P. 1
19380331-null

19380331-null

|Views: 1,657|Likes:
Published by syafi

More info:

Published by: syafi on Oct 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

Manusia adalah makhluk yang sangat dimuliakan Allah, sehingga di

dalam kebutuhan biologisnya diatur dalam hukum perkawinan. Oleh karena

itu, manusia terdorong untuk melakukan hubungan diantara lawan jenis sesuai

dengan prinsip-prinsip hukum Islam itu sendiri. Hal ini diharapkan agar

manusia di dalam berbuat tidak menuruti hawa nafsu semata.

Di dalam Al Qur'an surat An Nisa ayat 1, Allah telah menganjurkan

adanya pernikahan, adapun firman-Nya :

ﻖ ﻠﺧو ةﺪ ﺣاو ﺲ ﻔﻧ ﻦ ﻣ ﻢ ﻜﻘﻠﺧ يﺬ ﻟا ﻢ ﻜﺑر اﻮ ﻘﺗا سﺎ ﻨﻟا ﺎ ﻬﻳأﺎﻳ
يﺬ ﻟا ﷲا اﻮ ﻘﺗاو ءﺎﺴ ﻧو اﺮ ﻴﺜآ ﻻﺎ ﺟر ﺎﻤﻬﻨﻣ ﺚﺑو ﺎﻬﺟوز ﺎﻬﻨﻣ
نﻮﻟءﺎﺴﺗ

ﺎﺒﻴﻗر ﻢﻜﻴﻠﻋ نﺎآ ﷲا نإ مﺎﺣرﻷاو ﻪﺑ

)

1

(

Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah
menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu
.1

Islam memberi wadah untuk merealisasikan keinginan tersebut sesuai

dengan syariat Islam yaitu melalui perkawinan yang sah.

1

Departemen Agama RI, Al Qur'an Terjemah, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al

Qur'an, Jakarta, 1980, hlm. 114

2

Perkawinan suatu cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia

untuk beranak, berkembang baik dan kelestarian hidupnya, setelah masing-

masing pasangan siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan

tujuan perkawinan.2

Sebagaimana firman Allah surat Al Hujurat ayat 13

ﺎﺑﻮﻌ ﺷ ﻢآﺎ ﻨﻠﻌﺟو ﻰ ﺜﻧأو ﺮ آذ ﻦ ﻣ ﻢآﺎ ﻨﻘﻠﺧ ﺎ ﻧإ سﺎ ﻨﻟا ﺎ ﻬﻳأﺎﻳ
ﻢﻴ ﻠﻋ ﷲا نإ ﻢآﺎ ﻘﺗأ ﷲا ﺪ ﻨﻋ ﻢﻜﻣﺮ آأ نإ اﻮﻓرﺎ ﻌﺘﻟ ﻞ ﺋﺎﺒﻗو
ﺮﻴﺒﺧ

)

13

(

Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
3

Adapun perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki

dengan seorang perempuan untuk hidup berumah tangga yang bahagia dan

kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.4

Oleh karena itu, pernikahan harus dapat dipertahankan oleh kedua

belah pihak agar dapat mencapai tujuan dari perkawinan tersebut, sehingga

dengan demikian perlu adanya kesiapan-kesiapan dari kedua belah pihak baik

mental maupun material. Artinya secara fisik laki-laki dan perempuan sudah

sampai pada batas umur yang bisa dikategorikan menurut hukum positif dan

baligh menurut hukum Islam. Akan tetapi faktor lain yang sangat penting

yaitu kematangan dalam berfikir dan kemandirian dalam hidup (sudah bisa

2

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah , Darul Fikry, Beirut, t.t., hlm. 19

3

Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 847

4

Undang-undang Perkawinan di Indonesia dan, Peraturan Pelaksanaan, PT.Pradya

Paramita, Jakarta, 1974, Pasal 1

3

memberikan nakah kepada isteri dan anaknya). Hal ini yang sering dilupakan

oleh masyarakat.

Sedangkan tujuan yang lain dari perkawinan dalam Islam selain untuk

memenuhi kebutuhan hidup jasmani maupun rohani manusia juga sekaligus

untuk membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan

dalam menjalani hidupnya di dunia ini, juga pencegah perzinahan, agar

tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang bersangkutan,

ketentraman keluarga dan masyarakat.5

Sementara itu, sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia itu

sendiri, muncul permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, yaitu sering

terjadinya pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang belum cukup umur

untuk melakukan pernikahan.

Masalah batas umur untuk bisa melaksanakan pernikahan sebenarnya

telah ditentukan dalam UU No. 1/1974 pasal 7 ayat (1), bahwa pernikahan

hanya diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahundan pihak wanita

sudah mencapai umur 16 tahun. Ketentuan batas umur ini, seperti disebutkan

dalam kompilasi pasal 15 ayat (1) didasarkan kepada pertimbangan

kemaslahatan keluarga dan rumah tangga perkawinan ini sejalan dengan

prinsip yang diletakkan UU perkawinan, bahwa calon suami istri harus telah

siap jiwa raganya, agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik

tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat.

5

Mohd. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996,

hlm. 26-27

4

Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan antara calon suami istri yang

masih di bawah umur.6

Di sini penulis akan mengadakan penelitian mengenai pernikahan di

bawah umur yang terjadi di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk

Linggau Selatan, Kota Lubuk Linggau. Dimana Kota Lubuk Linggau ini

terbagi menjadi delapan kecamatan, yaitu kecamatan Lubuk Linggau Utara I

dan II, kecamatan Lubuk Linggau Barat I dan II, Kecamatan Lubuk Linggau

Timur I dan II, dan Kecamatan Lubuk Linggau Selatan I dan II. Dan setiap

kecamatan mengepalai sembilan kelurahan. Sedangkan kelurahan Karang

Ketuan terletak di Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, dan Kelurahan

Karang Ketuan terbagi menjadi beberapa RT. Sedangkan kelurahan Karang

Ketuan dijadikan sebagai objek penelitian bagi penulis. Karena masih

banyaknya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan di bawah

umur, faktor-faktor tersebut, yaitu karena dijodohkan oleh orang tua, faktor

ekonomi, faktor pendidikan, faktor agama, faktor adat dan budaya, dan karena

faktor kemauan anak.

Pernikahan dibawah umur ini sangat menarik untuk diteliti, oleh sebab

itu penulis mencoba mengangkat persoalan yang terjadi dalam masyarakat

dengan judul “PERNIKAHAN DI BAWAH UMUR DI KALANGAN

ORANG SUMATRA (Studi Kasus di Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan

Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk Linggau Sumatra Selatan Tahun 2004-

2006 untuk diteliti kebenarannya dengan obyek penelitian warga masyarakat

6

Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998,

5

Kelurahan Karang Ketuan, Kecamatan Lubuk Linggau Selatan II, Kota Lubuk

Linggau, Sumatra Selatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->