PROGRAM PENGENDA LIAN INFEKSI NOSOKOMI AL

RUMAH SAKIT UMUM BUDI LUHUR CIREBON
Dr. H. Hakiki Akbari 6/19/2008

KATA PENGANTAR
Rumah sakit sebagai suatu institusi yang melayani pengidap penyakit sangat rentan terhadap terjadinya penularan penyakit. Penularan penyakit bisa terjadi pada siapa saja yang berada di lingkungan RS, Dokter, Paramedik, Karyawan lain, Pasien, Penunggu pasien atau pengunjung pasien. Karenanya penting sekali bagi RSBL untuk mempelajari bagaimana proses infeksi terjadi, jasad renik apa saja yang sering menginfeksi, serta nagaimana menangani kasus infeksi nosokomial. Sebab bila sampai terjadi penularan infeksi di RS akan cukup sulit mengatasinya, karena umumnya kuman sudah resisten terhadap banyak antibiotika. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dibuatlah program Pengendalian Infeksi Nosokomial yang dimaksudkan untuk mebuat aturan-aturan dan kegiatan yang diaksudkan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial di RSBL. Program pengendalian infeksi nosokomial pada dasarnya terintegrasi dengan program lain sedemikian rupa sehingga tercipta Patient Safety di RSBL. Buku ini merupakan pedoman yang berlaku di RSBL tentang usaha mengendalikan Infeksi Nosokomial. Semoga bisa dilaksanakan dengan baik. Cirebon 19/6/08

dr. H. Hakiki Akbari Direktur

BAB I. PENGENDALIAN POTENSI INFEKSI
RUANG LINGKUP I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN CARRIER SEHAT A. Kebijakan Pakaian Seragam Tenaga Keperawatan RSBL B. Kebijakan tentang Alat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL C. Kebijakan Cuci Tangan D. Kebijakan Pemeriksaan Kesehatan rutin Tenaga Kesehatan RSBL E. Kebijakan tentang Penunggu Pasien F. Kebijakan tentang Waktu Besuk G. Kebijakan tentang penerimaan Tamu RSBL PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN PENDERITA PENYAKIT MENULAR A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara Aerogen B. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara hematogen C. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara enterogen D. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara urogenik E. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara kontak kulit PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN HEWAN DI RSBL A. Kebijakan tentang Pengendalian Lalat B. Kebijakan tentang Pengendalian Nyamuk C. Kebijakan tentang Pengendalian Tikus D. Kebijakan tentang Pengendalian hewan lain PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN SUMBER INFEKSI INANIMATE A. Kebijakan tentang Pengendalian Sampah B. Kebijakan tentang Pengendalian Limbah C. Kebijakan tentang pengendalian Permukaan D. Kebijakan tentang pengendalian Linen PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN LINGKUNGAN A. Kebijakan tentang Ruang dan Bangunan B. Kebijakan tentang Udara C. Kebijakan tentang Pencahayaan D. Kebijakan tentang Kebisingan E. Kebijakan tentang suhu ruangan F. Kebijakan tentang Penyediaan Air Bersih dan Drainase G. Kebijakan tentang batas lahan RSBL PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI MAKANAN DAN MINUMAN PROSEDUR PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR OPERASI PROSEDUR PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR BERSALIN

I.

I.

I.

I.

I.
II.

III.

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Infeksi dari Kemungkinan Carrier Sehat 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I.

ROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI DARI KEMUNGKINAN CARRIER SEHAT

Pengertian

: Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengendalian sumber infeksi dari carrier sehat Carrier sehat adalah orang yang mengidap kuman dalam tubuhnya, namun tidak merasa sakit, tidak menunjukkan gejala penyakit,

Sasaran

: • • • • Karyawan / tenaga kesehatan Penunggu pasien Pengunjung pasien Tamu RS

Kebijakan

: 1. Semua tenaga kesehatan RSBL agar menjaga hygiene pribadi dan melaksanakan prosedur tetap pelayanan medik dan keperawatan yang sudah ditetapkan dengan baik 2. Semua tenaga kesehatan RSBL agar mengedepankan self protection dan patient safety secara seimbang dan disiplin 3. Dilakukan check up dan penapisan rutin bagi seluruh karyawan terhadap kemungkinan infeksi 4. Dilakukan pembatasan penunggu pasien di ruang rawat inap 5. Dilakukan pembatasan waktu kunjungan 6. Dilakukan pembatasan akses bagi tamu RS

Ruang Lingkup: A. Kebijakan Pakaian Seragam Tenaga Keperawatan RSBL ○ Kepada Setiap Tenaga keperawatan diberikan 3 tipe seragam, masing-masing 2 pasang dengan warna yang berbeda : Putih, Biru, hijau, batik dan UGD • Seragam Putih dipakai hari senin dan Kamis • Seragam Hijau dipakai hari selasa dan jumat • Seragam biru dipakai hari Rabu dan Sabtu • Seragam Batik dipakai tiap hari minggu • Seragam UGD jika dinas di UGD • Desain seragam dinas lengan hingga 1/3 tengah lengan bawah bagi wanita, celana panjang tidak boleh melebihi mata kaki. Tenaga Keperawatan diwajibkan memakai seragam yang sudah dicuci bersih setiap kali berdinas Tenaga keperawatan dapat menggunakan fasilitas laundry RSBL tanpa dipungut Biaya. Bagian Laundry melakukan Pencucian pakaian sesuai SOP Laundry yang sudah ditetapkan Bila seragam dinas dibawa pulang setelah dipakai, agar segera direndam dan dicuci untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyebaran kontaminasi keluar RS Disediakan sepatu dinas masing-masing 1 pasang, warna putih untuk wanita dan hitam untuk pria, tidak bertali Sepatu disimpan di RSBL, dipakai setiap kali berdinas. Dilarang memakai sepatu secara bergiliran. Dilarang membawa sepatu dinas ke luar RSBL. Sepatu dibersihkan dan dicuci secara rutin 1 minggu sekali. Jilbab berwarna putih bersih agar mudah mudah mendeteksi kontaminasi bila terjadi, di ikat rapi ke belakang atau di desain sedemikian rupa sehingga tidak terurai ke dada sehingga mengurangi resiko kontak dengan kontaminan.

○ ○ ○ ○

○ ○

A. Kebijakan tentang Alat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL a. Hand Gloves / Handschoen ○ Handschoen yang digunakan di RSBL tdd 3 macam : Handschoen Baru dan steril, Handschoen daur ulang dan telah melalui proses dekontaminasi dan Desinfeksi Tigkat Tinggi, dan Hanschoen non steril ○ Handschoen daur ulang dibuat setelah pemakaian handschoen baru selesai dipakai. Handschoen segera dicuci dengan larutan chlorine 0,5% sebelum dilepas dan di rendam dengan larutan tersebut selama 10 menit. Setelah itu dibilas dengan air mengalir dari wastafel atau spoolhoek sambil di cek ada kebocoran atau tidak. Setelah dikeringkan dengan diangin-angin diberi talcum powder sedikit, Kemudian dilakukan desinfeksi Tingkat tinggi dengan

○ ○ ○ ○

○ ○ ○

mengukusnya dalam wadah khusus dalam keadaan terlipat seperti handschoen baru selama 1 jam dengan air mendidih. Proses pendauran ulang handschoen ini dilakukan di ruang Verbedding, dilanjutkan DTT di Ruang pusat Sterilisasi. Setelah selesai, maka handschoen dipindahkan ke dalam wadah handchoen yang sudah disterilisasi Handschoen daur ulang juga dapat disterilisasi dengan autoclaf dalam wadah tromol Selalu periksa adanya kebocoran pada handschoen daur ulang sebelum dipakai. Handschoen daur ulang dibatasi pemakaiannya untuk melakukan bedah minor atau tindakan keperawatan seperti memasang IV catheter, memasang urine catheter, atau NGT. Khusus untuk pasien pengidap penyakit menular secara hematogen seperti pengidap HBV, HCV atau HIV, sebaiknya memakai Handschoen baru. Handschoen daur ulang dibatasi pemakaiannya hingga 3 kali pemakaian. Setelah 3 kali pemakaian harus diafkir dan dibuang. Caranya, setiap nakes menghitung pemakaian handschoen oleh dirinya. Jika ia memakai handschoen daur ulang , maka handschoen ketiga yang selesai ia pakai harus segera dibuang kedalam tempat sampah infeksius. Semua handschoen yang bocor harus dibuang ke tempat sampah infeksius. Cara memakai handschoen memakai prinsip skin to skin, glove to glove Setelah selesai menggunakan handschoen, maka sebelum dilepas, di cuci dulu dengan larutan chlorin 0,5% lalu di lepas dan direndam selama 10 menit . Setelah itu dibilas di air mengalir pada wastafel atau spoelhoek.. Selalu perhatikan tangan pasca melepas handschoen. Adakah tanda-tanda kebocoran handschoen pada tangan. Bila hendak didaur ulang, maka prosedur sesuai ketentuan di atas. Bila hendak diafkir, maka langsung dimasukkan kedalam tempat sampah infeksius. Bila handschoen terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HBV, HCV atau HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius

a. Apron / Celemek ○ Apron disediakan di ruangan-ruangan : Kamar Operasi, Kamar bersalin, UGD, High Care Unit, dan Ruang rawat inap ○ Apron dipakai sesuai standar pemakaian APP (Tabel 1) ○ Setelah selesai dipakai, maka pengelolaannya sesuai prosedur pengelolaan linen kotor ○ Semua apron pasca operasi atau persalinan dianggap terkontaminasi cairan tubuh pasien ○ Bila apron terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius atau sesuai dengan pengelolaan linen kotor / infeksius

a. Masker ○ Masker disediakan di ruangan-ruangan : Kamar Operasi, Kamar bersalin, UGD, HCU, Rawat inap, Rawat Jalan ○ Masker yang digunakan di RSBL tdd: Masker Dipossable, dan masker reusable. ○ Masker dispossable digunakan hanya sekali pakai. Setelah dipakai langsung dibuang di tempat sampah infeksius. ○ Masker reusable terbuat dari kain. Tersedia dalam tromol khusus dalam keadaan steril dan siap pakai. Setelah dipakai maka pengelolaan sesuai prosedur pengelolaan linen kotor. ○ Bila masker reusable terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HBV, HCV atau HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius ○ Standard pemakaian masker sesuai Tabel 1 a. Goggle ○ Goggle disediakan di Kamar Operasi,Kamar Bersalin, UGD, dan HCU ○ Standard pemakaian seperti pada Tabel 1 ○ Semua goggle dianggap terkontaminasi cairan tubuh pasien ○ Bila kontaminasi tidak jelas, maka goggle di bersihkan dengan larutan chlorine 0,5% ○ Bila Kontaminasi jelas atau pasien dengan HBV/HCV/HIV, maka goggle direndam dulu dalam chlorine 0,5% selama 10 menit, kemudian dibilas dengan air mengalir dicuci dengan detergent dan di keringkan dengan cara diangin2. a. Pelindung Kaki ○ Pelindung kaki disediakan di Ruang Kamar operasi, Kamar bersalin, UGD, HCU ○ Pelindung kaki standar yang digunakan di RSBL tdd : Sepatu sendal khusus berpenutup jari dan sepatu boot ○ Pelindung kaki tidak boleh dibawa keluar ruangan tempatnya disimpan / disediakan. ○ Setiap orang yang masuk ruangan tersebut harus mengganti alas kaki dengan pelindung kaki yang disediakan. ○ Setelah dipakai maka tergantung tingkat kontaminasi, bila masih bersih dan tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien bisa langsung disimpan kembali, bila sedikit kotor dan tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien dapat di cuci dengan detergent di spoolhoek ○ Bila terkontaminasi cairan tubuh pasien harus dibersihkan dengan larutan chlorin 0,5% bila contaminasi banyak sekali, maka alas kaki direndam dengan chlorine 0,5% selama 10 menit kemudian dibilas, lalu dicuci dengan detergent, di keringkan dengn diangin-angin

a. Penutup Kepala / Head Cover (HC) ○ Penutup kepala disediakan di OK ,UGD, dan Kamar bersalin ○ HC yang digunakan di RSBL tdd: HC Dipossable untuk dan HC reusable ○ HC dispossable digunakan hanya sekali pakai. Setelah dipakai langsung dibuang di tempat sampah infeksius. ○ HC reusable terbuat dari kain. Tersedia dalam tromol khusus dalam keadaan steril dan siap pakai. Setelah dipakai pengelolaannya sesuai prosedur pengelolaan linen kotor ○ Bila HC reusable terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius ○ Standard pemakaian HC sesuai Tabel 1 a. Pakaian Khusus ○ Pakaian khusus disediakan di Kamar Operasi, Kamar bersalin, dan HCU ○ Pakaian khusus standard yang ada di RSBL tdd : Pakaian Khusus Kamar Operasi, Pakaian pelindung di HCU dan Kamar bersalin ○ Pakaian khusus Kamar Operasi tidak boleh keluar dari zona hijau sesuai SOP . Pakaian Pelindung HCU dan Kamar bersalin tidak boleh dibawa keluar ruangan. ○ Setiap orang yang masuk ruangan OK harus mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang disediakan. Setiap orang yang masuk HCU dan Kamar bersalin harus memakai pakaian pelindung yang disediakan ○ Setelah dipakai maka tergantung tingkat kontaminasi, bila masih bersih dan tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien bisa langsung disimpan kembali, bila kotor dan atau terkontaminasi cairan tubuh maka pengelolaannya sesuai prosedur pengelolaan linen kotor. Atau dapat juga langsung dibuang sebagai sampah infeksius bila terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HCV, HBV atau HBV.

a. Tabel Standar Pemakaian Aalat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL TABEL 1 Jenis Pajanan • • Resiko Rendah Tidak terpajan langsung dengan darah/cairan tubuh Resiko sedang Kemungkinan tidak besar terpajan darah/ cairan tubuh Tak ada cipratan

Contoh Injeksi Ganti balutan

APP standard Tanpa Handschoen Dengan handschoen pada pasien HBV/HCV/HIV double Handschoen ± Apron Alas kaki

• •

Rectal touche Vaginal touche Insersi IUD, laminaria Pasang DC, NGT Mengambil sample cairan tubuh Bedah minor Puntie pleura, Ascites, Pericardiocentesis Ceceran darah Bedah minor Bedah mayor Persalinan

• •

• •

Resiko besar Kemungkinan besar terpajan darah / cairan tubuh Ada Cipratan Perdarahan massif

Handschoen Apron Masker Goggle Pelindung kaki

A. Kebijakan Cuci Tangan a. Kebijakan cuci tangan ini harus diikuti oleh semua orang yang berada di dalam lingkungan RSBL : Pasien, Dokter, Perawat, Karyawan, Penunggu pasien, Pengunjung RS b. Cuci tangan wajib dilakukan pada saat : • Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau benda yang terkontaminasi cairan tubuh pasien. • Sebelum dan sesudah melakukan tindakan asepsis / antisepsis • Sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan luka dan dressing care • Sebelum dan sesudah menyentuh bahan / sample pemeriksaan laboratorium • Jika tangan diduga kotor diantara dua tindakan/pemeriksaan fisik pasien • Segera setelah masuk atau meninggalkan ruangan/RS • Segera setelah memeriksa pasien dengan penyakit kulit menular • Segera sebelum memakai handschoen dan setelah melepas Handschoen • Sebelum dan sesudah makan • Sebelum dan sesudah memberikan obat • Segera setelah Keluar dari toilet untuk BAB/BAK • Segera setelah membersihkan instrumen/ linen/ APP a. Standard Alat Cuci tangan di RSBL • Air mengalir dari air tanah yang sudah ditampung, atau air PDAM, yang keduanya sudah secara rutin diperiksa dan lulus uji air dari Dinas Kesehatan / KLH • Wastafel dilengkapi siphon dan saluran air berukuran standard wastafel yang secara rutin dipelihara kebersihan dan kelancaran alirannya oleh bagian Pemeliharaan RSBL • Keran air yang mudah dibuka tutup dan tidak berkarat • Sabun cair Antiseptik dalam botol dispenser yang dibersihkan setiap isi ulang • Lap tangan dispossable dalam bentuk tissue gulung atau tissue lipat • Tersedia tempat sampah domestik a. Standard Teknik Cuci tangan di RSBL • Buka keran air. Usahakan membuka keran dengan bagian tangan atau lengan yang bersih • Biarkan air mengalir sejenak

• • • • •

• • • • • •

Bilas tangan satu persatu. Alirkan air mengaliri lengan bawah ke tangan dan jari-jari. Ambil sabun cair secukupnya dengan bagian tangan yang dianggap bersih tampung di telapak tangan satunya. Balurkan sabun ke seluruh tangan hingga 1/3 distal lengan bawah. Lakukan bergantian satu tangan oleh tangan lainnya. Lakukan 7 langkah mencuci tangan : Gosok – gosokan kedua telapak tangan dan sela jari, Gosok-gosokan telapak tangan yang satu kepunggung tangan yang lain serta jari-jari secara bergantian, Bersihkan buku-buku jari tangan yang satu oleh tangan lainnya, Gosok-gosokkan ujung jari tangan yang satu pada telapak tangan yang lainnya secara bergantian, Gosok sekitar ibu jari tangan yang satu oleh tangan yang lainnya, gosok-gosokkan sekitar pergelangan tangan yang satu oleh tangan yang lain secara bergantian Semua proses berlangsung selama minimal 10 detik. Bilas dengan air mengalir dari ujung jari tangan hingga ke lengan bawah.bergantian kiri dan kanan. Biarkan air dari lengan menetes dulu diatas wastafel. Tutup Keran air Keringkan tangan dan lengan yang basah dengan Tissue Kering yang tersedia. Buang tissue ke dalam tepat sampah domestik yang tersedia.

A. Kebijakan Pemeriksaan Kesehatan rutin Tenaga Kesehatan RSBL a. Setiap Calon karyawan baru RSBL harus memenuhi syarat-syarat kesehatan sbb : • Pemeriksaan fisik oleh dokter dinyatakan sehat yang disahkan dengan Surat Keterangan Sehat • Tidak mengidap penyakit Paru kronik dan menular yang diperkuat dengan hasil Foto Rontgen Thorax yang dinyatakan tidak ada kelainan oleh dokter radiolog • Bila dicurigai dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan sputum Gram / BTA • Tidak mengidap penyakit potensial kronik yang menular secara hematogen yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan laboratorium untuk HbsAg, Anti HBs, Anti HCV dan HIV negatif. a. Pemeriksaan diulang setiap tahun 1 kali b. Bila setelah bekerja hasil check up menunjukkan adanya hasil positif untuk penyakit menular non spesifik, maka karyawan dikonsultasikan dengan dokter konsulen terkait, untuk selanjutnya diterapi dan selanjutnya di evaluasi kelayakan bekerjanya. c. Bila positif mengidap penyakit paru menular kronik spesifik /TBC maka karyawan di konsultasikan dengan dokter konsulen paru untuk mendapatkan therapi. Karyawan

dapat bekerja kembali setelah hasil sputum BTA negatif 3 X, untuk selanjutnya dievaluasi kelayakan bekerjanya. d. Bila positif mengidap penyakit potensial kronik yang menular melalui cairan tubuh seperti Hepatitis B maka penderita dikonsultasikan kepda konsulen interna untuk mendapatkan pengobatan. Karyawan dapat bekerja kembali bila hasil pemeriksaan HbsAg dan HbeAg negatif untuk kemudian dievaluasi kelayakan bekerjanya e. Bila karyawan positif mengidap Hepatitis C, atau HIV (+), maka karyawan diminta untuk mengundurkan diri sesuai ketentuan yang berlaku A. Kebijakan tentang Penunggu Pasien a. Pasien rawat inap RSBL diperbolehkan untuk ditemani / ditunggui oleh kerabatnya b. Jumlah penunggu pasien di ruangan rawat inap dibatasi hanya 2 orang saja Per pasien. c. Penunggu pasien yang lain harus menunggu di luar ruangan rawat inap. Disediakan ruang lobby dan community center untuk kerabat pasien lainnya menginap d. Penunggu pasien harus ikut menjaga kebersihan ruangan rawat inap dan lingkungan RSBL e. Penunggu pasien harus ikut mematuhi peraturan yang berlaku di RSBL baik peraturan umum maupun menyangkut program pengendalian infeksi nosokomial. f. Penunggu pasien dilarang merokok di lingkungan RSBL. Disediakan tempat khusus untuk merokok (smoking area) g. Anak kecil dibawah usia 10 tahun dilarang masuk area rawat inap dan dilarang menginap di area rawat inap RSBL disediakan Kids centre untuk tempat menginap anak yang letaknya diluar area rawat inap. h. Penunggu pasien yang sedang mengidap penyakit menular dilarang menunggui pasien di ruang rawat inap dan diwajibkan memeriksakan diri pada dokter untuk diberi pengobatan. i. Penunggu pasien di ruang rawat inap dapat menggunakan fasilitas toilet yang tersedia di ruangan rawat inap. j. Kerabat pasien di luar ruang rawat inap dapat meggunakan fasilitas toilet umum yang tersedia. k. Penunggu pasien di ruang rawat inap dihimbau /sebaiknya tidak membawa makanan dari luar lingkungan RSBL. Makanan dari luar lingkungan RS bila ada dalam ruang rawat inap harus dalam keadaan tertutup dan atau disimpan di dalam kulkas / bedside cabinet yang tersedia. l. Paramedik dan pembantu paramedik berhak melakukan tindakan yang diperlukan terhadap penunggu pasien serta makanan serta pakaian dan perilaku penunggu pasien dalam rangka menjaga kebersihan ruang rawat inap. m. Penunggu pasien dapat mengunakan fasilitas cuci yang tersedia di ruangan rawat inap atau memakai jasa laundry RSBL dengan tarif. n. Penunggu pasien dilarang menjemur / meletakkan linen basah di dalam ruangan rawat inap. Linen basah dan pakaian yang hendak dijemur diletakkan di ruang yang sudah disediakan.

A. Kebijakan tentang Waktu Besuk a. Jam Kunjungan pasien dibatasi hanya 6 jam dalam satu hari, terbagi dalam dua kelompok waktu : • Pukul 09.00 - 11.00 WIB • Pukul 15.00 – 19.00 WIB a. Jumlah pengunjung pasien di ruangan rawat inap dibatasi hanya 2 orang saja. b. Pengunjung pasien yang lain harus menunggu di luar ruangan rawat inap. Disediakan ruang lobby dan community center untuk kerabat pasien lainnya menginap / menunggu c. Pengunjung pasien harus ikut menjaga kebersihan ruangan rawat inap dan lingkungan RSBL d. Pengunjung pasien harus ikut mematuhi peraturan yang berlaku di RSBL baik peraturan umum maupun menyangkut program pengendalian infeksi nosokomial. e. Pengunjung pasien dilarang merokok di lingkungan RSBL. Disediakan tempat khusus untuk merokok (smoking area) f. Anak kecil dibawah usia 10 tahun dilarang masuk area rawat inap dan dilarang menginap di area rawat inap, disediakan kids centre untuk anak2 menginap g. Kerabat pasien di luar ruang rawat inap dapat meggunakan fasilitas toilet umum yang tersedia. A. Kebijakan tentang penerimaan Tamu RSBL a. Tamu RSBL yang tidak bermaksud berobat, tidak bermaksud mengunjungi/ mengantar pasien atau utusan pihak berwenang dalam rangka inspeksi, tidak mendapatkan akses ke area rawat inap. b. Tamu RSBL tersebut tetap harus mematuhi peraturan RSBL baik peraturan umum maupun dalam rangka pengendalian infeksi nososkomial.

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Infeksi dari Penderita Penyakit Menular 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I. A.

PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN PENDERITA PENYAKIT MENULAR Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara aerogen 1. Penderita infeksi saluran nafas non spesifik ○ Bila pasien dirawat dengan diagnosa infeksi saluran nafas non spesifik / non TBC maka kepadanya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi medis. Penunggu pasien di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS Tenaga Kesehatan di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS ○ Bila penunggu pasien mengalami infeksi saluran nafas nonspesifik, sedangkan pasien tidak, maka penunggu tersebut sebaiknya tidak menunggui pasien di ruang rawat inap, diminta untuk memakai masker di lingkungan RS, serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapat pengobatan ○ Bila Karyawan RS mengalami infeksi saluran nafas non spesifik, maka ia diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan pengobatan, serta di wajibkan memakai masker selama berdinas.

1. Penderita Infeksi saluran nafas spesifik ○ Bila pasien dirawat dengan diagnosa infeksi saluran nafas TBC maka kepadanya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi medis. Penunggu pasien di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS Tenaga Kesehatan di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS

Bila diperlukan pasien dipisahkan dari pasien lain / di rawat di dalam ruang isolasi Bila penunggu pasien mengalami infeksi saluran spesifik TBC, sedangkan pasien tidak, maka penunggu tersebut sebaiknya tidak menunggui pasien di ruang rawat inap, diminta untuk memakai masker di lingkungan RS, serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapat pengobatan Bila Karyawan RS mengalami infeksi saluran nafas spesifik / TBC,maka ia diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan pengobatan, serta di wajibkan untuk cuti sakit hingga hasil pemeriksaan sputum BTA negatif 3 X.

A.

Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara hematogen 1. Kegiatan penapisan / screening terhadap kemungkinan infeksi Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV ○ Kegiatan screening dilakukan bertahap. Untuk sementara kegiatan screening dilakukan pada pasien dengan resiko penularan infeksi tinggi, seperti pasien dengan rencana operasi atau persalinan ○ Kegiatan screening dilakukan oleh paramedik menggunakan formulir Penapisan Infeksi hematogen segera setelah pasien datang di UGD atau di unit rawat jalan ○ Kriiteria yang dicari dalam screening antara lain : Faktor Kondisi asal pasien : Pasien berasal / lama tinggal di Indramayu, Papua, Luar negeri : Eropa, Emerika, Thailand, lama di Rumah Tahanan/ Lembaga permasyarakatan Faktor Pekerjaan : Pasien bekerja di tempat hiburan malam, PSK, pasangan PSK, Waria, Anak Jalanan, Bekerja di Instansi kesehatan, Laboratorium Faktor Riwayat Penyakit : Pernah mengalami transfusi darah, pernah sakit kuning, penyakit infeksi yang tidak sembuh2, penyakit TBC/ pneumonia luas dan berat Faktor Budaya/ Kebiasaan : Berganti-ganti pasangan hidup/ pasangan seksual, penyalah guna obat psikotropika, pengguna narkotika suntik, peminum alkohol, Bertato , homoseksual, biseksual. Faktor rencana pengobatan : Pasien rencana persalinan, pasien rencana operasi dengan resiko perdarahan ○ Bila terdapat 3 atau lebih dari kriteria diatas maka sudah menjadi indikasi untuk dilakukan screening 1. Kebijakan bagi penderita Hepatitis B dan atau Hepatitis C ○ Bila pasien rawat di diagnosa terinfeksi Hepatitis B dan atau Hepatitis C, maka pada pasien dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi medis

Penunggu pasien disarankan untuk memakai Handschoen non steril yang disediakan RS bila kontak fisik dengan pasien. Handschoen disimpan penunggu dan tidak boleh dipakai bergantian. Diganti setiap hari dan dibuang di tempat sampah infeksius. Wajib cuci tangan setelah kontak fisik dengan pasien. Semua kegiatan medis dan Keperawatan terhadap pasien yang dilakukan tenaga kesehatan RS wajib menggunakan handschoen dan bila diperlukan Apron. Handschoen dibuang sebagai sampah infeksius. Apron dekontaminasi,desinfeksi, sterilisasi Bila penunggu pasien mengalami infeksi Hepatitis B atau C, sedangkan pasien tidak, maka penunggu tersebut dilarang menunggui pasien di ruang rawat inap tidak tinggal di lingkungan RS kecuali bersedia dirawat, serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapat pengobatan Bila Karyawan RS mengalami infeksi hepatitis B atau C , maka ia diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan pengobatan, serta di minta untuk mengundurkan diri sesuai ketentuan perundangan yang berlaku .

1. Kebijakan bagi penderita HIV (+) ○ Bila pasien rawat jalan didiagnosa HIV (+) maka pasien dirujuk ke RS Pemerintah ○ Bila pasien Rawat inap didiagnosa HIV (+), maka dirawat di Ruang Rawat Isolasi ○ Penunggu pasien disarankan untuk memakai Handschoen non steril yang disediakan RS bila kontak fisik dengan pasien. Handschoen disimpan penunggu dan tidak boleh dipakai bergantian. Diganti setiap hari dan dibuang di tempat sampah infeksius. Diwajibkan cuci tangan setiap setelah kontak fisik dengan pasien. ○ Semua kegiatan medis dan Keperawatan terhadap pasien yang dilakukan tenaga kesehatan RS wajib menggunakan handschoen dan bila diperlukan Apron. Handschoen dibuang sebagai sampah infeksius. Apron didesiinfeksi, dekontaminasi, sterilisasi ○ Penanganan materi lain seperti sampah, cairan tubuh, linen, sama dengan penanganan pasien lain. A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara enterogen ○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami diare, disentri, atau cholera maka pada pasien dilakukan pemeriksan dan pengobatan sesuai indikasi medis ○ Membantu pasien BAB sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk hingga bersih sesudah membantu BAB ○ Pengelolaan faeces dan atau muntahan sebagaimana petunjuk buku ini ○ Linen yang terkontaminasi faeces harus segera diganti, pengelolaan linen kotor sesuai SOP

○ ○ ○

○ A.

Pengelolaan makanan sesuai SOP Menyuapi pasien sesuai SOP, cuci tangan sebelum dan sesudah menyuapi Bila penunggu pasien mengalami diare, disentri atau cholera, maka ia dilarang menunggui pasien di ruang rawat inap, diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan bila perlu dirawat inap. Bila Karyawan RS mengalami diare, disentri atau cholera,maka diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuks segera mendapatkan pengobatan. Bila perlu Cuti sakit, atau dirawat inap, Wajib mematuhi ketentuan tentang cuci tangan. Penggunaan toilet sebagaimana petunjuk buku ini.

Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara urogenik ○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami UTI maka pada pasien dilakukan pemeriksan dan pengobatan sesuai indikasi medis ○ Membantu pasien BAK sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk hingga bersih sesudah membantu BAK ○ Memasang Urine catheter sesuai SOP cuci tangan sesuai petunjuk ○ Pengelolaan urine sebagaimana petunjuk buku ini ○ Linen yang terkontaminasi urine harus segera diganti, pengelolaan linen kotor sesuai SOP ○ Bila penunggu pasien mengalami UTI maka ia diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan bila perlu dirawat inap. ○ Bila Karyawan RS mengalami UTI maka diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan. Bila perlu Cuti sakit, atau dirawat inap. ○ Penggunaan toilet sebagaimana petunjuk buku ini. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara kontak kulit ○ Selama dirawat di RSBL pasien hanya memakai pakaian dan linen yang disediakan oleh RS, termasuk disini : Baju / celana, sarung, selimut, bantal, dll ○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami Tinea, Herpes Zoster, Varicella, dll maka pada pasien dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi medis ○ Membantu pasien mengganti baju sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk hingga bersih sesudah membantu mengganti pakaian ○ Pengelolaan urine sebagaimana petunjuk buku ini ○ Pasien dimandikan sesuai SOP ○ Pakaian harus diganti setiap hari ○ Pengelolaan linen kotor sesuai SOP

A.

Bila penunggu pasien mengalami Tinea, Herpes zoster atau varicella maka ia diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan bila perlu dirawat inap. Diberi penerangan untuk selanjutnya sesuai petunjuk dokter. Bila Karyawan RS mengalami Tinea, Herpes zoster, atau varicella dll maka diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan. Bila perlu Cuti sakit, atau dirawat inap.

A.

Kebijakan tentang isolasi Pasien 1. Standar Ruang Isolasi RSBL ○ Letak ruangan tidak di jalur lalu lintas kegiatan medis, tidak banyak dilalui orang, tidak disediakan ruang berkumpul di depan ruangan ○ Pencahayaan sesuai standard ○ Dilengkapi kamar mandi / toilet ○ Dekat dengan ruang jaga paramedik 1. Pasien yang harus / perlu di rawat di ruang isolasi ○ Pasien yang berpotensi tinggi menularkan penyakit secara aerogen : TBC batuk aktif, Pneumonia dengan batuk aktif ○ Pasien yang berpotensi menularkan penyakit berbahaya : HIV, SARS, Hep B ○ Pasien dengan gaduh gelisah : Pasien dengan delirium, amok, schizoprenia ○ Pasien yang berpotensi mengganggu kenyamanan pasien lain : pasien dengan gangren , berbau busuk ○ Pasien dengan Tetanus

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Infeksi dari Binatang 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I.

PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN BINATANG DI RSBL

A. Pengendalian lalat ○ Secara fisik Pengaturan pintu ruangan agar lebih sering tertutup Mencegah penumpukan sampah domestik, Pengelolaan sesuai SOP Mencegah kontaminasi benda lain oleh cairan tubuh pasien Menjaga agar makanan selalu dalam keadaan tetutup Merawat luka dengan baik Sanitasi toilet yang baik ○ Secara kimia Penggunaan Pestisida spray ○ Cara lain Penggunaan fly paper, Fly stick Penggunaan lampu anti lalat A. Pengendalian Nyamuk ○ Secara Fisik Penggunaan Kawat kasa pada lubang jendela Pengaturan pintu yang lebih sering tertutup Pencegahan penumpukan linen dalam ruangan Pengaturan hygiene pasien dan penunggu pasien Penggunaan kelambu bagi pasien Pengurasan tempat penampungan air ○ Secara Kimia Penggunaan pestisida spray Pemberantasan sarang nyamuk / penggunaan bubuk abate

Bekerjasama dengan PKM setempat dalam rangka PSN Cara Lain Penggunaan lampu anti nyamuk

A. Pengendalian Tikus ○ Secara Fisik Menutup semua lubang pada dinding Pencegahan penumpukan sampah domestik Pengaturan penyimpanan makanan Sanitasi ruangan yang baik ○ Secara Kimia Memakai racun tikus ○ Cara lain Penggunaan Paper stick Penggunaan perangkap tikus A. Pengendalian hewan lain Pengendalian Kucing ○ Menutup semua lubang pada dinding ○ Pencegahan penumpukan sampah domestik ○ Pengaturan penyimpanan makanan ○ Menangkap dan membuang kucing

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Infeksi dari Inanimate/Benda mati 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I.

PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN SUMBER INFEKSI INANIMATE

A. Kebijakan tentang Pengendalian Sampah 1. Sampah Rumah sakit adalah bahan yang tidak berguna lagi, tidak digunakan, ataupun bahan yang dibuang 2. Sampah RSBL dibedakan menurut potensi infeksinya : • Sampah Domestik dibedakan sesuai kemudahan pembakarannya ○ Sampah domestik kering/non organik yaitu sampah yang berasal dari benda mati biasanya berasal dari kegiatan sehari-hari RS seperti kertas, plastik, kotak minuman, kardus, dll ○ Sampah domestik basah /organik : yaitu sampah yang berasal dari benda hidup / yang dapat membusuk seperti sisa makanan, daun, buah, kulit buah, rumput dll • Sampah Infeksius ○ Sampah Infeksius adalah semua sampah dari hasil kegiatan perawatan dan pengobatan pasien, baik yang kontak langsung dengan tubuh pasien atau cairan tubuh pasien ataupun tidak kontak langsung, seperti, tabung syringe, botol infus, catheter urine, urine bag, NGT , Verband,dll • Sampah Radioaktif ○ Sampah radioaktif adalah sampah yang dihasilkan dari hasil kegiatan radiologi • Sampah Sitotoksik ○ Sampah Sitotoksik adalah sampah yang termasuk bahan beracun berbahaya terutama jika kontak dengan tubuh seperti formalin, dll

Benda tajam ○ Benda tajam adalah sampah yang berbentuk tajam yang biasanya dipakai untuk tindakan invasif kepada pasien seperti jarum suntik, jarum IV catheter, Jarum Spinal, Jarum Jahit bedah bisturi dll

1. Standard Tempat sampah di RS Budi Luhur • Tempat sampah berbentuk tabung meninggi dilengkapi tutup yang memudahkan kita membuang sampah ke dalamnya tanpa mengotori tangan, sebagian dilengkapi dengan Kenop pembuka yang digerakkan dengan cara menginjaknya. Tempat sampah terbuat dari plastik yang kuat, warna tidak diitentukan, bagian dalamnya rata / kicin , tidak bertekstur yang dapat menambah kemingkinan menempelnya kotoran. Tempat sampah ada beberapa ukuran : Ukuran kecil untuk disediakan di setiap wastafel dan pada trolley perawatan Ukuran sedang untuk disediakan di dalam tiap ruangan rawat inap dan unit – unit pelayanan Ukuran besar untuk disediakan di beberapa tempat di koridor, dan lingkungan RS serta di ruang verbedding. Tempat sampah di wastafel terdiri dari tempat sampah domestik Tempat sampah di ruangan-ruangan rawat inap dan unit-unit pelayanan terdiri dari tempat sampah domestik dan tempat sampah infeksius Tempat sampah di koridor dan lingkungan RS terdiri dari Tempat sampah domestik Tempat sampah di ruang verbedding terdiri dari tempat sampah domestik, tempat sampah infeksius ,tempat sampah cytotoksik, dan kotak penampung benda tajam Tempat sampah di bagian radiologi terdiri dari tempat sampah domestik dan tempat sampah radioaktif Tempat sampah domestik terdiri dari 2 tempat sampah : Tempat sampah kering/anorganik dan tempat sampah basah/organik Bagian dalam tempat sampah dilengkapi dengan Kantung sampah sedemikian rupa sehingga sampah yang dibuang kedalam tempat sampah tersebut ditampung dengan baik oleh kantung sampah tersebut. Kantung sampah untuk tempat sampah domestik berwarna hitam Kantung sampah untuk tempat sampah infeksius berwarna Putih Kantung sampah untuk tempat sampah radioaktif berwarna merah Kantung sampah untuk tempat sampah cytotoksik berwarna Biru Namun demikian pemakaian warna yang seragam / hitam, masih diperbolehkan mengingat keterbatasan logistik Diberi petunjuk yang jelas pada tempat sampah mengenai nama tempat sampah dan jenis sampah yang ditampungnya.

• •

Tempat penampungan benda tajam terbuat dari bahan plastik atau kardus yang tahan tusukan

1. Tempat pengumpulan sampah sementara • Tempat pengumpulan sampah infeksius sementara bertempat di ruang verbedding. • Tempat pengumpulan sampah domestik sementara bertempat di area tungku pembakaran 1. Tempat pengolahan sampah akhir • Tungku pembakaran Lokasi : Fungsi/peruntukan : Spesifikasi Ukuran : Komposisi : Bagian Cerobong : Bagian atas : Bagian bawah : • Incinerator Merk : Kapasitas : Temperatur maksimum Burner : Blower : Dimensi Cerobong : Daya Listrik : Tangki Bahan Bakar :

Halaman belakang RSBL Pembakaran sampah domestik 5 x 1 meter beton Beton, tinggi 3 m Untuk pembakaran sampah domestik basah Untuk pembakaran sampah kering

Tesena Model TSN 9605IC 0,5m3/jam atau 70kg/jam : 1200oC 1 buah 1 buah : 250 cm X155cmX255cm 6m 220V/1500Watt 50Hz 60 liter solar

1. Prosedur Pengumpulan sampah di RSBL a. Sampah di masukkan ke dalam tempat sampah sesuai jenisnya : Sampah domestik dimasukkan ke dalam tempat sampah domestik berisi kantung sampah berwarna hitam Sampah infeksius dimasukkan ke dalam tempat sampah infeksius berisi Kantung sampah berwarna Kuning Sampah radioaktif , beracun / berbahaya dimasukkan ke dalam tempat sampah radioaktif berisi Kantung sampah berwarna merah Sampah cytotoksik dimasukkan ke dalam tempat sampah cytotoksik berisi kantung sampah berwarna Ungu

Benda tajam dimasukkan kedalam tempat tahan tusukkan. Selalu memegang benda tajam menggunakan alat seperti pinset,needle holder atau klem. b. Petugas Bagian Pemeliharaan Berkeliling memeriksa seluruh kantung sampah di RSBL setiap pagi sesuai jadwal kerjanya, sambil membawa trolley sampah • Kantung sampah domestik yang sudah penuh 2/3 nya diambil dan diganti dengan kantung baru yang sama warnanya. Atau kantung yang sudah berbau busuk dan atau mengundang lalat diambil dan diganti dengan yang baru. • Kantung sampah infeksius setiap hari diganti dengan yang baru. Tidak boleh ada penumpukan sampah infeksius di ruangan2. Beritahukan kepada pasien dan keluarganya bahwa sampah akan diambil. • Sampah radioaktif dikelola oleh petugas radiologi /lab/ farmasi • Sampah cytotoksik dikelola oleh paramedik dan atau petugas lab • Benda tajam dikelola oleh paramedik. a. Sampah dikumpulkan di tempat penyimpanan sementara • Sampah domestik dibakar setiap hari di tungku pembakaran • Sampah infeksius dikumpulkan di ruang verbedding hingga penuh 2/3 kantung sampah besar. Bila sudah penuh 2/3nya. Kantung sampah diambil dan diganti yang baru. Kantung sampah dikirim ke bagian incinerator. • Sampah radioaktif selanjutnya dikemas dan diangkut sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku, diserahkan ke BATAN untuk penanganan lebih lanjut • Sampah cytotoksik bila sudah penuh 2/3 dikirim ke bagian incinerator • Sampah benda tajam dikumpulkan dalam wadah tahan tusukan hingga penuh 2/3nya. Setelah itu dikirim ke bagian incinerator. • Semua tempat penyimpanan sementara dibersihkan dan didesinfeksi setiap kali dikosongkan 1. Prosedur pembakaran sampah domestik di Tungku Pembakaran • Petugas pemeliharaan menyiapkan tungku pembakaran. Bersihkan dari sisa2 pembakaran • Masukkan kantung sampah domestik kering ke bagian bawah tungku. • Dengan bantuan minyak tanah atau solar maka sampah kering dibakar • Setelah api menyala cukup besar , masukkan kantung sampah domestik basah ke bagian atas tungku • Pelihara api menyala sampai semua sampah terbakar habis. • Tunggu sampai api benar-benar padam, bila perlu dibantu dengan air • Tutup pintu tungku rapat2

1. Prosedur pembakaran sampah di Incenerator

• Pelaksana pembakaran incinerator adalah petugas bagian pemeliharaan yang sudah terlatih dan sudah mendapat sertifikat pelatihan penggunaan Incinerator. • Buat berita acara pembakaran sampah dalam buku catatan dimana tercantum tanggal, jumlah sampah, berat, asal sampah, jenis sampah, pelaksana pembakaran • Secara teknis pembakaran tidak dilakukan sampai sampah yang terkumpul sudah cukup banyak / mendekati 70 kg • Bila belum mencapai berat / jumlah sampah yang cukup, maka sampah yang terdapat dalam kantung2, disimpan di bagian penyimpanan sementara. • Mulai pembakaran : ○ Pelaksana pembakaran incinerator adalah petugas bagian pemeliharaan yang sudah terlatih dan sudah mendapat sertifikat pelatihan penggunaan Incinerator. ○ Periksa Ruang pembakaran, bersihkan dari sisa2 pembakaran. Periksa ulang kondisi stop kontak, tangki bahan bakar dan kompresor ○ Masukkan kantung2 sampah kedalam ruang pembakaran ○ Tutup pintu ruang pembakaran, kunci dengan kuat ○ Isi tangki bahan bakar dengan Solar kurang lebih 20 L ○ Hubungkan aliran listrik dengan stop kontak incinerator. Pindahkan Saklar pada posisi ON ○ Putar Timer yang diinginkan sesuaikan dengan jumlah sampah yang akan dibakar. Maksimal waktu pembakaran adalah 2 jam. Standard waktu pembakaran adalah 1 jam untuk sampah 70 kg. ○ Tekan tombol pengatur diluar ruangan yang mengacu pada sampah yang akan dibakar, Lampu Indikator Burner 1 akan menyala ○ Tekan tombol pengatur suhu didalam ruangan yang dikehendaki, lampu Burner 2 akan menyala. Suhu standard untuk pembakaran sampah infeksius adalah 1000oC ○ Incinerator akan bekerja secara otomatis dan mesin akan berhenti bekerja dengan sendirinya. ○ Tunggu sampai incinerator dingin, periksa ulang ruang pembakaran, kondisi tangki, kompresor, stop kontak,kabel2 dll 1. Pengolahan sampah organik dengan pembuatan kompos • Saat ini sedang dipelajari tentang bagaimana mengolah sampah organik menjadi kompos. Diharapkan, dapat terlaksana sistem Zero Waste production, dimana sampah non organik habis dibakar di tungku pembakaran, sampah organik dibuat kompos, serta sampah infeksius habis dibakar di incinerator 1. Skema Pengolahan sampah :

R. MedRec/ Administrasi Tempat Sampah Domestik / Kantung Plastik Warna Hitam / TPS Kantor Dapur / Kantin

TPA Tungk u RS TPA Umum

R. Perawatan / Watsus Tempat Sampah Infeksius / Kantung Plastik Warna Kuning

INCINERAT OR

R. Poliklinik / UGD TPS R. Operasi / Tempat Sampah Cytotoksik / Kantung Plastik Warna Ungu R.Bersalin Laboratorium

Farmasi Tempat Sampah Bahan Beracun Berbahaya / Kantung Plastik Warna Merah Laundry dll TPS

BATAN

Radiologi

A. Kebijakan tantang Pengendalian Limbah

1. Pengertian Limbah adalah air buangan dan tinja yang berasal dari Rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan 2. Limbah menurut asalnya dapat dibedakan menjadi 2 macam : • Limbah yang berasal dari tubuh manusia : Urine, faeces, darah, muntahan, secreta (dahak, ingus,pus) • Limbah yang berasal dari kegiatan medis : cairan chlorine, larutan savlon, larutan antiseptik, desinfektan, sisa obat cair, dll • Limbah yang berasal dari kegiatan sehari-hari : air mandi, cucian piring, dll • Limbah air hujan 1. Menurut pengelolaannya, dibedakan menjadi : • Limbah yang masuk saluran air dan dikelola melalui Unit Pengolahan Limbah (UPL) • Limbah yang dikelola dalam septic tank : Faeces • Limbah air hujan melalui saluran drainase 1. Standard saluran air limbah menuju UPL RSBL : • Merupakan saluran - saluran yang mengarah pada satu tempat,yaitu UPL • Merupakan saluran tertutup semi permanen, terbuat dari Pipa Paralon berkualitas baik. Saluran yang terdapat di luar tanah diberi warna merah • Terdapat bak-bak kontrol di tempat2 tertentu 1. Standard Ruang Toilet / Kamar mandi RSBL • Terdapat di semua ruang rawat inap dan unit pelayanan RSBL • Menurut pemakainya, dibagi atas : ○ Toilet ruangan rawat inap, diperuntukkan bagi pasien dan penunggu pasien ○ Toilet pengunjung, diperuntukkan bagi pengunjung, terbagi atas toilet pria dan wanita ○ Toilet Karyawan diperuntukkan bagi karyawan RS • Luas ruangan disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas lahan • Lantai terbuat dari keramik, dan tidak licin • Jamban duduk terbuat dari keramik dilengkapi reservoar air minimal 5 L dan siphon penahan bau • Jamban jongkok terbuat dari keramik dilengkapii siphon penahan bau • Pembuangan air dilengkapi sipon penahan bau • Tersedia bak mandi atau shower sesuai kebutuhan • Lubang udara berhubungan dengan ruang bebas • Terdapat tanda peringatan untuk menjaga kebersihan, dan penghematan air

1. Standard Spoolhoek RSBL • Bukan tempat cuci tangan • Terdapat di unit pelayanan UGD, Poliklinik, OK, VK, HCU, Verbedding, Dapur

• • •

Terbuat dari Stainless steel, dilengkapi tutup lubang, dan siphon Tersedia air bersih dengan keran yang mudah dibuka tutup dan tidak berkarat Tersedia tanda peringatan bukan tempat cuci tangan

1. Standard saluran faeces • Toilet duduk dilengkapi reservoar air minimal 5 L dan siphon penahan bau • Toilet jongkok dengan siphon penahan bau • Pipa Paralon dibawah tanah diameter minimal 3 Inch 1. Standard Septic Tank RSBL • Komposisi semen, pasir dan Batu bata. • Terdiri dari 2 ruangan penampung feces dan 1 reservoar air yang terhubung dengan saluran limbah menuju UPL, 1 lubang udara yang menuju lahan terbuka • Dimensi tergantung kapasitas ruangan dan perkiraan pemakai toilet • Kapasitas tergantung dimensi septic tank 1. Standard Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)RSBL • • • IPAL berfungsi mengolah limbah cair non tinja sebelum dibuang ke badan air lingkungan Lokasi IPAL berada di blok / area pengolahan limbah ( lihat denah master plan / site plan) IPAL terdiri dari : ○ Bak Pengumpul ( slump well ) : berfungsi untuk menampung limbah cair dari seluruh kegiatan RS sebelum diolah pada unit selanjutnya. Pada bak ini akan terendap partikel2 kasar dan mudah mengendap. Bak pengumpul terdiri dari beberapa bak, dimana inlet dan outlet sama tingginya. ○ Bak Sedimentasi awal : berfungsi untuk mengendapkan partikel2 kasar yang belum terendapkan di bak pengumpul. Pada bak ini diberikan koagulan untuk menambah sedimentasi. Bahan koagulan yang digunakan akan ditentukan kemudian. ○ Bak Filtrasi : Berfungsi menyaring partikel halus yang mungkin lolos dari bak pengendap. Jenis Filtrasi yang digunakan adalah Slow sand filter. Bahan yang digunakan untuk filter adalah Pasir silika, kwarsa, kalsit, magnetit, kerikil, dan arang. ○ Bak Aerasi : Berfungsi mensuplai oksigen dan juga penambahan tawas sehingga tercampur secara homogen antara limbah cair dengan air dan bahan kimia sehingga memudahkan untuk diendapkan. Diharapkan bisa menghilangkan gas yang tidak diinginkan dalam air serta menghilangkan kotoran seperti Fe, Mn, rasa dan bau. Permberian oksigen dilakukan dengan menggunakan

blower selama beberapa jam. Dilakukan pada siang hari sehingga diharapkan suhu air meningkat, dan bak aerasi dibuat lebih luas. Bak Klorinasi : Berfungsi membunuh kuman patogen, oksidasi Fe dan Mn, menghilangkan rasa dan bau, menghilangkan warna, mengontrol lumut. Bahan yang digunakan adalah chlorine. Bak penampung akhir / Bak resapan : Berfungsi menampung limbah cair yang terolah dan meresapkan ke media tanah sebagai media akhir. Bak Resapan dapat digantikan dengan Clear well ( kolam terbuka) sengan indikator pemeliharaan ikan, kemudian air dialirkan ke badan air ke saluran kota, sehingga air libah RS bergabung dengan limbah lainnya dan limbah rumah tangga warga sekitar.

• •

Proses pengolahan melalui IPAL dilakukan setiap hari Pengolahan melalui IPAL dilaksanakan oleh petugas pemeliharaan yang sudah dilatih secara internal.

1. Prosedur Pembuangan limbah: • Faeces dari pasien/penunggu/pengunjung/karyawan sendiri dalam toilet diguyur air yang banyak, minimal 5 L, hingga faeces benar-benar masuk seluruhnya dan tidak timbul lagi • Faeces dari pasien dalam pispot dialirkan dengan air kedalam toilet kemudian diguyur air yang banyak, minimal 5 L, hingga faeces benar-benar masuk seluruhnya dan tidak timbul lagi. Pispot dibersihkan diatas Spoolhoek hingga bersih. Petugas cuci tangan dengan sabun antiseptik. • Urine dari pasien/penunggu/pengunjung/karyawan sendiri dalam toilet diguyur air yang banyak, minimal 2 L, hingga urine benar-benar masuk seluruhnya dan tidak berbau/berwarna. Guyur sekitar toilet untuk membersihkan cipratan di lantai. • Urine dari pasien dalam Urinal dialirkan dengan air kedalam toilet kemudian diguyur air yang banyak, minimal 2 L, hingga Urine benar-benar masuk seluruhnya dan tidak berbau/berwarna. Urinal dibersihkan diatas Spoolhoek hingga bersih. Petugas cuci tangan dengan sabun antiseptik • Cairan tubuh : Darah, cairan ascites, cairan pleura, pus, secreta, dahak, ingus, muntahan, dibuang ke dalam spoelhoek, diguyur air yang banyak. Cuci tangan dengan sabun antiseptik di wastafel. • Sisa obat cair / infus dibuang melalui spoolhoek, diguyur air.

1. Skema Pengolahan Limbah

Kamar Operasi RESERVOIR

SUMBER AIR PDAM / SUMUR POMPA

Kamar Bersalin

RESERVOIR

Poliklinik SUMBER AIR PDAM / SUMUR POMPA

UGD

KAMAR MANDI / WC

Dapur

LAIN - LAIN

Laundry

DRAINASE

Verbedding SEPTIC TANK Ruang Perawatan / wastafel / spoolhoek Laboratorium

IPAL
Radiologi BIDANG RESAPAN / CLEAR WELL BATAN 2. Diagram alir IPAL RSBL Bak kontrol BADAN AIR

Sumber Limbah Cair

Sedimenta si 1

Koagulasi / flokulasi

Sedimenta si 2

Aerasi

Blower

Filtrasi

Netralisasi

Klorinasi

Clear Well

Badan Air A. Kebijakan tentang Pengendalian Permukaan 1. Pengertian permukaan : Seluruh permukaan dari Sarana/ Prasarana/ peralatan yang potensial menampung droplet dan mikroorganisme dan banyak berhubungan dengan pasien/penunggu/karyawan/pengunjung.

2. Ruang lingkup Permukaan : Permukaan Kaca, permukaan meja makanan, permukaan meja kerja, permukaan bedside cabinet, permukaan trolley, permukaan lantai, permukaan peralatan / instrumen 3. Prosedur pengendalian permukaan : • Permukaan Lantai : ○ Petugas Pelaksana adalah petugas bagian pemeliharaan dibantu karyawan lainnya. Pada dasarnya seluruh karyawan RSBL bertanggung jawab atas kebersihan ruangan yang menjadi tanggung jawabnya. ○ Jadwal mengepel lantai : setiap hari , dua kali sehari, pagi dan sore ○ Ruang lingkup : seluruh lantai di seluruh ruangan RSBL dengan Prioritas : Ruang rawat inap, Koridor, Poliklinik, UGD, Toilet/ Kamar mandi ○ Air pembersih adalah air bersih ditambah larutan pembersih yang bersifat antiseptik atau dicampur Kaporit sesuai petunjuk desinfeksi pada bab III (larutan chlorine 0,5%) ○ Prosedur : Kain Pel bersih dicelupkan ke dalam ember berisi air pembersih Kain Pel di peras secukupnya Dengan menggunakan tongkat pel kain pel diusapkan merata pada lantai sambil digosokkan bila ada noda kotor Kain pel dicelupkan ke dalam ember untuk dibilas dan diperas Kain Pel kembali diusapkan ke lantai demikian seterusnya sampai seluruh lantai dibersihkan atau sampai air dalam ember keruh hingga tidak bisa membilas kain pel lagi. Bila sudah selesai, air sisa dalam ember dibuang melalui spoolhoek di ruang verbedding atau ruang pemeliharaan, kain pel dicuci diatas spoolhoek. Pelaksana memakai sarung tangan karet dan cuci tangan di wastafel ○ Peralatan di simpan di ruang pemeliharaan / verbedding • Permukaan lain : ○ Petugas Pelaksana adalah petugas bagian pemeliharaan dibantu karyawan lainnya. Pada dasarnya seluruh karyawan RSBL bertanggung jawab atas kebersihan ruangan yang menjadi tanggung jawabnya. ○ Persiapkan larutan Chlorine 0,5 % dan lap bersih. Petugas memakai hand gloves karet rumah tangga /non steril ○ Setelah permukaan disiapkan dari benda2 diatasnya, maka lap bersih dicelupkan kedalam larutan chlorine 0,5% kemudian diperas. Secukupnya. ○ Usapkan lap tersebut ke permukaan secara merata. ○ Bilas lap dalam larutan tersebut dan peras lagi sehingga lap bisa digunakan kembali.

○ ○

Bila sudah selesai, air sisa dibuang lewat spoolhoek. Kain lap dibersihkan di atas spoel hoek. Sarung tangan dibersihkan diatas spoolhoek. Peralatan disimpan di ruang pemeliharaan Petugas cuci tangan diatas wastafel.

A. Kebijakan tentang Pengendalian Linen 1. Pengertian Linen adalah segala jenis aset RS yang terbuat dari kain 2. Secara umum Linen terdiri atas : • Linen Kelengkapan pakaian • Linen Kelengkapan Tempat tidur • Linen Pelengkap ruangan • Linen Kelengkapan tindakan Linen Kelengkapan Pakaian terdiri dari : • Baju Pasien dewasa pria • Baju pasien dewasa wanita • Baju Pasien anak • Sarung • Pakaian Pelindung • Pakaian khusus ruang OK pria • Pakaian khusus ruang OK wanita • Masker kain • Head cap kain Linen Kelengkapan tempat tidur terdiri dari : • Seprai putih • Seprai warna • Selimut tipis bergaris • Selimut tebal warna • Laken • Handuk alas kepala • Sarung bantal • Sarung guling Linen Kelengkapan Ruangan terdiri dari : • Gordyn jendela tipis • Gordyn jendela tebal pendek • Gordyn Jendela tebal panjang • Gordyn penyekat Linen Kelengkapan tindakan terdiri dari : • Pakaian Operasi • Apron • Duk kecil

• • • • •

Duk sedang Duk Besar Duk Bolong kecil Duk bolong sedang Duk Bolong besar

1. Dilihat dari potensi infeksinya, Linen dibagi dalam tiga kategori : • Linen Non Infeksius Yaitu Semua linen yang tidak berhubungan langsung dengan tubuh pasien dan tidak terkontaminasi oleh cairan tubuh pasien Contoh : Gordyn, tirai,kelambu, taplak meja, (yg tidak kontak dg tubuh atau cairan tubuh pasien )

Linen Infeksius non kontaminasi Yaitu Linen yang berhubungan langsung dengan tubuh pasien namun tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien Contoh : Pakaian pasien, selimut, seprai,sarung, dll yang tidak terkena cairan tubuh pasien Linen Infeksius Terkontaminasi Yaitu Linen yang langsung berhubungan dengan tubuh pasien ataupun tidak, yang terkontaminasi cairan tubuh pasien Contih : Duk, jas operasi, atau linen lain yang terkontaminasi cairan tubuh pasien (darah, urine, muntahan, sputum, faeces, dll) Khusus untuk pasien dengan Hepatitis B , Hepatitis C dan atau HIV, maka semua linen infeksius dianggap terkontaminasi.

1. Standard Ruang penyimpanan Linen • Ruang penyimpanan Linen merupakan ruangan penyimpanan barang-barang milik RS yang terbuat dari kain yang tidak sedang dipakai / didistribusikan ke ruangan-ruangan. • Lokasi berdekatan dengan ruang laundry dan ruang penyetrikaan / perbaikan/ packing. • Luas Ruangan disesuaikan denga kebutuhan. Merupakan suatu ruangan tertutup, dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup. • Dibuat aman terhadap hewan tikus, ngengat, nyamuk, laba-laba. • Terdapat lemari rak dilengkapi pintu – pintu yang selalu tertutup 1. Standard Fasilitas Laundry RSBL A. Standard Prasarana / Ruangan Laundry RSBL • Lokasi ruangan laundry bisa dijangkau oleh unit lain dengan mudah ( sesuai dg masterplan RS ) , Tidak berdekatan dengan ruangan rawat inap pasien, dan tidak dijalan lintas.

Lantai terbuat dari plester yang kuat, rata, tidak licin, dan kemiringan memadai • Tersedia saluran pembuangan air kotor sistem tertutup, dengan ukuran, bahan, dan kemiringan yang memadai • Tersedia Ruangan / area penirisan / pengeringan linen yang baru dicuci • Tersedia ruangan – ruangan : ○ Ruang Linen kotor ○ Ruang linen bersih ○ Toilet ○ Gudang untuk menyimpan alat2 laundry dan alat kebersihan • Pintu masuk ruang laundry untuk linen kotor berbeda dengan pintu keluar linen yang bersih. Ada jalur transport tertentu agar linen bersih tidak terinfeksi lagi linen kotor A. Standard sarana Laundry RSBL • Tersedia Kran air bersih dengan kualitas dan tekanan yang cukup • Tersedia pencahayaan yang cukup ±200 Lux • Tersedia alat-alat kebersihan • Tersedia jalur listrik yang aman dari cipratan air • Tersedia wastafel A. Standard Peralatan dan Obat-obatan di Unit Laundry RSBL • Tersedia mesin cuci yang dapat mencuci berbagai jenis linen • Tersedia bahan 2 yang diperlukan untuk melakukan Proses Dekontaminasi, desinfeksi dan Pencucian biasa sebagaimana yang dijelaskan pada Bab II • Tersedia sikat dan pengaduk cucian A. Standard Sumber daya manusia di unit Laundry RSBL • Petugas bagian pemeliharaan yang sudah dilatih secara internal tentang pengelolaan linen 1. Standard Pengelolaan Linen Kotor di RSBL A. Pengumpulan Linen Kotor • Linen kotor segera diambil dan dimasukkan kedalam wadah / ember besar bertutup . Jangan dibiasakan menaruh linen kotor di lantai. • Wadah linen kotor dibedakan sesuai jenis linen menurut potensi infeksiusnya : Linen infeksius disimpan pada ember khusus linen infeksius. Sedangkan linen non infeksius disimpan pada embernya sendiri. • Contoh : Pasca operasi, semua duk yang terkena darah dimasukkan ke ember khusus jangan ditaruh dilantai. Segera buka jas operator/asisten / instrumenter dan segera masukkan ke ember . Disediakan ember di ruang ganti baju. Baju OK dimasukan ke ember di ruang ganti baju. • Tutup ember dengan baik. Usahakan linen tidak ada yang menyembul keluar. Segera transport ke bagian laundry. Dengan trollry khusus.

INGAT ! selalu gunakan pelindung tangan / handschoen setiap memegang linen terkontaminasi. Selalu mencuci tangan sesudah menyentuh linen terkontaminasi.

A. Transport Linen kotor dalam ember tertutup menggunakan trolley khusus dengan jalur yang sudah ditentukan, langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau mampir ke mana-mana. B. Masuk ke ruang laundry melalui pintu masuk linen kotor. Taruhlah ember tertutup pada ruangan linen kotor. Lakukan serah terima dengan petugas laundry. C. Petugas laundry mempelajari linen yang terkumpul. Selalu memisahkan linen non infeksius, dan linen infeksius. Hitunglah jumlah linen seluruhnya yang akan dicuci. INGAT Selalu memakai APP standard ruangan laundry.

D. Perhatikan bagan sbb : SKEMA ALUR PENGELOLAAN LINEN KOTOR LINEN KOTOR

Linen Non Infeksius

Linen Potential Infeksius

DEKONTAMINAS I

DESINFEKSI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN , PERBAIKAN, PENYETRIKAAN, PACKING

Linen Non Tindakan

Linen Tindakan

STERILISASI DI PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN E. Penjelasan mengenai proses dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi, dijelaskan pada Bab II. F. Proses dekontaminasi, desinfeksi, pencucian biasa dilakukan di ruang laundry dalam bak-bak cuci yang tersedia. Sterilisasi dilakukan di Pusat Sterilisasi RSBL. G. Pada pelaksanaannya, Petugas laundry bertugas hingga ke proses pengeringan. Proses Perbaikan, Penyetrikaan, Packing dilakukan bersama-sama antara Paramedik , Pembantu Paramedik dan petugas Laundry. Proses Sterilisasi

Dilakukan oleh Paramedik. Distribusi dilakukan oleh Masing masing Kepala Ruangan, dengan sepengetahuan kepala unit Linen, melalui buku distribusi. Penyimpanan dilaksanakan di ruang penyimpanan Linen oleh Kepala unit Linen.

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Sumber Infeksi Lingkungan 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I.

PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN LINGKUNGAN

A. Kebijakan tentang Ruangan dan Bangunan 1. Lingkungan , ruang dan bangunan RS harus selalu dalam keadaan bersih, mudah dibersihkan, dan tersedia fasilitas sanitasi yang memenuhi persyaratan kesehatan 2. Lingkungan , ruang danbangunan Rumah sakit tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang dan berkembangbiaknya serangga, binatang pengerat dan binatang pengganggu lainnnya. 3. Bangunan RS harus kuat , utuh, terpelihara, mudah dibersihkan, dan dapat mencegah penularan penyakit serta kecelakaan 4. Tata ruang dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsinya, serta memenuhi persyaratan kesehatan. 5. Konstruksi : • Lantai ○ Lantai terbuat dari bahan yang kuat, yang kedap air, permukaan rata, tidak licin dan mudah dibersihkan ○ Lantai yang selalu kontak dengan air, kemiringannya harus cukup ke arah saluran limbah / drainase ○ Lantai harus selalu bersih, dibersihkan 2 x sehari, tingkat kebersihan memenuhi syarat • Dinding ○ Permukaan dinding harus rata, berwarna terang, dicat tembok, dan mudah dibersihkan ○ Permukaan dinding yang selalu terkena percikan air harus dilapisi bahan yang kuat dan kedap air Ventilasi ○ Ventilasi dapat menjamin peredaran udaradi dalam kamar dengan baik ○ Tersedia lubang udara yang cukup dan dibersihkan secara berkala

○ Dapat dilengkapi Exhauster Fan, Kipas angin dan atau AC • Atap ○ Atap harus kuat, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga dan tikus atau binatang lainnya. ○ Kerangka atap perlu diresidu dulu agar tahan terhadap rayap. ○ Pemeriksaan secara berkala terhadap kemungkinan kebocoran Langit-langit ○ Kuat, berwarna terang dan mudah dibersihkan ○ Tinggi minimal 2,5 m dari lantai ○ Kerangka kayu dibuat anti rayap Pintu ○ Pintu harus kuat, dapat mencegah masuknya serangga , tikus dan binatang pengganggu lainnya. ○ Menggunakan cat anti rayap ○ Dilengkapi shutter otomatis ○ Dibuat sedemikian rupa sehingga pembukaan pintu dapat diminalisir, misalnya dengan membagi pintu menjadi 2 bagian, 1 bagian cukup untuk dilewati 1 orang saja. Bagian lain lebar, dibuka jika ada bed atau trolley yang melewati. ○ Tersedia lubang kaca sehingga paramedik dapat mengawasi ruangan tanpa harus selalu membuka pintu. Instalasi ○ Pemasangan jaringan instalasi air bersih, air limbah, listrik, Oksigen, Suction, sistem penghawaan, sarana komunikasi dll harus rapi, aman dan terlindung.

1. Perbandingan jumlah tempat tidur dan dengan luas lantai untuk ruang perawatan : Ruang bayi • Ruang perawatan minimal 2m2 per Bed • Ruang isolasi minimal 3 m2 per bed Ruang dewasa • Ruang perawatan minimal 4,5m2 per bed • Ruang isolasi minimal 6 m2 per bed A. Kebijakan tentang pengendalian Udara • Pengendalian udara indoor ○ Disiplin melaksanakan prosedur pengendalian penularan infeksi dari penderita penyakit yang menular secara aerogen. ○ Isolasi pasien yang potensial tinggi mencemarkan udara dengan penyakit yang dideritanya. ○ Isolasi pasien dengan penyakit yang menimbulkan bau tak sedap. ○ Pembersihan Ruangan dilakukan rutin sehari dua kali, pagi dan sore. ○ Pembersihan lantai ruangan perawatan dilakukan setelah jam makan, jam kunjungan, atau segera bila diperlukan. ○ Menghindari pembersihan ruangan yang menimbulkan debu, terutama bila dalam ruangan masih ada pasien yang menginap. ○ Lubang angin disediakan agar menjamin penggantian udara. Luas lubang angin minimal 10% luas lantai. Dilengkapi kawat kasa. Dibersihkan secara berkala. ○ Pada ruangan yang kekurangan lubang angin disediakan exhaust fan. ○ Udara di dalam Ruang Operasi, Ruang Bersalin dan High Care Unit dibuat sedemikian rupa sehingga selalu berada dalam tekanan positip saat digunakan, dengan cara menggunakan AC, ruangan tertutup, dan meminimalkan potensi penampungan debu dalam konstruksi ruangan. ○ Menghindari penumpukan sampah dalam ruangan yang dapat menimbulkan bau

○ Menghindari penumpukan makanan yang cenderung cepat membusuk. Menutup makanan dalam wadah / tempat tertutup. ○ Menghindari pemakaian /penumpukan linen kotor yang dapat menimbulkan bau ○ Menghindari padatnya penunggu pasien dalam ruangan, maksimal 2 orang penunggu pasien dalam ruangan. ○ Menjaga sanitasi toilet dalam ruangan. Pengendalian udara outdoor ○ Jalur lalu lintas kendaraan bermotor dan parkir diletakkan jauh dari area rawat inap. ○ Dipasang papan peringatan untuk kendaraan bermotor agar Jalan Perlahan dan larangan membunyikan klakson ○ Asap incinerator dialirkan ke udara bebas dengan cerobong asap setinggi 6 meter. ○ Incinerator diletakkan jauh dari area rawat inap. ○ Menambah jumlah tanaman perdu di area terbuka RSBL dalam bentuk taman. ○ Menambah tanaman hias dalam pot di seluruh bagian RSBL. ○ Sampah diletakkan dalam wadah tertutup dan dibuang setiap hari.

A. Kebijakan tentang pencahayaan • Standard Pencahayaan di ruangan-ruangan : No Ruangan Satuan Terang (lux) 1 2 3 4 5 Ruang Inap saat tidak tidur Ruang Inap saat tidur Ruang Operasi Meja Operasi Ruang Bersalin 100 – 200 Max 50 300 – 500 10.000 – 20.000 300 – 500

Keterangan Sedang

Sejuk Tanpa bayangan Sejuk

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 •

Ruang Tindakan Kebidanan Recovery Room High Care Unit High Care Unit saat tidur Ruang Isolasi Laboratorium Radiologi Koridor Koridor rawat inap saat tidur Kantor Apotik Dapur Toilet Laundry Area Parkir

300 – 500 300 – 500 300 – 500 Max 300 0,1 – 0,5 300 – 500 75 – 100 Min 60 Max 100 Min 100 Min 200 Min 200 Min 100 Min 200 Min 300 Malam Malam Biru Sedang Sejuk Sejuk

Kebijakan menyalakan lampu ○ Lampu ruangan rawat inap dinyalakan mulai pukul 17.30, atau sebelumnya bila diperlukan. ○ Lampu ruangan rawat di kurangi pada pukul 22.00 saat waktu tidur, bila diperlukan, pasien bisa menggunakan lampu yang disediakan di setiap Cubicle. ○ Lampu ruangan rawat inap di matikan pada pukul 05.30 atau lewat bila diperlukan. ○ Lampu koridor di luar rawat inap dinyalakan pukul 17.30 s/d 05.30 atau sesuai kebutuhan. ○ Lampu koridor di area rawat inap dinyalakan mulai pukul 17.30, atau sebelumnya bila diperlukan.

• • •

○ Pada waktu tidur atau pukul 22.00 lampu koridor di area rawat inap dikurangi, atau di ganti dengan lampu dinding yang intensitasnya lebih kecil. ○ Lampu di ruangan2 yang tidak terpakai dimalam hari, tidak dinyalakan. ○ Lampu di ruangan2 yang membutuhkan penerangan di siang hari dapat dinyalakan sesuai kebutuhan ○ Lampu di area taman, halaman, dan area parkir dinyalakan mulai pukul 17.30 s/d 05.30 , atau sesuai kebutuhan. ○ Lampu di ruangan isolasi tergantung pasien yang menginap di dalamnya. Bila pasien yang di rawat di ruang isolasi adalah pasien Tetanus, maka lampu yang dinyalakan hanya lampu ruangan berwarna biru yang intensitasnya kecil. Sedangkan bila pasien yang menginap bukan pasien tetanus, maka aturan menyalakan lampu sebagaimana ruang rawat inap lainnya. Setiap tindakan medis harus mendapatkan pencahayaan yang cukup, baik melalui lampu ruangan, lampu operasi, ataupun lampu sorot Semua penerangan oleh lampu, baik outdoor maupun indoor tidak boleh menyilaukan, intensitas cahaya disesuaikan peruntukannya Dilakukan pembersihan secara berkala sesuai program pemeliharaan Dilakukan Penggantian lampu yang tidak berfungsi dengan baik Jaringan instalasi listrik diperiksa secara berkala sesuai programpemeliharaan

A. Kebijakan tentang Kebisingan • Bel ruangan pemanggil perawat diletakkan di ruangan perawat. Di siapkan lampu penunjuk ruangan pasien yang memanggil / menekan bel. • Jalur jalan kendaraan keluar masuk RS terletak jauh dari area ruang rawat inap, dipasang papan peringatan untuk tidak menghidupkan klakson dan berkendara perlahan.

• • •


Dipasang papan peringatan di lingkungan RS : Harap Tenang Semua Karyawan dilarang berbicara keras, tertawa keras. Dibuat program terpadu RS Bersih , Tenang dan Asri. Generator listrik diletakkan jauh dari Area rawat inap, diletakkan dalam ruangan khusus di bawah tanah dilengkapi peredam suara. Pengunjung dan penunggu pasien di area rawat inap dibatasi, dan dihimbau untuk menjaga ketenangan RS. Semua roda-roda trolley, Bed pasien , dan brankar di periksa secara berkala hingga tidak menimbulkan derit.

A. Kebijakan Tentang suhu ruangan • Suhu standar Ruangan- ruangan No 1 2 3 4 5 6 7
• •

RUANGAN Operasi Bersalin Recovery Perawatan ibu – bayi HCU Rawat inap Isolasi

SUHU (Co) 22 – 25 22 – 25 24 – 25 26 – 27 26 – 27 26 – 27 22 – 25

KELEMBABAN (%) 50 – 60 50 – 60 50 – 60 40 – 50 40 – 55 40 – 55 40 - 55

Dipasang thermometer ruangan dan hygrometer ruangan untuk mengawasi suhu dan kelembaban ruangan Bila suhu ruangan melebihi batas atas standar maka diusahakan menurunkan suhu ruangan dengan beberapa cara menurut prioritas : Mengurangi kepadatan dengan membatasi pengunjung / penunggu pasien, menyalakan kipas angin / exhaust fan, membuka jendela – jendela, menyalakan AC Kebijakan tentang kipas angin ○ Kipas angin disediakan di ruang rawat inap kelas II dan Kelas III

○ Kipas angin di ruang rawat inap kelas II disediakan di tiap cubicle dengan jenis wall fan ○ Kipas angin di ruang rawat inap kelas III disediakan 1 ceiling fan untuk 4 cubicle ○ Kipas angin dinyalakan bila diperlukan. ○ Pada kegiatan medis tertentu tidak boleh menyalakan kipas angin : mengganti balutan, memandikan pasien Kebijakan tentang Air Conditioner /AC ○ AC disediakan di ruangan rawat inap kelas I, Ruang Operasi, Ruang bersalin, Ruang HCU, Ruang UGD ○ AC dinyalakan bila diperlukan ○ AC dibersihkan secara berkala sesuai program pemeliharaan

A. Kebijakan tentang Penyediaan air bersih dan drainase • Penyediaan air bersih di RSBL berasal dari 2 sumber : Air PDAM


dan air tanah Air PDAM disalurkan dari pipa air PDAM ke ruangan2 yang memerlukan melalui pipa2 tertutup, langsung keluar melalui kran, tanpa melalui reservoir air. Air tanah diambil dari beberapa titik melalui pompa penyedot, kemudian ditampung dalam masing-masing reservoir , kemudian dialirkan ke ruangan-ruangan melalui pipa2 tertutup. Pipa2 tertutup pengalir air dapat terbuatdari pipa besi ataupun pipa paralon bermutu. Reservoir standar terbuat dari bahan fiber glass atau metal tahan karat dengan kapasitas minimal 1000 L. Diletakkan dengan posisi beberapa meter diatas tanah menggunakan penyangga terbuat dari besi. Saat ini, terdapat 3 titik penyedotan air tanah menggunakan pompa penyedot : ○ Titik 1 Lokasi : Ruang rawat inap dekat OK Merk Pompa : MODERN, Type SMP 130W, buatan Jepang Daya hisap : 10 m Supply : Reservoir 1, Reservoir 2, Reservoir 3

○ Titik 2 Lokasi Merk Pompa jepang Daya hisap : Supply dan 3 ○ Titik 3 Lokasi Merk Pompa Daya hisap : Supply •

: :

Belakang RS, Dekat R. 19 Shimizu Type PS 130W buatan

35 m : Membantu pengisian Reservoir 2

: Ruang Laundry : Sanyo Type PH 260 buatan Jepang 14 m : Laundry dan Reservoir 2

Saat ini ada 3 reservoir air, yaitu : ○ Reservoir 1 Lokasi : Ruang perawatan, dekat OK Komposisi : Fiberglass Kapasitas : 1500L Supply : Ruang Rawat inap R 23, R.20, R. 19, Ruang Radiologi , Ruang VK, HCU, Area taman Rawat inap ○ Reservoir 2 Lokasi Komposisi : Kapasitas : Supply : R.17, ○ Reservoir 3 Lokasi Komposisi : Kapasitas : Supply

: Belakang RS dekat dapur Stainless steel 1000 L OK, R.9, R.10, R.11, R.14, R.15, R.16, Dapur, Laundry : Lantai 2 gedung poliklinik Stainless steel 1000 L : Lantai 2 gedung poliklinik

Akan dilakukan penilaian kembali efektifitas dari ketiga pompa dan ketiga reservoir dalam rangka meningkatkan mutu penyediaan air bersih di RSBL

• •

Dilakukan kegiatan2 pemeliharaan secara periodik sesuai program pemeliharaan. Dilakukan penilaian mutu air bersih secara berkala yang dilakukan oleh dinas Kesehatan / Kantor Lingkungan Hidup kota Cirebon Drainage air hujan terpisah dengan saluran air limbah , merupakan saluran2 tertutup dan terbuka dengan dimensi minimal 30 cm X 50 cm, berlapis semen dengan permukaan licin / rata , tingkat kemiringan baik, terdapat beberapa bak kontrol dan dibersihkan secara berkala.

A. Kebijakan tentang Batas lahan RS
• • Bahwa lahan milik RS Budi Luhur sebagaimana tercantum dalam gambar adalah seluas 17000 m2 Bahwa lahan yang aktif dipakai operasional RSBL tidak seluruhnya, dan harus diberi batas yang jelas dan dilindungi dengan tembok pengaman sehingga bebas dari masuknya hewan, serta pengelolaan lingkungan lebih mudah Lahan lainnya yang tidak secara aktif dipakai operasional RSBL dapat dipakai berbagai aktifitas yang dianggap tidak mengganggu dan aman bagi operasional RSBL Senantiasa dilakukan tindakan pemeliharaan terhadap seluruh lahan milik RSBL sesuai program pemeliharaan

Area aktif RSBL Area Pengemb angan RSBL Area Support RSBL

Rumah Sakit Budi Luhur

Pengendalian Sumber Infeksi Makanan dan Minuman 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

I. Pengertian Sasaran

PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI MAKANAN DAN MINUMAN : Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengendalian sumber infeksi dari carrier sehat : • • • • Karyawan / tenaga kesehatan Penunggu pasien Pengunjung pasien Tamu RS

Kebijakan

:

Prosedur / Kebijakan : A. Pengertian • Ruang lingkup makanan di RSBL : ○ Makanan yang disajikan dari dapur kepada pasien maupun karyawan RS ○ Bahan makanan baik yang terolah atau belum terolah ○ Bahan tambahan pada makanan ○ Minuman • Ruang lingkup Pengawasan : ○ Kemungkinan infeksi dari makanan ○ Kemungkinan infeksi dari alat masak ○ Kemungkinan infeksi dari alat makan ○ Kemungkinan infeksi dari individu ○ Kemungkinan intoksikasi dari toksin dari makanan ○ Kemungkinan intoksikasi dari toksin bakteri ○ Kemungkinan intoksikasi bahan kimia

A. Diagram Alur Makanan di RSBL PENERIMAAN BAHAN MAKANAN

BAHAN KERING

BAHAN BASAH

PENYIMPANAN

PENCUCIAN

MAKANAN SEGAR PERACIKAN

PENGOLAHAN

PEWADAHAN

PENYAJIAN

PENCUCIAN PERALATAN

DESINFEKSI PERALATAN

SAMPAH

PENYIMPANAN PERALATAN

B.1. PENGADAAN / PENERIMAAN BAHAN MAKANAN Kebijakan : • Sumber bahan makanan hendaknya dipilih yang berkualitas baik, tempat-tempat memperoleh bahan mentah harus diketahui oleh kepala dapur / gizi dan secara berkala dievaluasi kinerja dan kualitasnya • Bahan makanan dibawa ke dapur dengan trolley khusus dan melewati jalur yang sudah ditentukan. Usahakan tidak melewati ruangan rawat inap atau ruangan yang potensial infeksi lainnya. • Bahan makanan di periksa dan diseleksi kembali.

Bahan makanan yang belum terolah harus dalam keadaan segar, tidak rusak atau berubah bentuk, warna, dan rasa, tidak berbau busuk, tidak berjamur, bila kotor harus dibersihkan dengan air terlebih dahulu, tidak mengandung bahan yang dilarang seperti formalin, boraks, pestisida, melamin, dll Bahan makanan dalam kemasan (terolah) harus mempunyai label dan merk, terdaftar di Depkes dan mempunyai nomor daftar,kemasan tidak rusak, pecah, atau robek atau kembung, belum kadaluwarsa, kemasan digunakan hanya untuk satu kali penggunaan. Bahan makanan berasal dari tempat resmi yang dievaluasi kinerja dan kualitasnya.

B.2. PENCUCIAN Kebijakan : • Bahan makanan harus dicuci : ○ Sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan ○ Lauk air tawar, lauk air laut, daging2an ○ Dll Pencucian dengan menggunakan air mengalir di bersihkan dan dibilas berkalikali Pelaksana harus memakai sarung tangan dan atau mencuci tangan sebelum dan sesudah mencuci bahan makanan Pencucian bahan makanan dengan bahan pembersih tidak dianjurkan Tempat penyimpanan bahan makanan yang sudah dicuci harus bersih

• • • •

B.3. PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN Kebijakan : • Tempat penyimpanan bahan makananharus selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih, terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga dan hewan lain Tentang penyimpanan bahan makanan kering : ○ Semua tempat penyimpanan bahan makanan hendaknya berada dibagian tinggi untuk mencegah genangan air dan menjaga kelembabannya.

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ •

Tidak boleh ada kebocoran pada genteng atau atap yang menyebabkan tetesan air mengenai tempat p[enyimpanan bahan makanan Tidak boleh ada drainase yang potensi macet di sekitar ruang tempat penyimpanan bahan makanan untuk menghindari meluapnya air. Semua bahan makanan disimpan pada rak yang baik, dengan ketinggian terbawah dari lantai 20 – 25 cm. Bahan makanan disimpan pada wadah-wadah yang selalu dibersihkan secara berkala dan berpori-pori Suhu ruangan dijaga kurang dari 22oC dan Kelembaban 40%atau kurang. Ruangan harus anti tikus, anti serangga. Penyimpanan bahan selain bahan makanan tidak diperbolehkan.

Tentang penyimpanan bahan makanan dalam Referigerator / Kulkas / Freezer ○ Tersedia ruang yang memadai untuk meniris potongan2 dari freezer. ○ Standar teknik meniriskan bahan makanan dari freezer ada 3 cara : 1. Langsung memasak bahan makanan beku 2. Meniriskan makanan beku dengan merendam bahan makanan dengan air mendidih 3. Meletakkan bahan makanan beku dengan air mengalir ○ Rak dalam reefrigerator dan isinya disusun sedemikian rupa sehinga tidak berdesakan, agar aliran udara dingin dapat mencakup semua bahan makanan dengan baik ○ Syarat ruangan sama dengan ruangan dapur dan ruang penyimpanan bahan makanan

B.4. PERACIKAN DAN PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN • Pengolahan harus dilakukan oleh penjamah makanan dengan sikap dan perilaku yang hygienis : ○ Tidak merokok selama mengolah makanan ○ Tidak makan atau mengunyah ○ Tidak memakai perhiasan berlebihan ○ Tidak menggunakan peralatan atau fasilitas kerja yang bukan peruntukannya ○ Tidak mengerjakan kebiasaan2 yang jorok / menjijikkan seperti mengorek2, mencungkil, mengupil, menggaruk, menjilat, atau meludah ○ Semua kegiatan pengolahan makanan harus dilakukan secara terlindung dari kontak langsung dengan tubuh ○ Perlindungan kontak langsung dengan makanan jadi dilakukan dengan menggunakan sarung tangan plastik, penjepit makanan, sendok, garpu, dan sejenisnya

Tenaga pengolah makanan harus selalu melakukan pemeriksaan kesehatan berkala minimal 6 bulan sekali sesuai prosedur dalam buku ini. Prosedur juga berlaku bila tenaga pengolah makanan mengalami sakit. Tenaga dapur / gizi selalu berupaya untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan kerja dengan cara : ○ Menempatkan makanan pada wadah dan tempat yang layak terutama makanan yang mudah rusak ○ Selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum bekerja dan setelah keluar dari kamar mandi / WC sebagaimana diatur dalam buku ini mengenai cuci tangan ○ Selalu memakai pakaian kerja dan pakaian pelindung ○ Selalu bersifat teliti dan hati-hati dalam menangani makanan ○

B.5. PENGANGKUTAN MAKANAN • • • • Makanan jadi yang siap saji tidak boleh diangkut bersama dengan bahan makanan mentah Makanan diangkut dengan kereta dorong yang tertutup, bersih dan anti karat (stainless steel), dan permukaan dalamnya mudah dibersihkan Pengisian kereta dorong tidak boleh sampai penuh, agar masih tersedia udara untuk ruang gerak Perlu diperhatikan jalur khusus yang terpisah dengan jalur untuk mengangkut bahan / barang kotor

B.6. PENYAJIAN MAKANAN Makanan jadi yang siap saji harus diwadahi dan disajikan dengan peralatan yang bersih dan sudah melalui proses desinfeksi sesuai prosedur • Penyajian dilakukan dengan perilaku penyaji yang sehat dan berpakaian bersih • Sebaiknya dalam tata hidang, disiapkan segera dan tidak lama menunggu di santap. Beri waktu tidak lama kepada penderita untuk menyantapnya agar makanan tidak makin beresiko terpapar mikroorganisme. • Letak makanan sebaiknya satu bidang, bila dgigunakan bidang yang berbeda / bertingkat, maka jenis makanan basah berada di bawah dari makanan kering • Selalu menyediakan makanan contoh dari menu yang dihidangkan hari ini sebagai bahan pemeriksaan bila terjadi masalah yang diakibatkan makanan. A. PERALATAN PENGOLAHAN MAKANAN C.1. PERALATAN MAKANAN DAN MINUMAN • Peralatan yang digunakan untuk penyajian makanan yang langsung dimakan oleh karyawan, pasien atau pengunjung • Bahan untuk peralatan harus terbuat dari bahan yang kuat , tidak mudah retak, penyok, gompel , robek atau pecah • bagian permukaan tempat makanan atau yang kontak dengan makanan haruslah halus, tidak ada sudut mati dan mudah dibersihkan, •

• • •

tidak mudah larut dalam makanan, tidak mengandung bahan beracun atau logam berat lain seperti : Timah, Arsen, Tembaga, Seng, cadmium atau antimon Kebersihan peralatan harus djaga dengan baik, pencucian dan penyimpanan harus sesuai prosedur

C.2. PERALATAN MASAK DAN WADAH MAKANAN • Peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan mentah atau membawa makanan matang • Peralatan makanan mentah terpisah dengan peralatan makanan jadi • Peralatan masak dan wadah makanan sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat dan tidak larut dalam makanan seperti stainless steel • Semua peralatan harus mempunyai tutup • Peralatan yang bukan logam harus dari bahan yang kuat dan setelah rusak harus langsung dibuang • Penyimpanan peralatan masak dan wadah pada rak harus teratuur dan sebaiknya mendapatkan sinar matahari C.3. PENCUCIAN PERALATAN • Pisahkan segala kotoran atau sisa-sisa makanan yang terdapat pada alat/barang seperti, gelas, mangkok dll ke tempat yang telah disediakan untuk itu. Selanjutnya sampah tersebut dibuang bersama sampah dapur lainnya sesuai prosedur pengelolaan sampah. • Piring dan alat yang telah dibersihkan sisa makanan, ditempatkan pada tempat piring kotor. • Setiap piring/alat yang dicuci direndam pada bak pertama. Cara ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan peresapan air ke dalam sisa makanan yang masih menempel, sehingga mudah untuk membersihkan selanjutnya. • Setelah direndam untuk selama beberapa saat, maka piring mulai dibersihkan dengan menggunakan detergen pada bak pencuci tersebut. Penggunaan sabun sebaiknya dihindarkan karena sabun tidak dapat menghilangkan lemak. • Cara pencucian dilakukan dengan menggosok bagian-bagian yang terkena makanan, dengan cara menggosok berulang kali sampai tidak terasa licin lagi. Bilamana masih licin akan menempel sisa-sisa bau yang belum bersih. • Setelah pencucian dirasa cukup, maka langsung dibilas dengan air pembersih/pembilas yang mengalir, sambil digosok dengan tangan dan tidak lagi terasa sisa-sisa makanan atau sisa-sisa detergen. • Piring atau gelas yang telah dicuci dibilas dengan air kaporit untuk disinfeksi, langsung direndam ke dalam air bak kaporit 50 ppm selama 2 menit kemudian ditempatkan pada tempat penirisan. • Sedangkan untuk disinfeksi dengan air panas, disyaratkan suhu 82º C untuk selama 2 menit atau 100º C selama 1 menit. • Cara memasukkan piring/gelas ke dalam air panas, tidak boleh langsung dengan tangan, tetapi sebelumnya dimasukkan ke dalam rak-rak khusus untuk didisinfeksi.

Piring dan alat makan yang telah selesai melalui proses disinfeksi ditempatkan pada rak-rak anti karat ( stainless steel ) sebagai tempat penirisan/pengeringan dengan cara terbalik atau miring sampai kering dengan bantuan sinar matahari atau sinar buatan dan tidak boleh dilap dengan kain. Untuk itu bagian yang menempel ke permukaan piring atau bibir gelas harus dijaga kebersihannya dengan cara disinfeksi. Piring atau gelas yang akan dipakai tidak perlu dilap atau digosok kain lap, karena menjadi kotor kembali. Bilamana dilap gunakan kain lap ( tissue ) sekali pakai.

C.4. PENYIMPANAN PERALATAN • Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan kering dan bersih. • Cangkir, mangkok, gelas dan sejenisnya cara penyimpanannya harus dibalik. • Rak-rak penyimpanan peralatan dibuat anti karat, rata dan tidak aus/rusak. • Laci-laci penyimpanan peralatan terpelihara kebersihannya. • Ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dari sumber pencemaran dan binatang perusak. A. TATA RUANG DAN BANGUNAN INSTALASI DAPUR / GIZI D.1. LOKASI Terhindar dari sumber pencemaran, terutama yang berasal dari tempat sampah, WC, bengkel cat dan sumber pencemaran lain. D.2. SYARAT BANGUNAN DAN FASILITAS DAPUR 1) Halaman Halaman bersih, tidak banyak lalat, dan tersedia tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan, tidak terdapat tumpukan barang-barang yang dapat menjadi sarang tikus. Pembuangan air kotor (limbah dapur dan kamar mandi) tidak menimbulkan sarang serangga, jalan masuknya tikus dan dipelihara kebersihannya. Pembuangan air hujan lancar, tidak menimbulkan genangangenangan air. 2) Konstruksi Bangunan untuk kegiatan pengolahan makanan harus memenuhi persyaratan teknis konstruksi bangunan yang berlaku. 3) Lantai Permukaan lantai rapat air, halus, kelandaian cukup, tidak licin, dan mudah dibersihkan. 4) Dinding Permukaan dinding sebelah dalam halus, kering/tidak menyerap air dan mudah dibersihkan. Pada permukaan dinding yang sering terkena percikan air, harus

dilapisi bahan kedap air yang permukaannya halus, tidak menahan debu, setinggi 2m, dan berwarna terang. 5) Langit-langit Langit-langit harus menutup seluruh atap bangunan, tinggi langit-langit sekurangkurangnya 2,4 m diatas lantai. 6) Pintu dan Jendela Seluruh pintu dan jendela pada bangunan yang dipergunakan untuk memasak harus membuka ke arah luar. Semua pintu dibuat menutup sendiri dan dilengkapi peralatan anti lalat, seperti kasa, tirai, pintu rangkap dan lain-lain. 7) Pencahayaan Intensitas pencahayaan harus cukup untuk dapat melakukan pemeriksaan dan pembersihan serta melakukan pekerjaan-pekerjaan secara efektif. Di setiap ruangan tempat pengolahan makanan dan tempat mencuci tangan intensitas pencahayaan sedikitnya 200 lux pada bidang kerja. Semua pencahayaan tidak boleh menimbulkan silau dan distribusinya sedemikian sehingga sejauh mungkin menghindarkan bayangan. 8) Ventilasi / Penghawaan Bangunan atau ruangan tempat pengolahan makanan harus dilengkapi dengan ventilasi yang dapat menjaga kenyamanan suhu dan kelembaban dalam ruangan, ventilasi juga harus cukup untuk mencegah udara dalam ruangan terlalu panas, mencegah kondensasi uap air atau lemak pada lantai, membuang bau, asap dan pencemaran lain dari ruangan. Tungku dapat dilengkapi dengan sungkup asap (hood) alat perangkap asap, cerobong asap, saringan dan saluran serta pengumpl lemak. Semua tungku terletak dibawah sungkup asap. 9) Dapur formula bayi ( dapur susu ) Dapur susu dibuat ruangan khusus (ruangan berdinding kaca) yang “bebas” dari micro-organisme pathogen, dan tidak dipakai untuk kegiatan lain. Tenaga penjamah makanan di dapur susu mempunyai baju dan atribut khusus yang steril (barak short, tutup kepala, masker dan sarung tangan). Semua peralatan dan perlengkapan harus steril (botol susu, tempat / wadah dan pengaduk). 10) Ruangan pengolahan makanan Luas ruang pengolahan makanan harus cukup untuk bekerja agar terhindar dari kemungkinan terkontaminasinya makanan dan memudahkan pembersihan, dengan luas 2 m² untuk setiap pekerja. Ruang pengolahan makanan tidak boleh berhubungan langsung dengan WC, peturasan, dan kamar mandi. Untuk kegiatan pengolahah dilengkapi sedikitnya meja kerja, lemari tempat penyimpanan bahan dan makanan jadi yang terlindung dari gangguan serangga, tikus dan hewan lainnya.

11) Fasilitas pencucian peralatan dan bahan makanan Pencucian peralatan harus menggunakan bahan pembersih/detergen. Pencucian bahan makanan yang tidak dimasak harus menggunakan larutan kalium permanganat 0,02% atau dalam rendaman air mendidih dalam beberapa detik. Peralatan dan bahan makanan yang telah dibersihkan disimpan dalam tempat yang terlindung dari kemungkinan pencemaran oleh tikus, serangga dan hewan lainnya. 12) Tempat Cuci Tangan Tersedia tempat cuci tangan yang bersih dan terpisah dengan tempat cuci perakatan maupun bahan makanan yang dilengkapi dengan kran, saluran pembuangan tertutupm bak penampungan, sabun dan pengering. Jumlah tempat cuci tangan disesuaikan dengan banyaknya karyawan (penjamah makanan). Untuk sebuah tempat cuci tangan dipergunakan maksimal 10 orang, dengan tambahan 1 (satu) buah setiap penampahan 10 orang atau kurang, dam terletak sedekat mungkin dengan tempat kerja. 13) Air minum dan air bersih Air bersih/minum harus tersedia cukup untuk seluruh kegiatan penyelenggaraan pengolahan makanan. Kualitas air harus memenuhi persyaratan sesuai denganperaturan yang berlaku. A. PETUGAS PENGELOLA MAKANAN Semua penjamah makanan harus selalu memelihara kebersihan pribadi (personal hygiene) dan terbiasa untuk berperilaku sehat selama bekerja. Hal-hal yang diperhatikan dalam kebersihan pribadi : • Mencuci tangan, hendaknya tangan selalu dicuci dengan sabun : sebelum bekerja, sesudah menangani bahan makanan mentah/kotor atau terkontaminasi, setelah dari kamar kecil, setelah tangan dibunakan untuk menggaruk, batuk atau bersin dan setelah makan atau merokok. • Pakaian, hendaknya memakai pakaian khusus untuk bekerja. Pakaian kerja harus bersih, yang sudah usang jangan dipakai lagi. • Kuku dan perhiasan, kuku hendaknya dipotong pendek dan dianjurkan untuk tidak memakai perhiasan sewaktu bekerja. • Topi/penutup rambut, semua penjamah hendaknya memakai topi atau penutup rambut untuk mencegah jatuhnya rambut ke dalam makanan dan mencegah kebiasaan mengusap/menggaruk rambut. • Merokok, penjamah makanan sama sekali tidak diijinkan merokok selama bekerja baik waktu mengolah meupun mencuci peralatan. Merokok merupakan mata rantai antara bibir dengan tangan dan kemudian ke makanan di samping sangat tidak etis. • Lain-lain, kebiasaan seperti batuk-batuk, menggaruk-garuk, mencet jerawat, merupakan tindakan yang tidak higienis. Kebiasaan ini akan mengkontaminasi tangan dan pada gilirannya mengkontaminasi makanan.

I.

PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR OPERASI

A. TATA RUANG DAN BANGUNAN KAMAR OPERASI • LOKASI ○ Lokasi OK dan VK harus mudah di capai dari bagian lain dan satu sama lain • BENTUK Sudut-sudutnya todak boleh tajam, baik sudut lantai, dinding maupun langit – langit Dinding, lantai dan langit-langit terbuat dari bahan yang keras, tidak berpori, tahan api, kedap air tidak mudah kotor, tidak licin, tidak mempunyai sambungan, warna terang.\, mudah dibersihkan dan tidak ada tempat menampung debu • UKURAN

○ ○

○ ○ ○

Ukuran minimal 30 – 40 m2, maksimal 55 – 60 m2 tinggi plafon minimal 2,5 m, maksimal 3,65 m • PINTU Sebaiknya bentuk pintu sliding, namun bila pintu swing, maka pintu harus selalu tertutup dengan menggunakan penutup otomatis Ukuran pintu minimal 1,2 X 2,10 m Pintu harus selalu terawat, dan tidak boleh mengeluarkan suara • JENDELA Harus ada kaca tembus pandang agar orang dari luar dapat melihat keadaan di dalam kamar bedah tanpa harus masuk • VENTILASI Memakai AC dilengkapi filter dan sistem ultraclean luminay airflow Suhu diatur antara 19 – 22 oC dan kelembaban udara 50 – 60 % • SISTEM PENERANGAN Lampu ruangan memakai lampu pijar putih tertanam di dalam langit-langit sehingga tidak menampung debu dan mudah dibersihkan Pencahayan ruangan sesuai peraturan pencahayaan pada buku ini Lampu operasi merupakan lampu khusus yang terdiri dari beberapa lampu yang fokusnya dapat diatur, tidak panas, terang, tidak menyilaukan dan tidak menimbulkan bayangan • SISTEM GAS Sistem gas sebaiknya dibuat sentral memakai sistem pipa Sistem pipa melalui bawah lantai atau diatas langit-langit Dibedakan sistem pipa O2 dan Nitrogen Oksida • SISTEM LISTRIK Harus ada sistem penerangan darurat dan sistem listrik cadangan Bila dalam kamar bedah ada beberapa titik penyambungan aliran listrik, maka sebaiknya dibedakan sirkuitnya sehingga bila terjadi gangguan listrik pada satu titik, maka bisa dipindahkan ke titik lainnya

○ ○

○ ○ ○

○ ○ ○ ○ ○

• SISTEM KOMUNIKASI ○ Harus ada sistem komunikasi dengan ruangan lain di dalam RS dan ke luar RS SISTEM PENGAIRAN ○ Harus selalu siap mengalir. Harus punya sumber air tersendiri • INTRUMENTASI ○ Semua peralatan harus mobile, mempunyai roda atau diletakkan diatas trolley beroda ○ Semua alat sebaiknya terbuat dari stainless steel dan mudah dibersihkan

Prosedur penanganan instrumen di bahas kemudian

A. SISTEM ZONASI DI KOMPLEKS OK-VK

KM VK RR R inst

Sphk OK 1 HW

Koridor

R. Sterilisasi

OK 2 R. Duduk

RGP RG Dpr

R. Istirahat KM

• • • • No 1

ZONA 1 ZONA 2 ZONA 3 ZONA 4

: Zona Bebas terbatas ditandai dengan warna hijau : Zona Bersih (Clean Zone) ditandai dengan warna kuning : Zona Semi Steril ditandai dengan warna oragne : Zona Steril ditandai dengan warna merah Zona 1 Zona 2 Zona 3 Petugas OK wajib memakai pakaian khusus OK lengkap dengan masker dan head cover Zona 4 -Tim Operasi memakai jas operasi -Petugas OK memakai Handschoen KET

Variabel Pakaian

-Pakaian luar -Pakaian luar OK masih OK masih boleh boleh dipakai dipakai. Tidak boleh lebih -Pakaian dalam dari zona khusus OK ini. Pergantian tidak boleh pakaian OK – lebih luar dari Pakaian Luar zona ini OK disini

2

Alas Kaki -Alas Kaki luar OK masih bisa di pakai. Tidak boleh lebih dalam dari zona ini, pergantian alas kaki luarOK disini

Alas kaki OK harus mulai dipakai

Alas Kaki Khusus OK saja

Alas Kaki khusus OK saja

-Alas Kaki OK tidak boleh lebih luar dari zona ini 3 Bed Pasien Brankar OK Boleh masuk Hanya sampai Recovery Room boleh masuk Boleh masuk Tidak boleh masuk Boleh masuk Tidak boleh masuk Boleh masuk untuk keluar lagi Tidak boleh masuk

4

Boleh masuk. Tidak boleh lebih luar dari zona ini Boleh masuk

5

Petugas luar OK

Boleh masuk

Boleh Masuk dengan memakai pakaian pelindung, masker dan head cover

6

Lain2

-Berbatas Pintu dari luar kompleks OK -Berbatas Pintu dari Zona / ruangan lain

Berbatas pintu dengam zona / ruangan lain

Syarat tata Ruangan sesuai standard

A. PERSIAPAN TINDAKAN OPERASI

1. Persiapan Pasien Operasi A. Serah terima pasien
Rumah Sakit Budi Luhur Serah Terima Pasien Pra & Pasca Operasi 29/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

Pengertian Tujuan

: Tata cara serah terima pasien yang akan dioperasi antara perawat ruangan dan staf kamar operasi. : – Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi oleh petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan operasi bisa berhasil dengan baik dan mengutamakan keselamatan pasien. – Menyiapkan obat-obatan, alat-alat, darah dan persiapan khusus lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan operasi tersebut. : Petugas ruangan dan petugas kamar operasi bertanggung jawab atas persiapan pasien calon operasi ini. :

Kebijakan Prosedur 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Petugas ruangan mengetahui jadwal operasi Petugas ruangan mempersiapkan area operasi sesuai prosedur yang berlaku. Petugas ruangan mengisi berita acara. Petugas ruangan mempersiapkan semua catatan medik pasien termasuk surat izin operasi untuk dibawa bersama pasien ke ruang operasi. Petugas ruangan menyertakan perlengkapan penunjang operasi misalnya : persediaan obat-obatan atau persediaan darah yang diperlukan saat operasi dilakukan yang akan dibawa bersama pasien ke kamar operasi. Setengah jam sebelum jadwal operasi atau setelah ada panggilan dari petugas kamar operasi, pasien dibawa ke kamar operasi dengan memakai tempat tidur yang dipakai di ruangan. Serah terima pasien pra operasi dilakukan di ruang transfer. Petugas ruangan menyerahkan pasien disertai berita acara serah terima yang ditanda tangani oleh petugas ruangan dan petugas kamar operasi dan ditulis dalam buku register kamar operasi.

9. Petugas kamar operasi memeriksa kelengkapan berita acara, kelengkapan identitas, catatan medik pasien, keadaan umum pasien, surat izin tindakan dan kelengkapan penunjang lainnya seperti obat-obatan dan persediaan darah. 10.Kejadian khusus dan pengobatan selama operasi berlangsung dicatat dalam berita acara oleh asisten operasi / omloop. 11.Setelah operasi selesai, asisten menyiapkan berita acara, catatan medik pasien. 12.Pasien dipersiapkan untuk serah terima dengan petugas ruangan. 13.Serah terima dilakukan di ruang transfer, petugas kamar operasi menyerahkan pasien beserta semua kelengkapannya yang ditandai dengan penandatanganan berita acara serah terima pasien pasca operasi.

A. Persiapan fisik Pasien harus dalam kondisi aman untuk dilakukan operasi yang ditandai oleh ○ Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi ○ Dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap, meliputi pemeriksaan laboratorium hematologi, kimia klinik, dan lainnya, pemeriksaan radiologi, pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan lain yang diperlukan dengan hasil pemeriksaan penunjang dalam batas normal atau dalam batas toleransi / aman ○ Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan atau dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya menyatakan pasien dapat dioperasi ○ Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus, lavement, puasa, istirahat total, pemasangan Supportif seperti O2, Foley catheter, NGT , dll. ○ Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian dari RS, bersih. ○ Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter A. Persiapan mental ○ Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan Informed Consent sesuai prosedur.

○ Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasien diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing. ○ Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung secara moril.

A. Persiapan area operasi
Pengertian Tujuan Kebijakan : Tata cara mempersiapkan area pada tubuh pasien yang akan dilakukan operasi. : Menyiapkan area operasi untuk menghindari dari infeksi nosokomial. : – Adanya rencana operasi yang ditentukan oleh dokter operator yang diketahui oleh dokter ruangan, petugas ruangan dan bagian keuangan. – Petugas ruangan yang bertanggung jawab atas persiapan pasien calon operasi ini. Prosedur : 1. Petugas ruangan mengetahui rencana operasi dari pasien tersebut. 2. Petugas ruangan mengetahui jenis operasi yang akan dilakukan sehingga bisa mengetahui area mana yang perlu dipersiapkan. 3. 2 jam sebelum jadwal operasi ditentukan, petugas ruangan mempersiapkan area operasi. 4. Selain itu diperhatikan higiene pasien : mulut, kuku, rambut dan kulit. 5. Persiapkan area operasi dengan dilakukan pencukuran di area operasi yang cukup luas dengan mempertimbangkan keperluan untuk perluasan luka operasi. 6. Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut kemudian dicuci dengan sabun sampai bersih. 7. Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan pakaian khusus dan memakai tutup kepala. 8. Perhiasan, gigi palsu, kontak lens dan lain-lain harus sudah ditanggalkan dan diserahkan pada keluaga.

A. Persiapan Kamar Operasi Pembersihan Rutin Pembersihan Harian


Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK – VK di bersihkan dan di desinfeksi Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti penyediaan air bersih, kelistrikan, pencahayaan, ventilasi, dsb Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan lampu ultraviolet secara terus menerus hingga saat dibersihkan keesokan harinya. Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penanggung jawab adalah Kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Mingguan • Seluruh permukaan dinding Kamar Operasi dibersihkan dengan air mengalir dan didesinfeksi • Lantai dibersihkan dengan air mengalir / disemprot , dicuci dengan detergent, di keringkan dan didesinfeksi • Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu operasi, trolley anestesi, Kabel-kabel dan selang , cuff, Tabung O2, Tabung N2O, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan didesinfeksi • Kamar mandi dibersihkan • Semua peralatan sterilisasi dibersihkan • Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali . • Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung jawab adalah kepala OK dan Kepala VK Pembersihan Bulanan

• •

Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan, prasarana dan peralatan serta obat-obatan di kompleks OK – VK Semua bahan medis yang disterilisasi kering diperiksa kapasitas formalinnya Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

Pembersihan pra dan pasca operasi

Pembersihan Pra Operasi • Bila jadwal operasi dilaksanakan setelah dilakukan pembersihan rutin maka ruangan bedah tidak perlu dibersihkan lagi • Bila jadwal operasi sebelum dilaksanakan pembersihan rutin, maka segera dilakukan pembersihan ruangan Operasi dan sekitarnya. Pembersihan Pasca Operasi • Cipratan pada dinding dibersihkan dan didesinfeksi • Lantai dibersihkan dan di desinfeksi • Meja Operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Bebaskan pengunci roda, lantai dibawah meja operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Roda meja operasi digelindingkan ke atas cairan desinfektan bolak balik. Setelah selesai semua, kembalikan meja operasi ke posisi semula dan kunci rodanya. • Semua kabel dan selang alat yang beada di dalam ruangan bedah dibersihkan • Alat-alat penunjang seperti suction, cauter meja instrumen bila terkontaminasi cairan tubuh pasien dibersihkan dan dibawa keluar OK. Hati hati kontaminasi roda. Bila perlu roda dibersihkan sebelumnya. • Setelah selesai, ruangan operasi ditutup dan lampu UV dinyalakan • Bersihkan koridor dan ruangan lainnya • Penanggung Jawab adalah paramedik yang bertugas di OK Persiapan lain pra operasi

• •

Nyalakan AC suhu dibawah 27o C Nyalakan lampu penerangan Siapkan lampu operasi

A. Persiapan instrumen, Linen dan peralatan lain

• • • • • • • • • • • •

Persiapan Instrumen Persiapan instrumen dilakukan oleh instrumenter dibantu oleh Omloop dan Asisten dua. Bila Operasi cito, maka persiapan dapat dilakukan oleh paramedik jaga rawat inap Instrumenter mengetahui rencana tindakan operasi. Bila diperlukan instrumenter bisa melihat langsung pasien sehingga mendapatkan gambaran tentang segala kebutuhan di ruang operasi Instrumen , dan omloop berbagi tugas mempersiapkan instrumen, alat dan ruangan Instrumen yang akan dipakai dikeluarkan dan disusun pada trolley. Jenis instrumen dan jumlah disesuaikan standar . Instrumen diperiksa kelayakan pakainya. Pastikan kebersihannya. Instrumen dikelompokkan per jenis instrumen. Pastikan semua kunci instrumen terbuka. Lakukan sterilisasi Sterilisasi dapat dilakukan dengan steam pressure (autoclave) atau dry heat ( UV+panas) sesuai prosedur. Siapkan nampan yang sudah dialasi duk steril, Siapkan Trolley yang sudah dialasi Duk steril berlapis Keluarkan instrumen, letakkan pada nampan kemudian pindahkan pada trolley.

• •

Susun sedemikian rupa sehingga instrumen mudah disediakan secara berurutan sesuai urutan tindakan. Tutup trolley denganduk sehingga instrumen diatas trolley tertutup seluruhnya. Persiapan Linen Instrumenter dibantu omloop menyiapkan sejumlah linen sesuai kebutuhan jenis tindakan operasi Jenis linen disesuaikan dengan standar Lakukan sterilisasi. Sterilisasi linen harus sudah selesai sebelum instrumen Nampan dan Trolley diberi alas linen steril. Bila perlu berlapis 2. Letakkan linen pada trolley Tutup trolley dengan linen steril

• • • • •

SKEMA ALUR PENGELOLAAN INSTRUMEN TINDAKAN

Instrumen pasca tindakan

DEKONTAMIN ASI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN

Packing / set

Non packing

STERILISASI DI PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN

Skema pengelolaan Linen

SKEMA ALUR PENGELOLAAN LINEN KOTOR LINEN KOTOR

Linen Non Infeksius

Linen Potential Infeksius

DEKONTAMINAS I

DESINFEKSI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN , PERBAIKAN, PENYETRIKAAN, PACKING

Linen Non Tindakan

Linen Tindakan

STERILISASI DI PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN

A. Persiapan Personil Kamar Operasi
Pengertian Tujuan Kebijakan Prosedur : Tata cara menjadwalkan operasi pasien. : Terlaksana operasi pada waktunya. : Waktu operasi adalah kesepakatan antara operator dan anestesi. Pelaksana pengaturan penjadwalan adalah paramedik. :

1. Dokter operator menentukan pasien untuk dioperasi, memberitahukan paramedik tentang waktu operasi. 2. Paramedik melaporkan kepada dokter anestesi untuk meminta persetujuan waktu operasi. 3. Paramedik mengatur / mengusahakan kesepakatan waktu antara dokter operator dan dokter anestesi. 4. Jika waktu operasi sudah disepakati, paramedik memberitahukan staf kamar operasi lainnya. 5. Paramedik mengusahakan staf kamar operasi selengkap mungkin. 6. Staf kamar operasi segera mempersiapkan operasi.

Penunjukkan personil kamar operasi

1. Paramedik jaga menentukan paramedik yang akan ditugaskan di kamar operasi 2. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang sudah berpengalaman di kamar operasi 3. Diusahakan Paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang sedang tidak tugas jaga rawat inap /UGD 4. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang sedang tidak libur 5. Paramedik yang ditugaskan di OK datang paling lambat 30 menit sebelum jadwal operasi. 6. Jika diperlukan paramedik jaga ruang rawat inap/UGD membantu menyiapkan instrumentasi dan ruangan OK 7. Selalu konfirmasi dan pastikan semua siap hadir tepat pada waktunya

Pembagian tugas personil OK 1. Scrub Nurse ( Instrumenter) Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril mengelola semua kebutuhan instrumentasi sebelum, selama dan setelah operasi Tanggung jawab : menjaga keutuhan dan efisisensi derah steril dengan menyediakan instrumen dan supply steril yang diperlukan Syarat : – Paramedik/bidan terlatih secara intern RS – Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik – Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan kegawatan – Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan – Mengenal karakteristik operator

Tugas

:

Sebelum Operasi
– Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat

termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan – Memeriksa ulang kesiapan instrumentasi , pastkan susunan berdasarkan urutan tindakan operasi. – Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan sarung tangan steril dengan teknik yang benar – Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo – Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten satu saat melakukan antiseptik kulit. – Membantu menutup pasien dengan duk steril – Menyiapkan dan memberikan instrument Selama Operasi – Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator satu langkah lebih dahulu. – Selalu tersedia kasa di daerah operasi. Sediakan pada wadah tertentu seperti nerbekken. – Ingat! Kelompokkan kasa dalam satu ikatan dengan jumlah yang tertentu. Buka lah bundel satu persatu bila diperlukan agar tidak tercampur satu sama lain. Hitung selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada tempat sampah infeksius – Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering – Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun. – Jangan biarkan darah mengering pada instrumen – Meminta supply alat tambahan kepada omloop – Bila sarung tangan bolong atau robek atau tertusuk, segera diganti – Posisi tubuh harus tegak, tidak bolah bersandar pada meja instrumen. – Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa , instrumen, jarum.

Pasca Operasi – Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril , keringkan dengan kasa kering – Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix – Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal – Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen yang direndam. – Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam – Sebelum dicabut, kanul dan selang harus selalu di spooling / bilas dengan air chlorine 0,5% dan air bersih – Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai prosedur buku ini. – Bila ada spesimen yang sudah disiapkan Omloop, dicek kembali .

1. Asisten utama (asisten satu) Pengertian : Petugas yang mebantu operator melaksanakan operasi Tanggung jawab : terlaksananya operasi dengan baik dan aman. Syarat :

– Dokter/Paramedik/bidan terlatih secara intern RS – Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik – Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan kegawatan – Mampu mengelola pasien gawat – Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan – Mengenal karakteristik operator – Teliti dan cekatan – Diutamakan berpengalaman Tugas : Sebelum operasi – Berkomunikasi dengan operator mengenai rencana tindakan operasi dan kemungkinan komplikasi – Memastikan identitas pasien dan kelengkapan administrasi – Memeriksa pasien yang akan di operasi – Memastikan kelengkapan instrumen dan peralatan – Memastikan kesiapan kegawatan – Memastikan kesiapan anestesi – Memastikan kesiapan fasilitas ruangan operasi – Membantu memposisikan pasien – Membantu operator melakukan antiseptik – Membantu operator menutupi pasien dengan duk steril – Berkomunikasi dengan anestesi tentang kesiapan tindakan operasi dan kondisi pasien – Cuci tangan bedah dan mengenakan jas operasi Selama Operasi – Membantu operator dalam setiap tindakan yang dilakukan – Memberikan lapang pandang yang baik pada area operasi dan bersih sepanjang operasi – Memantau dan meminimalisir perdarahan – Mengawasi kondisi pasien dan berkomunikasi dengan anestesi – Mengawasi kinerja instrumenter dan asisten dua

– Mengantisipasi kebutuhan operator baik kebutuhan personal maupun kebutuhan tindakan operasi selangkah di depan operator – Bertindak sebagai manajer dari tim pendukung operasi Sesudah operasi – Membantu menutup luka, membersihkan pasien – Membantu anestesi mengamankan pasien – Membantu transport pasien – Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien – Berkomunikasi dengan operator tentang follow up pasien 1. Asisten madya (asisten dua) Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril membantu operator dan asisten utama selama operasi Syarat : – Paramedik/bidan terlatih secara intern RS – Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik Tugas :

Sebelum Operasi – Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan obat2an anestesi, dan cairan – Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan sarung tangan steril dengan teknik yang benar – Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo – Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten satu saat melakukan antiseptik kulit. – Membantu menutup pasien dengan duk steril Selama Operasi – Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba membaca keperluan operator satu langkah lebih dahulu.

– menghitung selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada tempat sampah infeksius – Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering – Membantu sehingga Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun. – Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa , instrumen, jarum. Pasca Operasi – Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril , keringkan dengan kasa kering – Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix – Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai tertinggal – Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen yang direndam. – Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam – Membantu malakukan spooling / bilas kanul dan selang dengan air chlorine 0,5% dan air bersih – Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai prosedur buku ini. – Membantu kegiatan omloop dan instrumenter 1. Circuler (Omloop) Nama jabatan : Sirkuler / Omloop

Pengertian : Petugas kamar operasi yang tidak steril ( tidak memakai jas operasi tidak memakai handschoen steril) Tanggung jawab: membantu memenuhi seluruh kebutuhan kamar operasi, operator, anestesi, instrumenter dan pasien sebelum, selama dan sesudah operasi.

Membantu team yang steril dengan supply yang steril

Syarat

:

– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS – Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik – Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan dan kemungkinan kegawatan – Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan dan letak penyimpanan instrumen dan bahan medik lain dalam kompleks OK – Cekatan dan inisisatif Tugas :

Sebelum Operasi – Cuci tangan bedah tapi tidak memakai jas dan handschoen steril. Handschoen dapat yang steril tapi tidak dijaga sterilitasnya. – Memeriksa kebersihan ruangan , membersihkan ruangan jika belum dibersihkan – Membantu mempersiapkan instrumen bersama instrumenter – Identifikasi pasien dan serah terima pasien, memastikn kelengkapan administrasi – Membantu transport pasien senyaman mungkin – Mengganti pakaian pasien – Membantu memposisikan pasien di meja operasi – Menyambungkan alat 2 ke supply listrik, menyambungkan selang dan kabel steril dengan alat yang non steril spt suction atau diatermi – Membantu team steril mengenakan apron, jas operasi, sepatu goggle – Mengisi buku catatan operasi, catatan pasien, formulir pemeriksaan, dsb

Selama Operasi – Melihat jalannya operasi dan selalu memenuhi alat , supply atau instrumen yang dibutuhkan team – Menghitung kasa yang dipakai – Memperhatikan kebutuhan pasien semisal pasien kedinginan, infus habis , posisi dsb – Selalu berkomunikasi dengan seluruh tim . Bila keluar ruangan agar memberitahukan instrumenter – Menerima spesimen dengan baik dan mengelolanya dengan benar – Membantu kebutuhan personal tim steril seperti menghapus keringat, menghapus cipratan darah, membenahi pakaian , menyediakan alas kain pada lantai dsb – Menjaga agar ruang operasi selalu bersih , rapi, dan nyaman Setelah Operasi – Menyediakan waskom chlorine 0,5% untuk cuci handschoen operator, melepaskan jas operasi – Memasangkan plester pada kasa/dressing – Membersihkan pasien dari darah dan kotoran lainnya dari tubuh. – Memakaikan pakaian pasien dengan baik – Transport pasien ke ruang pemulihan bersama penata anestesi atau serah terima pasien dengan petugas rawat inap. – Menyiapkan laporan operasi, formulir pemeriksaan, atau resep , serta konsumsi untuk operator – Membantu instrumenter membersihkan alat dan instrumen – Membersihkan ruangan operasi dan menyiapkan ruangan operasi A. Transport Pasien • Pasien diantarkan ke Ruang operasi oleh paramedik ruangan rawat inap

• •

• • • •

Tergantung kondisi pasien, pasien dapat diantar dengan membawa bed atau dengan kursi roda Dilakukan serah terima berita acara tindakan operasi antara paramedik ruangan dengan petugas OK, besaerta status pasien dan obat-obatan yang diperlukan Petugas OK memeriksa kembali kelengkapan administrasi dan identitas pasien Setelah dinilai lengkap, pasien dibawa ke koridor transport pasien untuk kemudian dipindahkan ke brankar OK Lakukan pemindahan senyaman mungkin Setelah pasien diatas brankar, possikan senyaman mungkin, bed pasien dikeluarkan. Pasien dibawa ke koridor ruang recovery Ganti semua pakaian dengan duk bersih, lepaskan semua perhiasan, beri penutup kepala, lakukan senyaman mungkin sesuai tata krama. Tenangkan pasien. Setelah selesai, pasien ditransport ke ruang operasi, pindahkan pasien ke meja operasi senyaman mungkin. Posisikan senyaman mungkin. Semua suportif diperiksa kelancarannya : IV line, urine catheter, O2, Pasang manset Tekanan darah, pasang pulse oxymetri, nyalakan pulse oksimeter/ECG Monitor

a. Pelaksanaan Operasi

Surgical Scrub Pengertian : Adalah cara cuci tangan bedah yang dilakukan sebelum operasi Tujuan :

Mencegah terjadinya infeksi dari tangan kepada pasien selama operasi Kebijakan : – Cuci tangan dilakukan ditempat cuci tangan khusus – Air yang digunakan adalah air tanah yang mengalir dan sudah teruji secara biologis

– Antiseptik yang digunakan adalah Chlorhexidine tanpa diencerkan Prosedur : 1. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan 2. Pastikan bagian lengan pakaian OK tidak terlalu dekat ke siku 3. Buka keran, biarkan air mengalir sejenak 4. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, alirkan air sedemikian rupa sehingga seluruh permukaan jari-jari, telapak tangan, punggung tangan, pergelangan dan lengan bawah terbasuh dan air mengalir ke arah siku 5. Lakukan pada lengan yang satunya. 6. Keluarkan Chlorhexidine secukupnya dengan tangan satu dan menampungnya dengan tangan lainnya 7. Lakukan tujuh langkah pencucian tangan : – Gosok-gosokkan kedua telapak tangan – Gosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan jari saling terkait diantara jari sedemikian rupa sehingga sela jari terkena – Gosok-gosok punggung tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain , kaitkan jari diantara jari tangan yang lain sehingga sela jari terkena, lakukan secara bergantian – Letakkan punggung jari-jari tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain dengan jari saling mengunci lalu gosok-gosok sedemikian rupa sehingga ujung jarijari tangan yang satu membersihkan buku-buku jari tangan yang lain – Gosok-gosok ibu jari tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain secara berputar, lakukan bergantian – Kuncupkan tangan yang satu sehingga semua ujung jari bertemu, lalu gosok-gosokkan ke telapak tangan yang satunya, secara berputar ke kiri dan ke kanan, lakukan bergantian – Gosok-gosok seluruh permukaan pergelangan tangan hingga sepertiga tengah lengan bawah oleh telapak tangan yang lain, lakukan bergantian

1. Seluruh proses 7 langkah tadi dilakukan selama 1 menit, bisa

2. 3.

4. 5. 6.

7.

dibagi2 per langkah atau lagkah tadi dilakukan berulang2 Biarkan keran air terbuka dan air mengalir sepanjang proses cuci tangan tadi Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bilaslah seluruh tangan dan lengan dengan air mengalir sedemikian rupa sehingga seluruh permukaan terbasuh dan buih dari antiseptik terbasuh Lakukan 7 langkah cuci tangan seperti diatas dengan antiseptik chlorheksidin sekali lagi. Tutup keran dengan menggunakan siku Pertahankan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bila perlu jabatkan kedua tangan. Posisi tangan jangan terlalu tinggi jangan terlalu dekat dengan wajah. Kenakan jas operasi dan Handschoen dengan lengan dan tangan masih terbalur antiseptik

Surgical gown 1. Pakaian OK dan APP tim operasi sesuai prosedur 2. Jas wajib dipakai pada setiap operasi sedang hingga besar/ luar biasa 3. Setelah cuci tangan selesai, dan petugas sudah di dalam ruang operasi, buka Ikatan jas operasi 4. Kenakann jas dengan memasukkan tangan dan lengan kedalam lengan jas yang sesuai. Genggam ujung lengan jas dengan tangan. 5. Biarkan omloop mengikatkan tali di bagian belakang jas 6. Ikatlah tali pada lengan jas sehingga ujung lengan jas melekat pada pergelangan 7. Kenakan Handschoen dan posisikan tangan selalu diatas pusar 8. Ingat, walaupun sudah memakai jas, bagian pusar ke bawah tetap dianggap non steril. Handgloving 1. Kenakan Handschoen secara hand to hand Glove to glove 2. Handschoen selalu dalam keadaan bagian lengan terlipat keluar.

3. Ambil handshoen kanan dengan tangan kiri dengan memegang bagian lipatan handschoen kanan yang merupakan sisi yang melekat ke kulit 4. Masukkan tangan kanan hingga semua jari masuk ke tempatnya masing masing. Lepaskan tangan kiri dan biarkan handschoen masih dalam keadaan terlipat ditangan kanan 5. Ambil handschoen kiri dengan menggunakan tangan kanan yang sudah memakai handschoen dengan mengaitkan jari tangan kanan ke dalam lipatan, yaitu sisi yang kelak akan menghadap ke luar, tidak melekat ke kulit 6. Masukkan tangan kiri hingga jari-jari masuk ketempatnya masing masing. Dengan jari tangan kanan yang masih mengait ke lipatan handschoen kiri, lipatan kemudian di buka sedemikian rupa sehingga bagian lengan handschoen menutupi sepertiga distal lengan bawah tangan kiri. 7. Jari tangan kiri mengait ke lipatan handschoen kanan pada sisi yang kelak menghadap keluar, kemudian membuka lipatan sedemikian rupa sehingga sepertiga distal lengan bawah kana tertutup handschoen 8. Posisikan tangan diatas pusar Posisikan tubuh pasien • Posisi Anestesi ○ Anestesi Umum Bila dilakukan anestesi umum, maka sebelum anestesi umum pasien sudah diposisikan terlentang. Posisikan senyaman mungkin. Ikat tungkai pada bagian atas lutut. Posisi lengan terlentang dan terikat pada penyanggah. ○ Anestesi spinal Bila dilakukan anestesi spinal, maka posisi anestesi spinal adalah duduk dengan tungkai lurus ke depan atau uncang-uncang pada kedua sisi bed operasi, tangan diletakkan pada bed atau tungkai dengan posisi palmar diatas, lemas, kepala tertunduk. ○ Posisikan pasien sesuai kebutuhan operasi setelah anestesi selesai. Posisi Terlentang

Setelah proses anestesi selesai, maka posisi lengan disesuaikan kebutuhan apakah akan terlentang dan terikat pada penyanggah, atau terlipat dibawah kepala, atau lurus disamping tubuh pasien, Tungkai biasanya lurus dan terikat pada bagian atas lutut, tambahan-tambahan lain semisal penyanggah bahu, penyanggah panggul dsb disesuaikan kebutuhan

Posisi Litothomi ○ Posisi bokong pasien pada batas bagian badan dan tungkai bed operasi. Siapkan penyanggah tungkai di sisi kiri dan kanan batas tersebut. ○ Letakkan pelindung / pad pada penyanggah tungkai, lalu letakkan bagian belakang lutut pada penyanggah, sedemikian rupa sehingga bagian perineum terekspos dengan baik dan tungkai terposisikan dengan nyaman. ○ Posisikan lengan terlentang dan terikat pada penyanggah ○ Tutup pasien dengan baik Posisi miring ○ Posisi pasien miring kiri atau kanan sedemikian rupa sehingga area operasi terekspos dengan baik, jalan nafas dan anestesi tidak terganggu, dan posisi pasien stabil tidak dapat jatuh ke posisi depan atau belakang. Posisi tengkurap ○ Idem posisi miring.

Antiseptik area operasi • • Dengan bantuan sponge clamp / klem kassa / penser klem, balurkan Betadine ke area operasi menggunakan kassa steril Bila area operasi dinilai kotor , terkontaminasi, misal pada fraktu daerah ekstremitas, terutama tungkai, apalagi fraktur terbuka, area operasi dapat dicuci dulu dengan NaCl 0,9% steril dengan atau tanpa larutan savlon sebelum dibalur betadine. Pencucian dilakukan oleh omloop menggunakan handschoen non steril.


• •

Balurkan mulai titik tengah area operasi berputar kekiri atau ke kanan terus makin luas sedemikian rupa sehingga area yang terbalur betadine cukup luas dan jauh dari area operasi. Bila terpaksa membalur dengan arah lurus, maka balurkan menjauh area operasi. Betadine yang dibalurkan harus cukup banyak, tidak tipistipis. Pada area operasi pembaluran dapat dilakukan berkalikali disertai sedikit tekanan agar kasa sekaligus berfungsi membersihkan kulit juga. Buanglah kasa ke tempat sampah bila betadine yang terdapat pada kasa tinggal sedikit. Ganti kasa dengan yang baru sebelum memulai membalur lagi. Daerah sela-sela selangkangan dbalur terakhir. Klem kasa yang sudah dipakai membalur daerah selangkangan tidak boleh dipakai lagi sebelum disteril ulang, Setelah selesai antisepsis, klem kasa dipisahkan dengan alat lain dan dianggap non steril. Bila sudah ditutup dengan duk, betadine pada area operasi dibersihkan dengan alkohol 70%

Menutup area operasi •

• •

Setelah Proses antisepsis selesai, batasi area operasi dengan duk steril. Pertama tutup bagian tungkai hingga batas bawah area operasi. Pada posisi lithotomi tutup bagian alas bokong dan bagian bawah bed. Bila menggunakan duk bolong, maka langkah selanjutnya hanya memakai duk bolong ini. Bila menggunakan duk biasa, maka setelah bagian tungkai, maka tutup bagian atas pasien hingga batas atas area operasi. Hati-hati duk menutupi wajah pasien Setelah itu tutup bagian samping tubuh pasien hingga batas lateral area operasi kiri dan kana. Fiksasi duk dengan doek klem. Posisikan doek klem supaya tidak menonjol / mengganggu pelaksanaan operasi. Lapisi bagian bawah dengan duk satu lagi sehingga bila bagian bawah dipakai menyimpan instrumen tidak mudah melorot atau basah dan terkena bed operasi.

Beberapa petunjuk selama operasi • Menggunakan hak ○ Agar tercipta lapang pandang yang baik sisi luka perlu ditarik ke arah luar atau atas. ○ Gunakan hak yang sesuai dengan ukuran luka operasi dan kedalaman lapang pandang yang dibutuhkan. Contoh untuk ekstirpasi FAM mungkin hanya dibutuhkan hak Gigi atau langenbeck kecil saja. Untuk Hernia mungkin perlu hak Roche dan langenbeck saja, Untuk hysterctomy pada yang kurus bisa hanya blaas hak saja atau hak cangku / langenbeck besar pada orang gemuk dsb. ○ Selalu lepaskan hak dari area operasi bila tangan operator masuk, karena selain bisa menghalangi tangan juga menyebabkan sakit pada tangan operator ○ Perhatikan arah operator , gerakkan / pindahkan hak untuk memberi lapang pandang yang lebih baik bila diperlukan Membersihkan darah ○ Untuk darah yang menggenang, gunakan suction dengan canul. ○ Untuk perdarahan yang banyak dan cepat dapat menggunakan suction tanpa kanul. Hindari tangan terlalu dekat dengan area operasi / menghalangi pandangan. ○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang sempit / dangkal, gunakan kasa depper kecil / terlipat pada klem kasa ○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang dalam / luas, gunakan kasa depper besar / tak terlipat / bendera pada klem kasa. Gunakan hanya 1 kasa saja untuk mencegah ketinggalan. ○ Menggunakan kasa depper adalah dengan di tekan-tekankan, bukan di usap / gosokan pada luka karena gesekan bisa

menimbulkan kembali perdarahan, terutama pada daerah yang rapuh ○ Ingat usahakan selalu area operasi dalam keadaan yang kering dan bersih. ○ Gunakan kasa untuk membersihkan area operasi dan instrumen dari bekuan darah. • Menghentikan perdarahan ○ Harus pro aktif dalam menghentikan perdarahan. Bedakan perdarahan yang merembes dari jaringan, mengalir dari pembuluh vena dan menyemprot dari pembuluh arteri ○ Perdarahan yang merembes dari jaringan yang robek / di sayat, berasal dari pembuluh darah kecil. Coba lakukan pembersihan dengan kasa. Biasanya lama-kelamaan berhenti sendiri.bila masih, coba lakukan penekanan dengan kasa selema beberapa detik. ○ Bila tampak perdarahan mengalir, atau tidak berhenti dengan tekanan, mungkin berasal dari pembuluh vena yang ukurannya kecil sampai besar. Darah yang mengalir biasanya lebih gelap dan tidak ada pullsasi. Gunakan klem untuk menjepit pembuluh darah. Biarkan beberapa saat. Bila perdarahan berhenti, maka tidak perlu dijahit/ cauter. Tapi bila masih ada perdarahan, maka jepit ulang dengan klem untuk selanjutnya dijahit / diikat/ atau dibakar dengan cauter. ○ Pengikatan / penjahitan perdarahan pada bagian tubuh yang menetap dalam tubuh menggunakan plain gut atau chromic gut. Untuk bagian tubuh yang akan dibuang, menggunakan silk/seide. ○ Cauterisasi dengan menempelkan ujung pen pada klem. Tekan tombol coagulate untuk membakar pembuluh darah selama beberapa detik hingga tampak bagian yang dijepit menghitam. Hindari klem atau cauter menempel pada jaringan epidermis kulit. Lepskan klem, perhatikan apakah perdarahan berhenti. Tentang Jarum ○ Selalu memegang benda tajam seperti bisturi atau jarum dengan alat, baik pinset,klem atau naldfulder. ○ Jarum dapat dipakai kembali sedangkan bisturi harus dibuang ditempat sampah benda tajam.

jenis jarum menurut mata jarumnya Jarum taper bermata jaru bulat, bila ditusukkan tidak merobek jaringan yang ditembusnya. Digunakan untuk menjahit jaringan lunak dibawah jaringan kutis. Kecuali pada jaringan yang keras seperti cervix uteri, kelenjar payudara yang displastik, bisa dipakai jarum cutting dengan pengawasan perdarahan. Jarum Cutting bermata jaru segi tiga, bila ditusukkan akan merobek jaringan yang ditembusnya sehingga bisa menimbulkan perdarahan. Digunakan untuk menjahit kulit atau jaringan yang keras. Jarum non traumatik, yaitu jarum yang langsung terhubung dengan benang diujung belakang /pangkalnya. Tidak memiliki lubang jarum sehingga dapat menembus jaringan dengan mulus. Misal jarum pada benang dalam kemasan sachet. Ekor benang pada lubang jarum jangan terlalu pendek sehingga mudah lepas atau terlalu panjang sehingga mengganggu penjahitan. Standar panjang ekor benang adalah 4 – 5 cm.

Tentang benang ○ Mengambil benang dalam kaset harus menggunakan naldfulder atau klem . tarik sebanyak 2 kali panjang naldfulder atau kirakira 40cm. Atau sesuaikan dengan kebutuhan / karakter operator. ○ Mengambil benang dari sachet juga menggunakan naldfulder. Buka lipatan dan ambil jarum dengan nalfulder, dan tarik hingga benang keluar seluruhnya. ○ Secara umum benang operasi dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu benang absorbable ( dapat diabsorpsi) dan non absorbable ( tidak diabsorpsi) ○ Benang yang dapat diabsorpsi dapat dicerna tubuh untuk kemudian hancur oleh proses radang / inflamasi / reaksi tubuh sendiri sehingga hubungan antar 2 sisi bisa saja lepas . Jangka waktu penghancuran ini berbeda beda berkisar antara 3 hari hingga 3 bulan. ○ Benang yang non absorpsi tidak dapat dicerna tubuh. Bisa bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun karena bersifat Inert ( tidak menimbulkan / merangsang reaksi tubuh) digunakan untuk kulit atau jaringan dibawah kulit yang sukar sembuh.

○ Contoh benang absorpsi adalah plain gut, chromic gut , Polyglycolic acid (dexxon / Atramat / polysorb) poligaktin ( Safil, safi quick) ○ Contoh benang non absorpsi adalah silk / seide, nilon (monosof , Dermalon ), Polypropylen ( Prolene , mersilene) ○ Ukuran benang bermacam-macam, pemakaiannya tergantung kebutuhan / jenis operasinya. • Tentang gunting ○ Semua instrumen yang memiliki bagian yang diperuntukkan jari seperti gunting, klem, dsb di pegang dengan memasukkan ibu jari pada lubang yang satu dan jari manis pada lubang yang lain. Jari telunjuk dan tengah menopang instrumen dan membantu mengarahkan instrumen ○ Dalam hal gunting, untuk menjaga agar tangan tidak goyah yang bisa berakibat fatal, maka jari pada tangan kiri ikut membantu menopang gunting saat pengguntingan dilakukan

a. Pasca Operasi Pengelolaan Pasien Perawatan luka operasi • Segera setelah selesai tindakan operasi, area operasi dicuci bersih dengan NaCL 0,9% steril. Pembersihan dilakukan mulai dari luka sayatan meluas kesekitarnya. Luka operasi ditutup dengan kasa kompres betadine , lalu kasa steril polos. Fixasi kasa dengan Hypafix atau plester Setelah masuk rawat inap perawatan luka sebagaimana standar asuhan keperawatan

• •

Membersihkan Pasien dan memberikan pakaian

• •

• •

Setelah area operasi dan sekitarnya dibersihkan pasien dipindahkan ke brankar dengan hati-hati. Bersihkan bagian tubuh pasien yang menempel pada bed operasi dengan air bersih dan washlap. Miring-mairingkan pasien untukmencapai bagian itu. Sambil dibersihkan, pakaian pasien diiapkan. Kenakan pakaian pada pasien, beri sarung atau kain bersih, serta selimuti ia. Pasien pindah ke bed pasien dalam keadaan sadar / tidak, pakaian dan tempat tidur rapi.

Recovery Room (RR) dan Pengawasan di ruang rawat inap • • Tempatkan pasien dalam RR sampai pasien sadar betul. Petugas OK melaksanakan tugas pasca operasi sambil mengawasi pasien. Setelah selesai atau setelah pasien stabil dan sadar betul , pasien ditranfer ke rawat inap. Kemungkinan lain adalah setelah selesai operasi pasien langsung ditransfer ke rawat inap dan ditempatkan di HCU untuk beberapa jam sampai pasien sadar betul dan diawasi petugas rawat inap. Bila sudah sadar betul / stabil, dapat dipindahkan ke ruangan inapnya.

Pengelolaan Linen • Segera dekatkan waskom berisi Chlorine 0,5%, untuk cuci handschoen operator. Mintalah operator melepaskan handschoen untuk direndam pada waskom tsb. Segera buka jas operasi operator. Letakkan didalam ember linen kotor berpenutup. Semua duk dimasukkan ke ember linen kotor. Jangan biasakan menjatuhkan duk di lantai. Jika ada kain alas kaki dilantai juga dimasukkan ke dalam ember tsb. Jika apron terbuat dari plastik saja dan tidak ada bagian yang menyerap cairan tubuh pasien cukup dibersihkan dengan cairan chlorine saja. Tapi bila terbuat dariparasit dan atau ada bagian yang menyerap cairan tubuh pasien, harus diperlakukan sebagaimana linen. Pakaian OK setelah berganti pakaian diletakkan didalam ember. Jangan dibiasakan berserakan dilantai Penutup kepala dan masker dibuang kedalam tempat sampah infeksius. Selanjutnya Transport Linen kotor dalam ember tertutup menggunakan trolley khusus dengan jalur yang sudah ditentukan,

• • • •


langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau mampir ke manamana. Linen diolah di ruang laundry sesuai prosedur.

Pengelolaan Instrumen • • • • • Segera rendam instrumen kedalam larutan chlorine 0,5% yang terdapat dalam wadah / ember plastik. Sebaiknya instrumen direndam sekaligus, jangan sedikit-sedikit. Rendam selama 10 menit. Bila instrumen direndam sedikit-sedikit, maka hitungan 10 menit sejak instrumen terakhir dimasukkan. Rendam sampai seluruh instrumen terendam seluruhnya, jangan lupa membuka pengunci instrumen Untuk selang dan atau kanul, maka sebelum direndam dilakukan spooling dulu dengan larutan chlorine 0,5% untuk kemudian direndam selama 10 menit. Setelah 10 menit lakukan pencucian dengan detergent dan pembilasan dengan air bersih mengalir dan penyikatan jika diperlukan. Untuk kanul dispooling dengan air detergent dan dispooling dengan airbersih dan dibilas. Keringkan dengan menggunakan handuk bersih atau dianginkan menggunakan hairdryer Bila instrumen termasuk dalam packing, maka setelah kering dilakukan packing kembali dan dilakukan sterilisasi segera. Bila instrumen tidak termasuk yang di packing maka instrumen disimpan dalam lemari kaca yang dilengkapi kantung karbon hidrophilik dan penerangan sekaliguss pemanasan dengan lampu pijar 10 Watt.

• •

Pengelolaan Peralatan dan Fasilitas • Bed Operasi ○ Seluruh permukaan bed operasi dibersihkan dengan chlorine 0,5%

○ Buka kunci roda, dan pindahkan bed agar lantai dibawah bed bisa dibersihkan. Gulirkan roda diatas genangan larutan chlorine bolak balik, keringkan lantai, kemudian kembalikan bed ke tempat semula dan di kunci roda • Trolley ○ Perlakuan sama dengan bed operasi. ○ Trolley diletakkan di ruang peralatan Brankar dan standar ○ Perlakuan sama dengan bed operasi. ○ Standar diletakkan di ruang peralatan, brankar di koridor transport / RR Lampu Operasi ○ Seluruh permukaan lampu operasi dibersihkan dengan chlorine 0,5% ○ Periksa adakah bola lampu yang rusak. Segera laporkan kepada bagian pemeliharaan untuk segera diganti. Alat anestesi ○ Permukaan trolley di bersihkan dengan chlorine 0,5% ○ Vaporizer ditutup, O2 dan N2O ditutup. ○ Facemask di bersihkan denganchlorine 0,5% ○ Selang, canule, ETT, mayo diperlakukan sebagaimana instrumen. Monitor EKG ○ Matikan monitor ECG, cabut kabel dari stekker ○ Gulung dengan bai semua kabel dan letakkan pada gantungannya. AC ○ Matikan AC

Pengelolaan Ruangan • • • • • • • • • Lantai dibersihkan dengan chlorine 0,5% Dinding dibersihkan dengan chlorine 0,5% Tempat cuci tangan diperiksa kebersihannya Spoolhoek diperiksa kebersihannya Ruang ganti pakaian dan Ruang dokter diperiksa kebersihannya Kamar mandi diperiksa Ruang instrumen diperiksa Ruang RR diperiksa Ruang sterilisasi diperiksa.

Pengelolaan spesimen Hal-hal yang harus diperhatikan pada penanganan specimen adalah label yang benar, pengawetan (preserverasi) dan pengiriman yang benar, sebab bila pemberian label yang salah atau specimen tertukar dapat berari menentukan diagnose yang salah untuk dua orang pasien. Hilangnya specimen dapat berarti tidak dapat menentukan diagnose atau harus dilakukan pengambilan specimen baru dengan kemungkinan tidak mendapatkan specimen yang sama jenisnya dengan yang hilang. Oleh karena itu semua specimen harus diamankan kecuali dokter memintanya untuk membuang. A. Prosedur penanganan specimen 1. Tangani specimen dengan hati-hati 2. Instrumenter mengkonfirmasikan lagi dengan dokter mengenai sifat specimen dan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan, kemudian periksa ulang dengan om loop sebelum menyerahkan kepada on loop. 3. Om loop menyimpannya ke dalam tempat yang tepat, seperti kantong plastik, stoples dan sebagainya yang steril. 4. Berikan label yang memuat : a. Nama pasien b. Nomor C.M. ( Catatan Medik ) c. Tanggal Operasi d. Nama specimen

1. Apabila diambil lebih dari satu specimen, specimen-specimen itu harus diberi nomor label sesuai dengan urutan diangkatnya dan tempatkan dalam tempat yang terpisah kecuali dokter meminta untuk menyimpan dalam satu wadah. 2. Organ-organ yang solid seperti : hati, limpa, uterus, dan lain-lain biasanya dipotong dahulu oleh Dokter sebelum disimpan pada tempat yang sudah berisi pengawet. 3. Organ yang berbentuk pipa seperti : jaster, Colon, Vesica Winara harus dibuka dulu agar bahan pengawet mengenai sisi luar dan dalamnya. 4. Jangan membuat trauma pada jaringan specimen seperti biopsi nosofaringeal. 5. Tidak boleh memasukkan dengan paksa ke dalam tempat yang sempit. 6. Jangan membuang specimen kecuali Dokter memintanya untuk dibuang. A. Prosedur khusus Penanganan Specimen untuk Pemeriksaan Histologi 1. Rendam specimen dalam formalir 10% (0 cc larutan formalir kadar 40% dalam 90 cc air ) 2. Tutup rapat-rapat tempat specimen tadi untuk mencegah penguapan bahan pengawet. A. Prosedur Khusus penanganan Specimen Untuk Kultur. 1. Simpan dalam stoples atau tabung pemeriksaan / test tube yang steril oleh instrumenter. 2. Tidak boleh diberi bahan pengawet, karena jaringan harus dalam keadaan segar dan seperti asalnya. 3. Idealnya specimen untuk kultur dikirim segera kalau tidak specimen tersebut harus disimpan oleh kotak yang bersuhu ruangan, untuk mempertahankan agar jumlah bakteri tetap sampai kultur dilakukan. A. Prosedur Khusus Penanganan Specimen untuk Frozen Section 1. Pastikan bahwa bagian ahli, Patologi sudah diberitahu sebelumnya, biasanya sehari sebelumnya diberitahu oleh dokter ahli bedah yang akan mengoperasi pasien. 2. Perintahlah seseorang untuk bersiap-siap pergi mengantarkan specimen ke bagian Patologi Anatomi.

3. Ingatkan dokter untuk mengisi formulir Histologi dengan tepat, misalnya riwayat klinis dan penemuan operasi. 4. Simpan specimen dalam wadah yang sudah diberi label. Untuk pemeriksaan ini tidak perlu bahan pengawet. 5. Tuliskan nomor telepon yang harus dihubungi oleh ahli oleh patologi pada sebelah kanan atas formulir sehingga hasil dapat diperoleh dengan cepat. 6. Specimen dikirimkan ke Laboratorium P.A. 7. Catatkan hasil pemeriksaan dengan nama pasien nomor catatan medik, bila cocok laporkan segera ke dokter. 8. Jika specimen dikembalikan ke kamar bedah, rendam specimen itu dalam formulir tandai pada tempat specimen itu “Frosen section sudah dilakukan”. A. Prosedur Khusus Penanganan Specimen Untuk Difoto. 1. Tempatkan specimen pada sebuah tempat yang datar, kalau perlu yang dilapisi duk. 2. Sebelum dilakukan pemeriksaan specimen tidak boleh diberi bahan pengawet.

A. Prosedur khusus Penanganan Benda Asing. 1. Simpan dalam kotak kontainer seperti stoples, kemudian kembalikan pada pasien, benda asing ini dapat berupa : tulang ikas, gigi palsu, dan sebagainya. 2. Benda asing jika perlu dibungkus dengan kertas kasa, kemudian masukkan ke dalam wadah/stoples, catat dalam buku catatan benda asing, kemudian serahkan kepada polisi sebagai tanda polisi mengambilnya ia harus menandatangani catatan tadi. 3. Data yang dibentuk dalam tubuh dimasukkan ke dalam kantong plastik tanpa bahan pengawet dan diberi label. Tanyakan pada dokter apakah data tersebut diperlukan oleh analisa atau diserahkan ke keluarganya.

Catatan :

• • •

Semua specimen harus dikirimkan dengan formulir yang tepat dan sudah ditandatangani. Specimen pada bagian yang menular misalnya : Hepatitis B harus ditangani lebih hati-hati. Simpan specimen ini pada stoples yang berlabel khusus, sehingga orang-orang yang menanganinya akan lebih hati-hati.

I. Pengertian Sasaran

PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI KAMAR BERSALIN : Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengendalian sumber infeksi di kamar bersalin : • Karyawan / tenaga kesehatan

1. TATA RUANG DAN BANGUNAN Lihat tata ruang dan bangunan Kamar operasi 2. SISTEM ZONASI Lihat sistem zonasi kompleks OK dan VK 3. TATA TERTIB DI KAMAR BERSALIN a) Persiapan kamar bersalin

Pembersihan Rutin Pembersihan Harian • Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK – VK di bersihkan dan di desinfeksi • Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti penyediaan air bersih, kelistrikan, pencahayaan, ventilasi, dsb

Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan lampu ultraviolet secara terus menerus hingga saat dibersihkan keesokan harinya. Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penaggung jawab adalah Kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Mingguan • Seluruh permukaan dinding Kamar Bersalin dibersihkan • Lantai dibersihkan dengan dan didesinfeksi • Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu , trolley , Lemari, bedside cabinet, Kabel-kabel dan selang , cuff, Tabung O2, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan didesinfeksi • Kamar mandi dibersihkan • Semua peralatan sterilisasi dibersihkan • Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali . • Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung jawab adalah kepala OK Pembersihan Bulanan • Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan, prasarana dan peralatan serta obat-obatan di kompleks OK – VK Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

Pembersihan Pra dan Pasca Persalinan • Bila pasien masuk VK setelah dilakukan pembersihan rutin maka ruangan bersalin tidak perlu dibersihkan lagi • Bila pasien masuk VK sebelum dilaksanakan pembersihan rutin, maka segera dilakukan pembersihan ruangan bersalin dan sekitarnya. • Pasca persalinan semua permukaan yang terkontaminasi dibersihkan dan di desinfeksi
a) Persiapan pasien bersalin

A. Persiapan fisik

Pasien harus dalam kondisi aman dan sehat untuk melakukan persalinan yang ditandai oleh ○ Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi ○ Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen Kebidanan menyatakan pasien dapat melaksanakan persalinan normal ○ Bila diperlukan dapat dilakukan pemasangan Supportif seperti O2, IV line ○ Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian dari RS, bersih. A. Persiapan mental ○ Pasien harus memahami teknik yang benar dari persalinan dan memahami tentang segala kemungkinan yang harus dihadapi dalam persalinan ini. Lakukan Informed Consent sesuai prosedur. ○ Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar . Pasien diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing. ○ Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung secara moril. ○ Perlakukan sesuai peraturan Tatakrama di RSBL A. Persiapan jalan lahir
○ Tidak ada persiapan khusus jalan lahir untuk persalinan normal

A. Persiapan personil kamar bersalin • Pelaksana Observasi / Penolong Persalinan Pengertian : Adalah petugas yang memeriksa pasien, memeriksa kehamilan, mengobservasi kemajuan persalinan, menolong persalinan, melakukan asuhan Bayi Baru lahir, dan mengelola kala IV Syarat : Bidan/ dokter/Spesialis terlatih Memahami /fasih asuhan persalinan normal Memahami/fasih tindakan aseptik / antiseptik Mampu melakukan resusitasi BBL Mampu melakukan Episiotomy dan Penjahitan Mengenal tanda-tanda bahaya persalinan

Mampu menangani kegawatan persalinan Tugas : • Melakukan anamnesa, • Melakukan pemeriksaan fisik • Menegakkan diagnosa • Melakukan konsultasi • Melakukan observasi • Mellengkapi formulir SOAP dan Partograf • Menolong persalinan kala II • Melakukan Asuhan BBL • Melakukan Resusitasi BBL • Melakukan Inisiasi Menyusu Dini • Mengelola perdarahan dan perlukaan pasca persalinan • Memantau Kala IV • Membuat Laporan • Asisten Penolong Pengertian : Adalah petugas yang membantu penolong melaksanakan tugasnya Syarat : Paramedik / Bidan terlatih Memahami proses asuhan persalinan normal Memahami/fasih tindakan aseptik / antiseptik Mampu membantu melakukan resusitasi BBL Mampu membantu tindakan Episiotomy dan Penjahitan Mengenal tanda-tanda bahaya persalinan Mampu membantu penenganan kegawatan persalinan Mengenal betul ruangan bersalin dan letak alat / obat Tugas • Membantu anamnesa, • Membantu pemeriksaan fisik • Membantu melakukan observasi • Sebagai asisten persalinan kala II • Membantu Asuhan BBL • Membantu resusitasi BBL • Membantu Inisiasi Menyusu Dini • Membantu pengelolan perdarahan dan perlukaan pasca persalinan • Membantu memantau Kala IV • Melakukan pembersihan ruangan, desinfeksi, pengelolaan sampah dsb

Rumah Sakit Budi Luhur

Prosedur Pelayanan Pasien Bersalin 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP

Tanggal terbit

Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap Pelayanan Pasien Bersalin di RSBL Tujuan : • • • Terlaksana pelayanan persalinan normal yang aman dan sesuai standar Ibu dapat melahirkan dengan selamat dan terawasi dengan cermat Bayi dapat lahir dengans elamat dan terawat dengan baik

Kebijakan : • • • • Tata laksana persalinan normal mengacu pada Standar asuhan persalinan normal JNPK-KR Pelayanan persalinan normal dilaksanakan oleh setidaknya seorang bidan terlatih dan seorang asisten Semua Kegiatan pelayanan harus tetap sesuai dengan standar kerja, standar profesi dan kode etik yang berlaku di RSBL RSBL mendukung program IMD, RS. Sayang Ibu dan Sayang Bayi

Prosedur 1. Pasien datang ke RS melalui Poliklinik atau UGD 2. Pasien dapat langsung masuk ruangan / VK setelah itu dilakukan pendaftaran atau sebaliknya. 3. Pasien yang belum inpartu dan atau pasien dengan kala I masuk ke Ruang rawat Kebidanan (R23), sedangkan pasien dengan Kala II masuk ke Ruang Bersalin/VK 4. Pasien diganti pakaiannya dengan pakaian 5. Siapkan Bed sesuai dengan aturan 6. Semua pasien rujukan kebidanan dilakukan pemasangan infus RL dengan Transfusion set dan IV canule 20 F atau sesuai kebutuhan 7. Bidan jaga segera memeriksa pasien dan melakukan penapisan 8. Konsultasikan pasien kepada Konsulen/ Spesialis Kebidanan 9. Bila diputuskan untuk persalinan normal, maka penatalaksanaan selanjutnya sesuai standar pelayanan kebidanan / asuhan persalinan normal oleh Bidan 10. Segera konsultasikan pasien kepada Konsulen bila terjadi : ○ Perdarahan pervaginam yang mencurigakan ○ Ketuban pecah bercampur mekonium ○ Ada tanda-tanda gawat janin ○ Ada tanda-tanda infeksi ○ Fase aktif kala I kepala 5/5 pada primipara ○ Tali pusat menumbung ○ Presentasi ganda ○ Gejala shock ○ Fase laten > 8 jam grafik partograf dikanan garis waspada 1. Bila pembukaan hampir lengkap dan kemajuan persalinan baik, serta kondisi ibu dan janin baik, pasien segera dipindah ke kamar bersalin / VK 2. Asisten segera menyiapkan ruangan , alat dan bahan medis lainnya 3. Dilakukan asuhan persalinan kala II 4. Konsultasikan kepada konsulen Kebidanan apabila : ○ Kala II > 1 jam pada multipara ○ Kala II > 2 jam pada primipara 1. Bila diputuskan untuk :

1. 2. 3. 4.

Vaccuum Ekstraksi, maka lakukan VE sesuai prosedur Sectio Caesaria, maka lakukan SC sesuai prosedur Lahir normal, maka dilakukan asuhan persalinan normal, asuhan BBL dan pengawasan kala IV Pasca persalinan,Asuhan BBL dan pengawasan kala IV dilakukan di VK. Inisiasi menyusu dini dan imunisasi dilakukan di VK Setelah kondisi stabil pasca pengawasan kala IV, pasien dipindahkan ke rawat inap kebidanan Pasca persalinan normal, pengawasan ibu dan bayi setidaknya dilakukan selama 24 jam ○ ○ ○

ASUHAN PERSALINAN NORMAL DI KAMAR BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM BUDI LUHUR

PENATALAKSANAAN KALA I 1. Lakukan pengumpulan data subyektif dengan melakukan anamnesa dan catat data subyektif pada kolom Subyektif lembaran SOAP 2. Lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan mencatatnya dalam kolom data obyektif pada lembaran SOAP 3. Tata Cara mengukur tinggi fundus Uteri (TFU) : ukur panjang jarak tepi atas symphisis pubis sampai puncak fundus uteri dengan menggunakan meteran kain 4. Tata Cara pemeriksaan abdomen cara Lloyd ○ Lloyd I dengan kedua tangan meraba puncak fundus untuk menentukan tinggi fundus uteri dan isi fundus uteri. Bedakan puncak terisi Bokong, Kepala atau Kosong

Lloyd II Dengan kedua tangan meraba sisi kiri dan kanan perut ibu untuk menentukan bagian-bagian keci dan bagian besar janin. Bagian kecil menunjukkan sisi tangan dan kaki, sedangkan bagian besar menunjukkan punggung janin Lloyd III Dengan kedua tangan meraba bagian terendah janin. Bila kedua tangan arah menyempit kemungkinan bagian terendah masih tinggi, sedangkan bila kedia tangan mengarah melebar kemungkinan kepala sudah masuk panggul Lloyd IV dengan satu tangan kanan bagian terendah dipegang dengan ibu jari dan jari lainnya serta dicoba untuk digerakkan. Bila bergerak bagian terendah belum masuk panggul, sedangkan bila tidak bergerak, bagian terendah sudah masuk panggul

1. Tata cara menilai kontraksi uterus : Palpasi uterus sekitar umbilicus dengan sedikit tekanan. Catatlah berapa kali uterus berkontraksi dalam setiap 10 menit. Catatlah berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap kali kontraksi, serta Nilailah kekuatan kontraksi secara kualitatif dengan mencoba menekan jari – jari pada daerah pemeriksaan saat kontraksi berlangsung. 2. Tata Cara menghitung Denyut Jantung Janin (DJJ) : Letakkan monoaural atau probe doppler pada daerah punggung janin. Gunakan jelly bersih untuk menambah sensitifitas doppler. Dengarkan DJJ mulai sebelum atau selama puncak kontraksi. Dengarkan selama 60 detik atau setidaknya 30 detik setelah kontraksi berakhir. Dengarkan DJJ di lebih dari satu kontraksi.Bersihkan jelly setelah selesai pemeriksaan. Cara lain adalah dengan menghitung DJJ dalam setiap 5 detik 3 kali , dengan selang 5 detik. Jumlahkan ketiga hasil pemeriksaan, dan kalikan dengan 4. Interpretasi DJJ normal bila DJJ antara 120 – 160 kali permenit DJJ waspada bila 120>DJJ>160 kali permenit DJJ bahaya bila 100>DJJ>180 kali permenit DJJ ireguler bila perbedaan perhitungan per 5 detiknya selisih 2deti atau lebih 3. Tata cara mengukur Penurunan Kepala janin Dengan salah satu tangan dan jari-jari rabalah kepala janin bila presentasi kepala. Interpretasi : Bila kepala teraba dengan 5 jari : Penurunan kepala 5/5 : Kepala belum masuk Panggul Bila kepala teraba dengan 4 jari : Penurunan Kepala 4/5: Kepala di Hodge I-II Bila Kepala teraba dengan 3 jari :Penurunan Kepala 3/5 : Kepala di Hodge II-III Bila Kepala teraba dengan 2 jari :Penurunan Kepala 2/5 : Kepala di Hodge III(+) Bila kepala teraba dengan1 jari :Penurunan kepala 1/5 : Kepala di Hodge III-IV Bila kepala tak teraba : Penurunan Kepala 0/5 : Kepala di Hodge IV 4. Tata Cara melakukan Pemeriksaan Dalam ( Vaginal Touche/VT) • Cuci tangan bersih dan memakai handschoen sesuai prosedur

• • • •

• • •

Posisikan ibu terlentang dengan kedua tungkai terlekuk pada lutut,sedemikian rupa sehingga perineum / vulva terekspos. Ingat selalu untuk menutupi ibu semaksimal mungkin. Basuh vulva dengan Kasa steril dan NaCl 0,9% steril, oleskan dengan arah atas ke bawah, sisi kiri ,sisi kanan dan tengah vulva Nilai secara visual kondisi vulva, cairan yang keluar dari vulva Buka labia dengan ibujari dan jari manis tangan kiri, masukkan jari telunjuk dan jari tengan tangan kanan secara perlahan . Nilai Kapasitas panggul terutama pada primipara, dengan cara mencari Promontorium, dan jarak antara promontorium dengan batas bawah symphisis, raba linea innominata, kelengkungan sacrum dan penonjolan spina ischiadica Nilai mukosa vagina : apakah ada jaringan parut, bagaimana kondisi cairan dalam vagina Nilai cervix dan pembukaan serta penipisan cervix Nilai kondisi selaput Ketuban dan air ketuban ○ Jika selaput utuh Kode U ○ Jika Cairan ketuban jernih Kode J ○ Jika Cairan Ketuban berdarah Kode D ○ Jika Cairan ketuban Mekoneal Kode M ○ Jika cairan ketuban kering Kode K Tentukan bagian terendah janin, nilai penurunan janin, serta posisi bagian terendah janin.

Nilai adanya Moulage ○ Jika tidak ada moulage ○ Jika ada kedua sisi hanya bersentuhan ○ Jika ada moulage masih bisa dipisahkan ○ Jika ada moulage tidak bisa dipisahkan

Kode 0 Kode 1 Kode 2 Kode 3

• • • • •

Nilai adakah bagian terkemuka atau menumbung Jika sudah selesai, keluarkan tangan dengan perlahan Cuci handschoen dan rendam dalam chlorine 0,5% Cuci tangan dan keringkan Posisikan ibu ke posisi yang lebih nyaman, Beri penjelasan kepada ibu dan keluarganya

1. 2. 3. 4.

Konsultasikan dengan Spesialis Kebidanan Bila diadviskan untuk persalinan normal, maka prosedur berlanjut. Catat diagnosa pada kolom assesment pada lembaran SOAP Buat perencanaan penanganan sesuai kondisi pasien, catat dalam kolom perencanaan pada lembaran SOAP. 5. Bila pasien masuk dalam fase aktif, maka pemeriksaan dilanjutkan ke lembar Partograf Bila pasien masuk dalam fase laten, pemeriksaan dilanjutkan pada lembar observasi. 6. Observasi DJJ, nadi, dan His setiap 30 menit

Observasi Tekanan darah, suhu dan urine setiap 4 jam Pemeriksaan dalam diulang pada jam ke 4. Catat semua data dalam lembaran kedua SOAP sampai 30 menit sebelum jam ke 4. 7. Pada jam ke 4 ulangi seluruh pemeriksaan dan dicatat pada lembaran catatan SOAP 8. Bila hasilnya pasien memasuki fase aktif, maka pemeriksaan selanjutnya pada lembar partograf. Bila hasilnya pasien masih dalam fase laten maka observasi dilanjutkan lagi pada lembar observasi sampai 30 menit sebelum jam ke 8 9. Pada jam ke 8 seluruh pemeriksaan diulangi lagi dan dicatat pada lembaran catatan SOAP 10. Konsultasikan hasilnya dengan konsulen Kebidanan. 11.Bila hasilnya Sectio maka dilanjutkan ke prosedur Sectio Caesaria. Bila advisnya untuk terus melanjutkan, maka prosedur berlanjut. 12.Bila pasien masuk ke dalam fase aktif, maka pemeriksaan selanjutnya dicatat dalam lembaran partograf. Bila pasien masih dalam fase laten, kemungkinan besar konsulen akan mengadviskan untuk Sectio cesaria. 13. Catat kemajuan persalinan dalam partograf sesuai petunjuk APN. 14. Segera konsultasikan dengan kosulen Kebidanan bila : ○ Ada tanda-tanda gawat janin ○ Penurunan kepala tidak ada kemajuan ○ Pembukaan cervix tidak ada kemajuan / grafik di kanan garis waspada ○ Ada tanda-tanda gawat ibu

PENATALAKSANAAN KALA II 1. Bila pembukaan lengkap / hampir lengkap, pasien segera dipindahkan ke kamar bersalin / VK 2. Penolong dan asisten segera mempersiapkan ruangan, tempat tidur, trolley alat, meja resusitasi, obat-obatan dan bahan medis lain, serta Alat Perlindungan Perorangan (APP) 3. Persiapan Ruangan ○ Bila ruang bersalin dipakai sebelum jadwal pembersihan rutin, harian, maka segera dilakukan pembersihan rutin harian ○ Bila dipakai setelah dilakukan pembersihan rutin, maka tidak perlu dibersihkan lagi ○ Nyalakan lampu ○ Nayalakan AC, atur suhu 27oC ○ Periksa kelancaran air kran ○ Semprotkan pewangi ruangan 1. Persiapan tempat tidur ○ Standar lapisan tempat tidur : Matras, seprai, laken, penutup laken, alas / selendang pasien, pasien, selimut

○ ○

Semua komponen Bed dalam keadaan bersih Posisikan ibu senyaman mungkin

1. Persiapan trolley ○ Gelar paket partus set diatas trolley. Perhatikan label pensterilan tidak boleh lebih dari 7 hari. Bila lebih, harus disteril ulang ○ Siapkan paket linenpartus. Perhatikan label sterilisasi terakhir. ○ Masukan bahan medis lain secara aseptik ○ Standar susunan trolley :

Paket Partus set terdiri dari : – Klem – Amniotome – Gunting Episiotomy – Gunting benang – Needle holder – Pinset anatomis – Kom kecil – Kom sedang – Nerbekken – Jarum Taper – Jarum Cutting – Nelaton

2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Paket linen partus terdiri dari : – Duk alas bokong – Flanel pembungkus bayi – Handuk besar – Baju bayi lengan panjang – Popok bayi

2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

– – – ○

Celana panjang tutup Sarung tangan Topi bayi

1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Medis yang ditambahkan : – Kasa steril 1 bundel – NaCl 0,9% steril 1 buah – Handschoen 4 pasang – Oxitocin 1 amp – Methergin 1 amp – Vitamin K1 1 amp – Lidocain 1 amp – Salep tetrasiklin 1 buah – Syringe 3cc 2 buah – Syringe 5 cc 1 buah

1. Persiapan Meja Resusitasi ○ Siapkan alas selimut ○ Siapkan gajal bahu ○ Siapkan lampu sorot 60 watt ○ Siapkan suction pump ○ Siapkan O2 ○ Siapkan Ambu bag 1. Persiapan Alat Perlindungan Perorangan ○ Apron 2 buah ○ Goggle 2 buah ○ Masker 2 buah ○ Sepatu 2 pasang ○ Pelindung kepala 1 buah 1. Persiapan Sarana pendukung ○ Tempat sampah infeksius ○ Wadah sampah benda tajam ○ Washkom + Chlorine untuk handschoen ○ Ember besar berpenutup untuk linen kotor ○ Spoolhoek, wastafel dan air mengalir 1. Persiapan Larutan Chlorine ○ Larutan chlorine disiapkan di wadah untuk merendam alat, wadah untuk mencuci handscoen, dalam wadah untuk mengela permukaan .

1. Pimpinan Kala II Ibu Ibu ingin mengedan •

Bidan / Penolong • Cek Visual, bila tanda-tanda lengkap ada, minta asisten menyiapkan alat Pasang APD Cuci tangan Pakai handschoen Ki+Ka • •

Asisten Menyiapkan trolley beserta isinya Cuci tangan Pasang handschoen +siapkan oxitocin one hand Siapkan bengkok di perineum Sediakan Kassa Sediakan amniotome, pegang bengkok Uang air ketuban ke spoolhoek, kassa ke tempat sampah infeksius Siapkan doptone, siapkan jelly dan kassa

• • •

• • •

Bersihkan vulva dengan kassa +NaCl steril Pemeriksaan dlam +/- Amniotomy Cuci hanschoen, lepas, cuci tangan

• •

• •

• Cek DJJ Jelaskan pada ibu dan posisikan ibu Pakai Handschoen Pimpin meneran s/d lahir kepala Cek lilitan Tunggu putaran paksi luar Lahirkan bahu Sanggah Susur, lahirkan bayi Bayi ditaruh diperut ibu+Penilaian BBL Hangatkan , keringkan,rangsang taktil BBL Oxitocin 1 amp IM * Potong Umbilikus, pasang umbilical klem Posisikan IMD +/- metode kangguru Lakukan PTT + dorong uterus dorsokranial Placenta lepas, laksanakan perlahan Massase uterus 15” A CekPlasenta Cek Robekan • • • • •

Bantu posisikan ibu.

Kepala janin crowning

• • • • • • •

Sediakan Kainflanel, sediakan handuk besar di perut ibu Cek DJJ diantara his Siap-siap kalau lilitan perlu dipotong

• •

• • •

Posisikan umbilikus sebebas mungkin Siap-siap barangkali perlu resusitasi Siapkan Spuit Oxitocin, bila perlu lansung berikan oxitocin IM atau IV* Siapkan Klem dan gunting dan umbilical klem

• • • •

Bantu posisikan bayi IMD dan cara kangguru Bila >15” siapkan oksitosin II bila >30” siapkan

Cek Kontraksi minta ibu bantu massase Hecting bila ada robekan Bersih-bersih Ibu Kain disimpan diember berpenutup Ibu dibersihkan dengan washlap dan NaCl, keringkan dengan washlap bersih Ganti Alas Ibu Cuci Handschoen, lepaskan, Cucitangan Pantau kala IV Isi laporan dan lengkapi Partograf

manual. Bantu hitung detik. Bantu tampung plasenta

• • •

• •

• •

• • • • • • • •

Siap-siap barangkali atoni Dalam pikiran “methergin? IV?gastrul?RL? HES? Guyur? Siapkan kassa, saksikan kelengkapan plasenta, simpan placenta Siapkan barangkali hecting Bericontoh massase Asistensi hecting Lakukan pemantauan kala IV bila sudah 15 menit Siapkan Kain bersih Ibu, bantu beresin kain ibu Beberes Trolley Rendam alat dalam chlorine, Kasa dibuang ke tempat sampah infeksius Jarum di tempat benda tajam Benang bersihkan dengan chlorine dan disimpan pada tempatnya beberes ruangan Cuci alat dan tiriskan Cuci Handschoen, Lepas, cucitangan Pake rubber glove, Cuci handschoen, bilas dan tiriskan Bila alat sudah keringbisa dimulai sterilisasi Siapkan Perlengkapan bayi, bantu memakaikan

• •

• 1 jam post partum • • • • • •

Pakai Handschoen bersihkan dari talc atau formalin Beri pakaian pada bayi Vit K 1 strip Ukur panjang bayi Beri salep mata Selimuti bayi, timbang bayi Berikan pada ibu, disisi ibu,atau disusui atau metode kangguru Pantau kala IV sampai jam ke dua post partum

• •

• • • •

• •

• •

Siapkan vit K dalam spuit Siapkan meteran, sipakan salep, siapkan timbangan

Pindahkan ibu setelah 2 jam stabil

1. Pengelolaan Peralatan pasca persalinan • Idem pengelolaan instrumen pasca operasi 1. Pengelolaan Linen Pasca persalinan • Idem pengelolaan linen infeksius 1. Pengelolaan sampah dan limbah • Idem pengelolaan sampah dan limbah 1. Pengelolaan benda tajam • Idem pengelolaan sampah benda tajam 1. Pengelolaan handschoen • Idem pengelolaan handschoen 1. Pengelolaan ruangan Bersalin • Idem pembersihan ruangan pasca persalinan

BAB II. DEKONTAMINASI, DESINFEKSI , STERILISASI
A. DEFINISI Dekontaminasi Adalah sustu proses / kegiatan yang berusaha menghilangkan kontaminasi suatu benda oleh benda lain yang potensial menjadi sumber infeksi yang sekaligus juga membasmi sebagian mikroorganisme sehingga kita dapat menangani secara aman Desinfeksi Adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit yang mencemari benda mati atau instrumen. Tindakan serupa pada kulit disebut Antisepsis Sterilisasi Adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora bakteri

B. DEKONTAMINASI C. DESINFEKSI D. STERILISASI

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful