghilangkan kekhasan dunia non Barat dan memutuskan akar sejarah budayanya. Ambisi utamanya dari semua itu adalah, semua Negara non Barat akan berkiblat pada Barat, untuk itulah selanjutnya semua cara dibenarkan dalam upaya westernisasi ini. Tindakan ini jelas berakibat fatal bagi budaya-budaya non Barat, budaya ini secara perlahan akan tergeser, karena terbukti budaya popular (yang dikemas Barat) ternyata lebih menarik perhatian dari pada turats qadim yang dimilikinya sebagai khazanah klasik. Akhirnya, Negara-negara non-Barat akan kehilangan harapan untuk menentukan masa depannya sendiri, independensi Negara tersebut hilang dan harus dependensi terhadap Barat. Selain itu, secara tidak langsung dengan proses westernisasi yang dikemas dalam budaya popular ini, Barat juga menggulirkan wacana bahwa apa yang dikeluarkan oleh Barat merupakan produk unggulan, yang terbaik dan diakui seluruh dunia, sementara produk local non Barat dianggap sesuatu yang jumud, terbelakang, tradisional dan primitive. Stereotype rasial semacam ini jelas akan semakin menunggulkan budaya popular kemasan Barat di tengah-tengah peradaban dunia. Pada wilayah ini Hanafi menginginkan penempatan yang seperti tatanan semula. Barat ditempatkan kembali di peradabannya sendiri, dan Timur juga berhak mengunggulkan turats qadim yang dimilikinya sendiri. Barat harus didorong kembali ke belakang untuk duduk kembali di tempat duduk asalnya. Dalam hal inilah kemudian yang mendorong Hanafi mengembangakan wacana

61

oksidentalisme (Occidentalism) sebagai anti tesis terhadap orientalisme (Orientalism). Orientalisme dalam pandangan Hanafi telah dijadikan senjata Barat yang paling ampuh untuk menghadirkan alam fikiran, pandangan hidup dan pandangan dunia serta motivasi-motivasi kolonialistik-imperialistik Barat dibawah selubung kajian keilmuan tentang dunia Timur. Dengan orientalisme ini, segala sesuatu tentang Timur telah diketahui oleh Barat sehingga kelemahankelemahan yang dimiliki oleh peradaban Timur dapat terbaca dengan jelas. Sehingga untuk menyusupi ke arah itu, Barat dapat dengan mudah menentukan produk mana yang akan diekspor ke Timur. Melalui oksidentalisme Hanafi berharap akan mampu membaca kondisi Barat, mulai dari hal-hal besar hingga hal-hal kecil yang untuk selanjutnya dapat mendorong kembali Barat untuk duduk kembali pada posisinya. Tidak hanya itu, Hanafi juga berpesan untuk mewaspadai dua kekuatan lain yang mulai muncul dan menghancurkan Islam yakni zionisme dan kapitalisme. Oksidentalisme diharapkan juga mampu mengatasi dua musuh besar ini yang mencoba mengeksploitasi peradaban pemikiran ketimuran.

Oksidentalisme, al Muhawilah al Kamilah al Ula26
26

Permulaan yang sempurna, pujian kepada Hassan Hanafi atas kesuksesannya dalam merumuskan teori tentang oksidentalisme yang ternyata memang sama dengan kondisi yang dibutuhkan oleh Islam hari ini. Dalam rumusan teori oksidentalisme ini, Hassan Hanafi banyak diserang oleh Ilmuwan-ilmuwan lain yang berada di sekitarnya, salah satunya adalah Ali Harb yang menyerang Hassan Hanafi dengan teori-teorinya dan menyebut oksidentalisme sebagai ramalan yang tidak memiliki landasan epistemology dan aksiologi. Dia menyebut Hassan Hanafi sebagai Tukang Ramal dan menyamakan dengan Francis Fukuyama dalam karya “Ramalannya” yang berjudul The End of History.

62

Oksidentalisme termasuk disiplin ilmu baru kaitannya sebagai wacana intelektual dan akademis, ia pertama kali dicetuskan oleh Dr. Hassan Hanafi, guru besar filsafat di Universitas Kairo pada tahun 1980-an. Oksidentalisme lahir berangkat dari keprihatinan Hanafi terhadap keterbelakangan dunia Islam. Hanafi gerah melihat dunia Islam pada umumnya yang begitu terhegemoni dan terdominasi oleh peradaban Barat dan semakin rapuhnya tradisi Islam klasik dalam tubuh Islam sendiri. Hanafi lebih jauh memandang bahwa orang Timur (muslim) cenderung terbuka dalam menerima paham peradaban baru yang datang dari Barat pada satu sisi, dan pada sisi lain, orang Islam sendiri menolak khazanah klasik yang dimilikinya sendiri. Sebagai akibatnya, umat Islam mengalami krisis cultural yang sangat parah. Disamping oksidentalisme, maka itu, Hanafi berharap dengan yang memasyarakatnya berabad-abad

wacana

orientalisme

selama

mendominasi dunia mendapatkan counter part yang setaraf. Oksidentalisme akan dibenturkan dengan orientalisme pada satu sisi, dan pada sisi lain, Hanafi berharap, tradisi klasik yang dimiliki oleh Islam akan kembali pada posisinya yang terhormat. Dengan inilah kemudian Hanafi yakin bahwa umat Islam akan berhasil mengatasi krisis cultural yang dialaminya sampai hari ini. Oksidentalisme pada dasarnya adalah kajian orang-orang non Barat (Islam) mengenai segala aspek kehidupan Barat. Oksidentalisme hendak menjadikan Barat sebagai objek kajian keilmuan dengan segala aspek kepentingan yang muncul di dalamnya. Bila dalam orientalisme Barat menjadikan Timur sebagai ‘objek’, maka oksidentalisme membalik formula ini.

63

Melalui oksidentalisme ini kemudian orang Timur dapat mempelajari dan memahami Barat. Hanafi juga mengharapkan, dengan munculnya oksidentalisme maka Timur tidak hanya selalu menjadi inferior dan terbelakang sementara Barat sebagai superior dan maju. Inferioritas terhadap Islam dan timur akan terkikis dan tercipta hubungan Timur dan Barat yang seimbang. Hanafi yakin, ketika hubungan Barat dan Timur telah sederajat, tidak lagi ada hubungan superiorinferior, tuan-budak, beradab-biadab, maka dialog antara Barat dan Timur baru dapat diciptakan. Barat menjadikan Timur sebagai partner atas kepentingannya, dan Timur menjadikan Barat relasi atas kepentingannya. Apakah ketika Barat dan Timur telah mencapai kesetaraan, maka keduanya akan semakin terbuka terhadap peradabannya masing-masing. Timur (muslim) membuka diri menerima peradaban Barat dan Barat juga menerima warisan cultural orang-orang Muslim? Padahal, sejauh yang banyak di ketahui produk-produk budaya yang diciptakan Barat cenderung ‘haram’ dan kurang dapat menyesuaikan dengan hukum Islam. Pada pertanyaan ini, Hanafi menjelaskan bahwa tujuan oksidentalisme menyetarakan dirinya dengan Barat, tidak lalu berarti Timur dan Islam menolak atau menerima apapun yang berasal dari Barat. Tidak membenarkan atau menyalahkan produk-produk Barat. Bagi Hanafi, Islam dan Barat masing-masing harus tetap objektif dan kritis terhadap persilangan peradaban. Timur tetap kritis dan objektif dalam memahami Barat dan menerima ‘warisan kultural’ Barat yang sejalan dengan khazanah klasik yang ada dalam Timur sendiri, demikian juga

64

sebaliknya, Barat tetap menerima peradaban Timur yang sesuai dengan produkproduknya sendiri. Oksidentalisme tetap berbeda dengan orientalisme. Kalau orientalisme lebih subjektif dalam pengkajiannya terhadap kepentingan imperialis dan kolonialis, maka oksidentalisme lebih mengutamakan prinsip netralitas dan objektifitas dalam mempelajari Barat. Maksudnya, bahwa kajian oksidentalisme tidak ada keberpihakan apapun dengan kepentingan politis seperti imperialisme kolonialis dan sebagainya. Oksidentalisme terlepas dari keinginan untuk melakukan hegemoni terhadap peradaban dunia secara keseluruhan. Tidak ada upaya dari oksidentalisme untuk melakukan imperialisme cultural terhadap Barat. Oksidentalisme murni kajian ilmiah, tidak ada keberpihakan di dalamnya. Pada oksidentalisme, wilayah geraknya sudah mulai di tata dan di bidikkan arahannya. Oksidentalisme secara sederhana merupakan kerja lanjutan atas proyek-proyek peradaban yang dilakukan pada decade 1980-an yang Hanafi menamakan “Tradisi dan Pembaharuan” (al turats wa al tajdid). Setidaknya ada tiga masalah pokok yang dikaji dalam oksidentalisme yakni pertama, sikap kita terhadap tradisi lama, kedua, Sikap kita terhadap tradisi Barat, dan yang ketiga Sikap kita terhadap realitas (prinsip interpretasi). Pada wilayah pertama, yakni menyikapi tradisi lama (turats qadim), Hanafi mencoba menempatkan turats qadim ini sebagai alat dobrak kesadaran berpikir dan berperilaku. Bahwa perlu ada transformasi dari teologi ke revolusi, transferensi ke inovasi, dari teks ke rasio. Tujuan adanya transformasi semacam ini adalah untuk mengembalikan posisi turats qadim ke tempat asalnya sebagai

65

sebuah peradaban yang terhormat yang oleh Hanafi di pandang banyak digunakan sebagai topeng oleh antek kapitalisme. Turats qadim (tradisi lama) yang mencoba di bangkitkan kembali oleh Hanafi menurutnya banyak menyimpan potensi untuk melakukan serangan balik terhadap tradisi-tradisi Barat yang terus menelanjangi turats qadim dalam tatanan peradaban internasional. Keyakinan ini muncul mengingat dalam sejarah perjalanan Islam, Islam sering kali menjadi pemenang dalam perebutan wilayah peradaban dengan ideology besar lain yang tidak sesuai dengan Islam. Dalam memahami turats qadim, Hanafi berpendapat bahwa dalam mengkaji wilayah ini merupakan wilayah garapan yang terpanjang di bandingkan dengan dua agenda selanjutnya. Hal ini didasarkan bahwa dalam mendalami khazanah klasik, maka peran sejarah dan perkembangan ideology dalam sejarah itu tidak bisa dilepaskan. Kajian histories dan antropologis yang berkembang sejalan dengan proses sejarah merupakan syarat mutlak untuk dapat membedah khazanah klasik. Dalam bahasa Hanafi, dia memberi nama pada khazanah klasik dengan Al Madhi (kemarin) yang kemudian dipersonifikasikan dengan turats qadim. Agenda yang kedua adalah sikap kita terhadap esok (al Mustaqbal). Al Mustaqbal dipersonifikasikan oleh Hanafi sebagai peradaban Barat (turats gharbi). Disinilah letak oksidentalisme sebenarnya berjalan. Bahwa dalam wilayah ini, kita setidaknya harus mengkaji secara serius proses sejarah turats gharbi dan perkembangannya serta langkah-langkah yang dilakukannya untuk memenuhi ambisinya menguasai peradaban dunia.

66

Dalam catatannya itu, Hanafi mencatat setidaknya ada tiga agenda besar yang harus dilakukan dalam mengkaji agenda kedua dari oksidentalisme ini. Pertama, mengkaji akar sejarah peradaban Eropa. Di titik ini diteliti factor-faktor atau tradisi peradaban yang menjdi dasar pemikiran dan filsafat pembentukan peradaban Eropa. Termasuk diantaranya membedah sejauh mana peran peradaban Yunani-Romawi, peradaban Yahudi dan Nasrani serta peradaban besar lain seperti Mesir (peradaban Timur) dalam membentuk peradaban Barat. Kedua, Hanafi mengkaji proses bagaimana kesadaran Eropa muncul, khususnya pada zaman Reformasi Protestan abad XV-XVI, pada zaman Rasionalisme Cartesian di abad XVII dan zaman Renaissance di abad XVIII. Dan yang ketiga, Akhir Kesadaran Eropa. Dalam pandangan Hanafi, Kesadaran Eropa dimulai dari munculnya filsafat ‘saya berfikir’ menjadi ‘saya ada’. Di fase ini, kesadaran Eropa melakukan otokritik terhadap masa lampaunya, hasil karya peradabannya, kritik terhadap idealisme dan positivisme serta ditemukannya ‘jalan ketiga’ dan fenomenologi. Tujuan dari digulirkannya wacana oksidentalisme adalah untuk mengurangi ketergantungan Timur terhadap Barat. Disini Timur hendak menemukan dirinya kembali dalam rangka menentukan jalan yang akan ditempuh. Tidak ada hegemoni, tidak ada imperialisme. Timur hendak mengembalikan kekuatan khazanah klasik yang kaya akan rasionalisme tanpa ada mitologi di dalamnya. Dari menggulirnya wacana oksidentalisme, setidaknya masyarakat Timur percaya bahwa penjajahan cultural yang dilakukan oleh peradaban Barat

67

telah menindas habis khazanah klasik ketimuran, dan hal ini membutuhkan perlawanan. Kolonialisme dan imperialisme cultural harus diakhiri. Wacana oksidentalisme, oleh banyak pemikir, baik dalam Islam atau non Islam dianggap sebagai wacana utopis, di mana esensi dari kajian ini hanya merupakan khayalan yang tidak mungkin terjadi. Namun, sebaiknya, hal ini tidak menjadi hambatan untuk merealisasikan proyek besar peradaban Hanafi untuk merevitalisasi khazanah klasik dan mendialogkan antara Timur dan Barat dalam kesejajaran untuk kepentingan kemaslahatan bersama.

Oksidentalis atau Tukang Ramal? Dalam setiap kajiannya, terutama yang menyangkut tentang teori pembangunan peradaban, Hassan Hanafi memberikan rumusan yang sangat tepat dan jelas mengenai definisi peradaban. Dalam bagian ini, sedikit banyak saya lebih menyitir pendapat-pendapat Ali Harb dalam salah satu bukunya yang berjudul, Naqd an Nashsh. Pada bagian pertama buku ini, pemikir besar dari Libanon ini menitik beratkan kajian tentang pemikiran Hassan Hanafi yang dia nilai negative atau tidak tepat. Dari berbagai macam kritikan terhadap Hassan Hanafi, dapat dirangkum sedikitnya ada tiga belas kritik yang diberikan Ali Harb terhadap pemikiran-pemikiran revolusioner Hassan Hanafi yang sebenarnya menurut banyak kalangan termasuk karya monumental. Kritik Ali Harb-pun tidak hanya pada satu sisi, yakni objek kajiannya tetapi juga dalam sisi lain seorang Hassan Hanafi. Kritik terhadap Hassan Hanafi sebagai seorang filosof, Kritik sebagai

68

seorang akademisi, Kritik sebagai seorang pembaharu, kritik sebagai seorang pengamat peradaban, sebagai seorang pemikir hingga pada Hassan Hanafi dalam wilayah pribadinya sebagai seorang warga masyarakat yang beragama Islam. Judul pada sub bab ini merupakan salah satu kritik yang diberikan Ali Harb dalam menyoal masalah Oksidentalisme dan kajian tradisi Hassan Hanafi. Ali Harb memandang Hassan Hanafi terlalu berlebihan dalam memandang persoalan peradaban, terutama persoalan terhadap ramalan masa depan. Sehingga Ali Harb menyebutnya sebagai Tukang Ramal dan menyamakan kedudukannya itu sama seperti kedudukan Francis Fukuyama yang meramalkan sejarah masa depan dalam bukunya The End of History. Kajian Hanafi tentang peramalan masa depan dengan melihat kejadian pada masa lampau, terutama pembagian fase sejarah yang di soroti oleh Ali Harb, yang membagi fase sejarah Islam menjadi masa keemasan dan masa pemunduran dengan rentang waktu masing-masing tujuh abad. Pada 7 abad pertama, Islam mengalami masa keemasan, dengan gilang-gemilang membawa kemenangan dan kemajuan yang luar biasa dari sisi islam sebagai agama, sebagai tata social, sampai islam sebagai aturan politik (Syiasah). Di bidang ilmu pengetahuan, islam mengalami kejayaan dengan banyaknya ilmuwan muslim yang berhasil memecah misteri dunia dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Taruhlah nama-nama seperti Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averous), Al Khawarizmi, Al Ghazali merupakan sebagian kecil ilmuwan muslim yang mampu memecah kebekuan cara pandang manusia terhadap alam sebelum bangsa Barat mampu berkata apa-apa.

69

Sementara itu, pada tujuh abad berikutnya, Islam mengalami kemunduruan yang telak dan memukul kaum muslim terdepak ke pinggiran. Masa ini dimulai dengan revolusi industri di Inggris, revolusi Prancis dan revolusi-revolusi yang lainnya di dataran Eropa. Pada saat ini, ditengah Eropa mengalami Pencerahan (renaissance) justru hal yang antagonis terjadi dalam dunia Islam, Islam mengalami kemunduran di berbagai bidang. Sampai pada hari ini, fenomena ini masih dapat kita saksikan. Dalam kajian Hassan Hanafi tentang Barat, dia menuturkan hal yang sama terjadi dalam Islam di Barat. Bahwa dalam peradaban Barat mengalami masa-masa yang demikian itu dengan rentang waktu yang sama, tujuh abad. Hanya saja, kalau dalam Islam Hanafi membaginya menjadi dua bagian, antara masa keemasan dan masa kemunduruan, maka ketika Hanafi mengkaji mengenai Barat dia membagi dalam tiga bagian, yakni masa kebangkitan, masa kemunduruan dan kemudian diakhiri dengan masa kebangkitan. Kajian Hanafi ini berkaca dari sejak zaman mula kebangkitan bangsa Barat, kebangkitan pertama, yang terjadi selama tujuh abad. Pada masa ini dapat diprediksikan dengan kemajuan Negara-negara Eropa sebelum masehi, baik pada masa kebesaran suku Arya yang hamper menguasai dunia dan bangsa Yunani dan Romawi, demikian selanjutnya terjadi secara berurutan sampai pada masa penurunan dan kemudian kebangkitan kembali seperti yang kita lihat sekarang ini Barat dengan kemajuan berbagai bidang kehidupan. Dan pastinya, kemajuan yang sekarang Barat alami, Hanafi meyakini bahwa dalam akhir masa kebangkitan ini, Barat akan mengalami kemunduran

70

yang memukul habis kemajuan peradaban mereka tanpa ampun. Dan kemudian yang terjadi dalam Islam, Islam mengalami kemajuan yang pesat dan memegang kendali peradaban dunia selama kurun waktu tujuh abad. Hal ini memungkinkan adanya hubungan yang tidak harmonis antara Barat dan Timur. Ketika Barat sedang mengalami kemajuan pesat, maka Timur (Islam) memegang kendali atas peradaban dunia, demikian juga sebaliknya ketika Islam sedang pada masa kemunduran maka Barat akan dengan leluasa menguasai dunia. Pemetaan terhadap Islam lebih dikiblatkan pada wilayah Timur Tengah yang merupakan central peradaban Islam. Sehingga akan muncul pertanyaan, dimana posisi Negara-negara di Afrika Tengah, Afrika Selatan, Asia Tenggara dan Negara-negara etnis China. Karena dalam analisis ini, Hanafi hanya membagi peradaban dunia secara bipolar antara Islam dan Barat. Apakah Negaranegara tersebut masuk dalam peradaban Barat atau Islam tidak ada penjelasan yang meyakinkan tentang itu. Selanjutnya, dalam beberapa referensi hadits yang ada, Nabi Muhammad pernah berkata bahwa yang akan menguasai peradaban dunia adalah etnis China (Ras Mongoloid) dengan berbagai variannya. Anjuran untuk belajar dari peradaban China juga ada referensi yang khusus yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dapat dipastikan dengan sabda Nabi Muhammad SAW ini tentunya membawa arus tersendiri bagi etnis Tionghoa yang ada di berbagai belahan dunia. Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW bersabda mengenai China ini

71

“Tuntutlah Ilmu meskipun sampai ke negeri China” Ini memberikan gambaran yang lugas bahwa selain keharusan memetakan peran China dalam konstelasi geocultural ini, upaya memetakannya juga dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW untuk belajar secara mendalam tentang China dan berbagai wilayah dalam peradabannya yang telah Berjaya sejak zaman pra sejarah.

72

JIHAD DULU, SEKARANG DAN YANG AKAN DATANG

Para ahli logika sering kali menegaskan bahwa seseorang tidak dapat menentukan sebuah keputusan terhadap sesuatu, kecuali jia ia mempunyai konsepsi yang jelas tentang sesuatu itu, karena sesuatu yang tidak diketahui dan tidak memiliki batasan jelas tak dapat dipertimbangkan. Oleh karena itu, satu hal yang harus dilakukan sebelum sampai pada pembahasan mengenai konsep jihad adalah menganalisis serta menterjemahkan apa arti kata jihad. Dari analisis ini selanjutnya barulah dapat ditentukan untuk menolaknya atau menyambutnya sebagai upaya untuk mempertahankan identitas keislaman pada era global ini. Dalam Al Qur’an kata jihad disebutkan sebanyak 14 kali yang tersebar dalam 19 surat. Sebanyak 28 ayat berisi perjuangan seperti tercantum dalam surat Al Baqarah [2] ayat 216, Ali Imran [3] ayat 142, an Nisa [4] ayat 95, Al Ma’idah [5] ayat 35 dan 54, Al Anfal [7] ayat 72 dan 74-75, at Taubah [9] ayat 16, 19, 20, 24, 41, 44, 73, 81, 86 dan 88, an Nahl [16] ayat 110, al Hajj [22] ayat 78, al Furqan [25] 52, al Ankabut [29] 6 dan 69, Muhammad [47] ayat 31, al Hujarat [49] ayat 15, al Mumtahanah [60] ayat 1. keseluruhan dari turunnnya ayat tersebut terbagi dalam waktu turun di Makah dan Madinah. Dalam Al Qur’an pemaknaan jihad yang diartikan atau dikaitkan dengan perang agama (holly war), yakni perang kaum muslim melawan orangorang kafir, musyrik dan munafik terdapat pada Surat Al Baqarah [2] ayat 190, an Nisa [4] ayat 74, at Taubah [9] ayat 122-123, al Hajj [22] ayat 39-40, Al

73

Furqan [25] ayat 52, Al Azhab [33] ayat 48, al Hujarat [49] ayat 9, al Shaff [61] ayat 4 dan al Tahrim [66] ayat 9. Dari terjemahan normative teks al Qur’an tentang jihad, yakni bahwa jihad adalah peperangan melawan orang kafir, musyrik dan munafik yang bertujuan untuk mempertahankan Islam dari penghancuran yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, jihad kemudian dijadikan sebagai key word yang menjadi legitimasi bagi munculnya gerakan fundamentalisme dan radikalisme dalam Islam. Artinya, fundamentaisme, sebagai model gerakan perlawanan, pada akhirnya mendapatkan infuse dengan hadirnya kata jihad dan “Seruan berperang” yang terdapat dalam Al Qur’an. Bersamaan dengan melemahnya kekuatan Islam dan perkembangan Barat yang semakin menguat, sedikit demi sedikit fenomena dan wacana tentang jihad tidak pernah muncul di permukaan. Kalaupun muncul, itu hanya sekedar wacana dan mengingat kembali kebesaran Islam di masa lampau sebagai sebuah kebanggaan terhadap sejarah. Pada kurun waktu ini, jihad sama sekali tidak terlihat gerakannya secara konkrit. Seandainya jihad dapat disamakan dengan harimau ganas yang menakutkan dan mampu menerkam musuh-musuh Islam, maka pada kurun waktu ini jihad adalah harimau yang sedang tidur karena cakar kuku dan taringnya terlepas, sehingga tidak berbahaya ketika musuh Islam berdiri dan menari diatas harimau itu. Untuk mengobati harimau yang kehilangan taring dan cakarnya itu, serta untuk membangkitkan semangat naluri melawan dari harimau jihad itu, maka pada decade 40-an Imam Syahid Hasan al Banna menulis buku yang

74

berjudul Risalah al Jihad yang berusaha mengembalikan lagi posisi jihad dalam Islam. Ia menetapkan bahwa jihad adalah faridah (kewajiban) masa lampau hingga pada hari kiamat. Dalam buku itu Hasan Al Banna banyak menyitir dari teks-teks yang terdapat dalam Al Qur’an terkait dengan jihad dan persoalan lainnya terkait dengan jihad. Sebagai penyokong atas ayat-ayat Al Qur’an, dalam buku itu Hasan al Banna juga menuliskan hadits-hadits yang jumlahnya melebihi jumlah ayat Al Qur’an yang tercantum serta pendapat-pendapat yang dikeluarkan oleh para ulama abad pertengahan. Akan tetapi, Hasan al Banna hanya mencadangkan peran jihad kala itu untuk melawan penjajahan, dan baru benar-benar mengumandangkannya ketika ia menyusun angkatan sukarelawan perang yang pergi ke Palestina dan berjuang di front terdepan melawan penjajah Israel. Para sukarelawan tersebut juga berpren menggempur instalasi-instalasi militer Inggris di daerah Qinal pada tahun 1951 dan mempersembahkan gelar syuhada-nya dalam perang tersebut. Jihad dalam artian sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi Islam merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Setiap orang Islam harus selalu melakukan jihad untuk mempertahankan keutuhan Islam, baik pengertian Islam sebagai agama ataupun Islam dalam tafsiran lainnya seperti Islam sebagai ideology, Islam sebagai nalar gerak, Islam sebagai kebudayaan dan seterusnya. Intinya bahwa Islam, dalam tafsiran apapun,

75

harus tetap dipertahankan untuk mendapatkan keutuhan Islam sebagaimana yang diharapkan oleh semua orang muslim agar Islam dapat berjaya sampai hari akhir. Pada zaman Rasulullah SAW, jihad banyak dilakukan untuk mempertahankan keutuhan Islam dari perlawanan yang dilakukan oleh kaum Jahiliyyah dan kaum lainnya yang tidak menyepakati munculnya Islam yang dibawa oleh Muhammad. Perlawanan itu muncul dikarenakan Muhammad secara tegas menolak system tradisi lama kaum Quraisy dan sekitarnya yang masih terkungkung pada peradaban picik yang mengutamakan kesejahteraan pribadi orang tertentu dan menindas orang lain secara ekonomi, politik, sosial bahkan sampai penindasan pada level pribadi perseorangan. Kepala suku yang dibawahnya terdapat banyak Klan-Klan sebagai basis kekuatan keturunan keluarga tertentu mendapatkan keuntungan yang lumayan besar sebagai pendapatan pribadi yang kemudian digunakan untuk kesejahteraan pribadi. Sebagai akibatnya, ketika Rasulullah datang membawa ajaran Islam yang mencoba menggugurkan tradisi yang telah membudaya tersebut, maka tidak dapat ditutup lagi, pembesar-pembesar Quraisy yang merasa posisinya akan terancam segera melakukan perlawanan untuk mendapatkan posisinya di tengah kehidupan sosial masyarakat Arab saat itu. Rasulullah tidak hanya diserang secara fisik oleh para pembesar Quraisy, tetapi juga ditindas secara ekonomi dengan pemutusan akses ekonomi, penindasan sosial dengan pengucilan, dan penindasan-penindasan lainnya yang mendiskreditkan peran Muhammad sebagai salah satu bagian dari masyarakat sosial Arab.

76

Pertentangan oleh pembesar Arab tidak hanya terhenti saat Muhammad berhasil mendapatkan banyak pengikut. Desakan demi desakan yang dilakukan oleh para pembesar suku Quraisy terus berlanjut hingga sampai Muhammad beserta pengikutnya memutuskan untuk melakukan hijrah ke kota Madinah untuk mendapatkan ketenangan hidup dan keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam ke semua lapisan masyarakat. Seringkali ketika di Makkah Muhammad diperlakukan seperti binatang oleh para pengikut pembesar suku Quraisy, ketika sedang lewat di jalan, pakaiannya sering diludahi, dilempar kotoran, batu dan sebagainya. Tetapi Rasulullah, mengingat posisinya sebagai uswatun khasanah bagi para pengikutnya, selalu sabar untuk menghadapi setiap perlakuan yang tidak manusiawi oleh masyarakat suku quraisy. Seruan untuk menyebarkan Islam semakin diperluas wilayahnya, kali ini tidak hanya Negara Arab saja yang menjadi objek penyebaran Islam, tetapi Mesir, Persia, Syam dan wilayah lainnya. Ada banyak Negara / suku yang kemudian dengan lapang dada menerima kehadiran Islam di tengah-tengah mereka, namun juga tidak sedikit yang menolaknya bahkan mengajak Muhammad untuk berperang untuk mendapatkan kepercayaan public bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammad hanyalah bualan belaka, tidak ada hikmah yang dapat diambil dari apa yang diperjuangkan oleh Muhammad bersama kaumnya. Disinilah kemudian peran Muhammad sebagai panglima perang, pemimpin umat Islam, utusan Allah, dan uswatun khasanah diuji. Muhammad selalu melakukan apapun untuk menjaga keutuhan Islam sebagai agama yang

77

dianugerahkan untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia, berperang bersama pasukan untuk melawan kekuatan tentara lawan yang hendak menghancurkan Islam. Setiap peperangan yang beliau bersama pasukannya lakukan selalu mengalami kekalahan secara kuantitatif dengan pasukan lawan, namun secara kualitatif dan hasil Muhammad banyak mendapatkan kemenangan. Keuletan dan kecerdikan Muhammad dalam mengatur strategi perang, memimpin pasukan serta mengatur hasil rampasan perang sering kali membuat lawannya merinding. Kekuatannya dihadapan kaum kafir tidak terukur oleh apapun, dan wajar saja ketika dari sini kemudian dapat dikatakan bahwa kemenangan tentara Islam dalam setiap peperangan didominasi oleh factor semangan kaum muslimin dalam berperang dan pengaturan strategi perang yang lebih termanage sesuai kondisi peperangan. Muhammad dapat secara cepat mengambil keputusan meskipun dalam kondisi terjepit sekalipun sehingga Muhammad sebagai seorang panglima perang pantas untuk mendapatkan pengakuan sebagai panglima perang hebat. Kekalahan kaum muslimin dalam salah satu peperangan yang dilakukan menjadi pelajaran yang kemudian dari situlah menemukan kelemahan-kelemahan strategi yang Muhammad dan kaumnya lakukan. Dari kekalahan ini tidak membuat Muhammad bersama pasukannya lantas meninggalkan peperangan dan menyerah begitu saja pada kekuatan lawan, yang terjadi justru sebaliknya, ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, kemudian mengevaluasi peperangan yang telah dilakukan untuk menemukan strategi peperangan yang lebih efektif dan efesien tanpa harus mengorbankan nyawa dan harta yang berlebih.

78

Dari kisah Muhammad dan kaumnya diatas, merupakan sebuah upaya untuk mempertahankan eksistensi Islam atau istilahnya jihad. Dalam konteks saat itu, jihad direpresentasikan dalam bentuk berperang melawan musuh dan mendapatkan kemenangan untuk kesejahteraan dan kemerdekaan Islam untuk masyarkat dunia, karena Islam lahir pada dasarnya adalah rahmatal lil ‘alamin yang akan memberikan rahmat kepada semua alam semesta, tidak hanya manusia saja, tetapi binatang, tumbuhan serta mahluk hidup lainnya yang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Intinya bahwa jihad dengan berperang seperti yang Muhammad lakukan adalah untuk kesejahteraan kolektif semua makhluk. Perkembangan pemahaman terhadap jihad pasca jihad Hasan Al Banna terjadi diluar control. Beragam perkembangan itu selanjutnya mendorong sekelompok dai untuk memulai apa yang di akhiri oleh Hasan al Banna. Mereka kemudian tidak merasa puas dengan hukum dasar jihad yang hanya, menurut Hasan al Banna, faridah saja, tetapi menambahi kata sandang di depannya untuk memperkuatnya sehingga menjadi al faridah serta memperluas basis

yurisdiksinya, sebagai sebuah perkembangan baru dari jihad, menjadi media penebaran Islam dan penyelamatan Negara-negara Eropa dari kungkungan kapitalisme dan setan dunia lainnya serta melakukan penyembuhan terhadap pemujaan terhadap personal dan menggantinya menjadi penyembahan kepada Allah SWT, satu-satunya tuhan yang harus disembah. Jihad semacam ini kemudian mendorong mereka untuk ‘berjihad fi sabilillah’ melawan Negara ang dalam pandangan mereka tidak memakai hukum sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah. Berangkat dari pemahaman

79

semacam inilah kemudian banyak Negara-negara yang di black list untuk menjadi objek jihad. Sebagai akibat fatalnya. Mereka kemudian terpeleset pada usaha-usaha pembunuhan terhadap aparatur, termasuk pembunuhan kepala Negara,

pembantaian orang-orang non muslim, pengeboman tempat-tempat wisata religi non muslim, penghancuran tempat hiburan, perampokan toko-toko dan tindakan anarkhis lainnya yang tidak jauh berbeda dengan tindakan mafia. Pada titik inilah kemudian kita akan sampai pada pemahaman bahwa, diakui atau tidak, persoalan jihad merupakan problem yang paling controversial dari sejak zaman dahulu sampai sekarang. Diskursus mengenai jihad telah mencapai banyak interpretasi sehingga kemudian sekarang dikonsepsikan sebagai ajaran yang mengajarkan kekerasan untuk mempertahankan diri. Ini merupakan pengertian yang paling kurang tepat, dan wajar bila Jamal Al Bana27 kemudian mengatakan bahwa di era modern ini jihad menjadi wacana yang di dzalimi, baik oleh kalangan pro maupun kontra syari’at. Juga di dzalimi di dalam dan di luar Islam, serta paling disalahtangani pula oleh kaum orientalis Barat dan kalangan organisasi Islam sendiri. Penyebab adanya kesalahan ini, berangkat dari pencampuradukkan antara perang (wars/qital) dengan jihad. Pengertian diantara keduanya dicampur aduk sehingga, sebagai akibatnya, anggapan setiap orang, baik muslim ataupun bukan perang merupakan manifestasi dari jihad, keduanya berhubungan erat sebagai arti yang sejiwa. Lebih jauh lagi, konsep jihad ini lebih didominasi oleh
27

Jamal Albana, 2005, Al Jihad, Dar al-Fikr al Islam, penerj. Kamran A. Irsyadi, Pilar Media, Jogjakarta, hal. xx

80

peperangan, dan perang merupakan bagian terpenting dari jihad. Interpretasi semacam inilah yang kemudian membuat kesalahan pemahaman dan keluar dari konteks yang sebenarnya diharapkan. Ini merupakan kesalahan penafsiran yang sangat vatal, sehingga segala sesuatu yang terkait dengan perang merupakan upaya untuk berjihad. Pada dasarnya, jihad adalah terminology yang memiliki akar kata dan derivasi bahasa yang menunjukkan muatan tertentu, dan lebih lanjut memiliki sarana dan target yang menunjukkan atau diingini muatannya. Sementara perang (wars/qital) merupakan akar kata dan derivasi bahasa yang menunjukkan muatan tertentu yang berbeda dengan asal kata jihad, begitu juga sarana dan targetnya. Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa antara jihad dan perang merupakan wilayah yang berbeda baik secara terminology ataupun aksiologi. Diantara keduanya (jihad dan perang) tidak selalu berjalan beriringan, meskipun dalam beberapa kasus tertentu kemudian dapat dijumpai pertemuan antara keduanya. Masing-masing memiliki tujuan dan target yang berbeda. Lebih lanjut, Jamal Albana kemudian memisahkan keduanya sebagai deduktif induktif, yakni jihad sebagai sesuatu yang pokok (dalam konsepsi umum), sementara perang merupakan bagian dari jihad yang dapat dilakukan apabila mendesak dan memang diperlukan sekali. Artinya, perang merupakan bagian terkecil jihad yang hanya dan hanya boleh dilakukan apabila dalam kondisi terdesak dan memang diperlukan sekali. Satu contoh yang diambil dari kisah Rasulullah misalnya, bahwa Rasulullah bersama sahabatnya telah melakukan jihad di tanah Makkah selama

81

13 tahun dengan menggunakan sarana-sarana jihad yang mengandung pendekatan hikmah, mau’idzah hasanah, nasihat, petunjuk, ketabahan dan militansi. Sampai disini kemudian dapat diambil makna yang sesungguhnya dari jihad itu sendiri, serta sejauh mana perang memiliki kaitan dengan jihad. Dan tentunya persoalan jihad ini tidak akan membuat penganutnya terjebak pada model jihad yang mengutamakan heroisme sesaat dengan mengorbankan banyak nyawa dan dengan hasil yang percuma. Kesalahan penginterpretasian dari kata dan makna jihad ini lebih disebabkan karena dari para pengkajinya hanya mengambil satu referensi ayat atau beberapa ayat dan hadits tanpa menghiraukan hadits atau ayat yang lainnya. Pun kesalahan dapat ditemui ketika menafsirkan / menterjemahkan ayat tersebut dengan mengesampingkan kontekstualitasnya. Makna yang tersirat secara implicit tidak tersentuh oleh para pengkajinya. Wacana sepenting jihad ini, seharusnya dalam membahasnya tidak hanya membahas satu persatu ayat atau hadits saja, tetapi harus dikaji secara keseluruhan dan menemukan ayat atau hadits lainnya yang terkait dengan makna jihad dan tidak ketinggalan pula untuk menterjemahkan dengan melihat kontekstual historisnya. Hal ini karena persoalan jihad merupakan persoalan yang penting yang seharusnya tidak disalahartikan karena menyangkut masa depan Islam sendiri serta penganutnya secara keseluruhan.

Jihad Hari ini dan yang akan datang

82

Jihad berperang saat itu merupakan sebuah hal yang sangat diidamkan oleh para pengikut Muhammad (baca : sahabat), hal ini di dasarkan pada doktrin yang diajarkan oleh Islam bahwa orang yang meninggal dalam peperangan untuk membela Islam maka baginya ditempatkan di tempat tertinggi yang ada di sorga. Untuknya diampuni segala dosa yang pernah dia lakukan. Bahkan untuk menghormati syahid (orang yang meninggal dalam peperangan untuk membela Islam), Rasulullah melarang untuk mengganti kain yang dikenakannya dengan kain kafan dalam proses pemakamannya, jenazah para sahabat yang sahid dibiarkan tetap menggunakan pakaian yang digunakannya ketika meninggal, bahkan dimandikanpun tidak. Alasannya adalah dengan pakaian yang dikenakan itu, dengan kondisi meninggal yang seperti itu dapat dijadikan saksi ketika berada di akhirat kelak. Pakaian yang dikenakan pada saat meninggal itu akan bersaksi bahwa si pemakainya menggunakan baju tersebut untuk mencari kesyahidan, darah yang mengalir akan berkata bahwa darah tersebut keluar karena digadaikan demi kejayaan dan keutuhan Islam. Jihad merupakan kewajiban untuk semua orang Islam, semua muslim wajib melakukan pembelaan ketika Islam sedang diserang oleh lawan, tidak ada kata tidak untuk itu. Dalam kondisi apapun orang Islam harus turut serta melakukannya. Tujuannya adalah agar Islam sebagai agama tetap terjaga keutuhannya untuk kesalehan kolektif semua makhluq. Saat itu ketika jihad dilakukan dengan berperang merupakan langkah yang paling tepat. Ini semua disebabkan karena musuh yang menentang Islam telah tampak di depan mata. Musuh yang diperangi merupakan orang yang sama

83

seperti yang lainnya. Para musuh Islam muncul dengan senjata yang lengkap saat itu untuk bagaimana mampu menjatuhkan Muhammad. Dan secara sosio psikologis ini merupakan hal yang lumrah dan manusiawi mengingat bahwa secara psikologis orang akan mengalami kegoncangan jiwa yang selanjutnya akan melakukan perlawanan ketika dirinya, orang tuanya, anak-anaknya atau apapun yang dia cintai diserang, dilawan, dihina dan sebagainya secara membabi buta oleh orang yang bahkan tidak dikenalnya. Artinya, sugesti yang timbul untuk melakukan jihad berangkat dari adanya kecintaan yang berlebih (islamoholic) terhadap Islam yang selanjutnya merasa tidak terima ketika Islam yang nota benenya dicintainya itu harus dihina dan dilawan. Kecintaan terhadap Islam oleh penganutnyapun memiliki alasan yang tepat, yakni bahwa Islam yang mereka anut oleh mereka dipercaya mampu membawa ke arah tata sosial yang lebih baik dibandingkan tata sosial yang telah ada. Meskipun mereka percaya bahwa Islam tidak hanya mengatur kehidupan sosial saja, tetapi juga bidang ubudiyah yang mengatur tata hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai khaliq yang menciptakannya. Ini semua mereka lakukan karena mereka telah jenuh dan bosan dengan system sosial yang sedang berjalan, dimana system sosial ini cenderung kapitalistik, feodalistik, imperialistic dan patrialistik. Dibidang ubudiyah mereka telah dikenyangkan dengan kebohongan berhala yang mereka anggap memiliki kekuatan gaib yang mampu memberikan keberkahan hidup dan ketenangan jiwa

84

yang pada nyatanya hanya merupakan batu yang dibentuk sedemikian rupa hingga seolah tampak memiliki charisma. Dari sinilah kemudian mereka meyakini, bahwa Islam mampu membawa mereka pada satu aturan baru yang memungkinkan untuk mendapatkan pencerahan jiwa dan kesalehan kolektif serta mencapai tata sosial yang humanis, pluralis, agamis sesuai yang dijanjikan Islam sendiri. Kembali pada persoalan jihad, bahwa, sekali lagi, wajar saja jihad dilakukan saat itu dengan berperang, karena musuh utama saat itu adalah orang yang masih menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghancurkan Islam secara serta merta. Kekuatan militer seringkali digunakan sebagai upaya agar Islam beserta pemimpinnya dan bala tentaranya tertawan dan dibunuh sehingga jamur Islam tidak dapat tumbuh kembali. Islam bagi sebagian besar masyarakat Arab dan sekitarnya saat itu merupakan virus yang mudah menyebar, sehingga para pembesar suku yang tidak menyepakati munculnya Islam selalu mencari formula baru untuk mendapatkan antivirus yang mampu membunuh virus Islam itu. Ini sangat wajar mengingat ketika Islam maju dan berkembang pesat maka secara politis pemimpin suku yang tadinya menempati urutan pertama dalam tata politik sukunya untuk kemudian dapat tergeser pada nomor-nomor terbelakang, karena mau tidak mau ketika Islam muncul dan berkembang dalam satu wilayah tertentu, maka Muhammad adalah orang yang akan mereka elu-elukan sebagai pemimpin mereka.

85

Secara sederhana, perlawanan yang muncul dari arah luar Islam adalah disebabkan karena kepentingan politis dimana para pembesar suku tidak mau kemudian disingkirkan dari posisinya sebagai pemimpin. Untuk selanjutnya, seringkali selain pertentangan fisik yang dilakukan, penyerangan dengan model pengguliran wacana islamophobia juga sering muncul di masyarakat sebagai langkah antisipatif terhadap masyarakat wilayah tertentu oleh para pemimpinnya agar Islam tidak mampu menembus wilayah sosial daerah tersebut. Misalnya dengan pengguliran wacana bahwa Islam merupakan agama militer yang selalu berperang untuk mendapatkan wilayah dan mendapatkan penghasilan tambahan dari tanah jajahannya. Islam merupakan agama eksploitatif yang akan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di tanah yang telah ditaklukannya. Orang-orang yang setia terhadap Muhammad hanya didasarkan pada harapan memperoleh tanah jajahan dan mengumpulkan harta rampasan perang dari peperangan yang dilakukan. Pertentangan dengan pengguliran wacana semacam inilah yang kemudian membuat Islam akan semakin terpojok posisinya ketika memasuki wilayah yang telah bergulir wacana semacam ini. Pada konteks hari ini, jihad yang harus dilakukan kalau kita akan mengikuti sunnah nabi Muhammad adalah dengan melawan hawa nafsu yang muncul dalam diri kita sendiri. Artinya setiap hawa nafsu yang muncul dari dalam hati kita yang tentunya menjebak kita dalam kebahagiaan sementara di

86

dunia merupakan jihad yang pahalanya sama dengan orang yang mati dalam peperangan ketika orang Islam mampu melawan hawa nafsu yang muncul. Untuk mendapatkan penafsiran baru terhadap berbagai konsep jihad yang muncul hari ini, terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah melakukan analisis geososiopolitik. Hal ini terkait bahwa Islam merupakan satu dari berbagai system ideology yang muncul dan berkembang di dalam tata politik dunia. Dalam bukunya, The Clash of Civilization, Samuel P. Huntington melakukan analisis kritis terhadap perkembangan politik dunia pasca perang dingin. Dalam masa perang dingin kekuatan antara blok Timur yang direpresentasikan oleh kekuatan Uni Soviet (USSR) dan kekuatan Barat yang direpresentasikan oleh Amerika Serikat (USA) mengalami masa yang tegang dan menegangkan. Meskipun dalam perang dingin (cold war) yang terjadi saat itu tidak memunculkan perang terbuka, namun berbagai konflik politik yang terjadi di setiap belahan dunia tidak bisa dilepaskan dari kedua kekuatan tersebut. Perlombaan senjata dengan saling menciptakan teknologi persenjataan yang paling mutakhir terjadi dan membuat bulu kuduk merinding. Keduanya menciptakan senjata pemusnah massal yang membahayakan ketenangan dunia. Selain itu konflik politik internal Negara lain yang terjadi selalu di setting oleh kekuatan ini, pecahnya Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan juga merupakan ulah dari USSR dan USA yang hendak berperang dengan memanfaatkan konflik internal Negara tertentu.

87

The End of History yang dituliskan oleh Francis Fukuyama memprediksikan peta politik global pasca perang dingin, dimana kedua kekuatan tersebut akan mengalami kehancuran salah satu diantara keduanya yang kemudian salah satu dari keduanya itu akan menguasai geopolitik dan geoideologi di dunia tanpa adanya perlawanan yang berarti dari pihak yang kalah. Amerika Serikat sebagai pihak yang diunggulkan akan mampu mematahkan kekuatan Uni Soviet dibawah pemerintahan Mikhail Gorbacev saat itu dan kemudian Amerika Serikat sebagai pihak yang memenangkan perang dingin tersebut akan menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu menghegemoni dunia dengan berbagai kekuatan yang dimilikinya. Namun sekali lagi, ternyata apa yang diprediksikan oleh Francis Fukuyama itu sedikit meleset dan kurang tepat. Pada saat perang dingin itu, Amerika Serikat terus memacu perkembangan militernya sehingga persoalan ekonomi dalam negeri mengalami deficit. Sebagai akibatnya hadiah dari kemenangan Amerika Serikat dalam perang dingin ini adalah PR untuk menyetabilkan kondisi perekonomian dalam negeri. Sibuk dengan urusan ekonomi dalam negerinya itu, terjadi hal yang tidak dapat diduga sama sekali oleh Amerika sebagai kekuatan terbesar dunia saat itu. Terjadi perubahan terhadap konstelasi geopolitik. Negara-negara pecahan Uni Soviet yang sebelumnya berbasiskan Islam telah kembali pada Islam, sementara itu, China, sebagai Negara dengan penduduk terbesar di dunia meningkatkan bidang perekonomiannya. Disamping membangun bidang perekonomian, ideology, tradisi dan peradaban yang dimiliki China sebagai

88

warisan nenek moyang mulai go public dan secara tidak langsung mengadakan launching agar peradabannya mampu menembus dunia internasional. China yang kaya akan kebudayaan klasik, mampu menyihir dunia menjadi tercengang, bahkan hampir di setiap negara, budaya China tumbuh subur, dimana-mana Klenteng dapat berdiri, ramalan-ramalah Feng Shui laku laris di setiap pelosok dunia, produk-produk alternatif China bahkan menembus pasar internasional dan mendominasinya. Di dukung dengan letak geografis yang berpotensi untuk menjadi central pasar internasional, semakin memposisikan China, juga dengan kekuatan ekonomi, sosial budaya dan lainnya yang tidak lekang oleh zaman. Ini semua membuat Huntington menghitung China sebagai kekuatan yang akan mendominasi dunia, meskipun dengan strategi yang halus. Sementara itu, Islam, yang sampai hari ini menjadi kekuatan kiri yang paling berbahaya bagi Amerika Serikat, disamping kiri lainnya, dengan jumlah penganutnya yang makin lama makin meningkat, membuat Islam semakin di perhitungkan juga. Apalagi dengan bangkitnya kekuatan negara-negara Islam. Iran yang dipimpin oleh pemimpin ‘keras kepala’ terhadap AS, Mahmoud Ahmadinejad, membangkitkan program nuklir, serta ilmu pengetahuan modern lainnya. Bukan itu saja yang membuat Islam diperhitungkan oleh Huntington, Islam, khususnya yang ada di Timur Tengah, merupakan negara-negara penghasil minyak bumi yang besar dan potensial memenuhi kebutuhan minyak dunia. Selain minyak bumi, barang tambang lainnya Islam juga mendominasi.

89

Yang selanjutnya terjadi, berdasarkan analisis pakar geo politik dari Harvard University, Samuel P. Huntington adalah bahwa perang yang terjadi pasca perang dingin adalah perang antar peradaban, bukan lagi perang antar Negara, perang antar blok dan seterusnya. Kedepan ideology-ideologi besar yang berkembang saat ini akan terjadi clash, benturan antara satu peradaban dan peradaban lainnya yang kemudian akan menentukan peradaban mana yang mampu mendominasi dunia. Perang antar peradaban yang diilustrasikan Samuel P. Huntington mengunggulkan tiga peradaban besar yang berada di dunia, yakni antara Islam, Kapitalisme Amerika dan China. Ketiga kekuatan ini akan saling mengalami benturan dan menentukan ideology mana yang akan berhasil menjadi ideology dominant dan mampu menggilas habis ideology lainnya. Fenomena geososialpolitik hari ini adalah mendominasinya system sosial, budaya popular (popular culture), system perekonomian, tata

geoantropologis yang diciptakan Amerika dan sekutunya. Sebagai akibatnya, dunia hari ini dikuasai oleh sistemnya Amerika dan sekutunya. Setiap persoalan, baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya harus berkiblat pada apa yang difatwakan oleh Amerika. Dampak yang paling utama adalah, Islam mengalami kehancuran secara sosiopolitik, keterbelakangan ekonomi, kesesatan kebudayaan dan sebagainya. Melihat kondisi geopolitik yang seperti ini, maka akan didapati objek jihad yang baru dan merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi Islam. Karena pada dasarnya jihad adalah upaya mempertahankan eksistensi Islam

90

dalam kondisi apapun. Maka hari ini yang harus dilakukan adalah berjihad untuk mengembalikan kejayaan Islam sebagai agama yang rahmatal lil ‘alamin. Persoalan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana mendapatkan solusi yang kreatif dan tepat untuk berjihad. Karena jelas ketika kita jihad secara fisik, melakukan perlawanan militer dengan Amerika dan sekutunya yang mengklaim diri sebagai polisi dunia maka jelas Islam akan mengalami kekalahan. Hal ini dapat dibuktikan dan menjadikan pelajaran dari konflik yang terjadi di Timur Tengah, tepatnya yang terjadi di Irak, Lebanon, Afghanistan dan sebagainya yang diporak-porandakan oleh kekuatan militer Amerika dan Israel serta sekutunya yang lain. Karena fenomena sosio politik global ini merupakan permainan, maka hanya ada dua kemungkinan yang akan muncul terhadap Islam dan masa depannya, yakni Islam akan menjadi pemain atau Islam yang akan menjadi sesuatu yang dimainkan. Ini semua tergantung dari Islam itu sendiri. Dan untuk lebih tegasnya, permainan yang terjadi hari ini adalah permainan system, bukan lagi permainan militer seperti yang terjadi di zaman Nabi Muhammad, maka perlawanan yang harus dilakukanpun mendapatkan antitesis terhadap system permainan Amerika Serikat. System kapitalistik telah mendapatkan antitesis meskipun pada decade terakhir abad dua puluh mengalami kehancuran, yakni Marxisme, dimana ajaran komunismenya Karl Marx dalam Das Kapital dan MDH-nya yang mengangkat konflik buruh majikan dan kelas sosial masyarakat sedikit banyak mampu

91

memukul kekuatan kapitalisme dengan penghapusan kepemilikan pribadi dalam tata sosial serta pengaturan tentang alat produksi. Kemudian dalam konteks hari ini, yang harus dilakukan oleh Islam sebagai upaya melakukan perlawanan terhadap neo mperialisme dan neo kolonialisme yang di telorkan oleh Barat adalah dengan kembali menjadikan Islam sebagai agama revolusi yang akan merubah tatanan dunia yang sesuai dengan hokum Islam seperti apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad. Perbedaan dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad adalah, bahwa pertentangan yang dilakukan Nabi Muhammad terjadi secara fisik dan face to face antara kawan dan lawan, maka karena yang terjadi hari ini merupakan pertentangan system dan peradaban, yang harus dilakukan adalah mencari system yang mampu menyerang system kapitalistik. Jadi agaknya menarik juga persoalan ini, dan ini optimis akan terrealisasi, mengingat bahwa menurut study yang dilakukan Max Weber tentang Islam yang belum diselesaikannya saat dia meninggal telah memberikan gambaran yang cerah dan menimbulkan motivasi lebih dan keyakinan akan kemampuan Islam itu. Sosiologi yang menjadi bidangnya Max Weber menggunakan metode verstehende dimana Islam merupakan lahan yang paling gersang untuk tumbuhnya system kapitalisme. Ini berangkat setelah The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism di pelajari lebih luas sehingga menemukan factor-faktor lebih detail yang kemudian ternyata merupakan sesuatu yang dikotomik dengan Islam.

92

Sisi lainnya, melihat catatan Bryan S. Turner28 dalam Weber and Islam, memberikan gambaran tentang posisi Islam dalam bidang sosiologi. Menurutnya, dibanding dengan kepustakaan tentang agama-agama dunia lain dan peradaban mereka yang telah mapan dan berkembang, study yang sistematik tentang Islam merupakan sebuah bidang yang terabaikan dalam sosiologi, fenomenologi dan sejarah agama. Para islamolog terkadang menjelaskan tak adanya tradisi ilmiah karena sulit ditemukannya sumber terkait yang memadai tentang Islam. Artinya bahwa Islam telah mendapatkan tempat yang cukup strategis untuk membuat ideology besar sebagai antitesis terhadap ideology kapitalisme yang cenderung mendominasi. Dari gambaran-gambaran diatas sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam dalam jangka panjang akan mampu merebut posisi tata sosial dunia. Dunia dalam masa postmodernisme ini, menurut Asghar Ali Enginer, berbagai system kepercayaan diuji secara kritis dalam wilayah yang sangat luas. Tak ada system pemikiran atau kepercayaan yang saat ini tidak terbuka untuk diuji.29 Dari sini memberikan gambaran bahwa adanya persaingan masingmasing ideology untuk bersaing dalam ‘ujian’ untuk membuktikan bahwa ideology tertentu mampu menembus batas dan pantas untuk mendominasi tata sosio antropologis masyarakat global. Persaingan ini menimbulkan semacam

28

Bryan S. Turner,2005, Weber and Islam, penerjemah; Mudhofier Abdullah, Suluh Press Jogjakarta, hal. 11 29 Asghar Ali Enginer, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim FORSTUSIDA, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, Hal. 3

93

diskriminasi bahkan eliminasi terhadap ideology lainnya yang menjadi lawan dari ideology tersebut. Kembali kepada persoalan jihad di abad post modern hari ini. Bahwa karena peperangan yang akan terjadi adalah peperangan system maka, Islam harus mampu merubah paradigma penganutnya dari yang fenomenologis dengan nalar teosentrisme kepada paradigma strukturalisme radikal yang mengatakan bahwa antrposentrisme merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan untuk mendapatkan kekuatan yang lebih. Hal ini juga didukung oleh ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang merubahnya. Dimana dalam ayat ini selain dukungan terhadap penguasaan aspek-aspek keduniawiyan oleh manusia juga Allah memerintahkan untuk melakukan perubahan disegala bidang kehidupan untuk kemudian menciptakan satu tatanan sosial yang berwatak civil society. Legitimasi atas gerakan manusia untuk melakukan perubahan ini sama hal nya dengan sebuah perintah untuk mempertahankan tatanan yang tepat dan meninggalkan atau merubah tatanan yang bobrok, kesalehan palsu dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan untuk memanage dunia ini serta melakukan perubahan yang berarti terhadap system yang sedang berlaku sekarang. Dan inilah yang kemudian memberikan inspirasi lebih serta motivasi untuk menciptakan Islam Revolusioner. Jelas ini menjadi tugas manusia, karena secara tegas Allah berfirman bahwa Dia tidak akan melakukan intervensi terhadap persoalan sosio-politik

94

manusia. Dan ini juga bukan berarti bahwa Allah kemudian dengan serta merta meninggalkan manusia dan hanya menunggu penyembahan manusia saja diatas singgasana-Nya seperti yang ditudingkan Karl Marx dalam mengkritisi agama. Bahwa Allah itu maha feudal yang mengatur tata kelas sosial, Allah maha kapitalis, Allah yang maha menguasai dan sebagainya. System yang digunakan Islam adalah menjadikan Islam sebagai agama Islam kiri, atau dalam bahasa Hassan Hanafi disebut sebagai al Yasar al Islam. Ini akan menjadi solusi yang jitu kiranya. Mengingat ternyata apa yang ditelorkan oleh Karl Marx pada dasarnya banyak di jumpai dalam teks normative dan jurisprudensi hukum Islam. Isi Das Kapital secara global telah tercantum dalam Al Qur’an ataupun Al Hadits, yang ternyata dalam Islam sendiri perkembangannya mengalami banyak hambatan sehingga sering mengalami keterbelakangan dan ketinggalan dari yang lainnya yang mau untuk lebih konsentrasi dalam perkembangannya.

95

ISLAMOPHOBIA

Hari ini banyak diskursus-diskursus yang berkembang ditengah-tengah kehidupan sosial politik global yang mengangkat isu tentang Islam dan sejarah perkembangannya. Baik yang sifatnya menyambut maupun yang menentang dengan keras. Hal ini didasari sejak mencuatnya nama Islam ketika aksi terror terhadap WTC 11 September 2001 yang membawa panji-panji Islam oleh kaum fundamental anarkis Islam. Penggambaran kartun nabi Muhammad yang digambarkan dengan wajah yang bengis, memakai sorban dan bertutup kepala kain dengan bom diatasnya, ditangannya memegang pedang dan memenggal kepala, bersama pasukkannya menyerbu kota dan lainnya yang diedarkan secara terbuka di Eropa juga salah satu dari banyaknya pihak yang melakukan penolakan terhadap Islam. Diskursus yang semacam inilah yang kemudian menimbulkan ketakutan luar biasa di tengah-tengah masyarakat dunia bahwa Islam merupakan agama yang keras, agama militer, agama perang, agama yang hanya mengerti kapan waktu untuk berperang dan bagaimana merebut tanah jajahan dan sebagainya. Sebagai akibatnya muncul ketakutan-ketakutan terhadap orang-orang Islam, orang yang bersurban dan memakai jubah dianggap sebagai teroris, setiap orang muslim yang hendak melakukan perjalanan antar Negara harus diperiksa hingga hal-hal yang personal, di Negara Barat, banyak orang Islam yang didiskriditkan dalam kehidupan sosial.

96

Parahnya pandangan terhadap Islam inilah yang selanjutnya banyak menimbulkan pemahaman yang keliru terhadap orang-orang Islam secara keseluruhan. Persoalannya hanya tertumpu pada gerakan yang dilakukan oleh kelompok Islam fundamental yang anarkhis kemudian menjadi persoalan yang pelik yang melibatkan orang muslim secara keseluruhan.

Islamophobia Max Weber Weber dalam catatannya, selain telah melakukan kajian kritis terhadap Protestan dan kapitalisme dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, juga meneliti dalam tentang Islam, namun sayangnya sebelum dia sempat menyelesaikan essay-essaynya tentang Islam, ahli sosiologi ini meninggal dunia. Ini bukan berarti bahwa apa yang ditulis oleh Weber tentang Islam tidak berlaku dan dianggap tidak ada karena belum selesai, tetapi justru ini menjadi buku sosiologi yang paling kontradiktif dibandingkan dengan kajiannya terhadap sosiologi agama lainnya seperti protestant. Karena sebab belum tercetak dan tersebar luasnya kajian Weber tentang Islam ini maka kemudian harus merumuskan cara untuk dapat melakukan kajian yang sama sebagai serangan balik terhadap teori-teori yang dikaji oleh Weber tentang Islam dan Muhammad. Sedikitnya ada tiga kunci yang dapat digunakan untuk memasuki kajian tentang Weber dan Islam. Yakni, Memaparkan apa yang sebenarnya ditulis Weber tentang Islam, Muhammad dan komunitas muslim, serta mengaitkan komentar-komentar Weber yang belum selesai dengan minatnya yang besar pada

97

agama dalam struktur-struktur sosial (Lihat. Economy and Society, Max Weber). Max Weber sangat dikenal karena studinya tentang Protestantisme dan munculnya kapitalisme Eropa, yang secara keliru mengklaim bahwa Calvinisme telah menyebabkan kapitalisme. Penyebab dari seringnya kesalahan atau kekeliruan dalam penelitiannya Max Weber terhadap sosiologi agama, selain factor kesalahan ilmiah juga dikarenakan adanya upaya untuk melakukan pematahan terhadap setiap teori yang dikeluarkan oleh Karl Marx atau bahkan Maxisme. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang dikaji oleh Weber merupakan anti tesis terhadap apa yang dirumuskan oleh Karl Marx. Dalam pandangan Weber, Islam merupakan agama militer atau agama para tentara (a religion of warrior). Islam sebagai religion of warrior ini setidaknya telah mampu menghasilkan sebuah etos yang sesuai dengan semangat kapitalisme. Dalam catatan lebih lanjut, Weber merumuskan bahwa Islam adalah agama yang menghambat munculnya prakondisi-prakondisi kapitalis yaitu hukum yang rasional, pasar kerja bebas, kota-kota yang otonom, perekonomian uang (a money economy) dan kelas borjuis. Dapat diketahui bahwa apa yang dikatakan Weber bahwa Islam merupakan lahan yang paling tandus untuk tumbuhnya kapitalisme merupakan sesuatu yang luar biasa. Bahwa Islam ternyata tidak mampu menciptakan prakondisi-prakondisi untuk tumbuhnya kapitalisme, sebagai akibatnya maka masyarakat Arab, tidak dapat tersentuh oleh kapitalisme Eropa. Tidak mampunya kapitalisme memasuki ranah sosio ekonomi masyarakat Islam banyak disebabkan

98

oleh kebudayaan Timur sendiri yang cenderung chauvimistik dan lebih mengunggulkan rasnya, klannya, sukunya dibandingkan harus mengikuti doktrin dari orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Disinilah kemudian apa yang dirumuskan oleh Weber bertemu kembali dengan apa yang ditulis oleh Karl Marx dalam Cara Produksi Asia (Asiatic Mode of Production). Meskipun dalam beberapa wilayah penelitian diantara keduanya banyak ditemui perbedaan, namun setidaknya dari keduanya itu dapat ditemukan hal yang dikotomik. Kalau Weber memfokuskan pembahasannya mengenai relasi monopoli kekuasaan politik, maka Marx lebih memfokuskan penelitiannya pada penguasaan ekonomi. Sosiologi interpretative Weber (sosiologi verstehende) merupakan sebuah kritik serius terhadap keragaman positivisme yang mengabaikan peran aktor tentang realitas dengan cara memaksakan interpretasi-interpretasi dan kategori-kategori para sosiolog dan pengamat sosial pada realitas sosial. Verstehende merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengerti makna yang mendasari peristiwa sosial dan histories. Terlepas dari pertarungan dua ilmuwan ini, ada hal yang lebih penting yang kemudian harus dikritisi lebih jauh terkait dengan islamophobia yang terjadi di berbagai belahan dunia. Yakni tentang essay-essay yang dikeluarkan oleh Max Weber untuk meneliti dan kemudian menyelewengkan ajaran Islam sehingga Islam dapat dipandang seolah memiliki kekuatan yang dapat menakutkan orang diseluruh dunia.

99

Salah satu aspek yang, mungkin, membuat Weber tertarik untuk mengkaji Islam diantaranya adalah rendahnya kajian terhadap Islam.

Dibandingkan dengan kepustakaan tentang agama-agama dunia lain dan peradaban mereka yang telah mapan dan berkembang, study yang sistemik tentang Islam merupakan bidang yang mendapatkna tempat paling terbelakang dalam sosiologi, fenomenologi dan sejarah agama. Hanya sedikit kajian-kajian sosiologis penting tentang Islam dan komunitas muslim, beberapa penulis seperti R. Levy menulis, The Structure of Islam, Clifford Geertz, dengan tesisnya yang berjudul Islam Observed, Maxim Rodinson, Islam et capitalisme, selain itu hanya sedikit sekali kajian-kajian yang kemudian menjadi salah satu tema pembahasan yang penting dalam kajian sosiologi, fenomenologi, antropologi dan cabang ilmu lainnya. Di lain sisi, Islam memiliki sejarah yang cukup unik, dengan kekayaan budaya dan keragaman tradisi. Islam telah mampu mendobrak tatanan sosial dunia sebelum Barat mampu berkata apa-apa. Banyak ilmuwan Islam yang hasil penelitiannya dijadikan rujukan untuk perkembangan sains hari ini. Taruhlah Ibnu Sina (Avicena) yang ahli dalam bidang kedokteran, berbagai hasil penelitiannya mengenai kedokteran dan cabang ilmu lainnya dijadikan rujukan untuk ilmu kedokteran yang sekarang semakin berkembang. Ibnu Rusyd dan Imam Ghazali yang fasih berbicara filsafat juga mendapat tempat dalam kajian mengenai sejarah dan dialektika filsafat. Serta ilmuwan lainnya yang telah meneliti tentang tata surya, matematika, kimia sampai pada peneitian mengenai

100

evolusi manusia yang kemudian di kumandangkan dalam The Origin of Species oleh Charles Darwin. Pada zaman Islam awal juga dapat menjadi daya tarik, dimana Muhammad yang yatim piyatu, miskin, ternyata mampu melakukan perubahan yang begitu mencengangkan. Sebuah revolusi yang dapat dikatakan lebih dahsyat dibandingkan dengan revolusi sosial di Prancis, Revolusi Bolshevick di Rusia dan revolusi besar lainnya. Tatanan sosial, ekonomi, budaya dan religius mampu di ubah untuk mencapai satu tatanan yang lebih tertata dan terarah. Sebuah kebesaran atas perjuangan Islam kiranya. Dari beberapa factor itulah yang mungkin membuat Weber tertarik untuk mengkaji Islam, disamping disiplin ilmu yang dia sendiri pelajari sebagai ahli sosiologi yang tentunya tidak dapat terlepas dari kajian sosiologi agama sebagai objek pembahasan karena agama merupakan salah satu factor yang paling mempengaruhi tata sosial masyarakat. Atau besar kemungkinan, alasan Weber melakukan kajian tentang Islam didorong oleh sebab Karl Marx dan Emile Durkheim jarang membicarakan tentang Islam dalam setiap study-nya. Kajian Weber terhadap Islam dalam batasan-batasan tertentu kelihatan sebagai bagian sosiologis bagi analisisnya tentang Etika Protestan. Memang, Weber menganggap Islam sebagai lawan dari Puritanisme. Menurut Weber, Islam menerima spirit kaum hedonis murni, terutama kecenderungan pada kaum wanita, kemewahan dan hak milik. Apa yang ada dalam Islam seperti tentara militer dan kondisi-kondisi ekonomi masyarakat Islam tidak cocok bagi perkembangan kapitalisme karena Islam di dominasi oleh feodalisme dan

101

birokrasi patrimonial. Bahkan tidak hanya kapitalisme, pra syarat munculnya kapitalisme pun tidak dapat dijumpai dalam Islam. Dalam hal ini, Bryan S. Turner30 memberikan dua komentar yang tepat untuk Weber. Pertama, analisis Weber tentang etika Islam nampak tidak berkaitan dengan analisisnya tentang struktur sosio-ekonomi masyarakat Islam. Tak ada upaya yang dilakukan weber untuk mengaitkan apa yang ia anggap sebagai etika tentara dengan kekuasaan patrimonial para sultan dan para khalifah. Kedua, bila orang memperhatikan lebih dekat, argument Weber tentang Etika tentara Islam, maka akan ditemukan bahwa sebenarnya ia bukanlah argument dari pandangan kaum idealis tentang disiplin ilmu sejarah, tetapi ia juga bukan analisis tentang ‘pertalian elektif’. Tidak ada hubungan alamiah, kata Weber, antara monoteisme kenabian Muhammad di Makkah dan gaya hidup para tentara Arab. Lebih jauh, bahwa masyarakat kesukuan dan tentara di pengaruhi pesan-pesan Muhammad. Dia mendesain ajaran-ajaran untuk memenuhi syarat-syarat kehidupan mereka. Ia merupakan kebutuhan para tentara sebagai sebuah kelompok status yang ditentukan oleh pandangan dunia Islam dan bukan oleh sikap psikologis atau nilai sosial yang dibentuk Islam. Weber secara tegas mengatakan bahwa isi Al Qur’an dan hadits merupakan rekayasa dari ajaran-ajaran yang didesain sendiri oleh Muhammad. Dan cerdasnya, Muhammad ternyata memiliki keahlian khusus dalam mempropagandakan ajaran-ajaran yang didesainnya sendiri. Disamping itu, Weber juga terlalu tegas ketika dia mengatakan bahwa kehidupan sosial para
30

ibid, Hal. 21

102

tentara harus menyesuaikan dengan desain keagamaan yang disusun oleh Muhammad. Ini merupakan satu hal yang harus digaris bawahi, bahwa dari sini Weber ternyata dalam mengkaji Islam tidak berangkat dari objektifitas yang ilmiah tetapi dari subjektif emosional. Apa yang di tulis oleh Weber berangkat dari catatan individu dan emosionalitas dirinya sendiri, sehingga syarat utama dalam mengkaji ilmu pengetahuan, yakni objektif dikesampingkan. Dalam wilayah subjektifitas, beberapa bagian mungkin dapat dimaklumi mengingat Verstehende31 juga berlandaskan pada makna subjektif atas tindakan. Pada kesempatan lain, Weber sempat melakukan analisis tentang pemimpin kharismatik yang dianggapnya memiliki kekuatan hegemonic yang luar biasa. Pemimpin kharismatik hanya berhasil jika pesannya dipatuhi oleh kelompok-kelompok yang mengakomodasi doktrin baru untuk kelompok atau kepentingan-kepentingan mereka. Ketika rumusan ini diterapkan dalam kehidupan Muhammad dan Islam, Weber berpendapat, bahwa pandangan dunia seorang Nabi secara sosial menjadi berarti hanya setelah ia diterima dan dibentuk ulang oleh suku-suku badui sejalan dengan gaya hidup mereka dan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka. Selanjutnya, Weber secara implicit mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang oportunis dan bahwa para pengikutnya yang setia pada Islam semata-

31

Verstehende adalah metode yang digunakan Weber dalam mengkaji sosiologi. Metode ini dilakukan dengan pendekatan yang berusaha mengerti makna yang mendasari peristiwa sosial dan histories. Pendekatan ini berpijak pada ide, bahwa setiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh sang aktor yang terlibat di dalamnya. Jadi pendekatan ini berusaha mengungkap suatu makna subjektif sebuah gagasan dari actor yang melakukannya.

103

mata didorong oleh harapan-harapan memperoleh harta rampasan dan penaklukkan. Statement yang dikeluarkan oleh Weber ini cukup keras dan berani, Sosok Muhammad yang mendirikan komunitas kaum tertindas di Makkah dari penindasan para pedagang yang kapitalistik, yang diantara para anggota dari komunitas tersebut juga orang-orang Badui, dalam pandangan Weber, kehidupan dunia Muhammad merupakan settingan dari Suku Badui. Persoalan apakah Muhammad diterima dalam komunitas suku Badui, seperti yang Weber tuduhkan, Muhammad dalam hal ini jelas diterima, meskipun dalam beberapa wilayah Muhammad mendapat perlawanan dari suku badui. Dengan kemampuan Muhammad untuk mengakomodir aspirasi yang muncul dari suku badui yang merasakan ketertindasan karena naiknya biaya hidup serta melakukan langkah konkrit untuk mengantisipasi hal tersebut menunjukkan bahwa Muhammad telah diterima di tengah-tengah komunitas badui. Kemudian tesis yang keras bahwa Muhammad adalah seorang oportunis murni dan orang-orang yang setia pada Muhammad adalah dimotivasi adanya janji mendapatkan harta rampasan perang dan tanah jajahan serta kekuasaan pada tanah jajahan tersebut merupakan hal yang sangat bertentangan dengan nilai dasar jihad. Bahwa peperangan yang dilakukan oleh orang-orang muslim didasari karena wilayah kerajaan lain (suku lain) yang telah diajak secara damai untuk memeluk Islam ternyata justru menantang kehebatan tentara Muhammad secara fisik. Persoalan tanah jajahan dan harta rampasan perang sebenarnya tidak masuk akal, yang diharapkan oleh Muhammad dan para sahabatnya dalam setiap

104

peperangan adalah untuk dapat memiliki pintu masuk agama Islam dalam suku atau wilayah tersebut. Tidak cukup menuduh demikian, Weber memperkeras asumsinya tentang peperangan Muhammad ini. Weber berpendapat bahwa komitmen pada harta rampasan perang benar-benar dapat diterima sebagai ‘kesdaran nabi yang paling jelas dan nyata’ bahwa Islam menyandarkan pada kepentingankepentingan material untuk klan-klan tentara militer. Sesungguhnya, Al Qur’an dan catatan-catatan biografi awal

menunjukkan bahwa nabi Muhammad dan para sahabatnya menlestarikan permusuhan permanent dengan para oportunis yang komitmennya pada Islam itu palsu. Contohnya, ada kutukan yang keras dan efektif terhadap orang-orang munafik. Sampai-sampai karena itu, Al Qur’an menyediakan satu surat khusus dalam Al Qur’an tentang keberadaan orang munafik beserta segala sesuatu yang akan menjadi balasan atas apa yang dilakukan. Al Qur’an sendiri telah melakukan pembagian secara terperinci mengenai pengertian orang muslim yang beriman (mukmin), orang yang menolak Islam dengan keras (kafir) dan orang yang mengaku muslim tetapi sesungguhnya dalam hatinya menolak Islam (munafik), mereka memeluk Islam untuk tujuan-tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi jangka pendek dan dari sinilah sesungguhnya orang-orang munafik masih tetap bersikap oportunis. Weber dalam hal ini terjebak dalam menafsirkan, dia meng-gebrah uyah-kan (menggeneralisasikan) bahwa setiap orang muslim adalah oportunis, dengan hanya melihat kejadian yang terjadi pada diri orang munafik. Padahal,

105

dapat dikatakan bahwa orang-orang oportunis hanya dapat dijumpai pada orangorang kafir dan orang-orang munafik. Disinilah kemudian Weber kehilangan kembali nilai objektif dalam kajiannya. Muhammad olehnya digambarkan sebagai panglima perang yang gagah berani, dengan pedang yang diasah tajam, kuda yang kuat, dan kekuatan militer yang telah terlatih untuk berperang dalam medan-medan berat sekalipun dan seterusnya. Klaim-klaim kejelekan terhadap Islam muncul menjamur dengan manisnya. Dan tentunya, Weber tidak sendirian dalam menolak gagasan-gagasan Islam secara serius dan objektif. Dalam biografi Muhammad yang ditulis oleh Maxime Rodinson berusaha memperjelas muatan agama Islam awal menurut pengertian Marxis dan Freudian. Beberapa biografi nabi Muhammad lainnya yang ditulis oleh orang Eropa menyebutkan bahwa Muhammad secara psikologis normal tetapi dia tidak jujur ketika menyampaikan pesan dari Allah. Ada manipulasi data yang dilakukan oleh Muhammad, data yang seharusnya disampaikan dengan X misalnya, oleh Muhammad disampaikan pada kaumnya dengan Y yang esensi dari keduanya sangat dikotomik. Atau bahwa Muhammad itu tidak waras yang mempercayai kebenaran kebenaran dari misi kenabiannya. Rodinson ingin menyelamatkan Muhammad dari tuduhan sebagai orang gila dan munafik. Tapi, pada awal kajiannya, Rodinson mengakui bahwa dia adalah seorang ateis dan ateisme ini menimbulkan problem tertentu dari penafsirannya.

106

Karena Rodinson adalah seorang ateis, maka harus dipahami bahwa dia telah meyakini bahwa Muhammad adalah orang yang jujur dan benar, tetapi karena ateisnya itu, jelas Rodinson akan beranggapan bahwa Al Qur’an adalah palsu, apa yang tertulis dalam Al Qur’an merupakan karangan semata. Pada titik ini kemudian kajian Rodinson mengenai biografi Muhammad bertemu dengan hal-hal yang antagonis antara data yang satu dengan data yang lainnya. Pesan yang ada dalam Al Qur’an ditemukan dalam kondisi psikologi Muhammad sedang mengalami ketidaksadaran. Qur’an yang diciptakan oleh Muhammad merupakan foto copy yang diperbaharui oleh Muhammad dari kitab-kitab suci yang turun sebelumnya dari agama Yahudi atau Nasrani. Isi Al Qur’an tidak jauh berbeda dengan kitab suci agama-agama tersebut. Secara lengkap Rodinson mengatakan, Sulit dipahami bahwa, dalam kata-kata yang datang kepadanya elemen-elemen dari pengalaman aktualnya, kesanggupan pikiran-pikirannya, mimpi-mimpinya dan meditasi-meditasinya, serta semua memori dari penjelasan bahwa dia telah mendengar bisa dimunculkan kembali, dipotong, diubah dan dibentuk dengan penampakan realitas yang langsung... Walaupun Rodinson menyatakan bahwa Muhammad itu normal, tetapi Rodinson mengakhiri komentarnya dengan pandangan bahwa Muhammad itu salah. Qur’an bukan pesan illahi, ia adalah produk dari penciptaan kembali ketidaksadaran Muhammad tentang pengalaman-pengalaman dan pengetahuan masa lalu yang secara salah dicocok-cocokkan oleh Nabi Muhammad.

107

Kritik Agama Marx Untuk memahamai pemikiran Karl Marx terhadap agama yang dianggapnya candu untuk masyarakat perlu penalaran untuk memahami terlebih dahulu kerangka berpikir penulis Das Kapital ini serta kondisi sosialnya. Seperti telah diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat bahwa candu adalah obat yang memabukkan dimana intensitas kesadaran berpikir orang diminimalisir seminimal mungkin sehingga orang akan lupa diri, terbuai dengan mimpi-mimpi dan semakin menjauh dari kenyataan yang ada dalam hidupnya. Candu dapat membebaskan orang dari segala penat yang sedang dialaminya, terbebas dari tekanan hidup yang menghimpitnya untuk sementara waktu, candu tidak dapat menghilangan semua kepenatan dan tekanan hidup. Candu bukan solusi untuk memecahkan masalah, juga bukan alternative lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan setiap persoalan, bahkan candu dapat menjadi akar dari persoalan yang akan muncul selanjutnya sebagai turunan dari masalah yang sedang dihadapinya. Intinya, bahwa candu merupakan sarana pelarian orang yang sedang bermasalah, namun sama sekali tidak mampu menyelesaikan masalah itu. Sedangkan agama adalah merupakan sistematisasi kepercayaan atau dalam bahasa yang lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa agama merupakan instutusi kepercayaan, keyakinan manusia akan hal yang transcendental, dimana didalam agama itu terdapat dogma, ajaran, hukum dan seagala macam olah kesalehan. Agama menjadi sandaran psikologi dan sandaran spiritualitas

108

manusia, karena pada dasarnya manusia membutuhkan sandaran spiritual untuk memenuhi kebutuhan rohani yang tidak tampak. Dikatakan agama itu candu oleh Marx, berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di sekitar Marx, baik pada saat masih tinggal di Trier Jerman ataupun telah mengungsi ke Paris, Inggris dan kota besar lainnya. Dimana disana banyak terjadi penindasan, kesewenang-wenangan, intimidasi dan penguasaan sector public pada individu lainnya. Tindakan semacam ini yang dialami oleh masyarakat, kemudian masyarakat lari kepada agama yang oleh mereka dianggap mampu memberikan solusi atas pembodohan dan pemelaratan semacam ini. Ternyata, dalam bacaan Marx, agama yang diharapkan mampu memberikan alternative pemecahan masalah semacam ini berbanding terbalik dengan yang diharapkan oleh masyarkat. Agama hanya mampu memberikan ‘resep-resep’ terhadap penyakit ini. Resep yang berupa keharusan menerima perlakuan semacam itu dengan sabar dan tabah sebagai ujian dari Tuhan. Ketika orang sedang menghadap tuhannya sebagai bentuk ritual wajib atas klaim keagamaannya itu, orang tersebut akan mengalami kebebasan masalah, ketenangan jiwa, ketenangan bathin, sehingga seolah-olah orang tersebut terbebas dari masalah yang sedang menghimpitnya. Masalah yang sedang dihadapi terlihat seolah terlepaskan ketika orang sedang memuja tuhannya. Pada titik ini orang akan mendapatkan obat penenenang atas derita yang sedang dialaminya. Namun ketika prosesi pemujaan itu telah selesai, ketika ritual penghadapan tuhan telah usai, orang tersebut akan kembali pada lingkungan

109

riilnya yang masih terus merasakan penindasan, kesewenang-wenangan, pembodohan, pemiskinan oleh para antek kapitalis. Sikap ini juga didukung oleh dogma agama yang menyuruh untuk selalu qana’ah (nrimo ing pandhum), menerima apa adanya dari apa yang diberikan oleh Tuhan sebagai cobaan. Hal ini jelas akan membuat antek kapitalis dapat bersantai ria dalam melakukan eksplotasi terhadap kaum mustad’afin (proletariat). Dalam doktrin keagamaan yang mereka terima selalu mengajarkan untuk menerima apa yang diterima sebagai berkah apabila itu baik dan cobaan apabila itu buruk. Dalam menghadapinya harus dengan tabah dan sabar. Sehingga dari doktrin ini mereka percaya bahwa ketika melakukan perlawanan terhadap pihak yang menindas berarti mereka melakukan ‘perlawanan’ juga terhadap tuhan karena melawan apa yang digariskan oleh tuhan. Mengingat Marx bukanlah seorang teolog atau ahli agama dan keahliannya dia dalam menganalisis bidang sosiologi, Marx hanya memandang fenomena yang tampak dalam kehidupan sosial saja32. Dalam pandangannya, agama memberikan legitimasi atas munculnya kemiskinan, pemelaratan, penderitaan dan penindasan yang dialami masyarakat, karena agama tidak mampu memberikan solusi kreatif atas persoalan semacam ini. Agama hanya dapat memberikan ‘resep’ yang harus dibeli di apotek diri sendiri berupa ketabahan dan kesabaran menerima setiap cobaan yang dialaminya. Marx sangat menginginkan orang-orang semacam itu untuk ‘bertobat’ atas dosa yang dilakukannya, dia menginginkan agar mereka menyadari bahwa
32

Eusta Supono, 2007, Agama Solusi atau Ilusi, Kritik atas Kritik Agama Karl Marx, Komunitas Studi Didaktika, Jogjakarta, Hal. 38

110

manusia adalah mahluk otonom yang berwenang menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan agama atau institusi lainnya. Marx sangat meyakini ketika orang menyandarkan persoalannya pada institusi-institusi, baik itu institusi keagamaan ataupun institusi lainnya, institusi tersebut akan diperalat oleh antek kapitalis yang terus mencoba melakukan eksploitasi. Marx yakin bahwa manusia merupakan makhluk yang otonom, sehingga orang lain ataupun pihak lain tidak mungkin dapat melakukan intervensi terhadap kepentingan pribadinya secara penuh. Sehingga kemungkinan untuk dapat mengubah perlakuan, semacam perlakuan dalam agama, dapat dilakukan dengan menyadarkan posisi mereka ditengah kehidupan sosial. Artinya, bahwa kritik Marx terhadap agama dalam wilayah ini bersifat emansipatoris, untuk menciptakan tata sosial yang bebas, adil tanpa penindasan. Bidikan Marx terhadap kritik agama ini sebenarnya lebih pada pola perilaku hidup beragama yang tidak sesuai dengan logika pembebasan, yang seharunya menjadi target utama institusi agama dalam bidang humanisme. Sehingga dalam pandangannya, dia memunculkan asumsi bahwa agama turut serta dalam pembangunan kemiskinan dan pembodohan dan turut

melestarikannya. Semua perilaku hidup sosial manusia harus tunduk pada peraturan dan ajaran agama yang didalamnya termuat paham takdir (predestinasi). Dalam paham takdir ini, setiap tindakan manusia telah diatur oleh Tuhan dan manusia sama sekali tidak berwenang mencampuradukkan apa yang telah dirancang oleh Tuhan. Bagi Marx, jargon agama semacam ini merupakan persoalan yang serius dalam agama kaitannya dengan kehidupan sosial, yang

111

sadar atau tidak, agama tersebut telah meracuni masyarakat dan mengabadikan penindasan, kemiskinan dan keterasingan manusia dari dirinya sendiri, masyarakat, dan bahkan keterasingan dengan hasil-hasil produksinya sendiri. Institusi agama yang diperalat oleh kapitalis ini Marx dengan tegas menggugat keberadaannya. Agama yang terus menerus melanggengkan penindasan terhadap masayarakat serta mendukung kapitalisme melakukan pemiskinan secara structural dan cultural, maka agama harus dibubarkan, tuhan harus dibunuh. Perlakuan ‘tuhan’ terhadap manusia merupakan sebuah tindak penindasan yang tidak dapat ditolerir. ‘tuhan’ telah memaksa manusia untuk meneguk opium yang telah disediakan oleh ‘tuhan’ untuk memabukkan manusia sehingga seagala penderitaan yang dialaminya akan hilang untuk sementara

waktu, dan selanjutnya, setelah opium itu habis fungsinya untuk memabukkan maka ‘tuhan’ akan mengembalikan manusia kedalam kesengsaraan yang tidak berujung dengan bekal bahwa manusia harus tabah menghadapinya.

Dampak Islamophobia Gambaran terhadap Islam melalui wacana-wacana yang diusung oleh para ilmuwan menimbulkan bekas yang mendalam yang kemudian muncul dalam presepsi setiap orang sebagai citra diri agama Islam. Yang memang menulis Islam apa adanya, itu tidaklah menjadi persoalan, karena pada dasarnya Islam memang seperti itu, kalaupun ada penambahan, itu semata-mata hanya dikaitkan dengan fenomena sosial hari ini yang terus berkembang.

112

Tetapi akan lain ketika wacana-wacana tersebut justru berbalik menyerang Islam dan menganggap Islam sebagai agama yang paling tidak terpuji yang tidak pantas untuk dipeluk. Dampak yang mungkin akan terjadipun jelas beraneka ragam sesuai pencitraan yang memakan wacana tersebut. Wacana yang berkembang semacam itu, selain akan membuat Islam semakin terpojokkan posisinya ditengah kehidupan multi agama di dunia, juga akan berakibat fatal pada garis perjuangan Islam sendiri sebagai agama yang bercita-cita untuk memperbaiki tata sosial masyarakat secara keseluruhan. Kesalahan penafsiran terhadap agama Islam berakibat pada munculnya pandangan-pandangan yang keliru terhadap Islam, ajaran, dogma dan ritual religiusitas Islam. Berangkat dari kesalahan penafsiran itu maka turunan dari semua yang ada dalam Islam adalah sesuatu yang juga haram untuk disentuh oleh setiap kalangan karena jelas akan membahayakan bagi keselamatan bersama. Islam saja misalnya, kata Islam yang berarti keselamatan, kemudian, seperti wacana yang diusung Weber diatas, ditafsirkan sebagai agama perang, agama militer yang terus mencoba melakukan invasi ke daerah lainnya untuk mendapatkan tanah jajahan. Ini kan sudah menunjukkan ketidaksinkronan dalam memadukan dua wacana yang justru dikotomik. Study yang dilakukan dalam pengkajian Islam, dengan metode atau kerangka epistimologi apapun, selama itu bertolak dari kenyataan yang sebenarnya maka study tersebut hanya omong kosong. Sebagai contoh, dapat saja saya mengatakan bahwa Hugo Chavez adalah seorang presiden yang paling kejam dan nekat, dia berani menantang

113

Bush di tempat yang sama dengan mengatakan bahwa Bush adalah setan, iblis, anjing dan seterusnya yang dapat menjatuhkan image Bush di tengah masyarkat dunia sebagai ‘Jenderal Besar’ Polisi Dunia. Atau keberanian Mahmoud Ahmadinejad yang mengirimkan surat dakwah kepada Bush yang intinya menyuruh Bush untuk segera bertobat atas setiap tindakan yang dilakukannya. Ahmadinejad meninginkan agar Bush menarik pasukannya dari Irak, membiarkan Irak menjadi Negara otonom yang menentukan masa depannya sendiri. Dia juga menginginkan agar Bush tidak lagi bergaya sebagai ‘Jenderal Besar’ polisi dunia yang arogan, nonkooperatif, eksploitatif dan imperialis. Kedua presiden revolusioner dari Irak dan Bolivia itu satu sisi dapat dikatakan sebagai presiden yang berani dan memang tidak takut terhadap sesuatu yang paling ditakuti di seluruh dunia. Satu sisi benar demikian, tapi apakah pada sisi yang lain Mahmoud Ahmadinejad atau Hugo Chavez juga sama beraninya dan sama kejamnya ketika berhadapan dengan warga negaranya? Ketika dihadapan istri dan anak-anaknya? Apakah Ahmadinejad juga akan seberani itu dihadapan kedua orang tuanya?. Jelas ini tidak mungkin dilakukan oleh mereka, meskipun dalam beberapa tempat ada juga yang bersikap seperti ini sebagai dampak atas ‘kemanusiaan’ mereka, luapan emosional. Dalam setiap pidatonya, kalau Mahmoud Ahmadinejad selalu membuka dengan ucapan salam dan keselamatan, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, maka Hugo Chavez selalu memberanikan diri untuk membuka setiap pidato dan orasinya dengan salam pembuka, Bush Iblis, Bush Anjing dan

114

seterusnya yang jelek-jelek. Hal yang sangat kontras meskipun diantara keduanya merupakan presiden revolusioner yang ditakuti oleh Bush. Ahmadinejad bersikap lebih toleran dibandingkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Hugo Chavez. Kembali pada masalah kesalahan penafsiran terhadap Islam, baha apa yang mereka baca sebagai Islam adalah point terburuk yang dilakukan segelintir orang. Metode verstehende yang mengungkap makna subjektif setiap tindakan dari actor (pelaku) hanya digunakan untuk menyoroti subjek dari Islam yang telah ‘mengkafirkan’ diri dari Islam sebagai tokoh paling munafik. Seperti halnya kesalahan penafsiran dalam menafsirkan jihad pada pembahasan sebelumnya, kesalahan pembahasan mengenai kata Islam oleh para ‘ilmuwan’ Barat merupakan satu ciri bahwa ‘ilmuwan’ tersebut kurang begitu mendalami Islam. Islam hanya dilihat pada satu sisi, sementara sisi yang lain diabaikan. Kemudian akan sangat wajar ketika banyak ilmuwan (tanpa tanda petik diantaranya) banyak yang mengatakan bahwa seorang ilmuwan tidak boleh menolak atau menyambut segala sesuatu selama sesuatu itu belum benar-benar dimengerti sepenuhnya, baik dari esensinya maupun pandangan sosial atasnya. Secara pribadi penulis tidak pernah menyalahkan Max Weber secara pribadi dan atas tulisan-tulisannya yang kontradiktif. Hal yang mendasari bahwa Weber dalam hal ini hanya mengalami ‘kecelakaan’ dimana dia tanpa dia sadari meninggalkan metode-metode yang diciptakannya sendiri dalam setiap mengkaji masalah sosiologi (verstehende). Persoalan apakah ‘kecelakaan’ itu memang sengaja dia lakukan atau tidak itu diluar batas pengkajian dan yang jelas makna

115

subjektif dari apa yang dilakukan Weber ini hanyalah Weber yang tahu, bisa jadi Weber mengatakan demikian karena dia menginginkan Islam tidak hanya dipandang pada sisi jeleknya saja, tetapi makna sesungguhnya dalam Islam yang mengajarkan kesalehan kolektif. Namun sayangnya, catatan-catatannya tentang Islam dia tinggalkan sebelum dia sendiri mampu menyelesaikannya, dia telah mendapatkan ‘anugerah’ bagi Islam dengan kepergiannya dalam rangka menerima pahala atau sebaliknya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Anugerah bagi Islam yang dimaksudkan adalah dengan kepergiannya sang Begawan sosiologi ini maka catatan-catatannya mengenai Islam yang belum selesai ini tidak dapat diselesaikan dan tidak dipublikasikan secara lebih luas seperti halnya The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism sebagai catatan atas teologi Calvinis yang ditudingnya sebagai induk semang dari kapitalisme. Dampak yang sampai hari ini terjadi dari proses islamophobia oleh para ilmuwan ini yang paling kentara adalah ketakutan masyarakat dunia terhadap Islam. Dimana Islam dianggap sebagai agama yang paling tidak manusiawi, nabinya mengajarkan bagaimana berperang dan kewajiban berperang atas semua umatnya, nabinya menyuruh untuk selalu merebut wilayah Negara lain untuk dijadikan tanah jajahan. Nabinya juga menyuruh bagaimana memberikan intimidasi yang tepat kepada semua orang. Hal ini juga ada kaitannya dengan banyaknya tindakan-tindakan anarkis yang dilakukan oleh tokoh Islam garis keras (Islam fundamental) yang selalu menafsirkan jihad sebagai peperangan menghancurkan kekuaan lawan yang

116

mencoba menghancurkan Islam dan semua ajaran yang ada didalam Islam. Membunuh setiap orang yang memiliki pandangan yang berbeda, mereka selalu menganggap orang yang berbeda paham dengan mereka adalah orang kafir yang dimana darah, jiwa dan hartanya halal untuk diambil. Maraknya aksi terorisme yang berbaju agama seperti ini semakin memperkeruh posisi Islam di mata peradaban dunia. Islam yang pada dasarnya adalah agama perdamaian sebagai mana namanya, oleh para penganutnya kemudian diselewengkan menjadi agama yang keras dan radikal. Sungguh fenomena yang luar biasa, dimana kekuatan dalam Islam sendiri justru menggerogoti Islam secara sistematis. Dampak lainnya adalah, sebagai turunan atas ketakutan public terhadap Islam adalah semakin tertutupnya pintu dakwah untuk menyebarkan agama serta memperbaiki pemahaman public atas Islam.

117

KONSTELASI GEO SOSIO POLITIK DAN GEOGRAFI SOSIO RELIGIUS NASIONAL

Konstelasi geo politik, diakui atau tidak, erat kaitannya dengan geografi sosio-religius local. Ada semacam pola umum (Weltanschauungs) yang melingkupi wilayah sosio religius secara global dan pengaruhnya mengakar hingga tatanan sosial terrendah sekalipun. Tatanan global ini yang kemudian menjadi satu kesepahaman bersama sebagai satu ideology internasional yang menjadi tolok ukur. Artinya, dalam tatanan ini menciptakan suatu arah bersama secara perlahan menuju satu titik dengan jalan yang berbeda-beda. Berbagai bidang kehidupan mengikuti alur ini sebagai tolok ukur dan standar kompetensi. Ini menarik untuk di perhatikan, bahwa dari berbagai ideology yang berlaku dalam wilayah internasional kemudian mengakar dan mematahkan ideology lainnya yang berkembang sebagai antitesisnya. Dunia dalam masa postmodernisme ini, menurut Asghar Ali Enginer33, berbagai system kepercayaan diuji secara kritis dalam wilayah yang sangat luas. Tak ada system pemikiran atau kepercayaan yang saat ini tidak terbuka untuk diuji. Dari sini memberikan gambaran bahwa adanya persaingan masingmasing ideology untuk bersaing dalam ‘ujian’ untuk membuktikan bahwa ideology tertentu mampu menembus batas dan pantas untuk mendominasi tata
33

Asghar Ali Enginer, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim FORSTUSIDA, Pustaka Pelajar, Jogjakarta, Hal. 3

118

sosio antropologis masyarakat global. Persaingan ini menimbulkan semacam diskriminasi bahkan eliminasi terhadap ideology lainnya yang menjadi lawan dari ideology tersebut. Gambaran globalnya kurang lebih demikian. Terjemahannya, dalam konstelasi geopolitik ini, yang pada perang dingin berlaku system bipolar, dua ideology besar yang menghegemoni masyarakat internasional, yakni Kapitalisme yang direpresentasikan oleh negara Amerika Serikat dan sekutunya serta Komunisme yang menjadi tatanan sosio-politik hasil dari revolusi Bolsheviks di Rusia dibawah pimpinan Vladimir Illich Lenin. Namun realitas ini kemudian terbalik pasca perang dingin, dengan ditandai terpecahnya Uni Soviet, banyak system yang berlaku secara global, atau istilah tepatnya multipolar. Masing-masing ideology ini kemudian mencoba membangun pengaruh di dunia internasional serta bersaing dengan ideology lain yang menjadi lawannya. Kurang lebih demikian deskripsi global kontelasi politik global hari ini. Tentang sejauh mana konstelasi geopolitik mampu mempengaruhi tatanan sosio religius di Indonesia, secara lebih detail akan mendapatkan tempat tersendiri nantinya.

A. Definisi dan Gambaran Global. Menelusuri akar epistemology kontelasi geo politik untuk mendapatkan satu tafsiran yang jelas sehingga memberikan pemahaman yang lebih mendetail, serta, dan tentunya, mampu menjadi satu pandangan global. Perlu kiranya kajian

119

epistemology di-kaji secara lebih kritis. Termasuk di dalamnya tentang akar aksiologinya. Dalam kajian bahasa, kata geo berarti bumi, tanah dan seterusnya, sedangkan politik adalah satu strategi, cara, metode dan hal lainnya yang terkait dengan itu. Geopolitik adalah tatanan politik internasional, demikian secara sederhana kira-kira. Sedangkan sosio berasal dari kata sosial, yang berarti tatanan masyarakat dan hal yang melingkupinya. Religius, berasal dari kata religio, bahasa Yunani, yang kemudian di pingit dalam tata bahasa Inggris menjadi Religious yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan. Sedangkan secara terminology, geopolitik berarti suatu tatanan politik yang bersifat mendunia dan menjadi system yang berlaku secara internasional. Berlakunya system ini, baik secara resmi ataupun datang dengan sendirinya dalam kehidupan sosial atau bidang lainnya. Sosio religious ditinjau dari sisi terminology berarti tatanan masyarakat yang agamis, atau pendek kata dapat berarti tata masyarakat yang beragama. Atau tatanan masyarakat yang terbentuk dengan pandangan yang sama tentang agama. Selanjutnya istilah ideology, istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Destut De Tracy34 (1796) ketika Prancis sedang mengalami proses

transformasinya dibawa system politik republiken. De Tracy memberikan pengertian bahwa ideology adalah suatu system pengetahuan tentang ide, yang menjelaskan konsep-konsep praktis di dalam ilmu pengetahuan tentang segala
34

PC PMII Purworejo, Makalah ini disajikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Cabang Pureworejo 19-23 Desember 2006.

120

yang ada. Dalam pengertian ini, ideology bersifat positif dan lagi oleh konseptor awalnya, ideology hendak dijadikan dasar moralitas bagi ilmu politik yang berkutat dalam pembentukan kebijakan-kebijakan publik.

B. Realitas Konstelasi Geopolitik Hari Ini. Sebelum membicarkan posisi dan peran stategis Inonesia dalam kontalasi politik internasional, terlebih dahulu perlu dibicarkaan bentuk dari system internasional itu sendiri serta gerakannya dan sejarah pemikirannya. Dalam sejarah perkembangan Negara bangsa Indonesia dari dulu tidak dapat dengan begitu saja terlepaskan dari konstelasi geopolitik, Indonesia mempunyai peran strategis dalam wilayah perpolitikan global sejak awal berdirinya. Dari bukti-bukti sejarah yang ada, Indonesia banyak disusupi wacanawacana dan system perpolitikan global yang terkadang berwatak imperalis dan kapitalis. Satu hal yang sungguh menjadi problem terbesar bagi bangsa.35 Terkadang bangsa Indonesia terlalu bangga ketika harus menelan wacana-wacana ideology yang datang dari Barat, sampai-sampai terkadang, baik Negara ataupun rakyatnya, tidak menyadari bahwa Indonesia telah masuk dalam kungkungan hegemoni yang dilakukan Barat. Sebagai dampaknya, Indonesia tidak hanya masuk dalam lingkungan hegemoni Barat akan tetapi secara tidak sadar kemudian masuk dalam wilayah imperialisme dunia yang sangat hegemonic. Menjadi bagian dari objek imperialisme yang dilakukan oleh Barat.

35

Hasyim Wahid dkk, 1999, Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, LKiS, Jogjakarta, Hal. 3

121

Dampak turunannnya, Indonesia selalu dikendalikan oleh Negaranegara Barat dalam wilayah sosial, ekonomi, kebudayaan, politik, ideology dan sebagainya. Tidak ada kemandirian dalam wilayah itu, karena segala sesuatu terkait dengan hal tersebut diatas telah disetting sedemikian rupa untuk selanjutnya menjadi bagian pendukung kelestarian budaya imperialisme dan neoimperialisme Barat terhadap Negara dunia ketiga. Telikungan imperalisme hegemonic ini yang kemudian menelusupkan akar serabutnya kesetiap Negaranegara yang baru berkembang dengan kemasan yang sangat apik berupa kapitalisme global. Kapitalisme dalam sejarah perkembangannya di nusantara selalu saja mendominasi sebagai watak ideology terbesar. Berbagai bidang kehidupan tidak terlepas dari kungkungan kapitalisme global dari dulu hingga sekarang. Sebagai imbas dari semua itu, banyak kemudian kebudayaan local yang di banggakan oleh Indonesia sebagi produk local yang mendunia secara perlahan-lahan mulai terseret pada jurang kehancuran dan lambat laun semakin hilang terkikis oleh kemasan kapitalisme dalam bentuk budaya popular (popular culture). Program utama budaya popular adalah menghapuskan ‘negara’ dalam artian yang lain, yakni menghilangkan batas geografis tiap Negara dengan menyeragamkan kebudayaannya. Setiap kebudayaan dalam setiap Negara tolok ukurnya sama, yakni budaya popular itu sendiri. Untuk kemudian, setelah semua Negara memiliki kebudayaan yang sama, sebagai efek samping atas merebaknya budaya popular itu adalah hilangnya kearifan local dan tradisi local yang ada disetiap Negara.

122

Sebagai contoh sederhana misalnya, hari ini orang akan cenderung lebih menyukai menonton televisi dengan berbagai kemasan acaranya seperti musik dan lainnya dibandingkan harus menonton wayang kulit atau lenggeran semalam suntuk yang diadakan oleh masyarakat sendiri. Atau lainnya misalnya, balet dan sexy dance lebih popular dikalangan masyarakat dibandingkan dengan jaipongan atau tarian daerah yang mengandung unsure seni lebih dalam. Penguasaan sector budaya ini agaknya menjadi penyakit yang paling menyakitkan. Apa yang kita miliki sebelumnya sebagai kebudayaan yang lebih tinggi disbanding kebudayaan lainnya pada awal berdirinya, dengan serta merta hilang begitu saja tergilas oleh kemasan budaya kapitalisme yang cenderung mengeksploitasi dan menelanjangi kebudayaan kita. Belum lagi penguasaan kapitalisme di bidang politik yang mencolok terlihat jelas. Dari sejak berdaulatnya Indonesia sebagai Negara bangsa (nation state) telah banyak kejadian sejarah dalam bidang politik yang dicampurtangani, direkayasa bahkan dibuat sedemikan rupa oleh kapitalisme. Dan kadang kita tidak menyadari hal itu, anggapan kita itu hanya merupakan benturan politis antar tokoh di Negara kita. Sebut saja misalnya tragedy berdarah G30S/PKI yang penuh trik intrik oleh tokoh nasional yang disetting oleh kapitalisme, runtuhnya orde lama yang di pimpin Soekarno dan naiknya rezim orde Baru Soeharto, sampai kejadian turunnya Soeharto sebagai jenderal Besar penguasa Orde Baru. Artinya, dari sini dapat diketahui bahwa konstelasi politik nasional berkibar dibawah bendera kapitalisme global. Untuk mengenal lebih dalam sejauh mana pengaruh yang masuk ke Indonesia sebagai dampak percaturan dari

123

geopolitik, mungkin akan lebih baik ketika mengkaji terlebih dahulu sepak terjang benturan antar ideology politik sejak zaman dahulu hingga sekarang. Di mulai dari Perang Dunia II yang membagi kekuatan dunia menjadi dua blok, antara blok Barat dengan Amerika Serikat dan Inggris sebagai representasinya, dan blok Timur yang di jendrali oleh Uni Soviet. Pembagian ini didasarkan atas ambisi keduanya untuk menguasai dunia sebagai kekuatan hegemonic yang terbesar sehingga akses sosial politik berada dibawah control salah satu diantara keduanya. Perang Dunia II selain perang terbuka antara dua kekuatan terbesar di dunia ini, ada juga perang dingin sebagai titik akhir dari bentuk perang terbuka. Kedua kekuatan ini tidak pernah terlihat perang dalam satu medan. Tetapi di balik perang-perang kecil dalam beberapa negara di dunia, peran dari kedua kekuatan ini tidak bisa dihindari. Kasus terpecahnya korea, antara Korea Utara yang beraliran ala Uni Soviet dan Korea Selatan yang ideologinya sama dengan apa yang dianut oleh orang Barat. Perang Vietnam juga sama halnya, dan perangperang besar lainnya seperti kasus di buatnya Tembok Berlin di Jerman untuk membagi Jerman Timur dan Jerman Barat. Dua kekuatan ini selain bersaing dalam perang, juga ada kompetisi ideology yang mendasari terjadinya perang. Amerika Serikat dengan ideology kapitalisme-nya mencoba menjadi satu kekuatan terbesar yang menghegemoni dunia. Demikian juga Uni Soviet dengan ajaran komunisme-nya. Kalau kapitalisme sudah membudaya saat itu dan menjadi tatanan dunia baru di Barat, maka komunisme yang di gagas Karl Marx dan Friedrich Engels dalam Das

124

Kapital datang sebagai pembanding yang hendak meruntuhkan tradisi kapitalisme yang cenderung eksploitatif dan imperialis. Dari sini menarik apa yang dikaji oleh Anthony Giddens dalam bukunya The Third Ways, dari adanya dua kekuatan besar yang mencoba mendapatkan posisi dalam kancah perpolitikan dunia. Anthony Giddens36 dalam pemikirannya perlu ada satu jalan lain yang harus ditempuh oleh negara-negara yang tidak terlibat dalam dua kekuatan ini. Jalan Ketiga yang di gagas oleh Giddens sebagai langkah yang solutif bagi negara-negara lain yang tidak ingin melibatkan dirinya, termasuk Indonesia dengan politik luar negeri bebas aktifnya. Terlepas dari apakah Giddens menulis The Third Ways untuk kepentingan seperti ini atau tidak, yang jelas karena ternyata apa yang digagas oleh Giddens tepat ketika diaplikasikan dalam fenomena politik semacam ini, maka kita gunakan saja sebagai sebuah alternative yang solutif. Sebenarnya langkah yang diambil oleh Anthony Giddens ini telah dirumuskan oleh Soekarno dan sahabatnya dalam bentuk pendeklarasian Gerakan Non Blok (GNB) yang mencoba melepaskan dunia ketiga dari pengaruh dua ideology besar ini. Dalam organisasi Gerakan Non Blok ini, Soekarno dan kawan-kawan dari Negara dunia ketiga lainnya kemudian menggagas pola baru perlawanan yang diserangkan untuk kedua blok dominant tersebut. Dapat dikatakan pada era Soekarno ini, peta politik dunia dibagi menjadi tiga kekuatan, yakni Blok Barat, Blok Timur dan gerakan Non Blok. Setelah perang terbuka antara dua kekuatan besar ini, muncullah konsep perang baru yang disebut sebagai perang dingin. Yakni perang dengan tidak
36

Anthony Giddens, 2000, The Third Ways, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 5

125

menggunakan senjata. Perang dingin lebih didominasi dari persaingan intelektual dan perlombaan pembuatan senjata. Perang dingin ini membuat negara-negara yang tidak tergabung dengan dua kekuatan ini menjadi takut, apalagi dengan persaingan senjata nuklir yang dalam skala besar. Dalam hal ini, Francis Fukuyama sebagai pengamat konstelasi geo politik dalam bukunya The End of History ‘memberikan ramalan’ bahwa setelah runtuhnya perang dingin ditandai dengan satu diantara dua kekuatan yang mendominasi maka akan muncul satu kekuatan besar yang menghegemoni dunia (unipolar). Amerika Serikat, sebagai pihak yang diunggulkan dalam tesis Fukuyama ini akan menjadi kekuatan terbesar yang pada nantinya akan menguasai dunia. Yang perlu digaris bawahi dalam ‘ramalan’ Francis Fukuyama ini adalah, menurutnya Amerika Serikat sebagai pihak yang menang akan menjadi satu-satunya kekuatan yang menjadi penguasa dunia. Namun ternyata apa yang diramalkan oleh Francis Fukuyama ini bertolak belakang dari realitas yang terjadi sebenarnya. Setelah Amerika Serikat memenangkan perang dingin ditandai dengan runtuhnya negara Uni Soviet. Ternyata Amerika Serikat tidak menjadi satu-satunya kekuatan yang mampu menghegemoni dunia. Samuel P. Huntington dalam tesis terbesarnya The Clash Of Civilization, and the Remaking New Order, mendeskripsikan secara rinci, termasuk kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi dalam konstelasi politik global yang sedang berlangsung ini.

126

Di awali dari runtuhnya Uni Soviet, maka secara resmi Amerika Serikat memenangkan Perang yang selama berpuluh-puluh tahun berlangsung. Setelah perang fisik semacam ini, kata Huntington37, dalam jangka waktu kedepan tidak terlalu mendominasi perang seperti perang dingin, perang yang akan terjadi adalah perang antar peradaban, bukan lagi perang antar negara dan seterusnya. Setelah perang dingin berakhir politik internasional telah mengalami beberapa perubahan besar yang cukup mendasar. Perubahan yang paling mencolok adalah berubahnya system internasional bipolar menjadi suat system yang multipolar. Semula perang dingin kerangka politik internasional dibentuk oleh dua negara adi daya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang saling bertentangan. Konflik antara dua negara adidaya ini berskala global karena baik AS maupun US berusaha menarik negara-negara lain sebagai sekutu atau simpatisannya, atau setidaknya mencegah agar suata negara tidak masuk dalam lingkungan pengaruh pihak lawan. Konflik regional antara negara tetangga dan konflik nasional antara berbgai kelompok kepentingan, tidak jarnag ikut terseret dalam pertarungan antara kedua adi daya tersebut. Dengan runtuhnya Uni Soviet, system politik bipolar yang telah hadir sejak berakhirnya perang dunia II juga telah menjadi sejarah. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adi daya sehingga sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa politik internasional akan menjadi unipolar dibawah suata Pax-Americana. Pada kenyataannya baik keinginan maupun kemampuan AS
37

Samuel P. Huntington, 2001, The Clash of Civilization, and the Remaking New Order, Mitra Pustaka, Jogjakarta, hal. 8

127

untuk menjadi pemimpin tunggal dunia juga semakin memudar. Robohnya Uni Soviet merupakan kemenangan bagi system politik AS. Namun kenyataannya, AS juga harus membayar sangat mahal untuk dapat tampil unggul dalam perang dingin. Selama bertahun-tahun AS di bawah Partai Republik sangat kurang memperhatikan masalah-masalah ekonomi dan sosial dalam negeri, sehingga masyarakat AS mengalami kemunduran yang cukup tajam dalam bidangini. Berakhirnya perang dingindilihat oleh masyarakat dan pemerintah AS yang baru sebagai kesempatan untuk mengatasi masalah-masalah di dalam negeri, sedangkan maslah internasional kurang mendapat perhatian yang serius.38 Inilah kecerobohan dan kekurangcermatan AS, dimana ketika setelah memenangkan perang dingin, AS yang berobsesi menjadi penguasa dunia malah berpaling dan berkonsentrasi mengurusi urusan dalam negeri di tengah kejayaannya. Akibatnya, AS secara tidak langsung memberikan kesempatan kepada negara lain untuk membangun kekuatan dan peradaban yang tidak sepaham dengan AS, sehingga obsesi AS untuk menjadi satu-satunya penguasa dunia mengalami gangguan. Huntington menganalisis factor eksternal dari tubuh AS dengan munculnya kekuatan yang multipolar di tengah konstelasi geopolitik hari ini. Setelah runtuhnya Uni Soviet, negara-negara bekas Uni Sovet yang pada awalnya berhaluan Islam kembali ke rumah lama. Negara-negara seperti Aljazair, Turkmenistan, Uzbekistan, Afghanistan dan sebagainya kembali pada Islam.
38

M. Dawam Raharjo, e.d, 1997, Reformasi Politik: Dinamika Politik Nasional dalam Arus Politik Global, PT. Intermasa, Jakarta, hal. 34

128

Dari berpuluh-puluh kekuatan dunia yang ada, Huntington kemudian membaginya secara garis besar, kekuatan pertama, Kapitalisme Amerika, kedua kekuatan China dan yang terakhir dan paling actual adalah kekuatan Islam. China yang kaya akan kebudayaan klasik, mampu menyihir dunia menjadi tercengang, bahkan hampir di setiap negara, budaya China tumbuh subur, dimana-mana Klenteng dapat berdiri, ramalan-ramalah Feng Shui laku laris di setiap pelosok dunia, produk-produk alternatif China bahkan menembus pasar internasional dan mendominasinya. Di dukung dengan letak geografis yang berpotensi untuk menjadi central pasar internasional, semakin memposisikan China, juga dengan kekuatan ekonomi, sosial budaya dan lainnya yang tidak lekang oleh zaman. Ini semua membuat Huntington menghitung China sebagai kekuatan yang akan mendominasi dunia, meskipun dengan strategi yang halus. Sementara itu, Islam, yang sampai hari ini menjadi kekuatan kiri yang paling berbahaya bagi Amerika Serikat, disamping kiri lainnya, dengan jumlah penganutnya yang makin lama makin meningkat, membuat Islam semakin di perhitungkan juga. Apalagi dengan bangkitnya kekuatan negara-negara Islam. Iran yang dipimpin oleh pemimpin ‘keras kepala’ terhadap AS, Mahmoud Ahmadinejad, membangkitkan program nuklir, serta ilmu pengetahuan modern lainnya. Bukan itu saja yang membuat Islam diperhitungkan oleh Huntington, Islam, khususnya yang ada di Timur Tengah, merupakan negara-negara penghasil minyak bumi yang besar dan potensial memenuhi kebutuhan minyak dunia. Selain minyak bumi, barang tambang lainnya Islam juga mendominasi.

129

Samuel P. Huntington sebagai seorang intelektual Amerika Serikat serta penasehat Gedung Putih telah berkiprah banyak dalam wilayah percaturan politik dunia. Selain dari buku The Clash of Civilization yang dimana dalam buku ini dia memprediksikan kondisi sosial politik masyarkat pasca perang dingin. Serta ramalan akan adanya benturan antar peradaban antara Barat yang teridi dari WASP (White Anglo-Saxon Protestant) dan Timur yang teridir dari Islam dan Confucianisme. Pada buku ini, Huntington tidak secara terbuka mengatakan bahwa Islam dan Confucianisme merupakan musuh terbesar Amerika Serikat (Barat), akan tetapi ketika buku selanjutnya diluncurkan (Who Are We?: The Challenges to America's National Identity, New York: Simon & Schuster, 2004) menyatakan dengan tegas bahwa musuh utama Amerika Serikat setelah perang dingin adalah Islam Militan. Serangannya tidak hanya Islam radikal, tetapi juga komunitas Islam yang tidak mau mengikuti Bush dianggap teroris. Bush dalam persoalan ini membaca hitam putih, melalui pernyataannya, "either you are with us or you are with the terrorists", jelas menunjukkan bahwa Bush memberikan kesempatan kepada setiap Negara dan organisasi massa lainnya yang memiliki jaringan global untuk menentukan sikap apakah akan mengikuti garis Bush atau mengikuti garis Islam. Antara kekuatan jahat (evil) dan kekuatan baik (good). Bagi Bush dan Huntington, tragedi 11 September 2001 juga telah membuka kemungkinan berubahnya parameter yang digunakan AS dalam menilai sebuah negara. Sekarang ini, AS cenderung lebih hirau pada masalah terorisme ketimbang isu demokrasi dan hak asasi manusia. Kenyataan bahwa

130

Presiden Pervez Musharraf di Pakistan dan militer Thailand di bawah Panglima Angkatan Darat Jenderal Sonthi Boonyaratglin naik ke tangga kekuasaan melalui kudeta militer tidak lagi menjadi kendala dan penghalang bagi AS untuk menjalin aliansi antiterorisme dengan kedua negara itu. Dalam persoalan ini, Huntington mendukung agar AS/Barat melakukan preemptive strike terhadap kaum militan. Nasihat Huntington memang telah dijalankan Gedung Putih dengan menyerang Irak dan Afganistan serta mengintervensi Palestina, apalagi pada 2002 doktrin preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif) telah secara resmi diumumkan. Kekuatan Islam militan di berbagai belahan bumi pun ''disikat'' oleh AS, dan yang disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usamah bin Ladin atau kelompok Al-Qaidah, melainkan mencakup juga banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS. Pandangan Huntington mempengaruhi Bush, terutama persepsi bahwa apa yang dulu dilakukan oleh komunis internasional juga dilakukan kini oleh kelompok-kelompok Islam militan, seperti aksi protes dan demonstrasi damai, dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Kalangan Islam militan juga melakukan kerja-kerja amal sosial dan kultural. Analisis terhadap Amerika hari ini dan kedepan sebenarnya merupakan satu kemenangan bagi Negara-negara berkembang karena lambat laun sekutu Amerika akan lepas dari persekutuan. Australia misalnya, yang dahulu menjadi sekutu utama, sehidup semati dengan Amerika setelah John Horward yang menjadi Perdana Menteri cukup lama di negeri Kanguru telah kalah dengan

131

kekuatan Partai Buruh dan dalam kepemimpinan Partai Buruh ini Australia akan menempatkan Amerika sama dengan hubungan bilateral dengan Negara manapun. Kerja sama bilateral yang akan lebih ditingkatkan lagi oleh Australia adalah dengan China. Australia dan China akan menguatkan basis militer, social, politik, pendidikan dan ekonomi masing-masing Negara dengan kerja sama bilateral yang lebih akrab lagi, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi sekutu. Kedua Negara ini akan terjalin intimitas hubungan yang tinggi karena Partai Buruh Australia dan Partai Komunis China memiliki korelasi yang mutualisten. Dimana ada keterkaitan secara politik dan gerakan diantara keduanya. Australia sendiri, dalam waktu dekat akan menarik tentaranya yang berada di Irak yang membantu Amerika pada perang Irak tahun 2003 lalu. Ini merupakan wujud konkrit Australia mencoba menjauh dari hubungan intim bilateral Negara dengan negeri Paman Sam. Sementara itu, Amerika dibawah pengaruh Bush yang masa jabatannya hampir habis akan kehilangan beberapa sekutu, sementara itu, senat dan parlemen Amerika telah dikuasai oleh Partai Demokrat, sehingga kemungkinan besar pasca Bush yang akan menduduki jabatan Presiden berasal dari Partai Demokrat yang kemungkinan akan lebih halus dalam hubungan internasional, tidak ambisius seperti yang dilakukan Bush terhadap Negara lain yang mengklaim diri Amerika menjadi Polisi Dunia (World Police) yang mempunyai hak menindak kasus hokum internasional dengan sanksi sekehendaknya.

132

Islam Indonesia tidak ketinggalan, dengan berbagai corak yang khas, menjadikan Islam Indonesia di tempatkan di garda depan, apalagi di dukung dengan status Indonesia sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia.

C. Geneologi Sosial Politik (Geosospol) Setiap upaya untuk mengatasi persoalan yang terjadi di Indonesia tanpa melihat keterkaitan dengan konstelasi global, niscaya akan menemukan kegagalan yang mutlak. Karena, Indonesia sebagai negara yang berdaulat, tidak bisa lepas dari konstelasi global internasional. Bahkan ada yang mengatakan sejarah bangsa Indonesia tidak lain adalah permainan dari pertarungan kepentingan sosial, politik, ekonomi dan wacana yang bermain di dunia internasional. Sedikti menengok pada masa pra kemerdekaan (1596) bangsa asingmenginjakkan kaki ke Nusantara dan menanamkan pengaruhnya. Jatuhnya kedaulatan nusantra ketangan asing ditandai sejak berdirinya VOC pada tahun 1602. kehidupan bangsa Indonesia dikendalikan oleh penjajahan bangsa asing. Pada abad ke-19 terjadi perubahan fundamental di Eropa, yaitu sejak pemikiran Ernest Renant. Tentang negara bangsa (nation state) mempengaruhi kawasan Eropa dan berdirilah berbagai Negara bangsa di Eropa. Terjadinya perubahan ini sangat berpengaruh pada negara-negara jajahan termasuk Hindia Belanda. Selain itu, pengaruh terhadap Hindia Belanda terlihat sejak keluarnya

133

kebijakan poltik etis oleh anggota parlemen Belanda yang bernama C. Th. Van Deventer. Dampak yang diperoleh penduduk pribumi sejak munculnya konsep negara bangsa dan kebijakan politik etis adalah kaum pribumi dapat memperoleh pendidikan modern ala Barat. Yang mulanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja (golongan priyayi) kaum priyayi rendahanpun dapat menikmati pendidikan tersebut, sehingga ada perubahan signifikan struktur sosial masyarakat Hindia Belanda. Pengaruh pemikiranala Barat pada masyarakat pribumi yang

mengenyam pendidikan ala Barat ini akhirnya munculnya semangat nasionalisme dan berdirinya organisasi-organisasi kepemudaan dan kemasyarkatan (meskipun masih bersifat island people), seperti Boedi Oetomo (1908), Jong Sumatea, Jong Islament Bond, Jong Cilebes, SI, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ditengah suasana konstelasi politik global yang tidak menentu. Akhirnya bangsa Indonesia mengkonstruksikan faham kebangsaan yang utuh dan lahirlah Sumpah Pemuda (1928) yang kemudian memunculkan wacana Negara Bangsa Indonesia. Sementara itu, antara berbagai negara imperialis semakin menajam dan mencapai puncaknya pada Perang Dunia II (1939). Indonesia menjadi rebutan negara-negara yang sedang bertikaian untuk menjadikan pangkalan dan mempertahankan kepentingan geopolitik dan geo strategi masingmasing pihak. Ditengah suasana perang asifik yang memanas dijadikan moment, oleh para aktivis gerakan, untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

134

Dari sedikit penelusuran akar histories bangsa, terkait dengan posisi Indonesia dalam konstelasi geopolitik sebelum kemerdekaan Indonesia. Ada satu hal yang perlu di garis bawahi bahwa keberadaan Indonesia dalam konstelasi geopolitik tidak bisa terlepas begitu saja dari geo strategi oleh pihak-pihak global yang mendominasi, artinya ada pengaruh-pengaruh dari dunia internasional dalam wilayah sosio antropologis politis di Indonesia. Setidaknya ada empat pengaruh global yang mewarnai dinamika sosio antropologis politis di Indonesia, yakni, Indianisasi, Chinaisasi, Eropanisasi dan Islamisasi. Adanya pengaruh India di Indonesia tidak bisa dilepas begitu saja, warna bernuansa India telah mengakar kuat di Indonesia, hal ini tidak terlepas dari pernah berjayanya agama Hindu dalam sejarah keagamaan nasioal. Agama Hindu yang menjadi agama mayoritas di India, telah berkembang pesat di Indonesia. Dan yang paling dapat dilihat secara eksplisit adalah adanya kebudayaan India yang justru berkembang pesat di Indonesia, khususnya Jawa, yakni seni patung, seni Candi, seni pewayangan, seni memahat dan alat-alat musik yang bernuansa India lainnya. Ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji. Selain itu, ada satu hal yang kurang popular dalam sejarah nasional, tetapi toh tetap membuat pengaruh India di Indonesia terlihat lebih jelas juga. Pemberontakan kaum Sepoy di Jawa Tengah tahun 1815. pada tahun 1945 ketika orang Inggris mendarat di Surabaya yang membawa kontingen-kontingen IndiaBengali, setelah merebut Yogyakarta, ternyata Kapten Subandar atau Dhukul Singh terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahmana dan Sunan adalah keturunan Rama.

135

Namun dari semua itu, yang paling membuat pengaruh India di Indonesia terenal hingga dataran global adalah peneliti-peneliti Eropa sebelum abad ke-19 yang melakukan penelitian di Indonesia seperti Raffles yang mengangkat Indianisasi di Indonesia sebagai topik yang paling ia gemari. Hal ini dia tunjukkandengan mengaitkan Jawa dengan kemaharajaan India Inggris. Misalnya, dalam buku The History of Java, disini ia tampilkan gambar-gambar patung yang bernuansa Hindu India dengan berbagai coraknya. China datang ke Indonesia kurang lebih pada abad ke-13/14. Namun yang penting dri terjadinya perpaduan antar kedua kerajaan itu adalah masa dinasti Ming (China) dengan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa. Masuknya masyrakat China ke Indonesia, berdasarkan bukti sejarah, ditandai dengan ditemukannya makam putri Campa (tertulis 1370). Putri Campa dalam sejarah nasional adalah saudara raja Pandita dan Raden Rahmat. Keduanya aalah anak dari keturunan Arab, yang telah mempersuntung gadis setempat. Putri Campa adalah muslim termasyhur yang datang untuk menikah dengan seorang pangeran Majapahit. Adapun ia dimakamkan di Trowulan pada tahun 1448. Versi lain sejarah, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah berasal dari dataran China yang mengungsi secara berangsur-angsur ke wilayah selatan yang lebih subur untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pendapat ini diperkuat dengan masyarkat Indonesia pada umumnya termasuk ras Mongoloid dengan ciri-ciri bertubuh pendek, warna kulit sawo matang, mata sipit dan memiliki rambut berwarna hitam pekat.

136

Terlepas dari semua itu, yang menjadi persoalan adalah, adanya pengaruh kebudayaan China di Nusantara. Banyak sudah hal-hal yang berbau China di Indonesia, mulai dari menjamurnya Barongsai, pakaian muslim (Baju Koko) yang mengambil corak pakaian adat China (di populerkan oleh Laksamana Cheng Ho), hingga pada diresmikannya agama Konghucu oleh Presiden Abdurrahman Wahid sebagai agama yang sah di Indonesia. Demikian halnya dengan budaya Indonesia yang terpengaruh warna China seperti tata budaya masyarkat, Indonesia merupakan lahan yang subur untuk perkembangan budaya China sampai hari ini, ditandai dengan maraknya peringatan-peringatan seperti tahun baru Imlek, kiriman Angpao, klentengklenteng, lampion, hingga pada makanan khas China yang berkembang dan berproduksi sampai-sampai orang Indonesia mengatakan bahwa itu merupakan produk local. Orang Eropa yang pertama kali menginjakkan kaki ke nusantara adalah Marcopolo. Pelaut tangguh ini memberi nama untuk pulau Jawa sebagai Java Mayor dan Sumatera sebagai Java Minor. Pengaruh Eropa dalam tata masyarakat Indonesia terlihat sangat jelas, apalagi ketika menilik pada negara kita yang berabad-abad mengenyam imperialisme dan kolonialisme dari negara-negara Barat. Negara Barat yang pengaruhnya paling mencokol adalah negara Belanda, hal ini disebabkan negara Belanda selama kurang lebih 3,5 abad menjajah negeri kita ini. Dimulai dari arsitektur bangunan model Barat yang kemudian banyak ditiru untuk model bangunan modern saat ini. Dengan tiang yang besar, dinding

137

yang tebal, pintu tinggi lebar, serta banyak gambar-gambar bernuansa seni pada kaca-kaca jendela dan seterusnya. Warisan kolonial lainnya adalah undang-undang dan system

bermasyarakat yang berlaku di negara kita. Undang-undang banyak sekali yang sampai hari ini merupakan turunan dari warisan zaman londho. Sementara system feodalisme, kapitalisme dan exploitation de I’home par I’home masih mengakar di tengah masyarkat kita sampai hari ini. Pengaruh-pengaruh Eropa, selain berupa peninggalan fisik diatas, ada satu hal yang penting, yakni ideology dan dasar pemikiran. Dimana banyak sekali intelektualis Indonesia yang berkiblat pada kebudayaan Barat. Katakanlah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan kawan-kawannya yang menempuh pendidikan di Belanda. Atau Presiden Soekarno, Tan Malaka, H. Agoes Salim, HOS Tjokroaminoto, Sukarni dan tokoh nasional lainnya yang melakukan peletakan dasar negara Indonesia, dan tentunya suasana Belanda masih sangat kental terasa. Mereka itulah yang menggunakan kendaraan pendidikan ala Eropa. Islam masuk ke Indonesia memberikan corak masyarkat yang paling menonjol, dimana disini Islam mencoba mengubah tata sosial yang sebelumnya telah mapan dan kemudian di kemas ulang dalam tatanan yang lebih menarik. Di Indonesia ada dua versi masuknya Islam, pertama dimulai dari perjalanan It Sing dari China yang dalam catatannya menulis bertemu dengan seorang yang sedang melakukan gerakan-gerkan aneh serta bacaan-bacaan aneh pula, orang ini berperawakan Arab, serta menggunakan pakaian mirip orang-orang Arab. It Sing memulai perjalanannya ini sekitar abad ke tujuh masehi.

138

Namun catatan sejarah lebih menyepakati versi yang kedua yakni dengan bukti ditemukannya makam Fatiman binti Maimun yang bertuliskan sekitar abad kesebelas masehi. Disini kemudian mengakar pada berdirinya kerajaan Samudera Pasai di Aceh dan Kerajaan Demak Bintoro, dan kerajaan Banten di Jawa yang bercorak kepemimpinan Islam. Disusul kemudian munculnya Mataram Islam, Gowa, Talo dan seterusnya. Pengaruhnya berupa banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang bercorak Islam seperti Masjid Agung Demak, Menara Masjid Kudus, makammakam Sunan yang tergabung dalam Walisongo, pesantren-pesantren klasik, kebudayaan dan kesenian masyarakat, lagu-lagu (tembang) yang bernuansa religi, dan sebagainya. Ini dapat dimaklumi bersama mengingat perkembangan Islam di Indonesia termasuk dalam kategor cepat dan besar di dunia.

D. Islam Indonesia Sejarah masyarakat Indonesia, sebelum sampai jauh memperbincangkan fenomena Islam Indonesia, telah ada dan berkembang ribuan tahun sebelum masehi. Ada sejarah panjang yang dimiliki bangsa Indonesia yang banyak tertutup oleh sejarah, tidak pernah diungkap dan saling mengungkap sejarah masa-masa Indonesia di era ribuan tahun sebelum masehi, kalaupun disebutkan persoalan tersebut, hanya pada grand theme saja tanpa menyentuh hal yang lebih detail, termasuk tokoh-tokohnya secara jelas. Kekuarangan referensi menjadi satu alasan kuat tidak diungkapkannya khazanah kebesaran sejarah nusantara pada era ini. Peninggalan yang ada hanya

139

sebatas peningalan-peninggalan fisik yang telah membantu dan terkubur di alam raya yang luas ini. Tetapi ada beberapa hal yang masih harus kita banggakan dalam kaitannya mengenai sejarah kebangsaan yang terkubur ini, yakni warisanwarisan sejarah yang tersimpan rapi dalam alam bawah sadar kita. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Islam

merupakan negara yang cukup makmur dengan tingkat keberagamaan yang tinggi. Masyarakat Indonesia menempatkan agama pada titik tertinggi dalam relung kesadarannya. Segala bidang kehidupan didasar atas dasar agama, dihukumi oleh agama. Menurut catatan sejarah dalam versi Prof. Soediman Kartohadiprojo, SH., masyarakat Indonesia berasal dari suku Polinisia saja (Prof. Soediman Kartohadiprojo, 1995). Sementara Agus Sunyoto dalam “Pitutur” mengatakan bahwa orang Indonesia asli adalah pertemuan dari dua suku: suku Polinisia yang berasal dari India yang punya kegemaran merampok, menjarah dan punya pemahaman mistik yang sangat kental, dan ras yang dibawa adalah ras Negroid. Kemudian bertemu dengan suku Qunlun, yakni pecahan ras Mongoloid yang kalah perang dan terusir dari daratan Mongolia. Perjalanan sejarah akan dimulai dari asal usul manusia Indonesia. Dari dua perkawinan ras inilah lahir ras Javanisme yang berkarakter mistik yang kemudian pada prosesnya muncul paham animisme dan dinamisme, suka menjarah dan bermental kalah. Dalam psiko-Historis era sekarang, kita dapat mengatakan bahwa ras ini melahirkan bangsa yang tidak punya mental dasar

140

persaingan (Agus Sunyoto, Kebudayaan Indonesia Hasil Asimilasi Aneka kebudayaan). Pada awal perkembangannya, masyarakat Indonesia mengenal agama (kepercayaan) Kapitayan39, yakni sebuah aliran kepercayaan yang menyembah terhadap Sang Hyang Taya. Aliran ini berkembang pesat pada saat suku Weda (dalam beberapa referensi Suku Weda dianggap sebagai suku asli bangsa Indonesia dari ras Negroid) menguasai tatanan social politik di Indonesia sebelum kedatangan kaum migran besar-besaran dari Yunan, China Selatan pada kurang lebih enam ribu tahun sebelum masehi. Kapitayan berasal dari kata dasar Taya yang berarti kosong. Kosong dalam filosofi kapitayan adalah menyembah kepada Sang Hyang Taya yang tidak nampak dalam pandangan mata fisik, namun keberadaan Sang Hyang Taya dapat dirasakan dan dilihat dalam bentuk fisik berupa alam raya. Sang Hyang Taya, dalam pandangan mereka, adalah hal yang transenden, yang memiliki pengaruh besar sebagai pencipta, penjaga sekaligus penghancur alam raya beserta semua kekayaan yang ada didalamnya. Ritus-ritus keagamaan yang dilakukan oleh penganut kapitayan adalah sembahyang (Sembah Sang Hyang) tiga kali dalam sehari, yakni pada saat matahari terbit, matahari diatas kepala dan pada saat matahari terbenam. Sembahyang dilakukan di sebuah bangunan peribadatan dengan bentuk kotak persegi empat dengan satu pintu berbentuk persegi panjang dengan bagian atas
39

Keterangan dan informasi mengenai aliran kepercayaan/agama Kapitayan penulis peroleh dari wawancara langsung dengan Agus Sunyoto serta mengikuti pelatihan-pelatihan yang beliau menjadi pematerinya terkait dengan sejarah masyarakat Indonesia. Untuk pertama kali, keterangan ini penulis dapatkan dari Pelatihan Kader Lanjut PKC PMII Jawa Tengah tahun 2007 di Kebumen.

141

setengah lingkaran yang memanjang kedalam. Tempat ini mereka menamainya dengan langgar. Orang yang masuk didalamnya harus dalam keadaan suci dan harus melepas alas kaki yang dikenakannya. Dalam setiap langgar, ada alat utama yang digunakan sebagai media mengumpulkan masyarakat untuk bersembahyang berupa beduk yang terbuat dari kayu berlubang dengan lapisan kulit binatang. Alat ini dibunyikan pada saat menjelang prosesi persembahyangan dimulai. Bentuk langgar yang kotak, dalam keterangan selanjutnya, adalah representasi dari kepercayaan kadhang papat kalimo pancer, yakni secara eksplisit melambangkan empat penjuru mata angin dengan satu titik sentral (yang transenden) mengarah ke bagian atas. Dalam makna implisitnya, kadhang papat kalimo pancer lebih mengarah pada kesetaraan ruang fisik dan ruang bathin serta kaitannya mengenai transendensi hubungan manusia dengan Sang Hyang Taya. Agama kapitayan mengenal istilah to/tu. Setiap kata yang mengandung kata ini adalah ajaran-ajaran yang dimiliki oleh kapitayan. Sebagai contoh, ajaran-ajaran kebaikan mereka menyebutnya sebagai tuah, sedangkan ajaran jahat mereka menyebutnya sebagai tulah, representasi kekuatan baik sebagai tuhan, dan pernyataan atas kekuatan jahat disebut hantu. Dalam ritusnya, penggunaan kata to/tu masih terlihat, keberadaan Sang Hyang Taya direpresentasikan dalam bentuk watu, tumbak, tugu, tuk dan lainnya. Sementara itu dalam upacara keagamaan mereka menggunakan sesaji yang disebut tumbal (yang paling ekstrim) dan ditaruh kedalam tumbu. Sang Hyang Taya dalam kepercayaan mereka adalah Tuhan yang memiliki kekuatan gaib

142

yang mampu menciptakan, merawat dan bahkan menghancurkan alam. Sehingga untuk mencegah penghancuran itu, berbagai ritus keagamaan diadakan. Peletak dasar agama kapitayan, dalam sejarah disebutkan, bernama Semar (Bodronoyo). Semar selain mengajarkan tentang ritus peribadatan seperti itu, juga mengajarkan tentang puasa, balasan kebaikan berupa surgaloka dan balasan atas tindakan jahat manusia berupa nerakasengkala. Dia juga mengajarkan tentang anjuran berbuat baik terhadap sesama manusia karena pada akhirnya nanti setelah meninggalnya manusia akan ada kehidupan selanjutnya yang merupakan balasan atas kehidupan sekarang di dunia. Sementara itu, dalam referensi lain disebutkan, ajaran kapitayan ini disebut sebagai ajaran-ajaran animisme dan dinamisme pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20. Dengan ditemukannya peninggalan-peninggalan sejarah yang dapat telah membatu oleh para ilmuwan rasional dari Barat. Pada masa pra sejarah, dengan bukti diketemukannya fosil manusia purba, negara kita telah berpengalaman lebih dalam bidang keagamaan. Terbukti dengan diketemukannya fosil berupa menhir, dolmen, serta alat pemujaan lainnya. Bentuk agama mereka adalah, berdasarkan penelitian dari sosiolog, adalah animisme dan dinamisme. Animisme dan dinamisme begitu kuat menggelora dalam relung kesadaran orang-orang purba, segala sesuatu yang mereka lakukan sering kali atas nama kepercayaannya ini. Belum selesai tradisi animisme dan dinamisme yang berkembang di Indonesia, datanglah agama Hindu Budha, dimana kedua agama ini juga hampir sama ajarannya tentang konsep ritual peribadatannya. Hindu Budha menjadi

143

sesuatu yang mudah di terima oleh masyarakat saat itu, karena apa yang terkandung didalam ajaran Hindu Budha kebanyakan merupakan perkembangan lebih lanjut dari apa yang telah mereka percayai sebelumnya. Tata sosial lambat laun semakin berubah. Perkembangan Hindu Budha yang sangat pesat memberikan warna tersendiri bagi kebudayaan masyarkat Indonesia. Seni-seni berupa seni pahat dan seni mematung direpresenatasikan dengan membuat Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Dieng, Candi Mendut dan sebagainya. Ajaran-ajaran berupa puasa ngrowot (puasa tidak makan nasi), puasa Nyirih (Puasa tidak memakan sesuatu yang bernyawa), pemberian sesaji, pelestarian terhadap lingkungan, seni pewayangan dan seterusnya mewarnai kebudayaan Indonesia dan merupakan peningkatan dari kebudayaan animisme dan dinamisme yang sebelumnya telah tinggi. Setelah maju dan berkembangnya agama Hindu Budha di Indonesia, seiring dengan terbukanya nusantara sebagai jalur perdagangan paling potensial di dunia, maka peleburan budaya antara budaya asli nusantara dengan budaya asing yang masuk ke nusantara membuat perbendaharaan budaya nusantara semakin kompleks. Kemajemukan budaya ini kemudian membuat satu daerah dengan daerah yang lain memiliki perbedaan yang mencolok. Satu wilayah yang kebetulan sering disinggahi oleh pedagang-pedagang asing memiliki corak budaya yang lebih maju dibandingkan dengan wilayah lain yang sama sekali tidak tersentuh oleh pedagang-pedagang asing. Ini membuat semakin mewarnai multikuluralisme.

144

Sisi lain, selain kemajuan budaya, dengan seringnya masuk pedagang dari Gujarat, India dan Persia yang menganut agama Islam, maka secara perlahan-lahan kebudyaan nusantara khususnya pesisir mengalami perubahan. Semakin meningkat, dan semakin mendekati pada kebudayaan Islam pada umumnya. Hal ini dikarenakan di setiap Bandar perdagangan kerajaan pasti ada syahbandar yang bertugas sebagai mediator bahasa antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Wilayah yang banyak melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang dari Gujarat, Persia dan India harus memiliki syahbandar yang memahami dan mampu berkomunikasi dengan bahasa itu agar terjadi transaksi yang benar-benar adil, serta tidak ada penipuan salah satu diantara keduanya. Syahbandar yang diangkat oleh kerajaan atau bahkan sampai level kadipaten, biasanya diambil dari orang asing yang memahami dan mampu berkomunikasi dengan bahasa local. Misalnya, orang Gujarat yang pandai berbahasa Jawa atau Melayu akan diangkat menjadi syahbandar di wilayah Tuban, mengingat Tuban adalah terminal perdagangan yang cukup ramai setelah Malaka. Syahbandar memiliki kedudukan yang tinggi setingkat menteri untuk saat ini, artinya kalau boleh menyamakan, posisi syahbandar sama dengan mentri Luar Negeri atau setidaknya Juru Bicara Kenegaraan. Artinya dia memiliki kebebasan yang mutlak atas wilayah tertentu yang menjadi garapannya. Didukung gaya kehidupan masyarakat yang masih fedoalis, maka seolah posisi

145

syahbandar iBarat orang yang memiliki otoritas penuh terhadap masalah hubungan eksternal dengan negara lain. Orang Gujarat yang kebanyakan beragama Islam, yang diangkat menjadi syahbandar, dengan bekal jabatan serta didukung gaya kehidupan feodalistik masyarakat, maka lambat laun, tata sosial masyarakat terpengaruh dengan gaya kehidupan syahbandar, dan secara perlahan, mereka mulai meninggalkan kebudayaan Hindu Budha mereka dan masuk Islam. Selain itu, banyak syahbandar atau bahkan pedagang dari Gujarat dan wilayah Arab lainnya yang kemudian menikah dengan gadis pribumi, sehingga model penyebaran agama melalui pernikahan banyak sekali dilakukan. Lambat laun dari hal-hal yang semacam ini kemudian menimbulkan tata sosial yang berlainan dengan budaya asli mereka. Pernikahan budaya antara kebudayaan Hindu Budha dengan Islam mulai nampak, munculnya bentuk baru pendidikan keberagamaan yang merujuk pada system pembelajaran ala Hindu Budha banyak dilakukan oleh penyebar agama ini. Termasuk juga bentuk bangunan masjid yang mirip dengan kebudayaan bangunan ala Hindu. Ditarik pada wilayah agama/aliran kepercayaan Kapitayan, Islam yang muncul di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh agama ini. Sebagai contoh, adanya langgar (Mushola) sebagai tempat peribadatan. Pemberian nama puasa untuk menyebut ajaran asy syiyam, menyebut Jannah sebagai

swargo/swargoloko, menyebut nerokosengkolo/neroko sebagai perlambangan atas an nar. Bedhuk adalah identitas utama Islam Indonesia yang merupakan salah satu peninggalan penting agam Kapitayan yang digunakan untuk

146

mengumpulkan orang-orang sebelum bersembahyang. Demikian pula untuk menyebut kata shalat dengan mengadopsi istilah Kapitayan yakni sembahyang. Untuk masuk kedalam mushollah (langgar) harus melepas alas kaki merupakan salah satu khazanah yang dimiliki oleh agama Kapitayan, dalam ajaran Islam yang lebih dikenal adalah membersihkan sepatu/sandal sebelum masuk ke tempat peribadatan, dan upaya menganjurkan untuk melepaskannya adalah merupakan perpaduan antara Kapitayan dengan Islam. Dalam budaya pewayangan hingga pada khazanah lainnya yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang telah berkembang pesat sebelumnya, oleh para founding fathers Islam di Indonesia juga sedikit demi sedikit mulai ditarik dan diubah konsepnya agar sesuai dengan hokum-hukum islam. Kita mengenal adanya wayang yang merupakan warisan kebudayaan suku arya dan dravida di zaman prasejarah di India. Catatan-catatan ceritanya oleh para founding fathers negara kita ‘dirapikan’ agar tidak melenceng dari ajaran Islam, Karena terbukti banyak cerita dalam wayang yang bertentangan dengan hokum islam seperti budaya poliandri dan sebagainya. Kita juga setidaknya mengenal tambahan tokoh wayang yang paling popular di Indonesia, yakni punakawan. Dalam versi aslinya, ponakawan tidak ada sama sekali. Munculnya Semar, Petruk, Bagong dan Nala Gareng adalah kekreatifan dari para founding fathers Islam di nusantara. Pemberian nama punakawan diambil dari istilah samir (Semar) fatru’ (Petruk) mabagha

(Bagong) ‘ala ghair (Nala Gareng). Istilah ini berarti menyingsingkan lengan baju (cancut taliwondho), meninggalkan kejelekan menuju kebenaran.

147

Intinya, Islam di Indonesia merupakan Islam yang mengambil Al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sebagai rujukan utama hukum Islam. Yang kemudian ini semua diakulturasikan dengan budaya local yang ada. Dari sinilah memunculkan cirri kas khusus yang memberikan warna berbeda dengan Islam daerah lainnya seperti India, Mesir, Arab Saudi, Iran, Irak dan sebagainya.

E. Konstelasi Geo Politik dan Geografi Sosio Relgius Indonesia Menurut Alvin Toffler40, masa depan seperti yang direfleksikan oleh perkembangan Amerika Serikat pada umumnya Barat, memasuki apa yang ia sebutkan revolusi Gelombang ketiga (Third Wave). Gelombang pertama dicerminkan oleh peradaban pertanian, ketika manusia mulai hidup menetap. Keluarga bersar (Extended) yang merupakan cirri gelombang pertama ini, hidup bertani sekedar untuk memenuhi kepertluan sehari-hari. Dijumpai pembagian pekerjaan yang sederhana, tetapi juga kasta dan kelas masyarakat muncul. Kedudukan seseorang bergantung pada status keluarga. Kekuasaan otoriter. Ada juga perdagangan, tatapi terbatas, dan pelautpun berlayar tetapi tidak jauh-jauh. Gelombang kedua dimulai dengan revolusi industri abad ke-17. revolusi ini membawa perubahan dalam hidup manusia, dan dengan industri manufaktur, inovasi mesin uap, listrik, mesin tik, alat pendingin dan sebagainya, hidup dipermudah. Lambat laun apa yang kini kita pergunakan dihasilkan: Surat Kabar, bioskop, kereta api bawah tanah, pesawat terbang. Kota-kota industri

40

Abaz Zahrotien, Kiri Islam vis a vis Peradaban Barat, http://abazzahra.blogspot.com , browsing at. 17.00 pm, may, 10th. 2007.

148

bermunculan. Akhirnya,ilmu dan teknologi mengaitkan segala sesuatu di dunia ini, melampaui jarak dan waktu: dunia menyatu. Pada masa gelombang keduai ini agama pada umumnya menjadi terbatas, ia merupakan masalah individu, perseorangan. Dalam pada itu agnosticism dan atheism juga bertambah menyebar. Gelombang ketiga ditandai oleh dasar enerji baru yang berasal dari sumber-sumber yang dapat diolah baru. Revolusi baru ini akan juga ditandai oleh industri-industri baru, perlatan elektronik dan komputer yang lebih canggih, industri pesawat lintas udara, industri lautan dalam, dan sebagainya. Peradaban gelombang ketiga ini akan memperkenalkan flecitime: jam kerja yang tidak ditetapkan untuk para pekerja, atau para pekerja bisa memilih jam kerjanya sendiri. Memang ada bagian jam kerja yang pasti, tetapi inipun bergantung pada para pekerja itu pula. Akan dijumpai juga percampuaran fungsi antara konsumen dan produsen: prosumer sehingga konsumen juga akan memproduksi berbagai buatannya sendiri. Ini berarti konsumen juga menjadi produsen. Berkembang pula globalisasi produksi sebagai hasil ekspansi korporasi-korporasi transnasional masa kini. Intinya, pendapat Toffler tentang rumah tangga sebagai central kehidupan, di dalam rumah, proses produksi, distribusi hingga konsumsi dapat dengan mudah dijumpai setiap saat. Rumah menjadi sumber kehidupan. Bukan sisi ini yang terpenting, tetapi yang lebih penting Toffler memandang bahwa masa depan dunia akan berkembang sejalan dengan pandangan dan visi Barat. Pemikiran tentang tiga gelombang peradaban, sama sekali tidak menyentuh

149

perdaban lain seperti China yang telah berusia ribuan tahun, India yang pernah berjaya di zaman prasejarah, dan yang paling ‘kurang ajar’ ia melupakan peradaban Islam yang telah begitu berjasa dalam perkembangan Barat hingga hari ini. Pada tahun 1944, apa yang kita kenal sekarang sebagai MNC (multi National Coorporation) dan TNC (Trans-National Coorporation) berdiri sebagai dampak munculnya perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju dan secara perlahan masuk ke negara-negara berkembang. Munculnya perusahaan trans nasional semacam ini merupakan dampak utama berdirinya PBB, World Bank, IBRD, IMF dan GATT pada pertemuan Bretton Woods yang bertujuan untuk mengantisipasi Negara-negara jajahan memproklamirkan kemerdekaannya. Dalam pertemuan Bretton Woods, PBB, World Bank, IBRD, IMF dan GATT baru mencapai tahap kesepakatan pendiriannya. Sedangkan pada pendirian tepatnya masih dalam perencanaan. Barulah satu tahun setelah itu, tepatnya tahun 1945, PBB resmi berdiri dan ditandatanganinya deklarasi Hak Asasi Manusia. Sebagai dampak atas kondisi konflik internasional yang memanas, banyak kemudian Negara-negara jajahan yang memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan dan memproklamasikan kemerdekaannya, termasuk Indonesia. Bulan Oktober 1945, Sekutu kembali ke Indonesia setelah Soekarno dan Muhammad Hatta resmi memimpin Indonesia, dan Indonesia telah berusia tiga bulan dalam kedaulatannya. Kedatangan sekutu ini bertujuan untuk merebut kembali Indonesia dan mencabut kedaulatan atas Indonesia.

150

TNI sebagai benteng pertahanan nasional menghadapi situasi semacam ini tidak mengambil tindakan tegas, sehingga dengan semangat perjuangan yang tinggi akhirnya para ulama dari Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan Resolusi Jihad yang berisi seruang perang suci untuk menghadapi serangan-serangan sekutu. Seruan ini menyebabkan terjadi semangat yang menggelora pada setiap perang yang tidak mengenal tempat dan waktu. Di Surabaya, pertempuran terjadi sengit antara barisan rakyat yang dibantu kekuatan militer TNI dengan sekutu yang mengorbankan banyak nyawa, kejadian ini selanjutnya dikenal dengan peristiwa 10 November 1945 dan dijadikan sebagai hari pahlawan. Amerika Serikat merasa gerah menerima perlakuan berupa

kemerdekaan di tanah jajahan Barat. Akses Sumber Daya Alam dari Negaranegara jajahan dengan kedaulatan yang dimiliki Negara berkembang akhirnya lambat laun akan terputus. Eksploitasi hasil alam dari Negara jajahan tidak akan dapat diperoleh kembali. Menghadapi situasi semacam ini, pada tahun 1948 Presiden Amerika Serikat mengadakan pertemuan dengan para pakar di MIT untuk membahas bentuk imperialisme yang baru terhadap Negara-negara yang baru merdeka. Dimana dengan pertemuan itu diharapkan oleh Presiden Amerika Serikat Negaranegara yang baru merdeka meskipun telah memiliki kedaulatan sepenuhnya masih berada di bawah naungan Amerika. Pada memproklamirkan pertemuan dan itu, memunculkan ideology kesepakatan untuk

menerapkan

developmentalism

(pembangunanisme) pada Negara-negara yang baru merdeka itu. System

151

perekonomian yang digunakan dalam model ini adalah system perekonomian yang digagas oleh W.W. Rostow dan Sosiologi Strukturalisme Fungsional dari Talcott Parson. Indonesia dibawah Soekarno saat itu sama sekali tidak tertarik dengan ideology developmentalisme yang ditelorkan oleh Presiden Amerika Serikat dan Pakar dari MIT. Indonesia lebih memilih untuk membangun perekonomiannya sendiri dibawah kekuatan sendiri, karena Soekarno meyakini bahwa Indonesia akan mampu menjadi macan Asia dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Soekrano menerapkan system ekonomi benteng yang mencoba membentengi diri dari pengaruh ideology developmentalisme kapitalis. Namun apa yang diperjuangkan oleh Soekarno yang tidak bosanbosannya menyerukan untuk menjalankan system perekonomian dan system berpolitik yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) kemudian runtuh pada pertengahan decade 60an. PKI, yang tentunya disetting oleh Amerika Serikat, berhasil menggulingkan Soekarno dan mengantarkan Soeharto menjadi Presiden kedua Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi atas Soeharto menjadi presiden, maka Soeharto harus menerapkan system ekonomi developmentaisme yang telah diperbaharui oleh W.W. Rostov dan Talcott Parson pada tahun 1960. Soeharto menjadi presiden menandakan kemenangan kapitalisme di Indonesia. Indonesia harus mengikuti apa yang di ‘wejangkan’ oleh Amerika Serikat dengan menetapkan sosiologi ala Strukuralisme Fungsional Talcott Parson dan system ekonomi pertumbuhan yang dikembangkan oleh W.W. Rostov. Rekayasa sosial bertujuan untuk menyingkirkan kelompok-kelompok

152

tradisional dan menerapkan system sosial yang modern. Selama 32 tahun dibawah pemerintahan Soeharto dan dibawah kuasa Amerika Indonesia mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi mikro dan pembangunan. Namun disisi lain, kebobrokkan Indonesia terlihat sangat jelas, apalagi setelah terbongkarnya ‘dosa-dosa besar’ Soeharto pada akhir decade 90an. Terlepas dari semua itu, Indonesia sebagai bagian dari percaturan politik internasional menyisakan satu persoalan. Persoalan yang sesungguhnya sangat krusial namun kita sendiri terkadang meremehkannya. Ini semua karena kita tidak atau kurang kritis dalam memandang pengaruh konstelasi geopolitik terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Titik persolan yang sebenarnya adalah berkembangnya budaya Barat, berupa kapitalisme dengan segala kemasannya seperti Globalisasi, Free Trade, Popular Culture dan sebagainya mengancam keberlangsungan Islam dalam menatap masa depan baru bagi Islam itu sendiri. Penyerangan berupa serbuan terhadap peradaban Islam melalui kemasan budaya popular semacam ini sudah marak dilakukan oleh karena itu, semua ini butuh kewaspadaan kolektif. Jika dibiarkan, maka kondisi Islam di Indonesia, khususnya di Indonesia akan mengalami penurunan religiusitasnya secara drastic. Dan ini sangat memperihatinkan dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk, bagaimana kita mampu menyelesaikan persoalan semacam ini dalam bingkai Islam Indonesia yang lebih komunikatif dan lebih efektif efesien dalam menjawab tantangan budaya popular dengan produk-produk konsumtif yang cenderung hedonistis.

153

Penyadaran kolektif ini seharusnya menjadi pijakan awal untuk dapat menyatukan pandangan tentang budaya Barat yang menggigit Islam. Dari siniah kemudian dapat ditentukan ke arah mana Islam membawa langkahnya untuk menjadi antitesis terhadap perkembangan kapitalisme yang menghancurkan dunia. Intinya, pasca penyadaran public dapat segera terjadi revolusi total disegala bidang kehidupan. Revolusi merupakan sebuah kekuatan yang dibangun oleh rakyat untuk rakyat dan dari kekuatan rakyat. Seperti yang pernah di sampaikan oleh Che Guevara dalam sebuah pidatonya :

“Revolusi sebagaimana yang kita alami sekarang ini, adalah sebuah revolusi yang dilakukan oleh rakyat dan untuk rakyat, sebuah revolusi yang tidak akan dapat dicapai kecuali dengan pengerahan seluruh kekuatan massa, dan oleh massa. Ketika megambil langkah-langkah ini, dengan penuh semangat kita harus memahami betul proses revolusionernya, terutama sekali kita harus tahu berul mengapa kita perlu mengambil langkah itu dan kita melakukannya dengan hati senang. Yang terpenting adalah, dalam setiap momen pengorbanan, kita sadar mengapa kita melakukan pengorbanan itu, karena jalan yang kita bangunmenuju industrialisasi adalah jalan menuju kesejahteraan bersama dalam kerangka ekonomi dan bukanlah jalan yang mudah untuk ditempuh. Inilah jalan yang maha sulit …”41

Untuk menambah keyakinan kita dalam melakukan perubahan ini, marilah kita pegang ayat ini untuk memacu semangat kita:

41

Che Guevara, 2004, Che Guevara Speaks: Selected Speeches and Writtings, Penerj. Fuad & Gafna, Diglossia Media, Surabaya

154

Dan Katakanlah: "Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.42

Dan satu hal lagi, bahwa kepercayaan terhadap kemenangan kita telah digariskan oleh Allah dalam Al Qur’an:

Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan itu telah datang, Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.43

.

42 43

Surat Al Isra [17] ayat 81

Surat An Nasr [110] ayat 1-3

155

DAFTAR PUSTAKA Al Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta Abdullah, M. Amin, 2004, Study Agama, Normativitas atau Historisitas, Pustaka Pelajar, Jogjakarta Albana, Jamal, 2005, Al Jihad, Dar al-Fikr al Islam, penerj. Kamran A. Irsyadi, Pilar Media, Jogjakarta Enginer, Asghar Ali, 2004, Islam Masa Kini, Penerjemah, Tim FORSTUSIDA, Pustaka Pelajar, Jogjakarta _________________, 2007, Islam and Relevance to Our Age, Penerj. Hairus Salim dkk, LKiS Jogjakarta Giddens, Anthony, 2000, The Third Ways, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Guevara, Che, 2004, Che Guevara Speaks: Selected Speeches and Writtings, Penerj. Fuad & Gafna, Diglossia Media, Surabaya Hanafi, Hassan, 2007, Dirasat Islamiyah, Penerj. Miftah Faqih, LKiS, Jogjakarta Huntington, Samuel P., 2001, The Clash of Civilization, and the Remaking New Order, Mitra Pustaka, Jogjakarta PC PMII Purworejo, Makalah ini disajikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) PMII Cabang Pureworejo 19-23 Desember 2006 Raharjo, M. Dawam, e.d, 1997, Reformasi Politik: Dinamika Politik Nasional dalam Arus Politik Global, PT. Intermasa, Jakarta

156

Shimogaki, Kazuo, 2001, The Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought: A Critical Reading, Penerjemah, M. Jadul Maula, LKiS, Jogjakarta Supono, Eusta, 2007, Agama Solusi atau Ilusi, Kritik atas Kritik Agama Karl Marx, Komunitas Studi Didaktika, Jogjakarta Turner, Bryan S., 2005, Weber and Islam, penerjemah; Mudhofier Abdullah, Suluh Press Jogjakarta Wahid, Hasyim, dkk, 1999, Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, LKiS, Jogjakarta Zahrotien, Abaz, Kiri Islam vis a vis Peradaban Barat,

http://abazzahra.blogspot.com , browsing at. 17.00 pm, may, 10th. 2007.

157

Biodata Penulis Nama TTL Alamat Domisili Telephone E-Mail Website Pekerjaan Hobby Organisasi : Abaz Zahrotien : Banjarnegara, 28 Juli 1985 : Jl. Pasar Manis, No. 07, Punggelan, Banjarnegara : Base Camp PC. PMII Wonosobo, Kalibeber, Wonosobo : +6281 227 057 954 : abazzahra_pmii@yahoo.co.id : http://www.friendster.com/abazzahra & abazzahra.blogspot.com : Mahasiswa : Nongkrong di Perpusda, Begadang di Warnet dan bertani :

1. Direktur LPM SQ Unsiq. 2. Menteri Penelitian dan Pengembangan Badan Eksekutif Mahasiswa. 3. Koordinator Lembaga Pers dan Jurnalistik PC PMII Wonosobo. 4. Pamong Praja Teater BanyuDahsyat. 5. Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unsiq. 6. Sekjen PC PMII Wonosobo. 7. Ketua II PC PMII Wonosobo 8. Pengurus PPTQ Al Asy’ariyyah. Pendidikan : 1. SDN Karangsari I, Punggelan Banjarnegara. 2. SLTP N I Pekuncen, Banyumas. 3. SMK N I Bawang, Banjarnegara (Drop Out). 4. SMK Takhassus Al Qur’an Wonosobo. 5. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unsiq. Pengalaman Pers : 1. Majalah Multazam PPTQ Al Asy’ariyyah. 2. Bulletin Kyai Mojo, PC. PMII Wonosobo. 3. Majalah SQ Unsiq. 4. Artikel lepas di media massa. 5. Ikatan Penulis Muslim Wonosobo.

158

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->