P. 1
Analisis Industri Perbankan

Analisis Industri Perbankan

|Views: 2,710|Likes:
Published by dewi diah puspita

More info:

Published by: dewi diah puspita on Nov 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2014

Industry analysis

Untuk menganalisa potensial profit suatu perusahaan diperlukan analisa terhadap keadaan industrinya, karena keadaan industri mewakili keadaan perusahaan yang ada dalam industri tesebut. Pada organisasi industri terdapat lima hal yang mempengaruhi profitabilitas dari industri dan menciptakan kekuatan untuk menggerakan persaingan yang biasa disebut Porter’s Five Forces Model Degree of Actual and Potential Competition Merupakan tingkat awal pada Five Forces Model, dimana profit dalam sebuah industri adalah fungsi dari harga maksimum yang berani dibayar oleh konsumen untuk industri produk dan jasa yang ditawarkan. Determinan dari harga merupakan dearajat kompetisi yang terjadi pada supllier dari produk yang sama atau serupa. Pada keadaan extreme, jika terjadi persaingan sempurna pada industri, teori makro ekonomi memprediksi bahwa harga akan sama dengan biaya marginalnya, dan munculnya peluang unutk meraih supernormal profit. Pada kondisi extreme lainnya, jika pada industri didominasi oleh satu perusahaan saja kemungkinan terjadinya monopoli pada industri tersebut. Pada kenyataannya kompetisi di banyak industri terjadi diantara keadaan persaingan sempurna dan monopoli. Terdapat tiga sumber potensial yang mengakibatkan kompetisi pada suatu industri:
1. Rivarly between existing firms 2. threat of entry of new firms

3. threat of substitute products or services.

Rivarly between existing firms

Merupakan salah satu kekuatan kompetitif yang terjadi pada industri dimana terjadi persaingan antara perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri tersebut hal ini menyangkut masalah perebutan pangsa pasar di industri dan perkembangan industri tersebut. Tabel: Indusrti Perbankan Dengan Nilai Asset 5 Terbesar dan Share Terhadap Total Perbankan

Persaingan dalam industri perbankan di indonesia dibentuk oleh pemain yang ada dan intensitasnya ditentukan oleh banyaknya jumlah pemain. Jumlah pemain dalam industri perbankan cukup banyak, namun industri ini didominasi oleh Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan Danamon. Dengan komposisi tersebut, intensitas persaingan secara langsung terjadi pada pemain dominan dimana masing-masing berupaya untuk meraih posisi market leader. Menurut majalah No. Bank 2006 (milyar) 1 2 3 4 5 Mandiri BRI BCA BNI Danamon Perbankan 256.211 154.725 176.184 168.803 79.598 1.693.850 2007 (milyar) 303.406 203.604 217.180 182.008 86.617 1.986.500 2008 (milyar) 338.404 203.604 217.180 182.008 86.617 2.310.557 Pertumbuhan 2008 11,5% 20,8% 12,7% 10,1% 21,0% 16,3% Pertumbuha n Rata-rata 2006-2008 10,2% 26,1% 17,9% 10,9% 16,45 16,3% Share thd Total Perbankan 14,7% 10,7% 10,6% 8,7% 4,5% 100%

Laporan publikasi Economic Review ● No. 215 ● Maret 2009, pertumbuhan industri perbankan pada tahun 2008 sebesar 16,3%. Industry Growth Rate Pada saat industri tumbuh dengan cepat, perusaahan incumbent (pioneer) tidak perlu mengambil pangsa pasar dari perusahaan yang lain untuk terus tumbuh, sementara pada keadaan industri stagnant cara agar perusahaan untuk

tetap eksis adalah dengan meraih pangsa pasar, pada keadaan ini sering terjadi adanya perang harga antar perusahaan pada industri. Beberapa perusahaan perbankan tetap pada pangsa pasarnya masing yaitu tetap pada koorporasi / dominant bank (Mandiri), unit usaha mikro, kecil dan menengah (BRI) dan consumer banking (BCA), serta ada juga yang tetap berkonsentrasi pada KPR (BTN) Concentration and Balance of Competitors Banyaknya perusahaan yang terdapat dalam industri tersebut juga menentukan ukuran serta derajat konsentrasi pada industri, dimana perusahaan dalam industri harus mengkoordinasikan antara harga yang ditawarkan dengan langkah-langkah kompetitif lain yang akan diambil dalam industri. Perusahan pada industri juga berusaha terkonsentrasi pada industri yang dijalani dimana pada industri perbankan perusahaan yang dominan adalah Mandiri berusaha melakukan langkah-langkah kompetitif untuk merebut pangsa pasar, memperbesar ukuran dan derajat konsentrasi pada industri, contoh persaiangan antara Mandiri dan BCA dalam inovasi yang dilakukan seperti private banking dan weekend banking, transaksi melalui internet. Degree of Differentiation and Switching Cost Salah satu faktor terjadinya kompetisi pada perusahaan dalam industri berupa perbedaan yang ditawarkan serta biaya yang dikeluarkan untuk berpindah dari suatu perusahaan ke perusahaan kompetitor dalam industri tersebut. Pada industri perbankan terdapat beberapa perbedaan antar perusahaan perbankan agar tiap perusahaan dapat berkompetisi satu sama lain dengan memperlihatkan keunggulannya di masing-masing fitur, selain itu pula biaya switching cost yang sangat bersaing antar satu perusahaan dengan perusahaan lain seperti saldo awal tabungan, nilai bunga tabungan dan bunga pinjaman serta saldo minimum pada rekening, dan biaya administrasi tiap perusahaan perbankan. Scale/Learning Economies and the ratio of Fixed to Variable Costs. Jika dalam skala ekonomi sebuah industri salah satu hal yang diperhatikan oleh perusahaan pada industri adalah ukuran perusahaan, sehingga ukuran menjadi hal yang sangat penting, hal ini berhubungan dengan persaingan yang

tercipta untuk meraing pangsa pasar untuk lebih memperbesar perusahaan pada industri. Pada perusahaan-perusahaan dalam industri perbankan di Indonesia, para perusahaan mencoba untuk bersaing dalam segi fixed dan variable cost, mereka mencoba saling bersaing dalam menampilkan biaya-biaya administrasi serta beban bunga yang akan ditanggung/didapatkan oleh konsumen. Selain itu adapula yang tidak menurunkan costnya namun berusaha memberikan penawaran lebih pada konsumen seperti pemberian hadiah, dll.

Threat of New Entrans
Adanya ancaman dari pesaing baru seperti pada industri perbankan khusunya bank umum kini bank umum menghadapi persaingan dengan BPR serta dengan Bank Syariah, sehingga bank sentral pun mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengatur persaingan di industri perbankan ini (Undang-Undang RI no.10 tahun 1998 tentang bank Umum dan BOPR). Economics of Scale Merupakan suatu skala ekonomik yang menjadi batasan untuk perusahaan baru masuk kedalam suatu industri, apabila skala ekonomik suatu industri adalah besar maka perusahaan baru akan mengahadapi kapasitas investas yang besar pula untuk memasuki suatu industri, meskipun investasi yang besar tadi tidak dapat langsung digunakan. Pada industri perbankan pemain baru agak kesulitan untuk masuk selain karena kepercayaan yang terlanjur telah tertanam kepada perusahaan lain serta adanya keyakinan kepada perusaahaan besar yang lebih dahulu muncul, juga adanya batasan ekonomi yang telah ditetapkan oleh bank sentral mengenai asset yang harus dimiliki ketika akan memasuki/berinvestasi di sektor industri perbankan di Indonesia, setidaknya hal ini menjadi pertimbangan bagi pemain baru yang akan masuk jika pemain baru tersebut hanya memiliki asset yang minim. First Mover Advantage Merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan yang hadir terlebih dahulu pada suatu industri, hal ini terjadi akibat kepercayaan yang telah tertanam, serta inovasi yang dilakukan pada permulaan industri muncul.

Pada industri perbankan, perusahaan pioneer mendapatkan keuntungan meskipun tidak semua perusahaan pioneer dapat bertahan pada industri ini, contoh bank BNI yang merupakan salah satu pemain lama memiliki keuntungan berupa kepercayaan lebih dari calon konsumen dimana perusahaannya merupakan perusahaan perusahaan yang sehat, begitupun dengan pemain lama lainnya yang memiliki keuntungan lebih atas kehadiraan di awal pada industri ini seperti BRI, BTN, tetapi pada saat ini perusahaan yang tadinya diuntungan atas kehadirannya justru malah terseret oleh bank yang baru didirikan, hal ini menyangkut inovasi yang ditawarkan bank pendatang muncul di awal seperti BDN, Bank Bumi daya, BAPINDO, EXIM yang di merger menjadi Bank Mandri, kini dapat mencuri pangsa pasar industri perbankan indonesia. Access to Channels of Distribution and Relationship Adanya kapasitas yang terbatas untuk masuk kedalam saluran distribusi indusrtri yang telah ada baik yang menjadi penghalang untuk masuk ke industri , selain itu adanya hubungan yang terjadi pada industri antara perusahaan dan konsumen juga membuatperusahan baru kesulitan dalam untuk memasuki industri. Pada industri perbankan hal ini terjadi pada investment banking, dimana para konsumen lebih memiliki kepercayaan dan telah memiliki hubungan dengan perusahaan yang telah ada untuk menginvestasikan dananya kepada perusahaan yang telah ada hal inilah yang menjadikan halangan untuk perusahaan perbankan baru memasuki indusri perbankan. Legal Barriers Pada suatu industri terdapat suatu halangan untuk dapat memasuki industri, biasanya berupa kebijakan pemerintah atau aturan hukum dan perundang-undangan, contoh pada industri perbankan terdapat aturan perundangundangan perbankan mengenai pendirian bank, dll

Threat of Subsitute Products
Adanya produk substitusi yang dapat mengantikan industri yang telah ada ke industri yang baru, hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan produk,jasa, profit, harga dan resiko yang akan diterima pada suatu industri dan adanya keinginan dari konsumen untuk mengantikan industri yang telah dilakukan kepada industri baru atau perusahaan baru.

Pada industri perbankan yang menjadi produk substitusi adalah produkproduk investasi lain diluar industri perbankan, contoh industri sekuritas yang menawarkan saham, reksadana, dan industri asuransi serta perusahaan yang menawarkan obligasi, dimana terdapat perbedaan dari profit dan resiko yang akan diterima konsumen pada industri masing-masing yang akan dipilihnya.

Bargaining power in input and output markets
Degree competition dalam sebuah industri adalah alat analisa untuk memperkirakan seberapa besar potensi suatu industri untuk mendapatkan profit, sedangkan actual profit dipengaruhi oleh bargaining power dengan supplier dan konsumen. Di sisi input, perusahaan terkait erat dengan supply buruh, bahan mentah serta komponen, dan keuangan. Sementara itu untuk sisi outside, perusahaan berkaitan dengan penjualan barang ke konsumen atau melakukan kontrak dengan pihak ketiga untuk membentuk rantai distribusi. Dan semua hal ini sangat penting untuk menganalisa profitabilitas sebuah industri. Bargaining power of buyers Sensitivitas harga Sensitivas harga adalah alat ukur dimana harga sebuah mempengaruhi konsumen dalam menentukan keputusan pembelian. Semakin sensitive harga sebuah barang terhadap konsumen maka pembeli akan lebih mempertimbangkan alternative untuk membeli barang yang lebih murah.. Sedangkan untuk sebuah produk yang sensitivitas harganya kecil maka pembeli tidak akan terlalu mempertimbangkan untuk mencari alternative lainya yang lebih murah. Lebih lanjut lagi, kualitas sebuah produk tehadap kebutuhan pembeli pun memiliki andil besar dalam menentukan keputusan pembelian Contoh: Produk kredit yang ditawarkan sebuah bank termasuk kategori produk dengan sensitivitas harga yang tinggi karena perbedaan suku bunga pinjaman, jaminan dan peraturan terkait peminjaman amat menentukan keputusan calon kreditor untuk melakukan peminjaman. Sedangkan nasabah yang berperan sebagai pembeli produk jasa penyimpanan, keputusannya tidak begitu terpengaruh oleh tingkat suku bunga tabungan. Penawaran relative

Kekuatan penawaran dari pembeli amat ditentukan oleh jumlah pembeli terhadap banyaknya supplier, volume penjualan yang dilakukan oleh satu pembeli, jumlah alternative produk lainnya dan ongkos perpindahan dari satu produk ke produk lainnya. Contoh: Nasabah bank yang juag berperan sebagai pembeli produk bank berupa layanan kartu kredit memiliki kekuatan penawaran terhadap bank. Hal ini tercermin dari fasilitas yang diberikan bank berupa potongan harga dan rewardreward. Selain itu karena banyaknya pesaing yang menawarkan kartu kredit maka hal ini pun memberikan kekuatan bagi pembeli untuk memilih produk dari sekian banyak bank yang menawarkan produk tersebut. Bargaining power of buyers Analisis mengenai kekuatan relative supplier kurang lebih adalah cerminan dari analisis kekuatan konsumen dalam sebuah industri. Supplier memiliki kekuatan ketika di dalam sebuah industry hanya ada beberapa perusahaan dan beberapa produk pengganti untuk memenuhi kebutuhan konsumennya. Contoh: Deposan yang juga merupakan supplier memiliki kekuatan terhadap bank apabila deposan tersebut mendepositokan uangnya dalam jumlah besar. Kekuatan penawaran tersebut tercermin dari fasilitas yang diberikan bagi deposan seperti itu untuk menegosiasikan tingkat suku bunga deposito.

Strategies for Creating Competitive Advantage
Keuntungan sebuah perusahaan dipengaruhi tidak hanya oleh struktur industry tetapi juga oleh pemilihan strategidalam memposisikan industri di benak konsumen. Terdapat banyak cara dalam menentukan strategi bisnis perusahaan tersebut, namun ada dua strategi yang sering digunakan oleh perusahaan, yaitu Cost Leadership dan Differentiation. Kedua strategi tersebut dianggap lebih potensial dalam menciptakan keuntungan bersaing yang sesuai. Dalam dunia perbankan di Indonesia yang semakin berkembang pesat dan didukung oleh kecanggihan teknologi serta perubahan budaya masyarakat Indonesia, pemilihan strategi keuntungan bersaing yang tepat merupakan salah satu faktor keberhasilan

suatu bank dalam memperoleh market share. Bank yang menjadi objek analisis dalam hal ini adalah bank Mandiri. 1. Cost Leadership Cost Leadership merupakan cara yang sangat baik untuk menciptakan keuntungan bersaing. Namun cara tersebut sulit digunakan bila industri bergerak di bidang jasa layaknya perbankan. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh Cost Leadership ini, yakni dengan menganalisis skala ekonomi dan jangkauan, efisiensi produksi, desain produk simple, biaya input yang murah, dan proses organisasi yang efisien. a. Analisis skala ekonomi dan jangkauan b. Efisiensi produksi c. Desain produk simple d. Biaya input yang murah e. Proses organisasi yang efisien
1. Differentiation / Diferensiasi

Perusahaan dalam suatu industri melakukan diferensiasi guna memberikan sesuatu yang unik untuk menarik konsumen Agar diferensiasi berjalan dengan sukses, perusahaan harus melaksanakan tiga hal. Pertama, perusahaan perlu mengidentifikasi penilaian konsumen terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Kedua, perusahaan perlu memposisikan dirinya dengan konsumen yang memang memiliki kebiasaan unik. Ketiga, perusahaan harus mampu menerapkan harga yang lebih rendah dari biaya yang akan dikeluarkan oleh konsumen untuk mengharapkan diferensiasi yang ditawarkan. Bank Mandiri selaku perusahaan jasa, lebih potensial dalam menggunakan strategi diferensiasi ini, dimana Bank Mandiri telah mampu menjadi bank terbesar di Indonesia dengan beberapa keunikan tersendiri. Diantaranya: 1. Teknologi Internet 2. Saldo awal yang terjangkau : Rp. 50.000,00 3. ATM

Bank Mandiri memberikan pelayanan Kartu ATM yang dapat digunakan di mesin ATM bersama, dan tidak ada potongan biaya. 4. Analisis Kredit dan Resiko baik. Bank Mandiri dalam memberikan kredit kepada nasabahnya antara lain melihat kinerja nasabah tahun yang lalu dan prospeknya ke depan. Bagaimana karakter, kondisi dan kapasitas nasabah sangat diperhitungkan bank, Menurut Pemimpin Cabang PT Bank Mandiri TBK Purwokerto, A Hardo Budiyanto, menyatakan tak ada bank yang mempersulit kredit. Tetapi bank terikat pada prosedur pemberian kredit yang sehat. Kredit yang diberikan berasal dari dana masyarakat, karena itu harus ada jaminan keamanan simpanan masyarakat itu. Bank Mandiri pun memperoleh penghargaan sebagai bank konvensiaonal dengan laporan keuangan konsolidasian terbaik (Annual Report Award). (Tempointeraktif, Kamis, 10 Agustus 2006).
5. Mandiri Fiesta dan Mandiri Mikro Super Rejeki. 6. Sebagian besar kepemilikan saham Bank Mandiri dimiliki oleh pemerintah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->