P. 1
Puisi tak berdaya

Puisi tak berdaya

|Views: 1,269|Likes:
puisi menyikapi bencana yang beruntun di bangsa indonesia
puisi menyikapi bencana yang beruntun di bangsa indonesia

More info:

Published by: Muhammad Mukhlisin, Lc on Nov 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2014

pdf

text

original

Puisi tak berdaya

Pada semburat surya subuh itu, tak terasakan hari seperti kemarin. Asing benar suara-suara pagi terdengar. Kusam cahaya diluar. Kusam cuaca memudar. Kusam tanah dilanda lindu. Bumi goyah bergetar. Sungguh, matahari tak menjauh melenyap di sekitar tiba-tiba seluruh jadi gelap. Tanpa sempat berkata-kata, apa bencana apa azab. Rebah rumah, desa, kota, rebah jiwa seketika, dalam detik, dalam gemuruh suara tak terdetik. Sungguh, ini murka alam datang berulang. Rupa kuasa yang selalu teduh telah jadi garang. Menggunung ombak samudra, menerjang dusun kota. Menggeliat kerak jagad, jadi gempa merubuhkan segala. Tumpah bah dari hulu, menghanyutkan tangis derita, sampai ke muara, sampai ke muara jauhnya Tanya. Mengapa ketika lengah, lewat senyap kadar tiba? Sungguh debu manusia, sungguh debu manusia. Menebar memburam pandang sendiri ke asalnya. Lupa pada fi’il, pada makna yang papa tak berdaya. Congkaknya telah membuatnya pandai bertipu muslihat. Serakahnya, melenyapkan hakekat pada hidup sesaat. Takaburnya, takaburnya sudah melangkahi tabu, mengundang mendatangkan laknat yang pilu. Sungguh tak perlu raungan tangis dalam doa suci. Kesedihan ragawi hanya merambah dataran duniawi. Tak sampai ke langit, takkan pernah sampai ke langit. Selagi wajah yang tengadah dengan tangan menadah, berkali-kali tak pernah tamat mengeja semua ayat. Tatkala dibikin siang ada pada malam dan batin pekat. Tatkala benar, keliru beralih tempat dan akal sesat. Kenapa hanya ampun… lalu pinta yang terucap? Sungguh bencana karena alam menanggung gerah. Tafsirnya pada rakus jadi sifat. Merusak jadi tabi’at. Bukan kurang sesaji atau lupa belum diruwat. Azab menghempas lantaran berpaling dari arah. Dari janji dalam kalam. Dan ingkar pada firman. Bukan teguran semata, tapi kemarahan yang nyata. Sungguh, pada ufuk hari itu, tak ada lagi semburat, rona lembayung atau jingga yang muncul di sana. Dan tanpa lantunan lirih tembang mocopat, Kaupun menyeru, beribu nama mesti berangkat. Lalu waktu berjalan dengan berat. (Radio PTDI WALISONGO PEKALONGAN)

oleh: Abdul Muthalib

kutuk,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->