P. 1
makalah pemasaran

makalah pemasaran

2.5

|Views: 9,279|Likes:
ambil manfaat
ambil manfaat

More info:

Published by: manajemen agribisnis on Nov 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN
I. a. latar belakang :
Menristek menyatakan, kebutuhan BBM nasional cenderung meningkat setidaknya enam persen/tahun. Produksi BBM nasional tahun 2004 sekitar 44,5 juta kiloliter, sedangkan konsumsi sekitar 62,3 kiloliter. Dengan demikian diperkirakan ada defisit sekitar 17,8 juta kiloliter yang harus diimpor. Potensi migas nasional cenderung berkurang dalam beberapa tahun lagi. Pengembangan energi alternatif sangat dibutuhkan, salah satunya adalah mengembangkan tanaman untuk dijadikan alternative pengganti migas. Dari penelitian yang dilakukan, telah ditemukan 60 jenis tanaman pangan, perkebunan dan non pangan yang berpotensi menjadi bio energi. Untuk tanaman pangan yang bisa menjadi bioetanol, antara lain leguminosa (kacang tanah, kedelai dan sejenisnya), umbi-umbian (singkong, ubi jalar dan sejenis), serta bijibijian (jagung, tan, serealia, dan bunga matahari). Tanaman perkebunan yang bisa menjadi biodiesel dan bioetanol, yaitu jenis palma seperti kelapa, kelapa sawit, sagu serta berbagai tanaman berjenis tebu. Tanaman non pangan yang potensial menjadi biodiesel, antara lain jarak pagar, jarak kepyar dan kapuk randu. Jika untuk satu jenis tamanan bioenergi mampu menjadi subtitusi lima persen saja kebutuhan BBM, maka akan terjadi penghematan sekitar dua juta kiloliter atau setara dengan Rp. 9 triliun. Aspek positifnya, membuka lapangan kerja dan lapangan usaha bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman yang berpotensi menjadi subtitusi BBM. Tabel 1. Jenis Tumbuhan Penghasil Energi Jenis Tumbuhan Produksi Minyak (Liter per Ha) Elaeis guineensis (kelapa sawit) 3.600-4.000 Jatropha curcas (jarak pagar) 2.100-2.800 Aleurites fordii (biji kemiri) 1.800-2.700 Saccharum officinarum (tebu) 2.450 Ricinus communis (jarak kepyar) 1.200-2.000 Manihot esculenta (ubi kayu) 1.020 Sumber : Business Week edisi 15 Maret 2006 Ekivalen Energi (kWh per Ha) 33.900-37.700 19.800-26.400 17.000-25.500 16.000 11.300-18.900 6.600

Oleh karena itu, untuk menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, minyak jarak pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Pengembangan minyak dari tanaman jarak melalui pendekatan ilmiah di Indonesia, dipelopori oleh Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1997 dengan fokus ektraksi minyak dari tanaman jarak.

I. b. tujuan
Untuk menginformasikan produk jarak pagar dalam kegiatan pemasaran. Selain itu untuk memenuhi nilai ujian tengah semester pada mata kuliah pemasaran agribisnis.

II. PEMBAHASAN
II. a. Karakteristik Produk
Jarak pagar Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisio: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Malpighiales Familia: Euphorbiaceae Genus: Jatropha Spesies: J. curcas
Jarak

Warna Batang Bentuk Buah

Warna Daun Jumlah Biji

Jarak pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh kerabat dekatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas. Berdasarkan pengamatan terhadap keragaman di alam, tumbuhan ini diyakini berasal dari Amerika Tengah, tepatnya di bagian selatan Meksiko, meskipun ditemukan pula keragaman yang cukup tinggi di daerah Amazon. Penyebaran ke Afrika dan Asia diduga dilakukan oleh para penjelajah Portugis dan Spanyol berdasarkan bukti-bukti berupa nama setempat.

Meskipun termasuk tanaman pionir yang dapat tumbuh disegala tempat, untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal Jarak Pagar menghendaki persyaratan tumbuh sebagai berikut : • Lahan yang dikehendaki adalah Lahan Kering Dataran Rendah Beriklim Kering (LKDRIK) • Ketinggian tanah 0 - 500 m diatas permukaan laut • Suhu < 20 º • Curah hujan 300 - 1000 mm / tahun • pH tanah 5,5 - 6,5 Kondisi iklim yang tidak mendukung mengakibatkan produktivitas menjadi tidak optimal hal ini terlihat dari tingginya variasi produktivitas antara lakosai satu dengan lokasi lainnya. Gambar di bawah ini adalah lokasi yang cocok untuk di jadikan tempat budidaya jarak :

Lahan pantai merupakan salah satu jenis lahan marginal yang dimiliki Indonesia sebagai negara kepulauan. Tanaman jarak yang dikenal mampu tumbuh di lahan-lahan marginal perlu dikaji potensi adaptasinya, khususnya di lahan pasir pantai, mengingat lahan pasir pantai memiliki karakteristik cekaman lingkungan berupa cekaman uap garam dan angin kencang disamping cekaman-cekaman lain seperti miskin hara, temperatur tinggi, kekeringan. Tanaman jarak pagar sebagai tanaman bergetah diharapkan tahan cekaman uap garam sehingga mampu beradaptasi baik di lingkungan lahan pasir pantai.

Kandungan, Biji (dengan cangkang) jarak pagar mengandung 20-40% minyak nabati, namun bagian inti biji (biji tanpa cangkang) dapat mengandung 45-60% minyak kasar. Berdasarkan analisis terhadap komposisi asam lemak dari 11 provenans jarak pagar, diketahui bahwa asam lemak yang dominan adalah asam oleat, asam linoleat, asam stearat, dan asam palmitat. Komposisi asam oleat dan asam linoleat bervariasi, sementara dua asam lemak yang tersisa, yang kebetulan merupakan asam lemak jenuh, berada pada komposisi yang relatif tetap (Heller 1996).

Pemanfaatan minyak Jarak (Jatropha curcas L) sebagai bahan bakar alternatif ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak dan penghematan penggunaan cadangan devisa.

II. b. Keunggulan Jarak Pagar
Keunggulan Jarak Pagar sebagai sumber potensial bahan bakar nabati menurut (Hasnam dan Mahmud, 2006) adalah: (1) Relatif sudah dibudidayakan oleh petani kecil, dapat ditanam sebagai batas kebun, ditanam secara monokultur atau campuran cocok di daerah beriklim kering, dapat ditanam sebagai tanaman

konservasi lahan, dapat tumbuh di lahan marjinal dan juga dapat ditanam di pekarangan atau di sekitar rumah sehingga basis sumber bahan bakarnya sangat luas, (2) Pemanfaatan biji atau minyak jarak pagar tidak berkompetisi dengan penggunaan lain seperti CPO dengan minyak makan atau industri oleokimia, sehingga harganya diharapkan relatif stabil. Jika harga BBM tetap bertahan di atas US$ 60 per barrel maka dapat diperkirakan banyak negara yang akan menggunakan CPO dan minyak kelapa sebagai bahan diesel sehingga akan mengganggu suplai bagi industri minyak makan dan oleokimia. Situasi ini akan mendorong harga CPO meningkat dan fluktuatif, atau menyebabkan goncangan pada pasokan minyak makan dalam negeri sehingga menimbulkan masalah baru dan (3) Proses pengolahan minyak jarak kasar (CJO = Crude Jathropha Oil) untuk kebutuhan rumah tangga pengganti minyak tanah dan untuk pembakaran tungku atau boiler sangat sederhana sehingga dapat dimanfaatkan sampai pelosok daerah terpencil. Pengolahan untuk bahan bakar pengganti minyak solar juga tidak memerlukan teknologi tinggi sehingga biaya investasinya relatif murah. Kelebihan lainnya dari jarak pagar menurut (Hendriadi et al., 2005, dalam Kemala, 2006) yaitu : (1) berperan sebagai penyangga ekonomi rakyat, dan (2) mempunyai rendemen cukup tinggi 15 – 35 persen CJO (Crude Jatropha Oil). Beberapa negara, seperti Zambia dan Amerika Tengah telah lama menggunakan jarak pagar sebagai bahan bakar, disamping sebagai bahan bakar juga digunakan untuk pembuatan sabun detergen, mentega, dan makanan ternak. Dengan tren harga minyak yang terus meningkat serta cadangan bahan bakar minyak fosil yang makin terbatas seyogianya Indonesia memanfaatkan biofuel mengingat sumber bahan bakar yang banyak tersedia, terutama jarak pagar. Tanaman jarak pagar selama ini ditanam petani dan masyarakat sebagai tanaman konservasi yaitu sebagai tanaman pagar dan belum sebagai komoditas komersil. Belakangan setelah ditetapkan sebagai komoditas alternatif penghasil minyak bakar, sesuai dengan Inpres No 1, Tahun 2006 dan Peraturan Presiden No 5 tahun 2006, pemerintah mulai mengembangkan dengan melibatkan masyarakat seperti dalam bentuk pembuatan kebun bibit, petak percontohan, areal produktif terbatas.

II. c. Pemasaran produk komoditas Jarak di Indonesia
Produk jarak pagar seperti halnya dengan produk-produk pertanian lainnya selalu menghadapi resiko pasar berupa fluktuasi harga. Untuk itu, dalam agribisnis jarak pagar, salah satu alternatif untuk menghindari resiko pasar adalah dengan membentuk sistem yang terintegrasi secara vertikal pada sub-sistem produksi, pengolahan dan pemasaran produk-produknya. Dalam sistem agribisnis ini, KUD dapat mengambil peranannya mulai dari tahap pengolahan produk hingga pendistribusiannya (Gambar 1).

Gambar 1. Peran KUD dalam sistem pemasaran (Marketing System) dari aneka produk jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Pada tingkat sub-sistem produksi, diperlukan sejumlah petani yang tergabung dalam suatu kelompok yang akan menyediakan biji jarak kepada pihak KUD sebagai Perusahaan Pengolah, dengan harga yang sudah disepakati. Sebaliknya KUD dapat pula menyediakan benih jarak pagar atau setek dan bila perlu juga menyediakan bantuan teknis kepada petani dalam bercocok tanam. Pada tahap pengolahan awal, KUD sebagai Perusahaan mengolah biji jarak pagar menjadi minyak jarak (crude jatropha oil) yang dapat diolah lebih lanjut menjadi beberapa produk turunannya. Minyak jarak ini sebagian dapat dijual kepada petani jarak binaan atau anggota KUD lainnya untuk memenuhi kebutuhan minyak bakar pengganti minyak tanah. Minyak jarak juga merupakan

bahan baku penghasil biodiesel dan gliserin. Pada proses awal ini diperoleh ampas biji jarak (seed cake) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pada tahap sistem pemasaran selanjutnya, KUD menghasilkan sabun dengan bahan baku gliserin, yang merupakan hasil samping (by-product) dari pengolahan minyak jarak pagar (crude jatropha oil) menjadi biodiesel, dan menyediakan sabun bagi pedagang besar ataupun para pedagang pengecer. KUD juga dapat berperan sebagai penyedia gliserin sebagai bahan baku kepada pabrikpabrik pembuat sabun. Ampas biji jarak dapat dijual kepada pedagang pupuk atau kepada petani untuk pupuk organik. Kemungkinan lain adalah menjualnya untuk kebutuhan pakan ternak, apabila sudah terdapat perusahaan yang dapat mengolah ampas biji tersebut (detoksifikasi) menjadi pakan ternak atau ikan. Sedangkan produk biodiesel dapat dijual untuk kebutuhan lokal atau kepada Konsumen atau Distributor Biodiesel yang lebih besar, seperti Pertamina, PLN atau Swasta lainnya. Sehingga pihak KUD dalam sistem pemasaran ini secara terintegrasi memproduksi minyak jarak, biodiesel, sabun dan pupuk organik . selain itu, pemerintah memiliki rencana pengembangan pabrik biodesel di Indonesia, bias di lihat di table 1.

Dari table di atas, NTT merupakan rencana yang paling besar untuk membangun proyek pabrik biodesel Jarak Pagar. Adapun peertimbangan tersebut karena Pengembangan oleh Pemerintah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara

Timur untuk menindaklanjuti Deklarasi para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu tanggal 12 Oktober 2005 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 serta Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 dengan langkah-langkah kongkrit sebagai berikut:
Luas lahan tanaman jarak yang dikembangkan oleh pemerintah pada tahun 2006 :

Pengembangan pabrik dalam Skala besar tersebut biasanya memilki pola atau alur komersil yang ditekankan kepada efisiensi dan daya saing produk dan
ditujukan kepada perusahan-perusahaan besar. Pola dan alurnya dapat dilihat sebagai berikut :

II. d. Permintaan dan penawaran produk komoditas Jarak
Menurut penelitian dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), biji jarak yang diolah menjadi minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar pesawat jet. Beberapa negara telah mengimpor biji jarak untuk keperluan pembuatan bahan-bahan tersebut. Negara-negara itu adalah Brasil, Jerman Barat, Jepang, Cina, Italia, Thailand, Korea Selatan, Argentina, Hong Kong, dan Singapura. Oleh karena itu, saat terjadi fluktuasi harga BBM maka pemerintah pun segera memanfaatkan situasi dan kondisi Indonesia yang cocok dengan tanaman jarak pagar. Hal ini bisa kita amati dari areal yang mulai di canangkan untuk memproduksi jarak pagar, antara lain :

Biodiesel Pengembangan jarak di berbagai provinsi tidak lepas dari potensinya sebagai minyak biodisel. Itu dipicu kenaikan harga bahan bakar dunia yang mencapai $70/barrel pada 2006. Sebab, biodiesel asal kelapa sawit (CPO) pun harganya kian melambung mencapai US$389/ton atau sekitar Rp3, 5-juta/ton. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) kenaikan harga CPO akan terus berlanjut selama 2006 lantaran produksi terus menurun. Sementara kebutuhannya di Belanda dan Jerman semakin meningkat. Di luar negeri, perusahaan biodiesel Eropa juga mulai melirik minyak jarak sebagai bahan baku. Kebutuhan biodiesel di sana mencapai 5.950 kiloton pada 2006 dan diprediksi akan meningkat hingga 13. 450 kilo ton pada 2010. Perancis malah menargetkan penggunaan biodiesel mencapai 700-ributon pada 2006. Minyak jarak tidak bakal kelebihan pasokan. Kebutuhan akan terus meningkat, kata Adri Soebiyakto, staf D1, perusahaan pengolah minyak jarak. Permintaan ekspor yang masuk ke D1 sejak 1 tahun ke belakang meningkat 10%. Itu pula yang menyebabkan investor dari Inggris, Jerman, dan Perancis tertarik menanam modal di tanahair. Mereka berencana membuka pabrik pengolahan minyak jarak di NTB dan NTT, serta mengembangkan penanaman jarak di seluruh wilayah nusantara. Kesempatan itu terbuka lebar lantaran luasan lahan

kering di Indonesia yang potensial untuk penanaman jarak mencapai 21.944.595,7 ha. Meninjau banyaknya investor asing yang membutuhkan biji jarak untuk biodesel maka Untuk bibit Permintaan biji Jatropha curcas itu memang kian meroket. Bila dibandingkan setahun silam, lonjakan permintaan biji jarak naik hingga 50 -100%. Jika diambil contoh, Biji jarak yang dikumpulkan dari 600 pekebun di seluruh NTB dan NTT bisa sampai dijual dengan harga Rp7.000 -Rp10.000/kg. Harga biji jarak sekarang ini memang tergolong tinggi. tingginya harga biji jarak semata karena untuk dijadikan bibit oleh calon pekebun. Sementara industri-industri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel hanya mematok harga pembelian Sementara industriindustri yang kelak bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel hanya mematok harga pembelian Rp1.500 -Rp2.000/kg untuk dalam negeri (harga petani), kecuali untuk pekebun-pekebun tertentu yang mempunyai akses ke pabrik pengolahan yang bisa mendapatkan harga baik (untuk di ekspor). Jika Inpres No 1/2006 mengenai Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati yang dikeluarkan pada 25 Januari 2006 berjalan lancar, tidak mustahil kesejahteraan petani-petani jarak di kantong kemiskinan akan meningkat. Mereka yang menanam jarak dengan sistem tumpang sari minimal bisa memperoleh pendapatan Rp4-juta -Rp5-juta/tahun. Bagi negara, jarak mampu menghemat devisa sebesar US$17,2 miliar/tahun dengan penggantian 40-juta kiloliter solar, diesel, minyak tanah setiap tahun.

II. e. Fluktuasi produk komoditas Jarak
Fluktuasi Harga jarak, biasanya diakibatkan oleh pengepul / tengkulaknya yang memainkan harga pembelian jarak petani dalam negeri untuk ekspor. Selain itu, bisa pula di sebabkan oleh Ketika terjadi panen jarak, harga BBM juga ternyata turun, jadi penjualan bijih jarak ikut merosot. Atau ketika terjadi kelangkaan jarak, BBM naik lagi, maka harga jarak bisa sangaat tinggi. Produk komoditas jarak pagar bisa juga terjadi fluktuasi karena musim. Jika musim hujan, maka pasokan jarak akan turun, hal itu menjadi persaingan para

pencari jarak sehingga petani bisa mematok harga yang baik. Sedangkan ketika musim kemarau, dimana jarak pagar bisa berkembang dengang baik, maka supply lebih banyak dan harga jarak pagar bisa di tawar / merosot. Hal ini sesuai dengan teori para ahli ekonomi spertibnu Taimiyyah, misalnya, berhasil mengeluarkan teori yang dikenal dengan ‘price volatility’ atau naik turunnya harga di pasar. Bunyinya: “Sebab naik turunnya harga di pasar bukan hanya karena adanya ketidakadilan yang disebabkan orang atau pihak tertentu, tetapi juga karena panjang singkatnya masa produksi (khalq) suatu komoditi. Jika produksi naik dan permintaan turun, maka harga di pasar akan naik, sebaliknya jika produksi turun dan permintaan naik, maka harga di pasar akan turun.

III. PENUTUP
III . a. Kesimpulan : Tingginya harga minyak mentah dunia mengakibatkan beban pemerintah dalam menyediakan subsidi BBM semakin meningkat. Karena sebagian besar BBM tersebut digunakan untuk sektor transportasi maka perlu segera dicari bahan bakar alternatif sebagai substitusi BBM. BBN merupakan salah satu alternatif yang dipandang banyak mempunyai keunggulan karena ramah lingkungan. Biodiesel dari jarak pagar merupakan salah satu jenis BBN yang sudah dikembangkan secara intensif . NTT merupakan rencana yang paling besar untuk membangun proyek pabrik biodesel Jarak Pagar untuk memenuhi produksi dalam negeri dan Beberapa negara impor biji jarak seperti Brasil, Jerman Barat, Jepang, Cina, Italia, Thailand, Korea Selatan, Argentina, Hong Kong, dan Singapura.

Sementara industri-industri dalam negeri bersedia menampung biji jarak untuk diolah sebagai biodiesel dengan hanya mematok harga pembelian Rp1.500 -Rp2.000/kg. Harga jarak pagar ini, bisa pula mengalami fluktuasi di karenakan oleh pengepul / tengkulaknya yang memainkan harga pembelian jarak petani dalam negeri untuk ekspor. Selain itu, bisa pula di sebabkan oleh Ketika terjadi panen jarak, harga BBM juga ternyata turun, jadi penjualan bijih jarak ikut merosot. Atau ketika terjadi kelangkaan jarak, BBM naik lagi, maka harga jarak bisa sangaat tinggi. Fluktuasi juga bisa diakibatkan oleh perubahan musim yang tidak kondusif mendukung tanaman ini berkembang dengan baik, sehingga produksi menurun padahal permintaan sedang tinggi, maka harga bisa mencapai titik tertinggi, atau sebaliknya. III . b. Saran : Melihat potensi yang cukup menjanjikan untuk komoditas Jarak Pagar dan Pmerintah terus mencanangkan perluasan untuk lahan biodesel ini, saya setuju. Namun perluasan ini tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah pengembangan lahan yang berwawasan lingkungan, agar tidak menimbulkan bencana-bencana berikutnya karena ketidakseimbangan ekosistem alam yang dipaksakan.

DAFTAR PUSTAKA
• Prana, M.S. 2006. ”Budi Daya Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Sumber Biodesel, Menunjang ketahanan Enargi Nasional”. LIPI Press, Jakarta, Indonesia. • • • • http://masenchipz.com/60-jenis-tanaman-bisa-jadi-alternatif http://www.mail-archive.com/teknologi@terranet.or.id/msg00038.html http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/ekonomi-syariah/1075kontribusi-para-ilmuwan-muslim-terhadap-perkembangan-ilmu-ekonomi http://wikipedia .com/Jarak-pagar.htm

Manajemen Pemasaran Agribisnis “ Komoditas Jarak Pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae)
sebagai Sumber Biodesel ”

(Diajukan untuk memenuhi tugas ujian tengah semester Mata Kuliah Pemasaran Agribisnis tanggal 3 November 2009)

Disusun Oleh :

Juwita

(150310080014)

JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2009

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah dengan judul “ Komoditas Jarak Pagar (Jatropha curcas L., Euphorbiaceae) sebagai Sumber Biodesel ”. ucapan terimaksih disampaikan kepada Bu yozi yang telah berkenan sebagai Dosen materi Pemasaran Agribisnis Makalah ini disusun berdasarkan penelusuran kepustakaan dari berbagai sumber dalam rangka memenuhi proses belajar mengajar dalam mata kuliah Pemasaran Agribisnis dimana kompetensi dari Makalah ini merupakan dasar dari pemahaman ruang lingkup Pemasaran Agribisnis yang akan berlaku untuk seluruh kegiatan kewirausahaan.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan pada penulisan Makalah ini, sehingga diharapkan saran dan kritik demi penyempurnaannya. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pembacanya.

Jatinangor, Nopember 2009 Penulis,

DAFTAR ISI
Kata pengantar ....................................................................................................... ii I. PENDAHULUAN.................................................................................1 I. a. Latar belakang .....................................................................................1 I. b. Tujuan ................................................................................................ 2 II. PEMBAHASAN................................................................................... 3 II. a. Karakteristik Produk ......................................................................... 3 II. b. Keunggulan Jarak Pagar ................................................................... 5 II. c. Pemasaran produk komoditas Jarak di Indonesia ............................ 7 II. d. Permintaan dan penawaran produk komoditas Jarak .......................10 II. e. Fluktuasi produk komoditas Jarak ................................................... 12 III. PENUTUP .......................................................................................... 13 III. a. Kesimpulan .................................................................................... 13

III. b. Saran .............................................................................................. 13 IV. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->