P. 1
Skizofrenia Merupakan Penyakit Otak Yang Timbul Akibat Ketidakseimbangan Pada Dopamine

Skizofrenia Merupakan Penyakit Otak Yang Timbul Akibat Ketidakseimbangan Pada Dopamine

|Views: 6,095|Likes:
Published by utyanugroho

More info:

Published by: utyanugroho on Nov 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2013

pdf

text

original

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamine, yaitu salah satu sel kimia

dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.

[sunting] Gejala
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin. Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas: 1. Gejala-gejala Positif Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain. 1. Gejala-gejala Negatif Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia). Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan stres posttraumatik. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan. Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran

obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren. Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejalagejala psikosis. Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis. Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita skizofrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita skizofrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.

SKIZOFRENIA adalah gangguan yang kompleks yang dapat muncul dalam beberapa bentuk. GEJALA Ada 2 kategori gejala: ditandai munculnya persepsi,1. gejala positif = gejala tipe I pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik. ditandai hilangnya atau 2. gejala negatif = gejala tipe II berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara). Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu: 1. afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia), 2. anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak

dapat merasakan sedih atau gembira), dan 3. ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan). BEBERAPA GEJALA POSITIF SKIZOFRENIA GEJALA DEFINISI & CONTOH DELUSI Kepercayaan yang tidak sesuai realita; mis. Merasa dirinya Nabi HALUSINASI Pengalaman indrawi yang tidak nyata; mis. Merasa melihat, mendengar, atau membaui sesuatu yang sebenarnya tidak ada PIKIRAN DAN BICARA KACAU Pola bicara yang kacau; mis. ‘tidak nyambung’, menyambung kata berdasar bunyinya yang tidak ada artinya PERILAKU KACAU ATAU KATATONIK Perilaku sangat tidak dapat diramalkan, aneh, dan sangat tidak bertanggung jawab; mis. Tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama, tiba-tiba melompat-lompat tanpa tujuan. Delusi sendiri ada beberapa tipe, lihat PPDGJ III. BEBERAPA GEJALA NEGATIF SKIZOFRENIA GEJALA DEFINISI & CONTOH AFEK DATAR secara emosi tidak mampu memberi respon thd lingkungan sekitarnya; mis. Ketika bicara ekspresi tidak sesuai, tidak ada ekspresi sedih ketika situasi sedih ALOGIA Tidak mau bicara atau minimal; mis. Membisu bbrp hari AVOLITION Tidak mampu melakukan tugas berdasar tujuan tertentu (dalam jangka lama); mis. Tidak mampu mandi sendiri, makan sampai selesai, dll.

DIAGNOSA ϖDikenal sebagai gangguan psikologis sejak awal 1800-an ϖ gangguan sebagai akibat kemunduran fungsi otak lebih awal Kraepelin menyebut dementia praecox (precocious dementia) schizophrenia, dari bahasa Yunani, Schizein = Eugen Bleuler ϖ gangguan berupa terbelahnya fungsi terbelah dan phren = pikiran psikis dari asosiasi mental, pikiran, dan emosi. Sekarang diagnosa berdasar criteria dari DSM-IV, yaitu: adanya gejalaϖ yang parah paling tidak selama 1 bulan dan munculnya beberapa gejala paling tidak selama 6 bulan terakhir. A. Gejala dasar: 2 atau lebih gejala berikut paling tidak selama 1 bulan. a. Delusi b. Halusinasi c. Bicara kacau d. Motorik kasar terganggu atau perilaku katatonik e. Gejala negatif B. Fungsi sosial/pekerjaan: gangguan nyata dalam pekerjaan, prestasi belajar, hubungan interpersonal, dan atau perawatan diri sendiri. C. Durasi: gangguan berlanjut paling tidak selama 6 bulan, minimal 1 bulan dalam periode ini menunjukkan gejala yang masuk criteria A. Untuk pedoman diagnosa lebih detail, lihat PPDGJ III. BEBERAPA TIPE SKIZOFRENIA

TIPE CIRI UTAMA SKI. PARANOID Deluasi (waham) dan halusinasi dengan tema curiga, diancam, atau waham kebesaran DISORGANIZED SCHI. Pikiran, bicara, dan perilaku ‘tidak nyambung’, emosi datar atau tidak tepat SKI. KATATONIK Hampir tidak ada respon thd lingkungan, aspek motorik dan verbal sangat terganggu UNDIFFERENTIATED SCHI. Klien masuk criteria skizofren tapi tidak dapat masuk kelompok paranoid, disorganized, ataupun katatonik SKI. RESIDUAL Ada riwayat minimal 1 episode gejala positif yang akut tetapi saat ini tidak menampakkan gejala positif

PROGNOSIS Skizofrenia sifatnya adalah gangguan yang lebih kronis dan melemahkan dibandingkan gangguan mental yang lain. ¬ 50-80% pasien skizofrenia yang pernah dirawat di RS akan kambuh ¬ harapan hidup pasien skizofrenia 10 tahun lebih pendek daripada non pasien skizofrenia ¬ pasien skizofrenia resiko tinggi terhadap gangguan infeksi dan penyakit2 sistem peredaran darah ¬ 10% pasien skizofrenia resiko bunuh diri ¬ Beberapa factor yang turut berperan dalam prognosis skizofrenia: usia, jenis kelamin, dan sosial budaya PENDEKATAN TEORITIS TERHADAP SKIZOFRENIA Beberapa pendekatan teori dalam memandang penyebab skizofrenia dapat dilihat secara jelas dalam tabel-tabel berikut: TEORI-TEORI BIOLOGI TEORI DESKRIPSI Teori genetik Gangguan gen menyebabkan skizofrenia atau minimal rentan thd skizofrenia Abnormalitas struktur otak Pembesaran jantung mungkin mengindikasikan melemahnya fungsi beberapa area otak, memunculkan berkurangnya fungsi kognitif dan emosi. Penurunan volume dan kepadatan neuron di frontal & temporal cortex dan area limbic menyebabkan berkurangnya fungsi emosi dan kognitif. Komplikasi saat kelahiran Komplikasi saat lahir, terutama kurangnya oksigen saat lahir menyebabkan kerusakan otak Terpapar virus saat di kandungan Infeksi virus saat di kandungan merusak otak (mis. Virus TORCH) Teori neurotransmiter Ketidakseimbangan tingkat atau reseptor dopamine memunculkan gejala, serotonin, GABA, dan glutamat juga turut berperan SUDUT PANDANG PSIKO-SOSIAL

Meskipun skizofrenia sangat terkait dengan factor biologis, namun banyak riset menunjukkan bahwa factor sosial juga berperan dalam munculnya skizofrenia. Faktor sosial ini meningkatkan resiko kambuhnya skizofrenia tetapi tidak secara langsung menentukan kapan munculnya skizofrenia pertama kali. SUDUT PANDANG DESKRIPSI Teori psikodinamik Penolakan ibu saat bayi menyebabkan anak kehilangan kemampuan membedakan antara kenyataan dan non-realita Pola komunikasi Komunikasi yang tidak lazim antara bayi dan pengasuh di awal kehidupannya (pada bayi dg resiko skizofrenia) mengganggu perkembangan kemampuan bayi untuk berkomunikasi dg orang lain dan meningkatkan stress Ekspresi emosi Keluarga yang terlalu mengatur dan memusuhi anggotanya yang skizofrenia meningkatkan stress, yang membuatnya kambuh Penyimpangan sosial dan lingkungan urban Skizofrenia mengganggu fungsi individu dan membuat dia kehilangan status sosial; orang2 di lingkungan urban yang miskin meningkatkan resiko terkea penyakit2 prenatal dan kemungkinan terluka yang menyebabkan skizofrenia Stress & kambuh Bermacam kejadian yang penuh tekanan meningkatkan kemungkinan kambuh Teori perilakuan Orang skizofrenia mendapatkan stimulus yang tidak tepat dari lingkungan dan tidak tahu respon yang dapat diterima secara sosial oleh orang lain di lingkungannya Teori kognitif Gejala skizofrenia muncul dari respon individu terhadap pengalaman indrawi yang aneh. TRITMEN UNTUK SKIZOFRENIA Pasien skizofrenia memerlukan tritmen yang komprehensif, artinya memberikan tritmen medis untuk menghilangkan gejala, terapi (psikologis) untuk membantu mereka beradaptasi dengan konsekuensi/akibat dari gangguan tsb, dan layanan sosial untuk membantu mereka dapat kembali hidup di masyarakat dan menjamin mereka dapat memperoleh akses untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Berikut beberapa tritmen yang biasanya diberikan kepada pasien skizofrenia. TRITMEN UNTUK SKIZOFRENIA TRITMEN KETERANGAN Tritmen biologis: terapi obat Pemberian obat2an anti psikotik, minyak ikan Tritmen sosial dan psikologis - intervensi perilaku, kognitif, dan sosial (melatih ketrampilan berbicara, ketrampilan mengelola diri sendiri, ketrampilan mengelola gejala, terapi kelompok, melatih ketrampilan kerja, dll) - terapi keluarga (melatih keluarga bagaimana menghadapi perilaku anggotanya yang menderita skizofrenia agar tidak kambuh) - program tritmen komunitas asertif (menyediakan layanan komprehensif bagi pasien skizofrenia dg dokter ahli, pekerja sosial, & psikolog yang dapat mereka akses setiap saat-terutama bagi yang tidak memiliki tapi di Indonesia masih terlalu mewah ya? keluarga) Tritmen lintas budaya Penyembuhan tradisional (dengan doa-doa, upacara adat, jamu, dll) sesuai budaya setempat

Apa sebenarnya skizofrenia? Siapa saja yang bisa terkena penyakit yang menyerang otak ini? Bagaimana penyakit ini menyerang manusia? Apa saja gejalanya? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap melingkupi kaum awam atau keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita skizofrenia. Menurut situs resmi www.schizophrenia.com, skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia. Umumnya ada dua macam penyakit yang biasa disebut gila ini, yaitu neurosa dan psikosa. Skizofrenia termasuk psikosa. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab. Bahkan, faktor genetik tampaknya sangat dominan. Menurut penelitian, apabila saudara ayah-ibu menderita skizofrenia, maka anak memiliki potensi sebesar 3% untuk mengidap skizofrenia. Apabila ada salah satu saudara sekandung yang menderita, maka anak berpotensi menderita skizofrenia sebesar 5%-10%. Lantas bagaimana dengan saudara kembar? Apabila tidak kembar identik, maka potensinya 5%-10%, sementara untuk anak kembar identik potensi menderita skizofrenia sebesar 25%-45%. Sedangkan jika penderita skizofrenia adalah salah satu dari kedua orang tua, maka anak berpotensi sebesar 15%-20%. Skizofrenia bisa menyerang laki-laki dan perempuan. Kebanyakan perempuan yang mengidap penyakit ini adalah mereka yang berusia 20 hingga awal 30-an tahun. Sementara pada kelompok jenis kelamin laki-laki lebih dini, yakni akhir usia remaja hingga awal 20-an tahun.

Gejala dan Penanganan Skizofrenia
Gejala penderita skizofrenia antara lain: • • • • Delusi Halusinasi Cara bicara/berpikir yang tidak teratur Perilaku negatif, misalkan: kasar, kurang termotivasi, muram, perhatian menurun

Penanganan: • Sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya. Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh. Perawatan yang dilakukan para ahli bertujuan mengurangi gejala skizpofrenik dan kemungkinan gejala psychotic. Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obatobatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup.

• •
• •

Dukungan Keluarga Sangat Berarti
Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita. Mereka harus sabar menerima kenyataan, karena penyakit skizofrenia sulit disembuhkan.
Sebuah lantai tampak penuh coretan rumus matematika rumit. seorang pria dengan wajah tertunduk, terpaku pada rumus-rumus itu. Berkat kejeniusannya, William Parcher seorang agen penting pemerintah AS mempercayakan John Nash untuk memecahkan kode-kode rahasia yang berkaitan dengan intelijen negara. Langkah ini membawa Nash terlibat dalam konspirasi dan propaganda perang dingin antara Amerika Serikat (AS) melawan Uni Soviet (Rusia). Alhasil, John Nash, pengajar di Massachuset Institute of Technology sibuk berkutat dengan teori-teori sambil mengurung diri di kamarnya yang penuh dengan coretan-coretan. Belakangan baru diketahui bahwa pekerjaan Nash untuk kegiatan intelijen ternyata hanya ilusi belaka. Dia menderita penyakit skizofrenia. Meski akhirnya bisa kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya, Nash tidak pernah sembuh total. Namun dukungan istri dan teman-temannya membuat dia berhasil melawan ilusi agen-agen intelijen. Nash terus berusaha mengendalikan diri dan berdamai dengan ilusinya. Kemudian, kejeniusannya mengantarkan hadiah nobel yang diterima pada tahun 1994. Perjuangan Nash dituangkan dalam film A Beautiful Mind.

Di dunia ini banyak Nash-Nash lain yang terus berjuang keluar dari kungkungan penyakit kejiwaan skizofrenia. Jumlahnya diperkirakan sekitar 1% dari seluruh penduduk dunia. Sedangkan di Indonesia, sekitar 1% hingga 2% dari total jumlah penduduk. Mungkin tidak terlalu besar, namun jumlah penderita skizofrenia di dunia terus bertambah. Masalahnya banyak keluarga yang belum mengerti benar apa itu skizofrenia. Ketidakmengertian itu melahirkan jalan pintas. Rata-rata memasukan kerabatnya ke rumah sakit jiwa. Padahal penyakit ini bisa dikendalikan. Dengan kemauan diri yang keras dan dukungan keluarga, penderitanya bisa hidup normal. "Saat anak saya divonis menderita skizofrenia, saya kaget sekali. Rasanya saya ingin marah karena anak saya dianggap gila. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari dia terlihat normal," kata Suharjo, salah satu orang tua yang anaknya menderita skizofrenia. Tetapi, akhirnya Suharjo melihat sendiri keanehan sikap anaknya. Misalnya, dia merasa terus dimatamatai oleh tetangga, merasa mendengar suara-suara dan sebagainya. "Saya tidak mau anak saya disebut gila. Tapi kini, dia memang sedang menjalani perawatan. Dia sungguh luar biasa. Yidak pernah berhenti berusaha, setelah tahu dirinya menderita skizofrenia," katanya. dukungan keluarga dan teman merupakan salah satu obat penyembuh yang sangat berarti bagi penderita skizofrenia. Hal itu juga dikatakan Dr L Suryantha Chandra, psikiater di sanatorium Dharmawangsa. Menerima kenyataan, menurut Suryantha, adalah kunci pertama proses penyembuhan atau pengendalian skizofrenia. Keluarga harus bersikap menerima, tetap berkomunikasi dan tidak mengasingkan penderita. Tindakan kasar, bentakan, atau mengucilkan malah akan membuat penderita semakin depresi bahkan cenderung bersikap kasar. Akan tetapi, terlalu memanjakan juga tidak baik

"Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri dalam diri si penderita. Mereka harus sabar dan menerima kenyataan, karena penyakit skizofrenia sulit disembuhkan. Berdasarkan penelitian, hanya satu dari lima penderita yang benar-benar bisa sembuh total," katanya. Meski demikian, Suryantha yang sudah lama berkecimpung menangani pasien skizofrenia mengatakan, penyakit skizofrenia bisa dikendalikan, sehingga penderita tetap bisa hidup normal di tengah masyarakat. "Saat ini sudah ada obat-obatan untuk mengembalikan fungsi otak, seperti antipsikotika dan neuroleptika. Sebanyak 80% penderita berhasil sembuh atau mengendalikan penyakitnya setelah mengonsumsi obatobatan ini. Hanya saja, lama pemakaian tergantung kondisi penderita itu sendiri. Ada yang setahun, lebih dari tiga tahun, atau seumur hidupnya." Pasca perawatan, biasanya penderita akan dikembalikan pada lingkungan keluarga. Penerimaan kembali oleh keluarga sangat besar artinya. Dalam berbicara tidak boleh emosional, agar tidak memancing kembali emosi penderita. Dikatakan oleh Suryantha, sampai saat ini keingintahuan masayarakat Indonesia untuk mendalami atau lebih mengetahui penyakit skizofrenia semakin tinggi. Sayangnya, tidak diikuti penerimaan lingkungan masyarakat atau keluarga terhadap pendertia atau mantan penderita.

Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri. Skizofrenia Tipe I ditandai dengan menonjolnya gejala-gejala positif seperti halusinasi, delusi, dan asosiasi longgar, sedangkan pada Skizofrenia Tipe II ditemukan gejala-gejala negative seperti penarikan diri, apati, dan perawatan diri yang buruk. Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sangat mirip di seluruh dunia. Skizofrenia terjadi pada pria dan wanita dengan frekuensi yang sama. Gejala-gejala awal biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dua puluhan. Pria sering mengalami awitan yang lebih awal daripada wanita. Faktor resiko penyakit ini termasuk : 1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga 2. Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri, dan/atau impulsivitas. 3. Stress lingkungan 4. Kelahiran pada musim dingin. Faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangat kecil. 5. Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karena dideritanya gangguan ini

Penyakit Skizofrenia Tidak ada jalur etiologi tunggal yang telah diketahui menjadi penyebab skizofrenia. Penyakit ini mungkin mewakili sekelompok heterogen gangguan yang mempunyai gejala-gejala serupa. Secara genetik, sekurang-kurangnya beberapa individu penderita skizofrenia mempunyai kerentanan genetic herediter. Kemungkinan menderita gangguan ini meningkat dengan adanya kedekatan genetic dengan, dan beratnya penyakit, probandnya. Penelitian Computed Tomography (CT) otak dan penelitian post mortem mengungkapkan perbedaan-perbedaan otak penderita skizofrenia dari otak normal walau pun belum ditemukan pola yang konsisten. Penelitian aliran darah, glukografi, dan Brain Electrical Activity Mapping (BEAM) mengungkapkan turunnya aktivitas lobus frontal pada beberapa individu penderita skizofrenia. Status hiperdopaminergik yang khas untuk traktus mesolimbik (area tegmentalis ventralis di otak tengah ke berbagai struktur limbic) menjadi penjelasan patofisiologis yang paling luas diterima untuk skizofrenia.

Semua tanda dan gejala skizofrenia telah ditemukan pada orang-orang bukan penderita skizofrenia akibat lesi system syaraf pusat atau akibat gangguan fisik lainnya. Gejala dan tanda psikotik tidak satu pun khas pada semua penderita skizofrenia. Hal ini menyebabkan sulitnya menegakkan diagnosis pasti untuk gangguan skizofrenia. Keputusan klinis diambil berdasarkan sebagian pada 1. Tanda dan gejala yang ada 2. Rriwayat psikiatri 3. Setelah menyingkirkan semua etiologi organic yang nyata seperti keracunan dan putus obat akut. Terapi Penyakit Skizofrenia Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini terkontraindikasi, karena 75% penderita skizofrenia memperoleh perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin, molindone, dan thioridazine pada penderita dengan hipertrofi prostate atau glaucoma sudut tertutup. Antara sepertiga hingga separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium. Namun, karena lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya disarankan sebatas obat penopang. Meskipun terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah disbanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini pada regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita skizofrenia. Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini dilakukan dengan menurunkan stressor lingkungan atau mempertinggi kemampuan penderita untuk mengatasinya, dan adanya dukungan sosial. Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita. Intervensi berpusat pada keluarga hendaknya tidak diupayakan untuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-perasaan, atau mempertinggi kewaspadaan impulsimpuls atau motivasi bawah sadar. Tujuannya adalah : 1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia. 2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu penderita memandang bahwa skizofrenia adalah gangguan otak.
3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang tidak berbahaya.

Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps. 4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps. 5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga. Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini malahan memperlambat kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila dipusatkan pada penatalaksanaan stress atau mempertinggi kemampuan social spesifik, serta bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik yang ditandai dengan empati, rasa hormat positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis terhadap kebingungan penderita, ketakutanketakutannya, dan demoralisasinya amat penting dilakukan. Prognosis Penyakit Skizofrenia Fase residual sering mengikuti remisi gejala psikotik yang tampil penuh, terutama selama tahun-

tahun awal gangguan ini. Gejala dan tanda selama fase ini mirip dengan gejala dan tanda pada fase prodromal; gejala-gejala psikotik ringan menetap pada sekitar separuh penderita. Penyembuhan total yang berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun terjadi pada 10% pasien, sedangkan perbaikan yang bermakna terjadi pada sekitar dua per tiga kasus. Banyak penderita skizofrenia mengalami eksaserbasi intermitten, terutama sebagai respon terhadap situasi lingkungan yang penuh stress. Pria biasanya mengalami perjalanan gangguan yang lebih berat dibanding wanita. Sepuluh persen penderita skizofrenia meninggal karena bunuh diri. Prognosis baik berhubungan dengan tidak adanya gangguan perilaku prodromal, pencetus lingkungan yang jelas, awitan mendadak, awitan pada usia pertengahan, adanya konfusi, riwayat untuk gangguan afek, dan system dukungan yang tidak kritis dan tidak terlalu intrusive. Skizofrenia Tipe I tidak selalu mempunyai prognosis yang lebih baik disbanding Skizofrenia Tipe II. Sekitar 70% penderita skizofrenia yang berada dalam remisi mengalami relaps dalam satu tahun. Untuk itu, terapi selamanya diwajibkan pada kebanyakan kasus.

Skizofrenia mungkin tidak akrab di telinga orang awam yang tidak mendalami dunia psikologi atau pun kedokteran. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, bukan tidak mungkin kita akan menemuinya. Atau bisa jadi malah salah satu anggota keluarga kita mengalaminya. Apakah sebenarnya skizofrenia ini dan apa yang harus kita lakukan bila ada orang terdekat kita yang mengalaminya? Berikut ringkasan perbincangan dengan Pdt. Paul Gunadi mengenai skizofrenia. Silakan menyimak! T: Apa itu gangguan skizofrenia?

J: Gangguan skizofrenia adalah gangguan jiwa yang serius karena mengganggu cara pikir sehingga kita tidak lagi melihat kenyataan dengan tepat sebab pikiran kita dipenuhi dengan alam khayal yang sedemikian rupa sehingga kita mencampuradukkan antara alam khayal dan realitas atau kenyataan. Biasanya para penderita skizofrenia ini tidak bisa lagi bekerja atau berumah tangga karena dia tidak mungkin melakukan fungsi kehidupan sehari-hari karena gangguan persepsi akan realitas ini begitu menyeluruh dalam hidupnya. Itu sebabnya mereka yang menderita gangguan ini harus dirawat di rumah atau di rumah perawatan sehingga penderita bisa dirawat secara khusus. Dan itu akan menjadi perawatan yang berjangka panjang. T: Kalau ini gangguan mental, apa penyebabnya? J: Ini memang gangguan yang kita tidak bisa katakan berasal dari luar dirinya. Gangguan skizofrenia adalah gangguan yang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat organik atau suatu senyawa kimia di otaknya sehingga dia tidak bisa lagi berinteraksi dengan realitas secara tepat, baik dalam pola pikirnya maupun reaksinya terhadap peristiwa yang dialaminya. Ini adalah sesuatu yang biasanya dia bawa atau miliki kecenderungannya sejak lahir. T: Gangguan mental itu ada bermacam-macam, kapan kita bisa mengatakan bahwa seseorang itu mengalami gangguan skizofrenia? J: Kata ini memunyai dua unsur atau dua hal, yaitu dilusi dan halusinasi. Dilusi adalah pikiran yang tidak rasional atau anggapan-anggapan yang tak berdasar yang tidak rasional lagi. Misalnya, kita menganggap bahwa kita adalah superman atau kita menganggap kita adalah hewan. Inilah yang disebut dilusi, pikiran tidak lagi rasional. Halusinasi adalah kelanjutan dari dilusi, dia bukan saja tidak memiliki pikiran yang tidak lagi rasional, namun dia melibatkan panca indranya di alam khayalnya itu. Jadi, halusinasinya kita sebut halusinasi penglihatan karena dia mulai melihat hal-hal tertentu yang sebetulnya tidak ada. Misalnya, dia melihat seseorang dan seseorang itu berbicara dengan dia, atau halusinasi pendengaran, yaitu dia mulai mendengar orang berkata-kata dengan dia sehingga dia juga memberi respons bercakap-cakap dengan orang tersebut meskipun sebetulnya keduanya ini tidak ada. T: Di masyarakat sering kali disebut orang gila, apakah istilah itu tepat? J: Memang istilah skizofrenia itu sebetulnya berasal dari satu kata, yaitu "skismi" atau "skisme", bahasa Inggrisnya "schism". Kata "skisme" yang menjadi "skizo" itu berarti terbelah atau pecah. Jadi, skizofrenia adalah gangguan yang memutuskan atau membelah fungsi rasional kita, sehingga kita tidak lagi bersentuhan dengan realitas antara kita dan alam nyata. T: Juga ada orang yang mengatakan ini gara-gara stres, jadi tekanan hidupnya terlalu banyak, apakah itu betul? J: Memang ada kasus-kasus yang muncul akibat depresi berat yang berkelanjutan. Depresi berat yang sangat parah itu biasanya juga bisa menghadirkan pemikiran-pemikiran yang dilusional, artinya penuh dengan ketidakrasionalan. Sekilas depresi berat ini tampaknya seperti skizofrenia, namun kalau gejala halusinasi atau dilusi ini munculnya setelah depresi berat, sebetulnya itu bagian dari depresi yang beratnya. Dengan pertolongan obat dan konseling, biasanya orang bisa keluar dari depresi yang berat, sebab jika bisa keluar dari depresi yang berat, maka gejala-gejala itu juga akan hilang dengan sendirinya. Kalau orang menderita skizofrenia agak berbeda. Dia tidak harus didahului atau mengalami depresi berat. Umumnya, gejala skizofrenia ini munculnya pada anak-anak remaja, dengan kata

lain pada masa kecil kita memang tidak bisa mendeteksinya. Kita melihat anak ini sama dengan anak-anak lain, tapi waktu dia mulai beranjak remaja, kita baru melihat bahwa ada sesuatu yang lain pada dirinya, yaitu anak-anak yang menderita skizofrenia adalah anak-anak yang sejak kecil itu cenderung tidak mau bergaul, mengisolasi diri, dan waktu remaja nampak sekali gejalanya. Jadi, dia mengucilkan dirinya, tidak punya teman dan sebagainya, tiba-tiba kita mulai melihat dia bicara, tertawa sendirian. Sekali lagi ini tidak didahului oleh stres dan memang benar-benar gejalanya muncul dengan sendirinya. Inilah yang kita katakan sebetulnya skizofrenia tidak ditentukan oleh pengaruh luar, tapi memang sesuatu yang sudah dibawa dari kecil dan tinggal tunggu waktu, maka gejala itu akan menam pakkan diri. T: Berarti ada faktor keturunan? J: Sering kali ya. Kita mesti berhati-hati tatkala mengatakan ini keturunan, maksudnya gangguan yang berat seperti skizofrenia sering kali melibatkan keturunan. Kalau orang tua kita memunyai gangguan ini, maka kemungkinan kita mengidapnya lebih besar dari pada orang lain. Jadi, tidak berarti bahwa kalau orang tua kita mengidapnya, maka pastilah kita akan mengidapnya. Itu salah! Yang dimaksud dengan keturunan adalah bahwa kemungkinan kita mengidapnya lebih besar daripada orang lain yang orang tuanya tidak mengidap gangguan ini. Gangguan ini memang gangguan yang disebut organik, artinya gangguan yang muncul dari syaraf-syaraf atau senyawa kimiawi di otak kita yang membuat kita akhirnya mengidap gangguan ini. T: Kalau itu faktor organik, apakah kita bisa melakukan pencegahan sedini mungkin, misalnya dengan menggunakan obat-obatan atau vitamin untuk syaraf atau bagaimana? J: Malangnya, sampai saat ini belum ditemukan cara untuk mencegah munculnya skizofrenia. Maka yang bisa dilakukan hanyalah supaya orang tua itu bisa lebih tajam, lebih peka melihat gejala ini sedini mungkin, sebab kalau gejala ini diketahui sedini mungkin dengan pengobatan dan sebagainya, maka dilusi dan halusinasi itu bisa dikurangi. Waktu orang terkena skizofrenia, pengobatan yang akan dicoba ialah meredam munculnya dilusi dan halusinasi itu. Kalau sejak anak kecil atau remaja sudah mulai menampakkan dilusi dan halusinasi, setidak-tidaknya pada masa kecil itu dia diminta atau diharuskan memakan obat untuk menghilangkan dilusi atau halusinasi. Mudah-mudahan karena sudah dibiasakan, maka dia akan lebih terbiasa memakan obat-obatan ini sehingga dilusi atau halusinasi tidak harus timbul. Kalaupun akhirnya muncul, tidak akan muncul sesering itu, karena sekali lagi dengan munculnya ilmu kedokteran, maka lebih tersedia obat-obat yang dapat menghilangkan dilusi atau halusinasi ini. Tapi sekali lagi, ini adalah gejala, baik dilusi maupun halusinasi, penyakit itu sendiri tetap ada. Jadi obat tidak menyembuhkan penyakitnya, yang sudah ada itu akan tetap ada. Maka kita tidak mengatakan skizofrenia suatu yang dapat disembuhkan atau "curable". Kita hanya mengatakan skizofrenia adalah penyakit yang " treatable", dapat dilawan, dapat diobati, pengembangan gejala-gejalanya dapat dibendung sehingga tidak harus memburuk. T: Sebenarnya gangguan skizofrenia ini menetap atau kadang-kadang muncul di dalam diri seseorang ? J: Ini adalah salah satu kesalahpahaman, kadang-kadang kita beranggapan orang yang terkena skizofrenia akan terus-menerus setiap detik berkhayal dan dalam dunia khayalnya, sebetulnya tidak! Jadi, ada waktu di mana dia bisa bicara menjawab pertanyaan kita dengan biasa, namun setelah berbicara dengan kita, dia akan diam kemudian tertawa sendirian lagi, dia akan bicara lagi.

Memang gejala ini tidak harus menetap setiap detik, tapi kita katakan dia sudah terganggu sebab sebetulnya di dalam dirinya sudah ada keterpecahan itu, meskipun masih ada kemampuan untuk berelasi dengan orang di luar dirinya, tapi memang tidak konstan terus-menerus dia akan kembali ke dunia khayalnya. T: Bagaimana kalau kita tinggal bersama-sama dengan orang yang mengalami gangguan skizofrenia? J: Langkah pertama adalah kita mesti mengakui bahwa orang ini atau anak kita ini bermasalah. Ini salah satu hal yang tidak mudah diakui oleh orang tua. Orang tua yang anaknya menderita gangguan seperti ini, sampai waktu yang lama, tetap tidak mau mengakui bahwa inilah yang diderita oleh si anak. Langkah kedua adalah kalau untuk gangguan yang seberat ini, kita memang harus langsung membawanya ke psikiater, yaitu seorang dokter yang spesialisasinya dalam bidang psikiatri dan nanti dokter akan melihat gejalanya kemudian memberikan obat yang harus dimakan. Ini menjadi suatu tantangan yang terbesar, sebab penderita skizofrenia tidak selalu mau makan obat, jadi kita harus memaksa dia untuk memakannya karena begitu dia tidak mau makan obat, maka tinggal tunggu waktu gejala delusi dan halusinasinya akan kembali lagi. Kalau sudah seperti itu, maka yang harus dilakukan adalah membawanya dengan paksa ke rumah sakit jiwa, karena di sana dia bisa dengan paksa diberi obat sehingga dia bisa dirawat lagi dan bisa tenang kembali serta dapat dipulangkan. Namun, ini biasanya sebuah siklus, dia akan merasa baik selama beberapa waktu, kemudian dia tidak mau makan obat lagi dan kembali lagi pada khayalannya, akhirnya dibawa ke rumah sakit lagi dan ini berlangsung seumur hidup. Kalau keluarga memunyai anggota yang seperti itu, maka perlu dipikirkan pengaturannya atau perawatannya, sebab orang tua tidak bisa selamanya merawat anak ini. Persoalannya adalah kalau kakak atau adiknya memunyai keluarga, ini bukanlah sesuatu yang sehat sebab kalau dalam keluarga itu ada anak dan anak itu melihat pamannya yang menderita gangguan seperti ini, itu bukanlah hal sehat. Maka hal yang cocok yang lebih disarankan adalah sebaiknya, kalau orang tua sudah mulai tua dan sebagainya, dia dirawat di dalam rumah perawatan. Asal kita bisa percaya bahwa rumah perawatan itu akan merawatnya dengan baik, mungkin itu adalah jalan keluar yang terbaik dan dia bisa tinggal di sana, punya kamar sendiri, mendapatkan perawatan, obat, dan kalau dia tidak mau minum obat, dia bisa disuntik dan sebagainya, sehingga dia lebih terkontrol. T: Biasanya baru kita kenali setelah dia dewasa atau bagaimana? J: Biasanya setelah remaja atau dewasa awal. Biasanya mulai terlihat setelah umur 15 atau 16 tahun. Dia mulai tidak mau bergaul, diam, murung, tidak mau bertemu orang, susah percaya, tidak mau ada perasaan-perasaan yang keluar, wajahnya datar-datar saja, kalau senang tidak pernah terlihat dan sedih pun tidak kelihatan, marah tidak kelihatan. Jadi benar-benar sebuah wajah yang kosong, yang datar saja. Akhirnya mulai kelihatan bicara sendiri, tertawa sendirian, dan sebagainya. T: Sehubungan dengan hal ini, apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin disampaikan? J: Saya akan bacakan Mazmur 139:13, 16 "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." Kita mesti mengingat penderita skizofrenia mestinya adalah ciptaan Tuhan, dan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan, mengapa Dia mengizinkan semua ini terjadi? Maksud inilah yang

tidak mudah untuk kita ketahui, tapi janganlah kita menyesali atau malahan marah kepada Tuhan, tapi terimalah! Ada rencana Tuhan dan tetap ini adalah ciptaan Tuhan yang kita mesti hormati.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->